Author: EM

Home / Articles posted by EM
PROSES SEORANG MURID (bagian 2)

PROSES SEORANG MURID (bagian 2)

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia (Matius 4:19-20)

PENDAHULUAN

Menjelang naik ke sorga, Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke segala bangsa guna memberitakan Injil dan memuridkan orang-orang yang belum diselamatkan. Pemberitaan Injil ini penting karena menyangkut keselamatan kekal banyak orang. Jika para rasul tidak pergi dan memberitakan Injil, dunia tidak akan pernah mengenal Juruselamat, dan pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan masuk ke dalam kebinasaan kekal.

ISI

Memberitakan Injil kepada dunia bukanlah perkara mudah, karena berita keselamatan melalui Yesus akan menyingkapkan bahwa apa yang orang-orang percayai selama ini tidaklah menyelamatkan. Hal ini sensitif karena akan menyinggung orang-orang yang meyakini kepercayaannya yang sudah lama.

Jauh sebelum mengutus, Yesus memanggil orang-orang untuk dimuridkan sebagai persiapan untuk menerima Roh Kudus. Murid-murid harus menjalani kehidupan dengan iman. Mereka diajarkan gaya hidup kerajaan Allah untuk mengenal pribadi dan kebenaranNya.

Secara garis besar, proses pemuridan mencakup tiga hal :

1. Menerima panggilan untuk mengikut Yesus.

Siapakah murid Kristus itu? Mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus, diperlengkapi dengan firman dan diberi kuasa Roh Kudus untuk memberitakan Injil. Pada dasarnya menjadi murid Tuhan adalah suatu kehormatan. Tidak semua orang percaya mengerti hal itu, khususnya ketika masih baru mengiring Tuhan.

Banyak orang muda yang beranggapan bahwa menjadi murid Kristus adalah sesuatu yang mengekang dan membosankan karena banyak menekankan hal-hal batiniah. Pandangan itu tidak tepat, karena menjadi murid Kristus adalah kehidupan yang penuh dengan gairah kudus, yang akan membawa kepada kepuasan jiwa, damai sejahtera dan sukacita.

Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Dosa mengikat manusia dan membuat orang melakukan hal-hal buruk dan salah berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan berdosa. Ketika percaya kepada Yesus, orang diselamatkan dan dilepaskan dari perhambaan dosa dan menjadi hamba Kristus (1 Korintus 6:19-20).

Sebagai hamba Kristus, kita perlu memiliki kebiasaan baru yang menyenangkan hati Sang Tuan. Untuk mengubah kebiasaan lama menjadi baru diperlukan proses yang disebut pemuridan. Pemuridan akan membawa gaya hidup/kebiasaan baru dalam kehidupan orang-orang yang melakukannya.

2. Tujuan Pemuridan

Pemuridan adalah cara yang Tuhan Yesus pakai dalam mempersiapkan murid-murid-Nya. Mereka dipanggil untuk melakukan suatu tugas yang besar yaitu pemberitaan kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia dari dosa. Tuhan memanggil mereka untuk mengikut Dia dan diajar sehingga nantinya mereka akan mengalami perubahan hidup dan siap untuk melaksanakan tugas mulia tersebut.

Sebagai murid, salah satu aspek yang penting adalah kapasitas manusia roh yang harus dipersiapkan agar dapat menjadi pribadi yang lembut hatinya sehingga mau diajar untuk taat melakukan perintah Tuhan. Pemberitaan Injil memerlukan orang-orang yang mau berjuang, bertahan dan terus maju di tengah tantangan dan perlawanan dari dunia.

3. Hakikat Pemuridan : perubahan dari dalam ke luar

Pada dasarnya orang sulit untuk berubah, terlebih lagi ketika usianya sudah dewasa dan berada pada posisi yang merasa benar. Orang tidak merasa perlu untuk berubah, karena merasa tidak melakukan hal yang keliru. Keadaan luar yang menekan dengan keras seringkali dapat menghasilkan perubahan pada seseorang, misalnya orang sadar bahwa olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh, namun malas melakukannya sampai suatu saat jatuh sakit.

Dunia mengajar orang untuk hidup dari luar ke dalam, artinya hidup karena melihat. Impuls dari luar yang ditangkap panca indera kita dimasukkan ke dalam jiwa dan hati. Hal ini menyebabkan orang dikuasai oleh berbagai keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup yang sangat bertentangan dengan iman Kristen.

Akan tetapi jika seseorang mau dimuridkan, maka akan terjadi perubahan dari dalam ke luar dan pada akhirnya orang tersebut hidup sama seperti Yesus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Ketika mendengar firman, seseorang akan memberi dua macam respon : percaya atau tidak percaya. Kadangkala jika firman yang didengar tidak sesuai dengan kehidupan atau keinginannya, maka orang bisa bergumul dengan firman tersebut, apakah akan mempercayai atau tidak. Mempercayai maksudnya menerima firman dengan iman (bukan dengan dasar pertimbangan melihat keadaan/kenyataan, pikiran, pengertian, atau perasaan sendiri).

Bersambung minggu depan …

 

PROSES SEORANG MURID (bagian 1)

PROSES SEORANG MURID (bagian 1)

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia (Matius 4:19-20)

PENDAHULUAN

Menjelang naik ke sorga, Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke segala bangsa guna memberitakan Injil dan memuridkan orang-orang yang belum diselamatkan. Pemberitaan Injil ini penting karena menyangkut keselamatan kekal banyak orang. Jika para rasul tidak pergi dan memberitakan Injil, dunia tidak akan pernah mengenal Juruselamat, dan pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan masuk ke dalam kebinasaan kekal.

ISI

Memberitakan Injil kepada dunia bukanlah perkara mudah, karena berita keselamatan melalui Yesus akan menyingkapkan bahwa apa yang orang-orang percayai selama ini tidaklah menyelamatkan. Hal ini sensitif karena akan menyinggung orang-orang yang meyakini kepercayaannya yang sudah lama.

Jauh sebelum mengutus, Yesus memanggil orang-orang untuk dimuridkan sebagai persiapan untuk menerima Roh Kudus. Murid-murid harus menjalani kehidupan dengan iman. Mereka diajarkan gaya hidup kerajaan Allah untuk mengenal pribadi dan kebenaranNya.
Secara garis besar, proses pemuridan mencakup tiga hal :

1. Menerima panggilan untuk mengikut Yesus.

Siapakah murid Kristus itu? Mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus, diperlengkapi dengan firman dan diberi kuasa Roh Kudus untuk memberitakan Injil. Pada dasarnya menjadi murid Tuhan adalah suatu kehormatan. Tidak semua orang percaya mengerti hal itu, khususnya ketika masih baru mengiring Tuhan.

Banyak orang muda yang beranggapan bahwa menjadi murid Kristus adalah sesuatu yang mengekang dan membosankan karena banyak menekankan hal-hal batiniah. Pandangan itu tidak tepat, karena menjadi murid Kristus adalah kehidupan yang penuh dengan gairah kudus, yang akan membawa kepada kepuasan jiwa, damai sejahtera dan sukacita.

Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Dosa mengikat manusia dan membuat orang melakukan hal-hal buruk dan salah berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan berdosa. Ketika percaya kepada Yesus, orang diselamatkan dan dilepaskan dari perhambaan dosa dan menjadi hamba Kristus (1 Korintus 6:19-20).

Sebagai hamba Kristus, kita perlu memiliki kebiasaan baru yang menyenangkan hati Sang Tuan. Untuk mengubah kebiasaan lama menjadi baru diperlukan proses yang disebut pemuridan. Pemuridan akan membawa gaya hidup/kebiasaan baru dalam kehidupan orang-orang yang melakukannya.

a. Tujuan Pemuridan

Pemuridan adalah cara yang Tuhan Yesus pakai dalam mempersiapkan murid-murid-Nya. Mereka dipanggil untuk melakukan suatu tugas yang besar yaitu pemberitaan kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia dari dosa. Tuhan memanggil mereka untuk mengikut Dia dan diajar sehingga nantinya mereka akan mengalami perubahan hidup dan siap untuk melaksanakan tugas mulia tersebut.

Sebagai murid, salah satu aspek yang penting adalah kapasitas manusia roh yang harus dipersiapkan agar dapat menjadi pribadi yang lembut hatinya sehingga mau diajar untuk taat melakukan perintah Tuhan. Pemberitaan Injil memerlukan orang-orang yang mau berjuang, bertahan dan terus maju di tengah tantangan dan perlawanan dari dunia.

b. Hakikat Pemuridan : perubahan dari dalam ke luar

Pada dasarnya orang sulit untuk berubah, terlebih lagi ketika usianya sudah dewasa dan berada pada posisi yang merasa benar. Orang tidak merasa perlu untuk berubah, karena merasa tidak melakukan hal yang keliru. Keadaan luar yang menekan dengan keras seringkali dapat menghasilkan perubahan pada seseorang, misalnya orang sadar bahwa olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh, namun malas melakukannya sampai suatu saat jatuh sakit.

Dunia mengajar orang untuk hidup dari luar ke dalam, artinya hidup karena melihat. Impuls dari luar yang ditangkap panca indera kita dimasukkan ke dalam jiwa dan hati. Hal ini menyebabkan orang dikuasai oleh berbagai keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup yang sangat bertentangan dengan iman Kristen.

Akan tetapi jika seseorang mau dimuridkan, maka akan terjadi perubahan dari dalam ke luar dan pada akhirnya orang tersebut hidup sama seperti Yesus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Ketika mendengar firman, seseorang akan memberi dua macam respon : percaya atau tidak percaya. Kadangkala jika firman yang didengar tidak sesuai dengan kehidupan atau keinginannya, maka orang bisa bergumul dengan firman tersebut, apakah akan mempercayai atau tidak. Mempercayai maksudnya menerima firman dengan iman (bukan dengan dasar pertimbangan melihat keadaan/kenyataan, pikiran, pengertian, atau perasaan sendiri).

Bersambung minggu depan …

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10)

PENDAHULUAN

Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah manusia Adam. Sebelum menciptakan Adam, Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik, lalu diberikan kepada Adam untuk dikelola olehnya (Kejadian 1: 28). Alkitab mencatat bahwa hubungan Adam dengan Allah sangat intim (Kejadian 3: 8). Namun sayangnya Adam memilih untuk tidak setia/taat kepada Tuhan sehingga semua keturunan Adam telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Lalu apakah dengan begitu, rancangan/pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya untuk manusia jadi gagal?

ISI

Jawabannya tidak; rancangan Tuhan tidak pernah gagal :
Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi; Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? (Yesaya : 26a dan 27a)
Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. (Ayub 42:2)

Lalu bagaimana Tuhan menggenapi rancanganNya atas manusia? Dalam Yohanes 3: 16 kita mengetahui bahwa Allah lahir sebagai manusia dan diberi nama Yesus, supaya manusia ciptaanNya bisa kembali dipulihkan kepada rancanganNya yang semula. Allah mau manusia ciptaanNya hidup di dalam rancangan/kehendakNya.

Kita yang dahulu terpisah dari Allah, …sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (Efesus 2:13).
..Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan (Efesus 2:14).

Dari 1 Petrus 2: 22-24 kita bisa melihat karakter Manusia Kristus :
– Ia tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya;
– Ketika dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki;
– Ketika menderita, Ia tidak mengancam tetapi menyerahkannya kepada Dia (Allah Bapa), yang menghakimi dengan adil.
– Ia telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.
– Oleh bilur-bilur-Nya, kita telah sembuh.

Perbedaan antara manusia Adam dan manusia Kristus

Manusia Adam, dalam kehendak bebasnya memilih untuk :
1. Tidak taat kepada Allah;
2. Hidup dari pohon pengetahuan baik dan jahat (dunia/kedagingan);
3. Hubungan/persekutuan dengan Allah terputus.

Manusia Kristus dalam kehendak bebasnya memilih untuk :
1. Taat sampai mati di kayu Salib (Filipi 2:8);
2. Melakukan kehendak Bapa, di mana dalam keadaanNya sebagai 100% manusia telah memberi teladan bagi kita bagaimana caranya menjadi manusia yang berkenan kepada Allah (1Petrus 2:21); 3. Memiliki persekutuan pribadi dengan Bapa (Markus 1: 35)

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6).

Tuhan yang kita sembah lebih menyukai KASIH SETIA, menyukai PENGENALAN AKAN ALLAH; artinya Tuhan menghendaki kita memiliki persekutuan/waktu pribadi bersama DIA, untuk mengenal dan dikenal Tuhan. Dengan tekun membaca dan merenungkan Firman Tuhan/Alkitab, kita bisa mengenal Tuhan dengan benar sehingga kita bisa belajar meneladani kehidupan Manusia Kristus untuk menyenangkan hati Tuhan.

Teladan Manusia Kristus adalah selalu mentaati Firman Tuhan dan menggenapi kehendak Allah:

– Matius 3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya.
– Matius 26: 39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
– Markus 1:
35) Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
38) Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”
39) Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Perhatikan ayat di atas (Markus 1:35, 38, 39) : setelah bersaat teduh, Yesus mendapat tuntunan dari Allah Bapa untuk memberitakan Injil dan mengusir setan-setan.

PENUTUP

Sebelum Tuhan Yesus pergi kepada Bapa, IA memberikan pesan yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 (baca). Menggenapi setiap Firman Tuhan adalah kehendak Allah bagi orang percaya khususnya kita anggota Cool, yang sudah mendapatkan anugerah keselamatan melalui penebusan Yesus Kristus di kayu salib.

KEBANGKITAN KRISTUS MEMBAWA HIDUP YANG PENUH PENGHARAPAN

KEBANGKITAN KRISTUS MEMBAWA HIDUP YANG PENUH PENGHARAPAN

Di luar Kristus sesungguhnya manusia tidak memiliki pengharapan. Dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini penuh dengan masalah, kejahatan, kemiskinan, sakit-penyakit, ketidak-adilan, bencana, peperangan, dlsb.

Kematian menjadi sesuatu yang sangat menakutkan karena berujung pada kebinasaan kekal. Semua jerih lelah dan pencapaian manusia selama hidupnya hanyalah kesia-siaan. Manusia berusaha dengan kekuatan sendiri, tanpa penyertaan, perlindungan dan kasih karunia Allah. Tanpa Kristus, manusia tidak mendapat bagian dalam janji-janji Allah, tanpa pengharapan, dan tanpa Allah di dalam dunia (Efesus 2:12).

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” (1 Petrus 1:3)

Hidup yang penuh pengharapan ini berasal dari kelahiran kembali dalam Kristus. Kita telah diperanakkan oleh Allah (Yohanes 1:13) melalui kebangkitan Yesus dari kematian. Tanpa kebangkitan Kristus, manusia tidak memiliki hubungan dengan Allah Bapa. Kita tetap hidup dalam dosa, kutuk, menuju kebinasaan dan tanpa harapan.

1 Korintus 15:14,17-18 mengatakan :
14) “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka siasialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
17) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
18) Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus”.

Apa arti pengharapan dalam iman Kristen? Menurut kamus, arti pengharapan adalah menginginkan sesuatu terjadi; digunakan ketika kita tidak tahu sesuatu akan terjadi atau tidak, tetapi kita berdoa agar hal itu terjadi. Sedangkan ekspektasi digunakan untuk mengatakan apa yang kita yakini akan terjadi, ekspektasi juga berarti berpikir atau mengira.

Menurut Alkitab, harapan (hope) itu bukan hanya sekedar ‘wish’ atau ‘expect’. Harapan adalah bukti yang solid dan nyata terhadap janji yang didasarkan pada firman Allah.

Pengharapan kita adalah ‘jangkar’ atau ‘sauh’ yang kuat dan aman bagi jiwa karena TUHAN tidak pernah berdusta. Harapan dalam Kristus memberikan jaminan kepastian bahwa apa yang telah dijanjikan Allah dalam firmanNya itu benar, pasti akan terjadi sesuai dengan kehendak Bapa.

Ibrani 6:19-20a mengatakan “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita”.

Hidup yang berasal dari kelahiran baru ini memberikan harapan bagi orang percaya : bahwa kita menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu, dan yang tersimpan di sorga (1 Petrus 1:4).

Kita memiliki warisan yang tidak dapat digapai oleh kematian, dinodai oleh kejahatan, atau usang termakan waktu. Warisan ini juga pasti karena Allah menjaga dan melindunginya bagi kita. Warisan ini aman terjamin, tidak ada seorangpun/apapun yang dapat merebut atau menggagalkannya.

Masa depan kita terjamin akibat kebangkitan Yesus Kristus. Pengharapan kita ada pada kemenangan-Nya atas kematian serta kebangkitan- Nya. Kebenaran ini mengubah cara pandang orang percaya dalam menghadapi berbagai pergumulan dalam hidupnya. Apapun masalah, ujian dan penderitaan yang kita hadapi tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Hidup yang penuh pengharapan ini memampukan orang percaya untuk tidak tawar hati dan putus asa dalam menghadapi segala musim terutama penderitaan dalam hidupnya.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:16-18).

Kekristenan bukan soal kenyamanan dan menghindari/lari dari masalah, tapi berbicara tentang kehidupan yang berkemenangan atas persoalan, pergumulan dan penderitaan. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk  menderita untuk Dia.” (Filipi 1:29).

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Hidup yang penuh pengharapan dan kasih karuniaNya menjadi unsur penting yang membedakan orang percaya dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus. “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

Inilah kehidupan yang berkualitas, tangguh, tahan uji dan membawa kemuliaan bagi Allah.

Selamat Paskah!

BELAJAR BERLAKU SETIA

BELAJAR BERLAKU SETIA

PENDAHULUAN

Kebanyakan orang mau berkomitmen untuk setia bila menerima balasan atau upah. Kesetiaan manusia memang cenderung bersyarat. Perilaku seperti ini sering terbawa dalam mengikut Tuhan, di mana sering kita berubah setia karena tidak segera melihat hasil atau merasa tidak memperoleh yang kita harapkan. Hati mudah berubah mengikuti perasaan. Di awal mengikut Tuhan/pelayanan begitu setia dan memiliki roh yang menyala-nyala, namun dengan berjalannya waktu, kesetiaannya perlahan pudar, merasa bosan, jenuh atau lelah hati karena merasa tidak dihargai. 

ISI

Pada materi kali ini kita mau belajar berlaku setia  dengan 3 hal berikut : 

1. Menjaga kasih yang semula. 

Kasih yang semula adalah kasih saat kita percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima kasihNya. Seseorang begitu bergairah serta selalu haus dan lapar akan firman/hadiratNya. Jagalah kasih yang semula dan hiduplah oleh iman yang murni. Kasih yang semula akan menolong kita berlaku setia dengan Tuhan. Orang yang setia dengan Tuhan juga akan setia dengan gereja lokal dan dalam hubungan dengan orang lain.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan kita kehilangan kasih yang semula : perselisihan, sakit hati, kecewa melihat realita hidup, kesombongan, iri hati, mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, cinta akan uang, ambisi/agenda pribadi, dlsb.

Ciri-ciri orang yang kehilangan kasih yang semula : kehilangan rasa haus dan lapar/gairah dengan Tuhan (malas berdoa, baca firman/cuma sekedar baca, ibadah/pelayanan cuma rutinitas), kerajinan jadi kendor, gemar mengkritik, bersungut-sungut, merasa tidak puas, tidak peduli orang lain, hidup dikuasai mood/perasaan/suasana hati, dlsb.

Iman yang murni bekerja dalam kasih yang semula. Iman yang murni akan meluruskan jalan kita untuk setia sampai garis akhir. Orang yang setia bertahan sampai garis akhir akan selamat. Oleh sebab itu jangan biarkan kasih kita menjadi dingin.

2. Mata yang fokus tertuju kepada Kristus.

marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus,  yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.  Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. (Ibrani 12:1b-4).

  • Menanggalkan beban dan dosa yang merintangi (hidup dalam pertobatan).
  • Berjalan dengan iman yang murni (iman disertai perbuatan).
  • Mata tertuju kepada Kristus; kepada ketabahanNya yang mengabaikan hinaan dan tekun memikul salib supaya kita tidak jadi lemah (mis. marah, kecewa, kepahitan, self-pity, sombong, mendua hati, takut, tawar hati, iri hati) dan putus asa.
  • Pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan kita. Allah setia, IA memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya.
  • Ada kemuliaan dan sukacita di balik salib/ujian/penderitaan.

3. Memiliki roh takut akan Allah dan mendahulukan DIA.

Takut akan Allah berarti memiliki rasa hormat yang berdampak kepada cara hidup kita (berpikir, berkata-kata, berperilaku, mengambil keputusan dan cara memperlakukan orang lain). Contoh sikap takut akan Allah : menghormati kekudusan Allah, mendahulukan DIA di atas keinginan/kenyamanan  kita, taat kepada firmanNya, takluk kepada hukum-hukum Allah, cepat bertobat kalau ditegur, tidak menyimpan dosa atau kepahitan, merendahkan hati, dlsb.

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” (Amsal 8:13).

PENUTUP

Kadang kita malas berkomitmen untuk setia ketika merasa apa yang kita lakukan tidak langsung terlihat hasilnya, tidak diperhitungkan/dihargai, tidak dilihat orang lain, tidak mendapat upah, atau berbagai alasan lain. 

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:23-24)

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,  karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Galatia 6:9)

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Matius 24:13)

ALLAH  ITU  SETIA

ALLAH ITU SETIA

Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia (1 Korintus 1:9)

 

PENDAHULUAN

Banyak sekali bukti yang menunjukkan sifat kesetiaan Allah, antara lain keteraturan dalam tatanan alam semesta termasuk tubuh manusia; di mana Allah menopang dan memelihara seluruh ciptaan dengan firmanNya. Alkitab juga banyak menuliskan tentang kasih setia Allah yang dinyatakanNya kepada orang yang takut akan DIA. Pada bahan kali ini, kita mau belajar tentang sifat/karakter Allah yang setia, maksud kesetiaanNya yang dinyatakan bagi kita, serta bagaimana meresponi kasih setia Allah.

 

ISI

Kesetiaan Allah tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terjadi dari luar atau hanya bersifat musiman. Kasih setia Allah tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Setia adalah karakter Allah, Dia tidak dapat menyangkal DiriNya sendiri dengan berlaku tidak setia. Lalu bagaimana kita meresponi kesetiaan Allah?

Arti kata setia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah  1 berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat; 2 tetap dan teguh hati. Kesetiaan kita kepada Allah berarti memilih untuk percaya dan taat kepada Dia di antara pilihan lain yang kita lebih suka atau yang lebih baik menurut kita. Kita tetap berpegang teguh kepada firman meski dalam keadaan yang kurang baik, dalam keadaan nyaman/sedang tidak ada masalah, atau keadaan yang sepertinya belum jelas/dimengerti.

Manusia gampang sekali berubah setia kepada Tuhan. Di mata Tuhan, kesetiaan manusia mudah hilang seperti kabut pagi dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar (Hosea 6:4). Mungkin banyak orang menyebut dirinya baik hati, tetapi orang setia tidak banyak ditemukan.

Untuk dibentuk menjadi orang yang setia, Tuhan akan menguji kita melalui 4 macam perkara:

  1. Melalui tantangan, masalah dan penderitaan.

Apakah kita tetap setia bertekun mencari kehendak Allah atau berusaha dengan kekuatan/pengertian sendiri. Apakah kita tetap bisa bersyukur dan bersukacita dalam segala keadaan, atau malah jadi lemah, bersungut-sungut, mengasihani diri sendiri dan kecewa dengan Allah.

  1. Melalui keadaan sedang baik-baik saja, diberkati, ada dalam kenyamanan, diberi promosi, dipakai Tuhan secara luar biasa, memiliki karunia yang hebat.

Apakah kita semakin takut akan Tuhan dan mengandalkan DIA, semakin rendah hati karena sadar kalau tidak waspada kita bisa mencuri kemuliaan Tuhan, terus menjaga hati dengan segala kewaspadaan agar motivasi hati tetap  benar dan murni; atau jadi tinggi hati/jatuh dalam kesombongan, hati melekat kepada hal yang spektakuler, menyalahgunakan berkat, mendua hati/berubah setia, jadi sibuk dan tidak menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama, kerajinan jadi kendor, mengomersilkan karunia demi keuntungan diri sendiri dan menyesatkan orang lain.

  1. Melalui perkara-perkara kecil dan dalam perkara uang/harta.

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? (Lukas 16:10-12).

Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk bertekun dalam kesetiaan melalui perkara kecil yang sepertinya remeh, tidak berarti, tidak ada orang yang melihat, atau hal-hal rutin dan membosankan.

  1. Dalam menjalankan talenta.

Bagaimana tanggung jawab kita dalam mengelola talenta; apakah menjalankan atau menyembunyikannya? Hamba seperti apa kita; yang setia atau yang jahat dan malas? Apakah talenta yang kita miliki (waktu, karunia, finansial, pekerjaan/usaha, pengaruh, dlsb) dijalankan dalam rencana dan kehendak Allah atau menurut keinginan/ambisi pribadi.

“Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”  (2 Timotius 2:13)

Perlu kita camkan bahwa bukan berarti karena Allah tetap setia walaupun kita tidak setia, lantas kita bisa memandang remeh dan mempermainkan kesetiaan Allah. Ingatlah bahwa Allah tidak akan membiarkan diriNya dipermainkan. Apa yang kita tabur, itu juga yang kita tuai.

Kesetiaan Allah kepada kita bukan karena jasa, kebaikan atau kelayakan kita untuk mendapatkan kesetiaanNya. Allah setia karena Ia adalah kebenaran dan di dalam Dia tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1:17). Itu sebabnya dikatakan Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri. Pengertian ini membuat hati kita bersyukur, menaruh hormat dan kagum akan anugerah Allah.

Maksud kesetiaan Allah yang telah memanggil kita dalam persekutuan dengan AnakNya, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah agar kita hidup dalam kehendak dan rencanaNya. Kesetiaan Allah yang menopang, memampukan, melindungi dan meneguhkan kita untuk setia memelihara iman kepada Kristus Yesus sampai garis akhir.

 

PENUTUP

Kesetiaan dimulai dari iman yang murni dan hati yang melekat kepada Allah; punya roh takut akan Tuhan serta sikap hati yang mendahulukan DIA. Orientasinya adalah kehendak dan rencana Allah, bukan kehendak dan agenda pribadi. Roh Kudus akan meneguhkan kita untuk hidup dalam kehendak dan rencanaNya karena Allah itu setia.

Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. (1 Petrus 5:10)

MENYENANGKAN TUHAN

MENYENANGKAN TUHAN

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.
Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10

Paulus mengatakan bahwa keselamatan hanya kita dapatkan karena kasih karunia atau pemberian Allah saja dan bukan karena hasil usaha manusia. Hasilnya sekarang, kita adalah warga Kerajaan Sorga yang memiliki posisi diselamatkan di dalam Yesus. Namun selama kita masih hidup di dunia ini ada hal-hal yang Tuhan inginkan dari kita sebagai anak-anak-Nya yang telah ditebus, dikasihi; dan menjadi anggota keluarga Allah, yaitu melakukan kehendak-Nya.

Ajaran hyper grace menyatakan bahwa setelah kita menerima keselamatan, Tuhan melihat bahwa kita sempurna dalam pandangan-Nya, Ia tidak melihat dosa di dalam diri kita. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan Tuhan karena kita sudah sepenuhnya berkenan dalam pandangan-Nya. Pandangan ini jelas salah! Bahkan mereka berpendapat bila kita berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan, itu hanya akan membuang-buang waktu dan sebatas emosi saja, sebab kita sudah sempurna di hadapan-Nya. Malah tindakan ini semata-mata tindakan agamawi dan cenderung bisa menjadi legalistik. Tentu saja pandangan di atas tidak sesuai dengan Alkitab.

Secara sederhana Alkitab Perjanjian Baru terdiri atas dua tema dasar yaitu: “Bagaimana kita ditebus oleh Allah?” dan “Bagaimana kita harus hidup sebagai umat tebusan itu?”

1) Bagaimana kita ditebus oleh Allah?”
Melalui kematian Yesus di salib, Ia telah mengorbankan diriNya untuk menebus dosa-dosa umat manusia dan memberikan keselamatan kepada mereka yang percaya.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” 1 Korintus 6:20. Penebusan Yesus di kayu salib adalah bukti kasih karuniaNya dan belas kasihan Tuhan kepada umatNya, serta panggilan untuk hidup kudus dan benar dalam iman dan pertobatan.

“Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal” 1 Petrus 1:23. Benih ini berakar sebagai dasar iman orang benar dan mempengaruhi cara pandang, moralitas dan harapan akan masa depan

Paulus menulis dalam Efesus 4:1, “supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” ‘Hidup berpadanan dengan panggilan’ dijelaskan lebih lanjut dalam Kolose 1:9-10, “Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah”.

2) Bagaimana kita harus hidup sebagai umat tebusan itu?

Paulus ingin jemaat mengetahui bahwa yang menjadi kehendak Tuhan yang sempurna itu adalah: hidup yang memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. Hidup kita yang senantiasa layak di hadapan Tuhan, berkenan atau menyenangkan Tuhan dalam segala hal, bukan legalistik (agamawi). Ini adalah respon kita terhadap anugerah keselamatan yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita berusaha sungguh-sungguh untuk menyenangkan hati Tuhan, itu sebenarnya bukan usaha untuk mendapat keselamatan, tetapi justru karena sudah mendapatkan keselamatan, dan memiliki sifat dasar yang baru: yaitu kebenaran dan kekudusan.

Apa yang dimaksud dengan ‘memberi buah’ dalam pekerjaan baik yang Tuhan mau? Dengan perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37), Tuhan Yesus mendorong orang-orang untuk menunjukkan kasih dengan bertindak menolong orang yang sedang membutuhkan,

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Perumpamaan ini menekankan bahwa iman dan ketaatan kepada Tuhan juga meliputi rasa belas kasihan bagi mereka yang membutuhkan. Panggilan untuk mengasihi Allah adalah panggilan untuk mengasihi sesama manusia juga. Jika sebagai orang Kristen kita tidak peka terhadap penderitaan sesama kita, sesungguhnya di dalam diri kita tidak ada hidup kekal itu

“Paham hyper grace yang mengatakan bahwa “Menyenangkan Hati Tuhan” atau “Perkenanan Allah” adalah pengajaran legalistik atau bukan kasih karunia adalah salah dan menyesatkan!

Ingat apa yang Tuhan Yesus katakan di Matius 25:41-46:  “…Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

“Demikan juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2:17. Bagaimana perbuatan seorang beriman terhadap Allahnya? Meniru karakter Allahnya. “Tuhan yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan AnakNya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” 1 Korintus 1:9

Bila kita menghargai persekutuan dengan Kristus sebagai sumber kehidupan yang bernilai, membawa kebahagiaan dan kedamaian yang abadi maka kita akan memelihara hubungan tersebut dengan berlaku setia. Tuhan mencari hamba yang setia. Cara kita menyenangkan hati Tuhan adalah hati yang setia pada Tuhan. Bagaimana kita kedapatan setia?

  1. Perkataan jangan dolak dalik. Amsal 4:24,”Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.”
  2. Langkah kehidupan lurus. Amsal 4:27,”Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.”
  3. Berketetapan hati. Yakobus 1:6-8, “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”
  4. Jangan mengabdi pada dua tuan. Matius 6:24, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Ibrani 13:5,”Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Kita semua pasti merindukan, suatu saat di akhir hidup ini mendengar Tuhan berkata kepada kita: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia…. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu!”

IMAN MURNI VS IMAN TRANSAKSIONAL

IMAN MURNI VS IMAN TRANSAKSIONAL

PENDAHULUAN

Salah satu ciri orang beragama adalah adanya pola transaksional antara umat dengan ‘allah’nya. Pola transaksional artinya ada transaksi di mana umat membawa persembahan sesajian kepada allahnya demi memperoleh sesuatu.

Dalam kalangan orang Kristen, pola transaksional ini kadang kita lakukan tanpa sadar. Kita seperti ‘menyuap’ Tuhan dengan berbagai hal  agar DIA melakukan sesuatu yang kita mau. Tanpa sadar kita perlakukan Allah sama seperti allah-allah lain.

ISI

Firman Tuhan mengatakan orang benar akan hidup oleh iman, tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6b).

Orang yang hidup oleh iman akan mengakui kedaulatan Allah sebagai tuan atas hidupnya; artinya seluruh hidupnya merupakan pengabdian kepada Allah. Iman yang murni berjalan dengan motivasi yang benar. Hatinya sungguh melekat kepada Allah, bukan melekat kepada berkat, karunia, promosi, mukjizat, hal spektakuler atau lainnya. Iman yang murni mengerti bahwa upah yang diterima dalam mengikut Allah bukan karena jasa, kesalehan atau kebaikannya tapi karena Allah membela/menepati firman-Nya, semua hanya anugerah Allah semata-mata.

Iman yang murni berorientasi kepada kehendak dan rencana Allah, bukan kepada agenda dan kehendak pribadi. Matanya tertuju kepada Kristus, yang memimpin dalam iman dan membawa imannya itu kepada kesempurnaan (Ibrani 12:2). Hatinya percaya kepada Allah dengan tulus dan tidak bersandar kepada pengertian sendiri.

Contoh iman yang murni adalah seorang anak kecil yang dengan polos memberi semua yang ada padanya yaitu 5 roti 2 ikan. Anak kecil tersebut tidak banyak pertimbangan memikirkan akibat jika semua bekalnya diserahkan. Karena kemurnian imannya, Tuhan melakukan mukjizat besar yang berdampak kepada 5000 orang lebih.

Apapun yang ada pada kita sekalipun itu tampaknya kecil tak berarti, tapi jika kita selalu bersyukur, belajar setia dalam perkara kecil dan berjalan dengan iman yang tulus, maka hal yang tampaknya tak berarti/tidak dilihat orang itu bisa dipakai Tuhan untuk menghasilkan sesuatu yang besar.

Diskusi singkat : sebutkan contoh-contoh berlaku setia dalam perkara kecil dalam kehidupan orang percaya sehari-hari.

Contoh iman transaksional misalnya : karena saya rajin beribadah, ikut Cool dan kelas-kelas pengajaran, rajin baca firman, berdoa, mengembalikan persepuluhan, memberikan persembahan, melayani, berkorban dan lain sebagainya, maka Tuhan pantas memberi balasan sesuai jasa dan perbuatan saya. Kalau tidak, saya jadi malas berdoa, baca firman, malas melayani, merasa rugi memberikan persembahan, malas ikut Cool  dan sebagainya.

Jangan mengikut Tuhan dengan cara komersil, menghitung untung/rugi seperti hikmat dunia supaya kita tidak tersesat. Alkitab mengatakan bahwa hikmat dunia adalah kebodohan bagi Allah.

Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (1 Korintus 1:21).

Orang yang berjalan dengan iman transaksional bisa tersesat karena kesombongan rohani; merasa berhak atas upah dari Tuhan atas jasa, kebaikan/kesalehannya dan memandang rendah orang lain. Iman transaksional juga bisa membawa seseorang kecewa dengan Tuhan jika yang dialami/terjadi tidak sesuai pikiran dan kehendaknya.

Contoh lain iman transaksional adalah Yudas. Ia tersesat karena cinta uang, mata hati yang gelap membuat dia menukar Yesus dengan 30 keping uang perak. Yudas rela menukar/menjual kebenaran demi memuaskan hawa nafsunya. Kalau seorang percaya masih bisa menjual keselamatan demi dunia, berarti dia belum benar-benar selamat.

PENUTUP

Tuhan mau membawa orang percaya kembali kepada iman yang murni, yang berkerja dalam kasih yang semula. Ingatlah bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, hidup kita bukan milik kita lagi tapi milik Yesus. Tuhan Yesus telah membeli kita dengan harga tertinggi yaitu dengan nyawaNya, sehingga kita pantas mengabdikan seluruh hidup kita kepadaNya tanpa syarat, dengan iman yang murni.

Iman yang murni harus disertai perbuatan karena iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati. Ketaatan merupakan respon kasih akan kemurahan Tuhan yang telah menyelamatkan kita dari kehancuran dan kebinasaan.

Iman yang murni meluruskan jalan kita untuk setia sampai kepada garis akhir.

JANGAN SESAT (bagian 2)

JANGAN SESAT (bagian 2)

Yesus telah mengingatkan bahwa penyesatan memang harus ada, tetapi sebagai orang percaya jangan kita menjadi bagian dari pada penyesatan tersebut. Pengenalan yang benar akan Allah melalui proses didikan mencegah kita untuk tersesat dan menyesatkan orang lain yang mau datang kepada Yesus.

Sambungan minggu ini :

Ada beberapa penyebab yang bisa membuat kita tersesat dan berpotensi menyesatkan orang lain:

  1. Tidak tinggal dalam kasih mula-mula.

 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi ,  sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.  Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:7-8)

Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Kehilangan kasih membuat seseorang tidak bisa mendengar suara/teguran Roh Kudus akibatnya ia tersesat dalam pikiran, perasaan dan cara pandangnya sendiri.

  1. Menjauhkan diri dari kasih karunia Allah.

 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah,  agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang (Ibrani 12:15).

Menjauhkan diri dari kasih karunia Allah dapat menimbulkan akar pahit dan kerusuhan serta bisa mencemarkan banyak orang.

Akibatnya jiwanya dalam keadaan gelap, tidak bisa berpikir jernih, timbul kekuatiran, ketakutan, mengambil keputusan yang keliru, tidak ada damai sejahtera, kecewa, menyalahkan Tuhan, orang lain dan keadaan. Banyak orang bisa turut tercemar karena perilaku dan perkataannya yang cenderung negatif, tidak mengandung iman, penuh kepahitan dan kemarahan serta mengasihani diri sendiri.

  1. Menjauhkan diri dari ibadah/pesekutuan orang percaya.

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita,  seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati,  dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat (Ibrani 10:25).

Menjauhkan diri dari ibadah/pesekutuan orang percaya juga bisa menyebabkan seseorang tersesat. Tidak mau ditegur, menghindari proses Tuhan, menjadi tinggi hati mengikuti perasaan dan keinginan sendiri. Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang perlu komunitas (dimana kebenaran dan accountability itu di praktekkan) .

  1. Tidak menjaga hati dengan segala kewaspadaan.

 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23).

Hati yang tidak melekat kepada Tuhan, mencari yang spectacular dan menjadi malas dengan hal-hal rutin, membiarkan kerajinannya menjadi kendor, mulai malas melayani hal yang dianggap kecil/biasa, dan merasa lebih hebat, lebih trending, lebih maju, lebih rohani (keangkuhan rohani).

PENUTUP

Tuhan Yesus memberikan teguran keras dan hukuman bagi mereka yang menyesatkan orang lain. Kata ‘menyesatkan’ dalam terjemahan NKJV ialah ‘causes one to sin’ yaitu menyebabkan orang lain jatuh dalam dosa, apakah itu anak-anak, orang yang baru bertobat atau orang yang lemah imannya.

Selain itu Tuhan juga mengingatkan agar kita sendiri jangan tersesat/menjadi bagian dari penyesatan tersebut. Segala hal yang bisa menjerat kita untuk tersesat dan menyesatkan orang lain hendaknya dibuang karena celakalah orang yang mengadakannya, kata Tuhan Yesus. Jangan sampai yang terdahulu menjadi yang terbelakang.

JANGAN SESAT  (bagian 1)

JANGAN SESAT (bagian 1)

Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”
”Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya (Matius 18:5-7)

PENDAHULUAN

Salah satu tanda kedatangan Tuhan ke dua kali dan tanda kesudahan dunia adalah penyesatan (Matius 24:3-4). Yesus telah mengingatkan bahwa penyesatan memang harus ada, tetapi sebagai orang percaya jangan kita menjadi bagian dari pada penyesatan tersebut. Pengenalan yang benar akan Allah melalui proses didikan mencegah kita untuk tersesat dan menyesatkan orang lain yang mau datang kepada Yesus.

ISI

Kita wajib sungguh-sungguh mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar serta memelihara kasih yang mula-mula agar tidak terseret arus dunia dan keluar dari keselamatan. Iman yang murni seperti anak kecil akan tahan uji dalam guncangan, tantangan, penyesatan dan penderitaan.

Setiap hari kita berhadapan dengan pilihan. Bila tidak menjaga kemurnian iman seperti seorang anak kecil, kita bisa membuat pilihan yang keliru karena tidak ada prinsip hidup yang benar untuk mengukur/ menimbang pilihan tersebut. Pilihan yang keliru mengarahkan kita kepada kesesatan; dan bila yang tersesat itu seorang pemimpin maka ia akan menyesatkan banyak orang.

Mari kita memahami bahayanya ketamakan dan memiliki hati yang mendua.

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Matius 6:22-23)

Ketamakan bisa menggelapkan mata hati seseorang sehingga pilihan, keputusan dan perbuatannya jadi gelap (tidak berjalan dalam terang kebenaran) dan tersesatlah dia. Ketamakan adalah seperti virus yang merusak iman dan mengancam keselamatan jiwa manusia. Ketamakan membawa seseorang jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai hawa nafsu yang mencelakakan dan membinasakan.

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Banyak orang Kristen rajin beribadah, terlibat dalam pelayanan, suka bicara tentang Yesus namun hatinya mendua. Ia tidak sepenuhnya percaya dan mengandalkan Tuhan. Hatinya tidak melekat kepada Allah tapi kepada berkat; tahu firman tapi tidak hidup dikuasai firman, hidup karena melihat bukan karena percaya, tidak menolak tawaran dunia/kompromi, menukar kebenaran dengan sesuatu yang memuaskan keinginannya, suka membanding-bandingkan keadaan dirinya dengan orang lain, dslb.

Orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Ia mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran yang menyesatkan atau trend yang sedang melanda dunia. Orang seperti ini tidak akan tahan menghadapi tantangan dan guncangan; ia mudah menyerah bahkan menyalahkan/kecewa dengan Tuhan.

Apa yang menyebabkan orang Kristen bisa tersesat dan menyesatkan orang lain ? salah satunya karena dasar kehidupan yang keliru. Hidup kita adalah sebuah bangunan (bait Allah) dan Yesus (Jalan, Kebenaran dan Hidup) sebagai :
1) Batu Penjuru yang menentukan arah bangunan miring atau tegak lurus
2) Dasar/Pondasi yang menentukan kekuatan/kestabilan bangunan tersebut.
Membangun hidup di atas dasar/pondasi yang rapuh (misalnya pikiran, cara pandang dan keinginan diri sendiri; perasaan, hikmat dunia, uang/harta milik, jabatan/pekerjaan, masa lalu, karunia, dlsb) menyebabkan bangunan hidup roboh dan sia-sialah semua yang kita lakukan. Satu-satunya dasar yang teguh dan tidak tergocangkan dalam keadaan apapun hanya Yesus Kristus dan perkataanNya.

Langit bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu (Matius 24:35).

Hal lain yang penting diperhatikan adalah bagaimana kita membangun hidup di atas dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Iman dengan kualitas seperti apa yang kita bangun : kayu, rumput kering atau jerami yang mudah terbakar dalam api ujian; atau kualitas murni seperti emas, perak dan batu permata yang akan semakin murni ketika diuji dalam api.

Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus (1 Korintus 3: 9-11).

Yesus adalah batu penjuru dan kita adalah pembangun-pembangunnya. Bila ingin bangunan rumah rohani kita bertahan sampai garis akhir, bangunlah dengan iman yang berkualitas seperti emas, perak dan batu permata. Jangan asal-asalan membangun dengan bahan murahan seperti kayu, jerami dan rumput kering yang mudah terbakar saat menghadapi guncangan, kesukaran dan aniaya. Ada harga yang harus dibayar untuk menghasilkan bangunan dengan iman yang berkualitas yaitu dengan sangkal diri dan pikul salib setiap hari.

Bersambung minggu depan…

Image source: https://biblehub.com/acts/4-11.htm