Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
JESUS : THE MAN OF INTEGRITY

JESUS : THE MAN OF INTEGRITY

Seringkali kita mendengar mengenai Yesus sebagai Allah Yang Mahakuasa, yang melakukan banyak mujizat dalam pelayanan-Nya. Tentu saja hal itu tidak dapat disangkal. Yesus menyembuhkan orang yang sakit, mentahirkan orang kusta; bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Ketika ribuan orang sedang kelaparan, Yesus mengadakan mujizat dengan menggandakan roti dan ikan milik seorang anak sehingga mereka makan sampai kenyang.

Jika dirangkum, peristiwa-peristiwa tersebut menyatakan satu hal yaitu kuasa Yesus. Kali ini kita akan mengamati sisi yang lain dari kehidupan Yesus.

1. PERKATAAN DAN TINDAKAN YESUS

Yesus berhadapan dengan bermacam-macam tipe orang yang mendengar khotbah atau mengikuti-Nya;
· ada yang memang ingin mendengar Firman,
· ada yang mengharapkan berkat, kesembuhan,
· ada yang ingin mengikuti-Nya,
· dan ada juga yang bertujuan untuk mencari kesalahan-Nya.

Golongan yang terakhir ini terkadang menanyakan sesuatu dengan maksud menjebak Yesus. Yesus selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang tersebut dengan akurat dan orang-orang tersebut tidak dapat menemukan kesalahan pada Yesus. Mengapa?

· Pertama-tama, karena Yesus menjawab dengan hikmat yang luar biasa.
· Kedua, karena apa yang Yesus katakan sama dengan apa yang Yesus lakukan.
Ini adalah kekuatan yang sukar dilawan yang disebut Integritas.

Berbeda dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang hanya mengajar namun tidak melakukan, Yesus melakukan apa yang diajarkan-Nya. Kata-kata dan tindakan Yesus yang selaras ini menarik banyak orang datang kepada-Nya. Yesus hidup dengan integritas dalam tindakan-tindakan-Nya. Yesus menggambarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi :

“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Matius 23:3).

Berbeda dengan Yesus yang mempraktekkan apa yang diajarkan-Nya. Hati dan tindakan Yesus sejalan atau selaras dengan pengajaran-Nya.

2. SUMBER PERKATAAN DAN TINDAKAN YESUS

Bagaimana Yesus dapat berkata-kata dan bertindak dalam integritas? Sebelum melakukan pelayanan, Yesus dibaptis di sungai Yordan dan dipenuhi Roh Kudus.
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:16-17).

Dalam hidup-Nya, Yesus dipenuhi Roh Kudus. Rasul Paulus menulis bahwa Yesus :

“… melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:7).

Sebagai Anak Manusia, Yesus telah mengosongkan diri dan bersandar sepenuhnya kepada tuntunan Roh Kudus. Inilah rahasia yang sukar dipahami oleh pikiran manusia yang tidak percaya. Alkitab menyatakan bahwa Yesus mengosongkan diri, tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah dan memberi diri-Nya untuk hidup dituntun oleh Roh Kudus. (Matius 4:1)

Apa yang Yesus lakukan sebagai manusia yang dituntun oleh Roh Kudus merupakan CONTOH atau TELADAN bagi semua murid Yesus. Jadi murid Yesus adalah orang-orang yang memberi diri dituntun oleh Roh Kudus sebagaimana halnya Yesus.

a. Perkataan Yesus

Rasul Yohanes mencatat sesuatu yang sangat penting :

“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.”
(Yohanes 12:49).

Jadi, Yesus dalam berbicara selalu mengandalkan Bapa memberikan kata-kata. Tidak ada perkataan Yesus yang berasal dari diri-Nya sendiri, semua dari Bapa melalui Roh Kudus.

b. Tindakan Yesus

Sebagaimana perkataan Yesus berasal dari Bapa, tindakan Yesus juga berasal dari Bapa.

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak…” (Yohanes 5:19).

Apa yang dikerjakan Anak adalah apa yang dikerjakan oleh Bapa. Ayat ini muncul ketika Yesus menyembuhkan seorang yang sakit di tepi kolam Betesda. Mengapa Yesus menyembuhkan orang tersebut, adalah karena Bapa berkehendak menyembuhkan orang tersebut.
Di sini genaplah apa yang Yesus ajarkan: “…jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Jadi semua tindakan Yesus berasal dari sorga, dari Bapa.

3. APLIKASI PERKATAAN DAN TINDAKAN YESUS

Dengan mengerti kebenaran di atas, kita mendapatkan fondasi yang kokoh dalam mempelajari kehidupan Yesus sebagai teladan kita. Murid-murid diharapkan menjalani hidup sebagaimana Yesus hidup dengan integritas. Dasarnya adalah menantikan apa yang Bapa fimankan, dengan cara hidup intim dengan Tuhan.

Beberapa tindakan Yesus dalam mengaplikasikan hidup yang berintegritas:

a. Menghadapi Pencobaan

Pencobaan adalah serangkaian tindakan Iblis untuk membuat manusia jatuh dalam dosa. Yang mengherankan adalah peristiwa Iblis mencobai Yesus yang tertulis dalam Matius 4:1-11, di mana Iblis berusaha membuat Yesus melakukan kesalahan. Jika bersalah, Yesus menjadi tidak sah sebagai Mesias yang seharusnya tanpa dosa.

Karena Yesus berbicara dan bertindak menurut kehendak Bapa, hal itu menjadi latar belakang mengapa mengubah batu menjadi roti menjadi sebuah pencobaan. Persoalannya bukan pada :

· “Apakah Yesus mampu mengubah batu menjadi roti?” atau
· “Bagaimana mengubah batu menjadi roti?”

namun “ide siapa” yang Yesus lakukan? Perbuatan mengubah batu menjadi roti bukanlah perkataan dari Bapa, sehingga jika Yesus melakukannya, hal mudah itu menjadi suatu kesalahan. Yesus tetap menjaga integritas-Nya dengan selalu menuruti kehendak Bapa.

b. Menghadapi yang Membutuhkan

Yesus adalah pengkhotbah yang penuh kuasa, yang diikuti ribuan orang, dan mereka rela menahan lapar untuk terus mengikuti Yesus. Kadang-kadang mereka mencari sampai ke seberang danau melalui jalan darat. Mereka haus akan kebenaran yang Yesus sampaikan dalam khotbah dan pengajaran-Nya. Termasuk yang sakit mencari Yesus untuk mendapatkan kesembuhan. Ada seorang wanita dari Siro-Fenisia yang mau berjumpa dengan Yesus. Wanita ini datang kepada Yesus dan anaknya yang dirasuk roh jahat dipulihkan. Yesus melayani yang membutuhkan pertolongan.

c. Menghadapi yang Menjebak

Salah satu cara yang dipakai oleh orang yang tidak suka kepada Yesus adalah dengan menjebak-Nya. Mereka menanyakan pertanyaan yang sulit dan hampir mustahil, misalnya pertanyaan mengenai membayar pajak kepada Kaisar.
Jawaban apapun yang Yesus berikan berpotensi membuat Yesus dipersalahkan. Namun Yesus menjawab dengan luar biasa akurat, dan mereka tidak dapat menyalahkan Yesus. Jawaban Yesus yang berasal dari Bapa membuat Yesus tetap berjalan dalam integritas.

d. Menghadapi yang Berdosa

Di atas salib, Yesus menggemakan suatu berita yang amat sangat penting: “Ya Bapa, ampunilah mereka…” Siapa yang Yesus ampuni? Apakah hanya mereka yang menyalibkan Dia? BUKAN.

Yesus menyediakan pengampunan bagi semua orang yang berdosa dan berkat pengampunan itu akan diterima ketika seseorang meminta ampun kepada-Nya. Yesus mengajarkan pengampunan dan bertindak mengampuni manusia berdosa. Itulah integritas.

Yesus menjalani hidup dengan tidak bersalah baik dalam perkataan maupun dalam tindakan. Yesus juga melakukan tindakan yang selaras dengan hati dan kata-kata-Nya. Hidup Yesus tidak bisa dipersalahkan dalam hal apapun, termasuk ketika orang-orang mencari kesalahan-Nya di depan pengadilan, karena Yesus hidup dengan integritas yang tinggi.
Perkataan Yesus di manapun dan kepada siapapun menunjukkan satu hal yang pasti bahwa Dia-lah ‘The Man of Integrity’.

image source: https://sfodan.wordpress.com/2011/10/29/%E2%80%9Ci%E2%80%99m-the-best-darn-humble-person-around-i-do-believe%E2%80%9D-%E2%80%93-matthew-231-12%E2%80%A0/

JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN BE STILL AND KNOW THAT I AM GOD

JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN BE STILL AND KNOW THAT I AM GOD

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi (Mazmur 46:10)

Baru saja kita merayakan Natal bersama-sama. Yesaya telah menubuatkan kelahiran Yesus Sang Mesias dalam Yesaya 9:5 bahwa seorang anak telah lahir bagi kita, yaitu Tuhan yang lahir sebagai manusia untuk menyelamatkan umat-Nya.
Kisah Para Rasul 4:12 berkata bahwa hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus ada keselamatan. Yesus Kristus adalah Allah yang lahir sebagai manusia. Yesus adalah Mesias yang artinya Juruselamat. Kata ‘Mesias’ hanya dipakai untuk Allah, tidak pernah dipakai untuk manusia atau pekerjaannya.

EMPAT NAMA YANG MENANDAI TUGAS YESUS SEBAGAI MESIAS (Yesaya 9:5)

1. Penasehat yang Ajaib
Sebagai Penasehat, maka Tuhan Yesus akan menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna dan akan menunjukkan kepada kita jalan untuk mendapatkan hidup yang kekal.
2. Allah yang Perkasa
Di dalam Yesus selaku Mesias, seluruh kepenuhan kealahan akan berdiam secara jasmani, sebab Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia.
3. Bapa yang Kekal
Yesus datang bukan hanya untuk memperkenalkan Bapa surgawi, tetapi Ia juga akan bertindak sebagai bapa kepada umat-Nya secara kekal. Ia penuh belas kasihan. Ia mengasihi, melindungi, dan menyediakan kebutuhan anak-anak-Nya.
4. Raja Damai
Yesus disebut Raja Damai, karena hanya Tuhan Yesus yang bisa mendamaikan manusia dengan Allah.

Mengapa manusia harus didamaikan dengan Allah? Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dosa membuat kita menjadi seteru Allah. Upah dosa adalah maut. Mati kekal selama-lamanya dan tempatnya di neraka.
Bagaimana Tuhan Yesus mendamaikan manusia dengan Allah?
“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” 2 Korintus 5:21

Tuhan Yesus yang tidak mengenal dosa dijadikan dosa oleh karena kita. Kita yang sebenarnya harus mati, tetapi Tuhan Yesus mati menggantikan kita. Dengan demikian setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dibenarkan (didamaikan) dengan Allah. Tuhan Yesus sebagai Raja Damai juga akan memberikan kepada kita damai sejahtera yang berlimpah-limpah. Ini yang sangat kita perlukan pada masa pandemi COVID-19 ini.
“Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.” Yesaya 48:18

Jadi kunci untuk mendapatkan damai sejahtera yang berlimpah-limpah adalah memperhatikan perintah Tuhan. Hidup menurut kehendak Tuhan. Karena itu bacalah Alkitab setiap hari. Renungkan, lakukan dan saksikan.

EMPAT FAKTA PENTING DALAM KELAHIRAN TUHAN YESUS
Pada waktu Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia ini ada beberapa peristiwa yang terjadi, yang mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menyambut kedatangan Tuhan.

1. Ketaatan Para Gembala
Pada waktu para gembala sedang menjaga ternak di waktu malam, tiba-tiba mereka didatangi oleh malaikat Tuhan dan kemuliaan Tuhan meliputi mereka. Malaikat berkata kepada para gembala:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2:8-12

Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh malaikat tadi, tetapi mereka taat pergi ke Betlehem di kota Daud untuk menjumpai Sang Mesias. Di sini kata kuncinya adalah Ketaatan.

2. Penyembahan Para Malaikat dan Balatentara Sorgawi
Adanya nyanyian para malaikat dan banyak balatentara sorgawi yang memuji Allah:
“Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:13-14

Di sini kata kuncinya adalah doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam.

3. Penyembahan Orang Majus
Waktu orang Majus sujud menyembah Sang Mesias. Di sini kata kuncinya adalah sujud menyembah Sang Mesias. (Matius 2:11a)

4. Persembahan Orang Majus
Orang Majus membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Di sini kata kuncinya adalah mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. (Matius 2:11b)

EMPAT HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEHUBUNGAN DENGAN KEDATANGAN TUHAN YESUS YANG KEDUA KALINYA
Sesuai dengan 4 peristiwa yang terjadi pada waktu menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, maka ada 4 hal yang kita lakukan untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua :

1. Ketaatan
Tuhan Yesus memberitahukan kepada kita bahwa kedatangan-Nya yang kedua kali akan terjadi setelah Injil Kerajaan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Orang yang merindukan kedatangan-Nya pasti akan taat berjuang menyelesaikan Amanat Agung. Pentakosta Ketiga akan memberikan kepada kita kuasa untuk menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.

2. Doa Pujian Penyembahan dalam Unity Siang dan Malam
Ini berbicara tentang Restorasi Pondok Daud. Ini berbicara tentang Menara Doa. Ini berbicara tentang keintiman dengan Tuhan. Orang yang hidupnya intim dengan Tuhan pasti merindukan kedatangan Tuhan.

3. Sujud Menyembah Tuhan Yesus
Sujud menyembah Tuhan Yesus artinya dengan segenap hidup kita melakukan segala kehendak Tuhan. Jadi jika segala sesuatu yang kita lakukan itu menyenangkan hatinya Tuhan, itu artinya kita sujud menyembah Tuhan, seperti Raja Daud.
“Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapatkan Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Kisah Para Rasul 13:22

4. Mempersembahkan Emas, Kemenyan dan Mur
a. Emas
• Emas adalah Lambang Kekudusan atau Kemurnian
Sikap, tindakan dan ucapan kita harus kudus sebab tanpa kekudusan tidak ada seorang pun akan melihat Tuhan. (Ibrani 12:14)
“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.
Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah.
Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.
Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.” 2 Petrus 3:10-14
• Emas adalah Lambang Kekayaan, Kesuksesan, dan Kekuasaan
Kebanyakan motivasi dari orang yang bekerja atau berusaha adalah untuk mendapatkan ketiga hal ini untuk dirinya sendiri. Tetapi kita diminta untuk mempersembahkan semuanya itu kepada Tuhan sehingga kita tidak akan cinta uang. Kita tidak akan sombong dan tetap mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.
• Emas Juga Melambangkan Sesuatu yang Mahal Harganya
Saya tidak tahu apa yang mahal harganya bagi Saudara. Mungkin itu uang, mungkin waktu yang kita punya, mungkin itu harga diri. Tuhan mau semua itu dipersembahkan kepada Dia. Abraham diminta untuk mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal, yang sangat berharga dan dikasihinya, yang didapatkan pada masa tuanya.
Abraham lulus ujian ketika ia dengan rela mempersembahkan Ishak, hartanya yang paling mahal. Karena itulah Tuhan memberkati Abraham beserta keturunannya berlimpah limpah limpah.

b. Kemenyan
• Kemenyan Berbicara Tentang Korban
Sesuai dengan Roma 12:1 kita diminta untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan. Itu adalah ibadah kita yang sejati.
Kita harus hidup bagi Tuhan, menyembah Dia, menaati Dia, mengikut Dia, melayani Dia bersama Dia menentang dosa, membela kebenaran, menolak dan membenci kejahatan.
Melakukan pekerjaan yang baik untuk orang lain seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Hidup dipenuhi Roh Kudus dan hidup sesuai pimpinan Roh Kudus. Hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan itu artinya harus memisahkan diri dari dunia dan makin intim dengan Dia. Jadi untuk hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan kita harus berkorban. Korban itu sesuatu yang menyakitkan bagi kedagingan kita. Tidak benar kalau menjadi orang Kristen hidup santai, bisa berbuat apa saja dan tetap masuk sorga.
• Kemenyan Berbicara tentang Persembahan
Hidup kita harus menjadi persembahan yang menyenangkan hatinya Tuhan.

• Kemenyan Berbicara tentang Doa
Doa yang dilakukan setiap waktu dalam Roh dengan tidak putus-putusnya untuk orang kudus, ini merupakan senjata Allah untuk melawan tipu muslihat iblis. (Efesus 6:18)
Hari-hari ini kita sedang memasuki masa peperangan rohani yang dahsyat untuk merebut jiwa-jiwa dari tangan si iblis.
c. Mur
Mur berasal dari bahasa Ibrani ‘Mor’ dan bahasa Yunani ‘Smurna’ yang artinya pahit.
“Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” Ibrani 12:15
Jangan sampai mempunyai akar pahit. Ingat Amsal 4:23 yang berkata:
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Kita mau hidup kekal selama-lamanya atau mati kekal selama-lamanya tergantung pada hati kita. Kalau hati kita kotor oleh akar pahit maka akan mati kekal selama-lamanya. Kalau mulai muncul akar pahit cepat datang ke hadapan Tuhan Yesus. Serahkan itu, bertobat, minta ampun karena selama ini menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, maka Saudara akan selamat.

Mur juga berbicara tentang pengurapan.
Salah satu bahan untuk membuat minyak urapan adalah mur. Pengurapan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita harus dikembalikan kepada Tuhan bukan untuk popularitas, mencari kekayaan, atau kepentingan-kepentingan lainnya.

BE STILL AND KNOW THAT I AM GOD

Pesan Tuhan bulan ini bagi kita adalah Jangan ada padamu allah lain, Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah. Dalam renungan ini kita diingatkan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua kali, sebagai Raja di atas segala raja, yang layak ditinggikan dan disembah oleh seluruh ciptaan-Nya. Kalau kita mengatakan Tuhan Yesus layak ditinggikan, maka DIA harus mendapat prioritas utama, sebab Dialah yang menggenggam nafas hidup kita dan berdaulat atas segalanya.

Waspadalah agar jangan sampai kita memiliki allah-allah yang lain. Mungkin kita memang tidak menyembah patung/kuasa gelap, tetapi sering tanpa sadar kita menautkan hati kepada kesibukan, pekerjaan/usaha, pemenuhan kebutuhan, kekhawatiran, masalah, ambisi, hobby, harta, perkara yang sia-sia dan lain sebagainya. Akhirnya Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama dan kita telah kehilangan kasih yang semula. Berhala/allah lain adalah semua hal yang menjauhkan seseorang dari iman percaya, pengharapan, kasih serta pengabdian kepada Tuhan.

Kedatangan Tuhan Yesus sudah sangat-sangat dekat. Mari kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya yang ke dua dengan melakukan 4 hal yang telah diuraikan tadi.
Jangan ada pada kita allah lain, diam dan ketahuilah, bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi dan ditinggikan di dalam hidup setiap kita, AMEN.
Selamat Tahun Baru 2021. Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://open.life.church/resources/3690-psalm-46-10

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN

Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

image source: https://www.facebook.com/GreenhillsChristianFellowship/posts/prayer-joshua-gods-favored-leader-toward-the-end-of-his-life-was-able-to-say-soo/10157216159268170/

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN

Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN
Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN
Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN
Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN
Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN
Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN
Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

image source: https://twitter.com/biblicaministry/status/810561568312360960

MEMBERI YANG TERBAIK

MEMBERI YANG TERBAIK

“…Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”Matius 7:9-11
Dalam bagian ayat ini, Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai hal pengabulan doa. Pengabulan doa selalu diawali dengan satu hal kunci, yakni ‘meminta’. Dalam konteks ini Tuhan Yesus membuat sebuah perbandingan antara pendengar pada waktu itu yang disebut dengan istilah “kamu yang jahat” dengan ‘Bapamu yang di Sorga’. Apa yang sedang Tuhan Yesus bandingkan terkait dengan pemberian? Jika manusia yang jahat saja tahu memberi yang terbaik bagi anak-anaknya, apalagi Bapa di Sorga.
Dari perkataan Tuhan Yesus ini, jika seorang anak meminta kepada bapak di dunia ini dengan suatu keyakinan bahwa bapak nya akan memberi. Apalagi Bapa kita di surga, yang pasti lebih baik dari bapak di dunia ini. Jadi jika kita meminta pada Bapa di Surga, minta dengan iman percaya, dengan suatu keyakinan bahwa Bapa, Tuhan kita itu baik, Dalam memberi, Bapa Sorgawi memiliki sebuah standar, yaitu YANG TERBAIK.

Kesimpulan lainnya yang dapat kita ambil adalah, manusia yang jahat (poneros), berdosa juga ternyata memiliki standar yang sama dalam memberi yaitu YANG TERBAIK kepada anak-anaknya. Betapa dahsyatnya apa yang sedang Tuhan Yesus sampaikan dengan membandingkan, Allah Bapa dan manusia berdosa yang memiliki sebuah kesamaan, yakni standar ‘memberi yang terbaik’, sekalipun tentu secara kualitas tidak dapat disamakan. Tuhan Yesus berkata:
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, APALAGI Bapamu yang di Sorga.”
Jika kita coba renungkan lebih jauh, pemberian disini terkait dengan adanya suatu hubungan (relationship), “…memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu”, maka ukuran yang digunakan dalam memberi bukanlah ukuran yang biasa, melainkan yang terbaik.
Lima belas tahun yang lalu, kami mempersiapkan kelahiran anak yang dinantikan. Kami persiapkan semua yang terbaik. Ranjang bayi dengan kasur yang terbaik, pakaian-pakaian yang terbaik, boneka, mainan dan lain-lain; bahkan sebelum anak kami bisa menyatakan secara pribadi apa yang diinginkan, serta apa yang menjadi kesenangannya.
Ternyata memberi yang terbaik berdasarkan hubungan bukan hanya terjadi antara orangtua terhadap anaknya saja, melainkan juga diantara pasangan kekasih. Mereka berupaya tampil yang terbaik di depan pasangan, serta selalu mengupayakan yang terbaik untuk kebahagiaan pasangannya. Hubungan yang kita miliki berpengaruh terhadap standar kita dalam memberi.
Semakin berkualitas sebuah hubungan, semakin tinggi standar memberi yang ada dalam hubungan tersebut.
Bertolak dari pemahaman ini, standar kita dalam memberi bagi pekerjaan Tuhan melalui Gereja salah satunya juga ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan TUHAN. Kita bisa melihat hal ini dari catatan Alkitab. Di Perjanjian Lama kita akan jumpai hal itu dalam kisah hidup para pahlawan iman sebelum hukum Taurat diberikan pada bangsa Israel di jaman Musa. Di situ kita akan menjumpai bahwa hanya mereka yang memiliki hubungan yang dekat, kualitas hubungan yang sangat intim dengan TUHAN; yang tahu bagaimana memberi yang terbaik dengan inisiatif yang berasal dari dalam dirinya. Nuh, Abraham, Ayub, menjadi salah satu contoh teladan bahwa memberi bukan karena ada hukum yang mencatat atau mengatur tentang hal itu, tetapi memberi karena mereka memiliki hubungan yang berkualitas (intim) dengan TUHAN.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada 3 kelomppok orang sebagai berikut:
1. Mereka yang memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN umumnya memiliki standar yang tinggi dalam memberi, yakni senantiasa berupaya memberi yang terbaik.
Dalam Perjanjian Baru kita bisa meneladani apa yang Maria lakukan. (Yohanes 12:1-8)
Maria mempersembahkan minyak narwastu murni yang harganya diperkirakan hampir setara dengan upah buruh selama setahun. Bukan hanya soal harga minyaknya yang menjadikan persembahan Maria berkualitas, tapi juga apa yang ia lakukan selanjutnya, menyeka kaki Yesus dengan rambutnya.
Bagi seorang perempuan rambut adalah mahkotanya yang berharga. Semua yang Maria lakukan adalah contoh standar yang tinggi dalam memberi, yang dilakukan karena memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN.
Ketika Maria melakukan hal tersebut, tidak semua orang mendukung apa yang dilakukannya. Kritik datang dari seorang murid yang suka mencuri uang kas yang biasa disimpan dan digunakan untuk pelayanan dan perjalanan Tuhan Yesus beserta dengan murid-murid yang lain. Dengan sangat politisnya, si pencuri uang kas (yaitu Yudas I.) membandingkan antara mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Yesus dengan pelayanan kepada orang-orang miskin. Sebuah alasan yang jika dipandang dari sudut pandang ekonomi dan sosial sebagai argumen yang kelihatannya benar, lebih bermakna dan lebih berdampak, namun Tuhan Yesus melihat jauh sampai kedalaman hati seseorang.
2. Mereka yang tidak memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN hanya dapat memahami pemberian sebagai keharusan yaitu sebuah hukum yang tertulis.
Sehingga ukuran dan keputusan dalam memberi senantiasa ditimbang berdasarkan hukum yang tertulis semata, sambil meninjau konteksnya dengan logika atau perasaan yang ber ubah-ubah. Ketika yang lainnya sudah dengan tekun dan setia mengembalikan persepuluhan, dirinya masih sibuk menggali:
o Apakah persepuluhan ini benar Alkitabiah?
o Apakah persepuluhan tetap berlaku di masa Gereja sekarang ini?
o Ataukah hanya di Perjanjian Lama?
o Apakah Persepuluhan bisa diterapkan dalam jemaat masa kini atau hanya bagi orang Yahudi saja?
Dan masih banyak lagi pembahasan-pembahasan yang demikian. Sebenarnya ujung pangkal dari semuanya itu adalah mencari sebuah alasan untuk menguatkan agar tidak mengembalikan persepuluhan.
Betapa indah dan luar biasanya jemaat yang mengembalikan persepuluhan atau memberi dengan standar yang terbaik karena dorongan kasih kepada TUHAN, karena memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN dan bukan sekedar dorongan dari hukum yang tertulis atau dari sesuatu yang masuk akal atau sesuatu yang menguntungkan dlsbnya.
3. Mereka yang “cinta akan uang” dan “pencuri kas” milik TUHAN akan selalu mengkritik mereka yang memberi dengan standar yang tinggi bagi pekerjaan TUHAN melalui suatu Gereja.
Orang yang tidak memberi, seringkali menutupi rasa bersalah nya dengan mengkritik hamba Tuhan/Gereja. Tidak jarang orang yang tidak memberi menghasut orang lain supaya tidak memberi dengan menyamarata-kan semua pendeta/hamba Tuhan dengan yang ber gaya hidup yang suka pamer atau ber masalah intern. Bila ada hamba Tuhan menyalah gunakan keuanga gereja, bukan berarti semua hamba Tuhan sama seperti itu. Sekedar memandang apa yang kasat mata tanpa tahu fakta yang sebenarnya, golongan ini menghina, memfitnah dengan motif seakan membela warga Gereja, namun yang sebenarnya telah menyesatkan banyak orang yang ‘naïve’ dan ‘ignorant’ sehingga tidak di berkati.
Kekristenan adalah hubungan. Hubungan kita dengan Kristus dan hubungan kita dengan sesama. Itulah yang digambarkan dengan hukum yang pertama dan terutama:
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40
Tuhan Yesus mengatakan bahwa dalam hukum kasih inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Hukum kasih haruslah menjiwai, mewarnai semua hukum yang tertulis. Kasih kepada TUHAN dan kasih kepada sesama melampaui konteks, alasan dan fitnahan. Ketika kasih kepada TUHAN dan kasih kepada sesama memenuhi hidup kita, karena Kasih Yesus yang terlebih dahulu telah menjamah kita, maka kita hanya akan memiliki satu standar dalam memberi, YANG TERBAIK! Sampai Maranatha.

image source: https://www.in-due-time.com/faith/matthew-711-good-gifts-274/

BERSORAK KEMENANGAN

BERSORAK KEMENANGAN

TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku.
Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar:
“Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan,
tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!”
Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.
(Mazmur 118 : 14-17)
Hikmat dunia mengajarkan bahwa kalau ingin menang dalam peperangan/mengalami keberhasilan diperlukan sebuah strategi yang jitu, tim yang kuat dalam jumlah memadai, teknologi yang canggih, bantuan dari pihak lain yang dapat diandalkan dan sebagainya.
Firman Tuhan mengatakan bahwa sesungguhnya kemenangan ada ditangan Tuhan (Amsal. 21:31b) dan Dia memberikannya kepada orang yang berharap akan kasih setia-Nya (Mazmur. 20:6; 33: 16-18).
Alkitab mencatat bangsa Israel dan para pahlawan iman mengalami mukjizat kemenangan saat mengandalkan Tuhan sekalipun menghadapi musuh yang lebih kuat/besar. Dengan berdoa, memuji dan menyembah Tuhan sebagai orang percaya, kita tidak takut menghadapi lawan ataupun ancaman yang menghadang.
Kunci kemenangan adalah fokus kepada Pribadi Tuhan, kepada kasih setia-Nya yang dapat diandalkan (bukan kepada masalah, bukan kepada keadaan yang terlihat atau kesanggupan diri sendiri). Doa, pujian dan penyembahan merupakan senjata peperangan orang percaya karena Tuhan bertahta di atas pujian dan penyembahan umat-Nya (Maz. 22:4).
Ada beberapa contoh dalam Alkitab tentang mukjizat kemenangan yang mau kita pelajari :
1. Kemenangan dan mukjizat terjadi ketika sorak-sorai dan nyanyian pujian bagi Tuhan dinaikkan.
Dalam kesesakan menghadapi serbuan musuh yang banyak, Yosafat memutuskan untuk fokus kepada Tuhan (2 Taw. 20:1-30). Ketika mereka menghadap ke hadapan Tuhan (ay.6-12), maka Tuhan memberikan firmanNya (ay.14-17).
Ketika seluruh Yehuda menyanyikan puji-pujian dan bersorak bagi Tuhan, maka Tuhanlah yang berperang bagi mereka untuk mengalahkan laskar yang besar (gabungan dari pasukan Moab, Amon dan Meunim) dan memberikan kemenangan bagi Yehuda (ay.22-25).
Runtuhnya tembok Yerikho, kemenangan 300 orang pasukan Gideon atas Midian dan terlepasnya Paulus dan Silas dari pasungan yang membelenggu kaki mereka juga terjadi karena kuasa dalam pujian.
2. Kemenangan dan mukjizat terjadi ketika Tuhan menyatakan kuasa-Nya melalui seorang yang selalu membawa hadiratNya.
Daud adalah seorang penyembah yang hidup dalam keintiman dengan Tuhan. Seorang yang intim dengan Tuhan adalah orang yang mendapat perkenanan-Nya sehingga ke manapun dia pergi senantiasa membawa hadirat Tuhan. Daud mengalahkan Goliath serta pasukan orang Filistin dengan kuasa Allah yang senantiasa menyertainya (baca 1 Sam. 17-45-47).
Ketika Daud menyembah Tuhan dengan kecapi, maka Saul merasa lega dan nyaman dan roh jahat itu undur darinya (1 Sam. 16:23).
Begitu pula hal yang terjadi kepada Elia, seorang pejuang doa (prayer warrior), yang hanya seorang diri berperang mengalahkan para nabi Baal (450 orang) dan para nabi Asyera ( 400 orang) dalam1 Raja 18:32-40.
Elia adalah manusia biasa yang sama seperti kita, ia telah bersungguh-sugguh berdoa supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun selama tiga setengah tahun (Yakobus 5:17). Tuhan juga melakukan mukjizat dalam masa pelayanan Elia (1 Raja. 17).
Seseorang yang selalu konsisten untuk terus berada di hadirat Tuhan akan membuat dirinya dipakai untuk menyatakan kuasa mukjizat dalam setiap doa pujian dan penyembahannya.
Dalam doa pujian dan penyembahan kita mendeklarasikan sifat-sifat Tuhan : Tuhan itu baik, kasih setiaNya kekal tidak berubah! Allah menyembuhkan, memberikan damai sejahtera, memulihkan, memerdekakan, memberi jalan keluar, memberkati dan menyediakan segala yang kita perlukan. Dengan iman kita mendeklarasikan firman dan janji-janji Tuhan. Kita percaya, sebab itu kita berkata-kata (2 Kor. 4:13).
Katakanlah kepada mereka : Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu (Bilangan 14:28). Saat kita mengatakan siapa Tuhan dengan penuh iman percaya, saat itulah kuasaNya di nyatakan/ termanifestasi. Bila kita ingin Tuhan beracara lebih dahsyat lagi dalam hidup kita, percaya dan perkatakan, maka Tuhan akan ber karya secara luar biasa. Percayakah saudara akan hal ini? Jawab nya: Percaya!!
Firman Tuhan memerintahkan kita untuk jangan kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur melalui pujian dan penyembahan. Doa, pujian penyembahan adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Maka setiap ketakutan dan initmidasi si jahat di kalahkan dan kita meraih kemenangan saat kita berdoa, memuji dan menyembah Dia, Raja diatas segala Raja!
Jadikan doa, pujian dan penyembahan sebagai gaya hidup dan senjata dalam peperangan agar kita berjalan dalam kemenangan, dibawa dari satu kemenangan ke kemenangan berikutnya , dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lain. Amin.

image source: https://thankgodquotes.com/2018/09/11/psalm-11814-2/

BERKAT DI MASA SUKAR

BERKAT DI MASA SUKAR

Hari-hari ini semua bangsa sedang ada dalam satu masalah besar yakni sama-sama sedang menghadapi Pandemi COVID-19, belum lagi resesi global, dan masih banyak masalah lain. Tetapi satu hal yang pasti, Tuhan sekali-kali tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Penyertaan, pertolongan dan perlindungan-Nya selalu nyata di setiap waktu. Apapun yang terjadi di dunia ini semua sudah ditetapkan Tuhan melalui Firman yang diucapkan-Nya, dan bahwa dalam segala hal, Tuhan selalu yang memegang kendali. Apa yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan penggenapan dari firman-Nya dalam 2 Timotius 3:1 yang berkata:
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.”
Sebagai umat Tuhan, kita harus percaya akan kuasa Tuhan, tetapi pada saat yang sama kita juga harus selalu siap sedia menghadapi setiap tantangan zaman yang memang pasti terjadi, menjelang kedatangan Tuhan yang kedua kali. Firman Tuhan bahkan dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa hidup yang kita jalani di hadapan Tuhan adalah bagaikan sebuah pertandingan atau perlombaan. Pertandingan iman tentunya.
Setiap orang percaya harus mau bertanding, berlomba, supaya keluar sebagai pemenang. Kita tidak pernah bertanding seorang diri, ada Tuhan yang akan selalu menyertai dan menolong kita supaya pada akhirnya kita akan tetap keluar sebagai pemenang.
“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:24-27
Pertanyaannya, mengapa hidup ini disebut pertandingan iman/pertandingan rohani? Karena ternyata dalam hidup ini Tuhan mengizinkan kita mengalami banyak hal. Bukan hanya berkat, tetapi kadangkala masalah, persoalan dan tantangan. Selain kita mengalami keberhasilan dan kesuksesan, kadangkala kita diperhadapkan kepada pergumulan yang berat; entah masalah keluarga, masalah kesehatan, masalah ekonomi, kegagalan, dsb. Itulah kenyataan dari sebuah kehidupan.
Nah, musuh/lawan kita adalah si Iblis. Dia mau kita kalah dan dijatuhkan saat sedang mengalami hal-hal yang buruk atau hal-hal yang tidak mengenakkan tadi. Di sinilah pertandingan iman/perombaan rohani itu terjadi, saat kita harus mempertahankan iman meskipun melewati masa-masa yang sukar dan berat dalam hidup kita.
Kadang kita lihat banyak orang Kristen yang tadinya rajin beribadah, bahkan sudah melayani pekerjaan Tuhan, tetapi kemudian mereka tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan lagi, mereka kecewa dan undur dari pelayanan karena sedang menghadapi persoalan yang berat dalam hidupnya. Sadarlah bahwa hidup ini memang sebuah perjuangan, sebuah pertandingan. Tidak selalu mudah seperti yang dibayangkan, tetapi firman Tuhan berkata, kalau kita setia dan bertahan sampai akhir, kita akan menerima mahkota dan upah. Artinya kita pasti akan menerima berkat dari Tuhan.
Persis seperti firman-Nya dalam 2 Timotius 4:7-8, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”
Seandainya saat ini kita sedang menghadapi tantangan, persoalan, pergumulan yang berat, yang Tuhan izinkan terjadi, apa yang harus kita lakukan? Apa yang firman Tuhan ajarkan supaya kita dapat bertahan bahkan keluar jadi pemenang?
IMAN VS TANTANGAN
1. Bangkit dan Hadapi!
Jangan lari dari kenyataan. Hadapi, jangan takut. Ingatlah akan janji Tuhan dalam 1 Korintus 10:13, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Janji Tuhan ini berlaku untuk semua masalah dan pergumulan hidup kita, apapun bentuk dan penyebabnya. Tuhan tidak akan pernah membiarkan masalah apapun terjadi melebihi kekuatan kita. Tahukah Saudara, semua tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh di dunia ini bukanlah orang-orang yang yang tidak pernah gagal dalam hidupnya? Justru mereka mengalami banyak sekali kegagalan! Persoalannya karena mereka tidak mau menyerah, mereka bangkit dan menghadapi masalahnya. (contoh: Thomas Alfa Edison, Abraham Lincoln, dll.) Kalau kita tidak lari dari kenyataan melainkan bangkit dan menghadapi masalah tersebut, pasti kita akan melihat mujizat dari Tuhan!
Ketika orang Israel keluar dari Mesir, perjalanan mereka terhenti karena melihat masalah besar di hadapan mereka, yaitu Laut Merah. Tuhan ternyata tidak suruh mereka untuk putar arah, tetapi menyuruh mereka maju. Ketika Musa maju memukul laut itu dengan tongkatnya, maka laut itu terbelah dua. Tongkat itu adalah lambang dari kuasa Allah.
Ketika kita sebagai orang percaya, sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, maju dengan iman dan percaya akan kuasa Allah, Mujizat pasti terjadi!
2. Hidup dalam Perkenanan-Nya
Mazmur 37:23-24 berkata: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya”.
Sebagai manusia yang bertubuh fana, tidak ada di antara kita yang kebal terhadap dosa. Siapapun bisa jatuh dalam dosa dan kesalahan. Dalam kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia itu, apa yang harus kita lakukan? Satu hal yang terpenting yaitu rindukan selalu perkenanan-Nya. Minta selalu kepada Tuhan anugerah-Nya ini, sebab mungkin kita bisa sempat jatuh, tetapi kejatuhan itu tidak akan sampai menghancurkan hidup kita, sehingga membuat kita tergeletak dan tidak bisa bangun lagi.
Ketika kita mengalami kasih dan perkenanan Tuhan, maka tangan-Nya senantiasa menopang kita, membela dan mengangkat kita kembali. Itu yang Daud selalu alami dihadapan Tuhan. Daud bukanlah manusia sempurna, tetapi Daud tahu persis apa artinya perkenanan Tuhan.
Pertanyaannya sekarang, apa rahasianya untuk mendapatkan perkenanan Tuhan itu? Ada 3 tokoh di Alkitab yang disebut ‘orang yang dikenan oleh Tuhan’ yaitu Henokh, Daud dan Yesus. Ketiga orang ini memiliki ciri yang sama, yaitu mereka hidup bergaul karib dengan Tuhan. Jadi jawabannya sederhana – namun melakukannya yang tidak mudah – yaitu: INTIM dengan Tuhan. Keintiman adalah kunci untuk mengalami perkenanan dari Tuhan. Mari bangun keintiman dengan hati yang melekat kepada-Nya melalui doa, pujian dan penyembahan secara pribadi di hadapan Tuhan.
3. Tinggalkan Sifat dan Perbuatan yang Salah
“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13:11
Tinggalkan sifat dan kebiasaan-kebiasaan yang salah/buruk, bahkan jahat, (bad attitude) yang seringkali kita lakukan. Segala bentuk ketidaktaatan, karakter yang negatif, pergaulan yang salah, pengendalian diri yang buruk, pada akhirnya semua akan berujung pada masalah-masalah yang akan menjerat dan menjatuhkan kita di waktu yang akan datang; cepat atau lambat. Sebab itu jadilah dewasa.
Sifat dan kebiasaan buruk itu bagaikan ‘ikatan’ yang melilit diri kita; persis seperti seekor ular piton atau sanca ketika mau menelan mangsanya. Ular itu akan melilit dulu tubuh mangsanya, sehingga tidak bisa bergerak kemana-mana, baru ditelannya dengan perlahan, tetapi pasti.
Strategi Iblis juga begitu, dia tidak bisa membuat kita langsung jatuh dalam dosa dan kesalahan. Tetapi dia bersembunyi dibalik sifat, kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, yang kanak-kanak; di mana satu hari hal-hal yang tadinya mungkin sepele, tiba-tiba menjadi monster yang menjatuhkan kita.
Ini adalah hari-hari peperangan yang dahsyat, kita harus jaga ‘daerah teritorial’ hidup kita. Yaitu: keluarga, pekerjaan, usaha, kesehatan kita, dan segala sesuatu yang Tuhan sudah sudah percayakan. Di luar sana ada banyak musuh yang mau merebutnya. Musuh sakit penyakit, kegagalan, kemiskinan, kebangkrutan, perselingkuhan, dan sebagainya. Mereka selalu mengintai untuk menyerang kita. Sebab itu berjaga-jagalah. Tinggalkan sifat kanak-kanak dan jadilah anak Tuhan yang dewasa.
BERKAT DI BALIK MASALAH
Dalam setiap keadaan yang Tuhan izinkan kita alami, Dia selalu punya rencana yang indah. Dia mau kita selalu berubah dan menjadi seperti apa yang dikehendaki-Nya. Tuhan selalu ingin memberkati setiap kehidupan orang percaya, bahkan di tengah-tengah himpitan masalah dan kesulitan.
Apa berkat yang akan kita peroleh di saat kita menghadapi masalah?
1. Masalah itu Mendewasakan Kita
Masalah diizinkan Tuhan supaya kita mau berubah dan menjadi lebih dewasa.
Ingat Wahyu 3:19 berkata, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”
Tuhan seringkali mendidik anak-anak-Nya melalui masalah dan penderitaan yang dialami. Kadang kala telinga rohani kita tidak peka untuk mendengar suara, teguran dan nasihat dari Tuhan. Sehingga Dia pakai masalah untuk berbicara kepada kita, supaya kita sadar dan berbalik, sebab itu jangan keraskan hati.
Di sisi lain, setiap tantangan dan masalah yang kita alami menjadikan kita pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Masalah itu akan melatih otot-otot rohani kita supaya bertumbuh. Alkitab mengajarkan bahwa iman itu bertumbuh melalui pembacaan kitab suci, tetapi juga melalui masa-masa yang sukar. (2 Timotius 3:10-15)
Tetapi sekali lagi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, bahkan Ia turut bekerja dalam segala sesuatu justru untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. (Roma 8:28)
2. Masalah Membuat Kita Dapat Melihat Kuasa dan Kemuliaan Tuhan
Ada perkataan: “Banyak masalah, banyak mujizat. Sedikit masalah, sedikit mujizat. Tidak ada masalah, tidak ada mujizat”. Masalah membuat hidup kita lebih ‘hidup’, hidup jadi tidak monoton, dan sesungguhnya masalah yang kita alami adalah cara Tuhan untuk kita melihat mujizat dan pertolongan-Nya dinyatakan. Masih ingat kisah di dalam Yohanes 9:1-3 ketika Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Tuhan Yesus berkata bahwa bukan salah siapa-siapa dia buta seperti itu, bukan salah dirinya atau orang tuanya tetapi karya Allah mau dinyatakan dalam diri orang itu.
3. Masalah Membawa kepada Keintiman dengan Dia
Seringkali kita terlalu larut dalam segala kesibukan dan rutinitas kita, sehingga hubungan yang intim dengan Tuhan sering terabaikan. Padahal Tuhan mau kita selalu tinggal dalam kasih yang mula-mula dengan Dia. Akhirnya Tuhan izinkan masalah datang supaya kita kembali ke hadirat-Nya.
Waktu masalah datang, kita kembali disadarkan bahwa kita sangat memerlukan Tuhan. Hanya Tuhanlah yang sanggup melindungi kita, keluarga, pekerjaan, apapun, dengan sempurna. Dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu. Kita hanya bisa bergantung sepenuhnya dan mengandalkan Tuhan.
Melalui masalah Tuhan membuat kita lebih mengenal pribadi-Nya bahkan mengerti jalan-jalan-Nya, bukan hanya dari kata orang atau sekedar pengetahuan, tetapi melalui pengalaman secara pribadi, seperti yang dialami oleh Ayub. (Ayub 42:5-6)
“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Ayub 23:10. Sebagai orang percaya, kita ditentukan Tuhan untuk jadi ‘emas’ (bersinar, memancarkan kemuliaan Allah, dan berharga). Percayalah akan hal itu, jangan putus asa atau menyerah ketika sedang menghadapi persoalan dan tantangan dalam hidup. Itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuk menjadikan kita ‘emas’, yaitu anak-anak-Nya yang memancarkan kemuliaan-Nya.

LIHAT APA YANG ADA PADAMU DAN BERSYUKURLAH

LIHAT APA YANG ADA PADAMU DAN BERSYUKURLAH

Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”
Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apa pun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”
Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir. Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, jual lah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.” 2 Raja-Raja 4:1-7
Dari ayat di atas ada lima pesan yang bisa kita pelajari untuk mengingatkan kita akan penyertaan Tuhan di tengah ketidak pastian ekonomi saat ini.
1. Datang kepada Sumber yang Tepat
Ketika janda itu memiliki masalah sehingga tidak bisa membayar hutang dan penagih hutang (debt collector) sudah di depan pintunya, siap mengambil anaknya sebagai budak, janda ini mengambil langkah yang tepat. Dia datang kepada Elisa sebagai nabi Tuhan. Dia tidak datang ke temannya atau ke saudaranya untuk meminta pertolongan. Dia tahu sumber berkatnya itu adalah Tuhan.
Firman Tuhan katakan di Ulangan 8:18,
“Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, Sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”
2. Tidak Menyepelekan Hal-hal yang Kecil
Elisa bertanya kepada janda itu, “Apa yang kau miliki?” Janda itu berkata “Aku tidak punya sesuatu apapun selain buli-buli berisi minyak.”
Buli-buli itu ukurannya sangat kecil, tidak lebih besar dari sebuah toples kue. Diperkirakan mungkin itu isinya hanya minyak zaitun untuk pengurapan. Janda itu pasti menganggap minyak yang sedikit itu tidak ada nilainya. Yang dia butuhkan adalah sejumlah uang untuk membayar hutangnya. Namun Elisa sebagai nabi Tuhan bisa melakukan perkara-perkara besar.
Umumnya secara instink jika kita mengalami kesulitan keuangan atau ditagih hutang respon kita langsung mengatakan bahwa saya sudah tidak punya apa-apa. Fokus kita umumnya hanya kepada masalah. Respon kita lebih dimaksudkan untuk menghindar dari kewajiban kita kepada penagih hutang dan mengharapkan kalau bisa hutang ini dihapuskan. Kita umumnya ingin solusi yang cepat dan instan. Padahal Tuhan hendak mengadakan hal-hal heran dari hal terkecil yang kita miliki. Sehingga nama Tuhan akan dipermuliakan.
3. Percaya bahwa Tuhan Bekerja secara Ajaib
Elisa menyuruh janda ini “Pergilah dan mintalah bejana-bejana kosong dari tetanggamu, tetapi jangan terlalu sedikit.”
Saat itu janda ini pasti terkejut dan mungkin tertawa sambil berpikir bahwa Elisa ini sudah gila. Yang dibutuhkan dalam tempo yang singkat itu adalah uang, bukan bejana-bejana kosong. Dia tidak mengerti maksud Tuhan. Tetapi yang luar biasanya janda ini PERCAYA dan mau taat MELAKUKANNYA. Mujizat bekerja dengan cara yang tidak masuk akal manusia. Di samping itu perhatikan kata “jangan terlalu sedikit” Elisa sedang mengajar janda ini untuk mempunyai iman yang besar. Think Big. Dan jangan ala kadarnya dalam melakukan pekerjaan.
Hal yang sering kita anggap sebagai hal yang tak bernilai dalam hal ini yaitu sedikit minyak di dalam sebuah buli-buli justru itu yang akan Tuhan jadikan sesuatu yang luar biasa. Tuhan ingin melakukan mukjizat-Nya melalui apa yang kita miliki. Agar kita dapat melakukan bagian kita.
4. Fokus pada Tuhan dan Percaya Mujizat Tuhan
Maksud dari Elisa menyuruh janda itu menutup pintu adalah supaya janda ini tidak goyah iman (DISTRACTED). Mungkin tetangganya akan mengolok-olok dia ketika melihat apa yang dilakukannya. Mungkin dianggap suatu kebodohan dan kemustahilan. Atau mungkin tetangganya akan menawarkan pertolongan berupa pinjaman baru dan itu akan membuat janda berubah pengharapannya bukan lagi kepada Tuhan tetapi kepada manusia. Yang bisa saja ternyata pinjaman tersebut membebankan riba yang tinggi dan akan menjadi masalah baru. Gali lubang tutup lubang. Terkadang Tuhan ingin kita menyendiri hanya mengandalkan Tuhan saja. Hal ini dimaksudkan supaya kita benar-benar berfokus pada Tuhan bukan masalah kita.
5. Mengelola Berkat dengan Tuntunan Tuhan
Janda itu diberkati dengan bejana-bejana yang penuh berisi minyak karena mujizat Tuhan. Saat itu jumlahnya pasti tidak sedikit, sehingga hasilnya berlimpah. Elisa tidak ada bersama janda itu ketika mujizat pelipat gandaan minyak terjadi. Namun janda ini tidak langsung menghilang. Dia tahu Tuhan-lah yang memberi dan Tuhan-lah yang akan memberi petunjuk apa yang harus dilakukannya, hingga janda ini kembali mencari Elisa.
Dia pasti hendak melaporkan dan meminta nasihat berikutnya apa yang harus dilakukan dengan minyak itu. Dia selalu bertanya kepada Tuhan. Tidak sembarangan/sembrono menggunakan berkat yang di terima. Elisa mengingatkan kepada janda ini untuk membayar hutangnya dan bahkan melunasinya dan hidup dari sisanya.
Tuhan mau kita selalu menepati janji membayar hutang yang jatuh tempo. Sebagai orang percaya, kita tidak boleh gagal bayar. Firman Tuhan katakan di Amsal 22:7, “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.”
Sedangkan kita dipilih dan lahir baru oleh Yesus Tuhan kita untuk dijadikan imamat yang Rajani. Bagaimana mungkin kita bisa mendapat berkat anak raja, jika kita masih menjadi budak hutang.
KESAKSIAN
Ada seorang ibu yang suaminya di PHK satu bulan sebelum COVID-19 masuk ke Indonesia. Dia datang kepada saya dan meminta advise apa yang harus dilakukan atas uang PHK suaminya ini? Ibu ini mengatakan kepada saya bahwa dia memiliki hutang dan kebutuhan lainnya. Dia tetap membutuhkan suatu income yang tetap, karena kalau tidak maka uang PHK tersebut akan habis dipakai untuk hidup. Dan saya tanya apa yang ibu milki sekarang ini? Dia mengatakan bahwa dia hanya bisa membuat salad buah. Hal yang sepele. Banyak orang bisa membuat salad buah. Jualan makanan mempunyai resiko tinggi dan saingannya ketat. Sewa ruko untuk jualan mahal.
Akhirnya saya memberikan nasihat saya kepada ibu itu atas uang PHK suaminya adalah:
1. Lunasi hutangnya.
2. Perbesar dapurnya
3. Tabung sisanya untuk hari esok.
Ibu itu percaya dan melakukannya. Tetapi siapa yang sangka satu bulan kemudian kita masuk ke dalam situasi pandemi seperti ini. Aktivitas ekonomi di locked-down. Banyak orang tidak bisa makan di luar, tidak bisa masak sendiri, terpaksa harus order online. Jualan tiba-tiba menjadi sangat mudah dan murah lewat sosial media dan online. Sekarang dengan skill yang sepele itu, ibu ini sudah buka PO dan makanannya sudah berkembang menjadi bukan hanya salad buah tetapi makanan lainnya: sambel pete, nasi bakar, kue keju, dll. Mereka hidup berkecukupan.
Kisah mengenai Elisa dengan janda miskin ini banyak memberikan kita pelajaran. Terutama pelajaran bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang peduli dengan pergumulan hidup kita. Dia mampu mengubah hal-hal kecil yang kita anggap sepele menjadi sesuatu yang besar. Saat ini apa yang kita miliki? Mungkin hanya keterampilan memasak, mungkin hanya keahlian dalam menjahit, mungkin keahlian dalam fotografi, mungkin ada yang hanya bisa menggambar. Apa yang tadinya tidak kita perhitungkan, bisa menjadi sesuatu yang bisa menghidupi kita di tengah badai krisis keuangan seperti saat ini bila kita libatkan Tuhan dalam kehidupan kita.
Tuhan Yesus sendiri menjanjikan melalui Yohanes 15:7, ”Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
Roh Kudus akan memberikan kepada kita roh kreativitas. Jadi tetaplah beriman kepada Tuhan Yesus yang selalu tepat waktu dalam memberikan pertolongan-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

image source:https://bibleversestogo.com/products/deuteronomy-8-18

KASIH SETIA TUHAN ITU KEKAL  (“His steadfast love endures forever”)

KASIH SETIA TUHAN ITU KEKAL (“His steadfast love endures forever”)

Nats bacaan : Mazmur 118
Begitu banyak hal berubah dalam tahun ini, dengan pandemic Corona disertai dengan kemajuan teknologi yang memaksa kita juga memacu diri untuk bisa bersaing dalam lapangan pekerjaan. Semua ini memaksa kita belajar cara baru “New Norm” dalam gaya hidup, cara bekerja, belajar dan beribadah dan lain sebagainya. Namun ada satu hal yang pasti dan tidak pernah berubah yaitu KASIH SETIA TUHAN. Bulan ini kita merenungkan KasihNya KEKAL TIDAK BERUBAH. Ingat dan jangan pernah lupakan Tuhan kita tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selama – lamanya, demikian pula kasih setiaNya.
Dunia bukan hanya marak dengan perubahan tapi juga ketidakpastian. Tahun 2020 dan tahun-tahun ke depan adalah masa yang penuh dengan tantangan dan pergumulan karena kita sedang berada di hari-hari terakhir menjelang kedatangan Tuhan di mana apa yang tertulis dalam Matius 24 sedang digenapi.
Ada yang mengalami dampak dari pandemic (kehilangan pekerjaan, ada yang sakit/meninggal karena Co-19), bencana alam, bangsa bangkit melawan bangsa, orang fasik semakin berlaku fasik, keluarga ada yang belum menerima keselamatan, krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia, dan lain sebagainya. Semua itu membuat kita menjadi takut, gelisah bahkan dapat salah mengerti dengan Tuhan dan meragukan kasih setiaNya.
Dunia ini telah jatuh ke dalam kegelapan. Setiap orang yang menjauh dari Tuhan tinggal dalam kegelapan. Tuhan adalah terang hidup manusia. Kehendak bebas yang Tuhan berikan membuat manusia jatuh dalam dosa. Dosa membuat manusia menjauh dari Tuhan dan membenciNya. Padahal Allah itu Kasih. Sekalipun kita jatuh dalam dosa, kasihNya menarik kita untuk bertobat dan kembali kepadaNya. Namun kefasikan manusia suka menentang Tuhan dan memilih percaya kepada dusta si jahat. Itulah sebabnya banyak orang menyimpang dari kebenaran.
Kehendak Allah adalah supaya jangan ada yang binasa, melainkan semua orang berbalik dan bertobat (2 Pet. 3:9).
Segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi pasti berujung kepada kebaikan. Kita yang terkadang tidak dapat menyelami kebaikan Tuhan karena kita menilai menurut pengertian sendiri berdasarkan apa yang terlihat, sementara rancangan dan karya Allah selalu berorientasi kepada kekekalan (Pengk. 3:11b).
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes. 55:8-9).
Mazmur 118:1 mengatakan bahwa kita patut bersyukur kepada Tuhan sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Apapun yang terjadi, apapun yang kita alami, Tuhan tetap baik dan setia memelihara hidup kita. Kita ada sebagaimana kita ada adalah bukti kesetiaanNya menopang hidup kita, baik disadari atau tidak. Hidup kita tidak tersembunyi dari pandanganNya (Yes. 40:27-29).
Kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan, selalu baru tiap pagi, kokoh/tidak berubah untuk selama-lamanya, berlaku dalam segala jaman, generasi dan keadaan. Kasih setiaNya bersifat aktif dan persisten (gigih) mendatangi hidup kita, teguh, dan penuh belas kasihan.
Kasih setia Tuhan akan menopang seluruh kehidupan orang yang :
– takut akan NamaNya (Maz. 103:11)
– terikat dalam Perjanjian Kekal dengan Allah (Yes. 54:10)
– percaya/taat kepada perintahNya (Ul. 7:9)
– kembali kepada Tuhan dalam pertobatan (2 Sam. 24:13-14; Why 3:19)
– mengandalkan Tuhan dan berseru kepadaNya (Maz. 118:5)
Inilah yang menjadi kekuatan bagi jiwa ketika kita dapat bersandar pada kekuatan kasih setiaNya.
Tuhan tetap setia sekalipun kita tidak setia. Ia dekat meskipun seringkali kita yang menjauh dariNya. Oleh sebab itu bersyukurlah karena Tuhan itu baik, kasih setia Tuhan kekal selamanya (Maz 118: 1).
Saat kita merasa cemas, gelisah dan tidak tenang ketika melihat keadaan suatu bangsa, kota ataupun anggota keluarga yang hidup tidak benar, berserulah kepada Tuhan dan pegang FirmanNya, dan bersandar pada kasih setiaNya yang tidak pernah berubah.
Percaya dan berdoa, karena dalam tinggal tenang dan percaya disitulah letak kekuatan kita. Iman dan pengharapan kepada Kristus merupakan sauh (jangkar) hidup kita, jangan pernah mundur, bimbang ataupun ragu. Waspada agar jangan sampai kehilangan kasih yang semula supaya tidak kehilangan iman dan pengharapan. Tetaplah percaya dengan mata yang tertuju kepada Tuhan agar kita menikmati kasih setia dan kebaikanNya yang kekal tidak berubah.
BERSERU DALAM KESESAKAN Mazmur 118:5 “Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan.”
Setiap kita pasti pernah atau mungkin sedang mengalami masalah, tantangan dan pergumulan. Semua itu membuat jiwa kita menjadi sesak, takut, cemas, menjadi lemah tidak berdaya dan merasa seperti dikepung oleh musuh yang begitu kuat. Dan yang lebih menyesakkan adalah karena kita tidak tahu sampai kapan pergumulan kita berakhir.
Kepada siapa pertama kali kita hadapkan pergumulan tersebut? kepada teman, keluarga, suami/istri, mencari solusi sendiri bahkan minta malah nasehat dari orang yang tidak percaya Tuhan. Kadang tanpa disadari kita sudah terbiasa secara otomatis mengandalkan kekuatan sendiri (pengalaman, pengetahuan, kepintaran) atau orang lain tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Roh Kudus, yang adalah Penolong kita.
Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” (Yer. 17:5-6).
Itu sebabnya kadang kita tidak bertemu dengan solusi yang sesuai kehendak Bapa, keadaan bisa bertambah rumit, salah mengerti dengan Tuhan bahkan keliru mengambil keputusan (ini yang dimaksud dengan keadaan seperti ‘terkutuk’ dalam ayat di atas).
Satu-satunya yang dapat kita andalkan untuk keluar sebagai pemenang dalam kesesakan tentunya hanya Tuhan. Orang yang menyadari keterbatasan/ketidakmampuan dirinya serta mengenal Allahnya secara pribadi akan berseru dalam kesesakan. Salah satu arti kata ‘berseru’ (QARA, dalam bahasa Ibrani) dipergunakan dengan mengacu pada permohonan akan perlindungan Allah, dengan arti mohon bantuan dari seseorang yang namanya (yaitu tabiatnya) dikenal.
Hubungan kasih membuat dia percaya akan sifat dan Pribadi Allah yang sungguh dapat diandalkan.
Dia adalah Allah yang PASTI :
1. Menjawab doa orang yang segenap hati berseru dan mengandalkanNya. Doa yang lahir dari kesesakan merupakan seruan hati yang paling tulus dan terdalam, penuh dengan atmosfir iman sehingga menggerakkan hati Allah.
2. Memberi kelegaan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28).
Jiwa yang sesak karena beban yang menghimpit akan mengalami kelegaan, ketenangan, damai sejahtera dan sukacita karena kasih setia Tuhan kuat menopang. The joy of the Lord is my strength (Neh. 8:10).
3. Ada di pihak kita. Kasih setiaNya bersifat loyal terhadap ikatan perjanjian (antara Tuhan dengan kita). Kalau Allah di pihak kita, siapakah lawan kita?
4. Menolong. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlambat tetapi tepat pada waktunya. PertolonganNya ajaib dan kadang terjadi di luar dugaan dan pengertian kita; semuanya membuat kita bukan hanya bersyukur tapi juga semakin kagum dan mengasihi PribadiNya.
5. Melindungi dari yang jahat. Kesetiaan Tuhan adalah seperti perisai dan pagar tembok. Dia melindungi kita dari niat jahat orang, dari sakit penyakit, meluputkan kita dari malapetaka, menegur dan mendisiplinkan demi kebaikan dan melindungi kita dari tipu muslihat iblis.
6. Nama Tuhan adalah Menara yang kuat. Ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat. Segala kuasa yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi bertekuk lutut dalam Nama Yesus (Fil. 2:9-10).
Tujuan Tuhan menjawab seruan kita dalam kesesakan bukan hanya untuk keuntungan kita/orang lain saja tetapi lebih dari itu : untuk menyatakan kasih setia yang membawa kemuliaan bagi NamaNya. It’s all about HIM. Supaya kita semakin menyadari bahwa kuasa Tuhan yang tak terbatas ditujukan untuk mengasihi dan melayani ( Fil 2:5-11; Yoh. 13: 13-15).
Kasih karunia Tuhan cukup bagi kita, sebab justru dalam kelemahan kitalah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor. 12:9). Oleh sebab itu, dalam kesesakan jangan bertindak dengan kekuatan sendiri atau malah menjauh tetapi datang dan berseru kepada Nya karena kasih setiaNya kuat, kekal tidak berubah bagi orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengandalkan Dia

image source:https://feastatthetable.com/psalms-118-29/

PERKATAAN YANG MENGHIDUPKAN

PERKATAAN YANG MENGHIDUPKAN

Perkataan memiliki aspek penting dalam kehidupan manusia, di mana untuk menciptakan komunikasi yang berkualitas tentunya harus mengikuti norma dan etika yang baik sehingga terjalin persahabatan, penghiburan serta kekuatan dan bukan perselisihan, permusuhan bahkan percideraan.
“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Yesaya 50:4
Berbicara tentang perkataan, sepanjang satu dekade kedepan, penanggalan Ibrani disebut sebagai dekade ‘Pey’ yang memiliki makna rohani ‘mulut’ atau ‘perkataan’. Tuntunan bagi kita terkait dengan dekade ‘Pey’ ini adalah kita harus lebih memperhatikan perkataan (mulut) kita.
“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;… ” (Mazmur 34:14)
Apa yang dinyatakan oleh Pemazmur ini juga diulangi oleh rasul Petrus dalam 1 Petrus 3:10, “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”
‘Jagalah lidahmu’ alias ‘jagalah perkataanmu’. Sampai dua kali pernyataan yang sama diulang, memberikan indikasi kepada kita bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting. Ada dua hal yang disampaikan dalam ayat ini yang harus kita jaga, yakni jaga lidah kita terhadap apa yang jahat dan ucapan-ucapan yang menipu.
CARA MENJAGA PERKATAAN KITA
1. Menahan Diri
“Untuk pemimpin biduan. Untuk Yedutun. Mazmur Daud. Pikirku: “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.” Mazmur 39:1
Sebagian besar orang mungkin tidak mengalami kesulitan menjaga diri untuk tidak jatuh ke dalam kedagingan, namun mengalami ‘kebobolan’ dalam hal dosa perkataan. Sebagaimana sebuah ungkapan mengatakan ‘memang lidah tidak bertulang’, artinya tidak memerlukan upaya yang besar untuk menggerakkannya. Dengan lancar dan mudahnya perkataan demi perkataan meluncur dari lidah kita. Jika tidak berhati-hati, kita akan mengalami kesulitan dalam mengendalikannya.
Perhatikan apa yang diungkapkan oleh Yakobus tentang lidah: “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka… tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” Yakobus 3:5,6,8
Betapa luar biasanya lidah kita. Hal ini harusnya menyadarkan kita bahwa dosa perkataan atau dosa lidah bukanlah sesuatu yang main-main.
Daud sendiri menyatakan bagaimana dia memiliki tekad yang kuat untuk menjaga dirinya supaya jangan berdosa dengan lidahnya. Daud memberikan sebuah istilah “menahan mulutnya dengan kekang” seperti pada kuda tunggangan yang melaluinya dapat mengendalikan kehidupannya. Kekang artinya melakukan kontrol, memegang kendali terhadap mulut atau perkataan kita.
Memang bukan sesuatu yang mudah, tetapi juga bukan merupakan hal yang mustahil. Dengan pertolongan dari Roh Kudus kita pasti bisa.
2. Menyadari bahwa Semua Perkataan Kita Diketahui oleh TUHAN
“Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” Mazmur 139:4
Perkataan merupakan ekspresi hati dan ungkapan dari apa yang kita pikirkan. TUHAN melihat kita jauh ke lubuk hati kita yang terdalam. Ia mengetahui segala motivasi hati dan TUHAN tidak dapat dibohongi.
Mengapa orang jatuh ke dalam dosa perkataan? Berbohong, melakukan tipu daya, mengutuk, memaki, perkataan munafik, dolak-dalik. Selain karena mereka termakan dengan sakit hati serta menuruti emosi yang meledak-ledak atau motivasi mencari keuntungan sendiri dari penderitaan orang lain, secara spiritual karena mereka tidak menyadari bahwa TUHAN mengetahui semua perkataan kita sebelum lidah kita mengatakannya.
Setelah kita mengetahui hal ini, sudah seharusnya kita berpikir sebelum berkata-kata;
– apakah perkataan saya ini adalah sesuai kebenaran?
– apakah mengandung maki/kutukan yang lahir dari hati yang pahit?
atau sekedar banyak perkataan sia-sia tanpa makna dan tujuan?
– Apakah perkataan saya melukai perasaan orang lain? Dan yang terutama adalah apakah perkataan saya mendukakan hati TUHAN?
3. Senantiasa Memperkatakan Firman dan Puji-pujian
“Dan lidahku akan menyebut-nyebut keadilan-Mu, memuji-muji Engkau sepanjang hari.” Mazmur 35:28
“Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum;…”Mazmur 37:30
Salah satu cara efektif untuk menjaga agar kita tidak salah dalam menggunakan perkataan kita adalah ‘menggunakannya secara benar’, yakni dengan cara senantiasa memperkatakan Firman Tuhan dan puji-pujian kepada TUHAN. Sambil kita memuji-muji TUHAN, ingatlah apa yang TUHAN nyatakan melalui Yakobus dalam suratnya,
“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Yakobus 1:26
Belum lagi sebuah teguran yang keras terkait dualisme penggunaan mulut atau perkataan kita:
“Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,” Yakobus 3:9
Dengan beribadah, memuji TUHAN dan memperkatakan Firman Tuhan; baik dalam ibadah korporat, ibadah pribadi maupun dalam keseharian kita, sambil beraktifitas dalam pekerjaan atau studi; kita dapat menjaga mulut kita untuk tidak jatuh dalam dosa perkataan. Jadi, jangan lupa membiasakan gaya hidup berdoa, memuji dan menyembah TUHAN!
4. Menyelaraskan Perkataan dengan Perbuatan
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” 1 Yohanes 3:18
Perkataan adalah sesuatu yang nyata, dapat didengar secara nyata, dapat direkam menjadi bentuk digital melalui gadget. Namun ketika perkataan diucapkan untuk menggambarkan atau menyatakan perasaan kasih kepada seseorang maka ia bisa menjadi sesuatu yang sifatnya semu dan kosong belaka jika tidak disertai dengan perbuatan nyata seperti yang dikatakan.
Misalnya, ketika kita berkata bahwa kita mengasihi TUHAN dengan segenap hati, namun kita malas beribadah, tidak memiliki waktu khusus untuk bersekutu dengan TUHAN, melakukan Firman TUHAN, maka perkataan kita tidak bermakna sama sekali.
Kita perlu menyelaraskan perkataan kita dengan perbuatan kita, dengan demikian membantu kita untuk berpikir sebelum berkata-kata. Apakah perkataan saya sesuai dengan perbuatan saya? Apakah saya menghidupi apa yang saya katakan dan sebaliknya mengatakan apa yang saya hidupi? Inilah yang disebut sebagai integritas, yang harus dimiliki oleh semua orang percaya.
Mari kita sungguh-sungguh menjaga perkataan kita, sehingga perkataan kita adalah perkataan yang menghidupkan!
“Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Amsal 18:20-21

image source:https://bibletruthandprophecy.com/thoughts-for-june-25th-morning-by-morning/