Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 6)
TAHUN 5785, TAHUN KASIH KARUNIA YANG BERLIMPAH-LIMPAH (bagian 3)

TAHUN 5785, TAHUN KASIH KARUNIA YANG BERLIMPAH-LIMPAH (bagian 3)

Sambungan dari minggu lalu :
Hal-hal yang kasih karunia Allah lakukan dalam hidup kita :
1.Kasih karunia yang menyelamatkan; 2. Kasih karunia yang menopang di dalam kelemahan diri, ujian iman dan masalah; 3. Kasih karunia yang memperbarui hidup kita.

Lanjutan minggu ini :
4. Kasih karunia yang memampukan kita berjalan dalam panggilan Allah (1 Kor. 15:10).

Transformasi hidup adalah bukti bahwa orang tersebut berjalan dalam kasih karunia Allah dan tidak menyia-nyiakannya. Transformasi disertai hidup yang berbuah matang serta tetap; yaitu buah kehidupan yang dapat dinikmati oleh orang lain dan berguna untuk membangun Kerajaan Allah.
Salah satunya adalah buah pelayanan yaitu melakukan kehendak Allah dan berjalan dalam rencana-Nya, membangun tubuh Kristus serta menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang. Roh Kudus memberikan rupa-rupa karunia dan kuasa untuk melakukan hal-hal yang melampaui kemampuan natural kita.

Perlu diperhatikan bahwa kasih karunia memang diberikan secara cuma-cuma, namun bukan berarti kita jadi pasif dan tidak melakukan bagian kita. Allah tidak menginginkan kita menghambat, menyia-nyiakan ataupun menyalahgunakan kasih karunia-Nya yang besar.

Berikut merupakan sikap-sikap yang menghambat, menyalahgunakan dan menyia-nyiakan kasih karunia :

a. Hidup ditentukan oleh hal-hal yang terlihat (bukan oleh iman)
Orang yang hidup karena melihat cenderung sukar untuk taat kepada firman/kehendak Tuhan. Orang yang memiliki pengetahuan firman belum tentu hidup oleh iman dan mau menyerahkan dirinya untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Pikiran, logika dan cara pandangnya terbentuk berdasarkan apa yang terlihat, dan itu semua sangat mempengaruhi respon serta keputusan yang diambil.

Karena tidak hidup oleh iman, mata hatinya mudah dibutakan oleh ilah-ilah jaman yang membangkitkan rupa-rupa keinginan. Orang yang hidup karena melihat tidak memahami perkara-perkara rohani, akibatnya jadi kompromi dengan dunia, hidup dalam kekuatiran dan tipu daya kekayaan, sibuk mengejar dan menimbun hal yang sia-sia, serta kehilangan arah & tujuan Tuhan dalam hidupnya.

b. Terjebak dalam ‘hyper grace’
Allah itu kasih dan murah hati tapi bukan berarti kasih karunia-Nya jadi murahan (cheap/hyper grace). Allah adalah kasih, tapi juga maha kudus serta adil. Allah menghakimi dosa dan menjunjung kebenaran, namun Ia bersikap adil kepada mereka yang mau merendahkan hati, mengakui kesalahan dan bertobat.
Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga (Roma 11:22).

c. Malas
Kemalasan dapat diartikan sebagai kondisi tidak peduli terhadap hal-hal penting yang seharusnya menjadi prioritas. Contoh kemalasan : malas berdoa, malas baca firman; malas beribadah; tidak mau mengambil bagian dalam menyokong pekerjaan Tuhan, tidak mau dimuridkan, malas untuk menemukan/mengembangkan karunia/talenta, malas membangun hubungan dengan orang lain terutama dengan saudara seiman, menyia-nyiakan waktu, malas menjaga kesehatan, dll.

Kemalasan dapat membuat kita gagal memaksimalkan potensi dan menjalankan talenta yang diberikan Tuhan. Kemalasan membuat kita jadi pasif dan tidak melakukan tugas/tanggung jawab sebagai orang percaya. Kemalasan dapat membawa seseorang mengalami kehilangan kasih karunia Allah dalam hidupnya.

d. Hidup dalam ikatan.
Contoh hal-hal yang mengikat hidup seseorang : hidup dalam kepahitan, kekecewaan; insecurity (rasa tidak aman/merasa terancam); self-pity (mengasihani diri sendiri) ketergantungan drugs, alcohol, sex, rokok, games, perjudian, workaholic; mammon; pikiran yang keliru/belum diperbarui oleh firman Tuhan, kesuksesan masa lalu, kehilangan orang yg dikasihi, frustrasi dll. Hidup dalam ikatan dan luka batin merusak jiwa (mental dan emosional), merusak tubuh fisik, menyia-nyiakan kasih karunia dan gagal menjalani kehendak Tuhan dalam hidup.

Bagaimana supaya bisa tetap berjalan dan melayani dalam kasih karunia ?

a. Mata tertuju kepada Yesus, minta Roh Kudus meluruskan motivasi hati kita.
b. Hidup oleh iman dan ketaatan; bertumbuhlah dalam kasih karunia.
c. Biasakan diri untuk selalu berkonsultasi dengan Roh Kudus dalam segala perkara, termasuk dalam hal-hal yang sudah biasa kita kerjakan. Jangan bersandar pada pengertian sendiri tapi kepada Roh Kudus; Ia akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran dan akan memberitakan hal-hal yang akan datang.
d. Mau merendahkan hati, memiliki hati yang mau diajar dan belajar, mau dikoreksi dan hidup dalam pertobatan.
e. Setia kepada Tuhan dan visi-Nya; setia kepada gereja lokal dan kepada panggilan Tuhan dalam hidup kita. Minta pertolongan Roh Kudus untuk meneguhkan hati kita agar setia sampai garis akhir.
f. Unity dengan sesama anggota tubuh Kristus.

PENUTUP

Orang yang menghargai/berjalan dalam kasih karunia akan hidup oleh iman dan melakukan bagiannya. Kasih karunia Allah yang berlimpah-limpah menolongnya untuk mengerjakan keselamatannya, memperbarui hidupnya, menopangnya dalam kelemahan serta memampukannya berjalan dalam panggilan Allah. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

TAHUN 5785, TAHUN KASIH KARUNIA YANG BERLIMPAH-LIMPAH (bagian 2)

TAHUN 5785, TAHUN KASIH KARUNIA YANG BERLIMPAH-LIMPAH (bagian 2)

Sambungan dari minggu lalu :
hal-hal yang kasih karunia Allah lakukan dalam hidup kita :
1. Kasih karunia yang menyelamatkan.

Lanjutan minggu ini :

2. Kasih karunia yang menopang di dalam kelemahan diri, ujian iman dan masalah.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9).

Hidup di dalam kasih karunia bukan berarti hidup tanpa kesulitan/tantangan. Justru dalam kelemahan, ujian iman dan masalah, Allah hendak menunjukkan kasih karunia-Nya yang sempurna atas kita. Ketangguhan dan ketekunan dalam melewati lembah kekelaman merupakan bukti bahwa seseorang ditopang oleh kekuatan kasih karunia Allah.

Semakin besar masalah, kesulitan ataupun kelemahan kita, di situ kasih karunia Allah semakin berlimpah-limpah pula. Allah ingin manusia menyadari kelemahan, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaannya sehingga dapat mengenal Dia yang penuh kasih setia dan rahmat. Ketika kita tidak berdaya dan lemah, di situ kasih karunia Allah menolong, menguatkan dan memampukan kita untuk tetap hidup oleh iman, untuk melawan dosa, untuk menyangkal diri pikul salib dan taat kepada pimpinan Roh Allah.

Sesungguhnya kasih karunia bukan hanya menopang dalam kelemahan saja tapi juga dalam ‘kelebihan’ yang kita miliki. Kelebihan tersebut misalnya karunia, kekayaan, kepintaran, kesuksesan, pemakaian Tuhan atas dirinya, dsb. Jika tidak waspada, kelebihan yang kita miliki justru bisa membawa kepada kejatuhan (menjadi tinggi hati, mencuri kemuliaan Allah, menghakimi dan memandang rendah orang lain).

Baca 2 Korintus 12:7-10

‘Duri dalam daging’ yang diijinkan terjadi pada Paulus sebenarnya adalah bentuk kasih karunia yang mencegah dia jatuh dalam dosa kesombongan karena memiliki karunia yang luar biasa.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; dalam menyikapi kelemahan dan kesulitan kita tidak perlu berkecil hati dan mengasihani diri sendiri. Sebaliknya jika kita memiliki kelebihan dari orang lain tidak perlu menjadi sombong dan tinggi hati (boastful). Ingatlah bahwa semua itu hanya karena kasih karunia, bukan karena kemampuan kita.

Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut : bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 9:23-24).

3. Kasih karunia yang memperbarui hidup kita.

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini (Titus 2:11-12).

Kasih karunia Allah memperbarui kita untuk semakin menyerupai Kristus dan memimpin kita kepada kehidupan yang dikehendaki Allah. Kasih karunia memiliki kekuatan untuk mengubah kita dari dalam ke luar. Ini merupakan pembaruan secara mendalam yang mengubah karakter kita. Kasih karunia memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan seseorang dengan cara yang tidak pernah diduga.

Roh Kudus menyadarkan kita akan dosa, kelemahan dan hal-hal yang perlu diubah, ditingkatkan serta dibuang dari hidup kita. Berikutnya adalah pertobatan, di mana kita meninggalkan dosa dan berbalik kepada Tuhan. Pertobatan bukan hanya peristiwa satu kali, tetapi proses berkelanjutan untuk berpaling dari manusia lama serta kebiasaannya untuk hidup sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Selanjutnya adalah proses pengudusan, suatu proses berkelanjutan yang membawa kita menjadi semakin serupa dengan gambar Kristus. Dalam proses pengudusan terjadi pembaruan akal budi yang terus-menerus, pemurnian hati, penyangkalan diri dan pikul salib.

Perlu diketahui bahwa Tuhan bekerja mengubah setiap kita dengan cara yang unik. Ia mendidik kita sedemikian rupa supaya kita meninggalkan kefasikan serta keinginan-keinginan duniawi. Didikan Tuhan bagi tiap orang tidaklah sama, oleh sebab itu kita tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain ataupun menghakimi kelemahan orang lain, melainkan terus memperbaiki diri dan membantu kelemahan/kekurangan orang lain serta mendoakannya.

2 Korintus 5:17 mengatakan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesunguhnya yang baru sudah datang”. Ayat ini menunjukkan bahwa transformasi dalam kasih karunia bukan sekadar perubahan di level permukaan, tetapi perombakan total yang terjadi dari dalam. Yang tadinya manusia lama/manusia duniawi menjadi manusia baru/manusia roh yang terus diperbarui oleh firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus.

“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Roma 6:14).Kita telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Kasih karunia Allah menolong kita untuk menolak dosa supaya kita beroleh buah yang membawa kepada pengudusan (Roma 6:22).

Bersambung minggu depan…

TAHUN 5785, TAHUN KASIH KARUNIA YANG BERLIMPAH-LIMPAH – bagian 1 (Year of Grace upon Grace)

TAHUN 5785, TAHUN KASIH KARUNIA YANG BERLIMPAH-LIMPAH – bagian 1 (Year of Grace upon Grace)

PENDAHULUAN

Kasih karunia merupakan suatu anugerah/pemberian Allah yang tidak bisa diperoleh melalui usaha kita sendiri. Keselamatan hanya datang melalui kasih karunia-Nya, bukan karena perbuatan baik kita. Ini mengajarkan kita untuk hidup dengan rasa syukur dan rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Orang yang bertumbuh dalam iman akan semakin menghargai kasih karunia Allah dan mau melakukan bagiannya; ia tidak menyalahgunakan ataupun menyia-nyiakannya.

ISI

Kasih karunia adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh semua umat manusia. Tidak ada satupun manusia berdosa sanggup memenuhi perintah dan standar Tuhan yang begitu tinggi, mulia dan kudus. Bahkan kesalehan manusia hanyalah seperti kain kotor di hadapan Allah (Yesaya 64:6). Tidak ada seorangpun yang layak memperoleh keselamatan dan hidup kekal karena perbuatan baiknya.

Tanpa kasih karunia, manusia tidak menemukan akses untuk kembali terhubung dengan Allah, menerima keselamatan dan hidup kekal. Tanpa kasih karunia, manusia hidup dalam kegelapan dan dusta iblis, mengarah kepada kehancuran, kebinasaan dan tanpa harapan. Tanpa kasih karunia, semua perbuatan baik dan jerih payah yang dilakukan sepanjang hidupnya adalah sia-sia. Tinggal dalam kasih karunia, manusia hidup dalam berkat yang sejati.

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes 1:16)

Dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kolose 2:9). Kepenuhan Kristus ini membuat orang percaya menerima kasih karunia demi kasih karunia. Kasih karunia adalah bukti dari kasih Allah yang menyelamatkan manusia berdosa melalui Kristus Yesus. Kasih karunia adalah kuasa Allah yang senantiasa menyertai orang percaya melalui kehadiran Roh Kudus (Roh Kasih Karunia).

Berikut adalah hal-hal yang kasih karunia Allah lakukan dalam hidup kita :
– Save (menyelamatkan dan memberikan hidup kekal, Efesus 2:8-9)
– Sustain (menopang di dalam kelemahan dan ketidakberdayaan, 2 Kor. 12:9).
– Transform (memperbarui kita untuk semakin menyerupai Kristus dan memimpin kita kepada kehidupan yang dikehendaki Allah, Titus 2:11-12).
– Empower (memampukan kita berjalan dalam panggilan Allah, 1 Kor. 15:10)

1. Kasih karunia yang menyelamatkan.

Kita diselamatkan karena kasih karunia oleh iman yang Allah anugerahkan bagi kita (iman yang menyelamatkan).

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9).

Kita dibenarkan bukan karena perbuatan, tapi karena iman percaya kepada Kristus Yesus. Ini merupakan suatu anugerah, bukan upah.
Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran (Roma 4:4-5).

Anugerah keselamatan kita terima dengan iman. Untuk tetap mengerjakan keselamatan tersebut, kita harus hidup oleh iman. Iman harus disertai perbuatan yaitu ketaatan kepada Yesus Kristus. Karena kasih karunia, Allah telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, yaitu memberikan kehidupan baru yang penuh pengharapan; untuk menerima bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan bagi kita di sorga (1 Petrus 1:3-4).

Kita menerima penebusan di dalam darah-Nya yang menyucikan kita dari segala dosa. (1 Yohanes 1:7b). Kita menjadi warga Kerajaan Allah; yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat kepunyaan-Nya; yang dulu tidak dikasihani tetapi sekarang telah beroleh belas kasihan (1 Petrus 2:9-10).

Yesus Kristus datang supaya kita memiliki hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10). Kasih karunia membawa pemulihan yaitu mengembalikan apa yang telah dicuri oleh iblis dari manusia pertama ketika mereka jatuh ke dalam dosa. Kasih karunia membuat kita hidup dalam berkat dan perkenananTuhan yang membawa kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan nama-Nya.

Allah telah membangkitkan kita dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga (hidup kekal), supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus (Efesus 2:6-7).

Bersambung minggu depan…

LIMA ATRIBUT ALLAH YANG MENJADI TELADAN  BAGI ORANG PERCAYA  (bagian 2)

LIMA ATRIBUT ALLAH YANG MENJADI TELADAN BAGI ORANG PERCAYA (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu :
5 Atribut ini mengungkapkan siapa Allah dan siapa kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya :

1. Baik (Good).
2. Tak Bercela (Righteous)

Sambungan minggu ini :

3. Kesetiaan (Faithfulness)

Kata kesetiaan dapat diterjemahkan sebagai ketabahan, keteguhan, dapat diandalkan. Mazmur 119:89–90 mengatakan, “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga. Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan.” Dari ayat ini dapat kita ketahui bahwa kesetiaan Tuhan terbukti dari firman-Nya yang tetap teguh dari generasi ke generasi. Allah setia kepada firman-Nya, karena firman-Nya adalah ekspresi dari karakter-Nya.

Tuhan setia artinya Dia dapat diandalkan, konsisten, dan pasti menggenapi firman-Nya. Allah tidak pernah gagal melakukan apa yang telah Dia katakan.
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23).

Kita belajar memercayai Tuhan dari pengenalan akan karakter-Nya. Pengenalan akan karakter Allah didapat melalui : mempelajari firman-Nya, mengalami karya-Nya dalam kehidupan kita, dan belajar mengikuti suara/pimpinan-Nya.
Orang benar harus hidup oleh iman; tanpa iman tidak mungkin seseorang berkenan kepada Allah. Hidup oleh iman berarti memercayai karakter/kesetiaan Allah sebelum melihat janji-Nya digenapi dalam hidup kita. Kesetiaan Tuhan adalah landasan kepercayaan kita kepada-Nya. Saat kita melihat Allah menggenapi janji-janji-Nya, kepercayaan kita terhadap kesetiaan-Nya semakin bertumbuh dan diteguhkan.

Orang percaya dipanggil untuk bersandar pada karakter Allah yang setia/tidak berubah, dan mencerminkan kesetiaan itu dalam hubungannya dengan orang lain. Sikap hati yang setia kepada Allah akan termanifestasi kepada orang lain, contohnya : menjadi orang yang dapat dipercaya; mengasihi orang lain dalam segala keadaan, bahkan ketika itu tampaknya sulit; bertolong-tolongan dalam menanggung beban; saling percaya; saling menghormati dan menghargai; peduli satu dengan yang lain dan saling melayani.

4. Kekudusan (Holiness)

Kekudusan adalah kesucian dan kesempurnaan moral yang mutlak dari Allah. Kekudusan Allah adalah inti dari keberadaan-Nya. Allah benar-benar terpisah dari dosa dan ketidaksempurnaan. Dalam Yesaya 6:3, para malaikat menyatakan, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam.”

Kekudusan merupakan sifat yang paling utama dari antara sifat-sifat Tuhan ALLAH, yang memisahkan Dia dari semua ciptaan. Kekudusan Allah menuntut rasa hormat dan kagum. Kekudusan Allah memanggil umat-Nya untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan kemurnian dan integritas moral. Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1 Petrus 1:16).

Kekudusan Allah adalah tanda kelahiran baru dalam hidup orang percaya, artinya hidup mereka dipisahkan dari dunia dan dikhususkan bagi Tuhan agar dapat digunakan oleh-Nya. Kita hidup oleh iman yang berdasar pada firman Tuhan, bukan menjadi sama dengan dunia. Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi berbeda dari dunia.

1 Petrus 2:9 menggambarkan bahwa orang-orang percaya disebut sebagai “bangsa yang kudus.” Hidup orang percaya dikuduskan oleh firman kebenaran.
Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran (Yohanes 17:16-17).
Pengudusan adalah proses yang berjalan terus-menerus. Menjalani kehidupan Kristen berarti berupaya untuk mengejar kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14b).

5. Kasih.

Sifat Tuhan ditandai dengan cinta yang sempurna dan tanpa syarat, yang mengupayakan kebaikan bagi orang lain, bahkan membawa mereka kepada keselamatan dalam Kristus meski perlu mengorbankan banyak hal.

1 Yohanes 4:8 mengatakan, “Allah adalah kasih.” Kasih itu bukan perasaan sayang, tapi ketaatan kepada Allah yang ditunjukkan dengan perbuatan. Kasih yang paling jelas ditunjukkan oleh Yesus dengan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa untuk mati di kayu salib (Filipi 2:8) demi menyelamatkan kita (Yohanes 3:16).

Kasih Allah mendorong orang percaya untuk mengasihi orang lain tanpa pamrih, yang merupakan cerminan kasih Allah yang mereka terima dari-Nya.
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19).

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yohanes 3:16).

PENUTUP

Lima atribut yang telah dijelaskan di atas mengungkapkan kepenuhan dari sifat Allah. Kekudusan, kebaikan, kasih, keadilan, dan kesetiaan-Nya membentuk landasan siapa DIA (satu-satunya Allah yang benar = Kebenaran) dan menjadi panduan bagaimana Allah berhubungan dengan manusia ciptaan-Nya. Memahami karakter Allah membantu orang-orang beriman untuk bertumbuh dalam hubungan mereka dengan Tuhan dan hidup selaras dengan sifat-sifat-Nya.

LIMA ATRIBUT ALLAH YANG MENJADI TELADAN  BAGI ORANG PERCAYA  (bagian 1)

LIMA ATRIBUT ALLAH YANG MENJADI TELADAN BAGI ORANG PERCAYA (bagian 1)

bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24)

PENDAHULUAN

Allah adalah sumber utama Kebenaran; segala sesuatu yang Dia katakan dan lakukan konsisten dengan Kebenaran tersebut. Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Kebenaran Allah dapat diandalkan dan tidak berubah; kebenaran-Nya berfungsi sebagai standar untuk segala sesuatu. Kebenaran Allah memanggil orang percaya untuk hidup dengan kejujuran, integritas, dan ketaatan pada firman-Nya. Kebenaran Allah memanggil kita untuk menjadi serupa dengan Dia (1 Yohanes 2:6) : untuk menjadi baik, benar, setia, kudus, dan berakar serta berdasar di dalam kasih (Efesus 3:17).

ISI

5 Atribut ini mengungkapkan siapa Allah dan siapa kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya :

1. Baik (Good)

Suatu kali seorang muda yang kaya bertanya kepada Yesus : “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak ada yang baik selain Dia, yaitu Allah.” (Markus 10:18 dan Lukas 18:19).

Orang muda itu menyebut Yesus baik sebagaimana dia merasa dirinya sudah baik karena mampu menuruti hukum-hukum Allah. Melalui pertanyaan tersebut, Yesus sedang mengoreksi konsep ‘baik’ ke dalam perspektif orang muda itu. Ia meminta orang muda itu untuk mempertimbangkan siapa yang pantas disebut ‘baik’, dan merefleksikan persepsinya tentang Yesus. Alih-alih menanyakan bagaimana untuk menjadi serupa dengan Yesus, orang muda ini malah menanyakan apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal.

Yesus menjawab bahwa tidak ada manusia yang baik, tapi hanya Allah saja. Dengan kata lain, Ia mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang mampu menjadi baik/sempurna atas usahanya sendiri. Yesus memberikan teladan kepada manusia bagaimana untuk menjadi baik, yaitu dengan cara taat kepada Allah.

Sesungguhnya perbuatan baik manusia tidak akan membuatnya memperoleh hidup kekal. Hanya iman percaya kepada Yesus yang disertai dengan perbuatan, yaitu ketaatan kepada perintah dan hukum-hukum Allah. Kasih karunia Allah melalui Roh Kudus-lah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Allah memperlengkapi kita dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya.

2. Tak Bercela (Righteous)

Penghakiman Allah yang adil memastikan bahwa Dia selalu bertindak dengan adil dan benar dalam memperlakukan ciptaan-Nya. Dalam menegakkan keadilan, Allah selalu tegas dan berintegritas. Contoh: Allah tidak membeda-bedakan (Kisah 10:34), Ia melarang kita menekan mereka yang lemah (Zakharia 7:10), Ia membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kita (2 Tesalonika 1:6; Roma 12:19).

Allah menghakimi dosa dan menjunjung kebenaran. Namun Ia bersikap adil kepada mereka yang mau merendahkan hati, mengakui kesalahan dan bertobat.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9).

Allah itu adil dalam memberi upah: Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang (Ibrani 6:10).

Allah adil dalam memberikan hukuman: Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang (Kolose 3:25).

Allah adil dalam menuntut pertanggungjawaban kita : Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

Lalu bagaimana keadilan menurut ukuran manusia? Seringkali manusia menuntut keadilan karena tidak ingin dirugikan, ada rasa ingin menang dari lawan, atau supaya lawan kita mendapatkan ganjaran/hukuman yang setimpal. Keadilan manusia bersifat self-centered, tujuannya cenderung untuk memuaskan keinginan pribadi. Sesungguhnya kita tidak mengerti bagaimana untuk bersikap adil. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita bersikap adil yang sesuai dengan standar keadilan Allah.

Keadilan Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih dan belas kasihan. Keadilan dan kebenaran adalah dasar dari takhta Allah.
“Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-M.” (Mazmur 89:14).

Sifat adil Allah memastikan bahwa Dia menjunjung tatanan moral dan keadilan. Sifat adil Allah mendorong orang percaya untuk mengejar keadilan dan belas kasihan, menentang ketidakadilan, dan percaya bahwa pada akhirnya Allah akan mewujudkan keadilan yang sempurna.

Bersambung minggu depan …

A NEW BEGINNING (bagian 3)

A NEW BEGINNING (bagian 3)

Sekilas review minggu lalu :
Hal-hal yang terjadi di musim yang baru:
1. Hati kita ditahirkan dari segala kenajisan dan berhala.
2. Kita adalah ciptaan baru yang terus menerus diperbarui.
a. Hal-hal yang menghalangi terjadinya transformasi di hidup kita.
b. Pembaruan akal budi dengan pertolongan Roh Kudus.

Sambungan minggu ini:

3. Tuhan berbicara tentang permulaan yang baru dan mendorong kita untuk tidak memikirkan hal-hal di masa lalu, tetapi menantikan hal-hal baru yang Dia lakukan dalam hidup kita.

firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya 43:18-19).

Tuhan mau kita melupakan apa yang ada di belakang kita dan mengarahkan diri kepada apa yang di Tuhan hendak kerjakan di depan kita. Hal-hal yang dari masa lalu misalnya rasa bersalah, kesalahan dalam mengambil keputusan, kegagalan, kekecewaan, dendam/kepahitan, paradigma lama, cara lama yang tidak efektif, sifat yang tidak dewasa, hal-hal yang negatif/buruk, bahkan kesuksesan masa lalu.

Allah mau supaya kita menantikan hal-hal baru yang hendak dilakukan-Nya dalam hidup kita. Jika masih terikat dengan hal-hal di masa lalu, maka Tuhan tidak bisa membawa kita melangkah ke depan dan berjalan dalam rencana-Nya. Allah sanggup melakukan segala perkara, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Ia sanggup mengadakan mukjizat, menyediakan semua yang kita perlukan dan memulihkan seluruh kehidupan orang-orang yang mengandalkan Dia.

Kita diberi hati yang baru dan roh yang baru agar taat kepada Tuhan. Kapasitas kita semakin diperbesar supaya dapat berjalan dalam rencana-Nya. Di musim yang baru ini, Tuhan membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Padang gurun adalah suatu tempat yang dipenuhi dengan pasir, berbatu-batu, tidak ada pohon, gersang/tidak ada air, sangat panas pada siang hari dan dingin pada malam hari, banyak binatang liar dan berbahaya. Padang gurun juga berbicara tentang proses perjalanan iman (journey of faith) yang harus dilalui setiap orang percaya.

Secara alami, kita tidak akan menjumpai sebuah jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Jika ada jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara, maka itu adalah perkara yang supernatural/mukjizat. Allah sanggup membuat hal-hal baru yang kreatif sekalipun kita ada dalam masa yang sukar seperti di padang gurun.

Allah membuat jalan di padang gurun: kita diberi jalan keluar saat berada dalam padang gurun masalah. Dia membuat sungai-sungai di padang belantara: sungai berbicara tentang penyediaan serta pemeliharaan Tuhan yang supernatural; sungai juga berbicara tentang sukacita dan damai sejahtera melimpah yang Roh Kudus berikan di tengah keadaan yang sukar.

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9)

4. Kesetiaan Tuhan memperbaharui kita setiap hari.
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23).

Padang gurun dapat dipakai Tuhan untuk mentransformasi hidup kita :
• Proses Tuhan membuat akal budi terus-menerus diperbarui sehingga karakter kita semakin serupa dengan gambar Kristus. Pembaruan akal budi membuat kita tidak lagi mengasihi dunia ini (1 Yohanes 2: 15-17).
• Tantangan dan ujian iman akan menghasilkan buah yang matang dalam ketekunan, menjadi utuh dan sempurna serta tidak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1:2-4).
• Membuat kita semakin rendah hati dan bergantung pada Tuhan sepenuhnya (Ulangan 8:16).
• Membawa kita semakin mengerti kehendak Allah dan berjalan dalam rencana-Nya (Filipi 3:13-14).

Melalui padang gurun, Tuhan menjadikan kita sebagai bejana yang dapat dipakai untuk memberitakan kemasyhuranNya. Lupakan apa yang telah di belakang kita, arahkan diri kepada apa yang di hadapan kita dan berlarilah kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:13).

PENUTUP

Allah yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Ia menawarkan harapan, pembaharuan, dan transformasi kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. Kutuk dapat Dia ubah menjadi berkat; ratapan diubah menjadi tarian; kesalahan/kegagalan diubah menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA dan yang terpanggil dalam rencana-Nya. Kemurahan Allah menuntun kita kepada pertobatan. Kasih karunia-Nya memampukan kita untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, serta membawa kita di jalan kemenangan.

Di musim yang baru ini, mari kita menabur yang berasal dari Roh, bukan yang dari daging. Mereka yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai; mereka yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126: 5-6). Hiduplah oleh iman agar kita terus diperbarui/mengalami pemulihan dan berjalan dalam rencana-Nya.

A NEW BEGINNING (bagian 2)

A NEW BEGINNING (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Di awal musim yang baru ini, Tuhan hendak mentahirkan kita dari segala kenajisan dan berhala yang ada di hidup kita dan memberikan hati yang baru supaya kita taat kepada Tuhan Yesus serta hidup dalam kehendak/rencana-Nya. Hal-hal yang terjadi di musim yang baru :
1. Hati kita ditahirkan dari segala kenajisan dan berhala.

Sambungan minggu ini:

2. Kita adalah ciptaan baru yang terus menerus diperbarui.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).

Setiap orang yang lahir dari Allah adalah ciptaan baru dalam Kristus Yesus. Sebagai ciptaan baru, kita tidak suka lagi hidup di dalam dosa sebab kita telah diberikan hati yang baru. Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia.

Namun demikian untuk hidup dalam kekudusan yang sempurna tidak terjadi dalam sekejab, tapi melalui proses. Keinginan untuk hidup dalam kekudusan harus diikuti oleh pembaruan akal budi dengan firman Tuhan supaya kita dapat mengerti kehendak Allah dan hidup di dalamnya. Akal budi yang terus diperbarui akan menyebabkan transformasi dalam seluruh aspek hidup kita (Roma 12:2).

a. Hal-hal yang menghalangi terjadinya transformasi di hidup kita.

Banyak orang datang beribadah ke gereja dan mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan, tetapi tetap berjalan dalam pikiran, perasaan, dan kehendaknya sendiri. Sikap seperti ini menghalanginya untuk bisa mendengar suara Roh Kudus. Ia lebih suka mempertahankan asumsi dan pendapatnya, memikirkan hal-hal yang negatif, melihat kekurangan orang lain, membandingkan keadaan diri dengan orang lain, self-pity, memikirkan hal-hal menarik yang ditawarkan dunia dan pikiran sia-sia yang lain.

Suara teguran dan pimpinan Roh Kudus tidak bisa didengar karena hatinya menjadi keras dan pikirannya didominasi dengan hal-hal yang berasal dari keinginan sendiri. Orang seperti ini mudah tersesat, tidak bisa mengerti kehendak Allah serta tidak bisa hidup dalam ketaatan.

b. Pembaruan akal budi dengan pertolongan Roh Kudus.

Memperbarui akal budi dimulai dengan merenungkan firman Tuhan dengan pertolongan Roh Kudus yang memberikan pengertian/pewahyuan. Melalui perenungan firman, Roh Kudus akan membawa kita kepada seluruh kebenaran. Hati dan pikiran kita dibawa untuk memikirkan hal-hal yang dari Roh; memikirkan perkara-perkara yang di atas bukan yang di bumi (Kolose 3:2); memiliki pikiran Kristus.

“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5-6).

Apa yang kita renungkan itu tertanam dalam alam bawah sadar dan itu juga yang akan kita lakukan. Memikirkan hal-hal yang dari daging akan diikuti dengan hidup dalam hawa nafsu kedagingan; memikirkan hal-hal yang dari Roh akan diikuti dengan hidup dalam pimpinan Roh. Oleh sebab itu, perhatikan dengan seksama apa yang kita pikirkan. Orang yang memikirkan hal-hal yang dari Roh akan menjaga hatinya dengan firman Tuhan.

Hiduplah oleh Roh, supaya kita tidak menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan.

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8).

Pembaruan akal budi membuat kita mengetahui kehendak Allah:
yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24)

Pembaruan akal budi serta gaya hidup yang suka berdoa dan memuji Tuhan akan mendorong kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, sehingga kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang gambar Kristus (Kolose 3:10) dan Roh Kudus semakin menyempurnakan kekudusan kita (2 Korintus 7:1).
Keadaan hati yang lama : hidup dalam keinginan-keinginan daging, tidak taat, suka memaksakan kehendak sendiri, tidak tahu kehendak Tuhan, sok tahu/asumsi, sombong, tidak bisa menerima teguran, bebal/degil, tidak ada kasih akan Allah dan sesama, self-centered, dan berjalan dalam agenda pribadi.

Keadaan hati yang baru : mengasihi Tuhan yang ditunjukkan dengan ketaatan, belajar merendahkan hati, mengasihi orang lain, menjaga hati dengan segala kewaspadaan, hidup dalam pertobatan, mencari kehendak Tuhan, lemah lembut (mudah dibentuk), Christ-centered, dan berjalan dalam rencana-Nya.

Bersambung minggu depan ..

A NEW BEGINNING (bagian 1)

A NEW BEGINNING (bagian 1)

PENDAHULUAN

Tuntunan Tuhan melalui Gembala kita di Bulan ini adalah ‘A New Beginning’. Bulan September ini adalah permulaan musim yang baru. Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yang biasa kita lakukan di masa lalu harus ditinggalkan. Tuhan hendak mentahirkan kita dari kenajisan dan segala berhala dari kehidupan kita dan memberikan hati yang baru supaya kita taat kepada Tuhan Yesus dan hidup dalam kehendak/rencana Allah.

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya‬ ‭43‬:‭19)‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬

ISI

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu (Yehezkiel 36:25-28).

1. Tuhan akan mentahirkan hati kita dari segala kenajisan dan berhala.

Setelah mengalami kelahiran baru, Tuhan membawa kita kepada proses yang menyucikan kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah. Allah yang kita sembah adalah Allah yang kudus, oleh sebab itu untuk bisa bergaul dengan-Nya kita perlu dikuduskan dan ditahirkan dari segala kenajisan dan berhala di hidup kita.

Rupa-rupa kenajisan dan berhala di hidup manusia

Ketika kita tidak menempatkan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya ‘tuan’ dan sumber segalanya dalam hidup kita, maka sesungguhnya kita telah menggantikan posisi Tuhan dengan berhala (hal-hal lain yang kita andalkan selain daripada Tuhan dan hal-hal yang memuaskan keinginan hati kita). Semua berhala pada dasarnya mempunyai ketiga hawa nafsu yang ditemukan di dalam 1 Yohanes 2:16

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Mengasihi dunia termasuk mengabdi kepada harta, filosofi/hikmat, dan prioritas dunia. Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak seorang yang bisa mengabdi kepada dua tuan. Orang yang mengasihi/mengikat persahabatan dengan dunia, menjadikan dirinya musuh Allah. Jika kita mengasihi sesuatu lebih daripada mengasihi Dia, maka kita tidak layak bagi-Nya (Matius 10:37-38).

* Keinginan daging

Adalah rupa-rupa keinginan yang berasal dari tubuh berdosa kita, dan berpotensi membuat manusia jatuh dalam dosa.
Galatia 5:19-21 mengatakan “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.”

* Keinginan mata

Ada koneksi antara mata dengan hati manusia. Apa yang kita lihat dengan mata bisa meracuni hati kita dengan berbagai keinginan yang keliru serta membuat kita tidak hidup oleh iman, tapi hidup dengan pikiran dan pengertian sendiri. Jika tidak menjaga hati dengan segala kewaspadaan, keinginan mata dapat menyeret kita jatuh dalam dosa. Apa yang dilihat dengan mata bisa juga membuat hati seseorang terpikat dengan gaya hidup hedonis, yaitu gaya hidup yang memuja kesenangan dengan memuaskan hawa nafsu tanpa batas. Jaman sekarang banyak orang gemar memamerkan konten gaya hidup hedonis di social media, postingan tanpa tujuan positif untuk membangun ini hanya menularkan gaya hidup yang tidak berkenan pada Tuhan.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Matius 6:22-23).

* Keangkuhan hidup

Keangkuhan hidup maksudnya adalah keangkuhan dalam tingkah laku karena memiliki kekayaan, kesuksesan, dan ketenaran. Seseorang yang mengalami peningkatan dalam hidupnya misalnya hal materi/keuangan, pendidikan, pekerjaan, kesuksesan, prestasi/pencapaian atau hal yang lain, cenderung menjadi angkuh serta merasa lebih hebat dan lebih berkuasa dari orang lain. Keangkuhan hidup menuntut untuk diakui, dikagumi, dilayani dan dihormati lebih dari yang lain.

Bersambung minggu depan : Diberikan hati yang baru dan roh yang baru (A New Beginning)

MELIHAT PENDERITAAN DARI CARA PANDANG KEBENARAN (bagian 2)

MELIHAT PENDERITAAN DARI CARA PANDANG KEBENARAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu :
Sebagai orang percaya, kita wajib melihat penderitaan dari cara pandang kebenaran yang sesuai firman Tuhan, supaya bisa meresponi dengan benar dan tetap bersukacita dan bertahan di tengah penderitaan.

Sambungan minggu ini :
Banyak orang tidak dapat bersukacita, menjadi lemah, putus asa bahkan kehilangan pengharapan dalam menghadapi penderitaan. Hal ini disebabkan karena penderitaan dimaknai menurut ukuran dan pengertiannya sendiri. Menurut Alkitab, penderitaan merupakan sebuah panggilan untuk menjalani perlombaan iman yang diwajibkan bagi setiap orang percaya. Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa barangsiapa hendak mengikut Dia, ia wajib menyangkal diri dan memikul salib.
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Pemahaman yang benar tentang penderitaan membuat kita mengerti bahwa di balik itu ada rencana Allah yang besar, yang mendewasakan serta mendatangan kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan bagi nama-Nya.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28).

Tujuan dan manfaat penderitaan :

1. Menghasilkan Ketekunan dan Karakter.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4)

Penderitaan merupakan sarana yang membuat kita bertekun dalam iman. Bertekun artinya berkeras hati dan sungguh-sungguh; tetap berpegang teguh kepada firman Tuhan apapun yang terjadi. Ketekunan akan menghasilkan karakter yang tahan uji, yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Ingatlah: karakter yang tahan uji tidak dihasilkan dalam keadaan comfort zone, tapi justru melalui masalah, tantangan dan penderitaan/penganiayaan.

2. Menghibur dan menguatkan orang lain.

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” (2 Korintus 1:3-4).

Allah merupakan satu-satunya sumber penghiburan yang sejati bagi kita. Dengan merenungkan penderitaan Kristus, Roh Kudus (Roh Penghibur) akan menghibur dan meneguhkan hati kita untuk bertahan di tengah penderitaan. Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian (1 Pet. 4:1a).

Penghiburan yang kita terima dari Roh Kudus memperlengkapi kita untuk dapat menghibur dan menguatkan orang lain yang sedang mengalami penderitaan melalui kesaksian tentang pertolongan Tuhan yang kita alami.

3. Membawa kemuliaan bagi Nama Tuhan.

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (1 Petrus 4:16).

Kita patut bersukacita bila turut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, karena itu merupakan kehendak Allah. IA memakai penderitaan yang kita alami untuk memuliakan Diri-Nya dalam nama Kristus. Karena itu baiklah juga mereka yang menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1 Pet. 4: 19).

Bagaimana kita bisa kuat menghadapi penderitaan?
1) Percaya bahwa Tuhan pasti memberi kekuatan untuk bertahan. Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Kristus yang memberikan kekuatan.
2) Pilihlah untuk tetap bersukacita karena Tuhan, bukan karena berkatNya. Jangan ijinkan apapun juga mencuri sukacita dalam hati kita. Hiduplah oleh iman, bukan karena melihat. Lakukanlah apa kata firman, bukan bertindak menurut perasaan dan pengertian sendiri.
3) Saat ada hal-hal yang mengecewakan atau menghadapi masa sulit, tetaplah bersyukur dan tinggal dalam hadirat Tuhan sebagai benteng perlindungan dan kekuatan. Hati yang bersyukur membuat kita bersukacita; hati yang bersyukur membangkitkan iman dan pengharapan. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Arahkan pandangan hanya kepada Allah dan firman-Nya, bukan kepada masalah, orang lain atau diri sendiri.
4) Percaya akan keadilan dan kedaulatan Tuhan yang pasti menolong kita pada waktu-Nya.

PENUTUP

Penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang percaya. Meskipun tidak menyenangkan, penderitaan memiliki tujuan yang lebih besar dalam rencana Allah. Sebagai orang percaya, kita diperintahkan untuk tetap bersukacita dalam Tuhan karena percaya bahwa Allah mengijinkan penderitaan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, membentuk dan menguatkan karakter kita, menghibur/menguatkan orang lain, serta membawa kemuliaan bagi nama-Nya.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).

MELIHAT PENDERITAAN DARI CARA PANDANG KEBENARAN (bagian 1)

MELIHAT PENDERITAAN DARI CARA PANDANG KEBENARAN (bagian 1)

PENDAHULUAN

Penderitaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan namun pasti akan dialami setiap orang.
Hal-hal yang menyebabkan seseorang mengalami penderitaan antara lain: faktor luar seperti bencana alam, menderita karena kejahatan/dosa orang lain, atau karena dosa/kesalahan sendiri. Ada perbedaan antara orang beriman dan orang yang tidak memperdulikan Tuhan dalam menghadapi penderitaan.

ISI

Sebagai orang yang hidup oleh iman, kita diperintahkan untuk senantiasa bersukacita dalam Tuhan (Filipi 4:4) Tuhan ijinkan penderitaan terjadi sebagai suatu ujian iman, guna menyatakan kemurnian iman kita. Menderita karena kebenaran/kehendak Allah akan mendatangkan upah dan mahkota kekal dari Tuhan. Hendaklah kita mengerti bahwa Allah mengijinkan penderitaan dan tantangan yang kita alami untuk maksud dan tujuan yang mendatangkan kebaikan bagi kita, orang lain serta membawa kemuliaan bagi nama-Nya.

Kita akan belajar memaknai penderitaan dari cara pandang yang sesuai dengan Firman Tuhan agar bisa meresponinya dengan benar :

1. Penderitaan karena kejahatan/dosa orang lain

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.” 1 Petrus 2:19-20 (TB)

Mengalami penderitaan akibat kejahatan/dosa orang lain merupakan suatu ketidakadilan menurut pandangan manusia. Kita cenderung ingin segera membenarkan diri, membalas dan menuntut keadilan dengan cara sendiri. Tuhan Yesus sudah meninggalkan teladan bagi kita tentang bagaimana respon yang benar saat mengalami penderitaan akibat kejahatan orang lain :
1) menyerahkan kepada Bapa yang menghakimi dengan adil;
2) mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil (1 Petrus 2:23).

Yesus berkata: “Ya, Bapa, ampunilah mereka..(Lukas 23:34a).

2. Penderitaan karena dosa/kesalahan sendiri

“Tidak ada yang sehat pada dagingku, oleh karena amarah-Mu; tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku, oleh karena dosaku. Sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat, terlalu berat untukku.” Mazmur 38:3-4 (TB)

Ketika kita menyimpang dari kebenaran, maka Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan sebagai konsekuensi dari dosa/kesalahan tersebut agar kita bertobat dan kembali kepada jalan keselamatan.

Didikan/pendisiplinan Tuhan akan mengusir kebodohan dan kefasikan dalam hidup kita. Orang yang menolak didikan hidupnya akan tersesat dan menimbun murka Allah atas dirinya sendiri. Penderitaan dipakai Tuhan menjadi sarana untuk kita belajar taat kepada perintah dan hukum-hukum-Nya. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71). Kesadaran (self-awareness) akan kesalahan diri sendiri serta kerendahan hati membuat kita hidup dalam pertobatan.

3. Penderitaan sebagai suatu ujian iman

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1:2-4 (TB)

Mengapa kita diminta memaknai penderitaan sebagai suatu kebahagiaan/sukacita? Sebab Allah memakai penderitaan itu untuk menguatkan, mendewasakan dan menyempurnakan iman kita (1 Petrus 1:6-7). Ujian iman menghasilkan ketekunan; ketekunan menghasilkan buah yang matang, yang menjadikan kita sempurna, utuh dan tidak kekurangan suatu apapun yang baik dari Tuhan. Berbahagialah kita jika bertahan dalam penderitaan (memiliki iman yang tahan uji), sebab kita akan menerima mahkota kehidupan dari Allah (Yakobus 1:12).

4. Penderitaan karena kebenaran/kehendak Allah

“Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” 1 Petrus 3:14 (TB)

Kita tidak hanya dikaruniakan iman percaya saja, tapi juga untuk menderita karena kebenaran (Filipi 1:29). Penghakiman Allah yang adil akan menyatakan bahwa kita yang menderita karena kebenaran, layak menjadi warga Kerajaan Allah (2 Tes. 1:5). Orang benar tidak perlu takut terintimidasi dengan siksaan atau penganiayaan.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga (Matius 5:10-12).

Bersambung minggu depan…