Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 14)
TUHAN TIDAK PERNAH INGKAR

TUHAN TIDAK PERNAH INGKAR

“tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan,…” Ulangan 7:8

Bangsa Israel adalah bangsa Allah. Ini dinyatakan dalam Alkitab, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” (Ulangan 7:6).

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

LIMA ATRIBUT ALLAH YANG MENJADI TELADAN  BAGI ORANG PERCAYA  (bagian 1)

LIMA ATRIBUT ALLAH YANG MENJADI TELADAN BAGI ORANG PERCAYA (bagian 1)

bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24)

PENDAHULUAN

Allah adalah sumber utama Kebenaran; segala sesuatu yang Dia katakan dan lakukan konsisten dengan Kebenaran tersebut. Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Kebenaran Allah dapat diandalkan dan tidak berubah; kebenaran-Nya berfungsi sebagai standar untuk segala sesuatu. Kebenaran Allah memanggil orang percaya untuk hidup dengan kejujuran, integritas, dan ketaatan pada firman-Nya. Kebenaran Allah memanggil kita untuk menjadi serupa dengan Dia (1 Yohanes 2:6) : untuk menjadi baik, benar, setia, kudus, dan berakar serta berdasar di dalam kasih (Efesus 3:17).

ISI

5 Atribut ini mengungkapkan siapa Allah dan siapa kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya :

1. Baik (Good)

Suatu kali seorang muda yang kaya bertanya kepada Yesus : “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak ada yang baik selain Dia, yaitu Allah.” (Markus 10:18 dan Lukas 18:19).

Orang muda itu menyebut Yesus baik sebagaimana dia merasa dirinya sudah baik karena mampu menuruti hukum-hukum Allah. Melalui pertanyaan tersebut, Yesus sedang mengoreksi konsep ‘baik’ ke dalam perspektif orang muda itu. Ia meminta orang muda itu untuk mempertimbangkan siapa yang pantas disebut ‘baik’, dan merefleksikan persepsinya tentang Yesus. Alih-alih menanyakan bagaimana untuk menjadi serupa dengan Yesus, orang muda ini malah menanyakan apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal.

Yesus menjawab bahwa tidak ada manusia yang baik, tapi hanya Allah saja. Dengan kata lain, Ia mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang mampu menjadi baik/sempurna atas usahanya sendiri. Yesus memberikan teladan kepada manusia bagaimana untuk menjadi baik, yaitu dengan cara taat kepada Allah.

Sesungguhnya perbuatan baik manusia tidak akan membuatnya memperoleh hidup kekal. Hanya iman percaya kepada Yesus yang disertai dengan perbuatan, yaitu ketaatan kepada perintah dan hukum-hukum Allah. Kasih karunia Allah melalui Roh Kudus-lah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Allah memperlengkapi kita dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya.

2. Tak Bercela (Righteous)

Penghakiman Allah yang adil memastikan bahwa Dia selalu bertindak dengan adil dan benar dalam memperlakukan ciptaan-Nya. Dalam menegakkan keadilan, Allah selalu tegas dan berintegritas. Contoh: Allah tidak membeda-bedakan (Kisah 10:34), Ia melarang kita menekan mereka yang lemah (Zakharia 7:10), Ia membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kita (2 Tesalonika 1:6; Roma 12:19).

Allah menghakimi dosa dan menjunjung kebenaran. Namun Ia bersikap adil kepada mereka yang mau merendahkan hati, mengakui kesalahan dan bertobat.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9).

Allah itu adil dalam memberi upah: Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang (Ibrani 6:10).

Allah adil dalam memberikan hukuman: Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang (Kolose 3:25).

Allah adil dalam menuntut pertanggungjawaban kita : Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan dituntut lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

Lalu bagaimana keadilan menurut ukuran manusia? Seringkali manusia menuntut keadilan karena tidak ingin dirugikan, ada rasa ingin menang dari lawan, atau supaya lawan kita mendapatkan ganjaran/hukuman yang setimpal. Keadilan manusia bersifat self-centered, tujuannya cenderung untuk memuaskan keinginan pribadi. Sesungguhnya kita tidak mengerti bagaimana untuk bersikap adil. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita bersikap adil yang sesuai dengan standar keadilan Allah.

Keadilan Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih dan belas kasihan. Keadilan dan kebenaran adalah dasar dari takhta Allah.
“Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-M.” (Mazmur 89:14).

Sifat adil Allah memastikan bahwa Dia menjunjung tatanan moral dan keadilan. Sifat adil Allah mendorong orang percaya untuk mengejar keadilan dan belas kasihan, menentang ketidakadilan, dan percaya bahwa pada akhirnya Allah akan mewujudkan keadilan yang sempurna.

Bersambung minggu depan …

ROH MANUSIA

ROH MANUSIA

“Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.” Ayub 32:8

Keindahan seorang Kristen harus keluar dari bagian yang terdalam. Maka tak seharusnya kita bermegah dengan apa yang dilihat lebih dari apa yang di dalam hati. Yesus berkata pada kita, “Janganlah mengha-kimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” (Yohanes 7:24).

Download Renungan Harian minggu ini selengkapnya di sini.

A NEW BEGINNING (bagian 3)

A NEW BEGINNING (bagian 3)

Sekilas review minggu lalu :
Hal-hal yang terjadi di musim yang baru:
1. Hati kita ditahirkan dari segala kenajisan dan berhala.
2. Kita adalah ciptaan baru yang terus menerus diperbarui.
a. Hal-hal yang menghalangi terjadinya transformasi di hidup kita.
b. Pembaruan akal budi dengan pertolongan Roh Kudus.

Sambungan minggu ini:

3. Tuhan berbicara tentang permulaan yang baru dan mendorong kita untuk tidak memikirkan hal-hal di masa lalu, tetapi menantikan hal-hal baru yang Dia lakukan dalam hidup kita.

firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya 43:18-19).

Tuhan mau kita melupakan apa yang ada di belakang kita dan mengarahkan diri kepada apa yang di Tuhan hendak kerjakan di depan kita. Hal-hal yang dari masa lalu misalnya rasa bersalah, kesalahan dalam mengambil keputusan, kegagalan, kekecewaan, dendam/kepahitan, paradigma lama, cara lama yang tidak efektif, sifat yang tidak dewasa, hal-hal yang negatif/buruk, bahkan kesuksesan masa lalu.

Allah mau supaya kita menantikan hal-hal baru yang hendak dilakukan-Nya dalam hidup kita. Jika masih terikat dengan hal-hal di masa lalu, maka Tuhan tidak bisa membawa kita melangkah ke depan dan berjalan dalam rencana-Nya. Allah sanggup melakukan segala perkara, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Ia sanggup mengadakan mukjizat, menyediakan semua yang kita perlukan dan memulihkan seluruh kehidupan orang-orang yang mengandalkan Dia.

Kita diberi hati yang baru dan roh yang baru agar taat kepada Tuhan. Kapasitas kita semakin diperbesar supaya dapat berjalan dalam rencana-Nya. Di musim yang baru ini, Tuhan membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Padang gurun adalah suatu tempat yang dipenuhi dengan pasir, berbatu-batu, tidak ada pohon, gersang/tidak ada air, sangat panas pada siang hari dan dingin pada malam hari, banyak binatang liar dan berbahaya. Padang gurun juga berbicara tentang proses perjalanan iman (journey of faith) yang harus dilalui setiap orang percaya.

Secara alami, kita tidak akan menjumpai sebuah jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Jika ada jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara, maka itu adalah perkara yang supernatural/mukjizat. Allah sanggup membuat hal-hal baru yang kreatif sekalipun kita ada dalam masa yang sukar seperti di padang gurun.

Allah membuat jalan di padang gurun: kita diberi jalan keluar saat berada dalam padang gurun masalah. Dia membuat sungai-sungai di padang belantara: sungai berbicara tentang penyediaan serta pemeliharaan Tuhan yang supernatural; sungai juga berbicara tentang sukacita dan damai sejahtera melimpah yang Roh Kudus berikan di tengah keadaan yang sukar.

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9)

4. Kesetiaan Tuhan memperbaharui kita setiap hari.
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23).

Padang gurun dapat dipakai Tuhan untuk mentransformasi hidup kita :
• Proses Tuhan membuat akal budi terus-menerus diperbarui sehingga karakter kita semakin serupa dengan gambar Kristus. Pembaruan akal budi membuat kita tidak lagi mengasihi dunia ini (1 Yohanes 2: 15-17).
• Tantangan dan ujian iman akan menghasilkan buah yang matang dalam ketekunan, menjadi utuh dan sempurna serta tidak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1:2-4).
• Membuat kita semakin rendah hati dan bergantung pada Tuhan sepenuhnya (Ulangan 8:16).
• Membawa kita semakin mengerti kehendak Allah dan berjalan dalam rencana-Nya (Filipi 3:13-14).

Melalui padang gurun, Tuhan menjadikan kita sebagai bejana yang dapat dipakai untuk memberitakan kemasyhuranNya. Lupakan apa yang telah di belakang kita, arahkan diri kepada apa yang di hadapan kita dan berlarilah kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:13).

PENUTUP

Allah yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Ia menawarkan harapan, pembaharuan, dan transformasi kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. Kutuk dapat Dia ubah menjadi berkat; ratapan diubah menjadi tarian; kesalahan/kegagalan diubah menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA dan yang terpanggil dalam rencana-Nya. Kemurahan Allah menuntun kita kepada pertobatan. Kasih karunia-Nya memampukan kita untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, serta membawa kita di jalan kemenangan.

Di musim yang baru ini, mari kita menabur yang berasal dari Roh, bukan yang dari daging. Mereka yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai; mereka yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126: 5-6). Hiduplah oleh iman agar kita terus diperbarui/mengalami pemulihan dan berjalan dalam rencana-Nya.

MENGIKUT KRISTUS SEPENUHNYA

MENGIKUT KRISTUS SEPENUHNYA

“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” 1 Korintus 11:1

Paulus adalah teladan yang luar biasa dalam mengikut Tuhan secara total. Oleh karena itu dia bisa berkata pada orang percaya yang lain untuk mengikuti teladannya. Paulus tahu siapa dia dalam Kristus dan dia menjalani gaya hidup yang kudus, sehingga orang-orang dapat mengikuti teladannya untuk hidup sepenuhnya bagi Kristus sebagai Juruselamat mereka.

Paulus memiliki kualitas hidup yang menjamin keberhasilannya bersama Tuhan. Kita menemukan kunci-kunci kesuksesannya dalam Filipi 3:13-14: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, …

Download Renungan Harian minggu ini selengkapnya di sini.

A NEW BEGINNING (bagian 2)

A NEW BEGINNING (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Di awal musim yang baru ini, Tuhan hendak mentahirkan kita dari segala kenajisan dan berhala yang ada di hidup kita dan memberikan hati yang baru supaya kita taat kepada Tuhan Yesus serta hidup dalam kehendak/rencana-Nya. Hal-hal yang terjadi di musim yang baru :
1. Hati kita ditahirkan dari segala kenajisan dan berhala.

Sambungan minggu ini:

2. Kita adalah ciptaan baru yang terus menerus diperbarui.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).

Setiap orang yang lahir dari Allah adalah ciptaan baru dalam Kristus Yesus. Sebagai ciptaan baru, kita tidak suka lagi hidup di dalam dosa sebab kita telah diberikan hati yang baru. Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia.

Namun demikian untuk hidup dalam kekudusan yang sempurna tidak terjadi dalam sekejab, tapi melalui proses. Keinginan untuk hidup dalam kekudusan harus diikuti oleh pembaruan akal budi dengan firman Tuhan supaya kita dapat mengerti kehendak Allah dan hidup di dalamnya. Akal budi yang terus diperbarui akan menyebabkan transformasi dalam seluruh aspek hidup kita (Roma 12:2).

a. Hal-hal yang menghalangi terjadinya transformasi di hidup kita.

Banyak orang datang beribadah ke gereja dan mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan, tetapi tetap berjalan dalam pikiran, perasaan, dan kehendaknya sendiri. Sikap seperti ini menghalanginya untuk bisa mendengar suara Roh Kudus. Ia lebih suka mempertahankan asumsi dan pendapatnya, memikirkan hal-hal yang negatif, melihat kekurangan orang lain, membandingkan keadaan diri dengan orang lain, self-pity, memikirkan hal-hal menarik yang ditawarkan dunia dan pikiran sia-sia yang lain.

Suara teguran dan pimpinan Roh Kudus tidak bisa didengar karena hatinya menjadi keras dan pikirannya didominasi dengan hal-hal yang berasal dari keinginan sendiri. Orang seperti ini mudah tersesat, tidak bisa mengerti kehendak Allah serta tidak bisa hidup dalam ketaatan.

b. Pembaruan akal budi dengan pertolongan Roh Kudus.

Memperbarui akal budi dimulai dengan merenungkan firman Tuhan dengan pertolongan Roh Kudus yang memberikan pengertian/pewahyuan. Melalui perenungan firman, Roh Kudus akan membawa kita kepada seluruh kebenaran. Hati dan pikiran kita dibawa untuk memikirkan hal-hal yang dari Roh; memikirkan perkara-perkara yang di atas bukan yang di bumi (Kolose 3:2); memiliki pikiran Kristus.

“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5-6).

Apa yang kita renungkan itu tertanam dalam alam bawah sadar dan itu juga yang akan kita lakukan. Memikirkan hal-hal yang dari daging akan diikuti dengan hidup dalam hawa nafsu kedagingan; memikirkan hal-hal yang dari Roh akan diikuti dengan hidup dalam pimpinan Roh. Oleh sebab itu, perhatikan dengan seksama apa yang kita pikirkan. Orang yang memikirkan hal-hal yang dari Roh akan menjaga hatinya dengan firman Tuhan.

Hiduplah oleh Roh, supaya kita tidak menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan.

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8).

Pembaruan akal budi membuat kita mengetahui kehendak Allah:
yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24)

Pembaruan akal budi serta gaya hidup yang suka berdoa dan memuji Tuhan akan mendorong kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, sehingga kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang gambar Kristus (Kolose 3:10) dan Roh Kudus semakin menyempurnakan kekudusan kita (2 Korintus 7:1).
Keadaan hati yang lama : hidup dalam keinginan-keinginan daging, tidak taat, suka memaksakan kehendak sendiri, tidak tahu kehendak Tuhan, sok tahu/asumsi, sombong, tidak bisa menerima teguran, bebal/degil, tidak ada kasih akan Allah dan sesama, self-centered, dan berjalan dalam agenda pribadi.

Keadaan hati yang baru : mengasihi Tuhan yang ditunjukkan dengan ketaatan, belajar merendahkan hati, mengasihi orang lain, menjaga hati dengan segala kewaspadaan, hidup dalam pertobatan, mencari kehendak Tuhan, lemah lembut (mudah dibentuk), Christ-centered, dan berjalan dalam rencana-Nya.

Bersambung minggu depan ..

DIBERKATI DENGAN DAMAI SEJAHTERA

DIBERKATI DENGAN DAMAI SEJAHTERA

“TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!” (Mazmur 29:11)

Banyak dari kita bertanya apakah mungkin senantiasa hidup dalam damai sejahtera? Bagi dunia hal itu seakan mustahil. Tetapi sebenarnya hati manusia ingin merasakan damai. Orang di seluruh dunia ingin hidup dalam damai, bukan dalam pergolakan. Namun ada satu kebenaran yaitu orang tidak bisa mengalami damai yang dirindukannya tanpa menerima Raja Damai, Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka (baca Yesaya 9:5). Damai sejati hanya ditemukan oleh mereka yang telah dipulihkan hubungannya dengan Tuhan lewat kelahiran baru dan telah menerima “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7)

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

 

A NEW BEGINNING (bagian 1)

A NEW BEGINNING (bagian 1)

PENDAHULUAN

Tuntunan Tuhan melalui Gembala kita di Bulan ini adalah ‘A New Beginning’. Bulan September ini adalah permulaan musim yang baru. Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yang biasa kita lakukan di masa lalu harus ditinggalkan. Tuhan hendak mentahirkan kita dari kenajisan dan segala berhala dari kehidupan kita dan memberikan hati yang baru supaya kita taat kepada Tuhan Yesus dan hidup dalam kehendak/rencana Allah.

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya‬ ‭43‬:‭19)‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬

ISI

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu (Yehezkiel 36:25-28).

1. Tuhan akan mentahirkan hati kita dari segala kenajisan dan berhala.

Setelah mengalami kelahiran baru, Tuhan membawa kita kepada proses yang menyucikan kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah. Allah yang kita sembah adalah Allah yang kudus, oleh sebab itu untuk bisa bergaul dengan-Nya kita perlu dikuduskan dan ditahirkan dari segala kenajisan dan berhala di hidup kita.

Rupa-rupa kenajisan dan berhala di hidup manusia

Ketika kita tidak menempatkan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya ‘tuan’ dan sumber segalanya dalam hidup kita, maka sesungguhnya kita telah menggantikan posisi Tuhan dengan berhala (hal-hal lain yang kita andalkan selain daripada Tuhan dan hal-hal yang memuaskan keinginan hati kita). Semua berhala pada dasarnya mempunyai ketiga hawa nafsu yang ditemukan di dalam 1 Yohanes 2:16

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Mengasihi dunia termasuk mengabdi kepada harta, filosofi/hikmat, dan prioritas dunia. Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak seorang yang bisa mengabdi kepada dua tuan. Orang yang mengasihi/mengikat persahabatan dengan dunia, menjadikan dirinya musuh Allah. Jika kita mengasihi sesuatu lebih daripada mengasihi Dia, maka kita tidak layak bagi-Nya (Matius 10:37-38).

* Keinginan daging

Adalah rupa-rupa keinginan yang berasal dari tubuh berdosa kita, dan berpotensi membuat manusia jatuh dalam dosa.
Galatia 5:19-21 mengatakan “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.”

* Keinginan mata

Ada koneksi antara mata dengan hati manusia. Apa yang kita lihat dengan mata bisa meracuni hati kita dengan berbagai keinginan yang keliru serta membuat kita tidak hidup oleh iman, tapi hidup dengan pikiran dan pengertian sendiri. Jika tidak menjaga hati dengan segala kewaspadaan, keinginan mata dapat menyeret kita jatuh dalam dosa. Apa yang dilihat dengan mata bisa juga membuat hati seseorang terpikat dengan gaya hidup hedonis, yaitu gaya hidup yang memuja kesenangan dengan memuaskan hawa nafsu tanpa batas. Jaman sekarang banyak orang gemar memamerkan konten gaya hidup hedonis di social media, postingan tanpa tujuan positif untuk membangun ini hanya menularkan gaya hidup yang tidak berkenan pada Tuhan.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Matius 6:22-23).

* Keangkuhan hidup

Keangkuhan hidup maksudnya adalah keangkuhan dalam tingkah laku karena memiliki kekayaan, kesuksesan, dan ketenaran. Seseorang yang mengalami peningkatan dalam hidupnya misalnya hal materi/keuangan, pendidikan, pekerjaan, kesuksesan, prestasi/pencapaian atau hal yang lain, cenderung menjadi angkuh serta merasa lebih hebat dan lebih berkuasa dari orang lain. Keangkuhan hidup menuntut untuk diakui, dikagumi, dilayani dan dihormati lebih dari yang lain.

Bersambung minggu depan : Diberikan hati yang baru dan roh yang baru (A New Beginning)

A NEW BEGINNING

A NEW BEGINNING

Bulan September ini adalah permulaan musim yang baru (A New Beginning). Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan yang biasa kita lakukan di masa lalu harus ditinggalkan. Tuhan hendak mentahirkan kita dari kenajisan dan segala berhala dari kehidupan kita dan memberikan hati yang baru supaya kita taat kepada Tuhan Yesus dan hidup dalam kehendak/rencana Allah.

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu (Yehezkiel 36:25-28).

1. Tuhan akan mentahirkan hati kita dari segala kenajisan dan berhala.
Setelah mengalami kelahiran baru, Tuhan membawa kita kepada proses yang menyucikan kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah. Allah yang kita sembah adalah Allah yang kudus, oleh sebab itu untuk bisa bergaul dengan-Nya kita perlu dikuduskan dan ditahirkan dari segala kenajisan dan berhala di hidup kita.
Rupa-rupa kenajisan dan berhala di hidup manusia

Ketika kita tidak menempatkan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya ‘tuan’ dan sumber segalanya dalam hidup kita, maka sesungguhnya kita telah menggantikan posisi Tuhan dengan berhala (hal-hal lain yang kita andalkan selain daripada Tuhan, dan hal-hal yang memuaskan keinginan hati kita). Semua berhala pada dasarnya mempunyai ketiga hawa nafsu yang ditemukan di dalam 1 Yohanes 2:16 yaitu semua yang ada di dalam dunia : keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup.

Mengasihi dunia termasuk mengabdi kepada harta, filosofi/hikmat, dan prioritas dunia. Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak seorang yang bisa mengabdi kepada dua tuan. Orang yang mengasihi/mengikat persahabatan dengan dunia, menjadikan dirinya musuh Allah (Yakobus 4:4). Jika kita mengasihi sesuatu lebih daripada mengasihi Dia, maka kita tidak layak bagi-Nya (Matius 10:37-38).

2. Kita adalah ciptaan baru yang terus menerus diperbarui (2 Korintus 5:17).
Setiap orang yang lahir dari Allah adalah ciptaan baru dalam Kristus Yesus. Sebagai ciptaan baru, kita tidak suka lagi hidup di dalam dosa sebab kita telah diberikan hati yang baru. Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia.

Pembaruan akal budi yang disertai dengan gaya hidup yang suka berdoa dan memuji Tuhan akan mendorong kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, sehingga kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang gambar Kristus (Kolose 3:10) dan Roh Kudus semakin menyempurnakan kekudusan kita (2 Korintus 7:1).

Keadaan hati yang lama : hidup dalam keinginan-keinginan daging, tidak taat, suka memaksakan kehendak sendiri, tidak tahu kehendak Tuhan, sok tahu/asumsi, sombong, tidak bisa menerima teguran, bebal/degil, tidak ada kasih akan Allah dan sesama, self-centered, dan berjalan dalam agenda pribadi.

Keadaan hati yang baru : mengasihi Tuhan yang ditunjukkan dengan ketaatan, belajar merendahkan hati, mengasihi orang lain, menjaga hati dengan segala kewaspadaan, hidup dalam pertobatan, mencari kehendak Tuhan, lemah lembut (mudah dibentuk), Christ-centered, dan berjalan dalam rencana-Nya.

3. Tuhan mendorong kita untuk tidak terperangkap dalam masalah, kesulitan atau hal-hal di masa lalu, tetapi menantikan hal-hal baru yang Dia lakukan dalam hidup kita.

firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya 43:18-19).

Tuhan mau kita melupakan apa yang ada di belakang kita (rasa bersalah, kegagalan, kekecewaan, dendam/kepahitan, paradigma lama, cara lama yang tidak efektif, sifat yang tidak dewasa, hal-hal yang negatif/buruk, bahkan kesuksesan) dan mengarahkan mata kepada hal-hal baru yang Tuhan hendak lakukan dalam hidup kita.

Jika masih terikat dengan hal-hal di masa lalu, maka kita tidak bisa dibawa Tuhan melangkah ke depan. Tuhan memberi hati yang baru dan roh yang baru agar kita taat kepada Tuhan; selain itu kapasitas kita juga diperbesar supaya dapat berjalan dalam rencana-Nya. Lupakan apa yang telah di belakang kita, arahkan diri kepada apa yang di hadapan kita, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Fil. 3:13)

4. Kesetiaan Tuhan memperbaharui kita setiap hari.
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23).
Allah yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Ia menawarkan harapan, pembaharuan, dan transformasi kepada mereka yang mencari Dia. Hiduplah oleh iman dan kita akan terus diperbarui supaya berjalan dalam rencana-Nya.

Namun demikian untuk hidup dalam kekudusan yang sempurna tidak terjadi dalam sekejab, tapi melalui proses. Keinginan untuk hidup dalam kekudusan harus diikuti oleh pembaruan akal budi dengan firman Tuhan supaya kita dapat mengerti kehendak Allah dan hidup di dalamnya. Akal budi yang terus diperbarui akan menyebabkan transformasi dalam seluruh aspek hidup kita (Roma 12:2).

A. Hal-hal yang menghalangi terjadinya transformasi di hidup kita.
Banyak orang datang beribadah ke gereja dan mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan, tetapi tetap berjalan dalam pikiran, perasaan, dan kehendaknya sendiri. Sikap seperti ini menghalanginya untuk bisa mendengar suara Roh Kudus. Ia lebih suka mempertahankan asumsi dan pendapatnya, memikirkan hal-hal yang negatif, melihat kekurangan orang lain, membandingkan keadaan diri dengan orang lain, self-pity, memikirkan hal-hal menarik yang ditawarkan dunia dan pikiran sia-sia yang lain. Suara teguran dan pimpinan Roh Kudus tidak bisa didengar karena hatinya menjadi keras dan pikirannya didominasi dengan hal-hal yang berasal dari keinginan sendiri. Orang seperti ini mudah tersesat, tidak bisa mengerti kehendak Allah serta tidak bisa hidup dalam ketaatan.

B. Pembaruan akal budi dengan pertolongan Roh Kudus.
Memperbarui akal budi dimulai dengan merenungkan firman Tuhan dengan pertolongan Roh Kudus yang memberikan pengertian/pewahyuan. Melalui perenungan firman, Roh Kudus akan membawa kita kepada seluruh kebenaran. Hati dan pikiran kita dibawa untuk memikirkan hal-hal yang dari Roh; memikirkan perkara-perkara yang di atas bukan yang di bumi (Kolose 3:2); memiliki pikiran Kristus.
“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5-6).

Apa yang kita renungkan itu tertanam dalam alam bawah sadar dan itu juga yang akan kita lakukan. Memikirkan hal-hal yang dari daging akan diikuti dengan hidup dalam hawa nafsu kedagingan; memikirkan hal-hal yang dari Roh akan diikuti dengan hidup dalam pimpinan Roh. Oleh sebab itu, perhatikan dengan seksama apa yang kita pikirkan. Orang yang memikirkan hal-hal yang dari Roh akan menjaga hatinya dengan firman Tuhan.

Hiduplah oleh Roh, supaya kita tidak menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan.“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8).

Pembaruan akal budi membuat kita mengetahui kehendak Allah: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24)

MELIHAT PENDERITAAN DARI CARA PANDANG KEBENARAN (bagian 2)

MELIHAT PENDERITAAN DARI CARA PANDANG KEBENARAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu :
Sebagai orang percaya, kita wajib melihat penderitaan dari cara pandang kebenaran yang sesuai firman Tuhan, supaya bisa meresponi dengan benar dan tetap bersukacita dan bertahan di tengah penderitaan.

Sambungan minggu ini :
Banyak orang tidak dapat bersukacita, menjadi lemah, putus asa bahkan kehilangan pengharapan dalam menghadapi penderitaan. Hal ini disebabkan karena penderitaan dimaknai menurut ukuran dan pengertiannya sendiri. Menurut Alkitab, penderitaan merupakan sebuah panggilan untuk menjalani perlombaan iman yang diwajibkan bagi setiap orang percaya. Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa barangsiapa hendak mengikut Dia, ia wajib menyangkal diri dan memikul salib.
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Pemahaman yang benar tentang penderitaan membuat kita mengerti bahwa di balik itu ada rencana Allah yang besar, yang mendewasakan serta mendatangan kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan bagi nama-Nya.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28).

Tujuan dan manfaat penderitaan :

1. Menghasilkan Ketekunan dan Karakter.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4)

Penderitaan merupakan sarana yang membuat kita bertekun dalam iman. Bertekun artinya berkeras hati dan sungguh-sungguh; tetap berpegang teguh kepada firman Tuhan apapun yang terjadi. Ketekunan akan menghasilkan karakter yang tahan uji, yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Ingatlah: karakter yang tahan uji tidak dihasilkan dalam keadaan comfort zone, tapi justru melalui masalah, tantangan dan penderitaan/penganiayaan.

2. Menghibur dan menguatkan orang lain.

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” (2 Korintus 1:3-4).

Allah merupakan satu-satunya sumber penghiburan yang sejati bagi kita. Dengan merenungkan penderitaan Kristus, Roh Kudus (Roh Penghibur) akan menghibur dan meneguhkan hati kita untuk bertahan di tengah penderitaan. Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian (1 Pet. 4:1a).

Penghiburan yang kita terima dari Roh Kudus memperlengkapi kita untuk dapat menghibur dan menguatkan orang lain yang sedang mengalami penderitaan melalui kesaksian tentang pertolongan Tuhan yang kita alami.

3. Membawa kemuliaan bagi Nama Tuhan.

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (1 Petrus 4:16).

Kita patut bersukacita bila turut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, karena itu merupakan kehendak Allah. IA memakai penderitaan yang kita alami untuk memuliakan Diri-Nya dalam nama Kristus. Karena itu baiklah juga mereka yang menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia (1 Pet. 4: 19).

Bagaimana kita bisa kuat menghadapi penderitaan?
1) Percaya bahwa Tuhan pasti memberi kekuatan untuk bertahan. Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Kristus yang memberikan kekuatan.
2) Pilihlah untuk tetap bersukacita karena Tuhan, bukan karena berkatNya. Jangan ijinkan apapun juga mencuri sukacita dalam hati kita. Hiduplah oleh iman, bukan karena melihat. Lakukanlah apa kata firman, bukan bertindak menurut perasaan dan pengertian sendiri.
3) Saat ada hal-hal yang mengecewakan atau menghadapi masa sulit, tetaplah bersyukur dan tinggal dalam hadirat Tuhan sebagai benteng perlindungan dan kekuatan. Hati yang bersyukur membuat kita bersukacita; hati yang bersyukur membangkitkan iman dan pengharapan. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Arahkan pandangan hanya kepada Allah dan firman-Nya, bukan kepada masalah, orang lain atau diri sendiri.
4) Percaya akan keadilan dan kedaulatan Tuhan yang pasti menolong kita pada waktu-Nya.

PENUTUP

Penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang percaya. Meskipun tidak menyenangkan, penderitaan memiliki tujuan yang lebih besar dalam rencana Allah. Sebagai orang percaya, kita diperintahkan untuk tetap bersukacita dalam Tuhan karena percaya bahwa Allah mengijinkan penderitaan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, membentuk dan menguatkan karakter kita, menghibur/menguatkan orang lain, serta membawa kemuliaan bagi nama-Nya.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).