Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 2
HIKMAT DALAM HUBUNGAN DAN KEPUTUSAN

Review SESI 1
Di sesi 1 kita belajar bahwa hikmat memengaruhi cara kita hidup: bagaimana kita menggunakan waktu dan bagaimana kita berkata-kata.

Di sesi 2 kita akan melihat bagaimana hikmat memengaruhi: hubungan yang kita bangun dan keputusan yang kita ambil.

III. HIKMAT UNTUK MEMILIH DAN MEMBANGUN HUBUNGAN YANG SEHAT
Baca Yakobus 3:13

Yakobus mengajarkan bahwa hikmat sejati tidak terutama dibuktikan melalui kata-kata yang hebat, pengetahuan yang luas, atau kemampuan untuk mengalahkan lawan bicara. Hikmat dibuktikan melalui cara hidup yang baik dan perilaku yang lahir dari kelemahlembutan.

Ini sangat penting dalam hubungan. Kita dapat memiliki pengetahuan yang benar, tetapi memiliki sikap yang kasar. Kita dapat memiliki niat yang baik, tetapi kata-kata kita justru melukai.

Kita dapat merasa sedang menolong seseorang, tetapi cara kita memperlakukan orang tersebut justru membuat hubungan menjadi rusak.
Karena itu, hikmat Tuhan menghasilkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan bukan berarti lemah. Kelemahlembutan adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri.

Orang yang berhikmat belajar:
tidak cepat bereaksi,
tidak mudah tersinggung,
tidak selalu harus menang,
mau mendengar,
menghargai perbedaan,
mampu mengendalikan emosi,
berbicara dengan hormat,
memberikan ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.

Dalam memilih dan membangun hubungan, kita juga membutuhkan hikmat untuk mengenali:
Siapa yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita? Hubungan mana yang perlu kita bangun?
Hubungan mana yang perlu kita jaga batasnya? Bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang lain tanpa kehilangan prinsip kebenaran?

Setiap orang harus kita perlakukan dengan kasih dan hormat, terutama orang-orang terdekat kita.
Namun, kita juga perlu memahami: tidak semua orang harus menjadi orang terdekat kita.
Mengasihi seseorang tidak berarti kita harus memberikan akses yang sama kepada semua orang.
Ada hubungan yang perlu dibangun.
Ada hubungan yang perlu dipulihkan.
Ada hubungan yang perlu dijaga.
Dan ada hubungan yang membutuhkan batas yang sehat.

Hikmat menolong kita mengasihi tanpa kehilangan batas, dan menetapkan batas tanpa kehilangan kasih.

IV. HIKMAT UNTUK MENETAPKAN PRIORITAS YANG BENAR
Baca Amsal 3:5–6

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Salah satu bentuk hikmat terbesar adalah kemampuan untuk menentukan:
Apa yang harus didahulukan?
Tidak semua hal memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Tidak semua kesempatan harus kita ambil.
Tidak semua masalah harus kita selesaikan sendiri.
Tidak semua permintaan harus kita penuhi.

Belajar berkata “tidak” pada sesuatu yang bukan prioritas bukan berarti egois. Itu dapat menjadi bentuk hikmat. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk:
memahami,
menerima pewahyuan,
menilai,
membedakan,
menemukan,
memaknai,
dan mengambil kesimpulan dengan benar.

Hikmat membuat kita mampu melihat bukan hanya apa yang terlihat sekarang, tetapi juga apa akibatnya bagi masa depan.
Setiap keputusan yang kita ambil dapat memengaruhi: diri kita → keluarga kita → orang-orang di sekitar kita → bahkan generasi yang akan datang.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, tanyakan:
1. Apakah ini memuliakan Tuhan?
2. Apakah ini membawa manfaat?
3. Apakah ini menunjukkan kasih?
4. Apakah ini sesuai dengan prinsip firman Tuhan?
5. Apakah ini bernilai untuk kekekalan?

Kadang-kadang keputusan yang paling bijaksana bukanlah keputusan yang paling menguntungkan saat ini, tetapi keputusan yang paling benar di hadapan Tuhan.

REFLEKSI DAN DISKUSI SESI 2
Adakah hubungan dalam hidup saya yang membutuhkan kelemahlembutan, batas yang sehat, atau pemulihan?

Apakah saya memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menang dalam hubungan atau argumentasi?

Apa yang selama ini menjadi prioritas saya? Apakah prioritas tersebut benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan?
Keputusan apa yang sedang saya hadapi saat ini dan membutuhkan hikmat Tuhan?

Apakah ada sesuatu yang perlu saya katakan “tidak” supaya saya dapat mengatakan “ya” kepada
sesuatu yang lebih penting bagi Tuhan?

PENUTUP

Amsal 4:7 berkata: “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian.”

Hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan. Kita membaca dan merenungkan firman Tuhan sehingga memperoleh pengertian tentang kebenaran dan kehendak-Nya. Tetapi hikmat tidak berhenti pada pengetahuan. Hikmat adalah ketika kebenaran yang kita ketahui mulai mengubah cara kita hidup.

Kita dapat menyederhanakannya:
Pengetahuan rohani + Pengertian + Penerapan = Hikmat yang menghasilkan kehidupan yang benar.

Hikmat sejati bersumber dari Tuhan dan diberikan melalui Roh Kudus. Karena itu, bangunlah hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, kita belajar melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang kita rasakan atau pikirkan, tetapi dari perspektif Tuhan.

Hikmat akan menolong kita:
menggunakan waktu dengan bijaksana, berkata-kata dengan benar, membangun hubungan yang sehat, menetapkan batas yang benar, menentukan prioritas yang benar, dan mengambil keputusan yang membawa kita semakin dekat kepada tujuan Tuhan.

Pada akhirnya, hidup berhikmat bukan sekadar tentang membuat keputusan yang pintar.
Hidup berhikmat adalah:
belajar melihat seperti Tuhan melihat,
memilih seperti Tuhan menghendaki,
dan hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Iman membawa kita untuk percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan bersama Tuhan.
Dan ketika iman dan hikmat berjalan bersama, kita bukan hanya percaya kepada rencana Tuhan, tetapi juga belajar menjalani rencana Tuhan dengan benar.

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 1
HIKMAT DALAM CARA KITA HIDUP

PENDAHULUAN

Untuk hidup dalam tujuan dan rencana Tuhan, kita bukan hanya membutuhkan iman, tetapi juga hikmat. Iman adalah dasar hubungan dan kepercayaan kita kepada Allah.
Hikmat adalah kemampuan untuk menerapkan kebenaran dan pengetahuan rohani dalam kehidupan nyata—sehingga kita mampu membuat pilihan yang benar, menyelesaikan masalah, membangun hubungan yang sehat, dan bertindak dengan tepat.

Dengan kata lain: Iman membuat kita percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat memiliki iman yang kuat, tetapi tetap membutuhkan hikmat dalam menentukan:
kapan harus berbicara,
kapan harus diam,
apa yang harus dilakukan,
siapa yang harus kita percayai,
bagaimana menggunakan waktu,
dan apa yang harus menjadi prioritas.

Hikmat membuat iman kita terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

ISI
I. HIKMAT UNTUK MENGGUNAKAN WAKTU DENGAN BIJAKSANA (baca Efesus 5:15-17)
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…”

Paulus mengingatkan kita untuk memperhatikan dengan saksama bagaimana kita hidup.
Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang saya lakukan?”
Tetapi:“Untuk apa saya menggunakan hidup dan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?”

Kita dapat begitu sibuk memenuhi tuntutan kehidupan—bekerja, mengurus keluarga, mengejar kebutuhan, menikmati keinginan, bahkan melakukan banyak aktivitas—tetapi belum tentu semuanya membawa kita kepada Tuhan. Orang bijaksana melihat waktu bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dilalui atau diisi, tetapi sebagai kesempatan yang Tuhan percayakan.

Jangan hidup seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.
Ciri orang bebal:
Degil dan keras kepala;
Merasa dirinya selalu benar dan sulit bertobat atau berubah.
Tidak mau belajar dan menerima teguran.
Suka menyalahkan orang lain dan sulit mengambil tanggung jawab.
Hidup sesuka hati dan mengikuti hawa nafsu.
Lamban mendengar dan tidak konsisten.
Mendengar firman tetapi tetap hidup dengan mindset yang tidak sesuai firman.
Tidak peka terhadap suara dan teguran Roh Kudus.
Sulit membedakan mana yang benar dan salah, mana yang penting dan mana yang sia-sia.

Ciri orang arif atau bijaksana:
Mau mendengar, belajar, dan menerima teguran.
Belajar dari firman Tuhan, pengalaman, orang lain, bahkan dari masalah yang dihadapi.
Sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan.
Mau menaati Tuhan dan hidup dalam pertobatan.
Melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.
Membuat keputusan berdasarkan prinsip firman Tuhan.
Berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya membuang waktu.

Mazmur 90:12 berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Orang bijaksana tahu menghargai waktunya. Karena itu kita perlu bertanya:
“Apakah ini perlu mendapatkan waktu saya?” Waktu adalah bagian dari hidup yang tidak dapat kita beli kembali. Kita dapat menghasilkan kembali uang yang hilang. Kita dapat mengganti barang yang rusak, tetapi kita tidak dapat mengembalikan waktu yang sudah berlalu.
Waktu kita di dunia terbatas. Karena itu, gunakanlah waktu dengan saksama.

II. HIKMAT UNTUK BERKATA-KATA (baca Kolose 4:5–6)

Perkataan adalah sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi mempunyai kuasa yang besar.
Perkataan dapat menjadi benih. Benih yang baik dapat menghasilkan:
kebenaran,
kasih,
iman,
pengharapan,
penghiburan,
dan pemulihan.

Sebaliknya, perkataan yang tidak dijaga dapat menghasilkan:
kebingungan,
kekhawatiran,
ketakutan,
kesalahpahaman,
kemarahan,
perpecahan,
kepahitan,
bahkan penyesatan.

Karena itu, orang yang berhikmat belajar bukan hanya: “Apa yang harus saya katakan?”
Tetapi juga:
“Kapan saya harus mengatakannya?”
“Bagaimana saya harus mengatakannya?”
“Apakah memang perlu saya katakan?”

Kita perlu meminta Roh Kudus memimpin perkataan kita supaya perkataan kita:

Menghormati dan meninggikan Tuhan.
Lemah lembut dan meredakan kegeraman, bukan memperbesar konflik.
Mengandung hikmat dan didikan.
Membawa penghiburan dan nasihat.
Memberikan jawaban yang tepat pada waktunya.
Membangkitkan iman, pengharapan, dan kekuatan berdasarkan firman Tuhan.

Kebenaran membutuhkan hikmat dalam penyampaiannya. Orang bijaksana tidak menggunakan perkataan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi untuk membawa orang kepada kebenaran dan kasih.

REFLEKSI DAN DISKUSI

Bagaimana selama ini saya menggunakan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?
Apa yang paling banyak menyita waktu saya?
Apakah semuanya membawa saya semakin dekat kepada Tuhan?
Apakah ada perkataan yang perlu saya jaga atau ubah dalam hubungan saya dengan seseorang?

Ketika berbicara dalam situasi konflik, apakah tujuan saya membuktikan bahwa saya benar atau
membawa hubungan kepada kebenaran dan kasih?

Kalimat kunci sesi minggu ini : Orang yang berhikmat tahu bagaimana menggunakan waktunya dan menjaga perkataannya.

Bersambung Sesi 2 minggu depan…

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

PENDAHULUAN

Allah telah memberikan kepada setiap orang kehendak bebas untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan dalam hidup. Setiap keputusan membawa konsekuensi, baik maupun buruk. Karena itu, kita membutuhkan hikmat dari Allah agar dapat menggunakan kehendak bebas kita dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Hikmat bukanlah sesuatu yang diperoleh hanya melalui kecerdasan, pendidikan formal, atau pengalaman hidup. Hikmat sejati adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”(Amsal 9:10)

I HIKMAT MENURUT ALKITAB

 Apa itu hikmat?

Hikmat lebih daripada sekadar kecerdasan, pendidikan, atau pengetahuan. Seseorang dapat memiliki IQ yang tinggi, gelar akademik yang tinggi, serta pengalaman yang luas, namun tetap tidak memiliki hikmat Allah. Menurut Alkitab, hikmat adalah kemampuan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang Allah, memahami kehendak-Nya, dan mengambil keputusan yang selaras dengan Firman-Nya.

Hikmat bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi hidup sesuai dengan kebenaran itu. Hikmat yang sejati dimulai dengan takut akan Tuhan. Artinya, menghormati Allah, mengasihi-Nya, dan dengan sukarela tunduk kepada otoritas-Nya. Sikap ini bukan sekadar tampilan lahiriah, melainkan mengalir dari hati yang telah diubahkan oleh Roh Kudus.

II TAKUT AKAN TUHAN

 Diskusi

  • Apa arti “takut akan Tuhan” menurut Anda?
  • Dalam bidang kehidupan apa Anda paling membutuhkan hikmat Tuhan saat ini?

Takut akan Tuhan berarti:

  • Menghormati Allah.
  • Taat kepada Firman Tuhan.
  • Mempercayai Tuhan dalam setiap keadaan.

Takut akan Tuhan bukanlah ketakutan yang membuat kita menjauh dari-Nya. Sebaliknya, takut akan Tuhan adalah kesadaran yang mendalam akan hadirat, kekudusan, kebesaran, kemuliaan, kuasa, kasih, dan kebenaran-Nya. Kesadaran ini menghasilkan rasa hormat, kasih, serta kerinduan yang tulus untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan hati-Nya.

Alkitab juga berkata: “…mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

Mengenal Allah berarti memiliki hubungan yang pribadi dan intim dengan-Nya, bukan sekadar memiliki informasi tentang Dia.

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mampu:

  • memahami Firman-Nya,
  • mengenali kehendak-Nya,
  • membedakan yang benar dan yang salah,
  • mengenali suara Tuhan di tengah berbagai suara dunia,
  • mengambil keputusan yang bijaksana.

Dalam Matius 7:24–27, Yesus mengajarkan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya. Hikmat tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dinyatakan melalui ketaatan. Sebaliknya, orang bodoh mendengar Firman Tuhan tetapi tidak menaatinya. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak menjadikannya sebagai dasar kehidupan mereka.

III. BERKAT DARI HIDUP DALAM HIKMAT

Orang yang hidup dalam hikmat Allah akan mengalami banyak berkat, di antaranya:

  1. Menerima arah hidup yang jelas

Hikmat memampukan kita memahami kehendak dan tujuan Allah sehingga hidup kita tidak disia-siakan, melainkan dipakai untuk menggenapi panggilan ilahi-Nya.

  1. Terlindung dari bahaya dan kesalahan yang merugikan

Hikmat menjaga kita dari tipu daya musuh, keputusan yang tergesa-gesa, kebodohan, dan kesalahan yang membawa kerugian serta penderitaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

  1. Memiliki kepekaan rohani

Karena hikmat berasal dari Roh Kudus, orang yang memilikinya akan menjadi peka terhadap suara Tuhan, pimpinan-Nya, dan teguran-Nya.

  1. Hidup dalam damai sejahtera

Orang yang berhikmat memilih untuk hidup dalam kebenaran. Ketaatan kepada Allah menghasilkan damai sejahtera yang sejati dan bertahan lama.

PENERAPAN

  1. Mulailah setiap hari dengan mencari Tuhan sebelum memulai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
  2. Bacalah dan renungkan satu pasal dari Kitab Amsal setiap hari.
  3. Berdoalah sebelum mengambil setiap keputusan. Jangan bertindak terburu-buru; mintalah tuntunan Tuhan agar setiap langkah yang Anda ambil selaras dengan prinsip-prinsip Firman-Nya.
  4. Mintalah hikmat kepada Tuhan setiap hari agar hidup Anda tetap terarah, efektif, dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

 PENUTUP

Hikmat adalah salah satu kebutuhan terbesar dalam kehidupan setiap orang percaya. Melalui hikmat Allah, kita dimampukan untuk mengambil keputusan yang benar, membangun hubungan yang sehat, memimpin dengan bijaksana, menghadapi tantangan hidup dengan iman, serta menjadi saksi Kristus yang setia melalui cara hidup kita.

Kiranya setiap kita terus bertumbuh dalam hikmat Allah sehingga setiap perkataan, sikap, dan keputusan kita memuliakan nama-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung lebih percaya kepada pengetahuan, yaitu sesuatu yang dapat dilihat dengan mata fisik, memiliki bukti, serta dapat dipahami melalui nalar dan logika, daripada percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak dapat dipahami sepenuhnya secara rasional. percaya kepada Tuhan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Percaya berarti memilih Tuhan sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan sekalipun kita belum melihat dan memahami seluruh rencana-Nya.

Sebaliknya, orang beriman tidak bergantung atau menaruh kepercayaannya pada apa yang terlihat, melainkan kepada Allah, yang menopang segala sesuatu—baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat—dengan firman-Nya yang penuh kuasa (Ibrani 1:3). Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

ISI

1. PERCAYA DENGAN SEGENAP HATI

  • Percaya dengan segenap hati berarti menyerahkan kendali hidup, menaruh harapan, dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Iman sejati tidak bergantung pada pikiran, logika, asumsi, perasaan, situasi, ataupun kondisi kita. Iman sejati bukanlah kepercayaan semu atau ilusi yang tidak berdasar, melainkan kepercayaan yang dibangun di atas pengenalan akan karakter Allah: siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Dia.
  • Bahwa Tuhan:
    • Baik dan setia, tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.
    • Tidak pernah berdusta,
    • Tidak pernah terlambat,
    • Sanggup melakukan segala perkara,
    • Bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya,
    • Rancangan-Nya bagi kita adalah rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan
  • Bahwa kita:
    • Adalah anak-anak Allah dan ciptaan baru dalam Kristus,
    • Adalah ahli waris—yaitu orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah dan menerimanya bersama-sama dengan Kristus,
    • Menerima hidup yang berkelimpahan melalui karya keselamatan Kristus,
    • Menerima kuasa dan otoritas melalui kehadiran Roh Kudus untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, melakukan kehendak Allah, dan berkemenangan,
  • Ketika kita mengenal karakter Allah, kita akan belajar memercayai firman,
    janji, dan rancangan-Nya, sekalipun kita belum memahami atau melihat semuanya digenapi. Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan apabila ia terus-menerus menolak melakukan firman-Nya. Kepercayaan kepada Tuhan terlihat melalui keputusan dan tindakan yang selaras dengan kehendak-Nya.6)

2. ALLAH BEKERJA MELAMPAUI PENGETAHUAN DAN LOGIKA MANUSIA

Pikiran, logika, nalar, dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Semuanya hanya mampu memahami perkara-perkara yang terlihat atau berada dalam dimensi fisik. Sementara itu, Allah bekerja melampaui semua itu. Cara, waktu, dan rencana-Nya tidak dapat diukur ataupun diselami sepenuhnya oleh kapasitas akal budi manusia. Rencana Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut kehidupan kita saat ini, melainkan juga mencakup berbagai aspek dan pertimbangan yang berdampak pada generasi-generasi sesudah kita.

  • Yesaya 55:8-9 menjelaskan mengapa kita tidak mampu menyelami pekerjaan Tuhan: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Apa yang terlihat baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut pandangan Allah. Amsal 16:25 mengatakan, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

  • Saat kita hanya mengandalkan pengertian sendiri tanpa mencari kehendak Tuhan, keputusan yang kita ambil dapat menjadi keliru, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan persoalan baru dan membahayakan. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri..” (Yeremia 17:5-6).

3. AKUILAH TUHAN DALAM SEGALA LAKUMU

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

  • Mengakui Tuhan berarti melibatkan-Nya, menyerahkan setiap keputusan kepada-Nya, serta memohon tuntunan Roh Kudus dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya dalam perkara-perkara rohani. Ketika kita menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus, maka Roh Kudus akan meluruskan jalan kita.
  • Tuhan meluruskan jalan bukan berarti menghilangkan semua kesulitan dan rintangan, melainkan mengarahkan langkah kita agar tetap berada dalam kehendak-Nya dan mencapai tujuan Ilahi. Jadi hidup orang yang beriman bukan berarti jalan hidup menjadi mulus dan lancar tanpa rintangan. Sebaliknya, iman percaya akan kehadiran Tuhan yang setia menyertai dan memampukan kita melewati kesukaran, persoalan, dan penderitaan dengan kesabaran, ketekunan, serta kemenangan. Orang percaya memahami bahwa setiap kesulitan diizinkan Tuhan untuk memurnikan iman dan membentuk karakter Kristus di dalam dirinya.
  • Jalan yang diluruskan juga berarti pikiran, motivasi hati, keinginan, dan tindakan kita diselaraskan dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang tidak kudus, tidak benar, tidak menghasilkan buah, dan menghambat pertumbuhan iman akan dipotong oleh Tuhan (Yohanes 15:2).

 

4. CIRI ORANG YANG PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

  • Ada ketenangan batin, damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan yang timbul dari pewahyuan akan firman Tuhan.
  • Menolak bersandar pada pengertian sendiri dan overthinking(kecenderungan berpikir secara berlebihan, terutama dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk atau memprediksi hal-hal negatif di masa depan), serta tidak mengizinkan perasaan/emosi negatif memimpin hidupnya.
  • Menjaga pikiran, hati, dan perkataan dengan firman Tuhan, serta mengenakan perisai iman agar dapat memadamkan semua panah api si jahat.
  • Berserah sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan dan mempercayai cara serta waktu-Nya.
  • Membuktikan iman melalui langkah-langkah ketaatan.
  • Mengucap syukur dalam segala hal.
  • Tidak jemu-jemu berdoa.

PENUTUP

Hikmat dunia mengajarkan manusia untuk mengandalkan diri sendiri dan apa yang terlihat oleh mata. Sebaliknya, hikmat Allah mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pengertian sendiri. Percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika doa segera dijawab, tetapi juga ketika Tuhan berkata, “Tunggu.” Penundaan bukanlah penolakan. Dalam masa penantian, Tuhan sedang membentuk karakter, memperdalam iman, dan mempersiapkan kita untuk menerima berkat-Nya pada waktu yang tepat.

Oleh sebab itu, bangunlah iman di atas pengenalan akan karakter Allah serta pemahaman tentang siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Kristus. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Walaupun kita tidak mengetahui seluruh perjalanan di depan, kita mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan itu. Karena itu, akuilah Dia dalam segala lakumu, hiduplah dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan tetaplah berharap kepada-Nya. Tuhan tidak pernah gagal menepati janji-Nya; Ia akan menuntun kita kepada kehendak-Nya yang sempurna dan memampukan kita melewati setiap persoalan dengan kemenangan.

HIDUP OLEH IMAN MENYENANGKAN HATI ALLAH (bagian 1)

HIDUP OLEH IMAN MENYENANGKAN HATI ALLAH (bagian 1)

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6)

PENDAHULUAN

Iman adalah karunia Allah yang menjadi dasar hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual bahwa Allah itu ada, melainkan kepercayaan penuh kepada pribadi Allah yang dinyatakan melalui ketaatan kepada firman-Nya.

Ibrani 11:1 menjelaskan bahwa:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Selanjutnya, Ibrani 11:3 menyatakan bahwa:

“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”

 Segala sesuatu yang kelihatan berasal dari Allah yang tidak kelihatan melalui firman-Nya yang kekal. Karena itu, orang yang hidup oleh iman tidak hanya berfokus pada keadaan yang terlihat, tetapi kepada Allah yang memegang kendali atas segala sesuatu.

Rasul Paulus menegaskan:

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7)

Inilah inti kehidupan Kristen. Hidup oleh iman berarti hidup dalam kebenaran, kekudusan, dan ketaatan kepada Tuhan. Kehidupan seperti inilah yang menyenangkan hati Allah.

I. IMAN MENYENANGKAN TUHAN

“Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:6)

Allah tidak terutama mencari orang yang berbakat, berhasil, kaya, atau terkenal. Allah mencari orang yang percaya kepada-Nya dan taat kepada kehendak-Nya.

Setelah menerima kasih karunia keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12). Dalam perjalanan tersebut, Tuhan Yesus sendiri menjadi Pemimpin dan Penyempurna iman kita (Ibrani 12:2).

Tanpa iman kepada Kristus, segala jerih lelah kita hanya menjadi usaha manusia yang tidak memiliki nilai kekal. Karena itu, iman bukan sekadar sarana untuk menerima mukjizat atau jawaban doa. Iman adalah cara hidup yang menyenangkan hati Allah setiap hari.

II. IMAN ADALAH PERCAYA KEPADA PRIBADI ALLAH

“Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada.”

Percaya bahwa Allah ada belum tentu berarti hidup oleh iman. Banyak orang mencari Tuhan hanya ketika menghadapi masalah, membutuhkan pertolongan, kesembuhan, atau jalan keluar. Namun ketika keadaan membaik, mereka kembali hidup menurut keinginan sendiri.

Hidup mereka dipimpin oleh:

  • logika manusia,
  • hikmat dunia,
  • kecerdasan,
  • emosi,
  • dan kepentingan pribadi, bukan oleh Roh Kudus dan firman Tuhan.

Hidup oleh iman berarti mempercayai karakter Allah, hikmat-Nya, kasih-Nya, dan kedaulatan-Nya, bahkan ketika kita belum mengerti apa yang sedang Dia kerjakan.

III. IMAN DINYATAKAN MELALUI KETAATAN

Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Iman bukan hanya apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita hidup. Iman kita dibangun di atas Kristus dan firman-Nya, bukan atas pengalaman, perasaan, ataupun keadaan.

Ketaatan diwujudkan melalui:

  • menaati prinsip-prinsip Firman Allah (Logos),
  • melakukan tuntunan Roh Kudus (Rhema),
  • serta tetap setia meskipun belum melihat hasilnya.

Nuh membangun bahtera sebelum hujan turun. Abraham meninggalkan negerinya tanpa mengetahui tujuan. Musa memilih menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa sesaat. Semua tokoh iman bertindak terlebih dahulu karena percaya kepada Tuhan.

Demikian pula kita dipanggil untuk taat terlebih dahulu, lalu melihat pekerjaan Allah.

Bersambung minggu depan…

HIDUP OLEH IMAN

HIDUP OLEH IMAN

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”  (2 Korintus 5:7)

PENDAHULUAN

Setelah pada bulan Juni kita belajar Living with Purpose (Hidup dengan Tujuan Ilahi), kita menyadari bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan misi Allah. Namun, mengetahui tujuan hidup saja tidak cukup. Untuk menggenapi panggilan Tuhan, kita harus belajar berjalan dengan iman.

Firman Tuhan berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) Iman bukan sekadar semangat, optimisme, atau berpikir positif. Iman adalah keyakinan yang teguh kepada Allah dan kepada janji-janji-Nya yang tidak pernah gagal.

Perjalanan bersama Tuhan jarang memperlihatkan seluruh peta kehidupan sekaligus. Tuhan biasanya hanya menerangi langkah berikutnya, bukan seluruh perjalanan. Di sinilah iman bertumbuh. Iman bukanlah menunggu semua jawaban tersedia, tetapi tetap melangkah karena mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan. Orang percaya dipanggil bukan untuk hidup berdasarkan apa yang terlihat, melainkan berdasarkan Firman Allah yang tidak pernah gagal.

I. IMAN BERAKAR KEPADA PENGENALAN YANG BENAR AKAN TUHAN

  • Pengenalan yang benar akan Tuhan dimulai dari pembaruan akal budi melalui perenungan firman Tuhan, doa, pujian, dan penyembahan setiap hari. Pengenalan ini juga dibentuk melalui proses pemuridan dan pengalaman pribadi bersama Tuhan. Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Roh Kudus menolong kita sehingga iman kepada Kristus semakin berakar dan bertumbuh di dalam kasih (Efesus 3:16–17).
  • Iman yang berakar di dalam kasih menumbuhkan trust, yaitu keyakinan, pengharapan, dan penyerahan kendali hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Iman kita bergantung kepada karakter Allah dan kepada firman-Nya yang tidak pernah berubah. Kepercayaan seperti ini tidak terbentuk dalam sekejap, melainkan bertumbuh melalui hubungan kasih yang konsisten dengan Tuhan.

II. IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN AKAN FIRMAN TUHAN (Roma 10:17).

  • Iman timbul bukan hanya karena kita mendengar firman Tuhan dengan telinga jasmani, tetapi karena hati kita terbuka menerima suara Tuhan melalui firman yang didengar maupun dibaca. Roh Kudus menerangi firman Tuhan yang telah tertulis sehingga firman itu menjadi hidup dan berbicara secara pribadi kepada kita. Ketika firman itu dipercayai dan ditaati, iman semakin bertumbuh.
  • Firman yang diterangi oleh Roh Kudus membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, memercayai Dia sepenuhnya, dan mendorong kita menaati perintah-Nya. Firman itu menjadi dasar yang meneguhkan kita untuk hidup oleh iman, bukan karena melihat.

Contoh: Abraham.

Abraham percaya kepada Allah yang telah menjanjikan keturunan kepadanya. Janji Allah menjadi dasar imannya untuk tetap percaya sekalipun ia menghadapi berbagai tantangan. Abraham dan Sara telah lanjut usia dan harus menantikan kelahiran Ishak selama dua puluh lima tahun. Pengenalannya akan Allah membuat Abraham memilih untuk hidup oleh iman, yaitu percaya kepada Tuhan, bukan berfokus pada keadaan yang terlihat. Ketekunan imannya berujung pada penggenapan janji Allah.

III. AKIBAT HIDUP OLEH IMAN VS HIDUP KARENA MELIHAT
Akibat hidup oleh iman:

  • Memiliki cara pandang yang selaras dengan Firman Tuhan.
  • Tetap hidup dalam kebenaran sekalipun perasaan sedang lemah.
  • Tidak mundur atau tawar hati ketika menghadapi tekanan, tantangan, maupun penderitaan.
  • Bersedia menyangkal diri dan memikul salib demi menaati kehendak Tuhan.
  • Memiliki ketenangan batin yang mengalahkan ketakutan.
  • Mampu memadamkan semua panah api si jahat.
  • Memiliki arah dan tujuan hidup sesuai kehendak Allah.
  • Iman yang bertekun menghasilkan buah berupa kebenaran, pemulihan, berkat, kelimpahan, penggenapan janji Allah, damai sejahtera, sukacita, kemenangan, bahkan hidup yang kekal.

Akibat hidup karena melihat:

  • Menghasilkan cara pandang yang keliru menurut diri sendiri dan dunia.
  • Hidup dipimpin oleh logika dan pengertian sendiri sehingga membatasi pekerjaan Tuhan.
  • Hidup dikendalikan oleh perasaan yang berubah-ubah: takut, cemas, ragu-ragu, kecewa, marah, maupun mengasihani diri sendiri.
  • Sulit mempercayai Tuhan sehingga tidak taat dan akhirnya mengambil keputusan yang keliru.

Membangkitkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Manusia roh menjadi lemah, mudah menyerah, dan tidak mengalami kemenangan.

BAGAIMANA MELATIH HIDUP OLEH IMAN SETIAP HARI?

  • Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari.
  • Berdoa sebelum mengambil setiap keputusan.
  • Tetap taat kepada Firman meskipun belum melihat hasilnya.
  • Mengingat kembali kesetiaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita.
  • Tetap mengucap syukur dalam setiap keadaan.

 

REFLEKSI

Apa yang saat ini lebih mengendalikan hidup saya?

Firman Tuhan atau keadaan?

Firman Tuhan atau perasaan?

Firman Tuhan atau ketakutan?

Firman Tuhan atau pikiran, logika, dan asumsi saya sendiri?

 

PENUTUP

Hidup oleh iman bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, tetapi melihat kenyataan melalui sudut pandang Allah. Iman bukan menyangkal adanya masalah, melainkan mempercayai bahwa Tuhan tetap berdaulat di tengah masalah.

Ketika kita hidup oleh iman, kita tidak lagi dikendalikan oleh apa yang kita lihat, rasakan, atau pikirkan, melainkan oleh Firman Tuhan yang tidak pernah berubah. Sebab langit dan bumi akan berlalu, tetapi Firman Tuhan tetap selama-lamanya.

Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, tetapi percaya bahwa Tuhan akan menggenapi setiap janji-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Karena itu, marilah kita terus berjalan bersama Tuhan, selangkah demi selangkah, sampai setiap janji-Nya digenapi menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Sebab hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.

HIDUP UNTUK DAMPAK KEKAL

HIDUP UNTUK DAMPAK KEKAL

PENDAHULUAN

Kehidupan baru dalam Kristus adalah kehidupan yang memiliki desain, arah, dan tujuan ilahi (Ef. 2:10). Tuhan Yesus menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah. Buah kehidupan yang dihasilkan dalam persekutuan dengan Tuhan merupakan harta surgawi yang tidak dapat rusak, dicuri, lenyap, ataupun binasa.

ISI

  • Cara kita memandang kekekalan membentuk cara kita hidup setiap hari. Pengenalan yang benar akan Tuhan membuat kita tidak hidup secara asal, sembrono, sekadar eksis, atau fokus mengejar keinginan dan kesuksesan pribadi, melainkan hidup dengan misi yang berdampak kekal. Berdampak tidak selalu berarti melakukan hal yang besar, hebat, atau sulit dicapai, tetapi memberikan pengaruh yang kuat sebagai warisan rohani dalam kehidupan orang lain.
  • Warisan rohani bukan sekadar apa yang kita tinggalkan UNTUK orang lain, melainkan apa yang kita BANGUN DALAM hidup mereka. Jangan sekadar meninggalkan apa yang bisa habis, tetapi tinggalkanlah warisan yang bernilai kekal, yaitu prinsip Kerajaan Allah yang dapat mengubah hidup orang lain. Uang akan habis, materi akan lapuk, popularitas akan pudar, karier maupun jabatan bisa berakhir. Namun, warisan rohani akan bertahan untuk selamanya.
  • Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10). Tuhan memiliki tujuan khusus bagi setiap kita untuk mendampaki dunia sekitar. Dunia sekitar kita adalah keluarga, gereja lokal, Cool, lingkungan pergaulan, sekolah, dunia kerja/bidang usaha, dunia digital/media sosial, lingkungan tempat tinggal, kota, dan bangsa.
  • Berdampak bagi dunia sekitar dimulai dari langkah kecil setiap hari: melalui keramahan, berbuat kebaikan, melayani kebutuhan orang lain, kejujuran, tanggung jawab, ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dlsb. Semua orang bisa melakukan hal-hal umum tersebut, namun tidak ada satu pun yang mampu meniru cara unik kita melakukannya.
  • Lakukan segalanya dengan kasih dan konsistensi yang menghidupi prinsip Kerajaan Allah, sebab konsistensi kita adalah benih yang membangun serta mengubah kehidupan orang lain. Jangan terjebak pada rutinitas yang sekadar task-oriented, namun mintalah hikmat dari Roh Kudus agar kita mampu memandang sesama dan dunia dari perspektif Tuhan yang Kingdom-oriented.

PERTANYAAN BESAR

Kalau hidup kita selesai hari ini,

  • Siapa yang lebih dekat kepada Tuhan karena hidup kita?
  • Apa warisan rohani kita kepada dunia sekitar?
  • Siapa yang tertolong karena ketaatan kita?

OBJECTIVE

Tujuan dari mempelajari pesan Tuhan sepanjang bulan Juni adalah agar setiap anggota COOL mengalami transformasi:

  • Hidup asal jalan -> hidup dengan tujuan Tuhan.
  • Hidup sekadar sibuk -> hidup yang berdampak kekal.
  • Hidup sekadar eksis -> menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Berjalan dalam ambisi pribadi -> berjalan dalam panggilan Tuhan.
  • Dari konsumen gereja (dilayani) -> menjadi agen pembawa terang Kristus (melayani).

PENUTUP

Tuhan tidak mencari orang yang pintar, terkenal, kaya, berpengalaman, atau memiliki karunia yang hebat. Tuhan mencari orang yang tersedia, setia, dan mau dipakai. Tujuan hidup kita bukan tentang panggung yang besar, melainkan kesetiaan pada tugas dari Tuhan.

Oleh karena itu, hiduplah dengan bijaksana! Bangun hidup kita di atas dasar batu, yaitu ketaatan pada perintah Tuhan. Izinkan Tuhan memproses kita, agar hidup kita menghasilkan buah yang berdampak kekal bagi sesama. Jangan sibuk mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di sorga. Sebab pada akhirnya, satu-satunya hal yang tidak dapat lenyap karena kematian hanyalah warisan rohani—sebuah harta kekal yang menanti kita di sorga.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

DEKLARASI BULAN JUNI:

  • Saya diciptakan dengan tujuan.
  • Hidup saya bukan kebetulan.
  • Saya akan menjadi terang.
  • Saya akan hidup berdampak.
  • Dan saya akan setia pada panggilan Tuhan atas hidup saya.
MENEMUKAN TUJUAN HIDUP  MELALUI KESETIAAN KEPADA TUHAN

MENEMUKAN TUJUAN HIDUP MELALUI KESETIAAN KEPADA TUHAN

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.  (Lukas 16:10)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung memberikan perhatian, tanggung jawab, usaha, serta komitmen untuk hal-hal besar, dan meremehkan hal-hal kecil. Prinsip Kerajaan Allah mengatakan bahwa jika kita setia dalam hal kecil, kita setia juga dalam hal besar. Jika kita berlaku tidak benar dalam hal yang kecil, maka kita juga akan berlaku tidak benar dalam perkara-perkara besar.

ISI

I PURPOSE DIMULAI DARI HATI YANG SETIA KEPADA TUHAN

Hati yang setia kepada Tuhan berarti memiliki loyalitas kepada-Nya, berpegang teguh pada kebenaran firman, taat, serta dapat dipercaya. Kesetiaan adalah buah dari iman yang murni dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Ada roh yang takut akan Tuhan dan hati yang melekat kepada-Nya. Orientasi hidupnya adalah mengabdi kepada Tuhan (Christ-centered life), bukan mengejar keinginan/kepentingan atau agenda pribadi.

II PURPOSE DIBANGUN DENGAN SETIA DALAM HAL KECIL

Orang yang setia dalam perkara kecil melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (baca Kolose 3:23). Ini tidak terjadi begitu saja, tetapi harus punya komitmen untuk membangun sikap bertanggung jawab dan disiplin diri setiap hari/setiap saat.

Contoh sikap setia dalam hal-hal kecil:

  • Konsisten berdoa, memuji, menyembah, dan membaca firman setiap hari walaupun ada tantangan seperti banyak kesibukan/tanggung jawab, sedang dalam masalah, sedang liburan, dll.
  • Disiplin menjaga hati, pikiran, perasaan dan perkataan dengan kebenaran firman Tuhan. Memiliki penguasaan diri, menolak prasangka yang salah, dan menolak tipu daya si jahat.
  • Menyelesaikan tugas/tanggung jawab rutin dalam rumah tangga, pekerjaan, sekolah, dan pelayanan dengan baik, bukan asal-asalan (termasuk tugas kecil/tidak berarti, tidak diawasi, tidak ada reward berupa pujian/upah, tidak dilihat orang).
  • Memiliki kejujuran dan ketulusan. Hati lurus, perkataan selaras dengan perbuatan, menjauhi mulut serong dan bibir dolak-dalik (perkataan yang tidak jujur, menipu, memutarbalikkan fakta, plin-plan).
  • Memperlakukan bawahan, orang kecil/lemah dengan hormat dalam takut akan Tuhan.
  • Disiplin dalam keuangan: mengembalikan persepuluhan, bayar pajak, bayar tagihan tepat waktu, menabung, mematahkan sifat cinta akan uang dengan cara menabur/memberkati orang lain, tidak berperilaku boros/konsumtif, belajar mencukupkan diri dengan kondisi keuangan yang ada, dlsb.
  • Disiplin waktu: tepat waktu, tidak menunda tugas, tidak menggunakan waktu untuk hal yang tidak berguna/sia-sia, dlsb.

III HASIL DARI SETIA DALAM PERKARA KECIL

  • Komitmen untuk berlaku benar dalam perkara kecil akan menghasilkan karakter yang dewasa dan berintegritas, yang siap dipercaya untuk melakukan perkara-perkara besar. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh serta tidak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:4).
  • Contoh tokoh dalam Alkitab: Daud, yang setia menggembalakan domba sebelum memimpin bangsa yang besar. Integritas karakternya dibangun melalui pengenalannya akan Tuhan dan pengalamannya menggembalakan kawanan kecil domba – suatu pekerjaan yang tampaknya sederhana, tidak berarti, dan jauh dari perhatian orang.

Ketekunan Daud menggembalakan kawanan kecil domba melatih keberanian, tanggung jawab, dan kesetiaannya. Meski ayahnya sendiri tidak menganggap Daud sebagai anak yang layak diperhitungkan untuk diperkenalkan kepada Samuel (1 Samuel 16:10-11), ia tetap setia menjaga kawanan domba ayahnya. Ketulusan dan kesetiaan Daud membuat Tuhan mengangkatnya menjadi pemimpin bangsa Israel.

TANTANGAN

  • Jangan memandang rendah musim kehidupan kita yang tampaknya kecil. Jangan berkecil hati dan berpikir pekerjaan/pelayanan kita tidak berarti seperti yang orang lain lakukan. Itu adalah masa pembentukan dan persiapan yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.
  • Jangan membanding-bandingkan keadaanmu dan apa yang kamu punya dengan orang lain. Sikap ini berbahaya sebab dapat memicu iri hati, rendah diri, perasaan tidak aman, mengasihani diri, kesombongan, merusak rasa syukur kepada Tuhan, dan membuat kita keluar dari tujuan Tuhan.

PENUTUP

Tuhan tidak pernah menganggap remeh hal-hal kecil dalam hidup kita. Perkara-perkara kecil yang ada di hidup kita bukan sesuatu yang sia-sia, buang waktu dan konyol, sebab dalam Tuhan tidak ada yang tidak berguna.  Jika saat ini kita berada dalam musim kehidupan yang tampak kurang berarti, bersyukurlah. Kesetiaan membutuhkan komitmen, tanggung jawab dan disiplin. Kesetiaan dalam perkara kecil mempersiapkan kita untuk bisa dipercaya dalam perkara yang lebih besar. Be faithful in what you have, setia dengan apa yang ada padamu.

KITA ADALAH TERANG DUNIA

KITA ADALAH TERANG DUNIA

(Baca Matius 5:14-16)

PENDAHULUAN

Dunia sedang dipenuhi berbagai bentuk kegelapan: dosa, kebohongan, ketidakadilan, kekerasan, kebencian, keputusasaan, dan kehilangan arah hidup. Namun Allah tidak membiarkan dunia tetap dalam kegelapan. Tuhan Yesus datang sebagai Terang Sejati.
“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan…” (Yohanes 8:12).

Ketika seseorang percaya kepada Kristus, ia menerima hidup baru dan menjadi terang dunia. Tuhan tidak memanggil kita hanya untuk berhasil, tetapi untuk menjadi terang-Nya.
Rumah kita membutuhkan terang. Tempat kerja membutuhkan terang. Sekolah membutuhkan terang. Media sosial membutuhkan terang. Bangsa ini membutuhkan terang.

I. TERANG ADALAH IDENTITAS, BUKAN SEKADAR AKTIVITAS

Matius 5:14 “Kamu adalah terang dunia.” Perhatikan, Tuhan tidak berkata, “Berusahalah menjadi terang.” Tetapi, “Kamu adalah terang.” Artinya: Terang adalah identitas.
Perbuatan baik hanyalah hasil dari identitas tersebut. Orang Kristen bukan berusaha terlihat baik. Orang Kristen memancarkan Kristus yang tinggal di dalam dirinya.

Ilustrasi:
Lampu menyala bukan karena berusaha bersinar. Lampu bersinar karena terhubung dengan sumber listrik. Demikian juga kita. Semakin dekat dengan Kristus, semakin terang hidup kita.

II. TERANG BERAWAL DARI MATA ROHANI YANG TERANG

Baca Matius 6:22-23.  Mata adalah pintu masuk kehidupan. Apa yang kita lihat akan membentuk
pikiran, hati, keputusan, dan karakter. Karena itu, mata rohani harus diterangi Firman Tuhan.
Orang yang memiliki mata rohani terang akan melihat hidup dari perspektif Tuhan.
Mereka tidak memenuhi: “Apa yang saya inginkan?” Tetapi,”Apa yang Tuhan kehendaki?”
Sebaliknya, mata rohani yang gelap menghasilkan: iri hati, keserakahan, kompromi, kepahitan, dan dosa.

III. TERANG DIPERTAHANKAN MELALUI KEINTIMAN DENGAN TUHAN

Terang tidak dihasilkan oleh aktivitas gereja. Terang lahir dari hubungan pribadi dengan Tuhan.
Melalui doa, penyembahan, membaca Firman, perenungan, dan ketaatan. Di mezbah pribadi, Roh Kudus akan mengoreksi motivasi kita; menyembuhkan hati; memperbarui pikiran; memberi hikmat; dan memberikan pewahyuan Firman. Tanpa hubungan pribadi dengan Tuhan, pelayanan hanya menjadi aktivitas.

IV KETAATAN MEMBUAT TERANG BERSINAR

Banyak orang melakukan kebaikan. Tetapi Tuhan melihat motivasi hati.
Perbuatan baik bisa saja muncul dari: mencari pujian; mencari promosi; pencitraan; ingin diterima; dan kebanggaan diri. Namun, terang Kristus muncul ketika kita taat karena mengasihi Tuhan.
Ketaatan menghasilkan karakter Kristus.

V CIRI-CIRI ORANG YANG MEMANCARKAN TERANG

1. Hidup dalam kasih.

Kasih kepada Allah dan kepada sesama. Kasih membuktikan seseorang tinggal dalam terang.
(1 Yohanes 2:10).

2. Hidup kudus.

Menolak: percabulan, kecemaran, keserakahan, perkataan kotor, kebiasaan berdosa (Efesus 5:3-5).

3. Tidak berkompromi dengan dunia.

Tidak ikut arus dunia, tidak membenarkan dosa, dan berani berdiri di pihak kebenaran.

Contoh: Daniel hidup di tengah budaya Babel, tetapi tetap setia kepada Tuhan. Dunia tidak mengubah Daniel; justru Daniel membawa pengaruh bagi bangsanya.

4. Hidup berhikmat (Efesus 5:15-17).

Menggunakan waktu dengan bijaksana, mengembangkan potensi, melayani sesama, dan membangun Kerajaan All

5. Hidup berjaga-jaga (1 Tesalonika 5:5-8).

Sebagai anak-anak terang kita: hidup dalam iman, hidup dalam kasih, hidup dalam pengharapan, dan setia sampai Tuhan datang kembali.

APLIKASI

Apakah terang Kristus terlihat melalui: perkataan saya? media sosial saya? cara saya bekerja?
cara saya memperlakukan pasangan? cara saya mendidik anak? cara saya mengampuni orang lain?
Apakah orang lain semakin melihat Kristus melalui hidup saya?

TANTANGAN MINGGU INI

  • Bangun mezbah pribadi setiap hari.
  • Bacalah Firman Tuhan sebelum membuka media sosial.
  • Pilih satu orang yang akan Anda berkati minggu ini.
  • Tolak setiap kompromi terhadap dosa.
  • Jadilah terang di mana pun Tuhan menempatkan Anda.

“Karena semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4)

PENUTUP

Terang tidak pernah berdebat dengan kegelapan. Terang hanya perlu bersinar. Saat terang hadir, terang menguasai kegelapan.  Sebaliknya, jika hidup kita tidak memancarkan terang Kristus, kita sedang membiarkan kegelapan memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak.

Karena itu, jagalah hubungan yang intim dengan Tuhan, biarkan Firman dan Roh Kudus menerangi mata rohani kita, sehingga hidup kita memancarkan kasih, kekudusan, kebenaran, dan hikmat.
Seperti perkataan Tuhan Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

Agar jemaat lebih mudah mengingat, rangkum pesan ini dalam satu kalimat:

“Terang bukan sesuatu yang kita usahakan untuk tampak; terang adalah kehidupan Kristus di dalam kita yang terpancar melalui keintiman dengan Tuhan dan ketaatan kepada Firman-Nya.”

DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN

DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.  (Efesus 2:10)

 PENDAHULUAN

Kasih karunia Allah tidak hanya menyelamatkan kita oleh iman, tetapi juga berkuasa mentransformasi hidup kita. Cara pandang, nilai, sikap, dan karakter kita diubah. Hati serta jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar, yaitu hidup berporos pada kehendak Allah.

ISI

1. Kita adalah mahakarya (=masterpiece) Allah yang diciptakan dalam Kristus untuk hidup dalam tujuan ilahi yang bernilai dan berdampak kekal.

* Kita lahir ke dunia bukan karena kebetulan, kesalahan, atau diciptakan secara massal. Setiap kita didesain secara unik untuk hidup dengan tujuan khusus yang sudah Tuhan persiapkan sebelum kita lahir ke dunia.

 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,  menenun aku dalam kandungan  ibuku .  Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.  Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan  di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi  yang paling bawah;mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk,  sebelum ada satupun dari padanya (Mazmur 139:13-16).

* Contoh tokoh dalam Alkitab: Ester.

Awalnya Ester tidak menyadari tujuan Tuhan dalam hidupnya. Ester, seorang perempuan Yahudi, berada di negeri asing (Persia) bersama Mordekhai, pamannya, kemudian dinikahi oleh Raja Ahasyweros dan diangkat menjadi Ratu. Ini bukanlah sekadar rangkaian kejadian yang kebetulan, tetapi sudah ada dalam penetapan Tuhan sebelum ia dilahirkan.

Tuhan menempatkan Ester sebagai Ratu negeri Persia untuk sebuah momen penting: menyelamatkan orang Yahudi dari rencana jahat Haman yang mau membinasakan.

Esther 4:14b “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

PERTANYAAN:

* Di mana Tuhan menempatkan saudara saat ini? Di keluarga inti, keluarga besar, keluarga rohani (gereja lokal dan Cool), sekolah/kampus, lingkungan tempat tinggal, kota, bangsa. Di bidang pelayanan, pekerjaan, profesi, posisi/jabatan, atau usaha apa saudara berada?

Apa peran dan kontribusi kita di situ? Mendoakan, mengabarkan Injil, membawa nilai-nilai Kerajaan Allah, memuridkan orang lain, menolong/berbuat kebaikan, menjadi contoh/teladan, membuka lapangan pekerjaan, atau menjadi saluran berkat? Jangan kita menjadi murid Kristus yang pasif, masa bodoh, egois, dan tidak peka akan kebutuhan komunitas di sekitar kita.

* Apa potensi yang Tuhan titipkan dalam hidup kita? Sudahkah kita mengenali kelebihan, kekuatan, kemampuan, minat, bakat, keahlian, hobi, dan karunia kita? Apa yang sudah kita lakukan dengan potensi yang kita miliki?

Kita bertanggung jawab untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta menggunakan setiap kesempatan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

Jangan kerjakan tugas dan tanggung jawab kita dengan asal-asalan, melainkan belajarlah melakukan yang terbaik, dengan ketulusan, seperti untuk Tuhan.

* Siapa orang-orang yang Tuhan tempatkan di kehidupan kita? Apakah kita melihat mereka hanya sebagai orang-orang yang bermasalah, menjengkelkan, sulit ditangani, sulit untuk dikasihi, berkekurangan, dan patut diabaikan/dihindari? Atau bisakah kita melihat mereka sebagai tugas khusus dari Tuhan untuk kita topang, doakan, tolong, nasihati, mentoring, dan bawa kepada terang Kristus?

* Tuhan bisa memakai orang lain, lingkungan, situasi, masalah, kesulitan, penderitaan, atau gesekan untuk mendewasakan, membentuk karakter, merendahkan hati, menghasilkan buah Roh, mengeluarkan potensi, memperlebar kapasitas, mempertajam karunia, dan mempersiapkan kita untuk melakukan panggilan-Nya.

PENUTUP

Allah menjadikan kita ciptaan baru dalam Kristus bukan untuk kehidupan yang tanpa rencana, tanpa tujuan atau lihat bagaimana nanti. Setiap kejadian dan musim di hidup kita mengandung rancangan dan tujuan Tuhan, tidak ada yang kebetulan.

Mari kita berlajar memaknai dan mencermati bahwa di mana pun kita ditempatkan, orang-orang di sekitar kita, apa pun yang terjadi dalam hidup kita: suka, duka, kemenangan, kegagalan, kekuatan, kelemahan atau kesalahan yang kita lakukan – bisa dipakai Allah sebagai ‘bahan baku’ untuk membawa kita masuk dalam rencana dan tujuan-Nya. Hal ini menumbuhkan kesadaran kita untuk selalu bersyukur, belajar taat dan bergantung penuh kepada kasih karunia Allah.