Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 7)
TANDA-TANDA ORANG YANG BERBUAH

TANDA-TANDA ORANG YANG BERBUAH

PENDAHULUAN

Berbuah adalah bukti kehidupan seorang murid Kristus yang terhubung pada Tuhan Yesus, Sang Pokok Anggur. Berbuah adalah tanda bahwa orang tersebut menghidupi firman, bukan hanya memiliki pengetahuan tentang firman. Sebanyak apapun  pengetahuan firman seseorang, selama tidak menjadi pelaku firman, maka sesungguhnya ia tidak mengalami pertumbuhan dan menghasilkan buah.

ISI

Yesus berkata, “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:20). Kehidupan murid Kristus sejati adalah kehidupan yang berproses. Hal itu dapat dilihat dari perbuatan, perkataan, dan buah-buah kehidupannya yang semakin menyerupai Kristus.

Untuk berbuah, tentu ada benih yang harus ditabur. Benih itu adalah firman Tuhan yang ditanam di tanah hati kita oleh Roh Kudus. DIA-lah yang memberi pewahyuan/pengertian, menuntun kepada kebenaran serta menolong kita untuk melakukan firman tersebut. Bagian kita adalah menjaga hati dengan segala kewaspadaan supaya benih firman dapat tertanam di tanah yang baik, bertumbuh dengan subur dan berbuah, hasilnya ada yang 30, 60 dan 100 kali lipat.

Secara sederhana, berikut adalah buah yang dihasilkan oleh orang yang menjadi pelaku firman :

1. Buah pertobatan.

Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (Lukas 3:8).

Seseorang yang sudah lahir baru dan hidup dalam pertobatan pasti menghasilkan buah-buah pertobatan. Bertobat bukan sekedar menyesal karena diliputi perasaan bersalah; bertobat adalah berbalik kepada Allah dan firman-Nya dengan sepenuh hati. Menanggalkan manusia lama, mengalami pembaruan dalam roh dan pikiran dengan firman Tuhan; dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24). Oleh kuasa dan pimpinan Roh, ia  menyalibkan perbuatan daging dengan segala hawa nafsu/keinginannya dan senantiasa hidup dalam pertobatan.

2. Buah Roh.

 Tetapi buah Roh ialah: kasih,  sukacita, damai sejahtera,  kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5:22).

Buah-buah Roh adalah bukti utama seseorang yang hidup oleh iman (menjadi pelaku firman) dan berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Buah Roh bukanlah sifat bawaan/watak, tetapi karakter orang percaya yang telah mengalami pembaruan karena melekat pada Kristus. Buah Roh adalah karya Roh Kudus yang dihasilkan secara progresif di mana karakter orang tersebut semakin menyerupai Kristus.

Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Korintus 3:18).

3. Buah kebenaran dan perbuatan baik.

Tuhan Yesus adalah Kebenaran; mereka yang terhubung dengan DIA juga akan menghasilkan buah-buah kebenaran. Buah kebenaran merujuk pada pekerjaan/perbuatan baik, kasih, damai sejahtera; suatu sikap perilaku yang mencerminkan Kristus. Buah kebenaran juga bicara tentang firman kebenaran digenapi dalam hidup kita karena kita menaati perintah Tuhan.

Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,  sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,  penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah (Filipi 1:9-11).

4. Buah-buah yang kita hasilkan membawa kemuliaan bagi Allah.

Berbuah banyak dan matang bicara tentang hidup yang semakin menyerupai Kristus, baik dalam karakter, perilaku dan buah pelayanan. Berbuah merupakan kesaksian terbaik kita yang memberkati serta berdampak kepada kehidupan orang lain. Ketika berbuah banyak, orang bisa melihat dan  mengalami Kristus melalui hidup kita. Ketika berbuah banyak, orang bisa melihat prinsip/nilai-nilai Kerajaan Allah yang sangat berbeda dengan yang dunia tawarkan. Ketika berbuah banyak, Bapa sebagai pemilik kebun anggur dipermuliakan.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan,  yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. (Yohanes 15:8)

PENUTUP

Kita dipanggil untuk menjadi berkat, bukan untuk mengejar berkat. Kita adalah orang-orang yang telah lebih dulu diberkati dengan segala berkat rohani (Efesus 1:3) agar bisa menjadi duta terang Kerajaan Allah yang memberkati serta mendampaki dunia. Sesungguhnya buah-buah yang kita hasilkan mengandung benih yang ditabur dalam kehidupan orang lain.

Selanjutnya orang tersebut akan bertumbuh dan membuahkan hasil yang akan mendampaki kehidupan orang lain lagi, demikian seterusnya. Ini yang dimaksudkan Tuhan Allah sewaktu menciptakan manusia : Then God blessed them, and God said to them, “Be fruitful and multiply…” (Genesis 1: 28a, NKJV). Berbuah dan mengalami multiplikasi.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,  supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Matius 5:16).

KITA PERLU BERTUMBUH WALAU ITU TIDAK ENAK

KITA PERLU BERTUMBUH WALAU ITU TIDAK ENAK

PENDAHULUAN

Semua orang pasti tidak menyukai yang namanya masalah, tekanan atau penderitaan terjadi dalam hidupnya. Bagi yang mau dimuridkan, masalah, tekanan dan penderitaan merupakan media yang dipakai Tuhan supaya kita semakin berakar, mengalami pertumbuhan dan menghasilkan buah yang matang. Bertumbuh itu suatu proses yang menyakitkan dan  tidak mudah, tapi kita memerlukannya. Proses Tuhan memang tidak cepat, tapi pasti tepat seperti yang kita butuhkan.

 

ISI

Proses Tuhan itu sesuatu yang menyakitkan bagi ‘daging’/flesh, tapi menghasilkan sesuatu yang baik bagi manusia roh kita. Hal-hal apa saja yang terjadi dalam suatu proses pertumbuhan?

1. Kesulitan menghasilkan ketekunan (baca Yakobus 1:2-4)

Salah satu prinsip yang harus kita pegang sebagai murid Kristus : masalah, tekanan dan penderitaan diijinkan Tuhan terjadi untuk tujuan yang baik. Itu semua merupakan ujian iman yang berpotensi menghasilkan sesuatu yang ilahi dan kekal dalam diri kita.

Ujian iman akan menghasilkan sebuah karakter yang kuat dan mulia yaitu ketekunan. Di bahan Cool bulan lalu kita belajar bahwa ketekunan adalah kapasitas/kemampuan untuk menanggung derita, kesengsaraan, rasa sakit, malapetaka, intimidasi atau yang jahat dengan ketenangan dan ketekunan tanpa menjadi marah, menggerutu atau merasa tidak puas. Hatinya tetap setia, tidak menjadi kecewa dan menyalahkan Tuhan atau orang lain.

Untuk menghasilkan karakter seperti ini, Allah perlu melatih kita berulang-ulang melalui beragam masalah, tekanan dan penderitaan. Ketekunan tidak pernah dihasilkan dari zona nyaman dan  jalan pintas. Dengan ketekunan kita akan menghasilkan buah yang matang, sehingga kita menjadi sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun (artinya jiwa yang dipenuhi oleh kasih Tuhan, firman kebenaran dan damai sejahtera).

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,  dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:3–5

2. Tuhan menggunakan tekanan untuk memurnikan iman kita.

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.  Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu  –yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api  –sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Petrus 1: 6-7).

Pernahkah kita mencoba untuk bergembira di saat mengalami berbagai ujian iman? Nampaknya orang lebih memilih mengasihani diri ketika ada dalam tekanan dan masalah. Firman Tuhan menasehati kita untuk bergembira sekalipun sekarang ini kita seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai ujian. Setiap kita harus mengalami proses pemurnian iman, karena itu adalah kehendak Allah. Bukan karena Allah kejam, tapi karena IA sangat ingin bergaul karib dengan kita.

Untuk bergaul karib dengan Allah yang kudus, segala hal yang menghambat iman percaya kita kepada-Nya seperti kesombongan, mengandalkan kekuatan sendiri, kecemaran, keinginan daging/hawa nafsu, cinta akan uang, keraguan, ketakutan, dosa dlsb harus dibuang. Allah ingin kita percaya kepada-Nya dengan iman yang bulat dan murni seperti seorang anak kecil. Oleh karena itu Allah perlu menghajar kita demi kebaikan, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibrani 12:10b). Didikan Tuhan akan mengusir kebodohan dalam hati kita.

Iman yang murni berorientasi kepada kehendak dan rencana Allah. Iman yang murni diperlukan untuk melakukan kehendak dan rencana Allah, bukan untuk memuaskan keinginan dan agenda pribadi kita. Iman yang murni mengikut Tuhan dengan ketulusan dan motivasi yang benar. Hatinya benar-benar melekat kepada Allah, bukan kepada berkat, karunia, promosi, mukjizat, hal spektakuler atau lainnya. Iman yang murni meluruskan jalan kita untuk mendapat perkenanan Tuhan dan setia sampai kepada garis akhir… sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Ny

3. Setia dalam proses akan menghasilkan buah yang matang dan banyak.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1: 4)

Pertumbuhan memerlukan waktu dan ketekunan. Orang yang setia dan bertekun dalam proses (tetap hidup oleh iman walau mengalami penderitaan, didikan dan masalah) pasti bertumbuh jadi dewasa rohani. “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8: 31b). Firman Tuhan membersihkan dan memerdekakan kita dari ikatan, berhala, pikiran yang keliru, hawa nafsu kedagingan, dari ‘self’, dlsb. Kebenaran yang memerdekakan itu termanifestasi sebagai buah-buah kehidupan yang matang.

 

PENUTUP

Proses Tuhan itu sesuatu yang menyakitkan bagi ‘daging’/flesh, tapi menghasilkan sesuatu yang baik bagi manusia roh kita. Ujian iman dan pemurnian membuat kita bertumbuh dan menghasilkan buah-buah kehidupan yang matang sehingga Bapa dipermuliakan.  Bukankah itu yang dijanjikan Tuhan Yesus dalam Yohanes 10:10b : Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,  dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

PEMISAHAN  VS  PEMURNIAN

PEMISAHAN VS PEMURNIAN

PENDAHULUAN

Keselamatan dalam Kristus Yesus adalah anugerah Allah yang harus kita responi dengan iman dan sikap hati yang benar. Allah menghendaki kita mengerjakan keselamatan tersebut supaya menghasilkan hidup yang berbuah banyak. Sebagai ranting, kita harus tinggal pada Pokok Anggur yang benar yaitu Tuhan Yesus, dan Allah sebagai pemilik kebun anggur akan mengupayakan supaya ranting-ranting tersebut berbuah. Untuk itu IA perlu memotong ranting-ranting yang tidak berbuah dan memangkas ranting-ranting yang berbuah, supaya berbuah lebih banyak lagi.

ISI

Yohanes 15:2-3 (TB)  Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuahdibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

Allah “memotong” dengan dua tujuan berbeda: yang pertama untuk memisahkan; yang ke dua untuk membersihkan/memurnikan. Ranting yang tidak menghasilkan buah perlu dibuang karena tidak berguna. Ranting yang berbuah akan dibersihkan melalui pemangkasan (pruning) untuk meningkatkan jumlah dan kualitas buah yang dihasilkan.

1. Pemotongan ranting yang tidak berbuah adalah pemisahan.

..ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya..

Sebagai pemilik kebun anggur, Bapa berhak memotong/membuang keinginan hawa nafsu, ambisi, kesombongan, self-centered, sifat egois, hobby, kebiasaan, aktifitas/kesibukan, ikatan, sesuatu yang menjadi berhala, hubungan yang toksik, atau hal-hal lain di hidup kita yang dipandang tidak kudus, tidak berguna, mencelakakan serta tidak berkenan di hadapan-Nya.

Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah;  tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk,  yang berakhir dengan pembakaran (Ibrani 6:7-8).

2. Pemangkasan ranting yang berbuah adalah pemurnian, supaya menghasilkan buah yang lebih banyak lagi.

 ..setiap ranting yang berbuahdibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

Saat tinggal dalam Yesus dan berakar dalam kasih-Nya, kita akan terus dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Pruning (pemangkasan) akan dilakukan oleh Bapa (sebagai pemilik kebun anggur) dengan firman-Nya yang tajam seperti pedang bermata dua.

Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12).

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar,  untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

Untuk bertumbuh harus ada keputusan yang disengaja; hati harus selalu dijaga supaya tetap lemah lembut, tidak berbatu dan bersemak duri supaya firman Tuhan tumbuh di tanah hati kita yang subur. Tanah hati yang subur adalah hati yang haus dan lapar, percaya dan mau taat.

Hubungan kasih dengan Allah sangat menentukan kerelaan kita untuk mau dibersihkan/dididik.

 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:11).

Mungkin hidup kita sudah berbuah, tapi Allah mau lebih meningkatkan kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu/kematangan/kemuliaan) buah tersebut. Dengan pertolongan Roh Kudus, benih firman yang meningkat menjadi pewahyuan akan mendorong kita untuk mau terus dikoreksi, hidup dalam pertobatan, taat, terus bertumbuh, diuji, dimurnikan sehingga menghasilkan buah sesuai standar yang Allah tetapkan. Jadi perkara berbuah bukanlah prestasi diri sendiri tapi hanya karena kasih karunia Allah, sebab di luar Yesus kita tidak dapat menghasilkan apa-apa.

PENUTUP

Pemotongan bukanlah suatu hukuman, tapi bagian dari perjalanan iman yang memang harus kita lalui dan demi kebaikan kita sendiri. Proses pemurnian lewat ujian iman adalah tanda bahwa kita terhubung dengan Pokok Anggur dan berharga serta dikasihi oleh Bapa. Responi pemotongan yaitu proses didikan Tuhan dengan iman yang murni, yang berakar dalam kasih.

 Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak (Mazmur 6:10).

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar;  sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (Wahyu 3:19).

TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

Tema Bulan May : Bertumbuh dan berbuah sesuai kehendak Tuhan

Sub Tema : TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dialah Pokok Anggur yang benar; orang percaya adalah ranting-ranting dari pokok anggur tersebut; sedangkan Allah Bapa adalah pengusaha yang menghendaki hasil (buah) dari kebun anggur-Nya. Tuhan telah memilih dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah, sebagai tanda bahwa kita adalah murid-murid-Nya.

ISI

Yohanes 15:

1)Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. 2)Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah,  dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah,  dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.  3)Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.  4)Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.  Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.  5)Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan kita adalah ranting-rantingnya. IA adalah Kebenaran; tidak ada kepalsuan/kesesatan, keraguan, kebingungan dan kegelapan di dalam Kristus. Kebenaran itu adalah asupan nutrisi bagi roh kita supaya dapat bertumbuh, menjadi dewasa dalam iman dan berbuah. Kebenaran itu akan mengajar, menegur, memperbaiki kesalahan, mendidik, menuntun dan memerdekakan kita.

Untuk dapat menghasilkan buah, ranting harus terhubung dengan pokok anggur. Tanpa hubungan dengan Yesus, Sang Pokok Anggur, kita hanya sekedar ada/eksis tapi tidak memiliki ‘kehidupan’ rohani. Tanpa terhubung dengan Tuhan Yesus, kita hanya sekedar sibuk dengan berbagai kegiatan (termasuk pelayanan), namun tidak berbuah.

Kualitas kehidupan kita bergantung pada hubungan kasih kita dengan Kristus, sebagai sumber kehidupan. Ranting yang terhubung dengan Pokok Anggur akan menghasilkan buah dengan kualitas yang serupa dengan Pokok Anggur (menjadi semakin serupa dengan gambar-Nya). Yoh. 15:5 mengatakan : Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana caranya terhubung dengan Pokok Anggur?

Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia -> artinya  peliharalah persekutuan dengan Kristus secara pribadi melalui doa pujian penyembahan; firman-Nya kita baca, renungkan, pelajari dan perkatakan. Firman Tuhan akan memperbarui akal budi dan menguasai hati kita. Firman Tuhan memberikan cara pandang baru/ilahi dalam melihat segala sesuatu. Firman Tuhan menjadi landasan kita berpikir, menganalisa, mengambil keputusan, menetapkan prioritas, bertindak, berkata-kata, membentuk gaya hidup, serta menjadi nilai/prinsip utama dalam seluruh aspek kehidupan kita. Selanjutnya, Roh Kudus akan mengingatkan kita tentang perkataan Kristus (maksudnya menghidupkan firman, memberikan hikmat dan pewahyuan akan kehendak Allah), serta mendorong kita untuk menaati DIA (menjadi pelaku firman). “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku..” (Yohanes 14:23a). Roh Kudus bukan hanya mendorong kita untuk menjadi pelaku firman, tapi juga menolong kita untuk lebih dulu hidup dalam pertobatan.

Mazmur 1:1-3 mengatakan bahwa orang yang kesukaannya adalah firman Allah dan merenungkannya siang dan malam, diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang pasti menghasilkan buah pada musimnya dan apa saja yanf diperbuatnya berhasil. Dengan kata lain, mereka yang terhubung dengan Pokok Anggur memiliki kehidupan rohani, jiwa dan fisik yang berbuah dan berhasil (berkualitas, living life to the fullest).

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,  yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,  dan yang tidak duduk  dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon,  yang ditanam di tepi aliran air,  yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3)

Refleksi :

Apa yang mendominasi pikiran dan hati kita sepanjang hari? Apakah keinginan hawa nafsu, kekuatiran, kebencian, kejengkelan, kekecewaan, ketidakpuasan, kesalahan/kelemahan orang lain, uang/harta, gossip terbaru, atau  memikirkan apa yang dunia tawarkan lewat social media..?

Jika iya, maka kita perlu bertobat lalu menata ulang isi pikiran dan hati kita dengan merenungkan kebenaran firman Tuhan yang kita dapat melalui saat teduh pribadi/pembacaan firman tiap hari, sharing firman di Ibadah Raya, Cool, atau ibadah tengah minggu lainnya. Isi juga pikiran dan hati kita dengan kebaikan Tuhan yang telah kita terma, pengalaman pribadi dengan Dia; dengan lagu-lagu pujian penyembahan yang mengingat kasih setia Tuhan, yang memuji kebesaran dan mengagungkan Nama-Nya, yang mendeklarasikan janji-janji-Nya, dsb.

Kalau pikiran kita diserang oleh panah-panah api si jahat berupa intimidasi, kekuatiran, ketakutan, keraguan, pikiran yang membangkitkan hawa nafsu kedagingan dan pikiran tidak sesuai dengan firman Tuhan – jangan diam saja apalagi merenungkannya, melainkan tolak itu semua dalam nama Tuhan Yesus. Tundukkan pikiran kita kepada Kristus dan firman-Nya (Fil. 4:8).

Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus (2 Kor. 10:5b).

PENUTUP

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

Hendaklah hidup kita tetap di dalam DIA; terhubunglah dengan Pokok Anggur dengan memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan Yesus setiap hari dan firman-Nya memenuhi hati kita. Hanya dalam keadaan inilah kita mengalami karya Roh Kudus dan diproses (membutuhkan waktu) untuk menghasilkan buah. .. sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

BERTUMBUH DAN BERBUAH SESUAI DENGAN KEHENDAK TUHAN

BERTUMBUH DAN BERBUAH SESUAI DENGAN KEHENDAK TUHAN

BERTUMBUH DAN BERBUAH SESUAI DENGAN KEHENDAK TUHAN

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dialah Pokok Anggur yang benar; orang percaya adalah ranting-ranting yang terhubung pokok anggur tersebut; sedangkan Allah Bapa adalah pengusaha yang menghendaki hasil (buah) dari kebun anggur-Nya. Tuhan telah memilih dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah, sebagai tanda bahwa kita adalah murid-murid-Nya.
Yohanes 15:

1)Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.

2)Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

3)Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

4)Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

5)Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar. IA adalah Kebenaran itu sendiri; tidak ada kepalsuan/kesesatan, keraguan, kebingungan dan kegelapan di dalam Kristus. Kebenaran itu adalah asupan nutrisi bagi manusia roh kita supaya dapat bertumbuh, menjadi dewasa dalam iman dan berbuah. Kebenaran itu akan mengajar, menegur, memperbaiki kesalahan, mendidik, menuntun dan memerdekakan kita.

TERHUBUNG DENGAN POKOK ANGGUR

Untuk dapat menghasilkan buah, tentu saja ranting harus terhubung dengan pokok anggur. Tanpa hubungan dengan Sang Pokok Anggur, maka kita hanya sekedar ada/eksis dan tidak memiliki ‘kehidupan’ rohani. Tanpa terhubung dengan Tuhan Yesus, kita hanya sekedar sibuk dengan berbagai kegiatan (termasuk pelayanan), namun tidak berbuah.

Kualitas kehidupan kita bergantung pada hubungan kasih dengan Kristus, sebagai sumber kehidupan. Ranting yang terhubung dengan Pokok Anggur akan menghasilkan buah dengan kualitas yang serupa dengan Pokok Anggur (menjadi semakin serupa dengan gambar-Nya). Yohanes 15:5 mengatakan : Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana cara kita terhubung dengan Pokok Anggur?

Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.. Peliharalah persekutuan dengan Kristus secara pribadi melalui doa pujian penyembahan; baca, renungkan, pelajari dan perkatakan Firman Tuhan sebab itu akan memperbarui akal budi dan menguasai hati kita. Firman Tuhan memberikan cara pandang ilahi dalam melihat segala sesuatu. Firman Tuhan menjadi landasan kita berpikir, menganalisa, mengambil keputusan, menetapkan prioritas, bertindak, berkata-kata, membentuk gaya hidup, serta menjadi nilai/prinsip utama dalam seluruh aspek kehidupan kita. Selanjutnya, Roh Kudus akan mengingatkan kita tentang perkataan Kristus, memberikan hikmat dan pewahyuan akan kehendak Allah, mendorong kita untuk menaati DIA (menjadi pelaku firman) dan untuk hidup dalam pertobatan. “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku..” (Yohanes 14:23a).

Mazmur 1:1-3 mengatakan bahwa orang yang kesukaannya adalah firman Allah dan merenungkannya siang dan malam, diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang pasti menghasilkan buah pada musimnya dan apa saja yang diperbuatnya berhasil. Mereka yang terhubung dengan Pokok Anggur memiliki kehidupan rohani, jiwa dan fisik yang berbuah dan berhasil (berkualitas, living life to the fullest).

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3)

Refleksi :
Apa yang mendominasi pikiran dan hati kita sepanjang hari? Apakah keinginan hawa nafsu, kekuatiran, membanding-bangdingkan, kebencian, kejengkelan, kekecewaan, ketidakpuasan, kesalahan/kelemahan orang lain, uang/harta, gossip terbaru, atau memikirkan apa yang dunia tawarkan lewat social media..?

Jika iya, maka kita perlu bertobat lalu menata ulang isi pikiran dan hati kita dengan merenungkan kebenaran firman Tuhan yang kita dapat, misalnya melalui saat teduh pribadi/pembacaan firman tiap hari, sharing firman di Ibadah Raya, Cool, atau ibadah tengah minggu lainnya. Isi juga pikiran dan hati kita dengan kebaikan Tuhan/pengalaman pribadi dengan Dia; dengan lagu-lagu pujian dan ucapan syukur, yang memuji kebesaran dan keagungan-Nya, yang mendeklarasikan janji-janji-Nya, dsb.

Kalau pikiran kita diserang oleh panah-panah api si jahat berupa intimidasi, kekuatiran, ketakutan, keraguan, pikiran yang membangkitkan hawa nafsu kedagingan dan pikiran tidak sesuai dengan firman Tuhan – jangan diam saja apalagi merenungkannya, melainkan tolak itu semua dalam nama Tuhan Yesus. Tundukkan pikiran kita kepada Kristus dan firman-Nya (Fil. 4:8, 2 Kor. 10:5b).

Hendaklah hidup kita tetap di dalam DIA; terhubunglah dengan Pokok Anggur dengan memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan Yesus setiap hari dan firman-Nya memenuhi hati kita. Hanya dalam keadaan inilah kita mengalami karya Roh Kudus dan diproses (membutuhkan waktu) untuk menghasilkan buah.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

PEMISAHAN VS PEMURNIAN
Keselamatan dalam Kristus Yesus adalah anugerah Allah yang harus kita responi dengan iman dan sikap hati yang benar. Allah menghendaki kita mengerjakan keselamatan tersebut supaya menghasilkan hidup yang berbuah banyak. Untuk itu IA perlu memotong ranting-ranting yang tidak berbuah dan memangkas ranting-ranting yang berbuah, supaya berbuah lebih banyak lagi.

Yohanes 15:2-3 (TB) Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.

Allah “memotong” dengan dua tujuan berbeda: yang pertama untuk memisahkan; yang ke dua untuk membersihkan/memurnikan. Ranting yang tidak menghasilkan buah perlu dibuang karena tidak berguna. Ranting yang berbuah akan dibersihkan melalui pemangkasan (pruning) untuk meningkatkan jumlah dan kualitas buah yang dihasilkan.

1. Pemotongan ranting yang tidak berbuah adalah pemisahan.
..ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya..
Sebagai pemilik kebun anggur, Bapa berhak memotong/membuang keinginan hawa nafsu, ambisi, kesombongan, self-centered, sifat egois,hobby, kebiasaan, aktifitas/kesibukan, ikatan, sesuatu yang menjadi berhala, hubungan yang toksik, atau hal-hal lain di hidup kita yang dipandang tidak kudus, tidak berguna, mencelakakan serta tidak berkenan di hadapan-Nya.

Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran (Ibrani 6:7-8).

2. Pemangkasan ranting yang berbuah adalah pemurnian, supaya menghasilkan buah yang lebih banyak lagi. 

..setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

Saat tinggal dalam Yesus dan berakar dalam kasih-Nya, kita akan terus dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Pruning (pemangkasan) akan dilakukan oleh Bapa dengan firman-Nya yang tajam seperti pedang bermata dua.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12).
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

Pertumbuhan rohani tidak terjadi dengan sendirinya melainkan sebuah keputusan yang harus kita ambil. Hati harus selalu dijaga supaya tidak berbatu dan bersemak duri supaya benih firman Tuhan dapat bertumbuh. Tanah hati yang subur adalah hati yang haus dan lapar, percaya dan mau taat. Hubungan kasih dengan Allah sangat menentukan kerelaan kita untuk mau dibersihkan/dididik.
Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:11).

Mungkin hidup kita sudah berbuah, tapi Allah mau lebih meningkatkan kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu/kematangan/kemuliaan) buah tersebut. Dengan pertolongan Roh Kudus, benih firman yang meningkat menjadi pewahyuan akan mendorong kita untuk mau terus dikoreksi, hidup dalam pertobatan, taat, terus bertumbuh, diuji, dimurnikan sehingga menghasilkan buah sesuai standar yang Allah tetapkan. Jadi perkara berbuah bukanlah prestasi diri sendiri tapi hanya karena kasih karunia Allah, sebab di luar Yesus kita tidak dapat menghasilkan apa-apa.

Pemotongan bukanlah suatu hukuman, tapi bagian dari perjalanan iman yang memang harus kita lalui dan demi kebaikan kita sendiri. Proses pemurnian lewat ujian iman adalah tanda bahwa kita terhubung dengan Pokok Anggur dan berharga serta dikasihi oleh Bapa. Responi pemotongan yaitu proses didikan Tuhan dengan iman yang murni, yang berakar dalam kasih.

Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak (Mazmur 66:10).

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (Wahyu 3:19).

IMAN DAN KESABARAN MEMBAWA TEROBOSAN UNTUK MERAIH JANJI TUHAN

IMAN DAN KESABARAN MEMBAWA TEROBOSAN UNTUK MERAIH JANJI TUHAN

PENDAHULUAN

Seringkali kita tergoda untuk menyerah saat menghadapi masalah, tantangan dan penderitaan. Seolah ada tembok besar yang begitu merintangi langkah dan tujuan kita. Sepertinya semua upaya yang telah kita lakukan bukannya membawa kepada penyelesaian, tapi malah timbul masalah baru yang tidak diharapkan, tak diduga dan membuat penantian kita jadi lebih panjang. Masa menunggu menjadi hal yang melelahkan dan seakan tidak berujung. Sebenarnya di balik tembok besar itu tersedia berkat Tuhan yang siap kita terima dan nikmati kalau saja kita tidak menjadi lemah.

ISI

Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu,  karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan,  supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. (Ibrani 10:35-36)

Diperlukan kesabaran untuk tetap hidup oleh iman, sebab itulah yang membawa terobosan untuk meraih janji Tuhan. Kesabaran (patient endurance) juga diterjemahkan sebagai ketekunan (perseverance) atau panjang sabar (longsuffering). Kesabaran bukan sekadar menunggu secara pasif, tetapi dengan iman yang aktif tetap percaya bahwa firman/janji Allah akan digenapi, sekalipun belum melihat. Percaya bahwa Allah tetap bekerja bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia dan yang terpanggil menurut rencana-Nya. Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Roma 8:25).

Kegigihan seperti ini akan membawa terobosan. Kegigihan membuat seseorang tidak menyerah meskipun ada kesulitan,  hambatan, penderitaan serta proses didikan Tuhan yang membentuk hidupnya. Orang yang gigih pasti memiliki hubungan dan pengenalan akan Tuhan secara pribadi. Hubungan menimbulkan trust/kepercayaan pada karakter-Nya yang baik, setia dan penuh kasih. Kegigihan adalah sikap yang dimiliki oleh orang yang mengerti visi/tujuan/panggilan Tuhan dalam hidupnya.

Janji Tuhan yang (seolah) tertunda bukanlah suatu penolakan; God’s delay is also God’s preparation. Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar/mulia dari sekedar menjawab doa kita. Penundaan tidak pernah menggagalkan tujuan Tuhan tapi justru makin memperlebar kapasitas kita, asal kita bisa meresponinya dengan benar. IA perlu membentuk kita lebih dulu supaya kita siap menerima janji dan dapat dipercaya untuk mengelolanya.

Patut diketahui bahwa tujuan utama penggenapan janji bukanlah untuk memenuhi agenda pribadi kita, tapi untuk melakukan rencana Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Bagaimana respon kita saat menghadapi penundaan akan menentukan hasil akhir kita. Sikap yang harus kita miliki supaya tetap hidup oleh iman dalam menjalani masa penantian/penundaan  :

  1. Ketaatan

Iman dan kesabaran merupakan prinsip penting yang membawa kita mengalami janji Tuhan. Bukti bahwa kita hidup oleh iman adalah ketaatan kepada firman Tuhan yang berupa hukum, ketetapan dan perintah/kehendak-Nya. Iman yang tidak disertai perbuatan (ketaatan), maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. …supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu (Ibrani 10:36b).

Janji Tuhan  akan digenapi bila kita menghidupi firman Tuhan dan melakukan kehendak-Nya.

  1. Kerendahan hati.

Orang yang rendah hati akan menyerahkan hak bebasnya dan tunduk kepada kedaulatan Tuhan atas hidupnya. Ia rela karakternya dibentuk dan didewasakan lewat masalah, tantangan dan penderitaan; memilih untuk belajar bersabar, tabah dan tekun menjalani proses Tuhan tanpa perlu mempertanyakannya. Orang yang rendah hati menyadari kelemahan, keterbatasan dan ketidakmampuannya; ia memilih menantikan Tuhan, mengandalkan DIA, dan menunggu waktu yang telah ditetapkan.

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya…”(Yesaya 40:31)

  1. Sikap hati yang bersyukur.

Hati yang bersyukur bisa melihat kebaikan Tuhan di segala keadaan, termasuk saat berada dalam lembah kekelaman.  Hati yang bersyukur bisa menerima realita yang terjadi namun tidak bersungut-sungut/ sembrono dalam perkataan, atau merasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ia tidak membanding-bandingkan keadaannya dengan orang lain dan mengasihani diri sendiri. Hati yang bersyukur membuat kita bisa menjalani masa penantian dengan sukacita dan tetap berpengharapan.

  1. Mata tertuju kepada Yesus.

Arahkan mata kita selalu tertuju kepada Kristus serta sifat/karakter-Nya dan bukan kepada diri sendiri, orang lain, masalah atau cara-cara yang dunia tawarkan. Arahkan mata tertuju kepada Yesus dan firman-Nya supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa. Jangan fokus kepada apa yang Tuhan bisa berikan, tapi belajar mengerti hati dan mencari kehendak-Nya atas hidup kita dalam masa penantian.

PENUTUP

Apapun keadaan dan pergumulan kita, ambil keputusan untuk terus bertekun dalam iman dan kesabaran. Roh Kudus sanggup meneguhkan hati dan menguatkan jiwa supaya kita berkemenangan dalam masa penantian; tidak menjadi lemah dan putus asa. Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Kristus yang memberikan kekuatan. Oleh sebab itu jangan melepaskan kepercayaan kita karena besar upah yang menanti.

MELALUI IMAN DAN KESABARAN MERAIH JANJI TUHAN

MELALUI IMAN DAN KESABARAN MERAIH JANJI TUHAN

Perjalanan mengikut Tuhan bukan berarti selalu mulus tanpa tantangan. Saat ini mungkin kita sedang bergumul dengan masalah yang datang silih berganti, atau menderita aniaya karena melakukan kebenaran. Menghadapi itu kadang kita jadi galau, lelah dan mulai tawar hati. Kita mulai tergoda untuk berpikir apakah ini semua layak untuk diperjuangkan? Bagaimana kalau ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita? Mengapa seolah-olah Tuhan membiarkan dan tidak melakukan sesuatu? Berbagai pertanyaan bisa muncul di benak kita. Kita perlu belajar bagaimana memegang teguh janji Tuhan walaupun fakta yang nampak dan rasakan jauh dari yang kita anggap ‘kebaikan Tuhan’ serta ‘rencana-Nya yang indah.’

MENANAM BENIH DAN MENANTI HASIL PANEN SEPERTI IMAN SEORANG PETANI

Jika ingin menuai janji Tuhan, tentu bagian yang harus kita lakukan adalah menanam benih iman. Seperti seorang petani mengharapkan hasil panen dari benih yang ditanamnya, kitapun harus menunjukkan kesungguhan untuk menjadikan pengharapan kita suatu milik yang pasti yaitu mengalami janji Tuhan.

Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah (Ibrani 6:11-12).

Firman Tuhan mengajarkan sebuah prinsip yang sangat penting untuk kita lakukan agar dapat melihat janji Tuhan digenapi, yaitu iman dan kesabaran. Belajar dari iman seorang petani di mana setelah menanam benih, ia sangat yakin bahwa segala jerih lelahnya pasti menghasilkan panen pada waktunya.

Iman dan kesabaran adalah kombinasi yang pasti membawa penggenapan janji Tuhan.

‘agar kamu jangan menjadi lamban…’ Menjadi lamban dalam iman maksudnya menurunnya ketekunan, gairah dan semangat dalam mengikut Tuhan. Tumpul dalam pendengaran akan firman Tuhan/kurangnya ketajaman dan pemahaman akan hal-hal yang rohani. Kehilangan semangat untuk melakukan yang benar sesuai firman Tuhan; malas berdoa, baca firman atau malas melayani; kehilangan pengharapan; dlsb. Firman Tuhan mengingatkan agar jangan kita menjadi lamban, tetapi supaya meneladani mereka yang telah menerima janji Tuhan melalui iman dan kesabaran.

A. IMAN

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani11:1).
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

Secara sederhana kalau kita gabungkan kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat adalah firman Kristus yang kita ‘dengar’ lewat telinga rohani. Artinya, iman kita timbul dari pewahyuan akan firman Kristus yang dihidupkan oleh Roh Kudus. Ini yang menyebabkan kita dapat memegang teguh janji Tuhan sekalipun tidak didukung oleh keadaan yang terlihat. Kenapa kita bisa begitu yakin? Karena janji itu adalah ide/inisiatif Tuhan sendiri, maka IA pula yang menjamin bahwa perkataan-Nya pasti digenapi. Jadi Allah bertindak demi diri-Nya sendiri dengan membela firman-Nya. Ayat selanjutnya memberi contoh nyata lewat pengalaman Abraham :
karakter/sifat Allah yaitu kebaikan hati, kesetiaan dan kuasa-Nya yang tidak terbatas. ‘Trust’ adalah kepercayaan yang menaruh keyakinan pada sifat-sifat Allah ini. Inilah menyebabkan kita dapat memercayai Tuhan sepenuhnya sekalipun belum melihat, belum mengerti, fakta tidak mendukung, banyak tantangan dan penderitaan, dlsb.

Keterbatasan, keadaan dan kelemahan kita tidak dapat membatasi Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita. IA berdaulat mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak dan rancangan-Nya yang sempurna. Tuhan melihat apa yang tidak bisa kita lihat, apa yang akan terjadi di depan, dan apa yang terbaik untuk kita. IA bekerja dengan cara yang misterius dan melampaui pemahaman kita.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9).

Itulah sebabnya orang benar harus hidup oleh iman (percaya akan perkataan/firman-Nya yang tidak terlihat namun penuh kuasa). Iman merupakan fondasi (tidak terlihat tapi kokoh) yang membuat kita percaya bahwa Tuhan itu ada, bahwa Dia adalah seperti yang Dia katakan, dan Dia berkuasa melakukan apa yang Dia firmankan. Sebelum memercayai janji Allah, Abraham terlebih dulu percaya/memiliki trust akan kesetiaan-Nya.

Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia (Ibrani 11:11).

Contoh lain di Alkitab yang melalui iman serta kesabaran, dan akhirnya meraih janji Tuhan adalah Nuh, Ishak, Yakub, Yusuf, Yosua, Hana, Daud, dll. Pengalaman iman mereka ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita yang hidup di masa ini, karena Allah tetap sama dulu, sekarang dan selamanya.

Kita belajar satu prinsip yang penting dalam masa menunggu janji Tuhan : percaya sebelum melihat adalah esensi iman. Penundaan jawaban doa bukan berarti penolakan, tapi merupakan bagian dari perjalanan iman yang memang harus kita lalui supaya kita bertumbuh dalam iman (menjadi kuat dan teruji); bertumbuh dalam karakter menyerupai Dia yang penuh kasih, dan kesetiaan.

Bagaimana kita bisa menghindari keraguan saat menunggu? Mari belajar menunggu dengan bijaksana, biarkan Tuhan menyelesaikan maksud dan pekerjaan-Nya yang sempurna atas hidup kita. Arahkan mata kepada Yesus, jaga hati dengan segala kewaspadaan. Perdalam keintiman kita dengan-Nya lewat perenungan firman, doa, puasa, pujian dan penyembahan. Bawa segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa, minta Roh Kudus menuntun dan memberi hikmat dalam tiap langkah/keputusan yang kita ambil. Padamkan panah-panah api si jahat yang menyerang pikiran kita dengan mendeklarasikan firman/janji-janji Tuhan.

Belajar rendah hati dan tidak mencoba menolong Tuhan. Tuhan ingin kita berdiam diri dan pelajari Firman (karakter dan cara kerja Tuhan), perbaiki kebiasaan dan cara hidup dalam masa menunggu. Lakukan pemberesan dengan Tuhan dan/sesama jika Roh Kudus mengingatkan kita akan sesuatu hal. Jangan menjadi lamban dan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Hindari berada dalam kumpulan pencemooh, yang tidak percaya akan firman Tuhan, orang-orang yang punya pikiran, perasaan dan sikap perilaku negatif. Tetap tergabung dalam komunitas orang percaya/Cool, lakukan tugas pelayanan dan tanggung jawab kita sebagai murid Kristus dengan tekun dan setia.

Menunggu janji Tuhan digenapi memang butuh waktu, tapi itu tidak akan pernah sia-sia karena Tuhan akan memberi upah kepada mereka yang sungguh- sungguh mencari DIA. Masa menunggu adalah masa untuk memperkuat akar dan memperkokoh fondasi. Tuhan mendidik kita supaya bertumbuh dewasa dalam iman, dalam karakter, dalam kapasitas yang semakin besar, agar hidup kita berbuah matang dan lebat.

Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita (Ibrani 6: 13-15, 17-18).

Jaminan Allah menimbulkan pengharapan yang pasti. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat bagi jiwa kita. Sauh/jangkar pada sebuah kapal berfungsi untuk memastikan kapal tetap berada di tempat yang diinginkan; untuk mencegah kapal hanyut akibat angin, gelombang, dan arus, serta memungkinkan kapal untuk berlabuh. Hidup tanpa sauh/pengharapan adalah hidup yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai badai kehidupan.

B. KESABARAN

Kesabaran maksudnya tetap bertahan, bertekun walau dalam masa sulit (patient endurance, perseverance in times of hardship). Kesabaran Abraham menunggu waktunya Tuhan menyempurnakan imannya, sehingga ia pun menuai janji tersebut. Iman tanpa kesabaran membuat kita terjebak untuk berkompromi, ambil jalan pintas dan mengandalkan kekuatan sendiri. Kesabaran tanpa iman membuat kita hidup sekedar ‘exist’ tanpa arti, arah dan produktivitas maksimal. Orang yang hidup oleh iman dan sabar menanti waktu Tuhan, pasti akan mendapat upah dari Allah yaitu janji-Nya digenapi dalam hidupnya.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada , dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).

Adalah sebuah kemustahilan bagi Allah untuk tidak memberikan upah/menepati janji dan firman-Nya kepada mereka yang hidup oleh iman dan menanti dengan sabar. Oleh karena itu, dalam masa menunggu, tetap kerjakan keselamatan kita dan jangan menjadi lamban dalam iman. Ambil keputusan untuk tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya. Ingatlah bahwa Tuhan bekerja menurut kedaulatan-Nya, tidak terlalu cepat, tidak terlambat tapi tepat pada waktu yang terbaik.

PERCAYA DAN MENUNGGU WAKTU TUHAN MENGGENAPI JANJI-NYA

Di dalam dunia yang serba instan, banyak kemudahan serta penuh dengan tuntutan/tekanan, gagasan untuk bersabar dan menunggu tampaknya menjadi sesuatu yang kontraproduktif. Manusia cenderung memilih jalur cepat, kalau perlu menghalalkan segala cara, demi mewujudkan keinginannya. Namun tidak demikian halnya dengan kita yang hidup oleh iman. Iman harus disertai dengan kesabaran untuk menunggu waktu Allah.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).

Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya; hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak berkuasa menetapkan langkah hidupnya. Kita tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dengan segala hikmat dan pengetahuan kita yang sangat terbatas. Masa menunggu adalah kesempatan yang dipakai Tuhan untuk mengukir nilai-nilai kekekalan dalam hati kita melalui suatu proses.

Seseorang akan rela menunggu jika ia memiliki kepercayaan/‘trust’ yang dibangun atas dasar hubungan yang erat dengan Allah. Walaupun belum melihat, namun ia memiliki keyakinan bahwa Allah pasti menggenapi perkataan/janji-Nya karena mengenal betul

MENANAM BENIH DAN MENANTI HASIL PANEN  SEPERTI IMAN SEORANG PETANI

MENANAM BENIH DAN MENANTI HASIL PANEN SEPERTI IMAN SEORANG PETANI

PENDAHULUAN

Perjalanan mengikut Tuhan bukan berarti selalu mulus tanpa tantangan. Saat ini mungkin kita sedang bergumul dengan masalah yang datang silih berganti, atau menderita aniaya karena melakukan kebenaran. Menghadapi itu kadang kita jadi galau, lelah dan mulai tawar hati. Kita mulai tergoda untuk berpikir apakah ini semua layak untuk diperjuangkan? Bagaimana kalau ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan? Mengapa seolah-olah Tuhan membiarkan dan tidak melakukan sesuatu? Berbagai pertanyaan bisa muncul di benak kita. Pada bahan minggu ini kita mau belajar bagaimana memegang teguh janji Tuhan walaupun fakta yang nampak atau kita rasakan jauh dari yang kita anggap ‘kebaikan Tuhan’ dan ‘rencana-Nya yang indah.’

ISI

Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,  agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut  mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah (Ibrani 6:11-12).

Firman Tuhan mengajarkan sebuah prinsip yang sangat penting untuk kita lakukan agar dapat melihat janji Tuhan digenapi, yaitu  iman dan kesabaran.  Seperti iman seorang petani : setelah menanam benih, dia akan menunggu hasil panen dengan sabar. Seorang petani sangat percaya bahwa segala jerih lelahnya dalam menanam benih pasti akan menghasilkan panen pada waktunya.

Iman dan kesabaran adalah kombinasi yang pasti membawa penggenapan janji Tuhan.

agar kamu jangan menjadi lamban…’ Menjadi lamban dalam iman maksudnya menurunnya ketekunan, gairah dan semangat dalam mengikut Tuhan.  Tumpul dalam pendengaran akan firman Tuhan/kurangnya ketajaman dan pemahaman akan hal-hal yang rohani. Kehilangan semangat untuk melakukan yang benar sesuai firman Tuhan; malas berdoa, baca firman atau malas melayani; kehilangan pengharapan; dlsb. Firman Tuhan mengingatkan agar jangan kita menjadi lamban, tetapi supaya meneladani mereka yang telah menerima janji Tuhan melalui iman dan kesabaran.

1. IMAN

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).

Jadi, iman timbul dari pendengaran,  dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

Secara sederhana kalau kita gabungkan kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat adalah firman Kristus yang kita ‘dengar’ lewat telinga rohani. Artinya, iman kita timbul dari pewahyuan akan firman Kristus yang dihidupkan oleh Roh Kudus. Ini yang menyebabkan kita dapat memegang teguh janji Tuhan sekalipun tidak didukung oleh keadaan yang terlihat. Kenapa kita bisa begitu yakin? Karena janji itu adalah ide/inisiatif Tuhan sendiri, maka IA pula yang menjamin bahwa perkataan-Nya pasti digenapi. Jadi Allah bertindak demi diri-Nya sendiri dengan membela firman-Nya. Ayat selanjutnya memberi contoh nyata lewat pengalaman Abraham :

Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,  supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta,  kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita (Ibrani 6: 13-15, 17-18).

Jaminan Allah menimbulkan pengharapan yang pasti. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat bagi jiwa kita. Sauh/jangkar yang berfungsi  sebuah kapal berfungsi untuk memastikan kapal tetap berada di tempat yang diinginkan di perairan, mencegah kapal hanyut akibat angin, gelombang, dan arus, serta memungkinkan kapal untuk berlabuh. Hidup tanpa sauh/pengharapan adalah hidup yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai badai kehidupan.

2. KESABARAN

Kesabaran maksudnya tetap bertahan, bertekun walau dalam masa sulit (patient endurance, perseverance in times of hardship).   Kesabaran Abraham menunggu waktunya Tuhan menyempurnakan imannya, sehingga ia pun menuai janji tersebut. Iman tanpa kesabaran membuat kita terjebak untuk berkompromi, ambil jalan pintas dan mengandalkan kekuatan sendiri. Kesabaran tanpa iman membuat kita hidup sekedar ‘exist’ tanpa arti, arah dan produktivitas maksimal. Orang yang hidup oleh iman dan sabar menanti waktu Tuhan, pasti akan mendapat upah dari Allah yaitu janji-Nya digenapi dalam hidupnya.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah,  ia harus percaya bahwa Allah ada , dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).

Aplikasi:

  • Apa janji Tuhan dalam hidup Anda yang belum digenapi?
  • Bagaimana Anda dapat memelihara iman selama masa menunggu?

PENUTUP

Seperti seorang petani yang menanam benih dan sabar menunggu hasil panen, kita pun harus senantiasa memelihara iman dan sabar menanti sampai janji Tuhan digenapi. Adalah sebuah kemustahilan bagi Allah untuk tidak menepati janji dan firman-Nya. Oleh karena itu, dalam masa penantian, tetap kerjakan keselamatan kita dan jangan menjadi lamban dalam iman. Masa menunggu janji Allah digenapi adalah saat untuk kita bertumbuh dalam firman, dalam kasih, dalam pengenalan akan Allah, dan dalam karakter. Ambil keputusan untuk tetap percaya bahwa Tuhan pasti menggenapi janji-Nya. Ingatlah bahwa Tuhan bekerja menurut kedaulatan-Nya, tidak  terlalu cepat, tidak terlambat tapi tepat pada waktu yang terbaik.

MEMBENTUK AKAR YANG KUAT  DAN PRIBADI YANG TANGGUH

MEMBENTUK AKAR YANG KUAT DAN PRIBADI YANG TANGGUH

PENDAHULUAN

Salah satu cara mendatangkan penuaian jiwa yang besar adalah melalui goncangan. Namun demikian Allah tidak menghendaki orang percaya menjadi takut, tawar hati, bersandar kepada kekuatan sendiri, atau menjauh dari Tuhan. Justru goncangan merupakan kesempatan yang dipakai Tuhan untuk dapat menghasilkan akar yang kuat serta fondasi iman yang kokoh.

ISI

Berbagai bencana alam dan krisis akan semakin intens melanda masyarakat dunia. Hal ini akan membuat banyak orang menjadi sadar bahwa mereka tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri, hal-hal yang bersifat fisik/materi, atau apapun juga selain Tuhan. Pada akhirnya mereka berseru kepada nama Tuhan dan hatinya siap menerima Injil keselamatan.

Di sisi lain, goncangan merupakan masa pengujian/penampian sekaligus peluang bagi orang percaya untuk dilatih menjadi murid Kristus yang dewasa, berintegritas dan tangguh. Goncangan berupa masalah, tantangan dan penderitaan bisa terjadi dalam skala kehidupan pribadi, keluarga maupun komunitas orang percaya. Alkitab memberikan panduan untuk melihat goncangan dengan perspektif Tuhan supaya kita tidak menjadi lemah dan tawar hati, melainkan tetap kuat bahkan semakin tangguh, agar bisa bangkit dan menjadi terang di tengah kegelapan dunia:

1. Tidak mengandalkan apapun/siapapun selain Tuhan Yesus (Yeremia 17: 5-8).

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Ams. 3:5).
Walaupun belum mengerti kemana Tuhan mau membawa kita, belum melihat jawaban doa, atau keadaan yang terjadi justru semakin buruk dan tidak seperti yang kita harapkan, tetaplah percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Mata selalu tertuju kepada Kristus supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa.

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (Maz. 56:4). Tempatkan iman di atas pendapat pribadi, asumsi, perasaan dan keadaan yang terlihat. Bukankah Tuhan telah memerintahkan kita untuk hidup karena iman percaya, dan bukan karena melihat? Lakukanlah perintah itu.
Selalu konsultasi dengan Roh Kudus, Pribadi yang menolong dan membawa kita kepada seluruh kebenaran. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Ams. 3:6).

Minta hikmat dari Tuhan dalam mengambil sikap, membuat keputusan dan melangkah (baca Yakobus 1:5-6).

2. Bertumbuh dalam iman dengan tetap tinggal dalam Kristus/firman-Nya (Yoh. 15:4-5) dan dalam komunitas orang percaya (Ibrani 10:24-25).

Disiplinkan diri untuk terus merenungkan firman dan kebenarannya. Disiplinkan diri untuk tetap tinggal dalam firman dan belajar melakukannya baik sebagai prinsip/nilai kehidupan maupun sebagai ketaatan mengikuti perintah Tuhan.

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31-32).
Memerdekakan kita dari apa? Dari pikiran yang keliru/negatif/sia-sia, ketakutan, kekuatiran, kepahitan, masa lalu, rasa bersalah, perasaan tidak aman/insecure, dari keinginan daging, dlsb – sehingga kita menjadi orang yang siap/merdeka berjalan mengikuti kehendak dan rencana-Nya.
Disiplinkan diri untuk memelihara kehidupan doa pujian penyembahan dan mencari kehendak Tuhan atas hidup kita. Tetaplah terhubung dengan komunitas orang percaya (Cool) dan jalani proses pemuridan dengan tekun, konsisten dan kontinu.

3. Mengenakan cara pandang Allah dalam melihat masalah, tantangan dan penderitaan.

Tuhan memakai masalah untuk mendidik, melatih dan menolong kita berbuah.
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yakobus 1:2-4).

Masalah, tantangan dan penderitaan memiliki potensi untuk menghasilkan sesuatu yang ilahi yaitu membentuk akar yang kuat dan fondasi yang kokoh; dengan demikian kita bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Tuhan juga menggunakan ujian untuk mendisiplinkan kita: “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibrani 12:10). Dengan pengertian ini, kita dapat bersukacita saat menghadapi berbagai ujian iman. Orang yang berakar dalam kasih akan menerima kekuatan dari Roh Kudus untuk cakap menanggung segala perkara dengan sabar dan tekun.

Allah tidak akan sekali-kali membiarkan kita bergumul sendirian; semua ujian iman yang diijinkan Tuhan terjadi sudah diperhitungkan dan tidak akan melebihi kekuatan kita. Jika kita tidak lari dari didikan Tuhan, melainkan tetap setia bertekun, maka kita akan makin berbuah lebat dan matang. Tuhan Yesus yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita kepada kesempurnaan (kedewasaan). IA akan melindungi dan memberikan jalan keluar serta semua yang kita perlukan untuk berkemenangan mengatasi ujian iman.

PENUTUP

Goncangan merupakan elemen yang diperlukan dalam proses pemuridan supaya akar kita semakin kuat dan memiliki iman yang teguh. Karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita bertumbuh menjadi dewasa, berintegritas, berbuah matang dan siap menjadi penuai jiwa/menjadikan segala bangsa murid Kristus.

Bahan renungan mingguan lain selama bulan ini: 

Memperkuat Akar (bagian 1)

Memperkuat Akar (Bagian 2)

Mempertahankan Fondasi (bagian 1)

Mempertahankan Fondasi (bagian 2)

MEMPERTAHANKAN FONDASI (bagian 2)

MEMPERTAHANKAN FONDASI (bagian 2)

Sekilas review :

Bagian terpenting dari sebuah bangunan adalah fondasinya karena itu akan menentukan kualitas, integritas, dan kekuatan bangunan tersebut. Fondasi yang kuat akan mampu menahan segala bentuk guncangan sehingga bangunan dapat tetap tegak berdiri. Fondasi  yang kuat adalah hidup yang dibangun di atas Batu Karang yang teguh, yaitu Tuhan Yesus (Firman Allah Yang Hidup).

Sambungan minggu ini :

Kalau bukan Kristus yang menjadi fondasi hidup kita, maka sia-sialah semua yang kita bangun dalam kehidupan ini. Masalah, tantangan dan penderitaan bisa berpotensi membuat iman kita jadi gugur (seperti orang yang membangun hidupnya di atas pasir).

Orang yang membangun hidupnya di atas pasir melambangkan dua keadaan :

pertama, mereka yang hanya jadi pendengar dan tidak menjadi pelaku firman;

ke dua, mereka yang membangun hidup di atas dasar yang rapuh, tidak memiliki nilai kekal, bisa berubah-ubah tergantung situasi/kondisi dan yang sedang trending/populer (sesuatu yang sedang banyak dibicarakan, dicari, atau diikuti oleh banyak orang dalam waktu tertentu).

Dasar hidup yang rapuh dan dapat terguncangkan misalnya:

  • hidup bersandar kepada pikiran/pengertiannya sendiri;
  • hidup dipimpin oleh perasaaan yang cenderung berubah-ubah;
  • hidup yang berorientasi kepada perkara-perkara yang terlihat mata dan sementara;
  • hidup mengandalkan hikmat dunia, uang, materi, pekerjaan, karir, prestasi, ambisi pribadi;
  • hidup yang dikuasai rupa-rupa hawa nafsu.

 Satu-satunya fondasi hidup yang tidak akan pernah terguncangkan hanyalah Yesus Kristus, Sang Batu Penjuru hidup. Saat kita percaya dan melakukan perkataan-Nya, maka walaupun harus mengalami masalah/penderitaan, tapi hidup kita tidak akan terguncang sebab Tuhan sendirilah yang membela firman-Nya, menopang kita dan memberi kemenangan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, semua yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia melainkan dibuat-Nya berhasil.

IMAN DI DALAM KRISTUS

Iman kita harus berpusat kepada Kristus dan kehendak-Nya, bukan kepada diri sendiri. Artinya tujuan iman kita adalah untuk menyenangkan Dia, bukan diri kita. Tentu saja kita boleh menyatakan keinginan kepada Allah dalam doa dan permohonan serta ucapan syukur; tetapi pada akhirnya kita perlu belajar berserah penuh kepada kehendak-Nya dengan mengatakan “janganlah seperti yang aku kehendaki, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”

Inilah iman yang berkenan kepada Allah, meneladani iman Yesus yang berserah total kepada kehendak dan rencana Bapa-Nya. Dengan kekuatan sendiri, tidak ada seorangpun yang mampu memiliki iman yang menyenangkan Allah selain Kristus. Karena itu, mata kita harus selalu tertuju kepada Tuhan Yesus karena DIA-lah yang akan memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan (maksudnya iman yang berserah total kepada kehendak Allah). He is The Author and Perfecter of our faith. Dalam persekutuan dengan Kristus, akar dan fondasi hidup kita akan kuat bukan hanya dalam menghadapi badai masalah ataupun penderitaan, tapi mampu tetap setia dan hidup benar (jujur dan tulus hati) sampai mencapai garis akhir.

PENUTUP

Membangun fondasi yang kuat merupakan sebuah pilihan yang harus dikerjakan dengan tekun, kontinu dan konsisten. Fondasi rohani kita adalah iman kepada Kristus dan hidup kita dibangun di atas firman/perkataan-Nya, sehingga dalam kasih kita semakin bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus.

Hidup yang dibangun di atas ketaatan pada Firman Kristus akan tetap teguh berdiri di tengah badai serta goncangan. Setelah melalui berbagai badai ujian, hidupnya tetap kuat tegak berdiri (berintegritas) dan menjadi berkat yang memuliakan nama Tuhan. Berketetapan hati untuk setia melatih otot iman manjadi makin kuat, melalui ketaatan, bertumbuh dalam Firman Tuhan akan membentuk landasan hidup yang kuat.

 

Bahan renungan mingguan lain selama bulan ini: 

Memperkuat Akar (bagian 1)

Memperkuat Akar (Bagian 2)

Mempertahankan Fondasi (bagian 1)

Membentuk Akar yang Kuat dan Pribadi yang Tangguh