Author: EM

Home / Articles posted by EM
HIKMAT DALAM RELASI

HIKMAT DALAM RELASI

PENDAHULUAN

Setiap orang memiliki sifat, karakter, kebiasaan, kesukaan, tingkat kedewasaan, latar belakang, dan karunia yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat menjadi tantangan dalam membangun hubungan karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, perselisihan, iri hati, kesombongan, mementingkan diri sendiri, luka hati, dan perpecahan.

Itu sebabnya diperlukan hikmat agar perbedaan tersebut diarahkan menjadi kesempatan untuk belajar saling mengasihi, menghormati, memahami, melengkapi, menajamkan, dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Hikmat dari Allah menghasilkan hubungan yang sehat, damai, dan penuh kasih.

ISI

Baca Yakobus 3:13–18.
Dalam membangun hubungan, yang kita perlukan adalah hikmat Allah, bukan hikmat dunia. Hikmat Allah berorientasi kepada kebenaran dan kekekalan, hikmat dunia berorientasi kepada ‘diri sendiri’, kedagingan dan perkara-perkara duniawi.

PERBANDINGAN

Hikmat dunia:
– Mementingkan diri sendiri.
– Sombong.
– Iri hati.
– Menimbulkan perpecahan.

Hikmat dari Allah:
– Murni.
– Membawa damai.
– Lemah lembut.
– Penuh belas kasihan.
– Tulus dan tidak munafik.

Orang yang memiliki hikmat dari Allah menyatakan perilakunya dengan:

1. KERENDAHAN HATI

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12).

Kerendahan hati dalam hubungan adalah sikap yang menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.
Contoh sikap kerendahan hati:
– Tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, menganggap orang lain lebih utama dan melayani kepentingan mereka (Filipi 2:3-4).
– Bisa mengakui kekurangan, kesalahan, dan minta maaf,
– Bisa menerima teguran, koreksi dan diajar,
– Bisa menghargai, mengakui kelebihan, dan keberhasilan orang lain,
– Tidak perlu membuktikan diri dan menganggap diri benar,
– Ada penundukkan diri, bisa bekerja sama dengan orang lain,
– Menyikapi perbedaan dan menyelesaikan konflik dengan prinsip kebenaran dan kasih.

Kerendahan hati menghindarkan kita dari sikap egois, sombong (merasa diri hebat dan menunjukkannya), dan angkuh (merasa diri lebih tinggi dan memandang rendah orang lain). Kerendahan hati melindungi kita dari tipu daya si jahat yang membawa kepada kejatuhan. Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati akan ditinggikan atau dipromosikan oleh Tuhan pada waktunya, sementara orang yang tinggi hati akan direndahkan. Sikap saling merendahkan hati menciptakan keharmonisan, damai sejahtera, dan kesatuan.

2. KELEMAHLEMBUTAN

Kelemahlembutan (meekness) adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri. Kelemahlembutan bukan kelemahan, sikap pengecut atau pasif, melainkan pilihan yang disengaja untuk menahan kekuatan, hak, dan reaksi diri yang didasari oleh kerendahan hati dan kelembutan. Kelemahlembutan membuat seseorang tidak mudah terpancing oleh tindakan, ucapan, atau situasi yang dapat menimbulkan amarah atau emosi negatif lainnya. Sebaliknya, ia mampu menguasai diri dan menyerahkan kendali kepada pimpinan Roh Kudus.

Kelemahlembutan:
– mampu meredakan kegeraman dalam sebuah konflik atau perselisihan (Amsal 15:1).
– mencairkan ketegangan dan membuka ruang untuk berdialog.
– mampu bertutur kata dengan santun dan tenang, bahkan berempati terhadap orang yang memiliki pandangan berbeda.
– menghormati perbedaan tanpa harus memaksakan kesamaan pandangan.
– fokusnya menyelesaikan masalah dan mencari solusi, bukan berdebat atau memaksakan kehendak.

3. MENGAMPUNI

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Firman Tuhan mengajarkan bahwa respons terbaik dan paling bijak ketika kita disakiti adalah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mengampuni orang lain merupakan kewajiban setiap orang percaya. Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita, kita pun wajib mengampuni orang lain. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Matius 6:14–15).

Untuk bisa mengampuni orang lain, kita perlu membereskan hati dengan Tuhan terlebih dahulu. Saat hati kita telah dipulihkan, Roh Kudus memberikan kemampuan untuk mengampuni orang lain. Melepaskan pengampunan mendatangkan berkat dan kebaikan bagi diri kita. Hati dan jiwa kita dilepaskan dari ikatan dan beban emosi negatif sehingga kita mengalami ketenangan, damai sejahtera, sukacita, pemulihan, dan pertumbuhan karakter.

Belajarlah untuk melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Tuhan: bahwa perlakuan buruk yang kita alami dapat dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan, membentuk karakter, serta membawa kita masuk ke dalam panggilan-Nya. Seperti Yusuf memaknai perlakuan buruk saudara-saudaranya di masa lalu dengan cara pandang Tuhan: Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20).

4. MENJADI PEMBAWA DAMAI

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh… (Kolose 3:14-15).

Menjadi pembawa damai bukan berarti kita berkompromi dengan dosa dan dunia atau memihak kepada manusia. Menjadi pembawa damai juga tidak berarti menyenangkan semua orang. Menjadi pembawa damai berarti kita berpihak pada kebenaran yang berdasarkan firman Tuhan. Damai yang sejati hanya timbul dari kebenaran, bukan dari perasaan atau keadaan (Yesaya 32:17).
Sebagai pembawa damai, hati kita harus dipenuhi oleh kasih dan damai sejahtera yang diperoleh melalui persekutuan dengan Kristus, Sang Raja Damai.

Dalam mengusahakan perdamaian:
– minta hikmat dari Roh Kudus untuk menyelesaikan konflik dengan bijak;
– kenakan kasih Allah sebagai pengikat yang mempersatukan;
– gunakan perkataan yang santun, membangun, dan mengarahkan kepada kebenaran,
– jangan memperkeruh keadaan dengan menghakimi, menghasut, memecah-belah, atau menyebarkan gosip;
– tanggalkan keakuan, rendahkan hati, dan utamakan kepentingan bersama serta kesatuan.

Belajarlah menjadi pihak yang proaktif dalam mengusahakan perdamaian di tengah sebuah konflik. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Roma 12:18).

APLIKASI
Mintalah Tuhan menunjukkan satu hubungan yang perlu dipulihkan, lalu ambillah langkah pertama untuk berdamai.

PERTANYAAN DAN DISKUSI SINGKAT

Hubungan apa yang perlu dipulihkan?
Bagaimana hikmat Allah dapat mengubah cara Anda merespons orang lain?

PENUTUP

Hubungan pribadi kita dengan Tuhan akan memancarkan kasih, kelemahlembutan, kemurahan, kerendahan hati, dan kedamaian yang dapat kita bagikan kepada orang lain. Jadilah pelaku firman agar hikmat yang kita peroleh menolong kita menata relasi dengan orang lain menjadi sehat, harmonis, damai, dan penuh kasih.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5).

Hikmat membuat kita mampu melihat dan menyikapi perbedaan dengan cara pandang Tuhan, sehingga kita dapat menjalankan visi-Nya secara sinergis dan dalam kesatuan.

JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

Senin. JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

Baca: Filipi 3:17-21

“Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.” Filipi 3:18

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata seteru memiliki arti: musuh perseorangan (orang dengan seorang); musuh pribadi. Mengenai salib, ada yang menyenangi salib karena menganggap salib tak dapat dipisahkan dari kasih, karena di atas salib itu ada orang yang mau mati bukan karena manusia baik, melainkan demi keselamatan manusia berdosa. Bagi sebagian orang salib segala-galanya, karena salib ia diselamatkan, dosanya diampuni, dan ia dibenarkan. Demikianlah sikap yang benar tentang salib, bahwa karena salib kita diangkat sebagai anak Allah. Pada salib ada pengharapan dan kepastian bahwa yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan dan yang susah dihiburkan.

Siapa yang dimaksudkan rasul Paulus sebagai seteru salib itu? Seteru salib bukanlah sekedar orang yang tidak percaya, tapi yang Paulus maksudkan adalah orang yang tidak peduli terhadap kuasa salib, yaitu mereka yang sudah mengenal dan tahu tentang kebenaran, dan mengalami kuasa salib, tapi tidak hidup dalam kebenaran, alias tetap hidup dalam dosa. Itu artinya sama saja menolak dan meremehkan salib Kristus. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan hendaklah kita menjadi orang-orang yang menghargai salib Kristus, karena kita ada sebagaimana kita saat ini hanya karena darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib.

Seteru salib adalah orang yang tidak siap memikul salib. Artinya orang yang hanya mau enaknya saja, mau menerima berkat, mau menerima mujizat, tapi ketika dihadapkan pada ujian dan tantangan, mereka secepat kilat bersungut-sungut kepada Tuhan, menjadi kecewa dan bahkan meninggalkan Tuhan. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Seteru salib adalah orang yang tidak menjadikan salib sebagai tujuan hidupnya, tujuan hidupnya semata-mata kepentingan diri sendiri dan berorientasi kepada perkara-perkara duniawi.

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6:14


Selasa. JANGAN SEMBARANGAN MENEGUR
Baca: 1 Tesalonika 5:12-22

“Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.” 1 Tesalonika 5:14

Adalah fakta jika banyak orang suka sekali menegur orang lain, tapi tidak senang ditegur. Kita mudah sekali melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, tapi tak mudah melihat kesalahan dan kelemahan diri sendiri. Dan yang tak kalah pentingnya adalah cara menegur pun keliru, tidak sesuai firman Tuhan. Berhati-hatilah! Sebab jika cara kita menegur salah dapat berakibat fatal: orang menjadi tersinggung, marah, kecewa, ngambek, sakit hati atau terluka. Ada juga yang berniat baik menegur, tapi menyuruh orang lain menyampaikannya karena merasa sungkan menegur langsung. Dalam ayat 14 ini setidaknya ada empat hal yang perlu ditegaskan: tegurlah mereka yang hidup tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, dan sabarlah terhadap semua orang.

Siapa yang pantas menegur? Orang yang hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan dan memiliki kasih. Jangan sekali-kali kita menegur orang lain karena iri hati, jengkel atau marah, melainkan karena kita mengasihi mereka. Kita menegur karena ada kasih dalam hati kita. Dalam menegur, kasih saja tidaklah cukup, kita sendiri harus hidup benar. Kalau kita sendiri tidak hidup dalam kebenaran kita tidak pantas menegur orang lain. Itu bisa mendatangkan cela bagi diri sendiri, atau senjata makan tuan.

Bagaimana cara menegur yang tepat? Ketika menegur gunakan kata-kata yang bermuatan kasih, dengan kata-kata yang tepat, dan pada saat yang tepat pula. Dunia saat ini penuh dengan orang-orang yang dengan sembarangan menegur sesamanya dengan tujuan untuk mempermalukan dan merendahkan.

Siapa yang perlu ditegur? Orang yang melakukan kesalahan atau pelanggaran. Janganlah menegur orang hanya karena mereka berbeda prinsip dengan kita, atau tidak menuruti kemauan dan kehendak kita, tapi tegurlah orang yang berbuat salah atau menyimpang dari firman Tuhan, bukan orang yang kita anggap salah.

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain…” Kolose 3:16


Rabu. ORANG PERCAYA: Berasal dari Kebenaran
Baca: 1 Yohanes 3:19-24

“Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran.” 1 Yohanes 3:19

Meski masih menjalani hidup di dunia ini Alkitab menegaskan bahwa keberadaan orang percaya bukanlah dari dunia ini, sehingga tidak sepatutnya kita memiliki pola hidup seperti dunia. “…kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:19); dan karena kita berasal dari kebenaran (ayat nas), maka Tuhan memberikan Roh Kudus untuk menyertai dan menolong kita. Selain itu Tuhan memberikan sebuah amanat bagi orang percaya yaitu supaya menjadi garam dan terang bagi dunia ini (Matius 5:13-16).

Inilah ciri hidup orang yang berasal dari kebenaran yaitu hidup dalam ketenangan. Kalau kita berasal dari kebenaran dan hidup dalam kebenaran kita pasti akan tenang dalam menjalani hidup. “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” (Yesaya 32:17). Yang membuat orang tidak hidup tenang adalah ketika ia hidup dikuasai oleh dosa sehingga setiap saat selalu timbul rasa bersalah, karena Iblis terus mendakwanya. Selama kita hidup dalam kebenaran Tuhan pasti akan membela dan memberkati hidup kita. Orang yang berasal dari kebenaran pasti memiliki kerinduan yang besar untuk tinggal dekat Tuhan, sebab ia menyadari bahwa “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Mazmur 62:2). “Karena itu…lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:11). Di mana pun kita berada dan seberat apa pun tantangan, kita akan mampu melewatinya selama kita dekat dengan-Nya.

Orang yang berasal dari kebenaran pasti taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan, “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (1 Yohanes 3:22). Jaminan bagi orang yang taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan adalah apa yang diminta dan didoakan pasti dijawab oleh Tuhan!

Sudahkah kita benar-benar memenuhi kriteria sebagai orang yang berasal dari kebenaran?


Kamis. DI BALIK LAYAR
Baca: Kisah Para Rasul 9:1-19

“Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: ‘Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.'” Kisah 9:17

Banyak orang terkagum-kagum dengan kebesaran, kehebatan atau prestasi yang diraih seseorang dalam bidang yang ditekuninya. Misalnya adalah Susi Susanti. Siapa yang tidak mengenal sosok Susi Susanti? Salah satu legenda bulutangkis Indonesia. Lucia Fransisca Susi Susanti (nama lengkapnya), lahir 11 Februari 1971 di Tasikmalaya (Jawa Barat). Serentetan prestasi telah diukir Susi Susanti: medali emas Olimpiade, juara dunia 1993, juara piala dunia (6x), juara final Grand Prix (6x), dan masih banyak lagi. Tapi tahukah siapa orang-orang yang berperan besar dalam keberhasilan Susi Susanti? Tak semua orang tahu. Selain kedua orangtua, ada peran pelatih, baik yang melatih Susi mulai dari klub kecil atau yang melatihnya saat berada di pelatnas Cipayung. Meski hanya berada di balik layar mereka memiliki sumbangsih yang cukup berarti bagi karir Susi Susanti.

Begitu pula rasul Paulus, semua orang percaya pasti mengenal namanya! Seorang tokoh besar di dalam Perjanjian Baru yang dipakai Tuhan secara luar biasa dalam pemberitaan Injil. Namun di balik kesuksesan rasul Paulus dalam pelayanan ada orang yang tak boleh dilupakan dan dianggap remeh perannya. Orang itu adalah Ananias, orang Kristen pada abad pertama Masehi di kota Damsyik atau Damaskus. Disebutkan bahwa Ananias diperintahkan Tuhan untuk menyembuhkan kebutaan Paulus, yang waktu itu masih bernama Saulus. “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kisah Para Rasul 9:15), membaptisnya menjadi seorang pengikut Kristus (Kristen), serta membimbingnya untuk mengenal Tuhan Yesus lebih lagi. Bisa dikatakan Ananias menjadi tokoh di balik layar yang mengantarkan Paulus menjadi hamba Tuhan besar.

Mungkin saat ini Saudara hanya bekerja ‘di balik layar’ dan pelayanan, tidak semua orang mengenal siapa Saudara dan mungkin Saudara dipandang remeh oleh banyak orang. Namun jangan merasa kecil hati, percayalah bahwa Tuhan melihat, memperhatikan dan memperhitungkan setiap jerih lelah Saudara!

Meski manusia tak melihat, Tuhan tidak pernah terlelap dan tertidur!


Jumat. PENGUASAAN DIRI PERLU DILATIH
Baca: Titus 2:1-10

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal…” Titus 2:6

Sebagian orang Kristen merasa bangga dan menganggap diri kuat secara rohani jika telah melayani pekerjaan Tuhan atau terlibat secara aktif dalam kegiatan-kegiatan kerohanian gereja. Namun masih sering kita dengar dan lihat dengan mata kepala sendiri banyak di antara mereka yang jatuh dalam dosa, sekalipun melayani di altar, ada yang terlibat dalam pertikaian keluarga karena urusan warisan, saling berselisih dengan sesama hamba Tuhan dan saling menjatuhkan, ada pula yang jatuh dalam dosa meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi! Hendaklah kita pahami bahwa percaya pada Tuhan Yesus tidak secara otomatis menjadikan kita kebal terhadap segala macam godaan dari si jahat, sebab “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Oleh karena itu kita harus senantiasa berjaga-jaga dalam berdoa supaya kita tidak jatuh!

Keberadaan kita sebagai jemaat awam, terlebih-lebih bagi kita yang sudah masuk dalam dunia pelayanan, mengharuskan kita memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang-orang di luar Tuhan. Siapa pun yang mempercayakan hidup kepada Tuhan Yesus harus hidup sama seperti Kristus telah hidup (baca 1 Yohanes 2:6), sehingga keberadaannya mampu menjadi teladan… “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,” (Titus 2:7).

Demikian pula untuk dapat menjadi teladan, kita memerlukan latihan dalam hal penguasaan diri. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27). Melatih tubuh dan menguasai seluruhnya berarti berjuang untuk dapat menguasai diri dari belenggu keinginan-keinginan dagingnya yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, supaya ia tidak ditolak oleh Tuhan.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi teladan dan mampu memenangkan jiwa bagi Tuhan, bila kita sendiri masih belum memiliki penguasaan diri terhadap keinginan-keinginan daging?

Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi berkat dan teladan yang baik!


Sabtu. TAK PERNAH MEMAKSA
Baca: Yohanes 13:1-20

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Yohanes 13:13

Dunia saat ini penuh orang-orang yang suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Terkadang pemaksaan itu disertai tekanan dan ancaman. Berbeda dengan Tuhan Yesus, Ia tak pernah memaksa orang untuk menyebut Dia sebagai Tuhan. Tuhan Yesus tidak pernah berkata, “Kamu harus sujud di bawah kaki-Ku, kamu harus menyembah Aku, kamu harus…” Tuhan memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia. Demikianlah bebasnya sampai ada orang yang “…meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia,” (Matius 26:67). Itulah yang diperbuat orang-orang yang membenci dan memusuhi-Nya, bahkan menghujat, mengumpat, menjadikan Dia bahan tertawaan atau lelucon. Puncaknya mereka membunuh dan menyalibkan Dia di atas Golgota.

Sebagai orang percaya kita menyerahkan hidup sepenuhnya di bawah kekuasaan Tuhan Yesus dan taat kepada-Nya karena kemahakudusan-Nya, karena ke-Ilahian-Nya, bukan karena kita dipaksa dan diintimidasi untuk melakukan hal itu. Tuhan Yesus tak pernah memaksa kita untuk taat kepada-Nya, tetapi karena kita tahu bahwa Dia adalah Tuhan, dan Raja di atas segala raja, maka patutlah kita menghormati, menyanjung dan meninggikan nama-Nya, karena Bapa sendiri sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:9-11).

Adalah kerugian besar jika kita tak mau percaya dan taat kepada Tuhan Yesus, karena “…baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” (Roma 14:8-9).

Inilah keunggulan Tuhan Yesus, lebih dari nabi-nabi yang pernah ada, sebab Dia bukanlah nabi, tapi Dia adalah Tuhan dan Raja di atas segala raja, tapi manusia enggan mengakui-Nya. “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya… Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.” Yohanes 3:31


Minggu. MEMERHATIKAN YANG KELIHATAN PASTI KECEWA
Baca: 2 Korintus 4:16-18

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Pada banyak kesempatan Tuhan Yesus sering memperingatkan umat-Nya untuk tidak mudah kecewa, karena pada dasarnya Tuhan tahu bahwa tidak seorang pun manusia kebal terhadap kekecewaan. Inilah yang gencar diperbuat Iblis, yaitu mencari cara untuk melemahkan dan membuat orang percaya mudah kecewa. Di masa-masa seperti ini Iblis ingin sekali membuat kita hanya mengarahkan pandangan atau memerhatikan hal-hal yang sifatnya tampak kasat mata. Karena dengan memerhatikan apa yang kelihatan, pada akhirnya semua itu akan menuntun kepada kekecewaan demi kekecewaan.

Memang kalau kita melihat yang kelihatan di depan mata, siapa pun pastinya pasti kecewa: masalah datang silih berganti, penderitaan dirasa makin hari makin berat, keadaan semakin hari semakin menyulitkan. Namun rasul Paulus mengingatkan, “…penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Korintus 4:17). Mengapa dikatakan penderitaan ringan? Bukankah berat? “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Kita tidak menghadapi pergumulan itu sendirian, sebab Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (baca Roma 8:28).

Karena kesemuanya itulah rasul Paulus bertekad untuk “…tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:18). Sesulit apa pun keadaannya, jangan kecewa, sebab semua itu sementara. Marilah belajar melihat apa yang tidak kelihatan, yaitu mengarahkan pandangan kepada Yesus dan janji firman-Nya.

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Ibrani 10:35

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 2
HIKMAT DALAM HUBUNGAN DAN KEPUTUSAN

Review SESI 1
Di sesi 1 kita belajar bahwa hikmat memengaruhi cara kita hidup: bagaimana kita menggunakan waktu dan bagaimana kita berkata-kata.

Di sesi 2 kita akan melihat bagaimana hikmat memengaruhi: hubungan yang kita bangun dan keputusan yang kita ambil.

III. HIKMAT UNTUK MEMILIH DAN MEMBANGUN HUBUNGAN YANG SEHAT
Baca Yakobus 3:13

Yakobus mengajarkan bahwa hikmat sejati tidak terutama dibuktikan melalui kata-kata yang hebat, pengetahuan yang luas, atau kemampuan untuk mengalahkan lawan bicara. Hikmat dibuktikan melalui cara hidup yang baik dan perilaku yang lahir dari kelemahlembutan.

Ini sangat penting dalam hubungan. Kita dapat memiliki pengetahuan yang benar, tetapi memiliki sikap yang kasar. Kita dapat memiliki niat yang baik, tetapi kata-kata kita justru melukai.

Kita dapat merasa sedang menolong seseorang, tetapi cara kita memperlakukan orang tersebut justru membuat hubungan menjadi rusak.
Karena itu, hikmat Tuhan menghasilkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan bukan berarti lemah. Kelemahlembutan adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri.

Orang yang berhikmat belajar:
tidak cepat bereaksi,
tidak mudah tersinggung,
tidak selalu harus menang,
mau mendengar,
menghargai perbedaan,
mampu mengendalikan emosi,
berbicara dengan hormat,
memberikan ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.

Dalam memilih dan membangun hubungan, kita juga membutuhkan hikmat untuk mengenali:
Siapa yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita? Hubungan mana yang perlu kita bangun?
Hubungan mana yang perlu kita jaga batasnya? Bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang lain tanpa kehilangan prinsip kebenaran?

Setiap orang harus kita perlakukan dengan kasih dan hormat, terutama orang-orang terdekat kita.
Namun, kita juga perlu memahami: tidak semua orang harus menjadi orang terdekat kita.
Mengasihi seseorang tidak berarti kita harus memberikan akses yang sama kepada semua orang.
Ada hubungan yang perlu dibangun.
Ada hubungan yang perlu dipulihkan.
Ada hubungan yang perlu dijaga.
Dan ada hubungan yang membutuhkan batas yang sehat.

Hikmat menolong kita mengasihi tanpa kehilangan batas, dan menetapkan batas tanpa kehilangan kasih.

IV. HIKMAT UNTUK MENETAPKAN PRIORITAS YANG BENAR
Baca Amsal 3:5–6

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Salah satu bentuk hikmat terbesar adalah kemampuan untuk menentukan:
Apa yang harus didahulukan?
Tidak semua hal memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Tidak semua kesempatan harus kita ambil.
Tidak semua masalah harus kita selesaikan sendiri.
Tidak semua permintaan harus kita penuhi.

Belajar berkata “tidak” pada sesuatu yang bukan prioritas bukan berarti egois. Itu dapat menjadi bentuk hikmat. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk:
memahami,
menerima pewahyuan,
menilai,
membedakan,
menemukan,
memaknai,
dan mengambil kesimpulan dengan benar.

Hikmat membuat kita mampu melihat bukan hanya apa yang terlihat sekarang, tetapi juga apa akibatnya bagi masa depan.
Setiap keputusan yang kita ambil dapat memengaruhi: diri kita → keluarga kita → orang-orang di sekitar kita → bahkan generasi yang akan datang.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, tanyakan:
1. Apakah ini memuliakan Tuhan?
2. Apakah ini membawa manfaat?
3. Apakah ini menunjukkan kasih?
4. Apakah ini sesuai dengan prinsip firman Tuhan?
5. Apakah ini bernilai untuk kekekalan?

Kadang-kadang keputusan yang paling bijaksana bukanlah keputusan yang paling menguntungkan saat ini, tetapi keputusan yang paling benar di hadapan Tuhan.

REFLEKSI DAN DISKUSI SESI 2
Adakah hubungan dalam hidup saya yang membutuhkan kelemahlembutan, batas yang sehat, atau pemulihan?

Apakah saya memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menang dalam hubungan atau argumentasi?

Apa yang selama ini menjadi prioritas saya? Apakah prioritas tersebut benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan?
Keputusan apa yang sedang saya hadapi saat ini dan membutuhkan hikmat Tuhan?

Apakah ada sesuatu yang perlu saya katakan “tidak” supaya saya dapat mengatakan “ya” kepada
sesuatu yang lebih penting bagi Tuhan?

PENUTUP

Amsal 4:7 berkata: “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian.”

Hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan. Kita membaca dan merenungkan firman Tuhan sehingga memperoleh pengertian tentang kebenaran dan kehendak-Nya. Tetapi hikmat tidak berhenti pada pengetahuan. Hikmat adalah ketika kebenaran yang kita ketahui mulai mengubah cara kita hidup.

Kita dapat menyederhanakannya:
Pengetahuan rohani + Pengertian + Penerapan = Hikmat yang menghasilkan kehidupan yang benar.

Hikmat sejati bersumber dari Tuhan dan diberikan melalui Roh Kudus. Karena itu, bangunlah hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, kita belajar melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang kita rasakan atau pikirkan, tetapi dari perspektif Tuhan.

Hikmat akan menolong kita:
menggunakan waktu dengan bijaksana, berkata-kata dengan benar, membangun hubungan yang sehat, menetapkan batas yang benar, menentukan prioritas yang benar, dan mengambil keputusan yang membawa kita semakin dekat kepada tujuan Tuhan.

Pada akhirnya, hidup berhikmat bukan sekadar tentang membuat keputusan yang pintar.
Hidup berhikmat adalah:
belajar melihat seperti Tuhan melihat,
memilih seperti Tuhan menghendaki,
dan hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Iman membawa kita untuk percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan bersama Tuhan.
Dan ketika iman dan hikmat berjalan bersama, kita bukan hanya percaya kepada rencana Tuhan, tetapi juga belajar menjalani rencana Tuhan dengan benar.

MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak

MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak

Senin: MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak
Baca: Galatia 5:1-15

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

Haleluyah! Kita sebagai orang percaya yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI patut bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena pada hari ini bangsa kita memperingati Hari Kemerdekaan. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-81! Di samping bersyukur, perlu sekali kita mengkaji ulang melalui firman Tuhan tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka berarti secara fisik tidak ada bangsa lain yang menjajah lagi. Berbicara mengenai kemerdekaan juga tidak terlepas dari hal kelepasan, ketenangan, kedamaian, sukacita dan kesejahteraan. Selama 81 tahun bangsa Indonesia mengenyam kemerdekaan, sudahkah kita benar-benar mengalami kemerdekaan yang sejati? Ini yang patut untuk kita renungkan.

Peringatan Hari Kemerdekaan RI di tahun 2026 ini terasa sangat berbeda, karena kita merayakan hari ulang tahun kemerdekaan di tengah situasi bangsa yang sedang karut-marut. Ada banyak sekali ujian dan cobaan menimpa bangsa ini: mulai dari banyaknya bencana alam yang terjadi, semakin meningkatnya tingkat kriminalitas, pemerintah juga diguncang oleh berbagai penyimpangan, bahkan isu SARA yang mengarah kepada perpecahan dan ketidakharmonisan begitu marak terjadi. Sungguh sangat memprihatinkan! Firman Tuhan sudah memperingatkan: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13). Kemerdekaan tidak akan berarti apa-apa jika kemerdekaan yang telah diraih dengan penuh perjuangan oleh para pahlawan bangsa tersebut tidak diisi dengan hal-hal yang baik dan positif.

Pula dalam kekristenan, karena kita telah dimerdekakan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, maka kita harus memiliki kesadaran tinggi untuk tidak mau diperbudak lagi oleh dosa. Karena itu kita harus mengerjakan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan itu dengan hati yang takut dan gentar (baca Filipi 2:12).

Jangan sia-siakan kemerdekaan, tapi pergunakan kemerdekaan itu untuk hidup lebih berkenan kepada Tuhan!


Selasa: KEGAGALAN: Ketidaktaatan dan Kekerasan Hati

Baca: Ibrani 3:7-19

“Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun,”” (Ibrani 3:7-8)

Tuhan telah berjanji kepada umat Israel: “Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,” (Keluaran 3:8). Namun tidak semua umat Israel dapat menikmati Kanaan, sebagian dari mereka gagal mencapainya dan harus meninggal di padang gurun. Kegagalan itu bukan berarti Tuhan ingkar terhadap janji-Nya atau berlaku kejam terhadap mereka. Ingat, Tuhan tidak pernah merancang kecelakaan atau hal-hal yang jahat bagi umat-Nya, tapi rancangan-Nya adalah “…rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).
Kalau pada akhirnya ada sebagian bangsa Israel yang gagal mencapai Tanah Perjanjian, penyebabnya adalah keputusan dan pilihan mereka sendiri, sekalipun mereka adalah bangsa pilihan Tuhan, “Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,” (1 Korintus 10:5-6). Secara individu ada banyak dari bangsa Israel yang mengeraskan hati dan tidak mau tunduk kepada tuntunan Tuhan, padahal selama menempuh perjalanan di padang gurun hari-hari mereka dipenuhi dengan mujizat dan perbuatan ajaib dari Tuhan. Bahkan Alkitab mencatat: “Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.” (Ulangan 8:4).
Kegagalan bangsa Israel ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi orang percaya! Tuhan tidak menghendaki kita bernasib sama seperti mereka yang binasa, Ia mau kita bersungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan, setia sampai akhir! Tak ingin menuai kegagalan dan kebinasaan? Perhatikanlah hidupmu mulai dari sekarang!

Sebagian umat Israel harus menelan pil pahit yaitu binasa di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian karena mereka mengeraskan hati dan tidak taat!


Rabu: SAAT TUJUAN HIDUP MULAI BERGESER

Baca: Yohanes 5:30-47
“…sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 5:30b)

Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup. Karena memiliki tujuan hidup kita terdorong untuk menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian dengan mata yang tertuju kepada apa yang hendak dicapai. Iblis senang sekali mengaburkan dan merenggut tujuan hidup dari setiap orang percaya dan membawanya kepada suatu keadaan yang dipenuhi dengan kebimbangan dan keragu-raguan. Ketika orang hidup dalam kebimbangan dan keraguan saat itulah ia tidak lagi percaya penuh akan Tuhan dan janji firman-Nya. Itulah permulaan orang mulai kehilangan tujuan hidupnya!

Keberhasilan hidup dinilai oleh dunia dari apa yang dimiliki seseorang, seperti kekayaan, reputasi, kekuasaan, jabatan, popularitas dan sebagainya. Jika orang percaya merasa tidak memiliki semuanya itu mereka menganggap diri sebagai orang yang gagal mencapai tujuan hidup. Tetapi ukuran keberhasilan hidup seseorang di mata Tuhan adalah bagaimana ia memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya. Tuhan Yesus memiliki satu tujuan hidup yaitu melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya (ayat nas). Ini bukanlah merupakan kata-kata belaka, tapi Dia membuktikan dengan tindakan nyata pada waktu Dia menghadapi penyaliban-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42). Sesungguhnya Tuhan Yesus tidak ingin minum cawan dosa segenap dunia, tetapi Dia menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa-Nya, dan bahkan Ia taat sampai mati di atas kayu salib.

Kita harus mengerti tujuan Bapa mengutus Tuhan Yesus ke dunia yaitu untuk menebus dan menyelamatkan kita dari penghukuman kekal, menyembuhkan segala penyakit kita dan untuk menghapus segala kutuk. Semua perkara itu dapat disimpulkan secara ringkas: “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” (1 Yohanes 3:8b). Sebagai umat tebusan-Nya seharusnya kita mengerti akan kebenaran ini. Apa respons Saudara?

“Karena bagiku hidup adalah Kristus… jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:21-22)


Kamis: ORANG PERCAYA BUKAN ANAK GAMPANG

Baca: Ibrani 12:1-17

“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Jangan pernah kita menganggap enteng atau sepele jika kita dihadapkan pada masalah atau penderitaan, dan jangan anggap pula bahwa hal itu sebagai hal yang kebetulan saja. Semua itu bukanlah suatu peristiwa atau kejadian yang tanpa sebab musabab. Kita harus memiliki kepekaan rohani, bahwa hal-hal itu diatur oleh Bapa setiap hari bagi kita demi kebaikan kita juga. Ini adalah cara Bapa untuk mendidik kita agar kita tak tersesat jalan dan beroleh hidup yang kekal. Sebagai Bapa yang baik Dia tak ingin jiwa kita binasa oleh ketidaktaatan kita terhadap perintah-perintah-Nya.

Dengan masalah atau penderitaan yang kita alami Bapa mendidik kita agar kita dapat hidup dengan iman yang benar-benar tertuju kepada Tuhan Yesus. Karena itu beban-beban dan dosa harus ditinggalkan semua seperti tertulis: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” (Ibrani 12:2-3).

Oleh karena itu “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:7-8). Tetaplah mengucap syukur jika kita ditegur Tuhan melalui masalah atau penderitaan, itu artinya Tuhan sangat mengasihi dan memperhatikan kita.

Banyak anak Tuhan yang ngambek dan tidak bisa menerima keadaan ketika menghadapi masalah dan penderitaan. Mereka berpikir Tuhan itu jahat dan tidak mengasihi dirinya. Namun, “… Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.” (Ayub 5:18).

Teguran Tuhan atas kita adalah bukti bahwa kita ini anak yang dikasihi-Nya!


Jumat: SESUAI DENGAN WAKTU TUHAN

Baca: Kejadian 37:1-11

“Katanya: ‘Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.'” (Kejadian 37:9b)

Waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia, cara Tuhan bukanlah cara manusia, jalan dan rancangan Tuhan berbeda pula dengan jalan dan rancangan manusia. Tuhan mempunyai rancangan terhadap setiap kehidupan orang percaya. Tetapi adakalanya rencana itu baru terwujud kebenarannya atau tergenapi setelah beberapa waktu kemudian sesuai dengan waktu-Nya. Itulah yang seringkali tidak kita mengerti! Karena ketidakmengertian ini akhirnya kita mengambil jalan pintas sendiri, atau terlalu cepat mengeluarkan pendapat atau komentar terhadap orang lain.
Peristiwa seperti di atas menimpa kehidupan Yusuf. Ia bermimpi tentang masa depannya yang cerah dan gemilang, tapi semua saudaranya dan termasuk orangtuanya tak mempercayainya. Yusuf terlalu dini menceritakan semua mimpinya sehingga hal itu menimbulkan kecemburuan dan kebencian dalam diri saudara-saudaranya. Sebelum mimpi itu terwujud Yusuf harus mengalami proses demi proses, penderitaan demi penderitaan: sempat dimasukkan ke dalam penjara. Semua orang mencemooh, menghina dan mencaci. Mungkin mereka berkata, “Ah, kasihan Yusuf, mimpinya tak terwujud. Pasti ada yang tak beres dengan hidupnya.”

Yusuf tak dapat membantah perkataan dan tudingan miring semua orang yang ditujukan terhadapnya, ia pun tak sanggup membela diri karena fakta saat itu benar adanya. Tapi Yusuf tak putus asa, penderitaan tak membuatnya kecewa kepada Tuhan, ia tetap berkeyakinan bahwa apa yang datangnya dari Tuhan, lambat atau cepat, pasti digenapi-Nya. Rencana Tuhan itu tidak pernah gagal seperti yang Ayub katakan, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (Ayub 42:2).

Apa yang terlihat saat ini bukanlah merupakan titik akhir rencana Tuhan. Orang yang dewasa rohani pasti sanggup melihat dengan mata iman bahwa di balik semua penderitaan pasti ada berkat yang Tuhan sediakan. Orang yang berada dalam ‘ujian’ adalah orang yang sedang dipersiapkan Tuhan untuk menerima berkat-Nya yang besar.

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya! (Pengkhotbah 3:11)


Sabtu: MEMEDULIKAN ORANG YANG HINA

Baca: Matius 25:31-46

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:45)

Banyak orang Kristen sudah merasa diri sebagai orang yang ‘rohani’ atau memiliki tingkat kerohanian yang mumpuni oleh karena sudah rajin beribadah, terlibat aktif dalam pelayanan, bahkan sudah melayani di atas mimbar, baik itu sebagai pengkhotbah, pemimpin pujian atau singer. Menurut hemat manusia mereka bisa dikatakan sudah cukup teruji, dan tentunya berharap bahwa apa yang dilakukannya akan menyenangkan hati Tuhan dan Tuhan akan memberikan pujian terhadapnya.

Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.” (ayat 41b-43). Mendengar perkataan Tuhan Yesus ini semua orang pasti akan terperanjat dan menyangkal, bahwa selama ini mereka tak pernah melihat Tuhan Yesus dalam keadaan seperti yang disebutkan itu: “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” (ayat 44).

Banyak anak Tuhan sudah berbuat baik, namun tidak dinyatakan kepada orang yang paling hina. Memang berbuat baik kepada orang yang dipandang hina, kotor dan rendah tak mendapat pujian manusia. Sedikit orang mau melakukannya. Umumnya kita berbuat baik kepada orang yang juga berbuat baik kepada kita, alias mereka yang memiliki kontribusi bagi kita. Perbuatan baik cenderung didasarkan pada untung-rugi. Atau kita berlomba-lomba untuk berbuat baik kepada orang yang kaya, terpandang, atau orang besar, supaya kita beroleh perhatian. Tuhan memperingatkan kita dengan keras agar kita memiliki kepedulian kepada orang-orang miskin dan hina papa.

Kepedulian kita sangat berarti bagi orang-orang yang miskin papa. Inilah ujian kasih yang sesungguhnya! Semua yang kita lakukan untuk mereka, Tuhan perhitungkan.


Minggu: TETAPLAH KERJAKAN KESELAMATANMU!

Baca: Efesus 2:1-10
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,” (Efesus 2:8)

Keselamatan adalah anugerah dan diberikan secara cuma-cuma bagi orang yang percaya! Ada ayat-ayat lain di Alkitab yang menguatkan pernyataan ini: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24); “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9). Timbul pertanyaan: “Kalau keselamatan itu anugerah dan diberikan secara cuma-cuma, mengapa harus dikerjakan?” Seperti yang rasul Paulus nasihatkan, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,” (Filipi 2:12).

Orang-orang dunia mengerjakan berbagai amal demi untuk memperoleh keselamatan. Tetapi bagi orang percaya, melakukan perbuatan baik adalah wujud syukur atas keselamatan yang telah dianugerahkan kepadanya melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Keselamatan itu anugerah, namun kita perlu meresponsnya dengan tindakan iman. Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia dan bukan hasil usaha sendiri (ayat nas), maka sudah sepatutnya anugerah keselamatan itu ditanggapi dengan tindakan iman.

Keselamatan itu memang anugerah, tapi untuk memperoleh mahkota perlu kerja keras dan perjuangan yang tidak gampang, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Kita yang sudah diselamatkan tetap perlu berjuang seumur hidup kita untuk memperoleh mahkota; dan karena kita telah diselamatkan, maka kita harus terus mengerjakan keselamatan itu sampai tercapai goal yaitu kita semakin diubahkan menjadi serupa seperti Kristus (baca 2 Korintus 3:18).

Mengerjakan keselamatan berarti kita sungguh-sungguh berjuang “…supaya tiada beraib dan tiada bercela…” (Filipi 2:15), ketika Tuhan datang menjemput kita!

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 1
HIKMAT DALAM CARA KITA HIDUP

PENDAHULUAN

Untuk hidup dalam tujuan dan rencana Tuhan, kita bukan hanya membutuhkan iman, tetapi juga hikmat. Iman adalah dasar hubungan dan kepercayaan kita kepada Allah.
Hikmat adalah kemampuan untuk menerapkan kebenaran dan pengetahuan rohani dalam kehidupan nyata—sehingga kita mampu membuat pilihan yang benar, menyelesaikan masalah, membangun hubungan yang sehat, dan bertindak dengan tepat.

Dengan kata lain: Iman membuat kita percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat memiliki iman yang kuat, tetapi tetap membutuhkan hikmat dalam menentukan:
kapan harus berbicara,
kapan harus diam,
apa yang harus dilakukan,
siapa yang harus kita percayai,
bagaimana menggunakan waktu,
dan apa yang harus menjadi prioritas.

Hikmat membuat iman kita terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

ISI
I. HIKMAT UNTUK MENGGUNAKAN WAKTU DENGAN BIJAKSANA (baca Efesus 5:15-17)
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…”

Paulus mengingatkan kita untuk memperhatikan dengan saksama bagaimana kita hidup.
Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang saya lakukan?”
Tetapi:“Untuk apa saya menggunakan hidup dan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?”

Kita dapat begitu sibuk memenuhi tuntutan kehidupan—bekerja, mengurus keluarga, mengejar kebutuhan, menikmati keinginan, bahkan melakukan banyak aktivitas—tetapi belum tentu semuanya membawa kita kepada Tuhan. Orang bijaksana melihat waktu bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dilalui atau diisi, tetapi sebagai kesempatan yang Tuhan percayakan.

Jangan hidup seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.
Ciri orang bebal:
Degil dan keras kepala;
Merasa dirinya selalu benar dan sulit bertobat atau berubah.
Tidak mau belajar dan menerima teguran.
Suka menyalahkan orang lain dan sulit mengambil tanggung jawab.
Hidup sesuka hati dan mengikuti hawa nafsu.
Lamban mendengar dan tidak konsisten.
Mendengar firman tetapi tetap hidup dengan mindset yang tidak sesuai firman.
Tidak peka terhadap suara dan teguran Roh Kudus.
Sulit membedakan mana yang benar dan salah, mana yang penting dan mana yang sia-sia.

Ciri orang arif atau bijaksana:
Mau mendengar, belajar, dan menerima teguran.
Belajar dari firman Tuhan, pengalaman, orang lain, bahkan dari masalah yang dihadapi.
Sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan.
Mau menaati Tuhan dan hidup dalam pertobatan.
Melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.
Membuat keputusan berdasarkan prinsip firman Tuhan.
Berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya membuang waktu.

Mazmur 90:12 berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Orang bijaksana tahu menghargai waktunya. Karena itu kita perlu bertanya:
“Apakah ini perlu mendapatkan waktu saya?” Waktu adalah bagian dari hidup yang tidak dapat kita beli kembali. Kita dapat menghasilkan kembali uang yang hilang. Kita dapat mengganti barang yang rusak, tetapi kita tidak dapat mengembalikan waktu yang sudah berlalu.
Waktu kita di dunia terbatas. Karena itu, gunakanlah waktu dengan saksama.

II. HIKMAT UNTUK BERKATA-KATA (baca Kolose 4:5–6)

Perkataan adalah sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi mempunyai kuasa yang besar.
Perkataan dapat menjadi benih. Benih yang baik dapat menghasilkan:
kebenaran,
kasih,
iman,
pengharapan,
penghiburan,
dan pemulihan.

Sebaliknya, perkataan yang tidak dijaga dapat menghasilkan:
kebingungan,
kekhawatiran,
ketakutan,
kesalahpahaman,
kemarahan,
perpecahan,
kepahitan,
bahkan penyesatan.

Karena itu, orang yang berhikmat belajar bukan hanya: “Apa yang harus saya katakan?”
Tetapi juga:
“Kapan saya harus mengatakannya?”
“Bagaimana saya harus mengatakannya?”
“Apakah memang perlu saya katakan?”

Kita perlu meminta Roh Kudus memimpin perkataan kita supaya perkataan kita:

Menghormati dan meninggikan Tuhan.
Lemah lembut dan meredakan kegeraman, bukan memperbesar konflik.
Mengandung hikmat dan didikan.
Membawa penghiburan dan nasihat.
Memberikan jawaban yang tepat pada waktunya.
Membangkitkan iman, pengharapan, dan kekuatan berdasarkan firman Tuhan.

Kebenaran membutuhkan hikmat dalam penyampaiannya. Orang bijaksana tidak menggunakan perkataan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi untuk membawa orang kepada kebenaran dan kasih.

REFLEKSI DAN DISKUSI

Bagaimana selama ini saya menggunakan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?
Apa yang paling banyak menyita waktu saya?
Apakah semuanya membawa saya semakin dekat kepada Tuhan?
Apakah ada perkataan yang perlu saya jaga atau ubah dalam hubungan saya dengan seseorang?

Ketika berbicara dalam situasi konflik, apakah tujuan saya membuktikan bahwa saya benar atau
membawa hubungan kepada kebenaran dan kasih?

Kalimat kunci sesi minggu ini : Orang yang berhikmat tahu bagaimana menggunakan waktunya dan menjaga perkataannya.

Bersambung Sesi 2 minggu depan…

BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

SENIN. BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

Baca: Mikha 6:1-16
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Mikha 6:8

Mikha adalah orang Moresyet, suatu kota yang berada di dekat daerah Gat (baca Mikha 1:14). Arti nama Mikha adalah ‘siapa Tuhan seperti Engkau.’ Mikha hidup dan melayani pada zaman Yotam, Ahas dan Hizkia. Melalui Mikha, hamba-Nya ini, Tuhan mempunyai tuntutan terhadap umat-Nya: berlaku adil, setia dan rendah hati.

Adil berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus dan tulus; suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Adil berarti juga sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak: keputusan hakim yang berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran; sepatutnya; tidak sewenang-wenang. Secara terminologi, adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran; ini berkenaan dengan hal yang patut diterima oleh seseorang (baca Keluaran 23:6) dan mengarah kepada hubungan sesama manusia, antara tuan dengan hamba, atasan dengan bawahan, orangtua dengan anak, suami dengan isteri, pimpinan dengan karyawan, pemerintah dengan rakyatnya.

Dunia dipenuhi ketidakadilan, keadilan diputarbalikkan, keadilan dapat dibeli dengan uang. Meski demikian orang percaya dituntut untuk menjadi teladan dalam hal berlaku adil. Setia adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat. Kesetiaan yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga hubungan kita dengan sesama manusia. Kesetiaan ibarat barang berharga, sangat mahal dan langka untuk ditemukan, sebab
“…telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.” (Mazmur 12:2). Kesetiaan adalah salah satu karakter yang Tuhan cari dalam diri orang percaya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).

Rendah hati adalah karakter yang Tuhan senangi, dan Ia benci dengan keangkuhan. “Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki;” (Mazmur 147:10). Kegagahan kuda dan kaki laki-laki berbicara tentang manusia yang mengandalkan kekuatan sendiri (sombong). Sudahkah kita mempraktekkan apa yang menjadi tuntutan Tuhan
ini?


SELASA. DEMAS: Tergoda Kemilau Dunia (1)

Baca: 2 Timotius 4:9-18

“karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku.” 2 Timotius 4:10a

Dunia saat ini adalah dunia yang begitu gencar menawarkan segala hal yang menyenangkan daging: kemewahan, kenikmatan, pesta pora dan sebagainya. Jika orang percaya tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, melekat kepada-Nya dan berakar kuat dalam firman-Nya, ia akan mudah terbuai oleh
dunia dan meninggalkan Tuhan. Tidak sedikit orang Kristen memulai hidup kekristenannya dengan sangat baik, menempatkan Kristus di atas segala-galanya dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati, tapi seiring berjalannya waktu kasihnya kepada Tuhan mulai memudar, Tuhan tidak lagi menjadi prioritas hidup.

Apa penyebabnya? Karena hati mulai bercabang, mata silau dengan dunia. Ibadah dan pelayanan tak lagi dilakukan dengan sepenuh hati, tak lebih dari sekedar rutinitas agamawi. Rasul Paulus memperingatkan, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1
Korintus 10:12).

Demas adalah salah satu contoh: seorang yang bukan sebatas jemaat awam, tapi ia adalah orang yang sudah menyandang status sebagai pelayan Tuhan, yang memulai segala sesuatu dengan roh, tapi mengakhiri hidup dalam kedagingan karena terpesona dengan kenikmatan dunia ini. Oleh karena hatinya
terpaut pada dunia Demas pun rela meninggalkan pelayanan, meninggalkan rasul Paulus. Agenda pelayanan sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Demas, yang ada adalah agenda dunia, bagaimana hidup menyenangkan dan memuaskan keinginan dagingnya. Ada tertulis: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:16).

Mengasihi dunia ada beberapa: 1. Keinginan mata. Ada tertulis: “…demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20). 2. Keinginan daging. Keinginan daging selalu berkaitan erat dengan nafsu, kemabukan dan segala sesuatu yang bertentangan dengan keinginan Roh (baca Galatia 5:17). Rasul
Paulus memperingatkan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:24), “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,” (Galatia 6:8). 3. Keangkuhan hidup. Karena pengaruh dunia, orang tidak lagi bermegah di dalam Tuhan. (Bersambung)

 

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

PENDAHULUAN

Allah telah memberikan kepada setiap orang kehendak bebas untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan dalam hidup. Setiap keputusan membawa konsekuensi, baik maupun buruk. Karena itu, kita membutuhkan hikmat dari Allah agar dapat menggunakan kehendak bebas kita dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Hikmat bukanlah sesuatu yang diperoleh hanya melalui kecerdasan, pendidikan formal, atau pengalaman hidup. Hikmat sejati adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”(Amsal 9:10)

I HIKMAT MENURUT ALKITAB

 Apa itu hikmat?

Hikmat lebih daripada sekadar kecerdasan, pendidikan, atau pengetahuan. Seseorang dapat memiliki IQ yang tinggi, gelar akademik yang tinggi, serta pengalaman yang luas, namun tetap tidak memiliki hikmat Allah. Menurut Alkitab, hikmat adalah kemampuan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang Allah, memahami kehendak-Nya, dan mengambil keputusan yang selaras dengan Firman-Nya.

Hikmat bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi hidup sesuai dengan kebenaran itu. Hikmat yang sejati dimulai dengan takut akan Tuhan. Artinya, menghormati Allah, mengasihi-Nya, dan dengan sukarela tunduk kepada otoritas-Nya. Sikap ini bukan sekadar tampilan lahiriah, melainkan mengalir dari hati yang telah diubahkan oleh Roh Kudus.

II TAKUT AKAN TUHAN

 Diskusi

  • Apa arti “takut akan Tuhan” menurut Anda?
  • Dalam bidang kehidupan apa Anda paling membutuhkan hikmat Tuhan saat ini?

Takut akan Tuhan berarti:

  • Menghormati Allah.
  • Taat kepada Firman Tuhan.
  • Mempercayai Tuhan dalam setiap keadaan.

Takut akan Tuhan bukanlah ketakutan yang membuat kita menjauh dari-Nya. Sebaliknya, takut akan Tuhan adalah kesadaran yang mendalam akan hadirat, kekudusan, kebesaran, kemuliaan, kuasa, kasih, dan kebenaran-Nya. Kesadaran ini menghasilkan rasa hormat, kasih, serta kerinduan yang tulus untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan hati-Nya.

Alkitab juga berkata: “…mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

Mengenal Allah berarti memiliki hubungan yang pribadi dan intim dengan-Nya, bukan sekadar memiliki informasi tentang Dia.

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mampu:

  • memahami Firman-Nya,
  • mengenali kehendak-Nya,
  • membedakan yang benar dan yang salah,
  • mengenali suara Tuhan di tengah berbagai suara dunia,
  • mengambil keputusan yang bijaksana.

Dalam Matius 7:24–27, Yesus mengajarkan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya. Hikmat tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dinyatakan melalui ketaatan. Sebaliknya, orang bodoh mendengar Firman Tuhan tetapi tidak menaatinya. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak menjadikannya sebagai dasar kehidupan mereka.

III. BERKAT DARI HIDUP DALAM HIKMAT

Orang yang hidup dalam hikmat Allah akan mengalami banyak berkat, di antaranya:

  1. Menerima arah hidup yang jelas

Hikmat memampukan kita memahami kehendak dan tujuan Allah sehingga hidup kita tidak disia-siakan, melainkan dipakai untuk menggenapi panggilan ilahi-Nya.

  1. Terlindung dari bahaya dan kesalahan yang merugikan

Hikmat menjaga kita dari tipu daya musuh, keputusan yang tergesa-gesa, kebodohan, dan kesalahan yang membawa kerugian serta penderitaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

  1. Memiliki kepekaan rohani

Karena hikmat berasal dari Roh Kudus, orang yang memilikinya akan menjadi peka terhadap suara Tuhan, pimpinan-Nya, dan teguran-Nya.

  1. Hidup dalam damai sejahtera

Orang yang berhikmat memilih untuk hidup dalam kebenaran. Ketaatan kepada Allah menghasilkan damai sejahtera yang sejati dan bertahan lama.

PENERAPAN

  1. Mulailah setiap hari dengan mencari Tuhan sebelum memulai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
  2. Bacalah dan renungkan satu pasal dari Kitab Amsal setiap hari.
  3. Berdoalah sebelum mengambil setiap keputusan. Jangan bertindak terburu-buru; mintalah tuntunan Tuhan agar setiap langkah yang Anda ambil selaras dengan prinsip-prinsip Firman-Nya.
  4. Mintalah hikmat kepada Tuhan setiap hari agar hidup Anda tetap terarah, efektif, dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

 PENUTUP

Hikmat adalah salah satu kebutuhan terbesar dalam kehidupan setiap orang percaya. Melalui hikmat Allah, kita dimampukan untuk mengambil keputusan yang benar, membangun hubungan yang sehat, memimpin dengan bijaksana, menghadapi tantangan hidup dengan iman, serta menjadi saksi Kristus yang setia melalui cara hidup kita.

Kiranya setiap kita terus bertumbuh dalam hikmat Allah sehingga setiap perkataan, sikap, dan keputusan kita memuliakan nama-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

Baca: 1 Yohanes 3:7-10

“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” 1 Yohanes 3:9

Seseorang disebut Kristen bukan semata karena ia lahir dari rahim seorang ibu yang beragama Kristen, tetapi orang disebut Kristen ketika ia membuat keputusan untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan bertobat, yaitu meninggalkan kehidupan lamanya dan mengikut Kristus. Demikianlah ia mengalami kelahiran baru, manusia lamanya mati digantikan oleh manusia baru. Ia dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana yaitu firman Tuhan.

Di dalam diri kita ada benih Ilahi, maka seharusnya orang Kristen tidak mudah untuk disesatkan dan diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran sesat dari semua perkara yang ada di dunia ini. Mengapa? Sebab orang yang lahir dari Tuhan atau memiliki benih Ilahi hatinya senantiasa melekat kepada Kristus dan berakar kuat di dalam firman. Karena memiliki benih Ilahi jugalah orang Kristen mutlak hidup dalam kebenaran. “Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.” (ayat 7b-8a). Patut dipertanyakan status kekristenannya jika ada orang Kristen yang masih terus hidup dalam dosa, hidup tak be-da jauh dengan orang-orang di luar Tuhan, sebab jelas dikatakan barangsiapa berbuat dosa berasal dari Iblis. Bahkan hidup Kristiani yang sejati itu bukan sekedar tidak lagi berbuat dosa, tapi harus benci dosa.

Orang Kristen yang menyadari bahwa di dalam dirinya ada benih Ilahi akan senantiasa hidup dalam kasih karena Bapa adalah kasih. Oleh sebab itu orang yang lahir dari Bapa pasti mewarisi sifat-sifat Bapa-Nya. Ada tertulis: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Kemudian ia akan menjadikan kasih sebagai gaya hidup sehari-hari, kasih yang bukan sekedar kata-kata, melainkan dimulai dari hati yang menyadari bahwa kita mengasihi karena Bapa lebih dahulu mengasihi kita, lalu diteruskan dengan mengekespresikan kasih itu dalam tindakan nyata, sehingga keberadaannya menjadi berkat bagi dunia ini!

Seorang Kristen sejati tercermin dari kehidupan nyata, yaitu hidup benar dan penuh kasih!


SELASA. ROH YANG LEBIH BESAR DARI APA PUN
Baca: 1 Yohanes 4:1-6

“…sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” 1 Yohanes 4:4

Alkitab menyatakan bahwa dunia sekarang ini sedang lenyap dengan segala keinginannya: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (baca 1 Yohanes 2:16). Artinya semua keinginan duniawi dapat melenyapkan hidup seseorang: semakin menjauh dari Tuhan dan membawanya kepada jurang kebinasaan, tetapi “…orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17).

Setiap orang percaya pasti punya kerinduan untuk hidup seturut dengan firman Tuhan, namun yang seringkali menjadi persoalan adalah: “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41), ditambah lagi dengan kuatnya arus dunia ini sehingga kita pun gagal dan gagal lagi untuk hidup dalam kebenaran. Bagi orang percaya yang hidup bergantung penuh kepada Tuhan, bukan saja akan diberi kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya, tapi juga diberi kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan. Kekuatan itu datangnya dari Roh Kudus, Ia yang akan memampukan dan menguatkan kita untuk melawan arus duniawi sehingga kita dapat melawan arus dunia ini dan hidup menurut kehendak Tuhan, sebab “…Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (ayat nas). Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk berkata: aku tidak sanggup, aku lemah, aku tak mampu melakukan ini dan itu, karena Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (baca Yohanes 16:13). Di tengah badai, masalah, dan pergumulan yang berat Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul sendirian, Ia memberikan Roh-Nya untuk menguatkan kita. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Bahkan Roh Kudus akan menyertai kita dalam menjalani hidup sampai kepada akhir zaman (baca Matius 28:20b).

Ada banyak perkara yang terjadi di dunia ini yang tidak kita mengerti, namun Roh Kudus hadir untuk mengajar kita dan memberi pengertian kepada kita (baca Yohanes 14:26), sehingga kita dapat mengambil sisi positif di setiap peristiwa.

Bersama Roh Kudus kita mampu menjalani hidup dengan kepala tegak berdiri!


RABU. MENJADI ANAK YANG TERHILANG

Baca: Lukas 15:11-32

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15:18-19

Perumpamaan tentang anak yang hilang menggambarkan seorang anak yang tidak menyukai hidup dalam dominasi orang tua. Ia berkeinginan hidup bebas dari pengawasan dan bebas menggunakan harta milik yang diklamin sebagai miliknya. “Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia mem-boroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.” (ayat 13). Model anak seperti ini banyak dijumpai, tak terkecuali pada mereka yang berstatus ‘Kristen’.

Ada banyak orang Kristen tidak merasa dirinya masuk kategori ‘anak yang hilang’, sebab menurut mereka anak yang hilang adalah mereka yang meninggalkan gereja dan hidup dalam hingar bingar duniawi. Selama masih pergi ke gereja, terlibat dalam pelayanan dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, kita berpikir kita hidup dalam pertobatan dan tidak masuk kategori anak yang hilang. Benarkah? Sesungguhnya pertobatan yang Tuhan kehendaki lebih dari itu, yaitu kita sungguh-sungguh memberi diri hidup dalam penguasaan Tuhan dan kendali Roh Kudus sepenuhnya. Selama masih hidup menurut kehendak diri sendiri kita tergolong sebagai anak yang terhilang, meski secara lahiriah tampak beribadah. “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” (Galatia 5:25).

Ciri nyata anak yang terhilang adalah hidup dalam kendali diri sendiri. Mereka menggunakan waktu, tenaga, uang, dan apa yang dimiliki sesuka hati untuk kepentingan diri sendiri dan menurut selera sendiri, bukan menurut kehendak Tuhan. Pertobatan adalah kesediaan datang kepada Bapa dan bersedia hidup dalam kekuasaan atau dominasi Bapa. Si bungsu yang bertobat berkata, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Lukas 15:18-19). Kesediaannya untuk tidak menggunakan haknya sebagai anak dan rela diperlakukan sebagai hamba oleh bapa adalah bukti kesungguhannya bertobat.

Sudahkah kita bertobat setiap hari dan tunduk kepada kehendak Bapa?


KAMIS. ADA SUKACITA BESAR DI SORGA
Baca: Lukas 15:11-32

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Lukas 15:32

Ketika anak bungsunya pulang (setelah lama terhilang) kembali ke rumah, orangtuanya mengadakan pesta untuk menyambut kepulangannya. Ini menggambarkan ada sukacita di sorga kalau ada satu orang bertobat. “…akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7).

Pertobatan yang bagaimanakah yang membuat Tuhan bersukacita? Kalau hanya mengaku bertobat karena ada altar call di gereja belumlah membuat sorga bersukacita. Pertobatan yang dapat membuat sorga bersukacita adalah pertobatan yang benar menurut ukuran Tuhan. Pertobatan yang benar adalah pertobatan seperti si anak bungsu, yaitu dari kehidupan yang dikuasai oleh keinginan diri sendiri berbalik kepada kehidupan yang mau tunduk sepenuhnya kepada otoritas bapanya. Penundukan diri adalah ciri dari orang yang bersedia hidup dalam otoritas Tuhan, yaitu orang-orang yang pasti diperkenankan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Sorga. Pertobatan yang benar yang membuat orang mengalami kelahiran baru bukanlah satu kali pertobatan, tetapi sebuah proses pertobatan terus menerus dan seumur hidup. Untuk pertobatan seperti ini dibutuhkan pencerahan oleh kebenaran firman Tuhan setiap hari, sebab “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16).

Kebenaran firman Tuhan yang mencerahi pikiran ditindaklanjuti oleh perubahan berpikir (“metanoia”). Metanoia mengekspresikan perubahan intelektual dan spiritual yang terjadi ketika seorang pendosa berbalik kepada Tuhan. Arti kata metanoia adalah memiliki pikiran lain atau mengubah pikiran orang dalam sikap dan tujuan perihal dosa. Atau, berpikir tentang sesuatu secara berbeda dari sebelumnya. “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20).

“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Matius 3:8


JUMAT. ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (1)
Baca: Galatia 4:1-11

“Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” Galatia 4:7
Satu perkara yang acapkali menjadi biang permasalahan atau sumber konflik, perpecahan, sengketa di dalam sebuah keluarga adalah persoalan warisan. Bahkan ada orang yang sampai tega membunuh saudara kandungnya hanya karena mengincar warisan. Warisan adalah harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris kepada ahli waris. Sesungguhnya warisan adalah sesuatu yang baik, karena apa yang orangtua miliki diturunkan kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya mendapatkan berkat dari orangtuanya. Namun ada banyak orang yang hidupnya hanya menanti dan mengandalkan warisan orangtua, sehingga warisan yang sebenarnya adalah sesuatu yang baik akhirnya menjadi sumber petaka di dalam keluarga. Letak persoalannya bukan pada warisan itu, tetapi pada pola pikir yang hanya memikirkan warisan, bahkan sampai menimbulkan sifat serakah.

Warisan yang sejati bukanlah hanya harta yang berhubungan dengan kebendaan, warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua mewariskan iman kepada anak-anaknya. “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya,” (Amsal 13:22). Warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua menanamkan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang takut akan Tuhan, sebagaimana yang disampaikan Musa: “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun…supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.” (Ulangan 11:19, 21).

Di dalam bacaan hari ini dijelaskan bahwa hidup orang Kristen adalah hidup yang terbebas dari perhambaan. Ini terjadi karena Kristus telah mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib bagi kita. “Ia (Kristus – Red) diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (Galatia 4:5). Jadi karena status kita bukan lagi hamba, melainkan diangkat sebagai anak, maka kita adalah orang-orang yang berhak menerima warisan dari Bapa karena kita adalah ahli-ahli waris (ayat nas). (Bersambung)


SABTU. ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (2)
Baca: Roma 8:12-17

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8:17

Kalau bapa yang ada di dunia saja berpikir tentang warisan yang hendak diberikan bagi anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang di sorga. Inilah warisan yang Bapa sediakan bagi kita orang percaya: 1. Kerajaan Sorga. Ada orang yang suka mengatakan janji-janji, tapi sulit sekali untuk menepatinya. Harus diakui bahwa dunia ini penuh dengan janji palsu, janji yang tidak pernah digenapi. Namun Tuhan kita adalah Tuhan yang berjanji dan memberikan kepastian dalam janji-Nya. Janji Tuhan adalah ya dan amin. Tuhan Yesus berkata, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:2-3).

Sorga adalah sebuah kepastian bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. 2. Kemenangan. Di dunia ini ada banyak sekali tantangan, bahkan Iblis tidak pernah berhenti mencari cara untuk menghancurkan hidup orang percaya. Kita tidak perlu takut karena di dalam kita ada Roh Kudus, Dialah yang akan membawa kita kepada kemenangan: menang atas persoalan dan menang atas Iblis. “…syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya.” (2 Korintus 2:14). 3. Berkat. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10b). Tak perlu kita hidup dalam kekuatiran. Selama kita mencari dahulu kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya maka semua akan ditambahkan di dalam hidup kita. Pegang teguh kebenaran firman ini! “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

Karena kita adalah ahli waris, “…Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1:3


MINGGU. HIDUP ORANG PERCAYA PENUH MUJIZAT
Baca: Kisah Para Rasul 5:12-16

“Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.” Kisah 5:12

Semua orang pasti excited mendengar kata mujizat. Mujizat adalah salah satu faktor pendorong dan penyemangat orang datang ke gereja. Mereka mencari Tuhan dengan harapan ingin mendapatkan mujizat: sakit disembuhkan, masalah terselesaikan, ekonomi keluarga dipulihkan. Namun di sisi lain ada juga orang-orang skeptis mendengar kata mujizat. Skeptis adalah kurang percaya, ragu-ragu (terhadap keberhasilan ajaran dan lain-lain). Mereka menganggap mujizat adalah cerita masa lalu di zaman Alkitab. Benarkah demikian? Ketahuilah, mujizat sampai hari ini dan untuk selamanya tetap ada! Karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak berubah. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8).

Namun yang harus menjadi fokus utama kita dalam mengikut Tuhan adalah Pribadi-Nya, bukan semata-mata karena kita mengingini mujizat-Nya. Kita tidak perlu memikirkan mujizat, karena selama kita mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh dan hidup taat melakukan kehendak-Nya, hari-hari yang kita jalani pasti akan dipenuhi dengan mujizat. Mujizat dan tanda-tanda ajaib adalah bagian dari paket keselamatan yang Tuhan sediakan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Namun ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah melakukan mujizat seperti yang kita mau dan harapkan, tapi Tuhan membuat mujizat sesuai dengan kehendak-Nya. Mungkin kita bertanya, “Mengapa aku tidak pernah mengalami mujizat?” Bukannya Tuhan tidak sanggup atau tidak mau membuat mujizat, tapi kita sendiri yang seringkali mengharapkan melakukan mujizat menurut kehendak kita. Kita mendikte Tuhan untuk mengikuti kemauan dan keinginan kita!
Alkitab menyatakan bahwa tanda-tanda ajaib dan mujizat senantiasa menyertai perjalanan hidup orang percaya yang berlaku benar di hadapan Tuhan. “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20).

Taat melakukan firman Tuhan dan memiliki iman adalah kunci mengalami mujizat!

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung lebih percaya kepada pengetahuan, yaitu sesuatu yang dapat dilihat dengan mata fisik, memiliki bukti, serta dapat dipahami melalui nalar dan logika, daripada percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak dapat dipahami sepenuhnya secara rasional. percaya kepada Tuhan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Percaya berarti memilih Tuhan sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan sekalipun kita belum melihat dan memahami seluruh rencana-Nya.

Sebaliknya, orang beriman tidak bergantung atau menaruh kepercayaannya pada apa yang terlihat, melainkan kepada Allah, yang menopang segala sesuatu—baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat—dengan firman-Nya yang penuh kuasa (Ibrani 1:3). Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

ISI

1. PERCAYA DENGAN SEGENAP HATI

  • Percaya dengan segenap hati berarti menyerahkan kendali hidup, menaruh harapan, dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Iman sejati tidak bergantung pada pikiran, logika, asumsi, perasaan, situasi, ataupun kondisi kita. Iman sejati bukanlah kepercayaan semu atau ilusi yang tidak berdasar, melainkan kepercayaan yang dibangun di atas pengenalan akan karakter Allah: siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Dia.
  • Bahwa Tuhan:
    • Baik dan setia, tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.
    • Tidak pernah berdusta,
    • Tidak pernah terlambat,
    • Sanggup melakukan segala perkara,
    • Bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya,
    • Rancangan-Nya bagi kita adalah rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan
  • Bahwa kita:
    • Adalah anak-anak Allah dan ciptaan baru dalam Kristus,
    • Adalah ahli waris—yaitu orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah dan menerimanya bersama-sama dengan Kristus,
    • Menerima hidup yang berkelimpahan melalui karya keselamatan Kristus,
    • Menerima kuasa dan otoritas melalui kehadiran Roh Kudus untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, melakukan kehendak Allah, dan berkemenangan,
  • Ketika kita mengenal karakter Allah, kita akan belajar memercayai firman,
    janji, dan rancangan-Nya, sekalipun kita belum memahami atau melihat semuanya digenapi. Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan apabila ia terus-menerus menolak melakukan firman-Nya. Kepercayaan kepada Tuhan terlihat melalui keputusan dan tindakan yang selaras dengan kehendak-Nya.6)

2. ALLAH BEKERJA MELAMPAUI PENGETAHUAN DAN LOGIKA MANUSIA

Pikiran, logika, nalar, dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Semuanya hanya mampu memahami perkara-perkara yang terlihat atau berada dalam dimensi fisik. Sementara itu, Allah bekerja melampaui semua itu. Cara, waktu, dan rencana-Nya tidak dapat diukur ataupun diselami sepenuhnya oleh kapasitas akal budi manusia. Rencana Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut kehidupan kita saat ini, melainkan juga mencakup berbagai aspek dan pertimbangan yang berdampak pada generasi-generasi sesudah kita.

  • Yesaya 55:8-9 menjelaskan mengapa kita tidak mampu menyelami pekerjaan Tuhan: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Apa yang terlihat baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut pandangan Allah. Amsal 16:25 mengatakan, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

  • Saat kita hanya mengandalkan pengertian sendiri tanpa mencari kehendak Tuhan, keputusan yang kita ambil dapat menjadi keliru, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan persoalan baru dan membahayakan. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri..” (Yeremia 17:5-6).

3. AKUILAH TUHAN DALAM SEGALA LAKUMU

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

  • Mengakui Tuhan berarti melibatkan-Nya, menyerahkan setiap keputusan kepada-Nya, serta memohon tuntunan Roh Kudus dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya dalam perkara-perkara rohani. Ketika kita menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus, maka Roh Kudus akan meluruskan jalan kita.
  • Tuhan meluruskan jalan bukan berarti menghilangkan semua kesulitan dan rintangan, melainkan mengarahkan langkah kita agar tetap berada dalam kehendak-Nya dan mencapai tujuan Ilahi. Jadi hidup orang yang beriman bukan berarti jalan hidup menjadi mulus dan lancar tanpa rintangan. Sebaliknya, iman percaya akan kehadiran Tuhan yang setia menyertai dan memampukan kita melewati kesukaran, persoalan, dan penderitaan dengan kesabaran, ketekunan, serta kemenangan. Orang percaya memahami bahwa setiap kesulitan diizinkan Tuhan untuk memurnikan iman dan membentuk karakter Kristus di dalam dirinya.
  • Jalan yang diluruskan juga berarti pikiran, motivasi hati, keinginan, dan tindakan kita diselaraskan dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang tidak kudus, tidak benar, tidak menghasilkan buah, dan menghambat pertumbuhan iman akan dipotong oleh Tuhan (Yohanes 15:2).

 

4. CIRI ORANG YANG PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

  • Ada ketenangan batin, damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan yang timbul dari pewahyuan akan firman Tuhan.
  • Menolak bersandar pada pengertian sendiri dan overthinking(kecenderungan berpikir secara berlebihan, terutama dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk atau memprediksi hal-hal negatif di masa depan), serta tidak mengizinkan perasaan/emosi negatif memimpin hidupnya.
  • Menjaga pikiran, hati, dan perkataan dengan firman Tuhan, serta mengenakan perisai iman agar dapat memadamkan semua panah api si jahat.
  • Berserah sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan dan mempercayai cara serta waktu-Nya.
  • Membuktikan iman melalui langkah-langkah ketaatan.
  • Mengucap syukur dalam segala hal.
  • Tidak jemu-jemu berdoa.

PENUTUP

Hikmat dunia mengajarkan manusia untuk mengandalkan diri sendiri dan apa yang terlihat oleh mata. Sebaliknya, hikmat Allah mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pengertian sendiri. Percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika doa segera dijawab, tetapi juga ketika Tuhan berkata, “Tunggu.” Penundaan bukanlah penolakan. Dalam masa penantian, Tuhan sedang membentuk karakter, memperdalam iman, dan mempersiapkan kita untuk menerima berkat-Nya pada waktu yang tepat.

Oleh sebab itu, bangunlah iman di atas pengenalan akan karakter Allah serta pemahaman tentang siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Kristus. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Walaupun kita tidak mengetahui seluruh perjalanan di depan, kita mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan itu. Karena itu, akuilah Dia dalam segala lakumu, hiduplah dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan tetaplah berharap kepada-Nya. Tuhan tidak pernah gagal menepati janji-Nya; Ia akan menuntun kita kepada kehendak-Nya yang sempurna dan memampukan kita melewati setiap persoalan dengan kemenangan.

TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

Senin. TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

Baca: Yesaya 31:1-9

“Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.” Yesaya 31:1

Sekarang ini tingkat kegelisahan dan stres manusia meningkat secara drastis. Salah satu faktor penyebabnya adalah keadaan yang sukar: perekonomian semakin tidak stabil, harga-harga kebutuhan hidup melangit, tingkat pengangguran tinggi; ditambah lagi dengan keadaan negeri ini yang dipenuhi goncangan-goncangan: bencana alam terjadi di mana-mana, banjir bandang, angin puting beliung, dan juga tanah longsor; belum lagi goncangan politik belakangan ini. Masalah, musibah atau bencana acapkali datang tiba-tiba dan tak seorang pun tahu apa yang terjadi di kemudian hari! Karena itu “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).

Adakah yang bisa kita banggakan dari dunia ini? Uang, harta benda, pangkat dan semua yang bersumber dari dunia tak bisa diandalkan dan tak bisa dijadikan tempat pengungsian yang aman. Bersyukur kita memiliki Tuhan sebagai satu-satunya Penolong yang bisa kita harapkan. Meminta pertolongan ke Mesir (gambaran dunia) mengandalkan kuda-kuda, kereta atau pasukan berkuda adalah sia-sia belaka. Tetapi orang yang menyandarkan harapannya kepada Tuhan pasti akan beroleh pertolongan dan bahkan terberkati: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Walaupun dunia dipenuhi dengan krisis dan goncangan, orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan akan tetap terpelihara dan terjaga hidupnya, karena Tuhan adalah sumber berkat dan benteng perlindungan.

Di tengah kelaparan hebat melanda, janda Sarfat hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli. Secara logika ia tidak memiliki harapan, tetapi ketika taat kepada perintah Tuhan tiada perkara yang mustahil. Tuhan sanggup memberkati dan memulihkan keadaannya dengan berlipat kali ganda!

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91:7


Selasa. SETIALAH MULAI DARI PERKARA KECIL
Baca: Lukas 16:10-18

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga da-lam perkara-perkara besar.” Lukas 16:10a

Banyak orang seringkali memusatkan perhatian atau hanya ter-fokus kepada hal-hal yang besar, sampai-sampai ia melupakan, meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil atau sederhana. Padahal untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar kita harus mulai dari hal-hal yang kecil. Untuk bisa men-capai puncak gunung kita harus mulai pendakian dari bawah atau melewati lembah dan lereng terlebih dahulu. Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa perjalanan seribu mil selalu dimulai dari langkah pertama.

Coba tanyakan kepada orang-orang yang berhasil, baik itu berhasil dalam pekerjaan ataupun pelayanan, mereka juga memulai segala sesuatunya dari nol, tidak langsung berada di top level. Di zaman sekarang ini orang maunya berhasil secara instan, terkenal secara instan, atau kaya secara instan, tak peduli meski harus menempuh cara yang tidak halal. Ketika melamar pekerjaan, orang maunya diposisikan di tempat teratas, tidak mau merintis dari bawah; kalau pekerjaan tidak sesuai dengan ijazah, mereka tidak mau. Begitu pula dalam hal melayani pekerjaan Tuhan, tidak sedikit orang Kristen yang pilih-pilih pelayanan. Baru mau melayani jika ditempatkan di posisi depan, dilihat banyak orang, di posisi strategis. Kalau hanya sebagai pendoa syafaat, pembesuk, apalagi hanya jadi tukang sapu lantai gereja, pelayanan itu pasti akan ditolak secara mentah-mentah, takut pamornya turun.

Sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah. Kita tidak secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi sulit yang sangat menyakitkan secara daging, namun kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut. Ini adalah modal untuk beroleh kepercayaan lebih!

“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,” Mazmur 18:26


Rabu. MENJADI YANG TERBAIK DI BIDANGNYA

Baca: Pengkhotbah 9:1-12

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” Pengkhotbah 9:10

Ayat nas ini merupakan pernyataan raja Salomo, seorang raja yang secara lahiriah memiliki apa saja yang menjadi dambaan semua manusia: hikmah, kedudukan, kekayaan, kemashyuran. Berdasarkan pengalaman hidupnya terungkap sudah bahwa kunci untuk meraih keberhasilan adalah menjadi yang terbaik dalam apa pun yang dikerjakannya.

Menjadi yang terbaik adalah kerinduan Tuhan bagi setiap orang percaya. Ini terwakili melalui pekerjaan tukang periuk dan tanah liat. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yeremia 18:4). Juga melalui perumpamaan tentang talenta, di mana si tuan menghendaki setiap hamba, yang beroleh masing-masing lima, dua dan satu talenta, melakukan yang terbaik supaya talentanya itu mengalami pelipatgandaan (baca Matius 25:14-30).

Sesungguhnya nasib semua orang adalah sama (baca Pengkhotbah 9:2-3), karena Tuhan tidak pernah membeda-bedakan manusia. Apa yang akhirnya membedakan dari masing-masing orang? Yang membedakan adalah kecakapannya dalam mengerjakan sesuatu dan iman yang dimiliki. Inilah yang kurang disadari semua orang! “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Hidup ini adalah kesempatan untuk menjadi yang terbaik, karena itu jangan pernah kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada, “…karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (ayat nas)

Tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak menjadi yang terbaik, karena Tuhan dan kuasa-Nya senantiasa menyertainya. Sehebat apa pun manusia jika tanpa penyertaan Tuhan ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan,” (Efesus 3:20).

Ingin menjadi yang terbaik? “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23


Kamis. MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (1)

Baca: Lukas 21:34-38

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supa-ya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Lukas 21:36

Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati, yang bisa diartikan melakukan pencegahan atau berjaga-jaga terlebih dahulu untuk mengantisipasi atau menghindari kemungkinan yang lebih buruk terjadi. Prinsip ini bisa diterapkan di segala bidang kehidupan, bukan hanya berkenaan dengan sakit-penyakit yang datangnya tidak terduga dan sewaktu-waktu bisa menyerang semua manusia. Solusinya adalah melakukan pencegahan. Jangan sampai ketika ‘musuh’ datang kita baru sibuk mencari senjata untuk melawan. Terlambat sedikit, fatal akibatnya!

Dalam hidup ini pun adalah lebih baik berjaga-jaga atau mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin daripada harus melakukan perbaikan atas kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, yang tentunya akan lebih sulit. Tuhan Yesus pun telah memperingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga sambil berdoa agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan (baca Matius 26:41). Mengapa kita harus berjaga-jaga? Karena “…Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Iblis selalu mencari celah dan memanfaatkan kelengahan kita. Jika kita tidak berjaga-jaga sambil berdoa, kita akan menjadi sasaran empuknya! Dunia ini penuh dengan godaan dan pencobaan (keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup – 1 Yohanes 2:16). Jika iman tidak teguh kita akan mudah terbawa arus yang ada. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut diba-wa arus.” (Ibrani 2:1).

Rasul Paulus menasihati, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (Roma 13:13). Mengapa? Karena “…kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.” (1 Tesalonika 5:5-6). Sebagai anak-anak terang kita harus menjaga diri supaya tidak larut dalam pesta pora dan kemabukan! (Bersambung)


Jumat. MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)

Baca: 1 Tesalonika 5:1-11

“karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” 1 Tesalonika 5:2

Semua orang tahu bahwa orang yang mabuk adalah orang yang dalam keadaan tidak sadar. Biasanya orang yang hidupnya suka bermabuk-mabukan memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang semata-mata bertujuan memuaskan hawa nafsu kedagingan: melakukan seks sebelum menikah, selingkuh, mengkonsumsi obat-obat terlarang atau perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Sekarang ini banyak orang secara tidak sadar sedang hanyut dalam ‘kemabukan’: tanpa sadar menyimpan kebencian, sakit hati, dendam, iri hati, dengki dan sebagainya. Inilah hidup dalam kemabukan, yang sesungguhnya hanya mengantarkan seseorang kepada kehancuran.

Jadi kita harus senantiasa menjaga jalan hidup kita. “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jal-anmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” (Amsal 4:26-27). Jalan hidup kita perlu dijaga supaya arah yang hendak dituju tidak salah, sebab “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12). Dalam dunia ini banyak jalan yang sedang dirancang oleh Iblis untuk menjatuhkan kita sebagai anak-anak terang. Ada pun jalan yang dirancang Iblis itu terasa sangat mudah untuk dilalui, menyenangkan daging dan tanpa ada harga yang harus dibayar, namun jalan itu penuh dengan jebakan yang sangat mematikan, “…karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;” (Matius 7:13).

Hal penting lain adalah kita harus menjaga mata dan lidah kita. “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” (Matius 6:22-23). Mata kita tercipta bukan untuk memandang hal-hal negatif dan yang bersifat duniawi yang membawa kepada kehancuran, tetapi dicipta untuk memandang hal-hal yang positif dan bertujuan memuliakan Tuhan. Kita juga harus bijak dalam memfungsikan lidah kita, sebab “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21).

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” Efesus 5:15


Sabtu. TANAH KANAAN SEBAGAI KASIH KARUNIA TUHAN
Baca: Bilangan 33:50-56

“Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki.” Bilangan 33:53

Ketika itu orang-orang Israel sudah berada di dataran Moab, di tepi sungai Yordan dekat Yerikho, itu artinya tinggal sedikit waktu lagi mereka akan memasuki tanah Kanaan. Kanaan adalah tempat atau lokasi yang dijanjikan Tuhan untuk diberikan kepada Abraham dan keturunannya, atau disebut Tanah Perjanjian. “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Kejadian 17:8); suatu negeri yang baik dan luas, serta berlimpah-limpah susu dan madunya (baca Keluaran 3:8). Mungkin ini adalah sukacita terbesar yang dirasakan oleh umat Israel, setelah kurang lebih 40 tahun lamanya mereka harus menempuh perjalanan berputar-putar di padang gurun.

Sebelum memasuki Kanaan ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan, sebab ada bangsa lain yang menempati Kanaan, yang penduduknya adalah penyembah berhala. Karena itu Tuhan memerintahkan untuk menghalau semua penduduk, membinasakan segala patung tuangan dan memusnahkan bukit-bukit penyembahan berhala (Bilangan 33:52). Mengapa? Karena “…mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambung-mu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.” (Bilangan 33:55); artinya bangsa yang ada di Kanaan kalau tidak ditumpas, cepat atau lambat, akan membawa pengaruh negatif dan menjadi jerat bagi bangsa Israel sendiri, terutama dalam hal ibadah, sebab orang-orang di Kanaan menyembah kepada dewa-dewa (berhala). Ini sangat berbahaya! “…karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” (Keluaran 34:14).

Kunci untuk mengalami berkat-berkat Tuhan adalah harus membuang semua dosa dan segala hal yang menghalangi kita untuk beribadah kepada-Nya. Setelah itu barulah bangsa Israel bisa menduduki negeri itu dan diam di sana. Menduduki berarti bukan sekedar menempati, tetapi juga mengelola, mengupayakan, mengembangkan potensi yang ada, serta mempertahankan sedemikian rupa.

Janji Tuhan pasti akan digenapi, asalkan kita hidup taat melakukan kehendak-Nya!


Minggu. HATI YANG BENAR: Menunjang Keberhasilan

Baca: Mazmur 127:1-5

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” Mazmur 127:1

Keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup ini sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang mendukung. Diawali dari sebuah impian atau cita-cita, ketekunan, kesungguhan, kerja keras, kecakapan khusus, sikap yang tidak mudah putus asa, orang-orang di sekitarnya dan masih banyak lagi. Namun semua ini tidak akan berarti apa-apa tanpa campur tangan Tuhan.

Salomo, yang adalah anak Daud dan juga raja, mengakui hal ini (ayat nas). Karena itu dibutuhkan sebuah hati yang penuh penyerahan diri kepada Tuhan, hati yang senantiasa melekat kepada-Nya, dan hati yang senantiasa selaras dengan kehendak Tuhan, itulah yang akan menuntun seseorang kepada sebuah pencapaian cita-cita, impian dan harapan. Jika Tuhan menyelidiki bumi untuk mencari
pemimpin, Ia tidak mencari orang dengan kriteria-kriteria jasmaniah sebagaimana manusia biasa memilih dan menilai sesamanya, “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (2 Tawarikh 16:9a). Kalau kita memilih dan menilai seseorang dari apa yang terlihat secara kasat mata kita pasti akan kecewa, karena apa yang tampak dari luar bisa mengelabui dan menipu. Saat Tuhan mencari pemimpin Ia hanya mencari orang-orang yang memenuhi kriteria-Nya, yang memiliki kualitas tertentu, seperti Ia temukan dalam diri Daud, raja Israel. “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah 13:22).

Kualitas pertama yang Tuhan lihat dalam diri Daud adalah hatinya. Hati Daud senantiasa melekat kepada Tuhan, artinya hidupnya berkenan kepada Tuhan dan senantiasa taat melakukan kehendak-Nya. Tuhan mencari orang-orang yang hatinya senantiasa berpaut kepada-Nya, hati yang terbebas dari segala bentuk kejahatan.

“…sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” 1 Tawarikh 28:9