Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
JANGAN MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA

JANGAN MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA

Ketika Tuhan Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya, akan tanda kedatangan-Nya dan tanda kesudahan dunia ini, maka salah satu dari tanda-tanda itu adalah ‘penyakit sampar’; yang untuk saat ini bisa kita sebutkan sebagai pandemi COVID-19. Jadi pandemi COVID-19 adalah bagian dari tanda kedatangan Tuhan Yesus kali kedua untuk menjemput gereja-Nya.
PANDEMI ADALAH SALAH SATU TANDA KEDATANGAN TUHAN YESUS
Ada yang berkata bahwa penyakit sampar sudah terjadi berulang-ulang. Pada tahun 1918-1920 terjadi wabah flu Spanyol yang menyebabkan 50 juta orang meninggal, tetapi Tuhan Yesus belum datang. Jangan-jangan setelah pandemi COVID-19 Tuhan Yesus juga tidak datang.
Mari kita lihat apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam kitab Wahyu, “Aku datang segera” sebanyak 4 kali dan“Waktunya sudah singkat, Waktunya sudah dekat” sebanyak 2 kali.
Jadi kalau 2000 tahun yang lalu Tuhan Yesus sudah berkata: “Aku datang segera”, apalagi hari-hari ini; pasti lebih segera lagi! Hati-hati! Jangan terlena dengan menjadi pengejek-pengejek yang dengan ejekannya berkata:
• Di mana janji kedatangan-Nya itu?
• Dari dulu keadaan tetap seperti ini!
• Katanya salah satu tanda adalah penyakit sampar, mana buktinya?
• Penyakit sampar sudah terjadi berulang-ulang, tetapi ternyata Tuhan Yesus belum datang…!
Jangan berkata bahwa setelah pandemi COVID-19 Tuhan Yesus pasti datang kembali. Atau jangan juga berkata bahwa setelah pandemi COVID-19 Tuhan Yesus belum juga datang.
Kita tidak tahu dengan pasti kapan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Hanya Bapa di sorga saja yang tahu. Yang penting, Tuhan Yesus berkata bahwa penyakit sampar seperti pandemi COVID-19 ini adalah bagian dari tanda kedatangan-Nya.
Tuhan Yesus menghendaki agar kita percaya bahwa Dia akan datang segera, sehingga kita akan sungguh-sungguh mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan-Nya.
Saya percaya bahwa sikap orang percaya dari zaman ke zaman yang melihat dan mengalami malapetaka, mungkin itu perang, bencana alam, termasuk penyakit sampar, akan berkata bahwa Tuhan Yesus akan segera datang.
Sebagai contoh Bapa Gereja yang bernama Cyprianus, yang adalah Uskup Gereja Kartago pada zaman kekaisaran Romawi, yang mengalami pandemi pada tahun 250-271 Masehi.
Pada saat itu di Roma saja sekitar 5.000 orang meninggal setiap hari.
Cyprianus menyebutkan bahwa pandemi tersebut sebagai akhir zaman. Memang ini terbukti keliru. Akan tetapi dari sisi yang lain, keyakinannya bahwa ini adalah akhir zaman justru membuat terjadinya kebangunan rohani. Gereja terlibat dalam pelayanan sosial – diakonia yang dahsyat. Melihat itu, banyak orang menjadi percaya dan Gereja berkembang pesat.
Jadi, pada setiap zaman, seolah-olah Tuhan menciptakan situasi apakah itu perang, bencana alam, kelaparan, termasuk penyakit sampar, agar perkataan Tuhan Yesus ‘Aku datang segera’ itu selalu ada di dalam hati orang percaya, sehingga mereka selalu dalam kondisi berjaga-jaga dan melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus, maka penuaian jiwa besar-besaran terjadi.
Demikian juga dengan adanya pandemi COVID-19 ini, Tuhan menghendaki Gereja-Nya yaitu kita semua bergerak menyelesaikan Amanat Agung sebelum Tuhan Yesus datang kembali..
Hari-hari ini, pesan Tuhan kepada kita adalah kembali kepada kasih mula-mula. Ingat, kita adalah calon mempelai wanita dari Kristus. Sang Mempelai Pria akan datang segera untuk menjemput kita. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan kembali kepada kasih mula-mula.
PENTINGNYA KASIH MULA-MULA
Dalam Wahyu 2:1-7, Tuhan Yesus berkata kepada jemaat di Efesus bahwa jemaat di Efesus rajin, tekun, tidak dapat sabar terhadap rasul palsu, tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku, tidak mengenal lelah, membenci perbuatan-perbuatan pengikut Nikolaus yang juga Aku benci.
Pengikut Nikolaus mengajarkan bahwa percabulan tidak akan mempengaruhi keselamatan seseorang dalam Kristus. Ini adalah pengajaran sesat karena kitab Perjanjian Baru mengatakan hal yang sebaliknya yaitu bahwa orang yang hidup dalam percabulan tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Korintus 6:9-10) Kalau kita melihat ini, saya berkata bahwa jemaat Efesus ini jemaat yang luar biasa. Akan tetapi Tuhan Yesus melanjutkan dengan berkata:
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.
Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.”
Kesimpulan dari pesan Tuhan kepada jemaat di Efesus yang juga berarti buat kita semua adalah apa pun yang kita lakukan untuk melayani pekerjaan Tuhan, kalau tidak didasarkan kepada kasih mula-mula, maka Tuhan Yesus akan berkata: “Betapa dalamnya engkau telah jatuh.” Dan kita harus bertobat. Kalau kita tidak bertobat Tuhan akan mengambil kaki dian kita. Kasih mula-mula adalah kasih yang kita miliki pada saat kita baru bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Pada saat itu kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan kita. Dari dalam hati mengalir aliran air sumber hidup.
Mari masuk hadiratNya dengan berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, membaca Alkitab, hidup kudus, dan melayani Tuhan.
Ku cinta Kau Yesus; Hanya Engkau bagiku Yesus
Sungguh ku rindu mengatakannya; Betapa aku mengasihi-Mu

Engkau Allah dan Rajaku; Kekasih dalam hidupku
Engkau s’galanya bagiku; Kubersyukur kepada-Mu
PROSES KESELAMATAN
Kalau kita melihat proses keselamatan, maka proses tersebut terdiri dari 3 tahap.
a. Tahap yang pertama adalah proses Justification yang artinya pembenaran. Pada proses pertama ini kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Kita mengalami kelahiran baru dan mengalami kasih mula-mula.
b. Tahap yang kedua adalah proses Sanctification yang artinya pengudusan. Dalam proses ini kita akan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus dan Firman Allah sehingga kita menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu menjadi murid Tuhan Yesus.
c. Tahap yang ketiga adalah proses Glorification yang artinya pemuliaan atau pengangkatan. Dalam proses yang ketiga kita akan mengalami pemuliaan atau pengangkatan. Yang diangkat adalah mereka yang berubah menjadi serupa dengan gambar Yesus, yaitu murid Tuhan Yesus.
Pada waktu memasuki tahapan Sanctification atau pengudusan ini, dengan berbagai macam alasan kualitas kasih kita kepada Tuhan yang tadinya penuh dengan kasih mula-mula bisa berubah menjadi seperti yang terjadi pada jemaat di Efesus. Tetapi melalui pengudusan secara terus menerus oleh Roh Kudus dan Firman Allah juga disertai dengan proses yang menyakitkan, saya kembali kepada kasih mula-mula sampai dengan hari ini. Haleluya!
Saya akan bertanya kepada Saudara bagaimana kualitas kasih Saudara kepada Tuhan? Saya mau mengajak Saudara untuk melihat kualitas kasih kita kepada Tuhan melalui kitab Kidung Agung.
MENGASIHI TUHAN
Kitab Kidung Agung merupakan satu-satunya kitab di Alkitab yang khususnya membahas kasih yang unik di antara 2 orang mempelai, yaitu antara Salomo dengan gadis Sulam, yang dipercaya bahwa dia adalah istri pertama dari Salomo.
Beberapa nats penting dalam Perjanjian Baru melukiskan kasih Kristus bagi Gereja-Nya dengan memakai hubungan pernikahan. Kitab Kidung Agung dapat dipandang sebagai melukiskan kasih yang ada di antara Kristus dengan mempelai-Nya yaitu Gereja-Nya, yaitu kita-kita ini.
Sama halnya dengan iman kita yang harus bertumbuh, demikian juga kualitas kasih kita kepada Tuhan harus bertumbuh. (Efesus 4:15)
Secara sederhana, kitab Kidung Agung ini menggambarkan 3 tingkat kualitas kasih, dan ini juga menunjukkan tingkatan kualitas kasih kita dengan Tuhan.
1. Tingkat Pertama – Kasih yang Egois
Dalam Kidung Agung 2:16 tertulis: “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia…” Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa berkata: “Tuhan milikku, dan aku miliknya Tuhan.” Kualitas kasih yang pertama ini bisa dikatakan adalah kasih yang egois.
Karena yang dikedepankan itu ‘Tuhan milikku, baru aku milik Tuhan’, maka yang selalu dipikirkan hanya soal diberkati. Kasih ini selalu berkata: “Karena Tuhan milikku, berkatilah aku Tuhan.” Di level ini, jarang orang bertanya kepada Tuhan tentang apa kehendak Tuhan dalam setiap rencana atau langkah yang akan dia lakukan. Jadi, kalau dia punya rencana, dia langsung akan minta supaya Tuhan memberkati.
Biasanya jarang menyinggung tentang apa yang harus kita lakukan untuk melayani Tuhan.
2. Tingkat Kedua – Kasih yang Bersyarat
Dalam Kidung Agung 6:3 tertulis:
”Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku…” Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa berkata: “Aku milik Tuhan, Tuhan milikku.”
Kualitas kasih yang kedua ini bisa dikatakan sebagai kasih bersyarat. Motto nya: “Aku milik Tuhan, Tuhan adalah milikku.” Sekarang yang dikedepankan adalah ‘aku milik Tuhan’, baru setelah itu ‘Tuhan adalah milikku’. Berarti mulai ada suatu peningkatan.
Di level ini orang percaya mulai mempertimbangkan tentang melayani Tuhan, tetapi dengan syarat; yaitu supaya diberkati Tuhan. Jadi, motivasi mau melayani karena mau diberkati Tuhan.
3. Tingkat Ketiga – Kasih yang Tidak Egois
Dalam Kidung Agung 7:10 tertulis: “Kepunyaan kekasihku aku,..”
Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita hanya berkata: “Aku milik Tuhan.“ Tingkat kualitas kasih yang ketiga inilah yang disebutkan kasih yang tidak egois. Kasih yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Ini adalah kasih yang semula. “AKU MILIK TUHAN”. Mereka yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
o Aku adalah milik Tuhan, bukan milikku sendiri. (1 Korintus 6:19-20).
o Aku adalah milik Tuhan. Aku sudah dibeli. Dan harganya telah lunas dibayar.
Aku dibeli dengan harga yang mahal yaitu dengan darah Yesus. (Wahyu 5:9)
o “Jika aku hidup. Aku hidup untuk Tuhan. Dan jika aku mati, aku mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, aku adalah milik Tuhan.” (Roma 14:8)
MEMILIKI KASIH MULA-MULA
Ekspresi dari orang yang memiliki kasih mula-mula di dalam hidupnya adalah:
1. Hidup bagi Kristus
Mereka yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Galatia 2:20)
2. Tidak Memprioritaskan Berkat
Orang yang memiliki kasih mula-mula sudah tidak memikirkan lagi tentang diberkati atau tidak diberkati oleh Tuhan. Yang paling penting adalah hidup menyenangkan hati Tuhan, melakukan kehendak Tuhan. Seperti Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”
Makanan adalah sesuatu yang sangat vital dalam hidup ini. Mendapatkan makanan adalah motivasi manusia dalam bekerja. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting dalam hidup ini, artinya fokus hidup kita; adalah melakukan kehendak Bapa, bukan kepada makanan, meskipun makanan itu perlu.
3. Bergairah Melayani Tuhan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan melayani Tuhan seperti yang terdapat Roma 14:17-18, yang berkata,
”Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barang siapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia.”
4. Mensyukuri Kasih Setia Tuhan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan selalu berkata: “Sebab Engkau baik. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Mu.” (Mazmur 118:1)
5. Tetap Beriman dalam Segala Keadaan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
“Aku tidak takut sebab Tuhan menyertai aku. Aku tidak bimbang sebab Tuhan adalah Allahku. Tuhan akan meneguhkan aku bahkan akan menolong aku. Tuhan akan memegang aku dengan tangan kanan-Nya yang membawa aku kepada kemenangan.” (Yesaya 41:10)
Orang yang memiliki kasih mula-mula dalam masa pandemi COVID-19 ini akan tetap percaya kepada janji Tuhan dan terus memperkatakannya.
6. Melaksanakan Amanat Agung
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
o “Tuhan, saya mau menyelesaikan Amanat Agung dengan kuasa Roh Kudus yaitu Pentakosta yang Ketiga.”
o “Tuhan, saya berjanji untuk memakai mulut ini hanya berbicara tentang firman Tuhan, bukan yang lain-lain.”
7. Melakukan Firman Tuhan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan melakukan firman Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati Saudara sekalian. Amin.

image source: https://scripturetype.com/ephesians-4-15

BERJAGA – JAGALAH

BERJAGA – JAGALAH

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25:13
Di dalam injil Matius 25:1-13 kita dapat membaca tentang Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan mengenai apa yang akan terjadi ketika Yesus datang kembali. Yesus menggunakan sebuah ilustrasi dari suatu proses tradisi perkawinan orang Yahudi.
Pada masa itu, ada tiga tahap dalam proses perkawinan dalam tradisi orang Yahudi.
1. Perjodohan, yaitu perjanjian ikatan resmi yang dilakukan oleh orang tua dari pihak pria dan wanita.
2. Pertunangan, yaitu upacara di mana diadakan ikatan janji dari kedua belah pihak.
3. Pernikahan, di mana saat mempelai pria datang untuk menjemput mempelai wanita untuk melakukan pesta perjamuan kawin.
Dalam perumpamaan ini, dua tahap pertama sudah dilaksanakan, dan waktunya sudah hampir tiba untuk melakukan tahap terakhir. Namun saat yang pasti kapan mempelai pria datang tidak diketahui. Ia bisa datang kapan saja. Hal inilah yang kemudian menjadi fokus dalam perumpamaan tersebut.
Tuhan Yesus menyebutkan adanya sepuluh gadis yang diberikan tugas untuk menyambut mempelai pria ketika ia datang untuk hadir dan bertemu dengan mempelai wanita dalam pesta perjamuan kawin.
Lima diantara gadis tersebut mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Mereka membawa pelita dan juga minyak dalam buli-buli sebagai persediaan. Walaupun masa-masa untuk melakukan perjamuan kawin sudah tiba, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan tepatnya mempelai pria akan datang. Bisa saja mempelai pria datang di tengah malam saat mereka tertidur. Tuhan Yesus menyebut gadis-gadis yang mempersiapkan diri mereka dengan sungguh-sungguh sebagai gadis-gadis yang bijaksana.
Namun lima gadis yang lainnya tidak mempersiapkan pelita mereka dengan sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba ada suara-suara yang mengumandangkan bahwa mempelai pria segera datang menjemput mempelai wanita. Pada saat itulah kelima gadis yang oleh Yesus disebut gadis-gadis yang bodoh, sadar bahwa pelita mereka hampir padam dan mereka tidak memiliki cadangan minyak. Barulah mereka berusaha untuk mendapatkan minyak. Tetapi sudah terlambat.
Ketika mereka sedang pergi untuk membeli minyak, mempelai pria tiba. Mereka yang sudah siap, yaitu gadis-gadis bijaksana, ikut masuk untuk mengikuti perjamuan kawin. Dan pintu pun ditutup. Setelah itu barulah kelima gadis lainnya tiba, Tetapi pintu sudah ditutup.
Mereka berseru-seru “Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!” Tetapi tuan itu menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu”. Yesus menutup perumpamaan tersebut dengan sebuah peringatan: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25:11-13
Jika kita teliti perumpamaan tersebut, apa yang dimaksud dengan berjaga-jaga dalam perumpamaan ini. Dalam kisah tersebut kesepuluh gadis tersebut semuanya tertidur ketika mereka menunggu mempelai pria datang (ay 5).
MAKNA BERJAGA-JAGA
1. Menyadari Siapakah Tuhan itu dan Bagaimana Seharusnya Sikap Kita di Hadapan Dia
Dalam perumpamaan tersebut mempelai pria melambangkan Tuhan Yesus yang akan datang kembali sedangkan sepuluh gadis itu melambangkan orang percaya (tubuh Kristus) yang menantikan kedatangan-Nya.
Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh kasih dan sudah membuktikan kasih-Nya itu lewat kerelaan-Nya untuk menebus dosa kita lewat kematian-Nya di kayu salib. Ketika kita percaya kepada-Nya kita akan diselamatkan. Namun kita juga harus menyadari, bahwa Ia juga Tuhan yang Mahakuasa, Pencipta seluruh alam semesta yang memiliki otoritas yang tertinggi. Tuhan layak untuk dihormati dan apa yang Dia perintahkan layak untuk ditaati. Hal ini kita perlihatkan melalui sikap kita kepada Dia. Jika kita memang mengatakan bahwa kita menghormati dan taat kepada Dia maka kita tidak akan menganggap enteng dan meremehkan Firman-Nya.
Dengan mempersiapkan pelita dan juga minyak sebagai persiapan, gadis-gadis yang bijaksana memperlihatkan bahwa mereka menghormati mempelai pria yang akan datang. Hal yang sama berlaku bagi kita orang percaya. Jika kita sungguh-sungguh mengerti siapakah Tuhan sebenar-Nya, maka kita akan dengan sungguh-sungguh menghormati Dia dengan cara sungguh-sungguh memperhatikan Firman-Nya.
Yesus mengatakan bahwa Dia pasti akan datang kembali dan tidak seorangpun mengetahui dengan pasti kapan Ia akan datang. Bagaimanakah sikap kita dalam menanggapi hal tersebut? Apakah kita menanggapi dengan cara sungguh-sungguh mempersiapkan hidup kita? Atau secara tidak sadar kita sudah meremehkan Dia dengan tidak mengindahkan perkataan-Nya.
Hal ini dapat terjadi pada saat kita bersikap tawar atau masa bodoh terhadap janji kedatangan-Nya. Rasul Petrus memperingatkan kita ketika ia menulis:
“Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.
Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.”” 2 Petrus 2:3-4
Jangan sampai kita lupa bahwa Tuhan Yesus memiliki otoritas untuk menutup pintu sehingga walaupun orang berusaha sekuat apapun, tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk membuka pintu tersebut. Semua sudah terlambat. Hal ini terjadi karena seperti lima gadis bodoh tersebut, mereka meremehkan Sang Mempelai Pria, Tuhan Yesus Kristus.
2. Menyadari dengan Sungguh-sungguh akan Tanggung jawab yang Diberikan kepada Kita
Sebagai orang percaya kita sudah menerima keselamatan lewat kasih karunia. Sekarang kita bukan lagi seteru, sebaliknya sekarang kita adalah sekutu Allah. Kita sudah dibebaskan dari perhambaan dosa, namun sekarang kita menjadi hamba dari Tuhan Yesus Kristus.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20
Sebagai hamba, tugas kita adalah melakukan apa yang menjadi kehendak dan perintah-Nya. Hal ini digambarkan dalam perumpamaan ini lewat tugas yang harus dilakukan oleh kesepuluh gadis tersebut yaitu menantikan kedatangan sang mempelai pria. Mereka sudah diberikan sebuah tugas, oleh karena itu mereka harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan tersebut diperlihatkan dengan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar tugas tersebut bisa dilaksanakan dengan baik.
Gadis-gadis bijaksana mempersiapkan buli-buli berisi minyak lebih dari yang diperlukan, sementara itu gadis-gadis yang bodoh sepertinya sudah melakukan tugasnya. Mereka juga membawa pelita, tetapi mereka tidak mempersiapkan minyak. Hal ini kelihatan-Nya sepele, tetapi ternyata memiliki konsekuensi yang serius, karena pada akhirnya mereka tidak dapat ikut dalam pesta perjamuan kawin.
Dalam ayat-ayat berikutnya (Matius 25:14-30), Tuhan Yesus juga memberikan sebuah perumpamaan mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali. Perumpamaan tersebut adalah mengenai hamba yang dipercayakan untuk melipatgandakan talenta mereka. Kepada hamba-hamba yang melipatgandakan talenta, yaitu mereka yang memandang serius tanggung jawab yang diberikan kepada mereka, tuan itu berkata:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:21,23
Kepada hamba-hamba yang bertanggung jawab melakukan tugas mereka, Tuhan berkata bahwa mereka akan ikut masuk dalam kebahagiaan Tuhan.
Namun hamba yang diberikan satu talenta tidak melipatgandakannya, dengan mengubur talenta tersebut, hamba tersebut pada dasarnya menyepelekan tugas yang diberikan kepada-Nya. Bagi hamba tersebut pintu tertutup; bahkan tuan itu berkata:
“Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Matius 25:30
3. Memastikan Bahwa Kita Dikenal oleh Tuhan
Ketika lima gadis yang bodoh itu kembali dari membeli minyak, mereka mendapati bahwa pintu sudah tertutup. Mereka berteriak memohon agar mempelai pria membukakan pintu. Namun ada jawaban dari dalam yang berkata:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” Matius 25:12
Apakah artinya ketika mempelai pria itu berkata ‘Aku tidak mengenal kamu’? Tuhan Yesus pernah mengatakan hal yang serupa mengenai hal ini.
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23
Tentunya hal ini bukan berarti Tuhan Yesus tidak tahu siapa mereka, namun Yesus tidak mengenali mereka sebagai murid-Nya. Tuhan tidak mengakui mereka sebagai pengikut-Nya. Walaupun secara lahiriah mereka melakukan hal-hal yang kelihatannya rohani, namun mereka adalah orang asing secara rohani. Selama tiga tahun lebih Yudas Iskariot mengikuti Yesus, belajar dari Yesus, melayani bersama Yesus bahkan hidup bersama-sama Yesus. Tetapi sebenarnya ia didorong oleh kepentingannya sendiri. (Yohanes 12:6)
Orang yang dikenal Allah adalah mereka yang sungguh-sungguh menyerahkan segala aspek kehidupan-Nya, baik pikiran, perasaan dan keinginannya kepada pikiran, perasaan dan keinginan Allah.
“Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1 Korintus 8:3
Kembali kepada kelima gadis bodoh dalam perumpamaan tersebut. Tuhan sedang berkata kepada mereka bahwa Ia tidak melihat dalam hidup mereka ada indikasi yang memperlihatkan bahwa mereka berjaga-jaga, yaitu:
1. Menghormati Dia dan tidak meremehkan Dia,
2. Bertanggung jawab dan setia melakukan kehendak-Nya.
3. Memperlihatkan bahwa mereka mengasihi Dia dan meninggalkan kejahatan dalam hidupnya.
Jadilah seperti gadis-gadis bijaksana, yang berjaga-jaga senantiasa. Amin

image source:https://seedsofscripture.com/

HOW TO UNLOCK YOUR DESTINY

HOW TO UNLOCK YOUR DESTINY

October theme.
HOW TO UNLOCK YOUR DESTINY
Kalau kita berbicara tentang Destiny, sebagian orang mengira ini sama dengan nasib atau takdir. Mari kita lihat arti masing-masing menurut pengertian Firman Tuhan. Kata “nasib” atau “takdir” biasa di pakai saat seseorang menggambarkan sesuatu kemalangan atau keberuntungan, sebagai sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Bila kita tinjau lebih jauh di dalam Alkitab tidak ada “nasib mujur” ataupun “nasib sial”. Yang ada adalah berkat dan kutuk.
Berkat bila seseorang taat melakukan Firman dan kutuk bagi orang yang tidak melakukan Firman (Ulangan 28). Bahkan Firman Tuhan berkata, Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidup berkenan kepadaNya (Mazmur 37:23). Dan Tuhan berjanji akan memulihkan/mengembalikan tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang. (Yoel 2:25)
Dalam kehidupan yang pasrah dengan nasib berarti hidup yang putus asa dan tidak ber pengharapan. Sedangkan di dalam Yesus selalu ada pengharapan baru. Apakah kita mau hidup terima nasib atau percaya kepada FirmanNya? Pilihan ada di tangan kita. Melalui tema bulan ini yang di peroleh melalui gembala kita, Tuhan mau menunjukan jalan bagi kita untuk hidup dalam “Destiny” Nya yang sudah di tetapkan sebelum dunia di jadikan. Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Bagaimana caranya? Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.” (Yesaya 40 : 3-5)
Destiny adalah suatu perjalanan yang telah disiapkan untuk dilewati oleh seseorang agar mencapai tujuan akhir, yang sesuai dengan rancangan Allah. Jika kita berjalan dalam destiny, maka Tuhan akan membuat hidup kita berhasil serta berdampak besar bagi orang banyak. Orang percaya di akhir jaman mempunyai tugas yaitu mempersiapkan jalan bagi Tuhan sehingga kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan menyaksikannya bersama-sama.
Segala sesuatu diciptakan Allah dengan maksud dan tujuan tertentu, demikian pula manusia diciptakan untuk hidup sesuai dengan tujuan Tuhan. Rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer. 29:11).
Mungkin sejak dulu kita sudah memiliki cita-cita, kerinduan dan tujuan yang ingin dicapai. Lalu apakah penting dan menjadi keharusan untuk kita mengetahui cita-cita, kerinduan dan tujuan yang Tuhan tetapkan atas hidup kita ? Jawabannya adalah sangat penting sekali, karena hidup kita bukan milik kita lagi tetapi milik Kristus. Pernahkah menyadari bahwa semua yang kita lakukan bila tidak berhubungan dengan Tuhan itu akan sia-sia? Tentu kita tidak ingin semua jerih payah kita menjadi sia-sia,bukan?
Renungkanlah hal ini : bila kita memiliki tujuan ke suatu tempat, namun apa yang kita lakukan tidak mengarah kepada tujuan tersebut. Apakah kita akan tiba pada tujuan? Jawabannya pasti “tidak”. Demikian juga sebagai orang percaya yang mewarisi Kerajaan Allah dan kehidupan kekal, bila apa yang kita lakukan, kerinduan dan cita-cita pribadi kita tidak mengarah pada tujuan ilahi maka sia-sialah jerih payah kita.
Bagaimana caranya membuka kunci (to unlock) atau mengaktifkan destiny kita dan hidup di dalamnya ?
yaitu dengan menyelaraskan cita-cita /tujuan pribadi searah dengan kehendak Tuhan.
1) Kembali kepada Tuhan
Kembali kepada Tuhan ditandai dengan pertobatan/repentance.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh. 1:9).
Dalam bahasa Yunani, kata bertobat memiliki dua jenis kata yaitu metamelomai dan metanoia. Metamelomai berarti menyesal (to regret atau to repent oneself). Seorang yang menyesal belum tentu bertobat. Pertobatan sejati ditunjukkan oleh perubahan pikiran (Metanoia).
Metanoia terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya “berubah” (change) dan nous yang artinya “pikiran” (mind). Kata inilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran. Metanoia/ pertobatan sejati tentu akan mengubah bukan saja perilaku seseorang tetapi juga seluruh prinsip hidupnya, dan akhirnya tujuan hidupnya pun akan berubah menjadi seperti yang Allah kehendaki.
Dalam Mat. 21:28-32, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang dua anak. Yang sulung diperintahkan untuk pergi dan bekerja dalam kebun anggur. Dia menjawab ‘ya’ tetapi tidak pergi. Anak yang ke dua menjawab ‘tidak mau’ tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan perintah ayahnya. Di antara ke dua orang tersebut, yang melakukan kehendak ayahnya adalah anak yang ke dua. Dia menyesal dan berubah pikiran kemudian melakukan perintah ayahnya.
Pertobatan seperti ini yang Tuhan kehendaki dari setiap kita, bukan hanya berkata ‘ya’ di mulut, ataupun sekedar menyesal tetapi tidak merubah pikiran serta tindakan.
Merubah pikiran -> perubahan tindakan -> perubahan kebiasaan -> perubahan karakter -> Menyesuaikan arah kehidupan dengan destiny yang Tuhan telah sediakan sebelumnya. Firman-Nya dalam Yesaya 43:18-21: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku”.
Siapa kita sehingga di pilih Tuhan untuk memberitakan kemashyuranNya? Kita adalah orang percaya yang dibenarkan oleh iman seperti Abraham. Roma 4:18-24, :”Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. ” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati.”
Bersambung minggu depan…

image source: https://bibleversestogo.com/products/jeremiah-29-11-rainbow-mug

DIMENSI YANG BARU DALAM HAL PENGAMPUNAN.

DIMENSI YANG BARU DALAM HAL PENGAMPUNAN.

Keempat Injil dalam Alkitab mencatat peristiwa penyaliban yang dialami oleh Tuhan Yesus. Catatan-catatan yang tertulis dalam keempat Injil ini semuanya saling melengkapi satu dengan lainnya, sehingga pembaca Injil mendapatkan gambaran yang jelas mengenai peristiwa penyaliban Tuhan Yesus dalam rencana penyelamatan manusia. Tidak ada satu pun yang saling bertentangan satu sama lainnya.
Salah satu yang menarik adalah terlihat seolah-olah ada perbedaan antara Matius dan Lukas yang mencatat adanya perbedaan sikap yang ditunjukkan oleh kedua penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
· Dalam Matius 27:44 tercatat:“Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.”
· Sedangkan dalam Lukas 23:39-41 tercatat: “Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”. Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”
Matius mencatat kedua penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus mencela Dia, sedangkan Lukas mencatat salah satu penjahat mencela sedangkan penjahat lainnya menyatakan hal yang sebaliknya. Secara sepintas lalu hal ini sepertinya berbeda dan bertentangan satu dengan yang lainnya. Dan bagi beberapa orang perbedaan ini membuat mereka menyatakan bahwa Alkitab se olah-olah ber tentangan.
Ketika kita mempelajarinya lebih dalam, maka kita mengerti bahwa baik Matius maupun Lukas tidak bertentangan dalam mencatat peristiwa penyaliban Tuhan Yesus. Perbedaan ini terjadi karena kedua peristiwa itu memang adalah dua peristiwa dengan timing yang berbeda.
· Matius 27:44 adalah peristiwa yang pertama, dan
· Lukas 23:39-41 adalah peristiwa yang kedua, yang berikutnya terjadi.
Pada awalnya kedua penjahat tersebut memang mencela Yesus, tetapi kemudian terjadi perubahan; di mana salah satunya menyadari sesuatu hal dan akhirnya berubah dari mencela menjadi “membela” Yesus. Bahkan dalam ayat-ayat berikutnya, Lukas mencatat perubahan dan pertobatan salah satu penjahat tersebut dan pengakuannya akan Yesus sebagai Raja yang akhirnya membuat dia menerima janji keselamatan yang pasti.
Lukas 23:42-43, “Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Point penting yang harus diperhatikan adalah apa yang membuat salah satu dari kedua penjahat itu mengalami perubahan dari mencela menjadi membela dan akhirnya mendapat keselamatan. Perubahan ini terjadi setelah dia mendengar Tuhan Yesus berkata:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:33-44)
Perubahan itu terjadi ketika pengampunan dilepaskan Yesus justru di tengah penderitaan-Nya yang luar biasa di dalam proses penyaliban yang mengerikan itu.
Semua orang yang disalib karena perbuatannya yang tidak terampuni lagi secara hukum akan mengatakan perkataan-perkataan yang kasar dan jahat. Sumpah serapah, hujatan, makian kemarahan dan perkataan lain yang sangat tidak baik akan dikatakan oleh orang yang disalibkan. Karena salib adalah sebuah hukuman yang paling berat pada zaman itu dan penderitaan yang dialami bukan saja secara jasmani, tetapi juga secara jiwani.
· Secara fisik, penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus jauh lebih berat daripada biasanya. Cambuk yang dipakai untuk menyiksa Tuhan Yesus, sebagai contoh, bukanlah cambuk yang biasa dipakai untuk menyesah orang sebelum disalibkan. Cambuk yang dipakai untuk menyesah Yesus ujungnya adalah benda-benda tajam seperti duri atau serpihan besi yang tajam sehingga ketika dicambukkan ke punggung Yesus bukan hanya membuat luka luar saja, tetapi sampai merobek kulit dan mencabik daging punggung-Nya, sehingga terjadi luka yang sangat dalam.
· Belum lagi penderitaan secara jiwa karena pengkhianatan, ejekan, cemoohan, hinaan yang diterima-Nya. Juga penderitaan secara rohani ketika Tuhan Yesus ditinggalkan sementara waktu oleh Bapa karena dosa seluruh umat manusia yang harus ditanggung-Nya.
Matius 27:46, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Dalam penderitaan yang sehebat itu, ternyata Yesus justru melepaskan perkataan pengampunan dan perkataan kasih kepada orang-orang yang melakukan penyesahan yang hebat atas diri-Nya. Hal inilah yang menjadikan salah satu penjahat tersebut yakin bahwa Yesus disalib bukan karena perbuatan-Nya.
Lukas 23:41,“Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”
Kemudian keluarlah ucapan pengakuan dan pertobatannya. Keteladanan agung dari Tuhan Yesus mengajarkan bahwa pengampunan menghasilkan pertobatan yang membawa kepada keselamatan. Kuasa pengampunan ini pun akan terjadi ketika orang yang percaya kepada-Nya melakukan hal yang sama seperti yang Yesus lakukan yaitu ketika mengampuni orang lain yang bersalah.
Matius 6:14, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.”
Pengampunan yang kita berikan kepada orang lain akan menghasilkan pengampunan bagi diri kita sendiri bahkan bagi orang lain yang mengalami pengampunan itu baik langsung maupun tidak langsung. Pengampunan menghasilkan keselamatan, itulah dimensi baru mengenai pengampunan.
Pengampunan itu tidak mudah, tetapi tidak mustahil
Mengampuni memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Manusia lebih mudah untuk membalas dan melampiaskan dendamnya daripada mengampuni. Itulah sebabnya, untuk bisa mengampuni, kita harus terlebih dahulu menerima pengampunan dan kasih Kristus yang mengandung kuasa untuk mengubah hati dan pikiran kita.
Mengampuni memang bukan syarat keselamatan, tetapi harus disadari bahwa mengampuni adalah bukti bahwa kita sudah menerima keselamatan dan sudah mengalami kelahiran baru.
2 Korintus 5:17 mencatat,
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Orang yang sudah ada di dalam Kristus adalah orang yang sudah mengalami pembaharuan melalui kasih dan kuasa-Nya. Artinya, sekalipun sulit, orang yang sudah ada dalam Kristus sudah mengalami perubahan dari manusia lama yang selalu ingin membalaskan dendamnya; menjadi manusia baru yang memiliki kuasa dalam hal melepaskan pengampunan.
Bahkan 1 Yohanes 3:14 berkata,
“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.”
Ayat ini mengajarkan; tanda bahwa kita sudah pindah dari dalam maut ke dalam ‘hidup’ adalah ketika kita bisa mengasihi orang lain. Keselamatan dalam Kristus pasti membawa perubahan dalam kehidupan seseorang. Kasih dan pengampunan dari Kristus memampukan seseorang untuk mengampuni dan mengasihi orang lain.
Bagaimana bisa mengampuni?
Perlu kita ketahui bahwa pengampunan adalah sebuah keputusan dan bukanlah perasaan. Pengampunan adalah sebuah tindakan yang dimulai dari kehendak dan kemauan yang tidak tergantung dari perasaan. Kehendak dan kemauan yang dihasilkan oleh kuasa Roh Kudus dalam hati seorang percaya yang telah menerima pengampunan dan keselamatan dalam Kristus.
Mentaati Firman Tuhan lahir dari sebuah keputusan untuk mau melakukan kehendak Tuhan, dan tidak bergantung sama sekali dari perasaan. Seharusnya yang terjadi dalam
hati seorang percaya adalah perasaan yang mengikuti keputusan; bukan keputusan yang mengikuti perasaan.
Beberapa alasan yang menghambat seseorang untuk bisa mengampuni adalah:
· Kesalahannya terlalu besar
Menganggap bahwa luka hati karena perkataan atau tindakan seseorang terlalu besar dan tidak bisa disembuhkan, apalagi dilupakan.
Sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa yang tidak terbatas. Hal ini berarti, Tuhan Yesus sanggup memulihkan dan menyembuhkan luka hati sedalam apapun. Ketika kita mengatakan bahwa luka yang dialami terlalu dalam berarti kita sedang membatasi kuasa Tuhan.
Ingatlah, pikiran adalah medan peperangan rohani di mana si jahat membangun benteng keragu-raguan akan Firman Tuhan untuk mencegah seseorang mengalami kuasa Tuhan.
· Waktu akan menyembuhkan
Menganggap seiring berjalannya waktu maka luka hati akan sembuh dengan sendirinya. Luka hati harus dibereskan di hadapan Tuhan melalui iman. Luka hati yang dibiarkan akan berkembang dan mengakar menjadi akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. (Ibr 12:15)
· Yang bersalah meminta maaf. Mau mengampuni asalkan yang bersangkutan meminta maaf.
Apa yang terjadi seandainya orang yang bersalah kepada kita tidak mau atau tidak sempat minta maaf? Apakah kita tidak akan melepaskan pengampunan? Akhirnya kita sendiri yang menanggung semua konsekuensinya.
· Pengampunan identik dengan toleransi
Menganggap jika diampuni, maka yang bersangkutan akan melakukan perbuatannya lagi. Sadarilah bahwa seseorang bisa berubah karena kuasa Tuhan. Jangankan untuk mengubah orang lain, kita sering mengalami kesulitan untuk mengubah diri sendiri. Ketika kita melepaskan pengampunan maka pada saat itu kita juga melepaskan kuasa Tuhan yang akan mengubah seseorang.
· Menyerahkan kepada Tuhan
Alasan yang dipandang rohani, yaitu menyerahkannya kepada Tuhan. Kelihatannya seperti rohani, padahal maksudnya adalah ingin melihat pembalasan yang terjadi atas orang yang menyakiti kita.
Amsal 20:22 berkata, “Janganlah engkau berkata: “Aku akan membalas kejahatan,” nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau.” Alasan ini hanyalah untuk memuaskan dendam, bukan alasan rohani yang berkenan di hadapan Tuhan.
Jika kita mau mengampuni maka hal itu adalah sebuah keputusan untuk taat kepada Firman Tuhan dan menjadikan hati dan pikiran kita benar di hadapan Tuhan. Pengampunan membuat orang percaya mengalami kebebasan dan kemerdekaan dari beban dan ikatan dendam; dan akan mendatangkan perasaan damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus yang melimpah dalam hati.
Tuhan Yesus mengajar bahwa orang percaya adalah seumpama orang yang sudah dibebaskan dari hutang sepuluh ribu talenta dan diminta mengampuni saudaranya yang berhutang seratus dinar.
Sebagai perbandingan, Satu talenta diperkirakan adalah upah kerja selama lima belas tahun sedangkan satu dinar adalah upah untuk bekerja satu hari lamanya. (15X365X10.000): (1×100)=54.750.000:100=547.500:1.
Orang percaya sebenarnya sudah mengalami penebusan dan kebebasan dari dosa-dosanya yang sangat besar terhadap Tuhan, lalu diminta mengampuni kesalahan kecil sesamanya.
Di sini kita menemukan alasan untuk mengampuni, yaitu karena kita sendiri sudah menerima pengampunan yang jauh lebih besar atas dosa-dosa kita. Itu sebabnya kita harus mengampuni tanpa batas dan tanpa syarat.
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Matius 18:21-22) Amin

image source:https://www.pinterest.com/pin/487585097155883901/

FENOMENA KEBANGKITAN DOA ADALAH TANDA-TANDA PENTAKOSTA KETIGA

FENOMENA KEBANGKITAN DOA ADALAH TANDA-TANDA PENTAKOSTA KETIGA

Dalam Kisah Para Rasul 15:15-18, tertulis bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dan merestorasi Pondok Daud yang telah roboh. Untuk apa Tuhan Yesus merestorasi Pondok Daud?
• Supaya semua orang mencari Tuhan
• Dan segala bangsa yang disebut milik Tuhan mencari Tuhan.
Ini berarti tujuan Tuhan Yesus merestorasi Pondok Daud supaya terjadi penuaian jiwa besar-besaran. Apa yang dimaksudkan dengan Restorasi Pondok Daud?
• Dalam 25 tahun yang pertama, sejak tahun 1988, pengertiannya adalah: Doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam.
• Dalam 25 tahun yang kedua pengertiannya adalah: Prajurit-prajurit Tuhan yang gagah perkasa yang mempunyai gaya hidup berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam dan melakukan kehendak Tuhan pada jaman ini.
Hari-hari ini, di tengah pandemi COVID-19, Tuhan sedang merestorasi Saudara dan saya supaya menjadi prajurit-prajurit Tuhan yang gagah perkasa; artinya menjadi pemenang.
MENJADI PEMENANG
Kunci untuk menjadi seorang pemenang adalah:
• Bergaya hidup Doa, Pujian dan Penyembahan dalam unity siang dan malam.
Artinya kita harus hidup intim dengan Tuhan. Dalam pandemi ini kita sedang direstorasi untuk menjadi lebih intim dengan Tuhan.
• Melakukan kehendak Tuhan pada jaman Now.
Melalui pandemi ini kita juga sedang direstorasi untuk melakukan kehendak Bapa pada jaman Now.
Sesuai dengan pesan Tuhan Yesus kepada 7 Sidang Jemaat dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3, yang berarti ini juga pesan buat kita; hanya pemenang yang masuk sorga.
Pada waktu Tuhan Yesus merestorasi saya di tengah-tengah pandemi COVID-19 ini untuk menjadi lebih intim dengan Tuhan, untuk lebih mengerti kehendak Tuhan pada jaman Now, itu sangat menyakitkan. Saya diproses… Saya dibersihkan… Saya dimurnikan… Saya harus diam di rumah… berdiam diri sampai dengan hari ini. Tuhan berbicara kepada saya melalui Yesaya 26: 20-21:
“Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk, bersembunyilah barang sesaat lamanya, sampai amarah itu berlalu. Sebab sesungguhnya, Tuhan mau keluar dari tempat-Nya untuk menghukum penduduk bumi karena kesalahannya dan bumi tidak lagi menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya, tidak lagi menutupi orang-orang yang mati terbunuh di sana”.
Sampai hari ini, terus terang saya masih merasakan amarah Tuhan belum berlalu. Saya tidak tahu sampai berapa lama kita disuruh bersembunyi ‘barang sesaat lamanya’. Yang pasti ada maksud Tuhan menyuruh kita bersembunyi ‘barang sesaat lamanya’.
Kalau kita melihat tokoh-tokoh dalam Alkitab, mereka harus bersembunyi atau disembunyikan Tuhan ‘barang sesaat lamanya’ sebelum melakukan pekerjaan besar, seperti:
• Nuh dan keluarga, disuruh bersembunyi oleh Tuhan dalam bahtera selama 1 tahun sampai akhirnya Nuh bangkit menjadi bapa atas semua bangsa.
• Yakub, disuruh bersembunyi oleh Tuhan di rumah Laban, pamannya, ketika harus lari dari Esau. 20 tahun kemudian Yakub bangkit dengan keluarga baru, kekayaan baru, identitas baru. Dia menjadi Israel yaitu nama baru untuk umat pilihan Tuhan.
• Yusuf, disembunyikan oleh Tuhan dari usia 17-30 tahun. Perbudakan dan penjara yang dia jalani menjadi ‘sekolah’ di mana Tuhan mempersiapkan Yusuf menjadi orang kedua di Mesir setelah Firaun.
• Musa, disembunyikan Tuhan di padang gurun selama 40 tahun. Dan akhirnya Musa tampil untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir.
• Daud, disembunyikan Tuhan selama 15 tahun setelah dia diurapi menjadi raja Israel. Ketika Daud akhirnya naik tahta, dia telah menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan.
• Elia, disuruh bersembunyi oleh Tuhan di tepi sungai Kerit.
Setelah itu dia sendirian menghadapi 450 nabi Baal di gunung Karmel.
• Yunus, disembunyikan Tuhan dalam perut ikan selama 3 hari 3 malam. Setelah itu dia ke Niniwe dan berkotbah dalam kebangunan rohani terbesar dalam sejarah.
• Murid-murid Tuhan Yesus, disuruh bersembunyi oleh Tuhan di kamar loteng Yerusalem selama 10 hari. Setelah itu Roh Kudus dicurahkan secara luar biasa. Mereka dipakai untuk melakukan Amanat Agung. Penuaian jiwa besar-besaran terjadi.
• Paulus, disembunyikan oleh Tuhan di tanah Arab dan di Damsyik selama 3 tahun. Ketika dia kembali, dia dipakai Tuhan luar biasa dan menjungkir balikkan dunia. Paulus juga disembunyikan Tuhan di dalam penjara Romawi. Ketika dibebaskan, Paulus sudah menyelesaikan surat penggembalaan Efesus, Filipi, Kolose dan Filemon.
• Rasul Yohanes, disembunyikan Tuhan di pulau Patmos. Di situlah kitab Wahyu, kitab nubuatan terbesar sepanjang masa, dituliskan dan sekarang itu diberikan kepada kita.
Akhirnya yang paling luar biasa adalah Allah menyembunyikan Tuhan Yesus.
Dia tinggal di dalam perut bumi selama 3 hari (Matius 12:40) dan pada hari ketiga Tuhan Yesus bangkit dan membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Saya percaya setelah Saudara dan saya taat waktu disuruh ‘bersembunyi barang sesaat lamanya’, meskipun kita merasakan hal-hal yang tidak enak, kebosanan, perasaan takut, kuatir, putus asa, tetapi pasti setelah itu ada berkat, kuasa, pengurapan double portion yang Tuhan Yesus sediakan. Haleluya!
Ke depan ini Tuhan akan memakai setiap kita sesuai dengan rencana-Nya. Untuk itu Tuhan menyembunyikan kita barang sesaat lamanya.
PENGINJILAN MELALUI DOA MENUJU PENYELESAIAN AMANAT AGUNG
Para ahli Teologi mengamati bahwa ada 3 (tiga) gerakan besar yang sedang terjadi dalam menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.
• Gerakan pertama melalui gereja rumah. COOL termasuk di bagian ini.
• Gerakan kedua melalui kesembuhan massal. Healing Worship Online termasuk di bagian ini.
• Gerakan ketiga penginjilan melalui doa. Restorasi Pondok Daud dalam bentuk Menara Doa termasuk di bagian ini
Ketiga hal ini sedang kita lakukan hari-hari ini.
Pada tanggal 17 Agustus 2020, yaitu pada perayaan Ulang Tahun Indonesia yang ke-75, kita disuruh oleh Tuhan untuk mengadakan zoom meeting dengan tema “Trumpet Call for All Nations”, yang diikuti oleh banyak bangsa-bangsa.
Pada waktu itu Tuhan menyampaikan pesan bahwa Terompet Tuhan sedang berbunyi untuk memanggil umat-Nya, bangsa-bangsa, untuk berdoa. Melalui Yeremia 33:3, Tuhan berkata:
“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”
Ada 3 topik doa yang Tuhan mau kita lakukan hari-hari ini.
1. Doa untuk Indonesia
o Sesuai dengan Yeremia 29:7, kita harus berdoa untuk kesejahteraan negara kita karena kalau negara Indonesia sejahtera maka kita juga akan mengalami sejahtera.
o Sesuai dengan Yesaya 48:18, bahwa kesejahteraan akan terjadi kalau kita memperhatikan perintah-perintah Tuhan. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara Indonesia akan memperhatikan perintah-perintah Tuhan.
2. Doa Untuk Pertobatan
Sesuai dengan 2 Tawarikh 7:13-14 yang berkata:
o Frasa ‘Tuhan menutup langit sehingga tidak ada hujan’ dan ‘Tuhan menyuruh belalang memakan habis hasil bumi’ berbicara tentang resesi ekonomi.
o Frasa ‘Tuhan melepaskan penyakit sampar diantara umat-Nya’ berbicara tentang pandemi COVID-19.
Maka Tuhan meminta kepada kita untuk merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat, Kalau kita melakukan ini, maka Tuhan akan mendengar dari sorga. Tuhan akan mengampuni dosa-dosa kita dan Tuhan akan memulihkan negeri kita dari pandemi COVID-19 dan resesi ekonomi.
3. Doa untuk Penuaian Jiwa Besar-besaran
Penuaian jiwa besar-besaran selalu didahului dengan kebangkitan doa.
Sebelum Roh Kudus dicurahkan di kamar loteng Yerusalem 2000 tahun yang lalu, yang disebutkan sebagai Pentakosta Pertama, maka murid-murid Tuhan Yesus, semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Artinya mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam. Ini adalah prinsip Restorasi Pondok Daud. Hal ini juga terus dilakukan setelah Roh Kudus dicurahkan. Penuaian jiwa besar-besaran terjadi.
Demikian pula pada waktu Roh Kudus dicurahkan di Azusa Street yang disebut sebagai Pentakosta Kedua. William Seymour yang memimpin doa. Semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Penuaian jiwa besar-besaran juga terjadi.
o Tahun 2013, Tuhan berbicara kepada saya bahwa pencurahan Roh Kudus yang terjadi di jaman Now; yang kemudian disebut sebagai Pentakosta Ketiga.
Sejak saat itu, saya terus berdoa untuk kebangkitan doa di Indonesia, karena pencurahan yang dahsyat dari Roh Kudus di Pentakosta Ketiga akan terjadi setelah terjadinya kebangkitan doa.
o Tahun 2020, ketika terjadi pandemi COVID-19, yang luar biasa terjadi juga kebangkitan doa antar denominasi di Indonesia.
Menurut Bilangan Research Center: 83,8% gereja-gereja ikut dalam kegerakan doa ini. Haleluya!
o Tanggal 8 Juli – 17 Agustus 2020, berlangsung acara Doa Pujian Penyembahan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, selama 40 hari. Dan dilakukan pergantian tugas setiap 2 jam. Acara ini diikuti oleh gereja-gereja antar denominasi di seluruh Indonesia. Dan ini belum pernah terjadi sebelumnya.
KEHENDAK TUHAN PADA JAMAN INI
Tuhan berkata mengenai Daud bahwa Daud adalah orang yang berkenan di hati Tuhan dan yang melakukan kehendak Tuhan. Jadi Tuhan berkenan kepada Daud karena Daud melakukan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang mana? Alkitab berkata bahwa Daud melakukan kehendak Tuhan pada jamannya (Kisah Para Rasul 13:36). Kalau kita merindukan hidup kita berkenan di hati Tuhan, maka kita harus melakukan kehendak Tuhan pada jaman Now. Apa kehendak Tuhan pada jaman Now?
1. Menyelesaikan Amanat Agung
Pada waktu Tuhan Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya tentang apa tanda kedatangan-Nya dan tanda kesudahan dunia? Salah satunya Tuhan Yesus menjawab dari Matius 24:14 yang berkata: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
Tuhan Yesus akan datang kembali setelah Injil Kerajaan diberitakan ke seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Tuhan Yesus pasti datang kembali. Yang percaya katakan: Amin!
Karena itu Tuhan Yesus memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20
Tuhan Yesus memberikan tugas kepada kita untuk menyelesaikan Amanat Agung dengan kuasa dari Roh Kudus. Ini kehendak Tuhan pada jaman Now.
2. Tahun Pey Aleph
Dari tanggal 19 September 2020 – 7 September 2021 menurut kalender Ibrani, kita memasuki Tahun 5781 yang disebut dengan Pey Aleph. Pey Aleph artinya 81.
o Pey menggambarkan sebuah mulut
Peranan mulut adalah untuk memuji, meninggikan, mengucap syukur kepada Tuhan, melepaskan berkat; bukan dipakai untuk memperkatakan hal-hal yang kotor, gosip, porno, kepahitan, menjelekkan orang lain, hoaks dan lain-lain.
o Aleph adalah angka satu Suatu permulaan yang baru. Yohanes 1:1 berkata:“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Memasuki Tahun Pey Aleph, mari kita berjanji kepada Tuhan untuk menggunakan mulut ini hanya untuk berbicara tentang firman Tuhan. Ini adalah kehendak Tuhan pada jaman Now yaitu menggunakan mulut ini hanya untuk berbicara tentang firman Tuhan. Mari kita yang mau melakukan ini, kita ikrarkan janji kita ini dengan menyanyikan lagu ini:
Mulutku penuh dengan pujian
Kepada-Mu ya Yesus Tuhan
Sepanjang hari ku beri penghormatan
Kepada-Mu ya Allahku
Kotbah Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo

image source: https://biblepic.com/acts/15-16.htm

TIGA ASPEK KEKRISTENAN

TIGA ASPEK KEKRISTENAN

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2:6
“Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Kisah Para Rasul 11:26.
Dari kedua ayat di atas kita dapat melihat bahwa pada mulanya seseorang disebut ‘Kristen’ bukan terutama karena ia menyetujui seperangkat pengakuan iman tertentu, tetapi karena gaya hidup seorang murid yang jelas terlihat oleh sesama. Seorang murid adalah seseorang yang berguru kepada seseorang. Di sinilah implikasi dari Kristologi yang tepat.
Jika terlalu menekankan kepada ketuhanan Yesus, maka hampir tidak ada kesempatan bagi kita manusia biasa untuk meneladani gaya hidup seperti Kristus. Sampai saat ini ada aliran tertentu dalam kekristenan yang menitikberatkan hal ini. Mereka mengajarkan bahwa kemanusiaan Kristus adalah unik dan tidak sama dengan hakikat kemanusiaan kita. Kita tidak akan mampu ‘mengikuti teladan’ Kristus. yang ditekankan hanyalah pemujaan kepada Kristus yang telah bangkit dan persekutuan di dalam tubuh-Nya.
1 Yohanes 2:6 dengan jelas berkata bahwa tuntutan pemuridan adalah wajib bagi setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen. Mari kita melihat tensi kedua aspek ini:
I. HAL-HAL YANG HANYA BISA DILAKUKAN OLEH TUHAN YESUS
1. Menyerahkan Nyawa-Nya Untuk Menyelamatkan Dunia
Panggilan untuk menjadi Juruselamat dunia adalah unik; hanya dapat disandang oleh Yesus Kristus, anak Daud, yang tubuh-Nya dikandung oleh Maria sebagai buah naungan Roh Kudus. Inilah syarat utama untuk menjadi Juruselamat dunia; darah-Nya yang tanpa dosa, sangat mahal sehingga sanggup menebus seluruh isi dunia.
Ini adalah peranan unik Tuhan Yesus yang tidak dapat digantikan oleh siapapun. Itu sebabnya Ia disebut ‘Anak Tunggal Bapa yang diperanakkan’ (only begotten son). Kita yang percaya kepada karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib dijadikan anak-anak Allah ‘oleh iman’, tetapi Tuhan Yesus tetap memiliki posisi yang unik sebagai Anak Tunggal Bapa.
2. Menjadi Kepala Gereja
Kumpulan orang-orang percaya dari segala bangsa dan segala zaman secara korporat disebut Tubuh Kristus. Kristus adalah kepala dari tubuh itu. Pasca kenaikan-Nya, Ia menyerahkan kepemimpinan secara praktikal kepada murid-murid-Nya, secara khusus kepada mereka yang mengikuti panggilan untuk menjadi rasul-rasul. Posisi ini dipegang secara korporat sehingga tidak boleh ada seorang pun di muka bumi yang mempermasalahkan posisi Yesus sebagai kepala Gereja-Nya.

II. HAL-HAL YANG JUGA BISA DILAKUKAN OLEH ORANG PERCAYA
Selain dari itu ada aspek-aspek di dalam kehidupan Tuhan Yesus yang dapat dan harus ditiru oleh mereka yang menyebut diri sebagai murid-Nya. Inilah ketiga aspek yang harus nyata di dalam kehidupan semua orang percaya:
1. Aspek Kasih
Inilah yang harus terlihat jelas di dalam kehidupan semua orang percaya. Di dalam Yohanes 13:34-35 tertulis:
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Yesus berkata bahwa dunia akan percaya kepada pemberitaan kita pada saat kita saling mengasihi satu sama lain. Di dalam kasih ini akan tercipta kesatuan di dalam tubuh Kristus. Saling mengasihi bukan berarti mentoleransi dan membiarkan kesalahan, sebaliknya dengan kasih kita mencari solusi yang terbaik yang membawa kebaikan bagi pribadi tersebut. Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa segitiga kasih ialah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi, dan mengasihi sesama sebagaimana kita mengasihi diri sendiri.
Manusia di dalam pemberontakannya kepada Tuhan merasa sanggup ‘mengasihi sesamanya’ dengan kekuatannya sendiri. Sejarah membuktikan bahwa setiap usaha untuk membangun kesatuan yang tidak melibatkan Tuhan di dalamnya tidak akan bertahan lama dan selalu diikuti dengan perpecahan, mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga – sampai ke tingkat hubungan antar bangsa dalam pergaulan internasional.
Itu sebabnya di dalam Perjanjian Baru rasul Yohanes mengajarkan bahwa ‘Allah itu kasih’. Allah tidak ‘memiliki’ kasih, Allah itulah kasih adanya (God does not have love, God is love). Itu sebabnya semua orang yang berusaha ‘mengasihi sesamanya’ tanpa melibatkan Allah akan gagal.
Yesus menunjukkan prinsip ini di dalam pengorbanan-Nya di atas kayu salib.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8
Tidak ada jaminan sama sekali bahwa manusia akan merespon secara positif kepada pernyataan kasih Allah melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib, namun kekuatan kasih Agape itulah yang membuat kita bertobat dan kembali kepada Tuhan. Dimensi kasih seperti inilah yang Tuhan Yesus minta untuk murid-murid-Nya nyatakan kepada dunia.
2. Aspek Kebenaran
Tuhan Yesus berkali-kali menyatakan bahwa diri-Nya lah Kebenaran.
“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6
Komitmen Tuhan Yesus untuk hidup dalam Kebenaran, yaitu:
a. Kebenaran Moral
Tuhan Yesus dicobai sebagaimana layaknya manusia, tetapi Dia sedikitpun tidak terpancing untuk melakukan apa yang melanggar kekudusan-Nya
b. Kebenaran Epistemologikal
Ia tidak pernah berbohong mengenai sifat dan esensi hakiki keberadaan-Nya, maupun berbohong mengenai rencana dan maksud tujuan-Nya datang ke dunia ini.
Sebagai manusia, seringkali kita gagal di dalam mengejar kebenaran di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Kita seringkali berbohong, melakukan hal-hal yang salah secara moral, dan juga tidak mencintai kebenaran sehingga kita juga mudah dibohongi dan percaya kepada hal-hal yang tidak 100% benar.
Rasul Paulus juga kemudian di dalam surat-suratnya mendorong orang-orang percaya untuk tidak termakan oleh dongeng-dongeng nenek moyang dan ajaran-ajaran palsu sehingga mereka menyimpang dari iman yang murni. Komitmen Tuhan Yesus kepada kebenaran bahkan juga sampai kepada aspek seremonial, di mana Ia rela menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis, meskipun pada hakikatnya Ia tidak memerlukan baptisan dari siapapun, tetapi Dia bersedia melakukannya “demi memenuhi semua kebenaran”.
“Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.” Matius 3:15
Sebagai orang Kristen kita harus berkomitmen seumur hidup kita untuk hidup dalam kebenaran; dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita.
3. Aspek Kuasa
Di dalam sejarah Gereja; khususnya di dalam sejarah doktrin Kristologi hal ini juga merupakan suatu titik perdebatan yang sengit. Darimana sumber kuasa Tuhan Yesus untuk melakukan semua perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya? Jika kita terlalu menekankan keilahian-Nya maka hilanglah harapan bagi orang percaya kebanyakan untuk melakukan apa yang Tuhan Yesus kerjakan.
Hal ini sempat dipercayai oleh banyak aliran gereja, terutama di dalam abad pertengahan. Di sinilah juga keistimewaan pengertian kaum Pentakosta. Melalui komitmen yang tinggi kepada penerapan firman Tuhan, kita dapat melihat bahwa aspek kuasa ini diperuntukkan bagi semua orang percaya. Markus 16:15-18, Kisah 1:8, Yohanes 5:20, Yohanes 14:12.
Di dalam hal ini juga kita mellihat pemisahan fase-fase dalam kehidupan Tuhan Yesus. Keempat penulis Injil berfokus terutama kepada 3,5 tahun kehidupan publik, pelayanan, dan karya Tuhan Yesus di kayu salib. Hanya Injil Lukas yang memberikan sedikit catatan mengenai masa kecil dan remaja Tuhan Yesus. (Lukas 2:51-52)
Para sarjana Alkitab dari kalangan Injili dan Pentakosta percaya bahwa di dalam periode ini Tuhan Yesus sama sekali tidak melakukan mujizat dan perbuatan ajaib apapun. Beberapa tradisi kristiani dari aliran lain; bahkan juga di dalam ajaran agama lain – percaya bahwa Tuhan Yesus pada masa kecilnya melakukan beberapa mujizat. Kaum Injili dan Pentakosta menolak intepretasi seperti ini meskipun kelihatannya memberikan penghormatan kepada Tuhan Yesus, sebab pengertian ini justru merusak struktur kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus.
Rasul Paulus mengajarkan di dalam Filipi 2:6-7 bahwa Tuhan Yesus meskipun dalam rupa Allah, telah mengosongkan dirinya dan mengambil rupa seorang hamba. Jadi di dalam hal ini juga termasuk bergantung kepada Roh Kudus untuk memberdayakan-Nya melakukan kehendak Bapa di dalam mengerjakan mujizat-mujizat.
Kerelaan Tuhan Yesus di dalam mengosongkan diri-Nya inilah yang menjadi template bagi kita orang-orang percaya. Kita pun harus senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus untuk bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar yang dikehendaki oleh Bapa.
KESIMPULAN
Kristologi yang seimbang akan menjaga tensi yang tepat antara keunikan Tuhan Yesus yang peranan-Nya tidak dapat digantikan oleh siapapun, sementara mendorong setiap orang percaya untuk meneladani Tuhan Yesus di dalam ketiga aspek tersebut di dalam seluruh kehidupan mereka.

image source:https://www.pinterest.com/pin/243827767303582885/

MEMASUKI DIMENSI YANG BARU

MEMASUKI DIMENSI YANG BARU

Petang hari 18 September 2020 menandai pergantian tahun Ibrani dari tahun 5780 yang disebut Tahun Pey, ke tahun baru 5781 yang disebut Tahun Pey Aleph.

Tahun Ibrani 5781 (Pey Aleph) berlangsung dari tanggal 18 September 2020 – 6 September 2021. Masing-masing huruf Ibrani mewakili suatu nilai numerik. Dan tahun Ibrani 5781 dituliskan dalam aksara Ibrani sebagai תשפ”א (Tav Shin Pey Aleph = 781) atau disingkat פא (Pey Aleph).

Pey (פ) memiliki nilai numerik 80, sedangkan Aleph (א) memiliki nilai numerik 1, dan bila ditambahkan akan menghasilkan nilai numerik 81 (Pey Aleph). Setiap dekade memiliki tema khusus. Pey “80” mengandung makna profetik yang menata kehidupan kita untuk 10 tahun ke depan, mulai tahun 5780 hingga 5789.

Huruf פ (Pey) berbentuk seperti mulut. Kata Ibrani “Peh” (פה) artinya “mulut” dan dapat diperluas menjadi: “kata,” “ekspresi,” “vokalisasi,” “ucapan,” dan “nafas.”

Makna Profetik pertama dari Tahun פא – Pey Aleph (81) adalah mulut yang tertutup (Silenced mouth). Bukan suatu kebetulan semua orang harus menggunakan penutup mulut (“mask”) memasuki tahun ini dan kemungkinan sepanjang tahun depan. Di dunia banyak orang mengekspresikan perasaan, kemauan, kehendak hanya melalui ketikan di social media.

Tahun Pey Aleph (81) adalah Tahun Mulut juga bagi Elohim yang mengajar. Kata Aleph (אלף) dibentuk dari 3 huruf Ibrani, yakni א (Aleph), ל (Lamed), dan ף (Pey dalam bentuk sofit). Aleph (א) dan Lamed (ל) membentuk kata אל El, artinya Tuhan, ditambah Pey (ף) dalam bentuk sofit (akhiran), yang memiliki arti mulut yang terbuka:

Aleph = אלף; (Pey) ף + (El) אל = mulut Elohim.

Tahun Pey Aleph (פא) menyiratkan makna bahwa ini adalah tahun di mana Firman yang keluar dari mulut Elohim akan digenapi: “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku, ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, melainkan akan menggenapi apa yang Aku perkenan, dan akan berhasil dalam apa yang Aku perintahkan” (Yes. 55:11).

Jadi, tahun Pey Aleph (פא) juga menyiratkan makna mengenai Tahun Pengajaran Elohim dan Tahun Penggembalaan Elohim.

Lamed (ל) dalam kata Aleph (אלף) memiliki arti: tongkat atau galah penggiring (seperti kawanan ternak), mengajar, melatih. Ini adalah tahun di mana Elohim akan mengajar, melatih, mendisiplinkan umatNya untuk membawa mereka kepada tingkatan spiritual yang lebih tinggi, ke tempat di mana penyediaan dan persediaan telah dipersiapkan Elohim sebelumnya: “Beginilah YHVH, Penebusmu, Yang Mahakudus Israel berfirman, “Akulah YHVH, Elohimmu, yang mengajarmu (למד lamed, mengajar) supaya beruntung, yang membuat engkau menapak di jalan yang akan engkau tempuh” (Yes. 48:17).

“Dan seraya membuka mulut-Nya, Yesus mengajar mereka …” (Mat. 5:2).

Melewati kesesakan-kesesakan yang ada di depan, tongkat penggembalaan Elohim akan menuntun umatNya ke tempat persediaan telah disediakan: “Dia membaringkan aku di padang rumput hijau, Dia membimbing aku ke air yang tenang” (Mzm. 23:2), dan akan menjadi tongkat penghiburan bagi umat yang digembalakan-Nya:

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah bayang-bayang maut, aku tidak takut bahaya, karena Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkatMu, keduanya menghibur aku” (Mzm. 23:4).

Inilah waktunya bagi kita, umat gembalaanNya untuk sungguh-sungguh hidup oleh hembusan nafas mulutNya, oleh RohNya, menyendengkan telinga rohani kita untuk dengan sungguh-sungguh mendengarkan baik-baik apa yang difirmankan Roh kepada jemaat-Nya, supaya kita tahu jalan kebenaran yang harus kita tempuh: “Buatlah aku berjejak dalam kebenaran-Mu, dan ajarlah aku (למד lamed, mengajar), karena Engkau adalah Elohim keselamatanku (יִשְׁעִי yish’i, Yeshua-ku = keselamatanku); aku menanti Engkau sepanjang hari” (Mzm. 25:5)

Tahun Pey Aleph (פא) akan menjadi Tahun Didikan Elohim bagi umatNya, untuk mendisiplinkan kita supaya sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan: “Siapa saja yang Aku kasihi, Aku tegur dan Aku hajar, karena itu giatlah dan bertobatlah” (Why. 3:19).

Bila kita melihat kamus Strong untuk kata Ibrani nomer H5781 (תשפ”א) adalah עוק uq, yang artinya: tekanan, meremukkan, membuat gemetar. Ini berbicara tentang periode pemerasan buah zaitun, dimana buah-buah zaitun harus diperas, ditekan, diremukkan, supaya mengeluarkan minyaknya… sama seperti Yesus ketika berada di Taman Getsemani [Getsemani dari kata Ibrani גת gat, artinya tempat pemerasan; שמנים shemanim, artinya minyak, minyak zaitun, minyak urapan].
Untuk menghasilkan minyak urapan, buah-buah zaitun itu harus diperas dibawah tekanan. Yesus di tekan, di siksa sebelum di salib, namun tidak membuka mulutnya. Yesaya menubuatkan hal ini dalam pasal 53:7, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri di tindas dan tidak membuka mulutnya, seperti anak domba yang di bawa ke pembantaian, seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”
Dalam semuanya ini, Elohim berjanji untuk menaruh RohNya ke dalam umatNya, supaya mereka hidup menurut ketetapan-ketetapan dan perintah-perintahNya: “Aku akan menaruh Roh-Ku di dalam kamu, dan akan membuat kamu berjalan dalam ketetapan-ketetapanKu, dan kamu akan memelihara peraturan-peraturanKu, dan melakukannya” (Yeh. 36:27).

“Dan sesudah itu akan terjadi: Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat, dan orang-orang tuamu akan memimpikan mimpi-mimpi, orang-orang mudamu akan melihat penglihatan-penglihatan. Dan juga atas para budak dan atas para hamba perempuan, pada hari-hari itu Aku akan mencurahkan Roh-Ku” (Yl. 2:28-29).

“Dan Aku, inilah perjanjianKu dengan mereka,” YHVH berfirman, “Roh-Ku yang ada padamu, dan firmanKu yang Kutaruh di mulutmu, tidak akan pergi dari mulutmu, dan dari mulut keturunanmu, dan dari mulut keturunan dari keturunanmu, dari sekarang dan selamanya,” YHVH berfirman (Yes. 59:21).

Tahun Pey Aleph (פא) nampak sangat menakjubkan secara profetik, dan kita tahu apa yang harus kita lakukan. Tuhan mau kita banyak berdiam diri, artinya tidak semua yang di rasa, di pikir, di kehendaki harus di ucapkan atau harus di tulis di sosial media. Banyak mendengar apa yang Tuhan Firmankan dan satu hal yang Elohim janjikan, bahwa Dia sekali-kali tidak akan meninggalkan dan Dia sekali-kali tidak akan membiarkan kita.

Perintah terakhir yang Tuhan Yesus berikan sebelum Dia naik ke surga adalah tentang mengajar (למד lamed), supaya hidup melakukan segala perintah-Nya: “Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu apa saja yang sudah Aku perintahkan kepadamu. Dan lihatlah, Aku ada bersamamu sepanjang masa, sampai kesudahan zaman” (Mat. 28:20).

image source: https://www.pinterest.com/pin/580612576939623780/

CERMIN KEMULIAAN KRISTUS

CERMIN KEMULIAAN KRISTUS

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” 2 Korintus 3:18

“As all of us reflect the glory of the Lord with unveiled faces, we are becoming more like him with ever-increasing glory by the Lord’s Spirit.” 2 Corinthians 3:18

Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa semua orang percaya (“kita semua”) dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus.
Rasul Paulus menggunakan ilustrasi cermin untuk menjelaskan hal ini. Ketika seseorang bercermin, maka ia akan melihat pantulan dirinya pada cermin tersebut. Sebuah cermin akan dengan jujur memperlihatkan seluruh kondisi dari obyek yang dipantulkan.
Namun Rasul Paulus mengajarkan bahwa orang percaya akan ditransformasi sehingga semakin lama, ia akan semakin memantulkan kemuliaan Kristus dalam dirinya. Ketika orang tersebut bercermin, maka secara rohani, pantulan yang ia lihat bukan lagi dirinya yang lama, tetapi semakin lama semakin berubah sehingga karakter Kristuslah yang semakin muncul.
Hal tersebut dapat terjadi karena karya Roh Kudus dalam diri orang percaya. Hal ini sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya ratusan tahun sebelumnya.

“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” Yesaya 60:1-2

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa satu saat kemuliaan (“terang”) Tuhan akan datang kepada orang percaya yang kemudian akan mengakibatkan orang percaya tersebut akan memancarkan kemuliaan Tuhan. Hal ini terjadi karena Tuhan memiliki tujuan, yaitu memakai umat-Nya sebagai agen pembawa perubahan yang baik di tengah-tengah dunia yang jahat (“kegelapan”/kekelaman menutupi bumi/bangsa-bangsa).
Ketika kita mengikut Yesus, kita menjadi orang-orang yang membawa terang.

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai
terang hidup.” Yohanes 8:12

Menjadi ‘terang’ artinya membawa pengaruh.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 
Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:14-16

Yesus memakai dua ilustrasi tentang terang untuk menggambarkan tugas orang percaya di bumi ini.
• Ilustrasi pertama menggambarkan orang percaya seperti sebuah kota yang terletak di atas gunung yang tidak mungkin tidak terlihat.
• Ilustrasi kedua menggambarkan bahwa orang percaya seperti pelita yang diletakkan di atas kaki dian. Adalah tidak logis jika seseorang menyalakan lilin lalu kemudian menutupi lilin tersebut supaya terangnya tidak kelihatan. Apa gunanya menyalakan lilin jika kemudian ditutupi?
Ayat-ayat di atas mengajarkan kepada kita sebuah fakta yang luar biasa mengenai orang percaya. Orang Kristen yang sudah lahir baru adalah:”
• orang-orang yang sudah ditebus dosa-dosanya (1 Petrus 1:18),
• mereka sudah diangkat menjadi anak-anak-Nya (Roma 8:16-17),
• kepada mereka sudah diberikan seluruh berkat rohani yang ada di dalam sorga (Efesus 1:3),
• hati dan roh mereka sudah dijadikan baru (2 Korintus 5:17), dan
• kepada mereka Tuhan sudah memberikan Roh Kudus untuk diam di dalam batin mereka. (Efesus 1:13-14).

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” Yehezkiel 36:26-27

Namun kepada kita tidak hanya diberikan semua berkat luar biasa tersebut, tetapi juga sebuah kehormatan untuk menjadi duta besar dari kerajaan Allah di dunia ini. Kita diangkat jadi rekan sekerja-Nya untuk menjadi saksi membawa kabar baik bagi dunia ini.
Lalu bagaimana sebenarnya cara praktis untuk seseorang memantulkan kemuliaan Tuhan, menjadi terang di tengah-tengah dunia ini? Alkitab mengajarkan beberapa arti dari menjadi terang.

HIDUP DALAM TERANG
1. Hidup dalam Terang Artinya Hidup yang BerBuah

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.
Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5:8-11

Konsekuensi dari hidup yang ditransformasikan oleh Roh Kudus adalah meninggalkan cara-cara kehidupan yang lama dalam dosa dan semakin banyak hidup dengan cara-cara yang berkenan dengan Tuhan. Buah dari hidup dalam terang adalah kebaikan, keadilan, kebenaran serta selalu berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan kegelapan, sebaliknya secara aktif melawan perbuatan-perbuatan tersebut.

2. Hidup Dalam Terang Artinya Mengasihi

“Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” 1 Yohanes 2:9-10

Konsekuensi dari hidup yang semakin mencerminkan terang Tuhan adalah timbulnya kasih yang sejati kepada orang-orang disekitarnya. Orang Kristen yang sudah lahir baru adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Bukan karena orang tersebut adalah orang baik dan bukan karena orang tersebut sudah melayani Tuhan sehingga perbuatannya itulah yang menyelamatkan, melainkan karena orang tersebut menerima kasih karunia dari Tuhan, sehingga dosa-dosanya ditebus dengan darah Yesus yang mahal. (Efesus 2:8-9)
Sebagai orang-orang yang sudah menerima pengampunan, adakah alasan untuk tidak mengampuni orang lain yang bersalah kepada dirinya?
Tuhan Yesus memandang sangat serius perihal pengampunan dan mengampuni orang lain.
• Ketika Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana cara berdoa, perihal pengampunan mendapatkan perhatian khusus. (Matius 6:12, 14, 15)
• Demikian juga ketika Yesus mengajarkan soal pengampunan kepada murid-murid-Nya dengan memberikan perumpamaan mengenai hamba yang jahat. (Matius 18:21-35)
Dunia ini adalah dunia yang berjalan dengan hukum saling membalas kejahatan dengan kejahatan. Itulah sebabnya kita tidak dipanggil sekedar untuk mengampuni, tetapi dengan aktif mengasihi orang lain, termasuk orang yang berbuat jahat kepada kita. (Matius 5:43-46)
Hal ini akan memperlihatkan kepada dunia ini sebuah perbedaan yang kontras antara orang percaya dengan orang tidak percaya.

HIDUP BERBUAH
1. Hidup Berbuah Artinya Bertahan Dalam Tantangan

“Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita
oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.” Ibrani 10:32-33

Dunia yang gelap tidak suka dengan terang. Manusia yang berdosa secara alamiah akan menolak sesuatu yang membuka kejahatannya. Oleh karena itu orang percaya dapat saja mengalami penolakan, cercaan; bahkan aniaya dari dunia ini ketika mereka bertindak sebagai terang. Oleh karena itu Firman Tuhan menasihatkan orang percaya untuk bertahan.
Jemaat gereja mula-mula mengalami aniaya yang dahsyat, terutama mereka yang sebelumnya berasal dari agama Yahudi, seperti yang dicatat di dalam kitab Ibrani. Namun mereka bertahan karena mereka tahu bahwa mereka akan menerima harta yang lebih baik, yaitu hidup kekal.

“Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.” Ibrani 10:34

Hal ini masih berlaku bagi kita orang percaya yang hidup dalam zaman sekarang ini. Mungkin kita tidak mengalami aniaya secara fisik seperti jemaat gereja mula-mula, namun tantangan dan pergumulan hidup serta aniaya secara verbal dan sosial masih ada sampai sekarang. Janganlah kita menjadi tawar hati dan menyerah, tetapi tetap bertahan dalam iman, karena besarlah upah yang disediakan bagi kita.

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. “ Ibrani 10:34-35

2. Hidup Berbuah Artinya Berjaga-jaga

“Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” 1 Tesalonika 5:4-5

Satu hal yang pasti akan terjadi di masa depan adalah bahwa Yesus akan datang untuk menjemput kita dan kemudian akan turun ke dunia ini untuk yang kedua kali. Hari itu pasti akan datang dan firman Tuhan mencatat bahwa hari itu akan datang seperti pencuri.
Banyak orang tidak sadar akan hal ini dan tetap hidup dalam kegelapan. Mereka hidup dalam dosa dan kejahatan dan menyangka semuanya akan baik-baik saja. (1 Tesalonika 5:3)
Namun sebagai orang percaya, kita hidup sebagai anak-anak terang, artinya hidup dengan sungguh-sungguh agar berkenan di hadapan Tuhan. Tidak hidup dalam dosa, melainkan dalam kekudusan, sehingga ketika Tuhan Yesus datang untuk menjemput Gereja-Nya, kita juga akan dibawa untuk bertemu Tuhan di sorga. Sedangkan mereka yang hidup dalam dosa akan ditinggalkan. Maranatha, datanglah segera Tuhan Yesus! Amin. (PT)

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”
Matius 24:42

image source: https://www.areasonforhope.net/daily-prayers/2019/4/5/2-corinthians-318

MENABUR ADALAH CIRI KEDEWASAAN ROHANI

MENABUR ADALAH CIRI KEDEWASAAN ROHANI

“Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu,
dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah.
Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas.”
Yesaya 30:23

Melihat sejarah perjalanan bangsa Israel, ada sebuah hal yang menarik yang dapat kita pelajari dari cara Tuhan memelihara kehidupan mereka. Pada saat mereka sedang dalam perjalanan di padang gurun setelah keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, banyak sekali mujizat yang Tuhan lakukan untuk menolong dan memelihara mereka. Hal ini dapat kita lihat dari cara Tuhan memberikan makanan dari sorga yaitu manna kepada mereka selama berada di padang gurun. Namun setelah mereka tiba di Tanah Perjanjian, Tuhan tidak lagi menyediakan manna. Orang Israel harus bekerja, bertani dan berternak untuk mendapatkan makanan mereka.
Mengapa Tuhan tidak lagi memberikan manna kepada mereka setelah mereka ada di Tanah Perjanjian? Karena sebenarnya Tuhan menginginkan umat-Nya hidup dalam berkat. Berkat di sini sama sekali tidak berbicara soal kelimpahan berkat materi yang banyak dikejar orang dunia, tetapi berbicara tentang pemeliharaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Mujizat adalah salah satu cara Tuhan untuk memelihara dan menolong kita, namun jika kita membaca Alkitab maka kita akan menemukan beberapa kriteria yang menyertai mujizat-mujizat yang tercatat di dalam Alkitab.

1. Mujizat Selalu Melampaui Hukum Alam
Ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini, Ia menaruh hukum-hukum alam supaya seluruh ciptaan bisa berjalan dengan teratur.
• Bulan berputar mengelilingi bumi,
• bumi berputar mengelilingi matahari, sedangkan
• bumi sendiri juga berputar pada porosnya.
Semua hal tersebut adalah sebagian kecil dari keteraturan yang Tuhan buat; yang dijaga oleh hukum alam.
Salah satu hukum alam yang setiap hari kita alami adalah hukum gravitasi bumi. Kita bisa melakukan semua hal di muka bumi ini dengan teratur karena kita tahu akan adanya kepastian akan hukum gravitasi tersebut. Seseorang bisa saja tidak percaya kepada hukum gravitasi, tetapi jika dia mencoba untuk melompat dari lantai 3 sebuah gedung; dapat dipastikan ia akan jatuh.
Namun ketika terjadi sebuah mujizat, maka akan ada sebuah hukum alam yang tidak diikuti atau dihentikan untuk sementara.
• Pada saat Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur, hal tersebut tidak sesuai dengan hukum kimia.
• Ketika Yesus dan Petrus berjalan di atas air, hukum gravitasi dihentikan untuk sementara.
Itulah sebabnya mujizat selalu bersifat sementara. Bangsa Israel menerima manna hanya selama mereka berada di padang gurun saja. Setelah mereka ada di Tanah Perjanjian, pengiriman manna berhenti. Jika sebuah mujizat berlangsung seterusnya, maka itu bukan lagi menjadi mujizat, tetapi sudah menjadi sebuah hukum alam.
Karena Tuhan sendirilah yang menetapkan hukum-hukum alam ini, maka tentunya Tuhan menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan hukum-hukum tersebut. Jika tidak, buat apa Tuhan membuatnya? Hal ini tidak hanya berlaku untuk hukum alam, tetapi juga dalam hukum rohani.
Banyak orang Kristen yang merasa bahwa jika mereka adalah anak-anak Allah maka mereka akan menerima perlakuan khusus dari Tuhan dalam bentuk dispensasi dari hukum-hukum Tuhan. Mereka merasa tidak perlu bekerja, karena Tuhan pasti akan menyediakan segala yang mereka inginkan secara ajaib. Padahal firman Tuhan jelas mengatakan bahwa semua orang harus bekerja jika mereka mau diberkati. (1 Tesalonika 3:10).
Dalam kisah Bartimeus, orang buta di Yerikho yang dicatat dalam Injil Markus pasal 10, kita menemukan bahwa Bartimeus mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus. Namun jangan lupa, bahwa setelah disembuhkan, Bartimeus tidak lagi bisa duduk dipinggir jalan dan meminta-minta. Ia harus bekerja supaya bisa hidup. Namun hal itu jauh lebih baik, karena itulah kehidupan yang sesuai dengan hukum Tuhan.
Ada saat dan situasi hidup kita yang hanya bisa dilalui dengan mujizat dari Tuhan. Namun dalam kondisi lainnya, jika kita ingin hidup kita dipelihara oleh Tuhan, hiduplah sesuai dengan hukum-hukum yang Tuhan sudah tetapkan, maka kita pasti akan diberkati.

2. Mujizat Selalu Menjawab Sebuah Kondisi Yang Sangat Kritis
Tidak pernah ada mujizat di dalam Alkitab yang terjadi pada saat kondisi yang damai, aman, tidak kekurangan dan tidak ada masalah. Mujizat sangat dibutuhkan ketika ada situasi yang sangat mendesak dan kadang-kadang mustahil bisa dijawab dengan cara-cara biasa.
Ketika bangsa Israel ada di padang gurun selama 40 tahun, mereka tidak bisa bercocok tanam karena mereka harus senantiasa berpindah-pindah dan lokasi perjalanan mereka adalah di tempat yang sangat sukar untuk bercocok tanam. Jadi Tuhan mengadakan sebuah mujizat, yaitu memberikan roti dari sorga.

Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.
Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.” (Keluaran 16:1-4)

Dalam Perjanjian Baru pun, semua mujizat yang Tuhan Yesus lakukan juga terjadi karena ada sebuah situasi kritis atau masalah yang terjadi.
• Orang lumpuh berjalan,
• orang buta melihat,
• orang kusta ditahirkan,
• mereka yang dirasuk setan dilepaskan.
Tidak ada mujizat terjadi tanpa ada masalah sebelumnya. Oleh karena itu, mujizat identik dengan krisis. Jika demikian, apakah ada manusia yang mau mengalami krisis? Manakah yang kita pilih;
• Menerima mujizat kesembuhan atau hidup dalam berkat kesehatan?
• Ditolong secara ajaib dari krisis keuangan atau hidup dalam kelimpahan, sehingga bisa menjadi saluran mujizat dengan menolong orang lain?
Hidup dalam mujizat sama artinya dengan hidup dalam krisis.
Sekali lagi tidak berarti kita tidak memerlukan mujizat, karena kita pun sudah menerima mujizat terbesar ketika kita diselamatkan lewat percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang mati dan bangkit untuk menebus kita dari kondisi kritis, yaitu dosa. Namun setelah kita diselamatkan, usahakanlah agar kita menjauhkan diri dari situasi krisis. Caranya adalah dengan mengikuti hukum-hukum Tuhan.

3. Mujizat Tidak Semelimpah Berkat
Mujizat selalu secukupnya, tidak lebih, tidak kurang. Ketika Tuhan menyediakan manna kepada orang Israel di padang gurun, manna tersebut selalu cukup untuk semua orang Israel. Tidak ada orang Israel yang tidak kebagian manna. Di sisi lain, tidak ada juga yang berkelebihan manna. (Kel 16:16-18)
Bahkan kalau ada orang Israel yang menimbun manna, maka manna tersebut akan menjadi busuk pada keesokan harinya. Manna yang disediakan oleh Tuhan bagi orang Israel sangat cukup bagi hari itu, dan hanya untuk hari itu saja. Pada keesokan harinya mereka harus menantikan Tuhan untuk kembali menyediakan manna bagi mereka. Hal ini berlangsung selama 40 tahun. (Kel 16:19-20)
Manna yang Tuhan sediakan membuat orang Israel tidak kelaparan selama 40 tahun. Namun tidak ada pilihan lain, Tuhan hanya menyediakan manna saja. Bisa dibayangkan selama 40 tahun setiap hari mereka makan hal yang sama. Orang Israel begitu muak dengan manna sehingga mereka bersungut-sungut kepada Tuhan.

Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” (Bilangan 11:4-6)

Tentunya kita tidak pernah membayangkan akan berkata ‘muak’ terhadap mujizat Tuhan. Namun itulah yang terjadi kepada bangsa Israel. Lalu apa yang terjadi ketika mereka tiba di Tanah Perjanjian?

“Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.” (Yosua 5:12)

Dapat dipastikan tidak ada orang Israel yang bersungut-sungut ketika manna berhenti, walaupun sebenarnya mereka bisa makan manna tanpa harus bekerja atau berusaha. Namun sebaliknya kita yakin bahwa mereka justru bersukacita, karena akhirnya mereka bisa menikmati makanan lain selain manna. Walaupun untuk mendapatkannya mereka harus bekerja di ladang.
Kondisi orang Israel di padang gurun menggambarkan kondisi rohani yang kanak-kanak. Mereka seringkali menuntut dan bersungut-sungut. Mereka merasa berhak untuk diperlakukan istimewa oleh Tuhan. Mereka menerima pemeliharaan Tuhan dengan cara instan dan mudah. Karakteristik utama mereka adalah meminta-minta.
Kehidupan bangsa Israel di Tanah Perjanjian menggambarkan kondisi rohani yang dewasa.
• Mereka mau bekerja untuk mendapatkan berkat
• Mereka menabur supaya dapat menuai sesuai dengan hukum alam
Mereka sadar harus mengikuti proses, mulai dari menabur benih, sampai menuai hasilnya, dan kadang tidak selalu berhasil. Mereka sadar punya tanggung jawab mengusahakan tanah yang sudah Tuhan berikan kepada mereka. Akibatnya mereka hidup dalam kelimpahan dan pelipatgandaan.

“Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,
Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya
dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.”
2 Korintus 9:10

image source: https://za.pinterest.com/pin/544724517406896618/

—————————

KITA DIMERDEKAKAN UNTUK MEMERDEKAKAN ORANG LAIN

KITA DIMERDEKAKAN UNTUK MEMERDEKAKAN ORANG LAIN

”Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13)
Kemerdekaan sejati di dalam Kristus adalah di mana seseorang memakai hak bebasnya untuk tunduk kepada kehendak Allah karena dia mengasihi Allah di atas segala-galanya.
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yoh. 4:10).
Keadaan orang Kristen yang tidak/belum mengalami kemerdekaan sejati akan : – Melakukan firman karena takut akan hukuman dan berpandangan bahwa Allah bengis dan menakutkan. Disebabkan mereka belum menerima Kasih Allah sepenuhnya. – Melakukan Firman sebagai suatu taurat/hukum yang mengikat (legalisme) sehingga orang tersebut sulit mengasihi sesamanya dan cenderung menghakimi orang lain. – Menyalahgunakan kebebasan dengan beranggapan merdeka adalah bebas sebebas-bebasnya, berbuat tanpa peduli peraturan hukum, perasaan, hak orang lain dan merusak diri sendiri.
Orang tersebut justru diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri. Ini bukan Kemerdekaan dari Tuhan melainkan pemberontakan (lawlessness). Mengapa ada orang bisa diperbudak oleh hawa nafsunya sedemikian rupa? Jawabannya ialah karena ada kekosongan dalam batin/jiwanya yang hanya bisa diisi oleh hadirnya Allah dalam hidupnya.
Tinggal di dalam kasih Allah Ketika menerima Yesus sebagai Tuhan dan lahir baru maka orang tersebut menerima kasih Allah yang dicurahkan di dalam hatinya melalui Roh Kudus (Roma 5:5). Kelahiran baru juga mengembalikan identitas diri sebagai anak yang dikasihi Bapa di dalam Yesus Kristus. Mereka yang telah dilahirkan oleh Roh tak lagi diperbudak oleh dosa, hawa nafsu dan dunia. Roh Kudus memberikan kemampuan kepadanya untuk tidak terikat kepada keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup.
“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15).
Ketika Yesus dibaptis terdengarlah suara “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Mulah Aku berkenan”. Yesus sangat paham akan identitas DiriNya sebagai Anak yang dikasihi oleh Bapa. Tinggal di dalam kasih Bapa membuat Yesus tidak tunduk kepada tipu muslihat iblis yang menggodaNya dengan rupa-rupa keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup (Mat. 4:1-10).
Sama seperti Yesus dikasihi oleh Bapa, kitapun percaya bahwa Allah telah menerima serta mengasihi kita dengan sepenuh hati. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.” (1 Yoh. 3:1a).
Hati yang dipenuhi oleh kasih Allah akan memahami bahwa kehendak dan rancangan Allah dalam hidupnya itu adalah baik, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan (Yer. 29:11).
Orang cenderung tidak dapat menuruti perintahNya karena tidak percaya / tidak menyadari bahwa Allah sangat mengasihi dirinya. Seseorang yang percaya dan telah menerima kasih Allah akan berespon untuk memilih tinggal dalam persekutuan dengan Allah sepanjang umur hidupnya, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” (Yoh. 15:9). dan orang tersebut akan memakai kehendak bebasnya untuk menuruti perintahNya. “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Orang yang telah menerima kasih Bapa dapat mengalirkan kasih itu kepada orang lain. Seseorang hanya dapat memberi sesuatu yang dia punya, begitu pula sebaliknya. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yoh. 15:10,12,13,17).
Pada saat seseorang percaya dan meresponi kasihNya melalui ketaatan, di situlah kehendak dan rencana Tuhan digenapi/menjadi sempurna dalam hidupnya. “Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.” (1 Yoh. 2:5). “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yoh. 4:18).
Kasih Allah (Agape) bersifat tidak mementingkan diri sendiri (selfless), berkorban bagi orang lain (sacrificial) dan tanpa syarat (unconditional love). Ciri-ciri kasih Agape terdapat di dalam 1 Korintus 13:4-7 (baca bersama dengan seluruh anggota Cool). Sedang sifat dasar manusia yang cenderung menuntut/meminta, bersyarat, tergantung sikon (situasi dan kondisi) serta self-centered, serakah tidak pernah puas, tidak mungkin bisa mengasihi dengan kasih Agape. Itulah sebabnya kita harus lebih dulu menerima kasih Agape dari Allah dan dipulihkan agar dapat mengalirkannya bagi orang lain.
Kita dapat menyangkal diri dan mengasihi Tuhan dan orang lain karena Tuhan terlebih dulu mengasihi kita (1 Yoh. 4:19). Kasih Agape bersifat Jesus-centered dan akan selalu sejalan dengan kebenaran (Yoh. 1:14). Kasih yang sering diistilahkan ‘love’ oleh dunia bukanlah kasih Agape karena berpusat pada diri sendiri (self-centered), najis dan cemar (lust) tidak sejalan dengan perintah Tuhan. Kasih Agape memampukan kita mengasihi Allah : didemonstrasikan dengan ketaatan (Yoh.14:15); dan mengasihi sesama : didemonstrasikan dengan melayani/rela berkorban (1 Yoh.3:16).
Kasih Allah telah memerdekakan kita : Allah adalah kasih, di dalam Dia sama sekali tidak ada ketakutan. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan : kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut,ia tidak sempurna di dalam kasih” (1 Yoh.4:18). Kasih Allah didasari dengan iman (faith), sementara perbudakan didasari oleh ketakutan (fear). Pikiran yang belum diperbaharui (untransformed thoughts) dan perasaan-perasaan negative (ungodly emotions) sesungguhnya timbul karena ketakutan dan tidak dapat tunduk kepada kehendak Allah.
Jika tidak ditaklukkan pada Kristus dapat berbuah menjadi perbuatan kedagingan ( Gal. 5:19-2). Life is more about what happens in us than about what happens to us. Apa yang terjadi di dalam kita lebih penting daripada apa yang terjadi kepada kita. Keadaan hati adalah suatu keputusan pribadi dan bukan ditentukan faktor dari luar. Keadaan hati yang dijaga bersih akan memancarkan kehidupan yang merdeka, sementara yang dibiarkan kotor akan memancarkan kematian karena diperbudak oleh keinginan daging keinginan mata dan keangkuhan hidup.
Orang benar harus hidup oleh iman percaya dan bukan oleh perasaan atau karena melihat. Setelah kita percaya dan meresponi kasihNya untuk hidup dalam kemerdekaan, di situlah kehendak dan rencana Tuhan digenapi/menjadi sempurna di mana Allah berkehendak memakai hidup kita untuk memerdekakan orang lain. Semua tujuan Tuhan dalam kehidupan seseorang selalu berhubungan dengan orang lain. Karunia dan talenta diberikan guna memperlengkapi kita mendampaki orang lain.
Pada saat hidup seseorang menghasilkan buah yang bermanfaat dan dinikmati oleh orang lain hidupnya menjadi berarti. Perlu juga diingat bahwa menjadi berkat bagi orang lain itu baik, tetapi haruslah kasih Agape yang menjadi dasarnya agar kita tidak jatuh ke dalam kesombongan atau memiliki motivasi/tujuan yang melenceng. Semakin kita dipenuhi kasih Tuhan, kerohanian kita menjadi semakin dewasa sehingga rela berkorban bagi orang lain. Dengan kuasa doa kita memerdekakan mereka yang teraniaya, mematahkan setiap kuk serta membuka belenggu-belenggu kelaliman (Yes.58:6).
Semakin kita melayani orang lain semakin kita dilatih untuk menyangkal diri dan rela. Bukan harus tunggu mengalami kemerdekaan sejati baru melayani, tapi melatih diri menjadi dewasa dan rela dengan terus melayani. Ini adalah proses “deny-self”. Komitmen setia sehingga daging tidak lagi berontak. Adalah suatu kasih karunia dan sukacita kalau hidup kita berbuah bagi orang lain, hidup menjadi berarti, berkenan, memuliakan Tuhan serta memperoleh upah yang kekal.

image source:https://open.life.church/resources/2507-galatians-5-13