Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 16)
PESAN PROFETIK UNTUK SEMUA

PESAN PROFETIK UNTUK SEMUA

RENUNGAN KHUSUS

Kebanyakan orang beranggapan bahwa kehidupan yang profetik hanyalah bagi orang dari pelayanan tertentu saja, misalnya para pendoa, pelayan pujian dan penyembahan, serta pengkhotbah. Bahkan, ada yang menganggap bahwa kehidupan yang profetik adalah kehidupan yang (terlalu) “nge-roh”, dan tidak semua orang dapat hidup seperti itu. Apakah benar bahwa kehidupan yang profetik atau bernuansa kenabian hanya untuk pelayanan tertentu saja? Apakah gaya hidup yang “ngeroh” tersebut masih relevan saat ini?
Karunia profetik sendiri adalah pemberian dari Tuhan kepada seseorang supaya ia dapat melayani pekerjaan Tuhan. Seorang imam perlu dipenuhi oleh Roh Allah, supaya dapat mengerti apa yang harus dilakukan untuk mengerjakan panggilan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Tuntunan Roh akan memastikan seseorang melakukan pekerjaan Tuhan dengan tepat sasaran dan sesuai dengan kehendak Allah.
Nadab dan Abihu, putra Harun, pernah membawa api asing karena melakukan pekerjaan Tuhan dengan cara yang tidak sesuai prosedur. Hal tersebut menandakan bahwa mereka melayani Tuhan tanpa pimpinan Roh Allah (dengan kekuatan dan pemahaman sendiri). Narasi api asing ini memperlihatkan kepada kita bahwa seorang imam yang melayanipun belum tentu hidup secara profetik. (Imamat 10:1-2)
Jadi, apakah makna kata ‘profetik’ itu? Profetik berasal dari kata dasar prophet yang artinya nabi. Kata ‘nabi’ sendiri berasal dari bahasa Ibrani navi/nabiy (נָבִיא) yang diadaptasi ke dalam bahasa Yunani prophetes (προφήτης) yang berarti juru bicara (spokesman). Seperti makna dari bahasa aslinya, nabi adalah penyambung lidah Allah bagi umat-Nya melalui kata-kata nubuatan.i Suara kenabian (prophetic utterance) dapat berupa teguran, penghiburan, peringatan, nasihat, dan pesan Allah terkait apa yang akan Tuhan kerjakan di masa depan. Sehingga, profetik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan fungsi kenabian.
Berangkat dari pengertian itu, maka gaya hidup yang profetis dapat diartikan sebagai kehidupan yang senantiasa terkoneksi dengan Allah, menangkap suara-Nya, dan menyampaikan-Nya kepada orang lain. Tujuannya adalah supaya kehendak Allah dapat laksanakan oleh suatu komunitas.
Sebagai spirit-filled believers, perlu menyadari bahwa apa pun profesi dan panggilan yang Tuhan berikan kepadanya, itu adalah sebuah pekerjaan Tuhan. Ada nilai ibadah dan pelayanan di dalam setiap pekerjaan atau panggilan Tuhan di dalam kehidupan orang percaya. Saat Insan Pentakosta sedang merawat pasien, mengajar sebagai guru, atau membersihkan ruangan sebagai cleaning service, di saat yang sama, ia pun sedang melayani pekerjaan Tuhan yang tidak kalah profetisnya dengan pelayanan di gereja. Sehingga, dalam menjalani panggilan Tuhan melalui profesinya, Insan Pentakosta pun harus hidup secara profetik.
TIGA ALASAN ATAS URGENSINYA KEHIDUPAN PROFETIK
1. Perlunya Tuntunan Roh Kudus
Untuk dapat menang atau sukses dalam pekerjaan Tuhan, apa pun profesi kita, mutlak perlu adanya tuntunan profetik dari Allah. Misalnya, saat kita mengalami berbagai kendala di marketplace; Roh Kudus dapat menyediakan hikmat untuk menerobos penghalang-penghalang tersebut. Roh-Nya mampu memberikan ide kreatif atau mengingatkan kita akan hal-hal yang perlu kita benahi dari diri kita, supaya terobosan terjadi.
Contoh lain adalah saat harus mengambil keputusan dalam berbagai aspek hidup kita, misalnya memilih jurusan saat mendaftar kuliah. Dunia dapat memberi beribu pertimbangan dan pengetahuan untuk kita dapat mengambil keputusan. Namun, hanya melalui Roh-Nya saja kita dapat memperoleh hikmat untuk mengelola semua pertimbangan dan pengetahuan tersebut supaya mampu mengambil keputusan yang baik, berkenan, dan sempurna, yaitu sesuai dengan kehendak Allah (1 Raja-raja 3:9), termasuk dalam memilih jurusan kuliah yang tepat.
Semua bentuk dan manfaat dari tuntunan Roh Kudus ini hanya dapat kita peroleh jika kita hidup secara profetik. Tanpa kehidupan yang profetik, kita akan sulit atau bahkan gagal (miss) untuk menangkap apa yang menjadi kehendak Allah melalui tuntunan Roh Kudus. Boleh dibilang, hidup yang tidak profetis adalah hidup yang tidak mengandalkan tuntunan Roh Kudus.
2. Komunitas Kita Perlu Suara Tuhan
Tidak kebetulan kita bekerja atau bersekolah di suatu tempat. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita melihat hal yang salah dalam komunitas kita. Seperti Yeremia, sebagai orang yang mengerti kehendak Allah atas orang Israel, ia tidak sungkan menegur bangsanya dan menyampaikan hal-hal yang tidak populer pada waktu itu, yaitu kekudusan. Tuhan pun mau kita berani untuk menyatakan kebenaran dan meluruskan hal-hal yang salah dalam komunitas di mana kita berada.
Perlu adanya hikmat dan keberanian untuk kita dapat menyampaikan kerinduan dan teguran Allah bagi orang yang tidak mengenal-Nya. Kehidupan profetik juga menyediakan hikmat dan keberanian ini. Roh Allah akan memberikan desakan ilahi untuk berani mengambil sikap meskipun itu suatu pilihan yang langka di komunitas kita. Misalnya, di tengah maraknya tren FWB (friends with benefit) hari-hari ini, Insan Pentakosta yang memiliki hidup profetik akan berani berkata ‘tidak’ terhadap gaya hidup ini.
Contoh lainnya, pemercaya yang hidupnya profetis akan berani menegur rekan kerjanya yang korupsi atau teman kuliahnya yang gemar rebahan dan malas-malasan. Insan Pentakosta akan mampu memilih timing dan cara yang tepat dalam menyampaikan suara kenabian tersebut, yaitu dengan cara dan kata-kata yang membangun, menasihati, dan menghibur alih-alih menghakimi. (1 Korintus 14:3)
3. Menghadapi Tipuan Dunia
Perlu adanya kemampuan untuk dapat membedakan yang palsu dari yang asli, dalam berbagai konteks kehidupan. Seseorang dengan gaya hidup profetis akan memiliki karunia untuk membedakan roh. Secara spiritual, Roh-Nya akan memberikan kepekaan dan ketajaman supaya tidak mudah tertipu oleh si Penipu Ulung. Seperti Petrus yang membongkar persekongkolan Ananias dan Safira, demikian pula Roh-Nya akan memberikan hikmat kepada kita supaya terhindar dari tipuan, bahkan menguak tipuan itu. (Kisah Para Rasul 5:1-11)
Jadi, jelas bahwa kehidupan yang profetik adalah kebutuhan bagi semua Insan Pentakosta. Kehidupan profetik terbukti tetap dan makin relevan hari-hari ini. Semua pemercaya yang dipenuhi Roh Kudus dapat dan harus hidup secara profetik. Hal ini sesuai dengan konsep yang diusulkan oleh Stronstad dalam bukunya ‘The Prophethood for All Believers’.iii
Hidup yang profetik menyadarkan kita bahwa realitas yang kita hadapi bukanlah sekedar kenyataan jasmaniah saja, tetapi ada pula realitas rohani yang tidak kelihatan; namun tidak kalah nyata. (Ibrani 11:3)
Supaya kita memperoleh gambaran utuh dalam mengerjakan panggilan-Nya, kita perlu senantiasa hidup secara profetik. Tuntunan Roh Kudus yang kita peroleh dari kehidupan profetik akan menolong kita berhasil di dimensi rohani dan jasmani atas suatu perkara.
Mulailah membangun kehidupan yang profetik dengan memiliki kehidupan doa, pujian, penyembahan, dan perenungan firman yang rutin. Allah akan melatih kita mendengar suara-Nya yang lembut untuk menuntun kita menjalani kehidupan selama ada di dunia. Ada waktunya Tuhan juga akan menitipkan suara kenabian kepada kita, supaya ada perkataan Tuhan yang dilepaskan dan merubah kondisi komunitas kita. Maukah kita terlibat di dalamnya?

image source: https://besharpened.com/hebrews-113/

KETAATAN – MELAKUKAN KEHENDAK BAPAKU

KETAATAN – MELAKUKAN KEHENDAK BAPAKU

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Matius 7:21)

Ketaatan itu sesungguhnya sederhana, tidak rumit. Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa melaksanakan kehendak Bapa-Nya yang di sorga merupakan suatu syarat untuk memasuki Kerajaan Sorga. Sedangkan Keselamatan itu adalah kasih Karunia, suatu pemberian Allah, bukan karena usaha kita. Jadi mengapa kita harus taat kalau kita sudah diselamatkan?

Kita diselamatkan saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Menerima Yesus berarti kita mau menerima gaya hidupNya yang dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.(Filipi2:8)

Keselamatan hanya dapat diperoleh dalam ketaatan kepada Tuhan. Saat kita percaya dan menerima Dia, kita menjadi seorang hamba, ‘tanpa kehendak’ dan siap melakukan kehendak tuanNya. Namun, banyak orang Kristen mengira keselamatan bisa diperoleh tanpa taat melakukan kehendak Bapa.

Setiap orang Kristen harus merenungkan Firman Tuhan agar roh dan pikiran nya di terangi. Karena kehidupan yang lama dalam kegelapan hanya ingin melakukan keinginan keinginan untuk memuaskan hawa nafsunya yang menghancurkan.

Karena keinginan manusia yang membutakan sehingga orang cenderung mengelak/menghindar untuk mengetahui kehendak Tuhan, apalagi melakukannya. Keinginan dalam hati manusia seringkali mengalahkan keinginan untuk menaati Allah. Ketidaktaatan artinya kita lebih mengasihi diri, orang lain atau sesuatu lebih dari Tuhan.

Kebanyakan orang maunya mengikuti keinginannya sendiri, hidup sesuka hatinya, tidak mau diatur dan menaati Allah dilakukan karena terpaksa (takut akan sanksi/hukuman). Ketaatan tidak bisa dipaksa. Ketaatan karena terpaksa atau takut, hanya akan bertahan sementara. Taat pada Tuhan adalah buah dari hati yang mengasihi dan menghormati Tuhan
Selain hubungan kasih, ketaatan merupakan landasan penting agar kita dapat berjalan bersama DIA dan melakukan kehendakNya.

Yang terpenting bukan seberapa banyak pelayanan atau korban yang kita berikan. Yang Tuhan inginkan adalah ketaatan kita kepada-Nya. Mengapa kita perlu taat ? Karena kita adalah orang asing di dunia (Mazmur 119:19), untuk itu perlu pemandu supaya tidak tersesat. Ketaatan akan petunjuk Tuhan itu sangat diperlukan. Jadi yang perlu taat itu adalah kita, bukan Tuhan yang harus menuruti kemauan kita.

Yesus memberikan teladan yang mulia dan sempurna, yang mana IA sendiri sebagai Anak memilih taat kepada BapaNya.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:5-11)

Ketika kita terus mengalami pembaruan budi oleh firman Tuhan, maka pikiran dan perasaan kita selaras dengan pikiran dan perasaan Kristus Yesus. Pikiran dan perasaan yang bagaimana? Pikiran dan perasaan yang berfokus kepada Pribadi Bapa dan kehendakNya.

Tanpa ketaatan, kita pasti tersesat. Kita taat karena kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang baik. Kita menuruti kehendak Bapa karena kita tahu dan percaya bahwa apapun yang terjadi sekalipun yang tidak enak, pasti IA merancangkan yang terbaik (Yeremia 29:11). Jangan menilai Kristus menurut ukuran dan pemikiran sendiri. Rancangan dan jalan Tuhan jauh lebih tinggi dari rancangan dan jalan kita. Bagian kita adalah belajar taat walaupun kadang tidak mengerti apa yang akan terjadi di depan. Percayalah bahwa langkah-langkah orang benar sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Bagaimana kita dapat memiliki ketaatan?
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. (Ibrani 5:8) Ketaatan tidak didapat secara instan atau otomatis, melainkan merupakan proses pembelajaran dalam hidup yang harus diperjuangkan.

Langkah-langkah untuk belajar taat :

1. Belajar mendengarkan.

Tetapi jawab Samuel: ”Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. (1 Samuel 15:22).

Bagaimana kita mau taat, kalau kita tidak tahu perintah Tuhan? Bagaimana tahu perintah Tuhan, kalau kita tidak mendengarkan? Mendengarkan itu berarti memberikan perhatian penuh. Mendengarkan perintah Tuhan berarti memberi perhatian penuh pada firman Tuhan dan ada penundukan diri (Mazmur 119:105). Roh Kudus memunculkan/mengingatkan firman, kita renungkan, minta Ia memberikan pewahyuan/pengertian. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

2. Belajar rendah hati.

Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. (Mazmur 25:8-9).

Kunci ketaatan adalah kerendahan hati, di mana kita menempatkan/memposisikan diri lebih rendah atau di bawah dari pribadi yang kita taati. Yesus Kristus adalah role model ketaatan yang sempurna. Dalam keadaanNya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri dengan mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia dan taat sampai mati di kayu salib.

Jangan sombong, merasa lebih tahu, lebih bisa, lebih kuat, serta membangun kebenaran diri sendiri. Jika kita bersikap seperti itu, maka tidak mungkin bisa taat. Tempatkan Tuhan dan firmanNya lebih penting serta menjadi yang terutama di atas kehidupan kita.

3. Belajar memahami dan menyesuaikan.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Matius 26:39,42)

Dari ayat di atas terlihat bahwa Yesus tidak hanya memahami kehendak Bapa, namun juga belajar menyesuaikan kehendakNya dengan kehendak Bapa. Seringkali seseorang memahami firman Tuhan, namun tidak mau menyesuaikan hidupnya, tujuan serta prinsip hidupnya dengan firman Tuhan. Belajarlah memahami apa yang Tuhan mau, kemudian menyesuaikan diri dengan kehendakNya.

Ketaatan adalah jalan iman, jalan serupa dengan Kristus dan jalan di dalam pengudusan. Iman yang terbesar bukanlah iman untuk memindahkan gunung atau mengadakan mukjizat, melainkan iman untuk taat secara total kepada kehendak Allah. Pada hakekatnya ketaatan itu adalah sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus Kristus. Allah sangat berkenan kepada orang yang taat kepadaNya dalam situasi sulit sekalipun. Ketaatan merupakan harga yang mutlak jika seseorang ingin mengalami penggenapan janji Tuhan.

Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya. Bila ketaatan sudah menjadi gaya hidup seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan.

Ketaatan adalah demonstrasi kasih kita kepada Tuhan (1 Yohanes 5:3). Fokus ketaatan kita hanya tertuju kepada Tuhan. Gaya hidup dalam ketaatan akan menumbuhkan karakter Kristus dan membawa kemuliaan Tuhan dalam hidup kita.

Ketaatan merupakan bukti bahwa kita percaya kepada Allah, iman tanpa ketaatan adalah mati. Bila kita percaya kepada Allah, maka kita akan melakukannya tanpa banyak bertanya dan tanpa banyak alasan. Iman percaya kita dibangun karena kasih.

Meneladani Tuhan Yesus, ketaatan membutuhkan proses pembelajaran dan ada harga yang harus dibayar. Ketaatan adalah tanda kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan juga merupakan kunci bagi orang percaya untuk hidup dalam kebenaran dan dalam kelimpahan berkat.

image source: https://www.pinterest.com/pin/kjv-scripture-tlc-creations–436356651382295894/

HIDUP SEBAGAI MURID TUHAN

HIDUP SEBAGAI MURID TUHAN

Dalam Injil Yohanes kita banyak melihat bagaimana Tuhan Yesus secara pribadi menyampaikan kepada murid-murid-Nya bagaimana kelak kehidupan dan pelayanan sebagai orang percaya paska kematian-kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Sorga. (Yohanes 14:16-17; 14:26; 16:13). Tuhan memberi seorang Penolong sehingga kita sebagai orang percaya mendengar Suara Tuhan dan menyampaikan isi hati Tuhan.
Perlu kita ingat bahwa yang menjadi kunci kemenangan dalam kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dipimpin dan dituntun oleh Roh Kudus (Roma 8:11,13; Galatia 5:16,25) dan bukan sekedar hikmat, kepintaran, kehebatan dan kebijaksanaan kita sendiri. (Amsal 3:5- 7)
MENDENGAR SUARA TUHAN
Apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sehubungan dengan:· Roh Kebenaran · Seorang Penolong yang lain · Penghibur yaitu Roh Kudus adalah untuk mempersiapkan murid-murid dalam sebuah dimensi baru hidup kekristenan, yaitu hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus.
Kisah Para Rasul 2:1-4 menuliskan: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata… seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Ayat 4)
Tepat 50 hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus, 120 murid sedang berkumpul dan mereka dipenuhi dengan Roh Kudus, disitulah kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus dimulai. Roh Kudus menuntun dan memimpin bukan hanya dalam kehidupan pribadi orang percaya tetapi juga gereja-Nya dalam melaksanakan missio christi yaitu menuntaskan Amanat Agung. (Kisah Para Rasul 13:2,4; 15:28 16:6; 21:10-11)
Pasal terakhir dalam Kisah Para Rasul (pasal 28) bukanlah merupakan pasal penutup dari Kisah Para Rasul. Kisah Para Rasul belum berhenti dan terus berlanjut sampai dengan era gereja sekarang ini. Saat kita memperhatikan sejarah Gereja mulai tahun 100-2020 Masehi, kita mendapati bahwa Roh Kudus tetap memenuhi, memberikan kuasa dan otoritas kepada orang percaya. Mereka adalah sebagian kecil dari hamba-hamba TUHAN yang melanjutkan gerakan Pentakosta dari sejak gereja mula-mula. Mereka melayani dengan urapan dan karunia Roh Kudus. Ada mujizat dan tanda heran, kesembuhan ilahi yang menyertai pelayanan mereka. Demikian juga dalam kehidupan bergereja; karena kita dipimpin dan dituntun oleh Roh Kudus sebagaimana gereja mula-mula, maka murid Tuhan yang sejati masih percaya bahwa Tuhan masih berbicara secara khusus untuk menyampaikan pesan, arahan, tuntunan bagi jemaatNya.
Karena Tuhan masih berbicara kepada umat-Nya, maka mendengar suara Tuhan adalah hal yang normal dialami oleh Insan Pentakosta, sebab mendengar suara Tuhan bukanlah tentang kemampuan manusia untuk mendengar suara-Nya, tetapi tentang penyerahan diri total orang-orang percaya yang ingin mendengarkan suara-Nya sekalipun kita sedang dalam dunia. Tugas kita adalah melatih kepekaan dalam mendengar suara-Nya.
Yohanes 10:2-5 dengan sangat jelas mengatakan bahwa sebagai domba-domba-Nya, kita mendengar suara-Nya, kita mengikuti Dia karena kita mengenal suara-Nya. Kita tidak mungkin mengenali suara Tuhan Yesus jika kita tidak melatih kepekaan dalam mendengar suara-Nya dan tidak memiliki pengalaman hidup sehari-hari dalam mendengar suara-Nya.
Dengan membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, kita akan memiliki kepekaan dan kemampuan dalam membedakan mana nubuat atau tuntunan yang benar dari Tuhan dan mana yang bukan; tentu dengan mengujinya berdasarkan Firman Tuhan (Alkitab).
BERKATA-KATA SESUAI DENGAN FIRMAN TUHAN
Dalam kehidupan sehari-hari, memperkatakan Firman Tuhan merupakan sesuatu yang lumrah, sebagaimana diajarkan dalam Firman Tuhan. (Yosua 1:8) Itulah sebabnya banyak ditemui dalam kalangan Insan Pentakosta, dalam doa mereka ada deklarasi, memperkatakan Firman Tuhan dengan penuh iman. Ayat-ayat Alkitab menjadi doa mereka dan mereka imani pasti akan terjadi.
· Perkatakan dengan penuh iman ketika sakit. (1 Petrus 2:24)
· Perkatakan dengan penuh iman ketika mengalami hidup yang tertekan karena kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. (Filipi 4:13)
Bagaimana dengan para pemimpin jemaat? Pemimpin jemaat yang tertinggi adalah gembala jemaat lokal. Merekalah yang menjalankan tugas penggembalaan pada jemaat yang dipercayakan TUHAN kepada mereka masing-masing. Memberi makan domba (umat Tuhan) dengan makanan rohani, yakni pengajaran Firman Tuhan yang sehat agar mereka bertumbuh; dan tidak jarang juga makanan jasmani bagi jemaat yang membutuhkan.
Mazmur 23 berkata bahwa seorang gembala harus menuntun domba ke air yang tenang dan ke padang yang berumput hijau. Demikian juga gembala jemaat lokal harus dapat menuntun umat yang TUHAN percayakan padanya. Gembala jemaat lokal harus memiliki keintiman dengan Tuhan, sebab melalui hubungan yang intim/ dekat dengan Tuhan itulah mereka akan mendapatkan tuntunan, arahan Tuhan bagi umat yang dia gembalakan.
Robert Menzies dalam bukunya menyatakan bahwa dalam khotbahnya paska baptisan Roh Kudus, Petrus merujuk kepada kepada salah satu nubuatan Perjanjian Lama terkait dengan kedatangan Roh Kudus, yakni Yoel 2:28-32; serta mendeklarasikan bahwa nubuatan ini juga sedang dipenuhi. (Kisah Para Rasul 2:17-21)
Sama seperti Tuhan Yesus diurapi untuk memenuhi tugas kenabian-Nya, demikian juga murid-murid Yesus kini telah diurapi sebagai nabi-nabi akhir zaman untuk menyatakan Firman Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 2:18 Lukas memasukan kalimat,“…. dan mereka akan bernubuat.”
Ke dalam kutipan dari kitab Yoel. Dan Lukas menekankan fakta bahwa Roh Kudus datang sebagai sumber inspirasi nubuatan. Bahwa Gereja di zaman akhir ini adalah komunitas para nabi. Para nabi yang terpanggil untuk membawa pesan “keselamatan sampai keujung bumi”. (Yesaya 49:6; Kisah Para Rasul 1:8) Lukas juga mengingatkan para pembacanya bahwa mereka telah dijanjikan kuasa untuk memenuhi panggilan tersebut dan memampukan Gereja untuk menjadi saksi-Nya.
Wayne Grudem, seorang profesor Alkitab menyebutkan bahwa bernubuat adalah salah satu karunia Roh sebagaimana dicatat dalam 1 Korintus 12,14. Dalam Perjanjian Baru kita mengenal ada beberapa Nabi seperti:· Agabus (Kisah Para Rasul 11:28) · Barnabas · Simeon yang disebut Niger · Lukius orang Kirene dan Menahem (Kisah Para Rasul 13:1)
Grudem menambahkan dalam catatannya, hal yang sangat penting dari nubuatan adalah fakta bahwa nubuatan tersebut berdasarkan dari sesuatu yang telah diungkapkan oleh Roh Kudus, dan nubuatan diizinkan untuk disampaikan dengan penuh kuasa untuk memenuhi kebutuhan jemaat pada saat itu dan dinyatakan secara spontan oleh Roh Kudus.
Insan Pentakosta percaya bahwa Baptisan Roh Kudus adalah berkat yang kedua (second blessing) yang diterima oleh orang percaya setelah kelahiran baru. Jika pemahaman awalnya saja berbeda, maka dalam menjalankan praktek hidup kekristenan dan pelayanan serta pola, model dan prinsip kepemimpinan dalam bergereja tentu berbeda.
Marilah kita mengedepankan diskusi untuk dapat saling mengenal ajaran satu dengan yang lain, melihat doktrin, ajaran dan praktek hidup kristiani dari ‘kacamata’ yang sama. Lebih dari itu:
“…hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” (Filipi 2:1-6)

image source: https://my.bible.com/bible/111/JOS.1.8.NIV

BE IMITATORS OF CHRIST

BE IMITATORS OF CHRIST

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia,
ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6)

Tuntunan Tuhan bulan ini melalui Gembala kita adalah menjadi murid Kristus yang sejati (Be imitators of Christ). Kata “murid” artinya belajar menjadi seperti gurunya. Yesus adalah teladan, role model kita dalam hal kebiasaan, karakter dan pelayananNya.

Tuhan Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkenan kepada BapaNya (Matius 3:17). Berkenan artinya hidup kudus (1 Petrus 1: 14-16) dan melakukan kehendak Bapa.

Therefore be imitators of God as dear children. And walk in love, as Christ also has loved us and given Himself for us, an offering and a sacrifice to God for a sweet-smelling aroma (Ephesians 5:1-2, NKJV).

Be imitators of Christ adalah ciri orang Kristen sejati. Orang Kristen sejati adalah pelaku Firman dan bukan orang yang hanya berpengetahuan Firman sehingga menjadi ahli Taurat. Orang Kristen sejati bukan orang yang hanya melayani tanpa melakukan kehendak Bapa. Karena tanpa hubungan kasih pada akhir zaman ia yang berseru: Tuhan, Tuhan! ataupun yang telah bernubuat, berkarunia, mengadakan mukjizat dan mengusir setan-setan. seperti yang ditulis dalam Matius 7: 21-23 adalah orang yang tidak berkenan.
Jadi Bagaimana menjadi Orang Kristen sejati yang berkenan.?:

1. Miliki hubungan kasih dengan Allah
Kasih adalah tanda dari sebuah kelahiran kembali saat Roh Kudus yang adalah wujud kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita (Roma 5:5). Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki benih ilahi karena berasal dari Dia sehingga kita dimampukan untuk berjalan dalam kasih. Kita dapat mengasihi Allah karena IA yang lebih dahulu mengasihi kita dengan cara memberikan DiriNya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Mengasihi Allah bukan perasaan semata, melainkan menuruti perintahNya. “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku; seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yohanes 15:10).

Orang Kristen sejati menyadari bahwa dirinya penuh dengan kelemahan sehingga tidak dapat hidup tanpa kasih Tuhan. Di luar Kristus, kita tidak dapat melakukan apa-apa. Tanda bahwa kasih Allah sempurna di dalam kita adalah pertama, kita saling mengasihi (1 Yohanes 4:12,20); ke dua, kita tidak hidup dalam ketakutan karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18).

2. Hidup dipimpin Roh Kudus
Anak-anak Allah akan hidup dipimpin oleh Roh Allah (Roma 8:14). Artinya manusia roh kita tunduk kepada pimpinan Roh Kudus. Bagi orang yang mengasihi Tuhan dan dipimpin Roh Kudus, perintah Tuhan bukan lagi menjadi suatu taurat yang mengikat atau membatasi kebebasan tetapi suatu pilihan untuk taat melakukan perintahNya dengan sukacita.

3. Melakukan kehendakNya.
Seseorang dapat mengerti dan melakukan kehendak Allah jika ia memenuhi roh dan jiwanya dengan firman serta hadirat Tuhan. Di saat firman Tuhan memenuhi hati dan pikiran kita, maka perasaan, perkataan, kehendak/perbuatan akan selaras dengan firman. Pembaruan akal budi harus terus terjadi agar kita semakin mengerti kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Roma 12:2).

Bila kita sibuk dengan urusan kita sekalipun melakukan pelayanan maka kita tidak melakukan kehendakNya (Mat 7:21-23) karena tidak didasari dengan hubungan Kasih dengan Bapa di Surga.
Sebaliknya kita menjadi orang Kristen yang dipimpin oleh kedagingan seperti 5 tipe berikut ini :

a. Legalistic Christian

Definisi legalisme (kamus Merriam Webster) adalah kepatuhan yang ketat, sesuai literatur/harafiah, atau berlebihan pada hukum atau ketentuan agama. Kepatuhan yang kaku, tidak berdasarkan kasih karunia, dilakukan tanpa iman. Tujuannya hanya memenuhi ketentuan hukum semata. Contoh klasik legalisme adalah orang golongan Farisi. Tipe seperti ini cenderung mudah menghakimi, berlaku munafik karena hanya mementingkan tampilan luar untuk dipuji orang sementara tidak jadi pelaku firman, tidak hidup dalam kasih, tidak memiliki belas kasihan, keadilan dan kesetiaan (Matius 23:23). Legalisme gagal melihat tujuan utama dari hukum Taurat yang sebenarnya yaitu menjadi “penuntun” yang membawa manusia kepada Kristus (Galatia 3:24).

b. Mechanical Christian

Mechanical biasanya berhubungan dengan mesin dan cara mengoperasikannya. Bisa dibayangkan jika hal itu diterapkan kepada kehidupan kekristenan yang sesungguhnya adalah hubungan kasih antara Allah dan manusia.
Tipe ini berusaha menerapkan firman Tuhan dengan metode/langkah yang berasal dari pemikiran logis dan pengertian diri sendiri serta menempatkan Allah dalam ruang pemikirannya yang sangat terbatas. Ia mencoba mendikte Tuhan dengan pikiran dan caranya sendiri sehingga ketika apa yang diharapkan tidak terjadi, dirinya akan kecewa terhadap Tuhan.
Orang Kristen tipe ini kurang memahani bahwa Allah bekerja secara sistematik dan teratur dalam segalanya tapi juga secara dinamis, kreatif serta tidak bisa dibatasi oleh logika / pikiran manusia.

Misalnya, ketika sudah melakukan pelayanan, maka ia juga mau Tuhan menjawab doanya sesuai cara dan pikirannya sendiri (mendikte Tuhan). Contoh lain dalam Matius 18:21-22 di mana Petrus menanyakan kepada Tuhan Yesus, sampai berapa kali ia harus mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Petrus bertanya tentang kuantitas/jumlah ‘sampai berapa kali’ tapi Tuhan menjawab ‘bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali’. Ini bicara bahwa mengampuni orang yang bersalah kepada kita harus dengan sempurna yaitu segenap hati.

c. Religious Christian

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara orang Kristen yang religious/agamawi dengan orang Kristen sejati. Seseorang yang religious (misalnya setia melakukan kegiatan agamawi misalnya rajin ke gereja, melayani, bergaul dengan orang-orang di lingkungan gereja, setia menjadi anggota gereja,dsb), belum tentu menjadi murid Kristus sejati.

Orang Kristen agamawi menempatkan ritual kegiatan agamawi sebagai pengganti Tuhan. Tipe ini bisa tampak rajin dan aktif dalam semua kegiatan keagamawian, tetapi tidak memiliki hubungan kasih dengan Tuhan secara pribadi. Kristen religious suka membuat aturan/doktrin keagamawian yang sebenarnya bukan prinsip kebenaran firman melainkan pengertiannya sendiri, kemudian membebankan aturan itu kepada orang lain sementara ia sendiri tidak melakukan. Kristen tipe ini tidak memiliki kasih Allah dan belas kasihan terhadap orang lain; mereka menganggap kegiatan keagamawian dilakukan untuk memperoleh keselamatan. Selain itu orang Kristen agamawi hanya memanfaatkan pengetahuan tentang Tuhan untuk membenarkan dirinya, tetapi di dalam hatinya jauh dari persekutuan dengan Tuhan (Markus 7:6-9).

Orang percaya diselamatkan oleh iman karena kasih karunia (Efesus 2:8-9), dan bukan karena perbuatan. Murid Kristus sejati akan hidup oleh iman yang didemonstrasikan melalui perbuatan, sebagai buah dari hubungan kasih dengan Allah.

d. Carnal Christian

Orang Kristen tipe ini sudah mengalami kelahiran baru tapi hidupnya masih dipimpin oleh kedagingan. Mereka adalah bayi rohani yang belum dewasa dalam Kristus dan masih memerlukan susu karena belum mampu menerima makanan keras.

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani , tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Korintus 3:1-3).

Kita bisa saja berbuat kesalahan tapi seorang Kristen sejati tidak akan terus tinggal dalam dosa dan kedagingan. Ia akan menyerahkan diri hidup dipimpin Roh Kudus untuk mematikan keinginan daging. Kristen sejati rela dididik dan diproses Tuhan agar semakin serupa dengan gambarNya (sanctification).

e. Secular Christian

Kristen sekuler bukan berfokus kepada Kristus tapi kepada hal-hal sekuler/keduniawian. Bukannya menjadi terang dan garam di dunia sekuler tapi menjadi serupa dengan dunia. Mereka justru membawa hal sekuler, budaya duniawi dan nilai-nilai dunia ke dalam gereja.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1 Yohanes 2:15-16)
Bersahabat dengan dunia berarti menjadikan diri kita musuh Allah (Yakobus 4:4).

Jika kita mengatakan, bahwa kita ada di dalam Kristus, maka kita wajib hidup sama seperti Dia telah hidup (1 Yohanes 2:6). Dalam keadaanNya sebagai Anak Manusia, Yesus Kristus adalah satu-satunya role model yang wajib kita teladani dalam hal kebiasaan, karakter dan pelayananNya.
Melalui hubungan kasih dengan Allah dan hidup dipimpin Roh Kudus untuk bisa mengerti serta melakukan kehendak Bapa, maka kita akan semakin menyerupai Kristus. Be imitators of Christ.

image source: https://www.pinterest.com/pin/jesus-christ-is-everything-for-every-one–716705728179529050/

MENJADI SEPERTI KRISTUS

MENJADI SEPERTI KRISTUS

BE IMITATORS OF CHRIST
Di ‘market place’ ada istilah bahwa nama baik itu perlu dijaga sampai mati. Orang tua menasehati anak-anaknya agar mereka menjaga nama baik termasuk nama baik orang tuanya. Ini ber guna ketika seseorang bangkrut, namun masih memiliki nama baik, masih ada harapan, karena teman-temannya akan membantu meminjami uang misalnya. Sebaliknya ketika nama baiknya sudah hancur, maka akan sangat sulit mendapat kepercayaan dari orang lain.
Tema bulan ini “menjadi seperti Kristus.” Sedangkan Tuhan Yesus mati sebagai criminal yang tergantung di salib. Tuhan Yesus tidak memiliki nama baik pada jamanNya, tetapi pelayananNya yang penuh kasih dan kuasa menjungkir balik dunia. Jadi apa maksudnya menjadi seperti Kristus dan bagaimana caranya?
Menjadi seperti Kristus artinya 1 Yohanes 2:6 menulis, “Orang yang mengatakan bahwa dia tinggal di dalam Allah, dia harus hidup sama seperti Yesus hidup.” Orang itu harus hidup sama dengan Kristus dalam hal kekudusanNya dan pelayananNya. Sedangkan saat-saat ini di dunia ada istilah “personal branding.”
Personal branding adalah proses pembentukan persepsi masyarakat terhadap kehidupan seseorang meliputi kepribadian, kemampuan dan nilai dirinya.
Personal branding juga berarti citra yang ditampilkan seseorang secara konsisten sehingga menghasilkan persepsi positif dari masyarakat. Misalnya ada seorang pendeta yang suka mengajar mengenai keluarga, lama-kelamaan akan dikenal secara pendeta yang menangani keluarga, sehingga orang yang sedang bermasalah dalam keluarganya tidak ragu untuk datang meminta pertolongan. Ada juga orang yang dikenal baik atau dermawan karena suka memberikan bantuan. Personal branding orang-orang tersebut sudah dikenal di tengah masyarakat.
Menyerupai Kristus adalah PERSONAL BRANDING orang percaya.
Apa yang terlintas dalam diri kita ketika mendengar nama Daniel? Daud? Ada yang berpikir gua singa, ada juga yang ingat pejabat yang saleh, sebagian akan mengingat seseorang yang handal dalam pekerjaannya, tidak melakukan kelalaian. Orang akan mengingat Daud sebagai raja Israel, Daud dekat dengan Tuhan. Ketika kita dapat mengingat suatu perbuatan atau sikap seseorang, bisa diartikan bahwa orang tersebut sudah memiliki personal branding.
Salomo menulis dalam Amsal 22:1,“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar,
dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”
Kita memerlukan kepercayaan dari pihak lain dalam bekerja, berbisnis atau dalam pelayanan. Intinya kita ingin dikenal baik, bekerja dengan baik dan menghasilkan produk yang baik sehingga bisa dipakai oleh masyarakat. Ternyata menjadi seperti Kristus artinya adalah memiliki karakterNya yang kudus dan ber integritas sehingga menjadi orang yang dapat di percaya.
BAGAIMANA ORANG PERCAYA MENJADI SEPERTI YESUS?
Dari kehidupan Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego kita tahu bahwa takut akan Tuhan adalah awal dari hikmat yang menuntun mereka sehingga tidak kompromi dengan penyembahan berhala. Daniel adalah seorang pemuda Yehuda yang ditawan oleh raja Nebukadnezar ke negeri Babel. Daniel memiliki kecakapan dan hikmat Tuhan sehingga dapat bekerja pada raja Babel. Raja yang memerintah Babel berganti-ganti sampai Raja Darius orang Media memerintah, sementara Daniel tetap menjadi wakil raja. Untuk seorang tawanan seperti Daniel, menjadi wakil raja di negara yang menawannya tentu bukan prestasi sembarangan. Itu adalah pencapaian tertinggi yang bisa diraih seorang tawanan. Dan Daniel mendapatkan posisi itu karena dia beribadah kepada Allahnya dan menerima anugerah Tuhan yang besar.
Dari sisi Daniel pribadi, apa yang dilakukannya sampai mendapat kepercayaan yang begitu besar? Alkitab menyatakan:“Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.”Daniel 6:5
Ternyata pada Daniel tidak didapati kesalahan apapun dalam hal pekerjaannya. Daniel orang yang setia kepada raja dan cermat melakukan semua tanggung jawabnya. Raja Darius puas dengan prestasi kerja Daniel. Ini berarti Daniel memiliki personal branding yang sangat baik.
Bagaimana Daniel, orang buangan dari Yehuda bisa sampai pada titik itu, padahal menjadi wakil raja bukan hal mudah, bahkan untuk orang Babel sendiri?
1. Daniel Menjaga Kekudusan
Ketika masih muda dan baru ditawan ke Babel, Daniel dan teman-temannya diberi makanan dan minum yang membuat mereka tercemar. Daniel meminta agar diberi sayur dan air putih untuk menjaga kekudusan sebagai umat Tuhan. Ini adalah hal yang menyenangkan hati Tuhan.
2. Daniel Intim dengan Tuhan
Dituliskan bahwa Daniel berlutut, berdoa dan memuji Allah tiga kali sehari menghadap ke arah Yerusalem. Ini adalah kehidupan yang intim dengan Tuhan. Orang yang menjalankan pemerintahan seperti Daniel pasti sangat sibuk, namun tetap memberikan waktunya untuk berdoa. Disebutkan juga bahwa hal itu “biasa dilakukannya” – memberikan pengertian bahwa dalam setiap situasi Daniel berdoa, memuji dan memyembah Tuhan. Bandingkan dengan orang yang hanya berdoa ketika menghadapi masalah atau sedang sakit, mereka akan berhenti berdoa ketika sudah sembuh.
3. Daniel Dipenuhi Roh Tuhan
Daniel dapat melakukan hal-hal besar karena dipenuhi Roh Tuhan. Ada perkara-perkara yang tidak dapat dilakukan oleh manusia pada umumnya, misalnya mengerti mimpi orang lain, hal itu dapat dilakukannya karena pertolongan Tuhan.
Jadi bagaimana Daniel – dengan tanpa disadarinya – membangun personal branding? Daniel membangunnya dengan cara menghidupi kehidupan yang melekat kepada Tuhan. Daniel tidak secara aktif mempertontonan dirinya sebagai orang baik, namun dengan menjalankan kehidupan yang menuruti Firman Tuhan. Kita melihat tangan Tuhan yang berkuasa, membuat Daniel dikenal baik dan dipercaya oleh raja Babel. Meskipun situasi zaman Daniel dan kita berbeda, kebenaran Firman tetap sama, kita dapat menerapkan prinsip-prinsip kehidupan Daniel dalam kehidupan zaman sekarang.
PERSONAL BRANDING menjadi serupa dengan Kristus.
Rasul Paulus menyatakan dalam 2 Korintus 3:3,“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”
Orang percaya adalah surat yang terbuka, artinya semua orang akan membaca hidup kita. Masalahnya adalah apakah yang mereka baca dapat membuat mereka memuliakan Tuhan atau sebaliknya? Hal itu tergantung dari personal branding yang kita miliki.
Tuhan Yesus mengajar bahwa murid-murid adalah terang dunia. Murid-murid tidak boleh berpikir mereka adalah orang-orang gelap. Bersama Tuhan Yesus, kita adalah terang yang seharusnya memberi cahaya kepada orang lain. Ketika terang itu bercahaya di depan orang, membantu mengatasi kegelapan, maka orang-orang akan memuliakan Bapa yang di sorga. Sebagai seorang murid, kita harus menyadari hal itu dan berfungsi sebagai terang, dalam hal ini melakukan perbuatan yang baik.
Personal branding yang sejati adalah menjadi seperti Kristus dengan taat dan setia melakukan kehendak Bapa di surga. Dengan setia mengikuti arahan Tuhan, tanpa bermaksud untuk memamerkan kelebihan diri kita, maka Tuhan yang akan melakukannya.
Setiap saudara unik di hadapan Tuhan, tetapi Tuhan memiliki perintah yang sama untuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam karakter dan pelayananNya. Yesus senantiasa mencari dan melakukan kehendak Bapa demikian juga kita. Yesus memuliakan BapaNya demikian juga kita melalui pengorbanan dan pelayanan kita biar Bapa di surga di permuliakan.
Tuhan Yesus memberkati.

image source: https://www.pinterest.com/pin/1john26hewhosaysheabidesinhimoughthimselfalsotowalkevenashewalked–697213586037235339/

API TUHAN YANG MENGHANGUSKAN

API TUHAN YANG MENGHANGUSKAN

Allah menghendaki orang percaya mengalami pertumbuhan rohani. Seorang petobat baru percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah seperti seorang anak bayi (secara rohani mengalami kelahiran baru) yang harus tertanam dan bertumbuh menjadi murid Kristus yang dewasa. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani , supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan (1 Petrus 2:2)

Bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang semakin dewasa secara rohani. Walaupun seseorang sudah lama jadi Kristen, belum tentu ia menjadi dewasa rohani dan melakukan kehendak Tuhan. Untuk menjadi dewasa seseorang harus “tertanam”. Tertanam artinya berkomitmen dengan setia dan taat hidup oleh firman (melalui proses pendewasaan rohani) sehingga ia dapat memuridkan orang lain dan berjalan dalam panggilan Tuhan.

Bayi rohani yang tidak dimuridkan cenderung lamban dalam hal mendengar (lamban artinya ‘become dull and sluggish in [your spiritual] hearing and disinclined to listen’). Tidak ada rasa haus dan lapar akan hal yang rohani, dan malas meresponi firman. Bayi rohani dapat dianggap sama dengan manusia duniawi yang belum dewasa (1 Korintus 3:1-3), yang masih memerlukan susu dan belum dapat menerima makanan keras.

Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (Ibrani 5:11-13)

Biasanya bayi rohani lebih menyukai perdebatan tentang perbedaan-perbedaan yang membuat dia tersandung, menganggap diri paling benar karena merasa punya banyak pengetahuan firman. Mereka hanya mau mendengar apa yang menyenangkan hatinya, suka kenyamanan, tidak mau bayar harga, tidak suka menerima teguran, dan mudah terombang-ambing tergantung situasi dan perasaan (mood/feeling). Lama kelamaan hatinya jadi degil karena tipu daya dosa dan hidupnya makin jauh dari Tuhan.

Bayi rohani yang tidak mau dimuridkan akan rentan untuk murtad. Mereka meninggalkan jalan kebenaran dengan kembali pada cara hidup yang lama, lalu tersesat dan terjebak dalam rupa-rupa kecemaran dunia.

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran. (Ibrani 6:4-8)

Sementara seorang bayi rohani yang mau dimuridkan akan melatih dirinya untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. (Ibrani 5:14). Caranya adalah dengan terus mengalami pembaruan akal budi oleh firman Allah sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pembaruan akal budi bukan hanya menjadi sekedar pengetahuan saja tapi menjadi pewahyuan/rhema dalam hidupnya. Ia belajar menjadi pelaku firman sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ini bukanlah sesuatu yang instan, tapi harus melalui proses yang panjang seumur hidup.

Sebagai murid, bisa saja seseorang melakukan kesalahan, tetapi ia akan rela menerima didikan, ajaran, nasihat, peringatan, teguran atau hajaran Tuhan dengan hati yang dipenuhi kasih dan sukacita. Ia mengerti bahwa Tuhan mendidik demi kebaikan agar tetap berada dalam jalur keselamatan dan tidak dihukum bersama-sama dengan dunia (1 Korintus 11:32).

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:16-17)

Sebagai orang-orang pilihan Allah, imamat yang rajani, bangsa yang kudus; Allah menghendaki agar kita terus belajar hidup oleh firman dan mengalami pertumbuhan secara rohani serta menghasilkan buah-buah kebenaran dalam hidup kita.

Murid Kristus adalah orang yang harus berani sangkal diri dari semua keinginan daging. Murid Kristus adalah orang-orang pilihan yang dituntut untuk mengalami penderitaan yang sama dengan Kristus dan menjadi semakin serupa denganNya. Untuk itu diperlukan latihan, yaitu dilatih dengan makanan firman yang keras serta mengalami proses ujian iman. Orang yang lamban untuk melakukan firman dengan berjalannya waktu, orang tersebut dapat menjadi murtad.

Orang yang murtad tidak hanya menyangkal Yesus, lalu berpindah agama. Orang yang murtad juga bisa berarti orang Kristen yang menyimpang atau berbalik dari jalan Kristus, dengan melakukan perbuatan dosa, kecemaran atau perbuatan yang tidak menghormati Tuhan. Mereka berbuat sekehendak hatinya, melakukan perbuatan yang tercela dan mempermalukan Kristus di depan umum.

Di dalam Alkitab, dicatat bagaimana api yang menghanguskan dari Tuhan dapat melanda/ menimpa seseorang, contoh : Nadab dan Abihu, yaitu anak-anak Harun yang juga dipilih Tuhan untuk memegang jabatan keimaman (Keluaran 28).

Kita mau belajar dari kedua orang ini, kesalahan atau hal-hal apa yang seharusnya tidak kita lakukan, yang dapat mendatangkan api yang menghanguskan dalam kehidupan kita :

Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN. (Imamat 10:1-2)

Mari kita belajar dari kesalahan mereka :

1. Mempersembahkan api asing

Seperti kita ketahui bahwa bau yang harum di hadapan Tuhan dan menjadi ibadah yang sejati, yaitu ketika kita mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Jika di dalam hidup kita masih ada keinginan-keinginan daging, hawa nafsu duniawi, seperti : perseteruan, iri hati, mengasihani diri sendiri, khawatir, amarah, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, perkataan kotor, perkataan yang sia-sia, dlsb; maka itu bukanlah persembahan yang kudus dan ibadah yang sejati serta berkenan di hadapan Allah. Jika ada seorang yang menganggap dirinya beribadah tapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri dan ibadahnya menjadi sia-sia (Yakobus 1:26).

Tidak ada seorangpun dari kita yang sanggup mematikan kedagingan dengan kekuatan sendiri. Kita sangat memerlukan hadirat dan kuasa Roh Kudus setiap saat. Oleh sebab itu beri diri kita untuk dipimpin Roh Kudus. Jika kita selalu penuh dengan hadirat Tuhan (melalui doa pujian penyembahan), maka roh kita akan dikuasai oleh Roh Kudus secara penuh, sehingga jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) akan mudah tunduk kepada pimpinan dan keinginan Roh.

Selain itu penuhi jiwa kita dengan merenungkan firman Tuhan siang dan malam (Mazmur 1:1-3). Pengetahuan dan pewahyuan tentang firman akan sangat mempengaruhi cara pandang, belief system, gaya hidup, dan kemampuan menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam mengambil keputusan. Dengan demikian kita tidak mudah terjerat dalam tipu muslihat iblis, melainkan tunduk kepada perintah dan kehendak Allah. Kita jadi berkeinginan menjauhkan diri dari kecemaran dan hal-hal yang Tuhan tidak suka. Hidup kita dikuduskan oleh firman, menjadi persembahan yang kudus, tidak ada api-api asing sehingga Tuhan berkenan.

2. Melakukan yang tidak diperintahkan Tuhan

Sebenarnya tugas keimaman untuk mempersembahkan korban diatas mezbah adalah tugas imam besar yaitu Harun, ayah mereka. Nadab dan Abihu tugasnya hanya membantu, melakukan apa yang disampaikan Tuhan melalui Musa dan Harun.

Janganlah kita melakukan segala sesuatu yang tidak Tuhan kehendaki, atau kita melakukan perintah Tuhan, namun dengan cara kita sendiri, melakukan apa yang menjadi keinginan kita tanpa bertanya kepada Tuhan.

Ketika kita melakukan sesuatu yang bukan perintah/ kehendak Tuhan, atau melakukan sesuatu yang dilarang Tuhan, maka berarti kita tidak menghormati Tuhan, telah berbuat lancang, dan mendahului Tuhan. Ketidaktaatan yang kita lakukan sama halnya dengan mempermainkan Tuhan.
Tuhan adalah api yang menghanguskan api asing yaitu sesuatu yang tidak Dia perintahkan/bukan kehendakNya.

Jangan buat api sendiri walaupun kelihatannya baik menurut pemandangan kita. Pekerjaan ‘daging’ (yaitu ide, pemikiran, cara-cara, keputusan bahkan pelayanan yang berasal dari diri sendiri) akan dihanguskan oleh api Tuhan. Latih diri untuk selalu berkonsultasi kepada Roh Kudus dalam segala sesuatu. Ia akan memberi pewahyuan, hikmat ilahi, mengarahkan, menolong dan memampukan kita melakukan kehendak Bapa. Jangan bersandar kepada pengertian sendiri tapi akuilah Dia dalam segala laku kita, maka Ia akan meluruskan jalan kita (Amsal 3:6).

Alkitab mencatat bahwa akhir jaman ini akan banyak orang akan murtad (meninggalkan Tuhan), akan saling menyerahkan dan saling membenci (Matius 24:10). Jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka (Ibrani 10:26-27).

Biarlah hari-hari ini kita semua mau hidup dalam pertobatan. Bangun manusia roh kita, bertumbuhlah menjadi murid Kristus yang dewasa agar hidup berkemenangan di masa sukar ke depan. Biarkan api Tuhan menghanguskan semua api asing yaitu dosa, ikatan, kedagingan, dan ketidakbenaran dalam hidup kita. Bagi orang durhaka, api Tuhan membinasakan mereka. Bagi orang percaya, api Tuhan memurnikan, menguduskan, dan menyelamatkan kita. Amen.

BERTUMBUH DENGAN SENGAJA

BERTUMBUH DENGAN SENGAJA

“Tuhan tidak pernah berkata bahwa perjalanan hidup kita akan mudah,
tapi Dia berjanji pada saat kita tiba kita akan merasa bahwa semuanya jadi layak.”
“God never said that the journey would be easy,
but He did say that the arrival would be worthwhile”
-Max Lucado-
Kutipan kata-kata Max Lucado diatas mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah berjanji bahwa perjalanan iman kita akan mudah. Tapi Ia berjanji bahwa pada akhirnya semuanya akan sepadan dengan perjuangan dalam perjalanan hidup kita. Seolah ingin mengatakan bahwa akan ada halangan dalam perjalanan iman kita, akan ada tantangan dalam pertumbuhan kita. Bila untuk mencapai ujung jalan kehidupan atau mendapatkan pertumbuhan itu, kita harus berjuang, timbul pertanyaan: Bagaimana peran Tuhan dalam pertumbuhan kita?
TUHAN BERPERAN
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:28-30)
Tidak ada seorangpun manusia Kristen yang kebetulan menjadi Kristen. Sejak awal Allah turut bekerja dalam kemahakuasaan-Nya. Walaupun respon seorang Kristen nantinya akan mempengaruhi perjalanannya, tetapi peran TUHAN jelas ada.
Dalam kemahatahuan-Nya:
· TUHAN Memilih
Kita adalah orang-orang pilihan-Nya. Kita harus meresponi Dia dengan datang kepada-Nya.
· TUHAN Menentukan
Ada tujuan, arah, sasaran yang dipercayakan kepada kita. Kita bukan manusia yang hidup asal hidup. Tuhan menentukan kita seharusnya menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.
· TUHAN Memanggil (Yun. Kaleo)
Ia mengundang kita untuk mendekat. Dalam tradisi kerajaan, tidak sembarang orang dapat mendekati raja. Manusia Kristen menerima undangan untuk mendekati Sang Raja. Pemahaman lain, Ia memanggil nama kita. Kita dikenal oleh-Nya, dan bukan orang asing bagi Allah, Raja segala Raja.
· TUHAN Membenarkan
Seperti Ester menerima uluran tongkat raja Ahasyweros, saat menghadap raja tanpa undangan. Uluran tongkat itu, membenarkan Ester untuk lolos dari hukuman yang
seharusnya ia terima. Saat kita mendekati Tuhan, kita butuh dibenarkan. Justifikasi diberikan dalam iman akan korban salib Kristus. Keselamatan itu hasil pemberian dalam iman.
· TUHAN Memuliakan
Tuhan menganugerahkan kemuliaan kepada siapa Ia berkenan. Ia memiliki pre-kondisi ilahi kepada manusia seperti apa kemuliaan diberikan. Bila perkenanan ada, maka kemuliaan diberikan. Di bagian inilah, perjuangan kita menjadi penting.
“Ukuran tertinggi dari seseorang bukanlah ketika ia berdiri di dalam kenyamanan dan kemudahan melainkan ketika ia berdiri dalam masa penuh pergumulan dan pertentangan.”
“The ultimate measure of a man (or woman) is not where he (she) stands in moments of comfort and convenience, but where he (she) stands at times of challenge and controversy.” – Martin Luther King Jr –
KITA BERJUANG
“Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?
Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” (1 Petrus 4:14-19)
Manusia pada dasarnya telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23) dan hanya yang percaya kepada Kristus lah yang menerima justifikasi atau pembenaran; menerima keselamatan. Sebuah kesempatan baru untuk kembali kepada rencana Allah, kepada keserupaan dengan Kristus, kepada kemuliaan Allah.
Roh Kudus yang adalah Roh Kemuliaan yang diberikan kepada orang percaya (Efesus 1:13), bukan hanya untuk memberikan kuasa menjadi saksi (Kisah Para Rasul 1:8), tetapi juga memampukan kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging orang percaya. (Roma 8:13)
Roh Kudus menuntun kita pada segala kebenaran. Jalan ini tidak mudah!
1 Petrus 4: 14-19 diatas mengatakan bahwa akan munculnya penderitaan karena kehendak Allah. (Kisah Para Rasul 14:22; 1 Tesalonika 3:3-4; 1 Petrus 2:20-21; Filipi 1:29; 2 Timotius 3:12).
Manusia Kristen harus berjuang dengan menyerahkan jiwanya pada Pencipta yang setia, dengan selalu berbuat baik. Ya, berbuat baik itu perlu perjuangan dan penyerahan jiwa.
Ada beberapa perjuangan dan penderitaan yang pasti dialami orang percaya:
· Perjuangan Melawan Dosa (Ibrani 12:4) Contoh: Penipu yang tidak menipu lagi, pembohong yang berjuang untuk jujur, dll.
· Perjuangan Melawan Kerajaan Kegelapan (Efesus 6:12) Contoh: Lepas dari jimat, ramalan, sihir, okultisme, dll.
· Perjuangan Melawan Keinginan Daging (1 Petrus 2:11) Contoh: Tidak membeli barang ‘Sale’ yang tidak perlu, melawan godaan gengsi, dll.
· Perjuangan Melawan Keinginan Dunia (1 Yohanes 2: 16-17) Contoh: Tidak menggunakan cara-cara dunia untuk mencapai tujuan, tidak harus kaya untuk sukses, dll.
· Penderitaan sebagai orang Kristen (1 Petrus 4: 16) Contoh: Siap dijauhi oleh orang lain karena hidup dalam kebenaran, siap menderita karena nama Kristus, dll.
· Ujian Api yang Menempa (1 Petrus 1:7) Contoh: Dibentuk makin sabar, makin rendah hati, makin seperti Yesus.
“Jika Anda menginginkan sebuah agama yang membuat Anda merasa nyaman,
maka saya sangat tidak menganjurkan kekristenan.”
“If you want a religion to make you feel really comfortable,
I certainly don’t recommend Christianity.”
– C.S Lewis –
BERTUMBUH DENGAN SENGAJA
Jelas bahwa Tuhan berperan, dan kita juga berperan dalam pertumbuhan kita menuju kemuliaan yang Tuhan rencanakan, yaitu seperti gambaran Anak-Nya. Kesadaran, penilaian, keputusan dan tindakan orang percaya akan mendorong pertumbuhan, kedewasaan, dalam menjadi serupa dengan Kristus.
Paulus berkata: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” ( Efesus 2:10)
Dunia psikologi dan pendidikan mengenal istilah ‘Rekayasa Pertumbuhan’. Untuk sebuah kredibilitas sumber daya manusia dengan kriteria tertentu, dibuat pelatihan dan pendidikan tertentu dalam kurun waktu tertentu, dan dengan sadar manusia yang disebut siswa atau mahasiswa itu dibentuk dan diuji dalam kurun waktu tertentu. Kekristenan sebenarnya memiliki pola yang serupa dengan itu. Kriterianya sudah ditentukan oleh Tuhan, Pencipta kita. Pelatihan dan pendidikannya oleh Roh Kudus dan Firman Tuhan. Buku acuannya adalah Alkitab. Dari waktu ke waktu kemajuan dan pertumbuhan kita diuji; Dari kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih besar. (2 Korintus 3:18)
Kepada Timotius, Paulus juga mengajarkan bahwa diperlukan latihan untuk semua itu dari waktu ke waktu. “… Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:7b-8)
Paulus menyadari bahwa dengan penuh kesadaran (kesengajaan) pentingnya untuk mencapai standar keserupaan dengan Yesus Kristus. Perlu latihan untuk sabar seperti
Yesus, perlu latihan untuk murah hati seperti Yesus, perlu latihan untuk rendah hati, kuasai diri, punya damai sejahtera ilahi, punya sukacita ilahi dan keserupaan lainnya seperti Yesus.
Peran Tuhan, pasti Ia lakukan. Bagian kita juga jangan dilupakan. Bertumbuhlah dengan sadar dan berlatihlah dalam Tuhan, karena semua itu tidak akan pernah sia-sia.
“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh,
maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya,
dalam kemuliaan yang semakin besar.” 2 Korintus 3:18

“Mere change is not growth. Growth is the synthesis of change and continuity,
and where there is no continuity there is no growth”
– C.S. Lewis –
Sekedar berubah bukanlah sebuah pertumbuhan. Pertumbuhan adalah gabungan antara perubahan dan kesinambungan (CONTINUITY), dimana tidak ada kesinambungan maka tidak ada pertumbuhan.

image source: https://www.pinterest.com/pin/748512400555613063/

JANGAN PERMAINKAN TUHAN

JANGAN PERMAINKAN TUHAN

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7)

Tidak ada seorangpun manusia yang mau atau suka dipermainkan oleh orang lain. Rasa yang timbul akibat dipermainkan adalah amarah, kesedihan, sakit hati, terasingkan dan gangguan. Hal ini dapat merusak, menyakiti hidup orang lain bahkan juga dapat menimbulkan kecelakaan, kesusahan, kekacauan dan bencana. Oleh sebab itu tidak ada seorangpun manusia yang bersedia untuk dipermainkan, apalagi Allah, Sang Pencipta, yang maha mengetahui segala-galanya.

Jangan sesat artinya jangan memiliki pengertian yang keliru atau gelap. Adalah benar bahwa Allah itu penyayang, pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, tetapi bukan berarti kita bisa mempermainkan Allah dengan berlaku seenaknya. Allah itu penuh kasih setia, akan mengampuni setiap pelanggaran orang yang sungguh-sungguh bertobat tapi tidak sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman (Keluaran 34:6-7).

Allah tidak akan membiarkan diriNya dipermainkan, mengapa ?

1. Allah itu suci dan kudus (Yesaya 6:3; Imamat 20:26; 1 Petrus 1:15-16).

Suci dan kudus merupakan karakter dan sifat Allah. Allah sangat menuntut kesucian dan kekudusan kita. Segala rupa dan bentuk kecemaran sangat ditentang serta dibenci Allah. Setiap dosa dan pelanggaran manusia terjadi karena manusia tidak memiliki perasaan takut akan Allah dan menghormati keberadaanNya.

Jangan pandang remeh hukum-hukum Allah dan menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman. Sikap mempermainkan Allah akan mencemarkan hati nurani; akibatnya tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan tidak, karena dosa semakin kuat menjerat. Hati menjadi degil akibatnya sukar untuk bertobat.

2. Allah itu hakim yang adil dan benar (Mazmur 7:8-12; Mazmur 75:8; Pengkhotbah 12:14).

Allah menghakimi setiap perkara dengan adil dan benar serta tidak memihak kepada siapapun juga. Kita semua sama di hadapanNya. Nantinya setiap kita akan menghadap takhta pengadilan Allah dan hakimnya adalah Tuhan Yesus. Jika kita menabur dalam daging (hidup dalam kedagingan/tidak mematikan perbuatan daging) akan menuai kebinasaan. Jika menabur dalam Roh (mematikan perbuatan daging/hidup dipimpin Roh Kudus, hidup dalam pertobatan) akan menuai hidup yang kekal.

Salah satu sikap yang menghormati Tuhan adalah menjaga perkataan kita agar berkenan kepadaNya. Bagi kita yang tinggal di Amerika, kita tahu bahwa hukum konstitusi di negara ini menjamin hak kebebasan berpendapat/berbicara (freedom of speech). Bisa dibayangkan jika kebebasan berbicara ini tidak disertai roh takut akan Tuhan, tentu dapat menimbulkan kekacauan, penyesatan dan kutuk bagi bangsa ini. Pada kenyataannya, kita hidup dalam budaya dunia Amerika yang tidak memperhatikan bagaimana kata-kata dapat merusak hubungan, kebahagiaan dan masa depan. Jika tidak waspada, budaya ini menjalar ke gereja sehingga kita jadi terbiasa menggunakan mulut untuk berkata yang sia-sia. Cara menggunakan mulut kita pandang sebagai hal yang sepele padahal Alkitab mengatakan hidup dan mati dikuasai lidah. Siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya (Amsal 18:21).

Sebagai murid Kristus kita harus melatih diri untuk disiplin dalam berkata-kata. Tahun 5783, di mana 80 (Pey) berarti mulut dan kuasa perkataan/berbicara. Ucapan memiliki kekuatan atau kuasa yang dapat menyebabkan kebaikan atau kejahatan, mendatangkan berkat atau kutuk, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Kita semua bersalah dalam banyak hal terutama dalam perkataan. Yakobus 3 :7-8 menuliskan bahwa tidak ada seorangpun yang berkuasa untuk menjinakkan lidah yang buas. Perkataan dapat mendeteksi kondisi hati dan rohani seseorang. Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati (Matius 15:18). Jika hatinya penuh dengan pikiran jahat, kepahitan, ketidakpuasan, kekecewaan, amarah, iri, kecongkakan, self-pity, dlsb, maka perkataan yang keluar akan menajiskan dirinya. Perkataan juga dapat menggenapkan atau membatalkan janji-janji Tuhan dalam hidup kita.

“Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:37)

Tidak hanya kata-kata yang kita ucapkan secara lisan, tapi juga tulisan (lewat chat, social media, dlsb) itu sama nilainya. Jangan sembrono dalam mengeluarkan perkataan karena kita semua harus mempertanggungjawabkannya pada hari penghakiman (Matius 12:36). Setiap kita perlu belajar menguasai diri dan “disiplin” menjaga perkataan karena “dulu” tidak ada dari kita yang sempurna dan tidak berbuat kesalahan.Terutama bagi yang sudah membawa sharing firman, guru/pengajar akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat (Yakobus 3:1) karena perkataannya memiliki dampak/pengaruh yang besar.

Hal-hal yang harus diperhatikan agar perkataan kita berkenan di hadapan Tuhan :

1. Miliki roh yang takut akan Tuhan, minta Roh Kudus memberi hikmat, memimpin dan menguasai lidah bibir kita. Berdoa agar Tuhan mengurapi setiap perkataan kita agar iblis tidak memutarbalikkannya sehingga membuat orang jadi salah mengerti atau tidak mengerti apa yang disampaikan kepadanya.

2. Jaga hati dengan segala kewaspadaan agar perkataan/pengajaran kita murni berasal dari hati Tuhan melalui Roh Kudus, dan bukan dari jiwa kita yang terluka atau insecure. Hati yang dijaga akan mengalirkan kasih dan kebenaran, tapi jiwa yang terluka dapat meracuni orang lain. Jika kita sedang dalam masalah atau hati gundah gulana, bawa ke hadapan Tuhan, jujur terbuka di hadapanNya, bertobat dan bereskan hati. Minta anugerahNya memulihkan kita terlebih dahulu.

3. Pikirkan bagaimana dampak dari perkataan yang kita ucapkan : apakah akan membawa berkat atau kutuk; menghormati atau merendahkan orang lain; memulihkan atau menyakiti hati; menegur dengan kasih atau menghakimi; menuntun orang kepada pertobatan atau menyesatkan; memenangkan hati orang atau malah membuat orang jadi keras hati dan menjauh dari Tuhan. Perlu diingat bahwa perkataan kita walaupun tampaknya baik, belum tentu dapat diterima oleh orang lain, tergantung dari pengetahuan serta pemahaman akan kebenaran, kondisi hati dan kedewasaan rohaninya.

4. Jika pada kenyataannya perkataan kita menghakimi, merendahkan, memfitnah, gosip, mengkritik/mengecam, dlsb mari segera bertobat, minta maaf dan jangan bersikap membenarkan diri. Mari saling merendahkan hati satu dengan yang lain. Kebenaran tidak memerlukan pembenaran diri, karena Tuhan sendiri yang akan memunculkan kebenaran itu (Mazmur 37:6). Belajarlah dari kesalahan supaya tidak mengulang hal yang sama. Hal ini perlu terus dilatih dengan pertolongan Roh Kudus yang memampukan kita menghormati hadirat Tuhan dengan perkataan-perkataan yang berkenan kepadaNya.

Tidak semua orang yang mengaku Kristen adalah gandum. Kadang gandum diijinkan Tuhan bertumbuh ditengah lalang. Keduanya akan tumbuh bersama sampai pada waktu menuai. Lalang akan dikumpulkan dan dibakar. Tuhan akan menyuruh malaikat-malaikatNya untuk mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam KerajaanNya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api (Matius 13:37-42).
Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! (Pengkhotbah 5:1).

Semakin banyak kita berdiam dalam hadirat Tuhan dan belajar kebenaran, semakin kita menyadari betapa rusaknya kehidupan manusia. Namun kita patut bersyukur untuk segala kesabaranNya. Tuhan mengasihi orang berdosa, tapi sangat membeci dosa karena Ia Allah yang Maha Kudus.

Allah selalu menantikan pertobatan dan perubahan kita. Selama waktu dan kasih karunia masih ada, marilah kita semua mengoreksi diri dan bertobat. Jangan pernah menunda pertobatan. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9).

Untuk melawan dosa dibutuhkan ketetapan hati yang dilakukan secara maksimal dengan seluruh kekuatan dan kesungguhan. Dalam pergumulan melawan dosa kita belum sampai mencucurkan darah (Ibrani 12:4). Jangan sia-siakan kesempatan dan mengulur waktu untuk bertobat. Benahi diri secara all out. Roh Kudus pasti menolong, memampukan, menuntun pada kebenaran dan kekudusan Allah untuk menjadi serupa dengan Yesus.

Sudah waktunya bagi umat Tuhan untuk membiarkan bara api dari surga membersihkan bibir kita sekali lagi (Yesaya 6: 5-7). Biarlah mulut kita diurapi dan dikuduskan untuk mengatakan kebenaran, bernubuat, mengucap syukur, mengalirkan kasih Bapa, memberitakan Injil Kerajaan Surga yang membawa keselamatan bagi banyak orang.

Kejarlah kekudusan dan jadilah ‘pemburu Allah’ untuk selalu menemukan DIA disepanjang kehidupan kita. Miliki kerinduan untuk selalu berkenan kepada Allah serta hidup dalam persekutuan dengan Yesus Kristus baik dalam kematianNya dan kebangkitanNya.

Menemukan Tuhan bukan sekedar menemukan pengetahuan tentang Allah ataupun agama, melainkan belajar mengembangkan diri untuk hidup dalam kekudusan dan tak bercacat cela. Jauhkan diri dari setiap kesesatan, yang membuat kita jauh dari Tuhan bahkan tanpa sadar menukar iman percaya dengan hal yang tak berguna. Hindari pikiran yang sesat dan sia-sia agar kita bisa tetap setia kepada Tuhan.

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.
Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pengkhotbah 12:13-14)

image source: https://www.pinterest.com/pin/52565520637408288/

10 HARI PERTOBATAN

10 HARI PERTOBATAN

Peristiwa tahun baru pada umumnya, dilewati dengan Perayaan seperti berpesta, berbelanja di tempat-tempat yang menawarkan diskon akhir tahun atau beberapa orang menikmatinya dengan berlibur di luar kota atau luar negeri.
Dibulan September setiap tahunnya, orang Yahudi memperingati pergantian tahun dalam penanggalan mereka yang disebut Rosh Hasanah. Mari kita simak kebiasaan khusus yang dilakukan bangsa Yahudi, dalam masa peringatan Rosh Hasanah, terhadap pergantian tahun; kebiasaan apa saja yang mereka lakukan dalam menyambut Rosh Hasanah, yang dapat memperbarui paradigma kita dalam menyambut tahun baru.

Sepuluh hari pertama dari Rosh Hasanah menuju perayaan Yom Kippur (hari Penebusan Dosa, memperingati keluputan bangsa Israel atas murka Allah karena membuat patung lembu emas di saat eksodus dari Tanah Mesir (Keluaran 32)), dilewati bangsa Yahudi sebagai 10 Hari Pertobatan.
Menurut tradisi mereka, pada saat Rosh Hasanah terbukalah tiga kitab, yaitu Kitab Kehidupan yang tertulis nama-nama orang yang sepenuhnya benar/kudus, Kitab Kematian yang tertulis nama-nama orang yang sepenuhnya jahat/fasik dan bagi mereka yang hidup di antara kebenaran dan kejahatan, nasib mereka ditangguhkan hingga Yom Kippur tiba . Sepuluh hari masa antara Rosh Hasanah dan Yom Kippur tersebut dipakai sebagai kesempatan bagi orang Yahudi untuk bertobat dan berharap agar nama mereka dapat tertulis dalam Kitab Kehidupan.
Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan dalam 10 Hari Pertobatan ini oleh orang Yahudi, yang akan kita pelajari, dan meninjaunya dari sudut pandang Insan Pentakosta.

1. PERTOBATAN
Pertobatan meliputi perubahan paradigma, penyesalan dan keputusan untuk berubah, yang diwujudkan dengan usaha untuk memperbaiki diri dari kesalahan yang telah dilakukan. Hal ini sejalan dengan pengajaran dalam iman Kristen, di mana kita diminta untuk berubah sesuai pembaruan budi kita, agar mengerti kehendak Allah, yang baik dan yang sempurna, agar hidup kita menjadi persembahan yang hidup, kudus dan berkenan. (Roma 12:1-2)
Tahun baru merupakan momen yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, terhadap segala kelalaian dan kesalahan, baik terhadap Allah maupun kepada sesama. Tujuannya bukanlah untuk menimbulkan intimidasi dalam diri, tetapi pengakuan dosa kepada Tuhan, agar Ia mengampuni dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)
Komitmen untuk hidup benar pun selaras dengan semangat kekudusan Insan Pentakosta, di mana kita dipanggil untuk hidup dalam Roh, dan meninggalkan kedagingan. (Galatia 5:24-25)
Pertobatan di tahun ini akan menimbulkan dampak kepada hidup kita di tahun yang akan datang.

2. BERDOA
Berdoa merupakan kegiatan yang mewarnai masa 10 Hari Pertobatan. Berdoa menurut pandangan rabi Yahudi, dianggap dapat membatalkan segala hukuman. Pertobatan yang benar diutarakan melalui doa, sebagai wujud penyerahan diri kepada Allah dan kesadaran bahwa manusia tidak dapat bertobat tanpa kekuatan dari Allah. Orang Yahudi mengingat bahwa seruan kepada Tuhan adalah penting selagi Ia mau ditemui. (Yesaya 56:6)
Doa dalam pertobatan muncul juga di dalam Alkitab seperti misalnya:
• Seruan pertobatan Bangsa Israel yang dipimpin Elia di Gunung Karmel (1 Raja-raja 18:20-37)
• Pertobatan pada masa Yosia (2 Raja-raja 22)
• Dan juga Nehemia (Nehemia 9)
Pengakuan dosa dan doa pun sangat berhubungan erat dalam kekristenan. Rasul Yakobus mengajarkan bahwa kita perlu saling mengaku dosa kita dan saling mendoakan agar kita dapat sembuh dan pulih dari akibat dosa tersebut. (Yakobus 5:16)
Bahkan dalam ayat itu, Yakobus menekankan bahwa doa orang benar (di dalam Kristus), bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya, termasuk dalam membatalkan hukuman akibat dosa (misal: sakit penyakit).
Bagi orang Kristen, doa lebih sebagai bentuk komunikasi antara manusia dengan Allah, termasuk dalam hal pertobatan. Pertobatan yang sejati diawali dengan membangun kembali hubungan dengan Allah, yang mampu memberikan kekuatan dalam melewati masa pertobatan, melalui doa yang dipimpin oleh Roh Kudus.

3. BERBAGI
Hal ketiga yang perlu dilakukan Bangsa Yahudi dalam 10 Hari Pertobatan adalah berbagi kepada orang yang memerlukan, atau dalam bahasa Ibrani disebut sebagai tzedakah atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai bersedekah. Mereka mengumpulkan uang melalui nampan persembahan yang ada di sinagoga-sinagoga yang kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Semangat berbagi ini pun juga diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 25:31-46, di mana Yesus menyamakan antara melayani orang-orang yang dianggap hina sebagai bentuk pelayanan kepada-Nya. Jika kita memperhatikan mereka yang kelaparan, yang sakit, yang dalam penjara, dan tidak memiliki tempat tinggal, maka itu sama dengan kita sedang melayani Yesus.
Penjelasan seperti ini dipaparkan Yesus sebagai salah satu bagian dalam pengajaran-Nya tentang penghakiman terakhir. Oleh karena itu, hal bersedekah dan berbagi kepada orang yang membutuhkan, merupakan hal yang penting dalam kekristenan. Melakukan sedekah dalam masa pertobatan, dapat meningkatkan belas kasihan dan rasa syukur atas pengampunan yang telah Tuhan beri.

Secara garis besar, ketiga hal yang dapat dilakukan dalam masa peringatan Rosh Hasanah tersebut adalah baik. Namun, perlu diingat bahwa motivasi kita sebagai orang Kristen melakukan hal tersebut bukanlah untuk mendapatkan keselamatan, sehingga nama kita tertulis di dalam Kitab Kehidupan. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan merupakan anugerah Tuhan melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, dan bukan hasil usaha manusia. (Efesus 2:8-9)
Sikap pertobatan yang dilakukan di masa pergantian tahun, dapat dimaknai sebagai respon atas kasih karunia Allah yang telah diberikan kepada kita sebagai orang percaya. Kita memiliki panggilan untuk mengerjakan keselamatan tersebut dengan takut dan gentar (Filipi 2:12), salah satunya dengan hidup dalam pertobatan yang dapat dirasakan melalui buah yang dihasilkan. (Matius 3:8; Lukas 3:8)
Melalui uraian di atas, kita diajak untuk memiliki kebiasaan dan paradigma baru dalam menyambut pergantian tahun. Alih-alih berfokus pada pesta pora dan kemeriahan tahun baru, semangat instropeksi dan refleksi diri di penghujung tahun dapat mendorong kehidupan orang percaya yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan kasih dan rahmat Tuhan yang selalu baru setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun bagi kita orang percaya. (Ratapan 3:22-23) Amin.

image source: https://www.alittleperspective.com/romans-12-2016/

BERTUMBUH MENJADI SEORANG MURID KRISTUS SEJATI

BERTUMBUH MENJADI SEORANG MURID KRISTUS SEJATI

Tuhan Yesus telah memilih dan menetapkan kita untuk menghasilkan hidup dengan buah yang tetap (Yoh. 15:16). Kehidupan rohani orang percaya diibaratkan seperti sebuah pohon yang berbuah pada musimnya (Maz. 1:2-3). Tuhan Yesus telah memilih dan menetapkan kita untuk menghasilkan hidup dengan buah yang tetap (Yoh. 15:16). Saat seorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan & Juruselamat, ia mengalami kelahiran baru. Orang yang telah lahir baru akan bertumbuh dan berbuah bila terus terhubung dengan Yesus sebagai pokok anggur.

Pertumbuhan rohani hanya terjadi jika kita memutuskan untuk bertekun dalam firman dan berkomitmen untuk dimuridkan. Murid bukan sekedar tahu firman tapi hidup dalam firman (melakukan firman). Dengan tetap tinggal dalam firman, kerohanian kita akan bertumbuh sehingga menghasilkan hidup yang berbuah.

Hal-hal mendasar yang perlu dipelajari dalam kehidupan rohani orang percaya :

1. BERAKAR DALAM FIRMAN TUHAN

Alkitab adalah firman Tuhan yang ditulis dengan ilham dan dorongan Roh Kudus (2 Pet. 1:20-21). Setiap perkataan dalam Alkitab adalah benar dan penuh kuasa. Bagi orang percaya, Alkitab adalah firman/perkataan Allah kepada manusia (1 Tes. 2:13), makanan rohani yang membuat kita bertumbuh dalam iman dan menjadi dewasa (Mat. 4:4), petunjuk untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16), cara Allah menyatakan diri kepada kita (1 Sam. 3:21), serta pedang Roh untuk melawan musuh (Ef. 6:17; Ibr. 4:12).

2. BERTUMBUH DALAM FIRMAN TUHAN

Sebagai murid, kita belajar menerapkan gaya hidup 5 M yaitu Membaca-merenungkan, Menerima, Memperkatakan, Melakukan, dan Memberitakan firman Tuhan.
Mendengarkan firman yaitu membaca dan merenungkannya agar iman timbul (Rom. 10:17). Terima firman yang kita dengar itu dengan hati yang lemah lembut, artinya mau dikoreksi dan dibentuk oleh firman (Yak. 1:21). Kemudian untuk mengaktifkan roh iman, firman tersebut kita perkatakan (2 Kor. 4:13). Iman tanpa perbuatan adalah mati, firman harus dilakukan sebagai tanda iman yang aktif (Yak. 2:26). Pelihara firman dalam hidup kita dengan berusaha untuk melakukannya, bukan hanya sebagai pengetahuan di kepala saja (Ams. 7:2). Dan sebagai bentuk ketaatan terhadap Amanat Agung, firman juga harus diberitakan (Mat. 28:19-30; 1 Kor. 1:17)

3. BERBUAH

Keintiman bersama Roh Kudus dalam menerapkan 5 M akan menghasilkan buah dalam hidup kita.
Buah dimaksudkan untuk dinikmati orang lain, bukan diri sendiri. Seseorang dikenal dari buahnya, bukan dari karunia atau jabatan/posisinya. Buah yang dihasilkan adalah pertama, buah pertobatan yaitu menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Kedua, buah-buah Roh Kudus (Gal. 5:22). Ketiga buah pelayanan. Sejalan dengan pertumbuhan rohani, kita akan mulai menemukan fungsi dalam tubuh Kristus (pelayanan dan panggilan). Yang terakhir adalah buah jiwa-jiwa, di mana kita menerima hati Bapa untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang kepada keselamatan dalam Kristus.

Perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan adalah proses seumur hidup yang memerlukan ketekunan agar kita menghasilkan kualitas buah yang matang. Ketekunan sangat diperlukan untuk seseorang mencapai garis akhir yang berkemenangan. Tanpa ketekunan, kita dapat mengalami kemunduran rohani yaitu kembali kepada cara hidup yang lama, berhenti bertumbuh dan mati secara rohani. Bertekun maksudnya walau mengalami tantangan, tetap berusaha melakukan firman. Jangan menyerah, lakukan berulang-ulang agar dapat belajar dari kesalahan dan tidak mengulangnya lagi (to overcome mistakes). Tuhan bisa memakai masalah, tantangan, pelayanan, gesekan dengan orang lain dan penderitaan untuk membuat kita bertumbuh menjadi dewasa dalam iman.

Pada perumpamaan tentang seorang penabur, perhatikan keadaan benih yang jatuh pada tanah berbatu : seseorang menerima firman dengan sukacita, bertumbuh tapi hanya bertahan sebentar saja (Mat. 13:20-21). Kenapa hanya bertahan sebentar? karena tidak berakar sehingga cepat menyerah, tidak setia dan tidak ada ketekunan. Tapi benih yang tumbuh pada tanah yang baik : seseorang menerima firman dengan hati lemah lembut, tidak menyerah walau alami tantangan/aniaya, tetap bertekun sehingga menghasilkan buah yang matang dan tetap (Luk. 8:15).

Orang percaya harus tertanam dalam sebuah gereja lokal supaya dapat perlindungan rohani dari ajaran sesat dan pemikiran dunia yang membawa kepada kebinasaan. Gereja lokal bertanggung jawab memberikan dukungan, bimbingan, pengajaran yang sangat berguna bagi pertumbuhan rohani dan membawa kepada kedewasaan. Tanda kedewasaan rohani adalah hidup yang berbuah.

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-Ku” (Yoh. 15:8).

MURID KRISTUS SEJATI MEMILIKI PENGENALAN AKAN KRISTUS

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Filipi 3:10-11)

Kerinduan Paulus adalah mengenal Kristus, mengenal kuasa kebangkitanNya, turut mengambil bagian dalam penderitaanNya, menjadi serupa dengan Kristus dalam kematianNya, serta beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Pengenalan yang benar akan Tuhan telah mentransformasi cara pandang, kebiasaan, tujuan dan nilai hidup Paulus dengan luar biasa. Begitu jugalah kehendak Bapa bagi kita semua yang telah dipanggil dan dipilih untuk menjadi murid Kristus.

Murid yang terus mengalami transformasi akan memiliki kerinduan yang mengarah kepada keserupaan dengan Kristus. Ini bukan karena kemampuannya tapi karena Allah sendirilah yang mengerjakan di dalam dia baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Fil. 2:13). Murid sejati bukanlah anak-anak gampang yang hanya mencari kemudahan tapi rela keluar dari comfort zone untuk didewasakan agar hidupnya menghasilkan buah yang tetap dan matang. Kerinduan seorang murid sejati adalah :

A. Mengenal Kristus.

Pengenalan akan Kristus bukan bersifat teori, tapi mengalami Dia secara pribadi. Seseorang yang mengalami mukjizat atau menerima jawaban doa belum tentu membuat dirinya mengenal Tuhan. Ada harga yang harus dibayar untuk memiliki pengenalan yang benar akan Kristus. Hal itu bisa melalui ujian iman, masalah, penderitaan/penganiayaan, kemustahilan, dlsb.
Semakin mengenal Tuhan, semakin kita menyadari betapa panjang, dalam dan lebarnya kasihNya. Kita hanyalah bejana tanah liat yang penuh kelemahan sehingga sangat bergantung kepadaNya. Kesadaran ini membuat kita selalu merindukan kuasa kebangkitanNya dinyatakan dalam hidup kita.

B. Mengenal kuasa kebangkitanNya.

Yesus Kristus telah mengalahkan dosa, kutuk dan maut bagi kita. Jika kita menyadari bahwa kuasa kebangkitan Kristus (yaitu kuasa Roh Kudus) ada di dalam kita, maka kita tidak perlu mengasihani diri sendiri serta takut dan khawatir akan apapun juga. Kuasa kebangkitanNya memampukan kita mengalahkan keinginan untuk berbuat dosa. Kuasa kebangkitan Kristus memberi kita kuasa otoritas untuk menjadi saksi (KPR 1:8), memerdekakan kita dari dosa, kutuk, ikatan dan roh ketakutan (2 Kor. 3:17) dan menjadikan kita lebih dari pemenang dalam segala perkara karena Roh yang di dalam kita lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh. 4:4).

C. Persekutuan dalam penderitaanNya.

Tuhan Yesus memberikan teladan untuk tekun memikul salib, menanggung penderitaan dan bantahan yang hebat terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa (Ibr. 12:3). Jika kita menderita akibat dosa dan kesalahan diri sendiri, maka hendaklah kita bertobat. Tapi jika kita menderita bersama Kristus dan menderita karena kebenaran, maka itu adalah kasih karunia (1 Pet. 2;19-21; Fil 1:29).

Mengapa dikatakan kasih karunia ? Penderitaan yang kita alami tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita yaitu akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Roma 8:17), memerintah bersama Kristus (2 Tim. 2:11-12) dan menerima upah yang besar di sorga (Mat 5:10-12). Allah tidak akan mengijinkan kita dicobai melebihi kekuatan kita. Mata kita harus selalu tertuju kepada Kristus agar tidak menjadi lemah dan putus asa.

D. Menjadi serupa dalam kematianNya supaya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Jika kita menjadi serupa dalam kematianNya (kematian ‘self’, pikul salib, sangkal diri), maka kita akan berjalan dalam kuasa kebangkitan yang membawa pemulihan bagi tubuh Kristus di akhir jaman. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian, tidak ada kemuliaan tanpa salib. Di balik kematian Kristus ada kuasa kebangkitanNya yang juga turut membangkitkan kita dari antara orang mati.
Kita yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya. Keinginan kita untuk berbuat dosa telah mati bersama dengan kematian Kristus. Jika kita telah menjadi serupa dalam kematianNya, kita juga akan menjadi serupa dengan kebangkitanNya (Roma 6:5).

Penerapan
Roh, jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) dan anggota-anggota tubuh kita diserahkan kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Murid sejati yang mengenal Tuhan dan hidup dalam kuasa kebangkitanNya akan terlihat dari buahnya, salah satunya buah perkataan. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Amsal 18:21).

Di tahun 5783, Pey melambangkan “Mulut”, Gimel adalah insight/wisdom/discernment of law.

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar. (Yak. 39-12)

Pengenalan yang dalam akan Kristus diperoleh dengan turut mengambil bagian dalam penderitaanNya, dengan demikian kita menjadi serupa dalam kematianNya. Setiap kita harus bertumbuh untuk menjadi murid Kristus sejati yang memiliki pengenalan akan Dia dan berjalan dalam kuasa kebangkitanNya agar dapat menjadi terang di tengah kegelapan, memberitakan Injil dan menyelesaikan Amanat Agung.

image source: https://www.pinterest.com/pin/179088522661925861/