Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
APAKAH YESUS BANGKIT ?

APAKAH YESUS BANGKIT ?

Yesus bukan hanya bangkit dari maut. Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup (Yohanes 11:25). Di Alkitab ada 7 orang dibangkitkan dari maut. Nabi Elia dan nabi Elisa membangkitkan orang mati dan di perjanjian baru Rasul Petrus dan Paulus membangkitkan orang mati seperti Yesus membangkitkan 3 orang dari maut. Tetapi hanya Yesus yang bangkit dari maut dan terangkat ke Surga. Inilah yang membedakan Yesus dengan para nabi dan tokoh agama lainnya.
A. Kebangkitan Yesus adalah Kekuatan Iman Kristen
Paskah merupakan momen yang paling penting untuk semua orang percaya yakni memperingati peristiwa Tuhan Yesus mati di salib pada hari Jumat Agung dan bangkit di hari yang ketiga.
Kebangkitan-Nya adalah kekuatan utama iman Kristen. Tanpa itu, kehidupan orang yang percaya kepada Yesus tidak mempunyai kuasa. Iblis ingin mematahkan iman kita dengan memutarbalikkan fakta kebangkitan-Nya. Hal ini bisa terlihat dari ayat di bawah ini:
“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.“ 1 Korintus 15:17-21
B. Tubuh Yesus Bangkit atau Dicuri?
Hal ‘kebangkitan’ ini merupakan poin yang sering diserang Iblis melalui ajaran-ajaran sesat atau orang-orang yang mau menggugurkan iman percaya kepada Yesus. Sejak semula banyak orang ingin menutupi kenyataan tentang ‘kebangkitan Kristus’ dengan membuat teori yang disebut “Conspiracy Theory” (Teori Konspirasi). Teori ini mengatakan bahwa para murid bersekongkol untuk menciptakan kisah bohong mengenai kematian dan kebangkitan Yesus. Orang-orang yang tidak mengakui kebangkitan Yesus membuat cerita bahwa murid-murid telah mencuri mayat Yesus, sehingga kubur-Nya ditemukan oleh para wanita dalam keadaan kosong. Ada yang percaya akan hal ini sampai sekarang.
Pertanyaannya yang banyak beredar di luar sana adalah apakah Yesus sungguh bangkit dari kubur? Apa dampak kematian dan kebangkitan Yesus bagi hidup manusia?
Sebuah survei yang dilakukan terhadap 2,010 orang tahun 2017 di Inggris oleh BBC, menyimpulkan bahwa seperempat dari mereka yang menyatakan dirinya Kristen tidak percaya akan kebangkitan Yesus. (www.bbc.com “resurrection did not happen says quarter of Christian” diakses 25 Feb 2021).
C. Fakta Kebangkitan Yesus secara Historis
Kita mempercayai kebangkitan-Nya dan menjadi saksi-Nya bukan hanya secara pengalaman pribadi, tetapi juga karena bukti-bukti sejarah. Pengalaman pribadi artinya kita bisa merasakan bahwa Dia hadir dan memberikan damai sejahtera ketika kita memuji dan menyembah-Nya. Dia adalah Allah Immanuel. Bahkan kita juga bisa merasakan mujizat pertolongan-Nya dalam situasi yang sangat kritis; entah dalam keadaan sakit, masalah keluarga, dalam pergumulan dan pelayanan. Namun bukti-bukti sejarah juga telah disingkapkan secara meyakinkan.
William Lane Craig Ph.D dan Gary Habermas Ph.D; dua orang apologet Kristen (ahli dalam mempertahankan iman kekeristenan berdasarkan fakta-fakta sejarah dan logika) menemukan sedikitnya ada 12 fakta historis mengenai kebangkitan Kristus (Christian Apologetics Biola University, Evidence for the Ressurection, by Dr. Craig Hazen). Dalam Artikel ini kita akan bahas hanya 5 fakta yang menyatakan bahwa isi dari teori konspirasi tersebut tidak benar:
1. Para Wanita Menjadi Saksi Hidup
Mengapa justru para wanita (yaitu Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dll) yang pertama-tama menemukan kubur kosong dan menjadi saksi hidup? Padahal wanita menurut tradisi Yahudi pada abad pertama, bukan merupakan saksi yang bisa diakui (sah secara hukum) oleh masyarakat di mana laki-lakilah selalu yang menjadi utama (Patriarch). Dianggap tidak kredibel. (Did Jesus Rise From The Dead, William Lane Craig Ph.D, hal 26-27) Jika memang benar bahwa kebangkitan Yesus itu adalah rekayasa persekongkolan, maka murid-murid harusnya memberitakan bahwa saksi pertama yang menemukan kubur Yesus kosong adalah sumber yang sangat bisa dipercayai yaitu murid-murid (laki-laki). Namun kenyataannya tidak seperti itu. Jadi dari sini bisa terlihat bahwa kebangkitan Yesus memang bukan suatu rekayasa. Markus menulis apa adanya. Memang para wanitalah yang pertama kali menemukan bahwa jasad Yesus sudah tidak ada lagi di tempatnya. (Markus 16:1-8)
2. Kubur Yesus Dijaga Ketat oleh Para Prajurit
Bagaimana mungkin, semua penjaga, yaitu prajurit Romawi di sekitar kubur Yesus bisa terlelap tidur dan tidak melihat murid-murid mencuri jasad Yesus?
Bagi prajurit Romawi kelalaian dalam tugas penting itu bisa diancam dengan hukuman mati. Jadi mereka pasti berjaga-jaga. Dan mengapa prajurit-prajurit itu tidak dijatuhi hukuman oleh komandannya? (Matius 27:62-66)
Karena mereka memang terbukti telah menjaga kubur itu dengan ketat dan Yesus memang benar bangkit dan tidak ada yang mencurinya.
3. Imam-imam Kepala Justru Merekayasa Kebohongan
Fakta saat itu yang terjadi adalah imam-imam kepala, yang merupakan mahkamah agama dengan pemimpinnya yaitu imam Kayafas, mereka sendirilah yang menyuruh para penjaga membuat cerita bahwa murid-murid telah mencuri jasad Yesus. Para prajurit menurutinya karena mereka disogok dengan sejumlah besar uang. Ini bukti imam-iman kepala tidak menyangkali bahwa kubur itu kosong, jasad Yesus tidak ada lagi, walaupun kuburnya ditutup rapat dan ada penjaganya. (Matius 28:11-15)
4. Murid-murid Sedang dalam Kondisi Ketakutan
Bagaimana mungkin murid-murid yang sedang dalam ketakutan dan hilang pengharapan namun berani mencuri jasad Yesus? Justru mereka sedang menanti-nantikan apakah betul yang dikatakan gurunya, bahwa Ia akan bangkit di hari ketiga dan menjadi Mesias. Faktanya mereka semua akhirnya menjadi pemberita kebangkitan Yesus dengan berani, yakin, dan rela mati sebagai martir. Mustahil ada orang di dunia yang berani mati demi suatu kebohongan belaka. (Markus 14:50, Lukas 22:54-62, Yohanes 20:19, Kisah Para Rasul 2:41)
5. Bertobatnya Saulus, dari Pembunuh Umat Tuhan Jadi Pelayan Tuhan
Bagaimana mungkin Saulus yang merupakan seorang rabi Farisi yang amat dihormati oleh kaum Yahudi dan yang telah memimpin gerakan untuk membunuh umat Kristen pada zaman itu rela meninggalkan posisinya dan menjadi seorang misionaris untuk mengabarkan Injil Kristus? Saulus yang kemudian menjadi Paulus bahkan rela mengalami penganiayaan, ditindas, bahkan dipenjarakan demi kesaksiannya bahwa Yesus adalah Tuhan, dan akhirnya dia mati sebagai martir. (1 Korintus 9:1)
Sebenarnya masih banyak lagi fakta yang mengkonfirmasi kebenaran akan kebangkitan Yesus. Teori persekongkolan yang menyatakan Yesus telah dicuri oleh murid-murid-Nya, pada akhirnya sudah tidak diterima lagi oleh para ahli sejarah dan kaum atheis. Justru teori konspirasi inilah yang terbukti hanya isapan jempol belaka.
Fakta bahwa Yesus telah bangkit dari kematian, membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Jika Dia adalah Tuhan maka apa saja yang dikatakan-Nya di dalam Alkitab adalah mutlak benar. Kuasa, kehidupan dan kekekalan hanya ada di dalam Dia.
Yesus telah menebus dosa kita dan mengalahkan maut. SEBAB DIA HIDUP, kita pun memperoleh hidup yang kekal dalam segala kelimpahan-Nya. Yohanes 10:10.

image source: https://www.facebook.com/ifgfsanfrancisco/photos/and-if-christ-has-not-been-raised-your-faith-is-futile-you-are-still-in-your-sin/10154262608232257/

DENGAN KUASA KEBANGKITAN TUHAN YESUS KITA MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

DENGAN KUASA KEBANGKITAN TUHAN YESUS KITA MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

Hari Jumat Agung, semua kita memperingati kematian Tuhan Yesus. Kita akan merenungkan kembali kasih Tuhan yang luar biasa yang diberikan kepada kita semua. Saya mau mengatakan kepada Saudara, bahwa apa pun yang kita alami hari-hari ini dalam pandemi COVID-19 dan krisis ekonomi, kita harus tahu bahwa Tuhan Yesus sangat, sangat… mengasihi kita semua. Yang paling penting kita harus mengerti bahwa kasih Tuhan Yesus kepada kita adalah supaya kita diselamatkan.
Melalui segala peristiwa ini, kita harus ingat seperti yang terdapat dalam Roma 8:28 yang berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, baik enak maupun tidak enak, untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…”
Apakah Saudara mengasihi Tuhan Yesus? Kalau Saudara berkata YA, berarti ayat ini bagi Saudara dan juga bagi saya. Saya percaya melalui semua yang terjadi, kita yang mengasihi Tuhan Yesus akan makin serupa dengan gambar-Nya. Melalui semua yang terjadi juga, mereka yang selama ini tertidur, suam-suam kuku, mati rohani akan dibangunkan kembali. Mereka akan bertobat dan minta ampun kepada Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus mengingatkan kita agar kita tidak hidup dalam ketakutan, kekuatiran, kepanikan yang terus menerus. Ingat, bahwa hidup mati kita di tangan Tuhan; bukan di tangan COVID-19, bukan di tangan krisis ekonomi.
Hari-hari ini lebih banyak orang takut kepada hal-hal yang lain lebih daripada takut kepada COVID-19 itu sendiri. Hal inilah yang dikehendaki oleh Iblis. Kalau hal ini berlarut-larut, maka akan lebih banyak orang yang meninggal karena ketakutan daripada meninggal karena COVID-19 itu sendiri. Karena itu kita harus mengingat Firman Tuhan yang berkata, “…dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu”.
Alkitab berkata Yesus mati karena dosa-dosa kita. Dia dikuburkan tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan. Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, upah dosa ialah maut. Mati. Mati kekal selama-lamanya. Tempatnya di neraka. Neraka adalah tempat yang sangat mengerikan. Jangan sampai masuk neraka. Karena itu, Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan kita semua.
Bagaimana cara Tuhan Yesus menyelamatkan kita? Alkitab berkata Tuhan Yesus yang tidak mengenal dosa dijadikan dosa oleh karena kita, supaya di dalam Dia yaitu mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dibenarkan oleh Allah.
Apa arti dari ayat ini? Tadi dikatakan semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Upah dosa ialah maut. Mati. Jadi Tuhan Yesus harus mati menggantikan Saudara dan saya.
Kasih Allahku sungguh t’lah terbukti; Ketika Dia s’rahkan anak-Nya
Kasih Allah mau berkorban bagi kau dan aku; Tak ada kasih seperti kasih-Nya
Bersyukur bersyukur bersyukurlah; Bersyukur karna kasih setia-Mu
Kusembah kusembah kusembah dan kusembah; S’lama hidupku kusembah Kau Tuhan
SEPULUH TAHAP PENDERITAAN TUHAN YESUS
Kalau kita melihat cara mati Tuhan Yesus, saya katakan sangat… sangat… tidak manusiawi. Alkitab menuliskan ada 10 tahap penderitaan Tuhan Yesus dari taman Getsemani sampai Golgota… sangat mengerikan.
1. Tuhan Yesus di Taman Getsemani
Ketika berada di Taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa dalam keadaan ketakutan, sampai peluh-Nya seperti tetes-tetes darah yang jatuh ke tanah. Pada saat itu seorang malaikat turun untuk menguatkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu daripada-Ku tetapi jangan seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Kaukehendaki.”
Di sini Tuhan Yesus mengajar kepada kita bahwa di dalam doa, kita boleh menawar tetapi jangan memaksakan kehendak. Bagi Saudara yang sekarang dalam ketakutan, kita harus ingat bahwa Tuhan Yesus pernah mengalami ketakutan untuk menebus dosa kita semua. Karena itu datanglah kepada Tuhan Yesus. Dia pasti mampu dan mau menolong kita semua.
2. Tuhan Yesus Ditangkap
Dia dituduh dengan bermacam-macam tuduhan, diludahi, wajah-Nya ditinju, dipukul, tetapi Tuhan Yesus tidak membalas. Di sini Tuhan Yesus mempraktekkan apa yang diajarkan-Nya kepada kita, yaitu agar kita mengasihi dan berdoa bagi orang-orang yang membenci kita, mengutuk,atau mencaci maki kita.
Jikalau kita hanya mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, apa jasa kita? Karena orang-orang berdosa pun juga mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka.
3. Tuhan Yesus Dibelenggu dan Diadili
Waktu Tuhan Yesus diadili oleh Pilatus, ternyata tidak didapati kesalahan yang membuat Tuhan Yesus harus dihukum mati. Sementara itu orang-orang Yahudi terus berteriak-teriak supaya Tuhan Yesus dihukum mati. Salibkan Dia! Salibkan Dia! Akhirnya Pilatus menyerahkan Tuhan Yesus untuk disalibkan.
4. Tuhan Yesus Dicambuk
Proses awal dari penyaliban: jubah Tuhan Yesus dibuka dan dihukum cambuk. Dua algojo bergantian men cambuk ke punggung Tuhan Yesus. Ujung cambuk itu terbuat dari potongan tulang dan potongan besi. Tiap kali cambuk itu dihujamkan ke punggung Tuhan Yesus, itu menimbulkan luka yang dalam. Tuhan Yesus berteriak-teriak kesakitan. Darah Tuhan Yesus bercucuran. Tuhan Yesus bermandikan darah.
5. Kepala Tuhan Yesus Diberi Mahkota Duri. Saat Duri ditancapkan di kepala Tuhan Yesus, Sakitnya luar biasa. Darah bercucuran.
6. Tuhan Yesus Memikul Salib
Dalam kesakitan, berlumuran darah, ditambah semalaman Tuhan Yesus tidak tidur, Tuhan Yesus harus memikul salib-Nya. Tuhan Yesus jatuh bangun karena tidak kuat. Hingga Simon dari Kirene disuruh angkat salib menggantikannya.
7. Tangan dan Kaki Tuhan Yesus Dipaku dan sakitnya luar biasa. Darah bercucuran.
8. Tuhan Yesus Digantung di Atas Kayu Salib. Pada saat itu Tuhan Yesus menderita secara lahir maupun batin.
Secara lahir, Dia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuh-Nya dan juga merasa sesak, karena ada cairan yang menekan jantung-Nya.
Secara batin, Tuhan Yesus menderita karena melihat semua orang yang lalu lalang menghujat Dia. Ahli-ahli Taurat, tua-tua, imam-imam menghujat Dia. Bahkan salah satu penjahat di sebelah-Nya juga ikut menghujat.
9. Tuhan Yesus Merasa Ditinggalkan oleh Bapa
Sekitar jam 12 siang sampai jam 3 petang tiba-tiba langit di sekitar Golgota menjadi gelap. Tuhan Yesus gelisah dan Dia berteriak, “Eli, Eli, lama sabakhtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Tuhan Yesus merasa ditinggalkan oleh Bapa. Orang berdosa pada hakikatnya dipisahkan dari Bapa. Jadi untuk menebus dosa dari orang yang berdosa maka Tuhan Yesus harus merasakan ditinggalkan oleh Bapa; dipisahkan dari Bapa. Ini adalah puncak penderitaan Tuhan Yesus. Penderitaan lainnya tidak ada artinya dibandingkan merasa ditinggalkan oleh Bapa.
Bagi saya, kalau saya tidak bisa merasakan hadirat Tuhan, itu adalah hal yang paling berat dalam hidup saya. Karena itu, setiap hari saya selalu menjaga langkah-langkah dalam hidup saya, agar saya terus mengalami hadirat Tuhan. Kalau ada dosa, harus cepat diselesaikan, supaya terus merasakan hadirat Tuhan.
Saya berharap Saudara juga melakukan hal yang seperti itu. Kalau ada di antara Saudara yang sudah tidak merasakan hadirat Tuhan dan Saudara menganggap itu biasa, Saudara harus bertobat!
Tidak ada yang lebih berbahagia daripada kalau kita berada dalam hadirat Tuhan. Sebab Alkitab berkata: “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah.” Mazmur 16:11
10. Tuhan Yesus Berkata, “Sudah Selesai!” It is finished! “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku”. Lalu Tuhan Yesus mati.
MENGAPA TUHAN YESUS HARUS MATI DENGAN CARA DEMIKIAN?
Mengapa Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian? Mengapa tidak dengan cara yang mudah? Dipenggal kepalanya, selesai! Mengapa Tuhan Yesus harus mati dengan berlumuran darah? Alkitab katakan; tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa.
Untuk mengampuni dosa Saudara… dan dosa saya… Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian. Apa yang Alkitab katakan dengan cara mati Tuhan Yesus yang seperti itu?
· Penyakit kitalah yang ditanggung-Nya; Penderitaan kita yang dipikul-Nya; Oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan. Yesaya 53:4-5.
Tak terukur kasih-Mu Yesus; Kau t’lah mati gantikan diriku; Kau curahkan darah-Mu ‘tuk tebus dosaku’ Layaklah Kau Tuhan dipuji dan disembah; Dengan segenap jiwa ragaku 3x
Tuhan Yesus mati karena dosa-dosa kita. Dia dikuburkan, tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan. Haleluya…! Tuhan Yesus tidak selamanya mati, tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan.
APA YANG ALKITAB KATAKAN KALAU SAMPAI TUHAN YESUS TIDAK BANGKIT?
1. Sia-sialah Pemberitaan Firman Tuhan
Saya di sini memberitakan Firman Tuhan, tidak ada artinya; sia-sia. Tetapi puji Tuhan, Tuhan Yesus hidup! Tuhan Yesus bangkit! Pemberitaan Firman Tuhan menjadi tidak sia-sia.
2. Sia-sialah Kepercayaan Kita dan Kita akan Tetap Mati di dalam Dosa-dosa Kita
Demikian juga dengan orang-orang yang mati di dalam Tuhan. Mereka akan tetap binasa. Tetapi puji Tuhan, Tuhan Yesus bangkit! Kita tidak akan mati di dalam dosa-dosa kita, tetapi kita akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama-lamanya. Haleluya!
3. Kita adalah Orang-orang yang Paling Malang dari Segala Manusia
Tetapi puji Tuhan, Tuhan Yesus bangkit! Kita bukan orang-orang yang paling malang, tetapi justru orang yang paling beruntung dari segala manusia. Ada berapa banyak diantara Saudara orang-orang yang paling beruntung dari segala manusia? Saudara boleh angkat tangan.
S’bab Dia hidup, ada hari esok; S’bab Dia hidup, ‘ku tak gentar
Kar’na ‘ku tahu Dia pegang hari esok; Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup
S’bab Dia hidup, ada hari esok; S’bab Dia hidup, ‘ku tak gentar
Kar’na ‘ku tahu Dia pegang hari esok; Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup
Hidup jadi berarti s’bab Dia hidup; Hidup jadi berarti s’bab Dia hidu
DAMPAK KEBANGKITAN TUHAN YESUS
1. Kita Mempunyai Masa Depan
Karena Tuhan Yesus, maka ada hari esok. Karena Tuhan Yesus yang pegang hari esok Saudara dan saya, Dia hidup… Dia berkata kepada kita, “Jangan kamu takut! Jangan kamu kuatir! Jangan kamu panik!”
2. Mujizat Masih Ada
Karena Tuhan Yesus hidup, maka mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu masih ada sampai dengan hari ini.
· Orang buta melihat
· Orang lumpuh berjalan
· Orang tuli mendengar
· Orang mati dibangkitkan
· Orang kusta menjadi tahir
· Dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.

Yang lemah dikuatkan; Yang miskin diperkaya
Yang buta ‘kan melihat; Diperbuat-Nya bagiku
Hosana, hosanna; Yesus mati bagiku; Hosana, hosana
Yesus bangkit bagiku 3x
3. Rencana Tuhan Digenapi
Karena Tuhan Yesus hidup, maka kita akan melihat:
· Pentakosta Ketiga akan Digenapi; Dimana melalui semua peristiwa yang sedang terjadi saat ini, penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir sebelum Tuhan Yesus datang kembali terjadi!
· Bangkitnya Generasi Yeremia; Yaitu generasi anak-anak muda yang dipenuhi dengan Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa dan akan memenangkan banyak jiwa.
· Penyelesaian Amanat Agung; Kepada kita, orang-orang yang sungguh-sungguh dengan Tuhan akan diberikan kuasa untuk menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.
4. Kita dalam Tuntunan Tuhan Mengalahkan COVID-19
Karena Tuhan Yesus hidup maka untuk mengalahkan Pandemi COVID-19, Tuhan menuntun kita untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
· Kita menghardik COVID-19 dan resesi ekonomi dengan berkata: “Dalam nama Tuhan Yesus, diam, tenanglah!”
· Kita melakukan seperti yang dituliskan dalam 2 Tawarikh 7:13-14, yaitu kita harus merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat.
· Kita harus bersembunyi barang sesaat lamanya sampai amarah Tuhan berlalu, sebab Tuhan sedang menghukum penduduk bumi.
· Gereja-gereja Tuhan harus bersatu untuk membuat mezbah Doa dan Pujian Penyembahan untuk meminta belas kasihan Tuhan
Karena Tuhan Yesus hidup, maka Tuhan Yesus memberikan tema untuk Tahun 2021 sebagai Tahun Integritas. ‘The Year of Integrity’.
Kita harus menjadi orang yang berintegritas. Panutan kita untuk menjadi orang yang berintegritas adalah Tuhan Yesus sendiri, karena Dia adalah ‘The Man of Integrity’.
Kalau kita hidup sama seperti Kristus telah hidup, maka kita akan menjadi serupa dengan gambar Yesus; yaitu menjadi orang yang berintegritas. Kita harus ingat bahwa gol kita sebagai orang percaya adalah untuk menjadi serupa dengan gambar Yesus. Hanya orang yang menjadi serupa dengan gambar-Nya yang akan ikut dalam pengangkatan pada saat Tuhan Yesus datang kembali di awan-awan, dan akan membawa kita masuk ke sorga.
__________________
Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo; Jumat Agung – 2 April 2021

image source: https://bibleversestogo.com/products/romans-8-28-all-things-work-together-for-good

KETULUSAN DALAM MELAKUKAN KEHENDAK BAPA

KETULUSAN DALAM MELAKUKAN KEHENDAK BAPA

“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.” Matius 26 : 39, 42, 44
Dalam khotbah di Bukit, Tuhan Yesus mengajarkan murid-murid-Nya tentang bagaimana berdoa, yang kemudian dikenal dengan “Doa Bapa Kami”, di mana dalam salah satu bagian dari doa yang diajarkan Tuhan Yesus itu ada sebuah permintaan dan harapan “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (Matius 6:10)
Doa ini mengajarkan kepada kita untuk hidup berserah dan mengikut kehendak Bapa di sorga. Tentu implikasi dari hal ini terhadap kehidupan kerohanian kita sangat luas, antara lain:
1. Kesadaran untuk Menempatkan Kehendak Bapa Jauh di Atas Kehendak Pribadi Kita
Ini bukan soal yang mudah, mengingat sebagai manusia yang cenderung berkuasa atas hidupnya, keras kepala dan ‘sok tahu’, umumnya kita mengedepankan kehendak sendiri di atas yang lainnya. Banyak orang beranggapan bahwa mengekang kehendak sendiri adalah bentuk perhambaan, penjajahan terhadap hak asasi seseorang.
Mungkin mereka lupa, bahwa sebagai orang yang telah ditebus dengan harga yang mahal dan lunas dibayar oleh Darah Kristus (1 Korintus 6:20) kita menjadi hamba Allah, sebagaimana tertulis dalam Roma 6:22, “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.”
Sebagai hamba Allah kita adalah orang yang merdeka dari dosa, namun sebagai hamba Allah sudah selayaknya kita meletakkan kehendak-Nya di atas kehendak kita.
Dalam nats bacaan kita; tiga kali Yesus menyampaikan permohonan kepada Bapa di sorga, namun Yesus dengan jelas dan tegas menyatakan “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”, dalam kalimat yang lebih ringkas dan sederhana Ia berkata: “Jadilah kehendak-Mu”.
Tuhan Yesus sedang memberikan sebuah teladan bagaimana orang percaya harus menempatkan kehendak Bapa jauh di atas, melampaui kehendak kita sendiri. Biarlah apapun yang kita lakukan dan yang terjadi dalam hidup kita adalah kehendak-Nya dan bukan kehendak kita sendiri. Yakobus dalam suratnya mengajarkan secara praktis mengenai hal ini:
“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4:13-15
2. Memahami dan Menerima Konsekuensi dari Penyerahan Diri Terhadap Kehendak Bapa
Tidak sedikit orang yang dengan mudahnya berkata: “Biar kehendak TUHAN yang jadi.” Tentu kita harus mengaminkan pernyataan tersebut. Namun sadarkah kita, bahwa ada konsekuensi dari permohonan kita tersebut di atas? Kehendak TUHAN belum tentu mengenakkan bagi kedagingan kita. Kehendak TUHAN belum tentu jalan yang mudah untuk dilalui. Kehendak TUHAN menuntut harga yang harus dibayar sebagai bukti ketaatan dan ketulusan dalam menjalani dan mengikuti kehendak-Nya.
Tuhan Yesus, setelah melewati malam di mana Ia berdoa dan menyatakan “Jadilah kehendak-Mu”; yang terjadi kemudian adalah penangkapan, penahanan, penistaan, penyiksaan, penganiayaan, penghinaan, dan penyaliban. Sangat jauh dari dugaan banyak orang yang mungkin berpikir ketika berkata “Jadilah kehendak-Mu” maka semua urusan dan persoalan menjadi lancar, berjalan dengan baik dan mengalami berkat TUHAN.
Tuhan Yesus memahami dan menerima konsekuensi dari penyerahan diri-Nya terhadap kehendak Bapa di sorga dengan ketulusan hati. Tidak berbantah, tidak bersungut-sungut, tidak ada penyesalan sedikit pun terhadap kehendak Bapa yang harus Ia jalani.
“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Yesaya 53:7
Bagaimana? Apakah kita memahami konsekuensi apa yang menanti kita dalam penyerahan diri kepada kehendak Bapa; ketika kita berdoa dan berkata: “Jadilah kehendak-Mu?” Lebih dari itu, apakah kita siap untuk melakukannya? Ketulusan hati ini adalah kuncinya. Ketulusan hati Yesus membuat diri-Nya melakukan semua kehendak Bapa dengan penuh ketaatan.
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2:5-8
Rasul Paulus menjabarkan implementasi dari ketulusan dan ketaatan Tuhan Yesus dalam mengikuti kehendak Bapa dengan hal-hal praktikal yang perlu dilakukan dalam kehidupan orang percaya sebagai berikut:
“hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Filipi 2:2-4
Ketika kita menjalaninya bukan untuk kepentingan kita sendiri, melainkan demi kepentingan bersama, maka kita bisa menerima konsekuensi dari penyerahan diri kepada kehendak Bapa di Sorga.
Ayub juga memberikan teladan yang baik mengenai hal ini. Di tengah pergumulan dan persoalan hidup yang sangat berat yang dialaminya, perkataan ini yang keluar dari mulut Ayub ketika istrinya berupaya untuk membuatnya mengutuki TUHAN:
“Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”
Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” Ayub 2:9-10
Jika hal tersebut adalah sesuai dengan kehendak Bapa, entah yang kita akan hadapi adalah hal yang baik atau yang buruk, kita terima dan kita lakukan dengan ketulusan hati, dengan iman percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. (Roma 8:28)
Jadilah pribadi yang dengan penuh ketulusan menerima keputusan Bapa di sorga. Maranatha!

image source: https://searching4christ.com/2020/04/17/the-teachers-word-for-today-345/

ALLAH  ITU  KEKAL

ALLAH ITU KEKAL

“Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Psalm 90:1-2).

Allah yang kita sembah adalah Allah yang kekal. Dalam bahasa Ibrani nama Allah yang kekal adalah El Olam, the Everlasting God. Everlasting artinya kekal selamanya. Dari jaman dahulu yang tak terbatas hingga masa depan yang tak terbatas, dari kekekalan sampai kepada kekekalan. Dari sebelum bumi dijadikan Allah telah ada; sampai langit bumi berlalu pun, Allah tetap ada selama-lamanya.
Sementara masa hidup manusia sangat singkat sekali jika dibandingkan dengan kekekalan Tuhan. Seribu tahun manusia hanya seperti satu hari bagi Allah. Manusia adalah seperti rumput dan semaraknya seperti bunga di padang, rumput menjadi kering, bunga menjadi layu. Manusia yang berasal dari debu akan kembali kepada debu.

Sebagai Pribadi yang menciptakan segala sesuatu termasuk waktu, Allah berada di luar dan mengatasi semua ciptaan-Nya. Itu sebabnya DIA tidak dibatasi oleh waktu, jarak dan ruang (Infinite and limitless God). “Sesungguhnya langit bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau..”(1 Raja-Raja 8:27).

Manusia yang hidup di dunia dibatasi oleh jarak, ruang dan waktu; dengan pikiran yang sangat terbatas tentu akan sulit untuk membayangkan Allah yang tidak terbatas.
Allah menjelaskan Diri-Nya kepada Musa dengan “AKU ADALAH AKU – I AM WHO I AM.”
Tuhan Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada – Before Abraham was, I AM “ (Yohanes 8:58).
Tuhan Yesus sedang menjelaskan tentang kekekalan Diri-Nya sebagai Allah, yang maha hadir dalam segala waktu/jaman. Akan tetapi mereka tidak dapat menerima perkataan Tuhan Yesus karena tidak meresponinya dengan iman melainkan dengan akal/pengetahuan manusia yang terbatas. Itu sebabnya kita perlu iman untuk bisa memahami kekekalan Allah. Roh Kudus adalah Penolong yang akan memimpin kita kepada seluruh kebenaran.

Inkarnasi Allah yang kekal menjadi manusia

Yohanes 1: 1“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” –Allah yang kekal (El Olam)

Yohanes 1:14 “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” – El Olam menjadi Imanuel (Allah beserta kita), Firman Allah yang kekal telah menjadi manusia dan diam di antara kita.

Manusia telah mengalami kematian rohani ketika jatuh dalam dosa.
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2: 16-17).

Walaupun Adam dan Hawa masih ada secara fisik (eksis) di bumi setelah melanggar perintah Allah (bahkan Adam mencapai usia 930 tahun), namun di hadapan Allah mereka sudah mati secara rohani. Kematian rohani artinya terpisah dari Allah selamanya dan akan mengalami siksaan kekal di neraka sebagai upah dari dosa.

Tetapi karena kasih-Nya yang begitu besar, Allah telah merendahkan DiriNya dan lahir sebagai manusia untuk menjangkau orang berdosa agar kembali kepada Allah (1 Tim 1: 15-16).
Oleh sebab itu seseorang harus dilahirkan kembali dari Roh untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan percaya dan menerima Yesus Kristus untuk memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 5-7,15).

Yohanes 1:12 “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” – semua orang yang percaya dan menerima-Nya diberi kuasa (Roh Kudus yang dianugerahkan) untuk menjadi anak-anak Allah yang juga memiliki hidup kekal (Roma 8:11).

Setelah lahir baru kita menerima kekekalan di dalam hati karena kita lahir dari Roh Allah. Manusia roh kita kembali tersambung dengan Allah sehingga kita menjadi manusia kekal yang hidup sebagai ciptaan baru, identitas baru serta nilai dan cara pandang baru yaitu kekekalan.

Hidup kekal bukan terjadi saat kita meninggalkan dunia ini, tetapi dimulai saat kita mengenal Allah dan mengenal Yesus Kristus melalui kelahiran baru.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3).

Pengenalan akan Allah membuat kita tidak lagi hidup dalam kebodohan/kedegilan serta pikiran yang sia-sia. Pikiran kita akan berorientasi kepada perkara-perkara di atas yang bersifat kekal di mana Kristus ada. Kita memikirkan hal-hal yang dari Roh karena hidup dipimpin oleh Roh Allah. Manusia roh (yang memiliki kekekalan) tidak lagi hidup menurut daging tetapi menurut Roh, dan di mana ada Roh Allah di situ ada kemerdekaan. Artinya, walau kita masih hidup di dunia tetapi tidak dibelenggu dengan nilai dan cara pandang dunia yang bersifat duniawi, sementara dan memikirkan hal-hal yang dari daging atau pun sekedar eksis.

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8)

Kita memiliki cara hidup yang merdeka sebagai anak-anak Allah untuk melakukan kehendak Allah Bapa. Kita tidak hidup dalam ketakutan atau penghukuman melainkan dalam kasih karunia Allah yang melimpah dalam Kristus.

Jika kita menyadari bahwa Allah yang kekal dan tidak terbatas itu ada di dalam kita, maka cara pandang dan cara hidup kita akan berubah.
Ketika yang kekal dan tidak terbatas menyentuh alam fisik yang terbatas, maka sesungguhnya kita tidak perlu khawatir akan apapun karena semua yang mustahil menjadi mungkin. Mukjizat masih ada. Cara pandang kekekalan membuat kita melihat Yesus Kristus sebagai Allah yang besar, maha kuasa dan sumber segalanya. Hidup kita aman berada di dalam genggaman kasih-Nya yang kekal.

Hidup vs Eksistensi

Konsep kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari batasan-batasan yang menghimpit karena dunia memang dibatasi oleh waktu, ruang dan jarak. Manusia yang hanya mengerti hidup sebatas eksistensi/keberadaan fisik akan condong menilai dan bertindak berdasarkan apa yang terlihat saja.
Berbagai upaya dilakukan untuk sekedar bertahan hidup ataupun menunjukkan aktualisasi diri melalui rupa-rupa aktifitas sosial, berlomba dalam mencetak karya serta prestasi atau lain sebagainya – semata-mata demi memenuhi tuntutan/tekanan sosial yang mengarah kepada dirinya.

Akibatnya mausia terjebak dalam ilusi/false belief yang menyebabkan kehilangan damai sejahtera lalu membuat jatuh dalam dosa. Belief system yang keliru akan membuat manusia hidup dalam hawa nafsu, dalam kegelapan karena jauh dari terang Allah, tidak memiliki pengharapan dan sia-sia.

Dalam konteks hidup manusia, eksistensi hanyalah berupa rangkaian aktifitas kehidupan dari mulai kelahiran, tumbuh kembang, bekerja untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan ataupun aktualisasi diri, menikah, memiliki keturunan, dan akhirnya meninggal.
Cara pandang, berpikir, berperilaku/bereaksinya hanya berdasarkan apa yang terlihat mata saja, dapat diterima jika masuk akal, terfokus pada hal-hal yang sifatnya sementara dan terbelenggu oleh batasan-batasan yang menghimpit. Manusia duniawi hanya mengerti hidup sebatas eksistensi, tetapi Allah yang kekal memberikan arti hidup yang sebenarnya.

“Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” (1 Yohanes 5:11-12)

Kristus adalah Terang yang telah datang ke dalam dunia. Dalam Kristus ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Hidup kekal yang ada di dalam Kristus bukan sekedar abadi/ tidak akan berakhir tapi hidup dengan kualitas yang unggul sesuai standard Allah.

Kata “hidup kekal” dari kata asli Yunani: Zoe Aionios. Salah satu pengertian Zoe (hidup) menurut New Testament Greek Lexicon :

life real and genuine, a life active and vigorous, devoted to God, blessed, in the portion even in this world of those who put their trust in Christ, but after the resurrection to be consummated by new accessions (among them a more perfect body), and to last for ever.

Secara sederhana dapat diartikan sebagai hidup yang sesungguhnya yaitu hidup di dalam segala kemaksimalan kapasitas yang berkelimpahan sebagai manusia sesuai blue print Allah, manusia baru yang hidup untuk Allah di dalam Kristus Yesus – kembali seperti awal penciptaan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Aionios artinya everlasting/kekal.

Kalau demikian, hidup yang sesungguhnya (zoe) jelas tidak dapat disamakan dengan eksistensi/keberadaan. Banyak orang yang sekedar eksis tapi tidak memiliki hidup (zoe) seperti yang dimaksudkan Allah.
Hidup yang kekal, limitless/infinite diperoleh melalui kelahiran kembali oleh Roh, sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh Allah sendiri, dimulai ketika seseorang mengenal Allah di dalam Kristus Yesus (Yohanes 17:3) dan akan terus berlangsung sampai di dunia yang akan datang.

Kekekalan Allah membawa kasih karunia

Allah menjangkau manusia berdosa bukan dengan murka penghakiman melainkan dengan kasih.
Yohanes 8: 1-11 mencatat kisah tentang wanita yang kedapatan berbuat zinah. Wanita tersebut ada dalam keadaan yang begitu terpojok akibat dosanya dan tidak ada harapan (hopeless). Nasibnya berada di ujung tanduk karena pada masa itu berlaku Taurat yang berupa hukuman mati dirajam batu bagi seorang pezinah. Akan tetapi Allah yang kekal memberikan kesempatan baginya untuk bertobat, menerima pengampunan dan memiliki pengharapan yang sama sekali baru melalui Yesus Kristus.

10)Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
11) Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Tuhan Yesus memberikan perpanjangan waktu (perspektif kekekalan) untuk menolong wanita tersebut agar dapat keluar dari dosa dan masalahnya. Maksud kemurahan Allah ialah menuntun dirinya kepada pertobatan.

“Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” (Yohanes 1:16-17)

Dalam hidup kekal selalu ada kesempatan untuk bertobat dan untuk tidak berbuat dosa lagi. Hidup kekal adalah hidup dalam kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus. Kekekalan Allah memungkinkan kita untuk hidup dalam kekudusan. Di dalam hidup kekal selalu ada kesempatan, harapan, pemulihan serta mukjizat.

Orang yang mempunyai hidup kekal sudah berpindah dari dunia orang mati ke dalam hidup, dari kegelapan kepada terang Tuhan yang ajaib. Kita telah dipindahkan dari kematian kepada hidup, dari kegelapan kepada terang Tuhan, dari kemiskinan kepada kelimpahan, dari sakit penyakit kepada kesembuhan/sehat, dari hidup yang kacau kepada kehidupan yang teratur, dari kehancuran kepada destiny/tujuan ilahi. Kekekalan Allah selalu membarui hidup orang yang percaya (taat) kepada Kristus.

image source: https://www.pinterest.com/pin/27092035231887794/

TEGAK KARENA KETULUSAN

TEGAK KARENA KETULUSAN

“Tetapi aku, Engkau menopang aku karena ketulusanku, Engkau membuat aku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya! Amin, ya amin.”
Mazmur 41:13-14
Orang yang hidup benar, tidak berarti akan disenangi dan menjadi kawan bagi semua orang. Dengan orang-orang hidup dalam kebenaran, ada beberapa orang lain yang merasa terancam, tidak suka dan berusaha menganiaya orang benar tersebut. Dalam kitab Mazmur 23:5a Daud menuliskan:
“Tuhan menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku.”
Ini menunjukkan bahwa ada musuh/lawan dalam hidup orang benar. Lebih lagi, ada ayat-ayat yang memberikan gambaran hal yang mengerikan, yaitu adanya orang-orang yang dibunuh karena Firman Allah dan kebenaran.
“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”
Matius 5:10-11
“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?”
Wahyu 6:9-10
Ayat-ayat tersebut menjadi bukti bahwa ada orang-orang yang memusuhi atau menjadi lawan orang-orang benar. Bahkan Yesus Kristus sendiri, sebagai teladan untuk hidup dalam kebenaran, difitnah, menderita aniaya dan mati disalib.
DOA DAUD: DITEGAKKAN UNTUK MEMBALAS MUSUH
Dengan segala kelebihan-kekurangan yang dimiliki, Daud adalah seorang manusia biasa. Dalam Mazmur 41 Daud menuliskan pergumulannya ketika terbaring di tempat tidurnya karena sakit dan mengetahui bahwa ada orang-orang mengatakan hal-hal jahat tentang dirinya, dan menghendaki kematiannya. Bahkan orang yang dekat dengan Daud, mengkhianati dan menghendaki Daud mengalami celaka. Hal-hal ini merupakan tekanan yang besar dan menyakitkan bagi Daud.
Kemudian ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, memohon belas kasihan dan meminta Tuhan untuk memberikan pembelaan. Daud menaikkan permohonan kepada Tuhan untuk menguatkan atau menegakkan dia agar dapat melakukan pembalasan kepada musuh-musuhnya.
Daud merasa mereka layak mendapatkan hukuman. Bahkan Daud memohon kekuatan dari Tuhan sebagai suatu tanda bahwa Tuhan sungguh-sungguh berkenan akan hidupnya. Dalam tekanan, Daud menganggap hal yang wajar jika ia dapat membalas orang-orang yang memusuhinya.
Kata “tulus” atau “integrity” dalam Mazmur 41:13 berasal dari kata dasar Ibrani “tom” yang juga berbicara mengenai integritas pribadi. Secara arti langsung “tom” diterjemahkan blameless atau innocent. Kata ini juga mengandung pengertian tidak ada niatan jahat atau motivasi ingin mencederai orang lain. Dari Tuhan, Daud mendapatkan pengertian yang dalam mengenai berjalan dalam integritas.
TUHAN MENEGAKKAN KARENA KETULUSAN
Tuhan yang Mahabijaksana, menjawab doa-doa Daud dengan cara yang berbeda. Dalam Mazmur 41:13 disebutkan:
“Tetapi aku, Engkau menopang aku karena ketulusanku, Engkau membuat aku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.”
Di dalam terjemahan Bahasa Inggris (ESV) ayat ini berbunyi:
“But you have upheld me because of my integrity, and set me in your presence forever.” (Psalms 41:12)
Kita melihat kata “ketulusan” menggunakan kata integrity.” Jadi Tuhan menopang Daud sehingga menjadi tegak karena ketulusan atau integritas Daud.
Tuhan menegakkan Daud bukan untuk membalas dendam kepada musuh-musuhnya, namun karena kondisi hati Daud itu sendiri. Pengertian dalam ayat ini merupakan titik balik bagi Daud. Daud menyadari bahwa pertolongan, kekuatan dan perkenanan Tuhan datang karena ketulusan (integritas) nya di mata Tuhan, bukan karena nafsu untuk melakukan pembalasan.
Kebenaran Tuhan mengenai integritas tidak pernah berubah. Jika Tuhan menopang Daud karena ketulusan atau integritasnya, Tuhan juga melindungi, menegakkan atau menopang orang-orang yang berintegritas.
TOKOH-TOKOH ALKITAB YANG BERJALAN DALAM INTEGRITAS
Ada tokoh-tokoh lain yang berjalan atau hidup dalam integritas dan mendapatkan pertolongan Tuhan, yaitu:
1. Yusuf
Yusuf adalah orang muda yang mempertahankan integritas dalam hidupnya. Yusuf mengalami berbagai pengalaman yang buruk, namun selalu berjalan dalam ketulusan hati, sebagai akibatnya: topangan/perlindungan Tuhan kepada Yusuf sangat nyata. Yusuf selalu mengalami kemenangan dalam menghadapi hal-hal yang buruk, seperti ketika dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak. Yusuf dapat memilih untuk menyalahkan saudaranya, menyalahkan situasi; bahkan menyalahkan Tuhan.
a. Di Rumah Potifar
Alkitab menyatakan bahwa Tuhan senantiasa menyertai Yusuf, sehingga sebagai budak pun, ia menjadi orang kepercayaan Potifar. Yusuf memiliki kuasa penuh atas semua milik Potifar, kecuali istri Potifar. (Kejadian 39:3-4)
Ketika digoda oleh istri Potifar, Yusuf terus berjalan dalam integritas, menolak segala godaan untuk berbuat dosa. Akibatnya Yusuf difitnah oleh istri Potifar dan dimasukkan ke dalam penjara.
b. Di Dalam Penjara
Di dalam penjara Yusuf tetap disertai oleh Tuhan, karena senantiasa menjaga integritasnya. Dan ketika kepala penjara melihat bagaimana Yusuf bekerja dan mengelola segala sesuatu, ia mempercayakan semua pekerjaan kepada Yusuf. (Kejadian 37:7-20)
c. Di Istana Firaun
Setelah menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti dan tafsir mimpi itu digenapi, Yusuf tidak diingat oleh juru minuman agar mengeluarkan Yusuf dari penjara karena pada dasarnya Yusuf tidak bersalah. Namun Tuhan tetap meyertai Yusuf, dan pada saat yang tepat Yusuf ditegakkan oleh Tuhan untuk berbicara di depan Firaun dan menafsirkan mimpi Firaun. Tuhan memiliki cara dan waktu yang tepat untuk mempromosikan Yusuf, orang yang hidup dalam ketulusan hati. (Kejadian 41:41-44)
2. Sadrakh, Mesakh, Abednego
Raja Babel, Nebukadnezar memerintahkan semua orang dalam kerajaannya harus menyembah patung emas yang didirikan dengan ancaman yang menolak akan dimasukkan ke dalam dapur api. Menjadi umat Tuhan atau orang benar saat itu tentu tidak mudah. Ancaman bagi pelanggar aturan raja adalah hukuman mati. Integritas orang benar betul-betul diuji; apakah tetap hidup dalam integritas atau sebaliknya.
Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah orang-orang benar yang menjadi pegawai kerajaan. Posisi mereka terancam dengan adanya hukum untuk menyembah patung. Pada hari yang ditentukan, ternyata mereka tetap menjaga integritas mereka untuk tidak menyembah dewa dan patung emas yang didirikan oleh Nebukadnezar. Meskipun diberi kesempatan kedua, mereka tetap mempertahankan integritas mereka di hadapan Tuhan. Akibatnya mereka dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, bahkan dipanaskan tujuh kali lipat. Tetapi Tuhan memberikan perlindungan bagi mereka bertiga, sosok-Nya hadir dalam perapian itu dan mereka bertiga tidak hangus sama sekali. (Daniel 3:24-27)
3. Daniel
Sebagai orang buangan yang ditawan di Babel, Daniel seharusnya menuruti semua aturan Babel termasuk dalam hal makanan dan minuman. Namun Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan makanan dan minuman santapan raja, (Daniel 1:8) Itulah integritas. Sebagai hasilnya, Allah mengaruniakan kesehatan, pengetahuan dan kepandaian serta kecerdasan sepuluh kali dari orang-orang lain. (Daniel 1:15-20)
Hikmat dari Tuhan inilah yang di kemudian hari menyelamatkan Daniel dan teman-temannya dari hukuman, karena Daniel dapat menafsirkan mimpi Raja Nebukadnezar.
Pada zaman Darius, Daniel tetap hidup dalam integritas untuk tetap menyembah Allah yang benar dan hidup. Ketika ada persekongkolan untuk menjebak integritasnya, Daniel tetap berjalan dalam integritas sekalipun harus masuk ke dalam gua singa. Tuhan menyatakan kuasa-Nya untuk menopang Daniel dengan mengatupkan mulut singa-singa tersebut. (Daniel 6)
POSISI DALAM HADIRAT TUHAN
Topangan dan perlindungan yang dari Tuhan tidak hanya berlaku secara jasmani, namun juga secara rohani. Mazmur 41:13 menyatakan:
“Engkau membuatku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.”
Orang yang tulus (berintegritas) bukan hanya mengalami topangan atau perlindungan supaya dapat berdiri tegak, tetapi juga mendapatkan tempat yang pasti dalam hadirat Tuhan selamanya.
Pada akhirnya, Daud memuji Tuhan, Allah Israel, yang janji-Nya ya dan amin, dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya. (Mazmur 41:14)
Allah telah mengikat perjanjian kekal dengan umat-Nya dan akan setia dalam menggenapi janji-janji-Nya. Kepada orang-orang yang berintegritas, Allah akan tetap menopang supaya tetap dapat berdiri dengan tegak dan mendapatkan tempat yang pasti dalam Hadirat Tuhan untuk selama-lamanya.

image source: https://www.kingjamesbibleonline.org/Isaiah-41-13_Inspirational_Image/

BERAKAR  DAN  BERTUMBUH  DALAM  KASIH

BERAKAR DAN BERTUMBUH DALAM KASIH

“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 3:16-19)

Menjelang akhir jaman, kuasa kegelapan semakin menentang Tuhan sehingga banyak penyesatan terjadi. Semakin Tuhan di tentang, semakin kabur kebenaran dan semakin banyak orang tersesat.
Manusia memilih dengan hawa nafsu, di perbudak dengan pencapaian yang sia-sia dan terjebak dalam arah hidup yang membinasakan. Orang menjadi sombong, egois, tidak peduli dengan orang lain, mengandalkan diri sendiri, hidup dalam dosa, menjadi jahat. Kedurhakaan semakin bertambah karena dunia berada di luar kasih Allah.

Bagi orang percaya, kasih Allah adalah Menara yang kuat, menuntun, memelihara dan melindungi kita dari yang jahat. Untuk mengalami hidup berkemenangan dan mengobarkan kasih Kristus bagi dunia, kita harus berakar dan bertumbuh dalam kasih. Ketika kita memilih untuk tinggal dalam kasih-Nya, maka :

1. Allah akan menguatkan dan meneguhkan kita oleh Roh-Nya di dalam batin

Roh Kudus (sebagai wujud kasih Allah) akan menguatkan dan meneguhkan manusia roh/batiniah kita dengan mengukir kebenaran dalam loh hati sehingga firman bukan menjadi sekedar informasi atau hukum taurat (head knowledge), tetapi menjadi suatu pewahyuan/pengenalan akan Tuhan secara pribadi pada level manusia roh (heart knowledge).

2. Oleh iman kepada Kristus, kita akan semakin berakar serta berdasar di dalam kasih

Kasih akan membuat iman kita kepada Kristus Yesus semakin disempurnakan (iman mencapai kualitas emas, perak dan batu permata). Kristus memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita kepada kesempurnaan sehingga kita semakin berakar dan berdasar dalam kasih.
Iman yang disempurnakan oleh kasih akan membuat tujuan Allah digenapi dalam hidup kita. Artinya ketaatan kita kepada Allah bukan karena terpaksa/taurat namun karena kasih.

Ibarat pohon akan berdiri kuat dan tidak mudah roboh jika akarnya dalam sampai menyentuh sumber air. Begitu pula iman kita kepada Kristus tak mudah tergoncang bila hidup dipimpin Roh Kudus (sumber mata air kehidupan). Kasih akan menjadi dasar/motivasi dari semua yang kita lakukan. Hati kita terjaga oleh kekuatan kasih yang memberikan rasa aman (sense of security), harapan serta damai sejahtera hingga kita teguh mengikut Tuhan sampai garis akhir meski mengalami berbagai tantangan.

3. Kita dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan

Melalui hubungan yang mendalam, kita semakin memahami dimensi kasih Tuhan yang luar biasa:

– Panjangnya lebih panjang dari masa hidup kita, kekal tidak akan pernah berakhir.
– Lebarnya lebih lebar dari cakrawala, mencakup semua hal/bidang/faktor kehidupan, menjangkau umat manusia dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa.
– Dalamnya melebihi dalamnya samudera, sampai relung hati kita yang terdalam, yang kita sendiri tidak tahu/mengerti. (Yeremia 17: 9-10).
– Tingginya setinggi tahta Allah, lebih tinggi dari langit biru, lebih tinggi dari jabatan/posisi yang tertinggi, lebih tinggi dari kuasa manapun bahkan melampaui segala pengetahuan. Tingginya sejauh tahta Allah yang Maha Tinggi dengan segala kemuliaan-Nya; dalamnya sedalam kerelaan Allah yang mau merendahkan diri, datang sebagai manusia untuk menyelamatkan dan membangun hubungan kasih dengan manusia yang adalah debu (Yes. 57:15-19).

4. Kita akan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah :

Melalui seluruh proses ini kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Korintus 3:18).

“..sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,.. dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala…
Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (Ef. 4:13, 15,16)

Orang percaya memiliki tanggung jawab untuk berakar dan bertumbuh dalam kasih agar menjadi murid dan saksi Kristus yang efektif, berbuah serta menjadi terang bagi dunia yang membutuhkan kasih. Kita telah menjadi ciptaan baru yang memiliki identitas baru dan diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12).

Roh Kudus yang dianugerahkan menjadikan kita anak-anak Allah, yang merupakan ahli waris dan berhak menerima janji-janji Allah jika kita menderita bersama-sama dengan Kristus.

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”
Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:15-17).

Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, dan janji-janji-Nya diberikan agar kita boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan.

Kita bukanlah anak-anak gampang. Seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya, Tuhan mendidik/menghajar kita untuk mengusir kebodohan dari hati dan mengenal kasih Bapa.

“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:6-7)

Memang pada waktu mengalami hajaran ataupun didikan, kita akan berdukacita karena penyangkalan diri/mematikan perbuatan daging dan memikul salib, tetapi hal itu akan menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai sejahtera.

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan.” (2 Korintus 7:10a).

Jika kita memutuskan untuk tetap tinggal dalam kasih serta merendahkan hati dalam menerima didikan, maka kebenaran akan memerdekakan kita. Hidup kita pun menjadi pribadi yang berintegritas, efektif dan berbuah (penuh dengan kemuliaan).

Proses Tuhan mendidik dan mengukir firman di dalam loh hati kita dapat melalui berbagai cara :

a) Roh Kudus menempelak dosa, kelemahan, dan menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam hati kita (Yeremia 17:10; Ibrani 4:13).
b) Lewat ujian iman berupa masalah dan tantangan. Ujian iman akan semakin menyempurnakan kita sehingga kita menjadi pribadi yang berintegritas (Yakobus 1:2-4).
c) Firman Tuhan sebagai pelita yang menerangi kegelapan dalam hati dan jiwa (Mazmur 119:105; Ibrani 4:12)
d) Orang lain – menerima teguran dari orang lain, mengakui kelebihan dan menerima kekurangannya (Amsal 27:17; Kolose 3:16).

Melalui proses didikan, jiwa kita akan semakin menyadari bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:29-30)

Dalam kasih tidak ada ketakutan karena kita bukan lagi orang-orang yang hidup dalam perhambaan dosa/ kedagingan tetapi hidup dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah (Roma 8:15). Identitas kita sebagai anak memberikan jaminan serta rasa aman bagi jiwa bahwa Allah mengasihi kita 100%.

Kalau begitu, kita tidak perlu lagi merasa tertolak dan mengasihani diri sendiri (self pity). Tidak perlu memakai topeng di hadapan Tuhan, merasa diri benar (self-righteous) dan bersembunyi dalam rasa aman palsu (false comfort zone) yang sesungguhnya merupakan keangkuhan. Akan tetapi kenakan identitas kita sebagai anak-anak Allah dalam Kristus (our true comfort zone).

Kita juga tidak hidup dalam penghukuman, melainkan berani menerima dan menghadapi kenyataan. Keberanian mengakui kelemahan diri sendiri dan belajar menerima kasih-Nya, memampukan kita bertobat dan tetap tinggal dalam kasihNya.
Berani mengakui kesalahan dan kekurangan diri bukanlah tanda kelemahan, justru itu adalah kekuatan yang dihasilkan oleh Roh Kudus.
Kasih Allah sanggup menghalau segala ketakutan, meruntuhkan kesombongan, mematahkan setiap ikatan termasuk cinta akan uang. Kasih Allah adalah menara yang kuat, dapat diandalkan, perlindungan dalam bahaya dan pertolongan dalam kesesakan.

Jika Allah begitu mengasihi kita, siapakah yang dapat mendakwa kita ?
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”
(Roma 8:1)

Roh Kudus akan menguatkan dan meneguhkan batin kita untuk sabar dalam kesesakan, bersukacita dalam pengharapan, menjadi lebih dari pemenang dan bertahan sampai akhir.
Kita lebih dari pemenang karena titik awal kemenangan kita adalah Yesus Kristus yang telah mengalahkan dunia bagi kita. Kekuatan kasih Allah memampukan kita untuk berani hidup dalam kebenaran meski mengalami tantangan dan penderitaan.

Kasih Allah lebih kuat dari pihak manapun dan dari keadaan apapun – lebih kuat dari kelemahan kita, lebih kuat dari tantangan, lebih kuat dari kuasa kegelapan, bahkan maut sekalipun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Dalam semua penderitaan, kesesakan dan tantangan kita adalah orang yang lebih dari pada pemenang, oleh Kristus yang telah mengasihi kita.

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:37-39)

Kasih Allah sanggup memulihkan kita sehingga kita tidak perlu merasa terintimidasi dan menyerah karena kelemahan kita. Identitas kita adalah anak-anak Allah yang telah diberi kuasa untuk mematikan perbuatan daging dan hidup berkemenangan.

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.”
(Efesus 3: 20-21)

image source: https://www.etsy.com/listing/193280237/ephesians-316-19-print-bible-verse

MENJADI ORANG YANG BERINTEGRITAS

MENJADI ORANG YANG BERINTEGRITAS

Tahun 2021 adalah Tahun Integritas‘The Year of Integrity’. Sekali lagi kita katakan bersama-sama: Tahun 2021 adalah Tahun Integritas, ‘The Year of Integrity’.
DEFINISI INTEGRITAS
1. Menurut Westminster Dictionary of Theological Terms
Ini adalah sebuah istilah teologis untuk menunjukkan kemurnian dan kejujuran sebagaimana manusia ketika diciptakan dalam rupa dan gambar Allah. (Kejadian 1:26-27) Dosa mengakibatkan manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah itu menjadi rusak. Pada saat kita menjadi orang percaya; melalui proses pengudusan atau sanctification, gambar dan rupa Allah dikembalikan lagi, yaitu dijadikan serupa dengan gambar Yesus. Oleh karena itu kita harus mau diproses oleh Allah.
2. Dalam Konteks Etika
Integritas adalah ketaatan dalam prinsip dan karakter moral yang dibentuk dalam hati nurani Kristen.
THE MAN OF INTEGRITY
Panutan kita untuk menjadi orang yang berintegritas adalah Tuhan Yesus, sebab Dialah “The Man of Integrity”. Dengan perkataan lain, melalui tema Tahun Integritas untuk tahun 2021, sebenarnya Tuhan mau agar kita menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu menjadi murid Tuhan Yesus. Sesuai dengan perintah Tuhan Yesus yang kita kenal sebagai Amanat Agung dalam Matius 28:19-20, kita diperintahkan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa itu murid Tuhan Yesus, karena itu kita harus menjadi murid Tuhan Yesus.
Dan murid Tuhan Yesus pasti menginjil.
Pada waktu Tuhan Yesus naik ke sorga, setelah Tuhan Yesus hilang dari pandangan mata murid-murid-Nya yang dengan terheran-heran melihat ke langit, ada 2 orang berpakaian putih yaitu malaikat Tuhan yang berkata kepada mereka:
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
Kisah Para Rasul 1:11
Dari ayat ini, saya percaya kalau yang melihat Tuhan Yesus naik ke sorga adalah murid-murid-Nya, maka yang akan melihat Tuhan Yesus turun dari sorga ke awan-awan untuk mengangkat gereja-Nya adalah murid-murid Tuhan Yesus. Karena itu saya mau katakan, hanya murid Tuhan Yesus yang akan ikut dalam pengangkatan. Karena itu jadilah murid Tuhan Yesus. Murid Tuhan Yesus adalah mereka yang berubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu mereka yang berintegritas.
Mazmur 24:3-5, dan Mazmur 41:13-14, menyatakan bahwa orang yang bersih tangannya dan yang murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, yang tidak bersumpah palsu dan yang tulus, dengan kata lain orang yang berintegritas, yang akan masuk sorga.
TUNTUNAN TUHAN MEMASUKI TAHUN INTEGRITAS
Memasuki Tahun Integritas, Tuhan memberikan tuntunan kepada kita hal-hal yang harus kita lakukan, yaitu:
1. Kita Harus Membangun Manusia Rohani Kita
a. Hagai 1:1 – 2:1a, adalah ajakan untuk membangun kembali Bait Suci. Tuhan berfirman melalui nabi Hagai, kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan Yosua bin Yozadak, imam besar, untuk mengajak bangsa Israel membangun kembali Bait Suci. Tuhan menegur orang Israel karena mereka hanya sibuk membangun rumahnya sendiri, tetapi tidak menghiraukan rumah Tuhan sehingga tetap menjadi reruntuhan. Tuhan berkata kepada orang Israel, lihatlah keadaan dirimu:
 Kamu menabur banyak tetapi membawa pulang hasil sedikit,
 Kamu makan tetapi tidak sampai kenyang,
 Kamu minum tetapi tidak sampai puas,
 Kamu mendapat upah tetapi tidak pernah cukup, karena seperti ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang. Banyak pengeluaran yang tidak terduga, seperti sakit penyakit, dicuri, ditipu dirampok, dan lain-lain.
Teguran yang sama Tuhan berikan kepada kita karena hari-hari ini banyak di antara kita yang hanya sibuk memenuhi kebutuhan jasmani kita saja, sedangkan ‘manusia rohani’ kita tidak dibangun, tidak diperhatikan.
b. Tuhan berkata kepada bangsa Israel bahwa kalau mereka membangun rumah Tuhan maka mereka akan diberkati.
 Tuhan akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat.
 Tuhan akan menggoncangkan bangsa-bangsa, sehingga barang-barang yang indah-indah di bangsa-bangsa akan datang mengalir memberkati mereka.
 Tuhan berkata: “Kepunyaan-Kulah perak, kepunyaan-Kulah emas.”
 Tuhan juga berjanji bahwa kemegahan rumah Tuhan yang dibangun akan melebihi kemegahan yang semula.
 Tuhan juga akan memberikan damai sejahtera.
c. Hari-hari ini, Tuhan juga berbicara kepada kita, kalau kita membangun manusia rohani kita, sehingga akan menjadi serupa dengan gambar Yesus, maka Tuhan akan mencurahkan berkat secara rohani maupun secara jasmani.
Seperti yang dikatakan pada waktu itu, dimana Tuhan memberkati bangsa Israel dengan menggoncangkan langit dan bumi, Tuhan menggoncangkan bangsa-bangsa, maka hal yang seperti itu juga yang terjadi pada hari-hari ini. Pandemi COVID-19 membuat bangsa-bangsa tergoncang. Kejadian yang kita alami hari-hari ini justru akan memberkati kita secara rohani maupun jasmani, yaitu kita yang membangun manusia rohani kita untuk menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu menjadi orang yang berintegritas.
d. Kalau Tuhan berjanji kepada bangsa Israel bahwa kemegahan rumah Tuhan yang dibangun akan melebihi kemegahan yang semula, maka Tuhan juga berjanji kepada kita: Kalau kita sungguh-sungguh membangun manusia rohani kita, maka kita akan semakin serupa dengan gambar Yesus melebihi yang dulu pernah kita alami. Tuhan akan memberikan kepada kita damai sejahtera. Haleluya!
e. Sesuai dengan yang dikatakan dalam 1 Yohanes 2:6, yaitu kalau kita mengatakan bahwa kita ada di dalam Dia maka kita wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Dengan kuasa Firman dan pertolongan Roh Kudus, dan proses dari Allah, kita yang sungguh-sungguh mau membangun manusia rohani kita, yaitu mau hidup sama seperti Kristus telah hidup, akan menjadi serupa dengan gambar-Nya.
f. Dengan adanya pandemi COVID-19 ini, Tuhan Yesus berbicara kepada saya beberapa bulan yang lalu melalui Yesaya 26:20-21, yaitu agar kita bersembunyi barang sesaat lamanya sampai amarah Tuhan berlalu, sebab Tuhan sedang menghukum penduduk bumi karena kesalahannya.\
Karena itu melalui pandemi COVID-19 ini Tuhan memberikan waktu kepada kita untuk koreksi diri untuk membangun manusia rohani kita.
Hari-hari ini muncul varian-varian baru dari virus Corona yang penularannya jauh lebih cepat. Tuhan memberikan peringatan kepada kita seperti yang ditulis dalam Amsal 22:3 dan Amsal 27:12, yang berkata:
“Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tidak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.”
Peringatan ini dituliskan sebanyak 2 kali di kitab Amsal. Yang berarti ini sesuatu yang penting yang harus diperhatikan dan dilakukan. Jangan menganggap enteng dengan mengabaikan peringatan ini. Jadilah orang bijak yang mau bersembunyi barang sesaat lamanya sampai amarah Tuhan berlalu karena Tuhan sedang menghukum penduduk bumi karena kesalahannya.
Kita yang bijak, bersembunyi waktu melihat malapetaka, bukan karena kita tidak beriman, tetapi karena firman Tuhan yang berkata demikian. Jangan mencampuradukkan antara iman dengan kenekatan. Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan firman Tuhan, tetapi kenekatan itu timbul dari kata hatinya.
2. Kita Harus Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan
a. Mempersembahkan Tubuhmu sebagai Persembahan yang Hidup
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Roma 12:1
Ada pertanyaan: Mengapa kita diminta untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan dengan cara mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan?
Jawabannya adalah karena kemurahan Allah kepada kita, dimana Bapa memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita, dengan cara Tuhan Yesus harus mati dengan penderitaan yang luar biasa, Dia dikuburkan, tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan.
Ini merupakan pemberian yang terbaik dari Allah kepada kita umat manusia. Jadi karena Allah memberikan yang terbaik buat kita, maka kita diminta untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Dia, dimana sebenarnya kita tidak bisa mengembalikan apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Persembahan kepada Tuhan bisa berupa:
 Ucapan syukur, pujian dan penyembahan,
 Taat kepada firman-Nya,
 Melayani pekerjaan Tuhan,
 Serta mempersembahkan persembahan berupa materi.
Persembahan secara materi berupa persembahan khusus, persembahan persepuluhan, persembahan sulung, yang merupakan bukti ketaatan kita kepada firman Allah melalui gereja tempat kita tertanam.
Tiga Respon Orang Percaya terhadap Persembahan Materi
 Respon pertama, Bagi mereka yang memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, akan memberikan dengan standar yang tinggi, yaitu senantiasa berupaya memberikan yang terbaik untuk Tuhan.
Sebagai contoh: Maria yang intim dengan Tuhan Yesus, mengurapi kaki Tuhan Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya dan menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambut-Nya. Harga minyak narwastu murni itu seharga 300 dinar yaitu upah satu tahun seorang pekerja. Jadi sangat besar. Itu merupakan suatu persembahan yang terbaik.
 Respon kedua, Bagi mereka yang tidak intim dengan Tuhan, hanya dapat memahami memberi persembahan sebagai sebuah hukum yang tertulis.
Ketika yang lain sudah dengan tekun dan setia memberikan persembahan persepuluhan, persembahan sulung, dia masih sibuk menggali tentang apakah persepuluhan dan persembahan sulung itu Alkitabiah atau tidak.
 Respon ketiga, Bagi mereka yang cinta uang dan pencuri kas milik Tuhan seperti Yudas Iskariot, akan mengkritik orang seperti kepada Maria yang memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan, yaitu minyak narwastu yang mahal harganya.
Demikian juga mereka yang termasuk orang-orang seperti ini akan menyamaratakan semua pendeta yang mengajar tentang memberikan persembahan sebagai golongan pendeta yang mencari keuntungan dari jemaat. Sehingga banyak pendeta yang takut memberikan pelajaran tentang kebenaran memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Akibatnya baik pendeta itu maupun jemaatnya gagal untuk menerima berkat yang terbaik yang Tuhan sediakan.
Kesimpulannya: memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan hanya dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya intim dengan Tuhan. Saya berdoa supaya Saudara termasuk orang yang hidupnya intim dengan Tuhan sehingga menerima berkat yang terbaik dari Tuhan di tahun 2021 ini. Amin.

image source: https://twitter.com/sprec61551/status/1195762467231526918?lang=eu

ALLAH  ADALAH  KASIH

ALLAH ADALAH KASIH

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Allah adalah kasih dan kita terus mengalami kasih itu dalam Kristus Yesus sampai hari ini. Hubungan antara Allah dan manusia didasari dan ditandai oleh kasih, artinya seluruh rencana dan kehendak Allah terhadap manusia adalah manifestasi dari kasih-Nya. Kasih Allah memiliki dimensi yang kekal/tidak berakhir, mencakup segala hal, sangat dalam serta melampaui segala pengetahuan sehingga tidak mampu dimengerti oleh manusia biasa yang karnal (daging) & sekuler (duniawi). Kita perlu pertolongan Roh Kudus untuk dapat memahami dan mengalami kasih Allah yang berlimpah-limpah.

Barangsiapa lahir dari Allah memiliki Kasih (His being dan bukan sekedar His doing).
Tuhan Yesus menggambarkan ‘kasih Allah’ yang luar biasa itu sebagai kehadiran Allah sendiri, tidak tergantung dari faktor dari luar diri-Nya (integritas = complete in itself). Kasih yang tidak bersyarat (unconditional), didemonstrasikan dengan pengorbanan Kristus (the ultimate sacrifice) dan sempurna (yaitu mencapai seluruh tujuannya) di dalam kita.

Karena kasih, Allah telah lahir sebagai manusia dan mati (Yesus) kemudian bangkit sebagai Allah anak (Kristus) supaya kita hidup oleh Yesus Kristus. Karena kasih, Ia rela mengorbankan Diri-Nya, Ia telah mati ketika kita masih hidup dalam dosa, dalam keadaan memusuhi Allah, tidak memiliki pengharapan, pantas dimurkai dengan hukuman kekal di neraka.

Jika kita dikasihi Allah sampai pada hari ini bukan karena kesalehan dan kuat gagah kita, tetapi semata-mata karena Allah adalah kasih. Dia menyatakan kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Iman percaya kita untuk dapat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah murni pemberian Allah karena kasih-Nya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9).

Kasih adalah tanda dari sebuah kelahiran kembali saat Roh Kudus yang adalah wujud kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita (Roma 5:5). Kita memiliki benih ilahi karena kita berasal dari Dia (1 Yoh 3:9-10; 5:1) sehingga kita dimampukan untuk melakukan perintah Agung :

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39).

Mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi artinya tidak hanya tahu firman (membaca, mengerti, posting dan menjadikan pegangan hidup) saja tapi harus sampai tahap melakukan firman/kehendak Bapa (seperti pada perumpamaan dalam Matius 21:28-31). Bukan hanya menguasai firman tetapi harus hidup oleh firman.

“Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” (Yohanes 14:21).

Roh Kudus yang ada di dalam kita senantiasa memperbaharui, menguatkan dan meneguhkan manusia roh/batiniah kita sehingga kasih Allah menguasai seluruh hati, jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) serta akal budi kita. Mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi adalah hasil ketaatan manusia roh kita yang tunduk kepada kehendak Allah, didasari ketulusan kasih dan dilakukan dengan integritas.

Manusia roh akan tunduk kepada pimpinan Roh Kudus jika kita memelihara persekutuan kasih dengan-Nya melalui gaya hidup doa pujian penyembahan. Akibatnya, perintah Tuhan bukan lagi menjadi suatu taurat yang mengikat dan membatasi kebebasan tetapi ketaatan kita merupakan karya Roh Kudus sebagai sumber air hidup yang memancar dari dalam hati karena kita percaya kepada Yesus Kristus (Yohanes 7:38-39a).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-8)

Kehadiran Roh Kudus membuat kita menerima dan mengalirkan kasih tersebut sehingga kita dapat mengasihi Allah, diri sendiri serta orang lain. Mengasihi diri sendiri (bukan mengasihani diri/self-pity) berarti memilih untuk tetap tinggal dalam kasih sebab di luar itu kita akan tersesat dan binasa. Mengasihi orang lain berarti memperlakukan mereka sesuai hukum kasih Kristus. Perlu diingat dan dipahami bahwa kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roh Kudus, Roma 5:5) selalu sejalan dengan firman kebenaran.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14)

Tanda kita mengasihi Allah adalah ketika kita melakukan perintah-Nya. Apa itu perintah-Nya?

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34)

“Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” (2 Yohanes 1:6)

Untuk hidup/tinggal dalam kasih adalah suatu keputusan/pilihan pribadi yang diikuti oleh kemauan. Selanjutnya Tuhan yang akan memampukan kita menyalurkan kasih dan menambahkan serta memperlebar kapasitas kasih kita (melalui suatu proses pendewasaan).

Dalam Yohanes 15:4-7 Tuhan Yesus (Kasih) mengatakan bahwa Dia adalah Pokok Anggur yang benar, kita adalah ranting yang berasal dari-Nya dan Bapa adalah pengusaha kebun anggur. Ranting tentu akan menghasilkan buah yang sama dengan pokok anggurnya : dari buahnya kita akan mengenal seseorang karena setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula (Matius 7:17-20). Bila kita tetap tinggal dalam kasih-seperti ranting yang terhubung dengan pokok anggur-akan menghasilkan buah (kasih).

Arti ‘hidup/tinggal’ dalam kasih-Nya adalah menuruti perintah-Nya.

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yohanes 15:9-10)

“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” (Yohanes 15:2) ‘..di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.’…

Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa, sebaliknya orang yang mau tinggal dalam kasih akan berbuah. Tahun ini adalah the Year of Integrity. Roh Kudus akan mendidik, memurnikan dan menguduskan (sanctification) kita agar menjadi person of integrity yang menghasilkan buah-buah kasih dengan kualitas baik/matang. Mengapa begitu penting untuk berbuah kasih? karena di luar kasih semua yang kita lakukan akan sia-sia.

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Korintus 13:1-3).

Bila kita cermati ayat di atas ternyata pengetahuan, karunia, iman yang memindahkan gunung, perbuatan baik bahkan pengorbanan tidak ada artinya jika dilakukan tanpa kasih.
Hal yang dilakukan tanpa kasih tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan, tidak menjadi dampak/berkat. Sehebat apapun yang dilakukan tanpa kasih bisa menjadi kesombongan bahkan membawa kepada kehancuran, tetapi kasih membangun.
Contoh : seseorang yang memiliki karunia yang luar biasa tetapi menjadi sombong dan mencari keuntungan diri sendiri, maka orang tersebut tidak tinggal di dalam hukum kasih, maka semua yang dilakukannya akan sia-sia. Mengapa ? Karena “Kasih itu tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak mencari keuntungan diri sendiri… Faith works by love.

Orang yang tidak tinggal dalam kasih hidupnya akan menjadi seperti ranting yang kering, jiwanya mengalami keletihan, hidup dalam penghakiman/penghukuman, tidak mengalami damai sejahtera/sukacita dan tidak mampu bertahan menghadapi tantangan sampai garis akhir karena mengandalkan kekuatan sendiri.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” (Yohanes 15:4-6)

Hidup di luar kasih berarti tidak terhubung dengan mata air kehidupan (Roh Allah), keadaan ini seperti semak bulus di padang belantara yang tidak akan mengalami datangnya keadaan baik. Orang seperti ini bisa menumbuhkan akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. Karena kekosongan dalam batin, maka ia cenderung memiliki nafsu yang rendah seperti Esau yaitu menukar kebenaran/ sesuatu yang rohani untuk mengejar pencapaian palsu yang ditawarkan dunia demi memuaskan hawa nafsu. (Ibrani 12: 15-17).

Kasih bukanlah suatu tanda kelemahan tapi suatu kekuatan dahsyat yang berasal dari Roh Allah. Kasih Allah itu kokoh, seperti Menara yang kuat, tempat kita berlindung. Kasih Allah yang ada di dalam kita membuat kita cakap menanggung segala perkara, membuat kita mampu menyerap dan menanggung beban yang tidak seharusnya kita tanggung.
Kasih bukanlah perasaan (feeling/mood), self pity/mengasihani diri untuk memuaskan hawa nafsu ataupun kompromi. Kasih itu menegur, mendidik, menguatkan, memerdekakan, memulihkan dan menyelamatkan kita.

Orang yang tinggal dalam kasih pasti mengalami pendewasaan rohani di mana setiap masalah/tantangan, setiap ketidaksempurnaan dan kelemahan Tuhan pakai guna memperlebar kapasitas kasih kita untuk belajar mengasihi Tuhan dan mengasihi satu dengan yang lain.
Kapasitas kasih yang diperlebar akan membuat hidup menjadi produktif, apa saja yang kita kerjakan dibuat Tuhan berhasil sehingga menjadi berkat bagi orang lain dan diri sendiri, yang sulit akan terasa mudah karena dilakukan dengan kerelaan hati yang membawa sukacita.
Oleh sebab itu “lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Korintus 16:14).

Setelah menyelidiki banyak hal, Salomo dalam kitab Pengkhotbah akhirnya menyimpulkan bahwa segala sesuatu di luar Allah (di luar kasih dan kebenaran) adalah kesia-siaan.

Karena itu, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kolose 2:7)

Sesungguhnya kita tidak akan pernah kekurangan segala yang baik karena kasih Allah adalah menara yang kuat menopang hidup kita, kasih-Nya selalu baru setiap hari. Kita yang harus memutuskan untuk tinggal dalam kasih-Nya agar dapat menikmati semua yang telah Allah sediakan untuk kebaikan kita karena Allah adalah kasih.

image source: https://www.amazon.com/30-John-Believes-Everlasting-Scripture/dp/B00JPIW7W2

THE PURPOSE OF BLESSING

THE PURPOSE OF BLESSING

Barusan kita memasuki tahun baru menurut calendar Cina yaitu Lunar New Year, yang dikenal dengan hari raya Imlek. Perayaan ditandai dengan berkumpul bersama keluarga. Yang muda mendatangi rumah orang tuanya untuk memberi hormat dan yang tua memberi angpao (amplop merah), dengan demikian mereka saling memberkati. Ini bisa di lakukan hanya sebagai suatu kebiasaan, namun juga bisa kita kaji makna yang ada di dalamnya.
Tuhan menjanjikan berkat bagi setiap orang yang menghormati orang tuanya. Ulangan 5:16 “….supaya panjang umurmu dan baik keadaanmu.” Namun zaman sekarang banyak orang tidak perduli dengan orang tua malah setiap hari secara berulang-ulang kita berdoa kepada Tuhan: “Tuhan berkati aku. Tuhan berkati aku”. Ibaratnya kita tidak sadar bahwa selama ini kita sedang hidup dalam berkat Tuhan. Atau kita baru menyadari bahwa selama ini kita tinggal dalam berkat Tuhan, setelah kehilangan berkat itu atau sudah mengalami batasan-batasan.
PENGERTIAN TENTANG BERKAT
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi singkat dari berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Jelas sekali tertulis bahwa berkat datang dari Tuhan untuk manusia.
Dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Ulangan (Ulangan 28:1-14) dapat kita temukan contoh berkat adalah hal-hal baik yang melingkupi buah kandungan yang subur (tidak mandul), hasil bumi dan hasil ternak yang melimpah, perlindungan dari musuh, lumbung yang terisi, perbendaharaan Tuhan yang dibukakan, usaha dan pekerjaan yang lancar, posisi dan tanggung jawab yang meningkat, juga area yang bertambah luas.
Menariknya, dalam kitab Habakuk, berkat Tuhan digambarkan bukan seperti yang tertulis dalam kitab Ulangan.
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Habakuk 3:17-19
Dalam kitab Ulangan; berkat Tuhan identik dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi kitab Habakuk membuat pengertian mengenai berkat menjadi semakin luas. Berkat Tuhan yang tertulis dalam kitab Habakuk adalah mengenai keselamatan dan kekuatan, walaupun berjalan dalam keadaan yang tidak baik; bahkan sangat tidak baik, hasil bumi mengecewakan bahkan tidak menghasilkan sama sekali, tetapi Habakuk tetap menikmati berkat kebaikan Tuhan, karena di tengah-tengah keadaaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia, Tuhan tetap menyelamatkan dan memberi kekuatan.
Hal ini seperti yang tertulis dalam Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
TUJUAN DARI BERKAT
1. Membuktikan ke-Mahabesar-an dan ke-Mahakuasa-an Tuhan
Karena berkat yang benar hanya datang dari Tuhan, fakta ini membuktikan ke-Mahabesar-an dan ke-Mahakuasa-an Tuhan. Tidak ada pihak lain yang dapat membuat atau menciptakan dan memberi berkat. Hanya Tuhan saja yang dapat menciptakan dan memberikan berkat, hanya dari Dia sajalah berkat itu berasal, Tuhan adalah sang sumber berkat itu.
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1:17
2. Membuktikan Kedaulatan Tuhan
Hanya Tuhan yang dapat menciptakan dan memberikan berkat, dan hanya Tuhan saja yang menentukan kepada siapa berkat itu akan diberikan. Kenyataan ini membuktikan bahwa berkat membuktikan kedaulatan Tuhan. Dalam Bilangan 22-24, sebuah kisah mengenai Bileam yang diminta oleh Balak untuk mengutuki bangsa Israel, tetapi kenyataannya, Tuhan memberkati bangsa Israel.
“Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya.” Bilangan 23:20
3. Membuktikan Pemeliharaan Tuhan
“maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang.” Ulangan 11:14-15
Dua ayat ini menunjukkan; berkat sebagai bukti bahwa Tuhan turut campur tangan dalam urusan pemeliharaan manusia. Tanaman sebagai hasil bumi, sebagai bahan makanan bagi manusia dan hewan dapat tumbuh dengan baik karena adanya hujan yang turun dari langit.
Dan turunnya hujan adalah wujud kemurahan Tuhan bagi pemeliharaan hidup umat manusia di muka bumi ini.
4. Membuktikan Kebaikan Tuhan
“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu.” Mazmur 31:20
Berkat menunjukkan dan membuktikan betapa baiknya Tuhan bagi umat manusia. Tanpa kebaikan Tuhan, bumi sudah mengalami banyak malapetaka, bencana dan hal-hal yang menuntun kepada kehancuran.
5. Membedakan Kehidupan Orang Benar dengan Orang Dunia
“Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.”
Maleakhi 3:18
“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu.” Mazmur 31:20
Adanya berkat yang Tuhan berikan kepada umat-Nya, berupa pemenuhan kebutuhan jasmani, berkat kesehatan, bahkan pemeliharaan, kekuatan dan keselamatan; menunjukkan bahwa memang ada perbedaan antara orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan dan yang tidak beribadah kepada-Nya.
Walaupun kadang-kadang orang benar akan juga menghadapi masalah, tetapi dalam menghadapi masalah, sikap orang benar sangat berbeda dengan dunia. Hal ini karena Tuhan yang memberi damai sejahtera dan kekuatan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya.
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Yohanes 14:27
6. Menunjukkan Kasih Setia Tuhan
“Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.”
Keluaran 20:6
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
2 Petrus 3:9
Sekalipun kadang-kadang manusia tidak setia, tetapi berkat dan pemeliharan Tuhan membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang setia, Ia tidak pernah lalai akan janji-janji-Nya.
7. Menguji Integritas Kita
“Any man can stand adversity — only a great man can stand prosperity.” (Robert Ingersoll)
Setiap manusia dapat bertahan dalam keadaan yang tidak baik — namun hanya manusia hebat yang dapat bertahan dalam kelimpahan.
Kutipan di atas menunjukkan dan membuktikan betapa hidup berkelimpahan berkat dapat menjatuhkan orang. Hanya orang yang memiliki integritas saja yang tetap dapat hidup benar di saat berkelimpahan. Orang yang berintegritas dapat tetap rendah hati dan memiliki empati terhadap lingkungan sekitarnya di saat berkelimpahan. (1 Yohanes 3:17)
Hanya orang berintegritas yang dapat menjaga hidupnya tetap benar, walaupun ia memiliki segala kemampuan dan kesempatan untuk berbuat apapun tanpa batasan-batasan lagi.
Hanya orang berintegritas saja yang tetap dapat percaya dan melekat kepada Tuhan serta menaruh harapannya kepada Tuhan, walaupun ia telah memiliki segalanya yang ia butuhkan dan inginkan. (Filipi 4:12-13)
Sebuah contoh dalam Perjanjian Lama, dapat kita temukan dalam Bilangan 11:31-35 dan juga diceritakan kembali dalam Mazmur 78. Di saat Tuhan memberikan daging yang berlimpah kepada orang Israel, orang Israel menunjukkan sifat yang membuat Tuhan murka; mereka menjadi rakus, serakah dan tidak kudus. Oleh karena itu Tuhan memukul bangsa Israel dengan tulah yang sangat besar.
Hanya orang yang berintegritas saja yang dapat tetap hidup dalam panggilan Tuhan di saat ia diberkati Tuhan dengan berkelimpahan.
– Yusuf, waktu ia dipercaya oleh Potifar untuk berkuasa atas rumah dan atas segala miliknya; tetap dapat mempertahankan kekudusan hidupnya waktu dicobai oleh Istri Potifar. (Kejadian 39)
– Walaupun diberi kuasa sebagai orang kedua atas seluruh Mesir oleh Firaun, di saat Yusuf berjumpa dengan saudara-saudaranya yang telah memperlakukannya dengan buruk, ia menerima mereka dengan baik dan memelihara hidup mereka. (Kejadian 41:41-44, 45:4-5)
Marilah kita semua bukan menjadi pengejar berkat, tetapi menjadi pengejar pribadi Pemberi Berkat itu sendiri.

image source: https://www.bible.com/bible/111/JAS.1.17.NIV

TUHAN SATU-SATUNYA KOTA BENTENG KITA

TUHAN SATU-SATUNYA KOTA BENTENG KITA

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” (Yesaya 43:2)

Di akhir jaman ini segala sesuatu sedang mengalami guncangan, termasuk Gereja sedang dimurnikan agar menjadi murid/prajurit Tuhan Yesus yang dewasa dan berintegritas. Orang Kristen yang sejati (bukan bayi rohani, sekedar pengunjung/ikut-ikutan) akan hidup berkemenangan bahkan semakin banyak berbuah (artinya menghasilkan buah berkualitas baik/ matang dalam ketekunan).

Iblis yang menyadari bahwa waktunya sudah sangat singkat sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyeret orang percaya agar gugur dari iman kepada Yesus Kristus. Akan tetapi kita yang percaya kepada Kristus telah diberikan iman yang mengalahkan dunia melalui kelahiran kembali oleh Roh Kudus. Jaminan Tuhan atas orang percaya sungguh dapat diandalkan karena Tuhan adalah satu-satunya kota benteng kita, yang menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh dengan kuasa dan integritas.

Tuhan memerintahkan agar jangan takut dan arahkan mata kita hanya kepada Dia. Jika mata kita tertuju kepada-Nya, maka kita dapat berdiri tegak dan cakap menanggung segala perkara.

“Diamlah dan ketahuilah”..jadilah tenang (rest in God’s love) dan kenali Pribadi-Nya.
Jika kita mengenal Dia dan tinggal dalam kasih-Nya, maka manusia batiniah kita dipenuhi oleh damai sejahtera yang menjadi kekuatan kita.

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau” (Yesaya 43:2).

Air, sungai dan api menggambarkan tantangan/ujian iman yang harus dilalui dalam pengikutan kita akan Tuhan.

• Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau :

Dengan kuasa-Nya, Tuhan membelah air laut dan membuatnya menjadi jalan yang kering agar orang Israel bisa melaluinya. Mukjizat-Nya sanggup membuka jalan, bahkan kalau perlu membuat/menciptakan jalan baru saat mengalami kesesakan dan tidak ada jalan keluar.
Tuhan sanggup menenggelamkan musuh, seperti Dia menenggelamkan Firaun dan pasukannya ke dalam air laut yang berbalik meliputi mereka (Kel. 15:19). Malapetaka akan ditimpakan Tuhan kepada musuh kita (Yes. 3:11).

• Atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan :

Sistem/hikmat dunia adalah seperti arus sungai yang berusaha menyeret dan menghanyutkan orang percaya untuk hidup dalam keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup. Meskipun masih hidup di dalam dunia tapi kita tidak hidup secara dunia; Roh Kudus akan menerangi hati dan pikiran kita dengan firman sehingga kita memiliki hikmat ilahi dan semua yang kita perlukan agar tidak terhanyut oleh arus dunia.

Mengambil ilustrasi seekor ikan : hanya ikan hidup yang bisa melawan arus, sementara ikan yang mati pasti akan hanyut oleh aliran sungai. Hanya orang yang rohaninya hidup (artinya dipimpin oleh Roh Kudus) yang tidak akan hanyut oleh arus dunia.

• apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau :

Kalaupun kita sedang mengalami api ujian, artinya mengalami penderitaan/penganiayaan karena iman kepada Yesus Kristus, Roh Kudus akan memberi kekuatan dan keteguhan hati untuk dapat bertahan, bersabar dalam kesesakan, bersukacita dalam pengharapan dan bertekun dalam doa.

Api yang dipanaskan 7 kali tidak membuat Sadrakh, Mesakh dan Abednego terbakar hangus, bahkan lewat Nebukadnezar, Tuhan memberikan upah kemenangan dengan menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi di wilayah Babel (Dan. 3: 27-30).
Api ujian dipakai untuk memurnikan, bukan untuk menghanguskan. Tujuannya agar kita memiliki iman berkualitas emas, (1 Pet. 4:12; 1:6-7) sehingga kita siap dipakai sebagai bejana untuk kemuliaan-Nya. Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.

Ingatlah bahwa musuh kita bukan darah dan daging, tetapi pemerintah, penguasa, penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara. Sebagai ciptaan yang baru dalam Kristus, kita sudah menjadi manusia rohani yang hidup di dalam dimensi roh, hidup oleh iman yang bekerja dalam kasih dan dalam pimpinan Roh Kudus. Firman Tuhan merupakan pedang roh yang menjadi salah satu senjata dalam peperangan kita.

Dalam dimensi roh, ada Roh Allah dan ada roh-roh lain yang berasal dari kuasa kegelapan. Roh Allah memiliki kuasa yang jauh lebih tinggi dari segala kuasa manapun, oleh sebab itu hanya Dia yang mampu melindungi kita dari serangan musuh.

“When the enemy comes in like a flood, The Spirit of the Lord will lift up a standard against him” (Isaiah 59:19b, NKJV)

Dialah kota benteng perlindungan bagi “Semua orang yang dipimpin Roh Allah.” (Roma 8:14a)
Roh Allah akan menuntun orang percaya yang taat menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu duniawi dan mengalami pendewasaan rohani.

TUJUH ROH ALLAH

“Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” (Wahyu 5:6)

Sesungguhnya ketika Roh Allah dikaruniakan kepada kita, ketujuh Roh Allah juga ada di dalam kita. Angka tujuh melambangkan kesempurnaan, sehingga angka “tujuh” dalam “ketujuh Roh Allah” pada ayat di atas tidak sedang merujuk pada Roh Allah yang berjumlah tujuh, melainkan pada kualitas Roh Allah serta karya-Nya yang sempurna dan utuh dalam kita.

“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN” (Yesaya 11:2)

1. Roh TUHAN
Adalah Pribadi Ketiga dari Allah Tri Tunggal, disembah sebagai Allah yang Esa. Roh Tuhan adalah wujud kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita, yang mengurapi, mengingatkan akan seluruh firman, menyempurnakan dan membawa pada seluruh kebenaran.

2. Roh hikmat
Memberikan pengetahuan, pemahaman yang mendalam, kebijaksanaan dan akal budi untuk dapat menimbang, membedakan, membuat pilihan/keputusan dan memimpin diri sendiri/orang lain kepada kebenaran, sehingga kita tidak disesatkan oleh tipu muslihat iblis. (Amsal 16:16; Pengkhotbah 7:12)

3. Roh pengertian
Memberikan pengertian (pewahyuan) firman, mengerti kehendak hati dan jalan-jalan Tuhan, menangkap Kairos-Nya, mengerti diri sendiri, mengerti orang lain, mengerti jaman bahkan menilai segala sesuatu. (1 Korintus 2:14-15)

4. Roh nasehat
Kemampuan untuk memberikan saran/pendapat, menasehati, memberi koreksi, mendidik, memberikan pengajaran dan arahan/instruksi sesuai kebenaran firman.

5. Roh keperkasaan
Memberikan keberanian, kekuatan, kemampaun, keteguhan hati dan ketangguhan untuk berdiri diatas kebenaran (menderita karena kebenaran), untuk melakukan panggilan/kehendak Bapa, untuk melawan intimidasi si jahat dan cakap menghadapi persoalan/tantangan,

6. Roh pengenalan
Roh pengenalan membuat kita memahami hati Tuhan sehingga hidup kita berada dalam poros kehendak-Nya.

7. Roh takut akan Tuhan
Roh takut akan Tuhan memberikan kerinduan untuk selalu menghormati, mendahulukan serta meninggikan Tuhan di atas segalanya. Membuat kita menghindarkan diri dari keinginan berbuat dosa karena takut menyakiti hati-Nya, takut untuk kehilangan keintiman dengan Tuhan dan takut untuk menyia-nyiakan kasih karunia-Nya.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Hanya orang yang memiliki pengenalan akan Tuhan secara pribadi dan mau merendahkan hati, yang bisa mengalami damai sejahtera Allah, hidup yang berkemenangan dan menghasilkan buah dalam ketekunan. Tuhan adalah satu-satunya kota benteng kita!

image source: https://www.pinterest.com/pin/564638872015877371/