Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 9)
TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

Tema Bulan May : Bertumbuh dan berbuah sesuai kehendak Tuhan

Sub Tema : TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dialah Pokok Anggur yang benar; orang percaya adalah ranting-ranting dari pokok anggur tersebut; sedangkan Allah Bapa adalah pengusaha yang menghendaki hasil (buah) dari kebun anggur-Nya. Tuhan telah memilih dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah, sebagai tanda bahwa kita adalah murid-murid-Nya.

ISI

Yohanes 15:

1)Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. 2)Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah,  dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah,  dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.  3)Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.  4)Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.  Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.  5)Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan kita adalah ranting-rantingnya. IA adalah Kebenaran; tidak ada kepalsuan/kesesatan, keraguan, kebingungan dan kegelapan di dalam Kristus. Kebenaran itu adalah asupan nutrisi bagi roh kita supaya dapat bertumbuh, menjadi dewasa dalam iman dan berbuah. Kebenaran itu akan mengajar, menegur, memperbaiki kesalahan, mendidik, menuntun dan memerdekakan kita.

Untuk dapat menghasilkan buah, ranting harus terhubung dengan pokok anggur. Tanpa hubungan dengan Yesus, Sang Pokok Anggur, kita hanya sekedar ada/eksis tapi tidak memiliki ‘kehidupan’ rohani. Tanpa terhubung dengan Tuhan Yesus, kita hanya sekedar sibuk dengan berbagai kegiatan (termasuk pelayanan), namun tidak berbuah.

Kualitas kehidupan kita bergantung pada hubungan kasih kita dengan Kristus, sebagai sumber kehidupan. Ranting yang terhubung dengan Pokok Anggur akan menghasilkan buah dengan kualitas yang serupa dengan Pokok Anggur (menjadi semakin serupa dengan gambar-Nya). Yoh. 15:5 mengatakan : Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana caranya terhubung dengan Pokok Anggur?

Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia -> artinya  peliharalah persekutuan dengan Kristus secara pribadi melalui doa pujian penyembahan; firman-Nya kita baca, renungkan, pelajari dan perkatakan. Firman Tuhan akan memperbarui akal budi dan menguasai hati kita. Firman Tuhan memberikan cara pandang baru/ilahi dalam melihat segala sesuatu. Firman Tuhan menjadi landasan kita berpikir, menganalisa, mengambil keputusan, menetapkan prioritas, bertindak, berkata-kata, membentuk gaya hidup, serta menjadi nilai/prinsip utama dalam seluruh aspek kehidupan kita. Selanjutnya, Roh Kudus akan mengingatkan kita tentang perkataan Kristus (maksudnya menghidupkan firman, memberikan hikmat dan pewahyuan akan kehendak Allah), serta mendorong kita untuk menaati DIA (menjadi pelaku firman). “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku..” (Yohanes 14:23a). Roh Kudus bukan hanya mendorong kita untuk menjadi pelaku firman, tapi juga menolong kita untuk lebih dulu hidup dalam pertobatan.

Mazmur 1:1-3 mengatakan bahwa orang yang kesukaannya adalah firman Allah dan merenungkannya siang dan malam, diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang pasti menghasilkan buah pada musimnya dan apa saja yanf diperbuatnya berhasil. Dengan kata lain, mereka yang terhubung dengan Pokok Anggur memiliki kehidupan rohani, jiwa dan fisik yang berbuah dan berhasil (berkualitas, living life to the fullest).

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,  yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,  dan yang tidak duduk  dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon,  yang ditanam di tepi aliran air,  yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3)

Refleksi :

Apa yang mendominasi pikiran dan hati kita sepanjang hari? Apakah keinginan hawa nafsu, kekuatiran, kebencian, kejengkelan, kekecewaan, ketidakpuasan, kesalahan/kelemahan orang lain, uang/harta, gossip terbaru, atau  memikirkan apa yang dunia tawarkan lewat social media..?

Jika iya, maka kita perlu bertobat lalu menata ulang isi pikiran dan hati kita dengan merenungkan kebenaran firman Tuhan yang kita dapat melalui saat teduh pribadi/pembacaan firman tiap hari, sharing firman di Ibadah Raya, Cool, atau ibadah tengah minggu lainnya. Isi juga pikiran dan hati kita dengan kebaikan Tuhan yang telah kita terma, pengalaman pribadi dengan Dia; dengan lagu-lagu pujian penyembahan yang mengingat kasih setia Tuhan, yang memuji kebesaran dan mengagungkan Nama-Nya, yang mendeklarasikan janji-janji-Nya, dsb.

Kalau pikiran kita diserang oleh panah-panah api si jahat berupa intimidasi, kekuatiran, ketakutan, keraguan, pikiran yang membangkitkan hawa nafsu kedagingan dan pikiran tidak sesuai dengan firman Tuhan – jangan diam saja apalagi merenungkannya, melainkan tolak itu semua dalam nama Tuhan Yesus. Tundukkan pikiran kita kepada Kristus dan firman-Nya (Fil. 4:8).

Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus (2 Kor. 10:5b).

PENUTUP

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

Hendaklah hidup kita tetap di dalam DIA; terhubunglah dengan Pokok Anggur dengan memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan Yesus setiap hari dan firman-Nya memenuhi hati kita. Hanya dalam keadaan inilah kita mengalami karya Roh Kudus dan diproses (membutuhkan waktu) untuk menghasilkan buah. .. sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

BERTUMBUH DAN BERBUAH SESUAI DENGAN KEHENDAK TUHAN

BERTUMBUH DAN BERBUAH SESUAI DENGAN KEHENDAK TUHAN

BERTUMBUH DAN BERBUAH SESUAI DENGAN KEHENDAK TUHAN

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dialah Pokok Anggur yang benar; orang percaya adalah ranting-ranting yang terhubung pokok anggur tersebut; sedangkan Allah Bapa adalah pengusaha yang menghendaki hasil (buah) dari kebun anggur-Nya. Tuhan telah memilih dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah, sebagai tanda bahwa kita adalah murid-murid-Nya.
Yohanes 15:

1)Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.

2)Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

3)Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

4)Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

5)Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar. IA adalah Kebenaran itu sendiri; tidak ada kepalsuan/kesesatan, keraguan, kebingungan dan kegelapan di dalam Kristus. Kebenaran itu adalah asupan nutrisi bagi manusia roh kita supaya dapat bertumbuh, menjadi dewasa dalam iman dan berbuah. Kebenaran itu akan mengajar, menegur, memperbaiki kesalahan, mendidik, menuntun dan memerdekakan kita.

TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

Untuk dapat menghasilkan buah, tentu saja ranting harus terhubung dengan pokok anggur. Tanpa hubungan dengan Sang Pokok Anggur, maka kita hanya sekedar ada/eksis dan tidak memiliki ‘kehidupan’ rohani. Tanpa terhubung dengan Tuhan Yesus, kita hanya sekedar sibuk dengan berbagai kegiatan (termasuk pelayanan), namun tidak berbuah.

Kualitas kehidupan kita bergantung pada hubungan kasih dengan Kristus, sebagai sumber kehidupan. Ranting yang terhubung dengan Pokok Anggur akan menghasilkan buah dengan kualitas yang serupa dengan Pokok Anggur (menjadi semakin serupa dengan gambar-Nya). Yohanes 15:5 mengatakan : Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana cara kita terhubung dengan Pokok Anggur?

Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.. Peliharalah persekutuan dengan Kristus secara pribadi melalui doa pujian penyembahan; baca, renungkan, pelajari dan perkatakan Firman Tuhan sebab itu akan memperbarui akal budi dan menguasai hati kita. Firman Tuhan memberikan cara pandang ilahi dalam melihat segala sesuatu. Firman Tuhan menjadi landasan kita berpikir, menganalisa, mengambil keputusan, menetapkan prioritas, bertindak, berkata-kata, membentuk gaya hidup, serta menjadi nilai/prinsip utama dalam seluruh aspek kehidupan kita. Selanjutnya, Roh Kudus akan mengingatkan kita tentang perkataan Kristus, memberikan hikmat dan pewahyuan akan kehendak Allah, mendorong kita untuk menaati DIA (menjadi pelaku firman) dan untuk hidup dalam pertobatan. “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku..” (Yohanes 14:23a).

Mazmur 1:1-3 mengatakan bahwa orang yang kesukaannya adalah firman Allah dan merenungkannya siang dan malam, diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang pasti menghasilkan buah pada musimnya dan apa saja yang diperbuatnya berhasil. Mereka yang terhubung dengan Pokok Anggur memiliki kehidupan rohani, jiwa dan fisik yang berbuah dan berhasil (berkualitas, living life to the fullest).

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3)

Refleksi :
Apa yang mendominasi pikiran dan hati kita sepanjang hari? Apakah keinginan hawa nafsu, kekuatiran, membanding-bangdingkan, kebencian, kejengkelan, kekecewaan, ketidakpuasan, kesalahan/kelemahan orang lain, uang/harta, gossip terbaru, atau memikirkan apa yang dunia tawarkan lewat social media..?

Jika iya, maka kita perlu bertobat lalu menata ulang isi pikiran dan hati kita dengan merenungkan kebenaran firman Tuhan yang kita dapat, misalnya melalui saat teduh pribadi/pembacaan firman tiap hari, sharing firman di Ibadah Raya, Cool, atau ibadah tengah minggu lainnya. Isi juga pikiran dan hati kita dengan kebaikan Tuhan/pengalaman pribadi dengan Dia; dengan lagu-lagu pujian dan ucapan syukur, yang memuji kebesaran dan keagungan-Nya, yang mendeklarasikan janji-janji-Nya, dsb.

Kalau pikiran kita diserang oleh panah-panah api si jahat berupa intimidasi, kekuatiran, ketakutan, keraguan, pikiran yang membangkitkan hawa nafsu kedagingan dan pikiran tidak sesuai dengan firman Tuhan – jangan diam saja apalagi merenungkannya, melainkan tolak itu semua dalam nama Tuhan Yesus. Tundukkan pikiran kita kepada Kristus dan firman-Nya (Fil. 4:8, 2 Kor. 10:5b).

Hendaklah hidup kita tetap di dalam DIA; terhubunglah dengan Pokok Anggur dengan memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan Yesus setiap hari dan firman-Nya memenuhi hati kita. Hanya dalam keadaan inilah kita mengalami karya Roh Kudus dan diproses (membutuhkan waktu) untuk menghasilkan buah.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

PEMISAHAN VS PEMURNIAN
Keselamatan dalam Kristus Yesus adalah anugerah Allah yang harus kita responi dengan iman dan sikap hati yang benar. Allah menghendaki kita mengerjakan keselamatan tersebut supaya menghasilkan hidup yang berbuah banyak. Untuk itu IA perlu memotong ranting-ranting yang tidak berbuah dan memangkas ranting-ranting yang berbuah, supaya berbuah lebih banyak lagi.

Yohanes 15:2-3 (TB) Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

Allah “memotong” dengan dua tujuan berbeda: yang pertama untuk memisahkan; yang ke dua untuk membersihkan/memurnikan. Ranting yang tidak menghasilkan buah perlu dibuang karena tidak berguna. Ranting yang berbuah akan dibersihkan melalui pemangkasan (pruning) untuk meningkatkan jumlah dan kualitas buah yang dihasilkan.

1. Pemotongan ranting yang tidak berbuah adalah pemisahan.
..ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya..
Sebagai pemilik kebun anggur, Bapa berhak memotong/membuang keinginan hawa nafsu, ambisi, kesombongan, self-centered, sifat egois,hobby, kebiasaan, aktifitas/kesibukan, ikatan, sesuatu yang menjadi berhala, hubungan yang toksik, atau hal-hal lain di hidup kita yang dipandang tidak kudus, tidak berguna, mencelakakan serta tidak berkenan di hadapan-Nya.

Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran (Ibrani 6:7-8).

2. Pemangkasan ranting yang berbuah adalah pemurnian, supaya menghasilkan buah yang lebih banyak lagi. 

..setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

Saat tinggal dalam Yesus dan berakar dalam kasih-Nya, kita akan terus dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Pruning (pemangkasan) akan dilakukan oleh Bapa dengan firman-Nya yang tajam seperti pedang bermata dua.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12).
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

Pertumbuhan rohani tidak terjadi dengan sendirinya melainkan sebuah keputusan yang harus kita ambil. Hati harus selalu dijaga supaya tidak berbatu dan bersemak duri supaya benih firman Tuhan dapat bertumbuh. Tanah hati yang subur adalah hati yang haus dan lapar, percaya dan mau taat. Hubungan kasih dengan Allah sangat menentukan kerelaan kita untuk mau dibersihkan/dididik.
Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:11).

Mungkin hidup kita sudah berbuah, tapi Allah mau lebih meningkatkan kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu/kematangan/kemuliaan) buah tersebut. Dengan pertolongan Roh Kudus, benih firman yang meningkat menjadi pewahyuan akan mendorong kita untuk mau terus dikoreksi, hidup dalam pertobatan, taat, terus bertumbuh, diuji, dimurnikan sehingga menghasilkan buah sesuai standar yang Allah tetapkan. Jadi perkara berbuah bukanlah prestasi diri sendiri tapi hanya karena kasih karunia Allah, sebab di luar Yesus kita tidak dapat menghasilkan apa-apa.

Pemotongan bukanlah suatu hukuman, tapi bagian dari perjalanan iman yang memang harus kita lalui dan demi kebaikan kita sendiri. Proses pemurnian lewat ujian iman adalah tanda bahwa kita terhubung dengan Pokok Anggur dan berharga serta dikasihi oleh Bapa. Responi pemotongan yaitu proses didikan Tuhan dengan iman yang murni, yang berakar dalam kasih.

Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak (Mazmur 66:10).

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (Wahyu 3:19).

TUHAN YESUS NAIK KE SORGA: Jaminan Bagi Orang Percaya (1)

TUHAN YESUS NAIK KE SORGA: Jaminan Bagi Orang Percaya (1)

“Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.” Lukas 24:51

Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena kita hidup di Indonesia, negara yang berazaskan Pancasila ini, yang telah menetapkan hari kenaikan Yesus Kristus ke sorga sebagai hari libur nasional. Ini menunjukkan bahwa bangsa kita mengakui secara nasional peristiwa kenaikan Yesus ke sorga. Pernahkah Saudara menemukan jawaban mengapa kita merayakan peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga? Ada banyak orang Kristen yang merayakan hari kenaikan Yesus ini tanpa pengertian yang benar. Jika kita tidak mengerti sia-sialah ibadah perayaan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga yang kita lakukan.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

IMAN DAN KESABARAN MEMBAWA TEROBOSAN UNTUK MERAIH JANJI TUHAN

IMAN DAN KESABARAN MEMBAWA TEROBOSAN UNTUK MERAIH JANJI TUHAN

PENDAHULUAN

Seringkali kita tergoda untuk menyerah saat menghadapi masalah, tantangan dan penderitaan. Seolah ada tembok besar yang begitu merintangi langkah dan tujuan kita. Sepertinya semua upaya yang telah kita lakukan bukannya membawa kepada penyelesaian, tapi malah timbul masalah baru yang tidak diharapkan, tak diduga dan membuat penantian kita jadi lebih panjang. Masa menunggu menjadi hal yang melelahkan dan seakan tidak berujung. Sebenarnya di balik tembok besar itu tersedia berkat Tuhan yang siap kita terima dan nikmati kalau saja kita tidak menjadi lemah.

ISI

Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu,  karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan,  supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. (Ibrani 10:35-36)

Diperlukan kesabaran untuk tetap hidup oleh iman, sebab itulah yang membawa terobosan untuk meraih janji Tuhan. Kesabaran (patient endurance) juga diterjemahkan sebagai ketekunan (perseverance) atau panjang sabar (longsuffering). Kesabaran bukan sekadar menunggu secara pasif, tetapi dengan iman yang aktif tetap percaya bahwa firman/janji Allah akan digenapi, sekalipun belum melihat. Percaya bahwa Allah tetap bekerja bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia dan yang terpanggil menurut rencana-Nya. Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Roma 8:25).

Kegigihan seperti ini akan membawa terobosan. Kegigihan membuat seseorang tidak menyerah meskipun ada kesulitan,  hambatan, penderitaan serta proses didikan Tuhan yang membentuk hidupnya. Orang yang gigih pasti memiliki hubungan dan pengenalan akan Tuhan secara pribadi. Hubungan menimbulkan trust/kepercayaan pada karakter-Nya yang baik, setia dan penuh kasih. Kegigihan adalah sikap yang dimiliki oleh orang yang mengerti visi/tujuan/panggilan Tuhan dalam hidupnya.

Janji Tuhan yang (seolah) tertunda bukanlah suatu penolakan; God’s delay is also God’s preparation. Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar/mulia dari sekedar menjawab doa kita. Penundaan tidak pernah menggagalkan tujuan Tuhan tapi justru makin memperlebar kapasitas kita, asal kita bisa meresponinya dengan benar. IA perlu membentuk kita lebih dulu supaya kita siap menerima janji dan dapat dipercaya untuk mengelolanya.

Patut diketahui bahwa tujuan utama penggenapan janji bukanlah untuk memenuhi agenda pribadi kita, tapi untuk melakukan rencana Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Bagaimana respon kita saat menghadapi penundaan akan menentukan hasil akhir kita. Sikap yang harus kita miliki supaya tetap hidup oleh iman dalam menjalani masa penantian/penundaan  :

  1. Ketaatan

Iman dan kesabaran merupakan prinsip penting yang membawa kita mengalami janji Tuhan. Bukti bahwa kita hidup oleh iman adalah ketaatan kepada firman Tuhan yang berupa hukum, ketetapan dan perintah/kehendak-Nya. Iman yang tidak disertai perbuatan (ketaatan), maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. …supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu (Ibrani 10:36b).

Janji Tuhan  akan digenapi bila kita menghidupi firman Tuhan dan melakukan kehendak-Nya.

  1. Kerendahan hati.

Orang yang rendah hati akan menyerahkan hak bebasnya dan tunduk kepada kedaulatan Tuhan atas hidupnya. Ia rela karakternya dibentuk dan didewasakan lewat masalah, tantangan dan penderitaan; memilih untuk belajar bersabar, tabah dan tekun menjalani proses Tuhan tanpa perlu mempertanyakannya. Orang yang rendah hati menyadari kelemahan, keterbatasan dan ketidakmampuannya; ia memilih menantikan Tuhan, mengandalkan DIA, dan menunggu waktu yang telah ditetapkan.

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya…”(Yesaya 40:31)

  1. Sikap hati yang bersyukur.

Hati yang bersyukur bisa melihat kebaikan Tuhan di segala keadaan, termasuk saat berada dalam lembah kekelaman.  Hati yang bersyukur bisa menerima realita yang terjadi namun tidak bersungut-sungut/ sembrono dalam perkataan, atau merasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ia tidak membanding-bandingkan keadaannya dengan orang lain dan mengasihani diri sendiri. Hati yang bersyukur membuat kita bisa menjalani masa penantian dengan sukacita dan tetap berpengharapan.

  1. Mata tertuju kepada Yesus.

Arahkan mata kita selalu tertuju kepada Kristus serta sifat/karakter-Nya dan bukan kepada diri sendiri, orang lain, masalah atau cara-cara yang dunia tawarkan. Arahkan mata tertuju kepada Yesus dan firman-Nya supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa. Jangan fokus kepada apa yang Tuhan bisa berikan, tapi belajar mengerti hati dan mencari kehendak-Nya atas hidup kita dalam masa penantian.

PENUTUP

Apapun keadaan dan pergumulan kita, ambil keputusan untuk terus bertekun dalam iman dan kesabaran. Roh Kudus sanggup meneguhkan hati dan menguatkan jiwa supaya kita berkemenangan dalam masa penantian; tidak menjadi lemah dan putus asa. Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Kristus yang memberikan kekuatan. Oleh sebab itu jangan melepaskan kepercayaan kita karena besar upah yang menanti.

TELADAN TUHAN YESUS: Mengasihi Musuh (2)

TELADAN TUHAN YESUS: Mengasihi Musuh (2)

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Lukas 6:27-28

Secara nalar, apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yaitu mengasihi musuh, mendoakan mereka dan berbuat baik kepada orang yang membenci adalah sungguh tidak masuk akal. Tetapi karena ini perintah Tuhan, mau tidak mau, suka tidak suka, sebagai pengikut-Nya kita harus taat melakukan apa yang diperintahkan.

Hal senada juga disampaikan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma yaitu agar mereka hidup dalam kasih, dan “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Kata perdamaian yang dimaksudkan dalam hal ini bukan menunjuk kepada situasi yang tenang, aman, tidak ada konflik atau perang, tetapi mengacu kepada suasana hati yang harus diupayakan untuk tetap menjadi tenteram dan damai, sekalipun berada di antara musuh atau orang-orang yang berlaku jahat dan membenci kita sekalipun.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

MELALUI IMAN DAN KESABARAN MERAIH JANJI TUHAN

MELALUI IMAN DAN KESABARAN MERAIH JANJI TUHAN

Perjalanan mengikut Tuhan bukan berarti selalu mulus tanpa tantangan. Saat ini mungkin kita sedang bergumul dengan masalah yang datang silih berganti, atau menderita aniaya karena melakukan kebenaran. Menghadapi itu kadang kita jadi galau, lelah dan mulai tawar hati. Kita mulai tergoda untuk berpikir apakah ini semua layak untuk diperjuangkan? Bagaimana kalau ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita? Mengapa seolah-olah Tuhan membiarkan dan tidak melakukan sesuatu? Berbagai pertanyaan bisa muncul di benak kita. Kita perlu belajar bagaimana memegang teguh janji Tuhan walaupun fakta yang nampak dan rasakan jauh dari yang kita anggap ‘kebaikan Tuhan’ serta ‘rencana-Nya yang indah.’

MENANAM BENIH DAN MENANTI HASIL PANEN SEPERTI IMAN SEORANG PETANI

Jika ingin menuai janji Tuhan, tentu bagian yang harus kita lakukan adalah menanam benih iman. Seperti seorang petani mengharapkan hasil panen dari benih yang ditanamnya, kitapun harus menunjukkan kesungguhan untuk menjadikan pengharapan kita suatu milik yang pasti yaitu mengalami janji Tuhan.

Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah (Ibrani 6:11-12).

Firman Tuhan mengajarkan sebuah prinsip yang sangat penting untuk kita lakukan agar dapat melihat janji Tuhan digenapi, yaitu iman dan kesabaran. Belajar dari iman seorang petani di mana setelah menanam benih, ia sangat yakin bahwa segala jerih lelahnya pasti menghasilkan panen pada waktunya.

Iman dan kesabaran adalah kombinasi yang pasti membawa penggenapan janji Tuhan.

‘agar kamu jangan menjadi lamban…’ Menjadi lamban dalam iman maksudnya menurunnya ketekunan, gairah dan semangat dalam mengikut Tuhan. Tumpul dalam pendengaran akan firman Tuhan/kurangnya ketajaman dan pemahaman akan hal-hal yang rohani. Kehilangan semangat untuk melakukan yang benar sesuai firman Tuhan; malas berdoa, baca firman atau malas melayani; kehilangan pengharapan; dlsb. Firman Tuhan mengingatkan agar jangan kita menjadi lamban, tetapi supaya meneladani mereka yang telah menerima janji Tuhan melalui iman dan kesabaran.

A. IMAN

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani11:1).
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

Secara sederhana kalau kita gabungkan kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat adalah firman Kristus yang kita ‘dengar’ lewat telinga rohani. Artinya, iman kita timbul dari pewahyuan akan firman Kristus yang dihidupkan oleh Roh Kudus. Ini yang menyebabkan kita dapat memegang teguh janji Tuhan sekalipun tidak didukung oleh keadaan yang terlihat. Kenapa kita bisa begitu yakin? Karena janji itu adalah ide/inisiatif Tuhan sendiri, maka IA pula yang menjamin bahwa perkataan-Nya pasti digenapi. Jadi Allah bertindak demi diri-Nya sendiri dengan membela firman-Nya. Ayat selanjutnya memberi contoh nyata lewat pengalaman Abraham :
karakter/sifat Allah yaitu kebaikan hati, kesetiaan dan kuasa-Nya yang tidak terbatas. ‘Trust’ adalah kepercayaan yang menaruh keyakinan pada sifat-sifat Allah ini. Inilah menyebabkan kita dapat memercayai Tuhan sepenuhnya sekalipun belum melihat, belum mengerti, fakta tidak mendukung, banyak tantangan dan penderitaan, dlsb.

Keterbatasan, keadaan dan kelemahan kita tidak dapat membatasi Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita. IA berdaulat mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak dan rancangan-Nya yang sempurna. Tuhan melihat apa yang tidak bisa kita lihat, apa yang akan terjadi di depan, dan apa yang terbaik untuk kita. IA bekerja dengan cara yang misterius dan melampaui pemahaman kita.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9).

Itulah sebabnya orang benar harus hidup oleh iman (percaya akan perkataan/firman-Nya yang tidak terlihat namun penuh kuasa). Iman merupakan fondasi (tidak terlihat tapi kokoh) yang membuat kita percaya bahwa Tuhan itu ada, bahwa Dia adalah seperti yang Dia katakan, dan Dia berkuasa melakukan apa yang Dia firmankan. Sebelum memercayai janji Allah, Abraham terlebih dulu percaya/memiliki trust akan kesetiaan-Nya.

Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia (Ibrani 11:11).

Contoh lain di Alkitab yang melalui iman serta kesabaran, dan akhirnya meraih janji Tuhan adalah Nuh, Ishak, Yakub, Yusuf, Yosua, Hana, Daud, dll. Pengalaman iman mereka ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita yang hidup di masa ini, karena Allah tetap sama dulu, sekarang dan selamanya.

Kita belajar satu prinsip yang penting dalam masa menunggu janji Tuhan : percaya sebelum melihat adalah esensi iman. Penundaan jawaban doa bukan berarti penolakan, tapi merupakan bagian dari perjalanan iman yang memang harus kita lalui supaya kita bertumbuh dalam iman (menjadi kuat dan teruji); bertumbuh dalam karakter menyerupai Dia yang penuh kasih, dan kesetiaan.

Bagaimana kita bisa menghindari keraguan saat menunggu? Mari belajar menunggu dengan bijaksana, biarkan Tuhan menyelesaikan maksud dan pekerjaan-Nya yang sempurna atas hidup kita. Arahkan mata kepada Yesus, jaga hati dengan segala kewaspadaan. Perdalam keintiman kita dengan-Nya lewat perenungan firman, doa, puasa, pujian dan penyembahan. Bawa segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa, minta Roh Kudus menuntun dan memberi hikmat dalam tiap langkah/keputusan yang kita ambil. Padamkan panah-panah api si jahat yang menyerang pikiran kita dengan mendeklarasikan firman/janji-janji Tuhan.

Belajar rendah hati dan tidak mencoba menolong Tuhan. Tuhan ingin kita berdiam diri dan pelajari Firman (karakter dan cara kerja Tuhan), perbaiki kebiasaan dan cara hidup dalam masa menunggu. Lakukan pemberesan dengan Tuhan dan/sesama jika Roh Kudus mengingatkan kita akan sesuatu hal. Jangan menjadi lamban dan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Hindari berada dalam kumpulan pencemooh, yang tidak percaya akan firman Tuhan, orang-orang yang punya pikiran, perasaan dan sikap perilaku negatif. Tetap tergabung dalam komunitas orang percaya/Cool, lakukan tugas pelayanan dan tanggung jawab kita sebagai murid Kristus dengan tekun dan setia.

Menunggu janji Tuhan digenapi memang butuh waktu, tapi itu tidak akan pernah sia-sia karena Tuhan akan memberi upah kepada mereka yang sungguh- sungguh mencari DIA. Masa menunggu adalah masa untuk memperkuat akar dan memperkokoh fondasi. Tuhan mendidik kita supaya bertumbuh dewasa dalam iman, dalam karakter, dalam kapasitas yang semakin besar, agar hidup kita berbuah matang dan lebat.

Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita (Ibrani 6: 13-15, 17-18).

Jaminan Allah menimbulkan pengharapan yang pasti. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat bagi jiwa kita. Sauh/jangkar pada sebuah kapal berfungsi untuk memastikan kapal tetap berada di tempat yang diinginkan; untuk mencegah kapal hanyut akibat angin, gelombang, dan arus, serta memungkinkan kapal untuk berlabuh. Hidup tanpa sauh/pengharapan adalah hidup yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai badai kehidupan.

B. KESABARAN

Kesabaran maksudnya tetap bertahan, bertekun walau dalam masa sulit (patient endurance, perseverance in times of hardship). Kesabaran Abraham menunggu waktunya Tuhan menyempurnakan imannya, sehingga ia pun menuai janji tersebut. Iman tanpa kesabaran membuat kita terjebak untuk berkompromi, ambil jalan pintas dan mengandalkan kekuatan sendiri. Kesabaran tanpa iman membuat kita hidup sekedar ‘exist’ tanpa arti, arah dan produktivitas maksimal. Orang yang hidup oleh iman dan sabar menanti waktu Tuhan, pasti akan mendapat upah dari Allah yaitu janji-Nya digenapi dalam hidupnya.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada , dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).

Adalah sebuah kemustahilan bagi Allah untuk tidak memberikan upah/menepati janji dan firman-Nya kepada mereka yang hidup oleh iman dan menanti dengan sabar. Oleh karena itu, dalam masa menunggu, tetap kerjakan keselamatan kita dan jangan menjadi lamban dalam iman. Ambil keputusan untuk tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya. Ingatlah bahwa Tuhan bekerja menurut kedaulatan-Nya, tidak terlalu cepat, tidak terlambat tapi tepat pada waktu yang terbaik.

PERCAYA DAN MENUNGGU WAKTU TUHAN MENGGENAPI JANJI-NYA

Di dalam dunia yang serba instan, banyak kemudahan serta penuh dengan tuntutan/tekanan, gagasan untuk bersabar dan menunggu tampaknya menjadi sesuatu yang kontraproduktif. Manusia cenderung memilih jalur cepat, kalau perlu menghalalkan segala cara, demi mewujudkan keinginannya. Namun tidak demikian halnya dengan kita yang hidup oleh iman. Iman harus disertai dengan kesabaran untuk menunggu waktu Allah.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).

Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya; hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak berkuasa menetapkan langkah hidupnya. Kita tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dengan segala hikmat dan pengetahuan kita yang sangat terbatas. Masa menunggu adalah kesempatan yang dipakai Tuhan untuk mengukir nilai-nilai kekekalan dalam hati kita melalui suatu proses.

Seseorang akan rela menunggu jika ia memiliki kepercayaan/‘trust’ yang dibangun atas dasar hubungan yang erat dengan Allah. Walaupun belum melihat, namun ia memiliki keyakinan bahwa Allah pasti menggenapi perkataan/janji-Nya karena mengenal betul

HIDUP TIDAK BERCELA: Mau Dikoreksi

HIDUP TIDAK BERCELA: Mau Dikoreksi

“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.” Mazmur 119:1

Hidup dalam kesalehan adalah kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya. Hidup dalam kesalehan bisa disebut pula hidup yang tidak bercela. Inilah salah satu tanggung jawab orang Kristen yang dianggap paling berat, bahkan sebagian besar orang menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil untuk dijalani, karena mereka berpikir bahwa hidup yang tak bercela berarti hidup yang tidak pernah membuat satu pun kesalahan. Adakah orang yang tidak pernah membuat kesalahan dalam hidupnya? Hidup tidak bercela bukan berarti tidak pernah membuat kesalahan, tetapi hidup yang senantiasa mau dikoreksi oleh Tuhan.

Daud, seorang raja besar Israel dan juga penulis sebagian besar kitab Mazmur, bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

PERCAYA DAN MENUNGGU WAKTU TUHAN  MENGGENAPI JANJI-NYA

PERCAYA DAN MENUNGGU WAKTU TUHAN MENGGENAPI JANJI-NYA

PENDAHULUAN

Di dalam dunia yang serba instan, banyak kemudahan serta penuh dengan tuntutan/tekanan, gagasan untuk bersabar dan menunggu tampaknya menjadi sesuatu yang kontraproduktif. Manusia cenderung memilih jalur cepat, kalau perlu menghalalkan segala cara, demi mewujudkan keinginannya. Namun tidak demikian halnya dengan kita yang hidup oleh iman. Firman Tuhan mengajarkan bahwa iman disertai kesabaran adalah prinsip yang sangat penting untuk kita lakukan agar dapat melihat janji Tuhan digenapi. Selalu ada masa menunggu antara menerima janji Allah dengan penggenapannya.

ISI

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).

Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya; hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak berkuasa menetapkan langkah hidupnya. Kita tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dengan segala hikmat dan pengetahuan kita yang sangat terbatas. Masa menunggu adalah kesempatan yang dipakai Tuhan untuk mengukir nilai-nilai kekekalan dalam hati kita melalui suatu proses.

Seseorang akan rela menunggu jika ia memiliki kepercayaan (dalam hal ini ‘trust’) yang dibangun atas dasar hubungan yang erat dengan Allah. Walaupun belum melihat, namun ia memiliki keyakinan bahwa Allah pasti menggenapi perkataan/janji-Nya karena mengenal betul karakter/sifat Allah yaitu kebaikan hati, kesetiaan dan kuasa-Nya yang tidak terbatas. ‘Trust’ adalah kepercayaan yang menaruh keyakinan pada sifat-sifat Allah ini. Inilah menyebabkan kita dapat memercayai Tuhan sepenuhnya sekalipun belum melihat, belum mengerti, fakta tidak mendukung, banyak tantangan dan penderitaan, dlsb.

Keterbatasan kita tidak membatasi Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita. Tuhan berdaulat mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak dan rancangan-Nya yang sempurna. IA melihat apa yang tidak bisa kita lihat, apa yang akan terjadi di depan, dan apa yang terbaik untuk kita. Tuhan bekerja dengan cara yang misterius dan melampaui pemahaman kita.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9).

Itulah sebabnya orang benar harus hidup oleh iman (percaya akan perkataan/firman-Nya yang tidak terlihat namun penuh kuasa).

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani11:1).

Iman merupakan fondasi (tidak terlihat tapi kokoh) yang membuat kita percaya bahwa Tuhan itu ada, bahwa Dia adalah seperti yang Dia katakan, dan Dia berkuasa melakukan apa yang Dia firmankan. Sebelum memercayai janji Allah, Abraham terlebih dulu percaya/memiliki trust akan kesetiaan-Nya. Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia (Ibrani 11:11).

Contoh lain di Alkitab yang melalui iman serta kesabaran, dan akhirnya meraih janji Tuhan adalah Nuh, Ishak, Yakub, Yusuf, Yosua, Hana, Daud, dll. Pengalaman iman mereka ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita yang hidup di masa ini, karena Allah tetap sama dulu, sekarang dan selamanya.

Kita belajar satu prinsip yang penting dalam masa menunggu janji Tuhan : percaya sebelum melihat adalah esensi iman. Penundaan jawaban doa bukan berarti penolakan, tapi merupakan bagian dari perjalanan iman yang memang harus kita lalui supaya kita bertumbuh dalam iman (menjadi kuat dan teruji); bertumbuh dalam karakter menyerupai Dia yang penuh kasih, dan kesetiaan.

Bagaimana kita bisa menghindari keraguan saat menunggu? Mari belajar menunggu dengan bijaksana, biarkan Tuhan menyelesaikan maksud dan pekerjaan-Nya yang sempurna atas hidup kita. Arahkan mata kepada Yesus, jaga hati dengan segala kewaspadaan. Perdalam keintiman kita dengan-Nya lewat perenungan firman, doa, puasa, pujian dan penyembahan. Bawa segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa, minta Roh Kudus menuntun dan memberi hikmat dalam tiap langkah/keputusan yang kita ambil. Padamkan panah-panah api si jahat yang menyerang pikiran kita dengan mendeklarasikan firman/janji-janji Tuhan.

Belajar rendah hati dan tidak mencoba menolong Tuhan. Tuhan ingin kita berdiam diri dan pelajari Firman (karakter dan cara kerja Tuhan), perbaiki kebiasaan dan cara hidup dalam masa menunggu. Lakukan pemberesan dengan Tuhan dan/sesama jika Roh Kudus mengingatkan kita akan sesuatu hal. Jangan menjadi lamban dan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Hindari berada dalam kumpulan pencemooh, yang tidak percaya akan firman Tuhan, orang-orang yang punya pikiran, perasaan dan sikap perilaku negatif. Tetap tergabung dalam komunitas orang percaya/Cool, lakukan tugas pelayanan dan tanggung jawab kita sebagai murid Kristus dengan tekun dan setia.

PENUTUP

Menunggu janji Tuhan digenapi memang memakan waktu, tapi itu tidak akan pernah sia-sia karena Tuhan akan memberi upah kepada mereka yang serius mencari DIA. Masa menunggu adalah masa Tuhan mendidik kita supaya menjadi kuat dan dewasa dalam iman, dan hidup kita berbuah.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada , dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).

MENJADI ORANG JUJUR (2)

MENJADI ORANG JUJUR (2)

“siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.” Mazmur 50:23b

Kebanyakan orang cenderung berani berdusta atau berkata tidak jujur karena mereka lebih memilih untuk takut kepada manusia, sekedar menyenangkan hati orang lain, daripada takut kepada Tuhan. Mereka berpikir lebih mudah berdusta kepada Tuhan yang tak dilihatnya daripada berdusta di hadapan manusia yang terlihat secara kasat mata. Kalau sampai ketahuan berdusta di hadapan manusia resiko yang langsung diterimanya adalah malu, dimarahi, didamprat atau mungkin dipecat.

Cepat atau lambat setiap ketidakjujuran atau kebohongan pasti akan terungkap. Manusia mungkin saja tidak tahu dan bisa dikelabui dengan kebohongan kita, tetapi Tuhan yang duduk di atas takhta-Nya adalah Mahatahu, bahkan “…TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9). Apa pun yang kita pikirkan, rancangkan, cita-citakan, Tuhan tahu secara persis. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Berhentilah berkata dusta, jadilah orang yang jujur, sebab “Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya.” (Amsal 12:22).

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

MENANAM BENIH DAN MENANTI HASIL PANEN  SEPERTI IMAN SEORANG PETANI

MENANAM BENIH DAN MENANTI HASIL PANEN SEPERTI IMAN SEORANG PETANI

PENDAHULUAN

Perjalanan mengikut Tuhan bukan berarti selalu mulus tanpa tantangan. Saat ini mungkin kita sedang bergumul dengan masalah yang datang silih berganti, atau menderita aniaya karena melakukan kebenaran. Menghadapi itu kadang kita jadi galau, lelah dan mulai tawar hati. Kita mulai tergoda untuk berpikir apakah ini semua layak untuk diperjuangkan? Bagaimana kalau ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan? Mengapa seolah-olah Tuhan membiarkan dan tidak melakukan sesuatu? Berbagai pertanyaan bisa muncul di benak kita. Pada bahan minggu ini kita mau belajar bagaimana memegang teguh janji Tuhan walaupun fakta yang nampak atau kita rasakan jauh dari yang kita anggap ‘kebaikan Tuhan’ dan ‘rencana-Nya yang indah.’

ISI

Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,  agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut  mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah (Ibrani 6:11-12).

Firman Tuhan mengajarkan sebuah prinsip yang sangat penting untuk kita lakukan agar dapat melihat janji Tuhan digenapi, yaitu  iman dan kesabaran.  Seperti iman seorang petani : setelah menanam benih, dia akan menunggu hasil panen dengan sabar. Seorang petani sangat percaya bahwa segala jerih lelahnya dalam menanam benih pasti akan menghasilkan panen pada waktunya.

Iman dan kesabaran adalah kombinasi yang pasti membawa penggenapan janji Tuhan.

agar kamu jangan menjadi lamban…’ Menjadi lamban dalam iman maksudnya menurunnya ketekunan, gairah dan semangat dalam mengikut Tuhan.  Tumpul dalam pendengaran akan firman Tuhan/kurangnya ketajaman dan pemahaman akan hal-hal yang rohani. Kehilangan semangat untuk melakukan yang benar sesuai firman Tuhan; malas berdoa, baca firman atau malas melayani; kehilangan pengharapan; dlsb. Firman Tuhan mengingatkan agar jangan kita menjadi lamban, tetapi supaya meneladani mereka yang telah menerima janji Tuhan melalui iman dan kesabaran.

1. IMAN

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).

Jadi, iman timbul dari pendengaran,  dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

Secara sederhana kalau kita gabungkan kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat adalah firman Kristus yang kita ‘dengar’ lewat telinga rohani. Artinya, iman kita timbul dari pewahyuan akan firman Kristus yang dihidupkan oleh Roh Kudus. Ini yang menyebabkan kita dapat memegang teguh janji Tuhan sekalipun tidak didukung oleh keadaan yang terlihat. Kenapa kita bisa begitu yakin? Karena janji itu adalah ide/inisiatif Tuhan sendiri, maka IA pula yang menjamin bahwa perkataan-Nya pasti digenapi. Jadi Allah bertindak demi diri-Nya sendiri dengan membela firman-Nya. Ayat selanjutnya memberi contoh nyata lewat pengalaman Abraham :

Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,  supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta,  kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita (Ibrani 6: 13-15, 17-18).

Jaminan Allah menimbulkan pengharapan yang pasti. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat bagi jiwa kita. Sauh/jangkar yang berfungsi  sebuah kapal berfungsi untuk memastikan kapal tetap berada di tempat yang diinginkan di perairan, mencegah kapal hanyut akibat angin, gelombang, dan arus, serta memungkinkan kapal untuk berlabuh. Hidup tanpa sauh/pengharapan adalah hidup yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai badai kehidupan.

2. KESABARAN

Kesabaran maksudnya tetap bertahan, bertekun walau dalam masa sulit (patient endurance, perseverance in times of hardship).   Kesabaran Abraham menunggu waktunya Tuhan menyempurnakan imannya, sehingga ia pun menuai janji tersebut. Iman tanpa kesabaran membuat kita terjebak untuk berkompromi, ambil jalan pintas dan mengandalkan kekuatan sendiri. Kesabaran tanpa iman membuat kita hidup sekedar ‘exist’ tanpa arti, arah dan produktivitas maksimal. Orang yang hidup oleh iman dan sabar menanti waktu Tuhan, pasti akan mendapat upah dari Allah yaitu janji-Nya digenapi dalam hidupnya.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah,  ia harus percaya bahwa Allah ada , dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).

Aplikasi:

  • Apa janji Tuhan dalam hidup Anda yang belum digenapi?
  • Bagaimana Anda dapat memelihara iman selama masa menunggu?

PENUTUP

Seperti seorang petani yang menanam benih dan sabar menunggu hasil panen, kita pun harus senantiasa memelihara iman dan sabar menanti sampai janji Tuhan digenapi. Adalah sebuah kemustahilan bagi Allah untuk tidak menepati janji dan firman-Nya. Oleh karena itu, dalam masa penantian, tetap kerjakan keselamatan kita dan jangan menjadi lamban dalam iman. Masa menunggu janji Allah digenapi adalah saat untuk kita bertumbuh dalam firman, dalam kasih, dalam pengenalan akan Allah, dan dalam karakter. Ambil keputusan untuk tetap percaya bahwa Tuhan pasti menggenapi janji-Nya. Ingatlah bahwa Tuhan bekerja menurut kedaulatan-Nya, tidak  terlalu cepat, tidak terlambat tapi tepat pada waktu yang terbaik.