Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 10)
TUHAN YESUS SEBAGAI BIJI GANDUM

TUHAN YESUS SEBAGAI BIJI GANDUM

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Yohanes 12:24

Tak seorang pun akan menikmati tuaian bila ia membiarkan biji gan-dum yang dimilikinya tetap disimpan dan tidak ditanam. Jelas untuk dapat berbuah maka sebuah biji gandum harus terlebih dahulu jatuh ke tanah (ditanam) dan mati.

Dalam pembacaan firman hari ini biji gandum yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam ayat nas menggambarkan diri-Nya sendiri…

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

MEMBENTUK AKAR YANG KUAT  DAN PRIBADI YANG TANGGUH

MEMBENTUK AKAR YANG KUAT DAN PRIBADI YANG TANGGUH

PENDAHULUAN

Salah satu cara mendatangkan penuaian jiwa yang besar adalah melalui goncangan. Namun demikian Allah tidak menghendaki orang percaya menjadi takut, tawar hati, bersandar kepada kekuatan sendiri, atau menjauh dari Tuhan. Justru goncangan merupakan kesempatan yang dipakai Tuhan untuk dapat menghasilkan akar yang kuat serta fondasi iman yang kokoh.

ISI

Berbagai bencana alam dan krisis akan semakin intens melanda masyarakat dunia. Hal ini akan membuat banyak orang menjadi sadar bahwa mereka tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri, hal-hal yang bersifat fisik/materi, atau apapun juga selain Tuhan. Pada akhirnya mereka berseru kepada nama Tuhan dan hatinya siap menerima Injil keselamatan.

Di sisi lain, goncangan merupakan masa pengujian/penampian sekaligus peluang bagi orang percaya untuk dilatih menjadi murid Kristus yang dewasa, berintegritas dan tangguh. Goncangan berupa masalah, tantangan dan penderitaan bisa terjadi dalam skala kehidupan pribadi, keluarga maupun komunitas orang percaya. Alkitab memberikan panduan untuk melihat goncangan dengan perspektif Tuhan supaya kita tidak menjadi lemah dan tawar hati, melainkan tetap kuat bahkan semakin tangguh, agar bisa bangkit dan menjadi terang di tengah kegelapan dunia:

1. Tidak mengandalkan apapun/siapapun selain Tuhan Yesus (Yeremia 17: 5-8).

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Ams. 3:5).
Walaupun belum mengerti kemana Tuhan mau membawa kita, belum melihat jawaban doa, atau keadaan yang terjadi justru semakin buruk dan tidak seperti yang kita harapkan, tetaplah percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Mata selalu tertuju kepada Kristus supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa.

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (Maz. 56:4). Tempatkan iman di atas pendapat pribadi, asumsi, perasaan dan keadaan yang terlihat. Bukankah Tuhan telah memerintahkan kita untuk hidup karena iman percaya, dan bukan karena melihat? Lakukanlah perintah itu.
Selalu konsultasi dengan Roh Kudus, Pribadi yang menolong dan membawa kita kepada seluruh kebenaran. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Ams. 3:6).

Minta hikmat dari Tuhan dalam mengambil sikap, membuat keputusan dan melangkah (baca Yakobus 1:5-6).

2. Bertumbuh dalam iman dengan tetap tinggal dalam Kristus/firman-Nya (Yoh. 15:4-5) dan dalam komunitas orang percaya (Ibrani 10:24-25).

Disiplinkan diri untuk terus merenungkan firman dan kebenarannya. Disiplinkan diri untuk tetap tinggal dalam firman dan belajar melakukannya baik sebagai prinsip/nilai kehidupan maupun sebagai ketaatan mengikuti perintah Tuhan.

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31-32).
Memerdekakan kita dari apa? Dari pikiran yang keliru/negatif/sia-sia, ketakutan, kekuatiran, kepahitan, masa lalu, rasa bersalah, perasaan tidak aman/insecure, dari keinginan daging, dlsb – sehingga kita menjadi orang yang siap/merdeka berjalan mengikuti kehendak dan rencana-Nya.
Disiplinkan diri untuk memelihara kehidupan doa pujian penyembahan dan mencari kehendak Tuhan atas hidup kita. Tetaplah terhubung dengan komunitas orang percaya (Cool) dan jalani proses pemuridan dengan tekun, konsisten dan kontinu.

3. Mengenakan cara pandang Allah dalam melihat masalah, tantangan dan penderitaan.

Tuhan memakai masalah untuk mendidik, melatih dan menolong kita berbuah.
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yakobus 1:2-4).

Masalah, tantangan dan penderitaan memiliki potensi untuk menghasilkan sesuatu yang ilahi yaitu membentuk akar yang kuat dan fondasi yang kokoh; dengan demikian kita bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Tuhan juga menggunakan ujian untuk mendisiplinkan kita: “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibrani 12:10). Dengan pengertian ini, kita dapat bersukacita saat menghadapi berbagai ujian iman. Orang yang berakar dalam kasih akan menerima kekuatan dari Roh Kudus untuk cakap menanggung segala perkara dengan sabar dan tekun.

Allah tidak akan sekali-kali membiarkan kita bergumul sendirian; semua ujian iman yang diijinkan Tuhan terjadi sudah diperhitungkan dan tidak akan melebihi kekuatan kita. Jika kita tidak lari dari didikan Tuhan, melainkan tetap setia bertekun, maka kita akan makin berbuah lebat dan matang. Tuhan Yesus yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita kepada kesempurnaan (kedewasaan). IA akan melindungi dan memberikan jalan keluar serta semua yang kita perlukan untuk berkemenangan mengatasi ujian iman.

PENUTUP

Goncangan merupakan elemen yang diperlukan dalam proses pemuridan supaya akar kita semakin kuat dan memiliki iman yang teguh. Karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita bertumbuh menjadi dewasa, berintegritas, berbuah matang dan siap menjadi penuai jiwa/menjadikan segala bangsa murid Kristus.

Bahan renungan mingguan lain selama bulan ini: 

Memperkuat Akar (bagian 1)

Memperkuat Akar (Bagian 2)

Mempertahankan Fondasi (bagian 1)

Mempertahankan Fondasi (bagian 2)

MEMBAJAK TANAH HATI

MEMBAJAK TANAH HATI

“‘Sesungguhnya, waktu akan datang,’ demikianlah firman TUHAN, ‘bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran.'” Amos 9:13

Seorang hamba Tuhan atau pemberita Injil adalah sama seperti seorang petani yang sedang membajak tanah. Mengapa tanah harus dibajak lebih dahulu? Karena tidak semua tanah itu baik dan siap pakai, ada tanah keras, ada pula yang berbatu. Tujuan membajak adalah untuk menggemburkan tanah atau melembutkan tanah yang akan ditaburi benih.


Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

MEMPERTAHANKAN FONDASI (bagian 2)

MEMPERTAHANKAN FONDASI (bagian 2)

Sekilas review :

Bagian terpenting dari sebuah bangunan adalah fondasinya karena itu akan menentukan kualitas, integritas, dan kekuatan bangunan tersebut. Fondasi yang kuat akan mampu menahan segala bentuk guncangan sehingga bangunan dapat tetap tegak berdiri. Fondasi  yang kuat adalah hidup yang dibangun di atas Batu Karang yang teguh, yaitu Tuhan Yesus (Firman Allah Yang Hidup).

Sambungan minggu ini :

Kalau bukan Kristus yang menjadi fondasi hidup kita, maka sia-sialah semua yang kita bangun dalam kehidupan ini. Masalah, tantangan dan penderitaan bisa berpotensi membuat iman kita jadi gugur (seperti orang yang membangun hidupnya di atas pasir).

Orang yang membangun hidupnya di atas pasir melambangkan dua keadaan :

pertama, mereka yang hanya jadi pendengar dan tidak menjadi pelaku firman;

ke dua, mereka yang membangun hidup di atas dasar yang rapuh, tidak memiliki nilai kekal, bisa berubah-ubah tergantung situasi/kondisi dan yang sedang trending/populer (sesuatu yang sedang banyak dibicarakan, dicari, atau diikuti oleh banyak orang dalam waktu tertentu).

Dasar hidup yang rapuh dan dapat terguncangkan misalnya:

  • hidup bersandar kepada pikiran/pengertiannya sendiri;
  • hidup dipimpin oleh perasaaan yang cenderung berubah-ubah;
  • hidup yang berorientasi kepada perkara-perkara yang terlihat mata dan sementara;
  • hidup mengandalkan hikmat dunia, uang, materi, pekerjaan, karir, prestasi, ambisi pribadi;
  • hidup yang dikuasai rupa-rupa hawa nafsu.

 Satu-satunya fondasi hidup yang tidak akan pernah terguncangkan hanyalah Yesus Kristus, Sang Batu Penjuru hidup. Saat kita percaya dan melakukan perkataan-Nya, maka walaupun harus mengalami masalah/penderitaan, tapi hidup kita tidak akan terguncang sebab Tuhan sendirilah yang membela firman-Nya, menopang kita dan memberi kemenangan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, semua yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia melainkan dibuat-Nya berhasil.

IMAN DI DALAM KRISTUS

Iman kita harus berpusat kepada Kristus dan kehendak-Nya, bukan kepada diri sendiri. Artinya tujuan iman kita adalah untuk menyenangkan Dia, bukan diri kita. Tentu saja kita boleh menyatakan keinginan kepada Allah dalam doa dan permohonan serta ucapan syukur; tetapi pada akhirnya kita perlu belajar berserah penuh kepada kehendak-Nya dengan mengatakan “janganlah seperti yang aku kehendaki, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”

Inilah iman yang berkenan kepada Allah, meneladani iman Yesus yang berserah total kepada kehendak dan rencana Bapa-Nya. Dengan kekuatan sendiri, tidak ada seorangpun yang mampu memiliki iman yang menyenangkan Allah selain Kristus. Karena itu, mata kita harus selalu tertuju kepada Tuhan Yesus karena DIA-lah yang akan memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan (maksudnya iman yang berserah total kepada kehendak Allah). He is The Author and Perfecter of our faith. Dalam persekutuan dengan Kristus, akar dan fondasi hidup kita akan kuat bukan hanya dalam menghadapi badai masalah ataupun penderitaan, tapi mampu tetap setia dan hidup benar (jujur dan tulus hati) sampai mencapai garis akhir.

PENUTUP

Membangun fondasi yang kuat merupakan sebuah pilihan yang harus dikerjakan dengan tekun, kontinu dan konsisten. Fondasi rohani kita adalah iman kepada Kristus dan hidup kita dibangun di atas firman/perkataan-Nya, sehingga dalam kasih kita semakin bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus.

Hidup yang dibangun di atas ketaatan pada Firman Kristus akan tetap teguh berdiri di tengah badai serta goncangan. Setelah melalui berbagai badai ujian, hidupnya tetap kuat tegak berdiri (berintegritas) dan menjadi berkat yang memuliakan nama Tuhan. Berketetapan hati untuk setia melatih otot iman manjadi makin kuat, melalui ketaatan, bertumbuh dalam Firman Tuhan akan membentuk landasan hidup yang kuat.

 

Bahan renungan mingguan lain selama bulan ini: 

Memperkuat Akar (bagian 1)

Memperkuat Akar (Bagian 2)

Mempertahankan Fondasi (bagian 1)

Membentuk Akar yang Kuat dan Pribadi yang Tangguh

 

 

PERGUMULAN YANG BERAT (2)

PERGUMULAN YANG BERAT (2)

“Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya.” Markus 14:35
Ketika menghadapi pergumulan yang berat, sebagai manusia Yesus membutuhkan teman untuk berbagi beban, karena itu Ia mengajak Petrus dan kedua anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) untuk menemani-Nya berdoa di taman Getsemani.

Yesus hendak menekankan bahwa dalam kodratnya sebagai manusia seharusnya kita saling menguatkan, menopang dan memerhatikan satu-sama lain. Seperti nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji peker-jaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.” (Galatia 6:2-5).


Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

MEMPERTAHANKAN FONDASI (bagian 1)

MEMPERTAHANKAN FONDASI (bagian 1)

PENDAHULUAN

Selain pohon, hidup kita juga diibaratkan seperti sebuah bangunan. Bagian terpenting dari sebuah bangunan adalah fondasinya karena itu akan menentukan kualitas, integritas, dan kekuatan bangunan tersebut. Kalau fondasinya tidak kuat, maka bangunan tersebut mudah goyang dan rubuh. Fondasi yang kuat akan mampu menahan segala bentuk guncangan sehingga bangunan dapat tetap tegak berdiri.

 

ISI

Fondasi spiritual menentukan kekuatan dan ketangguhan iman seseorang. Kekuatan iman artinya imannya teguh/tidak mudah goyah; ketangguhan  iman artinya mampu kembali pulih setelah mengalami kesulitan atau penderitaan.

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,  ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu

Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya (Matius 7:24-27).

Hujan, angin badai dan banjir dapat melanda sebuah bangunan, tetapi bangunan tersebut akan tetap kokoh jika memiliki materi fondasi yang kuat dan tertanam dalam ke bawah tanah. Semua orang pasti mengalami ujian berupa masalah, lembah kekelaman ataupun keadaan sedang diberkati/diangkat Tuhan. Yang membuat seseorang menang atas ujian tersebut adalah bagaimana keadaan fondasi hidupnya; apakah dibangun di atas batu ataukah pasir. Ujian diperlukan untuk menguji integritas fondasi.

Orang bijaksana/yang membangun hidupnya di atas batu adalah mereka yang hidup karena percaya kepada Kristus, bukan karena melihat. Berjalan dalam ketaatan kepada pimpinan Roh Kudus, bukan menurut pengertian dan kemauannya sendiri. Dalam menghadapi segala bentuk ujian, orang tersebut dimampukan untuk tetap hidup oleh iman (imannya tidak gugur). Fondasi yang kuat tidak terjadi otomatis, tapi merupakan sebuah pilihan yang harus dikerjakan dengan tekun (usaha yang rajin dan bersungguh-sungguh), kontinu (berkelanjutan) dan konsisten (keselarasan dalam tindakan atau perilaku).

Fondasi yang kuat bukan hanya membuat seseorang mampu bertahan, tapi juga pulih setelah mengalami berbagai ujian. Bagaimana caranya untuk pulih?

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar  di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur (Kolose 2:6-7).

Hidup dalam persekutuan dengan Kristus membuat iman kita semakin berakar dan berdasar di dalam kasih kepada Allah. Iman yang berakar dan berdasar di dalam kasih artinya ketaatan kepada pimpinan Roh Kudus, bukan menurut pengertian dan kemauan kita sendiri. Ini merupakan penyangkalan diri. Kasih Allah dalam wujud Roh Kudus akan memberikan penghiburan, damai sejahtera, kekuatan serta memulihkan keadaan kita. Hati yang melimpah dengan rasa syukur membuat kita kuat/cakap menanggung segala perkara.

 

BAGAIMANA CARA MEMBANGUN FONDASI YANG KUAT

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,  ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu (Matius 7:24-25). 

Fondasi  yang kuat adalah hidup yang dibangun di atas Batu Karang yang teguh, yaitu Tuhan Yesus (Firman Allah Yang Hidup).

1 Korintus 3:11  “Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”

Cara membangun fondasi yang kuat adalah dengan menaati firman dan kehendak Allah melalui iman kepada Kristus; hidup karena percaya, bukan karena melihat. Orang yang hidup oleh iman akan taat kepada pimpinan Roh Kudus, bukan menurut pengertian dan kemauannya sendiri.

Dalam menghadapi segala bentuk ujian, orang tersebut dimampukan untuk tetap hidup oleh iman (imannya tidak gugur). Fondasi yang kuat seperti ini tidak terjadi otomatis, tapi merupakan sebuah pilihan yang harus dikerjakan dengan tekun (usaha yang rajin dan bersungguh-sungguh), kontinu (berkelanjutan) dan konsisten (keselarasan dalam tindakan atau perilaku). Perlu diingat bahwa fondasi yang kuat juga tidak pernah dihasilkan secara instan ataupun dalam zona nyaman (comfort zone).

Mazmur 127:1 Jika bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang membangunnya.

Kalau bukan Kristus yang menjadi fondasi hidup kita, maka sia-sialah semua yang kita bangun dalam kehidupan ini. Karir, pekerjaan, usaha, pelayanan, prestasi, hubungan, keluarga, dlsb. Jadikan Kristus sebagai batu penjuru hidup kita supaya apa saja yang kita kerjakan dibuat-Nya berhasil (tidak sia-sia).

Bahan renungan mingguan lain selama bulan ini: 

Memperkuat Akar (bagian 1)

Memperkuat Akar (Bagian 2)

Mempertahankan Fondasi (bagian 2)

Membentuk Akar yang Kuat dan Pribadi yang Tangguh

 

KEKUATAN MANUSIA: Menghalangi Tuhan Bekerja

KEKUATAN MANUSIA: Menghalangi Tuhan Bekerja

“supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” 1 Korintus 1:29

Di dunia ini ada banyak orang pintar, hebat, jenius dengan berbagai titel yang mentereng, banyak pula orang kaya dan berkedudukan tinggi. Banyak di antara mereka terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.

Inilah yang harus diperhatikan: segala kelebihan yang dimiliki (pintar, hebat, jenius, kaya dan berkedudukan) jangan sampai membuat kita memegahkan diri. Jangan sampai kita tampak melayani Tuhan tapi sesungguhnya diri sendiri yang dikedepankan, lalu kehebatan, kekuatan dan kemampuan diri yang digembar-gemborkan di hadapan semua orang.  Kita harus ingat bahwa …

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

MEMPERKUAT AKAR (bagian 2)

MEMPERKUAT AKAR (bagian 2)

Sekilas review :

Hidup kita diibaratkan seperti pohon yang memiliki akar. Akar yang sehat dan kuat mampu menopang pohon untuk tetap berdiri sekalipun angin kencang, hujan serta badai menerpanya. Akar hidup kekristenan yang kuat adalah pondasi hidup yang membuat kita teguh dan bertumbuh dalam iman kepada Kristus, suatu proses yang berlangsung seumur hidup.

Sambungan minggu ini :

Masalah, kesulitan dan penderitaan adalah hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan setiap manusia. Si jahat akan menggunakan kesempatan itu untuk mencuri damai sejahtera dan membuat orang percaya mundur dari iman dan pengharapan kepada Allah. Akan tetapi Allah justru memakainya supaya kita makin kuat dalam iman, dewasa, berkemenangan, berbuah banyak dan memuliakan nama-Nya. Allah menghendaki supaya kita memiliki akar dan dasar hidup yang kuat dalam Kristus Yesus.

Amsal 12:3 “Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan, tetapi akar orang benar tidak akan goncang.” 

Akar orang benar adalah hati yang penuh iman kepada Tuhan Yesus. Hidup orang yang hatinya percaya penuh kepada Tuhan tidak akan goncang, imannya mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4-5).  Akar akan semakin kuat dan sehat seiring dengan bertumbuhnya pengenalan akan Tuhan secara pribadi. Pengenalan akan Allah berarti mengalami Tuhan/firman-Nya secara pribadi termasuk mengalami teguran dan didikan,  yang membawa kita semakin mengenal jalan/kehendakNya serta menaati perintahNya. 

Kolose 2:6-7 “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Hidup di dalam Kristus berarti hidup dalam persekutuan dengan DIA dan firman-Nya diukir dalam loh hati kita. Iman kita ditambatkan kepada kasih Allah (yang telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita), dan hidup kita dibangun di atas firman-Nya. Artinya, iman dan ketaatan kita bekerja oleh kasih. Tanpa iman, kita tidak mungkin bisa setia dan berkenan kepada Tuhan.

“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,  sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” (Efesus 3:16-17).

Keadaan akar (tidak terlihat) akan menentukan kualitas sebuah pohon dan buah yang dihasilkan (terlihat). Akar yang kuat membuat iman seseorang semakin kokoh. Akar yang sehat membuat seseorang semakin berbuah banyak dan manis/berkualitas baik. Akar yang tidak kuat membuat iman jadi lemah bahkan gugur. Akar yang busuk menghasilkan buah yang asam/tidak baik.

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.  Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?  Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik (Matius 7:16-18).

Oleh sebab itu, jagalah hati (akar) kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Hati yang dijaga dengan firman dan kasih Tuhan membuat iman jadi kuat. Hati yang dijaga dengan firman dan kasih Tuhan akan menghasilkan buah-buah kehidupan yang berkualitas baik.

Amsal 12:12b mengatakan bahwa akar orang benar mendatangkan hasil. Kita akan terus mengalami transformasi yang membangkitkan sukacita dan rasa syukur kepada-Nya.  Dalam persekutuan dengan Kristus, kita mengambil dan menerima; dipelihara dan diberi makan. Suatu pertukaran yang ilahi terjadi saat kita berjalan dalam keintiman dengan Tuhan. Pertukaran dalam hal apa saja?

Beban berat kita ditukar dengan kelegaan; kecemasan dengan damai sejahtera; kelemahan dengan kekuatan; kegelapan dengan terang kebenaran firman; masalah dengan solusi; keputusasaan dengan pengharapan; kekuatiran dengan jaminan akan janji Tuhan; kebingungan/ketidakmengertian dengan hikmat/pewahyuan; penderitaan dengan sukacita dan damai sejahtera; sakit penyakit dengan kesembuhan;  kedagingan dengan buah-buah Roh Kudus; yang tidak mungkin dengan mukjizat; yang fana dengan yang kekal.

PENUTUP

Bagi sebuah pohon, akar merupakan kekuatan yang menjadikannya kokoh/tegak berdiri (kestabilan) sehingga tidak mudah goyah ataupun roboh. Akar hidup Kristen yang kuat dan sehat adalah hati yang beriman penuh kepada Tuhan atas dasar kasih. Perlu dipahami bahwa akar yang kuat dan sehat tidak terjadi secara kebetulan ataupun dalam semalam.

Memperkuat akar adalah bagian yang harus kita lakukan dengan sengaja (intentionally). Ini adalah proses pemuridan yang membutuhkan kedisiplinan tinggi dan berlangsung seumur hidup.  Allah menghendaki supaya kita memiliki akar yang kuat melalui persekutuan dengan Kristus Yesus, sebab di luar DIA kita tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Bahan renungan mingguan lain selama bulan ini: 

 

Memperkuat Akar (bagian 1)

Mempertahankan Fondasi (bagian 1)

Mempertahankan Fondasi (bagian 2)

Membentuk Akar yang Kuat dan Pribadi yang Tangguh

 

JANGAN PERNAH MEREMEHKAN TUHAN

JANGAN PERNAH MEREMEHKAN TUHAN

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” Amsal 16:3

Salah satu sifat manusia adalah tidak mau dipandang remeh. Oleh sebab itu manusia berusaha mengatasi semua persoalan yang ada dengan
kekuatan dan kemampuan sendiri. Biasanya yang bersikap demikian adalah orang-orang yang secara finasial cukup kuat alias kaya, atau mereka yang memiliki koneksi atau relasi dengan orangorang ‘besar’. Dengan mengandalkan kekuatan, kepintaran, uang atau harta, dan juga mengandalkan sesamanya, seringkali seseorang begitu mudahnya meremehkan Tuhan. Tak terkecuali orang Kristen, meskipun tampak setia beribadah dan melayani Tuhan, namun dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari mereka punya sikap yang meremehkan Tuhan.

Pengalaman dapat meloloskan diri dan mampu melewati berbagai kesulitan hidup dengan mengandalkan uang atau relasi membuat orang
memandang kecil arti kehadiran Tuhan. Dalam diri mereka …

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

MEMPERKUAT AKAR (bagian 1)

MEMPERKUAT AKAR (bagian 1)

PENDAHULUAN

Allah memakai perumpamaan sebuah pohon dan bangunan untuk mengajarkan tentang dasar yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Hidup kita diibaratkan seperti pohon yang memiliki akar. Akar yang sehat dan kuat mampu menopang pohon untuk tetap berdiri sekalipun angin kencang, hujan serta badai menerpanya. Itulah yang dikehendaki Allah, yaitu supaya kita memiliki akar dan dasar hidup yang kuat dalam Kristus Yesus.

ISI

Pertumbuhan sebuah pohon dimulai dari benih yang ditanam, kemudian pecah dan mengeluarkan akarnya ke bawah. Sekalipun tidak terlihat, namun akar memiliki peran yang sangat penting bagi sebuah pohon. Fungsi akar antara lain menyerap air yang akan membawa asupan zat gizi/nutrient yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan sebuah pohon, untuk melangsungkan reproduksi, menopang pohon supaya tetap kokoh berdiri, serta untuk menghasilkan buah.

Hidup kita diibaratkan seperti pohon yang memiliki akar. Orang yang percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya adalah seperti pohon yang berakar sehat dan kuat. Akar semacam ini merupakan pondasi hidup yang membuat iman jadi kuat, tangguh, berkemenangan dan terus menghasilkan buah di tiap musim hidupnya.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. (Yeremia 17:7-8)

Keadaan orang yang percaya dan mengandalkan Tuhan adalah :

  • Seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air.

Hatinya selalu melekat kepada sumber air hidup yaitu Roh Kudus, yang berperan menghidupkan firman Tuhan (memberi rhema/pewahyuan) sebagai makanan bagi manusia rohnya. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

Ini bukan bicara hanya tentang pengetahuan firman yang dimiliki seseorang, tapi tentang pengenalan yang benar akan Allah. Pengenalan yang benar akan Allah mendorong seseorang untuk hidup dalam firman dan taat melakukannya, serta membawanya mengalami berkat dan janji-janji Tuhan.

  • Tidak mengalami datangnya panas terik, daunnya tetap hijau, tidak kuatir dalam tahun kering,

Tanda sebuah pohon menyimpan banyak persediaan air pada akarnya adalah daunnya tidak berguguran dan tetap hijau. Orang yang hatinya melekat kepada air sumber hidup (Roh Kudus) akan hidup oleh iman. Iman yang timbul dari pendengaran akan firman Tuhan berpotensi menghalau segala bentuk kekuatiran. Sekalipun mengalami masa kekeringan, ia tidak menjadi tawar hati karena percaya bahwa pemeliharaan Allah atas hidupnya sungguh terjamin. Kasih karunia Allah selalu menyertai, memberi kekuatan, damai sejahtera, jalan keluar, serta menyediakan semua yang dibutuhkan.

  • Tidak berhenti menghasilkan buah.

Meski melewati badai/ujian/kesulitan namun ia tetap menghasilkan buah yang memberkati kehidupan orang lain. Hujan badai dan angin topan bisa saja membuat ranting-ranting jadi patah, namun selama masih ada akar yang kuat dan sehat, pohon tersebut tetap hidup dan mampu menumbuhkan tunas baru serta terus menghasilkan buah yang berkualitas baik.

Orang yang memiliki akar kuat dalam Kristus tidak akan merasa rugi ketika hidupnya menghasikan buah yang dinikmati oleh orang lain, sebab ia mengerti bahwa buah tersebut sesungguhnya merupakan sebuah benih yang harus ditabur supaya mengalami pelipatgandaan.

BERAKAR KUAT DALAM KRISTUS

Berakar juga berarti bertumbuh ke dalam, batang pohon boleh bertumbuh ke atas tetapi akar meski kuat dengan bertumbuh/merambat ke dalam tanah. Jika tidak, maka pohon itu tidak akan kuat berdiri dan akan tumbang dengan mudah. Itu sebabnya kekuatan sebuah pohon terletak pada kekuatan akar.

Untuk mengalami berkat dan kemenangan seperti yang ditulis dalam Yeremia 17:7-8, akar hidup kita harus kuat dan sehat. Akar hidup kekristenan yang kuat adalah pondasi hidup yang membuat kita teguh dan bertumbuh dalam iman kepada Kristus. Berakar dan bertumbuh di dalam Kristus adalah suatu proses yang berlangsung seumur hidup.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur (Kolose 2:6-7).

 

Bahan renungan mingguan lain selama bulan ini: 

Memperkuat Akar (Bagian 2)

Mempertahankan Fondasi (bagian 1)

Mempertahankan Fondasi (bagian 2)

Membentuk Akar yang Kuat dan Pribadi yang Tangguh