Author: EM

Home / Articles posted by EM
UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Senin. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Baca: Amos 3:1-8

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi,” Amos 3:2

Adalah tidak mudah bagi seseorang untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak dan pimpinan Tuhan, yang terjadi justru sebaliknya yaitu maunya Tuhan yang harus mengikuti kehendak dan keinginan kita dengan cara kita, alias mendikte Tuhan. Ada tertulis: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” (Roma 9:20-21).

Bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan! Mereka dipilih di antara berjuta-juta umat manusia di muka bumi ini. Ditegaskan bahwa Tuhan hanya mengenal satu bangsa yaitu umat kesayangan-Nya, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4), bahkan disebut-Nya mereka sebagai biji mata-Nya. “Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” (Ulangan 32:10b), dan “sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya–:” (Zakharia 2:8). Bukan hanya itu… “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:16). Siapakah kita ini sehingga Tuhan memilih, memanggil dan mengangkat kita? Apakah karena kita hebat, pintar, kaya, terkenal? Tidak sama sekali, karena di luar sana masih banyak orang yang lebih dari kita. Semua itu karena anugerah Tuhan semata! Anugerah atau kasih karunia berasal dari bahasa asli khen (Ibrani) atau kharis (Yunani). Pemberian anugerah ini semata-mata adalah hak prerogatif Tuhan, sedangkan sesungguhnya manusia tidak layak untuk menerimanya. “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19b).

Meski diperlakukan istimewa oleh Tuhan mereka tidak merespons kasih Tuhan itu dengan sikap hati yang benar: memilih hidup menurut kehendak sendiri, memberontak kepada Tuhan, dan bahkan jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Karena kekerasan hati dan kedegilan mereka Tuhan pun menyebutnya sebagai bangsa yang tegar tengkuk!

Meski dikasihi Tuhan sedemikian rupa bangsa Israel tetap saja memberontak


Selasa. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (3)

Baca: Amos 3:1-8

“…sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” Amos 3:2

Sepintas kalau kita membaca Amos 3:2 ini (“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.”) Kita pasti akan bertanya-tanya: setelah Tuhan menyatakan bahwa kita ini adalah umat pilihan-Nya, kalimat selanjutnya, “…Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (ayat nas). Apa maksudnya? Seringkali kita berpikir bahwa jika Tuhan mengasihi kita dan memilih kita, Ia akan menuruti semua keinginan kita, melancarkan usaha dan bisnis kita, dan membebaskan kita dari situasi sulit dan masalah.

Tidak berarti bapa yang baik dan mengasihi anaknya menuruti semua keinginan anak, atau memanjakannya. Jika si anak melakukan kesalahan yang sangat fatal bapa pasti akan menegur, jika perlu memukulnya. “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.” (Amsal 23:13-14), dan “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anak-nya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24). Begitu pula dengan Tuhan, jika Dia menegur kita dengan keras bukan berarti Ia tidak mengasihi kita, justru bukti bahwa Tuhan sangat mengasihi umat-Nya, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:6, 8).

Melalui nabi-nabi-Nya Tuhan berkali-kali memperingatkan bangsa Israel agar mereka bertobat dan kembali ke jalan-Nya, tetapi mereka tetap saja mengeraskan hati. Di tengah kemerosotan moral bangsa Israel ini Tuhan tetap menunjukkan kasih dan kesabaran-Nya dengan mengutus Amos, seorang yang takut akan Tuhan, untuk menegur dan memperingatkan mereka. Bagaimana responsnya? Mereka malah berlaku jahat ter-hadap Amos dan mengusirnya secara terang-terangan. “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makanan-mu di sana dan bernubuatlah di sana!” (Amos 7:12).

Karena mengacuhkan teguran, Tuhan menghukum bangsa Israel dengan menyerahkan mereka ke tangan bangsa Asyur!


Rabu. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (1)

Baca: 1 Samuel 3:1-21

“Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3:10b

Nama Samuel adalah ekspresi dari bahasa Ibrani yang berarti ‘Tuhan mendengar’. Ini ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mendengar pergumulan doanya. “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.'” (1 Samuel 1:20). Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kesusahan hati yang mendalam. Ia dahulu tertutup kandungannya, mustahil punya keturunan, namun tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).

Samuel memulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli. “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” (1 Samuel 1:28). Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah pengawasan imam Eli. Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan. Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya. Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan. Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan. “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat 9). Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat nas).

Seiring berjalannya waktu “…Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.” (1 Samuel 3:19). Akhirnya Tuhan mempercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia memiliki kepekaan akan suara Tuhan.

Peka suara Tuhan tidak terjadi secara instan, tapi melalui proses bergaul karib dengan-Nya setiap waktu.


Kamis. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (2)

Baca: Yesaya 50:4-11

“Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Yesaya 50:4b

Melalui perjalanan hidup Samuel ini, kita bisa belajar bahwa langkah kesetiaan kepada Tuhan itu selalu diawali dari hal-hal yang kecil. Kalau kita setia dalam perkara yang kecil Tuhan akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang jauh lebih besar, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Pertumbuhan rohani Samuel ini akhirnya menjadi suatu kesaksian yang baik bagi seluruh umat Israel, “Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.” (1 Samuel 3:20). Samuel pun dipercaya Tuhan untuk melakukan berbagai tugas pelayanan: hakim, nabi, penasihat dan orang yang mempersiapkan raja untuk Israel.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rohani menggantikan imam Eli dengan otoritas dari Tuhan, Samuel berhasil mempersatukan bangsa Israel yang tercerai-berai karena terpukul oleh bangsa Filistin (1 Samuel 7:3). Keberhasilan pelayanan Samuel adalah dampak dari kepekaannya dalam mendengar suara Tuhan. Saudara rindu dipercaya Tuhan untuk perkara-perkara besar? Pertajam pendengaran Saudara untuk mendengar suara Tuhan seperti seorang murid yang dengar-dengaran akan suara gurunya, dan seperti domba yang peka akan suara gembalanya. Tuhan Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,” (Yohanes 10:27). Domba-domba Kristus sejati pasti mengenal dengan baik suara gembalanya karena memiliki persekutuan yang karib. Kristus adalah Gembala Agung kita, karena itu harus senantiasa mendengar suara-Nya dan taat kepada-Nya.

Tanpa memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan (seperti Daniel: “Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11)), membaca dan merenungkan firman Tuhan, mustahil kita dapat mendengar suara Tuhan.

“setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,” Yakobus 1:19

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,  imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

 

PENDAHULUAN

Orang yang percaya kepada Kristus telah diberikan identitas yang baru, yaitu sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Identitas istimewa ini diberikan bukan untuk kesombongan ataupun bersifat ekslusif, tetapi untuk dihidupi supaya dapat memancarkan kemuliaan Allah dan membagikan karya kasih-Nya kepada dunia melalui kehidupan serta perbuatan nyata (menghasilkan hidup yang berbuah), bukan hanya dengan kata-kata.

 

ISI

Identitas orang percaya sesuai 1 Petrus 2:9 adalah sebagai berikut:

1. Bangsa yang terpilih.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yohanes 15:16a).

Orang-orang percaya dipilih secara khusus oleh Tuhan bukan berdasarkan kebaikan, kesalehan, kepandaian, jasa, usaha/pencapaian, atau karena kita layak, melainkan karena anugerah kasih karunia Allah semata.

Dalam pandangan dunia, pemberitaan tentang Injil merupakan suatu kebodohan. Orang-orang yang percaya kepada pemberitaan Injil dipandang oleh dunia sebagai orang-orang yang lemah, tidak memiliki kemampuan, tidak berhikmat, bodoh, tidak terpandang, dsb. Mengapa? Karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Allah memilih mereka yang mau meresponi berita Injil Kristus dengan kerendahan hati dan iman percaya.

Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil:  menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak,  tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,  dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti,  dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,  supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:26-29).

2. Imamat yang Rajani.

Imam: bertugas memimpin umat untuk memuji menyembah Tuhan, mempersembahkan korban, mengajarkan firman, serta membawa orang lain kepada Tuhan. Iman harus selalu menjaga kekudusan agar seluruh hidup dan pelayanannya berkenan di hadapan Allah. Orang percaya memiliki tugas/tanggungjawab untuk hidup dalam kekudusan agar dapat melayani kehendak Allah, membawa orang lain menyembah DIA, menjadi pendoa syafaat/perantara/pendamai antara Allah dan orang-orang yang belum mengenal-Nya.

Raja: Orang yang diberikan kuasa dan otoritas untuk memimpin umat Allah. Orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Orang percaya memiliki otoritas rohani sebagai anak-anak Allah untuk berfungsi sebagai garam dan terang (saksi Kristus) di tengah kegelapan dunia.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Imamat yang rajani artinya imam yang mempunyai karakteristik raja. Kita dikuduskan, diberi kuasa otoritas, diangkat menjadi kepala dan bukan menjadi ekor dengan tujuan untuk melayani (bukan dilayani), menjadi pendoa, menjadi berkat; mempengaruhi dan membawa orang lain menjadi warga Kerajaan Allah (bukan dipengaruhi dan menjadi sama dengan dunia).

3. Bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.

Bangsa yang kudus artinya orang yang dipisahkan dari yang lain untuk digunakan secara khusus. Kita dipisahkan dari dunia untuk hidup bagi Allah. Bukan berarti kita semua harus melayani di gereja dan tidak boleh bekerja di dunia sekuler, tapi kita adalah hamba Allah di manapun Tuhan menempatkan kita. Meskipun berada di dunia yang gelap, cemar dan dikuasai hawa nafsu, tapi kita tidak hidup seperti dunia hidup. Kita menjadi umat kepunyaan Allah sendiri karena telah ditebus dengan harga yang sangat mahal yaitu Darah Anak Domba Allah, dan Roh-Nya berdiam di dalam kita (1 Korintus 6:19-20).

 

PENUTUP

Kita dipilih dari segala bangsa untuk menghasilkan hidup yang berbuah. Pemilihan hanya terjadi dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dalam kasih, Allah telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya  (Efesus 1:5). Fungsi anak adalah melakukan kehendak Bapa-nya dengan pertolongan Roh Kudus.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,  supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,  diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)

Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur yang benar dan menghidupi identitas sebagai bangsa pilihan, maka hidup kita pasti berbuah, lalu dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5b)

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

PENDAHULUAN

Injil bukan sekadar kabar baik yang menyelamatkan, tetapi kuasa Allah yang hidup dan aktif, yang terus bekerja mentransformasi setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Yesus tidak hanya memanggil kita untuk menerima keselamatan, tetapi untuk mengalami perubahan hidup yang nyata melalui hubungan yang taat kepada-Nya. Karena itu, Amanat Agung bukan hanya perintah untuk memberitakan Injil, melainkan panggilan untuk memuridkan —membawa orang kepada Kristus dan menuntun mereka hidup dalam ketaatan penuh kepada semua yang Dia ajarkan (Mat. 28:18–20). Melalui proses pemuridan, Injil membebaskan kita dari dosa dan ikatan, memperbarui seluruh aspek kehidupan, dan membentuk kita menjadi murid-murid Kristus yang hidup sebagai terang Allah di tengah dunia yang gelap.

ISI

Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan menyerupai dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—dan kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan semakin serupa dengan dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—kita kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup berporos pada kehendak Allah.

Untuk mengalami transformasi melalui pemuridan bukanlah perkara mudah, instan dan dangkal, namun mungkin untuk dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Diperlukan keteguhan hati untuk mengikuti proses pemuridan yang berlangsung seumur hidup. Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Menyangkal diri artinya menundukkan keinginan sendiri kepada kehendak Kristus.

Pelaksanaan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung. Perintah Agung (Great Commandment, Matius 22:37-40) berfokus pada kualitas hubungan dengan Allah dan sesama, sementara Amanat Agung (Great Commission, Matius 28:19-20) adalah perintah untuk memuridkan, membaptis, dan mengajar semua bangsa. Kasih (Perintah Agung) adalah motivasi, sementara misi (Amanat Agung) adalah demonstrasi kasih untuk membawa orang lain menjadi murid Kristus.  Keduanya tidak terpisahkan dalam kehidupan Kristen.

Tanda bahwa seseorang adalah murid Kristus:

1. Tetap di dalam firman-Nya (baca Yohanes 8:31-32).

 Kata ‘tetap’ (abide/stay) berarti memegang teguh, mendalami, menaati/menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan menerangi hati dan jiwa sehingga akal budi kita diperbarui oleh terang firman Tuhan. Selanjutnya Roh Kudus mendorong dan melatih kita untuk menjadi pelaku firman sekalipun menghadapi tantangan/aniaya, sampai  jiwa kita dimerdekakan dari hal-hal yang menghalangi untuk taat kepada Kristus. Firman Tuhan bukan lagi dipandang sebagai aturan/hukum yang membatasi kebebasan, tapi sebagai terang hidup yang menuntun kita di jalan keselamatan (Mazmur 119:105).

 2. Berbuah banyak (baca Yohanes 15:8). 

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan Bapa adalah Pengusahanya. Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur, maka kita akan menghasilkan banyak buah dengan kualitas yang baik. Kehidupan yang berbuah menandakan bahwa kita adalah murid Kristus.

3. Saling mengasihi (baca Yohanes 13:35; 1 Yohanes 3:14-16).

Saling mengasihi di sini bukanlah himbauan, tapi suatu perintah yang harus ditaati seorang murid Kristus. Kasih yang dimaksud bukanlah perasaan tapi tindakan sesuai dengan kebenaran: rela berkorban, mendahulukan kepentingan orang lain, mengampuni, murah hati, melayani tanpa bersungut-sungut, memahami dan menerima kelemahan orang lain, mengasihi orang-orang yang ‘sulit’, dsb.

4. Mengasihi Tuhan lebih dari orang tua, pasangan, anak, saudara, bahkan nyawanya sendiri (Baca Lukas 14:26).

 Tuhan Yesus tidak mengajar kita untuk ‘membenci’ orang lain, melainkan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri. Akan tetapi Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi DIA lebih dari siapapun, bahkan diri kita sendiri. Jika dihadapkan kepada dua pilihan: melakukan kehendak Tuhan atau orang tua/pasangan/anak/kerabat/orang lain, maka kita mau belajar memilih melakukan kehendak Tuhan, walau itu bertentangan dengan keinginan orang-orang tersebut.

5.  Melepaskan diri dari segala miliknya (baca Lukas 14:33).

Untuk menjadi murid Yesus dibutuhkan suatu sikap penyerahan diri (ketaatan) yang total. Belajar melepaskan diri dari segala miliknya: ego, pikiran yang mengikat, kenyamanan, harta benda, kebiasaan/kepentingan/keinginan diri sendiri, persahabatan dengan dunia, dsb – dan menempatkan Dia sebagai yang utama. Kasih karunia Allah memampukan kita untuk melepaskan diri dari hal-hal tersebut.

 

KESIMPULAN

 

Orang yang menjadi pelaku firman bisa mengajar orang lain melakukan firman Tuhan. Pemuridan yang paling efektif adalah jika orang lain bisa melihat Pribadi Kristus dan firman-Nya mewarnai hidup kita. Dengan begitu, Tuhan turut bekerja dalam segala yang kita perbuat; Ia meneguhkan firman serta kesaksian kita dengan tanda-tanda dan mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

 

Andaikata seluruh anggota Cool dan tubuh Kristus di seluruh dunia benar-benar mengalami transformasi melalui proses pemuridan, maka Amanat Agung bukan lagi dipandang sebagai beban yang berat dan mustahil dicapai, tapi sebagai buah kehidupan yang benar-benar mendampaki dunia. Di tengah krisis dan guncangan, terang kita semakin menyala dan menuntun banyak orang datang kepada Kristus.

EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

Senin. EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

Baca: 1 Samuel 7:2-14

“Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.” 1 Samuel 7:3

Latar belakang kisah ini adalah ketika bangsa Israel meninggalkan tabut Tuhan. Mereka meninggalkan tabut itu di Kiryat-Yearim dalam waktu yang cukup lama yaitu dua puluh tahun. Tabut adalah tanda yang tampak mata tentang kehadiran Tuhan di tengah umat, terbuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas murni. Kayu penaga melambangkan kemanusiaan atau kedagingan, sedangkan emas berbicara tentang Roh Kudus dan kemuliaan. Pengertian lainnya: emas juga melambangkan keilahian Kristus dan kayu melambangkan kemanusiaan-Nya. Tabut ini bentuknya kotak persegi dengan panjang 2,5 hasta, lebarnya 1,5 hasta, dan tingginya 1,5 hasta (baca Keluaran 25:10-11). Isi dari tabut Tuhan adalah buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang bertunas, dan dua loh batu yang berisi 10 hukum Tuhan.

Keberadaan tabut Tuhan itu sangat dihormati dan disakralkan oleh bangsa Israel. Sejak masa perjalanan di padang gurun tabut Tuhan itu selalu dibawa sebagai tanda penyertaan Tuhan atas mereka. Mereka pun meyakini bila tabut itu ada beserta mereka maka pasti ada jaminan kemenangan. Itulah sebabnya Salomo menulis: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1). Artinya bahwa tanpa penyertaan Tuhan dan kehadiran-Nya dalam hidup ini apa pun yang kita kerjakan hasilnya pasti tidak akan maksimal dan bahkan bisa gagal. Namun jika kita melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya ada jaminan keberhasilan untuk segala hal yang kita kerjakan.

Karena bangsa Israel telah meninggalkan tabut Tuhan itu hari-hari mereka pun dipenuhi oleh keluh kesah, bahkan mereka mulai mendua hati dengan beribadah kepada allah asing dan Asytoret. Asytoret adalah dewi cinta, kesuburan, asmara atau perang yang disembah oleh orang-orang Kanaan. Hidup menyimpang dari kehendak Tuhan, bangsa Israel semakin menderita karena ditindas oleh bangsa Filistin. (Bersambung)


Selasa. EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (2)

Baca: 1 Samuel 7:1-14

“Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ‘Sampai di sini TUHAN menolong kita.'” 1 Samuel 7:12

Karena tidak taat, bangsa Israel dipermalukan oleh bangsa lain. Karena itu Samuel menyerukan kepada mereka agar bertobat. Secara harafiah kata bertobat berarti berbalik arah dari kehidupan yang jahat kepada kehidupan yang baik, dari kehidupan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan kepada kehidupan yang seturut kehendak Tuhan, dari kehidupan yang duniawi kepada kehidupan yang rohani. “Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN.” (ayat 4).

Pertobatan adalah kunci mengalami pemulihan hidup sep-erti tertulis: “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, me-rendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14). Setelah umat Israel berbalik kepada Tuhan (bertobat) perjalanan hidup mereka tidak langsung mulus, mereka kembali dihadapkan pada ujian dan pencobaan yaitu bangsa Filistin datang menyerang, sehingga mereka pun mengalami ketakutan. Dalam keadaan tertekan umat Israel berseru-seru kepada Tuhan dan meminta pertolongan; dan Samuel pun mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan, “…maka TUHAN menjawab dia.” (1 Samuel 7:9b), dan memberikan pertolongan tepat pada waktunya. “…pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.” (1 Samuel 7:10). Setiap ujian pasti mendatangkan kebaikan, karena di balik ujian yang ada sesungguhnya Tuhan sedang mengerjakan perkara-perkara besar untuk kita, karena “Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23).

Setelah meraih kemenangan itu Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya, dan ia menamainya sebagai Eben Haezer. Kata Eben Haezer diterjemahkan dari kata Ibrani eben ‘ekhwad yang artinya batu pertolongan.

Seberat apa pun perjalanan hidup ini Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian; Dia Imanuel… Jika Dia beserta kita, pasti ada pertolongan!


Rabu. TETAPLAH TINGGAL DI DALAM KRISTUS

Baca: Yohanes 15:1-8

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Yohanes 15:4a

Melalui perumpamaan tentang pokok anggur yang benar ini kita diingatkan bahwa kunci untuk berbuah adalah ranting harus terus melekat pada pokok anggur, sebab “…ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (ayat 4b). Kristus adalah pokok anggur itu, oleh karenanya orang percaya harus tetap tinggal di dalam Kristus jika ingin mengalami hidup yang berkemenangan setiap hari. Nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, “…hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kolose 2:6b). Tetap tinggal di dalam Kristus berarti terus-menerus hidup di dalam Dia di segala keadaan dan sampai akhir hidup kita.

Alkitab menyatakan bahwa ada berkat-berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang tetap tinggal di dalam Dia: 1. Kita dibebaskan dari hukuman. Ada tertulis: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:1-2). Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus (baca Roma 6:23). Melalui karya penebusan Kristus di kayu salib, kita yang ada di dalam Dia, mengalami pemulihan kemuliaan, sebab setiap orang telah kehilangan kemuliaan Allah. Karena iman kepada Kristus kita telah dibebaskan dari hukuman maut dan dibenarkan-Nya. 2. Kita diperkenankan untuk meminta apa saja. Tuhan Yesus berkata: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7). Apa pun yang kita minta dan doakan, asal sesuai kehendak Tuhan dan di dalam nama-Nya, akan diberikan Bapa kepada kita. “…apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16b).

Jadi doa-doa orang yang tetap tinggal di dalam Kristus memiliki peluang sangat besar mendapatkan jawaban, sebab “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Asal kita tetap tinggal di dalam Tuhan tidak ada yang perlu dikuatirkan, karena berkat-berkat rohani dan jasmani pasti dilimpahkan-Nya bagi kita.


Kamis. TIDAK SIAP MENDERITA

Baca: Filipi 1:27-30

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,” Filipi 1:29
Banyak orang Kristen berpikir bahwa mengikut Tuhan pasti akan terbebas dari masalah atau penderitaan, sehingga yang ada di pikiran mereka hanya soal berkat, berkat dan berkat. Ketika fakta berbicara lain yaitu mereka dihadapkan pada kesulitan, tekanan, masalah, sakit-penyakit, keku-rangan atau krisis, mereka pun tidak bisa menerima ken-yataan. Mereka pun langsung klaim janji firman Tuhan ini: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10). Mereka kecewa dan marah kepada Tuhan, “Mana janji Tuhan?”, dan tidak sedikit yang akhirnya memilih meninggalkan Tuhan dan kembali kepada dunia karena tid-ak siap jika harus mengalami penderitaan.

Rasul Paulus menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita ini dikaruniai bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (ayat nas). Pen-deritaan adalah harga yang harus dibayar oleh pengikut Kristus sejati. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:24-25). Penderitaan yang dimaksud adalah penyangka-lan diri terhadap segala keinginan daging; memikul salib artinya setiap hari kita harus memikul ‘kematian kita’ se-bagaimana yang Paulus katakan, “…aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20).

Tuhan Yesus juga memperingatkan, “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 10:22). Penderitaan ini disebabkan kare-na dunia membenci dan menolak Kristus, maka dunia juga menolak dan membenci kita. Namun kita tidak perlu takut akan penderitaan yang akan kita alami karena Tuhan juga akan memampukan kita untuk melewati semuanya itu dan Dia akan memberikan jalan keluar (baca 1 Korintus 10:13).

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:38


Jumat. ALKITAB: Firman Tuhan Yang Hidup

Baca: Mazmur 33:1-22

“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” Mazmur 33:9

Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Ba-ru adalah buku di atas segala buku, firman Tuhan yang hidup untuk manusia, yang berlaku untuk segala zaman. Jadi isi Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri yang penuh kuasa, “…bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk men-didik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap per-buatan baik.” (2 Timotius 3:16-17).

Mengapa Alkitab disebut firman Tuhan yang hidup? Karena daripadanya kita mendapatkan makanan dan minu-man rohani. Banyak orang berpikir bahwa roti adalah satu-satunya yang dibutuhkan untuk bisa hidup. Memang benar, makanan jasmani diperlukan agar kita dapat bertahan hidup, namun ada hal lain yang diperlukan untuk membuat hidup kita lebih dari sekedar bertahan hidup. Ada tertulis: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap fir-man yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Untuk memiliki kebahagiaan, kemenangan dan kelimpahan yang sejati tidak bisa sekedar bertahan hidup, yang kita butuh-kan adalah firman Tuhan. Karena itu “…jadilah sama seper-ti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,” (1 Petrus 2:2).
Bayi yang baru lahir tidak dapat hidup tanpa susu, be-gitu pula hidup kita tidak akan dapat bertahan tanpa ‘air susu murni’ dari firman Tuhan. Seperti kita butuh makan agar tubuh jasmani dapat bertahan hidup, maka adalah se-buah realitas tak terelakkan bahwa untuk dapat benar-benar hidup kita membutuhkan firman Tuhan. Kunci men-galami kebahagiaan, sukacita, damai sejahtera yang sejati

hanya kita dapatkan di dalam Alkitab. Dengan kata lain hati manusia hanya dapat dipuaskan dengan firman Tuhan saja. Juga kedewasaan rohani setiap orang percaya hanya dapat bertambah-tambah dan menjadi kuat hanya dengan membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan firman Tuhan saja. Sungguh bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang hidup dan berkuasa.

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Matius 24:35


Sabtu. MANUSIA MEMBUTUHKAN JURUSELAMAT
Baca: Roma 3:21-31

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” Roma 3:23

Sejak manusia pertama (Adam) jatuh ke dalam dosa, dosa telah masuk ke dalam hati semua manusia, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12). Akibat dosa, segala sakit-penyakit, kesusahan, penderitaan dan maut telah menimpa hidup manu-sia dari mula pertama hingga sampai pada akhir zaman. Manusia sudah dirusak oleh dosa, dan sejak lahirnya ia telah dicemarkan oleh dosa seperti Daud katakan, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7). Dosa yang dibawa dalam kelahirannya itulah yang disebut dosa pusaka atau dosa asal.

Karena dosa, manusia kehilangan kemuliaan Tuhan, sehingga dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya manusia cenderung berbuat dosa atau melakukan hal yang jahat. Pau-lus menyadari ini: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” (Roma 7:15). Dalam perkembangannya dosa semakin bertambah-tambah dan merajalela dalam kehidupan manusia. Zaman sekarang ini sudah tampak nyata: kriminalitas dan segala sesuatu yang amoral semakin hari semakin meningkat drastis. Dengan kekuatan sendiri manusia tidak mungkin bisa melepaskan diri dari kuasa dosa walaupun ia seorang nabi, guru besar, kanjeng, raja atau ahli filsafat sekalipun. Dalam keadaan seperti itu sesungguhnya manusia memerlukan Juruselamat yang bisa membebaskan mereka dari segala dosanya.

Juruselamat haruslah orang yang suci dan bebas dari dosa, orang yang harus lebih berkuasa dari manusia dan Iblis. Dia-lah Yesus Kristus, Anak Manusia, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21). Namun sampai hari ini tidak semua orang mau percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebaliknya mereka menolak dan membenci Dia secara terang-terangan, bahkan berita Injil pun tak dianggap.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Yohanes 14:6


Minggu. TUHAN PASTI PELIHARA

Baca: Matius 6:9-13

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukup-nya” Matius 6:11

Karena anugerah Tuhan semata, perjalanan hidup yang ‘beraneka warna’ di sepanjang bulan Januari telah mampu kita lewati dan hari baru di bulan Februari siap menjelang. Penyertaan Tuhan di hari-hari lalu kiranya semakin meneguhkan iman kita bahwa janji firman-Nya adalah ya dan amin, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Tuhan tidak hanya menyertai kita, tapi Ia juga memelihara hidup kita, karena Dia adalah Jehovah Jireh yaitu Tuhan yang menyediakan kebutuhan kita dan memelihara kehidupan kita seutuhnya; tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani tetapi juga kebutuhan jasmani, karena Dia tahu bahwa kita memerlukan keduanya. Hanya kita harus ingat firman-Nya yang berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan dit-ambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Contoh: ketika Elia berada di sungai Kerit dalam masa kekeringan dan kelaparan, dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan memelihara hidup nabi-Nya itu. “Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.” (1 Raja-Raja 17:6). Pada ayat nas yang merupakan bagian dari Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus hendak mengajarkan supaya kita tidak kuatir akan kebutuhan kita hari ini, apalagi mencemaskan apa yang akan kita butuhkan pada hari esok. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34). Ingatlah selalu kisah perjalanan hidup bangsa Israel ketika berada di padang gurun, bukankah mereka dipelihara Tuhan setiap hari dengan manna, roti dari surga yang disediakan bagi umat-Nya.

Oleh karena itu “Janganlah hendaknya kamu kuatir ten-tang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Tuhan adalah sumber berkat, sumber segala-galanya bagi kita, maka dari itu marilah kita bergantung penuh kepada Tuhan hari demi hari. Jika Tuhan sudah membuka pintu berkat bagi kita tak seorang pun dapat menutupnya.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22-23

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

Sekilas review:

Amanat Agung merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Untuk itu kita perlu dimuridkan (diproses) oleh Tuhan untuk dapat menjadikan orang lain murid Kristus dan warga Kerajaan Allah. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana kita belajar taat melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Sambungan minggu ini:

Tuhan Yesus memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana hukum kasih adalah penerapan dari semua pekerjaan misi: mengasihi Allah dan sesama. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Konsep pemberitaan Injil Kerajaan Allah merupakan tema sentral dari pengajaran Tuhan Yesus. Injil artinya kabar baik; memberitakan Injil Kerajaan Allah artinya menyampaikan kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi melalui Yesus Kristus, dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Kerajaan Allah itu bukan soal lokasi, melainkan keadaan di mana kekuasaan/otoritas dan kehendak Allah dinyatakan secara penuh dalam kehidupan seseorang. Bukti bahwa Kerajaan Allah datang atas hidup seseorang adalah ketika kehendak Allah terjadi atas dirinya (Matius 6:10).

Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memuridkan orang lain/segala bangsa supaya mereka juga dapat menjadi warga Kerajaan Allah yang tunduk kepada nilai/prinsip Kerajaan surgawi dan kehendak Allah. Allah menghendaki para murid  menghadirkan Kerajaan-Nya di muka bumi di mana Kristus adalah Rajanya. Kerajaan Allah ada di antara manusia dalam bentuk iman percaya kepada Tuhan Yesus.

 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:-20-21).

Kultur Kerajaan Allah sangat berbeda dengan kultur masyarakat dunia. Menurut KBBI, kultur adalah padanan kata budaya atau kebudayaan, yang merujuk pada keseluruhan cara hidup, pikiran, perilaku, nilai, dan hasil cipta manusia yang diwariskan antargenerasi dalam suatu kelompok masyarakat, meliputi kepercayaan, seni, adat istiadat, dan kebiasaan lainnya. Untuk hidup dalam prinsip Kerajaan Allah, akal budi kita harus diperbarui oleh firman Tuhan (Roma 12:2) supaya kita memahami perkara-perkara yang di atas. Segala pemerintahan/kerajaan di dunia ini akan berlalu, tapi orang yang hidup dalam prinsip Kerajaan Allah (melakukan perintah Tuhan), tinggal tetap dan tidak akan tergoncangkan.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).

Mengapa pemberitaan tentang Kerajaan Allah menjadi fokus pengajaran Tuhan Yesus? Karena nilai/prinsip Kerajaan Allah membawa kebaikan berupa berkat-berkat kehidupan bagi umat manusia yang hidup dalam kegelapan. Allah datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan kedaulatan-Nya melawan pekerjaan Iblis. Injil Kerajaan Allah yang dibawa oleh Tuhan Yesus membawa pemulihan total (roh, jiwa, dan tubuh) di seluruh aspek kehidupan manusia:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19).

Ciri-ciri yang menandakan bahwa Kerajaan Allah hadir di dunia:

  • setan diusir (Matius 12:28).
  • Segala penyakit dan kelemahan dilenyapkan (Matius 4:23)
  • perbuatan-perbuatan Iblis (yaitu dosa dan segala ikatannya) dihancurkan (1 Yohanes 3:8).
  • Manusia dikuasai oleh kebenaran, damai, dan sukacita (Roma 14:17).
  • Orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah akan menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

 Inilah yang Allah kehendaki, yaitu Kerajaan-Nya datang di bumi melalui kehadiran Gereja/orang percaya. Amanat Agung tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan manusia, tetapi harus dengan kuasa Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8). Gereja/orang percaya perlu belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dalam kehidupan pribadi maupun secara bersama-sama.

PENUTUP

Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung di akhir jaman ini. … Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Roh Kudus memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir jaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman dan kehilangan fokus, tapi persiapkan diri untuk menyelesaikan Amanat Agung bersama-sama.

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Senin. TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Baca: Mazmur 131:1-3

“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” Mazmur 131:2

Semua orang membutuhkan ketenangan dalam menjalani hidup, namun di hari-hari ini ketenangan seolah-olah se-makin menjauh dari kehidupan manusia. Bagaimana bisa hidup tenang jika setiap hari kita mendengar dan melihat berita-berita yang mengejutkan dan aneh-aneh di surat ka-bar atau televisi. Contoh: berbagai virus penyakit kini ban-yak bermunculan, bahkan virus mematikan pun menjadi teror tak kasat mata bagi semua orang: Zika, Ebola, SARS, MERS, H7N9, HIV dan sebagainya; bencana alam terjadi di mana-mana tanpa dapat diduga datangnya, seperti banjir bandang di Garut (Jawa Barat), badai Matthew yang memporak-porandakan kota Haiti dan juga beberapa wilayah di Ameri-ka. Juga ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran bermunculan di mana-mana dan menyesatkan banyak orang. Semua situasi ini menyebabkan orang kehilangan rasa tenang, yang ada rasa gelisah dan was-was.

Menjadi orang percaya tidak berarti membebaskan kita dari semua situasi yang ada. Kita masih dihadapkan pada kesukaran, masalah dan tekanan dengan segala bentuknya, namun tidak seharusnya kita kehilangan rasa tenang. “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20). Kita tetap tenang di segala situasi apabila kita senantiasa bergaul karib atau tinggal dekat dengan Tuhan, sebab Dialah sumber ketenangan yang sejati. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batu-ku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” (Mazmur 62:2-3). Di dalam Tuhan ada harapan, ada perlindungan dan ada keselamatan yang pasti.

Jika kita berpegang teguh kepada janji firman Tuhan kita akan mampu menguasai diri dalam menghadapi apa pun, bertindak dan berpikir selaras dengan firman-Nya… saat itulah kita akan merasakan ketenangan. “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4:7b). Meningkatkan jam doa itu kuncinya!

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116:7


Selasa. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (1)

Baca: Mazmur 50:1-23
“Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!” Mazmur 50:14

Kapan Saudara mempersembahkan syukur kepada Tuhan? Banyak orang Kristen bersyukur kepada Tuhan hanya pada saat-saat tertentu yaitu ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, menerima berkat, kesembuhan, atau mengalami mujizat dari Tuhan. Sikap mereka langsung berubah begitu menghadapi masalah, kesesakan, sakit-penyakit… jangankan mengucap syukur, berdoa saja sudah malas melakukannya.

Ucapan syukur adalah sebuah kata benda abstrak, yang secara garis besar memiliki makna: grateful (berterima kasih kepada Tuhan), pleasing (menyenangkan Tuhan), atau mindful of benefits (sadar akan kebaikan, hadiah atau pertolongan). Inilah sikap hati yang harus dikembangkan dalam hidup orang percaya. Alkitab memperingatkan: “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). ‘Korban’ adalah sesuatu yang dipersembahkan, ke-hilangan, merugi dan sakit secara daging. “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18).

Sesungguhnya situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali untuk mengucap syukur, tetapi Habakuk tidak dikala-hkan oleh keadaan yang ada, ia tetap bisa mengucap syukur. Inilah yang disebut korban syukur!

Umumnya saat dalam masalah atau kesesakan tidak ada korban syukur yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang ada hanyalah sungut-sungut dan omelan seperti yang biasa dilakukan oleh umat Israel di padang gurun. Karena itulah se-bagian besar umat Israel mengalami kebinasaan di padang gurun sebelum mencapai Kanaan. Ketahuilah bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan dalam hidup kita, bahkan sehelai rambut pun jatuh adalah seijin Tuhan (baca Lukas 12:7).

Bila memahami “…betapa lebarnya dan panjangnya dan ting-ginya dan dalamnya kasih Kristus,” (Efesus 3:18), seharusnya bibir kita tak pernah berhenti bersyukur!


Rabu. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (2)

Baca: Mazmur 71:1-24

“Akupun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel.” Mazmur 71:22

Mengucap syukur adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Orang yang mampu mengucap syukur di segala keadaan me-nandakan ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan menyetu-jui apa pun yang Tuhan rancangkan. “Kita tahu sekarang, bah-wa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk menda-tangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Sebaliknya orang yang selalu bersungut dan mengomel berarti sedang memprotes kedaulatan Tuhan atas setiap ke-
jadian atau peristiwa yang dialaminya, dan tidak mem-percayai-Nya.

Ketika menghadapi cawan penderitaan, Tuhan Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehenda-ki.” (Matius 26:39). Di segala keadaan, biarlah kita belajar untuk menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang teruta-ma dalam hidup ini, karena kehendak-Nya pasti yang terbaik bagi kita. Karena itu ijinkanlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri dan ikutilah alur-Nya, jangan sekali-kali keluar dan memberontak. Percayalah bahwa masalah adalah cara Tuhan untuk mengerjakan perkara besar; tak ada mujizat tanpa masalah, tidak ada kemuliaan tanpa salib.

Sungut-sungut dan omelan tidak akan mengubah keadaan, malah membuatnya semakin buruk dan semakin memperpanjang waktu Tuhan memproses kita sebagaimana umat Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di pa-dang gurun, karena Tuhan hendak mendisiplinkan dan membangun karakter mereka. Tuhan memberikan materi berupa ‘masalah atau penderitaan’ dalam sekolah ke-hidupan ini agar kita belajar untuk bergantung kepada-Nya, sebab tanpa masalah seringkali kita melupakan Tuhan dan lebih bersandar kepada kekuatan sendiri. Justru ketika da-lam masalah atau pergumulan yang berat manusia terdorong untuk mendekat kepada Tuhan… saat itulah penyembahan dan doa yang begitu mendalam dan kuat dil-akukan.

Mudah bagi Tuhan memberkati kita, tetapi lebih penting bagi Tuhan memurnikan kualitas hidup kita, termasuk dalam hal mengucap syukur!


Kamis. ADA BERKAT DI BALIK UCAPAN SYUKUR

Baca: Mazmur 111:1-10

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111:1

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup ini seharusnya bibir kita takkan pernah berhenti berkata: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5), dan “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Tiada kata selain bibir yang senantiasa memuliakan nama Tuhan (ucapan syukur). Tapi banyak orang Kristen yang lupa mengucap syukur, kecuali dalam keadaan baik (terberkati); padahal di balik ucapan syukur terkandung berkat yang luar biasa pula.

Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk wanita dan anak-anaknya, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, semuanya kenyang, dan bahkan masih ter-sisa 12 bakul. Berawal dari ucapan syukur, mujizat pun ter-jadi! “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yohanes 6:11). Secara naluriah kita terdorong untuk mengucap syukur bila memiliki sesua-tu yang berlebih, menerima dalam jumlah besar atau se-dang surplus. Ditinjau dari sudut mana pun 5 roti dan 2 ikan tidak akan pernah cukup untuk memberi makan 5000 orang! Sangat tidak masuk akal! Kita pasti akan berkata seperti Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yohanes 6:7). Bukankah kita cenderung merasa kuatir, lalu bersungut-sungut, men-gomel ketika memiliki atau menerima sedikit?

Dari sepuluh orang yang menderita kusta hanya satu orang Samaria saja yang tidak lupa mengucap syukur kepa-da Tuhan atas kesembuhan yang dialaminya, sedangkan sembilan orang lainnya pergi begitu saja setelah sembuh. Karena ucapan syukur inilah ia tidak saja disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga beroleh berkat rohani yaitu anuge-rah keselamatan oleh karena imannya (baca Lukas 17:19).

Di segala keadaan jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena ucapan syukur adalah pintu gerbang menuju berkat!


Jumat. JANGAN PERNAH KEMBALI KE MESIRBaca: Keluaran 14:1-14

“…sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.” Keluaran 14:13

Ketika umat Israel dilepaskan dari belenggu perbudakan Mesir dan dituntun Tuhan berjalan menuju ke Tanah Perjan-jian, Firaun yang adalah gambaran tentang Iblis, tidak pernah rela melepaskan mereka. Karena itu Firaun menggunakan segala cara untuk menahan agar mereka tetap berada di Mesir; dan ketika mendengar bahwa umat Israel telah pergi meninggalkan Mesir ia pun mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar mereka. Adapun kata Mesir adalah lambang ‘dinia’, suatu kehidupan yang duniawi, dibelenggu oleh dosa, atau hamba dosa. Pada saat itu umat Israel benar-benar berada pada posisi sulit. “Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka.” (ayat 9-10). Keadaan itu men-imbulkan ketakutan yang luar biasa!

Setelah kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tu-han dan Juruselamat, lalu bertobat, yaitu keluar dari ‘Mesir’, Iblis dan bala tentaranya bergerak cepat dan mengacaukan seluruh aspek kehidupan kita dengan berbagai-bagai masa-lah. Di saat-saat itu kita pun mulai mengeluh, “Ikut Tuhan Yesus keadaan kok tidak bertambah baik, masalah dan co-baan datang bertubi-tubi.” Umat Israel mulai menyalahkan pemimpin rohani (Musa) dan berani menyalahkan Tuhan, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (ayat 11).

Pada masa-masa kesesakan seperti ini banyak orang Kris-ten mengalami degradasi iman, mata rohani kabur sehingga keselamatan yang ada di depan mata tak dilihatnya. Yang tampak hanyalah masalah atau pergumulan hidup yang berat, dan mulai membanding-bandingkan dengan kehidupan di Me-sir dan ingin kembali ke sana. Milikilah mata iman seperti Mu-sa yang tetap percaya walau belum melihat.

“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu;” Keluaran 14:13


Sabtu. SEMAKIN MENDEKAT KEPADA TUHAN

Baca: Roma 13:8-14

“Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” Roma 13:11b

Hari berganti hari, musim berganti musim, semakin dekat pula kesudahan zaman: anomali iklim telah terjadi, perubahan-perubahan dalam elemen kehidupan manusia sedang bergeser; ada yang perlahan namun ada pula yang radikal, perang antar ras etnis dan bangsa terjadi, bencana alam (gunung meletus, banjir, badai taufan) terjadi di mana-mana, kasih manusia se-makin dingin, immoralitas muncul dan begitu pula guru-guru palsu dan penyesat, menunjukkan bahwa tanda kedatangan Tuhan sudah semakin tampak di depan mata kita. “…sekarang keselamatan sudah lebih dekat…” (ayat nas).

Apa yang sedang terjadi sekarang ini seharusnya menya-darkan kita dan menjadikan kita ekstra waspada dan selalu berjaga-jaga karena waktunya sudah teramat sangat singkat. Jangan lagi kita menjalani hdiup ini dengan sembrono ditandai dengan pesta pora, hawa nafsu, keserakahan dan kepentingan pribadi, melainkan “…kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih me-nutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:7-8). Sekalipun ke-hidupan di dunia sedang terjadi perubahan-perubahan secara besar-besaran, goncangan-goncangan, namun kasih setia Tu-han tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan kuasa-Nya tid-ak pernah berubah sampai kapan pun.

Jika Tuhan ijinkan kita harus mengalami berbagai macam per-soalan dan pergumulan hidup yang teramat berat tentunya Tuhan punya maksud yang baik, yaitu ingin membawa kita se-makin mendekat kepada-Nya dengan kerendahan hati. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepa-damu.” (Yakobus 4:8a).

Mendekat kepada Tuhan dengan kerendahan hati berarti tetap beribadah kepada Tuhan dengan kesungguhan, menun-jukkan kerajinan yang penuh dalam mengerjakan segala hal yang dipercayakan kepada kita sesuai dengan kasih karunia-Nya, dan juga dalam kesungguhan hati untuk mengasihi sesa-ma kita.

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,” Ibrani 6:11


Minggu. JADILAH ORANG RENDAH HATI

Baca: Lukas 14:7-11

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 14:11

Secara naluriah manusia ingin dipuji, diperhatikan, dipriori-taskan, dihargai dan tidak mau direndahkan atau disepele-kan. Karena itu manusia cenderung meninggikan diri dan sulit merendahkan hati. Di zaman ‘keras’ seperti ini sulit menemukan orang yang rendah hati, karena kebanyakan orang berpikir bahwa kerendahan hati itu identik dengan kelemahan, di mana pamor atau gengsi akan turun.

Kerendahan hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. Inilah sifat yang harus kita miliki sebagai pengikut Kristus, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup, “…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus diper-tahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” (Filipi 2:6-9).

Tanda orang punya kerendahan hati:

1. Berani mengakui kesalahan. Karena gengsi, sedikit orang berani mengakui kesalahan sendiri di depan sesamanya, bahkan di hadapan Tuhan; mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” (Amsal 28:13).

2. Mau belajar dan diajar. Proses ‘belajar dan di-ajar’ itu tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah atau kampus, tetapi juga melalui ‘sekolah’ kehidupan ketika kita berinteraksi dengan sesama di mana pun berada. Pros-es ini tidak mengenal batasan usia dan waktu… “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

“Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” Amsal 18:12

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

PENDAHULUAN

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Ini bukanlah sesuatu yang mudah serta dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Diperlukan ketetapan hati, ketekunan, unity, ketaatan serta kebergantungan penuh kepada kuasa Roh Kudus untuk dapat mengemban dan menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral,  sosial,  iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kuasa kasih dan kemuliaan Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

ISI

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah dan guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa kehebatan, harta kekayaan, kekuasaan, dan kepintaran tidak dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ternyata  manusia adalah mahluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk  merendahkan diri, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi garam dan terang, siap  menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus.  Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para missionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang self-centered, hidup dalam zona nyaman serta tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di jaman ini. Kekristenan bukan soal Tuhan yang kita ‘manfaatkan’ untuk memenuhi permintaan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan, artinya Ia menjadi ‘tuan’ dan pusat seluruh aspek hidup kita. Tanda bahwa seseorang benar-benar mengasihi Tuhan adalah punya kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (Yohanes 14:15).

Tuhan Yesus memerintahkan Amanat Agung kepada para murid (Matius 28:16), bukan kepada mereka yang sekedar jadi jemaat atau pengunjung gereja. Dengan kata lain, setiap jemaat yang tertanam di BIC harus mengalami transformasi oleh kuasa firman dan Roh Kudus supaya menjadi murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan berjalan dipimpin oleh Roh Kudus.

Ada perbedaan yang mencolok antara rumah yang dibangun di atas batu dengan rumah yang dibangun di atas pasir. Rumah yang dibangun di atas batu adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar ketaatan akan firman Tuhan (mendengar perintah Tuhan dan melakukannya, Matius 7:24). Rumah yang dibangun di atas pasir adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar pengetahuan firman saja (mendengar perintah Tuhan dan tidak melakukannya, Matius 7:26). Berdasarkan ayat ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata orang yang memiliki pengetahuan firman (diajarkan melalui Ibadah Raya, Cool dan kelas pengajaran) BELUM TENTU menjadi pelaku firman. Bukan berarti kita tidak perlu belajar firman, tapi itu belum cukup. Jangan jadikan firman hanya sebatas informasi rohani, tapi ijinkan firman Tuhan mengubah seluruh hidup kita dari dalam keluar sesuai Alkitab.

Murid Kristus bukan berarti orang yang sudah sempurna, tetapi yang hidup tidak seperti dunia melainkan hidup dalam kekudusan, mau belajar menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab untuk mengemban Amanat Agung.

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

Sifat seorang murid Kristus yang dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:

  1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.
  2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.
  3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olah raga  (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan  dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak  (1 Korintus 9:25-27).
  4. Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Bersambung minggu depan..

HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

Senin. HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

Baca: Mazmur 99:1-9

“Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!” Mazmur 99:9

Bapa yang kita sembah, yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus, adalah kudus adanya. Dialah Yehovah M’kaddeshem (Tuhan yang menyucikan). Sebagai orang percaya yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, kita, “…yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” (1 Petrus 2:10), adalah bagian dari keberadaan-Nya yang Ilahi, yaitu kehidupan kudus yang memisahkan kita dari dunia. “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Banyak orang mengaku diri sebagai pengikut Kristus tetapi tingkah mereka tidak beda dari dunia. Jelas ini bertentangan dengan kehendak Tuhan!

Di dalam Perjanjian Lama Tuhan telah menyatakan kekudusan-Nya kepada bangsa Israel dengan memberikan mereka segala hukum-hukum-Nya: “Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” (Imamat 11:45). Mengapa kita harus hidup kudus? “…sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Yesus Kristus telah datang untuk menggenapi rencana Bapa, yaitu menyucikan orang yang percaya kepada-Nya dan akan memberikan hati yang baru (Yehezkiel 36:26). Lebih dari itu Ia membebaskan kita dari segala ikatan dosa dan dari setiap tipu daya Iblis; dan karena kita sudah dibarui dan disucikan dalam nama-Nya dengan baptisan air, maka tubuh kita menjadi Bait Roh Kudus, di mana Ia berdiam dengan Roh-Nya.

Kini kita tidak lagi menjadi hamba dosa seperti dahulu, melainkan menjadi hamba kebenaran (baca Roma 6:18), sehingga tubuh kita adalah korban yang hidup bagi Tuhan. Karena itu kita harus memancarkan kekudusan Kristus kepada dunia ini melalui perkataan, sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Inilah yang disebut life style evangelism (evangelisasi dengan contoh gaya hidup).

“…kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” Imamat 20:7


Selasa. BERTAHAN DI TENGAH GONCANGAN DUNIA

Baca: Mazmur 46:1-12

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” Mazmur 46:1

Semua orang mengakui bahwa keadaan dunia bertambah hari tidak bertambah baik, goncangan demi goncangan terjadi di mana-mana, “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang,…” (ayat 7). Perilaku manusia pun semakin tak terkendali karena mereka tidak lagi memiliki hati yang takut akan Tuhan. Haruskah orang percaya terbawa arus dunia ini? “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ibrani 2:1). Jika kita berusaha untuk menjadi ‘serupa’ dengan dunia maka hidup kita tidak lagi memiliki pengaruh, alias gagal menjadi garam dan terang dunia. Justru di tengah goncangan dan degradasi moral seperti inilah dibutuhkan orang-orang yang berani membuat perbedaan.

Tugas itu ada di pundak kita sebagai orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (baca 1 Petrus 2:9). “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10). Memang untuk menjadi pribadi yang berbeda tidaklah mudah, ada banyak tekanan dan tantangan yang selalu mencoba untuk menghadang langkah kita. Bagaimana supaya kita dapat bertahan dan tetap aman?

Senantiasalah berpaut kepada Tuhan. “Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya,” (Ulangan 11:22), maka “Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu:” (Ulangan 11:25).

Berpaut kepada Tuhan berarti memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan terus melekat kepada-Nya. Inilah janji Tuhan terhadap orang-orang yang berpaut kepada-Nya, “…Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” (Mazmur 91:14-15).

“TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Mazmur 46:12


Rabu. BEKERJA GIAT DI LADANG TUHAN

Baca: Lukas 10:1-12

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Lukas 10:2

Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk bekerja di ladang-Nya, dan dunia ini adalah ladang yang Ia percayakan untuk digarap. Tidaklah cukup orang percaya hanya tampak rajin beribadah ke gereja saja; kita harus lebih dari itu, yaitu punya hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan terlibat di dalamnya. Kita harus memiliki roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan, bukan hanya puas menjadi jemaat yang pasif tanpa melakukan apa-apa. “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11).

Selagi ada waktu dan kesempatan kita harus melayani Tuhan dengan sekuat tenaga, bekerja bagi Dia tanpa kenal lelah. Mengapa? Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan sebuah teladan bagaimana Ia bekerja dan melayani. Seluruh keberadaan hidup-Nya dipersembahkan untuk mengerjakan tugas Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib. Tuhan Yesus memperingatkan, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yohanes 6:27). Mengingat sedikit waktu lagi kedatangan Tuhan yang kedua kali akan tiba, maka sisa waktu yang ada hendaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk bekerja bagi Tuhan. Renungkan: untuk membuat sepotong kue diperlukan banyak pekerja; kalau kue yang kelihatannya sepele, yang sekali makan langsung habis memerlukan begitu banyak orang yang terlibat untuk membuatnya, apalagi pekerjaan memberitakan Injil ke seluruh pelosok, suku, bangsa, kaum dan bahasa di seluruh dunia, bukankah diperlukan lebih banyak pekerja?

Tuaian di luar sana begitu banyak, tetapi sayang pekerja sangat sedikit alias tidak sebanding. Kita tidak mungkin hanya mengandalkan para pendeta atau fulltimer yang bekerja, karena sebesar apa pun energi yang mereka keluarkan tidak akan mencukupi.

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yohanes 9:4


Kamis. KEKUATAN DAHSYAT DI BALIK DOA

Baca: Yakobus 5:13-18

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” Yakobu 5:13

Sering timbul di benak kita pertanyaan: sanggupkah kita menghadapi hari depan? Jawabannya: tidak sanggup jika mengandalkan kekuatan sendiri, karena sehebat, sekuat, sepintar atau sekaya apa pun seseorang, kekuatannya san-gatlah terbatas. Tidak bisa tidak, kita membutuhkan kekuatan yang berasal dari luar diri kita agar kuat berdiri di tengah terpaan badai kehidupan yang kian mengganas ini. Kekuatan yang kita butuhkan adalah kekuatan adikodrati atau kekuatan yang melebihi atau di luar kodrat alam, supranatural, yang hanya kita peroleh melalui doa atau persekutuan karib dengan Tuhan.

Tidak sedikit orang percaya menganggap remeh dan sepele kekuatan doa. Alkitab menyatakan: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:16b, 17, 18). Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang tak terbatas atas diri manusia yang terbatas. Kekuatan doa sanggup menembus kemustahilan! Ketika Elia berdoa supaya tidak turun hujan, hujan pun tidak turun di bumi selama 3,5 tahun, dan ketika ia berdoa meminta hujan kepada Tuhan langit pun menurunkan hujan. Doa adalah senjata ampuh mengalahkan musuh dalam bentuk apa pun: masalah atau pencobaan; doa mampu menggetarkan hati Tuhan sehingga Ia bertindak memberikan pertolongan dan menyembuhkan segala macam sakit-penyakit.
Supaya doa kita berkuasa dan mendatangkan kekuatan, kuncinya adalah kita harus dalam posisi benar di hadapan Tuhan, dosa harus dibereskan, karena dosa adalah penghalang utama doa sampai ke hadirat Tuhan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2).

“TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” Amsal 15:29


 

Jumat. DOA DI KALA MALAM (1)

Baca: Mazmur 42:1-12

“TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.” Mazmur 42:9

Banyak orang percaya seringkali mengalami kesulitan jika harus bangun pagi-pagi sekali untuk berdoa karena berbagai alasan misal terburu-buru harus berangkat ke kantor atau sekolah karena jalanan macet. Sarapan saja tiada sempat apalagi menyediakan waktu khusus untuk berdoa. Terlebih bagi mereka yang tinggal di kota besar, di mana roda kehidupan serasa berputar sedemikian cepatnya. Mereka seolah-olah dikejar-kejar waktu, disibukkan dengan tugas dan pekerjaan sampai-sampai waktu, jam, hari, minggu dan bulan sudah tersetting dengan segudang jadwal atau agenda kerja. Dari pagi hingga larut malam rasa-rasanya tiada lagi waktu yang tersisa, 24 jam dalam sehari serasa tidak cukup.

Apakah hanya karena terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas lalu menjadi alasan untuk kita tidak berdoa? Sibuk boleh, tetapi jangan sampai perkara-perkara yang sifatnya duniawi semakin menjauhkan kita dari hadirat Tuhan. Itulah yang Iblis ingini dari kita: supaya kita memanjakan daging dengan menuruti segala keinginannya, di mana perlahan tapi pasti kita pun masuk dalam jeratnya sehingga hal itu memudahkan dia untuk menerkam kita, sebab “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Justru dalam kesibukan yang semakin padat seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan atau mempunyai waktu lebih banyak untuk bersekutu dengan-Nya, supaya semua tugas dan pekerjaan dapat kita kerjakan dengan tuntunan hikmat Tuhan. Semakin sibuk atau semakin banyak pekerjaan justru kita makin membutuhkan penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup kita.

Kalau di pagi hari sampai sore ada banyak sekali kendala atau hambatan sehingga kita tidak bisa berdoa, kita bisa
mencari alternatif waktu yang lain yaitu berdoa di malam hari. Kalau Roh Kudus memimpin hidup kita dan kita mau dipimpin oleh Roh Kudus, sesibuk apa pun kita pasti menyediakan waktu untuk berdoa, di tengah malam sekalipun. Justru di saat-saat yang hening dan sunyi hati dan pikiran kita bisa lebih terfokus kepada Tuhan tanpa adanya gangguan.

Tuhan Yesus bertanya, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” Matius 26:40b


 

Sabtu. DOA DI KALA MALAM (2)

Baca: Mazmur 119:57-64

“Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.” Mazmur 119:62

Setelah bekerja atau beraktivitas seharian memang tubuh terasa capai dan penat; meski demikian kita harus tetap paksakan tubuh ini untuk berdoa. Jika hari ini kita beroleh kekuatan dan kesehatan sehingga semua tugas dan pekerjaan dapat kita selesaikan dengan baik, kita berangkat ke tempat kerja dan pulang bertemu keluarga kembali dalam keadaan selamat, tidakkah kita ingat semuanya itu karena siapa? Tuhan Yesus mengingatkan, “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5b). Selagi tidak ada kebisingan dan gangguan dari siapa pun, malam hari adalah saat yang tepat berlutut di hadapan Tuhan dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Pada waktu tidak terdengar suara dari yang lain kita dapat mempertajam pendengaran kita untuk mendengar suara Tuhan berbicara kepada kita. Selain itu kita mengucap syukur kepada Tuhan atas campur tangan-Nya di sepanjang hari yang telah kita jalani. Berkat, kesehatan, kekuatan, penyertaan, perlindungan yang kita nikmati di sepanjang hari adalah datangnya dari Tuhan, karena itu “…janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2).

Sebelum menentukan pilihan yang tepat untuk memilih dua belas orang yang dipanggil untuk menjadi murid-murid-Nya, yang juga disebut-Nya rasul, Tuhan Yesus pergi ke bukit untuk berdoa, bahkan “…semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Lukas 6:12). Artinya dalam segala hal Tuhan Yesus selalu melibatkan Bapa, menyerahkan semua pergumulan yang dihadapi-Nya kepada Bapa, karena kehendak Bapa adalah yang terutama dalam kehidupan Tuhan Yesus. Sepadat apa pun jadwal pelayanan-Nya di bumi Tuhan Yesus tidak pernah mengesampingkan doa, bahkan di tengah malam sekalipun Tuhan Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.

Segala pergumulan yang berat dapat terselesaikan dan berakhir dengan kemenangan yang gamblang apabila kita mau membayar harga, yaitu keluar dari zona nyaman daging kita untuk berdoa. Ingat kisah ini: saat berada di dalam penjara di Filipi, “…kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah…” (Kisah 16:25), perkara yang dahsyat pun terjadi!
Jangan pernah melewatkan hari tanpa membangun persekutuan dengan Tuhan!


 

Minggu. SEMUA YANG DI BAWAH MATAHARI ADALAH SIA-SIA

Baca: Pengkhotbah 1:1-11

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Pengkhotbah 1:2

Uang, kekayaan, jabatan, pangkat dan juga popularitas adalah perkara-perkara yang selalu dikejar oleh semua orang yang ada di muka bumi ini. Ketika seseorang memiliki semuanya itu ia berpikir hidupnya sudah lengkap dan tak ada yang patut dikuatirkan lagi, karena dunia selalu mengukur dan menilai keberhasilan hidup seseorang dari apa yang dimiliki atau yang tampak oleh mata jasmaniah, padahal semuanya itu hanya bersifat sementara dan sampai kapan pun takkan pernah memberikan kepuasan, sebab “…mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.” (ayat 8).

Bukan kebetulan jika kitab ini ditulis oleh Salomo, “…anak Daud, raja di Yerusalem.” (ayat 1). Alkitab menyatakan bahwa “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23). Salomo adalah raja yang memiliki segalanya: kekayaan, jabatan dan juga popularitas. Meski demikian hal itu tidak serta merta membuatnya bangga, justru ia berkata, “…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” (ayat nas). Pada hakekatnya segala sesuatu yang dimiliki dan dibangun oleh manusia akan berakhir dengan kesia-siaan. “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 1:14). Dalam hal hikmat, “…hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raja-Raja 4:30). Dengan harta dan kekayaan yang melimpah, secara teori Salomo dapat mengalami kebahagiaan hidup, karena apa yang diinginkan dan kehendaki bisa terpenuhi. Namun ternyata Salomo tidak menemukan kebahagiaan dan kepuasan yang sejati. “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkhotbah 5:9-10).

Banyak orang ingin mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dengan cara mengkonsumsi narkoba, pergi ke dunia malam dan sebagainya, namun ruang hati mereka tetap kosong dan gersang, bahkan hidup mereka semakin hancur.

Hidup tanpa takut akan Tuhan adalah sia-sia belaka; “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:26

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral, sosial, iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kasih dan kuasa Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah/guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa betapapun hebat, kaya, pintar, ternyata manusia adalah makhluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk merendahkan hati, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi GARAM dan TERANG, siap menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus. Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk secara unity dan terpadu menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para misionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang egois/tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di zaman ini. Bukan Tuhan yang kita tuntut harus memenuhi keinginan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Melakukan kehendak Tuhan adalah kerinduan utama orang yang mengasihi Tuhan. Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Murid Kristus bukan berarti sudah sempurna, tetapi yang mau hidup dalam pertobatan (tidak hidup dalam dosa), hidup dalam kekudusan, mau menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab/melakukan bagiannya.

Sifat seorang murid Kristus yang siap serta dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:
1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.

2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.

3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:25-27).

Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana kasih adalah motivasi dan tujuan dari semua pekerjaan misi. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tapi kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman.

Kasih sejati ini memampukan kita berkorban agar orang lain menerima keselamatan, menjadi murid Kristus dan warga Kerajaan Allah.
Dalam praktiknya, sering terjadi salah kaprah dengan menganggap bahwa Amanat Agung hanya sebatas pemberitaan Injil Kristus/Injil Keselamatan saja; padahal Tuhan Yesus juga memerintahkan kita untuk membaptis orang yang percaya kepada-Nya dan memuridkan mereka; memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua makhluk.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Injil Kristus adalah kabar baik keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus; Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi meliputi hukum, tatanan, keadilan, pemulihan, dan kehidupan yang sesuai kehendak-Nya. Aplikasi Amanat Agung harusnya bukan cuma menyentuh aspek rohani saja, tapi juga jasmani (Misi yang Holistik). Misi yang holistik adalah misi yang dilaksanakan oleh para rasul dan selanjutnya oleh Gereja sebagai amanat dari Tuhan Yesus: misi yang menerapkan nilai/prinsip kebenaran dan membangun Kerajaan Allah di tengah masyarakat dunia.

Tuhan Yesus memberi teladan dalam memberitakan kabar baik dan membawa perubahan yang signifikan di seluruh aspek kehidupan komunitas/masyarakat yang dilayani-Nya.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Seperti Tuhan Yesus melakukan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus, demikian pula halnya dengan Gereja. Kita tidak akan mampu melakukan Amanat Agung jika tidak terhubung dengan sumber kuasa, yaitu Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Jangan bergerak mendahului Roh Kudus, melainkan belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dengan efektif. Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung. .…. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kita diberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir zaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman, tapi persiapkan diri untuk dengan unity menyelesaikan Amanat Agung.

Selamat Tahun Baru 2026!

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Secara biologi, buah adalah sesuatu yang dihasilkan oleh sebuah pohon sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Semua buah secara alamiah mengandung benih dari pohonnya dan beberapa jenis buah juga memiliki bagian yang dapat dimakan oleh manusia.

Dalam kondisi normal, buah dari sebuah pohon muncul secara alamiah pada waktunya. Buah sebuah pohon sebenarnya ditujukan sebagai cara untuk pohon tersebut menyebarkan benihnya. Buah akan dimakan oleh binatang atau manusia, kemudian benih yang jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon yang lain. Jadi, buah sebuah pohon adalah cara untuk pohon tersebut bermultiplikasi.

Di dalam Alkitab, hidup orang percaya beberapa kali digambarkan seperti sebuah pohon (Mazmur 1:1-3), artinya sesuatu yang ditanam kemudian bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah. Dalam hal ini, buah adalah sesuatu yang keluar dari hidup orang percaya setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus, yang kemudian dinikmati oleh orang lain sehingga orang tersebut pada akhirnya juga bisa mengalami kehidupan yang sama.

I. Apa itu Buah Roh?
Seseorang ketika lahir baru dan mempunyai iman percaya kepada Yesus sebagai sang juru selamat, maka orang itu akan mengalami transformasi dalam hidupnya. Perubahan dari arah suka akan dosa, tahap demi tahap, berubah menjadi cinta akan kebenaran. Transformasi tersebut dikerjakan oleh Roh Kudus yang ada di dalam setiap orang percaya. Roh Kudus merupakan pribadi Allah. Dalam Bahasa Yunani, Roh Kudus juga dikenal sebagai ‘Parakletos’ yang artinya “seorang yang dipanggil atau diutus untuk menolong orang lain,

“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14:26

Roh Kudus adalah pribadi Allah yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak.

Jika kita ijinkan Roh Kudus bekerja dengan leluasa, maka Dia akan bekerja keluar dengan memberikan karunia-karunia Roh untuk melayani, dan ke dalam dengan memanifestasikan sifat-sifat dari Allah melalui perilaku kehidupan orang percaya. Manifestasi Roh tersebut kita sebut dengan Buah Roh (Galatia 5:22-23). Buah Roh bukan sifat alamiah tetapi karakter orang percaya yang diperbaharui karena melekat pada Kristus (Yohanes 15:5) dan ini merupakan tanda kedewasaan rohani. Jadi buah roh itu adalah bukti dari hasil kerja Roh Kudus yang dapat kita lihat dari kehidupan seorang percaya.

Pada saat yang sama buah Roh juga merupakan standar karakter yang bisa dipakai oleh orang Kristen dalam mengukur perjalanan kedewasaan rohaninya. Dalam Roma 12:2 Paulus menasihatkan orang kristen untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, kita harus berubah. Pertanyaannya berubah ke arah mana? Rasul Paulus memberikan petunjuknya dalam Roma 8:29,

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.“

Kata Yunani untuk “gambar” dalam ayat tersebut adalah “eikon”, kata yang sama yang digunakan dalam terjemahan Yunani Septuaginta untuk ayat Kejadian 1:26 yaitu bahwa kita dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Pada awalnya manusia diciptakan segambar dengan Allah dan karena kejatuhan manusia dalam dosa maka sekarang manusia harus mengembalikan gambarnya kepada Allah yang dicerminkan dalam pribadi Yesus.

Menurut David Guzik, manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah memiliki pengertian bahwa mereka memiliki kepribadian, moralitas dan kemampuan rohani untuk bersekutu dengan Allah. Manifestasi dari buah roh mencerminkan karakteristik dari orang yang serupa dengan Kristus. Bahkan bukan suatu kebetulan jika kata “karakter” yang kita gunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang, berasal dari bahasa Yunani “charakter” yang juga diterjemahkan menjadi kata “gambar” dalam Ibrani 1:3a,

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”
Munculnya karakter ini tidak terjadi secara instan tetapi melalui sebuah proses. Sama seperti buah pada sebuah pohon, tidak akan langsung muncul dalam kondisi matang, tetapi bagi seseorang yang sudah menerima Roh Kudus yang tinggal di dalam hidupnya sejak ia lahir baru (Efesus 1:13-14), yang semakin lama semakin serupa dengan Kristus.

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. “ Korintus 3:18

II. Apakah seseorang bisa menunjukan nilai-nilai kebaikan tanpa pendiaman Roh Kudus?
Untuk bisa berbuat baik atau menunjukan nilai-nilai seperti yang nampak dari manifestasi Buah Roh, seseorang tidak harus mengenal Roh Kudus. Orang dunia banyak berbuat kebaikan bahkan terlihat seperti lebih baik daripada orang percaya. Semua orang, dimanapun dia dibesarkan, dalam budaya apapun atau keluarga apapun, bisa menerima dan menyetujui prinsip-prinsip Buah Roh. Tidak heran jika dikatakan bahwa “…Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Galatia 5:23). Namun demikian ada perbedaan yang mendasari prinsip-prinsip dari buah roh tersebut antara orang percaya dan orang dunia.

Bagi orang percaya, dimana hidupnya didiami (indwelled) dan dituntun oleh Roh Kudus, prinsip- prinsip buah roh dilakukannya untuk memuliakan Tuhan. Semua ditujukan untuk menyenangkan Dia. Firman Tuhan menjadi standar untuk prinsip tersebut. Tetapi buat orang dunia, yang hidupnya dikuasai oleh kedagingan, prinsip perbuatan baiknya didasari oleh pemahaman orang itu sendiri. Motivasi orang yang melakukan kebaikan umumnya didasarkan pada keuntungan pribadi.

1. Kasih (Agape)
Kasih Ilahi yang memberi tanpa pamrih. Selalu mengupayakan yang terbaik kepada orang lain (Rom 5:5; 1 Kor 13; Ef 5:2; Kol 3:14)
Kasih yang memperhatikan dan mencari yang terbaik sepanjang bisa memberikan keuntungan pribadi.

2. Sukacita (Chara)
Perasaan senang yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah yang dimiliki orang percaya pada Kristus (Mzm 119:16; 2 Kor 6:10; 2 Kor 12:9; 1 Pet 1:8)
Perasaan senang berlandaskan hasil prestasi, pencapaian, terpenuhinya suatu keinginan/harapan, dan sesuatu kesenangan yang orang lain lakukan kepadanya.

3. Damai sejahtera (Eirene)
Ketenangan hati dan pikiran yang berlandaskan pengetahuan bahwa semua beres diantara orang percaya dengan Bapanya di sorga (Rom 15:33; Fil 4:7; 1 Tes 5:23; Ibr 13:20)
Ketenangan hati dan pikiran berlandaskan tercapainya suatu kekuasaan, jaminan hidup, atau kekayaan.

4. Kesabaran (makrothumia)
Ketabahan, panjang sabar, tidak mudah marah, atau tidak putus asa (Ef 4:2; 2 Tim 3:10; Ibr 12:1)
Tabah, tenang tetapi ada batasnya.

5. Kemurahan (chrestotes)
Tidak mau menyakiti orang lain atau menyebabkan penderitaan (Ef 4:32; Kol 3:12; 1 Pet 2:3)
Bermurah hati dan tidak menyakiti orang lain karena ada hukum yang mencegahnya atau demi nama baik dan keuntungan pribadi.

6. Kebaikan (agathosune)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan serta membenci kejahatan; dapat terungkap dalam perbuatan baik (Luk 7:37- 50) atau dalam menegur dan memperbaiki kejahatan (Mar 21: 12-13)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan yang sifatnya sangat relatif/subyektif

7. Kesetiaan (pistis)
Kesetiaan yang teguh dan kokoh terhadap orang yang telah dipersatukan dengan kita oleh janji, komitmen, sifat layak dipercayai dan kejujuran (Mat 23:23; Rom 3:3; 1 Tim 6:12; 2 Tim 2:2; Tit 2:10)
Setia sepanjang bisa menguntungkan.

8. Kelemahlembutan (prautes)
Pengekangan yang berpadu dengan kekuatan dan keberanian. Ini menggambarkan seorang yang bisa marah pada saat diperlukan dan bisa tunduk dengan rendah hati apabila itu diperlukan (2 Tim 2:25; 1 Ptr 3:15; Mat 11:29; 2 Kor 10:1; Kel 32:19-20)
Seringkali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan.

9. Penguasaan diri (egkrateria)
Menguasai keinginan dan nafsu, diri sendiri antara lain dari: perselingkuhan, uang, rakus dan kesucian hidup (1 Kor 7:9; 1 Kor 9:25; Tit 1:8, 2:5; 1 Tim 6:10)
Menguasai keinginan, tidak tergesagesa demi suatu keuntungan pribadi dan mengambil kesempatan yang lebih besar jika ada peluang.

III. Apakah orang yang kelihatan berbahasa Roh (glossolalia) pasti menunjukan buah Roh dalam kehidupannya?
Seseorang bisa saja berdoa dengan sering berbahasa roh dalam pertemuan-pertemuan ibadah, tetapi hidupnya sama sekali masih sarat dengan kedagingan dan tidak menunjukan tanda- tanda buah roh. Dalam hal ini, bahasa Roh tidak disertai dengan kepenuhan Roh Kudus yang senantiasa. Jadi harus ada suatu upaya agar orang percaya senantiasa membiarkan Roh Kudus bekerja, memimpin dan membentuk karakter Kristus.

Sama seperti sebuah pohon agar dapat menghasilkan buah maka pohon tersebut harus dirawat dan diberikan nutrisi agar dapat bertumbuh dengan sehat, maka pada saatnya pohon tersebut akan menghasilkan buahnya. Daud menulis mengenai hal ini dalam Mazmur 1:1-3,

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Disiplin rohani seperti: bersaat teduh, berdoa di Menara doa, berbahasa roh, membaca Firman Tuhan, bersekutu dalam COOL, ikut serta aktif dalam pelayanan, bisa membantu orang percaya untuk dapat hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga menghasilkan buah Roh dalam kehidupan mereka.

Di lain pihak kita menemukan orang-orang yang berbahasa roh dan juga menghasilkan buah roh dalam karakternya. Kedewasaaan rohani dan kemampuan berbahasa roh bisa lebih tepat kita katakan merupakan co-relational, artinya dapat ditemukan bersama-sama tetapi tidak terkait dalam hubungan sebab-akibat. Seperti halnya kita sering temui di sebuah taman ada seekor burung hampir selalu diikuti ada tupai pada waktu yang bersamaan. Tetapi bukan berarti keberadaan mereka tergantung satu dengan yang lainnya. Terkait hubungan antara buah Roh dengan karunia Roh, David Lim menyatakan: “Buah Roh menjadi cara untuk memakai karunia Roh. Keseluruhan buah dibingkai dalam kasih, dan karunia apapun, bahkan dalam manifestasinya yang penuh, tidak berarti apapun tanpa kasih. Di lain pihak, kepenuhan Roh Kudus yang sejati pasti akan menghasilkan buah Roh; ini disebabkan oleh hidup yang bergairah dan diperkaya dalam persekutuan dengan Kristus.”

IV. Apakah dampak buah Roh dalam kehidupan orang percaya?
Buah sebuah pohon tidak dinikmati oleh pohonnya sendiri. Daging dari buah tersebut dinikmati oleh binatang atau manusia yang memakannya. Demikian juga dengan buah Roh.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. “
Efesus 5:8-9

Orang percaya yang menghasilkan Buah Roh pasti akan berdampak kepada orang lain disekitarnya. Rasul Paulus mengatakan orang yang menghasilkan buah adalah karena mereka hidup sebagai anak- anak terang. Nabi Yesaya menulis mengenai terang:
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.“
Yesaya 60:1

Orang percaya dipanggil untuk menjadi terang karena kemuliaan Tuhan sudah kita dapatkan ketika Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Kita bukanlah sumber terang, tetapi sumber terang itu sudah tinggal di dalam kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi saluran atau cerminan terang Tuhan dengan cara berbuah. Yesus berkata mengenai menjadi terang:

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.“
Matius 5:14-16

Ternyata kita memang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi terang yang dapat dilihat oleh orang lain seperti kota yang di atas gunung atau pelita di atas kaki dian. Artinya kita diselamatkan bahkan diberikan Roh Kudus untuk mendiami kita, supaya kita menjadi kesaksian bagi orang lain dengan tujuan mereka menjadi percaya dan memuliakan Tuhan. Menghasilkan buah Roh tujuan akhirnya adalah agar orang lain dapat menikmati buah dari kehidupan kita mengikut Yesus sehingga pada akhinya mereka pun akan mengikut Yesus akibat kesaksian hidup kita. (RL).