Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 14)
MENANG KARENA PENGURAPAN

MENANG KARENA PENGURAPAN

Dewasa ini, kehidupan sudah berubah selayaknya suatu kompetisi yang ketat. Lingkungan pekerjaan atau sekolah menuntut kita memiliki pencapaian yang spektakuler untuk dapat terus eksis dan diakui keberadaannya. Setiap orang dapat saja memanfaatkan koneksi orang dalam, menjilat atasan, menonjolkan keahlian yang mumpuni, atau kekayaan orang tua untuk dapat memenangkan ‘kompetisi’ itu. Namun, sebagai Insan Pentakosta yang diurapi Tuhan, apakah cara kita memperoleh kemenangan sama dengan orang dunia? Kali ini, kita akan belajar mengenai cara Tuhan memberikan kemenangan kepada umat-Nya yang diurapi.

Pola kemenangan kita, sebagai orang percaya, dapat diadaptasi dari cara orang Israel menang dalam setiap peperangan yang diceritakan di dalam Alkitab. Sebagai bangsa yang ada di kawasan Timur Dekat (NearEast) kuno, misalnya Mesir atau Mesopotamia, Israel memiliki budaya perang yang berbeda dengan bangsa di sekitarnya. Bangsa-bangsa di wilayah tersebut biasa mengukur kekuatan militernya melalui jumlah kereta dan kuda perang yang memadai. Bangsa-bangsa itu memegahkan kuda dan kereta perang untuk memastikan kemenangan, kuasa, dan kontrol mereka terhadap bangsa di sekitarnya (Yesaya 31:1-3). Namun, justru Tuhan melarang raja-raja Israel memelihara banyak kuda untuk tujuan memperkuat pertahanannya (Ulangan 17:14-20).

RAHASIA KEMENANGAN DI DALAM PEPERANGAN
Lalu, bagaimana bangsa Israel memperoleh kemenangan di masa itu? Setidaknya ada dua prinsip penting yang menjadi rahasia kemenangan bangsa Israel di dalam setiap peperangan.

1. Takut akan Tuhan dan Hidup Sesuai dengan Hukum Taurat
Sikap takut akan Allah adalah natur peperangan orang Israel. Artinya, kemenangan mereka tidak ditentukan oleh seberapa banyak pasukan yang terlibat atau berapa banyak kuda serta kereta yang mereka bawa ke medan peperangan.

Kemenangan Bangsa Israel ditentukan oleh apakah mereka sedang hidup takut akan Allah atau tidak. Sikap ini yang akan membawa perkenanan Allah, sehingga Ia leluasa memberikan kemenangan itu kepada mereka. Sikap takut akan Tuhan menunjukkan kepercayaan bangsa Israel kepada Allah, bahwa Ia sanggup dan siap memberikan kemenangan kepada mereka.

2. Percaya kepada Setiap Janji Tuhan
Tuhan memberikan kemenangan kepada bangsa atau orang yang terikat perjanjian dengan-Nya. Tanda perjanjian Tuhan atas seseorang biasa disahkan dengan penumpangan tangan atau penuangan minyak urapan (2 Timotius 1:6; 1 Samuel 16:1-13).

Mazmur 20:7 berkata,

“Sekarang aku tahu, bahwa Tuhan memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.”

Melalui ayat ini, dapat dipahami bahwa kemenangan tidak diberikan kepada semua orang. Kemenangan adalah pemberian Allah kepada orang-orang pilihan-Nya. Tuhan yang berperang ganti orang yang diurapi-Nya dan Ia pasti akan menang dalam peperangan itu, sehingga orang pilihan-Nya dapat menerima kemenangan dari Allah.

HIDUP YANG BERKEMENANGAN
Melalui kedua prinsip tersebut, maka kita, sebagai Insan Pentakosta, perlu memiliki beberapa spiritualitas khusus dalam menjalani kehidupan yang adalah medan peperangan ini, antara lain:

1. Hidup sebagai Pribadi yang Diurapi
Saat peristiwa lahir baru, Roh Kudus diberikan untuk memeteraikan perjanjian rohani kita sebagai anak-anak Tuhan (2 Korintus 1:22). Tuhan juga meneruskan karya-Nya dengan pengalaman Baptisan Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh. Baptisan Roh Kudus inilah yang memberikan kita pengurapan dan kuasa untuk menjalani panggilan kita dalam menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus.

Pengurapan itu yang akan mengajar kita untuk mengerjakan hal-hal yang sulit dikerjakan oleh orang lain. Pengurapan akan menuntun kita mengambil keputusan yang sulit di waktu yang tepat. Pengurapan pula yang akan memampukan kita menerobos tantangan yang ada saat kita menjalankan panggilan-Nya. Pengurapan inilah yang membuat kita berjalan dari kemenangan demi kemenangan.

Namun, sebagai Insan Pentakosta, kita perlu menjaga pengurapan dengan hidup takut akan Tuhan dan membangun keintiman dengan Allah. Kekudusan dan keintimanlah yang akan menjaga urapan kita selalu baru setiap pagi dan kita akan senantiasa memiliki persediaan “minyak di dalam buli-buli kita” (Matius 25:1-4). Keintiman dan hidup dalam kekudusan adalah spiritualitas yang dibutuhkan Insan Pentakosta untuk memperoleh hidup yang berkemenangan.

2. Hidup Senantiasa Mengandalkan Tuhan
Mazmur 20:8 mengatakan bahwa saat orang-orang lain memegahkan kereta dan kuda untuk berperang, umat yang diurapi Tuhan memilih untuk memegahkan Allah sebagai sumber kemenangannya. Artinya, saat orang dunia menjadikan hal-hal selain Tuhan (koneksi orang dalam, pengalaman kerja yang sophisticated, fasilitas dari orang tua, dll) sebagai andalan di dalam hidup mereka, justru kita anak-anak Tuhan seharusnya memilih untuk mengandalkan Tuhan.

Sikap mengandalkan Tuhan ini dapat diwujudkan dengan hidup takut akan Allah, tidak tergoda menggunakan jalan pintas yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya, tidak menyombongkan ketrampilan dan pengalaman diri, dan tidak mengandalkan orang lain untuk mencapai kemenangan.

Mengandalkan Tuhan bukan berarti kita berhenti belajar dan mengembangkan diri. Meningkatkan keahlian dan keterampilan tentu baik untuk terus dilakukan. Menambah relasi dan pertemanan yang positif juga perlu untuk dijalankan supaya wawasan kita terus bertambah. Justru, saat kita meng-upgrade diri kita sambil mengandalkan Tuhan, maka Ia akan melimpahkan hikmat dan kemampuan untuk kita, sehingga kita dapat lebih mudah dalam belajar atau menguasai suatu ketrampilan baru. Tuhan juga dapat mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat untuk mendukung panggilan-Nya dalam hidup kita.

Kemudian, bagaimana dengan orang-orang yang diurapi tetapi mengalami ‘kekalahan’? Misalnya saat ada orang Kristen yang takut akan Tuhan, tapi ia kalah tender, atau anak Tuhan yang gagal dipromosikan oleh atasannya di kantor. Apakah itu karena dosa? Atau Tuhan sengaja tidak memberikan kemenangan kepadanya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memandang bahwa kemenangan kita bukan hanya diukur dari kesuksesan dalam pekerjaan atau prestasi dari standar dunia. Tuhan bisa saja mengizinkan kita mengalami kegagalan untuk menerima yang lebih baik atau menyelamatkan kita dari suatu masalah yang dapat muncul jika kita mengalami ‘kesuksesan’ atau promosi itu.

Contoh yang paling ideal adalah saat Pribadi yang paling diurapi, yaitu Yesus Kristus, disalibkan di bukit Golgota. Bagi dunia, Yesus telah kalah dan gagal dalam ‘perlombaan dunia’. Ia, seolah-olah, tidak berdaya menghadapi ahli Farisi, Kerajaan Romawi, bahkan Iblis. Namun, dunia tidak tahu bahwa justru Yesus berhasil menang dari setiap rintangan dalam menyelesaikan seluruh panggilan-Nya selama ada di bumi. Yesus menang melawan ketakutan, intimidasi, pencobaan, dan tentu saja menang melawan maut. Ia bukan saja menang untuk diri-Nya sendiri, tetapi Ia juga membawa kemenangan bagi seluruh umat manusia dari belenggu dosa.

Jadi, kita tetap perlu percaya bahwa Allah pasti menyediakan kemenangan bagi orang yang diurapi-Nya, hanya saja kita perlu menggunakan kacamata Allah saat memandang dan memaknai kemenangan itu.

Cara hidup Insan Pentakosta, sebagai pribadi yang diurapi, seharusnya berbeda dengan cara hidup orang dunia; termasuk dalam cara memandang dan meraih kemenangan. Orang dunia bisa saja mengandalkan hal-hal duniawi, yang bersifat sementara, untuk meraih kesuksesan hidup. Namun, Insan Pentakosta memiliki caranya sendiri dalam menerima kemenangan itu, yaitu dengan hidup takut akan Allah dan senantiasa mengandalkan Tuhan. Mari kita mulai membangun kehidupan yang takut akan Allah, memiliki keintiman yang berkualitas dengan-Nya, dan senantiasa mengandalkan Tuhan. Spiritualitas ini yang akan membawa kita senantiasa hidup dalam pengurapan Allah untuk sah menerima kemenangan dari tangan kanan-Nya yang kuat itu. Tuhan Yesus memberkati.

Daftar Pustaka
Allen, Amy Lindeman. “Baptism as Transformation and Promise: The Seal of the Spirit in 2 Corinthians, Ephesians, and Lutheran Liturgy.” Word & World 39, no. 2 (2019).
Bibles, Crossway. “The ESV Study Bible.” Wheaton, IL: Crossway Bibles, 2008.
Culpepper, R Alan. “The Biblical Basis for Ordination.” Review & Expositor 78, no. 4 (1981): 471–84.
VanGemeren, Willem A., Tremper Longman III, and David E. Garland. Psalms: The Expositor’s Bible Commentary. Revised Edition. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2008.

image source: https://www.facebook.com/IFCFtt/photos/a.580096342162479/907341939437916/?type=3

PERKATAAN YANG MEMIMPIN KEPADA KEMENANGAN

PERKATAAN YANG MEMIMPIN KEPADA KEMENANGAN

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
(Amsal 18:21)

Perkataan orang percaya adalah penuh kuasa, seperti sebuah doa/perkataan iman yang naik di hadapan Tuhan. Artinya bahwa setiap perkataan yang kita ucapkan adalah seperti benih doa yang ditabur, dimana kita akan menuai pada akhirnya. Kita yang memperkatakannya, kita juga yang nanti akan menuainya.

Namun setiap perkataan yang negatif dan yang tidak sesuai dengan kebenaran firman, dapat menjadi celah bagi si jahat untuk masuk ke dalam hidup kita dan dapat membatalkan penggenapan janji Tuhan untuk kita terima. Setiap hari dalam kehidupan, kita akan selalu diperhadapkan pada pilihan, termasuk pilihan untuk hidup di dalam kemenangan demi kemenangan atau sebaliknya.

Akibat dari mendengarkan perkataan istrinya, Adam harus menanggung kutuk dan susah payah.
Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu. (Kejadian 3:17)

Karena mendengarkan perkataan istrinya, Abraham akhirnya harus menghadapi persoalan antara istrinya (Sarah) dan hambanya (Hagar), serta Ismael (anak dari Hagar) yang memiliki kelakuan seperti keledai liar.
Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. (Kejadian 16:2)

Pilihan ada di tangan kita – apakah kita mau mendengarkan, merenungkan dan memperkatakan firman Tuhan; atau perkataan, ajaran dan kepercayaan yang dibangun oleh manusia.
Dengan merenungkan dan memperkatakan firman Tuhan; kita dapat mengubah atau membalikkan keadaan dari yang tidak mungkin terjadi, menjadi mungkin. Bahkan kita dapat mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Kemenangan, keberhasilan dan kehidupan yang akan kita raih.

Sebaliknya ketika kita mendengarkan, merenungkan serta mengucapkan dan mempercayai perkataan orang, kepercayaan/ajaran dunia; maka kita akan menuai kecelakaan, kematian (fisik/ rohani), kekosongan jiwa bahkan kebinasaan. Sebagai orang percaya, pasti kita akan memilih kehidupan, keberuntungan dan kemenangan dalam hidup.

Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan. Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan (Ulangan 30:14-15).

Dalam 1 Samuel 1: 10-13, 20 dan Lukas 1:13,18-20 diceritakan kisah dua orang wanita mandul yaitu Hana (istri Elkana) dan Elizabeth (istri Zakharia). Mungkin kita tidak mengalami mandul secara fisik, namun mandul juga bisa diartikan doa yang belum terjawab, masalah yang mengalami jalan buntu, dsb. Hana selalu disakiti oleh madunya karena tidak memilki anak. Tapi ia membawa semua masalahnya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh berdoa bahkan dengan hati yang sangat pedih.

Sedangkan kisah Zakharia yang sudah lanjut usia dan Elizabeth istrinya, juga mandul. Tuhan telah mengirim pesan bahwa doanya dikabulkan, tetapi Zakharia tidak percaya akan perkataan Malaikat Tuhan yang diutus kepadanya. Sehingga ia menjadi bisu, tidak dapat berkata-kata sampai anaknya lahir.

Baik Hana maupun Zakharia pada akhirnya sama-sama memperoleh apa yang mereka rindukan, karena Tuhan mengabulkan doa mereka. Namun perbedaannya adalah Zakharia harus mengalami bisu, tidak dapat berkata-kata karena perkataan ketidakpercayaan yang diucapkannya.
Tuhan membuat Zakharia tidak dapat berbicara untuk sementara waktu lamanya, agar janji Tuhan dapat digenapi.

Oleh sebab itu hati-hati dengan perkataan yang kita ucapkan. Setiap perkataan kita yang tidak memuliakan Tuhan, meragukan kuasaNya, atau perkataan negatif dsb yang kita ucapkan dapat membatalkan penggenapan janji Tuhan dan kuasaNya dinyatakan di dalam hidup kita. Atau kita akan menerima penggenapan janji Tuhan tersebut, tapi dengan susah payah. Tentunya kita mau mencapai kemenangan dengan gilang gemilang sesuai kehendak Tuhan, bukan kemenangan dengan babak belur. Ada perkataan yang seharusnya kita ucapkan atau tidak kita ucapkan, supaya kita mengalami kemenangan atas persoalan kita.

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:16-17)

Perkataan apa yang seharusnya kita ucapkan untuk memperoleh janji berkat Tuhan dalam hidup kita?

1. Perkatakan firman Tuhan (perkataan Kristus) yaitu perkataan hikmat, yang bermanfaat untuk mengajar, menegur dan membangun iman.
Firman Tuhan adalah hidup dan kuat, penuh kuasa serta mengandung janji di dalamNya; sehingga ketika kita memperkatakanNya, berarti kita menabur kemenangan, kehidupan dan berkat Tuhan yang pasti akan kita tuai. Kita merenungkan dan memperkatakan firman Tuhan, sehingga ketika menghadapi masalah, kita akan mendapatkan kekuatan dan penghiburan melalui firmanNya; kita juga akan dipimpin kepada jalan kebenaran, keselamatan dan kemenangan.

2. Perkataan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani.
Mazmur, pujian dan nyayian rohani yang dinaikkan dari hati yang mengasihi Tuhan adalah seperti dupa yang harum dan menyenangkan hati Tuhan. Ada kuasa di dalam mazmur dan pujian kepada Tuhan. Paulus dan Silas terlepas dari belenggu yang mengikatnya ketika di penjara, sewaktu mereka berdoa dan menyanyikan pujian kepada Tuhan. Pada saat menghadapi ujian dan masalah, kita mengalami kekuatiran/ ketakutan; tapi ketika kita menaikkan mazmur pujian maka kita akan dilepaskan/ dibebaskan dari belenggu ketakutan/ kekuatiran. Tuhan akan memberikan damai sejahtera, ketenangan, jalan keluar dan kemenangan atas persoalan yang kita hadapi.

3. Perkataan ucapan syukur.
Raja Daud selalu menaikkan ucapan syukur kepada Tuhan, bukan hanya pada saat menerima berkat dan mengalami kemenangan. Tetapi pada waktu melewati lembah kekelaman (dikejar-kejar Saul), Daud tetap mengucap syukur (Mazmur 57) sehingga ia mengalami kemenangan demi kemenangan yang Tuhan berikan.

Perkataan yang harus dihindari karena dapat membatalkan kuasa Tuhan dinyatakan di dalam hidup seseorang :

a. Perkataan sumpah serapah (Ulangan 29: 19-20).
Kalau ada perkataan makian, kutukan (sumpah serapah) dan bersungut-sungut yang diucapkan, maka yang dituai adalah kutuk dan kecelakaan. Bahkan dikatakan bahwa Tuhan akan menghapuskan namanya dari kolong langit (ini membawa kepada kebinasaan, bukan kemenangan).

b. Perkataan kotor (Efesus 4:29a).
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu. Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang kudus, tidak dapat tinggal bersama-sama dengan ketidakkudusan/ kecemaran. Jika ada perkataan kotor yang diucapkan, maka Allah tidak berkenan dan tidak dapat menyatakan mujizatNya. Yosua 3:5 mengatakan kuduskanlah dirimu, sebab besok Tuhan akan melakukan perbuatan yang ajaib diantara kamu. Kalau kita mau mengalami perbuatan ajaib Tuhan, maka kita harus menguduskan hidup (termasuk perkataan) kita.

c. Perkataan hampa, sembrono (Efesus 5:4a).
Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono karena hal-hal ini tidak pantas. Perkataan hampa adalah perkataan yang kosong, tidak ada manfaatnya. Jika kita menabur perkataan hampa, berarti tidak ada yang kita tuai (hampa) karena sama dengan kita menabur kesia-siaan. Sedangkan perkataan sembrono, yaitu perkataan yang tanpa dipikirkan dengan baik terlebih dulu. Perkataan sembrono bisa berupa perkataan yang tidak memuliakan Tuhan. Tuhan itu pencemburu, sehingga perkataan kita yang tidak memuliakan Tuhan atau meninggikan yang lain, akan mendukakan hati Tuhan dan menghalangi berkatNya.

d. Perkataan dusta, bohong (Mazmur 101:7b).
Tuhan tidak pernah berdusta, Ia adalah Tuhan yang berintegritas; sedangkan iblis adalah bapa segala dusta. Oleh karena itu dusta dan kebohongan berasal dari iblis, di dalamnya tidak ada kebenaran (Yohanes 8:44). Ananias dan Safira mati seketika, ketika mereka mendustai Roh Kudus.

e. Perkataan tidak percaya (2 Raja- raja 7:2,17).
Ada seorang perwira yang tidak percaya bahwa besok Tuhan akan membalikkan keadaan serta memberikan kemenangan atas bangsanya (Samaria). Ketika hal itu terjadi, ia justru mati terinjak-injak oleh masa. Jadi dengan perkataan yang kita ucapkan, kita akhirnya membatalkan atau menjadi penghalang bagi kuasa Tuhan untuk dinyatakan dengan sempurna.
Sebagai orang percaya yang memiliki harapan dan kepastian di dalam Kristus, bagaimana kita meresponi berbagai tantangan dan masalah yang akan kita alami di tahun ini? Apakah kita mau mengalami kemenangan bahkan lebih dari pemenang dalam segala perkara; atau meremehkan firman/hikmat/didikan, tidak taat, tidak mendisiplinkan diri, bersikap sembrono, terutama dalam hal perkataan?

Tahun 2023 adalah tahun untuk bangkit dan menjadi pemenang. Ini tidak otomatis terjadi, melainkan sebuah pilihan yang dihadapkan kepada setiap kita. Bagian kita adalah memilih untuk bangkit dan jadi pemenang. Pilihlah kehidupan, hikmat dan keberhasilan, maka kasih karunia Tuhan yang akan memampukan dan memimpin kepada kemenangan.

image source: https://www.sundaysocial.tv/graphics/the-tongue-can-bring-death-or-life-proverbs-1821/

BANGKIT DAN JADI PEMENANG

BANGKIT DAN JADI PEMENANG

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12)

Mentalitas orang percaya sebagai anak Tuhan yang harus dimiliki adalah sebagai pemenang. Karena itu, kita perlu mempersiapkan dan membangun diri dengan dasar yang benar, supaya menjadi pribadi yang tangguh. Tidak hanya mampu melewati masa-masa yang sukar saja, tetapi keluar sebagai pemenang. Untuk jadi pemenang kita butuh hikmat dan kebijakan. Kerinduan setiap orang memiliki hati yang bijaksana, untuk dapat mengetahui apa yang baik dan yang jahat, dapat terjadi bila mengikuti kebenaran.

Hati yang bijaksana artinya mengetahui yang baik dan yang jahat. Kebenaran mengatakan ketidaktaatan kepada Allah akan mendatangkan kematian. Kematian di sini maksudnya menjadi layu atau binasa.
tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kejadian 3:3).

Tipu muslihat adalah sesuatu yang sebetulnya bukan kebenaran tetapi sepertinya memuaskan keinginan kita untuk mengetahui yang baik dan jahat.
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ”Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 3:4-5).

Bila kita tidak dituntun oleh kebenaran, kita mudah tertipu dengan cara cara dunia yang menjanjikan apa yang kita rindukan tetapi membuat kita menentang Tuhan (Kejadian 3:4-5). Seseorang yang berpendidikan tinggi bisa saja memiliki pengetahuan tapi belum tentu memiliki hikmat ilahi. Hikmat dunia sangat bertolak belakang dengan hikmat Allah. Untuk memperoleh hikmat ilahi, hal pertama yang harus kita miliki adalah roh takut akan Tuhan.

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7)
The fear of the Lord is the beginning of wisdom (applied knowledge), but fools despise wisdom and instruction (Proverbs 1:7).

Kita diselamatkan karena percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Roma 10:9-10). Ketika mengaku Yesus adalah Tuhan, berarti IA adalah Tuan, majikan, pemilik yang berhak atas seluruh hidup kita – baik roh, jiwa dan tubuh termasuk karunia/talenta, intelektual, pekerjaan/usaha, waktu, dlsb. Kita adalah hamba, Yesus Kristus adalah Tuan kita.

Takut akan Tuhan maksudnya adalah mengasihi dan memiliki rasa hormat kepada Tuhan. Orang yang mengasihi dan hormat akan Tuhan akan taat kepada perintahNya. Ada beberapa hal yang terjadi saat seseorang hidup dalam takut akan Tuhan. Ia akan belajar mengenal yang Maha Kudus (Amsal 9:10). Dalam proses pengenalan inilah Roh Kudus memberikan hikmat pewahyuan, pengertian dan tuntunan bagaimana menjalani hidup dengan bijaksana serta melakukan kehendak Allah. Takut akan Tuhan membuat seseorang membenci kejahatan (Amsal 8:13). Orang yang takut Tuhan akan terbuka dengan didikan yang mendatangkan hikmat (Amsal 15:33) dan mengusir kebodohan (Amsal 22:15).

DISELAMATKAN UNTUK DAPAT HIDUP BAGI ALLAH

Ketika Allah menyelamatkan bangsa Israel jasmani dari perbudakan Mesir, IA berperang dan membebaskan mereka dari penindasan musuh (Keluaran 14:13-14). Demikian pula kita Israel rohani yang percaya kepada Kristus, kita dibebaskan dari perbudakan/ikatan dosa, ketergantungan, dan kekosongan jiwa untuk bergantung penuh kepadaNya.

Tujuan bangsa Israel dibebaskan dari penindasan bangsa Mesir (melambangkan system dunia) agar dapat menyembah Allah yang benar dan taat kepada perintahNya. Dari bangsa budak yang tertindas menjadi bangsa pilihan/hamba Allah yang hidup dalam kemerdekaan (baca Keluaran 14:19-31).

Setelah keluar dari perbudakan Mesir, perjalanan bangsa Israel dituntun oleh tiang awan dan tiang api yang melambangkan hadirat Tuhan (Keluaran 13:21-22). Firman Tuhan dan Roh Kudus adalah dua hal yang harus memenuhi hidup kita setiap hari. Dua hal tersebut menjadikan kita hidup dalam kemerdekaan sejati dan berkemenangan.

Untuk berhasil kita memerlukan hikmat. Hikmat membutuhkan pembaharuan akal budi (Roma 12:2) yang akan memampukan kita untuk mengetahui dan mengikuti kehendak Tuhan.
Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna (Kolose 1:9).

Hikmat melindungi kita dari segala tipu muslihat iblis. Hikmat melindungi kita dari bahaya dan hal-hal yang merugikan. Hikmat menuntun kita untuk membuat keputusan/pilihan dan berhasil. Hikmat memelihara hidup orang yang memilikinya.
Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari. Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya. (Pengkhotbah 7:11-12)

Hikmat Tuhan dapat membedakan seorang pemenang dari seorang pecundang. Amsal 24:16 “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana”. Yang membedakan bukan dari kegagalannya, tetapi bagaimana ia bangkit dari kegagalan/kejatuhan itulah yang menentukan. Kebijakan sangat dibutuhkan supaya tidak mengulangi kembali kegagalan/kesalahan yang sama yang telah diperbuat.

Yang menghalangi seorang untuk jadi pemenang adalah ketidaktaatan (Yakobus 1:14-15), sikap meremehkan hikmat dan didikan (Amsal 1:7 & Amsal 3:11) serta tidak disiplin (Amsal 22:6).
Menjadi pemenang dalam suatu pertandingan tidaklah mudah. Ada proses yang harus dilalui seperti pengorbanan atas kedisiplinan dan ketekunan dalam latihan. Tidak mungkin kemenangan dapat diraih tanpa semuanya itu. Disiplin dalam menjalankan kehendak Tuhan, tekun menjalin komunikasi dengan Allah (bangun mezbah dalam doa, pujian, penyembahan dan merenungkan Firman), melatih ketangguhan hidup dalam setiap tantangan dan pergumulan. Inilah yang memampukan kita menjadi pemenang.

Pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, tetapi mereka yang tidak pernah berhenti untuk bangkit dan bangkit lagi. Sebagai pemenang, marilah bangkit kembali saat terjatuh, minta kekuatan dari Tuhan untuk berjuang kembali serta bertobat dan tidak lakukan lagi. Jangan pernah menyerah sebab Tuhan selalu ada bersama dengan kita.

Hidup ini penuh dengan tantangan, ujian, pencobaan dan masa sukar yang harus dihadapi baik suka atau tidak, yang mana semua itu harus kita lewati. Umat manusia sedang dihadapkan kepada keadaan dunia yang bergejolak, termasuk orang percaya. Akan tetapi Tuhan berjanji akan menyertai kita sampai kepada akhir masa. Tempat yang paling aman untuk berlindung adalah tinggal dalam kasihNya. Kasih Allah menopang, menguatkan dan memampukan kita untuk bangkit dan jadi pemenang.

Tidak ada kata menyerah dan kalah dengan keadaan. Yang ada hanyalah bertahan, maju dan menang. Dunia boleh berkata tahun ini adalah tahun kesesakan. Namun bagi kita orang percaya bahwa tahun ini adalah tahun dimana Tuhan akan membuat pergerakan kita maju dengan cepat. Bukan berjalan lagi, tetapi berlari untuk menggapai panggilan surgawi dari Allah.

Bagian kita berjuang, lebih bertekun merenungkan dan menggali firman. Perjalanan hidup kita harus extra-miles, sebab janji Tuhan bukan hanya membuat kita sebagai pemenang, tetapi lebih daripada pemenang.
“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:37-39)

Hiduplah di dalam pertandingan iman bukan permainan. Orang benar akan hidup karena iman/percaya bukan karena melihat. Hiduplah oleh Roh sehingga kita tidak menuruti keinginan-keinginan daging. Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan akan menghasilkan mental lebih dari pemenang bukan sekedar menang.

Seperti seorang atlet yang mengikuti peraturan-peraturan tanpa mengeluh dalam pertandingan itu, begitu juga dengan orang percaya yang setia memegang perintah-perintah Allah dan melakukan kehendakNya sampai garis akhir. Pengkhotbah 12:13 “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang”.

image source: https://sheilaalewine.com/2022/06/04/the-wisest-arithmetic/

ALLAH BERSUKACITA ATAS KEMENANGAN  KITA

ALLAH BERSUKACITA ATAS KEMENANGAN KITA

TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai (Zefanya 3:17).

Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia telah keluar dari kasih karunia Allah. Di luar Allah tidak ada kehidupan, pertolongan, jaminan dan damai sejahtera. Manusia hidup tersesat, menjadi budak dosa, hidup dalam kutuk dan menuju kepada kebinasaan. Karena kasihNya yang besar, Allah berinisiatif datang ke dunia lahir sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya.

Allah sangat bersukacita dalam mengusahakan kebaikan, memberkati, memulihkan dan memberi kita kemenangan. Orang percaya adalah sasaran kasih dan perkenan Allah yang besar. Ia tidak pernah menyerah terhadap kita, walaupun kita penuh dengan kelemahan dan ketidakmampuan.

Untuk dapat memahami hal ini kita harus melihat dengan cara pandang kekekalan. Dunia cenderung mengukur dan menilai segala sesuatu dari hal-hal yang dapat dilihat, namun orang benar hidup oleh iman percaya kepada Kristus. Jika kita memahami apa yang Yesus sudah lakukan, maka sukacita Kristus di dalam kita menjadi penuh.

Merupakan suatu anugerah yang besar kalau kita telah diampuni dan tidak ditimpa murka Allah. Musuh sudah dikalahkan dan kita dibebaskan dari perbudakan Iblis serta dosa. Si jahat tidak bisa menjamah hidup kita karena Allah melindungi. Tuhan Yesus ada di antara kita sebagai pahlawan yang memberikan kemenangan karena Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.

Imanuel, Allah menyertai kita. Kasih Allah telah dicurahkan di hati kita melalui Roh KudusNya sehingga kita dapat terhubung denganNya melalui persekutuan serta hidup dalam kasih karunia untuk mendapatkan rahmat dan pertolongan pada waktunya.

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yohanes 14:16-17)

Sukacita kita akan mencapai puncaknya bila Allah menyatakan sepenuh kemuliaan dan kebesaranNya di bumi. Yesaya 35:4-10,

Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

a. Tuhan menyelamatkan kita dari cengkraman musuh, oleh sebab itu kita tidak perlu takut dan menjadi tawar hati akibat intimidasi/ tipu daya Iblis. Roh kita telah dibebaskan dari belenggu kuasa kegelapan. Kita telah menjadi anak-anak terang, milik Kristus Yesus.

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.

b. Tuhan memulihkan kehidupan kita secara fisik, mental, jiwa dan rohani. Dialah yang memikul kelemahan dan menanggung penyakit kita (Matius 8:17). Roh Kudus yang adalah sumber Air Hidup, menjadi mata air yang memulihkan hidup kita.

Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ,

c. Kita berjalan di dalam kebenaran dan kekudusan tanpa halangan karena tidak ada orang yang berbuat jahat atau berlaku busuk di Jalan Kudus Tuhan. Kita bisa menikmati hidup dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya karena lahir dari Allah dengan roh dan pikiran yang telah diperbarui firman Tuhan.

dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.

d. Melalui kebenaran dan kekudusan, Allah akan menuntun kita memasuki Sion, kota kemenangan atas musuh-musuh kita (2 Samuel 5:6-7). Kemenangan yang dari Tuhan membuat kita diliputi kegirangan dan sukacita ilahi, duka dan keluh kesah akan menjauh. Sukacita karena Tuhan adalah perlindungan bagi jiwa kita untuk kuat dan cakap dalam menanggung segala perkara.

Allah sangat bersukacita melihat hidup kita diselamatkan dan dipulihkan kembali seperti awal penciptaan. Bangsa Israel dulunya bangsa budak yang tidak berdaya, namun dipilih dan diangkat Tuhan menjadi bangsa yang besar dan ternama di bumi.

Begitu pula kita Israel rohani yang telah dipanggil keluar dari perbudakan dosa. Kita dipulihkan dan dibuat Tuhan menjadi suatu kerajaan imam dan bangsa yang kudus, harta kesayangan Tuhan sendiri (Keluaran 19:5-6) untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar di hadapan segala bangsa.

Allah yang telah menyertai kita di tahun 2022 juga akan menyertai kita di tahun depan. Dia berada di tengah umatNya untuk memberikan jaminan kemenangan dalam menghadapi segala perkara di masa mendatang yang penuh gejolak serta tantangan. Selamat hari Natal, Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://www.kcisradio.com/blog/zephaniah-317-daily-verse/

ALLAH  MENYELAMATKAN  DAN  MENYERTAI  KITA

ALLAH MENYELAMATKAN DAN MENYERTAI KITA

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus , karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:18-25)

Pada mulanya manusia diciptakan segambar dengan rupa Allah. Kejadian 1:26-27

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah melihat segala yang dijadikanNya itu dalam keadaan ‘sungguh amat baik’. Manusia adalah mahluk termulia dari segala ciptaan karena segambar dengan rupa Allah, artinya manusia memiliki karakter dan daya kreatifitas seperti Allah. Oleh sebab itu, Allah memberikan kuasa (dominion) kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan lainnya. Allah mau manusia berkuasa dan mengelola seluruh ciptaan serta menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi.

Allah tidak menghendaki manusia seperti robot yang hanya tunduk kepada perintah tanpa hubungan kasih denganNya. Manusia diberikan free will/ hak bebas untuk mengasihi Allah. Akan tetapi manusia menggunakan hak bebasnya untuk melanggar perintah Allah sehingga jatuh ke dalam dosa. Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan identitas/ kemuliaan Allah serta kehilangan dominion.

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. (Roma 5:12)

Dosa membuat hubungan manusia dengan Allah terputus. Dari generasi ke generasi, manusia hidup di dalam kegelapan, dalam tekanan dan kelemahan, dalam ketakutan, merasa tidak aman (insecure) karena telah kehilangan dominion.

Ketakutan membuat manusia berusaha memenuhi seluruh kebutuhan fisik, mental dan rohaninya dengan kekuatan dan caranya sendiri. Akibatnya memperbudak diri dengan dosa, ikatan, dengan keinginan mata, keinginan daging serta keangkuhan hidup, hidup dalam kutuk dan berakhir dengan kebinasaan. Manusia berupaya menjadi jawaban bagi semua masalah, kebutuhan dan kepuasan jiwanya sendiri.

Jauh dari persekutuan dengan Allah membuat pengertian manusia menjadi gelap, pikirannya sia-sia dan hati menjadi degil/bebal. Manusia yang berjalan dalam kegelapan akan tersesat, tidak mengerti kehidupan yang sesungguhnya, tidak memahami kebenaran serta tidak memiliki jaminan kepastian akan masa depannya.

Dalam kondisi seperti ini, tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri dengan kekuatannya sendiri. Kesalehan, perbuatan baik, beramal/memberi sedekah, kegiatan agamawi, pelayanan, memiliki hikmat dan pikiran yang baik, dlsb tidak akan pernah bisa menyelamatkan. Hanya Allah sendiri yang sanggup menyelamatkan manusia dari kehancuran.

Tujuan utama Yesus lahir sebagai manusia ke dalam dunia adalah untuk menyelamatkan umatNya dari dosa mereka. Nama Yesus (Yeshua/Yosua,Ibrani) yang berarti ‘Yahweh menyelamatkan’ atau ‘Tuhan adalah keselamatan.’ Seperti Yosua di dalam Perjanjian Lama memimpin bangsanya menang atas musuh, Yesus memimpin umatNya menang atas dosa/kedagingan, Iblis, kutuk, dan maut.

JANGAN TAKUT SEBAB ALLAH BESERTA KITA

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. (Lukas 2:10-11)

Yesus Kristus datang sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan, menghubungkan kembali manusia kepada persekutuan kasih dengan Allah dan mengembalikan identitas manusia seperti awal penciptaan (sebelum jatuh ke dalam dosa). Juruselamat diberikan untuk menyertai kita sehingga kita tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan dan tipu daya musuh.

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:14).

Keselamatan di dalam Kristus tidak hanya terbatas kepada pengampunan dosa dan hidup kekal saja, tapi mencakup seluruh aspek kehidupan secara fisik, jiwa, mental dan roh. Selama kita melakukan bagian kita dengan menjaga kesehatan, tubuh fisik kita dalam keadaan sehat, bebas dari bibit penyakit dan kelemahan. Jiwa ada dalam keadaan baik dan aman, penuh damai sejahtera, sukacita, tidak takut dan kuatir. Secara roh kita telah dibebaskan dari kuasa kegelapan/cengkraman Iblis dan hidup dalam terang Tuhan. Secara materi/finansial kita dicukupkan sehingga tidak mengalami kekurangan. Kita tidak lagi hidup dalam kutuk tapi dalam kasih karunia dan berkat sehingga apa saja yang kita lakukan dibuat Tuhan berhasil.

Iman yang didasari kasih kepada Yesus Kristus akan menyingkirkan ketakutan. Iman kepada Kristus mengalahkan dunia serta intimidasi si jahat.
Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1 Yohanes 5:5)

TUJUAN ALLAH MENYERTAI KITA

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

Kita dipilih dan dipanggil bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri, tapi agar kita berjalan dalam rancangan Allah bagi keselamatan seluruh umat manusia. Allah tidak menghendaki seorangpun binasa melainkan beroleh keselamatan. Roh Kudus yang dikaruniakan bagi kita memberikan kemampuan untuk menjadi saksi, memberitakan Injil keselamatan dan menjadikan semua bangsa murid Kristus.

Tahun-tahun ke depan adalah masa-masa yang penuh dengan tantangan tapi Tuhan sudah menguatkan kita dengan firmanNya : Jangan takut dan ragu karena Allah menyertai bahkan sampai kepada akhir jaman.

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:17-20)

image source: https://thebottomofabottle.wordpress.com/tag/1-john-54-5/

JANGAN TAKUT, BIMBANG DAN RAGU

JANGAN TAKUT, BIMBANG DAN RAGU

(Monthly theme : God with us, Allah beserta kita)

Perjalanan hidup di dunia ini di warnai dengan musim-musim silih berganti dan tidak ada yang pasti, kecuali janji Tuhan. Keadaan dunia yang tidak menentu membuat manusia sering merasa takut dan kuatir. Kadang hidup seperti sebuah misteri di mana kita tidak punya kuasa untuk memilih di mana dan kapan kita dilahirkan. Dan suatu saat nanti kita akan meninggalkan dunia ini.

Immanuel (God with us) berasal dari bahasa Ibrani yang artinya El = Allah; Immanu = beserta kita. Allah tidak membiarkan kita sendiri selamanya mencari sebab dan tujuan hidup, mencari awal dan akhir. Dia lahir kedunia untuk menyertai kita supaya siapa yang percaya tidak binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16) Jika orang Kristen masih juga kuatir, ragu dan cemas maka masalahnya ada pada kita yang kurang percaya. Dosa membuat manusia tidak bisa melihat penyertaan Tuhan yang sempurna.
Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (Yohanes 8:34)

Salib merupakan kekuatan Allah, dimana Yesus telah mencurahkan darahNya dan mati untuk penebusan dosa manusia. Inilah sumber penyertaan Allah untuk menguatkan iman kita. Oleh sebab itu, respon yang harus kita berikan adalah bertobat dari dosa.

Janji keselamatan bagi umat manusia telah dinubuatkan dalam kitab nabi Zefanya 3:11;16-20

11) Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus.
16-20) Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan . Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela. Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi. Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN.

Setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita telah diampuni dan tidak akan lagi dihukum karena dosa-dosa kita. Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita memiliki akses menghampiri tahta kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan serta janji-janji Allah karena Darah Anak Domba telah melayakkan kita (Ibrani 4:16)

KEADAAN KITA SETELAH PERCAYA KEPADA KRISTUS

Kita menerima pengampunan dosa (KPR 10:43) dan murka Allah tidak akan menimpa kita (Mazmur 103:10; Roma 5:9). Allah mengaruniakan keselamatan (Efesus 2:8) dari kebinasaan dan menerima hidup kekal, Zoe life, wholeness/not lacking anything (Yohanes 20:31b) serta tidak berada di dalam penghukuman (Roma 8:1).

Kita dibenarkan karena percaya/taat kepada Yesus Kristus (Filipi 3:9). Tidak ada yang dapat menggugat orang pilihan yang telah dibenarkan Allah (Roma 8:33). Iman kita harus berfokus kepada Pribadi Yesus, bukan kepada apa yang dapat Dia perbuat (berkat ataupun mukjizat).

Yesus telah menebus/membeli kita dengan nyawaNya (1 Korintus 6:20) agar kita dibebaskan dari kutuk hukum Taurat, belenggu dosa, maut dan kebinasaan. Seluruh surat hutang dosa yang mendakwa dan mengancam kita telah dipakukanNya pada kayu salib. Sekarang hidup kita bukan milik kita lagi.

Darah Yesus menyucikan hati nurani kita dari segala kejahatan serta perbuatan yang sia-sia (1 Korintus 1:30) supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Firman Tuhan akan membersihkan seluruh hidup kita (Yohanes 15:3) melalui proses pengudusan.

DIBEBASKAN DARI PERBUDAKAN

Orang percaya telah dipindahkan dari gelap kepada terang Tuhan yang ajaib. Iblis sudah dikalahkan dengan kemenangan Kristus secara mutlak di atas kayu salib. God with us artinya kita sudah dibebaskan dari perbudakan Iblis, kutuk dan dosa (Efesus 2:2).

Tuhan Yesus telah mengembalikan kuasa yang pernah jatuh ke tangan Iblis akibat dosa manusia pertama. ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18).
Orang percaya akan hidup dalam pertobatan karena semua yang lahir dari Allah tidak lagi menyukai hidup dalam dosa.
Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. (1 Yohanes 3:9).

Namun demikian selama masih hidup di dunia, iblis masih ada dan bisa menggoda kita dengan tipu daya-nya. Musuh berusaha menjatuhkan serta menarik kita agar keluar dari jalan keselamatan, dari berkat dan rencana Allah. Ia ingin kita agar tetap hidup dalam pikiran/cara pandang yang keliru, penuh dengan keinginan daging, kekecewaan, self-pity, ketakutan, kebimbangan, dlsb.

Tuhan Yesus telah memberikan kuasa dan otoritas bagi kita untuk menang atas Iblis dan hidup benar, menang atas dosa dan hidup kudus, bebas dari kutuk dan kebinasaan.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku..(Markus 16:17a)
Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. (1 Yohanes 5:18).

Sama seperti Yesus mengalahkan tipu daya Iblis dengan kuasa Roh Kudus (Matius 4:1-11), maka kitapun hanya bisa menang jika hidup dipimpin Roh Kudus (Allah beserta kita). Cara untuk mengalami kemenangan atas Iblis dan dosa :

1. Tunduk kepada Allah dan lawan Iblis (Yakobus 4:7)

Saat kita merendahkan hati dengan taat kepada Allah/kehendakNya maka kuasa urapan Roh Kudus bebas mengalir dalam hidup kita. Kita tidak akan takut terhadap intimidasi musuh berupa asumsi,ketakutan, ketidakpercayaan, keinginan-keinginan daging, dlsb. Dengan iman dan kuasa otoritas dari Tuhan Yesus kita usir kuasa kegelapan dalam Nama Yesus dan tundukkan diri kita kepada Allah. Iblis akan lari meninggalkan kita hanya jika kita taat kepada Kristus.

2. Mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah supaya dapat mengadakan perlawanan dan tetap berdiri teguh (baca Efesus 6:11-18).

Berdiri tegap, berikat pinggang kebenaran artinya kita hidup dalam kebenaran dan memiliki integritas ilahi. Matikan keinginan-keinginan daging dengan menyerahkan hidup dipimpin Roh Kudus. Baju zirah keadilan (breastplate of righteousness) di mana kita memiliki sikap hati yang benar, upright standing with God.

Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, yaitu menjadi saksi Kristus (pelaku firman) yang membawa terang Tuhan di manapun. Siap sedia memberitakan firman, baik atau tidak baik waktunya. Kita berani menyatakan apa yang salah, menegur dan menasehati dengan kasih dan kesabaran.

Perisai iman artinya iman kita tertuju kepada Pribadi Yesus agar dapat memadamkan panah-panah api (tipu daya, intimidasi) si jahat. Ketopong keselamatan, kita mengenal identitas dalam Kristus sehingga tahu apa yang Ia sudah lakukan bagi kita.

Kita lawan musuh dengan Pedang Roh yaitu Firman Tuhan yang diwahyukan/di munculkan Roh Kudus sehingga menjadi rhema dalam hidup kita. Dalam segala keadaan senantiasa waspada dan berjaga-jaga dalam doa.

3. Hidup dalam kasih Allah

Hidup dalam kasih membawa kita menikmati kemerdekaan dalam Kristus Yesus. Hidup dalam kasih artinya hidup dalam kebenaran dan saling mengasihi satu dengan yang lain (1 Yohanes 4:16). Dalam kasih tidak ada ketakutan karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18).

Saat meragukan Tuhan, kita tidak hidup dalam hukum kasih maka ketakutan yang akan muncul. Iblis sangat mudah memperdaya orang yang hidup dalam keraguan, ketakutan dan ketidakpercayaan. Jika kita membenci sesama, maka sesungguhnya kita membuka celah sehingga musuh masuk dan mengacaukan hidup kita. Kalahkan musuh dengan hidup mengasihi Allah dan sesama.

Orang percaya ada dalam payung perlindungan Darah Anak Domba. Sesungguhnya Iblis tidak berkuasa untuk memperbudak selama kita tidak membuka celah. Ia hanya bisa menipu kita dengan dusta dan intimidasi yang membuat kita ragu, tidak percaya, takut, kecewa, tidak taat serta rupa-rupa keinginan.

Jangan takut, bimbang dan ragu sebab Allah beserta kita. Jangan mau hidup dalam dusta Iblis dan dalam ketakutan karena kita sudah menjadi anak-anak Allah dalam Kristus Yesus. God with us – Roh Kudus yang berdiam di dalam kita memberikan kemampuan untuk melawan Iblis, menolak dosa, hidup dalam kemerdekaan sejati, dan hidup dalam berkat yang berkelimpahan. Kalau Allah beserta kita, siapakah yang akan menjadi lawan kita? Tidak ada!

image source: https://thesonofgod.org/2019/01/24/what-does-john-316-mean/

PESAN PROFETIK UNTUK SEMUA

PESAN PROFETIK UNTUK SEMUA

RENUNGAN KHUSUS

Kebanyakan orang beranggapan bahwa kehidupan yang profetik hanyalah bagi orang dari pelayanan tertentu saja, misalnya para pendoa, pelayan pujian dan penyembahan, serta pengkhotbah. Bahkan, ada yang menganggap bahwa kehidupan yang profetik adalah kehidupan yang (terlalu) “nge-roh”, dan tidak semua orang dapat hidup seperti itu. Apakah benar bahwa kehidupan yang profetik atau bernuansa kenabian hanya untuk pelayanan tertentu saja? Apakah gaya hidup yang “ngeroh” tersebut masih relevan saat ini?
Karunia profetik sendiri adalah pemberian dari Tuhan kepada seseorang supaya ia dapat melayani pekerjaan Tuhan. Seorang imam perlu dipenuhi oleh Roh Allah, supaya dapat mengerti apa yang harus dilakukan untuk mengerjakan panggilan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Tuntunan Roh akan memastikan seseorang melakukan pekerjaan Tuhan dengan tepat sasaran dan sesuai dengan kehendak Allah.
Nadab dan Abihu, putra Harun, pernah membawa api asing karena melakukan pekerjaan Tuhan dengan cara yang tidak sesuai prosedur. Hal tersebut menandakan bahwa mereka melayani Tuhan tanpa pimpinan Roh Allah (dengan kekuatan dan pemahaman sendiri). Narasi api asing ini memperlihatkan kepada kita bahwa seorang imam yang melayanipun belum tentu hidup secara profetik. (Imamat 10:1-2)
Jadi, apakah makna kata ‘profetik’ itu? Profetik berasal dari kata dasar prophet yang artinya nabi. Kata ‘nabi’ sendiri berasal dari bahasa Ibrani navi/nabiy (נָבִיא) yang diadaptasi ke dalam bahasa Yunani prophetes (προφήτης) yang berarti juru bicara (spokesman). Seperti makna dari bahasa aslinya, nabi adalah penyambung lidah Allah bagi umat-Nya melalui kata-kata nubuatan.i Suara kenabian (prophetic utterance) dapat berupa teguran, penghiburan, peringatan, nasihat, dan pesan Allah terkait apa yang akan Tuhan kerjakan di masa depan. Sehingga, profetik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan fungsi kenabian.
Berangkat dari pengertian itu, maka gaya hidup yang profetis dapat diartikan sebagai kehidupan yang senantiasa terkoneksi dengan Allah, menangkap suara-Nya, dan menyampaikan-Nya kepada orang lain. Tujuannya adalah supaya kehendak Allah dapat laksanakan oleh suatu komunitas.
Sebagai spirit-filled believers, perlu menyadari bahwa apa pun profesi dan panggilan yang Tuhan berikan kepadanya, itu adalah sebuah pekerjaan Tuhan. Ada nilai ibadah dan pelayanan di dalam setiap pekerjaan atau panggilan Tuhan di dalam kehidupan orang percaya. Saat Insan Pentakosta sedang merawat pasien, mengajar sebagai guru, atau membersihkan ruangan sebagai cleaning service, di saat yang sama, ia pun sedang melayani pekerjaan Tuhan yang tidak kalah profetisnya dengan pelayanan di gereja. Sehingga, dalam menjalani panggilan Tuhan melalui profesinya, Insan Pentakosta pun harus hidup secara profetik.
TIGA ALASAN ATAS URGENSINYA KEHIDUPAN PROFETIK
1. Perlunya Tuntunan Roh Kudus
Untuk dapat menang atau sukses dalam pekerjaan Tuhan, apa pun profesi kita, mutlak perlu adanya tuntunan profetik dari Allah. Misalnya, saat kita mengalami berbagai kendala di marketplace; Roh Kudus dapat menyediakan hikmat untuk menerobos penghalang-penghalang tersebut. Roh-Nya mampu memberikan ide kreatif atau mengingatkan kita akan hal-hal yang perlu kita benahi dari diri kita, supaya terobosan terjadi.
Contoh lain adalah saat harus mengambil keputusan dalam berbagai aspek hidup kita, misalnya memilih jurusan saat mendaftar kuliah. Dunia dapat memberi beribu pertimbangan dan pengetahuan untuk kita dapat mengambil keputusan. Namun, hanya melalui Roh-Nya saja kita dapat memperoleh hikmat untuk mengelola semua pertimbangan dan pengetahuan tersebut supaya mampu mengambil keputusan yang baik, berkenan, dan sempurna, yaitu sesuai dengan kehendak Allah (1 Raja-raja 3:9), termasuk dalam memilih jurusan kuliah yang tepat.
Semua bentuk dan manfaat dari tuntunan Roh Kudus ini hanya dapat kita peroleh jika kita hidup secara profetik. Tanpa kehidupan yang profetik, kita akan sulit atau bahkan gagal (miss) untuk menangkap apa yang menjadi kehendak Allah melalui tuntunan Roh Kudus. Boleh dibilang, hidup yang tidak profetis adalah hidup yang tidak mengandalkan tuntunan Roh Kudus.
2. Komunitas Kita Perlu Suara Tuhan
Tidak kebetulan kita bekerja atau bersekolah di suatu tempat. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita melihat hal yang salah dalam komunitas kita. Seperti Yeremia, sebagai orang yang mengerti kehendak Allah atas orang Israel, ia tidak sungkan menegur bangsanya dan menyampaikan hal-hal yang tidak populer pada waktu itu, yaitu kekudusan. Tuhan pun mau kita berani untuk menyatakan kebenaran dan meluruskan hal-hal yang salah dalam komunitas di mana kita berada.
Perlu adanya hikmat dan keberanian untuk kita dapat menyampaikan kerinduan dan teguran Allah bagi orang yang tidak mengenal-Nya. Kehidupan profetik juga menyediakan hikmat dan keberanian ini. Roh Allah akan memberikan desakan ilahi untuk berani mengambil sikap meskipun itu suatu pilihan yang langka di komunitas kita. Misalnya, di tengah maraknya tren FWB (friends with benefit) hari-hari ini, Insan Pentakosta yang memiliki hidup profetik akan berani berkata ‘tidak’ terhadap gaya hidup ini.
Contoh lainnya, pemercaya yang hidupnya profetis akan berani menegur rekan kerjanya yang korupsi atau teman kuliahnya yang gemar rebahan dan malas-malasan. Insan Pentakosta akan mampu memilih timing dan cara yang tepat dalam menyampaikan suara kenabian tersebut, yaitu dengan cara dan kata-kata yang membangun, menasihati, dan menghibur alih-alih menghakimi. (1 Korintus 14:3)
3. Menghadapi Tipuan Dunia
Perlu adanya kemampuan untuk dapat membedakan yang palsu dari yang asli, dalam berbagai konteks kehidupan. Seseorang dengan gaya hidup profetis akan memiliki karunia untuk membedakan roh. Secara spiritual, Roh-Nya akan memberikan kepekaan dan ketajaman supaya tidak mudah tertipu oleh si Penipu Ulung. Seperti Petrus yang membongkar persekongkolan Ananias dan Safira, demikian pula Roh-Nya akan memberikan hikmat kepada kita supaya terhindar dari tipuan, bahkan menguak tipuan itu. (Kisah Para Rasul 5:1-11)
Jadi, jelas bahwa kehidupan yang profetik adalah kebutuhan bagi semua Insan Pentakosta. Kehidupan profetik terbukti tetap dan makin relevan hari-hari ini. Semua pemercaya yang dipenuhi Roh Kudus dapat dan harus hidup secara profetik. Hal ini sesuai dengan konsep yang diusulkan oleh Stronstad dalam bukunya ‘The Prophethood for All Believers’.iii
Hidup yang profetik menyadarkan kita bahwa realitas yang kita hadapi bukanlah sekedar kenyataan jasmaniah saja, tetapi ada pula realitas rohani yang tidak kelihatan; namun tidak kalah nyata. (Ibrani 11:3)
Supaya kita memperoleh gambaran utuh dalam mengerjakan panggilan-Nya, kita perlu senantiasa hidup secara profetik. Tuntunan Roh Kudus yang kita peroleh dari kehidupan profetik akan menolong kita berhasil di dimensi rohani dan jasmani atas suatu perkara.
Mulailah membangun kehidupan yang profetik dengan memiliki kehidupan doa, pujian, penyembahan, dan perenungan firman yang rutin. Allah akan melatih kita mendengar suara-Nya yang lembut untuk menuntun kita menjalani kehidupan selama ada di dunia. Ada waktunya Tuhan juga akan menitipkan suara kenabian kepada kita, supaya ada perkataan Tuhan yang dilepaskan dan merubah kondisi komunitas kita. Maukah kita terlibat di dalamnya?

image source: https://besharpened.com/hebrews-113/

KETAATAN – MELAKUKAN KEHENDAK BAPAKU

KETAATAN – MELAKUKAN KEHENDAK BAPAKU

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Matius 7:21)

Ketaatan itu sesungguhnya sederhana, tidak rumit. Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa melaksanakan kehendak Bapa-Nya yang di sorga merupakan suatu syarat untuk memasuki Kerajaan Sorga. Sedangkan Keselamatan itu adalah kasih Karunia, suatu pemberian Allah, bukan karena usaha kita. Jadi mengapa kita harus taat kalau kita sudah diselamatkan?

Kita diselamatkan saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Menerima Yesus berarti kita mau menerima gaya hidupNya yang dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.(Filipi2:8)

Keselamatan hanya dapat diperoleh dalam ketaatan kepada Tuhan. Saat kita percaya dan menerima Dia, kita menjadi seorang hamba, ‘tanpa kehendak’ dan siap melakukan kehendak tuanNya. Namun, banyak orang Kristen mengira keselamatan bisa diperoleh tanpa taat melakukan kehendak Bapa.

Setiap orang Kristen harus merenungkan Firman Tuhan agar roh dan pikiran nya di terangi. Karena kehidupan yang lama dalam kegelapan hanya ingin melakukan keinginan keinginan untuk memuaskan hawa nafsunya yang menghancurkan.

Karena keinginan manusia yang membutakan sehingga orang cenderung mengelak/menghindar untuk mengetahui kehendak Tuhan, apalagi melakukannya. Keinginan dalam hati manusia seringkali mengalahkan keinginan untuk menaati Allah. Ketidaktaatan artinya kita lebih mengasihi diri, orang lain atau sesuatu lebih dari Tuhan.

Kebanyakan orang maunya mengikuti keinginannya sendiri, hidup sesuka hatinya, tidak mau diatur dan menaati Allah dilakukan karena terpaksa (takut akan sanksi/hukuman). Ketaatan tidak bisa dipaksa. Ketaatan karena terpaksa atau takut, hanya akan bertahan sementara. Taat pada Tuhan adalah buah dari hati yang mengasihi dan menghormati Tuhan
Selain hubungan kasih, ketaatan merupakan landasan penting agar kita dapat berjalan bersama DIA dan melakukan kehendakNya.

Yang terpenting bukan seberapa banyak pelayanan atau korban yang kita berikan. Yang Tuhan inginkan adalah ketaatan kita kepada-Nya. Mengapa kita perlu taat ? Karena kita adalah orang asing di dunia (Mazmur 119:19), untuk itu perlu pemandu supaya tidak tersesat. Ketaatan akan petunjuk Tuhan itu sangat diperlukan. Jadi yang perlu taat itu adalah kita, bukan Tuhan yang harus menuruti kemauan kita.

Yesus memberikan teladan yang mulia dan sempurna, yang mana IA sendiri sebagai Anak memilih taat kepada BapaNya.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:5-11)

Ketika kita terus mengalami pembaruan budi oleh firman Tuhan, maka pikiran dan perasaan kita selaras dengan pikiran dan perasaan Kristus Yesus. Pikiran dan perasaan yang bagaimana? Pikiran dan perasaan yang berfokus kepada Pribadi Bapa dan kehendakNya.

Tanpa ketaatan, kita pasti tersesat. Kita taat karena kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang baik. Kita menuruti kehendak Bapa karena kita tahu dan percaya bahwa apapun yang terjadi sekalipun yang tidak enak, pasti IA merancangkan yang terbaik (Yeremia 29:11). Jangan menilai Kristus menurut ukuran dan pemikiran sendiri. Rancangan dan jalan Tuhan jauh lebih tinggi dari rancangan dan jalan kita. Bagian kita adalah belajar taat walaupun kadang tidak mengerti apa yang akan terjadi di depan. Percayalah bahwa langkah-langkah orang benar sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Bagaimana kita dapat memiliki ketaatan?
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. (Ibrani 5:8) Ketaatan tidak didapat secara instan atau otomatis, melainkan merupakan proses pembelajaran dalam hidup yang harus diperjuangkan.

Langkah-langkah untuk belajar taat :

1. Belajar mendengarkan.

Tetapi jawab Samuel: ”Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. (1 Samuel 15:22).

Bagaimana kita mau taat, kalau kita tidak tahu perintah Tuhan? Bagaimana tahu perintah Tuhan, kalau kita tidak mendengarkan? Mendengarkan itu berarti memberikan perhatian penuh. Mendengarkan perintah Tuhan berarti memberi perhatian penuh pada firman Tuhan dan ada penundukan diri (Mazmur 119:105). Roh Kudus memunculkan/mengingatkan firman, kita renungkan, minta Ia memberikan pewahyuan/pengertian. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

2. Belajar rendah hati.

Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. (Mazmur 25:8-9).

Kunci ketaatan adalah kerendahan hati, di mana kita menempatkan/memposisikan diri lebih rendah atau di bawah dari pribadi yang kita taati. Yesus Kristus adalah role model ketaatan yang sempurna. Dalam keadaanNya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri dengan mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia dan taat sampai mati di kayu salib.

Jangan sombong, merasa lebih tahu, lebih bisa, lebih kuat, serta membangun kebenaran diri sendiri. Jika kita bersikap seperti itu, maka tidak mungkin bisa taat. Tempatkan Tuhan dan firmanNya lebih penting serta menjadi yang terutama di atas kehidupan kita.

3. Belajar memahami dan menyesuaikan.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Matius 26:39,42)

Dari ayat di atas terlihat bahwa Yesus tidak hanya memahami kehendak Bapa, namun juga belajar menyesuaikan kehendakNya dengan kehendak Bapa. Seringkali seseorang memahami firman Tuhan, namun tidak mau menyesuaikan hidupnya, tujuan serta prinsip hidupnya dengan firman Tuhan. Belajarlah memahami apa yang Tuhan mau, kemudian menyesuaikan diri dengan kehendakNya.

Ketaatan adalah jalan iman, jalan serupa dengan Kristus dan jalan di dalam pengudusan. Iman yang terbesar bukanlah iman untuk memindahkan gunung atau mengadakan mukjizat, melainkan iman untuk taat secara total kepada kehendak Allah. Pada hakekatnya ketaatan itu adalah sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus Kristus. Allah sangat berkenan kepada orang yang taat kepadaNya dalam situasi sulit sekalipun. Ketaatan merupakan harga yang mutlak jika seseorang ingin mengalami penggenapan janji Tuhan.

Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya. Bila ketaatan sudah menjadi gaya hidup seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan.

Ketaatan adalah demonstrasi kasih kita kepada Tuhan (1 Yohanes 5:3). Fokus ketaatan kita hanya tertuju kepada Tuhan. Gaya hidup dalam ketaatan akan menumbuhkan karakter Kristus dan membawa kemuliaan Tuhan dalam hidup kita.

Ketaatan merupakan bukti bahwa kita percaya kepada Allah, iman tanpa ketaatan adalah mati. Bila kita percaya kepada Allah, maka kita akan melakukannya tanpa banyak bertanya dan tanpa banyak alasan. Iman percaya kita dibangun karena kasih.

Meneladani Tuhan Yesus, ketaatan membutuhkan proses pembelajaran dan ada harga yang harus dibayar. Ketaatan adalah tanda kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan juga merupakan kunci bagi orang percaya untuk hidup dalam kebenaran dan dalam kelimpahan berkat.

image source: https://www.pinterest.com/pin/kjv-scripture-tlc-creations–436356651382295894/

HIDUP SEBAGAI MURID TUHAN

HIDUP SEBAGAI MURID TUHAN

Dalam Injil Yohanes kita banyak melihat bagaimana Tuhan Yesus secara pribadi menyampaikan kepada murid-murid-Nya bagaimana kelak kehidupan dan pelayanan sebagai orang percaya paska kematian-kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Sorga. (Yohanes 14:16-17; 14:26; 16:13). Tuhan memberi seorang Penolong sehingga kita sebagai orang percaya mendengar Suara Tuhan dan menyampaikan isi hati Tuhan.
Perlu kita ingat bahwa yang menjadi kunci kemenangan dalam kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dipimpin dan dituntun oleh Roh Kudus (Roma 8:11,13; Galatia 5:16,25) dan bukan sekedar hikmat, kepintaran, kehebatan dan kebijaksanaan kita sendiri. (Amsal 3:5- 7)
MENDENGAR SUARA TUHAN
Apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sehubungan dengan:· Roh Kebenaran · Seorang Penolong yang lain · Penghibur yaitu Roh Kudus adalah untuk mempersiapkan murid-murid dalam sebuah dimensi baru hidup kekristenan, yaitu hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus.
Kisah Para Rasul 2:1-4 menuliskan: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata… seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Ayat 4)
Tepat 50 hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus, 120 murid sedang berkumpul dan mereka dipenuhi dengan Roh Kudus, disitulah kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus dimulai. Roh Kudus menuntun dan memimpin bukan hanya dalam kehidupan pribadi orang percaya tetapi juga gereja-Nya dalam melaksanakan missio christi yaitu menuntaskan Amanat Agung. (Kisah Para Rasul 13:2,4; 15:28 16:6; 21:10-11)
Pasal terakhir dalam Kisah Para Rasul (pasal 28) bukanlah merupakan pasal penutup dari Kisah Para Rasul. Kisah Para Rasul belum berhenti dan terus berlanjut sampai dengan era gereja sekarang ini. Saat kita memperhatikan sejarah Gereja mulai tahun 100-2020 Masehi, kita mendapati bahwa Roh Kudus tetap memenuhi, memberikan kuasa dan otoritas kepada orang percaya. Mereka adalah sebagian kecil dari hamba-hamba TUHAN yang melanjutkan gerakan Pentakosta dari sejak gereja mula-mula. Mereka melayani dengan urapan dan karunia Roh Kudus. Ada mujizat dan tanda heran, kesembuhan ilahi yang menyertai pelayanan mereka. Demikian juga dalam kehidupan bergereja; karena kita dipimpin dan dituntun oleh Roh Kudus sebagaimana gereja mula-mula, maka murid Tuhan yang sejati masih percaya bahwa Tuhan masih berbicara secara khusus untuk menyampaikan pesan, arahan, tuntunan bagi jemaatNya.
Karena Tuhan masih berbicara kepada umat-Nya, maka mendengar suara Tuhan adalah hal yang normal dialami oleh Insan Pentakosta, sebab mendengar suara Tuhan bukanlah tentang kemampuan manusia untuk mendengar suara-Nya, tetapi tentang penyerahan diri total orang-orang percaya yang ingin mendengarkan suara-Nya sekalipun kita sedang dalam dunia. Tugas kita adalah melatih kepekaan dalam mendengar suara-Nya.
Yohanes 10:2-5 dengan sangat jelas mengatakan bahwa sebagai domba-domba-Nya, kita mendengar suara-Nya, kita mengikuti Dia karena kita mengenal suara-Nya. Kita tidak mungkin mengenali suara Tuhan Yesus jika kita tidak melatih kepekaan dalam mendengar suara-Nya dan tidak memiliki pengalaman hidup sehari-hari dalam mendengar suara-Nya.
Dengan membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, kita akan memiliki kepekaan dan kemampuan dalam membedakan mana nubuat atau tuntunan yang benar dari Tuhan dan mana yang bukan; tentu dengan mengujinya berdasarkan Firman Tuhan (Alkitab).
BERKATA-KATA SESUAI DENGAN FIRMAN TUHAN
Dalam kehidupan sehari-hari, memperkatakan Firman Tuhan merupakan sesuatu yang lumrah, sebagaimana diajarkan dalam Firman Tuhan. (Yosua 1:8) Itulah sebabnya banyak ditemui dalam kalangan Insan Pentakosta, dalam doa mereka ada deklarasi, memperkatakan Firman Tuhan dengan penuh iman. Ayat-ayat Alkitab menjadi doa mereka dan mereka imani pasti akan terjadi.
· Perkatakan dengan penuh iman ketika sakit. (1 Petrus 2:24)
· Perkatakan dengan penuh iman ketika mengalami hidup yang tertekan karena kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. (Filipi 4:13)
Bagaimana dengan para pemimpin jemaat? Pemimpin jemaat yang tertinggi adalah gembala jemaat lokal. Merekalah yang menjalankan tugas penggembalaan pada jemaat yang dipercayakan TUHAN kepada mereka masing-masing. Memberi makan domba (umat Tuhan) dengan makanan rohani, yakni pengajaran Firman Tuhan yang sehat agar mereka bertumbuh; dan tidak jarang juga makanan jasmani bagi jemaat yang membutuhkan.
Mazmur 23 berkata bahwa seorang gembala harus menuntun domba ke air yang tenang dan ke padang yang berumput hijau. Demikian juga gembala jemaat lokal harus dapat menuntun umat yang TUHAN percayakan padanya. Gembala jemaat lokal harus memiliki keintiman dengan Tuhan, sebab melalui hubungan yang intim/ dekat dengan Tuhan itulah mereka akan mendapatkan tuntunan, arahan Tuhan bagi umat yang dia gembalakan.
Robert Menzies dalam bukunya menyatakan bahwa dalam khotbahnya paska baptisan Roh Kudus, Petrus merujuk kepada kepada salah satu nubuatan Perjanjian Lama terkait dengan kedatangan Roh Kudus, yakni Yoel 2:28-32; serta mendeklarasikan bahwa nubuatan ini juga sedang dipenuhi. (Kisah Para Rasul 2:17-21)
Sama seperti Tuhan Yesus diurapi untuk memenuhi tugas kenabian-Nya, demikian juga murid-murid Yesus kini telah diurapi sebagai nabi-nabi akhir zaman untuk menyatakan Firman Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 2:18 Lukas memasukan kalimat,“…. dan mereka akan bernubuat.”
Ke dalam kutipan dari kitab Yoel. Dan Lukas menekankan fakta bahwa Roh Kudus datang sebagai sumber inspirasi nubuatan. Bahwa Gereja di zaman akhir ini adalah komunitas para nabi. Para nabi yang terpanggil untuk membawa pesan “keselamatan sampai keujung bumi”. (Yesaya 49:6; Kisah Para Rasul 1:8) Lukas juga mengingatkan para pembacanya bahwa mereka telah dijanjikan kuasa untuk memenuhi panggilan tersebut dan memampukan Gereja untuk menjadi saksi-Nya.
Wayne Grudem, seorang profesor Alkitab menyebutkan bahwa bernubuat adalah salah satu karunia Roh sebagaimana dicatat dalam 1 Korintus 12,14. Dalam Perjanjian Baru kita mengenal ada beberapa Nabi seperti:· Agabus (Kisah Para Rasul 11:28) · Barnabas · Simeon yang disebut Niger · Lukius orang Kirene dan Menahem (Kisah Para Rasul 13:1)
Grudem menambahkan dalam catatannya, hal yang sangat penting dari nubuatan adalah fakta bahwa nubuatan tersebut berdasarkan dari sesuatu yang telah diungkapkan oleh Roh Kudus, dan nubuatan diizinkan untuk disampaikan dengan penuh kuasa untuk memenuhi kebutuhan jemaat pada saat itu dan dinyatakan secara spontan oleh Roh Kudus.
Insan Pentakosta percaya bahwa Baptisan Roh Kudus adalah berkat yang kedua (second blessing) yang diterima oleh orang percaya setelah kelahiran baru. Jika pemahaman awalnya saja berbeda, maka dalam menjalankan praktek hidup kekristenan dan pelayanan serta pola, model dan prinsip kepemimpinan dalam bergereja tentu berbeda.
Marilah kita mengedepankan diskusi untuk dapat saling mengenal ajaran satu dengan yang lain, melihat doktrin, ajaran dan praktek hidup kristiani dari ‘kacamata’ yang sama. Lebih dari itu:
“…hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” (Filipi 2:1-6)

image source: https://my.bible.com/bible/111/JOS.1.8.NIV

BE IMITATORS OF CHRIST

BE IMITATORS OF CHRIST

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia,
ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6)

Tuntunan Tuhan bulan ini melalui Gembala kita adalah menjadi murid Kristus yang sejati (Be imitators of Christ). Kata “murid” artinya belajar menjadi seperti gurunya. Yesus adalah teladan, role model kita dalam hal kebiasaan, karakter dan pelayananNya.

Tuhan Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkenan kepada BapaNya (Matius 3:17). Berkenan artinya hidup kudus (1 Petrus 1: 14-16) dan melakukan kehendak Bapa.

Therefore be imitators of God as dear children. And walk in love, as Christ also has loved us and given Himself for us, an offering and a sacrifice to God for a sweet-smelling aroma (Ephesians 5:1-2, NKJV).

Be imitators of Christ adalah ciri orang Kristen sejati. Orang Kristen sejati adalah pelaku Firman dan bukan orang yang hanya berpengetahuan Firman sehingga menjadi ahli Taurat. Orang Kristen sejati bukan orang yang hanya melayani tanpa melakukan kehendak Bapa. Karena tanpa hubungan kasih pada akhir zaman ia yang berseru: Tuhan, Tuhan! ataupun yang telah bernubuat, berkarunia, mengadakan mukjizat dan mengusir setan-setan. seperti yang ditulis dalam Matius 7: 21-23 adalah orang yang tidak berkenan.
Jadi Bagaimana menjadi Orang Kristen sejati yang berkenan.?:

1. Miliki hubungan kasih dengan Allah
Kasih adalah tanda dari sebuah kelahiran kembali saat Roh Kudus yang adalah wujud kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita (Roma 5:5). Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki benih ilahi karena berasal dari Dia sehingga kita dimampukan untuk berjalan dalam kasih. Kita dapat mengasihi Allah karena IA yang lebih dahulu mengasihi kita dengan cara memberikan DiriNya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Mengasihi Allah bukan perasaan semata, melainkan menuruti perintahNya. “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku; seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yohanes 15:10).

Orang Kristen sejati menyadari bahwa dirinya penuh dengan kelemahan sehingga tidak dapat hidup tanpa kasih Tuhan. Di luar Kristus, kita tidak dapat melakukan apa-apa. Tanda bahwa kasih Allah sempurna di dalam kita adalah pertama, kita saling mengasihi (1 Yohanes 4:12,20); ke dua, kita tidak hidup dalam ketakutan karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18).

2. Hidup dipimpin Roh Kudus
Anak-anak Allah akan hidup dipimpin oleh Roh Allah (Roma 8:14). Artinya manusia roh kita tunduk kepada pimpinan Roh Kudus. Bagi orang yang mengasihi Tuhan dan dipimpin Roh Kudus, perintah Tuhan bukan lagi menjadi suatu taurat yang mengikat atau membatasi kebebasan tetapi suatu pilihan untuk taat melakukan perintahNya dengan sukacita.

3. Melakukan kehendakNya.
Seseorang dapat mengerti dan melakukan kehendak Allah jika ia memenuhi roh dan jiwanya dengan firman serta hadirat Tuhan. Di saat firman Tuhan memenuhi hati dan pikiran kita, maka perasaan, perkataan, kehendak/perbuatan akan selaras dengan firman. Pembaruan akal budi harus terus terjadi agar kita semakin mengerti kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Roma 12:2).

Bila kita sibuk dengan urusan kita sekalipun melakukan pelayanan maka kita tidak melakukan kehendakNya (Mat 7:21-23) karena tidak didasari dengan hubungan Kasih dengan Bapa di Surga.
Sebaliknya kita menjadi orang Kristen yang dipimpin oleh kedagingan seperti 5 tipe berikut ini :

a. Legalistic Christian

Definisi legalisme (kamus Merriam Webster) adalah kepatuhan yang ketat, sesuai literatur/harafiah, atau berlebihan pada hukum atau ketentuan agama. Kepatuhan yang kaku, tidak berdasarkan kasih karunia, dilakukan tanpa iman. Tujuannya hanya memenuhi ketentuan hukum semata. Contoh klasik legalisme adalah orang golongan Farisi. Tipe seperti ini cenderung mudah menghakimi, berlaku munafik karena hanya mementingkan tampilan luar untuk dipuji orang sementara tidak jadi pelaku firman, tidak hidup dalam kasih, tidak memiliki belas kasihan, keadilan dan kesetiaan (Matius 23:23). Legalisme gagal melihat tujuan utama dari hukum Taurat yang sebenarnya yaitu menjadi “penuntun” yang membawa manusia kepada Kristus (Galatia 3:24).

b. Mechanical Christian

Mechanical biasanya berhubungan dengan mesin dan cara mengoperasikannya. Bisa dibayangkan jika hal itu diterapkan kepada kehidupan kekristenan yang sesungguhnya adalah hubungan kasih antara Allah dan manusia.
Tipe ini berusaha menerapkan firman Tuhan dengan metode/langkah yang berasal dari pemikiran logis dan pengertian diri sendiri serta menempatkan Allah dalam ruang pemikirannya yang sangat terbatas. Ia mencoba mendikte Tuhan dengan pikiran dan caranya sendiri sehingga ketika apa yang diharapkan tidak terjadi, dirinya akan kecewa terhadap Tuhan.
Orang Kristen tipe ini kurang memahani bahwa Allah bekerja secara sistematik dan teratur dalam segalanya tapi juga secara dinamis, kreatif serta tidak bisa dibatasi oleh logika / pikiran manusia.

Misalnya, ketika sudah melakukan pelayanan, maka ia juga mau Tuhan menjawab doanya sesuai cara dan pikirannya sendiri (mendikte Tuhan). Contoh lain dalam Matius 18:21-22 di mana Petrus menanyakan kepada Tuhan Yesus, sampai berapa kali ia harus mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Petrus bertanya tentang kuantitas/jumlah ‘sampai berapa kali’ tapi Tuhan menjawab ‘bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali’. Ini bicara bahwa mengampuni orang yang bersalah kepada kita harus dengan sempurna yaitu segenap hati.

c. Religious Christian

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara orang Kristen yang religious/agamawi dengan orang Kristen sejati. Seseorang yang religious (misalnya setia melakukan kegiatan agamawi misalnya rajin ke gereja, melayani, bergaul dengan orang-orang di lingkungan gereja, setia menjadi anggota gereja,dsb), belum tentu menjadi murid Kristus sejati.

Orang Kristen agamawi menempatkan ritual kegiatan agamawi sebagai pengganti Tuhan. Tipe ini bisa tampak rajin dan aktif dalam semua kegiatan keagamawian, tetapi tidak memiliki hubungan kasih dengan Tuhan secara pribadi. Kristen religious suka membuat aturan/doktrin keagamawian yang sebenarnya bukan prinsip kebenaran firman melainkan pengertiannya sendiri, kemudian membebankan aturan itu kepada orang lain sementara ia sendiri tidak melakukan. Kristen tipe ini tidak memiliki kasih Allah dan belas kasihan terhadap orang lain; mereka menganggap kegiatan keagamawian dilakukan untuk memperoleh keselamatan. Selain itu orang Kristen agamawi hanya memanfaatkan pengetahuan tentang Tuhan untuk membenarkan dirinya, tetapi di dalam hatinya jauh dari persekutuan dengan Tuhan (Markus 7:6-9).

Orang percaya diselamatkan oleh iman karena kasih karunia (Efesus 2:8-9), dan bukan karena perbuatan. Murid Kristus sejati akan hidup oleh iman yang didemonstrasikan melalui perbuatan, sebagai buah dari hubungan kasih dengan Allah.

d. Carnal Christian

Orang Kristen tipe ini sudah mengalami kelahiran baru tapi hidupnya masih dipimpin oleh kedagingan. Mereka adalah bayi rohani yang belum dewasa dalam Kristus dan masih memerlukan susu karena belum mampu menerima makanan keras.

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani , tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Korintus 3:1-3).

Kita bisa saja berbuat kesalahan tapi seorang Kristen sejati tidak akan terus tinggal dalam dosa dan kedagingan. Ia akan menyerahkan diri hidup dipimpin Roh Kudus untuk mematikan keinginan daging. Kristen sejati rela dididik dan diproses Tuhan agar semakin serupa dengan gambarNya (sanctification).

e. Secular Christian

Kristen sekuler bukan berfokus kepada Kristus tapi kepada hal-hal sekuler/keduniawian. Bukannya menjadi terang dan garam di dunia sekuler tapi menjadi serupa dengan dunia. Mereka justru membawa hal sekuler, budaya duniawi dan nilai-nilai dunia ke dalam gereja.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1 Yohanes 2:15-16)
Bersahabat dengan dunia berarti menjadikan diri kita musuh Allah (Yakobus 4:4).

Jika kita mengatakan, bahwa kita ada di dalam Kristus, maka kita wajib hidup sama seperti Dia telah hidup (1 Yohanes 2:6). Dalam keadaanNya sebagai Anak Manusia, Yesus Kristus adalah satu-satunya role model yang wajib kita teladani dalam hal kebiasaan, karakter dan pelayananNya.
Melalui hubungan kasih dengan Allah dan hidup dipimpin Roh Kudus untuk bisa mengerti serta melakukan kehendak Bapa, maka kita akan semakin menyerupai Kristus. Be imitators of Christ.

image source: https://www.pinterest.com/pin/jesus-christ-is-everything-for-every-one–716705728179529050/