Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 1

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 1

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

PENDAHULUAN

Bulan lalu kita mengenali Roh Kudus dan keadaan terhubung dengan Pokok Anggur yang benar supaya hidup kita menghasilkan buah yang mendampaki orang lain. Di bulan yang baru ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita taat melakukan Firman? Karena ibadah tanpa ketaatan hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal. Perasaan tersentuh oleh firman tanpa diikuti tindakan hanya menipu diri sendiri dan tidak membawa perubahan hidup.

ISI

DENGAR DAN LAKUKAN 

  • Yakobus 1:22 mengatakan “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…” Rajin beribadah ke gereja belum menjamin seseorang hidup dalam ketaatan, demikian pula dengan mencatat kotbah. Mengatakan “Firman hari ini luar biasa dan sangat memberkati” juga bukan berarti orang tersebut melakukan firman yang didengarnya.
  • Pengetahuan firman tanpa tindakan hanya melahirkan kemunafikan serta kesombongan rohani. Pengetahuan firman tanpa ketaatan adalah tindakan menipu diri sendiri. Banyak orang Kristen hanya kenyang dengan mendengarkan khotbah, kesaksian, atau mengikuti training/kelas pengajaran, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
  • Ingin mujizat, tetapi tidak mau taat akan perintah Tuhan. Ingin berkat, tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Penyembahan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita menangis saat berada di hadirat Tuhan, tetapi dari seberapa cepat kita taat akan pesan firman yang disampaikan setelah ibadah selesai.
  • Mungkin ada orang yang menilai dirinya sudah taat kepada Tuhan dengan sudah rajin beribadah, mengembalikan persepuluhan, tidak mencuri, membunuh, menggosip, menghakimi orang lain, dsb..

Tetapi saat Tuhan gerakkan hatinya untuk berkati si A, doakan si B, jangan hakimi suamimu/tunduk padanya walaupun ia banyak kelemahan, jangan berlaku kasar dengan istrimu, atau tambah jam doa, dsb..…orang tersebut banyak pertimbangan untuk melakukannya, cari alasan untuk membenarkan diri sendiri, menunda-nunda, akhirnya sama saja dengan tidak taat.

Jadi ketaatan bukan hanya tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan.

  • Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya.

Contoh:

  • Nuh disuruh Allah untuk membangun bahtera di tengah daratan. Alkitab mencatat bahwa Nuh taat melakukan perintah tersebut
    sekalipun hal itu dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat pada jamannya.
  • Ananias taat saat Tuhan memerintahkan dia untuk menumpangkan tangan atas Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) supaya dia dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Meskipun Ananias tahu bahwa Saulus adalah seorang yang menganiaya orang-orang kudus, dia taat juga ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mendatangi Saulus.
  • Paulus meninggalkan semua yang dia banggakan di masa lalu demi pengenalan yang benar akan Kristus dan taat kepada panggilan Allah (Fil. 3: 7-14).
  • Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ingatlah: keinginan daging (tidak takluk kepada hukum Allah) akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh (menghendaki kita hidup dalam ketaatan kepada Allah).

REFLEKSI DIRI:

  • Hal-hal apa yang Roh Kudus dorong untuk kita lakukan/tinggalkan
tetapi masih kita tunda?
  • Membangun mezbah pribadi secara konsisten? Stop berpikiran negatif? Menundukkan diri kepada otoritas di atas kita? Meninggalkan hubungan/pertemanan yang tidak sehat/toxic? Memulai pelayanan? Stop merenungkan kesalahan orang lain? Mengampuni? Stop bergosip?
  • Stop berperilaku konsumtif (hobi belanja barang-barang yang memuaskan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup)? Belajar berpuasa? Menabur finansial untuk pekerjaan Tuhan? Berhenti hidup dalam dosa tersembunyi? Memakai waktu dengan bijak? Stop kebiasaan buruk?
  • Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan merupakan buah dari orang yang hidup dalam dusta iblis. Penundaan adalah peperangan rohani. Penundaan membuat hati kita jadi keras dan degil. Penundaan adalah bukti ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati.

Bersambung minggu depan..

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2)

PENDAHULUAN

Pikiran sangat berperan dalam menentukan arah hidup seseorang. Pikiran/akal budi yang diperbarui dengan benih firman Tuhan secara kontinu akan membuahkan cara pandang, nilai, perkataan, perilaku, gaya hidup, karakter, etos kerja, keputusan, dan tujuan yang sesuai dengan kehendak Allah.

ISI

  • Allah adalah Roh, barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Menyembah Allah harus dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran-Nya. Untuk dapat menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, hati dan pikiran kita harus lebih dulu diperbarui.
  • Orang percaya telah menerima hati dan roh yang baru oleh Roh Kudus yang berdiam dalam batin. Allah telah menjauhkan kita dari hati yang keras/degil dan memberikan hati yang taat kepada hukum-Nya (Yehezkiel 35:26-27). Hati yang baru ini harus disertai dengan pikiran yang baru. Kita tidak bisa menyembah Allah dengan pikiran yang lama, yaitu pikiran karnal (pola pikir/akal budi yang dikuasai oleh keinginan daging, bersifat duniawi, berasal dari benih dosa dalam diri manusia). Pikiran karnal tidak takluk kepada hukum Allah sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.
  • Hati yang baru + transformasi pikiran secara kontinu + hidup dalam pertobatan = transformasi hidup/berbuah banyak dan matang. Perlu dipahami bahwa firman Tuhan yang berupa informasi atau pengetahuan memang penting, tapi itu belum cukup untuk mengubah hidup kita. Firman Tuhan yang berubah menjadi pewahyuan itulah yang berpotensi membawa kita bertumbuh secara rohani, mengubahkan hidup serta menghasilkan buah.

Catatan: pewahyuan adalah karya Allah melalui Roh Kudus yang membuka, menyingkapkan, atau menyatakan diri, kehendak, jalan dan kebenaran-Nya kepada kita secara pribadi. Hati dan pikiran kita menjadi terang karena Roh Kudus memberikan hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar (Efesus 1:17).

  • Pewahyuan bisa didapat melalui:
  • Firman Tuhan yang kita renungkan dan dihidupkan oleh Roh Kudus (firman Rhema),
  • Peristiwa/kesaksian hidup yang kita atau orang lain alami (mis. dalam kehidupan sehari-hari: di keluarga, pelayanan, pekerjaan, usaha, dlsb),
  • Firman Tuhan yang menjadi nyata/digenapi dalam hidup kita,
  • pergumulan hidup (masalah, godaan, kesulitan, penderitaan),
  • perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus (mis. lewat mimpi dan penglihatan).

 

Hal-hal yang terjadi akibat pikiran yang belum diperbarui oleh Firman Tuhan:

  • Hidup jadi serupa dengan dunia : pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap (tidak ada terang kebenaran Allah), hidup dalam dusta iblis yang membangkitkan rupa-rupa hawa nafsu kedagingan, kompromi dengan hikmat dunia, mengandalkan diri sendiri, hidup dalam dosa/ketidaktaatan, ketidakpercayaan (hidup karena melihat, bukan karena percaya), kekuatiran, ketakutan, kecewa, kehilangan damai sejahtera, dan kehilangan pengharapan.
  • Tidak dapat mengerti dan membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Ketidakmengertian akan kehendak Allah membuat kita : tidak hidup dalam kebenaran dan kekudusan (Efesus 4:23-24), salah berdoa (Yakobus 4:2-3), dan salah bertindak/mengambil keputusan. Si pendusta memanfaatkan ketidaktahuan, kebodohan/kedegilan, kemalasan, kenyamanan, kesombongan dan kedagingan untuk menghancurkan hidup kita sendiri.
  • Menghalangi kita untuk menikmati hidup yang Tuhan Yesus berikan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yaitu hidup yang berkelimpahan seperti dalam Yohanes 10:10. Pikiran yang belum diperbarui menjadi pintu bagi Iblis untuk menipu orang Kristen guna melaksanakan agenda jahatnya.
  • Seseorang yang suka mengasihani diri sendiri dan memiliki victim mentality memberi akses bagi iblis untuk memperdaya hidupnya melalui pikiran negatif yang toxic’ meracuni diri sendiri dan orang lain (melalui hubungan yang tidak sehat). Kesombongan seperti ini membutakan mata hati yang membuatnya berjalan dalam kegelapan (Matius 6:22-23).
  • Kebohongan iblis membuat orang percaya tidak memahami identitasnya dalam Kristus, tidak memahami segala berkat rohani yang telah Allah karuniakan (Efesus 1:3), tidak menggunakan kuasa otoritasnya sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12), serta tidak mengerti haknya sebagai ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:17). Akibatnya, orang tersebut tetap tinggal dalam ikatan, dalam kekurangan/ kemiskinan (secara rohani, jiwani dan jasmani), tidak mengalami pemulihan, terobosan, dan kemenangan.
  • Menghalangi kita untuk hidup dalam tujuan Allah: menjadi garam serta terang di kegelapan dunia, dan melakukan Amanat Agung (dimuridkan untuk memuridkan orang lain).

 

Solusi untuk mengalami pembaruan hidup yang diawali melalui pembaruan pikiran:

  • Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Roh-lah yang memberi hidup yang sebenarnya, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan yang Tuhan Yesus katakan adalah roh dan hidup (Yohanes 6:63). Satu-satunya yang bisa mengubah seluruh hidup kita hanyalah firman Tuhan. Pikiran yang secara kontinu diperbarui oleh pewahyuan firman membuat kita ‘hidup’ (bukan sekadar eksis/bertahan hidup) serta menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Minta Roh Kudus memberikan pewahyuan/rhema dari firman yang kita baca, yang didengar di Cool/Ibadah Raya, dari kelas pengajaran yang kita ikuti, dari kesaksian orang lain, yang kita dapat saat memuji dan menyembah, dsb.
  • Kalau Roh Kudus menyingkapkan sesuatu kepada roh kita, jangan anggap angin lalu. Bawa dalam doa ke hadapan Tuhan, minta Roh Kudus menuntun: bagaimana respons/sikap hati yang benar, bagaimana melihat sesuatu dari cara pandang Allah, area mana yang perlu kita perbaiki/bertobat,  apa yang harus kita lakukan dan doakan, hal apa yang harus kita buang/jauhi, dlsb. Kalau perlu, catat dalam jurnal supaya bisa kita renungkan, pelajari dan perbaiki.
  • Amsal 4:23 menyatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau ada benih asing yang bukan kebenaran firman Tuhan dalam hati dan pikiran, segera tolak dalam Nama Yesus, jangan direnungkan. Itu bukan sekadar pemikiran acak/menyeleneh, melainkan panah api si jahat yang berpotensi mencuri, membunuh, dan membinasakan hidup kita jika tidak lekas dibuang selagi masih dalam keadaan benih.

 

PENUTUP

Pikiran kita adalah sebuah senjata, dan kehidupan kita menyingkapkan siapa yang memegang senjata itu: apakah Tuhan, ataukah si jahat. Saring apa yang kita lihat, dengar, baca, dan renungkan, pilihlah dengan bijak. Ganti kegelapan/dusta iblis dalam pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Hendaklah kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Filipi 2:5), supaya orang lain dapat melihat buah kehidupan kita dan memuliakan Bapa di sorga.

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

PENDAHULUAN

Keaslian iman Kristen dapat dilihat dari buah Roh yang dihasilkan.  Orang yang terlibat dalam pelayanan, punya pengetahuan firman yang banyak, atau memiliki karunia rohani yang luar biasa belum tentu menghasilkan buah yang baik (buah Roh/karakter Kristus).

ISI

  • Tuhan Yesus mengatakan bahwa seseorang dikenal dari buahnya. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, demikian sebaliknya. Tidak ada yang bisa MEMALSUKAN buah yang baik. BACA MATIUS 7:16-20.
  • Mari kita bercermin pada firman Tuhan, untuk melihat apakah pohon kehidupan kita asli atau palsu:

Keadaan Pohon Asli

1. Berasal dari benih ilahi, yaitu Firman Tuhan. Benih firman Tuhan akan menghasilkan buah Roh (karakter Kristus) dan buah kebenaran (firman yang digenapi menjadi kenyataan).

Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. (1 Petrus 1:23).

2. Ditanam di tepi aliran air (melekat kepada Pokok Anggur yang benar dan menerima pertumbuhannya dari aliran air hidup, yaitu Roh Kudus yang memimpin serta mengingatkan akan perkataan Kristus).

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:8).

3. Keadaan tanah hatinya baik (menyambut firman dengan iman dan hati yang lemah lembut/mudah dibentuk).

Dan Sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang 30 kali lipat, ada yang 60 kali lipat, ada yang 100 kali lipat. (Markus 4:8)

4. Berakar dalam kasih Kristus (walau menghadapi tantangan/godaan, memilih tetap tinggal dalam persekutuan dengan Roh Kudus dan firman Tuhan; hidup oleh iman, bukan karena melihat). Masalah, godaan, tantangan dan penderitaan membuat imannya semakin kuat dan tahan banting.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. (Efesus 3:16-17).

5. Semakin berbuah matang dan tetap melalui tantangan, masalah, godaan dan penderitaan. Ujian iman membuat karakternya semakin menyerupai  Kristus dan dewasa secara rohani. Walaupun menghadapi berbagai masalah dan tantangan, hidupnya terus berdampak bagi orang lain.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:2-4).

…Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:2b)

Keadaan Pohon Palsu

1. Tidak melekat dengan Pokok Anggur yang benar. Tidak mau secara konsisten membangun mezbah pribadi dengan Tuhan dan mendisiplinkan diri secara rohani.

2. Benihnya bukan berasal dari firman Tuhan, tapi benih lain yaitu: pikiran, pendapat, cara pandang atau perasaan sendiri; hikmat dunia; hati yang pahit/kecewa; kebencian; kesombongan, iri hati, cinta akan uang, dlsb.

3. Keadaan tanah hatinya berbatu atau semak duri yang menghalangi benih firman bertumbuh (Markus 4:5-7). Berhenti bertumbuh/cepat menyerah kalau mengalami tantangan, godaan, gesekan, atau penderitaan karena tidak berakar.

4. Bisa tampak melakukan banyak kegiatan dalam pelayanan (hanya berdaun), tapi tidak berbuah. Tahu banyak firman, tapi karakternya tidak mengalami perubahan oleh kuasa firman Tuhan. Being busy is not the same as being fruitful.

5. Hidup dalam zona nyaman; punya motivasi hati yang keliru: hanya tertarik dengan berkat/mukjizat/karunia, tapi tidak bersedia/berkomitmen untuk dimuridkan.

Proyek ketaatan

  • Jangan lari dari pemrosesan Tuhan lewat tantangan, masalah, gesekan, dan penderitaan. Minta Roh Kudus menyingkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya. Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus membuat kita menyadari keadaan diri, mengakui kesalahan/kelemahan, serta menolong kita untuk taat dan mau berubah. Jika Roh Kudus menyingkapkan hal itu kepada kita, rendahkan hati, akui, jangan cari pembenaran diri, bertobat dan taati pimpinan-Nya.
  • Latih diri kita di area yang perlu diubah, misalnya: kita memiliki pikiran/belief system/cara pandang yang keliru -> ubah dengan cara pandang kebenaran/firman Tuhan. Buang pikiran yang keliru, sia-sia, kotor, jahat, dan negatif. Jangan sepakat dengan dusta iblis yang menipu lewat pikiran dan apa yang terlihat, tolak tipu dayanya dengan firman Tuhan. Tunduklah kepada Allah, lawan iblis dengan iman yang teguh, maka ia akan lari daripadamu. Kenakan perisai iman untuk memadamkan panah api si jahat. Hidup karena percaya, bukan karena melihat. Hiduplah dipimpin Roh, bukan dipimpin pikiran atau perasaan yang toksik.
  • Katakan kepada jiwamu: Saya adalah ciptaan baru dalam Kristus; manusia lama saya sudah turut disalibkan bersama dengan kematian Kristus. Saya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, bukan kecemaran. Saya pakai anggota tubuh saya sebagai senjata kebenaran, bukan senjata kelaliman.  Roh Kudus adalah Penolong yang memampukan saya untuk berubah, berbuah dan hidup dalam identitas sebagai anak-anak Allah.
  • Katakan Galatia 2:20 dengan iman: …aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku, Amen!

PENUTUP

Berdasarkan Yakobus 1:2-4 serta Yohanes 15:2b, kita dapat mempelajari bahwa buah yang matang dan banyak tidak dihasilkan dari zona nyaman, atau dari kelebihan, kesalehan serta kekuatan kita, tetapi dari pemrosesan Tuhan dalam hidup kita (pruning). Buah yang teruji kualitasnya justru dihasilkan lewat masalah, penderitaan, kelemahan dan ujian iman.

Buah Roh adalah sesuatu yang tidak bisa DIPALSUKAN, karena tidak dihasilkan dari kemampuan natural manusia, melainkan karya Roh Kudus. Jadilah pohon yang menghasilkan buah yang asli, yang baik dan berkualitas. Jangan terkecoh dengan tampilan luar (karunia, kegiatan pelayanan, atau pengetahuan firman yang banyak), tapi dengan jujur minta Roh Kudus singkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya, supaya Ia dapat menolong serta memulihkan kita.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

JADIKAN MURID – bagian 2

JADIKAN MURID – bagian 2

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

Sekilas review:
Hidup yang berbuah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang percaya (Yohanes 15:16). Buah adalah hasil hidup kita yang bisa dinikmati orang lain. Ukurannya bukan apa yang kita kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami dari kita.

Sambungan minggu ini:

• Buah Roh TUMBUH DARI KEINTIMAN dengan Roh Kudus, TIDAK DIPAKSAKAN.
…Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Maz. 1:3).

• Cara satu-satunya untuk menghasilkan buah Roh adalah TERHUBUNG dengan POKOK ANGGUR YANG BENAR, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:4–5)

Terhubung artinya DENGAN SENGAJA mengkhususkan WAKTU di hadirat Tuhan (saat teduh, berdoa,memuji menyembah, merenungkan Firman) secara konsisten – sebagai lifestyle termasuk hari kerja/hari libur/weekend/sedang vacation:

– Memuji menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran: dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran Allah.
– Berdoa: bukan hanya menyampaikan sederet permohonan, tapi belajar memberi ruang/waktu untuk Tuhan bicara: menegur akan sesuatu yang salah; menyingkapkan adanya ketidakbenaran dalam hati; mengingatkan firman, mengarahkan atau menyampaikan sesuatu bagi kita secara pribadi (ingat: doa = berkomunikasi dua arah).
– Merenungkan firman Tuhan, mencatat firman rhema (firman yang dihidupkan) serta hikmat/pewahyuan yang diberikan oleh Roh Kudus.

• Namun tidak hanya sebatas itu, disela-sela kesibukan/aktivitas kita sehari-hari (mis. sewaktu mengemudi mobil, sedang membereskan rumah, sedang menunggu bus, sedang dalam train, dlsb.) — hati yang haus dan lapar akan terus melekat pada Tuhan merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan dan FirmanNya senan

MASALAH: Saya sudah berdoa, tahu firman, tetapi mengapa sering gagal/masih jatuh di area yang sama dan belum berubah?
Ada 2 kelompok penyebab kegagalan:

1. Benih yang jatuh di tanah berbatu: mendengar firman dan menerimanya dengan sukacita, akan tetapi gagal untuk tetap tinggal dalam firman jika mengalami tantangan karena tidak berakar.

– Contoh yang paling sering terjadi: Secara teori sudah tahu bahwa kita wajib mengampuni; jangan menyimpan kepahitan; masalah besar dikecilkan, masalah kecil ditiadakan. Tahu bahwa kepahitan adalah dosa yang meracuni seluruh aspek kehidupan, dan harus dibuang. Kita tahu dan menerima kebenaran tersebut dengan sukacita.

– Akan tetapi, pada praktiknya, ketika ada seseorang melakukan kesalahan, iblis menyerang pikiran dengan pikiran negatif yang membangkitkan amarah, prasangka buruk, merasa jadi korban, dsb. Bukannya menolak panah api/pikiran tersebut, kita malah memikirkan/merenungkannya! Inilah yang dinamakan gagal untuk tetap tinggal/konsisten dalam firman jika mengalami tantangan. Mudah menyerah karena tidak berakar.

– Akibatnya, jadi kehilangan damai sejahtera/sukacita, kehilangan kasih dan belas kasihan, sakit hati, self-pity, tidak bisa/salah berdoa, ingin balas dendam dan melukai orang lain dengan hal yang sama, menghasut dan mencemarkan banyak orang dengan kepahitan kita, mengadu domba, dlsb. BACA YAKOBUS 4:1-3.

2. Benih yang jatuh di semak duri: mendengar firman, lalu kekuatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan duniawi menghimpit firman sehingga tidak berbuah.

– Contoh: Tahu firman carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan (Mat. 6:33). Namun, saat ada tawaran kerja yang menggiurkan di waktu yang bersamaan dengan waktu ibadah hari Minggu, lebih memilih bekerja dan meninggalkan ibadah. Pikirnya Tuhan pasti mengerti, sebab bulan ini pengeluaran sedang banyak, jadi butuh pemasukan ekstra. Ini namanya kekuatiran dan tipu daya kekayaan menghimpit firman (Mat. 6:33). Lebih setia kepada pekerjaan daripada kepada Tuhan.

Refleksi diri sendiri: apa yang HILANG dalam hidup kita? …Kasih? Belas kasihan? Damai sejahtera? Kesetiaan? Penguasaan diri?

SOLUSI:
• Berakar dalam kasih Kristus (Kolose 2:6-8). Jadi bukan hanya terhubung dengan Pokok Anggur, tapi berakar ke bawah: punya kualitas hubungan yang dalam dan kuat dengan Yesus Kristus sebagai fondasi hidup. Ini bicara tentang ketergantungan penuh kepada pimpinan Roh Kudus yang memampukan kita untuk konsisten/berkomitmen/mendisiplinkan diri, taat dan hidup dalam pertobatan. Ini semua membuat iman kita makin kuat, tidak mudah goyah oleh tantangan/masalah/rupa-rupa angin pengajaran, dan menghasilkan buah.
• Jangan mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya (1 Yoh. 2:15-17). Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup.

PENUTUP
Murid Kristus harus berketetapan hati untuk punya komitmen, kedisiplinan rohani, dan bersikap konsisten untuk tetap terhubung dengan Pokok Anggur Yang Benar. Murid yang terhubung pasti (tidak dipaksakan) akan berakar, bertumbuh dan menghasilkan buah yang banyak bagi kemuliaan Bapa.

JADIKAN MURID

JADIKAN MURID

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

PENDAHULUAN

Orang percaya yang hidupnya benar di hadapan Tuhan pasti menghasilkan buah—dan buah itu berdampak bagi orang lain.

ISI

Mazmur 1:1-3 menggambarkan kehidupan orang percaya yang memilih untuk merenungkan firman Tuhan: ia seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan (Roh Kudus/Roh Kebenaran), kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah pada musimnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil/menghasilkan buah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil.

  • Hidup yang menghasilkan buah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang yang sudah lahir baru (Yohanes 15:16). SETIAP KITA WAJIB BERTUMBUH (ini merupakan proses seumur hidup).
  • Pohon yang berakar dan sehat akan menghasilkan buah. Orang percaya yang berakar dan memiliki iman yang sehat akan menghasilkan buah setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus.
  • Buah adalah hasil hidupmu yang bisa dinikmati orang lain. Kalau buahmu tidak bisa dinikmati orang lain, kemungkinan itu bukan buah Roh, tapi ilusi rohani.

Contoh: Kalau kamu mau mengasihi tapi sering melukai orang di sekitarmu.
Kamu mau jadi pembawa damai, tapi kamu mudah marah dan mengadu domba. Jadi, ukurannya bukan apa yang kamu kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami darimu.

Dinikmati di sini maksudnya:

  • Sebagai ‘buah’: dapat menolong/membantu mengatasi masalah orang lain,
  • Sebagai ‘benih’: sesuatu yang dapat diajarkan kepada orang lain (bukan cuma informasi/teori/pengetahuan saja, tapi pengajaran yang disertai buah sebagai bukti valid pengajarannya).
  • Banyak kegagalan rohani bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena tidak bisa taat untuk tetap tinggal dalam firman.
  • Buah Roh (Gal. 5:22-23) merupakan tanda pertobatan sejati yang dihasilkan dari keintiman dengan Roh Kudus.
  • Buah Roh adalah hasil transformasi supranatural yang progresif oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang berserah, jadi bukan hasil usaha manusia. Meski ada sembilan, namun buah Roh merupakan suatu kesatuan terpadu. Rasul Paulus menyebutnya dengan Buah Roh (tunggal), bukan buah-buah Roh (jamak). Penguasaan diri adalah penentu dari semua sifat buah Roh.
  • Buah Roh berbeda dengan karakter/watak natural yang merupakan bawaan lahir, didikan atau hasil pembentukan lingkungan. Buah Roh mencerminkan karakter Kristus, sementara watak/temperamen natural merupakan sifat bawaan lahir yang cenderung dipengaruhi oleh tabiat manusia berdosa.
  • Buah Roh menghasilkan karakter Kristus yang stabil dan melampaui kemampuan natural manusia; sementara watak/temperamen natural bisa tampak baik secara moral, namun tidak memiliki kuasa ilahi dan dapat gagal di bawah tekanan.
  1. Kasih: Kasih ilahi yang memberi tanpa pamrih, tidak bertujuan mencari kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan bagi orang lain. Kasih memiliki cakupan luas sekali; buah dari kasih mengacu pada 1 Korintus 13:4-8. Kasih bukan sekadar perasaan, tapi perilaku kita terhadap sesama yang dilakukan berdasarkan kebenaran.
  2. Sukacita: kegembiraan (joy) yang mendalam yang timbul dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Kegembiraan yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
  3. Damai sejahtera: ketenangan batin/kesejahteraan jiwa  yang didasarkan atas pengampunan Tuhan, dihasilkan dari kebenaran.
  4. Kesabaran: sikap pengendalian diri yang menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tekun; tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.
  5. Kemurahan: keramahtamahan, kebaikan hati, suka memberi, tidak mau menyakiti orang lain, mudah mengampuni.
  6. Kebaikan: ketulusan jiwa yang membenci kejahatan, motif dan perilaku yang baik. Sikap ini adalah kelanjutan dari sikap kemurahan.
  7. Kesetiaan: dapat dipercaya dan diandalkan untuk suatu tanggung jawab, tetap bertahan dalam iman dalam berbagai pencobaan.
  8. Kelemahlembutan: pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan kerendahan hati. Tunduk pada kehendak Allah, hati yang mau diajar/mudah dibentuk, sering kali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan, padahal merupakan kekuatan karakter.
  9. Penguasaan diri: menguasai keinginan dan hawa nafsu diri sendiri (makan, seks, uang, kecanduan, amarah/emosi).
  • Setelah mengetahui buah Roh di atas, periksa diri sendiri : Apakah ada buah Roh yang dihasilkan dari hidup kita?

Bersambung ke bagian ke-2

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

PENDAHULUAN

Kita yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam perbudakan yang menghasilkan ketakutan. Kita adalah ciptaan baru—dipulihkan, diangkat, dan diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Karya salib Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang terputus akibat dosa—mengubah posisi manusia dari yang tadinya musuh, kemudian diadopsi menjadi anak-anak Allah. Hubungan kita dengan Allah adalah layaknya anak dan bapak, yang didasari oleh kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:15-16).

ISI

Masalah

Pada kenyataannya, banyak kita yang masih terbelenggu oleh roh perbudakan. Kita perlu belajar mengenali ciri roh perbudakan agar timbul self-awareness, hidup dalam pertobatan, dipulihkan oleh kuasa Roh Kudus dan menjadi anak-anak Allah yang merdeka.

1.  Orphan spirit (roh Yatim Piatu) -> Suatu pola pikir atau mental yang berakar pada ketakutan, penolakan, dan mengandalkan diri sendiri.

Ciri-cirinya:

  • Menjalani hidup layaknya anak yatim, sukar menerima kasih Bapa ataupun merasa aman sebagai bagian dari keluarga Allah (gereja lokal/Cool), sehingga ia merasa harus berjuang dengan cara/kekuatan sendiri.
  • Sukar membangun hubungan dan rasa percaya (trust) kepada Tuhan/orang lain, yang berujung pada perasaan ditinggalkan, ditolak, tidak berharga, dan ketidakpercayaan (mistrust).
  • Memandang teguran/koreksi sebagai penolakan/hukuman.
  • Berorientasi pada performa/kinerja: berusaha keras mendapatkan penerimaan/pengakuan melalui kegiatan pelayanan atau jasa yang sudah dilakukan. Apa yang dilakukan lahir dari rasa takut, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk mendapatkan kasih Allah melalui perbuatan.
  • Perfeksionis: lebih mengejar kesempurnaan daripada mengandalkan kasih karunia Allah.
  • Lebih mengejar karunia, nubuatan, panggilan, atau pelayanan yang dikenal orang daripada keintiman dengan Tuhan.
  • Berusaha menjadi pelaku firman atau melayani menurut pikiran dan cara sendiri, tanpa mengandalkan kuasa Roh Kudus.
  • Mementingkan perkenanan manusia daripada perkenanan Tuhan.

Pola pikir orang yang dibelenggu roh yatim piatu harus dipulihkan dengan pemahaman yang benar akan identitasnya sebagai ciptaan baru dalam Kristus: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Perlu pembaruan akal budi dengan Firman Tuhan yang adalah kebenaran. Jika akal budi telah mengalami pembaruan, Roh Kudus secara aktif berkarya memulihkan hati/jiwa serta membawanya hidup dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18).

2. Legalistic spirit (law-based living) -> Sikap kepatuhan yang kaku dan berlebihan terhadap aturan/peraturan/hukum/tradisi.

Ciri-cirinya:

  • Kesombongan: perasaan superioritas spiritual terhadap mereka yang tidak mengikuti aturan-aturan ketat yang sama.
  • Berorientasi pada perbuatan: keyakinan bahwa penerimaan oleh Tuhan diperoleh melalui ritual agamawi, atau perilaku moral yang Semakin ketat peraturan yang dibuat, merasa semakin saleh lebih dari yang lain.
  • Suka mencari pembenaran diri, gengsi untuk mengakui kelemahan/kesalahannya di depan orang lain, berlaku munafik.
  • Tidak hidup dalam kasih karunia Allah; hanya berfokus pada penampilan religius, bukannya integritas hati dan transformasi batin.
  • Pengetahuan firman ditafsirkan menurut pengertian sendiri untuk menuding/menghakimi orang lain yang tidak hidup menurut standarnya. Pengetahuan firman tanpa kasih = kesombongan; pengetahuan firman disertai kasih = membangun manusia roh.
  • Menggantikan sukacita akan kasih karunia dengan tekanan ketakutan, perasaan tidak layak (never good enough mentality), atau ketaatan yang obsesif terhadap aturan.

Solusi

  • Di dalam Kristus, hubungan kita dengan Bapa adalah seperti hubungan anak dan bapa yang berlandaskan kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.
  • Kunci untuk bebas dari roh perbudakan:
  • Tinggal dalam kasih Kristus (Yohanes 15:9). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Ketakutan mengandung hukuman, dan jika kita takut, kita tidak sempurna di dalam kasih.
  • Tinggal dalam kasih Kristus artinya melakukan perintah-Nya (Yoh. 15:10). Untuk mampu melakukan perintah-Nya: hiduplah dipimpin Roh Kudus. Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14).
  • Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan terus membarui akal budi dengan firman, melakukan pemberesan hati, hidup dalam pertobatan, dan berjalan dalam kasih karunia (bergantung penuh pada Roh Kudus).

PENUTUP

Roh Kudus diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam kemerdekaan. Roh perbudakan mendatangkan rasa takut, Roh Kudus memberikan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Dengan empowerment dari Roh Kudus, kita bisa melaksanakan Amanat Agung: membawa orang-orang kepada Kristus serta memuridkan, supaya nantinya mereka juga bisa memuridkan orang lain, demikian seterusnya.

TANDA KEHIDUPAN YANG DIPIMPIN ROH KUDUS

TANDA KEHIDUPAN YANG DIPIMPIN ROH KUDUS

Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita telah dibebaskan dari hukum dosa dan maut. Melalui karya salib-Nya, Kristus telah menggenapi tuntutan Hukum Taurat yang tidak mampu dilakukan manusia, supaya kita dapat hidup dalam hidup yang baru: hidup menurut Roh, bukan menurut daging (Roma 8:1–4). Kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah. Karena itu, hidup dipimpin oleh Roh Kudus bukan sebuah pilihan, melainkan identitas dan panggilan kita. Pertanyaannya sekarang, apakah hidup kita benar-benar dipimpin oleh Roh Kudus, atau masih dikendalikan oleh daging?

Untuk mengevaluasi apakah kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus, perhatikan 5 area utama berikut:

1. PIKIRAN
“Mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” (Roma 8:5)

Pikiran adalah medan pertempuran utama. Mari jujur melihat diri sendiri: apa yang paling sering memenuhi pikiran kita? Apakah kita berpikir berdasarkan firman Tuhan? Atau berdasarkan perasaan, asumsi, dan keadaan?

Kitab Roma pasal 8 mengatakan ada dua arah pikiran: pikiran daging dan pikiran Roh. Pikiran daging memikirkan hal-hal yang berasal dari daging seperti pikiran negatif, kuatir, curiga; membandingkan diri; mengingat kesalahan orang lain; pikiran kotor/najis dan jahat, serta pikiran yang berfokus pada hal sementara. Pikiran yang berasal dari Roh memikirkan perkara-perkara yang terarah kepada Kristus; mencari kehendak-Nya; fokus pada hal yang kekal, serta membawa damai sejahtera dan kejelasan (tidak membingungkan).

Cara untuk hidup dipimpin Roh dalam area pikiran adalah dengan menolak pikiran yang salah (jangan “di-entertain”), menawan setiap pikiran kepada Kristus, dan mendisiplinkan pikiran dengan firman Tuhan.“Pikirkanlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, patut disebut kebajikan dan patut dipuji…”(Filipi4:8). Orang yang dipimpin Roh tidak membiarkan pikirannya liar; sebaliknya, dia melatihnya sedemikian rupa ke arah Kristus yang adalah Kepala.

2. KEINGINAN
“Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6)

Sebenarnya masalah terbesar bukanlah apa yang terjadi di luar kita, tetapi apa yang kita pikirkan dan inginkan di dalam hati. Cara sederhana untuk mengujinya adalah evaluasi keinginan kita: apa yang paling kita kejar di hidup ini? Apa yang paling kita pikirkan saat sendiri?
Keinginan daging mengandung ambisi egois, cinta uang/status, haus akan pengakuan, sarat dengan hawa nafsu (seks, makan, emosi), kesombongan, iri hati, dan mengejar hal yang sia-sia.

“Keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup…” (1 Yohanes 2:15–16) Ingat baik bahwa keinginan daging tidak bisa diperbaiki, tapi harus senantiasa disalibkan.

Keinginan Roh menimbulkan rasa haus akan Tuhan; kerinduan untuk hidup kudus; mengasihi Tuhan dan sesame; dorongan untuk menaati Tuhan, bukan sekadar ingin diberkati dan berhasil; serta keinginan untuk membangun, bukan merusak. Orang yang dipimpin Roh akan belajar berkata “tidak” pada diri sendiri, supaya bisa berkata “ya” kepada Tuhan.

3. PERBUATAN
“Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13)

Tiap orang dikenal dari buah/perbuatannya. Perbuatan adalah bukti valid yang menunjukkan siapa yang memimpin hidup kita. Contoh: Bagaimana respons kita saat menghadapi tekanan? Apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat? Bagaimana kebiasaan kita sehari-hari? Apakah hidup kita menghasilkan perbuatan daging (Galatia 5:19–21), atau buah-buah Roh?

Kebenaran penting yang harus diingat: Orang percaya bisa saja jatuh, tapi ia akan cepat bangkit/bertobat—tidak tinggal/tenggelam dalam dosa.

Orang yang dipimpin Roh akan cepat bertobat dan tidak merasa nyaman hidup dalam dosa. Orang yang dipimpin Roh bergantung pada Roh Kudus yang menolongnya untuk berubah. “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan jangan merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14). Hidup dipimpin Roh itu bukanlah teori, tapi terlihat jelas dari cara kita hidup sehari-hari.

4. PERASAAN
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa !” (Roma 8:15).

Tidak dapat disangkal, kadang kita dilanda perasaan-perasaan negatif seperti kuatir, cemas, putus asa, tidak berharga, marah, sedih, rasa bersalah, malu, iri, cemburu, kesepian, dlsb. Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan diarahkan untuk hidup oleh iman, bukan karena perasaan yang bisa berubah-ubah tiap saat. Ia tidak mengizinkan perasaan-perasaan negatif tersebut memimpin, mengendalikan, atau memperbudak hidupnya. Tidak terhanyut oleh perasaan negatif sebab Roh Kudus meluruskan pikiran dan perasannya dengan firman kebenaran.

5. KESAKSIAN BATIN
Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita , bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:16).

Jika ada ketidakbenaran dalam diri kita, maka Roh Kudus akan memperingatkan kita. Teguran kasih dari Roh Kudus itu jelas, tepat dan berdasarkan firman Tuhan, bukan sekadar perasaan bersalah yang semu. Iblis mengintimidasi, mendakwa dan membuat kita ingin menjauhi Tuhan, tapi teguran Roh Kudus mendorong kita untuk datang kepada-Nya dan bertobat.

Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah (1 Yohanes 3:19b-21).

 

ROH KUDUS MEMIMPIN DAN MENGARAHKAN

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14). Roh Kudus memimpin hidup kita ke arah:

Pengharapan di dalam Kristus

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Roma 8:18, 24-25).

Seperti apa pun keadaan, pergumulan, dan kesulitan yang kita alami, Roh Kudus akan selalu mengarahkan kita kepada pengharapan, bukan keputusasaan. Firman yang diingatkan oleh Roh Kudus membangkitkan iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Dan pengharapan dalam Kristus tidak akan mengecewakan, sebab kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5).

Kasih Karunia Allah

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:26-28).

Roh Kudus tidak membiarkan kita berfokus pada keadaan, kesulitan, masalah, kelemahan, atau kegagalan kita, tetapi mengarahkan kita untuk hidup dalam kasih karunia Allah. Kita dibawa untuk melihat besarnya kasih karunia Allah yang memampukan dan membawa kita kepada kemenangan. Bagi kita, sukar dan tidak mungkin; bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Roh Kudus membantu kita di dalam kelemahan serta keterbatasan kita. Ia mendorong kita untuk mengandalkan Allah sepenuhnya.

Karakter yang semakin menyerupai Kristus

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya

Melalui penderitaan, masalah, dan tantangan, Roh Kudus akan memroses kita untuk semakin menyerupai Kristus. ..Jika kita adalah anak, maka kita juga ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah, jika kita menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.. (Roma 8:17).

PENUTUP

Hidup dipimpin Roh Kudus bukan soal seberapa lama kita jadi Kristen atau seberapa banyak kita tahu firman, tetapi apa/siapa yang mengontrol pikiran, keinginan, dan tindakan kita setiap hari. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus bukan sekadar menjadi pelaku firman, tetapi hidup dalam persekutuan kasih dengan Allah. Bukan ‘doing’ (melakukan perintah Tuhan sebagai Taurat/aturan yang mengikat), tapi ‘being’ (sebagai anak-anak Allah yang sudah sewajarnya melakukan perintah Bapa). Hidupilah identitas dan panggilan kita dengan hidup dipimpin Roh Kudus.

HIDUPLAH OLEH ROH

HIDUPLAH OLEH ROH

PENDAHULUAN

Memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa murid Kristus bukan sekadar kegiatan pelayanan. Ini adalah sebuah peperangan rohani. Kuasa kegelapan berusaha menutupi hati manusia sehingga mereka menolak terang Injil, karena terang itu menyingkapkan perbuatan mereka yang jahat. Iblis selalu berusaha menghalangi orang untuk mendengar dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Karena itu, tantangan dalam menyelesaikan Amanat Agung ke depan tidak akan semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Namun Tuhan tidak membiarkan kita berjuang sendirian. Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk menolong, memimpin, dan memampukan kita sampai kepada akhir zaman. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu belajar hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.

ISI

Meskipun kita sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kita masih dapat mengalami pergumulan dengan dosa dan kedagingan. Rasul Paulus sendiri mengakui pergumulan ini dalam hidupnya. Roma 7:19 berkata:“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Pergumulan ini menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada pertentangan antara keinginan Roh dan keinginan daging. Ketika seseorang hidup menurut kedagingan, manusia rohnya menjadi lemah. Kedagingan membuka celah bagi si jahat untuk menjerat dan mempengaruhi kehidupan kita. Akibatnya kita menjadi sulit mendengar suara Roh Kudus dan mudah jatuh ke dalam dosa. Jika kedagingan dibiarkan, maka kesatuan tubuh Kristus akan rusak, dan gereja tidak dapat menjalankan panggilannya dengan maksimal.

Karena itu firman Tuhan berkata dalam Galatia 5:16:

“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

Firman Tuhan menjelaskan bahwa perbuatan daging menghasilkan berbagai dosa seperti perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Tetapi kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Orang yang hidup oleh Roh tidak hanya memiliki pengetahuan tentang firman Tuhan. Roh Kudus menghidupkan firman itu di dalam hatinya sehingga ia dimampukan untuk menjadi pelaku firman.

Bagaimana Caranya Hidup Oleh Roh?

1. Menjaga hubungan dengan Tuhan melalui doa, pujian, dan penyembahan.

Sering kali kesibukan, kelelahan, masalah hidup, atau berbagai tuntutan membuat kita lalai membangun hubungan dengan Tuhan. Namun kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang membuat kita merasa punya alasan untuk tidak mencari Tuhan. Kita perlu dengan sengaja menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya. Belajar membayar harga untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, sebab Yesus berkata bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Melalui doa, pujian, dan penyembahan, kita masuk ke dalam hadirat Tuhan. Di dalam hadirat-Nya kita belajar mendengar suara-Nya dan memahami kehendak-Nya bagi hidup kita. Di sana manusia roh kita dikuatkan dan dipuaskan oleh Roh Kudus sebagai sumber air hidup.

Ketika kita terus bertekun dalam hadirat Tuhan, Roh Kudus semakin memenuhi hati dan hidup kita. Kita semakin peka terhadap pimpinan-Nya dan semakin rindu untuk menaati-Nya.

2. Menanggalkan manusia lama dan memperbarui pikiran dengan firman Tuhan

Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang pikirannya sia-sia dan hatinya menjadi keras. Efesus 4 mengingatkan kita untuk meninggalkan kehidupan lama: membuang dusta, mengendalikan amarah, hidup jujur, bekerja dengan benar, dan menjaga   supaya perkataan kita membangun orang lain.

Ketika kita terus memperbarui pikiran kita dengan firman Tuhan, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita untuk mengubah cara berpikir, sikap, dan tindakan kita. Kita belajar mengenakan manusia baru yang hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

3. Hidup dalam kasih dan saling melayani

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan nyata melalui hubungan kita dengan orang lain. Efesus 4:31-32 mengajar kita untuk membuang kepahitan, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Sebaliknya, kita dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati, saling mengasihi, dan saling mengampuni. Galatia 5:13 berkata: “Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Kasih adalah bukti nyata bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan kita.

PENUTUP

Firman Tuhan berkata: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25). Godaan dan tantangan dalam hidup pasti tetap ada, namun Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita untuk tidak tunduk kepada keinginan daging.

Kemerdekaan yang kita terima di dalam Kristus bukan digunakan untuk hidup sesuka hati, tetapi untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus. Ketika kita hidup oleh Roh, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih, menjaga kesatuan tubuh Kristus, dan bersama-sama menyelesaikan Amanat Agung yang Tuhan percayakan kepada gereja-Nya. Kiranya setiap kita belajar semakin hari semakin hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

Monthly Theme: Menyelesaikan Amanat Agung Diperlengkapi Kuasa Roh Kudus

PENDAHULUAN

Allah memberikan kehendak bebas ketika menciptakan manusia. Bukti bahwa manusia diciptakan “segambar” dan “serupa” dengan Allah adalah manusia diberi akal budi untuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusan. Manusia tidak diciptakan bagai sebuah robot/mesin yang hanya beroperasi sesuai dengan tombol perintah dari “sang operator”. Waktu menghadapi banyak pilihan, sebagai makhluk berakal budi, manusia dilatih untuk dapat menimbang-nimbang segala pilihan-pilihan itu, inilah yang disebut dengan kehendak bebas.

ISI

Di Taman Eden, pohon pengetahuan yang baik dan jahat tidak dilenyapkan oleh Tuhan sebagai bukti bahwa Ia menghargai kehendak bebas manusia. Manusia diajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuatnya, karena ada konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Tuhan memberikan kehendak bebas (kemerdekaan) dalam memilih sebagai cerminan pemberian kedaulatan Tuhan bagi manusia dalam porsi yang terbatas. Kehendak bebas manusia sama sekali tidak dapat melunturkan Kemahakuasaan dan Kedaulatan Tuhan.

Mengenai kemerdekaan/kebebasan manusia, ada peringatan keras dalam Galatia 5:13. Walaupun manusia dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan, jangan sampai kehendak bebas itu digunakan untuk hidup dalam dosa yang dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri. Sebaliknya, kemerdekaan itu hendaknya dipakai untuk dapat melayani/membangun satu dengan lainnya atas dasar kasih sesuai dengan kehendak Tuhan.

Barry Schwartz, lewat Paradox of Choice menyatakan bahwa ada dua jenis kebebasan atau kemerdekaan:
• Kebebasan Negatif (Negative Freedom): adalah bebas dari perintah dan aturan. Dengan bebas dari perintah dan aturan, manusia menjadi makhluk liar.
• Kebebasan Positif (Positive Freedom): adalah suatu keadaan dimana dengan kebebasan yang dimiliki, manusia memilih untuk melakukan isi perintah dan aturan yang dapat memaksimalkan potensinya.

Bila kebebasannya digunakan secara negatif, manusia menjadi bebas sebebas bebasnya, tanpa aturan, tanpa hukum, tanpa etika, tanpa moral, tanpa mempertimbangkan hak dan kewajiban sesamanya; dan manusia akan menjadi makhluk yang liar. Tapi bila kebebasannya digunakan untuk memilih yang baik dan benar, maka lewat pilihannya itu, ia dapat memaksimalkan potensi dirinya sendiri dan juga potensi orang lain, sehingga apa yang sudah dirancangkan oleh Allah Sang Pencipta dapat dicapai secara penuh.

Tuhan menghendaki manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk menaati kehendak-Nya. Allah ingin manusia mengikuti kehendak-Nya bukan karena terpaksa, melainkan dengan sadar memilih untuk taat akan perintah Tuhan. Inilah tujuan Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia; di tengah-tengah segala pilihan yang ada, manusia tetap dapat menaati kehendak Tuhan. Sayangnya manusia gagal, keliru menggunakan kehendak bebasnya, sehingga jatuh ke dalam dosa. Padahal, jika manusia memilih untuk taat kepada Tuhan, rencana Tuhan akan digenapi dengan sempurna (Kejadian 1:28).

Tuhan tetap bekerja diatas kehendak bebas manusia. Roma 8:28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam “segala sesuatu”, termasuk di dalamnya adalah kehendak bebas manusia. Allah dapat menunjukkan kedaulatan-Nya dalam kehendak bebas manusia.  Ketika saudara-saudara Yusuf merancangkan yang jahat kepadanya, Tuhan tidak melakukan intervensi atas tindakan jahat mereka tapi Allah menggunakan perbuatan-perbuatan jahat saudara-saudara Yusuf tersebut untuk menjadi jalan bagaimana Allah memelihara sebuah bangsa yang besar. Ia dipakai Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan (Kejadian 50:20).

Bagaimana cara menggunakan kehendak bebas dengan benar? Dalam Yohanes 15:7 Tuhan mengatakan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
“Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, terlihat betapa Tuhan juga tetap menghargai kehendak bebas manusia. Bagaimana supaya kehendak bebas manusia tidak dipakai sembarangan sehingga jatuh dalam dosa? Jawabannya adalah, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Supaya tidak salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, manusia harus betul-betul hidup melekat dengan Tuhan dan selaras dengan Firman Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia untuk memiliki pengetahuan (cognitive) yang benar tentang Tuhan dan memiliki pengalaman hidup (affective) bersama dengan Tuhan sehingga manusia dapat menggunakan kehendak bebas yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Cognitive adalah aktivitas mental/proses berpikir yang melibatkan kemampuan otak dalam menerima, memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi. Ini mencakup fungsi seperti belajar, mengingat, memecahkan masalah, penalaran, perhatian, dan pengambilan keputusan. Affective adalah kata sifat yang berkaitan dengan emosi, perasaan, suasana hati (mood), dan sikap seseorang. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana perasaan memengaruhi perilaku, pemikiran, atau reaksi seseorang terhadap stimulus.

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran (cognitive) dan perasaan (affective) yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Untuk menjadi seperti Yesus, seorang pribadi yang kuat membutuhkan keseimbangan antara cognitive (pikiran) dan affective (perasaan) seperti Filipi 2:5 dan Galatia 5. Supaya manusia tidak tersesat dalam kehendak bebasnya, ia harus hidup sesuai dengan pimpinan Roh Kudus, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16).

PENUTUP

Diskusi:
Mengasihi Tuhan bukan sekedar perasaan sayang/kasih, tetapi harus didemonstrasikan dengan ketaatan (Yohanes 14:15). Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan memakai kemerdekaan/kehendak bebas kita untuk taat melakukan perintah Tuhan; hidup di pimpin Roh Kudus dan Firman Tuhan. Baca Galatia 5:13.

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

PENDAHULUAN

Pemahaman yang benar akan identitas orang percaya dalam 1 Petrus 2:9 membawa kepada kesadaran akan tugas panggilannya. Di dalam identitas itu terkandung misi yang harus dijalani. Gereja/orang percaya hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjalankan misi Allah, yaitu untuk menyatakan keagungan-Nya yang telah memanggil kita dari kuasa dosa dan keputusasaan (kegelapan) menuju kebenaran dan kebebasan (terang Tuhan yang ajaib).

ISI

Identitas orang percaya

Kita disebut sebagai bangsa yang terpilih karena meresponi berita Injil Kristus dengan iman dan ketaatan. Sebagai imam Allah yang rajani, diberikan kuasa otoritas menjadi kepala untuk tujuan melayani dan membawa orang dunia mengenal kebenaran (bukan untuk dilayani dan menyalahgunakan kuasa). Menjadi pendoa syafaat, membawa orang lain menyembah Tuhan, menjadi berkat, dan menjadi agen transformasi yang membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan bangsa-bangsa. Kita dipanggil untuk memiliki cara hidup yang berbeda dari dunia supaya dapat hidup bagi Allah di dalam kekudusan sejati.

Misi orang percaya

Memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah, artinya menjadi saksi Kristus yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemuliaan Allah kepada orang lain. Misi dilakukan bukan dengan perkataan saja, tapi dibuktikan dengan gaya hidup dan buahnya yang mencerminkan Pribadi Kristus. Perkataan tanpa bukti perubahan hidup (transformasi nilai dan karakter) adalah misi yang tidak valid (artinya sama saja tidak menjalankan misi).

Menjalankan misi Tuhan di dunia bukanlah perkara mudah; diperlukan iman yang teguh, sikap yang konsisten  dan manusia roh yang dewasa untuk bisa bergerak maju di tengah kesulitan, aniaya  serta perlawanan dari penguasa dunia yang membutakan banyak orang (Iblis dan ilah-ilah jaman). Mereka yang hidup oleh iman kepada Kristus memang akan alami ujian berupa masalah, tantangan, dan penderitaan. Meskipun begitu, misi Allah tidak dapat dibatasi/digagalkan oleh hal-hal tersebut, sebab semua yang lahir dari Allah dapat mengalahkan dunia. Justru melalui masalah dan penderitaan, iman orang percaya semakin dikuatkan dan dimurnikan sehingga memancarkan terang kemuliaan Tuhan di tengah dunia yang gelap.

1 Petrus 2:11-16 memberikan panduan praktis untuk menjalankan misi Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Latih diri untuk menjauhi keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11).

Keinginan-keinginan daging membuat kita tidak bisa hidup oleh iman dan taat kepada pimpinan Roh Kudus, sebab keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Perbuatan daging yang harus dimatikan: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala (pemberontakan/ketidaktaatan/kedegilan hati dapat disamakan dengan penyembahan berhala), sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan (saling melukai, menyakiti, pertengkaran yang merusak hubungan dan perasaan orang lain), roh pemecah (gossip, fitnah), kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.

Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:27).

  1. Miliki cara hidup yang terpuji di tengah komunitas sekitar kita (1 Petrus 2:12).

Menjalankan gaya hidup Kerajaan Allah yang  konsisten membuat orang dunia dapat melihat kebaikan, kasih karunia dan kekudusan Allah melalui perilaku kita. Kelola hubungan dengan orang lain dalam kasih dan takut akan Tuhan; bangun karakter yang berintegritas (mis. jujur, melakukan apa yang kita katakan, bertanggung jawab, disiplin, tepat waktu, berani mengakui kesalahan, berkomitmen, setia, rajin, berdiri di atas kebenaran); jaga sikap dan perkataan, peduli kepentingan orang lain; cekatan/tidak segan menolong, melakukan kebaikan, dlsb. Memiliki cara hidup yang terpuji membuat orang dunia dapat melihat perilaku kita yang baik dan memuliakan Allah pada hari mereka dilawat-Nya.

  1. Berespon benar dalam menghadapi masalah, kesesakan, saat diperlakukan dengan tidak adil atau penderitaan lainnya (1 Petrus 2:21-23).

Jangan bersandar pada pikiran dan cara sendiri, tapi belajar mengikuti teladan Kristus sewaktu Ia dalam menghadapi kesesakan. Tidak hidup dipimpin perasaan tapi memilih berjalan dengan iman, ketaatan serta hanya mengandalkan Tuhan, maka pertolongan dan mukjizat pasti dianugerahkan kepada mereka yang percaya dan mengandalkan-Nya. Kesaksian hidup kita dapat dipakai Tuhan untuk menjangkau orang lain untuk datang kepada-Nya.

  1. Tunduk kepada lembaga pemerintahan (1 Petrus 2:13-14) dan kepada otoritas di atas kita (1 Petrus 2:18-19). Bayar pajak, ikuti aturan-aturan yang berlaku, doakan supaya para pemimpin negara/kota diberi roh takut akan Tuhan dan hikmat ilahi dalam menjalankan tugasnya.

PENUTUP

Panggilan Tuhan bagi kita adalah panggilan yang menuntut rasa hormat dan takut akan Dia. Hal ini mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan anugerah tersebut. Hiduplah sebagai orang merdeka dalam Kristus; jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa gaya hidup kita harus memancarkan misi Kerajaan Allah. Terang di tengah kegelapan dunia. Jangan malah menjadi batu sandungan yang menghalangi orang datang kepada Tuhan Yesus. Bertekunlah dalam doa agar Allah melawat mereka yang belum percaya lewat kehidupan saudara.