Author: FJ

Home / Articles posted by FJ
DALAM YESUS ADA KEPASTIAN

DALAM YESUS ADA KEPASTIAN

Pertanyaan yang sering timbul dalam benak orang muda adalah: “Bagaimana masa depanku, cerah atau suram?” Pada dasarnya tidak seorang pun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi pada kehidupannya di masa depan, bahkan satu jam ke depan pun orang tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketidakmampuan mengetahui akan masa depan inilah yang membuat banyak orang menjadi takut dan kuatir akan masa depan mereka kelak, ditambah lagi dengan situasi dunia yang semakin tidak menentu. Dalam situasi seperti ini orang terus bertanya-tanya dan mencoba mengetahui keadaannya di masa depan.
Apa kata Alkitab mengenai masa depan seseorang? Apakah Tuhan memberikan petunjuk atau menuntun hidup orang-orang, terutama generasi muda untuk menuju masa depan yang lebih baik? Apakah ada kepastian di dalam Tuhan? Jika ada, bagaimana cara kita mengetahuinya? Sebelumnya mari kita melihat sekilas kehidupan saat ini.

GAYA HIDUP HARI-HARI INI
Beberapa dekade terakhir, teknologi maju dengan sangat pesat. Adanya internet, smartphone serta komputer, mengubah cara hidup manusia secara drastis. Dengan segala kemudahan yang tersedia, orang dapat melakukan banyak sekali aktivitas melalui komputer atau HP-nya. Tanpa sadar, kondisi ini mengubah gaya hidup orang, terutama orang-orang muda. Bagaimana kondisi kehidupan secara umum orang-orang muda sekarang?

1. Kompetitif
Dengan kemajuan yang ada, orang-orang semakin berkompetisi satu dengan yang lain. Orang berusaha sekeras-kerasnya, berpikir dengan lebih kritis, bekerja dengan lebih cerdas untuk mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Di satu sisi banyak inovasi timbul, namun di sisi lain, banyak orang menjadi kelelahan karena bekerja terlalu keras bahkan menjadi workaholic atau gila kerja. Hal yang mendasari adalah takut tersaing oleh yang lain.
Ada istilah FOMO di kalangan anak muda, singkatan dari fear of missing out, maksudnya perasaan bahwa orang lain yang mem-posting kehidupan pribadi mereka di media sosial untuk dipertontonkan lebih berbahagia hidupnya. Orang yang melihat posting-an tersebut merasa mereka tidak sekaya, sebahagia atau seberuntung orang yang di medsos tersebut. Mereka menjadi pihak yang kalah dan kemudian berusaha untuk menyamai atau melebihi. Ini adalah bagian dari gaya hidup yang kompetitif namun berdampak negative.

2. Konsumtif
Kemajuan teknologi tentu memudahkan pola hidup yang konsumtif, dalam arti orang lebih mudah belanja dan mencoba hal-hal baru. Sekarang orang dapat berbelanja di mana saja, kapan saja. Barang atau makanan yang dihasilkan di belahan dunia yang lain, dapat segera muncul di depan kita. Teknologi memungkinkan semua hal itu. Di sisi lain aktivitas belanja tentu membutuhkan uang untuk mewujudkannya. Dengan munculnya inovasi dalam teknologi keuangan, maka kemudahan membayar atau kredit membuat tingkat konsumsi makin tinggi.
Pola hidup yang kompetitif dan konsumtif membutuhkan biaya yang besar. Akibatnya orang-orang berusaha mendapatkan uang lebih banyak lagi. Ditambah dengan banyaknya jumlah angkatan kerja yang produktif membuat persaingan semakin ketat, dan orang-orang semakin sulit mendapatkan uang.
Dari sini, akan timbul pertanyaan; apakah nantinya akan hidup berkecukupan atau mengalami kekurangan? Apakah akan punya rumah atau tidak? Orang-orang bertanya-tanya apakah masa depan mereka akan lebih baik atau lebih buruk. Apakah di dalam Tuhan ada kepastian untuk hidup nyaman dan sejahtera?

TUHAN TAHU MASA DEPAN KITA
Pada dasarnya manusia dari zaman dahulu sampai sekarang tidak tahu apa yang akan terjadi besok, sehingga berusaha mencari tahu. Tuhan yang menciptakan manusia-lah yang tahu masa depan kita itu.
Tuhan memberikan informasi mengenai hari depan seseorang melalui Firman-Nya. Contohnya kepada Yusuf, Tuhan memberikan informasi mengenai masa depannya dengan cara Yusuf mendapat mimpi dari Tuhan.
Karena katanya kepada mereka: “Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini: Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu.” (Kejadian 17:6-7)
Semula Yusuf belum mengetahui apa arti dari mimpi itu. Namun secara perlahan Yusuf mulai menyadari bahwa Tuhan memiliki masa depan tertentu baginya.
Kisah hidup Yusuf berlanjut dengan serangkaian kesulitan yang semakin hari semakin memburuk. Saudara-saudara Yusuf membencinya, karena Yakub lebih mengasihi Yusuf. Mereka lebih benci lagi kepada Yusuf, ketika Yusuf mendapatkan mimpi tersebut dan menceritakannya. Karena mimpi itulah, maka saudara-saudaranya berniat membunuh Yusuf, namun akhirnya menjual Yusuf sebagai budak di tanah Mesir. Lebih buruk lagi, Yusuf dimasukkan ke dalam penjara.
Sampai di titik ini, hidup Yusuf bertentangan dengan mimpi yang didapatnya. Namun dalam semua peristiwa itu, Tuhan selalu menyertai Yusuf. Pada akhirnya, Yusuf tiba di masa depan yang luar biasa sebagai wakil Firaun, sesuai dengan mimpi yang Tuhan berikan.

TUHAN MENUNTUN KITA KE MASA DEPAN
Apakah ada kepastian mengenai masa depan yang baik di dalam Tuhan? Bagaimana kita mengetahui tuntunan Tuhan mengenai masa depan kita?
1. Masa Depan Ada di dalam Tujuan
Ketika seseorang membuat barang atau program komputer atau aplikasi HP, tentu ada manfaat atau tujuannya. Tuhan menciptakan kita dengan tujuan tertentu. Tuhan men-design kita secara spesifik untuk menghidupi tujuan tersebut. Masa depan kita terletak di dalam tujuan itu. Jadi kita perlu mengetahui tujuan kita, agar mengerti masa depan kita. Orang yang menjalani tujuan itu, berarti sudah berjalan pada arah yang tepat menuju ke masa depannya.
2. Tuhan Memberi Informasi Melalui Firman-Nya
Kepada hamba-hamba-Nya atau nabi-nabi atau murid-murid, Tuhan selalu berkomunikasi dengan mereka. Tentu saja dengan cara komunikasi yang berbeda-beda. Ketika Tuhan memanggil mereka untuk menjalani panggilannya, di situlah Tuhan menunjukkan masa depan mereka.
Kepada kita sekarang, prinsip yang sama Tuhan terapkan. Tuhan mempunyai tujuan atas hidup kita, maka Tuhan memanggil kita untuk menunjukkan masa depan kita. Ketika mendengar Firman melalui ibadah (online atau onsite), membaca Alkitab atau menyembah secara pribadi, biarlah telinga rohani kita terbuka kepada suara Tuhan.
3. Dibutuhkan Ketaatan
Respon kita ketika dipanggil oleh Tuhan sangat menentukan apakah kita masuk dalam masa depan yang Tuhan rancang atau tidak. Respon yang dikehendaki oleh Tuhan adalah kita taat kepada Firman-Nya.
Apakah ada kepastian mengenai masa depan di dalam Tuhan? Jawabannya ada. Tuhan sudah merancang masa depan yang penuh harapan bagi kita. Yang diperlukan adalah kita mengerti tujuan itu dengan cara mendengar suara Tuhan dan menaati-Nya. Tuhan akan menuntun kita ke dalam masa depan yang penuh harapan.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://www.etsy.com/listing/705023195/jeremiah-2911-for-i-know-the-plans-i

TUHAN MEMBERI KEKUATAN! BUKAN KETAKUTAN

TUHAN MEMBERI KEKUATAN! BUKAN KETAKUTAN

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Yohanes 20:19
Rasa takut bukan berarti kita lemah. Ketakutan adalah bagian dari naluri manusia untuk bertahan hidup. Rasa takut membantu seseorang menyadari akan adanya bahaya sehingga muncul keinginan dan kekuatan untuk berjuang dan melindungi diri dari bahaya tersebut.
Contoh: Ketika dikejar anjing, seseorang yang biasanya santai berjalan saja sangat lambat, tiba-tiba saja saking takutnya digigit anjing, ia mampu berlari kencang, bahkan sampai melompati parit demi untuk menyelamatkan diri dari gigitan anjing.
Tubuh secara alami memberikan reaksi yang membuat seseorang tidak bisa mengabaikan perasaan yang tidak nyaman. Tidak semua rasa takut itu sama. Ketakutan yang berlebihan bisa juga berdampak negatif. Ketakutan yang dipicu oleh kondisi emosional cenderung lebih bersifat subjektif dan tidak selalu realistis. Seseorang dapat mengalami rasa takut yang amat sangat berlebihan, sampai-sampai tidak tahu cara untuk menghilangkan rasa takut tersebut.
Pandemi COVID-19 adalah situasi yang penuh ketidakpastian, sehingga menimbulkan ketakutan kepada banyak orang di dunia ini. Semua orang bergelut menghadapi pandemi COVID-19. Pandemi ini sangat berdampak ke berbagai sektor, yaitu kesehatan, pendidikan, manufaktur, pariwisata, transportasi, sosial, dan masih banyak lagi; sehingga hal ini rentan menimbulkan banyak persoalan kehidupan. Pandemi ini juga membuat banyak orang merasa bingung, cemas, takut, dan bahkan ada juga yang frustrasi.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti dalam kendali Tuhan. DIA mempunyai rencana bagi kehidupan orang-orang yang berserah kepada-Nya, karena Tuhan berkuasa menyelesaikan setiap masalah yang terjadi di dunia ini. Ia tidak membiarkan umat-Nya binasa. Ia menguji setiap umat-Nya dalam setiap peristiwa untuk membangun dan membentuk kerohanian mereka. DIA sering menggunakan “krisis” untuk membawa perubahan yang mendesak dalam hidup umat-Nya.
Sebagai orang percaya, kita tidak dikuasai oleh ketakutan, karena mampu mengetahui penyebab rasa takut itu dan mampu mengendalikan rasa takut tersebut. Rasa takut itu merugikan dan harus diatasi. Contohnya adalah seperti ketakutan akan masa lalu, ketakutan akan keadaan yang sedang dihadapi, dan ketakutan akan masa depan yang belum pasti. Hal-hal itu bisa membuat seseorang terjebak dalam perasaan takut yang serius, sehingga sulit untuk membuat suatu keputusan dan mencoba hal-hal baru dalam hidupnya.
MENANG ATAS KETAKUTAN
Bagaimana setiap orang percaya dapat menang dari ketakutan dan menjadikannya kekuatan?
1. Alihkan Pandangan dari Masalah kepada Tuhan (Mindset Baru)
“Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” Matius 8:25-26
Kebanyakan dari mereka yang berada dalam perahu ini adalah nelayan. Mereka tentu saja sudah terbiasa dengan situasi laut dan badai yang bisa datang kapan pun. Namun angin ribut kali itu pasti sangat ekstrim, sehingga mereka menjadi sangat ketakutan dan berpikir bahwa mereka akan binasa. Hebatnya, Yesus dapat tidur di tengah-tengah angin ribut yang mengerikan seperti itu. Inilah yang seharusnya terjadi pada kita yang telah menjadi murid Yesus. Meskipun persoalan besar datang menderu, kita tetap tenang dan tidak menjadi panik. Perlu diingat, kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan bukan apa masalah bisa perbuat terhadap kita, tapi percaya apa yang Tuhan bisa lakukan buat kita.
Setiap manusia memiliki ketakutan, bahkan Tuhan Yesus juga mengalami rasa takut ketika Ia berdoa di Taman Getsemani. Namun, Tuhan Yesus, di dalam ketakutan-Nya, tetap memandang kepada Bapa. Demikian juga seharusnya kita. Jika kita melihat ada seseorang yang sepertinya tidak takut apa-apa, mungkin orang itu bukannya tidak takut, tetapi dia sudah berhasil mengatasi rasa takutnya.
Satu hal yang menarik, orang dewasa sekalipun bisa merasa takut, panik atau bahkan menjadi marah oleh karena hal-hal kecil. Namun, bila dilihat dari sudut pandang orang lain, hal itu sama sekali tidak menakutkan. Ini menunjukkan bahwa ketakutan itu adalah hal yang relatif, tergantung kepada pribadi lepas pribadi.
2. Tetap dalam Hadirat Tuhan
Suatu malam, para murid diguncang rasa takut setelah Yesus mengadakan mujizat dengan memberi makan lebih dari lima ribu orang. Tuhan meminta para murid berangkat terlebih dahulu ke Betsaida supaya Dia dapat berdoa sendirian. Sepanjang malam itu, ketika para murid sedang bersusah payah mendayung melawan angin sakal, tiba-tiba mereka melihat Yesus berjalan di atas air. Para murid menjadi sangat ketakutan karena mengira Yesus adalah hantu. (Markus 6:49-50)
Saat Yesus mendekat ke perahu dan murid-murid mendengar suara-Nya “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”, maka badai reda, dan ketakutan pun diusir. Setelah Yesus naik ke perahu, angin kencang tiba-tiba berhenti dan mereka dapat melanjutkan perjalanan, hingga tiba di pantai dengan selamat. Ketika Tuhan hadir dalam hidup setiap orang percaya, maka semua badai hidup yang membuat ketakutan akan diubah menjadi damai sejahtera dan kekuatan.
Rasul Paulus menasehati di dalam 2 Timotius 1:7, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Dari ayat ini, kita belajar bahwa Roh Kudus adalah Sang Penolong yang selalu mendampingi kita, berdiam di dalam kita, memberikan kita damai sejahtera dan mengusir roh ketakutan di dalam setiap orang yang tetap tinggal di dalam hadirat Tuhan.
3. Melangkah Maju Bersama Tuhan
Pemazmur menulis, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya” Mazmur 37:23
Mazmur tersebut selanjutnya memberikan gambaran indah tentang pemeliharaan Allah yang setia atas siapa pun yang mau berjalan bersama-Nya.
“Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah.” (ayat 31)
Melangkah maju bersama Tuhan menunjukkan bahwa tanpa Tuhan seseorang tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5)
Melangkah maju bersama Tuhan mempunyai implikasi bahwa Tuhan terlibat dalam semua aspek kehidupan. Ia yang memegang kendali kehidupan kita. Ia mau supaya dalam semua aktivitas hidup kita berada bersama Dia, karena ada jaminan bahwa bersama Tuhan setiap orang percaya akan mengalami hal-hal yang ajaib. Kita akan mengalahkan musuh dan menjadi pemenang. Semakin lama kita berjalan bersama Tuhan, maka kita akan semakin kuat dan apa saja yang kita kerjakan dan usahakan pasti berhasil. Kesadaran akan penyertaan Tuhan akan memberikan rasa aman dan damai sejahtera yang akan menghilangkan ketakutan.
Dapat kita simpulkan bahwa setiap orang tidak bisa menghindari ketakutan, karena itu adalah naluri manusia, tetapi jangan sampai seseorang terjebak dalam ketakutan yang berlebihan, karena akan membawa dampak buruk bagi kehidupan. Setiap orang percaya bisa mengubah ketakutan menjadi kekuatan, yaitu dengan cara mengalihkan pandangannya untuk tidak fokus kepada masalah, tetapi kepada Tuhan Yesus Kristus. Pada saat yang sama, setiap orang percaya harus tetap tinggal di dalam hadirat Tuhan yang memberikan damai sejahtera dan kekuatan, dan yang terpenting adalah ia harus berjalan maju bersama Tuhan setiap hari. Tuhan Yesus memberkati berlimpah-limpah.

image source: https://www.cmacan.org/john-20-19-31/

MENEMPATKAN AKAR  UNTUK TERTANAM  DI TEPI ALIRAN AIR

MENEMPATKAN AKAR UNTUK TERTANAM DI TEPI ALIRAN AIR

Semua manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Sejak itu manusia mengalami kematian rohani karena hubungan dengan Allah terputus akibat dosa pemberontakan.

Dosa menyebabkan damai sejahtera dan sukacita hilang dari hidup manusia. Dosa membuat hati manusia berkelok-kelok, sulit berbuat baik dan cenderung lemah sehingga membuahkan kegagalan dan kejahatan.
Dosa membuat manusia hidup dalam ketakutan dan kehilangan rasa aman. Dosa membuat manusia keluar dari berkat Allah.

“Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” (Mazmur 14:3)

Kebutuhan manusia sesungguhnya adalah hidupnya diselamatkan dan dikembalikan ke posisi seperti awal penciptaan (yang memiliki gambar kemuliaan Allah). Hal ini hanya dapat dilakukan oleh Allah. Dia sendiri menurut kerelaan kehendak kasihNya berinisiatif memulihkan kehidupan manusia melalui karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan hanya menyelamatkan kita dari dosa, kutuk dan kebinasaan kekal, tapi juga memulihkan hati/kehidupan orang yang percaya kepadaNya.

1. Bagaimana akar kita

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi karena jatuh ke dalam dosa maka identitas/gambaran Allah dalam dirinya menjadi rusak. Semua manusia yang berdosa telah kehilangan hati nurani yang bersih, itu sebabnya seseorang harus mengalami kelahiran kembali secara roh dalam Kristus Yesus.

Pesan Tuhan sepanjang bulan ini adalah Perhatikan akar kita. Ibarat hidup kita sebuah pohon, maka hati adalah akarnya.
Apa yang ada di dalam hati kita? Sering kita tidak menyadari atau mengenal keadaan hati kita yang sesungguhnya. Kita memerlukan pertolongan Roh Kudus untuk menerangi apa yang ada dalam hati agar tidak berjalan dalam kegelapan.

Dalam Yohanes 4, diceritakan kisah perempuan Samaria yang mengalami luka hati dan perasaan tidak aman akibat kegagalan dalam pernikahannya yang berulang kali. Keadaan hati yang demikian membuatnya hidup dalam dosa (hidup dengan pria yang bukan suaminya). Perempuan ini tidak paham akan keadaan dirinya sendiri, dia tidak mengerti apa yang sesungguhnya dia perlukan. Ia mencoba cari jalan keluar dengan pengertiannya dan caranya sendiri. Tekanan yang menghimpit membuat dia semakin menderita, terjebak dalam dosa dan terikat. Jiwanya tidak mengalami ketenangan dan damai sejahtera.

Tuhan Yesus membuka mata hati perempuan ini dan menawarkan Air Hidup (Roh Kudus) sebagai satu-satunya solusi yang dapat memuaskan kehausan jiwanya. Air Hidup itu akan menjadi mata air yang akan terus memancar sampai hidup yang kekal. Dia tidak perlu mencari sumber lain untuk memenuhi dahaga di jiwanya selain oleh Roh Kudus. Setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, perempuan Samaria ini menerima keselamatan dan pemulihan hati.

“barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:14)

Apakah kita mengalami hal-hal yang serupa dengan yang dialami perempuan Samaria ini?

Masalah dan tantangan iman bisa terjadi kapan saja. Wabah berskala besar COVID-19 dan berbagai krisis yang menyertainya telah memberikan dampak luas di segala aspek kehidupan.
Resesi ekonomi, pergolakan dalam masyarakat/bangsa yang semakin memprihatinkan, masalah keamanan, kemunduran di dunia pendidikan dan lain sebagainya menimbulkan ketakutan, kekuatiran dan tekanan yang dapat mengganggu integritas seseorang untuk kompromi dengan dosa, untuk hidup dalam hawa nafsu, amarah, pertikaian, iri hati, cinta akan uang, ketamakan, kepahitan, motivasi hati yang tidak benar, putus pengharapan bahkan iman menjadi luntur.

Bagaimana keadaan akar kita saat ini? Di mana hati kita tertanam?

2. Dampak berakar di tepi aliran air

Pada saat percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita mengalami kelahiran baru secara rohani (Yohanes 3:5-7). Roh kita yang selama ini mati menjadi hidup karena terhubung kembali dengan Allah. Allah mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati sehingga hati nurani kita disucikan. Dia memberikan roh yang baru di dalam batin kita. Hati yang keras diganti menjadi hati yang taat (Yehezkiel 36:26-27).

Namun tidak berarti selesai sampai di situ; kelahiran baru merupakan titik awal dari sebuah perjalanan rohani menuju kesempurnaan yaitu semakin serupa dengan gambar Kristus . Ini yang disebut dengan Pengudusan (Sanctification). Proses ini berlangsung seumur hidup, di mana Roh Kudus membersihkan, menguduskan dan memulihkan hati kita. Dengan apa? Dengan firman Tuhan.

“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 15:2-3)

Orang yang tertanam di tepi aliran air (memiliki gaya hidup merenungkan firman Tuhan serta hidup dipimpin Roh Kudus) akan menghasilkan buah dalam kehidupannya.
Hal-hal yang sia-sia dari hidup kita (ranting yang tidak berbuah) akan di potong, supaya kita kudus tak bercacat cela. Jika sudah berbuah, kita semakin dibersihkan agar menjadi produktif dan lebih banyak berbuah supaya rencana Allah digenapkan dalam hidup kita.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 15:7-8)

Dampak lain dari kondisi tertanam di tepi aliran air adalah daya tahan yang tinggi terhadap berbagai situasi kehidupan yang tidak baik atau tidak nyaman. Mazmur 1:3 menyebutkan keadaan ini dengan ‘tidak layu daunnya’. Kesegaran daun pohon itu tidak ditentukan oleh teriknya matahari yang mengundang ancaman kekeringan.

Orang tersebut bukan tertanam di air kotor (hati yang dikuasai ketakutan, rupa-rupa keinginan daging, kompromi dengan dosa, dsb), tetapi di tepi aliran air yang memberikan asupan nutrisi yang diperlukan akar untuk dapat berdiri kuat. Aliran air hidup itu menguatkan manusia batiniahnya.
Ia tetap kokoh berdiri meski dalam masalah/tantangan karena akarnya kuat merambat ke bawah sampai menyentuh sumber air.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang melakukan firman, bangunan hidupnya tidak akan rubuh karena dia mendirikan rumahnya di atas dasar batu (Matius 7:24-25).

Tuhan lewat pemazmur hendak mengatakan kepada kita bahwa hubungan seseorang dengan Tuhan yang dibangun lewat gaya hidup cinta akan firman Tuhan, bukan hanya memastikan orang itu berbuah, tapi juga menjaga orang itu agar tetap dapat berintegritas (Mazmur 1:1).

Orang yang berintegritas tidak akan berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak akan berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak akan duduk dalam kumpulan pencemooh. Orang yang berintegritas juga akan senantiasa menjaga hatinya dengan segala kewaspadaan.

3. Menempatkan diri untuk tertanam di tepi aliran air

Dalam Yesaya 55, Allah memanggil kita untuk turut serta dalam keselamatan yang daripadaNya.

1)“Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
2) Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.
3) Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.

Firman Tuhan akan mengairi dan memulihkan setiap tanah hati sehingga kehidupan terpancar dari dalamnya dan nama Tuhan dimuliakan.

10) Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
11) demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
13) Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.”

Gereja lokal adalah Kerajaan Allah di bumi yang harus mengalirkan mata air kehidupan kepada jemaatnya. Respon kita sebagai jemaat adalah menempatkan diri di tepi aliran air supaya dibersihkan, berbuah, berhasil serta tetap kuat berdiri dalam menghadapi masalah dan tantangan.

Allah hanya bisa memulihkan hati seseorang jika orang tersebut memutuskan untuk tertanam di tepi aliran air.
Menempatkan diri untuk tertanam di tepi aliran air maksudnya :
– Beribadah dengan cara yang benar dan berkenan kepada Tuhan,
– Suka merenungkan firman Tuhan siang dan malam,
– Berakar dalam pengajaran firman,
– Memiliki gaya hidup doa, pujian, penyembahan.

Kehidupan orang yang kuat manusia batiniahnya diibaratkan seperti pohon Zaitun. Pohon zaitun adalah pohon yang dapat hidup di berbagai musim dan usianya dapat mencapai ribuan tahun. Pohon Zaitun dapat hidup dan tumbuh di padang gurun dan juga pada musim salju. Pohon ini hampir tidak dapat binasa. Jika ditebang, maka akarnya akan kembali bertunas.
Hal ini terjadi karena akarnya yang panjang dapat merambat ke dalam tanah hingga mencapai kedalaman 6-7 meter.

Perhatikan akar kita, apa yang ada di dalam hati kita. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21)
Tempatkan hati kita untuk tertanam di tepi aliran air; lekatkan hati kita hanya kepada Tuhan karena hanya Dialah sumber segalanya bagi kita.

Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://adventuresofabusymom.com/tag/john-414/

HARI PENTAKOSTA-ROH KUDUS DICURAHKAN

HARI PENTAKOSTA-ROH KUDUS DICURAHKAN

Gereja kita – di bawah tuntunan Roh Kudus – mendapat tuntunan untuk menggali kembali dasar teologi yang menjadikan Pentakosta sebuah kegerakan yang LUAR BIASA.
Alkitab berkata Yesus mati karena dosa-dosa kita. Dia dikuburkan; tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan. Setelah Tuhan Yesus bangkit, selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada lebih dari 500 murid-murid-Nya untuk membuktikan bahwa Dia hidup. Setelah memberikan pesan terakhir, maka dengan disaksikan murid-murid-Nya Tuhan Yesus terangkat ke sorga.
Saya percaya kalau kita berada di sana waktu itu, kita pasti akan sama dengan murid-murid Tuhan Yesus yang melihat bahwa Tuhan Yesus terangkat perlahan tapi pasti ke sorga. Makin lama makin kecil sampai ada awan yang menutupi dan hilang dari pandangan mata. Sementara mereka terheran-heran melihat ke langit, maka ada dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka yang berkata:
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”(Kisah 1:11)
KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA
Dari ayat ini saya percaya, kalau yang melihat Tuhan Yesus naik ke sorga adalah murid-murid Tuhan Yesus, maka yang akan melihat Tuhan Yesus turun dari sorga menjemput gereja-Nya juga adalah murid-murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 14:1-3,
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
Pesan Tuhan Yesus ini ditujukan untuk murid-murid-Nya. Karena itu, kalau kita mau ikut dalam pengangkatan, kita harus menjadi murid Tuhan Yesus. Murid Tuhan Yesus adalah kita-kita yang hidupnya sama seperti Kristus telah hidup. (1 Yohanes 2:6)
Karena kita hidup sama seperti Kristus telah hidup, maka kita akan menjadi serupa dengan gambar-Nya.
Roma 8:29 berkata,
“Sebab mereka yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Jadi gol kita sebagai orang percaya adalah menjadi serupa dengan gambar Yesus.
Memasuki tahun 2021, Tuhan memberikan tema bahwa “Tahun 2021 adalah Tahun Integritas.” Kita harus menjadi orang yang berintegritas. Yang artinya kita berbicara dan melakukan apa yang kita percayai sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Jadi kita harus hidup dengan jujur dan tulus di hadapan Tuhan.
Sebagai panutan untuk menjadi orang yang berintegritas adalah Tuhan Yesus sendiri, sebab Tuhan Yesus adalah ‘The Man of Integrity’. Menjadi murid Tuhan Yesus adalah menjadi orang yang berintegritas. Tuhan Yesus sangat menekankan agar kita menjadi orang yang berintegritas karena kedatangan-Nya sudah sangat-sangat dekat.
Ibrani 7:25 berkata,
“Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”
Tuhan Yesus di sorga menjadi pengantara kita, artinya sebagai pendoa syafaat bagi kita, supaya kita selamat secara sempurna.
KESELAMATAN
Kalau kita berbicara tentang keselamatan, maka ada 3 hal yang harus diperhatikan:
1. Orang Percaya Bisa Kehilangan Keselamatan
Tuhan Yesus berkata,
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Matius 7:21-23
Ini merupakan peringatan bagi hamba-hamba Tuhan yang sedang dipakai oleh Tuhan, agar pelayanan yang dipercayakan oleh Tuhan itu semata-mata hanya untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bukan untuk kemuliaan diri sendiri; bukan untuk mencari keuntungan pribadi; bukan untuk popularitas, di mana ini semua bisa mengakibatkan hilangnya keselamatan.
Contoh seorang murid yang kehilangan keselamatannya adalah Yudas. Yudas mengikut Yesus begitu lama, bahkan dicatat dalam Lukas 9:1-6 ia bersama murid-murid-Nya yang lain pernah melakukan berbagai mujizat dan pelayanan kesembuhan. Namun ia akhirnya memilih meninggalkan Tuhan, maka hilanglah keselamatannya.
2. Orang Percaya yang Hampir-hampir Tidak Diselamatkan
Di dalam 1 Korintus 3:10-15 rasul Paulus mengajarkan bahwa kita membangun hidup kita ini dengan dasar Yesus Kristus. Pertanyaannya: bahan apa yang kita gunakan untuk membangun kehidupan kita ini? Apakah dengan bahan emas, perak, batu permata? Ataukah dengan bahan kayu, rumput kering, atau jerami?
Semua ini akan nampak pada hari Tuhan, saat pekerjaan kita diuji dengan api. Jika pekerjaan kita tahan uji, artinya tidak terbakar – karena terbuat dari bahan emas, perak dan batu permata, maka kita akan mendapat upah.
Tetapi sebaliknya kalau pekerjaan kita itu terbakar, karena bahan yang digunakan adalah kayu, rumput kering, jerami, maka kita akan menderita kerugian. Selamat sih selamat… tetapi seperti keluar dari dalam api. Artinya hampir-hampir tidak diselamatkan.
‘Hampir-hampir tidak diselamatkan’ dapat diartikan:
o Kehilangan upah atau pahala
o Kedudukan yang rendah di sorga
o Kehilangan kesempatan pelayanan dan kekuasaan di sorga
o Kehilangan kemuliaan dan kehormatan di hadapan Allah
Mari, saya akan mengajak Saudara untuk memperhatikan dengan serius pekerjaan pelayanan kita; juga termasuk kualitas kehidupan rohani kita. Jangan menjadi orang Kristen yang acuh tak acuh, agar kita mendapatkan upah di sorga.
3. Orang Percaya yang Mendapat Keselamatan yang Sempurna
Tuhan Yesus berada di sorga untuk mendoakan kita agar mendapat keselamatan yang sempurna, bukan untuk kehilangan keselamatan, atau bukan hampir-hampir tidak diselamatkan.
Supaya doa Tuhan Yesus ini terjadi, maka sesuai 2 Petrus 1:5-11, dikatakan bahwa kita harus sungguh-sungguh berusaha; dengan:
o menambahkan kepada iman kita kebajikan, artinya berbuat baik;
o kemudian tambahkan lagi pengetahuan,
o kemudian tambahkan lagi penguasaan diri,
o tambahkan lagi ketekunan,
o tambahkan lagi kesalehan yang artinya hidup kudus,
o tambahkan lagi kasih akan saudara-saudara seiman,
o dan tambahkan lagi kasih akan semua orang.
Kalau kita melakukan ini semua dengan sungguh-sungguh, maka kita akan lebih mengenal Tuhan Yesus Kristus dan kita tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kita akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan yang kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus; yang artinya kita mendapatkan keselamatan yang sempurna. Haleluya!

LIMA KEBENARAN TENTANG KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

LIMA KEBENARAN TENTANG KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

Peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke sorga adalah salah satu dari 5 tonggak iman kekristenan yang selalu diperingati oleh segenap orang percaya di seluruh dunia. Kelima hal tersebut adalah:
• Kelahiran Kristus
• Kematian Kristus
• Kebangkitan Kristus
• Kenaikan Kristus
• Pencurahan Roh Kudus (Pentakosta)
Bulan ini kita mengingat Kenaikan Tuhan Yesus tgl 13 dan Pencurahan Roh Kudus tgl 23. Semuanya adalah peristiwa sejarah yang sungguh terjadi, Namun lebih daripada sekedar fakta sejarah, peristiwa-peristiwa tersebut adalah bagian dari rencana dan kehendak Tuhan yang sempurna atas dunia ini agar manusia bisa mengalami kasih, pemulihan dan keselamatan dari Allah.
LIMA KEBENARAN UTAMA TENTANG KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA
1. Menyatakan Kesempurnaan Pekerjaan dan Karya Penebusan-Nya di Bumi
Kenaikan Tuhan Yesus menandai bahwa Ia telah menyelesaikan dengan sempurna tugas yang diberikan oleh Bapa untuk turun ke dunia dan menjadi sama dengan manusia, demi menebus dan menyelamatkan umat manusia yang telah jatuh dalam dosa. (Ibrani 1:3, 1 Petrus 3:22 Filipi 2:6-7)
Kenaikan-Nya menyatakan bahwa Ia sekarang kembali kepada keberadaan-Nya yang semula; yakni dalam kemuliaan yang kekal sebagai Allah yang layak menerima segala pujian, hormat dan pengagungan dari setiap makhluk ciptaan-Nya.
Para pencemooh di luar sana suka berkata bahwa orang Kristen menyembah manusia yang dijadikan Tuhan oleh mereka. Seolah-olah orang Kristen begitu bodoh dengan menjadikan manusia sebagai Tuhan. Pada kenyataannya, hanya orang bodohlah yang berpikir bahwa ada manusia yang bisa berubah jadi Tuhan.
Yesus pada hakekatnya sebelum berinkarnasi menjadi manusia, adalah Tuhan yang ada sebelum segala sesuatu ada, bahkan segala sesuatu diciptakan oleh karena firman-Nya. Jika Dia adalah Allah, apakah yang mustahil bagi-Nya? Allah jadi manusia apakah bisa? Tentu saja bisa. Yang tidak bisa itu, manusia jadi Allah.
Setelah bangkit, Yesus menguatkan dan meneguhkan para murid dan memberikan perintah-perintah yang terakhir, yang terpenting untuk dilakukan, terutama mengenai Amanat Agung. Kemudian Dia terangkat ke sorga, duduk di sebelah kanan takhta Allah Bapa, untuk memerintah selamanya dalam kemuliaan yang kekal.
2. Menyediakan Tempat yang Kekal bagi Orang Percaya
Kenaikan Yesus ke sorga adalah jaminan yang pasti bagi setiap orang percaya bahwa ada sorga yang telah disediakan oleh Allah, kalau kita sungguh-sungguh percaya dan menaati setiap firman-Nya.
Sorga bukan hanya bayangan atau gambaran dari sesuatu yang indah, tapi sorga itu nyata! Sorga bukanlah sekedar nirwana, tapi sorga adalah tempat di mana Allah tinggal dan bertakhta, dan satu hari nanti kita akan dikumpulkan bersama dengan Dia. (Yohanes 14:1-3)
Kalau sorga itu nyata, maka demikian pula dengan neraka! Ada banyak orang di luar sana yang hanya mau menerima konsep tentang sorga, tapi menolak konsep tentang neraka. Mereka hidup sesukanya hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginan duniawinya. Iblis berhasil menutupi keberadaan neraka di dalam hati dan pikiran mereka. Orang-orang itu bahkan tanpa takut dan malu menghina dan menghujat Allah. Mereka menolak Kristus, bahkan menganiaya gereja-Nya.
Apakah kelak mereka akan bersama-sama dengan Tuhan di sorga? Apakah mereka juga akan berdiri bersama orang-orang kudus menyembah Allah selama-lamanya di sorga?
3. Dia adalah Imam Besar Agung dan Pengantara bagi Perjanjian yang Baru (Ibrani 4:14-16, 7:25, 9:15)
Ayat-ayat tadi menunjukkan betapa sempurnanya kasih, pengorbanan dan anugerah Tuhan atas hidup kita, orang-orang percaya, yang telah menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Alkitab menyatakan bahwa di sorga kita memiliki Imam Besar Agung yang senantiasa mendengar doa dan permohonan kita, karena Dia selalu menjadi pengantara bagi pengampunan dosa ketika kita datang menghadap takhta kasih karunia-Nya.
Agama-agama hanya mengajarkan bagaimana jalan menuju ‘sorga’ dan bagaimana supaya dosa-dosa pengikutnya bisa diampuni oleh Tuhan. Tapi Yesus, Dia sendiri yang menyerahkan nyawa untuk membayar harga bagi penebusan dosa itu. Karya penebusan dan pengampunan-Nya tidak berhenti sampai di kayu salib, tapi Yesus telah naik ke sorga untuk terus menyediakan pengampunan dan anugerah keselamatan bagi siapa saja yang mau datang kepada-Nya. Tangan-Nya selalu terbuka setiap kali kita datang mengakui dosa dan meminta pengampunan-Nya. Itulah kasih Allah yang sempurna dan tak berkesudahan.
4. Dia Menyatakan dengan Jelas Cara Kedatangan-Nya yang Kedua Kali
Kenaikan Yesus ke sorga adalah fakta sejarah yang terjadi apa adanya di mana secara fisik tubuh Yesus perlahan-lahan terangkat naik dari tanah ke langit, dan pada waktu itu terjadi ada begitu banyak orang yang menyaksikannya. Bukan hanya satu dua orang murid, tapi semua murid ada di sana. (Kisah Para Rasul 1:9-11)
Ketika mereka sedang terpana menyaksikan Yesus yang semakin tinggi dan mulai tertutup awan, tiba-tiba muncul dua orang berpakaian putih. Di ayat 11 malaikat itu berkata kepada mereka:
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
Janji tentang kedatangan Kristus yang kedua kali, diteguhkan kembali, bahkan dengan gamblang dinyatakan dengan cara seperti apa Yesus akan datang kembali, yaitu turun dari langit – seperti Ia naik – dan disaksikan oleh semua orang, terutama murid-murid-Nya.
Hari-hari ini kita sedang menantikan janji itu digenapi oleh Tuhan. Kita ada di ujung daripada akhir zaman. Sudahkah kita menjadi murid yang siap menyambut kedatangan-Nya?
Alkitab berkata bahwa tidak ada yang tahu akan hari kedatangan Tuhan. Itu adalah rahasia Tuhan sendiri. Mengapa dirahasiakan? Bukankah Tuhan justru senang menyingkapkan rahasia firman-Nya? Ternyata untuk yang satu ini, beda. Tuhan memang memberitahukan tanda-tanda kedatangan-Nya, sehingga kita sadar bahwa waktunya sudah sangat singkat, tetapi HARI dan jamnya tetap dirahasiakan supaya semua orang percaya hidup berjaga-jaga dan senantiasa siap sedia menantikan kedatangan-Nya!
5. Supaya Roh Kudus Dicurahkan untuk Menyertai Orang Percaya sampai Kesudahan Zaman
Empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke Bukit Zaitun, di sana Yesus berjanji kepada semua murid-Nya bahwa mereka akan menerima Roh Kudus. Ia menyuruh mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem sampai Roh Kudus turun dan memenuhi mereka. Janji Tuhan itu digenapi 10 hari setelah kenaikan-Nya ke sorga, tepat pada hari Pentakosta.
Tanpa kenaikan Yesus, tidak akan pernah ada peristiwa luar biasa yang dampaknya mengguncangkan dunia; yakni orang-orang kudus-Nya diurapi dan dipenuhi oleh Roh Kudus! Dalam sekali Petrus berkotbah 3000 orang bertobat, pasal berikutnya, 5000 orang bertobat, dan seterusnya. Semua karena karya dan pekerjaan Roh Kudus yang dahsyat dalam diri orang percaya.
Semuanya itu telah dijanjikan Tuhan sebelum Ia terangkat, bahwa mereka akan menerima KUASA ROH KUDUS untuk menjadi saksi Kristus, dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8)
Tapi kuncinya, Yesus harus naik ke sorga, sehingga Roh Kudus bisa turun. Kenaikan Yesus adalah transisi bagi dimulainya satu era yang baru; di mana Allah tidak hanya mengurapi orang-orang tertentu, tetapi sekarang Allah mau tinggal dan memenuhi setiap diri orang percaya untuk dipakai sebagai alat bagi kemuliaan-Nya. Kenaikan Yesus ke sorga menjadi jalan bagi tergenapinya Yohanes 14:12,
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;”
Tuhan Yesus rindu untuk memakai setiap orang percaya, Dia ingin menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya melalui kehidupan orang percaya. Itu sebabnya Dia harus naik ke sorga, sehingga oleh karya Roh Kudus, yang mengurapi, membaptis, dan memenuhi setiap orang percaya, semua rencana dan kehendak Allah itu bisa terlaksana.
Sudahkah kita dipenuhi Roh Kudus? Sudahkah kita dibaptis oleh Roh Kudus, dengan tanda awal berbahasa Roh? Sudahkah kita berjalan setiap hari dalam kuasa-Nya? Karena untuk semua itu Tuhan Yesus naik ke sorga!

image source: https://www.pinterest.com/pin/397653842079066340/

HEED OUR ROOTS

HEED OUR ROOTS

“Blessed is the one who does not walk in step with the wicked or stand in the way that sinners take or sit in the company of mockers, but whose delight is in the law of the Lord, and who meditates on his law day and night. That person is like a tree planted by streams of water, which yields its fruit in season and whose leaf does not wither — whatever they do prospers. Not so the wicked! They are like chaff that the wind blows away. Therefore the wicked will not stand in the judgment, nor sinners in the assembly of the righteous. For the Lord watches over the way of the righteous, but the way of the wicked leads to destruction.” Psalms 1:1-6
A. THE TEST OF INTEGRITY IS COMING
The Lord’s message for the year 2021 is that this year is the Year of Integrity. Prophetically speaking, it means that the key to having victory this year lies in how we could give responses according to the Christian integrity in every aspect of our lives. Every Christian is expected to be able to have integrity in family, work, school, church, and other places; even when there is no one else.
Integrity is a result of hard work, since no one would automatically have integrity since they were born. The shaping of integrity requires tests, process, and time. In a normal situation, someone might look like he has a good personality. However, only tests can prove whether or not:
• That person walks on the step of the wicked.
• That person is standing on the way of the sinners.
• That person sits among the mockers.
• That person, who looks kind, would stay kind under pressure.
• That person, who looks loyal, would stay loyal even under extreme lack.
• That person becomes a person who would compromise with the world when he is sick, failed, or poor.
Integrity will show a person’s personality that has been tested. How long would the process to shape our integrity be? If this becomes the theme for an entire month worth of sermons, then the focus of character building would only take 30 days. However, since this is an annual theme, then the development would take 365 days.
With such a long process or test, a person would require an additional energy to shape their own integrity. Someone whose integrity is being built requires consumption of spiritual, mental, and physical power. The sustenance is required in the early, middle, and end process so that we can be transformed and be victorious to be fruitful. We need to continue having the right response so that we can be strong in waiting on the fulfillment of the Lord’s promises.
B. Heed our roots
The Psalmist, in Psalms 1:1, described how a righteous person would have a quality of life that has been tested. A righteous person would not be tempted to compromise with the values of wickedness and sins; or stay among the mockers. It means, a righteous person is a person of integrity. How could we have such integrity? In verse 2, the Psalmist explained that such a person would be delighted to hear and meditate the Word of God every day and night.
• The word “delight” comes from the Hebrew word “Chephets”, which means happy, like, long, to find happiness within, and to view it as precious. Such a person would find happiness when he meets with the Word of God. There would be a very personal satisfaction and happiness upon finding the Word of God. This condition will only be experienced by someone who has made the Word of God as his precious daily need.
• The word “meditate” comes from the Hebrew word “Hagah”, which means to utter, think on, proclaim, to cry out, and to imagine. The content of the Word that was read shouldn’t stop in our heart, but it needs to also be uttered and proclaimed for meditation purposes. The events that were told by the Word of God should be imagined in order to acquire understanding. Righteous people would do this every day and night. This reflects someone’s effort to understand something with all of his will and being. Only those who do this with their entire heart (looking for the lord and His will) will be able to meditate on the Word.
Both of the words above (delight and mediate) reflect a relationship that those with integrity have with the Lord (the Word of God). It is such a strong bond that it is described as a tree that is planted by the streams of water. Be wouldn’t need a long time and effort in order for their roots to find water, which will always run fresh and bring minerals and sustenance that the tree needs to stay alive. If the tree grows well, it can bear fruits.
C. THE LIFESTYLE OF A PERSON OF INTEGRITY
The verses 2 and 3 above reflect on such a strong relationship between people who are righteous / of integrity and a lifestyle of quiet time, reading the Bible, receiving rhema from the Word, and meditating what they receive day and night. When this lifestyle is being implemented every day, they would be like a tree that is planted by the streams of water, for their lifestyle makes them close with the Word of God. Is it possible for this to just happen? This could start from the first love that we have with the Lord. That love must be maintained. In reality, after some time, righteous people need to build a spiritual discipline to maintain their love, and this is being done by reading and meditating on the Word of God, which will help believers to build and maintain the lifestyle of a person of integrity.
Spiritual discipline does not just happen overnight. We need to put in effort to build a lifestyle of quiet time and meditation on the Word of God. The human body can be trained to support such a discipline when that person has a specific daily time to do it. A survey in the subject of psychology explains that it would only take 90 consistent days to shape a new lifestyle. It means, all it takes is just the strong will of that person.
D. THE IMPACT OF STAYING ROOTED BY THE STREAMS OF WATER
The third verse explains that a tree must be planted by the streams of water if it wants to bear fruit in its season.
John 15:7-8 says, “If you remain in me and my words remain in you, ask whatever you wish, and it will be done for you. This is to my Father’s glory, that you bear much fruit, showing yourselves to be my disciples.”
In John 15:7-8, John explained about the close relationship between a lifestyle of meditating on the Word and being fruitful in life. The Bible teaches us about several fruits that can be produced by someone in his life, and these are the fruits that the Lord wants all of His people to have:
• Fruit of Repentance
• Fruit of Life
• Fruit of Character
• Fruit of Souls
Another impact of being planted by the streams of water is high endurance against all kinds of negative or uncomfortable situations in life. Verse 3 explained something about the leaf that does not wither. The leaves of the tree will stay fresh, even when the scorching sun threatens to pull a drought upon them. From this, we learn that uncomfortable situations might come into our lives, just like when the COVID19 pandemic and the economic recession hit us these days. The threat of disease that brings death, fear, and pressure would affect the integrity of someone to compromise with sin, to hurt others, to stay helpless, and to no longer believe in the Lord. The Psalmist was proclaiming the Lord’s heart content so that we could build a relationship with the Lord through a lifestyle that loves the Word of God. The Lord wants to make sure that we can be fruitful, and also to stay as a person of integrity. In the eyes of the Lord, these people would be acknowledged and promised to always be successful in whatever it is that they do. Let us examine our roots, lifestyle, and relationship with the Word of God. Lord Jesus bless you.

image source: https://mwalkerwade.wordpress.com/2015/01/25/confessing-psalm-13/

HIDUP DALAM  KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

HIDUP DALAM KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

Allah yang kaya dengan rahmat karena kasihNya yang besar telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. Sekalipun kita telah mati akibat dosa, karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman. Dia memanggil kita dari kegelapan dunia kepada terangNya yang ajaib supaya perbuatan-perbuatan Allah yang besar diberitakan melalui hidup kita.

Sebagai orang yang telah dipanggil, hendaklah kita hidup berpadanan dengan panggilan itu dengan tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar agar sampai kepada tujuan iman yaitu keselamatan jiwa kita.Yesus Kristuslah yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita kepada kesempurnaan.

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:25-26)

Ada tiga hal yang perlu kita pelajari untuk hidup dalam kuasa kebangkitanNya :

1. Hiduplah oleh iman

Orang benar akan hidup oleh iman; barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencariNya. Dengan iman kita percaya bahwa firmanNya berkuasa membangkitkan serta menghidupkan area yang mati dalam kehidupan kita.

Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Tuhan. Iman timbul saat kita mendengar, mengerti dan memercayai firman Tuhan. Selanjutnya iman harus terus bertumbuh dan dikembangkan agar kita hidup dalam kehendak dan panggilanNya; dengan demikian kita akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Petrus 1 : 5-11).

Tuhan harus menjadi pusat dan prioritas utama dalam hidup setiap orang percaya, sebab itu penting sekali membangun keintiman dengan Roh Kudus. Orang yang memiliki kehidupan doa pujian penyembahan serta merenungkan firman akan diarahkan masuk dalam poros kehendak Allah. Roh Kudus memampukan dia untuk hidup dalam kebenaran, kekudusan dan ketaatan kepada Kristus.

Sangat disayangkan jika kita yang sudah dikaruniakan iman dan tahu firman tetapi tidak percaya (tidak melakukan firman). Menjadi pelaku firman adalah sikap bijaksana karena akan menyelamatkan jiwa kita (Yakobus 1:21).
Marilah kita membangun hidup di atas dasar yang teguh dengan menjadi pelaku firman agar tidak mudah tergoncangkan dalam keadaan apapun (Matius 7:24-25).

2. Perolehlah hikmat

“Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.” (Amsal 4:7).
“Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.” (Ayub 28:28)

Arah hidup yang benar dimulai dengan takut akan Allah, itulah arti hikmat yang sesungguhnya. Allah akan memberikan hikmat kepada mereka yang memintanya dengan iman (Yakobus 1:5). Roh Kudus akan menuntun akal budi kita dan memberi pengertian tentang perkara-perkara yang luhur, agung, mulia dan kekal.

Hikmat melebihi kecerdasan intelektual; hikmat mengatur kehidupan kita sehari-hari secara praktis serta membawa kepada keberhasilan yang memuliakan Allah. Roh Kudus menolong kita membuat pilihan/keputusan yang bijaksana, melindungi dari bahaya serta memberi jalan keluar dari masalah.

Firman Tuhan memberikan kita instruksi, pengajaran, hikmat serta didikan yang berguna untuk mengusir kebodohan. Kebodohan di sini maksudnya memiliki pengertian yang gelap, pikiran yang sia-sia, hati yang degil serta gemar menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan segala kecemaran.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
(2 Timotius 3:16-17)

Amsal adalah kitab yang penuh dengan didikan. Pengetahuan firman merupakan informasi awal, selanjutnya kita belajar menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar.
Dalam pembelajaran bisa saja kita melakukan kesalahan. Janganlah kita menolak teguran kasih atau membiasakan diri hidup dalam penyangkalan (tidak mau menerima kenyataan bahwa dirinya melakukan kesalahan) karena lama-kelaman hati akan menjadi keras sehingga sukar untuk bertobat.
“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12).
Akan menguntungkan jika kita rela menerima teguran karena didikan akan mengembalikan kita kepada jalan kehidupan.
“Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan” (Amsal 6:23).

Dibutuhkan kerja sama antara iman dan hikmat untuk hidup efektif dan berkemenangan. Hikmat selalu sejalan dengan kebenaran. Hikmat mampu menerapkan firman dan pengetahuan secara tepat mampu mengelola semua talenta yang Tuhan percayakan untuk mendatangkan kebaikan bagi Kerajaan Allah.
Hikmat menghargai perkara rohani lebih daripada perkara jasmani, mencari dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya (Matius 6:33) dan memikirkan perkara-perkara yang di atas di mana Kristus ada (Kolose 3:1-2).

Contoh : perbedaan antara orang benar yang memelihara hikmat dan orang fasik/bebal.
Hidup dalam kelimpahan yang Tuhan maksudkan berbeda dengan kekayaan definisi dunia.
Harta di dunia tidak menyelamatkan, melainkan iman. Harta di tangan orang bebal dapat membawa kepada bencana, tapi di tangan orang benar yang memelihara hikmat akan membawa kelimpahan bagi dirinya dan bagi orang lain.
Ia menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi, membagi atau menyalurkannya untuk membangun Kerajaan Allah dan menjangkau jiwa. Orang tersebut mengumpulkan suatu harta yang bersifat kekal untuk mencapai hidup yang sebenarnya (1 Tim. 6:18-19).

Berikut ini adalah kegunaan hikmat bagi hidup orang yang memeliharanya :

a. Memberi kecerdasan, pengetahuan dan kebijaksanaan (Amsal 1:4).
b. Memberi pengertian (Amsal 2:9-10).
c. Menjadikan kita beruntung (Amsal 3:13-15).
d. Memelihara, melindungi dan menyelamatkan dari malapetaka (Amsal 2:11-12).
e. Memberikan bahan pertimbangan saat membuat keputusan atau dalam masalah (Amsal 16: 3-4a; 19:21; 20:24).

3. Diubah menjadi sama dengan Kristus

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:29-30)

Allah telah memilih, menentukan dan memanggil kita sesuai tujuanNya yang kekal yaitu untuk menjadi serupa dengan Kristus.
Tuhan Yesus datang ke dunia bukan hanya menyelamatkan manusia dari kebinasaan tetapi juga untuk mengembalikan posisi manusia ke dalam kemuliaan Allah, seperti kondisi sebelum jatuh ke dalam dosa.

Saat percaya kepada Yesus Kristus, sesungguhnya kita telah dibaptis ke dalam kematianNya. Arti baptisan di sini adalah kematian bersama dengan Kristus, di mana kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dengan menaati FirmanNya dan tidak lagi hidup dikuasai dosa.
Setiap orang yang lahir dari Roh Allah tidak dapat menjadi budak dosa lagi sebab benih ilahi telah ada di dalam dia.

“Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” (1 Petrus 1:23)

Sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, maka kita yang ada di dalam Dia juga dibangkitkan kepada kehidupan yang baru.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4)

Kita dipilih dan dikuduskan oleh Roh yang telah membangkitkan Yesus dari maut. Kita tidak lagi hidup menurut daging melainkan menurut Roh.
Oleh Roh kita mematikan perbuatan daging agar hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus. Roh Kudus menolong kita agar hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah.

“yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” (1 Petrus 1:2a).

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” (Roma 8:11).

Betapa berharganya kita di mata Allah, karena Anak-Nya sendiri sudah diberikan kepada kita (the ultimate sacrifice). Allah telah mengampuni segala pelanggaran kita dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib.

Oleh sebab itu tidak ada pihak manapun yang dapat menggugat orang-orang pilihan Allah, yang untuk itu Kristus telah bangkit dan menjadi Pembela bagi kita.

“Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Roma 8:33-34).

Di dalam semuanya itu, kita lebih dari pemenang dalam segala perkara karena Roh yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati ada dalam kita. Roh Kudus mengubahkan kita menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar.
Dan Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai rencanaNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bagi kita yang percaya untuk dibangkitkan pada akhir jaman sekaligus memberikan kuasa untuk menghidupi hidup yang berkemenangan dan menjadi serupa dengan gambarNya. Allah dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, karena kuasa yang membangkitkan Kristus dari maut ada di dalam kita, Haleluya !

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9).

image source: https://funfamilycrafts.com/easter-artwork-inspired-by-john-1125/

APAKAH ORANG YANG BELUM DIBAPTIS ROH KUDUS BISA MELAYANI TUHAN?

APAKAH ORANG YANG BELUM DIBAPTIS ROH KUDUS BISA MELAYANI TUHAN?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita melihat sedikit dari sejarah gereja dari zaman post-apostolik ke zaman modern:
· Agustinus, seorang teolog besar di abad ke-4 Masehi, yang terkenal dengan kisah pertobatannya dan pemikirannya yang dalam.
· Martin Luther, seorang reformator gereja yang menggoncang keadaan gereja yang kelam pada masa reformasi.
· John Wesley, seorang teolog di abad ke-18 yang menjadi pelopor Gereja Methodist dan terkenal dengan Gerakan Kesucian-nya (Holiness Movement).
· Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik Roma yang menggoncang dunia karena pelayanannya terhadap orang menderita penyakit kusta, AIDS, dan TBC, dan bahkan dunia mengakui pelayanannya dengan menyematkan hadiah Nobel Perdamaian di tahun 1979.
· Billy Graham, seorang penginjil dari Amerika Serikat yang saat mengadakan KKR dapat menghimpun jutaan orang. Bahkan beliau dikenal sebagai salah satu pemimpin Kristen paling berpengaruh di abad ke-20 ini.
Tidak tercatat di dalam sejarah bahwa para raksasa iman (spiritual giants) mengalami pembaptisan Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa Roh. Dan mereka pun bisa melayani Tuhan dengan sangat luar biasa. Meskipun begitu, sejujurnya, kita tidak benar-benar tahu dengan jelas apakah para raksasa iman di atas pernah mengalami pengalaman Baptisan Roh Kudus. Maka timbullah pertanyaan selanjutnya;
· Mengapa seseorang perlu dibaptis dengan Roh Kudus?
· Jika seseorang yang belum dibaptis Roh Kudus, atau mungkin pernah mengalami pembaptisan Roh Kudus, namun tidak secara nyata menunjukkannya seperti para tokoh di atas pun bisa dipakai Tuhan dengan dahsyat?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat sekilas perihal pengajaran tentang Baptisan Roh Kudus yang adalah ciri khas Teologi Pentakosta dan merupakan bagian sentral dari seluruh pengajaran doktrin Pentakosta.
Baptisan Roh Kudus adalah bagian penting dari 5 Pilar Teologi Pentakosta, atau yang sering kita dengar dengan istilah The Five-fold Gospel. Sebagai catatan, 5 Pilar Teologi Pentakosta yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Jesus as Savior (Keselamatan)
2. Jesus as Sanctifier (Kekudusan)
3. Jesus as Spirit Baptizer (Baptisan Roh Kudus)
4. Jesus as Healer (Kesembuhan)
5. Jesus as The Soon Coming King (Kedatangan Tuhan Yesus Kedua Kali)
Sinode Gereja Bethel Indonesia, yang beraliran Pentakosta, di mana gereja kita berafiliasi pun mengakuinya di dalam Pengakuan Iman Sinode GBI, bahwa:
“Baptisan Roh Kudus adalah karunia Tuhan untuk semua orang yang telah disucikan hatinya; tanda awal baptisan Roh Kudus adalah berkata-kata dengan bahasa Roh sebagaimana diilhamkan oleh Roh Kudus.”
Teologi Pentakosta Klasik menekankan bahwa pengalaman dibaptis dengan Roh Kudus adalah hal yang terpisah dari karya keselamatan Kristus; dan tujuannya adalah untuk penyelesaian Amanat Agung.
Kisah Para Rasul 1:8 mencatat: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kata “kuasa” pada ayat di atas berasal dari bahasa Yunani dunamis, di mana oleh Gingrich Greek NT Lexicon diterjemahkan juga sebagai dinamit, sesuatu yang memiliki daya ledak tinggi. Dengan kata lain, kuasa ini adalah kuasa yang sangat besar; di mana dengan kuasa ini, Amanat Agung Tuhan Yesus pasti terselesaikan.
Sangatlah menarik untuk disimak bahwa sesaat sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga, Ia berpesan agar para murid tidak meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di sana sambil menantikan janji Bapa, yaitu bahwa para murid “akan dibaptis dengan Roh Kudus”. (Kisah Para Rasul 1:4,5)
Poin penting untuk kita garis bawahi di sini adalah bahwa baptisan Roh Kudus adalah janji Bapa yang berlaku untuk semua orang percaya. Selanjutnya di Kisah Para Rasul pasal ke-2 adalah peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul, yang lebih kita kenal dengan peristiwa Pentakosta, di mana para rasul “mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Kisah Para Rasul 2:4)
Dari sini dapat kita lihat bahwa janji Bapa tentang Baptisan Roh Kudus selalu disertai dengan pengalaman karunia berbahasa Roh.
Dari peristiwa di atas, kita melihat dengan jelas bahwa ada perbedaan antara menerima Roh Kudus (keberdiaman/indwelling) dengan dipenuhi Roh Kudus atau dibaptis dengan Roh Kudus (kepenuhan/infilling).
Setiap orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka Roh Kudus berdiam di dalam dirinya. Bapa “memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” yaitu anugerah keselamatan. (II Korintus 1:22)
Rasul Paulus menjelaskan di dalam I Korintus 6:19,
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”
Keberdiaman Roh Kudus di dalam hidup orang percaya memampukan seseorang untuk memiliki hidup yang menghasilkan buah Roh. (Galatia 5:22-23)
Alkitab mencatat dampak-dampak daripada Baptisan Roh Kudus secara internal, antara lain:
1. Mengubah kehidupan doa kita. (Roma 8:26-27)
2. Membangun iman kita. (I Korintus 14:4a)
3. Menyempurnakan pujian dan penyembahan kita. (I Korintus 14:15)
4. Meningkatkan kepekaan rohani kita. (I Korintus 14:2)
Robert P. Menzies, seorang hamba Tuhan, penulis, dan juga adalah Direktur dari The Asian Center for Pentecostal Theology, memaparkan di dalam salah satu bukunya yang berjudul “Speaking In Tongues” bahwa: “berbahasa Roh bukanlah salah satu tanda dari seseorang yang dewasa di dalam kekristenan”.
Kedewasaan Kristen sendiri dapat diukur dari suatu hidup yang menghasilkan buah Roh, di mana hal ini adalah juga bagian dari proses pengudusan/Sanctification. (Galatia 5:22-23)
Namun, seseorang yang telah dibaptis dengan Roh Kudus, selaras dengan pengertian dalam Teologi Pentakosta Klasik; akan memiliki kuasa untuk menyelesaikan Amanat Agung sesuai yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 1 dan 2. Dalam hal ini, kita melihat bahwa Baptisan Roh Kudus berfungsi secara eksternal.
Perlu dimengerti bahwa di satu sisi adalah mungkin bagi seseorang untuk mengalami kuasa Roh Kudus tanpa berbahasa Roh, namun hal ini bukanlah pengalaman Alkitab yang utuh; sebagaimana yang tertulis di Kisah Para Rasul 1 dan 2.
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa meskipun seseorang yang belum dibaptis Roh Kudus bisa dipakai Tuhan dengan dahsyat, namun pengalaman Baptisan Roh Kudus membuat orang percaya dapat melayani Tubuh Kristus dengan lebih maksimal.
Jikalau Alkitab menuliskan adanya pengalaman kepenuhan Roh Kudus dengan tanda awal berkata-kata dengan bahasa Roh, mengapakah kita tidak merindukannya? Mari siapkan hati sebagai bejana untuk menerima pencurahan Roh Kudus pada tanggal 23 Mei (pada hari Pentakosta) dengan berdoa puasa selama 21 hari dimulai minggu depan tgl 2 Mei.
Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://www.bible.com/bible/1713/ACT.1.1-11.CSB

YESUSLAH KEBANGKITAN DAN HIDUP

YESUSLAH KEBANGKITAN DAN HIDUP

Perjanjian Lama telah menubuatkan bahwa Mesias akan mati sebagai Juruselamat semua bangsa untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Yesus Kristus adalah penggenapan hukum Musa dan kitab para nabi dalam Perjanjian Lama (Lukas 24:44).

Kayafas, sebagai Imam Besar pada tahun itu bernubuat tentang kematian Yesus.

“Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” (Yohanes 11:49b-50).

Yohanes Pembabtis yang penuh dengan Roh Kudus menyebut Yesus dengan sebutan “Anak domba Allah.”

“Lihatlah, Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yohanes 1:29).

Istilah Anak domba Allah untuk Sang Mesias erat kaitannya dengan anak domba Paskah. Paskah bagi bangsa Israel adalah tanda kelepasan manusia dari maut (Kel. 12:23).
Setiap tahun, Imam Besar masuk ke dalam tempat kudus untuk mempersembahkan domba jantan yang tidak bercacat sebagai korban penghapus dosa yang sifatnya tidak kekal. Tetapi Yesus yang adalah Allah sendiri turun ke dunia menjadi Anak Domba korban penghapus dosa yang sifatnya kekal, satu kali untuk selamanya.

Ia masuk ke dalam tempat kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri (Ibrani 9:12). Dengan jalan itu, Yesus menjadi jalan keluar dari kematian (kebinasaan) dan membuka jalan masuk kepada hidup yang kekal.

Bila Yesus tidak mati dan bangkit, maka tidak ada keselamatan dan hidup kekal bagi orang percaya.

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12: 24).

Biji gandum yang disimpan dan tidak ditanam akan percuma.
Benih biji gandum harus mati demi memenuhi tujuannya yaitu menghasilkan banyak buah.

Yang dimaksud Yesus tentang biji gandum dalam perumpamaan di atas adalah diri-Nya sendiri. Mesias memang harus mati untuk membawa banyak orang percaya kepada diri-Nya. Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam perekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:21-22).

Kematian Yesus segera disusul dengan kebangkitanNya dari antara orang mati pada hari ke tiga. Ia adalah Mesias yang telah mati, bangkit dan hidup selamanya.

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” (Yohanes 11: 25-26a)

Yesus menyatakan diriNya sebagai kebangkitan dan hidup. Dia berkuasa atas kematian, sebab itu Yesus menjadi satu-satunya jalan bagi kita untuk hidup dalam kekekalan bersama Allah.
Orang yang percaya kepadaNya akan hidup selamanya (tidak binasa). Bila meninggal dunia hanya “tertidur” dan akan dibangkitkan pada akhir zaman.
Kita yang hidup dan percaya kepadaNya, hidup oleh Roh Allah yang berdiam di dalam kita.

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” (Roma 8:11)

Kematian secara fisik tidak perlu menjadi hal menakutkan bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Karena Ia telah bangkit dan hidup selamanya, maka ada pengharapan dan hidup kekal bagi kita.

Orang yang percaya pada kematian & kebangkitan Kristus dapat dengan yakin berkata: “Yesus adalah kebangkitan dan hidup! Bila saya mati, saya akan dibangkitkan karena saya percaya kepadaNya. Saya tidak akan mati untuk selama-lamanya.”

1. Pilihlah kehidupan

Sebagai ciptaan baru, kita tidak lagi hidup menurut daging tetapi menurut Roh dan memikirkan hal-hal yang dari Roh. Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13).

Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak dapat berbuat dosa karena benih ilahi tetap ada di dalam dia. Kita telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah dalam kuasa kebangkitan Kristus.

KehendakNya adalah membangkitkan dan menghidupkan area yang mati dalam kehidupan kita. Tuhan mau memulihkan dan memberi makna baru yang kekal dalam hidup kita serta menyediakan masa depan yang penuh harapan. Bagian kita adalah meresponinya dengan iman.

“Akulah kebangkitan dan hidup; ….. Percayakah engkau akan hal ini?”

Allah memberikan kita “free will” (pilihan) untuk memilih dua hal :
Pilihan pertama : bila taat melakukan perintahNya, kita akan hidup dan diberkati;
Pilihan kedua : bila hanya mendengar namun tidak taat melakukan, akan mendatangkan kutuk dan kematian.

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,
dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN…” (Ulangan 30:19-20a)

Taat melakukan perintahNya bukanlah suatu kuk paksaan. Karena Tuhan itu mengasihi anakNya seperti seorang Bapa yang baik akan memberikan hal-hal yang terbaik bagi anak yang di kasihiNya. Orang yang mengasihi Allah pasti akan taat kepada perintah-Nya. Sebagai seorang anak yang taat akan belajar hikmat dan didikanNya sehingga kita melakukan
kehendak Allah dengan rela dan sukacita.

Kepada kita diperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, pilihlah untuk percaya dan taat supaya kita dan keturunan kita hidup dalam berkat. Pilihan dimulai dari hal kecil/sederhana, namun akan berdampak menjadi suatu kebiasaan yang membentuk karakter selanjutnya menentukan destiny kita. Bagaimana kita hidup hari ini akan menentukan keadaan anak cucu di masa mendatang.

2. Kekayaan rohani orang-orang pilihan

Dalam Kristus Yesus, Allah telah memilih dan menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya dan menerima segala berkat rohani. Kita butuh pertolongan Roh Kudus untuk memberikan segala hikmat dan pengertian tentang kekayaan rohani yang ditentukan bagi kita.

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Efesus 1:18).

Karena kasih karunia kita diselamakan oleh iman. Kita yang percaya telah dimeteraikan dengan Roh Kudus sebagai jaminan bagian kita untuk menjadi ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah.

Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya— (Efesus 1:11).

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” (1 Pet. 1:3-4).

3. Kehendak Allah bagi orang-orang pilihan

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10)

Sebagai bangsa pilihan, kita memiliki tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah :

a. Dipisahkan dari kegelapan dunia untuk hidup dalam kekudusan (1 Pet. 2:9).
Sebagi anak-anak Allah, kita hidup dalam pimpinan Roh Kudus (Rom. 8:14) dan mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui menurut gambarNya (Ef. 4:22-23).
b. Bertumbuh menjadi dewasa dalam iman serta berbuah (Ef. 4 :13-15; 2 Kor. 9:10; Gal. 5:22-25).
c. Sebagai anggota tubuh Kristus yang berfungsi dan berjalan dalam panggilan.
Panggilan berhubungan erat dengan tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita secara umum adalah memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan (melakukan Amanat Agung sesuai Mat. 28:19-20). Panggilan adalah tugas dan tanggung jawab kita secara khusus sebagai anggota tubuh Kristus untuk menggenapi Amanat Agung.

Yesuslah kebangkitan dan hidup. Dia bukan hanya akan membangkitkan kita pada akhir jaman tapi juga membangkitkan dan menghidupkan seluruh area di hidup kita saat ini.
Dengan kuasa dan otoritas Tuhan Yesus memerintahkan Lazarus untuk bangkit dari kematian.

“Lazarus, marilah ke luar !” (Yohanes 11:43b).

Firman Tuhan yang sama juga berkuasa membangkitkan, menghidupkan, menyembuhkan, memerdekakan serta memulihkan seluruh hidup kita.
Buka hati kita agar kuasa firman dan Roh Kudus menerangi kegelapan/area kematian dalam kita agar kita hidup dalam kuasa kebangkitanNya.

Berjalan dalam kehendakNya tidak terlalu sulit bagi orang yang dipimpin Roh Kudus karena sebagai ciptaan baru kita telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.
Roh Kudus akan menimbulkan keinginan di hati untuk hidup dalam kekudusan dan mengarahkan kita masuk dalam rencanaNya.

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Efesus 3:20)

image source: https://www.pinterest.com/pin/446349013040944369/

APAKAH YESUS BANGKIT ?

APAKAH YESUS BANGKIT ?

Yesus bukan hanya bangkit dari maut. Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup (Yohanes 11:25). Di Alkitab ada 7 orang dibangkitkan dari maut. Nabi Elia dan nabi Elisa membangkitkan orang mati dan di perjanjian baru Rasul Petrus dan Paulus membangkitkan orang mati seperti Yesus membangkitkan 3 orang dari maut. Tetapi hanya Yesus yang bangkit dari maut dan terangkat ke Surga. Inilah yang membedakan Yesus dengan para nabi dan tokoh agama lainnya.
A. Kebangkitan Yesus adalah Kekuatan Iman Kristen
Paskah merupakan momen yang paling penting untuk semua orang percaya yakni memperingati peristiwa Tuhan Yesus mati di salib pada hari Jumat Agung dan bangkit di hari yang ketiga.
Kebangkitan-Nya adalah kekuatan utama iman Kristen. Tanpa itu, kehidupan orang yang percaya kepada Yesus tidak mempunyai kuasa. Iblis ingin mematahkan iman kita dengan memutarbalikkan fakta kebangkitan-Nya. Hal ini bisa terlihat dari ayat di bawah ini:
“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.“ 1 Korintus 15:17-21
B. Tubuh Yesus Bangkit atau Dicuri?
Hal ‘kebangkitan’ ini merupakan poin yang sering diserang Iblis melalui ajaran-ajaran sesat atau orang-orang yang mau menggugurkan iman percaya kepada Yesus. Sejak semula banyak orang ingin menutupi kenyataan tentang ‘kebangkitan Kristus’ dengan membuat teori yang disebut “Conspiracy Theory” (Teori Konspirasi). Teori ini mengatakan bahwa para murid bersekongkol untuk menciptakan kisah bohong mengenai kematian dan kebangkitan Yesus. Orang-orang yang tidak mengakui kebangkitan Yesus membuat cerita bahwa murid-murid telah mencuri mayat Yesus, sehingga kubur-Nya ditemukan oleh para wanita dalam keadaan kosong. Ada yang percaya akan hal ini sampai sekarang.
Pertanyaannya yang banyak beredar di luar sana adalah apakah Yesus sungguh bangkit dari kubur? Apa dampak kematian dan kebangkitan Yesus bagi hidup manusia?
Sebuah survei yang dilakukan terhadap 2,010 orang tahun 2017 di Inggris oleh BBC, menyimpulkan bahwa seperempat dari mereka yang menyatakan dirinya Kristen tidak percaya akan kebangkitan Yesus. (www.bbc.com “resurrection did not happen says quarter of Christian” diakses 25 Feb 2021).
C. Fakta Kebangkitan Yesus secara Historis
Kita mempercayai kebangkitan-Nya dan menjadi saksi-Nya bukan hanya secara pengalaman pribadi, tetapi juga karena bukti-bukti sejarah. Pengalaman pribadi artinya kita bisa merasakan bahwa Dia hadir dan memberikan damai sejahtera ketika kita memuji dan menyembah-Nya. Dia adalah Allah Immanuel. Bahkan kita juga bisa merasakan mujizat pertolongan-Nya dalam situasi yang sangat kritis; entah dalam keadaan sakit, masalah keluarga, dalam pergumulan dan pelayanan. Namun bukti-bukti sejarah juga telah disingkapkan secara meyakinkan.
William Lane Craig Ph.D dan Gary Habermas Ph.D; dua orang apologet Kristen (ahli dalam mempertahankan iman kekeristenan berdasarkan fakta-fakta sejarah dan logika) menemukan sedikitnya ada 12 fakta historis mengenai kebangkitan Kristus (Christian Apologetics Biola University, Evidence for the Ressurection, by Dr. Craig Hazen). Dalam Artikel ini kita akan bahas hanya 5 fakta yang menyatakan bahwa isi dari teori konspirasi tersebut tidak benar:
1. Para Wanita Menjadi Saksi Hidup
Mengapa justru para wanita (yaitu Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dll) yang pertama-tama menemukan kubur kosong dan menjadi saksi hidup? Padahal wanita menurut tradisi Yahudi pada abad pertama, bukan merupakan saksi yang bisa diakui (sah secara hukum) oleh masyarakat di mana laki-lakilah selalu yang menjadi utama (Patriarch). Dianggap tidak kredibel. (Did Jesus Rise From The Dead, William Lane Craig Ph.D, hal 26-27) Jika memang benar bahwa kebangkitan Yesus itu adalah rekayasa persekongkolan, maka murid-murid harusnya memberitakan bahwa saksi pertama yang menemukan kubur Yesus kosong adalah sumber yang sangat bisa dipercayai yaitu murid-murid (laki-laki). Namun kenyataannya tidak seperti itu. Jadi dari sini bisa terlihat bahwa kebangkitan Yesus memang bukan suatu rekayasa. Markus menulis apa adanya. Memang para wanitalah yang pertama kali menemukan bahwa jasad Yesus sudah tidak ada lagi di tempatnya. (Markus 16:1-8)
2. Kubur Yesus Dijaga Ketat oleh Para Prajurit
Bagaimana mungkin, semua penjaga, yaitu prajurit Romawi di sekitar kubur Yesus bisa terlelap tidur dan tidak melihat murid-murid mencuri jasad Yesus?
Bagi prajurit Romawi kelalaian dalam tugas penting itu bisa diancam dengan hukuman mati. Jadi mereka pasti berjaga-jaga. Dan mengapa prajurit-prajurit itu tidak dijatuhi hukuman oleh komandannya? (Matius 27:62-66)
Karena mereka memang terbukti telah menjaga kubur itu dengan ketat dan Yesus memang benar bangkit dan tidak ada yang mencurinya.
3. Imam-imam Kepala Justru Merekayasa Kebohongan
Fakta saat itu yang terjadi adalah imam-imam kepala, yang merupakan mahkamah agama dengan pemimpinnya yaitu imam Kayafas, mereka sendirilah yang menyuruh para penjaga membuat cerita bahwa murid-murid telah mencuri jasad Yesus. Para prajurit menurutinya karena mereka disogok dengan sejumlah besar uang. Ini bukti imam-iman kepala tidak menyangkali bahwa kubur itu kosong, jasad Yesus tidak ada lagi, walaupun kuburnya ditutup rapat dan ada penjaganya. (Matius 28:11-15)
4. Murid-murid Sedang dalam Kondisi Ketakutan
Bagaimana mungkin murid-murid yang sedang dalam ketakutan dan hilang pengharapan namun berani mencuri jasad Yesus? Justru mereka sedang menanti-nantikan apakah betul yang dikatakan gurunya, bahwa Ia akan bangkit di hari ketiga dan menjadi Mesias. Faktanya mereka semua akhirnya menjadi pemberita kebangkitan Yesus dengan berani, yakin, dan rela mati sebagai martir. Mustahil ada orang di dunia yang berani mati demi suatu kebohongan belaka. (Markus 14:50, Lukas 22:54-62, Yohanes 20:19, Kisah Para Rasul 2:41)
5. Bertobatnya Saulus, dari Pembunuh Umat Tuhan Jadi Pelayan Tuhan
Bagaimana mungkin Saulus yang merupakan seorang rabi Farisi yang amat dihormati oleh kaum Yahudi dan yang telah memimpin gerakan untuk membunuh umat Kristen pada zaman itu rela meninggalkan posisinya dan menjadi seorang misionaris untuk mengabarkan Injil Kristus? Saulus yang kemudian menjadi Paulus bahkan rela mengalami penganiayaan, ditindas, bahkan dipenjarakan demi kesaksiannya bahwa Yesus adalah Tuhan, dan akhirnya dia mati sebagai martir. (1 Korintus 9:1)
Sebenarnya masih banyak lagi fakta yang mengkonfirmasi kebenaran akan kebangkitan Yesus. Teori persekongkolan yang menyatakan Yesus telah dicuri oleh murid-murid-Nya, pada akhirnya sudah tidak diterima lagi oleh para ahli sejarah dan kaum atheis. Justru teori konspirasi inilah yang terbukti hanya isapan jempol belaka.
Fakta bahwa Yesus telah bangkit dari kematian, membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Jika Dia adalah Tuhan maka apa saja yang dikatakan-Nya di dalam Alkitab adalah mutlak benar. Kuasa, kehidupan dan kekekalan hanya ada di dalam Dia.
Yesus telah menebus dosa kita dan mengalahkan maut. SEBAB DIA HIDUP, kita pun memperoleh hidup yang kekal dalam segala kelimpahan-Nya. Yohanes 10:10.

image source: https://www.facebook.com/ifgfsanfrancisco/photos/and-if-christ-has-not-been-raised-your-faith-is-futile-you-are-still-in-your-sin/10154262608232257/