Author: FJ

Home / Articles posted by FJ (Page 2)
BERTEKUN  DI  DALAM  KASIH  ADALAH   BERTEKUN  DI  DALAM  MEMBERI

BERTEKUN DI DALAM KASIH ADALAH BERTEKUN DI DALAM MEMBERI

11 Februari 2018

“Inilah kasih itu : Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. (1Yohanes 4:10)

Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. (Markus 12:30-31)

Tuhan mengingatkan kita semua melalui pesan bulan ini agar jangan melupakan segala kebaikan yang telah dan terus Dia lakukan dalam kehidupan kita. Bagi kita yang tanpa sadar sudah meninggalkan kasih yang semula baiklah kembali kepada kasih yang semula itu; bagi kita yang masih ada di dalam kasih semula, peliharalah itu senantiasa. Kasih yang semula adalah hal yang sangat penting di mata Tuhan, sebab jika segala sesuatu kita lakukan tanpa kasih, maka semua yang kita lakukan ternyata adalah sia-sia belaka. Lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan.
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (1 Korintus 13:1-3).

Jemaat di Efesus mendapat teguran keras dari Tuhan Yesus karena mereka meninggalkan kasih yang semula. Kondisi itu di mata Tuhan adalah suatu kejatuhan yang dalam (Wahyu 2:1-5). Orang yang sudah meninggalkan kasih semula baik secara sadar atau tidak sudah hidup di dalam kegelapan karena kaki dia diambil dari padanya. Orang yang hidup di dalam kegelapan tidak mungkin dapat mengambil persekutuan dengan Tuhan, yang adalah Terang.
“Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan”. (1 Yohanes 1:5).

Ada empat prinsip sederhana yang kita harus perhatikan dalam diri kita masing-masing tentang prinsip untuk dapat memelihara serta bertekun dalam kasih :

1. Membangun hubungan yang benar dengan Tuhan terlebih dahulu sebagai sumber kasih itu sendiri, Allah adalah Kasih. Jadi, membangun hubungan dan mendisiplinkan diri setiap hari untuk memuji, menyembah, berdoa dan baca firman itu bukanlah sesuatu yang buang waktu, sekedar kebiasaan atau rutinitas tapi tanpa pengertian yang benar. Justru itu adalah cara kita dipenuhi oleh kasih Tuhan setiap hari melalui firman dan Roh KudusNya.
2. Berpegang pada kekudusan. Kalau kita sudah membuka hati menerima kasihNya Tuhan, baru dengan kasih itu kita dapat mengasihiNya kembali dan pasti kita akan memiliki sikap hormat dan takut akan Dia, lalu kita akan dengan rela hati menjauhkan diri dari rupa-rupa kecemaran dan kejahatan.
3. Berkomitmen kepada kebenaran. Ingatlah, bahwa kasih Allah (kasih Agape, unconditional love) akan selalu sejalan dengan kebenaran (harus berada di dalam koridor kebenaran firman) dan bukan dengan perasaan atau mood karena feeling/mood itu bisa naik turun, belum tentu sejalan dengan kebenaran.
4. Siap diproses oleh Tuhan. Salah satu cara Tuhan mengasihi kita adalah dengan teguran dan hajaran (Wahyu 3:19) dengan tujuan untuk meluputkan kita dari hawa nafsu dunia yang membinasakan.
5. Mengembangkan sikap saling mengampuni. Kita disebut pendusta jika kita mengatakan kita masih mengasihi Tuhan tetapi membenci (pahit/tawar hati, kecewa, marah, menghakimi) saudara kita. Dan orang seperti ini tidak sadar kalau dia sudah meninggalkan kasih yang semula. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (1 Yohanes 4:20-21).

Jika kita merenungkan ayat di atas : “Inilah kasih itu : Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1Yohanes 4:10); maka kebenaran mengatakan bahwa setiap orang percaya yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi adalah sebagai pihak yang menerima atau menggunakan kasih dari Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Orang percaya yang sudah lahir baru adalah konsumen yang menerima kasih dari Allah. Sejalan dengan pengiringan kita akan Kristus, Dia akan senantiasa menyempurnakan iman kita untuk dapat menjadi pribadi yang bertumbuh menuju kedewasaan rohani dan akhirnya disebut sebagai mempelai Kristus. Dari pihak yang menerima kasih itu, Tuhan akan membuat kita menjadi pihak yang menghasilkan buah-buah Roh (bekerja sama dengan Roh Kudus) dan buah itu tetap sehingga dapat melakukan tindakan kasih yang buahnya dinikmati oleh orang lain (Baca Yohanes 15:16-17).
Dari konsumen menjadi produsen, dari yang menerima menjadi yang memberi, dari yang menggunakan menjadi yang menghasilkan. Seseorang tidak akan bisa memberikan apa yang dia tidak punya. Itu sangat wajar dan masuk akal. Demikian juga dengan prinsip kasih di dalam Kristus. Seseorang tidak akan dapat mengasihi Tuhan dan orang lain jika dia tidak terlebih dahulu membuka bejana hatinya untuk menerima kasih dari Allah yang pastinya harus sejalan dengan kebenaran firman Tuhan dan kekudusan.

Kasih Allah (kasih Agape, unconditional love) itu bukanlah kasih yang berasal dari jiwa manusia. Banyak anak Tuhan yang tertipu karena tidak dapat membedakannya.
Berikut adalah ciri-ciri kasih dan belas kasihan yang hanya berasal dari jiwa manusia :

• belum tentu sejalan dengan kebenaran firman, bahkan bisa berkompromi dengan dosa/kedagingan
• berasal dari jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang hanya bersifat moody, sesuai feeling/perasaan yang bisa naik dan turun bahkan hilang karena hanya dipengaruhi oleh panca indera manusia yang terbatas,
• bersifat menuntut karena bepusat pada diri sendiri (self-centered), menyenangkan/memuaskan kedagingan, yang terbukti dari perasaan kecewa, tawar hati, self-pity, complain/bersungut-sungut, marah, berhenti melayani,berhenti melakukan kebaikan jika perbuatan baik dan usahanya tidak mendapatkan respon yang diharapkan,
• dapat membuat seseorang hidup dalam delusion/kegelapan dalam batin yang menyebabkan berbagai ikatan dan terjerat dalam tipu muslihat iblis serta dapat berujung pada kebinasaan,
• tidak mempunyai kuasa karena tidak berdampak kepada kehidupan diri sendiri dan orang lain.

Sementara, kasih Agape yang sudah kita terima dari Tuhan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

• adalah kasih karunia Allah yang dihasilkan oleh kekuatan Roh Kudus yang berdiam di dalam hati kita: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:5).
• karena itu dihasilkan oleh kekuatan kuasa Roh Kudus, maka kasih Agape tidak akan pernah gagal dan mengecewakan, jika saja mata hati kita tetap tertuju kepada Kristus.
• pasti sesuai dengan kebenaran firman (meskipun tidak enak untuk keinginan daging dan harus keluar dari comfort zone) karena Roh Kudus adalah Roh Kebenaran,
• tidak ditentukan oleh perasaan/feeling, mood atau keadaan dari luar tetapi ditentukan oleh seberapa besar bejana hati yang kita buka untuk Tuhan memenuhi kita dengan kasihNya melalui keintiman bersama Roh Kudus (lewat doa pujian penyembahan dan baca firman),
• bersifat memberi karena berpusat kepada Kristus (Christ-centered), terbukti dari sikap penyangkalan diri (menyangkal keinginan daging) sebagai tindakan iman yang sesuai dengan kebenaran firman dan kekudusan serta menyenangkan Tuhan.
• walaupun tidak mendapat respon balasan yang baik atau seperti yang diharapkan, Roh Kudus akan memberi kekuatan dan kemampuan untuk bertekun dalam mengasihi (keputusan untuk terus menerus menyangkal diri dan memberi) dan hidup berkemenangan.
• akan membebaskan seseorang dari ikatan yang membelenggu sehingga mendapat kelegaan, menyembuhkan dari segala penyakit (baik secara jiwa dan fisik), membuat mata hati dapat melihat dengan jernih, telinga rohani dapat mendengar lebih tajam, membuat jiwa yang miskin menjadi kaya, berkelimpahan / prosper.
• mempunyai kuasa untuk melakukan kehendak Allah yang berdampak kepada diri sendiri, gereja Tuhan dan bangsa-bangsa.
• Berbagai tindakan iman (sikap penyangkalan diri, sikap hati selalu memberi, produsen) sebagai buah kasih Agape adalah sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13: 4-7).

Marilah kita semua dengan jujur memeriksa keadaan diri masing-masing, apakah sesungguhnya kita masih ada di dalam kasih Tuhan atau kita sudah jauh meninggalkan Tuhan. Kegiatan pelayanan atau kesibukan yang sepertinya untuk Tuhan belum tentu menjamin bahwa kita masih berada di dalam kasih Tuhan. Ambillah keputusan setiap hari dengan mendisiplinkan diri terutama setiap pagi sebelum beraktifitas untuk duduk diam di bawah kaki Tuhan, memuji menyembah, berdoa dan baca firman agar bejana hati kita hari itu diisi penuh dengan kasih Tuhan. Kasih yang kita terima dari Tuhan adalah bahan bakar yang sangat powerful dalam melakukan segala sesuatu dan akan memampukan kita bertahan sampai kesudahannya.

JAGALAH KASIHMU YANG MULA-MULA

JAGALAH KASIHMU YANG MULA-MULA

4 Februari 2018

“Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” 1 Korintus 13:2

Salah satu teguran yang paling keras Tuhan Yesus berikan kepada jemaat di Efesus (Why 2:1-7). Awalnya Tuhan Yesus sangat memuji segala pekerjaan/pelayanan yang dilakukan jemaat karena kesabaran mereka dalam menanggung pende-ritaan oleh karena nama-Nya, dan mereka tidak mengenal lelah. Namun akhirnya Yesus mencela mereka karena mereka telah meninggalkan kasih mereka yang semula kepada Tuhan (Why 2:4). Mengapa Yesus sampai mencela mereka? Apakah kasih mula-mula menjadi sangat penting bagi Yesus, bahkan melebihi segala pekerjaan/pelayanan yang telah jemaat lakukan dengan tidak mengenal lelah?
Kasih menjadi sangat penting karena itu berbicara mengenai diri Tuhan Yesus. Ketika seseorang dikatakan “meninggalkan kasih mula-mula”, itu bukan hanya sekedar perasaan emosional belaka, namun memiliki pengertian yang dalam bahwa orang tersebut telah menjauh dari Tuhan Yesus sendiri.
1 Yohanes 4:8 berkata, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” Aktifitas yang sangat tinggi dalam melakukan pekerjaan/pelayanan kepada Tuhan dan jemaat-Nya harus dilandaskan pada kasih kepada Kristus; bukan karena identitas Gereja kita, bukan karena hal tersebut memberikan perasaan enak bagi kita, bukan juga untuk mencari pujian dan penghargaan dari orang lain. Motivasi utama kita dalam bekerja dan melayani adalah karena Tuhan Yesus mengasihi kita dan kita mengasihi Tuhan Yesus. Saat kita kehilangan fokus dan kehilangan kasih sebagai motivasi dasar maka lambat laun pasti kita akan menjauh dari Dia dan akhirnya berfokus pada diri sendiri.

Dalam kehidupan jemaat Efesus, Yesus menunjukkan otoritas-Nya sebagai spirit-giver dan gift-giver (Why 2:1). Dialah yang memperlengkapi jemaat dengan kekuatan dan karunia roh yang dibutuhkan untuk berkarya di atas muka bumi ini. Namun itu semua tidak ada artinya jika jemaat melakukannya tanpa didasari kasih kepada Tuhan. Pesan yang sama juga telah didengungkan oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 13:1-4 bahwa tanpa kasih, maka segala pekerjaan/pelayanan yang kita klaim untuk Tuhan dan jemaat-Nya; serta semua karunia yang kita terima daripada-Nya menjadi hal yang tidak ada gunanya. Tuhan Yesus mengingatkan kita, agar jangan sampai lupa bahwa alasan utama kita melayani-Nya yaitu karena Ia sudah terlebih dahulu mengasihi kita.

Kasih menjadi penting bagi Tuhan karena itu juga berbicara tentang bagaimana kita hidup dengan sesama anak-anak-Nya yang lain. Kehidupan anak-anak Tuhan haruslah di dasarkan kasih-Nya kepada kita. Kasih yang sama yang kita terima dari Tuhan, kini dipraktekkan kepada sesama orang percaya. Meninggalkan kasih mula-mula adalah hal yang buruk bagi setiap orang percaya oleh karena hubungan yang terjadi adalah hubungan semu, yang selalu mengharapkan pamrih. Ini adalah hal yang sangat tidak disukai oleh Tuhan. Rasul Yohanes dalam 1 Yoh 4:19-21 berkata, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.“ Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya.” Ayat ini berbicara dengan sangat gamblang; bahwa kita tidak dapat meng-klaim diri kita mengasihi Allah tetapi membenci saudara seiman dan demikian juga sebaliknya.

Bagaimana cara agar kita tetap pada kasih yang mula-mula, bahkan terus bertambah dalam kasihnya kepada Tuhan dan sesama kita?
1. Bertobat
Ujilah segala motivasi pekerjaan/pelayanan yang kita lakukan saat ini untuk siapa dan untuk apa (Why 2:5). Apa yang memotivasi kita melakukan pelayanan/pekerjaan? Tanpa kasih, pelayanan hanya sekedar rutinitas, bahkan bisa jadi profesi yang kita lakukan untuk mendapat upah. Tuhan katakan kita adalah terang dunia dan garam dunia. Kalau kaki dian itu diambil dari hidup kita, maka kita tinggal dalam kegelapan dan bukan terang. Kalau kita sebagai orang Kristen harusnya menjadi terang dalam dunia yang gelap tinggal dalam kegelapan, betapa gelapnya kegelapan itu! Demikian juga Kasih adalah yang mengasinkan, kalau garam sudah tidak asin lagi hanya dibuang dan di injak orang. Marilah kita bertobat dan kembali pada kasih yang semula (The First Love)
2. Hidup Dalam Kepenuhan Roh Kudus
Kita tidak bisa hidup tanpa Roh Kudus karena Dialah yang membimbing kita ke dalam pertobatan, Dia yang mengaruniakan kemampuan kepada kita untuk melayani-Nya dan jemaat-Nya, Dia juga yang membuat roh kita menyala-nyala dan berbicara kepada kita dari waktu ke waktu (Why 2:1,5,7).
3. Jangan Sepelekan Kasih Karunia Tuhan
Salah satu pengajaran Nikolaus adalah menggampangkan kasih karunia Tuhan yaitu dengan beranggapan apapun yang kita lakukan dalam hidup tidak akan berpengaruh kepada hu-bungan kita dengan Tuhan (Why 2:6). Kasih karunia justru harus kita hargai dengan cara hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.
4. Jadilah Pemenang
Tuhan Yesus sudah menyelamatkan kita dan menjadikan kita lebih dari pemenang. Jika kita menjalankan hidup kita dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri, maka kita akan gagal menjadi pemenang (Why 2:7). Jadi pemenang bukan menurut ukuran dunia, karena Tuhan mencela jemaat di Laodikia yang kelihatannya kaya dan tidak kekurangan suatu apapun. Kenapa Tuhan mencela mereka, karena mereka meninggalkan kasih yang semula. Sehingga Tuhan berkata: perhatikan keadaanmu, engkau tidak tahu sebenarnya engkau melarat, malang dan miskin, buta dan telanjang. (Why 3:17)
Wahyu 3:18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 3:19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
5. Ingat Selalu Apa Yang Telah Tuhan Berikan Dan Lakukan Kepada Kita
Kita yang seharusnya binasa selama-lamanya, oleh karena kasih karunia dan pengampunan-Nya, sekarang kita akan dinantikan untuk hidup kekal bersama-Nya selama-lamanya (Why 2:5). Jangan lupakan kebaikan-kebaikanNya. Mazmur 103:2, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku dan janganlah lupakan segala kebaikanNya.!”
Hiduplah senantiasa dengan tidak melupakan kasih mula-mula kita kepada Tuhan dan teruslah hidup di dalam-Nya sampai Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua. Amin

2018 The year of NEW BEGINNINGS

2018 The year of NEW BEGINNINGS

7 January 2018

“Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu” (Kisah Rasul 3:21).
“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
1 Tesalonika 5:23
Kita memasuki tahun 2018, TAHUN PERMULAAN yang baru. Menurut perhitungan kalender bangsa Yahudi sejak tanggal 22 September 2017 kita sudah memasuki tahun baru 5778.
Angka 8 = Chet, menurut angka Yahudi itu adalah angka yang pertama dan berbicara tentang “New Beginning”. Bukan suatu kebetulan Israel merdeka tahun 1948 dan 70 tahun kemudian Yerusalem di pulihkan. Angka 7 adalah angka sempurna, jadi kalau bangsa Israel masuk pembuangan di Babel selama 70 tahun dan kemudian mengalami pemulihan dimana mereka boleh kembali sejak pemerintahan raja Koresy. Saat ini tahun permulaan yang baru, president Trump menyerukan pemulihan bagi Yerusalem dan Israel.
Pada waktu murid-murid bertanya, “Bilamanakah Engkau akan memulihkan kerajaan bagi Israel?” JawabNya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan sendiri menurut kuasaNya.” Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Rasul 1:6-8.
Ada 3 tanda harus terjadi barulah Yesus datang kembali. Kisah Rasul 3:21, “Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu”. Kita tahu bahwa kita berada di akhir dari akhir jaman. Tanda pertama yang sedang digenapi adalah Yerusalem dipulihkan. Yerusalem secara geografis adalah kota Yerusalem. Secara rohani adalah pribadi dan keluarga harus mengalami pemulihan. Lukas 1:16-17.
Kebanyakan dari kita sudah menjadi orang Kristen cukup lama dan menerima keselamatan, tetapi jiwanya masih belum sepenuhnya dipulihkan sehingga jiwanya masih berorientasi pada dunia dan kedagingan.
Kita mau perangi keduniawian yang ada dalam jiwa kita, sehingga jiwa kita sejalan dengan roh. Karena daging lemah, oleh sebab itu daging harus dikendalikan, jika tidak suatu hari nanti akan jatuh. Kalau kita mempunyai gaya hidup seperti waktu kita belum bertobat maka kita belum mengalami pemulihan pribadi.
Karena itu di dalam 2 Petrus 1:5-7 dikatakan, hendaklah kamu menambahkan imanmu hal-hal tersebut, tambahkan perkara-perkara rohani di dalam jiwa, kalau kita tidak lakukan hal ini maka akibatnya kita tidak bisa menjadi orang Kristen yang berkemenangan.
Kalau kita tidak mengembangkan manusia rohani kita, maka kita akan menjadi orang Kristen yang agamawi dan tidak lahir baru, hanya ikut adat tradisi. Yang Tuhan kehendaki adalah kita harus lahir kembali. You must be born again! Become a spiritual man/woman.
Orang yang sudah bertobat itu maksudnya sudah berhenti melakukan kebiasaan-kebiasaan duniawi (selain makan, minum dan tidur), dan segala bentuk kedagingan itu harus dihentikan, dan kita mempunyai kerinduan untuk memuji dan menyembah Tuhan; kita buat doa, pujian dan penyembahan menjadi gaya hidup (lifestyle).
Dalam Matius 13, Tuhan Yesus menjelaskan tentang seorang penabur, kalau kita menerima taburan benih firman Tuhan di dalam ibadah, apa yang terjadi dengan benih yang kita dengar itu? Apakah itu kita dengar dan lupakan atau itu tertanam dalam hati kita?
Mat 13:9-17, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”“Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari pada-nya…..Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”
Apakah kita termasuk orang yang mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti? Apa yang membuat kita lupa dan tidak bisa melihat dengan cara pandang ilahi, seperti ada selaput yang menutupi mata kita:
a. Kesombongan (Pride); membuat kita lupa dan merasa tidak perlu melakukan apa-apa demi keselamatan kita. Tuhan membenci orang sombong.
b. Sakit hati, tidak mengampuni, kepahitan.
Tanda kedua yang sedang digenapi adalah tubuh Kristus disatukan karena semua orang Kristen harus hidup dipimpin Roh Kudus. Sangat menyedihkan kalau ada orang mengaku orang Kristen tetapi belum mengalami kelahiran baru, mungkin orang ini senang kalau disuruh doa jam sekian dan berapa kali sehari tetapi tidak mengerti tentang lahir baru, semua peraturan diikuti tetapi di dalam hatinya tidak ada ketaatan, itu adalah roh agamawi. Kita adalah anak-anak Allah dan sudah dimerdekakan dari segala bentuk perbudakan, termasuk roh agamawi.
Kita adalah gereja yang dipimpin Roh Kudus, kita harus lahir baru. Kalau kita sudah dimerdekakan dari roh agamawi tersebut, kita akan peka dengan suara Roh Kudus dan berdoa serta meruntuhkan benteng-benteng dan peka melakukan itu. Tetapi kalau roh dan jiwa kita tidak dipulihkan maka tidak bisa unity karena kedagingan akan mementingkan diri sendiri dan dosa tidak bisa disatukan dengan Roh Kudus.
Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku ~Yoh 17:20-23

Tuhan mau kita bertobat dan menerima Tuhan Yesus serta berjalan di dalam Roh. Pertama ijinkan Roh Kudus memulihkan Perspective (Cara Pandang).
Setiap manusia mempunyai cara pandang yang berbeda, mengapa? Karena itu dipengaruhi oleh pengalaman di masa lalu dan pengetahuan yang dimilikinya. Kalau cara pandang tidak dipengaruhi oleh firman Tuhan maka kita akan melihat dengan cara pandang dunia. Dalam Bilangan 13: 17-20, saat Musa mengirim 12 orang pengintai. Orang Israel telah melihat mujizat demi mujizat dari Tuhan dan dari 12 orang pengintai yang dikirim bersama-sama tetapi 10 orang mengatakan tidak bisa mengalahkan bangsa itu karena banyak raksasa, akibatnya mereka tidak memasuki tanah perjanjian. Tetapi mengapa hanya Yosua dan Kaleb yang mengatakan bahwa mereka pasti bisa mengalahkan bangsa itu? Karena mereka mempunyai cara pandang yang berbeda sekalipun sudah melihat mujizat yang Tuhan kerjakan di hadapan mereka.
Banyak orang hidup lalai dan tidak bisa membedakan apa yang harus dipertahankan. Isi hari-hari kita ini bukan menunggu masalah datang tetapi persiapkan diri menghadapi masalah yang akan datang karena tanda ketiga yaitu AntiKristus datang.
Kalau kita sudah dipimpin oleh Roh Kudus dan percaya maka tidak usah takut lagi karena kita bersandar kepada Tuhan yang hidup. Orang yang penuh iman harus disertai dengan pertobatan dari segala hal yang tidak benar agar kita semakin kuat dan kokoh, jangan ada ilah-ilah lain dalam jiwa kita dan hanya Tuhan yang kita sembah. Tuhan mau jiwa kita baik/prosper, kita semua harus hidup dipimpin oleh Roh Kudus
2 Kor 3:3-6, Pelayan-pelayan Perjanjian Baru.
“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.”
ayat 16-18, “Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung, dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”
Bil 14:11-12, “TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka.” Kalau kita masih tinggal dalam kedagingan dan keduniawian, itu sama dengan menyakiti hati Tuhan, atau berkerja sama dengan roh antikristus.
Dalam Yesaya 60, dikatakan bahwa dunia itu ditutupi oleh kegelapan tetapi terang Tuhan terbit atasmu, sebagai gereja Tuhan hari- hari ini adalah hari kemuliaan gereja Tuhan. Karena di mana ada kegelapan di situ terang semakin terang, tetapi ada gereja yang tidak memiliki terang karena tidak hidup, dan kita bisa melihat gereja itu hidup atau tidak, dilihat dari akarnya. Kalau pohon bercokol di suatu tempat tetapi tidak berbuah, itu bisa berarti pohon plastik atau akarnya tidak sehat dan tidak dalam tertanam.
Di mana suatu daerah meninggikan Tuhan, maka Tuhan akan memberkati kota tersebut, tetapi kalau di suatu daerah sudah menolak Tuhan, maka daerah itu akan me-ngalami kemerosotan. Dalam sejarah Amerika sejak mencabut doa, alkitab dan menurunkan sepuluh perintah Allah dari tempat public maka terjadi kemerosotan yang luar biasa, kemerosotan moral, sosial, ekonomi, dstnya, dan kalau ini tidak dipulihkan maka akan terus merosot
Dalam Alkitab dikatakan dunia ini akan mengalami Great Tribulation, tetapi gereja Tuhan akan diluputkan dari itu semua. Sebelum semuanya itu terjadi akan banyak penganiayaan terjadi dengan bentuk yang berbeda-beda, antikristus muncul namun pemulihan Gereja yang bersatu akan keluar sebagai pemenang. Hari-hari ini kita akan diuji, akan ada penampian antara gandum dan lalang sebagai salah satu tanda akhir zaman.
1 Yohanes 2:15-17, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”
Kita harus perhatikan apa yang sedang terjadi dengan bangsa Israel, pemulihan Yerusalem. Kemudian Gereja akan bergerak dengan kuasa Roh Kudus dan me-ngalahkan pengaruh dunia & kegelapan. Setelah pengangkatan gereja maka akan terjadi great tribulation di dunia ini dan kemudian semua orang akan dihakimi, semua kitab akan dibuka, kalau namamu tidak ada di sana maka engkau akan masuk ke neraka, tetapi kalau namamu tercatat dalam buku kehidupan maka engkau akan masuk Sorga.
1 Korintus 1:9-10, “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.”
1 Korintus 4:1-2, “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.”
Demikian kitapun harus menjadi orang yang dapat dipercaya dengan rahasia Allah, terus mengajarkan kepada semua orang untuk berjaga-jaga dan Injil Kerajaan ini terus diberitakan ke semua bangsa, maka kita akan berbuah-buah banyak, yaitu: Buah pertobatan nyata dalam gaya hidup kita, semua kehidupan dosa lama ditanggalkan. Lalu buah jiwa-jiwa, dengan membawa jiwa kepada Tuhan dan akhirnya berbuah Roh Kudus, ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Amin. (JL)

DIA YESUS SEGALANYA BAGI KITA

DIA YESUS SEGALANYA BAGI KITA

Maret 2018

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Kolose 1:15-16

Pada waktu saya mempersiapkan firman, saya mendapat ayat dalam Mazmur 41:1-4, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi ini; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”
Tujuan dari gereja ini adalah untuk memberkati orang lain, khususnya untuk orang-orang yang kekurangan yang harus kita tolong, terlebih bahagia memberi dari pada menerima. Di bulan Maret ini Tuhan memberikan pesan bahwa Ia adalah segalanya bagi kita.
Kolose 1:15-23, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Apa artinya bahwa Tuhan adalah segalanya dalam hidup kita:
1. Bergantung sepenuhnya hanya kepada Tuhan (Mark 10:46-52).
2. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).
3. Kehilangan Tuhan, kita pasti kehilangan segala-galanya (Kej 19:1-29).
Kita bisa mampu dan hebat karena siapa yang kita layani, dan Paulus mengatakan Kristus sebagai kepala dan segala sesuatu dari Dia, dan Paulus juga berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kita juga sebagai pelayan Tuhan harus mempunyai gaya hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan.
Bani Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi adalah pemusik dan penyanyi, mereka mempunyai tugas hanya untuk memuji dan menyembah Tuhan bahkan pada waktu mereka mengalami tekanan.
Maz 42:2-3; 6&12, “2Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 6Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 12Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Ini adalah gambaran hidup kita sebagai penyembah Kristus dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, meski dalam hidup sehari-hari pasti ada tekanan. Kalau kita percaya bahwa Ia adalah penolong dan segalanya bagi kita, maka tugas kita adalah seperti rusa yang haus dan rindu dan cepat mencari air, begitu juga pada waktu jiwa kita haus jangan cepat mencari dunia tetapi cepat mencari wajah Tuhan, menyembah dan berharap kepada Tuhan.
Kalau kita di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa, dan kalau dalam hidup kita baik dalam pelayanan dan keluarga tidak menghasilkan buah maka ada yang salah dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita di dalam Tuhan maka hidup kita akan ada perkembangan dan semakin naik/maju.
Kisah Bartimeus yang buta ketika ia mendengar Yesus sedang lewat maka ia berteriak dan memanggil Yesus, meski orang-orang sekitarnya menyuruhnya untuk diam tetapi ia justru berteriak lebih kencang sampai Yesus mendengar dan berkata kepadanya apa yang kamu kehendaki untuk Aku perbuat, dan Bartimeus menjawab agar aku dapat melihat, lalu Yesus menyembuhkan matanya. Bartimeus berseru dan memohon kepada Tuhan karena ia percaya sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang sanggup menyembuhkannya.
Tuhan sudah berkata bahwa di akhir zaman akan datang masa yang sukar, dan sekarang bagaimana caranya agar kita berjalan dalam rencana Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.
1. Menyadari dan Mengerti (1 Kor 1:26-31). Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
1 Kor 1:26-30, “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”
Kita harus sadar dan rendah hati karena kita ditebus dengan darah yang mahal dan Ia menguduskan serta membenarkan kita, jadi dalam menjalankan hidup baiklah fokus kita tetap kepada Kristus.
2. Mempercayai (Mat 9:27-29; Mark 9:23-24).
Mat 9:27-29, “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya, Tuhan, kami percaya. Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Mungkin kita buta secara rohani atau kita sedang mengalami pergumulan dan sedang menantikan jawaban doa, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan? Tuhan mau kita mengerti dan percaya kepadanya bahwa Tuhan pasti menolong kita.
Mengapa kita jatuh sakit? Dalam Mazmur dikatakan karena dosa dan kesalahan sendiri. Mazmur 107:17, “Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;”
Mark 9:21-24, “Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Begitu juga dengan keadaan kita, sudah berapa lama kita tetap seperti ini dan tidak berubah? Sudah berapa lama menjadi Kristen dan tidak maju? Sudah berapa lama menjadi pengerja tetapi rumah tangga ribut terus? Tidak ada perkembangan!
3. Melangkah/Bertindak (Mat 8:1-4; Kej 12:4-8).
Mat 8:1-4, “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Pada zaman itu orang yang sakit kusta dijauhi dan pada waktu Yesus melihatnya, Ia berbelas kasihan kepada orang yang sakit kusta tersebut dan Ia menyembuhkannya. Lalu Ia berkata kepada orang tersebut itu untuk pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan yang Musa perintahkan.
Tetapi mengapa Yesus hanya berkata kepada orang yang sembuh dari sakit kusta untuk memberikan persembahan kepada imam tetapi Ia tidak mengatakan hal tersebut kepada orang-orang buta dan sakit lumpuh lainnya untuk memberikan persembahan.
Karena orang yang sakit kusta ini betul-betul mengalami suatu anugerah pertolongan dan kesembuhan yang besar sehingga ia harus mempersembahkan persembahan sebagai bukti bagi mereka, sebagai tanda sudah dikuduskan, dibenarkan dan disucikan.
Kristus sudah menebus kita agar kita yang ‘sakit’ dipulihkan dan disembuhkan sehingga kita memberikan ucapan syukur kepada Tuhan, melangkah dan bertindak dengan iman. Dosa kita sudah diampuni, diberi kemenangan oleh Tuhan sehingga pada waktu kita melayani, kita melayani dengan urapan dan kasih Kristus sehingga jiwa-jiwa dijamah dan diberkati.
Bagaimana? Agar Ia menjadi segalanya dalam hidup kita:
a. Jadikan “Dia” pribadi yang paling berpengaruh dalam hidup kita (Yoh 15:14-15).
b. Dia berhak mendapatkan waktu, tenaga dan perhatian terbaik yang kita miliki (Ibr 11:1-40; 2 Kor 11:23-31).
c. Dia sebagai Raja yang menguasai hati kita (Ef 3:20).
Meski hidup kita berada di titik terendah sekalipun tetap jadikan Tuhan menjadi pribadi yang paling berpengaruh dalam hidupmu, bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan-Nya sepanjang hidup kita karena itu berikan waktu dan tenaga yang terbaik kepada Tuhan karena Dia adalah segalanya dalam hidup kita. Amin.

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Kolose 1:15-16

Pada waktu saya mempersiapkan firman, saya mendapat ayat dalam Mazmur 41:1-4, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi ini; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”
Tujuan dari gereja ini adalah untuk memberkati orang lain, khususnya untuk orang-orang yang kekurangan yang harus kita tolong, terlebih bahagia memberi dari pada menerima. Di bulan Maret ini Tuhan memberikan pesan bahwa Ia adalah segalanya bagi kita.
Kolose 1:15-23, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Apa artinya bahwa Tuhan adalah segalanya dalam hidup kita:
1. Bergantung sepenuhnya hanya kepada Tuhan (Mark 10:46-52).
2. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).
3. Kehilangan Tuhan, kita pasti kehilangan segala-galanya (Kej 19:1-29).
Kita bisa mampu dan hebat karena siapa yang kita layani, dan Paulus mengatakan Kristus sebagai kepala dan segala sesuatu dari Dia, dan Paulus juga berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kita juga sebagai pelayan Tuhan harus mempunyai gaya hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan.
Bani Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi adalah pemusik dan penyanyi, mereka mempunyai tugas hanya untuk memuji dan menyembah Tuhan bahkan pada waktu mereka mengalami tekanan.
Maz 42:2-3; 6&12, “2Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 6Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 12Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Ini adalah gambaran hidup kita sebagai penyembah Kristus dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, meski dalam hidup sehari-hari pasti ada tekanan. Kalau kita percaya bahwa Ia adalah penolong dan segalanya bagi kita, maka tugas kita adalah seperti rusa yang haus dan rindu dan cepat mencari air, begitu juga pada waktu jiwa kita haus jangan cepat mencari dunia tetapi cepat mencari wajah Tuhan, menyembah dan berharap kepada Tuhan.
Kalau kita di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa, dan kalau dalam hidup kita baik dalam pelayanan dan keluarga tidak menghasilkan buah maka ada yang salah dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita di dalam Tuhan maka hidup kita akan ada perkembangan dan semakin naik/maju.
Kisah Bartimeus yang buta ketika ia mendengar Yesus sedang lewat maka ia berteriak dan memanggil Yesus, meski orang-orang sekitarnya menyuruhnya untuk diam tetapi ia justru berteriak lebih kencang sampai Yesus mendengar dan berkata kepadanya apa yang kamu kehendaki untuk Aku perbuat, dan Bartimeus menjawab agar aku dapat melihat, lalu Yesus menyembuhkan matanya. Bartimeus berseru dan memohon kepada Tuhan karena ia percaya sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang sanggup menyembuhkannya.
Tuhan sudah berkata bahwa di akhir zaman akan datang masa yang sukar, dan sekarang bagaimana caranya agar kita berjalan dalam rencana Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.
1. Menyadari dan Mengerti (1 Kor 1:26-31). Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
1 Kor 1:26-30, “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”
Kita harus sadar dan rendah hati karena kita ditebus dengan darah yang mahal dan Ia menguduskan serta membenarkan kita, jadi dalam menjalankan hidup baiklah fokus kita tetap kepada Kristus.
2. Mempercayai (Mat 9:27-29; Mark 9:23-24).
Mat 9:27-29, “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya, Tuhan, kami percaya. Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Mungkin kita buta secara rohani atau kita sedang mengalami pergumulan dan sedang menantikan jawaban doa, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan? Tuhan mau kita mengerti dan percaya kepadanya bahwa Tuhan pasti menolong kita.
Mengapa kita jatuh sakit? Dalam Mazmur dikatakan karena dosa dan kesalahan sendiri. Mazmur 107:17, “Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;”
Mark 9:21-24, “Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Begitu juga dengan keadaan kita, sudah berapa lama kita tetap seperti ini dan tidak berubah? Sudah berapa lama menjadi Kristen dan tidak maju? Sudah berapa lama menjadi pengerja tetapi rumah tangga ribut terus? Tidak ada perkembangan!
3. Melangkah/Bertindak (Mat 8:1-4; Kej 12:4-8).
Mat 8:1-4, “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Pada zaman itu orang yang sakit kusta dijauhi dan pada waktu Yesus melihatnya, Ia berbelas kasihan kepada orang yang sakit kusta tersebut dan Ia menyembuhkannya. Lalu Ia berkata kepada orang tersebut itu untuk pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan yang Musa perintahkan.
Tetapi mengapa Yesus hanya berkata kepada orang yang sembuh dari sakit kusta untuk memberikan persembahan kepada imam tetapi Ia tidak mengatakan hal tersebut kepada orang-orang buta dan sakit lumpuh lainnya untuk memberikan persembahan.
Karena orang yang sakit kusta ini betul-betul mengalami suatu anugerah pertolongan dan kesembuhan yang besar sehingga ia harus mempersembahkan persembahan sebagai bukti bagi mereka, sebagai tanda sudah dikuduskan, dibenarkan dan disucikan.
Kristus sudah menebus kita agar kita yang ‘sakit’ dipulihkan dan disembuhkan sehingga kita memberikan ucapan syukur kepada Tuhan, melangkah dan bertindak dengan iman. Dosa kita sudah diampuni, diberi kemenangan oleh Tuhan sehingga pada waktu kita melayani, kita melayani dengan urapan dan kasih Kristus sehingga jiwa-jiwa dijamah dan diberkati.
Bagaimana? Agar Ia menjadi segalanya dalam hidup kita:
a. Jadikan “Dia” pribadi yang paling berpengaruh dalam hidup kita (Yoh 15:14-15).
b. Dia berhak mendapatkan waktu, tenaga dan perhatian terbaik yang kita miliki (Ibr 11:1-40; 2 Kor 11:23-31).
c. Dia sebagai Raja yang menguasai hati kita (Ef 3:20).
Meski hidup kita berada di titik terendah sekalipun tetap jadikan Tuhan menjadi pribadi yang paling berpengaruh dalam hidupmu, bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan-Nya sepanjang hidup kita karena itu berikan waktu dan tenaga yang terbaik kepada Tuhan karena Dia adalah segalanya dalam hidup kita. Amin.

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Kolose 1:15-16

Pada waktu saya mempersiapkan firman, saya mendapat ayat dalam Mazmur 41:1-4, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi ini; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”
Tujuan dari gereja ini adalah untuk memberkati orang lain, khususnya untuk orang-orang yang kekurangan yang harus kita tolong, terlebih bahagia memberi dari pada menerima. Di bulan Maret ini Tuhan memberikan pesan bahwa Ia adalah segalanya bagi kita.
Kolose 1:15-23, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Apa artinya bahwa Tuhan adalah segalanya dalam hidup kita:
1. Bergantung sepenuhnya hanya kepada Tuhan (Mark 10:46-52).
2. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).
3. Kehilangan Tuhan, kita pasti kehilangan segala-galanya (Kej 19:1-29).
Kita bisa mampu dan hebat karena siapa yang kita layani, dan Paulus mengatakan Kristus sebagai kepala dan segala sesuatu dari Dia, dan Paulus juga berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kita juga sebagai pelayan Tuhan harus mempunyai gaya hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan.
Bani Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi adalah pemusik dan penyanyi, mereka mempunyai tugas hanya untuk memuji dan menyembah Tuhan bahkan pada waktu mereka mengalami tekanan.
Maz 42:2-3; 6&12, “2Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 6Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 12Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Ini adalah gambaran hidup kita sebagai penyembah Kristus dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, meski dalam hidup sehari-hari pasti ada tekanan. Kalau kita percaya bahwa Ia adalah penolong dan segalanya bagi kita, maka tugas kita adalah seperti rusa yang haus dan rindu dan cepat mencari air, begitu juga pada waktu jiwa kita haus jangan cepat mencari dunia tetapi cepat mencari wajah Tuhan, menyembah dan berharap kepada Tuhan.
Kalau kita di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa, dan kalau dalam hidup kita baik dalam pelayanan dan keluarga tidak menghasilkan buah maka ada yang salah dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita di dalam Tuhan maka hidup kita akan ada perkembangan dan semakin naik/maju.
Kisah Bartimeus yang buta ketika ia mendengar Yesus sedang lewat maka ia berteriak dan memanggil Yesus, meski orang-orang sekitarnya menyuruhnya untuk diam tetapi ia justru berteriak lebih kencang sampai Yesus mendengar dan berkata kepadanya apa yang kamu kehendaki untuk Aku perbuat, dan Bartimeus menjawab agar aku dapat melihat, lalu Yesus menyembuhkan matanya. Bartimeus berseru dan memohon kepada Tuhan karena ia percaya sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang sanggup menyembuhkannya.
Tuhan sudah berkata bahwa di akhir zaman akan datang masa yang sukar, dan sekarang bagaimana caranya agar kita berjalan dalam rencana Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.
1. Menyadari dan Mengerti (1 Kor 1:26-31). Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
1 Kor 1:26-30, “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”
Kita harus sadar dan rendah hati karena kita ditebus dengan darah yang mahal dan Ia menguduskan serta membenarkan kita, jadi dalam menjalankan hidup baiklah fokus kita tetap kepada Kristus.
2. Mempercayai (Mat 9:27-29; Mark 9:23-24).
Mat 9:27-29, “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya, Tuhan, kami percaya. Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Mungkin kita buta secara rohani atau kita sedang mengalami pergumulan dan sedang menantikan jawaban doa, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan? Tuhan mau kita mengerti dan percaya kepadanya bahwa Tuhan pasti menolong kita.
Mengapa kita jatuh sakit? Dalam Mazmur dikatakan karena dosa dan kesalahan sendiri. Mazmur 107:17, “Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;”
Mark 9:21-24, “Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Begitu juga dengan keadaan kita, sudah berapa lama kita tetap seperti ini dan tidak berubah? Sudah berapa lama menjadi Kristen dan tidak maju? Sudah berapa lama menjadi pengerja tetapi rumah tangga ribut terus? Tidak ada perkembangan!
3. Melangkah/Bertindak (Mat 8:1-4; Kej 12:4-8).
Mat 8:1-4, “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Pada zaman itu orang yang sakit kusta dijauhi dan pada waktu Yesus melihatnya, Ia berbelas kasihan kepada orang yang sakit kusta tersebut dan Ia menyembuhkannya. Lalu Ia berkata kepada orang tersebut itu untuk pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan yang Musa perintahkan.
Tetapi mengapa Yesus hanya berkata kepada orang yang sembuh dari sakit kusta untuk memberikan persembahan kepada imam tetapi Ia tidak mengatakan hal tersebut kepada orang-orang buta dan sakit lumpuh lainnya untuk memberikan persembahan.
Karena orang yang sakit kusta ini betul-betul mengalami suatu anugerah pertolongan dan kesembuhan yang besar sehingga ia harus mempersembahkan persembahan sebagai bukti bagi mereka, sebagai tanda sudah dikuduskan, dibenarkan dan disucikan.
Kristus sudah menebus kita agar kita yang ‘sakit’ dipulihkan dan disembuhkan sehingga kita memberikan ucapan syukur kepada Tuhan, melangkah dan bertindak dengan iman. Dosa kita sudah diampuni, diberi kemenangan oleh Tuhan sehingga pada waktu kita melayani, kita melayani dengan urapan dan kasih Kristus sehingga jiwa-jiwa dijamah dan diberkati.
Bagaimana? Agar Ia menjadi segalanya dalam hidup kita:
a. Jadikan “Dia” pribadi yang paling berpengaruh dalam hidup kita (Yoh 15:14-15).
b. Dia berhak mendapatkan waktu, tenaga dan perhatian terbaik yang kita miliki (Ibr 11:1-40; 2 Kor 11:23-31).
c. Dia sebagai Raja yang menguasai hati kita (Ef 3:20).
Meski hidup kita berada di titik terendah sekalipun tetap jadikan Tuhan menjadi pribadi yang paling berpengaruh dalam hidupmu, bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan-Nya sepanjang hidup kita karena itu berikan waktu dan tenaga yang terbaik kepada Tuhan karena Dia adalah segalanya dalam hidup kita. Amin.

By Ps. Nehemia L.

PINTU “PENGINJILAN” TERBUKA

PINTU “PENGINJILAN” TERBUKA

31 Desember 2017

“Dan tuliskanlah kepada malaikat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku bahwa Aku mengasihi engkau.” Wahyu 3:7-9

Jemaat Filadelfia tergolong jemaat yang baik sama seperti jemaat Smirna. Mereka adalah jemaat yang bebas/ lolos dari kecaman dan kritik Tuhan Yesus. Mereka adalah jemaat yang hanya mendapat pujian dari Tuhan tetapi tidak ada teguran dan celaan bagi mereka.
Dari Gereja Filadelfia kita belajar beberapa hal yang membuat kita mengerti mengenai gereja yang Tuhan Yesus kehendaki. Kota Filadelfia terletak di Asia Kecil. Kota ini merupakan pusat kebudayaan Yunani kuno, didirikan kira-kira 189 tahun sebelum Masehi oleh Raja Eumenes II. Selanjutnya Eumenes II digantikan oleh saudaranya Attalus II pada tahun 159 -138 SM.

Raja Attalus II ini sangat mengasihi saudaranya yang bernama Eumenes. “Kasih Persaudaraan” dalam bahasa Yunani disebut “Philadelphos”. Kata “Philadelphos” berasal dari dua kata Yunani yakni “Philea” yang berarti kasih/cinta persaudaraan dan “Adelphos” yang berarti saudara. Jadi “Philadelphos” artinya orang yang sangat mengasihi saudaranya. Karena Attalus II ini dikenal sebagai “Philadelphos” maka kota yang didirikannya itu diberi nama “Philadelphia” yang dalam bahasa Indonesia disebut Filadelfia.

Kota ini didirikan dengan satu tujuan khusus yakni untuk menyebarkan kebudayaan Yunani, terutama Bahasa Yunani, ke daerah sekitarnya. Secara khusus daerah Misia, Lidia dan Frigia yang berbatasan langsung dengan Kota Filadelfia menjadi target untuk me-Yunanikan (Helenisasi). Karena tujuan inilah maka gerbang Kota Filadelfia tetap terbuka sehingga memungkinkan penduduk sekitarnya dapat berinteraksi dengan penduduk Filadelfia, dengan demikian kebudayaan Yunani, secara khusus bahasa Yunani dikenal luas. Tujuan ini berhasil karena pada tahun 19 AD seluruh penduduk Lidia sudah melupakan bahasa asli mereka dan menggunakan bahasa Yunani. Karena Kota Filadelfia selalu terbuka untuk orang-orang/kota-kota sekitarnya, maka Filadelfia dikenal sebagai kota yang pintunya terbuka. Melalui kota ‘kasih persaudaraan’ ini maka pintu penginjilan terbuka bagi orang-orang yang belum percaya di daerah itu.
Tuhan berbicara mengenai ‘pintu yang dibuka’ dan tidak ada satu pun yang dapat menutupnya. Pintu itu juga merupakan simbol bagi sebuah pemberitaan Injil. Contohnya Paulus dalam 2 Korintus 2:12 berkata, “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan” [Yunani: thura], yang juga diterjemahkan ‘pintu’ – kata ini sama dengan kata ‘pintu’ yang dipakai dalam Wahyu 3:8.

BEBERAPA HAL YANG TUHAN KATAKAN KEPADA JEMAAT DI FILADELFIA
1. Kekuatan yang Tidak Seberapa (Yunani: Mikran echeis dunamin)
Perhatikan ayat 8b Yesus berkata, “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa …..”
Jemaat Filadelfia bukanlah sebuah gereja besar yang memiliki sumber daya yang tidak terbatas. Mereka memiliki kelemahan dalam banyak hal, tetapi pada aspek pintu yang terbuka, mereka dikenal baik. Untuk menjadi alat yang efektif di tangan Tuhan, kita harus menyadari betapa terbatasnya kekuatan kita, sehingga kita tetap bergantung kepada kekuatan Tuhan yang tidak terbatas. Untuk Gereja yang demikian dan untuk orang-orang Kristen seperti itulah, Tuhan membuka pintu.
Tuhan memakai orang-orang percaya yang menyadari bahwa diri mereka lemah tanpa kekuatan Tuhan yang bersemayam di dalam diri mereka. Tuhan memakai jemaat dan orang-orang yang kecil dalam pandangan manusia. Tuhan lebih menyukai orang-orang yang rendah hati, bukan yang sombong. Tuhan lebih menyukai yang lemah, bukan yang kuat.
Dalam 2 Korintus 12:9, ketika Rasul Paulus meminta agar Tuhan menyingkirkan kelemahannya yang disebutnya sebagai duri di dalam daging, Tuhan menjawab: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Tanggapan Paulus sangat bagus, ia berkata: “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

2. Menaati Firman Tuhan
Pada ayat 8, Yesus berkata, “… namun engkau menuruti firman-Ku.” (Yunani: Heteresas mou ton logon). Jemaat Filadelfia yang lemah ini bergantung pada Firman Tuhan yang tertulis untuk mendapatkan kekuatan dan menjadikanNya pedoman. Mereka mempelajari Firman Tuhan bersama-sama dengan penuh semangat. Tuhan membuka pintu yang tidak seorangpun dapat menutup. Karena mereka adalah orang-orang percaya yang menghormati otoritas Firman Tuhan dan mentaati Firman. Namun bagi orang-orang yang tidak hidup sesuai dengan ajaran Kitab di atas segala kitab yaitu Firman Tuhan (Alkitab), pintu Kesempatan akan ditutup bagi mereka dan kalau Tuhan yang menutup pintu tidak ada seorangpun yang dapat membukanya.

3. Tidak Menyangkal Nama Tuhan (Yunani: Ouk herneso to honoma mou)
Kata herneso ditulis dalam bentuk singular, berarti tiap pribadi tidak ada yang menyangkal, tetapi setiap pribadi menaati Firman. Perhatikan ayat 8b, Yesus berkata: “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”
Filadelfia adalah Gereja yang menolak untuk berhenti beriman kepada Yesus meskipun mereka diolok-olok oleh orang-orang Yahudi atau mendapat tekanan dari masyarakat yang menyembah berhala serta menghadapi penganiayaan. Tidak ada apapun yang dapat membuat iman mereka goyah. Mereka teguh, mereka tidak menyangkal nama Tuhan, mereka setia sampai akhir. Tidak ada apapun atau siapapun yang dapat menghentikan mereka untuk beriman kepada Yesus!
Marilah kita semua meneladani apa yang dilakukan jemaat Filadelfia, niscaya pintu kesempatan terbuka baik untuk memberitakan Injil Keselamatan maupun pintu kesempatan usaha pekerjaan dlsbnya mengalami jalan yang terbuka di tahun yang baru ini. Dan pujian yang sama dari Kristus Sang Kepala Gereja juga akan datang bagi kita. Amin.
“Pintu Kesempatan akan ditutup bagimu kalau engkau membiarkan pintu pemberitaan Alkitab tetap tertutup.”

SELAMAT MEMASUKI TAHUN BARU 2018 BERSAMA DENGAN TUHAN

KELAHIRAN YESUS ADALAH PERMULAAN YANG BARU

KELAHIRAN YESUS ADALAH PERMULAAN YANG BARU

24 Desember 2017

Kita sering membaca di Kitab Raja-raja dan Tawarikh; “… pada tahun kesekian … pemerintahan raja …“ Ketika seorang raja meninggal dan raja baru menggantikannya, maka penanggalan dimulai dari tahun 0 lagi.
Begitu banyak pengakuan secara universal terhadap pribadi Tuhan Yesus yang begitu luar biasa, dan dampaknya kepada dunia sedemikian rupa sehingga dunia setelah kedatangan-Nya dan dunia sebelum kedatangan-Nya sangatlah berbeda.

Moses Maimonedes yang pada abad ke 12 merumuskan kalender Yahudi yang dihitung berdasarkan ‘penciptaan dunia’ (annomundi), sehingga sekarang kita berada pada tahun 5778 Yahudi. Bangsa Romawi merasa bahwa pendirian Kota Roma merupakan tolak ukur sejarah bagi bangsa mereka sehingga mereka menetapkan tahun yang sekarang kita kenal sebagai 771 SM sebagai tanggal pendirian Kota Roma. Tetapi tetap mereka menjadikan siklus pemerintahan seorang kaisar/raja sebagai pusat penanggalan.

Apalagi di dunia timur, keberadaan sebuah dinasti dan pemerintahan seorang raja/kaisar merupakan tolak ukur sehingga mereka tidak membutuhkan suatu peristiwa pijakan dalam sejarah yang mendefinisikan dan membedakan dunia sebelum dan sesudah peristiwa tersebut.

Apakah yang kita lihat dalam pribadi Yesus sehingga Dia benar-benar layak untuk menjadi tolak ukur yang memisahkan sejarah dunia?
1. Kelahiran-Nya Secara Ajaib: Ia Dikandung Oleh Roh Kudus
Alkitab mengatakan bahwa pada hari ketujuh Allah selesai menciptakan dunia ini dan ia beristirahat dari pekerjaan-Nya. Artinya Dia tidak lagi menciptakan apapun. Dalam hal ini berarti tidak ada “Zat / Materi/energy” baru yang masuk ke dalam “tata ciptaan yang telah dijadikan oleh Allah.”

Semua proses yang ada, mulai dari hal yang paling kecil sampai yang paling besar: tumbuhan muncul dari tanah, siklus penguapan sampai pengembunan dan turunnya hujan, proses fotosintesa yang menghasilkan buah dalam tumbuhan, proses pengembangbiakan sel dan perkawinan yang menghasilkan multiplikasi dalam tumbuhan, binatang, dan manusia adalah bagian dari suatu sistem tertutup yang tidak memerlukan mujizat.

Kelahiran Tuhan Yesus adalah sesuatu yang “Baru.” “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel .” Yesaya 7:14

Tubuh Tuhan Yesus “diciptakan” secara baru oleh Allah di dalam kandungan Maria. Sama seperti waktu Roh Allah melayang-layang di atas permukaan samudera dan menghasilkan ciptaan yang lama; demikianlah Roh Allah memenuhi Maria sehingga ia dapat melahirkan bayi Yesus. Tulisan-tulisan Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa hanya di dalam Yesus sajalah kita dapat menjadi ciptaan yang baru.
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah, hal-hal yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

2. Penebusan-Nya Yang Tiada Taranya: Manusia Diberikan Kesempatan Yang Baru.
Sepanjang sejarah, manusia bergumul dengan satu hal yaitu dosa dan rasa bersalah. Hal ini memang dibuat oleh Tuhan supaya manusia tetap sadar bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa memiliki hubungan dengan Pencipta mereka. Itulah sebabnya sebelum kedatangan Tuhan Yesus, di Perjanjian Lama, Allah membuat sistem korban di dalam tata cara ibadah bangsa Yahudi sebagai penuntun ke arah Kristus. Korban Kristus tidak perlu diulang-ulang lagi seperti di Perjanjian Lama. DIA mati dan bangkit bagi kita yang percaya kepada-Nya sekali dan untuk selama-lamanya dan “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.“ Kolose 1:18

Di sini kita melihat bahwa bukan saja pada kelahirannya Tuhan Yesus adalah“Ciptaan yang Baru” tetapi juga pada kebangkitan-Nya.
Di sinilah titik pengharapan orang Kristen. Kita memiliki pengharapan sama seperti Kristus dibangkitkan dari antara orang mati sebagai buah sulung dari ciptaan yang baru. Demikian pula kita pada hari kedatangan-Nya akan mengenakan tubuh yang serupa dengan tubuh-Nya.

3. Ajaran-Nya Yang Mengubahkan Manusia
Sebelum Lahirnya Tuhan Yesus banyak guru-guru dan nabi-nabi mengajarkan etik dan moral kepada manusia. Kebanyakan dari mereka mengalami kegagalan. Ajaran mereka hanya dicatat sebagai ide yang sulit dilakukan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Yesus datang dengan mewahyukan suatu sistem etika yang berbeda. Apa yang dihargai begitu tinggi oleh dunia ini seperti kekuasaan, kekuatan, keindahan, bahkan kebenaran sekalipun bukanlah menjadi obyek yang harus dimiliki dan dikuasai. Sebaliknya Ia datang dan menggambarkan di depan kita sebuah kerajaan yang beroperasi secara tidak kelihatan bisa diterima oleh system dunia, kontradiktif, revolusioner, dan sangat subversif bagi sistem dunia yang ada.
• Orang Yahudi sangat menjunjung tinggi pewahyuan dan kesalehan.
• Orang Romawi sangat menjujung tinggi kekuatan dan kekuasaan.
• Orang Yunani sangat menjunjung tinggi hikmat dan keteraturan.

Tuhan Yesus datang dan menjungkirbalikkan semua idealisme tersebut dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang jauh berbeda. Gambaran-gambaran seperti domba, benih, anak kecil sangatlah mengusik ide-ide yang sudah lama tertanam di dalam peradaban-peradaban tersebut. Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, hal ini dilanjutkan oleh murid-murid-Nya.

Bagaimana mereka mengubah kuasa kekaisaran Romawi, kesombongan intelektual Yunani, dan keangkuhan spiritual bangsa Yahudi – dengan kelemahlembutan, kesederhanaan, penundukan diri, kerendahan hati, kesucian hidup dan kasih kepada semua orang.
Etika yang berlaku di dunia sebelum Tuhan Yesus (keadilan bertangan besi; mata ganti mata gigi ganti gigi) berubah menjadi kasihilah Tuhan Allahmu dan sesamamu manusia. Kekaisaran Romawi runtuh bukan karena kekuatan tetapi karena revolusi kasih yang mengubahkan hati manusia. Hikmat Yunani dikuduskan; bukan lagi menjadi sumber kesombongan tetapi menjadi pemikiran yang ditundukkan untuk mengenal kebenaran. Idealisme spiritual bangsa Yahudi digenapi bukan hanya di dalam peristiwa-peristiwa rohani yang dahsyat tetapi di dalam tindakan-tindakan sederhana seperti berbagi roti dan anggur.

Dengan mempertimbangkan ketiga poin di atas, kita sungguh melihat bahwa kelahiran Tuhan Yesus adalah peristiwa yang mengubah sejarah. Bukan tentang penanggalan (calendar) tetapi ini adalah penggenapan dari apa yang dahulu merupakan bayangan, kini menjadi realitas.
Perubahan moralitas dari yang dahulu bersifat ‘gigi ganti gigi‘ menjadi moralitas yang bersifat restoratif (memulihkan) dan juga mengenai pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua kali. Mengapa kita menghitung tanggal sekarang maju dari tahun 2017 menuju 2018? Karena kita tahu angka 8 adalah permulaan baru dan penanggalan tidak akan berlangsung selamanya. Akan ada waktu di mana Dia akan tiba dan mengakhiri penanggalan tersebut di dalam kedatangan-Nya yang kedua kali. Itulah sebabnya kelahiran Tuhan Yesus sangat unik dan tidak ada bandingannya di dalam sejarah sebagai suatu permulaan yang baru.

Tuhan Yesus memberkati. Selamat merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus.

SEBAB BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG  MUSTAHIL (sambungan minggu lalu)

SEBAB BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL (sambungan minggu lalu)

17 Desember 2017

Mari kita merenungkan kedatangan Tuhan Yesus yang pertama ke dalam dunia ini, Tuhan Yesus sekarang ada di sorga duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dan sebentar lagi, tidak lama lagi, Tuhan Yesus akan datang untuk kali yang kedua. Dan Tuhan mengingatkan kepada gereja-Nya, kepada Saudara dan saya, sebab ini tugas yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya seperti Tuhan memberikan tugas kepada Yohanes Pembaptis pada waktu menyambut kedatangan Tuhan Yesus pertama kali. Maka Tuhan berbicara kepada gereja-Nya, yaitu Saudara dan saya, untuk kita menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.
Saudara, 3 hal yang harus kita lakukan seperti Yohanes Pembaptis lakukan, yaitu:
1. Gereja harus membuat orang yang tidak percaya menjadi percaya. (Penginjilan)
2. Gereja harus membuat orang-orang Kristen yang hidupnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan supaya bertobat kembali.(Pemulihan pribadi)
3. Gereja harus membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan anak-anak kepada bapa-bapanya (Pemulihan keluarga)

Biasanya yang nomor 1 dan 2 itu yang sering dibicarakan. Orang yang tidak percaya menjadi percaya, orang yang hidupnya tidak karu-karuan supaya jadi karuan atau bertobat kembali. Tetapi hari ini Tuhan sangat menekankan tentang yang nomor 3 ini, membuat hati bapa berbalik kepada anaknya dan hati anak kepada bapanya. Saya mengajak Saudara untuk merenung, orang yang tidak percaya dan orang Kristen yang hidupnya tidak karuan, itu pasti diakibatkan oleh yang nomor 3 tadi. Karena itu saya tahu bahwa ini begitu penting di mana Tuhan meminta gereja-Nya membuat hati bapa berbalik kepada anaknya dan anak kepada bapanya. Apa yang dimaksudkan dengan hati bapa berbalik kepada anak dan hati anak berbalik kepada bapanya?
Di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak ayat yang mengatakan bahwa orang tua bertanggung-jawab mendidik anak-anaknya supaya mereka hidup berkenan kepada Allah. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?
1. Orang tua harus mengajar, menegur anak-anaknya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
2. Orang tua harus menjadi teladan melakukan hal yang sesuai dengan iman yang Alkitabiah.
3. Orang tua harus memprioritaskan untuk keselamatan kekal anak-anaknya dibanding pekerjaan, profesi bahkan pelayanan di gereja atau kedudukan sosial.
Tadi disebutkan, mengapa hati bapa harus berbalik kepada anak-anaknya? Sebab mereka tidak melakukan hal itu, makanya disebutkan “berbalik”. Jika Saudara membaca Ulangan 6:6-7 maka di situ dikatakan begini, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Lebih kurang 1000 tahun kemudian, Tuhan berbicara lagi melalui Maleakhi 4:5-6, yang merupakan ayat terakhir dari Perjanjian Lama yang berbunyi, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”

Tuhan berkata bahwa nanti menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu, yaitu hari kedatangan Tuhan Yesus yang pertama maupun yang kedua, “Aku akan mengirimkan Elia!”. Ternyata Yohanes Pembaptis ini berjalan dalam roh dan kuasa Elia. Dia dipenuhi dengan Roh Kudus sejak dalam kandungan ibu-nya dan tugas ini diberikan kepada gereja. Untuk dapat menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya maka:
1. Gereja harus dipenuhi Roh Kudus
2. Gereja harus berjalan dalam roh dan kuasa Elia, artinya tegas dan tidak ada kompromi terhadap dosa, daya tarik dunia dan sifat kedagingan.
Setelah gereja melakukan seperti ini, barulah mereka menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya. Tanpa ini, lupakan! Namun saya percaya, jemaat di tempat ini mau dan sudah dipenuhi dengan Roh Kudus. Kita mau berjalan dalam roh dan kuasa Elia, yaitu tegas dan tidak ada kompromi! Itu akan membuat hati bapa berbalik kepada anak dan anak kepada bapa dan Tuhan katakan, “Supaya Aku tidak menghancurkan bumi!”. Mengapa Tuhan berbicara setelah 1000 tahun kemudian? Sebab ternyata dalam Perjanjian Lama, bapa-bapa atau orang tua itu gagal melakukan perintah Tuhan seperti Ulangan 6:6-7 tadi. Namun Tuhan memberikan kesempatan, “Hati-hati kamu ya, pokoknya kalau kamu tidak melakukan, Aku akan benar-benar hancurkan!”.
Setelah Maleakhi, 463 tahun kemudian, akhirnya Yohanes Pembaptis datang. Dia dipenuhi Roh Kudus serta berjalan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa berbalik kepada anak dan hati anak kepada bapanya. Setelah itu kira-kira 30 – 35 tahun kemudian di dalam surat-suratnya Rasul Paulus memberitahu lagi dan berbicara dalam 2 Timotius 3:1-9, perikopnya adalah: Keadaan Manusia Pada Akhir Zaman. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”

Beberapa waktu yang lalu saya sering membicarakan tentang Generasi Millenial. Generasi Millenial ini dalam tulisan-tulisan dianggap generasi yang paling bermasalah bukan hanya Generasi Millenial saja, sebab di semua generasi juga ada. Kenapa saya fokuskan kepada Generasi Milllenial tadi? Karena Generasi Millenial sampai terjadi ciri-ciri yang seperti itu, nomor 1 disebutkan gara-gara ORANG TUA SALAH ASUH! Jadi kalau sampai Paulus menuliskan ini berarti mereka belum melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Lalu masih menunggu waktu lagi, kemudian Petrus diberikan satu penglihatan atau pengertian tentang apa yang akan terjadi pada dunia ini.
2 Petrus 3:10-14 berkata sebagai berikut, “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”
Saudara, Tuhan sudah berbicara kepada Petrus bahwa dunia akhirnya akan dihancurkan. Dan itu ditutup dengan Tuhan Yesus sendiri yang ada di sorga, Dia datang khusus kepada Rasul Yohanes di Pulau Patmos dalam kitab Wahyu dan Dia berkata (ini dalam bahasa saya), “Sorry…sorry…terpaksa dunia Aku hancurkan! Dunia akan dihancurkan oleh pembukaan meterai, oleh peniupan sangkakala, oleh penuangan cawan murka Allah. Dunia akan hancur!”.

KURANGNYA PERANAN AYAH
Saudara, ini terjadi 2000 tahun yang lalu! Lalu mengapa Tuhan Yesus berkata demikian setelah Dia perlihatkan kepada Paulus, Petrus dan Dia menutup dengan itu? Sebab Dia sudah tahu bahwa manusia tidak akan melakukan itu. Sekarang saya mau mengajak Saudara, apakah benar manusia tidak melakukan itu?
Saya ingat bahwa saya mulai berbicara tentang hati bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya itu pada hari Sabtu, 11 November 2017 di MDPJ (Doa Pengerja). Hari Minggu, 12 November 2017, saya berbicara di JCC, lalu hari Senin, 13 November 2017 saya melihat koran, tiba-tiba ada tulisan dengan judul, “Peran Ayah Semakin Pudar”. Mengapa dituliskan seperti ini? Ternyata tanggal 12 November ketika saya berbicara di JCC itu adalah Hari Ayah Nasional untuk Indonesia. Dan ini memang sebetulnya juga dicanangkan sejak tahun 2006, tetapi gaungnya minim dan banyak yang tidak tahu, mengapa? Sebab menurut sejumlah kalangan penggiat keluarga, disebutkan bahwa Indonesia sebagai salah satu, “Fatherless Country”, yaitu negeri dengan peran ayah yang sangat kurang. Dan saya percaya bukan hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia seperti ini. Apa akibat kurangnya peranan ayah?
1. Depresi
2. Melambatnya perkembangan mental
3. Rendahnya kemampuan belajar, tawuran anak sekolah
4. Konsumsi alkohol, obat terlarang, obesitas, bunuh diri, korban atau pelaku pelecehan seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, perubahan orientasi seksual (LGBT).
5. Tingginya angka putus sekolah
6. Meningkatnya kemiskinan

Perubahan orientasi seksual (LGBT) ini bukan rahasia lagi begitu cepat prosesnya. Dulu mereka hanya minta diakui bahwa mereka itu ada. Jadi meminta pemerintah untuk mengakui hal ini dan beberapa negara telah mengakuinya. Ternyata tidak hanya cukup di situ, tiba-tiba naik menjadi, “Same sex marriage”, atau perkawinan antar sejenis dari gender dan itu juga diresponi positif dari sebagian negara termasuk Jerman. Saya kaget sebab Martin Luther dan Protestan juga berasal dari Jerman. Baru-baru ini Australia menyetujui juga! “Di Swedia ada denominasi gereja besar yang baru-baru ini bersidang dan memutuskan sebuah keputusan yang mengatakan begini, “Selanjutnya kita tidak boleh menyebut Allah dengan ‘He’ atau ‘Lord’, sebab ‘He’ atau ‘Lord’ itu laki-laki.” Sekarang mau disebut apa? Ketika mendengar itu, hati saya panas! Ini bukan cuma kurang ajar, tetapi itu keadaan manusia hari-hari ini. Ini begitu cepat dan ini karena apa? Karena kurangnya peranan ayah!

Ada penelitian tentang resiko kurangnya peranan ayah yang datanya menyebutkan sebagai berikut:
1. Kemiskinan naik 4x lipat
2. Kematian bayi naik 2x lipat
3. Kehamilan di luar nikah saat remaja naik 7x lipat
4. Menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual naik 7x lipat
5. Obesitas naik 2x lipat
6. Angka putus sekolah naik 9x lipat
7. Konsumsi alkohol dan obat terlarang naik 10x lipat
8. Bunuh diri naik 2x lipat
9. Perilaku agresif dan kekerasan naik 11x lipat
10. Dipenjara karena berbuat kriminal naik 20x lipat
Itulah keadaan manusia hari-hari ini! Kalau Saudara melihat data ini, jangan dipisahkan misalnya kemiskinan sendiri, kematian bayi sendiri, sebab itu saling mengkait seperti domino yang kait-mengkait. Saya mau katakan kepada Saudara, dari data ini; kemerosotan moral kota Sodom dan Gomora itu bukan apa-apa! Saya ingin bertanya kepada Saudara, “Saudara kalau melihat begini, pesimis atau optimis melihat hati bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya?” Apa kira-kira ada orang yang bisa melakukan itu? ADA! Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil! Siapakah mereka yang bisa melakukan itu? Saudara semua! Dan saya mau beritahu kepada Saudara, kita yang hidup di akhir zaman ini, kita yang sungguh-sungguh mengikuti Firman Tuhan, kita tidak bakalan melihat bumi dihancurkan, mengapa? Karena kita diangkat! Kita diangkat! Kita diangkat! Amin.
Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, 3 Desember 2017

“SEBAB BAGI ALLAH TIDAK ADA YANG MUSTAHIL!”

“SEBAB BAGI ALLAH TIDAK ADA YANG MUSTAHIL!”

10 Desember 2017

Tidak terasa sekarang sudah bulan Desember dan sebentar lagi kita akan memasuki tahun yang baru, yaitu tahun 2018. Kalau kita diperkenankan oleh Tuhan masuk tahun 2018, semua karena kasih karunia Tuhan.
Bulan Desember kita merayakan Natal, jadi tidak ada salahnya kalau hari ini saya mengucapkan, “Selamat Natal tahun 2017, Tuhan Yesus memberkati Saudara berlimpah-limpah-limpah!”.

Proses kelahiran Tuhan Yesus ke dalam dunia ini merupakan satu mujizat. Pada sebagian orang dikatakan tidak masuk akal, apalagi ketika Tuhan Yesus dikatakan sebagai Anak Allah. Mereka berkata, “Bagaimana Allah bisa punya anak?”
Pada waktu malaikat Gabriel mendatangi Maria, Maria terkejut dan malaikat Gabriel berkata kepada Maria, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Mendengar itu Maria kaget, heran dan tidak mengerti, “Bagaimana itu bisa terjadi, karena aku belum bersuami?”. Malaikat Gabriel berkata lagi, ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”
Mengandunglah Maria karena Allah Roh Kudus dan kuasa Allah Yang Mahatinggi turun ke atasnya. Karena itulah Tuhan Yesus disebut Anak Allah. Tuhan Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia.

Bagi orang yang tidak memiliki Roh Kudus, hal ini merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Tetapi bagi kita yang memiliki Roh Kudus, kita semua tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah, Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia!
Bagaimana mujizat kelahiran Tuhan Yesus bisa terjadi? Jawabnya, karena MARIA PERCAYA! Ketika malaikat Gabriel berkata kepadanya, dia percaya! Meskipun tidak masuk akal, meskipun tidak bisa dimengerti. Maria berkata, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

TAHUN 2017 TAHUN MUJIZAT PENUAIAN

Memasuki tahun 2017, Tuhan memberikan tema, “Tahun Mujizat Penuaian!” Tahun 2017 akan segera berakhir, ada berapa banyak diantara Saudara yang mengalami mujizat penuaian? Pada waktu memasuki tahun 2017, diingatkan bahwa kalau mau mengalami mujizat penuaian, maka harus memperhatikan 4 hal, yaitu:
1. Kita Harus Percaya Bahwa Mujizat Itu Ada
Dalam kesempatan ini saya ingin merenungkan bersama Saudara tentang imam Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis. Zakharia dan Elisabet sejak masa mudanya minta anak, “Tuhan, berikan anak!”. Meskipun Elisabet mandul, mereka terus berdoa minta anak, “Kami minta anak, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!”. Pada masa tuanya malaikat Gabriel juga datang kepada imam Zakharia dan berkata, “Zakharia, doamu yang selama ini minta anak, dikabulkan oleh Tuhan. Isterimu akan mengandung dan engkau akan punya anak, dan haruslah engkau menamai dia, Yohanes.”
Apa jawab Zakharia? “Punya anak? Mana mungkin, saya sudah tua. Isteri saya mandul lagi! Mana mungkin?!” Malaikat berkata kepada imam Zakharia, “Selama ini yang kamu minta itu apa? Begitu dikabulkan, kamu malah tidak percaya! Karena kamu tidak percaya, kamu akan menjadi bisu!”.
Maria percaya mujizat itu ada, karena itu dia berkata, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Saya percaya kita semua di tempat ini tidak mau menjadi bisu, karena itu kita harus percaya mujizat. Amin!

2. Kita Harus Bertindak Meskipun Tidak Masuk Akal / Tidak Mengerti
Gereja ini ada karena saya percaya meskipun saya tidak mengerti, meskipun tidak masuk akal, saya tetap jalan dan berjalan sehingga gereja itu ada sampai dengan hari ini.
Pada saat Allah berbicara melalui malaikat Gabriel kepadanya, Maria percaya dan bertindak meskipun tidak masuk akal, meskipun dia tidak mengerti. Apa yang dia lakukan? Dia memberitahu tunangannya, Yusuf.

3. Ada Harga Yang Harus Dibayar Untuk Terjadinya Mujizat
Maria sudah mengetahui bahwa akan ada 2 reaksi daripada Yusuf. Pertama Yusuf percaya, tetapi yang kedua Yusuf tidak percaya. Kalau sampai Yusuf tidak percaya, ini akan menjadi masalah besar! Sebab pada waktu itu orang yang mengandung tanpa suami bisa dihukum rajam! Ini harga yang harus dibayar oleh Maria, tetapi dia siap membayar harga ini. Apa yang terjadi ketika diberitahu kepada Yusuf? Ternyata Yusuf tidak percaya. Yusuf adalah seorang yang tulus dan baik, dia mau diam-diam menceraikan Maria supaya tidak malu di muka umum. Tetapi ketika dia mempertimbangkan mau menceraikan Maria, pada waktu dia tidur di malam hari, malaikat Tuhan menampakkan diri dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Yusuf menjadi percaya! Begitu dia bangun tidur, dia langsung mengambil Maria sebagai isterinya.

4. Kesombongan Akan Membuat Mujizat Tidak Terjadi
Kelahiran Tuhan Yesus ke dalam dunia ini terjadi karena Maria dan Yusuf percaya, meskipun tidak masuk akal dan tidak mengerti, mereka lakukan itu. Percaya dan terjadilah mujizat!
Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2017, bukan berarti penuaian mujizat segera berakhir, tetapi justru di tahun 2018 Saudara akan mengalami penuaian mujizat lebih lagi, asal Saudara percaya!
Saudara akan mengalami apa yang disebutkan dalam 1 Korintus 2:9, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Kalau Saudara mengasihi Tuhan Yesus, Saudara akan percaya kepada Dia. Percaya apa yang dikatakan-Nya, meskipun tidak masuk akal dan tidak mengerti. Ketika Saudara mendengar itu dan berkata, “Saya percaya, Tuhan!”. Cukup dengan percaya dan bertindak, Saudara akan melihat mujizat terjadi dalam hidup Saudara. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Amin!
Pada waktu Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia ini, Allah sanggup membuat para gembala dan orang-orang Majus datang menyembah Tuhan Yesus, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Gembala itu mewakili orang-orang yang miskin dan yang kurang dalam pendidikan. Tetapi orang Majus mewakili orang-orang yang kaya dan punya pendidikan yang tinggi. Saudara lihat di sini bahwa Tuhan Yesus memanggil semua orang, tidak perduli dia miskin, kurang pendidikan atau kaya dan pendidikan tinggi, Tuhan panggil supaya percaya kepada Dia. Amin!

Bagaimana cara Tuhan memanggil gembala-gembala itu datang menyembah Tuhan Yesus? Dengan cara malaikat datang kepada mereka untuk memberitahu bahwa telah lahir Tuhan Yesus. Mereka harus melihat dan harus datang menyembah Dia. Pada waktu itu mereka melihat puji-pujian, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya.” Bala tentara sorgawi dan malaikat Tuhan menyanyi puji-pujian dan itu yang membuat gembala-gembala datang menyembah Tuhan Yesus. Saudara, berapa banyak saya dengar orang bertobat karena mendengar pujian? Adakah diantara Saudara yang mempunyai pengalaman seperti itu? Cukup banyak saya dengar di luar, begitu mendengar puji-pujian dia bertobat. Lain halnya dengan orang Majus, Tuhan mempunyai cara lain untuk memanggil mereka agar percaya kepada Tuhan Yesus dan menyembah, yaitu dengan cara membaca kitab nabi. Banyak saya dengar juga ketika orang menyelidiki Alkitab yang awalnya tidak percaya, pada waktu mereka menyelidiki justru diungkapkan bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat dan mereka percaya kepada Tuhan Yesus serta menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.
Saya percaya; setiap kita mempunyai pengalaman sendiri-sendiri ketika Tuhan Yesus memanggil kita untuk percaya kepada-Nya. Pengalaman Saudara tidak sama dengan pengalaman saya, tetapi mari pada kesempatan yang indah ini saya ajak Saudara bernostalgia. Mungkin 30 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu atau 1 bulan yang lalu Saudara datang kepada Tuhan Yesus karena Tuhan panggil Saudara dan Saudara menjawab, “Ya…ya…ya…”. Itu pengalaman Saudara 20 – 30 tahun yang lalu, tetapi hari ini Tuhan sedang bertanya kepada Saudara, “Maukah engkau menjadi umat yang layak bagi-Ku untuk menyambut kedatangan-Ku yang kedua?”. Apakah Saudara mau menjawab, “Ya…ya…ya…”. Amin!

Selama 3,5 tahun pelayanan Tuhan Yesus di muka bumi ini, itu diwarnai dengan mujizat-mujizat yang luar biasa yang Dia lakukan, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Ketika Yohanes Pembaptis ada di dalam penjara, dia menyuruh 2 muridnya datang kepada Tuhan Yesus dengan satu pertanyaan, “Apakah Engkau Mesias yang selama ini kami tunggu atau kami harus menunggu orang lain lagi?”. Tuhan Yesus pada waktu ditanya tidak menjawab. Dia sibuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan, Dia hanya berkata begini kepada murid-muridnya, “Apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, sampaikan kepada Yohanes. Orang buta melihat, lumpuh berjalan, tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, orang kusta menjadi tahir dan kepada orang-orang miskin diberitakan kabar baik.” Itu pelayanan Tuhan Yesus dan itu harus menjadi pelayanan kita, gereja-Nya. Tuhan menyertai dengan tanda dan mujizat, jangan kuatir! Begitu Saudara mulai menginjil untuk memenangkan jiwa-jiwa, maka tanda dan mujizat (signs and wonders) itu akan mengikuti Saudara. Dan jangan lupa, Tuhan Yesus memberitakan kabar baik kepada orang-orang miskin. Hati Tuhan Yesus itu ada di orang-orang miskin. Amin!

Tuhan memanggil semua orang, tidak peduli dia miskin, kaya, pandai atau kurang pandai, semua dipanggil! Dan puji Tuhan; di gereja kita semuanya itu ada. Sekali lagi, hati Tuhan Yesus ada pada orang-orang miskin dan hati itu diberikan kepada kita. Saya ingat 11 tahun yang lalu bagaimana Tuhan berkata kepada saya, “Niko, kamu pergi ke kota-kota ke mana Aku tunjuk, kalau kamu tiba di satu kota, kamu kumpulkan gereja-gereja di kota itu. Dan ajak gereja-gereja itu untuk membawa orang-orang miskin, orang sakit, orang yang tidak punya uang untuk ke dokter, orang yang tidak punya pengharapan, sebab Aku akan menyembuhkan mereka.”
Selama 11 tahun ini, saya sudah diperkenankan oleh Tuhan mengakhiri tahun 2017 ini dengan melakukan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan Kesembuhan Ilahi ini sebanyak 291 kali. Dan saya diperkenankan oleh Tuhan untuk melihat orang sakit disembuhkan seketika di lapangan-lapangan, ada yang disembuhkan dalam perjalanan pulang, ada yang di rumah-rumah disembuhkan, ada juga yang melihat siaran TV disembuhkan, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dan Saudara, pada waktu itu masih diteruskan, “Niko, biayanya kamu bawa sendiri.” Kalau Saudara mendengar ini, Saudara harus bertepuk-tangan dengan keras, mengapa? Sebab sebetulnya Tuhan berkata, “Berilah, maka kamu akan diberi!”, jangan dibalik! Jadi kalau disuruh, “Biayanya kamu bawa sendiri…” atau “Ini saatnya memberi…”, wah saya bersukacita, mengapa? Karena kita pasti diberi! Dan diberinya itu tidak sama, bisa 10x lipat, 100x lipat, 1.000x lipat bahkan 1.000.000x lipat! Amin!
Saudara, saya ingat mengapa saya bersukacita kalau disuruh memberi. Karena saya diingatkan dari Matius 10:8 di mana Tuhan Yesus berkata, “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma….” Saudara, sampai dengan hari ini saya pertahankan tentang hal itu. Saya ingat bagaimana waktu memulai pelayanan ini, pada waktu di Tanah Perjanjian Tuhan berkata kepada saya, “Perhatikan 2 hal ini, Niko. Yang pertama, kamu jangan mencuri kemuliaan-Ku. Dan yang kedua, kamu jangan mengambil keuntungan pribadi dari pelayanan ini.” Saya jaga baik-baik pesan Tuhan ini, karena itu pelayanan ini masih ada sampai dengan hari ini dan akan Tuhan teruskan. Melalui pelayanan ini, bukan rahasia lagi, banyak orang-orang yang diselamatkan, banyak orang-orang yang disembuhkan, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil!
Bersambung… .Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, 3 Desember 2017

TUGAS GEREJA DALAM MEMPERSIAPKAN UMAT YANG LAYAK BAGI TUHAN

TUGAS GEREJA DALAM MEMPERSIAPKAN UMAT YANG LAYAK BAGI TUHAN

3 Desember 2017

“dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lukas 1:17

Menjelang akhir zaman ini yang Tuhan mau untuk kita lakukan adalah mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan, dan umat yang seperti apa yang layak bagi Tuhan itu tentunya harus berdasarkan firman Tuhan, bukan berdasarkan pemikiran kita sendiri.
Pesan Tuhan bagi gereja Tuhan tidak terlepas dari keberadaan dunia ini, yaitu ada Iblis yang menyesatkan semua bangsa, jadi penting kita sebagai gereja Tuhan mengetahui cara kerja Tuhan dan senjata/tipu muslihat iblis. Tuhan itu bekerja mengikuti suatu pattern/pola.

Pola cara kerja Tuhan adalah Tuhan itu senang memberi perintah yang mengandung janji. Kalau perintahNya dilakukan maka yang taat akan menerima janji berkat, tetapi kalau perintah tidak dilakukan maka akan mendatangkan hukuman/kutuk. Tujuan hukuman di ijinkan Tuhan adalah agar orang bertobat dan kembali kepada Tuhan dan berjalan lagi dalam ketaatan.
Tuhan memberi perintah kepada Adam dan Hawa agar beranakcucu dan bertambah banyak serta menguasai bumi dan juga perintah yang lain adalah jangan memakan buah dari pohon pengetahuan. Tetapi manusia jatuh dalam dosa dan gagal melakukan perintah Tuhan, karena lebih mengikuti hawa nafsu dan ketidak taatan mendatangkan hukuman. Akibat manusia jatuh dalam dosa maka Adam (laki-laki) harus bekerja dengan berjerih lelah dan Hawa (perempuan) akan melahirkan dengan susah payah. (Kejadian 3:16-17)
Matius 24:13-14, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

Tuhan memberikan perintah agar Injil diberitakan keseluruh dunia maka akan tiba kesudahannya dan janjiNya adalah orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Berarti orang yang tidak bertahan dan tidak memberitakan Injil tidak akan selamat. Untuk dapat bertahan kita harus giat memberitakan Injil sampai garis akhir.
Lukas 1:13-17, “Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”

Tuhan mempersiapkan Yohanes lahir lebih dahulu untuk mempersiapkan jalan dan umat yang layak bagi Tuhan pada waktu pertama Yesus lahir kedunia sebagai manusia. Begitu juga dengan tugas gereja Tuhan sekarang ini adalah mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan untuk kedatanganNya kali yang kedua sebagai raja diatas segala raja.

Yohanes pembaptis adalah seorang yang berjalan dalam roh dan kuasa Elia, dan ia membaptis banyak orang serta membawa banyak pertobatan dalam gereja Tuhan. Dan kalau kita baca di kitab Wahyu tentang gereja Tuhan, ada satu hal yang unik pada jemaat Tiatira, mereka mempunyai iman yang luar biasa tetapi Tuhan mencela mereka karena mereka sudah mengikuti Izebel, dan kalau kita baca di kitab Raja-raja, Izebel ini adalah musuh besarnya Elia.
Tuhan katakan jangan kita berjalan dengan roh Izebel tetapi kita harus berjalan dalam roh dan kuasa Elia yang mengalahkan roh Izebel dan nabi-nabi Baal.
Gereja Tuhan harus tahu kalau dulu Izebel berkuasa di masa pemerintahan raja Ahab sehingga orang Israel menyembah Baal dan ia mau membunuh nabi Elia tetapi justru Izebel yang mati terbunuh.

Tugas Gereja Tuhan adalah:
1. Penginjilan. Membawa orang-oang yang tidak mengenal Tuhan, yang tadinya tidak percaya menjadi bertobat, percaya kepada Tuhan Yesus dan memberi diri dibaptis sehingga mereka mengalami kelahiran baru di dalam roh.
Sebagai gereja Tuhan kita harus percaya dan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah 100% manusia dan 100% Allah, dan hanya Roh Kudus yang ada di dalam kita yang membuat kita mampu mengakui hal ini.
Dalam Yohanes 1, dikatakan bahwa pada mulanya adalah firman dan firman itu bersama-sama dengan Allah dan Yesus adalah firman yang menjadi manusia. Dalam Filipi 2 dikatakan bahwa Yesus mengosongkan diri-Nya dari semua keilahian-Nya, mengambil rupa sebagai manusia dan Ia merendahkan diriNya bahkan taat sampai mati di kayu salib sehingga Ia dikaruniakan nama di atas segala nama sehingga setiap lutut bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Yesus adalah Kristus yang artinya Yesus adalah Tuhan.

Yesus adalah Anak Allah karena Ia penuh dengan Roh Kudus, dan dalam Roma 8:14, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Dan karena Roh Kudus ada di dalam kita maka kita diadopsi menjadi anak-anak Allah. Kita tidak bisa melihat Allah karena Ia adalah Roh dan Yesus adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan. Kolose 1:15, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,”
Kita harus meluangkan waktu kita untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya supaya kita berjalan di dunia ini menjadi saksi-saksi yang hidup, sehingga apabila orang yang tidak mengenal Allah dan bertemu dengan kita dapat mengenal Allah Bapa kita.
Pesan Tuhan untuk kita bulan ini adalah menjadi orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati itu senang menerima tuntunan Tuhan, dan kalau kita rasa sudah tahu/sok tahu maka akibatnya sulit di tuntun karena kecenderungan kita untuk melakukan kemauan sendiri.

2. Pemulihan (Berjalan dalam Roh dan Kuasa Elia).
Roh Elia ini akan membawa hati bapa-bapa kepada anak-anaknya dan hati orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar (Lukas 1:17).
a. Pemulihan Pribadi.
Hidup kita yang tadi penuh dengan kenajisan dan pikiran yang durhaka dikuduskan sehingga memiliki hati yang taat dan pikiran orang-orang yang benar. Tugas ke dua gereja Tuhan adalah membawa Orang-orang yang sudah mengenal Yesus tetapi menjauh dan dibawa kembali kepada Tuhan dan memiliki pikiran orang-orang benar.
Kalau kita tidak tahu apa isi hati dan kehendak Tuhan, maka apa yang ada di dunia ini akan menyeret kita untuk terus terpaku dengan hal-hal duniawi (keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup).
Orang-orang atheis, penyembahan berhala itu semua durhaka karena mereka hidup dalam ketidaktaatan, mereka harus dibawa melalui penginjilan dan kehidupan orang benar agar mereka mengenal Tuhan dan dipulihkan dari pikiran yang durhakan/ketidaktaatan, sehingga memiliki pikiran orang benar, yaitu pikiran Kristus bahwa Yesus adalah Tuhan.

b. Pemulihan Keluarga.
Menurut survey: Dalam sebuah rumah tangga jika seorang Ibu takut akan Tuhan maka anaknya mempunyai kemungkinan 50% sungguh-sungguh kepada Tuhan, tetapi kalau seorang ayah cinta Tuhan maka pengaruhnya lebih besar dan anaknya mempunyai kemungkinan 70% untuk sungguh-sungguh kepada Tuhan. Kalau ayah dan ibu keduanya mengasihi Tuhan dan beribadah kepada Tuhan maka anak-anak mereka 100% akan percaya kepada Tuhan.
Karena itu penting seorang ayah menjadi iman dalam rumah tangga sehingga anak-anak dibawa untuk takut akan Tuhan dan memiliki iman percaya kepada Tuhan, dari sejak masa kecil sudah diajar untuk bertanggungjawab.
Senjata Iblis adalah merusak keluarga tetapi Tuhan katakan apa yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Menikah itu bukan karena perasaan cinta tetapi karena komitmen, karena perasaan cinta itu bisa hilang. Sekali komitmen harus pegang komitmen itu sesuai dengan firman Tuhan.

Keluarga yang berantakan (Dysfunctional family) biasanya berawal dari komunikasi yang kurang baik. Komunikasi yang tidak baik berasal dari hati yang kurang baik/tidak benar dihadapan Tuhan. Pemulihan hati akan memulihkan komunikasi dan komunikasi yang baik akan memulihkan hubungan. Semua ini dimulai dalam keluarga, karena keluarga adalah lingkungan terdekat kita. Kalau dengan orang-orang terdekat tidak ada komunikasi yang baik untuk menjalin hubungan yang baik kemungkinan besar hubungan di pekerjaan, sekolah dll. Juga kurang baik.

Suami isteri harus memiliki iman kepada Tuhan dan dalam hubungan suami isteri harus bisa memperbaiki cara berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Pemulihan yang Tuhan inginkan adalah hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapa dan pemulihan hubungan suami isteri. Apabila hati suami isteri sepakat maka anak-anak akan ikut juga. Kalau kita mau berjalan bersama Tuhan, kuncinya adalah sepakat denganNya, suami/istri yang sepakat dengan Tuhan akan sepakat dalam rumah tangga. Tuhan telah menetapkan peranan suami dan peran istri dalam keluarga, kalau kita taat maka rumah tangga kita akan berhasil.
Sebagai gereja Tuhan kita juga harus sepakat dan unity dengan pemimpin dan memiliki visi misi arah tujuan yang sama, serta menjalankannya bersama-sama dengan sukacita, maka disitulah Tuhan akan perintahkan berkat-berkat-Nya. Amin.
Ringkasan kotbah By Ps. Juliana L. 19 November 2017.

NASEHAT BAGI ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK DALAM KEBENARAN

NASEHAT BAGI ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK DALAM KEBENARAN

26 November 2017

Tuhan berkali-kali di sepanjang masa melalui hamba-hamba-Nya memperingati agar orang tua mendidik dan mengajar anak-anak mereka di dalam kebenaran. Ini penting! Sebab kadang-kadang ada orang kristen yang berkata, “Apa itu… Allah di Perjanjian Lama itu Allah yang kejam.” Berarti ia tidak mengerti saat membaca Alkitab. Saudara bisa lihat bahwa sebelum Tuhan menjatuhkan hukuman, biasanya melalui hamba-hamba-Nya/nabi-nabi-Nya, Ia memberikan peringatan berulang kali! Allah bukan Allah yang kejam, tetapi Allah yang mengasihi kita. Amin!
1. Ulangan 6:6-7, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Di ayat ini perintah Tuhan bagi orang tua untuk mengajarkan Firman Allah kepada anak-anaknya berulang-ulang. Membicarakan waktu duduk di rumah, dalam perjalanan, waktu berbaring atau bangun. Berarti ini sesuatu yang penting sekali!
2. Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
3. Tetapi kemudian kalau kita lihat, hampir 1000 tahun dari Ulangan 6:6-7 tadi sampai Maleakhi 4:5-6 yang merupakan ayat terakhir dari Perjanjian Lama, “Sesungguhnya Aku akan mengutus Nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”
Ini adalah peringatan mengenai hari Tuhan, yaitu kedatangan Tuhan Yesus yang pertama maupun yang kedua. Di sini dijelaskan bahwa nanti sebelum kedatangan Tuhan Yesus yang pertama dan kedua, Tuhan akan mengutus Nabi Elia. Pada kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, Tuhan mengutus Yohanes Pembaptis. Tetapi yang kedua, Tuhan mengutus GEREJA-NYA, yaitu Saudara dan saya untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan anak-anak kepada bapanya, dan kalau ini tidak dilakukan, “Aku akan memukul bumi sehingga musnah!”. Mengapa Tuhan berkata begini? Sebab ternyata dalam kurun waktu 1.000 tahun ini orang tua gagal melakukan kehendak Tuhan itu.

4. Setelah peringatan tersebut kira-kira 460 tahun kemudian pada Lukas 1:16-18 dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis diutus dalam roh dan kuasa Elia.
5. Matius 28:19-20, Tuhan Yesus berkata, “…dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu…”
6. Efesus 6:4, Kolose 3:20-21, 1 Tim 3:4-5. Ini adalah peringatan-peringatan yang terus Tuhan berikan kepada Rasul Paulus tentang hal itu.

7. Lalu sampailah kepada 2 Tim 3:1-9. Kita akan membaca 2 Tim 3:1-5, Jika Saudara perhatikan, ini adalah tentang keadaan manusia pada akhir zaman. Jadi ternyata Tuhan mulai mengungkapkan keadaan manusia pada akhir zaman itu seperti ini: “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”
Kalau kita lihat tentang keadaan manusia pada akhir zaman seperti ini, beberapa waktu yang lalu saya pernah berbicara mengenai Generasi Millenial, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1980 – 2000. Menurut survey, Generasi Millenial ini adalah generasi yang paling bermasalah. Tetapi 1 hal yang ingin saya katakan dimana banyak Generasi Millenial di tempat ini, “Tuhan Yesus sangat mengasihi Saudara”. Apa yang mereka tuliskan dari hasil penyelidikan tentang Generasi Millenial ini dan kenapa mereka disebut sebagai generasi yang bermasalah? Disebutkan bahwa generasi ini sulit diatur dan memiliki reputasi sebagai orang-orang yang merasa dirinya itu berhak mendapat perlakuan khusus, mementingkan dirinya sendiri, tidak fokus, malas, dan seterusnya. Jadi kalau kita lihat, ini memang keadaan manusia di akhir zaman ini. Tetapi sebetulnya bukan hanya di Generasi Millenial saja, di semua generasi ada yang seperti ini. Namun kebetulan Generasi Millenial ini yang disorot sehingga hanya Generasi Millenial saja yang disebutkan. Sekali lagi, Tuhan sangat mengasihi Generasi Millenial.
Menurut penelitian apa yang menyebabkan Generasi Millenial ini mempunyai sifat-sifat yang seperti itu? Alasan pertama yang ditulis di sana adalah ORANG TUA SALAH ASUH! Jadi saya percaya keadaan manusia di akhir zaman seperti ini, karena orang tua salah asuh!

8. Setelah itu Alkitab membukakan lagi, karena keadaan manusia di akhir zaman seperti itu. Kemudian Tuhan ungkapkan kepada Petrus dalam 2 Petrus 3:10-14, “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.” Dari ayat ini ternyata Tuhan berbicara kepada Petrus bahwa bumi ini akan dihancurkan. Jadi apa yang Tuhan katakan di Maleakhi bahwa apabila hati bapa tidak berbalik kepada anaknya dan hati anak tidak berbalik kepada bapanya, maka Tuhan akan memukul bumi sehingga musnah.
9. Dan puncaknya 60 tahun setelah itu, Tuhan Yesus yang ada di Sorga turun menemui Rasul Yohanes, murid yang paling dikasihi-Nya di Pulau Patmos. Dia berkata (ini dalam bahasa saya), “kalau manusia tidak bertobat…terpaksa bumi Aku hancurkan! Ini suatu peringatan bumi akan hancur oleh pembukaan meterai, oleh peniupan sangkakala, oleh penuangan cawan murka Allah. Bumi akan hancur!”.
Ternyata bumi dihancurkan, kenapa? Penyebabnya adalah karena tidak ada pertobatan hati bapa tidak berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak tidak berbalik kepada bapa-bapanya.
Kalau kita tidak melakukan perintah Tuhan ini, hati bapa tidak berbalik kepada anak dan anak tidak berbalik kepada bapa, maka orang yang seperti ini akan melihat bumi dihancurkan. Tetapi sebaliknya, orang yang mengikuti firman Tuhan, di mana hatinya berbalik kepada anak-anaknya dan anak-anaknya berbalik kepada bapanya (orang tua-nya), yaitu Saudara dan saya tidak akan melihat bumi dihancurkan. Mengapa? Karena kita semua sudah diangkat!

Ketika saya membaca apa yang Tuhan berikan ini, hati saya bergetar. Tugas gereja untuk menekankan hal ini:
1. Orang yang tidak percaya harus menjadi percaya
2. Orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh harus jadi sungguh-sungguh. Tetapi sebetulnya ada yang nomor 3, yang setara dengan kedua, yaitu:
3. Hati bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya.
Saya akan mengajak Saudara untuk berpikir, apa yang menyebabkan mereka menjadi orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus? Apa yang menyebabkan orang Kristen hidup tidak karu-karuan? Semua itu karena yang nomor 3 tidak dilakukan! Jadi sebetulnya intinya adalah yang nomor 3, hati bapa berbalik kepada anak-anaknya dan anak-anak kepada bapa-bapanya. Saya percaya, kita semua yang ada di tempat ini adalah termasuk orang-orang yang melakukan perintah Tuhan. Kita tidak akan melihat bumi dihancurkan karena kita sudah diangkat!
Ada sebuah data yang mengatakan begini:
1. Kalau ibunya sungguh-sungguh, tetapi bapaknya kurang sungguh-sungguh, maka anaknya yang sungguh-sungguh itu sekitar 50%
2. Kalau bapaknya sungguh-sungguh, tetapi ibunya kurang sungguh-sungguh, maka anaknya yang sungguh-sungguh itu sekitar 70%
3. Kalau bapak dan ibunya sungguh-sungguh, maka anak-nya yang sungguh-sungguh itu 100%

Dan itulah yang terjadi pada kami bertiga, adik saya pak Bernard dan ibu Kristin termasuk sekarang anak dan cucu saya, semua melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Apa yang orang tua saya lakukan terhadap saya?
Saya sebetulnya mempunyai kakak, tetapi meninggal pada waktu umur 11/2 tahun. Lalu ibu saya mengandung saya dan dia sangat sayang kandungannya supaya jangan seperti kakaknya. Mendekati kelahiran, dia datang ke sebuah KKR, ada orang bule sebagai pembicaranya. Kemudian tiba-tiba dia mendengar ada altar call dan dia maju sambil memegang perutnya seraya berkata, “Tuhan, anak ini saya serahkan kepada-Mu untuk menjadi hamba Tuhan. Dan biarlah dia menjadi hamba Tuhan yang besar.” Tetapi tiba-tiba sambil tetap berjalan dia berkata lagi, “Oh maaf Tuhan, bukan hamba Tuhan yang besar, hamba Tuhan yang berkenan kepada-Mu”. Sampailah dia ke depan dan semua ditumpangi tangan oleh pendeta itu, tetapi ketika dia menumpangkan tangan atas ibu saya, tiba-tiba hamba Tuhan itu bernubuat, “Anak yang ada di dalam kandunganmu, akan menjadi hamba Tuhan yang besar.”

Setelah itu, rupanya Tuhan menyuruh ibu saya menyiapkan saya. Ibu saya adalah orang pertama yang sungguh-sungguh. Pada waktu itu saya ingat bahwa yang dipersiapkan menjadi Pendeta itu bukan saya, tetapi Pak Bernard karena saya nakal dan sebagainya. Mungkin ibu saya berpikir, “Wah, dia tidak cocok menjadi hamba Tuhan.” dan dia lupa akan nubuatan itu.
Tetapi ini yang terjadi, perjalanan saya dalam proses keselamatan ini, pada waktu saya sudah lahir baru, yaitu dari justification dan sekarang masuk proses yang kedua, yaitu sanctification (proses pengudusan), di sini masalah. Akibat teman-teman dan bermacam-macam lainnya, itu tidak mulus jalannya. Orang tua saya sudah kewalahan untuk memberitahu saya karena saya menginjak dewasa. Saya tahu mereka pasti berdoa dan berdoa melihat saya, tetapi satu hal yang saya ingat, meskipun saya lihat ada teman-teman saya yang ‘berengsek’ dan macam-macam lainnya, saya tidak menjadi berengsek seperti mereka. Saya mau melakukan seperti mereka pun tidak bisa, kenapa? Karena saya ada ketakutan untuk melakukannya dan Tuhan tetap pegang saya. Dengar apa yang saya mau katakan, kalau Saudara sudah lahir baru, Tuhan tidak gampang-gampang melepas Saudara. Jadi kalau ada orang yang sudah lahir baru, dia sampai murtad, itu namanya kebangetan!
Sampai kepada akhirnya ketika sudah waktu-Nya Tuhan panggil saya yang mana saya selalu menolak ketika dipanggil untuk melayani, akhirnya saya mengalami peristiwa seperti yang sering saya saksikan kepada Saudara, yaitu peristiwa “Ludes…des!”. ‘The first des’, habis semua dan ‘the second des’ ditambahi hutang. Bayangkan, kalau orang miskin itu kan artinya habis semua, tetapi ini minus! Di situ Tuhan hanya berkata, “Ikut Aku!” dan saya ikut sampai dengan hari ini.
Saudara yang dikasihi Tuhan, kini kami tiga bersaudara semua sungguh-sungguh melayani Tuhan dan terus sampai kepada anak-cucu. Dan terus saya berjanji, sampai Tuhan Yesus datang saya akan tetap setiap kepada Dia.

Mari kita akhiri dengan membaca 2 bagian yang mana bagian pertama biar dibaca oleh para orang tua atau yang mempunyai anak. Dan bagian yang kedua dibaca oleh anak. Kalau Saudara masih mempunyai orang tua dan telah mempunyai anak, nanti boleh membaca keduanya.
“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yohanes 1:4)
“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar, bahwa aku hidup dalam kebenaran.”
Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo. JCC – 12 November 2017