Monthly Theme

Home / Archive by category "Monthly Theme"
BERTUMBUH DALAM HIKMAT

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

PENDAHULUAN

Allah telah memberikan kepada setiap orang kehendak bebas untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan dalam hidup. Setiap keputusan membawa konsekuensi, baik maupun buruk. Karena itu, kita membutuhkan hikmat dari Allah agar dapat menggunakan kehendak bebas kita dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Hikmat bukanlah sesuatu yang diperoleh hanya melalui kecerdasan, pendidikan formal, atau pengalaman hidup. Hikmat sejati adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”(Amsal 9:10)

I HIKMAT MENURUT ALKITAB

 Apa itu hikmat?

Hikmat lebih daripada sekadar kecerdasan, pendidikan, atau pengetahuan. Seseorang dapat memiliki IQ yang tinggi, gelar akademik yang tinggi, serta pengalaman yang luas, namun tetap tidak memiliki hikmat Allah. Menurut Alkitab, hikmat adalah kemampuan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang Allah, memahami kehendak-Nya, dan mengambil keputusan yang selaras dengan Firman-Nya.

Hikmat bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi hidup sesuai dengan kebenaran itu. Hikmat yang sejati dimulai dengan takut akan Tuhan. Artinya, menghormati Allah, mengasihi-Nya, dan dengan sukarela tunduk kepada otoritas-Nya. Sikap ini bukan sekadar tampilan lahiriah, melainkan mengalir dari hati yang telah diubahkan oleh Roh Kudus.

II TAKUT AKAN TUHAN

 Diskusi

  • Apa arti “takut akan Tuhan” menurut Anda?
  • Dalam bidang kehidupan apa Anda paling membutuhkan hikmat Tuhan saat ini?

Takut akan Tuhan berarti:

  • Menghormati Allah.
  • Taat kepada Firman Tuhan.
  • Mempercayai Tuhan dalam setiap keadaan.

Takut akan Tuhan bukanlah ketakutan yang membuat kita menjauh dari-Nya. Sebaliknya, takut akan Tuhan adalah kesadaran yang mendalam akan hadirat, kekudusan, kebesaran, kemuliaan, kuasa, kasih, dan kebenaran-Nya. Kesadaran ini menghasilkan rasa hormat, kasih, serta kerinduan yang tulus untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan hati-Nya.

Alkitab juga berkata: “…mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

Mengenal Allah berarti memiliki hubungan yang pribadi dan intim dengan-Nya, bukan sekadar memiliki informasi tentang Dia.

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mampu:

  • memahami Firman-Nya,
  • mengenali kehendak-Nya,
  • membedakan yang benar dan yang salah,
  • mengenali suara Tuhan di tengah berbagai suara dunia,
  • mengambil keputusan yang bijaksana.

Dalam Matius 7:24–27, Yesus mengajarkan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya. Hikmat tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dinyatakan melalui ketaatan. Sebaliknya, orang bodoh mendengar Firman Tuhan tetapi tidak menaatinya. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak menjadikannya sebagai dasar kehidupan mereka.

III. BERKAT DARI HIDUP DALAM HIKMAT

Orang yang hidup dalam hikmat Allah akan mengalami banyak berkat, di antaranya:

  1. Menerima arah hidup yang jelas

Hikmat memampukan kita memahami kehendak dan tujuan Allah sehingga hidup kita tidak disia-siakan, melainkan dipakai untuk menggenapi panggilan ilahi-Nya.

  1. Terlindung dari bahaya dan kesalahan yang merugikan

Hikmat menjaga kita dari tipu daya musuh, keputusan yang tergesa-gesa, kebodohan, dan kesalahan yang membawa kerugian serta penderitaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

  1. Memiliki kepekaan rohani

Karena hikmat berasal dari Roh Kudus, orang yang memilikinya akan menjadi peka terhadap suara Tuhan, pimpinan-Nya, dan teguran-Nya.

  1. Hidup dalam damai sejahtera

Orang yang berhikmat memilih untuk hidup dalam kebenaran. Ketaatan kepada Allah menghasilkan damai sejahtera yang sejati dan bertahan lama.

PENERAPAN

  1. Mulailah setiap hari dengan mencari Tuhan sebelum memulai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
  2. Bacalah dan renungkan satu pasal dari Kitab Amsal setiap hari.
  3. Berdoalah sebelum mengambil setiap keputusan. Jangan bertindak terburu-buru; mintalah tuntunan Tuhan agar setiap langkah yang Anda ambil selaras dengan prinsip-prinsip Firman-Nya.
  4. Mintalah hikmat kepada Tuhan setiap hari agar hidup Anda tetap terarah, efektif, dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

 PENUTUP

Hikmat adalah salah satu kebutuhan terbesar dalam kehidupan setiap orang percaya. Melalui hikmat Allah, kita dimampukan untuk mengambil keputusan yang benar, membangun hubungan yang sehat, memimpin dengan bijaksana, menghadapi tantangan hidup dengan iman, serta menjadi saksi Kristus yang setia melalui cara hidup kita.

Kiranya setiap kita terus bertumbuh dalam hikmat Allah sehingga setiap perkataan, sikap, dan keputusan kita memuliakan nama-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)

HIDUP OLEH IMAN

HIDUP OLEH IMAN

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”  (2 Korintus 5:7)

PENDAHULUAN

Setelah pada bulan Juni kita belajar Living with Purpose (Hidup dengan Tujuan Ilahi), kita menyadari bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan misi Allah. Namun, mengetahui tujuan hidup saja tidak cukup. Untuk menggenapi panggilan Tuhan, kita harus belajar berjalan dengan iman.

Firman Tuhan berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) Iman bukan sekadar semangat, optimisme, atau berpikir positif. Iman adalah keyakinan yang teguh kepada Allah dan kepada janji-janji-Nya yang tidak pernah gagal.

Perjalanan bersama Tuhan jarang memperlihatkan seluruh peta kehidupan sekaligus. Tuhan biasanya hanya menerangi langkah berikutnya, bukan seluruh perjalanan. Di sinilah iman bertumbuh. Iman bukanlah menunggu semua jawaban tersedia, tetapi tetap melangkah karena mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan. Orang percaya dipanggil bukan untuk hidup berdasarkan apa yang terlihat, melainkan berdasarkan Firman Allah yang tidak pernah gagal.

I. IMAN BERAKAR KEPADA PENGENALAN YANG BENAR AKAN TUHAN

  • Pengenalan yang benar akan Tuhan dimulai dari pembaruan akal budi melalui perenungan firman Tuhan, doa, pujian, dan penyembahan setiap hari. Pengenalan ini juga dibentuk melalui proses pemuridan dan pengalaman pribadi bersama Tuhan. Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Roh Kudus menolong kita sehingga iman kepada Kristus semakin berakar dan bertumbuh di dalam kasih (Efesus 3:16–17).
  • Iman yang berakar di dalam kasih menumbuhkan trust, yaitu keyakinan, pengharapan, dan penyerahan kendali hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Iman kita bergantung kepada karakter Allah dan kepada firman-Nya yang tidak pernah berubah. Kepercayaan seperti ini tidak terbentuk dalam sekejap, melainkan bertumbuh melalui hubungan kasih yang konsisten dengan Tuhan.

II. IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN AKAN FIRMAN TUHAN (Roma 10:17).

  • Iman timbul bukan hanya karena kita mendengar firman Tuhan dengan telinga jasmani, tetapi karena hati kita terbuka menerima suara Tuhan melalui firman yang didengar maupun dibaca. Roh Kudus menerangi firman Tuhan yang telah tertulis sehingga firman itu menjadi hidup dan berbicara secara pribadi kepada kita. Ketika firman itu dipercayai dan ditaati, iman semakin bertumbuh.
  • Firman yang diterangi oleh Roh Kudus membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, memercayai Dia sepenuhnya, dan mendorong kita menaati perintah-Nya. Firman itu menjadi dasar yang meneguhkan kita untuk hidup oleh iman, bukan karena melihat.

Contoh: Abraham.

Abraham percaya kepada Allah yang telah menjanjikan keturunan kepadanya. Janji Allah menjadi dasar imannya untuk tetap percaya sekalipun ia menghadapi berbagai tantangan. Abraham dan Sara telah lanjut usia dan harus menantikan kelahiran Ishak selama dua puluh lima tahun. Pengenalannya akan Allah membuat Abraham memilih untuk hidup oleh iman, yaitu percaya kepada Tuhan, bukan berfokus pada keadaan yang terlihat. Ketekunan imannya berujung pada penggenapan janji Allah.

III. AKIBAT HIDUP OLEH IMAN VS HIDUP KARENA MELIHAT
Akibat hidup oleh iman:

  • Memiliki cara pandang yang selaras dengan Firman Tuhan.
  • Tetap hidup dalam kebenaran sekalipun perasaan sedang lemah.
  • Tidak mundur atau tawar hati ketika menghadapi tekanan, tantangan, maupun penderitaan.
  • Bersedia menyangkal diri dan memikul salib demi menaati kehendak Tuhan.
  • Memiliki ketenangan batin yang mengalahkan ketakutan.
  • Mampu memadamkan semua panah api si jahat.
  • Memiliki arah dan tujuan hidup sesuai kehendak Allah.
  • Iman yang bertekun menghasilkan buah berupa kebenaran, pemulihan, berkat, kelimpahan, penggenapan janji Allah, damai sejahtera, sukacita, kemenangan, bahkan hidup yang kekal.

Akibat hidup karena melihat:

  • Menghasilkan cara pandang yang keliru menurut diri sendiri dan dunia.
  • Hidup dipimpin oleh logika dan pengertian sendiri sehingga membatasi pekerjaan Tuhan.
  • Hidup dikendalikan oleh perasaan yang berubah-ubah: takut, cemas, ragu-ragu, kecewa, marah, maupun mengasihani diri sendiri.
  • Sulit mempercayai Tuhan sehingga tidak taat dan akhirnya mengambil keputusan yang keliru.

Membangkitkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Manusia roh menjadi lemah, mudah menyerah, dan tidak mengalami kemenangan.

BAGAIMANA MELATIH HIDUP OLEH IMAN SETIAP HARI?

  • Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari.
  • Berdoa sebelum mengambil setiap keputusan.
  • Tetap taat kepada Firman meskipun belum melihat hasilnya.
  • Mengingat kembali kesetiaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita.
  • Tetap mengucap syukur dalam setiap keadaan.

 

REFLEKSI

Apa yang saat ini lebih mengendalikan hidup saya?

Firman Tuhan atau keadaan?

Firman Tuhan atau perasaan?

Firman Tuhan atau ketakutan?

Firman Tuhan atau pikiran, logika, dan asumsi saya sendiri?

 

PENUTUP

Hidup oleh iman bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, tetapi melihat kenyataan melalui sudut pandang Allah. Iman bukan menyangkal adanya masalah, melainkan mempercayai bahwa Tuhan tetap berdaulat di tengah masalah.

Ketika kita hidup oleh iman, kita tidak lagi dikendalikan oleh apa yang kita lihat, rasakan, atau pikirkan, melainkan oleh Firman Tuhan yang tidak pernah berubah. Sebab langit dan bumi akan berlalu, tetapi Firman Tuhan tetap selama-lamanya.

Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, tetapi percaya bahwa Tuhan akan menggenapi setiap janji-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Karena itu, marilah kita terus berjalan bersama Tuhan, selangkah demi selangkah, sampai setiap janji-Nya digenapi menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Sebab hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.

HIDUP DALAM KETAATAN

HIDUP DALAM KETAATAN

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

PENDAHULUAN

Bulan lalu kita mengenali Roh Kudus dan keadaan terhubung dengan Pokok Anggur yang benar supaya hidup kita menghasilkan buah yang mendampaki orang lain. Di bulan yang baru ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita taat melakukan Firman? Karena ibadah tanpa ketaatan hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal. Perasaan tersentuh oleh firman tanpa diikuti tindakan hanya menipu diri sendiri dan tidak membawa perubahan hidup.

ISI

DENGAR DAN LAKUKAN 

  • Yakobus 1:22 mengatakan “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…” Rajin beribadah ke gereja belum menjamin seseorang hidup dalam ketaatan, demikian pula dengan mencatat kotbah. Mengatakan “Firman hari ini luar biasa dan sangat memberkati” juga bukan berarti orang tersebut melakukan firman yang didengarnya.
  • Pengetahuan firman tanpa tindakan hanya melahirkan kemunafikan serta kesombongan rohani. Pengetahuan firman tanpa ketaatan adalah tindakan menipu diri sendiri. Banyak orang Kristen hanya kenyang dengan mendengarkan khotbah, kesaksian, atau mengikuti training/kelas pengajaran, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
  • Ingin mujizat, tetapi tidak mau taat akan perintah Tuhan. Ingin berkat, tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Penyembahan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita menangis saat berada di hadirat Tuhan, tetapi dari seberapa cepat kita taat akan pesan firman yang disampaikan setelah ibadah selesai.
  • Mungkin ada orang yang menilai dirinya sudah taat kepada Tuhan dengan sudah rajin beribadah, mengembalikan persepuluhan, tidak mencuri, membunuh, menggosip, menghakimi orang lain, dsb..

Tetapi saat Tuhan gerakkan hatinya untuk berkati si A, doakan si B, jangan hakimi suamimu/tunduk padanya walaupun ia banyak kelemahan, jangan berlaku kasar dengan istrimu, atau tambah jam doa, dsb..…orang tersebut banyak pertimbangan untuk melakukannya, cari alasan untuk membenarkan diri sendiri, menunda-nunda, akhirnya sama saja dengan tidak taat.

Jadi ketaatan bukan hanya tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan.

  • Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya.

Contoh:

  • Nuh disuruh Allah untuk membangun bahtera di tengah daratan. Alkitab mencatat bahwa Nuh taat melakukan perintah tersebut
    sekalipun hal itu dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat pada jamannya.
  • Ananias taat saat Tuhan memerintahkan dia untuk menumpangkan tangan atas Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) supaya dia dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Meskipun Ananias tahu bahwa Saulus adalah seorang yang menganiaya orang-orang kudus, dia taat juga ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mendatangi Saulus.
  • Paulus meninggalkan semua yang dia banggakan di masa lalu demi pengenalan yang benar akan Kristus dan taat kepada panggilan Allah (Fil. 3: 7-14).
  • Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ingatlah: keinginan daging (tidak takluk kepada hukum Allah) akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh (menghendaki kita hidup dalam ketaatan kepada Allah).

REFLEKSI DIRI:

  • Hal-hal apa yang Roh Kudus dorong untuk kita lakukan/tinggalkan
tetapi masih kita tunda?
  • Membangun mezbah pribadi secara konsisten? Stop berpikiran negatif? Menundukkan diri kepada otoritas di atas kita? Meninggalkan hubungan/pertemanan yang tidak sehat/toxic? Memulai pelayanan? Stop merenungkan kesalahan orang lain? Mengampuni? Stop bergosip?
  • Stop berperilaku konsumtif (hobi belanja barang-barang yang memuaskan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup)? Belajar berpuasa? Menabur finansial untuk pekerjaan Tuhan? Berhenti hidup dalam dosa tersembunyi? Memakai waktu dengan bijak? Stop kebiasaan buruk?
  • Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan merupakan buah dari orang yang hidup dalam dusta iblis. Penundaan adalah peperangan rohani. Penundaan membuat hati kita jadi keras dan degil. Penundaan adalah bukti ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati.

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

JADIKAN MURID

JADIKAN MURID

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

PENDAHULUAN

Orang percaya yang hidupnya benar di hadapan Tuhan pasti menghasilkan buah—dan buah itu berdampak bagi orang lain.

ISI

Mazmur 1:1-3 menggambarkan kehidupan orang percaya yang memilih untuk merenungkan firman Tuhan: ia seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan (Roh Kudus/Roh Kebenaran), kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah pada musimnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil/menghasilkan buah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil.

  • Hidup yang menghasilkan buah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang yang sudah lahir baru (Yohanes 15:16). SETIAP KITA WAJIB BERTUMBUH (ini merupakan proses seumur hidup).
  • Pohon yang berakar dan sehat akan menghasilkan buah. Orang percaya yang berakar dan memiliki iman yang sehat akan menghasilkan buah setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus.
  • Buah adalah hasil hidupmu yang bisa dinikmati orang lain. Kalau buahmu tidak bisa dinikmati orang lain, kemungkinan itu bukan buah Roh, tapi ilusi rohani.

Contoh: Kalau kamu mau mengasihi tapi sering melukai orang di sekitarmu.
Kamu mau jadi pembawa damai, tapi kamu mudah marah dan mengadu domba. Jadi, ukurannya bukan apa yang kamu kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami darimu.

Dinikmati di sini maksudnya:

  • Sebagai ‘buah’: dapat menolong/membantu mengatasi masalah orang lain,
  • Sebagai ‘benih’: sesuatu yang dapat diajarkan kepada orang lain (bukan cuma informasi/teori/pengetahuan saja, tapi pengajaran yang disertai buah sebagai bukti valid pengajarannya).
  • Banyak kegagalan rohani bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena tidak bisa taat untuk tetap tinggal dalam firman.
  • Buah Roh (Gal. 5:22-23) merupakan tanda pertobatan sejati yang dihasilkan dari keintiman dengan Roh Kudus.
  • Buah Roh adalah hasil transformasi supranatural yang progresif oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang berserah, jadi bukan hasil usaha manusia. Meski ada sembilan, namun buah Roh merupakan suatu kesatuan terpadu. Rasul Paulus menyebutnya dengan Buah Roh (tunggal), bukan buah-buah Roh (jamak). Penguasaan diri adalah penentu dari semua sifat buah Roh.
  • Buah Roh berbeda dengan karakter/watak natural yang merupakan bawaan lahir, didikan atau hasil pembentukan lingkungan. Buah Roh mencerminkan karakter Kristus, sementara watak/temperamen natural merupakan sifat bawaan lahir yang cenderung dipengaruhi oleh tabiat manusia berdosa.
  • Buah Roh menghasilkan karakter Kristus yang stabil dan melampaui kemampuan natural manusia; sementara watak/temperamen natural bisa tampak baik secara moral, namun tidak memiliki kuasa ilahi dan dapat gagal di bawah tekanan.
  1. Kasih: Kasih ilahi yang memberi tanpa pamrih, tidak bertujuan mencari kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan bagi orang lain. Kasih memiliki cakupan luas sekali; buah dari kasih mengacu pada 1 Korintus 13:4-8. Kasih bukan sekadar perasaan, tapi perilaku kita terhadap sesama yang dilakukan berdasarkan kebenaran.
  2. Sukacita: kegembiraan (joy) yang mendalam yang timbul dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Kegembiraan yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
  3. Damai sejahtera: ketenangan batin/kesejahteraan jiwa  yang didasarkan atas pengampunan Tuhan, dihasilkan dari kebenaran.
  4. Kesabaran: sikap pengendalian diri yang menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tekun; tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.
  5. Kemurahan: keramahtamahan, kebaikan hati, suka memberi, tidak mau menyakiti orang lain, mudah mengampuni.
  6. Kebaikan: ketulusan jiwa yang membenci kejahatan, motif dan perilaku yang baik. Sikap ini adalah kelanjutan dari sikap kemurahan.
  7. Kesetiaan: dapat dipercaya dan diandalkan untuk suatu tanggung jawab, tetap bertahan dalam iman dalam berbagai pencobaan.
  8. Kelemahlembutan: pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan kerendahan hati. Tunduk pada kehendak Allah, hati yang mau diajar/mudah dibentuk, sering kali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan, padahal merupakan kekuatan karakter.
  9. Penguasaan diri: menguasai keinginan dan hawa nafsu diri sendiri (makan, seks, uang, kecanduan, amarah/emosi).
  • Setelah mengetahui buah Roh di atas, periksa diri sendiri : Apakah ada buah Roh yang dihasilkan dari hidup kita?

Bersambung ke bagian ke-2

HIDUPLAH OLEH ROH

HIDUPLAH OLEH ROH

PENDAHULUAN

Memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa murid Kristus bukan sekadar kegiatan pelayanan. Ini adalah sebuah peperangan rohani. Kuasa kegelapan berusaha menutupi hati manusia sehingga mereka menolak terang Injil, karena terang itu menyingkapkan perbuatan mereka yang jahat. Iblis selalu berusaha menghalangi orang untuk mendengar dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Karena itu, tantangan dalam menyelesaikan Amanat Agung ke depan tidak akan semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Namun Tuhan tidak membiarkan kita berjuang sendirian. Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk menolong, memimpin, dan memampukan kita sampai kepada akhir zaman. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu belajar hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.

ISI

Meskipun kita sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kita masih dapat mengalami pergumulan dengan dosa dan kedagingan. Rasul Paulus sendiri mengakui pergumulan ini dalam hidupnya. Roma 7:19 berkata:“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Pergumulan ini menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada pertentangan antara keinginan Roh dan keinginan daging. Ketika seseorang hidup menurut kedagingan, manusia rohnya menjadi lemah. Kedagingan membuka celah bagi si jahat untuk menjerat dan mempengaruhi kehidupan kita. Akibatnya kita menjadi sulit mendengar suara Roh Kudus dan mudah jatuh ke dalam dosa. Jika kedagingan dibiarkan, maka kesatuan tubuh Kristus akan rusak, dan gereja tidak dapat menjalankan panggilannya dengan maksimal.

Karena itu firman Tuhan berkata dalam Galatia 5:16:

“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

Firman Tuhan menjelaskan bahwa perbuatan daging menghasilkan berbagai dosa seperti perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Tetapi kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Orang yang hidup oleh Roh tidak hanya memiliki pengetahuan tentang firman Tuhan. Roh Kudus menghidupkan firman itu di dalam hatinya sehingga ia dimampukan untuk menjadi pelaku firman.

Bagaimana Caranya Hidup Oleh Roh?

1. Menjaga hubungan dengan Tuhan melalui doa, pujian, dan penyembahan.

Sering kali kesibukan, kelelahan, masalah hidup, atau berbagai tuntutan membuat kita lalai membangun hubungan dengan Tuhan. Namun kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang membuat kita merasa punya alasan untuk tidak mencari Tuhan. Kita perlu dengan sengaja menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya. Belajar membayar harga untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, sebab Yesus berkata bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Melalui doa, pujian, dan penyembahan, kita masuk ke dalam hadirat Tuhan. Di dalam hadirat-Nya kita belajar mendengar suara-Nya dan memahami kehendak-Nya bagi hidup kita. Di sana manusia roh kita dikuatkan dan dipuaskan oleh Roh Kudus sebagai sumber air hidup.

Ketika kita terus bertekun dalam hadirat Tuhan, Roh Kudus semakin memenuhi hati dan hidup kita. Kita semakin peka terhadap pimpinan-Nya dan semakin rindu untuk menaati-Nya.

2. Menanggalkan manusia lama dan memperbarui pikiran dengan firman Tuhan

Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang pikirannya sia-sia dan hatinya menjadi keras. Efesus 4 mengingatkan kita untuk meninggalkan kehidupan lama: membuang dusta, mengendalikan amarah, hidup jujur, bekerja dengan benar, dan menjaga   supaya perkataan kita membangun orang lain.

Ketika kita terus memperbarui pikiran kita dengan firman Tuhan, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita untuk mengubah cara berpikir, sikap, dan tindakan kita. Kita belajar mengenakan manusia baru yang hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

3. Hidup dalam kasih dan saling melayani

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan nyata melalui hubungan kita dengan orang lain. Efesus 4:31-32 mengajar kita untuk membuang kepahitan, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Sebaliknya, kita dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati, saling mengasihi, dan saling mengampuni. Galatia 5:13 berkata: “Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Kasih adalah bukti nyata bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan kita.

PENUTUP

Firman Tuhan berkata: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25). Godaan dan tantangan dalam hidup pasti tetap ada, namun Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita untuk tidak tunduk kepada keinginan daging.

Kemerdekaan yang kita terima di dalam Kristus bukan digunakan untuk hidup sesuka hati, tetapi untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus. Ketika kita hidup oleh Roh, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih, menjaga kesatuan tubuh Kristus, dan bersama-sama menyelesaikan Amanat Agung yang Tuhan percayakan kepada gereja-Nya. Kiranya setiap kita belajar semakin hari semakin hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,  imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

 

PENDAHULUAN

Orang yang percaya kepada Kristus telah diberikan identitas yang baru, yaitu sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Identitas istimewa ini diberikan bukan untuk kesombongan ataupun bersifat ekslusif, tetapi untuk dihidupi supaya dapat memancarkan kemuliaan Allah dan membagikan karya kasih-Nya kepada dunia melalui kehidupan serta perbuatan nyata (menghasilkan hidup yang berbuah), bukan hanya dengan kata-kata.

 

ISI

Identitas orang percaya sesuai 1 Petrus 2:9 adalah sebagai berikut:

1. Bangsa yang terpilih.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yohanes 15:16a).

Orang-orang percaya dipilih secara khusus oleh Tuhan bukan berdasarkan kebaikan, kesalehan, kepandaian, jasa, usaha/pencapaian, atau karena kita layak, melainkan karena anugerah kasih karunia Allah semata.

Dalam pandangan dunia, pemberitaan tentang Injil merupakan suatu kebodohan. Orang-orang yang percaya kepada pemberitaan Injil dipandang oleh dunia sebagai orang-orang yang lemah, tidak memiliki kemampuan, tidak berhikmat, bodoh, tidak terpandang, dsb. Mengapa? Karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Allah memilih mereka yang mau meresponi berita Injil Kristus dengan kerendahan hati dan iman percaya.

Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil:  menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak,  tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,  dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti,  dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,  supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:26-29).

2. Imamat yang Rajani.

Imam: bertugas memimpin umat untuk memuji menyembah Tuhan, mempersembahkan korban, mengajarkan firman, serta membawa orang lain kepada Tuhan. Iman harus selalu menjaga kekudusan agar seluruh hidup dan pelayanannya berkenan di hadapan Allah. Orang percaya memiliki tugas/tanggungjawab untuk hidup dalam kekudusan agar dapat melayani kehendak Allah, membawa orang lain menyembah DIA, menjadi pendoa syafaat/perantara/pendamai antara Allah dan orang-orang yang belum mengenal-Nya.

Raja: Orang yang diberikan kuasa dan otoritas untuk memimpin umat Allah. Orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Orang percaya memiliki otoritas rohani sebagai anak-anak Allah untuk berfungsi sebagai garam dan terang (saksi Kristus) di tengah kegelapan dunia.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Imamat yang rajani artinya imam yang mempunyai karakteristik raja. Kita dikuduskan, diberi kuasa otoritas, diangkat menjadi kepala dan bukan menjadi ekor dengan tujuan untuk melayani (bukan dilayani), menjadi pendoa, menjadi berkat; mempengaruhi dan membawa orang lain menjadi warga Kerajaan Allah (bukan dipengaruhi dan menjadi sama dengan dunia).

3. Bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.

Bangsa yang kudus artinya orang yang dipisahkan dari yang lain untuk digunakan secara khusus. Kita dipisahkan dari dunia untuk hidup bagi Allah. Bukan berarti kita semua harus melayani di gereja dan tidak boleh bekerja di dunia sekuler, tapi kita adalah hamba Allah di manapun Tuhan menempatkan kita. Meskipun berada di dunia yang gelap, cemar dan dikuasai hawa nafsu, tapi kita tidak hidup seperti dunia hidup. Kita menjadi umat kepunyaan Allah sendiri karena telah ditebus dengan harga yang sangat mahal yaitu Darah Anak Domba Allah, dan Roh-Nya berdiam di dalam kita (1 Korintus 6:19-20).

 

PENUTUP

Kita dipilih dari segala bangsa untuk menghasilkan hidup yang berbuah. Pemilihan hanya terjadi dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dalam kasih, Allah telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya  (Efesus 1:5). Fungsi anak adalah melakukan kehendak Bapa-nya dengan pertolongan Roh Kudus.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,  supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,  diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)

Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur yang benar dan menghidupi identitas sebagai bangsa pilihan, maka hidup kita pasti berbuah, lalu dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5b)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral, sosial, iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kasih dan kuasa Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah/guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa betapapun hebat, kaya, pintar, ternyata manusia adalah makhluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk merendahkan hati, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi GARAM dan TERANG, siap menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus. Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk secara unity dan terpadu menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para misionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang egois/tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di zaman ini. Bukan Tuhan yang kita tuntut harus memenuhi keinginan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Melakukan kehendak Tuhan adalah kerinduan utama orang yang mengasihi Tuhan. Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Murid Kristus bukan berarti sudah sempurna, tetapi yang mau hidup dalam pertobatan (tidak hidup dalam dosa), hidup dalam kekudusan, mau menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab/melakukan bagiannya.

Sifat seorang murid Kristus yang siap serta dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:
1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.

2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.

3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:25-27).

Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana kasih adalah motivasi dan tujuan dari semua pekerjaan misi. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tapi kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman.

Kasih sejati ini memampukan kita berkorban agar orang lain menerima keselamatan, menjadi murid Kristus dan warga Kerajaan Allah.
Dalam praktiknya, sering terjadi salah kaprah dengan menganggap bahwa Amanat Agung hanya sebatas pemberitaan Injil Kristus/Injil Keselamatan saja; padahal Tuhan Yesus juga memerintahkan kita untuk membaptis orang yang percaya kepada-Nya dan memuridkan mereka; memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua makhluk.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Injil Kristus adalah kabar baik keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus; Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi meliputi hukum, tatanan, keadilan, pemulihan, dan kehidupan yang sesuai kehendak-Nya. Aplikasi Amanat Agung harusnya bukan cuma menyentuh aspek rohani saja, tapi juga jasmani (Misi yang Holistik). Misi yang holistik adalah misi yang dilaksanakan oleh para rasul dan selanjutnya oleh Gereja sebagai amanat dari Tuhan Yesus: misi yang menerapkan nilai/prinsip kebenaran dan membangun Kerajaan Allah di tengah masyarakat dunia.

Tuhan Yesus memberi teladan dalam memberitakan kabar baik dan membawa perubahan yang signifikan di seluruh aspek kehidupan komunitas/masyarakat yang dilayani-Nya.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Seperti Tuhan Yesus melakukan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus, demikian pula halnya dengan Gereja. Kita tidak akan mampu melakukan Amanat Agung jika tidak terhubung dengan sumber kuasa, yaitu Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Jangan bergerak mendahului Roh Kudus, melainkan belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dengan efektif. Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung. .…. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kita diberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir zaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman, tapi persiapkan diri untuk dengan unity menyelesaikan Amanat Agung.

Selamat Tahun Baru 2026!

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

PEMBUKAAN

Anggota Cool yang dikasihi Tuhan, ada satu bahaya rohani yang sangat halus namun mematikan: ketika kita diberkati, kita lupa siapa Sumbernya. Dan ada satu ujian rohani yang sering kita lewatkan: ketika kita dipercaya hal kecil, kita menganggap remeh/ tidak penting.

Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ulangan 8:18).

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Dua ayat pokok di atas berbicara tentang dua hal: Blessings/berkat dan Trust/ kepercayaan.
Tuhan sang pemberi berkat, Ia juga penguji hati/karakter.

ISI

Ulangan 8:18  menjelaskan bahwa Tuhanlah SUMBER segala sesuatu.“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan…”

  1. Tuhan adalah pemberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan.

Tuhan tidak hanya memberikan kekayaan, tetapi kekuatan untuk memperoleh kekayaan.
Artinya:

  • Tuhan memberi kebijaksanaan.
  • Tuhan memberi kesempatan.
  • Tuhan membuka pintu hubungan.
  • Tuhan menaburkan ide, potensi, karunia, bakat serta kreativitas.

Apa pun yang kita capai — jabatan, bisnis, pelayanan, kesehatan, kesuksesan — bukan karena kekuatan kita, tetapi karena anugerah-Nya. Uang hanyalah kompensasi dari karya yang kita hasilkan dari kekuatan yang Tuhan berikan.

  1. Tantangan: kekayaan bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan.

Sewaktu berada di padang gurun, bangsa Israel bersandar penuh pada Tuhan.
Akan tetapi saat  sudah masuk Tanah Perjanjian, di suatu negeri yang berlimpah, mereka mulai bersandar pada hasil tangan mereka sendiri.

Godaan yang sama menghampiri kita: pada waktu miskin kita setia; pada waktu keadaan sulit kita berdoa lebih sungguh-sungguh; pada waktu tidak punya apa-apa, kita bergantung penuh pada Tuhan. Tapi ketika Tuhan memberkati, ketika keadaan ekonomi makin membaik, ketika usaha mulai berkembang…Kita mulai berkata dalam hati: “Ini hasil kekuatanku.” Itulah sebabnya Tuhan berkata: “INGATLAH!” Ini bukan perintah keras, tetapi perintah kasih: “Jangan sampai engkau lupa siapa yang memberi semua ini.”

Kekayaan bukanlah sesuatu yang tabu, dosa, ataupun yang harus dihindari. Kekayaan adalah anugerah Tuhan yang harus disikapi dengan benar serta dikelola dengan bijaksana dalam takut akan Dia, agar berkat tersebut mendatangkan kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

  1. Berkat bukanlah tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian.

Bagi orang yang tidak memahami kebenaran, berkat/kekayaan dijadikan sebagai tujuan/cita-cita hidup; digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, mewujudkan ambisi, simbol harga diri/identitas, sesuatu yang dapat diandalkan serta memberikan rasa aman. Pemahaman yang keliru seperti ini menyebabkan kekayaan yang seharusnya merupakan berkat dari Tuhan untuk dinikmati, malah berubah menjadi kutuk.

Tuhan memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya. Berkat kekayaan bukan sekedar hadiah; itu merupakan bagian dari hubungan perjanjian antara Tuhan dengan kita. Namun jika kita melupakan Perjanjiannya, kita kehilangan arah berkat itu.

Tidak ada yang salah dengan kekayaan, namun yang berbahaya adalah ketika keinginan untuk menjadi kaya membuat kita menyimpang dari iman, kehilangan kasih yang semula, tamak, serakah, tinggi hati, pelit, egois/tidak peduli orang lain, dlsb. Kekayaan yang tidak disikapi dengan benar dapat menjadikan seseorang terikat, bahkan membuatnya sukar masuk ke dalam Kerajaan Allah (Markus 10:23).

Allah tidak menentang kekayaan, tetapi membenci segala macam kejahatan yang ditimbulkan dari hati yang cinta akan uang. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang…”(1 Timotius 6:10). Uang dan kekayaan: berkat atau kutuk? Ini tergantung dari sikap/motivasi hati orang yang memilikinya. Apa yang kita lakukan dengan uang/kekayaan menyingkapkan di mana sesungguhnya hati kita melekat. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

BEKERJA  DARI SUDUT PANDANG TUHAN

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN

(Monthly theme: Cara Tuhan bekerja sebagai fondasi dari tujuan dan produktivitas)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Bekerja bukanlah suatu beban atau kutuk, tapi merupakan mandat Allah kepada manusia sejak awal penciptaan. Tugas pertama yang Allah berikan kepada manusia sebelum jatuh ke dalam dosa adalah bekerja mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15). Atas dasar kebenaran ini, setiap pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan sesungguhnya merupakan ibadah kepada Allah. Melalui pekerjaan, manusia dapat mengembangkan semua potensinya untuk dapat melayani Allah dan sesama. Melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan, kebaikan Allah ditampilkan kepada dunia dan nama Allah dimuliakan.

PERMASALAHAN

  • Kebanyakan orang memaknai bekerja dengan sekedar mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Ukuran keberhasilan dalam bekerja hanya dinilai secara materi. Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran nilai dalam bekerja. Bekerja bukan lagi bertujuan untuk melayani sesama atau untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi ajang kesempatan untuk mengejar popularitas, jabatan, kekuasaan, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya meskipun dilakukan dengan cara yang tidak jujur, misalnya korupsi. Akibatnya kualitas dalam bekerja serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri jadi terabaikan.

SOLUSI

  • Totalitas dalam bekerja bukan dinilai dari performance, tetapi dari sikap hati. Kalau dunia melihat kita dari performance, Tuhan melihat kita dari motivasi hati (1 Samuel 16:7b). Orang yang hatinya melekat kepada Allah, motivasinya akan diluruskan oleh Roh Kudus. Motivasi yang benar dalam bekerja/beraktivitas adalah karena iman yang tulus dan kasih kepada Allah. Motivasi yang benar akan membuahkan hasil yang memuliakan nama Tuhan. Motivasi yang benar mendatangkan berkat dan upah yang bersifat kekal, suatu harta yang tersimpan bagi kita di sorga di mana ngengat dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21).
  • Apakah kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, pengakuan, penghargaan, pujian, atau sebagai safety net di hari tua? atau karena kita ingin jadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Kolose 3:23 mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Bekerjalah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Ukuran keberhasilan kita bukan sekedar kepuasan orang atas pelayanan yang kita berikan, tetapi lebih dari itu, perkenanan Tuhan.

  • Melalui pekerjaan, manusia memiliki kesempatan untuk menggali potensi, mengembangkan kapasitas dan karakter untuk memberikan hasil berkualitas tinggi yang dibutuhkan oleh orang lain. Oleh sebab itu dalam bekerja, kita harus produktif. Produktivitas adalah bagian dari hidup yang menghasilkan sesuatu/berdampak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar atau maksimal. Dalam konteks pekerjaan, produktivitas biasanya mengacu pada kemampuan seseorang, tim, atau organisasi untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai hasil yang maksimal. Efektif adalah kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, sedangkan efisien adalah kemampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia demi mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Produktif berbeda dengan hanya sibuk. Produktivitas berfokus pada pencapaian tujuan yang bernilai, bermanfaat dan menguntungkan/menjadi berkat; bukan sekadar melakukan banyak aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Alokasikan sumber daya yang ada (mis. waktu, pikiran, tenaga, biaya) untuk menyelesaikan tugas-tugas penting dengan hasil yang optimal. Dalam pekerjaan, teruslah belajar, gali potensi, tambahkan pengetahuan, tingkatkan ketrampilan, dsb. Jangan jadikan bekerja  hanya sekedar untuk bertahan hidup.

PENUTUP

Setelah belajar materi kali ini, milikilah cara pandang dan motivasi yang benar dalam melakukan segala sesuatu. Bekerja merupakan mandat Allah bagi kita untuk melayani Tuhan dan sesama. Bekerja juga merupakan ibadah serta pengabdian kita kepada Tuhan Yesus. Besar atau kecil, terlihat atau tak terlihat, dihargai atau tidak dihargai, sebetulnya tidak perlu menjadi masalah jika kita mengerti bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan segenap hati, iman, kasih dan ketulusan, akan diperhitungkan Tuhan dan tidak ada yang sia-sia.

Bersambung ke bagian 2

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. (Filipi 2:15-16)

Kehendak Allah bagi orang percaya adalah hidup dalam kemurnian dan kekudusan di tengah generasi yang bengkok hati dan sesat. Hidup dalam kemurnian dan kekudusan artinya kita dipisahkan dari cara hidup/sistem dunia yang jahat, rusak, gelap dan menyesatkan. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita telah diberi hati yang rindu untuk hidup berkenan pada Allah.

Walaupun masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak mengikuti cara hidup dunia yang jauh dari persekutuan dengan Allah seperti yang tertulis dalam Efesus 4:17-20,”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

Pada kenyataannya, banyak orang Kristen yang hidupnya tidak beda dengan orang dunia, tidak memancarkan kemurnian dan kekudusan ilahi. Mengapa? Pertama, tidak mengerti isi hati Tuhan yang menghendaki kita menyembah-Nya dengan cara yang benar. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Ke dua, kurang menghormati hadiratNya. Beribadah karena hanya rutinitas atau motivasi lainnya, akibatnya tidak menerima manfaat dari ibadah karena dilakukan dengan hati tidak tulus (not sincere heart).

Ketiga, tidak mengalami transformasi hidup. Orang bisa rajin datang beribadah secara teratur bahkan pelayanan, tapi hidupnya tidak mengalami perubahan atau hanya berputar-putar di masalah yang sama. Hal ini disebabkan karena kehilangan kasih mula-mula, tidak terhubung secara pribadi dengan Tuhan, tidak mau mengampuni, mengeraskan hati, tidak mau menerima firman dengan hati terbuka, tidak hidup dalam pertobatan, kehilangan arah dan prioritas – sibuk mengejar hal-hal yang materi sehingga tidak ada waktu buat Tuhan, dan mempertahankan doktrin/kebenaran diri sendiri.

AJAKAN KEMBALI KEPADA KASIH YANG SEMULA
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat (Wahyu 2:5).

Tuhan mau supaya kita kembali kepada kasih yang semula, kasih kepada Tuhan yang kita miliki pada waktu baru bertobat dan mengalami kelahiran baru. Kasih yang timbul dari hati yang suci murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Peliharalah kasih yang semula, karena kasih kepada Allah seharusnya menjadi motivasi satu-satunya, di atas segala pengetahuan firman, karunia, berkat, pelayanan atau apapun yang kita lakukan.

Tinggallah di dalam kasih itu dengan terus terhubung pada pokok Anggur yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10).

MENYEMBAH ALLAH DENGAN CARA YANG BENAR
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran ; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24)

Selain diberikan hati yang baru, kita juga menerima benih ilahi yaitu firman Allah (1 Petrus 1:23) untuk dapat hidup dalam kebenaran yang murni serta kekudusan. Ini hanya bisa terjadi jika kita terhubung dengan Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui firman dan penyembahan. Allah menghendaki kita menjadi penyembah yang benar, yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Menyembah dalam roh, artinya menyembah dengan iman dan hati yang tulus dalam pimpinan Roh Kudus; dalam kebenaran artinya sesuai dengan firman Tuhan.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan:

A. Menghadap Allah melalui doa pujian penyembahan dengan sikap yang benar yaitu hati yang tulus iklas dan iman yang teguh (Ibrani 10:22).

Sesungguhnya Allah berkenan akan kebenaran dalam batin (Mazmur 51:8). Yeremia 17:9 mengatakan bahwa hati manusia itu licik; tidak seorangpun mampu mengenali keadaan hatinya sendiri jika tidak disingkapkan oleh Roh Kudus. Daud minta agar Tuhan menjadikan hatinya tahir, bersih, tidak menyimpan dosa, serta tunduk kepada Dia (Mazmur 139:23-24). Hampiri Allah dengan kerendahan hati, segala bentuk kesombongan harus ditanggalkan. Sebelum masuk hadirat Tuhan, minta Roh Kudus memeriksa kondisi batin kita supaya bisa mengakui dosa/kesalahan, bertobat dan menyembah Allah dalam ketulusan.

Menghadap Allah dengan iman yang teguh. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada (Ibrani 11:6) Dengan iman, kita percaya kepada perkataan-Nya. Orang yang tidak percaya/menolak firman Tuhan akan hidup dalam kesesatan yang menyebabkan mereka percaya kepada dusta (2 Tesalonika 2:11).

B. Disiplinkan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari supaya jiwa kita mengalami pembaruan.

Setiap manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memiliki benih yang menentang pengenalan akan Allah, yaitu pikiran yang bersifat karnal (a mind governed by the flesh, hanya memikirkan perkara-perkara daging). Akal budi yang tidak/belum diperbarui oleh firman Tuhan tidak mampu memahami ajaran tentang kebenaran. Kita tidak bisa menyembah Allah (yang adalah Roh) dengan pikiran karnal, sebab pikiran karnal tidak takluk kepada hukum/perintah Allah, sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.

Jadi jelas bahwa akal budi yang tidak diperbarui firman Tuhan membuat kita berjalan dalam kegelapan. Namun dengan merenungkan dan mempelajari firman, kita dimampukan menyangkal diri (menundukkan pikiran dan kehendak bebas kepada Kristus; mematikan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup) dan memikul salib (menderita karena firman kebenaran, ketaatan melakukan perintahTuhan). Segala pikiran, pendapat/cara pandang, asumsi, logika, kebenaran diri sendiri, serta emosi-emosi negatif dapat ditundukkan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Dengan demikian, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan melainkan terang Tuhan. Jadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan berharga yang sangat kita perlukan tiap hari; sebab manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4).

C. Fokus kepada Pribadi Allah. Jangan turunkan nilai penyembahan dengan sekedar menyanyikan lagu/memainkan alat musik tanpa hubungan secara personal dengan Allah dan pengenalan akan Pribadi-Nya. Penyembahan bukan bertujuan untuk memperoleh berkat dan mendapat apa yang kita inginkan. Kita menyembah Allah sebab IA memang layak untuk disembah dalam seluruh area di hidup kita. Luangkan waktu untuk sendiri bersama Tuhan di pagi hari melalui doa pujian penyembahan yang dilakukan dengan segenap hati, tidak asal dan terburu-buru.

Rasul Paulus mendefinisikan penyembahan sebagai gaya hidup serta seluruh aspek kehidupan yang didedikasikan untuk memuliakan Tuhan. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

KESIMPULAN

Roh Kudus dan firman Tuhan adalah dua unsur penting yang tidak bisa dipisahkan untuk menjadi penyembah yang benar, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Roh tanpa firman Tuhan bisa mengarah pada pengalaman spiritual yang dangkal, tanpa arah, dan emosional. Firman tanpa Roh menghasilkan ibadah yang kering, tanpa gairah sukacita kasih Tuhan dan legalisme belaka. Dengan selalu terhubung kepada Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui doa pujian penyembahan serta perenungan firman, kita jadi mengerti isi hati Allah serta melakukannya, yaitu hidup dalam kemurnian dan kekudusan.