Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
PERKATAAN YANG MEMIMPIN KEPADA KEMENANGAN

PERKATAAN YANG MEMIMPIN KEPADA KEMENANGAN

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
(Amsal 18:21)

Perkataan orang percaya adalah penuh kuasa, seperti sebuah doa/perkataan iman yang naik di hadapan Tuhan. Artinya bahwa setiap perkataan yang kita ucapkan adalah seperti benih doa yang ditabur, dimana kita akan menuai pada akhirnya. Kita yang memperkatakannya, kita juga yang nanti akan menuainya.

Namun setiap perkataan yang negatif dan yang tidak sesuai dengan kebenaran firman, dapat menjadi celah bagi si jahat untuk masuk ke dalam hidup kita dan dapat membatalkan penggenapan janji Tuhan untuk kita terima. Setiap hari dalam kehidupan, kita akan selalu diperhadapkan pada pilihan, termasuk pilihan untuk hidup di dalam kemenangan demi kemenangan atau sebaliknya.

Akibat dari mendengarkan perkataan istrinya, Adam harus menanggung kutuk dan susah payah.
Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu. (Kejadian 3:17)

Karena mendengarkan perkataan istrinya, Abraham akhirnya harus menghadapi persoalan antara istrinya (Sarah) dan hambanya (Hagar), serta Ismael (anak dari Hagar) yang memiliki kelakuan seperti keledai liar.
Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. (Kejadian 16:2)

Pilihan ada di tangan kita – apakah kita mau mendengarkan, merenungkan dan memperkatakan firman Tuhan; atau perkataan, ajaran dan kepercayaan yang dibangun oleh manusia.
Dengan merenungkan dan memperkatakan firman Tuhan; kita dapat mengubah atau membalikkan keadaan dari yang tidak mungkin terjadi, menjadi mungkin. Bahkan kita dapat mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Kemenangan, keberhasilan dan kehidupan yang akan kita raih.

Sebaliknya ketika kita mendengarkan, merenungkan serta mengucapkan dan mempercayai perkataan orang, kepercayaan/ajaran dunia; maka kita akan menuai kecelakaan, kematian (fisik/ rohani), kekosongan jiwa bahkan kebinasaan. Sebagai orang percaya, pasti kita akan memilih kehidupan, keberuntungan dan kemenangan dalam hidup.

Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan. Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan (Ulangan 30:14-15).

Dalam 1 Samuel 1: 10-13, 20 dan Lukas 1:13,18-20 diceritakan kisah dua orang wanita mandul yaitu Hana (istri Elkana) dan Elizabeth (istri Zakharia). Mungkin kita tidak mengalami mandul secara fisik, namun mandul juga bisa diartikan doa yang belum terjawab, masalah yang mengalami jalan buntu, dsb. Hana selalu disakiti oleh madunya karena tidak memilki anak. Tapi ia membawa semua masalahnya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh berdoa bahkan dengan hati yang sangat pedih.

Sedangkan kisah Zakharia yang sudah lanjut usia dan Elizabeth istrinya, juga mandul. Tuhan telah mengirim pesan bahwa doanya dikabulkan, tetapi Zakharia tidak percaya akan perkataan Malaikat Tuhan yang diutus kepadanya. Sehingga ia menjadi bisu, tidak dapat berkata-kata sampai anaknya lahir.

Baik Hana maupun Zakharia pada akhirnya sama-sama memperoleh apa yang mereka rindukan, karena Tuhan mengabulkan doa mereka. Namun perbedaannya adalah Zakharia harus mengalami bisu, tidak dapat berkata-kata karena perkataan ketidakpercayaan yang diucapkannya.
Tuhan membuat Zakharia tidak dapat berbicara untuk sementara waktu lamanya, agar janji Tuhan dapat digenapi.

Oleh sebab itu hati-hati dengan perkataan yang kita ucapkan. Setiap perkataan kita yang tidak memuliakan Tuhan, meragukan kuasaNya, atau perkataan negatif dsb yang kita ucapkan dapat membatalkan penggenapan janji Tuhan dan kuasaNya dinyatakan di dalam hidup kita. Atau kita akan menerima penggenapan janji Tuhan tersebut, tapi dengan susah payah. Tentunya kita mau mencapai kemenangan dengan gilang gemilang sesuai kehendak Tuhan, bukan kemenangan dengan babak belur. Ada perkataan yang seharusnya kita ucapkan atau tidak kita ucapkan, supaya kita mengalami kemenangan atas persoalan kita.

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:16-17)

Perkataan apa yang seharusnya kita ucapkan untuk memperoleh janji berkat Tuhan dalam hidup kita?

1. Perkatakan firman Tuhan (perkataan Kristus) yaitu perkataan hikmat, yang bermanfaat untuk mengajar, menegur dan membangun iman.
Firman Tuhan adalah hidup dan kuat, penuh kuasa serta mengandung janji di dalamNya; sehingga ketika kita memperkatakanNya, berarti kita menabur kemenangan, kehidupan dan berkat Tuhan yang pasti akan kita tuai. Kita merenungkan dan memperkatakan firman Tuhan, sehingga ketika menghadapi masalah, kita akan mendapatkan kekuatan dan penghiburan melalui firmanNya; kita juga akan dipimpin kepada jalan kebenaran, keselamatan dan kemenangan.

2. Perkataan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani.
Mazmur, pujian dan nyayian rohani yang dinaikkan dari hati yang mengasihi Tuhan adalah seperti dupa yang harum dan menyenangkan hati Tuhan. Ada kuasa di dalam mazmur dan pujian kepada Tuhan. Paulus dan Silas terlepas dari belenggu yang mengikatnya ketika di penjara, sewaktu mereka berdoa dan menyanyikan pujian kepada Tuhan. Pada saat menghadapi ujian dan masalah, kita mengalami kekuatiran/ ketakutan; tapi ketika kita menaikkan mazmur pujian maka kita akan dilepaskan/ dibebaskan dari belenggu ketakutan/ kekuatiran. Tuhan akan memberikan damai sejahtera, ketenangan, jalan keluar dan kemenangan atas persoalan yang kita hadapi.

3. Perkataan ucapan syukur.
Raja Daud selalu menaikkan ucapan syukur kepada Tuhan, bukan hanya pada saat menerima berkat dan mengalami kemenangan. Tetapi pada waktu melewati lembah kekelaman (dikejar-kejar Saul), Daud tetap mengucap syukur (Mazmur 57) sehingga ia mengalami kemenangan demi kemenangan yang Tuhan berikan.

Perkataan yang harus dihindari karena dapat membatalkan kuasa Tuhan dinyatakan di dalam hidup seseorang :

a. Perkataan sumpah serapah (Ulangan 29: 19-20).
Kalau ada perkataan makian, kutukan (sumpah serapah) dan bersungut-sungut yang diucapkan, maka yang dituai adalah kutuk dan kecelakaan. Bahkan dikatakan bahwa Tuhan akan menghapuskan namanya dari kolong langit (ini membawa kepada kebinasaan, bukan kemenangan).

b. Perkataan kotor (Efesus 4:29a).
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu. Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang kudus, tidak dapat tinggal bersama-sama dengan ketidakkudusan/ kecemaran. Jika ada perkataan kotor yang diucapkan, maka Allah tidak berkenan dan tidak dapat menyatakan mujizatNya. Yosua 3:5 mengatakan kuduskanlah dirimu, sebab besok Tuhan akan melakukan perbuatan yang ajaib diantara kamu. Kalau kita mau mengalami perbuatan ajaib Tuhan, maka kita harus menguduskan hidup (termasuk perkataan) kita.

c. Perkataan hampa, sembrono (Efesus 5:4a).
Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono karena hal-hal ini tidak pantas. Perkataan hampa adalah perkataan yang kosong, tidak ada manfaatnya. Jika kita menabur perkataan hampa, berarti tidak ada yang kita tuai (hampa) karena sama dengan kita menabur kesia-siaan. Sedangkan perkataan sembrono, yaitu perkataan yang tanpa dipikirkan dengan baik terlebih dulu. Perkataan sembrono bisa berupa perkataan yang tidak memuliakan Tuhan. Tuhan itu pencemburu, sehingga perkataan kita yang tidak memuliakan Tuhan atau meninggikan yang lain, akan mendukakan hati Tuhan dan menghalangi berkatNya.

d. Perkataan dusta, bohong (Mazmur 101:7b).
Tuhan tidak pernah berdusta, Ia adalah Tuhan yang berintegritas; sedangkan iblis adalah bapa segala dusta. Oleh karena itu dusta dan kebohongan berasal dari iblis, di dalamnya tidak ada kebenaran (Yohanes 8:44). Ananias dan Safira mati seketika, ketika mereka mendustai Roh Kudus.

e. Perkataan tidak percaya (2 Raja- raja 7:2,17).
Ada seorang perwira yang tidak percaya bahwa besok Tuhan akan membalikkan keadaan serta memberikan kemenangan atas bangsanya (Samaria). Ketika hal itu terjadi, ia justru mati terinjak-injak oleh masa. Jadi dengan perkataan yang kita ucapkan, kita akhirnya membatalkan atau menjadi penghalang bagi kuasa Tuhan untuk dinyatakan dengan sempurna.
Sebagai orang percaya yang memiliki harapan dan kepastian di dalam Kristus, bagaimana kita meresponi berbagai tantangan dan masalah yang akan kita alami di tahun ini? Apakah kita mau mengalami kemenangan bahkan lebih dari pemenang dalam segala perkara; atau meremehkan firman/hikmat/didikan, tidak taat, tidak mendisiplinkan diri, bersikap sembrono, terutama dalam hal perkataan?

Tahun 2023 adalah tahun untuk bangkit dan menjadi pemenang. Ini tidak otomatis terjadi, melainkan sebuah pilihan yang dihadapkan kepada setiap kita. Bagian kita adalah memilih untuk bangkit dan jadi pemenang. Pilihlah kehidupan, hikmat dan keberhasilan, maka kasih karunia Tuhan yang akan memampukan dan memimpin kepada kemenangan.

image source: https://www.sundaysocial.tv/graphics/the-tongue-can-bring-death-or-life-proverbs-1821/

“ Bangkit & Jadi Pemenang “

“ Bangkit & Jadi Pemenang “

1 Timotius 6:12
“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi”

Saat seseorang percaya & menerima Yesus sebagai Juruselamat hidupnya, hal tersebut merupakan awal dari kehidupannya dalam iman kepada Tuhan. Setelah itu Ada proses “transformasi” yang harus dijalani yaitu menanggalkan manusia lama menjadi manusia baru. Proses pembentukan ini di dapat dari tantangan, ujian & perjuangan hidup. Tuhan menjanjikan kemenangan melalui ini semua bila kita percaya dan tetap kuat pegang janjiNya.

Bangkit adalah berdiri tegak, yang berarti bangkit dari mindset yang salah dan hidup dalam jati diri sebagai murid Kristus. Janganlah mudah mundur kerohanian kita, saat hidup tidak seperti yang kita harapkan. Bila kita hidup menderita karena kebenaran & keyakinan kita diuji oleh keadaan dunia saat ini yang bersifat membunuh semangat iman kita, dan kita mengalami kekalahan/kegagalan, inilah waktunya untuk bangkit & menjadi pemenang. Tuhan menentukan kita menjadi seorang pemenang bukan seorang pecundang. Amsal 24:16 “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana”. Seorang pemenang bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan/kejatuhan/kesalahan, tetapi bagaimana ia tidak pernah berhenti mencoba untuk bangkit & bangkit lagi. Semangat seorang pemenang harus mengikuti proses pengorbanan, ketekunan, disiplin & tahan uji (Roma 5:3-5).

Mereka yang konsisten dalam doa, pujian, penyembahan & merenungkan Firman akan mempunyai energi lebih banyak untuk berjalan dalam kehidupan & tidak mudah menyerah. Karena itu dibutuhkan latihan & latihan. Berlatih bukan sekedar energi kuat saja, tetapi juga melatih cara meresponi, bersikap dan karakter. Sikap kekristenan dibentuk oleh hubungan dengan Kristus.

Hidup orang percaya adalah pertandingan iman, siapa yang bertekun dalam ketaatan, kesetiaan & melakukan kebenaran Firman adalah seorang pemenang. Seorang pemenang tidak mau hidup diperhamba dosa lagi. Orang yang sering jatuh dalam dosa itu merupakan hamba dosa. Melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, hidup kita tidak lagi ada di bawah kutuk dosa. Oleh kasih karuniaNya, kita dilepaskan dari dosa & dijadikan sebagai pemenang. Jangan pernah berbuat dosa lagi, tetapi hiduplah di dalam “Roh”. Mari bangkit dari setiap keterpurukan & miliki sikap sebagai seorang pemenang.

Contoh dalam Alkitab:
Pada waktu Yosua menggantikan Musa untuk masuk & merebut Tanah Perjanjian, Tuhan berpesan kepada Yosua : “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” (Yosua 1:7-9)

Berarti supaya kita menjadi pemenang, maka yang harus dilakukan adalah:
1. Kuatkan & teguhkan hati.
2. Bertindak hati-hati sesuai Firman.
3. Jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri.
4. Perkatakan Firman & renungkan siang malam.

Karena itu kita harus terus berjaga-jaga, waspada & menang dalam mengatasi semua usaha licik iblis, dengan menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:14-18). Bukan hanya menjadi pemenang, kita bisa menjadi lebih dari pemenang. Mengapa di hadapan Tuhan, kita lebih dari pemenang? Karena kita bukan sekedar masuk dalam pertandingan tetapi masuk dalam peperangan (bahkan area yang tak terlihat), seperti:
1. Diri sendiri: Musuh terbesar seseorang adalah diri sendiri (keinginan daging, keinginan mata & keangkuhan hidup). Sebelum masuk dalam pertandingan, seseorang harus dapat mengatasi dirinya dengan penguasaan diri (Amsal 16:32). Pelatihan sangat dibutuhkan dalam kehidupan rohani, supaya memiliki energi rohani yang kuat, mental (keadaan batin, watak, kejiwaan dalam menghadapi sesuatu) yang kuat & karakter (cara berpikir & berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu) Kristus.
2. Area peperangan yang tak nampak (alam roh): Lebih dari pemenang karena area peperangan bukan hanya menghadapi apa yang tampak mata/jasmani, tetapi juga area spiritual/alam roh (Efesus 6:12).
3. Siasat iblis: Firman Tuhan telah mengungkapkan/membeberkan secara jelas semua cara kerja iblis sehingga kita bisa waspada. Semua tipuan iblis, karakter iblis & maksud tujuan iblis telah dibongkar melalui Firman Tuhan. Sebab itu, Firman Tuhan merupakan kunci-kunci kemenangan bagi kita (Lukas 4:13 & Efesus 4:27)

Kemenangan bukan lagi sekedar sebagai suatu kemungkinan, melainkan suatu kepastian karena di dalam Tuhan ada jaminan kemenangan itu (Roma 8:31). Mazmur 27:6
Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN. Efesus 6:10-12, “Akhirnya hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”

Jadilah umat pemenang, bahkan lebih daripada pemenang. Iblis adalah musuh yang sudah kalah & pasti dikalahkan untuk selamanya. Jangan tertipu dengan mulut besarnya yang suka berdusta, menipu & mendakwa; karena iblis sudah dikalahkan oleh Yesus Kristus Tuhan melalui pengorbananNya di kayu salib untuk menebus kita dari ikatan dosa & cengkraman iblis. Bersama Tuhan maka kita akan menjadi pemenang, asalkan kita ada di pihak Tuhan.
Amsal 9:10
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian”.

BANGKIT DAN JADI PEMENANG

BANGKIT DAN JADI PEMENANG

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12)

Mentalitas orang percaya sebagai anak Tuhan yang harus dimiliki adalah sebagai pemenang. Karena itu, kita perlu mempersiapkan dan membangun diri dengan dasar yang benar, supaya menjadi pribadi yang tangguh. Tidak hanya mampu melewati masa-masa yang sukar saja, tetapi keluar sebagai pemenang. Untuk jadi pemenang kita butuh hikmat dan kebijakan. Kerinduan setiap orang memiliki hati yang bijaksana, untuk dapat mengetahui apa yang baik dan yang jahat, dapat terjadi bila mengikuti kebenaran.

Hati yang bijaksana artinya mengetahui yang baik dan yang jahat. Kebenaran mengatakan ketidaktaatan kepada Allah akan mendatangkan kematian. Kematian di sini maksudnya menjadi layu atau binasa.
tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kejadian 3:3).

Tipu muslihat adalah sesuatu yang sebetulnya bukan kebenaran tetapi sepertinya memuaskan keinginan kita untuk mengetahui yang baik dan jahat.
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ”Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 3:4-5).

Bila kita tidak dituntun oleh kebenaran, kita mudah tertipu dengan cara cara dunia yang menjanjikan apa yang kita rindukan tetapi membuat kita menentang Tuhan (Kejadian 3:4-5). Seseorang yang berpendidikan tinggi bisa saja memiliki pengetahuan tapi belum tentu memiliki hikmat ilahi. Hikmat dunia sangat bertolak belakang dengan hikmat Allah. Untuk memperoleh hikmat ilahi, hal pertama yang harus kita miliki adalah roh takut akan Tuhan.

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7)
The fear of the Lord is the beginning of wisdom (applied knowledge), but fools despise wisdom and instruction (Proverbs 1:7).

Kita diselamatkan karena percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Roma 10:9-10). Ketika mengaku Yesus adalah Tuhan, berarti IA adalah Tuan, majikan, pemilik yang berhak atas seluruh hidup kita – baik roh, jiwa dan tubuh termasuk karunia/talenta, intelektual, pekerjaan/usaha, waktu, dlsb. Kita adalah hamba, Yesus Kristus adalah Tuan kita.

Takut akan Tuhan maksudnya adalah mengasihi dan memiliki rasa hormat kepada Tuhan. Orang yang mengasihi dan hormat akan Tuhan akan taat kepada perintahNya. Ada beberapa hal yang terjadi saat seseorang hidup dalam takut akan Tuhan. Ia akan belajar mengenal yang Maha Kudus (Amsal 9:10). Dalam proses pengenalan inilah Roh Kudus memberikan hikmat pewahyuan, pengertian dan tuntunan bagaimana menjalani hidup dengan bijaksana serta melakukan kehendak Allah. Takut akan Tuhan membuat seseorang membenci kejahatan (Amsal 8:13). Orang yang takut Tuhan akan terbuka dengan didikan yang mendatangkan hikmat (Amsal 15:33) dan mengusir kebodohan (Amsal 22:15).

DISELAMATKAN UNTUK DAPAT HIDUP BAGI ALLAH

Ketika Allah menyelamatkan bangsa Israel jasmani dari perbudakan Mesir, IA berperang dan membebaskan mereka dari penindasan musuh (Keluaran 14:13-14). Demikian pula kita Israel rohani yang percaya kepada Kristus, kita dibebaskan dari perbudakan/ikatan dosa, ketergantungan, dan kekosongan jiwa untuk bergantung penuh kepadaNya.

Tujuan bangsa Israel dibebaskan dari penindasan bangsa Mesir (melambangkan system dunia) agar dapat menyembah Allah yang benar dan taat kepada perintahNya. Dari bangsa budak yang tertindas menjadi bangsa pilihan/hamba Allah yang hidup dalam kemerdekaan (baca Keluaran 14:19-31).

Setelah keluar dari perbudakan Mesir, perjalanan bangsa Israel dituntun oleh tiang awan dan tiang api yang melambangkan hadirat Tuhan (Keluaran 13:21-22). Firman Tuhan dan Roh Kudus adalah dua hal yang harus memenuhi hidup kita setiap hari. Dua hal tersebut menjadikan kita hidup dalam kemerdekaan sejati dan berkemenangan.

Untuk berhasil kita memerlukan hikmat. Hikmat membutuhkan pembaharuan akal budi (Roma 12:2) yang akan memampukan kita untuk mengetahui dan mengikuti kehendak Tuhan.
Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna (Kolose 1:9).

Hikmat melindungi kita dari segala tipu muslihat iblis. Hikmat melindungi kita dari bahaya dan hal-hal yang merugikan. Hikmat menuntun kita untuk membuat keputusan/pilihan dan berhasil. Hikmat memelihara hidup orang yang memilikinya.
Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari. Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya. (Pengkhotbah 7:11-12)

Hikmat Tuhan dapat membedakan seorang pemenang dari seorang pecundang. Amsal 24:16 “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana”. Yang membedakan bukan dari kegagalannya, tetapi bagaimana ia bangkit dari kegagalan/kejatuhan itulah yang menentukan. Kebijakan sangat dibutuhkan supaya tidak mengulangi kembali kegagalan/kesalahan yang sama yang telah diperbuat.

Yang menghalangi seorang untuk jadi pemenang adalah ketidaktaatan (Yakobus 1:14-15), sikap meremehkan hikmat dan didikan (Amsal 1:7 & Amsal 3:11) serta tidak disiplin (Amsal 22:6).
Menjadi pemenang dalam suatu pertandingan tidaklah mudah. Ada proses yang harus dilalui seperti pengorbanan atas kedisiplinan dan ketekunan dalam latihan. Tidak mungkin kemenangan dapat diraih tanpa semuanya itu. Disiplin dalam menjalankan kehendak Tuhan, tekun menjalin komunikasi dengan Allah (bangun mezbah dalam doa, pujian, penyembahan dan merenungkan Firman), melatih ketangguhan hidup dalam setiap tantangan dan pergumulan. Inilah yang memampukan kita menjadi pemenang.

Pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, tetapi mereka yang tidak pernah berhenti untuk bangkit dan bangkit lagi. Sebagai pemenang, marilah bangkit kembali saat terjatuh, minta kekuatan dari Tuhan untuk berjuang kembali serta bertobat dan tidak lakukan lagi. Jangan pernah menyerah sebab Tuhan selalu ada bersama dengan kita.

Hidup ini penuh dengan tantangan, ujian, pencobaan dan masa sukar yang harus dihadapi baik suka atau tidak, yang mana semua itu harus kita lewati. Umat manusia sedang dihadapkan kepada keadaan dunia yang bergejolak, termasuk orang percaya. Akan tetapi Tuhan berjanji akan menyertai kita sampai kepada akhir masa. Tempat yang paling aman untuk berlindung adalah tinggal dalam kasihNya. Kasih Allah menopang, menguatkan dan memampukan kita untuk bangkit dan jadi pemenang.

Tidak ada kata menyerah dan kalah dengan keadaan. Yang ada hanyalah bertahan, maju dan menang. Dunia boleh berkata tahun ini adalah tahun kesesakan. Namun bagi kita orang percaya bahwa tahun ini adalah tahun dimana Tuhan akan membuat pergerakan kita maju dengan cepat. Bukan berjalan lagi, tetapi berlari untuk menggapai panggilan surgawi dari Allah.

Bagian kita berjuang, lebih bertekun merenungkan dan menggali firman. Perjalanan hidup kita harus extra-miles, sebab janji Tuhan bukan hanya membuat kita sebagai pemenang, tetapi lebih daripada pemenang.
“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:37-39)

Hiduplah di dalam pertandingan iman bukan permainan. Orang benar akan hidup karena iman/percaya bukan karena melihat. Hiduplah oleh Roh sehingga kita tidak menuruti keinginan-keinginan daging. Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan akan menghasilkan mental lebih dari pemenang bukan sekedar menang.

Seperti seorang atlet yang mengikuti peraturan-peraturan tanpa mengeluh dalam pertandingan itu, begitu juga dengan orang percaya yang setia memegang perintah-perintah Allah dan melakukan kehendakNya sampai garis akhir. Pengkhotbah 12:13 “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang”.

image source: https://sheilaalewine.com/2022/06/04/the-wisest-arithmetic/

YESUS PEMBAWA PENGHARAPAN BARU

YESUS PEMBAWA PENGHARAPAN BARU

“Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu:
Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”
Kolose 1:27
Dalam Lukas 2:8-12 dikisahkan bahwa ketika gembala-gembala sedang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka di malam hari, tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka. Mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di atas palungan.”
Kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat bermakna lahirnya Sang Pembawa Pengharapan Baru bagi dunia akan memberikan kesukaan besar bagi seluruh bangsa. Alkitab berkata semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Upah dosa ialah maut. Tempatnya di neraka. Neraka adalah tempat yang sangat mengerikan. Jangan sampai masuk neraka! Yesus Kristus lahir ke dalam dunia ini sebagai Juruselamat, yang bisa diartikan pembawa pengharapan baru untuk menyelamatkan manusia dari hukuman kekal selama-lamanya di neraka.
Kelahiran Yesus Kristus disambut dengan nyanyian pujian oleh malaikat-malaikat dan sejumlah balatentara Surgawi yang memuji Allah, katanya:
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Tema Natal yang Tuhan berikan ini yaitu “Yesus, Pembawa Pengharapan Baru”, sangat tepat untuk mempersiapkan kita memasuki tahun 2023 dimana Pandemi COVID masih belum berakhir, perang Rusia Ukraina masih berkelanjutan, informasi tentang inflasi dan resesi ekonomi tahun 2023 diberitakan di semua platform media sosial.
Ini sesuai dengan yang disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan bahwa pada tahun 2023 Tuhan akan kembali menggoncangkan bangsa-bangsa di dunia. Kita melihat betapa Twitter, Facebook, disusul dengan Disney, Amazon mengadakan PHK besar-besaran. Rusia dan Inggris dinyatakan sebagai negara-negara yang sedang dalam jurang resesi. Di tengah situasi yang seperti ini Tuhan berfirman:
“Yesus yang adalah Pembawa Pengharapan baru, ada di tengah-tengah kamu. Dialah pengharapan akan kemuliaan.”
Dalam Kolose 1:27 ini kata ‘pengharapan’ dalam bahasa aslinya memiliki arti “mengharapkan dan yakin sesuatu yang baik akan terjadi”. Itu artinya Yesus yang ada di tengah-tengah kita membuat kita memiliki keyakinan dan iman yang teguh dalam menghadapi segala situasi dan kondisi apapun. Haleluya!!
Sebagai pembawa pengharapan baru, Yesus tidak berada jauh dari kita. Ia Allah yang Mahahadir, yang mustahil dipahami oleh otak manusia yang hanya se ukuran ‘bakpao’, namun menyatakan diri-Nya sebagai Imanuel, yang artinya “Tuhan beserta kita”, “Tuhan bersama kita”.
• Pertama-tama, melalui kelahiran-Nya sebagai manusia yang kita peringati sebagai peristiwa Natal.
• Kemudian melalui Roh Kudus yang diberikan-Nya tinggal berdiam di dalam hidup kita.
Ini semua dapat diartikan bahwa Yesus ada di dalam kita. Itulah sebabnya kita selalu punya pengharapan. Haleluya!!
Keberadaan Yesus, sebagai Pembawa Pengharapan Baru di tengah-tengah kita inilah yang dikatakan oleh rasul Paulus kepada jemaat Kolose sebagai “pengharapan akan kemuliaan”. Kemuliaan ini menunjuk pada hari kebangkitan, dimana orang kudus akan menerima tubuh baru mereka yang dimuliakan atau yang dikenal dengan pemuliaan (glorification).
TIGA TAHAP PROSES KESELAMATAN
1. Pembenaran (Justification)
Kita dibenarkan bukan karena perbuatan baik kita, tetapi karena kasih karunia Tuhan yang kita responi dengan iman. Pada tahap ini setelah kita bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita akan mengalami kelahiran baru. Kelahiran baru adalah proses awal perjalanan rohani kita bersama Tuhan Yesus.
2. Pengudusan (Sanctification)
Ini adalah proses dimana kita dikuduskan secara terus menerus melalui Roh Kudus dan firman Allah. Dalam proses ini kita bisa saja jatuh atau mengalami kegagalan, tetapi yang penting kita jangan berhenti, tetapi harus bangkit kembali dan terus maju. Pertobatan adalah kunci untuk kita bisa terus maju.
o Goal dari proses pengudusan ini adalah menjadikan kita serupa dengan gambar-Nya. Roma 8:29 berkata: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
o Ini berarti goal kita sebagai orang Kristen adalah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Untuk menjadi serupa dengan gambar-Nya, kita harus hidup sesuai dengan 1 Yohanes 2:6: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
o Karena kita hidup sama seperti Kristus telah hidup, maka kita akan menjadi serupa dengan gambar-Nya. Menjadi serupa dengan gambar-Nya, artinya menjadi murid Tuhan Yesus.
3. Pemuliaan (Glorification)
Mereka yang menjadi serupa dengan gambar-Nya, pada saat Tuhan Yesus datang di awan-awan untuk menjemput gereja-Nya, tubuh mereka akan menerima tubuh baru yang dimuliakan, atau yang dikenal dengan ‘pemuliaan’ (glorification). Dan setelah itu kita akan diangkat bersama-sama untuk bertemu dengan Yesus Kristus di awan-awan. Dan kita akan masuk sorga dan selanjutnya akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama-lamanya. Haleluya!!
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan memberikan catatan penjelasan bahwa Kristus yang diam di dalam kita adalah jaminan untuk memperoleh kemuliaan dan hidup kekal. Ini akan terjadi hanya jikalau Ia tinggal di dalam kita dan kita terus menerus berhubungan erat dengan Dia. Kita hidup intim dengan Dia.
Perjumpaan kita dengan Yesus, Pembawa Pengharapan Baru, akan mengubah jalan hidup kita secara radikal. Hal ini seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:3-5,
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.”
Haleluya!!
Dalam Alkitab kita melihat bagaimana perjumpaan pribadi dengan Yesus membuat jalan hidup Paulus berubah. Pada waktu Paulus sedang dalam perjalanan menuju Damysik, dengan semangat yang menyala-nyala untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan, untuk menangkapi mereka dan membawanya ke Yerusalem; di sanalah justru jalan hidupnya berubah secara radikal.
Paulus mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus. Saulus, si penganiaya murid-murid Tuhan Yesus, diubahkan Tuhan menjadi Paulus, seorang murid Yesus dan rasul yang menjadikan banyak orang menjadi murid Tuhan Yesus. Ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat dan mengatakan bahwa Yesus adalah anak Allah.
Perjumpaan kita secara pribadi dengan Yesus, Pembawa Pengharapan Baru. Perjumpaan itu juga harus mengubahkan kita menjadi murid Yesus. Setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, Pembawa Pengharapan Baru, Paulus berkata:
“Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.”
Kolose 1:28-29
Jadi yang Paulus lakukan setelah dia berjumpa secara pribadi dengan Yesus, Pembawa Pengharapan Baru:
1. Memberitakan Kristus dengan Sekuat Tenaga
Tenaga yang dimaksudkan bukan dengan kekuatan sendiri melainkan dengan kekuatan Roh Kudus yang bekerja dengan kuat dalam dirinya.
2. Tidak Mengejar Keuntungan Bagi Dirinya Sendiri
Semua yang Paulus lakukan ini, dia kerjakan bukan untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan bagi kepentingan jemaat, agar mereka semua dapat bertumbuh secara rohani, serta memimpin mereka kepada kesempurnaan dalam Kristus. Ini adalah semangat untuk memberitakan injil, semangat untuk memuridkan jemaat. Ini adalah semangat untuk menuntaskan Amanat Agung.
Saya mengajak kita semua untuk mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus, Sang Pembawa Pengharapan Baru. Saya percaya kita akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh rasul Paulus. Sesuai dengan 2 Timotius 3:1,
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.”
Maka di tengah-tengah situasi dan kondisi yang tidak menentu ini, dimana prediksi kondisi perekonomian tidak semakin bertambah baik, resesi ekonomi di depan mata dan berita-berita terkait inflasi membuat kita ketakutan dan panik. Ingatlah, Yesus memberikan pengharapan yang baru bagi kita.
Mungkin juga ada di antara kita yang bertanya-tanya, mengapa masalah-masalah datang silih berganti seperti tidak habis-habisnya terutama di tengah- tengah pandemi ini? Dalam hal ini rasul Paulus menjawab dalam Roma 5:3-5,
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Haleluya!!
Juga Roma 12:12,
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”
Di sini diingatkan bahwa dalam setiap tantangan, kesesakan, selalu ada pengharapan. Karena itu kita harus tetap bersukacita, harus sabar dan bertekun dalam doa.
Mari, saya ajak Saudara untuk memperkatakan Roma 8:28,
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, (enak maupun tidak enak), untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Karena itu, kita harus bersukacita dalam pengharapan karena pengharapan dalam Kristus tidak akan mengecewakan.
Tuhan Yesus dalam Markus 4:29 mengingatkan kita bahwa musim menuai sudah tiba, musim menuai sudah tiba. Api Roh Kudus yang dahsyat dari Pentakosta Ketiga sudah dicurahkan. Saya mengajak agar kita semua untuk percaya dan terus berharap kepada Tuhan. Tuhan sedang membersihkan gereja-Nya; dosa-dosa yang tersembunyi sedang dibuka.
Tuhan mau gereja Tuhan menjadi kudus sehingga kebangunan rohani dan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir terjadi. Kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya sudah, sudah sangat, sangat dekat. Waktunya sudah sangat, sangat singkat. Salah satu tanda kedatangan Tuhan adalah kalau Amanat Agung selesai. Tuhan mengingatkan kita bahwa tugas utama kita adalah menyelesaikan Amanat Agung. Kita harus memuridkan.
Perlu diingat bahwa yang bisa memuridkan adalah murid. Karena itu kita semua harus menjadi murid Tuhan Yesus. Sesuai dengan 1 Yohanes 2:6 bahwa murid Tuhan Yesus adalah mereka yang hidupnya sama seperti Kristus telah hidup. Karena hidup sama seperti Kristus telah hidup, maka kita akan menjadi serupa dengan gambar-Nya.
Sekali lagi saya ingatkan bahwa goal kita sebagai orang Kristen adalah menjadi serupa dengan gambar-Nya, menjadi orang yang mempunyai sifat yang serupa dengan Kristus.
1 Korintus 13:13 berkata:
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
‘Kasih’ di sini artinya mempunyai sifat serupa dengan Kristus. Kasih lebih besar dari iman dan pengharapan. Jadi yang paling besar dalam kerajaan Allah adalah mereka yang mempunyai sifat serupa dengan Kristus, yaitu mereka yang hidup saleh dan mengasihi Tuhan, bukan mereka yang besar dengan prestasi lahiriah. Untuk menjadi serupa dengan gambar-Nya, kita harus mempunyai iman yang kuat dan pengharapan yang kuat kepada Tuhan.
Sekali lagi saya ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa hanya mereka yang serupa dengan gambar-Nya yaitu murid Tuhan Yesus saja yang akan masuk sorga.
Waktu kedatangan sudah semakin dekat, mari kita semakin serius untuk mempersiapkan diri kita untuk menjadi murid, menjadi serupa dengan gambar-Nya, sehingga pada saat Dia datang di awan-awan, kita akan ikut dalam pengangkatan dan selanjutnya masuk surga bersama Tuhan Yesus.
Selamat Tahun Baru 2023!
Tuhan Yesus memberkati Saudara semua Berlimpah-limpah. Amin

image source: https://www.pinterest.com/pin/colossians–371406300517907614/

ALLAH BERSUKACITA ATAS KEMENANGAN  KITA

ALLAH BERSUKACITA ATAS KEMENANGAN KITA

TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai (Zefanya 3:17).

Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia telah keluar dari kasih karunia Allah. Di luar Allah tidak ada kehidupan, pertolongan, jaminan dan damai sejahtera. Manusia hidup tersesat, menjadi budak dosa, hidup dalam kutuk dan menuju kepada kebinasaan. Karena kasihNya yang besar, Allah berinisiatif datang ke dunia lahir sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya.

Allah sangat bersukacita dalam mengusahakan kebaikan, memberkati, memulihkan dan memberi kita kemenangan. Orang percaya adalah sasaran kasih dan perkenan Allah yang besar. Ia tidak pernah menyerah terhadap kita, walaupun kita penuh dengan kelemahan dan ketidakmampuan.

Untuk dapat memahami hal ini kita harus melihat dengan cara pandang kekekalan. Dunia cenderung mengukur dan menilai segala sesuatu dari hal-hal yang dapat dilihat, namun orang benar hidup oleh iman percaya kepada Kristus. Jika kita memahami apa yang Yesus sudah lakukan, maka sukacita Kristus di dalam kita menjadi penuh.

Merupakan suatu anugerah yang besar kalau kita telah diampuni dan tidak ditimpa murka Allah. Musuh sudah dikalahkan dan kita dibebaskan dari perbudakan Iblis serta dosa. Si jahat tidak bisa menjamah hidup kita karena Allah melindungi. Tuhan Yesus ada di antara kita sebagai pahlawan yang memberikan kemenangan karena Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.

Imanuel, Allah menyertai kita. Kasih Allah telah dicurahkan di hati kita melalui Roh KudusNya sehingga kita dapat terhubung denganNya melalui persekutuan serta hidup dalam kasih karunia untuk mendapatkan rahmat dan pertolongan pada waktunya.

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yohanes 14:16-17)

Sukacita kita akan mencapai puncaknya bila Allah menyatakan sepenuh kemuliaan dan kebesaranNya di bumi. Yesaya 35:4-10,

Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

a. Tuhan menyelamatkan kita dari cengkraman musuh, oleh sebab itu kita tidak perlu takut dan menjadi tawar hati akibat intimidasi/ tipu daya Iblis. Roh kita telah dibebaskan dari belenggu kuasa kegelapan. Kita telah menjadi anak-anak terang, milik Kristus Yesus.

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.

b. Tuhan memulihkan kehidupan kita secara fisik, mental, jiwa dan rohani. Dialah yang memikul kelemahan dan menanggung penyakit kita (Matius 8:17). Roh Kudus yang adalah sumber Air Hidup, menjadi mata air yang memulihkan hidup kita.

Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ,

c. Kita berjalan di dalam kebenaran dan kekudusan tanpa halangan karena tidak ada orang yang berbuat jahat atau berlaku busuk di Jalan Kudus Tuhan. Kita bisa menikmati hidup dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya karena lahir dari Allah dengan roh dan pikiran yang telah diperbarui firman Tuhan.

dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.

d. Melalui kebenaran dan kekudusan, Allah akan menuntun kita memasuki Sion, kota kemenangan atas musuh-musuh kita (2 Samuel 5:6-7). Kemenangan yang dari Tuhan membuat kita diliputi kegirangan dan sukacita ilahi, duka dan keluh kesah akan menjauh. Sukacita karena Tuhan adalah perlindungan bagi jiwa kita untuk kuat dan cakap dalam menanggung segala perkara.

Allah sangat bersukacita melihat hidup kita diselamatkan dan dipulihkan kembali seperti awal penciptaan. Bangsa Israel dulunya bangsa budak yang tidak berdaya, namun dipilih dan diangkat Tuhan menjadi bangsa yang besar dan ternama di bumi.

Begitu pula kita Israel rohani yang telah dipanggil keluar dari perbudakan dosa. Kita dipulihkan dan dibuat Tuhan menjadi suatu kerajaan imam dan bangsa yang kudus, harta kesayangan Tuhan sendiri (Keluaran 19:5-6) untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar di hadapan segala bangsa.

Allah yang telah menyertai kita di tahun 2022 juga akan menyertai kita di tahun depan. Dia berada di tengah umatNya untuk memberikan jaminan kemenangan dalam menghadapi segala perkara di masa mendatang yang penuh gejolak serta tantangan. Selamat hari Natal, Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://www.kcisradio.com/blog/zephaniah-317-daily-verse/

ALLAH  MENYELAMATKAN  DAN  MENYERTAI  KITA

ALLAH MENYELAMATKAN DAN MENYERTAI KITA

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus , karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:18-25)

Pada mulanya manusia diciptakan segambar dengan rupa Allah. Kejadian 1:26-27

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah melihat segala yang dijadikanNya itu dalam keadaan ‘sungguh amat baik’. Manusia adalah mahluk termulia dari segala ciptaan karena segambar dengan rupa Allah, artinya manusia memiliki karakter dan daya kreatifitas seperti Allah. Oleh sebab itu, Allah memberikan kuasa (dominion) kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan lainnya. Allah mau manusia berkuasa dan mengelola seluruh ciptaan serta menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi.

Allah tidak menghendaki manusia seperti robot yang hanya tunduk kepada perintah tanpa hubungan kasih denganNya. Manusia diberikan free will/ hak bebas untuk mengasihi Allah. Akan tetapi manusia menggunakan hak bebasnya untuk melanggar perintah Allah sehingga jatuh ke dalam dosa. Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan identitas/ kemuliaan Allah serta kehilangan dominion.

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. (Roma 5:12)

Dosa membuat hubungan manusia dengan Allah terputus. Dari generasi ke generasi, manusia hidup di dalam kegelapan, dalam tekanan dan kelemahan, dalam ketakutan, merasa tidak aman (insecure) karena telah kehilangan dominion.

Ketakutan membuat manusia berusaha memenuhi seluruh kebutuhan fisik, mental dan rohaninya dengan kekuatan dan caranya sendiri. Akibatnya memperbudak diri dengan dosa, ikatan, dengan keinginan mata, keinginan daging serta keangkuhan hidup, hidup dalam kutuk dan berakhir dengan kebinasaan. Manusia berupaya menjadi jawaban bagi semua masalah, kebutuhan dan kepuasan jiwanya sendiri.

Jauh dari persekutuan dengan Allah membuat pengertian manusia menjadi gelap, pikirannya sia-sia dan hati menjadi degil/bebal. Manusia yang berjalan dalam kegelapan akan tersesat, tidak mengerti kehidupan yang sesungguhnya, tidak memahami kebenaran serta tidak memiliki jaminan kepastian akan masa depannya.

Dalam kondisi seperti ini, tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri dengan kekuatannya sendiri. Kesalehan, perbuatan baik, beramal/memberi sedekah, kegiatan agamawi, pelayanan, memiliki hikmat dan pikiran yang baik, dlsb tidak akan pernah bisa menyelamatkan. Hanya Allah sendiri yang sanggup menyelamatkan manusia dari kehancuran.

Tujuan utama Yesus lahir sebagai manusia ke dalam dunia adalah untuk menyelamatkan umatNya dari dosa mereka. Nama Yesus (Yeshua/Yosua,Ibrani) yang berarti ‘Yahweh menyelamatkan’ atau ‘Tuhan adalah keselamatan.’ Seperti Yosua di dalam Perjanjian Lama memimpin bangsanya menang atas musuh, Yesus memimpin umatNya menang atas dosa/kedagingan, Iblis, kutuk, dan maut.

JANGAN TAKUT SEBAB ALLAH BESERTA KITA

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. (Lukas 2:10-11)

Yesus Kristus datang sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan, menghubungkan kembali manusia kepada persekutuan kasih dengan Allah dan mengembalikan identitas manusia seperti awal penciptaan (sebelum jatuh ke dalam dosa). Juruselamat diberikan untuk menyertai kita sehingga kita tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan dan tipu daya musuh.

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:14).

Keselamatan di dalam Kristus tidak hanya terbatas kepada pengampunan dosa dan hidup kekal saja, tapi mencakup seluruh aspek kehidupan secara fisik, jiwa, mental dan roh. Selama kita melakukan bagian kita dengan menjaga kesehatan, tubuh fisik kita dalam keadaan sehat, bebas dari bibit penyakit dan kelemahan. Jiwa ada dalam keadaan baik dan aman, penuh damai sejahtera, sukacita, tidak takut dan kuatir. Secara roh kita telah dibebaskan dari kuasa kegelapan/cengkraman Iblis dan hidup dalam terang Tuhan. Secara materi/finansial kita dicukupkan sehingga tidak mengalami kekurangan. Kita tidak lagi hidup dalam kutuk tapi dalam kasih karunia dan berkat sehingga apa saja yang kita lakukan dibuat Tuhan berhasil.

Iman yang didasari kasih kepada Yesus Kristus akan menyingkirkan ketakutan. Iman kepada Kristus mengalahkan dunia serta intimidasi si jahat.
Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1 Yohanes 5:5)

TUJUAN ALLAH MENYERTAI KITA

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

Kita dipilih dan dipanggil bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri, tapi agar kita berjalan dalam rancangan Allah bagi keselamatan seluruh umat manusia. Allah tidak menghendaki seorangpun binasa melainkan beroleh keselamatan. Roh Kudus yang dikaruniakan bagi kita memberikan kemampuan untuk menjadi saksi, memberitakan Injil keselamatan dan menjadikan semua bangsa murid Kristus.

Tahun-tahun ke depan adalah masa-masa yang penuh dengan tantangan tapi Tuhan sudah menguatkan kita dengan firmanNya : Jangan takut dan ragu karena Allah menyertai bahkan sampai kepada akhir jaman.

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:17-20)

image source: https://thebottomofabottle.wordpress.com/tag/1-john-54-5/

JANGAN TAKUT, BIMBANG DAN RAGU

JANGAN TAKUT, BIMBANG DAN RAGU

(Monthly theme : God with us, Allah beserta kita)

Perjalanan hidup di dunia ini di warnai dengan musim-musim silih berganti dan tidak ada yang pasti, kecuali janji Tuhan. Keadaan dunia yang tidak menentu membuat manusia sering merasa takut dan kuatir. Kadang hidup seperti sebuah misteri di mana kita tidak punya kuasa untuk memilih di mana dan kapan kita dilahirkan. Dan suatu saat nanti kita akan meninggalkan dunia ini.

Immanuel (God with us) berasal dari bahasa Ibrani yang artinya El = Allah; Immanu = beserta kita. Allah tidak membiarkan kita sendiri selamanya mencari sebab dan tujuan hidup, mencari awal dan akhir. Dia lahir kedunia untuk menyertai kita supaya siapa yang percaya tidak binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16) Jika orang Kristen masih juga kuatir, ragu dan cemas maka masalahnya ada pada kita yang kurang percaya. Dosa membuat manusia tidak bisa melihat penyertaan Tuhan yang sempurna.
Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (Yohanes 8:34)

Salib merupakan kekuatan Allah, dimana Yesus telah mencurahkan darahNya dan mati untuk penebusan dosa manusia. Inilah sumber penyertaan Allah untuk menguatkan iman kita. Oleh sebab itu, respon yang harus kita berikan adalah bertobat dari dosa.

Janji keselamatan bagi umat manusia telah dinubuatkan dalam kitab nabi Zefanya 3:11;16-20

11) Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus.
16-20) Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan . Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela. Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi. Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN.

Setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita telah diampuni dan tidak akan lagi dihukum karena dosa-dosa kita. Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita memiliki akses menghampiri tahta kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan serta janji-janji Allah karena Darah Anak Domba telah melayakkan kita (Ibrani 4:16)

KEADAAN KITA SETELAH PERCAYA KEPADA KRISTUS

Kita menerima pengampunan dosa (KPR 10:43) dan murka Allah tidak akan menimpa kita (Mazmur 103:10; Roma 5:9). Allah mengaruniakan keselamatan (Efesus 2:8) dari kebinasaan dan menerima hidup kekal, Zoe life, wholeness/not lacking anything (Yohanes 20:31b) serta tidak berada di dalam penghukuman (Roma 8:1).

Kita dibenarkan karena percaya/taat kepada Yesus Kristus (Filipi 3:9). Tidak ada yang dapat menggugat orang pilihan yang telah dibenarkan Allah (Roma 8:33). Iman kita harus berfokus kepada Pribadi Yesus, bukan kepada apa yang dapat Dia perbuat (berkat ataupun mukjizat).

Yesus telah menebus/membeli kita dengan nyawaNya (1 Korintus 6:20) agar kita dibebaskan dari kutuk hukum Taurat, belenggu dosa, maut dan kebinasaan. Seluruh surat hutang dosa yang mendakwa dan mengancam kita telah dipakukanNya pada kayu salib. Sekarang hidup kita bukan milik kita lagi.

Darah Yesus menyucikan hati nurani kita dari segala kejahatan serta perbuatan yang sia-sia (1 Korintus 1:30) supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Firman Tuhan akan membersihkan seluruh hidup kita (Yohanes 15:3) melalui proses pengudusan.

DIBEBASKAN DARI PERBUDAKAN

Orang percaya telah dipindahkan dari gelap kepada terang Tuhan yang ajaib. Iblis sudah dikalahkan dengan kemenangan Kristus secara mutlak di atas kayu salib. God with us artinya kita sudah dibebaskan dari perbudakan Iblis, kutuk dan dosa (Efesus 2:2).

Tuhan Yesus telah mengembalikan kuasa yang pernah jatuh ke tangan Iblis akibat dosa manusia pertama. ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18).
Orang percaya akan hidup dalam pertobatan karena semua yang lahir dari Allah tidak lagi menyukai hidup dalam dosa.
Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. (1 Yohanes 3:9).

Namun demikian selama masih hidup di dunia, iblis masih ada dan bisa menggoda kita dengan tipu daya-nya. Musuh berusaha menjatuhkan serta menarik kita agar keluar dari jalan keselamatan, dari berkat dan rencana Allah. Ia ingin kita agar tetap hidup dalam pikiran/cara pandang yang keliru, penuh dengan keinginan daging, kekecewaan, self-pity, ketakutan, kebimbangan, dlsb.

Tuhan Yesus telah memberikan kuasa dan otoritas bagi kita untuk menang atas Iblis dan hidup benar, menang atas dosa dan hidup kudus, bebas dari kutuk dan kebinasaan.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku..(Markus 16:17a)
Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. (1 Yohanes 5:18).

Sama seperti Yesus mengalahkan tipu daya Iblis dengan kuasa Roh Kudus (Matius 4:1-11), maka kitapun hanya bisa menang jika hidup dipimpin Roh Kudus (Allah beserta kita). Cara untuk mengalami kemenangan atas Iblis dan dosa :

1. Tunduk kepada Allah dan lawan Iblis (Yakobus 4:7)

Saat kita merendahkan hati dengan taat kepada Allah/kehendakNya maka kuasa urapan Roh Kudus bebas mengalir dalam hidup kita. Kita tidak akan takut terhadap intimidasi musuh berupa asumsi,ketakutan, ketidakpercayaan, keinginan-keinginan daging, dlsb. Dengan iman dan kuasa otoritas dari Tuhan Yesus kita usir kuasa kegelapan dalam Nama Yesus dan tundukkan diri kita kepada Allah. Iblis akan lari meninggalkan kita hanya jika kita taat kepada Kristus.

2. Mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah supaya dapat mengadakan perlawanan dan tetap berdiri teguh (baca Efesus 6:11-18).

Berdiri tegap, berikat pinggang kebenaran artinya kita hidup dalam kebenaran dan memiliki integritas ilahi. Matikan keinginan-keinginan daging dengan menyerahkan hidup dipimpin Roh Kudus. Baju zirah keadilan (breastplate of righteousness) di mana kita memiliki sikap hati yang benar, upright standing with God.

Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, yaitu menjadi saksi Kristus (pelaku firman) yang membawa terang Tuhan di manapun. Siap sedia memberitakan firman, baik atau tidak baik waktunya. Kita berani menyatakan apa yang salah, menegur dan menasehati dengan kasih dan kesabaran.

Perisai iman artinya iman kita tertuju kepada Pribadi Yesus agar dapat memadamkan panah-panah api (tipu daya, intimidasi) si jahat. Ketopong keselamatan, kita mengenal identitas dalam Kristus sehingga tahu apa yang Ia sudah lakukan bagi kita.

Kita lawan musuh dengan Pedang Roh yaitu Firman Tuhan yang diwahyukan/di munculkan Roh Kudus sehingga menjadi rhema dalam hidup kita. Dalam segala keadaan senantiasa waspada dan berjaga-jaga dalam doa.

3. Hidup dalam kasih Allah

Hidup dalam kasih membawa kita menikmati kemerdekaan dalam Kristus Yesus. Hidup dalam kasih artinya hidup dalam kebenaran dan saling mengasihi satu dengan yang lain (1 Yohanes 4:16). Dalam kasih tidak ada ketakutan karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18).

Saat meragukan Tuhan, kita tidak hidup dalam hukum kasih maka ketakutan yang akan muncul. Iblis sangat mudah memperdaya orang yang hidup dalam keraguan, ketakutan dan ketidakpercayaan. Jika kita membenci sesama, maka sesungguhnya kita membuka celah sehingga musuh masuk dan mengacaukan hidup kita. Kalahkan musuh dengan hidup mengasihi Allah dan sesama.

Orang percaya ada dalam payung perlindungan Darah Anak Domba. Sesungguhnya Iblis tidak berkuasa untuk memperbudak selama kita tidak membuka celah. Ia hanya bisa menipu kita dengan dusta dan intimidasi yang membuat kita ragu, tidak percaya, takut, kecewa, tidak taat serta rupa-rupa keinginan.

Jangan takut, bimbang dan ragu sebab Allah beserta kita. Jangan mau hidup dalam dusta Iblis dan dalam ketakutan karena kita sudah menjadi anak-anak Allah dalam Kristus Yesus. God with us – Roh Kudus yang berdiam di dalam kita memberikan kemampuan untuk melawan Iblis, menolak dosa, hidup dalam kemerdekaan sejati, dan hidup dalam berkat yang berkelimpahan. Kalau Allah beserta kita, siapakah yang akan menjadi lawan kita? Tidak ada!

image source: https://thesonofgod.org/2019/01/24/what-does-john-316-mean/

PESAN PROFETIK UNTUK SEMUA

PESAN PROFETIK UNTUK SEMUA

RENUNGAN KHUSUS

Kebanyakan orang beranggapan bahwa kehidupan yang profetik hanyalah bagi orang dari pelayanan tertentu saja, misalnya para pendoa, pelayan pujian dan penyembahan, serta pengkhotbah. Bahkan, ada yang menganggap bahwa kehidupan yang profetik adalah kehidupan yang (terlalu) “nge-roh”, dan tidak semua orang dapat hidup seperti itu. Apakah benar bahwa kehidupan yang profetik atau bernuansa kenabian hanya untuk pelayanan tertentu saja? Apakah gaya hidup yang “ngeroh” tersebut masih relevan saat ini?
Karunia profetik sendiri adalah pemberian dari Tuhan kepada seseorang supaya ia dapat melayani pekerjaan Tuhan. Seorang imam perlu dipenuhi oleh Roh Allah, supaya dapat mengerti apa yang harus dilakukan untuk mengerjakan panggilan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Tuntunan Roh akan memastikan seseorang melakukan pekerjaan Tuhan dengan tepat sasaran dan sesuai dengan kehendak Allah.
Nadab dan Abihu, putra Harun, pernah membawa api asing karena melakukan pekerjaan Tuhan dengan cara yang tidak sesuai prosedur. Hal tersebut menandakan bahwa mereka melayani Tuhan tanpa pimpinan Roh Allah (dengan kekuatan dan pemahaman sendiri). Narasi api asing ini memperlihatkan kepada kita bahwa seorang imam yang melayanipun belum tentu hidup secara profetik. (Imamat 10:1-2)
Jadi, apakah makna kata ‘profetik’ itu? Profetik berasal dari kata dasar prophet yang artinya nabi. Kata ‘nabi’ sendiri berasal dari bahasa Ibrani navi/nabiy (נָבִיא) yang diadaptasi ke dalam bahasa Yunani prophetes (προφήτης) yang berarti juru bicara (spokesman). Seperti makna dari bahasa aslinya, nabi adalah penyambung lidah Allah bagi umat-Nya melalui kata-kata nubuatan.i Suara kenabian (prophetic utterance) dapat berupa teguran, penghiburan, peringatan, nasihat, dan pesan Allah terkait apa yang akan Tuhan kerjakan di masa depan. Sehingga, profetik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan fungsi kenabian.
Berangkat dari pengertian itu, maka gaya hidup yang profetis dapat diartikan sebagai kehidupan yang senantiasa terkoneksi dengan Allah, menangkap suara-Nya, dan menyampaikan-Nya kepada orang lain. Tujuannya adalah supaya kehendak Allah dapat laksanakan oleh suatu komunitas.
Sebagai spirit-filled believers, perlu menyadari bahwa apa pun profesi dan panggilan yang Tuhan berikan kepadanya, itu adalah sebuah pekerjaan Tuhan. Ada nilai ibadah dan pelayanan di dalam setiap pekerjaan atau panggilan Tuhan di dalam kehidupan orang percaya. Saat Insan Pentakosta sedang merawat pasien, mengajar sebagai guru, atau membersihkan ruangan sebagai cleaning service, di saat yang sama, ia pun sedang melayani pekerjaan Tuhan yang tidak kalah profetisnya dengan pelayanan di gereja. Sehingga, dalam menjalani panggilan Tuhan melalui profesinya, Insan Pentakosta pun harus hidup secara profetik.
TIGA ALASAN ATAS URGENSINYA KEHIDUPAN PROFETIK
1. Perlunya Tuntunan Roh Kudus
Untuk dapat menang atau sukses dalam pekerjaan Tuhan, apa pun profesi kita, mutlak perlu adanya tuntunan profetik dari Allah. Misalnya, saat kita mengalami berbagai kendala di marketplace; Roh Kudus dapat menyediakan hikmat untuk menerobos penghalang-penghalang tersebut. Roh-Nya mampu memberikan ide kreatif atau mengingatkan kita akan hal-hal yang perlu kita benahi dari diri kita, supaya terobosan terjadi.
Contoh lain adalah saat harus mengambil keputusan dalam berbagai aspek hidup kita, misalnya memilih jurusan saat mendaftar kuliah. Dunia dapat memberi beribu pertimbangan dan pengetahuan untuk kita dapat mengambil keputusan. Namun, hanya melalui Roh-Nya saja kita dapat memperoleh hikmat untuk mengelola semua pertimbangan dan pengetahuan tersebut supaya mampu mengambil keputusan yang baik, berkenan, dan sempurna, yaitu sesuai dengan kehendak Allah (1 Raja-raja 3:9), termasuk dalam memilih jurusan kuliah yang tepat.
Semua bentuk dan manfaat dari tuntunan Roh Kudus ini hanya dapat kita peroleh jika kita hidup secara profetik. Tanpa kehidupan yang profetik, kita akan sulit atau bahkan gagal (miss) untuk menangkap apa yang menjadi kehendak Allah melalui tuntunan Roh Kudus. Boleh dibilang, hidup yang tidak profetis adalah hidup yang tidak mengandalkan tuntunan Roh Kudus.
2. Komunitas Kita Perlu Suara Tuhan
Tidak kebetulan kita bekerja atau bersekolah di suatu tempat. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita melihat hal yang salah dalam komunitas kita. Seperti Yeremia, sebagai orang yang mengerti kehendak Allah atas orang Israel, ia tidak sungkan menegur bangsanya dan menyampaikan hal-hal yang tidak populer pada waktu itu, yaitu kekudusan. Tuhan pun mau kita berani untuk menyatakan kebenaran dan meluruskan hal-hal yang salah dalam komunitas di mana kita berada.
Perlu adanya hikmat dan keberanian untuk kita dapat menyampaikan kerinduan dan teguran Allah bagi orang yang tidak mengenal-Nya. Kehidupan profetik juga menyediakan hikmat dan keberanian ini. Roh Allah akan memberikan desakan ilahi untuk berani mengambil sikap meskipun itu suatu pilihan yang langka di komunitas kita. Misalnya, di tengah maraknya tren FWB (friends with benefit) hari-hari ini, Insan Pentakosta yang memiliki hidup profetik akan berani berkata ‘tidak’ terhadap gaya hidup ini.
Contoh lainnya, pemercaya yang hidupnya profetis akan berani menegur rekan kerjanya yang korupsi atau teman kuliahnya yang gemar rebahan dan malas-malasan. Insan Pentakosta akan mampu memilih timing dan cara yang tepat dalam menyampaikan suara kenabian tersebut, yaitu dengan cara dan kata-kata yang membangun, menasihati, dan menghibur alih-alih menghakimi. (1 Korintus 14:3)
3. Menghadapi Tipuan Dunia
Perlu adanya kemampuan untuk dapat membedakan yang palsu dari yang asli, dalam berbagai konteks kehidupan. Seseorang dengan gaya hidup profetis akan memiliki karunia untuk membedakan roh. Secara spiritual, Roh-Nya akan memberikan kepekaan dan ketajaman supaya tidak mudah tertipu oleh si Penipu Ulung. Seperti Petrus yang membongkar persekongkolan Ananias dan Safira, demikian pula Roh-Nya akan memberikan hikmat kepada kita supaya terhindar dari tipuan, bahkan menguak tipuan itu. (Kisah Para Rasul 5:1-11)
Jadi, jelas bahwa kehidupan yang profetik adalah kebutuhan bagi semua Insan Pentakosta. Kehidupan profetik terbukti tetap dan makin relevan hari-hari ini. Semua pemercaya yang dipenuhi Roh Kudus dapat dan harus hidup secara profetik. Hal ini sesuai dengan konsep yang diusulkan oleh Stronstad dalam bukunya ‘The Prophethood for All Believers’.iii
Hidup yang profetik menyadarkan kita bahwa realitas yang kita hadapi bukanlah sekedar kenyataan jasmaniah saja, tetapi ada pula realitas rohani yang tidak kelihatan; namun tidak kalah nyata. (Ibrani 11:3)
Supaya kita memperoleh gambaran utuh dalam mengerjakan panggilan-Nya, kita perlu senantiasa hidup secara profetik. Tuntunan Roh Kudus yang kita peroleh dari kehidupan profetik akan menolong kita berhasil di dimensi rohani dan jasmani atas suatu perkara.
Mulailah membangun kehidupan yang profetik dengan memiliki kehidupan doa, pujian, penyembahan, dan perenungan firman yang rutin. Allah akan melatih kita mendengar suara-Nya yang lembut untuk menuntun kita menjalani kehidupan selama ada di dunia. Ada waktunya Tuhan juga akan menitipkan suara kenabian kepada kita, supaya ada perkataan Tuhan yang dilepaskan dan merubah kondisi komunitas kita. Maukah kita terlibat di dalamnya?

image source: https://besharpened.com/hebrews-113/

KETAATAN – MELAKUKAN KEHENDAK BAPAKU

KETAATAN – MELAKUKAN KEHENDAK BAPAKU

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Matius 7:21)

Ketaatan itu sesungguhnya sederhana, tidak rumit. Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa melaksanakan kehendak Bapa-Nya yang di sorga merupakan suatu syarat untuk memasuki Kerajaan Sorga. Sedangkan Keselamatan itu adalah kasih Karunia, suatu pemberian Allah, bukan karena usaha kita. Jadi mengapa kita harus taat kalau kita sudah diselamatkan?

Kita diselamatkan saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Menerima Yesus berarti kita mau menerima gaya hidupNya yang dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.(Filipi2:8)

Keselamatan hanya dapat diperoleh dalam ketaatan kepada Tuhan. Saat kita percaya dan menerima Dia, kita menjadi seorang hamba, ‘tanpa kehendak’ dan siap melakukan kehendak tuanNya. Namun, banyak orang Kristen mengira keselamatan bisa diperoleh tanpa taat melakukan kehendak Bapa.

Setiap orang Kristen harus merenungkan Firman Tuhan agar roh dan pikiran nya di terangi. Karena kehidupan yang lama dalam kegelapan hanya ingin melakukan keinginan keinginan untuk memuaskan hawa nafsunya yang menghancurkan.

Karena keinginan manusia yang membutakan sehingga orang cenderung mengelak/menghindar untuk mengetahui kehendak Tuhan, apalagi melakukannya. Keinginan dalam hati manusia seringkali mengalahkan keinginan untuk menaati Allah. Ketidaktaatan artinya kita lebih mengasihi diri, orang lain atau sesuatu lebih dari Tuhan.

Kebanyakan orang maunya mengikuti keinginannya sendiri, hidup sesuka hatinya, tidak mau diatur dan menaati Allah dilakukan karena terpaksa (takut akan sanksi/hukuman). Ketaatan tidak bisa dipaksa. Ketaatan karena terpaksa atau takut, hanya akan bertahan sementara. Taat pada Tuhan adalah buah dari hati yang mengasihi dan menghormati Tuhan
Selain hubungan kasih, ketaatan merupakan landasan penting agar kita dapat berjalan bersama DIA dan melakukan kehendakNya.

Yang terpenting bukan seberapa banyak pelayanan atau korban yang kita berikan. Yang Tuhan inginkan adalah ketaatan kita kepada-Nya. Mengapa kita perlu taat ? Karena kita adalah orang asing di dunia (Mazmur 119:19), untuk itu perlu pemandu supaya tidak tersesat. Ketaatan akan petunjuk Tuhan itu sangat diperlukan. Jadi yang perlu taat itu adalah kita, bukan Tuhan yang harus menuruti kemauan kita.

Yesus memberikan teladan yang mulia dan sempurna, yang mana IA sendiri sebagai Anak memilih taat kepada BapaNya.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:5-11)

Ketika kita terus mengalami pembaruan budi oleh firman Tuhan, maka pikiran dan perasaan kita selaras dengan pikiran dan perasaan Kristus Yesus. Pikiran dan perasaan yang bagaimana? Pikiran dan perasaan yang berfokus kepada Pribadi Bapa dan kehendakNya.

Tanpa ketaatan, kita pasti tersesat. Kita taat karena kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang baik. Kita menuruti kehendak Bapa karena kita tahu dan percaya bahwa apapun yang terjadi sekalipun yang tidak enak, pasti IA merancangkan yang terbaik (Yeremia 29:11). Jangan menilai Kristus menurut ukuran dan pemikiran sendiri. Rancangan dan jalan Tuhan jauh lebih tinggi dari rancangan dan jalan kita. Bagian kita adalah belajar taat walaupun kadang tidak mengerti apa yang akan terjadi di depan. Percayalah bahwa langkah-langkah orang benar sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Bagaimana kita dapat memiliki ketaatan?
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. (Ibrani 5:8) Ketaatan tidak didapat secara instan atau otomatis, melainkan merupakan proses pembelajaran dalam hidup yang harus diperjuangkan.

Langkah-langkah untuk belajar taat :

1. Belajar mendengarkan.

Tetapi jawab Samuel: ”Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. (1 Samuel 15:22).

Bagaimana kita mau taat, kalau kita tidak tahu perintah Tuhan? Bagaimana tahu perintah Tuhan, kalau kita tidak mendengarkan? Mendengarkan itu berarti memberikan perhatian penuh. Mendengarkan perintah Tuhan berarti memberi perhatian penuh pada firman Tuhan dan ada penundukan diri (Mazmur 119:105). Roh Kudus memunculkan/mengingatkan firman, kita renungkan, minta Ia memberikan pewahyuan/pengertian. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

2. Belajar rendah hati.

Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. (Mazmur 25:8-9).

Kunci ketaatan adalah kerendahan hati, di mana kita menempatkan/memposisikan diri lebih rendah atau di bawah dari pribadi yang kita taati. Yesus Kristus adalah role model ketaatan yang sempurna. Dalam keadaanNya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri dengan mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia dan taat sampai mati di kayu salib.

Jangan sombong, merasa lebih tahu, lebih bisa, lebih kuat, serta membangun kebenaran diri sendiri. Jika kita bersikap seperti itu, maka tidak mungkin bisa taat. Tempatkan Tuhan dan firmanNya lebih penting serta menjadi yang terutama di atas kehidupan kita.

3. Belajar memahami dan menyesuaikan.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Matius 26:39,42)

Dari ayat di atas terlihat bahwa Yesus tidak hanya memahami kehendak Bapa, namun juga belajar menyesuaikan kehendakNya dengan kehendak Bapa. Seringkali seseorang memahami firman Tuhan, namun tidak mau menyesuaikan hidupnya, tujuan serta prinsip hidupnya dengan firman Tuhan. Belajarlah memahami apa yang Tuhan mau, kemudian menyesuaikan diri dengan kehendakNya.

Ketaatan adalah jalan iman, jalan serupa dengan Kristus dan jalan di dalam pengudusan. Iman yang terbesar bukanlah iman untuk memindahkan gunung atau mengadakan mukjizat, melainkan iman untuk taat secara total kepada kehendak Allah. Pada hakekatnya ketaatan itu adalah sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus Kristus. Allah sangat berkenan kepada orang yang taat kepadaNya dalam situasi sulit sekalipun. Ketaatan merupakan harga yang mutlak jika seseorang ingin mengalami penggenapan janji Tuhan.

Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya. Bila ketaatan sudah menjadi gaya hidup seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan.

Ketaatan adalah demonstrasi kasih kita kepada Tuhan (1 Yohanes 5:3). Fokus ketaatan kita hanya tertuju kepada Tuhan. Gaya hidup dalam ketaatan akan menumbuhkan karakter Kristus dan membawa kemuliaan Tuhan dalam hidup kita.

Ketaatan merupakan bukti bahwa kita percaya kepada Allah, iman tanpa ketaatan adalah mati. Bila kita percaya kepada Allah, maka kita akan melakukannya tanpa banyak bertanya dan tanpa banyak alasan. Iman percaya kita dibangun karena kasih.

Meneladani Tuhan Yesus, ketaatan membutuhkan proses pembelajaran dan ada harga yang harus dibayar. Ketaatan adalah tanda kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan juga merupakan kunci bagi orang percaya untuk hidup dalam kebenaran dan dalam kelimpahan berkat.

image source: https://www.pinterest.com/pin/kjv-scripture-tlc-creations–436356651382295894/

WAR, A SIGN OF THE END TIMES?

WAR, A SIGN OF THE END TIMES?

“Now as He sat on the Mount of Olives, the disciples came to Him privately, saying, “Tell us, when will these things be? And what will be the sign of Your coming, and of the end of the age?”
And Jesus answered and said to them: “Take heed that no one deceives you. For many will come in My name, saying, ‘I am the Christ,’ and will deceive many. And you will hear of wars and rumors of wars. See that you are not troubled; for all these things must come to pass, but the end is not yet. For nation will rise against nation, and kingdom against kingdom. And there will be famines, pestilences, and earthquakes in various places. All these are the beginning of sorrows.”
Matthew 24:3-8

Many people enter 2022 feeling joyful and full of joy. The year 2021 has been passed with great difficulty amid the second wave of COVID-19 Delta, and in early 2022 the Omicron wave can also be passed well. Churches and COOL have almost all carried out activities onsite while still implementing health protocols. We all look forward to 2022 with new hope, a new spirit and of course with a new paradigm.

But in the midst of this pandemic, it turns out that another problem has arisen that makes many people worried. The conflict between Russia and Ukraine developed into an open war between the two. This war disrupted economic stability in Europe and the United States. One of the direct impacts of this war was the food (wheat) crisis, since Russia and Ukraine are the largest wheat producers in the world. If the war between them does not end soon, then the wheat-consuming countries will look for other foodstuffs and that will certainly disrupt the stability of food security in countries that do not consume wheat. Not to mention that the two countries also have nuclear weapons that are feared to be used if the war situation deteriorates.

Many then ask, “Is the current war part of the sign of the end times? ” The short answer, “Yes!”. From the teaching of the Lord Jesus recorded by Matthew in chapter 24 and also Luke recorded the same thing in Luke 21:10, it is clear that Jesus Himself explained that the various wars that occur from time to time are part of the sign of the end times. To understand this further, there are things that we need to understand first.

“Pandemic as Part of the Sign of the Second Coming of the Lord Jesus” , there are two different stages in the context of Christ’s second coming, namely:
· Church appointments (rapture or parousia) and
· The appearance of Christ in glory (glorious coming)

Both Matthew and Luke record Jesus’ teaching on this subject. But the disciples’ questions at the time showed they had a view that the two events happened simultaneously. That is why Jesus explained to them that the two things are different and have different signs . Of the signs that the Lord Jesus described, some were specific to the Jews, some were for His Church, and some were for everyone.

Pandemics and wars are signs of shock for everyone. Keep in mind it doesn’t mean that every time a pandemic and war strike the Lord Jesus comes, but these events remind us that His coming is approaching.

One of the things that is quite concerning is the statement of the Lord Jesus that the rumors of war, the news of war and ‘the nation rising against the nation’ (which can also be interpreted as the occurrence of a civil war in one country) will occur and be heard everywhere. But all of that has to be viewed as something that will indeed continue to happen. This is actually not surprising because in the previous verses the Lord Jesus Himself said that love will grow cold (Matthew 24:12) and also that misdirection will occur in it is in teaching (Matthew 24:11) that many people turn away from love and God who is nothing but the embodiment of love itself.

TIME Magazine International in the special issue “Y2K”, a special edition entering 2000, says that the 20th century is the bloodiest century in the history of mankind (“the bloodiest century in human history”). The total number of casualties due to the armed conflict that occurred after the Second World War until 1999 was actually far more than the total casualties caused by the First World War and The two are merged. That means even 55 years after the World War ended, other wars were still going on and casualties were still falling; even more.

In the context of ‘nation against nation’, even armed conflict within the same country can be said to be war. Acts of genocide or attempts to eliminate certain ethnicities, usually carried out by opposing ethnicities, also still occur in some places of the world. Even if drawn further, then acts of terrorism can be categorized as war. Entering the 2020s, we are seeing again interracial and class conflicts such as those in the United States with “black lives matters” that also cost lives; and arms conflicts due to ideological differences that occur in Africa, Asia and the Middle East.

This escalation of warfare between nations and ethnicities should not be underestimated. The Lord Jesus Himself reminded that these were signs that His coming was approaching. Yes, the rumor of war is part of the sign of the end times approaching soon.

OUR ATTITUDE TOWARDS THE ROAR OF THE WAR OF THE END TIMES

So how do we respond to the roar of war everywhere?

1. Remain True and Faithful to God (Matthew 24:13; Luke 21:19)
Wars and conflicts occur because love is getting colder. Many people turn away from God who is love itself. The consequence of more and more people distancing themselves from God is increased hostility to those who remain faithful to God. That is why after explaining the signs, Jesus reminded that persecution of believers also occurs.

2. Keep Loving and Do Your Best for Peace to Be Achieved (Matthew 5:9)
The Lord Jesus reminded through His sermon on the mount, that followers of God or children of God, have the characteristic of ‘bringing peace ‘. We keep praying for peace, we say peace and we do what we can to keep bringing peace wherever we are. This is our duty and characteristic as children of God.

[Note: it is very interesting in the next verses, which are 10 and 11, the Lord Jesus raises the question of the persecution suffered by God’s children because of righteousness and because of firm faith in God].

3. Stay Alert and Don’t Be Disturbed (Matthew 25:7)
We do not become afraid or agitated because we know God holds everything and whatever happens in this world, including war, is within God’s control. But we still need to be vigilant. The Lord Jesus taught in the previous chapter that we should be watchful (24:42), ready (24:44) and continue to faithfully do His command (24:46) because His coming is approaching and the Lord Jesus will pick up those of us who believe.

The Lord Jesus is coming soon, let us truly be in Him and do what God wills. Amen.

__________________