Author: FJ

Home / Articles posted by FJ
“THE YEAR OF A NEW DIMENSION”

“THE YEAR OF A NEW DIMENSION”

Kita baru saja memasuki tahun 2020. Saya tidak tahu keadaan Saudara di tahun 2019, tetapi apapun keadaan Saudara, Saudara harus tahu bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi Saudara. Karena itu dari mulut kita hanya keluar puji-pujian, “Yesus, Engkau baik sungguh baik sangat baik. Kasih-Mu tak berkesudahan. Kasih-Mu kekal selamanya.” Tuhan Yesus baik, Dia sungguh baik dan sangat baik kepada kita semua. Amin!
Kali ini kita memasuki tahun yang baru disambut dengan hujan yang luar biasa. Terjadi banjir di mana-mana, tetapi sebetulnya saya ingin beritahu Saudara, hujan itu berbicara tentang berkat. Kita bisa belajar tentang banjir yang luar biasa. Sebenarnya berkat itu ada yang merusak kita, tetapi ada juga berkat yang membuat kita menjadi baik. Amin!
Memasuki tahun 2020 Tuhan memberikan tema: “TAHUN 2020, TAHUN DIMENSI YANG BARU! THE YEAR OF A NEW DIMENSION!” Mari perkatakan bersama saya, “Tahun 2020, Tahun Dimensi yang Baru! Tahun 2020, Tahun Dimensi yang Baru!”
Memang selain itu, sesuai dengan kalender Ibrani, kita juga sedang memasuki tahun 5780 yang disebutkan dengan Tahun Pey. ‘Pey’ itu artinya 80 yang digambarkan dengan sebuah mulut. Sejak beberapa waktu yang lalu Tuhan selalu berpesan kepada kita tentang mulut.
2 Korintus 4:13 Rasul Paulus berkata, “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”
Saudara, memasuki tahun ini Tuhan memberitahu kepada saya, “Kamu ajar jemaat agar banyak memperkatakan Firman Tuhan karena percaya.” Kalau Saudara memperkatakan Firman Tuhan karena percaya, maka akan terjadi seperti apa yang Saudara katakan itu. Amin! Kita percaya; karena itu harus berkata-kata. Dan ini pesan Tuhan buat kita semua! Mari saya akan mengajak kita semua untuk membaca Firman Tuhan bersama-sama:
1. Ratapan 3:22-23, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
Saudara, tiap pagi saya perkatakan ini karena saya percaya, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi besar kesetiaan-Mu!” Karena itu, berdasarkan ayat ini kita harus percaya bahwa tahun 2020 akan lebih baik dari pada tahun 2019. Mengapa? Sebab kasih Tuhan selalu baru tiap pagi, kasih Tuhan selalu baru tiap minggu, kasih Tuhan selalu baru tiap bulan, kasih Tuhan selalu baru tiap tahun! Mari perkatakan bersama saya, “Karena itu saya percaya, tahun 2020 akan lebih baik daripada tahun 2019!” Amin!
2. Mazmur 118:8, “Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.”
Keadaan Saudara akan lebih baik kalau Saudara berlindung dan berharap kepada Tuhan ketimbang berlindung atau berharap kepada manusia. Jadi kalau Saudara berharap dan berlindung kepada Tuhan, keadaan Saudara akan lebih baik.
Kalau kita membaca dari Yesaya 40:30-31, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Di situ dikatakan bahwa kepada orang yang berharap kepada Tuhan akan mendapat satu kekuatan yang baru untuk memasuki tahun 2020. Kita berlari dan tidak menjadi lesu. Kita berjalan dan tidak menjadi lelah dan kekuatan baru yang Tuhan berikan melebihi kekuatan daripada orang-orang muda. Amin!
Saya tidak tahu keadaan Saudara pada tahun 2019, mungkin ada yang lesu, berharaplah kepada Tuhan! Kalau Saudara berharap kepada Tuhan, masuk tahun 2020 Saudara berlari pun tidak akan menjadi lesu, berjalan tidak akan menjadi lelah sebab Tuhan memberikan kekuatan kepada kita melebihi kekuatan anak-anak muda. Amin!
3. Mazmur 37:23-24, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.”
Saudara, orang yang berkenan kepada Tuhan itu adalah orang yang berharap kepada Tuhan. Jadi kalau kita berharap kepada Tuhan, kita adalah orang yang berkenan. Dan janji Tuhan, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.” Jadi, orang yang berkenan kepada Tuhan bisa jatuh ke dalam bermacam-macam masalah. Tetapi janji Tuhan, “Boleh jatuh, tapi tidak sampai tergeletak, sebab tangan Tuhan akan menopang tangan kita!” Karena itu, jadilah orang yang berharap kepada Tuhan. Amin!
4. Yeremia 17:7-8, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”
Saudara yang dikasihi Tuhan, bukan rahasia lagi akan terjadi krisis ekonomi. Sudah diprediksikan akan terjadi krisis ekonomi dan terjadi kekeringan, tetapi orang yang berharap kepada Tuhan, mau kering, badai, salju atau apa saja, itu tidak akan merusak hidupnya. Amin!
5. Mazmur 42:6, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Saya tidak tahu keadaan Saudara hari ini, adakah di antara Saudara seperti apa yang dikatakan Firman ini? Engkau tertekan dan gelisah, “Bagaimana menghadapi tahun 2020?” Mungkin tertekannya sudah sejak tahun 2019, tetapi di sini Tuhan memberitahu kita, “Masuk tahun 2020, bagi Saudara yang tertekan jiwanya, gelisah di dalam diri Saudara, berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Ini adalah petunjuk!
Bagaimana berharap kepada Tuhan? Ciri orang yang berharap kepada Tuhan adalah dia selalu mengucap syukur di dalam segala hal.
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki oleh Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu!” (I Tes 5:18)
Apakah Saudara mengerti arti dari mengucap syukur? Mengucap syukur itu artinya kita setuju apa yang Tuhan berikan kepada kita; baik enak maupun tidak enak menurut kita. Karena setuju, maka kita mengucap syukur. Dan Saudara akan lihat, bagi orang yang seperti ini kegelisahan dan tekanan yang terjadi itu akan sirna. Amin!
Bersambung minggu depan…
Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo JCC, 5 Januari 2020

image source: https://www.mainstreetumc.org/sermon-book/2-corinthians/

MAKNA BUAH SULUNG DALAM HIDUP KITA

MAKNA BUAH SULUNG DALAM HIDUP KITA

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” Roma 12:1-2

Menarik untuk diperhatikan tentang pengertian Paulus mengenai korban/persembahan di dalam Perjanjian Baru. Ada beberapa kata yang dipakai tentang korban/persembahan, yaitu:
1. Doma. “Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.” Flp 4:17 Kata ‘doma’ (bhs Yunani) hampir selalu berhubungan dengan pemberian finansial.
2. Osme “Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.” Flp 4:18
Di ayat berikutnya ada dilanjutkan dengan beberapa kata lainnya seperti: persembahan yang harum (bhs Yunani = Osme) yang merupakan translasi konsep Ibrani tentang korban bakaran yang baunya harum dan berkenan kepada Allah dan juga korban yang disukai (bhs Yunani = Thusia).
3. Thusia
Kata Thusia ini juga yang dipakai di dalam Rm 12:1. Menarik untuk diperhatikan bahwa juga di dalam bahasa Yunani kata ‘Thusia’ memiliki arti yang mirip dengan bahasa Indonesia yaitu korban/kurban (Inggris = victim/sacrifice).
Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada jenis-jenis pemberian di mana sang pemberi masih dapat “menanggung” harga dari pemberiannya dan ada jenis-jenis pemberian lain di mana sang pemberi dapat dikatakan menjadi ‘korban’ dari tindakan pemberiannya.
Di dalam Perjanjian Lama kita dapat melihat dua peristiwa yang mencerminkan konsep ini.
Yang pertama adalah kisah pertempuran orang Israel melawan kota Yerikho.
“Segala emas dan perak serta barang-baran tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN.” Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu. Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai.” Yos 6:19-21
Di dalam hukum pertempuran yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel melalui perantaraan Musa (Ul 20:11) bangsa Israel memang diperbolehkan mengambil barang jarahan sebagai rampasan perang dari setiap kemenangan. Namun di dalam kasus pertempuran di Yerikho bangsa Israel tidak boleh mengambil rampasan perang apapun, juga tidak boleh mengambil tawanan dan dipakai sebagai budak, tetapi semuanya harus dibakar dan dipersembahkan sebagai korban kepada Tuhan. Bahkan bahan-bahan logam yang tahan api seperti emas, perak, besi dan tembaga setelah disucikan lewat api harus dipersembahkan semuanya kepada Tuhan.
Tentu ada alasan yang mendalam mengapa Allah mengambil tindakan yang demikian drastis kepada ketujuh bangsa penghuni asli tanah Kanaan; secara singkat dapat dijelaskan bahwa kejahatan mereka sudah merasuk ke darah dan daging sehingga mereka sudah kehilangan gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia seperti di dalam diri mereka.
Adalah suatu “pengorbanan besar” bagi bangsa Israel bahwa setelah berjuang mempertaruhkan nyawa, mereka tidak boleh mengambil keuntungan finansial/material apapun dari usaha mereka, tetapi mempersembahkan seluruhnya kepada Tuhan. Sebagian besar bangsa Israel mentaati titah Tuhan yang disampaikan melalui Musa, tetapi jika kita membaca kisah itu selanjutnya (dalam pasal 7) kita melihat ketidaktaatan Korah dalam menyembunyikan barang jarahan yang seharusnya dibakar dan dipersembahkan seluruhnya kepada Tuhan. Kita juga melihat kegagalan raja Saul beberapa ratus tahun kemudian ketika bangsa Amalek akhirnya mengalami nasib yang sama dengan ketujuh bangsa asli penghuni Kanaan, yaitu mereka ditumpas habis oleh pedang bangsa Israel di zaman raja Saul.
Kegagalan raja Saul menunjukkan ketidakrelaannya untuk memberikan ‘korban’ sepenuhnya kepada Tuhan. Menarik juga diperhatikan bahwa dalam kasus kemenangan bangsa Israel di Yerikho dan ujian kepada raja Saul dapat diumpamakan sebagai ujian buah sulung.
Kota Yerikho adalah buah sulung kepemilikan bangsa Israel atas tanah Kanaan dan kemenangan terhadap bangsa Amalek adalah ’buah sulung’ kemenangan raja Saul setelah ia menjabat sebagai raja.
Korah dan raja Saul adalah contoh ketidakpercayaan orang-orang terhadap kemampuan Tuhan untuk memberkati mereka yang taat mengembalikan persembahan buah sulung. Pada dasarnya prinsip persembahan buah sulung dan persembahan persepuluhan adalah sama yaitu memberikan Tuhan kesempatan pertama untuk menikmati apa yang kita hasilkan, jika kita percaya bahwa semua yang dapat kita hasilkan adalah juga berasal dari tangan-Nya.
Di dalam kehidupan, kita melihat hal ini sebagai kebiasaan yang sangat sederhana. Seperti jika kita berada di dalam suatu resepsi resmi dan ada undangan yang menjadi VIP di acara tersebut, maka kita pasti akan memberikan kepadanya kesempatan pertama untuk mengambil makanan. Kita tidak akan berani mendahului. Kita pasti memberikan dia kesempatan mengambil bagian yang pertama.
Di dalam kehidupan Daud ada cerita mengenai tiga orang triwira yang memimpin pasukan pengawal pribadi Daud. Mereka masing-masing memiliki prestasi di dalam medan perang, namun mereka diingat sepanjang sejarah Israel karena mereka bisa meresponi keinginan hati Daud untuk minum dari perigi yang ada di depan kampung Betlehem. Mereka mempertaruhkan nyawanya untuk menerobos tentara Filistin dan membawakan Daud air yang dirindukannya. Kerelaan mereka untuk mempertaruhkan nyawa mereka itulah konsep yang terdapat di dalam kata Thusia, yaitu mempersembahkan seluruh kehidupanmu sebagai korban yang hidup.
Di dalam mendapatkan penghasilan kita tiap bulan seringkali kita berjuang keras membanting tulang dan memeras keringat di tengah-tengah kerasnya persaingan di dunia bisnis di kota-kota besar di Indonesia. Memang kita mungkin belum sampai taraf bercucuran darah di dalam mendapatkan keuntungan tetapi uang itu dapat dikatakan mewakili “hidup” kita.
Ketika triwiranya mempersembahkan air yang sangat dirindukan oleh raja Daud, Daud tidak berani meminumnya tetapi mempersembahkan semuanya sebagai korban curahan di hadapan Tuhan karena ia berkata bahwa air ini adalah ‘darah’ dari ketiga orang triwira itu, ia sebagai manusia tidak layak meminumnya, hanya Tuhan lah yang layak menerimanya.
Persembahan buah sulung adalah melambangkan kesiapan kita mempersembahkan seluruh kehidupan kita sebagai korban yang hidup di hadapan Tuhan dan tanda penghormatan kita kepada posisi Tuhan sebagai pemilik segalanya dalam kehidupan kita. Uang yang melambangkan kehidupan kita; di dalamnya terdapat pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan usaha yang mengalir keluar dari hidup kita akan kita persembahkan kepada Tuhan karena Ia layak menerima segalanya dan karena hanya itulah ibadah kita yang sejati.

image source:http://raintreecommunitychurch.com/sermons/total-commitment-low-commitment-culture-romans-121-2/

TUNTUNAN TUHAN MEMASUKI TAHUN 2020

TUNTUNAN TUHAN MEMASUKI TAHUN 2020

Berikut adalah tuntunan Tuhan untuk memasuki tahun 2020. Perhatikan ini baik-baik! Saya tahu ini pembukaan Firman Tuhan yang belum pernah dibicarakan, tetapi hari ini saya ingin bersama-sama dengan Saudara merenungkan arti rohani daripada emas, kemenyan dan mur yang harus kita persembahkan kepada Tuhan.
EMAS
1. Emas Berbicara Tentang Kekudusan Dan Kemurnian
Menjelang kedatangan Tuhan Yesus, roh, jiwa dan tubuh kita harus terpelihara sempurna tidak bercacat, tidak bercela dan harus kudus. Itu harus diusahakan, dan bukan terjadi dengan sendirinya! Kita berusaha supaya roh, jiwa dan tubuh kita kedapatan tidak bercacat-cela dan kudus menjelang kedatangan Tuhan pada saat nanti Dia datang.
Mari kita jaga tingkah laku kita, pikiran kita, apa yang keluar dari mulut ini harus kudus! Jangan ada kata sia-sia! Sekali lagi, dalam ‘Tahun Pey’ saya mau ingatkan; jangan ada kata sia-sia yang keluar seperti gosip, fitnah, hoax dan ujaran kebencian yang sekarang itu seolah-olah dianggap sebagai hal yang biasa, termasuk oleh orang Kristen. Itu tidak biasa; sebab Tuhan jelas berkata,
“Setiap kata-kata sia-sia yang keluar dari mulut ini harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman! Sebab dengan ucapanmu engkau akan dibenarkan dan dengan ucapanmu pula engkau akan dihukum!” (Matius 12:36,37)
Mungkin mulut tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang seperti itu namun bagaimana dengan jari-jari Saudara? Banyak jari-jari yang jahat sekarang; yang mengetik di social media dan itu sebetulnya keluar dari mulut yang dituangkan berupa pesan dalam media sosial. Hati-hati, jangan ikut-ikutan dengan dunia! Entah sadar atau tidak justru yang banyak melakukan itu adalah orang Kristen! Mungkin karena tidak tahu, dan barang siapa bertobat, ia akan selamat secara sempurna. Amin!
2. Emas Berbicara Tentang Kekayaan, Kesuksesan, Kekuasaan. Ini semua harus dipersembahkan kepada Tuhan.
· Kekayaan; Kalau kita tidak mempersembahkan kekayaan kepada Tuhan, kita bisa punya penyakit, yaitu cinta uang. Alkitab dengan jelas berkata,
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10)
Kalau sudah menyimpang di mana tempatnya? NERAKA! Kekayaan itu harus dipersembahkan kepada Tuhan. Saudara, apa yang Alkitab katakan tentang manusia akhir zaman?
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang….” (2 Timotius 3) Saya berdoa, agar tidak ada seorang pun di tempat ini yang seperti itu. Kalau misalnya ada, bertobatlah! Hati-hati!
· Kesuksesan. Kalau kesuksesan itu kita ambil sendiri dan bukan untuk Tuhan, kita pasti akan sombong. Alkitab katakan,
“Allah menentang orang yang congkak dan mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6) Kesuksesan harus dipersembahkan kepada Tuhan, karena kesuksesan bukan kita yang mendapatkannya tetapi karena Tuhan.
· Kekuasaan. Apalagi yang namanya kekuasaan, kalau tidak diserahkan sangat berbahaya! Karena itu bisa menganggap rendah orang lain. Padahal Alkitab berkata,:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Mari kita lakukan itu memasuki tahun 2020. Amin!
3. Emas Berbicara Tentang Sesuatu Yang Sangat Berharga
Saya tidak tahu apa yang berharga dalam hidup Saudara, tetapi itu harus dipersembahkan kepada Tuhan. Seperti Abraham ketika Tuhan meminta anaknya, Ishak untuk dipersembahkan kepada Tuhan, saya percaya Abraham bergumul dengan berat. Dia pasti bertanya,
“Tuhan, ini anak Engkau yang beri, anak yang tunggal. Di usia lanjut saya, 100 tahun baru saya dapat anak ini, hati saya itu ada di sana, Tuhan! Ini sangat berharga buat saya!”
Tetapi Tuhan berkata, “Berikan kepada-Ku!” Dan Abraham lulus!
Saudara tahu apa yang terjadi? Alkitab katakan bahwa Tuhan memberkati Abraham berlimpah, limpah, limpah, limpah! Keturunannya seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut, keturunannya akan menduduki kota-kota musuhnya. “Oleh keturunanmu…,” kata Tuhan, semua bangsa di bumi akan diberkati. (Kejadian 22:16-18)
Demikian juga dengan kita, saya tidak tahu apa yang berharga buat Saudara. Mungkin itu uang/harta, mungkin itu waktu Saudara sangat berharga buat Saudara dan Tuhan minta,
“Berikan itu kepada-Ku! Kamu melayani Aku, lebih banyak bersama Aku!”
Atau mungkin masalah pengampunan yang susah untuk direlakan dan ‘mahal harganya’, tetapi berikanlah itu kepada Tuhan dan lepaskanlah pengampunan, supaya Saudara diberkati berlimpah, limpah, limpah, limpah. Amin!
4. Emas Berbicara Tentang Bukti Kasih
Kita harus mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita. Ada berapa banyak yang mengasihi Tuhan Yesus? Ini yang Tuhan minta, masuk tahun 2020 makin sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita. Bagaimana caranya? Kita berkata, “Oh, saya mengasihi Tuhan…”, tetapi caranya bagaimana? Caranya adalah seperti Reff lagu: “Kurenungkan firman-Mu siang dan malam, kupegang perintah-Mu dan kulakukan. Engkau tahu ya, Tuhan tujuan hidupku, hanyalah untuk menyenangkan hati-Mu.”
KEMENYAN
1. Kemenyan Berbicara Tentang Korban
Tuhan menghendaki kita memberikan korban ucapan syukur, korban pujian. Yang namanya ‘korban’ itu sakit. 1 Tesalonika 5:18 dengan jelas berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal (enak maupun tidak enak), sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Jadi yang namanya ‘korban’ itu dalam keadaan tidak enakpun kita diminta untuk mengucap syukur serta memuji Tuhan dan itu Tuhan sangat senang. Roma 12:1 berkata, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
‘Persembahan yang hidup’ ini dalam bahasa Inggrisnya adalah korban yang hidup. Memang supaya hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan itu tidak mudah. Saudara akan merasakan sakit dan itu adalah korban. Saya ingat bagaimana doktrin Hypergrace mengajarkan,
“Oh kalau kamu sudah percaya kepada Tuhan Yesus, sudah…kamu kudus…sudah beres. Apa pun yang kamu lakukan kamu tetap kudus…”
Untuk mempersembahkan yang hidup, yang kudus dan berkenan itu sakit! Bukan dengan kekuatan sendiri. Tuhan akan menolong, namun kita harus berusaha supaya hidup kita berkenan di hadapan Tuhan. Amin!
2. Kemenyan Berbicara Tentang Persembahan Yang Menyenangkan Hati-Nya Tuhan
Tadi kita sudah berkali-kali memuji dan menyanyikan pujian, “Saya mau menyenangkan hati-Mu, Tuhan.” Menyenangkan hati-Nya Tuhan, itu artinya hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Kalau kita hidup sesuai dengan Firman Tuhan, itu akan menyenangkan hati-Nya Tuhan.
3. Kemenyan Berbicara Tentang Doa
Saya akan bahas ini nanti khusus tentang doa.
MUR
1. Mur Berbicara Tentang Jangan Ada Kepahitan
Mur dari bahasa Ibrani yang artinya ‘pahit’. Saudara hati-hati. Jangan ada akar pahit dalam hidup Saudara! Memasuki tahun 2020, jangan ada akar pahit! Orang yang kepahitan itu akhirnya tempatnya di mana? NERAKA!
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)
Saudara mau hidup kekal selama-lamanya atau di neraka selama-lamanya, tergantung daripada hati! Kalau sampai ada yang pahit hatinya, cepatlah datang kepada Tuhan Yesus. Saya mau memberitahu Saudara, orang yang pahit hatinya itu tidak mudah untuk dipulihkan. Kalau Saudara terus berlarut-larut dan tidak diselesaikan, itu akan makin berakar, karena namanya akar pahit maka susah untuk dicabut lagi. Mumpung akarnya masih pendek, harus cepat datang kepada Tuhan Yesus dan dihadapan Tuhan Yesus tidak ada yang mustahil, semua mungkin bagi-Nya! Segera datang kepada Tuhan Yesus!
Dan jangan ada yang punya niat bunuh diri! Ini sesuatu yang luar biasa di mana menurut hasil survey dari Bilangan Research Center, ditemukan bahwa 25% dari anak-anak muda berusia 15 – 25 tahun pernah punya niat untuk bunuh diri!
Kita punya “Healing Ministry Center” di mana orang bisa menelpon untuk curhat dan ada konselor-konselor yang menerima telpon-telpon tersebut, Ternyata ada banyak dari mereka yang punya niat untuk bunuh diri! Jangan sampai punya niat untuk bunuh diri! Bunuh diri itu tempatnya di mana? NERAKA! Itu adalah tipuan Iblis! Tetapi datang kepada Tuhan Yesus, “Tuhan Yesus tolong saya…!” dan Tuhan pasti menolong Saudara.
Ingat, seperti dikatakan tadi bahwa kasih Tuhan dilambangkan seperti pohon yang hijau, “Evergreen Tree”, tetap hijau meskipun mengalami badai, topan dan apa saja. Kasih Tuhan itu selalu tetap untuk Saudara karena itu apa pun yang terjadi dalam hidupmu ketahuilah satu hal, Tuhan Yesus sangat-sangat mengasihi Saudara. Amin!
2. Mur Berbicara Tentang Pengurapan
Pengurapan yang Tuhan berikan kepada kita harus dikembalikan kepada Dia untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri sendiri. Saya melihat hari-hari ini banyak hamba Tuhan, yang Tuhan urapi lalu menyalahgunakan pengurapan itu untuk kepentingan dirinya sendiri, seperti popularitas, supaya kaya dan dihormati orang. Saya melihat itu dan saya perlu bicara, bukan karena saya hebat tetapi juga untuk mengingatkan diri saya.
Pengurapan yang Tuhan berikan harus dikembalikan kepada Tuhan dan bukan untuk kita tetapi untuk kemuliaan Tuhan! Mungkin ada hamba-hamba Tuhan di tempat ini juga di mana setiap Saudara diurapi. Saudara akan dipakai Tuhan hari-hari ini untuk menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus. Ingatlah, pengurapan itu diberikan oleh Tuhan untuk kemulilaan Tuhan. Amin!
Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo

image source:https://joannaweaverbooks.com/2017/03/29/how-does-your-life-sound/

DUNIA MEMBUTUHKAN JURUSELAMAT

DUNIA MEMBUTUHKAN JURUSELAMAT

Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, maut ada di hati semua manusia.
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Rom 5:12)
Dosa mengakibatkan manusia kehilangan kemuliaan Tuhan (Rom 3:23), dan mengakibatkan manusia memiliki kencenderungan hati untuk berbuat dosa (Kej 6:5).
Kadang orang mengabaikan arti dan dampak dari dosa dan tidak takut akan Tuhan. Berapa banyak kita mendengar orang yang berkata: “sudah jangan takut, biar dosanya saya yang tanggung!” Dengan berkata demikian seakan memberikan dukungan untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Perkataan tersebut di atas bukan hanya menunjukkan kesombongan, tetapi juga kebodohan (ignorant). Bodoh karena tidak tahu betapa mengerikannya upah dosa, yakni maut. Maut bukan hanya bicara soal kematian, bukan hanya mengakhiri kehidupan yang sekarang ini, melainkan suatu keadaan di mana manusia terpisah selama-lamanya dari TUHAN.
DAMPAK DOSA
Dalam Kitab Kejadian kita melihat bagaimana dampak dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, yaitu:
1. Rusaknya Hubungan Manusia Dengan TUHAN
Manusia menjadi terintimidasi oleh rasa malu, takut dan bersalah ketika mengetahui TUHAN ada di Taman Eden dan mendengar TUHAN memanggil mereka. (Kej 3:7-10)
Bukankah intimidasi ini juga yang dirasakan dan dialami oleh mereka yang berbuat dosa? Ada perasaan bersalah, perasaan malu, perasaan takut, perasaan tidak layak yang membuat orang yang berbuat dosa tersebut menghindar dari TUHAN, merasa tidak layak datang ke gereja dan akhirnya, jika tidak segera bertobat ia akan mundur dari iman.
2. Rusaknya Hubungan Manusia Dengan Sesamanya
Bentuk yang paling nampak dari hal ini adalah kecenderungan untuk melemparkan tanggung jawab dan kesalahan kepada orang lain. (Kej 3:12)
Adam melempar tanggung jawab dan kesalahan kepada Hawa. Jika kita memandang dari sudut pandang rumah tangga Adam dan Hawa, pelajaran yang dapat kita ambil adalah di mana ada dosa dalam rumah tangga, komunikasi menjadi rusak, hilangnya keharmonisan serta saling melempar kesalahan dan tanggung jawab.
3. Rusaknya Hubungan Manusia Dengan Alam (Kej 3:17-19)
Tadinya tanah menyediakan segala kebutuhan manusia dalam segala kelimpahan, namun akibat dosa tanah kemudian menghasilkan semak duri dan rumput duri, sehingga manusia harus bersusah payah mencari rezeki dari tanah; seumur hidupnya.
4. Terpisahnya Manusia dari TUHAN (Kej 3:23-24)
Manusia diusir dari taman Eden dan TUHAN menempatkan kerub dengan pedang yang menyala-nyala dan menyambar-nyambar untuk menjaga jalan ke Pohon Kehidupan. Tidak hanya sampai di situ, dosa mengakibatkan manusia terpisah dari TUHAN.
“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yes 59:1-2)
Keempat hal tersebut di atas bukanlah hal yang main-main, sebab ujung dari semuanya itu adalah penghakiman dan penghukuman atas dunia. Manusia telah melakukan segala daya dan upaya untuk kembali kepada TUHAN. Bukti yang nampak kelihatan adalah begitu banyaknya aliran kepercayaan, agama-agama yang muncul sejak zaman dahulu. Sayangnya tidak ada satu agama pun yang dapat menyelamatkan kita, agama adalah upaya manusia untuk menguasai orang lain dengan bentuk peraturan-peraturan, agar segala sesuatu tidak menjadi kacau. Jika demikian, bagaimana kita dapat terbebas dari dosa? Yang diperlukan adalah Keselamatan yang menyucikan hati manusia dari dosa, kejahatan dan kemunafikan melalui darah Yesus yang kudus dan mulia.
Salah satu pola yang muncul dalam Perjanjian Lama adalah ketika manusia gagal mengikuti perintah, rencana dan kehendak TUHAN. Memang ada sanksi dan murka TUHAN yang dinyatakan, namun di balik itu juga ada kasih karunia, pengharapan akan keselamatan, akan seorang Juruselamat, yaitu Mesias.
Kej 3:15 merupakan berita injil yang paling pertama muncul (proto-evangelium), di mana dinyatakan bahwa: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukan kepalamu, dan engkau akan meremukan tumitnya.”
Ayat ini dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa yang akan meremukkan kepala si ular adalah “keturunan perempuan” yang adalah TUHAN YESUS KRISTUS.
Banyak tokoh telah muncul dalam sepanjang sejarah manusia; yang mengajar dan berusaha menunjukkan jalan agar manusia dapat kembali kepada TUHAN dan terlepas dari siksaan hari penghukuman, namun tidak ada satu pun dari yang diajarkan terbukti berhasil mencapai tujuan itu. Mereka mungkin menganggap diri mereka “juru selamat”, namun mereka sendiri bukanlah juru selamat. Juruselamat manusia satu-satunya adalah TUHAN YESUS KRISTUS!
“Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Luk 2:25-32)
TUHAN YESUS ADALAH JURUSELAMAT DUNIA
Sebagai Juruselamat dunia, konsekuensi yang TUHAN YESUS alami adalah:
1. Inkarnasi
TUHAN YESUS harus turun dari Sorga, menjadi seorang manusia, mengambil rupa seorang hamba, serta mengosongkan dirinya.
Peristiwa inkarnasi inilah yang kita peringati setiap tahun sebagai NATAL. Inkarnasi berarti Dia yang sejatinya adalah Roh adanya, harus berdiam dalam tubuh yang sama dengan kita namun tidak berdosa, agar diri-Nya dapat menjadi korban penebusan yang sempurna, darah yang kudus dan tidak bernoda dicurahkan untuk menebus manusia. Bahkan pasca kebangkitan-Nya, Dia tetap ‘terperangkap’ dalam tubuh kebangkitan, untuk dapat terus menjadi pengantara kita dan tinggal bersama dengan kita selama-lamanya.
2. Dibuat Menjadi Dosa
DIA yang tidak mengenal dosa, dibuat menjadi dosa karena manusia, supaya di dalam Dia manusia dibenarkan oleh Allah.
“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor 5:21)
Sebagai korban penebusan dosa, Dia yang tidak berdosa harus memikul semua dosa manusia, agar manusia dapat menerima penebusan dan pengampunan dosa.
Satu-satunya cara manusia dapat memulihkan hubungan yang rusak dengan TUHAN sebagai dampak dari dosa adalah melalui pengampunan dari TUHAN. Berbicara tentang pengampunan, Alkitab menyatakan:
“Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” (Ibr 9:22)
Darah yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa bukanlah darah biasa, melainkan darah yang kudus, darah yang tidak berdosa, yang tidak bercacat cela. Penumpahan darah hewan korban tidak dapat menghapuskan dosa manusia. Hanya darah DIA, yaitu Yesus; yang tidak bercela dan bernoda.
Dunia membutuhkan Juruselamat, dunia membutuhkan keselamatan.
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12)
Natal mengingatkan kita kembali bahwa dunia membutuhkan Juru Selamat! Dan itu artinya Dunia membutuhkan Tuhan Yesus Kristus karena dunia tidak akan pernah bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
SELAMAT MERAYAKAN KELAHIRAN JURUSELAMAT KITA.

image source:https://newlifenarrabri.wordpress.com/2017/03/01/reflection-on-romans-512-21/

BUAH KELAHIRAN BARU – BUAH ROH

BUAH KELAHIRAN BARU – BUAH ROH

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22-23)
Secara biologi, buah adalah sesuatu yang dihasilkan oleh sebuah pohon sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Semua buah secara alamiah mengandung benih dari pohonnya, dan beberapa jenis buah juga memiliki bagian yang dapat dimakan oleh manusia.
Dalam kondisi normal, buah dari sebuah pohon muncul secara alamiah pada waktunya. Buah sebuah pohon sebenarnya ditujukan sebagai cara untuk pohon tersebut menyebarkan benihnya. Buah akan dimakan oleh binatang atau manusia, kemudian benih yang jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon baru. Jadi, buah sebuah pohon adalah cara untuk pohon tersebut bermultiplikasi.
Di dalam Alkitab, hidup orang percaya beberapa kali digambarkan seperti sebuah pohon (Mzm 1:1-3), artinya sesuatu yang ditanam kemudian bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah. Dalam hal ini, buah adalah sesuatu yang keluar dari hidup orang percaya setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus, kemudian dinikmati oleh orang lain sehingga orang tersebut pada akhirnya juga bisa mengalami kehidupan yang sama.
1. Apa Itu Buah Roh ?
Seseorang ketika lahir baru dan mempunyai iman percaya kepada Yesus sebagai sang Juruselamat, maka orang itu akan mengalami tranformasi dalam hidupnya. Perubahan dari yang tadinya menyukai dosa, tahap demi tahap akan semakin mencintai kebenaran. Transformasi tersebut dikerjakan oleh Roh Kudus yang ada di dalam setiap orang percaya. Roh Kudus merupakan pribadi Allah. Dalam Bahasa Yunani, Roh Kudus juga dikenal sebagai ‘Parakletos’ yang artinya “Seorang yang dipanggil atau diutus untuk menolong orang lain.”
“Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yoh 14:26
Roh Kudus adalah pribadi Allah yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak.
Jika kita izinkan Roh Kudus bekerja dengan leluasa, maka dia akan bekerja:
· ke luar dengan memberikan karunia-karunia Roh untuk melayani, dan
· ke dalam memanifestasikan sifat-sifat dari Allah melalui prilaku kehidupan orang percaya.
Manifestasi Roh tersebut kita sebut dengan ‘buah roh’. (Gal 5:22-23)
Buah Roh bukan sifat alamiah, tetapi karakter orang percaya yang diperbaharui karena melekat pada Kristus (Yoh 15:5), dan ini merupakan tanda kedewasaan rohani. Jadi buah
roh itu adalah bukti dari hasil kerja Roh Kudus yang dapat kita lihat dari kehidupan seorang percaya.
2. Apakah Seseorang Bisa Menunjukan Nilai-nilai Kebaikan Tanpa Pertolongan Roh Kudus?
Untuk bisa berbuat baik atau menunjukkan kebaikan seperti yang nampak dari buah Roh, seseorang tidak harus mengenal Roh Kudus. Banyak orang seperti para filantrop (orang yang dermawan), para pemuka agama, para aktivis sosial yang berbuat banyak kebaikan; bahkan kelihatannya bisa lebih baik daripada orang percaya.
Semua orang, dimanapun dia dibesarkan, dalam budaya apapun atau keluarga apapun, bisa menerima dan menyetujui prinsip-prinsip Buah Roh. Tidak heran jika dikatakan bahwa “tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Gal 5:23).
Namun demikian ada perbedaan yang mendasari prinsip-prinsip dari buah roh tersebut antara orang percaya dan orang dunia.
Bagi orang percaya, di mana hidupnya didiami (indwelled) dan dituntun oleh Roh Kudus, prinsip-prinsip buah roh dilakukannya untuk memuliakan Tuhan. Semua ditujukan untuk menyenangkan Dia. Firman Tuhan menjadi standar untuk prinsip tersebut. Tetapi buat orang dunia, yang hidupnya dikuasai oleh kedagingan, perbuatan baiknya didasari oleh pemahaman orang itu sendiri. Motivasi orang yang melakukan kebaikan umumnya didasarkan pada keuntungan pribadi.
No. Buah Roh Bagi Orang Percaya* Bagi Orang Dunia
1 Kasih Kasih Ilahi (Agape) yang memberi tanpa pamrih. Selalu mengupayakan yang terbaik kepada orang yang dikasihinya (Rom 5:5; 1 Kor 13; Ef 5:2; Kol 3:14). Kasih yang memperhatikan dan mencari yang terbaik sepanjang bisa memberikan keuntungan pribadi.
2 Sukacita Perasaan senang yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah yang dimiliki orang percaya pada Kristus (Mzm 119:16) Perasaan senang berlandaskan hasil prestasi, pencapaian, terpenuhinya suatu keinginan/ harapan, dan sesuatu yang orang lain lakukan kepadanya.
3 Damai Sejahtera (Eirene) Ketenangan hati dan pikiran yang berlandaskan pengetahuan bahwa semua beres diantara orang percaya dengan Bapanya di sorga (Rom 15:33) Ketenangan hati dan pikiran berlandaskan tercapainya suatu kekuasaan, jaminan hidup, kekayaan.
4 Kesabaran (makrothumia) Ketabahan, panjang sabar, tidak mudah marah, atau putus asa (Ef 4:2) Tabah, tenang tetapi ada batasnya
5 Kemurahan (chrestoses) Tidak mau menyakiti orang lain atau menyebabkan penderitaan (Ef 4:32) Bermurah hati dan tidak menyakiti orang lain karena ada hukum yang mencegahnya
6 Kebaikan (agathosune) Bergairah akan kebenaran dan keadilan serta membenci kejahatan; dapat terungkap dalam perbuatan baik (Luk 7:37-50) atau dalam menegur dan memperbaiki kejahatan (Mar 21: 12-13) Bergairah akan kebenaran dan keadilan yang sifatnya sangat relatif/subyektif.
7 Kesetiaan (pistis) Kesetiaan yang teguh dan kokoh terhadap orang yang telah dipersatukan dengan kita oleh janji, komitmen, sifat layak dipercayai dan kejujuran (Mat 23:23) Setia sepanjang bisa menguntungkan
8 Kelemahlembutan (prautes) Pengekangan yang berpadu dengan kekuatan dan keberanian (Mat 5:5) Seringkali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan.
9 Penguasaan Diri (egkrateria) Menguasai keinginan dan nafsu, antara lain: seks dan pernikahan, uang, rakus dan kesucian hidup (2 Kor 7:1) Menguasai keinginan, tidak tergesa-gesa demi suatu keuntungan dan mengambil kesempatan yang lebih besar jika ada peluang.
*sumber: Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan
3. Apakah Orang Yang Berbahasa Roh (Glossolalia) Pasti Menghasilkan Buah Roh?
Seseorang bisa saja berdoa dengan sering berbahasa roh dalam pertemuan-pertemuan ibadah, tetapi hidupnya sama sekali masih sarat dengan kedagingan dan tidak menunjukan tanda-tanda buah roh.
Dalam hal ini, bahasa Roh tidak disertai dengan kepenuhan Roh Kudus yang senantiasa. Jadi harus ada suatu upaya agar orang percaya senantiasa membiarkan Roh Kudus terus-menerus bekerja, memimpin dan membentuk karakter Kristus.
Kedisiplinan rohani seperti: bersaat teduh, berdoa di Menara Doa, berbahasa roh, membaca Firman Tuhan, bersekutu dalam COOL, ikut serta aktif dalam pelayanan, bisa membantu orang percaya untuk dapat hidup dalam pimpinan Roh Kudus dan akhirnya menunjukkan buah roh dalam kehidupan mereka.
Di lain pihak kita menemukan orang-orang yang berbahasa roh dan juga menghasilkan buah roh dalam karakternya. Kedewasaaan rohani dan kemampuan berbahasa roh bisa lebih tepat kita katakan merupakan co-relational, artinya dapat ditemukan bersama-sama tetapi tidak selalu berkaitan.
Seperti halnya kita sering temui di sebuah taman ada seekor burung hampir selalu diikuti ada tupai pada waktu yang bersamaan, tetapi bukan berarti keberadaan mereka tergantung satu dengan yang lainnya. Terkait hubungan antara buah Roh dengan karunia Roh, Stanley Horton menyatakan:
“Buah Roh menjadi cara untuk memakai karunia Roh. Keseluruhan buah dibingkai dalam kasih, dan karunia apapun, bahkan dalam manifestasinya yang penuh, tidak berarti apapun tanpa kasih. Di lain pihak, kepenuhan Roh Kudus yang sejati pasti akan menghasilkan buah Roh; ini disebabkan oleh hidup yang bergairah dan diperkaya dalam persekutuan dengan Kristus.”
4. Apakah Dampak Buah Roh Dalam Kehidupan Orang Percaya?
Akan menjadi garam dan terang (Yes 60:1)
Buah sebuah pohon tidak dinikmati oleh pohonnya sendiri. Daging dari buah tersebut dinikmati oleh binatang atau manusia yang memakannya. Demikian juga dengan buah Roh.
“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.” (Ef 5:8-9)
Orang percaya yang menghasilkan buah roh pasti akan berdampak kepada orang lain disekitarnya. Rasul Paulus mengatakan orang yang menghasilkan buah adalah karena mereka hidup sebagai anak-anak terang. Nabi Yesaya menulis mengenai terang:
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.” (Yes 60:1)
Orang percaya dipanggil untuk menjadi terang karena kemuliaan Tuhan sudah kita dapatkan ketika Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Kita bukanlah sumber terang, tetapi sumber terang itu sudah tinggal di dalam kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi saluran atau cerminan terang Tuhan dengan cara berbuah.
Yesus berkata mengenai menjadi terang:
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:14-16)
Ternyata kita memang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi terang yang dapat dilihat oleh orang lain seperti kota yang di atas gunung atau pelita di atas kaki dian. Artinya kita diselamatkan bahkan diberikan Roh Kudus untuk mendiami kita, supaya kita menjadi kesaksian bagi orang lain dengan tujuan mereka menjadi percaya dan memuliakan Tuhan. Menghasilkan buah Roh; tujuan akhirnya adalah agar orang lain dapat menikmati buah dari kehidupan kita mengikut Yesus, sehingga pada akhinya mereka pun akan mengikut Yesus sebagai dampak kesaksian hidup kita.

image source:https://bibleversestogo.com/products/galatians-5-22-23-fruit-of-the-spirit

A  MORE  EXCELLENT  SACRIFICE

A MORE EXCELLENT SACRIFICE

Perikop ayat bacaan : Ibrani 11:1-4

“Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah
korban yang lebih baik dari pada korban Kain.
Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati”. (Ibrani 11:4)

Pesan Tuhan bulan ini adalah tentang excellent sacrifice. Banyak dari kita yang mungkin selama ini sudah berjerih lelah/berkorban bagi Tuhan, melayani pekerjaan Nya, baik di dalam pelayanan di gereja, di Cool maupun melayani orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Kita rindu jika apa yang kita lakukan itu akan menyenangkan Tuhan. Kali ini kita mau belajar tentang excellent sacrifice dari cara Habel mempersembahkan korban sehingga dikatakan bahwa Allah berkenan akan persembahannya.

Alkitab mencatat bahwa walaupun sama-sama mempersembahkan sesuatu kepada Allah, tetapi Habel telah mempersembahkan korban yang lebih baik dari pada korban Kain, kakaknya.
Mengapa Allah berkenan akan persembahan Habel dan bukan akan persembahan Kain?

1. Persembahan Habel lahir dari iman.

Habel mengerti bahwa Allah yang disembahnya adalah Pribadi yang patut mendapat hormat dan persembahan yang terbaik karena Dia adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat atas hidupnya. Habel mempersembahkan korban karena iman sementara Kain tidak. Jadi apapun yang kita persembahkan/perbuat harus dilakukan dengan iman karena tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6a).
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman akan sanggup mempercayai segala sesuatu yang tidak/belum kelihatan tetapi sudah disediakan oleh Allah, yang DIA sendiri akan menggenapinya menurut cara, waktu dan kehendakNya. Kristus Yesus adalah dasar yang kuat dari iman kita. Dunia sarat dengan ketidakpastian, perubahan dan guncangan; tetapi Kerajaan Allah tidak akan pernah terguncangkan oleh ketidakpastian dan perubahan apapun. Langit bumi akan berlalu tetapi firman Allah (sebagai dasar iman kita) akan tinggal tetap.
Tanpa iman bukan saja seseorang menjadi tidak berkenan di hadapan Allah, tetapi bahkan apa saja yang tidak berdasarkan iman adalah dosa (baca Roma 14:23b). Jadi perbuatan baikpun jika dilakukan tanpa iman adalah dosa. Atas dasar ini, maka kebenaran mengajarkan bahwa tidak seorangpun dapat diselamatkan dengan perbuatan baiknya. Tidak seorangpun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman karena kasih karunia di dalam Yesus Kristus. Lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan, karena dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak akan sia-sia.

2. Habel senantiasa hidup di dalam kerendahan hati dan pertobatan.

Kain dan Habel telah belajar dari orang tuanya bahwa Allah menyembelih domba serta menggunakan kulitnya untuk menutupi ketelanjangan ayah dan ibunya (Adam dan Hawa) pada waktu mereka jatuh ke dalam dosa. Mereka mengerti bahwa harus ada darah yang ditumpahkan (sebagai ganti nyawa orang tersebut) sebagai korban karena dosa. Akan tetapi hanya Habel yang meresponi kebenaran ini, oleh sebab itu Habel dibenarkan karena iman di mana dia percaya kepada Allah dan melakukan kehendakNya (Matius 23:35). Habel mempersembahkan domba yang darahnya harus dicurahkan sebagai korban karena dosa-dosanya. Sebaliknya Kain menganggap ringan soal korban persembahan kepada Tuhan. Apa yang telah diketahui dari orang tuanya mengenai kehendak Allah tidak dilakukannya. Dia mempersembahkan yang sekedar saja, yaitu sebagian dari hasil tanah garapannya kepada Allah.

” bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar ” (1 Yohanes 3:12).

Bukan setelah Kain membunuh Habel maka ia baru dikatakan jahat, tetapi karena Kain berhati jahat maka ia membunuh Habel. Jadi Kain memang berhati jahat sebelum ia membunuh adiknya. Berarti pada saat ia melakukan ibadahnya dengan memberikan persembahan kepada Allah, hatinya memang jahat dan tidak ada pertobatan. Kejahatannya lalu membuahkan kemarahan ketika persembahannya ditolak oleh Tuhan (Kejadian 4:4-5). Korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi doa orang jujur dikenanNya (Amsal 15:8). Jadi jika kita beribadah kepada Tuhan hanya sebatas kegiatan agamawi atau karena motivasi lain yang tidak berdasarkan iman, maka ibadah atau persembahan kita tidak berkenan di hadapan Allah (Yesaya 1:10-13).

3. Habel mempersembahkan yang terbaik atas dasar kasih.

Persembahan yang terbaik dalam iman Habel adalah mempersembahkan diri/nyawanya sendiri, yang dilambangkan dengan penumpahan darah (nyawa setiap mahluk ada di dalam darahnya, Imamat 17:11). Habel mempersembahkan anak sulung dari kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya. Domba sulung merupakan domba yang dirawat dengan seksama sehingga menjadi gemuk. Domba sulung disebut sebagai yang terbaik karena dapat menghasilkan anak-anak domba yang banyak nantinya. Habel menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama sehingga dia berani berkorban sedemikian rupa walaupun beresiko. Habel tidak takut kekurangan ternak karena dia mengerti segala sesuatu berasal dari Allah dan Dia layak dihormati dengan apa yang ada padanya. Habel memegang teguh janji-janji Allah yang akan menyediakan segala yang dia perlukan. Iman yang demikian lahir dari pengenalan Habel akan Allah sehingga dia berkomitmen/mengambil ketetapan hati untuk memberikan persembahan atas dasar kasih karena tanpa hati yang mengasihi, tidak mungkin Habel dapat memberikan korban yang terbaik bagi Allah.

” Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran “. (Hosea 6:6).

Apa yang kita persembahkan kepada Tuhan ?

1. Roh, jiwa dan tubuh, sebab kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar : Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1 Korintus 6:20).

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).
Mempersembahkan tubuh artinya : mendedikasikan seluruh roh (hati), jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) dan tubuh fisik kita.
Sebagai persembahan yang hidup artinya : keadaan rohani kita dikatakan hidup jika selalu terhubung dengan aliran air sumber kehidupan yaitu menjaga keintiman dengan Roh Kudus dan firman (memiliki kehidupan doa, pujian, penyembahan dan merenungkan firman).

2. Treasure, Time, Talent (3T).

Karena iman kita mengerti bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan. Ketika kita mempersembahkan roh, jiwa dan tubuh dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus, maka kita dimampukan untuk mengelola semua yang Tuhan percayakan dalam hidup kita dengan efisien-efektif sesuai dengan nilai-nilai kebenaran untuk keuntungan Kerajaan Allah serta kemuliaan bagi namaNya. Harta milik, waktu/kesempatan dan talenta/karunia kita dipergunakan dalam pimpinan Roh Kudus.

3. Menyerahkan kehendak bebas kita kepada Tuhan, untuk melayani kehendak dan rencanaNya atas hidup kita.

Kita menempatkan agenda hidup di dalam kehendak dan rencana Tuhan. Segala rencana, harapan, keinginan/cita-cita pribadi diserahkan kepada Tuhan untuk menggenapi apa yang sudah Tuhan tetapkan tentang kita. Semuanya itu kita lakukan dengan iman di dalam Kristus Yesus, dengan kerendahan hati dan kekudusan serta memberikan yang terbaik sebagai excellent sacrifice dengan dasar kasih (mengasihi Allah dan sesama).

4. Jiwa-jiwa

Amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 28:19-20) harus sungguh-sungguh kita lakukan menjelang kedatanganNya yang ke dua kali. Kita melakukan bagian kita menjadi terang dan garam, menjadi saksi Kristus di manapun kita berada dan memberitakan Injil Kerajaan Allah melalui dukungan doa (dalam doa pujian penyembahan), dana, waktu dan tenaga untuk menopang pelayanan misi.

Excellent sacrifice bukan berarti kita harus hidup miskin, penuh penderitaan, serba berkekurangan ataupun menjadi begitu sibuk. Tuhan Yesus datang untuk memberikan kita hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Anak-anak Tuhan hidup dalam sumpah berkat Abraham, kehendak Allah bagi anak-anakNya adalah kita diberkati untuk menjadi berkat. Tidak salah jika kita menikmati berkat Tuhan, tetapi tetap waspada agar hati kita tidak melekat kepada berkat itu sendiri, melainkan hanya kepada Allah, Sang Sumber berkat yang memang layak dipuji selama-lamanya.
Excellent sacrifice juga bukan supaya Tuhan lebih sayang kepada kita. Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita secara total dengan unconditional love bahkan ketika kita masih berdosa. “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10).

Excellent sacrifice kita lakukan karena :

– Tuhan Allah, The Creator God, berdaulat penuh atas hidup kita.
– Tuhan Allah layak mendapat segala hormat, pujian dan kemuliaan melalui hidup kita.
– agar kita bertumbuh dalam mengasihi Tuhan dan sesama.
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. ” (Yohanes 14:15). Kedewasaan rohani seseorang akan dapat dilihat dari buah-buah kasih (seperti dalam Galatia 5:22 dan 1 Korintus 13) dalam hidupnya. Semakin dalam pengenalan seseorang akan Tuhan, semakin dia disempurnakan oleh kasih Kristus. Kasih membuat seseorang sanggup melakukan excellent sacrifice, menyangkal diri, memikul salib, mengasihi orang lain bahkan mengasihi musuhnya serta bertekun sampai garis akhir dalam mengiring Tuhan.

Yang perlu kita ingat adalah jangan menjadi kecewa, bersungut-sungut, kepahitan dan menjauhkan diri dari kasih karunia jika kita sudah melakukan excellent sacrifice tetapi tidak diingat/tidak dihargai karena memang kita melakukannya hanya untuk Tuhan. Justru kita harus berbahagia jika kita menderita karena melakukan kebenaran karena besar upah yang menanti. Taburlah perkara-perkara yang memiliki nilai-nilai kekekalan) karena dengan iman kita mengerti bahwa kita sedang mengumpulkan harta di surga di mana ngengat, karat dan pencuri tidak bisa merusak dan mencurinya. Dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia, Amen.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

image source:http://delivertheword.com/maderealbyfaith/evidences/

“MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK KEDATANGAN TUHAN YESUS KEMBALI”

“MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK KEDATANGAN TUHAN YESUS KEMBALI”

Waktu berjalan begitu cepat, dan dengan tidak terasa kita sudah berada di bulan terakhir dari tahun 2019. Pada bulan Desember ini biasanya kita merayakan Natal, demikian juga dengan tahun ini kita merayakan Natal.
Natal berbicara tentang kasih Allah yang luar biasa kepada umat manusia. Yohanes 3:16 dengan jelas berkata,
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Biasanya kalau kita merayakan Natal banyak warna hijau dan merah. Warna merah itu melambangkan tentang darah Yesus. Tuhan Yesus mati buat kita semua, darah-Nya tercurah! Tanpa itu kita tidak akan selamat, itu adalah kasih Allah yang luar biasa. Alkitab dengan jelas berkata, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, upah dosa adalah maut” (Roma 3:23; 6:23)
Mati kekal selama-lamanya, dan tempatnya itu di mana? Di NERAKA! Untuk itulah Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia ini! Untuk menyelamatkan Saudara dan saya, Tuhan Yesus harus mati dengan penderitaan yang luar biasa. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka, Tuhan Yesus bermandikan darah…darah…darah! Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa! Itu adalah kasih Allah yang luar biasa bagi kita semua.
Warna hijau melambangkan sebuah pohon. Biasanya sejenis cemara; jenis pohon yang meskipun ada badai topan, salju atau kekeringan, warnanya tetap hijau. Itu melambangkan kasih Allah yang seperti itu bagi Saudara. Saya tidak tahu keadaan Saudara hari ini, mungkin keadaan Saudara seperti pohon yang diterpa badai. Saudara mengalami badai topan atau kekeringan dan kesakitan, tetapi ingat bahwa kasih Tuhan Yesus kepada Saudara dan saya itu tetap dan tidak berubah. Tuhan Yesus mengasihi Saudara! Apa pun yang terjadi dalam hidupmu, ketahuilah satu hal bahwa Tuhan Yesus sangat-sangat mengasihi Saudara!
Pada waktu Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia ini, ada 4 peristiwa yang penting yang mengajar kita tentang apa yang harus kita lakukan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Kalau pada waktu itu tentang menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang pertama ke dalam dunia ini, maka hari-hari ini kita sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua, yang waktunya sudah tidak lama lagi. Kita akan melihat apa yang terjadi 2000 tahun yang lalu ketika Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia.
EMPAT PERISTIWA PENTING PADA WAKTU KELAHIRAN TUHAN YESUS
Ada 4 peristiwa yang terjadi ketika Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia ini, yaitu:
1. KETAATAN
Ketika para gembala sedang berada di padang menjaga domba-dombanya, tiba-tiba mereka didatangi oleh malaikat.
“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2:10-12)
Saya mau bertanya kepada Saudara, kalau Saudara sebagai gembala yang di padang itu dan tiba-tiba didatangi malaikat seperti itu, kira-kira apakah Saudara mengerti yang dimaksudkan? Saya percaya kita tidak sepenuhnya mengerti. Demikian juga dengan para gembala pada waktu itu; mereka tidak sepenuhnya mengerti, tetapi satu hal yang yang kita pelajari adalah bahwa mereka percaya dengan tidak ragu-ragu. Mereka taat kepada perintah Tuhan dan mereka berangkat untuk menjumpai Sang Juruselamat, Yesus Kristus Tuhan di kota Daud, di Betlehem. Saudara, ini berbicara tentang KETAATAN.
2. DOA, PUJIAN DAN PENYEMBAHAN BERSAMA-SAMA DALAM UNITY SIANG DAN MALAM
Setelah malaikat memberitahu para para gembala seperti itu, “Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:13-14)
Itulah peristiwa yang kedua yang berbicara tentang doa, pujian dan penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam. Ini berbicara tentang Prinsip Pondok Daud. Katakan bersama saya, “Doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam!”
3. SUJUD MENYEMBAH DIA
Ketika orang Majus datang menemui Sang Juruselamat, Yesus Kristus Tuhan, mereka sujud menyembah. Katakan bersama saya, “Sujud menyembah!” mereka tahu menempatkan diri dan memuliakan Tuhan.
4. MEMPERSEMBAHKAN EMAS, KEMENYAN DAN MUR
Orang Majus itu membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Mari katakan bersama saya, “Mempersembahkan emas, kemenyan dan mur kepada Tuhan Yesus!”
Empat peristiwa ini saya percaya adalah tuntunan Tuhan yang harus kita kerjakan sekarang di dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua.
Pertama adalah KETAATAN
Para gembala di padang itu taat bukan karena mengerti, mereka tidak sepenuhnya mengerti namun mereka taat. Gereja ini ada karena visi yang diberikan oleh Tuhan 30 tahun yang lalu, di mana setiap tahun Tuhan memberikan tuntunan-Nya. Dan saya mau beritahu Saudara bahwa kebanyakan atau hampir semua visi yang Tuhan berikan kepada saya itu, awal mulanya saya tidak mengerti, tetapi yang saya lakukan hanya taat! Mengapa? Karena saya percaya! Saudaraku, bagian kita itu bukan harus mengerti dulu baru menjalankan, tetapi karena kita percaya. Itulah iman! Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang penting yaitu kita harus beriman.
Kedua adalah DOA, PUJIAN, PENYEMBAHAN BERSAMA-SAMA DALAM UNITY SIANG DAN MALAM
DNA gereja kita adalah Restorasi Pondok Daud. Bukan suatu kebetulan Tuhan memberikan itu. Awalnya kita tidak tahu mengapa Tuhan mempersiapkan umat-Nya yang di tempat ini selama 30 tahun lebih untuk terus-menerus masuk dalam doa, pujian dan penyembahan. Ternyata Tuhan akan bicara tentang Pentakosta Ketiga.
Kalau kita melihat: Pentakosta Pertama di kamar loteng dimulai dengan doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam. Pentakosta Kedua di Azusa Street dimulai dengan doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam Demikian juga dengan Pentakosta yang Ketiga, ini adalah yang terakhir dan ini juga dimulai dengan doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam.
Ketiga adalah SUJUD MENYEMBAH DIA
Penyembahan bisa diterjemahkan dalam arti sempit dan arti luas.
Penyembahan dalam arti yang sempit berbicara tentang kita masuk dalam hadirat Tuhan, kita merasakan hadirat Tuhan. Sering dalam ibadah seperti ini saya katakan, “Ayo, kita menyembah Tuhan. Angkat tangan Saudara. Ayo, berbahasa roh!” Begitu kita berbahasa roh, ada yang berkata, “Haleluya….!” dan kita merasakan hadirat Tuhan, kita masuk dalam hadirat Tuhan.
Tetapi penyembahan dalam arti yang luas berbicara tentang apa pun yang kita lakukan kalau itu tujuannya untuk menyenangkan hati-Nya Tuhan, itu artinya seperti kita sedang bersujud menyembah Dia. Amin!
Keempat adalah MEMPERSEMBAHKAN EMAS, KEMENYAN DAN MUR
Katakan bersama saya, “Mempersembahkan emas, kemenyan dan mur kepada Tuhan Yesus!” Saudara, kalau kita melihat emas, kemenyan dan mur; di Alkitab itu menandakan sesuatu yang berharga. Marilah kita persiapkan hati yang taat, dalam doa, pujian dan penyembahan, sujud menyembah dengan mempersembahkan Excellent Sacrifice bulan ini karena kita mengasihi Dia.

image source: https://watchusplaygames.wordpress.com/2012/12/24/photo-of-the-day-christ-mas-tree-luke-213-14-have-a-very-merry-christmas-eve-2012/

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

“Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2)
Suatu hari saya membaca: “We all make decisions daily but at the end the decisions make us.”
Hidup ini adalah kesimpulan dari semua keputusan-keputusan yang kita buat tiap hari, dan keputusan-keputusan itu ditentukan oleh prioritas kita. Prioritas itu didorong oleh motivasi seseorang, apakah motivasi timbul karena kehendak sendiri, kehendak manusia lain atau karena kehendak Allah. Motivasi ini akan menjadi pendorong dan generator seluruh prioritas, keputusan dan hidup orang itu.
Ternyata kehendak siapa yang mendorong motivasi dan mendorong keputusan-keputusan seseorang akan menentukan dan mempengaruhi kualitas hidup orang itu.
Kata “keinginan” manusia dalam bahasa Yunani diambil dari kata ‘Ephitumia’ yang berarti keinginan terlarang atau nafsu. Sementara kata “kehendak” Allah diambil dari kata Yunani, ‘Thelema’ yang berarti pilihan Tuhan atau isi hati Tuhan. Keduanya dapat menjadi motivator untuk setiap keputusan manusia, dengan implikasi (hasil akhir) jangka panjang yang berbeda.
Ada dampak kekal yang mengikuti setiap tindakan yang didorong oleh kehendak Allah. Tuhan ingin agar orang percaya tidak lenyap binasa, melainkan beroleh hidup selama-lamanya.
1 Yohanes 2:17 mengatakan “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”
Orang yang melakukan kehendak Bapa memperoleh “hidup” dan otoritas atas “hidup” itu, baik semasa di bumi ini maupun di kekekalan nanti.
MENJADI SEPERTI KRISTUS
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:28-29)
Dengan demikian kita sadar dan rela membiarkan diri untuk berubah dan diubah oleh Roh Kudus, agar menjadi seperti Yesus – kehendak dan rencana Allah. Ini adalah salah satu isi hati Allah untuk setiap orang percaya.
“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:30)
Siapakah yang dimaksud dengan orang yang ditentukan dari semula itu? Jawaban ada dalam 1 Yohanes 2:6 dengan mengatakan bahwa, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
Kata “barangsiapa” menunjukkan bahwa Allah tidak spesifik menetapkan hanya orang-orang tertentu saja yang akan diproses menjadi seperti Yesus. Tetapi yang Allah tetapkan adalah prasyarat atau kondisi. Ini penting untuk diketahui, agar orang percaya memahami bahwa menjadi seperti Yesus itu tidak otomatis dan juga semua orang percaya berpeluang menjadi seperti Yesus bila melakukan/menggenapi kondisi yang ditetapkan.
MENGAPA HARUS ….?
Semua orang percaya diinginkan Tuhan untuk menjadi seperti Yesus, karena:
1. Dari awal penciptaan manusia, Tuhan menginginkan adanya sebuah keluarga ilahi, keluarga Kerajaan Allah. Tuhan menginginkan kualitas rohani dan karakter orang percaya menjadi seperti Yesus, sehingga Yesus bisa menjadi yang sulung diantara banyak saudara. Menjadi mirip dengan Yesus. Menjadi seperti Yesus.
2. Hubungan suami dan istri adalah lambang hubungan Allah dan umat-Nya. Kesepadanan mempelai pria Agung dengan calon mempelai wanita, diinginkan oleh Tuhan. Untuk itu, gereja yang adalah kumpulan orang-orang percaya, sebagai calon mempelai Kristus wajib berubah menjadi seperti Kristus.
3. Menjadi seperti Yesus adalah jalan untuk kembali memiliki gambaran Allah dalam diri manusia seperti waktu baru diciptakan dan sebelum jatuh dalam dosa. Seiring kembalinya gambaran Allah (Imago Dei) dalam diri orang percaya, demikian pula kuasa untuk berkuasa dan menaklukkan bumi ini, kembali menjadi utuh. Hal ini merupakan perintah pertama Tuhan untuk manusia yang dicatat Alkitab (Kejadian 1: 27-29).
Ketiga alasan ini mengembalikan apa yang seharusnya dimiliki manusia dalam Allah, dan mempersiapkan manusia untuk rencana kekal di masa depan.
Di dunia ini hanya ada 2 kelompok manusia. Satu kelompok akan berkata kepada Tuhan: “Jadilah kehendak-Mu”, atau kelompok lain yang kepadanya Tuhan akan berkata: “Ya sudah, terserah cara dan maumu”. – C.S.Lewis
CARA ILAHI
Tidak mudah untuk manusia berubah, apalagi berubah menjadi seperti Yesus. Untuk itu, Tuhan turun tangan ‘all out’ untuk memastikan itu bisa terjadi. Roma 8:28-29 memastikan itu. Artinya, hal yang sukar atau tidak mungkin itu, akan menjadi mungkin, karena Tuhan akan ikut turun tangan. Manusia pilihan Allah akan melakukan bagiannya, dan Tuhan juga akan lakukan bagian-Nya.
1. Di Dalam Dia
1 Yohanes 2:6 dimulai dengan kalimat “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia…”
Prakondisi ini diinginkan oleh Tuhan dan dimiliki oleh mereka yang dipilih. Semua manusia ditentukan untuk menjadi seperti Yesus, tetapi yang terpilih adalah yang mau berada di dalam Yesus.
Yohanes 6:29 “Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Percaya Yesus, terima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dan hidup di dalam Dia. Kata Yunani yang dipakai di sini adalah ‘Meno En’ yang artinya berpaut dengan, tinggal di dalam. Jelas ada upaya untuk tidak terlepas dan tidak keluar dari Kristus. Sebuah keintiman hubungan yang dibangun dengan komitmen dan konsistensi, dan itulah sebabnya hidup kekristenan kita sebut dengan covenant (Perjanjian).
2. Lewat Firman Tuhan
1 Yohanes 2:6 diakhiri dengan kalimat “… ia wajib hidup sama seperti Yesus telah hidup.”
Hidup Yesus tidak pernah lepas dari Taurat yang berisi hukum Taurat, perintah Tuhan dan ketetapan Allah, Bapa-Nya. Hidup orang percaya yang mau diubah, juga seharusnya tidak lepas dari Alkitab, sebagai firman Tuhan. Kehendak Allah, orang pilihan bukan hanya membaca Alkitab, merenungkannya dan melakukannya, tetapi menjadikannya kesukaan.
Seperti Daud berkata: Mazmur 40:9, “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.”
3. Pimpinan Roh Kudus
Mazmur 143:10 “Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!”
Kehendak Allah adalah agar orang percaya hidup dipimpin Roh Kudus. Galatia 5:18, 25 mengatakan bahwa untuk dipimpin Roh Kudus, manusia pilihan Allah hendaknya memberi dirinya (dengan sengaja) dipimpin oleh Roh Kudus, yaitu: banyak datang pada Roh Kudus, bertanya kepada-Nya, uji dan pastikan suara-Nya, ikuti dan lakukan kehendak-Nya. Bila pimpinan Roh Kudus sudah menjadi gaya hidup orang percaya, maka ia akan di sebut sebagai anak Allah (Roma 8:14 ‘Huios’ – anak dewasa).
4. Proses Adalah Jalan Terbaik
Kisah Para Rasul 1:8 mengatakan bahwa untuk bisa menjadi saksi Kristus, orang percaya butuh kuasa, dan untuk itu Roh Kudus harus turun. Perlu Roh Kudus untuk hidup dengan kuasa. Namun tujuan dari kuasa itu, bukan hanya mengalirnya karunia Roh Kudus yang hebat itu. Tujuan sebenarnya adalah agar bisa menjadi saksi.
Kata Yunani untuk ‘saksi’ adalah ‘Marturia’ atau ‘Martus’ yang artinya saksi atau bukti yang menguatkan. Hidup penuh Roh Kudus dan kuasa, ditujukan untuk menjadi bukti dan saksi yang menguatkan dan membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah, Juruselamat Dunia yang akan datang sebagai Raja segala raja.
Bagaimana caranya hidup menjadi saksi itu? Tidak lain dengan berubah menjadi seperti Yesus. Roh Kudus sebagai wali buat orang percaya, mengubah orang pilihan dengan proses, tantangan, permasalahan, penyakit, pergumulan, tekanan.
Juga Roh Kudus memakai berkat, promosi, kesembuhan, terobosan, penyediaan dan lain sebagainya. Apa saja demi untuk mendatangkan kebaikan, yaitu perubahan menjadi seperti Yesus. Pada dunia, orang percaya membuktikan bahwa Yesus mampu mengubah dirinya dan memuliakan Tuhan. Inilah yang dikatakan bahwa mereka yang dipilih akan dimuliakan.
5. Amanat Agung
Matius 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus menyatakan kehendak-Nya. Semua hubungan dengan-Nya, semua firman-Nya, semua pimpinan Roh-Nya, semua pengalaman pembentukan dari-Nya itu, ajarkanlah kepada orang lain. Sebanyak manusia dan bangsa yang dapat dijangkau oleh kesaksian hidup manusia pilihan itu, hendaknya di”tular”kan (disebarkan/di bagikan) lewat teladan yang dipertontonkan; “Teach them to observe…” (Matius 28:20; NASB dan NKJV).
Akhirnya, semua orang Kristen akan menjalani proses menjadi seperti Kristus ini. Sebuah proses keselamatan dan pemulihan yang akan terulang pada murid-murid Kristus berikutnya. Penularan teladan dan hidup yang dibagi seharusnya menjadi atmosfer di dalam gereja. Pelan tetapi pasti; Amanat Agung akan diselesaikan, karena makin banyak yang melakukan kehendak Bapa, menjadi seperti Kristus. Amin.

image source:https://pastorrick.com/devotional/english/full-post/three-questions-to-manage-your-emotions1

MENCIPTA BERSAMA ALLAH DENGAN MULUT KITA

MENCIPTA BERSAMA ALLAH DENGAN MULUT KITA

“Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”.
1 Korintus 3:9
1. Manusia Adalah Ciptaan Tuhan Yang Tertinggi Dan Unik
Manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, lebih mulia dari semua ciptaan yang lain, karena Tuhan mau kita menjadi kawan sekerja Allah. Tidak ada makhluk lain yang diberi akal budi dan suara untuk dapat mencipta selain manusia.
Manusia bukan seperti hewan, hanya dinilai dari fungsinya saja untuk diperjual belikan dan menjadi milik tuannya. Pada masa perbudakan dahulu inilah yang dilakukan manusia yang memperbudak sesamanya. Namun kita sudah dimerdekakan dan tidak bisa menggunakan penilaian tersebut untuk membandingkan nilai seseorang individu dengan individu lainnya.
Terkandung di dalam keunikan individu tersebut terdapat pengertian yang tersembunyi mengenai kreativitas manusia. Kejadian 1:26-28 menunjukkan bahwa pemberian otoritas atas dunia ini ialah supaya manusia menjadi rekan sekerja Allah di dalam ‘menaklukkan’ dan ‘mengusahakannya’ sehingga kehendak Allah terjadi di atas muka bumi ini dan bumi semakin hari semakin serupa dengan gambaran sorga.
Memang kata ‘menciptakan’ di dalam Alkitab hampir secara eksklusif dikenakan kepada Tuhan. Di dalam bahasa Ibrani kata ‘bara’ berbicara tentang mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Tetapi ketika menciptakan manusia, Tuhan menggunakan ‘asah’ yang berarti membentuk (shape) seperti di dalam kesenian tanah liat. Bagian dari gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia ialah sama seperti Allah mengerahkan seluruh daya cipta yang ada di dalam dirinya di dalam ‘membentuk manusia’ yang berasal dari tanah liat, demikian pula manusia bisa mengerahkan seluruh daya ciptanya untuk menguasai bumi (tanah liat) yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya.
Sebagai contoh; manusia adalah satu-satunya makhluk yang perlu memasak makanannya. Di dalam keadaan ekstrim manusia bisa saja bertahan hidup dengan memakan apa-apa yang disediakan oleh alam secara mentah, tetapi hanya manusia yang menggunakan akal budi untuk mencipta penemuan api untuk memasak makanannya dst nya.
2. Hanya Kepada Manusia Allah Menaruh Roh-Nya
Alkitab menyatakan bahwa:“Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” (Amsal 20:27)
Fungsi roh inilah yang menghubungkan alam kediaman Allah yaitu sorga dengan bumi di mana manusia hidup. Dengan fungsi roh inilah manusia bisa ‘berimajinasi’ melihat hal-hal yang belum ada dan berusaha untuk mewujudkannya. Bagi orang non Kristen, fungsi ini hanya terbatas sebagai kegiatan jiwani saja. Kita bisa melihat benda-benda abstrak dan menggabungkannya menjadi suatu benda yang baru, contoh yang sangat jelas; dari dahulu orang sudah tahu apa itu kata ‘inter’; Internasional, interdenominasi, interlokal dan lain sebagainya. Kata jaring (net) sudah dikenal orang dari dahulu, bola jaring (net ball, network jaringan kerja), tetapi orang tidak pernah memikirkan kalau dua kata ini dijadikan satu, antara ‘inter’ dan ‘net’ menjadi sesuatu dunia yang baru dengan segala kemungkinan yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Bagi orang Kristen hal ini berfungsi lebih jauh lagi. Tuhan memberikan kita kemampuan untuk melihat hal-hal yang ada di dalam alam sorgawi dan menjadikannya nyata di dalam alam jasmani.
Contohnya: Abraham dalam Perjanjian Lama. (Ibrani 11:15-16)
Dengan melihat kedua dasar tersebut kita mengerti sekarang bahwa kita disebut rekan sekerja bersama Tuhan karena kita juga bisa menciptakan hal-hal yang Tuhan kehendaki di atas muka bumi ini:
a. Kita Mencipta Dengan Pilihan-pilihan Kita
Manusia hidup di dalam ‘waktu’. Kita memiliki masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa lalu sudah lewat dan tidak bisa diubah, masa depan belum tiba dan masih berupa kemungkinan. Ada banyak ‘kemungkinan-kemungkinan’ yang bisa terjadi sebagai hasil dari suatu peristiwa. Masa kini adalah proses di mana kita bisa menciptakan kemungkinan mana dari sekian banyak kemungkinan yang ada.
Daud berdoa meminta Tuhan untuk menguji hatinya (Mazmur 26:2). Permintaan Daud ini sebenarnya adalah sesuatu yang janggal secara teologis. Jika Tuhan adalah maha tahu dan mengetahui segala kemungkinan di masa depan, buat apa kita meminta Dia untuk menguji hati kita? Di sinilah letak keindahan teologi Kristen. Bahwa kemaha-tahuan Tuhan tidak berarti Ia berkuasa 100% menentukan hasil di masa depan.
b. Kita Menciptakan Dengan Perkataan Yang Diberdayakan Oleh Iman
Sama seperti Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya, demikian juga kita diberi kehormatan untuk mengucapkan segala sesuatu yang belum kelihatan dan membuatnya menjadi nyata di dalam dunia ini. Di sini bukan berarti kita betul-betul seperti Tuhan yang menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Kita melakukan prinsip yang tertulis dalam Ibrani 11:1.
Pepatah Latin ‘Ora Et Labora’ (Berdoa dan Bekerja) sebenarnya harus diterjemahkan berdoa sebelum bekerja, atau pekerjaan yang pertama adalah berdoa. Di dalam doalah kita sedang mengucapkan dan membentuk hal yang ingin kita lihat menjadi nyata di atas muka bumi ini. Doa adalah blue print dari pekerjaan kita. Ketika roh manusia dipulihkan oleh Yesus di dalam kelahiran baru, kemampuan untuk menerima download dari sorga kembali berfungsi.
c. Kita Mencipta Dengan Cara Memultiplikasikan Diri Dan Karakter Kita Ke Dalam Diri Orang Lain
Pernahkan kita berpikir tentang apa yang membedakan ‘ciptaan’ manusia dengan ciptaan Tuhan? Manusia menciptakan barang yang memiliki fungsi tetapi tidak memiliki kehidupan. Tuhan menciptakan makhluk-makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) yang tidak hanya memiliki fungsi tetapi memiliki kemampuan untuk berkembang biak, sehingga bisa memenuhi bumi.
Ada satu hal istimewa yang diberikan kepada murid-murid Kristus yaitu mereka dapat mencipta dengan cara memultiplikasikan diri mereka pada kehidupan orang lain. Prinsip inilah yang dipakai oleh Tuhan Yesus di dalam memuridkan murid-murid-Nya. Yesus mengajar, berkhotbah dan mementor murid-murid dengan tujuan menjadikan mereka seperti Yesus. Pola itu juga yang Tuhan inginkan untuk diteruskan oleh murid-murid-Nya lakukan. Ketika seorang murid memuridkan orang lain, artinya murid itu sedang mencipta (murid-murid lain).
3. Hasil Ciptaan Kita Memuliakan Allah
Mandat umum yang diberikan Allah kepada manusia untuk menguasai dan menata bumi serta mengelolanya bagi kemuliaan Tuhan tetap berlaku sesudah kejatuhan manusia dalam dosa. Setelah manusia diusir keluar dari taman Eden, manusia mulai membuat kota-kota.
Kejadian 4:20-22 mencatat profesi-profesi awal yang dikerjakan oleh manusia yaitu mendirikan kemah, memelihara ternak, menciptakan alat-alat musik dan industri logam. Mulai dari saat itu, kota menjadi latar belakang yang sangat signifikan di dalam menceritakan sejarah keselamatan Tuhan. Kita melihat motif perbandingan antara kota Allah (Zion) yang melambangkan persekutuan Allah dan umat ketebusan-Nya; dikontraskan dengan kota buatan manusia (Sodom dan Gomora/Babel) yang melambangkan kesombongan dan kemandirian manusia yang ingin memisahkan diri dari Allah. Jika sejarah keselamatan mencatat asal mula manusia diciptakan di dalam sebuah taman mengapa tidak dikatakan bahwa di ujung proses keselamatan manusia dikembalikan ke dalam taman?
Alkitab mencatat bahwa sejarah keselamatan akan berujung di sebuah kota yang bernama Yerusalem Baru (Wahyu 21:2, 10, 26). Apakah yang dimaksud dengan “kekayaan dan hormat bangsa-bangsa”? Ini berbicara mengenai hasil-hasil produksi terbaik yang bisa diberikan oleh pembagian bangsa-bangsa yang diciptakan oleh Tuhan sendiri. Karakteristik bangsa-bangsa secara tidak langsung menunjukkan sebagian dari daya cipta yang luar biasa dari dalam diri Tuhan.

Sifat seperti itu kemudian diterjemahkan menjadi daya cipta yang di dalam masyarakat modern tercermin di dalam branding-branding dan etos budaya yang melekat kepada hasil produk bangsa tersebut. Karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka seringkali sifat-sifat itu dipakai untuk membangun indetitas nasional yang berdasarkan keangkuhan. Dapatkah dibayangkan jika orang-orang ketebusan dari tiap-tiap bangsa ini mengerahkan daya cipta terbaik mereka menjadi suatu karya yang memuliakan Tuhan dan memberkati umat manusia lainnya? Di dalam Yerusalem Baru semuanya ini akan dibawa masuk untuk memuliakan Tuhan.

MULUT KITA MENGELUARKAN DOA-DOA
POKOK DOA YANG HARUS KITA DOAKAN
Ada beberapa pokok doa yang harus kita doakan pada hari-hari ini:
1. Berdoa untuk Indonesia dan gereja-gereja di Indonesia
2. Berdoa untuk penginjilan di bangsa-bangsa.
3. Berdoa untuk pemimpin bangsa-bangsa. Dalam membuat keputusan-keputusan dengan takut akan Tuhan.
4. Berdoa untuk Penuaian Jiwa Besar-besaran “Waktunya tidak lama…” dan setelah itu Tuhan Yesus datang!
5. Berdoa untuk Generasi Yeremia. Anak-anak muda yang berkobar dalam Api Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa dan akan melayani bangsa ini seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Doakan, doakan!
6. Doa Bapa Kami
Tuhan mengajar untuk berdoa seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam “Doa Bapa Kami”, “Datanglah Kerajaan-Mu…Your Kingdom come! Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga!” Pada saat Saudara berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu…”, maka artinya: Saudara sedang berdoa untuk mujizat, kesembuhan, pemulihan, pertobatan, keselamatan. Sebab pada waktu Kerajaan Allah datang, hal-hal itu itu akan terjadi dan itu memang dikehendaki oleh Tuhan Yesus.
Saudara berdoa untuk kedatangan Tuhan Yesus kembali, karena kita merindukan kedatangan-Nya. Saudara mari kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu…”. Mungkin ada di antara Saudara yang tidak berdoa seperti itu, tetapi saya minta agar setiap hari Saudara mendoakan itu. Ada berapa banyak yang mau berjanji mulai hari ini, “Tuhan, saya mau berjanji untuk berdoa setiap hari, “Datanglah Kerajaan-Mu…” Ayo, benar-benar kita lakukan! Hal ini juga dilakukan oleh jemaat mula-mula di mana mereka selalu berkata, “Maranatha…Maranatha…Tuhan, datanglah!” Sampai kata ‘Maranatha’ ini dipakai sebagai salam kalau bertemu seorang dengan yang lain. Dan juga untuk berdoa sungguh-sungguh bagi kedatangan Tuhan Yesus.
Karena itu, Saudara yang merindukan kedatangan Tuhan Yesus pasti menginginkan Injil Kerajaan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Amin! Dan Tuhan Yesus memberikan Amanat-Nya kepada kita, yaitu:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20
Ada berapa banyak yang berkata, “Tuhan, saya mau menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus”? Kita harus menginjil dan bersaksi di mana saja kita berada. Saksikan tentang kebaikan Tuhan dan saya percaya pada saat itu Saudara akan diberi nyanyian baru oleh Tuhan. Memang kita tidak bisa melakukan semua itu dengan kekuatan sendiri, tetapi Tuhan sudah sediakan Roh Kudus. Hari-hari ini Tuhan mau kita menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus. Karena itu Tuhan Yesus mencurahkan Roh-Nya yang luar biasa pada zaman now yang kita sebutkan dengan Pentakosta Ketiga. Saya percaya; dengan Pentakosta Ketiga – Amanat Agung Tuhan Yesus akan selesai
Tuhan menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Dia sendiri, termasuk dalam kemampuan untuk mencipta. Dengan bimbingan Firman dan Roh Kudus, manusia yang sudah ditebus dari dosa dapat menciptakan segala sesuatu yang pada akhirnya dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

image source: http://www.dailythanks.org/2014/08/1-corinthians-2-3.html

“TUHAN MEMBERIKAN nyanyian baru DALAM MULUT-KU”

“TUHAN MEMBERIKAN nyanyian baru DALAM MULUT-KU”

Dari tanggal 29 September 2019 sampai dengan 18 September 2020, kalender Ibrani memasuki tahun 5780 yang disebut dengan TAHUN PEY, ‘Pey’ itu artinya 80. Kita baru saja meninggalkan dekade Ayin (dekade 70-an), jadi selama 10 tahun yang lalu kita telah masuk dalam dekade Ayin (5770 – 5779), dan sekarang kita memasuki tahun yang baru yang disebut dengan TAHUN PEY. ‘Pey’ menggambarkan sebuah mulut:
Sehubungan dengan Tahun Pey yang digambarkan dengan sebuah mulut, maka Tuhan memberikan pesan-pesan kepada kita sebagai berikut:
1. MULUT KITA HANYA DIPAKAI UNTUK MEMULIAKAN TUHAN
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Matius 12:36-37
Ayat ini bukan untuk orang yang tidak percaya, tetapi kepada orang yang percaya, yaitu Saudara dan saya. Hati-hati menggunakan kata-kata sia-sia! Dengan jelas dikatakan,
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
Jadi, hati-hati dengan gosip, fitnah, hoax, ujaran kebencian. Jangan sampai kita mengeluarkan kata-kata itu! Saya melihat akhir-akhir ini peredaran hoax itu luar biasa! Mungkin ada yang berkata, “Tidak Pak, saya tidak pernah berkata yang seperti itu!”, tetapi berkata melalui apa? Melalui jari-jari yang mengetik pesan di handphone! Melalui media sosial itu lebih jahat lagi, itu sebetulnya; apa yang ada di dalam hatinya dituangkan dalam bentuk pesan yang diketik dengan jari-jarinya. Itu sama saja! Hati-hati!
Berapa banyak saya lihat akhir-akhir ini yang namanya hoax dan ujaran kebencian. Yang menuliskan itu bukan orang-orang luar yang tidak percaya, tetapi justru anak-anak Tuhan. Hari ini kalau Saudara mendengarkan ini, mungkin ada di antara Saudara yang menganggap itu hal yang biasa, tetapi saya mau beritahu bahwa itu tidak biasa! Dengan jelas sekali lagi mari kita baca bersama-sama,
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
Apa yang Tuhan kehendaki keluar dari mulut ini? Yang Tuhan mau adalah seperti ini,
“Mulutku penuh dengan pujian kepada-Mu, ya Yesus Tuhan. Sepanjang hari kuberi penghormatan kepada-Mu, ya Allahku.”
Ada berapa banyak yang mau berjanji, “Tuhan, ampuni saya. Selama ini banyak kata-kata sia-sia keluar dari mulut saya. Saya juga salurkan itu melalui media sosial dan sebagainya, tetapi hari ini saya mendengar Firman-Mu, Tuhan dan saya bertobat. Biarlah mulai hari ini, dari mulut ini yang keluar hanya puji-pujian.”
Ada berapa banyak yang mau melakukan itu? Tuhan pasti senang melihat Saudara yang mau.
2. TUHAN MEMBERIKAN nyanyian baru KEPADA YANG MENGASIHI-NYA
“Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.” Mazmur 40:4
Kata-kata itu ditulis oleh Daud, di mana ia berkata, “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.” Ini ada lagunya dan lagu ini merupakan isi hati Tuhan. Biasanya lagu ini digabung dengan syair, “Yesus cinta saya, Yesus cinta kamu, Yesus cinta semuanya, Firman-Nya digenapi.” Firman Tuhan berkata, “Berilah, maka kamu akan diberi…”, oleh sebab itu mari kita memberkati yang lain terlebih dahulu, “Yesus cinta kamu, Yesus cinta saya, Yesus cinta semuanya, Firman-Nya digenapi.”
Saudara, tentang ‘Yesus cinta kamu dan saya ini’, saya ingat di setiap kali KKR Healing di mana saya sudah 316 kali KKR, saya selalu mengatakan: “Saya tidak tahu keadaan Saudara yang datang pada hari ini, tetapi apapun masalah yang Saudara hadapi, problema apa pun yang Saudara hadapi, Saudara harus tahu satu hal; yaitu bahwa Tuhan Yesus sangat-sangat mencintai Saudara!”
Ingat baik-baik Saudara, Tuhan Yesus itu mengasihi kita semua. Apa pun masalah Saudara, saya tidak tahu mungkin ada yang datang dengan beban berat, sedang, ringan atau apa saja, bahkan mungkin ada yang berkata: “Tuhan, saya tidak kuat…” Ingatlah bahwa Saudara pasti kuat karena Tuhan Yesus mengasihi Saudara! Tuhan Yesus mencintai Saudara. Amin!
Biarlah kita berkata seperti Daud, “Ia (Tuhan Yesus) memberikan nyanyian baru di dalam mulutku untuk memuji-muji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan!”
Nyanyian baru
Apa yang disebut dengan “nyanyian baru?” nyanyian baru adalah nyanyian untuk memuji-muji Allah kita dan itu diberikan/dinyanyikan oleh orang-orang yang mengasihi Dia, artinya orang-orang yang mengikuti atau hidup sesuai dengan Firman-Nya. Ada berapa banyak orang-orang yang seperti itu? Tuhan pasti memberikan nyanyian baru kepada kita. Amin! Ketika Saudara menyanyikan nyanyian itu; orang melihatnya, menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan. Ini pesan yang luar biasa di Era Pentakosta Ketiga di mana kita sedang memasuki penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir sebelum Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua. Tuhan katakan:
“Aku akan memberikan nyanyian baru kepada anak-anak-Ku yang mengasihi Aku, yang hidup sesuai kehendak-Ku!”
Ketika kita menyanyikan itu, orang melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan. Amin! Ketika Paulus dan Silas menyembuhkan seorang anak yang mempunyai roh tenung di mana tenungannya itu menghasilkan uang yang banyak bagi majikannya. Begitu roh tenungnya diusir keluar, marahlah majikannya karena kehilangan mata pencaharian. Mereka membawa Paulus dan Silas, pokoknya difitnah macam-macam sehingga setelah didera dan dipukul berkali-kali Paulus dan Silas harus masuk penjara bagian tengah. Tangannya dirantai dan kakinya dipasung. Secara manusia mereka dan juga kita akan berkata, “Tuhan, saya ini kan melakukan kehendak-Mu, ya Tuhan, mengusir setan yang ada, kenapa saya harus mengalami ini?” Mungkin itu yang terbesit dari Paulus dan Silas. Mereka lalu mengikuti apa yang Firman Tuhan katakan dalam:
Apa yang dilakukan Paulus dan Silas? Mereka menyanyikan puji-pujian! Di tengah-tengah mereka kesakitan dengan darah yang mengucur keluar, di tengah-tengah kesakitan di mana mereka dipasung, mereka menyanyikan puji-pujian! Saya tidak tahu puji-pujian apa yang mereka nyanyikan, tetapi yang saya tahu yang mereka nyanyikan itu adalah nyanyian baru! Apa yang terjadi?
Ketika Paulus dan Silas menyanyikan nyanyian baru, tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat. Sendi-sendi pintu penjara bergoyang, pintu-pintu penjara terbuka, belenggu terlepas, pasungan terlepas, Paulus dan Silas bebas! Saudara, kepala penjaranya melihat semua itu dan menjadi takut. Apa yang ditakutkan? Dia takut para orang hukumannya melarikan diri termasuk; Paulus dan Silas. Dia menghunus pedangnya hendak bunuh diri, tetapi pada waktu itu Paulus dan Silas berkata, “Hei, jangan kamu lakukan itu, kami masih ada di sini!” Kemudian kepala penjara tersungkur di hadapan Paulus dan Silas dan dia berkata, “Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat supaya aku mendapatkan selamat?” Langsung Paulus berkata, “Engkau harus percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, engkau akan selamat, engkau dan seisi rumah tanggamu.”
Kemudian setelah itu diinjili oleh Paulus dan Silas dan kepala penjara pada malam itu juga beserta keluarganya percaya kepada Tuhan dan mereka dibaptis!
1 Tes 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Amin!
Kotbah Pdt. Dr. Niko Njotorahardjo JCC – 3 November 2019