Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 20)
LIMA ALASAN KITA MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN

LIMA ALASAN KITA MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN

Dalam gereja pujian dan penyembahan adalah nadi utama dalam ibadah. Pujian dan penyembahan dipandang bukan hanya sebagai bagian dari liturgi saja, tetapi menjadi momen perjumpaan antara Tuhan dengan jemaat. Lawatan dan kuasa Roh Kudus terjadi begitu kuat dalam sesi pujian dan penyembahan sehingga jemaat juga merasakan secara nyata hadirat Tuhan di gereja.
Penekanan pujian dan penyembahan tidak hanya diperuntukkan untuk pelayan, pemuji dan penyembah saja, tetapi setiap orang percaya diajak untuk mengalami dan hidup akrab dengan hadirat Tuhan setiap harinya.

Bagi kita yang sudah cukup lama berada di gereja ini mungkin sudah paham tentang penyembahan, tetapi generasi baru, atau orang baru bertobat, mungkin bertanya: “Kenapa sih kita harus menyembah Tuhan?” atau “Kenapa gereja kita selalu bicara mengenai pujian dan penyembahan?” Setidaknya ada 5 alasan mengapa kita menyembah Tuhan.

LIMA ALASAN MENGAPA KITA MENYEMBAH TUHAN:
Kita Diciptakan untuk Memuliakan Dia 
Di dalam ayat Yesaya 43:6-7 dikatakan bahwa: 
“Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, 
semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Ayat ini mengajarkan bahwa hidup kita seharusnya membawa kemuliaan bagi Tuhan. Ada banyak cara untuk kita membawa kemuliaan bagi Tuhan, salah satunya adalah dengan menyembah Tuhan lewat suara kita, tepuk tangan atau tarian.
Bayangkan, betapa spesialnya manusia: diciptakan dengan pita suara dan kemampuan artikulasi nada. Bahkan telinga kita bisa membeda-bedakan melodi. Kita diciptakan dengan tangan dan kaki untuk bergerak dan berjalan. Nah, sekarang kita menggunakan semua pemberian Tuhan tersebut: baik suara, telinga, tangan, dan kaki untuk memuliakan Tuhan lewat pujian dan penyembahan.
Karena Karya-Nya yang Luar Biasa dalam Hidup Kita
Kita telah ditebus dengan darah-Nya, dan menjadi umat kepunyaan-Nya, seperti yang tertulis di dalam 1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, 
bangsa yang kudus umat kepunyaan Allah sendiri,
supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia,
yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”Kalau kita baca bahasa Inggrisnya dari terjemahan NIV, dikatakan:
“that you may declare the praises of Him who called you out of darkness…”.
Kita dipanggil dan dipilih untuk mendeklarasikan puji-pujian tentang Allah yang begitu besar dan luar biasa. Bagaimana kita mendeklarasikan puji-pujian tentang Allah? Yaitu dengan memuji dan menyembah Dia dengan segenap kekuatan kita. 
Tuhan Yesus menebus kita di atas kayu salib supaya kita dipindahkan dari kerajaan gelap kepada terang-Nya yang ajaib. Bukankah sebuah kehormatan jika kita bisa menggunakan hidup ini untuk mendeklarasikan puji-pujian kepada-Nya? Keselamatan itu mahal harganya, dan kita tidak mampu membayar itu– karena kasih karunia dan melalui imanlah kita diselamatkan. Respon orang percaya yang sudah diselamatkan adalah mengisi hidupnya dengan pujian dan penyembahan kepada Tuhan.
Karena itu Perintah Tuhan Sendiri
Jikalau kita membaca di dalam kitab Mazmur 150, ada banyak sekali kata-kata ‘Pujilah!’ Bahkan ada lebih dari 10 kali kata pujilah digunakan dalam Mazmur 150 di antaranya adalah:
“Pujilah Tuhan dengan tiupan sangkakala” (ay. 3)
“Pujilah Tuhan dengan ceracap yang berdenting” (ay. 5)
“Pujilah Tuhan dengan rebana dan tari-tarian” (ay. 4).
Kalau bahasa Indonesia menggunakan kata akhir “-lah” artinya itu adalah perintah. Bukankah kita perlu melakukan perintah Tuhan, Saudara? Mazmur 103:1 juga berkata, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!“
Bukan hanya dengan alat musik dan tari-tarian, tetapi kita juga memuji Tuhan dengan segenap jiwa dan batinku. Itulah mengapa gereja kita menekankan pujian dan penyembahan. Kapan terakhir kali kita menyembah Tuhan dengan segenap hati dan jiwa?
Mungkin sebagian kita berkata: “Ah, suaraku tidak bagus” atau “Ah, aku tidak suka nyanyi”. Apa pun alasan kita, suka atau tidak suka, perintah Tuhan tetap sama: Pujilah Dia! Memuji dan menyembah Tuhan bisa dikatakan sebagai sebuah ketaatan kepada kebenaran Firman. Dan kita tahu ketaatan kepada perintah-Nya membawa berkat tersendiri.
Karena Dia Senang Melihat Anak-anak-Nya Menyembah dan Memuji Dia
Di dalam Mazmur 147:1 dikatakan, 
“Sungguh bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah” 
Mari kita tarik perspektif kita ke dalam paradigma yang baru. Selama ini kita mungkin melihat penyembahan dari sisi manusianya: kita yang membawa persembahan ke mezbah Tuhan, kita yang bekerja dan mengusahakan agar terlihat baik. 
Tetapi pernahkah kita merenungkan penyembahan dari sisinya Tuhan? Bahwa Allah melihat penyembahan dari anak-anak-Nya itu baik dan indah; sebuah dupa yang harum di depan takhta-Nya. Allah tidak memusingkan suara kita bagus apa tidak, tetapi Allah lebih melihat hati setiap kita. 
Firman Tuhan di dalam 1 Samuel 16:7 jelas mengatakan bahwa manusia melihat apa yang di depan matanya, tetapi Allah melihat hati. Sebagai orangtua jasmani, tentu kita senang kalau anak-anak kita mengucapkan hal-hal yang baik tentang kita bukan? Terlebih lagi Bapa kita yang baik, Dia melihat penyembahan dari hati yang murni itu indah adanya.
Karena di Sorga Kelak akan Ada Puji-pujian untuk Selama-lamanya
Wahyu 5:13 berkata:
“Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!”
Kita menyembah Tuhan karena kita sedang mempersiapkan untuk kekekalan nanti. Kalau di dunia ini kita tidak suka dan tidak mau menyembah Tuhan, bagaimana nanti kita di sorga? Justru dunia adalah tempat latihan, persiapan untuk kita memasuki kekekalan, untuk memuji dan menyembah Tuhan selama-lamanya. Penekanan kepada kata ‘Anak Domba’ kembali menjelaskan karya keselamatan dari Yesus yang sempurna menebus dosa umat manusia di atas kayu salib. Dan setiap orang yang percaya adalah ‘imamat yang Rajani’ yang diberikan akses 24/7 untuk mempersembahkan korban syukur dan puji-pujian kepada Tuhan.
Sebagai rangkuman, ada 5 alasan kenapa kita menyembah Tuhan:
Karena kita diciptakan untuk kemulian nama-Nya
Karena kita telah ditebus lunas dengan darah-Nya
Karena Tuhan memberikan perintah untuk memuji Dia
Karena Allah senang mendengar umat-Nya memuji dan menyembah Dia
Karena kita akan menyembah Tuhan dalam kekekalan untuk selama-lamanya
Semoga dalam memasuki Tahun Paradigma yang Baru, kita diberikan Roh hikmat dan wahyu yang lebih lagi untuk bisa mengenal Dia dengan benar. Pengenalan akan Allah akan selalu membawa manusia tersungkur di kaki-Nya dan menyembah Dia. Halleluya, Amen!

image source: https://www.scripture-images.com/bible-verse/web/isaiah-43-7-web.php

PARADIGMA YANG BARU TERJADI MELALUI PROSES DI PADANG GURUN

PARADIGMA YANG BARU TERJADI MELALUI PROSES DI PADANG GURUN

firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.” (Yesaya 43:18-21)

Kalau dulu Allah membebaskan bangsa Israel dari kejaran Firaun dan pasukannya yang mati di laut merah, maka sekarang Israel dibebaskan dari perbudakan Babel dengan cara yang baru : mereka dibawa melewati keadaan padang gurun dan padang belantara. Ini adalah paradigma yang baru. Tuhan berkata :

“Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?” (Yesaya 43: 18-19a)

Bagian Tuhan adalah memberikan paradigma atau sesuatu yang baru, yaitu membuat jalan di padang gurun dan membuat sungai di padang belantara karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.
Tujuan Allah menyelamatkan Israel dari perbudakan Babel yaitu karena mereka adalah umat pilihan Tuhan, yang dibentuk dan ditetapkan untuk memberitakan kemasyuran namaNya.

Padang gurun adalah suatu tempat yang dipenuhi dengan pasir, berbatu-batu, tidak ada pohon, gersang/tidak ada air, sangat panas pada siang hari dan sebaliknya sangat dingin pada malam hari, banyak binatang liar dan berbahaya. Padang gurun adalah tempat yang tidak nyaman untuk dijadikan sebagai tempat tinggal.

Padang gurun kehidupan berbicara tentang pemrosesan Tuhan dalam hidup kita. Terkadang Tuhan mengijinkan kita melewati masa yang sukar seperti keadaan di padang gurun, di mana kita harus menghadapi tantangan, ujian iman, pandemi yang menimbulkan krisis secara global, berada di antara manusia dunia yang semakin jahat (seperti domba di tengah serigala), berada dalam sistem pemerintahan dunia yang menghimpit dan menyeret orang-orang percaya, keadaan yang serba tidak pasti, dan lain sebagainya.

Tuhan punya cara yang unik untuk mendidik dan mendewasakan bangsa pilihanNya yaitu dengan menyerahkan mereka kepada kepemimpinan raja Babel, seperti yang tertulis dalam Yeremia 42:10-17 :

10) Jika kamu tinggal tetap di negeri ini, maka Aku akan membangun dan tidak akan meruntuhkan kamu, akan membuat kamu tumbuh dan tidak akan mencabut kamu; sebab Aku menyesal telah mendatangkan malapetaka kepadamu. 11) Janganlah takut kepada raja Babel yang kamu takuti itu. Janganlah takut kepadanya, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangannya. 12) Aku akan membuat kamu mendapat belas kasihan, sehingga ia merasa belas kasihan kepadamu dan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. 13) Tetapi jika kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan mengatakan: Kami tidak mau tinggal di negeri ini!, 14) sebab pikirmu: Tidak! Kami mau pergi ke negeri Mesir, di mana kami tidak akan mengalami pertempuran, tidak akan mendengar bunyi sangkakala dan tidak akan menderita kelaparan; di sanalah kami akan tinggal!, 15) maka dengarkanlah sekarang firman Allah, hai sisa Yehuda: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Jika kamu sungguh-sungguh berniat hendak pergi ke Mesir, dan memang kamu pergi dan tinggal sebagai orang asing di sana, 16) maka pedang yang kamu takuti itu akan menimpa kamu di negeri Mesir, dan kelaparan yang kamu gentarkan itu tidak putus-putusnya mengejar-ngejar kamu di Mesir, sampai kamu mati di sana.
17) Semua orang, yang berniat hendak pergi ke Mesir untuk tinggal sebagai orang asing di sana, akan mati karena pedang, kelaparan dan penyakit sampar; seorangpun dari mereka tidak ada yang terlepas atau terluput dari malapetaka yang Kudatangkan atas mereka.”

Bagi yang mau merendahkan hati untuk diproses, maka kasih karunia Tuhan akan menyertai dan memelihara kehidupan mereka (ayat 11-12). Tetapi buat yang tidak mau diproses atau memilih untuk nyaman dan keluar dari kehendak Tuhan, maka apa yang ditakutkan justru itu yang akan menimpa mereka (ayat 13-17).

“Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya 43:19b)

Secara alami, kita tidak akan menjumpai jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Jika ada jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara, maka itu adalah perkara yang supernatural/mukjizat.
Allah sanggup membuat hal-hal baru meskipun kita ada dalam masa yang sukar seperti di padang gurun sehingga :
“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9)

Pemrosesan Tuhan atas kita melalui padang gurun kehidupan akan menghasilkan sesuatu yang ilahi dan mulia. Seperti seorang bapak yang sayang kepada anaknya, Allah yang mendidik dan mendisiplinkan, Dia juga yang menyertai serta membawa kita pada jalan kemenangan. Kasih setiaNya tidak pernah berubah kepada orang-orang yang mengasihi Dia.

Padang gurun akan membawa kita hidup dalam paradigma yang baru :

1. Proses Tuhan membuat akal budi terus-menerus diperbarui sehingga kita akan belajar untuk hidup dalam kebenaran dan dalam pertobatan. Zona nyaman membuat kita tidak belajar dan tidak berubah. Justru tantangan dan ujian membawa kita semakin mengenal Pribadi Allah dan melihat kemuliaanNya dinyatakan. Pembaruan akal budi membuat kita semakin mengasihi Tuhan dan tidak menjadi sama dengan dunia ( mengasihi dunia).

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2: 15-17).

2. Tantangan dan ujian iman akan menghasilkan buah yang matang dalam ketekunan, menjadi utuh dan sempurna serta tidak kekurangan suatu apapun.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4).

3. Padang gurun menjadikan kita semakin rendah hati dan bergantung penuh pada Tuhan.

“jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.” (Ulangan 8:14-16).

4. Padang gurun membawa kita semakin mengerti dan melakukan kehendak/panggilan Allah.

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:10,13-14).

“Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku” (Yesaya 43:20)

Penghuni padang gurun melambangkan sifat orang-orang dunia yang tidak mengenal Allah (yang berperilaku seperti binatang hutan, serigala dan burung unta). Mereka akan melihat penyertaan, pemeliharaan, perlindungan serta mukjizat Tuhan atas orang percaya sehingga mereka memuliakan Tuhan. Tuhan akan membuat perbedaan antara orang benar dan orang fasik (Maleaki 3:16-18).

“umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yesaya 43:21)

Melalui padang gurun Tuhan membentuk kita sebagai bejana yang dapat dipakai untuk memberitakan kemasyhuranNya. Ia mengijinkan kita mengalami padang gurun bukan untuk mencelakakan atau menghancurkan tapi untuk membentuk kita dan memberikan hari depan yang penuh harapan. Tuhan mendidik Israel melalui perbudakan Babel untuk membentuk dan menjadikan mereka bangsa pilihan yang berkualitas unggul, mulia dan memiliki masa depan yang penuh harapan.

“Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:10-11).

Oleh sebab itu, apapun ujian dan tantangan yang kita hadapi masa ini, percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati dan jangan bersandar pada pengertian kita sendiri.

Lewat padang gurun, kita memiliki paradigma yang baru. Padang gurun perlu untuk mendewasakan iman, mengusir kebodohan, menjadikan kita tangguh, untuk belajar apa yang benar, hidup dalam pertobatan dan berbuah. Di padang gurun, kemuliaan Tuhan dinyatakan sehingga hidup kita menjadi jalan dan sungai-sungai (artinya menjadi berkat) bagi banyak orang.

Kasih karunia Allah melimpah atas mereka yang mau merendahkan hati untuk diproses. Penyertaan, perlindungan, damai sejahtera, jalan keluar dan kekuatan Dia berikan.
Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaanNya. Segala perkara dapat kita tanggung dalam Kristus yang memberi kekuatan.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:13,19)

image source: https://www.findshepherd.com/james-1-2-4-testing-of-your-faith.html

NEW PARADIGM

NEW PARADIGM

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,

tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,

sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:

apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Roma 12:2

Ketika melihat suatu peristiwa atau suatu hal, biasanya orang-orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Misalnya ketika Musa mengutus 12 pengintai ke Tanah Perjanjian untuk menyelidiki, mereka melihat tanah yang sama, daerah yang sama, orang Kanaan yang sama, namun menyampaikan dua macam laporan yang berbeda. Sebagian mengatakan bahwa mereka tidak dapat masuk tanah itu, karena banyak raksasa dan beberapa berpendapat bahwa mereka dapat menaklukkan musuh karena Tuhan akan menolong menghadapi raksasa-raksasa tersebut. Mereka memiliki pandangan yang berbeda mengenai raksasa dan mengenai Tuhan. Cara orang memandang inilah yang secara umum dimaksud dengan paradigma.

PARADIGMA LAMA YANG DUNIAWI

Setelah kejatuhan Adam dan Hawa, tanpa sadar manusia dibentuk dan dipengaruhi oleh dosa sehingga menjadi serupa dengan dunia. Yang menjadi tujuan hidup adalah nilai-nilai atau konsep hidup yang dosa tawarkan sebagaimana yang rasul Yohanes tuliskan:

“Sebab semua yang ada di dalam dunia,

yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup,

bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”

1 Yohanes 2:16

Dengan memegang konsep hidup yang seperti itu, maka cara berpikir, cara memandang dan pengambilan keputusan hanya berdasarkan kesenangan diri sendiri dan pemuasan hawa nafsu. Apa yang dikejar manusia adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Semua yang diciptakan manusia diarahkan untuk mencapai keinginan tersebut. Manusia tidak menyadari keberadaan Tuhan dan tujuan Tuhan menciptakan manusia.

Pola pikir, sudut pandang atau paradigma lama, akan menghambat manusia untuk mengenal dan memahami jalan-jalan Tuhan. Orang akan hidup secara manusiawi semata-mata. Hidupnya sudah dicetak atau mengikuti pola dunia. Yang dilakukan bukan

kehendak Tuhan, namun kehendaknya sendiri yang sudah tercemar oleh dosa. Tujuannya adalah menjadi yang terbesar dan terhebat, agar mendapatkan kenikmatan dan penghargaan dari dunia ini. Namun itu melenceng dari tujuan Tuhan. Manusia perlu ditolong agar tidak menjadi serupa dengan dunia, namun menjadi serupa dengan Kristus.

PARADIGMA BARU

Cara pandang atau sudut pandang seseorang ternyata sangat penting. Cara pandang akan menentukan pengambilan keputusan dan tindakan orang tersebut yang pada akhirnya berpengaruh pada masa dengannya. Rasul Paulus menasihatkan jemaat:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,

tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,

sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:

apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna…”

Roma 12:2

Proses kelahiran baru yang dialami orang percaya menghasilkan perubahan yang besar dalam hidupnya. Perjalanan menuju kematian kekal yang dipimpin oleh dosa, berbalik menjadi perjalanan menuju kehidupan kekal bersama Tuhan Yesus. Seiring dengan perubahan tersebut, cara pandangnya pun mengalami perubahan. Ada paradigma baru yang terbentuk oleh peristiwa keselamatan tersebut.

Puncak kehidupan seseorang terjadi ketika orang tersebut dapat menemukan dan menjalani kehendak Allah yang baik, berkenan dan sempurna dalam hidupnya. Hidup kita akan sungguh-sungguh memuliakan Tuhan dan berdampak bagi orang lain, karena melakukan kehendak-Nya tersebut.

Untuk mengetahui seluruh kehendak Allah, harus dimulai dari akal budi atau pikiran yang telah dibaharui. Tanpa memiliki paradigma yang baru, orang tidak mungkin dapat mengerti kehendak Tuhan. Tentu saja orang dapat meng-copy kegiatan baik yang dilakukan orang lain, namun itu belum tentu merupakan kehendak Tuhan atas dirinya. Orang percaya yang mau mengerti dan melakukan kehendak Allah harus mengalami perubahan akal budi atau perubahan paradigma.

JALAN KE ARAH PARADIGMA BARU

Rasul Paulus adalah contoh yang sangat baik bagaimana seseorang mengalami perubahan hidup dan perubahan paradigma. Nama sebelumnya adalah Saulus, seorang ahli Taurat yang sangat taat dan teguh menegakkan hukum. Sebagai anggota mahkamah agama di Israel yang sangat berkuasa atas kehidupan sosial dan keagamaan bangsa Israel, Saulus rela menjadi pelindung orang-orang yang menghukum mati Stefanus. Saulus juga mengambil bagian penting dalam upaya mengembalikan kepercayaan orang Yahudi yang percaya kepada Tuhan Yesus agar kembali kepada Yudaisme dengan

berbagai cara; termasuk menganiaya. Tujuan besarnya adalah membinasakan iman Kristen.

Dalam perjalanan ke Damsyik, Saulus mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Seketika hidupnya berubah, paradigmanya pun berubah. Saulus memiliki tujuan hidup yang baru yang sesuai dengan kehendak Allah yaitu mengabarkan Injil Keselamatan bagi semua orang.

Setelah lahir baru, kita ingin mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Dari mana kita mulai? Kita dapat memiliki paradigma yang baru dengan mengambil keputusan yang dipengaruhi oleh Firman dan Roh Kudus.

Rasul Paulus setelah berjumpa dengan Yesus, mengambil keputusan untuk mengikut Yesus dan memberitakan Injil sesuai dengan Firman Allah yang didengarnya. Firman Tuhan yang kita baca dan pelajari akan merubah paradigma kita, dari cara pandang duniawi menjadi cara pandang sorgawi. Roh Kudus yang ada dalam diri orang percaya akan menuntun dan mengajar orang percaya yang mau membuka hati, bergaul karib dan dengar-dengaran kepada-Nya. Kemudian kita mengambil keputusan untuk melakukan kehendak Allah.

Dengan paradigma baru, orang percaya melakukan kehendak Allah dengan kasih dan sukacita, mengetahui bahwa Tuhan menuntun pada kehidupan yang penuh berkat dan hidup kekal, bukan karena takut dan terpaksa. Orang yang melakukan hal baik dan benar dengan paradigma lama akan melakukannya hanya karena takut neraka dan takut susah. Tuhan mau kita mengetahui kehendak-Nya yang sempurna, termasuk motif dalam melakukannya. Orang yang mengasihi Tuhan akan menuruti segala perintah Tuhan.

DAMPAK PARADIGMA BARU

Memiliki paradigma yang baru dalam mengikut Tuhan adalah sebuah KEHARUSAN. Firman Tuhan menunjukkan dengan jelas bahwa kita harus meninggalkan cara hidup yang lama ketika kita berbalik untuk mengikut Tuhan. Cara hidup yang lama ini termasuk: pola pikir, tutur kata, tingkah laku dan perbuatan kita sehari-hari, di mana harus mengalami perubahan. Tidak boleh sama seperti dulu, ketika belum mengenal Tuhan. Ada pola, standar, peraturan yang baru, yang harus kita lakukan sekarang, yang seringkali bertolak belakang dengan apa yang kita percaya atau pegang selama ini.

Perubahan paradigma ini akan menghasilkan perubahan besar dalam hidup orang yang mengalaminya dan juga berdampak bagi orang-orang di sekitarnya.

Salah satu cerita yang terkenal di Alkitab adalah wanita di kota Sikhar yang berjumpa dengan Yesus di tepi sebuah sumur. Wanita itu mengisi hidupnya dengan kesenangan daging. Dia pasti tahu bahwa itu keliru, namun tidak berdaya. Ketika berjumpa dan bercakap-cakap dengan Yesus, hidupnya diubahkan dan tentu saja pola pikirnya mengalami perubahan. Tidak diragukan, keluarganya pun mengalami pemulihan. Lebih jauh, wanita yang sebelumnya dikenal sebagai pezinah, membawa orang-orang di

kotanya untuk percaya kepada Yesus. Dampak yang luar biasa, wanita itu membawa kebangunan rohani yang besar di kotanya.

Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai yang kaya raya tinggal di kota Yerikho. Pada zaman itu memungut cukai adalah profesi yang dipandang hina karena dianggap memeras bangsa Israel sendiri untuk kepentingan Romawi. Zakheus mendengar berita-berita mengenai Yesus dan penasaran ingin berjumpa dengan-Nya. Yesus menyapa Zakheus yang ada di atas pohon dan akhirnya makan di rumahnya. Ketika berjumpa dengan Yesus, hidup Zakheus berubah dan dia mengambil keputusan untuk memberikan setengah dari hartanya kepada orang miskin. Tidak diragukan, paradigmanya berubah terhadap uang. Dampak ekonomi dan sosial yang luar biasa terjadi di kota Yerikho saat itu. Banyak keluarga yang ditolong secara ekonomi akibat pertobatan dan perubahan paradigma Zakheus.

Tuhan menghendaki kita meninggalkan paradigma lama yaitu pola pikir duniawi yang menuntun pada kehidupan duniawi yang berujung pada kebinasaan kekal dan beralih kepada kehidupan baru dengan pola pikir atau paradigma baru, yang menuju hidup kekal. Hidup baru adalah hidup dalam kebenaran, selalu dituntun oleh Firman dan Roh-Nya yang akan selalu mengubah paradigma kita.

Dengan paradigma baru kita akan mengetahui kehendak Allah dan menurutinya. Dampaknya adalah hidup, keluarga, pelayanan, cara berbisnis dan bekerja pun akan berubah.

image source: https://abreezycreation.com/products/romans-12-2-rustic-scripture-art

TITIK BALIK KEHIDUPAN RASUL PAULUS SETELAH BERJUMPA DENGAN TUHAN YESUS

TITIK BALIK KEHIDUPAN RASUL PAULUS SETELAH BERJUMPA DENGAN TUHAN YESUS

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8)

Rasul Paulus dilahirkan di kota Tarsus, tanah Kilikia, Turki bagian selatan (KPR 9:11; 21:39; 22:3). Ia adalah seorang Yahudi dari suku Benyamin (Filipi 3:5) yang berbahasa Yunani dan memegang teguh tradisi dan hukum Taurat. Secara sah Paulus memiliki kewarganegaraan Romawi, dibesarkan di Yerusalem dan dididik dengan teliti dibawah pengawasan Gamaliel, seorang pemimpin agama Yahudi terkemuka yang sangat disegani.

Paulus merupakan salah satu tokoh muda golongan Farisi yang sangat berpotensi (Galatia 1:14). Ia tidak hanya setia terhadap hukum Taurat dan adat istiadat para leluhurnya, melainkan juga menjadi seorang Farisi garis keras. Dengan kemarahan yang meluap-luap, ia memburu dan menyiksa murid-murid Tuhan serta memaksa mereka menyangkal imannya demi kesetiaannya kepada hukum Taurat (KPR 26:11; Galatia 1:13-14). Ia menganggap Yesus telah meniadakan/merusak tradisi nenek moyang dan hukum Taurat, serta menganggap semua orang Kristen sebagai musuh yang harus dibinasakan.

Perjumpaan dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik telah menjadi titik balik (turning point) yang mentransformasi seorang Paulus dari hati yang murni. Dari hanya mengerti hukum Taurat menjadi percaya dengan iman akan kasih karunia Tuhan (KPR 9:1-31, 22:1-22, 26:9-24). Selama ini sebagai ahli Kitab Suci dan Taurat, Paulus cenderung menempatkan Allah sebagai ‘objek’ pemikirannya. Cara pandang manusiawi dan intelektualitasnya ia gunakan untuk memahami Allah. Memang Paulus sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Dia mengejar kebenaran bukan karena iman tetapi karena perbuatan yaitu dengan melakukan hukum Taurat.

Akan tetapi karena kasih karunia, Allah berkenan menyatakan AnakNya di dalam dia.

“Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia” (Galatia 1:15-16).

Paulus kemudian mengerti bahwa kebenaran Allah bukan didasarkan pada melakukan hukum Taurat, melainkan didasarkan pada penyataan Allah di dalam Kristus dan melalui iman kepada-Nya (Roma 3:21-23).

Bertolak dari pengalaman ini Paulus memiliki cara pandang yang baru, di mana ia memahami bahwa Allah (yang selama ini giat dia layani) mewujudkan diriNya dalam Kristus Yesus yang telah disalibkan, mati dan bangkit untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya.

Ada 3 perubahan paradigma yang mengubah Paulus setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus :

1. Dari hidup di bawah hukum Taurat menjadi di bawah hukum kasih karunia.

Bahwa keselamatan merupakan kasih karunia/pemberian Allah yang diterima dengan iman, dan bukan hasil usaha manusia (Efesus 2:8-9). Segala usahanya untuk giat melakukan hukum Taurat dengan kekuatan sendiri adalah sia-sia karena tidak seorangpun dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat; tetapi orang benar akan hidup oleh iman, bukan oleh pikiran dan/atau perasaan (Galatia 3:11).

Orang yang sudah menjadi ciptaan baru dalam Kristus tidak akan dikuasai lagi oleh dosa karena tidak berada di bawah hukum Taurat tetapi di bawah kasih karunia (Roma 6:14). Oleh sebab itu, perintah dan kehendak Allah dilakukan bukan karena paksaan/seperti Taurat tetapi karena hak bebas digunakan untuk taat kepadaNya atas dasar kasih. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan seseorang dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2).

2. Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang terus-menerus mengalami pembaruan dalam roh dan pikiran oleh firman Tuhan.

Paulus mengalami pembaruan akal budi melalui proses panjang sehingga ia semakin mengerti mana kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Roma 12:2). Hidup yang dipimpin Roh Kudus (oleh iman) akan rela menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging…jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat”(Galatia 5:16,18).

Orang yang hidup dipimpin oleh Roh otomatis tidak akan mau hidup dalam kedagingan karena keinginan Roh bertentangan dengan keinginan daging (tidak bisa berjalan bersama-sama).

3. Perubahan arah dan tujuan hidup yaitu berjalan dalam panggilan Allah.

Paulus melupakan apa yang telah di belakangnya (dosa, kedagingan, ambisi/visi pribadi, intelektual, semua pencapaiannya) dan mengarahkan diri kepada apa yang di depannya serta berlari-lari kepada tujuan yaitu panggilan surgawi (hidup dalam visi Kristus dan melakukan kehendak Allah pada jamannya).
Allah telah memilih dan memanggil dirinya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi (Gal. 1:13-16) agar mereka juga dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepadaNya, yang disucikan oleh Roh Kudus (Roma 15:16).

Panggilan dan pelayanan Paulus 2000 tahun yang lalu telah memberi dampak sampai kepada kita yang hidup di akhir jaman ini. Lewat pewahyuan yang disingkapkan Roh Kudus kepada Paulus melalui surat-suratnya, bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan bisa melihat terang/mengenal Allah yang benar.

Perubahan paradigma karena Kristus telah menjadikan Paulus murid Kristus yang sejati. Sekalipun mengalami tantangan, aniaya dan kesulitan :

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela, ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu” (2 Korintus 6: 4-10).

Paulus terus berlari-lari (terus mengejar, bertekun, rela membayar harga) untuk memperoleh mahkota.

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14)

Demikian pula kita, di tahun Paradigma yang baru ini, Tuhan akan memurnikan, mendewasakan dan membawa kita agar dapat dipakai sebagai bejana (seperti Paulus) yang memasyhurkan namaNya.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”(Filipi 4:13), AMEN !

image source: https://www.pinterest.com/pin/440789882264140773/

PARADIGMA BARU DI DALAM TUJUH GUNUNG

PARADIGMA BARU DI DALAM TUJUH GUNUNG

“Firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu,
dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!
Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh,
belumkah kamu mengetahuinya?
Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.
Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta,
sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun
dan sungai-sungai di padang belantara,
untuk memberi minum umat pilihan-Ku;
umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.”
Yesaya 43:18-21

Gembala Pembina kita, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo telah mendeklarasikan bahwa tahun 2022 adalah “Tahun Paradigma yang Baru” atau “The Year of a New Paradigm.”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘paradigma’ berarti suatu ‘model/contoh’ dan juga berarti ‘kerangka berpikir’.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya untuk kita adalah: Paradigma baru di dalam hal apa sajakah yang harus terjadi di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya yang masih hidup di bumi ini?

Dalam 2 Samuel 5 dan 6, kita mendapatkan kisah Daud membawa Tabut Perjanjian, yang adalah lambang kehadiran Allah; ke Yerusalem.
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan berkomentar bahwa ketika Daud mengangkut Tabut Perjanjian ke Yerusalem, ia mengubah kota tersebut menjadi pusat penyembahan dan ibu kota Israel. Ia menetapkan ibadah kepada Tuhan sebagai prioritas tertinggi Israel. Ia merestorasi bentuk penyembahan yang lama dengan bentuk yang baru. Perubahan paradigma di dalam penyembahan kepada Tuhan ini dapat menjadi suatu acuan bahwa perubahan paradigma pun dapat terjadi di segala aspek kehidupan orang percaya.

Mari kita tarik mundur pengertian kita tentang paradigma yang baru kepada kisah awal penciptaan. Philip Graham Ryken Ph. D, seorang teolog dari Amerika Serikat dan rektor dari Wheaton College; sebuah universitas Kristen, di dalam bukunya “What is The Christian Worldview?” menuliskan bahwa sejak awal penciptaan, Tuhan menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Allah dengan tujuan agar manusia menguasai dan mengelola segala ciptaanNya dan tinggal ditaman Eden sambil menikmati hubungan yang intim dengan Allah.
Semua hal diciptakan Tuhan baik adanya, dan manusia diperintahkan untuk mengembangkan segala sumber daya yang ada secara maksimal agar manusia dapat menyatakan siapa Allah sebenarnya dan memenuhi bumi dengan kemuliaan-Nya. (Kejadian 2:15)

Tapi karena tertipu, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Sehingga manusia sibuk mencari kepentingan diri sendiri dan melupakan sang Pencipta.
Dengan adanya pengorbanan Yesus disalib maka manusia dipulihkan, status dan identitasnya.

Jadi manusia; secara khusus orang percaya, diperintahkan untuk memuliakan Tuhan melalui bidang-bidang kehidupan dengan mengelola dan mengembangkan talenta dan karunia dalam segala aspek kehidupan di dunia ini.
Dr. Bill Bright, pendiri dari gerakan Campus Crusade for Christ, dan Loren Cunningham, pendiri dari gerakan Youth With A Mission, pada saat yang hampir bersamaan menerima sebuah pewahyuan dari Tuhan mengenai bidang-bidang di mana orang percaya harus memberikan dampak, yang dikenal dengan sebutan The Seven Mountains of Influence/Ketujuh Gunung Pengaruh. Dalam perkembangan selanjutnya, ‘Tujuh Gunung’ ini dikenal dengan istilah ABCDEFG, yaitu:
1. Arts and Entertainment – Seni dan Hiburan
2. Business – Bisnis
3. Church – Gereja
4. Development of the Poor – Pelayanan kepada orang-orang miskin
5. Education – Pendidikan
6. Family – Keluarga
7. Government – Pemerintahan

Lalu apakah kaitan antara Daud membawa Tabut Perjanjian Allah ke Yerusalem dengan ketujuh gunung pengaruh tersebut? Untuk diketahui, Yerusalem yang sebelumnya adalah kota ‘sekuler’ milik orang Yebus dan secara geografis, di antara 7 gunung, Dipulihkan menjadi kota Allah, yang sering disebut sebagai Sion. Oleh sebab itu, hadirat Tuhan memenuhi seluruh bidang kehidupan di kota Yerusalem, bukan hanya di Tabut saja, namun ada dalam atmosfer ilahi. Saat Raja Daud masuk ke kota Yerusalem, ia bukan saja sedang merestorasi bentuk penyembahan kepada Tuhan. Melainkan, ia juga sedang merestorasi bidang-bidang kehidupan lain yang dapat ditafsirkan sebagai ketujuh gunung (A,B,C,D,E,F,G) yang disebutkan di atas.

Dalam Yesaya 43:18, Tuhan berfirman agar umat-Nya tidak lagi mengingat hal-hal yang dulu, artinya, bahkan kesuksesan yang pernah terjadi sebelumnya. Mengapa? Karena Tuhan akan memberikan hal-hal yang baru bagi umat-Nya, yaitu suatu kerangka berpikir baru agar umat-Nya dapat memberikan dampak di dalam bidang-bidang kehidupan di bumi ini.
Bagaimana caranya agar kerangka berpikir baru ini dapat memberikan dampak atau pengaruh bagi 7 gunung ini? Mari kita perhatikan kisah mengenai Stefanus, salah satu dari 7 orang yang dipilih oleh para rasul untuk melayani orang miskin, seorang yang penuh Roh dan hikmat. (Kisah Para Rasul 6:1-7)

Kelihatan pada awalnya sepertinya tugas yang diberikan kepada Stefanus ini sama sekali tidak bersifat spiritual. Namun, Stefanus dipilih karena ia penuh dengan Roh dan hikmat. Stefanus tidak dipilih untuk mengajar Firman atau untuk suatu tugas misi memberitakan Injil, tetapi Tuhan memakai Stefanus secara luar biasa di antara orang-orang yang dia layani. Dapat dikatakan bahwa Stefanus menemukan panggilan ilahi di tengah-tengah pekerjaan sehari-harinya. Karena penuh dengan Roh, bahkan Stefanus mengadakan banyak mukjizat dan tanda di antara orang banyak. (Kisah Para Rasul 6:8)
Di tengah-keadaan ini, mujizat terjadi-namun tetap saja ada orang-orang yang menentang Stefanus. Alkitab mencatat bahwa “mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara”. (Kisah Para Rasul 6:10)
Stefanus berjalan dalam kuasa Roh dan ia membuat dampak yang besar bagi orang-orang di sekitarnya. Ia percaya bahwa ia dipanggil untuk membuat perubahan di di mana ia ditempatkan.

Dari kisah Stefanus kita dapati bahwa kita dapat membuat suatu restorasi di bidang apa saja di mana kita ditempatkan, saat kita berjalan di dalam kuasa Roh Kudus. Dengan kuasa tersebut, sama seperti Daud, kita dipakai ‘membawa’ hadirat Allah ke setiap bidang kehidupan di bumi, yang diwakili oleh ketujuh bidang kehidupan di atas. Membawa hadirat Allah dapat berarti menghadirkan doa, pujian penyembahan, mengimpartasikan nilai-nilai ilahi dari Kerajaan Allah, atau membawa otoritas yang disertai hikmat ilahi di marketplace.

Saat ini kita percaya bahwa Roh Kudus sedang dicurahkan secara luar biasa bagi anak-anak Tuhan menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali ke dunia. Oleh sebab itu, kita percaya bahwa pemberdayaan ilahi ini bukan saja akan mempengaruhi gereja Tuhan secara khusus, tetapi juga akan membawa pengaruh bagi dunia secara umum, sebagaimana kita sebagai orang percaya, diutus Tuhan “seperti domba ke tengah-tengah serigala.” (Matius 10:16)

Tuhan Yesus dalam Amanat Agung-Nya, memanggil setiap orang percaya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Kita pun dipanggil untuk membawa hadirat Tuhan dan membawa perubahan/pengaruh di dalam pekerjaan, keluarga, tempat pendidikan, media, tempat seni dan hiburan, pelayanan kepada kaum marginal, bahkan di pemeritahan kita.
Kita harus yakin bahwa melalui pemberdayaan Roh Kudus, kita dilengkapi dan dimampukan untuk membawa perubahan, pengaruh dan dampak di ketujuh aspek tersebut. Dengan demikian, terjadilah suatu perubahan paradigma yang akan membawa setiap jiwa-jiwa untuk semakin mengenal pribadi Kristus. Kita percaya bahwa inilah kerinduan Tuhan, yaitu saat Kerajaan-Nya menjadi nyata di dunia ini. Pertanyaannya, sudah siapkah anda menjadi agen perubahan paradigma baru?

image source: https://twitter.com/newsboys/status/1010885258139451393

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

TAHUN 2022 THE YEAR OF NEW PARADIGM

Sama seperti Rasul Paulus, kita juga harus berpikir, tidak hanya masuk sorga saja tapi masuk sorga dengan hadiah berupa mahkota. Karena itu mari kita responi, ajakan rasul Paulus untuk memiliki dan menghidupi paradigma yang baru.
Memiliki paradigma yang baru dalam mengikut Tuhan adalah suatu keharusan. Sekali lagi, suatu keharusan. Firman Tuhan berkata, kita harus meninggalkan cara hidup yang lama ketika kita berbalik untuk mengikut Tuhan.
Cara hidup yang lama atau paradigma yang lama termasuk pola pikir, tutur kata, tingkah laku, dan perbuatan kita sehari-hari harus mengalami perubahan. Jadi orang Kristen yang sudah lahir baru tetapi masih memakai paradigma yang lama, perlu bertobat, perlu bertobat!
Apa yang Alkitab katakan tentang paradigma yang baru? Roma 12:2 berkata: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Dalam Bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk “budi” adalah “nous”, yang artinya pikiran, akal budi, pola pikir atau mindset, yang sama juga artinya dengan paradigma. Disini Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran atau paradigma yang baru supaya kita tidak sama lagi dengan dunia ini dan mengerti kehendak Allah.
Sebelum bertobat, pola pikir dan cara hidup kita pasti sama dengan dunia ini. Tinggalkan itu, tinggalkan itu! Masuk ke dalam paradigma yang baru! Ingat, Paradigma yang lama akan menghambat kita untuk mengerti kehendak Allah. Ada pesan Tuhan yang kuat hari-hari ini yaitu agar kita mengerti dan melakukan kehendak Allah pada zaman ini.
Bagaimana supaya kita memiliki pola pikir atau paradigma yang baru? Yaitu melalui Firman Allah dan Roh Kudus. Karena itu baca Alkitab setiap hari. Renungkan, lakukan dan saksikan, dan selalu berkata “Penuhi kami dengan RohMu, ya Tuhan! Biarlah kami dituntun dengan Firman dan RohMu.”
Pada akhirnya diingatkan bahwa paradigma yang lama, yaitu pola pikir duniawi yang berdampak pada kehidupan duniawi akan berujung kepada kebinasaan akan kehilangan keselamatan. Karena itu, miliki dan hidupi paradigma yang baru. Kita akan menjadi serupa dengan gambar Yesus. Kita akan menjadi orang yang berintegritas, kita akan mencari dan memikirkan perkara-perkara yang diatas, bukan yang di bumi sehingga pada saat Tuhan Yesus datang menjemput kita, gerejaNya di awan-awan, kita akan diangkat dan masuk sorga dan akan Bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama-lamanya.
Song: Hosana, Hosana di tempat yang tinggi, Hosana, Hosana di hati yang suci…
Jadi saudara-saudara, memasuki tahun 2022 yang Tuhan berikan tema Tahun Paradigma Yang Baru (The Year of a New Paradigm) maka ada 6 hal yang harus diperhatikan:
1. Tuhan sedang membuat paradigma yang baru dan kita harus menerimanya sebagai pola pikir dan cara pandang yang baru.
2. Tuhan akan menolong dan membebaskan kita dari masalah-masalah yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan kita dengan paradigma yang baru dan kita harus mengerti dan menerimanya.
1 Korintus 2:9 akan kita alami, yaitu: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati…” akan kita alami karena kita mengsihi Tuhan Yesus.
3. Tuhan mengingatkan kita, sebagai orang Kristen yang sudah lahir baru, agar kita meninggalkan kehidupan duniawi yang disebut dengan paradigma yang lama untuk masuk ke dalam paradigma yang baru yaitu kehidupan sorgawi.
4. Untuk itu, kita harus melupakan apa yang ada di belakang kita yaitu kehidupan duniawi dan mengarahkan diri kita kepada apa yang ada di hadapan kita yaitu kehidupan sorgawi dan berlari-lari kepada tujuan yang artinya mengejar sekalipun menderita untuk memperoleh hadiah berupa mahkota, Kita harus berpikir tidak hanya masuk sorga saja, tetapi masuk sorga dengan mendapatkan mahkota. Katakan : “Amin!”
5. Kita harus meminta kepada Tuhan agar dipimpin dengan Firman dan RohNya, supaya kita bisa memahami dan menghidupi paradigma yang baru.
6. Dengan adanya paradigma yang baru ini apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan, yaitu supaya kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah menyelamatkan kita. Supaya dalam era Pentakosta yang ke 3 ini kita menyelesaikan Amanat Agung dan setelah itu Tuhan Yesus datang kembali.
Song: Ku mau slalu bersyukur, slalu bersyukur, Kau Tuhan yang setia yang slalu menopang, Ku mau slalu bersyukur, slalu bersyukur, Kau Bapaku yang setia…
Mari bersyukur, meninggalkan tahun 2021. Apapun yang kita alami, enak maupun tidak enak, mari selalu bersyukur kepada Tuhan. Dan memasuki tahun 2022 kita juga bersyukur. Bapa urapi kami semua, supaya kita semua bisa memahami dan mengidupi paradigma yang baru.

Ringkasan Kotbah Pdt.Dr.Ir.Niko Njotorahardjo

image source: https://www.kcisradio.com/2016/06/18/romans-122-daily-verse/

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

TAHUN 2022 THE YEAR OF NEW PARADIGM

Kita baru saja masuk tahun baru 2022. Kita baru saja menyelesaikan tahun lalu, yaitu tahun Integritas. The year of Integrity, dimana Tuhan menekankan agar kita hidup ber integritas. Yang artinya, hidup semakin menyerupai gambar Yesus. Mungkin ada yang bertanya-tanya: apakah keadaan saya akan lebih baik atau lebih buruk? Kita harus ber pegang pada Firman Tuhan. Sesuai dengan Ratapan 3:22-23, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”. Kita harus percaya, kasih setia Tuhan selalu baru tiap hari, selalu baru tiap minggu, selalu baru tiap bulan dan selalu baru tiap tahun. Karena itu saya percaya dan perkatakan tahun 2022 akan lebih baik dari tahun 2021 karena kasih setia Tuhan selalu baru setiap pagi.
Song: Kasih setia baru setiap hari, baru setiap hari…..Besar setiaMu Tuhan…
1. Dasar kita percaya karena Ratapan 3:24, “TUHAN adalah bagianku, ” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” Apa yang akan terjadi bila kita tetap berharap kepadaNya?. Yang pertama, Yesaya 40:30-31, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru. mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Yang kedua, hal yang terjadi bagi orang yang berharap kepadaNya, Mazmur 37:23-24, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidup berkenan padaNya. Apabila dia jatuh tak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangannya.”
Perlu dicatat bagi orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan, dia tetap bisa jatuh kedalam berbagai macam pencobaan dan masalah, Alkitab mencatat bila kita jatuh tidak sampai tergeletak karena Tuhan menopang tangannya.
Song: Tuhan menetapkan langkah-langkah orang, yang hidupnya berkenan kepadaNya…
Yang ketiga, hal yang terjadi jika kita berharap kepadaNya adalah sesuai dengan Yeremia 17:7-8, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”
Halleluya!
Hal keempat yang akan terjadi kalau kita berharap kepadaNya, sesuai dengan Mazmur 32:8 dan 33:18, “mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut akan Dia dan berharap pada kasih setiaNya,” Tuhan akan mengajar, menasehati, dan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh. Tuntunan Tuhan ini akan kita mengerti hanya kalau mata kita tertuju kepada Dia.
Alasan yang kedua mengapa kita berkata kalau tahun 2022 akan lebih baik dari tahun 2021 karena hari kita melekat kepada Tuhan, karena kita hidup intim dengan Tuhan. Dalam Mazmur 91:14-16, Tuhan berkata: “Sungguh hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya sebab ia mengenal namaKu. Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari padaKu.”
Jadi kalau hati kita melekat kepada Tuhan, kalau kita hidup intim dengan Tuhan, maka yang pertama, Tuhan akan meluputkan dan membentengi kita terhadap sakit penyakit, panah api dari si jahat, jerat penangkap burung, kedasyatan malam atau terror of the night, yang berbicara tentang penculikan, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, terrorisme dan peperangan.
Hal yang kedua, Tuhan akan menjawab jika kita berseru dalam masa kesesakan. Yang ketiga, Tuhan akan memuliakan kita, dan yang keempat, Tuhan akan memberikan panjang umur dengan berkat yang melimpah, dan yang kelima, Tuhan akan memberikan keselamatan. Halleluya!!
Song: Bless the Lord oh my soul, oh my soul, bless His holy name….
Tuhan menuntun kita untuk memasuki tahun 2022 dengan tema bahwa tahun 2022 adalah Tahun paradigma yang baru, “The Year of New Paradigm”. Definisi paradigma menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah model, dan juga kerangka berpikir. Definisi paradigma menurut Westminster Dictionary of Theological Terms, bahwa paradigma berarti contoh, pola, model, dan istilah ini sering dipakai untuk menunjukkan cara berpikir dalam teologi ketika bahan-bahan dikumpulkan dan diatur dalam satu pola atau cara tertentu seperti dalam doktrin.
Tuhan memberikan ayat emas utk tema ini yaitu Yesaya 43:18-21 dan Filipi 3:13-14. Dalam Yesaya 43 Tuhan berkata dulu bangsa Israel dibebaskan dari kejaran Firaun dan pasukannya dengan cara Firaun dan pasukkannya mati di dalam laut merah. Tetapi sekarang orang Israel akan dibebaskan dari Babel dengan cara yang berbeda. Tuhan berkata “jangan ingat hal-hal yang dulu. Sekarang Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”
Kalau dulu Tuhan menyelamatkan orang Israel lewat jalan laut, sekarang Allah menyelamatkan Israel dengan cara yang baru. Allah akan menyelamatkan mereka lewat jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara. Ini adalah paradigma yang baru. Bagian Tuhan adalah memberikan paradigma yang baru, yang adalah sesuatu yang baru yaitu membuat jalan di padang gurun dan membuat sungai di padang belantara, dimana pada waktu itu hal ini tidak mungkin dikerjakan oleh manusia, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Katakan: “ Amen!”
Tujuan Allah menyelamatkan Israel dari Babel yaitu karena mereka adalah umat pilihan Tuhan, dan yang ditetapkan untuk memberitakan kemasyuran namaNya. Demikian juga bagi kita, umat pilihan Tuhan, pada tahun 2022 Tuhan akan menolong dan membebaskan kita dari masalah-masalah yang terjadi dari seluruh aspek kehidupan kita. Apakah itu sakit penyakit, keluarga, pelayanan, bisinis, masa depan, dengan cara-cara yang baru atau paradigma yang baru.
1 Korintus 2:9 berkata, Tetapi seperti ada tertulis:”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
Apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan? Kita harus memberitakan kemasyuranNya, kita harus menyelesaikan amanat agung dalam era Pentakosta ke 3 ini. 1 Petrus 2:9 berkata,”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Memasuki tahun 2022 ini kita akan melihat bahwa dengan adanya pademi yang sampai sekarang belum selesai maka cara-cara pelayanan di gereja berubah. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara yang lama lagi. Sebagai contoh, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh George Barna, yang dirilis pada tanggal 6 juni 2021 yang lalu, mengenai generasi anak muda di Amerika yang disebut generasi berbeda. Dikatakan bahwa pelayanan gereja selama lima dekade terakhir tidak akan efektif untuk generasi ini, jadi perlu ada paradigma yang baru untuk pelayanan di gereja.
Tuhan sedang membuat pradigma yang baru, sebagai pola yang baru, bagian kita adalah menerima sebagai cara pandang yang baru. Demikian juga dengan cara berbisnis, pasti banyak dari cara-cara yang lama yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Perlu diperhatikan bahwa Wahyu 13:16 pasti akan digenapi, manusia tidak dapat membeli dan menjual jika tidak memiliki tanda antikristus di tangan kanannya atau di dahinya. Dan dengan seijin Tuhan, dunia sedang dibawa kesana untuk menggenapi Wahyu 13:16 tadi. Tetapi bagi kita yang percaya bahwa pengangkatan terjadi sebelum masa sengsara, yang disebut dengan pre-tribulation, kita tidak akan mengalami itu. Sekali lagi saya katakan kepada saudara, kita tidak akan mengalami itu. Sebaiknya kita mempersiapkan diri kita untuk pengangkatan yang sudah sangat-sangat dekat waktunya. Maranata, Tuhan Yesus datang segera!
Jadi dalam tahun paradigma yang baru ini ada tiga hal yang harus diperhatikan,
Yang pertama, paradigma adalah inisiatif Tuhan sendiri yang perlu diresponi oleh umatnya. Ada bagian yang Tuhan perbuat, ada bagian yang umatNya harus lakukan.
Yang kedua, bagian Tuhan membuat sesuatu yang baru, yaitu paradigma sebagai pola.
Yang ketiga, bagian umat Tuhan melihat, menerima dan mengetahui yang Tuhan buat, yaitu paradigma sebagai cara pandang.
Song: Hatiku percaya… hatiku percaya… selalu ku percaya…
Sesuai dengan Filipi 3:7-9 dikatakan, sebagai titik tolak hidup dari Rasul Paulus, menulis,” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Setelah Rasul menerima Yesus, pola pikir nya juga berubah sehingga tujuan dan arah hidupnya juga berubah. Sehingga Rasul Paulus mengajak kita semua untuk menerima panggilan sorgawi dan menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.
Filipi 3:13-14, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan : aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Selamat Menyongsong Tahun 2022 dan menerima paradigma yang baru.
Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://www.postermywall.com/index.php/art/template/a068529399d96ceeb36d7b3f02857988/lamentations-3%3A22-23-quote%2C-life-design-template#.YdMYaWjMK3A