Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
HIDUP OLEH IMAN

HIDUP OLEH IMAN

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”  (2 Korintus 5:7)

PENDAHULUAN

Setelah pada bulan Juni kita belajar Living with Purpose (Hidup dengan Tujuan Ilahi), kita menyadari bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan misi Allah. Namun, mengetahui tujuan hidup saja tidak cukup. Untuk menggenapi panggilan Tuhan, kita harus belajar berjalan dengan iman.

Firman Tuhan berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) Iman bukan sekadar semangat, optimisme, atau berpikir positif. Iman adalah keyakinan yang teguh kepada Allah dan kepada janji-janji-Nya yang tidak pernah gagal.

Perjalanan bersama Tuhan jarang memperlihatkan seluruh peta kehidupan sekaligus. Tuhan biasanya hanya menerangi langkah berikutnya, bukan seluruh perjalanan. Di sinilah iman bertumbuh. Iman bukanlah menunggu semua jawaban tersedia, tetapi tetap melangkah karena mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan. Orang percaya dipanggil bukan untuk hidup berdasarkan apa yang terlihat, melainkan berdasarkan Firman Allah yang tidak pernah gagal.

I. IMAN BERAKAR KEPADA PENGENALAN YANG BENAR AKAN TUHAN

  • Pengenalan yang benar akan Tuhan dimulai dari pembaruan akal budi melalui perenungan firman Tuhan, doa, pujian, dan penyembahan setiap hari. Pengenalan ini juga dibentuk melalui proses pemuridan dan pengalaman pribadi bersama Tuhan. Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Roh Kudus menolong kita sehingga iman kepada Kristus semakin berakar dan bertumbuh di dalam kasih (Efesus 3:16–17).
  • Iman yang berakar di dalam kasih menumbuhkan trust, yaitu keyakinan, pengharapan, dan penyerahan kendali hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Iman kita bergantung kepada karakter Allah dan kepada firman-Nya yang tidak pernah berubah. Kepercayaan seperti ini tidak terbentuk dalam sekejap, melainkan bertumbuh melalui hubungan kasih yang konsisten dengan Tuhan.

II. IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN AKAN FIRMAN TUHAN (Roma 10:17).

  • Iman timbul bukan hanya karena kita mendengar firman Tuhan dengan telinga jasmani, tetapi karena hati kita terbuka menerima suara Tuhan melalui firman yang didengar maupun dibaca. Roh Kudus menerangi firman Tuhan yang telah tertulis sehingga firman itu menjadi hidup dan berbicara secara pribadi kepada kita. Ketika firman itu dipercayai dan ditaati, iman semakin bertumbuh.
  • Firman yang diterangi oleh Roh Kudus membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, memercayai Dia sepenuhnya, dan mendorong kita menaati perintah-Nya. Firman itu menjadi dasar yang meneguhkan kita untuk hidup oleh iman, bukan karena melihat.

Contoh: Abraham.

Abraham percaya kepada Allah yang telah menjanjikan keturunan kepadanya. Janji Allah menjadi dasar imannya untuk tetap percaya sekalipun ia menghadapi berbagai tantangan. Abraham dan Sara telah lanjut usia dan harus menantikan kelahiran Ishak selama dua puluh lima tahun. Pengenalannya akan Allah membuat Abraham memilih untuk hidup oleh iman, yaitu percaya kepada Tuhan, bukan berfokus pada keadaan yang terlihat. Ketekunan imannya berujung pada penggenapan janji Allah.

III. AKIBAT HIDUP OLEH IMAN VS HIDUP KARENA MELIHAT
Akibat hidup oleh iman:

  • Memiliki cara pandang yang selaras dengan Firman Tuhan.
  • Tetap hidup dalam kebenaran sekalipun perasaan sedang lemah.
  • Tidak mundur atau tawar hati ketika menghadapi tekanan, tantangan, maupun penderitaan.
  • Bersedia menyangkal diri dan memikul salib demi menaati kehendak Tuhan.
  • Memiliki ketenangan batin yang mengalahkan ketakutan.
  • Mampu memadamkan semua panah api si jahat.
  • Memiliki arah dan tujuan hidup sesuai kehendak Allah.
  • Iman yang bertekun menghasilkan buah berupa kebenaran, pemulihan, berkat, kelimpahan, penggenapan janji Allah, damai sejahtera, sukacita, kemenangan, bahkan hidup yang kekal.

Akibat hidup karena melihat:

  • Menghasilkan cara pandang yang keliru menurut diri sendiri dan dunia.
  • Hidup dipimpin oleh logika dan pengertian sendiri sehingga membatasi pekerjaan Tuhan.
  • Hidup dikendalikan oleh perasaan yang berubah-ubah: takut, cemas, ragu-ragu, kecewa, marah, maupun mengasihani diri sendiri.
  • Sulit mempercayai Tuhan sehingga tidak taat dan akhirnya mengambil keputusan yang keliru.

Membangkitkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Manusia roh menjadi lemah, mudah menyerah, dan tidak mengalami kemenangan.

BAGAIMANA MELATIH HIDUP OLEH IMAN SETIAP HARI?

  • Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari.
  • Berdoa sebelum mengambil setiap keputusan.
  • Tetap taat kepada Firman meskipun belum melihat hasilnya.
  • Mengingat kembali kesetiaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita.
  • Tetap mengucap syukur dalam setiap keadaan.

 

REFLEKSI

Apa yang saat ini lebih mengendalikan hidup saya?

Firman Tuhan atau keadaan?

Firman Tuhan atau perasaan?

Firman Tuhan atau ketakutan?

Firman Tuhan atau pikiran, logika, dan asumsi saya sendiri?

 

PENUTUP

Hidup oleh iman bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, tetapi melihat kenyataan melalui sudut pandang Allah. Iman bukan menyangkal adanya masalah, melainkan mempercayai bahwa Tuhan tetap berdaulat di tengah masalah.

Ketika kita hidup oleh iman, kita tidak lagi dikendalikan oleh apa yang kita lihat, rasakan, atau pikirkan, melainkan oleh Firman Tuhan yang tidak pernah berubah. Sebab langit dan bumi akan berlalu, tetapi Firman Tuhan tetap selama-lamanya.

Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, tetapi percaya bahwa Tuhan akan menggenapi setiap janji-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Karena itu, marilah kita terus berjalan bersama Tuhan, selangkah demi selangkah, sampai setiap janji-Nya digenapi menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Sebab hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.

HIDUP UNTUK DAMPAK KEKAL

HIDUP UNTUK DAMPAK KEKAL

PENDAHULUAN

Kehidupan baru dalam Kristus adalah kehidupan yang memiliki desain, arah, dan tujuan ilahi (Ef. 2:10). Tuhan Yesus menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah. Buah kehidupan yang dihasilkan dalam persekutuan dengan Tuhan merupakan harta surgawi yang tidak dapat rusak, dicuri, lenyap, ataupun binasa.

ISI

  • Cara kita memandang kekekalan membentuk cara kita hidup setiap hari. Pengenalan yang benar akan Tuhan membuat kita tidak hidup secara asal, sembrono, sekadar eksis, atau fokus mengejar keinginan dan kesuksesan pribadi, melainkan hidup dengan misi yang berdampak kekal. Berdampak tidak selalu berarti melakukan hal yang besar, hebat, atau sulit dicapai, tetapi memberikan pengaruh yang kuat sebagai warisan rohani dalam kehidupan orang lain.
  • Warisan rohani bukan sekadar apa yang kita tinggalkan UNTUK orang lain, melainkan apa yang kita BANGUN DALAM hidup mereka. Jangan sekadar meninggalkan apa yang bisa habis, tetapi tinggalkanlah warisan yang bernilai kekal, yaitu prinsip Kerajaan Allah yang dapat mengubah hidup orang lain. Uang akan habis, materi akan lapuk, popularitas akan pudar, karier maupun jabatan bisa berakhir. Namun, warisan rohani akan bertahan untuk selamanya.
  • Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10). Tuhan memiliki tujuan khusus bagi setiap kita untuk mendampaki dunia sekitar. Dunia sekitar kita adalah keluarga, gereja lokal, Cool, lingkungan pergaulan, sekolah, dunia kerja/bidang usaha, dunia digital/media sosial, lingkungan tempat tinggal, kota, dan bangsa.
  • Berdampak bagi dunia sekitar dimulai dari langkah kecil setiap hari: melalui keramahan, berbuat kebaikan, melayani kebutuhan orang lain, kejujuran, tanggung jawab, ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dlsb. Semua orang bisa melakukan hal-hal umum tersebut, namun tidak ada satu pun yang mampu meniru cara unik kita melakukannya.
  • Lakukan segalanya dengan kasih dan konsistensi yang menghidupi prinsip Kerajaan Allah, sebab konsistensi kita adalah benih yang membangun serta mengubah kehidupan orang lain. Jangan terjebak pada rutinitas yang sekadar task-oriented, namun mintalah hikmat dari Roh Kudus agar kita mampu memandang sesama dan dunia dari perspektif Tuhan yang Kingdom-oriented.

PERTANYAAN BESAR

Kalau hidup kita selesai hari ini,

  • Siapa yang lebih dekat kepada Tuhan karena hidup kita?
  • Apa warisan rohani kita kepada dunia sekitar?
  • Siapa yang tertolong karena ketaatan kita?

OBJECTIVE

Tujuan dari mempelajari pesan Tuhan sepanjang bulan Juni adalah agar setiap anggota COOL mengalami transformasi:

  • Hidup asal jalan -> hidup dengan tujuan Tuhan.
  • Hidup sekadar sibuk -> hidup yang berdampak kekal.
  • Hidup sekadar eksis -> menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Berjalan dalam ambisi pribadi -> berjalan dalam panggilan Tuhan.
  • Dari konsumen gereja (dilayani) -> menjadi agen pembawa terang Kristus (melayani).

PENUTUP

Tuhan tidak mencari orang yang pintar, terkenal, kaya, berpengalaman, atau memiliki karunia yang hebat. Tuhan mencari orang yang tersedia, setia, dan mau dipakai. Tujuan hidup kita bukan tentang panggung yang besar, melainkan kesetiaan pada tugas dari Tuhan.

Oleh karena itu, hiduplah dengan bijaksana! Bangun hidup kita di atas dasar batu, yaitu ketaatan pada perintah Tuhan. Izinkan Tuhan memproses kita, agar hidup kita menghasilkan buah yang berdampak kekal bagi sesama. Jangan sibuk mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di sorga. Sebab pada akhirnya, satu-satunya hal yang tidak dapat lenyap karena kematian hanyalah warisan rohani—sebuah harta kekal yang menanti kita di sorga.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

DEKLARASI BULAN JUNI:

  • Saya diciptakan dengan tujuan.
  • Hidup saya bukan kebetulan.
  • Saya akan menjadi terang.
  • Saya akan hidup berdampak.
  • Dan saya akan setia pada panggilan Tuhan atas hidup saya.
MENEMUKAN TUJUAN HIDUP  MELALUI KESETIAAN KEPADA TUHAN

MENEMUKAN TUJUAN HIDUP MELALUI KESETIAAN KEPADA TUHAN

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.  (Lukas 16:10)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung memberikan perhatian, tanggung jawab, usaha, serta komitmen untuk hal-hal besar, dan meremehkan hal-hal kecil. Prinsip Kerajaan Allah mengatakan bahwa jika kita setia dalam hal kecil, kita setia juga dalam hal besar. Jika kita berlaku tidak benar dalam hal yang kecil, maka kita juga akan berlaku tidak benar dalam perkara-perkara besar.

ISI

I PURPOSE DIMULAI DARI HATI YANG SETIA KEPADA TUHAN

Hati yang setia kepada Tuhan berarti memiliki loyalitas kepada-Nya, berpegang teguh pada kebenaran firman, taat, serta dapat dipercaya. Kesetiaan adalah buah dari iman yang murni dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Ada roh yang takut akan Tuhan dan hati yang melekat kepada-Nya. Orientasi hidupnya adalah mengabdi kepada Tuhan (Christ-centered life), bukan mengejar keinginan/kepentingan atau agenda pribadi.

II PURPOSE DIBANGUN DENGAN SETIA DALAM HAL KECIL

Orang yang setia dalam perkara kecil melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (baca Kolose 3:23). Ini tidak terjadi begitu saja, tetapi harus punya komitmen untuk membangun sikap bertanggung jawab dan disiplin diri setiap hari/setiap saat.

Contoh sikap setia dalam hal-hal kecil:

  • Konsisten berdoa, memuji, menyembah, dan membaca firman setiap hari walaupun ada tantangan seperti banyak kesibukan/tanggung jawab, sedang dalam masalah, sedang liburan, dll.
  • Disiplin menjaga hati, pikiran, perasaan dan perkataan dengan kebenaran firman Tuhan. Memiliki penguasaan diri, menolak prasangka yang salah, dan menolak tipu daya si jahat.
  • Menyelesaikan tugas/tanggung jawab rutin dalam rumah tangga, pekerjaan, sekolah, dan pelayanan dengan baik, bukan asal-asalan (termasuk tugas kecil/tidak berarti, tidak diawasi, tidak ada reward berupa pujian/upah, tidak dilihat orang).
  • Memiliki kejujuran dan ketulusan. Hati lurus, perkataan selaras dengan perbuatan, menjauhi mulut serong dan bibir dolak-dalik (perkataan yang tidak jujur, menipu, memutarbalikkan fakta, plin-plan).
  • Memperlakukan bawahan, orang kecil/lemah dengan hormat dalam takut akan Tuhan.
  • Disiplin dalam keuangan: mengembalikan persepuluhan, bayar pajak, bayar tagihan tepat waktu, menabung, mematahkan sifat cinta akan uang dengan cara menabur/memberkati orang lain, tidak berperilaku boros/konsumtif, belajar mencukupkan diri dengan kondisi keuangan yang ada, dlsb.
  • Disiplin waktu: tepat waktu, tidak menunda tugas, tidak menggunakan waktu untuk hal yang tidak berguna/sia-sia, dlsb.

III HASIL DARI SETIA DALAM PERKARA KECIL

  • Komitmen untuk berlaku benar dalam perkara kecil akan menghasilkan karakter yang dewasa dan berintegritas, yang siap dipercaya untuk melakukan perkara-perkara besar. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh serta tidak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:4).
  • Contoh tokoh dalam Alkitab: Daud, yang setia menggembalakan domba sebelum memimpin bangsa yang besar. Integritas karakternya dibangun melalui pengenalannya akan Tuhan dan pengalamannya menggembalakan kawanan kecil domba – suatu pekerjaan yang tampaknya sederhana, tidak berarti, dan jauh dari perhatian orang.

Ketekunan Daud menggembalakan kawanan kecil domba melatih keberanian, tanggung jawab, dan kesetiaannya. Meski ayahnya sendiri tidak menganggap Daud sebagai anak yang layak diperhitungkan untuk diperkenalkan kepada Samuel (1 Samuel 16:10-11), ia tetap setia menjaga kawanan domba ayahnya. Ketulusan dan kesetiaan Daud membuat Tuhan mengangkatnya menjadi pemimpin bangsa Israel.

TANTANGAN

  • Jangan memandang rendah musim kehidupan kita yang tampaknya kecil. Jangan berkecil hati dan berpikir pekerjaan/pelayanan kita tidak berarti seperti yang orang lain lakukan. Itu adalah masa pembentukan dan persiapan yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.
  • Jangan membanding-bandingkan keadaanmu dan apa yang kamu punya dengan orang lain. Sikap ini berbahaya sebab dapat memicu iri hati, rendah diri, perasaan tidak aman, mengasihani diri, kesombongan, merusak rasa syukur kepada Tuhan, dan membuat kita keluar dari tujuan Tuhan.

PENUTUP

Tuhan tidak pernah menganggap remeh hal-hal kecil dalam hidup kita. Perkara-perkara kecil yang ada di hidup kita bukan sesuatu yang sia-sia, buang waktu dan konyol, sebab dalam Tuhan tidak ada yang tidak berguna.  Jika saat ini kita berada dalam musim kehidupan yang tampak kurang berarti, bersyukurlah. Kesetiaan membutuhkan komitmen, tanggung jawab dan disiplin. Kesetiaan dalam perkara kecil mempersiapkan kita untuk bisa dipercaya dalam perkara yang lebih besar. Be faithful in what you have, setia dengan apa yang ada padamu.

KITA ADALAH TERANG DUNIA

KITA ADALAH TERANG DUNIA

(Baca Matius 5:14-16)

PENDAHULUAN

Dunia sedang dipenuhi berbagai bentuk kegelapan: dosa, kebohongan, ketidakadilan, kekerasan, kebencian, keputusasaan, dan kehilangan arah hidup. Namun Allah tidak membiarkan dunia tetap dalam kegelapan. Tuhan Yesus datang sebagai Terang Sejati.
“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan…” (Yohanes 8:12).

Ketika seseorang percaya kepada Kristus, ia menerima hidup baru dan menjadi terang dunia. Tuhan tidak memanggil kita hanya untuk berhasil, tetapi untuk menjadi terang-Nya.
Rumah kita membutuhkan terang. Tempat kerja membutuhkan terang. Sekolah membutuhkan terang. Media sosial membutuhkan terang. Bangsa ini membutuhkan terang.

I. TERANG ADALAH IDENTITAS, BUKAN SEKADAR AKTIVITAS

Matius 5:14 “Kamu adalah terang dunia.” Perhatikan, Tuhan tidak berkata, “Berusahalah menjadi terang.” Tetapi, “Kamu adalah terang.” Artinya: Terang adalah identitas.
Perbuatan baik hanyalah hasil dari identitas tersebut. Orang Kristen bukan berusaha terlihat baik. Orang Kristen memancarkan Kristus yang tinggal di dalam dirinya.

Ilustrasi:
Lampu menyala bukan karena berusaha bersinar. Lampu bersinar karena terhubung dengan sumber listrik. Demikian juga kita. Semakin dekat dengan Kristus, semakin terang hidup kita.

II. TERANG BERAWAL DARI MATA ROHANI YANG TERANG

Baca Matius 6:22-23.  Mata adalah pintu masuk kehidupan. Apa yang kita lihat akan membentuk
pikiran, hati, keputusan, dan karakter. Karena itu, mata rohani harus diterangi Firman Tuhan.
Orang yang memiliki mata rohani terang akan melihat hidup dari perspektif Tuhan.
Mereka tidak memenuhi: “Apa yang saya inginkan?” Tetapi,”Apa yang Tuhan kehendaki?”
Sebaliknya, mata rohani yang gelap menghasilkan: iri hati, keserakahan, kompromi, kepahitan, dan dosa.

III. TERANG DIPERTAHANKAN MELALUI KEINTIMAN DENGAN TUHAN

Terang tidak dihasilkan oleh aktivitas gereja. Terang lahir dari hubungan pribadi dengan Tuhan.
Melalui doa, penyembahan, membaca Firman, perenungan, dan ketaatan. Di mezbah pribadi, Roh Kudus akan mengoreksi motivasi kita; menyembuhkan hati; memperbarui pikiran; memberi hikmat; dan memberikan pewahyuan Firman. Tanpa hubungan pribadi dengan Tuhan, pelayanan hanya menjadi aktivitas.

IV KETAATAN MEMBUAT TERANG BERSINAR

Banyak orang melakukan kebaikan. Tetapi Tuhan melihat motivasi hati.
Perbuatan baik bisa saja muncul dari: mencari pujian; mencari promosi; pencitraan; ingin diterima; dan kebanggaan diri. Namun, terang Kristus muncul ketika kita taat karena mengasihi Tuhan.
Ketaatan menghasilkan karakter Kristus.

V CIRI-CIRI ORANG YANG MEMANCARKAN TERANG

1. Hidup dalam kasih.

Kasih kepada Allah dan kepada sesama. Kasih membuktikan seseorang tinggal dalam terang.
(1 Yohanes 2:10).

2. Hidup kudus.

Menolak: percabulan, kecemaran, keserakahan, perkataan kotor, kebiasaan berdosa (Efesus 5:3-5).

3. Tidak berkompromi dengan dunia.

Tidak ikut arus dunia, tidak membenarkan dosa, dan berani berdiri di pihak kebenaran.

Contoh: Daniel hidup di tengah budaya Babel, tetapi tetap setia kepada Tuhan. Dunia tidak mengubah Daniel; justru Daniel membawa pengaruh bagi bangsanya.

4. Hidup berhikmat (Efesus 5:15-17).

Menggunakan waktu dengan bijaksana, mengembangkan potensi, melayani sesama, dan membangun Kerajaan All

5. Hidup berjaga-jaga (1 Tesalonika 5:5-8).

Sebagai anak-anak terang kita: hidup dalam iman, hidup dalam kasih, hidup dalam pengharapan, dan setia sampai Tuhan datang kembali.

APLIKASI

Apakah terang Kristus terlihat melalui: perkataan saya? media sosial saya? cara saya bekerja?
cara saya memperlakukan pasangan? cara saya mendidik anak? cara saya mengampuni orang lain?
Apakah orang lain semakin melihat Kristus melalui hidup saya?

TANTANGAN MINGGU INI

  • Bangun mezbah pribadi setiap hari.
  • Bacalah Firman Tuhan sebelum membuka media sosial.
  • Pilih satu orang yang akan Anda berkati minggu ini.
  • Tolak setiap kompromi terhadap dosa.
  • Jadilah terang di mana pun Tuhan menempatkan Anda.

“Karena semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4)

PENUTUP

Terang tidak pernah berdebat dengan kegelapan. Terang hanya perlu bersinar. Saat terang hadir, terang menguasai kegelapan.  Sebaliknya, jika hidup kita tidak memancarkan terang Kristus, kita sedang membiarkan kegelapan memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak.

Karena itu, jagalah hubungan yang intim dengan Tuhan, biarkan Firman dan Roh Kudus menerangi mata rohani kita, sehingga hidup kita memancarkan kasih, kekudusan, kebenaran, dan hikmat.
Seperti perkataan Tuhan Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

Agar jemaat lebih mudah mengingat, rangkum pesan ini dalam satu kalimat:

“Terang bukan sesuatu yang kita usahakan untuk tampak; terang adalah kehidupan Kristus di dalam kita yang terpancar melalui keintiman dengan Tuhan dan ketaatan kepada Firman-Nya.”

DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN

DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.  (Efesus 2:10)

 PENDAHULUAN

Kasih karunia Allah tidak hanya menyelamatkan kita oleh iman, tetapi juga berkuasa mentransformasi hidup kita. Cara pandang, nilai, sikap, dan karakter kita diubah. Hati serta jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar, yaitu hidup berporos pada kehendak Allah.

ISI

1. Kita adalah mahakarya (=masterpiece) Allah yang diciptakan dalam Kristus untuk hidup dalam tujuan ilahi yang bernilai dan berdampak kekal.

* Kita lahir ke dunia bukan karena kebetulan, kesalahan, atau diciptakan secara massal. Setiap kita didesain secara unik untuk hidup dengan tujuan khusus yang sudah Tuhan persiapkan sebelum kita lahir ke dunia.

 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,  menenun aku dalam kandungan  ibuku .  Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.  Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan  di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi  yang paling bawah;mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk,  sebelum ada satupun dari padanya (Mazmur 139:13-16).

* Contoh tokoh dalam Alkitab: Ester.

Awalnya Ester tidak menyadari tujuan Tuhan dalam hidupnya. Ester, seorang perempuan Yahudi, berada di negeri asing (Persia) bersama Mordekhai, pamannya, kemudian dinikahi oleh Raja Ahasyweros dan diangkat menjadi Ratu. Ini bukanlah sekadar rangkaian kejadian yang kebetulan, tetapi sudah ada dalam penetapan Tuhan sebelum ia dilahirkan.

Tuhan menempatkan Ester sebagai Ratu negeri Persia untuk sebuah momen penting: menyelamatkan orang Yahudi dari rencana jahat Haman yang mau membinasakan.

Esther 4:14b “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

PERTANYAAN:

* Di mana Tuhan menempatkan saudara saat ini? Di keluarga inti, keluarga besar, keluarga rohani (gereja lokal dan Cool), sekolah/kampus, lingkungan tempat tinggal, kota, bangsa. Di bidang pelayanan, pekerjaan, profesi, posisi/jabatan, atau usaha apa saudara berada?

Apa peran dan kontribusi kita di situ? Mendoakan, mengabarkan Injil, membawa nilai-nilai Kerajaan Allah, memuridkan orang lain, menolong/berbuat kebaikan, menjadi contoh/teladan, membuka lapangan pekerjaan, atau menjadi saluran berkat? Jangan kita menjadi murid Kristus yang pasif, masa bodoh, egois, dan tidak peka akan kebutuhan komunitas di sekitar kita.

* Apa potensi yang Tuhan titipkan dalam hidup kita? Sudahkah kita mengenali kelebihan, kekuatan, kemampuan, minat, bakat, keahlian, hobi, dan karunia kita? Apa yang sudah kita lakukan dengan potensi yang kita miliki?

Kita bertanggung jawab untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta menggunakan setiap kesempatan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

Jangan kerjakan tugas dan tanggung jawab kita dengan asal-asalan, melainkan belajarlah melakukan yang terbaik, dengan ketulusan, seperti untuk Tuhan.

* Siapa orang-orang yang Tuhan tempatkan di kehidupan kita? Apakah kita melihat mereka hanya sebagai orang-orang yang bermasalah, menjengkelkan, sulit ditangani, sulit untuk dikasihi, berkekurangan, dan patut diabaikan/dihindari? Atau bisakah kita melihat mereka sebagai tugas khusus dari Tuhan untuk kita topang, doakan, tolong, nasihati, mentoring, dan bawa kepada terang Kristus?

* Tuhan bisa memakai orang lain, lingkungan, situasi, masalah, kesulitan, penderitaan, atau gesekan untuk mendewasakan, membentuk karakter, merendahkan hati, menghasilkan buah Roh, mengeluarkan potensi, memperlebar kapasitas, mempertajam karunia, dan mempersiapkan kita untuk melakukan panggilan-Nya.

PENUTUP

Allah menjadikan kita ciptaan baru dalam Kristus bukan untuk kehidupan yang tanpa rencana, tanpa tujuan atau lihat bagaimana nanti. Setiap kejadian dan musim di hidup kita mengandung rancangan dan tujuan Tuhan, tidak ada yang kebetulan.

Mari kita berlajar memaknai dan mencermati bahwa di mana pun kita ditempatkan, orang-orang di sekitar kita, apa pun yang terjadi dalam hidup kita: suka, duka, kemenangan, kegagalan, kekuatan, kelemahan atau kesalahan yang kita lakukan – bisa dipakai Allah sebagai ‘bahan baku’ untuk membawa kita masuk dalam rencana dan tujuan-Nya. Hal ini menumbuhkan kesadaran kita untuk selalu bersyukur, belajar taat dan bergantung penuh kepada kasih karunia Allah.

KETAATAN MEMBUKA PINTU BERKAT SEJATI

KETAATAN MEMBUKA PINTU BERKAT SEJATI

Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu (Ulangan 28:1-2)

 PENDAHULUAN

Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan menjalankan agenda pribadi, melainkan untuk melakukan kehendak Tuhan di zaman ini, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Untuk itu, kita  lebih dulu diberkati, supaya Tuhan bisa menyatakan diri-Nya kepada dunia melalui kehidupan kita. Jika kita taat kepada perintah-Nya, maka Ia akan mengangkat kita di atas segala bangsa, menjadi kepala, bukan ekor; menjadi agen Kerajaan Allah di mana pun kita ditempatkan.

ISI

  • Orang percaya adalah keturunan Abraham secara rohani karena iman kepada Kristus, dan berhak menerima janji berkat Allah. Ketaatan adalah fondasi mutlak untuk mengalami kehidupan yang penuh dengan berkat sejati. Tanpa ketaatan, kehidupan dan pelayanan kita akan kehilangan nilai dan arah. Tanpa ketaatan, rancangan serta tujuan Tuhan dalam hidup kita bergeser menjadi agenda pribadi dan ambisi yang mencelakakan.
  • Secara sederhana, berkat adalah penyataan kasih, kebaikan, dan kuasa Allah kepada umat-Nya, dengan tujuan untuk memberikan hidup, perlindungan, damai sejahtera, dan kelimpahan. Berkat terbesar adalah keselamatan di dalam Kristus Yesus.

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1:17).

  • Fungsi berkat:
  • Untuk kesejahteraan manusia secara menyeluruh meliputi roh-jiwa-tubuh (berkat rohani, berkat jiwani dan berkat fisik/materi).
  • Untuk melakukan kehendak Allah secara khusus (perintah Tuhan bagi kita pribadi), dan secara umum (menjalankan Amanat Agung, menjadi garam dan terang).
  • Untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain.
  • Untuk kemuliaan Allah.
  • Berkat Tuhan berpusat pada Kristus. Berkat yang berasal dari Tuhan tidak pernah menjauhkan kita dari Dia. Berkat Tuhan tidak dipakai untuk memuaskan hawa nafsu dan hidup dalam dosa. Berkat Tuhan seharusnya tidak membuat kita menjadi sombong dan egois. Orang yang menerima berkat sejati selalu rindu untuk mengalirkannya kepada orang lain. Berkat sejati pasti membawa kemuliaan bagi Tuhan. Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya (Amsal 10:22).
  • Berkat seperti apa yang menjadi bagian orang yang taat?
  • Berkat rohani: keselamatan dalam Kristus oleh iman karena kasih karunia, hati yang baru (hati yang punya kemampuan untuk taat), dipilih dan diadopsi menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, hikmat ilahi, pengetahuan dan pewahyuan firman Tuhan, urapan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, perlindungan dari yang jahat, kemenangan atas tipu daya iblis, kemenangan atas keinginan daging, dlsb.
  • Berkat jiwani: pikiran yang diperbarui oleh firman Tuhan sehingga bisa mengerti perkara-perkara di atas, damai sejahtera, sukacita surga, ketenangan batin, rasa haus dan lapar akan firman dan hadirat Tuhan, kerinduan untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, pemulihan jiwa, dlsb.
  • Berkat jasmani/materi: Kesehatan fisik, kekuatan, semua yang kita butuhkan Tuhan sediakan, karunia natural, talenta, bakat, hubungan, pekerjaan, finansial (kemampuan untuk mengembalikan persepuluhan dan menabur; semua kebutuhan dicukupkan; bebas utang; memberi pinjaman; keberhasilan dalam investasi/usaha), kepandaian, promosi, dlsb.
  • Tuhan perlu melatih kita untuk taat kepada perintah-Nya mulai dari perkara kecil sehari-hari. Perintah Tuhan bisa berupa tuntunan untuk melakukan sesuatu, teguran/koreksi, hikmat, pewahyuan firman yang singkapkan untuk dilakukan, strategi, larangan, dlsb. Latihan ini merupakan pembentukan karakter, sebagai persiapan agar kita sejalan dengan kehendak Tuhan dalam melakukan panggilan-Nya. Hanya orang yang setia yang dapat dipercayakan rahasia Allah.
  • Ketaatan adalah kunci yang mengaktifkan kuasa Roh Kudus. Kapasitas urapan bertumbuh melalui proses dan kedisiplinan. Jika kita setia untuk taat dalam perkara kecil/sederhana, maka Tuhan bisa memercayakan kepada kita perkara besar. Sebaliknya, ketidaktaatan bisa memadamkan/menghalangi urapan Tuhan bekerja dalam kehidupan dan pelayanan kita.
  • Tanpa ketaatan, usaha kita tidak memberi dampak yang signifikan. Keberhasilan sejati bukan hanya ditentukan oleh sumber daya yang kita miliki (misalnya pengetahuan firman, karunia, talenta, finansial, hubungan/relasi, pengalaman, dlsb), tapi oleh ketaatan kita kepada instruksi Tuhan dalam tiap langkah.

PENUTUP

Ketaatan membuka pintu bagi berkat Tuhan untuk mengalir kepada kita dan generasi berikutnya. Ketika seseorang menabur ketaatan, ia menuai hidup yang berkelimpahan, yaitu kehidupan yang terbaik, dan menerima kemuliaan dari Allah saat awal penciptaan manusia (Kejadian 1:26–28). Melalui ketaatan, orang percaya memberi ruang bagi Roh Kudus untuk berkarya secara penuh, dan menuntun setiap langkah sesuai kehendak Tuhan. Selain itu, ketaatan umat Tuhan menjadi sarana bagi semua bangsa untuk menerima berkat keselamatan, menjadi warga Kerajaan Allah, dan bertumbuh sebagai murid-murid Kristus.

TAAT LEBIH BAIK DARIPADA KURBAN

TAAT LEBIH BAIK DARIPADA KURBAN

“Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22b)

PENDAHULUAN

Ketaatan kepada Allah lebih penting daripada ritual keagamaan atau kurban. Ketika Raja Saul melanggar perintah Allah namun mempersembahkan ternak terbaiknya sebagai kurban untuk menutupi perbuatannya, Nabi Samuel menegurnya seraya menegaskan bahwa sesungguhnya Allah menghendaki ketaatan kepada perintah-Nya, lebih daripada kurban sembelihan.

  • Raja Saul memberi kurban tetapi mengabaikan perintah Tuhan, dan Tuhan menolaknya. Kenapa? Karena Tuhan mencari penyerahan hati yang tulus, bukan penampilan rohani. Ia lebih berkenan kepada penyembahan yang benar daripada sekadar persembahan.
  • Ada perbedaan antara penyembahan (worship) dan persembahan (offering), namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Secara sederhana, penyembahan (Worship) adalah perjumpaan roh manusia dengan Allah. Saat mengalami hadirat-Nya, hati kita dipenuhi kasih, pujian, pengagungan, rasa hormat dan tunduk kepada Allah. Kita merendahkan hati dan mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita. Ini bicara tentang penyerahan hati secara tulus dan total, yang dibuktikan dengan ketaatan kepada perintah-Nya.

Persembahan (Offering) adalah pemberian kepada Allah sebagai respons atas perbuatan dan kasih setia-Nya bagi kita. Persembahan dapat berupa ucapan syukur, waktu, talenta, pelayanan,  harta (uang/materi) atau apa saja yang Roh Kudus gerakkan untuk kita persembahkan. Yang terutama adalah mempersembahkan roh-jiwa-tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Persembahan yang benar dan berkenan kepada Allah adalah buah dari penyembahan sejati.

  • Seseorang bisa saja mempersembahkan sesuatu kepada Allah, tapi hatinya jauh dari Dia. …bangsaini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya,  padahal hatinya menjauh dari pada-Ku,  dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan… (Yesaya 29:13).
  • Contoh: giat menabur untuk pekerjaan Tuhan, tapi mengabaikan apa yang Tuhan perintahkan secara khusus untuk dilakukan, misalnya tinggalkan pertemanan/hubungan yang tidak sehat, …atau buang kebiasaan merokok, stop berkata yang sia-sia/negatif, dlsb
  • Contoh lain: memuji Tuhan di mimbar sebagai pelayan mezbah, tapi ada kesombongan dan menganggap diri lebih dari orang lain.  Atau, aktif melayani di gereja, tapi dalam pekerjaan tidak berlaku jujur, serakah, tipu sana-sini, suka memaki, dlsb. Apakah Tuhan berkenan atas persembahan kita? Jawabannya: tidak. Aktivitas rohani tidak bisa menggantikan ketaatan kepada Allah. Melayani di gereja tidak dapat menutupi/menghapus pemberontakan di dalam hati.
  • Banyak orang Kristen menyembunyikan ketidaktaatannya di balik kegiatan pelayanan. Aktif di depan umum, tetapi kompromi di ruang pribadi. Tuhan melihat keduanya; di depan umum dan di balik layar, sama nilainya. Tidak ada gunanya memberi persembahan, melakukan pelayanan, ataupun rajin beribadah tiap minggu jika kita hidup dalam ketidaktaatan.
  • Saul memang melakukan banyak hal dengan benar, namun ia membiarkan sebagian dari perintah Tuhan tidak dilaksanakan demi memenuhi agenda pribadinya. Di mata Tuhan, hal ini dianggap sebagai Ketaatan yang setengah-setengah merupakan ketidaktaatan. Ketidaktaatan adalah penipuan terhadap diri sendiri. Ketidaktaatan mengundang intervensi si jahat untuk menghancurkan hidup kita.

REFLEKSI DIRI: 

  1. Apakah kita memakai pelayanan untuk menghindari pertobatan? Pelayanan dipakai sebagai pelarian dari rasa bersalah? Aktif, tetapi tidak sungguh-sungguh taat? Atau taat hanya di hal-hal yang kita mau saja? Sibuk, tetapi tidak sungguh-sungguh berserah pada Tuhan? Itu berbahaya. Tuntunan bulan ini bukan tentang meningkatkan kegiatan pelayanan secara penampilan, tetapi tentang kejujuran hati di hadapan Tuhan.
  2. Apa hal terakhir yang Tuhan suruh aku lakukan? Sudahkah aku taat? Tanpa ketaatan (changing course), tidak ada kebangunan rohani. Kebangunan rohani tidak terjadi dalam keramaian pertemuan ibadah, deklarasi doa yang hebat, atau suara musik pujian dengan volume keras. Kebangunan rohani terjadi dalam ketaatan kita secara pribadi kepada Allah.
  3. Banyak orang berdoa meminta pintu terbuka, sementara mereka mengabaikan instruksi yang jelas di depan mata. Berhentilah meminta langkah berikutnya, jika langkah sebelumnya belum ditaati. Ketaatan membuka pintu yang belum terbuka hanya dengan doa.

PENUTUP

Ketaatan lebih baik daripada persembahan. Persembahan tanpa penyembahan (penyerahan diri secara total) hanyalah ritual, sedangkan penyembahan tanpa persembahan adalah ungkapan tanpa bukti. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Penyerahan diri sejati menuntut kita melakukan tepat seperti yang Tuhan mau. Jika hati kita tulus dan mau taat, Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

 

KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki. (Ulangan 5:33)

PENDAHULUAN

Perintah Tuhan bukan sekadar arahan dan larangan/pembatasan, tetapi juga perlindungan bagi kita. Ketaatan kepada perintah Tuhan membawa kita berjalan dalam terang kebenaran serta melindungi kita dari yang jahat. Tuhan membela dan menjamin perlindungan bagi mereka yang hidup dalam ketetapan/perintah-Nya.

ISI

  • Dosa selalu terlihat seolah tidak berbahaya dan menarik di awal, tetapi akhirnya membawa kepada kehancuran. Ketaatan kepada Allah merupakan perlindungan yang kokoh dari tipu daya iblis. Iblis selalu berusaha menggoda kita supaya melanggar perintah Tuhan dan berbuat dosa. Ia memanfaatkan keadilan Allah yang menuntut konsekuensi atas setiap pelanggaran. Ketidaktaatan memberi iblis kesempatan untuk mengajukan tuntutan atas kita.
  • Strategi Iblis yang berpeluang membuat kita tidak taat kepada Allah:
  • Memutabalikkan firman/kebenaran sehingga kita jadi meragukan Tuhan (Kejadian 3:1-4).
  • Menawarkan jalan pintas, kenyamanan, popularitas, kekuasaan, kemewahan dunia dan hal-hal yang memuaskan hawa nafsu (keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup; Matius 4:1-11). Ia memanfaatkan kelemahan, kemalasan, kedegilan, kesombongan, ketidaktahuan kita akan kebenaran/kehendak Allah untuk menyeret kita jatuh ke dalam ketidaktaatan.
  • Menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14) yang menyesatkan manusia dengan cara membuat kejahatan menjadi sesuatu yang tampak normal, logis, seolah membawa kebaikan, tidak mencelakakan, bahkan penyesatan yang dibungkus dengan kemasan rohani.
  • Mendakwa manusia siang malam di hadapan Allah (Wahyu 12:10), menuntut supaya konsekuensi/hukuman dijatuhkan atas kita.
  • Iblis adalah bapa segala dusta yang mau mencuri, membunuh, dan membinasakan manusia. Sebaliknya, Tuhan Yesus datang untuk memberikan kita hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Iblis menghancurkan, tapi Tuhan memulihkan, membangun karakter serta menguduskan kita.
  • Cara supaya kita terlindung dari tipu daya iblis:
  • Taat kepada perintah-Nya. Tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7). Kebanyakan kita lebih fokus menengking iblis tapi lupa untuk taat kepada Allah.

Contoh: kita berdoa meminta Tuhan memberkati dan menjauhkan belalang-belalang pelahap dari kehidupan kita, tapi kita tidak mau taat mengembalikan persepuluhan yang merupakan hak Tuhan. Dengan begitu, kita memberi celah bagi iblis untuk mendakwa dan menghalangi berkat Tuhan atas hidup kita.

Yang benar adalah: taat kepada Allah dengan mengembalikan persepuluhan, maka Maleaki 3:10-11 digenapi dalam hidup kita.

  • Belajar sangkal diri setiap hari, matikan perbuatan daging dengan cara hidup oleh Roh. Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup menghalangi kita untuk taat kepada Tuhan. Dengan mematikan perbuatan daging secara konsisten, kita jadi mudah mengikuti pimpinan Roh Kudus yang memampukan kita taat kepada perintah Tuhan.
  • Perbarui akal budi dengan firman Tuhan, supaya kita memiliki cara pandang tentang kebenaran sehingga tidak mudah ditipu Iblis. Pembaruan akal budi membuat kita jadi tahu apa kehendak/perintah Tuhan: yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
  • Hidup karena percaya kepada Kristus dan perkataan-Nya, bukan karena melihat. Hidup karena melihat berpotensi membuat kita menjadi ragu, takut, dan kuatir; akibatnya, sukar untuk percaya kepada Tuhan dan taat pada perintah-Nya.
  • Ketaatan seharusnya bukan sebuah beban, melainkan cara yang bijak untuk melindungi kita dari kehancuran saat mengalami badai masalah, godaan, dan penderitaan. Ketaatan membuat kita tetap tinggal dalam kasih-Nya. Ketaatan menolong kita untuk tidak tersesat—kita bertindak/mengambil keputusan yang tepat sesuai tuntunan dan hikmat Tuhan. Ketaatan melindungi kita dari kerugian/usaha yang sia-sia, dari niat jahat orang lain, dari penyesatan, dari dosa serta kenajisan. Satu kompromi kecil bisa merusak masa depan. Kenikmatan sementara bisa menurunkan nilai diri.

 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu (Matius 7:24-25).

PENUTUP

Ketaatan adalah perlindungan yang membawa kebaikan bagi kita dan orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita. Mulai sekarang, marilah kita belajar meningkatkan level kedewasaan rohani kita. Berpindahlah dari tahu/mendengar firman → melakukan;  kekristenan yang sebatas emosi → disiplin ; dari yang sekadar terinspirasi → penundukan diri; dari niat baik → tindakan berupa ketaatan. …supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki (Ulangan 5:33b).

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

Sekilas review:

Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya. Ketaatan bukan hanya bicara tentang tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Tanpa ketaatan, ibadah hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal/tidak berakar.

Sambungan minggu ini:

KASIH MERUPAKAN DASAR KETAATAN

 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15).

  • Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.
  • Ketaatan merupakan ekspresi kasih kita kepada Tuhan. Kita taat bukan karena ketakutan, paksaan, sekadar menjalankan kewajiban, atau karena motivasi lain, misalnya taat hanya untuk mendapatkan mukjizat/jawaban doa.
  • Banyak orang berkata: “Saya mengasihi Tuhan…” Tetapi Surga bertanya: mana buktinya? Banyak orang Kristen hanya ‘sayang’ kepada Tuhan Yesus, tapi belum sampai level mengasihi Dia. Menyanyi saat worship itu mudah, tapi penyembahan yang menuntut penyerahan diri bukanlah hal yang gampang. Penyembahan sejati yang berkenan kepada Tuhan adalah ketaatan kita kepada perintah-Nya.
  • Kita tidak bisa memisahkan kasih dari penyerahan diri, sebab demikianlah teladan Tuhan Yesus yang telah mendemonstrasikan kasih-Nya kepada kita. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kasih yang sejati menuntut penyerahan diri secara total, di mana kita melepaskan ego dan keinginan pribadi untuk tunduk kepada kehendak Tuhan.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

  • Kasih menggerakkan kita untuk menyangkal diri/pikul salib, rela berkorban, meninggalkan kenyamanan, serta tetap setia dan taat sekalipun dalam situasi sulit. Kasih yang sejati tetap percaya meskipun menderita karena kebenaran. Kasih yang sejati tetap percaya meski belum melihat jawaban doa. Kalau kekristenan kita tidak pernah menuntut apa-apa, mungkin itu hanya kenyamanan, bukan pemuridan.
  • Ketaatan tanpa kasih sama sekali tidak berguna (1 Korintus 13: 1-3). Ketaatan tanpa kasih menjadi legalisme yang kering. Perintah-perintah Allah akan menjadi sederet peraturan yang kaku dan terasa memberatkan. Ketaatan tanpa kasih tidak dapat bertahan lama.

Sementara, kasih tanpa ketaatan dapat kehilangan arah dan melenceng dari tujuan sejatinya. Kasih tanpa ketaatan berarti hanya di level perasaan, bukan iman. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

  • Bagaimana cara supaya kita mampu menaati Allah?

Jawabannya: kita harus dipenuhi oleh kasih-Nya.

Bagaimana cara supaya dipenuhi oleh kasih Allah?

Dengan menjaga persekutuan yang konsisten dengan Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan. Keintiman dengan Roh Kudus membuat hati kita semakin berakar dan berdasar dalam kasih Allah.

  • Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5b). Kuasa kasih-Nya yang bekerja dengan kuat dalam kita dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan/pikirkan, sehingga kita mampu hidup oleh iman dan ketaatan kepada Allah. Barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah (1 Yohanes 2:5).

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan  kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,  sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. 

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi  di dalam seluruh kepenuhan Allah.  Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan  atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:16-20).

PENUTUP

Kasih adalah dasar ketaatan sejati, artinya ketaatan merupakan demonstrasi kasih kepada Allah. Hati yang tidak berakar dalam kasih membuat ketaatan menjadi sesuatu yang membatasi, memberatkan dan menakutkan. Ketaatan adalah respons kita atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya bagi kita. Jaga api mezbah pribadi kita untuk selalu menyala, jangan biarkan jadi redup bahkan padam. Api yang terus menyala memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan, Amen.

HIDUP DALAM KETAATAN

HIDUP DALAM KETAATAN

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

PENDAHULUAN

Bulan lalu kita mengenali Roh Kudus dan keadaan terhubung dengan Pokok Anggur yang benar supaya hidup kita menghasilkan buah yang mendampaki orang lain. Di bulan yang baru ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita taat melakukan Firman? Karena ibadah tanpa ketaatan hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal. Perasaan tersentuh oleh firman tanpa diikuti tindakan hanya menipu diri sendiri dan tidak membawa perubahan hidup.

ISI

DENGAR DAN LAKUKAN 

  • Yakobus 1:22 mengatakan “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…” Rajin beribadah ke gereja belum menjamin seseorang hidup dalam ketaatan, demikian pula dengan mencatat kotbah. Mengatakan “Firman hari ini luar biasa dan sangat memberkati” juga bukan berarti orang tersebut melakukan firman yang didengarnya.
  • Pengetahuan firman tanpa tindakan hanya melahirkan kemunafikan serta kesombongan rohani. Pengetahuan firman tanpa ketaatan adalah tindakan menipu diri sendiri. Banyak orang Kristen hanya kenyang dengan mendengarkan khotbah, kesaksian, atau mengikuti training/kelas pengajaran, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
  • Ingin mujizat, tetapi tidak mau taat akan perintah Tuhan. Ingin berkat, tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Penyembahan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita menangis saat berada di hadirat Tuhan, tetapi dari seberapa cepat kita taat akan pesan firman yang disampaikan setelah ibadah selesai.
  • Mungkin ada orang yang menilai dirinya sudah taat kepada Tuhan dengan sudah rajin beribadah, mengembalikan persepuluhan, tidak mencuri, membunuh, menggosip, menghakimi orang lain, dsb..

Tetapi saat Tuhan gerakkan hatinya untuk berkati si A, doakan si B, jangan hakimi suamimu/tunduk padanya walaupun ia banyak kelemahan, jangan berlaku kasar dengan istrimu, atau tambah jam doa, dsb..…orang tersebut banyak pertimbangan untuk melakukannya, cari alasan untuk membenarkan diri sendiri, menunda-nunda, akhirnya sama saja dengan tidak taat.

Jadi ketaatan bukan hanya tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan.

  • Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya.

Contoh:

  • Nuh disuruh Allah untuk membangun bahtera di tengah daratan. Alkitab mencatat bahwa Nuh taat melakukan perintah tersebut
    sekalipun hal itu dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat pada jamannya.
  • Ananias taat saat Tuhan memerintahkan dia untuk menumpangkan tangan atas Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) supaya dia dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Meskipun Ananias tahu bahwa Saulus adalah seorang yang menganiaya orang-orang kudus, dia taat juga ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mendatangi Saulus.
  • Paulus meninggalkan semua yang dia banggakan di masa lalu demi pengenalan yang benar akan Kristus dan taat kepada panggilan Allah (Fil. 3: 7-14).
  • Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ingatlah: keinginan daging (tidak takluk kepada hukum Allah) akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh (menghendaki kita hidup dalam ketaatan kepada Allah).

REFLEKSI DIRI:

  • Hal-hal apa yang Roh Kudus dorong untuk kita lakukan/tinggalkan
tetapi masih kita tunda?
  • Membangun mezbah pribadi secara konsisten? Stop berpikiran negatif? Menundukkan diri kepada otoritas di atas kita? Meninggalkan hubungan/pertemanan yang tidak sehat/toxic? Memulai pelayanan? Stop merenungkan kesalahan orang lain? Mengampuni? Stop bergosip?
  • Stop berperilaku konsumtif (hobi belanja barang-barang yang memuaskan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup)? Belajar berpuasa? Menabur finansial untuk pekerjaan Tuhan? Berhenti hidup dalam dosa tersembunyi? Memakai waktu dengan bijak? Stop kebiasaan buruk?
  • Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan merupakan buah dari orang yang hidup dalam dusta iblis. Penundaan adalah peperangan rohani. Penundaan membuat hati kita jadi keras dan degil. Penundaan adalah bukti ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati.

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2