Monthly Theme

Home / Archive by category "Monthly Theme"
HIDUP DALAM KETAATAN

HIDUP DALAM KETAATAN

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

PENDAHULUAN

Bulan lalu kita mengenali Roh Kudus dan keadaan terhubung dengan Pokok Anggur yang benar supaya hidup kita menghasilkan buah yang mendampaki orang lain. Di bulan yang baru ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita taat melakukan Firman? Karena ibadah tanpa ketaatan hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal. Perasaan tersentuh oleh firman tanpa diikuti tindakan hanya menipu diri sendiri dan tidak membawa perubahan hidup.

ISI

DENGAR DAN LAKUKAN 

  • Yakobus 1:22 mengatakan “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…” Rajin beribadah ke gereja belum menjamin seseorang hidup dalam ketaatan, demikian pula dengan mencatat kotbah. Mengatakan “Firman hari ini luar biasa dan sangat memberkati” juga bukan berarti orang tersebut melakukan firman yang didengarnya.
  • Pengetahuan firman tanpa tindakan hanya melahirkan kemunafikan serta kesombongan rohani. Pengetahuan firman tanpa ketaatan adalah tindakan menipu diri sendiri. Banyak orang Kristen hanya kenyang dengan mendengarkan khotbah, kesaksian, atau mengikuti training/kelas pengajaran, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
  • Ingin mujizat, tetapi tidak mau taat akan perintah Tuhan. Ingin berkat, tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Penyembahan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita menangis saat berada di hadirat Tuhan, tetapi dari seberapa cepat kita taat akan pesan firman yang disampaikan setelah ibadah selesai.
  • Mungkin ada orang yang menilai dirinya sudah taat kepada Tuhan dengan sudah rajin beribadah, mengembalikan persepuluhan, tidak mencuri, membunuh, menggosip, menghakimi orang lain, dsb..

Tetapi saat Tuhan gerakkan hatinya untuk berkati si A, doakan si B, jangan hakimi suamimu/tunduk padanya walaupun ia banyak kelemahan, jangan berlaku kasar dengan istrimu, atau tambah jam doa, dsb..…orang tersebut banyak pertimbangan untuk melakukannya, cari alasan untuk membenarkan diri sendiri, menunda-nunda, akhirnya sama saja dengan tidak taat.

Jadi ketaatan bukan hanya tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan.

  • Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya.

Contoh:

  • Nuh disuruh Allah untuk membangun bahtera di tengah daratan. Alkitab mencatat bahwa Nuh taat melakukan perintah tersebut
    sekalipun hal itu dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat pada jamannya.
  • Ananias taat saat Tuhan memerintahkan dia untuk menumpangkan tangan atas Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) supaya dia dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Meskipun Ananias tahu bahwa Saulus adalah seorang yang menganiaya orang-orang kudus, dia taat juga ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mendatangi Saulus.
  • Paulus meninggalkan semua yang dia banggakan di masa lalu demi pengenalan yang benar akan Kristus dan taat kepada panggilan Allah (Fil. 3: 7-14).
  • Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ingatlah: keinginan daging (tidak takluk kepada hukum Allah) akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh (menghendaki kita hidup dalam ketaatan kepada Allah).

REFLEKSI DIRI:

  • Hal-hal apa yang Roh Kudus dorong untuk kita lakukan/tinggalkan
tetapi masih kita tunda?
  • Membangun mezbah pribadi secara konsisten? Stop berpikiran negatif? Menundukkan diri kepada otoritas di atas kita? Meninggalkan hubungan/pertemanan yang tidak sehat/toxic? Memulai pelayanan? Stop merenungkan kesalahan orang lain? Mengampuni? Stop bergosip?
  • Stop berperilaku konsumtif (hobi belanja barang-barang yang memuaskan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup)? Belajar berpuasa? Menabur finansial untuk pekerjaan Tuhan? Berhenti hidup dalam dosa tersembunyi? Memakai waktu dengan bijak? Stop kebiasaan buruk?
  • Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan merupakan buah dari orang yang hidup dalam dusta iblis. Penundaan adalah peperangan rohani. Penundaan membuat hati kita jadi keras dan degil. Penundaan adalah bukti ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati.

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

JADIKAN MURID

JADIKAN MURID

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

PENDAHULUAN

Orang percaya yang hidupnya benar di hadapan Tuhan pasti menghasilkan buah—dan buah itu berdampak bagi orang lain.

ISI

Mazmur 1:1-3 menggambarkan kehidupan orang percaya yang memilih untuk merenungkan firman Tuhan: ia seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan (Roh Kudus/Roh Kebenaran), kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah pada musimnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil/menghasilkan buah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil.

  • Hidup yang menghasilkan buah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang yang sudah lahir baru (Yohanes 15:16). SETIAP KITA WAJIB BERTUMBUH (ini merupakan proses seumur hidup).
  • Pohon yang berakar dan sehat akan menghasilkan buah. Orang percaya yang berakar dan memiliki iman yang sehat akan menghasilkan buah setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus.
  • Buah adalah hasil hidupmu yang bisa dinikmati orang lain. Kalau buahmu tidak bisa dinikmati orang lain, kemungkinan itu bukan buah Roh, tapi ilusi rohani.

Contoh: Kalau kamu mau mengasihi tapi sering melukai orang di sekitarmu.
Kamu mau jadi pembawa damai, tapi kamu mudah marah dan mengadu domba. Jadi, ukurannya bukan apa yang kamu kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami darimu.

Dinikmati di sini maksudnya:

  • Sebagai ‘buah’: dapat menolong/membantu mengatasi masalah orang lain,
  • Sebagai ‘benih’: sesuatu yang dapat diajarkan kepada orang lain (bukan cuma informasi/teori/pengetahuan saja, tapi pengajaran yang disertai buah sebagai bukti valid pengajarannya).
  • Banyak kegagalan rohani bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena tidak bisa taat untuk tetap tinggal dalam firman.
  • Buah Roh (Gal. 5:22-23) merupakan tanda pertobatan sejati yang dihasilkan dari keintiman dengan Roh Kudus.
  • Buah Roh adalah hasil transformasi supranatural yang progresif oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang berserah, jadi bukan hasil usaha manusia. Meski ada sembilan, namun buah Roh merupakan suatu kesatuan terpadu. Rasul Paulus menyebutnya dengan Buah Roh (tunggal), bukan buah-buah Roh (jamak). Penguasaan diri adalah penentu dari semua sifat buah Roh.
  • Buah Roh berbeda dengan karakter/watak natural yang merupakan bawaan lahir, didikan atau hasil pembentukan lingkungan. Buah Roh mencerminkan karakter Kristus, sementara watak/temperamen natural merupakan sifat bawaan lahir yang cenderung dipengaruhi oleh tabiat manusia berdosa.
  • Buah Roh menghasilkan karakter Kristus yang stabil dan melampaui kemampuan natural manusia; sementara watak/temperamen natural bisa tampak baik secara moral, namun tidak memiliki kuasa ilahi dan dapat gagal di bawah tekanan.
  1. Kasih: Kasih ilahi yang memberi tanpa pamrih, tidak bertujuan mencari kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan bagi orang lain. Kasih memiliki cakupan luas sekali; buah dari kasih mengacu pada 1 Korintus 13:4-8. Kasih bukan sekadar perasaan, tapi perilaku kita terhadap sesama yang dilakukan berdasarkan kebenaran.
  2. Sukacita: kegembiraan (joy) yang mendalam yang timbul dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Kegembiraan yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
  3. Damai sejahtera: ketenangan batin/kesejahteraan jiwa  yang didasarkan atas pengampunan Tuhan, dihasilkan dari kebenaran.
  4. Kesabaran: sikap pengendalian diri yang menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tekun; tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.
  5. Kemurahan: keramahtamahan, kebaikan hati, suka memberi, tidak mau menyakiti orang lain, mudah mengampuni.
  6. Kebaikan: ketulusan jiwa yang membenci kejahatan, motif dan perilaku yang baik. Sikap ini adalah kelanjutan dari sikap kemurahan.
  7. Kesetiaan: dapat dipercaya dan diandalkan untuk suatu tanggung jawab, tetap bertahan dalam iman dalam berbagai pencobaan.
  8. Kelemahlembutan: pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan kerendahan hati. Tunduk pada kehendak Allah, hati yang mau diajar/mudah dibentuk, sering kali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan, padahal merupakan kekuatan karakter.
  9. Penguasaan diri: menguasai keinginan dan hawa nafsu diri sendiri (makan, seks, uang, kecanduan, amarah/emosi).
  • Setelah mengetahui buah Roh di atas, periksa diri sendiri : Apakah ada buah Roh yang dihasilkan dari hidup kita?

Bersambung ke bagian ke-2

HIDUPLAH OLEH ROH

HIDUPLAH OLEH ROH

PENDAHULUAN

Memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa murid Kristus bukan sekadar kegiatan pelayanan. Ini adalah sebuah peperangan rohani. Kuasa kegelapan berusaha menutupi hati manusia sehingga mereka menolak terang Injil, karena terang itu menyingkapkan perbuatan mereka yang jahat. Iblis selalu berusaha menghalangi orang untuk mendengar dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Karena itu, tantangan dalam menyelesaikan Amanat Agung ke depan tidak akan semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Namun Tuhan tidak membiarkan kita berjuang sendirian. Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk menolong, memimpin, dan memampukan kita sampai kepada akhir zaman. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu belajar hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.

ISI

Meskipun kita sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kita masih dapat mengalami pergumulan dengan dosa dan kedagingan. Rasul Paulus sendiri mengakui pergumulan ini dalam hidupnya. Roma 7:19 berkata:“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Pergumulan ini menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada pertentangan antara keinginan Roh dan keinginan daging. Ketika seseorang hidup menurut kedagingan, manusia rohnya menjadi lemah. Kedagingan membuka celah bagi si jahat untuk menjerat dan mempengaruhi kehidupan kita. Akibatnya kita menjadi sulit mendengar suara Roh Kudus dan mudah jatuh ke dalam dosa. Jika kedagingan dibiarkan, maka kesatuan tubuh Kristus akan rusak, dan gereja tidak dapat menjalankan panggilannya dengan maksimal.

Karena itu firman Tuhan berkata dalam Galatia 5:16:

“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

Firman Tuhan menjelaskan bahwa perbuatan daging menghasilkan berbagai dosa seperti perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Tetapi kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Orang yang hidup oleh Roh tidak hanya memiliki pengetahuan tentang firman Tuhan. Roh Kudus menghidupkan firman itu di dalam hatinya sehingga ia dimampukan untuk menjadi pelaku firman.

Bagaimana Caranya Hidup Oleh Roh?

1. Menjaga hubungan dengan Tuhan melalui doa, pujian, dan penyembahan.

Sering kali kesibukan, kelelahan, masalah hidup, atau berbagai tuntutan membuat kita lalai membangun hubungan dengan Tuhan. Namun kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang membuat kita merasa punya alasan untuk tidak mencari Tuhan. Kita perlu dengan sengaja menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya. Belajar membayar harga untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, sebab Yesus berkata bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Melalui doa, pujian, dan penyembahan, kita masuk ke dalam hadirat Tuhan. Di dalam hadirat-Nya kita belajar mendengar suara-Nya dan memahami kehendak-Nya bagi hidup kita. Di sana manusia roh kita dikuatkan dan dipuaskan oleh Roh Kudus sebagai sumber air hidup.

Ketika kita terus bertekun dalam hadirat Tuhan, Roh Kudus semakin memenuhi hati dan hidup kita. Kita semakin peka terhadap pimpinan-Nya dan semakin rindu untuk menaati-Nya.

2. Menanggalkan manusia lama dan memperbarui pikiran dengan firman Tuhan

Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang pikirannya sia-sia dan hatinya menjadi keras. Efesus 4 mengingatkan kita untuk meninggalkan kehidupan lama: membuang dusta, mengendalikan amarah, hidup jujur, bekerja dengan benar, dan menjaga   supaya perkataan kita membangun orang lain.

Ketika kita terus memperbarui pikiran kita dengan firman Tuhan, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita untuk mengubah cara berpikir, sikap, dan tindakan kita. Kita belajar mengenakan manusia baru yang hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

3. Hidup dalam kasih dan saling melayani

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan nyata melalui hubungan kita dengan orang lain. Efesus 4:31-32 mengajar kita untuk membuang kepahitan, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Sebaliknya, kita dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati, saling mengasihi, dan saling mengampuni. Galatia 5:13 berkata: “Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Kasih adalah bukti nyata bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan kita.

PENUTUP

Firman Tuhan berkata: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25). Godaan dan tantangan dalam hidup pasti tetap ada, namun Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita untuk tidak tunduk kepada keinginan daging.

Kemerdekaan yang kita terima di dalam Kristus bukan digunakan untuk hidup sesuka hati, tetapi untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus. Ketika kita hidup oleh Roh, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih, menjaga kesatuan tubuh Kristus, dan bersama-sama menyelesaikan Amanat Agung yang Tuhan percayakan kepada gereja-Nya. Kiranya setiap kita belajar semakin hari semakin hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,  imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

 

PENDAHULUAN

Orang yang percaya kepada Kristus telah diberikan identitas yang baru, yaitu sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Identitas istimewa ini diberikan bukan untuk kesombongan ataupun bersifat ekslusif, tetapi untuk dihidupi supaya dapat memancarkan kemuliaan Allah dan membagikan karya kasih-Nya kepada dunia melalui kehidupan serta perbuatan nyata (menghasilkan hidup yang berbuah), bukan hanya dengan kata-kata.

 

ISI

Identitas orang percaya sesuai 1 Petrus 2:9 adalah sebagai berikut:

1. Bangsa yang terpilih.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yohanes 15:16a).

Orang-orang percaya dipilih secara khusus oleh Tuhan bukan berdasarkan kebaikan, kesalehan, kepandaian, jasa, usaha/pencapaian, atau karena kita layak, melainkan karena anugerah kasih karunia Allah semata.

Dalam pandangan dunia, pemberitaan tentang Injil merupakan suatu kebodohan. Orang-orang yang percaya kepada pemberitaan Injil dipandang oleh dunia sebagai orang-orang yang lemah, tidak memiliki kemampuan, tidak berhikmat, bodoh, tidak terpandang, dsb. Mengapa? Karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Allah memilih mereka yang mau meresponi berita Injil Kristus dengan kerendahan hati dan iman percaya.

Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil:  menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak,  tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,  dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti,  dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,  supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:26-29).

2. Imamat yang Rajani.

Imam: bertugas memimpin umat untuk memuji menyembah Tuhan, mempersembahkan korban, mengajarkan firman, serta membawa orang lain kepada Tuhan. Iman harus selalu menjaga kekudusan agar seluruh hidup dan pelayanannya berkenan di hadapan Allah. Orang percaya memiliki tugas/tanggungjawab untuk hidup dalam kekudusan agar dapat melayani kehendak Allah, membawa orang lain menyembah DIA, menjadi pendoa syafaat/perantara/pendamai antara Allah dan orang-orang yang belum mengenal-Nya.

Raja: Orang yang diberikan kuasa dan otoritas untuk memimpin umat Allah. Orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Orang percaya memiliki otoritas rohani sebagai anak-anak Allah untuk berfungsi sebagai garam dan terang (saksi Kristus) di tengah kegelapan dunia.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Imamat yang rajani artinya imam yang mempunyai karakteristik raja. Kita dikuduskan, diberi kuasa otoritas, diangkat menjadi kepala dan bukan menjadi ekor dengan tujuan untuk melayani (bukan dilayani), menjadi pendoa, menjadi berkat; mempengaruhi dan membawa orang lain menjadi warga Kerajaan Allah (bukan dipengaruhi dan menjadi sama dengan dunia).

3. Bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.

Bangsa yang kudus artinya orang yang dipisahkan dari yang lain untuk digunakan secara khusus. Kita dipisahkan dari dunia untuk hidup bagi Allah. Bukan berarti kita semua harus melayani di gereja dan tidak boleh bekerja di dunia sekuler, tapi kita adalah hamba Allah di manapun Tuhan menempatkan kita. Meskipun berada di dunia yang gelap, cemar dan dikuasai hawa nafsu, tapi kita tidak hidup seperti dunia hidup. Kita menjadi umat kepunyaan Allah sendiri karena telah ditebus dengan harga yang sangat mahal yaitu Darah Anak Domba Allah, dan Roh-Nya berdiam di dalam kita (1 Korintus 6:19-20).

 

PENUTUP

Kita dipilih dari segala bangsa untuk menghasilkan hidup yang berbuah. Pemilihan hanya terjadi dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dalam kasih, Allah telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya  (Efesus 1:5). Fungsi anak adalah melakukan kehendak Bapa-nya dengan pertolongan Roh Kudus.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,  supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,  diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)

Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur yang benar dan menghidupi identitas sebagai bangsa pilihan, maka hidup kita pasti berbuah, lalu dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5b)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral, sosial, iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kasih dan kuasa Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah/guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa betapapun hebat, kaya, pintar, ternyata manusia adalah makhluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk merendahkan hati, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi GARAM dan TERANG, siap menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus. Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk secara unity dan terpadu menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para misionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang egois/tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di zaman ini. Bukan Tuhan yang kita tuntut harus memenuhi keinginan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Melakukan kehendak Tuhan adalah kerinduan utama orang yang mengasihi Tuhan. Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Murid Kristus bukan berarti sudah sempurna, tetapi yang mau hidup dalam pertobatan (tidak hidup dalam dosa), hidup dalam kekudusan, mau menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab/melakukan bagiannya.

Sifat seorang murid Kristus yang siap serta dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:
1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.

2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.

3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:25-27).

Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana kasih adalah motivasi dan tujuan dari semua pekerjaan misi. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tapi kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman.

Kasih sejati ini memampukan kita berkorban agar orang lain menerima keselamatan, menjadi murid Kristus dan warga Kerajaan Allah.
Dalam praktiknya, sering terjadi salah kaprah dengan menganggap bahwa Amanat Agung hanya sebatas pemberitaan Injil Kristus/Injil Keselamatan saja; padahal Tuhan Yesus juga memerintahkan kita untuk membaptis orang yang percaya kepada-Nya dan memuridkan mereka; memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua makhluk.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Injil Kristus adalah kabar baik keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus; Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi meliputi hukum, tatanan, keadilan, pemulihan, dan kehidupan yang sesuai kehendak-Nya. Aplikasi Amanat Agung harusnya bukan cuma menyentuh aspek rohani saja, tapi juga jasmani (Misi yang Holistik). Misi yang holistik adalah misi yang dilaksanakan oleh para rasul dan selanjutnya oleh Gereja sebagai amanat dari Tuhan Yesus: misi yang menerapkan nilai/prinsip kebenaran dan membangun Kerajaan Allah di tengah masyarakat dunia.

Tuhan Yesus memberi teladan dalam memberitakan kabar baik dan membawa perubahan yang signifikan di seluruh aspek kehidupan komunitas/masyarakat yang dilayani-Nya.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Seperti Tuhan Yesus melakukan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus, demikian pula halnya dengan Gereja. Kita tidak akan mampu melakukan Amanat Agung jika tidak terhubung dengan sumber kuasa, yaitu Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Jangan bergerak mendahului Roh Kudus, melainkan belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dengan efektif. Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung. .…. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kita diberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir zaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman, tapi persiapkan diri untuk dengan unity menyelesaikan Amanat Agung.

Selamat Tahun Baru 2026!

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

PEMBUKAAN

Anggota Cool yang dikasihi Tuhan, ada satu bahaya rohani yang sangat halus namun mematikan: ketika kita diberkati, kita lupa siapa Sumbernya. Dan ada satu ujian rohani yang sering kita lewatkan: ketika kita dipercaya hal kecil, kita menganggap remeh/ tidak penting.

Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ulangan 8:18).

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Dua ayat pokok di atas berbicara tentang dua hal: Blessings/berkat dan Trust/ kepercayaan.
Tuhan sang pemberi berkat, Ia juga penguji hati/karakter.

ISI

Ulangan 8:18  menjelaskan bahwa Tuhanlah SUMBER segala sesuatu.“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan…”

  1. Tuhan adalah pemberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan.

Tuhan tidak hanya memberikan kekayaan, tetapi kekuatan untuk memperoleh kekayaan.
Artinya:

  • Tuhan memberi kebijaksanaan.
  • Tuhan memberi kesempatan.
  • Tuhan membuka pintu hubungan.
  • Tuhan menaburkan ide, potensi, karunia, bakat serta kreativitas.

Apa pun yang kita capai — jabatan, bisnis, pelayanan, kesehatan, kesuksesan — bukan karena kekuatan kita, tetapi karena anugerah-Nya. Uang hanyalah kompensasi dari karya yang kita hasilkan dari kekuatan yang Tuhan berikan.

  1. Tantangan: kekayaan bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan.

Sewaktu berada di padang gurun, bangsa Israel bersandar penuh pada Tuhan.
Akan tetapi saat  sudah masuk Tanah Perjanjian, di suatu negeri yang berlimpah, mereka mulai bersandar pada hasil tangan mereka sendiri.

Godaan yang sama menghampiri kita: pada waktu miskin kita setia; pada waktu keadaan sulit kita berdoa lebih sungguh-sungguh; pada waktu tidak punya apa-apa, kita bergantung penuh pada Tuhan. Tapi ketika Tuhan memberkati, ketika keadaan ekonomi makin membaik, ketika usaha mulai berkembang…Kita mulai berkata dalam hati: “Ini hasil kekuatanku.” Itulah sebabnya Tuhan berkata: “INGATLAH!” Ini bukan perintah keras, tetapi perintah kasih: “Jangan sampai engkau lupa siapa yang memberi semua ini.”

Kekayaan bukanlah sesuatu yang tabu, dosa, ataupun yang harus dihindari. Kekayaan adalah anugerah Tuhan yang harus disikapi dengan benar serta dikelola dengan bijaksana dalam takut akan Dia, agar berkat tersebut mendatangkan kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

  1. Berkat bukanlah tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian.

Bagi orang yang tidak memahami kebenaran, berkat/kekayaan dijadikan sebagai tujuan/cita-cita hidup; digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, mewujudkan ambisi, simbol harga diri/identitas, sesuatu yang dapat diandalkan serta memberikan rasa aman. Pemahaman yang keliru seperti ini menyebabkan kekayaan yang seharusnya merupakan berkat dari Tuhan untuk dinikmati, malah berubah menjadi kutuk.

Tuhan memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya. Berkat kekayaan bukan sekedar hadiah; itu merupakan bagian dari hubungan perjanjian antara Tuhan dengan kita. Namun jika kita melupakan Perjanjiannya, kita kehilangan arah berkat itu.

Tidak ada yang salah dengan kekayaan, namun yang berbahaya adalah ketika keinginan untuk menjadi kaya membuat kita menyimpang dari iman, kehilangan kasih yang semula, tamak, serakah, tinggi hati, pelit, egois/tidak peduli orang lain, dlsb. Kekayaan yang tidak disikapi dengan benar dapat menjadikan seseorang terikat, bahkan membuatnya sukar masuk ke dalam Kerajaan Allah (Markus 10:23).

Allah tidak menentang kekayaan, tetapi membenci segala macam kejahatan yang ditimbulkan dari hati yang cinta akan uang. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang…”(1 Timotius 6:10). Uang dan kekayaan: berkat atau kutuk? Ini tergantung dari sikap/motivasi hati orang yang memilikinya. Apa yang kita lakukan dengan uang/kekayaan menyingkapkan di mana sesungguhnya hati kita melekat. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

BEKERJA  DARI SUDUT PANDANG TUHAN

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN

(Monthly theme: Cara Tuhan bekerja sebagai fondasi dari tujuan dan produktivitas)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Bekerja bukanlah suatu beban atau kutuk, tapi merupakan mandat Allah kepada manusia sejak awal penciptaan. Tugas pertama yang Allah berikan kepada manusia sebelum jatuh ke dalam dosa adalah bekerja mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15). Atas dasar kebenaran ini, setiap pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan sesungguhnya merupakan ibadah kepada Allah. Melalui pekerjaan, manusia dapat mengembangkan semua potensinya untuk dapat melayani Allah dan sesama. Melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan, kebaikan Allah ditampilkan kepada dunia dan nama Allah dimuliakan.

PERMASALAHAN

  • Kebanyakan orang memaknai bekerja dengan sekedar mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Ukuran keberhasilan dalam bekerja hanya dinilai secara materi. Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran nilai dalam bekerja. Bekerja bukan lagi bertujuan untuk melayani sesama atau untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi ajang kesempatan untuk mengejar popularitas, jabatan, kekuasaan, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya meskipun dilakukan dengan cara yang tidak jujur, misalnya korupsi. Akibatnya kualitas dalam bekerja serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri jadi terabaikan.

SOLUSI

  • Totalitas dalam bekerja bukan dinilai dari performance, tetapi dari sikap hati. Kalau dunia melihat kita dari performance, Tuhan melihat kita dari motivasi hati (1 Samuel 16:7b). Orang yang hatinya melekat kepada Allah, motivasinya akan diluruskan oleh Roh Kudus. Motivasi yang benar dalam bekerja/beraktivitas adalah karena iman yang tulus dan kasih kepada Allah. Motivasi yang benar akan membuahkan hasil yang memuliakan nama Tuhan. Motivasi yang benar mendatangkan berkat dan upah yang bersifat kekal, suatu harta yang tersimpan bagi kita di sorga di mana ngengat dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21).
  • Apakah kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, pengakuan, penghargaan, pujian, atau sebagai safety net di hari tua? atau karena kita ingin jadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Kolose 3:23 mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Bekerjalah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Ukuran keberhasilan kita bukan sekedar kepuasan orang atas pelayanan yang kita berikan, tetapi lebih dari itu, perkenanan Tuhan.

  • Melalui pekerjaan, manusia memiliki kesempatan untuk menggali potensi, mengembangkan kapasitas dan karakter untuk memberikan hasil berkualitas tinggi yang dibutuhkan oleh orang lain. Oleh sebab itu dalam bekerja, kita harus produktif. Produktivitas adalah bagian dari hidup yang menghasilkan sesuatu/berdampak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar atau maksimal. Dalam konteks pekerjaan, produktivitas biasanya mengacu pada kemampuan seseorang, tim, atau organisasi untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai hasil yang maksimal. Efektif adalah kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, sedangkan efisien adalah kemampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia demi mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Produktif berbeda dengan hanya sibuk. Produktivitas berfokus pada pencapaian tujuan yang bernilai, bermanfaat dan menguntungkan/menjadi berkat; bukan sekadar melakukan banyak aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Alokasikan sumber daya yang ada (mis. waktu, pikiran, tenaga, biaya) untuk menyelesaikan tugas-tugas penting dengan hasil yang optimal. Dalam pekerjaan, teruslah belajar, gali potensi, tambahkan pengetahuan, tingkatkan ketrampilan, dsb. Jangan jadikan bekerja  hanya sekedar untuk bertahan hidup.

PENUTUP

Setelah belajar materi kali ini, milikilah cara pandang dan motivasi yang benar dalam melakukan segala sesuatu. Bekerja merupakan mandat Allah bagi kita untuk melayani Tuhan dan sesama. Bekerja juga merupakan ibadah serta pengabdian kita kepada Tuhan Yesus. Besar atau kecil, terlihat atau tak terlihat, dihargai atau tidak dihargai, sebetulnya tidak perlu menjadi masalah jika kita mengerti bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan segenap hati, iman, kasih dan ketulusan, akan diperhitungkan Tuhan dan tidak ada yang sia-sia.

Bersambung ke bagian 2

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. (Filipi 2:15-16)

Kehendak Allah bagi orang percaya adalah hidup dalam kemurnian dan kekudusan di tengah generasi yang bengkok hati dan sesat. Hidup dalam kemurnian dan kekudusan artinya kita dipisahkan dari cara hidup/sistem dunia yang jahat, rusak, gelap dan menyesatkan. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita telah diberi hati yang rindu untuk hidup berkenan pada Allah.

Walaupun masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak mengikuti cara hidup dunia yang jauh dari persekutuan dengan Allah seperti yang tertulis dalam Efesus 4:17-20,”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

Pada kenyataannya, banyak orang Kristen yang hidupnya tidak beda dengan orang dunia, tidak memancarkan kemurnian dan kekudusan ilahi. Mengapa? Pertama, tidak mengerti isi hati Tuhan yang menghendaki kita menyembah-Nya dengan cara yang benar. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Ke dua, kurang menghormati hadiratNya. Beribadah karena hanya rutinitas atau motivasi lainnya, akibatnya tidak menerima manfaat dari ibadah karena dilakukan dengan hati tidak tulus (not sincere heart).

Ketiga, tidak mengalami transformasi hidup. Orang bisa rajin datang beribadah secara teratur bahkan pelayanan, tapi hidupnya tidak mengalami perubahan atau hanya berputar-putar di masalah yang sama. Hal ini disebabkan karena kehilangan kasih mula-mula, tidak terhubung secara pribadi dengan Tuhan, tidak mau mengampuni, mengeraskan hati, tidak mau menerima firman dengan hati terbuka, tidak hidup dalam pertobatan, kehilangan arah dan prioritas – sibuk mengejar hal-hal yang materi sehingga tidak ada waktu buat Tuhan, dan mempertahankan doktrin/kebenaran diri sendiri.

AJAKAN KEMBALI KEPADA KASIH YANG SEMULA
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat (Wahyu 2:5).

Tuhan mau supaya kita kembali kepada kasih yang semula, kasih kepada Tuhan yang kita miliki pada waktu baru bertobat dan mengalami kelahiran baru. Kasih yang timbul dari hati yang suci murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Peliharalah kasih yang semula, karena kasih kepada Allah seharusnya menjadi motivasi satu-satunya, di atas segala pengetahuan firman, karunia, berkat, pelayanan atau apapun yang kita lakukan.

Tinggallah di dalam kasih itu dengan terus terhubung pada pokok Anggur yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10).

MENYEMBAH ALLAH DENGAN CARA YANG BENAR
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran ; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24)

Selain diberikan hati yang baru, kita juga menerima benih ilahi yaitu firman Allah (1 Petrus 1:23) untuk dapat hidup dalam kebenaran yang murni serta kekudusan. Ini hanya bisa terjadi jika kita terhubung dengan Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui firman dan penyembahan. Allah menghendaki kita menjadi penyembah yang benar, yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Menyembah dalam roh, artinya menyembah dengan iman dan hati yang tulus dalam pimpinan Roh Kudus; dalam kebenaran artinya sesuai dengan firman Tuhan.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan:

A. Menghadap Allah melalui doa pujian penyembahan dengan sikap yang benar yaitu hati yang tulus iklas dan iman yang teguh (Ibrani 10:22).

Sesungguhnya Allah berkenan akan kebenaran dalam batin (Mazmur 51:8). Yeremia 17:9 mengatakan bahwa hati manusia itu licik; tidak seorangpun mampu mengenali keadaan hatinya sendiri jika tidak disingkapkan oleh Roh Kudus. Daud minta agar Tuhan menjadikan hatinya tahir, bersih, tidak menyimpan dosa, serta tunduk kepada Dia (Mazmur 139:23-24). Hampiri Allah dengan kerendahan hati, segala bentuk kesombongan harus ditanggalkan. Sebelum masuk hadirat Tuhan, minta Roh Kudus memeriksa kondisi batin kita supaya bisa mengakui dosa/kesalahan, bertobat dan menyembah Allah dalam ketulusan.

Menghadap Allah dengan iman yang teguh. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada (Ibrani 11:6) Dengan iman, kita percaya kepada perkataan-Nya. Orang yang tidak percaya/menolak firman Tuhan akan hidup dalam kesesatan yang menyebabkan mereka percaya kepada dusta (2 Tesalonika 2:11).

B. Disiplinkan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari supaya jiwa kita mengalami pembaruan.

Setiap manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memiliki benih yang menentang pengenalan akan Allah, yaitu pikiran yang bersifat karnal (a mind governed by the flesh, hanya memikirkan perkara-perkara daging). Akal budi yang tidak/belum diperbarui oleh firman Tuhan tidak mampu memahami ajaran tentang kebenaran. Kita tidak bisa menyembah Allah (yang adalah Roh) dengan pikiran karnal, sebab pikiran karnal tidak takluk kepada hukum/perintah Allah, sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.

Jadi jelas bahwa akal budi yang tidak diperbarui firman Tuhan membuat kita berjalan dalam kegelapan. Namun dengan merenungkan dan mempelajari firman, kita dimampukan menyangkal diri (menundukkan pikiran dan kehendak bebas kepada Kristus; mematikan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup) dan memikul salib (menderita karena firman kebenaran, ketaatan melakukan perintahTuhan). Segala pikiran, pendapat/cara pandang, asumsi, logika, kebenaran diri sendiri, serta emosi-emosi negatif dapat ditundukkan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Dengan demikian, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan melainkan terang Tuhan. Jadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan berharga yang sangat kita perlukan tiap hari; sebab manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4).

C. Fokus kepada Pribadi Allah. Jangan turunkan nilai penyembahan dengan sekedar menyanyikan lagu/memainkan alat musik tanpa hubungan secara personal dengan Allah dan pengenalan akan Pribadi-Nya. Penyembahan bukan bertujuan untuk memperoleh berkat dan mendapat apa yang kita inginkan. Kita menyembah Allah sebab IA memang layak untuk disembah dalam seluruh area di hidup kita. Luangkan waktu untuk sendiri bersama Tuhan di pagi hari melalui doa pujian penyembahan yang dilakukan dengan segenap hati, tidak asal dan terburu-buru.

Rasul Paulus mendefinisikan penyembahan sebagai gaya hidup serta seluruh aspek kehidupan yang didedikasikan untuk memuliakan Tuhan. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

KESIMPULAN

Roh Kudus dan firman Tuhan adalah dua unsur penting yang tidak bisa dipisahkan untuk menjadi penyembah yang benar, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Roh tanpa firman Tuhan bisa mengarah pada pengalaman spiritual yang dangkal, tanpa arah, dan emosional. Firman tanpa Roh menghasilkan ibadah yang kering, tanpa gairah sukacita kasih Tuhan dan legalisme belaka. Dengan selalu terhubung kepada Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui doa pujian penyembahan serta perenungan firman, kita jadi mengerti isi hati Allah serta melakukannya, yaitu hidup dalam kemurnian dan kekudusan.

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus mau mendewasakan kita di akhir jaman ini agar menjadi pribadi yang kuat dan tetap tenang di tengah berbagai krisis/guncangan yang melanda dunia, keluarga ataupun kita secara pribadi. IA mau kita menjadi dewasa, memiliki hikmat ilahi agar siap dipercaya untuk menjadi bagian dalam kegerakan Tuhan di dunia menjelang kedatangan-Nya yang ke dua kali.

ISI

Alkitab mencatat bahwa kedewasaan rohani seseorang ternyata tidak dihasilkan dari berkat atau mukjizat yang diterimanya. Sebagai contoh bangsa Israel yang telah mengalami banyak mujizat di padang gurun selama 40 tahun, namun sebagian besar mereka tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam iman, melainkan berubah setia dan tegar tengkuk, bersungut-sungut serta tidak taat kepada perintah Allah karena ketakutan, kekuatiran dan kebosanan hidup yang menekan.Keadaan ini membuat mereka tidak sabar dan menentang Allah dan hambaNya.

Proses pendewasaan merupakan bagian dari perjalanan iman yang diwajibkan bagi setiap orang percaya. Sayangnya banyak orang percaya kurang memahami bahwa karya keselamatan Yesus mencakup kelahiran baru dan pembaruan akal budi melalui pemuridan dan pemurnian agar semakin serupa dengan gambar Kristus (dewasa, berbuah dan memancarkan kemuliaan-Nya).

Ada pula yang menyangka bahwa mengikut Kristus hanya tentang beribadah sekali seminggu secara rutin, memberi persembahan, menyanyikan lagu-lagu pujian, merayakan Paskah dan Natal; mengikut Yesus supaya diberkati, menerima mukjizat atau supaya keinginan/doanya dikabulkan.

Kalau demikian, maka tidak heran jika banyak orang yang meski sudah lama jadi Kristen, masih hidup seperti orang yang tidak mengenal Tuhan dan kembali ke dunia lamanya karena belum mengalami perubahan/transformasi. Suka atau tidak, ternyata masalah, kesulitan, tekanan dan penderitaan dapat menjadi sarana yang tepat untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang dewasa dan tangguh. Pergumulan hidup bersama Tuhan membuat seseorang semakin sempurna dalam iman dan dewasa dalam karakter.

Tuhan memakai guncangan khususnya yang terjadi akhir-akhir ini untuk mendewasakan kita. IA berdaulat dan berhak melakukannya dengan cara yang sering kali tidak terduga oleh pemikiran kita, supaya kita bergantung penuh kepada DIA (bukan kepada hal-hal yang dapat terguncang seperti hal-hal fisik/materi) dan kepada kekuatan kasih karunia-Nya yang memampukan kita keluar sebagai pemenang.

Bagaimana guncangan dapat menjadi sarana yang dapat mendewasakan iman dan karakter kita?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yakobus 1:2-4).

Kata yang diterjemahkan sebagai ketekunan di sini memiliki arti kekuatan untuk menahan kesulitan atau tekanan, terutama ketabahan batin yang diperlukan untuk bertahan. Terjemahan lain mengartikan kata ketekunan ini antara lain sebagai ketabahan/steadfastness (ESV), ketahanan/endurance (AMP), dan kesabaran/patience (KJV, NKJV).

Kesabaran di sini adalah sebuah pilihan yang merupakan hasil dari penyangkalan diri yang dikerjakan oleh Roh Kudus, dan bukan emosi manusia. Pilihan untuk mengasihi Tuhan, untuk menaati kehendak-Nya, untuk tetap tenang dalam masa penantian, untuk bertahan saat berada di bawah tekanan, serta memilih untuk belajar dan bertumbuh melalui masalah/penderitaan.

Ketekunan merupakan suatu kekuatan karakter yang diperlukan untuk dengan sabar menanggung kesulitan dan penderitaan. Ketekunan memampukan seseorang untuk terus berjuang mencapai tujuan meskipun menghadapi rintangan atau kemunduran. Jadi bukan hanya sekedar bertahan mengatasi tekanan, tetapi mampu mengembangkan kekuatan mental dan emosional menuju kedewasaan.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1:4).

Be assured that the testing of your faith [through experience] produces endurance [leading to spiritual maturity, and inner peace]. And let endurance have its perfect result and do a thorough work, so that you may be perfect and completely developed [in your faith], lacking in nothing. (James 1:4, AMP Bible).

Ketekunan memerlukan 3 unsur : pengenalan kita akan Kristus, keputusan kita, dan pertolongan Roh Kudus. Pengenalan akan Kristus akan memperdalam akar (yaitu kasih Tuhan) serta membangun iman kita kepada DIA. Dengan kata lain, iman kita bukan sekedar keyakinan (believe), tapi iman yang berakar dalam kasih Kristus (trust), di mana kita mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang kita percayai dan sangat bisa diandalkan. Iman yang berakar dalam kasih berpotensi menjadi iman yang dewasa/menuju kesempurnaan.

Inilah yang mendorong kita untuk memutuskan tetap bertekun, tidak akan menyerah meski di tengah tekanan yang sulit. Tentu saja kita tidak mampu melakukannya sendiri, Roh Kudus-lah yang menolong, memberi kekuatan serta meneguhkan batin kita untuk tetap bertekun, bersabar, bertahan bahkan mampu bersukacita di dalam menghadapi kesesakan. Pada waktunya, kesabaran/ketekunan akan menghasilkan buah yang matang sehingga kita menjadi sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun (kedewasaan karakter).

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN (bagian 2)

TUHAN ITU ADIL

TUHAN ITU ADIL

Bulan lalu kita belajar tentang bagaimana mengelola tanah hati supaya tidak keras melainkan menjadi tanah hati yang subur. Bagi kebanyakan orang, goncangan merupakan bentuk peringatan dan penghakiman Tuhan supaya umat manusia merendahkan hati, bertobat dari dosa/kejahatannya dan berbalik kepada-Nya.

Bagi kita orang percaya, goncangan yang saat ini terjadi dipakai Tuhan untuk mendidik/mendisiplinkan kita supaya memiliki tanah hati yang subur dan memurnikan iman kita. Untuk itu Allah akan menggoncangkan apa yang dapat digoncangkan, supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan (Ibrani 12:27).

MENGENALI KEADILAN TUHAN
Alkitab mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Allah benci akan dosa/kejahatan; IA menyatakan murka-Nya terhadap segala bentuk kefasikan. Dalam keadilan-Nya, Allah harus menghukum semua orang berdosa dengan penghukuman kekal, …sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23a).

Jika demikian beratnya tuntutan keadilan Allah, maka semua manusia pasti akan binasa akibat dosa. Namun karena belas kasihNya (mercy), “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9b).

Keadilan vs Kemurahan / Penghukuman vs Kasih karunia (Justice vs Mercy / Judgment vs Grace)
Allah tidak hanya bersifat adil tapi IA juga bersifat murah hati. Di satu sisi, keadilan Allah akan menghakimi dan menuntut penghukuman setiap pelanggaran, di sisi lain sifat-Nya yang murah hati menjadi solusi dan harapan bagi umat manusia untuk diselamatkan dari belenggu dosa, kutuk dan kebinasaan kekal. Allah membenci dosa tapi menunjukkan belas kasihan terhadap orang berdosa yang mau bertobat.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yohanes 3:14-17).

Seperti Musa meninggikan ular tembaga (Bilangan 21:4-9), demikian pula Yesus harus ditinggikan di atas kayu salib agar setiap orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan. Ular tedung dari tembaga adalah simbol dari penghukuman Allah atas dosa pemberontakan manusia (di mana Allah menghukum bangsa Israel yang memberontak terhadap-Nya dengan melepaskan ular-ular tedung ke antara mereka).

Peninggian ular tembaga di atas tiang menunjukkan bahwa dosa dan hukuman manusia telah ditanggung oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib; sehingga barangsiapa yang percaya kepada-Nya melalui iman akan diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan karena usaha perbuatan baik manusia, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah (grace) melalui iman kepada Yesus Kristus (Efesus 2:8-9).

Belas kasihan (mercy) adalah saat kita tidak menerima hukuman yang pantas kita terima. Kasih karunia (grace) adalah ketika kita menerima kebaikan yang tidak layak kita terima.

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita (Mazmur 103:8-12).

Ayat di atas merupakan neraca kasih Allah yang menyatakan sifat keadilan-Nya yang menuntut penghukuman atas dosa dan pelanggaran, sekaligus menyatakan kemurahan hati-Nya yang tidak membalas setimpal dengan dosa kita melainkan menjauhkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat. Allah adalah pengasih dan penyayang; IA tahu dan memahami bahwa manusia begitu lemah dan sarat dengan keinginan-keinginan yang mencelakakan dirinya sendiri.

Di mana ada keadilan Allah, di situ pula kasih karunia-Nya dinyatakan. Itu sebabnya tuntutan keadilan Allah digenapi sepenuhnya dengan menimpakan segenap murka-Nya akan dosa kepada Kristus, dan kemurahan-Nya yang membawa keselamatan dilimpahkan kepada semua orang berdosa yang mau percaya kepada Kristus.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita , dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yesaya 53:5).

Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus (Roma 5:16-17).

Allah tidak kompromi dengan dosa, tapi IA memberi jalan keluar bagi manusia berdosa lewat Yesus Kristus. Contoh: wanita yang kedapatan berzina yang dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus. Tuhan tidak menghukum wanita tersebut melainkan memberi anugerah pengampunan dan arah hidup yang baru kepadanya…”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang “ (Yohanes 8:11).

Keadilan dan kasih karunia Allah harus didudukkan dalam perspektif yang benar. Bagaimana sikap yang benar dalam meresponi Keadilan/Penghukuman vs Kemurahan/Kasih karunia Allah?

1. Kita tidak hidup di dalam penghukuman.
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1).
Jika sudah percaya kepada Kristus, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan, sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Jika kita menyerahkan diri untuk berjalan dipimpin Roh Kudus, maka kita tidak berjalan dalam penghukuman melainkan dalam hukum Kasih Karunia.

Artinya walaupun kita masih saja bisa bikin kesalahan, tapi jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka kasih karunia Allah menolong kita untuk taat melakukan kehendak Allah dan hidup dalam kebenaranNya.

Jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka Allah adalah adil dan setia, Ia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita (1 Yohanes 1:9-10). Jika kita terus berjalan dalam ketaatan dengan pertolongan kasih karunia Allah, maka kita akan menuai buah-buah kebenaran, kekudusan, berkat dan hidup kekal.

2. Jangan menyalahgunakan kasih karunia.
Kita tidak boleh pandang enteng, menyalahgunakan atau menyia-nyiakan kasih karunia-Nya yang mulia dengan terus hidup dalam dosa, ketidaktaatan, atau dengan cara hidup yang seenaknya (hyper-grace). Milikilah roh yang takut akan Tuhan, hiduplah dalam pertobatan dan kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar.

3. Hiduplah dengan rasa syukur dan hati yang mengasihi Tuhan.
Rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan beri seharusnya memotivasi kita untuk mengasihi DIA. Barangsiapa mengasihi Allah, ia akan menuruti perintah-perintah-Nya. Kita menaati Tuhan bukan karena terpaksa atau dengan rasa ketakutan, tapi karena mengasihi DIA yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

PENUTUP
Goncangan yang terjadi di masa-masa ini akan membawa pemisahan antara lalang dan gandum. Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan; di tahun Penuaian ini, apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Jika kita menabur dalam daging akan menuai kebinasaan; jika menabur dalam Roh akan menuai berkat dan kehidupan. Yang tidak tergoncangkan adalah mereka yang menabur dalam Roh.