Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 2)
MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)

Tuhan Yesus memberikan mandat bagi semua orang percaya untuk pergi, jadikan segala bangsa murid Kristus, baptis dan ajarkan mereka untuk melakukan firman Tuhan. Setiap petobat baru harus tertanam dalam sebuah gereja lokal yang mengajari GAYA HIDUP ORANG KRISTEN/CHRISTIAN LIFE.

Pemuridan adalah sebuah proses pembinaan rohani supaya setiap orang percaya hidup sesuai dengan Firman Tuhan dan mengalami perubahan kebiasaan, tujuan, nilai. Melalui gaya hidup yang baru, kita mengalami pertumbuhan rohani sehingga menjadi murid Kristus yang dewasa/semakin serupa dengan gambar-Nya.

Seseorang yang telah bertobat/lahir baru harus belajar cara hidup yang baru yaitu hidup oleh iman yang berdasarkan firman Tuhan. Gaya hidup orang Kristen sejati memiliki ciri-ciri: membaca Alkitab secara teratur, memiliki kehidupan doa pujian penyembahan setiap hari, beribadah bersama saudara seiman setiap minggu dan hidup yang berbuah.

1. DOA

Doa adalah nafas hidup orang percaya. Melalui doa, hidup kita akan selalu terhubung dengan sumber kehidupan yaitu Tuhan sendiri. Doa harus menjadi gaya hidup, artinya kita berdoa bukan hanya waktu saat teduh saja tapi berdoa setiap waktu dalam Roh (Ef. 6:18). Doa merupakan komunikasi dua arah antara manusia dengan Allah, di mana roh manusia berkomunikasi, memohon, memuji, dan mengakui kebergantungannya kepada Allah.

Doa bukan hanya untuk meminta berkat, memenuhi kebutuhan atau jika ada masalah saja, tapi lebih dari itu, doa adalah panggilan Allah bagi manusia untuk mendatangkan KerajaanNya di muka bumi, seperti doa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada para murid “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” (Mat. 6:10)
Kita berdoa bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga untuk kepentingan Kerajaan Allah. Doa orang benar akan mengubah atmosfir di manapun ia berada.

Ada beberapa bentuk doa :

a. Doa Pribadi :
Dalam doa pribadi kita mengakui dosa/kesalahan yang kita sadari atau yang disingkapkan oleh Roh Kudus. Melalui doa pribadi kita juga dapat menyatakan iman yang sesuai dengan firman Tuhan ataupun menyampaikan permohonan dan ucapan syukur kepada Tuhan (Fil. 4:6).

b. Doa Syafaat :
Merupakan tindakan kasih atas dorongan Roh Kudus untuk mendoakan jiwa-jiwa yang terhilang atau untuk penginjilan, untuk orang lain, orang yang menganiaya kita, Gereja/orang-orang kudus, pemerintah, kota, bangsa, bangsa-bangsa, dlsb.

c. Doa Nubuatan/Profetik.
Merupakan pesan-pesan Tuhan yang diberikan secara khusus untuk didoakan oleh pendoa atau untuk disampaikan kepada umat Tuhan dengan tujuan menegur, memberi peringatan/warning, menasehati, membangun, menghibur, meneguhkan, melakukan peperangan rohani, berjaga-jaga dan memberi arahan.

DOA YANG PENUH DENGAN KUASA

Firman Tuhan mengajarkan tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Doa harus lahir dari iman yang disertai kegigihan/kesungguhan. Doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Berdoalah dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak), fokus kepada Tuhan agar api doa kita dapat menembusi awan kegelapan dan sampai ke tahta Allah. Diperlukan ketekunan dalam berdoa. Tuhan Yesus sendiri memerintahkan untuk tidak jemu-jemu berdoa. Walaupun sepertinya belum ada jawaban, tetaplah berdoa. Orang benar akan hidup karena percaya dan bukan karena melihat. Doa kita pasti dijawab tepat pada waktunya, sesuai cara Tuhan dan bukan menurut pemikiran/ pengertian kita sendiri.

Doa yang penuh kuasa adalah doa yang sesuai dengan firman/kehendak Allah (Yoh. 15:7). Kita berdoa bukan menurut kehendak sendiri guna memuaskan hawa nafsu. Perlu diperhatikan bahwa doa yang bertele-tele/kata-kata yang panjang bukanlah jaminan doa yang dijawab (Mat. 6:7). Doa yang demikian malah membuat doa jadi tidak tepat sasaran. Untuk itu kita perlu memperbarui pikiran/cara pandang sesuai dengan firman agar semakin mengerti kehendak Allah dan berdoa dalam ketepatan.

Miliki motivasi dan sikap hati yang benar dalam berdoa. Kita berdoa bukan untuk pamer dan dipuji orang. Hati yang bersih membuat doa kita dijawab Tuhan. Dan yang terakhir, berdoalah di dalam Nama Tuhan Yesus, agar Bapa dipermuliakan di dalam Kristus.

2. PUASA

Kata puasa nesteia (Yunani) artinya berpantang makan secara sukarela karena manusia hidup bukan bergantung pada makanan namun pada Firman Tuhan (Matius 4:4). Biasanya puasa disertai dengan doa, sehingga disebut doa puasa. Perlu diketahui bahwa orang yang berpantang makan belum tentu berpuasa. Berpuasa yang benar ditandai dengan kesungguhan dalam merendahkan hati, menaikkan permohonan doa, berharap dan bergantung penuh kepada Tuhan.

Cara berpuasa yang benar agar layak dan berkenan di hati Tuhan ditulis dalam Yesaya 58: 3-7, di mana kita tidak sibuk dengan urusan sendiri. Hal ini bukan berarti tidak boleh bekerja dan beraktifitas, tetapi hati kita seharusnya senantiasa melekat, memuji dan menyembah Dia.
Dalam berpuasa, tunjukkanlah kasih kepada sesama dan bersikap saling mengasihi satu dengan yang lain.

Dalam keadaanNya sebagai manusia, Yesus memberi teladan bagi kita untuk berpuasa. Ia merendahkan diri untuk menyatakan kebergantunganNya secara penuh kepada kehendak Bapa.
Selain untuk mencari kehendak Tuhan, berpuasa juga bertujuan membentuk kedisiplinan rohani dan belajar mengendalikan hawa nafsu.

Dengan berpuasa, doa kita semakin dikuatkan karena ada masalah-masalah yang perlu digumuli dengan berdoa dan berpuasa sekaligus (Mark. 9:29). Dengan demikian kita menerima jawaban doa, tuntunan, kuasa otoritas dan berkat rohani sebagai upah dari Tuhan. Berpuasa juga berguna meningkatkan kepekaan rohani kita untuk mengerti pewahyuan dan kehendak Bapa.

3. PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

Allah bertahta di atas puji-pujian umatNya, oleh sebab itu yang seharusnya keluar dari mulut kita adalah pujian dan pengagungan kepada Allah (Maz. 149:6). Kita memuji Tuhan bukan hanya dalam ibadah Minggu saja, tapi setiap hari setiap waktu, dalam kumpulan Jemaah, di tengah bangsa-bangsa dan di mana saja.

Pujian adalah ekspresi kekaguman akan kebesaran dan keajaiban Tuhan. Kita mengungkapkan rasa syukur atas segala yang telah Ia lakukan. Dalam segala keadaan kita mengucap syukur karena Allah layak menerima seluruh pujian dan penyembahan kita. Kita memuji Tuhan dengan suara (nyanyian, sorak-sorai, kata-kata pujian dan proklamasikan kebesaran kasih dan kuasaNya); dengan tangan (mengangkat tangan, bertepuk tangan, dan memainkan alat musik); dan dengan tubuh (berdiri, menari, dan bersujud).

Penyembahan adalah ekspresi kasih, pengagungan dan penghormatan akan seluruh keberadaan Allah. Bapa menghendaki penyembah yang benar, yaitu menyembah dalam roh dan kebenaran. Roh Kudus akan memimpin roh kita untuk hidup dalam jalan kebenaran.
Bentuk ekspresi penyembahan kita kepada Allah dapat berupa Shachah (sujud bertelut dengan dahi menempel di lantai, tiarap dengan sikap penuh hormat); Proskuneo (seperti sikap seekor anjing yang mencium dan menjilat tangan tuannya); dan Latreuo (artinya melayani Allah, segala bentuk sikap dan tindakan yang memuliakan Tuhan).

Pujian dan penyembahan akan memupuk rasa kasih yang dalam antara kita dengan Tuhan. Bentuk penyembahan kasih kita yang tertinggi kepada Allah adalah ketaatan. Pujian dan penyembahan juga memberkati kehidupan kita karena Tuhan tidak pernah menyuruh kita mencari Dia dengan sia-sia (Yes. 45:19b). Dampak pujian dan penyembahan antara lain mendorong pertumbuhan rohani; mengalirkan pengurapan Roh Kudus yang menyembuhkan, melepaskan dari ikatan, memulihkan, menghasilkan mukjizat dan memampukan kita melakukan kehendak Bapa.

Murid harus punya komitmen menjadi pelaku Firman dan rela bayar harga, bukan hanya jadi penonton. Mari terapkan gaya hidup orang Kristen dengan memiliki kehidupan doa, puasa, pujian dan penyembahan. Melalui gaya hidup yang baru, kita mengalami pertumbuhan rohani semakin serupa dengan Kristus dan memuridkan orang lain sehingga menuntaskan Amanat Agung.

image source: https://twitter.com/nivbible/status/1037309608421928960?lang=he

SIAP DI RAPTURE?

SIAP DI RAPTURE?

Iman orang percaya, khususnya Insan Pentakosta diakhiri dengan sebuah pengharapan bahwa Yesus yang datang sekitar 2000 tahun yang lalu, akan datang kembali menjemput gereja-Nya di awan-awan dengan segala kemuliaan-Nya. Pemahaman dan penantian akan janji kedatangan-Nya yang kedua kali menguatkan setiap kita bahwa ada akhir yang indah bagi setiap orang percaya: Yesus menjemput mempelai-Nya untuk masuk ke dalam perjamuan kawin Anak Domba dan memerintah bersama-Nya selama-lamanya.
Untuk itu, Gereja perlu mengerti betul bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti menjelang kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua. Pengakuan iman Gereja Bethel Indonesia berbunyi demikian:

“Tuhan Yesus Kristus akan turun dari sorga untuk membangkitkan semua umat-Nya yang telah mati dan mengangkat semua umat-Nya yang masih hidup lalu bersama-sama bertemu dengan Dia di udara, kemudian Ia akan datang kembali bersama orang kudus-Nya untuk mendirikan kerajaan seribu tahun di bumi ini.”

Kita akan membahas pengakuan iman di atas secara sederhana, dan terakhir kita akan melihat bagaimana pengharapan ini bisa berdampak bagi iman kita.
Istilah ‘rapture’ atau pengangkatan orang percaya adalah peristiwa di mana Tuhan Yesus akan turun dan menjemput orang-orang percaya yang masih hidup atau yang sudah meninggal dan membawa mereka ke sorga. Doktrin pengangkatan ini begitu penting sampai menjadi bagian dari 5 Pilar Teologi Pentakosta atau yang biasa disebut Fivefold Gospel. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan dalam 1 Tesalonika 4:16-17 yang berkata:

“maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.”

Betapa berbahagianya kita yang masih hidup jika didapati oleh Tuhan Yesus setia memegang iman dan ikut diangkat ke awan-awan. Haleluya! Orang percaya perlu mempertahankan imannya sampai akhir, karena hanya mereka yang lebih dari pada pemenang dan kedapatan setialah yang akan diangkat. (Ibrani 10:36-38)
Memang Alkitab tidak memberikan waktu yang spesifik kapan pengangkatan ini akan terjadi. Yesus sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu, hanya Bapa yang tahu, tetapi akan ada tanda-tanda yang mendahului kedatangan Kristus:

Kedurhakaan di antara orang Kristen akan semakin bertambah. Ini berarti dosa akan semakin banyak dan kasih kebanyakan orang akan semakin dingin. (Matius 24:10-12)
Tanda bangsa Israel, yaitu kebangkitan bangsa Israel secara fisik. (Yehezkiel 37:14)
Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan akan hidup seperti zaman Nuh: kawin mengawinkan, hidup dalam pesta pora dan tidak takut akan Allah. (Matius 24:37-39)
Yesus dengan jelas berkata:
“Jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.”
(Matius 24:33)

Kita hari ini sedang menghidupi waktu-waktu akhir…sudah di ambang pintu! Yesus kembali menegaskan untuk berjaga-jaga senantiasa, karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan waktunya. Pengharapan akan kedatangan Tuhan akan membuat orang percaya untuk bertekun di dalam doa, membangun gaya hidup yang intim dengan Tuhan, dan selalu berjaga-jaga. (Matius 24:42)
Sinode GBI menganut pemahaman di mana Yesus akan datang 2 (dua) kali:

Pertama untuk mengangkat orang-orang percaya yang masih hidup dan yang sudah mati,
lalu Yesus akan datang kembali untuk memerintah selama seribu tahun di bumi ini.
Nah, apa yang terjadi di tengah-tengah antara kita diangkat dengan berdirinya kerajaan 1000 tahun di bumi ini? Kita menyebutnya sebagai masa kesusahan besar atau tribulasi. Memang ada perbedaan pandangan tentang waktu pengangkatan atau rapture dari gereja sehubungan dengan tribulasi ini, tetapi kita percaya bahwa gereja Tuhan akan diangkat sebelum masa kesusahan besar itu terjadi.
Masa kesusahan besar ini dipercaya sebagai periode di mana murka Allah seperti yang dilihat Daniel di dalam Daniel 9:20-27 dan hari pencobaan yang melanda seluruh bumi seperti tercatat di Wahyu 3:10. Apa yang terjadi pada masa kesusahan besar ini dijelaskan melalui penglihatan Yohanes lewat 7 Materai, 7 Sangkakala, dan 7 Cawan Murka Allah dalam Kitab Wahyu.
Apa yang dapat kita pelajari dari sini?
Tuhan Yesus akan mulai menghakimi pada hari-hari terakhir dimulai dari gereja-Nya—diawali dengan surat kepada 7 gereja—sampai kepada bangsa-bangsa di dunia. Maka pertobatan adalah respons yang diminta oleh Allah kepada kita semua.
Pada akhirnya, Allah yang adil akan menuntut pertanggungjawaban dari seluruh manusia. Kepada mereka yang masih tidak mau percaya, murka Allah akan dicurahkan secara penuh. Allah mendengarkan doa syafaat dari umat-Nya yang berseru-seru kepada-Nya. (Wahyu 6:10; 8:3-5)
Kepada mereka yang bertobat dan percaya kepada Tuhan, maka Dia berjanji akan menyelamatkan mereka dari murka Allah lewat pengangkatan orang-orang percaya atau rapture. Tentu kita tidak mau berada di bumi ketika cawan murka itu ditumpahkan bukan? Kalau kita perhatikan, ada sekelompok orang yang tidak mau bertobat sekalipun Cawan Murka Allah dan Materai sudah dilepas. Kiranya hal ini tidak terjadi pada kita! (Wahyu 9:20-21; 16:11)
Iman Insan Pentakosta bukanlah sebuah kepercayaan nihilisme di mana pada akhirnya adalah kehampaan dan kesia-siaan. Kita percaya bahwa ada konsekuensi atas setiap perbuatan dan tindakan yang kita ambil hari ini. Karena itu konsep mengerjakan keselamatan menemukan kekuatannya di dalam pengharapan bahwa Allah akan menyelamatkan umat-Nya yang setia dan hidup dalam kekudusan; dari murka-Nya.

1 Petrus 1:15-16 “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

image source: https://www.scripture-images.com/bible-verse/kjv/hebrews-10-36-kjv.php

KITA DIPANGGIL UNTUK MERAWAT BAIT SUCI-NYA DAN MENUAI JIWA (bagian 2)

KITA DIPANGGIL UNTUK MERAWAT BAIT SUCI-NYA DAN MENUAI JIWA (bagian 2)

“dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14)

Setiap orang memiliki kebutuhan untuk hidup secara fisik (seperti makan, minum); secara jiwa musik, membaca, bergaul) dan secara rohani. Bila kebutuhan tersebut tidak dipenuhi maka timbul kekosongan yang membawa orang tersebut pada kematian. Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)

2. HUNGER

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Matius 5:6). Tuhan menciptakan kita sebagai manusia roh untuk memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan terlebih dahulu dan dengan sesama. Namun iblis menipu umat manusia dengan menawarkan hubungan yang semu sebagai ganti luka, penolakan, kesulitan bergaul melalui media digital. Setiap orang yang memiliki smart phone menggantikan interaksi yang sehat dengan Tuhan dan sesama dengan yang palsu. Iblis telah menggunakan technology smart phone (artificial inteligence) untuk mengikat pikiran orang seperti berhala yang diandalkan lebih dari Tuhan.

Ada keinginan untuk memeriksa ponsel kita ketika kita bangun, ketika kita menunggu online, ketika kita berjalan, ketika kita mengemudi. Itu telah mengikat pikiran kita untuk fokus padanya, untuk melihat apa yang dilakukan orang lain via postingan atau main games; surfing internet dlsb.
Dan itu membuat suatu zona nyaman sehingga kita tidak lagi lapar dan haus akan Tuhan.

Kita tidak lagi tertarik untuk membaca Alkitab karena terasa membosankan tanpa video atau grafik, dan semakin sulit untuk berdoa dan fokus kepada Tuhan karena pikiran kita dipenuhi dengan banyak gambar, peristiwa, keinginan untuk tahu lebih banyak tentang orang lain, kekuatiran atau kekayaan yang bisa diberikan dunia. Kita prihatin ketika baterai ponsel kita hampir kosong, tetapi kita tidak menyadarinya ketika sumur rohani kita kering.“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Rasa lapar dan haus akan kebenaran dipuaskan dengan merenungkan dan menerima firman Tuhan masuk ke dalam hati, hingga menjadi rhema yang mengubah hidup kita. Yesus adalah Roti Hidup, dan Ia berkata “..barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yohanes 6:57b).
Dengan berada di hadirat Allah melalui doa pujian penyembahan, Roh Kudus/Roh Kebenaran dan Sumber Air Hidup akan memuaskan jiwa yang dahaga (Yohanes 4:14).

Orang yang memiliki gaya hidup lapar dan haus akan kebenaran akan puas dengan Tuhan, Ia tidak perlu mencari kepuasan dari dunia yang bersifat sementara, entah itu kekayaan materi, pengetahuan, filosofi, selera/hobby, kehormatan, jabatan, kekuasaan, dlsb.

3. HOLINESS

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu , sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16).

Hidup kudus adalah hidup yang dikhususkan bagi Tuhan (1 Pet. 2:9). Walau masih di dunia tapi kita tidak hidup seperti orang dunia hidup. Kita tidak hidup dibawah kendali penguasa dunia tapi menyerahkan diri untuk dipimpin Roh Allah. Hidup dalam kekudusan adalah hidup benar di hadapan Allah. Darah Anak Domba dan firman kebenaran akan menguduskan hidup kita. Orang yang hidup dalam kekudusan tidak akan menunda pertobatan dan pemberesan jika melakukan kesalahan.

Jaga kekudusan pikiran, perasaan, perkataan, perbuatan, pelayanan, hubungan, keuangan dan seluruh aspek hidup kita. Contoh : saat pikiran tidak benar, negatif, asumsi, dlsb segera tolak dengan memperkatakan firman Tuhan, misalnya Filipi 4:8; Kolose 3:2, 2 Korintus 10:5b. Keuangan kita harus kudus, kembalikan apa yang jadi milik Tuhan yaitu persepuluhan. Kudus dalam pelayanan: kita jaga pikiran, buang emosi-emosi negatif, jaga hati, perkataan dan sikap agar seluruh pelayanan kita berkenan dan berdampak bagi orang lain.

Salah satu hal yang membuat kita tidak hidup dalam kekudusan adalah hati yang sulit mengampuni orang lain. Banyak anak-anak Tuhan yang hidup dalam kepahitan, hatinya jadi keras dan kasih menjadi dingin. Orang yang tidak mau mengampuni orang lain akan melampiaskan emosi negatifnya dengan hal-hal tidak baik sehingga menjadi racun bagi diri sendiri dan orang lain.
Be kind and compassionate to one another, forgiving each other, just as in Christ God forgave you. (Ephesians 4:2, NIV).

Tidak ada manusia sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan, termasuk kita. Tuhan Yesus mengajarkan dalam doa Bapa kami,“dan ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Seperti Kristus telah lebih dulu mengampuni kita, maka kitapun wajib mengampuni satu dengan yang lain, termasuk mengampuni diri sendiri.

Pengampunan lahir dari hati yang dipenuhi kasih Allah. Minta selalu haus dan lapar akan Tuhan supaya lubang-lubang di jiwa kita diisi dengan hadiratNya.“Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibrani 12:15).

Memiliki gaya hidup haus dan lapar akan kebenaran adalah salah satu cara kita bertumbuh, merawat dan memperkuat manusia roh kita sebagai murid Kristus. Orang yang haus dan lapar akan Tuhan selalu berusaha hidup dalam kekudusan karena sadar bahwa tubuhnya adalah bait Roh Kudus. Ia akan jaga pikiran, perasaan, perkataan, perbuatan, pelayanan, hubungan, keuangan dan seluruh aspek hidupnya untuk berkenan di hadapan Allah. Minta agar kita selalu diberi rasa haus dan lapar akan kebenaran, maka sesuatu yang ilahi akan muncul dari/melalui hidup kita yang berdampak bagi orang lain.
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tesalonika 5:23)

4. HARMONY

Allah menciptakan kita dengan beragam latar belakang budaya, panggilan, karunia, talenta, karakter/kepribadian dan pendidikan. Perbedaan justru diperlukan untuk saling melengkapi demi terwujudnya kesatuan yang harmonis agar rencana dan kehendak Allah digenapi.

Orang percaya dipanggil sebagai satu tubuh Kristus untuk mengemban tugas Amanat Agung. Gereja adalah sebagai tubuh Kristus dan kita masing-masing adalah anggotanya. Sebuah tubuh tidak akan utuh tanpa memiliki anggota, demikian juga anggota tidak dapat menjadi sebuah tubuh jika tidak mau bersatu dan berfungsi dengan tepat, sebagaimana yang dikehendaki oleh sang pemilik tubuh. Sebagai sesama anggota kita diperintahkan untuk seia sekata, sehati sepikir : saling mengasihi, merendahkan hati, menghargai perbedaan, saling melayani, membangun dan menasehati.

Pada kenyataannya dalam kehidupan berjemaat bisa saja kita saling berbeda pendapat, tapi harusnya itu tidak jadi penghalang untuk mewujudkan unity. Unity bukanlah sekedar keseragaman atau kegiatan yang dilakukan bersama-sama. Ada orang yang bekerja atau melayani bersama-sama bahkan tinggal dalam satu rumah tapi hatinya menentang satu dengan yang lain (antagonis). Hal yang demikian bukanlah unity yang Allah kehendaki.

Unity dimulai dari sikap hati yang mengasihi Tuhan dan sesama. Tiap anggota berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua (Efesus 4: 3-6). Unity menciptakan keharmonisan dalam tubuh Kristus.

Definisi Harmony yang diinginkan Tuhan adalah searah dan senada, bukan berlawanan/bertentangan. Dalam sebuah orchestra, berbagai alat musik yang berbeda dipadukan sehingga tercipta sebuah harmoni di bawah pimpinan seorang conductor. Hasilnya adalah alunan musik yang indah dan dapat dinikmati. Demikian pula tubuh Kristus dengan fungsi, karunia/talenta, kelebihan dan keunikan masing-masing. Semua perbedaan yang ada dipersatukan oleh tali kasih sehingga tercipta keharmonisan dalam tubuh Kristus.

Hiduplah dalam harmoni dengan Tuhan dan sesama. Jika kita tidak setuju, merasa tidak puas atau kurang paham akan sesuatu, bawa segala perkara kepada Tuhan dalam doa. Latih diri kita dengan cara berkomunikasi yang sehat (skill) tanpa berasumsi, saling mencela, menghakimi dan menganggap diri paling benar.

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati. Jangan bersandar pada pengertian sendiri supaya kita diberikan roh pengertian oleh Roh Kudus untuk mengerti kehendak dan rencana Bapa yang besar yaitu menuntaskan Amanat Agung. Kalau hubungan kita dengan Tuhan beres, maka hubungan dengan orang lain juga akan beres karena hati kita dipenuhi kasih Kristus.

Bila anggota semua jemaat mengasihi Tuhan dan sesama, maka unity dan harmoni akan terwujud. Di situlah Tuhan memerintahkan berkat serta membuat berhasil apa saja yang kita kerjakan.

Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun ! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. (Mazmur 133).

5. HARVEST

Dengan menerapkan gaya hidup 4H (Humility, Hunger, Holiness dan Harmony) kita siap menjadi wadah yang dipercaya untuk menuai jiwa-jiwa (Harvest). Gereja yang unity dalam kasih akan menarik banyak orang kepada Kristus. Jiwa-jiwa yang dituai harus dibawa ke gereja untuk dimuridkan. Allah memperlengkapi gereja dengan 5 jawatan untuk kepentingan pelayanan dan membangun tubuh Kristus (Efesus 4:11-16). Melakukan Amanat Agung bukan hanya tugas serta tanggung jawab Gembala Pemimpin dan orang-orang tertentu saja, tapi setiap orang percaya yang adalah anggota tubuh Kristus untuk menjalankan fungsinya sesuai panggilan, karunia dan talenta masing-masing.

“dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Taw. 7:14)

Bagian Gereja adalah merendahkan diri, berdoa mencari kehendak Allah dan hidup dalam pertobatan. Bagian Allah adalah memulihkan diri kita, keluarga dan gereja sehingga ada kesejahteraan kota/bangsa di mana kita tinggal.

Mari bangun, rawat dan perkuat manusia roh kita dengan menerapkan gaya hidup 4H untuk menuai jiwa-jiwa (Harvest) dan menjadikan mereka murid Kristus. Roh Kudus akan memberi pengertian, mengarahkan dan memampukan kita untuk menghidupi pesan Tuhan yang sudah disampaikan selama bulan Agustus, Amen.

image source: https://wiirocku.tumblr.com/post/614108753375133696/leviticus-1144-nkjv-for-i-am-the-lord-your

API ROH KUDUS DARI PENTAKOSTA SEDANG TURUN

API ROH KUDUS DARI PENTAKOSTA SEDANG TURUN

Hari-hari ini kita sedang memasuki era Pencurahan api Roh Kudus dari Pentakosta Ketiga yang dahsyat sudah dimulai.
Apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir?
Apa yang harus kita lakukan untuk membangkitkan Generasi Yeremia yaitu generasi anak-anak muda yang dipenuhi dengan Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa dan akan bergerak memenangkan jiwa?
Apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan Amanat Agung?

Salah satu yang harus kita lakukan adalah berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam.
Seperti yang terjadi pada waktu Pentakosta yang pertama di kamar loteng Yerusalem, maka sebelum Roh Kudus dicurahkan, mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Artinya mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam. Ini adalah prinsip Restorasi Pondok Daud. Ini adalah prinsip Menara Doa.
Selama 10 hari mereka melakukan itu. Dan pada hari raya Pentakosta, terdengarlah seperti tiupan angin keras dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap kepada mereka masing-masing. Mereka dipenuhi dengan Roh Kudus dengan tanda awal mereka berbahasa roh. Setelah itu mereka dipakai Tuhan untuk menyelesaikan Amanat Agung. Haleluya!
Demikian pula pada waktu Pentakosta yang Kedua yang terjadi di Azusa Street pada tahun 1906. William Seymour dan teman-temannya mempersiapkan pencurahan Roh Kudus melalui doa, pujian dan penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam.
Koran Apostolic Faith, Volume 1 No.1 tahun 1906 yang meliput tentang Azusa, mengatakan bahwa cikal bakal Azusa dimulai dengan Menara Doa (Prayer Tower) dan mempelajari Firman Tuhan.
Saya baru pulang dari Amerika Serikat untuk menghadiri acara Pentecost Again Celebration di Azusa Street Prayer Tower (APT) di Gedung Arani Theatre. Seperti kita ketahui APT adalah tempat berdoa atau menara doa dari Pentakosta yang Ketiga untuk Amerika dan dunia. Letaknya di sebuah gedung yang paling dekat dengan tempat yang digunakan oleh William Seymour tahun 1906, di mana terjadi Pentakosta yang kedua. Jaraknya hanya sekitar 15-20 meter.
Pentecost Again Celebration diadakan pada hari Sabtu, 16 Juli 2022. Sehari sebelumnya, yaitu pada hari Jumat, saya bersama rombongan kecil datang ke APT untuk berdoa. Ini pertama kalinya saya berdoa di tempat itu. Pagi hari nya sebelum berangkat, Tuhan menyuruh saya untuk membacakan 2 Tawarikh 7:12-16 di APT. Sebelum membacakan ayat itu, ketika kita masuk ke tempat itu, kami semua dilawat Tuhan secara luar biasa. Saya hampir tidak kuat berdiri dan berpegangan pada tembok. Saya belum pernah merasakan lawatan Tuhan seperti itu meskipun di Yerusalem. Setelah itu, saya mulai membaca 2 Tawarikh 7:12-16.
“Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari dan berfirman kepadanya: “Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagi-Ku sebagai rumah persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.”
Saudara, inilah Third Pentecost Azusa Street Prayer Tower, Rumah Persembahan.
Saya ingat, hal seperti ini juga terjadi saat pentahbisan Menara Doa SICC Lantai 12, di mana pada waktu itu Pak Kim Seng, salah seorang pendoa syafaat di tempat kita, mendapat penglihatan tentang telinga yang besar dan ayat yang Tuhan berikan adalah 2 Tawarikh 7:15-16.
“Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.”
Saudara, Tuhan sudah berikan untuk yang lebih besar lagi, yaitu Third Pentecost Azusa Street Prayer Tower, suatu Menara Doa untuk Amerika dan dunia.
Pada acara Pentecost Again Celebration, kami bertiga yaitu saya, Tim Hill sebagai Ketua Umum Church of God, dan Billy Wilson sebagai Co-chair Global Empowered21 sekaligus Presiden Oral Robert University dan Pentecostal World Fellowship; mengurapi APT. Tindakan profetik ini perlu dilakukan, karena APT ini harus berada dalam suatu naungan yaitu gereja; dalam hal ini Sinode Church of God. Karena itu ada Empowered21 di mana yang akan menemukan jaringan yang akan menyatukan seluruh denominasi yang ada dan itu penting kita lakukan. Dan ini sudah kita lakukan, Haleluya!
APA YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM API TUHAN TURUN?
Pada zaman Elia, orang Israel bertobat karena mereka melihat api Tuhan turun setelah Elia berdoa. Sebelum berdoa, ada 3 hal yang dilakukan oleh Elia:
Elia membuat mezbah yang disusun dari 12 batu yang melambangkan 12 suku Israel.
Ini berbicara tentang unity sesuai dengan Yohanes 17 yang merupakan doa Tuhan Yesus. Dikatakan unity adalah faktor utama untuk terjadinya penuaian jiwa.
Elia mempersembahkan lembu yang dipotong-potong yang diletakkan di atas kayu bakar, di atas mezbah itu. 
Ini berbicara tentang mempersembahkan korban. Sesuai Roma 12:1 dikatakan bahwa:
“persembahkanlah tubuhmu sebagai korban persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Elia menyuruh mengambil 4 buyung yang diisi air sampai penuh. 
Kemudian disiramkan ke atas korban persembahan tadi dan diulangi sebanyak 3 kali. Jadi artinya sebanyak 12 buyung air. Air berbicara tentang sesuatu yang mahal harganya. Mungkin lebih mahal dari emas karena saat itu bangsa Israel sedang mengalami musim kering selama 3 ½ tahun. Ini berarti Tuhan mengajarkan kepada kita harus mempersembahkan sesuatu yang mahal harganya bagi kita. Itu bisa berupa uang, waktu, hobi, harga diri, pengampunan dan lain-lain.
Setelah melakukan 3 hal tadi, Elia berdoa dan berkata kepadaTuhan:
“Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”
Apa yang terjadi setelah Elia berdoa? Lalu turunlah api TUHAN membakar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit habis dijilatnya. Setelah seluruh rakyat melihat hal itu, sujudlah mereka serta berkata: “TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!”
Jadi kalau kita mau melihat api Roh Kudus dari Pentakosta Ketiga yang dahsyat dicurahkan, maka kita harus berdoa seperti Elia berdoa. Di mana kita harus berdoa dengan unity, gereja-gereja harus unity. Kita harus mempersembahkan tubuh ini sebagai korban persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Tuhan. Kita juga harus mempersembahkan persembahan yang mahal kepada Tuhan, apakah itu uang, waktu, hobi, harga diri, pengampunan dan lain-lain.
KEBANGUNAN ROHANI, PENUAIAN JIWA DIMULAI DENGAN PEMURNIAN
“Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.”
Maleakhi 3:1-4
Supaya terjadi kebangunan rohani, maka Tuhan sendiri, yang pada ayat ini disebut sebagai Malaikat Perjanjian akan datang. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Tuhan akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak. Tuhan akan menyucikan orang-orang Lewi, yang dapat diartikan gereja Tuhan, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan. Persembahan mereka akan menyenangkan hati Tuhan seperti yang dulu pernah terjadi.
Kalau kita ingat, awal dari gereja kita GBI Jl. Jend Gatot Subroto ini pada awal tahun 90-an, pada saat itu terjadi kebangunan rohani yang dahsyat. Praise dan worship di Karsa Pemuda membuat banyak orang bertobat, mereka menjadi murid dan dipakai Tuhan secara luar biasa. Tetapi dengan berjalannya waktu, keadaan yang seperti itu mulai memudar. Hari-hari ini kita di era Pentakosta Ketiga, Tuhan mencurahkan api yang memurnikan gereja-Nya supaya hidup mereka benar di hadapan Tuhan. Doa, pujian dan penyembahan mereka akan menyenangkan hati Tuhan seperti yang terjadi pada waktu itu.
Kebangunan rohani, Penuaian jiwa; itu dimulai dengan pemurnian! Memang ini menyakitkan, tetapi hasilnya akan luar biasa. Api Roh Kudus Pentakosta Ketiga sedang turun untuk memurnikan kita, gereja-Nya.
Ketika Paulus dalam perjalanan ke Roma sebagai orang hukuman, kapal yang ia tumpangi dihantam badai yang menyebabkan kapal itu rusak, tetapi 276 penumpangnya selamat karena Paulus. Mereka semua berenang ke pantai dan ternyata itu pulau Malta. Penduduk pulau itu sangat ramah. Mereka menyalakan api besar dan mengajak semua orang ke situ karena mulai hujan dan hawanya dingin. Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya ke atas api, maka keluarlah ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Ketika orang melihat ular itu terpaut pada tangan Paulus, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Orang ini pasti seorang pembunuh, karena meskipun dia luput dari laut, dia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan.” Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan dia sama sekali tidak menderita sesuatu. Mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak, mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat bahwa Paulus seorang dewa. Setelah itu terjadi kebangunan rohani. Dimulai dengan ayah dari Gubernur (bernama Publisius) yang sakit demam dan disentri disembuhkan, kemudian orang-orang yang sakit di pulau itu (Kisah Para Rasul 28:1-9).
Apa yang hendak Tuhan katakan kepada kita melalui kisah ini? Bahwa dengan adanya api yang besar, ular keluar menampakkan diri. Ular mencoba menggigit tetapi justru dikebaskan oleh Paulus ke dalam api sehingga ularnya mati. Ular tadi mencoba menggigit Paulus supaya Paulus mati, tetapi yang terjadi sebaliknya justru Paulus hidup dan ular mati. Dan orang-orang justru menganggap Paulus adalah dewa.
Api yang besar ini berbicara tentang api Roh Kudus yang besar dari Pentakosta Ketiga sedang turun, ini akan membuat ular/Iblis akan menampakkan diri karena tidak tahan dengan panasnya api. Artinya pekerjaannya akan ditelanjangi dan iblis masih mencoba untuk menggigit atau merusak pekerjaan Tuhan, tetapi tidak akan berhasil selama gereja berkarakter seperti Tuhan Yesus. Bahkan pekerjaan Iblis yang merusak akan dihancurkan. Haleluya!
Selama ini mungkin kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang menghambat perkembangan dari pekerjaan Tuhan? Tetapi setelah api Roh Kudus yang besar dari Pentakosta Ketiga sedang turun semuanya akan menjadi jelas. Pekerjaan Iblis akan ditelanjangi dan kita akan tahu dengan jelas apa sebenarnya penyebab dari penghambat pekerjaan Tuhan selama ini.
JANGAN MAIN-MAIN DENGAN TUHAN
Selain hal-hal di atas, Tuhan juga mengingatkan kita untuk melakukan seperti yang dituliskan oleh Daud dalam Mazmur 18:21-27,
“TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak berlaku fasik terhadap Allahku. Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan ketetapan-Nya tidaklah kujauhkan dari padaku; aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.”
Saya mau berpesan kepada Saudara: Jangan main-main dengan Tuhan. Kalau sampai kita dibelat belit Tuhan karena kita berlaku bengkok, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Karena itu, mari, saya akan mengajak Saudara berkata bersama saya: “Tuhan, aku mau berlaku setia! Tuhan, aku mau berlaku tidak bercela! Tuhan, aku mau berlaku suci kepada Tuhan!” Ingat Tuhan Yesus datang segera. Maranatha!

image source: https://mobile.twitter.com/randybriscoe

KITA DIPANGGIL UNTUK MERAWAT BAIT SUCI-NYA  DAN MENUAI JIWA (bagian 1)

KITA DIPANGGIL UNTUK MERAWAT BAIT SUCI-NYA DAN MENUAI JIWA (bagian 1)

“dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14)

Apa yang terjadi di dunia saat ini: Berita tentang perang, bencana alam, kekerasan, wabah penyakit, krisis, memang telah ditulis di Alkitab. Pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar karena kasih kebanyakan orang menjadi dingin, tetapi “Injil kerajaan Allah akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:14)

Gereja dipanggil, dimurnikan dan dipulihkan untuk memberitakan Injil dan menuai jiwa-jiwa.
Untuk menuai jiwa orang percaya perlu memiliki gaya hidup yang rendah hati (Humility), lapar dan haus akan FirmanNya (Hunger), kudus (Holiness), hidup rukun (Harmony) dan kemudian penuaian jiwa terjadi (Harvest).

Tuhan memanggil Gereja untuk menjalankan fungsinya sebagai pemimpin, dalam arti menjadi garam dan terang yang memberi dampak bagi dunia. Walau masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak menjadi sama dengan dunia. Gereja bertanggung jawab membangun tembok perlindungan bagi keluarga, orang-orang kudus, orang yang menjalankan pemerintahan di suatu kota dan bangsa melalui doa syafaat, deklarasi membalikkan keadaan, pujian-penyembahan, memberitakan Injil serta tindakan kasih.

“Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya” (Yehezkiel 22:30).

Gereja telah diberi kuasa dan otoritas untuk mengubah atmosfir di komunitas, kota dan bangsa (Matius 16:19). Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak. 5:16b).

“dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14).

Pesan Tuhan bulan ini menyatakan bahwa untuk memulihkan suatu kota dan bangsa serta menuai jiwa-jiwa, Gereja harus sungguh-sungguh merendahkan diri, bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Gereja di sini mencakup setiap orang percaya, gereja lokal dan gereja global. Gereja bukanlah bangunan secara fisik. Gereja adalah roh, jiwa dan tubuh orang percaya, yang merupakan Bait Suci Allah. Kita telah dibeli oleh darah Yesus Kristus dan menjadi milik Dia seutuhnya.

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Kor. 3:16)

“Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24).

Cara kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran adalah dengan menjalani hidup sebagai pelaku Firman. Roh, jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) dan tubuh fisik kita jujur (terbuka/transparan) di hadapan Tuhan. Jadi ibadah adalah total surrender (jujur/terbuka) di hadapan Tuhan, bukan hanya untuk mendengar Firman atau hanya sekedar kebiasaan beribadah.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup , yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Orang yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran masih bisa berbuat kesalahan karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi ia akan rela merendahkan diri, jujur tentang keadaan dirinya di hadapan Allah serta hidup dalam pertobatan karena hatinya tulus mengasihi Tuhan dan sesama.

Mari persiapkan diri untuk penuaian jiwa dengan merawat dan memperkuat bait Suci Roh Kudus (roh, jiwa dan tubuh), yaitu 5H : Humility, Hunger, Holiness, Harmony dan Harvest.

1. HUMILITY (Kerendahan hati)

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
(Kolose 3:12)

Orang yang rendah hati akan mengakui kedaulatan Tuhan atas hidupnya. Merendahkan hati berarti menanggalkan kebenaran diri sendiri (self-righteous) dan mau bertobat serta mulai mengikuti tuntunan Tuhan. Sikap merendahkan hati bukan hanya di hadapan Allah saja, tapi juga di hadapan sesama karena itu adalah kebenaran. Firman Tuhan dalam Kolose 3:12 memerintahkan kita untuk merendahkan hati,
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Setiap orang percaya dipanggil sebagai satu tubuh Kristus untuk selalu memperlengkapi diri dengan :

Belas kasihan (compassion) yaitu sikap yang menunjukkan kasih dan belas kasihan, tidak menyimpan kesalahan orang lain melainkan melepaskan pengampunan (merciful), sikap peduli (bukan kepo atau ingin tahu urusan orang lain), hati yang lembut dan ramah terhadap orang lain.
Kemurahan (kindness), sikap yang menunjukkan kasih yang teguh/kuat serta tidak berubah, kesetiaan, loyalitas dan kebaikan.

Kerendahan hati (humility), sikap yang mau mengerti orang lain, bisa ditegur/dikoreksi atau diingatkan. Sikap rendah hati mau berjalan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama, siap mengampuni kesalahan orang lain serta sadar bahwa dirinya bukan hal yang terpenting tetapi memperhatikan kepentingan orang lain juga.

Kelemahlembutan (gentleness), sikap yang berbelas kasihan terhadap orang yang lemah, kesabaran terhadap serangan atau perlakuan yang tidak nyaman, bebas dari kebencian dan keinginan untuk balas dendam dan sopan terhadap orang lain. Sifat lemah lembut memiliki hati yang mudah dibentuk (teachable) dan tidak membantah.
Kesabaran (patience), rela bertahan dalam menanggung penderitaan atau ketidakadilan dan tidak terpancing untuk melakukan pembalasan dengan perbuatan negatif.

Lawan dari kerendahan hati adalah kesombongan. Sifat tinggi hati sesungguhnya merugikan bahkan mencelakakan diri sendiri.
Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Amsal 16:18).
Kalau kita tidak bisa merendahkan hati di hadapan manusia yang terlihat secara fisik, bagaimana bisa kita merendahkan hati di hadapan Allah yang tidak terlihat.

Dalam suatu hubungan, sikap merendahkan hati bukan hanya sepihak. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk saling merendahkan hati satu dengan yang lain. Dengan merendahkan hati di hadapan Tuhan dan sesama, kita sedang menjadi pelaku firman dan memenuhi hukum kasih Kristus yaitu saling mengasihi satu dengan yang lain.

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab : “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1 Pet. 5:5b)

Untuk dapat hidup dalam kerendahan hati, tinggallah dalam kasih Kristus. Jadikan Ia sebagai pusat seluruh kehidupan kita agar hati tidak jadi keras dan kasih tidak menjadi dingin. Hubungan dengan Roh Kudus yang selalu dipelihara akan membangun, merawat dan menguatkan manusia roh kita untuk hidup dalam kerendahan hati dan saling mengasihi. Lewat kehidupan doa pujian penyembahan, Roh Kudus mengubah hati yang keras menjadi lemah lembut, memiliki belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati dan kesabaran.

image source: https://www.pinterest.com/babenchrist777/2-chronicles-714/

PROPHETICAL OBEDIENCE

PROPHETICAL OBEDIENCE

RENUNGAN KHUSUS

PROPHETICAL OBEDIENCE

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku
dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”
Yohanes 10:27

Tuhan mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Nya mengenai setiap orang percaya, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh dengan harapan. (Yeremia 29:11)
Tuhan menghendaki umat-Nya hidup sesuai dengan rancangan-Nya, oleh karenanya Tuhan menuntun dengan berbagai cara. Secara umum melalui firman-Nya dan juga secara pribadi melalui suara di dalam hati, suara yang dapat didengar dan berbagai cara lainnya. Pesan-pesan-Nya itu dapat merupakan tuntunan, teguran, atau nasihat. Jadi ini bukan tentang kemampuan manusia untuk mendengar suara-Nya, tetapi tentang kehendak Tuhan memperdengarkan suara-Nya. Mereka yang benar-benar milik Kristus akan senantiasa mendengar dan mengikuti suara-Nya sekalipun tidak sepenuhnya mengerti. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau ada orang-orang yang tidak mau menaati perintah-Tuhan.

MENDENGAR DAN MENGIKUTI SUARA TUHAN
Ada dua contoh tokoh di Alkitab yang mendengar suara Tuhan dan mengikutinya sekalipun tidak memahaminya:
1. ISHAK

Maka timbullah kelaparan di negeri itu. — Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman:
“Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.
Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.”Jadi tinggallah Ishak di Gerar.
Kejadian 26:1-6

Ketika terjadi bencana kelaparan di negerinya, Ishak berniat untuk mengungsi ke Mesir persis seperti apa yang dilakukan Abraham ayahnya dahulu.
Tetapi Tuhan melarang Ishak untuk pergi ke Mesir padahal dulu waktu Abraham mengalami bencana kelaparan, Tuhan tidak melarangnya untuk mengungsi ke Mesir. (Kejadian 12:10)
Dan Ishak menaati firman Tuhan, ia tidak jadi pergi ke Mesir dan tinggal di Gerar. Ishak adalah salah satu contoh tokoh di Alkitab yang mengalami berkat Tuhan yang luar biasa karena ketaatannya mengikuti suara Tuhan sekalipun tidak mengerti. Terkadang kitapun mengalami hal yang sama, ketika menghadapi masalah dan kita mau bertindak menurut apa yang kita pandang baik, tetapi Tuhan mencegahnya. Kita percaya bahwa rancangan Tuhan pasti lebih baik dari pada rancangan kita sendiri.

2. PAULUS

“Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, Tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.”
(Kisah Para Rasul 16:6-7)

Dalam perjalanan misinya yang kedua yang dicatat di Kisah Para Rasul 16 ini, tercatat dua kali Tuhan mengalihkan pelayanan Paulus dan rekan-rekannya.
Pertama, Roh Kudus mencegah mereka memberitakan Injil di Asia (ayat 6).
Kedua, Roh Yesus tidak mengizinkan mereka masuk ke daerah Bitinia (ayat 7).
Padahal Paulus bermaksud untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah baru yang mana sesuai dengan panggilannya yaitu memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi. Tetapi Tuhan memiliki rencana lain yang lebih baik, Dia ingin Paulus ke Troas dan menuntun melalui penglihatan tentang seorang Makedonia. Paulus mengikuti tuntunan Tuhan itu, lalu bersama rekan-rekannya berangkat dan tiba di Filipi, kota pertama di bagian Makedonia. (ayat 9-12)
Demikian juga sekarang, walaupun Tuhan telah memberikan Amanat Agung kepada setiap orang percaya tetapi tidak serta merta kita dapat melakukannya menurut logika kita. Tuhan yang empunya pelayanan akan menuntun sehingga pelayanan pemberitaan Injil itu berhasil. Seringkali kita berusaha melakukan banyak hal termasuk pelayanan dengan pengertian kita sendiri dan tidak melibatkan Tuhan. Kita perlu mendengar suara Tuhan dan mengikuti arahan-Nya.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
(Yesaya 55:8-9)

Hal tersebut berbeda dengan Bileam, seorang yang mampu mendengarkan suara Tuhan, namun tidak menaatinya. Menyalahgunakan karunianya dalam mendengar suara Tuhan untuk mengambil keuntungan pribadi. Walaupun dia sudah mendengar suara Tuhan untuk tidak mengutuki bangsa Israel, tetapi karena imbalan uang, Bileam mengabaikannya, sampai-sampai Tuhan memakai seekor keledai untuk memperingatkannya. Bileam tidak beralih dari kehendaknya sendiri kepada kehendak Tuhan.

CARA MENDENGAR DAN MENGIKUTI SUARA TUHAN
Bagaimana kita dapat mendengar dan mengikuti suara Tuhan?
1. Intim dengan Tuhan

“TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”
Mazmur 25:14

Untuk mendengar suara-Nya kita perlu memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Semakin intim dengan Tuhan semakin mudah kita mendengar suara-Nya. Intim dengan Tuhan adalah cara kita bisa mendengar suara-Nya.

2. Pertajam Kepekaan Rohani

“…Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”
Yesaya 50:4b

Samuel mendengar suara Tuhan sampai tiga kali namun dia tidak mengenali-Nya sampai dia diberi petunjuk oleh Imam Eli. Adalah tanggung jawab orang percaya untuk belajar melatih “pendengaran” kita dalam mendengar suara Tuhan. Mempertajam kepekaan rohani akan menolong kita mendengar suara Tuhan lebih sering dan lebih jelas. Doa, pujian dan penyembahan dan merenungkan Firman, akan melatih kita mempertajam kepekaan rohani.

3. Pikul Salib

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiku.” Matius 10:38

Ketaatan merupakan pengalihan dari kehendak sendiri kepada kehendak Tuhan, di sini diperlukan penguasaan diri yang merupakan buah Roh. Memikul salib akan menolong kita menaati suara Tuhan yang kita dengar.

Sesungguhnya setiap ketaatan selalu mendatangkan berkat, sebab Tuhan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya. (Mazmur 62:13b)

BERKAT APABILA KITA MENDENGAR DAN MENAATI SUARA TUHAN

1. Keberhasilan dan Keberuntungan

“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan Allahmu, akan mengangkat engkau diatas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan Allahmu.”
(Ulangan 28:1-2)

Kita yang rindu untuk mengalami berkat dan pemeliharaan Tuhan harus bersedia ‘membayar harga’ dalam mengikut Tuhan. Karena ketaatan mendatangkan berkat dan ketidaktaatan mendatangkan kutuk. (Ulangan 28:15)

2. Kekuatan dan Perlindungan

“Setiap orang yang mendengar perkataanku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Matius 7:24-25

Ketaatan menghasilkan kekuatan yang besar dalam diri orang percaya sehingga dapat bertahan menghadapi masalah dan pergumulan hidup. Alkitab menggambarkan orang yang taat sebagai orang yang bijaksana.

3. Keselamatan kekal

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Dan Aku memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku.”
Yohanes 10:27-28

Seseorang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus tentunya akan taat kepada perintah-perintah-Nya, menghasilkan buah-buah yang baik dalam hidupnya dan akhirnya mendapatkan keselamatan kekal.

Ketaatan dalam melakukan suara Tuhan digambarkan oleh Tuhan dalam perumpamaan Gembala yang Baik. (Yohanes 10)
Domba adalah binatang yang lemah, mudah tersesat, oleh karena itu selalu terancam marabahaya. Pertahanan seekor domba ada pada gembalanya. Seperti domba yang bergantung kepada gembalanya, kita juga harus selalu bergantung kepada Tuhan. Kita perlu memiliki kerinduan untuk mendengar suara Tuhan dan taat mengikuti perintah-perintah-Nya yang membimbing kita ke jalan yang benar.(JM)

______________________________

image source: https://www.facebook.com/MCGI.org/photos/a.1318826234798194/3042067782474022/?type=3

UJIAN, GODAAN DAN TEGURAN

UJIAN, GODAAN DAN TEGURAN

RENUNGAN KHUSUS

Kejatuhan dalam dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah, yang berdampak luas kepada kehidupan di muka bumi. Kesulitan menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam kehidupan ini. Yesus bahkan memberitahukan murid-murid-Nya bahwa hidup orang Kristen tidak bebas dari penganiayaan.

“Semua ini kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
(Yohanes 16:33)

Di sisi lain, Iblis ingin menghancurkan kehidupan orang percaya lewat pelbagai kesengsaraan, seperti: sakit penyakit, perasaan ditolak, kesulitan keuangan, kehilangan orang yang dicintai, dan masih banyak lagi. Alkitab menggambarkan Iblis “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8)

Semua hal ini pada umumnya sering disebut orang sebagai ‘Pencobaan’. Pencobaan sangat identik dengan kondisi yang tidak mengenakkan. Bahkan seringkali, dengan adanya pencobaan, tidak sedikit anak-anak Tuhan yang marah kepada Tuhan. Mereka menganggap Tuhan itu jahat dengan membiarkan mereka masuk ke dalam kesengsaraan. Bahkan mungkin ada yang mulai tidak percaya bahwa Tuhan itu tidak semaha-kuasa yang dikatakan Alkitab. Kalau Tuhan berkuasa, mengapa pencobaan ini tidak bisa dihilangkan atau segera dikalahkan?

Sering sekali kita mendengar orang berkata apabila mengalami pencobaan, yang penting respon kita harus benar. Jangan sampai salah meresponi atau menanggapinya. Pencobaan akan menghasilkan akhir yang baik atau buruk itu semua tergantung dari respon kita.

Kata ‘pencobaan’ di dalam Alkitab Perjanjian Baru berasal dari kata dasar Yunani, “peirazō”, yang mempunyai dua makna, yaitu: ‘godaan’ (temptation) atau ‘ujian’ (trial/test); ujian bertujuan untuk memastikan apakah sesuatu itu memenuhi kualitas tertentu. Jadi, untuk dapat meresponi pencobaan dengan benar dan keluar sebagai pemenang di Tahun Paradigma yang Baru ini, kita perlu bisa membedakan apa itu tujuan dan sumber dari pencobaan yang kita alami.

TIGA JENIS PENCOBAAN
Ada tiga jenis pencobaan dengan tujuan berbeda yang bisa terjadi dalam kehidupan orang percaya:

1. Pencobaan untuk Menguji dan Memurnikan
Tuhan mengizinkan pencobaan yang seperti ini terjadi atas manusia. Ada ‘sidik jari’ Tuhan di dalamnya. Orang-orang saleh dalam Alkitab mengalami ujian dan pemurnian dalam hidupnya.
Ayub, yang merasa telah ‘mengenal’ Tuhan lewat kehidupan yang diberkati, kemudian dimurnikan oleh Tuhan lewat pencobaan, sehingga pada akhirnya ia dapat berkata,

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
(Ayub 42:5)

Demikian juga dengan Abraham yang diuji untuk mengorbankan Ishak, anaknya yang tunggal dan yang sangat ia kasihi. Abraham hanya dapat mengalami ‘Tuhan menyediakan’ setelah ia lulus dalam ujian ini. (Kejadian 22:14)
Bagaimana respon kita apabila menghadapi pencobaan yang seperti ini? Alkitab berkata:

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
(Yakobus 1:2-4)

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”
(Roma 5:3-5)

Jadi, respon kita adalah tetap mengucap syukur dengan tetap mempertahankan pengharapan kepada Allah, bukan yang lain. Ucapan syukur ini lahir dari hati yang melekat kepada Tuhan dan percaya bahwa “pengharapan tidak mengecewakan”.

Sesungguhnya ujian yang lebih berat terjadi ketika orang diberikan kesuksesan dan berkat oleh Tuhan, seperti dalam kisah Salomo. Dalam kondisi diberkati dengan limpah, apakah mata kita tetap tertuju kepada Sang Pemberi Berkat? Apakah Tuhan tetap menjadi kesukaan kita di atas segalanya?

2. Pencobaan untuk Menggoda Manusia Keluar dari Hukum Tuhan
Pencobaan yang seperti ini berasal dari keinginan manusia sendiri yang melawan hukum Tuhan, seperti yang dikatakan Alkitab:

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:13-15)

Pencobaan dengan tujuan menggoda juga dapat berasal dari Iblis, seperti yang dialami Yesus di padang gurun ketiba Ia “dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” (Matius 4:1-2)

Ada hukum alam dan hukum ilahi yang Tuhan sudah berikan untuk kehidupan kita.
• Jika banyak mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, maka orang akan terkena penyakit jantung koroner.
• Jika tergiur ingin cepat kaya dan melakukan korupsi, maka akan tertangkap oleh KPK.
• Jika terpikat oleh investasi bodong karena dijanjikan keuntungan yang tidak masuk akal, maka akan mengalami kerugian.
• Jika terobsesi dengan pujian, sehingga rela bersaksi dusta, maka akhirnya akan kehilangan kepercayaan dari teman-temannya dan dikucilkan.

Bagaimana respon kita apabila mengalami pencobaan seperti ini? Responi dengan berbalik kepada Allah, lewat pertobatan dan kehidupan baru sebagai manusia rohani, dan juga lawan dan perangi Iblis yang mencoba mengambil keuntungan dari pencobaan ini. Dalam menghadapi cobaan ini, sumber kemenangan kita adalah Yesus, yang “karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibrani 2:18)

3. Pencobaan untuk Menegur Manusia
Tuhan selalu ingin membawa anak-anak-Nya ke jalan yang benar. Untuk itu, Tuhan perlu menegur dan menghajar anak-anak-Nya lewat pencobaan yang tidak mengenakkan, seperti yang dikatakan Alkitab:

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.”
(Ibrani 12:5-8)

“Tuhan berbisik dalam kesukaan kita, berbicara dalam kesadaraan kita,
berteriak dalam penderitaan kita.”
C.S. Lewis, Mere Christianity

Imam Zakharia sempat ditegur Tuhan karena ketidakpercayaannya dan menjadi bisu. Namun pencobaan ini tidak membuat Zakharia keluar dari rencana Tuhan. Saat tiba waktunya, Ia taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya, yaitu menamai anaknya ‘Yohanes’ (Lukas 1:20, 63). Zakharia dipulihkan Tuhan, bahkan dipenuhi Roh Kudus untuk menubuatkan keselamatan dalam Kristus. (Lukas 1:67-80)

Bagaimana seharusnya respon kita terhadap pencobaan jenis ini?
Pertama, sadarilah bahwa hajaran itu menandakan bahwa kita dikasihi oleh Tuhan. (Wahyu 3:19)
Kedua, biarlah dukacita yang terjadi karena hajaran Allah berujung kepada pertobatan dan menghasilkan buah kebenaran. (2 Korintus 7:10; Ibrani 12:11)

Pada akhirnya, respon kita terhadap pencobaan bukan bergantung terutama pada kemampuan kita, melainkan pada kesetiaan Allah. Karena kesetiaan-Nya, pencobaan tidak akan “melampaui kekuatanmu”; Ia akan selalu “memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13). Jadilah pemenang dalam segala pencobaan kita! (RL)

“Saya tidak pernah mengalami pencobaan yang saya ingini,
tetapi saya tidak pernah mengalami pencobaan yang tidak saya syukuri setelah mengalaminya”
Jack F. Hyles.

image source: https://www.bibleverseimages.com/inspirational-bible-verse-10.htm
_______________________________

KEBENARAN FIRMAN YANG MEMERDEKAKAN

KEBENARAN FIRMAN YANG MEMERDEKAKAN

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32)

Ada banyak orang Kristen yang kelihatannya berpengetahuan firman (mengikuti pengajaran, mendengarkan khotbah, dlsb) tapi hidupnya tidak mengalami perubahan (masih hidup dalam dosa dan kebiasaan lama). Hanya menjadi pendengar firman tidak mengubahkan hidup seseorang; tapi percaya yang didemonstrasikan dengan ketaatan kepada firman akan mengubahkan atau mentransformasi hidup karena kebenaran firman yang di terima dengan iman memerdekakan.

Tuhan Yesus menghendaki agar kita bukan sekedar menjadi pengunjung, pengikut atau murid kelas-kelas pengajaran saja, tapi menjadi murid tetap tinggal dalam firman-Nya. Tinggal dalam firman artinya taat kepada firman. Itulah murid Kristus sejati yang akan mencapai tujuan akhir.

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)

Kata ‘firman Kristus’ dalam bahasa Yunani adalah rhēmatos Kristou. Artinya perkataan yang keluar dari mulut Kristus berbicara kepada hati dan jiwa kita, sehingga dengan iman kita dapat percaya. Kemampuan untuk mendengar dan menerima perkataan Kristus hanya dapat terjadi jika kita memiliki hubungan kasih dengan Roh Kudus.

Pada saat kita dengar Firman Tuhan, maka iman akan timbul dan mendatangkan :

PERTOBATAN/REPENTANCE

Kata pertobatan berarti “tindakan mengubah pikiran”. Pertobatan yang sejati bukan sebatas penyesalan atau perasaan bersalah. Pertobatan adalah perubahan pikiran dan tujuan, sikap berbalik arah dari sesuatu yang bukan kehendak Allah kepada perintah dan kehendakNya.

Orang yang bertobat menyadari dan mengakui kesalahannya, mengerti bahwa dosa menyakiti Allah. Sadar bahwa ia perlu anugerahNya untuk mengampuni dosa dan pelanggaran. Pertobatan sejati diikuti oleh perubahan pikiran, hati dan tindakan yang menetap (irreversible) yaitu membenci dosa, meninggalkannya serta berpaling kepada Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Orang yang sungguh-sungguh bertobat tidak mau dengan sengaja menyakiti hati Tuhan. Sebaliknya ia ingin kenal lebih lagi, ada rasa haus dan lapar akan Tuhan, mulai belajar firman dan mau di muridkan. Murid Kristus akan selalu hidup dalam pertobatan.

Demikian pula saat menghadapi masalah atau pergumulan yang berujung jalan buntu dan tidak ada harapan, sikap yang seharusnya kita lakukan adalah bertobat/berbalik dengan segenap hati kepada Tuhan Yesus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Pertobatan membawa kita menemukan jalan keluar atas masalah kita. Jangan berusaha memakai kekuatan sendiri dan mengabaikan Tuhan dalam mengatasi masalah. Orang yang mengandalkan kekuatan sendiri akan semakin frustrasi dan kecewa, kehilangan damai sejahtera dan sukacita. Keadaan jiwa dan fisiknya menjadi semakin letih lesu dan berbeban berat. Mari responi ajakan Tuhan Yesus dengan menghampiriNya dan bertobat.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

PENUNDUKKAN DIRI/SUBMISSION

Seiring dengan bertumbuh dalam firman, kita masih terus belajar untuk taat kepada kebenaran walaupun itu tidak enak bagi daging (flesh) kita. Kita akan mengalami hal-hal di mana pikiran, perasaan dan kehendak kita kurang setuju dengan firman Tuhan. Memang kita telah diberi kehendak bebas untuk memilih, namun Allah tidak menghendaki kehendak bebas tersebut malah menjadikan kita budak dosa/kedagingan. Keinginan daging akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh.

Dibutuhkan kerendahan hati untuk dapat menundukkan diri kepada kedaulatan Tuhan dengan mengakui otoritas dan firmanNya atas hidup kita. Walaupun tidak setuju dengan firman (mungkin karena belum mengerti cara dan jalan-jalan Tuhan), namun kita mau belajar menundukkan diri kepada firman Tuhan. Amsal 3:5 mengatakan “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Ketika kita mau merendahkan hati untuk belajar tunduk kepada firman, maka Roh Kudus akan memberikan pengertian sehingga kita dapat menerima kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kita. Kita dimerdekakan dari pikiran dan cara pandang yang keliru, dari kekuatiran, ketakutan, hawa nafsu, emosi-emosi negative, dlsb.

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Efesus 1:18)

“dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:32)

Belajar adalah suatu proses, di mana Tuhan mendidik hati kita untuk percaya/taat akan firmanNya. Keadaan baik atau tidak baik dipakai untuk membuat kita mengerti bahwa anak-anak Allah harus hidup karena percaya kepada firman, bukan karena melihat.

Saat dididik Tuhan, jangan putus asa bila kita diperingatkanNya. Memang tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tapi dukacita. Tapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12: 5, 11; Amsal 3:11-12).

Jika kita terus belajar menyangkal diri /taat kepada firman, kita pasti mengalami kebenaran yang memerdekakan. Kita taat kepada firman bukan seperti taurat yang mengikat, melainkan jiwa kita yang mengalami kemerdekaan untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus (Gal. 5:16-18).

PENYERAHAN DIRI YANG TOTAL/ TOTAL SURRENDER

Untuk menjadi taat secara konsisten diperlukan suatu proses sampai pada penyerahan diri total di mana kita tidak lagi mempertahankan kebenaran diri, menyalahkan keadaan atau orang lain, melainkan bisa menerima kebenaran firman tanpa perlu memperdebatkannya.

Proses yang Tuhan kerjakan lewat banyak hal di hidup kita membuat kita menyadari bahwa Allah adalah segala-galanya dan hidup kita sangat bergantung dari firmanNya. Kasih setia Tuhan yang kita alami mengajarkan hati ini untuk semakin mengasihi Dia. Mengasihi Tuhan adalah menaatiNya. Dalam kasih yang sejati tidak ada ketakutan, melainkan percaya penuh dan penyerahan diri yang total serta mengakui Tuhan dalam segala aspek hidup kita.

Tuhan mau kita menyerahkan seluruh aspek hidup kita. Seberapa yang kita serahkan/lepaskan, sebanyak itulah yang akan kita terima. Roma 12:1 menasehatkan untuk mempersembahkan (menyerahkan) roh, jiwa dan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan : itulah ibadah kita yang sejati.

Ibadah/mempersembahkan hidup bukan hanya di hari Minggu saja, sementara hari lain kita menjadi sama dengan dunia. Ibadah kita adalah tiap saat, tiap hari, di mana pun dan kapan pun. Penyerahan diri yang total kepada Tuhan akan membawa kita mengalami kehidupan kekal yang berkelimpahan seperti yang Ia janjikan dalam Yohanes 10:10.

“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 10:39)

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:25)

PENUTUP

Hidup dalam pertobatan membuat kita mau merendahkan hati dan berbalik kepada Tuhan. Untuk dapat tunduk kepada firman, Tuhan akan mendidik kita melalui proses sehingga kita semakin mengerti dan mengakui bahwa firman adalah satu-satunya jalan keluar dan jawaban dalam setiap perkara. Kita akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita. Di saat kita dengan tulus hati menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan, maka kita justru menerima hidup yang sejati.

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Galatia 2:20a).

image source: https://dwellingintheword.wordpress.com/2018/01/24/2278-john-831-59/

PROSES SEORANG MURID

PROSES SEORANG MURID

Yesus berkata kepada mereka:”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Matius 4:18-20
Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke segala bangsa guna memberitakan Injil dan memuridkan orang-orang yang belum diselamatkan. Ini adalah pekerjaan yang penting dan sekaligus tidak mudah. Pemberitaan Injil penting karena melalui pemberitaan Injil membagikan keselamatan kekal bagi banyak orang. Jika rasul-rasul tidak pergi dan memberitakan Injil, dunia tidak akan pernah mengenal Juruselamat mereka, dan pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan masuk ke dalam kebinasaan kekal(neraka).
Di sisi lain, pemberitaan keselamatan juga tidak mudah, karena berita keselamatan melalui Yesus akan menyingkapkan bahwa apa yang orang-orang percayai selama ini tidaklah menyelamatkan. Hal itu sensitif, akan menyinggung orang-orang yang meyakini kepercayaannya yang sudah lama. Murid-murid Tuhan perlu pertolongan Roh Kudus untuk menyampaikan pesan dengan hikmat. Roh Kudus akan menolong murid-murid, sehingga hal yang sulit itu dapat dikerjakan dengan baik.
Jauh sebelum mengutus, Yesus memanggil orang-orang untuk dimuridkan sebagai proses persiapan. Mereka diberi pengajaran untuk dapat mengenal Tuhan dan Kerajaan-Nya. Murid-murid harus menjalani kehidupan dalam Kerajaan Allah dan kebenarannya. Ini semua memerlukan proses. Namun Tuhan ingin memastikan bahwa murid-murid siap untuk melakukan tugas yang penting tersebut.
1. Menerima Panggilan untuk Mengikut Yesus
Siapakah murid Kristus itu? Mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus, diperlengkapi dengan Firman dan diberi kuasa untuk melakukan tugas penyelamatan. Pada dasarnya menjadi murid Tuhan adalah suatu kehormatan, namun tidak semua orang mengerti hal itu, khususnya ketika masih baru mengiring Tuhan. Banyak orang muda yang beranggapan bahwa menjadi murid adalah sesuatu yang membosankan karena banyak menekankan hal-hal batiniah. Pandangan itu tidak tepat, karena menjadi murid Kristus adalah kehidupan yang penuh gairah kudus yang akan membawa kepada kepuasan dan kebahagiaan.
Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Dosa mengikat manusia dan membuat orang melakukan hal-hal buruk dan salah berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan berdosa. Ketika percaya kepada Yesus, orang diselamatkan dan dilepaskan dari perhambaan dosa dan menjadi hamba Kristus. (1 Korintus 6:19-20)
Sebagai hamba Kristus, kita perlu memiliki kebiasaan baru yang menyenangkan hati Sang Tuan. Untuk mengubah kebiasaan lama menjadi baru diperlukan proses yang disebut pemuridan. Pemuridan akan membawa kebiasaan baru dalam kehidupan orang-orang yang melakukannya.
a) Tujuan Pemuridan
Pemuridan adalah cara yang Tuhan Yesus pakai dalam mempersiapkan murid-murid-Nya. Mereka dipanggil untuk melakukan suatu tugas yang besar yaitu pemberitaan kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia dari dosa.
Tuhan memanggil mereka untuk mengikut dan diajar sehingga nantinya mereka akan mengalami perubahan hidup dan siap untuk melaksanakan tugas mulia tersebut. Sebagai murid, salah satu aspek yang penting adalah kapasitas manusia roh yang harus dipersiapkan agar dapat menjadi pribadi yang lembut hatinya sehingga mau diajar dan taat untuk melakukan perintah Tuhan. Pemberitaan Injil memerlukan orang-orang yang mau berjuang, bertahan dan terus maju di tengah tantangan dan perlawanan.
b) Hakikat Pemuridan: Perubahan dari Dalam Keluar
Pada dasarnya orang sulit untuk berubah, terlebih lagi ketika usianya sudah dewasa dan berada pada posisi yang merasa benar. Orang tidak merasa perlu untuk berubah, karena merasa tidak melakukan hal yang keliru. Keadaan luar yang menekan dengan keras seringkali dapat menghasilkan perubahan pada seseorang, misalnya orang sadar bahwa olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh, namun malas melakukannya sampai suatu saat jatuh sakit.
Perubahan yang terjadi pada seorang murid adalah perubahan dari dalam keluar dan pada akhirnya hidup sama seperti Yesus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Ketika mendengar Firman, seseorang akan memberi dua macam respon, percaya atau tidak percaya. Kadangkala Firman yang didengar tidak sesuai dengan kehidupannya, orang bisa bergumul dengan Firman tersebut, apakah akan mempercayai atau tidak. Ketika memilih untuk mempercayai Firman, maka akan terjadi perubahan. Semakin banyak Firman yang didengar dan ditaati, akan semakin banyak perubahan di dalam hati yang terjadi. Perubahan di dalam ini akan menghasilkan perubahan yang di luar, pada tindakan orang tersebut.
Simon dan Andreas mendapat panggilan untuk mengikut Yesus. Mereka baru saja mendapat pengalaman yang luar biasa. Setelah semalam-malaman tidak mendapatkan ikan, mereka menaati perintah Yesus untuk menebarkan jala di sebelah kanan. Dan mereka mendapatkan ikan yang sangat banyak, yaitu sebanyak dua perahu. Itu pengalaman yang sangat berkesan, hanya dengan satu kalimat dari Tuhan Yesus, mereka mendapatkan tangkapan ikan yang sangat banyak. Dan ketika Yesus memanggil mereka untuk mengikuti-Nya, mereka langsung meninggalkan jalanya dan ikut Yesus. Mereka melihat kuasa dari ucapan Tuhan Yesus dalam peristiwa itu.
Pada masa sekarang ini prinsip yang sama tetap berlaku, bahwa murid-murid seharusnya bersedia untuk mengikuti pimpinan Tuhan. Sebagai murid, kita tidak dapat memiliki kebebasan menentukan arah langkah hidup kita sendiri. Untuk tujuan hidup yang maksimal, Tuhan akan menuntun kita di jalan-Nya. Bagian kita adalah mengikuti tuntunan tersebut.
2. Bersedia Diajar
Tuhan Yesus menghendaki murid-murid mau mengalami perubahan hidup dari manusia lama menjadi manusia baru. Alat yang Tuhan pakai adalah Firman yang disampaikan terus-menerus. Firman akan memberi input baru, sehingga mereka dapat memilih cara hidup yang baru dibanding cara hidup lama. Kerelaan hati untuk berubah setelah mendapatkan input baru adalah hati yang mau diajar dan dibentuk. Sikap ini sangat diperlukan pada diri seorang murid Tuhan. Tanpa hati yang mau diajar, orang akan terus mengalami pergumulan dalam batinnya ketika menerima Firman.
Simon Petrus adalah seorang nelayan di daerah dekat danau Galilea, ketika memanggilnya, Tuhan Yesus berkata bahwa dia akan dijadikan penjala manusia. Dalam kalimat itu terkandung perubahan yang drastis. Seorang nelayan menjadi seorang rasul adalah suatu lompatan yang sangat besar, diperlukan perubahan dan penyesuaian yang besar pula. Apa yang menjadikan Petrus bisa mengalami perubahan sebesar itu? Jawabannya adalah Firman Tuhan yang didengarnya.
Petrus mendengar Yesus menyampaikan Firman dan sedikit demi sedikit terjadi perubahan dalam diri Simon Petrus. Firman Tuhan berkuasa mengubah hidup manusia dengan catatan orang tersebut membuka hatinya untuk mau diajar dan taat. Hasil dari ketaatan dalam hidup seseorang adalah karakter dan tindakannya akan berubah. Sebaliknya jika ada orang yang tidak mau membuka hati terhadap Firman Tuhan, maka orang itu tidak akan mengalami perubahan. Sebagai contoh Yudas, meskipun mengikut Yesus, ia tidak mengalami perubahan.
3. Bergantung kepada Roh Kudus
Salah satu aspek yang paling penting yang Tuhan Yesus ajarkan adalah kebergantungan kepada Roh Kudus. Tuhan Yesus menjalani kehidupan yang sangat bergantung kepada Roh Kudus. Tuhan juga memberitahu murid-murid untuk melakukan hal yang sama. Ini memerlukan pelatihan dan praktek dalam kehidupan. Murid-murid diajar mengenai mukjizat, melihat Yesus melakukan mukjizat dan akhirnya harus mempraktekkan mukjizat kepada orang yang membutuhkan. Itu tidak dapat dilakukan secara manusiawi, tetapi dapat terjadi jarena pekerjaan Roh Kudus di dalam diri murid-murid. Mereka harus melayani dengan kuasa Roh Kudus. (Kisah Para Rasul 1:8)
Di tengah dunia yang begitu sibuk sekarang ini, Tuhan Yesus terus memanggil orang-orang untuk dimuridkan dan dibentuk oleh Firman dan Roh Kudus untuk menjadi alat-Nya menyampaikan kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum percaya. Murid-murid perlu memberi diri agar Tuhan dapat dengan leluasa membentuk hidupnya sehingga menjadi murid yang efektif di dalam menyelesaikan Amanat Agung. Amin.

image source: https://www.pinterest.com/pin/gospel-of-matthew–368169338280353718/

YESUS ADALAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP

YESUS ADALAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Allah pencipta lahir ke dunia sebagai manusia Yesus NamaNya untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Semua orang telah berdosa dan melupakan hubungannya dengan Allah. Dalam keberdosaannya, manusia tidak memiliki akses untuk kembali kepada Bapa kecuali melalui korban dan manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya tanpa penebusan. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia adalah Allah sendiri yang datang ke dunia menjadi manusia (Yohanes 1: 1,14).

Yesus Kristus adalah seratus persen Tuhan dan seratus persen manusia. Di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kolose 2:9). Pernyataan Yesus tentang DiriNya dalam Yohanes 14:6 merupakan sesuatu yang mutlak, tidak dapat dibantah atau diubah.

A. AKULAH JALAN

Para murid tidak mengerti tentang jalan yang dikatakan Yesus dalam Yoh. 14:4. Tomas berpikir bahwa Yesus akan pergi ke sebuah lokasi fisik yang memiliki alamat, sehingga dengan mengetahui jalannya, mereka bisa turut pergi ke sana. Mereka menanggapi perkataan Yesus menurut pikiran dan pengertiannya sendiri.

Banyak orang memiliki masalah dan pergumulan dalam pernikahan, pekerjaan, keluarga, finansial dsb. Mereka merasa terhimpit, menyerah, tanpa pengharapan lalu berusaha menyelesaikan dengan caranya sendiri, akibatnya tidak menemukan jalan keluar. Mengapa? karena manusia cenderung menilai segala sesuatu menurut pikiran dan cara pandangnya yang terbatas. Apa yang dilihat dan dirasa menjadi dasar untuk membuat keputusan dan bertindak. Manusia cenderung mencari solusi yang tampaknya masuk akal serta cocok bagi dirinya.

Yesus adalah Jalan. Ia tidak memberi jalan tapi Dia adalah jalan itu. Dia adalah pintu bagi manusia untuk datang kepada Bapa; Ia mengajarkan dan memimpin kita masuk melalui jalan itu.
Dialah jalan untuk mengenal kebenaran dan memperoleh hidup kekal.

Untuk masuk dan berjalan di jalan kebenaran dan kehidupan, kita harus hidup karena percaya, bukan karena melihat. Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Maz. 119:105). Firman Tuhan yang kita renungkan akan membarui akal budi kita sehingga kita mengerti kehendak dan cara pandang Allah dalam melihat segala sesuatu.

Yesus adalah pintu masuk kepada keselamatan. Ia memberikan hidup kekal yaitu hidup yang berkualitas (berkelimpahan, Zoe life) serta menyediakan semua yang kita perlukan (seperti domba menemukan padang rumput dalam Yoh. 10:9).

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:9-10)

B. AKULAH KEBENARAN

Yesus adalah Kebenaran; yang telah meletakkan dasar dari segala sesuatu sebelum dunia ini dijadikan. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3).

Kebenaran adalah dasar dari segala ciptaan, hukum rohani (spiritual law), hukum alam (natural law), pemikiran, filosofi, pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science). Dalam perkembangannya manusia menemukan bermacam hukum, hipotesis, teori, postulat, prinsip/azas, penafsiran yang sebetulnya dasarnya adalah kebenaran yang Allah sudah tetapkan.

Orang yang tidak mengenal Allah bisa jadi berpikir bahwa hal-hal tersebut adalah penemuan yang dikembangkan karena kepintaran manusia dan tidak ada urusannya dengan Allah. Padahal Allah yang menciptakan dan menopang segala sesuatu dengan firman kebenaranNya (Ibrani 1:3).
Sangat penting bagi manusia untuk memiliki roh takut akan Tuhan karena itu adalah permulaan segala pengetahuan. Orang yang punya roh takut akan Tuhan akan menggunakan ilmu pengetahuan sejalan dengan kebenaran agar menjadi berkat bagi umat manusia sehingga Allah dimuliakan.

Perlu kita ketahui bahwa ada perbedaan antara kebenaran, pembenaran, fakta/realita dan kepercayaan (belief). Kebenaran berasal dari Allah, merupakan dasar dari segala sesuatu, bersifat kekal tidak berubah dulu sekarang dan selamanya (Ibrani 13:8). Kebenaran adalah Allah sendiri.

Pembenaran adalah perilaku seseorang yang berusaha membangun kebenaran diri sendiri. Fakta atau realita adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Sedangkan kepercayaan (belief) adalah anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar. Keyakinan merupakan suatu sikap yang diambil seseorang, oleh sebab itu keyakinan seseorang bukanlah jaminan kebenaran karena belum tentu benar. Keyakinan bisa berasal dari pendapat diri sendiri atau orang lain, dari budaya, masyarakat atau generasi.

Bagaimanapun juga, fakta/realita dan kepercayaan/keyakinan tidak akan dapat mengubah kebenaran yang sifatnya kekal. Orang yang menerima kebenaran dan hidup di dalamnya akan dimerdekakan dari penghukuman, intimidasi, ketakutan, ikatan, keterbatasan dunia fisik, dusta iblis, penyesatan, kemustahilan dan perbudakan hawa nafsu/keinginan. Untuk mengalami kemerdekaan sejati orang percaya perlu menjadi murid Kristus (Yohanes 8:31-32), bukan hanya pengunjung gereja.

Firman Tuhan mengatakan bahwa dalam diri manusia tidak ada kebenaran (Roma 3:4), oleh sebab itu tidak perlu jadi kecewa jika kita mendapati orang lain berlaku tidak benar. Kebenaran tidak dimaksudkan untuk menghakimi orang lain. Tidak perlu juga membela diri kalau kita difitnah meskipun sudah melakukan yang benar. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang. Kita tidak perlu membela kebenaran karena kebenaran yang akan membela kita (Mazmur 37:6).

A. AKULAH HIDUP

Di dalam kebenaran ada hidup yang menjadi terang kehidupan manusia.
“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya.” (Yohanes 1:4-5).
Jika kita mengenal kebenaran, maka kita akan hidup dalam terang dan kegelapan tidak menguasai kita.

Sesungguhnya manusia tidak memiliki hidup dalam dirinya sendiri. Tanpa Allah manusia hanya sekedar eksis, tapi tidak memiliki hidup. Yang dimaksud ‘hidup’ di sini adalah hidup yang berkualitas, berkelimpahan dan kekal seperti yang dikehendaki Bapa. Yesus memiliki hidup dalam diriNya sendiri (Yohanes 5:26) dan Ia memberikan hidup kepada mereka yang percaya kepadaNya (Yohanes 3:16).

Yesus datang agar kita mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kelimpahan tidak diukur dengan standard dunia tetapi dengan ukuran ilahi karena segala sesuatu di luar Kristus adalah sia-sia.

Banyak orang lebih peduli kehidupan fisiknya tapi mengabaikan kehidupan rohaninya padahal kehidupan rohani bersifat kekal. Mereka merawat tubuhnya demi memuaskan hawa nafsu dan tidak menyadari bahwa pencuri sedang mencuri, membunuh dan berusaha membinasakan hidupnya. Tuhan Yesus bayar dengan harga yang sangat mahal supaya kita memperoleh hidup yang sejati dan berkelimpahan. Ia telah memberikan DiriNya sendiri sebagai korban tebusan.

Hidup yang sejati (Zoe life) akan dialami oleh mereka yang mengejar kebenaran karena kebenaran Firman Tuhan adalah pondasi hidup yang sejati. Kebenaran disini bukan kebenaran diri sendiri (self righteous) atau yang dianggap benar (sekedar opini). Manusia bukan hidup dari roti saja tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

Orang yang mendasarkan hidupnya kepada kebenaran, tidak akan goyah meski menghadapi tantangan atau lembah kekelaman. Kadang terlihat seolah-olah Tuhan tidak berbuat apa-apa, namun Ia tetap bekerja di belakang layar dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengejar kebenaran. Tuhan tidak pernah terlalu cepat ataupun terlambat. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11).

Oleh sebab itu jangan hendaknya kita khawatir akan apapun juga tapi cari dahulu Kerajaan Allah serta kebenaranNya, maka semua akan ditambahkan kepada kita. Orang yang mencari Kerajaan Allah akan menemukan kebenaran. Mereka yang menemukan kebenaran akan memperoleh kehidupan. Ada harga yang harus dibayar untuk mengejar kebenaran, untuk itu diperlukan kerendahan hati, penyangkalan diri dan penyerahan yang total kepada Tuhan.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:25-26)

PENUTUP

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”

Yesus adalah JALAN, barangsiapa yang datang kepadaNya akan menerima HIDUP karena Ia adalah KEBENARAN. Jalan, Kebenaran dan Hidup adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sesuatu yang mutlak, tidak dapat diubah, kekal selamanya.

Roh Kudus akan memberi pengertian dan membawa kita kepada seluruh jalan kebenaran supaya kita mengenal Kebenaran, ada di dalam Kebenaran, dan memiliki hidup yang kekal yaitu Yesus Kristus.

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar; di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (1 Yohanes 5:20).

image source: https://bibleversestogo.com/products/john-14-6-i-am-the-way