Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message" (Page 16)
API ROH KUDUS DARI PENTAKOSTA SEDANG TURUN

API ROH KUDUS DARI PENTAKOSTA SEDANG TURUN

Hari-hari ini kita sedang memasuki era Pencurahan api Roh Kudus dari Pentakosta Ketiga yang dahsyat sudah dimulai.
Apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir?
Apa yang harus kita lakukan untuk membangkitkan Generasi Yeremia yaitu generasi anak-anak muda yang dipenuhi dengan Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa dan akan bergerak memenangkan jiwa?
Apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan Amanat Agung?

Salah satu yang harus kita lakukan adalah berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam.
Seperti yang terjadi pada waktu Pentakosta yang pertama di kamar loteng Yerusalem, maka sebelum Roh Kudus dicurahkan, mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Artinya mereka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam. Ini adalah prinsip Restorasi Pondok Daud. Ini adalah prinsip Menara Doa.
Selama 10 hari mereka melakukan itu. Dan pada hari raya Pentakosta, terdengarlah seperti tiupan angin keras dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap kepada mereka masing-masing. Mereka dipenuhi dengan Roh Kudus dengan tanda awal mereka berbahasa roh. Setelah itu mereka dipakai Tuhan untuk menyelesaikan Amanat Agung. Haleluya!
Demikian pula pada waktu Pentakosta yang Kedua yang terjadi di Azusa Street pada tahun 1906. William Seymour dan teman-temannya mempersiapkan pencurahan Roh Kudus melalui doa, pujian dan penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam.
Koran Apostolic Faith, Volume 1 No.1 tahun 1906 yang meliput tentang Azusa, mengatakan bahwa cikal bakal Azusa dimulai dengan Menara Doa (Prayer Tower) dan mempelajari Firman Tuhan.
Saya baru pulang dari Amerika Serikat untuk menghadiri acara Pentecost Again Celebration di Azusa Street Prayer Tower (APT) di Gedung Arani Theatre. Seperti kita ketahui APT adalah tempat berdoa atau menara doa dari Pentakosta yang Ketiga untuk Amerika dan dunia. Letaknya di sebuah gedung yang paling dekat dengan tempat yang digunakan oleh William Seymour tahun 1906, di mana terjadi Pentakosta yang kedua. Jaraknya hanya sekitar 15-20 meter.
Pentecost Again Celebration diadakan pada hari Sabtu, 16 Juli 2022. Sehari sebelumnya, yaitu pada hari Jumat, saya bersama rombongan kecil datang ke APT untuk berdoa. Ini pertama kalinya saya berdoa di tempat itu. Pagi hari nya sebelum berangkat, Tuhan menyuruh saya untuk membacakan 2 Tawarikh 7:12-16 di APT. Sebelum membacakan ayat itu, ketika kita masuk ke tempat itu, kami semua dilawat Tuhan secara luar biasa. Saya hampir tidak kuat berdiri dan berpegangan pada tembok. Saya belum pernah merasakan lawatan Tuhan seperti itu meskipun di Yerusalem. Setelah itu, saya mulai membaca 2 Tawarikh 7:12-16.
“Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari dan berfirman kepadanya: “Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagi-Ku sebagai rumah persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.”
Saudara, inilah Third Pentecost Azusa Street Prayer Tower, Rumah Persembahan.
Saya ingat, hal seperti ini juga terjadi saat pentahbisan Menara Doa SICC Lantai 12, di mana pada waktu itu Pak Kim Seng, salah seorang pendoa syafaat di tempat kita, mendapat penglihatan tentang telinga yang besar dan ayat yang Tuhan berikan adalah 2 Tawarikh 7:15-16.
“Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.”
Saudara, Tuhan sudah berikan untuk yang lebih besar lagi, yaitu Third Pentecost Azusa Street Prayer Tower, suatu Menara Doa untuk Amerika dan dunia.
Pada acara Pentecost Again Celebration, kami bertiga yaitu saya, Tim Hill sebagai Ketua Umum Church of God, dan Billy Wilson sebagai Co-chair Global Empowered21 sekaligus Presiden Oral Robert University dan Pentecostal World Fellowship; mengurapi APT. Tindakan profetik ini perlu dilakukan, karena APT ini harus berada dalam suatu naungan yaitu gereja; dalam hal ini Sinode Church of God. Karena itu ada Empowered21 di mana yang akan menemukan jaringan yang akan menyatukan seluruh denominasi yang ada dan itu penting kita lakukan. Dan ini sudah kita lakukan, Haleluya!
APA YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM API TUHAN TURUN?
Pada zaman Elia, orang Israel bertobat karena mereka melihat api Tuhan turun setelah Elia berdoa. Sebelum berdoa, ada 3 hal yang dilakukan oleh Elia:
Elia membuat mezbah yang disusun dari 12 batu yang melambangkan 12 suku Israel.
Ini berbicara tentang unity sesuai dengan Yohanes 17 yang merupakan doa Tuhan Yesus. Dikatakan unity adalah faktor utama untuk terjadinya penuaian jiwa.
Elia mempersembahkan lembu yang dipotong-potong yang diletakkan di atas kayu bakar, di atas mezbah itu. 
Ini berbicara tentang mempersembahkan korban. Sesuai Roma 12:1 dikatakan bahwa:
“persembahkanlah tubuhmu sebagai korban persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Elia menyuruh mengambil 4 buyung yang diisi air sampai penuh. 
Kemudian disiramkan ke atas korban persembahan tadi dan diulangi sebanyak 3 kali. Jadi artinya sebanyak 12 buyung air. Air berbicara tentang sesuatu yang mahal harganya. Mungkin lebih mahal dari emas karena saat itu bangsa Israel sedang mengalami musim kering selama 3 ½ tahun. Ini berarti Tuhan mengajarkan kepada kita harus mempersembahkan sesuatu yang mahal harganya bagi kita. Itu bisa berupa uang, waktu, hobi, harga diri, pengampunan dan lain-lain.
Setelah melakukan 3 hal tadi, Elia berdoa dan berkata kepadaTuhan:
“Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”
Apa yang terjadi setelah Elia berdoa? Lalu turunlah api TUHAN membakar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit habis dijilatnya. Setelah seluruh rakyat melihat hal itu, sujudlah mereka serta berkata: “TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!”
Jadi kalau kita mau melihat api Roh Kudus dari Pentakosta Ketiga yang dahsyat dicurahkan, maka kita harus berdoa seperti Elia berdoa. Di mana kita harus berdoa dengan unity, gereja-gereja harus unity. Kita harus mempersembahkan tubuh ini sebagai korban persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Tuhan. Kita juga harus mempersembahkan persembahan yang mahal kepada Tuhan, apakah itu uang, waktu, hobi, harga diri, pengampunan dan lain-lain.
KEBANGUNAN ROHANI, PENUAIAN JIWA DIMULAI DENGAN PEMURNIAN
“Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.”
Maleakhi 3:1-4
Supaya terjadi kebangunan rohani, maka Tuhan sendiri, yang pada ayat ini disebut sebagai Malaikat Perjanjian akan datang. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Tuhan akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak. Tuhan akan menyucikan orang-orang Lewi, yang dapat diartikan gereja Tuhan, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan. Persembahan mereka akan menyenangkan hati Tuhan seperti yang dulu pernah terjadi.
Kalau kita ingat, awal dari gereja kita GBI Jl. Jend Gatot Subroto ini pada awal tahun 90-an, pada saat itu terjadi kebangunan rohani yang dahsyat. Praise dan worship di Karsa Pemuda membuat banyak orang bertobat, mereka menjadi murid dan dipakai Tuhan secara luar biasa. Tetapi dengan berjalannya waktu, keadaan yang seperti itu mulai memudar. Hari-hari ini kita di era Pentakosta Ketiga, Tuhan mencurahkan api yang memurnikan gereja-Nya supaya hidup mereka benar di hadapan Tuhan. Doa, pujian dan penyembahan mereka akan menyenangkan hati Tuhan seperti yang terjadi pada waktu itu.
Kebangunan rohani, Penuaian jiwa; itu dimulai dengan pemurnian! Memang ini menyakitkan, tetapi hasilnya akan luar biasa. Api Roh Kudus Pentakosta Ketiga sedang turun untuk memurnikan kita, gereja-Nya.
Ketika Paulus dalam perjalanan ke Roma sebagai orang hukuman, kapal yang ia tumpangi dihantam badai yang menyebabkan kapal itu rusak, tetapi 276 penumpangnya selamat karena Paulus. Mereka semua berenang ke pantai dan ternyata itu pulau Malta. Penduduk pulau itu sangat ramah. Mereka menyalakan api besar dan mengajak semua orang ke situ karena mulai hujan dan hawanya dingin. Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya ke atas api, maka keluarlah ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Ketika orang melihat ular itu terpaut pada tangan Paulus, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Orang ini pasti seorang pembunuh, karena meskipun dia luput dari laut, dia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan.” Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan dia sama sekali tidak menderita sesuatu. Mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak, mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat bahwa Paulus seorang dewa. Setelah itu terjadi kebangunan rohani. Dimulai dengan ayah dari Gubernur (bernama Publisius) yang sakit demam dan disentri disembuhkan, kemudian orang-orang yang sakit di pulau itu (Kisah Para Rasul 28:1-9).
Apa yang hendak Tuhan katakan kepada kita melalui kisah ini? Bahwa dengan adanya api yang besar, ular keluar menampakkan diri. Ular mencoba menggigit tetapi justru dikebaskan oleh Paulus ke dalam api sehingga ularnya mati. Ular tadi mencoba menggigit Paulus supaya Paulus mati, tetapi yang terjadi sebaliknya justru Paulus hidup dan ular mati. Dan orang-orang justru menganggap Paulus adalah dewa.
Api yang besar ini berbicara tentang api Roh Kudus yang besar dari Pentakosta Ketiga sedang turun, ini akan membuat ular/Iblis akan menampakkan diri karena tidak tahan dengan panasnya api. Artinya pekerjaannya akan ditelanjangi dan iblis masih mencoba untuk menggigit atau merusak pekerjaan Tuhan, tetapi tidak akan berhasil selama gereja berkarakter seperti Tuhan Yesus. Bahkan pekerjaan Iblis yang merusak akan dihancurkan. Haleluya!
Selama ini mungkin kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang menghambat perkembangan dari pekerjaan Tuhan? Tetapi setelah api Roh Kudus yang besar dari Pentakosta Ketiga sedang turun semuanya akan menjadi jelas. Pekerjaan Iblis akan ditelanjangi dan kita akan tahu dengan jelas apa sebenarnya penyebab dari penghambat pekerjaan Tuhan selama ini.
JANGAN MAIN-MAIN DENGAN TUHAN
Selain hal-hal di atas, Tuhan juga mengingatkan kita untuk melakukan seperti yang dituliskan oleh Daud dalam Mazmur 18:21-27,
“TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak berlaku fasik terhadap Allahku. Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan ketetapan-Nya tidaklah kujauhkan dari padaku; aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.”
Saya mau berpesan kepada Saudara: Jangan main-main dengan Tuhan. Kalau sampai kita dibelat belit Tuhan karena kita berlaku bengkok, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Karena itu, mari, saya akan mengajak Saudara berkata bersama saya: “Tuhan, aku mau berlaku setia! Tuhan, aku mau berlaku tidak bercela! Tuhan, aku mau berlaku suci kepada Tuhan!” Ingat Tuhan Yesus datang segera. Maranatha!

image source: https://mobile.twitter.com/randybriscoe

KITA DIPANGGIL UNTUK MERAWAT BAIT SUCI-NYA  DAN MENUAI JIWA (bagian 1)

KITA DIPANGGIL UNTUK MERAWAT BAIT SUCI-NYA DAN MENUAI JIWA (bagian 1)

“dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14)

Apa yang terjadi di dunia saat ini: Berita tentang perang, bencana alam, kekerasan, wabah penyakit, krisis, memang telah ditulis di Alkitab. Pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar karena kasih kebanyakan orang menjadi dingin, tetapi “Injil kerajaan Allah akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:14)

Gereja dipanggil, dimurnikan dan dipulihkan untuk memberitakan Injil dan menuai jiwa-jiwa.
Untuk menuai jiwa orang percaya perlu memiliki gaya hidup yang rendah hati (Humility), lapar dan haus akan FirmanNya (Hunger), kudus (Holiness), hidup rukun (Harmony) dan kemudian penuaian jiwa terjadi (Harvest).

Tuhan memanggil Gereja untuk menjalankan fungsinya sebagai pemimpin, dalam arti menjadi garam dan terang yang memberi dampak bagi dunia. Walau masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak menjadi sama dengan dunia. Gereja bertanggung jawab membangun tembok perlindungan bagi keluarga, orang-orang kudus, orang yang menjalankan pemerintahan di suatu kota dan bangsa melalui doa syafaat, deklarasi membalikkan keadaan, pujian-penyembahan, memberitakan Injil serta tindakan kasih.

“Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya” (Yehezkiel 22:30).

Gereja telah diberi kuasa dan otoritas untuk mengubah atmosfir di komunitas, kota dan bangsa (Matius 16:19). Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak. 5:16b).

“dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14).

Pesan Tuhan bulan ini menyatakan bahwa untuk memulihkan suatu kota dan bangsa serta menuai jiwa-jiwa, Gereja harus sungguh-sungguh merendahkan diri, bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Gereja di sini mencakup setiap orang percaya, gereja lokal dan gereja global. Gereja bukanlah bangunan secara fisik. Gereja adalah roh, jiwa dan tubuh orang percaya, yang merupakan Bait Suci Allah. Kita telah dibeli oleh darah Yesus Kristus dan menjadi milik Dia seutuhnya.

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Kor. 3:16)

“Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24).

Cara kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran adalah dengan menjalani hidup sebagai pelaku Firman. Roh, jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) dan tubuh fisik kita jujur (terbuka/transparan) di hadapan Tuhan. Jadi ibadah adalah total surrender (jujur/terbuka) di hadapan Tuhan, bukan hanya untuk mendengar Firman atau hanya sekedar kebiasaan beribadah.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup , yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Orang yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran masih bisa berbuat kesalahan karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi ia akan rela merendahkan diri, jujur tentang keadaan dirinya di hadapan Allah serta hidup dalam pertobatan karena hatinya tulus mengasihi Tuhan dan sesama.

Mari persiapkan diri untuk penuaian jiwa dengan merawat dan memperkuat bait Suci Roh Kudus (roh, jiwa dan tubuh), yaitu 5H : Humility, Hunger, Holiness, Harmony dan Harvest.

1. HUMILITY (Kerendahan hati)

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
(Kolose 3:12)

Orang yang rendah hati akan mengakui kedaulatan Tuhan atas hidupnya. Merendahkan hati berarti menanggalkan kebenaran diri sendiri (self-righteous) dan mau bertobat serta mulai mengikuti tuntunan Tuhan. Sikap merendahkan hati bukan hanya di hadapan Allah saja, tapi juga di hadapan sesama karena itu adalah kebenaran. Firman Tuhan dalam Kolose 3:12 memerintahkan kita untuk merendahkan hati,
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Setiap orang percaya dipanggil sebagai satu tubuh Kristus untuk selalu memperlengkapi diri dengan :

Belas kasihan (compassion) yaitu sikap yang menunjukkan kasih dan belas kasihan, tidak menyimpan kesalahan orang lain melainkan melepaskan pengampunan (merciful), sikap peduli (bukan kepo atau ingin tahu urusan orang lain), hati yang lembut dan ramah terhadap orang lain.
Kemurahan (kindness), sikap yang menunjukkan kasih yang teguh/kuat serta tidak berubah, kesetiaan, loyalitas dan kebaikan.

Kerendahan hati (humility), sikap yang mau mengerti orang lain, bisa ditegur/dikoreksi atau diingatkan. Sikap rendah hati mau berjalan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama, siap mengampuni kesalahan orang lain serta sadar bahwa dirinya bukan hal yang terpenting tetapi memperhatikan kepentingan orang lain juga.

Kelemahlembutan (gentleness), sikap yang berbelas kasihan terhadap orang yang lemah, kesabaran terhadap serangan atau perlakuan yang tidak nyaman, bebas dari kebencian dan keinginan untuk balas dendam dan sopan terhadap orang lain. Sifat lemah lembut memiliki hati yang mudah dibentuk (teachable) dan tidak membantah.
Kesabaran (patience), rela bertahan dalam menanggung penderitaan atau ketidakadilan dan tidak terpancing untuk melakukan pembalasan dengan perbuatan negatif.

Lawan dari kerendahan hati adalah kesombongan. Sifat tinggi hati sesungguhnya merugikan bahkan mencelakakan diri sendiri.
Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Amsal 16:18).
Kalau kita tidak bisa merendahkan hati di hadapan manusia yang terlihat secara fisik, bagaimana bisa kita merendahkan hati di hadapan Allah yang tidak terlihat.

Dalam suatu hubungan, sikap merendahkan hati bukan hanya sepihak. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk saling merendahkan hati satu dengan yang lain. Dengan merendahkan hati di hadapan Tuhan dan sesama, kita sedang menjadi pelaku firman dan memenuhi hukum kasih Kristus yaitu saling mengasihi satu dengan yang lain.

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab : “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1 Pet. 5:5b)

Untuk dapat hidup dalam kerendahan hati, tinggallah dalam kasih Kristus. Jadikan Ia sebagai pusat seluruh kehidupan kita agar hati tidak jadi keras dan kasih tidak menjadi dingin. Hubungan dengan Roh Kudus yang selalu dipelihara akan membangun, merawat dan menguatkan manusia roh kita untuk hidup dalam kerendahan hati dan saling mengasihi. Lewat kehidupan doa pujian penyembahan, Roh Kudus mengubah hati yang keras menjadi lemah lembut, memiliki belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati dan kesabaran.

image source: https://www.pinterest.com/babenchrist777/2-chronicles-714/

PROPHETICAL OBEDIENCE

PROPHETICAL OBEDIENCE

RENUNGAN KHUSUS

PROPHETICAL OBEDIENCE

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku
dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”
Yohanes 10:27

Tuhan mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Nya mengenai setiap orang percaya, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh dengan harapan. (Yeremia 29:11)
Tuhan menghendaki umat-Nya hidup sesuai dengan rancangan-Nya, oleh karenanya Tuhan menuntun dengan berbagai cara. Secara umum melalui firman-Nya dan juga secara pribadi melalui suara di dalam hati, suara yang dapat didengar dan berbagai cara lainnya. Pesan-pesan-Nya itu dapat merupakan tuntunan, teguran, atau nasihat. Jadi ini bukan tentang kemampuan manusia untuk mendengar suara-Nya, tetapi tentang kehendak Tuhan memperdengarkan suara-Nya. Mereka yang benar-benar milik Kristus akan senantiasa mendengar dan mengikuti suara-Nya sekalipun tidak sepenuhnya mengerti. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau ada orang-orang yang tidak mau menaati perintah-Tuhan.

MENDENGAR DAN MENGIKUTI SUARA TUHAN
Ada dua contoh tokoh di Alkitab yang mendengar suara Tuhan dan mengikutinya sekalipun tidak memahaminya:
1. ISHAK

Maka timbullah kelaparan di negeri itu. — Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman:
“Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.
Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.”Jadi tinggallah Ishak di Gerar.
Kejadian 26:1-6

Ketika terjadi bencana kelaparan di negerinya, Ishak berniat untuk mengungsi ke Mesir persis seperti apa yang dilakukan Abraham ayahnya dahulu.
Tetapi Tuhan melarang Ishak untuk pergi ke Mesir padahal dulu waktu Abraham mengalami bencana kelaparan, Tuhan tidak melarangnya untuk mengungsi ke Mesir. (Kejadian 12:10)
Dan Ishak menaati firman Tuhan, ia tidak jadi pergi ke Mesir dan tinggal di Gerar. Ishak adalah salah satu contoh tokoh di Alkitab yang mengalami berkat Tuhan yang luar biasa karena ketaatannya mengikuti suara Tuhan sekalipun tidak mengerti. Terkadang kitapun mengalami hal yang sama, ketika menghadapi masalah dan kita mau bertindak menurut apa yang kita pandang baik, tetapi Tuhan mencegahnya. Kita percaya bahwa rancangan Tuhan pasti lebih baik dari pada rancangan kita sendiri.

2. PAULUS

“Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, Tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.”
(Kisah Para Rasul 16:6-7)

Dalam perjalanan misinya yang kedua yang dicatat di Kisah Para Rasul 16 ini, tercatat dua kali Tuhan mengalihkan pelayanan Paulus dan rekan-rekannya.
Pertama, Roh Kudus mencegah mereka memberitakan Injil di Asia (ayat 6).
Kedua, Roh Yesus tidak mengizinkan mereka masuk ke daerah Bitinia (ayat 7).
Padahal Paulus bermaksud untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah baru yang mana sesuai dengan panggilannya yaitu memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi. Tetapi Tuhan memiliki rencana lain yang lebih baik, Dia ingin Paulus ke Troas dan menuntun melalui penglihatan tentang seorang Makedonia. Paulus mengikuti tuntunan Tuhan itu, lalu bersama rekan-rekannya berangkat dan tiba di Filipi, kota pertama di bagian Makedonia. (ayat 9-12)
Demikian juga sekarang, walaupun Tuhan telah memberikan Amanat Agung kepada setiap orang percaya tetapi tidak serta merta kita dapat melakukannya menurut logika kita. Tuhan yang empunya pelayanan akan menuntun sehingga pelayanan pemberitaan Injil itu berhasil. Seringkali kita berusaha melakukan banyak hal termasuk pelayanan dengan pengertian kita sendiri dan tidak melibatkan Tuhan. Kita perlu mendengar suara Tuhan dan mengikuti arahan-Nya.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
(Yesaya 55:8-9)

Hal tersebut berbeda dengan Bileam, seorang yang mampu mendengarkan suara Tuhan, namun tidak menaatinya. Menyalahgunakan karunianya dalam mendengar suara Tuhan untuk mengambil keuntungan pribadi. Walaupun dia sudah mendengar suara Tuhan untuk tidak mengutuki bangsa Israel, tetapi karena imbalan uang, Bileam mengabaikannya, sampai-sampai Tuhan memakai seekor keledai untuk memperingatkannya. Bileam tidak beralih dari kehendaknya sendiri kepada kehendak Tuhan.

CARA MENDENGAR DAN MENGIKUTI SUARA TUHAN
Bagaimana kita dapat mendengar dan mengikuti suara Tuhan?
1. Intim dengan Tuhan

“TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”
Mazmur 25:14

Untuk mendengar suara-Nya kita perlu memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Semakin intim dengan Tuhan semakin mudah kita mendengar suara-Nya. Intim dengan Tuhan adalah cara kita bisa mendengar suara-Nya.

2. Pertajam Kepekaan Rohani

“…Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”
Yesaya 50:4b

Samuel mendengar suara Tuhan sampai tiga kali namun dia tidak mengenali-Nya sampai dia diberi petunjuk oleh Imam Eli. Adalah tanggung jawab orang percaya untuk belajar melatih “pendengaran” kita dalam mendengar suara Tuhan. Mempertajam kepekaan rohani akan menolong kita mendengar suara Tuhan lebih sering dan lebih jelas. Doa, pujian dan penyembahan dan merenungkan Firman, akan melatih kita mempertajam kepekaan rohani.

3. Pikul Salib

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiku.” Matius 10:38

Ketaatan merupakan pengalihan dari kehendak sendiri kepada kehendak Tuhan, di sini diperlukan penguasaan diri yang merupakan buah Roh. Memikul salib akan menolong kita menaati suara Tuhan yang kita dengar.

Sesungguhnya setiap ketaatan selalu mendatangkan berkat, sebab Tuhan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya. (Mazmur 62:13b)

BERKAT APABILA KITA MENDENGAR DAN MENAATI SUARA TUHAN

1. Keberhasilan dan Keberuntungan

“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan Allahmu, akan mengangkat engkau diatas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan Allahmu.”
(Ulangan 28:1-2)

Kita yang rindu untuk mengalami berkat dan pemeliharaan Tuhan harus bersedia ‘membayar harga’ dalam mengikut Tuhan. Karena ketaatan mendatangkan berkat dan ketidaktaatan mendatangkan kutuk. (Ulangan 28:15)

2. Kekuatan dan Perlindungan

“Setiap orang yang mendengar perkataanku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Matius 7:24-25

Ketaatan menghasilkan kekuatan yang besar dalam diri orang percaya sehingga dapat bertahan menghadapi masalah dan pergumulan hidup. Alkitab menggambarkan orang yang taat sebagai orang yang bijaksana.

3. Keselamatan kekal

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Dan Aku memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku.”
Yohanes 10:27-28

Seseorang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus tentunya akan taat kepada perintah-perintah-Nya, menghasilkan buah-buah yang baik dalam hidupnya dan akhirnya mendapatkan keselamatan kekal.

Ketaatan dalam melakukan suara Tuhan digambarkan oleh Tuhan dalam perumpamaan Gembala yang Baik. (Yohanes 10)
Domba adalah binatang yang lemah, mudah tersesat, oleh karena itu selalu terancam marabahaya. Pertahanan seekor domba ada pada gembalanya. Seperti domba yang bergantung kepada gembalanya, kita juga harus selalu bergantung kepada Tuhan. Kita perlu memiliki kerinduan untuk mendengar suara Tuhan dan taat mengikuti perintah-perintah-Nya yang membimbing kita ke jalan yang benar.(JM)

______________________________

image source: https://www.facebook.com/MCGI.org/photos/a.1318826234798194/3042067782474022/?type=3

KEBENARAN FIRMAN YANG MEMERDEKAKAN

KEBENARAN FIRMAN YANG MEMERDEKAKAN

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32)

Ada banyak orang Kristen yang kelihatannya berpengetahuan firman (mengikuti pengajaran, mendengarkan khotbah, dlsb) tapi hidupnya tidak mengalami perubahan (masih hidup dalam dosa dan kebiasaan lama). Hanya menjadi pendengar firman tidak mengubahkan hidup seseorang; tapi percaya yang didemonstrasikan dengan ketaatan kepada firman akan mengubahkan atau mentransformasi hidup karena kebenaran firman yang di terima dengan iman memerdekakan.

Tuhan Yesus menghendaki agar kita bukan sekedar menjadi pengunjung, pengikut atau murid kelas-kelas pengajaran saja, tapi menjadi murid tetap tinggal dalam firman-Nya. Tinggal dalam firman artinya taat kepada firman. Itulah murid Kristus sejati yang akan mencapai tujuan akhir.

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)

Kata ‘firman Kristus’ dalam bahasa Yunani adalah rhēmatos Kristou. Artinya perkataan yang keluar dari mulut Kristus berbicara kepada hati dan jiwa kita, sehingga dengan iman kita dapat percaya. Kemampuan untuk mendengar dan menerima perkataan Kristus hanya dapat terjadi jika kita memiliki hubungan kasih dengan Roh Kudus.

Pada saat kita dengar Firman Tuhan, maka iman akan timbul dan mendatangkan :

PERTOBATAN/REPENTANCE

Kata pertobatan berarti “tindakan mengubah pikiran”. Pertobatan yang sejati bukan sebatas penyesalan atau perasaan bersalah. Pertobatan adalah perubahan pikiran dan tujuan, sikap berbalik arah dari sesuatu yang bukan kehendak Allah kepada perintah dan kehendakNya.

Orang yang bertobat menyadari dan mengakui kesalahannya, mengerti bahwa dosa menyakiti Allah. Sadar bahwa ia perlu anugerahNya untuk mengampuni dosa dan pelanggaran. Pertobatan sejati diikuti oleh perubahan pikiran, hati dan tindakan yang menetap (irreversible) yaitu membenci dosa, meninggalkannya serta berpaling kepada Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Orang yang sungguh-sungguh bertobat tidak mau dengan sengaja menyakiti hati Tuhan. Sebaliknya ia ingin kenal lebih lagi, ada rasa haus dan lapar akan Tuhan, mulai belajar firman dan mau di muridkan. Murid Kristus akan selalu hidup dalam pertobatan.

Demikian pula saat menghadapi masalah atau pergumulan yang berujung jalan buntu dan tidak ada harapan, sikap yang seharusnya kita lakukan adalah bertobat/berbalik dengan segenap hati kepada Tuhan Yesus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Pertobatan membawa kita menemukan jalan keluar atas masalah kita. Jangan berusaha memakai kekuatan sendiri dan mengabaikan Tuhan dalam mengatasi masalah. Orang yang mengandalkan kekuatan sendiri akan semakin frustrasi dan kecewa, kehilangan damai sejahtera dan sukacita. Keadaan jiwa dan fisiknya menjadi semakin letih lesu dan berbeban berat. Mari responi ajakan Tuhan Yesus dengan menghampiriNya dan bertobat.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

PENUNDUKKAN DIRI/SUBMISSION

Seiring dengan bertumbuh dalam firman, kita masih terus belajar untuk taat kepada kebenaran walaupun itu tidak enak bagi daging (flesh) kita. Kita akan mengalami hal-hal di mana pikiran, perasaan dan kehendak kita kurang setuju dengan firman Tuhan. Memang kita telah diberi kehendak bebas untuk memilih, namun Allah tidak menghendaki kehendak bebas tersebut malah menjadikan kita budak dosa/kedagingan. Keinginan daging akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh.

Dibutuhkan kerendahan hati untuk dapat menundukkan diri kepada kedaulatan Tuhan dengan mengakui otoritas dan firmanNya atas hidup kita. Walaupun tidak setuju dengan firman (mungkin karena belum mengerti cara dan jalan-jalan Tuhan), namun kita mau belajar menundukkan diri kepada firman Tuhan. Amsal 3:5 mengatakan “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Ketika kita mau merendahkan hati untuk belajar tunduk kepada firman, maka Roh Kudus akan memberikan pengertian sehingga kita dapat menerima kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kita. Kita dimerdekakan dari pikiran dan cara pandang yang keliru, dari kekuatiran, ketakutan, hawa nafsu, emosi-emosi negative, dlsb.

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Efesus 1:18)

“dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:32)

Belajar adalah suatu proses, di mana Tuhan mendidik hati kita untuk percaya/taat akan firmanNya. Keadaan baik atau tidak baik dipakai untuk membuat kita mengerti bahwa anak-anak Allah harus hidup karena percaya kepada firman, bukan karena melihat.

Saat dididik Tuhan, jangan putus asa bila kita diperingatkanNya. Memang tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tapi dukacita. Tapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12: 5, 11; Amsal 3:11-12).

Jika kita terus belajar menyangkal diri /taat kepada firman, kita pasti mengalami kebenaran yang memerdekakan. Kita taat kepada firman bukan seperti taurat yang mengikat, melainkan jiwa kita yang mengalami kemerdekaan untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus (Gal. 5:16-18).

PENYERAHAN DIRI YANG TOTAL/ TOTAL SURRENDER

Untuk menjadi taat secara konsisten diperlukan suatu proses sampai pada penyerahan diri total di mana kita tidak lagi mempertahankan kebenaran diri, menyalahkan keadaan atau orang lain, melainkan bisa menerima kebenaran firman tanpa perlu memperdebatkannya.

Proses yang Tuhan kerjakan lewat banyak hal di hidup kita membuat kita menyadari bahwa Allah adalah segala-galanya dan hidup kita sangat bergantung dari firmanNya. Kasih setia Tuhan yang kita alami mengajarkan hati ini untuk semakin mengasihi Dia. Mengasihi Tuhan adalah menaatiNya. Dalam kasih yang sejati tidak ada ketakutan, melainkan percaya penuh dan penyerahan diri yang total serta mengakui Tuhan dalam segala aspek hidup kita.

Tuhan mau kita menyerahkan seluruh aspek hidup kita. Seberapa yang kita serahkan/lepaskan, sebanyak itulah yang akan kita terima. Roma 12:1 menasehatkan untuk mempersembahkan (menyerahkan) roh, jiwa dan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan : itulah ibadah kita yang sejati.

Ibadah/mempersembahkan hidup bukan hanya di hari Minggu saja, sementara hari lain kita menjadi sama dengan dunia. Ibadah kita adalah tiap saat, tiap hari, di mana pun dan kapan pun. Penyerahan diri yang total kepada Tuhan akan membawa kita mengalami kehidupan kekal yang berkelimpahan seperti yang Ia janjikan dalam Yohanes 10:10.

“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 10:39)

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:25)

PENUTUP

Hidup dalam pertobatan membuat kita mau merendahkan hati dan berbalik kepada Tuhan. Untuk dapat tunduk kepada firman, Tuhan akan mendidik kita melalui proses sehingga kita semakin mengerti dan mengakui bahwa firman adalah satu-satunya jalan keluar dan jawaban dalam setiap perkara. Kita akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita. Di saat kita dengan tulus hati menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan, maka kita justru menerima hidup yang sejati.

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Galatia 2:20a).

image source: https://dwellingintheword.wordpress.com/2018/01/24/2278-john-831-59/

PROSES SEORANG MURID

PROSES SEORANG MURID

Yesus berkata kepada mereka:”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Matius 4:18-20
Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke segala bangsa guna memberitakan Injil dan memuridkan orang-orang yang belum diselamatkan. Ini adalah pekerjaan yang penting dan sekaligus tidak mudah. Pemberitaan Injil penting karena melalui pemberitaan Injil membagikan keselamatan kekal bagi banyak orang. Jika rasul-rasul tidak pergi dan memberitakan Injil, dunia tidak akan pernah mengenal Juruselamat mereka, dan pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan masuk ke dalam kebinasaan kekal(neraka).
Di sisi lain, pemberitaan keselamatan juga tidak mudah, karena berita keselamatan melalui Yesus akan menyingkapkan bahwa apa yang orang-orang percayai selama ini tidaklah menyelamatkan. Hal itu sensitif, akan menyinggung orang-orang yang meyakini kepercayaannya yang sudah lama. Murid-murid Tuhan perlu pertolongan Roh Kudus untuk menyampaikan pesan dengan hikmat. Roh Kudus akan menolong murid-murid, sehingga hal yang sulit itu dapat dikerjakan dengan baik.
Jauh sebelum mengutus, Yesus memanggil orang-orang untuk dimuridkan sebagai proses persiapan. Mereka diberi pengajaran untuk dapat mengenal Tuhan dan Kerajaan-Nya. Murid-murid harus menjalani kehidupan dalam Kerajaan Allah dan kebenarannya. Ini semua memerlukan proses. Namun Tuhan ingin memastikan bahwa murid-murid siap untuk melakukan tugas yang penting tersebut.
1. Menerima Panggilan untuk Mengikut Yesus
Siapakah murid Kristus itu? Mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang yang dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus, diperlengkapi dengan Firman dan diberi kuasa untuk melakukan tugas penyelamatan. Pada dasarnya menjadi murid Tuhan adalah suatu kehormatan, namun tidak semua orang mengerti hal itu, khususnya ketika masih baru mengiring Tuhan. Banyak orang muda yang beranggapan bahwa menjadi murid adalah sesuatu yang membosankan karena banyak menekankan hal-hal batiniah. Pandangan itu tidak tepat, karena menjadi murid Kristus adalah kehidupan yang penuh gairah kudus yang akan membawa kepada kepuasan dan kebahagiaan.
Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi hamba dosa (Yohanes 8:34). Dosa mengikat manusia dan membuat orang melakukan hal-hal buruk dan salah berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan berdosa. Ketika percaya kepada Yesus, orang diselamatkan dan dilepaskan dari perhambaan dosa dan menjadi hamba Kristus. (1 Korintus 6:19-20)
Sebagai hamba Kristus, kita perlu memiliki kebiasaan baru yang menyenangkan hati Sang Tuan. Untuk mengubah kebiasaan lama menjadi baru diperlukan proses yang disebut pemuridan. Pemuridan akan membawa kebiasaan baru dalam kehidupan orang-orang yang melakukannya.
a) Tujuan Pemuridan
Pemuridan adalah cara yang Tuhan Yesus pakai dalam mempersiapkan murid-murid-Nya. Mereka dipanggil untuk melakukan suatu tugas yang besar yaitu pemberitaan kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia dari dosa.
Tuhan memanggil mereka untuk mengikut dan diajar sehingga nantinya mereka akan mengalami perubahan hidup dan siap untuk melaksanakan tugas mulia tersebut. Sebagai murid, salah satu aspek yang penting adalah kapasitas manusia roh yang harus dipersiapkan agar dapat menjadi pribadi yang lembut hatinya sehingga mau diajar dan taat untuk melakukan perintah Tuhan. Pemberitaan Injil memerlukan orang-orang yang mau berjuang, bertahan dan terus maju di tengah tantangan dan perlawanan.
b) Hakikat Pemuridan: Perubahan dari Dalam Keluar
Pada dasarnya orang sulit untuk berubah, terlebih lagi ketika usianya sudah dewasa dan berada pada posisi yang merasa benar. Orang tidak merasa perlu untuk berubah, karena merasa tidak melakukan hal yang keliru. Keadaan luar yang menekan dengan keras seringkali dapat menghasilkan perubahan pada seseorang, misalnya orang sadar bahwa olahraga itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh, namun malas melakukannya sampai suatu saat jatuh sakit.
Perubahan yang terjadi pada seorang murid adalah perubahan dari dalam keluar dan pada akhirnya hidup sama seperti Yesus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Ketika mendengar Firman, seseorang akan memberi dua macam respon, percaya atau tidak percaya. Kadangkala Firman yang didengar tidak sesuai dengan kehidupannya, orang bisa bergumul dengan Firman tersebut, apakah akan mempercayai atau tidak. Ketika memilih untuk mempercayai Firman, maka akan terjadi perubahan. Semakin banyak Firman yang didengar dan ditaati, akan semakin banyak perubahan di dalam hati yang terjadi. Perubahan di dalam ini akan menghasilkan perubahan yang di luar, pada tindakan orang tersebut.
Simon dan Andreas mendapat panggilan untuk mengikut Yesus. Mereka baru saja mendapat pengalaman yang luar biasa. Setelah semalam-malaman tidak mendapatkan ikan, mereka menaati perintah Yesus untuk menebarkan jala di sebelah kanan. Dan mereka mendapatkan ikan yang sangat banyak, yaitu sebanyak dua perahu. Itu pengalaman yang sangat berkesan, hanya dengan satu kalimat dari Tuhan Yesus, mereka mendapatkan tangkapan ikan yang sangat banyak. Dan ketika Yesus memanggil mereka untuk mengikuti-Nya, mereka langsung meninggalkan jalanya dan ikut Yesus. Mereka melihat kuasa dari ucapan Tuhan Yesus dalam peristiwa itu.
Pada masa sekarang ini prinsip yang sama tetap berlaku, bahwa murid-murid seharusnya bersedia untuk mengikuti pimpinan Tuhan. Sebagai murid, kita tidak dapat memiliki kebebasan menentukan arah langkah hidup kita sendiri. Untuk tujuan hidup yang maksimal, Tuhan akan menuntun kita di jalan-Nya. Bagian kita adalah mengikuti tuntunan tersebut.
2. Bersedia Diajar
Tuhan Yesus menghendaki murid-murid mau mengalami perubahan hidup dari manusia lama menjadi manusia baru. Alat yang Tuhan pakai adalah Firman yang disampaikan terus-menerus. Firman akan memberi input baru, sehingga mereka dapat memilih cara hidup yang baru dibanding cara hidup lama. Kerelaan hati untuk berubah setelah mendapatkan input baru adalah hati yang mau diajar dan dibentuk. Sikap ini sangat diperlukan pada diri seorang murid Tuhan. Tanpa hati yang mau diajar, orang akan terus mengalami pergumulan dalam batinnya ketika menerima Firman.
Simon Petrus adalah seorang nelayan di daerah dekat danau Galilea, ketika memanggilnya, Tuhan Yesus berkata bahwa dia akan dijadikan penjala manusia. Dalam kalimat itu terkandung perubahan yang drastis. Seorang nelayan menjadi seorang rasul adalah suatu lompatan yang sangat besar, diperlukan perubahan dan penyesuaian yang besar pula. Apa yang menjadikan Petrus bisa mengalami perubahan sebesar itu? Jawabannya adalah Firman Tuhan yang didengarnya.
Petrus mendengar Yesus menyampaikan Firman dan sedikit demi sedikit terjadi perubahan dalam diri Simon Petrus. Firman Tuhan berkuasa mengubah hidup manusia dengan catatan orang tersebut membuka hatinya untuk mau diajar dan taat. Hasil dari ketaatan dalam hidup seseorang adalah karakter dan tindakannya akan berubah. Sebaliknya jika ada orang yang tidak mau membuka hati terhadap Firman Tuhan, maka orang itu tidak akan mengalami perubahan. Sebagai contoh Yudas, meskipun mengikut Yesus, ia tidak mengalami perubahan.
3. Bergantung kepada Roh Kudus
Salah satu aspek yang paling penting yang Tuhan Yesus ajarkan adalah kebergantungan kepada Roh Kudus. Tuhan Yesus menjalani kehidupan yang sangat bergantung kepada Roh Kudus. Tuhan juga memberitahu murid-murid untuk melakukan hal yang sama. Ini memerlukan pelatihan dan praktek dalam kehidupan. Murid-murid diajar mengenai mukjizat, melihat Yesus melakukan mukjizat dan akhirnya harus mempraktekkan mukjizat kepada orang yang membutuhkan. Itu tidak dapat dilakukan secara manusiawi, tetapi dapat terjadi jarena pekerjaan Roh Kudus di dalam diri murid-murid. Mereka harus melayani dengan kuasa Roh Kudus. (Kisah Para Rasul 1:8)
Di tengah dunia yang begitu sibuk sekarang ini, Tuhan Yesus terus memanggil orang-orang untuk dimuridkan dan dibentuk oleh Firman dan Roh Kudus untuk menjadi alat-Nya menyampaikan kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum percaya. Murid-murid perlu memberi diri agar Tuhan dapat dengan leluasa membentuk hidupnya sehingga menjadi murid yang efektif di dalam menyelesaikan Amanat Agung. Amin.

image source: https://www.pinterest.com/pin/gospel-of-matthew–368169338280353718/

KITA BISA HIDUP KUDUS KARENA ALLAH TELAH MENGUDUSKAN

KITA BISA HIDUP KUDUS KARENA ALLAH TELAH MENGUDUSKAN

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus
yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita
segala berkat rohani di dalam sorga.”Efesus 1:3
Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Ketika orang rindu untuk mengalami sesuatu, atau ingin maju/berkembang dalam kehidupannya, kebanyakan mereka mencari langkah-langkah atau metode yang praktis untuk dilakukan. Untuk mengalami berkat Tuhan yang melimpah, misalnya, orang cenderung untuk mencari ‘rumus menjadi kaya seperti Salomo’. Supaya bisa hidup kudus, orang akan mencari resep seperti ‘langkah menuju kekudusan’. Tidak mengherankan kalau content dengan tema-tema seperti itu menarik ‘viewers’ di sosial media.
Sepertinya tidak ada yang salah dengan hal-hal seperti ni. Orang tentu perlu melangkah ‘take action’, seperti kata Alkitab: “iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26)
Akan tetapi, ini bisa menandakan bahwa orang ingin mewujudkan yang di inginkan dengan kekuatan sendiri dengan cepat, instan, tanpa perlu berdoa atau refleksi. Tanpa disadari, ini mungkin menjadi sebuah penanda bahwa orang terlalu fokus dengan apa yang dia bisa dan harus lakukan daripada mengandalkan Tuhan. Dalam istilah Alkitab, ini biasa disebut dengan ‘mengandalkan kekuatannya sendiri’. (Yeremia 17:5)
Bagaimana anak-anak Tuhan seharusnya mewujudkan hal-hal yang baik dalam hidupnya sesuai dengan paradigma Alkitabiah? Mari kita mengambil hidup kudus sebagai contoh.
Ketika orang mengingatkan sesamanya untuk hidup kudus dengan mengutip, “Kuduslah kamu, sebab Aku [Tuhan] kudus” (1 Petrus 1:16), seringkali orang yang diingatkan berpikir: “Bagaimana mungkin saya bisa seperti Allah yang kudus?”
Hidup kudus seolah-olah menjadi sesuatu yang baik untuk dipercakapkan namun hampir mustahil untuk dilakukan. Benarkah demikian? Mari kita membaca Firman Tuhan dalam 1 Petrus 1 secara utuh. Kita akan menemukan sebelum Allah Bapa meminta “kuduslah kamu”, Ia“karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.”(1 Petrus 1:3-4)
Ternyata Petrus menyerukan hidup kudus setelah jemaat diingatkan apa yang Allah Bapa telah lakukan buat mereka di dalam Kristus, yaitu melahirkan mereka kembali untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat cemar. Perintah untuk hidup kudus bisa dilakukan karena terlebih dulu Allah telah menguduskan kita.
“Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” (1 Korintus 1:30) Yesus adalah Jalan menuju kekudusan itu. Di luar Dia usaha, jerih payah kita sia-sia.
Mengapa pada kenyataannya orang sering merasa sulit untuk hidup kudus? Berdasarkan pemahaman yang telah dibahas sebelumnya, sulitnya hidup kudus terjadi karena seringkali orang lupa bahwa Tuhan terlebih dahulu telah menguduskan mereka. Dapat kita simpulkan bahwa untuk mewujudkan segala sesuatu harus dimulai dengan ‘apa yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita’, sebelum ‘apa yang kita akan kerjakan’. Prioritas utama adalah ‘being’, yaitu identitas kita “di dalam Kristus”; baru setelah itu ‘doing’, yaitu apa yang sebaiknya kita kerjakan sesuai dengan identitas tersebut, apa langkah-langkah yang harus diambil.
Kita tidak mungkin melakukan sesuatu dalam hidup kita yang sebelumnya Tuhan belum kerjakan atas kita. Rasul Paulus adalah alat di tangan Tuhan yang menyadarkan orang percaya akan realitas hidup ‘di dalam Kristus’ ini. Ungkapan ‘di dalam Kristus’ atau yang sejenisnya muncul tidak kurang dari 164 kali dalam tulisan Paulus.1 Ini berarti, kesadaran atau cara pandang bahwa kita ada ‘di dalam Kristus’ adalah sesuatu yang sangat penting menurut Firman Tuhan. Mari kita hidup dengan paradigma ini!
Apa yang akan terjadi apabila anak-anak Tuhan memakai paradigma ini dalam hidupnya? Orang yang memiliki paradigma bahwa ia telah dikuduskan, atau telah dijadikan orang kudus oleh Yesus, tidak akan berkata dalam hatinya ‘betapa sulitnya hidup kudus, betapa gampangnya berbuat dosa’. Ini adalah paradigma yang lama. Sebaliknya, ia akan berkata dalam hatinya: “Saya ini orang kudus, karenanya saya mencintai dan memilih perbuatan yang kudus.” Inilah paradigma yang baru! Ini tentu bukan berarti hidup kudus bisa dilakukan tanpa upaya atau perjuangan kita sama sekali. Akan tetapi, ada perbedaan besar antara upaya hidup kudus yang dilakukan dengan kekuatan sendiri dengan upaya yang dilakukan dengan kesadaran bahwa seseorang telah dikuduskan.
Ada kisah menarik yang bisa menggambarkan kebenaran ini.2 Ingwer Ludwig Nommensen, atau yang lebih dikenal sebagai Opung Nommensen, datang ke Sumatera di abad ke-19 untuk memberitakan Injil kepada suku-suku Batak. Suatu ketika seorang kepala suku menyambut Nommensen dan berkata, “Anda punya waktu dua tahun untuk mempelajari adat kami dan untuk meyakinkan kami bahwa Anda membawa pesan yang layak untuk kami dengar.” Setelah dua tahun berlalu, si kepala suku bertanya kepada Nommensen bagaimana Kekristenan berbeda dari aturan moral dan tradisi yang mereka anut.
“Kami sudah tahu apa yang benar,” ucap si kepala suku. Kami juga memiliki hukum-hukum yang melarang kami mencuri, atau mengambil isteri sesama, atau berbohong.
Nommensen menjawab, “Itu benar adanya. Tapi Allahku memberikan kemampuan untuk menaati hukum-hukum tersebut.”
Hal ini mengagetkan si kepala suku. “Bisakah engkau mengajari orang-orangku untuk hidup lebih baik?”
“Tidak, saya tidak bisa,” jawab Nommensen. “Tapi kalau mereka menerima Yesus Kristus, Allah akan memberikan mereka kekuatan untuk melakukan apa yang benar.” Karena melalui Yesus ada Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tanpa Yesus, tidak ada jalan, kebenaran dan kehidupan.
Si kepala suku kemudian mengundang Nommensen untuk tinggal selama enam bulan. Dalam kurun waktu itu, Nommensen memberitakan Injil dan mengajar orang-orang di kampung tentang bagaimana Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang Kristen. “Kamu boleh tinggal selama yang kamu suka,” ujar si kepala suku. “Agamamu lebih baik dari agama kami, karena Allahmu berjalan bersama manusia dan memberikan mereka kekuatan untuk melakukan hal-hal yang Ia minta.”
Haleluya! Paradigma tentang apa yang Allah telah lakukan buat kita menentukan apa yang kita akan kerjakan dalam hidup kita.
“A high view of God leads to high worship and holy living, but a low of God leads to trivial worship and low living.” (Pandangan yang tinggi tentang Allah akan menghasilkan penyembahan yang tinggi dan kehidupan kudus, tapi pandangan yang rendah tentang Allah akan menghasilkan penyembahan pura-pura dan kehidupan bermoral rendah) – Steven J Lawson.

image source: https://m.facebook.com/gospel903/photos/wwwgospel903comephesians-13-blessed-be-the-god-and-father-of-our-lord-jesus-chri/10155726521581448/

Generasi Yeremia di Akhir Zaman

Generasi Yeremia di Akhir Zaman

Kita sedang berjalan di tahun 2022 yaitu Tahun Paradigma yang baru. Ada banyak hal baru yang Tuhan sedang singkapkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, sebagai pelayan Tuhan dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Hari-hari ini Tuhan terus mengingatkan kita semua akan bangkitnya satu generasi di akhir zaman ini. Generasi ini adalah bagian daripada pencurahan Roh Kudus yang dahsyat di zaman akhir sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali. Generasi ini adalah salah satu wujud nyata penggenapan dari nubuatan tentang Pentakosta Ketiga. Generasi Yeremia adalah generasi yang dibangkitkan Tuhan untuk berjalan dalam otoritas dan pengurapan Tuhan, untuk berdiri tegak; bahkan berani melawan arus guna melakukan setiap perintah dan kehendak-Nya, persis seperti Tuhan memakai nabi Yeremia pada zamannya.
Ketika mempelajari kitab Yeremia, kita menemukan ada 3 hal yang harus kita lakukan jika ingin berjalan dalam pengurapan Yeremia dan menjadi bagian dari Generasi Yeremia. Pengurapan Yeremia ini bukan hanya milik orang muda, tetapi bagi siapa pun yang mau hidup taat seperti Yeremia. Yeremia memang dipanggil sejak muda tapi dipakai Tuhan sampai akhir hidupnya. Apa saja teladan dan firman yang disampaikan oleh Nabi Yeremia:
1. Hidup Mengandalkan Tuhan (Yeremia 17:5-7)
Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia atau mengandalkan kekuatannya sendiri. Mengapa? Karena segala sesuatu yang baik hanya berasal dari Dia dan kita harus sungguh-sungguh menyadarinya, supaya segala hormat, pujian dan syukur hanya layak diberikan kepada Tuhan. Dialah yang layak dipuji dan disembah.
Dalam hal bagaimana kita hidup mengandalkan Tuhan? Sekurangnya ada 3 ciri orang yang hidupnya mengandalkan Tuhan:
a. Mempercayai Tuhan dalam segala hal
Bukti pertama kita mengandalkan Tuhan adalah ketika kita selalu percaya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini, baik atau tidak baik, susah atau senang, selalu ada dalam rencana dan kontrol Tuhan di dalamnya. Kita tidak mudah bersungut-sungut dan menyalahkan siapapun atau apapun, karena kita percaya bahwa Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap yang percaya. (Roma 8:28)
b. Mengakui Tuhan dalam segenap jalan hidup kita
Mengakui Tuhan itu artinya selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Selalu mencari Tuhan dan wajah-Nya. Selalu memohon perkenanan-Nya. Kita harus sadar bahwa tanpa Tuhan kita tidak bisa apa-apa. Kita perlu Dia setiap saat, kita perlu melibatkan Tuhan dalam segala hal yang kita kerjakan, jika ingin berhasil dan beruntung. (Amsal 3:6)
c. Berharap hanya kepada Tuhan
Ciri orang yang mengandalkan Tuhan ialah selalu berharap dan bersandar hanya kepada Tuhan. Kekuatan kita terbatas, manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak pernah mengecewakan bahkan kuasa-Nya tidak terbatas.
Mazmur 118:8 yang adalah ayat tengah dari Alkitab menunjukkan kepada kita akan hal ini. Dialah sumber kehidupan, Dia adalah pusat, sebab itu biarlah mata kita hanya tertuju kepada Tuhan, karena hanya dari Dia sumber pertolongan.
Ketika raja Yosafat dan bangsa Israel dalam 2 Tawarikh 20:1-30, tidak berdaya karena dikepung oleh 3 bangsa lain yang sangat banyak jumlahnya, mereka hanya bisa berharap kepada Tuhan. Dalam keterbatasan dan ketidakmampuannya, mereka berseru kepada Tuhan dan Tuhan datang menyelamatkan mereka.
2. Hidup dalam Pertobatan (Yeremia 18:6-10)
Dalam ayat-ayat tersebut di atas kita mengerti satu hal, yaitu bahwa pertobatan selalu mendatangkan berkat Allah dalam hidup kita. Sesuatu yang buruk yang sedang atau akan menimpa kita, seketika Tuhan bisa jauhkan dan hindarkan kalau kita BERTOBAT di hadapan-Nya.
Apa yang dimaksud bertobat? Mungkin selama ini kita mengerti bahwa bertobat itu berhenti dari dosa, tidak lagi melakukan dosa. Tapi sebenarnya itu prinsip yang sangat umum, di mana semua agama juga mengajarkan untuk menjauhi dosa.
Alkitab mengajarkan bahwa bertobat artinya berbalik, bukan hanya berhenti berbuat dosa tapi juga berbalik arah, 180 derajat, dan berjalan ke arah yang benar. Jadi artinya, bertobat sama dengan berubah lalu melakukan apa yang benar di mata Tuhan.
Kesimpulannya: pertobatan harus melahirkan perubahan kearah yang benar. Tidak ada pertobatan tanpa perubahan. Bertobat bukan hanya berhenti, tapi berbalik, berubah hidup dan perubahan itu akan nyata terlihat dan dirasakan orang lain.
Waktu Zakheus bertobat, dia bukan hanya berhenti berbuat jahat tapi dia berubah dari orang yang cinta uang dan serakah menjadi orang yang murah hati dan memberkati banyak orang. Pertobatannya menghasilkan buah, suatu perubahan yang dinikmati banyak orang dan memuliakan nama Tuhan. Bertobat artinya kita berbalik dan hidup dalam kebenaran. Karena kebenaran itu yang akan memerdekakan kita untuk menjalani hidup yang Tuhan Yesus beli dengan darahNya, saat mati disalib.
Yeremia hidup pada zaman yang sangat bobrok dalam kehidupan bangsa Israel waktu itu, sampai Yeremia mati, tidak ada orang Israel yang bertobat. Itu sebabnya mereka di tawan karena Tuhan membiarkan bangsa itu dihancurkan dan penduduknya dibuang ke Babel. Kehidupan Yeremia adalah gambaran kehidupan kita di akhir zaman ini. Dunia ini tidak akan lebih baik, dunia sedang menuju kepada kehancuran dan penghukuman. Tapi orang-orang yang hidup takut akan Tuhan, yang hidup dalam kebenaran akan diluputkan dan diselamatkan oleh Tuhan, sama seperti Yeremia. Dia dibebaskan oleh Raja Nebukadnezar, karena disuruh Tuhan. Luar biasa!
Hari-hari ini adalah hari-hari yang jahat. Iblis tahu bahwa waktunya sudah sangat singkat. Itu sebabnya dia menjatuhkan banyak “pelayan” Tuhan, dia ingin menghancurkan kehidupan banyak keluarga Kristen. Lebih khusus lagi anak-anak muda. Sebab itu mari hidup berjaga-jaga, peperangan rohani yang terbesar ada di hadapan kita. Hiduplah dalam kebenaran dan kekudusan kalau ingin diselamatkan dari angkatan yang bengkok ini dan penghukuman. Generasi Yeremia adalah generasi yang tidak kompromi dengan dosa. Mari kita mengasihi TUHAN dengan bukti nyata, bukan hanya ucapan bibir, tapi hiduplah dalam takut dan hormat akan Tuhan.
3. Setia sampai Akhir (Yeremia 20:9-11)
Ketika kita membaca kehidupan Yeremia, maka dalam dia menjalani panggilannya sebagai Nabi Tuhan, ternyata hidupnya sangat sulit. Dia ditolak, dibenci, dianiaya, dia pernah dipenjara, dipasung, dipukuli bahkan pernah diasingkan ke Mesir, tapi itu semua tidak menggoyahkan hatinya untuk tetap setia mengikut dan melayani Tuhan. Pada akhirnya dia menerima upah keselamatan dari Tuhan.
Sebelum kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, Alkitab berkata bahwa akan datang masa-masa yang sukar. (2 Timotius 3:1) Akan ada pemurnian, akan ada banyak tantangan dan guncangan. Tetapi Alkitab juga berkata bahwa orang benar akan hidup oleh iman. (Ibrani 10:38) Sebab itu kita harus memiliki iman yang kuat.
Tuhan mau kita bertahan sampai pada kesudahan. Jangan sampai kita memulai dengan roh tapi mengakhiri dengan daging. Kita yang sudah lahir baru, kita sudah memulai dengan roh, maka biarlah kita mengakhiri dengan roh juga. Terus setia sampai kita mencapai garis finish dan mengakhiri pertandingan iman dengan baik dan berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka. Ada upah dan mahkota yang menanti jika kita tetap setia sampai akhir dan jadi pemenang.
Mencari orang yang baik dan pintar tidaklah terlalu sukar, tapi menemukan orang yang setia tidaklah mudah. (Amsal 20:6)
Hidup kita pasti akan menjadi kesaksian dan berkat bagi orang lain ketika kita setia. Sebab itu jadilah hamba Tuhan yang setia, jadilah suami/isteri yang setia, jadilah pelayan Tuhan yang setia, jadilah karyawan yang setia, jadilah pemimpin yang setia. Jangan mundur dan berubah setia ketika badai datang dalam hidup, sebab Tuhan selalu setia menyertai kita. Dia mau kita tetap setia sampai akhir. Caranya:
1. Jangan kompromi dengan dunia. Jangan kalah terhadap situasi dan keadaan.
2. Percaya akan janji Tuhan. Miliki pengharapan yang kuat akan janji-Nya.
3. Percaya akan pembelaan dan penyertaan Tuhan yang sempurna.
Kalau kita bertahan sampai akhir, jadi pemenang, maka kita akan menerima upah sorgawi dan akan memerintah bersama dengan Tuhan.
“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4:17
“Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa” Wahyu 2:26

image source: https://my.bible.com/bible/116/JER.17.7-8.NLT

PERANAN ROH KUDUS DI DUNIA AKHIR JAMAN

PERANAN ROH KUDUS DI DUNIA AKHIR JAMAN

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yohanes 14:16-17)

Sebelum Yesus meninggalkan para murid, sesungguhnya banyak hal yang hendak Ia sampaikan, akan tetapi mereka belum dapat mengerti maksud perkataan Tuhan sepenuhnya (Yohanes 16:12). Tuhan Yesus mengatakan adalah lebih berguna jika Ia pergi agar Roh Kudus diutus untuk menyertai mereka selama-lamanya (Yohanes 16:7).

Secara fisik Yesus tidak bersama-sama kita, tapi Ia mengutus RohNya yang tak terbatas untuk berdiam dalam hati (inner man) kita. Roh Kudus mampu menyelidiki segala sesuatu dalam diri manusia sehingga kita akan dipimpin ke dalam seluruh kebenaran. Roh Kudus akan menerangi hati dan pikiran, memberikan rhema/pewahyuan firman dan mengajar segala sesuatu sehingga kita dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Ia diutus untuk memampukan orang percaya meneruskan karya keselamatan di bumi menjelang kedatangan Kristus yang ke dua.

Pentakosta ke tiga adalah masa yang sangat penting karena merupakan kegerakan Roh Kudus yang terbesar, terdahsyat dan terakhir. Ada dua kelompok target pencurahan Roh Kudus :

1. ORANG PERCAYA

a. Disucikan dan dimurnikan lewat ujian iman.

“Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” (Daniel 12:10)

Saat ini penghakiman telah dimulai, dan pada rumah Allah sendiri (orang percaya) yang harus pertama-tama dihakimi (1 Petrus 4:17b). Akan ada pemisahan antara lalang dan gandum, domba dan kambing. Api Roh Kudus memurnikan hidup kita melalui tantangan dan masalah. Murid Kristus yang sejati akan memahami kehendak dan lawatan Allah.

Seperti Paulus dalam 2 Timotius 1:12, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.”
Orang yang bijaksana tidak akan salah paham dan menyalahkan Tuhan ketika dirinya dimurnikan. Ia akan merendahkan hati, hidup dalam pertobatan dan tetap mengasihi Tuhan.
Daniel 11:32b, “tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.”

b. Memampukan orang percaya menjadi saksi Kristus dan berani memberitakan Injil.

Sejalan dengan proses pemurnian, kuasa Roh Kudus akan membangkitkan umat pilihan agar menjadi saksi Kristus yang berani memberitakan Injil keselamatan. Kita harus menjadi saksi (menjadi pelaku firman, menghasilkan buah kebenaran) agar tidak jadi batu sandungan ketika memberitakan Injil.

Roh Kudus memberi kuasa dan keberanian memberitakan Injil kepada setiap orang yang percaya meski menghadapi tantangan dan aniaya Injil terus di beritakan, jiwa-jiwa diselamatkan.
Tantangan dan aniaya tidak akan bisa menghentikan murid Yesus yang sejati karena tuntunan Roh Kudus akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat.

c. Menyiapkan Gereja untuk penuaian jiwa terbesar dan terakhir.

Tanda kedatangan Kristus yang terpenting dan paling akhir adalah diselesaikannya Amanat Agung (Matius 24:14). Sebelum kedatangan Kristus, akan terjadi penuaian terbesar. Dua kelompok yang akan dituai adalah pertama, orang yang tidak percaya kemudian menjadi percaya; kedua, orang Kristen yang masih hidup secara duniawi kemudian menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh.

Roh Kudus akan menyatukan Gereja Tuhan di seluruh dunia agar menjadi satu tubuh Kristus, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua (Efesus 4:4-6). Gereja harus disatukan agar dapat bergerak secara unity untuk menggenapi kehendak Allah pada hari-hari terakhir.

Roh Kudus memulihkan Gereja akhir jaman dan memberikan karunia-karunia Roh yang digunakan untuk membawa bangsa-bangsa kepada keselamatan guna menyiapkan suatu umat yang layak bagiNya.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19)

2. DUNIA/ORANG YANG TIDAK PERCAYA

Roh Kudus dicurahkan ke atas semua manusia, tapi hanya orang yang mau percaya yang akan mengalami karya kepenuhan Roh Kudus.

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;
akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;
akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” (Yohanes 16:8-11)

Kata ‘menginsafkan’ (to convict, Yunani: elegcho) memiliki arti menunjukkan/menyatakan kesalahan, meyakinkan, menegur, menyingkapkan kegelapan/menerangi, membuktikan, menghukum.
Dunia adalah mereka yang tidak mau percaya dan menolak Kristus (antikristus), yang lebih menyukai hidup dalam kegelapan, para nabi dan pengajar palsu.
Roh Kudus datang untuk menginsafkan dunia akan :

a. Dosa (karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku)

Roh Kudus akan menyatakan kesalahan seseorang untuk membangkitkan kesadaran akan perlunya pengampunan dosa yang hanya diperoleh jika ia percaya dan menerima karya keselamatan Yesus Kristus. Barangsiapa yang tidak mau percaya dan menerima pengampunan dari Juruselamat, akan tetap di dalam keberdosaannya.

Tidak seorang manusiapun yang dapat datang dan percaya kepada Yesus bila Roh Kudus tidak terlebih dahulu berkarya dalam dirinya. Jika seseorang tidak dilahirkan kembali oleh Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yohanes 3:3; 5-6).

b. Kebenaran (akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi)

Roh Kudus akan menginsafkan dunia bahwa Yesus Kristus berasal dari Bapa dan setelah dibangkitkan, Ia kembali kepada Bapa. Yesus Kristus dan Bapa adalah Satu (Esa); di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan. Yesus adalah Kebenaran itu sendiri, tidak ada allah yang benar selain Dia. Yesus Kristus dibangkitkan demi pembenaran kita, sehingga kita menjadi orang yang dibenarkan (Roma 4:25).

c. Penghakiman (akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum)

Kebangkitan Kristus menyatakan kemenanganNya terhadap iblis. Iblis adalah penguasa dunia yang telah dihukum dan akan dihukum selamanya di api neraka. Demikian juga mereka yang tidak percaya, akan mengalami hukuman yang sama seperti iblis (Markus 16:16).

Masa sukar yang terjadi di akhir jaman akan membuat banyak orang berseru kepada nama Tuhan, karena Roh Kudus yang menginsafkan mereka. Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Sebaliknya mereka yang menolak Kristus atau mengeraskan hati tidak mau bertobat, akan dihakimi dan ditimpa murka Allah.

Saat menerima baptisan Roh Kudus, kita menerima kebenaran Allah. Kita tidak lagi berada di bawah penghukuman dan dalam hukum taurat tapi dalam hukum kasih karunia.
Sebab itu saat penghakiman Tuhan atas dunia ini tiba, kita tidak turut ditimpa murka jika kita senantiasa waspada dan berjaga-jaga.

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”(1 Tes. 5:6-9).

Tempat yang paling aman untuk berlindung pada masa sukar di akhir jaman adalah di hadirat Allah. Apapun yang terjadi, murid sejati akan terus memilih ada di hadirat Tuhan (doa pujian penyembahan) dan tinggal dalam kasihNya (menjadi pelaku firman). Walau dunia berusaha menyeret kita dengan banyak gangguan, tapi tunduklah kepada Allah dan lawan iblis maka ia akan lari daripadamu.

Di akhir jaman banyak orang yang hidup menuruti hawa nafsu kefasikan dan hidup tanpa Roh Kudus. Yang fasik semakin berlaku fasik karena hatinya menjadi keras sehingga sukar bertobat.
Bangun diri kita sendiri di atas dasar iman yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Ingat bahwa kita adalah manusia roh yang hidup oleh firman Tuhan, bukan karena melihat. Selalu terhubung dengan aliran sumber Air Hidup yaitu Roh Kudus yang akan menolong, memberikan penghiburan dan menuntun kita dalam menjalani masa sukar di akhir jaman.

image source: https://wiirocku.tumblr.com/post/166266924744/john-1417-nkjv-the-spirit-of-truth-whom-the

MEMBANGUN PELAYANAN LINTAS GENERASI

MEMBANGUN PELAYANAN LINTAS GENERASI

Dalam rangka Father’s Day mari kita mengarahkan diri pada pelayanan Intergenerasional atau bisa juga disebut lintas generasi. Istilah ini mulai muncul pada akhir abad ke-20 ketika penamaan generasi seperti Baby Boomer lahir untuk mengidentifikasi fenomena banyaknya anak-anak yang lahir pasca perang dunia kedua pada tahun 1945-1960 an. Penamaan generasi Millennials yang lahir menjelang pembukaan millennium yang baru yaitu tahun 2000 dipopulerkan oleh William Strauss dan Neil Howe yang pada saat itu adalah penulis buku dan juga konsultan sosiologis.
Teori mereka masih dipakai sampai hari ini untuk mempermudah mengidentifikasi perbedaan generasi yang ada di gereja. Ternyata, perbedaan generasi ini menunjukkan fenomena yang menarik: kontribusi setiap generasi terhadap Gereja berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan kebutuhan mereka juga berbeda antar satu generasi dengan yang lainnya. Di sinilah letak fungsi utama dari pelayanan lintas generasi.
Gereja yang mewakili dan membuka interaksi antar generasi di dalam sebuah gereja lokal. Apa dampaknya? Setiap karunia dan panggilan dari masing-masing generasi bisa terwakili dan kebutuhan setiap generasi terjawab. (1 Korintus 12:25-26) Ternyata kehidupan bergereja yang sehat adalah kehidupan berkomunitas yang saling memperhatikan satu dengan yang lain dan ini termasuk hubungan lintas generasi. Perhatikan 2 ayat berikut ini:
“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” 1 Korintus 1:10
“Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang” 1 Tesalonika 5:14
Di dalam konteks bergereja zaman sekarang, maka istilah ‘erat bersatu’, ‘sehati sepikir’, dan “sabar terhadap semua orang” juga dikaitkan dengan hubungan lintas generasi. Bagaimana generasi yang muda bisa menghormati generasi yang senior dan juga sebaliknya. Ini bukanlah ayat yang ditujukan untuk satu generasi saja, tetapi untuk semua orang. Implikasi dari adanya ayat-ayat nasehat seperti ini karena hubungan itu tidak selalu baik adanya. Terkadang menjaga hubungan di antara yang sama generasinya saja sudah susah, apalagi membangun hubungan lintas generasi. Inilah tantangan Gereja zaman sekarang!
Apa yang Dibangun dalam Pelayanan Lintas Generasi? Ada 3 area besar yang perlu dibangun menurut David Kinnaman dalam bukunya Faith For Exiles:2
1. Shared Experience
Hubungan itu betul-betul terbentuk ketika dua orang atau lebih mau berkomitmen untuk meluangkan waktu bersama-sama. Kedengarannya mudah bukan? Tapi faktanya, tidak semudah ini. Sebuah pertanyaan sederhana: apakah kita suka menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang percaya lainnya dalam komunitas gereja lokal? Bagaimana dengan orang-orang yang berbeda rentang usia dengan kita? Mungkin ada project gereja yang bisa dilakukan bersama antara generasi muda dengan yang senior? Perjalanan misi yang melibatkan generasi senior dengan yang muda misalnya. Diskusi dan interaksi yang terjadi akan menumbuhkan hubungan yang berkualitas.
2. Shared Goals
Hubungan lintas generasi tidak terjadi begitu saja, perlu niat dan tujuan yang jelas dari kedua belah pihak. Apa yang ingin dicapai dari hubungan lintas generasi tersebut? Ketika Elia berjumpa dengan Elisa, hubungan yang tercipta memiliki tujuan yang jelas: mewarisi pengalaman, pengurapan, dan panggilan dari Elia kepada Elisa. Ketika Paulus memanggil Timotius, tujuannya jelas: untuk mendidik dan memperlengkapi Timotius muda menjadi hamba Allah yang nantinya akan meneruskan pelayanan Injil di tempat yang sudah ditentukan Allah baginya.
3. Shared Emotions
Manusia adalah mahkluk yang juga memiliki emosi. Dan di dalam membangun hubungan pertemanan ataupun mentoring, emosi memainkan peranan penting. Apakah seseorang merasa diterima atau tidak dalam sebuah komunitas menentukan keputusannya untuk tetap tinggal di situ atau tidak.
Apakah seseorang merasa dianggap sebagai keluarga di gereja lokalnya atau tidak akan menentukan keputusannya untuk tetap tinggal di situ atau tidak. David Kinnaman menulis bahwa murid yang tangguh adalah mereka yang tertanam dalam gereja lokal yang memiliki penerimaan seperti keluarga.
Apakah berarti gereja hanya berfokus menumbuhkan emosi positif saja? Tentu tidak. Alkitab meminta kita untuk menegur mereka yang hidup dalam dosa. (Matius 18:15-20) Iklim emosi yang sehat akan membantu generasi muda merasa diterima di gereja lokal mereka sebagai anak dan sekaligus dibentuk menjadi murid yang tangguh.
Fondasi Biblika di dalam Membangun Pelayanan Lintas Generasi
Di dalam surat Titus 2:1-6 kita melihat bagaimana hubungan lintas generasi itu terjadi di dalam sebuah gereja lokal, dan apa yang menjadi bagian dari generasi yang lebih tua dan generasi yang lebih muda. Ajakan dimulai terlebih dahulu kepada generasi yang lebih tua, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, untuk bisa menjadi teladan bagi mereka yang muda.
Bagi para laki-laki ternyata kehidupan yang bijaksana dan terhormat menjadi sebuah karakter penting. Generasi muda perlu melihat teladan dan juga mendengar kesaksian dari generasi senior yang hidupnya bijaksana, sehat di dalam iman, kasih, dan ketekunan.
Contoh praktis yang bisa dilakukan adalah mengadakan pertemuan informal dimana generasi yang lebih tua berbagi pengalaman melewati masa-masa membangun rumah tangga, karir, dan juga pelayanan mereka.
Kepada para perempuan juga diberikan nasehat yang sama agar perempuan yang lebih tua bisa memberikan pengalaman dan menyemangati perempuan yang muda untuk bisa hidup bijaksana dan kudus. Tentu hal-hal seperti ini akan sangat efektif apabila dibicarakan dalam hubungan yang sudah dibangun sejak awal. Pemuridan lintas generasi yang efektif akan terjadi apabila sudah ada hubungan yang mendasarinya.
Tujuan dari Pelayanan Lintas Generasi
Di dalam Mazmur 78:4 dikatakan, “Kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya.”
Pemazmur dalam hal ini Asaf, memiliki komitmen untuk meneruskan pengetahuan akan mujizat Tuhan kepada generasi berikutnya agar tidak terputus ingatan mereka tentang Tuhan. Begitu juga dengan pelayanan lintas generasi, ini dilakukan karena visi yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya begitu besar dan luas, serta tidak mungkin diselesaikan hanya dalam waktu satu generasi saja. Artinya apa? Segala pengalaman, pengurapan, dan kesaksian hidup dari generasi sebelumnya perlu diteruskan kepada generasi penerus. Anak-anak muda yang berdiri di atas pengurapan dan pengalaman generasi sebelumnya akan bergerak lebih cepat, lebih tepat, dan lebih diurapi.
Kesimpulannya adalah hubungan lintas generasi membutuhkan niat dari kedua belah pihak untuk saling merendahkan hati mencari kepentingan bersama dan kehendak Tuhan. Apa yang dibangun untuk diteruskan kepada generasi berikutnya bahkan tidak hanya ketiga hal di atas yakni shared experience, goals dan emotions, tapi juga shared faith, seperti yang dialami anak rohani Paulus, yaitu Timotius.
2 Timotius 1:5 menunjukkan dengan jelas kepada kita bagaimana Timotius menerima warisan iman yang luar biasa dari ibu dan neneknya sendiri.
“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”
Gereja yang membangun budaya lintas generasi memahami bahwa kehendak Tuhan untuk zaman ini berarti kehendak Tuhan untuk setiap generasi yang ada sekarang. Untuk itu, jembatan yang menghubungkan lintas generasi perlu dibangun agar suara Roh bisa secara tepat direalisasikan (kontekstualkan) kepada setiap generasi yang ada di gereja dan di luar gereja hari ini.
1. Christine Embree, Intergenerational Ministry: Strive for Understanding, Connectivity. November 23, 2021. https://churchleaders.com/youth/youth-leaders-articles/376799-the-generation-game-and-how-to-do-intergenerational-ministry.html. Diakses pada 12 Mei 2022.
2. David Kinnaman dan Mark Matlock, Faith For Exiles: 5 Ways for a New Generation to Follow Jesus in Digital Babylon, (Grand Rapids: Baker Publishin, 2019).

image source: https://wordinspiration.wordpress.com/2017/01/24/1-corinthians-110/

ROH  KUDUS  MEMBERIKAN  KUASA  UNTUK MENJADI  SAKSI  KRISTUS DI AKHIR JAMAN

ROH KUDUS MEMBERIKAN KUASA UNTUK MENJADI SAKSI KRISTUS DI AKHIR JAMAN

Tuhan Yesus memberitahu para murid bahwa Dia akan pergi kepada Bapa dan akan mengutus seorang Penolong yang lain yaitu Roh Kebenaran untuk menyertai mereka selama-lamanya. Ia menyuruh mereka menanti di Yerusalem, tempat orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa berkumpul. Pada hari Pentakosta, para murid mengalami pencurahan Roh Kudus tepat seperti yang dikatakan Tuhan Yesus.

Pencurahan Roh Kudus datang dengan tiba-tiba seperti bunyi tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, lalu tampak lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka mereka penuh dengan Roh Kudus, dan mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya (KPR 2:2-4).

Setelah mengalami kepenuhan Roh Kudus, mereka berubah menjadi orang-orang yang luar biasa untuk menjadi saksi Kristus dan berani memberitakan Injil. Mengapa? Karena orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yohanes 1:12-13).

Anak-anak Allah adalah :

1) Mereka yang lahir dari Allah, yaitu mengalami kelahiran kembali oleh Roh Kudus dan menjadi ciptaan yang baru dalam Kristus Yesus. Karena berasal dari Allah, maka kesukaannya adalah hidup intim dengan Allah, suka berdoa memuji dan menyembah. Ada kerinduan untuk berada dalam hadiratNya dan merenungkan firman setiap hari.

2) Bebas dari roh perbudakan. Roh yang menjadikan kita anak Allah telah memerdekakan kita dari kuasa dosa. Anak-anak Allah tidak suka lagi hidup dalam dosa sebab benih ilahi ada di dalam dia. Menaati firman bukan dirasakan sebagai suatu taurat yang mengikat tetapi sebagai kesukaan karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita.

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15)

3) Kristus (yang adalah Firman) melindungi anak-anak Allah dan si jahat tidak dapat menjamahnya (1 Yohanes 5:18). Orang yang memperbarui akal budinya melalui perenungan firman akan terlindungi dari tipu muslihat iblis. Dengan perisai iman, semua panah-panah api si jahat dipadamkan. Segala pikiran ditawan dan ditaklukkan kepada Kristus.

4) Semua yang lahir dari Allah diberikan kuasa dan otoritas untuk mengalahkan dunia dan segala keinginannya oleh kuasa Roh Kudus. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging.

Roh Kudus dicurahkan agar Gereja dapat melanjutkan karya Tuhan Yesus di bumi pada akhir jaman ini.

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” (Yohanes 14:12-13).

Kita yang percaya kepada Nama Kristus, akan juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Kristus lakukan selama Ia berada di dunia, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.
Roh Kudus mengubah orang-orang biasa, tidak sempurna dan penuh kelemahan seperti kita menjadi orang-orang yang luar biasa, untuk menjadi saksi Kristus serta memberitakan Injil keselamatan sampai seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan seperti air laut menutupi dasarnya.

“Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.”
(Yoel 2:28-29)

Pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta 2000 tahun lalu telah dinubuatkan oleh nabi Yoel dalam Perjanjian Lama. Hal itu merupakan awal dari penginjilan dunia yang ditandai dengan berdirinya Gereja mula-mula. Nabi Yoel menubuatkan bahwa pada hari-hari terakhir menjelang hari Tuhan yang dahsyat, berbagai guncangan akan terjadi dan Roh Kudus dicurahkan ke atas semua manusia. Kita yang hidup di hari-hari terakhir sedang mengalami penggenapan nubuatan tersebut.

Masa sukar yang ditulis Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:1-4 dan yang di sampaikan Tuhan Yesus dalam Matius 24 semakin nyata. Bencana alam, krisis pangan, krisis moral, krisis kepemimpinan, krisis ekonomi, perang dan tindak kejahatan menyebabkan manusia hidup dalam ketakutan, kenajisan dan ketamakan. Kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Di masa ke depan keadaan bertambah buruk dan makin meluas ke seluruh belahan dunia.

Iblis bertambah geram karena tahu bahwa waktunya sudah sangat singkat (Wahyu 12:12b). Oleh sebab itu ia semakin giat bekerja memakai orang-orang durhaka untuk melakukan keserakahan, kenajisan dan kejahatan yang lebih brutal. Kuasa kegelapan bekerja atas orang-orang yang mengasihi dunia ini. Kita harus selalu waspada, jangan sampai terseret menjadi orang-orang yang mengasihi dunia karena persahabatan dengan dunia menjadikan kita musuh Allah.

“Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:19)

Dunia membenci Tuhan Yesus dan murid-muridNya. Mereka tidak mau percaya kepada Yesus Kristus, lebih menyukai hidup dalam kegelapan dan membenci terang. Bagi mereka pemberitaan tentang salib merupakan suatu kebodohan. Orang percaya akan mengalami penganiayaan bila memberitakan Injil dan hidup dalam kebenaran.

“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yohanes 3:18-21).

Dosa bangsa mendatangkan malapetakan dan kehancuran pada seluruh aspek kehidupan. Lalu mengapa seolah-olah Allah membiarkan semua ini dialami oleh umat manusia termasuk orang percaya?

Bagi Gereja, masa sukar merupakan masa ujian, penampian dan pemurnian. Bagi dunia, masa sukar adalah masa penghakiman Allah atas seluruh bumi. Namun demikian, Ia berkenan menunjukkan kuasa kasihNya yang bekerja melalui orang percaya untuk menuntun bangsa-bangsa kepada keselamatan.

Untuk itu Roh Kudus akan dicurahkan dengan bobot yang semakin besar (double portion) seperti yang dinubuatkan dalam Yoel 2:23. Roh Kudus memampukan orang percaya berjalan dalam kuasa otoritas ilahi dalam menjalani masa sukar serta melakukan kehendak Allah di akhir jaman.
Roh Allah akan dicurahkan atas semua orang, sehingga anak-anak, orang tua, teruna dan para hamba menjadi pembawa pesan Allah melalui mimpi, penglihatan dan nubuatan (Yoel 2:28-29).

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (KPR 1:8)

Kuasa (dunamis) Roh Kudus yang supernatural memberikan kemampuan kepada kita untuk menjadi saksi Kristus, untuk memberitakan Injil dengan berani, memberikan kekuatan untuk cakap menanggung segala perkara di masa sukar. Roh Kudus juga bekerja melalui kita untuk melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit serta mengusir roh-roh jahat.

Kita tidak akan mampu melewati masa-masa sukar ke depan jika tidak dipenuhi dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Oleh sebab itu, pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita secara pribadi dan Gereja lokal sangatlah penting.

Mintalah kepada Bapa agar kita diberi kerinduan untuk selalu intim dengan Roh Kudus, supaya mata hati kita dijadikan terang, memiliki hikmat ilahi dan kemampuan supernatural dalam menjalani masa sukar serta melakukan kehendak Allah di akhir jaman.

image source: https://pixels.com/featured/tongues-of-fire-vicki-carson.html