Author: FJ

Home / Articles posted by FJ
LIHAT APA YANG ADA PADAMU DAN BERSYUKURLAH

LIHAT APA YANG ADA PADAMU DAN BERSYUKURLAH

Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”
Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apa pun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”
Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir. Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, jual lah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.” 2 Raja-Raja 4:1-7
Dari ayat di atas ada lima pesan yang bisa kita pelajari untuk mengingatkan kita akan penyertaan Tuhan di tengah ketidak pastian ekonomi saat ini.
1. Datang kepada Sumber yang Tepat
Ketika janda itu memiliki masalah sehingga tidak bisa membayar hutang dan penagih hutang (debt collector) sudah di depan pintunya, siap mengambil anaknya sebagai budak, janda ini mengambil langkah yang tepat. Dia datang kepada Elisa sebagai nabi Tuhan. Dia tidak datang ke temannya atau ke saudaranya untuk meminta pertolongan. Dia tahu sumber berkatnya itu adalah Tuhan.
Firman Tuhan katakan di Ulangan 8:18,
“Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, Sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”
2. Tidak Menyepelekan Hal-hal yang Kecil
Elisa bertanya kepada janda itu, “Apa yang kau miliki?” Janda itu berkata “Aku tidak punya sesuatu apapun selain buli-buli berisi minyak.”
Buli-buli itu ukurannya sangat kecil, tidak lebih besar dari sebuah toples kue. Diperkirakan mungkin itu isinya hanya minyak zaitun untuk pengurapan. Janda itu pasti menganggap minyak yang sedikit itu tidak ada nilainya. Yang dia butuhkan adalah sejumlah uang untuk membayar hutangnya. Namun Elisa sebagai nabi Tuhan bisa melakukan perkara-perkara besar.
Umumnya secara instink jika kita mengalami kesulitan keuangan atau ditagih hutang respon kita langsung mengatakan bahwa saya sudah tidak punya apa-apa. Fokus kita umumnya hanya kepada masalah. Respon kita lebih dimaksudkan untuk menghindar dari kewajiban kita kepada penagih hutang dan mengharapkan kalau bisa hutang ini dihapuskan. Kita umumnya ingin solusi yang cepat dan instan. Padahal Tuhan hendak mengadakan hal-hal heran dari hal terkecil yang kita miliki. Sehingga nama Tuhan akan dipermuliakan.
3. Percaya bahwa Tuhan Bekerja secara Ajaib
Elisa menyuruh janda ini “Pergilah dan mintalah bejana-bejana kosong dari tetanggamu, tetapi jangan terlalu sedikit.”
Saat itu janda ini pasti terkejut dan mungkin tertawa sambil berpikir bahwa Elisa ini sudah gila. Yang dibutuhkan dalam tempo yang singkat itu adalah uang, bukan bejana-bejana kosong. Dia tidak mengerti maksud Tuhan. Tetapi yang luar biasanya janda ini PERCAYA dan mau taat MELAKUKANNYA. Mujizat bekerja dengan cara yang tidak masuk akal manusia. Di samping itu perhatikan kata “jangan terlalu sedikit” Elisa sedang mengajar janda ini untuk mempunyai iman yang besar. Think Big. Dan jangan ala kadarnya dalam melakukan pekerjaan.
Hal yang sering kita anggap sebagai hal yang tak bernilai dalam hal ini yaitu sedikit minyak di dalam sebuah buli-buli justru itu yang akan Tuhan jadikan sesuatu yang luar biasa. Tuhan ingin melakukan mukjizat-Nya melalui apa yang kita miliki. Agar kita dapat melakukan bagian kita.
4. Fokus pada Tuhan dan Percaya Mujizat Tuhan
Maksud dari Elisa menyuruh janda itu menutup pintu adalah supaya janda ini tidak goyah iman (DISTRACTED). Mungkin tetangganya akan mengolok-olok dia ketika melihat apa yang dilakukannya. Mungkin dianggap suatu kebodohan dan kemustahilan. Atau mungkin tetangganya akan menawarkan pertolongan berupa pinjaman baru dan itu akan membuat janda berubah pengharapannya bukan lagi kepada Tuhan tetapi kepada manusia. Yang bisa saja ternyata pinjaman tersebut membebankan riba yang tinggi dan akan menjadi masalah baru. Gali lubang tutup lubang. Terkadang Tuhan ingin kita menyendiri hanya mengandalkan Tuhan saja. Hal ini dimaksudkan supaya kita benar-benar berfokus pada Tuhan bukan masalah kita.
5. Mengelola Berkat dengan Tuntunan Tuhan
Janda itu diberkati dengan bejana-bejana yang penuh berisi minyak karena mujizat Tuhan. Saat itu jumlahnya pasti tidak sedikit, sehingga hasilnya berlimpah. Elisa tidak ada bersama janda itu ketika mujizat pelipat gandaan minyak terjadi. Namun janda ini tidak langsung menghilang. Dia tahu Tuhan-lah yang memberi dan Tuhan-lah yang akan memberi petunjuk apa yang harus dilakukannya, hingga janda ini kembali mencari Elisa.
Dia pasti hendak melaporkan dan meminta nasihat berikutnya apa yang harus dilakukan dengan minyak itu. Dia selalu bertanya kepada Tuhan. Tidak sembarangan/sembrono menggunakan berkat yang di terima. Elisa mengingatkan kepada janda ini untuk membayar hutangnya dan bahkan melunasinya dan hidup dari sisanya.
Tuhan mau kita selalu menepati janji membayar hutang yang jatuh tempo. Sebagai orang percaya, kita tidak boleh gagal bayar. Firman Tuhan katakan di Amsal 22:7, “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.”
Sedangkan kita dipilih dan lahir baru oleh Yesus Tuhan kita untuk dijadikan imamat yang Rajani. Bagaimana mungkin kita bisa mendapat berkat anak raja, jika kita masih menjadi budak hutang.
KESAKSIAN
Ada seorang ibu yang suaminya di PHK satu bulan sebelum COVID-19 masuk ke Indonesia. Dia datang kepada saya dan meminta advise apa yang harus dilakukan atas uang PHK suaminya ini? Ibu ini mengatakan kepada saya bahwa dia memiliki hutang dan kebutuhan lainnya. Dia tetap membutuhkan suatu income yang tetap, karena kalau tidak maka uang PHK tersebut akan habis dipakai untuk hidup. Dan saya tanya apa yang ibu milki sekarang ini? Dia mengatakan bahwa dia hanya bisa membuat salad buah. Hal yang sepele. Banyak orang bisa membuat salad buah. Jualan makanan mempunyai resiko tinggi dan saingannya ketat. Sewa ruko untuk jualan mahal.
Akhirnya saya memberikan nasihat saya kepada ibu itu atas uang PHK suaminya adalah:
1. Lunasi hutangnya.
2. Perbesar dapurnya
3. Tabung sisanya untuk hari esok.
Ibu itu percaya dan melakukannya. Tetapi siapa yang sangka satu bulan kemudian kita masuk ke dalam situasi pandemi seperti ini. Aktivitas ekonomi di locked-down. Banyak orang tidak bisa makan di luar, tidak bisa masak sendiri, terpaksa harus order online. Jualan tiba-tiba menjadi sangat mudah dan murah lewat sosial media dan online. Sekarang dengan skill yang sepele itu, ibu ini sudah buka PO dan makanannya sudah berkembang menjadi bukan hanya salad buah tetapi makanan lainnya: sambel pete, nasi bakar, kue keju, dll. Mereka hidup berkecukupan.
Kisah mengenai Elisa dengan janda miskin ini banyak memberikan kita pelajaran. Terutama pelajaran bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang peduli dengan pergumulan hidup kita. Dia mampu mengubah hal-hal kecil yang kita anggap sepele menjadi sesuatu yang besar. Saat ini apa yang kita miliki? Mungkin hanya keterampilan memasak, mungkin hanya keahlian dalam menjahit, mungkin keahlian dalam fotografi, mungkin ada yang hanya bisa menggambar. Apa yang tadinya tidak kita perhitungkan, bisa menjadi sesuatu yang bisa menghidupi kita di tengah badai krisis keuangan seperti saat ini bila kita libatkan Tuhan dalam kehidupan kita.
Tuhan Yesus sendiri menjanjikan melalui Yohanes 15:7, ”Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
Roh Kudus akan memberikan kepada kita roh kreativitas. Jadi tetaplah beriman kepada Tuhan Yesus yang selalu tepat waktu dalam memberikan pertolongan-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

image source:https://bibleversestogo.com/products/deuteronomy-8-18

KASIH SETIA TUHAN ITU KEKAL  (“His steadfast love endures forever”)

KASIH SETIA TUHAN ITU KEKAL (“His steadfast love endures forever”)

Nats bacaan : Mazmur 118
Begitu banyak hal berubah dalam tahun ini, dengan pandemic Corona disertai dengan kemajuan teknologi yang memaksa kita juga memacu diri untuk bisa bersaing dalam lapangan pekerjaan. Semua ini memaksa kita belajar cara baru “New Norm” dalam gaya hidup, cara bekerja, belajar dan beribadah dan lain sebagainya. Namun ada satu hal yang pasti dan tidak pernah berubah yaitu KASIH SETIA TUHAN. Bulan ini kita merenungkan KasihNya KEKAL TIDAK BERUBAH. Ingat dan jangan pernah lupakan Tuhan kita tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selama – lamanya, demikian pula kasih setiaNya.
Dunia bukan hanya marak dengan perubahan tapi juga ketidakpastian. Tahun 2020 dan tahun-tahun ke depan adalah masa yang penuh dengan tantangan dan pergumulan karena kita sedang berada di hari-hari terakhir menjelang kedatangan Tuhan di mana apa yang tertulis dalam Matius 24 sedang digenapi.
Ada yang mengalami dampak dari pandemic (kehilangan pekerjaan, ada yang sakit/meninggal karena Co-19), bencana alam, bangsa bangkit melawan bangsa, orang fasik semakin berlaku fasik, keluarga ada yang belum menerima keselamatan, krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia, dan lain sebagainya. Semua itu membuat kita menjadi takut, gelisah bahkan dapat salah mengerti dengan Tuhan dan meragukan kasih setiaNya.
Dunia ini telah jatuh ke dalam kegelapan. Setiap orang yang menjauh dari Tuhan tinggal dalam kegelapan. Tuhan adalah terang hidup manusia. Kehendak bebas yang Tuhan berikan membuat manusia jatuh dalam dosa. Dosa membuat manusia menjauh dari Tuhan dan membenciNya. Padahal Allah itu Kasih. Sekalipun kita jatuh dalam dosa, kasihNya menarik kita untuk bertobat dan kembali kepadaNya. Namun kefasikan manusia suka menentang Tuhan dan memilih percaya kepada dusta si jahat. Itulah sebabnya banyak orang menyimpang dari kebenaran.
Kehendak Allah adalah supaya jangan ada yang binasa, melainkan semua orang berbalik dan bertobat (2 Pet. 3:9).
Segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi pasti berujung kepada kebaikan. Kita yang terkadang tidak dapat menyelami kebaikan Tuhan karena kita menilai menurut pengertian sendiri berdasarkan apa yang terlihat, sementara rancangan dan karya Allah selalu berorientasi kepada kekekalan (Pengk. 3:11b).
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes. 55:8-9).
Mazmur 118:1 mengatakan bahwa kita patut bersyukur kepada Tuhan sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Apapun yang terjadi, apapun yang kita alami, Tuhan tetap baik dan setia memelihara hidup kita. Kita ada sebagaimana kita ada adalah bukti kesetiaanNya menopang hidup kita, baik disadari atau tidak. Hidup kita tidak tersembunyi dari pandanganNya (Yes. 40:27-29).
Kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan, selalu baru tiap pagi, kokoh/tidak berubah untuk selama-lamanya, berlaku dalam segala jaman, generasi dan keadaan. Kasih setiaNya bersifat aktif dan persisten (gigih) mendatangi hidup kita, teguh, dan penuh belas kasihan.
Kasih setia Tuhan akan menopang seluruh kehidupan orang yang :
– takut akan NamaNya (Maz. 103:11)
– terikat dalam Perjanjian Kekal dengan Allah (Yes. 54:10)
– percaya/taat kepada perintahNya (Ul. 7:9)
– kembali kepada Tuhan dalam pertobatan (2 Sam. 24:13-14; Why 3:19)
– mengandalkan Tuhan dan berseru kepadaNya (Maz. 118:5)
Inilah yang menjadi kekuatan bagi jiwa ketika kita dapat bersandar pada kekuatan kasih setiaNya.
Tuhan tetap setia sekalipun kita tidak setia. Ia dekat meskipun seringkali kita yang menjauh dariNya. Oleh sebab itu bersyukurlah karena Tuhan itu baik, kasih setia Tuhan kekal selamanya (Maz 118: 1).
Saat kita merasa cemas, gelisah dan tidak tenang ketika melihat keadaan suatu bangsa, kota ataupun anggota keluarga yang hidup tidak benar, berserulah kepada Tuhan dan pegang FirmanNya, dan bersandar pada kasih setiaNya yang tidak pernah berubah.
Percaya dan berdoa, karena dalam tinggal tenang dan percaya disitulah letak kekuatan kita. Iman dan pengharapan kepada Kristus merupakan sauh (jangkar) hidup kita, jangan pernah mundur, bimbang ataupun ragu. Waspada agar jangan sampai kehilangan kasih yang semula supaya tidak kehilangan iman dan pengharapan. Tetaplah percaya dengan mata yang tertuju kepada Tuhan agar kita menikmati kasih setia dan kebaikanNya yang kekal tidak berubah.
BERSERU DALAM KESESAKAN Mazmur 118:5 “Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan.”
Setiap kita pasti pernah atau mungkin sedang mengalami masalah, tantangan dan pergumulan. Semua itu membuat jiwa kita menjadi sesak, takut, cemas, menjadi lemah tidak berdaya dan merasa seperti dikepung oleh musuh yang begitu kuat. Dan yang lebih menyesakkan adalah karena kita tidak tahu sampai kapan pergumulan kita berakhir.
Kepada siapa pertama kali kita hadapkan pergumulan tersebut? kepada teman, keluarga, suami/istri, mencari solusi sendiri bahkan minta malah nasehat dari orang yang tidak percaya Tuhan. Kadang tanpa disadari kita sudah terbiasa secara otomatis mengandalkan kekuatan sendiri (pengalaman, pengetahuan, kepintaran) atau orang lain tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Roh Kudus, yang adalah Penolong kita.
Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” (Yer. 17:5-6).
Itu sebabnya kadang kita tidak bertemu dengan solusi yang sesuai kehendak Bapa, keadaan bisa bertambah rumit, salah mengerti dengan Tuhan bahkan keliru mengambil keputusan (ini yang dimaksud dengan keadaan seperti ‘terkutuk’ dalam ayat di atas).
Satu-satunya yang dapat kita andalkan untuk keluar sebagai pemenang dalam kesesakan tentunya hanya Tuhan. Orang yang menyadari keterbatasan/ketidakmampuan dirinya serta mengenal Allahnya secara pribadi akan berseru dalam kesesakan. Salah satu arti kata ‘berseru’ (QARA, dalam bahasa Ibrani) dipergunakan dengan mengacu pada permohonan akan perlindungan Allah, dengan arti mohon bantuan dari seseorang yang namanya (yaitu tabiatnya) dikenal.
Hubungan kasih membuat dia percaya akan sifat dan Pribadi Allah yang sungguh dapat diandalkan.
Dia adalah Allah yang PASTI :
1. Menjawab doa orang yang segenap hati berseru dan mengandalkanNya. Doa yang lahir dari kesesakan merupakan seruan hati yang paling tulus dan terdalam, penuh dengan atmosfir iman sehingga menggerakkan hati Allah.
2. Memberi kelegaan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28).
Jiwa yang sesak karena beban yang menghimpit akan mengalami kelegaan, ketenangan, damai sejahtera dan sukacita karena kasih setia Tuhan kuat menopang. The joy of the Lord is my strength (Neh. 8:10).
3. Ada di pihak kita. Kasih setiaNya bersifat loyal terhadap ikatan perjanjian (antara Tuhan dengan kita). Kalau Allah di pihak kita, siapakah lawan kita?
4. Menolong. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlambat tetapi tepat pada waktunya. PertolonganNya ajaib dan kadang terjadi di luar dugaan dan pengertian kita; semuanya membuat kita bukan hanya bersyukur tapi juga semakin kagum dan mengasihi PribadiNya.
5. Melindungi dari yang jahat. Kesetiaan Tuhan adalah seperti perisai dan pagar tembok. Dia melindungi kita dari niat jahat orang, dari sakit penyakit, meluputkan kita dari malapetaka, menegur dan mendisiplinkan demi kebaikan dan melindungi kita dari tipu muslihat iblis.
6. Nama Tuhan adalah Menara yang kuat. Ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat. Segala kuasa yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi bertekuk lutut dalam Nama Yesus (Fil. 2:9-10).
Tujuan Tuhan menjawab seruan kita dalam kesesakan bukan hanya untuk keuntungan kita/orang lain saja tetapi lebih dari itu : untuk menyatakan kasih setia yang membawa kemuliaan bagi NamaNya. It’s all about HIM. Supaya kita semakin menyadari bahwa kuasa Tuhan yang tak terbatas ditujukan untuk mengasihi dan melayani ( Fil 2:5-11; Yoh. 13: 13-15).
Kasih karunia Tuhan cukup bagi kita, sebab justru dalam kelemahan kitalah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor. 12:9). Oleh sebab itu, dalam kesesakan jangan bertindak dengan kekuatan sendiri atau malah menjauh tetapi datang dan berseru kepada Nya karena kasih setiaNya kuat, kekal tidak berubah bagi orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengandalkan Dia

image source:https://feastatthetable.com/psalms-118-29/

PERKATAAN YANG MENGHIDUPKAN

PERKATAAN YANG MENGHIDUPKAN

Perkataan memiliki aspek penting dalam kehidupan manusia, di mana untuk menciptakan komunikasi yang berkualitas tentunya harus mengikuti norma dan etika yang baik sehingga terjalin persahabatan, penghiburan serta kekuatan dan bukan perselisihan, permusuhan bahkan percideraan.
“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Yesaya 50:4
Berbicara tentang perkataan, sepanjang satu dekade kedepan, penanggalan Ibrani disebut sebagai dekade ‘Pey’ yang memiliki makna rohani ‘mulut’ atau ‘perkataan’. Tuntunan bagi kita terkait dengan dekade ‘Pey’ ini adalah kita harus lebih memperhatikan perkataan (mulut) kita.
“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;… ” (Mazmur 34:14)
Apa yang dinyatakan oleh Pemazmur ini juga diulangi oleh rasul Petrus dalam 1 Petrus 3:10, “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”
‘Jagalah lidahmu’ alias ‘jagalah perkataanmu’. Sampai dua kali pernyataan yang sama diulang, memberikan indikasi kepada kita bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting. Ada dua hal yang disampaikan dalam ayat ini yang harus kita jaga, yakni jaga lidah kita terhadap apa yang jahat dan ucapan-ucapan yang menipu.
CARA MENJAGA PERKATAAN KITA
1. Menahan Diri
“Untuk pemimpin biduan. Untuk Yedutun. Mazmur Daud. Pikirku: “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.” Mazmur 39:1
Sebagian besar orang mungkin tidak mengalami kesulitan menjaga diri untuk tidak jatuh ke dalam kedagingan, namun mengalami ‘kebobolan’ dalam hal dosa perkataan. Sebagaimana sebuah ungkapan mengatakan ‘memang lidah tidak bertulang’, artinya tidak memerlukan upaya yang besar untuk menggerakkannya. Dengan lancar dan mudahnya perkataan demi perkataan meluncur dari lidah kita. Jika tidak berhati-hati, kita akan mengalami kesulitan dalam mengendalikannya.
Perhatikan apa yang diungkapkan oleh Yakobus tentang lidah: “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka… tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” Yakobus 3:5,6,8
Betapa luar biasanya lidah kita. Hal ini harusnya menyadarkan kita bahwa dosa perkataan atau dosa lidah bukanlah sesuatu yang main-main.
Daud sendiri menyatakan bagaimana dia memiliki tekad yang kuat untuk menjaga dirinya supaya jangan berdosa dengan lidahnya. Daud memberikan sebuah istilah “menahan mulutnya dengan kekang” seperti pada kuda tunggangan yang melaluinya dapat mengendalikan kehidupannya. Kekang artinya melakukan kontrol, memegang kendali terhadap mulut atau perkataan kita.
Memang bukan sesuatu yang mudah, tetapi juga bukan merupakan hal yang mustahil. Dengan pertolongan dari Roh Kudus kita pasti bisa.
2. Menyadari bahwa Semua Perkataan Kita Diketahui oleh TUHAN
“Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” Mazmur 139:4
Perkataan merupakan ekspresi hati dan ungkapan dari apa yang kita pikirkan. TUHAN melihat kita jauh ke lubuk hati kita yang terdalam. Ia mengetahui segala motivasi hati dan TUHAN tidak dapat dibohongi.
Mengapa orang jatuh ke dalam dosa perkataan? Berbohong, melakukan tipu daya, mengutuk, memaki, perkataan munafik, dolak-dalik. Selain karena mereka termakan dengan sakit hati serta menuruti emosi yang meledak-ledak atau motivasi mencari keuntungan sendiri dari penderitaan orang lain, secara spiritual karena mereka tidak menyadari bahwa TUHAN mengetahui semua perkataan kita sebelum lidah kita mengatakannya.
Setelah kita mengetahui hal ini, sudah seharusnya kita berpikir sebelum berkata-kata;
– apakah perkataan saya ini adalah sesuai kebenaran?
– apakah mengandung maki/kutukan yang lahir dari hati yang pahit?
atau sekedar banyak perkataan sia-sia tanpa makna dan tujuan?
– Apakah perkataan saya melukai perasaan orang lain? Dan yang terutama adalah apakah perkataan saya mendukakan hati TUHAN?
3. Senantiasa Memperkatakan Firman dan Puji-pujian
“Dan lidahku akan menyebut-nyebut keadilan-Mu, memuji-muji Engkau sepanjang hari.” Mazmur 35:28
“Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum;…”Mazmur 37:30
Salah satu cara efektif untuk menjaga agar kita tidak salah dalam menggunakan perkataan kita adalah ‘menggunakannya secara benar’, yakni dengan cara senantiasa memperkatakan Firman Tuhan dan puji-pujian kepada TUHAN. Sambil kita memuji-muji TUHAN, ingatlah apa yang TUHAN nyatakan melalui Yakobus dalam suratnya,
“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Yakobus 1:26
Belum lagi sebuah teguran yang keras terkait dualisme penggunaan mulut atau perkataan kita:
“Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,” Yakobus 3:9
Dengan beribadah, memuji TUHAN dan memperkatakan Firman Tuhan; baik dalam ibadah korporat, ibadah pribadi maupun dalam keseharian kita, sambil beraktifitas dalam pekerjaan atau studi; kita dapat menjaga mulut kita untuk tidak jatuh dalam dosa perkataan. Jadi, jangan lupa membiasakan gaya hidup berdoa, memuji dan menyembah TUHAN!
4. Menyelaraskan Perkataan dengan Perbuatan
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” 1 Yohanes 3:18
Perkataan adalah sesuatu yang nyata, dapat didengar secara nyata, dapat direkam menjadi bentuk digital melalui gadget. Namun ketika perkataan diucapkan untuk menggambarkan atau menyatakan perasaan kasih kepada seseorang maka ia bisa menjadi sesuatu yang sifatnya semu dan kosong belaka jika tidak disertai dengan perbuatan nyata seperti yang dikatakan.
Misalnya, ketika kita berkata bahwa kita mengasihi TUHAN dengan segenap hati, namun kita malas beribadah, tidak memiliki waktu khusus untuk bersekutu dengan TUHAN, melakukan Firman TUHAN, maka perkataan kita tidak bermakna sama sekali.
Kita perlu menyelaraskan perkataan kita dengan perbuatan kita, dengan demikian membantu kita untuk berpikir sebelum berkata-kata. Apakah perkataan saya sesuai dengan perbuatan saya? Apakah saya menghidupi apa yang saya katakan dan sebaliknya mengatakan apa yang saya hidupi? Inilah yang disebut sebagai integritas, yang harus dimiliki oleh semua orang percaya.
Mari kita sungguh-sungguh menjaga perkataan kita, sehingga perkataan kita adalah perkataan yang menghidupkan!
“Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Amsal 18:20-21

image source:https://bibletruthandprophecy.com/thoughts-for-june-25th-morning-by-morning/

PENGELOLA BUKAN PEMILIK (STEWARD NOT AN OWNER)

PENGELOLA BUKAN PEMILIK (STEWARD NOT AN OWNER)

“Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” Hagai 2:9
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Mazmur 24:1
Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa apa saja yang kita miliki: jabatan, bakat, keahlian bahkan uang atau harta benda lainnya adalah kepunyaan Tuhan. Semua itu dititipkan kepada kita untuk dikelola dan dikembangkan. Tuhan punya kehendak dan rencana atas penciptaanNya, yaitu bahwa Tuhan menginginkan semua ciptaanNya dapat menggunakan potensiNya dengan maksimal untuk memuliakan nama Tuhan.
MENGEJAR KEPERCAYAAN DARI TUHAN
Suatu pemahaman yang keliru jika kita mengira harta benda atau uang yang kita miliki adalah kepunyaan kita. Jika kita berpandangan bahwa harta kekayaan ini adalah milik kita, maka kita akan menggunakan harta ini sesuai dengan apa yang kita ingini. Kita berpendapat bahwa sebagai orang yang berhasil mengumpulkan harta ini kita berhak atas segala kenikmatan yang bisa diperoleh dari harta ini. Padahal uang hanya menjanjikan kenikmatan dan kekuasaaan yang sesaat bukan yang hakiki. Sebab ini adalah milik kita. Kita bisa menggunakannya untuk apa saja sesuai keinginan kita, sekalipun itu bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan.
Kualitas Rohani seseorang dapat dipengaruhi oleh cara mereka mengelola uang dan harta. Pendeta Billy Graham pernah berkata: “Give me five minutes with a person’s checkbook, and I will tell you where their heart is.”
Artinya, kemana kita membelanjakan uang kita, itu mencerminkan isi hati kita, sebab “di mana hartamu berada di situlah hatimu berada.” Apakah banyak digunakan untuk membeli benda-benda yang berharga demi memberikan nilai harga diri kita? Atau uang itu kita gunakan untuk hal-hal kerajaan sorga seperti: mengembalikan perpuluhan, mendukung pembangunan tempat ibadah, menghidupi sesama yang kekurangan/miskin.
Di sini kita bisa mengerti bahwa uang dan harta menjadi saingan utama Tuhan.
Mazmur 24:1 dengan jelas berkata, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kita ini hanya pengelola dan Tuhan adalah pemiliknya. Bahkan dalam Imamat 25:23 Tuhan pun menyatakan diri-Nya sebagai pemilik tanah.
“Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku.”
Pengelola tidak punya hak sama sekali untuk menentukan penggunaan harta tersebut selain dari pemilik. Pengelola hanya memelihara dan melaksanakan amanat dari si pemilik. Pemilik berhak untuk mencabut hak pengelolaan hartanya dari para pengelolanya jika pemilik merasa bahwa si pengelola tidak mengelola sesuai dengan yang dikehendakinya dan hilang kepercayaan kepada si pengelola.
Itulah sebabnya, seorang pengelola harta harus senantiasa memelihara kepercayaan yang diberikan oleh si pemilik. Jika kepercayaan pemilik bertumbuh, maka akan bertumbuh pula harta yang dititipkan kepada si pengelola.
Ketika kita mengakui kepemilikan Tuhan atas harta benda kita, segala keputusan untuk penggunaan harta menjadi keputusan bersama Tuhan seperti dalam ibadah. Kita tidak lagi berkata: “Tuhan apa yang aku mau lakukan dengan uangku ini?” melainkan bertanya:
“Tuhan apa yang engkau mau aku lakukan atas uang-Mu ini?”
FIRMAN TUHAN MENJADI PENUNTUN
Tuhan telah memberikan petunjuk lewat firman-Nya dalam hal mengelola harta atau kekayaan yang dititipkan kepada kita sebagai pengelola. Tuhan Yesus banyak berbicara mengenai uang dan harta. Di dalam Alkitab ada:
· 16 dari 38 perumpamaan berkaitan dengan cara kita mengendalikan uang dan harta
· 500 ayat mengenai doa, kurang dari 500 ayat mengenai iman, tetapi
· lebih dari 2.350 ayat mengenai uang dan harta.
Firman Tuhan mengatakan di 2 Timotius 3:16,
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
Sejak dari taman Eden, Tuhan tidak pernah menetapkan bahwa semua ciptaan-Nya itu adalah milik kita. Firman Tuhan menggariskan sebagai berikut:
· Berfirmanlah Allah:”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kejadian 2:15
Doktrin mengenai penciptaan ini jelas meneguhkan bahwa Tuhan ingin manusia menjadi pengelola, bukan pemilik. Sebagai wakil Tuhan yang wajib memelihara dengan sebaik-baiknya semua ciptaan ini. Ini yang disebut secara teologia “Creation Mandate”. Kita diciptakan untuk mewakili Tuhan di bumi ini. Tuhan telah menitipkan kekayaan dari ciptaan-ciptaan-Nya ini di bawah pengawasan kita.
Namun dosa membuat manusia bukan lagi menjadi pengelola. Manusia telah menjadi ‘lover of money’ bukan ‘master of money’. Hubungan manusia dengan Tuhan terputus. Manusia jadi sangat mengandalkan uang dan hartanya sebagai sumber kebahagiaan dan kekuasaan sehingga rasa aman terletak pada berapa banyaknya uang dan harta yang diperoleh. Karena merasa hidup ini hanya sementara setelah itu tidak tahu apa yang terjadi, maka mereka memuaskan hawa nafsu mereka. Rela melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah, antara lain: korupsi, penipuan, exploitasi, investasi fiktif, dsb. Semua itu dilakukan semata-mata demi memperoleh keuntungan yang maksimal tanpa memikirkan hak-hak orang lain, bahkan melupakan rencana Allah atas kita. Mereka terjebak kedalam zona ‘cinta uang’.
Firman Tuhan dalam 1 Timotius 6:10 menyatakan:“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
Tetapi dengan adanya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, maka semua itu bisa dipulihkan, Dengan menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita, maka kita bisa dipindahkan dari zona kutuk dosa ke zona berkat. Bukan hanya menerima keselamatan kekal di sorga nanti tetapi juga masuk zona berkat ilahi saat ini. Ada rasa aman di mana kita berhak atas Janji Allah. Dia tidak pernah lalai dalam menepati janjinya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.
“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6:25
Roh Kudus akan mengubah cara kita memandang uang dan harta. Hikmat dan roh kreativitas dalam mengelola uang terjadi atas kita, dan semuanya ditujukan untuk memuliakan Tuhan. Ada rasa haus akan hadirat Tuhan. Kita jadi berhak atas segala janji-janji Tuhan yang dijanjikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub.
“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Galatia 3:29
Memang hidup ini membutuhkan uang, tetapi uang bukan segala-galanya yang kita butuhkan. Terutama juga bukan uang yang menjadi pengendali kehidupan kita, tetapi kitalah yang harus mengendalikan sebagai pengelolanya. Biarlah kita tetap menjadi pengelola yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh Tuhan. Jangan terjebak dalam obsesi untuk mengejar kekayaan, tetapi kejarlah kepercayaan dari TUHAN. Kekayaan itu buah dari ketaatan dan kejujuran dalam mengelola harta sesuai kehendak pemiliknya yaitu Tuhan. Amin.

image source: https://www.bible.com/bible/1/PSA.24.1-10.KJV

JANGAN MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA

JANGAN MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA

Ketika Tuhan Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya, akan tanda kedatangan-Nya dan tanda kesudahan dunia ini, maka salah satu dari tanda-tanda itu adalah ‘penyakit sampar’; yang untuk saat ini bisa kita sebutkan sebagai pandemi COVID-19. Jadi pandemi COVID-19 adalah bagian dari tanda kedatangan Tuhan Yesus kali kedua untuk menjemput gereja-Nya.
PANDEMI ADALAH SALAH SATU TANDA KEDATANGAN TUHAN YESUS
Ada yang berkata bahwa penyakit sampar sudah terjadi berulang-ulang. Pada tahun 1918-1920 terjadi wabah flu Spanyol yang menyebabkan 50 juta orang meninggal, tetapi Tuhan Yesus belum datang. Jangan-jangan setelah pandemi COVID-19 Tuhan Yesus juga tidak datang.
Mari kita lihat apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam kitab Wahyu, “Aku datang segera” sebanyak 4 kali dan“Waktunya sudah singkat, Waktunya sudah dekat” sebanyak 2 kali.
Jadi kalau 2000 tahun yang lalu Tuhan Yesus sudah berkata: “Aku datang segera”, apalagi hari-hari ini; pasti lebih segera lagi! Hati-hati! Jangan terlena dengan menjadi pengejek-pengejek yang dengan ejekannya berkata:
• Di mana janji kedatangan-Nya itu?
• Dari dulu keadaan tetap seperti ini!
• Katanya salah satu tanda adalah penyakit sampar, mana buktinya?
• Penyakit sampar sudah terjadi berulang-ulang, tetapi ternyata Tuhan Yesus belum datang…!
Jangan berkata bahwa setelah pandemi COVID-19 Tuhan Yesus pasti datang kembali. Atau jangan juga berkata bahwa setelah pandemi COVID-19 Tuhan Yesus belum juga datang.
Kita tidak tahu dengan pasti kapan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Hanya Bapa di sorga saja yang tahu. Yang penting, Tuhan Yesus berkata bahwa penyakit sampar seperti pandemi COVID-19 ini adalah bagian dari tanda kedatangan-Nya.
Tuhan Yesus menghendaki agar kita percaya bahwa Dia akan datang segera, sehingga kita akan sungguh-sungguh mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan-Nya.
Saya percaya bahwa sikap orang percaya dari zaman ke zaman yang melihat dan mengalami malapetaka, mungkin itu perang, bencana alam, termasuk penyakit sampar, akan berkata bahwa Tuhan Yesus akan segera datang.
Sebagai contoh Bapa Gereja yang bernama Cyprianus, yang adalah Uskup Gereja Kartago pada zaman kekaisaran Romawi, yang mengalami pandemi pada tahun 250-271 Masehi.
Pada saat itu di Roma saja sekitar 5.000 orang meninggal setiap hari.
Cyprianus menyebutkan bahwa pandemi tersebut sebagai akhir zaman. Memang ini terbukti keliru. Akan tetapi dari sisi yang lain, keyakinannya bahwa ini adalah akhir zaman justru membuat terjadinya kebangunan rohani. Gereja terlibat dalam pelayanan sosial – diakonia yang dahsyat. Melihat itu, banyak orang menjadi percaya dan Gereja berkembang pesat.
Jadi, pada setiap zaman, seolah-olah Tuhan menciptakan situasi apakah itu perang, bencana alam, kelaparan, termasuk penyakit sampar, agar perkataan Tuhan Yesus ‘Aku datang segera’ itu selalu ada di dalam hati orang percaya, sehingga mereka selalu dalam kondisi berjaga-jaga dan melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus, maka penuaian jiwa besar-besaran terjadi.
Demikian juga dengan adanya pandemi COVID-19 ini, Tuhan menghendaki Gereja-Nya yaitu kita semua bergerak menyelesaikan Amanat Agung sebelum Tuhan Yesus datang kembali..
Hari-hari ini, pesan Tuhan kepada kita adalah kembali kepada kasih mula-mula. Ingat, kita adalah calon mempelai wanita dari Kristus. Sang Mempelai Pria akan datang segera untuk menjemput kita. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan kembali kepada kasih mula-mula.
PENTINGNYA KASIH MULA-MULA
Dalam Wahyu 2:1-7, Tuhan Yesus berkata kepada jemaat di Efesus bahwa jemaat di Efesus rajin, tekun, tidak dapat sabar terhadap rasul palsu, tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku, tidak mengenal lelah, membenci perbuatan-perbuatan pengikut Nikolaus yang juga Aku benci.
Pengikut Nikolaus mengajarkan bahwa percabulan tidak akan mempengaruhi keselamatan seseorang dalam Kristus. Ini adalah pengajaran sesat karena kitab Perjanjian Baru mengatakan hal yang sebaliknya yaitu bahwa orang yang hidup dalam percabulan tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Korintus 6:9-10) Kalau kita melihat ini, saya berkata bahwa jemaat Efesus ini jemaat yang luar biasa. Akan tetapi Tuhan Yesus melanjutkan dengan berkata:
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.
Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.”
Kesimpulan dari pesan Tuhan kepada jemaat di Efesus yang juga berarti buat kita semua adalah apa pun yang kita lakukan untuk melayani pekerjaan Tuhan, kalau tidak didasarkan kepada kasih mula-mula, maka Tuhan Yesus akan berkata: “Betapa dalamnya engkau telah jatuh.” Dan kita harus bertobat. Kalau kita tidak bertobat Tuhan akan mengambil kaki dian kita. Kasih mula-mula adalah kasih yang kita miliki pada saat kita baru bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Pada saat itu kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan kita. Dari dalam hati mengalir aliran air sumber hidup.
Mari masuk hadiratNya dengan berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, membaca Alkitab, hidup kudus, dan melayani Tuhan.
Ku cinta Kau Yesus; Hanya Engkau bagiku Yesus
Sungguh ku rindu mengatakannya; Betapa aku mengasihi-Mu

Engkau Allah dan Rajaku; Kekasih dalam hidupku
Engkau s’galanya bagiku; Kubersyukur kepada-Mu
PROSES KESELAMATAN
Kalau kita melihat proses keselamatan, maka proses tersebut terdiri dari 3 tahap.
a. Tahap yang pertama adalah proses Justification yang artinya pembenaran. Pada proses pertama ini kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Kita mengalami kelahiran baru dan mengalami kasih mula-mula.
b. Tahap yang kedua adalah proses Sanctification yang artinya pengudusan. Dalam proses ini kita akan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus dan Firman Allah sehingga kita menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu menjadi murid Tuhan Yesus.
c. Tahap yang ketiga adalah proses Glorification yang artinya pemuliaan atau pengangkatan. Dalam proses yang ketiga kita akan mengalami pemuliaan atau pengangkatan. Yang diangkat adalah mereka yang berubah menjadi serupa dengan gambar Yesus, yaitu murid Tuhan Yesus.
Pada waktu memasuki tahapan Sanctification atau pengudusan ini, dengan berbagai macam alasan kualitas kasih kita kepada Tuhan yang tadinya penuh dengan kasih mula-mula bisa berubah menjadi seperti yang terjadi pada jemaat di Efesus. Tetapi melalui pengudusan secara terus menerus oleh Roh Kudus dan Firman Allah juga disertai dengan proses yang menyakitkan, saya kembali kepada kasih mula-mula sampai dengan hari ini. Haleluya!
Saya akan bertanya kepada Saudara bagaimana kualitas kasih Saudara kepada Tuhan? Saya mau mengajak Saudara untuk melihat kualitas kasih kita kepada Tuhan melalui kitab Kidung Agung.
MENGASIHI TUHAN
Kitab Kidung Agung merupakan satu-satunya kitab di Alkitab yang khususnya membahas kasih yang unik di antara 2 orang mempelai, yaitu antara Salomo dengan gadis Sulam, yang dipercaya bahwa dia adalah istri pertama dari Salomo.
Beberapa nats penting dalam Perjanjian Baru melukiskan kasih Kristus bagi Gereja-Nya dengan memakai hubungan pernikahan. Kitab Kidung Agung dapat dipandang sebagai melukiskan kasih yang ada di antara Kristus dengan mempelai-Nya yaitu Gereja-Nya, yaitu kita-kita ini.
Sama halnya dengan iman kita yang harus bertumbuh, demikian juga kualitas kasih kita kepada Tuhan harus bertumbuh. (Efesus 4:15)
Secara sederhana, kitab Kidung Agung ini menggambarkan 3 tingkat kualitas kasih, dan ini juga menunjukkan tingkatan kualitas kasih kita dengan Tuhan.
1. Tingkat Pertama – Kasih yang Egois
Dalam Kidung Agung 2:16 tertulis: “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia…” Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa berkata: “Tuhan milikku, dan aku miliknya Tuhan.” Kualitas kasih yang pertama ini bisa dikatakan adalah kasih yang egois.
Karena yang dikedepankan itu ‘Tuhan milikku, baru aku milik Tuhan’, maka yang selalu dipikirkan hanya soal diberkati. Kasih ini selalu berkata: “Karena Tuhan milikku, berkatilah aku Tuhan.” Di level ini, jarang orang bertanya kepada Tuhan tentang apa kehendak Tuhan dalam setiap rencana atau langkah yang akan dia lakukan. Jadi, kalau dia punya rencana, dia langsung akan minta supaya Tuhan memberkati.
Biasanya jarang menyinggung tentang apa yang harus kita lakukan untuk melayani Tuhan.
2. Tingkat Kedua – Kasih yang Bersyarat
Dalam Kidung Agung 6:3 tertulis:
”Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku…” Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa berkata: “Aku milik Tuhan, Tuhan milikku.”
Kualitas kasih yang kedua ini bisa dikatakan sebagai kasih bersyarat. Motto nya: “Aku milik Tuhan, Tuhan adalah milikku.” Sekarang yang dikedepankan adalah ‘aku milik Tuhan’, baru setelah itu ‘Tuhan adalah milikku’. Berarti mulai ada suatu peningkatan.
Di level ini orang percaya mulai mempertimbangkan tentang melayani Tuhan, tetapi dengan syarat; yaitu supaya diberkati Tuhan. Jadi, motivasi mau melayani karena mau diberkati Tuhan.
3. Tingkat Ketiga – Kasih yang Tidak Egois
Dalam Kidung Agung 7:10 tertulis: “Kepunyaan kekasihku aku,..”
Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita hanya berkata: “Aku milik Tuhan.“ Tingkat kualitas kasih yang ketiga inilah yang disebutkan kasih yang tidak egois. Kasih yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Ini adalah kasih yang semula. “AKU MILIK TUHAN”. Mereka yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
o Aku adalah milik Tuhan, bukan milikku sendiri. (1 Korintus 6:19-20).
o Aku adalah milik Tuhan. Aku sudah dibeli. Dan harganya telah lunas dibayar.
Aku dibeli dengan harga yang mahal yaitu dengan darah Yesus. (Wahyu 5:9)
o “Jika aku hidup. Aku hidup untuk Tuhan. Dan jika aku mati, aku mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, aku adalah milik Tuhan.” (Roma 14:8)
MEMILIKI KASIH MULA-MULA
Ekspresi dari orang yang memiliki kasih mula-mula di dalam hidupnya adalah:
1. Hidup bagi Kristus
Mereka yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Galatia 2:20)
2. Tidak Memprioritaskan Berkat
Orang yang memiliki kasih mula-mula sudah tidak memikirkan lagi tentang diberkati atau tidak diberkati oleh Tuhan. Yang paling penting adalah hidup menyenangkan hati Tuhan, melakukan kehendak Tuhan. Seperti Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”
Makanan adalah sesuatu yang sangat vital dalam hidup ini. Mendapatkan makanan adalah motivasi manusia dalam bekerja. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting dalam hidup ini, artinya fokus hidup kita; adalah melakukan kehendak Bapa, bukan kepada makanan, meskipun makanan itu perlu.
3. Bergairah Melayani Tuhan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan melayani Tuhan seperti yang terdapat Roma 14:17-18, yang berkata,
”Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barang siapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia.”
4. Mensyukuri Kasih Setia Tuhan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan selalu berkata: “Sebab Engkau baik. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Mu.” (Mazmur 118:1)
5. Tetap Beriman dalam Segala Keadaan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
“Aku tidak takut sebab Tuhan menyertai aku. Aku tidak bimbang sebab Tuhan adalah Allahku. Tuhan akan meneguhkan aku bahkan akan menolong aku. Tuhan akan memegang aku dengan tangan kanan-Nya yang membawa aku kepada kemenangan.” (Yesaya 41:10)
Orang yang memiliki kasih mula-mula dalam masa pandemi COVID-19 ini akan tetap percaya kepada janji Tuhan dan terus memperkatakannya.
6. Melaksanakan Amanat Agung
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan berkata:
o “Tuhan, saya mau menyelesaikan Amanat Agung dengan kuasa Roh Kudus yaitu Pentakosta yang Ketiga.”
o “Tuhan, saya berjanji untuk memakai mulut ini hanya berbicara tentang firman Tuhan, bukan yang lain-lain.”
7. Melakukan Firman Tuhan
Orang yang memiliki kasih mula-mula akan melakukan firman Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati Saudara sekalian. Amin.

image source: https://scripturetype.com/ephesians-4-15

BERJAGA – JAGALAH

BERJAGA – JAGALAH

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25:13
Di dalam injil Matius 25:1-13 kita dapat membaca tentang Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan mengenai apa yang akan terjadi ketika Yesus datang kembali. Yesus menggunakan sebuah ilustrasi dari suatu proses tradisi perkawinan orang Yahudi.
Pada masa itu, ada tiga tahap dalam proses perkawinan dalam tradisi orang Yahudi.
1. Perjodohan, yaitu perjanjian ikatan resmi yang dilakukan oleh orang tua dari pihak pria dan wanita.
2. Pertunangan, yaitu upacara di mana diadakan ikatan janji dari kedua belah pihak.
3. Pernikahan, di mana saat mempelai pria datang untuk menjemput mempelai wanita untuk melakukan pesta perjamuan kawin.
Dalam perumpamaan ini, dua tahap pertama sudah dilaksanakan, dan waktunya sudah hampir tiba untuk melakukan tahap terakhir. Namun saat yang pasti kapan mempelai pria datang tidak diketahui. Ia bisa datang kapan saja. Hal inilah yang kemudian menjadi fokus dalam perumpamaan tersebut.
Tuhan Yesus menyebutkan adanya sepuluh gadis yang diberikan tugas untuk menyambut mempelai pria ketika ia datang untuk hadir dan bertemu dengan mempelai wanita dalam pesta perjamuan kawin.
Lima diantara gadis tersebut mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Mereka membawa pelita dan juga minyak dalam buli-buli sebagai persediaan. Walaupun masa-masa untuk melakukan perjamuan kawin sudah tiba, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan tepatnya mempelai pria akan datang. Bisa saja mempelai pria datang di tengah malam saat mereka tertidur. Tuhan Yesus menyebut gadis-gadis yang mempersiapkan diri mereka dengan sungguh-sungguh sebagai gadis-gadis yang bijaksana.
Namun lima gadis yang lainnya tidak mempersiapkan pelita mereka dengan sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba ada suara-suara yang mengumandangkan bahwa mempelai pria segera datang menjemput mempelai wanita. Pada saat itulah kelima gadis yang oleh Yesus disebut gadis-gadis yang bodoh, sadar bahwa pelita mereka hampir padam dan mereka tidak memiliki cadangan minyak. Barulah mereka berusaha untuk mendapatkan minyak. Tetapi sudah terlambat.
Ketika mereka sedang pergi untuk membeli minyak, mempelai pria tiba. Mereka yang sudah siap, yaitu gadis-gadis bijaksana, ikut masuk untuk mengikuti perjamuan kawin. Dan pintu pun ditutup. Setelah itu barulah kelima gadis lainnya tiba, Tetapi pintu sudah ditutup.
Mereka berseru-seru “Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!” Tetapi tuan itu menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu”. Yesus menutup perumpamaan tersebut dengan sebuah peringatan: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25:11-13
Jika kita teliti perumpamaan tersebut, apa yang dimaksud dengan berjaga-jaga dalam perumpamaan ini. Dalam kisah tersebut kesepuluh gadis tersebut semuanya tertidur ketika mereka menunggu mempelai pria datang (ay 5).
MAKNA BERJAGA-JAGA
1. Menyadari Siapakah Tuhan itu dan Bagaimana Seharusnya Sikap Kita di Hadapan Dia
Dalam perumpamaan tersebut mempelai pria melambangkan Tuhan Yesus yang akan datang kembali sedangkan sepuluh gadis itu melambangkan orang percaya (tubuh Kristus) yang menantikan kedatangan-Nya.
Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh kasih dan sudah membuktikan kasih-Nya itu lewat kerelaan-Nya untuk menebus dosa kita lewat kematian-Nya di kayu salib. Ketika kita percaya kepada-Nya kita akan diselamatkan. Namun kita juga harus menyadari, bahwa Ia juga Tuhan yang Mahakuasa, Pencipta seluruh alam semesta yang memiliki otoritas yang tertinggi. Tuhan layak untuk dihormati dan apa yang Dia perintahkan layak untuk ditaati. Hal ini kita perlihatkan melalui sikap kita kepada Dia. Jika kita memang mengatakan bahwa kita menghormati dan taat kepada Dia maka kita tidak akan menganggap enteng dan meremehkan Firman-Nya.
Dengan mempersiapkan pelita dan juga minyak sebagai persiapan, gadis-gadis yang bijaksana memperlihatkan bahwa mereka menghormati mempelai pria yang akan datang. Hal yang sama berlaku bagi kita orang percaya. Jika kita sungguh-sungguh mengerti siapakah Tuhan sebenar-Nya, maka kita akan dengan sungguh-sungguh menghormati Dia dengan cara sungguh-sungguh memperhatikan Firman-Nya.
Yesus mengatakan bahwa Dia pasti akan datang kembali dan tidak seorangpun mengetahui dengan pasti kapan Ia akan datang. Bagaimanakah sikap kita dalam menanggapi hal tersebut? Apakah kita menanggapi dengan cara sungguh-sungguh mempersiapkan hidup kita? Atau secara tidak sadar kita sudah meremehkan Dia dengan tidak mengindahkan perkataan-Nya.
Hal ini dapat terjadi pada saat kita bersikap tawar atau masa bodoh terhadap janji kedatangan-Nya. Rasul Petrus memperingatkan kita ketika ia menulis:
“Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.
Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.”” 2 Petrus 2:3-4
Jangan sampai kita lupa bahwa Tuhan Yesus memiliki otoritas untuk menutup pintu sehingga walaupun orang berusaha sekuat apapun, tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk membuka pintu tersebut. Semua sudah terlambat. Hal ini terjadi karena seperti lima gadis bodoh tersebut, mereka meremehkan Sang Mempelai Pria, Tuhan Yesus Kristus.
2. Menyadari dengan Sungguh-sungguh akan Tanggung jawab yang Diberikan kepada Kita
Sebagai orang percaya kita sudah menerima keselamatan lewat kasih karunia. Sekarang kita bukan lagi seteru, sebaliknya sekarang kita adalah sekutu Allah. Kita sudah dibebaskan dari perhambaan dosa, namun sekarang kita menjadi hamba dari Tuhan Yesus Kristus.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20
Sebagai hamba, tugas kita adalah melakukan apa yang menjadi kehendak dan perintah-Nya. Hal ini digambarkan dalam perumpamaan ini lewat tugas yang harus dilakukan oleh kesepuluh gadis tersebut yaitu menantikan kedatangan sang mempelai pria. Mereka sudah diberikan sebuah tugas, oleh karena itu mereka harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan tersebut diperlihatkan dengan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar tugas tersebut bisa dilaksanakan dengan baik.
Gadis-gadis bijaksana mempersiapkan buli-buli berisi minyak lebih dari yang diperlukan, sementara itu gadis-gadis yang bodoh sepertinya sudah melakukan tugasnya. Mereka juga membawa pelita, tetapi mereka tidak mempersiapkan minyak. Hal ini kelihatan-Nya sepele, tetapi ternyata memiliki konsekuensi yang serius, karena pada akhirnya mereka tidak dapat ikut dalam pesta perjamuan kawin.
Dalam ayat-ayat berikutnya (Matius 25:14-30), Tuhan Yesus juga memberikan sebuah perumpamaan mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali. Perumpamaan tersebut adalah mengenai hamba yang dipercayakan untuk melipatgandakan talenta mereka. Kepada hamba-hamba yang melipatgandakan talenta, yaitu mereka yang memandang serius tanggung jawab yang diberikan kepada mereka, tuan itu berkata:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:21,23
Kepada hamba-hamba yang bertanggung jawab melakukan tugas mereka, Tuhan berkata bahwa mereka akan ikut masuk dalam kebahagiaan Tuhan.
Namun hamba yang diberikan satu talenta tidak melipatgandakannya, dengan mengubur talenta tersebut, hamba tersebut pada dasarnya menyepelekan tugas yang diberikan kepada-Nya. Bagi hamba tersebut pintu tertutup; bahkan tuan itu berkata:
“Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Matius 25:30
3. Memastikan Bahwa Kita Dikenal oleh Tuhan
Ketika lima gadis yang bodoh itu kembali dari membeli minyak, mereka mendapati bahwa pintu sudah tertutup. Mereka berteriak memohon agar mempelai pria membukakan pintu. Namun ada jawaban dari dalam yang berkata:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” Matius 25:12
Apakah artinya ketika mempelai pria itu berkata ‘Aku tidak mengenal kamu’? Tuhan Yesus pernah mengatakan hal yang serupa mengenai hal ini.
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23
Tentunya hal ini bukan berarti Tuhan Yesus tidak tahu siapa mereka, namun Yesus tidak mengenali mereka sebagai murid-Nya. Tuhan tidak mengakui mereka sebagai pengikut-Nya. Walaupun secara lahiriah mereka melakukan hal-hal yang kelihatannya rohani, namun mereka adalah orang asing secara rohani. Selama tiga tahun lebih Yudas Iskariot mengikuti Yesus, belajar dari Yesus, melayani bersama Yesus bahkan hidup bersama-sama Yesus. Tetapi sebenarnya ia didorong oleh kepentingannya sendiri. (Yohanes 12:6)
Orang yang dikenal Allah adalah mereka yang sungguh-sungguh menyerahkan segala aspek kehidupan-Nya, baik pikiran, perasaan dan keinginannya kepada pikiran, perasaan dan keinginan Allah.
“Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1 Korintus 8:3
Kembali kepada kelima gadis bodoh dalam perumpamaan tersebut. Tuhan sedang berkata kepada mereka bahwa Ia tidak melihat dalam hidup mereka ada indikasi yang memperlihatkan bahwa mereka berjaga-jaga, yaitu:
1. Menghormati Dia dan tidak meremehkan Dia,
2. Bertanggung jawab dan setia melakukan kehendak-Nya.
3. Memperlihatkan bahwa mereka mengasihi Dia dan meninggalkan kejahatan dalam hidupnya.
Jadilah seperti gadis-gadis bijaksana, yang berjaga-jaga senantiasa. Amin

image source:https://seedsofscripture.com/

HOW TO UNLOCK YOUR DESTINY

HOW TO UNLOCK YOUR DESTINY

October theme.
HOW TO UNLOCK YOUR DESTINY
Kalau kita berbicara tentang Destiny, sebagian orang mengira ini sama dengan nasib atau takdir. Mari kita lihat arti masing-masing menurut pengertian Firman Tuhan. Kata “nasib” atau “takdir” biasa di pakai saat seseorang menggambarkan sesuatu kemalangan atau keberuntungan, sebagai sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Bila kita tinjau lebih jauh di dalam Alkitab tidak ada “nasib mujur” ataupun “nasib sial”. Yang ada adalah berkat dan kutuk.
Berkat bila seseorang taat melakukan Firman dan kutuk bagi orang yang tidak melakukan Firman (Ulangan 28). Bahkan Firman Tuhan berkata, Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidup berkenan kepadaNya (Mazmur 37:23). Dan Tuhan berjanji akan memulihkan/mengembalikan tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang. (Yoel 2:25)
Dalam kehidupan yang pasrah dengan nasib berarti hidup yang putus asa dan tidak ber pengharapan. Sedangkan di dalam Yesus selalu ada pengharapan baru. Apakah kita mau hidup terima nasib atau percaya kepada FirmanNya? Pilihan ada di tangan kita. Melalui tema bulan ini yang di peroleh melalui gembala kita, Tuhan mau menunjukan jalan bagi kita untuk hidup dalam “Destiny” Nya yang sudah di tetapkan sebelum dunia di jadikan. Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Bagaimana caranya? Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.” (Yesaya 40 : 3-5)
Destiny adalah suatu perjalanan yang telah disiapkan untuk dilewati oleh seseorang agar mencapai tujuan akhir, yang sesuai dengan rancangan Allah. Jika kita berjalan dalam destiny, maka Tuhan akan membuat hidup kita berhasil serta berdampak besar bagi orang banyak. Orang percaya di akhir jaman mempunyai tugas yaitu mempersiapkan jalan bagi Tuhan sehingga kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan menyaksikannya bersama-sama.
Segala sesuatu diciptakan Allah dengan maksud dan tujuan tertentu, demikian pula manusia diciptakan untuk hidup sesuai dengan tujuan Tuhan. Rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer. 29:11).
Mungkin sejak dulu kita sudah memiliki cita-cita, kerinduan dan tujuan yang ingin dicapai. Lalu apakah penting dan menjadi keharusan untuk kita mengetahui cita-cita, kerinduan dan tujuan yang Tuhan tetapkan atas hidup kita ? Jawabannya adalah sangat penting sekali, karena hidup kita bukan milik kita lagi tetapi milik Kristus. Pernahkah menyadari bahwa semua yang kita lakukan bila tidak berhubungan dengan Tuhan itu akan sia-sia? Tentu kita tidak ingin semua jerih payah kita menjadi sia-sia,bukan?
Renungkanlah hal ini : bila kita memiliki tujuan ke suatu tempat, namun apa yang kita lakukan tidak mengarah kepada tujuan tersebut. Apakah kita akan tiba pada tujuan? Jawabannya pasti “tidak”. Demikian juga sebagai orang percaya yang mewarisi Kerajaan Allah dan kehidupan kekal, bila apa yang kita lakukan, kerinduan dan cita-cita pribadi kita tidak mengarah pada tujuan ilahi maka sia-sialah jerih payah kita.
Bagaimana caranya membuka kunci (to unlock) atau mengaktifkan destiny kita dan hidup di dalamnya ?
yaitu dengan menyelaraskan cita-cita /tujuan pribadi searah dengan kehendak Tuhan.
1) Kembali kepada Tuhan
Kembali kepada Tuhan ditandai dengan pertobatan/repentance.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh. 1:9).
Dalam bahasa Yunani, kata bertobat memiliki dua jenis kata yaitu metamelomai dan metanoia. Metamelomai berarti menyesal (to regret atau to repent oneself). Seorang yang menyesal belum tentu bertobat. Pertobatan sejati ditunjukkan oleh perubahan pikiran (Metanoia).
Metanoia terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya “berubah” (change) dan nous yang artinya “pikiran” (mind). Kata inilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran. Metanoia/ pertobatan sejati tentu akan mengubah bukan saja perilaku seseorang tetapi juga seluruh prinsip hidupnya, dan akhirnya tujuan hidupnya pun akan berubah menjadi seperti yang Allah kehendaki.
Dalam Mat. 21:28-32, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang dua anak. Yang sulung diperintahkan untuk pergi dan bekerja dalam kebun anggur. Dia menjawab ‘ya’ tetapi tidak pergi. Anak yang ke dua menjawab ‘tidak mau’ tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan perintah ayahnya. Di antara ke dua orang tersebut, yang melakukan kehendak ayahnya adalah anak yang ke dua. Dia menyesal dan berubah pikiran kemudian melakukan perintah ayahnya.
Pertobatan seperti ini yang Tuhan kehendaki dari setiap kita, bukan hanya berkata ‘ya’ di mulut, ataupun sekedar menyesal tetapi tidak merubah pikiran serta tindakan.
Merubah pikiran -> perubahan tindakan -> perubahan kebiasaan -> perubahan karakter -> Menyesuaikan arah kehidupan dengan destiny yang Tuhan telah sediakan sebelumnya. Firman-Nya dalam Yesaya 43:18-21: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku”.
Siapa kita sehingga di pilih Tuhan untuk memberitakan kemashyuranNya? Kita adalah orang percaya yang dibenarkan oleh iman seperti Abraham. Roma 4:18-24, :”Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. ” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati.”
Bersambung minggu depan…

image source: https://bibleversestogo.com/products/jeremiah-29-11-rainbow-mug

DIMENSI YANG BARU DALAM HAL PENGAMPUNAN.

DIMENSI YANG BARU DALAM HAL PENGAMPUNAN.

Keempat Injil dalam Alkitab mencatat peristiwa penyaliban yang dialami oleh Tuhan Yesus. Catatan-catatan yang tertulis dalam keempat Injil ini semuanya saling melengkapi satu dengan lainnya, sehingga pembaca Injil mendapatkan gambaran yang jelas mengenai peristiwa penyaliban Tuhan Yesus dalam rencana penyelamatan manusia. Tidak ada satu pun yang saling bertentangan satu sama lainnya.
Salah satu yang menarik adalah terlihat seolah-olah ada perbedaan antara Matius dan Lukas yang mencatat adanya perbedaan sikap yang ditunjukkan oleh kedua penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
· Dalam Matius 27:44 tercatat:“Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.”
· Sedangkan dalam Lukas 23:39-41 tercatat: “Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”. Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”
Matius mencatat kedua penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus mencela Dia, sedangkan Lukas mencatat salah satu penjahat mencela sedangkan penjahat lainnya menyatakan hal yang sebaliknya. Secara sepintas lalu hal ini sepertinya berbeda dan bertentangan satu dengan yang lainnya. Dan bagi beberapa orang perbedaan ini membuat mereka menyatakan bahwa Alkitab se olah-olah ber tentangan.
Ketika kita mempelajarinya lebih dalam, maka kita mengerti bahwa baik Matius maupun Lukas tidak bertentangan dalam mencatat peristiwa penyaliban Tuhan Yesus. Perbedaan ini terjadi karena kedua peristiwa itu memang adalah dua peristiwa dengan timing yang berbeda.
· Matius 27:44 adalah peristiwa yang pertama, dan
· Lukas 23:39-41 adalah peristiwa yang kedua, yang berikutnya terjadi.
Pada awalnya kedua penjahat tersebut memang mencela Yesus, tetapi kemudian terjadi perubahan; di mana salah satunya menyadari sesuatu hal dan akhirnya berubah dari mencela menjadi “membela” Yesus. Bahkan dalam ayat-ayat berikutnya, Lukas mencatat perubahan dan pertobatan salah satu penjahat tersebut dan pengakuannya akan Yesus sebagai Raja yang akhirnya membuat dia menerima janji keselamatan yang pasti.
Lukas 23:42-43, “Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Point penting yang harus diperhatikan adalah apa yang membuat salah satu dari kedua penjahat itu mengalami perubahan dari mencela menjadi membela dan akhirnya mendapat keselamatan. Perubahan ini terjadi setelah dia mendengar Tuhan Yesus berkata:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:33-44)
Perubahan itu terjadi ketika pengampunan dilepaskan Yesus justru di tengah penderitaan-Nya yang luar biasa di dalam proses penyaliban yang mengerikan itu.
Semua orang yang disalib karena perbuatannya yang tidak terampuni lagi secara hukum akan mengatakan perkataan-perkataan yang kasar dan jahat. Sumpah serapah, hujatan, makian kemarahan dan perkataan lain yang sangat tidak baik akan dikatakan oleh orang yang disalibkan. Karena salib adalah sebuah hukuman yang paling berat pada zaman itu dan penderitaan yang dialami bukan saja secara jasmani, tetapi juga secara jiwani.
· Secara fisik, penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus jauh lebih berat daripada biasanya. Cambuk yang dipakai untuk menyiksa Tuhan Yesus, sebagai contoh, bukanlah cambuk yang biasa dipakai untuk menyesah orang sebelum disalibkan. Cambuk yang dipakai untuk menyesah Yesus ujungnya adalah benda-benda tajam seperti duri atau serpihan besi yang tajam sehingga ketika dicambukkan ke punggung Yesus bukan hanya membuat luka luar saja, tetapi sampai merobek kulit dan mencabik daging punggung-Nya, sehingga terjadi luka yang sangat dalam.
· Belum lagi penderitaan secara jiwa karena pengkhianatan, ejekan, cemoohan, hinaan yang diterima-Nya. Juga penderitaan secara rohani ketika Tuhan Yesus ditinggalkan sementara waktu oleh Bapa karena dosa seluruh umat manusia yang harus ditanggung-Nya.
Matius 27:46, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Dalam penderitaan yang sehebat itu, ternyata Yesus justru melepaskan perkataan pengampunan dan perkataan kasih kepada orang-orang yang melakukan penyesahan yang hebat atas diri-Nya. Hal inilah yang menjadikan salah satu penjahat tersebut yakin bahwa Yesus disalib bukan karena perbuatan-Nya.
Lukas 23:41,“Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”
Kemudian keluarlah ucapan pengakuan dan pertobatannya. Keteladanan agung dari Tuhan Yesus mengajarkan bahwa pengampunan menghasilkan pertobatan yang membawa kepada keselamatan. Kuasa pengampunan ini pun akan terjadi ketika orang yang percaya kepada-Nya melakukan hal yang sama seperti yang Yesus lakukan yaitu ketika mengampuni orang lain yang bersalah.
Matius 6:14, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.”
Pengampunan yang kita berikan kepada orang lain akan menghasilkan pengampunan bagi diri kita sendiri bahkan bagi orang lain yang mengalami pengampunan itu baik langsung maupun tidak langsung. Pengampunan menghasilkan keselamatan, itulah dimensi baru mengenai pengampunan.
Pengampunan itu tidak mudah, tetapi tidak mustahil
Mengampuni memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Manusia lebih mudah untuk membalas dan melampiaskan dendamnya daripada mengampuni. Itulah sebabnya, untuk bisa mengampuni, kita harus terlebih dahulu menerima pengampunan dan kasih Kristus yang mengandung kuasa untuk mengubah hati dan pikiran kita.
Mengampuni memang bukan syarat keselamatan, tetapi harus disadari bahwa mengampuni adalah bukti bahwa kita sudah menerima keselamatan dan sudah mengalami kelahiran baru.
2 Korintus 5:17 mencatat,
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Orang yang sudah ada di dalam Kristus adalah orang yang sudah mengalami pembaharuan melalui kasih dan kuasa-Nya. Artinya, sekalipun sulit, orang yang sudah ada dalam Kristus sudah mengalami perubahan dari manusia lama yang selalu ingin membalaskan dendamnya; menjadi manusia baru yang memiliki kuasa dalam hal melepaskan pengampunan.
Bahkan 1 Yohanes 3:14 berkata,
“Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.”
Ayat ini mengajarkan; tanda bahwa kita sudah pindah dari dalam maut ke dalam ‘hidup’ adalah ketika kita bisa mengasihi orang lain. Keselamatan dalam Kristus pasti membawa perubahan dalam kehidupan seseorang. Kasih dan pengampunan dari Kristus memampukan seseorang untuk mengampuni dan mengasihi orang lain.
Bagaimana bisa mengampuni?
Perlu kita ketahui bahwa pengampunan adalah sebuah keputusan dan bukanlah perasaan. Pengampunan adalah sebuah tindakan yang dimulai dari kehendak dan kemauan yang tidak tergantung dari perasaan. Kehendak dan kemauan yang dihasilkan oleh kuasa Roh Kudus dalam hati seorang percaya yang telah menerima pengampunan dan keselamatan dalam Kristus.
Mentaati Firman Tuhan lahir dari sebuah keputusan untuk mau melakukan kehendak Tuhan, dan tidak bergantung sama sekali dari perasaan. Seharusnya yang terjadi dalam
hati seorang percaya adalah perasaan yang mengikuti keputusan; bukan keputusan yang mengikuti perasaan.
Beberapa alasan yang menghambat seseorang untuk bisa mengampuni adalah:
· Kesalahannya terlalu besar
Menganggap bahwa luka hati karena perkataan atau tindakan seseorang terlalu besar dan tidak bisa disembuhkan, apalagi dilupakan.
Sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa yang tidak terbatas. Hal ini berarti, Tuhan Yesus sanggup memulihkan dan menyembuhkan luka hati sedalam apapun. Ketika kita mengatakan bahwa luka yang dialami terlalu dalam berarti kita sedang membatasi kuasa Tuhan.
Ingatlah, pikiran adalah medan peperangan rohani di mana si jahat membangun benteng keragu-raguan akan Firman Tuhan untuk mencegah seseorang mengalami kuasa Tuhan.
· Waktu akan menyembuhkan
Menganggap seiring berjalannya waktu maka luka hati akan sembuh dengan sendirinya. Luka hati harus dibereskan di hadapan Tuhan melalui iman. Luka hati yang dibiarkan akan berkembang dan mengakar menjadi akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. (Ibr 12:15)
· Yang bersalah meminta maaf. Mau mengampuni asalkan yang bersangkutan meminta maaf.
Apa yang terjadi seandainya orang yang bersalah kepada kita tidak mau atau tidak sempat minta maaf? Apakah kita tidak akan melepaskan pengampunan? Akhirnya kita sendiri yang menanggung semua konsekuensinya.
· Pengampunan identik dengan toleransi
Menganggap jika diampuni, maka yang bersangkutan akan melakukan perbuatannya lagi. Sadarilah bahwa seseorang bisa berubah karena kuasa Tuhan. Jangankan untuk mengubah orang lain, kita sering mengalami kesulitan untuk mengubah diri sendiri. Ketika kita melepaskan pengampunan maka pada saat itu kita juga melepaskan kuasa Tuhan yang akan mengubah seseorang.
· Menyerahkan kepada Tuhan
Alasan yang dipandang rohani, yaitu menyerahkannya kepada Tuhan. Kelihatannya seperti rohani, padahal maksudnya adalah ingin melihat pembalasan yang terjadi atas orang yang menyakiti kita.
Amsal 20:22 berkata, “Janganlah engkau berkata: “Aku akan membalas kejahatan,” nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau.” Alasan ini hanyalah untuk memuaskan dendam, bukan alasan rohani yang berkenan di hadapan Tuhan.
Jika kita mau mengampuni maka hal itu adalah sebuah keputusan untuk taat kepada Firman Tuhan dan menjadikan hati dan pikiran kita benar di hadapan Tuhan. Pengampunan membuat orang percaya mengalami kebebasan dan kemerdekaan dari beban dan ikatan dendam; dan akan mendatangkan perasaan damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus yang melimpah dalam hati.
Tuhan Yesus mengajar bahwa orang percaya adalah seumpama orang yang sudah dibebaskan dari hutang sepuluh ribu talenta dan diminta mengampuni saudaranya yang berhutang seratus dinar.
Sebagai perbandingan, Satu talenta diperkirakan adalah upah kerja selama lima belas tahun sedangkan satu dinar adalah upah untuk bekerja satu hari lamanya. (15X365X10.000): (1×100)=54.750.000:100=547.500:1.
Orang percaya sebenarnya sudah mengalami penebusan dan kebebasan dari dosa-dosanya yang sangat besar terhadap Tuhan, lalu diminta mengampuni kesalahan kecil sesamanya.
Di sini kita menemukan alasan untuk mengampuni, yaitu karena kita sendiri sudah menerima pengampunan yang jauh lebih besar atas dosa-dosa kita. Itu sebabnya kita harus mengampuni tanpa batas dan tanpa syarat.
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Matius 18:21-22) Amin

image source:https://www.pinterest.com/pin/487585097155883901/

FENOMENA KEBANGKITAN DOA ADALAH TANDA-TANDA PENTAKOSTA KETIGA

FENOMENA KEBANGKITAN DOA ADALAH TANDA-TANDA PENTAKOSTA KETIGA

Dalam Kisah Para Rasul 15:15-18, tertulis bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dan merestorasi Pondok Daud yang telah roboh. Untuk apa Tuhan Yesus merestorasi Pondok Daud?
• Supaya semua orang mencari Tuhan
• Dan segala bangsa yang disebut milik Tuhan mencari Tuhan.
Ini berarti tujuan Tuhan Yesus merestorasi Pondok Daud supaya terjadi penuaian jiwa besar-besaran. Apa yang dimaksudkan dengan Restorasi Pondok Daud?
• Dalam 25 tahun yang pertama, sejak tahun 1988, pengertiannya adalah: Doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam.
• Dalam 25 tahun yang kedua pengertiannya adalah: Prajurit-prajurit Tuhan yang gagah perkasa yang mempunyai gaya hidup berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam dan melakukan kehendak Tuhan pada jaman ini.
Hari-hari ini, di tengah pandemi COVID-19, Tuhan sedang merestorasi Saudara dan saya supaya menjadi prajurit-prajurit Tuhan yang gagah perkasa; artinya menjadi pemenang.
MENJADI PEMENANG
Kunci untuk menjadi seorang pemenang adalah:
• Bergaya hidup Doa, Pujian dan Penyembahan dalam unity siang dan malam.
Artinya kita harus hidup intim dengan Tuhan. Dalam pandemi ini kita sedang direstorasi untuk menjadi lebih intim dengan Tuhan.
• Melakukan kehendak Tuhan pada jaman Now.
Melalui pandemi ini kita juga sedang direstorasi untuk melakukan kehendak Bapa pada jaman Now.
Sesuai dengan pesan Tuhan Yesus kepada 7 Sidang Jemaat dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3, yang berarti ini juga pesan buat kita; hanya pemenang yang masuk sorga.
Pada waktu Tuhan Yesus merestorasi saya di tengah-tengah pandemi COVID-19 ini untuk menjadi lebih intim dengan Tuhan, untuk lebih mengerti kehendak Tuhan pada jaman Now, itu sangat menyakitkan. Saya diproses… Saya dibersihkan… Saya dimurnikan… Saya harus diam di rumah… berdiam diri sampai dengan hari ini. Tuhan berbicara kepada saya melalui Yesaya 26: 20-21:
“Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk, bersembunyilah barang sesaat lamanya, sampai amarah itu berlalu. Sebab sesungguhnya, Tuhan mau keluar dari tempat-Nya untuk menghukum penduduk bumi karena kesalahannya dan bumi tidak lagi menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya, tidak lagi menutupi orang-orang yang mati terbunuh di sana”.
Sampai hari ini, terus terang saya masih merasakan amarah Tuhan belum berlalu. Saya tidak tahu sampai berapa lama kita disuruh bersembunyi ‘barang sesaat lamanya’. Yang pasti ada maksud Tuhan menyuruh kita bersembunyi ‘barang sesaat lamanya’.
Kalau kita melihat tokoh-tokoh dalam Alkitab, mereka harus bersembunyi atau disembunyikan Tuhan ‘barang sesaat lamanya’ sebelum melakukan pekerjaan besar, seperti:
• Nuh dan keluarga, disuruh bersembunyi oleh Tuhan dalam bahtera selama 1 tahun sampai akhirnya Nuh bangkit menjadi bapa atas semua bangsa.
• Yakub, disuruh bersembunyi oleh Tuhan di rumah Laban, pamannya, ketika harus lari dari Esau. 20 tahun kemudian Yakub bangkit dengan keluarga baru, kekayaan baru, identitas baru. Dia menjadi Israel yaitu nama baru untuk umat pilihan Tuhan.
• Yusuf, disembunyikan oleh Tuhan dari usia 17-30 tahun. Perbudakan dan penjara yang dia jalani menjadi ‘sekolah’ di mana Tuhan mempersiapkan Yusuf menjadi orang kedua di Mesir setelah Firaun.
• Musa, disembunyikan Tuhan di padang gurun selama 40 tahun. Dan akhirnya Musa tampil untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir.
• Daud, disembunyikan Tuhan selama 15 tahun setelah dia diurapi menjadi raja Israel. Ketika Daud akhirnya naik tahta, dia telah menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan.
• Elia, disuruh bersembunyi oleh Tuhan di tepi sungai Kerit.
Setelah itu dia sendirian menghadapi 450 nabi Baal di gunung Karmel.
• Yunus, disembunyikan Tuhan dalam perut ikan selama 3 hari 3 malam. Setelah itu dia ke Niniwe dan berkotbah dalam kebangunan rohani terbesar dalam sejarah.
• Murid-murid Tuhan Yesus, disuruh bersembunyi oleh Tuhan di kamar loteng Yerusalem selama 10 hari. Setelah itu Roh Kudus dicurahkan secara luar biasa. Mereka dipakai untuk melakukan Amanat Agung. Penuaian jiwa besar-besaran terjadi.
• Paulus, disembunyikan oleh Tuhan di tanah Arab dan di Damsyik selama 3 tahun. Ketika dia kembali, dia dipakai Tuhan luar biasa dan menjungkir balikkan dunia. Paulus juga disembunyikan Tuhan di dalam penjara Romawi. Ketika dibebaskan, Paulus sudah menyelesaikan surat penggembalaan Efesus, Filipi, Kolose dan Filemon.
• Rasul Yohanes, disembunyikan Tuhan di pulau Patmos. Di situlah kitab Wahyu, kitab nubuatan terbesar sepanjang masa, dituliskan dan sekarang itu diberikan kepada kita.
Akhirnya yang paling luar biasa adalah Allah menyembunyikan Tuhan Yesus.
Dia tinggal di dalam perut bumi selama 3 hari (Matius 12:40) dan pada hari ketiga Tuhan Yesus bangkit dan membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Saya percaya setelah Saudara dan saya taat waktu disuruh ‘bersembunyi barang sesaat lamanya’, meskipun kita merasakan hal-hal yang tidak enak, kebosanan, perasaan takut, kuatir, putus asa, tetapi pasti setelah itu ada berkat, kuasa, pengurapan double portion yang Tuhan Yesus sediakan. Haleluya!
Ke depan ini Tuhan akan memakai setiap kita sesuai dengan rencana-Nya. Untuk itu Tuhan menyembunyikan kita barang sesaat lamanya.
PENGINJILAN MELALUI DOA MENUJU PENYELESAIAN AMANAT AGUNG
Para ahli Teologi mengamati bahwa ada 3 (tiga) gerakan besar yang sedang terjadi dalam menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.
• Gerakan pertama melalui gereja rumah. COOL termasuk di bagian ini.
• Gerakan kedua melalui kesembuhan massal. Healing Worship Online termasuk di bagian ini.
• Gerakan ketiga penginjilan melalui doa. Restorasi Pondok Daud dalam bentuk Menara Doa termasuk di bagian ini
Ketiga hal ini sedang kita lakukan hari-hari ini.
Pada tanggal 17 Agustus 2020, yaitu pada perayaan Ulang Tahun Indonesia yang ke-75, kita disuruh oleh Tuhan untuk mengadakan zoom meeting dengan tema “Trumpet Call for All Nations”, yang diikuti oleh banyak bangsa-bangsa.
Pada waktu itu Tuhan menyampaikan pesan bahwa Terompet Tuhan sedang berbunyi untuk memanggil umat-Nya, bangsa-bangsa, untuk berdoa. Melalui Yeremia 33:3, Tuhan berkata:
“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”
Ada 3 topik doa yang Tuhan mau kita lakukan hari-hari ini.
1. Doa untuk Indonesia
o Sesuai dengan Yeremia 29:7, kita harus berdoa untuk kesejahteraan negara kita karena kalau negara Indonesia sejahtera maka kita juga akan mengalami sejahtera.
o Sesuai dengan Yesaya 48:18, bahwa kesejahteraan akan terjadi kalau kita memperhatikan perintah-perintah Tuhan. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara Indonesia akan memperhatikan perintah-perintah Tuhan.
2. Doa Untuk Pertobatan
Sesuai dengan 2 Tawarikh 7:13-14 yang berkata:
o Frasa ‘Tuhan menutup langit sehingga tidak ada hujan’ dan ‘Tuhan menyuruh belalang memakan habis hasil bumi’ berbicara tentang resesi ekonomi.
o Frasa ‘Tuhan melepaskan penyakit sampar diantara umat-Nya’ berbicara tentang pandemi COVID-19.
Maka Tuhan meminta kepada kita untuk merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat, Kalau kita melakukan ini, maka Tuhan akan mendengar dari sorga. Tuhan akan mengampuni dosa-dosa kita dan Tuhan akan memulihkan negeri kita dari pandemi COVID-19 dan resesi ekonomi.
3. Doa untuk Penuaian Jiwa Besar-besaran
Penuaian jiwa besar-besaran selalu didahului dengan kebangkitan doa.
Sebelum Roh Kudus dicurahkan di kamar loteng Yerusalem 2000 tahun yang lalu, yang disebutkan sebagai Pentakosta Pertama, maka murid-murid Tuhan Yesus, semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Artinya mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam. Ini adalah prinsip Restorasi Pondok Daud. Hal ini juga terus dilakukan setelah Roh Kudus dicurahkan. Penuaian jiwa besar-besaran terjadi.
Demikian pula pada waktu Roh Kudus dicurahkan di Azusa Street yang disebut sebagai Pentakosta Kedua. William Seymour yang memimpin doa. Semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Penuaian jiwa besar-besaran juga terjadi.
o Tahun 2013, Tuhan berbicara kepada saya bahwa pencurahan Roh Kudus yang terjadi di jaman Now; yang kemudian disebut sebagai Pentakosta Ketiga.
Sejak saat itu, saya terus berdoa untuk kebangkitan doa di Indonesia, karena pencurahan yang dahsyat dari Roh Kudus di Pentakosta Ketiga akan terjadi setelah terjadinya kebangkitan doa.
o Tahun 2020, ketika terjadi pandemi COVID-19, yang luar biasa terjadi juga kebangkitan doa antar denominasi di Indonesia.
Menurut Bilangan Research Center: 83,8% gereja-gereja ikut dalam kegerakan doa ini. Haleluya!
o Tanggal 8 Juli – 17 Agustus 2020, berlangsung acara Doa Pujian Penyembahan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, selama 40 hari. Dan dilakukan pergantian tugas setiap 2 jam. Acara ini diikuti oleh gereja-gereja antar denominasi di seluruh Indonesia. Dan ini belum pernah terjadi sebelumnya.
KEHENDAK TUHAN PADA JAMAN INI
Tuhan berkata mengenai Daud bahwa Daud adalah orang yang berkenan di hati Tuhan dan yang melakukan kehendak Tuhan. Jadi Tuhan berkenan kepada Daud karena Daud melakukan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang mana? Alkitab berkata bahwa Daud melakukan kehendak Tuhan pada jamannya (Kisah Para Rasul 13:36). Kalau kita merindukan hidup kita berkenan di hati Tuhan, maka kita harus melakukan kehendak Tuhan pada jaman Now. Apa kehendak Tuhan pada jaman Now?
1. Menyelesaikan Amanat Agung
Pada waktu Tuhan Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya tentang apa tanda kedatangan-Nya dan tanda kesudahan dunia? Salah satunya Tuhan Yesus menjawab dari Matius 24:14 yang berkata: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
Tuhan Yesus akan datang kembali setelah Injil Kerajaan diberitakan ke seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Tuhan Yesus pasti datang kembali. Yang percaya katakan: Amin!
Karena itu Tuhan Yesus memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20
Tuhan Yesus memberikan tugas kepada kita untuk menyelesaikan Amanat Agung dengan kuasa dari Roh Kudus. Ini kehendak Tuhan pada jaman Now.
2. Tahun Pey Aleph
Dari tanggal 19 September 2020 – 7 September 2021 menurut kalender Ibrani, kita memasuki Tahun 5781 yang disebut dengan Pey Aleph. Pey Aleph artinya 81.
o Pey menggambarkan sebuah mulut
Peranan mulut adalah untuk memuji, meninggikan, mengucap syukur kepada Tuhan, melepaskan berkat; bukan dipakai untuk memperkatakan hal-hal yang kotor, gosip, porno, kepahitan, menjelekkan orang lain, hoaks dan lain-lain.
o Aleph adalah angka satu Suatu permulaan yang baru. Yohanes 1:1 berkata:“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Memasuki Tahun Pey Aleph, mari kita berjanji kepada Tuhan untuk menggunakan mulut ini hanya untuk berbicara tentang firman Tuhan. Ini adalah kehendak Tuhan pada jaman Now yaitu menggunakan mulut ini hanya untuk berbicara tentang firman Tuhan. Mari kita yang mau melakukan ini, kita ikrarkan janji kita ini dengan menyanyikan lagu ini:
Mulutku penuh dengan pujian
Kepada-Mu ya Yesus Tuhan
Sepanjang hari ku beri penghormatan
Kepada-Mu ya Allahku
Kotbah Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo

image source: https://biblepic.com/acts/15-16.htm

TIGA ASPEK KEKRISTENAN

TIGA ASPEK KEKRISTENAN

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2:6
“Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Kisah Para Rasul 11:26.
Dari kedua ayat di atas kita dapat melihat bahwa pada mulanya seseorang disebut ‘Kristen’ bukan terutama karena ia menyetujui seperangkat pengakuan iman tertentu, tetapi karena gaya hidup seorang murid yang jelas terlihat oleh sesama. Seorang murid adalah seseorang yang berguru kepada seseorang. Di sinilah implikasi dari Kristologi yang tepat.
Jika terlalu menekankan kepada ketuhanan Yesus, maka hampir tidak ada kesempatan bagi kita manusia biasa untuk meneladani gaya hidup seperti Kristus. Sampai saat ini ada aliran tertentu dalam kekristenan yang menitikberatkan hal ini. Mereka mengajarkan bahwa kemanusiaan Kristus adalah unik dan tidak sama dengan hakikat kemanusiaan kita. Kita tidak akan mampu ‘mengikuti teladan’ Kristus. yang ditekankan hanyalah pemujaan kepada Kristus yang telah bangkit dan persekutuan di dalam tubuh-Nya.
1 Yohanes 2:6 dengan jelas berkata bahwa tuntutan pemuridan adalah wajib bagi setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen. Mari kita melihat tensi kedua aspek ini:
I. HAL-HAL YANG HANYA BISA DILAKUKAN OLEH TUHAN YESUS
1. Menyerahkan Nyawa-Nya Untuk Menyelamatkan Dunia
Panggilan untuk menjadi Juruselamat dunia adalah unik; hanya dapat disandang oleh Yesus Kristus, anak Daud, yang tubuh-Nya dikandung oleh Maria sebagai buah naungan Roh Kudus. Inilah syarat utama untuk menjadi Juruselamat dunia; darah-Nya yang tanpa dosa, sangat mahal sehingga sanggup menebus seluruh isi dunia.
Ini adalah peranan unik Tuhan Yesus yang tidak dapat digantikan oleh siapapun. Itu sebabnya Ia disebut ‘Anak Tunggal Bapa yang diperanakkan’ (only begotten son). Kita yang percaya kepada karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib dijadikan anak-anak Allah ‘oleh iman’, tetapi Tuhan Yesus tetap memiliki posisi yang unik sebagai Anak Tunggal Bapa.
2. Menjadi Kepala Gereja
Kumpulan orang-orang percaya dari segala bangsa dan segala zaman secara korporat disebut Tubuh Kristus. Kristus adalah kepala dari tubuh itu. Pasca kenaikan-Nya, Ia menyerahkan kepemimpinan secara praktikal kepada murid-murid-Nya, secara khusus kepada mereka yang mengikuti panggilan untuk menjadi rasul-rasul. Posisi ini dipegang secara korporat sehingga tidak boleh ada seorang pun di muka bumi yang mempermasalahkan posisi Yesus sebagai kepala Gereja-Nya.

II. HAL-HAL YANG JUGA BISA DILAKUKAN OLEH ORANG PERCAYA
Selain dari itu ada aspek-aspek di dalam kehidupan Tuhan Yesus yang dapat dan harus ditiru oleh mereka yang menyebut diri sebagai murid-Nya. Inilah ketiga aspek yang harus nyata di dalam kehidupan semua orang percaya:
1. Aspek Kasih
Inilah yang harus terlihat jelas di dalam kehidupan semua orang percaya. Di dalam Yohanes 13:34-35 tertulis:
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Yesus berkata bahwa dunia akan percaya kepada pemberitaan kita pada saat kita saling mengasihi satu sama lain. Di dalam kasih ini akan tercipta kesatuan di dalam tubuh Kristus. Saling mengasihi bukan berarti mentoleransi dan membiarkan kesalahan, sebaliknya dengan kasih kita mencari solusi yang terbaik yang membawa kebaikan bagi pribadi tersebut. Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa segitiga kasih ialah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi, dan mengasihi sesama sebagaimana kita mengasihi diri sendiri.
Manusia di dalam pemberontakannya kepada Tuhan merasa sanggup ‘mengasihi sesamanya’ dengan kekuatannya sendiri. Sejarah membuktikan bahwa setiap usaha untuk membangun kesatuan yang tidak melibatkan Tuhan di dalamnya tidak akan bertahan lama dan selalu diikuti dengan perpecahan, mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga – sampai ke tingkat hubungan antar bangsa dalam pergaulan internasional.
Itu sebabnya di dalam Perjanjian Baru rasul Yohanes mengajarkan bahwa ‘Allah itu kasih’. Allah tidak ‘memiliki’ kasih, Allah itulah kasih adanya (God does not have love, God is love). Itu sebabnya semua orang yang berusaha ‘mengasihi sesamanya’ tanpa melibatkan Allah akan gagal.
Yesus menunjukkan prinsip ini di dalam pengorbanan-Nya di atas kayu salib.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8
Tidak ada jaminan sama sekali bahwa manusia akan merespon secara positif kepada pernyataan kasih Allah melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib, namun kekuatan kasih Agape itulah yang membuat kita bertobat dan kembali kepada Tuhan. Dimensi kasih seperti inilah yang Tuhan Yesus minta untuk murid-murid-Nya nyatakan kepada dunia.
2. Aspek Kebenaran
Tuhan Yesus berkali-kali menyatakan bahwa diri-Nya lah Kebenaran.
“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6
Komitmen Tuhan Yesus untuk hidup dalam Kebenaran, yaitu:
a. Kebenaran Moral
Tuhan Yesus dicobai sebagaimana layaknya manusia, tetapi Dia sedikitpun tidak terpancing untuk melakukan apa yang melanggar kekudusan-Nya
b. Kebenaran Epistemologikal
Ia tidak pernah berbohong mengenai sifat dan esensi hakiki keberadaan-Nya, maupun berbohong mengenai rencana dan maksud tujuan-Nya datang ke dunia ini.
Sebagai manusia, seringkali kita gagal di dalam mengejar kebenaran di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Kita seringkali berbohong, melakukan hal-hal yang salah secara moral, dan juga tidak mencintai kebenaran sehingga kita juga mudah dibohongi dan percaya kepada hal-hal yang tidak 100% benar.
Rasul Paulus juga kemudian di dalam surat-suratnya mendorong orang-orang percaya untuk tidak termakan oleh dongeng-dongeng nenek moyang dan ajaran-ajaran palsu sehingga mereka menyimpang dari iman yang murni. Komitmen Tuhan Yesus kepada kebenaran bahkan juga sampai kepada aspek seremonial, di mana Ia rela menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis, meskipun pada hakikatnya Ia tidak memerlukan baptisan dari siapapun, tetapi Dia bersedia melakukannya “demi memenuhi semua kebenaran”.
“Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.” Matius 3:15
Sebagai orang Kristen kita harus berkomitmen seumur hidup kita untuk hidup dalam kebenaran; dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita.
3. Aspek Kuasa
Di dalam sejarah Gereja; khususnya di dalam sejarah doktrin Kristologi hal ini juga merupakan suatu titik perdebatan yang sengit. Darimana sumber kuasa Tuhan Yesus untuk melakukan semua perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya? Jika kita terlalu menekankan keilahian-Nya maka hilanglah harapan bagi orang percaya kebanyakan untuk melakukan apa yang Tuhan Yesus kerjakan.
Hal ini sempat dipercayai oleh banyak aliran gereja, terutama di dalam abad pertengahan. Di sinilah juga keistimewaan pengertian kaum Pentakosta. Melalui komitmen yang tinggi kepada penerapan firman Tuhan, kita dapat melihat bahwa aspek kuasa ini diperuntukkan bagi semua orang percaya. Markus 16:15-18, Kisah 1:8, Yohanes 5:20, Yohanes 14:12.
Di dalam hal ini juga kita mellihat pemisahan fase-fase dalam kehidupan Tuhan Yesus. Keempat penulis Injil berfokus terutama kepada 3,5 tahun kehidupan publik, pelayanan, dan karya Tuhan Yesus di kayu salib. Hanya Injil Lukas yang memberikan sedikit catatan mengenai masa kecil dan remaja Tuhan Yesus. (Lukas 2:51-52)
Para sarjana Alkitab dari kalangan Injili dan Pentakosta percaya bahwa di dalam periode ini Tuhan Yesus sama sekali tidak melakukan mujizat dan perbuatan ajaib apapun. Beberapa tradisi kristiani dari aliran lain; bahkan juga di dalam ajaran agama lain – percaya bahwa Tuhan Yesus pada masa kecilnya melakukan beberapa mujizat. Kaum Injili dan Pentakosta menolak intepretasi seperti ini meskipun kelihatannya memberikan penghormatan kepada Tuhan Yesus, sebab pengertian ini justru merusak struktur kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus.
Rasul Paulus mengajarkan di dalam Filipi 2:6-7 bahwa Tuhan Yesus meskipun dalam rupa Allah, telah mengosongkan dirinya dan mengambil rupa seorang hamba. Jadi di dalam hal ini juga termasuk bergantung kepada Roh Kudus untuk memberdayakan-Nya melakukan kehendak Bapa di dalam mengerjakan mujizat-mujizat.
Kerelaan Tuhan Yesus di dalam mengosongkan diri-Nya inilah yang menjadi template bagi kita orang-orang percaya. Kita pun harus senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus untuk bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar yang dikehendaki oleh Bapa.
KESIMPULAN
Kristologi yang seimbang akan menjaga tensi yang tepat antara keunikan Tuhan Yesus yang peranan-Nya tidak dapat digantikan oleh siapapun, sementara mendorong setiap orang percaya untuk meneladani Tuhan Yesus di dalam ketiga aspek tersebut di dalam seluruh kehidupan mereka.

image source:https://www.pinterest.com/pin/243827767303582885/