Author: FJ

Home / Articles posted by FJ
TITIK BALIK KEHIDUPAN RASUL PAULUS SETELAH BERJUMPA DENGAN TUHAN YESUS

TITIK BALIK KEHIDUPAN RASUL PAULUS SETELAH BERJUMPA DENGAN TUHAN YESUS

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8)

Rasul Paulus dilahirkan di kota Tarsus, tanah Kilikia, Turki bagian selatan (KPR 9:11; 21:39; 22:3). Ia adalah seorang Yahudi dari suku Benyamin (Filipi 3:5) yang berbahasa Yunani dan memegang teguh tradisi dan hukum Taurat. Secara sah Paulus memiliki kewarganegaraan Romawi, dibesarkan di Yerusalem dan dididik dengan teliti dibawah pengawasan Gamaliel, seorang pemimpin agama Yahudi terkemuka yang sangat disegani.

Paulus merupakan salah satu tokoh muda golongan Farisi yang sangat berpotensi (Galatia 1:14). Ia tidak hanya setia terhadap hukum Taurat dan adat istiadat para leluhurnya, melainkan juga menjadi seorang Farisi garis keras. Dengan kemarahan yang meluap-luap, ia memburu dan menyiksa murid-murid Tuhan serta memaksa mereka menyangkal imannya demi kesetiaannya kepada hukum Taurat (KPR 26:11; Galatia 1:13-14). Ia menganggap Yesus telah meniadakan/merusak tradisi nenek moyang dan hukum Taurat, serta menganggap semua orang Kristen sebagai musuh yang harus dibinasakan.

Perjumpaan dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik telah menjadi titik balik (turning point) yang mentransformasi seorang Paulus dari hati yang murni. Dari hanya mengerti hukum Taurat menjadi percaya dengan iman akan kasih karunia Tuhan (KPR 9:1-31, 22:1-22, 26:9-24). Selama ini sebagai ahli Kitab Suci dan Taurat, Paulus cenderung menempatkan Allah sebagai ‘objek’ pemikirannya. Cara pandang manusiawi dan intelektualitasnya ia gunakan untuk memahami Allah. Memang Paulus sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Dia mengejar kebenaran bukan karena iman tetapi karena perbuatan yaitu dengan melakukan hukum Taurat.

Akan tetapi karena kasih karunia, Allah berkenan menyatakan AnakNya di dalam dia.

“Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia” (Galatia 1:15-16).

Paulus kemudian mengerti bahwa kebenaran Allah bukan didasarkan pada melakukan hukum Taurat, melainkan didasarkan pada penyataan Allah di dalam Kristus dan melalui iman kepada-Nya (Roma 3:21-23).

Bertolak dari pengalaman ini Paulus memiliki cara pandang yang baru, di mana ia memahami bahwa Allah (yang selama ini giat dia layani) mewujudkan diriNya dalam Kristus Yesus yang telah disalibkan, mati dan bangkit untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya.

Ada 3 perubahan paradigma yang mengubah Paulus setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus :

1. Dari hidup di bawah hukum Taurat menjadi di bawah hukum kasih karunia.

Bahwa keselamatan merupakan kasih karunia/pemberian Allah yang diterima dengan iman, dan bukan hasil usaha manusia (Efesus 2:8-9). Segala usahanya untuk giat melakukan hukum Taurat dengan kekuatan sendiri adalah sia-sia karena tidak seorangpun dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat; tetapi orang benar akan hidup oleh iman, bukan oleh pikiran dan/atau perasaan (Galatia 3:11).

Orang yang sudah menjadi ciptaan baru dalam Kristus tidak akan dikuasai lagi oleh dosa karena tidak berada di bawah hukum Taurat tetapi di bawah kasih karunia (Roma 6:14). Oleh sebab itu, perintah dan kehendak Allah dilakukan bukan karena paksaan/seperti Taurat tetapi karena hak bebas digunakan untuk taat kepadaNya atas dasar kasih. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan seseorang dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2).

2. Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang terus-menerus mengalami pembaruan dalam roh dan pikiran oleh firman Tuhan.

Paulus mengalami pembaruan akal budi melalui proses panjang sehingga ia semakin mengerti mana kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Roma 12:2). Hidup yang dipimpin Roh Kudus (oleh iman) akan rela menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging…jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat”(Galatia 5:16,18).

Orang yang hidup dipimpin oleh Roh otomatis tidak akan mau hidup dalam kedagingan karena keinginan Roh bertentangan dengan keinginan daging (tidak bisa berjalan bersama-sama).

3. Perubahan arah dan tujuan hidup yaitu berjalan dalam panggilan Allah.

Paulus melupakan apa yang telah di belakangnya (dosa, kedagingan, ambisi/visi pribadi, intelektual, semua pencapaiannya) dan mengarahkan diri kepada apa yang di depannya serta berlari-lari kepada tujuan yaitu panggilan surgawi (hidup dalam visi Kristus dan melakukan kehendak Allah pada jamannya).
Allah telah memilih dan memanggil dirinya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi (Gal. 1:13-16) agar mereka juga dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepadaNya, yang disucikan oleh Roh Kudus (Roma 15:16).

Panggilan dan pelayanan Paulus 2000 tahun yang lalu telah memberi dampak sampai kepada kita yang hidup di akhir jaman ini. Lewat pewahyuan yang disingkapkan Roh Kudus kepada Paulus melalui surat-suratnya, bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan bisa melihat terang/mengenal Allah yang benar.

Perubahan paradigma karena Kristus telah menjadikan Paulus murid Kristus yang sejati. Sekalipun mengalami tantangan, aniaya dan kesulitan :

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela, ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu” (2 Korintus 6: 4-10).

Paulus terus berlari-lari (terus mengejar, bertekun, rela membayar harga) untuk memperoleh mahkota.

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14)

Demikian pula kita, di tahun Paradigma yang baru ini, Tuhan akan memurnikan, mendewasakan dan membawa kita agar dapat dipakai sebagai bejana (seperti Paulus) yang memasyhurkan namaNya.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”(Filipi 4:13), AMEN !

image source: https://www.pinterest.com/pin/440789882264140773/

PARADIGMA BARU DI DALAM TUJUH GUNUNG

PARADIGMA BARU DI DALAM TUJUH GUNUNG

“Firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu,
dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!
Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh,
belumkah kamu mengetahuinya?
Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.
Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta,
sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun
dan sungai-sungai di padang belantara,
untuk memberi minum umat pilihan-Ku;
umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.”
Yesaya 43:18-21

Gembala Pembina kita, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo telah mendeklarasikan bahwa tahun 2022 adalah “Tahun Paradigma yang Baru” atau “The Year of a New Paradigm.”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘paradigma’ berarti suatu ‘model/contoh’ dan juga berarti ‘kerangka berpikir’.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya untuk kita adalah: Paradigma baru di dalam hal apa sajakah yang harus terjadi di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya yang masih hidup di bumi ini?

Dalam 2 Samuel 5 dan 6, kita mendapatkan kisah Daud membawa Tabut Perjanjian, yang adalah lambang kehadiran Allah; ke Yerusalem.
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan berkomentar bahwa ketika Daud mengangkut Tabut Perjanjian ke Yerusalem, ia mengubah kota tersebut menjadi pusat penyembahan dan ibu kota Israel. Ia menetapkan ibadah kepada Tuhan sebagai prioritas tertinggi Israel. Ia merestorasi bentuk penyembahan yang lama dengan bentuk yang baru. Perubahan paradigma di dalam penyembahan kepada Tuhan ini dapat menjadi suatu acuan bahwa perubahan paradigma pun dapat terjadi di segala aspek kehidupan orang percaya.

Mari kita tarik mundur pengertian kita tentang paradigma yang baru kepada kisah awal penciptaan. Philip Graham Ryken Ph. D, seorang teolog dari Amerika Serikat dan rektor dari Wheaton College; sebuah universitas Kristen, di dalam bukunya “What is The Christian Worldview?” menuliskan bahwa sejak awal penciptaan, Tuhan menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Allah dengan tujuan agar manusia menguasai dan mengelola segala ciptaanNya dan tinggal ditaman Eden sambil menikmati hubungan yang intim dengan Allah.
Semua hal diciptakan Tuhan baik adanya, dan manusia diperintahkan untuk mengembangkan segala sumber daya yang ada secara maksimal agar manusia dapat menyatakan siapa Allah sebenarnya dan memenuhi bumi dengan kemuliaan-Nya. (Kejadian 2:15)

Tapi karena tertipu, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Sehingga manusia sibuk mencari kepentingan diri sendiri dan melupakan sang Pencipta.
Dengan adanya pengorbanan Yesus disalib maka manusia dipulihkan, status dan identitasnya.

Jadi manusia; secara khusus orang percaya, diperintahkan untuk memuliakan Tuhan melalui bidang-bidang kehidupan dengan mengelola dan mengembangkan talenta dan karunia dalam segala aspek kehidupan di dunia ini.
Dr. Bill Bright, pendiri dari gerakan Campus Crusade for Christ, dan Loren Cunningham, pendiri dari gerakan Youth With A Mission, pada saat yang hampir bersamaan menerima sebuah pewahyuan dari Tuhan mengenai bidang-bidang di mana orang percaya harus memberikan dampak, yang dikenal dengan sebutan The Seven Mountains of Influence/Ketujuh Gunung Pengaruh. Dalam perkembangan selanjutnya, ‘Tujuh Gunung’ ini dikenal dengan istilah ABCDEFG, yaitu:
1. Arts and Entertainment – Seni dan Hiburan
2. Business – Bisnis
3. Church – Gereja
4. Development of the Poor – Pelayanan kepada orang-orang miskin
5. Education – Pendidikan
6. Family – Keluarga
7. Government – Pemerintahan

Lalu apakah kaitan antara Daud membawa Tabut Perjanjian Allah ke Yerusalem dengan ketujuh gunung pengaruh tersebut? Untuk diketahui, Yerusalem yang sebelumnya adalah kota ‘sekuler’ milik orang Yebus dan secara geografis, di antara 7 gunung, Dipulihkan menjadi kota Allah, yang sering disebut sebagai Sion. Oleh sebab itu, hadirat Tuhan memenuhi seluruh bidang kehidupan di kota Yerusalem, bukan hanya di Tabut saja, namun ada dalam atmosfer ilahi. Saat Raja Daud masuk ke kota Yerusalem, ia bukan saja sedang merestorasi bentuk penyembahan kepada Tuhan. Melainkan, ia juga sedang merestorasi bidang-bidang kehidupan lain yang dapat ditafsirkan sebagai ketujuh gunung (A,B,C,D,E,F,G) yang disebutkan di atas.

Dalam Yesaya 43:18, Tuhan berfirman agar umat-Nya tidak lagi mengingat hal-hal yang dulu, artinya, bahkan kesuksesan yang pernah terjadi sebelumnya. Mengapa? Karena Tuhan akan memberikan hal-hal yang baru bagi umat-Nya, yaitu suatu kerangka berpikir baru agar umat-Nya dapat memberikan dampak di dalam bidang-bidang kehidupan di bumi ini.
Bagaimana caranya agar kerangka berpikir baru ini dapat memberikan dampak atau pengaruh bagi 7 gunung ini? Mari kita perhatikan kisah mengenai Stefanus, salah satu dari 7 orang yang dipilih oleh para rasul untuk melayani orang miskin, seorang yang penuh Roh dan hikmat. (Kisah Para Rasul 6:1-7)

Kelihatan pada awalnya sepertinya tugas yang diberikan kepada Stefanus ini sama sekali tidak bersifat spiritual. Namun, Stefanus dipilih karena ia penuh dengan Roh dan hikmat. Stefanus tidak dipilih untuk mengajar Firman atau untuk suatu tugas misi memberitakan Injil, tetapi Tuhan memakai Stefanus secara luar biasa di antara orang-orang yang dia layani. Dapat dikatakan bahwa Stefanus menemukan panggilan ilahi di tengah-tengah pekerjaan sehari-harinya. Karena penuh dengan Roh, bahkan Stefanus mengadakan banyak mukjizat dan tanda di antara orang banyak. (Kisah Para Rasul 6:8)
Di tengah-keadaan ini, mujizat terjadi-namun tetap saja ada orang-orang yang menentang Stefanus. Alkitab mencatat bahwa “mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara”. (Kisah Para Rasul 6:10)
Stefanus berjalan dalam kuasa Roh dan ia membuat dampak yang besar bagi orang-orang di sekitarnya. Ia percaya bahwa ia dipanggil untuk membuat perubahan di di mana ia ditempatkan.

Dari kisah Stefanus kita dapati bahwa kita dapat membuat suatu restorasi di bidang apa saja di mana kita ditempatkan, saat kita berjalan di dalam kuasa Roh Kudus. Dengan kuasa tersebut, sama seperti Daud, kita dipakai ‘membawa’ hadirat Allah ke setiap bidang kehidupan di bumi, yang diwakili oleh ketujuh bidang kehidupan di atas. Membawa hadirat Allah dapat berarti menghadirkan doa, pujian penyembahan, mengimpartasikan nilai-nilai ilahi dari Kerajaan Allah, atau membawa otoritas yang disertai hikmat ilahi di marketplace.

Saat ini kita percaya bahwa Roh Kudus sedang dicurahkan secara luar biasa bagi anak-anak Tuhan menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali ke dunia. Oleh sebab itu, kita percaya bahwa pemberdayaan ilahi ini bukan saja akan mempengaruhi gereja Tuhan secara khusus, tetapi juga akan membawa pengaruh bagi dunia secara umum, sebagaimana kita sebagai orang percaya, diutus Tuhan “seperti domba ke tengah-tengah serigala.” (Matius 10:16)

Tuhan Yesus dalam Amanat Agung-Nya, memanggil setiap orang percaya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Kita pun dipanggil untuk membawa hadirat Tuhan dan membawa perubahan/pengaruh di dalam pekerjaan, keluarga, tempat pendidikan, media, tempat seni dan hiburan, pelayanan kepada kaum marginal, bahkan di pemeritahan kita.
Kita harus yakin bahwa melalui pemberdayaan Roh Kudus, kita dilengkapi dan dimampukan untuk membawa perubahan, pengaruh dan dampak di ketujuh aspek tersebut. Dengan demikian, terjadilah suatu perubahan paradigma yang akan membawa setiap jiwa-jiwa untuk semakin mengenal pribadi Kristus. Kita percaya bahwa inilah kerinduan Tuhan, yaitu saat Kerajaan-Nya menjadi nyata di dunia ini. Pertanyaannya, sudah siapkah anda menjadi agen perubahan paradigma baru?

image source: https://twitter.com/newsboys/status/1010885258139451393

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

TAHUN 2022 THE YEAR OF NEW PARADIGM

Sama seperti Rasul Paulus, kita juga harus berpikir, tidak hanya masuk sorga saja tapi masuk sorga dengan hadiah berupa mahkota. Karena itu mari kita responi, ajakan rasul Paulus untuk memiliki dan menghidupi paradigma yang baru.
Memiliki paradigma yang baru dalam mengikut Tuhan adalah suatu keharusan. Sekali lagi, suatu keharusan. Firman Tuhan berkata, kita harus meninggalkan cara hidup yang lama ketika kita berbalik untuk mengikut Tuhan.
Cara hidup yang lama atau paradigma yang lama termasuk pola pikir, tutur kata, tingkah laku, dan perbuatan kita sehari-hari harus mengalami perubahan. Jadi orang Kristen yang sudah lahir baru tetapi masih memakai paradigma yang lama, perlu bertobat, perlu bertobat!
Apa yang Alkitab katakan tentang paradigma yang baru? Roma 12:2 berkata: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Dalam Bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk “budi” adalah “nous”, yang artinya pikiran, akal budi, pola pikir atau mindset, yang sama juga artinya dengan paradigma. Disini Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran atau paradigma yang baru supaya kita tidak sama lagi dengan dunia ini dan mengerti kehendak Allah.
Sebelum bertobat, pola pikir dan cara hidup kita pasti sama dengan dunia ini. Tinggalkan itu, tinggalkan itu! Masuk ke dalam paradigma yang baru! Ingat, Paradigma yang lama akan menghambat kita untuk mengerti kehendak Allah. Ada pesan Tuhan yang kuat hari-hari ini yaitu agar kita mengerti dan melakukan kehendak Allah pada zaman ini.
Bagaimana supaya kita memiliki pola pikir atau paradigma yang baru? Yaitu melalui Firman Allah dan Roh Kudus. Karena itu baca Alkitab setiap hari. Renungkan, lakukan dan saksikan, dan selalu berkata “Penuhi kami dengan RohMu, ya Tuhan! Biarlah kami dituntun dengan Firman dan RohMu.”
Pada akhirnya diingatkan bahwa paradigma yang lama, yaitu pola pikir duniawi yang berdampak pada kehidupan duniawi akan berujung kepada kebinasaan akan kehilangan keselamatan. Karena itu, miliki dan hidupi paradigma yang baru. Kita akan menjadi serupa dengan gambar Yesus. Kita akan menjadi orang yang berintegritas, kita akan mencari dan memikirkan perkara-perkara yang diatas, bukan yang di bumi sehingga pada saat Tuhan Yesus datang menjemput kita, gerejaNya di awan-awan, kita akan diangkat dan masuk sorga dan akan Bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama-lamanya.
Song: Hosana, Hosana di tempat yang tinggi, Hosana, Hosana di hati yang suci…
Jadi saudara-saudara, memasuki tahun 2022 yang Tuhan berikan tema Tahun Paradigma Yang Baru (The Year of a New Paradigm) maka ada 6 hal yang harus diperhatikan:
1. Tuhan sedang membuat paradigma yang baru dan kita harus menerimanya sebagai pola pikir dan cara pandang yang baru.
2. Tuhan akan menolong dan membebaskan kita dari masalah-masalah yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan kita dengan paradigma yang baru dan kita harus mengerti dan menerimanya.
1 Korintus 2:9 akan kita alami, yaitu: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati…” akan kita alami karena kita mengsihi Tuhan Yesus.
3. Tuhan mengingatkan kita, sebagai orang Kristen yang sudah lahir baru, agar kita meninggalkan kehidupan duniawi yang disebut dengan paradigma yang lama untuk masuk ke dalam paradigma yang baru yaitu kehidupan sorgawi.
4. Untuk itu, kita harus melupakan apa yang ada di belakang kita yaitu kehidupan duniawi dan mengarahkan diri kita kepada apa yang ada di hadapan kita yaitu kehidupan sorgawi dan berlari-lari kepada tujuan yang artinya mengejar sekalipun menderita untuk memperoleh hadiah berupa mahkota, Kita harus berpikir tidak hanya masuk sorga saja, tetapi masuk sorga dengan mendapatkan mahkota. Katakan : “Amin!”
5. Kita harus meminta kepada Tuhan agar dipimpin dengan Firman dan RohNya, supaya kita bisa memahami dan menghidupi paradigma yang baru.
6. Dengan adanya paradigma yang baru ini apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan, yaitu supaya kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah menyelamatkan kita. Supaya dalam era Pentakosta yang ke 3 ini kita menyelesaikan Amanat Agung dan setelah itu Tuhan Yesus datang kembali.
Song: Ku mau slalu bersyukur, slalu bersyukur, Kau Tuhan yang setia yang slalu menopang, Ku mau slalu bersyukur, slalu bersyukur, Kau Bapaku yang setia…
Mari bersyukur, meninggalkan tahun 2021. Apapun yang kita alami, enak maupun tidak enak, mari selalu bersyukur kepada Tuhan. Dan memasuki tahun 2022 kita juga bersyukur. Bapa urapi kami semua, supaya kita semua bisa memahami dan mengidupi paradigma yang baru.

Ringkasan Kotbah Pdt.Dr.Ir.Niko Njotorahardjo

image source: https://www.kcisradio.com/2016/06/18/romans-122-daily-verse/

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma Yang Baru

TAHUN 2022 THE YEAR OF NEW PARADIGM

Kita baru saja masuk tahun baru 2022. Kita baru saja menyelesaikan tahun lalu, yaitu tahun Integritas. The year of Integrity, dimana Tuhan menekankan agar kita hidup ber integritas. Yang artinya, hidup semakin menyerupai gambar Yesus. Mungkin ada yang bertanya-tanya: apakah keadaan saya akan lebih baik atau lebih buruk? Kita harus ber pegang pada Firman Tuhan. Sesuai dengan Ratapan 3:22-23, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”. Kita harus percaya, kasih setia Tuhan selalu baru tiap hari, selalu baru tiap minggu, selalu baru tiap bulan dan selalu baru tiap tahun. Karena itu saya percaya dan perkatakan tahun 2022 akan lebih baik dari tahun 2021 karena kasih setia Tuhan selalu baru setiap pagi.
Song: Kasih setia baru setiap hari, baru setiap hari…..Besar setiaMu Tuhan…
1. Dasar kita percaya karena Ratapan 3:24, “TUHAN adalah bagianku, ” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” Apa yang akan terjadi bila kita tetap berharap kepadaNya?. Yang pertama, Yesaya 40:30-31, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru. mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Yang kedua, hal yang terjadi bagi orang yang berharap kepadaNya, Mazmur 37:23-24, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidup berkenan padaNya. Apabila dia jatuh tak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangannya.”
Perlu dicatat bagi orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan, dia tetap bisa jatuh kedalam berbagai macam pencobaan dan masalah, Alkitab mencatat bila kita jatuh tidak sampai tergeletak karena Tuhan menopang tangannya.
Song: Tuhan menetapkan langkah-langkah orang, yang hidupnya berkenan kepadaNya…
Yang ketiga, hal yang terjadi jika kita berharap kepadaNya adalah sesuai dengan Yeremia 17:7-8, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”
Halleluya!
Hal keempat yang akan terjadi kalau kita berharap kepadaNya, sesuai dengan Mazmur 32:8 dan 33:18, “mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut akan Dia dan berharap pada kasih setiaNya,” Tuhan akan mengajar, menasehati, dan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh. Tuntunan Tuhan ini akan kita mengerti hanya kalau mata kita tertuju kepada Dia.
Alasan yang kedua mengapa kita berkata kalau tahun 2022 akan lebih baik dari tahun 2021 karena hari kita melekat kepada Tuhan, karena kita hidup intim dengan Tuhan. Dalam Mazmur 91:14-16, Tuhan berkata: “Sungguh hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya sebab ia mengenal namaKu. Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari padaKu.”
Jadi kalau hati kita melekat kepada Tuhan, kalau kita hidup intim dengan Tuhan, maka yang pertama, Tuhan akan meluputkan dan membentengi kita terhadap sakit penyakit, panah api dari si jahat, jerat penangkap burung, kedasyatan malam atau terror of the night, yang berbicara tentang penculikan, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, terrorisme dan peperangan.
Hal yang kedua, Tuhan akan menjawab jika kita berseru dalam masa kesesakan. Yang ketiga, Tuhan akan memuliakan kita, dan yang keempat, Tuhan akan memberikan panjang umur dengan berkat yang melimpah, dan yang kelima, Tuhan akan memberikan keselamatan. Halleluya!!
Song: Bless the Lord oh my soul, oh my soul, bless His holy name….
Tuhan menuntun kita untuk memasuki tahun 2022 dengan tema bahwa tahun 2022 adalah Tahun paradigma yang baru, “The Year of New Paradigm”. Definisi paradigma menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah model, dan juga kerangka berpikir. Definisi paradigma menurut Westminster Dictionary of Theological Terms, bahwa paradigma berarti contoh, pola, model, dan istilah ini sering dipakai untuk menunjukkan cara berpikir dalam teologi ketika bahan-bahan dikumpulkan dan diatur dalam satu pola atau cara tertentu seperti dalam doktrin.
Tuhan memberikan ayat emas utk tema ini yaitu Yesaya 43:18-21 dan Filipi 3:13-14. Dalam Yesaya 43 Tuhan berkata dulu bangsa Israel dibebaskan dari kejaran Firaun dan pasukannya dengan cara Firaun dan pasukkannya mati di dalam laut merah. Tetapi sekarang orang Israel akan dibebaskan dari Babel dengan cara yang berbeda. Tuhan berkata “jangan ingat hal-hal yang dulu. Sekarang Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”
Kalau dulu Tuhan menyelamatkan orang Israel lewat jalan laut, sekarang Allah menyelamatkan Israel dengan cara yang baru. Allah akan menyelamatkan mereka lewat jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara. Ini adalah paradigma yang baru. Bagian Tuhan adalah memberikan paradigma yang baru, yang adalah sesuatu yang baru yaitu membuat jalan di padang gurun dan membuat sungai di padang belantara, dimana pada waktu itu hal ini tidak mungkin dikerjakan oleh manusia, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Katakan: “ Amen!”
Tujuan Allah menyelamatkan Israel dari Babel yaitu karena mereka adalah umat pilihan Tuhan, dan yang ditetapkan untuk memberitakan kemasyuran namaNya. Demikian juga bagi kita, umat pilihan Tuhan, pada tahun 2022 Tuhan akan menolong dan membebaskan kita dari masalah-masalah yang terjadi dari seluruh aspek kehidupan kita. Apakah itu sakit penyakit, keluarga, pelayanan, bisinis, masa depan, dengan cara-cara yang baru atau paradigma yang baru.
1 Korintus 2:9 berkata, Tetapi seperti ada tertulis:”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
Apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan? Kita harus memberitakan kemasyuranNya, kita harus menyelesaikan amanat agung dalam era Pentakosta ke 3 ini. 1 Petrus 2:9 berkata,”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Memasuki tahun 2022 ini kita akan melihat bahwa dengan adanya pademi yang sampai sekarang belum selesai maka cara-cara pelayanan di gereja berubah. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara yang lama lagi. Sebagai contoh, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh George Barna, yang dirilis pada tanggal 6 juni 2021 yang lalu, mengenai generasi anak muda di Amerika yang disebut generasi berbeda. Dikatakan bahwa pelayanan gereja selama lima dekade terakhir tidak akan efektif untuk generasi ini, jadi perlu ada paradigma yang baru untuk pelayanan di gereja.
Tuhan sedang membuat pradigma yang baru, sebagai pola yang baru, bagian kita adalah menerima sebagai cara pandang yang baru. Demikian juga dengan cara berbisnis, pasti banyak dari cara-cara yang lama yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Perlu diperhatikan bahwa Wahyu 13:16 pasti akan digenapi, manusia tidak dapat membeli dan menjual jika tidak memiliki tanda antikristus di tangan kanannya atau di dahinya. Dan dengan seijin Tuhan, dunia sedang dibawa kesana untuk menggenapi Wahyu 13:16 tadi. Tetapi bagi kita yang percaya bahwa pengangkatan terjadi sebelum masa sengsara, yang disebut dengan pre-tribulation, kita tidak akan mengalami itu. Sekali lagi saya katakan kepada saudara, kita tidak akan mengalami itu. Sebaiknya kita mempersiapkan diri kita untuk pengangkatan yang sudah sangat-sangat dekat waktunya. Maranata, Tuhan Yesus datang segera!
Jadi dalam tahun paradigma yang baru ini ada tiga hal yang harus diperhatikan,
Yang pertama, paradigma adalah inisiatif Tuhan sendiri yang perlu diresponi oleh umatnya. Ada bagian yang Tuhan perbuat, ada bagian yang umatNya harus lakukan.
Yang kedua, bagian Tuhan membuat sesuatu yang baru, yaitu paradigma sebagai pola.
Yang ketiga, bagian umat Tuhan melihat, menerima dan mengetahui yang Tuhan buat, yaitu paradigma sebagai cara pandang.
Song: Hatiku percaya… hatiku percaya… selalu ku percaya…
Sesuai dengan Filipi 3:7-9 dikatakan, sebagai titik tolak hidup dari Rasul Paulus, menulis,” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Setelah Rasul menerima Yesus, pola pikir nya juga berubah sehingga tujuan dan arah hidupnya juga berubah. Sehingga Rasul Paulus mengajak kita semua untuk menerima panggilan sorgawi dan menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.
Filipi 3:13-14, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan : aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Selamat Menyongsong Tahun 2022 dan menerima paradigma yang baru.
Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://www.postermywall.com/index.php/art/template/a068529399d96ceeb36d7b3f02857988/lamentations-3%3A22-23-quote%2C-life-design-template#.YdMYaWjMK3A

PERTUKARAN ILAHI DALAM HIDUP ORANG PERCAYA

PERTUKARAN ILAHI DALAM HIDUP ORANG PERCAYA

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

Ketika manusia jatuh dalam dosa, maka setiap dosa merupakan hutang yang harus dibayar dengan konsekuensi yaitu maut. Allah adalah kasih, namun juga adil. KasihNya yang besar kepada dunia membuat Allah sendirilah yang membayar hutang dosa manusia dengan jalan lahir sebagai manusia (disebut Anak Allah) dan mengalami maut bagi semua manusia (sebagai Anak manusia).

Yesus Kristus yang kudus dan tidak berdosa, mengambil posisi manusia (pertukaran tempat) untuk menanggung dosa, kutuk dan kelemahan kita, sehingga kita yang percaya kepadaNya memperoleh keselamatan, hidup kekal, pembenaran dan hidup dalam berkat.

“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:4-5)

Sebagai anak-anak Allah yang ada dalam Kristus, orang percaya memiliki benih ilahi karena lahir dari Allah. Kita sudah menjadi ciptaan baru, memiliki identitas dan cara hidup yang baru serta hidup dalam kasih karunia yang melimpah.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20).

Hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi milik Allah. Orang yang sudah menjadi milik Allah akan hidup berpadanan (sesuai) dengan Injil Kristus dan mengerti prinsip pertukaran ilahi :

1. Memberikan kepada Allah (sebagai pemilik hidup kita) apa yang menjadi hakNya

“Berikanlah…kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Matius 22:21)

Tuhan Yesus menyelamatkan manusia agar kita dapat beribadah secara benar kepada Allah. Ibadah yang sejati adalah dengan mempersembahkan roh, jiwa dan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1).

Seluruh anggota tubuh kita serahkan kepada Allah untuk dipakai sebagai senjata-senjata kebenaran. Disiplinkan diri untuk mematikan dan menolak segala sikap hati/motivasi, pikiran, perasaan, perkataan serta perbuatan/kebiasaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran.

“Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Roma 6:13)

Orang percaya yang mengerti prinsip pertukaran ilahi akan memberikan persembahan dan mengembalikan persepuluhan yang adalah hak Allah. Ini dilakukan bukan karena hukum Taurat, tetapi karena kita mau meresponi kasih dan kebaikan Allah dalam hidup kita.

“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.” (Maleakhi 3:10-11)

Saat kita memberikan apa yang menjadi hak Allah, maka akan terjadi pertukaran ilahi dalam hidup kita. Allah akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita sampai berkelimpahan, menghardik segala belalang pelahap sehingga apa saja yang kita kerjakan Tuhan buat berhasil.

2. Saling mengasihi satu dengan yang lain

“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” (1 Yohanes 3:14)

Sebagai orang yang sudah mengalami pertukaran ilahi (berpindah dari dalam maut ke dalam hidup), marilah kita buang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, kejahatan dan fitnah dari antara sesama. Kasih Allah memampukan kita untuk saling mengampuni satu sama lain, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita.

Orang yang saling mengasihi tidak akan mencari kepentingan sendiri tapi mau memikirkan kepentingan orang lain, saling merendahkan hati, menganggap orang lain lebih utama dari pada diri kita (Filipi 2: 3-4; Efesus 4:31-32).

Bukti lain dari mengasihi sesama adalah dengan saling melayani satu sama lain dalam kasih. Orang yang mengerti kasih karunia Allah akan dengan sukacita mengambil bagiannya untuk melayani/menjadi berkat bagi orang lain sesuai dengan talenta/karunia yang Tuhan percayakan.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)

3. Nilai/cara pandang serta kebiasaan yang lama ditukar dengan yang baru

“..yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, an mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24)

Kita dipilih dan ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambarNya agar kemuliaan Allah terpancar dari hidup kita.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8 :29-30)

Kita telah mati bagi dosa tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Manusia lama harus ditanggalkan dan kenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui menurut gambar Kristus.

Di gereja lokal/Cool kita diajari cara hidup yang baru yaitu hidup oleh iman sesuai dengan firman kebenaran. Jangan membawa nilai-nilai serta kebiasaan lama, menjadi sama dengan dunia ini atau membangkitkan rupa-rupa perbuatan daging ke dalam kehidupan pribadi maupun dalam persekutuan saudara seiman. Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Kristus, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Jangan pula menukarkan perkara rohani/kebenaran dengan perkara kedagingan/hal yang sia-sia demi memuaskan hawa nafsu.

“Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.” (Amsal 23:23)

Prinsip pertukaran ilahi dalam hidup orang percaya juga berbicara tentang keadilan Allah. Tuhan Yesus telah merendahkan dan mengosongkan diri serta menderita bagi kita. Meskipun Dia mengalami aniaya yang begitu berat, Ia tidak membalas dan tidak mengancam tetapi menyerahkannya kepada Allah yang menghakimi dengan adil (1 Petrus 2:23).

Saat kita mengalami perlakuan buruk/ ketidakadilan, maka tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan, bersikap menuntut atau menghakimi; sebaliknya rendahkan hati dan serahkan hak penghakiman itu kepada Allah.

Tuhan Yesus bahkan memerintahkan kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Kita dipanggil untuk berespon dengan benar dalam keadaan yang baik maupun tidak baik. Respon yang keliru membuat kita jadi turut terseret dalam dosa orang lain.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” (Matius 5:44, 46-47).

Untuk menerima hidup kekal dalam Kristus Yesus, kita harus rela kehilangan diri (self denial).

“Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:35-37)

Tuhan menyukai hukum dan keadilan, Ia tidak mengijinkan kita saling merugikan satu sama lain (Imamat 25:14). Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan (Amsal 11:1). Jangan berlaku curang terhadap orang lain, bersikap tidak adil atau hanya mau menuai yang baik tapi tidak mau menabur/menjadi berkat. Perkara kedagingan dan sikap tidak adil tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9-10)

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus, marilah kita menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Hiduplah berpadanan dengan Injil serta belajarlah melakukan bagian kita dalam keluarga, gereja lokal/Cool, dalam lingkungan pekerjaan, masyarakat, dsb. Tabur doa, perbuatan kasih, pelayanan ataupun finansial maka kebajikan dan kemurahan belaka yang akan mengikuti kita senantiasa.
Biarlah Roh Kudus yang memberikan kita segala pengertian untuk memahami keadilan Allah melalui prinsip pertukaran ilahi.

image source: https://bibleversestogo.com/products/2-corinthians-5-17-all-things-new

YESUS DATANG KE DUNIA UNTUK MENGGENAPI JANJINYA

YESUS DATANG KE DUNIA UNTUK MENGGENAPI JANJINYA

Hari Natal di rayakan semua orang, sebagian merayakan nya hanya sekedar sebagai suatu liburan akhir tahun. Namun bagi orang percaya, ini adalah saat yang sangat special. Kita rayakan Natal dengan penuh sukacita karena Tuhan itu ada, Tuhan itu baik. Karena begitu besar KasihNya akan dunia ini, sehingga Dia lahir ke dunia sebagai manusia. (Yohanes 1:14)

Pesan natal yang paling utama adalah merenungkan tujuan Yesus Kristus lahir di dunia. Setidaknya ada 3 tujuan Yesus lahir ke dunia:

a. Menggenapi Janji Tuhan
Yesus lahir ke dunia sebagai penggenapan janji Tuhan. Dalam Kitab para nabi, sering disebutkan bahwa Tuhan menjanjikan akan turunnya seorang mesias yang menjadi juru selamat. Di masa pembuangan, umat Israel ber seru dan berharap kepada Tuhan untuk di merdeka kan dari penindasan. Seperti jaman nabi Musa sebelumnya, bangsa Israel di tindas di Mesir, demikian juga saat kerajaan Israel hancur, dan bangsa Israel masuk ke pembuangan dan tertindas. Yesus di harapkan sebagai “The Great Deliverer” seperti Musa. Ternyata Yesus lebih besar dari Musa maupun Abraham, Bapa orang beriman.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berfirman bahwa akan lahir seorang juru selamat dari keturunan Daud di Betlehem. Dengan begitu banyak nubuatan, kelahiran Yesus Kristus ke dunia adalah sebagai penggenapan nubuat nabi-nabi di Perjanjian Lama. Dalam Kitab Kejadian 12:1-3, Tuhan berjanji kepada Abraham, bahwa seluruh bumi akan diberkati dan diselamatkan melalui keturunannya. Bahkan kelahiranNya ditandai dengan hadirnya malaikat dan bintang dilangit sebagai penunjuk jalan bagi orang-orang Majus dari Timur untuk mencari Raja yang lahir di Israel di kota Daud, Betlehem, yaitu Yesus Kristus.
b. Menebus Dosa Manusia
Renungan natal yang patut diulang adalah mengenai karya penebusan dosa yang dilakukan oleh Yesus. Melalui perayaan Natal, kita diajak untuk bersukacita karena kelahiran Yesus yang melepaskan umat manusia dari dosa. Roma 6:23, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Kita harus mengingat bahwa Tuhan rela merendahkan dirinya datang ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa umat manusia. 2 Korintus 5:17-21, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita di benarkan oleh Allah.”
c. Mengajarkan Manusia untuk Beribadah secara Benar
Renungan natal yang ketiga adalah mengingatkan bahwa Yesus lahir ke dunia agar manusia dapat beribadah secara benar dan teratur kepada Tuhan.
Melalui teladan Yesus, kita diajak untuk beribadah dan menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Filipi 2:5-8, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama , menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah , tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. “
Orang yang mau menerima Yesus harus mengosongkan dirinya dari kedagingan dan self. Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Pertukaran Mulia inilah yang membuat ibadah kita berkenan pada Tuhan. “Orang yang mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya, tetapi orang yang kehilangan hidupnya karena setia kepada-Ku, akan mendapat hidupnya.” (Matius 10:39) “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran,” (Yohanes 4:24).
2 Korintus 5:10, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”

image source: https://www.sundaysocial.tv/graphics/the-word-became-flesh-and-made-his-dwelling-among-us-john-114/

PERTUKARAN DI HIDUP MANUSIA

PERTUKARAN DI HIDUP MANUSIA

Tentunya banyak contoh teori pertukaran dalam hidup manusia sebagai bagian dari suatu masyarakat, baik itu pertukaran sosial, pertukaran barang dan jasa, pertukaran status dan posisi dll.. Pertukaran social biasanya terjadi saat orang yang suka memberi dan berkorban pasti banyak temannya. Pertukaran barang dan jasa yang menguntungkan tentunya banyak profit margin nya. Pertukaran yang menguntungkan hanya sebelah pihak ini adalah pertukaran biasa dilakukan dalam dunia yang tidak mengenal Allah.

Namun Tuhan Yesus ajarkan suatu pertukaran yang ber beda dalam Lukas 10:25-37. Yesus menggunakan suatu perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati saat menolong orang yang terluka di pinggir jalan. Orang ini tak berdaya tidak mampu menolong dirinya sendiri. Dan orang Samaria yang baik hati menolong tanpa mengharapkan keuntungan ataupun imbalan. Ini adalah suatu pengorbanan untuk menyelamatkan orang lain. Yesus datang kedunia berkorban supaya menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya. Lebih mudah untuk menyelamatkan orang yang berdosa, dan tidak berdaya, namun penuh penyerahan diri dari pada seseorang yang merasa dirinya benar dan tidak butuh seorang juru selamat.

Bila kita telah menerima kasih Yesus, perbuatlah ini kepada orang lain. Seperti orang Samaria ini hanya tergerak karena belas kasihan, tanpa menimbang untung-rugi dalam tindakan sosialnya demi menyelamatkan orang tsb. Demikian pula Rasul Paulus mengerti tentang pertukaran ini sehingga menulis dalam Filipi 3:8, “Sungguh, segala sesuatu kuanggap rugi dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus Kristus, Tuhanku, yang jauh lebih berharga dari apa pun. Demi Kristus, aku telah kehilangan semuanya — karena semua itu sekarang kuanggap sampah! — supaya aku boleh mendapatkan Kristus.” Rasul Paulus rela kehilangan semua sebagai ganti pengenalan akan Kristus.

Berbeda dengan Adam dan Hawa karena kecurangan dalam hati, mereka ter tipu untuk berbuat jahat di hadapan Tuhan. Tuhan beri Adam dan Hawa otoritas, dan kuasa atas semua ciptaanNya. Kejadian 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak ; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah… lalu Kejadian 2:15, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Adam dan Hawa menukar semua kuasa dan otoritas dari Tuhan dengan kemauan untuk menandingi Tuhan karena tertipu oleh si ular tua (si iblis). Sehingga mereka kehilangan kuasa dan otoritas dari Allah. Ini adalah suatu kecurangan.

Contoh pertukaran lain: Seseorang menikah akan kehilangan status sosial sebagai seorang bujangan dan rela melakukan nya karena rindu membangun suatu keluarga. Kenyataan ada banyak pria/wanita menikah, rindu membangun keluarga, namun tetap mempertahankan kehidupan bujangan nya. Dan mengharapkan pasangan nya untuk berkorban terus menerus tanpa batas demi dirinya dan anak-anaknya. Tuhan membentuk suatu keluarga dari persatuan dua individu yang sepadan, artinya seimbang dan adil. Keluarga yang penuh dengan kecurangan dan pihak tertentu terus menerus se enaknya, mencari keuntungan dari pasangannya, tidak akan bertahan atau berbahagia.

Dalam setiap pertukaran ada ketidak adilan atau kecurangan karena banyak orang tidak mengerti hukum pertukaran ini. Tuhan adalah Tuhan yang adil dan melarang pertukaran yang licik atau tidak adil. Orang yang menukar dengan cara tidak adil akan mengalami kerugian walaupun dalam kalkulasi pikiran nya untung. Hukum keadilan Tuhan tidak bisa di tawar. Orang yang hatinya curang dan berlaku licik menggunakan segala cara seperti ber dusta, mencuri, mengingini harta orang lain untuk mendapatkan apa yang di inginkan dan yang menurut dia adalah suatu keuntungan. Manusia menimbang dengan hati seperti sebuah neraca/timbangan. Dalam Amsal 11:1, “Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.” Orang yang berlaku tidak adil adalah kekejian bagi Tuhan.

Ulangan 25:16, “Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.”

Hendaklah kita mengerti keadilan Tuhan dalam prinsip pertukaran di hidup ini. Untuk menebus kita, Yesus harus mengosongkan diriNya, supaya menjadi sama seperti kita manusia. Bila kita rindu menerima hidup kekal yang ada dalam Kristus Yesus, kita harus rela kehilangan diri kita yang fana dan menerima kekekalanNya. Seberapa banyak kita menyerahkan diri, sebanyak itulah kita menerima Dia. Bila kita rindu menerima hidup kekal namun tetap mempertahankan diri sendiri (kedagingan, ego, dengan curang mencari keuntungan) kiranya keselamatan hanya suatu harapan kosong.

Filipi 2:4, “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah , tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia . 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan, ” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Tuhan Yesus memberkati!

image source: https://worshipperwarrior.org/honesty-in-all-things/

PERTUKARAN MULIA

PERTUKARAN MULIA

Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.” Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal, tidak tersesat tapi diselamatkan. Ini adalah suatu pertukaran yang agung dan mulia. Pertama, Allah mengambil semua yang buruk yang menjadi bagian kita karena dosa dan perbuatan kita, dan mengenakannya pada Anak-Nya, Yesus Kristus. Kemudian, Tuhan mengambil semua kebaikan yang menjadi hak Yesus Kristus karena hidup dan ketaatan-Nya yang tidak berdosa dan memberikannya kepada kita. Itu adalah Pertukaran Agung, dan itu di awali dengan kelahiranNya dan di akhiri dengan kematianNya di kayu salib.

Akibat iman percaya kita kepadaNya, terjadi pertukaran antara ke IlahianNya dengan kedagingan kita. Berikut adalah 3 pertukaran yang terjadi:
#1: TUHAN YESUS KRISTUS MENYERAHKAN HIDUPNYA UNTUK KITA YANG SEHARUSNYA MATI KARENA DOSA UNTUK MENERIMA HIDUPNYA YANG KEKAL.
Ayat Kitab Suci dalam Roma 6.23:
“Karena upah dosa adalah maut; tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Apakah Anda melihat pertukaran yang terjadi yang dinyatakan dalam ayat ini? Tuhan Yesus Kristus mengambil kematian kita dan memberikan hidup-Nya kepada kita. Bukan tentara Romawi atau orang Yahudi yang membunuh Tuhan Yesus Kristus. Dia memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan untuk dosa-dosa kita. Orang berdosa seharusnya mati di salibkan namun Yesus menyerahkan diriNya sebagai ganti kita.

Jadi, itu adalah dosa-dosa Anda, dan dosa-dosa saya yang memakukan Yesus Kristus di kayu salib. Entah kematian orang yang bersalah sebagai hukuman yang adil atas dosa atau kematian pengganti yang tidak bersalah sebagai tindakan kasih karunia. Kematian adalah upah dosa, dan Yesus Kristus bersedia menerima kematian Anda, dan sebagai gantinya, memberikan kepada Anda hidup-Nya, hidup yang kekal.
Kebanyakan orang berpikir tentang kehidupan kekal sebagai sesuatu yang suatu hari nanti akan mereka terima ketika mereka masuk surga. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa orang yang benar-benar diselamatkan memiliki hidup yang kekal saat ini. Roma 5.11 mengatakan, “oleh siapa kita sekarang telah menerima.”
Dan 1 Yohanes 5.11-12 mencatat, “Dan inilah catatannya, bahwa Allah telah memberikan kepada kita hidup yang kekal, dan hidup ini ada di dalam putraNya. Dia yang memiliki putra Allah memiliki hidup; dan dia yang tidak memiliki anak Allah tidak memiliki hidup.”
Mari kita luruskan. Kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang akan Anda dapatkan suatu hari nanti jika Anda benar-benar diselamatkan. Kehidupan kekal adalah sesuatu yang sudah dimiliki oleh orang yang diselamatkan. Vine’s Expository Dictionary Of New Testament Words mendefinisikan hidup ini sebagai “kehidupan dalam arti yang mutlak, hidup seperti yang dimiliki Allah.” Kehidupan seperti ini ada di dalam diri Anda ketika Anda diselamatkan dan Roh Kudus Allah yang berharga berdiam di dalam diri Anda.
Tidak heran Kitab Suci menyebut orang percaya sebagai “pengikut Allah sebagai anak-anak yang dikasihi” dan sebagai “PEWARIS” Kerajaan Allah dan kodrat ilahi.

#2: TUHAN YESUS KRISTUS MENUKAR DOSA KITA DENGAN KEBENARANNYA
2 Korintus 5:21, “Dia yang tidak mengenal dosa, telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Tuhan Yesus Kristus mengeluarkan banyak darah di Taman Getsemani pada malam sebelum penyaliban-Nya? Bukan karena Dia takut mati. Jika itu terjadi, Dia akan melanggar perintah-Nya sendiri untuk
“Jangan takut pada mereka yang membunuh tubuh, dan setelah itu tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan,”
Lukas 12:4. Tidak, Tuhan Yesus Kristus tidak takut mati.
Dia tahu bahwa Dia akan menanggung dosa seluruh dunia ke atas diri-Nya, Yesaya 53:6, Seseorang yang benar-benar murni, benar-benar suci, Yang telah mengenal persekutuan yang tak terputus dengan Bapa sejak kekekalan yang lalu, Yang sangat membenci pemikiran tentang dosa, akan menjadi dosa bagi Anda dan saya. Pikiran menjadi dosa begitu menjijikkan dan mengerikan sehingga Tuhan Yesus Kristus terpisah dari Allah Bapa dan berkeringat darah karenanya.
Inilah yang terjadi ketika Tuhan Yesus Kristus menjadi dosa bagi kita: Dari tengah hari sampai pukul 3:00 sore ada kegelapan di atas bumi. Tepat setelah masa kegelapan berakhir, Tuhan Yesus berseru dari salib, “Eli, Eli, lama sabachthani?”
“Allahku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Itulah satu-satunya saat Putra berbicara kepada Bapa dengan cara itu. Tangisannya adalah tangisan orang yang terhilang, ditinggalkan oleh Tuhan, ditinggalkan dan tanpa harapan, seperti saat kita di tinggalkan.

Itulah yang dilakukan dosa. Itu meninggalkan jiwa yang sepi dan tanpa harapan. Dosa memisahkan manusia dari Tuhan, dan itu menghancurkan segala sesuatu yang Tuhan ciptakan untuk menjadi baik. Di kayu salib Tuhan Yesus mengambil dosamu, Dia mengambil yang buruk, tetapi kemudian menukarnya dengan sesuatu yang baik,
“supaya kita dibenarkan oleh Allah di dalam Dia,”
2 Korintus 5.21. Namun, kita harus bertanya kapan kita memiliki kebenaran ini? Ingat Roma 5.10, “didamaikan dengan Allah dengan kematian putranya; lebih banyak lagi, didamaikan. . . .”
Sejak orang yang percaya Yesus Kristus didamaikan, pertukaran telah terjadi. Itu berarti orang yang diselamatkan itu benar di hadapan Tuhan.
Apa artinya menjadi orang benar di mata Tuhan? Kebajikan adalah kedudukan di hadapan Tuhan yang lebih tinggi daripada tidak bersalah, yaitu keadaan keberadaan seolah-olah dosa tidak pernah dilakukan. Ibrani 8.12 dan 10.17 kedua ayat ini menyatakan,
“Dan dosa serta kesalahan mereka tidak akan Kuingat lagi.”
Di bawah perjanjian lama, tidak mungkin bagi manusia untuk bebas dari kesadaran akan dosa karena perlunya persembahan yang dilakukan berulang-ulang. Setahun sekali, pada Hari Pendamaian, Yom Kippur, kurban baru bagi bangsa harus dipersembahkan oleh imam besar. Namun, persembahan itu hanya menutupi dosa selama satu tahun. Mengenai apa yang Yesus Kristus capai bagi kita melalui darah-Nya, Ibrani 9.14 berkata,
“Berapa lebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal, mempersembahkan diri-Nya sendiri tanpa noda kepada Allah, membersihkan hati nurani Anda dari pekerjaan yang mati untuk melayani Allah yang hidup?”
Jadi, bagaimanakah kebenaran yang oleh iman lebih unggul daripada kemurnian tanpa dosa? Ketidak berdosaan adalah kepolosan, tetapi itu bukan kebenaran. Namun, ketika orang berdosa percaya kepada Kristus, dia tidak diberi status sebagai orang yang tidak bersalah, tetapi menerima kebenaran Kristus, dengan kebenaran selalu menjadi status rohani yang lebih tinggi daripada orang yang tidak bersalah.
Orang yang benar di hadapan Tuhan juga adalah orang yang hati nuraninya bersih dan lurus untuk senantiasa jernih. Tuhan tidak ingin anak-anak-Nya terus-menerus memikirkan dosa-dosa kita. Dia ingin Anda menyadari kebenaran Anda, sebagai gantinya Anda berdiri di hadapan-Nya. Karena Kristus, Anda dapat datang ke hadirat Allah dengan keyakinan, Efesus 3.12:
“Di dalam Dia kita memiliki keberanian dan akses dengan keyakinan melalui iman kepada-Nya.”

Namun, jika kita terus-menerus memikirkan dosa dan bukannya bersukacita dalam kebenaran di dalam Kristus, Anda tidak akan mendekati Allah dengan keyakinan, dan Anda akan cenderung berbuat dosa lagi dan gagal mengikut Yesus. Bukannya orang Kristen tidak akan pernah berbuat dosa. Orang Kristen masih bisa melakukan dosa sekalipun orang Kristen tidak perlu berbuat dosa.
Namun, orang-orang yang diselamatkan telah diampuni, Tuhan tidak lagi mengingat dosa-dosa kita, dan darah Kristus terus menyucikan kita dari dosa, 1 Yohanes 1.7:
“Tetapi jika kita berjalan di dalam terang, seperti Dia di dalam terang, kita memiliki persekutuan satu sama lain, dan darah Yesus Kristus, Putra-Nya, menyucikan kita dari segala dosa.” Satu Yohanes 1.9: “Jika kita mengakui dosa-dosa kita, Dia setia dan adil untuk mengampuni dosa-dosa kita, dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang diselamatkan memiliki kebenaran. Tiga kata membuat ini sangat jelas: Pertama, izinkan saya menunjukkan bahwa kata “mengaku” dalam ayat ini mengacu pada tidak mengucapkan dosa Anda satu per satu dengan harapan akan diampuni. Sama sekali tidak. “Mengakui” adalah kata kerja yang berarti “menyadari.” Ketika seseorang diselamatkan, pertobatannya bertepatan dengan persetujuannya dengan penilaian Allah atas dosa-dosanya. Kata kedua: “Maafkan.” Saya katakan sekali lagi, menurut Ibrani 8:12 dan 10:17; Tuhan telah menunjukkan bahwa dosa orang yang diselamatkan sudah diampuni dan dilupakan.

Pengampunan Allah atas dosa mutlak jadi tidak perlu di ingat-ingat lagi. Sejak Anda mempercayai Kristus sebagai Juruselamat. Kata ketiga: “Bersihkan/Pisahkan.” Kapan dosa dibersihkan? Bukankah pembersihan dosa yang dimaksud di sini dimulai saat Anda percaya Kristus sebagai Juruselamat Anda? 1 Yohanes 1.7:
“darah Yesus Kristus Putra-Nya menyucikan kita dari segala dosa.”
Bila tiga kata ini dipahami dengan benar, dari titik mana dalam kehidupan seseorang ketidakbenaran itu hilang? Sejak saat orang berdosa percaya kepada Tuhan Yesus untuk menyelamatkannya. Dan jika ketidakbenaran itu hilang, apa yang harus menggantikannya? Kebenaran yang harus menggantikan nya.
Pertukaran yang bagus! Yesus Kristus menanggung dosa-dosa kita dan sebagai gantinya memberikan kebenaran-Nya kepada kita. Tentu, orang Kristen melakukan dosa setelah mereka bertobat. Namun, darah Kristus terus membersihkan dosa, dan kebenaran yang diperhitungkan tetap ada, dengan kebenaran kita lebih tinggi daripada kepolosan yang dimiliki Adam sebelum dia berdosa.
#3: TUHAN YESUS KRISTUS TUKAR KEMISKINAN KITA DENGAN KEKAYAANNYA
Sebagian besar pelayanan Yesus Kristus di bumi dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan fisik beberapa orang. Dia menyembuhkan orang sakit tetapi tidak semua yang sakit, memberi kepada orang miskin tetapi tidak semua orang miskin, dan memberi makan orang yang lapar tetapi tidak semua orang lapar. Mungkinkah kekayaan Kristus, keselamatan besar ini, dalam pertukaran Agung dan mulia yang luar biasa mencakup kebutuhan fisik kita?
Lihat di dalam Alkitab di 2 Korintus 8.9:
“Sebab kamu mengetahui kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa sekalipun Ia kaya, namun karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu melalui kemiskinan-Nya menjadi kaya.”
Tentu saja, kami miskin secara rohani dan menjadi kaya secara rohani di dalam Kristus, tetapi konteks di mana ayat ini ditemukan berkaitan dengan proses memberi dan menerima uang, dan kesejahteraan finansial orang Kristen. Dengan mengingat hal itu, apakah Anda melihat pertukaran dalam ayat ini? Yesus Kristus menjadi miskin dengan kemiskinan kita dan memberikan kepada kita kekayaan-Nya atau kesejahteraan finansial-Nya. Sekali lagi, Yesus Kristus mengambil semua yang buruk karena kehidupan kita yang penuh dosa dan memberikan kepada kita semua yang baik karena kehidupan-Nya yang tanpa dosa.

image source:https://www.amazon.com/Child-God-Christian-Watercolor-Composition/dp/1707075719

DITENTUKAN MENJADI SERUPA DENGAN GAMBARAN KRISTUS

DITENTUKAN MENJADI SERUPA DENGAN GAMBARAN KRISTUS

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya
dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,
supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.
Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.
Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Roma 8:29-30
Mungkin sebagian besar kita masih mengingat bahwa sewaktu kita kecil, orang pernah bertanya kepada kita, “Nanti kalau sudah besar, kamu mau jadi apa? Atau mau jadi seperti siapa?” Dengan pikiran yang polos biasanya dijawab, “Saya mau jadi Superman” atau “Saya mau jadi Presiden”. Secara tidak langsung, orang tua yang menanyakan hal tersebut, sedang mengajarkan keserupaan dengan seorang idola yang informasinya sering didengar oleh si anak.
Seiring berjalannya waktu, dengan perkembangan kognitif si anak, konsep keserupaan itu berubah menjadi konsep cita-cita. Kalimat “Saya mau jadi Superman” yang pernah diucapkannya sewaktu kecil mungkin tidak pernah terlontar lagi dari mulutnya, tetapi sekarang yang terlontar adalah “Saya bercita-cita ingin menjadi seperti Thomas Alva Edison yang menemukan lampu.” Tentu yang dimaksud si anak yang beranjak besar ini adalah bahwa ia ingin menjadi seorang penemu seperti seorang Thomas Alva Edison. Ia tidak mungkin menjadi Thomas Alva Edison, tapi ia dapat menjadi serupa dengan beliau dalam hal menjadi seorang penemu.
Seiring dengan makin dewasanya si anak, ia pun akan sadar bahwa menjadi seorang penemu bukanlah hal yang dapat terjadi dalam satu atau dua malam, melainkan butuh bertahun-tahun, seperti yang dilalui idolanya. Dalam hal ini, si anak telah masuk ke dalam suatu proses berpikir, bagaimana caranya untuk bisa menjadi seperti idolanya tersebut. Hal-hal apa saja yang harus dilakukan di dalam proses untuk mencapai tujuannya itu?
Ada 2 (dua) pelajaran penting dari analogi di atas sehubungan dengan konteks “Ditentukan Menjadi Serupa dengan Kristus”:
1. Pemahaman yang Tidak Lengkap
Orang percaya DITENTUKAN oleh Tuhan untuk menjadi serupa dengan Kristus! Itu adalah bagian Tuhan yang menentukan, saya tidak perlu mengusahakan. Saya bisa santai saja, berpikir toh keselamatan karena anugerah. Dan saya sudah percaya kepada Yesus; artinya saya sudah menjadi serupa dengan Kristus tanpa perlu berusaha apa-apa lagi. Ini adalah sebuah pemahaman yang keliru!
Ditentukan Allah menjadi seperti Kristus tidak berhenti hanya sampai pada tahapan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi atau yang sering kita kenal dengan istilah JUSTIFICATION/PEMBENARAN.
Memang benar Justification adalah 100% bagian Allah yang diberikan melalui kematian Tuhan Yesus Kristus bagi kita semua yang percaya. Di tahapan ini, benarlah adanya bahwa kita tidak diselamatkan karena perbuatan baik dan benar.
Sebagaimana dinyatakan dalam Galatia 2:16a dan Roma 5:1, dapat kita lihat bahwa pembenaran adalah tindakan hukum Allah, di mana orang-orang berdosa diberikan status benar oleh karena imannya kepada Yesus Kristus.
Adapun dasar dari pembenaran adalah kematian Kristus, dan pembenaran ini menjadi efektif karena iman di dalam Yesus Kristus. Peristiwa pembenaran ini terjadi sekali dan seketika itu juga menghasilkan pendamaian dengan Allah. Di titik inilah terjadi perubahan status dari ‘orang berdosa’ menjadi ‘anak Allah’. Namun, ditentukan menjadi serupa dengan Kristus tidak berhenti hanya sampai pembenaran saja, lebih dari itu, kita harus masuk kedalam tahapan berikutnya yaitu SANCTIFICATION/ PENGUDUSAN.
Kembali kepada analogi di atas, saat anak beranjak dewasa, ia mulai berpikir; tidak mungkin bisa menjadi seorang penemu jika tidak melakukan apa-apa. Ia harus mempersiapkan dirinya.
2. Menuntut Ketaatan Aktif secara Terus-menerus
“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.”
Roma 6:22
Dari ayat tersebut di atas dapat kita lihat bahwa orang yang sudah dimerdekakan dari dosa (menerima pembenaran), orang tersebut harus masuk ke dalam proses pengudusan dengan menjadi hamba Allah. Proses pengudusan ini juga adalah titik dimulainya perjalanan rohani sebagai orang percaya. Di bagian inilah terjadinya perjuangan untuk mematikan kedagingan untuk semakin hari semakin menjadi serupa dengan Kristus, yaitu dengan cara menghasilkan buah Roh. (Galatia 5:22-23)
Kita perlu mengingat bahwa Tuhan tidak membiarkan orang percaya berjalan di dalam proses pengudusan tanpa arahan. Ia memberikan kepada kita:
a. Firman Tuhan
Tuhan Yesus mengatakan:“Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 15:3
Di dalam doa-Nya kepada Bapa Ia berkata;“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, Firman-Mu adalah kebenaran” Yohanes 17:17
b. Roh Kudus
Roh Kudus bekerja lewat Firman-Nya dengan memberikan penerangan ke dalam hati sehingga impartasi kebenaran Firman Tuhan memampukan orang percaya untuk berjalan di dalam kekudusan. Pengudusan adalah hasil karya Roh Kudus yang ada di dalam kita dan secara sinergi bekerja sama dengan kerelaan kita untuk taat kepada perintah-Nya.
Pekerjaan Roh Kudus dalam pengudusan sangatlah penting, namun tanpa respon orang percaya untuk mengerjakan bagiannya, pengudusan itu tidak akan terwujud.
Jadi, ditentukan menjadi seperti Kristus tidak hanya mencakup pada satu peristiwa orang berdosa menerima Yesus dan mendapat pembenaran, tetapi harus ada usaha aktif manusia untuk terus-menerus taat pada Firman Allah dan Roh Kudus sampai ia menjadi serupa dengan Kristus. (Roma 8:29) Hendaknya pembenaran itu dipandang sebagai suatu fondasi bagi proses pengudusan, di mana status sebagai orang benar memberikan orang percaya kuasa untuk terus berjalan di dalam proses pengudusan.
Arti ‘ditentukan menjadi serupa dengan Kristus’ juga tidak berhenti di Pengudusan. Karena tujuan akhir dari proses pengudusan adalah GLORIFICATION/PEMULIAAN orang percaya, titik di mana orang percaya akan mengalami pengangkatan dan menerima kuasa untuk memerintah bersama dengan Kristus, dan hidup yang kekal. (Wahyu 20:6)
Pemuliaan juga merupakan akhir dari perjalanan rohani orang percaya, di mana tubuh kemuliaan akan diberikan, dan dengan demikian, orang percaya dibebaskan dari kehadiran dosa.
Tuhan Yesus berfirman melalui penglihatan kepada Rasul Yohanes di pulau Patmos. Tujuh kali Ia berkata kepada jemaat-jemaat di Kitab Wahyu, “Barangsiapa menang…” Orang yang menang adalah orang percaya yang berhasil di dalam proses pengudusannya, dan akhirnya dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus.
Pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan adalah 3 (tiga) rangkaian tahapan keselamatan yang dianugerahkan Tuhan kepada semua orang percaya, yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dan melalui 3 tahapan inilah seseorang baru bisa menjadi seperti Kristus.
Oleh karena itu, ditentukan menjadi serupa dengan Kristus itu memiliki dua bagian: yaitu bagian Allah yang menyediakan sebagai provisi, dan bagian manusia memberikan respon terhadap anugerah tersebut. Respon itu adalah bagian dari mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar; dengan tujuan menjadi semakin serupa dengan Kristus. (Filipi 2:12)
Pada akhirnya, orang percaya akan dimuliakan bersama dengan Kristus.
Sudahkah kita sebagai orang percaya meresponi penentuan Allah menjadi serupa dengan Kristus ini dengan benar?

image source: https://www.andrewjspeyer.com/romans-8.html

MEMILIH UNTUK BERSUKACITA

MEMILIH UNTUK BERSUKACITA

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”(Habakuk 3:17-18)

Banyak orang mudah untuk bersukacita ketika keadaan serba baik, nyaman dan menyenangkan. Akan tetapi memilih untuk bersukacita di tengah masalah/penderitaan, tidak semua orang dapat melakukannya. Perhatian kita spontan tertuju kepada apa yang terlihat/realita yang kita alami atau kepada keadaan diri sendiri dan orang lain. Akibatnya pikiran menjadi kacau dan tidak benar, timbul perasaan-perasaan negatif (self pity, marah, kepahitan, menyalahkan pihak lain, bersungut-sungut, dlsb) dan kekuatan kita hilang.

Hal ini terjadi karena fokus kita pada situasi dan orang lain bukan pada Tuhan. Alkitab mengajarkan kita supaya bertekun dalam iman. Ibrani 12:1b-2a mengatakan : “marilah kita bertekun dalam perlombaan iman yg diwajibkan bagi kita dengan mata yang tertuju pada Yesus yang membawa iman kita pada kesempurnaan” karena sukacita dari Roh Kudus telah dicurahkan dalam hati kita. “Supaya kita jangan menjadi lemah dan putus asa.” (Ibrani 12:3b)
Diperlukan pengenalan akan Allah secara pribadi dan hati yang melekat kepadaNya untuk dapat bersukacita dalam segala keadaan.

A. BERSUKACITA DALAM SEGALA KEADAAN

Setelah menjadi anak-anak Allah, kita hidup dengan cara yang baru yaitu oleh iman (bukan menurut pengertian/pikiran sendiri, perasaan/mood, atau karena keadaan). Orang benar akan hidup oleh iman, bukan karena melihat.

Sifat manusia akan cenderung bereaksi dari apa yang dilihat, dipikir atau dirasa sehingga sukar untuk percaya dan tunduk kepada kebenaran firman. Banyak orang yang begitu terbiasa menjadi lekas marah, gusar, bersungut-sungut, sakit hati, pahit/kecewa, dlsb ketika keadaan tidak sesuai dengan yang diharapkan/didoakan.

Orang yang hidup karena melihat atau dipimpin perasaan akan membuat imannya menjadi lemah sehingga tidak menikmati sukacita sejati yang sesungguhnya sudah Tuhan anugerahkan. Respon yang keliru/negatif dalam menyikapi masalah akan membuat damai sejahtera Allah hilang dari hati kita, karena damai sejahtera Allah selalu sejalan dengan kebenaran.

“Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” (Yesaya 32:17)

Sebagai anak-anak Allah, seharusnya kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Keintiman dengan Roh Kudus yang dibangun melalui doa pujian penyembahan serta merenungkan firman membuat hati kita dipenuhi dengan damai sejahtera Allah.

Apa yang harus kita lakukan untuk dapat tetap bersukacita dalam segala keadaan :

1. Jaga hati

Bagian kita adalah menjaga hati dengan segala kewaspadaan supaya tetap dapat menikmati aliran sungai sukacita yang bersumber dari Roh Kudus (Yohanes 7: 38-39).

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Damai sejahtera yang Tuhan Yesus berikan bersumber dari dalam hati yang telah didiami oleh Roh Kudus, bukan disebabkan karena faktor dari luar. Damai sejahtera Allah tidak bergantung pada apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi apa yang terjadi di dalam/siapa yang menguasai hati kita. Itu sebabnya penting sekali untuk menjaga apa yang sedang terjadi di dalam hati agar tidak dikuasai perasaan-perasaan negatif (ungodly emotions).

Kebahagiaan menurut versi dunia bersifat semu dan sementara, tapi damai sejahtera yang sejati hanya didapat oleh hati yang melekat Kristus Yesus, Sang Raja Damai (Yesaya 9:6).

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7)

Damai sejahtera yang berasal dari Allah tidak dibatasi oleh akal pengetahuan, pikiran atau pengertian manusia yang cenderung merupakan reaksi logis dari apa yang terlihat. Damai sejahtera Allah memiliki kekuatan untuk memelihara hati dan pikiran kita agar tetap stabil/tenang dalam segala keadaan.

2. Bersyukur selalu

Orang beriman mampu tetap bersyukur dan bersukacita dalam keadaan apapun karena dalam Yohanes 10:10 Tuhan berjanji memberikan kita hidup dalam segala kelimpahan, salah satunya kelimpahan damai sejahtera.

Dalam pergumulan berat, Ayub tidak sembrono dalam perkataannya tetapi memilih tetap mengucap syukur kepada Allah. Dia dapat melihat bahwa Tuhan itu tetap baik terhadap dirinya, walaupun saat itu Ayub harus menghadapi kenyataan pahit di mana semua hewan ternak dan anak-anaknya mati. Dia selalu ingat seluruh perbuatan dan kebaikan Tuhan dalam hidupnya selama ini.

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)

“Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (Ayub 2:10b)

Kita yang beriman kepada Kristus juga mampu mengucap syukur akan kasih setiaNya yang tak berkesudahan.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23)

Allah yang pernah menolong kita di masa lalu, pasti juga akan menolong kita saat ini dan masa yang akan datang karena Dia tidak pernah berubah.

Iman nabi Habakuk tidak menjadi goyah karena situasi/realita yang mengecewakan. Pengenalannya akan Allah membuat dia memiliki pengharapan yang pasti bahwa ada rancangan Tuhan yang baik dan sempurna di balik semua kejadian yang tampaknya buruk sekalipun.
Sebab itu nabi Habakuk memilih untuk bersorak-sorak di dalam TUHAN, dan beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkannya. Sukacita orang yang mengenal Allah bukan terletak pada harta atau apapun di dunia, melainkan hanya di dalam Kristus.

B. SUKACITA KARENA TUHAN ADALAH PERLINDUNGAN KITA

“Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”(Nehemia 8:10b)

“And do not be worried, for the joy of the Lord is your strength and your stronghold.” (Nehemiah 8:10b, Amplified Bible).

Sukacita Tuhan adalah perlindungan kita. Kata “perlindungan” mengandung makna aman dalam benteng perlindungan Tuhan, berada di dalam kekuatan Tuhan. Ini berbicara tentang keintiman dan pengenalan kita akan Tuhan secara pribadi, tidak bisa sekedar ikut-ikutan atau bergantung kepada iman orang lain. Bersukacita adalah gaya hidup orang beriman yang dewasa.

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” (Mazmur 91:1-2)

Sukacita sejati timbul ketika hati kita percaya dan melekat Tuhan. Sukacita Tuhan adalah perlindungan dan kekuatan kita untuk :

1) Cakap menanggung segala perkara.

Rasul Paulus mengambil keputusan untuk tetap bersukacita meski dirinya dianiaya karena Injil (Filipi 1:18). Dia mengarahkan pandangannya kepada Kristus sehingga bisa melihat segala hal dengan cara pandang kebenaran dan berespon (taat) sesuai firman. Sukacita Tuhan membuat manusia batiniahnya kuat dalam menanggung segala perkara.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

Paulus tidak mengasihani diri/ meratapi penderitaannya, namun mampu melihat maksud dan rencana Allah dibalik semua yang dialaminya (Filipi 1:19). Sukacita Tuhan adalah kekuatan dan perlindungan kita dari panah-panah api si jahat yang mau mencuri, membunuh, membinasakan dan menggagalkan rancangan Tuhan dalam hidup kita.

2) Sabar dan bertekun dalam pengharapan untuk memperoleh janji-janji Tuhan.

Orang beriman memilih untuk bersukacita karena pengharapannya hanya ada dalam Kristus.

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah (Roma 4:18-20).

Sukacita Tuhan menghindarkan kita dari ketakutan, tawar hati dan kecewa meski pada kenyataannya Tuhan belum menjawab doa kita. Kita akan menuai janji Tuhan jika kita tidak menjadi lemah.

3) Menjadi tenang sehingga dapat berdoa.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12)

Sukacita Tuhan memberikan kita kekuatan untuk dapat menguasai diri dan jiwa menjadi tenang sehingga kita dapat berdoa. Doa pujian penyembahan membuat kita tetap terhubung dengan kuasa supernatural Allah yang akan menuntun, meneguhkan dan memampukan untuk menang atas masalah/ujian iman.

Tidak ada masalah yang terlalu besar atau terlalu sulit bagi Tuhan. Saat kita kehilangan sukacita maka hilang juga kekuatan kita. Tapi jika kita bersukacita karena Tuhan, kita menjadi kuat di dalam Dia karena Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.

“sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4b)

Sukacita Tuhan adalah perlindungan dan kekuatan kita pada segala situasi dan tidak dipengaruhi keadaan karena merupakan karya Roh Kudus dalam kita. Tinggallah di dalam kasih Tuhan agar sukacita Tuhan ada di dalam kita, dan sukacita kita menjadi penuh (Yohanes 15:9-11).

image source: https://ridgelightranch.com/product/philippians-4-rejoice-lord-always/