Author: FJ

Home / Articles posted by FJ
MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:1-2)
Saat seseorang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dipanggil keluar dari system dunia dan mulai mengenal Allah. Dari pengajaran Yesus yang selalu membedakan diriNya dengan dunia, kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita untuk menjadi terang dunia. Yesus adalah terang dunia dan memanggil kita kepada terangNya yang ajaib supaya kita menjadi terang di tengah kegelapan dunia ini.
Yohanes 1:1-5, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”
Yohanes 1:9-12, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang , sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya . Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
Sekalipun kita hidup di dunia, Tuhan menyelematkan kita dari dunia dan mengajak kita untuk “tidak” hidup secara duniawi yang menuju kepada kekacauan, kekerasan dan kebinasaan. Seperti seorang anak yang baru lahir, setiap orang percaya diberi susu dan kemudian makanan keras agar bertumbuh dan belajar untuk mengetahui kehendak Allah.
Efesus 4:14-15, “Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru bertumbuh ke arah Dia yang adalah kepala. Sehingga kita bukan lagi anak-anak yang di ombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.”
Efesus 4:17 -24, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
Setiap orang percaya harus tahu kehendak Allah bagi dirinya. Untuk mengetahui dan melakukan kehendak Allah harus membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan sesuai dengan Roma 12:2 sehingga ada transformasi/ Pembaruan akal budi sesuai dengan firman. Sehingga membuat kita dapat membedakan dan mengenal manakah kehendak Allah, untuk kemudian melakukan kehendak Allah bagi dirinya dan bagi generasinya.
Ada 3 level kehendak Allah bagi kita :
1. BAIK
Yaitu selalu hidup dalam pertobatan dan kekudusan. Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap, menjauhi persekutuan dengan Allah dan dengan orang percaya, menjadi bodoh dan degil. Jangan biasakan diri berkompromi dengan dosa/dunia atau berada dalam pergaulan yang buruk (Mazmur 1:1).
Tanggalkan manusia lama (matikan kedagingan dan hawa nafsu), kenakan manusia baru di mana roh, pikiran dan kebiasaan kita terus diperbarui oleh firman. Orang yang hidup oleh iman pasti hidup dalam kekudusan, karena firman Tuhan akan menguduskan kita dalam kebenaran (Yohanes 17:17).
2. BERKENAN
Yaitu mau dimuridkan, berbuah, melayani dan memberi dampak. Seorang murid mau mendisiplinkan diri dan memiliki gaya hidup merenungkan firman, doa pujian dan penyembahan. Dengan demikian dia akan menghasilkan buah dalam ketekunan, seperti ranting yang melekat pada pokok anggur (Yohanes 15:4-5). Buah dalam kehidupan murid Kristus bukan merupakan prestasi/pencapaian, melainkan sesuatu yang dengan sendirinya keluar akibat keintiman bersama Kristus (Mazmur 1:2-3; Markus 4:27b-28). Murid Kristus akan menghasilkan buah pertobatan, buah-buah Roh Kudus, buah kebenaran, buah pelayanan dan buah jiwa-jiwa.
3. SEMPURNA
Yaitu disempurnakan menjadi satu tubuh Kristus (satu Tuhan, satu Roh, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa) agar dunia percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang diutus oleh Bapa. Kehendak Allah yang sempurna adalah agar kita unity dengan Allah (menuruti perintahNya karena kasih) dan dengan orang percaya lainnya (saling mengasihi).
“Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” (Yohanes 17:22-23)

“sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus;dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13 dan 15)
Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, tapi tanpa Allah manusia tidak tahu memilih kehendak bebasnya. Kita yang telah belajar mengenal Kristus harus terus mengalami pembaruan akal budi agar dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.
Pesan Tuhan bulan ini mengajarkan kita untuk berdoa yang sesuai dengan kehendakNya karena doa yang demikian pasti dikabulkan. Jika kita tinggal dalam Kristus dan dalam firmanNya (tahu dan melakukan kehendakNya), maka apa saja yang kita minta akan kita terima (Yohanes 15:7).
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14)

image source: https://twitter.com/sprec61551/status/1145700906496774144

TERTANAM DI GEREJA LOKAL

TERTANAM DI GEREJA LOKAL

Di era pandemi COVID-19 ini di mana kita harus beribadah secara virtual, semua gereja di seluruh dunia berlomba-lomba dalam hal menyajikan konten yang terbaik, display yang estetik, musik yang menarik, dan kemampuan editing yang kekinian.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Barna Research pada bulan Juli 2020 mengenai kehadiran jemaat lintas generasi dalam ibadah virtual di masa pandemi, 40 persen dari generasi baby boomer tetap berada di gereja mereka yang semula, 31 persen dari generasi X, dan hanya 30 persen dari generasi milenial yang tertanam di gereja.

Bagi generasi muda, ‘tertanam di gereja’ mungkin bukan sebuah hal yang mudah; sebaliknya berpindah-pindah atau bahkan tidak bergereja sama sekali bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Tiga alasan terbesar mengapa anak muda tidak tertanam dan meninggalkan gereja menurut penelitian yang dilakukan oleh LifeWay Research adalah:
1. Karena mereka melanjutkan ke jenjang akademis yang lebih tinggi.
2. Karena anggota gereja cenderung menghakimi anak muda dan dinilai munafik.
3. Karena generasi muda tidak merasa terhubung dengan gereja.

Lebih dari ketiga alasan di atas, sebenarnya orang bisa saja memakai alasan apapun, menyalahkan orang lain dan menyalahkan situasi, untuk berpindah-pindah bahkan meninggalkan gereja. Terlebih di era gereja virtual ini di mana semua orang dapat dengan mudah ‘berjemaat’ di gereja manapun di seluruh dunia. Faktanya, seorang Kristen tidak dapat bertumbuh jika tidak tertanam di sebuah gereja lokal.

Kita mungkin pernah mendengar bahwa tertanam di gereja lokal diibaratkan seperti menanam benih. Sebuah benih yang ditanam di dalam tanah tentu saja tidak dapat menghasilkan buah secara instan keesokan harinya. Dibutuhkan waktu untuk benih tersebut berakar, bertunas, menumbuhkan batang dan dedaunan, lalu barulah benih tersebut dapat menghasilkan buah.

Proses pertumbuhan yang paling krusial dari sebuah benih terjadi di dalam tanah, yaitu dalam proses penumbuhan akar. Karena akar adalah bagian yang menentukan seberapa kuat tanaman tersebut nantinya ketika sudah bertumbuh, dan seberapa banyak nutrisi dari tanah yang dapat diserap oleh akar untuk dihantarkan ke bagian-bagian lain dalam tanaman.

Markus 4:26-29 memuat sebuah perumpamaan singkat tentang kerajaan Allah, yang digambarkan dengan proses bercocok tanam. Ayat 27 berkata,
“lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”

Setiap proses untuk bertumbuh yang dialami sebuah benih terjadi di dalam tanah, di tempat gelap di mana tidak ada seorangpun yang bisa melihat dan mengetahuinya. Demikian pula dengan setiap kita sebagai benih; ketika kita berkomitmen untuk tertanam di gereja lokal, kita akan mengalami berbagai proses yang mungkin membuat kita tidak nyaman, dan setiap proses yang kita alami tersebut tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Sayangnya, banyak orang yang menyerah ketika melewati proses krusial ini. Banyak yang tergoda untuk melihat rumput tetangga yang selalu akan terlihat lebih hijau dibandingkan rumput di pekarangan rumah sendiri. Ingat, yang terlihat oleh mata kita hanyalah hasil akhirnya yang sudah tampak baik.

Sementara yang tidak kita lihat adalah proses yang juga dialami oleh rumput tetangga ketika baru ditanam dan masih di dalam tanah. Padahal, benih yang terus menerus dipindah media tanamnya akan membutuhkan waktu lagi untuk beradaptasi dengan tanah yang baru. Proses itu menghambat pertumbuhan, dan tak jarang benih yang terus menerus dipindahkan akan mati dan tidak dapat berbuah lagi.

Yohanes 15:2 menuliskan,“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”
Tuhan menginginkan pertumbuhan dari sebuah benih, dan agar kelak benih tersebut dapat menghasilkan buah yang lebat. Tentu saja hal ini tidak dapat terjadi jika benih tersebut kerap dipindah-pindahkan.

Jika kita tidak tertanam di gereja lokal, maka kita tidak dapat mengalami pertumbuhan yang sempurna, bahkan tanpa kita sadari kita bisa mengalami kematian rohani. Kita tidak dapat menikmati buah yang seharusnya dapat kita hasilkan apabila kita tertanam di gereja lokal.

Lalu, hal-hal apa yang dapat terus mendorong kita untuk tetap tertanam di gereja lokal?

1. Mengubah perspektif kita

Sekali lagi, ketika sebuah benih ditanam ia akan diletakkan di dalam tanah yang gelap dan tak terlihat. Tempat di bawah tanah dan tak terlihat ini juga bisa menjadi situasi yang sama yang dipakai untuk menguburkan jasad orang yang sudah meninggal. Namun letak perbedaannya adalah, benih yang ditanam masih memiliki kehidupan dan dapat mengalami pertumbuhan, sementara jasad yang dikubur sudah tidak dapat hidup kembali.

Itu sebabnya sebagai sebuah benih, kita harus mengubah perspektif kita bahwa ketika kita sedang berada di dalam tanah : kesepian, tidak dilihat orang, sulit bergerak, gelap dan seakan-akan tidak ada jalan keluar; kita bukan sedang dikubur, melainkan kita sedang ditanam!

Jika kita berpikir bahwa kita sudah dikubur, maka tidak akan ada lagi pertumbuhan yang dapat kita alami. Namun ketika kita mengubah perspektif kita bahwa keadaan yang saat ini kita alami di dalam tanah adalah karena kita sedang ditanam dan mengalami proses di dalam tanah, maka kita akan terus bertumbuh hingga waktunya benih tersebut akan tampak di atas tanah dan menghasilkan buah. Kita sedang ditanam, dan bukan dikubur!

2. Jalani proses

Proses adalah bagian terpenting dari perjalanan hidup setiap manusia, di mana manusia dibentuk lewat hal-hal yang sulit agar menjadi semakin baik dan semakin kuat di kemudian hari.
Alkitab berulang kali menggambarkan hidup manusia bagaikan tanah liat di tangan tukang periuk (Yeremia 18:1-6, Roma 9:20-21). Sebelum menjadi bejana, maka tanah liat harus mengalami proses diremukkan, ditekan, diputar berulang kali di meja kerja sang tukang periuk, bahkan dimasukkan dalam tungku untuk dibakar sebelum bejana tersebut jadi sempurna.

Tidak ada seorang pun yang luput dari proses. Proses pecahnya benih untuk bertunas dan mengeluarkan akar juga hal yang harus dilewati setiap benih agar bisa bertumbuh. Ingat, proses inilah yang akan menentukan seberapa kuat akar yang akan kita hasilkan untuk menyokong seluruh pertumbuhan kita nantinya. Oleh sebab itu, mengalami berbagai proses di gereja lokal adalah hal yang wajar, agar kita sebagai benih dapat memiliki akar yang kuat. Dalam proses itulah Tuhan sedang membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus.

Sebelum akhirnya naik ke kayu salib, Yesus juga mengalami berbagai proses yang menyakitkan ketika Ia harus dipukul, dicambuk, dimahkotai duri, diludahi dan dicemooh orang, bahkan sama seperti benih yang ada di dalam tanah, Ia tidak dipandang orang. Namun proses yang dilewati Yesus inilah yang membuat karya keselamatan-Nya menjadi sempurna di atas kayu salib.
Apapun yang kita alami ketika kita tertanam di gereja lokal, mari tetap jalani proses tersebut agar karakter kita semakin dibentuk serupa dengan Kristus.

3. Berhenti membanding-bandingkan

Kita tahu cerita tentang Lea yang selalu merasa tidak dicintai oleh suaminya Yakub, karena Yakub lebih cinta kepada Rahel, istri keduanya. Pada saat itu Lea melahirkan tiga anak laki-laki bagi Yakub sementara Rahel mandul (Kejadian 29:31-34).

Lea yang terus-menerus membandingkan cinta dari Yakub kepada Rahel merasa sedih, tertekan, kesepian, sampai ia mencurahkan perasaannya itu lewat arti nama yang diberikan kepada ketiga anaknya. Ketika Lea terus membanding-bandingkan, ia tidak dapat melihat berkat yang telah diberikan Allah justru kepadanya, yaitu ketika ia dapat melahirkan keturunan bagi Yakub sementara Rahel belum juga mengandung.

Sama seperti kisah Lea, ketika kita sibuk membanding-bandingkan, kita tidak bisa melihat berkat yang telah Allah sediakan di tengah situasi kita saat ini. Dalam konteks ini, ketika kita terus membanding-bandingkan gereja lokal kita, pemimpin kita, rekan sepelayanan kita dengan gereja orang lain, kita tidak dapat melihat berkat dan tujuan yang telah Allah tetapkan ketika Ia menempatkan kita di gereja lokal kita saat ini.

Katakan gereja lokal kita adalah sebuah rumah; tidak ada rumah yang sempurna. Namun setiap rumah yang Tuhan tempatkan bagi kita adalah tempat yang terbaik yang dipilih Tuhan untuk pertumbuhan kita. Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun setiap orang tua yang Tuhan berikan pasti memiliki tujuan, mimpi, dan visi Ilahi bagi setiap kita.

Sebuah kutipan dari Pastor Steven Furtick, “The reason why we struggle with insecurity is because we compare our behind the scenes with everyone else’s highlight reel.”
Alasan mengapa kita terus merasa tidak aman adalah karena kita membandingkan apa yang terjadi di belakang layar kita dengan kesuksesan orang lain.

Keputusan yang paling tepat bagi sebuah benih adalah untuk tetap tertanam di mana ia ditanamkan. Sebagai benih yang ditanam di gereja lokal, mari kita ubah perspektif kita bahwa kita sedang ditanam dan bukan dikubur, jalani proses kita dengan ucapan syukur, dan berhenti membanding-bandingkan. Maka pada waktu-Nya kita akan bertumbuh dan berbuah lebat, sehingga buah tersebut dapat kita nikmati dan juga dinikmati oleh orang lain.

image source: https://www.sundaysocial.tv/graphics/every-branch-that-does-bear-fruit-he-prunes-to-make-it-even-more-fruitful-john-152/

MELAKUKAN IBADAH YANG SEJATI

MELAKUKAN IBADAH YANG SEJATI

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:1-2

Perkenalan awal seseorang dengan ibadah biasanya bila ada daya tarik tertentu seperti makanan atau hadiah. Ada juga yang hanya datang ke gereja untuk bertemu teman atau sekedar memenuhi rasa ingin tahu dengan mendengar kisah menarik tentang tokoh-tokoh Alkitab. Daya tarik lainnya adalah perlombaan atau acara menarik saat Natal atau Paskah. Bagi pribadi kanak-kanak yang sederhana, ibadah itu menyenangkan karena banyak teman, hadiah, makanan, dan cerita menarik. Lalu, bagaimana cara ber ibadah yang berkenan pada Allah?

Sebelumnya mari lihat ayat-ayat Firman yang memberi pengertian tentang ibadah yang keliru. Kesalahan apa saja yang cenderung kita lakukan dalam ibadah? Dan Seperti apa seharusnya ibadah yang sejati dan berkenan kepada Allah?

Ibadah yang Keliru
1. Hanya Perintah Manusia
“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” – Matius 15:9
Mungkin sebagian dari kita menganggap ibadah sebagai kebiasaan turun-temurun dalam keluarga. Suatu rutinitas sejak kecil. Tanpa pengertian rohani, ibadah tampaknya hanya sekadar datang, duduk, dengar, dan pulang. Tanpa rasa haus dan lapar (suatu kerinduan) akan Tuhan ibadah hanya sekedar suatu aktivitas rutin yang bisa membosankan.

Akibatnya, sepulang ibadah, beberapa orang langsung kembali ke kebiasaan lama, takut/kuatir, reaksi emosi yang keliru dan merasa diri benar/congkak. Ibadah demi ibadah yang dijalani akhirnya menjadi sebuah kegiatan fisik tanpa makna rohani yang disertai kerinduan untuk dekat kepada Tuhan.
2. Tidak Dengan Segenap hati
Dan berkatalah Samuel kepada bangsa itu: “Jangan takut; memang kamu telah melakukan segala kejahatan ini, tetapi janganlah berhenti mengikuti TUHAN, melainkan beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu.” – 1 Samuel 12:20

Beberapa waktu lalu, ada seseorang memberi kesaksian bahwa dia sering terlambat dengan berbagai alasan tanpa menyadari bahwa sikap hati nya keliru sampai disadarkan Tuhan dan bertobat. Saya sering terlambat ibadah. Kala itu, saya berpikir Tuhan pasti mengerti keterlambatan ini bukan karena saya malas bangun atau tidur kesiangan. Saya bekerja dan memberi perpuluhan. Dan, saya merasa, Sudah bagus saya tetap pergi ibadah walaupun terlambat. Namun, suatu hari saya sadar bahwa ketika saya terlambat pergi ibadah, sebenarnya saya sudah membuat Tuhan tidak lagi berharga dan penting bagi hidup saya. Menyadari hal tersebut, saya merasa sedih, karena tanpa sadar saya telah menomorsatukan pekerjaan atau hal lain ketimbang Tuhan.
Bila Anda sering terlambat datang ibadah? Apa pun alasannya, itu menunjukkan bahwa Anda belum dengan segenap hati datang kepada Tuhan. Jika Tuhan masih berharga dan penting bagi hidup Anda, Anda pasti akan berusaha pergi ibadah tepat waktu.
3. Mencari Keuntungan
“… percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. – 1 Timotius 6:5
Tanpa sadar, ketika kita datang kepada Tuhan dalam ibadah, kita ingin diberkati. Kita ingin usaha kita dilancarkan, jodoh dipertemukan, keuangan diperbaiki, segala sakit-penyakit diangkat, dan hubungan dalam keluarga dipulihkan. Lalu, apakah salah jika kita memiliki pengharapan tersebut? Tentu, berharap itu sah-sah saja. Namun, jika hanya itu yang memotivasi kita untuk beribadah, berarti kita sudah menganggap ibadah sebagai suatu sumber keuntungan. Bukan lagi karena ingin dekat dengan Tuhan dan mengoreksi hidup kita lewat perenungan firman-Nya. Bila tidak ada kasih dan kerinduan pada Tuhan maka tidak ada keinginan untuk memuji dan menyembah Tuhan.

Ibadah yang Berkenan
Secara khusus di dalam Roma 12:1-2 yang akan kita bahas ini, rasul Paulus menasehatkan kita untuk tetap mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah sebagai ibadah yang sejati. Mari kita perhatikan apakah makna dari masing-masing kata di ayat tsb. berikut ini:
1. Hidup. Kata ‘hidup’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani zaō yang secara harafiah berarti ‘bernafas, tidak mati’. Bukan hanya itu saja, kata ini juga mengandung makna ‘segar, kuat, dan efisien’.
2. Kudus. Kata ‘kudus’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani hagios yang secara harafiah berarti ‘sakral, murni, tidak bercacat secara moral’. Orang percaya yang dikuduskan artinya dipisahkan dan disiapkan untuk setiap pekerjaan yang mulia (2 Timotius 2:21).
3. Berkenan kepada Allah. Kata ‘berkenan’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani euarestos yang secara harafiah berarti ‘menyenangkan, dapat diterima’.
Dari ketiga makna yang rasul Paulus tekankan di atas, maka dapat dipahami bahwa ketika kita mempersembahkan tubuh kepada Tuhan, haruslah dengan potensi/karunia terbaik yang kita miliki, yang disertai dengan pertobatan dari dosa, dan menjalani segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Allah, bukan sesuai keinginan kita. Dengan demikianlah kita sedang melakukan ibadah yang sejati.
Ibadah yang sejati adalah ketika kita menjaga tubuh dan hidup kita agar tetap kudus sehingga berkenan kepada Allah. Tubuh dan hidup yang kudus berarti kita tidak mencemari diri dengan dosa. Tidak merusak bait Allah dalam tubuh kita dengan makanan tidak sehat, minuman keras, atau obat-obatan terlarang. Anda memastikan hidup kita dipakai sebagai alat kebenaran untuk Tuhan. Hidup kita mencerminkan kemuliaan, kebesaran, dan keindahan dari Allah sendiri.
Rasul Paulus menekankan ini karena persembahan merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari sebuah ibadah. Dalam konteks Perjanjian Lama, pemahaman persembahan selalu merujuk kepada hewan kurban, dan hewan yang mau dipersembahkan harus sempurna, yaitu yang tidak bercacat cela. Namun, Kristus telah mati bagi kita di atas kayu salib, sehingga Paulus hendak menekankan bahwa tubuh kitalah yang menjadi persembahan itu sendiri, yang artinya di mana pun kita berada, kita sedang melakukan ibadah kepada Tuhan.
Ini semua dapat kita lakukan dengan sukacita bila di sertai dengan perubahan pola pikir
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” – Roma 12:2
Ibadah yang sejati menuntut adanya perubahan pola pikir. Perubahan pola pikir seperti apa yang Tuhan maksud?
• Tidak lagi menilai segala sesuatu hanya dari materi, tetapi rela meluangkan tenaga, waktu, dan pikiran untuk membantu orang lain mengenal Tuhan secara cuma-cuma.
“Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.” – 1 Tesalonika 2:8
• Pemikiran duniawi (iri hati, amarah, dendam, kebencian) digantikan dengan pemikiran yang rohani (bersyukur, sabar, mengampuni, mengasihi).
“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” – Roma 6:12
• Prinsip hidup yang tidak sesuai firman Tuhan (berbohong demi kebaikan, yang penting happy, “jangan ganggu saya, toh, saya tidak ganggu kamu”) tak lagi berlaku. Sebaliknya, kita memegang teguh kejujuran, ketulusan, peduli pada hidup orang lain, serta melakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan.
“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” – Efesus 4:17
Sudahkah Anda memiliki ibadah yang sejati, yang berkenan kepada Allah? Apakah ibadah Anda selama ini menjadikan Anda pribadi yang merefleksikan gambaran Tuhan—kasih-Nya, pengampunan-Nya, kecintaan-Nya akan Bait Allah, dan kepedulian-Nya terhadap orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan?
Kalau belum, mari kita sama-sama belajar untuk hidup kudus dan memperbaiki pola pikir, di manapun kita berada agar ibadah kita berkenan kepada Tuhan.

A. Keluarga
Keluarga adalah persekutuan gereja dalam ukuran yang terkecil. Dalam keluarga ada peran sebagai orangtua, suami, istri dan anak. Peran kita berbeda, tapi melihat apa yang sudah dibahas sebelumnya, setiap peran yang sudah Tuhan tetapkan bagi kita harus kita jalani dengan yang terbaik. Kehendak Allah kepada pribadi kita dalam sebuah keluarga dapat dilihat dari Efesus 5:22-28, 6:1-4, yakni sebagai pasangan suami istri harus menjalani kekudusan dengan setia pada pasangannya. Sebagai orangtua kita harus mendidik anak kita dengan nilai-nilai Firman Tuhan. Sebagai anak, kita bisa menghormati dan berbakti kepada orangtua kita. Inilah pelayanan kita di dalam keluarga sebagai wujud dari mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.
B. Lingkungan Pekerjaan
Dalam mempersembahkan tubuh kita sebagai wujud ibadah berikutnya adalah dalam lingkungan pekerjaan. Orang percaya dipanggil untuk bekerja, tetapi bukan sekedar bekerja, namun ia harus mampu menghasilkan buah (Filipi 1:22).
Tuhan Yesus pun mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu hal yang lebih dari yang diminta (do extra mile – Matius 5:41). Seorang pimpinan dapat do extra mile dengan selalu mendukung bawahannya untuk bekerja lebih produktif, dan tidak lupa memberikan apresiasi untuk setiap pekerjaan baik yang telah dikerjakan. Seorang karyawan dapat do extra mile dengan cara tetap bertanggung jawab dan proaktif dalam mengerjakan pekerjaan lebih dari yang mungkin diharapkan oleh atasannya.
Kita perlu mengingat nasehat Rasul Paulus bahwa apa pun yang kita perbuat, kita perbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
Pekerjaan dan ibadah adalah satu kesatuan. Bekerja dengan cara melakukan yang terbaik disertai kejujuran dan melakukan semuanya dengan ketulusan untuk
kemuliaan Tuhan, maka inilah wujud nyata dari mempersembahkan tubuh kita yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.
C. Lingkungan Sekitar
Kita adalah makhluk sosial, kita adalah pribadi yang Tuhan percayakan lahir di bangsa ini dengan masyarakat yang beragam. Di tengah-tengah keadaan ekonomi yang kurang baik saat ini, tentulah makin banyak orang-orang yang merasakan imbasnya, apalagi bagi orang-orang yang sejak semula memiliki kondisi ekonomi yang lemah. Orang percaya juga dipanggil untuk memperhatikan kelangsungan hidup mereka ini sesuai dengan apa yang Firman Tuhan katakan di Amsal 19:17,
“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.”
Tidak perlu tunggu harus menjadi lebih berada untuk menolong orang yang kesusahan. Jika kita mau memberikan persembahan yang terbaik sebagai wujud ibadah yang sejati, inilah saatnya kita menolong orang disekitar kita yang mengalami kesusahan. Hal ini serupa apa yang dikatakan Ibrani 13:16
“Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”
Jika sebelumnya kita berpikir bahwa mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah hanya dengan melakukan pelayanan atau pekerjaan di lingkungan gereja, sekarang kita memahami bahwa kehadiran kita di dalam keluarga, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan sekitar adalah wujud nyata dari paradigma baru dalam mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah di zaman ini.
Hal-hal ini selain merupakan wujud nyata penerapan dari Roma 12:1-2, juga merupakan wujud nyata menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia ini. (Matius 5:13-16)
Dan semakin banyak orang dunia yang mengenal Kristus melalui kita, maka kita pun akan menggenapi panggilan kita untuk menjalankan Amanat Agung. Amin,

image source: https://raintreecommunitychurch.com/sermons/total-commitment-low-commitment-culture-romans-121-2/

UNITY ADALAH  TANDA  MENGASIHI

UNITY ADALAH TANDA MENGASIHI

Kehendak Allah bagi dunia adalah menaklukkan segala sesuatu di bawah Yesus Kristus, supaya Ia menjadi semua di dalam semua (1 Korintus 15:28).Tidak ada unity sejati dapat terwujud di luar Kristus. Manusia yang jatuh dalam dosa telah kehilangan belas kasihan dan cenderung bersifat self-centered sehingga tidak mampu mewujudkan kesatuan yang tulus dengan manusia lain. Salah satu contoh dalam Alkitab adalah unity model Babel yang merupakan bentuk pemberontakan terhadap Allah.

Orang percaya harus dipulihkan dan dididik menjadi murid yang dapat dipercaya agar dapat mengasihi Tuhan dan sesama sehingga terjadi unity. Unity harus lebih dulu terjadi dalam Gereja sehingga kemuliaan Kristus terpancar, supaya dunia percaya bahwa Ia adalah Juruselamat yang diutus oleh Bapa

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” (Yohanes 17: 21-23).

Orang percaya dipanggil untuk menjadi satu tubuh Kristus. Tubuh manusia tersusun dari beragam anggota. Semua anggota tubuh berguna dan penting karena memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Ketika salah satu anggota tubuh mengalami disfungsi (tidak berfungsi secara normal/terganggu fungsinya), maka kinerja anggota tubuh lainnya akan ikut terganggu.

Gereja disebut sebagai Tubuh Kristus karena :

– Dipersatukan dalam Kristus melalui karya keselamatan (Efesus 4:4-6).
– Kristus adalah Kepala; Gereja adalah tubuh ( (Efesus 1:22-23).
– Diperlengkapi dengan jawatan serta rupa-rupa karunia rohani untuk bekerja sama dan saling melayani demi kepentingan bersama (1 Korintus 12:4-28).
– Merupakan duta Kristus di dunia untuk melakukan kehendak Allah (Kisah Rasul 1:8; 1 Petrus 2:9).

Analogi gereja sebagai tubuh Kristus merupakan dasar bagi jemaat untuk hidup dalam unity, saling merendahkan hati dan mengasihi, menghargai perbedaan, saling melayani dan melengkapi. Kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain dan kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan tubuh Kristus.

A. Unity dalam tubuh Kristus.

Murid Kristus harus mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui agar memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya, sehingga Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (Christ-centered life). Pembaruan akal budi akan mengembalikan kita sebagai human being yang serupa gambar Allah dan secara unity melakukan fungsinya sebagai bagian dari tubuh Kristus.

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera : satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” (Efesus 4:2-6)

Orang yang telah mengalami pemulihan akan mampu mengasihi. Sesuai firman Tuhan dalam Efesus 4:2-6, sikap mengasihi akan mewujudkan unity dalam tubuh Kristus :

1. Rendah hati (humility).

Semua orang sama berharganya di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Kesadaran akan hal ini membuat kita hidup dalam kerendahan hati. Tidak ada yang patut kita banggakan selain bermegah dalam kasih anugerah Allah. Seorang yang rendah hati bisa melihat dengan jelas keadaan dirinya, tidak mempertahankan kebenaran diri sendiri tapi menjadikan Kristus sebagai tolak ukur kebenaran. Orang yang rendah hati selalu hidup dalam pertobatan, terus memperbaiki diri dan mengucap syukur akan kasih karunia Allah yang memulihkan hidupnya.

2. Lemah lembut (gentleness, meekness).

Adalah kebaikan hati, lembut, santun, belas kasihan, dan menunjukkan perhatian melalui perkataan dan perbuatan. Ia memiliki manusia batiniah yang kuat sehingga mampu mengendalikan diri. Lemah lembut adalah suatu kekuatan dan bukan kelemahan. Orang yang lemah lembut tidak memikirkan kepentingan diri sendiri tapi orang lain demi kebaikannya untuk membangunnya.

3. Sabar (long-suffering, long-tempered).

Sikap tidak menyerah, memiliki daya tahan untuk menanggung tekanan/kesulitan dalam waktu yang lama. Tidak mudah terprovokasi/terpancing untuk membalas dengan kejahatan atau melakukan perbuatan negatif. Lambat untuk menjadi marah, panjang sabar.

4. Menunjukkan kasih dalam hal saling membantu.

Bersedia menerima perbedaan dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sama seperti Kristus telah mengampuni kita, kita juga harus mengampuni orang lain (Markus 11:26). Hanya kasih Agape (unconditional love) yang dapat menyatukan perbedaan, melepaskan pengampunan, mengasihi orang-orang yang sulit dan memimpin mereka ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut.

5. Berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.

Dalam Kristus, kita berada dalam persekutuan dengan RohNya yang memberikan damai sejahtera di hati. Kita diperintahkan untuk memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” (Kolose 3:15).

Gereja menjadi satu tubuh karena hanya ada satu Roh. Roh Kudus memberikan kesatuan dalam gereja. Gereja bertumbuh oleh kuasa Roh Kudus di dalamnya. Kita memiliki pengharapan yang mulia dalam panggilanNya (Efesus 1:18-19), memiliki satu Tuhan, satu iman yang sama kepada kebenaran yaitu Kristus, satu baptisan (1 Korintus 12:13), satu Allah dan Bapa dari semuanya, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

B. Bertumbuh dalam kasih.

Tubuh Kristus bertumbuh secara kuantitas ketika orang yang baru percaya bergabung, dan secara kualitas ketika setiap anggota menggunakan karunianya untuk saling melayani, melengkapi dan saling mengasihi. Kemudian kita akan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus, yang adalah Kepala.

“tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Efesus 4: 15-16).

Walaupun banyak anggota dengan peran dan fungsinya masing-masing, namun sebagai satu tubuh kita diikat menjadi satu, menerima pertumbuhan dan membangun diri dalam kasih Tuhan. Dengan saling melayani, kita akan semakin disempurnakan dalam kasih serta menjadi dewasa dalam iman dan memancarkan karakter Kristus.

C. Mengenakan manusia baru yang terus diperbarui.

Orang yang sudah lahir baru harus menanggalkan cara hidup yang lama. Jika sebelumnya kita hidup mengikuti keinginan dan hawa nafsu yang cemar, maka sekarang sebagai ciptaan baru, cara hidup kita harus berpadanan dengan Injil Kristus.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.” (Efesus 4:17-20)

Seperti apapun besarnya pelayanan atau hebatnya karunia yang Allah berikan kepada kita, tetapi tidak ada seorangpun dari kita yang kebal terhadap dosa. Itu sebabnya firman Tuhan menekankan dengan tegas agar kita jangan lagi (jangan kembali lagi) hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia. Akal budi harus terus-menerus diperbarui supaya kita belajar mengenal Kristus dan mengenal kehendakNya bagi kita.

“yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24)

Bukti kemurnian iman yang teruji dari setiap orang percaya adalah KASIH.
Unity dalam tubuh Kristus adalah bukti bahwa kasih Allah bekerja di antara kita, sehingga kita dapat melakukan Perintah Agung (Matius 22:37-39) dan Amanat Agung (Matius 28:19-20).
Inilah HIDUP KEKAL itu.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-8)

“Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:3-4)

image source: https://www.amazingfacts.org/bible-study/scripture-pictures/the-book-of-1st-john

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN PADA ZAMAN INI

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN PADA ZAMAN INI

Tuhan Yesus mengingatkan kita mengenai persyaratan untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Seperti yang dituliskan dalam Matius 7:21-23, Tuhan Yesus berkata,
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah aku bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Di sini Tuhan Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa melakukan kehendak Bapa yang di sorga merupakan suatu syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Perlu diingat, hal ini tidak berarti bahwa kita dapat memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri atau dengan kekuatan sendiri. Dalam Efesus 2:8-10 Paulus berkata,
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;
itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,…
Karena kita ini buatan Allah…”
Kita mampu melakukan kehendak Tuhan dan menjalankan hidup benar oleh karena kasih karunia yang kita responi dengan iman. Tuhan senantiasa menyediakan kemampuan untuk menaati Dia. Karena itu, kita yang hidupnya intim dengan Tuhan, oleh karena kasih karunia-Nya akan mampu melakukan kehendak Bapa di sorga.
Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pada hari-hari terakhir akan ada ‘banyak orang’, sekali lagi saya katakan ada banyak orang di dalam gereja; yang melayani dan percaya bahwa mereka adalah hamba-hamba Tuhan, tetapi justru Tuhan Yesus tidak pernah mengenal mereka.
Kita diingatkan agar jangan sampai hal ini terjadi kepada kita. Kita harus sungguh-sungguh taat kepada kebenaran Firman Tuhan dan tidak menganggap keberhasilan dalam pelayanan sebagai standar untuk menilai hubungan atau keintiman dengan Tuhan.
Ketika orang-orang itu berkata: “Tuhan, bukankah kami bernubuat, mengusir setan, mengadakan banyak mujizat, demi nama-Mu?” Di situ Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Di sini Alkitab mengajarkan kepada kita, bahwa khotbah yang berapi-api, bersemangat, membuat mujizat, bisa berasal dari Iblis. Rasul Paulus mengingatkan, bahwa Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi, jangan heran kalau pelayan-pelayan Iblis menyamar sebagai pelayan-pelayan Tuhan.
Paulus menerangkan bahwa apa yang tampaknya seperti urapan yang penuh kuasa ternyata dapat merupakan pekerjaan Iblis. Kadang-kadang kita bertanya: “Mengapa pengkhotbah yang hidupnya tidak benar bisa memberi dampak yang luar biasa kepada seseorang yang sungguh-sungguh mengejar kebenaran Tuhan?”
Memang kadang-kadang Tuhan ijinkan hal-hal seperti ini terjadi. Pengertiannya adalah; Tuhan tidak mendukung sang pengkhotbah yang tidak benar, tetapi Dia tetap mendukung kebenaran Alkitab dan mereka yang menerima kebenaran itu dengan iman.
Tuhan pernah berkata tentang Daud dalam Kisah Para Rasul 13:22,
“Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”
Jadi, Tuhan berkenan kepada Daud karena Daud melakukan kehendak-Nya. Kehendak Tuhan yang mana? Kisah Para Rasul 13:36 berkata: “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya…” Jadi, di sini dijelaskan Daud tidak melakukan kehendak Allah pada zaman orang lain, tetapi pada zamannya, yaitu apa yang Allah kehendaki pada waktu itu.
Saya pribadi merindukan untuk mendengarkan Tuhan berkata kepada saya: “Aku telah menemukan Niko bin Njotorahardjo, orang yang berkenan di hati-Ku dan melakukan kehendak-Ku pada zaman ini.” Apakah Saudara juga merindukan hal yang seperti itu?
MELAKUKAN KEHENDAK BAPA
Enam hari sebelum Paskah Tuhan Yesus datang ke Betania, di mana Lazarus pernah dibangkitkan. Mereka mengadakan perjamuan untuk Tuhan Yesus. Marta melayani Dia. Di tengah-tengah perjamuan itu, Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Tuhan Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak narwastu itu semerbak di seluruh rumah itu.
Yudas Iskariot, salah seorang murid Tuhan Yesus, berkata:
“Kenapa minyak narwastu itu tidak dijual saja dengan harga 300 dinar dan uangnya bisa diberikan kepada orang-orang miskin.”
Yudas berkata seperti ini bukan karena dia memperhatikan nasib orang-orang miskin, tetapi karena dia akan mencuri uangnya kalau minyak narwastu itu dijual. Tuhan Yesus berkata:
“Sudahlah, biarlah dia melakukan hal itu untuk mengingatkan hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”
Kemudian Tuhan Yesus meneruskan:
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukan oleh Maria ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”
Wow! Ini suatu penghargaan yang luar biasa yang diberikan Tuhan Yesus kepada Maria.
Sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh Maria sehingga Tuhan Yesus memberikan penghargaan seperti itu? Yang dilakukan oleh Maria dengan mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak narwastu itu adalah menjawab kebutuhan Tuhan Yesus pada waktu itu.
Maria sebenarnya melakukan kehendak Tuhan Yesus pada waktu itu. Tuhan Yesus tahu bahwa sebentar lagi Dia akan mati dengan mengalami penderitaan yang luar biasa.
Ingat Saudara bahwa Tuhan Yesus selain 100% Allah dan Dia juga 100% manusia seperti kita. Dalam keadaan-Nya yang seperti itu, Dia butuh ada orang yang menguatkan, menghibur Dia dan Maria menjawab apa yang Tuhan Yesus butuhkan.
Maria melakukan kehendak Tuhan Yesus pada waktu itu. Tuhan Yesus berkata bahwa apa yang dilakukan oleh Maria dengan mencurahkan minyak narwastu ke kaki Tuhan Yesus dan menyeka dengan rambutnya adalah persiapan untuk hari penguburan-Nya. Sebenarnya setiap kali kita memberitakan Injil, Tuhan Yesus menghendaki agar kita memberitakan tentang apa yang dilakukan oleh Maria, yaitu mengingatkan agar kita melakukan kehendak Tuhan pada zaman ini.
Seperti apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 7:21-23 tadi, yaitu bahwa hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang di sorga akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang akan ikut dalam pengangkatan. Saudara mau ikut dalam pengangkatan? Yang mau katakan: Amin!!
APA KEHENDAK BAPA PADA ZAMAN INI?
Apa yang menjadi kehendak Bapa di sorga pada zaman ini? Pada awal tahun 2009 Tuhan berbicara kepada saya dengan sangat serius dari Wahyu 3:11a, “Aku datang segera…” Saya gemetar dan bertanya: “Tuhan, apa yang akan Tuhan lakukan dan apa yang harus saya kerjakan?” Sekitar 6 bulan kemudian Tuhan baru menjawab pertanyaan saya dengan berkata: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku. Aku akan mencurahkan Roh-Ku,” kata Tuhan. “Pada saat Aku mencurahkan Roh-Ku, maka akan terjadi seperti dalam Yoel 2:28-32.”
Pada waktu Roh Kudus dicurahkan, ada 3 tanda yang akan terjadi:
a. Anak-anak, pemuda dan orang tua akan dipakai Tuhan secara luar biasa.
b. Mujizat-mujizat akan terjadi secara luar biasa.
c. Goncangan-goncangan juga akan terjadi secara luar biasa.
Melalui tiga tanda ini Yoel 2:32 akan terjadi, yaitu akan banyak orang yang berseru kepada nama Tuhan dan mereka yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Jadi akan terjadi penuaian jiwa besar-besaran. Katakan: Amin!
Sejak tahun 2009 itu, hampir di setiap khotbah, saya pasti mengingatkan tentang goncangan yang akan terjadi. Lebih dari 10 tahun saya mengingatkan tentang akan terjadinya goncangan-goncangan ini. Jadi salah satu tanda pencurahan Roh Kudus yang akan terjadi adalah goncangan yang dahsyat. Dan goncangan dahsyat yang Tuhan maksudkan ternyata adalah pandemi COVID-19 yang saat ini sedang melanda di seluruh dunia. Jadi, pandemi COVID-19 ini adalah salah satu tanda bahwa Pentakosta Ketiga sedang dicurahkan.
• Pentakosta Ketiga akan membangkitkan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir sebelum Tuhan Yesus datang kembali.
• Pentakosta Ketiga akan membangkitkan generasi Yeremia, yaitu anak-anak muda yang dipenuhi Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa dan akan bergerak untuk memenangkan jiwa. Gerakan yang akan terjadi akan dimotori oleh generasi Yeremia ini.
• Pentakosta Ketiga akan memberikan kuasa… memberikan kuasa… untuk menyelesaikan Amanat Agung dan setelah itu Tuhan Yesus datang kembali.
Hari-hari ini Tuhan menghendaki agar:
a. Kita berseru dalam doa supaya Pentakosta Ketiga ini digenapi.
b. Kita berdoa dengan bertalu-talu supaya pandemi ini segera berakhir.
Kita boleh berdoa supaya terjadi seperti pada pandemi tahun 1918 yang disebut Flu Spanyol, di mana pada puncak gelombang kedua virus sedang menyerang dengan dahsyatnya, tiba-tiba berhenti, karena virusnya hilang entah kemana. Kita juga harus berdoa untuk pemerintah Indonesia dan pemerintahan semua negara supaya diberikan hikmat untuk mengatasi pandemi ini.
Pada hari Minggu, 11 Juli 2021, jam 2 siang, Dirjen Bimas Kristen dan Dirjen Bimas Katolik, Kementerian Agama Republik Indonesia, mengajak semua umat Kristen dan Katolik untuk berdoa bersama-sama di rumah masing-masing. Kita berdoa dan melakukan seperti yang dituliskan dalam 2 Tawarikh 7:13-14. Saya percaya Tuhan mendengar doa kita.
Melalui segala peristiwa yang terjadi karena pandemi COVID-19 ini, Tuhan juga mengingatkan kita sebagai manusia; Tuhan memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya manusia itu.
Kalau kita membaca dalam kitab Mazmur dikatakan bahwa:
• Manusia itu seperti mimpi, seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat. Jadi artinya tiba-tiba tidak ada lagi.
• Manusia itu seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.
• Manusia itu seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.
Saya percaya melalui pandemi ini, kita diingatkan kembali bahwa kematian bisa datang dengan tiba-tiba kapan saja. Pertanyaannya: “Apakah kita sudah tahu dengan pasti kemana kita akan pergi setelah ini?” Hanya ada 2 tempat tujuan: sorga atau neraka.
Hari-hari ini Tuhan mengingatkan kita: “Bukan hanya orang yang berseru: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Saya berdoa setiap kita akan berkata: “Tuhan, saya akan melakukan kehendak Tuhan pada zaman ini.”

image source: https://thepreachersword.com/2017/03/01/great-verses-of-the-bible-matthew-721-23/

ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN

ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN

Saat menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat secara pribadi, kita menjalani kehidupan yang baru dengan iman kepadaNya. Iman bukan hanya saat kita menerima keselamatan (Efesus 2:8) tetapi juga dalam kehidupan setiap hari sebagai orang percaya. Tuhan Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan membawa iman kita kepada kesempurnaan.

Memelihara dan menumbuhkan iman

Orang benar akan hidup oleh iman. Tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah. Oleh sebab itu, kita perlu memelihara dan menumbuhkan iman dengan belajar menerapkan gaya hidup orang beriman.

Gaya hidup adalah pola hidup yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan cara pandang. Gaya hidup merupakan campuran dari kebiasaan (hal yang dilakukan terus-menerus), cara dalam melakukan sesuatu dan perilaku. Sebagai ciptaan yang baru, orang beriman harus memiliki gaya hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus :

1. Mengerti identitasnya dalam Tuhan.

“Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” (Yesaya 43:1-2)

Kita telah menjadi milik kepunyaan Allah karena karya penebusan Yesus Kristus. Apapun keadaan yang kita alami, Allah berjanji akan selalu menyertai, membela, melindungi dan membawa kita dalam kemenangan.

2. Berjaga-jaga senantiasa (Lukas 21:34-36).

a) Menjaga hati dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23).
b) Menjaga kekudusan, jangan sampai hati dikuasai hawa nafsu, pesta pora, kemabukan serta kepentingan duniawi yang akan menjadi jerat bagi kita ketika hari Tuhan datang.
c) Memiliki kehidupan doa agar senantiasa beroleh kekuatan untuk tetap berdiri dalam iman sampai hari kedatangan Tuhan.

3. Menolak untuk hidup dalam kekuatiran (Matius 6:31-34).

Pesan Tuhan bulan lalu mengingatkan bahwa Allah menjamin orang benar yang hidup oleh iman. Jika kita mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya, maka semua yang kita perlukan akan Tuhan sediakan. Oleh sebab itu orang benar tidak perlu hidup dalam kekuatiran.

Dampak buruk dari kekuatiran :
a) Mematahkan semangat, merusak kesehatan secara jiwa/mental dan secara fisik.
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Amsal 17:22).

b) Kekuatiran adalah seperti mata air yang keruh dan sumber yang kotor (Amsal 25:26).
Tubuh manusia sangat membutuhkan air bersih untuk dapat melangsungkan hidup. Sumber air yang tercemar akan membawa berbagai virus/bakteri yang menyebabkan kerusakan sel dan organ. Ini akan menimbulkan berbagai penyakit bahkan dapat mengancam kehidupan secara fisik. Begitu pula kekuatiran adalah seperti air cemar yang membahayakan kehidupan rohani orang benar.

c) Kekuatiran menghalangi pertumbuhan rohani seseorang (Lukas 8:14).
Orang yang penuh dengan kekuatiran adalah seumpama semak duri yang menghimpit benih yang ditaburkan (yaitu firman Allah) sampai mati. Kekuatiran membuat orang tidak dapat bertumbuh secara rohani sehingga tidak menghasilkan buah yang matang.

4. Selalu hidup dalam pertobatan (dalam kerendahan hati), tinggal diam menantikan Tuhan dan percaya (Yesaya 30:15a).

Orang beriman menyerahkan hidupnya secara penuh kepada Tuhan. Hidupnya adalah hidup karena percaya dan bukan karena melihat. Kepercayaannya kepada Tuhan disertai dengan tindakan/ketaatan sebagai demonstrasi kasih. Orang beriman juga akan memiliki hati yang mau diajar (rendah hati) dan mengandalkan Tuhan.

Seiring dengan penerapan gaya hidup, iman akan mengalami pertumbuhan. Iman bertumbuh melalui :

1. Pembacaan Kitab Suci (Roma 10:17).
Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Roh Kudus menyingkapkan firman yang kita baca, sehingga memberi terang, memberi pengertian dan menimbulkan iman (Mazmur 119:130). Hati yang lemah lembut (tanah hati yang baik) akan membuat iman bertumbuh dan menghasilkan hidup yang berbuah.

2. Penganiayaan (1 Petrus 4:12-19)
Setiap orang yang mau hidup beribadah kepada Kristus akan menderita aniaya. Dunia memang membenci Yesus dan para muridNya. Kita disebut berbahagia jika menderita karena Kristus dan karena kebenaran, karena besar upah yang menanti. Penganiayaan atau menderita karena kebenaran merupakan ujian yang justru akan membuat iman semakin bertumbuh, kuat dan dimurnikan.

Menjadi murid Kristus yang dapat dipercaya

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Timotius 2:2)

Tuhan Yesus memberikan Amanat Agung bagi kita, orang yang beriman kepadaNya, untuk pergi menjadikan semua bangsa murid Kristus dan mengajarkan mereka segala sesuatu yang Tuhan perintahkan (Matius 28:19-20). Sebelum menjadikan semua bangsa murid Kristus, kita harus belajar menjadi murid terlebih dahulu.
Kualitas murid yang sejati adalah orang yang hidup oleh iman kepada Kristus atas dasar kasih, menjadi serupa dengan Dia dan dapat dipercaya. Dapat dipercaya di sini maksudnya adalah memiliki ketaatan dan kesetiaan kepada Kristus, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

Untuk menjadi murid Kristus yang dapat dipercaya, ada 2 faktor yang perlu diperhatikan :

a. Inteligensi
Adalah daya reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat baik secara fisik maupun mental, terhadap pengalaman baru; membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru; kecerdasan. Secara sederhana, inteligensi adalah kemampuan untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan serta ketrampilan.

b. Integritas
Menurut Westminster Dictionary of Theological Terms, integritas adalah sebuah istilah teologis untuk menunjukkan kemurnian dan kejujuran sebagaimana manusia diciptakan dalam rupa dan gambar Allah dalam Kejadian 1: 26-27.

Ciri karakter yang berintegritas adalah kelakuan yang bersih, sikap dan motivasi hati yang murni, tidak hidup mengikuti hawa nafsu, tidak bersumpah palsu, jujur serta tulus ikhlas. Orang yang berintegritas akan memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran dan berani bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tahun 2021 merupakan Tahun Integritas di mana kita membangun karakter ilahi dengan kuasa Roh Kudus.

Orang yang hidup oleh iman harus memakai inteligensi yang dimilikinya secara berintegritas agar dapat dipercaya untuk mengemban tugas Amanat Agung. Tentu banyak ujian dan tantangan yang harus dihadapi, namun demikian firman Tuhan memerintahkan kita untuk tidak mundur dari iman kepada Allah.

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala,
sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Murid Kristus diumpamakan seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Serigala ialah lambang dari binatang yang buas, liar, gemar menyerang dan memangsa, hidup bebas mengikuti nafsu/nalurinya sendiri untuk bertahan hidup. Arus dunia, goncangan dan tantangan adalah seperti serigala bagi kita. Dalam menghadapi ‘serigala-serigala’ tersebut, Tuhan menghendaki kita untuk memiliki ke dua sifat ini : cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Perlu dipahami bahwa cerdik berbeda dengan licik, dan tulus berbeda dengan polos/lugu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘cerdik’ memiliki arti mampu membaca dan mengerti situasi, mampu memberikan solusi dan banyak akal.

Dalam bahasa Yunani, kata ‘cerdik’ pada Matius 10:16 mengandung pengertian yang dalam Bahasa Inggrisnya diterjemahkan ‘wise’ (bijaksana) yaitu kemampuan untuk memahami ide-ide dan situasi-situasi yang sulit untuk membuat keputusan yang baik; memiliki persepsi yang tajam dan melihat jauh ke depan, penuh kehati-hatian dalam berkata-kata/bertindak melihat situasi dan kondisi yang ada.

Ular memiliki sifat yang mampu mengenali mangsa dan keadaan bahaya serta keadaan di sekitarnya. Murid Kristus harus memiliki sifat ‘cerdik seperti ular’ dalam artian memiliki hikmat bijaksana dalam menilai segala sesuatu, berhati-hati dalam berkata-kata dan dalam bertindak mengambil keputusan. Tidak sembrono tapi melangkah dalam ketepatan. Kecerdikan tidak digunakan untuk merugikan orang lain ataupun memuaskan hawa nafsu demi kesenangan pribadi.

Merpati dikenal sebagai lambang ketulusan dan kesetiaan. Ketulusan dalam Matius 10:16, diterjemahkan sebagai ‘innocent’ dalam bahan Inggris, yang berarti: tidak tercampur, murni, bersih. KBBI menjelaskan ketulusan sebagai kesungguhan, kebersihan hati dan kejujuran.

Kecerdikan menekankan tentang cara dan metode, sementara ketulusan menekankan tentang motivasi yang dilandasi dengan rasa hormat dan kasih akan Tuhan. Hati harus selalu dijaga agar tetap bersih, tidak memiliki niat jahat untuk menjatuhkan, melukai, memperalat, memanipulasi atau merugikan orang lain.

Kita tidak diperintahkan hanya cerdik seperti ular atau hanya tulus seperti merpati. Kecerdikan tanpa ketulusan bisa disalahgunakan demi memuaskan hawa nafsu. Ketulusan tanpa kecerdikan membuat seseorang jadi kurang/tidak produktif. Kita harus memiliki keduanya : cerdik dan tulus hati. Inteligensi harus sejalan dengan integritas agar kita menjadi murid Kristus yang dapat dipercaya.

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami : sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” (1 Korintus 4:1-2)

Orang benar akan mencari perkenanan Allah, itulah yang membuatnya pantang mengundurkan diri. Dalam menghadapi penganiayaan, pergumulan dan tantangan, dia tidak mundur dari iman. Dalam proses dan didikan Tuhan, dia tetap menjalani dengan kerendahan hati dan ketabahan. Dalam segala kelemahan dan keterbatasan, dengan iman dia mengandalkan Tuhan. Dalam menanti janji Tuhan yang belum digenapi, dia tetap menanti dengan sabar, setia dan bertekun.

Dengan iman kita diselamatkan, dengan iman kita hidup bagi Allah dan melakukan Amanat Agung, dengan iman kita menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir.

“Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibrani 10: 38-39)

image source: https://bibleversestogo.com/products/ephesians-2-8-9-saved-through-faith

KUALITAS – BUKAN POPULARITAS

KUALITAS – BUKAN POPULARITAS

Integritas bukan hanya soal selarasnya ucapan dan perbuatan, tetapi juga berpegang teguhnya seseorang pada prinsip-prinsip kebenaran, dan memiliki keberanian untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran tersebut. Integritas tidak dapat dibangun dengan setengah-setengah, harus dengan totalitas atau sepenuh hati. Hal ini hanya dapat dicapai apabila kita konsisten. Jangan pernah malu untuk melakukan kebenaran. Kita tidak boleh malu melakukan sesuatu yang benar walaupun lingkungan kita menganggap apa yang kita lakukan itu sebagai sesuatu yang aneh.
Kita harus mampu berkata sebagaimana dinyatakan oleh firman Tuhan:“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5:37 serta berpegang teguh dengan prinsip kebenaran di tengah dunia yang penuh dosa dan sandiwara.
Dalam dunia kerja, bisnis maupun pelayanan seringkali kita diperhadapkan dengan situasi yang ‘memaksa’ kita melakukan sesuatu yang tidak benar, karena yang meminta untuk melakukannya adalah atasan, sehingga kita tidak berani menolak atau mengatakan ‘tidak’. Menghadapi situasi demikian kita dituntut memiliki keberanian untuk mengatakan tidak! Sekalipun mengandung resiko menerima teguran bahkan pemecatan. Sebab sekali kita melakukan kompromi untuk melakukan hal yang tidak benar maka kita akan terus menerus diminta untuk melakukan kompromi tersebut di lain kesempatan, sehingga pada akhirnya kita tidak lagi merasa bahwa yang kita lakukan tersebut adalah dosa; karena sudah menjadi kebiasaan yang membentuk karakter.
Tidak dapat dipungkiri, mereka yang bersedia melakukan ‘hal-hal yang kotor’ untuk pimpinan biasanya menjadi ‘anak emas’ dan mendapatkan banyak keuntungan dan bonus dari atasan.
Sebagai seorang Kristen, bagaimana kita dapat menjalankan iman tanpa kompromi di dunia yang penuh dengan godaan? Sebab adalah sebuah kenyataan, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa godaan yang dapat mengakibatkan kita menjadi tidak taat kepada Tuhan. Bagaimana kita sebagai orang percaya mempertahankan intergritas kita tanpa menggadaikan iman dan kebenaran yang kita pegang? Apa yang harus kita lakukan ketika tantangan/godaan itu datang dan kita tetap memegang integritas?
1. Tidak Hanyut/Larut dengan Dunia
Toleransi yang dipahami sebagian besar orang pada masa ini bukan lagi toleransi sejati yang sejak dulu kita kenal, tetapi lebih mengarah kepada kompromi. Toleransi yang dianut mayoritas orang saat ini adalah toleransi buatan postmodernism, yang sengaja diciptakan untuk melawan kebenaran Alkitab. Di zaman sekarang ini, fenomena yang nampak adalah semakin berkurangnya umat Kristen yang berani berdiri teguh dalam mempertahankan kebenaran firman Tuhan dalam praktek hidup sehari-hari. Kompromi dan kemunafikan sudah dianggap biasa di kalangan gereja yang mana dulunya mengajarkan dan sangat menekankan pentingnya ketaatan pada firman Tuhan.
Di zaman postmodernism ini, toleransi (versi baru postmodernism, yang tidak lain adalah nama baru untuk dosa kompromi) adalah kebajikan atau hikmat yang paling utama yang sering dibicarakan orang pada umumnya. Orang yang toleran selalu dianggap sebagai orang yang berpikiran luas, bebas, humanis—kecuali kekristenan yang Alkitabiah.
Daniel adalah seorang pemuda Israel yang mengalami pembuangan pada saat Yerusalem ditaklukkan oleh Babel. Raja Babel mempunyai strategi membawa orang-orang terbaik dari negara taklukannya untuk dibawa ke Babel. Di sana, mereka diajar ilmu pengetahuan dunia, dibentuk karakternya, serta dicuci otaknya. Mereka sangat diistimewakan. Saking istimewanya, mereka bahkan diberi makanan sama seperti yang dimakan raja. Harapannya, orang-orang unggulan itu akan loyal kepada Babel (Daniel 1). Namun bagaimana respon Daniel? Walaupun mendapatkan kehidupan yang enak dan masa depan yang cerah di negeri yang baru, Daniel tetap memilih untuk menjalankan perintah Tuhan. Dia menolak memakan makanan raja. Kemungkinan besar, Daniel menolaknya karena makanan itu tidak sesuai dengan hukum Taurat (Imamat 11) yang berlaku bagi umat Tuhan saat itu. Daniel sadar bahwa berada di manapun, dia tetaplah anak Tuhan. Dia dengan sadar tetap meninggikan Tuhan, walaupun hidup di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan!
2. Tidak Malu Menghidupi Kebenaran
Salah satu perjuangan dalam hidup beriman orang Kristen ialah bagaimana hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran berarti hidup tanpa kepalsuan, hidup tanpa manipulasi. Dengan kata lain hidup dalam kebenaran berarti hidup secara jujur. Sebagai orang Kristiani yang mengakui diri sebagai pengikut Kristus mesti menyadari bahkan mempraktekkan kebenaran dalam hidup; bahwa Allah adalah kebenaran. Dalam diri Allah tidak ada kepalsuan, karena Allah adalah Kebenaran. Selalu ada keselarasan antara apa yang dikatakan Allah dan yang diperbuat-Nya.
Menurut orang dunia zaman ini, perintah-perintah Yesus Kristus terlalu susah, keras, kaku, dan tidak relevan di zaman postmodernism ini. Kebenaran objektif dan mutlak merupakan kebenaran yang tidak tergantung pada perasaan, hasrat, dan kepercayaan subjektif suatu ciptaan manapun. Kebenaran Allah tidak tergantung pada pengalaman atau penafsiran individu atau kelompok manapun. Kebenaran Allah adalah benar tanpa pengecualian. Orang Kristen yang sejati melihat integritas dirinya sebagai suatu‘harga diri’ terpenting, dan kemunafikan sebagai sifat yang paling buruk dan tidak boleh ada dalam dirinya.
Kita tak perlu merasa malu berpihak pada kebenaran dan melakukan apa yang benar. Alkitab berkata: “Jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4:16
Biarlah kita memuji Tuhan, sekalipun kita dihina karena nama-Nya.
3. Hidup seperti Yesus Hidup
Bagaimana cara kita bisa hidup dalam kebenaran? Pertama, Yesus adalah Kebenaran. Untuk dapat hidup secara benar, maka kita harus hidup dalam Yesus. Artinya bahwa hidup sesuai dengan yang dipraktekkan oleh Yesus sendiri,
“Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” I Yohanes 2:5-6
‘Hidup menjadi sama seperti Kristus’ merupakan kehendak Bapa. Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5:48
Barangsiapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia; pengertiannya menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hidupnya; ia wajib hidup sama seperti Yesus hidup. Jadi apa yang Yesus perbuat dan lakukan selama hidup-Nya wajib dilakukannya juga.
Namun hidup sama seperti Kristus bukan berarti kita menjalani hidup yang sangat berat, tidak bebas, dengan tumpukan tugas dan tanggung jawab serta segudang larangan. Jika kita menyadari bahwa status kita adalah anak Tuhan, maka kita wajib menjalani suatu kehidupan menurut apa yang telah ditetapkan Tuhan bagi kita, sebagaimana Kristus taat mengerjakan apa yang ditetapkan oleh Bapa-Nya. Itulah yang menjadi kunci rahasia keberhasilan Kristus!
Jika kita ingin menjadi orang Kristen yang berhasil kita pun harus mengikuti jejak-Nya. Seringkali kita berpikir bahwa hidup sama seperti Kristus menjadikan kita hidup dalam penderitaan dan terkekang. Padahal,
“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Yohanes 8:31-32
Itulah sebabnya selama berada di bumi Yesus tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Waktu dan segenap keberadaan hidup-Nya sepenuhnya dicurahkan untuk melakukan kehendak Bapa-Nya secara sempurna. Sudahkah kita hidup sama seperti Kristus? Jika kita berjalan seturut kehendak Tuhan dan meneladani-Nya, maka kita telah hidup seperti Dia.
Jadi ketika dunia menawarkan untuk serupa dengannya, haruslah kita menolak dan berani mengambil keputusan yang berintegritas, yaitu dengan cara tidak larut dengan dunia serta segala kenikmatannya, tidak malu menghidupi kebenaran yang sejati, dan yang terutama hiduplah seperti Yesus hidup. Maka kita akan menjadi orang percaya yang berintegritas penuh di tengah dunia pada zaman ini. Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://www.hearthymn.com/let-your-yes-be-yes.html

HIDUP DALAM JANJI BERKAT ABRAHAM

HIDUP DALAM JANJI BERKAT ABRAHAM

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian 12:2)

Orang baik akan meninggalkan warisan bagi anak cucunya. Ia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri tetapi memikirkan generasi setelahnya supaya mereka juga hidup dalam segala berkat dan keberhasilan yang dia alami. Warisan terpenting yang ditinggalkan adalah harta kekal, yang tidak dapat habis, dicuri dan rusak. Harta kekal tersebut adalah warisan iman yang mengajar anak cucunya untuk hidup dalam hormat dan takut akan Allah serta berpegang kepada perintahNya.

Yang membuat seseorang hidup diberkati serta berhasil adalah penyertaan Allah dan bukan harta materi. Kita tidak perlu sibuk mengejar/mengumpulkan harta duniawi, karena firman Tuhan mengatakan bahwa kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar yang hidup oleh iman.

Dalam melakukan kehendak Allah, Abraham tidak secara instan memiliki iman yang berintegritas (dapat diandalkan, teruji dan bertanggung jawab). Dia juga harus mengalami pendewasaan iman melalui berbagai proses (Kejadian 12-22). Tantangan dan ujian harus dilaluinya; baik dalam hal ketaatan, kasih, kesetiaan, kerajinan, ketekunan dan kesabaran. Kasih karunia Allah yang berlimpah membuat Abraham hidup berkemenangan dalam semuanya itu, sehingga dia disebut sebagai bapa orang beriman.

Allah juga hendak menggenapi janji berkat Abraham kepada kita yang hidup oleh iman kepada Kristus :

1. ELEVATION (diangkat naik oleh Tuhan)

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar” (I will make you a great nation) :

a. Allah menetapkan kita sebagai bangsa pilihan yang disertaiNya (1 Petrus 2:9a) dan diangkat mengatasi segala bangsa di bumi (Ulangan 28:1b). Segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atas kita, dan mereka akan takut (Ulangan 28: 10).
b. Diangkat menjadi kepala dan bukan menjadi ekor (Ulangan 28:13). Kita serta keturunan kita akan menjadi dampak bagi bangsa-bangsa untuk memimpin mereka datang menyembah Allah.
c. Akan tetap naik dan bukan turun karena ditopang oleh kekuatan kasih karunia. Tidak ada yang bisa menggugat, menurunkan dan menjatuhkan orang-orang pilihan Allah (Roma 8:31).
d. Bangsa pilihan berjalan dalam iman yang mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4-5), Tuhan melindungi kita dari musuh (Ulangan 28:7).

2. ABUNDANT (berlimpah, more than enough, sufficient)

“dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur” (I will bless you and make your name great). Tuhan Yesus datang memberikan kita hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Zoe life) :

a. Diberikan segala berkat rohani dalam sorga yaitu semua yang Tuhan Yesus sudah lakukan melalui karya keselamatanNya (Efesus 1:3-13).
b. diberikan segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh (2 Petrus 1:3-4).
c. berkecukupan di dalam segala sesuatu, berkelebihan dalam pelbagai kebajikan, terjadi pelipatgandaan hasil, berbuah kebenaran dan kemurahan hati/generosity (2 Korintus 9:8-11).
d. berkat atas anak cucu/keturunan, usaha dan hasilnya, penyediaan Tuhan atas semua yang kita perlukan (Ulangan 28:3-8; Filipi 4:19; Yakobus 1:5).

3. BE A BLESSING TO OTHERS (memberkati orang lain)

“dan engkau akan menjadi berkat” (and you shall be a blessings) :

Tujuan Tuhan memberkati supaya kita menjadi berkat bagi sesama, bukan untuk mengumpulkan harta dan memuaskan hawa nafsu/rencana pribadi. Orang benar tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Allah.
Allah telah mendemonstrasikan kasihNya melalui Kristus Yesus, untuk memberikan anugerah berkat keselamatan bagi segala bangsa. Ia mau supaya bangsa pilihanNya menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa, sebagai penggenapan janji kekal yang diikatNya dengan Abraham serta keturunannya.

Cara pandang yang benar tentang berkat

Kita harus memiliki cara pandang yang benar untuk memahami apa dan bagaimana sesungguhnya berkat yang Allah janjikan bagi kita. Pemahaman yang benar akan membuat kita hidup dalam berkat, mampu mengelola, menyalurkan dan melipatgandakannya. Cara pandang yang keliru akan membuat kita tidak mengenali berkat Tuhan, menyia-nyiakan, menyalahgunakan, tidak bisa mengelola atau menyalurkannya dengan benar, bahkan bisa menjadi sumber masalah atau malah mencelakakan.

Secara garis besar, arti dan maksud dari berkat adalah :
1) Kekuatan serta kemampuan yang Allah berikan kepada seseorang untuk menggenapi rancangan/rencanaNya (Kejadian 1:28).
2) Anugerah dan kasih karunia Tuhan kepada ciptaanNya untuk membawa kebaikan dan bukan kecelakaan (Amsal 10:22).

Saat memutuskan untuk percaya kepada Kristus, sesungguhnya kita telah dikaruniai segala berkat rohani (Efesus 1:3) yang berguna untuk hidup saat ini maupun hidup yang akan datang. Melalui Kristus, Allah telah menganugerahkan keselamatan, identitas sebagai anak-anak Allah, segala yang berguna untuk hidup yang saleh, damai sejahtera, kesehatan, pemulihan, kemenangan, potensi, pengetahuan, hikmat, karunia, kekuatan, perlindungan, dlsb.

Artinya, anugerah kasih karunia, kemampuan, kekuatan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk menggenapi rancangan/panggilan Allah sudah diberikan kepada kita. Rancangan Allah adalah rancangan yang membawa kebaikan bagi kita dan bagi orang lain.

Allah berjanji mengangkat, memberkati dan membuat kita ‘menjadi besar’ (being great), bukan hanya secara kuantitas/jumlah tetapi juga secara kualitas, supaya kita menjadi bejana yang efektif dan efisien dalam melakukan kehendakNya.

Menjadi besar berbicara tentang kualitas/kapasitas hati yang besar, bukan tentang banyaknya harta materi, prestasi yang hebat, posisi/jabatan, kekuasaan atau pencapaian lainnya. Kekayaan materi sesungguhnya hanyalah efek samping dari kekuatan yang Tuhan berikan (Ul. 8:18).
Contoh : ada banyak orang yang kaya secara materi namun hatinya penuh dengan kepahitan, jiwanya miskin/kerdil atau hartanya malah mencelakakan hidupnya. Orang seperti ini tidak bisa berfungsi dan melakukan kehendak Allah secara efektif dan efisien.

Ada 3 ciri karakter yang secara konsisten dimiliki oleh orang-orang besar (great people), yaitu mereka yang hidupnya dipakai Allah untuk melakukan kehendak/panggilanNya :

1) Hidup oleh iman kepada Kristus Yesus.

Orang yang hidup oleh iman mengerti bahwa dirinya memiliki Perjanjian Kekal dengan Allah, suatu perjanjian yang tidak dapat dibatalkan oleh keadaan, krisis, sistem yang ada atau orang lain. Dasar kita percaya adalah janji firman yang pasti akan digenapi. Allah sendiri telah mengikat diriNya dengan sumpah, untuk meneguhkan kita akan kepastian janjiNya (baca Ibrani 6:13-20).

2) Berani melangkah.

Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Diperlukan ketetapan hati untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman. Keintiman dengan Roh Kudus membuat iman seseorang menjadi aktif, yang dibuktikan dengan keberanian melangkah sebagai bentuk ketaatan. Kasih karunia Allah selalu menyertai dan membawa dia kepada kemenangan dalam setiap langkah.

3) Hidup berintegritas : Disiplin, rajin, setia, sabar, bertekun dan hidup dalam pertobatan (rendah hati).

Setiap orang percaya wajib mengikuti perlombaan iman agar hidup dalam perkenanan Allah sampai garis akhir. Mata harus selalu tertuju kepada Kristus karena Dialah yang memimpin orang percaya dalam iman dan membawa iman itu kepada kesempurnaan (iman yang berkualitas). Iman yang berkualitas akan menghasilkan hidup yang berintegritas. Iman dan integritas adalah warisan yang harus ditinggalkan bagi anak cucu dan bagi orang lain.

“haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:7)

Perlu untuk dicamkan, bahwa seseorang dikatakan menjadi besar (being great) bukan berarti merasa lebih (greater than) karena membandingkan dirinya dengan orang lain. Semua yang ada pada kita berasal dari Tuhan, jadi tidak seorangpun yang bisa memegahkan diri.

“Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Korintus 4:7).

Sangat keliru dan berbahaya jika kita membandingkan diri dengan orang lain. Pertama kita bisa menjadi sombong, kedua kita bisa menjadi rendah diri, merasa tidak layak bahkan mengutuk diri sendiri. Kedua reaksi ini menghalangi Allah untuk dapat berkarya melalui hidup kita.
Yang benar adalah senantiasa perbaiki diri bila membandingkan diri kita dengan diri kita di masa lalu, supaya bisa melihat kebaikan Tuhan dan selalu bersyukur untuk semua yang Dia perbuat.

Setiap kita adalah karya Allah yang ajaib dan telah dikaruniai potensi untuk ‘menjadi besar’ supaya menjadi dampak bagi banyak orang. Hal ini adalah bukti penggenapan janji Allah kepada Abraham serta keturunannya, yaitu kita yang hidup oleh iman kepada Kristus.

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:14).

Sesungguhnya Allah sangat ingin memberkati orang percaya, sebagai penggenapan janjiNya kepada Abraham. Allah tidak pernah menahan segala sesuatu yang baik dari anak-anakNya.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” (Yakobus 1:17a).

Cara pandang yang benar membuat kita mengerti maksud dan tujuan dari berkat Allah dalam hidup kita, betapa mulia dan sangat berharga janji yang Allah maksudkan bagi kita. Rancangan Allah bagi kita adalah rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan, untuk menjadi berkat bagi orang lain. Minta hikmat dari Roh Kudus agar kita dapat mengenali, mengelola/menyalurkan serta melipatgandakan berkat Tuhan.

Posisikan diri kita untuk siap menerima berkat Abraham dengan cara :

1) memiliki rasa hormat dan takut akan Allah atas dasar kasih.
2) hidup oleh iman yang tulus, dapat diandalkan, teruji dan bertanggung jawab.
3) rajin, sabar, bertekun serta tidak menjadi lemah dalam pertandingan iman agar berkemenangan dan menuai janji Allah. Allah akan memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh hidup oleh iman yang tulus kepadaNya.

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6)

image source: https://in.pinterest.com/pin/469711436111525966/

KEHILANGAN KESEMPATAN KARENA KEHILANGAN INTEGRITAS

KEHILANGAN KESEMPATAN KARENA KEHILANGAN INTEGRITAS

Waktu berlalu demikian juga kesempatan. Kesempatan yang sama tak akan terulang lagi. Kesempatan berikut belum tentu datang! Ungkapan ini mengingatkan kita untuk mempergunakan kesempatan yang TUHAN berikan sebaik mungkin. Kehilangan kesempatan terjadi bukan hanya karena kita tidak jeli melihat kesempatan yang datang, tetapi karena kita tidak siap saat kesempatan itu menghampiri kita. Jangan tunggu kesempatan datang lalu bersiap-siap, namun siapkan diri dengan iman menantikan kesempatan/peluang dengan kita selalu siap.
Lebih lagi saat kesempatan datang untuk menguji integritas karakter kita. Elisa dan Gehazi memulai pelayanan dengan status dan posisi yang sama yakni sebagai apprentice student (baca: abdi/pelayan) dari seorang nabi Perjanjian Lama yang dipakai TUHAN dengan dahsyat.
· Elisa menjadi pelayan Elia (1 Raja-raja 19:21), sedangkan Gehazi menjadi pelayan Elisa sejak Elia diangkat Tuhan (2 Raja-raja 4:12).
Sekalipun keduanya memulai dari posisi yang sama, namun akhir pelayanannya jauh berbeda. Elisa di pilih Tuhan. Elia mendengar tuntunan Tuhan untuk mengurapi Elisa dan Elisa punya hati yang luar biasa taat dan loyal kepada Elia tuannya.
Selama mengikuti Elia, Alkitab tidak pernah mencatat Elisa melakukan hal yang tidak patut, hal yang bertentangan dengan kebenaran. Elisa dengan tekun mengiring Elia sambil memperhatikan dan belajar langsung dengan melihat praktek dan keteladanan Elia. Hingga satu saat ketika Elia akan diangkat ke sorga, dengan penuh gairah Elisa meminta “dua bagian dari roh Elia” artinya mengklaim hak sebagai anak rohani yang sulung dan bagian warisan rohani dua kali lipat. Kita menyebutnya dengan meminta pengurapan dua kali lipat ganda (double portion).
Bagaimana dengan Gehazi? Sebagai abdi Elisa dan sebagai hamba Allah, Gehazi kehilangan integritasnya pada saat:
1. Tergoda oleh Keserakahan akan Harta. “berpikirlah Gehazi, bujang Elisa, abdi Allah: “Sesungguhnya tuanku terlalu menyegani Naaman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya. Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesuatu dari padanya.” (2 Raja-raja 5:20)
Dengan pikirannya sendiri ia menduga-duga bahwa Elisa tidak mau menerima persembahan harta yang dibawa oleh Naaman karena segan dan sungkan. Dengan kesadaran dan tekad yang bulat dia bertindak mengejar Naaman untuk menerima sesuatu daripadanya.
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan memberikan catatan:
“Hamba Elisa, Gehazi, memiliki hati yang serakah dan oleh karena itu berusaha untuk mencemarkan tindakan kemurahan Allah untuk keuntungan materi. Malangnya, ada hamba-hamba Tuhan yang berusaha untuk memperkaya diri dan mengumpulkan banyak harta dengan memberitakan darah Kristus yang tercurah, menawarkan keselamatan kepada yang terhilang, menyembuhkan orang sakit, atau memberi bimbingan kepada mereka yang sedang dalam kesusahan. Mereka ini menggunakan Firman Allah dan memperdagangkan kemurahan Allah; mereka mengubah “kekayaan Kristus” (Efesus 3:8) menjadi ‘harta Mesir’ (Ibrani 11:26).
Membaca peristiwa ini, kita diingatkan dengan perkataan dan keteladanan dari Gembala Jemaat Induk/Gembala Pembina yang mengatakan: “Jika kita ingin dipakai Tuhan langgeng dalam pelayanan ini (mujizat dan kesembuhan ilahi) kuncinya jangan mencuri kemuliaan TUHAN dan jangan mengambil keuntungan bagi diri sendiri dari pelayanan ini.”
2. Menipu Naaman dan Mengkhianati Elisa dan Berdusta kepadanya
Ketika hatinya sudah dipenuhi dengan hasrat dan keserakahan untuk memperoleh harta, segala cara dan upaya dapat dilakukan, sekalipun sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah pelanggaran atau kesalahan; bahkan karenanya dia kehilangan integritasnya.
Demi mendapatkan apa yang diinginkan hatinya, Gehazi menipu Naaman (2 Raja-raja 5:22), dan tidak berhenti sampai di situ, Gehazi mengkhianati Elisa dengan menjual nama Elisa demi mendapatkan harta. “Tuanku Elisa menyuruh aku mengatakan: …” padahal tentu saja Elisa tidak pernah menyuruhnya mengatakan demikian.
Setelah memperoleh dua talenta perak dan dua potong pakaian, menyimpannya di rumah bagi dirinya sendiri, baru saja Gehazi tiba di depan Elisa, Gehazi berbohong kepada Elisa dengan mengatakan “hambamu ini tidak pergi kemana-mana” ketika Elisa bertanya kepadanya. Bukan itu saja, bahkan Gehazi tidak menampakkan pertobatan sama sekali.
Dengan melakukan hal-hal yang demikian, Gehazi bukan saja telah kehilangan integritasnya tetapi juga mencemarkan nama Allah. Sangat jauh berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh Elisa (2 Raja-raja 5:16).
Gehazi telah kehilangan integritasnya karena keserakahannya dan hasratnya akan harta duniawi. Sangat jauh berbeda dengan Elisa yang memiliki hasrat dan gairah untuk memperoleh harta rohani, yakni urapan dan kuasa yang TUHAN berikan kepada Elia itu turun kepadanya sebagai warisan rohani.
Nama Gehazi tidak lagi kita temukan setelah 2 Raja-raja 8:1-6 di mana ia disebutkan sedang menceritakan kepada raja Yoram tentang anak perempuan Sunem dihidupkan kembali. Nama dan kisahnya tidak pernah kita jumpai lagi. Ia telah kehilangan kesempatan sebagai “seorang penerus” nabi sekelas Elisa, karena ia kehilangan integritasnya.
Jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh peristiwa yang dialami oleh Gehazi dan bagaimana ia kehilangan kesempatan yang luar biasa untuk menjadi seorang suksesor, menjadi penerus dari pelayanan yang TUHAN percayakan kepada Elia, turun kepada Elisa dan (seharusnya) turun kepadanya, ada hal penting yang perlu kita garis bawahi dan menjadi catatan penting bagi kita, yang dapat menyebabkan kita kehilangan integritas.
a. Hati yang berhasrat akan kekayaan duniawi. Itulah sebabnya Firman Tuhan memperingatkan kita,
“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:9-10)
b. Melakukan tipu daya untuk memperoleh yang diinginkan
Ketika ‘cinta akan harta/uang’ sudah menguasai hati, segala cara dan upaya akan diusahakan dan dianggap halal. Rela berkompromi dengan dosa asal cita-cita terlaksana.
c. Mengkhianati bapa rohani dengan ‘menjual namanya’ demi kepentingan sendiri
Janganlah ada seorangpun dari kita yang ‘menjual nama’ pemimpin kita untuk memperoleh keuntungan pribadi. Hal ini bukan hanya merusak nama pemimpin semata, tapi juga merusak jemaat dan merusak kepercayaan jemaat terhadap gereja dan hamba Tuhan.
d. Berdusta
Membaca peristiwa Gehazi berdusta kepada Elisa membuat kita teringat akan dusta yang dilakukan oleh pasangan suami istri Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1-11) di mana tanpa sadar mereka bukan hanya sedang berdusta terhadap para rasul dan jemaat, melainkan juga berdusta kepada Roh Kudus.
e. Tidak mau bertobat
Bertobat adalah bukti pengakuan dosa, bukti kerendahan hati dan bukti bahwa seseorang menyadari apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Selain itu pertobatan adalah sebuah janji untuk tidak melakukannya kembali. Orang yang tidak menunjukkan pertobatan membuktikan bahwa dirinya tidak mengakui bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan dan pelanggaran. Janganlah menjadi orang yang tidak mau bertobat! Dalam doa ‘harian’ yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-murid, atau yang lebih dikenal dengan Doa Bapa Kami, kita diajarkan untuk minta ampun dan mengampuni kesalahan orang lain (Matius 6:12).
TUHAN punya panggilan pelayanan yang besar dalam hidup masing-masing kita. Jangan sampai kita sendiri yang membuat panggilan itu gagal tergenapi. Raih dan gunakan setiap kesempatan dengan baik, tetap tekun dan setia dalam panggilan kita dan jangan sampai kehilangan integritas. Maranatha!

ALLAH MENJANJIKAN BERKAT YANG MELIMPAH (WARISAN ROHANI)

ALLAH MENJANJIKAN BERKAT YANG MELIMPAH (WARISAN ROHANI)

Meskipun saat ini dunia sedang mengalami masa yang sulit dan penuh gejolak, tetapi orang percaya hidup dalam janji berkat dan pemeliharaan Allah. Dia setia memegang janjiNya kepada Abraham serta keturunannya. Kita disebut sebagai keturunan Abraham karena iman kepada Yesus Kristus dan turut mewarisi berkatnya.

“…mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.”
“Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.” (Galatia 3:7 dan 9)

Allah memberkati orang tua kita (atau kita sebagai orang tua) bukan hanya dengan berkat materi/fisik saja tetapi juga berkat rohani yang jauh lebih penting nilainya. Warisan berkat materi (harta benda) suatu saat akan habis, tetapi warisan berkat rohani (warisan iman) memberikan jaminan kekal untuk kita mendapatkan pertolongan dan segala sesuatu yang diperlukan.

Meneladani iman Abraham

Kejadian 12 :

(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
(2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
(3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dari ayat 1 dapat kita pelajari bahwa berkat Abraham diawali oleh iman dan ketaatan terhadap firman Allah. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Mendengar di sini maksudnya menanggapi/meresponi perintah Allah dengan iman yang diikuti dengan perbuatan/ketaatan.

“Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (Markus 4:24-25)

Respon iman merupakan ukuran yang akan menentukan bagian/berkat yang kita terima.
Barangsiapa yang mempunyai (artinya meresponi dengan iman), kepadanya akan diberi segala sesuatu yang diperlukan untuk berhasil. Sebaliknya barangsiapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Dari Alkitab kita belajar tentang kualitas iman yang dimiliki Abraham :

1. Dapat diandalkan/dipercaya.
Abraham setia memelihara Perjanjian Sunat (Kejadian 17:10-13,23).
“Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya.” (ayat 23)

2. Teruji.
Abraham terbukti taat sewaktu mempersembahkan Ishak kepada Allah (Kejadian 22:2,10-12).
Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” (ayat 12)

3. Bertanggung jawab
Abraham memberikan persembahan persepuluhan sebagai pengakuan akan Allah dalam hidupnya (Ibrani 7:1-2a).
“Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya.”

Abraham hidup oleh iman bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi dia juga mengajarkan dan mewariskan kepada anak cucu (Ishak, Yakub), bahkan kepada setiap laki-laki di antara mereka turun-temurun : baik yang lahir di rumah Abraham, maupun yang dibeli dari salah seorang asing (Kejadian 17:26-27). Allah menetapkan Abraham sebagai pemimpin rohani dalam rumahnya untuk mendidik anak-anak serta orang-orang yang dipimpinnya supaya beribadah dan hidup di dalam jalan Tuhan.

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kejadian 18:19)

Abraham bukan mengajarkan rutinitas/tradisi agamawi, tapi hidupnya menjadi teladan iman kepada Allah yang hidup. Bagi Abraham, Allah yang dia sembah adalah satu-satunya Allah yang benar, Pencipta langit bumi serta segala isinya, yang sungguh layak mendapatkan hormat, pujian dan penyembahan dari umatNya. Pengenalan akan Allah membuat Abraham, Ishak dan Yakub hidup di hadapanNya dengan iman yang tulus.

Walaupun Abraham diberkati dengan harta benda yang melimpah (Kejadian 13:2), yang dapat diturunkan kepada anak cucunya, tetapi iman kepada Allah adalah hal yang paling penting untuk diwariskan agar keturunannya juga hidup dengan iman yang sama seperti dirinya. Abraham mengerti bahwa penyertaan Allah atas hidupnya serta keturunannya jauh lebih berharga daripada harta materi.
Kita juga harus hidup dengan integritas iman seperti Abraham (dapat diandalkan, teruji dan bertanggung jawab) agar Allah dapat memenuhi sumpah janji berkatNya. Iman yang demikian membawa Abraham dan keturunannya memiliki janji berkat yang luar biasa :

1. Diangkat Tuhan (Elevation)
2. Berlimpah (Abundant)
3. Memberkati orang lain (be a blessing to others)

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Kegagalan Imam Eli

Bertolak belakang dengan Abraham, Imam Besar Eli gagal menurunkan warisan iman kepada anak-anaknya. Dia hanya mengajarkan kegiatan pelayanan tanpa memberikan pengertian yang memadai tentang pengenalan akan Allah. Hanya rutinitas melakukan tradisi/ kegiatan agamawi tidak akan membuat kita hidup oleh iman dan menikmati janji berkatNya.

Akibat dari kelalaian Iman Eli ini, Hofni & Pinehas tidak memiliki rasa hormat dan takut akan Allah. Mereka melakukan berbagai kejahatan serta kenajisan yang mendatangkan murka Allah sehingga keduanya meninggal. Tidak hanya sampai di situ, penghukuman Allah juga berlaku atas keluarga imam Eli sampai kepada keturunannya (1 Samuel 2:22-25,29-36).

Selanjutnya Allah mengangkat Samuel untuk menggantikan kedudukan Hofni dan Pinehas. Hana, ibu dari Samuel mewariskan iman yang tulus kepada anaknya. Hana menghormati dan memuji-muji Allah karena pertolonganNya ( 1 Samuel 2:1-3). Samuel menjadi seorang hamba Tuhan karena iman ibunya, baik dalam kehidupan dan nilai-nilai kebenaran yang diajarkannya.

Firman Tuhan dalam Amsal 13:22a mengatakan “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya … “

Ayat ini mengajarkan bahwa orang baik tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri tetapi memikirkan generasi di bawahnya. Dia ingin agar generasi-generasi berikut juga hidup dalam segala berkat serta keberhasilan yang dia alami. Warisan terpenting yang dia tinggalkan adalah sesuatu yang bersifat kekal, suatu harta yang tidak dapat dicuri dan tidak dapat rusak.
Yang dimaksud tentu bukan warisan harta materi, melainkan nilai-nilai kehidupan yang membentuk dan mengajar anak cucunya untuk hidup dalam hormat dan takut akan Allah, taat serta berpegang kepada perintahNya.

“Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.” (Mazmur 103:17-18)

Estafet warisan rohani

Jika dihubungkan dengan kehidupan, setiap kita adalah pelari estafet yang mengoperkan iman sebagai warisan rohani kepada pelari estafet berikut, yaitu generasi penerus. Orang tua menurunkan warisan rohani kepada anak-anaknya; anak-anaknya pun akan menurunkan hal yang sama kepada keturunan berikutnya, demikian seterusnya.

Kelalaian generasi di atas/orang tua untuk menurunkan iman dan pengenalan akan Allah kepada anak-anak mereka akan menyebabkan kesulitan, kekacauan, bahkan kegagalan untuk generasi berikutnya. Seorang yang berhasil tidak hanya untuk diri sendiri namun juga dapat mendidik anak cucunya sebagai generasi penerus untuk juga berhasil.

Kegagalan imam Eli dalam mendidik anak-anaknya dan keberhasilan Hana menjadikan Samuel muda terpilih sebagai imam dan nabi merupakan contoh tegas yang menjadi pelajaran bagi kita. Kehidupan Samuel yang berkenan kepada Tuhan serta Hofni dan Pinehas yang berdosa di hadapan Tuhan, mengajarkan betapa pentingnya mewariskan iman dan prinsip-prinsip Kerajaan Allah kepada generasi di bawah kita.

Firman Tuhan memerintahkan kita untuk bertekun dalam mengikuti perlombaan yang diwajibkan, yaitu perlombaan iman (Ibrani 12:1b). Lakukan segala sesuatu dengan iman, karena tanpa iman tidak mungkin seseorang berkenan kepada Allah. Iman yang dikerjakan dalam kerajinan, kesabaran dan ketekunan akan menjadi suatu warisan berharga bagi anak cucu dan orang di sekitar kita.

Di tengah dunia yang semakin gelap dan menyesatkan, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan iman, mengajarkan, mendidik dan mendoakan generasi penerus agar mereka :

– Memiliki rasa hormat dan takut akan Allah sebagai permulaan segala hikmat dan pengetahuan.
– Memiliki pengenalan akan Allah dan mengerti kehendakNya atas hidup mereka.
– Hidup oleh iman yang didasari kasih/ketulusan dan beribadah kepadaNya.
– Memiliki kerajinan, kesabaran dan ketekunan dalam mengikut Tuhan.
– Berhasil, berbuah dan berkelimpahan.
– Menjadi berkat/dampak dan memancarkan terang Allah di tengah kegelapan dunia.

Allah setia memegang Perjanjian kekal yang diikrarkanNya kepada Abraham, termasuk kepada kita keturunannya, yang memiliki iman kepada Yesus Kristus. Hiduplah oleh iman yang tulus dan berintegritas, wariskan itu kepada generasi berikut agar Allah dapat menggenapi janji berkatNya kepada kita serta keturunan kita.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

image source: https://lf.radio/verses/verse/?verseid=106836