Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
MUJIZAT YANG MEMBAWA PERTOBATAN

MUJIZAT YANG MEMBAWA PERTOBATAN

Mujizat adalah intervensi Allah terhadap hukum alam, yang dilakukan-Nya untuk menyatakan kasih dan pertolongan serta menyatakan kemuliaan-Nya kepada mereka yang kepadanya mujizat itu dilakukan. Mujizat pastinya adalah hal yang luar biasa dan pada umumnya menarik perhatian, sebab tidak sedikit orang yang berharap dan berdoa untuk mendapatkannya. Akibatnya orang senang dengan mujizat untuk menerima sesuatu yang instan atau sekedar menjadi penonton suatu hiburan rohani (entertainment). Akan tetapi seharusnya kehendak Tuhan melakukan mujizat agar orang mengalami pertobatan dan percaya bahwa Tuhan itu ada; Tuhan itu baik; dan Tuhan berkuasa untuk menolong.
Pertobatan menurut Alkitab adalah tindakan di mana manusia berbalik kepada Tuhan dan menyadari dosa-dosa mereka untuk tidak hidup dalam dosa lagi. Namun tidak sedikit orang yang masih berbuat dosa yang sama setelah bertobat (katanya). Hal ini menunjukkan bahwa pertobatannya bukanlah pertobatan sejati! Kita tidak membutuhkan mujizat sebagai alasan utama untuk bertobat, karena pertobatan seharusnya muncul dari dalam hati, bukan kelihatan dari luar, atau sesuatu yang dapat kita saksikan.
Kita dapat melihat karya Tuhan dari Alkitab.
1. Perjalanan Bangsa Israel dari Mesir Menuju Kanaan
Di sepanjang perjalanan itu, bangsa Israel banyak sekali mengalami pertolongan Tuhan, antara lain:
o Air laut Teberau yang terbelah menjadi dua bagian sehingga bangsa Israel bisa berjalan melewatinya dan terhindar dari kejaran tentara Mesir. (Keluaran 14:21-22)
o Kasut (alas kaki) yang mereka kenakan selama puluhan tahun tidak menjadi rusak. Bila dibandingkan dengan kondisi sekarang, untuk perjalanan selama 40 tahun berapa banyak kasut yang diperlukan oleh satu orang? Mungkin 10 sampai 15 pasang.
o Tuhan memberikan kepada bangsa Israel air yang terpancar dari gunung batu, menurunkan ‘hujan’ Manna (roti dari sorga) untuk dimakan, serta menurunkan ‘hujan’ burung-burung bersayap seperti pasir di laut. (Mazmur 78:20, 24, 27).
Tetapi tetap saja hati bangsa Israel tegar tengkuk dan memberontak kepada Tuhan.
2. Dalam Pelayanan Tuhan Yesus
Dalam Matius 11:20 dinyatakan:
“Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya.”
Ada 6 macam mujizat kesembuhan yang disebutkan pada Matius 11:5. Hari ini begitu banyak orang yang bergantung kepada kesembuhan. Tetapi setelah disembuhkan, mereka pun terhilang.
Yesus mengecam kota-kota itu karena Dia telah banyak melakukan mujizat di sana, tetapi orang di sana tetap tidak peduli dan tidak mempraktekkan Firman Tuhan di dalam kehidupan mereka.
3. Dalam Pelayanan Para Rasul
Kisah Para Rasul 8:18-25 menceritakan kisah Simon sang penyihir, meskipun telah melihat tanda mujizat dan mendengar berita Injil melalui Filipus dan juga kedua rasul, yaitu Petrus dan Yohanes, ia ternyata tidak benar-benar mengerti bagaimana bertobat yang sejati.
Bagaimana dengan orang-orang zaman sekarang? Kelihatannya kondisinya tidak jauh berbeda. Sekalipun tidak semua orang dapat kita samakan, berapa banyak orang-orang yang telah berulang kali mengikuti KKR Pemulihan, melihat dan mengalami mujizat kesembuhan luka batin, hati bapa, gambar diri, berulangkali maju ‘altar call’, didoakan dan jatuh rebah, namun dalam kesehariannya tidak juga menunjukkan pertobatan yang sejati. Bertobat hanya sebatas perasaan pada saat dilawat.
PRINSIP, TUJUAN DAN MAKSUD MUJIZAT TUHAN
1. Membuka Pintu Pertobatan
Mujizat itu mempunyai tujuan mengarahkan dan menunjukkan siapakah Yesus itu. Tujuannya adalah untuk mengarahkan orang menjadi percaya kepada Yesus, Mesias, Anak Allah yang berkuasa, dan memimpin orang itu untuk mengalami keselamatan dengan beriman kepada-Nya. Jangan pandang mujizat sebagai tujuan akhir yang membuat hidup lebih mudah, tidak kekurangan, bebas dari masalah dan kesulitan, mentas dari penderitaan dan sakit kita. Atau mengharapkan mujizat sehingga keinginan-keinginan dunia terpenuhi seperti mengingini rumah atau mobil mewah sekalipun secara finansial tidak mampu.
2. Mujizat itu harus memimpin kita kepada Siapa yang melakukannya, itu yang penting. Apa gunanya orang itu mendapatkan mujizat, tetapi pengalaman mujizat itu tidak menghasilkan pengenalan yang benar mengenai siapa Yesus?
Kiranya kita semakin mengerti bagaimana meletakkan karya mujizat Allah di dalam hidup kita masing-masing. Kita berdoa kepada-Nya karena Ialah Sang Pembuat Mujizat itu dan kita memohon pengenalan kita akan Allah menjadi lebih dalam dan Nama-Nya menjadi agung dan mulia dalam hidup kita.
3. Menunjukan Kuasa Tuhan atas Hukum Alam Semesta
Mujizat adalah sesuatu pekerjaan atau perbuatan yang ajaib dan mengandung kuasa yang tidak dapat dikerjakan menurut hukum alam, sebagai cara untuk memperlihatkan kuasa tangan Allah!
Mujizat diadakan dengan maksud untuk memperlihatkan kekuasaan Allah, untuk menetapkan Keilahian Kristus, dan untuk menempelak ketidakpercayaan dan sifat sombong orang. Ia berkuasa atas alam semesta, Ia berkuasa atas setan-setan, Ia berkuasa atas penyakit dan kematian.
4. Mujizat Ada dalam Rencana Keselamatan
Mujizat memimpin orang kepada iman yang menyelamatkan. Matius 8-9 mencatat kekaguman orang banyak memuji Yesus karena mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya, namun belum tentu menghasilkan iman yang menyelamatkan.
Karena melihat mujizat, kalau pakai bahasa sekarang: banyak menjadi followers Yesus, “likes”-nya banyak. Tetapi orang yang sama dengan mudah juga menjadi “un-followers” Yesus. Mujizat menyebabkan orang-orang nge-fans kepada Yesus, ikut-ikutan, tetapi mereka tidak mau menjadi murid-murid Yesus Kristus yang sungguh dan sejati.
Salah satu contoh yang sangat ironis adalah kota Kapernaum, tempat atau pusat pelayanan dimana Yesus melakukan banyak sekali mujizat di situ, namun sekalipun mereka menyaksikan berbagai macam mujizat, tetapi mereka tidak percaya dan menyembah Dia.
Dalam Lukas 10:13-15 Yesus mengecam mereka yang telah menyaksikan dan menikmati kuasa dan mujizat Yesus dengan berlimpah, tetapi hati mereka tetap menolak dan tidak percaya kepada-Nya. Mereka telah menyia-nyiakan anugerah dan kesempatan yang ada untuk menyambut dan menerima Anak Allah itu dan menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi hidup mereka.
Alkitab memperlihatkan sekalipun seseorang itu secara personal mengalami mujizat, belum tentu orang itu mengalami iman yang menyelamatkan. Hal yang sama bisa terjadi kepada orang yang terlibat langsung melakukan mujizat di dalam pelayanannya, sekalipun dia juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengusir setan dengan memakai nama Tuhan Yesus, sekalipun dia melakukan doa penyembuhan dengan memakai nama Tuhan Yesus, tidak otomatis menjadikan orang itu memiliki iman yang menyelamatkan.
Jadi sangatlah penting untuk memiliki pandangan yang benar tentang mujizat, supaya kehidupan rohani kita semakin kuat yaitu pengenalan akan Kristus Sang Pembuat Mujizat. Sesungguhnya mujizat itu akan membawa seseorang kepada pertobatan, mengenal Yesus sebagai Tuhan yang berkuasa atas alam semesta dan menuntun kita kepada iman yang menyelamatkan. Tuhan Yesus menyertai senantiasa! Maranatha!!

image source: https://www.facebook.com/BalmOfGileadRadio/posts/matthew-115-kjv-the-blind-receive-their-sight-and-the-lame-walk-the-lepers-are-c/2691765067768709/

ARE YOU IN CHRIST OR IN CRISIS ?

ARE YOU IN CHRIST OR IN CRISIS ?

Masalah adalah bagian dari realita kehidupan yang pasti terjadi. Kita tidak pernah tahu kapan permasalahan dan kesulitan datang menghampiri. Jika suatu masalah menjadi terlalu berat sementara kita tidak mampu mengatasinya, maka keadaan itu akan menimbulkan krisis. Setiap manusia akan berhadapan dengan berbagai situasi yang tidak bisa dikendalikan, tidak diharapkan, tidak dapat dicegah atau dihindari. Situasi yang sulit dapat membuat jiwa seseorang tertekan. Krisis merupakan bagian dari hidup yang harus siap untuk dihadapi.

Kebanyakan orang menganggap krisis adalah suatu bahaya yang menakutkan/mengancam kelangsungan hidupnya. Mengapa? Ketakutan di hati membuat ancaman seakan-akan lebih besar dan menakutkan dari kekuatan untuk menghadapinya. Sehingga orang tersebut menjadi lemah, kalah, mundur, kompromi dan lain sebagainya.

Sebagai orang yang memiliki iman percaya kepada Yesus Kristus, kita seharusnya melihat masalah dengan cara pandang yang benar, yang sesuai dengan firman Tuhan. Cara pandang yang benar memampukan kita untuk mengantisipasi agar masalah tidak menjadi krisis yang berkepanjangan/bencana, tetapi menjadi suatu kesempatan/peluang yang mendatangkan kebaikan.

Beberapa arti kata krisis menurut KBBI adalah keadaan yang suram, saat yang menentukan ketika situasi menjadi berbahaya dan keputusan harus diambil, keadaan yang genting/parah sekali/ kemelut. Webster’s New World (1996) mendefinisikan krisis sebagai perubahan radikal ke arah yang baik atau buruk : “a turning point in the course of anything” (titik balik dalam sesuatu).

Perihal terjadinya krisis merupakan suatu reaksi dari dalam diri seseorang terhadap bahaya dari luar. Jika seorang mampu melihat dan menyelesaikan masalah dengan cara pandang yang benar, maka ia akan melewatinya dengan berkemenangan.

Sebaliknya seseorang yang takut, tidak akan mampu mengatasi krisis. Reaksi orang yang takut dan menjadi lemah di tengah krisis adalah stress, depresi, kehilangan akal sehat, mencari kambing hitam (menyalahkan orang lain), menghindar (lari dari permasalahan) atau bertindak ekstrim yang bisa menghancurkan hidupnya.

Dalam bahasa Cina kata “krisis” terdiri dari 2 huruf : bahaya dan kesempatan (danger & opportunity). Dalam setiap krisis ada bahaya dan kesempatan/titik balik yang bisa membawa kebaikan tergantung dari cara pandang orang yang menghadapinya.
Contoh: krisis bangsa Israel terancam bahaya saat menghadapi Goliat. Cara pandang Daud menghadapi krisis adalah beriman pada Tuhan sehingga ia sanggup membalikkan keadaan dengan mengalahkan Goliat.

Ada 2 penyebab krisis :

1. FAKTOR LUAR seperti bencana alam, hurricane, hujan, angin topan, kematian orang yang kita kasihi, sesuatu yang tidak dapat dicegah.
2. FAKTOR DALAM yaitu krisis yang disebabkan karena kelalaian/perbuatan manusia itu sendiri; misalnya krisis secara rohani, krisis emosi, krisis kesehatan, krisis finansial dan krisis hubungan.

Yohanes 15 : 4-7 memberikan cara pandang yang benar dalam menghadapi krisis.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Jika kita tinggal di dalam Kristus dan firmanNya di dalam kita, walaupun di tengah badai/krisis, ingatlah bahwa Yesus selalu menyertai di manapun kita berada.

..sebab di luar Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa..

Tinggal di dalam Kristus membuat kita bisa melihat kebaikan Tuhan dan berkat rohani atau mukjizat. Tuhan Yesus lebih besar dari semua masalah/guncangan/krisis; Dia telah menanggung segala penyakit, kutuk dan kelemahan kita. Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari roh yang ada di dalam dunia.

Roh Kudus meneguhkan dan menguatkan manusia batiniah kita untuk cakap menanggung segala perkara. Kristus adalah satu-satunya pengharapan yang tidak akan mengecewakan/gagal; dalam Kristus tidak ada istilah jalan buntu melainkan selalu ada jalan keluar. Dalam Kristus ada damai sejahtera karena Tuhan Yesus adalah Raja Damai itu sendiri, ada hikmat, perlindungan dan semua yang kita perlukan untuk berkemenenangan dalam menghadapi krisis.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Jika kita tinggal dalam Kristus dan firmanNya tinggal dalam kita, maka keinginan yang timbul dalam hati berasal dari ilham Roh Kudus sehingga apa saja yang kita doakan pasti dijawab karena itu adalah keinginan Bapa sendiri.

“Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” (Mazmur 91:14-15)

Roh Kudus akan menerangi hati dan pikiran kita untuk melihat serta mengatasi masalah/tantangan dengan cara pandang ilahi. Dia akan menuntun setiap langkah kita untuk menang dalam menghadapi segala perkara. Meski tidak selalu mengerti jalanNya atau seolah-olah Tuhan membiarkan kita mengalami masalah dan ujian, tetapi Ia akan membuat semua itu menjadi kebaikan bagi kita. Tuhan bisa memakai masalah, krisis, pandemic Covid, kelemahan kita bahkan memakai orang jahat sekalipun untuk menggenapi rencanaNya yang ajaib.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)

Allah tahu apa yang Dia lakukan atas kita; Allah tidak pernah salah perhitungan dalam menetapkan langkah serta semua hal yang terbaik buat kita. Tidak ada sesuatu hal yang kebetulan terjadi dalam hidup kita, semuanya ada dalam rancanganNya.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Masalah/krisis bisa dipakai untuk membuat kita bertobat, mendidik/mendisiplinkan, mengajari kita untuk percaya penuh dan taat kepadaNya; untuk mendewasakan, memurnikan dan membuat hidup kita berbuah untuk menggenapi rancanganNya.

Apapun yang terjadi di dunia dan di hidup kita, Allah tetap berdaulat dan memegang kendali atas segalanya. KuasaNya yang tidak terbatas sanggup melakukan segala perkara.
Tuhan itu ada, Tuhan itu sangat baik dan Tuhan sangat mengasihi kita. Jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Oleh sebab itu, perbarui dan penuhi diri kita dengan firman Tuhan setiap hari agar memiliki pikiran Kristus dan menjadi kuat serta tenang dalam menghadapi segala hal.
Bagi orang yang tinggal dalam Kristus, masalah/tantangan menjadi kesempatan untuk mengalami mukjizat dan membuat hidupnya jadi berbuah/berdampak, semakin dibawa naik serta menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28)

image source: https://www.sermoncentral.com/church-media-preaching-sermons/social-graphic/john-15-4-14069-detail

PIKIRKANLAH PERKARA YANG DI ATAS, BUKAN YANG DI BUMI

PIKIRKANLAH PERKARA YANG DI ATAS, BUKAN YANG DI BUMI

Pesan Tuhan terdapat dalam Kolose 3:1-4,
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Kita harus mencari dan memikirkan perkara-perkara di atas, bukan yang di bumi, supaya pada waktu Tuhan Yesus menyatakan diri kelak, artinya pada waktu Tuhan Yesus datang untuk menjemput gereja-Nya, kita juga akan menyatakan diri bersama dengan Tuhan Yesus di dalam kemuliaan-Nya, yang artinya kita juga akan ikut dalam pengangkatan dan akan masuk sorga.
“Memikirkan dan mencari perkara yang di atas”, artinya:
• kita harus menilai, mempertimbangkan dan memikirkan segala sesuatu dari sudut pandangan kekekalan dan sorga.
• kita harus berpikir dan bertindak sesuai dengan pikiran dan tindakan Kristus.
Ini kita lakukan karena kita ada bersama dengan Kristus.
Kita akan terus melakukan dengan setia karena Kristus adalah hidup kita sampai kita bertemu dengan Dia dalam kemuliaan-Nya, yaitu pada waktu Dia datang kembali untuk menjemput gereja-Nya.
“Perkara yang di bumi” berbicara tentang:
• hidup yang duniawi, yang dinyatakan dalam rupa perintah, peraturan dan ajaran yang tidak membawa seseorang kepada pengenalan akan Kristus
• segala sesuatu yang berada dalam pikiran, perkataan, perbuatan yang merupakan sifat manusia lama, sehingga bertentangan dengan kehendak Allah.
Supaya kita bisa memikirkan dan mencari perkara yang di atas, maka:
• Kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan.
• Hati kita harus melekat kepada Tuhan. Banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan.
• Kita harus memiliki kasih yang semula.
• Kita harus melakukan kehendak Bapa di sorga.
• Kita harus hidup berintegritas.
Sekali lagi saya akan mengingatkan kita semua, bahwa dalam menghadapi masalah apapun juga kita harus tetap meresponi dengan memikirkan dan mencari perkara yang di atas, bukan dengan perkara yang di bumi.
MENGASIHI MUSUH KITA DAN BERDOA BAGI MEREKA
Tuhan Yesus berkata:
“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Karena dengan demikianlah kamu adalah anak-anak Bapamu yang di sorga.
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?
Bukankah pemungut cukai juga melakukan demikian?
Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,
bukankah orang yang tidak mengenal Allah juga melakukan hal yang seperti itu?
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Matius 5:44-48
Kita tahu bahwa ini tidak mudah untuk dilakukan, tapi bukan berarti tidak bisa. Kita pasti bisa melakukannya. Kita harus mengingat Amsal 4:23 yang berkata:
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Kita akan mengalami kehidupan kekal selama-lamanya, jika hati kita mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Tuhan Yesus mengajar dalam Doa Bapa Kami:
“Ampunilah kami atas segala kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”
Kalau kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita.
1 Yohanes 3:14-15 berkata:
“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”
Karena itu, mari, kita harus mencari dan memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
Mazmur 15:1 berkata,
“TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?”
Salah satu syaratnya terdapat dalam Mazmur 15:4c yaitu
“…mereka yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi..”
Tuhan Yesus berkata kalau “ya” katakan “ya”. Kalau “tidak” katakan “tidak”. Jadi kalau kita sudah berkata “ya”, artinya berjanji “ya”, maka apapun yang akan terjadi, kita harus tetap “ya”, walaupun rugi.
Terus terang saya banyak melihat orang-orang yang sesudah berkata “ya” tetapi begitu akan merugi kadang-kadang seperti lupa kalau pernah berkata “ya” dan mencari 1001 alasan bagaimana agar “ya” nya bisa berubah menjadi “tidak” meskipun harus lewat proses hukum. Ini yang disebutkan ‘perkara yang di bumi’, bukan ‘perkara yang di atas’. Amsal 21:21 berkata,
“Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan.”
Karena itu jadilah orang yang berintegritas, orang yang hidup tulus, jujur di hadapan Tuhan.
TAHUN PEY BET
Menurut kalender Ibrani, dari tanggal 6 September 2021 sampai dengan 26 September 2022, kita memasuki tahun 5782 yang disebut sebagai tahun Pey Bet.
• Pey Bet artinya 82.
• Pey adalah angka 80, menggambarkan mulut. Jadi masuk tahun Pey Bet ini, kita diingatkan kembali tentang mulut.
• Bet atau huruf kedua dalam alphabet Ibrani digambarkan dengan sebuah tenda atau rumah atau tempat kediaman. Ada 2 tempat tinggal dari umat manusia. Yang pertama di dunia. Yang kedua di sorga atau di neraka.
• Memasuki tahun Pey Bet atau 82, kita diingatkan bahwa kita masih hidup dalam dunia ini, tetapi segala apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan, apa yang kita tuliskan dalam media sosial, bukan seperti cara-cara dunia, tetapi harus dengan cara sorga.
Microsoft merilis “Indeks Keberadaban Digital” atau “Digital Civility Index” yang menunjukkan tingkat keberadaban pengguna internet atau netizen sepanjang tahun 2020. Berdasarkan laporan survey dari 16.000 responden di 32 negara, antara bulan April – Mei 2020 ini menunjukkan Indonesia ada di peringkat ke 29, terburuk di Asia Tenggara. Saya percaya netizen ini, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen juga.
Tuhan Yesus berkata dalam Matius 12:36-37,
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
Tuhan Yesus akan segera datang kembali. Mari, saya mengajak kita semua untuk berhati-hati dengan mulut kita, juga dengan apa yang kita tuliskan di media sosial, apakah itu hoaks atau ujaran kebencian supaya jangan kita dihukum. Amsal 21:23 berkata,
“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.”
Karena itu pikirkan dan carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus tinggal, bukan seperti yang di bumi.
BAPTISAN API
1 Korintus 6:19 berkata:
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”
Roma 14:8, berkata:
“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”
Kita yang sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus adalah milik Tuhan. Jadi kita hidup untuk Tuhan. Kita mati untuk Tuhan. Tuhan menghendaki agar kita menjadi serupa dengan gambar-Nya. Jadi Dia harus makin besar dan kita harus semakin kecil. Biarlah orang melihat Kristus yang ada di dalam kita.
Ada seorang hamba Tuhan dari Inggris yang bernama Smith Wigglesworth. Dia dikenal sebagai Rasul Iman. Dia dipakai oleh Tuhan dalam mujizat dan kesembuhan secara luar biasa. Dia tetap melayani Tuhan sampai akhir hidupnya, pada waktu dia berumur 87 tahun.
Tuhan pernah berkata kepadanya: “Wigglesworth, Aku akan membakar engkau sampai habis, sampai tidak ada lagi Wigglesworth, hanya Yesus!” Wigglesworth berdoa: “Ya Tuhan, lakukan itu. Saya tidak mau orang melihat saya lagi, hanya Yesus!”
Menjadi seorang hamba Tuhan harus seperti ini, juga harus seperti Yohanes Pembaptis yang berkata Ia harus makin besar tapi aku harus makin kecil. Karena itu hari-hari ini kita melihat Baptisan Api sedang turun membakar habis keakuan kita, kedagingan kita, sehingga membuat kita semakin kecil, Ia semakin besar.
Waktu sebelum pandemi COVID-19, saya melihat perlombaan gereja-gereja untuk menjadi yang paling besar, paling terkenal dan kita melihat bahwa perlombaan itu sudah dihentikan oleh Tuhan sejak kita memasuki pandemi. Tetapi di tengah-tengah pandemi ini muncul satu fenomena baru yaitu terjadi perlombaan untuk mencari “views”, dengan bermacam-macam motivasi dan kepentingan.
Saya percaya ketika ditanya, jawabnya pasti ini untuk kemuliaan Tuhan. Bukan rahasia lagi kalau seseorang mempunyai jumlah views yang banyak pasti akan terkenal, mendapat pujian untuk kebanggaan kalau kita dipakai oleh Tuhan, atau kepentingan bisnis atau juga mungkin ada hal-hal lain. Tidak heran kalau “views” menjadi tolok ukur suatu prestasi di zaman digital ini. Sehingga banyak orang yang berlomba-lomba menggunakan segala cara dunia untuk mendapatkan hal tersebut. Seperti beli followers, beli like atau bahkan memaksa orang menonton konten kita.
Saya berdoa supaya bukan karena “views” kita membuat konten, tetapi karena ada kuasa daripada Tuhan yang menggerakkan kita. Sehingga ketika orang menonton konten yang kita buat, disitu ada aliran kehidupan yang mengisi mereka yang menonton.
Hari-hari ini Tuhan mengingatkan kepada kita sebagai hamba Tuhan agar berhati-hati. Kalau kita ingat bagaimana cara perlombaan gereja sebelum masa pandemi itu dihentikan oleh Tuhan, maka kita harus berhati-hati agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saya mengajak agar kita introspeksi, memeriksa diri kita. Saya akan bertanya kalau kita melihat views kita banyak, apakah kita benar-benar berkata ini adalah untuk kemuliaan Tuhan atau kita berbangga hati karena ini dianggap sebagai ukuran Tuhan memakai kita.
Tuhan Yesus mengingatkan kita dalam Lukas 6:26,
“Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”
Tuhan Yesus mengingatkan kita kalau seseorang selalu ingin dipuji-puji itu adalah nabi palsu. Tuhan mengingatkan kepada kita bahwa kita harus semakin kecil, dan Dia semakin besar. Kita harus semakin menjadi seperti gambar-Nya. Karena itu Tuhan hari-hari ini menurunkan Baptisan Api yang akan membakar atau menghancurkan keakuan kita.
TANDA KEDATANGAN-NYA
Pada waktu murid-murid Tuhan Yesus menanyakan tentang tanda kedatangan-Nya kembali dan tanda kesudahan dunia ini, salah satunya Tuhan Yesus menjawab adanya penyakit sampar.
Pandemi COVID-19 ini bisa disebutkan sebagai penyakit sampar sehingga pandemi ini merupakan salah satu tanda dari kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua. Tuhan Yesus mau agar kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus di awan-awan yang akan menjemput gereja-Nya. Ini dapat diartikan bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk ikut dalam pengangkatan.
Pada waktu Roh Kudus dicurahkan di kamar loteng Yerusalem, terdengar bunyi seperti tiupan angin keras, dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap pada 120 murid Tuhan Yesus. Mereka dibaptis dengan Roh Kudus yang juga dapat diartikan mereka mengalami Baptisan Api. Hal seperti itu juga terjadi hari-hari ini. Pada Pentakosta Ketiga, kita juga sedang mengalami Baptisan Api. Pandemi adalah salah satu wujud dari Baptisan Api.
Saya terkesan dengan pidato Bapak Presiden Jokowi pada Sidang Tahunan 16 Agustus 2021, yang berkata:
“Krisis, resesi dan pandemi seperti api.
Kalau bisa, kita hindari, tetapi jika hal itu tetap terjadi, banyak hal yang bisa kita pelajari.
Api memang membakar, tetapi juga menerangi.
Kalau terkendali dia menginspirasi dan memotivasi.
Dia menyakitkan, tetapi sekaligus bisa menguatkan.
Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki dan menguatkan diri kita dalam menghadapi tantangan untuk masa depan.”
Saya percaya Tuhan memakai Bapak Presiden Jokowi untuk menyatakan kehendak-Nya melalui pandemi ini untuk Indonesia. Hari-hari ini kita sedang mengalami Baptisan Api. Tuhan sedang membersihkan gereja-Nya. Kita akan diubah oleh Tuhan, dan melalui pandemi ini saya percaya kita akan menjadi indah pada waktu-Nya.
Kalau ada di antara Saudara yang karena pandemi ini atau karena masalah lain mengalami tekanan-tekanan, seperti depresi, ketakutan, kebingungan, tidak tahu apa yang harus diperbuat, merasa kehilangan masa depan. Tuhan mengingatkan kita dalam 1 Korintus 10:13,
“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Tuhan Yesus baik. Dia sungguh baik, sangat baik kepada kita semua. Tuhan Yesus merindukan pada saat Dia datang di awan-awan untuk menjemput gereja-Nya, kita akan ikut dalam pengangkatan dan masuk sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa, karena kita memikirkan dan mencari perkara-perkara yang di atas dimana Kristus ada.

Kotbah Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo.

image source: https://www.kcisradio.com/2016/08/05/colossians-32/

HIDUP DALAM KEHENDAK TUHAN

HIDUP DALAM KEHENDAK TUHAN

Saat seseorang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, kita dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang Tuhan yang ajaib. Dia adalah terang dunia dan memanggil kita untuk menjadi terang di tengah kegelapan dunia ini.

Yohanes 1:1-5, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Yohanes 1:9-12, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang , sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya . Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”

Semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, dan Allah adalah Raja yg memerintah dalam kerajaanNya yang berbeda dengan dunia ini. Dunia ini di kuasai dengan kuasa kegelapan.
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12)
Tuhan Yesus telah meraih kemenangan bagi kita melalui karya keselamatanNya :
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi..” (Yohanes 28:18)

Tuhan telah memberikan kuasa dan otoritas kepada orang percaya untuk mendatangkan Kerajaan Allah di bumi agar kehendak Allah terjadi. Anak-anak Allah memiliki kunci Kerajaan Sorga, kuncinya adalah : percaya.

“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:19)

Orang yang terus-menerus membarui akal budinya akan diarahkan Roh Kudus untuk semakin mengerti hati Allah, untuk berdoa sesuai kehendakNya serta melakukan kehendak Allah bagi dirinya dan bagi generasinya.

A. 3 tipe kehendak Allah

1. GLOBAL/UNIVERSAL – kehendak Tuhan bagi seluruh umat manusia.

Agar semua manusia berdosa/terhilang diselamatkan melalui karya keselamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus.
“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Timotius 2:3-4)

Akan tetapi belum semua pernah mendengar tentang berita keselamatan; atau ada pula orang yang tidak mau percaya. Oleh sebab itu kita harus memberitakan Injil Kerajaan Allah : bahwa Tuhan Yesus telah datang ke dunia sebagai manusia, mati di kayu salib untuk menebus dosa, bangkit dari kematian, naik ke surga dan akan datang kembali sebagai Hakim yang akan menghakimi dan sebagai Raja yang akan memerintah di bumi.

2. GENERAL/UMUM – kehendak Tuhan bagi semua orang percaya.

Supaya orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi mengalami transformasi/perubahan :
– gaya hidup/kebiasaan;
– cara pandang (nilai);
– tujuan hidup.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 kor 5:17)
Perubahan hanya dapat terjadi jika manusia lama ditanggalkan dan kenakan manusia baru (Efesus 4:21-24). Yang pertama harus diperbarui adalah dalam roh dan pikiran (akal budi); selanjutnya gaya hidup, cara pandang dan tujuan hidup pasti selaras dengan kehendak Allah.

3. PERSONAL/KHUSUS – kehendak Tuhan bagi tiap orang percaya secara khusus.

Agar masing-masing berjalan sesuai dengan karunia/panggilan yang Tuhan sudah tetapkan.

“Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” (Roma 12:6-8)

Orang percaya harus memilih untuk tertanam di sebuah gereja lokal untuk dapat dimuridkan dan bertumbuh menjadi dewasa semakin menyerupai Kristus;

“sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus;dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13 dan 15)

untuk melakukan bagiannya sesuai dengan karunia/panggilan masing-masing, bertumbuh dan dipersatukan dalam kasih agar dapat menjadi terang di tengah kegelapan dunia.

“Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Efesus 4:16)

B. Dipanggil untuk menjadi Gereja yang berdoa

Kita hidup di tengah sistem dunia yang gelap, tapi sebagai orang percaya yang telah menerima Kerajaan yang tidak terguncangkan, kita tidak bergantung kepada sistem dunia tapi kepada Allah sepenuhnya. Salah satu hukum yang berlaku dalam Kerajaan Allah adalah jika orang percaya sepakat meminta dalam namaNya, pasti akan dijawab karena berdoa sesuai dengan kehendakNya.

Ketika Petrus dan Yohanes serta orang-orang percaya sepakat berseru kepada Allah dalam doa, maka goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu memberitakan firman Allah dengan berani (KPR 4:24-31).

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (ayat 31)

Doa yang unity sesuai kehendak Allah akan mengalirkan urapan dari Roh Kudus dan keberanian untuk memberitakan firman kebenaran/menjadi saksi Kristus.
Gereja yang berdoa akan menjadi gereja yang melangkah dengan urapan kuasa Roh Allah. Gereja yang berdoa akan menyatakan kuasa dan kemuliaan Allah : mengadakan tanda dan mujizat yang besar di antara orang banyak, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan membangkitkan orang mati (KPR 5:12,15-16; 9:36-40).

“..bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka. Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan.” (KPR 5:15-16)

Gereja yang memberitakan firman, memuridkan jemaat, berjalan dalam takut akan Allah dan memiliki kehidupan doa akan mendatangkan revival/kebangunan rohani yang besar. Orang percaya/gereja yang berdoa akan berjalan dalam dimensi spiritual yang penuh dengan mujizat.
Itu sebabnya akal budi kita perlu terus diperbarui agar tidak menghalangi/membatasi kuasa Allah yang sanggup melakukan segala perkara.

Setiap orang percaya, gereja lokal dan gereja universal harus menjadi satu (unity) : satu hati, satu pikiran dan satu tujuan yaitu melakukan kehendak Allah agar semakin bertambah jumlah orang yang diselamatkan/percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (KPR 5:14). Untuk tujuan inilah kita dilahirkan dan hidup pada jaman akhir ini.

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:20-21)

DNA gereja kita adalah doa, pujian dan penyembahan. Setiap jemaat BIC harus memiliki kehidupan doa pujian penyembahan secara pribadi dan secara korporat bersama dengan saudara seiman dalam gereja lokal. Dalam doa pujian penyembahan kita juga mencari kehendak Tuhan agar gereja ini berjalan dalam poros kehendakNya yang sempurna.

Oleh sebab itu, marilah kita kembali kepada kasih yang semula. Persembahkan roh, jiwa dan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah sebagai ibadah yang sejati.

Bidang apapun pekerjaan/profesi/pelayanan kita, sebagai warga Kerajaan Allah kita memiliki tujuan hidup yang sama yaitu menjadi terang, menyatakan kuasa Allah dan membawa kemuliaan bagi NamaNya. Kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri dengan melakukan agenda pribadi melainkan hidup dalam kehendak Tuhan, Amin!

image source: https://www.mardel.com/Church/Church-Bulletins/All-Bulletins/Salt-Light-John-8-12-Light-Of-The-World-Church-Bulletins-8-1-2-x-11-inches-Flat-100-Count/p/3780384

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:1-2)
Saat seseorang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dipanggil keluar dari system dunia dan mulai mengenal Allah. Dari pengajaran Yesus yang selalu membedakan diriNya dengan dunia, kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita untuk menjadi terang dunia. Yesus adalah terang dunia dan memanggil kita kepada terangNya yang ajaib supaya kita menjadi terang di tengah kegelapan dunia ini.
Yohanes 1:1-5, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”
Yohanes 1:9-12, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang , sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya . Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
Sekalipun kita hidup di dunia, Tuhan menyelematkan kita dari dunia dan mengajak kita untuk “tidak” hidup secara duniawi yang menuju kepada kekacauan, kekerasan dan kebinasaan. Seperti seorang anak yang baru lahir, setiap orang percaya diberi susu dan kemudian makanan keras agar bertumbuh dan belajar untuk mengetahui kehendak Allah.
Efesus 4:14-15, “Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru bertumbuh ke arah Dia yang adalah kepala. Sehingga kita bukan lagi anak-anak yang di ombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.”
Efesus 4:17 -24, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
Setiap orang percaya harus tahu kehendak Allah bagi dirinya. Untuk mengetahui dan melakukan kehendak Allah harus membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan sesuai dengan Roma 12:2 sehingga ada transformasi/ Pembaruan akal budi sesuai dengan firman. Sehingga membuat kita dapat membedakan dan mengenal manakah kehendak Allah, untuk kemudian melakukan kehendak Allah bagi dirinya dan bagi generasinya.
Ada 3 level kehendak Allah bagi kita :
1. BAIK
Yaitu selalu hidup dalam pertobatan dan kekudusan. Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap, menjauhi persekutuan dengan Allah dan dengan orang percaya, menjadi bodoh dan degil. Jangan biasakan diri berkompromi dengan dosa/dunia atau berada dalam pergaulan yang buruk (Mazmur 1:1).
Tanggalkan manusia lama (matikan kedagingan dan hawa nafsu), kenakan manusia baru di mana roh, pikiran dan kebiasaan kita terus diperbarui oleh firman. Orang yang hidup oleh iman pasti hidup dalam kekudusan, karena firman Tuhan akan menguduskan kita dalam kebenaran (Yohanes 17:17).
2. BERKENAN
Yaitu mau dimuridkan, berbuah, melayani dan memberi dampak. Seorang murid mau mendisiplinkan diri dan memiliki gaya hidup merenungkan firman, doa pujian dan penyembahan. Dengan demikian dia akan menghasilkan buah dalam ketekunan, seperti ranting yang melekat pada pokok anggur (Yohanes 15:4-5). Buah dalam kehidupan murid Kristus bukan merupakan prestasi/pencapaian, melainkan sesuatu yang dengan sendirinya keluar akibat keintiman bersama Kristus (Mazmur 1:2-3; Markus 4:27b-28). Murid Kristus akan menghasilkan buah pertobatan, buah-buah Roh Kudus, buah kebenaran, buah pelayanan dan buah jiwa-jiwa.
3. SEMPURNA
Yaitu disempurnakan menjadi satu tubuh Kristus (satu Tuhan, satu Roh, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa) agar dunia percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang diutus oleh Bapa. Kehendak Allah yang sempurna adalah agar kita unity dengan Allah (menuruti perintahNya karena kasih) dan dengan orang percaya lainnya (saling mengasihi).
“Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” (Yohanes 17:22-23)

“sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus;dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13 dan 15)
Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, tapi tanpa Allah manusia tidak tahu memilih kehendak bebasnya. Kita yang telah belajar mengenal Kristus harus terus mengalami pembaruan akal budi agar dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.
Pesan Tuhan bulan ini mengajarkan kita untuk berdoa yang sesuai dengan kehendakNya karena doa yang demikian pasti dikabulkan. Jika kita tinggal dalam Kristus dan dalam firmanNya (tahu dan melakukan kehendakNya), maka apa saja yang kita minta akan kita terima (Yohanes 15:7).
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14)

image source: https://twitter.com/sprec61551/status/1145700906496774144

TERTANAM DI GEREJA LOKAL

TERTANAM DI GEREJA LOKAL

Di era pandemi COVID-19 ini di mana kita harus beribadah secara virtual, semua gereja di seluruh dunia berlomba-lomba dalam hal menyajikan konten yang terbaik, display yang estetik, musik yang menarik, dan kemampuan editing yang kekinian.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Barna Research pada bulan Juli 2020 mengenai kehadiran jemaat lintas generasi dalam ibadah virtual di masa pandemi, 40 persen dari generasi baby boomer tetap berada di gereja mereka yang semula, 31 persen dari generasi X, dan hanya 30 persen dari generasi milenial yang tertanam di gereja.

Bagi generasi muda, ‘tertanam di gereja’ mungkin bukan sebuah hal yang mudah; sebaliknya berpindah-pindah atau bahkan tidak bergereja sama sekali bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Tiga alasan terbesar mengapa anak muda tidak tertanam dan meninggalkan gereja menurut penelitian yang dilakukan oleh LifeWay Research adalah:
1. Karena mereka melanjutkan ke jenjang akademis yang lebih tinggi.
2. Karena anggota gereja cenderung menghakimi anak muda dan dinilai munafik.
3. Karena generasi muda tidak merasa terhubung dengan gereja.

Lebih dari ketiga alasan di atas, sebenarnya orang bisa saja memakai alasan apapun, menyalahkan orang lain dan menyalahkan situasi, untuk berpindah-pindah bahkan meninggalkan gereja. Terlebih di era gereja virtual ini di mana semua orang dapat dengan mudah ‘berjemaat’ di gereja manapun di seluruh dunia. Faktanya, seorang Kristen tidak dapat bertumbuh jika tidak tertanam di sebuah gereja lokal.

Kita mungkin pernah mendengar bahwa tertanam di gereja lokal diibaratkan seperti menanam benih. Sebuah benih yang ditanam di dalam tanah tentu saja tidak dapat menghasilkan buah secara instan keesokan harinya. Dibutuhkan waktu untuk benih tersebut berakar, bertunas, menumbuhkan batang dan dedaunan, lalu barulah benih tersebut dapat menghasilkan buah.

Proses pertumbuhan yang paling krusial dari sebuah benih terjadi di dalam tanah, yaitu dalam proses penumbuhan akar. Karena akar adalah bagian yang menentukan seberapa kuat tanaman tersebut nantinya ketika sudah bertumbuh, dan seberapa banyak nutrisi dari tanah yang dapat diserap oleh akar untuk dihantarkan ke bagian-bagian lain dalam tanaman.

Markus 4:26-29 memuat sebuah perumpamaan singkat tentang kerajaan Allah, yang digambarkan dengan proses bercocok tanam. Ayat 27 berkata,
“lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”

Setiap proses untuk bertumbuh yang dialami sebuah benih terjadi di dalam tanah, di tempat gelap di mana tidak ada seorangpun yang bisa melihat dan mengetahuinya. Demikian pula dengan setiap kita sebagai benih; ketika kita berkomitmen untuk tertanam di gereja lokal, kita akan mengalami berbagai proses yang mungkin membuat kita tidak nyaman, dan setiap proses yang kita alami tersebut tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Sayangnya, banyak orang yang menyerah ketika melewati proses krusial ini. Banyak yang tergoda untuk melihat rumput tetangga yang selalu akan terlihat lebih hijau dibandingkan rumput di pekarangan rumah sendiri. Ingat, yang terlihat oleh mata kita hanyalah hasil akhirnya yang sudah tampak baik.

Sementara yang tidak kita lihat adalah proses yang juga dialami oleh rumput tetangga ketika baru ditanam dan masih di dalam tanah. Padahal, benih yang terus menerus dipindah media tanamnya akan membutuhkan waktu lagi untuk beradaptasi dengan tanah yang baru. Proses itu menghambat pertumbuhan, dan tak jarang benih yang terus menerus dipindahkan akan mati dan tidak dapat berbuah lagi.

Yohanes 15:2 menuliskan,“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”
Tuhan menginginkan pertumbuhan dari sebuah benih, dan agar kelak benih tersebut dapat menghasilkan buah yang lebat. Tentu saja hal ini tidak dapat terjadi jika benih tersebut kerap dipindah-pindahkan.

Jika kita tidak tertanam di gereja lokal, maka kita tidak dapat mengalami pertumbuhan yang sempurna, bahkan tanpa kita sadari kita bisa mengalami kematian rohani. Kita tidak dapat menikmati buah yang seharusnya dapat kita hasilkan apabila kita tertanam di gereja lokal.

Lalu, hal-hal apa yang dapat terus mendorong kita untuk tetap tertanam di gereja lokal?

1. Mengubah perspektif kita

Sekali lagi, ketika sebuah benih ditanam ia akan diletakkan di dalam tanah yang gelap dan tak terlihat. Tempat di bawah tanah dan tak terlihat ini juga bisa menjadi situasi yang sama yang dipakai untuk menguburkan jasad orang yang sudah meninggal. Namun letak perbedaannya adalah, benih yang ditanam masih memiliki kehidupan dan dapat mengalami pertumbuhan, sementara jasad yang dikubur sudah tidak dapat hidup kembali.

Itu sebabnya sebagai sebuah benih, kita harus mengubah perspektif kita bahwa ketika kita sedang berada di dalam tanah : kesepian, tidak dilihat orang, sulit bergerak, gelap dan seakan-akan tidak ada jalan keluar; kita bukan sedang dikubur, melainkan kita sedang ditanam!

Jika kita berpikir bahwa kita sudah dikubur, maka tidak akan ada lagi pertumbuhan yang dapat kita alami. Namun ketika kita mengubah perspektif kita bahwa keadaan yang saat ini kita alami di dalam tanah adalah karena kita sedang ditanam dan mengalami proses di dalam tanah, maka kita akan terus bertumbuh hingga waktunya benih tersebut akan tampak di atas tanah dan menghasilkan buah. Kita sedang ditanam, dan bukan dikubur!

2. Jalani proses

Proses adalah bagian terpenting dari perjalanan hidup setiap manusia, di mana manusia dibentuk lewat hal-hal yang sulit agar menjadi semakin baik dan semakin kuat di kemudian hari.
Alkitab berulang kali menggambarkan hidup manusia bagaikan tanah liat di tangan tukang periuk (Yeremia 18:1-6, Roma 9:20-21). Sebelum menjadi bejana, maka tanah liat harus mengalami proses diremukkan, ditekan, diputar berulang kali di meja kerja sang tukang periuk, bahkan dimasukkan dalam tungku untuk dibakar sebelum bejana tersebut jadi sempurna.

Tidak ada seorang pun yang luput dari proses. Proses pecahnya benih untuk bertunas dan mengeluarkan akar juga hal yang harus dilewati setiap benih agar bisa bertumbuh. Ingat, proses inilah yang akan menentukan seberapa kuat akar yang akan kita hasilkan untuk menyokong seluruh pertumbuhan kita nantinya. Oleh sebab itu, mengalami berbagai proses di gereja lokal adalah hal yang wajar, agar kita sebagai benih dapat memiliki akar yang kuat. Dalam proses itulah Tuhan sedang membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus.

Sebelum akhirnya naik ke kayu salib, Yesus juga mengalami berbagai proses yang menyakitkan ketika Ia harus dipukul, dicambuk, dimahkotai duri, diludahi dan dicemooh orang, bahkan sama seperti benih yang ada di dalam tanah, Ia tidak dipandang orang. Namun proses yang dilewati Yesus inilah yang membuat karya keselamatan-Nya menjadi sempurna di atas kayu salib.
Apapun yang kita alami ketika kita tertanam di gereja lokal, mari tetap jalani proses tersebut agar karakter kita semakin dibentuk serupa dengan Kristus.

3. Berhenti membanding-bandingkan

Kita tahu cerita tentang Lea yang selalu merasa tidak dicintai oleh suaminya Yakub, karena Yakub lebih cinta kepada Rahel, istri keduanya. Pada saat itu Lea melahirkan tiga anak laki-laki bagi Yakub sementara Rahel mandul (Kejadian 29:31-34).

Lea yang terus-menerus membandingkan cinta dari Yakub kepada Rahel merasa sedih, tertekan, kesepian, sampai ia mencurahkan perasaannya itu lewat arti nama yang diberikan kepada ketiga anaknya. Ketika Lea terus membanding-bandingkan, ia tidak dapat melihat berkat yang telah diberikan Allah justru kepadanya, yaitu ketika ia dapat melahirkan keturunan bagi Yakub sementara Rahel belum juga mengandung.

Sama seperti kisah Lea, ketika kita sibuk membanding-bandingkan, kita tidak bisa melihat berkat yang telah Allah sediakan di tengah situasi kita saat ini. Dalam konteks ini, ketika kita terus membanding-bandingkan gereja lokal kita, pemimpin kita, rekan sepelayanan kita dengan gereja orang lain, kita tidak dapat melihat berkat dan tujuan yang telah Allah tetapkan ketika Ia menempatkan kita di gereja lokal kita saat ini.

Katakan gereja lokal kita adalah sebuah rumah; tidak ada rumah yang sempurna. Namun setiap rumah yang Tuhan tempatkan bagi kita adalah tempat yang terbaik yang dipilih Tuhan untuk pertumbuhan kita. Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun setiap orang tua yang Tuhan berikan pasti memiliki tujuan, mimpi, dan visi Ilahi bagi setiap kita.

Sebuah kutipan dari Pastor Steven Furtick, “The reason why we struggle with insecurity is because we compare our behind the scenes with everyone else’s highlight reel.”
Alasan mengapa kita terus merasa tidak aman adalah karena kita membandingkan apa yang terjadi di belakang layar kita dengan kesuksesan orang lain.

Keputusan yang paling tepat bagi sebuah benih adalah untuk tetap tertanam di mana ia ditanamkan. Sebagai benih yang ditanam di gereja lokal, mari kita ubah perspektif kita bahwa kita sedang ditanam dan bukan dikubur, jalani proses kita dengan ucapan syukur, dan berhenti membanding-bandingkan. Maka pada waktu-Nya kita akan bertumbuh dan berbuah lebat, sehingga buah tersebut dapat kita nikmati dan juga dinikmati oleh orang lain.

image source: https://www.sundaysocial.tv/graphics/every-branch-that-does-bear-fruit-he-prunes-to-make-it-even-more-fruitful-john-152/

MELAKUKAN IBADAH YANG SEJATI

MELAKUKAN IBADAH YANG SEJATI

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:1-2

Perkenalan awal seseorang dengan ibadah biasanya bila ada daya tarik tertentu seperti makanan atau hadiah. Ada juga yang hanya datang ke gereja untuk bertemu teman atau sekedar memenuhi rasa ingin tahu dengan mendengar kisah menarik tentang tokoh-tokoh Alkitab. Daya tarik lainnya adalah perlombaan atau acara menarik saat Natal atau Paskah. Bagi pribadi kanak-kanak yang sederhana, ibadah itu menyenangkan karena banyak teman, hadiah, makanan, dan cerita menarik. Lalu, bagaimana cara ber ibadah yang berkenan pada Allah?

Sebelumnya mari lihat ayat-ayat Firman yang memberi pengertian tentang ibadah yang keliru. Kesalahan apa saja yang cenderung kita lakukan dalam ibadah? Dan Seperti apa seharusnya ibadah yang sejati dan berkenan kepada Allah?

Ibadah yang Keliru
1. Hanya Perintah Manusia
“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” – Matius 15:9
Mungkin sebagian dari kita menganggap ibadah sebagai kebiasaan turun-temurun dalam keluarga. Suatu rutinitas sejak kecil. Tanpa pengertian rohani, ibadah tampaknya hanya sekadar datang, duduk, dengar, dan pulang. Tanpa rasa haus dan lapar (suatu kerinduan) akan Tuhan ibadah hanya sekedar suatu aktivitas rutin yang bisa membosankan.

Akibatnya, sepulang ibadah, beberapa orang langsung kembali ke kebiasaan lama, takut/kuatir, reaksi emosi yang keliru dan merasa diri benar/congkak. Ibadah demi ibadah yang dijalani akhirnya menjadi sebuah kegiatan fisik tanpa makna rohani yang disertai kerinduan untuk dekat kepada Tuhan.
2. Tidak Dengan Segenap hati
Dan berkatalah Samuel kepada bangsa itu: “Jangan takut; memang kamu telah melakukan segala kejahatan ini, tetapi janganlah berhenti mengikuti TUHAN, melainkan beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu.” – 1 Samuel 12:20

Beberapa waktu lalu, ada seseorang memberi kesaksian bahwa dia sering terlambat dengan berbagai alasan tanpa menyadari bahwa sikap hati nya keliru sampai disadarkan Tuhan dan bertobat. Saya sering terlambat ibadah. Kala itu, saya berpikir Tuhan pasti mengerti keterlambatan ini bukan karena saya malas bangun atau tidur kesiangan. Saya bekerja dan memberi perpuluhan. Dan, saya merasa, Sudah bagus saya tetap pergi ibadah walaupun terlambat. Namun, suatu hari saya sadar bahwa ketika saya terlambat pergi ibadah, sebenarnya saya sudah membuat Tuhan tidak lagi berharga dan penting bagi hidup saya. Menyadari hal tersebut, saya merasa sedih, karena tanpa sadar saya telah menomorsatukan pekerjaan atau hal lain ketimbang Tuhan.
Bila Anda sering terlambat datang ibadah? Apa pun alasannya, itu menunjukkan bahwa Anda belum dengan segenap hati datang kepada Tuhan. Jika Tuhan masih berharga dan penting bagi hidup Anda, Anda pasti akan berusaha pergi ibadah tepat waktu.
3. Mencari Keuntungan
“… percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. – 1 Timotius 6:5
Tanpa sadar, ketika kita datang kepada Tuhan dalam ibadah, kita ingin diberkati. Kita ingin usaha kita dilancarkan, jodoh dipertemukan, keuangan diperbaiki, segala sakit-penyakit diangkat, dan hubungan dalam keluarga dipulihkan. Lalu, apakah salah jika kita memiliki pengharapan tersebut? Tentu, berharap itu sah-sah saja. Namun, jika hanya itu yang memotivasi kita untuk beribadah, berarti kita sudah menganggap ibadah sebagai suatu sumber keuntungan. Bukan lagi karena ingin dekat dengan Tuhan dan mengoreksi hidup kita lewat perenungan firman-Nya. Bila tidak ada kasih dan kerinduan pada Tuhan maka tidak ada keinginan untuk memuji dan menyembah Tuhan.

Ibadah yang Berkenan
Secara khusus di dalam Roma 12:1-2 yang akan kita bahas ini, rasul Paulus menasehatkan kita untuk tetap mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah sebagai ibadah yang sejati. Mari kita perhatikan apakah makna dari masing-masing kata di ayat tsb. berikut ini:
1. Hidup. Kata ‘hidup’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani zaō yang secara harafiah berarti ‘bernafas, tidak mati’. Bukan hanya itu saja, kata ini juga mengandung makna ‘segar, kuat, dan efisien’.
2. Kudus. Kata ‘kudus’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani hagios yang secara harafiah berarti ‘sakral, murni, tidak bercacat secara moral’. Orang percaya yang dikuduskan artinya dipisahkan dan disiapkan untuk setiap pekerjaan yang mulia (2 Timotius 2:21).
3. Berkenan kepada Allah. Kata ‘berkenan’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani euarestos yang secara harafiah berarti ‘menyenangkan, dapat diterima’.
Dari ketiga makna yang rasul Paulus tekankan di atas, maka dapat dipahami bahwa ketika kita mempersembahkan tubuh kepada Tuhan, haruslah dengan potensi/karunia terbaik yang kita miliki, yang disertai dengan pertobatan dari dosa, dan menjalani segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Allah, bukan sesuai keinginan kita. Dengan demikianlah kita sedang melakukan ibadah yang sejati.
Ibadah yang sejati adalah ketika kita menjaga tubuh dan hidup kita agar tetap kudus sehingga berkenan kepada Allah. Tubuh dan hidup yang kudus berarti kita tidak mencemari diri dengan dosa. Tidak merusak bait Allah dalam tubuh kita dengan makanan tidak sehat, minuman keras, atau obat-obatan terlarang. Anda memastikan hidup kita dipakai sebagai alat kebenaran untuk Tuhan. Hidup kita mencerminkan kemuliaan, kebesaran, dan keindahan dari Allah sendiri.
Rasul Paulus menekankan ini karena persembahan merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari sebuah ibadah. Dalam konteks Perjanjian Lama, pemahaman persembahan selalu merujuk kepada hewan kurban, dan hewan yang mau dipersembahkan harus sempurna, yaitu yang tidak bercacat cela. Namun, Kristus telah mati bagi kita di atas kayu salib, sehingga Paulus hendak menekankan bahwa tubuh kitalah yang menjadi persembahan itu sendiri, yang artinya di mana pun kita berada, kita sedang melakukan ibadah kepada Tuhan.
Ini semua dapat kita lakukan dengan sukacita bila di sertai dengan perubahan pola pikir
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” – Roma 12:2
Ibadah yang sejati menuntut adanya perubahan pola pikir. Perubahan pola pikir seperti apa yang Tuhan maksud?
• Tidak lagi menilai segala sesuatu hanya dari materi, tetapi rela meluangkan tenaga, waktu, dan pikiran untuk membantu orang lain mengenal Tuhan secara cuma-cuma.
“Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.” – 1 Tesalonika 2:8
• Pemikiran duniawi (iri hati, amarah, dendam, kebencian) digantikan dengan pemikiran yang rohani (bersyukur, sabar, mengampuni, mengasihi).
“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” – Roma 6:12
• Prinsip hidup yang tidak sesuai firman Tuhan (berbohong demi kebaikan, yang penting happy, “jangan ganggu saya, toh, saya tidak ganggu kamu”) tak lagi berlaku. Sebaliknya, kita memegang teguh kejujuran, ketulusan, peduli pada hidup orang lain, serta melakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan.
“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” – Efesus 4:17
Sudahkah Anda memiliki ibadah yang sejati, yang berkenan kepada Allah? Apakah ibadah Anda selama ini menjadikan Anda pribadi yang merefleksikan gambaran Tuhan—kasih-Nya, pengampunan-Nya, kecintaan-Nya akan Bait Allah, dan kepedulian-Nya terhadap orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan?
Kalau belum, mari kita sama-sama belajar untuk hidup kudus dan memperbaiki pola pikir, di manapun kita berada agar ibadah kita berkenan kepada Tuhan.

A. Keluarga
Keluarga adalah persekutuan gereja dalam ukuran yang terkecil. Dalam keluarga ada peran sebagai orangtua, suami, istri dan anak. Peran kita berbeda, tapi melihat apa yang sudah dibahas sebelumnya, setiap peran yang sudah Tuhan tetapkan bagi kita harus kita jalani dengan yang terbaik. Kehendak Allah kepada pribadi kita dalam sebuah keluarga dapat dilihat dari Efesus 5:22-28, 6:1-4, yakni sebagai pasangan suami istri harus menjalani kekudusan dengan setia pada pasangannya. Sebagai orangtua kita harus mendidik anak kita dengan nilai-nilai Firman Tuhan. Sebagai anak, kita bisa menghormati dan berbakti kepada orangtua kita. Inilah pelayanan kita di dalam keluarga sebagai wujud dari mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.
B. Lingkungan Pekerjaan
Dalam mempersembahkan tubuh kita sebagai wujud ibadah berikutnya adalah dalam lingkungan pekerjaan. Orang percaya dipanggil untuk bekerja, tetapi bukan sekedar bekerja, namun ia harus mampu menghasilkan buah (Filipi 1:22).
Tuhan Yesus pun mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu hal yang lebih dari yang diminta (do extra mile – Matius 5:41). Seorang pimpinan dapat do extra mile dengan selalu mendukung bawahannya untuk bekerja lebih produktif, dan tidak lupa memberikan apresiasi untuk setiap pekerjaan baik yang telah dikerjakan. Seorang karyawan dapat do extra mile dengan cara tetap bertanggung jawab dan proaktif dalam mengerjakan pekerjaan lebih dari yang mungkin diharapkan oleh atasannya.
Kita perlu mengingat nasehat Rasul Paulus bahwa apa pun yang kita perbuat, kita perbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
Pekerjaan dan ibadah adalah satu kesatuan. Bekerja dengan cara melakukan yang terbaik disertai kejujuran dan melakukan semuanya dengan ketulusan untuk
kemuliaan Tuhan, maka inilah wujud nyata dari mempersembahkan tubuh kita yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.
C. Lingkungan Sekitar
Kita adalah makhluk sosial, kita adalah pribadi yang Tuhan percayakan lahir di bangsa ini dengan masyarakat yang beragam. Di tengah-tengah keadaan ekonomi yang kurang baik saat ini, tentulah makin banyak orang-orang yang merasakan imbasnya, apalagi bagi orang-orang yang sejak semula memiliki kondisi ekonomi yang lemah. Orang percaya juga dipanggil untuk memperhatikan kelangsungan hidup mereka ini sesuai dengan apa yang Firman Tuhan katakan di Amsal 19:17,
“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.”
Tidak perlu tunggu harus menjadi lebih berada untuk menolong orang yang kesusahan. Jika kita mau memberikan persembahan yang terbaik sebagai wujud ibadah yang sejati, inilah saatnya kita menolong orang disekitar kita yang mengalami kesusahan. Hal ini serupa apa yang dikatakan Ibrani 13:16
“Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”
Jika sebelumnya kita berpikir bahwa mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah hanya dengan melakukan pelayanan atau pekerjaan di lingkungan gereja, sekarang kita memahami bahwa kehadiran kita di dalam keluarga, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan sekitar adalah wujud nyata dari paradigma baru dalam mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah di zaman ini.
Hal-hal ini selain merupakan wujud nyata penerapan dari Roma 12:1-2, juga merupakan wujud nyata menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia ini. (Matius 5:13-16)
Dan semakin banyak orang dunia yang mengenal Kristus melalui kita, maka kita pun akan menggenapi panggilan kita untuk menjalankan Amanat Agung. Amin,

image source: https://raintreecommunitychurch.com/sermons/total-commitment-low-commitment-culture-romans-121-2/

UNITY ADALAH  TANDA  MENGASIHI

UNITY ADALAH TANDA MENGASIHI

Kehendak Allah bagi dunia adalah menaklukkan segala sesuatu di bawah Yesus Kristus, supaya Ia menjadi semua di dalam semua (1 Korintus 15:28).Tidak ada unity sejati dapat terwujud di luar Kristus. Manusia yang jatuh dalam dosa telah kehilangan belas kasihan dan cenderung bersifat self-centered sehingga tidak mampu mewujudkan kesatuan yang tulus dengan manusia lain. Salah satu contoh dalam Alkitab adalah unity model Babel yang merupakan bentuk pemberontakan terhadap Allah.

Orang percaya harus dipulihkan dan dididik menjadi murid yang dapat dipercaya agar dapat mengasihi Tuhan dan sesama sehingga terjadi unity. Unity harus lebih dulu terjadi dalam Gereja sehingga kemuliaan Kristus terpancar, supaya dunia percaya bahwa Ia adalah Juruselamat yang diutus oleh Bapa

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” (Yohanes 17: 21-23).

Orang percaya dipanggil untuk menjadi satu tubuh Kristus. Tubuh manusia tersusun dari beragam anggota. Semua anggota tubuh berguna dan penting karena memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Ketika salah satu anggota tubuh mengalami disfungsi (tidak berfungsi secara normal/terganggu fungsinya), maka kinerja anggota tubuh lainnya akan ikut terganggu.

Gereja disebut sebagai Tubuh Kristus karena :

– Dipersatukan dalam Kristus melalui karya keselamatan (Efesus 4:4-6).
– Kristus adalah Kepala; Gereja adalah tubuh ( (Efesus 1:22-23).
– Diperlengkapi dengan jawatan serta rupa-rupa karunia rohani untuk bekerja sama dan saling melayani demi kepentingan bersama (1 Korintus 12:4-28).
– Merupakan duta Kristus di dunia untuk melakukan kehendak Allah (Kisah Rasul 1:8; 1 Petrus 2:9).

Analogi gereja sebagai tubuh Kristus merupakan dasar bagi jemaat untuk hidup dalam unity, saling merendahkan hati dan mengasihi, menghargai perbedaan, saling melayani dan melengkapi. Kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain dan kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan tubuh Kristus.

A. Unity dalam tubuh Kristus.

Murid Kristus harus mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui agar memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya, sehingga Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (Christ-centered life). Pembaruan akal budi akan mengembalikan kita sebagai human being yang serupa gambar Allah dan secara unity melakukan fungsinya sebagai bagian dari tubuh Kristus.

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera : satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” (Efesus 4:2-6)

Orang yang telah mengalami pemulihan akan mampu mengasihi. Sesuai firman Tuhan dalam Efesus 4:2-6, sikap mengasihi akan mewujudkan unity dalam tubuh Kristus :

1. Rendah hati (humility).

Semua orang sama berharganya di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Kesadaran akan hal ini membuat kita hidup dalam kerendahan hati. Tidak ada yang patut kita banggakan selain bermegah dalam kasih anugerah Allah. Seorang yang rendah hati bisa melihat dengan jelas keadaan dirinya, tidak mempertahankan kebenaran diri sendiri tapi menjadikan Kristus sebagai tolak ukur kebenaran. Orang yang rendah hati selalu hidup dalam pertobatan, terus memperbaiki diri dan mengucap syukur akan kasih karunia Allah yang memulihkan hidupnya.

2. Lemah lembut (gentleness, meekness).

Adalah kebaikan hati, lembut, santun, belas kasihan, dan menunjukkan perhatian melalui perkataan dan perbuatan. Ia memiliki manusia batiniah yang kuat sehingga mampu mengendalikan diri. Lemah lembut adalah suatu kekuatan dan bukan kelemahan. Orang yang lemah lembut tidak memikirkan kepentingan diri sendiri tapi orang lain demi kebaikannya untuk membangunnya.

3. Sabar (long-suffering, long-tempered).

Sikap tidak menyerah, memiliki daya tahan untuk menanggung tekanan/kesulitan dalam waktu yang lama. Tidak mudah terprovokasi/terpancing untuk membalas dengan kejahatan atau melakukan perbuatan negatif. Lambat untuk menjadi marah, panjang sabar.

4. Menunjukkan kasih dalam hal saling membantu.

Bersedia menerima perbedaan dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sama seperti Kristus telah mengampuni kita, kita juga harus mengampuni orang lain (Markus 11:26). Hanya kasih Agape (unconditional love) yang dapat menyatukan perbedaan, melepaskan pengampunan, mengasihi orang-orang yang sulit dan memimpin mereka ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut.

5. Berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.

Dalam Kristus, kita berada dalam persekutuan dengan RohNya yang memberikan damai sejahtera di hati. Kita diperintahkan untuk memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” (Kolose 3:15).

Gereja menjadi satu tubuh karena hanya ada satu Roh. Roh Kudus memberikan kesatuan dalam gereja. Gereja bertumbuh oleh kuasa Roh Kudus di dalamnya. Kita memiliki pengharapan yang mulia dalam panggilanNya (Efesus 1:18-19), memiliki satu Tuhan, satu iman yang sama kepada kebenaran yaitu Kristus, satu baptisan (1 Korintus 12:13), satu Allah dan Bapa dari semuanya, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

B. Bertumbuh dalam kasih.

Tubuh Kristus bertumbuh secara kuantitas ketika orang yang baru percaya bergabung, dan secara kualitas ketika setiap anggota menggunakan karunianya untuk saling melayani, melengkapi dan saling mengasihi. Kemudian kita akan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus, yang adalah Kepala.

“tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Efesus 4: 15-16).

Walaupun banyak anggota dengan peran dan fungsinya masing-masing, namun sebagai satu tubuh kita diikat menjadi satu, menerima pertumbuhan dan membangun diri dalam kasih Tuhan. Dengan saling melayani, kita akan semakin disempurnakan dalam kasih serta menjadi dewasa dalam iman dan memancarkan karakter Kristus.

C. Mengenakan manusia baru yang terus diperbarui.

Orang yang sudah lahir baru harus menanggalkan cara hidup yang lama. Jika sebelumnya kita hidup mengikuti keinginan dan hawa nafsu yang cemar, maka sekarang sebagai ciptaan baru, cara hidup kita harus berpadanan dengan Injil Kristus.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.” (Efesus 4:17-20)

Seperti apapun besarnya pelayanan atau hebatnya karunia yang Allah berikan kepada kita, tetapi tidak ada seorangpun dari kita yang kebal terhadap dosa. Itu sebabnya firman Tuhan menekankan dengan tegas agar kita jangan lagi (jangan kembali lagi) hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia. Akal budi harus terus-menerus diperbarui supaya kita belajar mengenal Kristus dan mengenal kehendakNya bagi kita.

“yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24)

Bukti kemurnian iman yang teruji dari setiap orang percaya adalah KASIH.
Unity dalam tubuh Kristus adalah bukti bahwa kasih Allah bekerja di antara kita, sehingga kita dapat melakukan Perintah Agung (Matius 22:37-39) dan Amanat Agung (Matius 28:19-20).
Inilah HIDUP KEKAL itu.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-8)

“Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:3-4)

image source: https://www.amazingfacts.org/bible-study/scripture-pictures/the-book-of-1st-john

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN PADA ZAMAN INI

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN PADA ZAMAN INI

Tuhan Yesus mengingatkan kita mengenai persyaratan untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Seperti yang dituliskan dalam Matius 7:21-23, Tuhan Yesus berkata,
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah aku bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Di sini Tuhan Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa melakukan kehendak Bapa yang di sorga merupakan suatu syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Perlu diingat, hal ini tidak berarti bahwa kita dapat memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri atau dengan kekuatan sendiri. Dalam Efesus 2:8-10 Paulus berkata,
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;
itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,…
Karena kita ini buatan Allah…”
Kita mampu melakukan kehendak Tuhan dan menjalankan hidup benar oleh karena kasih karunia yang kita responi dengan iman. Tuhan senantiasa menyediakan kemampuan untuk menaati Dia. Karena itu, kita yang hidupnya intim dengan Tuhan, oleh karena kasih karunia-Nya akan mampu melakukan kehendak Bapa di sorga.
Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pada hari-hari terakhir akan ada ‘banyak orang’, sekali lagi saya katakan ada banyak orang di dalam gereja; yang melayani dan percaya bahwa mereka adalah hamba-hamba Tuhan, tetapi justru Tuhan Yesus tidak pernah mengenal mereka.
Kita diingatkan agar jangan sampai hal ini terjadi kepada kita. Kita harus sungguh-sungguh taat kepada kebenaran Firman Tuhan dan tidak menganggap keberhasilan dalam pelayanan sebagai standar untuk menilai hubungan atau keintiman dengan Tuhan.
Ketika orang-orang itu berkata: “Tuhan, bukankah kami bernubuat, mengusir setan, mengadakan banyak mujizat, demi nama-Mu?” Di situ Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Di sini Alkitab mengajarkan kepada kita, bahwa khotbah yang berapi-api, bersemangat, membuat mujizat, bisa berasal dari Iblis. Rasul Paulus mengingatkan, bahwa Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi, jangan heran kalau pelayan-pelayan Iblis menyamar sebagai pelayan-pelayan Tuhan.
Paulus menerangkan bahwa apa yang tampaknya seperti urapan yang penuh kuasa ternyata dapat merupakan pekerjaan Iblis. Kadang-kadang kita bertanya: “Mengapa pengkhotbah yang hidupnya tidak benar bisa memberi dampak yang luar biasa kepada seseorang yang sungguh-sungguh mengejar kebenaran Tuhan?”
Memang kadang-kadang Tuhan ijinkan hal-hal seperti ini terjadi. Pengertiannya adalah; Tuhan tidak mendukung sang pengkhotbah yang tidak benar, tetapi Dia tetap mendukung kebenaran Alkitab dan mereka yang menerima kebenaran itu dengan iman.
Tuhan pernah berkata tentang Daud dalam Kisah Para Rasul 13:22,
“Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”
Jadi, Tuhan berkenan kepada Daud karena Daud melakukan kehendak-Nya. Kehendak Tuhan yang mana? Kisah Para Rasul 13:36 berkata: “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya…” Jadi, di sini dijelaskan Daud tidak melakukan kehendak Allah pada zaman orang lain, tetapi pada zamannya, yaitu apa yang Allah kehendaki pada waktu itu.
Saya pribadi merindukan untuk mendengarkan Tuhan berkata kepada saya: “Aku telah menemukan Niko bin Njotorahardjo, orang yang berkenan di hati-Ku dan melakukan kehendak-Ku pada zaman ini.” Apakah Saudara juga merindukan hal yang seperti itu?
MELAKUKAN KEHENDAK BAPA
Enam hari sebelum Paskah Tuhan Yesus datang ke Betania, di mana Lazarus pernah dibangkitkan. Mereka mengadakan perjamuan untuk Tuhan Yesus. Marta melayani Dia. Di tengah-tengah perjamuan itu, Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Tuhan Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak narwastu itu semerbak di seluruh rumah itu.
Yudas Iskariot, salah seorang murid Tuhan Yesus, berkata:
“Kenapa minyak narwastu itu tidak dijual saja dengan harga 300 dinar dan uangnya bisa diberikan kepada orang-orang miskin.”
Yudas berkata seperti ini bukan karena dia memperhatikan nasib orang-orang miskin, tetapi karena dia akan mencuri uangnya kalau minyak narwastu itu dijual. Tuhan Yesus berkata:
“Sudahlah, biarlah dia melakukan hal itu untuk mengingatkan hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”
Kemudian Tuhan Yesus meneruskan:
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukan oleh Maria ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”
Wow! Ini suatu penghargaan yang luar biasa yang diberikan Tuhan Yesus kepada Maria.
Sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh Maria sehingga Tuhan Yesus memberikan penghargaan seperti itu? Yang dilakukan oleh Maria dengan mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak narwastu itu adalah menjawab kebutuhan Tuhan Yesus pada waktu itu.
Maria sebenarnya melakukan kehendak Tuhan Yesus pada waktu itu. Tuhan Yesus tahu bahwa sebentar lagi Dia akan mati dengan mengalami penderitaan yang luar biasa.
Ingat Saudara bahwa Tuhan Yesus selain 100% Allah dan Dia juga 100% manusia seperti kita. Dalam keadaan-Nya yang seperti itu, Dia butuh ada orang yang menguatkan, menghibur Dia dan Maria menjawab apa yang Tuhan Yesus butuhkan.
Maria melakukan kehendak Tuhan Yesus pada waktu itu. Tuhan Yesus berkata bahwa apa yang dilakukan oleh Maria dengan mencurahkan minyak narwastu ke kaki Tuhan Yesus dan menyeka dengan rambutnya adalah persiapan untuk hari penguburan-Nya. Sebenarnya setiap kali kita memberitakan Injil, Tuhan Yesus menghendaki agar kita memberitakan tentang apa yang dilakukan oleh Maria, yaitu mengingatkan agar kita melakukan kehendak Tuhan pada zaman ini.
Seperti apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 7:21-23 tadi, yaitu bahwa hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang di sorga akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang akan ikut dalam pengangkatan. Saudara mau ikut dalam pengangkatan? Yang mau katakan: Amin!!
APA KEHENDAK BAPA PADA ZAMAN INI?
Apa yang menjadi kehendak Bapa di sorga pada zaman ini? Pada awal tahun 2009 Tuhan berbicara kepada saya dengan sangat serius dari Wahyu 3:11a, “Aku datang segera…” Saya gemetar dan bertanya: “Tuhan, apa yang akan Tuhan lakukan dan apa yang harus saya kerjakan?” Sekitar 6 bulan kemudian Tuhan baru menjawab pertanyaan saya dengan berkata: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku. Aku akan mencurahkan Roh-Ku,” kata Tuhan. “Pada saat Aku mencurahkan Roh-Ku, maka akan terjadi seperti dalam Yoel 2:28-32.”
Pada waktu Roh Kudus dicurahkan, ada 3 tanda yang akan terjadi:
a. Anak-anak, pemuda dan orang tua akan dipakai Tuhan secara luar biasa.
b. Mujizat-mujizat akan terjadi secara luar biasa.
c. Goncangan-goncangan juga akan terjadi secara luar biasa.
Melalui tiga tanda ini Yoel 2:32 akan terjadi, yaitu akan banyak orang yang berseru kepada nama Tuhan dan mereka yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Jadi akan terjadi penuaian jiwa besar-besaran. Katakan: Amin!
Sejak tahun 2009 itu, hampir di setiap khotbah, saya pasti mengingatkan tentang goncangan yang akan terjadi. Lebih dari 10 tahun saya mengingatkan tentang akan terjadinya goncangan-goncangan ini. Jadi salah satu tanda pencurahan Roh Kudus yang akan terjadi adalah goncangan yang dahsyat. Dan goncangan dahsyat yang Tuhan maksudkan ternyata adalah pandemi COVID-19 yang saat ini sedang melanda di seluruh dunia. Jadi, pandemi COVID-19 ini adalah salah satu tanda bahwa Pentakosta Ketiga sedang dicurahkan.
• Pentakosta Ketiga akan membangkitkan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir sebelum Tuhan Yesus datang kembali.
• Pentakosta Ketiga akan membangkitkan generasi Yeremia, yaitu anak-anak muda yang dipenuhi Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa dan akan bergerak untuk memenangkan jiwa. Gerakan yang akan terjadi akan dimotori oleh generasi Yeremia ini.
• Pentakosta Ketiga akan memberikan kuasa… memberikan kuasa… untuk menyelesaikan Amanat Agung dan setelah itu Tuhan Yesus datang kembali.
Hari-hari ini Tuhan menghendaki agar:
a. Kita berseru dalam doa supaya Pentakosta Ketiga ini digenapi.
b. Kita berdoa dengan bertalu-talu supaya pandemi ini segera berakhir.
Kita boleh berdoa supaya terjadi seperti pada pandemi tahun 1918 yang disebut Flu Spanyol, di mana pada puncak gelombang kedua virus sedang menyerang dengan dahsyatnya, tiba-tiba berhenti, karena virusnya hilang entah kemana. Kita juga harus berdoa untuk pemerintah Indonesia dan pemerintahan semua negara supaya diberikan hikmat untuk mengatasi pandemi ini.
Pada hari Minggu, 11 Juli 2021, jam 2 siang, Dirjen Bimas Kristen dan Dirjen Bimas Katolik, Kementerian Agama Republik Indonesia, mengajak semua umat Kristen dan Katolik untuk berdoa bersama-sama di rumah masing-masing. Kita berdoa dan melakukan seperti yang dituliskan dalam 2 Tawarikh 7:13-14. Saya percaya Tuhan mendengar doa kita.
Melalui segala peristiwa yang terjadi karena pandemi COVID-19 ini, Tuhan juga mengingatkan kita sebagai manusia; Tuhan memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya manusia itu.
Kalau kita membaca dalam kitab Mazmur dikatakan bahwa:
• Manusia itu seperti mimpi, seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat. Jadi artinya tiba-tiba tidak ada lagi.
• Manusia itu seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.
• Manusia itu seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.
Saya percaya melalui pandemi ini, kita diingatkan kembali bahwa kematian bisa datang dengan tiba-tiba kapan saja. Pertanyaannya: “Apakah kita sudah tahu dengan pasti kemana kita akan pergi setelah ini?” Hanya ada 2 tempat tujuan: sorga atau neraka.
Hari-hari ini Tuhan mengingatkan kita: “Bukan hanya orang yang berseru: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Saya berdoa setiap kita akan berkata: “Tuhan, saya akan melakukan kehendak Tuhan pada zaman ini.”

image source: https://thepreachersword.com/2017/03/01/great-verses-of-the-bible-matthew-721-23/

ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN

ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN

Saat menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat secara pribadi, kita menjalani kehidupan yang baru dengan iman kepadaNya. Iman bukan hanya saat kita menerima keselamatan (Efesus 2:8) tetapi juga dalam kehidupan setiap hari sebagai orang percaya. Tuhan Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan membawa iman kita kepada kesempurnaan.

Memelihara dan menumbuhkan iman

Orang benar akan hidup oleh iman. Tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah. Oleh sebab itu, kita perlu memelihara dan menumbuhkan iman dengan belajar menerapkan gaya hidup orang beriman.

Gaya hidup adalah pola hidup yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan cara pandang. Gaya hidup merupakan campuran dari kebiasaan (hal yang dilakukan terus-menerus), cara dalam melakukan sesuatu dan perilaku. Sebagai ciptaan yang baru, orang beriman harus memiliki gaya hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus :

1. Mengerti identitasnya dalam Tuhan.

“Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” (Yesaya 43:1-2)

Kita telah menjadi milik kepunyaan Allah karena karya penebusan Yesus Kristus. Apapun keadaan yang kita alami, Allah berjanji akan selalu menyertai, membela, melindungi dan membawa kita dalam kemenangan.

2. Berjaga-jaga senantiasa (Lukas 21:34-36).

a) Menjaga hati dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23).
b) Menjaga kekudusan, jangan sampai hati dikuasai hawa nafsu, pesta pora, kemabukan serta kepentingan duniawi yang akan menjadi jerat bagi kita ketika hari Tuhan datang.
c) Memiliki kehidupan doa agar senantiasa beroleh kekuatan untuk tetap berdiri dalam iman sampai hari kedatangan Tuhan.

3. Menolak untuk hidup dalam kekuatiran (Matius 6:31-34).

Pesan Tuhan bulan lalu mengingatkan bahwa Allah menjamin orang benar yang hidup oleh iman. Jika kita mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya, maka semua yang kita perlukan akan Tuhan sediakan. Oleh sebab itu orang benar tidak perlu hidup dalam kekuatiran.

Dampak buruk dari kekuatiran :
a) Mematahkan semangat, merusak kesehatan secara jiwa/mental dan secara fisik.
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Amsal 17:22).

b) Kekuatiran adalah seperti mata air yang keruh dan sumber yang kotor (Amsal 25:26).
Tubuh manusia sangat membutuhkan air bersih untuk dapat melangsungkan hidup. Sumber air yang tercemar akan membawa berbagai virus/bakteri yang menyebabkan kerusakan sel dan organ. Ini akan menimbulkan berbagai penyakit bahkan dapat mengancam kehidupan secara fisik. Begitu pula kekuatiran adalah seperti air cemar yang membahayakan kehidupan rohani orang benar.

c) Kekuatiran menghalangi pertumbuhan rohani seseorang (Lukas 8:14).
Orang yang penuh dengan kekuatiran adalah seumpama semak duri yang menghimpit benih yang ditaburkan (yaitu firman Allah) sampai mati. Kekuatiran membuat orang tidak dapat bertumbuh secara rohani sehingga tidak menghasilkan buah yang matang.

4. Selalu hidup dalam pertobatan (dalam kerendahan hati), tinggal diam menantikan Tuhan dan percaya (Yesaya 30:15a).

Orang beriman menyerahkan hidupnya secara penuh kepada Tuhan. Hidupnya adalah hidup karena percaya dan bukan karena melihat. Kepercayaannya kepada Tuhan disertai dengan tindakan/ketaatan sebagai demonstrasi kasih. Orang beriman juga akan memiliki hati yang mau diajar (rendah hati) dan mengandalkan Tuhan.

Seiring dengan penerapan gaya hidup, iman akan mengalami pertumbuhan. Iman bertumbuh melalui :

1. Pembacaan Kitab Suci (Roma 10:17).
Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Roh Kudus menyingkapkan firman yang kita baca, sehingga memberi terang, memberi pengertian dan menimbulkan iman (Mazmur 119:130). Hati yang lemah lembut (tanah hati yang baik) akan membuat iman bertumbuh dan menghasilkan hidup yang berbuah.

2. Penganiayaan (1 Petrus 4:12-19)
Setiap orang yang mau hidup beribadah kepada Kristus akan menderita aniaya. Dunia memang membenci Yesus dan para muridNya. Kita disebut berbahagia jika menderita karena Kristus dan karena kebenaran, karena besar upah yang menanti. Penganiayaan atau menderita karena kebenaran merupakan ujian yang justru akan membuat iman semakin bertumbuh, kuat dan dimurnikan.

Menjadi murid Kristus yang dapat dipercaya

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Timotius 2:2)

Tuhan Yesus memberikan Amanat Agung bagi kita, orang yang beriman kepadaNya, untuk pergi menjadikan semua bangsa murid Kristus dan mengajarkan mereka segala sesuatu yang Tuhan perintahkan (Matius 28:19-20). Sebelum menjadikan semua bangsa murid Kristus, kita harus belajar menjadi murid terlebih dahulu.
Kualitas murid yang sejati adalah orang yang hidup oleh iman kepada Kristus atas dasar kasih, menjadi serupa dengan Dia dan dapat dipercaya. Dapat dipercaya di sini maksudnya adalah memiliki ketaatan dan kesetiaan kepada Kristus, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

Untuk menjadi murid Kristus yang dapat dipercaya, ada 2 faktor yang perlu diperhatikan :

a. Inteligensi
Adalah daya reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat baik secara fisik maupun mental, terhadap pengalaman baru; membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru; kecerdasan. Secara sederhana, inteligensi adalah kemampuan untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan serta ketrampilan.

b. Integritas
Menurut Westminster Dictionary of Theological Terms, integritas adalah sebuah istilah teologis untuk menunjukkan kemurnian dan kejujuran sebagaimana manusia diciptakan dalam rupa dan gambar Allah dalam Kejadian 1: 26-27.

Ciri karakter yang berintegritas adalah kelakuan yang bersih, sikap dan motivasi hati yang murni, tidak hidup mengikuti hawa nafsu, tidak bersumpah palsu, jujur serta tulus ikhlas. Orang yang berintegritas akan memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran dan berani bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tahun 2021 merupakan Tahun Integritas di mana kita membangun karakter ilahi dengan kuasa Roh Kudus.

Orang yang hidup oleh iman harus memakai inteligensi yang dimilikinya secara berintegritas agar dapat dipercaya untuk mengemban tugas Amanat Agung. Tentu banyak ujian dan tantangan yang harus dihadapi, namun demikian firman Tuhan memerintahkan kita untuk tidak mundur dari iman kepada Allah.

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala,
sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Murid Kristus diumpamakan seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Serigala ialah lambang dari binatang yang buas, liar, gemar menyerang dan memangsa, hidup bebas mengikuti nafsu/nalurinya sendiri untuk bertahan hidup. Arus dunia, goncangan dan tantangan adalah seperti serigala bagi kita. Dalam menghadapi ‘serigala-serigala’ tersebut, Tuhan menghendaki kita untuk memiliki ke dua sifat ini : cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Perlu dipahami bahwa cerdik berbeda dengan licik, dan tulus berbeda dengan polos/lugu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘cerdik’ memiliki arti mampu membaca dan mengerti situasi, mampu memberikan solusi dan banyak akal.

Dalam bahasa Yunani, kata ‘cerdik’ pada Matius 10:16 mengandung pengertian yang dalam Bahasa Inggrisnya diterjemahkan ‘wise’ (bijaksana) yaitu kemampuan untuk memahami ide-ide dan situasi-situasi yang sulit untuk membuat keputusan yang baik; memiliki persepsi yang tajam dan melihat jauh ke depan, penuh kehati-hatian dalam berkata-kata/bertindak melihat situasi dan kondisi yang ada.

Ular memiliki sifat yang mampu mengenali mangsa dan keadaan bahaya serta keadaan di sekitarnya. Murid Kristus harus memiliki sifat ‘cerdik seperti ular’ dalam artian memiliki hikmat bijaksana dalam menilai segala sesuatu, berhati-hati dalam berkata-kata dan dalam bertindak mengambil keputusan. Tidak sembrono tapi melangkah dalam ketepatan. Kecerdikan tidak digunakan untuk merugikan orang lain ataupun memuaskan hawa nafsu demi kesenangan pribadi.

Merpati dikenal sebagai lambang ketulusan dan kesetiaan. Ketulusan dalam Matius 10:16, diterjemahkan sebagai ‘innocent’ dalam bahan Inggris, yang berarti: tidak tercampur, murni, bersih. KBBI menjelaskan ketulusan sebagai kesungguhan, kebersihan hati dan kejujuran.

Kecerdikan menekankan tentang cara dan metode, sementara ketulusan menekankan tentang motivasi yang dilandasi dengan rasa hormat dan kasih akan Tuhan. Hati harus selalu dijaga agar tetap bersih, tidak memiliki niat jahat untuk menjatuhkan, melukai, memperalat, memanipulasi atau merugikan orang lain.

Kita tidak diperintahkan hanya cerdik seperti ular atau hanya tulus seperti merpati. Kecerdikan tanpa ketulusan bisa disalahgunakan demi memuaskan hawa nafsu. Ketulusan tanpa kecerdikan membuat seseorang jadi kurang/tidak produktif. Kita harus memiliki keduanya : cerdik dan tulus hati. Inteligensi harus sejalan dengan integritas agar kita menjadi murid Kristus yang dapat dipercaya.

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami : sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” (1 Korintus 4:1-2)

Orang benar akan mencari perkenanan Allah, itulah yang membuatnya pantang mengundurkan diri. Dalam menghadapi penganiayaan, pergumulan dan tantangan, dia tidak mundur dari iman. Dalam proses dan didikan Tuhan, dia tetap menjalani dengan kerendahan hati dan ketabahan. Dalam segala kelemahan dan keterbatasan, dengan iman dia mengandalkan Tuhan. Dalam menanti janji Tuhan yang belum digenapi, dia tetap menanti dengan sabar, setia dan bertekun.

Dengan iman kita diselamatkan, dengan iman kita hidup bagi Allah dan melakukan Amanat Agung, dengan iman kita menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir.

“Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibrani 10: 38-39)

image source: https://bibleversestogo.com/products/ephesians-2-8-9-saved-through-faith