Senin. KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16:18 Fondasi adalah hal terpenting dari suatu bangunan. Mengapa? Sebab kualitas fondasi sebuah bangunan akan menentukan batasan seberapa kokoh dan seberapa tinggi bangunan bisa dibangun di atasnya. Begitu pula dalam kehidupan rohani, hukum yang sama juga berlaku. Kehidupan orang percaya itu diumpamakan seperti sebuah bangunan. Karena itu penting sekali memperhatikan fondasi hidup kita, sebab fondasi akan menentukan kualitas kerohanian kita.
Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Alkitab jelas menyatakan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan yang lain seperti tertulis: “…tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11). Jadi, yang menjadi fondasi hidup orang percaya bukanlah sebuah pelayanan, keanggotaan atau jabatan dalam struktur keorganisasian di sebuah gereja dan sebagainya.
“Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (1 Petrus 2:6).
Nama Petrus dalam bahasa Yunani adalah petros yang memiliki arti batu kecil atau kerikil. Adapun batu karang dalam ba-haasa Yunani adalah petra yang artinya batu besar. Artinya bahwa gereja tidak dibangun di atas pribadi Petrus, yang ada-lah seorang manusia lemah, penuh keterbatasan dan mudah sekali rapuh, seperti batu kecil atau kerikil. Gereja yang dibangun diatas pribadi manusia takkan mampu berdiri kokoh dan mudah sekali diombang-ambingkan. Bukti nyata adalah perjalanan rohani Petrus sendiri yang pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Satu-satunya fondasi hidup yang ko-koh bagi orang percaya, tak lain dan tak bukan, hanyalah Tuhan Yesus sendiri. “Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota ben-tengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62:3 Baca: Matius 16:13-20
Selasa. MEMUNGKIRI KEBESARAN
KUASA TUHAN “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit – apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati – apa yang dapat kauketahui?” Ayub 11:7-8
Sungguh mengherankan jika sampai hari ini masih ada orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka bertanya: “Bagaimana kita dapat meyakini Tuhan itu benar-benar ada?” Padahal setiap hari kita melihat keajaiban-keajaiban alam terjadi di depan mata: keindahan bunga yang bermekaran di padang, pertumbuhan tanaman dan buah-buah yang dihasilkan, siapakah yang berkarya di balik itu? Belum lagi keagungan benda-benda di langit, di angkasa yang begitu menakjubkan. Siapa yang memerintahkan matahari untuk terbit dari ufuk timur dan memancarkan sinarnya secara penuh pada siang hari, serta bintang-bintang dan rembulan menerangi bumi pada malam hari? Mengapa selalu tepat waktu dan tidak pernah tertukar waktunya? Siapakah yang mengatur planet-planet sehingga semuanya berjalan dengan teratur tanpa dikendalikan oleh sua-tu alat yang terlihat oleh mata jasmani? Tuhan-lah tentu yang mengatur (baca Yeremia 33:25).
Kalau mau jujur, pasti kita akan mengakui bahwa semuanya itu ada yang mengatur dan mengendalikan, yaitu Tuhan, “Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya. Utara dan selatan, Engkaulah yang menciptakannya, Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu. Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu.” (Mazmur 89:12-14). Jelas bah-wa alam semesta dan semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi telah memperlihatkan keberadaan Tuhan sebagai Sang Pencipta.
Adalah sebuah kebodohan jika manusia berusaha untuk memungkiri, meragukan dan bahkan menolak Tuhan secara mentah-mentah, serta menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena itu mereka dengan sengaja tak mau taat kepada firman yang telah ditetapkan di dalam Alkitab. Siapakah kita ini se-hingga merasa gengsi untuk mengakui bahwa sesungguhnya kita ini penuh dengan keterbatasan dan membutuhkan Juruselamat dalam hidup ini? Bapa telah menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus, tetapi banyak orang dengan sombong tak mau mengakui, apalagi menerima-Nya.
“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” (Mazmur 33:9). Masihkah kita tak percaya kepada-Nya? Baca: Ayub 11
Rabu. WASPADA TERHADAP AJARAN SESAT
“Tetapi aku (Paulus) takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama sep-erti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11:3
Alkitab menyatakan bahwa di masa-masa akhir “…Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” (Matius 24:24). Inilah pekerjaan Iblis yang berusaha dengan segala cara mengelabui dan menghasut banyak orang percaya dengan memunculkan ajaran-ajaran yang menyimpang dari Injil Kristus, supaya dalam diri mereka timbul keragu-raguan dan ketidakpercayaan. Bagi orang percaya yang tidak berakar kuat di dalam Tuhan dan firman-Nya pasti akan mudah terseret. Inilah yang rasul Paulus takutkan dan kuatirkan.
Banyak di antara kita yang hanya diam seribu basa, tidak bisa bersikap tegas, dan tak kuasa menolak ketika kedatangan orang-orang yang memberitakan ajaran-ajaran yang berten-tangan dengan Injil Kristus. Bahkan ada orangtua yang justru menyarankan anak-anaknya belajar kepada mereka dengan alasan untuk perbandingan. “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.” (2 Korintus 11:4). Berhati-hatilah! Jangan sekali-kali kita kompromi! “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.” (1 Yohanes 2:18).
Orang percaya harus ekstra waspada menanggapi ajaran sesat dari orang-orang yang mengaku utusan Kristus, padahal mereka seperti musuh dalam selimut. Lengah sedikit, mereka siap menerkam! Rasul Paulus berkata: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Galatia 1:8)
Melekat kepada Tuhan dan berakar dalam firman adalah kunci melawan tipuan Iblis! Baca: 2 Korintus 11:1-6
Kamis. BAGAIMANA MENJADI YANG TERBESAR?
“Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.” Lukas 9:46
Siapa yang tak mau menjadi yang terbesar, terhebat, terbaik dan terkenal di bidangnya masing-masing? Semua insan yang ada di dunia ini sangat menginginkan semuanya itu. Maka demi mewujudkan keinginan itu tidak sedikit orang berani menempuh jalan yang sesat alias menghalalkan segala cara: meminta petunjuk kepada paranormal, memakai susuk penglaris, menyuap, berlaku curang, sikut sana sini, atau jegal sana sini. Dunia ini penuh dengan orang yang hatinya penuh siasat dan kecurangan.
Perhatikan prinsip yang diajarkan oleh Tuhan Yesus: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:26-28). Untuk menjadi yang terbesar justru harus dimulai dari menjadi seorang hamba atau pelayan bagi sesamanya. Dengan kata lain, siapa yang ingin menjadi tuan harus rela menjadi hamba terlebih dahulu. Ini berbicara tentang kerendahan hati! Tuhan sangat menentang orang yang berlaku congkak dan mengasihani orang yang rendah hati (baca Yakobus 4:6). Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki impian, harapan atau ambisi yang besar; Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki tekad yang kuat untuk menjadi terbesar. Asalkan impian, harapan, ambisi itu dapat menjadi motor penggerak yang dapat mendorong kita untuk maju dan menjadi lebih baik. Tetapi kalau ambisi dan keinginan tersebut mulai mengarah ke negatif dan bertentangan dengan kehendak Tuhan, itu yang patut diwaspadai.
Yang terbesar di pemandangan Tuhan bukanlah mereka yang mempunyai kemampuan luar biasa, tapi mereka yang mau melayani, merendahkan hati, dan mau berkorban bagi Tuhan dan sesama. Berarti menjadi orang yang terbesar sangat ditentukan oleh kualitas hidupnya sendiri. Orangorang yang hatinya tulus, rendah hati, bersih dan apa adanya dengan Tuhan, seperti seorang anak kecil, itulah yang
Tuhan cari.
“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Matius 23:12
Baca: Lukas 9:46-48
Jumat. APAKAH HATI KITA TANAH YANG BAIK?
“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Lukas 8:15
Amsal 27:19: “Seperti air mencerminkan wajah, demikian-lah hati manusia mencerminkan manusia itu.” Itulah sebabnya kita harus menjaga kondisi hati kita dengan segala kewaspadaan, sebab dari situlah terpancar kehidupan (baca Amsal 4:23), dan dari hati timbul segala pikiran jahat (baca Matius 15:19). Ini menunjukkan bahwa kondisi hati mem-iliki peranan penting dalam perjalanan hidup kita. Apa yang terjadi dengan hidup ini sangat bergantung pada apa yang ada di hati, dan gambaran hidup yang sekarang sedang kita kita jalani adalah juga cerminan hati kita. Kalau hati kita bersih, jalan hidup kita juga akan bersih; jika hati kita penuh sukacita maka kita akan mengerjakan segala sesuatu juga dengan sukacita. Tetapi apabila hati kita pahit, jalan yang kita tempuh pun akan diwarnai dengan kepahitan.
Alkitab sering menggambarkan hati manusia sebagai tanah: ada yang berbatu-batu, tanah di pinggiran jalan yang keras, tanah yang penuh semak duri, tetapi ada juga tanah yang subur, tanah di mana benih firman Tuhan dapat bertumbuh dan akan berbuah lebat. Meskipun sama-sama mendengar firman Tuhan, dampaknya terhadap masing-masing orang berbeda, sangat bergantung pada kondisi ‘tanah’ hati mereka. Jika mereka mendengar firman, tetapi hati keras dan berbatu, firman Tuhan tidak akan berarti apa-apa dalam hidup mereka.
Hati dikategorikan sebagai tanah yang baik apabila ia dalam keadaan bersih: tidak ada kebencian, sakit hati, kepahitan, kecewa, dendam, atau ambisi-ambisi duniawi. Sekalipun kita rajin datang ke ibadah dan mendengarkan khotbah berkali-kali, tetapi jika hati kita belum beres dari hal-hal tersebut (benci, sakit hati, pahit, kecewa, dendam, ambisi dan lain-lain), maka firman Tuhan itu tidak akan berdampak dalam hidup kita. “Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya?” (Amsal 24:12). Tanah hati seperti ini harus dibajak, dicangkul, dibersihkan dan dira-takan. Daud berdoa: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;” (Mazmur 139:23).
Benih firman yang tertanam di tanah hati yang baik pasti tumbuh dan berbuah lebat! Baca: Lukas 8:4-15
Sabtu. KETAATAN YANG TELAH TERUJI (1)
“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Matius 4:1
Ada kalimat bijak mengatakan: “Pelaut yang tangguh tidak terbentuk dari laut yang tenang.” Artinya kualitas hidup seseorang akan terlihat ketika ia dihadapkan pada proses ujian, ketika berhadapan langsung dengan masalah, kesulitan, krisis atau situasi-situasi sulit. Dalam keadaan yang normal, mulus, baik, sehat dan sejahtera, umumnya semua orang akan mampu menyembunyikan sifat dan karakternya yang kurang baik dan sebaliknya menunjukkan hal-hal yang baik-baik saja. Namun saat berhadapan dengan situasi sulit, buruk, krisis atau sesuatu yang mengancam dan membahayakan, seperti sakit-penyakit, kemiskinan atau penderitaan, sulit bagi kita untuk menyembunyikan jati diri atau karakter yang sesungguhnya.
Untuk mengetahui kualitas yang sesungguhnya pada diri-Nya, “…Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dico-bai Iblis.” (Matius 4:1). Padang gurun adalah tempat yang sangat tandus dan kering. Pada siang hari udaranya sangat panas dan sangat dingin di waktu malam. Tidak ada ma-kanan dan minuman, juga tidak ada pohon rindang untuk berteduh. Padang gurun seringkali menjadi bayang-bayang maut bagi siapa saja yang berada di sana, seperti yang dikeluhkan oleh bangsa Israel ketika berada di padang gurun: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (Keluaran 14:11). Namun Yesus justru menjadikan padang gurun sebagai tempat Dia berpuasa sela-ma 40 hari 40 malam.
Setelah berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebagai manusia, Yesus merasa lapar. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh Iblis untuk mencobai-Nya dengan berkata, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini men-jadi roti.” (Matius 4:3). Iblis menyapa Yesus sebagai Putera Bapa, hendak mengingatkan-Nya bahwa Ia memiliki kuasa untuk melakukan mujizat. Dengan kuasa-Nya Yesus memang pasti mampu mengubah batu menjadi roti. Iblis tahu persis bahwa makanan adalah kebutuhan pokok yang paling men-dasar untuk kelangsungan hidup manusia. Tetapi Yesus dapat melawan godaan Iblis ini dengan berkata, “Ada tertu-lis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap fir-man yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4).
Baca: Matius 4:1-11
Minngu. KETAATAN YANG TELAH TERUJI (2)
“Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.” Matius 4:11
Tak disangkal bahwa makanan jasmani adalah kebutuhan yang paling fundamental bagi manusia, karena diperlukan untuk kelangsungan hidup. Tetapi tujuan hidup manusia bukan semata-mata untuk makan. Ada kebutuhan lain yang jauh lebih penting dari makanan jasmani, yang dapat menentukan makna dan tujuan hidup manusia sesungguhnya, yaitu makanan rohani (firman Tuhan).
Gagal pada usaha pertama, Iblis tidak menyerah begitu saja dan terus mencobai Yesus dengan membawa Dia ke kota suci dan menempatkan-Nya di atas bubungan bait Suci. “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan me-merintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (Matius 4:6). Sebagai Mesias tentunya Yesus sangat membutuhkan pengakuan orang banyak, dan apabila Ia dapat melompat dari atas bubungan bait suci dengan selamat di hadapan khalayak, pastilah mereka akan mengakui Dia sebagai Mesias. Namun Yesus menolak tawaran dan saran dari Iblis itu: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Matius 4:7). Yesus tidak mau mencobai Bapa dan tidak mau memperoleh popularitas sebagai Mesias dari orang banyak dengan cara mendemonstrasikan kekuatan kuasa-Nya. Berbeda dengan sikap manusia umumnya yang cenderung tergoda untuk memperoleh popularitas dan pengakuan, dengan cara apa pun.
Karena kembali gagal, Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang tinggi dan memperlihatkan seluruh dunia dengan segala kemegahannya. Semua itu akan diberikan kepada-Nya jika Ia mau menyembah Iblis (Matius 4:8). Yesus sama sekali tidak tergiur dengan tawaran itu. Karena itu, Yesus berkata: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepa-da Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10). Akhirnya, Yesus keluar sebagai pemenang, kualitas pribadi-Nya benar-benar telah teruji. Dia telah membuktikan kesetiaan dan ketaatan-Nya kepada Bapa.
Di tengah situasi sulit, mampukah kita tetap menjaga kualitas hidup kita yaitu taat dan setia kepada Tuhan? Baca: Matius 4:1-11