Author: FJ

Home / Articles posted by FJ
PENYEMBAHAN DALAM DIMENSI YANG BARU

PENYEMBAHAN DALAM DIMENSI YANG BARU

Seperti apakah penyembahan dalam dimensi yang baru itu?
Mari kita melihat sebuah tempat di mana penyembahan dalam dimensi yang baru pernah berlangsung. Pulau Patmos adalah sebuah pulau kecil di Laut Aegea, Yunani. Pada masa kini, Pulau Patmos adalah lokasi wisata laut yang instagenic, sangat indah. Lupakan sejenak gambaran ini; bayangkan Pulau Patmos sekitar dua ribu tahun yang lalu. Sebuah pulau yang oleh Kaisar Domitian dijadikan tempat pembuangan untuk orang-orang yang berbahaya bagi Kekaisaran Romawi. Tempat yang berbatu, sunyi, tandus, dan gersang. Kesanalah Yohanes, murid yang dikasihi oleh Yesus, dibuang karena kesaksian imannya. (Why 1:9)
Berada di tempat seperti Pulau Patmos mungkin mirip dengan situasi lockdown hari-hari ini. Sebuah tempat yang membuat orang-orang buangan sangat susah dan menderita. Di tempat yang seperti inilah Yohanes melihat sebuah pintu terbuka di sorga. Kemudian ia mendengar suara seperti bunyi sangkakala yang berkata: ’Naiklah kemari.’ (Why 4:1)
Inilah suara Tuhan Yesus yang sudah naik ke sorga! Tuhan Yesus berbicara kepada murid-Nya yang dikasihi dengan dimensi suara yang baru, mengajaknya masuk ke dimensi tempat yang baru.
Kisah selanjutnya adalah salah satu gambaran termulia dalam Alkitab tentang perjumpaan dengan Tuhan di sorga. Yohanes melihat dan mencicipi keindahan penyembahan dalam dimensi yang baru.
Seperti apakah di sorga, penyembahan dalam dimensi yang baru itu?
1. Penyembahan yang Dikuasai oleh Roh Kudus
“Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang.” (Why 4:2)
Penguasaan Roh atas Yohanes memulai rentetan drama penyembahan sorgawi. Penyembahan dalam dimensi yang baru hanya bisa kita alami bersama dengan Roh Kudus dan ketika kita dipenuhi oleh Roh Kudus. Keseluruhan Kitab Wahyu bahkan menceritakan bagaimana penguasaan Roh mencengkeram Yohanes (Why 1:10; 4:2; 17:3; 21:10). Secara fisik Yohanes berada di sebuah pulau yang tandus, namun di dalam Roh ia mencicipi sorga.
o Kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus mengajak jemaat untuk memuji dan menyembah Tuhan lewat ‘mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani’. (Ef 5:19)
’Nyanyian rohani’ (songs from the Spirit, NIV) adalah sebuah bentuk nyanyian yang digerakkan oleh Roh Kudus.
o Demikian pula kepada jemaat di Kolose, Paulus meminta mereka menyanyikan ‘mazmur, dan puji-pujian, dan nyanyian rohani (songs from the Spirit, NIV). (Kol 3:16)
Tuhan mau penyembahan kita di bumi, seperti di sorga, digerakkan oleh Roh Kudus! Ini era Pentakosta Ketiga. Mari sungguh-sungguh mengejar kepenuhan Roh yang membuat penyembahan kita masuk dalam dimensi yang baru.
2. Penyembahan yang Berfokus pada Kekudusan Tuhan
“… dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: ’Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” (Why 4:8)
Kita yakin atmosfer penyembahan sorga itu luar biasa untuk dinikmati. Selama-lamanya tidak akan pernah keindahan hadirat Tuhan itu kehilangan kemuliaan untuk dinikmati. Akan tetapi, penghuni sorga dalam penyembahannya tidak berfokus pada apa yang mereka nikmati, melainkan pada Tuhan yang duduk di takhta.
Penyembahan dimensi yang baru berfokus kepada Dia yang kita sembah yang adalah Maha Kudus. Sedemikian kuat dan luar biasanya karakter kekudusan Tuhan, sehingga penghuni sorga membahanakan ‘Kudus, kudus, kuduslah Tuhan’. Tidak ada karakter Tuhan yang lain, yang ketika disebutkan atau dinyanyikan, perlu diulangi tiga kali, selain ‘Kudus’ (istilah untuk ini adalah trisagion; tri : tiga, hagios : kudus).
Mungkin beberapa orang belum terbiasa membayangkan kekudusan Tuhan dalam penyembahan. Lebih lazim untuk membayangkan kebaikan atau kasih Tuhan. Tuhan itu kudus. Kekudusan Tuhan memiliki makna bukan saja ‘tanpa cela’, melainkan juga ‘terpisahkan, tidak ada duanya’. Ketika seorang penyembah berfokus kepada kekudusan Tuhan, ia sedang menggelorakan di dalam hatinya bahwa tidak ada yang seperti Tuhan; Ia maha segalanya; dengan apakah Ia dapat disamakan? Penyembahan seperti inilah yang meledak di dalam diri penyembah-penyembah dalam dimensi yang baru.
Di tahun dimensi yang baru ini bukankah kita semua akan diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Kor 3:18). Semua penyembah akan diubah menjadi semakin kudus, sama seperti Dia yang kita sembah adalah kudus. Dalam kemuliaan yang semakin besar, mari kita mulai serukan ‘Kudus, kudus, kuduslah Tuhan’, di bumi yang sementara ini, sampai di sorga yang kekal nanti.
3. Penyembahan Memberikan yang Terbaik buat Tuhan
“maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, ..” (Why 4:10)
Apakah yang termulia di sorga, yang pernah kita bayangkan tentang sorga? Tempat yang maha indah? Kehidupan dengan tubuh kemuliaan tanpa maut, tanpa ratap tangis? Semua ini tentunya sangat luar biasa. Akan tetapi sesungguhnya yang termulia di sorga bukanlah ‘Apa’, tetapi ‘Siapa’. Dia-lah yang termulia, terindah di sorga. Dia-lah yang kita ingini kekal selama-lamanya.
Kepada Dia yang termulia di sorga, apakah yang penghuni sorga akan lakukan? Mereka melemparkan mahkotanya di hadapan Dia yang duduk di takhta. Apa arti tindakan ini? Mahkota adalah lambang upah kekal penghuni sorga atas apa yang mereka perbuat ketika hidup di bumi. Tentunya ini teramat berharga. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan Dia, mahkota yang sangat berharga itu kita persembahkan kepada-Nya. Tuhan jauh lebih berharga dari harta sorgawi yang paling mulia sekalipun! Di sorga kita tidak menghadap Dia dengan tangan yang hampa.
Penyembahan dalam dimensi yang baru bukanlah tentang ‘kita’, tetapi tentang ‘Dia’. Penyembahan dimensi baru bukanlah tentang apa yang kita dapatkan dari penyembahan, melainkan tentang apa yang Ia cium dari penyembahan kita.
Dalam situasi apakah sekarang kita berada? Kesulitan ekonomi? Bergumul dengan COVID-19? Tidak bisa beribadah di gedung gereja? Sendiri, depresi? Ingatlah! Di dalam Patmos-Patmos kehidupanmu, ada pintu sorga terbuka, ada suara yang berkata: ’Naiklah kemari’. Ada penyembahan dalam dimensi yang baru untuk kita hidupi. MARANATHA!

image source: https://www.alittleperspective.com/revelation-4-2016/

JANGAN MENYIA-NYIAKAN KASIH KARUNIA ALLAH

JANGAN MENYIA-NYIAKAN KASIH KARUNIA ALLAH

Ayat bacaan : Lukas 13: 6-9
Pohon ara yang diceritakan dalam perumpamaan ini adalah common fig tree (Ficus carica), sejenis ara yang berasal dari wilayah Laut Tengah yang buahnya dapat dimakan. Pohon ara ini mudah bertumbuh dengan subur di mana-mana. Pohon ini juga memiliki kebutuhan air yang besar untuk bertumbuh. Pohon ara yang bertumbuh menjadi besar akan menjadi habitat yang menyegarkan bagi hewan-hewan yang berlindung di bawahnya pada saat panas terik. Manfaat buah ara antara lain sebagai sumber makanan pokok, bisa juga dijadikan kue ara kering serta bisa dipakai untuk pengobatan.
Dalam perumpamaan ini diilustrasikan ada sebuah pohon ara secara khusus dipilih, ditanam, dirawat serta diperlakukan secara istimewa oleh pemilik di dalam kebun anggurnya. Pemeliharaan khusus disediakan oleh pemilik kebun : tanah sekeliling dicangkul dan dibuang batu-batunya, diberi pupuk yang cukup, dengan harapan pohon itu akan tumbuh dengan baik dan berbuah lebat.
Ilustrasi ini melambangkan bangsa Israel jasmani (Roma 9:4-5) dan orang percaya sebagai Israel rohani (1 Petrus 2:9) yang merupakan umat pilihan Allah, diangkat menjadi anak, menerima kemuliaan, perjanjian-perjanjian, firman, ibadah dan janji-janji. Dengan penuh keberanian kita dilayakkan menghampiri tahta kasih karunia karena Darah Yesus telah menjadikan kita milik kepunyaan Allah (Ibrani 4:14-16).
Allah, sebagai Pemilik segala yang ada berharap agar orang percaya yang dipelihara dalam kasih karuniaNya (seperti keadaan pohon ara yang ditanam di kebun anggur) akan menghasilkan buah.
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia” (2 Pet. 1:3-4).
Pemilik kebun anggur sudah memberikan tenggang waktu selama tiga tahun namun ia tetap tidak mendapati buah ara seperti yang diharapkan. Dengan demikian jelaslah bahwa masalahnya bukan kurangnya perhatian dan perawatan dari sang pemilik kebun melainkan pada pohon ara itu sendiri.
Perhatian serta perawatan istimewa untuk bertumbuh di tanah yang baik ini disia-siakannya dengan tidak menghasilkan apa-apa. Sang pemilik menganggap bahwa pohon ara itu telah hidup di tanah kebun anggurnya dengan percuma. Pohon ara itu telah menyerap air dan mengambil unsur-unsur mineral yang terdapat di tanah kebun anggur tersebut dan tidak menghasilkan buah.
Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang berada di luar anugerah keselamatan Allah, tetapi kita yang tergolong orang non-Yahudi dipilih karena kasih karunia untuk menjadi anak-anak-Nya.
“bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” ( Ef. 2:12,13,19).
Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang telah Dia berikan guna menunjang pertumbuhan kerohanian kita dengan tujuan kita berbuah banyak dan tetap bagi kemuliaanNya.
Renungkan dan mari bersyukur akan kasih karunia Allah dalam hidup kita :
1. Pengorbanan Yesus (Yohanes 3:16) menerima, mengampuni, menyucikan, membayar lunas setiap orang yg percaya. Oleh iman setiap orang memperoleh kasih karunia ini. (Roma 5:2a)
2. Roh Kudus dianugerahkan kepada orang percaya Sehingga dapat hidup sama spt Kristus telah hidup. (1Yohanes 2:6)
3. Kita diberikan firman Tuhan(Alkitab), yang dengan bebas tanpa penganiayaan dari pihak luar dapat kita baca kapan dan di mana saja.
4. Wadah dan sarana untuk beribadah di masa New Norm ini.
5. Tuhan menempatkan hamba-hambaNya sebagai orang tua/mentor rohani kita.
6. Kita berada di dalam persekutuan orang percaya yang dipakai Tuhan untuk menolong kita bertumbuh serta menghasilkan buah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata menyia-nyiakan memiliki arti :
1. memandang (menganggap) sia-sia;
2. tidak mau mempergunakan (memanfaatkan);
3. membuang-buang (waktu, uang, tenaga, dll);
4. mengabaikan (janji, usul, kewajiban);
5. mengecewakan (kepercayaan);
6. menyalah-gunakan (kekuasaan, hak);
7. memperlakukan dengan sewenang-wenang.

Marilah kita memeriksa keadaan rohani kita, apakah kasih karunia Allah telah kita sia-siakan seperti keadaan point 1-7 di atas?
Banyak anak muda sulit untuk menyadari kasih karunia Allah dalam hidup mereka sehingga mereka hanya terpaku dengan diri sendiri, kemauan dan kemampuan diri sendiri. Technology yang mendukung setiap ke’aku’an pribadi dengan media dan barang-barang di perjual belikan untuk mengidolakan dan mempercantik diri. Tidak jarang gereja yang kehilangan kasih mula-mula dan lebih terpengaruh dengan keadaan dunia, menyia-nyiakan kasih karunia Allah.
Orang berpendapat tidak perlu lagi berpendidikan atau bekerja keras untuk berhasil. Se akan-akan orang tidak perlu lagi di bina nilai moral dan akhlak sebagai ciptaan Tuhan untuk menjadi penguasa dan pengendali dunia yang penting terkenal/dikenal. Dengan adanya covid-19 sekolah di tutup dan anak-anak seperti kehilangan arah dan akibatnya bebas menentukan arah sendiri. Dengan kebebasan, fasilitas dan hawa nafsu yang tak terkendali memberontak terhadap otoritas dlsbnya. Sebagai orang beriman, bila anda adalah orang tua, tuntunlah anak-anak anda dalam takut akan Tuhan dan menerima kasih Tuhan untuk hidup dalam kebenaran. Dari banyaknya kejadian, kejahatan dan pemberontakan yang terjadi di Amerika kita bisa melihat keadaan seperti yang tertulis di Alkitab, 2 Timotius 3:1-4,
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi , tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.”
Firman Tuhan dalam Matius 24:15, telah mengatakan apabila si “pembinasa keji” berdiri di tempat kudus dan berkuasa, maka kesudahan segala sesuatu telah tiba. Ingat dan hargailah selalu bahwa Darah Yesus telah menebus dan membeli kemerdekaan bagi setiap kita. Selagi masih diberikan anugerah kasih karunia, marilah kita giat berbuah bagi Allah.
Jangan anggap sepi kesabaran Allah dengan menjadikannya sia-sia; kesabaran Allah menuntun kita kepada pertobatan. Setiap ranting/pohon yang tidak berbuah akan ditebang dan dicampakkan ke dalam api. Jangan sampai seseorang yang tadinya dipilih, menjadi tidak dikehendaki lagi karena tidak berbuah sehingga harus dibuang dan dicampakkan ke dalam api.
Tetapi biarlah kita melakukan bagian kita yaitu hidup di dalam kemerdekaan sejati sehingga menghasilkan buah yang banyak dan tetap karena kita mengasihi Tuhan Yesus, Amen.

image source: https://www.tumblr.com/search/1%20peter%202%209

YOUNG GENERATION ENTER SPIRTUAL WARFARE WITH DOUBLE PORTION ANOINTING

YOUNG GENERATION ENTER SPIRTUAL WARFARE WITH DOUBLE PORTION ANOINTING

In the book of John 14:12, Jesus says:
“Most assuredly, I say to you, he who believes in Me, the works that I do he will do also; and greater works than these he will do, because I go to My Father.”
Jesus says that if we believe in Him, then after He ascended to heaven, we shall do the works He did; even greater things.
When Jesus was on earth, He served in Jerusalem, in Judea and in Samaria. But after Jesus ascended to heaven all of us who believe in Jesus shall serve Him even to the ends of the earth. And the number of miracles done by believers is far greater compared to the number of miracles Jesus did when He was on the earth.
It means that after Jesus is in heaven, He provided anointing and double portion blessings to us who believe. Double portion not only means multiplied by two, but it also means exponentially.
How many here wants to receive blessing or double portion anointing?
2020 Pentecost was not the same as the previous Pentecost. It was the greatest and the last Holy Spirit Outpouring before Jesus comes back again. That’s why Jesus equips us with double portion anointing. After Holy Spirit was poured out at the First Pentecost, one of the signs that happened on that time was the paradigm shifts in ministry.
All those times, the understanding from Jesus’ disciples was that salvation only belong to the Jews. Cornelius, a gentile, repented and baptized by the Holy Spirit. He spoke in tongue and was baptized in water. Through a lengthy argument and with Peter’s testimony, the Apostles and all believers in Judea received salvation. The salvation that was not limited only to the Jews, but to all nations including Indonesia. And this event caused paradigm shifts in evangelism.
The same way happens in this Third Pentecost era. Throughout this COVID-19 pandemic time, it is so clear that there’ll be ministry paradigm shifts for the last and the greatest harvest of souls.
1. Church services become online
Previously, we worshipped in a physical church building corporately, we had fellowship together, we shook hands, we expressed our love, there were laying of hands, and now, we cannot do these things anymore. We are entering the New Norm.
To be honest, I don’t really understand fully with this paradigm shifts. The Lord asks me to do as what is written in Jeremiah 33:3, ‘Call to Me, and I will answer you, and show you great and mighty things, which you do not know.’ This is what I’ve been doing nowadays. I believe that with the ministry paradigm shifts, there’ll be greater harvest compared to when we use old ways to minister.

II. The awakening of the young generation
The second thing, for the last and the greatest harvest to happen, the Lord says that there’ll be an awakening of the young generation. Russel Evans, the Senior Pastor of Planetshakers, Melbourne in 2017 received a vision about Indonesia; that the Holy Spirit is being poured out mightily in Indonesia. He saw millions of young generations filled with the Holy Spirit. They devotedly in love with Jesus, they live uncompromising with sin and they will win many souls. This talks about concrete steps which will be done by the whole church to finish the Great Commission of Jesus Christ.
1. The young generation is the engine that propel the End Times Movement
The movement to finish the Great Commission will be propelled by the young generation. Then, we will experience how God process His church. We will be pruned, purified, reset by God. We are entering the New Norm, New Dimension, new paradigm in ministry. All of these are done to prepare for the last and the greatest harvest of souls before Jesus second coming.
2. The Second Conference of “Rise Up, My Generation”
One day I was reading 1 Kings 20:13-22. I was asked to share what’s in my heart for the Jeremiah generation during the live streaming of the 2nd “Rise Up, My Generation” conference with a theme: Finishing A Great Commission in June 26th 2020. 1 Kings 20:13-22 is telling the story about a prophet who come to Ahab, the King of Israel, to announce the message of God that God will surrender the enemies who was the Arameans who were surrounding Samaria.
Ahab asked who would help in the fight against that great enemy. That prophet answered young leaders under the provincial commanders will do it. The number of these young leaders were only 232 out of the 7,000 Israelites. These young leaders were the one who attacked first. These 232 young leaders followed by the armies destroyed the Arameans. At that time, the Lord spoke to me that the Jeremiah Generation who must lead the spiritual warfare to lead in the last and the greatest harvest of souls. This is a new paradigm in ministry.
3. Double Anointing
New Norm in the church reopening for children, the elderly and people with underlying conditions have high risk to contract COVID-19. These groups are forbidden to worship in church in crowds. I believe this is not a coincidence, but the Lord is talking about turning over the generation. It seems like the Lord is enforcing the elderly to delegate or pass on their tasks to the young generation. This also is a form of ministry paradigm shift.
Elisha was a young prophet representing the young generation who were used by God for a greater task. At that time, Elijah was asked by God to anoint Elisha to be a prophet replacing Elijah. When they cross the Jordan river, Elijah spoke to Elisha, “Ask me what you want me to do for you before I’m taken away from you.” Elisha answered, “Please let a double portion of your spirit be upon me.” Elijah said, “You have asked a hard thing. Nevertheless, if you see me when I am taken from you, it shall be so for you; but if not, it shall not be so.” 2 kings 2:9-10
Apparently, the Lord fulfill Elisha wish. He witness Elijah was swooped up. In the end, Elisha receive 2 portions of Elijah spirit. Double portion. The meaning of double portions of Elijah’s spirit is:
Firstborn birthright: Elisha as Elijah’s spiritual firstborn received twice inheritance more compared to the other spiritual children. Elisha asked his spiritual father to give a greater prophet authority to himself so he could continue on Elijah’s ministry.
Miracles Multiplication: Elijah did 7 miracles, while Elisha did 14 miracles. One of the miracles happened after Elisha died. His bones could raise the dead. Elisha’s roles as a prophet for the kings were more than Elijah. Elijah were the prophet in the time of King Ahab, meanwhile Elisha was the prophet in the time of King Joram, Jehu, Jeoahaz, and Jehoash.
Pst Niko Knjotorahardjo Sermon

image source:https://biblepic.com/41/john_14-12.htm

ORANG  PERCAYA  DIMERDEKAKAN  UNTUK  BERBUAH

ORANG PERCAYA DIMERDEKAKAN UNTUK BERBUAH

Orang percaya yang mengalami kelahiran kembali telah dimerdekakan dari kuasa maut dan belenggu dosa melalui karya keselamatan yang Tuhan Yesus lakukan di atas kayu salib.
Darah Anak Domba Allah telah memerdekakan setiap kita (orang percaya) dari cara hidup yang sia-sia dan kebodohan (foolishness), perbudakan dosa (sin), rasa bersalah (guilt and condemnation), sakit-penyakit (sickness and diseases), dari cengkraman iblis (works of darkness) dan dari kematian kekal (spiritual death/eternal damnation).

“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36).
Merdeka di sini maksudnya : tidak dapat terus-menerus berbuat dosa lagi (tidak hidup di dalam keberdosaan).
“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi (seed of righteousness) tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1 Yoh. 3:9).

Hadirnya Roh Kudus di dalam hati orang percaya mengingatkan akan kekudusanNya.
Sebenarnya kita sebagai orang percaya tidak lagi suka berbuat dosa. Akan tetapi free will (kebebasan untuk memilih yang Tuhan berikan) dalam diri manusia bisa melakukan apa saja yang di kehendakinya dan kadang gagal melakukan apa yang Tuhan mau.
Dia ingin kita memakai kebebasan tersebut untuk tidak lagi memuaskan kehendak sendiri atau apa yang di dikte oleh dunia namun menjadi hambaNya (memilih taat kepadaNya) karena kita mengasihiNya lebih dari segalanya.(1 Yohanes 5:3; Yohanes 14:21)

Kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Setelah kita menjadi hamba Allah, kita akan menghasilkan buah yang membawa kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal (Rom. 6:22).

Orang yang sudah dimerdekakan dari dosa adalah ciptaan yang baru di dalam Kristus (2 Kor. 5:17). Orang tersebut harus mengenakan manusia yang baru, yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol. 3:5-10).

Untuk dapat mengenakan manusia baru, maka pikiran harus terlebih dahulu diperbaharui oleh firman Tuhan (Rom. 12:2).
Pikiran yang masih terikat dengan hal-hal duniawi dapat membuat seseorang cenderung menyalahgunakan kebebasan itu untuk menyelubungi kejahatannya (1 Pet. 2:16) serta membuat dirinya tidak hidup dalam kemerdekaan yang sejati.

Kebebasan yang disalahgunakan akan menjadi sesuatu yang tragis dan ironis karena justru menciptakan “penjara” bagi yang bersangkutan. Tanpa sadar kita mungkin pernah terperangkap dan terbelenggu dengan “kebebasan” kita, yaitu bila kita tidak mampu berkata “tidak” untuk suatu pilihan dalam kebebasan yang dimaksud.
Kemerdekaan dalam Kristus justru mencegah kita untuk terus melakukan hal-hal yang membawa pada hukuman kematian (baca Rom. 6:11-22). Kita tidak dimerdekakan untuk berbuat dosa, tetapi kita dimerdekakan dari dosa.

Tujuan Allah memerdekakan kita adalah untuk :

1. Dapat beribadah kepada Allah.
Bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir supaya dapat beribadah kepada Allah ( Keluaran 4:23) dan menjadi umat pilihanNya.

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” (Ibr. 12:28-29).

Tujuan utama hidup orang percaya adalah kembali kepada kehidupan yang menyembah Tuhan dalam suatu hubungan kasih (seperti awal penciptaan). Keselamatan bukanlah tujuan akhir orang percaya, melainkan orang percaya diselamatkan untuk beribadah kepada Tuhan Allah.
Ibadah adalah respon orang percaya dalam mempersembahkan seluruh keberadaan dirinya (roh, jiwa dan tubuh) kepada Allah yang memiliki seluruh hidupnya.

Allah itu roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:22). Dalam roh : dengan segenap hati yang mengasihi Dia; dalam kebenaran : pengetahuan yang benar akan perintah, kehendak serta janji-janjiNya (semuanya ada dalam firman Tuhan). Untuk dapat beribadah kepada Allah, kita harus senantiasa penuh dengan firman dan Roh Kudus.

2. Hidup secara maksimal
Tuhan Yesus datang, supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10). Kelimpahan diberikan agar kita dapat melakukan kehendak/tujuan Tuhan dalam hidup kita. Setiap kita diciptakan untuk suatu tujuan yaitu His purpose. Tuhan akan membawa kita masuk ke dalam panggilanNya melalui pengenalan kita akan Dia,

Kata maksimal itu sendiri memiliki arti sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, mencapai puncak. Jadi hidup maksimal bagi orang percaya adalah menyelesaikan target Tuhan atas hidup kita baik di dalam segala aspek. Pengenalan akan Tuhan akan membawa kita mengetahui fungsi dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari tubuh Kristus (baik secara pribadi maupun dalam gereja lokal).

3. Menjadi saksiNya di dunia ini. Menjadi saksi bukan semua harus berkotbah dan sekolah Alkitab, melainkan hidup berbuah.
“Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Fil. 1:22a).

Bagaimana bisa berbuah ? Melalui persekutuan intim dengan Tuhan hidup orang percaya berakar di dalam KasihNya. Selanjutnya melalui pengajaran Firman yang benar orang percaya terus menerus bertumbuh. Dan berbuah saat hidup orang percaya menyalurkan karunia talenta menjadi berkat bagi orang lain dan orang di sekitar dapat menikmati buah yang dihasilkan. Talenta dalam Mat. 25:14-30 mencakup banyak hal dengan tujuan untuk melakukan kehendak-Nya.

Buah dapat menunjukkan benih/jenis pohonnya. Kita tidak selalu dapat membedakan benih/jenis pohon dari kulit, daun, ataupun dari dahannya; tetapi dari buahnyalah kita akan mengenal benih/jenis pohonnya karena buah selalu sesuai dengan benih/jenis pohonnya.
Kehidupan orang yang telah lahir baru diibaratkan dengan pohon yang tumbuh dari benih ilahi yang berasal dari Allah.
Benih ilahi itu akan menghasilkan buah yang bersifat ilahi yaitu :
– Buah pertobatan (menanggalkan manusia lama, mematikan keinginan daging dan mengenakan manusia baru)
– Buah kebenaran (menjadi pelaku firman)
– Buah-buah Roh Kudus (menghasilkan karakter ilahi – Gal. 5:22).
– Buah pelayanan (menjadi berkat bagi orang lain)
– Buah jiwa-jiwa (menuai serta memuridkan jiwa-jiwa)

Yesus adalah Pokok anggur yang benar dan kita adalah rantingnya. Ranting tidak akan dapat berbuah dari dirinya sendiri. Ranting harus terhubung dengan pokok anggur baru dapat berbuah karena Pokok anggur itulah yang menopang seluruh pertumbuhan ranting dan daun sehingga dapat menghasilkan buah. Kita perlu memiliki tanah hati yang baik supaya benih ilahi itu dapat bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupan kita (perumpamaan tentang penabur dalam Mat. 13:3-23).

“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat. 13:23).

Kemerdekaan sejati adalah ketika kita memilih untuk menjadi hamba Kristus. Yesus Kristus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Jika kita tetap di dalam firman-Nya, kita adalah murid sejati yang akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan (Yoh. 8:31-32).
Kita menjadi hamba Kristus yang rela taat akan perintahNya atas dasar kasih karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus. Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan (2 Kor. 3:17). Orang yang merdeka di dalam Kristus telah memiliki benih ilahi (seed of righteousness). Benih ilahi yang bertumbuh di tanah hati yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula.
Setiap orang percaya telah dimerdekakan untuk hidup secara maksimal dan berbuah bagi orang lain agar Bapa dipermuliakan melalui hidup kita Amen.

image source: https://www.godsloveministries.co.in/todays-promise/john-836/

MEWARISKAN IMAN KEPADA GENERASI PENERUS

MEWARISKAN IMAN KEPADA GENERASI PENERUS

“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas,
yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”
2 Timotius 1:5

Timotius adalah salah seorang anak rohani dari Rasul Paulus. Dia berasal dari Listra dan mungkin ia diselamatkan dalam misi Paulus yang pertama (Kis 14:19-20; 16:1-2).
Ibunya Eunike, dan neneknya Lois adalah perempuan-perempuan Yahudi yang saleh, tetapi ayahnya adalah orang Gerika/Yunani. (Kis 16:1-2; 2 Tim 1:5)
Paulus menghargai Timotius sebagai anaknya sendiri dalam iman. (1 Tim 1:2; 2 Tim 1:2)
Bagaimana generasi muda seperti Timotius dapat dipakai Tuhan Yesus dengan luar biasa?

1. Timotius Menerima Warisan Iman Orang Tua nya.
Dalam ayat bacaan kita diatas Paulus memuji iman yang tulus dari Timotius. Ini merupakan kualitas iman yang luar biasa. Dan iman yang tulus ini pertama-tama hidup dalam neneknya Lois, kemudian hidup dalam ibunya Eunike dan kemudian hidup dalam diri Timotius.
Di sini terlihat bahwa ada iman yang ‘terimpartasikan’; dan ada iman yang ‘menurun’ dari nenek ke ibu setelah itu kepada Timotius.
• Yang dimaksud dengan ‘terimpartasi’ adalah menerima melalui penumpangan tangan.
• Dan iman yang ‘menurun’ bukan selalu karena faktor genetika, melainkan ada sebuah proses pembelajaran, di mana generasi yang sebelumnya memberikan teladan, mendidik dan memberikan pengajaran melalui praktek hidup sehari-hari.
Sekalipun ada sebuah survei menyatakan bahwa jika ayah dan ibu beriman maka keturunannya pasti beriman, namun dalam hidup Timotius kita dapat melihat bahwa sekalipun hanya sang ibu dan neneknya yang membimbing iman nya. Iman seorang ibu sungguh-sungguh mampu membentuk dan membuat Timotius menjadi orang beriman.
Ini menjadi pesan yang khusus bagi para ibu tunggal (single-mother) yang mendidik anak-anaknya seorang diri.
Mungkin karena:
• Suami sudah meninggal atau berpisah karena Anda memutuskan percaya kepada Yesus,
• Atau pada saat memutuskan untuk bercerai Anda belum menjadi orang percaya.
Jangan kuatir!
Sebab dengan ketekunan, kegigihan, keteladanan dengan pertolongan Roh Kudus, Ibu-ibu bisa mendidik anak-anak untuk menjadi orang yang beriman.

2. Timotius Menerima Warisan Iman Orang Tua Rohaninya
Pada umumnya iman terbentuk di dalam rumah atau dari keluarga, sebagaimana tertulis dalam beberapa ayat dalam Alkitab:

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu
dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu,
apabila engkau sedang dalam perjalanan,
apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu
dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu
dan pada pintu gerbangmu.” (Ul 6:6-9)

“Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak,
lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku, aku diajari ayahku,
katanya kepadaku: “Biarlah hatimu memegang perkataanku;
berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.”
(Ams 4:3-4)

Namun ketika seorang percaya memasuki dunia pelayanan, dia akan bertemu dengan seorang bapak atau ibu rohani yang akan mendidik, mementori serta mewariskan iman melalui keteladanan hidup; baik dalam hidup kesehariannya sebagai seorang pelayan Tuhan, maupun didalam melayani pekerjaan Tuhan.
Demikian juga dengan Timotius, setelah Timotius disunat (bukan sebagai bagian dari syarat keselamatan, melainkan agar Timotius dapat diterima dikalangan orang Yahudi, mengingat Timotius adalah seorang Yunani), Paulus meminta Timotius untuk menemani dia melanjutkan perjalanan misi yang kedua bersama dengan Silas. (Kis 15:36-41)
Sepanjang perjalanan, Paulus melatih Timotius untuk melakukan pekerjaan pelayanan; sesuai dengan yang sudah dinyatakan kepada Paulus bahwa Timotius akan ditetapkan menjadi seorang pelayan Injil. (1 Tim 1:18-19; 4:14; 2 Tim 4:1-5; 6)
Kita melihat kelanjutan perjalanan mereka melewati banyak wilayah di sekitar Laut Mediterania sebagaimana yang tercatat dalam surat-surat Lukas, Paulus, dan Timotius yang dikirimkan kepada orang-orang percaya yang menjadi teman mereka di:
• Atena (Kis 17:15);
• Korintus (1 Kor 4:17; 2 Kor 1:19);
• Filipi (Flp 1:1; 2:19);
• Kolose (Kol 1:1);
• Tesalonika (1 Tes 1:1; 3:1-10; 2 Tes 1:1) dan
• Efesus (1 Tim 1:1-3),
dan di tempat-tempat lain.

Kemudian Timotius ditahbiskan oleh Paulus sebagai pemimpin jemaat di Efesus pada tahun 65AD. Di sanalah Timotius menerima 2 kali kiriman surat dari Paulus. (I dan II Timotius)
Oma Lois, Mama Eunika dan Bapak rohani Paulus memberikan kontribusi penting dalam kehidupan iman, kerohanian dan pelayanan Timotius. Mereka adalah pribadi-pribadi yang mewariskan iman kepada generasi penerus. Dengan cara menabur benih Ilahi, menyirami dan merawati sampai Timotius bertumbuh dewasa. Dari benih Ilahi menurunkan keturunan Ilahi.
“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab Benih Ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” 1 Yohanes 3:9.
Benih Ilahi tersebut diawali dengan iman percaya dan dilanjutkan dengan pengenalan akan Kristus Yesus, Benih kebenaran yang hidup, yaitu suatu struktur kesadaran (frame of mind) yang menimbulkan keberanian bagi orang percaya untuk percaya dan menolak segala keinginan dosa. Benih Ilahi ini (seed of righteousness) akan membuahkan hidup kudus, hidup benar dan hidup sesuai dengan kehendak Allah dan tidak dapat berbuat dosa.
Paulus menulis, “Dengan teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih, orang percaya bertumbuh dalam segala hal ke arah Dia, atau Kristus,” Efesus 4:15. Kearah Dia atau Kristus, artinya terbentuk “kepribadian Yesus” di dalam diri orang percaya tsb.
“Sehingga dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Setiap pohon yang baik berasal dari benih yang baik dan akan menghasilkan buah yang baik. Sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (Matius 7:16a & 17) Orang kristen dapat merasakan betapa indah kerja Roh Kudus dalam kehidupannya yang menumbuhkan benih Ilahi dan berbuah kebenaran dan kekudusan. Buah ini mencakup Sembilan buah Roh Kudus dalam Galatia 5:22 & 23a, yaitu “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan dan penguasaan diri.”
Apa yang mereka (Lois, Eunike dan Rasul Paulus) lakukan sudah sepatutnya kita teladani, agar kita semua sungguh-sungguh memberikan warisan pada anak-anak kita (generasi penerus) yang jauh lebih berharga daripada sekedar harta, yakni Iman dan keteladanan dalam mengiring Tuhan Yesus. Amin

image source: https://bibleversestogo.com/products/2-timothy-1-5-mothers-faith

DIMENSI BARU GEREJA

DIMENSI BARU GEREJA

“Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” Lukas 5:37-39
Sudah kita dengar enam bulan terakhir ini bahwa Tahun 2020 adalah tahun dimensi yang baru. Memasuki bulan ini, Tuhan mau supaya gereja masuk dalam dimensi baru dengan paradigma pelayanan yang baru dan urapan yang baru.
Kita sudah mengalami perubahan yang luar biasa selama beberapa bulan ini dengan adanya Covid-19. Bukan saja orang yang kita kenal dan kasihi telah di panggil pulang ke rumah Bapa namun juga semua persoalan yang terkait karena keluarga di tinggalkan secara mendadak tanpa persiapan sedikitpun.
Jutaan orang di Amerika kehilangan pekerjaan dan banyak perusahaan yang tutup/gulung tikar karena lock down. Ditambah dengan memanas nya iklim politik dan pemerintahan di Amerika menjelang pemilu bulan November mendatang. Di picu dengan perbedaan ras dan golongan yang menuntut keadilan dan frustrasi masyarakat dengan pemerintahan yang ada saat menghadapi pandemik ini.
Alkitab menjelaskan bahwa manusia tidak terlalu senang menghadapi sebuah perubahan yang drastis. Bila mereka sudah menikmati anggur tua, maka mereka tidak akan suka anggur yang baru. Perubahan drastis sepertinya akan mengganggu kenyamanan. Perubahan drastis akan mengganggu rasa aman. Manusia selalu ingin dapat mengendalikan keadaan, walaupun telah terjadi perubahan.
Perubahan sudah terjadi sejak awal pandemic ini dan akan terus berubah. Namun sebagian orang menganggap ini hanya sementara dan setelahnya akan kembali seperti waktu sebelum Covid-19. Hanya orang yang mengetahui kehendak Tuhan tahu bahwa perubahan ini bukan suatu hal yang sementara.
Mari siapkan kantong anggur yang baru karena perubahan ini akan terus berubah secara dinamis sehingga kita semua di tuntun untuk lebih sungguh-sungguh. Karena perubahan ini akan menjadi suatu goncangan yang lebih dahsyat lagi sehingga gereja Tuhan yang suam-suam kuku tidak akan dapat bertahan. Hanya orang yang sungguh-sungguh dengan Tuhan, berakar tertanam dalam kasih Kristus yang akan sanggup menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini.
Barikut beberapa perubahan yang akan terjadi di enam bulan mendatang:
1.Perubahan di bidang social dan ekonomi. Tidak dapat di sangkal Covid-19 telah melumpuhkan ekonomi di beberapa sector. Hanya perusahaan yang essential (penting) saja yang terus berjaya. Sebaliknya orang yang mengetahui kehendak Tuhan akan dapat melihat kesempatan baru yang terbuka dan mengambil langkah. Perubahan “Economic recovery” merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu beberapa tahun.
2. Perubahan di bidang social dan Pendidikan bagi anak-anak generasi penerus. Sekolah dan Lembaga Pendidikan harus menemukan cara baru untuk mendidik anak-anak. Cara lama dan kurikulum yang lama harus di perbaharui. Bila Lembaga Pendidikan tidak mengarahkan anak-anak di Amerika maka mereka hanya menjadi konsumen yang memakai technology tanpa dapat mengendalikan nya. Ini berbahaya di masa yang akan datang. Bila robot lebih banyak dipakai dan bila anak-anak kita tertinggal maka sudah dapat di tebak siapa yang bisa mengendalikan robot yang akan menguasai para konsumennya. Orang tua harus mengambil sikap untuk dapat mendidik anak dengan prioritas yang benar, yaitu iman percaya kepada Tuhan harus menjadi dasar hidup mereka dari sejak kecil.
3. Perubahan di bidang perbankan dan mata uang. Dimana mata uang yang kita kenal sekarang ini berupa coins dan kertas akan menjadi “using” dan tidak lagi dipakai untuk ber transaksi jual beli. Proses di ganti dengan elektronik/digital. Sehingga tenaga kerja di perbankan juga akan mengalami perubahan.
4.Perubahan di bidang politik dan pemerintahan. Lebih banyak orang akan meniadakan Tuhan dan lebih mengandalkan kekuatan sendiri. Akibatnya penghukuman Tuhan turun atas bangsa yang tidak setia dan meninggalkanNya.
Sekilas perubahan-perubahan diatas saya sampaikan untuk mempersiapkan saudara, dan untuk di doakan agar Tuhan terus ber karya melalui gerejaNya. Injil kerajaan ini terus di beritakan dan jiwa-jiwa di selamatkan. Jika kita lihat apa yang akan terjadi ini, sepertinya dunia tidak siap bila gagal mempersiapkan diri dalam beberapa bulan ke depan.
Jangan kaget bila terjadi goncangan dan banyak “shifting”. Saya telah memberitahukannya, bahwa Covid-19 hanya wake-up call bagi dunia agar ber siap-siap menghadapi yang akan datang ini.
Usahakan saudara semua terhubung dengan Gereja yang mengetahui kehendak Tuhan dan beritahukan sanak keluarga di Indonesia untuk ber siap-siap. Terlebih lagi bila mereka belum percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Inilah saatnya pertobatan secara besar-besaran terjadi. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, senantiasa percaya dan mengasihi Tuhan. Tuhan akan mengguncang-guncang dunia ini agar tinggal tetap KerajaanNya yang tidak terguncangkan.
Dimensi baru ini benar-benar baru, ternyata kata ‘baru’ yang Tuhan maksudkan adalah, tentang sesuatu yang belum pernah terjadi, yang bila ditinjau dari sudut apapun akan mengejutkan, akan tetap baru. Usahakan saudara tergabung dalam COOL, agar saudara bisa membantu dan dibantu saat goncangan tiba.
Perubahan dan keadaan yang baru melahirkan banyak pertanyaan. Mengapa? Jawaban nya: inilah waktu nya. Bagaimana nanti? Bagaimana hari depanku? Hari depan kita dalam Tuhan adalah hari depan yang penuh harapan. Jangan mengikatkan diri dengan hal-hal dunia ini namun jadilah pengusaha, pengatur (steward) akan segala hal yang Tuhan percayakan padamu.
Alkitab berkata bahwa hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita dan bagi umat yang mengenalNya. Bagi kita yang percaya dan mengetahui kehendak Tuhan tidak perlu panik. Ada sebagian orang memilih untuk pindah kota untuk menghindar dari perubahan dan guncangan yang akan datang, namun perubahan ini bukan hanya di kota atau negara tertentu tetapi melanda seluruh dunia.
Kecenderungan manusia adalah ingin segera dapat menguasai keadaan, ingin berada di zona aman dan nyaman, dan ini membuat banyak manusia hidup terjebak dalam kekhawatiran hari-hari ini. Khawatir ini akan memicu ketakutan, ketakutan akan mendatangkan sakit penyakit. Karena ketakutan menurunkan daya tahan tubuh, dan kekhawatiran tidak pernah berakibat baik.
Setiap “Orang beriman atau orang percaya” sedang diuji saat ini. Apakah kita semua termasuk dalam bilangan orang yang benar-benar percaya dan duduk dalam naungan dan perlindungan Tuhan. (Mazmur 91) Karena semua orang yang munafik, pura-pura dan suam-suam kuku sedang mengalami penampian.
Hadirnya Tuhan Yesus dalam hidup seseorang memberi damai sejahtera walau di tengah badai. Seperti rajawali yang justru naik terbang tinggi di pusat badai, hingga melampaui badai (Yes 40: 31) dan keluar sebagai pemenang.
Jangan sepelekan apapun yang sudah tidak tersembunyi lagi. Hal-hal yang sudah dinyatakan menjadi bagian kita, serta keturunan kita, untuk diperhatikan dan dilakukan. Mungkin ada hal-hal lain yang Tuhan sembunyikan, sampai datang waktu yang tepat untuk dinyatakan.
Ketika Tuhan sudah menyatakan sesuatu, ada bagian yang harus kita lakukan. Ada bagian Tuhan, dan ada bagian kita. Apa yang sudah Tuhan nyatakan yang harus kita perhatikan:
1. Tuhan sedang melawat dunia ini dan menyatakan diriNya pada setiap orang. “We are entering into a new season of God’s presence”. Kalau sebelumnya banyak orang tidak peduli dengan Tuhan, saat-saat ini banyak orang menyadari hidup tanpa Tuhan adalah sia-sia.
2. Gereja sedang di perbaharui melalui pencurahan Roh Kudus agar dapat menyelesaikan Amanat Agung. Gereja BIC tidak lagi hanya sebatas penggembalaan gereja local, namun di perlebar dan di perluas untuk menjangkau jiwa-jiwa dengan metode yang baru.
3. Ada kebangkitan generasi muda yang tidak mau hanya ber ibadah secara rutinitas. Mereka adalah generasi yang gagah berani untuk menyatakan kasih dan kuasaNya pada dunia yang gelap dan terhilang.
4. Mari rapatkan barisan dengan semakin mengasihi Tuhan dan sesama (Loving God and Loving People) Jangan takut dan tetap fokus pada semua yang Tuhan sudah sampaikan.
5. Banyak membaca Alkitab dan berdoa, memuji dan menyembah Tuhan serta ber bahasa Roh.
6. Batasi Media Sosial, khususnya hindari berita-berita yang dapat memicu kekhawatiran dan menurunkan daya tahan tubuh. Jadilah pembawa kabar baik bagi sesama, dan bukan penyebar hoaks.
Dimensi Baru sudah datang, dimensi yang belum pernah kita alami sebelumnya dan kita termasuk di dalamnya. Singkirkan kebingungan yang muncul dari kepalsuan dan kebohongan, tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan segala kebenaranNya, maka yang lain akan di tambahkan kepadamu. (Matius 6:33)
Bangkitkan iman percaya, semakin bijaksana dan mengerti kehendak Tuhan. Marilah kita lakukan bagian kita, hingga kita tidak takut dan khawatir. Nantikanlah Tuhan, dengan berani percaya, bahwa Yesus pasti datang kembali menjemput kita di awan-awan permai. Orang benar akan terbang bagai rajawali, berjalan tidak menjadi lelah dan berlari tidak menjadi lesu. Amin.
Ringkasan tuntunan bulan July 2020, Ibu Pdt. Juliana

image source: https://za.pinterest.com/pin/310748443020048422/

PENTAKOSTA KETIGA DALAM ERA NEW NORMAL

PENTAKOSTA KETIGA DALAM ERA NEW NORMAL

Alkitab berkata bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Dia dikuburkan, tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan. Setelah itu selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada lebih dari 500 murid-murid-Nya untuk membuktikan bahwa Dia hidup.
Dan dengan disaksikan oleh murid-murid-Nya, Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Pesan terakhir Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Setelah Tuhan Yesus terangkat ke sorga, 120 murid-murid berkumpul di kamar loteng di Yerusalem. Mereka melakukan ini karena Tuhan Yesus memerintahkan agar mereka jangan pergi dari kota Yerusalem sebelum diperlengkapi dengan kuasa dari tempat yang maha tinggi. (Kisah Para Rasul 1:4)
Apa yang mereka lakukan? Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Artinya mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam. Kalau Saudara adalah murid Tuhan Yesus berarti pesan ini juga buat Saudara dan saya.
Setelah 10 hari mereka melakukan itu, pada hari raya Pentakosta, tiba-tiba terdengarlah bunyi seperti tiupan angin keras di ruangan itu. Kemudian tampaklah lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap kepada mereka masing-masing dan mereka dipenuhi dengan Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh.
Setelah itu mereka dipakai oleh Tuhan untuk menjadi saksi-Nya. Mereka melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus. Peristiwa pencurahan Roh Kudus ini kita sebut sebagai Pentakosta yang Pertama.
MENGGENAPI AMANAT AGUNG
Ketika Tuhan Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya, mengenai tanda kedatangan Tuhan Yesus kembali dan tanda kesudahan dunia ini, salah satunya Tuhan Yesus menjawab dari Matius 24:14, “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, dan sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
Jadi Tuhan Yesus akan datang kembali setelah Injil Kerajaan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Tuhan Yesus pasti datang kembali. Karena itu Tuhan Yesus memberikan tugas kepada kita murid-murid-Nya untuk menjadi saksi, yaitu pergi dan menjadikan semua bangsa itu murid Tuhan Yesus. Inilah yang disebut Amanat Agung Tuhan Yesus.
Kita tidak bisa menggenapi Amanat Agung Tuhan Yesus dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kuasa yang diberikan Roh Kudus kepada kita. Sebelum Roh Kudus dalam Pentakosta Pertama dicurahkan, murid-murid-Nya semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama.
Hal ini juga dilakukan pada waktu menantikan pencurahan Roh Kudus di Azusa Street, Los Angeles yang kita sebut sebagai Pentakosta Kedua.
Saya percaya ini juga berlaku untuk Pentakosta Ketiga. Sebelum pencurahan Roh Kudus yang dahsyat dari Pentakosta Ketiga, maka umat Tuhan semua harus bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama.
Selama beberapa tahun terakhir saya selalu bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, bagaimana caranya untuk membuat umat Tuhan semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama?” Dan yang luar biasa hari-hari ini kita melihat bahwa dengan adanya pandemi COVID-19, Tuhan memaksa kita, umat Tuhan, agar kita semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama.
Pada saat murid-murid Tuhan Yesus dipenuhi Roh Kudus, tanda awalnya adalah mereka berbahasa roh. Saya rindu agar Saudara semua dibaptis Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh, karena banyak manfaatnya.
o 1 Korintus 14:2 berkata, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh tidak berkata-kata kepada manusia tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.”
Karena itu pada waktu kita berkata-kata dalam bahasa roh kita merasakan hadirat Tuhan. Ada sukacita yang akan memenuhi kita. Seperti yang dikatakan dalam Mazmur 16:11, “… di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah..”
Di tengah-tengah pandemi ini, kita perlu mengalami sukacita yang berlimpah-limpah untuk melawan ketakutan, kekuatiran, kepanikan.
o 1 Korintus 14:4 berkata, ”Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh ia membangun dirinya sendiri…” Artinya manusia roh kita yang akan dibangun.
o 1 Korintus 14:14-15 berkata,“…jika aku berdoa dengan bahasa roh maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan bernyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”
Manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Semuanya itu harus bisa memuji Tuhan.
· Kita memuji Tuhan dengan tubuh kita dengan cara bertepuk tangan, mengangkat tangan, melompat, menari dan lain-lain.
· Kita memuji Tuhan dengan akal budi kita/jiwa kita kalau mengunakan bahasa yang kita mengerti; contohnya: bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Mandarin dan lain-lain.
· Sedangkan roh kita akan berdoa, memuji dan menyembah kalau kita berbahasa roh.
Kalau kita berkata-kata dalam bahasa roh kita akan bisa berdoa, memuji dan menyembah lebih lama dibandingkan kalau kita menggunakan bahasa yang kita mengerti.
DAMPAK PENCURAHAN ROH KUDUS
Setelah murid-murid dipenuhi dengan Roh Kudus, banyak orang bertobat dan juga membawa banyak perubahan di dalam Gereja mula-mula.
1. Penuaian Jiwa
Petrus berkhotbah sekitar 3.000 orang bertobat dan dibaptis. Petrus berkhotbah dengan kuasa Roh Kudus. Menurut data dari PBB, pada jaman itu populasi dunia sekitar 300 juta orang. Sekarang penduduk dunia sekitar 7,8 milyar. Sehingga 3.000 orang waktu itu setara dengan sekitar 78.000 orang saat ini. Kita harus percaya bahwa sekali berkhotbah bisa 78.000 orang bertobat dan dibaptis. Dengan berkhotbah secara online hal ini bisa terjadi.
2. Tanda-tanda dan Mujizat-mujizat
Hal yang kedua yang terjadi setelah murid-murid dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga membuat banyak orang bertobat yaitu terjadinya tanda-tanda dan mujizat (signs and wonders).
Para rasul dipakai oleh Tuhan untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat.
· Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh sejak lahir. Bayangan Petrus saja bisa menyembuhkan orang.
· Saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus jika diletakkan pada orang sakit / dirasuk setan maka orang itu akan sembuh.
Tuhan Yesus dalam Markus 16:15-18 berkata bahwa kalau kita pergi untuk memberitakan Injil maka tanda-tanda dan mujizat (signs and wonders) akan menyertai kita.
3. Perubahan Gaya Hidup Jemaat
Hal yang Ketiga yang terjadi setelah murid-murid dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga membuat banyak orang bertobat yaitu cara hidup jemaat berubah. Mereka:
a. Bertekun dalam Pengajaran Rasul-rasul
Ini bisa diartikan bahwa mereka suka membaca Alkitab. Judul Mazmur 119 yang merupakan pasal terpanjang dalam Alkitab adalah: “Bahagianya orang yang hidup menurut Firman Tuhan.”
Dalam masa pandemi COVID-19 kita harus banyak membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan agar supaya kita berbahagia, sehingga kita bisa mengatasi segala dampak akibat pandemi COVID-19.
Mazmur 119:105 berkata, “Firman-Mu Itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Nyanyi: Firman-Mu p’lita bagi kakiku;;Terang bagi jalanku. Firman-Mu p’lita bagi kakiku Terang bagi jalanku. Di waktu ku bimbang. Dan hilang jalanku. Tetaplah Kau di sisiku. Dan takkan ku takut. Asal Kau di dekatku. Besertaku selamanya
A NEW DIMENSION dalam NEW NORMAL
Tuhan memberikan tema tahun 2020 adalah Tahun Dimensi Yang Baru. Kita tidak pernah menyangka bahwa Tahun Dimensi Yang Baru adalah seperti sekarang ini, dimana dengan adanya pandemi COVID-19, kita sekarang memasuki New Normal.
Ayat emas yang Tuhan berikan adalah dari 2 Korintus 3:18 dan Ulangan 28:13-14.
Melalui 2 ayat emas ini Tuhan berkata bahwa kalau kita makin serupa dengan gambar Yesus; yang berarti kemuliaan Dia di dalam kita semakin besar, maka berkat secara jasmani yang akan kita terima akan semakin besar. Kita diberkati untuk menjadi berkat. Katakan Amin! Saudara diangkat menjadi kepala dan bukan ekor. Saudara akan tetap naik dan bukan turun.
Tanggal 1 Januari 2020, saya digerakkan oleh Roh Kudus untuk mengatakan bahwa dalam memasuki tahun 2020, cara kita bekerja mencari nafkah tidak bisa dengan cara yang lama tetapi harus menuruti Firman Tuhan, tuntunan Tuhan.
Ternyata hal-hal ini yang sedang terjadi. Kita sedang memasuk resesi ekonomi secara global. Cara-cara yang lama dalam bekerja sudah tidak bisa dipakai lagi.
Kita harus bekerja menurut tuntunan firman Tuhan, dan peka terhadap suara Tuhan!
Untuk itu kita harus makin menjadi serupa dengan gambar-Nya. Orang yang menjadi serupa dengan gambar-Nya itu adalah murid Tuhan Yesus.
Dengan goncangan ekonomi global yang sedang terjadi saat ini, banyak dari Generasi Milenial dan Generasi Z harus menghadapi kenyataan; betapa rapuhnya budaya mereka dan kehidupan yang dibangun di atasnya. Padahal selama ini mereka begitu percaya diri dan bahkan sombong. Mereka merasa tidak perlu melibatkan Tuhan; tidak perlu bertanya kepada Tuhan tentang cara untuk meraih kesuksesan. Dan sekarang semua tergoncang.
Karena itu saya percaya bahwa melalui pandemi COVID-19 ini akan ada banyak orang-orang muda yang bertobat. Mereka harus jadi murid, sehingga peka terhadap tuntunan Tuhan. Dan dengan demikian akan diberkati dalam seluruh apa yang mereka kerjakan. Itu sebabnya, tidak salah kalau akan terjadi kebangkitan Generasi Yeremia yaitu anak-anak muda yang:
· dipenuhi dengan Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa, dan akan memenangkan banyak jiwa.
b. Persekutuan dalam Unity
Mereka selalu berkumpul memecahkan roti dan berdoa. Ini bisa dikatakan bahwa mereka hidup dalam unity dan suka berdoa.
c. Budaya Memberi
Mereka suka memberi sehingga tidak ada jemaat yang berkekurangan. Dalam keadaan krisis ekonomi ini, kita diperintahkan oleh Tuhan untuk memberi dan menabur.
Kisah Para Rasul 20:35b berkata,“…Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”
Saudara harus saling memperhatikan mereka yang ada di kelompok-kelompok COOL yang sedang dalam kekurangan.
d. Bersukacita di dalam Tuhan
Mereka selalu bergembira dan dengan tulus hati sambil memuji Allah.
Jadi mereka semua suka membaca Alkitab, suka berdoa, unity, suka memberi, suka memuji Allah dengan gembira dan tulus hati. Dan dikatakan mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari jumlah orang yang diselamatkan bertambah. Haleluya !!!!
DAMPAK PENTAKOSTA
Dalam pada itu, ada dua hal yang terjadi, yang melanda Gereja Mula-mula:
1. Goncangan
Selama itu mereka hidup di dalam zona nyaman, di Yerusalem. Setiap hari berkumpul dalam unity, membaca Alkitab, berdoa dan memuji bersama-sama dengan sukacita; suka memberi sehingga tidak ada yang berkekurangan. Lalu mereka berpikir menjadi orang Kristen itu cukuplah hanya seperti ini.
Mereka lupa bahwa mereka harus pergi… menginjil…Caranya bagaimana? Aniaya diijinkan oleh Tuhan. Kemudian terjadilah aniaya yang hebat terhadap orang-orang percaya di Yerusalem.
Selain rasul-rasul, mereka semua harus lari ke seluruh daerah Yudea dan Samaria, dan pada akhirnya ke ujung bumi. Saya percaya melalui goncangan pandemi COVID-19 ini, kita, umat Tuhan yang selama ini ada di zona nyaman juga akan dipaksa untuk melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu pergi menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus. Katakan Amin!
2. Perubahan Paradigma dalam Pelayanan
Selama ini murid-murid Tuhan Yesus mempunyai pengertian bahwa yang memperoleh keselamatan hanya orang-orang Yahudi saja.
Tetapi kemudian terjadi pertobatan Kornelius, yang bukan orang Yahudi, dan Roh Kudus turun ke atas mereka dan mereka berbahasa roh.
Dengan perdebatan yang cukup panjang, akhirnya lewat kesaksian Petrus, para rasul dan seluruh orang percaya di Yudea dapat menerima bahwa keselamatan bukan hanya untuk orang Yahudi saja tetapi untuk semua bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Katakan Amin!
Dengan adanya pandemi COVID-19, kita juga mengalami perubahan paradigma dalam pelayanan kita. Tadinya kita beribadah di gedung gereja, kita berkumpul bersama-sama, bisa berjabat tangan, saling berpelukan menyatakan kasih kita, melakukan penumpangan tangan. Sekarang berubah total menjadi ibadah ‘online’; bahkan ada gereja-gereja yang tidak bisa melakukan ibadah online sehingga tidak bisa beribadah.
Kita memasuki New Normal dan tidak bisa lagi melakukan seperti hal-hal yang lama.
Kita tidak tahu dengan pasti bentuk ibadah kita selanjutnya. Tetapi yang Tuhan mau kita bisa menerima perubahan paradigma dalam pelayanan kita. Karena sama seperti yang terjadi pada waktu itu; dengan adanya perubahan paradigma justru terjadi penuaian yang jauh lebih besar. Itu juga yang akan terjadi pada kita pada hari-hari ini.
TUHAN YESUS MEMBERKATI SAUDARA SEMUA!
Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo

DIRECTING YOUR DESTINY ACCORDING TO THE WILL OF GOD

DIRECTING YOUR DESTINY ACCORDING TO THE WILL OF GOD

Setelah seseorang mengalami kelahiran baru (bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat), hidup orang tersebut berubah secara rohani dan tidak akan pernah sama lagi. Allah memberikan hati yang baru, di mana Roh Kudus hadir untuk berdiam di dalam hatinya, sehingga orang tersebut disebut manusia roh (maksudnya rohnya sudah terhubung dengan Allah yang kudus dan mulia).
Kehendak Allah adalah “Semua yang lahir dari Allah akan mengalahkan dunia” (1 Yoh. 5:4). “Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: IMAN KITA.”
Akan tetapi banyak orang Kristen yang masih hidup dalam kekalahan, karena dusta iblis. Pada saat kuatir, takut, dan terindimidasi menjadi bingung, kacau dan tidak mengetahui kehendak Tuhan. Mengapa kehidupan rohaninya lemah/tidak berdaya sehingga mengalami kekalahan, kemiskinan dan lain sebagainya? Apakah karena Allah tidak menyertai mereka ? Ataukah karena kasih karunia Allah yang kurang memadai ?
Kasih KaruniaNya lebih dari cukup. Roh Kudus melalui Rasul Petrus mengingatkan bahwa sesungguhnya ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi bagian dalam keluarga Kerajaan Allah, Dia telah mengaruniakan segala sesuatu yang memperlengkapi kita agar dapat hidup dalam berkat kekekalan, dalam segala kekudusan dan kemuliaanNya, mengalami kemenangan serta berkenan di hadapan-Nya.
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib”. (2 Pet. 1:3)
Ternyata meskipun telah dianugerahkan segala sesuatu yang berharga oleh Tuhan, tetapi jika tidak diresponi dengan iman (iman yang disertai perbuatan) maka anugerah/berkat tersebut tidak akan bisa kita nikmati. Kita yang harus melakukan bagian kita yaitu memposisikan diri untuk dapat mengalaminya.
Hidup orang yang telah dipanggil harus berpadanan dengan panggilan itu sendiri.Seseorang memang diselamatkan bukan karena perbuatan baiknya, tetapi siapa yang sudah menerima keselamatan, kasih karunia Allah akan memampukan dirinya untuk berbuah-buah kebenaran (berbuat yang benar lebih dari sekedar perbuatan baik).
Iman yang mengalahkan dunia dimulai ketika kita percaya kepada Yesus Kristus. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan terus membangun keintiman dengan Roh Kudus. Roh Kudus terus memperbaharui orang percaya oleh pengenalan dia akan Pribadi Allah.
“Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia” (2 Pet. 1:4).
Mari klaim janji-janji Tuhan yang sangat berharga dan besar (termasuk juga berkat kekekalan yang sudah kita pelajari bulan lalu) dan pergunakan untuk melakukan perkara-perkara kebenaran yang menyenangkan Tuhan.
Kalau berkat jasmani dipakai hanya untuk hidup yang sekedar eksis (memuaskan hawa nafsu serta memenuhi kebutuhan), maka apa yang seharusnya dapat berguna untuk kebaikan itu akan menjadi tidak berguna bagi dirinya sendiri. Orang yang tidak memiliki dasar yang teguh sebagai pondasi kehidupannya akan mudah terseret oleh hawa nafsu dunia yang membinasakan.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).
Yang Dia kehendaki adalah kita terlebih dulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Bagaimana mencari dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya?
– Put God as the center of our life,
– menjadikan firman sebagai pondasi kehidupan,
– memikirkan perkara-perkara yang di atas,
– mengarahkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Setelah itu, segala sesuatu yang kita perlukan akan ditambahkan kepada kita.
Orang yang hidup dalam ikatan Perjanjian Kekal dengan Tuhan akan memiliki keyakinan yang teguh bahwa hanya Tuhan Yesuslah satu-satunya sumber dari segalanya. Pengenalan akan Allah akan membuat dirinya tidak mau diperhamba/terikat kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin.
“Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” (Gal. 4:9).
Tujuan Allah mengaruniakan segala sesuatu yang berguna serta janji-janji yang sangat berharga adalah agar kita menjadi semakin serupa dengan gambar-Nya; hidup dalam segala berkat, berkelimpahan, berkemenangan, kudus dan tak bercacat cela menjelang hari Kristus. Tuhan sangat ingin meluputkan kita dari hawa nafsu dunia yang membinasakan, agar kita diselamatkan dari murka Allah.
“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang” (2 Petrus 1:5-7).
Seperti seorang tukang bangunan yang mau membangun bangunan, maka dia akan meletakkan batu demi batu demikian seterusnya sampai bangunan yang dikehendaki berdiri. Begitu pula, Allah menghendaki kita sebagai batu hidup yang dipergunakan untuk pembangunan suatu rumah rohani (menjadi Bait Roh Kudus), secara pro-aktif menambahkan kepada iman kita hal-hal yang disebutkan oleh ayat di atas. Dasar dari rumah rohani tersebut adalah iman yang bekerja dalam kasih Kristus.
‘Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menambahkan kepada iman kita’ :
– Kebajikan : memiliki standard moral yang tinggi, karakter/integritas ilahi, ber buah-buah kebaikan yang berasal dari Roh Kudus (Gal. 5:22).
– Pengetahuan : berketetapan hati adalah sesuatu langkah awal yang sangat baik, tetapi bila tanpa pengetahuan hal itu akan menjadi tidak baik, tidak efektif dan efisien. Orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. Kebodohan akan menyesatkan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap Tuhan (Ams. 19:2-3).
– Penguasaan diri : menerapkan pengetahuan dengan hikmat dari Roh Kudus sehingga ada penguasaan diri dalam segala keadaan. Orang yang memiliki penguasaan diri akan tertib hidupnya, dia tidak akan mengambil langkah/keputusan berdasarkan mood/feeling serta keinginan/hawa nafsu. Tidak ada ruang untuk kemalasan, cari alasan, lalai, ketidakpedulian, pandang enteng dan sikap masa bodoh bagi orang percaya. Penguasaan diri merupakan salah satu buah Roh, suatu kedisiplinan yang Allah kerjakan di dalam seseorang yang memilih untuk terus menyangkal diri dan memikul salib.
– Ketekunan : memiliki daya tahan, ketabahan hati untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar. (Baca Fil. 4:12-13).
– Kesalehan : sikap menghormati dan memiliki roh takut akan Allah, menghargai karya keselamatan, menghargai anugerah kasih karuniaNya yang memampukan kita untuk hidup bagi DIA.
– Kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang : dasar dari semua adalah kasih akan Tuhan (baca Mat. 22:37) dan dengan kasih Kristus kita dapat mengasihi sesama (baca Mat. 22:39). Mengasihi sesama seperti dalam 1 Kor. 13 : 1-13.

TANTANGAN DALAM ‘The Year of A New Dimension’

TANTANGAN DALAM ‘The Year of A New Dimension’

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” 2 Korintus 3:18
“Tahun 2020 adalah Tahun Dimensi yang Baru”. Ini berbicara tentang ukuran baru yang lebih besar dan lebih baik dalam seluruh aspek hidup kita yang menyangkut berkat secara rohani maupun jasmani. Tuhan ingin kita semua mengalami semua janji-janji berkat-Nya bahkan yang lebih besar dan lebih baik dari hari ke hari sesuai dengan firman-Nya yang berkata;
“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, …”
Tetapi apa yang mendasari semua ini sehingga kita mengalami berkat rohani dan jasmani dengan dimensi yang baru?
Dalam perumpamaan tentang pokok anggur yang benar yang ditulis dalam Injil Yohanes 15:1-8, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai “Pokok Anggur”, di mana murid-murid-Nya sebagai “ranting”, dan Allah digambarkan sebagai “Tukang Kebun” yang memelihara ranting-ranting itu supaya tetap berbuah.
Di sini Tuhan Yesus berbicara tentang adanya dua macam ranting, yaitu yang berbuah dan yang tidak berbuah. Buah yang dimaksud di sini adalah buah Roh yaitu karakter Kristus yang termanifestasi dalam hidup orang percaya sebagai hasil persekutuan dengan Roh Kudus, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Dalam perumpamaan ini diceritakan, bahwa ranting yang tidak berbuah pasti akan dipotong oleh Bapa, lalu dipisahkan dari hubungan dengan Tuhan Yesus. (Matius 3:10)
Melalui perumpamaan pokok anggur yang benar ini, Tuhan Yesus memberikan peringatan kepada orang percaya bahwa hubungan keselamatan orang percaya tidak bersifat statis berdasarkan keputusan di masa lalu, tetapi hubungan itu bersifat progresif selama orang percaya tetap tinggal di dalam Kristus sebagaimana ranting akan tetap berbuah selama terpaut dengan pokok anggurnya.
Tetapi ranting yang berbuah justru akan terus dan terus dibersihkan oleh Bapa yaitu dengan disingkirkannya segala sesuatu yang menghambat mengalirnya hidup yang vital dari Yesus. Mengapa orang percaya harus terus “dibersihkan”? Bukankah orang percaya sudah dikuduskan oleh Darah Yesus ketika mereka percaya dan menerima Yesus? Memang Darah
Yesus sanggup menghapus dosa manusia tetapi tidak serta merta menghilangkan tabiat dosa (sinful nature) manusia, yaitu:
“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Galatia 5:19-21a
Tabiat-tabiat dosa inilah yang akan terus “dibersihkan” oleh Bapa sampai kehidupan orang percaya serupa dan segambar dengan Kristus. Allah sebagai “Tukang Kebun” tidak dapat “membersihkan” orang percaya dengan sendirinya tanpa adanya kerjasama dari orang percaya. Bagian Allah yang “membersihkan” dan bagian orang percaya adalah menyangkal diri dan memikul salib selama hidupnya, seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 9:23, yaitu:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
Seperti dalam proses pemurnian emas, Allah menempatkan diri-Nya sebagai seorang pandai emas yang memurnikan emas dengan membersihkan atau melepaskan emas tersebut dari campuran logam-logam lain (alloy) yang menempel sehingga membuat emas itu menjadi kotor dan keras.
”Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.” Maleakhi 3:2-3
Secara sederhana proses pemurnian emas adalah: emas dimasukkan disuatu wadah dan dicampurkan dengan suatu zat, setelah itu emas dibakar sampai meleleh. Karena berat jenis emas lebih berat dari segala jenis logam, maka ketika emas campuran itu meleleh, emas murninya akan mengendap ke bawah dan kotoran-kotoran yang menempel pada emas tersebut akan terlepas dan mulai terangkat ke atas, lalu si pandai emas akan mengambil kotoran- kotoran itu. Setelah apinya dimatikan maka kadar kemurnian emas itu akan naik. Begitulah selanjutnya emas mengalami beberapa kali proses pemurnian sampai menjadi emas yang murni yang menurut Alkitab; bening warnanya.
“…jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.” Wahyu 21:21
Tetapi apabila dalam suatu proses pemurnian, ketika kotoran-kotoran yang menempel pada emas sudah terangkat ke atas dan si pandai emas tidak mengambilnya, maka ketika api yang membakar emas dimatikan, kotoran-kotoran itu akan kembali menempel pada emas, emas tetap mengalami proses pemurnian tetapi kadar kemurniannya tidak naik.
“Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.” Yesaya 48:10
Allah memakai istilah “dapur kesengsaraan” untuk menggambarkan proses membersihkan tabiat dosa yang masih ada dalam kehidupan orang percaya yang menghambat kemuliaan Kristus terpancar dalam hidup mereka. Ketika Allah mendatangkan “proses” yang “membakar” kehidupan orang percaya, seperti yang terjadi dalam proses pemurnian emas, maka tabiat-tabiat dosa manusia (kotoran-kotoran yang menempel) mulai terangkat ke atas atau terlihat.
Tetapi jika orang percaya meresponi “proses” itu secara positif dengan memikul salibnya, maka Allah sebagai pemurni emas dapat mengambil “kotoran-kotoran” tersebut, sehingga ketika proses “dapur kesengsaraan” selesai, kadar kemurnian emas atau kadar kekudusan orang percaya naik, orang percaya menghasilkan buah Roh sehingga memancarkan kemuliaan Kristus yang semakin hari semakin besar.
TANTANGAN DALAM THE YEAR OF A NEW DIMENSION
Tidak ada seorangpun yang ingin mengalami “dapur kesengsaraan” dalam hidupnya. Secara alami manusia cenderung menghindari proses itu, tetapi ingat firman Tuhan berkata:
“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan,
dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak.
Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”
Ibrani 12:5-10
Proses “dapur kesengsaraan” yang diizinkan Allah justru merupakan tanda bahwa orang percaya dikasihi oleh Allah sehingga mereka dididik dan dibersihkan, karena tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Allah. Demikian juga seorang anak yang sudah berhasil lulus mengikuti ujian tingkat Sekolah Dasar, maka dia akan naik ke jenjang yang lebih tinggi, dimana ia akan menghadapi ujian yang lebih berat lagi.
Orang percaya yang meresponi positif setiap “proses” yang datang dalam hidupnya dengan memikul salibnya, maka Allah akan mendatangkan “dapur kesengsaraan” yang akan semakin “panas” dari hari ke hari agar orang percaya semakin banyak menghasilkan buah Roh sehingga Kemuliaan Kristus semakin terpancar dalam kehidupan orang percaya dengan dimensi yang semakin besar.
Tetapi tidak semua orang percaya akan memberikan respon yang positif pada setiap “proses” yang datang dalam hidupnya, adakalanya orang percaya mengalami kegagalan dalam memikul salib sehingga mereka mengalami “proses” tetapi tidak menghasilkan buah Roh. Hal ini membuat Allah harus mengulangi proses pemurnian tersebut. Ingatlah apa yang firman Tuhan katakan:
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Yohanes 15:4
Orang percaya akan menghasilkan buah Roh asalkan memiliki persekutuan intim dengan Tuhan. Agar kita dapat bersekutu dengan Tuhan tentunya memerlukan waktu dan pengorbanan, dan hal ini yang banyak dilalaikan oleh orang percaya, akibatnya orang percaya seringkali gagal memikul salib ketika “proses” datang dalam hidup mereka.
Tuhan bertujuan agar setiap orang percaya memancarkan kemuliaan Kristus dalam dimensi yang semakin besar dari hari ke hari sehingga berkat jasmani akan dialami oleh orang percaya dalam dimensi yang besar juga, hingga akhirnya membuat nama Tuhan dimuliakan. (JM)
“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Yohanes 15:8

DIMENSI BARU

DIMENSI BARU

“Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” Lukas 5:37-39
DIMENSI BARU
· Dimensi Yang Relatif
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa dimensi baru yang akan kita temui di tahun 2020 lebih merupakan perubahan keadaan saja. Pola pikir seperti ini membuat mereka melihat bahwa tahun dimensi baru itu sebagai sekedar kelanjutan saja dari keadaan yang sebelumnya. Alkitab menjelaskan bahwa manusia tidak terlalu senang menghadapi sebuah perubahan yang drastis. Bila mereka sudah menikmati anggur tua, maka mereka tidak akan suka anggur yang baru. Perubahan drastis sepertinya akan mengganggu kenyamanan. Perubahan drastis akan mengganggu rasa aman. Manusia selalu ingin dapat mengendalikan keadaan, walaupun telah terjadi perubahan. Bila kita akan mengukur “Apa itu keadaan baru menurut setiap individu?”, hasilnya pasti tidak akan sama satu dengan yang lain, karena arti kata ‘baru’ yang manusia inginkan sangat relatif.
· Dimensi Yang Absolut
Memasuki bulan Maret 2020, manusia dan dunia mengalami dimensi baru, suatu dimensi yang benar-benar baru. Membuka tahun 2020, banjir dadakan terjadi di Jakarta dan di beberapa tempat di bumi ini. Mungkin hal ini belum membuat kita mampu membayangkan apa yang akan terjadi. Kemudian situasi yang berubah dengan cepat datang, Cina diserang COVID-19, kemudian Eropa dan Amerika, dan mengalami perlambatan ekonomi yang masif dan itu ternyata mempengaruhi situasi makro ekonomi banyak negara.
Kita dikejutkan dan mendadak semua berubah. Jika kita lihat apa yang terjadi ini, sepertinya dunia tidak siap. Korban di Korea Selatan semakin bertambah karena gereja mengabaikan seruan untuk tidak berkumpul. Korban di Italia meningkat karena penduduknya tidak mau dibatasi karantina. Korban di USA melompat jumlahnya karena menganggap remeh virus tsb. Di Indonesia, juga mirip-mirip walau belum separah di negara-negara itu. Manusia yang tidak mau diubah itu, dipaksa untuk melihat harga yang mereka bayar, ketika orang-orang di sekitar mereka menghembuskan nafas terakhirnya.
Dimensi baru ini benar-benar baru, ternyata kata ‘baru’ yang Tuhan maksudkan adalah, tentang sesuatu yang belum pernah terjadi, yang bila ditinjau dari sudut apapun akan tetapi mengejutkan, akan tetap baru. Baru yang Tuhan maksudkan itu absolut.
“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” Ulangan 29:29
· Hal-hal yang Tersembunyi
Perubahan dan keadaan yang baru melahirkan banyak pertanyaan. Mengapa? Mengapa dia yang terkena, dia kan orang baik? Mengapa aku? Bagaimana nanti? Bagaimana hari depanku? Mengapa tidak dapat ditolong? Ada banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Mungkin karena keterbatasan manusia, atau ada alasan lain? Alkitab berkata bahwa hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita.
Kecenderungan manusia adalah ingin segera dapat menguasai keadaan, ingin berada di zona aman dan nyaman, dan ini membuat banyak manusia hidup terjebak dalam kekhawatiran hari-hari ini. Khawatir ini akan memicu ketakutan, ketakutan mendorong kekacauan, ketakutan menurunkan daya tahan tubuh, dan akhirnya kekhawatiran tidak pernah berakibat baik.
Tuhan Yesus dalam Matius 6 mengajarkan agar janganlah kita khawatir. (Yun) μή μεριμνάω (merimnao) yang merupakan sebuah kata kerja. Artinya untuk tidak khawatir. Sehingga terjemahannya mungkin dapat juga dikatakan “Buatlah khawatir tidak hadir”. Karena Tuhan tahu yang kita perlukan.
Definisi “Orang beriman atau orang percaya” sedang diuji saat ini. Apakah kita semua termasuk dalam bilangan orang yang benar-benar duduk dalam naungan dan perlindungan Tuhan? (Mazmur 91)
Karena orang benar hidup dari percayanya. Mati atau hidup, sakit atau sembuh, aman atau kritis, harus dipercayakan kembali kepada kedaulatan Tuhan (Kurios). Kata ‘Iman’ dalam Perjanjian Baru, memakai kata ‘Pistis’ atau kerja ‘Pisteuo’ (beriman), yang bila diterjemahkan langsung kira-kira berarti mempercayakan diri pada apa atau siapa yang dipercaya.
Bisa jadi, puncak dari ‘Shalom’, bukan tidak mengalami masalah. Bisa jadi, puncak dari ‘Shalom’ adalah damai sejahtera walau di tengah badai. Seperti rajawali yang justru naik terbang tinggi di pusat badai, hingga di atas badai. (Yes 40: 31)
Hal-hal yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti, atau yang Tuhan belum bukakan, serahkanlah dan percayakanlah di tangan Tuhan.
· Hal-hal yang Dinyatakan
Jangan sepelekan apapun yang sudah tidak tersembunyi lagi. Hal-hal yang sudah dinyatakan, jadi bagian kita, serta keturunan kita, untuk diperhatikan dan dilakukan. Mungkin hal-hal yang Tuhan masih sembunyikan, memang tidak ada gunanya dinyatakan pada kita saat ini. Mungkin bila dinyatakan pun manusia belum dapat meresponinya. Tetapi bila Tuhan sudah mewahyukannya, dan membukakannya, Firman Tuhan katakan, itu bagian kita.
Ketika Tuhan sudah menyatakan situasinya, banyak manusia yang tidak mau mengerjakan bagiannya. Ada bagian Tuhan, ada bagian kita. Mempercayakan hal-hal yang tidak kita mengerti pada Tuhan, itu adalah iman. Tetapi melakukan bagian kita, karena sudah Tuhan nyatakan kepada kita, itupun juga iman. Semuanya sudah dinyatakan, supaya diperhatikan dan dilakukan.
Apa yang sudah Tuhan nyatakan yang harus menjadi perhatian kita?
A. Secara Rohani
1. Pentakosta Ketiga sedang terjadi, yaitu pencurahan Roh Kudus yang dahsyat untuk penuaian besar dan terakhir sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kali.
2. Pencurahan Roh Kudus akan disertai goncangan, supaya setiap orang yang berseru kepada Tuhan akan diselamatkan.
3. Pencurahan Roh Kudus memberdayakan Gereja agar dapat menyelesaikan Amanat Agung.
4. Indonesia memimpin di depan dalam gerakan penuaian ini, dan Generasi Yeremia sedang (bukan akan) dibangkitkan.
5. Rapatkan barisan dan fokus pada semua yang Tuhan sudah sampaikan.
6. Terus perkatakan apa yang kita percayai, seperti Mazmur 91.
7. Banyak membaca Alkitab dan berdoa, memuji dan menyembah Tuhan serta bahasa Roh.
B. Secara Jasmani
1. Taati pemerintah, sebab merekalah yang dipilih mewakili Tuhan untuk mengatur negara.
2. Terapkan social distancing dengan tinggal di rumah, batasi keluar rumah dan batasi kontak fisik dengan manusia lain.
3. Rajin cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, hand sanitizer atau tissue basah.
4. Jaga kesehatan dan tingkatkan daya tahan tubuh, baik dengan istirahat cukup, olahraga maupun dengan suplemen.
5. Sebisanya lakukan WFH (Work from Home) atau online meeting, baik dalam hal-hal sekuler maupun kegiatan rohani dan ibadah.
6. Batasi Media Sosial, khususnya hindari berita-berita yang dapat memicu kekhawatiran dan menurunkan daya tahan tubuh. Jadilah pembawa kabar baik bagi sesama, dan bukan penyebar hoaks.
Tuhan Pegang Kendali
Merenungkan semua yang terjadi, sepantasnya kita kagum akan kasih dan kuasa Tuhan. Dia begitu mengasihi Gereja, sehingga menyatakan rahasia rencana-Nya lebih dahulu pada kita sebelum semuanya terjadi. Kekaguman akan kuasa-Nya, karena apa yang Tuhan katakan, Dia mampu melakukannya. Pesan dan nubuatan sudah disampaikan. Tuhan juga akan melakukannya.
Dimensi Baru sudah datang, dimensi yang belum pernah kita alami sebelumnya dan kita termasuk di dalamnya. Kebingungan yang muncul harus dengan aktif disingkirkan. Bangkitkan percaya, bangkitkan iman, dan mulailah berkata-kata, mulailah berdoa dan bertobat, marilah kita lakukan bagian kita, hingga kita tidak sempat khawatir. Nantikanlah Tuhan, dengan percaya, orang benar akan terbang bagai rajawali, berjalan tidak menjadi lelah dan berlari tidak menjadi lesu. Amin.

image source: https://www.pinterest.com/pin/488148047082737971/