Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 16)
PANGGILAN UNTUK BERTUMBUH DALAM IMAN DAN KARAKTER

PANGGILAN UNTUK BERTUMBUH DALAM IMAN DAN KARAKTER

PENDAHULUAN

Pada saat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita dilahirkan kembali sebagai bayi rohani. Selanjutnya bayi rohani harus bertumbuh menjadi dewasa. Seperti halnya seorang bayi harus diberi asupan nutrisi untuk pertumbuhan fisiknya demikian juga pertumbuhan rohani seseorang.

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Pertumbuhan rohani di awali dengan membaca dan merenungkan firman secara rutin sebagai asupan nutrisi bagi manusia roh. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

Bila seorang anak bayi tidak diberi asupan nutrisi secara fisik tidak akan bertumbuh sehat bahkan tidak sedikit yang meninggal; demikian juga manusia roh kita. Kita dipanggil untuk bertumbuh secara rohani artinya hidup oleh iman dan tidak bimbang/ragu.

ISI

Kita dipanggil untuk menjadi murid, tertanam dalam sebuah gereja lokal untuk diberi makan/dirawati oleh orang tua rohani kita dan bertumbuh dalam iman dan karakter. Bergabung dalam sebuah cool adalah titik awal kemauan seseorang untuk bertumbuh. Kemauan itu harus disertai dengan keputusan untuk komitmen bertekun dan konsisten hidup dalam firman, berkomitmen untuk mau dimuridkan dan bukan hanya tahu Firman sebagai sekedar pengetahuan.

Setiap kita yang telah dipanggil keluar dari kegelapan wajib bertumbuh dalam iman dan dalam karakter. Mengapa kita wajib bertumbuh? Supaya kita bisa hidup berpadanan dengan panggilan keselamatan tersebut. Kalau hanya tetap menjadi bayi rohani, maka kita dapat disamakan dengan manusia duniawi yang belum dapat menerima kebenaran.

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi (1 Korintus 3:1-3a).

Banyak orang Kristen yang sudah lama lahir baru tapi tidak bersungguh-sungguh mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar. Mereka menyangka bahwa mengikut Kristus itu hanya sebatas untuk mendapatkan berkat atau mukjizat saja, tapi tidak memahami kalau sebenarnya Allah mau supaya hidupnya menghasilkan buah dan karakter ilahi. Kita dipanggil, dipilih dan ditetapkan untuk menghasilkan buah yang tetap.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap… (Yohanes 15:16a)

Pertumbuhan iman dan karakter diperlukan dalam mengerjakan keselamatan, agar panggilan dan pilihan kita makin teguh dan kita dikaruniai hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal.

Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Petrus 1:10-11).

Bertumbuh dalam iman dan karakter bukan hanya menjadikan kita dewasa rohani tapi juga mencegah kita untuk tersandung. Tersandung maksudnya berpaling dari Allah dan murtad dari-Nya. Kedewasaan rohani berarti mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Petrus 1:4). Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia. Pengenalan akan Tuhan dan kasih karunia-Nya memampukan kita untuk hidup kudus.

Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Petrus 3:18a).
Kata pengenalan (atau pengetahuan) menggunakan dua kata yang berbeda dalam bahasa Yunani. Yang pertama adalah ‘gnosis’ artinya pengetahuan, informasi, fakta. Ke dua adalah ‘epignosis’ artinya pengetahuan/informasi tersebut dialami sehingga menjadi pemahaman yang lebih penuh dan dalam. Pengenalan kita akan Allah membuat kita semakin bertumbuh. Semakin bertumbuh, pengenalan kita akan Allah jadi semakin dalam dan penuh. Kasih karunia dan pengenalan akan Allah menolong kita untuk bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus, yang adalah Kepala.

Prinsip untuk mencapai pertumbuhan iman dan karakter adalah setia melakukan hal-hal yang Tuhan mau, bukan yang kita mau. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” (Yohanes 8:31). Murid Kristus adalah seorang yang mendisiplinkan diri hidup dalam firman Tuhan. Kedisiplinan adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan sejati dalam Kristus. …dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32).

Disiplin membutuhkan komitmen, ketekunan dan kesetiaan. Secara sederhana ada 3B untuk melatih kita mendisiplinkan hati, pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan :
1. Balancing (segala sesuatu lakukan dengan seimbang, secukupnya, seperlunya, sewajarnya; alokasikan waktu dengan benar dan tepat).
2. Boundaries (ada batasan dan pengendalian diri).
3. Biblical (cek apakah hati, pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan/respon kita sesuai dengan firman Tuhan).

PENUTUP

Pertumbuhan rohani sangat diperlukan supaya dapat hidup berpadanan dengan panggilan keselamatan serta luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Orang yang bertumbuh dalam iman dan dalam karakter pasti akan hidup dalam pertobatan. Pertumbuhan iman membawa kita semakin dalam mengenal Tuhan. Pengenalan akan Tuhan menjadikan kita murid Kristus yang dewasa dan hidup dalam kemerdekaan sejati.

HIDUP SEBAGAI PEWARIS KASIH  KARUNIA (bagian 3)

HIDUP SEBAGAI PEWARIS KASIH KARUNIA (bagian 3)

Review minggu lalu :

Sebagai orang percaya, kita adalah pewaris dari anugerah kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus. Secara garis besar, kasih karunia ini mencakup : 1) anugerah keselamatan dan pengampunan dosa; 2) Diangkat menjadi anak-anak Allah untuk hidup dalam kebenaran, kekudusan, mewarisi janji-janji Allah dan hidup kekal.

Sambungan minggu ini :

  1. Hidup dalam kasih karunia untuk menjadi saksi kepada dunia.

Kasih karunia memang diberikan secara cuma-cuma, namun bukan berarti kita jadi hidup seenaknya. Bagaimana respon kita akan kasih karunia akan menentukan seberapa efektif anugerah itu bekerja dalam hidup kita. Orang yang mengasihi Tuhan dan mengerti kasih karunia, akan memiliki kesungguhan untuk hidup dalam kemaksimalan dan tidak menyia-nyiakan atau menyalahgunakan anugerah Allah yang besar.

Sebagai anak-anak Allah yang mewarisi kasih karunia, kita wajib  hidup berpadanan dengan panggilan tersebut agar dapat menjadi saksi Injil kepada dunia.

Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil  kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus,  yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Timotius 1:9-10)

Ketika Roh Kasih Karunia (Roh Kudus) tinggal di dalam seseorang, Ia akan memimpin orang tersebut ke dalam seluruh kebenaran dan memuliakan Kristus (Yohanes 16:13-14). Lewat proses pendewasaan iman, ia semakin memancarkan kemuliaan Kristus yang hidup di dalam dirinya. Kristus semakin bertambah, dirinya semakin berkurang. Hidupnya akan mengalirkan kasih dan buah-buah kebenaran yang menjadi kesaksian bagi dunia.

namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20).

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah (Kisah Para Rasul 20:24).

Kita tidak diselamatkan karena perbuatan baik, tapi perbuatan baik merupakan hasil dari mengerjakan keselamatan. Orang yang berjalan dalam kasih karunia tidak malas/pasif, melainkan mengobarkan karunia/talentanya untuk menjadi berkat bagi orang lain karena sadar telah menerima kasih yang begitu besar. Ia tidak hanya jadi pengunjung gereja, penonton atau jago berpendapat saja, tapi punya hati yang berbelas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang terhilang.

Transformasi hidup menjadi bukti bahwa kasih karunia Allah dalam diri seseorang tidak sia-sia.

Bukti lain bahwa kasih karunia bagi seseorang tidak sia-sia adalah ketekunan dan kegigihan orang tersebut dalam melakukan panggilan Allah.

Kasih karunia tidak meniadakan kelemahan dan masalah. Hidup di dalam kasih karunia bukan berarti hidup tanpa kesulitan/tantangan. Sebaliknya, dalam kelemahanlah kita menikmati kasih karunia Allah yang sempurna (2 Korintus 12:7-10). Ketangguhan dan ketabahan seseorang dalam melewati lembah kekelaman merupakan bukti bahwa ia ditopang oleh kekuatan kasih karunia Allah.

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;  tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku (1 Korintus 15:10)

PENUTUP

Kita diselamatkan karena kasih karunia oleh iman, diangkat menjadi anak yang wajib bertumbuh jadi dewasa dalam iman dan berhak menerima janji-janji Allah; untuk menjadi saksi kasih karunia Allah kepada dunia dengan membagikan berita baik tentang keselamatan melalui iman kepada Kristus.

Alangkah indahnya kalau kita semua makin mengerti bagaimana seharusnya hidup dalam kasih karunia Allah. Ada kedewasaan iman, saling mengasihi, saling melayani dan unity. Tiap gereja lokal benar-benar menjalankan fungsinya sebagai terang di tengah kegelapan dunia.

HIDUP SEBAGAI PEWARIS KASIH  KARUNIA (bagian 2)

HIDUP SEBAGAI PEWARIS KASIH KARUNIA (bagian 2)

Review minggu lalu :

Sebagai orang percaya, kita adalah pewaris dari anugerah kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus. Secara garis besar, kasih karunia ini mencakup : 1) anugerah keselamatan dan pengampunan dosa.

Sambungan minggu ini :

  1. Diangkat menjadi anak-anak Allah untuk hidup dalam kebenaran, kekudusan, mewarisi janji-janji Allah dan hidup kekal.

Setelah mengalami kelahiran baru, kita menerima kehadiran Roh Kudus yang menjadikan kita anak-anak Allah yang menggunakan hak bebasnya untuk hidup dalam kemerdekaan sejati. Yang disebut anak-anak Allah adalah mereka yang dipimpin oleh Roh Allah. Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Kita diangkat menjadi anak-anak Allah yang merdeka dari perbudakan dosa, hawa nafsu dan dunia.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa !”  Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita,  bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:15-16).

Seorang petobat baru harus tertanam di gereja lokal untuk dimuridkan agar menjadi dewasa dalam iman. Selama seseorang belum dewasa dalam iman, sesungguhnya ia tidak berbeda dengan seorang hamba yang masih takluk kepada roh-roh dunia (masih serupa dengan manusia duniawi), sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu (Galatia 4: 1-3). Setelah lahir baru, kita wajib bertumbuh dalam kasih karunia supaya tidak terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum dan kehilangan pegangan yang teguh.

Karena itu waspadalah,  supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.  Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.  Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya (2 Petrus 3:17b-18).

Seorang anak berhak menjadi ahli waris ayahnya. Sebagai anak, kita pun merupakan pewaris kasih karunia yang berhak menerima janji-janji Allah. Diperlukan sikap yang dewasa untuk mengelola warisan dan tidak menyalahgunakannya. Hanya mereka yang dewasa rohani yang bisa dipercayakan rahasia Injil dan tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah.

Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris,  maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia , supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Roma 8:17).

Tuhan akan mendidik kita seperti seorang anak yang dikasihiNya untuk kebaikan, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya dan menjadi dewasa dalam iman. Seringkali pendisiplinan Tuhan tidak mendatangkan sukacita, tapi dukacita. Namun kemudian hal itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.  “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak.  Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:5-7).

Seorang yang dewasa rohani rela berkorban dan menderita karena kebenaran. Ia tidak mau lagi diperbudak lagi oleh roh-roh dunia yang lemah dan miskin (Galatia 4:9). Orang yang dewasa rohani membuang sifat iri hati, kepahitan, kemalasan, kesombogan, amarah, bersungut-sungut, dlsb; ia melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota tubuh Kristus.  Marilah kita belajar menjadi anak yang layak menerima warisan/janji-janji Allah agar bisa dipercayakan rahasia Injil dan menjadi pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,  melainkan roh yang membangkitkan kekuatan,  kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus,  yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.  Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu;  karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan  (2 Timotius 1:6-12).

 

Bersambung minggu depan …

HIDUP SEBAGAI PEWARIS KASIH  KARUNIA (bagian 1)

HIDUP SEBAGAI PEWARIS KASIH KARUNIA (bagian 1)

PENDAHULUAN

Kasih karunia adalah anugerah Allah kepada manusia yang tidak layak menerimanya. Kasih karunia Allah diberi bukan berdasarkan perbuatan baik atau jasa kita tapi karena kemurahan hati Allah semata.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;  itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu :  jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8-9)

Sebagai orang percaya, kita adalah pewaris dari anugerah kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus. Secara garis besar, kasih karunia ini mencakup : 1) anugerah keselamatan dan pengampunan dosa; 2) diangkat menjadi anak-anak Allah untuk hidup dalam kebenaran, kekudusan dan mewarisi janji-janji Allah serta hidup kekal; 3) hidup dalam kasih karunia untuk menjadi saksi kepada dunia.

ISI

  1. Anugerah keselamatan dan pengampunan dosa.

Semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (kehilangan identitas sebagai ciptaan yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah). Manusia hidup di dalam hawa nafsu daging, menuruti kehendak daging dan pikiran yang jahat, berjerih lelah dengan mengandalkan kekuatan sendiri, memperbudak diri dengan system dunia serta diperdaya oleh tipu muslihat iblis.

Sebelum bertobat, kita hidup jauh dari Allah. Kita memusuhi DIA dalam hati, pikiran dan perbuatan yang jahat. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai oleh Allah. Namun karena kasihNya yang besar,  Allah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan kita dari kehancuran dan kebinasaan melalui karya penebusan Tuhan Yesus Kristus, supaya kita yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan memiliki hidup yang berkelimpahan dan kekal.

Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.  Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,  pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan,  tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,  yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,  supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya,  berhak menerima hidup yang kekal,  sesuai dengan pengharapan kita. (Titus 3:3-7)

Melalui Yesus Kristus, Allah menjadikan diriNya sebagai satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia. Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (KPR 4:12).

Setelah bertobat dan percaya Yesus, dosa kita diampuni oleh Bapa karena hukuman yang harusnya kita terima sudah ditanggung oleh Kristus di kayu salib. Allah mengampuni segala pelanggaran kita dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Surat hutang itu telah ditiadakan dengan memakukannya pada kayu salib. Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan.

Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya (Efesus 1:7).

Salah satu karya Roh Kudus adalah menolong kita untuk bertobat. Roh Kudus menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yohanes 16:8). Kata “menginsafkan” memiliki arti membuktikan, meyakinkan, menerangi. Roh Kudus membuat kita sadar akan dosa, akan kebenaran dan penghakiman sehingga kita bisa bertobat, percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Itu sebabnya Roh Kudus disebut juga Roh Kasih Karunia (Ibrani 10:29).

Saat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (mengalami kelahiran baru), kita menerima kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita. Kita menjadi manusia roh yang hidup oleh iman. Roh Kudus menolong dan memimpin kita hidup oleh iman. Orang yang hidup oleh iman (hidup dalam dimensi roh) akan percaya apa kata firman, bukan apa kata pikiran, logika, pendapat atau perasaan diri sendiri.

Keadaan orang yang telah menerima anugerah keselamatan dan pengampunan dosa :

  • Mengalami pemulihan hubungan dengan Allah (rekonsiliasi) melalui tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya (Kolose 1:20-22)
  • Diselamatkan dari hukuman kekal (Yohanes 3:18),
  • Dibenarkan (Filipi 3:9) dan dikuduskan (1 Korintus 6:11).
  • Dilepaskan dari cengkraman kuasa kegelapan dan dipindahkan ke dalam kerajaan terang (Kolose 1:13)

Bersambung minggu depan..

PROSES SEORANG MURID (bagian 2)

PROSES SEORANG MURID (bagian 2)

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia (Matius 4:19-20)

PENDAHULUAN

Menjelang naik ke sorga, Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke segala bangsa guna memberitakan Injil dan memuridkan orang-orang yang belum diselamatkan. Pemberitaan Injil ini penting karena menyangkut keselamatan kekal banyak orang. Jika para rasul tidak pergi dan memberitakan Injil, dunia tidak akan pernah mengenal Juruselamat, dan pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan masuk ke dalam kebinasaan kekal.

ISI

Memberitakan Injil kepada dunia bukanlah perkara mudah, karena berita keselamatan melalui Yesus akan menyingkapkan bahwa apa yang orang-orang percayai selama ini tidaklah menyelamatkan. Hal ini sensitif karena akan menyinggung orang-orang yang meyakini kepercayaannya yang sudah lama.

Jauh sebelum mengutus, Yesus memanggil orang-orang untuk dimuridkan sebagai persiapan untuk menerima Roh Kudus. Murid-murid harus menjalani kehidupan dengan iman. Mereka diajarkan gaya hidup kerajaan Allah untuk mengenal pribadi dan kebenaranNya.

Secara garis besar, proses pemuridan mencakup tiga hal :

1. Menerima panggilan untuk mengikut Yesus.

Siapakah murid Kristus itu? Mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus, diperlengkapi dengan firman dan diberi kuasa Roh Kudus untuk memberitakan Injil. Pada dasarnya menjadi murid Tuhan adalah suatu kehormatan. Tidak semua orang percaya mengerti hal itu, khususnya ketika masih baru mengiring Tuhan.

Banyak orang muda yang beranggapan bahwa menjadi murid Kristus adalah sesuatu yang mengekang dan membosankan karena banyak menekankan hal-hal batiniah. Pandangan itu tidak tepat, karena menjadi murid Kristus adalah kehidupan yang penuh dengan gairah kudus, yang akan membawa kepada kepuasan jiwa, damai sejahtera dan sukacita.

Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Dosa mengikat manusia dan membuat orang melakukan hal-hal buruk dan salah berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan berdosa. Ketika percaya kepada Yesus, orang diselamatkan dan dilepaskan dari perhambaan dosa dan menjadi hamba Kristus (1 Korintus 6:19-20).

Sebagai hamba Kristus, kita perlu memiliki kebiasaan baru yang menyenangkan hati Sang Tuan. Untuk mengubah kebiasaan lama menjadi baru diperlukan proses yang disebut pemuridan. Pemuridan akan membawa gaya hidup/kebiasaan baru dalam kehidupan orang-orang yang melakukannya.

2. Tujuan Pemuridan

Pemuridan adalah cara yang Tuhan Yesus pakai dalam mempersiapkan murid-murid-Nya. Mereka dipanggil untuk melakukan suatu tugas yang besar yaitu pemberitaan kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia dari dosa. Tuhan memanggil mereka untuk mengikut Dia dan diajar sehingga nantinya mereka akan mengalami perubahan hidup dan siap untuk melaksanakan tugas mulia tersebut.

Sebagai murid, salah satu aspek yang penting adalah kapasitas manusia roh yang harus dipersiapkan agar dapat menjadi pribadi yang lembut hatinya sehingga mau diajar untuk taat melakukan perintah Tuhan. Pemberitaan Injil memerlukan orang-orang yang mau berjuang, bertahan dan terus maju di tengah tantangan dan perlawanan dari dunia.

3. Hakikat Pemuridan : perubahan dari dalam ke luar

Pada dasarnya orang sulit untuk berubah, terlebih lagi ketika usianya sudah dewasa dan berada pada posisi yang merasa benar. Orang tidak merasa perlu untuk berubah, karena merasa tidak melakukan hal yang keliru. Keadaan luar yang menekan dengan keras seringkali dapat menghasilkan perubahan pada seseorang, misalnya orang sadar bahwa olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh, namun malas melakukannya sampai suatu saat jatuh sakit.

Dunia mengajar orang untuk hidup dari luar ke dalam, artinya hidup karena melihat. Impuls dari luar yang ditangkap panca indera kita dimasukkan ke dalam jiwa dan hati. Hal ini menyebabkan orang dikuasai oleh berbagai keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup yang sangat bertentangan dengan iman Kristen.

Akan tetapi jika seseorang mau dimuridkan, maka akan terjadi perubahan dari dalam ke luar dan pada akhirnya orang tersebut hidup sama seperti Yesus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Ketika mendengar firman, seseorang akan memberi dua macam respon : percaya atau tidak percaya. Kadangkala jika firman yang didengar tidak sesuai dengan kehidupan atau keinginannya, maka orang bisa bergumul dengan firman tersebut, apakah akan mempercayai atau tidak. Mempercayai maksudnya menerima firman dengan iman (bukan dengan dasar pertimbangan melihat keadaan/kenyataan, pikiran, pengertian, atau perasaan sendiri).

Bersambung minggu depan …

 

PROSES SEORANG MURID (bagian 1)

PROSES SEORANG MURID (bagian 1)

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia (Matius 4:19-20)

PENDAHULUAN

Menjelang naik ke sorga, Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke segala bangsa guna memberitakan Injil dan memuridkan orang-orang yang belum diselamatkan. Pemberitaan Injil ini penting karena menyangkut keselamatan kekal banyak orang. Jika para rasul tidak pergi dan memberitakan Injil, dunia tidak akan pernah mengenal Juruselamat, dan pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan masuk ke dalam kebinasaan kekal.

ISI

Memberitakan Injil kepada dunia bukanlah perkara mudah, karena berita keselamatan melalui Yesus akan menyingkapkan bahwa apa yang orang-orang percayai selama ini tidaklah menyelamatkan. Hal ini sensitif karena akan menyinggung orang-orang yang meyakini kepercayaannya yang sudah lama.

Jauh sebelum mengutus, Yesus memanggil orang-orang untuk dimuridkan sebagai persiapan untuk menerima Roh Kudus. Murid-murid harus menjalani kehidupan dengan iman. Mereka diajarkan gaya hidup kerajaan Allah untuk mengenal pribadi dan kebenaranNya.
Secara garis besar, proses pemuridan mencakup tiga hal :

1. Menerima panggilan untuk mengikut Yesus.

Siapakah murid Kristus itu? Mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus, diperlengkapi dengan firman dan diberi kuasa Roh Kudus untuk memberitakan Injil. Pada dasarnya menjadi murid Tuhan adalah suatu kehormatan. Tidak semua orang percaya mengerti hal itu, khususnya ketika masih baru mengiring Tuhan.

Banyak orang muda yang beranggapan bahwa menjadi murid Kristus adalah sesuatu yang mengekang dan membosankan karena banyak menekankan hal-hal batiniah. Pandangan itu tidak tepat, karena menjadi murid Kristus adalah kehidupan yang penuh dengan gairah kudus, yang akan membawa kepada kepuasan jiwa, damai sejahtera dan sukacita.

Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Dosa mengikat manusia dan membuat orang melakukan hal-hal buruk dan salah berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan berdosa. Ketika percaya kepada Yesus, orang diselamatkan dan dilepaskan dari perhambaan dosa dan menjadi hamba Kristus (1 Korintus 6:19-20).

Sebagai hamba Kristus, kita perlu memiliki kebiasaan baru yang menyenangkan hati Sang Tuan. Untuk mengubah kebiasaan lama menjadi baru diperlukan proses yang disebut pemuridan. Pemuridan akan membawa gaya hidup/kebiasaan baru dalam kehidupan orang-orang yang melakukannya.

a. Tujuan Pemuridan

Pemuridan adalah cara yang Tuhan Yesus pakai dalam mempersiapkan murid-murid-Nya. Mereka dipanggil untuk melakukan suatu tugas yang besar yaitu pemberitaan kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia dari dosa. Tuhan memanggil mereka untuk mengikut Dia dan diajar sehingga nantinya mereka akan mengalami perubahan hidup dan siap untuk melaksanakan tugas mulia tersebut.

Sebagai murid, salah satu aspek yang penting adalah kapasitas manusia roh yang harus dipersiapkan agar dapat menjadi pribadi yang lembut hatinya sehingga mau diajar untuk taat melakukan perintah Tuhan. Pemberitaan Injil memerlukan orang-orang yang mau berjuang, bertahan dan terus maju di tengah tantangan dan perlawanan dari dunia.

b. Hakikat Pemuridan : perubahan dari dalam ke luar

Pada dasarnya orang sulit untuk berubah, terlebih lagi ketika usianya sudah dewasa dan berada pada posisi yang merasa benar. Orang tidak merasa perlu untuk berubah, karena merasa tidak melakukan hal yang keliru. Keadaan luar yang menekan dengan keras seringkali dapat menghasilkan perubahan pada seseorang, misalnya orang sadar bahwa olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh, namun malas melakukannya sampai suatu saat jatuh sakit.

Dunia mengajar orang untuk hidup dari luar ke dalam, artinya hidup karena melihat. Impuls dari luar yang ditangkap panca indera kita dimasukkan ke dalam jiwa dan hati. Hal ini menyebabkan orang dikuasai oleh berbagai keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup yang sangat bertentangan dengan iman Kristen.

Akan tetapi jika seseorang mau dimuridkan, maka akan terjadi perubahan dari dalam ke luar dan pada akhirnya orang tersebut hidup sama seperti Yesus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Ketika mendengar firman, seseorang akan memberi dua macam respon : percaya atau tidak percaya. Kadangkala jika firman yang didengar tidak sesuai dengan kehidupan atau keinginannya, maka orang bisa bergumul dengan firman tersebut, apakah akan mempercayai atau tidak. Mempercayai maksudnya menerima firman dengan iman (bukan dengan dasar pertimbangan melihat keadaan/kenyataan, pikiran, pengertian, atau perasaan sendiri).

Bersambung minggu depan …

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10)

PENDAHULUAN

Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah manusia Adam. Sebelum menciptakan Adam, Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik, lalu diberikan kepada Adam untuk dikelola olehnya (Kejadian 1: 28). Alkitab mencatat bahwa hubungan Adam dengan Allah sangat intim (Kejadian 3: 8). Namun sayangnya Adam memilih untuk tidak setia/taat kepada Tuhan sehingga semua keturunan Adam telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Lalu apakah dengan begitu, rancangan/pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya untuk manusia jadi gagal?

ISI

Jawabannya tidak; rancangan Tuhan tidak pernah gagal :
Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi; Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? (Yesaya : 26a dan 27a)
Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. (Ayub 42:2)

Lalu bagaimana Tuhan menggenapi rancanganNya atas manusia? Dalam Yohanes 3: 16 kita mengetahui bahwa Allah lahir sebagai manusia dan diberi nama Yesus, supaya manusia ciptaanNya bisa kembali dipulihkan kepada rancanganNya yang semula. Allah mau manusia ciptaanNya hidup di dalam rancangan/kehendakNya.

Kita yang dahulu terpisah dari Allah, …sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (Efesus 2:13).
..Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan (Efesus 2:14).

Dari 1 Petrus 2: 22-24 kita bisa melihat karakter Manusia Kristus :
– Ia tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya;
– Ketika dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki;
– Ketika menderita, Ia tidak mengancam tetapi menyerahkannya kepada Dia (Allah Bapa), yang menghakimi dengan adil.
– Ia telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.
– Oleh bilur-bilur-Nya, kita telah sembuh.

Perbedaan antara manusia Adam dan manusia Kristus

Manusia Adam, dalam kehendak bebasnya memilih untuk :
1. Tidak taat kepada Allah;
2. Hidup dari pohon pengetahuan baik dan jahat (dunia/kedagingan);
3. Hubungan/persekutuan dengan Allah terputus.

Manusia Kristus dalam kehendak bebasnya memilih untuk :
1. Taat sampai mati di kayu Salib (Filipi 2:8);
2. Melakukan kehendak Bapa, di mana dalam keadaanNya sebagai 100% manusia telah memberi teladan bagi kita bagaimana caranya menjadi manusia yang berkenan kepada Allah (1Petrus 2:21); 3. Memiliki persekutuan pribadi dengan Bapa (Markus 1: 35)

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6).

Tuhan yang kita sembah lebih menyukai KASIH SETIA, menyukai PENGENALAN AKAN ALLAH; artinya Tuhan menghendaki kita memiliki persekutuan/waktu pribadi bersama DIA, untuk mengenal dan dikenal Tuhan. Dengan tekun membaca dan merenungkan Firman Tuhan/Alkitab, kita bisa mengenal Tuhan dengan benar sehingga kita bisa belajar meneladani kehidupan Manusia Kristus untuk menyenangkan hati Tuhan.

Teladan Manusia Kristus adalah selalu mentaati Firman Tuhan dan menggenapi kehendak Allah:

– Matius 3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya.
– Matius 26: 39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
– Markus 1:
35) Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
38) Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”
39) Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Perhatikan ayat di atas (Markus 1:35, 38, 39) : setelah bersaat teduh, Yesus mendapat tuntunan dari Allah Bapa untuk memberitakan Injil dan mengusir setan-setan.

PENUTUP

Sebelum Tuhan Yesus pergi kepada Bapa, IA memberikan pesan yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 (baca). Menggenapi setiap Firman Tuhan adalah kehendak Allah bagi orang percaya khususnya kita anggota Cool, yang sudah mendapatkan anugerah keselamatan melalui penebusan Yesus Kristus di kayu salib.

KEBANGKITAN KRISTUS MEMBAWA HIDUP YANG PENUH PENGHARAPAN

KEBANGKITAN KRISTUS MEMBAWA HIDUP YANG PENUH PENGHARAPAN

Di luar Kristus sesungguhnya manusia tidak memiliki pengharapan. Dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini penuh dengan masalah, kejahatan, kemiskinan, sakit-penyakit, ketidak-adilan, bencana, peperangan, dlsb.

Kematian menjadi sesuatu yang sangat menakutkan karena berujung pada kebinasaan kekal. Semua jerih lelah dan pencapaian manusia selama hidupnya hanyalah kesia-siaan. Manusia berusaha dengan kekuatan sendiri, tanpa penyertaan, perlindungan dan kasih karunia Allah. Tanpa Kristus, manusia tidak mendapat bagian dalam janji-janji Allah, tanpa pengharapan, dan tanpa Allah di dalam dunia (Efesus 2:12).

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” (1 Petrus 1:3)

Hidup yang penuh pengharapan ini berasal dari kelahiran kembali dalam Kristus. Kita telah diperanakkan oleh Allah (Yohanes 1:13) melalui kebangkitan Yesus dari kematian. Tanpa kebangkitan Kristus, manusia tidak memiliki hubungan dengan Allah Bapa. Kita tetap hidup dalam dosa, kutuk, menuju kebinasaan dan tanpa harapan.

1 Korintus 15:14,17-18 mengatakan :
14) “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka siasialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
17) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
18) Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus”.

Apa arti pengharapan dalam iman Kristen? Menurut kamus, arti pengharapan adalah menginginkan sesuatu terjadi; digunakan ketika kita tidak tahu sesuatu akan terjadi atau tidak, tetapi kita berdoa agar hal itu terjadi. Sedangkan ekspektasi digunakan untuk mengatakan apa yang kita yakini akan terjadi, ekspektasi juga berarti berpikir atau mengira.

Menurut Alkitab, harapan (hope) itu bukan hanya sekedar ‘wish’ atau ‘expect’. Harapan adalah bukti yang solid dan nyata terhadap janji yang didasarkan pada firman Allah.

Pengharapan kita adalah ‘jangkar’ atau ‘sauh’ yang kuat dan aman bagi jiwa karena TUHAN tidak pernah berdusta. Harapan dalam Kristus memberikan jaminan kepastian bahwa apa yang telah dijanjikan Allah dalam firmanNya itu benar, pasti akan terjadi sesuai dengan kehendak Bapa.

Ibrani 6:19-20a mengatakan “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita”.

Hidup yang berasal dari kelahiran baru ini memberikan harapan bagi orang percaya : bahwa kita menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu, dan yang tersimpan di sorga (1 Petrus 1:4).

Kita memiliki warisan yang tidak dapat digapai oleh kematian, dinodai oleh kejahatan, atau usang termakan waktu. Warisan ini juga pasti karena Allah menjaga dan melindunginya bagi kita. Warisan ini aman terjamin, tidak ada seorangpun/apapun yang dapat merebut atau menggagalkannya.

Masa depan kita terjamin akibat kebangkitan Yesus Kristus. Pengharapan kita ada pada kemenangan-Nya atas kematian serta kebangkitan- Nya. Kebenaran ini mengubah cara pandang orang percaya dalam menghadapi berbagai pergumulan dalam hidupnya. Apapun masalah, ujian dan penderitaan yang kita hadapi tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Hidup yang penuh pengharapan ini memampukan orang percaya untuk tidak tawar hati dan putus asa dalam menghadapi segala musim terutama penderitaan dalam hidupnya.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:16-18).

Kekristenan bukan soal kenyamanan dan menghindari/lari dari masalah, tapi berbicara tentang kehidupan yang berkemenangan atas persoalan, pergumulan dan penderitaan. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk  menderita untuk Dia.” (Filipi 1:29).

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Hidup yang penuh pengharapan dan kasih karuniaNya menjadi unsur penting yang membedakan orang percaya dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus. “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

Inilah kehidupan yang berkualitas, tangguh, tahan uji dan membawa kemuliaan bagi Allah.

Selamat Paskah!

BELAJAR BERLAKU SETIA

BELAJAR BERLAKU SETIA

PENDAHULUAN

Kebanyakan orang mau berkomitmen untuk setia bila menerima balasan atau upah. Kesetiaan manusia memang cenderung bersyarat. Perilaku seperti ini sering terbawa dalam mengikut Tuhan, di mana sering kita berubah setia karena tidak segera melihat hasil atau merasa tidak memperoleh yang kita harapkan. Hati mudah berubah mengikuti perasaan. Di awal mengikut Tuhan/pelayanan begitu setia dan memiliki roh yang menyala-nyala, namun dengan berjalannya waktu, kesetiaannya perlahan pudar, merasa bosan, jenuh atau lelah hati karena merasa tidak dihargai. 

ISI

Pada materi kali ini kita mau belajar berlaku setia  dengan 3 hal berikut : 

1. Menjaga kasih yang semula. 

Kasih yang semula adalah kasih saat kita percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima kasihNya. Seseorang begitu bergairah serta selalu haus dan lapar akan firman/hadiratNya. Jagalah kasih yang semula dan hiduplah oleh iman yang murni. Kasih yang semula akan menolong kita berlaku setia dengan Tuhan. Orang yang setia dengan Tuhan juga akan setia dengan gereja lokal dan dalam hubungan dengan orang lain.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan kita kehilangan kasih yang semula : perselisihan, sakit hati, kecewa melihat realita hidup, kesombongan, iri hati, mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, cinta akan uang, ambisi/agenda pribadi, dlsb.

Ciri-ciri orang yang kehilangan kasih yang semula : kehilangan rasa haus dan lapar/gairah dengan Tuhan (malas berdoa, baca firman/cuma sekedar baca, ibadah/pelayanan cuma rutinitas), kerajinan jadi kendor, gemar mengkritik, bersungut-sungut, merasa tidak puas, tidak peduli orang lain, hidup dikuasai mood/perasaan/suasana hati, dlsb.

Iman yang murni bekerja dalam kasih yang semula. Iman yang murni akan meluruskan jalan kita untuk setia sampai garis akhir. Orang yang setia bertahan sampai garis akhir akan selamat. Oleh sebab itu jangan biarkan kasih kita menjadi dingin.

2. Mata yang fokus tertuju kepada Kristus.

marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus,  yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.  Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. (Ibrani 12:1b-4).

  • Menanggalkan beban dan dosa yang merintangi (hidup dalam pertobatan).
  • Berjalan dengan iman yang murni (iman disertai perbuatan).
  • Mata tertuju kepada Kristus; kepada ketabahanNya yang mengabaikan hinaan dan tekun memikul salib supaya kita tidak jadi lemah (mis. marah, kecewa, kepahitan, self-pity, sombong, mendua hati, takut, tawar hati, iri hati) dan putus asa.
  • Pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan kita. Allah setia, IA memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya.
  • Ada kemuliaan dan sukacita di balik salib/ujian/penderitaan.

3. Memiliki roh takut akan Allah dan mendahulukan DIA.

Takut akan Allah berarti memiliki rasa hormat yang berdampak kepada cara hidup kita (berpikir, berkata-kata, berperilaku, mengambil keputusan dan cara memperlakukan orang lain). Contoh sikap takut akan Allah : menghormati kekudusan Allah, mendahulukan DIA di atas keinginan/kenyamanan  kita, taat kepada firmanNya, takluk kepada hukum-hukum Allah, cepat bertobat kalau ditegur, tidak menyimpan dosa atau kepahitan, merendahkan hati, dlsb.

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” (Amsal 8:13).

PENUTUP

Kadang kita malas berkomitmen untuk setia ketika merasa apa yang kita lakukan tidak langsung terlihat hasilnya, tidak diperhitungkan/dihargai, tidak dilihat orang lain, tidak mendapat upah, atau berbagai alasan lain. 

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:23-24)

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,  karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Galatia 6:9)

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Matius 24:13)

ALLAH  ITU  SETIA

ALLAH ITU SETIA

Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia (1 Korintus 1:9)

 

PENDAHULUAN

Banyak sekali bukti yang menunjukkan sifat kesetiaan Allah, antara lain keteraturan dalam tatanan alam semesta termasuk tubuh manusia; di mana Allah menopang dan memelihara seluruh ciptaan dengan firmanNya. Alkitab juga banyak menuliskan tentang kasih setia Allah yang dinyatakanNya kepada orang yang takut akan DIA. Pada bahan kali ini, kita mau belajar tentang sifat/karakter Allah yang setia, maksud kesetiaanNya yang dinyatakan bagi kita, serta bagaimana meresponi kasih setia Allah.

 

ISI

Kesetiaan Allah tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terjadi dari luar atau hanya bersifat musiman. Kasih setia Allah tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Setia adalah karakter Allah, Dia tidak dapat menyangkal DiriNya sendiri dengan berlaku tidak setia. Lalu bagaimana kita meresponi kesetiaan Allah?

Arti kata setia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah  1 berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat; 2 tetap dan teguh hati. Kesetiaan kita kepada Allah berarti memilih untuk percaya dan taat kepada Dia di antara pilihan lain yang kita lebih suka atau yang lebih baik menurut kita. Kita tetap berpegang teguh kepada firman meski dalam keadaan yang kurang baik, dalam keadaan nyaman/sedang tidak ada masalah, atau keadaan yang sepertinya belum jelas/dimengerti.

Manusia gampang sekali berubah setia kepada Tuhan. Di mata Tuhan, kesetiaan manusia mudah hilang seperti kabut pagi dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar (Hosea 6:4). Mungkin banyak orang menyebut dirinya baik hati, tetapi orang setia tidak banyak ditemukan.

Untuk dibentuk menjadi orang yang setia, Tuhan akan menguji kita melalui 4 macam perkara:

  1. Melalui tantangan, masalah dan penderitaan.

Apakah kita tetap setia bertekun mencari kehendak Allah atau berusaha dengan kekuatan/pengertian sendiri. Apakah kita tetap bisa bersyukur dan bersukacita dalam segala keadaan, atau malah jadi lemah, bersungut-sungut, mengasihani diri sendiri dan kecewa dengan Allah.

  1. Melalui keadaan sedang baik-baik saja, diberkati, ada dalam kenyamanan, diberi promosi, dipakai Tuhan secara luar biasa, memiliki karunia yang hebat.

Apakah kita semakin takut akan Tuhan dan mengandalkan DIA, semakin rendah hati karena sadar kalau tidak waspada kita bisa mencuri kemuliaan Tuhan, terus menjaga hati dengan segala kewaspadaan agar motivasi hati tetap  benar dan murni; atau jadi tinggi hati/jatuh dalam kesombongan, hati melekat kepada hal yang spektakuler, menyalahgunakan berkat, mendua hati/berubah setia, jadi sibuk dan tidak menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama, kerajinan jadi kendor, mengomersilkan karunia demi keuntungan diri sendiri dan menyesatkan orang lain.

  1. Melalui perkara-perkara kecil dan dalam perkara uang/harta.

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? (Lukas 16:10-12).

Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk bertekun dalam kesetiaan melalui perkara kecil yang sepertinya remeh, tidak berarti, tidak ada orang yang melihat, atau hal-hal rutin dan membosankan.

  1. Dalam menjalankan talenta.

Bagaimana tanggung jawab kita dalam mengelola talenta; apakah menjalankan atau menyembunyikannya? Hamba seperti apa kita; yang setia atau yang jahat dan malas? Apakah talenta yang kita miliki (waktu, karunia, finansial, pekerjaan/usaha, pengaruh, dlsb) dijalankan dalam rencana dan kehendak Allah atau menurut keinginan/ambisi pribadi.

“Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”  (2 Timotius 2:13)

Perlu kita camkan bahwa bukan berarti karena Allah tetap setia walaupun kita tidak setia, lantas kita bisa memandang remeh dan mempermainkan kesetiaan Allah. Ingatlah bahwa Allah tidak akan membiarkan diriNya dipermainkan. Apa yang kita tabur, itu juga yang kita tuai.

Kesetiaan Allah kepada kita bukan karena jasa, kebaikan atau kelayakan kita untuk mendapatkan kesetiaanNya. Allah setia karena Ia adalah kebenaran dan di dalam Dia tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1:17). Itu sebabnya dikatakan Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri. Pengertian ini membuat hati kita bersyukur, menaruh hormat dan kagum akan anugerah Allah.

Maksud kesetiaan Allah yang telah memanggil kita dalam persekutuan dengan AnakNya, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah agar kita hidup dalam kehendak dan rencanaNya. Kesetiaan Allah yang menopang, memampukan, melindungi dan meneguhkan kita untuk setia memelihara iman kepada Kristus Yesus sampai garis akhir.

 

PENUTUP

Kesetiaan dimulai dari iman yang murni dan hati yang melekat kepada Allah; punya roh takut akan Tuhan serta sikap hati yang mendahulukan DIA. Orientasinya adalah kehendak dan rencana Allah, bukan kehendak dan agenda pribadi. Roh Kudus akan meneguhkan kita untuk hidup dalam kehendak dan rencanaNya karena Allah itu setia.

Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. (1 Petrus 5:10)