Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 6)
PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus mau mendewasakan kita di akhir jaman ini agar menjadi pribadi yang kuat dan tetap tenang di tengah berbagai krisis/guncangan yang melanda dunia, keluarga ataupun kita secara pribadi. IA mau kita menjadi dewasa, memiliki hikmat ilahi agar siap dipercaya untuk menjadi bagian dalam kegerakan Tuhan di dunia menjelang kedatangan-Nya yang ke dua kali.

ISI

Alkitab mencatat bahwa kedewasaan rohani seseorang ternyata tidak dihasilkan dari berkat atau mukjizat yang diterimanya. Sebagai contoh bangsa Israel yang telah mengalami banyak mujizat di padang gurun selama 40 tahun, namun sebagian besar mereka tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam iman, melainkan berubah setia dan tegar tengkuk, bersungut-sungut serta tidak taat kepada perintah Allah karena ketakutan, kekuatiran dan kebosanan hidup yang menekan.Keadaan ini membuat mereka tidak sabar dan menentang Allah dan hambaNya.

Proses pendewasaan merupakan bagian dari perjalanan iman yang diwajibkan bagi setiap orang percaya. Sayangnya banyak orang percaya kurang memahami bahwa karya keselamatan Yesus mencakup kelahiran baru dan pembaruan akal budi melalui pemuridan dan pemurnian agar semakin serupa dengan gambar Kristus (dewasa, berbuah dan memancarkan kemuliaan-Nya).

Ada pula yang menyangka bahwa mengikut Kristus hanya tentang beribadah sekali seminggu secara rutin, memberi persembahan, menyanyikan lagu-lagu pujian, merayakan Paskah dan Natal; mengikut Yesus supaya diberkati, menerima mukjizat atau supaya keinginan/doanya dikabulkan.

Kalau demikian, maka tidak heran jika banyak orang yang meski sudah lama jadi Kristen, masih hidup seperti orang yang tidak mengenal Tuhan dan kembali ke dunia lamanya karena belum mengalami perubahan/transformasi. Suka atau tidak, ternyata masalah, kesulitan, tekanan dan penderitaan dapat menjadi sarana yang tepat untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang dewasa dan tangguh. Pergumulan hidup bersama Tuhan membuat seseorang semakin sempurna dalam iman dan dewasa dalam karakter.

Tuhan memakai guncangan khususnya yang terjadi akhir-akhir ini untuk mendewasakan kita. IA berdaulat dan berhak melakukannya dengan cara yang sering kali tidak terduga oleh pemikiran kita, supaya kita bergantung penuh kepada DIA (bukan kepada hal-hal yang dapat terguncang seperti hal-hal fisik/materi) dan kepada kekuatan kasih karunia-Nya yang memampukan kita keluar sebagai pemenang.

Bagaimana guncangan dapat menjadi sarana yang dapat mendewasakan iman dan karakter kita?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yakobus 1:2-4).

Kata yang diterjemahkan sebagai ketekunan di sini memiliki arti kekuatan untuk menahan kesulitan atau tekanan, terutama ketabahan batin yang diperlukan untuk bertahan. Terjemahan lain mengartikan kata ketekunan ini antara lain sebagai ketabahan/steadfastness (ESV), ketahanan/endurance (AMP), dan kesabaran/patience (KJV, NKJV).

Kesabaran di sini adalah sebuah pilihan yang merupakan hasil dari penyangkalan diri yang dikerjakan oleh Roh Kudus, dan bukan emosi manusia. Pilihan untuk mengasihi Tuhan, untuk menaati kehendak-Nya, untuk tetap tenang dalam masa penantian, untuk bertahan saat berada di bawah tekanan, serta memilih untuk belajar dan bertumbuh melalui masalah/penderitaan.

Ketekunan merupakan suatu kekuatan karakter yang diperlukan untuk dengan sabar menanggung kesulitan dan penderitaan. Ketekunan memampukan seseorang untuk terus berjuang mencapai tujuan meskipun menghadapi rintangan atau kemunduran. Jadi bukan hanya sekedar bertahan mengatasi tekanan, tetapi mampu mengembangkan kekuatan mental dan emosional menuju kedewasaan.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1:4).

Be assured that the testing of your faith [through experience] produces endurance [leading to spiritual maturity, and inner peace]. And let endurance have its perfect result and do a thorough work, so that you may be perfect and completely developed [in your faith], lacking in nothing. (James 1:4, AMP Bible).

Ketekunan memerlukan 3 unsur : pengenalan kita akan Kristus, keputusan kita, dan pertolongan Roh Kudus. Pengenalan akan Kristus akan memperdalam akar (yaitu kasih Tuhan) serta membangun iman kita kepada DIA. Dengan kata lain, iman kita bukan sekedar keyakinan (believe), tapi iman yang berakar dalam kasih Kristus (trust), di mana kita mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang kita percayai dan sangat bisa diandalkan. Iman yang berakar dalam kasih berpotensi menjadi iman yang dewasa/menuju kesempurnaan.

Inilah yang mendorong kita untuk memutuskan tetap bertekun, tidak akan menyerah meski di tengah tekanan yang sulit. Tentu saja kita tidak mampu melakukannya sendiri, Roh Kudus-lah yang menolong, memberi kekuatan serta meneguhkan batin kita untuk tetap bertekun, bersabar, bertahan bahkan mampu bersukacita di dalam menghadapi kesesakan. Pada waktunya, kesabaran/ketekunan akan menghasilkan buah yang matang sehingga kita menjadi sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun (kedewasaan karakter).

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN (bagian 2)

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 2)

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 2)

Sambungan minggu lalu :

Keadilan Allah adalah sifat/karakter yang mendasari segala hukum/peraturan, hikmat, jalan/tindakan, keputusan serta penghakiman-Nya. Keadilan Allah dan kemurahan hati-Nya melampaui segala pengetahuan, pemahaman serta pertimbangan manusia. Kita harus belajar meneruskan kemurahan hati Allah yang telah kita terima kepada orang lain.  Miliki motivasi hati yang benar (yaitu mengasihi Tuhan), lakukan dengan ketulusan, ketaatan dan kesetiaan.

Sambungan minggu ini:

Allah menjalankan keadilan dan hukum bagi mereka yang lemah/tertindas (Mazmur 103:6).

Keadilan merupakan salah satu wujud kasih Allah yang dinyatakan bagi manusia. IA menghendaki supaya setiap orang percaya berjalan dalam prinsip keadilan-Nya, termasuk memperlakukan orang lain  dalam takut akan DIA. Jangan menghakimi supaya kitapun tidak dihakimi karena ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain akan diukurkan kepada kita (Matius 7:1-2).

Allah melarang kita menindas dan memperlakukan orang lain dengan buruk/tidak adil. IA adalah Pembela bagi orang-orang yang tertindas, memberi makan mereka yang lapar, membebaskan para tahanan, dan membuat orang buta dapat melihat. IA menegakkan orang yang jatuh, dan mengasihi orang yang jujur, melindungi orang-orang asing, menolong para janda dan yatim piatu, tetapi menggagalkan rencana orang jahat (Mazmur 146:7-9).

Sesungguhnya berjalan dalam prinsip keadilan adalah cara hidup yang memancarkan kasih Allah yang tidak mementingkan diri sendiri. Ini bicara tentang melakukan kebenaran, menegakkan keadilan, menentang ketidakadilan, membela dan memperjuangkan hak-hak mereka yang lemah serta tertindas.

Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka (Amsal 31:8-9).

Lalu bagaimana respon yang benar jika kita diperlakukan tidak adil ? Firman Tuhan memerintahkan kita untuk tidak menuntut pembalasan sendiri melainkan menyerahkan perkara-Nya kepada Allah sebagai Hakim yang akan menghakimi dengan adil:

 Ketika Ia dicaci maki,  Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,  tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil  (1 Petrus 2:23).

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamuhiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan tetapi berilah tempat kepada murka Allah sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:17-21).

Jika kita sedang mengalami konflik dengan saudara seiman, selesaikan secara dewasa, rendahkan hati satu dengan yang lain, belajar mengalah (bukan menuntut), tenang, dan sabar (baca 1 Korintus 6:1-7). Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dihilangkan; jangan ijinkan diri kita terseret dalam amarah yang berkepanjangan; hindari tindakan meracuni/mencemarkan banyak orang dengan cerita tentang kepahitan hati kita.

Allah akan menghakimi setiap orang secara adil menurut perbuatannya.

Allah memperhitungkan semua jerih payah kita. IA akan memberikan upah yang pantas untuk setiap motivasi hati serta perbuatan kita (baik atau buruk), yang terlihat maupun yang tersembunyi. Tidak perlu berkecil hati, marah dan mengasihani diri sendiri jika maksud/perbuatan baik kita tidak dihargai bahkan disalah mengerti oleh orang lain. Belajarlah melakukan segala sesuatu dengan tulus seperti untuk Tuhan, karena dari Tuhanlah kita menerima upah.

“Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” (Ibrani 6:10).

Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.  Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,  yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan,  tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.  Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat,  pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani,  tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani.  Sebab Allah tidak memandang bulu (Roma 2:5-11).

PENUTUP

Pemahaman yang benar tentang keadilan Allah mengajar kita untuk tidak menyia-nyiakan kemurahan hati-Nya dengan hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kesetiaan; mengajar kita untuk meneruskan kemurahan hati Allah dengan memperlakukan orang lain dalam takut akan Tuhan; memurnikan motivasi hati kita dalam melakukan segala sesuatu; menegakkan keadilan dengan cara hidup dalam kebenaran; membela hak orang lemah/tertindas; dan dapat berespon dengan benar saat diperlakukan tidak adil.

Kita tidak mampu hidup dalam prinsip keadilan Tuhan tanpa pertolongan Roh Kudus. Oleh sebab itu, minta Roh Kudus menuntun dan memberi hikmat ilahi dalam menilai dan meresponi segala sesuatu, agar kita mendapatkan perkenanan, pembelaan, berkat dan upah yang kekal dari Tuhan.

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 1)

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 1)

PENDAHULUAN

ALLAH itu Benar dan Adil. Keadilan Allah adalah sifat/karakter yang mendasari segala hukum/peraturan, hikmat, jalan/tindakan, keputusan serta penghakiman-Nya. Keadilan-Nya tidak memihak, tidak bercela, tidak ada kecurangan, dan akan menghakimi segala sesuatu berdasarkan kebenaran. Kita perlu belajar memahami keadilan Allah agar dapat meresponinya dengan benar dalam hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

ISI

Keadilan manusia vs keadilan Allah

Konsep keadilan Allah berbeda dengan keadilan manusia/dunia. Keadilan manusia berpusat pada diri sendiri (self-centered) dan mementingkan diri sendiri. Keadilan manusia  cenderung dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti apa yang terlihat, emosi/perasaan, prasangka, pengalaman, hikmat dunia dan keterbatasan pengetahuan.

Kata keadilan dalam Alkitab Bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata   justice  dan  righteousness. Keadilan Allah bersifat mutlak, sempurna, sesuai dengan standar kebenaran yang tidak pernah berubah-ubah. Keadilan Allah berpusat kepada Pribadi-Nya yang maha pengasih dan penyayang, adil dan benar, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.  Keadilan ini menekankan pada konsep anugerah, kemurahan hati/belas kasihan serta prinsip Kerajaan Allah yang benar, adil, lurus dan tidak ada kecurangan. Alkitab menuntun kita untuk mengejar/menegakkan keadilan, terutama dalam hubungan antar manusia khususnya kepada mereka yang lemah, miskin dan tertindas.

Dalam Matius 20:1-16, Tuhan Yesus mengajarkan tentang prinsip keadilan dalam Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan ini, seorang tuan tanah menyewa para pekerja untuk bekerja di ladang anggurnya sepanjang hari. Ada yang mulai bekerja pada waktu pagi-pagi benar, kemudian pukul 9 pagi, 12, 3 dan 5 petang. Sebelumnya tuan rumah mengadakan kesepakatan tentang upah yang akan mereka terima, yaitu satu dinar. Pada malam hari, tuan rumah membayar upah para pekerja dengan jumlah yang telah disepakati bersama, tanpa memperhitungkan berapa lama mereka telah bekerja.

Hal yang dapat kita pelajari tentang prinsip keadilan Allah melalui perumpamaan ini:

1. Kemurahan hati dan keadilan Allah melampaui pengetahuan serta pemahaman manusia.

Upah yang sama yang diterima oleh semua pekerja adalah gambaran anugerah keselamatan yang Allah beri kepada semua orang yang mau percaya kepada Yesus, tanpa memandang berapa lama seseorang telah menjadi Kristen dan melayani pekerjaan Tuhan. Keselamatan adalah kemurahan Allah semata, bukan hasil dari usaha,  prestasi atau perbuatan baik manusia (baca Roma 9:13-16 dan Efesus 2:8-9). Kalau kita dimampukan mengerjakan keselamatan kita, itu pun merupakan anugerah kasih karunia karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12-13).

Meski seperti terlihat tidak adil menurut perspektif manusia, tapi lewat perumpamaan ini Tuhan mengajarkan bahwa keadilan dan kemurahan hati Allah melampaui pengetahuan, pemahaman serta pertimbangan manusia. Allah adalah Hakim yang akan mengadili apa yang terlihat maupun yang tersembunyi dengan adil dan benar menurut hukum kasih. Kita yang telah menerima kemurahan Allah harus belajar meneruskan kemurahan hati itu kepada orang lain.  Kemurahan hati mencerminkan sifat Allah yang penuh kasih, suka memberi dan mengampuni. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan (Matius 5:7).

2. Miliki sikap/motivasi hati yang benar.

Sang tuan rumah menyoroti dengan tepat apa sebenarnya yang menjadi sikap hati mereka yang merasa diperlakukan tidak adil. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Matius 20:15).

Iri hati bersumber pada ketidakpercayaan kepada Allah dan akan kasih serta kebaikan hati-Nya.

Sikap hati membanding-bandingkan memicu iri hati yang akan diikuti emosi negatif lainnya seperti mengeluh, tidak pernah puas, menghakimi, self-pity, mental korban, menyalahkan, kebencian, perpecahan, dlsb. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Meski tidak terlihat, iri hati merupakan racun yang sangat mematikan. Kejatuhan dan kehancuran hidup Kain, raja Saul, Haman berawal dari benih iri hati. Iri hati menjauhkan kita dari berkat, upah dan perkenanan Tuhan.

Dalam memberi upah, Allah bukan melihat hasil pekerjaan atau prestasi kita, melainkan sikap/motivasi hati kita dalam melakukan segala sesuatu.

Betapa liciknya hati,  lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati,  yang menguji batin,  untuk memberi balasan  kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya (Yeremia 17: 9-10).

REFLEKSI DIRI: Apa yang akan saudara lakukan agar tidak terjebak dalam dosa iri hati?

Meskipun manusia mengukur keadilan berdasarkan upaya serta hasil yang terlihat, namun ukuran keadilan Allah dalam memberi balasan tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut. Bagi Allah yang terpenting adalah motivasi hati yang benar (yaitu mengasihi Tuhan), kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya.  Segera tolak benih iri hati, stop membanding-bandingkan, sebaliknya ucapkan syukur. Jangan sampai semua jerih payah kita menjadi sia-sia karena memiliki motivasi hati yang keliru. Waspadai sikap hati kita, minta pertolongan Roh Kudus untuk menyingkapkan keadaan yang sebenarnya, supaya kita mendapatkan perkenanan, pembelaan, berkat dan upah yang kekal dari Tuhan.

Bersambung minggu depan…

TUHAN ITU ADIL – bagian 2

TUHAN ITU ADIL – bagian 2

(Monthly Theme : Sacred balance of GOD)

Sekilas review:

Allah tidak hanya bersifat adil tapi juga murah hati. Di satu sisi, keadilan Allah akan menghakimi dan menuntut penghukuman atas setiap pelanggaran, di sisi lain sifat-Nya yang murah hati menjadi solusi dan harapan bagi umat manusia untuk diselamatkan dari belenggu dosa, kutuk dan kebinasaan kekal.

Sambungan minggu ini:

Allah tidak kompromi dengan dosa, tapi IA memberi jalan keluar bagi manusia berdosa yang mau bertobat melalui iman kepada Yesus Kristus.

Contoh:

  • seorang wanita kedapatan berzinah yang dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus. Tuhan tidak menghukum wanita tersebut melainkan memberi anugerah pengampunan dan arah hidup yang baru kepadanya

”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang “ (Yohanes 8:11).

  • Zakheus pemungut cukai yang mau bertobat saat berjumpa dengan Yesus. Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini..” (Lukas 19:8-9a).

Perlu diperhatikan bahwa keadilan dan kasih karunia Allah harus didudukkan dalam perspektif yang benar. Bagaimana seharusnya kita meresponi Keadilan/Penghukuman vs Kemurahan/Kasih karunia Allah?

  1. Kita tidak lagi hidup di dalam penghukuman.

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1).

Kita yang sudah percaya kepada Kristus tidak perlu hidup dalam ketakutan, sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan  kita dari hukum dosa dan hukum maut. Jika kita menyerahkan diri untuk dipimpin Roh Kudus, maka kita tidak berjalan dalam penghukuman melainkan dalam hukum Kasih Karunia.

Kita masih saja bisa berbuat kesalahan/dosa, tapi bila kita mengaku dosa dan bertobat (segenap hati berbalik kepada Allah), maka Roh Kudus (disebut juga Roh Kasih Karunia) akan memampukan kita untuk taat melakukan kehendak Allah dan hidup dalam kebenaran-Nya.

Jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka Allah adalah adil dan setia, Ia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita (1 Yohanes 1:9-10).

Orang yang terus berjalan dalam ketaatan dengan pertolongan kasih karunia Allah, akan menuai buah-buah kebenaran, kekudusan, berkat dan hidup kekal.

  1. Jangan menyalahgunakan kasih karunia.

Kita tidak boleh pandang enteng, menyalahgunakan atau menyia-nyiakan kasih karunia-Nya yang mulia dengan terus hidup dalam dosa, ketidaktaatan, atau dengan cara hidup yang seenaknya (hyper-grace). Di mana dosa bertambah banyak di sana pula kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Roma 5:20). Artinya kekuatan kasih karunia menjadi nyata justru di saat kita melakukan kesalahan/berbuat dosa.  Saat kita lemah dan jatuh dalam dosa, kasih karunia menolong kita untuk menyadari kelemahan/kesalahan tersebut, untuk bertobat, dan tidak melakukannya lagi.

Kasih karunia memampukan kita untuk menolak dosa dan hidup dalam kebenaran serta kekudusan. Miliki roh yang takut akan Tuhan, hiduplah dalam pertobatan dan kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar/sungguh-sungguh.

  1. Hiduplah dengan rasa syukur dan hati yang mengasihi Tuhan.

Rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan anugerahkan seharusnya menjadi motivasi kita untuk mengasihi DIA. Barangsiapa mengasihi Allah, ia akan menuruti perintah-perintah-Nya. Hidup dalam kebenaran dan ketaatan bukan karena terpaksa atau karena ‘ketakutan’ kepada Allah, melainkan karena kita mengasihi Yesus Kristus yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

PENUTUP

Hendaklah di masa yang penuh goncangan ini kita makin sungguh-sungguh dengan Tuhan. Masa seperti ini menjadi kesempatan bagi setiap kita untuk bertumbuh dalam iman dan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Goncangan akan membawa pemisahan antara lalang dan gandum. Oleh sebab itu di tahun penuaian ini, perhatikan apa yang kita tabur.

Allah itu Hakim yang adil, Ia akan mengganjar setiap orang sesuai dengan perbuatannya  – apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Menabur dalam daging, akan menuai murka Allah dan kebinasaan. Menabur kebenaran/menabur dalam Roh, akan menuai berkat dan kehidupan. Yang akan tergoncangkan adalah mereka yang menabur dalam daging, yang tidak tergoncangkan adalah mereka yang menabur dalam Roh.

TUHAN ITU ADIL

TUHAN ITU ADIL

Bulan lalu kita belajar tentang bagaimana mengelola tanah hati supaya tidak keras melainkan menjadi tanah hati yang subur. Bagi kebanyakan orang, goncangan merupakan bentuk peringatan dan penghakiman Tuhan supaya umat manusia merendahkan hati, bertobat dari dosa/kejahatannya dan berbalik kepada-Nya.

Bagi kita orang percaya, goncangan yang saat ini terjadi dipakai Tuhan untuk mendidik/mendisiplinkan kita supaya memiliki tanah hati yang subur dan memurnikan iman kita. Untuk itu Allah akan menggoncangkan apa yang dapat digoncangkan, supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan (Ibrani 12:27).

MENGENALI KEADILAN TUHAN
Alkitab mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Allah benci akan dosa/kejahatan; IA menyatakan murka-Nya terhadap segala bentuk kefasikan. Dalam keadilan-Nya, Allah harus menghukum semua orang berdosa dengan penghukuman kekal, …sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23a).

Jika demikian beratnya tuntutan keadilan Allah, maka semua manusia pasti akan binasa akibat dosa. Namun karena belas kasihNya (mercy), “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9b).

Keadilan vs Kemurahan / Penghukuman vs Kasih karunia (Justice vs Mercy / Judgment vs Grace)
Allah tidak hanya bersifat adil tapi IA juga bersifat murah hati. Di satu sisi, keadilan Allah akan menghakimi dan menuntut penghukuman setiap pelanggaran, di sisi lain sifat-Nya yang murah hati menjadi solusi dan harapan bagi umat manusia untuk diselamatkan dari belenggu dosa, kutuk dan kebinasaan kekal. Allah membenci dosa tapi menunjukkan belas kasihan terhadap orang berdosa yang mau bertobat.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yohanes 3:14-17).

Seperti Musa meninggikan ular tembaga (Bilangan 21:4-9), demikian pula Yesus harus ditinggikan di atas kayu salib agar setiap orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan. Ular tedung dari tembaga adalah simbol dari penghukuman Allah atas dosa pemberontakan manusia (di mana Allah menghukum bangsa Israel yang memberontak terhadap-Nya dengan melepaskan ular-ular tedung ke antara mereka).

Peninggian ular tembaga di atas tiang menunjukkan bahwa dosa dan hukuman manusia telah ditanggung oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib; sehingga barangsiapa yang percaya kepada-Nya melalui iman akan diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan karena usaha perbuatan baik manusia, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah (grace) melalui iman kepada Yesus Kristus (Efesus 2:8-9).

Belas kasihan (mercy) adalah saat kita tidak menerima hukuman yang pantas kita terima. Kasih karunia (grace) adalah ketika kita menerima kebaikan yang tidak layak kita terima.

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita (Mazmur 103:8-12).

Ayat di atas merupakan neraca kasih Allah yang menyatakan sifat keadilan-Nya yang menuntut penghukuman atas dosa dan pelanggaran, sekaligus menyatakan kemurahan hati-Nya yang tidak membalas setimpal dengan dosa kita melainkan menjauhkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat. Allah adalah pengasih dan penyayang; IA tahu dan memahami bahwa manusia begitu lemah dan sarat dengan keinginan-keinginan yang mencelakakan dirinya sendiri.

Di mana ada keadilan Allah, di situ pula kasih karunia-Nya dinyatakan. Itu sebabnya tuntutan keadilan Allah digenapi sepenuhnya dengan menimpakan segenap murka-Nya akan dosa kepada Kristus, dan kemurahan-Nya yang membawa keselamatan dilimpahkan kepada semua orang berdosa yang mau percaya kepada Kristus.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita , dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yesaya 53:5).

Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus (Roma 5:16-17).

Allah tidak kompromi dengan dosa, tapi IA memberi jalan keluar bagi manusia berdosa lewat Yesus Kristus. Contoh: wanita yang kedapatan berzina yang dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus. Tuhan tidak menghukum wanita tersebut melainkan memberi anugerah pengampunan dan arah hidup yang baru kepadanya…”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang “ (Yohanes 8:11).

Keadilan dan kasih karunia Allah harus didudukkan dalam perspektif yang benar. Bagaimana sikap yang benar dalam meresponi Keadilan/Penghukuman vs Kemurahan/Kasih karunia Allah?

1. Kita tidak hidup di dalam penghukuman.
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1).
Jika sudah percaya kepada Kristus, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan, sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Jika kita menyerahkan diri untuk berjalan dipimpin Roh Kudus, maka kita tidak berjalan dalam penghukuman melainkan dalam hukum Kasih Karunia.

Artinya walaupun kita masih saja bisa bikin kesalahan, tapi jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka kasih karunia Allah menolong kita untuk taat melakukan kehendak Allah dan hidup dalam kebenaranNya.

Jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka Allah adalah adil dan setia, Ia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita (1 Yohanes 1:9-10). Jika kita terus berjalan dalam ketaatan dengan pertolongan kasih karunia Allah, maka kita akan menuai buah-buah kebenaran, kekudusan, berkat dan hidup kekal.

2. Jangan menyalahgunakan kasih karunia.
Kita tidak boleh pandang enteng, menyalahgunakan atau menyia-nyiakan kasih karunia-Nya yang mulia dengan terus hidup dalam dosa, ketidaktaatan, atau dengan cara hidup yang seenaknya (hyper-grace). Milikilah roh yang takut akan Tuhan, hiduplah dalam pertobatan dan kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar.

3. Hiduplah dengan rasa syukur dan hati yang mengasihi Tuhan.
Rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan beri seharusnya memotivasi kita untuk mengasihi DIA. Barangsiapa mengasihi Allah, ia akan menuruti perintah-perintah-Nya. Kita menaati Tuhan bukan karena terpaksa atau dengan rasa ketakutan, tapi karena mengasihi DIA yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

PENUTUP
Goncangan yang terjadi di masa-masa ini akan membawa pemisahan antara lalang dan gandum. Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan; di tahun Penuaian ini, apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Jika kita menabur dalam daging akan menuai kebinasaan; jika menabur dalam Roh akan menuai berkat dan kehidupan. Yang tidak tergoncangkan adalah mereka yang menabur dalam Roh.

BERSERU DALAM IMAN

BERSERU DALAM IMAN

PENDAHULUAN

Selain berlaku jujur tentang semua yang kita pikir atau rasakan waktu mengalami pergumulan, kita perlu berseru kepada Tuhan dalam iman. Firman Tuhan mengatakan tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa IA memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya (Ibrani 11:6).

ISI

Dalam doa saat menghadapi pergumulan, raja Daud mengungkapkan semua kesesakannya dengan ratap tangis. Ia tidak menyangkali perasaan-perasaan negatif yang dialaminya, bahkan  kesalahannya pun tidak dia sembunyikan dari Tuhan (Mazmur 32:5). Kejujurannya di hadapan Tuhan  membawa kepada pemulihan hati dan jiwa. Inilah yang membuat Daud kuat bertahan dan tidak tawar hati.  Iman dan harapannya kepada Tuhan kembali bangkit.

Walaupun pergumulannya masih tetap ada, tetapi respon Daud terhadap pergumulannya jadi berubah. Melalui doa, Daud diingatkan akan semua kebaikan yang telah dinikmatinya sejak masa muda sampai saat itu: waktu Tuhan  memampukan dia mengalahkan singa dan beruang yang datang menerkam kawanan dombanya; waktu ia diangkat sebagai raja menggantikan Saul,  menang atas Goliat, diluputkan dari usaha pembunuhan yang dilakukan Saul dan para musuhnya, diberikan orang-orang hebat dan loyal dalam pemerintahannya, menang atas perang-perang besar, menaklukkan kerajaan-kerajaan,  dan masih banyak lagi.

Tuhan menerangi mata hatinya sehingga dia bisa tetap melihat kehadiran/penyertaan Tuhan di dalam lembah kekelamannya; bahwa Allah tidak pernah meninggalkan atau menyembunyikan wajah-Nya dari orang yang sungguh-sungguh berseru kepada-Nya. Daud menambatkan imannya  kepada kekuatan kasih setia Allah yang jauh lebih besar dari pada hidupnya. Iman seperti ini mengubah keluh kesahnya menjadi doa yang penuh kuasa.

Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau (Mazmur 63: 4).

Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu, terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku” (Mazmur 17:7-9).

Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Doa yang berkuasa adalah doa yang dilakukan dengan iman secara intens, gigih, bersungguh-sungguh, dan bergairah (fervent prayer).  Selain itu doa  yang berkuasa adalah doa yang sesuai dengan firman/kehendak Allah, yang didoakan dalam pimpinan Roh Kudus. Doa yang berkuasa adalah saat kita berserah penuh (bukan masa bodoh), di mana kita melepaskan kendali atas situasi dan menyerahkan semuanya kepada kedaulatan Allah. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak(Mazmur 37:5). Menyerahkan hidup kita seutuhnya merupakan tindakan iman, bukan hasil dari perhitungan yang matang ataupun pemikiran yang panjang serta pertimbangan duniawi semata.

Doa bukan hanya soal mengajukan sederet permohonan dan mendapatkan jawaban, tetapi soal mempercayai karakter Tuhan sepenuhnya.

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu (Mazmur 13:6a). Keputusan untuk percaya kepada kasih setia Tuhan merupakan titik balik yang membangkitkan iman kita kepada Allah; ini adalah iman yang penuh kemurnian dan ketulusan.

Jangan berfokus pada diri sendiri, orang lain serta fakta/keadaan yang ada. Arahkan mata kepada Kristus yang penuh dengan kasih karunia. Belajar untuk menambatkan iman bukan pada keadaan, pikiran/pengertian, perasaan ataupun kehendak sendiri, tetapi pada Firman Tuhan dan karakter Nya.“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Berkat datang bukan dari kekuatan akal/logika, melainkan dari kepercayaan penuh kepada Tuhan.

Berdoa bukan hanya soal memohon perubahan situasi di luar diri kita. Lebih dari itu, doa mengubah cara pandang kita dan merupakan “bahan bakar rohani” yang memampukan kita untuk tetap kuat, bertahan, dan melangkah maju di tengah kesesakan hidup (Matius 11:28).

Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita melalui doa : terang Tuhan membuat kita bisa melihat area yang gelap dalam hati dan jiwa; kita bertobat dari dosa/pelanggaran; cara pandang diri sendiri diubah menjadi cara pandang Tuhan; hati yang keras dilembutkan; batin yang luka dipenuhi oleh kasih Bapa (dipulihkan); keluhan berubah menjadi permohonan; beban berat menjadi kelegaan; keraguan menjadi percaya; dukacita menjadi sukacita (sukacita  bukan berasal dari perasaan tapi dari kebenaran firman), dan putus asa berubah menjadi harapan.

Proyek ketaatan :

Waktu ada kesempatan untuk berdoa/deklarasi bersama-sama: setiap kita berdoa dengan suara nyaring agar Tuhan “menerangi mata hati” di area hidup kita yang terasa gelap.

PENUTUP

Tidak salah bila kita mengungkapkan perasaan dengan menangis di hadapan Allah, namun waspadai jangan sampai kita jadi mengasihani diri sendiri (self-pity) atau mengenakan mental korban (victim mentality). Perlu dipahami bahwa yang menggerakkan Allah berkarya atas keadaan kita bukanlah tangisan, melainkan iman.

Di dalam keadaan apapun terutama saat menghadapi pergumulan atau kesesakan,  berlakulah jujur dan tulus di hadapan Tuhan, berserulah dengan iman yang ditambatkan kepada karakter dan kehendak-Nya. Berdoalah dengan tak jemu-jemu, lakukan dengan sungguh-sungguh, gigih, dan tekun.

MEMILIH UNTUK TETAP PERCAYA SAAT TUHAN DIAM ATAU TERASA JAUH

MEMILIH UNTUK TETAP PERCAYA SAAT TUHAN DIAM ATAU TERASA JAUH

PENDAHULUAN

Setiap kita pernah atau sedang mengalami pergumulan dan merasa Tuhan seolah diam dan terasa jauh padahal kita sudah mengucap syukur, memuji menyembah Tuhan, berdoa, deklarasi iman, dsb. Pendeknya kita ada dalam titik iman terendah, terlemah karena merasa Allah sengaja meninggalkan kita. Lalu bagaimana seharusnya respon yang benar supaya kita tetap kuat bertahan dan tidak menjadi tawar hati?

ISI

Mari belajar dari seseorang yang memiliki keintiman dengan Tuhan; yang kesukaannya merenungkan firman serta memuji menyembah DIA, yaitu raja Daud. Alkitab mencatat bahwa raja Daud memiliki kehidupan yang sarat dengan masalah dan pergumulan baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan pemerintahannya. Sebagai manusia biasa, ia juga merasa begitu tertekan dalam menghadapi badai persoalan yang datang silih berganti. Namun demikian keintimannya dengan Tuhan membuat dia berani berperkara dengan Allah dengan cara mencurahkan seluruh isi hatinya seperti yang ditulis dalam Mazmur 13.

Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku  terus-menerus ? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku,  dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? (Mazmur 13:2-3).

Mazmur 13 merupakan doa berupa ungkapan kesesakan hati yang jujur dari raja Daud atas pergumulan hidupnya. Dalam ketidakmengertiannya, Daud merasa Tuhan sengaja menyembunyikan diri justru di saat ia sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Belajar dari raja Daud, kita pun bisa mengungkapkan semua pikiran, perasaan/emosi yang bergejolak dan kerinduan hati terdalam dengan jujur kepada Tuhan. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat mengalami tekanan, kita bisa dilanda beragam emosi negatif seperti kecemasan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, frustasi, kelelahan mental, merasa ditinggalkan, hingga perasaan putus asa.

Pengalaman raja Daud ini mengajar bahwa mengungkapkan kesedihan dan frustrasi kepada Tuhan adalah tindakan yang alkitabiah. Reaksi emosional yang kurang sehat dan perlu dihindari adalah tidak berlaku jujur terhadap apa yang dirasakan/menyangkali perasaan kita. Ini menyebabkan perasaan semakin tertekan, dan sebagai pelampiasannya kita akan berusaha mengatasi perasaan yang tertekan itu dengan mencari hal-hal  yang duniawi guna membalut luka hati, menutupi rasa bersalah, atau untuk mengisi kekosongan jiwa dan perasaan kesepian.

Pertanyaan Diskusi :

Pernahkah Anda merasa sepertinya Tuhan jauh atau melupakan kita? Mengapa penting membawa emosi kita kepada-Nya?

Manfaat dari mengakui/ mengungkapkan semua pikiran, perasaan dan isi hati yang terdalam kepada Tuhan :

  • beban emosional kita terlepas,
  • pikiran yang gelap diterangi oleh firman Tuhan sehingga kita jadi memahami diri sendiri, keadaan yang terjadi, dan orang lain,
  • kita bisa melihat kasih setia Tuhan yang jauh melebihi pergumulan kita, serta mengerti kehendak-Nya melalui semua yang terjadi – mengerti bahwa justru dalam kelemahan kita, kasih karunia Allah menjadi sempurna.
  • cara pandang kita diubah menjadi cara pandang Tuhan dalam melihat segala sesuatu,
  • terjadi transformasi hati karena mengalami pemulihan,
  • iman percaya kita dibangun dan didewasakan, karakter kita diubahkan semakin menyerupai Kristus.

Proyek ketaatan :

Tulislah journal/surat doa pribadi kepada Tuhan yang mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya. Jujurlah seperti Daud di kitab Mazmur 13.

Sebelum raja Daud percaya kepada firman/janji Allah, ia terlebih dulu mengenal sifat karakter Allah yang baik dan berlimpah kasih setia. Demikian pula kita, mari belajar mengenal karakter Tuhan agar dapat memercayai janji firman-Nya. Memilih untuk tetap percaya saat Tuhan seolah diam/tidak menolong dan meninggalkan kita.

Orang benar harus hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Kor. 5:7); bukan pula dipimpin oleh pikiran dan perasaan. Pikiran dan logika menuntut bukti yang terlihat, perasaan menuntut untuk dipuaskan. Kita punya kecenderungan ingin memahami segalanya atau melihat bukti terlebih dahulu baru percaya; tetapi Tuhan mau supaya kita untuk percaya lebih dulu, mengalami, baru mengerti. Iman yang sejati berjalan dalam kepercayaan, bukan dalam bukti atau pemahaman yang sempurna. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6)

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9). Ayat ini mengajar kita bahwa  pikiran Tuhan jauh lebih tinggi dari pikiran kita. Percaya berarti tunduk kepada kebijaksanaan ilahi yang melebihi logika manusia.

PENUTUP

Saat berada dalam pergumulan dengan titik iman terendah dan emosi yang bergejolak, respon yang paling bijak adalah mengungkapkan seluruh pikiran, perasaan dan kerinduan hati yang terdalam di hadapan Tuhan dengan jujur. Menyangkali perasaan justru membuat kita semakin tertekan dan berusaha mencari pelampiasan dengan hal/cara yang keliru. Dengan berlaku jujur, Tuhan akan memulihkan hati dan jiwa kita. Sekalipun masih berada di tengah pergumulan, tapi hati dan jiwa yang dipulihkan menjadikan kita kuat bertahan sebab hidup karena percaya akan janji Tuhan, bukan karena melihat.

Baca janji Tuhan dalam Ulangan 31:6, Yosua 1:5 dan Ibrani 13:5.

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN

PENDAHULUAN

Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan. Bagi orang percaya, penderitaan menuntut respon yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud dan rencana Tuhan. Respon yang tepat terhadap penderitaan membawa kita mengalami kuasa Tuhan  dan menikmati kemenangan.

ISI

Penderitaan membawa kita kepada penyembahan yang lebih dalam karena keyakinan penuh bahwa Tuhan itu ada. “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:19).

Berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui supaya dapat meresponi penderitaan dengan benar:

  1. Tuhan tidak membuang rasa sakit/penderitaan melainkan mengijinkan kita melewatinya.

Penyembahan yang paling tulus dan murni justru dihasilkan saat kita berada dalam lembah kekelaman dan penderitaan. Pujian sejati bukan lahir dari kenyamanan atau keadaan sedang baik-baik saja, tapi dari ‘trust’/kepercayaan yang dalam kepada-Nya saat kita menghadapi pergumulan atau hati yang terluka. Tidak perlu menyangkali penderitaan yang sedang dialami; kita boleh saja mengungkapkan isi hati serta perasaan dengan jujur kepada Tuhan disertai rasa hormat dan ucapan syukur. Ucapan syukur membangkitkan iman dan pengharapan kepada Allah.

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,  tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).

Memuji menyembah saat menghadapi pergumulan merupakan tanda kerendahan hati yang mengakui kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Inti dari pujian dan penyembahan kita bukanlah pergumulan yang kita alami, keadaan diri kita atau apa yang Tuhan bisa buat. Esensi dari pujian dan penyembahan kita adalah Pribadi Tuhan sendiri: IA layak dipuji dan disembah oleh seluruh ciptaan-Nya.

Kepada TUHAN,  hai suku-suku bangsa,  kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!  Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!  Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan,  gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! (Mazmur 96:7-9).

Refleksi:
Mari kita belajar/melatih diri untuk memuji  dan menyembah Tuhan bukan karena keadaan sedang baik-baik saja, tetapi karena mengenal siapa Dia.

  1. Pujian bisa mengubah keadaan tapi terlebih dahulu mengubah perspektif kita.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN ,  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  (Habakuk 3:17–19).

Pujian merupakan keputusan iman yang dewasa, bukan reaksi emosi. Nabi Habakuk memilih untuk memuji Tuhan di tengah kekosongan dan kekeringan, karena sukacitanya berakar pada Tuhan, bukan pada situasi atau apa yang dia miliki. Pergumulan yang jujur dengan Allah menghasilkan transformasi hati yang mendalam. Saat memuji menyembah, kita bisa melihat segala sesuatu dengan mata rohani dan bukan sekadar realita dunia. Pujian dan penyembahan membawa kita berjalan dalam dimensi roh dan melihat dengan perspektif/cara pandang Tuhan.

Rasul Paulus menghadapi banyak kesulitan, tetapi ia percaya bahwa apa yang tidak kelihatanlah yang bertahan sampai kepada kekekalan. Ia mengatakan bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini akan menghasilkan “kemuliaan kekal”. Oleh karena itu, ia tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang “tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:17-18).

Beberapa contoh Deklarasi Iman:

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku (Mazmur 13:5-6).

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku,  takkan kekurangan aku (Mazmur 23:1).

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,  tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!  “TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:22-24).

  1. Pujian mengundang hadirat dan kuasa Allah.

“Namun Engkau adalah Yang Kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian Israel.” (Mazmur 22:4)

Memuji Tuhan saat keadaan baik-baik saja tentu mudah; tetapi jika sedang dalam penderitaan atau hati terluka, pujian  penyembahan kita menjadi sesuatu yang mahal dan berbau harum di hadapan-Nya karena lahir dari iman yang tulus, murni, dewasa dan berakar dalam kasih. Saat memilih untuk merendahkan hati dengan memuji-muji Tuhan di tengah pergumulan dan rasa sakit, kita sedang membangun takhta bagi DIA untuk berkarya atas situasi kita.

Mari belajar meresponi penderitaan dari raja Yosafat saat menghadapi musuh dalam 2 Tawarikh 20: 3a : Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan…

Saat memutuskan untuk mencari Tuhan dan memuji-muji  Dia, kita sedang menyerahkan segala pergumulan kita kepada Tuhan dan Dia yang akan berperang ganti kita.

“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh (2 Tawarikh 20:22-23).

Yosafat mengajarkan kita strategi dalam menanggapi kabar buruk. Ada empat hal yang dia lakukan yaitu : berseru dalam doa, berpuasa, meminta strategi perang dari Tuhan dan menaikkan puji-pujian bagi Allah di tengah gempuran musuh.

Pujian adalah senjata rohani yang mengubah atmosfer dan membuka pintu surga untuk mengintervensi keadaan kita. Pujian mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang besar, hebat, ajaib/pembuat mukjizat, berdaulat atas segala sesuatu; Allah yang tidak bisa dibatasi oleh apapun/siapapun, setia, penuh kasih, serta mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Dengan memuji-muji Tuhan, iman kita semakin dibangun/diteguhkan.

Saat dalam pergumulan, tekanan, hati terluka dan merasa seolah Tuhan tidak bertindak, beresponlah dengan benar. Jangan mengasihani diri sendiri, menyalahkan dan patah semangat. Berhati-hatilah dengan perkataan kita, jangan bersungut-sungut seperti yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun. Allah sangat tidak menyukai perilaku yang bersungut-sungut dan tidak tahu bersyukur.

Jangan pula mencoba mencari solusi dengan kekuatan dan pengertian sendiri, tapi ambil keputusan untuk mencari hadirat Tuhan dan tuntunan-Nya.  Berobatlah jika ada hal yang Roh Kudus ingatkan untuk kita bertobat dan lakukan pemberesan.

Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan membawa kita bisa melihat penderitaan dari perspektif ilahi. Ada maksud dan tujuan Tuhan di dalam setiap musim hidup kita. Setiap penderitaan atau luka hati memiliki peluang untuk membuat kita semakin dewasa, semakin mengenal keterbatasan dan kelemahan diri sendiri, semakin mengenal Allah, sifat-sifat-Nya dan makin mengandalkan DIA.

Penderitaan/pergumulan membawa kita hidup dalam rencana Allah, sementara zona nyaman membuat kita  sibuk dengan agenda/keinginan pribadi, sarat dengan hawa nafsu kedagingan, menjadi suam dan melupakan Tuhan. Iman yang tidak bertumbuh membuat kita menjadi buta dan picik, lupa bahwa kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. IA mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10).

PENUTUP

Rasa sakit dan tekanan bukan menjadi penghalang untuk kita memuji Tuhan – justru itulah jalan menuju penyembahan yang sejati. Dari salib menuju kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa pujian tetap naik di tengah penderitaan, dan kemenangan akan datang setelahnya.

Berserulah kepada Tuhan dengan iman  yang tulus dan murni melalui doa, pujian, penyembahan serta deklarasi iman. Ubah ratapan menjadi pujian supaya hadirat Tuhan masuk ke dalam badai hidup kita.  Hadirat Tuhan pasti disertai dengan karya-karya-Nya yang ajaib dan tak terduga (1 Korintus 2:9).

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN (bagian 2)

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Penderitaan menuntut respon yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud/ rencana Tuhan serta membawa kita mengalami kuasa-Nya  dan menikmati kemenangan yang telah disediakan.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui supaya dapat meresponi penderitaan dengan benar:

  1. Tuhan tidak membuang rasa sakit/penderitaan melainkan mengijinkan kita melewatinya.
  2. Pujian bisa mengubah keadaan, tapi terlebih dahulu mengubah perspektif kita.

Sambungan minggu ini:

  1. Pujian mengundang hadirat dan kuasa Allah.

“Namun Engkau adalah Yang Kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian Israel.” (Mazmur 22:4)

Memuji Tuhan saat keadaan baik-baik saja tentu mudah; tetapi jika sedang dalam penderitaan atau hati terluka, pujian  penyembahan kita menjadi sesuatu yang mahal dan berbau harum di hadapan-Nya karena lahir dari iman yang tulus, murni, dewasa dan berakar dalam kasih. Saat memilih untuk merendahkan hati dengan memuji-muji Tuhan di tengah pergumulan dan rasa sakit, kita sedang membangun takhta bagi DIA untuk berkarya atas situasi kita.

Mari belajar meresponi penderitaan dari raja Yosafat saat menghadapi musuh dalam 2 Tawarikh 20: 3a : Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan…

Saat memutuskan untuk mencari Tuhan dan memuji-muji  Dia, kita sedang menyerahkan segala pergumulan kita kepada Tuhan dan Dia yang akan berperang ganti kita.

“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh (2 Tawarikh 20:22-23).

Yosafat mengajarkan kita strategi dalam menanggapi kabar buruk. Ada empat hal yang dia lakukan yaitu : berseru dalam doa, berpuasa, meminta strategi perang dari Tuhan dan menaikkan puji-pujian bagi Allah di tengah gempuran musuh.

Pujian adalah senjata rohani yang mengubah atmosfer dan membuka pintu surga untuk mengintervensi keadaan kita. Pujian mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang besar, hebat, ajaib/pembuat mukjizat, berdaulat atas segala sesuatu; Allah yang tidak bisa dibatasi oleh apapun/siapapun, setia, penuh kasih, serta mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Dengan memuji-muji Tuhan, iman kita semakin dibangun/diteguhkan.

Saat dalam pergumulan, tekanan, hati terluka dan merasa seolah Tuhan tidak bertindak, beresponlah dengan benar. Jangan mengasihani diri sendiri, menyalahkan dan patah semangat. Berhati-hatilah dengan perkataan kita, jangan bersungut-sungut seperti yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun. Allah sangat tidak menyukai perilaku yang bersungut-sungut dan tidak tahu bersyukur.

Jangan pula mencoba mencari solusi dengan kekuatan dan pengertian sendiri, tapi ambil keputusan untuk mencari hadirat Tuhan dan tuntunan-Nya.  Berobatlah jika ada hal yang Roh Kudus ingatkan untuk kita bertobat dan lakukan pemberesan.

Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan membawa kita bisa melihat penderitaan dari perspektif ilahi. Ada maksud dan tujuan Tuhan di dalam setiap musim hidup kita. Setiap penderitaan atau luka hati memiliki peluang untuk membuat kita semakin dewasa, semakin mengenal keterbatasan dan kelemahan diri sendiri, semakin mengenal Allah, sifat-sifat-Nya dan makin mengandalkan DIA.

Penderitaan/pergumulan membawa kita hidup dalam rencana Allah, sementara zona nyaman membuat kita  sibuk dengan agenda/keinginan pribadi, sarat dengan hawa nafsu kedagingan, menjadi suam dan melupakan Tuhan. Iman yang tidak bertumbuh membuat kita menjadi buta dan picik, lupa bahwa kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. IA mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10).

PENUTUP

Rasa sakit dan tekanan bukan menjadi penghalang untuk kita memuji Tuhan – justru itulah jalan menuju penyembahan yang sejati. Dari salib menuju kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa pujian tetap naik di tengah penderitaan, dan kemenangan akan datang setelahnya.

Berserulah kepada Tuhan dengan iman  yang tulus dan murni melalui doa, pujian, penyembahan serta deklarasi iman. Ubah ratapan menjadi pujian supaya hadirat Tuhan masuk ke dalam badai hidup kita.  Hadirat Tuhan pasti disertai dengan karya-karya-Nya yang ajaib dan tak terduga (1 Korintus 2:9).

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN (bagian 1)

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN (bagian 1)

PENDAHULUAN

Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan. Bagi orang percaya, penderitaan menuntut respon yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud dan rencana Tuhan. Respon yang tepat terhadap penderitaan membawa kita mengalami kuasa Tuhan  dan menikmati kemenangan.

ISI

Penderitaan membawa kita kepada penyembahan yang lebih dalam karena keyakinan penuh bahwa Tuhan itu ada. “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:19).

Berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui supaya dapat meresponi penderitaan dengan benar:

  1. Tuhan tidak membuang rasa sakit/penderitaan melainkan mengijinkan kita melewatinya.

Penyembahan yang paling tulus dan murni justru dihasilkan saat kita berada dalam lembah kekelaman dan penderitaan. Pujian sejati bukan lahir dari kenyamanan atau keadaan sedang baik-baik saja, tapi dari ‘trust’/kepercayaan yang dalam kepada-Nya saat kita menghadapi pergumulan atau hati yang terluka. Tidak perlu menyangkali penderitaan yang sedang dialami; kita boleh saja mengungkapkan isi hati serta perasaan dengan jujur kepada Tuhan disertai rasa hormat dan ucapan syukur. Ucapan syukur membangkitkan iman dan pengharapan kepada Allah.

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,  tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).

Memuji menyembah saat menghadapi pergumulan merupakan tanda kerendahan hati yang mengakui kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Inti dari pujian dan penyembahan kita bukanlah pergumulan yang kita alami, keadaan diri kita atau apa yang Tuhan bisa buat. Esensi dari pujian dan penyembahan kita adalah Pribadi Tuhan sendiri: IA layak dipuji dan disembah oleh seluruh ciptaan-Nya.

Kepada TUHAN,  hai suku-suku bangsa,  kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!  Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!  Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan,  gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! (Mazmur 96:7-9).

Refleksi:
Mari kita belajar/melatih diri untuk memuji  dan menyembah Tuhan bukan karena keadaan sedang baik-baik saja, tetapi karena mengenal siapa Dia.

  1. Pujian bisa mengubah keadaan tapi terlebih dahulu mengubah perspektif kita.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN ,  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  (Habakuk 3:17–19).

Pujian merupakan keputusan iman yang dewasa, bukan reaksi emosi. Nabi Habakuk memilih untuk memuji Tuhan di tengah kekosongan dan kekeringan, karena sukacitanya berakar pada Tuhan, bukan pada situasi atau apa yang dia miliki. Pergumulan yang jujur dengan Allah menghasilkan transformasi hati yang mendalam. Saat memuji menyembah, kita bisa melihat segala sesuatu dengan mata rohani dan bukan sekadar realita dunia. Pujian dan penyembahan membawa kita berjalan dalam dimensi roh dan melihat dengan perspektif/cara pandang Tuhan.

Rasul Paulus menghadapi banyak kesulitan, tetapi ia percaya bahwa apa yang tidak kelihatanlah yang bertahan sampai kepada kekekalan. Ia mengatakan bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini akan menghasilkan “kemuliaan kekal”. Oleh karena itu, ia tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang “tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:17-18).

Beberapa contoh Deklarasi Iman:

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku (Mazmur 13:5-6).

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku,  takkan kekurangan aku (Mazmur 23:1).

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,  tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!  “TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:22-24).

Bersambung minggu depan…