Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
JADIKAN MURID – bagian 1

JADIKAN MURID – bagian 1

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

PENDAHULUAN

Orang percaya yang hidupnya benar di hadapan Tuhan pasti menghasilkan buah—dan buah itu berdampak bagi orang lain.

ISI

Mazmur 1:1-3 menggambarkan kehidupan orang percaya yang memilih untuk merenungkan firman Tuhan: ia seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan (Roh Kudus/Roh Kebenaran), kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah pada musimnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil/menghasilkan buah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil.

  • Hidup yang menghasilkan buah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang yang sudah lahir baru (Yohanes 15:16). SETIAP KITA WAJIB BERTUMBUH (ini merupakan proses seumur hidup).
  • Pohon yang berakar dan sehat akan menghasilkan buah. Orang percaya yang berakar dan memiliki iman yang sehat akan menghasilkan buah setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus.
  • Buah adalah hasil hidupmu yang bisa dinikmati orang lain. Kalau buahmu tidak bisa dinikmati orang lain, kemungkinan itu bukan buah Roh, tapi ilusi rohani.

Contoh: Kalau kamu mau mengasihi tapi sering melukai orang di sekitarmu.
Kamu mau jadi pembawa damai, tapi kamu mudah marah dan mengadu domba. Jadi, ukurannya bukan apa yang kamu kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami darimu.

Dinikmati di sini maksudnya:

  • Sebagai ‘buah’: dapat menolong/membantu mengatasi masalah orang lain,
  • Sebagai ‘benih’: sesuatu yang dapat diajarkan kepada orang lain (bukan cuma informasi/teori/pengetahuan saja, tapi pengajaran yang disertai buah sebagai bukti valid pengajarannya).
  • Banyak kegagalan rohani bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena tidak bisa taat untuk tetap tinggal dalam firman.
  • Buah Roh (Gal. 5:22-23) merupakan tanda pertobatan sejati yang dihasilkan dari keintiman dengan Roh Kudus.
  • Buah Roh adalah hasil transformasi supranatural yang progresif oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang berserah, jadi bukan hasil usaha manusia. Meski ada sembilan, namun buah Roh merupakan suatu kesatuan terpadu. Rasul Paulus menyebutnya dengan Buah Roh (tunggal), bukan buah-buah Roh (jamak). Penguasaan diri adalah penentu dari semua sifat buah Roh.
  • Buah Roh berbeda dengan karakter/watak natural yang merupakan bawaan lahir, didikan atau hasil pembentukan lingkungan. Buah Roh mencerminkan karakter Kristus, sementara watak/temperamen natural merupakan sifat bawaan lahir yang cenderung dipengaruhi oleh tabiat manusia berdosa.
  • Buah Roh menghasilkan karakter Kristus yang stabil dan melampaui kemampuan natural manusia; sementara watak/temperamen natural bisa tampak baik secara moral, namun tidak memiliki kuasa ilahi dan dapat gagal di bawah tekanan.
  1. Kasih: Kasih ilahi yang memberi tanpa pamrih, tidak bertujuan mencari kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan bagi orang lain. Kasih memiliki cakupan luas sekali; buah dari kasih mengacu pada 1 Korintus 13:4-8. Kasih bukan sekadar perasaan, tapi perilaku kita terhadap sesama yang dilakukan berdasarkan kebenaran.
  2. Sukacita: kegembiraan (joy) yang mendalam yang timbul dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Kegembiraan yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
  3. Damai sejahtera: ketenangan batin/kesejahteraan jiwa  yang didasarkan atas pengampunan Tuhan, dihasilkan dari kebenaran.
  4. Kesabaran: sikap pengendalian diri yang menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tekun; tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.
  5. Kemurahan: keramahtamahan, kebaikan hati, suka memberi, tidak mau menyakiti orang lain, mudah mengampuni.
  6. Kebaikan: ketulusan jiwa yang membenci kejahatan, motif dan perilaku yang baik. Sikap ini adalah kelanjutan dari sikap kemurahan.
  7. Kesetiaan: dapat dipercaya dan diandalkan untuk suatu tanggung jawab, tetap bertahan dalam iman dalam berbagai pencobaan.
  8. Kelemahlembutan: pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan kerendahan hati. Tunduk pada kehendak Allah, hati yang mau diajar/mudah dibentuk, sering kali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan, padahal merupakan kekuatan karakter.
  9. Penguasaan diri: menguasai keinginan dan hawa nafsu diri sendiri (makan, seks, uang, kecanduan, amarah/emosi).
  • Setelah mengetahui buah Roh di atas, periksa diri sendiri : Apakah ada buah Roh yang dihasilkan dari hidup kita?

Bersambung minggu depan…

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

PENDAHULUAN

Kita yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam perbudakan yang menghasilkan ketakutan. Kita adalah ciptaan baru—dipulihkan, diangkat, dan diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Karya salib Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang terputus akibat dosa—mengubah posisi manusia dari yang tadinya musuh, kemudian diadopsi menjadi anak-anak Allah. Hubungan kita dengan Allah adalah layaknya anak dan bapak, yang didasari oleh kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:15-16).

ISI

Masalah

Pada kenyataannya, banyak kita yang masih terbelenggu oleh roh perbudakan. Kita perlu belajar mengenali ciri roh perbudakan agar timbul self-awareness, hidup dalam pertobatan, dipulihkan oleh kuasa Roh Kudus dan menjadi anak-anak Allah yang merdeka.

1.  Orphan spirit (roh Yatim Piatu) -> Suatu pola pikir atau mental yang berakar pada ketakutan, penolakan, dan mengandalkan diri sendiri.

Ciri-cirinya:

  • Menjalani hidup layaknya anak yatim, sukar menerima kasih Bapa ataupun merasa aman sebagai bagian dari keluarga Allah (gereja lokal/Cool), sehingga ia merasa harus berjuang dengan cara/kekuatan sendiri.
  • Sukar membangun hubungan dan rasa percaya (trust) kepada Tuhan/orang lain, yang berujung pada perasaan ditinggalkan, ditolak, tidak berharga, dan ketidakpercayaan (mistrust).
  • Memandang teguran/koreksi sebagai penolakan/hukuman.
  • Berorientasi pada performa/kinerja: berusaha keras mendapatkan penerimaan/pengakuan melalui kegiatan pelayanan atau jasa yang sudah dilakukan. Apa yang dilakukan lahir dari rasa takut, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk mendapatkan kasih Allah melalui perbuatan.
  • Perfeksionis: lebih mengejar kesempurnaan daripada mengandalkan kasih karunia Allah.
  • Lebih mengejar karunia, nubuatan, panggilan, atau pelayanan yang dikenal orang daripada keintiman dengan Tuhan.
  • Berusaha menjadi pelaku firman atau melayani menurut pikiran dan cara sendiri, tanpa mengandalkan kuasa Roh Kudus.
  • Mementingkan perkenanan manusia daripada perkenanan Tuhan.

Pola pikir orang yang dibelenggu roh yatim piatu harus dipulihkan dengan pemahaman yang benar akan identitasnya sebagai ciptaan baru dalam Kristus: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Perlu pembaruan akal budi dengan Firman Tuhan yang adalah kebenaran. Jika akal budi telah mengalami pembaruan, Roh Kudus secara aktif berkarya memulihkan hati/jiwa serta membawanya hidup dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18).

2. Legalistic spirit (law-based living) -> Sikap kepatuhan yang kaku dan berlebihan terhadap aturan/peraturan/hukum/tradisi.

Ciri-cirinya:

  • Kesombongan: perasaan superioritas spiritual terhadap mereka yang tidak mengikuti aturan-aturan ketat yang sama.
  • Berorientasi pada perbuatan: keyakinan bahwa penerimaan oleh Tuhan diperoleh melalui ritual agamawi, atau perilaku moral yang Semakin ketat peraturan yang dibuat, merasa semakin saleh lebih dari yang lain.
  • Suka mencari pembenaran diri, gengsi untuk mengakui kelemahan/kesalahannya di depan orang lain, berlaku munafik.
  • Tidak hidup dalam kasih karunia Allah; hanya berfokus pada penampilan religius, bukannya integritas hati dan transformasi batin.
  • Pengetahuan firman ditafsirkan menurut pengertian sendiri untuk menuding/menghakimi orang lain yang tidak hidup menurut standarnya. Pengetahuan firman tanpa kasih = kesombongan; pengetahuan firman disertai kasih = membangun manusia roh.
  • Menggantikan sukacita akan kasih karunia dengan tekanan ketakutan, perasaan tidak layak (never good enough mentality), atau ketaatan yang obsesif terhadap aturan.

Solusi

  • Di dalam Kristus, hubungan kita dengan Bapa adalah seperti hubungan anak dan bapa yang berlandaskan kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.
  • Kunci untuk bebas dari roh perbudakan:
  • Tinggal dalam kasih Kristus (Yohanes 15:9). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Ketakutan mengandung hukuman, dan jika kita takut, kita tidak sempurna di dalam kasih.
  • Tinggal dalam kasih Kristus artinya melakukan perintah-Nya (Yoh. 15:10). Untuk mampu melakukan perintah-Nya: hiduplah dipimpin Roh Kudus. Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14).
  • Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan terus membarui akal budi dengan firman, melakukan pemberesan hati, hidup dalam pertobatan, dan berjalan dalam kasih karunia (bergantung penuh pada Roh Kudus).

PENUTUP

Roh Kudus diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam kemerdekaan. Roh perbudakan mendatangkan rasa takut, Roh Kudus memberikan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Dengan empowerment dari Roh Kudus, kita bisa melaksanakan Amanat Agung: membawa orang-orang kepada Kristus serta memuridkan, supaya nantinya mereka juga bisa memuridkan orang lain, demikian seterusnya.

TANDA KEHIDUPAN YANG DIPIMPIN ROH KUDUS

TANDA KEHIDUPAN YANG DIPIMPIN ROH KUDUS

Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita telah dibebaskan dari hukum dosa dan maut. Melalui karya salib-Nya, Kristus telah menggenapi tuntutan Hukum Taurat yang tidak mampu dilakukan manusia, supaya kita dapat hidup dalam hidup yang baru: hidup menurut Roh, bukan menurut daging (Roma 8:1–4). Kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah. Karena itu, hidup dipimpin oleh Roh Kudus bukan sebuah pilihan, melainkan identitas dan panggilan kita. Pertanyaannya sekarang, apakah hidup kita benar-benar dipimpin oleh Roh Kudus, atau masih dikendalikan oleh daging?

Untuk mengevaluasi apakah kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus, perhatikan 5 area utama berikut:

1. PIKIRAN
“Mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” (Roma 8:5)

Pikiran adalah medan pertempuran utama. Mari jujur melihat diri sendiri: apa yang paling sering memenuhi pikiran kita? Apakah kita berpikir berdasarkan firman Tuhan? Atau berdasarkan perasaan, asumsi, dan keadaan?

Kitab Roma pasal 8 mengatakan ada dua arah pikiran: pikiran daging dan pikiran Roh. Pikiran daging memikirkan hal-hal yang berasal dari daging seperti pikiran negatif, kuatir, curiga; membandingkan diri; mengingat kesalahan orang lain; pikiran kotor/najis dan jahat, serta pikiran yang berfokus pada hal sementara. Pikiran yang berasal dari Roh memikirkan perkara-perkara yang terarah kepada Kristus; mencari kehendak-Nya; fokus pada hal yang kekal, serta membawa damai sejahtera dan kejelasan (tidak membingungkan).

Cara untuk hidup dipimpin Roh dalam area pikiran adalah dengan menolak pikiran yang salah (jangan “di-entertain”), menawan setiap pikiran kepada Kristus, dan mendisiplinkan pikiran dengan firman Tuhan.“Pikirkanlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, patut disebut kebajikan dan patut dipuji…”(Filipi4:8). Orang yang dipimpin Roh tidak membiarkan pikirannya liar; sebaliknya, dia melatihnya sedemikian rupa ke arah Kristus yang adalah Kepala.

2. KEINGINAN
“Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6)

Sebenarnya masalah terbesar bukanlah apa yang terjadi di luar kita, tetapi apa yang kita pikirkan dan inginkan di dalam hati. Cara sederhana untuk mengujinya adalah evaluasi keinginan kita: apa yang paling kita kejar di hidup ini? Apa yang paling kita pikirkan saat sendiri?
Keinginan daging mengandung ambisi egois, cinta uang/status, haus akan pengakuan, sarat dengan hawa nafsu (seks, makan, emosi), kesombongan, iri hati, dan mengejar hal yang sia-sia.

“Keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup…” (1 Yohanes 2:15–16) Ingat baik bahwa keinginan daging tidak bisa diperbaiki, tapi harus senantiasa disalibkan.

Keinginan Roh menimbulkan rasa haus akan Tuhan; kerinduan untuk hidup kudus; mengasihi Tuhan dan sesame; dorongan untuk menaati Tuhan, bukan sekadar ingin diberkati dan berhasil; serta keinginan untuk membangun, bukan merusak. Orang yang dipimpin Roh akan belajar berkata “tidak” pada diri sendiri, supaya bisa berkata “ya” kepada Tuhan.

3. PERBUATAN
“Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13)

Tiap orang dikenal dari buah/perbuatannya. Perbuatan adalah bukti valid yang menunjukkan siapa yang memimpin hidup kita. Contoh: Bagaimana respons kita saat menghadapi tekanan? Apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat? Bagaimana kebiasaan kita sehari-hari? Apakah hidup kita menghasilkan perbuatan daging (Galatia 5:19–21), atau buah-buah Roh?

Kebenaran penting yang harus diingat: Orang percaya bisa saja jatuh, tapi ia akan cepat bangkit/bertobat—tidak tinggal/tenggelam dalam dosa.

Orang yang dipimpin Roh akan cepat bertobat dan tidak merasa nyaman hidup dalam dosa. Orang yang dipimpin Roh bergantung pada Roh Kudus yang menolongnya untuk berubah. “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan jangan merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14). Hidup dipimpin Roh itu bukanlah teori, tapi terlihat jelas dari cara kita hidup sehari-hari.

4. PERASAAN
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa !” (Roma 8:15).

Tidak dapat disangkal, kadang kita dilanda perasaan-perasaan negatif seperti kuatir, cemas, putus asa, tidak berharga, marah, sedih, rasa bersalah, malu, iri, cemburu, kesepian, dlsb. Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan diarahkan untuk hidup oleh iman, bukan karena perasaan yang bisa berubah-ubah tiap saat. Ia tidak mengizinkan perasaan-perasaan negatif tersebut memimpin, mengendalikan, atau memperbudak hidupnya. Tidak terhanyut oleh perasaan negatif sebab Roh Kudus meluruskan pikiran dan perasannya dengan firman kebenaran.

5. KESAKSIAN BATIN
Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita , bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:16).

Jika ada ketidakbenaran dalam diri kita, maka Roh Kudus akan memperingatkan kita. Teguran kasih dari Roh Kudus itu jelas, tepat dan berdasarkan firman Tuhan, bukan sekadar perasaan bersalah yang semu. Iblis mengintimidasi, mendakwa dan membuat kita ingin menjauhi Tuhan, tapi teguran Roh Kudus mendorong kita untuk datang kepada-Nya dan bertobat.

Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah (1 Yohanes 3:19b-21).

 

ROH KUDUS MEMIMPIN DAN MENGARAHKAN

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14). Roh Kudus memimpin hidup kita ke arah:

Pengharapan di dalam Kristus

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Roma 8:18, 24-25).

Seperti apa pun keadaan, pergumulan, dan kesulitan yang kita alami, Roh Kudus akan selalu mengarahkan kita kepada pengharapan, bukan keputusasaan. Firman yang diingatkan oleh Roh Kudus membangkitkan iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Dan pengharapan dalam Kristus tidak akan mengecewakan, sebab kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5).

Kasih Karunia Allah

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:26-28).

Roh Kudus tidak membiarkan kita berfokus pada keadaan, kesulitan, masalah, kelemahan, atau kegagalan kita, tetapi mengarahkan kita untuk hidup dalam kasih karunia Allah. Kita dibawa untuk melihat besarnya kasih karunia Allah yang memampukan dan membawa kita kepada kemenangan. Bagi kita, sukar dan tidak mungkin; bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Roh Kudus membantu kita di dalam kelemahan serta keterbatasan kita. Ia mendorong kita untuk mengandalkan Allah sepenuhnya.

Karakter yang semakin menyerupai Kristus

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya

Melalui penderitaan, masalah, dan tantangan, Roh Kudus akan memroses kita untuk semakin menyerupai Kristus. ..Jika kita adalah anak, maka kita juga ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah, jika kita menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.. (Roma 8:17).

PENUTUP

Hidup dipimpin Roh Kudus bukan soal seberapa lama kita jadi Kristen atau seberapa banyak kita tahu firman, tetapi apa/siapa yang mengontrol pikiran, keinginan, dan tindakan kita setiap hari. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus bukan sekadar menjadi pelaku firman, tetapi hidup dalam persekutuan kasih dengan Allah. Bukan ‘doing’ (melakukan perintah Tuhan sebagai Taurat/aturan yang mengikat), tapi ‘being’ (sebagai anak-anak Allah yang sudah sewajarnya melakukan perintah Bapa). Hidupilah identitas dan panggilan kita dengan hidup dipimpin Roh Kudus.

HIDUPLAH OLEH ROH

HIDUPLAH OLEH ROH

PENDAHULUAN

Memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa murid Kristus bukan sekadar kegiatan pelayanan. Ini adalah sebuah peperangan rohani. Kuasa kegelapan berusaha menutupi hati manusia sehingga mereka menolak terang Injil, karena terang itu menyingkapkan perbuatan mereka yang jahat. Iblis selalu berusaha menghalangi orang untuk mendengar dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Karena itu, tantangan dalam menyelesaikan Amanat Agung ke depan tidak akan semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Namun Tuhan tidak membiarkan kita berjuang sendirian. Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk menolong, memimpin, dan memampukan kita sampai kepada akhir zaman. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu belajar hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.

ISI

Meskipun kita sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kita masih dapat mengalami pergumulan dengan dosa dan kedagingan. Rasul Paulus sendiri mengakui pergumulan ini dalam hidupnya. Roma 7:19 berkata:“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Pergumulan ini menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada pertentangan antara keinginan Roh dan keinginan daging. Ketika seseorang hidup menurut kedagingan, manusia rohnya menjadi lemah. Kedagingan membuka celah bagi si jahat untuk menjerat dan mempengaruhi kehidupan kita. Akibatnya kita menjadi sulit mendengar suara Roh Kudus dan mudah jatuh ke dalam dosa. Jika kedagingan dibiarkan, maka kesatuan tubuh Kristus akan rusak, dan gereja tidak dapat menjalankan panggilannya dengan maksimal.

Karena itu firman Tuhan berkata dalam Galatia 5:16:

“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

Firman Tuhan menjelaskan bahwa perbuatan daging menghasilkan berbagai dosa seperti perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Tetapi kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Orang yang hidup oleh Roh tidak hanya memiliki pengetahuan tentang firman Tuhan. Roh Kudus menghidupkan firman itu di dalam hatinya sehingga ia dimampukan untuk menjadi pelaku firman.

Bagaimana Caranya Hidup Oleh Roh?

1. Menjaga hubungan dengan Tuhan melalui doa, pujian, dan penyembahan.

Sering kali kesibukan, kelelahan, masalah hidup, atau berbagai tuntutan membuat kita lalai membangun hubungan dengan Tuhan. Namun kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang membuat kita merasa punya alasan untuk tidak mencari Tuhan. Kita perlu dengan sengaja menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya. Belajar membayar harga untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, sebab Yesus berkata bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Melalui doa, pujian, dan penyembahan, kita masuk ke dalam hadirat Tuhan. Di dalam hadirat-Nya kita belajar mendengar suara-Nya dan memahami kehendak-Nya bagi hidup kita. Di sana manusia roh kita dikuatkan dan dipuaskan oleh Roh Kudus sebagai sumber air hidup.

Ketika kita terus bertekun dalam hadirat Tuhan, Roh Kudus semakin memenuhi hati dan hidup kita. Kita semakin peka terhadap pimpinan-Nya dan semakin rindu untuk menaati-Nya.

2. Menanggalkan manusia lama dan memperbarui pikiran dengan firman Tuhan

Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang pikirannya sia-sia dan hatinya menjadi keras. Efesus 4 mengingatkan kita untuk meninggalkan kehidupan lama: membuang dusta, mengendalikan amarah, hidup jujur, bekerja dengan benar, dan menjaga   supaya perkataan kita membangun orang lain.

Ketika kita terus memperbarui pikiran kita dengan firman Tuhan, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita untuk mengubah cara berpikir, sikap, dan tindakan kita. Kita belajar mengenakan manusia baru yang hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

3. Hidup dalam kasih dan saling melayani

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan nyata melalui hubungan kita dengan orang lain. Efesus 4:31-32 mengajar kita untuk membuang kepahitan, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Sebaliknya, kita dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati, saling mengasihi, dan saling mengampuni. Galatia 5:13 berkata: “Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Kasih adalah bukti nyata bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan kita.

PENUTUP

Firman Tuhan berkata: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25). Godaan dan tantangan dalam hidup pasti tetap ada, namun Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita untuk tidak tunduk kepada keinginan daging.

Kemerdekaan yang kita terima di dalam Kristus bukan digunakan untuk hidup sesuka hati, tetapi untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus. Ketika kita hidup oleh Roh, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih, menjaga kesatuan tubuh Kristus, dan bersama-sama menyelesaikan Amanat Agung yang Tuhan percayakan kepada gereja-Nya. Kiranya setiap kita belajar semakin hari semakin hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

Monthly Theme: Menyelesaikan Amanat Agung Diperlengkapi Kuasa Roh Kudus

PENDAHULUAN

Allah memberikan kehendak bebas ketika menciptakan manusia. Bukti bahwa manusia diciptakan “segambar” dan “serupa” dengan Allah adalah manusia diberi akal budi untuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusan. Manusia tidak diciptakan bagai sebuah robot/mesin yang hanya beroperasi sesuai dengan tombol perintah dari “sang operator”. Waktu menghadapi banyak pilihan, sebagai makhluk berakal budi, manusia dilatih untuk dapat menimbang-nimbang segala pilihan-pilihan itu, inilah yang disebut dengan kehendak bebas.

ISI

Di Taman Eden, pohon pengetahuan yang baik dan jahat tidak dilenyapkan oleh Tuhan sebagai bukti bahwa Ia menghargai kehendak bebas manusia. Manusia diajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuatnya, karena ada konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Tuhan memberikan kehendak bebas (kemerdekaan) dalam memilih sebagai cerminan pemberian kedaulatan Tuhan bagi manusia dalam porsi yang terbatas. Kehendak bebas manusia sama sekali tidak dapat melunturkan Kemahakuasaan dan Kedaulatan Tuhan.

Mengenai kemerdekaan/kebebasan manusia, ada peringatan keras dalam Galatia 5:13. Walaupun manusia dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan, jangan sampai kehendak bebas itu digunakan untuk hidup dalam dosa yang dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri. Sebaliknya, kemerdekaan itu hendaknya dipakai untuk dapat melayani/membangun satu dengan lainnya atas dasar kasih sesuai dengan kehendak Tuhan.

Barry Schwartz, lewat Paradox of Choice menyatakan bahwa ada dua jenis kebebasan atau kemerdekaan:
• Kebebasan Negatif (Negative Freedom): adalah bebas dari perintah dan aturan. Dengan bebas dari perintah dan aturan, manusia menjadi makhluk liar.
• Kebebasan Positif (Positive Freedom): adalah suatu keadaan dimana dengan kebebasan yang dimiliki, manusia memilih untuk melakukan isi perintah dan aturan yang dapat memaksimalkan potensinya.

Bila kebebasannya digunakan secara negatif, manusia menjadi bebas sebebas bebasnya, tanpa aturan, tanpa hukum, tanpa etika, tanpa moral, tanpa mempertimbangkan hak dan kewajiban sesamanya; dan manusia akan menjadi makhluk yang liar. Tapi bila kebebasannya digunakan untuk memilih yang baik dan benar, maka lewat pilihannya itu, ia dapat memaksimalkan potensi dirinya sendiri dan juga potensi orang lain, sehingga apa yang sudah dirancangkan oleh Allah Sang Pencipta dapat dicapai secara penuh.

Tuhan menghendaki manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk menaati kehendak-Nya. Allah ingin manusia mengikuti kehendak-Nya bukan karena terpaksa, melainkan dengan sadar memilih untuk taat akan perintah Tuhan. Inilah tujuan Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia; di tengah-tengah segala pilihan yang ada, manusia tetap dapat menaati kehendak Tuhan. Sayangnya manusia gagal, keliru menggunakan kehendak bebasnya, sehingga jatuh ke dalam dosa. Padahal, jika manusia memilih untuk taat kepada Tuhan, rencana Tuhan akan digenapi dengan sempurna (Kejadian 1:28).

Tuhan tetap bekerja diatas kehendak bebas manusia. Roma 8:28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam “segala sesuatu”, termasuk di dalamnya adalah kehendak bebas manusia. Allah dapat menunjukkan kedaulatan-Nya dalam kehendak bebas manusia.  Ketika saudara-saudara Yusuf merancangkan yang jahat kepadanya, Tuhan tidak melakukan intervensi atas tindakan jahat mereka tapi Allah menggunakan perbuatan-perbuatan jahat saudara-saudara Yusuf tersebut untuk menjadi jalan bagaimana Allah memelihara sebuah bangsa yang besar. Ia dipakai Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan (Kejadian 50:20).

Bagaimana cara menggunakan kehendak bebas dengan benar? Dalam Yohanes 15:7 Tuhan mengatakan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
“Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, terlihat betapa Tuhan juga tetap menghargai kehendak bebas manusia. Bagaimana supaya kehendak bebas manusia tidak dipakai sembarangan sehingga jatuh dalam dosa? Jawabannya adalah, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Supaya tidak salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, manusia harus betul-betul hidup melekat dengan Tuhan dan selaras dengan Firman Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia untuk memiliki pengetahuan (cognitive) yang benar tentang Tuhan dan memiliki pengalaman hidup (affective) bersama dengan Tuhan sehingga manusia dapat menggunakan kehendak bebas yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Cognitive adalah aktivitas mental/proses berpikir yang melibatkan kemampuan otak dalam menerima, memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi. Ini mencakup fungsi seperti belajar, mengingat, memecahkan masalah, penalaran, perhatian, dan pengambilan keputusan. Affective adalah kata sifat yang berkaitan dengan emosi, perasaan, suasana hati (mood), dan sikap seseorang. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana perasaan memengaruhi perilaku, pemikiran, atau reaksi seseorang terhadap stimulus.

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran (cognitive) dan perasaan (affective) yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Untuk menjadi seperti Yesus, seorang pribadi yang kuat membutuhkan keseimbangan antara cognitive (pikiran) dan affective (perasaan) seperti Filipi 2:5 dan Galatia 5. Supaya manusia tidak tersesat dalam kehendak bebasnya, ia harus hidup sesuai dengan pimpinan Roh Kudus, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16).

PENUTUP

Diskusi:
Mengasihi Tuhan bukan sekedar perasaan sayang/kasih, tetapi harus didemonstrasikan dengan ketaatan (Yohanes 14:15). Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan memakai kemerdekaan/kehendak bebas kita untuk taat melakukan perintah Tuhan; hidup di pimpin Roh Kudus dan Firman Tuhan. Baca Galatia 5:13.

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

PENDAHULUAN

Pemahaman yang benar akan identitas orang percaya dalam 1 Petrus 2:9 membawa kepada kesadaran akan tugas panggilannya. Di dalam identitas itu terkandung misi yang harus dijalani. Gereja/orang percaya hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjalankan misi Allah, yaitu untuk menyatakan keagungan-Nya yang telah memanggil kita dari kuasa dosa dan keputusasaan (kegelapan) menuju kebenaran dan kebebasan (terang Tuhan yang ajaib).

ISI

Identitas orang percaya

Kita disebut sebagai bangsa yang terpilih karena meresponi berita Injil Kristus dengan iman dan ketaatan. Sebagai imam Allah yang rajani, diberikan kuasa otoritas menjadi kepala untuk tujuan melayani dan membawa orang dunia mengenal kebenaran (bukan untuk dilayani dan menyalahgunakan kuasa). Menjadi pendoa syafaat, membawa orang lain menyembah Tuhan, menjadi berkat, dan menjadi agen transformasi yang membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan bangsa-bangsa. Kita dipanggil untuk memiliki cara hidup yang berbeda dari dunia supaya dapat hidup bagi Allah di dalam kekudusan sejati.

Misi orang percaya

Memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah, artinya menjadi saksi Kristus yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemuliaan Allah kepada orang lain. Misi dilakukan bukan dengan perkataan saja, tapi dibuktikan dengan gaya hidup dan buahnya yang mencerminkan Pribadi Kristus. Perkataan tanpa bukti perubahan hidup (transformasi nilai dan karakter) adalah misi yang tidak valid (artinya sama saja tidak menjalankan misi).

Menjalankan misi Tuhan di dunia bukanlah perkara mudah; diperlukan iman yang teguh, sikap yang konsisten  dan manusia roh yang dewasa untuk bisa bergerak maju di tengah kesulitan, aniaya  serta perlawanan dari penguasa dunia yang membutakan banyak orang (Iblis dan ilah-ilah jaman). Mereka yang hidup oleh iman kepada Kristus memang akan alami ujian berupa masalah, tantangan, dan penderitaan. Meskipun begitu, misi Allah tidak dapat dibatasi/digagalkan oleh hal-hal tersebut, sebab semua yang lahir dari Allah dapat mengalahkan dunia. Justru melalui masalah dan penderitaan, iman orang percaya semakin dikuatkan dan dimurnikan sehingga memancarkan terang kemuliaan Tuhan di tengah dunia yang gelap.

1 Petrus 2:11-16 memberikan panduan praktis untuk menjalankan misi Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Latih diri untuk menjauhi keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11).

Keinginan-keinginan daging membuat kita tidak bisa hidup oleh iman dan taat kepada pimpinan Roh Kudus, sebab keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Perbuatan daging yang harus dimatikan: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala (pemberontakan/ketidaktaatan/kedegilan hati dapat disamakan dengan penyembahan berhala), sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan (saling melukai, menyakiti, pertengkaran yang merusak hubungan dan perasaan orang lain), roh pemecah (gossip, fitnah), kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.

Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:27).

  1. Miliki cara hidup yang terpuji di tengah komunitas sekitar kita (1 Petrus 2:12).

Menjalankan gaya hidup Kerajaan Allah yang  konsisten membuat orang dunia dapat melihat kebaikan, kasih karunia dan kekudusan Allah melalui perilaku kita. Kelola hubungan dengan orang lain dalam kasih dan takut akan Tuhan; bangun karakter yang berintegritas (mis. jujur, melakukan apa yang kita katakan, bertanggung jawab, disiplin, tepat waktu, berani mengakui kesalahan, berkomitmen, setia, rajin, berdiri di atas kebenaran); jaga sikap dan perkataan, peduli kepentingan orang lain; cekatan/tidak segan menolong, melakukan kebaikan, dlsb. Memiliki cara hidup yang terpuji membuat orang dunia dapat melihat perilaku kita yang baik dan memuliakan Allah pada hari mereka dilawat-Nya.

  1. Berespon benar dalam menghadapi masalah, kesesakan, saat diperlakukan dengan tidak adil atau penderitaan lainnya (1 Petrus 2:21-23).

Jangan bersandar pada pikiran dan cara sendiri, tapi belajar mengikuti teladan Kristus sewaktu Ia dalam menghadapi kesesakan. Tidak hidup dipimpin perasaan tapi memilih berjalan dengan iman, ketaatan serta hanya mengandalkan Tuhan, maka pertolongan dan mukjizat pasti dianugerahkan kepada mereka yang percaya dan mengandalkan-Nya. Kesaksian hidup kita dapat dipakai Tuhan untuk menjangkau orang lain untuk datang kepada-Nya.

  1. Tunduk kepada lembaga pemerintahan (1 Petrus 2:13-14) dan kepada otoritas di atas kita (1 Petrus 2:18-19). Bayar pajak, ikuti aturan-aturan yang berlaku, doakan supaya para pemimpin negara/kota diberi roh takut akan Tuhan dan hikmat ilahi dalam menjalankan tugasnya.

PENUTUP

Panggilan Tuhan bagi kita adalah panggilan yang menuntut rasa hormat dan takut akan Dia. Hal ini mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan anugerah tersebut. Hiduplah sebagai orang merdeka dalam Kristus; jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa gaya hidup kita harus memancarkan misi Kerajaan Allah. Terang di tengah kegelapan dunia. Jangan malah menjadi batu sandungan yang menghalangi orang datang kepada Tuhan Yesus. Bertekunlah dalam doa agar Allah melawat mereka yang belum percaya lewat kehidupan saudara.

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

Sekilas review:

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui:

a. Pembacaan dan perenungan firman.

b. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Sambungan minggu ini:

c. Belajar dari pengalaman, dan dari kesalahan diri sendiri maupun orang lain.

Awal dari transformasi rohani adalah kesadaran diri (self-awareness). Self-awareness memungkinkan individu memahami watak, mengenali pikiran dan perasaan sendiri, kecenderungan sikap/perilaku yang bisa membuat kita jatuh, kelemahan/kekurangan, kelebihan, kesalahan/dosa, kondisi/motivasi hati serta kebutuhan akan perubahan. Tanpa kesadaran diri, seseorang tidak akan menyadari kalau dirinya perlu berubah, bertobat, mencari Tuhan, menerima pemulihan dan mengalami transformasi. Self-awarness memerlukan kejujuran, kerendahan hati, pengetahuan akan firman kebenaran serta kebergantungan kepada kuasa Roh Kudus.

Penting untuk diperhatikan bahwa self-awareness yang benar harus berpusat pada Kristus dan kasih karunia Allah. Memahami identitas kita dalam DIA yang telah mengasihi kita (yaitu sebagai ciptaan baru, bangsa pilihan, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, sebagai anak-anak Allah yang telah diberi kuasa), dan apa tujuan Allah memanggil kita keluar dari kegelapan (yaitu untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia).

Hal ini penting supaya tidak terjebak dalam gambar diri yang keliru (yang menimbulkan perasaan tidak aman/feeling insecure), mengasihani diri sendiri (self-pity); atau sebaliknya menjadi sombong rohani karena memiliki kelebihan, karunia, menerima mukjizat, mengalami kemenangan atau berhasil dalam pelayanan.

Mengetahui bahwa Roh Kudus berdiam di hati kita adalah satu hal, akan tetapi menyadari kehadiran-Nya setiap saat dalam seluruh hidup kita adalah hal lain yang harus dilatih. Bahwa Roh Kudus mengerti isi pikiran, perasaan, serta mengetahui kedalaman/rahasia hati kita. Kesadaran ini mendorong kita untuk menghormati Kristus dalam hati dan jiwa (pikiran, perasaan, tindakan yang berupa perkataan dan keputusan). Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan (1 Petrus 3:15a). Kesadaran akan kehadiran Roh Kudus membawa kita senantiasa hidup dalam pertobatan, rindu untuk hidup dalam kebenaran/kekudusan dan berkenan di hadapan Tuhan.

Satu-satunya yang layak menjadi teladan bagi kita hanyalah Tuhan Yesus, sebab hanya Dia yang sempurna dan tidak pernah berbuat dosa. Namun sebagai  anggota tubuh Kristus yang saling mengasihi, kita bisa menjadi contoh bagi sesama anggota Cool dalam arti membagikan sesuatu yang bisa dipelajari: baik dari kesalahan, kejatuhan, kebodohan, kesombongan, kelemahan/kekurangan, kelebihan; dan bagaimana kasih karunia Allah menolong, memerdekakan, memulihkan dan membawa kita kepada kemenangan. Hal-hal apa yang harus ditanggalkan, dihindari, dilakukan, ditingkatkan, dlsb. Buah kehidupan kita bisa menjadi ‘benih’ dan berkat bagi orang lain; menolong mereka untuk bertumbuh dalam iman, kasih, ketaatan dan karakter.

d. Ujian iman: masalah, tantangan, penderitaan, krisis, gesekan, sakit-penyakit, dlsb.

Masalah, kesesakan/penderitaan menyadarkan kita akan keterbatasan dan kelemahan  diri. Saat mengandalkan diri sendiri atau orang lain, kita malah jauh dari berkat dan solusi. Masalah dan penderitaan mengajarkan kita hanya Tuhan satu-satunya yang bisa diandalkan sebab Dialah sumber segala sesuatu.

Allah dapat memakai masalah dan penderitaan untuk mengubah cara pandang; memurnikan, mendewasakan, dan mengokohkan iman; serta membentuk karakter kita. Kita jadi semakin bergantung kepada Roh Kudus. IA menolong kita untuk bisa meresponi masalah/penderitaan dengan benar, belajar rendah hati, belajar mengasihi dan mengampuni orang lain, bertekun dalam iman, menantikan pertolongan-Nya, serta bertindak dengan kuasa-Nya. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (dalam hal ini transformasi), bagi kita yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

e. Melalui pelayanan.

Pelayanan (dalam atau luar gereja) menolong kita untuk:

  • bertumbuh dalam mengasihi Tuhan dan sesama (saling merendahkan hati, saling melayani), belajar menundukkan diri,
  • melayani dengan motivasi hati yang benar, kudus dan tulus,
  • mempertahankan kedisiplinan rohani (membaca firman secara teratur, mezbah pribadi/ pujian penyembahan, bersyafaat untuk orang lain, menjaga kekudusan),
  • mengembangkan karunia dan talenta, melatih kepekaan rohani (melayani dalam pimpinan Roh Kudus),
  • meningkatkan skill/ketrampilan, baik dalam hal teknis maupun interpersonal (komunikasi, kerja sama/unity dalam tim, manajemen waktu, adaptasi, mengatasi masalah, dsb).

PENUTUP

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih ..Jangan berpuas diri hanya sebagai orang Kristen yang ‘dipanggil’ (sekedar pengunjung atau anggota jemaat), tetapi jadilah orang yang ‘dipilih’. Responi panggilan Tuhan dengan cara bertekun dalam proses pemuridan agar kita sampai kepada tujuan pemanggilan itu sendiri, yaitu hidup dalam kebenaran & kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia.

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22:14)

PENDAHULUAN

Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.  Undangan ini bukan bicara tentang Allah pilih kasih atau membatasi keselamatan hanya untuk orang/golongan/bangsa tertentu saja. Panggilan keselamatan ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali, namun hanya sedikit yang meresponi panggilan tersebut dengan sungguh-sungguh. Banyak yang dipanggil, tapi yang dipilih hanyalah mereka yang sungguh-sungguh. Panggilan bersifat umum, namun pemilihan didasarkan pada hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kesetiaan.

ISI

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan keselamatan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Cara pandang kita diubah sesuai dengan perspektif Allah; nilai/prinsip, sikap dan perilaku disesuaikan dengan nilai-nilai  kebenaran; hati dan jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar yaitu berporos pada kehendak Allah. Pemuridan menjadikan kita dewasa dalam iman dan karakter; tajam dalam skill/kecakapan untuk melakukan tugas pelayanan sesuai karunia masing-masing; dewasa dalam pemikiran, menghadapi masalah dan mengambil keputusan; dalam mengelola berkat/finansial; dalam hubungan dengan orang lain, menyikapi perbedaan, gesekan serta menghadapi orang-orang yang sulit, dlsb.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui hal-hal berikut:

1. Pembacaan dan perenungan firman.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,  sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2).

Akal budi adalah hal pertama yang harus mengalami pembaruan. Dalam membaca dan merenungkan firman,  minta Roh Kudus menerangi hati dan jiwa kita agar  mengerti kebenaran firman dan mengerti kehendak Allah secara khusus bagi kita. Dengan perenungan, firman Tuhan bukan hanya jadi pengetahuan, tapi menjadi pewahyuan/rhema yang memperbarui akal budi kita.

Pikiran/pemahaman/ cara pandang  yang keliru diluruskan, perasaan/emosi negatif disingkapkan, motivasi hati yang salah dikoreksi, hati yang keras dilembutkan, kesombongan diruntuhkan. Kita jadi mengenal cara kerja Allah dan kehendak-Nya, apa yang Dia suka dan tidak, dlsb. Firman Tuhan menjadi pelita yang menerangi kegelapan dalam hati dan jiwa, menjadi cermin rohani yang menyatakan dosa/kesalahan, menyingkapkan kelemahan/kekurangan diri yang tidak kita sadari, mengoreksi hati, dengan demikian kita diajar dan dididik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

2. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Kita tidak mampu mengerti firman dan melakukannya jika tidak ditolong oleh Roh Kudus. Meski sudah memiliki banyak pengetahuan firman, tapi kita belum tentu mampu melakukan firman menurut kehendak Allah. Pengetahuan firman tanpa hikmat pewahyuan membuat kita tidak mengerti dan tidak bisa menjadi pelaku firman; pengertian tanpa ketaatan pun sia-sia.

Permulaan hikmat ialah perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian (Amsal 4:7).

Dari segala pengetahuan firman yang kita peroleh, perolehlah hikmat/pengertian/pewahyuan/rhema. Pengetahuan firman adalah apa yang kita dapat dari sharing bahan Cool, mendengarkan khotbah di ibadah raya, dari membaca renungan,dan kelas-kelas pengajaran;  hikmat adalah penerapan dari pengetahuan firman dengan tepat, benar dan bijak. Pengetahuan (knowledge) menjelaskan ‘what’, pengertian (understanding) menjelaskan ‘how’, hikmat (wisdom) menjelaskan ‘why’.

Pengetahuan membuat kita mengerti bahwa hari ini akan hujan, hikmat membuat kita menyediakan payung. Pengetahuan membuat kita memahami bahwa lampu hijau telah berubah menjadi merah, hikmat membuat kita menginjak rem. Pengetahuan menghapal ayat-ayat firman, pengertian menolong kita mengerti makna firman, hikmat membuat kita menghidupi/melakukan firman tersebut.

Hanya Roh Kudus yang mampu menerangi hati dan jiwa kita untuk mengerti kehendak Allah melalui firman tersebut. Hanya Roh Kudus yang bisa memberi hikmat, pewahyuan dan rhema firman serta mendorong kita untuk melakukan firman.

Bersambung minggu depan …

 

 

 

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

PENDAHULUAN

Injil bukan sekadar kabar baik yang menyelamatkan, tetapi kuasa Allah yang hidup dan aktif, yang terus bekerja mentransformasi setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Yesus tidak hanya memanggil kita untuk menerima keselamatan, tetapi untuk mengalami perubahan hidup yang nyata melalui hubungan yang taat kepada-Nya. Karena itu, Amanat Agung bukan hanya perintah untuk memberitakan Injil, melainkan panggilan untuk memuridkan —membawa orang kepada Kristus dan menuntun mereka hidup dalam ketaatan penuh kepada semua yang Dia ajarkan (Mat. 28:18–20). Melalui proses pemuridan, Injil membebaskan kita dari dosa dan ikatan, memperbarui seluruh aspek kehidupan, dan membentuk kita menjadi murid-murid Kristus yang hidup sebagai terang Allah di tengah dunia yang gelap.

ISI

Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan menyerupai dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—dan kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan semakin serupa dengan dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—kita kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup berporos pada kehendak Allah.

Untuk mengalami transformasi melalui pemuridan bukanlah perkara mudah, instan dan dangkal, namun mungkin untuk dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Diperlukan keteguhan hati untuk mengikuti proses pemuridan yang berlangsung seumur hidup. Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Menyangkal diri artinya menundukkan keinginan sendiri kepada kehendak Kristus.

Pelaksanaan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung. Perintah Agung (Great Commandment, Matius 22:37-40) berfokus pada kualitas hubungan dengan Allah dan sesama, sementara Amanat Agung (Great Commission, Matius 28:19-20) adalah perintah untuk memuridkan, membaptis, dan mengajar semua bangsa. Kasih (Perintah Agung) adalah motivasi, sementara misi (Amanat Agung) adalah demonstrasi kasih untuk membawa orang lain menjadi murid Kristus.  Keduanya tidak terpisahkan dalam kehidupan Kristen.

Tanda bahwa seseorang adalah murid Kristus:

1. Tetap di dalam firman-Nya (baca Yohanes 8:31-32).

 Kata ‘tetap’ (abide/stay) berarti memegang teguh, mendalami, menaati/menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan menerangi hati dan jiwa sehingga akal budi kita diperbarui oleh terang firman Tuhan. Selanjutnya Roh Kudus mendorong dan melatih kita untuk menjadi pelaku firman sekalipun menghadapi tantangan/aniaya, sampai  jiwa kita dimerdekakan dari hal-hal yang menghalangi untuk taat kepada Kristus. Firman Tuhan bukan lagi dipandang sebagai aturan/hukum yang membatasi kebebasan, tapi sebagai terang hidup yang menuntun kita di jalan keselamatan (Mazmur 119:105).

 2. Berbuah banyak (baca Yohanes 15:8). 

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan Bapa adalah Pengusahanya. Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur, maka kita akan menghasilkan banyak buah dengan kualitas yang baik. Kehidupan yang berbuah menandakan bahwa kita adalah murid Kristus.

3. Saling mengasihi (baca Yohanes 13:35; 1 Yohanes 3:14-16).

Saling mengasihi di sini bukanlah himbauan, tapi suatu perintah yang harus ditaati seorang murid Kristus. Kasih yang dimaksud bukanlah perasaan tapi tindakan sesuai dengan kebenaran: rela berkorban, mendahulukan kepentingan orang lain, mengampuni, murah hati, melayani tanpa bersungut-sungut, memahami dan menerima kelemahan orang lain, mengasihi orang-orang yang ‘sulit’, dsb.

4. Mengasihi Tuhan lebih dari orang tua, pasangan, anak, saudara, bahkan nyawanya sendiri (Baca Lukas 14:26).

 Tuhan Yesus tidak mengajar kita untuk ‘membenci’ orang lain, melainkan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri. Akan tetapi Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi DIA lebih dari siapapun, bahkan diri kita sendiri. Jika dihadapkan kepada dua pilihan: melakukan kehendak Tuhan atau orang tua/pasangan/anak/kerabat/orang lain, maka kita mau belajar memilih melakukan kehendak Tuhan, walau itu bertentangan dengan keinginan orang-orang tersebut.

5.  Melepaskan diri dari segala miliknya (baca Lukas 14:33).

Untuk menjadi murid Yesus dibutuhkan suatu sikap penyerahan diri (ketaatan) yang total. Belajar melepaskan diri dari segala miliknya: ego, pikiran yang mengikat, kenyamanan, harta benda, kebiasaan/kepentingan/keinginan diri sendiri, persahabatan dengan dunia, dsb – dan menempatkan Dia sebagai yang utama. Kasih karunia Allah memampukan kita untuk melepaskan diri dari hal-hal tersebut.

 

KESIMPULAN

 

Orang yang menjadi pelaku firman bisa mengajar orang lain melakukan firman Tuhan. Pemuridan yang paling efektif adalah jika orang lain bisa melihat Pribadi Kristus dan firman-Nya mewarnai hidup kita. Dengan begitu, Tuhan turut bekerja dalam segala yang kita perbuat; Ia meneguhkan firman serta kesaksian kita dengan tanda-tanda dan mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

 

Andaikata seluruh anggota Cool dan tubuh Kristus di seluruh dunia benar-benar mengalami transformasi melalui proses pemuridan, maka Amanat Agung bukan lagi dipandang sebagai beban yang berat dan mustahil dicapai, tapi sebagai buah kehidupan yang benar-benar mendampaki dunia. Di tengah krisis dan guncangan, terang kita semakin menyala dan menuntun banyak orang datang kepada Kristus.

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

Sekilas review:

Amanat Agung merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Untuk itu kita perlu dimuridkan (diproses) oleh Tuhan untuk dapat menjadikan orang lain murid Kristus dan warga Kerajaan Allah. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana kita belajar taat melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Sambungan minggu ini:

Tuhan Yesus memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana hukum kasih adalah penerapan dari semua pekerjaan misi: mengasihi Allah dan sesama. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Konsep pemberitaan Injil Kerajaan Allah merupakan tema sentral dari pengajaran Tuhan Yesus. Injil artinya kabar baik; memberitakan Injil Kerajaan Allah artinya menyampaikan kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi melalui Yesus Kristus, dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Kerajaan Allah itu bukan soal lokasi, melainkan keadaan di mana kekuasaan/otoritas dan kehendak Allah dinyatakan secara penuh dalam kehidupan seseorang. Bukti bahwa Kerajaan Allah datang atas hidup seseorang adalah ketika kehendak Allah terjadi atas dirinya (Matius 6:10).

Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memuridkan orang lain/segala bangsa supaya mereka juga dapat menjadi warga Kerajaan Allah yang tunduk kepada nilai/prinsip Kerajaan surgawi dan kehendak Allah. Allah menghendaki para murid  menghadirkan Kerajaan-Nya di muka bumi di mana Kristus adalah Rajanya. Kerajaan Allah ada di antara manusia dalam bentuk iman percaya kepada Tuhan Yesus.

 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:-20-21).

Kultur Kerajaan Allah sangat berbeda dengan kultur masyarakat dunia. Menurut KBBI, kultur adalah padanan kata budaya atau kebudayaan, yang merujuk pada keseluruhan cara hidup, pikiran, perilaku, nilai, dan hasil cipta manusia yang diwariskan antargenerasi dalam suatu kelompok masyarakat, meliputi kepercayaan, seni, adat istiadat, dan kebiasaan lainnya. Untuk hidup dalam prinsip Kerajaan Allah, akal budi kita harus diperbarui oleh firman Tuhan (Roma 12:2) supaya kita memahami perkara-perkara yang di atas. Segala pemerintahan/kerajaan di dunia ini akan berlalu, tapi orang yang hidup dalam prinsip Kerajaan Allah (melakukan perintah Tuhan), tinggal tetap dan tidak akan tergoncangkan.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).

Mengapa pemberitaan tentang Kerajaan Allah menjadi fokus pengajaran Tuhan Yesus? Karena nilai/prinsip Kerajaan Allah membawa kebaikan berupa berkat-berkat kehidupan bagi umat manusia yang hidup dalam kegelapan. Allah datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan kedaulatan-Nya melawan pekerjaan Iblis. Injil Kerajaan Allah yang dibawa oleh Tuhan Yesus membawa pemulihan total (roh, jiwa, dan tubuh) di seluruh aspek kehidupan manusia:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19).

Ciri-ciri yang menandakan bahwa Kerajaan Allah hadir di dunia:

  • setan diusir (Matius 12:28).
  • Segala penyakit dan kelemahan dilenyapkan (Matius 4:23)
  • perbuatan-perbuatan Iblis (yaitu dosa dan segala ikatannya) dihancurkan (1 Yohanes 3:8).
  • Manusia dikuasai oleh kebenaran, damai, dan sukacita (Roma 14:17).
  • Orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah akan menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

 Inilah yang Allah kehendaki, yaitu Kerajaan-Nya datang di bumi melalui kehadiran Gereja/orang percaya. Amanat Agung tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan manusia, tetapi harus dengan kuasa Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8). Gereja/orang percaya perlu belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dalam kehidupan pribadi maupun secara bersama-sama.

PENUTUP

Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung di akhir jaman ini. … Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Roh Kudus memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir jaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman dan kehilangan fokus, tapi persiapkan diri untuk menyelesaikan Amanat Agung bersama-sama.