Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 19)
HIDUP  SEBAGAI  CIPTAAN  YANG  BARU

HIDUP SEBAGAI CIPTAAN YANG BARU

1 Yohanes 2:6 mengatakan bahwa “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Sebagai ciptaan baru, kita selalu diperbarui dalam roh dan pikiran agar mengalami hidup yang berkelimpahan (Zoe Life, Yohanes 10:10). Yesus datang ke dunia dalam rupa manusia untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan dan memberikan teladan bagaimana seharusnya kita hidup sebagai manusia baru yang dikehendaki Allah.

Tuhan Yesus menjadi teladan bagi kita untuk hidup sebagai ciptaan baru :

A. DALAM HUBUNGAN

1. Allah Bapa adalah pusat dari kehidupan Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus sangat mengasihi dan menghormati BapaNya. Setiap hari, Ia menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa secara pribadi (Markus 1:35) dan mencari kehendakNya. Bagaimana dengan kita? Doa adalah nafas hidup orang percaya, jika kita tidak punya kehidupan doa pujian penyembahan, maka keadaan rohani kita akan kering, iman jadi lemah, mudah dikuasai ketakutan, hawa nafsu kedagingan dan jatuh dalam pencobaan.
Oleh sebab itu, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41)

2. Mengasihi orang lain.

Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengasihi seperti Ia telah mengasihi kita.“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 15:12). Bukan hanya saudara seiman saja, tapi juga mengasihi musuh /orang yang menganiaya kita karena mereka juga perlu diselamatkan.

“Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:32-35).

Orang yang mempunyai kehidupan doa, pujian dan penyembahan akan mampu mengampuni (tidak menyimpan kepahitan, amarah, jengkel, kebencian) dan mengasihi (mengusahakan kebaikan orang yang dikasihi sekalipun belum tentu menyukai tingkah laku perbuatan orang tersebut).

3. Mengampuni.

Yesus memberi teladan bagi kita dalam hal pengampunan. Dia sendiri mengampuni orang-orang yang telah menyiksa dan menyalibkan Dia (Lukas 23:34). Jika kita bersalah dan mengakui dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9). Jika kita bersalah terhadap orang lain, bereskan hati dan bertobat di hadapan Tuhan, kemudian minta maaf kepada orang tersebut. Jika orang lain bersalah kepada kita, kita harus mengampuni orang tersebut agar Bapa juga mengampuni kesalahan kita (Matius 6:14-15).

B. DALAM KARAKTER

1. Bermurah hati.

Menurut KBBI, murah hati (generous) artinya suka/mudah memberi; tidak pelit; penyayang dan pengasih; suka menolong; baik hati; kebaikan hati; sifat kasih dan sayang; kedermawanan.
Murah hati juga mencakup hal memberi secara finansial, menunjukkan kasih/kepedulian, memberikan waktu, pertolongan, dsb.

Ditinjau dari sudut iman Kristen, ada 2 area tentang kemurahan hati :
a. Memberi pengampunan atas kesalahan orang lain (similar with merciful, forgiving, gracious). “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Matius 5:7). “Blessed are the merciful, for they shall obtain mercy.” (Matthew 5:7 NKJV).
b. Dari perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:25-37, dapat kita lihat ciri orang yang bermurah hati :
– Memiliki empati : mampu melihat penderitaan orang lain dari sudut orang itu sehingga bisa ikut merasakan penderitaannya.
– Menunjukkan belas kasihan (compassion) : tak berdiam diri saat melihat orang yang membutuhkan, tapi ada belas kasihan yang disertai tindakan untuk menolong dan memberikan support yang dibutuhkan.

2. Lemah lembut, taat, bisa menerima koreksi dan masukan.

Lemah lembut itu bukan suatu kelemahan tapi justru suatu kekuatan karakter/buah Roh yang dihasilkan bersama dengan Roh Kudus. Lemah lembut adalah sikap hati yang baik, mudah dibentuk, bersikap tenang, tidak kasar, tidak pemarah atau lekas gusar. Karakter lemah lembut bisa menerima koreksi dan masukan, mudah diajar, berusaha untuk taat serta tidak mengeraskan hati. Karakter lemah lembut tidak merasa harus menuntut haknya, tidak membalas dan mudah hancur hati (bertobat). Lemah lembut biasanya mudah untuk merendahkan hati sehingga jiwanya dipenuhi damai sejahtera, sukacita dan ketenangan meski dalam keadaan yang tidak menyenangkan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:28-29)

3. Rendah hati, tidak sombong.

Rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah diri sesungguhnya merupakan kesombongan (mirip dengan sifat mengasihani diri sendiri). Rendah hati adalah sikap hati yang tidak memikirkan diri sendiri. Sikap rendah hati berani mengakui kesalahan, kelemahan dan keterbatasan diri sehingga merasa sangat memerlukan Tuhan dan orang lain dalam hidupnya.

Sikap yang rendah hati tidak merasa paling mampu, paling dipakai/diurapi Tuhan, paling baik, paling tahu sehingga memandang rendah dan menghakimi orang lain. Sikap rendah hati mampu mengakui kelebihan orang lain.

Banyak orang mampu melakukan hal-hal yang baik dan menjadi berkat tetapi lalai untuk menjaga hatinya agar tetap memiliki motivasi yang tulus dan rendah hati. Keadaan hati kita yang sebenarnya hanya dapat disingkapkan oleh Roh Kudus.“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2)

C. DALAM PELAYANAN DAN TUJUAN/PANGGILAN HIDUP

1. Melayani, bukan dilayani.

Tuhan Yesus memberi teladan dalam Matius 20:26-28
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Ia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Yang terbesar (maksudnya orang yang banyak diberi atau dipercayakan) adalah orang yang harus melayani, bukan dilayani seperti bos. Dalam melayani, kita harus menganggap orang lain lebih utama dari kita (Filipi 2:3). Sikap ini menghindarkan kita dari ambisi, egois, kesombongan, pertikaian dan sikap membenarkan diri sendiri.

2. Melayani dalam pimpinan dan kuasa Roh Kudus.

Tuhan Yesus melakukan pelayananNya dengan urapan Roh Allah (Lukas 4:18-19) sehingga memberi dampak yang luar biasa bagi orang-orang yang dilayani. Dalam melayani, Yesus bukan melakukan kehendakNya sendiri melainkan kehendak Bapa.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19)

Demikian pula kita, jangan mengandalkan kekuatan dan pengertian sendiri tetapi minta Roh Kudus yang memimpin, memberi hikmat dan mengurapi kita. Hidup yang dipenuhi firman dan Roh Kudus akan menghasilkan doa, perkataan dan pelayanan yang penuh kuasa serta berdampak terhadap orang-orang yang kita layani. Keadaan rohani yang kering (tidak menjaga keintiman dengan Roh Kudus, tidak jaga hati, hidup dalam dosa dan kepahitan) akan menghasilkan pelayanan yang sekedar berkegiatan karena tidak ada urapan.

3. Tujuan/panggilan hidupNya.

“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” (Yohanes 17:4)

Walaupun harus menghadapi tantangan, penderitaan, penolakan, bantahan dari pihak orang-orang berdosa bahkan mengalami maut, tapi hatiNya tetap teguh untuk hidup dalam poros kehendak Bapa yang sempurna. Sebuah harga yang mahal untuk hidup dalam panggilan Allah sudah Ia contohkan. Kita hanya mampu menggenapkan panggilan Allah jika Roh Kudus yang menguasai seluruh hidup kita. Minta kepada Roh Kudus untuk menuntun, mengarahkan dan memampukan kita berjalan dalam panggilan Allah.

Tuhan Yesus memiliki banyak tujuan datang ke dunia, antara lain : menggenapi Hukum Taurat dan nubuatan para nabi, menyiarkan kabar baik kepada orang miskin, menyatakan kasih Bapa, menebus dosa, menyelamatkan manusia, memberi hidup kekal, menanggung kutuk, menghancurkan iblis dan pekerjaannya, dan lain sebagainya.
Namun, tujuan yang paling utama adalah memulihkan hubungan dan karakter manusia untuk dapat hidup sebagai ciptaan baru yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Inilah transformasi hidup yang dikehendaki Allah, di mana Yesus Kristus telah menjadi teladan yang sempurna bagi kita semua.

image source: https://www.bibleverseimages.com/love-bible-verse-8.htm

MENGAPA KITA BUTUH JURUSELAMAT?

MENGAPA KITA BUTUH JURUSELAMAT?

Pertanyaan “Mengapa kita butuh Juruselamat?” adalah pertanyaan yang masih sering muncul di tengah-tengah zaman ini dengan segala kemajuan teknologi yang ada di berbagai bidang. Di saat mana teknologi dunia sudah mulai merambah ke konsep metaverse, pertanyaan yang pada abad-abad sebelumnya memiliki jawaban yang absolut, namun saat ini, jawaban atas pertanyaan ini mungkin menjadi sesuatu yang relatif.
Kekristenan, sebagai suatu ajaran yang mengemukakan konsep ini, tentu tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan kritis seperti demikian. Masih relevankah ajaran Kristen, dalam hal ini Firman Tuhan, berbicara tentang perlunya seorang Juruselamat? Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar bahwa, jika seseorang membutuhkan Juruselamat, artinya ia adalah seorang yang lemah atau ter belenggu. Alkitab berkata bahwa memang manusia itu lemah seperti tertulis dalam Roma 3:23
“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
Dosa telah menurunkan nilai segala yang baik yang diciptakan oleh Allah pada mulanya. Di bulan April ini di mana kita merayakan hari raya Paskah, mari kita melihat sekali lagi mengapa Tuhan Yesus harus menjadi Juruselamat melalui kematian dan kebangkitan-Nya untuk menyelamatkan kita semua?
Sebelum kita melihat lebih jauh jawaban atas pertanyaan di atas, kita perlu mengingat bahwa: “Upah dosa ialah maut” Roma 6:23
Nahum 1:3a juga mencatat: “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah”, karena keadilanNya.
Allah menghukum manusia yang berdosa dengan ganjaran maut, bukan karena Ia tidak mengasihi dan tidak mau mengampuni manusia. Allah itu Maha Kasih di satu sisi, namun di sisi yang lain, Ia juga Maha Adil. Keadilan-Nya muncul dari kekudusan-Nya. Adil adalah salah satu atribut Allah. Yeremia 23:6 mencatat salah satu nama Allah yaitu: “TUHAN keadilan kita” (dari bahasa Ibrani ‘tsedeq’ yang artinya adil, benar).
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan keadilan sebagai “sifat yang tidak berat sebelah, berpihak kepada yang benar, sesuatu yang sepatutnya”.
Westminster Dictionary of Theology menjelaskan bahwa konsep keadilan berhubungan erat dengan kasih sayang. Lebih lanjut dikatakan bahwa konsep keadilan dibedakan menjadi dua; yang pertama adalah seseorang menerima keadilan karena ia telah melakukan hal yang salah, dan dengan demikian, ia menerima apa yang menjadi haknya karena perbuatannya, yang kedua adalah konsep pemberian keadilan kepada seseorang ketika apa yang diberikan tidak datang sebagai akibat dari orang tersebut telah melakukan suatu perbuatan yang salah.
Berdasarkan atribut Allah ini, ada beberapa alasan mengapa manusia tetap memerlukan Juruselamat yang menyelamatkan dari hukuman Allah, yaitu:
1. Keadilan Allah Harus Dipenuhi
Di dalam pemahaman dunia terkait keselamatan, khususnya dalam agama-agama suku, pada umumnya manusia mempersembahkan sesajen kepada para dewa untuk menyurutkan amarah sang dewa, sehingga hukuman atas manusia tersebut dapat dielakkan.
Di dalam kekristenan, kita percaya bahwa Yesus, sebagai Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia-lah yang menjadi persembahan untuk menyurutkan amarah Bapa bahkan menghapuskan semua hukuman akibat dosa yang dilakukan manusia.
2 Korintus 5:21 mencatat: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”
Hukuman maut yang tadinya diperuntukkan kepada manusia yang berdosa, menjadi diperuntukkan kepada Yesus karena Ia telah menjadi dosa. Di dalam Alkitab Perjanjian Baru terjemahan bahasa Ibrani, kata ‘Tetelestai’ dalam Injil Yohanes 19:30 yang berarti “Sudah selesai” diterjemahkan dengan kata “Nish’lam”, yang erat hubungannya dengan kata ‘Shalom’. Jadi, secara harafiah, kata “Nish’lam” berarti “(sudah) diperdamaikan”. Dari hal ini, dapat kita mengerti bahwa kematian Yesus di atas kayu salib telah mendamaikan manusia dengan Allah karena keinginan-Nya akan keadilan telah dipenuhi.
2. Manusia Berhutang Kekudusan kepada Allah
Anselmus, seorang bapa gereja di abad ke-12, di dalam bukunya Cur Deus Homo (Mengapa Allah menjadi manusia) menuliskan bahwa jika ada orang yang bertanya seperti itu, artinya ia tidak mengerti dengan jelas arti kedalaman kejatuhan manusia di dalam dosa, dan dia tidak mengerti apa artinya ‘kudus’ menurut kekudusan Tuhan.
Friberg Analytical Greek Lexicon mendefinisikan kata ‘kudus’ (Yunani: hagios) dengan arti “sesuatu yang dipisahkan untuk tujuan Tuhan”. Konsep ‘dipisahkan’ untuk kata ‘kudus’ memiliki pengertian yang sama seperti di dalam Kejadian 1:4 di mana Allah memisahkan terang dari gelap. Artinya, benar-benar terpisah.
Manusia yang pada awalnya diciptakan Allah dalam keadaan mulia, kudus, baik menjadi kehilangan segalanya saat manusia jatuh ke dalam dosa, sehingga manusia pun ‘berhutang’ kekudusan kepada Allah. Dengan standar manusia, meskipun manusia terus berbuat baik, mereka tetap tidak dapat mengganti hutang kekudusan ini.
Yesaya 64:6 mencatat bahwa bahkan setiap kesalehan manusia itu seperti kain kotor di mata Allah. Hanya Anak Allah yang kudus yang berinkarnasi menjadi manusia sajalah yang dapat membayarkan hutang kekudusan ini kepada Allah.
Apa yang Yesus lakukan di kayu salib sesungguhnya adalah penggenapan yang sempurna dari rencana keselamatan Allah bagi manusia. Dari peristiwa di Taman Eden, di mana Allah mengenakan pakaian dari kulit binatang kepada Adam dan Hawa (di mana darah binatang harus tercurah sebagai lambang penghapusan dosa Adam dan Hawa) sebagai protoevangelium (kabar baik tentang penebusan yang pertama) (Kejadian 3:21) hingga hukum tentang korban penghapusan dosa dari Hukum Taurat (Imamat 4:1-35), di mana semuanya adalah cara Allah untuk membawa manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk kembali kepada-Nya.
Namun, persembahan darah binatang, tidaklah cukup untuk secara permanen menebus dosa-dosa manusia. Oleh sebab itu, kembali Allah berinisiatif untuk menyelamatkan manusia melalui peristiwa inkarnasi Anak Allah, karena hanya lewat pengorbanan Anak Allah yang kudus dan tidak bercacat ini sajalah, penebusan dosa manusia terjadi secara sempurna. Cara pengorbanan yang ditempuh adalah cara yang paling keji, yaitu lewat salib. Inilah kulminasi pertemuan antara keadilan dan kasih Allah. Inilah yang kita rayakan melalui Hari Paskah.
Di momen Paskah ini, kita dibawa untuk mengingat dan merenungkan kembali apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan bagi kehidupan kita. Di mana tanpa pengorbanan Tuhan Yesus, tidak ada ada satu orang pun yang bisa luput dari hukuman karena keadilan Allah yang lahir dari kekudusan-Nya itu.
Oleh sebab itu, hendaknya kita selalu menghormati pengorbanan Tuhan Yesus dengan cara “tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.” (Filipi 2:12)
Kita bersyukur karena Tuhan Yesus bukan saja telah mati, tetapi terlebih, Ia juga telah bangkit, karena jika Ia tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita kepada-Nya (I Korintus 15:17), sehingga “sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” (Ibrani 5:9)
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan, bahwa meskipun manusia saat ini berada di zaman yang sangat maju di dalam segala bidang, manusia tetap membutuhkan Juruselamat yang sanggup menyelamatkan dari hukuman akibat dosa. Dan Juruselamat itu ialah Yesus Kristus, yang telah mati, bangkit, naik ke sorga mulia, dan akan kembali ke dunia menjemput kita dalam kemuliaan-Nya untuk membawa kita hidup dan memerintah selama-lamanya bersama dengan Dia. Selamat merayakan Hari Raya Paskah! Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://ijenara.tumblr.com/post/638209337242910720/romans-623-nkjv-for-the-wages-of-sin-is

MENGALAMI TRANSFORMASI HIDUP MELALUI  PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS

MENGALAMI TRANSFORMASI HIDUP MELALUI PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS

MENGALAMI TRANSFORMASI HIDUP
MELALUI PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS

Kristus telah mati untuk kita, sehingga kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan dibangkitkan bagi kita. Allah memanggil kita untuk hidup dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan orang percaya. Tujuan kita diselamatkan bukan supaya masuk surga saja, tetapi supaya menjadi serupa dengan gambar Kristus dalam seluruh aspek hidup kita. “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yohanes 2:6).

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17), kita memiliki benih ilahi. Benih tersebut harus berakar, bertumbuh agar berbuah bagi Allah. Setelah dipanggil keluar dari kegelapan dunia, kita tertanam dalam penggembalaan gereja lokal (BIC), kemudian dijadikan murid Kristus, selanjutnya kembali diutus ke dunia untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus (Matius 28:19-20).

Menjadi murid Kristus bukanlah sesuatu yang instant, melainkan harus melewati proses yang panjang. Kita tidak akan mengalami pertumbuhan hanya dengan mendengarkan khotbah saja, tapi kita memerlukan : 1) wadah/saluran (pelayanan); 2) kondisi (masalah, tantangan); 3) orang lain untuk menjadi cermin, saling mengasah, bertumbuh menjadi dewasa dalam iman serta memunculkan buah-buah Roh Kudus (karakter Kristus) dalam hidup kita.
“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17).

Kita telah diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12) oleh Roh Kudus yang telah dianugerahkan kepada kita. Roh Kudus memampukan kita hidup oleh iman untuk menghidupi kehidupan yang baru dalam Kristus (mengalami transformasi hidup).
Ciri hidup yang mengalami transformasi :

1. Mengenal dan mengalami kuasa kebangkitan Kristus.

Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman percaya kita (1 Korintus 15:17).
“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:20,22)

Persekutuan dengan Kristus membuat kita hidup dalam kasih karunia Allah. Kita tidak lagi hidup dalam kegelapan, kebodohan dan kesia-siaan tapi hidup dalam terang Tuhan dan dalam kehendakNya. Kita hidup dalam pengenalan yang benar akan Kristus Yesus oleh iman.
Apa yang dialami Rasul Paulus, ia tuliskan dalam Filipi 3: 7-14 :

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.”

a. Pengenalan akan Kristus melalui persekutuan jauh lebih penting dan mulia dari semua peraturan hukum Taurat, kegiatan agamawi, kegiatan pelayanan, talenta, karunia, prestasi, pengetahuan, dlsb. Tanpa pengenalan yang benar akan Kristus, semua akan sia-sia.

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”

b. Pengenalan akan Kristus membawa kita untuk hidup dalam kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya. Karena Kristus telah mengalami penderitaan/kematian badani di kayu salib, kita juga harus mematikan keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup. Di mana ada kematian daging, di situ terjadi kebangkitan roh. Jika kita menjadi serupa dengan Kristus dalam kematianNya, maka kita akan hidup dalam kuasa kebangkitanNya (maksudnya hidup dalam kuasa Roh Allah yang berdiam dalam kita).

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

c. Kita melupakan apa yang di belakang kita (paradigma lama dan kehidupan duniawi), mengarahkan diri kepada yang ada di hadapan kita (panggilan Tuhan), dan berlari-lari kepada tujuan (maksudnya terus mengejar, bertekun, rela membayar harga berupa tantangan dan penderitaan).

2. Memiliki keberanian dalam menghadapi kesulitan, tantangan dan penderitaan dalam hidup ini (berkemenangan).

a. Diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.
Orang yang mengalami transformasi hidup tidak membiarkan dirinya diintimidasi oleh roh ketakutan dan tipu muslihat iblis karena telah diberi kuasa untuk menahan kekuatan musuh dan mengusir setan-setan. Kita berada di bawah tudung perlindungan Darah Anak Domba Allah, sehingga iblis tidak punya kuasa atas kita. Kuasa Allah bekerja melalui doa, pujian dan penyembahan kita. Jika Allah ada di pihak kita, maka tidak ada yang dapat melawan dan menggugat kita.
“Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” (Lukas 10:19)

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:17-18)

b. Memiliki iman dan pengharapan yang pasti untuk mengalami kegenapan janji-janji Tuhan.
Orang benar hidup karena percaya, bukan karena melihat. Pengenalan yang benar akan Tuhan membuat kita tidak perlu kuatir karena semua janjiNya adalah ya dan amin.
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yohanes 15:7)

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33)

c. Diberi jalan keluar.
Dalam Kristus tidak ada jalan buntu, tapi selalu ada jalan keluar dari setiap masalah.
“Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13).

d. Diberi damai sejahtera Allah.
Damai sejahtera yang Allah berikan tidak sama dengan model dunia. Damai sejahtera Allah akan menghasilkan sukacita ilahi yang selalu sejalan dengan kebenaran, sekalipun sedang berada di tengah penderitaan dan lembah kekelaman. “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7)

Damai sejahtera Allah menggantikan ketakutan dengan iman, memberikan sukacita dalam pengharapan yang menjadi kekuatan kita untuk sabar dalam kesesakan, membangkitkan jiwa yang lemah dan putus asa, memberi kemampuan untuk bertekun dalam doa.

3. Hidup dalam tujuan yang baru, yaitu panggilan Tuhan.

Karya penebusan Tuhan Yesus memulihkan identitas, karakter dan kemampuan kita untuk hidup selaras dengan rencana Allah. Kita tidak ingin menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang sedemikian besar dan mulia. Transformasi hidup memberi arah dan tujuan hidup yang baru, yaitu berjalan dalam panggilan Tuhan.

Ini tidak berarti kita semua harus menjadi pendeta, tetapi apapun bidang pekerjaan kita, Allah akan menaruh kerinduan ilahi di hati untuk melakukan kehendakNya secara khusus serta mengarahkan kita untuk berjalan dalam panggilan.

Contoh, misalnya kita bekerja di bidang kuliner dan diberi karunia untuk menasehati, memimpin dan mengajar. Karunia itu dipakai untuk melayani orang-orang di lingkungan pekerjaan, dalam keluarga atau siapa saja yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Gereja tidak dibatasi oleh gedung; setiap kita adalah ‘gereja’, ambassador Kerajaan Allah untuk menjadi garam dan terang bagi dunia, memberitakan Injil, mendoakan dan menjadikan mereka murid Kristus sesuai karunia masing-masing.

Allah telah mempercayakan kita dengan talenta untuk menggenapi tujuan khusus tersebut. Kita akan temukan dan asah talenta yang dikaruniakan itu melalui komunitas tempat kita bekerja atau melayani agar semakin bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa (transformed).

Tuhan mendewasakan kita melalui pimpinan Roh Kudus dengan menerapkan firman untuk
menghadapi dan menyelesaikan masalah/tantangan agar kita bisa mengajarkan pada orang lain juga sesuai dengan yang tertulis dalam Matius 28:19-20.

Persekutuan dengan Tuhan dan orang percaya (dalam gereja lokal dan global) membuat kita bertumbuh, berbuah, menjadi berkat dan hidup dalam panggilan ilahi. Inilah yang disebut mengalami transformasi hidup.
“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anaknya YESUS Kristus,Tuhan kita,adalah setia.” (1 Korintus 1:9)

image source: https://t2womenintheword.blogspot.com/2019/05/abiding-in-christ-vital-priority-1-john.html

IMAMAT YANG RAJANI

IMAMAT YANG RAJANI

PARADIGMA BARU DALAM PELAYANAN MUSIK, PUJIAN DAN PENYEMBAHAN (Team Mezbah)
Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo sebagai pioneer hamba Tuhan yang melayani sepenuh waktu dalam bidang pujian dan penyembahan, memperkenalkan istilah imam musik, imam pemuji penyembah.
Penggunaan kata “imam” tentu merujuk kepada pemahaman bahwa mereka yang disebut sebagai imam musik atau imam pemuji dan penyembah adalah pribadi-pribadi yang hidupnya dikhususkan untuk memimpin pujian dan penyembahan dalam pelaksanaan ibadah umat.
Dalam jemaat dan pengerja kita, banyak yang memiliki potensi dan karunia bermain alat musik atau bernyanyi bahkan bersuara merdu, namun dalam pelaksanaan ibadah, tidak semua umat tersebut diberikan kewenangan, otoritas dan tanggung jawab untuk memimpin atau melaksanakan pelayanan pujian dan penyembahan. Hanya mereka yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pemimpin gereja sebagai imam musik, pemuji dan penyembah yang diberikan kewenangan tersebut sesuai jadwal yang sudah diatur. Sampai pada tahap ini, implikasi ‘pengkhususan’ dari istilah imam tentu tidak menimbulkan diskusi dan perbedaan pemahaman.
Namun, ketika implikasi ‘pengkhususan’ dari istilah imam ini ditarik lebih jauh, di mana mereka yang disebut sebagai imam musik, pemuji dan penyembah sungguh-sungguh hanya ‘diperbolehkan’ menggunakan talenta, kemampuan bermusik atau bernyanyi mereka dalam ranah rohani (pelayanan gereja) semata dan tidak boleh dikhamiri dengan menggunakannya di ranah sekuler, maka bisa timbul persoalan!
Secara khusus di antara mereka yang bukan fulltimers gereja (tidak mendapatkan penghasilan/gaji dari gereja) dan memiliki profesi di bidang musik atau dunia tarik suara, termasuk mereka yang karena bakat dan talentanya secara serius menekuni industri musik atau dunia pendidikan musik sekuler.
Hal ini menimbulkan sebuah dilema di mana pada akhirnya tidak sedikit mereka yang memiliki talenta dalam bidang musik/vokal, memiliki kerinduan untuk terlibat dalam pelayanan gereja; akhirnya tidak jadi melayani karena mereka tidak mungkin meninggalkan profesi mereka dalam industri musik sekuler.
Bagaimana gereja dapat menyikapi dilema ini? Memasuki Tahun Paradigma yang Baru, TUHAN memberikan paradigma yang baru dalam berbagai sektor pelayanan gereja, termasuk dalam hal pelayanan musik, pujian dan penyembahan. Mari kita simak dua bagian teks dalam Alkitab berikut ini:
1. Pengunaan Istilah PELAYAN
“Juga diangkatnya dari orang Lewi itu beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut TUHAN untuk memasyhurkan TUHAN, Allah Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya.”1 Tawarikh 16:4
Apa yang menarik dalam ayat ini ada istilah yang digunakan kepada orang Lewi yang menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya di hadapan tabut adalah PELAYAN, bukan imam. Kata ‘pelayan’ (ing. Ministers) dari kata shârath yang secara akar katanya berarti “untuk hadir sebagai”, “berkontribusi kepada”, “melayani” dan “melakukan pelayanan”.
Dalam The NIV Application Commentary, Historical Book kata “pelayan” (šrt) berarti “pelayanan yang saleh” atau “kehadiran yang setia pada ritual.” Pelayanan imam dan Lewi yang berpusat di Gibeon tetap menjadi salah satu pemeliharaan ibadah kurban Israel. Pelayanan Lewi di depan Tabut di Yerusalem pada dasarnya bersifat musikal.
Pengunaan istilah pelayan bagi mereka yang melakukan pelayanan di bidang pujian dan penyembahan memiliki beberapa implikasi positif, antara lain:
a. Menempatkan pelayanan di bidang pujian dan penyembahan setara dengan bidang pelayanan lainnya dalam gereja, misalnya doa syafaat, pemberitaan firman, usher, dan lainnya. Setara dalam pengertian tidak lebih tinggi kedudukannya (prestisius) dan juga tidak lebih rendah.
b. Membuka kesempatan kepada anggota jemaat yang memiliki talenta dan keterampilan bermusik dari latar belakang profesi untuk “melakukan pelayanan”, “berkontribusi kepada”, “melayani sebagai” pelayan di bidang pujian dan penyembahan.
c. Meredam tensi tuntutan yang tinggi sehubungan dengan pelayanan di bidang pujian dan penyembahan.
Tentunya kita tidak boleh menurunkan standar kekudusan dan standar kualitas pujian dan penyembahan dalam ibadah, kita juga tidak boleh menjadikan pujian dan penyembahan dalam ibadah menjadi entertainment, dan bahwasanya seorang pelayan pujian dan penyembahan harus memenuhi kriteria tertentu, dapat dipertahankan.
Hanya saja, tuntutan untuk tidak bermain musik dalam dunia sekuler, padahal sudah sesuai dengan profesi dan pendidikan akademiknya; sudah tidak dapat diterapkan. Musik adalah bahasa yang universal, secara naturnya musik bersifat netral, tidak perlu melakukan dikotomi (pemisahan, pembagian dua hal yang saling bertentangan) antara musik rohani dengan musik sekuler. Keputusan seorang pelayan musik untuk mendedikasikan seluruh talenta dan karunia bermusiknya hanya bagi Tuhan biarkanlah menjadi ranah privat, keputusan pribadinya dengan Tuhan. Sehingga kita juga tidak terjebak dalam ‘banding-membandingkan’ antara pelayan pujian dan penyembahan yang satu dengan yang lainnya.
2. Imamat yang Rajani
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”1 Petrus 2:9
Apa yang dinyatakan Petrus dalam surat kirimannya yang diinspirasikan Roh Kudus ini memberikan kepada pendengar mula-mula, orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya (1 Petrus 1:1-2) sebuah paradigma tentang status orang percaya dalam Kristus dan dalam pelayanan.
Semua orang Kristen sejati (bukan hanya yang berlatar belakang Yahudi) adalah generasi terpilih; mereka semua membentuk satu keluarga rohani dari berbagai jenis dan kelompok orang yang berbeda dari seluruh dunia secara global.
Matthew Henry memberikan catatan bahwa kita semua adalah imamat yang rajani. Kita adalah raja dalam hubungan kita dengan Tuhan dan Kristus, kita adalah imamat rajani, terpisah dari dosa dan orang berdosa, dikuduskan kepada Allah, dan mempersembahkan kepada Allah pelayanan dan persembahan rohani, yang diterima Allah melalui Yesus Kristus.
Dengan bahasa yang sederhana, semua orang yang telah ditebus dengan Darah Yesus berhak dan memiliki kewajiban untuk mempersembahkan pelayanan dan persembahan rohani kepada Allah. Pelayanan kepada Allah tidak lagi dibatasi dengan aturan keimamatan atau pengkhususan kepada kelompok tertentu. Di mana pun anak Tuhan berkarya, ia harus memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.
Pelayanan di bidang pujian dan penyembahan dalam gereja biar bagaimana pun adalah salah satu bentuk pelayanan inti (core) karena terkait dengan penyelenggaraan ibadah, di mana umat mengalami perjumpaan secara pribadi dengan TUHAN dan di sana mereka menyadari akan realitas spiritualitas mereka sebagai umat TUHAN.
Itu sebabnya sama seperti halnya juga bidang pelayanan lainnya, tentu kita tidak boleh sembarangan dalam mengatur dan menjadwalkan personil pelayan yang akan melayani musik, pujian dan penyembahan dalam ibadah. Segala sesuatunya tetap harus diperhatikan dengan teliti dan seksama. Para pelayan musik, pujian dan penyembahan umumnya melewati tahapan seleksi, audisi, pelatihan, dan praktik pelayanan sebelum akhirnya diberikan otoritas dan tanggung jawab pelayanan mimbar sambil terus dimuridkan sehingga makin berkualitas bukan hanya dari sisi keterampilan bermusik semata namun juga kerohanian dan kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan Firman Tuhan. Proses yang harus dilalui memang ketat, namun pintu kesempatan untuk terlibat menjadi pelayan musik, pujian dan penyembahan haruslah tetap terbuka bagi seluruh umat yang adalah Imamat yang Rajani.

image source: https://www.activelovechurch.com/1-peter-29/

BELAJAR TENTANG KESETIAAN

BELAJAR TENTANG KESETIAAN

Kesetiaan adalah salah satu buah Roh yang merupakan karakter Allah. Kesetiaan Allah bukan hanya seperti sekedar loyalitas pada barang, tempat atau orang tertentu melainkan suatu menara yang kuat, teguh dan tidak berubah kekal selamanya. Alkitab banyak mencatat tentang kesetiaan Allah yang memelihara, menyediakan, melindungi serta menggenapi janji-janjiNya.

Allah adalah inisiator awal yang memberikan janji-janjiNya kepada manusia. Allah mau manusia memberi komitmennya agar Ia dapat menggenapkan apa yang dijanjikanNya.
Belajar dari sejarah dalam Alkitab, ada 3 Covenant (Perjanjian) utama antara Allah dengan manusia :

A. NOAHIC COVENANT (Perjanjian Tuhan Allah dengan bumi dan umat manusia)
– Allah berjanji tidak akan lagi mengutuk bumi dan membinasakan segala yang hidup dengan air bah. Selama bumi masih ada, segala musim tidak akan berhenti (Kejadian 8:21-22).
– Allah memberkati dan mengadakan perjanjian dengan Nuh dan keluarganya serta segala mahluk yang ada di muka bumi (Kejadian 9:1-17).

B. ABRAHAMIC COVENANT (Perjanjian Tuhan dengan Abraham, Ishak, Yakub; dengan bangsa pilihanNya yaitu Israel)
– Allah menjanjikan Abraham akan menjadi bangsa yang besar (bangsa Israel), namanya akan termasyhur. Oleh Abraham dan keturunannya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Janji ini mengenai Mesias yaitu Yesus Kristus, yang akan lahir melalui garis keturunan Abraham (Kejadian 12:2-3).

C. THE NEW COVENANT (Perjanjian Tuhan dengan GerejaNya, terdapat dalam kitab para nabi & Wahyu)
– Tuhan Yesus telah datang ke dunia dan lahir sebagai manusia sebagai penggenapan kitab para nabi.
– Allah berjanji akan menyertai GerejaNya sampai kepada akhir jaman. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan orang percaya. Ia akan menolong dan meluputkan kita dari segala yang jahat serta menjadikan kita lebih dari pemenang.
– Yesus berjanji akan datang kembali untuk menjemput GerejaNya yaitu orang percaya yang setia kepadaNya (Wahyu 3:10-11).

Dari sejarah dapat kita lihat bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berubah, Ia setia dari keturunan kepada keturunan sampai kita yang hidup di akhir jaman ini. Tuhan Yesus mengatakan “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Matius 24:13). Ini berbicara tentang kesetiaan, dan kita mau berusaha menjadi orang didapati Tuhan setia sampai akhir.

Kesetiaan adalah karakter ilahi yang di kehendaki Allah. Setiap orang harus mengetahuinya dan di proses serta di uji sampai menjadi seperti emas murni. Di dunia ini banyak orang pintar, berpengetahuan, berprestasi, berbakat/berkarunia dan lain sebagainya. Tetapi orang yang setia tidak banyak didapatkan karena kesetiaan sesungguhnya adalah buah Roh Kudus yang bekerja di dalam dan melalui kita orang percaya.

Kesetiaan kepada Tuhan berarti memilih untuk percaya dan mengasihi Dia di antara pilihan lain yang kita lebih suka. Kita berusaha untuk taat meski dalam keadaan yang kurang baik. Kesetiaan kepada orang lain berarti mengasihi mereka dalam segala keadaan, bahkan ketika itu tampaknya sulit. Bertolong-tolongan dalam menanggung beban, saling percaya, menghormati, menghargai, peduli satu dengan yang lain dan saling melayani.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari untuk membangkitkan kesadaran, melatih diri agar bertumbuh menjadi orang yang setia :

1. DALAM KEHIDUPAN PRIBADI

Belajar kesetiaan dimulai dari hal-hal kecil yang mungkin tidak tampak oleh orang lain. Siapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar (Lukas 16:10).

Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh sebab itu, persekutuan secara pribadi dengan Tuhan adalah prioritas utama dalam kehidupan orang percaya. Bangun kedisiplinan rohani untuk memiliki kehidupan doa pujian penyembahan dan baca firman. Roh Kudus akan mendorong kita untuk setia melakukannya secara teratur pada waktu-waktu yang telah ditentukan (tidak on/off, waktu yang tidak teratur, dsb).

Keintiman dengan Roh Kudus akan membuat segala aspek dalam hidup kita jadi teratur dan tertib. Beribadah secara teratur dengan sikap hati yang benar dan penuh hormat (terutama jika kita mengikuti ibadah online), setia mengembalikan perpuluhan dan memberikan persembahan khusus. Patut diketahui bahwa kita memberikan perpuluhan bukan karena aturan hukum Taurat tetapi karena mengasihi Allah. Bukan untuk keuntungan gereja atau sekelompok orang, tetapi supaya hidup kita diberkati Tuhan.

Selanjutnya bagaimana motivasi hati kita dalam melakukan sesuatu untuk Tuhan dan sesama. Motivasi yang diinginkan Tuhan adalah yang tulus murni, tidak ada manipulasi, kecurangan, berbelat belit. Bersikaplah jujur kepada Roh Kudus tentang keadaan hati kita agar Ia menyembuhkan dan memulihkan kita.

Kesetiaan juga terpancar dari perkataan kita, apakah kita berhati-hati atau sembrono dalam perkataan, misalnya melebih-lebihkan, memfitnah, menceritakan aib orang lain, merendahkan, menghakimi, teledor dengan perkataan sia-sia, melemahkan iman, dsb. Latih diri untuk berkata jujur, perkataan yang sesuai kebenaran dan kasih, membangun, menasehati.

Perhatikan apakah perkataan kita konsisten dengan kelakuan kita. Tidak menepati perkataan itu sama saja dengan kita mengikari diri sendiri (ingkar janji). Dasarnya adalah firman Tuhan dalam 2 Timotius 2:13 yang mengatakan “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

Seseorang yang bertumbuh secara rohani dan telah mengalami pemulihan akan belajar konsisten dalam perkataan dan perbuatan; akan memiliki integritas karakter yang dibentuk dari dalam ke luar. Kita akan memiliki prioritas yang benar serta menggunakan waktu dengan bertanggungjawab dan bijaksana. Kita akan belajar untuk tepat waktu, belajar berkomitmen menyelesaikan apa yang telah dimulai, misalnya menyelesaikan baca Alkitab setahun, menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada kita, dsb.

2. DALAM HUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN

Kita tidak diciptakan untuk hidup bagi diri sendiri, melainkan untuk Tuhan dan sesama. Bangun hubungan dengan saudara seiman, jangan hidup dalam dunia kita sendiri dan tidak peduli orang lain. Orang percaya adalah anggota satu dengan yang lain, sebagai suatu keluarga rohani yang adalah bagian dari tubuh Kristus.

Tunjukkan kepedulian satu sama lain, tapi jangan sampai kepo. Kepo adalah rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan, masalah atau urusan orang lain yang sebenarnya tidak ada kaitan dengan dirinya. Kepo bisa membawa kepada hal-hal negatif : menimbulkan asumsi, salah pengertian, ikut terseret dalam dosa orang lain, dlsb.

Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam suatu masalah atau urusan untuk membantu menyelesaikannya. Sikap peduli ditunjukkan dengan saling melayani, mendoakan, sikap toleransi, rela berkorban dan mencari kesenangan orang lain guna membangun mereka.

Mari kita saling menghargai dan menghormati. Selesaikan masalah/konflik dengan cara dewasa Jangan merasa diri paling benar melainkan belajar untuk merendahkan hati, melepaskan pengampunan dan saling mendoakan. Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung kepada kita, hiduplah dalam perdamaian dengan orang lain.

Belajarlah menjadi orang yang dapat dipercaya : tidak menyalahgunakan kepercayaan, tidak memanipulasi orang lain demi agenda pribadi, dapat menyimpan rahasia (sesuatu yang bukan untuk diketahui publik), jujur serta dapat dipegang perkataan/janjinya kepada orang lain (promise keeper).

Kadang tanpa sadar kita bersikap tebang pilih dalam memenuhi janji. Contoh : sebagai orang tua, kita hanya tepat janji kepada atasan, kepada orang baik atau yang menguntungkan saja, tapi kepada anak sendiri kita lalai. Ini menandakan bahwa kesetiaan belum menjadi karakter kita. Dengan lalai menepati janji, kita memberikan kesan yang buruk kepada anak karena nanti mereka akan kesulitan untuk percaya bahwa Allah itu setia. Kesetiaan itu seharusnya tidak memandang/membeda-bedakan orang. Sikap hati yang setia kepada Allah akan termanifestasi kepada orang lain tanpa membeda-bedakan.

Orang yang setia kepada Tuhan juga akan setia kepada gereja lokal tempat ia bertumbuh. Sebagai anggota jemaat, orang tersebut akan memiliki inisiatif untuk melakukan bagiannya tanpa perlu disuruh (terutama jika kita dipercayakan sebagai Leader) untuk menopang visi yang Tuhan beri melalui Pemimpin, baik dalam doa, pelayanan/kegiatan, finansial, waktu, tenaga dan pemikiran.

3. DALAM MENJALANKAN TALENTA

Tuhan memberikan talenta dan karunia kepada setiap kita. Bagian kita adalah mengenali, menggali, menggunakan serta mengembangkan karunia dan potensi untuk melakukan kehendak Allah dan melayani sesama.

Tuhan menghendaki kita untuk bertumbuh menjadi pribadi yang dapat dipercaya dalam pelayanan. Karakter, komitmen dan motivasi hati harus dijaga kemurniannya agar tidak menyalahgunakan karunia untuk memuaskan agenda pribadi. Hamba yang setia akan menjalankan talenta yang dipercayakan kepadanya, sehingga kelak tuannya akan berkata :

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21).

Kesetiaan adalah sesuatu yang harus dipelajari, dilatih, dipertahankan, diuji dan mengalami pertumbuhan dalam kehidupan setiap orang percaya. Allah, yang telah memanggil kita kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kita, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus, Amen.

image source: https://www.facebook.com/LisaLouZook/photos/a.119845319473876/313101583481581/?type=3

AJARAN TRITUNGGAL ADALAH ALKITABIAH

AJARAN TRITUNGGAL ADALAH ALKITABIAH

Tritunggal atau trinitas bukanlah suatu kebenaran yang diperoleh melalui akal budi atau dibuat oleh manusia, melainkan suatu kebenaran yang diketahui melalui pernyataan dan perwahyuan sebagaimana yang Allah ungkapkan mengenai diri-Nya di dalam Alkitab.1
Sekalipun kata ‘tritunggal’ atau ‘trinitas’ itu sendiri tidak ada di dalam Alkitab, namun itu adalah istilah yang digunakan oleh Gereja selama ribuan tahun untuk menjelaskan bagaimana Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Atas apa yang terungkap dalam Alkitab, pada Konsili di Nicea tahun 325, pemahaman akan tritunggal dibukukan.
Argumentasi yang mengatakan bahwa ajaran Tritunggal tidaklah alkitabiah semata-mata karena tidak ada tertulis demikian di Alkitab; justru tidak alkitabiah. Ratusan ayat dalam Alkitab menunjukkan bahwa Allah yang kita sembah dalam nama Yesus Kristus adalah Allah yang Tritunggal. Yang harus kita mengerti adalah bahwa Allah yang kita sembah adalah suatu realita yang melampaui keberadaan kita. Kita hanya dapat memahami Tritunggal sejauh mana Allah mengungkapkan hal tersebut. Kita dapat memahami ke-tritunggal-an Allah sampai titik tertentu saja —tidak 100%— dan selanjutnya adalah menerimanya dengan iman.

ORANG KRISTEN MENYEMBAH SATU ALLAH ATAU TIGA ALLAH?
Ada pemahaman seolah-olah orang Kristen menyembah 3 (tiga) Allah: Bapa, Anak (atau Putra) dan Roh Kudus. Benarkah demikian? Jawabannya adalah: salah. Kekristenan sebagai kelanjutan dari Yudaisme adalah iman yang bersifat monoteisme alias menyembah 1 (satu) Allah. Dalam Perjanjian Lama penegasan akan monoteisme ini tampak jelas dalam shema Yisrael yang mendeklarasikan iman kepada 1 (satu) Allah, sebagaimana tertulis dalam Ulangan 6:4-5,
“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Kata ‘esa’ menunjukkan ‘tunggal atau satu’. Mikha 2:15a pun mengatakan:
“Bukankah Allah yang esa menjadikan mereka daging dan roh?”
Pengertian ini tidak berubah di Perjanjian Baru, di mana Tuhan Yesus dan para Rasul mengajarkan hal yang sama. Perhatikan beberapa ayat berikut:
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa.”
Markus 12:29
“tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”
1 Korintus 8:4
“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”
1 Timotius 2:5
Namun sebagaimana kita telah ketahui sebelumnya, Allah ternyata mengungkapkan diri-Nya berkali-kali juga sebagai plural atau jamak, seperti misalnya kata Elohim (Kejadian 1:1) yang adalah bentuk jamak dari El yang memberi pengertian “lebih dari satu”, penggunaan kata ‘kita’ dalam penciptaan manusia (Kejadian 1:28; 3:22; 11:7).
· Yesaya 48:16; 61:1 mengungkapkan Allah Tritunggal,
· Peristiwa terdengarnya suara Bapa, kehadiran Yesus dan Roh Kudus yang turun seperti merpati pada saat Yesus dibaptis dalam Matius 3:16-17
· Dan adanya kesetaraan dari Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam Amanat Agung dan kesaksian di Sorga. (Matius 28:19; 1 Yohanes 5:7)
Para rasul pun tercatat memberikan salam dan doa berkat rasuli dengan mengungkapan trinitas. (2 Korintus 3:14; Galatia 1:3, bdk. Yudas 20-21)
Dengan demikian, jika kita sebagai orang Kristen ditanya apakah kita menyembah 1 Allah atau 3 Allah, jawabannya adalah tegas: Kristen menyembah 1 (satu) Allah, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, ketiga yang esa. Ini adalah suatu pemahaman yang unik, tidak mudah dicerna dan sangat berbeda dengan pemahaman agama/iman manapun di dunia akan sosok ilahi yang mereka sembah. Hanya kekristenan, setelah melihat dan memperhatikan ayat-demi-ayat dalam Alkitab, yang menyembah Allah Tritunggal.
PENGERTIAN TRITUNGGAL
Konsili Nicea tahun 325 membuat suatu ‘rumusan’ kalimat definisi mengenai Tritunggal guna memudahkan umat memahami akan tersebut:
Allah itu esa, tapi memiliki tiga pribadi yang sama kekal dan sederajat, sama dalam hakekat, tetapi beda dalam pribadi-Nya; 1 Hakekat, 3 Pribadi. Jadi Bapa adalah Allah; Anak adalah Allah; dan Roh Kudus adalah Allah. Tidak ada tiga Allah melainkan satu Allah.2
Pemahaman ini menjadi fondasi dasar teologi Kristen di seluruh aliran arus utama (mainstream) kekristenan, seperti Pentakosta, Protestan, Katolik, Metodis, Injili, Baptis, Anglikan dan seterusnya. Jika suatu gereja/denominasi/aliran mengklaim sebagai Kristen tetapi memiliki pemahaman yang tidak sama akan Tritunggal seperti di atas, artinya mereka membuat suatu pengertian yang tidak alkitabiah dan bahkan jadi penyesatan. Pemahaman akan Tritunggal yang alkitabiah menjadi titik penting untuk mengetahui apakah suatu gereja/denominasi/aliran adalah benar atau tidak.
Tiga pemahaman yang salah akan Tritunggal yang mengarah kepada penyesatan:
• Triteisme: Percaya karena ada 3 pribadi, maka ada 3 Allah. Ini melawan prinsip satu Allah.
• Modalisme/Sabelianisme: Percaya ada 1 pribadi Allah namun dalam 3 wujud. Ini melawan prinsip 3 pribadi, 1 hakekat.
• Subordinasionisme/Arianisme – Anak (Yesus) dan Roh Kudus kedudukannya lebih rendah dari Bapa. Biasanya pengikut paham ini akan membuat derajat Bapa lebih tinggi dari Anak dan Anak lebih tinggi dari Roh Kudus.
PERAN ALLAH TRITUNGGAL DAN KESELAMATAN
Ketiga pribadi dari Allah Tritunggal memiliki peran yang spesifik sebagai Allah kepada kita, termasuk dalam hal keselamatan.
• BAPA, adalah Allah yang bersemayam jauh di atas kita; Allah yang daripada-Nya bersumber segala sesuatu. (1 Korintus 8:6; Yesaya 66:1)
Tegasnya, Allah yang terutama sekali adalah sebagai Pencipta dan Pemelihara. (bdk. Matius 6:25-27)
Dalam hal keselamatan, Bapa-lah yang menginisiasi keselamatan. (Efesus 1:3-6)
• ANAK (KRISTUS), adalah Allah yang tinggal dekat beserta dengan kita manusia. (Matius 1:23; Yohanes 1:14) Itulah yang dilakukan dengan kedatangan-Nya ke dunia ini. Tujuannya adalah menyelamatkan/mendamaikan manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Jadi Anak adalah Allah yang terutama sekali sebagai Pendamai dan Penyelamat. (2 Korintus 5:17-19)
Dalam hal keselamatan, Anak-lah yang merealisasikan keselamatan tersebut. (Efesus 1:7-12)
• ROH KUDUS, adalah Allah yang tinggal di dalam kita/bekerja di hati kita. (2 Korintus 3:16)
Oleh Roh Kudus inilah maka manusia dimungkinkan untuk percaya/bertobat kepada Kristus, sehingga manusia boleh dibebaskan dari belenggu dosa. Maka Roh Kudus adalah Allah yang terutama sekali sebagai Pembebas. (Roma 8:12)
Dalam hal keselamatan, Roh Kudus-lah yang menyatakan dan meneguhkan keselamatan. (Efesus 1:13-14)
KABARKAN YESUS!
Banyak orang Kristen yang kemudian menjadi bertanya: bagaimana kita bisa mengabarkan Injil keselamatan jika pemahaman akan Allah Tritunggal adalah sesuatu yang bahkan tidak mudah dipahami orang Kristen? Bagaimana orang-orang non-Kristen bisa bertobat dan menerima kasih anugerah keselamatan dari Allah? Jawabannya adalah bahwa anugerah keselamatan diterima melalui dan di dalam Yesus Kristus. Allah telah menetapkan bahwa hanya melalui Yesus-lah keselamatan diberitakan dan diterima dengan iman oleh orang-orang yang mau percaya kepada-Nya.
Yohanes 3:16-17, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Kisah Para Rasul 4:11-12, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
Matius 1:21, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Roma 5:21; 6:23, “supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
2 Korintus 4:5, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.”
Hanya setelah seseorang menjadi percaya, bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, perjalanan menuju pengenalan dan pemahaman yang lebih dalam akan Allah Tritunggal dapat dimulai. Itulah sebabnya tugas kita dalam mengabarkan Injil adalah dengan mengabarkan Yesus Kristus. Keselamatan hanya ada di dalam Dia dan melalui Dia. Beritakan Injil keselamatan; kabarkan Yesus!!

image source: https://www.facebook.com/NIVBible/photos/hear-o-israel-the-lord-our-god-the-lord-is-one-love-the-lord-your-god-with-all-y/2308434589188147/?_rdr

KASIH SETIA TUHAN KEKAL SELAMANYA

KASIH SETIA TUHAN KEKAL SELAMANYA

Saat ini kita dihadapkan kepada situasi dunia yang penuh guncangan, perang, krisis, dampak global pandemik dan sebagainya karena kita sedang berada di hari-hari penggenapan Matius 24. Meski demikian, Tuhan mengingatkan kita bahwa Dia adalah Allah yang setia. Kesetiaan Allah tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terjadi dari luar atau hanya bersifat musiman. Kasih setia Allah tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan selamanya.

Setia adalah karakter Allah, Dia tidak dapat menyangkal DiriNya sendiri dengan berlaku tidak setia. Kasih setia (Ibrani : Hesed) adalah gagasan Allah yang menyatakan kasih yang setia dalam tindakan; suatu kasih yang kuat dan kokoh dalam hubungan dengan Covenant-Nya. Kasih setia Tuhan menunjukkan kelembutan, kebaikan dan kemurahan yang gigih, persisten serta tak bersyarat.

Dari sejarah dan pengalaman hidup, kita bisa melihat bahwa Tuhan itu setia. Bukan hanya setia memelihara dan melindungi tapi juga menggenapi janji-janjiNya. Allah yang tidak terbatas itu mau membuat DiriNya jadi seolah-olah terbatas demi menunjukkan kasih setia dan menggenapi perkataanNya. Jika kita semakin dalam mengerti tentang kasih setia Tuhan, maka kita menjadi percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya dalam damai sejahtera.

Manusia cenderung berlaku tidak setia. Di mata Tuhan, kesetiaan manusia mudah hilang seperti kabut pagi dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar (Hosea 6:4). Mungkin banyak orang menyebut dirinya baik hati, tetapi orang setia tidak banyak ditemukan. Memang untuk belajar menjadi orang yang setia, kita akan diuji melalui bermacam perkara.

Kebanyakan orang di jaman akhir ini sudah menurunkan nilai-nilai dalam sebuah hubungan. Mereka lebih suka berinteraksi dengan barang, teknologi, gadgets (small electronic devices), hobby, social media, dan lain sebagainya daripada membangun hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama.

Banyak orang sudah kehilangan hubungan yang berkualitas dengan orang lain dengan alasan tidak mau terikat, tidak mau peduli, menghindari tanggung jawab dan tidak mau belajar setia. Bagi orang percaya, pengenalan akan Tuhan akan mengajar kita untuk berlaku setia karena salah satu karakter Tuhan adalah menyukai kasih setia (Yeremia 29:23-24).

Ada 3 hal yang mau kita pelajari dari karakter Tuhan tentang kesetiaan yang harus dibangun dalam hidup kita :

1. KEPERCAYAAN (TRUST)

Dalam sebuah hubungan, perlu dibangun rasa percaya satu sama lain. Jika tidak, maka hubungan dalam keluarga, dalam pertemanan atau kerjasama dalam tim akan terganggu, tidak sehat serta tidak menjadi berkat. Untuk mencegah hal itu terjadi, maka bagian setiap kita adalah melatih diri dalam ketekunan agar menjadi orang yang dapat dipercaya.

Saat lahir baru, kita hidup oleh iman percaya dan menaruh harapan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Jika harapan kita bertumpu kepada manusia, pasti akan kecewa karena firman Tuhan dalam Yeremia 17:5-6 telah mengingatkan bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri.

Meski banyak orang berlaku tidak setia dan mengecewakan, bukan berarti Tuhan juga ikut berubah menjadi tidak setia. Hanya Tuhanlah satu-satunya yang benar, setia serta dapat dipercaya karena Dia tidak dapat menyangkal sifatNya sendiri.

“Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong” (Roma 3:3-4).

Oleh sebab itu, kalaupun seseorang sudah mengecewakan, tidak seharusnya kita kehilangan kemampuan untuk dapat percaya kepada orang lain apalagi kepada Tuhan. Tidak perlu kepahitan ketika orang lain tidak bisa dipercaya dan mengecewakan kita. Dengan terus bertumbuh dalam kasih, maka Roh Kudus akan menolong kita agar tidak hidup dalam kekecewaan serta menjadi pribadi yang dapat dipercaya dan setia.

Harta, uang, kekuasaan, jabatan, karunia, kehidupan yang nyaman, tidak dihargai orang lain, aniaya dan krisis merupakan hal-hal yang dipakai Tuhan untuk menguji kesetiaan kita. Dalam kasih, Allah melatih kita untuk belajar menjadi orang yang setia melalui proses asal kita hidup dalam pertobatan. Kesetiaan adalah salah satu karakter yang diperlukan dalam mengelola hubungan khususnya dalam membangun tubuh Kristus.

2. SALING MENGHORMATI, MENGHARGAI (RESPECT)

Hubungan juga tidak akan terbangun jika tidak ada sikap saling menghormati dan menghargai. Mengapa seseorang bisa kehilangan respek terhadap orang lain? Kebanyakan karena pengalaman dikecewakan, direndahkan, dipermalukan, disia-siakan, atau hal lain yang tidak menyenangkan.

Sebagai orang percaya yang mau tinggal dalam kasih Tuhan, kita tidak boleh memandang rendah orang yang bersalah dan mengecewakan kita karena Tuhan juga mengasihi orang tersebut. Jangan pula memandang rendah orang karena mereka tidak mampu melakukan seperti apa yang kita lakukan. Untuk dapat saling menghargai dan menghormati, firman Tuhan memerintahkan kita untuk merendahkan diri seorang kepada yang lain.

“dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” (Efesus 5:21)

Dikatakan ‘seorang kepada yang lain’, berarti adalah kewajiban semua pihak untuk merendahkan hati, bukan hanya 1 orang saja.

3. SALING PEDULI SATU DENGAN YANG LAIN (CARE)

Perintah untuk saling mengasihi dan saling melayani diterapkan dengan tindakan nyata di dalam keluarga, komunitas orang percaya/gereja, dalam lingkungan pekerjaan, masyarakat, dsb. Yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Jangan mencari kesenangan diri sendiri, tetapi juga kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Tetaplah setia melakukan panggilan Tuhan melalui gereja lokal (Matius 28:19-20). Karunia dan talenta yang Tuhan berikan harus dikobarkan dan bukan disia-siakan ataupun untuk melakukan agenda pribadi. Itu diberikan untuk memperlengkapi kita melakukan panggilan Tuhan.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)

Kasih setia Allah menopang setiap jemaat untuk berakar dan bertumbuh dalam kasih dan menjadi pribadi yang kuat manusia batiniahnya. Bagi kita yang memilih untuk mengasihi Tuhan, maka Ia akan memegang perjanjian dan kasih setiaNya sampai kepada anak cucu kita.

“Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan,” (Ulangan 7:9).

Kasih setia Allah yang kita alami akan memampukan kita menjadi orang yang dapat dipercaya, saling menghormati/menghargai dan saling peduli satu dengan yang lain guna membangun keluarga dan gereja yang kuat, untuk menghubungkan satu dengan yang lain demi kesatuan tubuh Kristus.

Pesan Tuhan bulan ini menjadi kekuatan bagi kita untuk tidak perlu takut karena melihat situasi yang semakin suram akhir-akhir ini. Kesetiaan Tuhan menopang kita untuk cakap menanggung segala perkara. Orang yang percaya kepada Kristus memiliki iman yang mengalahkan dunia. Jiwa kita akan tetap kuat di tengah guncangan dan krisis global karena pengharapan kita hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Kadang Tuhan ijinkan kita mengalami lembah kekelaman, situasi yang sulit dan mustahil dan penuh dengan gejolak, tapi justru di situlah kesempatan bagi Dia untuk menunjukkan kasih setia dan menyatakan kemuliaanNya. Orang yang sudah menerima Kristus telah diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Tuhan telah memerdekakan kita dari dosa, kutuk dan roh ketakutan agar kita berkemenangan dalam segala perkara.

“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” (1 Korintus 1:9)

Kita tidak akan dibiarkan berjalan sendiri menghadapi segala tantangan. Allah akan melindungi, memelihara dan melepaskan kita dari yang jahat. Tuhan adalah tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita.

“Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.” (Mazmur 91:4)

Dia berjanji menyertai gerejaNya sampai kepada akhir jaman karena kasih setia Tuhan kekal selamanya, Amen!

image source: https://www.marilynandsarah.org/2019/09/24/1-corinthians-19/

MEMAHAMI KEBERADAAN HATI NURANI

MEMAHAMI KEBERADAAN HATI NURANI

Dalam banyak kesempatan, anak-anak Tuhan suka makan daging yang lezat di tempat makan yang pemiliknya bukan anak Tuhan. Kalau pemiliknya bukan anak Tuhan, sangat mungkin daging yang lezat tersebut dilibatkan dalam ritual kepercayaan dari si pemilik rumah makan. Apakah anak Tuhan berdosa memakan daging yang lezat tersebut? Sebagian akan berkata, “Jangan makan, bisa saja daging tersebut dipersembahkan kepada berhala.” Tapi sebagian lagi berkata, “Tidak masalah memakannya, apa sih berhala itu, bukankah ada Tuhan yang berdaulat di atas berhala?” Inilah kira-kira situasi yang terjadi dengan umat Tuhan di kota Korintus dua ribu tahun yang lalu dalam 1 Korintus 8.
Situasi seperti ini dapat saja terjadi dalam berbagai bentuk di masa kini. Aktivitas ‘makan daging lezat’ dapat saja mengambil bentuk lain, seperti ‘berada di gedung bioskop’ dan yang lainnya. Perbedaan sikap yang terjadi dalam kasus seperti ini sering menjadi perdebatan dalam gereja; atau daripada berdebat, lebih baik dianggap tidak ada, ‘tahu sama tahu’. Apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus ini? Inilah perbedaan hati nurani yang dimiliki oleh setiap orang.
Mengapa kita perlu memahami keberadaan hati nurani? Di era penuaiaan yang terbesar dan yang terakhir ini gereja sangat membutuhkan kesatuan di tengah keberagaman. Pemahaman akan keberadaan hati nurani dan kesadaran akan adanya perbedaan hati nurani akan lebih memperkuat kesatuan gereja. Secara pribadi, pemahaman akan fungsi hati nurani juga akan memampukan seseorang menjadi orang yang berintegritas, yaitu orang yang melakukan apa yang dia yakini dan katakan. Karena itu, mari kita menyelidiki ‘hati nurani’ dalam terang Firman.
Apa yang Dimaksud dengan ‘Hati Nurani’?
Kata ‘hati nurani’ dalam bahasa Yunani, yaitu ‘suneidesis’, memiliki arti harfiah ‘persepsi bersama’ (co-perception). Ini adalah persepsi seseorang bersama dengan dirinya sendiri.
Kata ‘suneidesis’ dalam berbagai bentuk muncul sebanyak 30x dalam Perjanjian Baru.1 Ini berarti, Alkitab banyak berbicara mengenai hati nurani. Sebagian orang mungkin tidak menyadarinya, tapi kita ingin menjadi orang-orang yang menyadari keberadaan hati nurani ini sesuai yang Alkitab katakan.
Karena hati nurani adalah sebuah kesadaran (awareness) maka hati nurani akan mengimbau kita untuk melakukan apa yang kita percayai benar dan menahan kita dari perbuatan yang kita percayai salah.
Hati nurani berbeda dengan suara Tuhan atau hukum Tuhan. Ini adalah kemampuan alami manusia yang menilai dan menghakimi tindakan dan pikiran sesuai dengan standar tertinggi yang diketahuinya.2 Sebagai orang percaya, tentunya standar tertinggi kita dalam hal moral adalah Alkitab.
Martin Luther pernah berkata, “Hati nuraniku ditawan oleh Firman Allah.”
FIRMAN TUHAN TENTANG HATI NURANI
Karena itu, mari kita menyelidiki apa yang Alkitab katakan tentang hati nurani.
1. Setiap Orang Memiliki Persepsi yang Berbeda
Ada orang yang hati nuraninya lemah, yaitu orang yang melihat daging yang lezat itu sebagai persembahan berhala sehingga tidak memakannya (1 Korintus 8:7). Dalam istilah lain dikatakan, “orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.” (Roma 14:2). Namun, di ayat yang sama, ada orang yang ‘kuat’ imannya yaitu mereka yang yakin bahwa ia boleh makan segala jenis makanan.
Perbedaan antara ‘lemah’ dan ‘kuat’ tidaklah menunjukkan perbedaan kualitas kerohanian seseorang; ini adalah perbedaan persepsi. Yang terpenting adalah sikap antar seorang terhadap yang lain, yaitu:
“Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.” (Roma 14:3)
Makan atau tidak makan daging bukanlah masalah dosa atau tidak, karena:
“Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”(Roma 14:17)
Tentang perbedaan hari nurani ini, John MacArthur menjelaskan:
“… Hati nurani yang lemah biasanya sangat sensitif dan aktif berlebihan akan hal-hal yang bukan dosa. Ironisnya, hati nurani yang lemah lebih mungkin menuduh daripada hati nurani yang kuat. Alkitab menyebutnya sebagai hati nurani yang lemah karena terlalu mudah terluka. Orang dengan hati nurani yang lemah cenderung kuatir akan hal-hal yang seharusnya tidak memprovokasi rasa bersalah bagi Kristen dewasa yang mengetahui kebenaran Allah.”
2. Setiap Orang Menaati Hati Nuraninya
Alkitab mengajarkan dalam Roma 14 dan 1 Korintus 8 bahwa melawan hati nurani, ketika kita tahu ia sedang memberikan peringatan yang tepat, adalah perbuatan dosa. Alkitab katakan:
“Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” (Roma 14:23)
Dari ayat ini kita simpulkan bahwa tindakan yang dilakukan bukanlah dosa; itu menjadi dosa ketika dilakukan melawan hati nuraninya.
Paulus memperingatkan Timotius akan bahaya yang menimpa orang yang menolak kesaksian hati nuraninya. Ia meminta Timotius untuk “memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.” Selanjutnya dikatakan,
“Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” (1 Timotius 1:18-19)
Harap diperhatikan bahwa ‘ketaatan’ kepada hati nurani ada batasannya. Hati nurani dapat menjadi tidak sensitif akan hal yang buruk (1 Timotius 4:2) dan menjadi jahat (Ibrani 10:22). Karena itu, ketika Allah menunjukkan lewat Firman-Nya bahwa hati nurani seseorang memberikan penilaian moral yang salah, maka hati nuraninya harus tunduk kepada Allah dan kemudian mengkalibrasi ulang hati nuraninya sehingga lebih seturut dengan Firman-Nya.
Inilah yang terjadi dengan Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:9-16. Hati nurani Petrus melarangnya untuk menyantap makanan yang haram dan juga melarangnya untuk menerima orang yang tidak bersunat (gentiles) ke rumahnya. Bila Petrus melawan hati nuraninya untuk menerima orang bersunat ke rumahnya, sesungguhnya ia sudah berdosa. Akan tetapi, lewat sebuah penglihatan Allah berfirman,
“Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”;
“Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” (Kisah Para Rasul 10:13,15)
Lewat perintah Tuhan ini, hati nurani Petrus dikalibrasi ulang sehingga lebih sesuai dengan kehendak Allah. Inilah salah satu bentuk paradigma yang baru, yaitu ketika TUHAN memberikan pola yang baru dan kita diberikan cara melihat yang baru. Haleluya!
PRINSIP HATI NURANI
Tahun Paradigma yang Baru ini adalah momen yang sangat tepat untuk kita menghidupi prinsip-prinsip Firman Tuhan tentang hati nurani. Kita dapat mempraktikkan hal-hal sebagai berikut:
1. Didiklah hati nurani dengan membaca Firman Tuhan setiap hari menggunakan Bible Reading Plan (rencana membaca Alkitab) yang tersedia di aplikasi Alkitab digital. Dengan menggunakan rencana membaca yang tepat, kita dilatih untuk melihat gambaran Alkitab secara keseluruhan, terutama kaitan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.
2. Diskusikan isi hati nurani kita dalam COOL, terutama ketika hendak mengambil sebuah keputusan moral. Sadari bahwa hati nurani setiap orang berbeda. Dalam kehidupan komunitas kudus, tuntunan Roh Kudus dan Firman Tuhan dinyatakan. (Kisah Para Rasul 15:1-21)
Bacalah buku-buku yang menjelaskan prinsip Alkitab tentang hati nurani dan etika Kristen. Bukan kebetulan kalau ada beberapa buku penting tentang hati nurani yang terbit beberapa tahun terakhir ini. Semuanya seolah-olah hendak mempersiapkan kita untuk memasuki Tahun Paradigma yang Baru. Martin Luther berkata,
“It is neither safe nor prudent to do anything against conscience.”
“Tidaklah aman atau bijaksana melakukan sesuatu melawan hati nurani”

image source: https://wiirocku.tumblr.com/post/184019906739/romans-1417-nkjv-for-the-kingdom-of-god-is

MEMAHAMI DAN MENGHIDUPI PARADIGMA YANG BARU

MEMAHAMI DAN MENGHIDUPI PARADIGMA YANG BARU

Tahun 2022 adalah Tahun Paradigma yang Baru (The Year of A New Paradigm) dan Tuhan memberikan ayat emas untuk tema ini yaitu Yesaya 43:18-21 dan Filipi 3:13-14.
Yesaya 43:18-19 berkata,
“firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”

Tuhan berkata, janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala. Sekarang Tuhan membuat sesuatu dengan cara membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Inilah yang disebut dengan ‘paradigma yang baru’.

Tuhan berbicara kepada kita semua bahwa memasuki tahun 2022, Tuhan akan menolong dan membebaskan kita dari masalah-masalah yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan kita, apakah itu sakit penyakit, keluarga, pelayanan, bisnis, sekolah, masa depan dan lain-lain dengan cara yang baru atau paradigma yang baru.

Kita akan mengalami seperti yang terdapat dalam 1 Korintus 2:9,
Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

PARADIGMA YANG BARU
Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memasuki tahun paradigma yang baru ini:
1. Paradigma adalah inisiatif dari Tuhan sendiri yang perlu diresponi oleh umat-Nya. Ada bagian yang Tuhan perbuat dan ada bagian yang harus dilakukan oleh umat-Nya.
2. Bagian Tuhan yaitu membuat sesuatu yang baru.
3. Bagian umat Tuhan yaitu melihat, mengetahui dan menerima apa yang Tuhan buat.

Caranya supaya kita mempunyai pola pikir paradigma yang baru yaitu melalui firman Tuhan dan Roh Kudus. Bukan kebetulan tema ‘Tahun 2021 adalah Tahun Integritas’ jadi hanya orang yang berintegritas atau yang menjadi serupa dengan gambar Yesus yang akan bisa mengerti dan meresponi dengan benar paradigma yang baru ini. Kita harus melakukan seperti yang tertulis dalam 1 Yohanes 2:6, bahwa kita yang percaya kepada Tuhan Yesus harus hidup sama seperti Kristus telah hidup. Karena kita telah hidup sama seperti Kristus telah hidup, maka kita akan menjadi serupa dengan gambar-Nya.

Rasul Paulus mengingatkan kita melalui Filipi 3:13-14,
“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Orang yang berjumpa dengan Tuhan Yesus pasti mengalami perubahan paradigma; artinya memiliki paradigma yang baru. Setelah Rasul Paulus mengenal Tuhan Yesus, maka dia melupakan apa yang telah di belakangnya; artinya melupakan apa yang pernah dilakukan dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, dan “berlari-lari kepada tujuan” artinya “mengejar sekalipun menderita untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus”

Dalam Filipi 3:15 Rasul Paulus mengajak supaya kita semua “berlari-lari kepada tujuan” – artinya “mengejar sekalipun menderita” untuk memperoleh hadiah berupa mahkota. Jadi kita juga harus berpikir kita tidak hanya sekedar bisa masuk sorga saja, tetapi masuk sorga dengan hadiah berupa mahkota.

PERHATIKAN KEADAAN DIRIMU
Perikop Nabi Hagai 1-2:1a, itu adalah ajakan untuk membangun Bait Suci. Tuhan berfirman melalui Nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda dan Yosua bin Yozadak imam besar untuk mengajak bangsa Israel membangun Bait Suci. Tuhan menegur bangsa Israel, karena mereka hanya sibuk membangun rumahnya sendiri tetapi rumah Tuhan tidak dibangun dan tetap menjadi reruntuhan.
Tuhan berkata kepada bangsa Israel:
“Karena itu lihatlah keadaan dirimu,
Kamu menabur banyak tetapi membawa pulang hasil sedikit
Kamu makan tetapi tidak sampai kenyang
Kamu minum tetapi tidak sampai puas
Kamu mendapat upah tetapi tidak pernah cukup karena seperti ditaruh dalam pundi-pundi yang berlubang, yang artinya kemungkinan banyak pengeluaran yang tidak terduga seperti sakit, dicuri, ditipu, dirampok dan lain-lain.”

Teguran yang sama sekarang Tuhan berikan juga kepada kita, karena hari-hari ini banyak di antara kita yang sibuk memenuhi keperluan-keperluan kita secara jasmani, sedangkan manusia rohani kita tidak dibangun, tidak diperhatikan. Pertanyaannya: bagaimana dengan keadaan Saudara? Apakah sama dengan bangsa Israel pada waktu itu?

Tuhan berkata kepada bangsa Israel; bahwa kalau mereka membangun rumah Tuhan, maka mereka akan diberkati baik secara jasmani maupun rohani. Demikian juga Tuhan berbicara kepada kita kalau kita membangun manusia rohani kita sehingga akan menjadi serupa dengan gambar Yesus, maka Tuhan akan mencurahkan berkat secara jasmani dan rohani.

Tuhan mengingatkan kita bahwa paradigma yang lama yaitu pola pikir duniawi yang berdampak kepada kehidupan duniawi akan berujung kepada kebinasaan. Karena itu miliki dan hidupi paradigma yang baru sehingga kita akan menjadi serupa dengan gambar Yesus. Kita akan menjadi orang yang berintegritas. Kita akan menjadi orang yang mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sehingga pada saat Tuhan Yesus menjemput kita gereja-Nya, kita akan ikut dalam pengangkatan dan masuk sorga dan akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama-lamanya.

Kembali kepada ayat emas yang Tuhan berikan kepada kita dalam Yesaya 43:21 yang berkata,
“Umat yang telah kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.”

Tuhan akan menolong kita dalam seluruh aspek kehidupan kita untuk memasuki tahun 2022 dengan paradigma yang baru karena kita adalah umat Tuhan dan kita diminta untuk memberitakan kemasyhuran Tuhan. Kita harus menyelesaikan Amanat Agung dalam Era Pentakosta Ketiga ini. Yang mau katakan: “Amin!”

1 Petrus 2:9 berkata:
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”

Ingat tugas utama kita adalah memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia. Tugas kita untuk menyelesaikan atau menuntaskan Amanat Agung.

IMAMAT YANG RAJANI
Arti “Imamat yang Rajani” adalah
1.Imam Kepunyaan Raja atau Imam yang Melayani Raja
Jadi kita melalui Tuhan Yesus Kristus sudah menjadi imam di hadapan Allah yang artinya kita melayani Dia – Raja di atas segala Raja, untuk taat kepada segala perintah-Nya dan untuk menyenangkan hati-Nya.
2.Status Kita sebagai Imam dan Raja
Sesuai dengan Wahyu 5:10 yang berkata: “Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”

Semua ini terjadi karena sesuai dengan Wahyu 5:9, bahwa kita sudah dibeli dengan darah Yesus. Pertanyaannya dibeli dari siapa? Sesuai dengan Kisah Para Rasul 26:18 bahwa sebelum kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita berada di bawah kuasa Iblis. Jadi kita dibeli dengan darah Yesus dari tangan Iblis. Ingat kita adalah milik Tuhan Yesus, kita sudah dibeli dengan harga yang mahal yaitu darah Tuhan Yesus. Setelah itu Tuhan Yesus membuat kita menjadi suatu kerajaan dan kita menjadi imam bagi Allah kita dan memerintah sebagai raja di bumi.

MEMERINTAH SEBAGAI RAJA DI BUMI
Memerintah sebagai raja di bumi itu artinya:
1.Menyatakan kuasa Roh Allah seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus
Yaitu dengan mengusir setan, melenyapkan penyakit, menghardik badai. Jadi kita diberikan kuasa untuk melakukan hal-hal itu.
2.Menyatakan kehendak Allah dengan memberitakan keselamatan dan pengampunan dosa.
Matius 16:19 berkata: “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
3.Memerintah sebagai raja di bumi bersama Kristus dalam kerajaan seribu tahun.
Wahyu 20:6 berkata:
“Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.”
Haleluyah!

Mungkin ada di antara kita yang tidak sadar betapa dahsyat kuasa yang Tuhan berikan kepada kita. Mungkin ada di antara kita yang hidupnya selalu dalam kekalahan. Mungkin dalam masa pandemi ini terlalu banyak masalah-masalah yang kita hadapi sehingga ada yang tawar hati. Dan Tuhan ingatkan kepada kita dalam Amsal 24:10 yang berkata: “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”

Bangkitlah dan ingatlah bahwa kita adalah imamat yang Rajani yang artinya kita adalah imam-imam bagi Allah kita dan kita memerintah sebagai raja di bumi ini. Kita harus senantiasa hidup dalam kemenangan.

PERSEMBAHAN SULUNG
Memasuki tahun 2022, Saya katakan bahwa Persembahan Sulung adalah paradigma yang baru untuk memberkati umat-Nya yaitu Saudara dan saya. Kalau Saudara percaya, katakan: “Amin!”

Amsal 3:9-10 berkata:
“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, limpah dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Persembahan Sulung untuk tahun 2022 adalah seluruh penghasilan yang kita peroleh pada bulan Januari 2022 dan diberikan pada bulan Februari tahun 2022 ini sudah kita lakukan lebih dari 10 tahun. Persembahan Sulung adalah hasil pertama yang merupakan hasil terbaik secara kualitas dan kuantitas. Hasil pertama dari gaji kita, bukan sisa-sisa. Ini merupakan referensi dari catatan kaki ayat Amsal 3:9-10 dari The Apologetics Study Bible dan catatan Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan seri Life Application Study Bible versi Injili.

Dalam Alkitab Tuhan Yesus sendiri yang menyinggung tentang memberikan persembahan dari seluruh penghasilan dari seorang janda miskin dalam Markus 12:41-44 di sini Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Di sini Tuhan Yesus tidak melihat besarnya jumlah persembahan, tetapi melihat berapa persen dari penghasilan yang di persembahkannya. Janda miskin ini telah memberikan seluruh penghasilannya. Persembahan ini adalah persembahan yang terbaik. Tuhan Yesus memberikan yang terbaik kepada kita, yaitu nyawa-Nya. Karena itu kita harus memberikan persembahan yang terbaik buat Tuhan Yesus. Memang Persembahan Sulung ini bukan suatu paksaan, tetapi merupakan ekspresi ucapan syukur atas kasih, berkat, penyertaan dan pertolongan Tuhan.

Akhirnya uraian ini saya tutup dengan Amsal 11:24-25 yang berkata:
“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya,
ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
Siapa banyak memberi berkat, akan diberi kelimpahan,
siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”

Ringkasan Kotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo

image source: https://open.life.church/resources/2916-1-peter-2-9

KASIH ALLAH KEKAL SELAMANYA

KASIH ALLAH KEKAL SELAMANYA

Waktu kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita telah menerima hidup yang kekal. Kasih Allah yang dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh KudusNya (Roma 5:5b) membuat kita percaya bahwa kita memiliki hidup yang kekal.

Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:16). Dengan itu kita dapat percaya bahwa kita juga telah menerima kasih yang kekal. Kasih Allah yang kekal yang telah dicurahkan ke dalam hati akan memampukan kita untuk meresponi kasih Allah yaitu mengasihi Allah dan mengasihi orang lain.

Dengan kekuatannya sendiri manusia tidak akan mampu melakukan Perintah Agung Tuhan dalam Matius 22: 37 dan 39 untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Kasih manusia itu bersyarat, berdasarkan apa yang dilihat, rasa dan emosi. Dunia dan manusia duniawi sesungguhnya tidak mengenal kasih Allah. Kasih model dunia bersifat self-centered yang sarat dengan keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16).

Apa yang dunia sebut dengan kasih sebenarnya adalah hanya berupa hawa nafsu, hasrat atau keinginan terhadap sesuatu objek atau situasi demi memenuhi kebutuhan emosi/self. Tidak heran jika objek atau situasi tersebut sudah tidak lagi menarik, maka hasrat atau keinginan manusia terhadap sesuatu itu akan pudar/hilang (tidak bersifat kekal).

Demikian pula jika kita mengasihi orang lain dengan kasih model dunia, kita akan cenderung menghakimi orang lain jika apa yang kita inginkan atau harapkan dari orang tersebut tidak tercapai. Kalau orang tersebut tidak lagi menyenangkan atau menguntungkan, maka kita cenderung merendahkan, menghindarinya bahkan membencinya.

A. KASIH ALLAH

1. Bersifat kekal dan tidak bersyarat karena Dialah Kasih itu sendiri.

Kasih Allah sangat berbeda dengan cara pandang dunia. Kasih Allah tidak berdasarkan emosi/mood, tidak melihat rupa, untung rugi atau penilaian menurut ukuran manusia. Kasih Allah dalam Kristus Yesus selalu sejalan dengan kebenaran (Yohanes 1:14). Kasih Allah kekal tidak berkesudahan.

“Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” (1 Korintus 13:8)

2. Membuat kita hidup dalam kasih dan kekekalanNya.

Waktu kita masih berdosa, Allah telah mengasihi kita. Setelah lahir baru, kita meresponi kasih Allah tersebut dengan iman. Selanjutnya Roh Kudus akan mengajar dan membawa kita untuk berakar, bertumbuh dan berjalan dalam kasihNya. Artinya iman kita bekerja oleh kasih. Iman tanpa perbuatan atau demonstrasi kasih tidak memiliki validitas. Perbuatan tanpa motivasi kasih sama sekali sia-sia atau tidak berguna karena tidak memiliki nilai kekekalan (1 Korintus 13: 1-3).

3. Sempurna dan tidak pernah gagal atas hidup kita.

Kasih Allah bekerja dengan sempurna dalam kita, artinya memampukan kita melakukan kehendakNya. Walau banyak tantangan dan masalah, kita tidak perlu diintimidasi oleh roh ketakutan yang membuat kita gagal. Jika kita tinggal dalam kasihNya yang sempurna, kita akan selalu berkemenangan.

“Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:17-18).

B. MENGASIHI ALLAH

Kita diselamatkan bukan untuk mengasihi dunia ini dan memuaskan ‘self’, melainkan agar dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan dengan kasih yang kekal (Matius 22:37-39) dalam ketulusan/kemurnian. Secara singkat, ada 4 jenis kasih yang ada dalam diri manusia:

– Agape :
Kasih sejati yang didemonstrasikan oleh Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib/the ultimate sacrifice (Yohanes 3:16). Orang yang sudah menerima Kristus Yesus dapat mengimpartasikan kasih sejati ini kepada sesamanya. Agape adalah kasih karena apa yang dilakukannya, bukan karena bagaimana perasaannya. Bukan sekadar sebuah gerakan hati yang lahir dari perasaan tetapi merupakan kehendak/pilihan yang sengaja dilakukan dengan tindakan : yang sejalan dengan kebenaran dan rela berkorban.

– Philia :
Kasih yang mendasari hubungan teman ini juga sifatnya tidak langgeng, karena sifat manusia cenderung mengasihani dirinya sendiri dan menilai sesuatu dari faktor untung rugi.

– Storge :
Storge adalah kasih persaudaraan karena ikatan darah, misalnya antara orang tua dan anak, dengan saudara kandung atau perasaan sayang terhadap orang lain melebihi sekedar pertemanan.

– Eros :
Kasih eros adalah daya tarik/perasaan suka pada orang lain karena hawa nafsu dari panca indera yang terangsang. Orang yang dikuasai eros cenderung dikuasai hawa nafsu sexual. Hanya dengan penundukan diri pada Tuhan dan penguasaan diri, setiap orang bisa mengendalikan kasih eros dalam dirinya tertuju hanya pada istri/suaminya.

Mengasihi Tuhan adalah komitmen setiap hari, bukan hanya waktu kita lahir baru atau jika keadaan serba menyenangkan dan diberkati. Mengapa demikian? Karena Tuhan Yesus, yang telah menyerahkan nyawaNya bagi kita memang layak untuk dikasihi.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13)

Pada kenyataannya banyak sekali gangguan yang membuat kita cenderung melupakan hal terpenting dalam hidup ini : membangun hubungan kasih dengan Allah. Tanpa sadar Tuhan Yesus hanya ditempatkan sebagai objek agamawi yang cukup dibicarakan sekali seminggu di gereja.

Seseorang tidak bisa mengasihi dunia sekaligus mengasihi Allah. Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Keduanya bertolak belakang sehingga akan terjadi konflik dalam batin. Kalau seseorang mengasihi dunia, maka kasih akan Allah tidak ada padanya (1 Yohanes 2: 15-16). Dengan mengikat persahabatan dengan dunia berarti menjadikan diri kita sebagai musuh Allah (Yakobus 4:4).

Orang yang tinggal dalam Kristus juga akan tinggal dalam kasihNya. Seberapa dalam kita intim dengan Roh Kudus, sebegitu pula kasih Allah menguasai hati kita, sehingga kita dimampukan untuk mengasihi Dia yaitu menaati perintahNya (Yohanes 14:15).

C. MENGASIHI SESAMA MANUSIA

Dunia ini mengajarkan bagaimana meraih keuntungan sebanyak mungkin demi memuaskan diri sendiri, sementara kasih Allah yang kekal mengajarkan untuk rela berkorban bagi orang lain (1 Yohanes 3:16).

Allah menempatkan kita dalam komunitas keluarga, gereja, orang percaya serta masyarakat supaya kita bisa belajar hidup dalam kasih dan mendemonstrasikan kasihNya. Kasih yang sejati diwujudkan dalam tindakan iman yang sesuai dengan kebenaran (bukan berdasarkan ukuran manusia, perasaan atau apa yang dilihat).

Kasih Philia, Storge dan Eros harus ditundukkan kepada Allah melalui kasih Agape yang sejalan dengan firman kebenaran. Kasih Allah yang kekal/tidak berkesudahan (Agape) didemonstrasikan kepada sesama manusia sesuai dengan 1 Korintus 13: 4-8

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.”

Perlu ketekunan untuk menjaga kasih yang semula dan tinggal dalam kasih Kristus. Jangan ijinkan semua gangguan (masalah, tantangan, hawa nafsu keinginan, asumsi dan emosi yang negative) membuat kasih kita menjadi dingin. Ketakutan, menjadi kecewa, pahit, bersungut-sungut dan mundur adalah tanda bahwa kita sudah kehilangan kasih Allah.

Bangun dan pertahankan keintiman dengan Roh Kudus, jagalah hati dengan segala kewaspadaan. Jangan biarkan kasih yang semula menjadi dingin. Tanpa kasih semua yang kita lakukan akan sia-sia. Kasih Allah memampukan kita mengasihi Allah (taat kepadaNya), mengasihi orang lain terutama yang sukar dikasihi, untuk saling melayani dan berkorban. Kasih Allah memberikan kekuatan di tengah lembah kekelaman, memampukan kita untuk berkemenangan dan bertahan sampai garis akhir.

Ijinkan Roh Kudus membawa kita semakin berakar dan bertumbuh dewasa untuk memiliki paradigma yang benar akan kasih Allah. Panggilan termulia kita adalah mengasihi Allah dan sesama dengan kasih Agape, kasih yang kekal dan tidak binasa sampai Maranatha!

image source: https://www.redbubble.com/i/art-board-print/John-15-13-christian-bible-verse-by-imjenn/51689181.TR477