Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog" (Page 5)
HIDUP TIDAK BERCELA: Mau Dikoreksi

HIDUP TIDAK BERCELA: Mau Dikoreksi

“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.” Mazmur 119:1

Hidup dalam kesalehan adalah kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya. Hidup dalam kesalehan bisa disebut pula hidup yang tidak bercela. Inilah salah satu tanggung jawab orang Kristen yang dianggap paling berat, bahkan sebagian besar orang menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil untuk dijalani, karena mereka berpikir bahwa hidup yang tak bercela berarti hidup yang tidak pernah membuat satu pun kesalahan. Adakah orang yang tidak pernah membuat kesalahan dalam hidupnya? Hidup tidak bercela bukan berarti tidak pernah membuat kesalahan, tetapi hidup yang senantiasa mau dikoreksi oleh Tuhan.

Daud, seorang raja besar Israel dan juga penulis sebagian besar kitab Mazmur, bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

PERCAYA DAN MENUNGGU WAKTU TUHAN  MENGGENAPI JANJI-NYA

PERCAYA DAN MENUNGGU WAKTU TUHAN MENGGENAPI JANJI-NYA

PENDAHULUAN

Di dalam dunia yang serba instan, banyak kemudahan serta penuh dengan tuntutan/tekanan, gagasan untuk bersabar dan menunggu tampaknya menjadi sesuatu yang kontraproduktif. Manusia cenderung memilih jalur cepat, kalau perlu menghalalkan segala cara, demi mewujudkan keinginannya. Namun tidak demikian halnya dengan kita yang hidup oleh iman. Firman Tuhan mengajarkan bahwa iman disertai kesabaran adalah prinsip yang sangat penting untuk kita lakukan agar dapat melihat janji Tuhan digenapi. Selalu ada masa menunggu antara menerima janji Allah dengan penggenapannya.

ISI

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).

Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya; hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak berkuasa menetapkan langkah hidupnya. Kita tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dengan segala hikmat dan pengetahuan kita yang sangat terbatas. Masa menunggu adalah kesempatan yang dipakai Tuhan untuk mengukir nilai-nilai kekekalan dalam hati kita melalui suatu proses.

Seseorang akan rela menunggu jika ia memiliki kepercayaan (dalam hal ini ‘trust’) yang dibangun atas dasar hubungan yang erat dengan Allah. Walaupun belum melihat, namun ia memiliki keyakinan bahwa Allah pasti menggenapi perkataan/janji-Nya karena mengenal betul karakter/sifat Allah yaitu kebaikan hati, kesetiaan dan kuasa-Nya yang tidak terbatas. ‘Trust’ adalah kepercayaan yang menaruh keyakinan pada sifat-sifat Allah ini. Inilah menyebabkan kita dapat memercayai Tuhan sepenuhnya sekalipun belum melihat, belum mengerti, fakta tidak mendukung, banyak tantangan dan penderitaan, dlsb.

Keterbatasan kita tidak membatasi Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita. Tuhan berdaulat mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak dan rancangan-Nya yang sempurna. IA melihat apa yang tidak bisa kita lihat, apa yang akan terjadi di depan, dan apa yang terbaik untuk kita. Tuhan bekerja dengan cara yang misterius dan melampaui pemahaman kita.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9).

Itulah sebabnya orang benar harus hidup oleh iman (percaya akan perkataan/firman-Nya yang tidak terlihat namun penuh kuasa).

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani11:1).

Iman merupakan fondasi (tidak terlihat tapi kokoh) yang membuat kita percaya bahwa Tuhan itu ada, bahwa Dia adalah seperti yang Dia katakan, dan Dia berkuasa melakukan apa yang Dia firmankan. Sebelum memercayai janji Allah, Abraham terlebih dulu percaya/memiliki trust akan kesetiaan-Nya. Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia (Ibrani 11:11).

Contoh lain di Alkitab yang melalui iman serta kesabaran, dan akhirnya meraih janji Tuhan adalah Nuh, Ishak, Yakub, Yusuf, Yosua, Hana, Daud, dll. Pengalaman iman mereka ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita yang hidup di masa ini, karena Allah tetap sama dulu, sekarang dan selamanya.

Kita belajar satu prinsip yang penting dalam masa menunggu janji Tuhan : percaya sebelum melihat adalah esensi iman. Penundaan jawaban doa bukan berarti penolakan, tapi merupakan bagian dari perjalanan iman yang memang harus kita lalui supaya kita bertumbuh dalam iman (menjadi kuat dan teruji); bertumbuh dalam karakter menyerupai Dia yang penuh kasih, dan kesetiaan.

Bagaimana kita bisa menghindari keraguan saat menunggu? Mari belajar menunggu dengan bijaksana, biarkan Tuhan menyelesaikan maksud dan pekerjaan-Nya yang sempurna atas hidup kita. Arahkan mata kepada Yesus, jaga hati dengan segala kewaspadaan. Perdalam keintiman kita dengan-Nya lewat perenungan firman, doa, puasa, pujian dan penyembahan. Bawa segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa, minta Roh Kudus menuntun dan memberi hikmat dalam tiap langkah/keputusan yang kita ambil. Padamkan panah-panah api si jahat yang menyerang pikiran kita dengan mendeklarasikan firman/janji-janji Tuhan.

Belajar rendah hati dan tidak mencoba menolong Tuhan. Tuhan ingin kita berdiam diri dan pelajari Firman (karakter dan cara kerja Tuhan), perbaiki kebiasaan dan cara hidup dalam masa menunggu. Lakukan pemberesan dengan Tuhan dan/sesama jika Roh Kudus mengingatkan kita akan sesuatu hal. Jangan menjadi lamban dan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Hindari berada dalam kumpulan pencemooh, yang tidak percaya akan firman Tuhan, orang-orang yang punya pikiran, perasaan dan sikap perilaku negatif. Tetap tergabung dalam komunitas orang percaya/Cool, lakukan tugas pelayanan dan tanggung jawab kita sebagai murid Kristus dengan tekun dan setia.

PENUTUP

Menunggu janji Tuhan digenapi memang memakan waktu, tapi itu tidak akan pernah sia-sia karena Tuhan akan memberi upah kepada mereka yang serius mencari DIA. Masa menunggu adalah masa Tuhan mendidik kita supaya menjadi kuat dan dewasa dalam iman, dan hidup kita berbuah.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada , dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).

MENJADI ORANG JUJUR (2)

MENJADI ORANG JUJUR (2)

“siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.” Mazmur 50:23b

Kebanyakan orang cenderung berani berdusta atau berkata tidak jujur karena mereka lebih memilih untuk takut kepada manusia, sekedar menyenangkan hati orang lain, daripada takut kepada Tuhan. Mereka berpikir lebih mudah berdusta kepada Tuhan yang tak dilihatnya daripada berdusta di hadapan manusia yang terlihat secara kasat mata. Kalau sampai ketahuan berdusta di hadapan manusia resiko yang langsung diterimanya adalah malu, dimarahi, didamprat atau mungkin dipecat.

Cepat atau lambat setiap ketidakjujuran atau kebohongan pasti akan terungkap. Manusia mungkin saja tidak tahu dan bisa dikelabui dengan kebohongan kita, tetapi Tuhan yang duduk di atas takhta-Nya adalah Mahatahu, bahkan “…TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9). Apa pun yang kita pikirkan, rancangkan, cita-citakan, Tuhan tahu secara persis. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Berhentilah berkata dusta, jadilah orang yang jujur, sebab “Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya.” (Amsal 12:22).

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

TUHAN YESUS SEBAGAI BIJI GANDUM

TUHAN YESUS SEBAGAI BIJI GANDUM

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Yohanes 12:24

Tak seorang pun akan menikmati tuaian bila ia membiarkan biji gan-dum yang dimilikinya tetap disimpan dan tidak ditanam. Jelas untuk dapat berbuah maka sebuah biji gandum harus terlebih dahulu jatuh ke tanah (ditanam) dan mati.

Dalam pembacaan firman hari ini biji gandum yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam ayat nas menggambarkan diri-Nya sendiri…

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

MEMBAJAK TANAH HATI

MEMBAJAK TANAH HATI

“‘Sesungguhnya, waktu akan datang,’ demikianlah firman TUHAN, ‘bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran.'” Amos 9:13

Seorang hamba Tuhan atau pemberita Injil adalah sama seperti seorang petani yang sedang membajak tanah. Mengapa tanah harus dibajak lebih dahulu? Karena tidak semua tanah itu baik dan siap pakai, ada tanah keras, ada pula yang berbatu. Tujuan membajak adalah untuk menggemburkan tanah atau melembutkan tanah yang akan ditaburi benih.


Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

PERGUMULAN YANG BERAT (2)

PERGUMULAN YANG BERAT (2)

“Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya.” Markus 14:35
Ketika menghadapi pergumulan yang berat, sebagai manusia Yesus membutuhkan teman untuk berbagi beban, karena itu Ia mengajak Petrus dan kedua anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) untuk menemani-Nya berdoa di taman Getsemani.

Yesus hendak menekankan bahwa dalam kodratnya sebagai manusia seharusnya kita saling menguatkan, menopang dan memerhatikan satu-sama lain. Seperti nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji peker-jaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.” (Galatia 6:2-5).


Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

KEKUATAN MANUSIA: Menghalangi Tuhan Bekerja

KEKUATAN MANUSIA: Menghalangi Tuhan Bekerja

“supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” 1 Korintus 1:29

Di dunia ini ada banyak orang pintar, hebat, jenius dengan berbagai titel yang mentereng, banyak pula orang kaya dan berkedudukan tinggi. Banyak di antara mereka terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.

Inilah yang harus diperhatikan: segala kelebihan yang dimiliki (pintar, hebat, jenius, kaya dan berkedudukan) jangan sampai membuat kita memegahkan diri. Jangan sampai kita tampak melayani Tuhan tapi sesungguhnya diri sendiri yang dikedepankan, lalu kehebatan, kekuatan dan kemampuan diri yang digembar-gemborkan di hadapan semua orang.  Kita harus ingat bahwa …

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

JANGAN PERNAH MEREMEHKAN TUHAN

JANGAN PERNAH MEREMEHKAN TUHAN

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” Amsal 16:3

Salah satu sifat manusia adalah tidak mau dipandang remeh. Oleh sebab itu manusia berusaha mengatasi semua persoalan yang ada dengan
kekuatan dan kemampuan sendiri. Biasanya yang bersikap demikian adalah orang-orang yang secara finasial cukup kuat alias kaya, atau mereka yang memiliki koneksi atau relasi dengan orangorang ‘besar’. Dengan mengandalkan kekuatan, kepintaran, uang atau harta, dan juga mengandalkan sesamanya, seringkali seseorang begitu mudahnya meremehkan Tuhan. Tak terkecuali orang Kristen, meskipun tampak setia beribadah dan melayani Tuhan, namun dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari mereka punya sikap yang meremehkan Tuhan.

Pengalaman dapat meloloskan diri dan mampu melewati berbagai kesulitan hidup dengan mengandalkan uang atau relasi membuat orang
memandang kecil arti kehadiran Tuhan. Dalam diri mereka …

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

JANGAN BANYAK ALASAN DAN DALIH

JANGAN BANYAK ALASAN DAN DALIH

“Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf.” Lukas 14:18a

Tuhan Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih, yang memiliki 1001 alasan untuk lari dan menghindarkan diri dari panggilan Tuhan. “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.” (ayat 16). Inilah reaksi orang-orang yang diundang untuk datang ke perjamuan besar, yaitu tidak merespons un-dangan tersebut dengan berbagai alasan, dalih atau kesibukan: “Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi men-cobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.” (ayat 18b-20).

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

ORANG PERCAYA: Tidak Perlu Takut

ORANG PERCAYA: Tidak Perlu Takut

“Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.”
Mazmur 56:4-5

Di hari-hari seperti sekarang ini tak bisa dipungkiri banyak orang dihantui rasa takut. Banyak faktor yang membuat orang menjadi takut: keadaan ekonomi yang buruk, nilai mata uang rupiah yang merosot, bencana alam terjadi di mana-mana sehingga orang menjadi takut terhadap masa depan hidupnya. Kata takut berarti merasa gentar atau ngeri menghadapi sesuatu yang dianggapnya akan mendatangkan bencana. Jika ketakutan dibiarkan berlarut-larut sehingga menjadi sangat berlebihan akan menimbulkan phobia, yaitu rasa ketakutan yang berlebihan terhadap suatu benda, situasi atau kejadian yang ditandai dengan keinginan untuk lari atau menjauhi sesuatu yang ditakuti tersebut.

Punya rasa takut adalah hal yang manusiawi, tetapi jika kita terus hidup dalam ketakutan setiap hari adalah tidak wajar, apalagi bagi
kita orang percaya. Ketakutan yang terus dipelihara akan berdampak sangat buruk bagi diri sendiri. “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” (Ayub 3:25-26).

Jangan biarkan roh ketakutan membelenggu hidup kita! Kalau kita percaya sungguh kepada Tuhan, percaya akan firman-Nya dan memegang teguh setiap janji-Nya tentu kita tidak akan hidup dalam ketakutan lagi.

Download renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.