Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 2)
KETAATAN MEMBUKA PINTU BERKAT SEJATI

KETAATAN MEMBUKA PINTU BERKAT SEJATI

Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu (Ulangan 28:1-2)

 PENDAHULUAN

Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan menjalankan agenda pribadi, melainkan untuk melakukan kehendak Tuhan di zaman ini, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Untuk itu, kita  lebih dulu diberkati, supaya Tuhan bisa menyatakan diri-Nya kepada dunia melalui kehidupan kita. Jika kita taat kepada perintah-Nya, maka Ia akan mengangkat kita di atas segala bangsa, menjadi kepala, bukan ekor; menjadi agen Kerajaan Allah di mana pun kita ditempatkan.

ISI

  • Orang percaya adalah keturunan Abraham secara rohani karena iman kepada Kristus, dan berhak menerima janji berkat Allah. Ketaatan adalah fondasi mutlak untuk mengalami kehidupan yang penuh dengan berkat sejati. Tanpa ketaatan, kehidupan dan pelayanan kita akan kehilangan nilai dan arah. Tanpa ketaatan, rancangan serta tujuan Tuhan dalam hidup kita bergeser menjadi agenda pribadi dan ambisi yang mencelakakan.
  • Secara sederhana, berkat adalah penyataan kasih, kebaikan, dan kuasa Allah kepada umat-Nya, dengan tujuan untuk memberikan hidup, perlindungan, damai sejahtera, dan kelimpahan. Berkat terbesar adalah keselamatan di dalam Kristus Yesus.

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1:17).

  • Fungsi berkat:
  • Untuk kesejahteraan manusia secara menyeluruh meliputi roh-jiwa-tubuh (berkat rohani, berkat jiwani dan berkat fisik/materi).
  • Untuk melakukan kehendak Allah secara khusus (perintah Tuhan bagi kita pribadi), dan secara umum (menjalankan Amanat Agung, menjadi garam dan terang).
  • Untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain.
  • Untuk kemuliaan Allah.
  • Berkat Tuhan berpusat pada Kristus. Berkat yang berasal dari Tuhan tidak pernah menjauhkan kita dari Dia. Berkat Tuhan tidak dipakai untuk memuaskan hawa nafsu dan hidup dalam dosa. Berkat Tuhan seharusnya tidak membuat kita menjadi sombong dan egois. Orang yang menerima berkat sejati selalu rindu untuk mengalirkannya kepada orang lain. Berkat sejati pasti membawa kemuliaan bagi Tuhan. Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya (Amsal 10:22).
  • Berkat seperti apa yang menjadi bagian orang yang taat?
  • Berkat rohani: keselamatan dalam Kristus oleh iman karena kasih karunia, hati yang baru (hati yang punya kemampuan untuk taat), dipilih dan diadopsi menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, hikmat ilahi, pengetahuan dan pewahyuan firman Tuhan, urapan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, perlindungan dari yang jahat, kemenangan atas tipu daya iblis, kemenangan atas keinginan daging, dlsb.
  • Berkat jiwani: pikiran yang diperbarui oleh firman Tuhan sehingga bisa mengerti perkara-perkara di atas, damai sejahtera, sukacita surga, ketenangan batin, rasa haus dan lapar akan firman dan hadirat Tuhan, kerinduan untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, pemulihan jiwa, dlsb.
  • Berkat jasmani/materi: Kesehatan fisik, kekuatan, semua yang kita butuhkan Tuhan sediakan, karunia natural, talenta, bakat, hubungan, pekerjaan, finansial (kemampuan untuk mengembalikan persepuluhan dan menabur; semua kebutuhan dicukupkan; bebas utang; memberi pinjaman; keberhasilan dalam investasi/usaha), kepandaian, promosi, dlsb.
  • Tuhan perlu melatih kita untuk taat kepada perintah-Nya mulai dari perkara kecil sehari-hari. Perintah Tuhan bisa berupa tuntunan untuk melakukan sesuatu, teguran/koreksi, hikmat, pewahyuan firman yang singkapkan untuk dilakukan, strategi, larangan, dlsb. Latihan ini merupakan pembentukan karakter, sebagai persiapan agar kita sejalan dengan kehendak Tuhan dalam melakukan panggilan-Nya. Hanya orang yang setia yang dapat dipercayakan rahasia Allah.
  • Ketaatan adalah kunci yang mengaktifkan kuasa Roh Kudus. Kapasitas urapan bertumbuh melalui proses dan kedisiplinan. Jika kita setia untuk taat dalam perkara kecil/sederhana, maka Tuhan bisa memercayakan kepada kita perkara besar. Sebaliknya, ketidaktaatan bisa memadamkan/menghalangi urapan Tuhan bekerja dalam kehidupan dan pelayanan kita.
  • Tanpa ketaatan, usaha kita tidak memberi dampak yang signifikan. Keberhasilan sejati bukan hanya ditentukan oleh sumber daya yang kita miliki (misalnya pengetahuan firman, karunia, talenta, finansial, hubungan/relasi, pengalaman, dlsb), tapi oleh ketaatan kita kepada instruksi Tuhan dalam tiap langkah.

PENUTUP

Ketaatan membuka pintu bagi berkat Tuhan untuk mengalir kepada kita dan generasi berikutnya. Ketika seseorang menabur ketaatan, ia menuai hidup yang berkelimpahan, yaitu kehidupan yang terbaik, dan menerima kemuliaan dari Allah saat awal penciptaan manusia (Kejadian 1:26–28). Melalui ketaatan, orang percaya memberi ruang bagi Roh Kudus untuk berkarya secara penuh, dan menuntun setiap langkah sesuai kehendak Tuhan. Selain itu, ketaatan umat Tuhan menjadi sarana bagi semua bangsa untuk menerima berkat keselamatan, menjadi warga Kerajaan Allah, dan bertumbuh sebagai murid-murid Kristus.

TAAT LEBIH BAIK DARIPADA KURBAN

TAAT LEBIH BAIK DARIPADA KURBAN

“Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22b)

PENDAHULUAN

Ketaatan kepada Allah lebih penting daripada ritual keagamaan atau kurban. Ketika Raja Saul melanggar perintah Allah namun mempersembahkan ternak terbaiknya sebagai kurban untuk menutupi perbuatannya, Nabi Samuel menegurnya seraya menegaskan bahwa sesungguhnya Allah menghendaki ketaatan kepada perintah-Nya, lebih daripada kurban sembelihan.

  • Raja Saul memberi kurban tetapi mengabaikan perintah Tuhan, dan Tuhan menolaknya. Kenapa? Karena Tuhan mencari penyerahan hati yang tulus, bukan penampilan rohani. Ia lebih berkenan kepada penyembahan yang benar daripada sekadar persembahan.
  • Ada perbedaan antara penyembahan (worship) dan persembahan (offering), namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Secara sederhana, penyembahan (Worship) adalah perjumpaan roh manusia dengan Allah. Saat mengalami hadirat-Nya, hati kita dipenuhi kasih, pujian, pengagungan, rasa hormat dan tunduk kepada Allah. Kita merendahkan hati dan mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita. Ini bicara tentang penyerahan hati secara tulus dan total, yang dibuktikan dengan ketaatan kepada perintah-Nya.

Persembahan (Offering) adalah pemberian kepada Allah sebagai respons atas perbuatan dan kasih setia-Nya bagi kita. Persembahan dapat berupa ucapan syukur, waktu, talenta, pelayanan,  harta (uang/materi) atau apa saja yang Roh Kudus gerakkan untuk kita persembahkan. Yang terutama adalah mempersembahkan roh-jiwa-tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Persembahan yang benar dan berkenan kepada Allah adalah buah dari penyembahan sejati.

  • Seseorang bisa saja mempersembahkan sesuatu kepada Allah, tapi hatinya jauh dari Dia. …bangsaini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya,  padahal hatinya menjauh dari pada-Ku,  dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan… (Yesaya 29:13).
  • Contoh: giat menabur untuk pekerjaan Tuhan, tapi mengabaikan apa yang Tuhan perintahkan secara khusus untuk dilakukan, misalnya tinggalkan pertemanan/hubungan yang tidak sehat, …atau buang kebiasaan merokok, stop berkata yang sia-sia/negatif, dlsb
  • Contoh lain: memuji Tuhan di mimbar sebagai pelayan mezbah, tapi ada kesombongan dan menganggap diri lebih dari orang lain.  Atau, aktif melayani di gereja, tapi dalam pekerjaan tidak berlaku jujur, serakah, tipu sana-sini, suka memaki, dlsb. Apakah Tuhan berkenan atas persembahan kita? Jawabannya: tidak. Aktivitas rohani tidak bisa menggantikan ketaatan kepada Allah. Melayani di gereja tidak dapat menutupi/menghapus pemberontakan di dalam hati.
  • Banyak orang Kristen menyembunyikan ketidaktaatannya di balik kegiatan pelayanan. Aktif di depan umum, tetapi kompromi di ruang pribadi. Tuhan melihat keduanya; di depan umum dan di balik layar, sama nilainya. Tidak ada gunanya memberi persembahan, melakukan pelayanan, ataupun rajin beribadah tiap minggu jika kita hidup dalam ketidaktaatan.
  • Saul memang melakukan banyak hal dengan benar, namun ia membiarkan sebagian dari perintah Tuhan tidak dilaksanakan demi memenuhi agenda pribadinya. Di mata Tuhan, hal ini dianggap sebagai Ketaatan yang setengah-setengah merupakan ketidaktaatan. Ketidaktaatan adalah penipuan terhadap diri sendiri. Ketidaktaatan mengundang intervensi si jahat untuk menghancurkan hidup kita.

REFLEKSI DIRI: 

  1. Apakah kita memakai pelayanan untuk menghindari pertobatan? Pelayanan dipakai sebagai pelarian dari rasa bersalah? Aktif, tetapi tidak sungguh-sungguh taat? Atau taat hanya di hal-hal yang kita mau saja? Sibuk, tetapi tidak sungguh-sungguh berserah pada Tuhan? Itu berbahaya. Tuntunan bulan ini bukan tentang meningkatkan kegiatan pelayanan secara penampilan, tetapi tentang kejujuran hati di hadapan Tuhan.
  2. Apa hal terakhir yang Tuhan suruh aku lakukan? Sudahkah aku taat? Tanpa ketaatan (changing course), tidak ada kebangunan rohani. Kebangunan rohani tidak terjadi dalam keramaian pertemuan ibadah, deklarasi doa yang hebat, atau suara musik pujian dengan volume keras. Kebangunan rohani terjadi dalam ketaatan kita secara pribadi kepada Allah.
  3. Banyak orang berdoa meminta pintu terbuka, sementara mereka mengabaikan instruksi yang jelas di depan mata. Berhentilah meminta langkah berikutnya, jika langkah sebelumnya belum ditaati. Ketaatan membuka pintu yang belum terbuka hanya dengan doa.

PENUTUP

Ketaatan lebih baik daripada persembahan. Persembahan tanpa penyembahan (penyerahan diri secara total) hanyalah ritual, sedangkan penyembahan tanpa persembahan adalah ungkapan tanpa bukti. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Penyerahan diri sejati menuntut kita melakukan tepat seperti yang Tuhan mau. Jika hati kita tulus dan mau taat, Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

 

KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

KETAATAN ADALAH PERLINDUNGAN

Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki. (Ulangan 5:33)

PENDAHULUAN

Perintah Tuhan bukan sekadar arahan dan larangan/pembatasan, tetapi juga perlindungan bagi kita. Ketaatan kepada perintah Tuhan membawa kita berjalan dalam terang kebenaran serta melindungi kita dari yang jahat. Tuhan membela dan menjamin perlindungan bagi mereka yang hidup dalam ketetapan/perintah-Nya.

ISI

  • Dosa selalu terlihat seolah tidak berbahaya dan menarik di awal, tetapi akhirnya membawa kepada kehancuran. Ketaatan kepada Allah merupakan perlindungan yang kokoh dari tipu daya iblis. Iblis selalu berusaha menggoda kita supaya melanggar perintah Tuhan dan berbuat dosa. Ia memanfaatkan keadilan Allah yang menuntut konsekuensi atas setiap pelanggaran. Ketidaktaatan memberi iblis kesempatan untuk mengajukan tuntutan atas kita.
  • Strategi Iblis yang berpeluang membuat kita tidak taat kepada Allah:
  • Memutabalikkan firman/kebenaran sehingga kita jadi meragukan Tuhan (Kejadian 3:1-4).
  • Menawarkan jalan pintas, kenyamanan, popularitas, kekuasaan, kemewahan dunia dan hal-hal yang memuaskan hawa nafsu (keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup; Matius 4:1-11). Ia memanfaatkan kelemahan, kemalasan, kedegilan, kesombongan, ketidaktahuan kita akan kebenaran/kehendak Allah untuk menyeret kita jatuh ke dalam ketidaktaatan.
  • Menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14) yang menyesatkan manusia dengan cara membuat kejahatan menjadi sesuatu yang tampak normal, logis, seolah membawa kebaikan, tidak mencelakakan, bahkan penyesatan yang dibungkus dengan kemasan rohani.
  • Mendakwa manusia siang malam di hadapan Allah (Wahyu 12:10), menuntut supaya konsekuensi/hukuman dijatuhkan atas kita.
  • Iblis adalah bapa segala dusta yang mau mencuri, membunuh, dan membinasakan manusia. Sebaliknya, Tuhan Yesus datang untuk memberikan kita hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Iblis menghancurkan, tapi Tuhan memulihkan, membangun karakter serta menguduskan kita.
  • Cara supaya kita terlindung dari tipu daya iblis:
  • Taat kepada perintah-Nya. Tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7). Kebanyakan kita lebih fokus menengking iblis tapi lupa untuk taat kepada Allah.

Contoh: kita berdoa meminta Tuhan memberkati dan menjauhkan belalang-belalang pelahap dari kehidupan kita, tapi kita tidak mau taat mengembalikan persepuluhan yang merupakan hak Tuhan. Dengan begitu, kita memberi celah bagi iblis untuk mendakwa dan menghalangi berkat Tuhan atas hidup kita.

Yang benar adalah: taat kepada Allah dengan mengembalikan persepuluhan, maka Maleaki 3:10-11 digenapi dalam hidup kita.

  • Belajar sangkal diri setiap hari, matikan perbuatan daging dengan cara hidup oleh Roh. Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup menghalangi kita untuk taat kepada Tuhan. Dengan mematikan perbuatan daging secara konsisten, kita jadi mudah mengikuti pimpinan Roh Kudus yang memampukan kita taat kepada perintah Tuhan.
  • Perbarui akal budi dengan firman Tuhan, supaya kita memiliki cara pandang tentang kebenaran sehingga tidak mudah ditipu Iblis. Pembaruan akal budi membuat kita jadi tahu apa kehendak/perintah Tuhan: yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
  • Hidup karena percaya kepada Kristus dan perkataan-Nya, bukan karena melihat. Hidup karena melihat berpotensi membuat kita menjadi ragu, takut, dan kuatir; akibatnya, sukar untuk percaya kepada Tuhan dan taat pada perintah-Nya.
  • Ketaatan seharusnya bukan sebuah beban, melainkan cara yang bijak untuk melindungi kita dari kehancuran saat mengalami badai masalah, godaan, dan penderitaan. Ketaatan membuat kita tetap tinggal dalam kasih-Nya. Ketaatan menolong kita untuk tidak tersesat—kita bertindak/mengambil keputusan yang tepat sesuai tuntunan dan hikmat Tuhan. Ketaatan melindungi kita dari kerugian/usaha yang sia-sia, dari niat jahat orang lain, dari penyesatan, dari dosa serta kenajisan. Satu kompromi kecil bisa merusak masa depan. Kenikmatan sementara bisa menurunkan nilai diri.

 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu (Matius 7:24-25).

PENUTUP

Ketaatan adalah perlindungan yang membawa kebaikan bagi kita dan orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita. Mulai sekarang, marilah kita belajar meningkatkan level kedewasaan rohani kita. Berpindahlah dari tahu/mendengar firman → melakukan;  kekristenan yang sebatas emosi → disiplin ; dari yang sekadar terinspirasi → penundukan diri; dari niat baik → tindakan berupa ketaatan. …supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki (Ulangan 5:33b).

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

Sekilas review:

Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya. Ketaatan bukan hanya bicara tentang tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Tanpa ketaatan, ibadah hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal/tidak berakar.

Sambungan minggu ini:

KASIH MERUPAKAN DASAR KETAATAN

 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15).

  • Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.
  • Ketaatan merupakan ekspresi kasih kita kepada Tuhan. Kita taat bukan karena ketakutan, paksaan, sekadar menjalankan kewajiban, atau karena motivasi lain, misalnya taat hanya untuk mendapatkan mukjizat/jawaban doa.
  • Banyak orang berkata: “Saya mengasihi Tuhan…” Tetapi Surga bertanya: mana buktinya? Banyak orang Kristen hanya ‘sayang’ kepada Tuhan Yesus, tapi belum sampai level mengasihi Dia. Menyanyi saat worship itu mudah, tapi penyembahan yang menuntut penyerahan diri bukanlah hal yang gampang. Penyembahan sejati yang berkenan kepada Tuhan adalah ketaatan kita kepada perintah-Nya.
  • Kita tidak bisa memisahkan kasih dari penyerahan diri, sebab demikianlah teladan Tuhan Yesus yang telah mendemonstrasikan kasih-Nya kepada kita. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kasih yang sejati menuntut penyerahan diri secara total, di mana kita melepaskan ego dan keinginan pribadi untuk tunduk kepada kehendak Tuhan.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

  • Kasih menggerakkan kita untuk menyangkal diri/pikul salib, rela berkorban, meninggalkan kenyamanan, serta tetap setia dan taat sekalipun dalam situasi sulit. Kasih yang sejati tetap percaya meskipun menderita karena kebenaran. Kasih yang sejati tetap percaya meski belum melihat jawaban doa. Kalau kekristenan kita tidak pernah menuntut apa-apa, mungkin itu hanya kenyamanan, bukan pemuridan.
  • Ketaatan tanpa kasih sama sekali tidak berguna (1 Korintus 13: 1-3). Ketaatan tanpa kasih menjadi legalisme yang kering. Perintah-perintah Allah akan menjadi sederet peraturan yang kaku dan terasa memberatkan. Ketaatan tanpa kasih tidak dapat bertahan lama.

Sementara, kasih tanpa ketaatan dapat kehilangan arah dan melenceng dari tujuan sejatinya. Kasih tanpa ketaatan berarti hanya di level perasaan, bukan iman. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

  • Bagaimana cara supaya kita mampu menaati Allah?

Jawabannya: kita harus dipenuhi oleh kasih-Nya.

Bagaimana cara supaya dipenuhi oleh kasih Allah?

Dengan menjaga persekutuan yang konsisten dengan Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan. Keintiman dengan Roh Kudus membuat hati kita semakin berakar dan berdasar dalam kasih Allah.

  • Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5b). Kuasa kasih-Nya yang bekerja dengan kuat dalam kita dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan/pikirkan, sehingga kita mampu hidup oleh iman dan ketaatan kepada Allah. Barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah (1 Yohanes 2:5).

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan  kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,  sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. 

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi  di dalam seluruh kepenuhan Allah.  Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan  atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:16-20).

PENUTUP

Kasih adalah dasar ketaatan sejati, artinya ketaatan merupakan demonstrasi kasih kepada Allah. Hati yang tidak berakar dalam kasih membuat ketaatan menjadi sesuatu yang membatasi, memberatkan dan menakutkan. Ketaatan adalah respons kita atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya bagi kita. Jaga api mezbah pribadi kita untuk selalu menyala, jangan biarkan jadi redup bahkan padam. Api yang terus menyala memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan, Amen.

HIDUP DALAM KETAATAN

HIDUP DALAM KETAATAN

(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)

PENDAHULUAN

Bulan lalu kita mengenali Roh Kudus dan keadaan terhubung dengan Pokok Anggur yang benar supaya hidup kita menghasilkan buah yang mendampaki orang lain. Di bulan yang baru ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita taat melakukan Firman? Karena ibadah tanpa ketaatan hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal. Perasaan tersentuh oleh firman tanpa diikuti tindakan hanya menipu diri sendiri dan tidak membawa perubahan hidup.

ISI

DENGAR DAN LAKUKAN 

  • Yakobus 1:22 mengatakan “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…” Rajin beribadah ke gereja belum menjamin seseorang hidup dalam ketaatan, demikian pula dengan mencatat kotbah. Mengatakan “Firman hari ini luar biasa dan sangat memberkati” juga bukan berarti orang tersebut melakukan firman yang didengarnya.
  • Pengetahuan firman tanpa tindakan hanya melahirkan kemunafikan serta kesombongan rohani. Pengetahuan firman tanpa ketaatan adalah tindakan menipu diri sendiri. Banyak orang Kristen hanya kenyang dengan mendengarkan khotbah, kesaksian, atau mengikuti training/kelas pengajaran, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
  • Ingin mujizat, tetapi tidak mau taat akan perintah Tuhan. Ingin berkat, tetapi tidak mau hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Penyembahan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita menangis saat berada di hadirat Tuhan, tetapi dari seberapa cepat kita taat akan pesan firman yang disampaikan setelah ibadah selesai.
  • Mungkin ada orang yang menilai dirinya sudah taat kepada Tuhan dengan sudah rajin beribadah, mengembalikan persepuluhan, tidak mencuri, membunuh, menggosip, menghakimi orang lain, dsb..

Tetapi saat Tuhan gerakkan hatinya untuk berkati si A, doakan si B, jangan hakimi suamimu/tunduk padanya walaupun ia banyak kelemahan, jangan berlaku kasar dengan istrimu, atau tambah jam doa, dsb..…orang tersebut banyak pertimbangan untuk melakukannya, cari alasan untuk membenarkan diri sendiri, menunda-nunda, akhirnya sama saja dengan tidak taat.

Jadi ketaatan bukan hanya tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan.

  • Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya.

Contoh:

  • Nuh disuruh Allah untuk membangun bahtera di tengah daratan. Alkitab mencatat bahwa Nuh taat melakukan perintah tersebut
    sekalipun hal itu dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat pada jamannya.
  • Ananias taat saat Tuhan memerintahkan dia untuk menumpangkan tangan atas Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) supaya dia dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Meskipun Ananias tahu bahwa Saulus adalah seorang yang menganiaya orang-orang kudus, dia taat juga ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mendatangi Saulus.
  • Paulus meninggalkan semua yang dia banggakan di masa lalu demi pengenalan yang benar akan Kristus dan taat kepada panggilan Allah (Fil. 3: 7-14).
  • Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ingatlah: keinginan daging (tidak takluk kepada hukum Allah) akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh (menghendaki kita hidup dalam ketaatan kepada Allah).

REFLEKSI DIRI:

  • Hal-hal apa yang Roh Kudus dorong untuk kita lakukan/tinggalkan
tetapi masih kita tunda?
  • Membangun mezbah pribadi secara konsisten? Stop berpikiran negatif? Menundukkan diri kepada otoritas di atas kita? Meninggalkan hubungan/pertemanan yang tidak sehat/toxic? Memulai pelayanan? Stop merenungkan kesalahan orang lain? Mengampuni? Stop bergosip?
  • Stop berperilaku konsumtif (hobi belanja barang-barang yang memuaskan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup)? Belajar berpuasa? Menabur finansial untuk pekerjaan Tuhan? Berhenti hidup dalam dosa tersembunyi? Memakai waktu dengan bijak? Stop kebiasaan buruk?
  • Menunda ketaatan adalah sama dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan merupakan buah dari orang yang hidup dalam dusta iblis. Penundaan adalah peperangan rohani. Penundaan membuat hati kita jadi keras dan degil. Penundaan adalah bukti ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, iman tanpa perbuatan/ketaatan adalah mati.

HIDUP DALAM KETAATAN – bagian 2

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2)

PENDAHULUAN

Pikiran sangat berperan dalam menentukan arah hidup seseorang. Pikiran/akal budi yang diperbarui dengan benih firman Tuhan secara kontinu akan membuahkan cara pandang, nilai, perkataan, perilaku, gaya hidup, karakter, etos kerja, keputusan, dan tujuan yang sesuai dengan kehendak Allah.

ISI

  • Allah adalah Roh, barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Menyembah Allah harus dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran-Nya. Untuk dapat menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, hati dan pikiran kita harus lebih dulu diperbarui.
  • Orang percaya telah menerima hati dan roh yang baru oleh Roh Kudus yang berdiam dalam batin. Allah telah menjauhkan kita dari hati yang keras/degil dan memberikan hati yang taat kepada hukum-Nya (Yehezkiel 35:26-27). Hati yang baru ini harus disertai dengan pikiran yang baru. Kita tidak bisa menyembah Allah dengan pikiran yang lama, yaitu pikiran karnal (pola pikir/akal budi yang dikuasai oleh keinginan daging, bersifat duniawi, berasal dari benih dosa dalam diri manusia). Pikiran karnal tidak takluk kepada hukum Allah sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.
  • Hati yang baru + transformasi pikiran secara kontinu + hidup dalam pertobatan = transformasi hidup/berbuah banyak dan matang. Perlu dipahami bahwa firman Tuhan yang berupa informasi atau pengetahuan memang penting, tapi itu belum cukup untuk mengubah hidup kita. Firman Tuhan yang berubah menjadi pewahyuan itulah yang berpotensi membawa kita bertumbuh secara rohani, mengubahkan hidup serta menghasilkan buah.

Catatan: pewahyuan adalah karya Allah melalui Roh Kudus yang membuka, menyingkapkan, atau menyatakan diri, kehendak, jalan dan kebenaran-Nya kepada kita secara pribadi. Hati dan pikiran kita menjadi terang karena Roh Kudus memberikan hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar (Efesus 1:17).

  • Pewahyuan bisa didapat melalui:
  • Firman Tuhan yang kita renungkan dan dihidupkan oleh Roh Kudus (firman Rhema),
  • Peristiwa/kesaksian hidup yang kita atau orang lain alami (mis. dalam kehidupan sehari-hari: di keluarga, pelayanan, pekerjaan, usaha, dlsb),
  • Firman Tuhan yang menjadi nyata/digenapi dalam hidup kita,
  • pergumulan hidup (masalah, godaan, kesulitan, penderitaan),
  • perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus (mis. lewat mimpi dan penglihatan).

 

Hal-hal yang terjadi akibat pikiran yang belum diperbarui oleh Firman Tuhan:

  • Hidup jadi serupa dengan dunia : pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap (tidak ada terang kebenaran Allah), hidup dalam dusta iblis yang membangkitkan rupa-rupa hawa nafsu kedagingan, kompromi dengan hikmat dunia, mengandalkan diri sendiri, hidup dalam dosa/ketidaktaatan, ketidakpercayaan (hidup karena melihat, bukan karena percaya), kekuatiran, ketakutan, kecewa, kehilangan damai sejahtera, dan kehilangan pengharapan.
  • Tidak dapat mengerti dan membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Ketidakmengertian akan kehendak Allah membuat kita : tidak hidup dalam kebenaran dan kekudusan (Efesus 4:23-24), salah berdoa (Yakobus 4:2-3), dan salah bertindak/mengambil keputusan. Si pendusta memanfaatkan ketidaktahuan, kebodohan/kedegilan, kemalasan, kenyamanan, kesombongan dan kedagingan untuk menghancurkan hidup kita sendiri.
  • Menghalangi kita untuk menikmati hidup yang Tuhan Yesus berikan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yaitu hidup yang berkelimpahan seperti dalam Yohanes 10:10. Pikiran yang belum diperbarui menjadi pintu bagi Iblis untuk menipu orang Kristen guna melaksanakan agenda jahatnya.
  • Seseorang yang suka mengasihani diri sendiri dan memiliki victim mentality memberi akses bagi iblis untuk memperdaya hidupnya melalui pikiran negatif yang toxic’ meracuni diri sendiri dan orang lain (melalui hubungan yang tidak sehat). Kesombongan seperti ini membutakan mata hati yang membuatnya berjalan dalam kegelapan (Matius 6:22-23).
  • Kebohongan iblis membuat orang percaya tidak memahami identitasnya dalam Kristus, tidak memahami segala berkat rohani yang telah Allah karuniakan (Efesus 1:3), tidak menggunakan kuasa otoritasnya sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12), serta tidak mengerti haknya sebagai ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:17). Akibatnya, orang tersebut tetap tinggal dalam ikatan, dalam kekurangan/ kemiskinan (secara rohani, jiwani dan jasmani), tidak mengalami pemulihan, terobosan, dan kemenangan.
  • Menghalangi kita untuk hidup dalam tujuan Allah: menjadi garam serta terang di kegelapan dunia, dan melakukan Amanat Agung (dimuridkan untuk memuridkan orang lain).

 

Solusi untuk mengalami pembaruan hidup yang diawali melalui pembaruan pikiran:

  • Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Roh-lah yang memberi hidup yang sebenarnya, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan yang Tuhan Yesus katakan adalah roh dan hidup (Yohanes 6:63). Satu-satunya yang bisa mengubah seluruh hidup kita hanyalah firman Tuhan. Pikiran yang secara kontinu diperbarui oleh pewahyuan firman membuat kita ‘hidup’ (bukan sekadar eksis/bertahan hidup) serta menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Minta Roh Kudus memberikan pewahyuan/rhema dari firman yang kita baca, yang didengar di Cool/Ibadah Raya, dari kelas pengajaran yang kita ikuti, dari kesaksian orang lain, yang kita dapat saat memuji dan menyembah, dsb.
  • Kalau Roh Kudus menyingkapkan sesuatu kepada roh kita, jangan anggap angin lalu. Bawa dalam doa ke hadapan Tuhan, minta Roh Kudus menuntun: bagaimana respons/sikap hati yang benar, bagaimana melihat sesuatu dari cara pandang Allah, area mana yang perlu kita perbaiki/bertobat,  apa yang harus kita lakukan dan doakan, hal apa yang harus kita buang/jauhi, dlsb. Kalau perlu, catat dalam jurnal supaya bisa kita renungkan, pelajari dan perbaiki.
  • Amsal 4:23 menyatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau ada benih asing yang bukan kebenaran firman Tuhan dalam hati dan pikiran, segera tolak dalam Nama Yesus, jangan direnungkan. Itu bukan sekadar pemikiran acak/menyeleneh, melainkan panah api si jahat yang berpotensi mencuri, membunuh, dan membinasakan hidup kita jika tidak lekas dibuang selagi masih dalam keadaan benih.

 

PENUTUP

Pikiran kita adalah sebuah senjata, dan kehidupan kita menyingkapkan siapa yang memegang senjata itu: apakah Tuhan, ataukah si jahat. Saring apa yang kita lihat, dengar, baca, dan renungkan, pilihlah dengan bijak. Ganti kegelapan/dusta iblis dalam pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Hendaklah kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Filipi 2:5), supaya orang lain dapat melihat buah kehidupan kita dan memuliakan Bapa di sorga.

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

PENDAHULUAN

Keaslian iman Kristen dapat dilihat dari buah Roh yang dihasilkan.  Orang yang terlibat dalam pelayanan, punya pengetahuan firman yang banyak, atau memiliki karunia rohani yang luar biasa belum tentu menghasilkan buah yang baik (buah Roh/karakter Kristus).

ISI

  • Tuhan Yesus mengatakan bahwa seseorang dikenal dari buahnya. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, demikian sebaliknya. Tidak ada yang bisa MEMALSUKAN buah yang baik. BACA MATIUS 7:16-20.
  • Mari kita bercermin pada firman Tuhan, untuk melihat apakah pohon kehidupan kita asli atau palsu:

Keadaan Pohon Asli

1. Berasal dari benih ilahi, yaitu Firman Tuhan. Benih firman Tuhan akan menghasilkan buah Roh (karakter Kristus) dan buah kebenaran (firman yang digenapi menjadi kenyataan).

Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. (1 Petrus 1:23).

2. Ditanam di tepi aliran air (melekat kepada Pokok Anggur yang benar dan menerima pertumbuhannya dari aliran air hidup, yaitu Roh Kudus yang memimpin serta mengingatkan akan perkataan Kristus).

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:8).

3. Keadaan tanah hatinya baik (menyambut firman dengan iman dan hati yang lemah lembut/mudah dibentuk).

Dan Sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang 30 kali lipat, ada yang 60 kali lipat, ada yang 100 kali lipat. (Markus 4:8)

4. Berakar dalam kasih Kristus (walau menghadapi tantangan/godaan, memilih tetap tinggal dalam persekutuan dengan Roh Kudus dan firman Tuhan; hidup oleh iman, bukan karena melihat). Masalah, godaan, tantangan dan penderitaan membuat imannya semakin kuat dan tahan banting.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. (Efesus 3:16-17).

5. Semakin berbuah matang dan tetap melalui tantangan, masalah, godaan dan penderitaan. Ujian iman membuat karakternya semakin menyerupai  Kristus dan dewasa secara rohani. Walaupun menghadapi berbagai masalah dan tantangan, hidupnya terus berdampak bagi orang lain.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:2-4).

…Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:2b)

Keadaan Pohon Palsu

1. Tidak melekat dengan Pokok Anggur yang benar. Tidak mau secara konsisten membangun mezbah pribadi dengan Tuhan dan mendisiplinkan diri secara rohani.

2. Benihnya bukan berasal dari firman Tuhan, tapi benih lain yaitu: pikiran, pendapat, cara pandang atau perasaan sendiri; hikmat dunia; hati yang pahit/kecewa; kebencian; kesombongan, iri hati, cinta akan uang, dlsb.

3. Keadaan tanah hatinya berbatu atau semak duri yang menghalangi benih firman bertumbuh (Markus 4:5-7). Berhenti bertumbuh/cepat menyerah kalau mengalami tantangan, godaan, gesekan, atau penderitaan karena tidak berakar.

4. Bisa tampak melakukan banyak kegiatan dalam pelayanan (hanya berdaun), tapi tidak berbuah. Tahu banyak firman, tapi karakternya tidak mengalami perubahan oleh kuasa firman Tuhan. Being busy is not the same as being fruitful.

5. Hidup dalam zona nyaman; punya motivasi hati yang keliru: hanya tertarik dengan berkat/mukjizat/karunia, tapi tidak bersedia/berkomitmen untuk dimuridkan.

Proyek ketaatan

  • Jangan lari dari pemrosesan Tuhan lewat tantangan, masalah, gesekan, dan penderitaan. Minta Roh Kudus menyingkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya. Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus membuat kita menyadari keadaan diri, mengakui kesalahan/kelemahan, serta menolong kita untuk taat dan mau berubah. Jika Roh Kudus menyingkapkan hal itu kepada kita, rendahkan hati, akui, jangan cari pembenaran diri, bertobat dan taati pimpinan-Nya.
  • Latih diri kita di area yang perlu diubah, misalnya: kita memiliki pikiran/belief system/cara pandang yang keliru -> ubah dengan cara pandang kebenaran/firman Tuhan. Buang pikiran yang keliru, sia-sia, kotor, jahat, dan negatif. Jangan sepakat dengan dusta iblis yang menipu lewat pikiran dan apa yang terlihat, tolak tipu dayanya dengan firman Tuhan. Tunduklah kepada Allah, lawan iblis dengan iman yang teguh, maka ia akan lari daripadamu. Kenakan perisai iman untuk memadamkan panah api si jahat. Hidup karena percaya, bukan karena melihat. Hiduplah dipimpin Roh, bukan dipimpin pikiran atau perasaan yang toksik.
  • Katakan kepada jiwamu: Saya adalah ciptaan baru dalam Kristus; manusia lama saya sudah turut disalibkan bersama dengan kematian Kristus. Saya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, bukan kecemaran. Saya pakai anggota tubuh saya sebagai senjata kebenaran, bukan senjata kelaliman.  Roh Kudus adalah Penolong yang memampukan saya untuk berubah, berbuah dan hidup dalam identitas sebagai anak-anak Allah.
  • Katakan Galatia 2:20 dengan iman: …aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku, Amen!

PENUTUP

Berdasarkan Yakobus 1:2-4 serta Yohanes 15:2b, kita dapat mempelajari bahwa buah yang matang dan banyak tidak dihasilkan dari zona nyaman, atau dari kelebihan, kesalehan serta kekuatan kita, tetapi dari pemrosesan Tuhan dalam hidup kita (pruning). Buah yang teruji kualitasnya justru dihasilkan lewat masalah, penderitaan, kelemahan dan ujian iman.

Buah Roh adalah sesuatu yang tidak bisa DIPALSUKAN, karena tidak dihasilkan dari kemampuan natural manusia, melainkan karya Roh Kudus. Jadilah pohon yang menghasilkan buah yang asli, yang baik dan berkualitas. Jangan terkecoh dengan tampilan luar (karunia, kegiatan pelayanan, atau pengetahuan firman yang banyak), tapi dengan jujur minta Roh Kudus singkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya, supaya Ia dapat menolong serta memulihkan kita.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

JADIKAN MURID – bagian 2

JADIKAN MURID – bagian 2

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

Sekilas review:
Hidup yang berbuah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang percaya (Yohanes 15:16). Buah adalah hasil hidup kita yang bisa dinikmati orang lain. Ukurannya bukan apa yang kita kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami dari kita.

Sambungan minggu ini:

• Buah Roh TUMBUH DARI KEINTIMAN dengan Roh Kudus, TIDAK DIPAKSAKAN.
…Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Maz. 1:3).

• Cara satu-satunya untuk menghasilkan buah Roh adalah TERHUBUNG dengan POKOK ANGGUR YANG BENAR, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:4–5)

Terhubung artinya DENGAN SENGAJA mengkhususkan WAKTU di hadirat Tuhan (saat teduh, berdoa,memuji menyembah, merenungkan Firman) secara konsisten – sebagai lifestyle termasuk hari kerja/hari libur/weekend/sedang vacation:

– Memuji menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran: dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran Allah.
– Berdoa: bukan hanya menyampaikan sederet permohonan, tapi belajar memberi ruang/waktu untuk Tuhan bicara: menegur akan sesuatu yang salah; menyingkapkan adanya ketidakbenaran dalam hati; mengingatkan firman, mengarahkan atau menyampaikan sesuatu bagi kita secara pribadi (ingat: doa = berkomunikasi dua arah).
– Merenungkan firman Tuhan, mencatat firman rhema (firman yang dihidupkan) serta hikmat/pewahyuan yang diberikan oleh Roh Kudus.

• Namun tidak hanya sebatas itu, disela-sela kesibukan/aktivitas kita sehari-hari (mis. sewaktu mengemudi mobil, sedang membereskan rumah, sedang menunggu bus, sedang dalam train, dlsb.) — hati yang haus dan lapar akan terus melekat pada Tuhan merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan dan FirmanNya senan

MASALAH: Saya sudah berdoa, tahu firman, tetapi mengapa sering gagal/masih jatuh di area yang sama dan belum berubah?
Ada 2 kelompok penyebab kegagalan:

1. Benih yang jatuh di tanah berbatu: mendengar firman dan menerimanya dengan sukacita, akan tetapi gagal untuk tetap tinggal dalam firman jika mengalami tantangan karena tidak berakar.

– Contoh yang paling sering terjadi: Secara teori sudah tahu bahwa kita wajib mengampuni; jangan menyimpan kepahitan; masalah besar dikecilkan, masalah kecil ditiadakan. Tahu bahwa kepahitan adalah dosa yang meracuni seluruh aspek kehidupan, dan harus dibuang. Kita tahu dan menerima kebenaran tersebut dengan sukacita.

– Akan tetapi, pada praktiknya, ketika ada seseorang melakukan kesalahan, iblis menyerang pikiran dengan pikiran negatif yang membangkitkan amarah, prasangka buruk, merasa jadi korban, dsb. Bukannya menolak panah api/pikiran tersebut, kita malah memikirkan/merenungkannya! Inilah yang dinamakan gagal untuk tetap tinggal/konsisten dalam firman jika mengalami tantangan. Mudah menyerah karena tidak berakar.

– Akibatnya, jadi kehilangan damai sejahtera/sukacita, kehilangan kasih dan belas kasihan, sakit hati, self-pity, tidak bisa/salah berdoa, ingin balas dendam dan melukai orang lain dengan hal yang sama, menghasut dan mencemarkan banyak orang dengan kepahitan kita, mengadu domba, dlsb. BACA YAKOBUS 4:1-3.

2. Benih yang jatuh di semak duri: mendengar firman, lalu kekuatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan duniawi menghimpit firman sehingga tidak berbuah.

– Contoh: Tahu firman carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan (Mat. 6:33). Namun, saat ada tawaran kerja yang menggiurkan di waktu yang bersamaan dengan waktu ibadah hari Minggu, lebih memilih bekerja dan meninggalkan ibadah. Pikirnya Tuhan pasti mengerti, sebab bulan ini pengeluaran sedang banyak, jadi butuh pemasukan ekstra. Ini namanya kekuatiran dan tipu daya kekayaan menghimpit firman (Mat. 6:33). Lebih setia kepada pekerjaan daripada kepada Tuhan.

Refleksi diri sendiri: apa yang HILANG dalam hidup kita? …Kasih? Belas kasihan? Damai sejahtera? Kesetiaan? Penguasaan diri?

SOLUSI:
• Berakar dalam kasih Kristus (Kolose 2:6-8). Jadi bukan hanya terhubung dengan Pokok Anggur, tapi berakar ke bawah: punya kualitas hubungan yang dalam dan kuat dengan Yesus Kristus sebagai fondasi hidup. Ini bicara tentang ketergantungan penuh kepada pimpinan Roh Kudus yang memampukan kita untuk konsisten/berkomitmen/mendisiplinkan diri, taat dan hidup dalam pertobatan. Ini semua membuat iman kita makin kuat, tidak mudah goyah oleh tantangan/masalah/rupa-rupa angin pengajaran, dan menghasilkan buah.
• Jangan mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya (1 Yoh. 2:15-17). Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup.

PENUTUP
Murid Kristus harus berketetapan hati untuk punya komitmen, kedisiplinan rohani, dan bersikap konsisten untuk tetap terhubung dengan Pokok Anggur Yang Benar. Murid yang terhubung pasti (tidak dipaksakan) akan berakar, bertumbuh dan menghasilkan buah yang banyak bagi kemuliaan Bapa.

JADIKAN MURID

JADIKAN MURID

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

PENDAHULUAN

Orang percaya yang hidupnya benar di hadapan Tuhan pasti menghasilkan buah—dan buah itu berdampak bagi orang lain.

ISI

Mazmur 1:1-3 menggambarkan kehidupan orang percaya yang memilih untuk merenungkan firman Tuhan: ia seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan (Roh Kudus/Roh Kebenaran), kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah pada musimnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil/menghasilkan buah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil.

  • Hidup yang menghasilkan buah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang yang sudah lahir baru (Yohanes 15:16). SETIAP KITA WAJIB BERTUMBUH (ini merupakan proses seumur hidup).
  • Pohon yang berakar dan sehat akan menghasilkan buah. Orang percaya yang berakar dan memiliki iman yang sehat akan menghasilkan buah setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus.
  • Buah adalah hasil hidupmu yang bisa dinikmati orang lain. Kalau buahmu tidak bisa dinikmati orang lain, kemungkinan itu bukan buah Roh, tapi ilusi rohani.

Contoh: Kalau kamu mau mengasihi tapi sering melukai orang di sekitarmu.
Kamu mau jadi pembawa damai, tapi kamu mudah marah dan mengadu domba. Jadi, ukurannya bukan apa yang kamu kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami darimu.

Dinikmati di sini maksudnya:

  • Sebagai ‘buah’: dapat menolong/membantu mengatasi masalah orang lain,
  • Sebagai ‘benih’: sesuatu yang dapat diajarkan kepada orang lain (bukan cuma informasi/teori/pengetahuan saja, tapi pengajaran yang disertai buah sebagai bukti valid pengajarannya).
  • Banyak kegagalan rohani bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena tidak bisa taat untuk tetap tinggal dalam firman.
  • Buah Roh (Gal. 5:22-23) merupakan tanda pertobatan sejati yang dihasilkan dari keintiman dengan Roh Kudus.
  • Buah Roh adalah hasil transformasi supranatural yang progresif oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang berserah, jadi bukan hasil usaha manusia. Meski ada sembilan, namun buah Roh merupakan suatu kesatuan terpadu. Rasul Paulus menyebutnya dengan Buah Roh (tunggal), bukan buah-buah Roh (jamak). Penguasaan diri adalah penentu dari semua sifat buah Roh.
  • Buah Roh berbeda dengan karakter/watak natural yang merupakan bawaan lahir, didikan atau hasil pembentukan lingkungan. Buah Roh mencerminkan karakter Kristus, sementara watak/temperamen natural merupakan sifat bawaan lahir yang cenderung dipengaruhi oleh tabiat manusia berdosa.
  • Buah Roh menghasilkan karakter Kristus yang stabil dan melampaui kemampuan natural manusia; sementara watak/temperamen natural bisa tampak baik secara moral, namun tidak memiliki kuasa ilahi dan dapat gagal di bawah tekanan.
  1. Kasih: Kasih ilahi yang memberi tanpa pamrih, tidak bertujuan mencari kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan bagi orang lain. Kasih memiliki cakupan luas sekali; buah dari kasih mengacu pada 1 Korintus 13:4-8. Kasih bukan sekadar perasaan, tapi perilaku kita terhadap sesama yang dilakukan berdasarkan kebenaran.
  2. Sukacita: kegembiraan (joy) yang mendalam yang timbul dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Kegembiraan yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
  3. Damai sejahtera: ketenangan batin/kesejahteraan jiwa  yang didasarkan atas pengampunan Tuhan, dihasilkan dari kebenaran.
  4. Kesabaran: sikap pengendalian diri yang menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tekun; tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.
  5. Kemurahan: keramahtamahan, kebaikan hati, suka memberi, tidak mau menyakiti orang lain, mudah mengampuni.
  6. Kebaikan: ketulusan jiwa yang membenci kejahatan, motif dan perilaku yang baik. Sikap ini adalah kelanjutan dari sikap kemurahan.
  7. Kesetiaan: dapat dipercaya dan diandalkan untuk suatu tanggung jawab, tetap bertahan dalam iman dalam berbagai pencobaan.
  8. Kelemahlembutan: pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan kerendahan hati. Tunduk pada kehendak Allah, hati yang mau diajar/mudah dibentuk, sering kali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan, padahal merupakan kekuatan karakter.
  9. Penguasaan diri: menguasai keinginan dan hawa nafsu diri sendiri (makan, seks, uang, kecanduan, amarah/emosi).
  • Setelah mengetahui buah Roh di atas, periksa diri sendiri : Apakah ada buah Roh yang dihasilkan dari hidup kita?

Bersambung ke bagian ke-2

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

PENDAHULUAN

Kita yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam perbudakan yang menghasilkan ketakutan. Kita adalah ciptaan baru—dipulihkan, diangkat, dan diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Karya salib Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang terputus akibat dosa—mengubah posisi manusia dari yang tadinya musuh, kemudian diadopsi menjadi anak-anak Allah. Hubungan kita dengan Allah adalah layaknya anak dan bapak, yang didasari oleh kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:15-16).

ISI

Masalah

Pada kenyataannya, banyak kita yang masih terbelenggu oleh roh perbudakan. Kita perlu belajar mengenali ciri roh perbudakan agar timbul self-awareness, hidup dalam pertobatan, dipulihkan oleh kuasa Roh Kudus dan menjadi anak-anak Allah yang merdeka.

1.  Orphan spirit (roh Yatim Piatu) -> Suatu pola pikir atau mental yang berakar pada ketakutan, penolakan, dan mengandalkan diri sendiri.

Ciri-cirinya:

  • Menjalani hidup layaknya anak yatim, sukar menerima kasih Bapa ataupun merasa aman sebagai bagian dari keluarga Allah (gereja lokal/Cool), sehingga ia merasa harus berjuang dengan cara/kekuatan sendiri.
  • Sukar membangun hubungan dan rasa percaya (trust) kepada Tuhan/orang lain, yang berujung pada perasaan ditinggalkan, ditolak, tidak berharga, dan ketidakpercayaan (mistrust).
  • Memandang teguran/koreksi sebagai penolakan/hukuman.
  • Berorientasi pada performa/kinerja: berusaha keras mendapatkan penerimaan/pengakuan melalui kegiatan pelayanan atau jasa yang sudah dilakukan. Apa yang dilakukan lahir dari rasa takut, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk mendapatkan kasih Allah melalui perbuatan.
  • Perfeksionis: lebih mengejar kesempurnaan daripada mengandalkan kasih karunia Allah.
  • Lebih mengejar karunia, nubuatan, panggilan, atau pelayanan yang dikenal orang daripada keintiman dengan Tuhan.
  • Berusaha menjadi pelaku firman atau melayani menurut pikiran dan cara sendiri, tanpa mengandalkan kuasa Roh Kudus.
  • Mementingkan perkenanan manusia daripada perkenanan Tuhan.

Pola pikir orang yang dibelenggu roh yatim piatu harus dipulihkan dengan pemahaman yang benar akan identitasnya sebagai ciptaan baru dalam Kristus: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Perlu pembaruan akal budi dengan Firman Tuhan yang adalah kebenaran. Jika akal budi telah mengalami pembaruan, Roh Kudus secara aktif berkarya memulihkan hati/jiwa serta membawanya hidup dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18).

2. Legalistic spirit (law-based living) -> Sikap kepatuhan yang kaku dan berlebihan terhadap aturan/peraturan/hukum/tradisi.

Ciri-cirinya:

  • Kesombongan: perasaan superioritas spiritual terhadap mereka yang tidak mengikuti aturan-aturan ketat yang sama.
  • Berorientasi pada perbuatan: keyakinan bahwa penerimaan oleh Tuhan diperoleh melalui ritual agamawi, atau perilaku moral yang Semakin ketat peraturan yang dibuat, merasa semakin saleh lebih dari yang lain.
  • Suka mencari pembenaran diri, gengsi untuk mengakui kelemahan/kesalahannya di depan orang lain, berlaku munafik.
  • Tidak hidup dalam kasih karunia Allah; hanya berfokus pada penampilan religius, bukannya integritas hati dan transformasi batin.
  • Pengetahuan firman ditafsirkan menurut pengertian sendiri untuk menuding/menghakimi orang lain yang tidak hidup menurut standarnya. Pengetahuan firman tanpa kasih = kesombongan; pengetahuan firman disertai kasih = membangun manusia roh.
  • Menggantikan sukacita akan kasih karunia dengan tekanan ketakutan, perasaan tidak layak (never good enough mentality), atau ketaatan yang obsesif terhadap aturan.

Solusi

  • Di dalam Kristus, hubungan kita dengan Bapa adalah seperti hubungan anak dan bapa yang berlandaskan kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.
  • Kunci untuk bebas dari roh perbudakan:
  • Tinggal dalam kasih Kristus (Yohanes 15:9). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Ketakutan mengandung hukuman, dan jika kita takut, kita tidak sempurna di dalam kasih.
  • Tinggal dalam kasih Kristus artinya melakukan perintah-Nya (Yoh. 15:10). Untuk mampu melakukan perintah-Nya: hiduplah dipimpin Roh Kudus. Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14).
  • Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan terus membarui akal budi dengan firman, melakukan pemberesan hati, hidup dalam pertobatan, dan berjalan dalam kasih karunia (bergantung penuh pada Roh Kudus).

PENUTUP

Roh Kudus diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam kemerdekaan. Roh perbudakan mendatangkan rasa takut, Roh Kudus memberikan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Dengan empowerment dari Roh Kudus, kita bisa melaksanakan Amanat Agung: membawa orang-orang kepada Kristus serta memuridkan, supaya nantinya mereka juga bisa memuridkan orang lain, demikian seterusnya.