Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 13)
BANGKITLAH ANAK-ANAK TERANG!

BANGKITLAH ANAK-ANAK TERANG!

“Tahun 2023 adalah Tahun untuk Bangkit, Jadilah Pemenang!”
Tema ini dapat menjadi suatu perintah atau motivasi bagi orang percaya dalam menjalani tahun 2023. Pada sisi lain kita diperhadapkan dengan fakta bahwa kita sedang berada pada hari-hari terakhir, dimana sebagaimana Alkitab katakan; kita akan memasuki masa yang sukar (2 Timotius 3:1).

Berita-berita dunia menjadi bukti penggenapan Firman Tuhan tersebut. Banyak ahli ekonomi dunia memprediksi bahwa tahun 2023 tidak akan menjadi tahun yang mudah. Kegelapan semakin menguasai dunia, sementara disisi lain ‘terang orang percaya’ masih berkumpul di tempat yang sama, berkumpul di dalam gereja, merasa gereja menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk berlindung dari segala masa sukar. Tanpa disadari saat itulah orang percaya telah kehilangan fungsinya sebagai terang.

‘Bangkit dan menjadi pemenang’ hanya terlaksana jika orang percaya berhasil menjadi pemenang atas dunia. Bagaimana orang percaya dapat menjadi pemenang, jika tidak bangkit atas dunia dan membawa terang dalam kegelapan? Artikel ini bertujuan memberi inspirasi dan membangkitkan urgensi bagi orang percaya untuk bangkit menjadi anak terang yang menang di tengah kegelapan dunia.

BANGKIT MENJADI TERANG
Perspektif dunia mengatakan bahwa masa yang sukar berbicara mengenai hal-hal yang lahiriah. Sementara dalam kebenaran Firman Tuhan, apa yang dijelaskan sebagai krisis dalam 2 Timotius 3:2-5 adalah mengenai hal-hal yang batiniah, karakter dan perilaku manusia. Untuk menjadi pemenang atas krisis dunia orang percaya perlu mengambil tindakan untuk memperbaiki perilakunya dan menjadi terang melalui perbuatannya sebagaimana diperintahkan dalam Yesaya 60:1

“Bangkitlah menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.”

Konteks ini dijelaskan dalam ayat kedua; bagaimana kegelapan menutupi bumi, tetapi secara spesifik Allah menyatakan kemuliaan-Nya atas orang-orang percaya sebagai satu kasih karunia spesial dan hanya diberikan kepada orang percaya.

BANGKIT
Pertama-tama yang perlu dilakukan orang percaya sebagaimana yang disampaikan oleh ayat tersebut adalah ‘bangkit’; atau dalam bahasa Inggris digunakan kata ‘arise’. Ayat ini diberikan oleh nabi Yesaya kepada bangsa Israel untuk bangkit, meskipun saat itu sedang berada pada keruntuhan dan bangsa Yehuda sedang mengalami kemerosotan moral atau masa kegelapan.

Yesaya memerintahkan bangsa Israel keluar dari zona nyamannya, yaitu terus mengandalkan bantuan dari kerajaan lain, dan bergerak untuk bangkit dan hanya mengandalkan Tuhan, karena sesungguhnya terang Tuhan sudah datang atas mereka. Bahkan seharusnya bukan meminta bantuan dari kerajaan lain melainkan menjadi solusi bagi kerajaan lain, sehingga Yesaya memerintahkan di situ untuk mereka juga menjadi terang. Matthew Henry mengatakan bangsa Israel diharapkan tidak hanya menerima cahaya dan tercerahkan oleh cahaya yang diperolehnya tetapi juga memantulkan cahaya ini.

MENJADI TERANG
Bangsa Israel dan orang percaya masa kini dapat dianalogikan seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari di dalam kegelapan. Bulan menjadi objek langit paling terang kedua setelah matahari, dan untuk dapat memantulkan sinar matahari maka bulan harus menghadap matahari, berada pada jarak 180° dan dalam satu garis lurus dengan matahari. Cahaya matahari berbicara mengenai ‘sumber cahaya terbesar’ yaitu Tuhan sendiri. Orang percaya yang menerangi kegelapan malam harus berada dalam garis lurus dengan sumber cahayanya yang adalah Tuhan sendiri. Berada pada satu garis lurus dengan Allah artinya menyelaraskan pikiran dan kehendak kita sesuai dengan pikiran dan kehendak Allah. Orang percaya merubah fokus dan cara hidupnya sejauh 180° dari dunia kepada Tuhan sebagai sumber terangnya.

Matthew Henry selanjutnya mengatakan bahwa kemuliaan Allah tidak hanya dapat dilihat dari perkataan kita, tetapi juga dalam hidup kita. Artinya, melalui tindakan dan perilaku sehari-hari orang percaya harus dapat memancarkan terang Allah, sehingga menjadi penting untuk hidup selaras dengan sumber terang yang adalah Tuhan sendiri.

Kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan membuat bangsa Israel tanpa disadari sedang menjadi teladan dan memancarkan terang bagi orang lain. Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego menjadi teladan ditengah ancaman terhadap nyawa mereka, namun mereka memilih tetap percaya dan beribadah hanya kepada Allah dan membawa Raja Nebukadnezar dan Raja Darius untuk mengakui Tuhan Allah Israel sebagai Allah yang sejati. John Piper mengatakan keteladanan adalah cara paling efektif untuk memberkati dunia dan menjadi terang atasnya.

BANGKIT SEBAGAI ANAK TERANG
Sebagaimana bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah demikian pula orang percaya saat ini adalah orang-orang pilihan yang sudah Allah tetapkan untuk menerima terang dan kemuliaan dalam hidupnya sebagai karunia khusus. Orang percaya saat ini diberikan predikat sebagai anak terang. Tantangan tersulit bagi manusia; terutama anak-anak muda, adalah kehidupannya masih dipenuhi ambisi dan berbagai keinginan., sehingga sulit untuk memutar fokus 180° dari dunia kepada Allah. Orang percaya dikatakan sebagai bulan yang memantulkan cahaya matahari. Tetapi ketika bumi berada diantara bulan dan matahari yang terjadi adalah bulan tidak terlihat dan tidak dapat memantulkan cahaya matahari. Orang percaya harus memastikan dunia ini tidak menghalangi kita untuk dapat menjadi terang di tengah kegelapan.

Paulus menjadi tokoh yang kesaksiannya dapat menjadi teladan bagi kehidupan saat ini. Ketika awal mendapatkan panggilan Allah posisi Paulus sedang ‘dihalangi’ oleh dunia, sehingga ia berevolusi, bergerak sejauh 180° untuk dapat menghadap langsung kepada Sumber Terang, berada dalam satu garis lurus dengan-Nya, menjadi pengikut Yesus sejati hingga ia dapat mengatakan :

“Ikutlah teladan saya, seperti saya pun mengikuti teladan Kristus”
1 Korintus 11:1 (Bahasa Indonesia Masa Kini).

Sebagaimana Paulus mengatakan kepada para muridnya dan orang-orang disekitarnya, demikian pula seharusnya orang-orang percaya masa kini mengatakan yang sama. Paulus meneladani Yesus; tetapi tidak hanya sampai di situ, dia juga menjadi teladan bagi Timotius. Kemudian Paulus juga memerintahkan Timotius untuk kembali menjadi teladan bagi jemaat, seperti dalam 1 Timotius 4:12.

Bayangkan kita berada dalam satu ruangan yang sangat gelap, tiba-tiba ada lilin kecil yang dinyalakan. Lilin itu akan menjadi benda penerang paling berpengaruh dalam ruangan itu. Orang banyak akan datang kepada lilin tersebut tanpa mempedulikan bentuknya yang kecil atau tidak menarik perhatian. Tanpa peduli latar belakang kita, orang percaya yang menjadi terang akan menarik orang sekitarnya.

Pertanyaan penutup yang menjadi perenungan adalah; siapkah kita sebagai orang percaya untuk disaksikan dan menjadi pusat perhatian orang banyak? Dunia sedang mencari terang di tengah kegelapan yang semakin pekat. Jika terang masih berkumpul dalam gereja, tanpa bergerak ke luar bagaimana terang itu dapat disaksikan banyak orang. Orang percaya bersiap diri, bergerak ke luar, dan menjadi teladan, dunia sudah mempersiapkan platform untuk orang percaya dapat menjadi terang mulailah dengan sosial media, dalam satu kali tekan terang sudah dapat disaksikan oleh seisi dunia. Stop thinking and just do it! (MGT)

___________________

image source: https://www.calvarychapelonline.com/sermon/2-timothy-31-9-perilous-times/

Daftar Referensi :
Henry, Matthew. Seri Tafsiran Kitab Yesaya 40-66. Surabaya: Momentum, 2016.
Piper, John. Jadikan Sekalian Bangsa Bersukacita: Supremasi Allah Dalam Misi. Bandung: Literature Baptis, 2001.

KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

RENUNGAN KHUSUS

Salah satu tokoh dalam Alkitab Perjanjian Baru yang mengalami perubahan hidup yang sangat drastis adalah Paulus. Lukas menulis dalam Kisah Para Rasul 8 dan 9, bagaimana Saulus, yaitu nama lain Paulus, adalah seorang Yahudi dan Farisi yang hatinya begitu berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan Yesus. Saulus bahkan meminta izin agar diberi kuasa untuk memburu semua pengikut Tuhan Yesus, membawa mereka semua ke Yerusalem, agar semua pengikut Tuhan tersebut mengalami nasib kematian yang sama seperti yang dialami Stefanus (Kisah Para Rasul 7:54-8:1a). Namun segalanya berubah ketika ia mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju ke Damsyik.

Singkat cerita, setelah melalui proses yang tidak pendek, Saulus dibimbing oleh para pengikut Kristus, diterima di dalam lingkaran orang percaya, bahkan akhirnya ikut dalam persidangan penting di Yerusalem (Kisah Para Rasul 15) dan menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam membesarkan gereja Kristen abad pertama. Dari seorang pemburu pengikut Kristus, menjadi seorang pengikut Kristus yang ‘memburu’ Kristus seumur hidupnya. (Filipi 3:12-14)

Paulus mengungkapkan apa yang menjadi keinginan hatinya dalam Filipi 3:10-11,

“10Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”

Pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju Damsyik dan proses pemuridan yang dia alami sesudahnya, membuat Paulus begitu rindu untuk makin mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, karena kedua hal itulah yang membuat dia mengalami suatu pembalikan total cara pandang dan cara hidupnya. Paulus mengajar jemaat agar sama seperti dirinya, kita pun terus mengejar pengenalan akan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Kita jangan hanya tahu Yesus tetapi tidak mengalami kuasa kebangkitan-Nya, karena justru oleh kebangkitan-Nya lah iman kita hari ini tidak sia-sia. (1 Korintus 15:14)

Mari kita perhatikan beberapa fakta ini: Peringatan kelahiran Yesus, Natal, senantiasa dirayakan meriah oleh banyak orang diseluruh dunia, sementara kematian dan kebangkitan-Nya tidak dirayakan semeriah Natal, padahal oleh karena kematian dan terlebih karena kebangkitan-Nya lah kekristenan menjadi ada. Bagi umat kristiani, kematian dan kebangkitan Yesus menjadi sentralitas man dan keselamatan kita. (Roma 10:9-10)

Semua orang diatas muka bumi ini mengalami siklus yang sama, yaitu lahir dan mati, namun hanya ada satu pribadi yang bangkit dari kematian, bahkan mengalahkan kematian dan hidup selama-lamanya, yaitu Yesus Kristus. Dengan kematian-Nya Ia membuktikan kebesaran kasih-Nya kepada dunia dan melalui kebangkitan-Nya Ia memberikan jaminan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. (Ibrani 7:22; 25-27)

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus marilah kita mengucap syukur dan mengenal dengan sungguh-sungguh akan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, bahkan mengalami kuasa itu.

KRISTUS DAN KUASA KEBANGKITANNYA
1. Kuasa Kebangkitan-Nya Mengubah Jalan Hidup Kita
Dalam 1 Korintus 15:20-22 dikatakan,

“20Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. 21Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. 22Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.”

Dosa membuat arah jalan hidup orang menuju kepada kebinasaan, namun karena Yesus Kristus telah mati lalu bangkit dari kematian dan mengalahkan maut, maka kita semua yang ada dalam persekutuan dengan diri-Nya, sekalipun tubuh fisik kita akan mati, tetapi kita akan hidup kembali dalam kekekalan bersama dengan Dia. Ini adalah kasih karunia yang Allah anugerahkan dan jaminan keselamatan yang Yesus janjikan kepada semua yang percaya kepada-Nya. (Yohanes 3:16; 14:6)

Namun perubahan jalan hidup yang dialami oleh orang percaya bukan hanya berbicara nanti dalam kekekalan itu saja. Oleh karena kebangkitan Yesus dari kematian, perubahan hidup itu pun sudah terjadi sejak kita lahir baru, yaitu sejak menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Perjalanan hidup kita di dunia ini; baik rohani maupun jasmani – diubahkan oleh Tuhan ke arah yang Ia kehendaki. Kebangkitan-Nya yang mulia memungkinkan kita untuk menjalani hidup dengan iman kepada-Nya dan terus dituntun oleh Roh-Nya menuju kepada keserupaan dengan Kristus. (Efesus 4:13-15 bdk. 2 Korintus 3:18)

Karena Yesus bangkit dan hidup, maka kita pun dapat menjalani kehidupan seperti yang Yesus lakukan. Tidak heran Paulus dalam Galatia 2:20 berkata:

“20namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Sungguh, kebangkitan-Nya mengubahkan jalan hidup kita!

2. Kuasa Kebangkitan-Nya Menghancurkan Musuh Kita
Alkitab sangat jelas memberitahu bahwa musuh-musuh kita bukanlah sesama kita, melainkan roh-roh jahat. (Efesus 6:12)

Kebangkitan Yesus dari kematian mengalahkan kuasa kematian dan pengaruh roh-roh jahat yang mencengkram manusia. (1 Yohanes 5:5)

Kalau Yesus tidak bangkit dari kematian, hidup manusia untuk selamanya akan selalu diperbudak oleh dosa dan tidak dapat merdeka dari pengaruh si jahat. (Roma 7:15-20) Namun sebagaimana telah diterangkan diatas, orang-orang yang percaya kepada Kristus juga akan mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Karena Dia bangkit mengalahkan maut (Roma 6:9 bdk. Ibrani 2:14), maka kita sekarang memiliki kuasa untuk berkata ‘tidak!’ kepada tipu-muslihat si jahat, dan kita juga memiliki kuasa untuk menghancurkan sepak terjang musuh ini. (1 Yohanes 5:4; Roma 5:17; 6:5)

Kebangkitan Yesus memungkinkan kita untuk menjalani hidup yang tidak lagi diperbudak dosa oleh karena godaan si jahat. (Roma 6:22) Kebangkitan-Nya memberi kita kemerdekaan dan kemenangan; bahkan kuasa untuk melawan Iblis. (1 Korintus 15:57 bdk. Efesus 6:11; Yak. 4:7)

Tidaklah heran, kita dapat membayangkan betapa sukacitanya Paulus ketika ia menerangkan hal tersebut dan bagaimana ia ber-eksklamasi dalam tulisannya sebagai mana dicatat dalam 1 Korintus 15:57,

“Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

Betapa besar dan hebatnya kuasa kebangkitan-Nya itu bagi kita.

3. Kuasa Kebangkitan-Nya Memperkuat Iman Kita
Saat kita mempelajari bagaimana Yesus dan para murid-murid-Nya berinteraksi, sangat menarik kita temukan bahwa sekalipun Yesus telah beberapa kali memberitahu dan mengajar bahwa diri-Nya sebagai mesias akan mengalami penderitaan dan kematian, murid-murid tersebut tidak sepenuhnya mengerti dan percaya. Mereka sepertinya “beriman penuh” kepada Yesus, namun peristiwa sengsara dan penyaliban Yesus mengguncang diri mereka. Rasul Yohanes mengingat hal ini dengan baik, sehingga semenjak awal tulisannya ia mengungkapkan betapa mereka dahulu tidak percaya penuh akan firman, tetapi semua berubah semenjak kebangkitan Yesus; mereka menjadi percaya penuh akan apa yang dikatakan Kitab Suci dan perkataan yang telah diucapkan Yesus. (Yohanes 2:22)

Salah satu bukti nyata bahwa Yesus benar-benar bangkit adalah para rasul, mereka memberitakan mengenai Yesus bahkan sampai berujung hilangnya nyawa mereka sendiri. Paulus pun memiliki sikap yang sama sebagaimana ditulis dalam 2 Timotius 2:8,

“Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.”

Apabila kebangkitan Yesus adalah sebuah hoax atau tipuan yang dibuat oleh para rasul, maka secara logika tidak akan ada dari mereka yang akan mati karena Kristus. Ini perlu dicamkan karena tidak akan ada orang yang mau mati fisik atas kebohongan yang dibuatnya sendiri. Orang lain mungkin saja mati untuk sebuah kebohongan yang dibuat orang lain, tetapi tidak ada orang yang akan mau mati untuk kebohongan yang dibuatnya sendiri. Para rasul telah melihat sendiri bahwa Yesus bangkit dari kematian, dan berita inilah yang senantiasa mereka sampaikan dalam penginjilan mereka. (bdk. Kisah Para Rasul 2:24-36)

Iman para murid-murid menjadi semakin kuat mengetahui dan percaya Yesus bangkit dari kematian. Hari ini kita pun dengan iman percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian, mengalahkan maut dan memberi kita kemenangan! Haleluya!

Pendeta Adrian Rogers pernah berkata (terjemahan bebas),

“Kebangkitan Yesus bukanlah sekedar sejarah dalam dunia kekristenan; tanpa kebangkitan-Nya tidak akan ada yang namanya kekristenan. Kebangkitan-Nya adalah satu doktrin yang mengangkat kekristenan diatas iman lainnya di dunia.”

Kehidupan yang kita miliki sekarang, yang memungkinkan kita untuk bangkit dan jadi pemenang, terjadi karena Tuhan Yesus telah bangkit dan hidup. Amin! (CS)

______________________

(Seluruh ayat yang digunakan diambil dari Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 2023]

image source: https://faithtrustandbreastcancer.blogspot.com/2017/06/philippians-310-11-part-12-studio-tour.html

JADI PEMENANG SAMPAI GARIS AKHIR

JADI PEMENANG SAMPAI GARIS AKHIR

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
(2 Timotius 4:7-8)

Kemenangan Kristus di atas kayu salib adalah kemenangan atas dosa/kutuk, maut dan iblis. Siapa yang ada di dalam Kristus, ia juga memiliki jaminan kemenangan tersebut. Sesungguhnya pertandingan iman orang percaya bukan untuk meraih kemenangan, tapi berjalan dalam kemenangan yang telah dianugerahkan Tuhan Yesus sampai garis akhir.

Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Korintus 15:57)

Untuk berjalan dalam kemenangan, kita perlu hidup oleh iman dalam pimpinan Roh Kudus. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibrani 6:11). Hari-hari terakhir ini adalah masa yang sukar (2 Tim. 3:2-5). Inilah masa yang menguji kualitas iman kita. Banyak orang percaya yang tertidur secara rohani karena tidak hidup oleh iman. Jika tidak hidup oleh iman, maka kita akan sarat dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Tantangan/masalah akan membuat tawar hati, kecewa, marah dan mundur. Tanpa iman kita tidak bisa bertahan di masa yang sukar. Tanpa iman kita tidak bisa berjalan dalam kemenangan sampai garis akhir.

Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1 Yohanes 5:4b-5).

Perlu kita tahu dan mengerti, bahwa kemenangan versi orang percaya bertolak belakang dengan dunia ini. Kemenangan dalam Kerajaan Allah bukanlah soal pencapaian, kesuksesan atau kehebatan menurut ukuran/standard manusia. Kemenangan versi Kerajaan Allah adalah hidup dalam kebenaran dan melakukan kehendak Allah Bapa.

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17)

Sewaktu kita mengalami kelahiran kembali, Allah telah mengaruniakan iman untuk kita mampu percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Selanjutnya untuk mengerjakan keselamatan itu, kita harus tetap hidup oleh iman. Tuhan Yesus akan memimpin kita dalam pertandingan iman dan membawa iman kita itu kepada kedewasaan.

…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.. (Ibrani 12:1b-2a)

Jesus is The Author and Finisher of our faith. Jika kita tinggal dalam kasih Kristus, maka Dialah yang membawa kita berjalan dalam kemenangan dari awal sampai akhir.
Orang yang berjalan dalam kemenangan adalah orang yang :

1. Hidup oleh iman. Dalam menghadapi ujian/tantangan atau apapun yang terjadi dalam hidupnya: ia tetap menjadi pelaku firman. Ini yang dimaksud bahwa orang benar akan hidup karena percaya, bukan karena melihat. Orang yang melakukan firman, rumah hidupnya tidak akan rubuh walau diterpa masalah (Matius 7:24-25). Ujian iman yang dialami justru menjadi kesempatan untuk mengalami mukjizat, melihat kemuliaan Tuhan dan menghasilkan hidup yang berbuah.

2. Matanya selalu diarahkan kepada Kristus bukan kepada diri sendiri, orang lain atau keadaan. Mata yang tertuju kepada Kristus akan melindungi kita dari tipu daya iblis dan dunia. Mata yang tertuju kepada Kristus membuat hati kita terjaga dari sampah-sampah yang mengotori jiwa (cemas, iri hati, amarah, dendam, kecemaran, hawa nafsu, dlsb).

3. Bangkit kembali ketika ia jatuh; tidak mengundurkan diri dari pertandingan iman dan dari persekutuan dengan orang percaya, tapi berlomba dengan tekun sampai garis akhir.

Iman yang dewasa akan hidup karena percaya dan bukan karena melihat. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yoh. 20:29b). Iman yang dewasa mau belajar merendahkan hati, hidup taat dipimpin Roh Kudus. Orang percaya yang dewasa mengerti bahwa hidup oleh iman bukan dimaksudkan untuk mencapai apa yang ia inginkan tapi apa yang Tuhan inginkan. Iman yang dewasa mengerti bahwa ada harga yang harus dibayar untuk berjalan dalam kemenangan sampai pada garis akhir.

Tuhan Yesus sudah berkata bahwa di dalam dunia kita akan mengalami penderitaan. Maksudnya penderitaan karena kebenaran dan karena Injil keselamatan, bukan menderita karena dosa/kesalahan sendiri. Namun demikian Tuhan memerintahkan kita untuk menguatkan hati karena IA telah mengalahkan dunia (Yoh. 16:33).

Mengakhiri pertandingan dengan baik

Pada kenyataannya, memulai/membangun sesuatu lebih mudah ketimbang memelihara dan menyelesaikan. Tanpa kasih karunia (kemampuan dari Allah), kita tidak akan mampu mengakhiri pertandingan iman dengan baik. Masalah/ujian boleh terjadi, musim kehidupan boleh datang silih berganti, tapi iman kepada Kristus harus dipelihara dengan kesungguhan total.

Dalam mengikut Tuhan, Rasul Paulus telah mengakhiri pertandingan iman dengan baik yaitu tidak menyerah saat menghadapi kesulitan dan penderitaan bahkan tetap taat sampai mati.
Menurut pandangan dunia, kehidupan Paulus sepertinya suatu kebodohan. Suatu pilihan yang sangat tidak popular : melepaskan semua yang telah dia capai dan banggakan (Fil. 3:8), demi melakukan kehendak Tuhan, menyangkal diri, pikul salib, mengalami penganiayaan karena Injil dan karena kebenaran, lalu berakhir dengan mati sebagai martir. Sementara dari sudut pandang Kerajaan Allah; Rasul Paulus adalah seorang yang lebih dari pemenang, sangat berhasil, sukses, mulia dan berkenan di hadapan Allah. Allah itu adil, ada upah kekal bagi mereka yang telah melepaskan segala sesuatu dalam mengikut Kristus. Mahkota kebenaran tersedia bagi Rasul Paulus karena ia telah menyelesaikan panggilan Allah dalam hidupnya.

Melalui kebenaran ini kita diingatkan untuk sungguh-sungguh beriman kepada Kristus secara pribadi. Selama masih hidup dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa, kita tidak bisa menghindar dari masalah, ujian iman, penderitaan, godaan /hawa nafsu, dslb. Namun bagi kita yang hidup oleh iman, semua itu diijinkan Tuhan agar kita makin disempurnakan, berbuah banyak dan matang. Kapasitas kita semakin diperbesar agar dapat melakukan kehendak Allah menjelang kedatangan Kristus.

Firman Tuhan memberi petunjuk serta tuntunan untuk menyelesaikan pertandingan iman dengan baik :

1. Mengasihi Allah (dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi) dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri (Mat.22:37-39).

Di masa sukar ini kasih kebanyakan orang menjadi dingin, tapi siapa yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat (Mat. 24:12-13). Faith working through love, iman bekerja oleh kasih (Gal. 5:6b). Kasih kepada Allah membuat kita taat kepada firmanNya; saling mengasihi sesama membuat kita menang atas iri hati, dengki, kepahitan, dendam, egois, perseteruan, amarah, kesombongan, dlsb. Kasih akan menyatukan tubuh Kristus dalam gereja lokal dan global untuk melakukan kehendak Allah menjelang kedatangan Kristus.

2. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar (1 Tim. 6:12a).

Seorang pemenang akan memperoleh mahkota jika ia bertanding mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku (2 Tim. 2: 5) yaitu sesuai kebenaran firman Tuhan. Kita bukan berlomba untuk bersaing/mengalahkan orang lain, tapi bertanding mengalahkan diri sendiri, menang atas tipu muslihat iblis (tidak terjebak), serta menang atas masalah (iman tidak jadi gugur saat mengalami ujian dan penderitaan). Oleh karena itu tanggalkan kebenaran diri sendiri dan tanggalkan segala beban/ikatan serta dosa yang merintangi perlombaan iman kita. Belajar melatih tubuh dan menguasai diri dalam segala hal, lalu berlombalah dengan tekun setiap hari.

3. Peliharalah iman sampai garis akhir (2 Tim. 4:7).

Iblis berusaha mencuri, membunuh dan membinasakan iman kita. Banyak orang percaya yang tidak waspada kalau iblis telah mencuri sesuatu dari hidupnya dan mengalihkan fokusnya dari jalan keselamatan. Mereka tidak lagi peduli dengan perkara-perkara rohani, yang menjadi fokus hidupnya adalah perkara dan pencapaian duniawi yang sifatnya hanya sementara. Mereka begitu nyaman dan terjebak dalam kesibukan demi pencapaian pribadi. Tanah hatinya dibiarkan berbatu dan bersemak duri sehingga benih firman jadi kering, mati dan tidak dapat bertumbuh dan berbuah. Banyak orang percaya yang tidak memelihara iman karena rohaninya sedang dalam keadaan tertidur.

Segala sesuatu yang tidak dipelihara, tidak akan bertahan lama. Istilah ‘memelihara iman’ mengandung makna menjaganya baik-baik supaya tidak rusak, tidak gugur; dan menjaganya supaya apapun yang terjadi (sekalipun dalam lembah kekelaman/penderitaan) iman selalu diaktifkan agar bertumbuh, berbuah dan terpelihara sampai garis akhir. Memelihara iman juga mencakup hal menunaikan tugas pelayanan dan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Kenali fungsi dan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Jalankan talenta dan kobarkan karunia, jangan malah menyimpannya.

Tidak ada cara lain untuk berkemenangan selain hidup oleh iman. Ini bukan waktunya untuk berada di comfort zone, melainkan bangun dan bangkitlah dari antara orang mati! Tanpa iman, kita tidak akan bertahan menghadapi ujian, masalah dan penderitaan pada masa sukar terlebih di masa antikristus. Oleh sebab itu, perbarui komitmen kita dengan Tuhan. Hidup harus dengan sengaja diarahkan kepada DIA dan bangun iman kita di atas dasar yang tulus dan suci. Miliki motivasi hati yang benar dalam mengikut Tuhan Yesus; bukan sekedar ikut-ikutan orang lain, bukan karena mengejar berkat, karunia, mukjizat/ untuk pencapaian pribadi. Sebagai orang tua, ajar dan latih anak-anak kita untuk hidup oleh iman kepada Kristus secara pribadi. Jangan alihkan tanggung jawab itu kepada guru Children Ministry, karena itu tugas utama orang tua.

Tinggallah dalam kasih Kristus dan jangan menjauhkan diri dari kasih karunia. Kemenangan bukan untuk orang yang cepat, yang berkarunia, pintar, memiliki pencapaian, dsb. Kemenangan adalah untuk orang yang hidup oleh iman, mata yang tertuju kepada Kristus dan bertekun memelihara iman sampai garis akhir. Tuhan Yesus yang mengaruniakan iman kepada kita, IA juga yang akan meneguhkan serta memberi kekuatan agar kita mengakhiri pertandingan dengan baik dan mencapai garis akhir.

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita (Roma 8:37).

image source: https://www.redbubble.com/i/poster/Fight-the-good-fight-cinnamon-2-Timothy-4-7-8-by-ubgsla/110743784.LVTDI

DOA PUJIAN DAN PENYEMBAHAN BERSAMA-SAMA DALAM  UNITY SIANG DAN MALAM

DOA PUJIAN DAN PENYEMBAHAN BERSAMA-SAMA DALAM UNITY SIANG DAN MALAM

Aplikasi Alkitab YouVersion yang telah di download lebih dari 500 juta kali, menyatakan bahwa ayat yang
paling banyak dibaca sepanjang tahun 2022 berdasarkan data pemakai di seluruh dunia adalah Yesaya 41:10,
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan
meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang
membawa kemenangan.”
Pembaca Alkitab di seluruh dunia sepanjang tahun 2022 mengharapkan dan mendoakan terjadinya kemenangan,
atau menjadi pemenang. Haleluya! Tuhan menjawab doa dan harapan itu dengan berkata:
“Tahun 2023 adalah Tahun untuk Bangkit, Jadilah Pemenang!
The Year to Rise Up, be Victorious! Haleluya!”

MENJADI PEMENANG
Siapa yang dimaksudkan dengan ‘Pemenang’? Dalam kamus bahasa Indonesia, kata ‘menang’ mengandung
pengertian sebagai berikut: 1. Mengalahkan musuh/lawan/saingan
2. Memperoleh hadiah atau undian
3. Tekun, rajin, tidak tergesa-gesa
Dalam Alkitab bahasa Inggris, kata menang diterjemahkan sebagai triumphant yang mengandung pengertian
sebagai berikut: 1. Great victory (kemenangan besar)
2. Great achievement (pencapaian/keberhasilan besar)
3. Successful (sangat sukses)
4. Rejoice (bergembira)
5. Joy (sukacita)
Arti ‘menang’ atau ‘kemenangan’ dalam Alkitab bahasa Inggris yang disebutkan dengan triumphant tadi, tidak
pernah berbicara mengenai keuntungan pribadi atau berkat secara pribadi. Memang Iblis bekerja dengan tipu
muslihat yang membuat orang-orang memusatkan hati dan pikirannya pada definisi sukses secara dunia, yang
berkonotasi pada materi dan fokusnya adalah keuntungan pribadi. Iblis mendorong orang-orang untuk hidup
sukses dan menghalalkan segala cara yang tentunya di luar dari kebenaran firman Tuhan.
Perlu dicatat, kemenangan juga berbicara tentang berkat materi; namun bukan untuk kepentingan pribadi kita,
tetapi digunakan untuk penginjilan, pemuridan, membantu orang-orang miskin dan lain-lain. Jadi inilah yang
dimaksudkan dengan berkat materi yang bukan untuk kepentingan pribadi saja.
Tuhan menghendaki agar kita bangkit dan menjadi pemenang. Tuhan Yesus adalah Sang Pemenang. Kita harus
menjadi serupa dengan gambar-Nya. Mengapa Tuhan Yesus disebut sebagai pemenang?
Ini sesuai dengan ayat tema kita 2 Korintus 2:14,
“Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan
perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.”
Dalam ayat ini jelas dituliskan bahwa Kristus adalah Sang Pemenang. Dan jalan yang dilalui-Nya adalah jalan
kemenangan.

BAGAIMANA KRISTUS DAPAT MENJADI SANG PEMENANG?
Apakah Tuhan Yesus selama hidup-Nya pernah mengalami kesusahan, ditolak, disalahpahami oleh banyak
orang, mengalami pencobaan atau masa-masa sengsara? Jawabnya adalah ‘Ya’. Tuhan Yesus mengalami
semuanya itu. Bahkan murid-Nya sendiri yang bernama Yudas Iskariot berkhianat; menukar Dia dengan uang
perak, dihujat oleh para imam, bahkan salah satu penjahat yang di sebelahNya ikut menghujat Dia. Dan
akhirnya Tuhan Yesus mati dengan cara yang sangat menyedihkan.
Ada pertanyaan bagaimana Tuhan Yesus mati justru sebagai pemenang? Ibrani 2:14b-15 berkata:
“… supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan
jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya
kepada maut.”
Disini dengan jelas dituliskan, justru oleh karena Tuhan Yesus mati, Dia keluar sebagai pemenang. Yesus
mengalahkan dan memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut sehingga orang-orang yang percaya kepada
Tuhan Yesus akan diselamatkan dari kematian kekal selama-lamanya di neraka. Jadi untuk menyelamatkan kita
dari mati kekal selama-lamanya, Tuhan Yesus harus mati. Dan pada hari yang ketiga Dia bangkit dari kematian.
Sekali lagi karena Tuhan Yesus mati maka Dia adalah Sang Pemenang. Yesus mati dan menang melalui Jalan
Salib. Karena Tuhan Yesus menjadi pemenang melalui Jalan Salib, maka kita sebagai murid-murid-Nya; harus
hidup sama seperti Kristus telah hidup, maka untuk menjadi pemenang kita juga harus melalui jalan salib atau
pikul salib.
Memang berita tentang pikul salib atau jalan salib ini sudah tidak populer bagi sebagian orang Kristen. Mereka
mengira untuk masuk sorga cukup mengalami kelahiran baru setelah itu hidup sesukanya/semau gue. Sekali lagi
saya mau katakan: untuk menjadi pemenang kita harus melalui jalan salib. Dia yang harus makin besar dan kita
harus semakin kecil. Artinya kedagingan kita harus mati dan manusia roh kita harus semakin kuat. Untuk itu,
kita harus terus diproses, dikuduskan oleh Firman Tuhan dan Roh Kudus, sehingga menjadi serupa dengan
gambar Yesus. Proses pengudusan atau sanctification ini pasti sangat menyakitkan bagi kedagingan kita. Itulah
yang disebutkan jalan salib atau pikul salib.
Dalam pelayanan-Nya, rasul Paulus juga mengalami jalan salib atau pikul salib untuk menjadi pemenang. Dalam 2
Korintus 12, rasul Paulus bersaksi bagaimana ia pernah diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga yaitu Firdaus
dan mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.
Rasul Paulus berkata:
“Supaya aku jangan meninggikan diri karena perkataan-perkataan yang luar biasa itu maka aku diberi sesuatu
“duri dalam daging” yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku supaya aku jangan meninggikan diri.”
Rasul Paulus sudah berseru 3 kali kepada Tuhan supaya utusan Iblis mundur daripadanya tetapi Tuhan menjawab:
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, karena justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Rasul Paulus berkata:
“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”
Karena itu aku rela di dalam kelemahan, di dalam siksaaan, di dalam kesukaran dan di dalam penganiayaan dan
kesesakan oleh karena Kristus, sebab jika aku lemah maka aku kuat.
Dalam melayani pekerjaan Tuhan, saya pun mengalami seperti yang dialami oleh rasul Paulus. Supaya saya tidak
sombong, Tuhan juga berikan duri dalam daging, sesuatu yang menyakitkan. Itulah yang disebut jalan salib atau
pikul salib. Saya rela dan saya mengerti, untuk menjadi pemenang harus mengalami ini.
Lukas 14:27 berkata,
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Lukas 12:4-5 adalah pengajaran khusus dari Tuhan Yesus bagi murid-murid-Nya.
Tuhan Yesus berkata,
“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh
tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus
kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam
neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!”
Saya akan berkata kepada kita semua: takutilah Sang Pemenang, Yesus Kristus, sebab Ia mempunyai kuasa untuk
melemparkan orang ke dalam neraka. Kita harus bangkit menjadi pemenang. Pemenang adalah orang-orang yang
takut akan Tuhan. Amsal 8:13 berkata,
“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang
jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.”
Kita akan melihat berkat-berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang takut akan Tuhan.
• Mazmur 34:10 berkata,
“Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan
Dia!”
Memasuki tahun 2023 ini, kita percaya kita tidak akan kekurangan suatu apapun karena kita takut akan Dia.
Haleluya!
• Mazmur 25:12-14 berkata,
Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang
itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi. TUHAN bergaul karib
dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Haleluya!
Sekali lagi saya mau katakan kepada kita semua, bahwa kita harus takut akan Tuhan. Yang mau takut akan Tuhan,
katakan Amin!

UNITY ADALAH KUNCI KEARAH PENUAIAN
Pesan Tuhan buat kita semua; kita harus bangkit, jadilah pemenang dalam hal unity. Dalam Yohanes 17 yang
merupakan doa Yesus untuk murid-murid-Nya,Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa:
“Bapa, Aku telah memberikan kemuliaan yang Kau berikan kepada-Ku kepada mereka, yaitu kita-kita ini, supaya
mereka (supaya kita-kita ini) menjadi satu.”
Kalau mereka atau kita-kita ini sudah sempurna menjadi satu, dunia akan melihat, dunia akan tahu dan dunia akan
percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, yaitu kita-kita ini,
sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ini berarti kalau kita menjadi satu, dalam unity itulah akan terjadi penuaian
jiwa besar-besaran.
Saya ingat awal tahun 2000-an, saya pernah ditegur Tuhan dengan kata-kata yang keras:
“Niko, kamu sombong, kamu arogan.”
Tuhan melihat bahwa pelayanan yang sukses membuat saya menjadi sombong, arogan, sehingga membuat banyak
hamba-hamba Tuhan hatinya terluka karena banyak jemaat-jemaatnya yang pindah ke gereja kita. Saya tidak
merasa kalau saya begitu arogan, sombong sampai Tuhan menegur saya dengan keras. Saya menangis, saya
bertobat dan saya bertanya kepada Tuhan apa yang harus saya lakukan. Tuhan berkata ada 2 hal yang saya harus
lakukan:
1. Saya harus menurunkan nama gereja Bethany yang saya banggakan
2. Saya harus minta maaf kepada gereja-gereja yang hancur dan hamba-hamba Tuhan yang jemaatnya pindah
Saya melakukan perintah Tuhan itu dengan sungguh-sungguh. Apa yang terjadi? Tiba-tiba roh rekonsiliasi
turun antara gereja kita dengan gereja-gereja lainnya, dan juga di antara gereja-gereja lain tadi. Di tengahtengah rekonsiliasi itu tiba-tiba roh doa turun di Indonesia. Saya ingat tahun 2003 ada NPC (National Prayer
Conference) di Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelah itu diikuti terbentuknya menara-menara doa dan rumahrumah doa di Indonesia. Revival terjadi, Indonesia mengalami transformasi. Haleluya!
Unity merupakan faktor utama untuk terjadinya penuaian jiwa besar-besaran. Kita sekarang berada dalam era
Pentakosta Ketiga yang akan mengakibatkan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir. Hari-hari ini kita
harus banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam.
Pada waktu zaman Elia, terjadi peristiwa pertobatan bangsa Israel. Orang-orang Israel ini bertobat karena
melihat api Tuhan turun. Api Tuhan turun karena doa Elia. Pada waktu zaman raja Ahab dengan istrinya yang
bernama Izebel, bangsa Israel melakukan dosa yang besar terhadap Tuhan, karena mereka menyembah Baal.
Elia diutus Tuhan untuk membuat bangsa Israel bertobat kembali.
Untuk itu Elia mengumpulkan nabi-nabi Baal dan Asyera di hadapan seluruh orang Israel. Elia menantang nabi
-nabi Baal sebagai berikut: Nabi-nabi Baal dan Elia masing-masing akan diberi seekor lembu. Lembu itu akan
disembelih dan dipotong-potong dan ditaruh di atas kayu bakar, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Setelah
itu nabi-nabi Baal disuruh memanggil allah mereka agar menurunkan api untuk membakar persembahan
mereka, dan Elia akan memanggil nama Tuhan. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah. Seluruh
rakyat berseru: “Baiklah demikian. Setujuuuu!!”
Waktu bagian nabi-nabi Baal memanggil allah mereka untuk minta api ternyata sampai sore hari api tidak
turun. Waktu bagian Elia, apa yang dilakukan oleh Elia?
1. Elia membuat mezbah dengan menyusun 12 batu yang melambangkan 12 suku Israel. Ini berbicara tentang
unity.
2. Elia menaruh kayu api dan potongan-potongan lembu di atasnya.
3. Elia menyuruh menyiramkan ke atas kurban bakaran dan kayu api itu dengan 12 buyung air.
4. Setelah itu Elia berdoa demikian:
“Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah
di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala
perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah,
ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.” 1 Raja-raja 18:36-37
5. Apa yang terjadi setelah Elia berdoa? Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis kurban bakaran, kayu
api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.
6. Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata:
“TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!” Terjadi pertobatan secara besar-besaran. Haleluya!!
Jadi sebelum Elia berdoa, dia membuat mezbah dari 12 batu yang melambangkan 12 suku Israel; yang
berbicara tentang unity. Sekali lagi unity adalah faktor utama untuk terjadinya penuaian jiwa besarbesaran. Hari-hari ini kita perlu lebih banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan
malam.

KEBANGUNAN ROHANI DI ASHBURY
Hari-hari ini sedang terjadi kebangunan rohani di antara anak-anak muda di Ashbury University, Wilmore,
Kentucky dan itu sudah menyebar kemana-mana termasuk Lee University, Church of God, dan juga terjadi di
ORU (Oral Robert University).
Kebangunan rohani ini dimulai ketika mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity dan
kemudian api Tuhan yang kita kenal dengan api Pentakosta Ketiga turun. Dan mereka hari-hari ini berdoa,
memuji, dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam. Ini yang kita sebut dengan Restorasi Pondok
Daud. Terjadi pertobatan, terjadi kesembuhan. Revival sedang terjadi. Api Pentakosta Ketiga sedang
dicurahkan di Amerika. Hari-hari ini kita harus banyak berada di menara doa untuk berdoa, memuji dan
menyembah Tuhan bersama-sama dalam unity siang dan malam. Anak-anak muda, Opa minta kamu semua
masuk menara doa.
Nubuatan dari Cindy Jacobs tahun 2018 di SICC ketika api Pentakosta Ketiga turun; gerakan ini akan terjadi
dari Timur ke Barat dan kembali ke Yerusalem. “Barat” yang dimaksudkan itu adalah Amerika Serikat,
sehingga saya mempersiapkan di Amerika kegerakan melalui Church of God, melalui Oral Robert University
dan saat ini sedang membangun The Third Pentecost Azusa Street Prayer Tower.
Tuhan berbicara bahwa melalui Amerika kegerakan ini akan menyebar ke seluruh dunia, dan sekarang
nubuatan itu sedang terjadi. Api Pentakosta ketiga sedang turun di Amerika Serikat dan itu akan menyebar ke
seluruh dunia. Ini akan mengakibatkan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir sebelum Tuhan Yesus
datang untuk kali yang kedua.
Hal ini akan mengakibatkan bangkitnya generasi Yeremia, yaitu anak-anak muda yang dipenuhi Roh Kudus,
cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa, dan akan memenangkan banyak jiwa.
Ini akan mengakibatkan penyelesaian Amanat Agung, dan setelah itu Tuhan Yesus datang kembali.
TOGETHER WE CLAIM OUR VICTORY!

image source: https://www.quailridgebooks.com/book/9781722072704

BANGKIT DAN BERSATU

BANGKIT DAN BERSATU

Sebagai ciptaan baru kita hidup secara rohani, tetapi apakah manusia roh kita sedang dalam keadaan bangun atau tertidur. Orang yang tidur secara rohani tidak bisa productive. Seperti halnya secara fisik, orang yang tidur secara rohani berada di alam bawah sadar sehingga ia tidak siaga terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya termasuk keadaan berbahaya.

Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. ” Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. (Efesus 5:14-17)

Setelah menerima Yesus, orang percaya menerima hidup yang baru. Hidup yang baru adalah manusia roh yang senantiasa terhubung dengan Tuhan. Orang percaya yang tidak tertidur secara rohani akan selalu menjaga persekutuan yang intim dengan sang Penciptanya sehingga memancarkan terang Kristus. Panca indera rohaninya peka akan peringatan /teguran dari Roh Kudus sehingga ia menghindari dosa dan menyadari kelemahan dirinya. Orang tersebut akan hidup dalam pertobatan serta berbuah-buah kebenaran. Manusia roh yang bangun selalu waspada/berjaga-jaga, penuh firman serta memiliki gaya hidup berdoa memuji dan menyembah.

Untuk mengalami kebangkitan rohani, kedagingan terlebih dulu harus mengalami kematian. Jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian Kristus, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitanNya. Manusia lama kita telah turut disalibkan supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa (Roma 6:5-6).

Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa (1 Petrus 4:1).

Kalau seseorang tidak lagi peka akan dosa, tidak mau menerima peringatan dan teguran, maka ia sedang dalam keadaan tertidur. Orang Kristen yang tertidur tanpa sengaja menjadikan dirinya sasaran Iblis. 1 Petrus 5:8 menulis,
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis , berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”.

Sebenarnya Iblis sudah dikalahkan oleh Darah Yesus, ia tidak bisa lagi menguasai hidup kita, kecuali kita sendiri yang membuka celah melalui keinginan-keinginan daging yang tidak dimatikan.

Diperlukan disiplin badani untuk mematikan keinginan daging. Oleh pertolongan Roh Kudus, kita mematikan perbuatan daging. Penyangkalan diri perlu dilatih terus-menerus; kita harus bertekun dalam melawan dosa yang membangkitkan rupa-rupa keinginan daging.

Untuk itu hiduplah oleh iman dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Orang yang memiliki iman kepada Kristus mampu mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:4-5).
Kristus juga pernah mengalami penderitaan salib dan telah menang atas semuanya itu. Karena itu, Ia memahami apa yang kita rasakan sehingga mampu menolong kita mengatasi dosa dan kelemahan. Jalan salib/sangkal diri adalah kunci kemenangan.

Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.(2 Korintus 4:10)

Pelihara hadirat Tuhan dalam hidup kita agar kita tidak tertidur dan kembali kepada manusia lama serta hawa nafsunya yang membinasakan. Jaga api doa pujian penyembahan terus menyala setiap hari.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Orang yang bangun rohnya tidak mengijinkan dirinya diperbudak oleh dosa, kedagingan dan system dunia ini. Akal budi yang diperbarui firman membuat dirinya semakin mengerti kehendak Allah sehingga dapat berfungsi secara efektif dalam tubuh Kristus dan berjalan dalam panggilan Tuhan

Agar tubuh Kristus dapat berfungsi, setiap anggota tidak dapat berdiri sendiri melainkan saling membutuhkan (1 Kor. 12:12-27). Setiap anggota tubuh Kristus memiliki watak/karakter, talenta serta karunia yang berbeda-beda. Seperti anggota tubuh yang berbeda-beda diarahkan oleh kepala, demikian juga tubuh Kristus berfungsi bersama dalam kesatuan melakukan kehendak Kepala yaitu Kristus. Semua perbedaan yang ada saling melengkapi bukan menimbulkan perpecahan ataupun merusak diri. Setiap sikap yang merusak, mengadu domba dan menimbulkan perpecahan adalah tindakan yang menghancurkan tubuh Kristus dan rencana Allah.

Sebagai anggota tubuh Kristus, kita harus belajar hidup secara harmonis dengan anggota tubuh Kristus yang lain. Justru dengan adanya perbedaan, kita belajar saling mengasihi, saling menerima, saling merendahkan hati dan mendukung satu dengan yang lain. Tundukkan diri masing-masing kepada pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.

Menjadikan diri sendiri sebagai pusat (self-centered) berpotensi menimbulkan perpecahan. Berikut beberapa contoh sikap self-centered yang kadang tanpa sadar kita lakukan :

1. Membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain (misalnya dalam hal berkat, pelayanan, pemakaian Tuhan akan dirinya, karunia, kemampuan, pengalaman, dsb). Matanya tidak diarahkan kepada Kristus tapi kepada keadaan yang terjadi, dirinya dan orang lain. Oleh sebab itu timbul iri hati, perasaan tidak aman (insecure), perselisihan, self-pity, kecewa, merasa diri rendah, tidak dihargai/ditolak, bersungut-sungut, dlsb. Reaksi lain yang bisa juga terjadi misalnya merasa lebih berjasa, bersikap angkuh, merendahkan, menghakimi orang lain dan timbul persaingan.

2. Mementingkan diri sendiri/egois, yaitu sikap yang menempatkan perasaan/mood, asumsi/pendapat, kebenaran diri sendiri, kenyamanan, haknya, agenda pribadi dan apa yang dia miliki – jauh lebih penting daripada kehendak Allah serta kepentingan/kebutuhan orang lain. Ia merasa berhak atas pengakuan, penghargaan, promosi, kenyamanan diri serta menuntut ini dan itu. Orang egois tidak mudah jika diminta untuk melayani dan menjadi berkat dengan tulus hati. Biasanya ada motivasi lain dan hitung-hitungan.

Sikap egois juga menuntut orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai cara dan keinginannya. Ketika hal itu tidak terpenuhi, maka ia menjadi gusar dan bersungut-sungut. Dirinya cenderung membesar-besarkankan masalah, atau bahkan jadi sumber masalah itu sendiri. Orang yang egois akan gengsi mengakui kelemahan/kesalahannya dengan tulus dan rendah hati. Ia sukar menundukkan diri dan menerima nasehat/teguran. Suka untuk mengatur dan melihat kesalahan orang lain, tapi sulit diatur.

3. Kalau kita menuntut saudara seiman untuk mengasihi kita, maka sebenarnya kitalah yang harus dipenuhi oleh kasih Kristus. Mengapa? Karena orang yang dipenuhi kasih Kristus tidak akan menuntut, tapi menghasilkan buah-buah kasih yaitu sabar, murah hati, tidak iri hati/cemburu, tidak sombong, sopan, tidak egois, tidak pemarah dan tidak pendendam. Kasih bicara tentang pengorbanan dan penyangkalan diri, bukan sikap menuntut.

Banyak yang salah mengartikan kasih Kristus dengan menurunkan nilainya jadi mengasihani diri sendiri (self-pity). Kasih Kristus berorientasi kepada kebenaran firman dan keselamatan, bukan kepada ‘self’. Apapun yang berorientasi kepada ‘self’ akan menimbulkan kekacauan dan perpecahan.

Solusi agar terhindar dari perpecahan dalam tubuh Kristus adalah setiap anggota harus memiliki kehidupan yang berpusat pada Kristus (Christ-centered). Kristus telah memberikan teladan sempurna ketika IA mengorbankan/mempersembahkan hidupNya demi melakukan kehendak Bapa yaitu menyelamatkan kita.

supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (1 Korintus 12:25)

Saling memperhatikan bukan berarti kepo (rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain). Saling memperhatikan adalah bentuk tindakan kasih yang tidak berfokus pada diri/’self’; memperhatikan artinya memahami kebutuhan orang lain. Untuk itu setiap kita harus dipenuhi oleh kasih Kristus sehingga dapat menjawab kebutuhan orang lain. Apa saja itu kebutuhan orang lain? Misalnya kebutuhan untuk didoakan, dilayani, ditegur/dinasehati dengan segala kesabaran agar kembali ke jalan kebenaran, dibantu, dikuatkan imannya, didorong untuk maju dalam pelayanan, dlsb. Jangan iri saat orang lain sedang dipakai Tuhan dengan luar biasa, sebaliknya topang dalam doa agar orang tersebut bergerak dalam urapan dan berkenan di hadapan Tuhan (tidak jatuh dalam kesombongan).

Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus (1 Kor. 12:22-23).

Tidak ada anggota tubuh Kristus yang tidak penting, semuanya penting dan saling membutuhkan. Perbedaan justru menyatukan kita sebagai satu tubuh Kristus yang lengkap, harmonis dan berfungsi secara efektif untuk melakukan kehendak Allah. Buang segala sikap yang berorientasi kepada ‘self’. Jadikan Kristus sebagai pusat seluruh kehidupan, karunia, talenta dan pelayanan kita agar segala perbedaan tidak menimbulkan perpecahan, melainkan menjadi aset yang berpotensi mendatangkan lawatan Tuhan atas keluarga, kota, negara dan bangsa-bangsa.

image source: https://www.facebook.com/dollywood/videos/ephesians-514/721842058660803/

JALAN SALIB ADALAH JALAN KEMENANGAN

JALAN SALIB ADALAH JALAN KEMENANGAN

2 Korintus 2:14 mengatakan “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.”
Jika membaca ayat di atas mungkin kita dengan cepat mengaminkannya dengan berkata “Ya! Saya percaya selalu dibawa Tuhan di jalan kemenangan-Nya!”, tetapi apakah jalan kemenangan yang dimaksud oleh ayat ini? Apakah kemenangan di sini diartikan sebagai berkat materi atau kesuksesan dalam ukuran manusia dan dunia?

Jawabannya tidak. Kemenangan ini juga bukan berarti merasa hebat dan merasa lebih baik dari yang lain sehingga seseorang menjadi sombong. Mari kita simak penjelasan dari ayat tersebut yang ternyata sarat dengan makna dan perenungan yang dalam tentang tujuan hidup orang Kristen.

Istilah ‘jalan kemenangan’ atau triumphal procession memiliki gambaran tradisi kerajaan Romawi yang selalu melakukan parade militer setelah pasukan Romawi kembali dengan kemenangan gilang-gemilang dari sebuah pertempuran atau peperangan. Biasanya, setelah mereka menang perang, sang Jenderal akan kembali ke kota Roma dengan gegap gempita dan sorak sorai disertai dengan iringan tahanan perang yang nanti akan dihukum mati di kota Roma atau dijadikan budak. Tentu Paulus sangat familiar dengan parade ini karena ini adalah peristiwa yang meriah yang dirayakan hampir oleh masyarakat seisi kota Roma.

Ketika kita mengerti latar belakang ini, maka sungguh mencengangkan ketika Paulus berusaha menjelaskan bahwa dia bukanlah sang Jenderal perang tersebut atau komandan perang yang berjalan bersama dengan bangga; tetapi Paulus adalah tawanan perang itu sendiri! Paulus menggambarkan dirinya sebagai tawanan perang yang diarak menuju kematiannya sebagai martir demi menyebarkan aroma Injil kemana pun dia pergi.

Coba perhatikan beberapa ayat lain yang ditulis Paulus mengenai perjalanan dan kehidupan pelayanannya:

“Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.” (1 Korintus 4:9)

“Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” (2 Korintus 1:9)

“Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2 Korintus 4:10)

Bagaimana kita bisa memahami ayat-ayat yang keras seperti ini? Sesungguhnya, Paulus sedang mengajarkan bahwa jalan kemenangan di dalam kehidupan orang percaya adalah jalan salib. Orang-orang yang mengerti bahwa untuk mengikut Yesus ada harga yang harus dibayar, dan Yesus sudah memberikan yang terbaik yaitu nyawa-Nya sendiri sehingga sudah sepatutnya kita hidup bagi Kristus!

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:20)

namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. (Galatia 2:20)

Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan dan menghidupi penderitaan Kristus ketika Dia memikul salib menggantikan kita. Memang, kita tidak bisa menggantikan karya Kristus di kayu salib. Tetapi kuasa salib dan pesan kematian Yesus harus selalu hadir dalam kehidupan dan pelayanan kita! Inilah yang Paulus maksudkan ketika dia berkata “…Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.”

Memberitakan Injil bukan hanya tugas dan tanggung jawab orang-orang tertentu saja, tapi tugas semua orang percaya. Melalui gaya hidup, dalam pekerjaan/usaha, pelayanan, studi, ataupun melalui misi khusus penginjilan. Mari periksa diri kita : apakah kita dikenal sebagai orang yang menyebarkan Injil/Kabar Baik itu dimana-mana? Apakah lewat hidup kita, orang bisa mengecap kasih Kristus bagi orang-orang yang terhilang?

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (1 Yohanes 3:16)

Jika kita tidak memberitakan Injil, entahkah itu melalui perkataan atau kehidupan yang kita jalani, maka karya penebusan Kristus di salib menjadi sia-sia. Paulus sudah menuliskan di dalam 1 Korintus 1:17-18,

“Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”

Paulus menekankan bahwa hidupnya – artinya juga hidup semua orang percaya – adalah memberitakan Injil dengan kuasa Roh Kudus, agar lebih banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan, sekalipun mungkin ada orang-orang yang menganggap pemberitaan Injil maupun kehidupan kita sebagai pengikut Kristus sebagai suatu kebodohan.

Kita juga tahu bahwa ada orang-orang yang bahkan sampai menganiaya orang-orang percaya ketika memberitakan Injil dan membuat pengikut Kristus hidup dalam penderitaan; tetapi itu semua tidak boleh menghentikan pemberitaan Injil ataupun menghentikan kehidupan kita sebagai orang percaya yang berdasar pada kebenaran firman-Nya serta tuntunan Roh Kudus. Sebab sekalipun harus mengalami tantangan dan penganiayaan, akan selalu ada orang yang meresponi pemberitaan Injil dan bagi mereka Injil itu merupakan bau yang harum; bau yang membawa kehidupan dan kemenangan.

Dari uraian ini sekarang kita mengerti, bahwa kehidupan yang kita jalani sebagai pengikut Kristus, entahkah itu dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan diberkati atau sedang mengalami beban dan pergumulan hidup, semuanya dapat digunakan sebagai kesaksian bagaimana Kristus bekerja di dalam dan melalui kita.

Melalui keadaan baik, sukacita dan berkat-berkat yang kita terima dari Tuhan, itu menjadi kesaksian bagaimana Ia mengasihi dan memberkati kita. Namun melalui jalan salib yang kita alami, perjalanan itu pun menjadi kesaksian bagaimana Kristus yang kita sembah dan taati terbukti setia menjaga, memelihara, membela dan memberi kekuatan serta kemenangan bagi kita.

Kita mengabarkan Injil bukan melalui perkataan saja, melainkan juga melalui seluruh aspek kehidupan kita, termasuk jalan salib yang kita hidupi. Kehidupan kita sebagai pengikut Kristus dalam menempuh jalan salib menjadi bukti penyertaan Kristus dan bukti bahwa mengikut Kristus adalah jalan kemenangan!

image source: https://www.alittleperspective.com/2-corinthians-2-2016/

HIDUP  DALAM  KASIH KARUNIA  ALLAH

HIDUP DALAM KASIH KARUNIA ALLAH

Dalam Kristus kita telah menerima belas kasihan dari Allah yaitu dibebaskan dari penghukuman kekal. Kita menerima pengampunan dosa, keselamatan dan hidup dalam kelimpahan berkat (Zoe life, Yohanes 10:10) – inilah yang dinamakan God’s mercy and grace.

Arti kata dari murah hati (mercy) adalah belas kasihan yang ditunjukkan dengan memberikan pengampunan serta membatalkan hukuman kepada seseorang yang patut dihukum; sedangkan kasih karunia (grace) adalah memberikan berkat, kebaikan dan pertolongan kepada mereka yang tidak layak menerimanya. Kemurahan hati yang Allah berikan kepada kita tidak pernah berimbang; tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita (Mazmur 103:10). Kita patut selalu bersyukur untuk kemurahan dan kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada kita.

Tujuan Allah bermurah hati adalah supaya kita juga menghasilkan karakterNya yang murah hati. Untuk dapat memancarkan kemurahan hati, kita harus lebih dulu hidup dalam kemurahan hati/ kasih karunia Allah.
Berikut adalah ciri orang yang hidup dalam kasih karunia/ kemurahan hati Allah :

1. Hidup oleh iman kepada Kristus.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. (Efesus 2:8)

Kasih karunia Allah menyelamatkan orang yang percaya/beriman kepada Yesus Kristus (Firman Allah yang hidup). Orang yang percaya kepada Yesus Kristus artinya menjadikan firman Allah sebagai dasar seluruh aspek kehidupannya. Cara pandang, pikiran, akal budi, nilai-nilai kehidupan, respon dalam perkataan, perbuatan dan keputusan yang diambil bukan lagi menurut pemikiran, pengertian dan pendapat sendiri tapi menurut pimpinan Roh Kudus yang mengingatkan akan firman serta membawanya kepada seluruh kebenaran.

Orang benar akan hidup karena percaya bukan karena melihat. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Amsal 3:5).
Dalam menghadapi masalah, orang yang berjalan dalam kasih karunia akan mengarahkan mata dan hatinya kepada Tuhan. Ia tidak kuatir karena percaya penuh bahwa Tuhan itu baik kepada dirinya; sifat Allah yang pemurah tidak akan berubah dulu sekarang dan selamanya. Ia senantiasa bersyukur mengingat kebaikan Tuhan yang telah diterimanya dan belajar berserah kepada kehendak Bapa : apa yang berkenan, kapan dan bagaimana cara Tuhan mengatasi masalahnya.

Kalau mata hati tidak tertuju kepada Allah, maka seseorang cenderung bersandar kepada pengertian sendiri sehingga terjerat dalam tipu daya iblis, menjadi buta dan picik karena lupa bahwa dosa-dosanya telah dihapuskan, menghakimi, kecewa karena salah mengerti dengan Tuhan, menjadi takut dan kuatir, mengandalkan kekuatan sendiri, dsb.

2. Kemurahan Allah menuntunnya hidup dalam pertobatan.

Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (Roma 2:4)

Allah itu murah hati dan penuh kasih karunia tapi bukan berarti murahan (cheap grace) atau lemah. Allah tidak membiarkan DiriNya dipermainkan, apa yang ditabur seseorang, itu pula yang dituainya. Orang yang mengerti kasih karunia tidak mau menyalahgunakan/menyia-nyiakan kemurahan Tuhan dengan terus hidup dalam dosa/kedagingan atau hidup dengan sembrono tanpa kedisiplinan rohani.

Kalaupun berbuat kesalahan orang tersebut mudah untuk bertobat, menerima pengampunan dari Tuhan, tidak menghukum/membenci diri sendiri melainkan mengampuni, tidak menyalahkan pihak lain dan kembali bangkit. Ia percaya bahwa kasih karunia Allah cukup baginya, bahwa Tuhan punya cara sendiri untuk menolongnya dalam mengatasi kelemahan dan membawanya pada jalan kemenangan. Justru dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi sempurna (2 Korintus 12:9).

3. Roh Kudus memberinya kuasa untuk mengampuni dan mengasihi orang-rang yang sulit dikasihi.

Mengampuni orang lain dengan tulus memang tidak mudah tapi juga tidak mustahil. Untuk bisa mengampuni, orang tersebut lebih dulu menerima pengampunan dan kasih Kristus (dalam Pribadi Roh Kudus) yang memberi kuasa untuk melepaskan pengampunan.

Seharusnya semakin seseorang mengenal Allah, semakin dia menyadari bahwa dirinya memiliki berbagai kelemahan. Hanya kemurahan Tuhan yang dapat melindunginya dari yang jahat. Orang yang sadar bahwa dirinya punya kekurangan akan bisa mengampuni, memahami kelemahan orang lain serta berbelas kasihan. Orang yang mengampuni akan berbahagia karena dia pun akan beroleh kemurahan berupa pengampunan dari Allah jika melakukan kesalahan.

4. Roh Kudus mendorong dan memampukan untuk berbuat kebaikan.

Seseorang tidak diselamatkan oleh perbuatan baiknya (Efesus 2:8-9). Tanpa Kristus, kesalehan manusia sia-sia dan seperti kain kotor di hadapan Allah (Yesaya 64:6).
Namun demikian tujuan Allah menyelamatkan bukan hanya menyelamatkan orang dari neraka, tetapi supaya orang tersebut semakin serupa dengan gambar Kristus (Roma 8:29) dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik.

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10)

Ketika Roh Kudus tinggal di dalam seseorang, Ia menggerakkan orang tersebut untuk melakukan hal-hal yang memuliakan Allah (Yohanes 16:13-14). Kerinduan untuk menyenangkan Allah bertumbuh seiring dengan kedewasaan rohani seseorang melalui pengenalan akan Kristus. Orang yang tinggal dalam Kristus akan menjadi saluran kemurahan Allah/menghasilkan hidup yang berbuah. Perbuatan baik tidak menghasilkan keselamatan, tapi perbuatan baik adalah hasil dari keselamatan. Orang yang berjalan dalam kasih karunia tidak malas tapi dengan sukacita dan penuh tanggung jawab mengobarkan karunia dan talentanya untuk kemuliaan Bapa.
Dirinya tidak hanya menjadi pengunjung gereja atau penonton saja, tapi membagi apa yang ada padanya untuk melayani sesama bukan karena terpaksa, pelit ataupun hitung-hitungan.

Bisa dibayangkan kalau kita semua hidup dalam kemurahan dan kasih karunia Allah, setiap orang memiliki roh yang kuat, saling mengasihi, saling melayani dan unity. Tidak ada yang berkekurangan dalam tubuh Kristus. Gereja lokal bangkit, menjadi pemenang dan menyalurkan berkat demi kemuliaan Allah, Amen.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

image source: https://fi.pinterest.com/pin/159526011776115191/

KRITERIA SEORANG PEMENANG

KRITERIA SEORANG PEMENANG

“Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami
di jalan kemenangan-Nya.
Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman
pengenalan akan Dia di mana-mana.”
2 Korintus 2:14
Seringkali kita dengan cepat menilai keadaan luar seseorang atau apa yang terlihat lalu membuat kesimpulan, apakah orang tersebut berhasil atau tidak berhasil dalam hidupnya. Misalnya ada orang sedang mengalami kesulitan keuangan, kesehatan dan juga masalah-masalah yang lain, kita akan cenderung menyebut orang itu sedang mengalami kekalahan. Sedangkan orang yang sedang berjaya, penuh berkat, kesehatan yang baik, keuangan yang melimpah, kita akan menyebut mereka sedang mengalami kemenangan.
YESUS PEMENANG SEJATI
Mari kita melihat dari sudut pandang firman Tuhan tentang siapakah orang yang disebut pemenang? Dalam 2 Korintus 2:14 disebutkan:
“Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.”
Kita melihat dari ayat tersebut bahwa Kristus adalah Sang Pemenang. Jalan yang dilalui-Nya adalah jalan kemenangan semata-mata.
Bagaimana Kristus dapat menjadi Sang Pemenang? Apakah dalam pelayanan-Nya, dari lahir sampai mati di kayu salib Kristus tidak pernah mengalami kesusahan, masa-masa yang buruk, atau pencobaan? Kita tahu bahwa Alkitab menyatakan semua itu terjadi. Bahkan pengkhianatan dari orang-orang yang terdekat pun dialami oleh Kristus. Namun apakah pengalaman buruk itu membuat Kristus mengalami kekalahan? Jawabannya adalah ‘tidak’.
Kristus tidak pernah mengalami kekalahan sekalipun dalam berbagai pencobaan, tekanan, kesalahpahaman dan penolakan dari banyak orang. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena dalam pelayanannya Tuhan Yesus selalu mengikuti apa yang menjadi perintah Bapa. Yohanes 12:49 menyatakan:
“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.”
Jadi kita mendapati dari Firman bahwa dengan melakukan segala sesuatu yang diarahkan oleh Bapa maka Kristus selalu mendapatkan kemenangan. Mungkin timbul pertanyaan mengapa Kristus yang selalu menang pada akhirnya terlihat menderita dan ‘kalah’ pada waktu disalib. Yesus terlihat tidak berdaya, bahkan untuk melepaskan diri-Nya sendiri
dari kayu salib. Ahli-ahli Taurat mengejek karena hal itu, juga seorang penjahat di samping Yesus. Namun Firman menyatakan bahwa salib dan kematian Yesus bukanlah kekalahan sama sekali, bahkan itu adalah sebuah kemenangan besar. Puncak kemenangan Yesus. Orang-orang melihat hal itu sebagai kekalahan karena memiliki paradigma yang keliru.
KEMENANGAN ADA DI DALAM YESUS
Setiap kita pasti ingin mengalami kemenangan dalam hidup ini. Karena sumber kemenangan sudah kita ketahui, maka yang diperlukan bagaimana menerapkan kemenangan yang Yesus miliki dalam hidup kita. Orang-orang yang ada di dalam dan yang bersama-sama dengan Kristus akan menempuh jalan kemenangan yang Kristus miliki. Prinsipnya, orang yang mengalami kemenangan adalah orang yang senantiasa ada di dalam Kristus.
Dalam kehidupan kita yang faktanya menghadapi berbagai hal; enak maupun tidak enak; kemenangan Kristus tetap dapat diterapkan. Orang-orang yang ada di dalam Kristus dapat mengalami pencobaan, penolakan, penderitaan; bahkan aniaya, namun tetap mengalami kemenangan. Hal ini dimulai ketika kita belajar memiliki dan memakai paradigma yang benar, yaitu yang sesuai dengan Firman Tuhan. Prinsipnya adalah tetap berada di dalam Tuhan Yesus, dengan berjalan dalam pimpinan Firman dan Roh Kudus.
KRITERIA SEORANG PEMENANG
Pemenang bukanlah orang yang tidak pernah mengalami kesusahan atau masalah dan pencobaan. Hal-hal itu dialami oleh semua orang di muka bumi ini. Tentu bentuk kesulitan seseorang berbeda dengan orang lain. Respon dari tiap orang berbeda-beda. Inilah yang membedakan pemenang dan orang-orang yang kalah.
1. Pemenang adalah Orang yang Berada di dalam Kristus
Yang kurang disadari oleh banyak orang adalah si jahat bekerja dengan tipu muslihat. Orang-orang dibuat untuk memusatkan hati dan pikirannya pada apa yang disebut dengan sukses menurut definisi dunia ini, yang berkonotasi pada materi. Orang didorong dengan kompetisi yang begitu rupa agar sukses, dengan cara apapun. Orang didorong untuk sukses di luar Kristus. Tipu dayanya berusaha membuat orang punya pemikiran bahwa yang penting adalah hidup ‘bahagia’; bagaimanapun caranya. Dengan tipu muslihat ini, orang tanpa sadar menjauh dari Kristus, menempuh jalan yang berbeda dengan Kristus dan akhirnya terhilang. Ironisnya dengan semua materi yang dimiliki, bahkan rasa membutuhkan Tuhan pun tidak ada lagi.
Murid-murid Tuhan di sepanjang zaman terus menyampaikan Injil Kerajaan Allah, bahwa orang-orang perlu diselamatkan dan membutuhkan Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Orang-orang perlu mengerti bahwa yang paling penting adalah keselamatan jiwanya. Si jahat berusaha menanamkan bahwa materi yang terpenting, dan itu menipu banyak orang. Karena Yesus adalah pemenang maka orang-orang yang rindu menjadi pemenang harus ada di dalam Tuhan Yesus.
2. Pemenang adalah Orang yang Berjalan dalam Tuntunan Firman dan Roh Kudus
Sebagai Kristus berjalan dalam tuntunan Bapa, kita yang rindu menjadi pemenang harus menjalani kehidupan yang sama. Bagaimana Bapa menuntun Yesus? Melalui Firman yang disampaikan oleh Roh Kudus. Yesus dibaptis Roh Kudus di sungai Yordan
dan kemudian dipimpin oleh Roh Kudus dalam segala pelayanan-Nya. Kita sangat membutuhkan tuntunan Firman dan Roh Kudus agar dapat mengalami kemenangan. Orang yang berjalan dalam firman dan Roh Kudus pada hakikatnya adalah orang yang berjalan dalam jalan salib. Orang tersebut mengalami kematian daging dan manusia rohnya semakin hari semakin kuat.
3. Pemenang adalah Orang yang Menyebarkan Keharuman Pengenalan akan Kristus
Kemenangan di dalam Tuhan Yesus bertentangan dengan pengertian kemenangan secara dunia. Menurut dunia, orang yang menang adalah orang yang sukses dengan materi dan setelah itu menikmatinya, sampai akhir hidupnya bahagia senantiasa; tidak kekurangan apapun.
Kemenangan yang Tuhan berikan kepada murid-murid-Nya adalah dengan suatu maksud mulia. Murid-murid Kristus diperintahkan untuk menyebarkan keharuman pengenalan akan Kristus kepada semua orang. Maksudnya adalah murid-murid Tuhan perlu membawa orang lain kepada Kristus, mengenal Kristus dan menjadi murid Kristus. Ini juga kehidupan di jalan salib.
Mungkin kita tidak mau melakukan hal itu, karena merepotkan dan tidak nyaman, namun kemenangan yang Tuhan berikan kepada kita begitu besar, dan itu tersedia juga bagi banyak orang. Paradigma kita harus berubah; bahwa Tuhan memberikan kemenangan agar kita menyampaikan hal itu kepada orang lain dan mereka mendapatkan kemenangan yang sama di dalam Tuhan Yesus. Bagaimana jika kita tidak melakukannya? Itu berarti kita belum hidup dalam kehendak Tuhan yang sempurna mengenai kemenangan. Kita seperti anak-anak yang hanya menginginkan berkat tanpa mau memikul tanggung jawab yang seharusnya.
Banyak orang hidup dalam kemenangan yang Tuhan berikan, namun dalam perjalanan waktu menjadi gagal dan mundur karena berbagai kesulitan. Padahal Tuhan mengizinkan semua hal untuk membuat kita semakin dewasa untuk membawa pesan kemenangan kepada orang banyak. Tuhan menantikan kita untuk hidup dalam kemenangan secara permanen. Amin.

image source:https://www.facebook.com/JesseDuplantisMinistries/photos/a.428360830525562/3578791282149152/?type=3

HENDAKLAH KAMU MURAH HATI SAMA SEPERTI BAPAMU

HENDAKLAH KAMU MURAH HATI SAMA SEPERTI BAPAMU

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Lukas 6:36)
Therefore be merciful, just as your Father also is merciful (Luke 6:36, NKJV)

Bermurah hati merupakan perintah Tuhan bagi orang percaya yang telah menerima kemurahanNya. Kita beroleh kemurahan Tuhan bukan karena kebaikan dan jasa-jasa kita, tapi karena memang IA semata-mata murah hati. Karena kemurahan Tuhan kita telah diampuni dan diselamatkan (Mazmur 103: 8-12).

Kemurahan hati adalah salah satu dari buah Roh yang dihasilkan orang percaya bersama dengan Roh Kudus (Galatia 5:22-23). Ada berkat bagi orang yang murah hatinya di mana ia sendiri akan beroleh kemurahan (Matius 5:7).

Allah yang kita sembah adalah Allah yang murah hati. Bukti bahwa Allah itu murah hati adalah Yohanes 10:10b yang mengatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Dalam ‘segala kelimpahan’ artinya segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita (hidup dan berkat) bukan hanya pas-pasan atau kurang, tapi justru melimpah, lebih dari cukup. Berdasarkan firman ini kita yakin bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang murah hati.

Sebagai anak-anak Bapa di sorga, kita seharusnya juga mencerminkan karakterNya yang murah hati (Lukas 6:36). Murah hati didefenisikan dengan sebuah perilaku yang mudah memberi, tidak pelit, penyayang, penuh belas kasih, suka menolong dan baik hati. Kemurahan hati melibatkan banyak aspek dalam kehidupan dan interaksi antar manusia.

Contoh sifat yang suka memberi dengan sukacita tanpa mengharapkan imbalan/balasan misalnya
kepada sesama yaitu pertolongan, materi, mengampuni kesalahan, mendoakan, dsb. Sementara memberi kepada Tuhan contohnya mengembalikan waktu, talenta, karunia, persembahan, dsb (karena segala sesuatu adalah berasal dari Tuhan dan milik Tuhan).

Amsal 11
(17) Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri. (18) Orang fasik membuat laba yang sia-sia, tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap.
(24) Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. (25) Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. (26) Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum. (28) Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.

Berikut cara pandang kebenaran tentang orang yang murah hati :

1. Ia berbuat baik kepada dirinya sendiri (Amsal 11:17a dan 25).

Ketika kita bermurah hati dengan suka memberi, sesungguhnya kita sedang berbuat baik kepada diri sendiri. Mengapa?
Lukas 6:38
(38) Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Apa saja yang kita lakukan/ berikan adalah seperti menabur benih; dimana pada akhirnya kita sendiri yang akan menuainya. Pada saat kita memberi, maka pemberian kita itu menjadi takaran/ ukuran berkat atau tuaian bagi kita. Namun ini bukan berarti ketika kita menabur $100, Tuhan juga akan memberkati kita dengan $100.

Tuhan dapat membalaskan kepada kita berlipat-lipat kali ganda (suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, digoncangkan dan yang tumpah keluar/ meluber), melebihi apa yang kita tabur (menghasilkan 30, 60, 100 kali lipat). Tuaian kita tidak selalu berupa materi, tapi bisa berupa kesehatan, damai sejahtera, sukacita, jalan keluar atas masalah, dsb.

Orang yang tidak murah hati adalah orang yang pelit/kikir, tidak suka atau sukar untuk memberi, selalu menghitung untung/rugi jika mau melakukan kebaikan. Kalau hal itu memberi keuntungan baginya, maka ia akan melakukannya. Bila tidak, maka ia tidak akan melakukannya.

Contoh :
a. Pada saat digerakkan oleh Roh Kudus untuk mengampuni orang yang pernah menyakiti hati kita, lalu kita mulai menghitung atau mengingat-ingat kesalahan yang pernah dilakukan orang tersebut. Ketika kita berpikir orang itu sudah terlalu banyak melakukan kesalahan dan menyakiti kita, maka kita merasa ia tidak pantas untuk diampuni. Padahal kehendak Tuhan agar kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita dengan segenap hati dan tanpa batas (70×7 kali dalam Matius 18:21-22). Jika kita mengampuni kesalahan orang, maka Bapa di sorga juga akan mengampuni kita.

b. Pada saat digerakkan oleh Roh Kudus untuk melayani atau memberikan pertolongan, lalu kita mulai berpikir bahwa sudah banyak orang-orang yang melayani dan melakukan kebaikan, jadi merasa tidak perlu lagi ikut ambil bagian di dalamnya. Atau ketika sudah masuk dalam pelayanan, lalu mulai membandingkan pelayanannya dengan pelayanan orang lain. Kemudian merasa sudah berbuat banyak, lebih berjasa, lebih banyak berkorban dibading orang lain; atau menjadi tawar hati/kecewa ketika merasa jerih lelahnya tidak mendapat pujian atau penghargaan, dsb.

Jangan menabur dengan ekspektasi dan motivasi untuk memperoleh imbalan atau untuk mengejar berkat yang lebih besar dari Tuhan. Hendaklah kita menabur dengan sukarela dan sukacita, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7).

Amsal 11: (17) Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri. (26) Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.

Ayat di atas membandingkan orang yang murah hati dengan orang yang kejam. Kejam artinya tidak berbelas kasihan, kikir/pelit; sekalipun melihat sesamanya kekurangan atau membutuhkan pertolongan, hatinya tidak tergerak untuk menolong. Orang yang kejam, akan dikutuki orang lain.
Orang kikir/pelit akarnya adalah cinta akan uang, yang mempercayakan hidupnya dan menaruh harapan pada materi, kekayaan dan harta, sehingga sukar untuk memberi/bermurah hati.

Pada akhirnya orang yang demikian akan jatuh dalam dosa (menjadi hamba uang, tamak/serakah, sombong, bernafsu jahat, dsb). Artinya ia akan menuai kesulitan, kesukaran serta mendatangkan murka Tuhan atas hidupnya sendiri. Contoh : orang yang sulit memberi pengampunan akan mendapat musuh, dikutuki orang, jatuh dalam dosa kepahitan yang membuat hidupnya menderita, tidak mengalami damai sejahtera dan jauh dari berkat.
Amsal 3 : (27) Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. (28) Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu.

Seringkali kita tidak mau atau merasa tidak mampu untuk memberi/bermurah hati padahal sebenarnya kita mampu. Bukan dengan kekuatan kita sendiri, namun Roh Kudus yang memampukan kita (misalnya memberi pengampunan, memberi waktu untuk bersekutu intim dengan Tuhan tiap hari, memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan, dsb). Oleh sebab itu kita harus selalu melekat dan tinggal di dalam kasih Kristus, agar kita dimampukan untuk memberi dengan murah hati.
Amsal 25 : (21) Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. (22) Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.

Adalah keliru jika kita mengharapkan balasan dari manusia, sebab Tuhanlah yang akan membalasnya kepada kita, bahkan Dia sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kita, sehingga bukan hanya berkecukupan, tetapi malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (2 Korintus 9:8). Sesungguhnya segala berkat yang kita terima adalah titipan dari Tuhan. Kita hanyalah bejana untuk menyalurkan berkat yang Tuhan percayakan kepada kita.

2. Mendapat pahala yang tetap (Amsal 11: 18)

Seringkali kita melihat bahwa orang fasik seolah-olah hidupnya melimpah dengan berkat. Sekalipun mereka berbuat curang dan tidak takut akan Tuhan, tetapi berhasil dalam pekerjaan serta memperoleh keuntungan besar dalam usahanya. Sebenarnya keberhasilan, keberuntungan dan laba yang mereka terima itu sia-sia belaka dan tidak akan bertahan.

Tetapi orang yang murah hati akan mendapatkan pahala yang tetap. Segala yang dihasilkannya akan bertahan; bukan hanya dinikmati di dunia ini saja, namun ia akan mendapat upah pada kehidupan yang kekal. Karena mereka mengerjakannya dengan pertolongan Roh Kudus (sebagai buah-buah Roh) dan atas dasar kebenaran firman; yang sama halnya dengan kita mengumpulkan harta di Surga. Apa yang dihasilkan tidak akan rusak oleh ngengat dan karat, tidak dapat hancur, hilang atau dicuri; tetapi menghasilkan buah-buah dan kehidupan kekal.
Matius 6 : (19) “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. (20)Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

3. Tidak pernah kekurangan (Amsal 11: 24)

Orang yang murah hati tidak akan pernah berkekurangan, sebaliknya justru hidupnya semakin diberkati. Bukan saja kita yang diberkati, namun anak cucu kita juga akan diberkati; dimanapun kita dan keturunan kita berada, berkat Tuhan akan mengikuti dan kita menjadi berkat bagi orang lain, kota dan bangsa tempat kita tinggal.
Yesaya 54 : (2)Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! (3)Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.

4. Terus bertumbuh dan berbuah (Amsal 11:28b)

Ketika kita memiliki motivasi yang benar dan hati yang bersih, maka mudah bagi kita untuk bermurah hati serta menyalurkan berkat Tuhan. Motivasi yang benar ketika kita memberi adalah karena kita mau taat melakukan kehendak Tuhan dan mau dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi sesama. Seperti mata air yang terus mengalir; Tuhan mencurahkan berkatNya atas kita, lalu kita menyalurkannya kepada sesama dan untuk pekerjaan Tuhan (sesuai dengan kehendak Tuhan), demikian seterusnya. Tuhan yang akan membalas segala kebaikan dan kemurahan hati kita.
Sebaliknya, apabila kita sudah diberkati, namun kita tidak menyalurkannya; maka kita akan menjadi seperti saluran yang mampet di mana berkat Tuhan itu tidak dapat mengalir.
Oleh karena itu, jangan kita menahan kebaikan/ berkat Tuhan terhadap sesama, apabila kita mampu melakukannya. Terus melekat pada sumber mata air, yaitu Tuhan sendiri, sehingga hidup kita tidak akan pernah berhenti bertumbuh dan menghasilkan buah (buah pertobatan, kebenaran, buah Roh dan jiwa-jiwa) bagi kemuliaan Tuhan.

Kita diajar untuk bermurah hati sama seperti Bapa yang murah hati. Roh Kudus yang memampukan kita bermurah hati, sebagai salah satu buah Roh yang dipancarkan oleh sumber mata air kehidupan (yaitu Roh Kudus). Berbahagialah orang yang murah hatinya karena ia akan beroleh kemurahan.
Jangan jemu-jemu berbuat baik, karena bila sudah datang waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah (Galatia 6:9)

image source: https://www.kcisradio.com/blog/luke-636/

TERDAHULU DAN TERBELAKANG

TERDAHULU DAN TERBELAKANG

Ayat bacaan : Matius 20:1-16

Pada perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur dalam Matius 20:1-16 dikatakan bahwa perihal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan pemilik kebun anggur yang mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

Tuan pemilik kebun anggur yang keluar memanggil para pekerja (pagi-pagi benar, jam 9, 12, 3 dan 5 sore). Ini menunjukkan kerinduan Tuhan agar semua orang percaya turut mengambil bagian dalam pekerjaanNya, tidak ada yang menganggur tetapi bersama-sama bekerja sesuai panggilan masing-masing. Tuhan sudah menyiapkan ladang yang harus kita garap dan kerjakan. Jika merenungkan tentang para pekerja, ada beberapa hal yang perlu kita pelajari sebagai pekerja Tuhan.

Cara pandang yang keliru adalah akar persoalan

Saat pemilik kebun anggur membagikan upah yang sama yaitu sedinar kepada para pekerja, maka mereka yang bekerja terdahulu (yang memang dijanjikan mendapat upah sedinar) jadi bersungut-sungut karena menilai tuan itu telah berlaku tidak adil.

“Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka : Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; akum au memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:13-15)

“or is your eye evil because I am good?” (Matt. 20:15b, NKJV)

Cara pandang yang keliru membuat sikap hati kita mudah berubah ketika kita membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Akibatnya timbul iri hati/cemburu, jengkel, kepahitan dan salah paham dengan Tuhan/sesama. Kebanyakan orang belum dewasa dalam memahami kebaikan Allah, cenderung tidak menyukai proses, lebih suka kenyamanan/hal yang menguntungkan dirinya; tidak mau merendahkan hati dan berserah penuh kepada kehendakNya.

Tuhan Yesus mengatakan perumpamaan ini agar kita memiliki perspektif yang benar tentang kemurahan hati Allah. Perbarui akal budi kita dengan firman agar kita tidak salah paham dengan Tuhan dan dengan prosesNya. Percayalah dengan segenap hati bahwa Tuhan itu baik, murah hati dan adil.

Hal-hal yang harus kita waspadai sebagai pekerja di ladang Tuhan :

1. Merasa lebih rohani, senior dan berjasa sehingga menuntut haknya

Seberapa lama kita menjadi Kristen dan seberapa lama kita melayani Tuhan bukanlah menjadi suatu ukuran yang membuat kita layak menuntut hak dari Tuhan dan manusia.
Upah sudah Tuhan sediakan tetapi bukan kita yang menentukan upah kita. Itu adalah hak Tuhan secara mutlak.

Perlu diketahui agar tidak salah mengerti dengan Tuhan, cara Tuhan menentukan upah bukan seperti pemikiran dan cara kita. Oleh sebab itu jangan kita merasa berjasa sehingga berhak menuntut karena sudah melakukan ini dan itu. Kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah; karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya (Filipi 2:13). Tidak ada alasan bagi kita untuk bermegah selain di dalam Kristus.

Kristus adalah tuan, kita adalah hamba. Firman Tuhan dalam Lukas 17:10 mengatakan “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Bagian kita sebagai pekerja/hamba adalah menjaga sikap dan motivasi hati agar tetap melekat pada Tuhan seumur hidup kita; memiliki integritas, berlaku rendah hati, setia dan dapat dipercaya; serta berfokus membangun kualitas iman, bukan hal-hal yang kuantitas sehingga perkenanan Tuhanlah yang kita rindukan.

2. Bersungut-sungut dan tidak dapat bersukacita saat orang lain menerima anugerah

Dalam jaman itu, satu dinar adalah upah yang biasanya didapatkan seorang pekerja dalam sehari yaitu 12 jam. Pekerja yang pertama menerima 1 dinar sesuai dengan kesepakatan dengan tuannya karena ia dinilai memiliki kemampuan dan kapasitas. Kepada pekerja-pekerja yang lain sang tuan tidak membuat kesepakatan 1 dinar, tapi akan memberikan apa yang pantas bagi mereka (ayat 4 “.. apa yang pantas akan kuberikan kepadamu.”).

Pada petang hari, sang pemilik kebun menyuruh hambanya untuk memulai pembayaran, mulai dari pekerja yang datang terakhir. Orang-orang yang baru bekerja terakhir ini hanya bisa mengharapkan upah yang pantas sesuai kerelaan pemilik kebun anggur. Mereka akhirnya diberi upah 1 dinar walau sebenarnya mereka tidak berhak. Melihat hal itu pekerja yang terdahulu bersungut-sungut (ayat 12) karena ia merasa dirinya telah bekerja berat sepanjang hari dan menanggung panas terik sehingga dia tidak terima dan timbul iri hati.

Bagaimana dengan kita? Seperti apa respon kita melihat cara pemilik kebun anggur membagikan upah kepada para pekerjanya? Apakah kita merasa bahwa tuan pemilik kebun anggur bersikap tidak adil karena ia hanya berbuat baik kepada pekerja yang bekerja terbelakang. Sepertinya secara logika manusia, ia sama sekali tidak menunjukkan kebaikan kepada pekerja yang bekerja terdahulu.

Atau, dapatkah kita turut bersukacita dan mengucap syukur melihat tuan pemilik kebun anggur memiliki hati yang berbelas kasihan? Kemurahan hati Allah berpusat kepada Pribadi Kristus. Kasih Allah berorientasi kepada kebenaran, keselamatan dan perkara-perkara yang kekal; bukan berdasarkan kelayakan, untung rugi cara manusia, jasa-jasa, kebaikan ataupun kuat gagah kita.

Firman Tuhan dalam perumpamaan ini mengajar kita bagaimana memiliki sikap hati yang benar dalam mengikut DIA, dalam menanggapi kebaikanNya, belajar mengucap syukur dalam segala perkara agar tidak menjadi kecewa dan menolak Tuhan.

Tuhan mengenal dan menguji hati setiap kita. Seluruh kemampuan dan talenta yang kita miliki berasal dari Tuhan. Sudah seharusnya kita bersyukur dan merendahkan hati sehingga bisa turut bersukacita jika pekerja lain juga memperoleh anugerah belas kasihan Tuhan. Tidak perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain karena masing-masing akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah (Roma 14:12). Lakukanlah bagian kita dengan sikap hati yang tertuju kepada Kristus.

1 Tim 6: 11-12
11) Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. (Pursue righteousness, godliness, faith, love, steadfastness, gentleness)
12) Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

Kemenangan bukan untuk orang yang cepat, hebat, berkarunia atau sudah melakukan banyak hal; tapi akan dialami orang yang hatinya senantiasa melekat kepada Tuhan.
Marilah kita belajar serta melatih diri untuk mengejar hal-hal yang ilahi, yaitu kebenaran dan perkenanan Tuhan. Dalam melayani Tuhan, pasti ada tantangan, masalah dan gesekan baik antara sesama pekerja dan pemimpin tetapi jangan jadikan itu alasan untuk kita tawar hati dan mundur!

Kejarlah (arti ‘kejar’ menurut KBBI : menyusul dengan berlari, memburu, berusaha keras, menginginkan dengan sungguh-sungguh) keadilan, kebenaran, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan; sehingga kita dapat terus bertanding dalam pertandingan iman yang benar sampai garis akhir. Jadilah kuat karena kita berakar di dalam kasih Kristus sehingga tidak menjadi kecewa dan menolak Tuhan; tetap menjadi yang terdahulu dan tidak menjadi yang terbelakang.

image source: https://m.facebook.com/109443787436921/photos/a.109466677434632/142015360846430/?type=3