Author: FJ

Home / Articles posted by FJ
MENJADI ORANG YANG BERINTEGRITAS

MENJADI ORANG YANG BERINTEGRITAS

Tahun 2021 adalah Tahun Integritas‘The Year of Integrity’. Sekali lagi kita katakan bersama-sama: Tahun 2021 adalah Tahun Integritas, ‘The Year of Integrity’.
DEFINISI INTEGRITAS
1. Menurut Westminster Dictionary of Theological Terms
Ini adalah sebuah istilah teologis untuk menunjukkan kemurnian dan kejujuran sebagaimana manusia ketika diciptakan dalam rupa dan gambar Allah. (Kejadian 1:26-27) Dosa mengakibatkan manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah itu menjadi rusak. Pada saat kita menjadi orang percaya; melalui proses pengudusan atau sanctification, gambar dan rupa Allah dikembalikan lagi, yaitu dijadikan serupa dengan gambar Yesus. Oleh karena itu kita harus mau diproses oleh Allah.
2. Dalam Konteks Etika
Integritas adalah ketaatan dalam prinsip dan karakter moral yang dibentuk dalam hati nurani Kristen.
THE MAN OF INTEGRITY
Panutan kita untuk menjadi orang yang berintegritas adalah Tuhan Yesus, sebab Dialah “The Man of Integrity”. Dengan perkataan lain, melalui tema Tahun Integritas untuk tahun 2021, sebenarnya Tuhan mau agar kita menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu menjadi murid Tuhan Yesus. Sesuai dengan perintah Tuhan Yesus yang kita kenal sebagai Amanat Agung dalam Matius 28:19-20, kita diperintahkan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa itu murid Tuhan Yesus, karena itu kita harus menjadi murid Tuhan Yesus.
Dan murid Tuhan Yesus pasti menginjil.
Pada waktu Tuhan Yesus naik ke sorga, setelah Tuhan Yesus hilang dari pandangan mata murid-murid-Nya yang dengan terheran-heran melihat ke langit, ada 2 orang berpakaian putih yaitu malaikat Tuhan yang berkata kepada mereka:
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
Kisah Para Rasul 1:11
Dari ayat ini, saya percaya kalau yang melihat Tuhan Yesus naik ke sorga adalah murid-murid-Nya, maka yang akan melihat Tuhan Yesus turun dari sorga ke awan-awan untuk mengangkat gereja-Nya adalah murid-murid Tuhan Yesus. Karena itu saya mau katakan, hanya murid Tuhan Yesus yang akan ikut dalam pengangkatan. Karena itu jadilah murid Tuhan Yesus. Murid Tuhan Yesus adalah mereka yang berubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu mereka yang berintegritas.
Mazmur 24:3-5, dan Mazmur 41:13-14, menyatakan bahwa orang yang bersih tangannya dan yang murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, yang tidak bersumpah palsu dan yang tulus, dengan kata lain orang yang berintegritas, yang akan masuk sorga.
TUNTUNAN TUHAN MEMASUKI TAHUN INTEGRITAS
Memasuki Tahun Integritas, Tuhan memberikan tuntunan kepada kita hal-hal yang harus kita lakukan, yaitu:
1. Kita Harus Membangun Manusia Rohani Kita
a. Hagai 1:1 – 2:1a, adalah ajakan untuk membangun kembali Bait Suci. Tuhan berfirman melalui nabi Hagai, kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan Yosua bin Yozadak, imam besar, untuk mengajak bangsa Israel membangun kembali Bait Suci. Tuhan menegur orang Israel karena mereka hanya sibuk membangun rumahnya sendiri, tetapi tidak menghiraukan rumah Tuhan sehingga tetap menjadi reruntuhan. Tuhan berkata kepada orang Israel, lihatlah keadaan dirimu:
 Kamu menabur banyak tetapi membawa pulang hasil sedikit,
 Kamu makan tetapi tidak sampai kenyang,
 Kamu minum tetapi tidak sampai puas,
 Kamu mendapat upah tetapi tidak pernah cukup, karena seperti ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang. Banyak pengeluaran yang tidak terduga, seperti sakit penyakit, dicuri, ditipu dirampok, dan lain-lain.
Teguran yang sama Tuhan berikan kepada kita karena hari-hari ini banyak di antara kita yang hanya sibuk memenuhi kebutuhan jasmani kita saja, sedangkan ‘manusia rohani’ kita tidak dibangun, tidak diperhatikan.
b. Tuhan berkata kepada bangsa Israel bahwa kalau mereka membangun rumah Tuhan maka mereka akan diberkati.
 Tuhan akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat.
 Tuhan akan menggoncangkan bangsa-bangsa, sehingga barang-barang yang indah-indah di bangsa-bangsa akan datang mengalir memberkati mereka.
 Tuhan berkata: “Kepunyaan-Kulah perak, kepunyaan-Kulah emas.”
 Tuhan juga berjanji bahwa kemegahan rumah Tuhan yang dibangun akan melebihi kemegahan yang semula.
 Tuhan juga akan memberikan damai sejahtera.
c. Hari-hari ini, Tuhan juga berbicara kepada kita, kalau kita membangun manusia rohani kita, sehingga akan menjadi serupa dengan gambar Yesus, maka Tuhan akan mencurahkan berkat secara rohani maupun secara jasmani.
Seperti yang dikatakan pada waktu itu, dimana Tuhan memberkati bangsa Israel dengan menggoncangkan langit dan bumi, Tuhan menggoncangkan bangsa-bangsa, maka hal yang seperti itu juga yang terjadi pada hari-hari ini. Pandemi COVID-19 membuat bangsa-bangsa tergoncang. Kejadian yang kita alami hari-hari ini justru akan memberkati kita secara rohani maupun jasmani, yaitu kita yang membangun manusia rohani kita untuk menjadi serupa dengan gambar-Nya, yaitu menjadi orang yang berintegritas.
d. Kalau Tuhan berjanji kepada bangsa Israel bahwa kemegahan rumah Tuhan yang dibangun akan melebihi kemegahan yang semula, maka Tuhan juga berjanji kepada kita: Kalau kita sungguh-sungguh membangun manusia rohani kita, maka kita akan semakin serupa dengan gambar Yesus melebihi yang dulu pernah kita alami. Tuhan akan memberikan kepada kita damai sejahtera. Haleluya!
e. Sesuai dengan yang dikatakan dalam 1 Yohanes 2:6, yaitu kalau kita mengatakan bahwa kita ada di dalam Dia maka kita wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Dengan kuasa Firman dan pertolongan Roh Kudus, dan proses dari Allah, kita yang sungguh-sungguh mau membangun manusia rohani kita, yaitu mau hidup sama seperti Kristus telah hidup, akan menjadi serupa dengan gambar-Nya.
f. Dengan adanya pandemi COVID-19 ini, Tuhan Yesus berbicara kepada saya beberapa bulan yang lalu melalui Yesaya 26:20-21, yaitu agar kita bersembunyi barang sesaat lamanya sampai amarah Tuhan berlalu, sebab Tuhan sedang menghukum penduduk bumi karena kesalahannya.\
Karena itu melalui pandemi COVID-19 ini Tuhan memberikan waktu kepada kita untuk koreksi diri untuk membangun manusia rohani kita.
Hari-hari ini muncul varian-varian baru dari virus Corona yang penularannya jauh lebih cepat. Tuhan memberikan peringatan kepada kita seperti yang ditulis dalam Amsal 22:3 dan Amsal 27:12, yang berkata:
“Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tidak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.”
Peringatan ini dituliskan sebanyak 2 kali di kitab Amsal. Yang berarti ini sesuatu yang penting yang harus diperhatikan dan dilakukan. Jangan menganggap enteng dengan mengabaikan peringatan ini. Jadilah orang bijak yang mau bersembunyi barang sesaat lamanya sampai amarah Tuhan berlalu karena Tuhan sedang menghukum penduduk bumi karena kesalahannya.
Kita yang bijak, bersembunyi waktu melihat malapetaka, bukan karena kita tidak beriman, tetapi karena firman Tuhan yang berkata demikian. Jangan mencampuradukkan antara iman dengan kenekatan. Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan firman Tuhan, tetapi kenekatan itu timbul dari kata hatinya.
2. Kita Harus Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan
a. Mempersembahkan Tubuhmu sebagai Persembahan yang Hidup
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Roma 12:1
Ada pertanyaan: Mengapa kita diminta untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan dengan cara mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan?
Jawabannya adalah karena kemurahan Allah kepada kita, dimana Bapa memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita, dengan cara Tuhan Yesus harus mati dengan penderitaan yang luar biasa, Dia dikuburkan, tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan.
Ini merupakan pemberian yang terbaik dari Allah kepada kita umat manusia. Jadi karena Allah memberikan yang terbaik buat kita, maka kita diminta untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Dia, dimana sebenarnya kita tidak bisa mengembalikan apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Persembahan kepada Tuhan bisa berupa:
 Ucapan syukur, pujian dan penyembahan,
 Taat kepada firman-Nya,
 Melayani pekerjaan Tuhan,
 Serta mempersembahkan persembahan berupa materi.
Persembahan secara materi berupa persembahan khusus, persembahan persepuluhan, persembahan sulung, yang merupakan bukti ketaatan kita kepada firman Allah melalui gereja tempat kita tertanam.
Tiga Respon Orang Percaya terhadap Persembahan Materi
 Respon pertama, Bagi mereka yang memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, akan memberikan dengan standar yang tinggi, yaitu senantiasa berupaya memberikan yang terbaik untuk Tuhan.
Sebagai contoh: Maria yang intim dengan Tuhan Yesus, mengurapi kaki Tuhan Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya dan menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambut-Nya. Harga minyak narwastu murni itu seharga 300 dinar yaitu upah satu tahun seorang pekerja. Jadi sangat besar. Itu merupakan suatu persembahan yang terbaik.
 Respon kedua, Bagi mereka yang tidak intim dengan Tuhan, hanya dapat memahami memberi persembahan sebagai sebuah hukum yang tertulis.
Ketika yang lain sudah dengan tekun dan setia memberikan persembahan persepuluhan, persembahan sulung, dia masih sibuk menggali tentang apakah persepuluhan dan persembahan sulung itu Alkitabiah atau tidak.
 Respon ketiga, Bagi mereka yang cinta uang dan pencuri kas milik Tuhan seperti Yudas Iskariot, akan mengkritik orang seperti kepada Maria yang memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan, yaitu minyak narwastu yang mahal harganya.
Demikian juga mereka yang termasuk orang-orang seperti ini akan menyamaratakan semua pendeta yang mengajar tentang memberikan persembahan sebagai golongan pendeta yang mencari keuntungan dari jemaat. Sehingga banyak pendeta yang takut memberikan pelajaran tentang kebenaran memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Akibatnya baik pendeta itu maupun jemaatnya gagal untuk menerima berkat yang terbaik yang Tuhan sediakan.
Kesimpulannya: memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan hanya dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya intim dengan Tuhan. Saya berdoa supaya Saudara termasuk orang yang hidupnya intim dengan Tuhan sehingga menerima berkat yang terbaik dari Tuhan di tahun 2021 ini. Amin.

image source: https://twitter.com/sprec61551/status/1195762467231526918?lang=eu

ALLAH  ADALAH  KASIH

ALLAH ADALAH KASIH

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Allah adalah kasih dan kita terus mengalami kasih itu dalam Kristus Yesus sampai hari ini. Hubungan antara Allah dan manusia didasari dan ditandai oleh kasih, artinya seluruh rencana dan kehendak Allah terhadap manusia adalah manifestasi dari kasih-Nya. Kasih Allah memiliki dimensi yang kekal/tidak berakhir, mencakup segala hal, sangat dalam serta melampaui segala pengetahuan sehingga tidak mampu dimengerti oleh manusia biasa yang karnal (daging) & sekuler (duniawi). Kita perlu pertolongan Roh Kudus untuk dapat memahami dan mengalami kasih Allah yang berlimpah-limpah.

Barangsiapa lahir dari Allah memiliki Kasih (His being dan bukan sekedar His doing).
Tuhan Yesus menggambarkan ‘kasih Allah’ yang luar biasa itu sebagai kehadiran Allah sendiri, tidak tergantung dari faktor dari luar diri-Nya (integritas = complete in itself). Kasih yang tidak bersyarat (unconditional), didemonstrasikan dengan pengorbanan Kristus (the ultimate sacrifice) dan sempurna (yaitu mencapai seluruh tujuannya) di dalam kita.

Karena kasih, Allah telah lahir sebagai manusia dan mati (Yesus) kemudian bangkit sebagai Allah anak (Kristus) supaya kita hidup oleh Yesus Kristus. Karena kasih, Ia rela mengorbankan Diri-Nya, Ia telah mati ketika kita masih hidup dalam dosa, dalam keadaan memusuhi Allah, tidak memiliki pengharapan, pantas dimurkai dengan hukuman kekal di neraka.

Jika kita dikasihi Allah sampai pada hari ini bukan karena kesalehan dan kuat gagah kita, tetapi semata-mata karena Allah adalah kasih. Dia menyatakan kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Iman percaya kita untuk dapat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah murni pemberian Allah karena kasih-Nya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9).

Kasih adalah tanda dari sebuah kelahiran kembali saat Roh Kudus yang adalah wujud kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita (Roma 5:5). Kita memiliki benih ilahi karena kita berasal dari Dia (1 Yoh 3:9-10; 5:1) sehingga kita dimampukan untuk melakukan perintah Agung :

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39).

Mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi artinya tidak hanya tahu firman (membaca, mengerti, posting dan menjadikan pegangan hidup) saja tapi harus sampai tahap melakukan firman/kehendak Bapa (seperti pada perumpamaan dalam Matius 21:28-31). Bukan hanya menguasai firman tetapi harus hidup oleh firman.

“Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” (Yohanes 14:21).

Roh Kudus yang ada di dalam kita senantiasa memperbaharui, menguatkan dan meneguhkan manusia roh/batiniah kita sehingga kasih Allah menguasai seluruh hati, jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) serta akal budi kita. Mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi adalah hasil ketaatan manusia roh kita yang tunduk kepada kehendak Allah, didasari ketulusan kasih dan dilakukan dengan integritas.

Manusia roh akan tunduk kepada pimpinan Roh Kudus jika kita memelihara persekutuan kasih dengan-Nya melalui gaya hidup doa pujian penyembahan. Akibatnya, perintah Tuhan bukan lagi menjadi suatu taurat yang mengikat dan membatasi kebebasan tetapi ketaatan kita merupakan karya Roh Kudus sebagai sumber air hidup yang memancar dari dalam hati karena kita percaya kepada Yesus Kristus (Yohanes 7:38-39a).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-8)

Kehadiran Roh Kudus membuat kita menerima dan mengalirkan kasih tersebut sehingga kita dapat mengasihi Allah, diri sendiri serta orang lain. Mengasihi diri sendiri (bukan mengasihani diri/self-pity) berarti memilih untuk tetap tinggal dalam kasih sebab di luar itu kita akan tersesat dan binasa. Mengasihi orang lain berarti memperlakukan mereka sesuai hukum kasih Kristus. Perlu diingat dan dipahami bahwa kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roh Kudus, Roma 5:5) selalu sejalan dengan firman kebenaran.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14)

Tanda kita mengasihi Allah adalah ketika kita melakukan perintah-Nya. Apa itu perintah-Nya?

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34)

“Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” (2 Yohanes 1:6)

Untuk hidup/tinggal dalam kasih adalah suatu keputusan/pilihan pribadi yang diikuti oleh kemauan. Selanjutnya Tuhan yang akan memampukan kita menyalurkan kasih dan menambahkan serta memperlebar kapasitas kasih kita (melalui suatu proses pendewasaan).

Dalam Yohanes 15:4-7 Tuhan Yesus (Kasih) mengatakan bahwa Dia adalah Pokok Anggur yang benar, kita adalah ranting yang berasal dari-Nya dan Bapa adalah pengusaha kebun anggur. Ranting tentu akan menghasilkan buah yang sama dengan pokok anggurnya : dari buahnya kita akan mengenal seseorang karena setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula (Matius 7:17-20). Bila kita tetap tinggal dalam kasih-seperti ranting yang terhubung dengan pokok anggur-akan menghasilkan buah (kasih).

Arti ‘hidup/tinggal’ dalam kasih-Nya adalah menuruti perintah-Nya.

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yohanes 15:9-10)

“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” (Yohanes 15:2) ‘..di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.’…

Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa, sebaliknya orang yang mau tinggal dalam kasih akan berbuah. Tahun ini adalah the Year of Integrity. Roh Kudus akan mendidik, memurnikan dan menguduskan (sanctification) kita agar menjadi person of integrity yang menghasilkan buah-buah kasih dengan kualitas baik/matang. Mengapa begitu penting untuk berbuah kasih? karena di luar kasih semua yang kita lakukan akan sia-sia.

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Korintus 13:1-3).

Bila kita cermati ayat di atas ternyata pengetahuan, karunia, iman yang memindahkan gunung, perbuatan baik bahkan pengorbanan tidak ada artinya jika dilakukan tanpa kasih.
Hal yang dilakukan tanpa kasih tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan, tidak menjadi dampak/berkat. Sehebat apapun yang dilakukan tanpa kasih bisa menjadi kesombongan bahkan membawa kepada kehancuran, tetapi kasih membangun.
Contoh : seseorang yang memiliki karunia yang luar biasa tetapi menjadi sombong dan mencari keuntungan diri sendiri, maka orang tersebut tidak tinggal di dalam hukum kasih, maka semua yang dilakukannya akan sia-sia. Mengapa ? Karena “Kasih itu tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak mencari keuntungan diri sendiri… Faith works by love.

Orang yang tidak tinggal dalam kasih hidupnya akan menjadi seperti ranting yang kering, jiwanya mengalami keletihan, hidup dalam penghakiman/penghukuman, tidak mengalami damai sejahtera/sukacita dan tidak mampu bertahan menghadapi tantangan sampai garis akhir karena mengandalkan kekuatan sendiri.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” (Yohanes 15:4-6)

Hidup di luar kasih berarti tidak terhubung dengan mata air kehidupan (Roh Allah), keadaan ini seperti semak bulus di padang belantara yang tidak akan mengalami datangnya keadaan baik. Orang seperti ini bisa menumbuhkan akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. Karena kekosongan dalam batin, maka ia cenderung memiliki nafsu yang rendah seperti Esau yaitu menukar kebenaran/ sesuatu yang rohani untuk mengejar pencapaian palsu yang ditawarkan dunia demi memuaskan hawa nafsu. (Ibrani 12: 15-17).

Kasih bukanlah suatu tanda kelemahan tapi suatu kekuatan dahsyat yang berasal dari Roh Allah. Kasih Allah itu kokoh, seperti Menara yang kuat, tempat kita berlindung. Kasih Allah yang ada di dalam kita membuat kita cakap menanggung segala perkara, membuat kita mampu menyerap dan menanggung beban yang tidak seharusnya kita tanggung.
Kasih bukanlah perasaan (feeling/mood), self pity/mengasihani diri untuk memuaskan hawa nafsu ataupun kompromi. Kasih itu menegur, mendidik, menguatkan, memerdekakan, memulihkan dan menyelamatkan kita.

Orang yang tinggal dalam kasih pasti mengalami pendewasaan rohani di mana setiap masalah/tantangan, setiap ketidaksempurnaan dan kelemahan Tuhan pakai guna memperlebar kapasitas kasih kita untuk belajar mengasihi Tuhan dan mengasihi satu dengan yang lain.
Kapasitas kasih yang diperlebar akan membuat hidup menjadi produktif, apa saja yang kita kerjakan dibuat Tuhan berhasil sehingga menjadi berkat bagi orang lain dan diri sendiri, yang sulit akan terasa mudah karena dilakukan dengan kerelaan hati yang membawa sukacita.
Oleh sebab itu “lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Korintus 16:14).

Setelah menyelidiki banyak hal, Salomo dalam kitab Pengkhotbah akhirnya menyimpulkan bahwa segala sesuatu di luar Allah (di luar kasih dan kebenaran) adalah kesia-siaan.

Karena itu, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kolose 2:7)

Sesungguhnya kita tidak akan pernah kekurangan segala yang baik karena kasih Allah adalah menara yang kuat menopang hidup kita, kasih-Nya selalu baru setiap hari. Kita yang harus memutuskan untuk tinggal dalam kasih-Nya agar dapat menikmati semua yang telah Allah sediakan untuk kebaikan kita karena Allah adalah kasih.

image source: https://www.amazon.com/30-John-Believes-Everlasting-Scripture/dp/B00JPIW7W2

THE PURPOSE OF BLESSING

THE PURPOSE OF BLESSING

Barusan kita memasuki tahun baru menurut calendar Cina yaitu Lunar New Year, yang dikenal dengan hari raya Imlek. Perayaan ditandai dengan berkumpul bersama keluarga. Yang muda mendatangi rumah orang tuanya untuk memberi hormat dan yang tua memberi angpao (amplop merah), dengan demikian mereka saling memberkati. Ini bisa di lakukan hanya sebagai suatu kebiasaan, namun juga bisa kita kaji makna yang ada di dalamnya.
Tuhan menjanjikan berkat bagi setiap orang yang menghormati orang tuanya. Ulangan 5:16 “….supaya panjang umurmu dan baik keadaanmu.” Namun zaman sekarang banyak orang tidak perduli dengan orang tua malah setiap hari secara berulang-ulang kita berdoa kepada Tuhan: “Tuhan berkati aku. Tuhan berkati aku”. Ibaratnya kita tidak sadar bahwa selama ini kita sedang hidup dalam berkat Tuhan. Atau kita baru menyadari bahwa selama ini kita tinggal dalam berkat Tuhan, setelah kehilangan berkat itu atau sudah mengalami batasan-batasan.
PENGERTIAN TENTANG BERKAT
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi singkat dari berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Jelas sekali tertulis bahwa berkat datang dari Tuhan untuk manusia.
Dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Ulangan (Ulangan 28:1-14) dapat kita temukan contoh berkat adalah hal-hal baik yang melingkupi buah kandungan yang subur (tidak mandul), hasil bumi dan hasil ternak yang melimpah, perlindungan dari musuh, lumbung yang terisi, perbendaharaan Tuhan yang dibukakan, usaha dan pekerjaan yang lancar, posisi dan tanggung jawab yang meningkat, juga area yang bertambah luas.
Menariknya, dalam kitab Habakuk, berkat Tuhan digambarkan bukan seperti yang tertulis dalam kitab Ulangan.
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Habakuk 3:17-19
Dalam kitab Ulangan; berkat Tuhan identik dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi kitab Habakuk membuat pengertian mengenai berkat menjadi semakin luas. Berkat Tuhan yang tertulis dalam kitab Habakuk adalah mengenai keselamatan dan kekuatan, walaupun berjalan dalam keadaan yang tidak baik; bahkan sangat tidak baik, hasil bumi mengecewakan bahkan tidak menghasilkan sama sekali, tetapi Habakuk tetap menikmati berkat kebaikan Tuhan, karena di tengah-tengah keadaaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia, Tuhan tetap menyelamatkan dan memberi kekuatan.
Hal ini seperti yang tertulis dalam Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
TUJUAN DARI BERKAT
1. Membuktikan ke-Mahabesar-an dan ke-Mahakuasa-an Tuhan
Karena berkat yang benar hanya datang dari Tuhan, fakta ini membuktikan ke-Mahabesar-an dan ke-Mahakuasa-an Tuhan. Tidak ada pihak lain yang dapat membuat atau menciptakan dan memberi berkat. Hanya Tuhan saja yang dapat menciptakan dan memberikan berkat, hanya dari Dia sajalah berkat itu berasal, Tuhan adalah sang sumber berkat itu.
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1:17
2. Membuktikan Kedaulatan Tuhan
Hanya Tuhan yang dapat menciptakan dan memberikan berkat, dan hanya Tuhan saja yang menentukan kepada siapa berkat itu akan diberikan. Kenyataan ini membuktikan bahwa berkat membuktikan kedaulatan Tuhan. Dalam Bilangan 22-24, sebuah kisah mengenai Bileam yang diminta oleh Balak untuk mengutuki bangsa Israel, tetapi kenyataannya, Tuhan memberkati bangsa Israel.
“Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya.” Bilangan 23:20
3. Membuktikan Pemeliharaan Tuhan
“maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang.” Ulangan 11:14-15
Dua ayat ini menunjukkan; berkat sebagai bukti bahwa Tuhan turut campur tangan dalam urusan pemeliharaan manusia. Tanaman sebagai hasil bumi, sebagai bahan makanan bagi manusia dan hewan dapat tumbuh dengan baik karena adanya hujan yang turun dari langit.
Dan turunnya hujan adalah wujud kemurahan Tuhan bagi pemeliharaan hidup umat manusia di muka bumi ini.
4. Membuktikan Kebaikan Tuhan
“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu.” Mazmur 31:20
Berkat menunjukkan dan membuktikan betapa baiknya Tuhan bagi umat manusia. Tanpa kebaikan Tuhan, bumi sudah mengalami banyak malapetaka, bencana dan hal-hal yang menuntun kepada kehancuran.
5. Membedakan Kehidupan Orang Benar dengan Orang Dunia
“Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.”
Maleakhi 3:18
“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu.” Mazmur 31:20
Adanya berkat yang Tuhan berikan kepada umat-Nya, berupa pemenuhan kebutuhan jasmani, berkat kesehatan, bahkan pemeliharaan, kekuatan dan keselamatan; menunjukkan bahwa memang ada perbedaan antara orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan dan yang tidak beribadah kepada-Nya.
Walaupun kadang-kadang orang benar akan juga menghadapi masalah, tetapi dalam menghadapi masalah, sikap orang benar sangat berbeda dengan dunia. Hal ini karena Tuhan yang memberi damai sejahtera dan kekuatan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya.
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Yohanes 14:27
6. Menunjukkan Kasih Setia Tuhan
“Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.”
Keluaran 20:6
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
2 Petrus 3:9
Sekalipun kadang-kadang manusia tidak setia, tetapi berkat dan pemeliharan Tuhan membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang setia, Ia tidak pernah lalai akan janji-janji-Nya.
7. Menguji Integritas Kita
“Any man can stand adversity — only a great man can stand prosperity.” (Robert Ingersoll)
Setiap manusia dapat bertahan dalam keadaan yang tidak baik — namun hanya manusia hebat yang dapat bertahan dalam kelimpahan.
Kutipan di atas menunjukkan dan membuktikan betapa hidup berkelimpahan berkat dapat menjatuhkan orang. Hanya orang yang memiliki integritas saja yang tetap dapat hidup benar di saat berkelimpahan. Orang yang berintegritas dapat tetap rendah hati dan memiliki empati terhadap lingkungan sekitarnya di saat berkelimpahan. (1 Yohanes 3:17)
Hanya orang berintegritas yang dapat menjaga hidupnya tetap benar, walaupun ia memiliki segala kemampuan dan kesempatan untuk berbuat apapun tanpa batasan-batasan lagi.
Hanya orang berintegritas saja yang tetap dapat percaya dan melekat kepada Tuhan serta menaruh harapannya kepada Tuhan, walaupun ia telah memiliki segalanya yang ia butuhkan dan inginkan. (Filipi 4:12-13)
Sebuah contoh dalam Perjanjian Lama, dapat kita temukan dalam Bilangan 11:31-35 dan juga diceritakan kembali dalam Mazmur 78. Di saat Tuhan memberikan daging yang berlimpah kepada orang Israel, orang Israel menunjukkan sifat yang membuat Tuhan murka; mereka menjadi rakus, serakah dan tidak kudus. Oleh karena itu Tuhan memukul bangsa Israel dengan tulah yang sangat besar.
Hanya orang yang berintegritas saja yang dapat tetap hidup dalam panggilan Tuhan di saat ia diberkati Tuhan dengan berkelimpahan.
– Yusuf, waktu ia dipercaya oleh Potifar untuk berkuasa atas rumah dan atas segala miliknya; tetap dapat mempertahankan kekudusan hidupnya waktu dicobai oleh Istri Potifar. (Kejadian 39)
– Walaupun diberi kuasa sebagai orang kedua atas seluruh Mesir oleh Firaun, di saat Yusuf berjumpa dengan saudara-saudaranya yang telah memperlakukannya dengan buruk, ia menerima mereka dengan baik dan memelihara hidup mereka. (Kejadian 41:41-44, 45:4-5)
Marilah kita semua bukan menjadi pengejar berkat, tetapi menjadi pengejar pribadi Pemberi Berkat itu sendiri.

image source: https://www.bible.com/bible/111/JAS.1.17.NIV

TUHAN SATU-SATUNYA KOTA BENTENG KITA

TUHAN SATU-SATUNYA KOTA BENTENG KITA

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” (Yesaya 43:2)

Di akhir jaman ini segala sesuatu sedang mengalami guncangan, termasuk Gereja sedang dimurnikan agar menjadi murid/prajurit Tuhan Yesus yang dewasa dan berintegritas. Orang Kristen yang sejati (bukan bayi rohani, sekedar pengunjung/ikut-ikutan) akan hidup berkemenangan bahkan semakin banyak berbuah (artinya menghasilkan buah berkualitas baik/ matang dalam ketekunan).

Iblis yang menyadari bahwa waktunya sudah sangat singkat sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyeret orang percaya agar gugur dari iman kepada Yesus Kristus. Akan tetapi kita yang percaya kepada Kristus telah diberikan iman yang mengalahkan dunia melalui kelahiran kembali oleh Roh Kudus. Jaminan Tuhan atas orang percaya sungguh dapat diandalkan karena Tuhan adalah satu-satunya kota benteng kita, yang menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh dengan kuasa dan integritas.

Tuhan memerintahkan agar jangan takut dan arahkan mata kita hanya kepada Dia. Jika mata kita tertuju kepada-Nya, maka kita dapat berdiri tegak dan cakap menanggung segala perkara.

“Diamlah dan ketahuilah”..jadilah tenang (rest in God’s love) dan kenali Pribadi-Nya.
Jika kita mengenal Dia dan tinggal dalam kasih-Nya, maka manusia batiniah kita dipenuhi oleh damai sejahtera yang menjadi kekuatan kita.

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau” (Yesaya 43:2).

Air, sungai dan api menggambarkan tantangan/ujian iman yang harus dilalui dalam pengikutan kita akan Tuhan.

• Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau :

Dengan kuasa-Nya, Tuhan membelah air laut dan membuatnya menjadi jalan yang kering agar orang Israel bisa melaluinya. Mukjizat-Nya sanggup membuka jalan, bahkan kalau perlu membuat/menciptakan jalan baru saat mengalami kesesakan dan tidak ada jalan keluar.
Tuhan sanggup menenggelamkan musuh, seperti Dia menenggelamkan Firaun dan pasukannya ke dalam air laut yang berbalik meliputi mereka (Kel. 15:19). Malapetaka akan ditimpakan Tuhan kepada musuh kita (Yes. 3:11).

• Atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan :

Sistem/hikmat dunia adalah seperti arus sungai yang berusaha menyeret dan menghanyutkan orang percaya untuk hidup dalam keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup. Meskipun masih hidup di dalam dunia tapi kita tidak hidup secara dunia; Roh Kudus akan menerangi hati dan pikiran kita dengan firman sehingga kita memiliki hikmat ilahi dan semua yang kita perlukan agar tidak terhanyut oleh arus dunia.

Mengambil ilustrasi seekor ikan : hanya ikan hidup yang bisa melawan arus, sementara ikan yang mati pasti akan hanyut oleh aliran sungai. Hanya orang yang rohaninya hidup (artinya dipimpin oleh Roh Kudus) yang tidak akan hanyut oleh arus dunia.

• apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau :

Kalaupun kita sedang mengalami api ujian, artinya mengalami penderitaan/penganiayaan karena iman kepada Yesus Kristus, Roh Kudus akan memberi kekuatan dan keteguhan hati untuk dapat bertahan, bersabar dalam kesesakan, bersukacita dalam pengharapan dan bertekun dalam doa.

Api yang dipanaskan 7 kali tidak membuat Sadrakh, Mesakh dan Abednego terbakar hangus, bahkan lewat Nebukadnezar, Tuhan memberikan upah kemenangan dengan menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi di wilayah Babel (Dan. 3: 27-30).
Api ujian dipakai untuk memurnikan, bukan untuk menghanguskan. Tujuannya agar kita memiliki iman berkualitas emas, (1 Pet. 4:12; 1:6-7) sehingga kita siap dipakai sebagai bejana untuk kemuliaan-Nya. Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.

Ingatlah bahwa musuh kita bukan darah dan daging, tetapi pemerintah, penguasa, penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara. Sebagai ciptaan yang baru dalam Kristus, kita sudah menjadi manusia rohani yang hidup di dalam dimensi roh, hidup oleh iman yang bekerja dalam kasih dan dalam pimpinan Roh Kudus. Firman Tuhan merupakan pedang roh yang menjadi salah satu senjata dalam peperangan kita.

Dalam dimensi roh, ada Roh Allah dan ada roh-roh lain yang berasal dari kuasa kegelapan. Roh Allah memiliki kuasa yang jauh lebih tinggi dari segala kuasa manapun, oleh sebab itu hanya Dia yang mampu melindungi kita dari serangan musuh.

“When the enemy comes in like a flood, The Spirit of the Lord will lift up a standard against him” (Isaiah 59:19b, NKJV)

Dialah kota benteng perlindungan bagi “Semua orang yang dipimpin Roh Allah.” (Roma 8:14a)
Roh Allah akan menuntun orang percaya yang taat menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu duniawi dan mengalami pendewasaan rohani.

TUJUH ROH ALLAH

“Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” (Wahyu 5:6)

Sesungguhnya ketika Roh Allah dikaruniakan kepada kita, ketujuh Roh Allah juga ada di dalam kita. Angka tujuh melambangkan kesempurnaan, sehingga angka “tujuh” dalam “ketujuh Roh Allah” pada ayat di atas tidak sedang merujuk pada Roh Allah yang berjumlah tujuh, melainkan pada kualitas Roh Allah serta karya-Nya yang sempurna dan utuh dalam kita.

“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN” (Yesaya 11:2)

1. Roh TUHAN
Adalah Pribadi Ketiga dari Allah Tri Tunggal, disembah sebagai Allah yang Esa. Roh Tuhan adalah wujud kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita, yang mengurapi, mengingatkan akan seluruh firman, menyempurnakan dan membawa pada seluruh kebenaran.

2. Roh hikmat
Memberikan pengetahuan, pemahaman yang mendalam, kebijaksanaan dan akal budi untuk dapat menimbang, membedakan, membuat pilihan/keputusan dan memimpin diri sendiri/orang lain kepada kebenaran, sehingga kita tidak disesatkan oleh tipu muslihat iblis. (Amsal 16:16; Pengkhotbah 7:12)

3. Roh pengertian
Memberikan pengertian (pewahyuan) firman, mengerti kehendak hati dan jalan-jalan Tuhan, menangkap Kairos-Nya, mengerti diri sendiri, mengerti orang lain, mengerti jaman bahkan menilai segala sesuatu. (1 Korintus 2:14-15)

4. Roh nasehat
Kemampuan untuk memberikan saran/pendapat, menasehati, memberi koreksi, mendidik, memberikan pengajaran dan arahan/instruksi sesuai kebenaran firman.

5. Roh keperkasaan
Memberikan keberanian, kekuatan, kemampaun, keteguhan hati dan ketangguhan untuk berdiri diatas kebenaran (menderita karena kebenaran), untuk melakukan panggilan/kehendak Bapa, untuk melawan intimidasi si jahat dan cakap menghadapi persoalan/tantangan,

6. Roh pengenalan
Roh pengenalan membuat kita memahami hati Tuhan sehingga hidup kita berada dalam poros kehendak-Nya.

7. Roh takut akan Tuhan
Roh takut akan Tuhan memberikan kerinduan untuk selalu menghormati, mendahulukan serta meninggikan Tuhan di atas segalanya. Membuat kita menghindarkan diri dari keinginan berbuat dosa karena takut menyakiti hati-Nya, takut untuk kehilangan keintiman dengan Tuhan dan takut untuk menyia-nyiakan kasih karunia-Nya.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Hanya orang yang memiliki pengenalan akan Tuhan secara pribadi dan mau merendahkan hati, yang bisa mengalami damai sejahtera Allah, hidup yang berkemenangan dan menghasilkan buah dalam ketekunan. Tuhan adalah satu-satunya kota benteng kita!

image source: https://www.pinterest.com/pin/564638872015877371/

BERKAT DARI ORANG YANG MENJAGA INTEGRITAS HIDUP

BERKAT DARI ORANG YANG MENJAGA INTEGRITAS HIDUP

Di dalam Alkitab; Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, banyak ayat yang berbicara tentang integritas. Ada sebanyak 22 kali kata ‘integrity’ tercatat. Mengapa orang percaya diminta untuk menjaga integritas?
Paulus berkata di dalam Efesus 4:1,“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.”
Kata ‘berpadanan’ di sini menggunakan kata axios. Akar kata ini menggambarkan konsep timbangan zaman dahulu yang ada tangan di kiri dan kanan, lalu para penjual biasanya akan menimbang sebuah beban untuk menyesuaikan dengan beban yang ada di seberangnya.
Paulus meminta agar orang percaya menaruh bobot panggilan sebagai anak-anak Tuhan di satu sisi timbangan, dan di sisi satu lagi adalah gaya hidup yang menunjukkan kualitas moral dan karakter yang sesuai, sehingga timbangan itu menjadi seimbang. Paulus membahas dalam Efesus 4-6 bagaimana seharusnya orang percaya itu hidup.
BERKAT DAN MANFAAT DARI ORANG YANG MENJAGA HIDUPNYA
Dalam artikel ini, kita akan membahas apa saja berkat dan manfaat dari seseorang yang menjaga integritas hidupnya? Setidaknya ada beberapa ayat di Alkitab yang mencatat langsung manfaat integritas, di antaranya :
1. “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.” Mazmur 25:21
Mungkin di sekitar kita ada beberapa orang yang berusaha menjatuhkan kita. Dalam situasi ini, Daud mengalami cemoohan dan beban yang berat dari musuh-musuhnya (ay. 18-19). Dia berharap hanya kepada Tuhan (ay. 16, 20), dan Daud berharap bahwa kejujurannya atau integritasnya yang akan menjaga hidupnya sembari dia menantikan pertolongan dari Tuhan (ay. 21).
2. “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Amsal 10:9
Kata ‘bersih kelakuan’ di dalam terjemahan Bahasa Inggris digunakan kata “walks in integrity”. Orang yang menjaga kehidupannya berintegritas, akan aman hidupnya. Kenapa aman? Karena susah untuk orang lain mencari celah untuk menjatuhkan. Orang Farisi berkali-kali berusaha untuk menjatuhkan Yesus, tetapi tidak berhasil. (Lukas 6:7; 11:54; 14:1)
Mari jaga integritas, karena dengan sendirinya, pelayanan dan pekerjaan kita akan aman.
3. “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.” Amsal 11:3
Orang yang terbiasa hidup dengan prinsip integritas akan dituntun oleh Roh Kudus. Tuntunan Roh Kudus kepada setiap orang percaya akan semakin efektif ketika kita juga berlatih untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan. Dengan kata lain, di dalam pengudusan, Roh Kudus menajamkan karakter-karakter kita sehingga semakin menyerupai Kristus.
4. “Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas.” 1 Tawarikh 29:17a
Allah ternyata berkenan kepada keikhlasan. Keikhlasan dalam konteks ini berbicara tentang kejujuran dalam bertindak dan motivasi. Motivasi yang murni tanpa ada niatan jahat, adalah orang yang tulus ikhlas dalam berbuat segala sesuatu. Apa yang benar yang harus dilakukan, itulah yang dilakukan. Dan ternyata itu menjadi suatu persembahan yang berkenan kepada Allah. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Allah ternyata berkenan kepada integritas hidup manusia.
5. “Orang benar yang bersih kelakuannya–berbahagialah keturunannya.” Amsal 20:7
Integritas dalam ayat ini digambarkan dengan kata ‘bersih kelakuannya’. Ternyata berkatnya tidak hanya dirasakan oleh si pelaku Firman, tetapi keturunannya disebut berbahagia atau diberkati. Bersih kelakuan di sini bukannya tidak berdosa sama sekali atau sempurna secara moral, tetapi menghidupi kebenaran Firman dan juga berkata-kata jujur. “Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.” (Mazmur 15:2)
Orang tua yang hidup benar dan jujur, tentu anak-anak dan cucu-cucunya akan diberkati pula atas keteladanan hidup mereka.
BERKAT DARI PERKENANAN TUHAN
Ayat emas kita tahun ini dari Mazmur 24:4-5, “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.”
Jelas sekali ada hubungan antara orang yang menjaga integritas hidup dengan menerima berkat Tuhan. Secara khusus, ‘berkat’ di sini adalah perkenanan Tuhan yang turun kepada hamba-hamba-Nya yang menjaga hidupnya. Mazmur mencatat banyak sekali berkat dari perkenanan Tuhan ini, contohnya sebagai berikut:
1. “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:11)
Orang yang menjaga integritas atau di dalam ayat ini “hidup tidak bercela”, Allah akan mencurahkan kebaikan-Nya berlimpah-limpah. Kebaikan Tuhan itu bisa berupa berkat materi, damai sejahtera, sukacita, dan kebahagiaan. Bapa rindu sekali memberkati anak-anak-Nya!
2. “Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.” (Mazmur 90:17)
Perkenanan Tuhan akan meneguhkan dan menguatkan hasil karya dan pekerjaan kita. Ada perbedaan antara hasil perbuatan orang yang berasal dari perkenanan Tuhan dengan yang tidak.
Di dalam Perjanjian Baru, Yesus mengajar: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Matius 5:8
Orang yang suci hatinya juga bisa dikatakan sebagai orang yang berintegritas. Karena integritas tidak hanya berbicara soal perbuatan eksternal, tetapi kondisi hati yang murni dan tulus.
Yesus menyebutkan secara langsung berkat ini, yaitu mereka akan melihat Allah. Melihat Allah di dunia ini dengan kacamata iman, melihat perbuatan-Nya yang baik, melihat pertolongan-Nya dan pada akhirnya betul-betul kita melihat Allah dalam segala kemuliaan-Nya ketika Dia menjemput kita dalam kedatangan-Nya kali yang kedua (Ibrani 12:14; Wahyu 21:22-27).
Haleluya!

image source: https://www.bible.com/bible/116/EPH.4.1-16.NLT

YESUS KRISTUS – TELADAN DALAM KESUCIAN HATI

YESUS KRISTUS – TELADAN DALAM KESUCIAN HATI

Sebuah ungkapan mengatakan, jika kita ingin belajar, belajarlah dari ahlinya! Salah satu makna dalam kalimat singkat ini menyiratkan sebuah totalitas dalam belajar. Jika ingin belajar jangan tanggung-tanggung, jangan setengah-setengah. Dengan kata lain kita harus belajar dari mereka yang telah menguasai; bukan hanya teori, melainkan telah mempraktekkan atau menghidupi apa yang diajarkannya.
Dalam Tahun Integritas (The Year of Integrity) ini kita perlu belajar untuk memiliki kemurnian/kesucian hati, mengingat salah satu pengertian integritas adalah ‘bersih tangan’ dan ‘murni hati’ (Mazmur 24:4). ‘Murni/Suci’ atau tulus (Ibr. bar) dalam konteks Mazmur 24:4 memiliki arti bahwa dalam diri orang tersebut tidak ada motivasi yang salah, alias bersih. ‘Bersih tangan’ lebih menunjuk pada area eksternal atau tindakan yang terlihat, sedangkan ‘murni/suci hati’ lebih menunjuk kepada internal atau keadaan hati. Orang yang tulus hati tidak akan mencari pujian buat dirinya sendiri. (Amsal 27:2)
Jika kita ingin belajar tentang kemurnian/kesucian hati, kita harus belajar dari ahlinya, The Man of Integrity, yakni Tuhan Yesus. Dalam konteks pembelajaran ini yang patut kita ingat adalah bahwa Tuhan Yesus bukanlah sebagai objek pembelajaran, melainkan sebagai Guru yang Agung dan teladan kita dalam hal kesucian hati.
Tentunya begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dan teladani dari kehidupan Yesus, baik melalui perkataan-Nya, perbuatan-Nya, sikap dan respon-Nya terhadap pihak-pihak yang menghendaki kematian-Nya. Mari kita pelajari beberapa hal berikut di bawah ini :
1. TIDAK ADA MOTIVASI YANG SALAH
a. Pembuktian diri melalui ketaatan akan Firman dan Perintah TUHAN (Matius 4:1-11)
Perikop di atas memuat peristiwa yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam masa pra pelayanan-Nya. Setelah berpuasa selama empat puluh hari, datanglah Iblis mencobai Tuhan Yesus. Ada tiga bentuk pencobaan yang dilakukan oleh Iblis di mana dua diantaranya dimulai dengan kalimat: “Jika Engkau Anak Allah…” (Matius 4:3,6). Ini adalah salah satu pencobaan untuk pembuktian diri, yang disampaikan dengan kalimat pertanyaan ‘keraguan’ Iblis akan eksistensi Yesus.
Dari jawaban yang disampaikan Tuhan Yesus jelas sekali terungkap bahwa Yesus menganggap tidak perlu “membuktikan” diri-Nya kepada Iblis dengan mengikuti apa yang menjadi kehendak Iblis untuk mengubah batu menjadi roti (ayat 3) atau menjatuhkan diri dari atas bubungan bait Allah (ayat 6). Tuhan Yesus menyatakannya dengan menunjukkan ketaatan-Nya kepada perintah Allah yang tertulis dalam firman TUHAN.
Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang menganggap adalah sebuah keharusan untuk membuktikan kepada banyak orang bahwa mereka adalah “hamba Tuhan yang diurapi”, “pribadi yang dipakai Tuhan secara khusus” sehingga dalam setiap brosur atau spanduk kegiatan yang dilaksanakan, foto diri atau tulisan nama mereka dengan titel yang lengkap jauh lebih menonjol dibandingkan dengan tulisan nama dan gambar Tuhan Yesus yang bahkan tidak jarang malah tidak pernah ditampilkan.
Mengikuti teladan Tuhan Yesus dalam hal kesucian hati, dalam konteks ini tidak memiliki motivasi yang salah bukanlah dengan ‘pembuktian’ melalui kehebatan pelayanan kita, melainkan dengan ketaatan kita akan perintah dan kehendak-Nya. (Matius 4:4,7; 7:21-23)
b. Motivasi dalam melayani adalah belas kasihan akan jiwa-jiwa (Matius 9:35-36)
“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”
Membaca ayat tersebut di atas, mengutip istilah yang digunakan oleh generasi Yeremia zaman Now adalah “no caption needed”. Sebab telah tergambar dengan jelas bahwa motivasi Tuhan Yesus dalam melayani adalah belas kasihan akan jiwa-jiwa yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Kalau motivasi kita apa? Ingin dikenal dan terkenal (popularitas)? Harta atau kekayaan? Penghargaan atau respek dari orang lain? Marilah kita teladani Tuhan Yesus.
c. Tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri (Matius 10:7-8)
“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”
“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” ‘Matthew Henry’s Commentary on whole Bible’ memberikan catatan yang sangat menarik terkait ayat ini. Dikatakan bahwa orang yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan segala penyakit pasti mempunyai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri; sebab siapa yang tidak mau berobat kepada orang yang pasti bisa menyembuhkan penyakit apapun yang mereka derita?
Oleh karena itu, mereka diperingatkan untuk tidak mencari keuntungan dari kuasa yang mereka miliki untuk mengadakan mujizat-mujizat ini. Mereka harus menyembuhkan dengan cuma-cuma, untuk memperlihatkan lebih jauh sifat dari Injil Kerajaan, yang bukan hanya terdiri atas anugerah saja, melainkan anugerah yang diberikan dengan cuma-cuma. Alasannya adalah karena kita telah memperolehnya dengan cuma-cuma.
Kuasa yang diberikan kepada mereka untuk menyembuhkan orang sakit tidak menuntut bayaran apa-apa dari mereka, karena itu mereka tidak boleh mencari keuntungan duniawi dari kuasa itu bagi diri mereka sendiri.
Simon si tukang sihir itu tidak akan menawarkan uang untuk membeli karunia-karunia Roh Kudus jika dia tidak berharap untuk mendapatkan uang dengan memiliki karunia-karunia itu. (Kisah Para Rasul 8:18)
Perhatikanlah, perbuatan baik yang dilakukan Kristus kepada kita dengan cuma-cuma seharusnya membuat kita juga berbuat baik kepada orang lain dengan cuma-cuma.
2. TIDAK MENCARI PUJIAN BAGI DIRI SENDIRI
a. Melakukan Ibadah bukan untuk publikasi/ketenaran (Matius 6:1-7)
Dalam salah satu bagian dari khotbah Tuhan Yesus di bukit, Ia mengajarkan mengenai hal memberi sedekah dan berdoa. (Matius 6:1-7)
Apa yang Tuhan Yesus ajarkan terkait dua pokok pengajaran ini sangat kontras sekali dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang munafik yang biasanya memberi sedekah, beribadah, berdoa dengan motivasi agar dilihat orang (ayat 5) dan mencari pujian bagi diri sendiri (ayat 2).
Sebaliknya, Yesus mengajarkan agar dalam memberi dan dalam berdoa dilakukan tanpa spotlight, “tanpa sorotan kamera”, tanpa publikasi agar diketahui orang, tapi cukup diri kita dan Bapa kita di Sorga yang mengetahuinya.
b. Tidak mengejar pujian dan promosi (Matius 9:30-31)
“Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.”
Dalam peristiwa yang dinyatakan dalam ayat ini kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa Tuhan Yesus tidak menyuruh mereka yang telah disembuhkan untuk mempromosikan diri-Nya. Bahkan dengan tegas Tuhan Yesus berpesan agar jangan seorang pun mengetahui hal tersebut. Namun sukacita dan rasa syukur yang meluap karena pertolongan dan kasih TUHAN yang telah dialami mendorong orang-orang yang telah disembuhkan itu memasyurkan Tuhan Yesus ke seluruh daerah itu. Promosi dan pujian tidak perlu dicari-cari. Janganlah pelayanan yang kita lakukan, kita lakukan demi mengejar pujian dan kemasyuran dari orang-orang yang kita layani.
c. Pengagungan dan penghormatan datang dari orang lain, bukan dari diri sendiri (Matius 17:9)
“Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
Petrus, Yakobus dan Yohanes adalah saksi mata dari sebuah peristiwa yang luar biasa bagaimana Tuhan Yesus dimuliakan, mengalami transfigurasi serta mendapat ‘kunjungan’ dari Musa dan Elia. Dapatkah kita membayangkan betapa dahsyatnya pengalaman tersebut? Bagaimana mereka dengan mata kepala sendiri melihat dua tokoh yang hidup dan melayani jauh sebelum mereka, yakni dari zaman nenek moyang mereka; nampak di depan mata. Dan kedua tokoh hebat tersebut terlihat sedang berbincang dengan Tuhan Yesus seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
Hari itu mereka makin diteguhkan, Tuhan Yesus yang mereka ikuti sebagai guru mereka adalah Pribadi yang istimewa! Hal ini disaksikan bukan hanya oleh Petrus atau Yakobus atau Yohanes secara terpisah, melainkan oleh ketiganya secara bersama-sama. (Ulangan 17:6; 19:15; Matius 18:16; 2 Korintus 13:1; 1 Timotius 5:19: Ibrani 10:28)
Tuhan Yesus bisa saja menyuruh ketiganya memberikan kesaksian dan memberitakan peristiwa tersebut kepada orang-orang Yahudi dan ahli Taurat sebagai legitimasi atas berita Kerajaan Allah yang dibawa oleh Tuhan Yesus pada masa sebelum Yesus mati, sehingga mendatangkan pujian bagi diri-Nya dan memperkecil resistensi dari para ahli Taurat. Tetapi hal tersebut tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus.
3. MENGAMPUNI KESALAHAN DAN DOSA
Tuhan Yesus mengajarkan tentang kasih. Kasih memiliki implementasi yang sangat luas untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari, salah satunya adalah dalam hal pengampunan.
Dalam Matius 5:38-48 Tuhan Yesus mengajarkan agar kita:
· jangan melawan orang yang berbuat jahat, memberikan pipi kiri kepada siapapun yang menampar pipi kanan, memberikan lebih dari apa yang dituntut oleh orang lain,
· jangan menolak orang yang mau meminjam,
· mengasihi musuh serta mendoakan mereka yang menganiaya.
Dalam bagian yang lain Tuhan Yesus juga mengajarkan tentang pengampunan yang tanpa batas (Matius 18:21-35).
Semua yang Tuhan Yesus ajarkan tersebut di atas bukanlah sekedar teori semata, melainkan praktek hidup yang dijalani oleh Tuhan Yesus yang harus kita teladani.
Setelah melalui vonis hukuman tanpa pembuktian, setelah penghinaan dan segala macam siksa dan aniaya yang Ia terima melalui cambukan, mahkota duri, memikul salib dengan puncaknya adalah penyaliban. Tuhan Yesus berkata:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Lukas 23:34)
Dengan mengampuni kesalahan orang-orang yang bersalah kepada kita membuat kita senantiasa memelihara kesucian hati.
Di tahun 2021 ini, marilah kita teladani Tuhan Yesus, Man of Integrity dalam hal kemurnian/kesucian hati dengan memiliki motivasi yang benar, tidak mencari pujian bagi diri sendiri serta mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Tuhan Yesus memberkati. Maranatha!

image source: https://www.pinterest.com/pin/111675265731265252/

YESUS, TELADAN INTEGRITAS DALAM PERBUATAN

YESUS, TELADAN INTEGRITAS DALAM PERBUATAN

Kita hidup di tengah peradaban yang menunjukkan kemerosotan integritas. Tahun lalu saja kita dikejutkan kasus korupsi di pemerintahan yang sangat disayangkan di tengah pandemi seperti sekarang ini. Lalu ada beberapa kasus integritas di lingkungan Gereja dalam hal kekudusan, keuangan, dan kekuasaan yang menimbulkan pertanyaan, apakah integritas masih dijunjung tinggi dalam kehidupan orang percaya? Jangan-jangan nilai-nilai kekristenan yang selama ini digemakan sebenarnya hanya berupa topeng saja?
Apakah definisi integritas? Integritas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.”
Kesatuan yang utuh di sini dapat dipahami sebagai kesamaan antara pikiran, hati, dan tindakan. Orang yang berintegritas adalah orang yang sama ketika sedang sendirian dan ketika berada di khalayak ramai. Tidak ada perbedaan baik dari sifat maupun karakternya ketika ditempatkan di keadaan apapun.
Siapa teladan kita sebagai orang percaya dalam hal integritas ini? Menurut saya, Yesus adalah Teladan Agung yang betul-betul menunjukan karakter berintegritas baik dari dalam maupun dari luar. Yesus memang mengemban misi dari Bapa untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa, tetapi selama Dia di dunia, apa yang Dia lakukan dan katakan itu menjadi contoh bagi orang percaya untuk belajar bagaimana hidup berintegritas. Dalam artikel ini kita akan membahas contoh-contoh yang Yesus perbuat dan katakan untuk kita bisa pelajari dan lakukan.
Suka tidak suka, Yesus memberikan dampak yang luar biasa kepada masyarakat sekitar, termasuk Ahli Taurat dan orang Farisi yang membenci-Nya. Mereka berkata :
“Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.” (Matius 22:16; Markus 12:14)
Kata “seorang yang jujur” dalam terjemahan New International Version (NIV) menggunakan kata “man of integrity”, seseorang yang berintegritas.
Charles Swindoll berkata ketika seseorang memiliki karakter integritas, maka dalam dirinya tidak ada kemunafikan; dia dapat bertanggung jawab secara personal, keuangan, dan tindakan; bahkan motivasinya murni.
Mungkin kita berpikir, “Ah, saya mana mungkin bisa hidup sebaik dan seperti Yesus? Tidak mungkin saya bisa berintegritas seperti Yesus.” Tetapi kata integritas juga dialamatkan kepada beberapa tokoh di Perjanjian Lama seperti Daud (Mazmur 7:8), Salomo (1 Raja-raja 9:4), dan Ayub (Ayub 2:9).
Kalau kita melihat, ketiganya tidaklah sempurna secara moral, tetapi mereka masing-masing mencontohkan kehidupan yang dewasa, utuh, dan tulus di hadapan Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, kita juga tidak lepas dari ekspektasi untuk hidup dewasa, utuh, dan tulus di hadapan Tuhan. Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus mengatakan bahwa hamba-hamba Tuhan yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah haruslah menjadi pelayan yang dapat dipercaya (1 Korintus 4:1-2). Dia juga menuliskan bahwa penilik jemaat haruslah seseorang yang tak bercacat (1 Timotius 3:2), sang Rasul meminta Titus untuk menjadi teladan dalam berbuat baik dan jujur (memiliki integritas) dalam pengajaran (Titus 2:7). Bahkan panggilan setiap kita adalah “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yohanes 2:6). Sekali lagi, kehidupan berintegritas bukan kehidupan sempurna secara moral, tetapi adanya kesesuaian antara motivasi, pikiran, dan tindakan.
TELADAN TUHAN YESUS
T.B. Maston dalam bukunya To Walk as He Walked berkata; ada sebuah pertanyaan yang harus direnungkan setiap harinya, yaitu: “Seberapa banyak kita berjalan, sama seperti Yesus berjalan?” Apa yang menghasilkan integritas di dalam kehidupan orang percaya adalah bagaimana kehidupannya mewujudkan tindakan dan perkataan Yesus dalam kesehariannya. Apa saja yang Yesus contohkan?
1. Menunjukkan kasih kepada musuh yang mungkin di mata kita tidak berhak menerima
Di dalam perumpamaan seorang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37), Yesus mengajarkan bagaimana kita seharusnya menerima orang lain. Orang Yahudi tidak suka bergaul dengan orang Samaria, tetapi justru orang Samaria inilah yang menunjukkan belas kasih kepada orang Israel yang terluka. Integritas berbicara tidak hanya mengetahui soal doktrin dan pengajaran belas kasihan, tetapi menghidupi ajaran belas kasih itu. Sudahkah kita melakukannya?
2. Integritas adalah kehidupan yang sama luar dan dalam, alias tidak munafik
Yesus mengecam keras perbuatan orang-orang Farisi dan menyebut mereka orang-orang munafik. Salah satu pernyataan-Nya adalah,
“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Matius 23:3)
Perhatikan bahwa Yesus mengakui ajaran ahli-ahli Taurat, dan orang Farisi ada benarnya dan baiknya; itu harus dituruti dan dilakukan. Tetapi kemunafikan mereka adalah karena kehidupan mereka tidak sama dengan apa yang mereka ajarkan. Di sini kita bisa belajar bahwa berintegritas artinya berusaha menghidupi Firman yang kita baca dan dengar.
3. Integritas adalah kejujuran dalam melaksanakan tanggung jawab dan mengembangkan talenta
Salah satu terjemahan dari kata integritas adalah ‘jujur’ (Markus 12:14). Yesus mengajarkan bahwa setiap orang yang setia dalam perkara kecil, maka dia akan setia dalam perkara besar (Lukas 16:10). Bahkan orang yang hanya diberi satu talenta pun harus punya integritas untuk mengembangkannya (Matius 25:26-27).
Terjemahan dari Bahasa Indonesia Sehari-hari adalah: “orang yang bisa dipercaya”.
Kejujuran adalah indikator apakah orang tersebut bisa dipercaya atau tidak. Yesus dikatakan sebagai orang jujur dalam perkataan dan tindakan. Mari evaluasi perkataan dan tindakan kita hari ini. Apakah kejujuran merupakan sesuatu yang orang sukai dari diri kita? Bagaimana di dalam kehidupan melayani, mengelola hubungan, menggunakan waktu, mengelola keuangan dan berbisnis? Kejujuran adalah komoditas mahal hari-hari ini, karena itu mari kita meneladani Yesus dalam hal ini.
KUNCI UNTUK BISA HIDUP SEPERTI YESUS
1. Menjadi Bagian dari Komunitas Orang Percaya
Ketika orang percaya membaca kisah Yesus dan mau hidup mengikuti teladan-Nya, maka dia harus menjadi bagian dari komunitas orang percaya; dimana nilai-nilai moral dan karakter integritas itu dilakukan, dicontohkan, dan diajarkan.
Kita tidak bisa keluar dari pemuridan kalau ingin hidup seperti Yesus hidup. Apakah Saudara sudah tergabung dalam COOL? COOL adalah tempat dimana pemuridan terjadi dan tempat dimana karakter kita diasah untuk semakin serupa seperti Kristus. Surat Ibrani mengingatkan kita,
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25)
Di sinilah usaha ‘saling menasihati’ terjadi, dan itu membantu agar karakter Kristus terbentuk dalam hidup kita.
Melalui pemuridan dalam Gereja lokal/COOL, kita memiliki kesempatan untuk belajar mengembangkan talenta/mengaktifkan karunia dengan cara melayani seorang akan yang lain, sesuai fungsi kita sebagai bagian dari tubuh Kristus.
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)
Dengan melayani orang lain, kita juga akan belajar mendisiplinkan diri sendiri baik dalam hal rohani, karakter, kebiasaan serta pengorbanan sehingga dibentuk menjadi prajurit Kristus yang dewasa dan dapat dipercaya.
2. Alami Pertumbuhan Rohani dengan Pertolongan Roh Kudus
Pertumbuhan kerohanian tidak bisa terjadi tanpa Roh Kudus dalam hidup kita.
Boleh dikatakan apabila seseorang memiliki buah Roh yang matang, maka dia semakin menyerupai Kristus. Apa yang menghasilkan buah Roh itu? Ketika kehidupan orang percaya mau dituntun dan dipimpin oleh Roh.
“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25)
Dalam memulai tahun ini, mari kita minta Roh Kudus memimpin setiap langkah dan keputusan kita, agar tidak keluar dari kehendak Tuhan.
Semoga semakin kita berjalan di ‘Tahun Integritas’ ini, kerohanian kita semakin didewasakan dan karakter kita semakin menyerupai Kristus. Haleluya, Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://dlw-walkinfaith.tumblr.com/post/170034627269/i-corinthians-41-2-nkjv-let-a-man-so

JESUS : THE MAN OF INTEGRITY

JESUS : THE MAN OF INTEGRITY

Seringkali kita mendengar mengenai Yesus sebagai Allah Yang Mahakuasa, yang melakukan banyak mujizat dalam pelayanan-Nya. Tentu saja hal itu tidak dapat disangkal. Yesus menyembuhkan orang yang sakit, mentahirkan orang kusta; bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Ketika ribuan orang sedang kelaparan, Yesus mengadakan mujizat dengan menggandakan roti dan ikan milik seorang anak sehingga mereka makan sampai kenyang.

Jika dirangkum, peristiwa-peristiwa tersebut menyatakan satu hal yaitu kuasa Yesus. Kali ini kita akan mengamati sisi yang lain dari kehidupan Yesus.

1. PERKATAAN DAN TINDAKAN YESUS

Yesus berhadapan dengan bermacam-macam tipe orang yang mendengar khotbah atau mengikuti-Nya;
· ada yang memang ingin mendengar Firman,
· ada yang mengharapkan berkat, kesembuhan,
· ada yang ingin mengikuti-Nya,
· dan ada juga yang bertujuan untuk mencari kesalahan-Nya.

Golongan yang terakhir ini terkadang menanyakan sesuatu dengan maksud menjebak Yesus. Yesus selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang tersebut dengan akurat dan orang-orang tersebut tidak dapat menemukan kesalahan pada Yesus. Mengapa?

· Pertama-tama, karena Yesus menjawab dengan hikmat yang luar biasa.
· Kedua, karena apa yang Yesus katakan sama dengan apa yang Yesus lakukan.
Ini adalah kekuatan yang sukar dilawan yang disebut Integritas.

Berbeda dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang hanya mengajar namun tidak melakukan, Yesus melakukan apa yang diajarkan-Nya. Kata-kata dan tindakan Yesus yang selaras ini menarik banyak orang datang kepada-Nya. Yesus hidup dengan integritas dalam tindakan-tindakan-Nya. Yesus menggambarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi :

“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Matius 23:3).

Berbeda dengan Yesus yang mempraktekkan apa yang diajarkan-Nya. Hati dan tindakan Yesus sejalan atau selaras dengan pengajaran-Nya.

2. SUMBER PERKATAAN DAN TINDAKAN YESUS

Bagaimana Yesus dapat berkata-kata dan bertindak dalam integritas? Sebelum melakukan pelayanan, Yesus dibaptis di sungai Yordan dan dipenuhi Roh Kudus.
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:16-17).

Dalam hidup-Nya, Yesus dipenuhi Roh Kudus. Rasul Paulus menulis bahwa Yesus :

“… melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:7).

Sebagai Anak Manusia, Yesus telah mengosongkan diri dan bersandar sepenuhnya kepada tuntunan Roh Kudus. Inilah rahasia yang sukar dipahami oleh pikiran manusia yang tidak percaya. Alkitab menyatakan bahwa Yesus mengosongkan diri, tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah dan memberi diri-Nya untuk hidup dituntun oleh Roh Kudus. (Matius 4:1)

Apa yang Yesus lakukan sebagai manusia yang dituntun oleh Roh Kudus merupakan CONTOH atau TELADAN bagi semua murid Yesus. Jadi murid Yesus adalah orang-orang yang memberi diri dituntun oleh Roh Kudus sebagaimana halnya Yesus.

a. Perkataan Yesus

Rasul Yohanes mencatat sesuatu yang sangat penting :

“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.”
(Yohanes 12:49).

Jadi, Yesus dalam berbicara selalu mengandalkan Bapa memberikan kata-kata. Tidak ada perkataan Yesus yang berasal dari diri-Nya sendiri, semua dari Bapa melalui Roh Kudus.

b. Tindakan Yesus

Sebagaimana perkataan Yesus berasal dari Bapa, tindakan Yesus juga berasal dari Bapa.

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak…” (Yohanes 5:19).

Apa yang dikerjakan Anak adalah apa yang dikerjakan oleh Bapa. Ayat ini muncul ketika Yesus menyembuhkan seorang yang sakit di tepi kolam Betesda. Mengapa Yesus menyembuhkan orang tersebut, adalah karena Bapa berkehendak menyembuhkan orang tersebut.
Di sini genaplah apa yang Yesus ajarkan: “…jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Jadi semua tindakan Yesus berasal dari sorga, dari Bapa.

3. APLIKASI PERKATAAN DAN TINDAKAN YESUS

Dengan mengerti kebenaran di atas, kita mendapatkan fondasi yang kokoh dalam mempelajari kehidupan Yesus sebagai teladan kita. Murid-murid diharapkan menjalani hidup sebagaimana Yesus hidup dengan integritas. Dasarnya adalah menantikan apa yang Bapa fimankan, dengan cara hidup intim dengan Tuhan.

Beberapa tindakan Yesus dalam mengaplikasikan hidup yang berintegritas:

a. Menghadapi Pencobaan

Pencobaan adalah serangkaian tindakan Iblis untuk membuat manusia jatuh dalam dosa. Yang mengherankan adalah peristiwa Iblis mencobai Yesus yang tertulis dalam Matius 4:1-11, di mana Iblis berusaha membuat Yesus melakukan kesalahan. Jika bersalah, Yesus menjadi tidak sah sebagai Mesias yang seharusnya tanpa dosa.

Karena Yesus berbicara dan bertindak menurut kehendak Bapa, hal itu menjadi latar belakang mengapa mengubah batu menjadi roti menjadi sebuah pencobaan. Persoalannya bukan pada :

· “Apakah Yesus mampu mengubah batu menjadi roti?” atau
· “Bagaimana mengubah batu menjadi roti?”

namun “ide siapa” yang Yesus lakukan? Perbuatan mengubah batu menjadi roti bukanlah perkataan dari Bapa, sehingga jika Yesus melakukannya, hal mudah itu menjadi suatu kesalahan. Yesus tetap menjaga integritas-Nya dengan selalu menuruti kehendak Bapa.

b. Menghadapi yang Membutuhkan

Yesus adalah pengkhotbah yang penuh kuasa, yang diikuti ribuan orang, dan mereka rela menahan lapar untuk terus mengikuti Yesus. Kadang-kadang mereka mencari sampai ke seberang danau melalui jalan darat. Mereka haus akan kebenaran yang Yesus sampaikan dalam khotbah dan pengajaran-Nya. Termasuk yang sakit mencari Yesus untuk mendapatkan kesembuhan. Ada seorang wanita dari Siro-Fenisia yang mau berjumpa dengan Yesus. Wanita ini datang kepada Yesus dan anaknya yang dirasuk roh jahat dipulihkan. Yesus melayani yang membutuhkan pertolongan.

c. Menghadapi yang Menjebak

Salah satu cara yang dipakai oleh orang yang tidak suka kepada Yesus adalah dengan menjebak-Nya. Mereka menanyakan pertanyaan yang sulit dan hampir mustahil, misalnya pertanyaan mengenai membayar pajak kepada Kaisar.
Jawaban apapun yang Yesus berikan berpotensi membuat Yesus dipersalahkan. Namun Yesus menjawab dengan luar biasa akurat, dan mereka tidak dapat menyalahkan Yesus. Jawaban Yesus yang berasal dari Bapa membuat Yesus tetap berjalan dalam integritas.

d. Menghadapi yang Berdosa

Di atas salib, Yesus menggemakan suatu berita yang amat sangat penting: “Ya Bapa, ampunilah mereka…” Siapa yang Yesus ampuni? Apakah hanya mereka yang menyalibkan Dia? BUKAN.

Yesus menyediakan pengampunan bagi semua orang yang berdosa dan berkat pengampunan itu akan diterima ketika seseorang meminta ampun kepada-Nya. Yesus mengajarkan pengampunan dan bertindak mengampuni manusia berdosa. Itulah integritas.

Yesus menjalani hidup dengan tidak bersalah baik dalam perkataan maupun dalam tindakan. Yesus juga melakukan tindakan yang selaras dengan hati dan kata-kata-Nya. Hidup Yesus tidak bisa dipersalahkan dalam hal apapun, termasuk ketika orang-orang mencari kesalahan-Nya di depan pengadilan, karena Yesus hidup dengan integritas yang tinggi.
Perkataan Yesus di manapun dan kepada siapapun menunjukkan satu hal yang pasti bahwa Dia-lah ‘The Man of Integrity’.

image source: https://sfodan.wordpress.com/2011/10/29/%E2%80%9Ci%E2%80%99m-the-best-darn-humble-person-around-i-do-believe%E2%80%9D-%E2%80%93-matthew-231-12%E2%80%A0/

JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN BE STILL AND KNOW THAT I AM GOD

JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN BE STILL AND KNOW THAT I AM GOD

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi (Mazmur 46:10)

Baru saja kita merayakan Natal bersama-sama. Yesaya telah menubuatkan kelahiran Yesus Sang Mesias dalam Yesaya 9:5 bahwa seorang anak telah lahir bagi kita, yaitu Tuhan yang lahir sebagai manusia untuk menyelamatkan umat-Nya.
Kisah Para Rasul 4:12 berkata bahwa hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus ada keselamatan. Yesus Kristus adalah Allah yang lahir sebagai manusia. Yesus adalah Mesias yang artinya Juruselamat. Kata ‘Mesias’ hanya dipakai untuk Allah, tidak pernah dipakai untuk manusia atau pekerjaannya.

EMPAT NAMA YANG MENANDAI TUGAS YESUS SEBAGAI MESIAS (Yesaya 9:5)

1. Penasehat yang Ajaib
Sebagai Penasehat, maka Tuhan Yesus akan menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna dan akan menunjukkan kepada kita jalan untuk mendapatkan hidup yang kekal.
2. Allah yang Perkasa
Di dalam Yesus selaku Mesias, seluruh kepenuhan kealahan akan berdiam secara jasmani, sebab Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia.
3. Bapa yang Kekal
Yesus datang bukan hanya untuk memperkenalkan Bapa surgawi, tetapi Ia juga akan bertindak sebagai bapa kepada umat-Nya secara kekal. Ia penuh belas kasihan. Ia mengasihi, melindungi, dan menyediakan kebutuhan anak-anak-Nya.
4. Raja Damai
Yesus disebut Raja Damai, karena hanya Tuhan Yesus yang bisa mendamaikan manusia dengan Allah.

Mengapa manusia harus didamaikan dengan Allah? Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dosa membuat kita menjadi seteru Allah. Upah dosa adalah maut. Mati kekal selama-lamanya dan tempatnya di neraka.
Bagaimana Tuhan Yesus mendamaikan manusia dengan Allah?
“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” 2 Korintus 5:21

Tuhan Yesus yang tidak mengenal dosa dijadikan dosa oleh karena kita. Kita yang sebenarnya harus mati, tetapi Tuhan Yesus mati menggantikan kita. Dengan demikian setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dibenarkan (didamaikan) dengan Allah. Tuhan Yesus sebagai Raja Damai juga akan memberikan kepada kita damai sejahtera yang berlimpah-limpah. Ini yang sangat kita perlukan pada masa pandemi COVID-19 ini.
“Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.” Yesaya 48:18

Jadi kunci untuk mendapatkan damai sejahtera yang berlimpah-limpah adalah memperhatikan perintah Tuhan. Hidup menurut kehendak Tuhan. Karena itu bacalah Alkitab setiap hari. Renungkan, lakukan dan saksikan.

EMPAT FAKTA PENTING DALAM KELAHIRAN TUHAN YESUS
Pada waktu Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia ini ada beberapa peristiwa yang terjadi, yang mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menyambut kedatangan Tuhan.

1. Ketaatan Para Gembala
Pada waktu para gembala sedang menjaga ternak di waktu malam, tiba-tiba mereka didatangi oleh malaikat Tuhan dan kemuliaan Tuhan meliputi mereka. Malaikat berkata kepada para gembala:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2:8-12

Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh malaikat tadi, tetapi mereka taat pergi ke Betlehem di kota Daud untuk menjumpai Sang Mesias. Di sini kata kuncinya adalah Ketaatan.

2. Penyembahan Para Malaikat dan Balatentara Sorgawi
Adanya nyanyian para malaikat dan banyak balatentara sorgawi yang memuji Allah:
“Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:13-14

Di sini kata kuncinya adalah doa, pujian, penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam.

3. Penyembahan Orang Majus
Waktu orang Majus sujud menyembah Sang Mesias. Di sini kata kuncinya adalah sujud menyembah Sang Mesias. (Matius 2:11a)

4. Persembahan Orang Majus
Orang Majus membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Di sini kata kuncinya adalah mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. (Matius 2:11b)

EMPAT HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEHUBUNGAN DENGAN KEDATANGAN TUHAN YESUS YANG KEDUA KALINYA
Sesuai dengan 4 peristiwa yang terjadi pada waktu menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, maka ada 4 hal yang kita lakukan untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua :

1. Ketaatan
Tuhan Yesus memberitahukan kepada kita bahwa kedatangan-Nya yang kedua kali akan terjadi setelah Injil Kerajaan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Orang yang merindukan kedatangan-Nya pasti akan taat berjuang menyelesaikan Amanat Agung. Pentakosta Ketiga akan memberikan kepada kita kuasa untuk menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.

2. Doa Pujian Penyembahan dalam Unity Siang dan Malam
Ini berbicara tentang Restorasi Pondok Daud. Ini berbicara tentang Menara Doa. Ini berbicara tentang keintiman dengan Tuhan. Orang yang hidupnya intim dengan Tuhan pasti merindukan kedatangan Tuhan.

3. Sujud Menyembah Tuhan Yesus
Sujud menyembah Tuhan Yesus artinya dengan segenap hidup kita melakukan segala kehendak Tuhan. Jadi jika segala sesuatu yang kita lakukan itu menyenangkan hatinya Tuhan, itu artinya kita sujud menyembah Tuhan, seperti Raja Daud.
“Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapatkan Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Kisah Para Rasul 13:22

4. Mempersembahkan Emas, Kemenyan dan Mur
a. Emas
• Emas adalah Lambang Kekudusan atau Kemurnian
Sikap, tindakan dan ucapan kita harus kudus sebab tanpa kekudusan tidak ada seorang pun akan melihat Tuhan. (Ibrani 12:14)
“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.
Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah.
Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.
Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.” 2 Petrus 3:10-14
• Emas adalah Lambang Kekayaan, Kesuksesan, dan Kekuasaan
Kebanyakan motivasi dari orang yang bekerja atau berusaha adalah untuk mendapatkan ketiga hal ini untuk dirinya sendiri. Tetapi kita diminta untuk mempersembahkan semuanya itu kepada Tuhan sehingga kita tidak akan cinta uang. Kita tidak akan sombong dan tetap mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.
• Emas Juga Melambangkan Sesuatu yang Mahal Harganya
Saya tidak tahu apa yang mahal harganya bagi Saudara. Mungkin itu uang, mungkin waktu yang kita punya, mungkin itu harga diri. Tuhan mau semua itu dipersembahkan kepada Dia. Abraham diminta untuk mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal, yang sangat berharga dan dikasihinya, yang didapatkan pada masa tuanya.
Abraham lulus ujian ketika ia dengan rela mempersembahkan Ishak, hartanya yang paling mahal. Karena itulah Tuhan memberkati Abraham beserta keturunannya berlimpah limpah limpah.

b. Kemenyan
• Kemenyan Berbicara Tentang Korban
Sesuai dengan Roma 12:1 kita diminta untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan. Itu adalah ibadah kita yang sejati.
Kita harus hidup bagi Tuhan, menyembah Dia, menaati Dia, mengikut Dia, melayani Dia bersama Dia menentang dosa, membela kebenaran, menolak dan membenci kejahatan.
Melakukan pekerjaan yang baik untuk orang lain seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Hidup dipenuhi Roh Kudus dan hidup sesuai pimpinan Roh Kudus. Hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan itu artinya harus memisahkan diri dari dunia dan makin intim dengan Dia. Jadi untuk hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan kita harus berkorban. Korban itu sesuatu yang menyakitkan bagi kedagingan kita. Tidak benar kalau menjadi orang Kristen hidup santai, bisa berbuat apa saja dan tetap masuk sorga.
• Kemenyan Berbicara tentang Persembahan
Hidup kita harus menjadi persembahan yang menyenangkan hatinya Tuhan.

• Kemenyan Berbicara tentang Doa
Doa yang dilakukan setiap waktu dalam Roh dengan tidak putus-putusnya untuk orang kudus, ini merupakan senjata Allah untuk melawan tipu muslihat iblis. (Efesus 6:18)
Hari-hari ini kita sedang memasuki masa peperangan rohani yang dahsyat untuk merebut jiwa-jiwa dari tangan si iblis.
c. Mur
Mur berasal dari bahasa Ibrani ‘Mor’ dan bahasa Yunani ‘Smurna’ yang artinya pahit.
“Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” Ibrani 12:15
Jangan sampai mempunyai akar pahit. Ingat Amsal 4:23 yang berkata:
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Kita mau hidup kekal selama-lamanya atau mati kekal selama-lamanya tergantung pada hati kita. Kalau hati kita kotor oleh akar pahit maka akan mati kekal selama-lamanya. Kalau mulai muncul akar pahit cepat datang ke hadapan Tuhan Yesus. Serahkan itu, bertobat, minta ampun karena selama ini menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, maka Saudara akan selamat.

Mur juga berbicara tentang pengurapan.
Salah satu bahan untuk membuat minyak urapan adalah mur. Pengurapan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita harus dikembalikan kepada Tuhan bukan untuk popularitas, mencari kekayaan, atau kepentingan-kepentingan lainnya.

BE STILL AND KNOW THAT I AM GOD

Pesan Tuhan bulan ini bagi kita adalah Jangan ada padamu allah lain, Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah. Dalam renungan ini kita diingatkan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua kali, sebagai Raja di atas segala raja, yang layak ditinggikan dan disembah oleh seluruh ciptaan-Nya. Kalau kita mengatakan Tuhan Yesus layak ditinggikan, maka DIA harus mendapat prioritas utama, sebab Dialah yang menggenggam nafas hidup kita dan berdaulat atas segalanya.

Waspadalah agar jangan sampai kita memiliki allah-allah yang lain. Mungkin kita memang tidak menyembah patung/kuasa gelap, tetapi sering tanpa sadar kita menautkan hati kepada kesibukan, pekerjaan/usaha, pemenuhan kebutuhan, kekhawatiran, masalah, ambisi, hobby, harta, perkara yang sia-sia dan lain sebagainya. Akhirnya Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama dan kita telah kehilangan kasih yang semula. Berhala/allah lain adalah semua hal yang menjauhkan seseorang dari iman percaya, pengharapan, kasih serta pengabdian kepada Tuhan.

Kedatangan Tuhan Yesus sudah sangat-sangat dekat. Mari kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya yang ke dua dengan melakukan 4 hal yang telah diuraikan tadi.
Jangan ada pada kita allah lain, diam dan ketahuilah, bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi dan ditinggikan di dalam hidup setiap kita, AMEN.
Selamat Tahun Baru 2021. Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://open.life.church/resources/3690-psalm-46-10

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN

DIPERSIAPKAN UNTUK MELAYANI TUHAN

Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”
Yosua 1:1-2
Ketika Musa mati, Tuhan tidak membiarkan bangsa Israel hidup tanpa pemimpin. Sebaliknya Tuhan sudah mempersiapkan orang yang dipilih-Nya untuk menggantikan Musa. Generasi baru pemimpin Israel tersebut adalah Yosua. Yosua bukan Musa, tetapi Tuhan sendiri yang sudah mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel dan melanjutkan visi Tuhan untuk masuk dan menduduki tanah perjanjian.
Dari ‘Hosea’ menjadi ‘Yosua’
Kitab Bilangan pasal 13 mencatat bahwa Yosua adalah anak dari Nun (Yosua bin Nun) dari suku Efraim, dicatat juga bahwa Yosua dilahirkan dengan nama ‘Hosea’ yang memiliki makna ‘Keselamatan’. (Bilangan 13:8)
Musa kemudian mengganti namanya menjadi ‘Yosua’ yang berarti ‘Tuhan adalah Keselamatan’. (Bilangan 13:16)
Kedua nama tersebut sangat penting artinya.
• Hosea – Keselamatan
Ketika Nun dari suku Efraim itu memberi nama anak mereka Hosea, dapat dipastikan karena mereka menjadi saksi kesetiaan Tuhan dalam menyelamatkan bangsa Israel.
• Yosua – Tuhan adalah Keselamatan
Dalam bahasa Ibrani, perubahan Hosea (Hoshea) menjadi Yosua (Yehoshua) adalah penambahan suku kata ‘Yeho’ dari kata Yehovah (TUHAN).
Ketika Musa mengganti nama Hosea menjadi Yosua tentunya ada alasan yang kuat.
Penambahan kata Yehovah di depan nama Hosea mengisyaratkan bahwa Musa melihat kualitas ilahi pada diri Yosua. Perubahan nama ini juga berfungsi untuk mengingatkan kepada Yosua bahwa ia memikul tanggung jawab yang suci dan juga mengingatkan kepada Yosua bahwa Tuhanlah pemimpin dan Juruselamat Israel yang sebenarnya.
Satu catatan penting lain mengenai nama Yosua adalah bahwa dalam bahasa Yunani nama Yosua disebut dengan ‘Yesus’.
“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Matius 1:21
Yosua adalah salah satu bentuk tipe dari Yesus. Tuhan memakai Yosua untuk membawa orang Israel masuk ke tempat perhentian fisik di bumi ini. Tuhan memakai Yesus untuk membawa orang percaya masuk ke tempat perhentian yang kekal. (Ibrani 4:8)
EMPAT TAHAP PERJALANAN HIDUP YOSUA
1. Sebagai Budak
Yosua lahir dalam sebuah keluarga yang menjadi budak di Mesir. Ia tumbuh sambil menyaksikan seluruh orang Israel di Mesir dipaksa untuk hidup sebagai budak, di mana segala pekerjaan yang berat dipaksakan orang Mesir kepada orang Israel. (Keluaran 1:11-14)
Tentunya hal ini bukanlah masa kecil yang indah bagi Yosua.
Tetapi iman Yosua kepada Tuhan bertumbuh ketika ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dengan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa untuk membebaskan orang Israel dari Mesir. Sepuluh tulah orang Mesir dimulai dengan air sungai Nil yang menjadi darah, serbuan katak, serbuan nyamuk, serbuan pikat, matinya ternak orang Mesir, barah pada tubuh orang dan binatang Mesir, hujan es yang dahsyat, serbuan belalang dan kegelapan. Hanya tempat tinggal orang Israel di Gosyen saja yang tidak terpengaruh oleh tulah-tulah tersebut. (Keluaran 7-13)
Berdasarkan catatan silsilah dalam I Tawarikh 7:22-27, tercatat bahwa Yosua adalah anak sulung dari Nun. Jadi Yosua adalah salah satu dari anak sulung bangsa Israel yang selamat dari peristiwa tulah kesepuluh di Mesir yang sering disebut peristiwa Paskah pertama. (Keluaran 13)
Ketika anak-anak sulung orang Mesir mati kena tulah, anak-anak sulung orang Israel selamat karena ada tanda darah anak domba pada palang pintu rumah mereka.
2. Sebagai Abdi Musa
“Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa”
Bilangan 11:28a
Ketika Yosua masih muda, ia diangkat menjadi abdi atau pelayan Musa. Ini berarti sejak muda Yosua sudah menjadi pelayan dari sang pemimpin bangsa Israel. Hal ini tentunya memberikan kesempatan bagi Yosua untuk belajar dari Musa mengenai cara memimpin.
Hanya Yosua yang mendapat ijin untuk mengikuti Musa naik ke gunung Sinai di mana Tuhan memberikan hukum Taurat kepada orang Israel, sementara seluruh bangsa Israel yang lain harus menunggu di perkemahan. (Keluaran 24:12-14)
Tentunya ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi seseorang yang masih muda seperti Yosua. Memang ada saat di mana Yosua harus tinggal di pertengahan jalan, sementara Musa sendiri yang menerima loh batu yang berisi 10 perintah Allah.
Dalam kitab Keluaran 33:7-11 disebutkan bahwa Yosua mempunyai tugas untuk menjaga kemah pertemuan, yaitu kemah di mana Musa bisa berbicara sambil berhadapan muka dengan Tuhan. Lewat penugasan ini, Yosua belajar bagaimana hidup dalam hadirat Tuhan.
Yosua juga pernah melakukan kesalahan sehingga ia harus belajar mengenai kerendahan hati. Yosua mencoba untuk membela otoritas kenabian Musa dalam Bilangan 11:25-29.
Musa menegur Yosua supaya tidak membuat karunia yang Tuhan berikan sebagai sesuatu yang eksklusif. Seolah-olah karunia Tuhan (dalam kasus ini karunia nabi) hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah melakukan kesalahan yang serupa seperti Yosua:
Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:49-50
Jadi dalam tahap kedua dari kehidupan Yosua, yaitu sebagai abdi Musa, Tuhan mempersiapkan Yosua sebagai penerus Musa. Sebagai pemimpin yang hidup dan beribadah dalam hadirat dan kasih karunia Tuhan.
3. Sebagai Prajurit
Catatan pertama mengenai Yosua sebenarnya ditulis dalam kitab Keluaran ketika Yosua mengalahkan orang Amalek:
“Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”
Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit… Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Keluaran 17:9-10,13
Dari catatan ini sudah terlihat kemampuan Yosua sebagai pemimpin militer yang handal. Sebagai seorang prajurit, Yosua harus belajar untuk berani menghadapi musuh dalam pertempuran. Peristiwa peperangan dengan orang Amalek juga mengingatkan Yosua bahwa Allah ada di pihaknya. (Keluaran 17:14)
4. Sebagai saksi Mata
Ketika bangsa Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan Musa memilih dua belas orang sebagai mata-mata untuk masuk dan mengintai situasi dan kondisi tanah Kanaan. Salah satu dari dua belas pengintai tersebut adalah Yosua. Setelah 40 hari mengintai daerah tersebut, kedua belas orang mata-mata itu pulang dan melaporkan kepada Musa dan segenap bangsa Israel bahwa daerah tersebut memang sangat baik. (Bilangan 13:27)
Tetapi kemudian mereka juga berkata bahwa bangsa-bangsa yang diam di Tanah Perjanjian itu sangat kuat-kuat bahkan ada orang-orang raksasa dari suku Enak. Sepuluh dari dua belas pengintai dengan terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka bahwa orang Israel dapat mengalahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah Perjanjian. Hanya Yosua dan Kaleb yang berkata bahwa dengan pertolongan Tuhan, bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuh mereka. (Bilangan 13:33)
Tetapi bangsa Israel lebih percaya kepada sepuluh pengintai tersebut. Mereka bersungut-sungut, bahkan membuat rencana untuk kembali ke Mesir. Pada titik ini, Yosua dan Kaleb menunjukkan iman mereka dan bersaksi kepada orang Israel. Tetapi tetap saja bangsa itu tidak percaya kepada mereka. Kalau saja Tuhan tidak bertindak, Yosua dan Kaleb sudah mati dirajam batu oleh orang Israel. (Bilangan 14:1-10)
Dan karena ketidakpercayaan orang Israel, dari seluruh generasi bangsa Israel yang berusia 20 tahun ke atas, hanya Yosua dan Kaleb yang diperbolehkan masuk ke tanah Perjanjian. Bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun, yaitu sampai semua yang berusia 20 tahun ke atas mati di padang gurun, barulah sisanya diperbolehkan masuk ke tanah Kanaan. (Bilangan 14:27-38)
Yosua membawa kabar baik mengenai Tanah Perjanjian yang sudah disediakan Tuhan bagi bangsa Israel. “Kabar baik” dalam bahasa Yunani adalah “Injil”. Seperti Yosua, demikianlah Yesus membawa kabar baik mengenai hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi seluruh umat Manusia. Bahkan Yesus sendirilah kabar baik itu. Bagaimana dengan kita? Yesus berkata kepada kita murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kisah Para Rasul 1:8
TELADAN HIDUP YOSUA
Dari pelajaran mengenai hidup Yosua yang dipersiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian ada beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:
1. Melalui Ujian Waktu
Yosua menjadi pemimpin yang dipakai Tuhan melalui proses seumur hidup. Ia setia kepada Musa dan kepada Tuhan. Dapat dibayangkan ketika Tuhan menghukum bangsa Israel untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Yosua yang sebenarnya percaya kepada Tuhan, harus bersabar dan ikut menunggu selama 40 tahun, sebelum ia bisa masuk ke tanah perjanjian.
Yosua memegang teguh janji Tuhan bahwa satu saat, ia dan Kaleb akan masuk ke tanah perjanjian. Ia membuktikan bahwa dirinya dapat dipercayai. (1 Korintus 4:2)
2. Mengandalkan Tuhan
Yosua sadar bahwa memang Tuhan memakai dirinya untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Tetapi di lain pihak Yosua sendiri tidak bisa bekerja tanpa mengandalkan kekuatan Tuhan.
Demikian pula dengan kita semua. Jika bukan Tuhan yang memampukan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. (Filipi 2:12-13)
3. Mulai Melayani Tuhan dari Sekarang
Pada awal hidupnya, Yosua sendiri tidak sadar bahwa suatu saat ia akan dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa menjadi pemimpin bangsa Israel. Yosua hanya taat dan setia melakukan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kita melihat bahwa ketika Yosua diangkat menjadi pengganti Musa, Tuhan sendiri yang secara langsung memberi peneguhan kepada Yosua.
Pada saat Yosua menjadi pemimpin bangsa Israel umurnya sekitar 96 tahun. Selama tujuh tahun orang Israel berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menduduki Tanah Perjanjian. Kemudian selama tujuh tahun berikutnya bangsa Israel membagi-bagi Tanah Perjanjian kepada dua belas suku Israel. Yosua mati pada saat ia berumur 110 tahun. (Yosua 24:29)
Di akhir hidupnya, Yosua bersaksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ini sebagai bukti dari kesaksian iman Yosua yang tumbuh selama hidupnya.
“Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.”
Yosua 23:14

image source: https://www.facebook.com/GreenhillsChristianFellowship/posts/prayer-joshua-gods-favored-leader-toward-the-end-of-his-life-was-able-to-say-soo/10157216159268170/