Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 11)
JANGAN BANYAK ALASAN DAN DALIH

JANGAN BANYAK ALASAN DAN DALIH

“Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf.” Lukas 14:18a

Tuhan Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih, yang memiliki 1001 alasan untuk lari dan menghindarkan diri dari panggilan Tuhan. “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.” (ayat 16). Inilah reaksi orang-orang yang diundang untuk datang ke perjamuan besar, yaitu tidak merespons un-dangan tersebut dengan berbagai alasan, dalih atau kesibukan: “Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi men-cobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.” (ayat 18b-20).

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 4)

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 4)

Sekilas review:
Benih apa saja yang mau kita tabur supaya menuai hasil/berbuah/mengalami multiplikasi :
1). Benih perkataan; 2). Benih kebenaran; 3). Benih kerendahan hati; 4). Benih damai sejahtera; 5). Benih kebaikan; 6). Benih Finansial.

Sambungan minggu ini:

7. Benih Pelayanan

Pelayanan bukanlah sekedar program dan kegiatan tapi merupakan pengabdian kepada Allah dan kasih kepada sesama. Menabur benih pelayanan berarti melayani Tuhan dan sesama dengan hati yang ikhlas, menggunakan waktu, talenta, karunia dan potensi yang kita miliki untuk kemuliaan Tuhan.

Berikut beberapa ayat firman Tuhan yang mengajarkan prinsip-prinsip dalam pelayanan:

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9)

Dalam pelayanan dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan. Saat kita melayani dengan tulus dan sabar, Tuhan akan memberkati usaha kita pada waktu yang tepat. Sabar di sini maksudnya tetap bertahan dalam tantangan/kesulitan dan berpengharapan pasti bahwa suatu waktu kita akan melihat hasil/buah dari pelayanan kita pada waktu yang Tuhan tetapkan. Dalam proses masa penantian, arahkan mata hanya kepada Kristus supaya kita tidak menjadi lemah, misalnya merasa rugi melayani orang lain karena merasa tidak dihargai, melayani karena terpaksa, lelah hati, tidak ada sukacita, kerajinan jadi kendor atau mudur dari pelayanan. Kesetiaan dan ketekunan akan membawa kita melihat penuaian.

Dan Raja itu akan menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40).

Dalam pelayanan kepada sesama, kita sedang melayani Tuhan. Setiap tindakan yang kita lakukan untuk orang lain sekalipun itu hal kecil, adalah bentuk pelayanan kepada-Nya. Ketulusan dalam melayani orang-orang kecil/lemah, orang-orang yang paling hina/tidak diperhitungkan dalam pandangan dunia, atau mereka yang tidak bisa membalas kebaikan kita, ternyata semua itu diperhitungkan oleh Tuhan: …kamu telah melakukannya untuk Aku..

“Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, karena kamu tahu, bahwa dari Tuhan kamu akan menerima warisan sebagai upah. Kristus adalah Tuhan yang kamu layani.” (Kolose 3:23-24).

Dalam setiap aspek kehidupan, termasuk pekerjaan dan pelayanan, kita harus melayani dengan segenap hati, karena kita melayani Tuhan, bukan manusia. Jangan melakukannya dengan asal-asalan, berkeluh kesah, menggerutu, tidak ikhlas atau malas-malasan. Kalaupun kita sudah melakukan dengan segenap hati namun tidak dihargai, disalahmengerti, bahkan dibalas dengan hal yang tidak menyenangkan, jangan kita berkecil hati dan marah karena memang bukan manusia yang akan membalasnya, melainkan Tuhan.

Karena bahkan Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45).

Yesus adalah contoh utama dalam pelayanan. Ia datang untuk melayani, bukan dilayani, dan kita dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya dalam pelayanan kepada orang lain. Seorang bayi rohani hanya mau dilayani, tapi kerelaan untuk melayani orang lain merupakan tanda dari orang yang bertumbuh dalam kasih karunia.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah.
Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.”(1 Petrus 4:10-11a).

Pelayanan kita harus sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan. Apapun bentuk pelayanannya, itu harus dilakukan dengan kuasa Roh Kudus yang memampukan kita dan berkenan di hadapan Allah.
Dalam melayani, jangan berorientasi kepada performance, prestasi, ataupun ambisi pribadi yang dapat membuat kita kehilangan hakekat dari pelayanan yang sebenarnya yaitu pengabdian kepada Allah dan kasih kepada sesama.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Matius 20:26-27).

Belajarlah memiliki sikap hati hamba dalam melayani. Tujuan Tuhan memberi kita karunia dan talenta adalah untuk melayani/menjadi berkat bagi orang lain dan memuliakan nama-Nya, bukan untuk mencari ketenaran/pujian/pengakuan, kemuliaan diri sendiri, mendapat keuntungan, memanipulasi orang lain, dlsb.

Menabur benih finansial dan benih pelayanan adalah bagian integral dari kehidupan orang Kristen. Ketika kita memberi dengan hati yang tulus, Tuhan akan membalas kita dengan berkat melimpah. Ketika kita melayani dengan penuh kasih, kita melayani Tuhan dan menjadi saluran berkat bagi sesama.

PENUTUP

Kita telah belajar tentang benih apa saja yang harus kita tabur sepanjang tahun ini; yaitu benih perkataan, benih kebenaran, benih kerendahan hati, benih damai sejahtera, benih kebaikan, benih finansial dan benih pelayanan. Belajarlah melakukan itu semua dalam ketaatan kepada pimpinan Roh Kudus. Apa yang kita tabur dalam iman, pengharapan, dan kasih pasti akan berbuah pada waktunya, karena kasih tidak pernah gagal.“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13).

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 1)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 2)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 3)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 4)

ORANG PERCAYA: Tidak Perlu Takut

ORANG PERCAYA: Tidak Perlu Takut

“Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.”
Mazmur 56:4-5

Di hari-hari seperti sekarang ini tak bisa dipungkiri banyak orang dihantui rasa takut. Banyak faktor yang membuat orang menjadi takut: keadaan ekonomi yang buruk, nilai mata uang rupiah yang merosot, bencana alam terjadi di mana-mana sehingga orang menjadi takut terhadap masa depan hidupnya. Kata takut berarti merasa gentar atau ngeri menghadapi sesuatu yang dianggapnya akan mendatangkan bencana. Jika ketakutan dibiarkan berlarut-larut sehingga menjadi sangat berlebihan akan menimbulkan phobia, yaitu rasa ketakutan yang berlebihan terhadap suatu benda, situasi atau kejadian yang ditandai dengan keinginan untuk lari atau menjauhi sesuatu yang ditakuti tersebut.

Punya rasa takut adalah hal yang manusiawi, tetapi jika kita terus hidup dalam ketakutan setiap hari adalah tidak wajar, apalagi bagi
kita orang percaya. Ketakutan yang terus dipelihara akan berdampak sangat buruk bagi diri sendiri. “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” (Ayub 3:25-26).

Jangan biarkan roh ketakutan membelenggu hidup kita! Kalau kita percaya sungguh kepada Tuhan, percaya akan firman-Nya dan memegang teguh setiap janji-Nya tentu kita tidak akan hidup dalam ketakutan lagi.

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 3)

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 3)

Sekilas review:

Benih apa saja yang mau kita tabur supaya menuai hasil/berbuah/mengalami multiplikasi :

1). Benih perkataan; 2). Benih kebenaran; 3). Benih kerendahan hati; 4). Benih damai sejahtera; 5). Benih kebaikan.

Sambungan minggu ini:

  1. Benih Finansial

Berkat finansial yang kita terima dari Tuhan terdiri dari 2 bagian, yaitu benih untuk ditabur dan roti untuk dimakan.  Benih untuk ditabur digunakan misalnya untuk mengembalikan persepuluhan, memberikan persembahan syukur, menopang visi gereja lokal, pelayanan  misi, memberi makan orang miskin, pelayanan diakonia/memberi kepada orang yang membutuhkan, atau untuk hal lain yang Roh Kudus gerakkan di hati kita. Roti untuk dimakan adalah berkat finansial yang digunakan untuk membiayai semua kebutuhan kita/anggota keluarga yang ada dalam tanggung jawab kita.

Menabur benih finansial berarti memberi dengan hati yang tulus, berbagi dan menanamkan kebaikan dalam aspek keuangan. Alkitab mengajarkan bahwa memberi dengan iman dan kemurahan hati membawa berkat yang berkelimpahan.

“Berilah, maka kamu akan diberi; sebuah takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang-guncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab dengan takaran yang kamu pakai untuk mengukur, takaran itu akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Ayat ini mengajarkan prinsip tabur tuai dalam aspek finansial. Semakin kita memberi, semakin Tuhan memberi kembali kepada kita dengan cara yang melimpah. Ini mengajarkan ‘good stewardship’ supaya finansial kita teratur dan hati terjaga bersih/suci; bukan cinta akan uang, berperilaku konsumtif/pemborosan, atau memberi karena luapan emosi sehingga lupa tanggung jawab akan kebutuhan rumah tangga.

Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Setiap orang harus memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:6-7).

Kata ‘sedikit’ dan ‘banyak’ di sini bukan dihubungkan kepada jumlah atau persentase, tapi kepada keadaan hati yang rela memberi. Memberi dengan sukacita dan kerelaan adalah kunci dalam menabur benih finansial. Tuhan mengingatkan bahwa kemurahan hati kita dalam memberi akan menghasilkan berkat yang melimpah. Dengan kata lain, mereka yang memberi dengan rela hati dan sukacita yang akan menuai banyak.

Perlu dipahami bahwa kelimpahan di sini bukanlah soal perkara materi yang bisa membuat kita jadi tamak serta kikir, tapi soal berkat rohani di mana kita mengalami pertumbuhan rohani, menghasilkan buah, sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain dan memuliakan nama Allah.

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami (2 Korintus 9:8-11)

Berkat-berkat rohani ini memiliki nilai yang jauh lebih mulia dari pada sekedar berkat materi. Orang yang hidupnya berbuah akan menerima upah kekal dari Tuhan; ngengat dan karat tidak merusakkannya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Berkat materi bukan merupakan tujuan, melainkan hanya sebagai sarana penunjang untuk melakukan kehendak dan rencana-Nya. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.

Hormatilah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka gudang-gudangmu akan diisi penuh dengan kelimpahan, dan sumsum-sumsummu akan meluap dengan air anggur (Amsal 3:9-10).

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam (Maleakhi 3:10-12)

Ayat-ayat ini mengajarkan kita prioritas : memberi dari apa yang kita miliki adalah cara kita menghormati Tuhan. Tuhan menjanjikan kelimpahan bagi mereka yang memberikan yang terbaik dari hasil jerih payah mereka. Perlu kita ingat dan syukuri bahwa damai sejahtera, kerukunan, kemenangan, mukjizat, keberhasilan, kesehatan, pemulihan, dilindungi dari yang jahat dan belalang pelahap, karunia menikmati, hikmat, dlsb juga merupakan berkat dari ketaatan kita dalam mengembalikan persepuluhan milik Tuhan.

Hal yang juga penting dalam menabur secara finansial adalah motivasi hati. Kita menabur bukan karena terpaksa/sebagai taurat yang memberatkan atau supaya mendapat keuntungan materi yang lebih banyak lagi. Yang benar adalah kita menabur secara finansial  karena mengasihi dan menghormati Allah.

Sebenarnya dengan memberi kita sedang mengakui bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Allah, kita hanya sebagai pengelola. Dengan memberi, kita belajar mengandalkan Tuhan sepenuhnya dan melepaskan kebergantungan kepada hal-hal yang bersifat materi. Dengan memberi, kita terhindar dari sifat tamak/serakah, pelit, cinta akan uang dan perilaku konsumtif.

Bersambung minggu depan ..

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 1)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 2)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 3)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 4)

KUNCI KEBAHAGIAAN KELUARGA

KUNCI KEBAHAGIAAN KELUARGA

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” Mazmur 128:1

Setiap orang yang sudah berumah tangga pasti memiliki harapan rumah tangga yang dibangunnya kokoh, langgeng, berbahagia. Untuk mewujudkan itu hal utama yang harus diperhatikan adalah kekuatan fondasinya, sebab fondasi menentukan kekokohan suatu bangunan menghadapi goncangan dan badai.

Fondasi yang kuat bagi kehidupan rumah tangga atau keluarga adalah takut akan Tuhan (ayat nas). Takut akan Tuhan berarti “…hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.” Jika kita sudah membangun fondasi keluarga dengan hati takut akan Tuhan, maka berkat akan dicurahkan dalam kehidupan keluarga kita. “…engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!” (ayat 2). Kalimat ‘hasil jerih payah tanganmu’ berbicara tentang pekerjaan, usaha, bisnis atau apa saja yang kita kerjakan, termasuk pelayanan, yang akan dijadikan Tuhan berhasil dan beruntung. Takut akan Tuhan berbicara ketaatan, dimana setiap ketaatan selalu mendatangkan upah atau berkat dari Tuhan. Berkat tersebut akan dinikmati oleh seluruh anggota keluarga, bahkan sampai keturunan selanjutnya.

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 2)

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 2)

Sekilas review:
Orang yang menabur dalam iman, pengharapan dan kasih harus percaya bahwa semua yang ditaburnya pasti akan dituai/berbuah pada waktunya. Benih apa saja yang mau kita tabur supaya menuai hasil/berbuah/mengalami multiplikasi :
1). Benih perkataan; 2). Benih kebenaran.

Sambungan minggu ini:
3. Benih kerendahan hati.

Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Amsal 22:4).
Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati (Amsal 11:2).

Orang yang menabur benih kerendahan hati akan menuai kekayaan, kehormatan, dan kehidupan.
Alkitab tidak menghubungkan kekayaan, kehormatan, dan kehidupan dengan kerja keras, kepandaian, skill (kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik) atau hal-hal yang bersifat material, melainkan dengan karakter kerendahan hati dan takut akan Tuhan.

Kekayaan, kehormatan dan kehidupan di sini dihubungkan dengan hidup yang berkelimpahan dalam Yohanes 10:10. Kelimpahan apa saja? Kasih (1 Tes. 3:12), hikmat, buah-buah Roh (Yoh. 15:5), buah-buah kebenaran dan kemurahan hati (2 Kor. 9 10-11); kelimpahan damai sejahtera; kaya dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan (1 Kor. 1:5-6). Orang yang merendahkan hati akan ditinggikan Tuhan pada waktunya. Sebaliknya, orang yang menabur kecongkakan akan menuai kehancuran dan kejatuhan (Amsal 16:18) sebab Tuhan menentang orang yang congkak.

Sikap-sikap menabur benih kerendahan hati antara lain:
a. Memiliki roh takut akan Tuhan dan mengakui kedaulatan-Nya atas hidup kita.
b. Taat kepada hukum Tuhan dan melakukan perintah-Nya.
c. Menghargai kelebihan orang lain dan menerima kekurangannya.
d. Menyadari kelemahan diri, tidak mengeraskan hati, tidak merasa diri benar, mau mengakui kesalahan, memiliki hati yang lemah lembut (mau diajar/dikoreksi dan belajar), hidup dalam pertobatan.
e. Mendahulukan kepentingan Tuhan dan orang lain di atas kepentingannya sendiri, sikap unity dalam teamwork, ada penundukkan diri terhadap otoritas di atasnya,

4. Benih damai sejahtera.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9).

Seorang pembawa damai bisa membawa diri dengan baik dan menciptakan suasana damai, kondusif (situasi yang mendukung, nyaman, aman, tertib dan tenang) serta dapat mengalirkan damai sejahtera Allah kepada orang lain. Seorang pembawa damai memiliki hati yang tenang dan penguasaan diri yang baik. Ini dihasilkan oleh hati yang dipenuhi damai sejahtera karena Roh Kudus. Menjadi pembawa damai bukan berarti sikap mengalah demi kompromi dengan dosa; bukan pula berpihak kepada salah satu kelompok/orang, tapi berpihak kepada kebenaran. Damai yang sejati tidak terjadi dengan mengorbankan kebenaran, tapi dibangun diatas kebenaran.

Contoh sikap menabur benih damai sejahtera:
a. Mengupayakan penyelesaian masalah dan mendamaikan perselisihan. Memberikan nasihat positif yang sesuai dengan firman Tuhan, bukan menghasut atau memanipulasi orang lain demi kepentingan/keuntungan pribadi.
b. Memberikan pengampunan bagi orang yang bersalah, tidak memperkeruh masalah, masalah besar dikecilkan dan masalah kecil ditiadakan. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18).
c. Bisa menghargai perbedaan dan menjaga hubungan baik.
d. Menjaga sikap, perkataan dan tindakan supaya tidak menimbulkan kemarahan, kebencian atau pertengkaran.
e. Tidak mudah tersinggung, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

5. Menabur benih kebaikan.

‘Baik’ menurut Alkitab bukanlah seperti nilai dan ukuran yang dunia ajarkan. Kebaikan adalah sikap yang meneladani Kristus dalam memperlakukan orang lain; suatu nilai-nilai kebaikan yang berpusat kepada Allah dan sifat-Nya yang baik, dengan penekanan utama pada kemurahan hati.

Pengakuan bahwa Allah baik adalah dasar dari semua kebaikan moral. Apa yang IA ciptakan, buat, perintahkan, dan berikan bagi manusia dan seluruh ciptaan adalah baik. Pemberian Allah adalah baik karena semua itu mengungkapkan kemurahan hati-Nya yang ditujukan untuk kebaikan, kesejahteraan, keselamatan dan keuntungan si penerima.

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. (Galatia 6:9-10).

Kasih, kebaikan, kesetiaan, usaha dan pengorbanan yang kita tabur dalam hidup orang lain tidak akan pernah sia-sia. Pada kenyataannya kita bisa saja merasa jemu melakukan hal-hal tersebut, terlebih kepada orang yang menurut kita tidak pantas mendapatkannya. Sering ada anggapan bahwa berbuat baik terhadap orang yang jahat, keras kepala ataupun bebal merupakan sebuah kebodohan yang membuang-buang waktu dengan percuma; tapi ketahuilah bahwa Tuhan dapat memakai semua yang telah kita tabur untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yaitu pertobatan.

Firman Tuhan menjamin bahwa jika kita terus bertekun menabur kebaikan, kita pasti menuai pada waktunya (pada kairosnya Tuhan), asal kita tidak menjadi lemah (mis. menjadi jengkel, kecewa, menyalahkan, melontarkan kata-kata negative, hilang pengharapan dan berhenti berbuat baik). Bertekun menabur kebaikan akan membawa kita melihat penuaian.

Bersambung minggu depan…

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 1)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 2)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 3)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 4)

SIAPA MENABUR SIAPA MENUAI

SIAPA MENABUR SIAPA MENUAI

“Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” 2 Korintus 9:6

Di era tahun 80-an ada lagu yang cukup populer berjudul ‘Siapa menabur siapa menuai’ karya Rinto Harahap, yang dilantunkan oleh Hetty Koes Endang. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini berlaku hukum tabur-tuai: siapa yang menabur, dia yang akan menuai; apa yang ditabur itu juga yang akan dituai.

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

 

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 1)

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 1)

PENDAHULUAN

Ada dua hal utama yang mau kita lakukan dalam ketaatan di Tahun Penuaian ini. Pertama menyiapkan lahan untuk penuaian; ke dua menyiapkan benih untuk ditabur. Tanpa menabur, tidak akan ada tuaian. Perlu diketahui bahwa ada benih yang harus kita tabur dalam kehidupan pribadi, ada pula yang ditabur dalam kehidupan orang lain.

Tema bulan February ini: “Apa yang kita tabur dalam iman, pengharapan, dan kasih akan berbuah pada waktunya.” Orang yang menabur dalam iman, pengharapan dan kasih harus percaya bahwa semua yang ditaburnya pasti akan dituai/berbuah pada waktunya. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13).

ISI

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:7-9).

Benih apa saja yang mau kita tabur supaya menuai hasil/berbuah/mengalami multiplikasi :

1. Benih Perkataan.

Perkataan merupakan sebuah benih yang memiliki daya cipta dalam kehidupan kita maupun orang lain. Kita akan memakan buah dari perkataan kita. Benih perkataan bisa baik ataupun buruk. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21).

Ketika kita perkatakan kehidupan dan berkat, kita pun akan menuai kehidupan dan berkat di masa depan. Saat kita perkatakan kekalahan, hal negatif dan kegagalan, hal-hal itu pula yang akan kita tuai. Kehidupan hari ini adalah hasil dari benih perkataan yang kita tabur di hari kemarin.

Refleksi diri : Perkataan seperti apa yang kita tabur?

“Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:35)

Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal (Matius 12:33).

Orang yang baik pasti akan menabur benih perkataan yang sesuai dengan firman Tuhan, yaitu kata-kata yang mengandung kebenaran, kehidupan, kasih, ucapan syukur dan berkat; perkataan yang memuji Tuhan dan yang membangun.
Sebaliknya orang yang jahat akan menabur benih perkataan yang negatif, melemahkan iman, kata-kata kotor, sia-sia, dusta, fitnah, menghasut, mengutuk, menghina, menghakimi orang lain, dlsb.

Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. (Matius 12:34).

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum (Matius 12:36-37).

2. Benih Kebenaran.

Orang yang menabur benih kebenaran akan menuai kehidupan. Benih kebenaran yang dimaksud adalah firman Tuhan. Firman Tuhan memberikan sebuah dorongan yang sangat baik, yaitu untuk memilih ‘kehidupan’ dan bukan ‘kematian’; ‘berkat’ dan bukan ‘kutuk’. Firman Tuhan bukan dimaksudkan untuk memenjarakan kita dengan sederet larangan serta peraturan yang mengikat, tetapi ‘supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu’.

Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka (Ulangan 30:19-20).

Firman Tuhan yang ditabur bukan hanya memberkati kehidupan kita saat ini, tapi juga generasi yang akan datang/ keturunan kita.
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya (Mazmur 112:1-3).

Jadi jika kita menghendaki keturunan kita turut menuai kehidupan dan berkat, maka taburlah benih kebenaran dalam hidup kita secara pribadi dan dalam keluarga (pasangan dan anak-anak kita). Setelah lahir baru, kita perlu memberi makan manusia roh kita dengan firman Tuhan. Jangan jadi bayi rohani terus, tetapi bertumbuhlah supaya menghasilkan buah dan memuridkan orang lain.

Proses pertumbuhan terjadi karena dua hal : Konsisten (tetap, tidak berubah-ubah; taat asas; selaras; sesuai) dan Kontinuitas (kesinambungan; kelangsungan; kelanjutan; keadaan kontinu). Ini bicara tentang Pemuridan/Discipleship. Sikap konsisten dan kontinu dalam sebuah proses menjadikan manusia roh kita kuat. Proses ditujukan supaya kita berbuah banyak.
Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:2).

Bersambung minggu depan..

BENIH APA YANG DITABUR (bagian 1)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 2)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 3)
BENIH APA YANG DITABUR (bagian 4)

SENIN, MENGASIHI TUHAN: Merindukan Hadirat-Nya (2)

SENIN, MENGASIHI TUHAN: Merindukan Hadirat-Nya (2)

“Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!” Mazmur 31:24

Orang yang mengasihi Tuhan pasti rindu selalu dekat dengan Dia melalui doa, atau jam-jam peribadatan. Demikian pula Daud: “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN;…Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:2, 3, 11). Doa adalah nafas hidup orang percaya, karena itu keintiman yang kita jalin dengan Tuhan haruslah menjadi prioritas utama dalam keseharian kita. Ingat, kekristenan bukanlah sekedar ritual agamawi, melainkan kasih yang dinyatakan ke dalam sebuah tindakan hidup karib dengan Tuhan.

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

BERDUKACITA MELIHAT DOSA

BERDUKACITA MELIHAT DOSA

“Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.” Lukas 6:25b

Jika memperhatikan keadaan dunia ini semua orang bisa langsung menyimpulkan bahwa keadaannya semakin hari tidak bertambah baik. Alkitab sudah mencatat bahwa di masa-masa akhir “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” (Matius 24:6-7).

Dari tahun ke tahun dan dari generasi ke generasi tingkat kejahatan bukan semakin menurun, tetapi menunjukkan grafik yang
terus meningkat dan menjadi-jadi. Berita tentang tindak kejahatan: pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, penindasan dan sebagainya sudah menjadi hal yang biasa kita lihat dan dengar setiap hari.

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.