Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
ALLAH MENJANJIKAN BERKAT YANG MELIMPAH (WARISAN ROHANI)

ALLAH MENJANJIKAN BERKAT YANG MELIMPAH (WARISAN ROHANI)

Meskipun saat ini dunia sedang mengalami masa yang sulit dan penuh gejolak, tetapi orang percaya hidup dalam janji berkat dan pemeliharaan Allah. Dia setia memegang janjiNya kepada Abraham serta keturunannya. Kita disebut sebagai keturunan Abraham karena iman kepada Yesus Kristus dan turut mewarisi berkatnya.

“…mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.”
“Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.” (Galatia 3:7 dan 9)

Allah memberkati orang tua kita (atau kita sebagai orang tua) bukan hanya dengan berkat materi/fisik saja tetapi juga berkat rohani yang jauh lebih penting nilainya. Warisan berkat materi (harta benda) suatu saat akan habis, tetapi warisan berkat rohani (warisan iman) memberikan jaminan kekal untuk kita mendapatkan pertolongan dan segala sesuatu yang diperlukan.

Meneladani iman Abraham

Kejadian 12 :

(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
(2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
(3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dari ayat 1 dapat kita pelajari bahwa berkat Abraham diawali oleh iman dan ketaatan terhadap firman Allah. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Mendengar di sini maksudnya menanggapi/meresponi perintah Allah dengan iman yang diikuti dengan perbuatan/ketaatan.

“Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (Markus 4:24-25)

Respon iman merupakan ukuran yang akan menentukan bagian/berkat yang kita terima.
Barangsiapa yang mempunyai (artinya meresponi dengan iman), kepadanya akan diberi segala sesuatu yang diperlukan untuk berhasil. Sebaliknya barangsiapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Dari Alkitab kita belajar tentang kualitas iman yang dimiliki Abraham :

1. Dapat diandalkan/dipercaya.
Abraham setia memelihara Perjanjian Sunat (Kejadian 17:10-13,23).
“Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya.” (ayat 23)

2. Teruji.
Abraham terbukti taat sewaktu mempersembahkan Ishak kepada Allah (Kejadian 22:2,10-12).
Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” (ayat 12)

3. Bertanggung jawab
Abraham memberikan persembahan persepuluhan sebagai pengakuan akan Allah dalam hidupnya (Ibrani 7:1-2a).
“Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya.”

Abraham hidup oleh iman bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi dia juga mengajarkan dan mewariskan kepada anak cucu (Ishak, Yakub), bahkan kepada setiap laki-laki di antara mereka turun-temurun : baik yang lahir di rumah Abraham, maupun yang dibeli dari salah seorang asing (Kejadian 17:26-27). Allah menetapkan Abraham sebagai pemimpin rohani dalam rumahnya untuk mendidik anak-anak serta orang-orang yang dipimpinnya supaya beribadah dan hidup di dalam jalan Tuhan.

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kejadian 18:19)

Abraham bukan mengajarkan rutinitas/tradisi agamawi, tapi hidupnya menjadi teladan iman kepada Allah yang hidup. Bagi Abraham, Allah yang dia sembah adalah satu-satunya Allah yang benar, Pencipta langit bumi serta segala isinya, yang sungguh layak mendapatkan hormat, pujian dan penyembahan dari umatNya. Pengenalan akan Allah membuat Abraham, Ishak dan Yakub hidup di hadapanNya dengan iman yang tulus.

Walaupun Abraham diberkati dengan harta benda yang melimpah (Kejadian 13:2), yang dapat diturunkan kepada anak cucunya, tetapi iman kepada Allah adalah hal yang paling penting untuk diwariskan agar keturunannya juga hidup dengan iman yang sama seperti dirinya. Abraham mengerti bahwa penyertaan Allah atas hidupnya serta keturunannya jauh lebih berharga daripada harta materi.
Kita juga harus hidup dengan integritas iman seperti Abraham (dapat diandalkan, teruji dan bertanggung jawab) agar Allah dapat memenuhi sumpah janji berkatNya. Iman yang demikian membawa Abraham dan keturunannya memiliki janji berkat yang luar biasa :

1. Diangkat Tuhan (Elevation)
2. Berlimpah (Abundant)
3. Memberkati orang lain (be a blessing to others)

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Kegagalan Imam Eli

Bertolak belakang dengan Abraham, Imam Besar Eli gagal menurunkan warisan iman kepada anak-anaknya. Dia hanya mengajarkan kegiatan pelayanan tanpa memberikan pengertian yang memadai tentang pengenalan akan Allah. Hanya rutinitas melakukan tradisi/ kegiatan agamawi tidak akan membuat kita hidup oleh iman dan menikmati janji berkatNya.

Akibat dari kelalaian Iman Eli ini, Hofni & Pinehas tidak memiliki rasa hormat dan takut akan Allah. Mereka melakukan berbagai kejahatan serta kenajisan yang mendatangkan murka Allah sehingga keduanya meninggal. Tidak hanya sampai di situ, penghukuman Allah juga berlaku atas keluarga imam Eli sampai kepada keturunannya (1 Samuel 2:22-25,29-36).

Selanjutnya Allah mengangkat Samuel untuk menggantikan kedudukan Hofni dan Pinehas. Hana, ibu dari Samuel mewariskan iman yang tulus kepada anaknya. Hana menghormati dan memuji-muji Allah karena pertolonganNya ( 1 Samuel 2:1-3). Samuel menjadi seorang hamba Tuhan karena iman ibunya, baik dalam kehidupan dan nilai-nilai kebenaran yang diajarkannya.

Firman Tuhan dalam Amsal 13:22a mengatakan “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya … “

Ayat ini mengajarkan bahwa orang baik tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri tetapi memikirkan generasi di bawahnya. Dia ingin agar generasi-generasi berikut juga hidup dalam segala berkat serta keberhasilan yang dia alami. Warisan terpenting yang dia tinggalkan adalah sesuatu yang bersifat kekal, suatu harta yang tidak dapat dicuri dan tidak dapat rusak.
Yang dimaksud tentu bukan warisan harta materi, melainkan nilai-nilai kehidupan yang membentuk dan mengajar anak cucunya untuk hidup dalam hormat dan takut akan Allah, taat serta berpegang kepada perintahNya.

“Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.” (Mazmur 103:17-18)

Estafet warisan rohani

Jika dihubungkan dengan kehidupan, setiap kita adalah pelari estafet yang mengoperkan iman sebagai warisan rohani kepada pelari estafet berikut, yaitu generasi penerus. Orang tua menurunkan warisan rohani kepada anak-anaknya; anak-anaknya pun akan menurunkan hal yang sama kepada keturunan berikutnya, demikian seterusnya.

Kelalaian generasi di atas/orang tua untuk menurunkan iman dan pengenalan akan Allah kepada anak-anak mereka akan menyebabkan kesulitan, kekacauan, bahkan kegagalan untuk generasi berikutnya. Seorang yang berhasil tidak hanya untuk diri sendiri namun juga dapat mendidik anak cucunya sebagai generasi penerus untuk juga berhasil.

Kegagalan imam Eli dalam mendidik anak-anaknya dan keberhasilan Hana menjadikan Samuel muda terpilih sebagai imam dan nabi merupakan contoh tegas yang menjadi pelajaran bagi kita. Kehidupan Samuel yang berkenan kepada Tuhan serta Hofni dan Pinehas yang berdosa di hadapan Tuhan, mengajarkan betapa pentingnya mewariskan iman dan prinsip-prinsip Kerajaan Allah kepada generasi di bawah kita.

Firman Tuhan memerintahkan kita untuk bertekun dalam mengikuti perlombaan yang diwajibkan, yaitu perlombaan iman (Ibrani 12:1b). Lakukan segala sesuatu dengan iman, karena tanpa iman tidak mungkin seseorang berkenan kepada Allah. Iman yang dikerjakan dalam kerajinan, kesabaran dan ketekunan akan menjadi suatu warisan berharga bagi anak cucu dan orang di sekitar kita.

Di tengah dunia yang semakin gelap dan menyesatkan, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan iman, mengajarkan, mendidik dan mendoakan generasi penerus agar mereka :

– Memiliki rasa hormat dan takut akan Allah sebagai permulaan segala hikmat dan pengetahuan.
– Memiliki pengenalan akan Allah dan mengerti kehendakNya atas hidup mereka.
– Hidup oleh iman yang didasari kasih/ketulusan dan beribadah kepadaNya.
– Memiliki kerajinan, kesabaran dan ketekunan dalam mengikut Tuhan.
– Berhasil, berbuah dan berkelimpahan.
– Menjadi berkat/dampak dan memancarkan terang Allah di tengah kegelapan dunia.

Allah setia memegang Perjanjian kekal yang diikrarkanNya kepada Abraham, termasuk kepada kita keturunannya, yang memiliki iman kepada Yesus Kristus. Hiduplah oleh iman yang tulus dan berintegritas, wariskan itu kepada generasi berikut agar Allah dapat menggenapi janji berkatNya kepada kita serta keturunan kita.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

image source: https://lf.radio/verses/verse/?verseid=106836

HATI BAPA

HATI BAPA

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103:13
Sejarah umat manusia dimulai ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, lalu menempatkan mereka di taman Eden. Penciptaan ini memiliki nilai yang istimewa dalam kehidupan manusia, karena:
· Dijelaskan dalam Kejadian 1:27 Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya. Hanya manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan kemuliaan-Nya, melebihi ciptaan yang lain dan menyebabkan manusia menjadi suatu “pribadi” seperti pencipta-Nya.
· Kejadian 1:26 dan Kejadian 2:7 menjelaskan manusia memiliki keistimewaan dibandingkan makhluk ciptaan lain, karena bukan sekedar diciptakan; tetapi dijadikan, dibentuk bahkan dihembusi dengan nafas hidup (Ibr: Ruah) ke dalam hidungnya sehingga debu tanah itu berubah menjadi daging di mana di dalamnya terdapat jiwa dan roh.
· Manusia diciptakan untuk kekekalan, bukan untuk sementara. Hal ini tidak dimiliki oleh ciptaan lain mana pun. Semua ciptaan akan mati dan “lenyap”, tetapi manusia memiliki kekekalan dalam hidupnya.
· Manusia diciptakan di hari keenam yang merupakan hari terakhir penciptaan di mana semua fasilitas yang dibutuhkan untuk kehidupannya sudah tersedia dan tidak kurang sesuatu apapun. Bahkan manusia ditempatkan dalam taman di Eden (Kejadian 2:8), sebuah taman dimana Allah ada dan menopang kehidupan manusia secara berlimpah.
· Allah memberikan kuasa dan mandat kepada manusia bukan hanya untuk memenuhi bumi tetapi juga menguasai semua makhluk ciptaan lainnya (Kejadian 1:28-29). Kuasa dan mandat ini diberikan dalam berkat ilahi yang menghasilkan kemampuan yang melebihi semua ciptaan lainnya.
· Penilaian Allah ketika manusia selesai diciptakan adalah ‘sungguh amat baik’, sedangkan ciptaan-ciptaan sebelumnya hanya “baik”. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah kesempurnaan ciptaan Allah yang menjadi tujuan utama dalam proses penciptaan itu.
· Bahkan setelah manusia diciptakan, Allah terus mengunjungi manusia untuk membangun hubungan yang istimewa (Kejadian 3:8).
Tuhan Allah memberikan ‘pilihan bebas’ kepada manusia dengan tujuan manusia dapat memilih dengan kehendaknya sendiri untuk mengasihi dan taat kepada pencipta-Nya serta menjadi kesenangan bagi-Nya (Amsal 8:31). Allah memberikan segala yang terbaik untuk menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada manusia. Allah menghendaki sebuah hubungan yang istimewa dengan manusia, bukan hanya hubungan Pencipta dan Ciptaan, tetapi lebih dari itu sebuah hubungan yang digambarkan seperti seorang bapa dan anak-anaknya (Mazmur 103:13).
Hubungan Allah dan manusia yang disamakan dengan hubungan bapa dan anak diajarkan Tuhan Yesus sendiri untuk memberikan pengertian baru di dalam Perjanjian Baru yang merupakan hasil dari karya penebusan-Nya di kayu Salib. Tuhan Yesus mengajarkan doa yang dikenal dengan “Doa Bapa Kami” sebuah doa yang dimulai dengan menyebut Allah sebagai “Bapa kami yang di Sorga” (Matius 6:9).
· Dalam doanya Ia juga memanggil Allah dengan sebutan Bapa (Matius 11:25-27).
· Dalam pengajaran-Nya Ia memakai perumpamaan bapa dan anak, seperti 2 (dua) perumpamaan anak sulung dan anak bungsu dengan pilihan yang berbeda.
Inilah hubungan yang Allah ingin nyatakan kepada manusia ciptaan-Nya. Tetapi karena manusia memberontak dan melanggar perintah Allah, maka hubungan ini menjadi rusak. Si jahat memperdaya manusia dengan tipuan yang membuat manusia meragukan Allah dan mencurigaiNya. Iblis menyatakan bahwa manusia tidak akan mati pada waktu makan buah pengetahuan yang baik dan jahat tetapi justru akan menjadi seperti Allah. Tipuan inilah yang membuat Hawa tertarik untuk memakan buah itu, mengacuhkan segala konsekuensi yang harus ditanggung dan justru merusak hubungan yang baik antara Allah dan manusia.
Demikian juga hari-hari ini, Iblis terus merusak gambaran Bapa Sorgawi dengan cara merusak gambaran bapa jasmani agar manusia kehilangan hubungan yang istimewa ini, yaitu hubungan bapa-anak dengan Bapa Sorgawi. Kesalahan yang dilakukan oleh bapa-bapa jasmani terhadap anak-anaknya merusak gambaran tentang Bapa Sorgawi dalam pikiran dan perasaan banyak orang. Sekalipun mereka mengaku percaya Tuhan tetapi ada keraguan dalam hati tentang kasih Tuhan yang besar dan hubungan yang baik yang seharusnya ada antara Allah dan umat-Nya. Kesalahan dan tindakan bapa-bapa jasmani yang merusak hubungan bapa-anak, seperti:
· Penggunaan otoritas dengan sewenang-wenang (otoriter) dan memberikan kasih bersyarat kepada anak-anaknya. Akibatnya anak-anaknya akan sukar menerima dan percaya akan kasih Bapa Sorgawi yang tak bersyarat.
· Ayah yang suka berbohong dan tidak menepati janji karena alasan-alasan yang dibuat-buat akan membuat anak-anaknya tidak dapat mempercayai janji-janji Bapa Sorgawi.
· Ayah yang tidak menyediakan waktu yang cukup dan berkualitas untuk anak-anaknya membuat anak-anaknya merasa tidak dihargai dan tidak dapat mempercayai kasih Bapa.
Sebuah hasil survey yang dilakukan di kalangan generasi muda Gereja Bethel Indonesia menyatakan bahwa anak-anak yang menghadapi masalah:
· hanya 30% yang bercerita kepada orang tuanya, sedangkan
· 59% lainnya bercerita kepada orang lain, dan
· 11% memendam masalah itu sendiri.
12,5% kaum muda GBI mengakui bahwa mereka memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua dan 43% tidak ingin memiliki pasangan hidup seperti orangtuanya. Anak yang orangtuanya bercerai memiliki potensi 2 kali lipat lebih besar mengalami hubungan yang buruk dengan orangtuanya dan berkeinginan untuk bunuh diri dibandingkan dengan anak yang orangtuanya tidak bercerai. Pengakuan dari mereka yang memiliki hubungan yang buruk diakibatkan karena tersakiti oleh kata-kata yang diucapkan orang tua, mendapatkan pukulan fisik, merasa orang tua tidak memiliki waktu yang cukup bagi dirinya dan tidak bisa menjadi teladan.
Dalam praktek pelayanan, didapatkan kenyataan bahwa tidak semua orang yang bisa berkata ‘Tuhan’ juga bisa berkata ‘Bapa’. Ada keraguan bahkan penolakan dari jemaat Tuhan untuk menyebut ‘Bapa’ karena pengalaman-pengalaman yang buruk dengan orangtuanya. Hal ini menyebabkan jemaat tersebut tidak dapat memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa Sorgawi; tidak dapat mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati bahkan tidak dapat mempercayakan hidupnya ke dalam tangan Tuhan melalui iman.
Alkitab memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa Allah adalah Bapa yang sangat mengasihi manusia. Kasih-Nya yang utama dinyatakan dengan pengorbanan putra-Nya, Yesus Kristus, di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan menyediakan keselamatan yang kekal bagi umat manusia. Harga yang sangat mahal dibayar lunas (1 Korintus 6:20; 7:23) karena kasih Allah yang begitu besar kepada umat manusia. Sekalipun berdosa, Tuhan tidak pernah menolak orang yang mau datang kepada-nya (Yohanes 6:37, 39). Bahkan Tuhan Yesus mati ketika manusia masih berdosa dan menjadi seteru-Nya (Roma 5:8-10).
Dalam proses penyaliban, ketika tergantung di kayu salib, Tuhan Yesus berteriak “Eli, Eli, lama sabakhtani” (Matius 27:46) yang artinya “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”. Tuhan Yesus ditinggalkan Bapa-Nya supaya kita semua bisa diperdamaikan dengan Bapa Sorgawi dan mengalami pemulihan dalam hubungan Kasih Bapa.
Kasih Bapa Sorgawi dinyatakan melalui Yesus yang dalam Yohanes 10 menyatakan:
· Ia rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (ayat 11, 15),
· Ia mengenal domba-domba-Nya (ayat 14), Ia menuntun domba-domba lain (bangsa-bangsa di luar bangsa Yahudi) masuk ke dalam keselamatan (ayat 16),
· Ia memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Nya dan tidak membiarkan domba-domba-Nya direbut oleh siapapun (ayat 28, 29).
Segala pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna datang dari Bapa segala terang, yaitu Bapa Sorgawi yang sangat mengasihi umat-Nya. (Yakobus 1:17)
Matius 7:11 berkata, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Catatan dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan menerangkan bahwa Kristus menjanjikan bahwa Bapa di sorga tidak akan mengecewakan anak-anak-Nya. Bapa bahkan mengasihi lebih dari seorang bapa jasmani dan mampu memberikan yang baik kepada anak-anak-Nya. Yang terbaik adalah Bapa memberikan Roh-Nya sendiri kepada anak-anak-Nya sebagai Penasehat dan Penolong (Lukas 11:13; Yohanes 14:16-18).
Amsal 14:26: “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.”
Bapa memberikan perlindungan kepada anak-anak-Nya untuk bisa hidup sesuai dengan rencana-Nya dan mencapai kesempurnaan dalam panggilan-Nya.
Dengan demikian, selayaknyalah kita percaya bahwa Bapa Sorgawi adalah Bapa yang sangat mengasihi umat-Nya. Umat Allah seharusnya mengalami kasih Bapa ini melalui perjumpaan pribadi dan kehidupan yang berjalan bersama Dia. Mengalami janji-janji Allah dan melihat kesetiaan Allah terbukti membuat kita bisa mempercayai Dia dan mempercayakan hidup kita kepada-nya. Bapa memberikan Roh Kudus-Nya agar kita percaya akan kasih Bapa dan mampu untuk mengampuni orang-orang yang pernah merusak gambaran bapa yang baik serta memulihkan kondisi hati kita menjadi baru untuk bisa mengalami kasih Bapa yang sempurna. Amin.
“Orang benar meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa di simpan bagi orang benar.” Amsal 13:22,

image source: https://momattson.wixsite.com/woodntitbelovely/product-page/psalms-103-13

KASIH TUHAN ADALAH DASAR SEGALA PENGETAHUAN

KASIH TUHAN ADALAH DASAR SEGALA PENGETAHUAN

Manusia adalah ciptaan yang paling mulia karena diciptakan dalam Gambar dan rupa Allah. Manusia adalah roh dan menjadi mahluk yang hidup oleh hembusan nafas Allah sendiri. Allah menempatkan manusia di suatu taman. Kepadanya Allah memberikan segala hasil bumi untuk dimakan. Di antara segala pohon di taman itu, ada dua pohon yang secara khusus Allah tempatkan di tengah-tengah taman : pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:7,9).

Allah memberikan perintah kepada Adam (termasuk juga Hawa) untuk memakan buah dari semua pohon yang ada dalam taman dengan bebas kecuali buah dari pohon pengetahuan. Jika perintah ini dilanggar, maka manusia pasti mati.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16-17)

Manusia boleh makan buah semua pohon dalam taman, termasuk buah dari pohon kehidupan.
Lalu datanglah iblis dan memperdaya manusia dengan cara :

– Menarik perhatian manusia dengan menggunakan sebagian Firman Allah yang sudah di rubah.
“Tentulah Allah berfirman : Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya,bukan?”
(perintah Allah yang asli : “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya..”).

– Mengarahkan manusia untuk meragukan Allah dan tidak percaya firmanNya.
“Sekali-sekali kamu tidak akan mati”
(firman Allah : pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”)

– Membujuk manusia agar tertarik kepada hal yang justru dilarang Allah.
“tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Karena bujukan tersebut, manusia mulai terpikat akan iming-iming iblis dan mengabaikan perintahNya. Melihat bahwa buah pohon itu baik, sedap dan menarik hati, mereka pun memakannya. Hasrat untuk memiliki pengetahuan lebih besar daripada ketaatan pada Allah karena mendengarkan tipu daya iblis. Akibat dari ketidaktaatan ini, hubungan manusia dengan Allah jadi terputus.

Pohon Pengetahuan dan Pohon Kehidupan di masa kini

Hari-hari ini, dunia pengetahuan dan informasi berkembang dengan pesat dan begitu mudah diakses. Orang berlomba mengejar pengetahuan karena diyakini dapat memecahkan masalah, memberikan kemudahan, meningkatkan kualitas hidup; mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan; menjadikan kaya, memiliki jabatan/kekuasaan dan lain sebagainya.

Firman Tuhan dalam Amsal 9: 10 mengatakan : “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

Sesungguhnya pengetahuan yang benar hanya didapat dalam takut dan hormat akan Allah.
Hubungan yang terputus akibat dosa membuat manusia kehilangan kasih akan Allah dalam dirinya. Manusia jadi mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, termasuk menjadikan pengetahuan/hikmat dunia sebagai berhala. “Dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya.” (1 Korintus 1:21a) Segala pengetahuan yang menentang pengenalan akan Allah membawa kepada kesesatan, kejahatan dan kematian.

“Yesus Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Korintus 1:24b), Dialah Pohon Kehidupan itu. Pengetahuan yang berpusat kepada Kristus akan membawa manusia menikmati kehidupan yang sebenarnya. Pengetahuan dan pengajaran firman yang didasari kasih akan menuntun kepada pengenalan akan Allah. Pengetahuan dari pemikiran manusia tanpa hubungan kasih dengan Tuhan hanya sebatas informasi yang menyesatkan karena menolak keberadaan Tuhan yang adalah terang hidup. Sebaliknya pengenalan akan Allah menimbulkan iman dan hikmat untuk mengalami hidup yang berhasil dan berbuah.

Dunia sedang berada dalam kegelapan yang semakin mengerikan. Manusia sudah jauh tersesat dan tidak mampu membedakan yang baik dengan yang jahat. Dunia memerlukan hikmat bijaksana lebih dari sekedar pengetahuan. Mereka yang memiliki hikmat dan pengenalan akan Allah pasti menjauhi kejahatan. Hikmat pengetahuan yang menyelamatkan hanya didapat dari Pohon Kehidupan, yaitu Yesus Kristus. Di akhir jaman ini, orang-orang bijaksana akan semakin bersinar dan menuntun banyak orang kepada Kristus.

“Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.” (Daniel 12:3)

Pengetahuan adalah sesuatu yang baik, namun jangan makan dari padanya. Manusia hidup secara fisik makan makanan yang tumbuh dari tanah. Manusia roh hidup dari Firman Tuhan bukan dari pengetahuan. Seseorang yang memiliki banyak pengetahuan dan bergantung padanya akan menjadi sombong dan menentang Allah. Pengetahuan yang disingkapkan oleh Roh Kudus akan menghasilkan suatu pewahyuan yang benar dan menuntun orang semakin mengasihi Tuhan. Hikmat pengetahuan yang timbul dari iman akan membuat seseorang hidup dalam kehendak dan rencana Bapa.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” (Amsal 3:5-8)

Menggunakan kehendak bebas

Allah menempatkan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat di tengah-tengah Taman Eden untuk memberi Adam dan Hawa kebebasan dalam memilih : taat kepada Allah atau tidak. Jika Allah tidak memberi pilihan, pada dasarnya mereka seperti robot yang hanya melakukan apa yang diprogramkan, tanpa hubungan kasih dengan Sang Pencipta. Satu-satunya jalan untuk mengetahui apakah mereka sungguh mengasihi Allah atau tidak adalah dengan menguji respon mereka ketika dihadapkan kepada pilihan.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16-17)

Manusia adalah roh yang mempunyai jiwa dan hidup di dalam tubuh jasmani. Setelah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, roh segera dipulihkan dan terhubung kembali dengan Allah, sementara jiwa tidak. Oleh sebab itu, jiwa seseorang yang telah mengalami kelahiran baru perlu dipulihkan/diperbarui terus-menerus agar makin serupa dengan GambarNya.

Jiwa merupakan pusat dari ego seorang pribadi yang terdiri dari pikiran, perasaaan (emosi) dan kehendak.
– pikiran : untuk berpikir/menganalisa informasi, merancang, cara pandang, sistem kepercayaan/belief system.
– perasaan : untuk merasakan emosi positif dan negatif (bahagia, bangga, sedih, takut, jijik, marah, terkejut, malu, merasa bersalah, merasa terhina, dan lain sebagainya).
– kehendak : curiosity (rasa ingin tahu), menginginkan, memutuskan dan bertindak.

Sebelum jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa hanya memiliki pikiran tentang yang baik saja. Tetapi karena mendengarkan tipu muslihat iblis, kehendak untuk memuaskan rasa ingin tahu (curiosity) tentang yang baik dan yang jahat jadi timbul. Iblis memperdaya manusia diawali dari pikiran yang percaya akan tipu muslihatnya :

– Memberikan ide dalam pikiran yang sepertinya masuk akal, menarik tapi bukan kebenaran. Akibatnya seseorang akan tersesat, kehilangan cara pandang yang benar, akibatnya terbentuk belief system yang keliru.
– Memakai firman kebenaran yang dirubah/diselewengkan. Manusia diarahkan untuk kompromi dengan dosa/dunia atau membatasi kuasa Allah. Firman Tuhan yang seharusnya menjadi dasar hidup digantikan dengan hasrat yang hendak memuaskan diri/self.
– Mengintimidasi perasaan dengan kecemasan, kekuatiran atau rasa bersalah. Iblis mencuri damai sejahtera sehingga orang jadi stres dan depresi. Perasaan yang keliru akan menyebabkan orang berjalan dalam keputusan/kehendak yang juga keliru.

Sesungguhnya iblis sudah dikalahkan oleh Darah Anak Domba Allah, dia tidak memiliki kuasa atas orang percaya. Satu-satunya cara yang dia pakai untuk menyerang kita adalah dengan tipu daya. Pikiran yang membuka celah dan belum diperbarui serta keinginan daging yang belum disalibkan akan menyeret seseorang jatuh dalam dosa. Kita perlu waspada akan tipu muslihat iblis yang tanpa disadari menyerang pikiran, supaya kita tidak melenceng dari kehendak/rencana Allah.

Setiap pilihan yang kita ambil memiliki konsekuensi.

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ulangan 30:19)

– Makan dari pohon kehidupan (dari Allah sebagai sumber hidup), akan hidup.
– Makan dari pohon pengetahuan (untuk memuaskan self), akan mati.

Sesorang yang mau mengikut Tuhan Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Menyangkal diri berarti menyerahkan kehendak bebas kita untuk tunduk kepada perintahNya.
Solusi dalam memakai kehendak bebas agar tidak mencelakakan adalah memiliki pengenalan akan Tuhan Yesus lewat hubungan kasih. Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati oleh Roh KudusNya yang berdiam di dalam kita. Salah satu alasan manusia diciptakan adalah agar dapat menjalin hubungan kasih dengan Sang Pencipta.

Seseorang dikatakan mengasihi Allah jika ia menuruti segala perintahNya (Yohanes 14:15). Penyangkalan diri yang didasari kasih akan mengubah kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Yesus Kristus (Firman Allah Yang Hidup) adalah Pohon Kehidupan. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

Pikiran yang diperbarui firman akan mudah mengerti dan menerima apa yang berasal dari Roh Kudus. Segala pikiran harus ditaklukkan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Melalui doa pujian penyembahan, perasaan dan kehendak kita juga jadi selaras dengan kehendak Bapa.
Jiwa kita hanya bisa dipuaskan di dalam hadirat Allah.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (Mazmur 42: 2-3).

Seperti bapa yang sayang kepada anaknya, demikianlah Allah mendidik dan mendisiplinkan kita karena kasih melalui proses Pengudusan (Sanctification). Inilah yang dimaksud dengan kasih Bapa memulihkan jiwa kita.

Dalam hubungan kasih, kehendak bebas kita menjadi kehendak bebas yang didasari rasa hormat dan takut akan Allah; kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus untuk hidup dalam kekudusan dan menjadi serupa denganNya.

image source: https://www.pinterest.com/pin/bible-study-bounty-of-blessings-no-1-printable–469429961136672646/

WARISAN ROHANI

WARISAN ROHANI

Dalam perlombaan lari estafet, selain kecepatan berlari dari setiap anggota tim, hal yang penting adalah proses perpindahan tongkat estafet dari pelari terdahulu ke pelari berikutnya. Kegagalan dalam proses ini bisa menyebabkan kekalahan dalam keseluruhan pertandingan. Dalam kehidupan, hal ini berlaku juga ketika terjadi perpindahan kehidupan dari generasi ke generasi berikutnya. Kegagalan orang tua dalam meneruskan ‘warisan rohani’ kepada anak-anaknya menyebabkan kesulitan; bahkan kegagalan bagi generasi berikutnya.
Generasi baru membutuhkan pijakan yang kuat sebagai langkah awal kehidupan mereka dan hal ini seharusnya didapat dari generasi sebelumnya. Bila orang tua tidak mengerti dengan baik apa yang menjadi peran dan tanggung jawabnya, bagaimana mungkin seorang anak dapat memaksimalkan potensi dalam dirinya dan menggenapi rencana Allah? Peran orang tua sangat menentukan keberadaan seorang anak di kemudian hari.
1. Sebagai orang tua, kita harus selalu memandang jauh ke depan; ke masa depan anak-anak kita dan masa depan anak-anak mereka.
2. 2 Amsal 13:22a, “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya … “
Mengajarkan bahwa harus ada warisan yang diberikan bagi anak cucu. Yang dimaksud tentu bukan warisan harta kekayaan, tetapi warisan nilai-nilai kehidupan yang membentuk dan mengajar anak-anak untuk hidup benar di hadapan Tuhan.
Kegagalan imam Eli dalam mendidik anak-anaknya dan keberhasilan Hana menjadikan Samuel muda terpilih menjadi imam merupakan contoh yang tegas yang Alkitab berikan kepada umat-Nya. Kehidupan Samuel yang berkenan kepada Tuhan serta Hofni dan Pinehas yang berdosa di hadapan Tuhan, mengajarkan pentingnya mewariskan kehidupan rohani dengan nilai Kerajaan Allah dari generasi ke generasi. Di tengah serbuan teknologi informasi yang semakin berkembang pesat yang memungkinkan generasi sekarang ini terakses dengan segala jenis informasi dari yang terbaik sampai yang terburuk, seharusnya mereka diperlengkapi dari sejak dini dengan ‘filter’ nilai-nilai Kerajaan Allah dan kebenarannya.
BEBERAPA WARISAN ROHANI
1. Keteladan dalam Beribadah dan Melayani Tuhan (1 Petrus 2:9)
Sejak kecil Samuel sudah berada dalam lingkungan Bait Allah dan terbiasa mengenakan jubah dan baju efod dari kain lenan yang dibuatkan ibunya. 1 Samuel 2:19 mencatat setiap tahun secara rutin ibunya memberikan jubah imam kepada anaknya. Gambaran ketekunan dan kesungguhan dari seorang ibu yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi seorang pelayan Tuhan. Hasilnya adalah Tuhan justru memilih Samuel menjadi imam dibandingkan dengan kedua anak imam Eli sendiri yang hidup dalam dosa.
1 Samuel 2:26 mencatat bahwa Samuel yang muda itu, semakin besar semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia. Samuel mendapat pijakan untuk langkah awalnya sebagai seorang imam melalui kesetiaan ibunya, sedangkan Hofni dan Pinehas kehilangan pijakan itu dikarenakan sikap ayahnya yang hanya mempedulikan jabatan dan fasilitas sebagai imam serta menghormati anak-anaknya lebih dari menghormati Tuhan. (1 Samuel 2:29)
Demikian juga Yusuf dan Maria setiap tahun selalu membawa serta Yesus pergi ke Yerusalem pada hari Paskah. (Lukas 2:4)
Kesetiaan dan kesungguhan orang tua dalam ibadah dan waktu-waktu persekutuan dengan Tuhan secara pribadi menjadi teladan hidup, dan membentuk nilai-nilai rohani bagi anak-anaknya. Orang tua yang tekun berdoa, tekun membaca Alkitab dan setia melayani Tuhan menjadi contoh yang akan ditiru oleh anak-anaknya. Menjadi teladan adalah inti dari menolong anak-anak untuk berkembang secara rohani.3
Anak-anak mengamati kita ketika kita sama sekali tidak menyadarinya, mencatat dalam pikiran dan hati mereka setiap rinci dari sikap dan tindakan kita.4 Seringkali teladan dalam hal beribadah jauh lebih efektif dibandingkan dengan perintah untuk beribadah.
Paulus juga menekankan kepada anak rohaninya yaitu Timotius; bahwa iman yang tulus ikhlas yang dimiliki Timotius adalah iman yang sama yang hidup dalam diri neneknya Lois dan dalam ibunya Eunike. (2 Timotius 1:5)
Orang tua harus hidup dalam kebenaran dan iman untuk bisa mewariskan hal-hal rohani kepada anak-anaknya. Orang tua jangan hanya menyuruh anak berdoa dan membaca Alkitab setiap hari, tapi jadilah teladan dalam berdoa dan membaca Alkitab setiap hari.
2. Hidup yang Berintegritas
Bukan saja anak-anak harus belajar menanggapi suara Allah, tetapi mereka pertama-tama harus belajar menanggapi suara orang tua mereka.5 Tuhan mengajar umat Israel melalui Yeremia dengan sebuah contoh dari kehidupan kaum orang Rekhab. (Yeremia 35:1,2)
Kaum orang Rekhab menolak anggur pemberian Yeremia karena setia kepada perintah Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur mereka, yang memerintahkan untuk tidak minum anggur sampai selama-lamanya dan Tuhan memberikan janji-Nya bahwa keturunan Yonadab bin Rekhab tidak akan terputus melayani Tuhan sepanjang masa. (Yeremia 35:6-19)
Kekudusan hidup dan menjauhkan diri dari kecemaran dan dosa adalah bukti kesetiaan seseorang kepada Tuhan. Tuhan tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga Dia menguduskan kita melalui karya Roh Kudus untuk menjadikan kita menjadi umat yang layak bagi-Nya. (Lukas 1:17)
Teladan kekudusan ini haruslah dapat ditemukan oleh seorang anak dalam hidup orang tuanya. Di tengah dunia yang semakin rusak dan menuju kepada kehancurannya, umat Tuhan harus berani ‘memisahkan diri’ dalam kekudusan yang semakin meningkat hari demi hari. (Wahyu 22:11)
Dunia menawarkan segala kemegahan dan kenikmatannya seperti yang ditawarkan Iblis kepada Yesus dalam pencobaan di padang gurun. Sama seperti Yesus yang menolak kemegahan dunia tetapi memilih salib dan penderitaan, demikian umat Tuhan harus berani memilih untuk membayar harga dalam pengudusan daripada menikmati dosa dalam kehidupannya.
Memilih untuk hidup dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari dosa memang membutuhkan harga yang harus dibayar. Kualitas kekristenan seseorang dicapai dengan perjuangannya melawan dosa dan kemauannya untuk mencari Tuhan sepanjang hidupnya. Hal ini dimungkinkan dalam kasih karunia Tuhan dan dengan pertolongan Roh Kudus.
Dalam kehidupan zaman ini yang berusaha menjadikan segala sesuatu lebih mudah dan instan, proses pengudusan dalam Roh Allah mendapatkan tantangan tersendiri. Kebiasaan hidup yang mudah dan instan menjadikan generasi zaman ini bertumbuh menjadi pribadi yang mudah menyerah dalam menghadapi proses kehidupan rohani. Pemahaman kebenaran yang didapat dari pengajaran singkat yang didapat dari media sosial lebih disukai dibandingkan dengan pemahaman kebenaran yang mendalam melalui pengajaran dan pemuridan yang membutuhkan waktu dan usaha yang lebih keras.
Akar iman dan rohani yang dalam dan kuat didapat dari sebuah proses pembelajaran kebenaran dan kehidupan yang berjalan bersama dengan Roh Kudus setiap hari sepanjang hidup. Perenungan Firman yang teratur, pembacaan buku-buku rohani yang berkualitas, kehidupan doa, pujian dan penyembahan yang berkesinambungan adalah syarat untuk mendapatkan kehidupan rohani yang semakin kuat dan semakin dewasa.
3. Kasih yang Mendalam kepada Tuhan
Kasih kepada Tuhan dan sesama adalah dasar dari kehidupan orang percaya. (1 Korintus 13)
Iman dan pengharapan menjadi sempurna di dalam kasih. Petrus mengajarkan bahwa hasil akhir iman adalah kasih. (2 Petrus 1:5-7)
Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung yaitu mengasihi Allah dan sesama sebagai hukum yang terutama. (Matius 22:37-38) Bahkan buah Roh dimulai dengan kasih (Galatia 5:22-23). Kasih menghasilkan ‘rasa’ yang lain dan lengkap dari buah Roh itu. Selalu hidup dalam kasih yang semula itulah kerinduan Tuhan atas umat-Nya. (Wahyu 2:4-5)
Orang tua yang mengasihi Tuhan dan mengaplikasikannya dalam hal mengasihi keluarganya adalah contoh dan keteladanan yang harus didapat oleh anak-anak. Seorang ayah yang mengasihi istrinya dan seorang ibu yang menghormati suaminya menjadikan seorang anak hidup dalam kasih, dan memudahkannya mengenal kasih Bapa di dalam Yesus Kristus.
Kasih akan membentuk pribadi yang bertumbuh baik dan membawa mereka mengenal Allah yang adalah kasih itu sendiri. Pribadi yang demikian akan memiliki karakter yang kuat dan kedewasaan secara rohani dan jiwani dengan baik, ditambah dengan pengetahuan dan kecakapan maka akan memberikan dampak yang baik bagi lingkungannya dan menjadi bagian dalam membangun bangsa ini.
Biarlah generasi Yeremia yang dipenuhi Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa, dan akan bergerak untuk memenangkan jiwa; akan muncul dengan warisan rohani dari pendahulunya. Amin.

image source: https://www.pinterest.com/pin/385339311870068493/

ETERNAL FATHER’S LOVE RESTORING OUR SOUL (KASIH BAPA MEMULIHKAN JIWA KITA)

ETERNAL FATHER’S LOVE RESTORING OUR SOUL (KASIH BAPA MEMULIHKAN JIWA KITA)

ETERNAL FATHER’S LOVE RESTORING OUR SOUL
(KASIH BAPA MEMULIHKAN JIWA KITA)

“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Lagu :
Kau Bapa yang mengasihiku
KuasaMu memulihkanku
Hati yang baru Kau berikan
Untukku dapat melihat…

Allah adalah Pencipta alam semesta. Ia adalah Tuhan atas langit dan bumi, yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua manusia (Kisah Rasul 17:25).
Allah tidak bergantung kepada apapun namun segala sesuatu bergantung kepada Allah.
Manusia diciptakan untuk Tuhan dan tidak memiliki kemampuan untuk “self-sufficient”(menurut Merriam-Webster Dictionary artinya : able to maintain oneself or itself without outside aid : capable of providing for one’s own needs; having an extreme confidence in one’s own ability or worth).

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (seperti Bapa bagi kita).
“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada..” (Kisah Rasul 17:28a).
Dosa telah membuat manusia kehilangan gambar dan rupa Allah, akan tetapi kasih Bapa mengembalikan gambar hidup kita seperti semula (Zoe life) agar kita berbahagia, berhasil, beruntung dan berbuah untuk kemuliaanNya.
Kasih Bapa memulihkan (to restore) hidup kita ke rencana awal/original plan sesuai Kejadian 1:26-28

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Manusia adalah ciptaan Allah yang termulia

Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, diberkati dan diberi mandat untuk :
– beranak cucu dan bertambah banyak (reproduksi, bertumbuh, berbuah – Kej. 1:28)
– berkuasa atas segala ciptaan yang lain/have dominion (Kej. 1:28)
– memiliki hubungan dengan manusia lain (Kej, 2:18)
– bekerja dan berkreasi (Kej. 2: 15,19-20)
– menikmati penyediaan yang Allah berikan (Kej. 1:29-30)
– memiliki free will/kehendak bebas untuk memilih (Kej. 2:16-17)

Manusia termulia dari ciptaan yang lain, karena manusia adalah roh yang mempunyai jiwa dan hidup di dalam tubuh jasmani/fisik.

a. Roh manusia (Bahasa Ibrani :RUAKH) adalah nafas yang dihembuskan Allah ke dalam manusia (Kejadian 2:7). Roh adalah bagian dari seseorang yang sadar akan adanya Allah. Setelah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Roh dipulihkan dan terhubung kembali dengan Allah.

b. Jiwa (Bahasa Ibrani : NEFES) adalah manusia batiniah yang sadar akan dirinya. Jiwa merupakan pusat dari ego seorang pribadi yang terdiri dari pikiran, perasaaan (emosi) dan kehendak.
– pikiran : untuk berpikir/menganalisa informasi, merancang, cara pandang, sistem kepercayaan/belief system.
– perasaan : untuk merasakan bermacam-macam emosi (bahagia, bangga, sedih, takut, jijik, marah, terkejut, malu, merasa bersalah, merasa terhina, dan lain sebagainya).
– kehendak : curiosity (rasa ingin tahu), menginginkan, memutuskan dan bertindak.

c. Tubuh (Bahasa Ibrani : BASAR) adalah bagian dari manusia yang berhubungan dengan dunia luar. Tubuh akan :
– Menerima input dari dunia luar diterima melalui 5 panca indera (penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan perasa/pengecap).
– Bereaksi dan mengekspresikan apa yang dirasakan oleh jiwa melalui sistem motorik berupa perkataan dan perbuatan.

Mengapa jiwa harus di pulihkan

Manusia telah jatuh dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dalam dirinya. Akibat terpisah dari Allah, roh manusia mengalami kematian (Kejadian 2:17), gelap dan ketakutan.
Pada waktu seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, rohnya menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Allah memberikan hati dan roh yang baru, karena Roh Allah berdiam di dalam batinnya (Yehezkiel 36:26-27).

Bagimana dengan jiwa?
Jiwa tidak langsung dipulihkan ketika seseorang dilahirkan kembali. Orang tersebut masih merupakan manusia duniawi/manusia lama, yang belum dewasa dalam Kristus (1 Korintus 3:1-3). Keadaan jiwa tanpa Yesus adalah jiwa yang lemah, terikat/terbelenggu, merasa tidak aman dan tidak ada damai sejahtera/sukacita.

– Pikiran : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada dalam pikiran manusia adalah asumsi yang keliru, pikiran negatif serta rancangan yang jahat.

– Perasaan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada hanyalah kegelisahan, rasa khawatir, kesepian, putus asa, tidak puas, benci, amarah, kesedihan, iri hati, dendam, kecewa/sakit hati, mengasihani diri sendiri, mudah tersinggung, dll.

– Kehendak/Keinginan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang dikehendaki adalah mengurusi urusan orang lain, berlomba mencari harta dan materi untuk memuaskan hawa nafsu, mencuri, menipu, pesta pora, bertikai, melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri maupun orang lain, menentang Allah dan otoritas yang ada di atasnya, dan lain sebagainya.

Jiwa yang belum dipulihkan masih memiliki pikiran dan kebiasaan lama yang cenderung menyeretnya untuk hidup dalam kedagingan.
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging.
Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Roma 8:5a,7-8).

Kekuatan pikiran manusia

Pikiran adalah bagian dari jiwa yang merupakan “pusat kontrol” tubuh fisik. Pikiran manusia dibagi menjadi pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar pada manusia digunakan untuk mengambil keputusan, menganalisa sesuatu dan membandingkan informasi. Pikiran bawah sadar manusia dapat digunakan sebagai pusat memori, kebiasaan, intuisi (kemampuan mengetahui/ memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari) dan seni.
Penelitian membuktikan bahwa kekuatan pikiran sadar hanya berpengaruh 12% dalam mengendalikan seluruh tubuh, sedangkan pikiran bawah sadar 88% persen.

Dapat dibayangkan betapa gelapnya pikiran manusia (sebagai pusat control yang mengendalikan hidupnya) jika tidak ada Kristus di dalamnya. Gelap dalam arti pikirannya sia-sia karena tidak ada pengertian/pengenalan akan Allah dan kebenaran. Pikiran seperti ini bisa membahayakan bahkan membawa kepada kebinasaan (Hosea 4:6a). Yang ada dalam pikirannya adalah asumsi yang keliru, negatif serta rancangan yang jahat.

Pikiran yang salah akan menghasilkan perasaan negatif (mis. gelisah, cemas, marah, rasa tidak aman, dsb) yang menimbulkan rupa-rupa keinginan daging, menyebabkan penderitaan batin, depresi ataupun sakit penyakit secara fisik (Efesus 4:19).
Perasaan negatif akan menghasilkan kehendak/tindakan yang salah. Akibatnya orang tersebut jadi tidak tunduk pada kehendak Allah, hidupnya jadi tidak produktif serta tidak bisa jadi berkat.

Oleh sebab itu jiwa harus terus-menerus diperbarui dengan firman kebenaran agar semakin serupa dengan gambarNya (Kolose 3:10). Firman Tuhan sanggup merubuhkan kubu dan benteng, mematahkan setiap siasat orang yang dalam keangkuhannya menentang pengenalan akan Allah (2 Korintus 10:4-5).

Ada perbedaan antara digoda (ketika pikiran jahat merasuki akal budi) dan dosa yang sudah mengakar (sudah jadi kebiasaan/ikatan). Penting untuk memahami ketika sebuah pikiran memasuki akal budi, kita harus mengujinya dengan Firman Tuhan.
Gunakan hak bebas untuk memilih kehidupan/berkat dengan cara tunduk pada firman dan tolak pikiran yang bukan kebenaran. Jika tidak, iblis akan masuk dan menguasai hidup kita.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Rom 12:2)

Dengan merenungkan firman, maka kegelapan yang ada dalam pikiran akan diterangi oleh Roh Kudus. Pikiran yang terus-menerus diperbarui firman adalah seperti kantong anggur baru, yang dapat menerima hal-hal rohani dari Roh Kudus, sehingga mampu membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita

Cara Allah menyingkapkan keadaan kita bisa melalui firman, orang lain, pergumulan atau masalah. Jangan putus asa bila kita diperingatkanNya karena Allah menghajar orang yang dikasihi dan yang diakuiNya sebagai anak. Bapa bukan menghukum tetapi mendisiplinkan dan mendidik untuk kebaikan. Tongkat didikan sangat diperlukan untuk mengusir kebodohan dalam hati dan jiwa.

“dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita melalui proses Pengudusan (sanctification) :
1. Setiap kali Roh Kudus menyingkapkan keadaan jiwa kita, bersikaplah jujur terhadap diri sendiri dan Tuhan dengan mengakui dosa (yang tersembunyi sekalipun), kelemahan atau kelalaian kita.
2. Jangan menyangkal saat Roh Kudus menempelak hati kita. Buang sikap yang menyalahkan orang lain, diri sendiri atau Tuhan. Minta Roh Kudus menunjukkan celah yang terbuka, yang menjadi akses bagi si jahat bisa menjamah hidup kita.
3. Bertobat, minta Tuhan mengampuni dan menyucikan kita dengan Darah Anak Domba.
4. Minta Roh Kudus untuk menolong kita dalam kelemahan, memberi kekuatan untuk berkemenangan serta menjauhkan dari yang jahat.

Ketika pikiran mengalami proses pembaruan, maka perasaan dan kehendak pun akan turut mengalami pemulihan. Our soul is a work in progress. Jiwa yang dipulihkan akan mudah tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Jiwa yang dipulihkan akan memancarkan karakter ilahi yang dewasa dan berintegritas.

Merendahkan hati adalah sikap bijaksana karena keangkuhan menghalangi seseorang untuk bertobat dan dipulihkan. Ijinkan kasihNya memulihkan gambar hidup kita kembali seperti rencana awal/original plan di mana Allah menciptakan dan memberkati manusia untuk mencerminkan kemuliaanNya, memberi manusia kemampuan untuk mengelola bumi serta segala isinya sesuai dengan kehendak Allah, berhasil, berkelimpahan dan berbuah untuk menjadi berkat.

ETERNAL FATHER’S LOVE RESTORING OUR SOUL
(KASIH BAPA MEMULIHKAN JIWA KITA)

“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Lagu :
Kau Bapa yang mengasihiku
KuasaMu memulihkanku
Hati yang baru Kau berikan
Untukku dapat melihat…

Allah adalah Pencipta alam semesta. Ia adalah Tuhan atas langit dan bumi, yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua manusia (Kisah Rasul 17:25).
Allah tidak bergantung kepada apapun namun segala sesuatu bergantung kepada Allah.
Manusia diciptakan untuk Tuhan dan tidak memiliki kemampuan untuk “self-sufficient”(menurut Merriam-Webster Dictionary artinya : able to maintain oneself or itself without outside aid : capable of providing for one’s own needs; having an extreme confidence in one’s own ability or worth).

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (seperti Bapa bagi kita).
“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada..” (Kisah Rasul 17:28a).
Dosa telah membuat manusia kehilangan gambar dan rupa Allah, akan tetapi kasih Bapa mengembalikan gambar hidup kita seperti semula (Zoe life) agar kita berbahagia, berhasil, beruntung dan berbuah untuk kemuliaanNya.
Kasih Bapa memulihkan (to restore) hidup kita ke rencana awal/original plan sesuai Kejadian 1:26-28

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Manusia adalah ciptaan Allah yang termulia

Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, diberkati dan diberi mandat untuk :
– beranak cucu dan bertambah banyak (reproduksi, bertumbuh, berbuah – Kej. 1:28)
– berkuasa atas segala ciptaan yang lain/have dominion (Kej. 1:28)
– memiliki hubungan dengan manusia lain (Kej, 2:18)
– bekerja dan berkreasi (Kej. 2: 15,19-20)
– menikmati penyediaan yang Allah berikan (Kej. 1:29-30)
– memiliki free will/kehendak bebas untuk memilih (Kej. 2:16-17)

Manusia termulia dari ciptaan yang lain, karena manusia adalah roh yang mempunyai jiwa dan hidup di dalam tubuh jasmani/fisik.

a. Roh manusia (Bahasa Ibrani :RUAKH) adalah nafas yang dihembuskan Allah ke dalam manusia (Kejadian 2:7). Roh adalah bagian dari seseorang yang sadar akan adanya Allah. Setelah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Roh dipulihkan dan terhubung kembali dengan Allah.

b. Jiwa (Bahasa Ibrani : NEFES) adalah manusia batiniah yang sadar akan dirinya. Jiwa merupakan pusat dari ego seorang pribadi yang terdiri dari pikiran, perasaaan (emosi) dan kehendak.
– pikiran : untuk berpikir/menganalisa informasi, merancang, cara pandang, sistem kepercayaan/belief system.
– perasaan : untuk merasakan bermacam-macam emosi (bahagia, bangga, sedih, takut, jijik, marah, terkejut, malu, merasa bersalah, merasa terhina, dan lain sebagainya).
– kehendak : curiosity (rasa ingin tahu), menginginkan, memutuskan dan bertindak.

c. Tubuh (Bahasa Ibrani : BASAR) adalah bagian dari manusia yang berhubungan dengan dunia luar. Tubuh akan :
– Menerima input dari dunia luar diterima melalui 5 panca indera (penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan perasa/pengecap).
– Bereaksi dan mengekspresikan apa yang dirasakan oleh jiwa melalui sistem motorik berupa perkataan dan perbuatan.

Mengapa jiwa harus di pulihkan

Manusia telah jatuh dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dalam dirinya. Akibat terpisah dari Allah, roh manusia mengalami kematian (Kejadian 2:17), gelap dan ketakutan.
Pada waktu seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, rohnya menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Allah memberikan hati dan roh yang baru, karena Roh Allah berdiam di dalam batinnya (Yehezkiel 36:26-27).

Bagimana dengan jiwa?
Jiwa tidak langsung dipulihkan ketika seseorang dilahirkan kembali. Orang tersebut masih merupakan manusia duniawi/manusia lama, yang belum dewasa dalam Kristus (1 Korintus 3:1-3). Keadaan jiwa tanpa Yesus adalah jiwa yang lemah, terikat/terbelenggu, merasa tidak aman dan tidak ada damai sejahtera/sukacita.

– Pikiran : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada dalam pikiran manusia adalah asumsi yang keliru, pikiran negatif serta rancangan yang jahat.

– Perasaan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada hanyalah kegelisahan, rasa khawatir, kesepian, putus asa, tidak puas, benci, amarah, kesedihan, iri hati, dendam, kecewa/sakit hati, mengasihani diri sendiri, mudah tersinggung, dll.

– Kehendak/Keinginan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang dikehendaki adalah mengurusi urusan orang lain, berlomba mencari harta dan materi untuk memuaskan hawa nafsu, mencuri, menipu, pesta pora, bertikai, melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri maupun orang lain, menentang Allah dan otoritas yang ada di atasnya, dan lain sebagainya.

Jiwa yang belum dipulihkan masih memiliki pikiran dan kebiasaan lama yang cenderung menyeretnya untuk hidup dalam kedagingan.
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging.
Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Roma 8:5a,7-8).

Kekuatan pikiran manusia

Pikiran adalah bagian dari jiwa yang merupakan “pusat kontrol” tubuh fisik. Pikiran manusia dibagi menjadi pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar pada manusia digunakan untuk mengambil keputusan, menganalisa sesuatu dan membandingkan informasi. Pikiran bawah sadar manusia dapat digunakan sebagai pusat memori, kebiasaan, intuisi (kemampuan mengetahui/ memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari) dan seni.
Penelitian membuktikan bahwa kekuatan pikiran sadar hanya berpengaruh 12% dalam mengendalikan seluruh tubuh, sedangkan pikiran bawah sadar 88% persen.

Dapat dibayangkan betapa gelapnya pikiran manusia (sebagai pusat control yang mengendalikan hidupnya) jika tidak ada Kristus di dalamnya. Gelap dalam arti pikirannya sia-sia karena tidak ada pengertian/pengenalan akan Allah dan kebenaran. Pikiran seperti ini bisa membahayakan bahkan membawa kepada kebinasaan (Hosea 4:6a). Yang ada dalam pikirannya adalah asumsi yang keliru, negatif serta rancangan yang jahat.

Pikiran yang salah akan menghasilkan perasaan negatif (mis. gelisah, cemas, marah, rasa tidak aman, dsb) yang menimbulkan rupa-rupa keinginan daging, menyebabkan penderitaan batin, depresi ataupun sakit penyakit secara fisik (Efesus 4:19).
Perasaan negatif akan menghasilkan kehendak/tindakan yang salah. Akibatnya orang tersebut jadi tidak tunduk pada kehendak Allah, hidupnya jadi tidak produktif serta tidak bisa jadi berkat.

Oleh sebab itu jiwa harus terus-menerus diperbarui dengan firman kebenaran agar semakin serupa dengan gambarNya (Kolose 3:10). Firman Tuhan sanggup merubuhkan kubu dan benteng, mematahkan setiap siasat orang yang dalam keangkuhannya menentang pengenalan akan Allah (2 Korintus 10:4-5).

Ada perbedaan antara digoda (ketika pikiran jahat merasuki akal budi) dan dosa yang sudah mengakar (sudah jadi kebiasaan/ikatan). Penting untuk memahami ketika sebuah pikiran memasuki akal budi, kita harus mengujinya dengan Firman Tuhan.
Gunakan hak bebas untuk memilih kehidupan/berkat dengan cara tunduk pada firman dan tolak pikiran yang bukan kebenaran. Jika tidak, iblis akan masuk dan menguasai hidup kita.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Rom 12:2)

Dengan merenungkan firman, maka kegelapan yang ada dalam pikiran akan diterangi oleh Roh Kudus. Pikiran yang terus-menerus diperbarui firman adalah seperti kantong anggur baru, yang dapat menerima hal-hal rohani dari Roh Kudus, sehingga mampu membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita

Cara Allah menyingkapkan keadaan kita bisa melalui firman, orang lain, pergumulan atau masalah. Jangan putus asa bila kita diperingatkanNya karena Allah menghajar orang yang dikasihi dan yang diakuiNya sebagai anak. Bapa bukan menghukum tetapi mendisiplinkan dan mendidik untuk kebaikan. Tongkat didikan sangat diperlukan untuk mengusir kebodohan dalam hati dan jiwa.

“dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita melalui proses Pengudusan (sanctification) :
1. Setiap kali Roh Kudus menyingkapkan keadaan jiwa kita, bersikaplah jujur terhadap diri sendiri dan Tuhan dengan mengakui dosa (yang tersembunyi sekalipun), kelemahan atau kelalaian kita.
2. Jangan menyangkal saat Roh Kudus menempelak hati kita. Buang sikap yang menyalahkan orang lain, diri sendiri atau Tuhan. Minta Roh Kudus menunjukkan celah yang terbuka, yang menjadi akses bagi si jahat bisa menjamah hidup kita.
3. Bertobat, minta Tuhan mengampuni dan menyucikan kita dengan Darah Anak Domba.
4. Minta Roh Kudus untuk menolong kita dalam kelemahan, memberi kekuatan untuk berkemenangan serta menjauhkan dari yang jahat.

Ketika pikiran mengalami proses pembaruan, maka perasaan dan kehendak pun akan turut mengalami pemulihan. Our soul is a work in progress. Jiwa yang dipulihkan akan mudah tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Jiwa yang dipulihkan akan memancarkan karakter ilahi yang dewasa dan berintegritas.

Merendahkan hati adalah sikap bijaksana karena keangkuhan menghalangi seseorang untuk bertobat dan dipulihkan. Ijinkan kasihNya memulihkan gambar hidup kita kembali seperti rencana awal/original plan di mana Allah menciptakan dan memberkati manusia untuk mencerminkan kemuliaanNya, memberi manusia kemampuan untuk mengelola bumi serta segala isinya sesuai dengan kehendak Allah, berhasil, berkelimpahan dan berbuah untuk menjadi berkat.

ETERNAL FATHER’S LOVE RESTORING OUR SOUL
(KASIH BAPA MEMULIHKAN JIWA KITA)

“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Lagu :
Kau Bapa yang mengasihiku
KuasaMu memulihkanku
Hati yang baru Kau berikan
Untukku dapat melihat…

Allah adalah Pencipta alam semesta. Ia adalah Tuhan atas langit dan bumi, yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua manusia (Kisah Rasul 17:25).
Allah tidak bergantung kepada apapun namun segala sesuatu bergantung kepada Allah.
Manusia diciptakan untuk Tuhan dan tidak memiliki kemampuan untuk “self-sufficient”(menurut Merriam-Webster Dictionary artinya : able to maintain oneself or itself without outside aid : capable of providing for one’s own needs; having an extreme confidence in one’s own ability or worth).

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (seperti Bapa bagi kita).
“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada..” (Kisah Rasul 17:28a).
Dosa telah membuat manusia kehilangan gambar dan rupa Allah, akan tetapi kasih Bapa mengembalikan gambar hidup kita seperti semula (Zoe life) agar kita berbahagia, berhasil, beruntung dan berbuah untuk kemuliaanNya.
Kasih Bapa memulihkan (to restore) hidup kita ke rencana awal/original plan sesuai Kejadian 1:26-28

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Manusia adalah ciptaan Allah yang termulia

Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, diberkati dan diberi mandat untuk :
– beranak cucu dan bertambah banyak (reproduksi, bertumbuh, berbuah – Kej. 1:28)
– berkuasa atas segala ciptaan yang lain/have dominion (Kej. 1:28)
– memiliki hubungan dengan manusia lain (Kej, 2:18)
– bekerja dan berkreasi (Kej. 2: 15,19-20)
– menikmati penyediaan yang Allah berikan (Kej. 1:29-30)
– memiliki free will/kehendak bebas untuk memilih (Kej. 2:16-17)

Manusia termulia dari ciptaan yang lain, karena manusia adalah roh yang mempunyai jiwa dan hidup di dalam tubuh jasmani/fisik.

a. Roh manusia (Bahasa Ibrani :RUAKH) adalah nafas yang dihembuskan Allah ke dalam manusia (Kejadian 2:7). Roh adalah bagian dari seseorang yang sadar akan adanya Allah. Setelah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Roh dipulihkan dan terhubung kembali dengan Allah.

b. Jiwa (Bahasa Ibrani : NEFES) adalah manusia batiniah yang sadar akan dirinya. Jiwa merupakan pusat dari ego seorang pribadi yang terdiri dari pikiran, perasaaan (emosi) dan kehendak.
– pikiran : untuk berpikir/menganalisa informasi, merancang, cara pandang, sistem kepercayaan/belief system.
– perasaan : untuk merasakan bermacam-macam emosi (bahagia, bangga, sedih, takut, jijik, marah, terkejut, malu, merasa bersalah, merasa terhina, dan lain sebagainya).
– kehendak : curiosity (rasa ingin tahu), menginginkan, memutuskan dan bertindak.

c. Tubuh (Bahasa Ibrani : BASAR) adalah bagian dari manusia yang berhubungan dengan dunia luar. Tubuh akan :
– Menerima input dari dunia luar diterima melalui 5 panca indera (penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan perasa/pengecap).
– Bereaksi dan mengekspresikan apa yang dirasakan oleh jiwa melalui sistem motorik berupa perkataan dan perbuatan.

Mengapa jiwa harus di pulihkan

Manusia telah jatuh dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dalam dirinya. Akibat terpisah dari Allah, roh manusia mengalami kematian (Kejadian 2:17), gelap dan ketakutan.
Pada waktu seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, rohnya menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Allah memberikan hati dan roh yang baru, karena Roh Allah berdiam di dalam batinnya (Yehezkiel 36:26-27).

Bagimana dengan jiwa?
Jiwa tidak langsung dipulihkan ketika seseorang dilahirkan kembali. Orang tersebut masih merupakan manusia duniawi/manusia lama, yang belum dewasa dalam Kristus (1 Korintus 3:1-3). Keadaan jiwa tanpa Yesus adalah jiwa yang lemah, terikat/terbelenggu, merasa tidak aman dan tidak ada damai sejahtera/sukacita.

– Pikiran : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada dalam pikiran manusia adalah asumsi yang keliru, pikiran negatif serta rancangan yang jahat.

– Perasaan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada hanyalah kegelisahan, rasa khawatir, kesepian, putus asa, tidak puas, benci, amarah, kesedihan, iri hati, dendam, kecewa/sakit hati, mengasihani diri sendiri, mudah tersinggung, dll.

– Kehendak/Keinginan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang dikehendaki adalah mengurusi urusan orang lain, berlomba mencari harta dan materi untuk memuaskan hawa nafsu, mencuri, menipu, pesta pora, bertikai, melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri maupun orang lain, menentang Allah dan otoritas yang ada di atasnya, dan lain sebagainya.

Jiwa yang belum dipulihkan masih memiliki pikiran dan kebiasaan lama yang cenderung menyeretnya untuk hidup dalam kedagingan.
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging.
Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Roma 8:5a,7-8).

Kekuatan pikiran manusia

Pikiran adalah bagian dari jiwa yang merupakan “pusat kontrol” tubuh fisik. Pikiran manusia dibagi menjadi pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar pada manusia digunakan untuk mengambil keputusan, menganalisa sesuatu dan membandingkan informasi. Pikiran bawah sadar manusia dapat digunakan sebagai pusat memori, kebiasaan, intuisi (kemampuan mengetahui/ memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari) dan seni.
Penelitian membuktikan bahwa kekuatan pikiran sadar hanya berpengaruh 12% dalam mengendalikan seluruh tubuh, sedangkan pikiran bawah sadar 88% persen.

Dapat dibayangkan betapa gelapnya pikiran manusia (sebagai pusat control yang mengendalikan hidupnya) jika tidak ada Kristus di dalamnya. Gelap dalam arti pikirannya sia-sia karena tidak ada pengertian/pengenalan akan Allah dan kebenaran. Pikiran seperti ini bisa membahayakan bahkan membawa kepada kebinasaan (Hosea 4:6a). Yang ada dalam pikirannya adalah asumsi yang keliru, negatif serta rancangan yang jahat.

Pikiran yang salah akan menghasilkan perasaan negatif (mis. gelisah, cemas, marah, rasa tidak aman, dsb) yang menimbulkan rupa-rupa keinginan daging, menyebabkan penderitaan batin, depresi ataupun sakit penyakit secara fisik (Efesus 4:19).
Perasaan negatif akan menghasilkan kehendak/tindakan yang salah. Akibatnya orang tersebut jadi tidak tunduk pada kehendak Allah, hidupnya jadi tidak produktif serta tidak bisa jadi berkat.

Oleh sebab itu jiwa harus terus-menerus diperbarui dengan firman kebenaran agar semakin serupa dengan gambarNya (Kolose 3:10). Firman Tuhan sanggup merubuhkan kubu dan benteng, mematahkan setiap siasat orang yang dalam keangkuhannya menentang pengenalan akan Allah (2 Korintus 10:4-5).

Ada perbedaan antara digoda (ketika pikiran jahat merasuki akal budi) dan dosa yang sudah mengakar (sudah jadi kebiasaan/ikatan). Penting untuk memahami ketika sebuah pikiran memasuki akal budi, kita harus mengujinya dengan Firman Tuhan.
Gunakan hak bebas untuk memilih kehidupan/berkat dengan cara tunduk pada firman dan tolak pikiran yang bukan kebenaran. Jika tidak, iblis akan masuk dan menguasai hidup kita.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Rom 12:2)

Dengan merenungkan firman, maka kegelapan yang ada dalam pikiran akan diterangi oleh Roh Kudus. Pikiran yang terus-menerus diperbarui firman adalah seperti kantong anggur baru, yang dapat menerima hal-hal rohani dari Roh Kudus, sehingga mampu membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita

Cara Allah menyingkapkan keadaan kita bisa melalui firman, orang lain, pergumulan atau masalah. Jangan putus asa bila kita diperingatkanNya karena Allah menghajar orang yang dikasihi dan yang diakuiNya sebagai anak. Bapa bukan menghukum tetapi mendisiplinkan dan mendidik untuk kebaikan. Tongkat didikan sangat diperlukan untuk mengusir kebodohan dalam hati dan jiwa.

“dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita melalui proses Pengudusan (sanctification) :
1. Setiap kali Roh Kudus menyingkapkan keadaan jiwa kita, bersikaplah jujur terhadap diri sendiri dan Tuhan dengan mengakui dosa (yang tersembunyi sekalipun), kelemahan atau kelalaian kita.
2. Jangan menyangkal saat Roh Kudus menempelak hati kita. Buang sikap yang menyalahkan orang lain, diri sendiri atau Tuhan. Minta Roh Kudus menunjukkan celah yang terbuka, yang menjadi akses bagi si jahat bisa menjamah hidup kita.
3. Bertobat, minta Tuhan mengampuni dan menyucikan kita dengan Darah Anak Domba.
4. Minta Roh Kudus untuk menolong kita dalam kelemahan, memberi kekuatan untuk berkemenangan serta menjauhkan dari yang jahat.

Ketika pikiran mengalami proses pembaruan, maka perasaan dan kehendak pun akan turut mengalami pemulihan. Our soul is a work in progress. Jiwa yang dipulihkan akan mudah tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Jiwa yang dipulihkan akan memancarkan karakter ilahi yang dewasa dan berintegritas.

Merendahkan hati adalah sikap bijaksana karena keangkuhan menghalangi seseorang untuk bertobat dan dipulihkan. Ijinkan kasihNya memulihkan gambar hidup kita kembali seperti rencana awal/original plan di mana Allah menciptakan dan memberkati manusia untuk mencerminkan kemuliaanNya, memberi manusia kemampuan untuk mengelola bumi serta segala isinya sesuai dengan kehendak Allah, berhasil, berkelimpahan dan berbuah untuk menjadi berkat.

ETERNAL FATHER’S LOVE RESTORING OUR SOUL
(KASIH BAPA MEMULIHKAN JIWA KITA)

“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Lagu :
Kau Bapa yang mengasihiku
KuasaMu memulihkanku
Hati yang baru Kau berikan
Untukku dapat melihat…

Allah adalah Pencipta alam semesta. Ia adalah Tuhan atas langit dan bumi, yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua manusia (Kisah Rasul 17:25).
Allah tidak bergantung kepada apapun namun segala sesuatu bergantung kepada Allah.
Manusia diciptakan untuk Tuhan dan tidak memiliki kemampuan untuk “self-sufficient”(menurut Merriam-Webster Dictionary artinya : able to maintain oneself or itself without outside aid : capable of providing for one’s own needs; having an extreme confidence in one’s own ability or worth).

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (seperti Bapa bagi kita).
“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada..” (Kisah Rasul 17:28a).
Dosa telah membuat manusia kehilangan gambar dan rupa Allah, akan tetapi kasih Bapa mengembalikan gambar hidup kita seperti semula (Zoe life) agar kita berbahagia, berhasil, beruntung dan berbuah untuk kemuliaanNya.
Kasih Bapa memulihkan (to restore) hidup kita ke rencana awal/original plan sesuai Kejadian 1:26-28

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Manusia adalah ciptaan Allah yang termulia

Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, diberkati dan diberi mandat untuk :
– beranak cucu dan bertambah banyak (reproduksi, bertumbuh, berbuah – Kej. 1:28)
– berkuasa atas segala ciptaan yang lain/have dominion (Kej. 1:28)
– memiliki hubungan dengan manusia lain (Kej, 2:18)
– bekerja dan berkreasi (Kej. 2: 15,19-20)
– menikmati penyediaan yang Allah berikan (Kej. 1:29-30)
– memiliki free will/kehendak bebas untuk memilih (Kej. 2:16-17)

Manusia termulia dari ciptaan yang lain, karena manusia adalah roh yang mempunyai jiwa dan hidup di dalam tubuh jasmani/fisik.

a. Roh manusia (Bahasa Ibrani :RUAKH) adalah nafas yang dihembuskan Allah ke dalam manusia (Kejadian 2:7). Roh adalah bagian dari seseorang yang sadar akan adanya Allah. Setelah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Roh dipulihkan dan terhubung kembali dengan Allah.

b. Jiwa (Bahasa Ibrani : NEFES) adalah manusia batiniah yang sadar akan dirinya. Jiwa merupakan pusat dari ego seorang pribadi yang terdiri dari pikiran, perasaaan (emosi) dan kehendak.
– pikiran : untuk berpikir/menganalisa informasi, merancang, cara pandang, sistem kepercayaan/belief system.
– perasaan : untuk merasakan bermacam-macam emosi (bahagia, bangga, sedih, takut, jijik, marah, terkejut, malu, merasa bersalah, merasa terhina, dan lain sebagainya).
– kehendak : curiosity (rasa ingin tahu), menginginkan, memutuskan dan bertindak.

c. Tubuh (Bahasa Ibrani : BASAR) adalah bagian dari manusia yang berhubungan dengan dunia luar. Tubuh akan :
– Menerima input dari dunia luar diterima melalui 5 panca indera (penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan perasa/pengecap).
– Bereaksi dan mengekspresikan apa yang dirasakan oleh jiwa melalui sistem motorik berupa perkataan dan perbuatan.

Mengapa jiwa harus di pulihkan

Manusia telah jatuh dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dalam dirinya. Akibat terpisah dari Allah, roh manusia mengalami kematian (Kejadian 2:17), gelap dan ketakutan.
Pada waktu seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, rohnya menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Allah memberikan hati dan roh yang baru, karena Roh Allah berdiam di dalam batinnya (Yehezkiel 36:26-27).

Bagimana dengan jiwa?
Jiwa tidak langsung dipulihkan ketika seseorang dilahirkan kembali. Orang tersebut masih merupakan manusia duniawi/manusia lama, yang belum dewasa dalam Kristus (1 Korintus 3:1-3). Keadaan jiwa tanpa Yesus adalah jiwa yang lemah, terikat/terbelenggu, merasa tidak aman dan tidak ada damai sejahtera/sukacita.

– Pikiran : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada dalam pikiran manusia adalah asumsi yang keliru, pikiran negatif serta rancangan yang jahat.

– Perasaan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang ada hanyalah kegelisahan, rasa khawatir, kesepian, putus asa, tidak puas, benci, amarah, kesedihan, iri hati, dendam, kecewa/sakit hati, mengasihani diri sendiri, mudah tersinggung, dll.

– Kehendak/Keinginan : bila belum ada Yesus dan bertobat, maka yang dikehendaki adalah mengurusi urusan orang lain, berlomba mencari harta dan materi untuk memuaskan hawa nafsu, mencuri, menipu, pesta pora, bertikai, melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri maupun orang lain, menentang Allah dan otoritas yang ada di atasnya, dan lain sebagainya.

Jiwa yang belum dipulihkan masih memiliki pikiran dan kebiasaan lama yang cenderung menyeretnya untuk hidup dalam kedagingan.
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging.
Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Roma 8:5a,7-8).

Kekuatan pikiran manusia

Pikiran adalah bagian dari jiwa yang merupakan “pusat kontrol” tubuh fisik. Pikiran manusia dibagi menjadi pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar pada manusia digunakan untuk mengambil keputusan, menganalisa sesuatu dan membandingkan informasi. Pikiran bawah sadar manusia dapat digunakan sebagai pusat memori, kebiasaan, intuisi (kemampuan mengetahui/ memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari) dan seni.
Penelitian membuktikan bahwa kekuatan pikiran sadar hanya berpengaruh 12% dalam mengendalikan seluruh tubuh, sedangkan pikiran bawah sadar 88% persen.

Dapat dibayangkan betapa gelapnya pikiran manusia (sebagai pusat control yang mengendalikan hidupnya) jika tidak ada Kristus di dalamnya. Gelap dalam arti pikirannya sia-sia karena tidak ada pengertian/pengenalan akan Allah dan kebenaran. Pikiran seperti ini bisa membahayakan bahkan membawa kepada kebinasaan (Hosea 4:6a). Yang ada dalam pikirannya adalah asumsi yang keliru, negatif serta rancangan yang jahat.

Pikiran yang salah akan menghasilkan perasaan negatif (mis. gelisah, cemas, marah, rasa tidak aman, dsb) yang menimbulkan rupa-rupa keinginan daging, menyebabkan penderitaan batin, depresi ataupun sakit penyakit secara fisik (Efesus 4:19).
Perasaan negatif akan menghasilkan kehendak/tindakan yang salah. Akibatnya orang tersebut jadi tidak tunduk pada kehendak Allah, hidupnya jadi tidak produktif serta tidak bisa jadi berkat.

Oleh sebab itu jiwa harus terus-menerus diperbarui dengan firman kebenaran agar semakin serupa dengan gambarNya (Kolose 3:10). Firman Tuhan sanggup merubuhkan kubu dan benteng, mematahkan setiap siasat orang yang dalam keangkuhannya menentang pengenalan akan Allah (2 Korintus 10:4-5).

Ada perbedaan antara digoda (ketika pikiran jahat merasuki akal budi) dan dosa yang sudah mengakar (sudah jadi kebiasaan/ikatan). Penting untuk memahami ketika sebuah pikiran memasuki akal budi, kita harus mengujinya dengan Firman Tuhan.
Gunakan hak bebas untuk memilih kehidupan/berkat dengan cara tunduk pada firman dan tolak pikiran yang bukan kebenaran. Jika tidak, iblis akan masuk dan menguasai hidup kita.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Rom 12:2)

Dengan merenungkan firman, maka kegelapan yang ada dalam pikiran akan diterangi oleh Roh Kudus. Pikiran yang terus-menerus diperbarui firman adalah seperti kantong anggur baru, yang dapat menerima hal-hal rohani dari Roh Kudus, sehingga mampu membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita

Cara Allah menyingkapkan keadaan kita bisa melalui firman, orang lain, pergumulan atau masalah. Jangan putus asa bila kita diperingatkanNya karena Allah menghajar orang yang dikasihi dan yang diakuiNya sebagai anak. Bapa bukan menghukum tetapi mendisiplinkan dan mendidik untuk kebaikan. Tongkat didikan sangat diperlukan untuk mengusir kebodohan dalam hati dan jiwa.

“dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Kasih Bapa memulihkan jiwa kita melalui proses Pengudusan (sanctification) :
1. Setiap kali Roh Kudus menyingkapkan keadaan jiwa kita, bersikaplah jujur terhadap diri sendiri dan Tuhan dengan mengakui dosa (yang tersembunyi sekalipun), kelemahan atau kelalaian kita.
2. Jangan menyangkal saat Roh Kudus menempelak hati kita. Buang sikap yang menyalahkan orang lain, diri sendiri atau Tuhan. Minta Roh Kudus menunjukkan celah yang terbuka, yang menjadi akses bagi si jahat bisa menjamah hidup kita.
3. Bertobat, minta Tuhan mengampuni dan menyucikan kita dengan Darah Anak Domba.
4. Minta Roh Kudus untuk menolong kita dalam kelemahan, memberi kekuatan untuk berkemenangan serta menjauhkan dari yang jahat.

Ketika pikiran mengalami proses pembaruan, maka perasaan dan kehendak pun akan turut mengalami pemulihan. Our soul is a work in progress. Jiwa yang dipulihkan akan mudah tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Jiwa yang dipulihkan akan memancarkan karakter ilahi yang dewasa dan berintegritas.

Merendahkan hati adalah sikap bijaksana karena keangkuhan menghalangi seseorang untuk bertobat dan dipulihkan. Ijinkan kasihNya memulihkan gambar hidup kita kembali seperti rencana awal/original plan di mana Allah menciptakan dan memberkati manusia untuk mencerminkan kemuliaanNya, memberi manusia kemampuan untuk mengelola bumi serta segala isinya sesuai dengan kehendak Allah, berhasil, berkelimpahan dan berbuah untuk menjadi berkat.

image source: https://www.pinterest.com/pin/336362665923260900/

DALAM YESUS ADA KEPASTIAN

DALAM YESUS ADA KEPASTIAN

Pertanyaan yang sering timbul dalam benak orang muda adalah: “Bagaimana masa depanku, cerah atau suram?” Pada dasarnya tidak seorang pun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi pada kehidupannya di masa depan, bahkan satu jam ke depan pun orang tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketidakmampuan mengetahui akan masa depan inilah yang membuat banyak orang menjadi takut dan kuatir akan masa depan mereka kelak, ditambah lagi dengan situasi dunia yang semakin tidak menentu. Dalam situasi seperti ini orang terus bertanya-tanya dan mencoba mengetahui keadaannya di masa depan.
Apa kata Alkitab mengenai masa depan seseorang? Apakah Tuhan memberikan petunjuk atau menuntun hidup orang-orang, terutama generasi muda untuk menuju masa depan yang lebih baik? Apakah ada kepastian di dalam Tuhan? Jika ada, bagaimana cara kita mengetahuinya? Sebelumnya mari kita melihat sekilas kehidupan saat ini.

GAYA HIDUP HARI-HARI INI
Beberapa dekade terakhir, teknologi maju dengan sangat pesat. Adanya internet, smartphone serta komputer, mengubah cara hidup manusia secara drastis. Dengan segala kemudahan yang tersedia, orang dapat melakukan banyak sekali aktivitas melalui komputer atau HP-nya. Tanpa sadar, kondisi ini mengubah gaya hidup orang, terutama orang-orang muda. Bagaimana kondisi kehidupan secara umum orang-orang muda sekarang?

1. Kompetitif
Dengan kemajuan yang ada, orang-orang semakin berkompetisi satu dengan yang lain. Orang berusaha sekeras-kerasnya, berpikir dengan lebih kritis, bekerja dengan lebih cerdas untuk mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Di satu sisi banyak inovasi timbul, namun di sisi lain, banyak orang menjadi kelelahan karena bekerja terlalu keras bahkan menjadi workaholic atau gila kerja. Hal yang mendasari adalah takut tersaing oleh yang lain.
Ada istilah FOMO di kalangan anak muda, singkatan dari fear of missing out, maksudnya perasaan bahwa orang lain yang mem-posting kehidupan pribadi mereka di media sosial untuk dipertontonkan lebih berbahagia hidupnya. Orang yang melihat posting-an tersebut merasa mereka tidak sekaya, sebahagia atau seberuntung orang yang di medsos tersebut. Mereka menjadi pihak yang kalah dan kemudian berusaha untuk menyamai atau melebihi. Ini adalah bagian dari gaya hidup yang kompetitif namun berdampak negative.

2. Konsumtif
Kemajuan teknologi tentu memudahkan pola hidup yang konsumtif, dalam arti orang lebih mudah belanja dan mencoba hal-hal baru. Sekarang orang dapat berbelanja di mana saja, kapan saja. Barang atau makanan yang dihasilkan di belahan dunia yang lain, dapat segera muncul di depan kita. Teknologi memungkinkan semua hal itu. Di sisi lain aktivitas belanja tentu membutuhkan uang untuk mewujudkannya. Dengan munculnya inovasi dalam teknologi keuangan, maka kemudahan membayar atau kredit membuat tingkat konsumsi makin tinggi.
Pola hidup yang kompetitif dan konsumtif membutuhkan biaya yang besar. Akibatnya orang-orang berusaha mendapatkan uang lebih banyak lagi. Ditambah dengan banyaknya jumlah angkatan kerja yang produktif membuat persaingan semakin ketat, dan orang-orang semakin sulit mendapatkan uang.
Dari sini, akan timbul pertanyaan; apakah nantinya akan hidup berkecukupan atau mengalami kekurangan? Apakah akan punya rumah atau tidak? Orang-orang bertanya-tanya apakah masa depan mereka akan lebih baik atau lebih buruk. Apakah di dalam Tuhan ada kepastian untuk hidup nyaman dan sejahtera?

TUHAN TAHU MASA DEPAN KITA
Pada dasarnya manusia dari zaman dahulu sampai sekarang tidak tahu apa yang akan terjadi besok, sehingga berusaha mencari tahu. Tuhan yang menciptakan manusia-lah yang tahu masa depan kita itu.
Tuhan memberikan informasi mengenai hari depan seseorang melalui Firman-Nya. Contohnya kepada Yusuf, Tuhan memberikan informasi mengenai masa depannya dengan cara Yusuf mendapat mimpi dari Tuhan.
Karena katanya kepada mereka: “Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini: Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu.” (Kejadian 17:6-7)
Semula Yusuf belum mengetahui apa arti dari mimpi itu. Namun secara perlahan Yusuf mulai menyadari bahwa Tuhan memiliki masa depan tertentu baginya.
Kisah hidup Yusuf berlanjut dengan serangkaian kesulitan yang semakin hari semakin memburuk. Saudara-saudara Yusuf membencinya, karena Yakub lebih mengasihi Yusuf. Mereka lebih benci lagi kepada Yusuf, ketika Yusuf mendapatkan mimpi tersebut dan menceritakannya. Karena mimpi itulah, maka saudara-saudaranya berniat membunuh Yusuf, namun akhirnya menjual Yusuf sebagai budak di tanah Mesir. Lebih buruk lagi, Yusuf dimasukkan ke dalam penjara.
Sampai di titik ini, hidup Yusuf bertentangan dengan mimpi yang didapatnya. Namun dalam semua peristiwa itu, Tuhan selalu menyertai Yusuf. Pada akhirnya, Yusuf tiba di masa depan yang luar biasa sebagai wakil Firaun, sesuai dengan mimpi yang Tuhan berikan.

TUHAN MENUNTUN KITA KE MASA DEPAN
Apakah ada kepastian mengenai masa depan yang baik di dalam Tuhan? Bagaimana kita mengetahui tuntunan Tuhan mengenai masa depan kita?
1. Masa Depan Ada di dalam Tujuan
Ketika seseorang membuat barang atau program komputer atau aplikasi HP, tentu ada manfaat atau tujuannya. Tuhan menciptakan kita dengan tujuan tertentu. Tuhan men-design kita secara spesifik untuk menghidupi tujuan tersebut. Masa depan kita terletak di dalam tujuan itu. Jadi kita perlu mengetahui tujuan kita, agar mengerti masa depan kita. Orang yang menjalani tujuan itu, berarti sudah berjalan pada arah yang tepat menuju ke masa depannya.
2. Tuhan Memberi Informasi Melalui Firman-Nya
Kepada hamba-hamba-Nya atau nabi-nabi atau murid-murid, Tuhan selalu berkomunikasi dengan mereka. Tentu saja dengan cara komunikasi yang berbeda-beda. Ketika Tuhan memanggil mereka untuk menjalani panggilannya, di situlah Tuhan menunjukkan masa depan mereka.
Kepada kita sekarang, prinsip yang sama Tuhan terapkan. Tuhan mempunyai tujuan atas hidup kita, maka Tuhan memanggil kita untuk menunjukkan masa depan kita. Ketika mendengar Firman melalui ibadah (online atau onsite), membaca Alkitab atau menyembah secara pribadi, biarlah telinga rohani kita terbuka kepada suara Tuhan.
3. Dibutuhkan Ketaatan
Respon kita ketika dipanggil oleh Tuhan sangat menentukan apakah kita masuk dalam masa depan yang Tuhan rancang atau tidak. Respon yang dikehendaki oleh Tuhan adalah kita taat kepada Firman-Nya.
Apakah ada kepastian mengenai masa depan di dalam Tuhan? Jawabannya ada. Tuhan sudah merancang masa depan yang penuh harapan bagi kita. Yang diperlukan adalah kita mengerti tujuan itu dengan cara mendengar suara Tuhan dan menaati-Nya. Tuhan akan menuntun kita ke dalam masa depan yang penuh harapan.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://www.etsy.com/listing/705023195/jeremiah-2911-for-i-know-the-plans-i

TUHAN MEMBERI KEKUATAN! BUKAN KETAKUTAN

TUHAN MEMBERI KEKUATAN! BUKAN KETAKUTAN

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Yohanes 20:19
Rasa takut bukan berarti kita lemah. Ketakutan adalah bagian dari naluri manusia untuk bertahan hidup. Rasa takut membantu seseorang menyadari akan adanya bahaya sehingga muncul keinginan dan kekuatan untuk berjuang dan melindungi diri dari bahaya tersebut.
Contoh: Ketika dikejar anjing, seseorang yang biasanya santai berjalan saja sangat lambat, tiba-tiba saja saking takutnya digigit anjing, ia mampu berlari kencang, bahkan sampai melompati parit demi untuk menyelamatkan diri dari gigitan anjing.
Tubuh secara alami memberikan reaksi yang membuat seseorang tidak bisa mengabaikan perasaan yang tidak nyaman. Tidak semua rasa takut itu sama. Ketakutan yang berlebihan bisa juga berdampak negatif. Ketakutan yang dipicu oleh kondisi emosional cenderung lebih bersifat subjektif dan tidak selalu realistis. Seseorang dapat mengalami rasa takut yang amat sangat berlebihan, sampai-sampai tidak tahu cara untuk menghilangkan rasa takut tersebut.
Pandemi COVID-19 adalah situasi yang penuh ketidakpastian, sehingga menimbulkan ketakutan kepada banyak orang di dunia ini. Semua orang bergelut menghadapi pandemi COVID-19. Pandemi ini sangat berdampak ke berbagai sektor, yaitu kesehatan, pendidikan, manufaktur, pariwisata, transportasi, sosial, dan masih banyak lagi; sehingga hal ini rentan menimbulkan banyak persoalan kehidupan. Pandemi ini juga membuat banyak orang merasa bingung, cemas, takut, dan bahkan ada juga yang frustrasi.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti dalam kendali Tuhan. DIA mempunyai rencana bagi kehidupan orang-orang yang berserah kepada-Nya, karena Tuhan berkuasa menyelesaikan setiap masalah yang terjadi di dunia ini. Ia tidak membiarkan umat-Nya binasa. Ia menguji setiap umat-Nya dalam setiap peristiwa untuk membangun dan membentuk kerohanian mereka. DIA sering menggunakan “krisis” untuk membawa perubahan yang mendesak dalam hidup umat-Nya.
Sebagai orang percaya, kita tidak dikuasai oleh ketakutan, karena mampu mengetahui penyebab rasa takut itu dan mampu mengendalikan rasa takut tersebut. Rasa takut itu merugikan dan harus diatasi. Contohnya adalah seperti ketakutan akan masa lalu, ketakutan akan keadaan yang sedang dihadapi, dan ketakutan akan masa depan yang belum pasti. Hal-hal itu bisa membuat seseorang terjebak dalam perasaan takut yang serius, sehingga sulit untuk membuat suatu keputusan dan mencoba hal-hal baru dalam hidupnya.
MENANG ATAS KETAKUTAN
Bagaimana setiap orang percaya dapat menang dari ketakutan dan menjadikannya kekuatan?
1. Alihkan Pandangan dari Masalah kepada Tuhan (Mindset Baru)
“Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” Matius 8:25-26
Kebanyakan dari mereka yang berada dalam perahu ini adalah nelayan. Mereka tentu saja sudah terbiasa dengan situasi laut dan badai yang bisa datang kapan pun. Namun angin ribut kali itu pasti sangat ekstrim, sehingga mereka menjadi sangat ketakutan dan berpikir bahwa mereka akan binasa. Hebatnya, Yesus dapat tidur di tengah-tengah angin ribut yang mengerikan seperti itu. Inilah yang seharusnya terjadi pada kita yang telah menjadi murid Yesus. Meskipun persoalan besar datang menderu, kita tetap tenang dan tidak menjadi panik. Perlu diingat, kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan bukan apa masalah bisa perbuat terhadap kita, tapi percaya apa yang Tuhan bisa lakukan buat kita.
Setiap manusia memiliki ketakutan, bahkan Tuhan Yesus juga mengalami rasa takut ketika Ia berdoa di Taman Getsemani. Namun, Tuhan Yesus, di dalam ketakutan-Nya, tetap memandang kepada Bapa. Demikian juga seharusnya kita. Jika kita melihat ada seseorang yang sepertinya tidak takut apa-apa, mungkin orang itu bukannya tidak takut, tetapi dia sudah berhasil mengatasi rasa takutnya.
Satu hal yang menarik, orang dewasa sekalipun bisa merasa takut, panik atau bahkan menjadi marah oleh karena hal-hal kecil. Namun, bila dilihat dari sudut pandang orang lain, hal itu sama sekali tidak menakutkan. Ini menunjukkan bahwa ketakutan itu adalah hal yang relatif, tergantung kepada pribadi lepas pribadi.
2. Tetap dalam Hadirat Tuhan
Suatu malam, para murid diguncang rasa takut setelah Yesus mengadakan mujizat dengan memberi makan lebih dari lima ribu orang. Tuhan meminta para murid berangkat terlebih dahulu ke Betsaida supaya Dia dapat berdoa sendirian. Sepanjang malam itu, ketika para murid sedang bersusah payah mendayung melawan angin sakal, tiba-tiba mereka melihat Yesus berjalan di atas air. Para murid menjadi sangat ketakutan karena mengira Yesus adalah hantu. (Markus 6:49-50)
Saat Yesus mendekat ke perahu dan murid-murid mendengar suara-Nya “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”, maka badai reda, dan ketakutan pun diusir. Setelah Yesus naik ke perahu, angin kencang tiba-tiba berhenti dan mereka dapat melanjutkan perjalanan, hingga tiba di pantai dengan selamat. Ketika Tuhan hadir dalam hidup setiap orang percaya, maka semua badai hidup yang membuat ketakutan akan diubah menjadi damai sejahtera dan kekuatan.
Rasul Paulus menasehati di dalam 2 Timotius 1:7, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Dari ayat ini, kita belajar bahwa Roh Kudus adalah Sang Penolong yang selalu mendampingi kita, berdiam di dalam kita, memberikan kita damai sejahtera dan mengusir roh ketakutan di dalam setiap orang yang tetap tinggal di dalam hadirat Tuhan.
3. Melangkah Maju Bersama Tuhan
Pemazmur menulis, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya” Mazmur 37:23
Mazmur tersebut selanjutnya memberikan gambaran indah tentang pemeliharaan Allah yang setia atas siapa pun yang mau berjalan bersama-Nya.
“Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah.” (ayat 31)
Melangkah maju bersama Tuhan menunjukkan bahwa tanpa Tuhan seseorang tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5)
Melangkah maju bersama Tuhan mempunyai implikasi bahwa Tuhan terlibat dalam semua aspek kehidupan. Ia yang memegang kendali kehidupan kita. Ia mau supaya dalam semua aktivitas hidup kita berada bersama Dia, karena ada jaminan bahwa bersama Tuhan setiap orang percaya akan mengalami hal-hal yang ajaib. Kita akan mengalahkan musuh dan menjadi pemenang. Semakin lama kita berjalan bersama Tuhan, maka kita akan semakin kuat dan apa saja yang kita kerjakan dan usahakan pasti berhasil. Kesadaran akan penyertaan Tuhan akan memberikan rasa aman dan damai sejahtera yang akan menghilangkan ketakutan.
Dapat kita simpulkan bahwa setiap orang tidak bisa menghindari ketakutan, karena itu adalah naluri manusia, tetapi jangan sampai seseorang terjebak dalam ketakutan yang berlebihan, karena akan membawa dampak buruk bagi kehidupan. Setiap orang percaya bisa mengubah ketakutan menjadi kekuatan, yaitu dengan cara mengalihkan pandangannya untuk tidak fokus kepada masalah, tetapi kepada Tuhan Yesus Kristus. Pada saat yang sama, setiap orang percaya harus tetap tinggal di dalam hadirat Tuhan yang memberikan damai sejahtera dan kekuatan, dan yang terpenting adalah ia harus berjalan maju bersama Tuhan setiap hari. Tuhan Yesus memberkati berlimpah-limpah.

image source: https://www.cmacan.org/john-20-19-31/

MENEMPATKAN AKAR  UNTUK TERTANAM  DI TEPI ALIRAN AIR

MENEMPATKAN AKAR UNTUK TERTANAM DI TEPI ALIRAN AIR

Semua manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Sejak itu manusia mengalami kematian rohani karena hubungan dengan Allah terputus akibat dosa pemberontakan.

Dosa menyebabkan damai sejahtera dan sukacita hilang dari hidup manusia. Dosa membuat hati manusia berkelok-kelok, sulit berbuat baik dan cenderung lemah sehingga membuahkan kegagalan dan kejahatan.
Dosa membuat manusia hidup dalam ketakutan dan kehilangan rasa aman. Dosa membuat manusia keluar dari berkat Allah.

“Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” (Mazmur 14:3)

Kebutuhan manusia sesungguhnya adalah hidupnya diselamatkan dan dikembalikan ke posisi seperti awal penciptaan (yang memiliki gambar kemuliaan Allah). Hal ini hanya dapat dilakukan oleh Allah. Dia sendiri menurut kerelaan kehendak kasihNya berinisiatif memulihkan kehidupan manusia melalui karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan hanya menyelamatkan kita dari dosa, kutuk dan kebinasaan kekal, tapi juga memulihkan hati/kehidupan orang yang percaya kepadaNya.

1. Bagaimana akar kita

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi karena jatuh ke dalam dosa maka identitas/gambaran Allah dalam dirinya menjadi rusak. Semua manusia yang berdosa telah kehilangan hati nurani yang bersih, itu sebabnya seseorang harus mengalami kelahiran kembali secara roh dalam Kristus Yesus.

Pesan Tuhan sepanjang bulan ini adalah Perhatikan akar kita. Ibarat hidup kita sebuah pohon, maka hati adalah akarnya.
Apa yang ada di dalam hati kita? Sering kita tidak menyadari atau mengenal keadaan hati kita yang sesungguhnya. Kita memerlukan pertolongan Roh Kudus untuk menerangi apa yang ada dalam hati agar tidak berjalan dalam kegelapan.

Dalam Yohanes 4, diceritakan kisah perempuan Samaria yang mengalami luka hati dan perasaan tidak aman akibat kegagalan dalam pernikahannya yang berulang kali. Keadaan hati yang demikian membuatnya hidup dalam dosa (hidup dengan pria yang bukan suaminya). Perempuan ini tidak paham akan keadaan dirinya sendiri, dia tidak mengerti apa yang sesungguhnya dia perlukan. Ia mencoba cari jalan keluar dengan pengertiannya dan caranya sendiri. Tekanan yang menghimpit membuat dia semakin menderita, terjebak dalam dosa dan terikat. Jiwanya tidak mengalami ketenangan dan damai sejahtera.

Tuhan Yesus membuka mata hati perempuan ini dan menawarkan Air Hidup (Roh Kudus) sebagai satu-satunya solusi yang dapat memuaskan kehausan jiwanya. Air Hidup itu akan menjadi mata air yang akan terus memancar sampai hidup yang kekal. Dia tidak perlu mencari sumber lain untuk memenuhi dahaga di jiwanya selain oleh Roh Kudus. Setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, perempuan Samaria ini menerima keselamatan dan pemulihan hati.

“barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:14)

Apakah kita mengalami hal-hal yang serupa dengan yang dialami perempuan Samaria ini?

Masalah dan tantangan iman bisa terjadi kapan saja. Wabah berskala besar COVID-19 dan berbagai krisis yang menyertainya telah memberikan dampak luas di segala aspek kehidupan.
Resesi ekonomi, pergolakan dalam masyarakat/bangsa yang semakin memprihatinkan, masalah keamanan, kemunduran di dunia pendidikan dan lain sebagainya menimbulkan ketakutan, kekuatiran dan tekanan yang dapat mengganggu integritas seseorang untuk kompromi dengan dosa, untuk hidup dalam hawa nafsu, amarah, pertikaian, iri hati, cinta akan uang, ketamakan, kepahitan, motivasi hati yang tidak benar, putus pengharapan bahkan iman menjadi luntur.

Bagaimana keadaan akar kita saat ini? Di mana hati kita tertanam?

2. Dampak berakar di tepi aliran air

Pada saat percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita mengalami kelahiran baru secara rohani (Yohanes 3:5-7). Roh kita yang selama ini mati menjadi hidup karena terhubung kembali dengan Allah. Allah mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati sehingga hati nurani kita disucikan. Dia memberikan roh yang baru di dalam batin kita. Hati yang keras diganti menjadi hati yang taat (Yehezkiel 36:26-27).

Namun tidak berarti selesai sampai di situ; kelahiran baru merupakan titik awal dari sebuah perjalanan rohani menuju kesempurnaan yaitu semakin serupa dengan gambar Kristus . Ini yang disebut dengan Pengudusan (Sanctification). Proses ini berlangsung seumur hidup, di mana Roh Kudus membersihkan, menguduskan dan memulihkan hati kita. Dengan apa? Dengan firman Tuhan.

“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 15:2-3)

Orang yang tertanam di tepi aliran air (memiliki gaya hidup merenungkan firman Tuhan serta hidup dipimpin Roh Kudus) akan menghasilkan buah dalam kehidupannya.
Hal-hal yang sia-sia dari hidup kita (ranting yang tidak berbuah) akan di potong, supaya kita kudus tak bercacat cela. Jika sudah berbuah, kita semakin dibersihkan agar menjadi produktif dan lebih banyak berbuah supaya rencana Allah digenapkan dalam hidup kita.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 15:7-8)

Dampak lain dari kondisi tertanam di tepi aliran air adalah daya tahan yang tinggi terhadap berbagai situasi kehidupan yang tidak baik atau tidak nyaman. Mazmur 1:3 menyebutkan keadaan ini dengan ‘tidak layu daunnya’. Kesegaran daun pohon itu tidak ditentukan oleh teriknya matahari yang mengundang ancaman kekeringan.

Orang tersebut bukan tertanam di air kotor (hati yang dikuasai ketakutan, rupa-rupa keinginan daging, kompromi dengan dosa, dsb), tetapi di tepi aliran air yang memberikan asupan nutrisi yang diperlukan akar untuk dapat berdiri kuat. Aliran air hidup itu menguatkan manusia batiniahnya.
Ia tetap kokoh berdiri meski dalam masalah/tantangan karena akarnya kuat merambat ke bawah sampai menyentuh sumber air.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang melakukan firman, bangunan hidupnya tidak akan rubuh karena dia mendirikan rumahnya di atas dasar batu (Matius 7:24-25).

Tuhan lewat pemazmur hendak mengatakan kepada kita bahwa hubungan seseorang dengan Tuhan yang dibangun lewat gaya hidup cinta akan firman Tuhan, bukan hanya memastikan orang itu berbuah, tapi juga menjaga orang itu agar tetap dapat berintegritas (Mazmur 1:1).

Orang yang berintegritas tidak akan berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak akan berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak akan duduk dalam kumpulan pencemooh. Orang yang berintegritas juga akan senantiasa menjaga hatinya dengan segala kewaspadaan.

3. Menempatkan diri untuk tertanam di tepi aliran air

Dalam Yesaya 55, Allah memanggil kita untuk turut serta dalam keselamatan yang daripadaNya.

1)“Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
2) Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.
3) Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.

Firman Tuhan akan mengairi dan memulihkan setiap tanah hati sehingga kehidupan terpancar dari dalamnya dan nama Tuhan dimuliakan.

10) Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
11) demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
13) Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.”

Gereja lokal adalah Kerajaan Allah di bumi yang harus mengalirkan mata air kehidupan kepada jemaatnya. Respon kita sebagai jemaat adalah menempatkan diri di tepi aliran air supaya dibersihkan, berbuah, berhasil serta tetap kuat berdiri dalam menghadapi masalah dan tantangan.

Allah hanya bisa memulihkan hati seseorang jika orang tersebut memutuskan untuk tertanam di tepi aliran air.
Menempatkan diri untuk tertanam di tepi aliran air maksudnya :
– Beribadah dengan cara yang benar dan berkenan kepada Tuhan,
– Suka merenungkan firman Tuhan siang dan malam,
– Berakar dalam pengajaran firman,
– Memiliki gaya hidup doa, pujian, penyembahan.

Kehidupan orang yang kuat manusia batiniahnya diibaratkan seperti pohon Zaitun. Pohon zaitun adalah pohon yang dapat hidup di berbagai musim dan usianya dapat mencapai ribuan tahun. Pohon Zaitun dapat hidup dan tumbuh di padang gurun dan juga pada musim salju. Pohon ini hampir tidak dapat binasa. Jika ditebang, maka akarnya akan kembali bertunas.
Hal ini terjadi karena akarnya yang panjang dapat merambat ke dalam tanah hingga mencapai kedalaman 6-7 meter.

Perhatikan akar kita, apa yang ada di dalam hati kita. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21)
Tempatkan hati kita untuk tertanam di tepi aliran air; lekatkan hati kita hanya kepada Tuhan karena hanya Dialah sumber segalanya bagi kita.

Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://adventuresofabusymom.com/tag/john-414/

HARI PENTAKOSTA-ROH KUDUS DICURAHKAN

HARI PENTAKOSTA-ROH KUDUS DICURAHKAN

Gereja kita – di bawah tuntunan Roh Kudus – mendapat tuntunan untuk menggali kembali dasar teologi yang menjadikan Pentakosta sebuah kegerakan yang LUAR BIASA.
Alkitab berkata Yesus mati karena dosa-dosa kita. Dia dikuburkan; tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan. Setelah Tuhan Yesus bangkit, selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada lebih dari 500 murid-murid-Nya untuk membuktikan bahwa Dia hidup. Setelah memberikan pesan terakhir, maka dengan disaksikan murid-murid-Nya Tuhan Yesus terangkat ke sorga.
Saya percaya kalau kita berada di sana waktu itu, kita pasti akan sama dengan murid-murid Tuhan Yesus yang melihat bahwa Tuhan Yesus terangkat perlahan tapi pasti ke sorga. Makin lama makin kecil sampai ada awan yang menutupi dan hilang dari pandangan mata. Sementara mereka terheran-heran melihat ke langit, maka ada dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka yang berkata:
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”(Kisah 1:11)
KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA
Dari ayat ini saya percaya, kalau yang melihat Tuhan Yesus naik ke sorga adalah murid-murid Tuhan Yesus, maka yang akan melihat Tuhan Yesus turun dari sorga menjemput gereja-Nya juga adalah murid-murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 14:1-3,
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
Pesan Tuhan Yesus ini ditujukan untuk murid-murid-Nya. Karena itu, kalau kita mau ikut dalam pengangkatan, kita harus menjadi murid Tuhan Yesus. Murid Tuhan Yesus adalah kita-kita yang hidupnya sama seperti Kristus telah hidup. (1 Yohanes 2:6)
Karena kita hidup sama seperti Kristus telah hidup, maka kita akan menjadi serupa dengan gambar-Nya.
Roma 8:29 berkata,
“Sebab mereka yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Jadi gol kita sebagai orang percaya adalah menjadi serupa dengan gambar Yesus.
Memasuki tahun 2021, Tuhan memberikan tema bahwa “Tahun 2021 adalah Tahun Integritas.” Kita harus menjadi orang yang berintegritas. Yang artinya kita berbicara dan melakukan apa yang kita percayai sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Jadi kita harus hidup dengan jujur dan tulus di hadapan Tuhan.
Sebagai panutan untuk menjadi orang yang berintegritas adalah Tuhan Yesus sendiri, sebab Tuhan Yesus adalah ‘The Man of Integrity’. Menjadi murid Tuhan Yesus adalah menjadi orang yang berintegritas. Tuhan Yesus sangat menekankan agar kita menjadi orang yang berintegritas karena kedatangan-Nya sudah sangat-sangat dekat.
Ibrani 7:25 berkata,
“Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”
Tuhan Yesus di sorga menjadi pengantara kita, artinya sebagai pendoa syafaat bagi kita, supaya kita selamat secara sempurna.
KESELAMATAN
Kalau kita berbicara tentang keselamatan, maka ada 3 hal yang harus diperhatikan:
1. Orang Percaya Bisa Kehilangan Keselamatan
Tuhan Yesus berkata,
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Matius 7:21-23
Ini merupakan peringatan bagi hamba-hamba Tuhan yang sedang dipakai oleh Tuhan, agar pelayanan yang dipercayakan oleh Tuhan itu semata-mata hanya untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bukan untuk kemuliaan diri sendiri; bukan untuk mencari keuntungan pribadi; bukan untuk popularitas, di mana ini semua bisa mengakibatkan hilangnya keselamatan.
Contoh seorang murid yang kehilangan keselamatannya adalah Yudas. Yudas mengikut Yesus begitu lama, bahkan dicatat dalam Lukas 9:1-6 ia bersama murid-murid-Nya yang lain pernah melakukan berbagai mujizat dan pelayanan kesembuhan. Namun ia akhirnya memilih meninggalkan Tuhan, maka hilanglah keselamatannya.
2. Orang Percaya yang Hampir-hampir Tidak Diselamatkan
Di dalam 1 Korintus 3:10-15 rasul Paulus mengajarkan bahwa kita membangun hidup kita ini dengan dasar Yesus Kristus. Pertanyaannya: bahan apa yang kita gunakan untuk membangun kehidupan kita ini? Apakah dengan bahan emas, perak, batu permata? Ataukah dengan bahan kayu, rumput kering, atau jerami?
Semua ini akan nampak pada hari Tuhan, saat pekerjaan kita diuji dengan api. Jika pekerjaan kita tahan uji, artinya tidak terbakar – karena terbuat dari bahan emas, perak dan batu permata, maka kita akan mendapat upah.
Tetapi sebaliknya kalau pekerjaan kita itu terbakar, karena bahan yang digunakan adalah kayu, rumput kering, jerami, maka kita akan menderita kerugian. Selamat sih selamat… tetapi seperti keluar dari dalam api. Artinya hampir-hampir tidak diselamatkan.
‘Hampir-hampir tidak diselamatkan’ dapat diartikan:
o Kehilangan upah atau pahala
o Kedudukan yang rendah di sorga
o Kehilangan kesempatan pelayanan dan kekuasaan di sorga
o Kehilangan kemuliaan dan kehormatan di hadapan Allah
Mari, saya akan mengajak Saudara untuk memperhatikan dengan serius pekerjaan pelayanan kita; juga termasuk kualitas kehidupan rohani kita. Jangan menjadi orang Kristen yang acuh tak acuh, agar kita mendapatkan upah di sorga.
3. Orang Percaya yang Mendapat Keselamatan yang Sempurna
Tuhan Yesus berada di sorga untuk mendoakan kita agar mendapat keselamatan yang sempurna, bukan untuk kehilangan keselamatan, atau bukan hampir-hampir tidak diselamatkan.
Supaya doa Tuhan Yesus ini terjadi, maka sesuai 2 Petrus 1:5-11, dikatakan bahwa kita harus sungguh-sungguh berusaha; dengan:
o menambahkan kepada iman kita kebajikan, artinya berbuat baik;
o kemudian tambahkan lagi pengetahuan,
o kemudian tambahkan lagi penguasaan diri,
o tambahkan lagi ketekunan,
o tambahkan lagi kesalehan yang artinya hidup kudus,
o tambahkan lagi kasih akan saudara-saudara seiman,
o dan tambahkan lagi kasih akan semua orang.
Kalau kita melakukan ini semua dengan sungguh-sungguh, maka kita akan lebih mengenal Tuhan Yesus Kristus dan kita tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kita akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan yang kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus; yang artinya kita mendapatkan keselamatan yang sempurna. Haleluya!

LIMA KEBENARAN TENTANG KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

LIMA KEBENARAN TENTANG KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

Peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke sorga adalah salah satu dari 5 tonggak iman kekristenan yang selalu diperingati oleh segenap orang percaya di seluruh dunia. Kelima hal tersebut adalah:
• Kelahiran Kristus
• Kematian Kristus
• Kebangkitan Kristus
• Kenaikan Kristus
• Pencurahan Roh Kudus (Pentakosta)
Bulan ini kita mengingat Kenaikan Tuhan Yesus tgl 13 dan Pencurahan Roh Kudus tgl 23. Semuanya adalah peristiwa sejarah yang sungguh terjadi, Namun lebih daripada sekedar fakta sejarah, peristiwa-peristiwa tersebut adalah bagian dari rencana dan kehendak Tuhan yang sempurna atas dunia ini agar manusia bisa mengalami kasih, pemulihan dan keselamatan dari Allah.
LIMA KEBENARAN UTAMA TENTANG KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA
1. Menyatakan Kesempurnaan Pekerjaan dan Karya Penebusan-Nya di Bumi
Kenaikan Tuhan Yesus menandai bahwa Ia telah menyelesaikan dengan sempurna tugas yang diberikan oleh Bapa untuk turun ke dunia dan menjadi sama dengan manusia, demi menebus dan menyelamatkan umat manusia yang telah jatuh dalam dosa. (Ibrani 1:3, 1 Petrus 3:22 Filipi 2:6-7)
Kenaikan-Nya menyatakan bahwa Ia sekarang kembali kepada keberadaan-Nya yang semula; yakni dalam kemuliaan yang kekal sebagai Allah yang layak menerima segala pujian, hormat dan pengagungan dari setiap makhluk ciptaan-Nya.
Para pencemooh di luar sana suka berkata bahwa orang Kristen menyembah manusia yang dijadikan Tuhan oleh mereka. Seolah-olah orang Kristen begitu bodoh dengan menjadikan manusia sebagai Tuhan. Pada kenyataannya, hanya orang bodohlah yang berpikir bahwa ada manusia yang bisa berubah jadi Tuhan.
Yesus pada hakekatnya sebelum berinkarnasi menjadi manusia, adalah Tuhan yang ada sebelum segala sesuatu ada, bahkan segala sesuatu diciptakan oleh karena firman-Nya. Jika Dia adalah Allah, apakah yang mustahil bagi-Nya? Allah jadi manusia apakah bisa? Tentu saja bisa. Yang tidak bisa itu, manusia jadi Allah.
Setelah bangkit, Yesus menguatkan dan meneguhkan para murid dan memberikan perintah-perintah yang terakhir, yang terpenting untuk dilakukan, terutama mengenai Amanat Agung. Kemudian Dia terangkat ke sorga, duduk di sebelah kanan takhta Allah Bapa, untuk memerintah selamanya dalam kemuliaan yang kekal.
2. Menyediakan Tempat yang Kekal bagi Orang Percaya
Kenaikan Yesus ke sorga adalah jaminan yang pasti bagi setiap orang percaya bahwa ada sorga yang telah disediakan oleh Allah, kalau kita sungguh-sungguh percaya dan menaati setiap firman-Nya.
Sorga bukan hanya bayangan atau gambaran dari sesuatu yang indah, tapi sorga itu nyata! Sorga bukanlah sekedar nirwana, tapi sorga adalah tempat di mana Allah tinggal dan bertakhta, dan satu hari nanti kita akan dikumpulkan bersama dengan Dia. (Yohanes 14:1-3)
Kalau sorga itu nyata, maka demikian pula dengan neraka! Ada banyak orang di luar sana yang hanya mau menerima konsep tentang sorga, tapi menolak konsep tentang neraka. Mereka hidup sesukanya hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginan duniawinya. Iblis berhasil menutupi keberadaan neraka di dalam hati dan pikiran mereka. Orang-orang itu bahkan tanpa takut dan malu menghina dan menghujat Allah. Mereka menolak Kristus, bahkan menganiaya gereja-Nya.
Apakah kelak mereka akan bersama-sama dengan Tuhan di sorga? Apakah mereka juga akan berdiri bersama orang-orang kudus menyembah Allah selama-lamanya di sorga?
3. Dia adalah Imam Besar Agung dan Pengantara bagi Perjanjian yang Baru (Ibrani 4:14-16, 7:25, 9:15)
Ayat-ayat tadi menunjukkan betapa sempurnanya kasih, pengorbanan dan anugerah Tuhan atas hidup kita, orang-orang percaya, yang telah menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Alkitab menyatakan bahwa di sorga kita memiliki Imam Besar Agung yang senantiasa mendengar doa dan permohonan kita, karena Dia selalu menjadi pengantara bagi pengampunan dosa ketika kita datang menghadap takhta kasih karunia-Nya.
Agama-agama hanya mengajarkan bagaimana jalan menuju ‘sorga’ dan bagaimana supaya dosa-dosa pengikutnya bisa diampuni oleh Tuhan. Tapi Yesus, Dia sendiri yang menyerahkan nyawa untuk membayar harga bagi penebusan dosa itu. Karya penebusan dan pengampunan-Nya tidak berhenti sampai di kayu salib, tapi Yesus telah naik ke sorga untuk terus menyediakan pengampunan dan anugerah keselamatan bagi siapa saja yang mau datang kepada-Nya. Tangan-Nya selalu terbuka setiap kali kita datang mengakui dosa dan meminta pengampunan-Nya. Itulah kasih Allah yang sempurna dan tak berkesudahan.
4. Dia Menyatakan dengan Jelas Cara Kedatangan-Nya yang Kedua Kali
Kenaikan Yesus ke sorga adalah fakta sejarah yang terjadi apa adanya di mana secara fisik tubuh Yesus perlahan-lahan terangkat naik dari tanah ke langit, dan pada waktu itu terjadi ada begitu banyak orang yang menyaksikannya. Bukan hanya satu dua orang murid, tapi semua murid ada di sana. (Kisah Para Rasul 1:9-11)
Ketika mereka sedang terpana menyaksikan Yesus yang semakin tinggi dan mulai tertutup awan, tiba-tiba muncul dua orang berpakaian putih. Di ayat 11 malaikat itu berkata kepada mereka:
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
Janji tentang kedatangan Kristus yang kedua kali, diteguhkan kembali, bahkan dengan gamblang dinyatakan dengan cara seperti apa Yesus akan datang kembali, yaitu turun dari langit – seperti Ia naik – dan disaksikan oleh semua orang, terutama murid-murid-Nya.
Hari-hari ini kita sedang menantikan janji itu digenapi oleh Tuhan. Kita ada di ujung daripada akhir zaman. Sudahkah kita menjadi murid yang siap menyambut kedatangan-Nya?
Alkitab berkata bahwa tidak ada yang tahu akan hari kedatangan Tuhan. Itu adalah rahasia Tuhan sendiri. Mengapa dirahasiakan? Bukankah Tuhan justru senang menyingkapkan rahasia firman-Nya? Ternyata untuk yang satu ini, beda. Tuhan memang memberitahukan tanda-tanda kedatangan-Nya, sehingga kita sadar bahwa waktunya sudah sangat singkat, tetapi HARI dan jamnya tetap dirahasiakan supaya semua orang percaya hidup berjaga-jaga dan senantiasa siap sedia menantikan kedatangan-Nya!
5. Supaya Roh Kudus Dicurahkan untuk Menyertai Orang Percaya sampai Kesudahan Zaman
Empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke Bukit Zaitun, di sana Yesus berjanji kepada semua murid-Nya bahwa mereka akan menerima Roh Kudus. Ia menyuruh mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem sampai Roh Kudus turun dan memenuhi mereka. Janji Tuhan itu digenapi 10 hari setelah kenaikan-Nya ke sorga, tepat pada hari Pentakosta.
Tanpa kenaikan Yesus, tidak akan pernah ada peristiwa luar biasa yang dampaknya mengguncangkan dunia; yakni orang-orang kudus-Nya diurapi dan dipenuhi oleh Roh Kudus! Dalam sekali Petrus berkotbah 3000 orang bertobat, pasal berikutnya, 5000 orang bertobat, dan seterusnya. Semua karena karya dan pekerjaan Roh Kudus yang dahsyat dalam diri orang percaya.
Semuanya itu telah dijanjikan Tuhan sebelum Ia terangkat, bahwa mereka akan menerima KUASA ROH KUDUS untuk menjadi saksi Kristus, dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8)
Tapi kuncinya, Yesus harus naik ke sorga, sehingga Roh Kudus bisa turun. Kenaikan Yesus adalah transisi bagi dimulainya satu era yang baru; di mana Allah tidak hanya mengurapi orang-orang tertentu, tetapi sekarang Allah mau tinggal dan memenuhi setiap diri orang percaya untuk dipakai sebagai alat bagi kemuliaan-Nya. Kenaikan Yesus ke sorga menjadi jalan bagi tergenapinya Yohanes 14:12,
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;”
Tuhan Yesus rindu untuk memakai setiap orang percaya, Dia ingin menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya melalui kehidupan orang percaya. Itu sebabnya Dia harus naik ke sorga, sehingga oleh karya Roh Kudus, yang mengurapi, membaptis, dan memenuhi setiap orang percaya, semua rencana dan kehendak Allah itu bisa terlaksana.
Sudahkah kita dipenuhi Roh Kudus? Sudahkah kita dibaptis oleh Roh Kudus, dengan tanda awal berbahasa Roh? Sudahkah kita berjalan setiap hari dalam kuasa-Nya? Karena untuk semua itu Tuhan Yesus naik ke sorga!

image source: https://www.pinterest.com/pin/397653842079066340/