Author: EM

Home / Articles posted by EM
TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN

TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN

Senin: LIDAH KITA: Pena Pewarna Hidup

Baca:  Mazmur 45:1-6
“Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir.”  Mazmur 45:2

Yakobus dalam suratnya menulis:  “…kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.”  (Yakobus 3:4).  Begitu juga kehidupan manusia, betapa pun besarnya perkara yang harus dihadapi, sesungguhnya hidup manusia itu dikendalikan oleh lidahnya sendiri:  “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar.”  (Yakobus 3:5).

Di zaman sekarang ini banyak kasus terjadi:  perselisihan, permusuhan, tindak pidana, sebagai akibat dari kesalahan orang dalam memfungsikan lidah atau kecerobohannya dalam berkata-kata.  Alkitab sudah mengingatkan:  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21).  Karena itu kita harus berhati-hati, sebab dengan lidah kita dapat memberkati orang lain, tetapi dengan lidah yang sama kita juga bisa mengutukinya.  Dengan lidah kita dapat membuat orang lain bersukacita, tetapi dengan lidah itu pula kita dapat membuat orang lain berdukacita.  Melalui lidah kita dapat membangun, tapi juga dapat menghancurkan orang lain.  Jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal yang negatif, itu sama artinya kita sedang mempersulit langkah hidup kita sendiri menuju masa depan.  Sebaliknya jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal-hal yang positif maka perjalanan hidup kita pun akan mengarah kepada hal-hal yang positif pula.

Pemazmur menyatakan bahwa lidah kita itu laksana pena yang sedang melukis dan mewarnai hidup seseorang:  berwarna putih, biru, cerah, buram, atau hitam pekat.  Sesungguhnya Tuhan telah merancang masa depan yang baik bagi kehidupan anak-anak-Nya  (baca  Yeremia 29:11), namun tanpa sadar rancangan Tuhan itu kita rusak dengan perkataan kita sendiri.  Rasul Petrus menulis:  “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”  (1 Petrus 3:10).

“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”  Yakobus 1:26


Selasa. TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN (1)
Baca: Mazmur 121:1-8
Hari-hari yang sedang kita jalani adalah hari-hari yang sangat berat dan jahat.  Wajarlah bila semua orang mengeluhkan hal ini.  Terus mengeluh takkan memberi solusi, karena selama kita masih bernafas kita takkan pernah bisa menghindar dari masalah, kesukaran, kesulitan atau penderitaan yang bisa datang silih berganti tanpa permisi, tanpa memandang usia atau status sosial.  Belum lagi marabahaya, ancaman, bencana, yang juga sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa bisa diduga dan diprediksi.  Di tengah hantaman badai persoalan banyak sekali orang berusaha mencari cara agar dapat terlepas dari masalah, mencari pertolongan ke sana ke mari, dan tidak sedikit yang tergiur dengan tawaran-tawaran yang dunia sodorkan.  Bukannya jalan keluar yang didapatkan, tapi justru mereka terjebak dalam lubang yang semakin dalam.

Sebagai orang percaya kita patut berhati-hati dan selektif dalam hal ini, jangan karena kondisi terdesak lalu kita menempuh jalan pintas dan menghalalkan segala cara, tidak peduli cara dan jalan itu menyimpang jauh dari firman Tuhan, di mana tujuannya satu, yaitu mendapatkan pertolongan secara instan.  Ada tertulis:  Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Alkitab menyatakan bahwa celaka orang yang mencari pertolongan di luar Tuhan, dan bahkan dikatakan terkutuk orang yang mengandalkan manusia  (baca  Yeremia 17:5).

Tuhan mau kita senantiasa mengandalkan-Nya dan menati-nanti pertolongan-Nya.  Seringkali masa menunggu jawaban Tuhan adalah masa yang rawan terhadap berbagai jalan keluar yang ditawarkan dunia.  Apa pun keadaannya kita harus tetap berharap kepada pertolongan dari Tuhan saja,  “…apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3).

“TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.”  Ratapan 3:25


Rabu. TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN (2)
Baca: Mazmur 121:1-8

“Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”  Mazmur 121:2

Ada banyak orang Kristen yang gampang sekali putus asa ketika diperhadapkan pada pergumulan hidup yang berat, karena mereka berpikir Tuhan tidak memperdulikan hidupnya.  Itu salah besar!  Tidak sekalipun Tuhan meninggalkan dan membiarkan umat-Nya bergumul sendirian.  Tuhan berkata,  “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  (Yesaya 46:4), bahkan pemazmur menegaskan bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur  (Mazmur 121:4).  Jika Tuhan mengijinkan kita melewati masa-masa sulit itu artinya Dia sedang melatih kita untuk bergantung penuh kepada-Nya.

Jangan pernah lari dari prosesnya Tuhan.  Mungkin terasa sakit tapi mendatangkan kebaikan bagi kita, sebab proses butuh waktu dan ketekunan.  “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”  (Ibrani 10:36).  Berbeda sekali dengan dunia yang selalu menawarkan segala sesuatu yang serba instan:  pertolongan, uang/kekayaan, jabatan atau popularitas.  Tergiur iming-iming bisa melipatgandakan uang atau investasi dengan bunga yang sangat tinggi, tanpa berpikir panjang banyak orang datang berbondong-bondong menyerahkan uangnya.  Hasilnya?  Bukannya beruntung tapi malah buntung.  Jadi Saudaraku, sesulit apa pun keadaan tetap arahkan pandangan kepada Tuhan.  Kalau sepertinya Tuhan begitu jauh, kita harus tetap mengimani kebenaran ini:  “Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.”  (Mazmur 121:5).

Di ujung dunia mana pun kita takkan pernah menemukan pertolongan dan perlindungan yang sempurna.  Dapatkah kita menjaga dan melindungi keluarga kita selama 24 jam penuh?  Takkan bisa.  Perhatikan janji firman-Nya:  “Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.”  (Mazmur 121:6-8).

Pertolongan dan perlindungan yang sempurna hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia Tuhan yang tidak pernah terlelap!


Kamis. TAK BERSEMANGAT MENJALANI HIDUP (1)

Baca: 1 Raja-Raja 19:1-8

“Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.”  1 Raja-Raja 19:3

Siapa di antara kita kebal masalah?  Tak ada!  Tak terkecuali mereka yang berstatus hamba Tuhan atau pendeta sekali pun.  Ya…  Musa juga mengakui bahwa masalah, kesesakan, penderitaan adalah bagian hidup sehari-hari dan itulah kebanggaan hidup manusia  (baca  Mazmur 90:10).  Namun orang percaya tak boleh menyerah dan putus asa, karena  “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).

Bukan perihal besar-kecil, berat-ringan masalah yang dihadapi, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan masalah itu sendiri.  Putus asa, patah semangat, menyerah di tengah jalan adalah sikap yang justru akan semakin menenggelamkan kita ke jurang permasalahan yang dalam.  Untuk menang terhadap masalah dibutuhkan sikap yang pantang menyerah dan semangat yang tiada kunjung pudar.  Elia, meskipun berstatus nabi Tuhan, juga pernah mengalami masalah yang membuatnya tidak lagi bersemangat dalam menjalani hidup.  Padahal sebelum itu Elia meraih kemenangan besar di gunung Karmel yaitu berhasil membunuh 450 nabi baal.  Ketika berita itu sampai ke Izebel,  “maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: ‘Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.'”  (1 Raja-Raja 19:2).

Karena ancaman Izebel ini Elia pun menjadi sangat takut dan larilah ia untuk menyelamatkan diri ke gunung Horeb.  Keadaan Elia benar-benar drop:  selain lelah jasmani -setelah menempuh perjalanan panjang 40 hari 40 malam-, ia juga mengalami kelelahan rohani yang membuatnya putus asa dan hilang semangat.

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  Amsal 18:14


Jumat. TAK BERSEMANGAT MENJALANI HIDUP (2)

Baca:  Yesaya 40:27-31

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”  Yesaya 40:29

Keadaan sangat kontradiktif dialami Elia saat berada di gunung Horeb:  ia yang sebelumnya memiliki semangat yang berapi-api, perlahan mulai padam;  yang sebelumnya penuh keyakinan, kini hilang pengharapan, sampai-sampai tidak memiliki gairah hidup.  “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”  (1 Raja-Raja 19:4b).

Orang yang bersemangat tidak mudah menyerah dan tidak terpengaruh oleh situasi apa pun.  Artinya tindakan atau perbuatannya tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh keadaan, karena ia memiliki target dan tujuan yang ingin dicapai.  Oleh sebab itu orang yang bersemangat pasti memiliki sikap yang optimis karena tahu bahwa  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).  Melihat keterpurukan Elia ini Tuhan tidak tinggal diam, lalu memberikan perhatian kepadanya.  Tuhan membiarkan Elia istirahat dan tertidur, lalu Ia mengirim malaikat-Nya untuk memberinya makan  (1 Raja-Raja 19:6-7).  Tuhan membangkitkan semangat Elia yang mulai pudar dan mengingatkan kembali visinya semula:  “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.”  (1 Raja-Raja 19:15).

Pengalaman hidup Elia ini menjadi pelajaran berharga bagi kita.  Apa pun kondisi yang sedang terjadi tetaplah memiliki semangat!  Tanpa semangat kita tidak pernah mencapai goal, karena dengan bersemangat kita akan tetap mengarahkan pandangan kita kepada tujuan dan berusaha sedemikian rupa untuk mencapainya.  Satu hal yang menguatkan:  dalam keadaan terpuruk sekali pun, ketika orang-orang terdekat meninggalkan kita, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia akan terus meng-support kita.  “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  (Yesaya 46:4).

Oleh karena itu  “…kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”  2 Tawarikh 15:7


Sabtu. BERDOALAH MENURUT KEHENDAK TUHAN

Baca: 1 Yohanes 5:13-21

“Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.” 1 Yohanes 5:15

Setiap orang percaya mempunyai hak istimewa untuk berdoa kepada Tuhan, di mana kita semua berharap doa-doa yang kita panjatkan didengar dan dijawab oleh-Nya sebagaimana yang Ia janjikan melalui firman-Nya:  “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:8).  Namun ternyata tidak semua doa kita didengar dan dijawab Tuhan.  Inilah yang seringkali menimbulkan kekecewaan.  Agar doa kita efektif kita perlu mengoreksi diri dan belajar meminta menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak kita.

Suatu ketika Filipus berkata kepada Tuhan Yesus,  “‘Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?'”  (Yohanes 14:8-10).  Meskipun telah bersama-sama dengan Tuhan Yesus sekian lama, makan sehidangan dengan-Nya, dan melakukan tour pelayanan bersama, Filipus masih belum juga memahami siapa sesungguhnya Tuhan Yesus sehingga ia meminta agar Tuhan Yesus menunjukkan Bapa kepadanya, ia rindu untuk melihat secara nyata.  Mungkin Filipus berharap agar Tuhan Yesus mewujudkan sosok mulia Sang Bapa, sama seperti yang dilihat oleh para nabi yang hidup di zaman Perjanjian Lama.

Seringkali kita memiliki iman seperti Filipus, iman yang didasarkan pada hal-hal yang terlihat kasat mata.  Iman kita bangkit ketika kita melihat mujizat dinyatakan secara langsung atau melihat cahaya menyinari kita saat sedang berdoa di kamar.  Kita selalu ingin melihat sesuatu yang spektakuler untuk menguatkan iman kita.  Namun Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan sikap doa yang demikian, sebab jika doa dan iman bergantung pada hal-hal yang terlihat mata jasmani, kita pasti akan kecewa.

Apakah doa-doa kita sekarang ini sering terpusat pada memaksa Tuhan untuk memperlihatkan sesuatu yang bisa terlihat?


Minggu. BERHASIL KARENA BERANI BAYAR HARGA (1)
Baca: Ulangan 28:1-14

“Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:” Ulangan 28:2

Hidup yang berhasil adalah harapan, cita-cita dan impian setiap orang. Namun harus diingat bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa ada harga yang harga dibayar. Dengan kata lain keberhasilan tidak datang begitu saja, keberhasilan adalah akibat dari sebab yang dilakukan, “…TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya;” (Kejadian 39:2). Yusuf menjadi orang yang berhasil karena ia mau membayar harga, menjalani proses dalam hidupnya dengan setia sehingga Tuhan menyertainya. Juga, “Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia.” (1 Samuel 18:14). Tuhan menyertai Daud karena ia terlebih dahulu setia dalam perkara-perkara kecil sampai akhirnya ia beroleh kepercayaan dari Tuhan untuk mengerjakan perkara yang jauh lebih besar.

Tuhan Yesus sendiri harus membayar harga untuk ketaatan-Nya kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8). Sebelum disalibkan, saat berada di taman Getsemani, Tuhan yesus berdoa sungguh-sungguh sampai-sampai “Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Lukas 22:44) karena sangat ketakutan. Meski demikian dia memilih untuk taat kepada Bapa: “…bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42). Tuhan Yesus harus membayar harga yaitu mati di kayu salib untuk menyelamatkan dan menebus dosa-dosa kita. “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” (Filipi 2:9). Tidak ada kemuliaan tanpa salib!

Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya kita menjadi orang yang berhasil, ada harga yang harus dibayar: 1. Mau memperhatikan nasihat. Pertanyaan: nasihat siapa yang harus kita dengar dan perhatikan? Apakah kita menuruti nasihat orang fasik, ataukah kita mengikuti nasihat dari Tuhan yang tertulis di Alkitab? Pemazmur menulis: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:1-2). Nasihat firman Tuhan adalah yang terbaik! (Bersambung)

DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN

DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.  (Efesus 2:10)

 PENDAHULUAN

Kasih karunia Allah tidak hanya menyelamatkan kita oleh iman, tetapi juga berkuasa mentransformasi hidup kita. Cara pandang, nilai, sikap, dan karakter kita diubah. Hati serta jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar, yaitu hidup berporos pada kehendak Allah.

ISI

1. Kita adalah mahakarya (=masterpiece) Allah yang diciptakan dalam Kristus untuk hidup dalam tujuan ilahi yang bernilai dan berdampak kekal.

* Kita lahir ke dunia bukan karena kebetulan, kesalahan, atau diciptakan secara massal. Setiap kita didesain secara unik untuk hidup dengan tujuan khusus yang sudah Tuhan persiapkan sebelum kita lahir ke dunia.

 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,  menenun aku dalam kandungan  ibuku .  Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.  Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan  di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi  yang paling bawah;mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk,  sebelum ada satupun dari padanya (Mazmur 139:13-16).

* Contoh tokoh dalam Alkitab: Ester.

Awalnya Ester tidak menyadari tujuan Tuhan dalam hidupnya. Ester, seorang perempuan Yahudi, berada di negeri asing (Persia) bersama Mordekhai, pamannya, kemudian dinikahi oleh Raja Ahasyweros dan diangkat menjadi Ratu. Ini bukanlah sekadar rangkaian kejadian yang kebetulan, tetapi sudah ada dalam penetapan Tuhan sebelum ia dilahirkan.

Tuhan menempatkan Ester sebagai Ratu negeri Persia untuk sebuah momen penting: menyelamatkan orang Yahudi dari rencana jahat Haman yang mau membinasakan.

Esther 4:14b “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

PERTANYAAN:

* Di mana Tuhan menempatkan saudara saat ini? Di keluarga inti, keluarga besar, keluarga rohani (gereja lokal dan Cool), sekolah/kampus, lingkungan tempat tinggal, kota, bangsa. Di bidang pelayanan, pekerjaan, profesi, posisi/jabatan, atau usaha apa saudara berada?

Apa peran dan kontribusi kita di situ? Mendoakan, mengabarkan Injil, membawa nilai-nilai Kerajaan Allah, memuridkan orang lain, menolong/berbuat kebaikan, menjadi contoh/teladan, membuka lapangan pekerjaan, atau menjadi saluran berkat? Jangan kita menjadi murid Kristus yang pasif, masa bodoh, egois, dan tidak peka akan kebutuhan komunitas di sekitar kita.

* Apa potensi yang Tuhan titipkan dalam hidup kita? Sudahkah kita mengenali kelebihan, kekuatan, kemampuan, minat, bakat, keahlian, hobi, dan karunia kita? Apa yang sudah kita lakukan dengan potensi yang kita miliki?

Kita bertanggung jawab untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta menggunakan setiap kesempatan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

Jangan kerjakan tugas dan tanggung jawab kita dengan asal-asalan, melainkan belajarlah melakukan yang terbaik, dengan ketulusan, seperti untuk Tuhan.

* Siapa orang-orang yang Tuhan tempatkan di kehidupan kita? Apakah kita melihat mereka hanya sebagai orang-orang yang bermasalah, menjengkelkan, sulit ditangani, sulit untuk dikasihi, berkekurangan, dan patut diabaikan/dihindari? Atau bisakah kita melihat mereka sebagai tugas khusus dari Tuhan untuk kita topang, doakan, tolong, nasihati, mentoring, dan bawa kepada terang Kristus?

* Tuhan bisa memakai orang lain, lingkungan, situasi, masalah, kesulitan, penderitaan, atau gesekan untuk mendewasakan, membentuk karakter, merendahkan hati, menghasilkan buah Roh, mengeluarkan potensi, memperlebar kapasitas, mempertajam karunia, dan mempersiapkan kita untuk melakukan panggilan-Nya.

PENUTUP

Allah menjadikan kita ciptaan baru dalam Kristus bukan untuk kehidupan yang tanpa rencana, tanpa tujuan atau lihat bagaimana nanti. Setiap kejadian dan musim di hidup kita mengandung rancangan dan tujuan Tuhan, tidak ada yang kebetulan.

Mari kita berlajar memaknai dan mencermati bahwa di mana pun kita ditempatkan, orang-orang di sekitar kita, apa pun yang terjadi dalam hidup kita: suka, duka, kemenangan, kegagalan, kekuatan, kelemahan atau kesalahan yang kita lakukan – bisa dipakai Allah sebagai ‘bahan baku’ untuk membawa kita masuk dalam rencana dan tujuan-Nya. Hal ini menumbuhkan kesadaran kita untuk selalu bersyukur, belajar taat dan bergantung penuh kepada kasih karunia Allah.

KETAATAN MEMBUKA PINTU BERKAT SEJATI

KETAATAN MEMBUKA PINTU BERKAT SEJATI

Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu (Ulangan 28:1-2)

 PENDAHULUAN

Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan menjalankan agenda pribadi, melainkan untuk melakukan kehendak Tuhan di zaman ini, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Untuk itu, kita  lebih dulu diberkati, supaya Tuhan bisa menyatakan diri-Nya kepada dunia melalui kehidupan kita. Jika kita taat kepada perintah-Nya, maka Ia akan mengangkat kita di atas segala bangsa, menjadi kepala, bukan ekor; menjadi agen Kerajaan Allah di mana pun kita ditempatkan.

ISI

  • Orang percaya adalah keturunan Abraham secara rohani karena iman kepada Kristus, dan berhak menerima janji berkat Allah. Ketaatan adalah fondasi mutlak untuk mengalami kehidupan yang penuh dengan berkat sejati. Tanpa ketaatan, kehidupan dan pelayanan kita akan kehilangan nilai dan arah. Tanpa ketaatan, rancangan serta tujuan Tuhan dalam hidup kita bergeser menjadi agenda pribadi dan ambisi yang mencelakakan.
  • Secara sederhana, berkat adalah penyataan kasih, kebaikan, dan kuasa Allah kepada umat-Nya, dengan tujuan untuk memberikan hidup, perlindungan, damai sejahtera, dan kelimpahan. Berkat terbesar adalah keselamatan di dalam Kristus Yesus.

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1:17).

  • Fungsi berkat:
  • Untuk kesejahteraan manusia secara menyeluruh meliputi roh-jiwa-tubuh (berkat rohani, berkat jiwani dan berkat fisik/materi).
  • Untuk melakukan kehendak Allah secara khusus (perintah Tuhan bagi kita pribadi), dan secara umum (menjalankan Amanat Agung, menjadi garam dan terang).
  • Untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain.
  • Untuk kemuliaan Allah.
  • Berkat Tuhan berpusat pada Kristus. Berkat yang berasal dari Tuhan tidak pernah menjauhkan kita dari Dia. Berkat Tuhan tidak dipakai untuk memuaskan hawa nafsu dan hidup dalam dosa. Berkat Tuhan seharusnya tidak membuat kita menjadi sombong dan egois. Orang yang menerima berkat sejati selalu rindu untuk mengalirkannya kepada orang lain. Berkat sejati pasti membawa kemuliaan bagi Tuhan. Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya (Amsal 10:22).
  • Berkat seperti apa yang menjadi bagian orang yang taat?
  • Berkat rohani: keselamatan dalam Kristus oleh iman karena kasih karunia, hati yang baru (hati yang punya kemampuan untuk taat), dipilih dan diadopsi menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, hikmat ilahi, pengetahuan dan pewahyuan firman Tuhan, urapan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, perlindungan dari yang jahat, kemenangan atas tipu daya iblis, kemenangan atas keinginan daging, dlsb.
  • Berkat jiwani: pikiran yang diperbarui oleh firman Tuhan sehingga bisa mengerti perkara-perkara di atas, damai sejahtera, sukacita surga, ketenangan batin, rasa haus dan lapar akan firman dan hadirat Tuhan, kerinduan untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, pemulihan jiwa, dlsb.
  • Berkat jasmani/materi: Kesehatan fisik, kekuatan, semua yang kita butuhkan Tuhan sediakan, karunia natural, talenta, bakat, hubungan, pekerjaan, finansial (kemampuan untuk mengembalikan persepuluhan dan menabur; semua kebutuhan dicukupkan; bebas utang; memberi pinjaman; keberhasilan dalam investasi/usaha), kepandaian, promosi, dlsb.
  • Tuhan perlu melatih kita untuk taat kepada perintah-Nya mulai dari perkara kecil sehari-hari. Perintah Tuhan bisa berupa tuntunan untuk melakukan sesuatu, teguran/koreksi, hikmat, pewahyuan firman yang singkapkan untuk dilakukan, strategi, larangan, dlsb. Latihan ini merupakan pembentukan karakter, sebagai persiapan agar kita sejalan dengan kehendak Tuhan dalam melakukan panggilan-Nya. Hanya orang yang setia yang dapat dipercayakan rahasia Allah.
  • Ketaatan adalah kunci yang mengaktifkan kuasa Roh Kudus. Kapasitas urapan bertumbuh melalui proses dan kedisiplinan. Jika kita setia untuk taat dalam perkara kecil/sederhana, maka Tuhan bisa memercayakan kepada kita perkara besar. Sebaliknya, ketidaktaatan bisa memadamkan/menghalangi urapan Tuhan bekerja dalam kehidupan dan pelayanan kita.
  • Tanpa ketaatan, usaha kita tidak memberi dampak yang signifikan. Keberhasilan sejati bukan hanya ditentukan oleh sumber daya yang kita miliki (misalnya pengetahuan firman, karunia, talenta, finansial, hubungan/relasi, pengalaman, dlsb), tapi oleh ketaatan kita kepada instruksi Tuhan dalam tiap langkah.

PENUTUP

Ketaatan membuka pintu bagi berkat Tuhan untuk mengalir kepada kita dan generasi berikutnya. Ketika seseorang menabur ketaatan, ia menuai hidup yang berkelimpahan, yaitu kehidupan yang terbaik, dan menerima kemuliaan dari Allah saat awal penciptaan manusia (Kejadian 1:26–28). Melalui ketaatan, orang percaya memberi ruang bagi Roh Kudus untuk berkarya secara penuh, dan menuntun setiap langkah sesuai kehendak Tuhan. Selain itu, ketaatan umat Tuhan menjadi sarana bagi semua bangsa untuk menerima berkat keselamatan, menjadi warga Kerajaan Allah, dan bertumbuh sebagai murid-murid Kristus.

TAAT LEBIH BAIK DARIPADA KURBAN

TAAT LEBIH BAIK DARIPADA KURBAN

“Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22b)

PENDAHULUAN

Ketaatan kepada Allah lebih penting daripada ritual keagamaan atau kurban. Ketika Raja Saul melanggar perintah Allah namun mempersembahkan ternak terbaiknya sebagai kurban untuk menutupi perbuatannya, Nabi Samuel menegurnya seraya menegaskan bahwa sesungguhnya Allah menghendaki ketaatan kepada perintah-Nya, lebih daripada kurban sembelihan.

  • Raja Saul memberi kurban tetapi mengabaikan perintah Tuhan, dan Tuhan menolaknya. Kenapa? Karena Tuhan mencari penyerahan hati yang tulus, bukan penampilan rohani. Ia lebih berkenan kepada penyembahan yang benar daripada sekadar persembahan.
  • Ada perbedaan antara penyembahan (worship) dan persembahan (offering), namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Secara sederhana, penyembahan (Worship) adalah perjumpaan roh manusia dengan Allah. Saat mengalami hadirat-Nya, hati kita dipenuhi kasih, pujian, pengagungan, rasa hormat dan tunduk kepada Allah. Kita merendahkan hati dan mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita. Ini bicara tentang penyerahan hati secara tulus dan total, yang dibuktikan dengan ketaatan kepada perintah-Nya.

Persembahan (Offering) adalah pemberian kepada Allah sebagai respons atas perbuatan dan kasih setia-Nya bagi kita. Persembahan dapat berupa ucapan syukur, waktu, talenta, pelayanan,  harta (uang/materi) atau apa saja yang Roh Kudus gerakkan untuk kita persembahkan. Yang terutama adalah mempersembahkan roh-jiwa-tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Persembahan yang benar dan berkenan kepada Allah adalah buah dari penyembahan sejati.

  • Seseorang bisa saja mempersembahkan sesuatu kepada Allah, tapi hatinya jauh dari Dia. …bangsaini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya,  padahal hatinya menjauh dari pada-Ku,  dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan… (Yesaya 29:13).
  • Contoh: giat menabur untuk pekerjaan Tuhan, tapi mengabaikan apa yang Tuhan perintahkan secara khusus untuk dilakukan, misalnya tinggalkan pertemanan/hubungan yang tidak sehat, …atau buang kebiasaan merokok, stop berkata yang sia-sia/negatif, dlsb
  • Contoh lain: memuji Tuhan di mimbar sebagai pelayan mezbah, tapi ada kesombongan dan menganggap diri lebih dari orang lain.  Atau, aktif melayani di gereja, tapi dalam pekerjaan tidak berlaku jujur, serakah, tipu sana-sini, suka memaki, dlsb. Apakah Tuhan berkenan atas persembahan kita? Jawabannya: tidak. Aktivitas rohani tidak bisa menggantikan ketaatan kepada Allah. Melayani di gereja tidak dapat menutupi/menghapus pemberontakan di dalam hati.
  • Banyak orang Kristen menyembunyikan ketidaktaatannya di balik kegiatan pelayanan. Aktif di depan umum, tetapi kompromi di ruang pribadi. Tuhan melihat keduanya; di depan umum dan di balik layar, sama nilainya. Tidak ada gunanya memberi persembahan, melakukan pelayanan, ataupun rajin beribadah tiap minggu jika kita hidup dalam ketidaktaatan.
  • Saul memang melakukan banyak hal dengan benar, namun ia membiarkan sebagian dari perintah Tuhan tidak dilaksanakan demi memenuhi agenda pribadinya. Di mata Tuhan, hal ini dianggap sebagai Ketaatan yang setengah-setengah merupakan ketidaktaatan. Ketidaktaatan adalah penipuan terhadap diri sendiri. Ketidaktaatan mengundang intervensi si jahat untuk menghancurkan hidup kita.

REFLEKSI DIRI: 

  1. Apakah kita memakai pelayanan untuk menghindari pertobatan? Pelayanan dipakai sebagai pelarian dari rasa bersalah? Aktif, tetapi tidak sungguh-sungguh taat? Atau taat hanya di hal-hal yang kita mau saja? Sibuk, tetapi tidak sungguh-sungguh berserah pada Tuhan? Itu berbahaya. Tuntunan bulan ini bukan tentang meningkatkan kegiatan pelayanan secara penampilan, tetapi tentang kejujuran hati di hadapan Tuhan.
  2. Apa hal terakhir yang Tuhan suruh aku lakukan? Sudahkah aku taat? Tanpa ketaatan (changing course), tidak ada kebangunan rohani. Kebangunan rohani tidak terjadi dalam keramaian pertemuan ibadah, deklarasi doa yang hebat, atau suara musik pujian dengan volume keras. Kebangunan rohani terjadi dalam ketaatan kita secara pribadi kepada Allah.
  3. Banyak orang berdoa meminta pintu terbuka, sementara mereka mengabaikan instruksi yang jelas di depan mata. Berhentilah meminta langkah berikutnya, jika langkah sebelumnya belum ditaati. Ketaatan membuka pintu yang belum terbuka hanya dengan doa.

PENUTUP

Ketaatan lebih baik daripada persembahan. Persembahan tanpa penyembahan (penyerahan diri secara total) hanyalah ritual, sedangkan penyembahan tanpa persembahan adalah ungkapan tanpa bukti. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Penyerahan diri sejati menuntut kita melakukan tepat seperti yang Tuhan mau. Jika hati kita tulus dan mau taat, Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

 

KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki. (Ulangan 5:33)

PENDAHULUAN

Perintah Tuhan bukan sekadar arahan dan larangan/pembatasan, tetapi juga perlindungan bagi kita. Ketaatan kepada perintah Tuhan membawa kita berjalan dalam terang kebenaran serta melindungi kita dari yang jahat. Tuhan membela dan menjamin perlindungan bagi mereka yang hidup dalam ketetapan/perintah-Nya.

ISI

  • Dosa selalu terlihat seolah tidak berbahaya dan menarik di awal, tetapi akhirnya membawa kepada kehancuran. Ketaatan kepada Allah merupakan perlindungan yang kokoh dari tipu daya iblis. Iblis selalu berusaha menggoda kita supaya melanggar perintah Tuhan dan berbuat dosa. Ia memanfaatkan keadilan Allah yang menuntut konsekuensi atas setiap pelanggaran. Ketidaktaatan memberi iblis kesempatan untuk mengajukan tuntutan atas kita.
  • Strategi Iblis yang berpeluang membuat kita tidak taat kepada Allah:
  • Memutabalikkan firman/kebenaran sehingga kita jadi meragukan Tuhan (Kejadian 3:1-4).
  • Menawarkan jalan pintas, kenyamanan, popularitas, kekuasaan, kemewahan dunia dan hal-hal yang memuaskan hawa nafsu (keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup; Matius 4:1-11). Ia memanfaatkan kelemahan, kemalasan, kedegilan, kesombongan, ketidaktahuan kita akan kebenaran/kehendak Allah untuk menyeret kita jatuh ke dalam ketidaktaatan.
  • Menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14) yang menyesatkan manusia dengan cara membuat kejahatan menjadi sesuatu yang tampak normal, logis, seolah membawa kebaikan, tidak mencelakakan, bahkan penyesatan yang dibungkus dengan kemasan rohani.
  • Mendakwa manusia siang malam di hadapan Allah (Wahyu 12:10), menuntut supaya konsekuensi/hukuman dijatuhkan atas kita.
  • Iblis adalah bapa segala dusta yang mau mencuri, membunuh, dan membinasakan manusia. Sebaliknya, Tuhan Yesus datang untuk memberikan kita hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Iblis menghancurkan, tapi Tuhan memulihkan, membangun karakter serta menguduskan kita.
  • Cara supaya kita terlindung dari tipu daya iblis:
  • Taat kepada perintah-Nya. Tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7). Kebanyakan kita lebih fokus menengking iblis tapi lupa untuk taat kepada Allah.

Contoh: kita berdoa meminta Tuhan memberkati dan menjauhkan belalang-belalang pelahap dari kehidupan kita, tapi kita tidak mau taat mengembalikan persepuluhan yang merupakan hak Tuhan. Dengan begitu, kita memberi celah bagi iblis untuk mendakwa dan menghalangi berkat Tuhan atas hidup kita.

Yang benar adalah: taat kepada Allah dengan mengembalikan persepuluhan, maka Maleaki 3:10-11 digenapi dalam hidup kita.

  • Belajar sangkal diri setiap hari, matikan perbuatan daging dengan cara hidup oleh Roh. Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup menghalangi kita untuk taat kepada Tuhan. Dengan mematikan perbuatan daging secara konsisten, kita jadi mudah mengikuti pimpinan Roh Kudus yang memampukan kita taat kepada perintah Tuhan.
  • Perbarui akal budi dengan firman Tuhan, supaya kita memiliki cara pandang tentang kebenaran sehingga tidak mudah ditipu Iblis. Pembaruan akal budi membuat kita jadi tahu apa kehendak/perintah Tuhan: yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
  • Hidup karena percaya kepada Kristus dan perkataan-Nya, bukan karena melihat. Hidup karena melihat berpotensi membuat kita menjadi ragu, takut, dan kuatir; akibatnya, sukar untuk percaya kepada Tuhan dan taat pada perintah-Nya.
  • Ketaatan seharusnya bukan sebuah beban, melainkan cara yang bijak untuk melindungi kita dari kehancuran saat mengalami badai masalah, godaan, dan penderitaan. Ketaatan membuat kita tetap tinggal dalam kasih-Nya. Ketaatan menolong kita untuk tidak tersesat—kita bertindak/mengambil keputusan yang tepat sesuai tuntunan dan hikmat Tuhan. Ketaatan melindungi kita dari kerugian/usaha yang sia-sia, dari niat jahat orang lain, dari penyesatan, dari dosa serta kenajisan. Satu kompromi kecil bisa merusak masa depan. Kenikmatan sementara bisa menurunkan nilai diri.

 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu (Matius 7:24-25).

PENUTUP

Ketaatan adalah perlindungan yang membawa kebaikan bagi kita dan orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita. Mulai sekarang, marilah kita belajar meningkatkan level kedewasaan rohani kita. Berpindahlah dari tahu/mendengar firman → melakukan;  kekristenan yang sebatas emosi → disiplin ; dari yang sekadar terinspirasi → penundukan diri; dari niat baik → tindakan berupa ketaatan. …supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki (Ulangan 5:33b).

PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

Senin. PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

Baca: Efesus 6:10-20

“dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,” Efesus 6:16

Perisai adalah alat untuk melindungi diri pada masa peperangan dari serangan musuh;  salah satu perlengkapan perang yang berfungsi untuk mempertahankan diri dan melindungi tubuh si prajurit.  Pada zaman dahulu perisai seringkali dibuat atau disalut dengan emas atau tembaga.  Biasanya alat ini digunakan pada tangan dan didampingkan dengan senjata lain seperti pedang, tombak atau gada.  Permukaan perisai biasanya dijaga supaya tetap berkilau dengan minyak, yang merefleksikan matahari, dengan tujuan untuk membutakan musuh.  Perisai adalah menggambarkan perlindungan dan keamanan.

Setiap hari dalam hidup ini adalah sebuah peperangan.  Terutama sekali kita berperang melawan Iblis dengan segala tipu muslihatnya yang tak pernah berhenti untuk melepaskan panah api kepada orang percaya:  panah api ketakutan, keraguan, kebimbangan dan ketidakpercayaan, dengan tujuan supaya orang percaya tidak lagi percaya kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  Belum lagi kita juga harus berperang melawan diri sendiri, berperang melawan keinginan daging seperti Yakobus tulis:  “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”  (Yakobus 1:14-15).  Jadi, ini bukanlah perkara yang mudah!  Rasul Paulus memiliki pengalaman:  “Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”  (Roma 7:15, 19).

Kalau kita berjuang dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu, kita akan tertatih-tatih, jatuh bangun dan bahkan kalah dalam peperangan.  Karena itu kita perlu campur tangan Tuhan dan pertolongan Roh Kudus.  Dalam hal ini dibutuhkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan.  Dengan iman kita dapat melihat dengan pandangan rohani bahwa Tuhan bekerja di dalam kita untuk menyatakan kuasa-Nya.

Tuhan berkata,  “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Korintus 12:9


Selasa. PERISAI IMAN: Ada Jaminan Kemenangan
Baca: Mazmur 3:1-9

“Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.”
Mazmur 3:4

Di tengah-tengah dunia yang penuh gejolak ini rasul Paulus mengingatkan agar dalam segala keadaan kita menggunakan perisai iman!  Dengan perisai iman kita dapat menangkal setiap serangan musuh.  Ketika berada dalam keadaan terjepit karena tekanan dan serangan musuh, dan ketika orang-orang mengatakan bahwa tidak ada pertolongan, Daud justru menemukan kekuatan di dalam Tuhan, karena ia sangat percaya bahwa Tuhan adalah perisai yang melindunginya.  “Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.”  (ayat 7).  Sungguh… Tuhan telah menjadi perisai hidup Daud!

Sebagai perisai artinya Tuhan yang melindungi kita dan memadamkan segala serangan musuh.  Bukan berarti peperangan telah usai atau serangan musuh berhenti, karena Iblis selalu mencari cara dan celah untuk menyerang,  “…menunggu waktu yang baik.”  (Lukas 4:13).  Alkitab menasihatkan agar kita selalu berjaga-jaga dan berdoa, dan  “…dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,”  (Efesus 6:16).  Karena Tuhan menjadi perisai kita, maka kita tetap terlindungi dan tak mudah untuk ditaklukkan.  Untuk mendapatkan perlindungan dari Tuhan kita harus memiliki iman yang tertuju hanya kepada Tuhan, yaitu iman yang tidak tergantung pada keadaan atau situasi.

Orang yang memiliki iman di dalam Tuhan akan tetap percaya, walaupun apa yang terlihat tidak sesuai dengan kenyataan.  Sehebat apa pun serangan yang dilancarkan oleh pihak musuh, sedahsyat apa pun goncangan, kita tetap tenang karena Tuhan di pihak kita,  “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”  (1 Yohanes 5:4).  Karena ada perlindungan yang pasti dari Tuhan kita menjadi tenang, dan dalam keadaan tenang kita pun dapat berpikir bagaimana mengalahkan dan menghancurkan musuh.  Ada tertulis:  “…dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”  (Yesaya 30:15).  Bila Tuhan yang menjadi perisai ada jaminan kemenangan bagi yang percaya kepada-Nya.

“Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.”  Mazmur 20:7


Rabu. TIDAK LAGI MEMEGANG KOMITMEN
Baca: 1 Samuel 13:1-22

“Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.”  1 Samuel 13:13

Di zaman sekarang ini tidaklah mudah menemukan orang yang benar-benar memiliki komitmen terhadap suatu hal.  Umumnya orang mau melakukan sesuatu yang penuh komitmen apabila diiming-imingi bonus atau hadiah yang menggiurkan.  Orang juga akan bersemangat melakukan sesuatu ketika mood-nya lagi dapat.  Begitu mood-nya gak dapat, semangatnya untuk melakukan sesuatu pun meredup.  Seseorang yang punya komitmen pasti tidak mempunyai alasan apa pun untuk berhenti di tengah jalan meski ada rintangan yang menghadang di depan, apalagi sampai ingkar.

Komitmen adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam meraih kesuksesan atau keberhasilan.  Orang bisa saja dengan mudah mengucapkan komitmen, tapi tindakanlah yang akan membuktikan sebuah komitmen.  Saul adalah raja pertama Israel yang pada awalnya tampak hebat dan berkomitmen untuk hidup taat, tetapi apa yang menjadi komitmennya ketika diurapi menjadi raja tidak lagi mampu dipertahankannya, justru pelanggaran demi pelanggaran dilakukan oleh Saul;  dan ketika ditegur oleh Samuel, bukannya menyesali kesalahannya, malah ia selalu berkilah.  Perbuatan Saul ini sangat menyakiti hati Tuhan.  Oleh karena gagal memegang komitmennya akhirnya Saul harus menelan pil pahit, ia ditolak sebagai raja, dan bahkan Tuhan menyatakan penyesalan-Nya:  “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.”  (1 Samuel 15:11).

Komitmen adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang sudah mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus, yaitu komitmen untuk taat kepada perintah-perintah-Nya dan setia mengikuti-Nya sampai garis akhir hidup.  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”  (Roma 14:8).  Milikilah komitmen seperti rasul Paulus,  “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”  (Roma 14:8).

Orang yang punya komitmen takkan berubah sikap, apa pun keadaannya!


Kamis. HIDUP ADALAH SUATU PILIHAN

Baca: Lukas 13:22-30

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”  Lukas 13:24

Hidup ini adalah sebuah pilihan, kita harus memilih mana yang baik dan benar, mana yang berguna dan bermanfaat.  Tidak ada istilah kompromi dalam menjalani hidup ini, sebab kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang dapat berdiri di atas dua perahu dengan kedua kakinya sekaligus.  Kita tidak bisa terus-menerus berada di persimpangan jalan, mau tidak mau kita harus membuat ketegasan dalam memilih!  Keputusan yang kita ambil itulah yang akan menentukan apakah kita akan berhasil atau gagal dalam hidup ini.

Demikian dalam hidup kerohanian, kita juga dihadapkan pada pilihan hidup:  taat atau tidak taat, berjalan menurut kehendak sendiri atau menurut kehendak Tuhan, berkat atau kutuk.  Tuhan menegur jemaat di Laodikia oleh karena mereka  ‘tidak dingin dan tidak panas’  alias suam-suam kuku.  “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”  (Wahyu 3:16).  Hidup di zaman ini seringkali kita diombang-ambingkan antara memilih kenikmatan dan kesenangan dunia yang sifatnya hanya sementara, ataukah tetap berjuang melawan keinginan daging, yang meski sakit tapi mendatangkan upah yaitu kehidupan kekal.

Pergumulan berat juga di alami oleh orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama, di mana Tuhan menghadapkan mereka pada pilihan hidup:  “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN,…”  (Ulangan 30:15-16).  Jangan pernah terbuai dengan apa yang tampak indah menurut mata jasmaniah, tetapi pastikan bahwa yang kita pilih adalah pilihan yang benar dan sesuai kehendak Tuhan,  “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  (Matius 7:13-14).

Pilihan hidup harus tegas!  Jangan sekali-kali melakukan tindakan berkompromi!


Jumat. HAL MUSTAHIL ADALAH BAGIAN TUHAN
Baca: Mazmur 114:1-8

“Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub, yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!”  Mazmur 114:7-8

Ada satu kata yang seringkali menjadi momok bagi semua orang yaitu kata mustahil.  Ketika sakit parah dan banyak orang bilang kalau sakitnya mustahil untuk disembuhkan, orang pasti mengalami kesedihan yang mendalam, stress dan putus asa;  ketika krisis keuangan melanda dalam rumah tangga, dan sepertinya tidak ada jalan keluar, ditambah lagi dengan pernyataan orang lain yang mengatakan bahwa keadaannya mustahil untuk dipulihkan, orang pasti langsung drop.  Ya…  Iblis memang tidak pernah berhenti untuk melepaskan panah  ‘kemustahilan’  ini kepada semua orang agar mereka hidup dalam ketakutan, kekuatiran, dan keputusasaan.

Dalam hidup ini seringkali kita dibawa kepada suatu masalah, situasi atau keadaan yang secara manusia memang mustahil untuk mendapatkan pertolongan, jawaban atau jalan keluar.  Namun pemazmur kembali menegaskan dan menguatkan bahwa manusia boleh saja berkata bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin alias mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil, dan bahkan Alkitab menyatakan bahwa  “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23).  Artinya jika kita senantiasa mengandalkan Tuhan dan percaya terhadap janji firman-Nya maka semuanya tidak ada yang mustahil.  Ada tertulis:  “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”  (1 Korintus 2:9).

Jangan pernah takut menghadapi apa pun, karena Tuhan kita adalah ahli dalam mengerjakan hal-hal yang mustahil!  “Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?”  (Yesaya 51:10);  Tuhan yang sanggup mengubah air menjadi anggur;  Tuhan yang sanggup membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari.  Karena itu jangan pernah kita membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita yang terbatas, sebab  “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:9).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena Dia Tuhan yang Mahakuasa!


Sabtu. PERCAYAKAH BAHWA TUHAN DAPAT MELAKUKAN?
Baca: Matius 9:27-31

“‘Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?’ Mereka menjawab: ‘Ya Tuhan, kami percaya.'”  Matius 9:28

Kisah tentang Tuhan Yesus menyembuhkan mata dua orang buta ini adalah kisah yang hanya ditulis di Injil Matius.  Ketika bertemu dengan dua orang buta ada sebuah pertanyaan yang tak biasa Tuhan sampaikan.  Tuhan Yesus terlebih dahulu bertanya kepada kedua orang buta itu,  “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?”  (ayat nas).  Dan kedua orang buta itu pun dengan penuh keyakinan menjawab,  “Ya Tuhan, kami percaya.”  (ayat nas).  Meskipun kedua orang itu tidak dapat melihat secara mata jasmaniah, tapi mata rohani mereka dapat melihat Tuhan dengan kebesaran kuasa-Nya, sehingga mereka percaya bahwa Dia pasti sanggup melakukan mujizat kesembuhan.  Karena memiliki respons hati yang benar Tuhan Yesus pun bertindak untuk menjamah mereka,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu…  Maka meleklah mata mereka.”  (ayat 29-30).

Ada banyak orang Kristen secara fisik tidak mengalami kebutaan, mata jasmani mereka dapat melihat apa pun, tetapi mata rohaninya  ‘buta’  seperti pelayan Elisa yang tak mampu melihat kebesaran kuasa Tuhan.  Sedikit saja dihadapkan pada masalah atau kesulitan, mereka sudah diliputi oleh ketakutan, mereka lupa dengan pertolongan Tuhan dalam hidupnya di waktu-waktu lalu.  Pemazmur menasihati,  “…dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”  (Mazmur 103:2).  Pada situasi-situasi seperti itu yang diperlukan adalah iman.  Iman dan ketakutan adalah dua hal yang sangat kontradiktif.  Ketakutan hanya akan membawa kita untuk mempercayai hal-hal yang buruk terjadi, seperti yang Ayub katakan,  “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.”  (Ayub 3:25).

Iman membawa kita untuk percaya bahwa hal-hal yang baik dan dahsyat pasti akan terjadi.  Iman membuka mata rohani kita sehingga kita dapat mempercayai bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara yang dahsyat…  alhasil kita tidak menyerah dengan keadaan yang ada.  Iman menuntun kita untuk melewati kemustahilan, sedangkan ketakutan hanya akan memunculkan kata mustahil dalam hidup ini.

“Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu…”  Mazmur 145:3-4


Minggu. BERAWAL DARI MATA MELIHAT

Baca: Amsal 23:29-35

“Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat,”  Amsal 23:31

Alkitab menyatakan bahwa  “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.”  (Matius 6:22-23).  Sebelum Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang Tuhan, Iblis terlebih dahulu memprovokasi Hawa tentang buah kehidupan itu, lalu  “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.”  (Kejadian 3:6).  Kejatuhan dosa manusia pertama dimulai dari mata!

Mengapa kita harus menjaga penglihatan kita?  1.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi keputusan kita.  Kita bisa belajar dari pengalaman hidup Lot.  “Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. –Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. — Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.”  (Kejadian 13:10-11).  Namun Lot harus menelan pil pahit kehidupan karena ia salah dalam membuat keputusan;  bukannya berdoa atau meminta petunjuk dari Tuhan terlebih dahulu, tapi keputusannya didasarkan pada apa yang terlihat secara mata jasmani.

2.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi iman kita.  Tak bisa dipungkiri apa yang kita imani seringkali berbeda dengan kenyataan, itulah sebabnya banyak orang Kristen kecewa dan akhirnya berhenti berharap kepada Tuhan.  “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3).  Milikilah prinsip hidup rasul Paulus,  “kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  (2 Korintus 4:18).

Yang terlihat oleh mata seringkali menipu, oleh karena itu arahkan pandangan hanya kepada Tuhan Yesus!

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

Sekilas review:

Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya. Ketaatan bukan hanya bicara tentang tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Tanpa ketaatan, ibadah hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal/tidak berakar.

Sambungan minggu ini:

KASIH MERUPAKAN DASAR KETAATAN

 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15).

  • Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.
  • Ketaatan merupakan ekspresi kasih kita kepada Tuhan. Kita taat bukan karena ketakutan, paksaan, sekadar menjalankan kewajiban, atau karena motivasi lain, misalnya taat hanya untuk mendapatkan mukjizat/jawaban doa.
  • Banyak orang berkata: “Saya mengasihi Tuhan…” Tetapi Surga bertanya: mana buktinya? Banyak orang Kristen hanya ‘sayang’ kepada Tuhan Yesus, tapi belum sampai level mengasihi Dia. Menyanyi saat worship itu mudah, tapi penyembahan yang menuntut penyerahan diri bukanlah hal yang gampang. Penyembahan sejati yang berkenan kepada Tuhan adalah ketaatan kita kepada perintah-Nya.
  • Kita tidak bisa memisahkan kasih dari penyerahan diri, sebab demikianlah teladan Tuhan Yesus yang telah mendemonstrasikan kasih-Nya kepada kita. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kasih yang sejati menuntut penyerahan diri secara total, di mana kita melepaskan ego dan keinginan pribadi untuk tunduk kepada kehendak Tuhan.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

  • Kasih menggerakkan kita untuk menyangkal diri/pikul salib, rela berkorban, meninggalkan kenyamanan, serta tetap setia dan taat sekalipun dalam situasi sulit. Kasih yang sejati tetap percaya meskipun menderita karena kebenaran. Kasih yang sejati tetap percaya meski belum melihat jawaban doa. Kalau kekristenan kita tidak pernah menuntut apa-apa, mungkin itu hanya kenyamanan, bukan pemuridan.
  • Ketaatan tanpa kasih sama sekali tidak berguna (1 Korintus 13: 1-3). Ketaatan tanpa kasih menjadi legalisme yang kering. Perintah-perintah Allah akan menjadi sederet peraturan yang kaku dan terasa memberatkan. Ketaatan tanpa kasih tidak dapat bertahan lama.

Sementara, kasih tanpa ketaatan dapat kehilangan arah dan melenceng dari tujuan sejatinya. Kasih tanpa ketaatan berarti hanya di level perasaan, bukan iman. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

  • Bagaimana cara supaya kita mampu menaati Allah?

Jawabannya: kita harus dipenuhi oleh kasih-Nya.

Bagaimana cara supaya dipenuhi oleh kasih Allah?

Dengan menjaga persekutuan yang konsisten dengan Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan. Keintiman dengan Roh Kudus membuat hati kita semakin berakar dan berdasar dalam kasih Allah.

  • Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5b). Kuasa kasih-Nya yang bekerja dengan kuat dalam kita dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan/pikirkan, sehingga kita mampu hidup oleh iman dan ketaatan kepada Allah. Barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah (1 Yohanes 2:5).

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan  kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,  sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. 

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi  di dalam seluruh kepenuhan Allah.  Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan  atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:16-20).

PENUTUP

Kasih adalah dasar ketaatan sejati, artinya ketaatan merupakan demonstrasi kasih kepada Allah. Hati yang tidak berakar dalam kasih membuat ketaatan menjadi sesuatu yang membatasi, memberatkan dan menakutkan. Ketaatan adalah respons kita atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya bagi kita. Jaga api mezbah pribadi kita untuk selalu menyala, jangan biarkan jadi redup bahkan padam. Api yang terus menyala memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan, Amen.

TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA

TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA

Senin. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (1)

Baca: Mazmur 46:1-12
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan,” Mazmur 46:12

Di zaman dahulu setiap kota selalu memiliki benteng, pintu gerbang kota dan juga tembok yang mengelilingi kota itu, dengan tujuan supaya kota itu terjaga aman dan terlindungi dari serangan musuh. Namun bagaimanapun juga perlindungan dan penjagaan yang dibangun oleh manusia adalah terbatas adanya, tidak seratus persen dapat memberikan jaminan keamanan dan keselamatan yang sempurna. “…jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1b).

Bani Korah dalam nyanyiannya menyatakan bahwa kota benteng orang percaya adalah Tuhan, Dialah bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan. Artinya ketika kita masuk ke kota benteng perlindungan itu kita akan beroleh jaminan keamanan, ketenangan dan perlindungan, karena “Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang;” (Mazmur 46:6). Adakah tempat di dunia ini yang dapat menjamin keamanan dan perlindungan bagi manusia? Tidak ada. Di masa sekarang ini banyak orang mengalami ketakutan yang luar biasa karena goncangan terjadi di mana-mana, “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang…” (Mazmur 46:7), namun sebagai orang percaya kita tidak perlu kuatir dan takut, “…karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,” (Ibrani 12:28). Sekalipun musuh menyerang, sekalipun setiap hari kita disuguhi berita-berita menggemparkan, perlindungan yang Tuhan sediakan sudah lebih dari cukup untuk membuat kita aman, tenteram dan merasakan damai sejahtera yang luar biasa.

Tuhan sebagai kota benteng berarti Ia adalah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan bagi kita. Ada banyak orang mengeluh, berputus asa atau frustasi karena merasa sudah tidak kuat, tidak sanggup dan tidak mampu menanggung beban hidup yang teramat berat. Dalam kondisi seperti itu mereka bukannya mencari Tuhan, tetapi menempuh cara-cara instan dengan melakukan tindakan kompromi dengan dosa alias berbuat nekat. Solusi atau jalan keluar tidak mereka dapatkan, mereka justru semakin terjerumus ke lubang yang semakin dalam. “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Adalah sia-sia belaka jika kita mencari pertolongan di luar Tuhan!


Selasa. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (2)

Baca: Mazmur 27:1-14
“TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Mazmur 27:1b

Pertolongan, perlindungan dan kekuatan yang sejati hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia adalah benteng hidup kita.  Ada tertulis:  “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Seberat apa pun masalah dan tantangan yang kita hadapi, jika kita mau bersandar dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita pasti beroleh kekuatan untuk menanggungnya,  “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”  (2 Timotius 1:7).  Saat itulah kita pun dapat berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).

Setiap kita pasti punya pengalaman dalam hidup ini.  Ada saat-saat di mana kita berada dalam posisi terjepit, mengalami jalan buntu, tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tak seorang pun dapat menolong kita.  Kita seakan-akan berada di dalam jurang yang teramat dalam.  Namun, ketika  “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!”  (Mazmur 130:1), berserah berseru-seru memohon pertolongan-Nya, pada saat yang tepat Ia akan bertindak dan memberi pertolongan kepada kita.  Saat itulah kita baru menyadari bahwa Tuhan benar-benar menjadi kota benteng kita,  “…sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”  (Mazmur 46:2).

Hidup adalah sebuah peperangan!  Setiap hari kita dihadapkan pada peperangan:  menghadapi masalah dan keinginan daging, terlebih lagi berperang melawan penghulu-penghulu di udara  (roh-roh jahat)  atau Iblis dengan bala tentaranya.  Asal kita tetap tinggal dekat Tuhan, berada di kota benteng-Nya, kita pasti akan menang, sebab Tuhan ada di pihak kita,  “…pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!”  (Mazmur 46:9-10).

Di dalam Tuhan ada jaminan keamanan dan perlindungan yang sempurna!


Rabu. APA YANG MENJADI FONDASI HIDUPMU?
Baca: 1 Korintus 3:10-23

“Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.”  1 Korintus 2:10b

Semakin tinggi suatu bangunan atau gedung, semakin dalam dan semakin kokoh fondasi yang harus ditanam.  Jika tidak, saat badai atau goncangan datang menyerang, bangunan tersebut pasti tidak akan mampu berdiri tegak alias bakalan roboh.  Begitu pula tak seorang pun dapat menduga dan mengira kapan datangnya angin, badai atau goncangan dalam kehidupan ini.  Oleh karena itu penting sekali memiliki fondasi hidup yang kuat dan kokoh, supaya ketika angin, badai, gelombang atau goncangan melanda kehidupan ini kita tetap mampu berdiri tegak dan tak tergoyahkan!

Dengan apakah kita membangun fondasi hidup ini?  “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak.”  (1 Korintus 3:10b-13a).  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”  (Matius 7:24-25).  Jika kita membangun fondasi hidup kita di atas Batu Karang yang teguh yaitu Tuhan Yesus dan firman-Nya, kita akan menjadi kuat, sekalipun harus melewati angin, badai, goncangan dan gelombang kehidupan.  Rasul Paulus menasihati,  “…hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”  (Efesus 6:10).

Saat ini banyak orang tak berdaya dan akhirnya tenggelam dalam badai dan gelombang kehidupan karena mereka membangun fondasi hidupnya di atas perkara-perkara yang ada di dunia ini atau hal-hal yang sifatnya jasmaniah, sedangkan hatinya menjauh dari Tuhan.  Sayangnya apa yang selama ini mereka andalkan, harapkan dan bangga-banggakan, tak mampu menolongnya…

Tuhan Yesus sudah mengingatkan:  “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”  Yohanes 15:5b


Kamis. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (1)
Baca: Kisah Para Rasul 27:14-44

“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.” Kisah 27:14-15a

“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.”  Kisah 27:14-15a

Dikisahkan terdapat 276 jiwa berada dalam satu kapal yang sedang mengalami pencobaan yang sangat berat saat menempuh perjalanan menuju Roma.  Kapal tersebut terkena angin sakal sehingga terombang-ambing di tengah lautan.  Lebih mengerikan lagi, saat kejadian berlangsung langit dalam keadaan gelap gulita sampai-sampai mereka tidak melihat matahari selama hampir 14 hari.  Begitu dahsyatnya angin sakal dan gelombang laut yang menghantam kapal, orang-orang menjadi tawar hati dan hilang pengharapan.  “Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.”  (ayat 20).  Alkitab menyatakan,  “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”  (Amsal 24:10).

Ketika orang-orang sudah sangat pesimistis dan merasa sudah tidak memiliki harapan untuk selamat, rasul Paulus  -yang kebetulan menjadi salah satu penumpang di kapal itu-, memiliki sikap hati yang berbeda.  Di tengah kepanikan yang hebat rasul Paulus mampu menguatkan orang banyak itu:  “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.”  (Kisah 27:22).  Dengan penuh iman ia berkata,  “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.”  (Kisah 27:34b).  Kemudian untuk mengantisipasi supaya kapal tidak kandas di salah satu batu karang mereka pun sepakat membuang sauh, bahkan empat sauh sekaligus  (Kisah 27:29).  Sauh/jangkar adalah alat berkait dan berat, dibuat dari besi, yang dilabuhkan dari kapal ke dasar laut supaya kapal dapat berhenti dan tidak terbawa oleh arus.  Dengan sauh sebuah kapal akan tetap kokoh menghadapi hantaman ombak!

Hati kita ibarat kapal yang sedang mengarungi lautan kehidupan sedangkan  ‘sauh’  berbicara tentang pengharapan.  Hati kita akan tetap kuat di tengah badai atau hantaman ombak sebesar apa pun, apabila kita memiliki pengharapan.  Pertanyaannya:  ke arah manakah sauh atau pengharapan itu akan kita labuhkan?  (Berlanjut)


Jumat. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (2)

Baca: Kisah Rasul Paulus 27:14-44
“Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat.” Kisah 27:44b

Kemana kita mengarahkan pengharapan hidup ini?  Ada tertulis:  “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”  (Ibrani 6:19-20).  Badai sebesar apa pun boleh saja menyerang dalam kehidupan ini, baik itu dalam pekerjaan, keluarga, kesehatan, keuangan dan sebagainya.  Namun saat kita mmeiliki pengharapan di dalam Tuhan, kita tidak akan binasa.  Pengharapan berbicara tentang iman….

Selama empat belas hari, 276 orang lebih tidak melihat terang maupun bintang, mereka juga tidak makan, kelaparan, kacau balau, terkatung-katung di tengah laut.  Tetapi pada akhirnya mereka bisa selamat…  Karena ada 1 orang yang memiliki iman yaitu rasul Paulus.  “Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku.”  (Kisah 27:25).  Rasul Paulus sangat percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  Ia bisa berkata demikian karena pandangannya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada situasi atau keadaan yang ada.  “-sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-“  (2 Korintus 5:7).  Iman adalah output ketika seseorang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan.  “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”  (Roma 10:17).

“Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku,”  (Kisah 27:23).  Di tengah kesesakan hebat rasul Paulus masih dapat bersekutu dengan Tuhan melalui doa dan penyembahan.  Saat berada di tengah badai, masihkah kita memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan?  ataukah kita justru larut lari meninggalkan Tuhan dan mencari pertolongan kepada sumber yang lain?  Walaupun berada di tengah badai jangan pernah tawar hati, sebab Tuhan telah berjanji,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5).

Kunci agar kuat di tengah hantaman badai adalah tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan dan memelihara persekutuan yang karib dengan-Nya!


Sabtu. ORANG PERCAYA HARUS PUNYA VISI (1)
Baca: 2 Raja-Raja 6:8-23

“‘Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.’ Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.”  2 Raja-Raja 6:17

Dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu punya visi.  Jika tidak, perjalanan hidup kekristenannya akan tersendat-sendat, sulit alami pertumbuhan rohani yang maksimal.

Visi merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, perbuatan atau tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan.  Di dalam Alkitab istilah visi bersifat nabiah atau pewahyuan, di mana Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, baik itu kepada individu atau pun kelompok, khususnya kepada bangsa Israel.  Dan Tuhan menyatakan visi-Nya bisa melalui mimpi, penglihatan atau juga melalui perantaraan nabi-nabi-Nya.  Visi juga bisa diartikan pandangan rohani.  Apa yang tidak dilihat orang lain itulah yang diwahyukan Tuhan kepada kita.  Dengan kata lain kita melihat apa yang orang lain tidak lihat.

Karena memiliki pandangan rohani, nabi Elisa dapat melihat bala tentara sorgawi dengan kuda dan kereta berapi yang jumlahnya lebih banyak dari tentara raja Aram.  Berbeda dengan pelayan Elisa yang tidak memiliki pandangan rohani  (tidak mempunyai visi yang sama), sehingga ia sangat ketakutan ketika melihat tentara Aram telah mengepung kota Dotan.  Karena itu Elisa berdoa supaya Tuhan membuka mata rohani bujangnya itu dan Tuhan pun mengabulkan doanya.  Akhirnya pelayan Elisa itu pun dapat melihat bahwa gunung itu penuh dengan tentara sorga, berkuda dengan kereta berapi mengelilingi Elisa  (ayat nas).

Begitu pula Musa, karena memiliki visi dari Tuhan,  “…Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.”  (Ibrani 11:24-26).  Musa mampu melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat, ia tahu bahwa  “…yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  (2 Korintus 4:18).

Milikilah kepekaan rohani supaya kita mampu menangkap visi yang Tuhan beri!


Minggu ORANG PERCAYA HARUS PUNYA VISI (2)
Baca: Amsal 29:18-27
 Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.”  Amsal 29:18

Dalam hidup Kristen, antara visi dan keinginan/cita-cita itu jelas sangat berbeda.  Visi itu berbicara  tentang sesuatu yang Tuhan taruh dalam hidup kita, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita.  Kalau keinginan dan cita-cita itu datang dan timbul dari diri sendri, sedangkan visi diperoleh dari doa kita kepada Tuhan dan jawaban Tuhan atas ketaatan kita melakukan kehendak-Nya.  Maka kita harus lebih bersungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, melatih kepekaan untuk mendengar suara Tuhan melalui persekutuan yang karib dengan-Nya, sebab  “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).

Visi mendorong kita untuk memiliki prioritas-prioritas dan membuat pilihan-pilihan hidup yang benar;  visi mendorong kita untuk memiliki semangat dan motivasi yang lebih lagi dalam melakukan segala sesuatu.  Bisa dikatakan bahwa visi sangat menentukan arah hidup seseorang.  Karena mengerti dan memahami visi yang Tuhan taruh dalam hidupnya, rasul Paulus berkomitmen:  “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”  (Filipi 3:13-14).

Ada banyak orang Kristen tak mampu melihat visi Tuhan dalam hidupnya.  Terlihat dari cara hidup mereka dalam mengerjakan perkara-perkara yang tidak ada greget sama sekali!  Tidaklah mengherankan jika kehidupan rohaninya tidak mengalami kemajuan yang berarti,  “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.”  (Ibrani 5:12).  Tuhan Yesus telah berfirman,  “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”  (Yohanes 14:12).  Kuasa Tuhan akan dinyatakan dengan luar biasa kepada setiap orang percaya yang mau melangkah untuk mengerjakan panggilan Tuhan.

Jangan sia-siakan visi yang Tuhan taruh dalam hidup ini, melainkan kerjakan itu dengan roh yang menyala-nyala!

HIDUP DALAM KETAATAN

HIDUP DALAM KETAATAN

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

PENDAHULUAN

Bulan lalu kita mengenali Roh Kudus dan keadaan terhubung dengan Pokok Anggur yang benar supaya hidup kita menghasilkan buah yang mendampaki orang lain. Di bulan yang baru ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita taat melakukan Firman? Karena ibadah tanpa ketaatan hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal. Perasaan tersentuh oleh firman tanpa diikuti tindakan hanya menipu diri sendiri dan tidak membawa perubahan hidup.

ISI

DENGAR DAN LAKUKAN 

  • Yakobus 1:22 mengatakan “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…” Rajin beribadah ke gereja belum menjamin seseorang hidup dalam ketaatan, demikian pula dengan mencatat kotbah. Mengatakan “Firman hari ini luar biasa dan sangat memberkati” juga bukan berarti orang tersebut melakukan firman yang didengarnya.
  • Pengetahuan firman tanpa tindakan hanya melahirkan kemunafikan serta kesombongan rohani. Pengetahuan firman tanpa ketaatan adalah tindakan menipu diri sendiri. Banyak orang Kristen hanya kenyang dengan mendengarkan khotbah, kesaksian, atau mengikuti training/kelas pengajaran, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
  • Ingin mujizat, tetapi tidak mau taat akan perintah Tuhan. Ingin berkat, tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Penyembahan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita menangis saat berada di hadirat Tuhan, tetapi dari seberapa cepat kita taat akan pesan firman yang disampaikan setelah ibadah selesai.
  • Mungkin ada orang yang menilai dirinya sudah taat kepada Tuhan dengan sudah rajin beribadah, mengembalikan persepuluhan, tidak mencuri, membunuh, menggosip, menghakimi orang lain, dsb..

Tetapi saat Tuhan gerakkan hatinya untuk berkati si A, doakan si B, jangan hakimi suamimu/tunduk padanya walaupun ia banyak kelemahan, jangan berlaku kasar dengan istrimu, atau tambah jam doa, dsb..…orang tersebut banyak pertimbangan untuk melakukannya, cari alasan untuk membenarkan diri sendiri, menunda-nunda, akhirnya sama saja dengan tidak taat.

Jadi ketaatan bukan hanya tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan.

  • Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya.

Contoh:

  • Nuh disuruh Allah untuk membangun bahtera di tengah daratan. Alkitab mencatat bahwa Nuh taat melakukan perintah tersebut
    sekalipun hal itu dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat pada jamannya.
  • Ananias taat saat Tuhan memerintahkan dia untuk menumpangkan tangan atas Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) supaya dia dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Meskipun Ananias tahu bahwa Saulus adalah seorang yang menganiaya orang-orang kudus, dia taat juga ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mendatangi Saulus.
  • Paulus meninggalkan semua yang dia banggakan di masa lalu demi pengenalan yang benar akan Kristus dan taat kepada panggilan Allah (Fil. 3: 7-14).
  • Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ingatlah: keinginan daging (tidak takluk kepada hukum Allah) akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh (menghendaki kita hidup dalam ketaatan kepada Allah).

REFLEKSI DIRI:

  • Hal-hal apa yang Roh Kudus dorong untuk kita lakukan/tinggalkan
tetapi masih kita tunda?
  • Membangun mezbah pribadi secara konsisten? Stop berpikiran negatif? Menundukkan diri kepada otoritas di atas kita? Meninggalkan hubungan/pertemanan yang tidak sehat/toxic? Memulai pelayanan? Stop merenungkan kesalahan orang lain? Mengampuni? Stop bergosip?
  • Stop berperilaku konsumtif (hobi belanja barang-barang yang memuaskan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup)? Belajar berpuasa? Menabur finansial untuk pekerjaan Tuhan? Berhenti hidup dalam dosa tersembunyi? Memakai waktu dengan bijak? Stop kebiasaan buruk?
  • Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan merupakan buah dari orang yang hidup dalam dusta iblis. Penundaan adalah peperangan rohani. Penundaan membuat hati kita jadi keras dan degil. Penundaan adalah bukti ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati.

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Senin. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Baca: Mazmur 35:1-28

“Ya, TUHAN, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?” Mazmur 35:10

Dalam hidup ini ada sesuatu yang tidak pernah bisa dihindari oleh semua orang tanpa terkecuali, ialah masalah. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap kita pasti menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Oleh karena itu jangan pernah lari dari masalah, karena yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri dari masalah, namun yang paling utama adalah bagaimana respons hati kita terhadap masalah yang terjadi.

Kita seringkali lupa bahwa perjalanan hidup kekristenan itu tidak hanya sekedar berbicara tentang berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan dan sebagainya, tetapi juga proses; berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan adalah output atau hasil dari sebuah proses. Masalah adalah satu bentuk dari proses itu sendiri! Berkat, mujizat, kemenangan dan pemulihan adalah hal yang pasti Tuhan sediakan, karena Dia adalah Tuhan yang selalu memegang setiap janji-Nya. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19). Seringkali kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan berkat Tuhan, tapi ketika dihadapkan pada masalah sebagai bagian dari proses, kita memiliki repons yang tidak benar: mengomel, bersungut-sungut, marah, berontak, mengambinghitamkan orang lain atau keadaan, dan bahkan berani menyalahkan Tuhan.

Adalah hal mudah bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir karena Firaun dan bala tentaranya bukanlah suatu halangan berarti, tapi untuk membentuk dan memproses bangsa Israel Tuhan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 40 tahun di padang gurun, karena bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk (baca Keluaran 32:9). Pertanyaan: apakah kita mau taat atau tidak, punya penyerahan diri atau tidak, ketika sedang berada dalam ‘proses’nya Tuhan? Yang pasti, setiap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dan kita alami semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Tuhan tidak pernah merancang hal-hal yang jahat terhadap kita. (Bersambung)


Selasa. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (2)
Baca: Mazmur 38:1-23

“TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu;”  Mazmur 38:2

Perjalanan hidup kekristenan adalah sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak selalu melewati jalan yang rata, tapi penuh dengan tantangan, seperti perjalanan bangsa Israel sebelum mencapai Tanah Perjanjian:  harus menaklukkan musuh-musuh.  “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.”  (Ulangan 11:11-12).  Kalimat  ‘bergunung-gunung dan berlembah-lembah’  adalah gambaran bahwa perjalanan yang harus kita tempuh adalah perjalanan yang penuh liku-liku, masalah bisa datang secara tiba-tiba tapi yang menyertai kita  (Tuhan)  jauh lebih besar dari semua masalah yang ada, dan Ia tidak akan melepaskan pandangan-Nya, tetapi mengawasi kita dari awal sampai akhir!

Apa tujuan Tuhan memproses kita?  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Yeremia 18:4).  Tuhan perlu proses kita supaya kita memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi.  Semakin kita memiliki kehidupan yang berkualitas, semakin kita menjadi perabot untuk maksud yang mulia  (baca  2 Timotius 2:21).  Tuhan menggunakan masalah untuk mengembangkan karakter kita, menjadikan masalah sebagai latihan rohani yang bertujuan untuk menguatkan iman kita.  Jangan jadikan masalah sebagai beban yang justru akan membuat kita semakin stress, tapi anggaplah sebagai kesempatan untuk lebih mendekat kepada Tuhan, mencari wajah-Nya lebih sungguh dan bergantung penuh kepada-Nya.

Berdasarkan pengalaman, penyembahan yang mendalam dan doa yang tulus dan murni biasanya terjadi ketika seseorang berada dalam masalah yang berat.  “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:18-19).  (Bersambung)


Rabu. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (3)
Baca: Ayub 23:1-17

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  Ayub 23:10

Saat mengalami masalah kita menyadari betapa kita sangat membutuhkan Tuhan, dan menyadari bahwa Tuhan satu-satunya sumber pertolongan.  Ada berkat yang baru yang Tuhan sediakan di balik masalah.  “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23), sehingga Tuhan mempersiapkan kita dulu melalui proses, supaya kita layak untuk menerima berkat-Nya yang baru itu.  “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  (Yesaya 43:19).

Berkat yang baru harus ditaruh di  ‘wadah’  yang baru,  “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Markus 2:22);  anggur yang baru harus disimpan di kirbat yang baru.  Sudahkah kita benar-benar hidup sebagai  ‘manusia baru’?  Selama kita masih mengenakan  ‘manusia lama’  Tuhan akan terus memproses kita,  “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah,…Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”  (Roma 8:7, 8).  Tuhan memproses kita melalui masalah supaya kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain.  Setiap masalah takkan melebihi kekuatan kita,  “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).

Ketika melihat orang yang buta sejak lahir murid-murid bertanya,  “‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’ Jawab Yesus: ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.'”  (Yohanes 9:2-3).

Masalah dipakai Tuhan sebagai proses untuk membentuk, mempersiapkan dan menjadikan kita sesuai rencana-Nya!


Kamis. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (1)
Baca: Nehemia 8:1-19

“maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.”  Nehemia 8:2

Ada banyak orang Kristen yang menganggap bahwa menghadiri sebuah kebaktian tak ada bedanya dengan menghadiri sebuah pertunjukan musik.  Yang menjadi pusat perhatian mereka adalah si pemimpin pujian dan tim musiknya.  Apabila mereka tampil kurang maksimal dalam melayani, kita selaku penonton merasa kecewa, tidak puas, tidak terhibur, serta mengkritiknya habis-habisnya.  Sikap kita dalam beribadah pun berubah:  tidak lagi antusias, ogah-obahan dalam memuji Tuhan, mendengarkan firman pun sambil lalu.  Inikah sikap ibadah yang benar?  Ingatlah bahwa fokus utama dalam beribadah adalah Tuhan, bukan manusia.  Jika kita menyadari bahwa yang menjadi pusat ibadah adalah Tuhan kita pasti tidak akan main-main lagi dalam beribadah.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika beribadah:  1.  Miliki kerinduan untuk bertemu Tuhan.  Sudah lama orang-orang Israel  (dalam bacaan)  tidak melakukan ibadah secara bersama-sama  (ibadah raya)  karena mereka berada di pembuangan di Babel.  Setelah kembali dari pembuangan mereka memiliki kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan.  Alkitab menyatakan ketika bulan yang ketujuh tiba serentak berkumpullah umat untuk beribadah kepada Tuhan  (ayat nas).  Kata serentak menunjukkan bahwa rakyat secara kompak dan sangat antusias berkumpul bersama-sama untuk melakukan ibadah raya tanpa ada paksaan dari pihak lain, atau harus didorong-dorong terlebih dahulu, tapi kerinduan untuk bertemu Tuhan benar-benar timbul dari hati.  Umat Israel secara serempak berkumpul untuk beribadah bukan karena sedang menggelar sebuah perayaan atau memperingati hari raya tertentu, tapi karena kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan yang mendorong mereka untuk berkumpul secara serempak.

Bagaimana dengan kita?  Apakah kita beribadah karena dilandasi kerinduan untuk bertemu Tuhan, atau kita melakukan hanya sebatas rutinitas, atau bahkan karena terpaksa?  Daud berkata,  “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3).  (Berlanjut)


Jumat. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (2)
Baca: Nehemia 8:1-9

“Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  Nehemia 8:4b

Adalah menyedihkan sekali jika orang Kristen tidak lagi tertarik beribadah ke gereja, merasa rugi telah membuang waktu percuma.  Bagi mereka waktu adalah uang!  Mereka berpikir adalah lebih baik mengerjakan pekerjaan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan materi:  tetap buka toko atau kerja lembur di kantor, daripada menghabiskan waktu beberapa jam di tempat ibadah.  Ada orang yang datang ke gereja hanya mengisi waktu senggang, daripada menganggur di rumah.  Sebagian lagi ada orang Kristen yang begitu sibuk melayani pekerjaan Tuhan, tapi disertai motivasi yang tidak benar yaitu semata-mata memamerkan kehebatan atau talentanya supaya beroleh pujian.  Berhati-hatilah!

2.  Fokus dan memperhatikan sungguh-sungguh.  Ketika Ezra, ahli kitab, membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaat, ia  “…membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  (ayat 4).  Meski ibadah berlangsung cukup lama yaitu dari pagi hingga tengah hari, dan berada di area outdoor  (terkena terik matahari), umat Israel tetap fokus dan memberikan perhatian penuh.  Alkitab mencatat bahwa umat yang berkumpul,  “…ada empat puluh dua ribu tiga ratus enam puluh orang, selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus empat puluh lima penyanyi laki-laki dan perempuan.”  (Nehemia 7:66-67).

Sering dijumpai banyak anak Tuhan yang tidak fokus beribadah.  Tubuh memang ada di gereja, namun hati dan pikiran melayang kemana-mana.  Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan  (baca  Roma 12:1).  Sebuah ibadah tanpa disertai rasa takut akan Tuhan dan menghormati hadirat-Nya adalah sia-sia dan tidak berkenan di hadapan Tuhan.

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala.”  Mazmur 2:11-12


Sabtu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (1)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  Ulangan 31:3

Pada suatu kesempatan Musa berdiri di hadapan seluruh umat Israel untuk menyampaikan pesan yang sangat penting.  Musa menyadari ia telah berusia sangat lanjut dan tidak lama lagi akan meninggal.  Karena itu umat Israel sewaktu-waktu harus siap menghadapi sebuah perubahan.  Salah satu perubahan itu adalah soal kepemimpinan.  Umat Israel tidak perlu takut dan kuatir jika nantinya Musa tidak lagi ada bersama-sama dengan mereka.  Musa mengingatkan agar umat Israel tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan yang adalah pemimpin utama mereka, bukan kepada manusia.  “TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  (ayat 3).  Kini Tuhan telah menunjuk dan memilih Yosua untuk melanjutkan kepemimpinan menggantikan Musa.

Siapakah Yosua?  Yosua adalah keturunan Efraim, anak dari Nun, yang masa mudanya banyak dihabiskan di padang gurun dalam pengembaraan menuju Kanaan.  Ia adalah abdi atau pelayan Musa yang setia.  Sebagai abdi ia pun mengalami masa-masa yang sulit, penuh ujian dan tantangan bersama Musa.  Nama sebenarnya adalah Hosea, yang artinya Keselamatan.  Tetapi Musa memanggilnya Yosua  (baca  Bilangan 13:16), yang artinya Ia akan menyelamatkan atau keselamatan dari Yehovah.  Yosua tidak pernah membayangkan suatu saat akan dipilih dan dipercaya Tuhan untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan menggantikan Musa.  Adalah tidak mudah untuk beroleh sebuah kepercayaan!  Yosua dipercaya oleh karena ia setia menjalani proses:  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;”  (Amsal 19:22).  Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang setialah yang dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya.

Di masa-masa seperti sekarang ini sulit sekali menemukan orang yang memiliki kesetiaan seperti Yosua ini.  Umumnya orang setia kalau ada embel-embel di belakangnya.  Sungguh benar apa yang dikatakan pemazmur:  “…orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.”  (Mazmur 12:2).

Karena kesetiaannya sangat teruji Yosua dipercaya menggantikan Musa!


Minggu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (2)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  Ulangan 31:6

Ketika dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa, kemungkinan besar respons Yosua adalah terkejut, gelisah, dan tidak tenang, kemungkinan juga ada keraguan dan kekuatiran berkecamuk dibenaknya:  dapatkah ia memimpin suatu bangsa yang besar ini, bagaimana reaksi umat Israel jika ternyata kemampuannya dalam memimpin tidak sebanding dengan pemimpin sebelumnya  (Musa).  Itu sebabnya, Musa memberikan nasihat yang menguatkan dan meneguhkan,  “…janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  (ayat nas).

Menjadi pemimpin adalah sebuah kepercayaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya!  Yosua harus menangkap ini sebagai kesempatan untuk memaksimalkan semua potensi yang sudah Tuhan taruh dalam hidupnya.  Memang untuk mengerjakan visi besar dari Tuhan yaitu menuntun bangsa Israel menuju Tanah perjanjian, bukanlah perkara mudah, karena ada banyak sekali tantangan dan juga musuh-musuh yang harus ditaklukkan.  Jadi, seorang pemimpin haruslah bermental baja, berani dan tidak mudah menyerah.  Yang perlu ditegaskan lagi kepada Yosua bahwa ia tidak sendirian,  “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”  (ayat 8).  Karena itu Yosua harus terus maju dengan berpegang teguh kepada janji firman Tuhan.  “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.”  (Yosua 1:3).

Tuhan memberikan kunci rahasia untuk mencapai keberhasilan:  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

Kunci kepemimpinan yang berhasil adalah berjalan bersama Tuhan, senantiasa mengandalkan-Nya, dan berpegang teguh pada janji firman-Nya!