Author: EM

Home / Articles posted by EM
KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki. (Ulangan 5:33)

PENDAHULUAN

Perintah Tuhan bukan sekadar arahan dan larangan/pembatasan, tetapi juga perlindungan bagi kita. Ketaatan kepada perintah Tuhan membawa kita berjalan dalam terang kebenaran serta melindungi kita dari yang jahat. Tuhan membela dan menjamin perlindungan bagi mereka yang hidup dalam ketetapan/perintah-Nya.

ISI

  • Dosa selalu terlihat seolah tidak berbahaya dan menarik di awal, tetapi akhirnya membawa kepada kehancuran. Ketaatan kepada Allah merupakan perlindungan yang kokoh dari tipu daya iblis. Iblis selalu berusaha menggoda kita supaya melanggar perintah Tuhan dan berbuat dosa. Ia memanfaatkan keadilan Allah yang menuntut konsekuensi atas setiap pelanggaran. Ketidaktaatan memberi iblis kesempatan untuk mengajukan tuntutan atas kita.
  • Strategi Iblis yang berpeluang membuat kita tidak taat kepada Allah:
  • Memutabalikkan firman/kebenaran sehingga kita jadi meragukan Tuhan (Kejadian 3:1-4).
  • Menawarkan jalan pintas, kenyamanan, popularitas, kekuasaan, kemewahan dunia dan hal-hal yang memuaskan hawa nafsu (keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup; Matius 4:1-11). Ia memanfaatkan kelemahan, kemalasan, kedegilan, kesombongan, ketidaktahuan kita akan kebenaran/kehendak Allah untuk menyeret kita jatuh ke dalam ketidaktaatan.
  • Menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14) yang menyesatkan manusia dengan cara membuat kejahatan menjadi sesuatu yang tampak normal, logis, seolah membawa kebaikan, tidak mencelakakan, bahkan penyesatan yang dibungkus dengan kemasan rohani.
  • Mendakwa manusia siang malam di hadapan Allah (Wahyu 12:10), menuntut supaya konsekuensi/hukuman dijatuhkan atas kita.
  • Iblis adalah bapa segala dusta yang mau mencuri, membunuh, dan membinasakan manusia. Sebaliknya, Tuhan Yesus datang untuk memberikan kita hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Iblis menghancurkan, tapi Tuhan memulihkan, membangun karakter serta menguduskan kita.
  • Cara supaya kita terlindung dari tipu daya iblis:
  • Taat kepada perintah-Nya. Tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7). Kebanyakan kita lebih fokus menengking iblis tapi lupa untuk taat kepada Allah.

Contoh: kita berdoa meminta Tuhan memberkati dan menjauhkan belalang-belalang pelahap dari kehidupan kita, tapi kita tidak mau taat mengembalikan persepuluhan yang merupakan hak Tuhan. Dengan begitu, kita memberi celah bagi iblis untuk mendakwa dan menghalangi berkat Tuhan atas hidup kita.

Yang benar adalah: taat kepada Allah dengan mengembalikan persepuluhan, maka Maleaki 3:10-11 digenapi dalam hidup kita.

  • Belajar sangkal diri setiap hari, matikan perbuatan daging dengan cara hidup oleh Roh. Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup menghalangi kita untuk taat kepada Tuhan. Dengan mematikan perbuatan daging secara konsisten, kita jadi mudah mengikuti pimpinan Roh Kudus yang memampukan kita taat kepada perintah Tuhan.
  • Perbarui akal budi dengan firman Tuhan, supaya kita memiliki cara pandang tentang kebenaran sehingga tidak mudah ditipu Iblis. Pembaruan akal budi membuat kita jadi tahu apa kehendak/perintah Tuhan: yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
  • Hidup karena percaya kepada Kristus dan perkataan-Nya, bukan karena melihat. Hidup karena melihat berpotensi membuat kita menjadi ragu, takut, dan kuatir; akibatnya, sukar untuk percaya kepada Tuhan dan taat pada perintah-Nya.
  • Ketaatan seharusnya bukan sebuah beban, melainkan cara yang bijak untuk melindungi kita dari kehancuran saat mengalami badai masalah, godaan, dan penderitaan. Ketaatan membuat kita tetap tinggal dalam kasih-Nya. Ketaatan menolong kita untuk tidak tersesat—kita bertindak/mengambil keputusan yang tepat sesuai tuntunan dan hikmat Tuhan. Ketaatan melindungi kita dari kerugian/usaha yang sia-sia, dari niat jahat orang lain, dari penyesatan, dari dosa serta kenajisan. Satu kompromi kecil bisa merusak masa depan. Kenikmatan sementara bisa menurunkan nilai diri.

 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu (Matius 7:24-25).

PENUTUP

Ketaatan adalah perlindungan yang membawa kebaikan bagi kita dan orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita. Mulai sekarang, marilah kita belajar meningkatkan level kedewasaan rohani kita. Berpindahlah dari tahu/mendengar firman → melakukan;  kekristenan yang sebatas emosi → disiplin ; dari yang sekadar terinspirasi → penundukan diri; dari niat baik → tindakan berupa ketaatan. …supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki (Ulangan 5:33b).

PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

Senin. PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

Baca: Efesus 6:10-20

“dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,” Efesus 6:16

Perisai adalah alat untuk melindungi diri pada masa peperangan dari serangan musuh;  salah satu perlengkapan perang yang berfungsi untuk mempertahankan diri dan melindungi tubuh si prajurit.  Pada zaman dahulu perisai seringkali dibuat atau disalut dengan emas atau tembaga.  Biasanya alat ini digunakan pada tangan dan didampingkan dengan senjata lain seperti pedang, tombak atau gada.  Permukaan perisai biasanya dijaga supaya tetap berkilau dengan minyak, yang merefleksikan matahari, dengan tujuan untuk membutakan musuh.  Perisai adalah menggambarkan perlindungan dan keamanan.

Setiap hari dalam hidup ini adalah sebuah peperangan.  Terutama sekali kita berperang melawan Iblis dengan segala tipu muslihatnya yang tak pernah berhenti untuk melepaskan panah api kepada orang percaya:  panah api ketakutan, keraguan, kebimbangan dan ketidakpercayaan, dengan tujuan supaya orang percaya tidak lagi percaya kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  Belum lagi kita juga harus berperang melawan diri sendiri, berperang melawan keinginan daging seperti Yakobus tulis:  “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”  (Yakobus 1:14-15).  Jadi, ini bukanlah perkara yang mudah!  Rasul Paulus memiliki pengalaman:  “Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”  (Roma 7:15, 19).

Kalau kita berjuang dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu, kita akan tertatih-tatih, jatuh bangun dan bahkan kalah dalam peperangan.  Karena itu kita perlu campur tangan Tuhan dan pertolongan Roh Kudus.  Dalam hal ini dibutuhkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan.  Dengan iman kita dapat melihat dengan pandangan rohani bahwa Tuhan bekerja di dalam kita untuk menyatakan kuasa-Nya.

Tuhan berkata,  “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Korintus 12:9


Selasa. PERISAI IMAN: Ada Jaminan Kemenangan
Baca: Mazmur 3:1-9

“Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.”
Mazmur 3:4

Di tengah-tengah dunia yang penuh gejolak ini rasul Paulus mengingatkan agar dalam segala keadaan kita menggunakan perisai iman!  Dengan perisai iman kita dapat menangkal setiap serangan musuh.  Ketika berada dalam keadaan terjepit karena tekanan dan serangan musuh, dan ketika orang-orang mengatakan bahwa tidak ada pertolongan, Daud justru menemukan kekuatan di dalam Tuhan, karena ia sangat percaya bahwa Tuhan adalah perisai yang melindunginya.  “Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.”  (ayat 7).  Sungguh… Tuhan telah menjadi perisai hidup Daud!

Sebagai perisai artinya Tuhan yang melindungi kita dan memadamkan segala serangan musuh.  Bukan berarti peperangan telah usai atau serangan musuh berhenti, karena Iblis selalu mencari cara dan celah untuk menyerang,  “…menunggu waktu yang baik.”  (Lukas 4:13).  Alkitab menasihatkan agar kita selalu berjaga-jaga dan berdoa, dan  “…dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,”  (Efesus 6:16).  Karena Tuhan menjadi perisai kita, maka kita tetap terlindungi dan tak mudah untuk ditaklukkan.  Untuk mendapatkan perlindungan dari Tuhan kita harus memiliki iman yang tertuju hanya kepada Tuhan, yaitu iman yang tidak tergantung pada keadaan atau situasi.

Orang yang memiliki iman di dalam Tuhan akan tetap percaya, walaupun apa yang terlihat tidak sesuai dengan kenyataan.  Sehebat apa pun serangan yang dilancarkan oleh pihak musuh, sedahsyat apa pun goncangan, kita tetap tenang karena Tuhan di pihak kita,  “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”  (1 Yohanes 5:4).  Karena ada perlindungan yang pasti dari Tuhan kita menjadi tenang, dan dalam keadaan tenang kita pun dapat berpikir bagaimana mengalahkan dan menghancurkan musuh.  Ada tertulis:  “…dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”  (Yesaya 30:15).  Bila Tuhan yang menjadi perisai ada jaminan kemenangan bagi yang percaya kepada-Nya.

“Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.”  Mazmur 20:7


Rabu. TIDAK LAGI MEMEGANG KOMITMEN
Baca: 1 Samuel 13:1-22

“Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.”  1 Samuel 13:13

Di zaman sekarang ini tidaklah mudah menemukan orang yang benar-benar memiliki komitmen terhadap suatu hal.  Umumnya orang mau melakukan sesuatu yang penuh komitmen apabila diiming-imingi bonus atau hadiah yang menggiurkan.  Orang juga akan bersemangat melakukan sesuatu ketika mood-nya lagi dapat.  Begitu mood-nya gak dapat, semangatnya untuk melakukan sesuatu pun meredup.  Seseorang yang punya komitmen pasti tidak mempunyai alasan apa pun untuk berhenti di tengah jalan meski ada rintangan yang menghadang di depan, apalagi sampai ingkar.

Komitmen adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam meraih kesuksesan atau keberhasilan.  Orang bisa saja dengan mudah mengucapkan komitmen, tapi tindakanlah yang akan membuktikan sebuah komitmen.  Saul adalah raja pertama Israel yang pada awalnya tampak hebat dan berkomitmen untuk hidup taat, tetapi apa yang menjadi komitmennya ketika diurapi menjadi raja tidak lagi mampu dipertahankannya, justru pelanggaran demi pelanggaran dilakukan oleh Saul;  dan ketika ditegur oleh Samuel, bukannya menyesali kesalahannya, malah ia selalu berkilah.  Perbuatan Saul ini sangat menyakiti hati Tuhan.  Oleh karena gagal memegang komitmennya akhirnya Saul harus menelan pil pahit, ia ditolak sebagai raja, dan bahkan Tuhan menyatakan penyesalan-Nya:  “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.”  (1 Samuel 15:11).

Komitmen adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang sudah mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus, yaitu komitmen untuk taat kepada perintah-perintah-Nya dan setia mengikuti-Nya sampai garis akhir hidup.  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”  (Roma 14:8).  Milikilah komitmen seperti rasul Paulus,  “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”  (Roma 14:8).

Orang yang punya komitmen takkan berubah sikap, apa pun keadaannya!


Kamis. HIDUP ADALAH SUATU PILIHAN

Baca: Lukas 13:22-30

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”  Lukas 13:24

Hidup ini adalah sebuah pilihan, kita harus memilih mana yang baik dan benar, mana yang berguna dan bermanfaat.  Tidak ada istilah kompromi dalam menjalani hidup ini, sebab kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang dapat berdiri di atas dua perahu dengan kedua kakinya sekaligus.  Kita tidak bisa terus-menerus berada di persimpangan jalan, mau tidak mau kita harus membuat ketegasan dalam memilih!  Keputusan yang kita ambil itulah yang akan menentukan apakah kita akan berhasil atau gagal dalam hidup ini.

Demikian dalam hidup kerohanian, kita juga dihadapkan pada pilihan hidup:  taat atau tidak taat, berjalan menurut kehendak sendiri atau menurut kehendak Tuhan, berkat atau kutuk.  Tuhan menegur jemaat di Laodikia oleh karena mereka  ‘tidak dingin dan tidak panas’  alias suam-suam kuku.  “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”  (Wahyu 3:16).  Hidup di zaman ini seringkali kita diombang-ambingkan antara memilih kenikmatan dan kesenangan dunia yang sifatnya hanya sementara, ataukah tetap berjuang melawan keinginan daging, yang meski sakit tapi mendatangkan upah yaitu kehidupan kekal.

Pergumulan berat juga di alami oleh orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama, di mana Tuhan menghadapkan mereka pada pilihan hidup:  “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN,…”  (Ulangan 30:15-16).  Jangan pernah terbuai dengan apa yang tampak indah menurut mata jasmaniah, tetapi pastikan bahwa yang kita pilih adalah pilihan yang benar dan sesuai kehendak Tuhan,  “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  (Matius 7:13-14).

Pilihan hidup harus tegas!  Jangan sekali-kali melakukan tindakan berkompromi!


Jumat. HAL MUSTAHIL ADALAH BAGIAN TUHAN
Baca: Mazmur 114:1-8

“Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub, yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!”  Mazmur 114:7-8

Ada satu kata yang seringkali menjadi momok bagi semua orang yaitu kata mustahil.  Ketika sakit parah dan banyak orang bilang kalau sakitnya mustahil untuk disembuhkan, orang pasti mengalami kesedihan yang mendalam, stress dan putus asa;  ketika krisis keuangan melanda dalam rumah tangga, dan sepertinya tidak ada jalan keluar, ditambah lagi dengan pernyataan orang lain yang mengatakan bahwa keadaannya mustahil untuk dipulihkan, orang pasti langsung drop.  Ya…  Iblis memang tidak pernah berhenti untuk melepaskan panah  ‘kemustahilan’  ini kepada semua orang agar mereka hidup dalam ketakutan, kekuatiran, dan keputusasaan.

Dalam hidup ini seringkali kita dibawa kepada suatu masalah, situasi atau keadaan yang secara manusia memang mustahil untuk mendapatkan pertolongan, jawaban atau jalan keluar.  Namun pemazmur kembali menegaskan dan menguatkan bahwa manusia boleh saja berkata bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin alias mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil, dan bahkan Alkitab menyatakan bahwa  “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23).  Artinya jika kita senantiasa mengandalkan Tuhan dan percaya terhadap janji firman-Nya maka semuanya tidak ada yang mustahil.  Ada tertulis:  “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”  (1 Korintus 2:9).

Jangan pernah takut menghadapi apa pun, karena Tuhan kita adalah ahli dalam mengerjakan hal-hal yang mustahil!  “Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?”  (Yesaya 51:10);  Tuhan yang sanggup mengubah air menjadi anggur;  Tuhan yang sanggup membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari.  Karena itu jangan pernah kita membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita yang terbatas, sebab  “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:9).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena Dia Tuhan yang Mahakuasa!


Sabtu. PERCAYAKAH BAHWA TUHAN DAPAT MELAKUKAN?
Baca: Matius 9:27-31

“‘Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?’ Mereka menjawab: ‘Ya Tuhan, kami percaya.'”  Matius 9:28

Kisah tentang Tuhan Yesus menyembuhkan mata dua orang buta ini adalah kisah yang hanya ditulis di Injil Matius.  Ketika bertemu dengan dua orang buta ada sebuah pertanyaan yang tak biasa Tuhan sampaikan.  Tuhan Yesus terlebih dahulu bertanya kepada kedua orang buta itu,  “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?”  (ayat nas).  Dan kedua orang buta itu pun dengan penuh keyakinan menjawab,  “Ya Tuhan, kami percaya.”  (ayat nas).  Meskipun kedua orang itu tidak dapat melihat secara mata jasmaniah, tapi mata rohani mereka dapat melihat Tuhan dengan kebesaran kuasa-Nya, sehingga mereka percaya bahwa Dia pasti sanggup melakukan mujizat kesembuhan.  Karena memiliki respons hati yang benar Tuhan Yesus pun bertindak untuk menjamah mereka,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu…  Maka meleklah mata mereka.”  (ayat 29-30).

Ada banyak orang Kristen secara fisik tidak mengalami kebutaan, mata jasmani mereka dapat melihat apa pun, tetapi mata rohaninya  ‘buta’  seperti pelayan Elisa yang tak mampu melihat kebesaran kuasa Tuhan.  Sedikit saja dihadapkan pada masalah atau kesulitan, mereka sudah diliputi oleh ketakutan, mereka lupa dengan pertolongan Tuhan dalam hidupnya di waktu-waktu lalu.  Pemazmur menasihati,  “…dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”  (Mazmur 103:2).  Pada situasi-situasi seperti itu yang diperlukan adalah iman.  Iman dan ketakutan adalah dua hal yang sangat kontradiktif.  Ketakutan hanya akan membawa kita untuk mempercayai hal-hal yang buruk terjadi, seperti yang Ayub katakan,  “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.”  (Ayub 3:25).

Iman membawa kita untuk percaya bahwa hal-hal yang baik dan dahsyat pasti akan terjadi.  Iman membuka mata rohani kita sehingga kita dapat mempercayai bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara yang dahsyat…  alhasil kita tidak menyerah dengan keadaan yang ada.  Iman menuntun kita untuk melewati kemustahilan, sedangkan ketakutan hanya akan memunculkan kata mustahil dalam hidup ini.

“Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu…”  Mazmur 145:3-4


Minggu. BERAWAL DARI MATA MELIHAT

Baca: Amsal 23:29-35

“Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat,”  Amsal 23:31

Alkitab menyatakan bahwa  “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.”  (Matius 6:22-23).  Sebelum Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang Tuhan, Iblis terlebih dahulu memprovokasi Hawa tentang buah kehidupan itu, lalu  “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.”  (Kejadian 3:6).  Kejatuhan dosa manusia pertama dimulai dari mata!

Mengapa kita harus menjaga penglihatan kita?  1.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi keputusan kita.  Kita bisa belajar dari pengalaman hidup Lot.  “Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. –Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. — Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.”  (Kejadian 13:10-11).  Namun Lot harus menelan pil pahit kehidupan karena ia salah dalam membuat keputusan;  bukannya berdoa atau meminta petunjuk dari Tuhan terlebih dahulu, tapi keputusannya didasarkan pada apa yang terlihat secara mata jasmani.

2.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi iman kita.  Tak bisa dipungkiri apa yang kita imani seringkali berbeda dengan kenyataan, itulah sebabnya banyak orang Kristen kecewa dan akhirnya berhenti berharap kepada Tuhan.  “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3).  Milikilah prinsip hidup rasul Paulus,  “kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  (2 Korintus 4:18).

Yang terlihat oleh mata seringkali menipu, oleh karena itu arahkan pandangan hanya kepada Tuhan Yesus!

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

Sekilas review:

Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya. Ketaatan bukan hanya bicara tentang tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Tanpa ketaatan, ibadah hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal/tidak berakar.

Sambungan minggu ini:

KASIH MERUPAKAN DASAR KETAATAN

 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15).

  • Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.
  • Ketaatan merupakan ekspresi kasih kita kepada Tuhan. Kita taat bukan karena ketakutan, paksaan, sekadar menjalankan kewajiban, atau karena motivasi lain, misalnya taat hanya untuk mendapatkan mukjizat/jawaban doa.
  • Banyak orang berkata: “Saya mengasihi Tuhan…” Tetapi Surga bertanya: mana buktinya? Banyak orang Kristen hanya ‘sayang’ kepada Tuhan Yesus, tapi belum sampai level mengasihi Dia. Menyanyi saat worship itu mudah, tapi penyembahan yang menuntut penyerahan diri bukanlah hal yang gampang. Penyembahan sejati yang berkenan kepada Tuhan adalah ketaatan kita kepada perintah-Nya.
  • Kita tidak bisa memisahkan kasih dari penyerahan diri, sebab demikianlah teladan Tuhan Yesus yang telah mendemonstrasikan kasih-Nya kepada kita. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kasih yang sejati menuntut penyerahan diri secara total, di mana kita melepaskan ego dan keinginan pribadi untuk tunduk kepada kehendak Tuhan.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

  • Kasih menggerakkan kita untuk menyangkal diri/pikul salib, rela berkorban, meninggalkan kenyamanan, serta tetap setia dan taat sekalipun dalam situasi sulit. Kasih yang sejati tetap percaya meskipun menderita karena kebenaran. Kasih yang sejati tetap percaya meski belum melihat jawaban doa. Kalau kekristenan kita tidak pernah menuntut apa-apa, mungkin itu hanya kenyamanan, bukan pemuridan.
  • Ketaatan tanpa kasih sama sekali tidak berguna (1 Korintus 13: 1-3). Ketaatan tanpa kasih menjadi legalisme yang kering. Perintah-perintah Allah akan menjadi sederet peraturan yang kaku dan terasa memberatkan. Ketaatan tanpa kasih tidak dapat bertahan lama.

Sementara, kasih tanpa ketaatan dapat kehilangan arah dan melenceng dari tujuan sejatinya. Kasih tanpa ketaatan berarti hanya di level perasaan, bukan iman. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

  • Bagaimana cara supaya kita mampu menaati Allah?

Jawabannya: kita harus dipenuhi oleh kasih-Nya.

Bagaimana cara supaya dipenuhi oleh kasih Allah?

Dengan menjaga persekutuan yang konsisten dengan Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan. Keintiman dengan Roh Kudus membuat hati kita semakin berakar dan berdasar dalam kasih Allah.

  • Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5b). Kuasa kasih-Nya yang bekerja dengan kuat dalam kita dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan/pikirkan, sehingga kita mampu hidup oleh iman dan ketaatan kepada Allah. Barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah (1 Yohanes 2:5).

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan  kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,  sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. 

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi  di dalam seluruh kepenuhan Allah.  Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan  atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:16-20).

PENUTUP

Kasih adalah dasar ketaatan sejati, artinya ketaatan merupakan demonstrasi kasih kepada Allah. Hati yang tidak berakar dalam kasih membuat ketaatan menjadi sesuatu yang membatasi, memberatkan dan menakutkan. Ketaatan adalah respons kita atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya bagi kita. Jaga api mezbah pribadi kita untuk selalu menyala, jangan biarkan jadi redup bahkan padam. Api yang terus menyala memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan, Amen.

TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA

TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA

Senin. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (1)

Baca: Mazmur 46:1-12
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan,” Mazmur 46:12

Di zaman dahulu setiap kota selalu memiliki benteng, pintu gerbang kota dan juga tembok yang mengelilingi kota itu, dengan tujuan supaya kota itu terjaga aman dan terlindungi dari serangan musuh. Namun bagaimanapun juga perlindungan dan penjagaan yang dibangun oleh manusia adalah terbatas adanya, tidak seratus persen dapat memberikan jaminan keamanan dan keselamatan yang sempurna. “…jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1b).

Bani Korah dalam nyanyiannya menyatakan bahwa kota benteng orang percaya adalah Tuhan, Dialah bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan. Artinya ketika kita masuk ke kota benteng perlindungan itu kita akan beroleh jaminan keamanan, ketenangan dan perlindungan, karena “Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang;” (Mazmur 46:6). Adakah tempat di dunia ini yang dapat menjamin keamanan dan perlindungan bagi manusia? Tidak ada. Di masa sekarang ini banyak orang mengalami ketakutan yang luar biasa karena goncangan terjadi di mana-mana, “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang…” (Mazmur 46:7), namun sebagai orang percaya kita tidak perlu kuatir dan takut, “…karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,” (Ibrani 12:28). Sekalipun musuh menyerang, sekalipun setiap hari kita disuguhi berita-berita menggemparkan, perlindungan yang Tuhan sediakan sudah lebih dari cukup untuk membuat kita aman, tenteram dan merasakan damai sejahtera yang luar biasa.

Tuhan sebagai kota benteng berarti Ia adalah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan bagi kita. Ada banyak orang mengeluh, berputus asa atau frustasi karena merasa sudah tidak kuat, tidak sanggup dan tidak mampu menanggung beban hidup yang teramat berat. Dalam kondisi seperti itu mereka bukannya mencari Tuhan, tetapi menempuh cara-cara instan dengan melakukan tindakan kompromi dengan dosa alias berbuat nekat. Solusi atau jalan keluar tidak mereka dapatkan, mereka justru semakin terjerumus ke lubang yang semakin dalam. “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Adalah sia-sia belaka jika kita mencari pertolongan di luar Tuhan!


Selasa. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (2)

Baca: Mazmur 27:1-14
“TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Mazmur 27:1b

Pertolongan, perlindungan dan kekuatan yang sejati hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia adalah benteng hidup kita.  Ada tertulis:  “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Seberat apa pun masalah dan tantangan yang kita hadapi, jika kita mau bersandar dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita pasti beroleh kekuatan untuk menanggungnya,  “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”  (2 Timotius 1:7).  Saat itulah kita pun dapat berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).

Setiap kita pasti punya pengalaman dalam hidup ini.  Ada saat-saat di mana kita berada dalam posisi terjepit, mengalami jalan buntu, tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tak seorang pun dapat menolong kita.  Kita seakan-akan berada di dalam jurang yang teramat dalam.  Namun, ketika  “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!”  (Mazmur 130:1), berserah berseru-seru memohon pertolongan-Nya, pada saat yang tepat Ia akan bertindak dan memberi pertolongan kepada kita.  Saat itulah kita baru menyadari bahwa Tuhan benar-benar menjadi kota benteng kita,  “…sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”  (Mazmur 46:2).

Hidup adalah sebuah peperangan!  Setiap hari kita dihadapkan pada peperangan:  menghadapi masalah dan keinginan daging, terlebih lagi berperang melawan penghulu-penghulu di udara  (roh-roh jahat)  atau Iblis dengan bala tentaranya.  Asal kita tetap tinggal dekat Tuhan, berada di kota benteng-Nya, kita pasti akan menang, sebab Tuhan ada di pihak kita,  “…pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!”  (Mazmur 46:9-10).

Di dalam Tuhan ada jaminan keamanan dan perlindungan yang sempurna!


Rabu. APA YANG MENJADI FONDASI HIDUPMU?
Baca: 1 Korintus 3:10-23

“Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.”  1 Korintus 2:10b

Semakin tinggi suatu bangunan atau gedung, semakin dalam dan semakin kokoh fondasi yang harus ditanam.  Jika tidak, saat badai atau goncangan datang menyerang, bangunan tersebut pasti tidak akan mampu berdiri tegak alias bakalan roboh.  Begitu pula tak seorang pun dapat menduga dan mengira kapan datangnya angin, badai atau goncangan dalam kehidupan ini.  Oleh karena itu penting sekali memiliki fondasi hidup yang kuat dan kokoh, supaya ketika angin, badai, gelombang atau goncangan melanda kehidupan ini kita tetap mampu berdiri tegak dan tak tergoyahkan!

Dengan apakah kita membangun fondasi hidup ini?  “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak.”  (1 Korintus 3:10b-13a).  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”  (Matius 7:24-25).  Jika kita membangun fondasi hidup kita di atas Batu Karang yang teguh yaitu Tuhan Yesus dan firman-Nya, kita akan menjadi kuat, sekalipun harus melewati angin, badai, goncangan dan gelombang kehidupan.  Rasul Paulus menasihati,  “…hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”  (Efesus 6:10).

Saat ini banyak orang tak berdaya dan akhirnya tenggelam dalam badai dan gelombang kehidupan karena mereka membangun fondasi hidupnya di atas perkara-perkara yang ada di dunia ini atau hal-hal yang sifatnya jasmaniah, sedangkan hatinya menjauh dari Tuhan.  Sayangnya apa yang selama ini mereka andalkan, harapkan dan bangga-banggakan, tak mampu menolongnya…

Tuhan Yesus sudah mengingatkan:  “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”  Yohanes 15:5b


Kamis. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (1)
Baca: Kisah Para Rasul 27:14-44

“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.” Kisah 27:14-15a

“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.”  Kisah 27:14-15a

Dikisahkan terdapat 276 jiwa berada dalam satu kapal yang sedang mengalami pencobaan yang sangat berat saat menempuh perjalanan menuju Roma.  Kapal tersebut terkena angin sakal sehingga terombang-ambing di tengah lautan.  Lebih mengerikan lagi, saat kejadian berlangsung langit dalam keadaan gelap gulita sampai-sampai mereka tidak melihat matahari selama hampir 14 hari.  Begitu dahsyatnya angin sakal dan gelombang laut yang menghantam kapal, orang-orang menjadi tawar hati dan hilang pengharapan.  “Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.”  (ayat 20).  Alkitab menyatakan,  “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”  (Amsal 24:10).

Ketika orang-orang sudah sangat pesimistis dan merasa sudah tidak memiliki harapan untuk selamat, rasul Paulus  -yang kebetulan menjadi salah satu penumpang di kapal itu-, memiliki sikap hati yang berbeda.  Di tengah kepanikan yang hebat rasul Paulus mampu menguatkan orang banyak itu:  “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.”  (Kisah 27:22).  Dengan penuh iman ia berkata,  “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.”  (Kisah 27:34b).  Kemudian untuk mengantisipasi supaya kapal tidak kandas di salah satu batu karang mereka pun sepakat membuang sauh, bahkan empat sauh sekaligus  (Kisah 27:29).  Sauh/jangkar adalah alat berkait dan berat, dibuat dari besi, yang dilabuhkan dari kapal ke dasar laut supaya kapal dapat berhenti dan tidak terbawa oleh arus.  Dengan sauh sebuah kapal akan tetap kokoh menghadapi hantaman ombak!

Hati kita ibarat kapal yang sedang mengarungi lautan kehidupan sedangkan  ‘sauh’  berbicara tentang pengharapan.  Hati kita akan tetap kuat di tengah badai atau hantaman ombak sebesar apa pun, apabila kita memiliki pengharapan.  Pertanyaannya:  ke arah manakah sauh atau pengharapan itu akan kita labuhkan?  (Berlanjut)


Jumat. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (2)

Baca: Kisah Rasul Paulus 27:14-44
“Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat.” Kisah 27:44b

Kemana kita mengarahkan pengharapan hidup ini?  Ada tertulis:  “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”  (Ibrani 6:19-20).  Badai sebesar apa pun boleh saja menyerang dalam kehidupan ini, baik itu dalam pekerjaan, keluarga, kesehatan, keuangan dan sebagainya.  Namun saat kita mmeiliki pengharapan di dalam Tuhan, kita tidak akan binasa.  Pengharapan berbicara tentang iman….

Selama empat belas hari, 276 orang lebih tidak melihat terang maupun bintang, mereka juga tidak makan, kelaparan, kacau balau, terkatung-katung di tengah laut.  Tetapi pada akhirnya mereka bisa selamat…  Karena ada 1 orang yang memiliki iman yaitu rasul Paulus.  “Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku.”  (Kisah 27:25).  Rasul Paulus sangat percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  Ia bisa berkata demikian karena pandangannya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada situasi atau keadaan yang ada.  “-sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-“  (2 Korintus 5:7).  Iman adalah output ketika seseorang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan.  “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”  (Roma 10:17).

“Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku,”  (Kisah 27:23).  Di tengah kesesakan hebat rasul Paulus masih dapat bersekutu dengan Tuhan melalui doa dan penyembahan.  Saat berada di tengah badai, masihkah kita memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan?  ataukah kita justru larut lari meninggalkan Tuhan dan mencari pertolongan kepada sumber yang lain?  Walaupun berada di tengah badai jangan pernah tawar hati, sebab Tuhan telah berjanji,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5).

Kunci agar kuat di tengah hantaman badai adalah tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan dan memelihara persekutuan yang karib dengan-Nya!


Sabtu. ORANG PERCAYA HARUS PUNYA VISI (1)
Baca: 2 Raja-Raja 6:8-23

“‘Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.’ Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.”  2 Raja-Raja 6:17

Dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu punya visi.  Jika tidak, perjalanan hidup kekristenannya akan tersendat-sendat, sulit alami pertumbuhan rohani yang maksimal.

Visi merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, perbuatan atau tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan.  Di dalam Alkitab istilah visi bersifat nabiah atau pewahyuan, di mana Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, baik itu kepada individu atau pun kelompok, khususnya kepada bangsa Israel.  Dan Tuhan menyatakan visi-Nya bisa melalui mimpi, penglihatan atau juga melalui perantaraan nabi-nabi-Nya.  Visi juga bisa diartikan pandangan rohani.  Apa yang tidak dilihat orang lain itulah yang diwahyukan Tuhan kepada kita.  Dengan kata lain kita melihat apa yang orang lain tidak lihat.

Karena memiliki pandangan rohani, nabi Elisa dapat melihat bala tentara sorgawi dengan kuda dan kereta berapi yang jumlahnya lebih banyak dari tentara raja Aram.  Berbeda dengan pelayan Elisa yang tidak memiliki pandangan rohani  (tidak mempunyai visi yang sama), sehingga ia sangat ketakutan ketika melihat tentara Aram telah mengepung kota Dotan.  Karena itu Elisa berdoa supaya Tuhan membuka mata rohani bujangnya itu dan Tuhan pun mengabulkan doanya.  Akhirnya pelayan Elisa itu pun dapat melihat bahwa gunung itu penuh dengan tentara sorga, berkuda dengan kereta berapi mengelilingi Elisa  (ayat nas).

Begitu pula Musa, karena memiliki visi dari Tuhan,  “…Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.”  (Ibrani 11:24-26).  Musa mampu melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat, ia tahu bahwa  “…yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  (2 Korintus 4:18).

Milikilah kepekaan rohani supaya kita mampu menangkap visi yang Tuhan beri!


Minggu ORANG PERCAYA HARUS PUNYA VISI (2)
Baca: Amsal 29:18-27
 Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.”  Amsal 29:18

Dalam hidup Kristen, antara visi dan keinginan/cita-cita itu jelas sangat berbeda.  Visi itu berbicara  tentang sesuatu yang Tuhan taruh dalam hidup kita, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita.  Kalau keinginan dan cita-cita itu datang dan timbul dari diri sendri, sedangkan visi diperoleh dari doa kita kepada Tuhan dan jawaban Tuhan atas ketaatan kita melakukan kehendak-Nya.  Maka kita harus lebih bersungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, melatih kepekaan untuk mendengar suara Tuhan melalui persekutuan yang karib dengan-Nya, sebab  “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).

Visi mendorong kita untuk memiliki prioritas-prioritas dan membuat pilihan-pilihan hidup yang benar;  visi mendorong kita untuk memiliki semangat dan motivasi yang lebih lagi dalam melakukan segala sesuatu.  Bisa dikatakan bahwa visi sangat menentukan arah hidup seseorang.  Karena mengerti dan memahami visi yang Tuhan taruh dalam hidupnya, rasul Paulus berkomitmen:  “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”  (Filipi 3:13-14).

Ada banyak orang Kristen tak mampu melihat visi Tuhan dalam hidupnya.  Terlihat dari cara hidup mereka dalam mengerjakan perkara-perkara yang tidak ada greget sama sekali!  Tidaklah mengherankan jika kehidupan rohaninya tidak mengalami kemajuan yang berarti,  “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.”  (Ibrani 5:12).  Tuhan Yesus telah berfirman,  “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”  (Yohanes 14:12).  Kuasa Tuhan akan dinyatakan dengan luar biasa kepada setiap orang percaya yang mau melangkah untuk mengerjakan panggilan Tuhan.

Jangan sia-siakan visi yang Tuhan taruh dalam hidup ini, melainkan kerjakan itu dengan roh yang menyala-nyala!

HIDUP DALAM KETAATAN

HIDUP DALAM KETAATAN

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

PENDAHULUAN

Bulan lalu kita mengenali Roh Kudus dan keadaan terhubung dengan Pokok Anggur yang benar supaya hidup kita menghasilkan buah yang mendampaki orang lain. Di bulan yang baru ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita taat melakukan Firman? Karena ibadah tanpa ketaatan hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal. Perasaan tersentuh oleh firman tanpa diikuti tindakan hanya menipu diri sendiri dan tidak membawa perubahan hidup.

ISI

DENGAR DAN LAKUKAN 

  • Yakobus 1:22 mengatakan “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…” Rajin beribadah ke gereja belum menjamin seseorang hidup dalam ketaatan, demikian pula dengan mencatat kotbah. Mengatakan “Firman hari ini luar biasa dan sangat memberkati” juga bukan berarti orang tersebut melakukan firman yang didengarnya.
  • Pengetahuan firman tanpa tindakan hanya melahirkan kemunafikan serta kesombongan rohani. Pengetahuan firman tanpa ketaatan adalah tindakan menipu diri sendiri. Banyak orang Kristen hanya kenyang dengan mendengarkan khotbah, kesaksian, atau mengikuti training/kelas pengajaran, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
  • Ingin mujizat, tetapi tidak mau taat akan perintah Tuhan. Ingin berkat, tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Penyembahan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita menangis saat berada di hadirat Tuhan, tetapi dari seberapa cepat kita taat akan pesan firman yang disampaikan setelah ibadah selesai.
  • Mungkin ada orang yang menilai dirinya sudah taat kepada Tuhan dengan sudah rajin beribadah, mengembalikan persepuluhan, tidak mencuri, membunuh, menggosip, menghakimi orang lain, dsb..

Tetapi saat Tuhan gerakkan hatinya untuk berkati si A, doakan si B, jangan hakimi suamimu/tunduk padanya walaupun ia banyak kelemahan, jangan berlaku kasar dengan istrimu, atau tambah jam doa, dsb..…orang tersebut banyak pertimbangan untuk melakukannya, cari alasan untuk membenarkan diri sendiri, menunda-nunda, akhirnya sama saja dengan tidak taat.

Jadi ketaatan bukan hanya tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan.

  • Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya.

Contoh:

  • Nuh disuruh Allah untuk membangun bahtera di tengah daratan. Alkitab mencatat bahwa Nuh taat melakukan perintah tersebut
    sekalipun hal itu dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat pada jamannya.
  • Ananias taat saat Tuhan memerintahkan dia untuk menumpangkan tangan atas Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) supaya dia dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Meskipun Ananias tahu bahwa Saulus adalah seorang yang menganiaya orang-orang kudus, dia taat juga ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mendatangi Saulus.
  • Paulus meninggalkan semua yang dia banggakan di masa lalu demi pengenalan yang benar akan Kristus dan taat kepada panggilan Allah (Fil. 3: 7-14).
  • Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ingatlah: keinginan daging (tidak takluk kepada hukum Allah) akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh (menghendaki kita hidup dalam ketaatan kepada Allah).

REFLEKSI DIRI:

  • Hal-hal apa yang Roh Kudus dorong untuk kita lakukan/tinggalkan
tetapi masih kita tunda?
  • Membangun mezbah pribadi secara konsisten? Stop berpikiran negatif? Menundukkan diri kepada otoritas di atas kita? Meninggalkan hubungan/pertemanan yang tidak sehat/toxic? Memulai pelayanan? Stop merenungkan kesalahan orang lain? Mengampuni? Stop bergosip?
  • Stop berperilaku konsumtif (hobi belanja barang-barang yang memuaskan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup)? Belajar berpuasa? Menabur finansial untuk pekerjaan Tuhan? Berhenti hidup dalam dosa tersembunyi? Memakai waktu dengan bijak? Stop kebiasaan buruk?
  • Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan merupakan buah dari orang yang hidup dalam dusta iblis. Penundaan adalah peperangan rohani. Penundaan membuat hati kita jadi keras dan degil. Penundaan adalah bukti ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati.

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Senin. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Baca: Mazmur 35:1-28

“Ya, TUHAN, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?” Mazmur 35:10

Dalam hidup ini ada sesuatu yang tidak pernah bisa dihindari oleh semua orang tanpa terkecuali, ialah masalah. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap kita pasti menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Oleh karena itu jangan pernah lari dari masalah, karena yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri dari masalah, namun yang paling utama adalah bagaimana respons hati kita terhadap masalah yang terjadi.

Kita seringkali lupa bahwa perjalanan hidup kekristenan itu tidak hanya sekedar berbicara tentang berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan dan sebagainya, tetapi juga proses; berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan adalah output atau hasil dari sebuah proses. Masalah adalah satu bentuk dari proses itu sendiri! Berkat, mujizat, kemenangan dan pemulihan adalah hal yang pasti Tuhan sediakan, karena Dia adalah Tuhan yang selalu memegang setiap janji-Nya. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19). Seringkali kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan berkat Tuhan, tapi ketika dihadapkan pada masalah sebagai bagian dari proses, kita memiliki repons yang tidak benar: mengomel, bersungut-sungut, marah, berontak, mengambinghitamkan orang lain atau keadaan, dan bahkan berani menyalahkan Tuhan.

Adalah hal mudah bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir karena Firaun dan bala tentaranya bukanlah suatu halangan berarti, tapi untuk membentuk dan memproses bangsa Israel Tuhan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 40 tahun di padang gurun, karena bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk (baca Keluaran 32:9). Pertanyaan: apakah kita mau taat atau tidak, punya penyerahan diri atau tidak, ketika sedang berada dalam ‘proses’nya Tuhan? Yang pasti, setiap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dan kita alami semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Tuhan tidak pernah merancang hal-hal yang jahat terhadap kita. (Bersambung)


Selasa. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (2)
Baca: Mazmur 38:1-23

“TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu;”  Mazmur 38:2

Perjalanan hidup kekristenan adalah sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak selalu melewati jalan yang rata, tapi penuh dengan tantangan, seperti perjalanan bangsa Israel sebelum mencapai Tanah Perjanjian:  harus menaklukkan musuh-musuh.  “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.”  (Ulangan 11:11-12).  Kalimat  ‘bergunung-gunung dan berlembah-lembah’  adalah gambaran bahwa perjalanan yang harus kita tempuh adalah perjalanan yang penuh liku-liku, masalah bisa datang secara tiba-tiba tapi yang menyertai kita  (Tuhan)  jauh lebih besar dari semua masalah yang ada, dan Ia tidak akan melepaskan pandangan-Nya, tetapi mengawasi kita dari awal sampai akhir!

Apa tujuan Tuhan memproses kita?  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Yeremia 18:4).  Tuhan perlu proses kita supaya kita memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi.  Semakin kita memiliki kehidupan yang berkualitas, semakin kita menjadi perabot untuk maksud yang mulia  (baca  2 Timotius 2:21).  Tuhan menggunakan masalah untuk mengembangkan karakter kita, menjadikan masalah sebagai latihan rohani yang bertujuan untuk menguatkan iman kita.  Jangan jadikan masalah sebagai beban yang justru akan membuat kita semakin stress, tapi anggaplah sebagai kesempatan untuk lebih mendekat kepada Tuhan, mencari wajah-Nya lebih sungguh dan bergantung penuh kepada-Nya.

Berdasarkan pengalaman, penyembahan yang mendalam dan doa yang tulus dan murni biasanya terjadi ketika seseorang berada dalam masalah yang berat.  “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:18-19).  (Bersambung)


Rabu. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (3)
Baca: Ayub 23:1-17

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  Ayub 23:10

Saat mengalami masalah kita menyadari betapa kita sangat membutuhkan Tuhan, dan menyadari bahwa Tuhan satu-satunya sumber pertolongan.  Ada berkat yang baru yang Tuhan sediakan di balik masalah.  “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23), sehingga Tuhan mempersiapkan kita dulu melalui proses, supaya kita layak untuk menerima berkat-Nya yang baru itu.  “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  (Yesaya 43:19).

Berkat yang baru harus ditaruh di  ‘wadah’  yang baru,  “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Markus 2:22);  anggur yang baru harus disimpan di kirbat yang baru.  Sudahkah kita benar-benar hidup sebagai  ‘manusia baru’?  Selama kita masih mengenakan  ‘manusia lama’  Tuhan akan terus memproses kita,  “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah,…Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”  (Roma 8:7, 8).  Tuhan memproses kita melalui masalah supaya kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain.  Setiap masalah takkan melebihi kekuatan kita,  “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).

Ketika melihat orang yang buta sejak lahir murid-murid bertanya,  “‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’ Jawab Yesus: ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.'”  (Yohanes 9:2-3).

Masalah dipakai Tuhan sebagai proses untuk membentuk, mempersiapkan dan menjadikan kita sesuai rencana-Nya!


Kamis. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (1)
Baca: Nehemia 8:1-19

“maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.”  Nehemia 8:2

Ada banyak orang Kristen yang menganggap bahwa menghadiri sebuah kebaktian tak ada bedanya dengan menghadiri sebuah pertunjukan musik.  Yang menjadi pusat perhatian mereka adalah si pemimpin pujian dan tim musiknya.  Apabila mereka tampil kurang maksimal dalam melayani, kita selaku penonton merasa kecewa, tidak puas, tidak terhibur, serta mengkritiknya habis-habisnya.  Sikap kita dalam beribadah pun berubah:  tidak lagi antusias, ogah-obahan dalam memuji Tuhan, mendengarkan firman pun sambil lalu.  Inikah sikap ibadah yang benar?  Ingatlah bahwa fokus utama dalam beribadah adalah Tuhan, bukan manusia.  Jika kita menyadari bahwa yang menjadi pusat ibadah adalah Tuhan kita pasti tidak akan main-main lagi dalam beribadah.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika beribadah:  1.  Miliki kerinduan untuk bertemu Tuhan.  Sudah lama orang-orang Israel  (dalam bacaan)  tidak melakukan ibadah secara bersama-sama  (ibadah raya)  karena mereka berada di pembuangan di Babel.  Setelah kembali dari pembuangan mereka memiliki kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan.  Alkitab menyatakan ketika bulan yang ketujuh tiba serentak berkumpullah umat untuk beribadah kepada Tuhan  (ayat nas).  Kata serentak menunjukkan bahwa rakyat secara kompak dan sangat antusias berkumpul bersama-sama untuk melakukan ibadah raya tanpa ada paksaan dari pihak lain, atau harus didorong-dorong terlebih dahulu, tapi kerinduan untuk bertemu Tuhan benar-benar timbul dari hati.  Umat Israel secara serempak berkumpul untuk beribadah bukan karena sedang menggelar sebuah perayaan atau memperingati hari raya tertentu, tapi karena kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan yang mendorong mereka untuk berkumpul secara serempak.

Bagaimana dengan kita?  Apakah kita beribadah karena dilandasi kerinduan untuk bertemu Tuhan, atau kita melakukan hanya sebatas rutinitas, atau bahkan karena terpaksa?  Daud berkata,  “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3).  (Berlanjut)


Jumat. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (2)
Baca: Nehemia 8:1-9

“Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  Nehemia 8:4b

Adalah menyedihkan sekali jika orang Kristen tidak lagi tertarik beribadah ke gereja, merasa rugi telah membuang waktu percuma.  Bagi mereka waktu adalah uang!  Mereka berpikir adalah lebih baik mengerjakan pekerjaan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan materi:  tetap buka toko atau kerja lembur di kantor, daripada menghabiskan waktu beberapa jam di tempat ibadah.  Ada orang yang datang ke gereja hanya mengisi waktu senggang, daripada menganggur di rumah.  Sebagian lagi ada orang Kristen yang begitu sibuk melayani pekerjaan Tuhan, tapi disertai motivasi yang tidak benar yaitu semata-mata memamerkan kehebatan atau talentanya supaya beroleh pujian.  Berhati-hatilah!

2.  Fokus dan memperhatikan sungguh-sungguh.  Ketika Ezra, ahli kitab, membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaat, ia  “…membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  (ayat 4).  Meski ibadah berlangsung cukup lama yaitu dari pagi hingga tengah hari, dan berada di area outdoor  (terkena terik matahari), umat Israel tetap fokus dan memberikan perhatian penuh.  Alkitab mencatat bahwa umat yang berkumpul,  “…ada empat puluh dua ribu tiga ratus enam puluh orang, selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus empat puluh lima penyanyi laki-laki dan perempuan.”  (Nehemia 7:66-67).

Sering dijumpai banyak anak Tuhan yang tidak fokus beribadah.  Tubuh memang ada di gereja, namun hati dan pikiran melayang kemana-mana.  Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan  (baca  Roma 12:1).  Sebuah ibadah tanpa disertai rasa takut akan Tuhan dan menghormati hadirat-Nya adalah sia-sia dan tidak berkenan di hadapan Tuhan.

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala.”  Mazmur 2:11-12


Sabtu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (1)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  Ulangan 31:3

Pada suatu kesempatan Musa berdiri di hadapan seluruh umat Israel untuk menyampaikan pesan yang sangat penting.  Musa menyadari ia telah berusia sangat lanjut dan tidak lama lagi akan meninggal.  Karena itu umat Israel sewaktu-waktu harus siap menghadapi sebuah perubahan.  Salah satu perubahan itu adalah soal kepemimpinan.  Umat Israel tidak perlu takut dan kuatir jika nantinya Musa tidak lagi ada bersama-sama dengan mereka.  Musa mengingatkan agar umat Israel tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan yang adalah pemimpin utama mereka, bukan kepada manusia.  “TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  (ayat 3).  Kini Tuhan telah menunjuk dan memilih Yosua untuk melanjutkan kepemimpinan menggantikan Musa.

Siapakah Yosua?  Yosua adalah keturunan Efraim, anak dari Nun, yang masa mudanya banyak dihabiskan di padang gurun dalam pengembaraan menuju Kanaan.  Ia adalah abdi atau pelayan Musa yang setia.  Sebagai abdi ia pun mengalami masa-masa yang sulit, penuh ujian dan tantangan bersama Musa.  Nama sebenarnya adalah Hosea, yang artinya Keselamatan.  Tetapi Musa memanggilnya Yosua  (baca  Bilangan 13:16), yang artinya Ia akan menyelamatkan atau keselamatan dari Yehovah.  Yosua tidak pernah membayangkan suatu saat akan dipilih dan dipercaya Tuhan untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan menggantikan Musa.  Adalah tidak mudah untuk beroleh sebuah kepercayaan!  Yosua dipercaya oleh karena ia setia menjalani proses:  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;”  (Amsal 19:22).  Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang setialah yang dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya.

Di masa-masa seperti sekarang ini sulit sekali menemukan orang yang memiliki kesetiaan seperti Yosua ini.  Umumnya orang setia kalau ada embel-embel di belakangnya.  Sungguh benar apa yang dikatakan pemazmur:  “…orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.”  (Mazmur 12:2).

Karena kesetiaannya sangat teruji Yosua dipercaya menggantikan Musa!


Minggu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (2)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  Ulangan 31:6

Ketika dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa, kemungkinan besar respons Yosua adalah terkejut, gelisah, dan tidak tenang, kemungkinan juga ada keraguan dan kekuatiran berkecamuk dibenaknya:  dapatkah ia memimpin suatu bangsa yang besar ini, bagaimana reaksi umat Israel jika ternyata kemampuannya dalam memimpin tidak sebanding dengan pemimpin sebelumnya  (Musa).  Itu sebabnya, Musa memberikan nasihat yang menguatkan dan meneguhkan,  “…janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  (ayat nas).

Menjadi pemimpin adalah sebuah kepercayaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya!  Yosua harus menangkap ini sebagai kesempatan untuk memaksimalkan semua potensi yang sudah Tuhan taruh dalam hidupnya.  Memang untuk mengerjakan visi besar dari Tuhan yaitu menuntun bangsa Israel menuju Tanah perjanjian, bukanlah perkara mudah, karena ada banyak sekali tantangan dan juga musuh-musuh yang harus ditaklukkan.  Jadi, seorang pemimpin haruslah bermental baja, berani dan tidak mudah menyerah.  Yang perlu ditegaskan lagi kepada Yosua bahwa ia tidak sendirian,  “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”  (ayat 8).  Karena itu Yosua harus terus maju dengan berpegang teguh kepada janji firman Tuhan.  “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.”  (Yosua 1:3).

Tuhan memberikan kunci rahasia untuk mencapai keberhasilan:  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

Kunci kepemimpinan yang berhasil adalah berjalan bersama Tuhan, senantiasa mengandalkan-Nya, dan berpegang teguh pada janji firman-Nya!

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2)

PENDAHULUAN

Pikiran sangat berperan dalam menentukan arah hidup seseorang. Pikiran/akal budi yang diperbarui dengan benih firman Tuhan secara kontinu akan membuahkan cara pandang, nilai, perkataan, perilaku, gaya hidup, karakter, etos kerja, keputusan, dan tujuan yang sesuai dengan kehendak Allah.

ISI

  • Allah adalah Roh, barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Menyembah Allah harus dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran-Nya. Untuk dapat menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, hati dan pikiran kita harus lebih dulu diperbarui.
  • Orang percaya telah menerima hati dan roh yang baru oleh Roh Kudus yang berdiam dalam batin. Allah telah menjauhkan kita dari hati yang keras/degil dan memberikan hati yang taat kepada hukum-Nya (Yehezkiel 35:26-27). Hati yang baru ini harus disertai dengan pikiran yang baru. Kita tidak bisa menyembah Allah dengan pikiran yang lama, yaitu pikiran karnal (pola pikir/akal budi yang dikuasai oleh keinginan daging, bersifat duniawi, berasal dari benih dosa dalam diri manusia). Pikiran karnal tidak takluk kepada hukum Allah sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.
  • Hati yang baru + transformasi pikiran secara kontinu + hidup dalam pertobatan = transformasi hidup/berbuah banyak dan matang. Perlu dipahami bahwa firman Tuhan yang berupa informasi atau pengetahuan memang penting, tapi itu belum cukup untuk mengubah hidup kita. Firman Tuhan yang berubah menjadi pewahyuan itulah yang berpotensi membawa kita bertumbuh secara rohani, mengubahkan hidup serta menghasilkan buah.

Catatan: pewahyuan adalah karya Allah melalui Roh Kudus yang membuka, menyingkapkan, atau menyatakan diri, kehendak, jalan dan kebenaran-Nya kepada kita secara pribadi. Hati dan pikiran kita menjadi terang karena Roh Kudus memberikan hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar (Efesus 1:17).

  • Pewahyuan bisa didapat melalui:
  • Firman Tuhan yang kita renungkan dan dihidupkan oleh Roh Kudus (firman Rhema),
  • Peristiwa/kesaksian hidup yang kita atau orang lain alami (mis. dalam kehidupan sehari-hari: di keluarga, pelayanan, pekerjaan, usaha, dlsb),
  • Firman Tuhan yang menjadi nyata/digenapi dalam hidup kita,
  • pergumulan hidup (masalah, godaan, kesulitan, penderitaan),
  • perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus (mis. lewat mimpi dan penglihatan).

 

Hal-hal yang terjadi akibat pikiran yang belum diperbarui oleh Firman Tuhan:

  • Hidup jadi serupa dengan dunia : pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap (tidak ada terang kebenaran Allah), hidup dalam dusta iblis yang membangkitkan rupa-rupa hawa nafsu kedagingan, kompromi dengan hikmat dunia, mengandalkan diri sendiri, hidup dalam dosa/ketidaktaatan, ketidakpercayaan (hidup karena melihat, bukan karena percaya), kekuatiran, ketakutan, kecewa, kehilangan damai sejahtera, dan kehilangan pengharapan.
  • Tidak dapat mengerti dan membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Ketidakmengertian akan kehendak Allah membuat kita : tidak hidup dalam kebenaran dan kekudusan (Efesus 4:23-24), salah berdoa (Yakobus 4:2-3), dan salah bertindak/mengambil keputusan. Si pendusta memanfaatkan ketidaktahuan, kebodohan/kedegilan, kemalasan, kenyamanan, kesombongan dan kedagingan untuk menghancurkan hidup kita sendiri.
  • Menghalangi kita untuk menikmati hidup yang Tuhan Yesus berikan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yaitu hidup yang berkelimpahan seperti dalam Yohanes 10:10. Pikiran yang belum diperbarui menjadi pintu bagi Iblis untuk menipu orang Kristen guna melaksanakan agenda jahatnya.
  • Seseorang yang suka mengasihani diri sendiri dan memiliki victim mentality memberi akses bagi iblis untuk memperdaya hidupnya melalui pikiran negatif yang toxic’ meracuni diri sendiri dan orang lain (melalui hubungan yang tidak sehat). Kesombongan seperti ini membutakan mata hati yang membuatnya berjalan dalam kegelapan (Matius 6:22-23).
  • Kebohongan iblis membuat orang percaya tidak memahami identitasnya dalam Kristus, tidak memahami segala berkat rohani yang telah Allah karuniakan (Efesus 1:3), tidak menggunakan kuasa otoritasnya sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12), serta tidak mengerti haknya sebagai ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:17). Akibatnya, orang tersebut tetap tinggal dalam ikatan, dalam kekurangan/ kemiskinan (secara rohani, jiwani dan jasmani), tidak mengalami pemulihan, terobosan, dan kemenangan.
  • Menghalangi kita untuk hidup dalam tujuan Allah: menjadi garam serta terang di kegelapan dunia, dan melakukan Amanat Agung (dimuridkan untuk memuridkan orang lain).

 

Solusi untuk mengalami pembaruan hidup yang diawali melalui pembaruan pikiran:

  • Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Roh-lah yang memberi hidup yang sebenarnya, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan yang Tuhan Yesus katakan adalah roh dan hidup (Yohanes 6:63). Satu-satunya yang bisa mengubah seluruh hidup kita hanyalah firman Tuhan. Pikiran yang secara kontinu diperbarui oleh pewahyuan firman membuat kita ‘hidup’ (bukan sekadar eksis/bertahan hidup) serta menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Minta Roh Kudus memberikan pewahyuan/rhema dari firman yang kita baca, yang didengar di Cool/Ibadah Raya, dari kelas pengajaran yang kita ikuti, dari kesaksian orang lain, yang kita dapat saat memuji dan menyembah, dsb.
  • Kalau Roh Kudus menyingkapkan sesuatu kepada roh kita, jangan anggap angin lalu. Bawa dalam doa ke hadapan Tuhan, minta Roh Kudus menuntun: bagaimana respons/sikap hati yang benar, bagaimana melihat sesuatu dari cara pandang Allah, area mana yang perlu kita perbaiki/bertobat,  apa yang harus kita lakukan dan doakan, hal apa yang harus kita buang/jauhi, dlsb. Kalau perlu, catat dalam jurnal supaya bisa kita renungkan, pelajari dan perbaiki.
  • Amsal 4:23 menyatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau ada benih asing yang bukan kebenaran firman Tuhan dalam hati dan pikiran, segera tolak dalam Nama Yesus, jangan direnungkan. Itu bukan sekadar pemikiran acak/menyeleneh, melainkan panah api si jahat yang berpotensi mencuri, membunuh, dan membinasakan hidup kita jika tidak lekas dibuang selagi masih dalam keadaan benih.

 

PENUTUP

Pikiran kita adalah sebuah senjata, dan kehidupan kita menyingkapkan siapa yang memegang senjata itu: apakah Tuhan, ataukah si jahat. Saring apa yang kita lihat, dengar, baca, dan renungkan, pilihlah dengan bijak. Ganti kegelapan/dusta iblis dalam pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Hendaklah kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Filipi 2:5), supaya orang lain dapat melihat buah kehidupan kita dan memuliakan Bapa di sorga.

DIBALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (2)

DIBALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (2)

Senin DIBALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (2)

Baca: Keluaran 15:22-27

“Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,” Keluaran 15:25

Ketika menghadapi tantangan air pahit di Mara orang-orang Israel langsung bereaksi secara negatif, “…bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: ‘Apakah yang akan kami minum?'” (ayat 24). Pahit adalah rasa yang tidak enak seperti empedu, yaitu gambaran tentang penderitaan, kesulitan atau kesusahan. Ketika dihadapkan pada hal-hal pahit kebanyakan orang akan bersungut-sungut, mengomel dan berkeluh kesah. Perhatikan reaksi Musa… Musa tidak terpengaruh oleh sungut-sungut umat Israel dan tidak menyerah pada keadaan yang ada, tapi ia membuat keputusan yang tepat yaitu berseru-seru kepada Tuhan. Ada tertulis: “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” (Yeremia 33:3).

Tuhan menggenapi janji firman-Nya kepada setiap orang yang sungguh-sungguh berseru kepada-Nya, Ia memberikan jalan keluar yaitu menunjukkan sepotong kayu. “Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis.” (ayat nas). Mujizat terjadi! Air pahit itu menjadi manis sehingga orang-orang Israel dapat meminumnya. Manis adalah sesuatu yang berasa seperti gula, madu, menyenangkan dan indah. Kayu yang dipakai Musa untuk mengubah air yang pahit menjadi manis melambangkan tentang salib Kristus, yang sekitar lebih 2000 tahun lampau tegak berdiri di Golgota. Salib Kristus adalah solusi untuk semua permasalahan yang dihadapi oleh manusia, termasuk masalah terbesarnya yaitu dosa!

Sesungguhnya Tuhan tahu persis kalau air di Mara itu pahit rasanya, tetapi Ia hendak menguji iman dan respons mereka ketika menghadapi tantangan: apakah mereka tetap percaya kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya, sebab di balik tantangan yang besar ada berkat besar pula yang telah Tuhan sediakan: “Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma,” (Keluaran 15:27).

Selalu ada rencana Tuhan yang indah di balik tantangan besar yang kita hadapi!


Selasa. BAYARLAH NAZARMU, JANGAN DITUNDA!

Baca: Pengkhotbah 5:1-6

“Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.”  Pengkhotbah 5:3

Ketika perjalanan hidup terasa begitu mulus tanpa aral melintang kita mudah sekali melupakan Tuhan, doa dan ibadah kita anggap sepele, tidak terlalu penting dan tak berpengaruh.  Namun begitu badai persoalan datang mendera yang membuat terjepit, barulah kita menjerit, meratap dan berseru-seru kepada Tuhan, memohon belas kasihan-Nya.  Kemudian kita pun bernazar kepada Tuhan.  “Kalau sakitku sudah sembuh aku mau melayani Tuhan dengan sungguh;  kalau ekonomi keluargaku dipulihkan aku akan memberikan persembahan untuk mendukung pekerjaan Tuhan.”  Dan sebagainya.

Kata nazar yang tertulis di Alkitab berkaitan dengan janji seseorang kepada Tuhan untuk melakukan suatu tindakan, atau janji untuk menjauhkan diri dari sebuah tindakan.  Karena nazar merupakan sebuah janji atau komitmen kepada Tuhan maka kita tidak boleh main-main, kita harus bersungguh-sungguh untuk menepatinya.  Berpikirlah masak-masak sebelum kita bernazar!  Bernazar atau tidak bernazar itu bukanlah dosa, yang berdosa adalah ketika kita bernazar tetapi kita tidak memenuhinya!  “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu.”  (Ulangan 23:21-22).  Ketika berada di perut ikan Yunus mengarahkan imannya kepada Tuhan.  “Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.”  (Yunus 2:7).  Jalan terbaik ketika dalam lembah kekelaman adalah mengetuk pintu hati-Nya dengan seruan yang keluar dari dalam jiwa yang sudah letih lesu.

Yunus seharusnya sudah mati dalam perut ikan, namun Tuhan sanggup mengeluarkan dia hidup-hidup.  Yunus pun bersyukur kepada Tuhan dan berkata,  “…apa yang kunazarkan akan kubayar.”  (Yunus 2:9).  Pergilah Yunus ke Niniwe menyerukan pertobatan sesuai yang diperintahkan Tuhan kepadanya!  (baca  Yunus 3:3).

“Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.”  Mazmur 56:13


Rabu. MANUSIA BARU: Putus Hubungan Dengan Dunia

Baca: Galatia 6:11-18

Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.”  Galatia 6:14

Berkali-kali kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus kita  “…wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6), artinya kita harus mengikuti jejak-Nya dan menjadi penurut-penurut Allah  (baca  Efesus 5:1).  Sebagaimana Kristus rela mengorbankan segala sesuatu mati tersalib untuk menebus dosa-dosa kita, maka kita pun harus rela meyalibkan manusia lama  (kedagingan)  kita,  “…supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”  (Roma 6:6).

Kita harus menyalibkan kedagingan kita, karena  “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  (2 Korintus 5:17).  Inilah yang dimaksudkan oleh rasul Paulus bahwa  ‘dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia’  (ayat nas).  Disalibkan bagi dunia berarti kita mematikan segala keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan Roh Kudus sebagaimana yang Paulus nasihatkan,  “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”  (Kolose 3:5).  Mengapa kita harus mematikan semua hal yang sifatnya duniawi?  “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”  (1 Yohanes 2:16).  Demikian seharusnya setiap orang percaya benar-benar meninggalkan segala kesenangan dunia dan tidak menjadikan dunia sebagai comfort zone-nya.  Semakin kita merasa nyaman dengan perkara-perkara  dunia semakin kita terikat dengan dunia dan semakin sulit kita melepaskan diri.  Tuhan Yesus telah memperingatkan,  “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”  (Lukas 14:33).

Ketika percaya kepada Tuhan Yesus kita diangkat sebagai umat pilihan-Nya dan menyandang status  ‘bukan dari dunia ini’, seperti Kristus yang juga bukan berasal dari dunia ini  (baca  Yohanes 15:19), oleh sebab itu  “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,”  (2 Korintus 6:17).

Selama masih enggan meninggalkan  ‘dunia’, kita tidak layak disebut murid Kristus!


Kamis. KETAATAN SELALU MENDATANGKAN BERKAT

Baca: Kejadian 26:1-35

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.”  Kejadian 26:12

Berbicara tentang ketaatan adalah hal yang mudah, tapi untuk melakukan ketaatan adalah perkara yang sulit, apalagi taat ketika berada di situasi yang sulit atau tidak mendukung.  Sesungguhnya setiap ketaatan selalu mendatangkan berkat, sebab Tuhan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya.  “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.”  (Mazmur 18:26-27).

Ishak adalah salah satu contoh tokoh yang mengalami berkat Tuhan secara luar biasa karena taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan meski dalam situasi yang tidak mendukung sekalipun.  Ketika terjadi kelaparan hebat Tuhan melarang Ishak untuk pergi ke Mesir, melainkan tinggal di Gerar, suatu tempat di Filistin,  “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.”  (Kejadian 26:3).  Perintah Tuhan seringkali tidak masuk akal, karena itu banyak orang tidak mau taat;  padahal Tuhan punya rencana yang indah bagi setiap orang yang mau taat kepada-Nya!  “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:8-9).

Bukan perkara mudah untuk tinggal sebagai orang asing, namun Ishak memilih taat kepada kehendak Tuhan.  Ia datang menghadap Abimalekh, raja orang Filistin di Gerar dan minta izin untuk tinggal di sana.  Alkitab mencatat bahwa ayah Ishak  (Abraham)  juga pernah tinggal di Gerar dan menggali sejumlah sumur di sana, tapi sudah ditutup oleh orang-orang Filistin;  dan ketika berada di Gerar Ishak pun menggali kembali sumur-sumur yang telah ditutup itu dan menamainya menurut nama-nama yang telah diberikan oleh Abraham:  Esek, Sitna, Rehobot dan Syeba.

Inilah berkat bagi orang yang taat kepada Tuhan:  Ishak  “…menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”  (Kejadian 26:13).


Jumat. MERESPONS KASIH TUHAN YANG HEBAT

Baca: Mazmur 117:1-2

“Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya.”  Mazmur 117:2

Bila kita ingat tentang kasih Tuhan dalam hidup ini, sampai kapan pun kita takkan sanggup menghitung dan mengukurnya.  Kebaikan, kemurahan, kesetiaan, pemeliharaan dan perlindungan Tuhan atas kita sungguh tiada terbilang…  “…betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,”  (Efesus 3:18).  Namun seringkali kita kurang menyadarinya, yang kita ingat-ingat hanyalah besarnya masalah dan kesulitan-kesulitan yang kita alami.  Masalah dan kesulitan yang ada laksana tembok tebal yang menghalangi dan menutupi pandangan mata kita untuk melihat kebesaran kasih Tuhan.

Manakah yang lebih besar:  masalah atau kasih Tuhan yang telah kita terima?  Jika mau jujur, kasih Tuhan itu jauh lebih besar dari masalah apa pun.  Daud adalah orang yang merespons apa yang Tuhan sudah kerjakan di sepanjang hidupnya dengan sikap hati yang benar.  “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku,”  (Mazmur 9:2).  Hati Daud berlimpah dengan ucapan syukur, bukan bersyukur dengan perkataan saja, tetapi bersyukurlah dengan segenap hatinya.  Rasa syukur yang hanya diucapkan lewat bibir saja, tentunya sangat berbeda dengan ucapan syukur yang keluar dari lubuk hati terdalam.  Jika rasa syukur itu keluar dari hati, maka perkataan, perbuatan dan seluruh aspek hidup akan diubahkan karena ucapan syukur tersebut.  Daud juga  “…menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;”  (Mazmur 9:2).  Artinya Daud tidak berhenti sebatas mengucap syukur, ia juga rindu untuk menyaksikan kasih Tuhan kepada orang lain, menceritakan segala kebaikan yang telah ia terima dari Tuhan, menceritakan apa yang sudah dialaminya bersama Tuhan.

Bagaimana dengan Saudara?  Bukankah kasih Tuhan sangat luar biasa dalam hidup kita, karena Dia rela mengorbankan nyawa-Nya menebus dosa-dosa kita, mengampuni kesalahan kita, membebaskan kita dari segala kutuk, dan karena kasih-Nya kita diangkat sebagai anak-anak-Nya?  Sadar betapa hebatnya kasih Tuhan mendorong Daud semakin mendekat kepada Tuhan, semakin mengenal-Nya dan mencari Dia lebih sungguh!

“Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan….Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah!”  Mazmur 36:6, 8


 

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

PENDAHULUAN

Keaslian iman Kristen dapat dilihat dari buah Roh yang dihasilkan.  Orang yang terlibat dalam pelayanan, punya pengetahuan firman yang banyak, atau memiliki karunia rohani yang luar biasa belum tentu menghasilkan buah yang baik (buah Roh/karakter Kristus).

ISI

  • Tuhan Yesus mengatakan bahwa seseorang dikenal dari buahnya. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, demikian sebaliknya. Tidak ada yang bisa MEMALSUKAN buah yang baik. BACA MATIUS 7:16-20.
  • Mari kita bercermin pada firman Tuhan, untuk melihat apakah pohon kehidupan kita asli atau palsu:

Keadaan Pohon Asli

1. Berasal dari benih ilahi, yaitu Firman Tuhan. Benih firman Tuhan akan menghasilkan buah Roh (karakter Kristus) dan buah kebenaran (firman yang digenapi menjadi kenyataan).

Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. (1 Petrus 1:23).

2. Ditanam di tepi aliran air (melekat kepada Pokok Anggur yang benar dan menerima pertumbuhannya dari aliran air hidup, yaitu Roh Kudus yang memimpin serta mengingatkan akan perkataan Kristus).

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:8).

3. Keadaan tanah hatinya baik (menyambut firman dengan iman dan hati yang lemah lembut/mudah dibentuk).

Dan Sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang 30 kali lipat, ada yang 60 kali lipat, ada yang 100 kali lipat. (Markus 4:8)

4. Berakar dalam kasih Kristus (walau menghadapi tantangan/godaan, memilih tetap tinggal dalam persekutuan dengan Roh Kudus dan firman Tuhan; hidup oleh iman, bukan karena melihat). Masalah, godaan, tantangan dan penderitaan membuat imannya semakin kuat dan tahan banting.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. (Efesus 3:16-17).

5. Semakin berbuah matang dan tetap melalui tantangan, masalah, godaan dan penderitaan. Ujian iman membuat karakternya semakin menyerupai  Kristus dan dewasa secara rohani. Walaupun menghadapi berbagai masalah dan tantangan, hidupnya terus berdampak bagi orang lain.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:2-4).

…Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:2b)

Keadaan Pohon Palsu

1. Tidak melekat dengan Pokok Anggur yang benar. Tidak mau secara konsisten membangun mezbah pribadi dengan Tuhan dan mendisiplinkan diri secara rohani.

2. Benihnya bukan berasal dari firman Tuhan, tapi benih lain yaitu: pikiran, pendapat, cara pandang atau perasaan sendiri; hikmat dunia; hati yang pahit/kecewa; kebencian; kesombongan, iri hati, cinta akan uang, dlsb.

3. Keadaan tanah hatinya berbatu atau semak duri yang menghalangi benih firman bertumbuh (Markus 4:5-7). Berhenti bertumbuh/cepat menyerah kalau mengalami tantangan, godaan, gesekan, atau penderitaan karena tidak berakar.

4. Bisa tampak melakukan banyak kegiatan dalam pelayanan (hanya berdaun), tapi tidak berbuah. Tahu banyak firman, tapi karakternya tidak mengalami perubahan oleh kuasa firman Tuhan. Being busy is not the same as being fruitful.

5. Hidup dalam zona nyaman; punya motivasi hati yang keliru: hanya tertarik dengan berkat/mukjizat/karunia, tapi tidak bersedia/berkomitmen untuk dimuridkan.

Proyek ketaatan

  • Jangan lari dari pemrosesan Tuhan lewat tantangan, masalah, gesekan, dan penderitaan. Minta Roh Kudus menyingkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya. Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus membuat kita menyadari keadaan diri, mengakui kesalahan/kelemahan, serta menolong kita untuk taat dan mau berubah. Jika Roh Kudus menyingkapkan hal itu kepada kita, rendahkan hati, akui, jangan cari pembenaran diri, bertobat dan taati pimpinan-Nya.
  • Latih diri kita di area yang perlu diubah, misalnya: kita memiliki pikiran/belief system/cara pandang yang keliru -> ubah dengan cara pandang kebenaran/firman Tuhan. Buang pikiran yang keliru, sia-sia, kotor, jahat, dan negatif. Jangan sepakat dengan dusta iblis yang menipu lewat pikiran dan apa yang terlihat, tolak tipu dayanya dengan firman Tuhan. Tunduklah kepada Allah, lawan iblis dengan iman yang teguh, maka ia akan lari daripadamu. Kenakan perisai iman untuk memadamkan panah api si jahat. Hidup karena percaya, bukan karena melihat. Hiduplah dipimpin Roh, bukan dipimpin pikiran atau perasaan yang toksik.
  • Katakan kepada jiwamu: Saya adalah ciptaan baru dalam Kristus; manusia lama saya sudah turut disalibkan bersama dengan kematian Kristus. Saya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, bukan kecemaran. Saya pakai anggota tubuh saya sebagai senjata kebenaran, bukan senjata kelaliman.  Roh Kudus adalah Penolong yang memampukan saya untuk berubah, berbuah dan hidup dalam identitas sebagai anak-anak Allah.
  • Katakan Galatia 2:20 dengan iman: …aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku, Amen!

PENUTUP

Berdasarkan Yakobus 1:2-4 serta Yohanes 15:2b, kita dapat mempelajari bahwa buah yang matang dan banyak tidak dihasilkan dari zona nyaman, atau dari kelebihan, kesalehan serta kekuatan kita, tetapi dari pemrosesan Tuhan dalam hidup kita (pruning). Buah yang teruji kualitasnya justru dihasilkan lewat masalah, penderitaan, kelemahan dan ujian iman.

Buah Roh adalah sesuatu yang tidak bisa DIPALSUKAN, karena tidak dihasilkan dari kemampuan natural manusia, melainkan karya Roh Kudus. Jadilah pohon yang menghasilkan buah yang asli, yang baik dan berkualitas. Jangan terkecoh dengan tampilan luar (karunia, kegiatan pelayanan, atau pengetahuan firman yang banyak), tapi dengan jujur minta Roh Kudus singkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya, supaya Ia dapat menolong serta memulihkan kita.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

KEFASIKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

KEFASIKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

Senin: KEFASIKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

Baca:  Roma 2:1-16

“Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,…murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.”  Roma 2:6, 8

Tuhan tidak pernah menutup mata untuk setiap perbuatan manusia, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya,  “…sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”  (Ibrani 4:13).  Orang-orang fasik mungkin bisa tertawa lebar, tapi tidak akan berlangsung lama.  “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,”  (Galatia 6:7-8a).  Sesungguhnya sudah disediakan hukuman bagi orang fasik atau mereka yang berlaku jahat.

Menurut penglihatan mata jasmani, orang-orang fasik mungkin berkelimpahan materi, dan semua yang dikerjakannya tampak berjalan lancar tanpa aral.  Bukan hanya Asaf menghadapi pergumulan ini, nabi Yeremia pun sempat mengalaminya:  “Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? Engkau membuat mereka tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka.”  (Yeremia 12:1-2).

Mengapa seolah-olah Tuhan bermurah hati kepada orang fasik?  “Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?”  (Roma 2:4b).  Kemurahan hati Tuhan itu bertujuan memberi kesempatan kepada mereka agar berbalik dari jalan-jalannya yang jahat.  Namun banyak orang fasik yang tidak menyadari akan perbuatannya, bahkan kejahatan mereka semakin menjadi-jadi, padahal  “…oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.”  (Roma 2:5).

“Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu.”  Mazmur 5:5


Selasa: KELEDAI: Lambang Kerendahan Hati
Baca: Matius 21:1-11

“Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: ‘Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!'” Matius 21:9

Keledai memiliki nama latin Equus africanus asinus dan termasuk keluarga Equidae atau kuda, tubuhnya lebih kecil, serta bertelinga agak panjang. Meski kecil keledai memiliki tenaga yang cukup kuat dengan pergerakan kaki yang cukup lincah, tapi berperangai agak bengal. Hal ini mungkin disebabkan oleh instingnya untuk melindungi diri yang sangat kuat; namun begitu manusia sudah berhasil menaklukkannya maka si keledai akan gampang menurut. Ukuran tubuh keledai sangat bervariasi tergantung jenisnya, dengan tinggi berkisar antara 79 cm hingga 160 cm. Usia harapan hidup keledai pekerja di negara berkembang sekitar 12 hingga 15 tahun, namun keledai yang hidup di negara maju dapat hidup hingga usia 30 bahkan 50 tahun.

Penggunaan keledai sebagai hewan tunggangan atau pengangkut beban sudah lazim di kalangan bangsa Israel, di mana para penggembara miskinlah yang lebih lazim menunggang keledai. Karena itu keledai terkesan sebagai sarana angkutan bagi rakyat kalangan bawah. Namun nabi Zakharia telah menubuatkan bahwa kedatangan Sang Mesias justru dengan mengendarai seekor keledai: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Zakharia 9:9). Ini sangat kontras sekali dengan pemimpin-pemimpin atau raja-raja dunia yang kebanyakan menunggang kuda perang sehingga menimbulkan kesan mewah, megah, gagah dan berkuasa. Tatkala memasuki kota Yerusalem Tuhan Yesus justru datang dengan mengendarai seekor keledai betina yang muda, jauh dari kesan megah dan mewah. Ini semakin menegaskan tentang prinsip kerendahan hati dan wujud kepedulian Kristus terhadap umat kalangan bawah.

Yesus Kristus rela meninggalkan kemuliaan sorgawi untuk datang ke dunia dengan satu misi yaitu membawa damai dan menyelamatkan orang-orang berdosa.


Rabu. KERAJAAN SORGA: Harta Yang Tak Ternilai (1)

Baca: Matius 13:44-46

“Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” Matius 13:46

Semua orang pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya: ada yang ingin menjadi kaya atau hidup berkecukupan, berhasil dalam studi, bisnis lancar, atau menempati jabatan atau posisi penting di sebuah instansi, dan masih banyak lagi. Untuk mencapai tujuan itu orang berjuang dan berusaha sedemikian rupa karena tahu bahwa hasil yang akan diperoleh ditentukan oleh usaha dan kerja keras yang dilakukan. Semakin giat orang berusaha semakin dekat kepada tujuan!

Sibuk mengejar perkara-perkara jasmani atau duniawi adalah sah-sah saja asalkan kita tidak melupakan perkara-perkara rohani yang tentunya jauh lebih berharga dan mulia. Karena itu harus ada keseimbangan di antara keduanya! Jangan sampai kita hanya bersemangat untuk mencari harta kekayaan duniawi yang hanya berlaku untuk kelangsungan hidup di dunia yang sifatnya sementara saja, sedangkan upaya untuk mencari harta terpendam (perkara rohani) kita tak punya gairah untuk melakukannya. Firman Tuhan sudah memperingatkan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Kerajaan Allah dan kebenarannya merupakan harta yang tak ternilai harganya yang patut diingini melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini. Kerajaan Allah dan kebenarannya hanya dapat kita peroleh jika kita mau membayar harga yaitu mengorbankan segala sesuatu yang dapat menghalangi kita untuk memilikinya, sepertinya dalam perumpamaan ini: “Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” (Matius 13:44b). Kata menjual seluruh miliknya berarti mengalihkan perhatian dengan segenap hati dari segala perkara yang lain, fokus dan memusatkan seluruh hidup kepada “…perkara yang di atas, di mana Kristus ada,” (Kolose 3:1).

Apa yang menjadi fokus hidup Saudara saat ini? Harta yang terpendam atau mutiara yang berharga atau hal Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah berbicara tentang takut akan Tuhan dan hikmat dari Tuhan untuk mengenal Dia lebih lagi.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1:3


Kamis. KERAJAAN SORGA: Harta Yang Tak Ternilai (2)

Baca: Amsal 2:1-22

“jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.” Amsal 2:4-5

Untuk memperoleh harta kekayaan yang sifatnya fana kita rela bekerja membanting tulang siang dan malam. Demikian juga seharusnya kita lakukan untuk memperoleh ‘harta rohani’ yang jauh lebih bernilai dan berharga daripada harta yang ada di dunia ini. Karena itu “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (1 Tawarikh 16:11). Selagi kita masih sehat dan keadaan baik-baik jangan pernah sia-siakan waktu dan kesempatan yang ada. Sebagaimana kedisiplinan dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan untuk mendapatkan hal-hal duniawi, maka kedisiplinan juga berlaku untuk perkara-perkara rohani.

Perlambang ‘Kerajaan Sorga dan kebenarannya seperti harta yang terpendam’ bermakna bahwa tidak semua orang menyadari akan keberadaan Kerajaan Sorga tersebut. Hanya orang yang mau berusaha, mau menggali atau mau mencari tahulah yang menyadari keberadannya. Orang ini digambarkan akan menjual segala miliknya, yaitu harta benda duniawinya yang dianggapnya tidak lagi berharga atau tidak sepadan nilainya bila dibanding dengan ‘harta rohani’ yang baru ditemukannya. Orang-orang yang berjerih lelah mencari perkara-perkara rohani atau mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenarannya akan mendapatkan berkat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh atau lalai melakukannya, sebab “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23). Karena itu bangunlah kedisiplinan untuk mencari Tuhan dan membangun persekutuan dengan-Nya, “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58b).

Harta rohani yang terpendam juga harus dicari dengan penuh ketekunan karena tidak ada istilah ‘instan’ di dalam Tuhan! Banyak orang awalnya begitu bersemangat mengejar ‘harta rohani’ tapi lama-kelamaan semangatnya menjadi pudar dan akhirnya tidak lagi bersungguh-sungguh. Itu artinya mereka tidak bertekun!

“Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.” 2 Timotius 1:14


Jumat. ORANG BENAR BERMASA DEPAN CERAH (1)
Baca: Yeremia 29:1-14

“Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan!” Yeremia 29:8

Punya masa depan yang cerah adalah harapan semua orang. Banyak orang merasa penasaran dan berusaha untuk mencari tahu bagaimana dan akan seperti apa masa depannya. Berbagai cara pun mereka lakukan: ada yang pergi ke toko buku mencari buku-buku yang mengupas tentang kiat-kiat meraih masa depan, ada yang nekat pergi ke dukun-dukun atau peramal, ada yang percaya pada tanda-tanda di tubuh seperti garis tangan atau tahi lalat, dan ada juga yang percaya pada ramalan bintang dan shio. Situasi yang demikian menjadi kesempatan emas bagi para nabi palsu, tukang-tukang tenung, dukun dan juru ramal untuk melancarkan aksinya. Berdasarkan pengalaman yang ada, ramalan tetaplah ramalan, tidak ada kebenarannya, “Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN.” (ayat 9).

Secara garis besar perjalanan hidup setiap orang melewati 3 fase waktu, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang (masa depan). Setiap orang tentunya memiliki masa lalu yang berbeda-beda: manis, indah, suka, duka, pahit, getir, kelam, dihiasi keberhasilan atau mungkin penuh dengan kegagalan. Tak bisa dipungkiri bahwa masa lalu seseorang dapat mempengaruhi kehidupannya di masa sekarang, namun kehidupannya di masa depan sesungguhnya tidak ditentukan oleh masa lalu, tapi sangat ditentukan oleh kehidupannya di masa sekarang. Ada orang yang punya masa lalu sangat buruk (kelam), namun ketika ia membuat keputusan untuk hidup berubah, mengikuti jalan Tuhan dan senantiasa mengandalkan-Nya, hidupnya pun dipulihkan dan beroleh masa depan yang baik. Namun sebaliknya, ada orang-orang yang punya masa lalu yang begitu baik, tapi begitu ia mulai hidup sembrono, tidak takut akan Tuhan, hidup menyimpang dari kebenaran firman-Nya, perlahan tapi pasti grafik kehidupannya bukan semakin naik tapi malah semakin merosot dan akhirnya menuju kepada kehancuran.

Jangan pernah membangga-banggakan masa lalu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani hidup di masa sekarang! (Bersambung)


Sabtu. ORANG BENAR BERMASA DEPAN CERAH (2)

Baca: Amsal 23:9-18

“…tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:17-18

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak perlu risau dan kuatir memikirkan masa depan kita karena ada janji Tuhan kepada umat-Nya, yaitu kepastian akan masa depan yang cerah seperti tertulis: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Pernyataan sungguh ada dan tidak hilang di ayat nas di atas adalah sebagai penegasan bahwa masa depan itu adalah sesuatu yang pasti, bukan pernyataan meninabobokan, sekedar hiburan atau basa basi.

Untuk menjadikan masa depan cerah sebagai milik yang pasti kita harus memperhatikan bagaimana hidup kita di masa sekarang ini, bukan terpaku atau berorientasi pada masa lalu. Jadikan masa lalu hanya sebagai pembelajaran, bahan evaluasi, atau guru yang terbaik, ambil yang positifnya saja. Kita patut meneladani rasul Paulus yang berkata, “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Dengan kata lain apa yang kita lakukan di masa sekarang inilah yang menentukan akan seperti apa masa depan kita nanti. Janji masa depan yang cerah adalah pasti bagi orang yang takut akan Tuhan atau hidup dalam kesalehan. Hidup takut akan Tuhan menunjuk kepada rasa hormat kepada Tuhan. Wujud rasa hormat itu adalah melalui ketaatan kita melakukan firman Tuhan. “TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya; TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;” (Mazmur 37:18, 23).

Karena itu jangan hanya bermimpi tentang masa depan cerah, tapi kita harus mengupayakannya! Kita harus percaya dan mengimani bahwa masa depan itu sungguh ada, dan kita pun harus merealisasikan masa depan itu menjadi kenyataan. Kita harus ingat bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati! (baca Yakobus 2:17).

Takut akan Tuhan adalah kunci utama meraih masa depan cerah!


Minggu. DI BALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (1)

“…tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:17-18

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak perlu risau dan kuatir memikirkan masa depan kita karena ada janji Tuhan kepada umat-Nya, yaitu kepastian akan masa depan yang cerah seperti tertulis: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Pernyataan sungguh ada dan tidak hilang di ayat nas di atas adalah sebagai penegasan bahwa masa depan itu adalah sesuatu yang pasti, bukan pernyataan meninabobokan, sekedar hiburan atau basa basi.

Untuk menjadikan masa depan cerah sebagai milik yang pasti kita harus memperhatikan bagaimana hidup kita di masa sekarang ini, bukan terpaku atau berorientasi pada masa lalu. Jadikan masa lalu hanya sebagai pembelajaran, bahan evaluasi, atau guru yang terbaik, ambil yang positifnya saja. Kita patut meneladani rasul Paulus yang berkata, “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Dengan kata lain apa yang kita lakukan di masa sekarang inilah yang menentukan akan seperti apa masa depan kita nanti. Janji masa depan yang cerah adalah pasti bagi orang yang takut akan Tuhan atau hidup dalam kesalehan. Hidup takut akan Tuhan menunjuk kepada rasa hormat kepada Tuhan. Wujud rasa hormat itu adalah melalui ketaatan kita melakukan firman Tuhan. “TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya; TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;” (Mazmur 37:18, 23).

Karena itu jangan hanya bermimpi tentang masa depan cerah, tapi kita harus mengupayakannya! Kita harus percaya dan mengimani bahwa masa depan itu sungguh ada, dan kita pun harus merealisasikan masa depan itu menjadi kenyataan. Kita harus ingat bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati! (baca Yakobus 2:17).

Takut akan Tuhan adalah kunci utama meraih masa depan cerah!