Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 17)
KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

Alkitab berkata Yesus mati karena dosa-dosa kita. Dia dikuburkan; tetapi pada hari yang ketiga Dia dibangkitkan. Haleluya! Setelah Tuhan Yesus bangkit, selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada lebih dari 500 murid-murid-Nya untuk membuktikan bahwa Dia hidup. Setelah memberikan pesan terakhir, seperti yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 1:8, maka dengan disaksikan oleh murid-murid-Nya Tuhan Yesus terangkat ke sorga.
Saya percaya kalau kita berada di sana waktu itu, kita pasti akan sama dengan murid-murid Tuhan Yesus yang melihat bahwa Tuhan Yesus naik bertambah tinggi. Perlahan tapi pasti Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Makin lama makin kecil sampai ada awan yang menutupi dan hilang dari pandangan mata. Sementara mereka terheran-heran melihat ke langit, maka ada dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka yang berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” Kisah1:11
Dari ayat ini saya percaya, kalau yang melihat Tuhan Yesus naik ke sorga adalah murid-murid Tuhan Yesus, maka yang akan melihat Tuhan Yesus turun dari sorga adalah murid-murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 14:1-3, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
Pesan Tuhan Yesus ini ditujukan untuk murid-murid-Nya. Karena itu, kalau kita mau ikut dalam pengangkatan, maka kita harus menjadi murid Tuhan Yesus. Murid Tuhan Yesus adalah kita-kita yang hidupnya sama seperti Kristus telah hidup. Karena kita hidup sama seperti Kristus telah hidup maka kita akan menjadi serupa dengan gambar-Nya.
Roma 8:29 berkata, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Jadi tujuan kita sebagai orang percaya adalah menjadi serupa dengan gambar Yesus dan terangkat ke Surga. Ibrani 7:25 berkata, “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”
Tuhan Yesus di sorga menjadi pengantara kita, sebagai pendoa syafaat bagi kita supaya kita selamat secara sempurna.
KESELAMATAN
Kalau kita berbicara tentang keselamatan, maka ada 3 hal yang harus diperhatikan:
a) Yang pertama: Orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh bisa kehilangan keselamatan
b) Yang kedua: Orang Kristen hampir-hampir tidak diselamatkan.
c) Yang ketiga: Orang Kristen selamat dengan sempurna.
1. Orang Kristen Bisa Kehilangan Keselamatan
Matius 7:21-23 berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Ini merupakan peringatan bagi hamba-hamba Tuhan yang sedang dipakai oleh Tuhan, agar pelayanan yang diberikan oleh Tuhan itu semata-mata hanya untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bukan untuk kemuliaan diri sendiri; bukan untuk mencari keuntungan pribadi; bukan untuk popularitas, dimana ini semua bisa mengakibatkan hilangnya keselamatan.
Contoh seorang murid yang kehilangan keselamatannya adalah Yudas. Yudas mengikut Yesus begitu lama, bahkan dicatat dalam Lukas 9:1-6 ia bersama murid-murid-Nya yang lain pernah melakukan berbagai mujizat dan pelayanan kesembuhan. Namun ia akhirnya memilih menghianati Tuhan, maka hilanglah keselamatannya.
2. Orang Kristen yang Hampir-hampir Tidak Diselamatkan
1 Korintus 3:10-15 berkata bahwa kita membangun hidup kita ini dengan dasar Yesus Kristus. Pertanyaannya: Bahan apa yang kita gunakan untuk membangun kehidupan kita ini?
Apakah dengan bahan emas, perak, batu permata? Ataukah dengan bahan kayu, rumput kering, atau jerami? Semua ini akan nampak pada hari Tuhan, saat pekerjaan kita diuji dengan api. Jika pekerjaan kita tahan uji, artinya tidak terbakar karena terbuat dari bahan emas, perak dan batu permata, maka jerih payah kita tidak sia-sia.
Tetapi sebaliknya kalau pekerjaan itu terbakar, karena bahan yang digunakan adalah kayu, rumput kering, jerami, maka kita akan menderita kerugian. Selamat sih selamat tetapi seperti keluar dari dalam api. Artinya hampir-hampir tidak diselamatkan.
Hampir-hampir tidak diselamatkan dapat diartikan:
● Tidak mendapat upah atau pahala
● Kehilangan kesempatan pelayanan
● Kehilangan kemuliaan dan kehormatan di hadapan Allah.
Mari, saya ajak Saudara untuk memperhatikan pekerjaan pelayanan kita juga termasuk kualitas kehidupan. Jangan menjadi orang Kristen yang acuh tak acuh, agar kita mendapatkan upah disorga. Yang mau katakan: “Amin!”
3. Orang Percaya yang Mendapat Keselamatan yang Sempurna
Tuhan Yesus berada di sorga untuk mendoakan kita agar mendapat keselamatan yang sempurna, bukan untuk kehilangan keselamatan, atau bukan hampir-hampir tidak diselamatkan.
Supaya doa Tuhan Yesus ini terjadi, maka sesuai 2 Petrus 1:5-11, dikatakan bahwa kita harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk:
· menambahkan kepada iman kita kebajikan, artinya berbuat baik;
· kemudian ditambahkan lagi pengetahuan,
· kemudian tambahkan lagi penguasaan diri,
· tambahkan lagi ketekunan,
· tambahkan lagi kesalehan yang artinya hidup kudus,
· tambahkan lagi kasih akan saudara-saudara seiman,
· dan tambahkan lagi kasih akan semua orang.
Kalau kita melakukan semua ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan lebih mengenal Tuhan Yesus Kristus dan kita tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kita akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus; yang artinya kita mendapatkan keselamatan yang sempurna. Haleluya!
PENTAKOSTA
Pesan yang terakhir dari Tuhan Yesus untuk murid-murid-Nya sebelum terangkat ke sorga terdapat dalam Kisah Para Rasul 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Setelah memberikan pesan yang terakhir itu, Tuhan Yesus naik ke sorga. Setelah itu apa yang dilakukan oleh murid-murid-Nya? Mereka pergi ke Yerusalem dan berkumpul di ruang atas atau kamar loteng. Mereka melakukan ini karena Tuhan Yesus yang menyuruh mereka agar tidak meninggalkan kota Yerusalem, karena mereka akan diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.
Tuhan Yesus berkata:”Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.”
Murid-murid yang berkumpul berjumlah sekitar 120 orang. Kisah Para Rasul 1:14a berkata mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, yang artinya mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, dalam unity siang dan malam. Ini adalah Prinsip Restorasi Pondok Daud. Ini adalah Prinsip Menara Doa.
Pada hari raya Pentakosta, jadi sepuluh hari setelah mereka berkumpul itu, tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah dimana mereka duduk. Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus. Lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Itu adalah bahasa roh. Orang yang dibaptis dengan Roh Kudus atau dipenuhi Roh Kudus, tanda awalnya adalah berbahasa Roh.
Pentakosta Pertama-Setelah itu murid-murid Tuhan Yesus dipakai secara luar biasa untuk melakukan Amanat Agung. Tanda dan mujizat menyertai pelayanan mereka. Pentakosta yang Pertama ini dahsyat, sebab dalam kurun beberapa ratus tahun, sekitar 70% dari dunia yang dikenal waktu itu, yang berada di bawah kekaisaran Romawi; menjadi Kristen. Pertanyaannya: Apakah Amanat Agung sudah selasai? Jawabannya: Belum!
Pentakosta Kedua- Pada tahun 1906, kembali Roh Kudus dicurahkan di Azusa Street yang disebut sebagai Pentakosta Kedua. Ciri-ciri yang menonjol dalam Pentakosta Kedua ini adalah penekanan dalam hal berbahasa roh dan pelayanan mujizat dan kesembuhan, meskipun seluruh karunia roh juga dicurahkan dengan limpahnya.
Pentakosta Kedua ini dahsyat. Mengapa? Karena melahirkan Gerakan Pentakosta dan Karismatik. Saat ini ada sekitar 700 juta orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Pertanyaannya: Apakah Amanat Agung sudah selesai? Jawabannya: Belum!
Pentakosta Ketiga – Karena itu hari-hari ini pencurahan Roh Kudus yang jauh lebih dahsyat dibanding dengan Azusa Street sedang terjadi. Ini disebut sebagai Pentakosta Ketiga. Seperti yang terjadi pada Pentakosta Pertama dan Pentakosta Kedua, maka berbahasa roh dan pelayanan kesembuhan juga terlihat begitu intens. Saya percaya dengan Pentakosta Ketiga ini Amanat Agung Tuhan Yesus akan selesai dan Tuhan Yesus akan datang kembali.
Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 14:5a, “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh.” Selain itu dalam 1 Korintus 14:18 rasul Paulus juga berkata: “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dalam bahasa roh lebih daripada kamu semua.”
Saya sangat mengaminkan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus ini dan saya juga berdoa agar apa yang dikatakan oleh rasul Paulus ini juga terjadi pada kita. Yang percaya katakan: Amin!
BERBAHASA ROH. Apa yang terjadi kalau kita berbahasa roh?
1. Kita akan Lebih Berani Bersaksi tentang Yesus
Kita ingat Petrus, dimana sebelum dia dibaptis Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa Roh, dia pernah menyangkal Yesus sebanyak 3 kali sebelum ayam berkokok. Setelah dibaptis Roh Kudus dan berbahasa roh, dia berani bersaksi tentang Tuhan Yesus, tidak peduli disiksa bahkan dipenjarakan.
2. Kita Membangun Iman kita
Kalau kita berbahasa roh, maka sesuai dengan 1 Korintus 14:4 dikatakan: siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, yang artinya kalau kita berbahasa roh kita membangun iman kita.
3. Kita akan Lebih Merasakan hadirat-Nya dan Lebih Intim dengan Dia. Karena ketika kita berbahasa roh, kita berkata-kata kepada Allah bukan kepada manusia.
4. Kita akan rindu berdoa terus menerus.
5. Roh Kita yang akan berdoa bukan hanya dengan kata-kata yang dapat di mengerti.
Sesuai dengan 1 Korintus 14:14-15 yang berkata: “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”
Jadi kalau kita menghendaki agar roh kita berdoa, menyanyi dan memuji, maka kita harus berbahasa roh. Sedangkan kalau dengan akal budi atau jiwa, maka kita harus menggunakan bahasa yang kita mengerti. Mari, bagi yang mau melakukan katakan bersama saya: Amin!
Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
Ibadah Kenaikan Tuhan Yesus Online – 29 Mei 2022

image source: https://www.alittleperspective.com/acts-1-2016/

BANGKITLAH, MENJADI TERANGLAH

BANGKITLAH, MENJADI TERANGLAH

“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.” (Yesaya 60:1-3)

Di dalam 2 Timotius 3: 1-5 dikatakan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Masa yang sukar ini adalah masa kegelapan. Banyak orang sudah kehilangan arah dan tujuan karena berjalan dalam kegelapan. Kegelapan sudah dianggap sebagai hal yang biasa dan wajar.

Orang dunia menyebut kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan. Ini disebabkan karena mereka mematuhi penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang bekerja di antara orang-orang durhaka. Itulah kegelapan yang menutupi bangsa-bangsa, yang akan membawa manusia kepada kebinasaan.

“Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa” (Yes. 60:2a).
Kegelapan yang dimaksud adalah kematian rohani akibat dosa yang menyebabkan hubungan manusia dengan Allah terputus. Pikirannya sia-sia, tidak ada pengenalan akan kebenaran, hatinya menjadi bodoh atau bebal, hidup dalam ikatan, dan dibutakan oleh ilah jaman ini.

Kegelapan membuat manusia tersandung, hidup dalam ketakutan, kebingungan, kekacauan dan kejahatan. Karena begitu besar kasih Allah akan mereka yang terhilang, Ia mau agar orang percaya bangkit dan menjadi terang supaya bangsa-bangsa dibawa kepada keselamatan dalam Kristus Yesus.

1. Allah adalah Terang

“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12)

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:4-5)

Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5). Ia mau supaya kita memancarkan terangNya, dengan menjadi semakin menyerupai Kristus. Jika kita hidup dalam terang firman, maka terang itu akan menerangi kegelapan dalam hati dan jiwa sehingga kita dituntun kepada jalan kebenaran.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32)

Ia membuat terang firmanNya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:6-7)

Berjalan dalam terang berarti mengenal Allah, saling mengasihi, hidup dalam kebenaran, dalam pertobatan dan kemerdekaan sejati. Orang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan akan memancarkan terang itu sehingga banyak orang bisa mengecap kasih Allah dan percaya kepada Injil keselamatan.

“Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.” (Yes. 60:3)

2. Diproses untuk dapat bangkit dan menjadi terang

Arti kata bangkit adalah bangun dari tidur dan berdiri tegak menjalankan fungsinya sebagai terang di tengah kegelapan dunia. Orang yang sedang tidur tentu tidak dapat beraktivitas guna menjalankan fungsinya. Demikian pula orang percaya yang dikatakan tertidur.

Ciri-ciri orang percaya yang sedang tertidur adalah pertama, hidup dalam zona nyaman sehingga kehilangan kasih yang semula. Kedua, tidak mengalami transformasi. Hidupnya masih sama dengan yang dulu (menjadi bayi rohani terus), tidak ada perubahan. Ketiga, tidak mengerti dan menjalankan fungsinya sebagai bagian dari tubuh Kristus, artinya tidak berjalan dalam panggilan Tuhan. Keempat, tidak berjaga-jaga. Hidup sarat dengan pesta pora, kemabukan serta kepentingan duniawi. Kelima, tidak berdoa dan minta pimpinan Roh Kudus.

“Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Efesus 5:14)

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” (Efesus 5:11)

Bagaimana cara menelanjangi perbuatan kegelapan? Jawabnya, dengan hidup sebagai anak-anak terang yang tidak kompromi dengan dosa. Kita baru dapat menjadi terang apabila terang Tuhan terlebih dulu terbit atas kita. Prinsip dan gaya hidup orang yang berjalan dalam terang kebenaran akan sangat berbeda dengan mereka yang berjalan dalam kegelapan.

“Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.”(Efesus 5:13).

Seperti sebuah lilin harus dibakar untuk dapat berfungsi sebagai terang, kitapun harus dimurnikan melalui proses dan ujian iman (berupa masalah, penderitaan, penganiayaan, kemustahilan, kelemahan, keadaan sedang diberkati, dsb).
Tujuan Allah mengijinkan ujian dan angin ribut terjadi dalam hidup kita :

A. Menyingkapkan hal yang tersembunyi.

Kadang kita tidak bisa melihat keadaan diri yang sebenarnya jika tidak disingkapkan oleh Roh Kudus. “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2). Tuhan memakai angin ribut untuk menampakkan hal-hal yang tersembunyi dalam hati dan batin kita untuk membuat kita sadar, bertobat, waspada dan semakin mengandalkan Tuhan.

B. Memurnikan iman.

Seperti seorang bapak, Allah menghajar dan menyesah orang yang dikasihi serta diakuiNya sebagai anak. Roh Kudus akan memurnikan kita agar hawa nafsu kedagingan serta hal-hal yang kotor dalam hidup kita disingkirkan. Ia melakukannya demi kebaikan agar kita beroleh bagian dalam kekudusanNya.

C. Memperlebar kapasitas dan menyempurnakan iman.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4)

Pelaut handal terbentuk dari ombak besar dan badai, bukan dari kolam dangkal. Orang percaya bukanlah anak-anak gampang. Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi tangguh yang cakap menanggung segala perkara. Melalui angin ribut, iman kita diperlebar kapasitasnya dan disempurnakan agar menghasilkan buah; ada yang 100, 60 dan 30 kali lipat (Matius 13:23). Ketika kita berbuah banyak, di situlah Allah Bapa dipermuliakan (Yohanes 15:8).

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibrani 12:2a)

D. Mengenal Tuhan lebih dalam.

Angin ribut membawa kita semakin mengenal Tuhan melalui kuasa firmanNya.

Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (Mat. 8:27).

Ingatlah bahwa apapun yang diijinkan terjadi, Tuhan ada dalam perahu hidup kita. Sadari dan hormati keberadaan Pribadi Roh Kudus yang berdiam di dalam kita. Jangan padamkan hadirat Allah dalam hidup kita agar kita mampu mengatasi badai bersama Dia. Pengenalan akan Tuhan membuat kita tidak dikuasai ketakutan. Kita hidup oleh iman dalam kasih karunia, bukan dengan pengertian dan kekuatan kita sendiri.

E. Bertindak dalam kuasa dan otoritas ilahi.

Firman Tuhan berkuasa mengatasi atau melampaui hukum alam yang secara fisik terlihat mata. Angin ribut tunduk kepada perintah Tuhan (Matius 8:26b, Markus 4:39). Ini yang disebut mukjizat. Sebagai anak-anak Allah, kita telah diberi kuasa dan otoritas untuk menghardik badai masalah dan membawa atmosfir kehidupan melalui doa, deklarasi firman serta bertindak sesuai kehendak Bapa.

Orang percaya telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang Tuhan untuk menjadi saksi Kristus dan memberitakan Injil Keselamatan. Untuk menjadi saksi, kita harus mengalami transformasi oleh kuasa firman melalui proses dan ujian. Transformasi akan membuat terang Tuhan terpancar dan hidup yang menghasilkan buah-buah kebenaran.

Perhatikanlah supaya terang yang ada pada kita jangan menjadi kegelapan dengan kita menjadi sama dengan dunia ini. Jangan turut ambil bagian dalam perbuatan kegelapan, tapi hiduplah sebagai anak-anak terang.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Yohanes 5:16)

Gereja Tuhan, bangkitlah dan menjadi teranglah!

image source: https://wiirocku.tumblr.com/post/174560913332/isaiah-601-niv-arise-shine-for-your-light

DIPERBAHARUI

DIPERBAHARUI

Kemerosotan moral yang terjadi di dunia sudah begitu meluas di berbagai bidang dan kalangan. Dalam era post-modern ini kebenaran menjadi relatif dan standar moral menurun hampir mencapai titik terendah dalam sepanjang sejarah umat manusia. Dalam kondisi seperti ini Gereja Tuhan menunjukkan identitasnya sebagai ‘garam’ dan ‘terang’ dunia, yang tidak terpengaruh oleh keadaan di sekelilingnya bahkan seharusnya bisa mempengaruhi keadaan di sekitarnya. Sebagai ‘garam’ gereja harus memberikan ‘rasa’ dan sebagai ‘terang’ gereja seharusnya mampu menerangi kegelapan yang terjadi. Tetapi sangat disayangkan, banyak Gereja Tuhan sibuk dengan kegiatan/program atau pencapaian sehingga tidak berhasil menjadi garam dan terang dunia.
George Barna pernah menyatakan, “Setiap hari, gereja semakin mengikuti arus dunia yang seharusnya diubahnya.” Survey yang dilakukan oleh Bilangan Research Center mengatakan bahwa ada 11,2% remaja yang mulai berhenti datang ke gereja karena merasakan banyaknya kemunafikan dan disiplin yang dipaksakan oleh oknum tertentu yang berkuasa dalam gereja. Untuk itu, Gereja Tuhan harus berubah seperti yang dikehendaki Sang Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus.
BAGAIMANA GEREJA BISA MENJADI GARAM DAN TERANG DUNIA?
French Arrington menjelaskan tentang hakikat Gereja, “Sebagai ciptaan Allah yang khusus, gereja ikut serta dalam hakikat ilahi dan sifatnya yang sudah diubah”. Gereja harus hidup di dalam pola hidup yang ilahi (tidak menjadi serupa dengan dunia) dan mengalami perubahan (transformasi) yang nyata (“paradigma yang baru”).
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2
Menjadi serupa (Yunani = suschēmatizō) dengan dunia artinya memiliki pola/gaya hidup yang sama dengan orang-orang yang tidak percaya yaitu pola hidup yang di kuasai dosa dan keinginan daging yang menuju kepada kebinasaan.
Tuhan menghendaki setiap umat-Nya mengalami perubahan dari pola hidup dalam dosa menjadi pola hidup dalam Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6:33), dan pada akhirnya menjadi serupa dengan Kristus. (Roma 8:29; 2 Korintus 3:18; 1 Yohanes 2:6)
Iman kepada Kristus yang membawa keselamatan dibuktikan dengan perbuatan iman yang nyata yaitu terjadinya pertobatan dan perubahan hidup. (Yakobus 2:17,18)
Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang menyeluruh (Inggris = transform, Yunani = metamorphoō) dan perubahan yang terjadi dari dalam ke luar (inside out) seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Hal ini dapat kita mengerti melalui kehidupan alamiah sebagai contoh:
· Perubahan pertama adalah seperti se ekor bunglon, yaitu berubah setiap saat sesuai dengan lingkungan sekitarnya untuk keselamatan diri dari pemangsa. Ini gambaran dari orang Kristen yang berubah tampak luar saja, ketika di gereja perkataan dan tingkah lakunya sangat baik dan berbeda ketika ada di jalan/tempat lain bisa maki-maki atau berdusta/mencuri dlsbnya. Ini bukanlah perubahan yang dikehendaki Tuhan.
· Perubahan kedua seperti kuda di mana perubahan yang terjadi hanya dalam rutinitasnya saja tetapi tidak dalam perilakunya. Ini gambaran dari orang Kristen yang tadinya tidak beribadah di gereja, kini menjadi rajin beribadah bahkan menjadi pengerja di gereja, tetapi tidak ada perubahan dalam karakter dan gaya hidup. Menjadi liar bila tidak dikendalikan dengan tali kekang harus diberi peraturan dan arahan sesuai dengan kehendak si pemiliknya. Ini juga bukanlah perubahan yang dikehendaki Tuhan.
· Perubahan ketiga adalah seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu melalui proses transformasi dalam kepompong. Ulat adalah binatang yang menjijikkan dan merugikan, namun berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan berguna dalam proses penyerbukan tanaman. Ini gambaran orang Kristen yang tadinya hidup dalam dosa yang menjijikkan dan merugikan orang lain, berubah menjadi hidup dalam kebenaran yang menjadi berkat bagi orang lain dan bahkan aktif dalam penuaian jiwa bagi Kerajaan Sorga. Inilah perubahan yang dikehendaki Tuhan.
BAGAIMANA GEREJA BISA MENGALAMI PERUBAHAN/TRANSFORMASI?
Pada awalnya perubahan ini tidak terjadi karena kemauan dan usaha manusia, melainkan oleh kuasa kematian dan kebangkitan Kristus serta pekerjaan Roh Kudus yang dialami oleh orang tersebut.
“pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Titus 3:5
Hanya mereka yang ada dalam Kristus yang akan mengalami perubahan secara menyeluruh seperti ini (2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”)
Berikutnya, Gereja harus mengalami proses perubahan yang terus menerus.
Kolose 3:9b-10 berkata,
“… karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”
Perubahan ilahi di awal yang mentransformasi kehidupan orang percaya akan mengakibatkan terjadinya proses perubahan yang terus menerus sampai mencapai keserupaan dengan Kristus. Roma 12:2 dalam terjemahan International Standar Version memperjelas hal ini,
“Do not be conformed to this world, but continually be transformed by the renewing of your minds so that you may be able to determine what God’s will is-what is proper, pleasing, and perfect.”
Kata “continually be transformed” artinya secara terus menerus diubah, terjadi perubahan yang berkesinambungan sepanjang kehidupan orang percaya tersebut. Jadi perubahan besar yang dialami orang percaya sebagai akibat dari karya Kristus dan Roh Kudus, harus diikuti dengan proses perubahan yang terus-menerus terjadi setiap hari di sepanjang kehidupannya.
Jangan meremehkan perubahan yang dianggap kecil ketika ini merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk pemulihan kita. Kita harus menghargai setiap perubahan itu supaya kita semakin serupa dengan Kristus. Setialah pada proses yang Tuhan ijinkan terjadi. Berubah adalah tanggung jawab dari setiap orang percaya dan Roh Kudus memberi kemampuan kepada kita untuk melakukannya.
BAGAIMANA GEREJA BISA MENGALAMI PERUBAHAN TERUS MENERUS?
Proses perubahan yang terus menerus ini terjadi ketika orang percaya tersebut masuk dalam keintiman dengan Tuhan di dalam kehidupannya setiap hari. Melalui Firman dan doa dalam hadiratNya, maka proses perubahan ini akan terjadi. Proses perubahan melalui Firman Tuhan dijelaskan dalam 2 Timotius 3:16,
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
Segala yang diilhamkan Allah adalah Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab yang akan mengajar (membuka pengertian yang memampukan orang percaya mengenal Allah dan mengerti kehendaknya), menyatakan kesalahan (membuat orang percaya menyadari dosa yang harus dibereskannya di hadapan Tuhan, bahkan dosa yang tersembunyi sekalipun), memperbaiki kelakuan (menyelaraskan kembali pola/gaya hidupnya dengan pola hidup Kerajaan Allah dan kebenarannya) dan mendidik dalam kebenaran (menjaga jalan hidup orang percaya sesuai dengan panggilan dan kehendak Tuhan).
Proses perubahan melalui doa dinyatakan dalam Matius 11:28-29,
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Perkataan Tuhan Yesus ini mengajarkan bahwa inti doa adalah datang kepada-Nya dan belajar pada kelemahlembutan dan kerendahan hati-Nya yang akan mengubah karakter kita menjadi sama dengan karakter Kristus. Doa bukanlah sekedar menyampaikan permintaan dan kebutuhan, tetapi lebih dari itu doa adalah persekutuan yang intim dengan Tuhan yang akan membawa perubahan karakter bagi orang tersebut. Manusia akan berubah menjadi seperti apa yang disembahnya. (Mazmur 115:4-8)
Bahkan dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13), Tuhan Yesus mengajar untuk meminta kehendak Bapa Sorgawi terjadi di bumi (dalam kehidupan kita) seperti di sorga. Artinya ada perubahan dari pola/gaya hidup yang bertentangan dengan kehendak Tuhan menjadi selaras dengan kehendak-Nya.
“Berikanlah pada hari ini makanan kami yang secukupnya” mengubah pola hidup serakah dan cinta hal-hal duniawi menjadi pola hidup sederhana dan cinta hal-hal yang rohani.
“Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” membawa perubahan pola hidup dalam kemarahan dan dendam menjadi pola hidup yang mengampuni dan memberkati.
Melalui Firman dan doa yang merupakan persekutuan dan keintiman pribadi dengan Tuhan Yesus bukan saja akan terjadi perubahan dalam karakter orang percaya, tetapi juga orang percaya tersebut akan menghasilkan buah seperti yang dikehendaki Tuhan.
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”Yohanes 15:5,8
Melalui buah yang dihasilkan orang percaya, Bapa dipermuliakan dan nama-Nya dimasyhurkan. Amin.

image source: https://open.life.church/resources/2311-romans-12-2

DIAM DAN TENANGLAH, KETAHUILAH BAHWA AKU ADALAH ALLAHMU

DIAM DAN TENANGLAH, KETAHUILAH BAHWA AKU ADALAH ALLAHMU

Tuntunan Tuhan yang telah kita terima sepanjang tahun ini adalah Tahun Paradigma yang baru (the Year of New Paradigm). Kita sedang berjalan dalam musim yang baru di mana hadirat dan kemuliaan Tuhan akan semakin dinyatakan melalui hidup kita dan di tengah kegelapan dunia.

Berbagai masalah seperti Pandemic, perang yang berpotensi memicu PD III, inflasi ekonomi, krisis energi, global warming, pengangguran, kemiskinan dan ketidaksetaraan sosial, kebobrokan moral di segala bidang terutama politik/pemerintahan, kriminalitas, dlsb menjadi isu global yang semakin intens. Lalu apa kehendak Allah bagi GerejaNya dalam menghadapi situasi ini, apa bagian yang harus kita lakukan?

Saat ini Amerika sedang mengalami masa suram karena dipimpin oleh kaum liberal yang tidak memiliki roh takut akan Tuhan. Mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, sehingga Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk. Para pemimpin melakukan kelaliman, keserakahan, kefasikan dan kenajisan.

Banyak peraturan dan langkah kebijakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Mereka menyalahgunakan kekuasan, tidak memiliki integritas dan durhaka terhadap Allah (artinya memberontak terhadap hukum dan kedaulatanNya). Kedurhakaan telah menjadikan masyarakat Amerika kehilangan kasih (Matius 24:12).

Sesungguhnya akar masalah yang paling utama di Amerika adalah dosa. Dosa bangsa akan menghancurkan masyarakat dan generasi di segala bidang tatanan kehidupan. Egois, angkuh, tamak/hamba uang, kenajisan, rupa-rupa hawa nafsu, moral yang bobrok, tindak kekerasan, dsb
merusak integritas kepemimpinan sehingga mayoritas masyarakat kehilangan trust terhadap pemerintahan Amerika.

Masa sukar yang terjadi saat ini sudah ditulis dalam Matius 24. Banyak nabi palsu yang muncul dan menyesatkan orang, perang, kelaparan, bencana alam, penganiayaan terhadap orang percaya dan kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Di tengah kegelapan, Injil Kerajaan Allah akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.

Tuhan mengingatkan orang percaya untuk tidak takut menghadapi kesukaran di akhir jaman. Di tengah kegelapan, ketidakpastian, guncangan serta penganiayaan, ketahuilah bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah kita.

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14:1 dan 27)

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Selama masih hidup di dunia, semua manusia pasti mengalami masalah dan penderitaan. Namun yang membuat kita berbeda dengan orang dunia adalah kasih karunia Allah menyertai kita. Damai sejahtera Allah diberikan terutama saat kita mengalami tantangan atau penderitaan karena kebenaran dan karena Nama Yesus. Damai sejahtera Allah merupakan kuasa supernatural Roh Kudus, sejalan dengan kebenaran, melampaui segala akal dan berkuasa memelihara hati serta pikiran kita untuk fokus kepada Kristus.

Ingatlah selalu bahwa Tuhan Yesus adalah Bapa yang baik, rancangan dan solusi yang Dia berikan adalah yang terbaik. KuasaNya akan melindungi kita dari yang jahat. Di dalam masalah, tantangan dan ketidakmengertian kita, damai sejahtera Allah memberikan pengharapan dan kekuatan untuk cakap menanggung segala perkara.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)

Peran dan Tugas Gereja di akhir jaman

1. Hidup sebagai ciptaan baru, yang hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus dan ditransformasi.

Ciri hidup yang mengalami transformasi (Filipi 3:7-14) :
a. Melupakan apa yang di belakang baik itu cara pandang, cara hidup, cara meresponi sesuatu, luka batin, kegagalan bahkan keberhasilan. Masa lalu dijadikan pelajaran yang mendewasakan agar semakin mengerti kehendak Allah.

b. Mengarahkan diri kepada apa yang di depan. Ini bukan saatnya kita santai dan bermalas-malas (termasuk malas bertobat), ada di zona nyaman, sibuk dengan hal yang tidak berguna, mengasihani diri sendiri, mengejar American dreams, mengumpulkan harta di bumi, dsb.

Tapi ini saat kita membutuhkan Tuhan lebih daripada sebelumnya agar kita selalu ada dalam poros kehendakNya. Kita memiliki tujuan yang jelas dan bergerak dalam ketepatan sesuai karunia dan panggilan masing-masing.

c. Berlari mengejar panggilan surgawi. Berlari artinya rela bayar harga untuk melakukan panggilan demi mencapai tujuan akhir. Kita berlomba dalam perlombaan iman yang diwajibkan, dengan mata tertuju kepada Tuhan Yesus. Diperlukan ketetapan hati, ketekunan, fokus, penyangkalan diri, kerendahan hati, ketaatan dan penyerahan total kepada Tuhan.

2. Menjadi pemberita Injil dan saksi Kristus.

Memberitakan Injil maksudnya memberitakan karya keselamatan yang Allah tawarkan di dalam Kristus Yesus. Menjadi saksi Kristus artinya hidup kita menjadi pelaku firman sehingga kemuliaan Allah dinyatakan dalam hidup kita. Jangan hanya memberitakan Injil tapi tidak menjadi pelaku firman.

Melalui kesaksian hidup dan pelayanan kita, orang-orang yang tidak mengenal dan tidak percaya Tuhan menjadi bertobat, percaya kepada Yesus Kristus dan memberi diri dibaptis sehingga mereka mengalami kelahiran baru di dalam roh.

Di tahun Paradgima yang baru ini, Allah akan bekerja dengan cara-cara baru yang kreatif untuk melawat dan menuntun manusia ke dalam pertobatan. Jangan batasi kuasa Allah dengan metode, cara lama, pikiran, pengertian serta perhitungan manusia yang terbatas.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes. 55:8-9)

Semua orang percaya diberi tugas untuk memberitakan Injil dan menjadi saksi Kristus, namun tiap orang berjalan dalam jawatan dan panggilannya masing-masing. Ada yang dipanggil sebagai Missionaris di ladang misi, sebagai mentor untuk mendidik dan mendoakan anak-anak rohaninya, dipanggil untuk melayani orang-orang miskin, pelayanan buat orang-orang di penjara, di keluarga, di marketplace, di pemerintahan, di dunia pendidikan, sebagai pendoa syafaat, mendukung penginjilan secara dana, dlsb.

Bagian kita adalah mempersiapkan dan memposisikan diri agar berjalan dalam poros kehendak Allah yang sempurna. Penuhi hidup kita dengan firman dan hadirat Allah agar kuasa dan otoritas ilahi digunakan sesuai pimpinan Roh Kudus. “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:6). Kobarkan karunia untuk saling melayani dengan kasih.

3. Menyiapkan suatu umat yang layak bagi Tuhan dan memuridkan.

Gereja Tuhan berjalan dalam roh dan kuasa Elia seperti ditulis dalam Lukas 1:16-17

“ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”

Orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus dipulihkan secara pribadi dan dalam hubungan keluarga. Gereja bertugas membawa mereka agar memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan, dipulihkan dari pikiran yang durhaka/ketidaktaatan, sehingga memiliki pikiran orang benar, yang sesuai firman Tuhan. Jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang mengalami pemulihan/transformasi akan dapat mengenali kehendak Tuhan bagi dirinya dan hidup dalam ketaatan.

Setelah pemulihan secara pribadi, kemudian pemulihan dalam keluarga :

– hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya. Para ayah berperan sebagai pemimpin yang menjadi teladan iman untuk mengajarkan anak-anaknya mengasihi Allah (Ulangan 6:7-9).
– hati anak-anak kepada bapa-bapa. Orang percaya dapat dipakai Tuhan untuk membawa pemulihan bagi orang tua mereka yang mungkin belum percaya.
– pemulihan hubungan suami isteri. Suami isteri sepakat dengan Tuhan maka anak-anak akan mengikuti. Berbahagialah seorang laki-laki yang takut akan Tuhan (Mazmur 128). Seluruh keluarga akan beribadah kepada Allah dan saling mengasihi. Di mana ada unity, di situ Allah akan mencurahkan berkat-berkat kehidupan.

Selanjutnya mereka dimuridkan agar bertumbuh jadi dewasa rohani, menghasilkan buah-buah kebenaran dan melakukan kehendak Allah pada jaman ini.

Apa angin ribut dalam kehidupan saudara saat ini? Masalah, jalan buntu/kemustahilan, sakit penyakit, tantangan, kelemahan diri, hubungan yang retak/tidak harmonis, kebutuhan yang tidak terpenuhi; keadaan bangsa yang memprihatinkan, dsb?

Diamlah dan jadilah tenang. Kenalilah pribadi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan kenalilah kehendak Allah bagi saudara secara pribadi. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa (inactivity) tetapi “diam” maksudnya memilih percaya kepada Tuhan dengan iman yang teguh dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Allah berkuasa memakai angin topan badai untuk menyempurnakan iman kita, menggenapi yang Ia rancangkan dan menyatakan kemuliaanNya.

Bagaimana supaya kita tinggal tenang dan tidak takut? Dengan terus berada di hadirat Tuhan. Hati dan mata selalu tertuju kepada Yesus, berjaga dalam doa setiap waktu di manapun dan kapan pun. Yang kita perlukan adalah firman Allah yang dihidupkan oleh Roh Kudus, menjadi rhema yang berkuasa menghardik angin ribut dalam hidup kita.

image source: https://steemit.com/christian-trail/@kevaton/matthew-24-13-endurance-he-who-endures-to-the-end-shall-be-saved

ESENSI COOL

ESENSI COOL

Sebagai orang yang tertanam di Gereja ini, tentu sudah sering dengar istilah COOL atau Community of Love yang merujuk pada komunitas/kelompok sel tempat orang percaya bersekutu, berinteraksi, mempraktekkan kasih, saling menasehati, saling memperhatikan dan mendoakan sehingga mereka bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Kristus yang membawa pada kedewasaan rohani dan kesadaran untuk memenangkan jiwa. (Efesus 4:14-16)
Dalam COOL terjadi proses pemuridan, pembinaan dan pembentukan karakter seseorang semakin serupa dengan Kristus. Setiap orang yang tertanam dalam gereja lokal, perlu tergabung di dalam suatu komunitas rohani seperti COOL.
Yang sering terjadi dalam pelaksanaan COOL, pertemuan diadakan hanya sebatas pertemuan wajib atau rutinitas tanpa memahami esensi COOL sebagai sebuah komunitas dan kadang terkesan seperti Ibadah Raya Minggu (versi ibadah Mini).
Kondisi ini bisa terjadi bila factor kasih, peduli, trust dan komitmen tidak di terapkan. Sehingga pertemuan COOL terjebak untuk membahas program, jadwal pembagian tugas pemimpin pujian dan pengkhotbah, susunan acara ibadah COOL, dlsbnya seperti yang dilakukan dalam Ibadah Raya Minggu. Akhirnya terjadi kebosanan dalam COOL sehingga mengalami ‘mati suri’ tanpa perkembangan dan pertumbuhan. Padahal, COOL merupakan penggerak terjadinya penuaian dalam menuntaskan Amanat Agung.
ESENSI COOL SEBAGAI KOMUNITAS
Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang hidup bersama dan saling berinteraksi. (Kejadian 2:18) Hal ini diwujudkan lewat komunitas.
Henri Nouwen berkata bahwa komunitas rohani adalah wadah yang paling cepat membawa kita kepada kemajuan rohani. Dan dalam buku The Power of Discipling, Gordon Ferguson mengatakan bahwa tidak mungkin seorang Kristen menjadi penyendiri, karena mereka memainkan peranan penting dalam kehidupan satu sama lain.
Berdasarkan kedua pernyataan di atas, maka orang percaya membutuhkan komunitas untuk kemajuan rohani tiap anggotanya. Bagaikan domba yang terpisah dari kawanan domba gembalanya, dalam keadaan bahaya. Seperti arang yang terpisah dari kawanannya, maka tentulah api arang itu akan segera padam. Berbeda bila arang tersebut bersama dengan kawanannya, maka mereka akan saling membakar dan menjadi ber guna bersama-sama. Kita perlu terhubung dengan saudara seiman lewat komunitas COOL dalam membangun kerohanian.
Jika kita membaca Kisah Para Rasul 2:41-47, betapa senang dan aktifnya mereka berkumpul, bahkan mereka selalu menyediakan waktu untuk bersekutu bersama. Inilah yang membuat iman dan kerohanian mereka bertumbuh dan Tuhan menambah-nambahkan jumlah orang percaya dalam komunitas mereka.
Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan di dalam sebuah COOL menurut Kisah Para Rasul 2:41-47:
1. Mempelajari Firman Tuhan (Kisah Para Rasul 2:42)
Esensi COOL adalah bagaimana setiap anggota dengan tekun mempelajari, memahami dan menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan mereka. Pola yang diterapkan jemaat mula-mula ketika mereka berkumpul bersama adalah bertekun untuk mempelajari dan memahami serta melakukan pengajaran-pengajaran rasul pada saat itu.
Kata ‘bertekun’ diterjemahkan dari akar kata Yunani proskartereo yang artinya menyediakan dan memakai banyak waktu, rajin, sungguh-sungguh. Jemaat mula-mula rajin dan sungguh-sungguh menyediakan serta memakai waktunya untuk mempelajari dan menekuni pengajaran rasul-rasul (Firman Tuhan), sehingga hidup mereka dipenuhi oleh Firman, bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus, menjadi dewasa rohani dan berdampak bagi banyak orang.
Di dalam COOL seharusnya terjadi interaksi dua arah dan bertanya jawab yang sifatnya informal. Setiap anggota juga bisa mempelajari apa yang telah dikhotbahkan dan diajarkan dalam pertemuan Ibadah Raya Minggu yang dipimpin oleh pemimpin COOL.
2. Hidup dalam Persekutuan (Kisah Para Rasul 4:42)
Esensi COOL adalah hubungan antar tubuh Kristus. Ada jalinan kasih/kepeduli an dalam kebersamaan menikmati hubungan pribadi dengan Tuhan, saling mendorong dan mengingatkan. Tidak hanya sekadar datang, showing up , lalu pulang, tidak merefleksikan persekutuan dan hubungan antar tubuh Kristus yang nyata.
Kita lihat dari teladan jemaat mula-mula dalam membangun komunitas, mereka bukan sekedar beribadah bersama, melainkan juga belajar Firman dengan menjalin hubungan kasih yang erat sebagai anggota tubuh Kristus sehingga tidak ada yang kekurangan.
Kata ‘persekutuan’ memakai kata Koinonia di mana kamus digital Merriam-Webster mengartikan kata ‘koinonia’ sebagai persekutuan yang intim antar orang percaya sebagai tubuh Kristus. Untuk bisa intim dibutuhkan komitmen untuk saling percaya dan menjadi orang yang dapat di percaya, perduli, rela membantu, dan tidak serakah.
Praktek bersekutu di dalam COOL bukanlah sekedar basa-basi antar anggota COOL melainkan sebuah hubungan erat berdasarkan trust, keterbukaan, saling menasihati, saling mendoakan, menguatkan, dsb. Bila seseorang telah melatih diri dalam cool tentunya bisa menerapkan dalam rumah tangganya dan keluarganya bisa menikmati unity seperti yang ada di COOL.
3. Berdoa Dalam Unity (Kisah Para Rasul 2:42)
Esensi COOL bukanlah sekedar berkumpul, membaca Firman, lalu makan bersama-sama. Namun lebih dari itu, tiap-tiap anggota diajak untuk berdoa bersama-sama dalam kesatuan dan fokus untuk berdoa bagi pokok-pokok doa seperti pergumulan antar anggota, bangsa negara dan hal-hal lain yang di”taruh”kan kepada masing-masing untuk didoakan.
COOL menjadi sarana demonstrasi kuasa doa yang mendatangkan pemulihan, mujizat dan karya-karya Allah yang luar biasa.
4. Bersatu, Saling Mengasihi dan Peduli (Kisah Para Rasul 2:44-45)
Esensi COOL adalah menjalin hubungan satu dengan yang lain sebagai tubuh Kristus. Setiap anggota didorong untuk bersatu, dan saling peduli, memberikan perhatian sebagai bentuk kasih Kristus. Inilah yang tercermin dari komunitas jemaat mula-mula, di mana mereka memiliki tingkat kepedulian yang tinggi. Mereka hidup saling menolong dan berbagi milik mereka sebagai cermin dari kepedulian mereka.
Dalam COOL yang biasanya jumlah anggotanya 8-15 orang, terdapat ruang bagi setiap anggota mempraktekkan kasih lewat kepedulian.
5. Menjadi Keluarga Rohani (Kisah Para Rasul 2:46)
Di dalam hidup berkomunitas, terdapat nilai-nilai kekeluargaan yang dimanifestasikan lewat penerimaan (tidak menghakimi), kebersamaan (tidak berjalan sendiri-sendiri, berarti harus sabar satu dengan yang lain) kegembiraan yang bisa di “share’ dan berbagi dengan tulus hati. Prinsip sebuah komunitas seperti COOL karena setiap anggota menganggap dan menerima anggotanya sebagai keluarga yang dimanifestasikan lewat kebersamaan, kegembiraan dan ketulusan membangun manusia batiniah sesama anggotanya.
Bahkan Efesus 2:19-20 mengatakan bahwa oleh karena pengenalan kita akan Allah, kita bukan lagi orang asing di dalam Tuhan, bukan pendatang di dalam Kristus melainkan kawan sewarga dari orang kudus dan anggota keluarga dalam rumah tangga Allah.
6. Memuji dan Menyembah Tuhan dalam Unity (Kisah Para Rasul 2:47)
Jemaat mula-mula yang berkumpul selalu menaikkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan dalam unity. Ini menjadi ciri khas dan karakteristik di dalam pertemuan komunitas sel seperti COOL.
Bagi kita yang berada digereja ini, mengikuti tuntunan ‘Pak Niko’ GBI Jl. Jend. Gatot Subroto, pujian dan penyembahan dalam unity merupakan ciri khas dan gaya hidup seseorang dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Maka dari itu, COOL menjadi sarana untuk mengajak setiap anggota mempraktekkan kehidupan pujian penyembahan kepada Tuhan dalam usahanya membangun hubungan dengan Tuhan.
7. Menjangkau dan Memenangkan Jiwa (Kisah Para Rasul 2:47)
Pertumbuhan rohani orang percaya tidak dapat dipisahkan dari usaha mengasihi yang terhilang. Anggota COOL yang sudah didewasakan seharusnya memiliki kerinduan untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan, karena tujuan COOL pada akhirnya adalah bermultiplikasi dengan cara menambahkan anggotanya melalui penjangkauan jiwa, ini tidak mungkin tercapai tanpa adanya beban mengasihi jiwa-jiwa dan kegiatan pemberitaan Injil dari anggotanya. Setiap anggotanya bukan sekadar berkumpul, tapi belajar Firman hingga memiliki beban untuk menjangkau dan memenangkan jiwa baru.
Pada akhirnya orang percaya adalah manusia yang diciptakan untuk hidup berkomunitas. Komunitas COOL bukanlah Ibadah Mini dari Ibadah Raya Minggu sehingga kita tidak boleh terjebak dengan rutinitas hanya “showing up” atau hal-hal yang bukan merupakan esensi COOL.
COOL adalah tempat di mana sekumpulan orang percaya dapat bersekutu sebagai keluarga rohani, saling menasehati dan membangun, mempelajari Firman Tuhan, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, praktek saling mengasihi serta menjangkau dan memenangkan jiwa bagi kemuliaan Tuhan. Sudahkan Anda tergabung dan bertumbuh dalam COOL? Mari bertumbuh bersama di dalam COOL dan menjadi penuai jiwa sebelum kedatangan-Nya kedua kali. MARANATHA!!

image source: https://www.pinterest.com/pin/acts-247–368169338266839202/

LUPAKAN,,,, DEMI KRISTUS!

LUPAKAN,,,, DEMI KRISTUS!

Masa lalu selalu menjadi bagian yang indah untuk dikenang. Masa kecil, remaja, pemuda, saat telah dewasa, apalagi ketika sudah bekerja dan berkeluarga. Ada begitu banyak memori yang indah untuk selalu diingat. Terlepas dari apakah itu kesalahan dan kegagalan yang kita lakukan atau kemenangan dan keberhasilan yang kita alami.
Seringkali pengalaman dan peristiwa di masa lampau itu begitu membekas sehingga bukan hanya sulit untuk dilupakan, tetapi berdampak dan membawa pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan kita. Pengaruh itu bisa terlihat ketika kita sedang diperhadapkan pada sebuah situasi, atau ketika kita bertemu dengan orang-orang yang datang dengan latar belakang tertentu, atau bahkan ketika kita sedang memikirkan untuk hal-hal yang bisa terjadi di masa yang akan datang.
Pengalaman dan peristiwa di masa lampau itu begitu membekas sehingga mempengaruhi banyak keputusan penting yang diambil.
Ketika membaca Alkitab, ada satu kebenaran yang sering kita jumpai dalam banyak bagian dari Firman Tuhan yang mengajarkan bahwa Tuhan selalu bekerja dan berkarya dengan cara dan pola yang baru. Ketika Dia sedang melawat umat-Nya, entah memberikan kesembuhan, mukjizat dan pertolongan, maka Dia tidak pernah dibatasi dengan satu metode yang tetap. Tuhan tidak pernah bekerja dengan pola yang selalu sama dari masa ke masa, dari generasi ke generasi karena Dia Allah yang kreatif. Kasih dan kuasa-Nya tidak pernah bisa dibatasi oleh apapun karena Dia selalu punya cara yang ajaib, yang selalu baru untuk dinyatakan di tengah-tengah umat-Nya.
Sebagai orang percaya, kita harus memiliki cara pandang yang benar terhadap masa lalu, apa yang harus kita lakukan terhadapnya, supaya hidup ini selalu berpadanan dengan kehendak dan rencana-Nya. Tahun 2022 ini Tuhan memberikan tuntunan sebagai Tahun Paradigma Yang Baru. Ini berarti Tuhan mau agar kita mempersiapkan diri untuk perkara-perkara baru yang akan Dia lakukan. Salah satunya Dia menuntun kita melalui Firman-Nya dalam Filipi 3:13-14:
“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Dari kedua ayat ini kita bisa menemukan tiga kata kunci yang Firman Tuhan ajarkan dalam melihat segala sesuatu yang pernah terjadi dalam kehidupan ini supaya kita dapat melakukan apa yang benar dan berkenan di hadapan-Nya.
1. Melupakan yang di Belakang
Ada orang yang berkata bahwa hidup kita saat ini adalah produk dari masa lalu. Ini tentu ada benarnya karena ada begitu banyak orang yang kondisi hidupnya saat ini adalah dampak dari apa yang dilakukannya di masa lalu.
Rasul Paulus dalam Filipi 3:4-8, menceritakan tentang dirinya dan apa yang ia telah lakukan di masa lalu. Ketika di ayat 13 dia berkata untuk melupakan masa lalunya, ternyata itu bukan berarti tidak boleh membicarakannya. Yang dia ajarkan adalah supaya orang jangan hidup dengan masa lalu. Masa lalu boleh dibicarakan hanya untuk dijadikan pelajaran yang berharga, sehingga memberikan kita hikmat. Tapi masa lalu jangan menentukan hidup kita hari ini; apalagi menentukan masa depan kita.
Ada 2 hal di masa lalu yang harus kita lupakan yaitu kegagalan maupun keberhasilan.
o Kegagalan
Di sini bisa berarti dosa dan kesalahan yang dilakukan, luka yang kita alami, atau apa saja yang pernah membuat hati kita pahit dan kecewa. Manusia cenderung sangat mudah mengingat hal-hal yang negatif daripada yang baik/positif. Bahkan kadang pengalaman negatif itu; entah kegagalan atau disakiti orang lain, menimbulkan trauma yang dalam. Sementara Tuhan menghendaki kita hidup dalam kasih dan kemenangan.
Ada cara yang ampuh untuk melupakan semua itu yaitu dengan mengampuni. Mengampuni bahkan sering kali harus dilakukan berulang-ulang, sampai luka itu sembuh. Ketika mengampuni, kita sedang berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan orang lain.
o Keberhasilan
Ini berbicara tentang kesuksesan dan kebanggaan-kebanggaan yang pernah kita miliki di masa lampau, yang membuat kita seringkali susah untuk melihat perkara-perkara baru yang Tuhan sedang kerjakan.
Rasul Paulus memberikan contoh tentang dirinya di masa lalu, seorang Yahudi asli, disunat di hari yang tepat yakni hari ke-8, seorang Farisi, artinya dia sangat sungguh-sungguh dengan Tuhan dan ritual agamanya.
Tapi ketika ia bertemu Kristus, semua itu dia tanggalkan, dia lupakan, dianggap sampah, karena pengenalannya akan Kristus. Semua keberhasilan dan kesuksesannya dahulu tidak sebanding dengan apa yang dia miliki sekarang.
Sesungguhnya, kita akan sulit untuk maju dan berhasil lebih lagi kalau kita terus terikat dengan masa lalu. Lepaskan dan lupakan baik yang gagal maupun yang sukses, sebab Tuhan sedang membuat sesuatu yang baru, yang jauh lebih baik.
2. Fokus kepada Apa yang di Depan
Masih di ayat 13, hal kedua yang Alkitab katakan adalah mengarahkan diri kepada apa yang ada di depan. Ini artinya, dalam menjalani hidup harus berfokus pada tujuan yang ada di hadapan kita. Masa lalu hanyalah cermin untuk belajar dan introspeksi, tetapi tujuan dan harapan yang hendak dicapai itulah yang harus menjadi perhatian kita sepenuhnya.
Apa yang akan kita alami nanti adalah buah daripada apa yang kita lakukan hari ini, sebab itu putuskan untuk melakukan apa yang benar saat ini.
Masalah dan tantangan akan selalu ada di hadapan kita, tapi kalau kita tetap fokus, maka kita akan tetap kuat dan bertindak. Di tahun yang baru ini milikilah mimpi yang baru, harapkanlah berkat dan anugerah yang baru, sebab mukjizat selalu ada. Mari menabur dengan benih yang baru, karena pasti kita akan menuai. Tabur kebaikan, tabur persembahan, tabur pelayanan, tabur kerja keras dan ketekunan. Fokus dan jangan pernah undur sebab pasti kita akan melihat hasilnya yaitu berkat dan tuaian dari Tuhan.
Fokus artinya kita harus serius dengan hidup ini, jangan main-main lagi. Ada tanggung jawab, kesempatan, juga terobosan baru yang Tuhan sudah siapkan. Bagian kita ialah menjadi “orang yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat”. Tetap fokus dan jangan goyah, jangan sampai kehilangan arah dan tujuan sehingga kita kehilangan berkat Tuhan, coz the best is yet to come.
3. Berlari Mengejar Panggilan-Nya
Di ayat 14, kata kunci di sana ialah ‘berlari’. Kita sudah melupakan masa lalu, kita sudah punya tujuan yang jelas untuk dicapai, tapi untuk mengalaminya kita harus berlari.
Berlari artinya tidak bisa santai dan hanya menunggu. Berlari artinya harus mau bayar harga dengan mengorbankan segenap hati, pikiran, tenaga dan segala yang dimiliki agar tujuan akhir tercapai.
Ketika Paulus berjumpa dengan Tuhan maka perjumpaan itu mengubah hidupnya 180 derajat. Apa yang dulu berharga sekarang bagaikan sampah baginya. Paulus sekarang telah menemukan tujuan hidupnya yang sempurna di mana pengenalan akan Kristus adalah segalanya, lebih berharga dari apapun juga.
Bagaimana dengan hidup kita? Apakah ada hal lain yang lebih berharga dari pengenalan kita akan Kristus? Kalau Dia adalah Tuhan dan Juruselamat hidup kita, maka Kristus haruslah menjadi yang nomor satu. Panggilan Tuhan supaya kita mengasihi dan melayani Dia haruslah menjadi prioritas utama untuk kita kejar. Semua yang kita miliki di dunia ini hanya sementara, tidak sebanding dengan kekekalan yang akan kita alami bersama Dia.
Sebab itu di atas segala-galanya, kita harus hidup untuk Tuhan. Kita harus hidup memuliakan nama Tuhan, berapapun harganya, kita bersedia membayarnya karena kita pun sudah ditebus dan dibayar lunas oleh-Nya. Satu hari kita semua akan datang menghadap Tuhan, biarlah kita menghadap Dia dengan penuh damai, tanpa ketakutan dan penyesalan karena kita telah menjalani hidup ini dengan penuh arti. Kita boleh mengakhiri dengan baik karena hidup ini telah menjadi berkat bagi hormat dan kemuliaan-Nya.
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus,
umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan
yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada
terang-Nya yang ajaib”
1 Petrus 2:9

image source: https://www.bible.com/bible/114/PHP.3.13.NKJV

HIDUP  SEBAGAI  CIPTAAN  YANG  BARU

HIDUP SEBAGAI CIPTAAN YANG BARU

1 Yohanes 2:6 mengatakan bahwa “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Sebagai ciptaan baru, kita selalu diperbarui dalam roh dan pikiran agar mengalami hidup yang berkelimpahan (Zoe Life, Yohanes 10:10). Yesus datang ke dunia dalam rupa manusia untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan dan memberikan teladan bagaimana seharusnya kita hidup sebagai manusia baru yang dikehendaki Allah.

Tuhan Yesus menjadi teladan bagi kita untuk hidup sebagai ciptaan baru :

A. DALAM HUBUNGAN

1. Allah Bapa adalah pusat dari kehidupan Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus sangat mengasihi dan menghormati BapaNya. Setiap hari, Ia menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa secara pribadi (Markus 1:35) dan mencari kehendakNya. Bagaimana dengan kita? Doa adalah nafas hidup orang percaya, jika kita tidak punya kehidupan doa pujian penyembahan, maka keadaan rohani kita akan kering, iman jadi lemah, mudah dikuasai ketakutan, hawa nafsu kedagingan dan jatuh dalam pencobaan.
Oleh sebab itu, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41)

2. Mengasihi orang lain.

Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengasihi seperti Ia telah mengasihi kita.“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 15:12). Bukan hanya saudara seiman saja, tapi juga mengasihi musuh /orang yang menganiaya kita karena mereka juga perlu diselamatkan.

“Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:32-35).

Orang yang mempunyai kehidupan doa, pujian dan penyembahan akan mampu mengampuni (tidak menyimpan kepahitan, amarah, jengkel, kebencian) dan mengasihi (mengusahakan kebaikan orang yang dikasihi sekalipun belum tentu menyukai tingkah laku perbuatan orang tersebut).

3. Mengampuni.

Yesus memberi teladan bagi kita dalam hal pengampunan. Dia sendiri mengampuni orang-orang yang telah menyiksa dan menyalibkan Dia (Lukas 23:34). Jika kita bersalah dan mengakui dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9). Jika kita bersalah terhadap orang lain, bereskan hati dan bertobat di hadapan Tuhan, kemudian minta maaf kepada orang tersebut. Jika orang lain bersalah kepada kita, kita harus mengampuni orang tersebut agar Bapa juga mengampuni kesalahan kita (Matius 6:14-15).

B. DALAM KARAKTER

1. Bermurah hati.

Menurut KBBI, murah hati (generous) artinya suka/mudah memberi; tidak pelit; penyayang dan pengasih; suka menolong; baik hati; kebaikan hati; sifat kasih dan sayang; kedermawanan.
Murah hati juga mencakup hal memberi secara finansial, menunjukkan kasih/kepedulian, memberikan waktu, pertolongan, dsb.

Ditinjau dari sudut iman Kristen, ada 2 area tentang kemurahan hati :
a. Memberi pengampunan atas kesalahan orang lain (similar with merciful, forgiving, gracious). “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Matius 5:7). “Blessed are the merciful, for they shall obtain mercy.” (Matthew 5:7 NKJV).
b. Dari perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:25-37, dapat kita lihat ciri orang yang bermurah hati :
– Memiliki empati : mampu melihat penderitaan orang lain dari sudut orang itu sehingga bisa ikut merasakan penderitaannya.
– Menunjukkan belas kasihan (compassion) : tak berdiam diri saat melihat orang yang membutuhkan, tapi ada belas kasihan yang disertai tindakan untuk menolong dan memberikan support yang dibutuhkan.

2. Lemah lembut, taat, bisa menerima koreksi dan masukan.

Lemah lembut itu bukan suatu kelemahan tapi justru suatu kekuatan karakter/buah Roh yang dihasilkan bersama dengan Roh Kudus. Lemah lembut adalah sikap hati yang baik, mudah dibentuk, bersikap tenang, tidak kasar, tidak pemarah atau lekas gusar. Karakter lemah lembut bisa menerima koreksi dan masukan, mudah diajar, berusaha untuk taat serta tidak mengeraskan hati. Karakter lemah lembut tidak merasa harus menuntut haknya, tidak membalas dan mudah hancur hati (bertobat). Lemah lembut biasanya mudah untuk merendahkan hati sehingga jiwanya dipenuhi damai sejahtera, sukacita dan ketenangan meski dalam keadaan yang tidak menyenangkan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:28-29)

3. Rendah hati, tidak sombong.

Rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah diri sesungguhnya merupakan kesombongan (mirip dengan sifat mengasihani diri sendiri). Rendah hati adalah sikap hati yang tidak memikirkan diri sendiri. Sikap rendah hati berani mengakui kesalahan, kelemahan dan keterbatasan diri sehingga merasa sangat memerlukan Tuhan dan orang lain dalam hidupnya.

Sikap yang rendah hati tidak merasa paling mampu, paling dipakai/diurapi Tuhan, paling baik, paling tahu sehingga memandang rendah dan menghakimi orang lain. Sikap rendah hati mampu mengakui kelebihan orang lain.

Banyak orang mampu melakukan hal-hal yang baik dan menjadi berkat tetapi lalai untuk menjaga hatinya agar tetap memiliki motivasi yang tulus dan rendah hati. Keadaan hati kita yang sebenarnya hanya dapat disingkapkan oleh Roh Kudus.“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2)

C. DALAM PELAYANAN DAN TUJUAN/PANGGILAN HIDUP

1. Melayani, bukan dilayani.

Tuhan Yesus memberi teladan dalam Matius 20:26-28
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Ia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Yang terbesar (maksudnya orang yang banyak diberi atau dipercayakan) adalah orang yang harus melayani, bukan dilayani seperti bos. Dalam melayani, kita harus menganggap orang lain lebih utama dari kita (Filipi 2:3). Sikap ini menghindarkan kita dari ambisi, egois, kesombongan, pertikaian dan sikap membenarkan diri sendiri.

2. Melayani dalam pimpinan dan kuasa Roh Kudus.

Tuhan Yesus melakukan pelayananNya dengan urapan Roh Allah (Lukas 4:18-19) sehingga memberi dampak yang luar biasa bagi orang-orang yang dilayani. Dalam melayani, Yesus bukan melakukan kehendakNya sendiri melainkan kehendak Bapa.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19)

Demikian pula kita, jangan mengandalkan kekuatan dan pengertian sendiri tetapi minta Roh Kudus yang memimpin, memberi hikmat dan mengurapi kita. Hidup yang dipenuhi firman dan Roh Kudus akan menghasilkan doa, perkataan dan pelayanan yang penuh kuasa serta berdampak terhadap orang-orang yang kita layani. Keadaan rohani yang kering (tidak menjaga keintiman dengan Roh Kudus, tidak jaga hati, hidup dalam dosa dan kepahitan) akan menghasilkan pelayanan yang sekedar berkegiatan karena tidak ada urapan.

3. Tujuan/panggilan hidupNya.

“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” (Yohanes 17:4)

Walaupun harus menghadapi tantangan, penderitaan, penolakan, bantahan dari pihak orang-orang berdosa bahkan mengalami maut, tapi hatiNya tetap teguh untuk hidup dalam poros kehendak Bapa yang sempurna. Sebuah harga yang mahal untuk hidup dalam panggilan Allah sudah Ia contohkan. Kita hanya mampu menggenapkan panggilan Allah jika Roh Kudus yang menguasai seluruh hidup kita. Minta kepada Roh Kudus untuk menuntun, mengarahkan dan memampukan kita berjalan dalam panggilan Allah.

Tuhan Yesus memiliki banyak tujuan datang ke dunia, antara lain : menggenapi Hukum Taurat dan nubuatan para nabi, menyiarkan kabar baik kepada orang miskin, menyatakan kasih Bapa, menebus dosa, menyelamatkan manusia, memberi hidup kekal, menanggung kutuk, menghancurkan iblis dan pekerjaannya, dan lain sebagainya.
Namun, tujuan yang paling utama adalah memulihkan hubungan dan karakter manusia untuk dapat hidup sebagai ciptaan baru yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Inilah transformasi hidup yang dikehendaki Allah, di mana Yesus Kristus telah menjadi teladan yang sempurna bagi kita semua.

image source: https://www.bibleverseimages.com/love-bible-verse-8.htm

MENGAPA KITA BUTUH JURUSELAMAT?

MENGAPA KITA BUTUH JURUSELAMAT?

Pertanyaan “Mengapa kita butuh Juruselamat?” adalah pertanyaan yang masih sering muncul di tengah-tengah zaman ini dengan segala kemajuan teknologi yang ada di berbagai bidang. Di saat mana teknologi dunia sudah mulai merambah ke konsep metaverse, pertanyaan yang pada abad-abad sebelumnya memiliki jawaban yang absolut, namun saat ini, jawaban atas pertanyaan ini mungkin menjadi sesuatu yang relatif.
Kekristenan, sebagai suatu ajaran yang mengemukakan konsep ini, tentu tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan kritis seperti demikian. Masih relevankah ajaran Kristen, dalam hal ini Firman Tuhan, berbicara tentang perlunya seorang Juruselamat? Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar bahwa, jika seseorang membutuhkan Juruselamat, artinya ia adalah seorang yang lemah atau ter belenggu. Alkitab berkata bahwa memang manusia itu lemah seperti tertulis dalam Roma 3:23
“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
Dosa telah menurunkan nilai segala yang baik yang diciptakan oleh Allah pada mulanya. Di bulan April ini di mana kita merayakan hari raya Paskah, mari kita melihat sekali lagi mengapa Tuhan Yesus harus menjadi Juruselamat melalui kematian dan kebangkitan-Nya untuk menyelamatkan kita semua?
Sebelum kita melihat lebih jauh jawaban atas pertanyaan di atas, kita perlu mengingat bahwa: “Upah dosa ialah maut” Roma 6:23
Nahum 1:3a juga mencatat: “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah”, karena keadilanNya.
Allah menghukum manusia yang berdosa dengan ganjaran maut, bukan karena Ia tidak mengasihi dan tidak mau mengampuni manusia. Allah itu Maha Kasih di satu sisi, namun di sisi yang lain, Ia juga Maha Adil. Keadilan-Nya muncul dari kekudusan-Nya. Adil adalah salah satu atribut Allah. Yeremia 23:6 mencatat salah satu nama Allah yaitu: “TUHAN keadilan kita” (dari bahasa Ibrani ‘tsedeq’ yang artinya adil, benar).
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan keadilan sebagai “sifat yang tidak berat sebelah, berpihak kepada yang benar, sesuatu yang sepatutnya”.
Westminster Dictionary of Theology menjelaskan bahwa konsep keadilan berhubungan erat dengan kasih sayang. Lebih lanjut dikatakan bahwa konsep keadilan dibedakan menjadi dua; yang pertama adalah seseorang menerima keadilan karena ia telah melakukan hal yang salah, dan dengan demikian, ia menerima apa yang menjadi haknya karena perbuatannya, yang kedua adalah konsep pemberian keadilan kepada seseorang ketika apa yang diberikan tidak datang sebagai akibat dari orang tersebut telah melakukan suatu perbuatan yang salah.
Berdasarkan atribut Allah ini, ada beberapa alasan mengapa manusia tetap memerlukan Juruselamat yang menyelamatkan dari hukuman Allah, yaitu:
1. Keadilan Allah Harus Dipenuhi
Di dalam pemahaman dunia terkait keselamatan, khususnya dalam agama-agama suku, pada umumnya manusia mempersembahkan sesajen kepada para dewa untuk menyurutkan amarah sang dewa, sehingga hukuman atas manusia tersebut dapat dielakkan.
Di dalam kekristenan, kita percaya bahwa Yesus, sebagai Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia-lah yang menjadi persembahan untuk menyurutkan amarah Bapa bahkan menghapuskan semua hukuman akibat dosa yang dilakukan manusia.
2 Korintus 5:21 mencatat: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”
Hukuman maut yang tadinya diperuntukkan kepada manusia yang berdosa, menjadi diperuntukkan kepada Yesus karena Ia telah menjadi dosa. Di dalam Alkitab Perjanjian Baru terjemahan bahasa Ibrani, kata ‘Tetelestai’ dalam Injil Yohanes 19:30 yang berarti “Sudah selesai” diterjemahkan dengan kata “Nish’lam”, yang erat hubungannya dengan kata ‘Shalom’. Jadi, secara harafiah, kata “Nish’lam” berarti “(sudah) diperdamaikan”. Dari hal ini, dapat kita mengerti bahwa kematian Yesus di atas kayu salib telah mendamaikan manusia dengan Allah karena keinginan-Nya akan keadilan telah dipenuhi.
2. Manusia Berhutang Kekudusan kepada Allah
Anselmus, seorang bapa gereja di abad ke-12, di dalam bukunya Cur Deus Homo (Mengapa Allah menjadi manusia) menuliskan bahwa jika ada orang yang bertanya seperti itu, artinya ia tidak mengerti dengan jelas arti kedalaman kejatuhan manusia di dalam dosa, dan dia tidak mengerti apa artinya ‘kudus’ menurut kekudusan Tuhan.
Friberg Analytical Greek Lexicon mendefinisikan kata ‘kudus’ (Yunani: hagios) dengan arti “sesuatu yang dipisahkan untuk tujuan Tuhan”. Konsep ‘dipisahkan’ untuk kata ‘kudus’ memiliki pengertian yang sama seperti di dalam Kejadian 1:4 di mana Allah memisahkan terang dari gelap. Artinya, benar-benar terpisah.
Manusia yang pada awalnya diciptakan Allah dalam keadaan mulia, kudus, baik menjadi kehilangan segalanya saat manusia jatuh ke dalam dosa, sehingga manusia pun ‘berhutang’ kekudusan kepada Allah. Dengan standar manusia, meskipun manusia terus berbuat baik, mereka tetap tidak dapat mengganti hutang kekudusan ini.
Yesaya 64:6 mencatat bahwa bahkan setiap kesalehan manusia itu seperti kain kotor di mata Allah. Hanya Anak Allah yang kudus yang berinkarnasi menjadi manusia sajalah yang dapat membayarkan hutang kekudusan ini kepada Allah.
Apa yang Yesus lakukan di kayu salib sesungguhnya adalah penggenapan yang sempurna dari rencana keselamatan Allah bagi manusia. Dari peristiwa di Taman Eden, di mana Allah mengenakan pakaian dari kulit binatang kepada Adam dan Hawa (di mana darah binatang harus tercurah sebagai lambang penghapusan dosa Adam dan Hawa) sebagai protoevangelium (kabar baik tentang penebusan yang pertama) (Kejadian 3:21) hingga hukum tentang korban penghapusan dosa dari Hukum Taurat (Imamat 4:1-35), di mana semuanya adalah cara Allah untuk membawa manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk kembali kepada-Nya.
Namun, persembahan darah binatang, tidaklah cukup untuk secara permanen menebus dosa-dosa manusia. Oleh sebab itu, kembali Allah berinisiatif untuk menyelamatkan manusia melalui peristiwa inkarnasi Anak Allah, karena hanya lewat pengorbanan Anak Allah yang kudus dan tidak bercacat ini sajalah, penebusan dosa manusia terjadi secara sempurna. Cara pengorbanan yang ditempuh adalah cara yang paling keji, yaitu lewat salib. Inilah kulminasi pertemuan antara keadilan dan kasih Allah. Inilah yang kita rayakan melalui Hari Paskah.
Di momen Paskah ini, kita dibawa untuk mengingat dan merenungkan kembali apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan bagi kehidupan kita. Di mana tanpa pengorbanan Tuhan Yesus, tidak ada ada satu orang pun yang bisa luput dari hukuman karena keadilan Allah yang lahir dari kekudusan-Nya itu.
Oleh sebab itu, hendaknya kita selalu menghormati pengorbanan Tuhan Yesus dengan cara “tetap mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.” (Filipi 2:12)
Kita bersyukur karena Tuhan Yesus bukan saja telah mati, tetapi terlebih, Ia juga telah bangkit, karena jika Ia tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita kepada-Nya (I Korintus 15:17), sehingga “sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” (Ibrani 5:9)
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan, bahwa meskipun manusia saat ini berada di zaman yang sangat maju di dalam segala bidang, manusia tetap membutuhkan Juruselamat yang sanggup menyelamatkan dari hukuman akibat dosa. Dan Juruselamat itu ialah Yesus Kristus, yang telah mati, bangkit, naik ke sorga mulia, dan akan kembali ke dunia menjemput kita dalam kemuliaan-Nya untuk membawa kita hidup dan memerintah selama-lamanya bersama dengan Dia. Selamat merayakan Hari Raya Paskah! Tuhan Yesus Memberkati.

image source: https://ijenara.tumblr.com/post/638209337242910720/romans-623-nkjv-for-the-wages-of-sin-is

MENGALAMI TRANSFORMASI HIDUP MELALUI  PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS

MENGALAMI TRANSFORMASI HIDUP MELALUI PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS

MENGALAMI TRANSFORMASI HIDUP
MELALUI PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS

Kristus telah mati untuk kita, sehingga kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan dibangkitkan bagi kita. Allah memanggil kita untuk hidup dalam persekutuan dengan Kristus dan dengan orang percaya. Tujuan kita diselamatkan bukan supaya masuk surga saja, tetapi supaya menjadi serupa dengan gambar Kristus dalam seluruh aspek hidup kita. “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yohanes 2:6).

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17), kita memiliki benih ilahi. Benih tersebut harus berakar, bertumbuh agar berbuah bagi Allah. Setelah dipanggil keluar dari kegelapan dunia, kita tertanam dalam penggembalaan gereja lokal (BIC), kemudian dijadikan murid Kristus, selanjutnya kembali diutus ke dunia untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus (Matius 28:19-20).

Menjadi murid Kristus bukanlah sesuatu yang instant, melainkan harus melewati proses yang panjang. Kita tidak akan mengalami pertumbuhan hanya dengan mendengarkan khotbah saja, tapi kita memerlukan : 1) wadah/saluran (pelayanan); 2) kondisi (masalah, tantangan); 3) orang lain untuk menjadi cermin, saling mengasah, bertumbuh menjadi dewasa dalam iman serta memunculkan buah-buah Roh Kudus (karakter Kristus) dalam hidup kita.
“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17).

Kita telah diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12) oleh Roh Kudus yang telah dianugerahkan kepada kita. Roh Kudus memampukan kita hidup oleh iman untuk menghidupi kehidupan yang baru dalam Kristus (mengalami transformasi hidup).
Ciri hidup yang mengalami transformasi :

1. Mengenal dan mengalami kuasa kebangkitan Kristus.

Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman percaya kita (1 Korintus 15:17).
“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:20,22)

Persekutuan dengan Kristus membuat kita hidup dalam kasih karunia Allah. Kita tidak lagi hidup dalam kegelapan, kebodohan dan kesia-siaan tapi hidup dalam terang Tuhan dan dalam kehendakNya. Kita hidup dalam pengenalan yang benar akan Kristus Yesus oleh iman.
Apa yang dialami Rasul Paulus, ia tuliskan dalam Filipi 3: 7-14 :

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.”

a. Pengenalan akan Kristus melalui persekutuan jauh lebih penting dan mulia dari semua peraturan hukum Taurat, kegiatan agamawi, kegiatan pelayanan, talenta, karunia, prestasi, pengetahuan, dlsb. Tanpa pengenalan yang benar akan Kristus, semua akan sia-sia.

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”

b. Pengenalan akan Kristus membawa kita untuk hidup dalam kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya. Karena Kristus telah mengalami penderitaan/kematian badani di kayu salib, kita juga harus mematikan keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup. Di mana ada kematian daging, di situ terjadi kebangkitan roh. Jika kita menjadi serupa dengan Kristus dalam kematianNya, maka kita akan hidup dalam kuasa kebangkitanNya (maksudnya hidup dalam kuasa Roh Allah yang berdiam dalam kita).

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

c. Kita melupakan apa yang di belakang kita (paradigma lama dan kehidupan duniawi), mengarahkan diri kepada yang ada di hadapan kita (panggilan Tuhan), dan berlari-lari kepada tujuan (maksudnya terus mengejar, bertekun, rela membayar harga berupa tantangan dan penderitaan).

2. Memiliki keberanian dalam menghadapi kesulitan, tantangan dan penderitaan dalam hidup ini (berkemenangan).

a. Diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.
Orang yang mengalami transformasi hidup tidak membiarkan dirinya diintimidasi oleh roh ketakutan dan tipu muslihat iblis karena telah diberi kuasa untuk menahan kekuatan musuh dan mengusir setan-setan. Kita berada di bawah tudung perlindungan Darah Anak Domba Allah, sehingga iblis tidak punya kuasa atas kita. Kuasa Allah bekerja melalui doa, pujian dan penyembahan kita. Jika Allah ada di pihak kita, maka tidak ada yang dapat melawan dan menggugat kita.
“Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” (Lukas 10:19)

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:17-18)

b. Memiliki iman dan pengharapan yang pasti untuk mengalami kegenapan janji-janji Tuhan.
Orang benar hidup karena percaya, bukan karena melihat. Pengenalan yang benar akan Tuhan membuat kita tidak perlu kuatir karena semua janjiNya adalah ya dan amin.
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yohanes 15:7)

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33)

c. Diberi jalan keluar.
Dalam Kristus tidak ada jalan buntu, tapi selalu ada jalan keluar dari setiap masalah.
“Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13).

d. Diberi damai sejahtera Allah.
Damai sejahtera yang Allah berikan tidak sama dengan model dunia. Damai sejahtera Allah akan menghasilkan sukacita ilahi yang selalu sejalan dengan kebenaran, sekalipun sedang berada di tengah penderitaan dan lembah kekelaman. “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7)

Damai sejahtera Allah menggantikan ketakutan dengan iman, memberikan sukacita dalam pengharapan yang menjadi kekuatan kita untuk sabar dalam kesesakan, membangkitkan jiwa yang lemah dan putus asa, memberi kemampuan untuk bertekun dalam doa.

3. Hidup dalam tujuan yang baru, yaitu panggilan Tuhan.

Karya penebusan Tuhan Yesus memulihkan identitas, karakter dan kemampuan kita untuk hidup selaras dengan rencana Allah. Kita tidak ingin menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang sedemikian besar dan mulia. Transformasi hidup memberi arah dan tujuan hidup yang baru, yaitu berjalan dalam panggilan Tuhan.

Ini tidak berarti kita semua harus menjadi pendeta, tetapi apapun bidang pekerjaan kita, Allah akan menaruh kerinduan ilahi di hati untuk melakukan kehendakNya secara khusus serta mengarahkan kita untuk berjalan dalam panggilan.

Contoh, misalnya kita bekerja di bidang kuliner dan diberi karunia untuk menasehati, memimpin dan mengajar. Karunia itu dipakai untuk melayani orang-orang di lingkungan pekerjaan, dalam keluarga atau siapa saja yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Gereja tidak dibatasi oleh gedung; setiap kita adalah ‘gereja’, ambassador Kerajaan Allah untuk menjadi garam dan terang bagi dunia, memberitakan Injil, mendoakan dan menjadikan mereka murid Kristus sesuai karunia masing-masing.

Allah telah mempercayakan kita dengan talenta untuk menggenapi tujuan khusus tersebut. Kita akan temukan dan asah talenta yang dikaruniakan itu melalui komunitas tempat kita bekerja atau melayani agar semakin bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa (transformed).

Tuhan mendewasakan kita melalui pimpinan Roh Kudus dengan menerapkan firman untuk
menghadapi dan menyelesaikan masalah/tantangan agar kita bisa mengajarkan pada orang lain juga sesuai dengan yang tertulis dalam Matius 28:19-20.

Persekutuan dengan Tuhan dan orang percaya (dalam gereja lokal dan global) membuat kita bertumbuh, berbuah, menjadi berkat dan hidup dalam panggilan ilahi. Inilah yang disebut mengalami transformasi hidup.
“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anaknya YESUS Kristus,Tuhan kita,adalah setia.” (1 Korintus 1:9)

image source: https://t2womenintheword.blogspot.com/2019/05/abiding-in-christ-vital-priority-1-john.html

IMAMAT YANG RAJANI

IMAMAT YANG RAJANI

PARADIGMA BARU DALAM PELAYANAN MUSIK, PUJIAN DAN PENYEMBAHAN (Team Mezbah)
Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo sebagai pioneer hamba Tuhan yang melayani sepenuh waktu dalam bidang pujian dan penyembahan, memperkenalkan istilah imam musik, imam pemuji penyembah.
Penggunaan kata “imam” tentu merujuk kepada pemahaman bahwa mereka yang disebut sebagai imam musik atau imam pemuji dan penyembah adalah pribadi-pribadi yang hidupnya dikhususkan untuk memimpin pujian dan penyembahan dalam pelaksanaan ibadah umat.
Dalam jemaat dan pengerja kita, banyak yang memiliki potensi dan karunia bermain alat musik atau bernyanyi bahkan bersuara merdu, namun dalam pelaksanaan ibadah, tidak semua umat tersebut diberikan kewenangan, otoritas dan tanggung jawab untuk memimpin atau melaksanakan pelayanan pujian dan penyembahan. Hanya mereka yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pemimpin gereja sebagai imam musik, pemuji dan penyembah yang diberikan kewenangan tersebut sesuai jadwal yang sudah diatur. Sampai pada tahap ini, implikasi ‘pengkhususan’ dari istilah imam tentu tidak menimbulkan diskusi dan perbedaan pemahaman.
Namun, ketika implikasi ‘pengkhususan’ dari istilah imam ini ditarik lebih jauh, di mana mereka yang disebut sebagai imam musik, pemuji dan penyembah sungguh-sungguh hanya ‘diperbolehkan’ menggunakan talenta, kemampuan bermusik atau bernyanyi mereka dalam ranah rohani (pelayanan gereja) semata dan tidak boleh dikhamiri dengan menggunakannya di ranah sekuler, maka bisa timbul persoalan!
Secara khusus di antara mereka yang bukan fulltimers gereja (tidak mendapatkan penghasilan/gaji dari gereja) dan memiliki profesi di bidang musik atau dunia tarik suara, termasuk mereka yang karena bakat dan talentanya secara serius menekuni industri musik atau dunia pendidikan musik sekuler.
Hal ini menimbulkan sebuah dilema di mana pada akhirnya tidak sedikit mereka yang memiliki talenta dalam bidang musik/vokal, memiliki kerinduan untuk terlibat dalam pelayanan gereja; akhirnya tidak jadi melayani karena mereka tidak mungkin meninggalkan profesi mereka dalam industri musik sekuler.
Bagaimana gereja dapat menyikapi dilema ini? Memasuki Tahun Paradigma yang Baru, TUHAN memberikan paradigma yang baru dalam berbagai sektor pelayanan gereja, termasuk dalam hal pelayanan musik, pujian dan penyembahan. Mari kita simak dua bagian teks dalam Alkitab berikut ini:
1. Pengunaan Istilah PELAYAN
“Juga diangkatnya dari orang Lewi itu beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut TUHAN untuk memasyhurkan TUHAN, Allah Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya.”1 Tawarikh 16:4
Apa yang menarik dalam ayat ini ada istilah yang digunakan kepada orang Lewi yang menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya di hadapan tabut adalah PELAYAN, bukan imam. Kata ‘pelayan’ (ing. Ministers) dari kata shârath yang secara akar katanya berarti “untuk hadir sebagai”, “berkontribusi kepada”, “melayani” dan “melakukan pelayanan”.
Dalam The NIV Application Commentary, Historical Book kata “pelayan” (šrt) berarti “pelayanan yang saleh” atau “kehadiran yang setia pada ritual.” Pelayanan imam dan Lewi yang berpusat di Gibeon tetap menjadi salah satu pemeliharaan ibadah kurban Israel. Pelayanan Lewi di depan Tabut di Yerusalem pada dasarnya bersifat musikal.
Pengunaan istilah pelayan bagi mereka yang melakukan pelayanan di bidang pujian dan penyembahan memiliki beberapa implikasi positif, antara lain:
a. Menempatkan pelayanan di bidang pujian dan penyembahan setara dengan bidang pelayanan lainnya dalam gereja, misalnya doa syafaat, pemberitaan firman, usher, dan lainnya. Setara dalam pengertian tidak lebih tinggi kedudukannya (prestisius) dan juga tidak lebih rendah.
b. Membuka kesempatan kepada anggota jemaat yang memiliki talenta dan keterampilan bermusik dari latar belakang profesi untuk “melakukan pelayanan”, “berkontribusi kepada”, “melayani sebagai” pelayan di bidang pujian dan penyembahan.
c. Meredam tensi tuntutan yang tinggi sehubungan dengan pelayanan di bidang pujian dan penyembahan.
Tentunya kita tidak boleh menurunkan standar kekudusan dan standar kualitas pujian dan penyembahan dalam ibadah, kita juga tidak boleh menjadikan pujian dan penyembahan dalam ibadah menjadi entertainment, dan bahwasanya seorang pelayan pujian dan penyembahan harus memenuhi kriteria tertentu, dapat dipertahankan.
Hanya saja, tuntutan untuk tidak bermain musik dalam dunia sekuler, padahal sudah sesuai dengan profesi dan pendidikan akademiknya; sudah tidak dapat diterapkan. Musik adalah bahasa yang universal, secara naturnya musik bersifat netral, tidak perlu melakukan dikotomi (pemisahan, pembagian dua hal yang saling bertentangan) antara musik rohani dengan musik sekuler. Keputusan seorang pelayan musik untuk mendedikasikan seluruh talenta dan karunia bermusiknya hanya bagi Tuhan biarkanlah menjadi ranah privat, keputusan pribadinya dengan Tuhan. Sehingga kita juga tidak terjebak dalam ‘banding-membandingkan’ antara pelayan pujian dan penyembahan yang satu dengan yang lainnya.
2. Imamat yang Rajani
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”1 Petrus 2:9
Apa yang dinyatakan Petrus dalam surat kirimannya yang diinspirasikan Roh Kudus ini memberikan kepada pendengar mula-mula, orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya (1 Petrus 1:1-2) sebuah paradigma tentang status orang percaya dalam Kristus dan dalam pelayanan.
Semua orang Kristen sejati (bukan hanya yang berlatar belakang Yahudi) adalah generasi terpilih; mereka semua membentuk satu keluarga rohani dari berbagai jenis dan kelompok orang yang berbeda dari seluruh dunia secara global.
Matthew Henry memberikan catatan bahwa kita semua adalah imamat yang rajani. Kita adalah raja dalam hubungan kita dengan Tuhan dan Kristus, kita adalah imamat rajani, terpisah dari dosa dan orang berdosa, dikuduskan kepada Allah, dan mempersembahkan kepada Allah pelayanan dan persembahan rohani, yang diterima Allah melalui Yesus Kristus.
Dengan bahasa yang sederhana, semua orang yang telah ditebus dengan Darah Yesus berhak dan memiliki kewajiban untuk mempersembahkan pelayanan dan persembahan rohani kepada Allah. Pelayanan kepada Allah tidak lagi dibatasi dengan aturan keimamatan atau pengkhususan kepada kelompok tertentu. Di mana pun anak Tuhan berkarya, ia harus memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.
Pelayanan di bidang pujian dan penyembahan dalam gereja biar bagaimana pun adalah salah satu bentuk pelayanan inti (core) karena terkait dengan penyelenggaraan ibadah, di mana umat mengalami perjumpaan secara pribadi dengan TUHAN dan di sana mereka menyadari akan realitas spiritualitas mereka sebagai umat TUHAN.
Itu sebabnya sama seperti halnya juga bidang pelayanan lainnya, tentu kita tidak boleh sembarangan dalam mengatur dan menjadwalkan personil pelayan yang akan melayani musik, pujian dan penyembahan dalam ibadah. Segala sesuatunya tetap harus diperhatikan dengan teliti dan seksama. Para pelayan musik, pujian dan penyembahan umumnya melewati tahapan seleksi, audisi, pelatihan, dan praktik pelayanan sebelum akhirnya diberikan otoritas dan tanggung jawab pelayanan mimbar sambil terus dimuridkan sehingga makin berkualitas bukan hanya dari sisi keterampilan bermusik semata namun juga kerohanian dan kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan Firman Tuhan. Proses yang harus dilalui memang ketat, namun pintu kesempatan untuk terlibat menjadi pelayan musik, pujian dan penyembahan haruslah tetap terbuka bagi seluruh umat yang adalah Imamat yang Rajani.

image source: https://www.activelovechurch.com/1-peter-29/