Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 5)
TUJUAN TUHAN DATANG KEMBALI KE DUNIA

TUJUAN TUHAN DATANG KEMBALI KE DUNIA

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” Markus 13:26

Kedatangan Kristus yang pertama ke dunia dalam wujud Anak Manusia, yang dikandung melalui Maria dan lahir di kandang Betlehem, adalah mengemban rencana Allah Bapa dalam rangka penyelamatan umat manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh
hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

PEROLEHLAH  HIKMAT  DAN PENGERTIAN (Theme: Understanding the Mind of God)

PEROLEHLAH  HIKMAT  DAN PENGERTIAN (Theme: Understanding the Mind of God)

Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian. (Amsal 4:7)

PENDAHULUAN

Di dunia yang gelap, penuh dengan kejahatan, penyesatan, krisis dan guncangan, orang percaya bukan saja harus hidup oleh iman tapi juga hikmat Allah. Hikmat sangat diperlukan untuk membawa kita hidup dalam poros kehendak Allah, yaitu hidup yang berbuah, berkemenangan serta menjadi garam dan terang dunia khususnya di akhir jaman menjelang kedatangan Kristus.

PERMASALAHAN

Berikut hal-hal yang menyebabkan seseorang tidak memiliki hikmat Allah:

  • Tidak menjadi pelaku firman. Pada kenyataannya, orang yang memiliki pengetahuan firman belum tentu melakukan perintah Tuhan. Orang yang tidak melakukan perintah Tuhan tidak akan memperoleh hikmat Allah (Mat. 24:24-27). Pengetahuan firman hanya sebatas informasi, bukan menjadi pewahyuan yang berkembang menjadi hikmat ilahi.
  • Terjebak dalam rutinitas agamawi. Banyak orang percaya yang ‘tertidur’; bahwa imannya kepada Tuhan hanya sebatas ‘kebiasaan’ rohani secara Kristen: kebiasaan ibadah, pelayanan, berdoa, baca Alkitab, dsb. Orang yang terjebak dalam kebiasaan dapat kehilangan kedalaman makna ibadah yang sesungguhnya, fokusnya bergeser kepada perkara rutin sehari-hari: makan dan minum, kawin dan mengawinkan seperti jaman Nuh, tapi tidak waspada/berjaga-jaga dan memahami urgensi dari kegerakan Allah di akhir jaman (Matius 24:37-42).
  • Orang Kristen yang hanya mau susu, tidak mau beralih kepada makanan keras yaitu firman Tuhan yang menegur, memberi peringatan, memberi perintah dan arahan. Akibatnya tetap jadi bayi rohani yang lamban untuk mendengarkan, serta tidak memahami ajaran tentang kebenaran. Mengapa menjadi lamban? karena panca indera rohaninya tidak terlatih untuk bisa membedakan yang baik dari pada yang jahat (Ibrani 5: 11-14).

SOLUSI

 Perolehlah hikmat Allah agar kita memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah (Amsal 2:4-5). Kata ‘peroleh’ di sini maksudnya ‘membeli’. Perolehlah hikmat maksudnya belilah hikmat, jangan menjualnya. Jangan tukar hikmat dengan kebodohan. Carilah hikmat seperti mencari perak dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam. Kata ’pengertian/understanding’ dalam konteks Alkitab mengacu pada kemampuan untuk membedakan, memahami, dan menerapkan pengetahuan serta hikmat sesuai dengan kehendak Allah. Hikmat dan pengertian diawali dengan takut akan Tuhan, dikembangkan melalui pemahaman mendalam akan firman Tuhan, doa, serta bimbingan Roh Kudus.

Hikmat dan pengertian tidak didapatkan dengan instan tapi lewat proses pembelajaran seumur hidup. Dengan melakukan firman/perintah Tuhan, kita akan jadi orang bijaksana yang memiliki hikmat ilahi (Matius 7:24-27). Hikmat tidak akan memberikan faedah/mengubah hidup kita jika kita tidak melakukannya. Carilah dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya (yaitu hikmat dan pengertian), maka semuanya akan ditambahkan kepada kita. Iman memberikan visi dan menjadi dasar yang teguh, hikmat membangun. Iman dan hikmat membuat kita hidup dalam kasih karunia secara efektif dan berhasil dalam Tuhan (Mazmur 1:3).

  • Supaya tidak terjebak dalam rutinitas belaka, belajarlah hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Disiplin rohani itu perlu, tapi waspadai jangan sampai terjebak dalam rutinitas rohani yang membuat kita bisa kehilangan esensi ibadah yang sesungguhnya. Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14). Kata ‘anak’ di sini dalam bahasa Yunani (huios) merujuk pada seorang anak yang sudah dewasa, bukan bayi. Roh Kudus memimpin kita untuk melakukan perintah Tuhan. Kadang Ia menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak terpikir/melampaui pemikiran; hal yang mematahkan kedagingan/hawa nafsu/kesombongan; hal yang menarik kita keluar dari kenyamanan;  hal yang menguji ketaatan kita; dsb. Dengan membiasakan diri dipimpin Roh Allah, kita akan terus dibawa pada level kedewasaan rohani yang memiliki hikmat serta pengertian untuk mengambil langkah/keputusan yang benar, untuk berdoa dalam ketepatan, untuk senantiasa berjaga-jaga,  dan terlibat dalam kegerakan Tuhan di akhir jaman ini.
  • Jangan hanya mau dengar firman yang enak didengar, tapi belajar menerima firman yang perlu kita dengar supaya kita bertumbuh secara rohani. Terima dengan lemah lembut firman yang menegur, mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Dengan demikian, panca indera kita jadi semakin terlatih untuk memahami hikmat Allah: membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak, mana baik dan yang jahat; mana yang perlu dan yang tidak perlu/berguna; mana yang harus dilakukan dan mana yang jangan, dsb.

FIRMAN TUHAN SEBAGAI DASAR

  • Baca Ibrani 5:11-14; Matius 7:24-27; Amsal 2: 4-11; Kolose 1: 9-10.

KESIMPULAN

Untuk memperoleh hikmat dan pengertian diperlukan bayar harga berupa komitmen untuk takut akan Tuhan, mencari kehendak-Nya, latihan serta kedisiplinan. Hikmat dan pengertian sangat diperlukan untuk membuat keputusan yang bijaksana sehingga hidup kita layak dan berkenan kepada-Nya; memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. Saat hikmat dan pengertian melimpah dalam hidup kita, kita menjadi bejana yang dipakai untuk membangun kerajaan Allah dan mengarahkan orang lain untuk bisa mengalami anugerah kasih karunia-Nya.

 

ANAK ALLAH: Wajib Meniru Allah (2)

ANAK ALLAH: Wajib Meniru Allah (2)

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5:11

Dunia penuh perbuatan-perbuatan kegelapan. Karena status kita anak-anak Allah, bukan dari dunia ini, maka ada tanggung jawab yang kita emban yaitu menjadi terang bagi dunia yang gelap ini. 2. Hidup dalam terang. Menjadi terang berarti menunjukkan kualitas hidup yang benar-benar berbeda, “karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (ayat 9). Terang artinya dapat terlihat dan bukan tersembunyi, suatu kehidupan yang mampu menjadi berkat atau kesaksian, bukan menjadi batu sandungan. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

 

BERTUMBUH DALAM KASIH KARUNIA (Theme: The Mind of Christ)

BERTUMBUH DALAM KASIH KARUNIA (Theme: The Mind of Christ)

Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.  Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya (2 Petrus 3:18).

 

PENDAHULUAN

Firman Tuhan memerintahkan kita untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Kristus. Bertumbuh dalam kasih karunia berarti mengembangkan iman aktif yang semakin kuat dan semakin dalam, yang memengaruhi setiap aspek kehidupan. Pertumbuhan ini bukan hanya soal iman, tetapi juga melibatkan peningkatan kasih, kerendahan hati, dan pengenalan yang mendalam akan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan membawa pada hidup kekal sesuai kehendak Allah.

 

PERMASALAHAN

  • Tidak memiliki iman yang dewasa.

 Tuhan Yesus mengatakan bahwa di akhir jaman akan muncul nabi-nabi palsu dan pengajar-pengajar palsu yang akan menyesatkan banyak orang termasuk orang-orang Kristen. Orang yang mudah untuk disesatkan oleh rupa-rupa angin pengajaran adalah orang percaya yang tidak dewasa dalam iman. Iman yang tidak dewasa disebabkan: 1) petobat baru/ masih bayi rohani yang belum dimuridkan; 2) orang yang  tidak mau dimuridkan karena  menganggap pemuridan sebagai suatu yang tidak menyenangkan dan memberatkan. Bisa saja orang tersebut  memiliki pengetahuan firman tapi tidak menghidupi firman, percaya hanya sebatas pengetahuan di pikiran, bukan dengan segenap hati.

Pemahaman yang dangkal akan tujuan karya keselamatan Allah membuat seseorang terjebak dalam rutinitas (ibadah hanya sebagai kegiatan rutin), hanya tertarik kepada berkat, mukjizat, karunia dan bukan mengejar hidup yang berbuah.  Konsep tentang ketaatan, bayar harga, berkorban, menjadi berkat, sangkal diri, dan pikul salib adalah hal-hal yang tidak disukai, bahkan bila perlu dihindari.

Orang yang tidak dewasa dalam iman akan menjadi buta dan picik; artinya tidak mengerti tentang keselamatan dan tujuan kasih karunia Allah bagi dirinya. Pikirannya jadi picik (shortsighted), tidak bisa melihat jauh ke depan; pandangan, pengetahuan dan pemikirannya kerdil, sempit dan minim; Buta (blindness), tidak tahu/mengerti/mengenal kebenaran, perkara-perkara rohani dan kehendak Allah. Hidup hanya untuk diri sendiri, enggan untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain,  menjadi lamban secara rohani (menurunnya ketekunan, gairah dan semangat dalam mengikut Tuhan; tumpul dalam pendengaran akan firman Tuhan/kurangnya ketajaman dalam memahami hal-hal yang rohani), hanya suka yang instant dan gampang.

 

SOLUSI

  • Bertumbuhlah dalam kasih karunia.

Supaya tidak terseret dalam kesesatan dan kehilangan pegangan yang teguh yaitu iman kepada Allah, kita harus bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan yang benar akan Kristus. Bertumbuh dalam kasih karunia berarti mengembangkan iman aktif yang semakin kuat dan semakin dalam, yang memengaruhi setiap aspek kehidupan. Belajar mengenal apa yang Tuhan kehendaki, apa yang berkenan kepada-Nya, bangun disiplin rohani (waktu saat teduh dengan Tuhan; jaga pikiran, perasaan, hati, perkataan, dan kekudusan), dan belajar menundukkan diri kepada kehendak Allah. Relakan diri untuk Tuhan mendewasakan dan memurnikan iman kita. Hidup oleh iman yang murni = sangkal diri dan pikul salib. Iman yang murni = iman seperti seorang anak kecil. Iman yang murni = iman yang bekerja oleh kasih. Tanpa kasih, iman kita tidak ada gunanya. Berdoa minta supaya Roh Kudus menolong kita untuk semakin mengasihi (menaati) Tuhan.

  • Bertumbuh bersama dalam komunitas orang percaya (COOL).

Kita tidak dapat bertumbuh sendirian. Kita perlu bertumbuh bersama dalam komunitas yang tepat untuk mendukung, mengasah, dan menolong kita. Belajar mengasihi Tuhan dan orang lain, saling merendahkan hati, dan belajar saling melayani (Filipi 2:2-5). Sejalan dengan proses pertumbuhan rohani, Roh Kudus menolong kita untuk mengenali fungsi, menggali potensi, mengembangkan talenta/karunia dan melayani di bidang yang tepat. Orang yang mengenali fungsi dan panggilannya akan melayani dengan efektif; doing the right things; tidak malas tapi dengan sukacita serta penuh tanggung jawab mengobarkan karunia dan talentanya untuk mendampaki orang banyak dan memuliakan Allah.

 

FIRMAN TUHAN SEBAGAI DASAR

  • …sampai kita semua telah mencapai kesatuaniman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah,  kedewasaan penuh,  dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,  sehingga kita bukan lagi anak-anak,  yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. (Efesus 4:13-15).

 

KESIMPULAN

Kita harus sungguh-sungguh menyiapkan diri dalam menghadapi akhir jaman yang semakin gelap. Kita tidak akan mampu melewati masa-masa sukar jika tidak memiliki iman yang dewasa dan kasih akan Tuhan. Saat ini bukan lagi waktunya untuk berada di zona nyaman, menjadi suam dan setengah hati dalam mengikut Tuhan. Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Kristus. Dengan demikian, kita diarahkan untuk berjalan dalam jalur kehendak Allah yang sempurna, yang pada akhirnya mengarah pada kehidupan yang penuh integritas, menjadi saksi Tuhan dan berkemenangan di tengah masa yang sukar.

ENGGAN MELEPASKAN IKATAN!

ENGGAN MELEPASKAN IKATAN!

“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;” Kolose 1:13

Rasul Paulus memberikan penegasan bahwa Tuhan Yesus telah melepaskan kita dari segala ikatan dan belenggu melalui karya-Nya di kayu salib. Dengan demikian setiap orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya sudah tidak terbelenggu lagi, sebab “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Oleh kuasa firman Tuhan hidup kita telah diperbaharui dan dimerdekakan dari segala ikatan, seperti tertulis: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32). Merdeka berarti bebas dari perhambaan atau tidak terikat. Tuhan telah memerdekakan kita, berarti hidup kita tak lagi dibelenggu oleh apa pun juga. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:18).

Baca renungan harian selengkapnya di sini.

PIKIRKANLAH PERKARA YANG DI ATAS

PIKIRKANLAH PERKARA YANG DI ATAS

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kolose 3:2)

PENDAHULUAN

Sebagai ciptaan baru yang telah dibangkitkan dalam Kristus, kita diperintahkan untuk mencari dan memikirkan perkara-perkara di atas, bukan yang di bumi. Hidup kita tidak lagi berorientasi kepada perkara-perkara dunia, melainkan kekekalan. Memikirkan perkara di atas berarti mengarahkan pemikiran dan pemahaman kepada hal-hal yang berkaitan dengan Allah dan segala kebenaran-Nya, yang diaplikasikan dalam kehidupan kita. Untuk dapat memahami perkara yang di atas, kita harus hidup oleh iman.

PERMASALAHAN

Berikut adalah hal yang membuat seseorang tidak bisa memahami perkara-perkara yang di atas:

  • Tidak mau bertumbuh  secara rohani melalui pemuridan. Akibatnya manusia rohaninya menjadi kering, imannya kerdil dan lemah, tidak mengerti kehendak Tuhan dan berjalan dalam rencana-Nya, serta tidak menghasilkan hidup yang berbuah.
  • Pikiran yang tidak diperbarui oleh firman Tuhan – membuat orang tidak mampu memahami perkara-perkara di atas, di mana Kristus ada. Akibatnya iman tidak berkembang karena lebih memilih hidup karena melihat, bukan karena percaya. Cara berpikir seperti ini tidak ada bedanya dengan cara pikir dunia yaitu ‘carnal mind: pikiran yang masih dikuasai oleh ‘kedagingan’ (Roma 8:6); hidup hanya untuk memuaskan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16). Mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging sehingga tidak mungkin bisa berkenan kepada Allah karena keinginan daging adalah perseteruan dengan DIA.
  • Pikiran yang dibutakan oleh ilah-ilah jaman (2 Korintus 4:4). Jika ke-kristenan seseorang hanya  sebatas kebiasaan, ritual keagamawian dan tanpa pemuridan, maka sesungguhnya ia telah dibutakan oleh ilah jaman, di antaranya adalah penyesatan/ajaran palsu dan roh agamawi. Secara lahiriah menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya memungkiri kekuatannya (2 Timotus 3:1-5). Tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mencari pengajaran dari guru palsu untuk memuaskan keinginan telinganya. Memalingkan telinganya dari kebenaran Allah dan membukanya bagi dongeng (2 Timotius 4:3-4). Imannya tidak berpusat kepada Kristus tetapi kepada pikiran, perasaan dan seleranya sendiri. Hal ini membuat orang percaya jadi kompromi dengan dunia, terseret arus, akhirnya menjadi sama seperti dunia.
  • Pikiran dan perasaan yang menjadi tumpul sama seperti orang yang tidak mengenal Allah (2 Korintus 3:14-15; Efesus 4:17-19). Tidak bisa mengerti kebenaran firman dan kehilangan kepekaan untuk mendengar suara teguran Roh Kudus. Ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya: hidup dalam dosa, ikatan hawa nafsu, keserakahan/ketamakan, membiasakan diri mengabaikan firman dan teguran Roh Kudus, dosa yang belum dibereskan/menunda pertobatan, kedegilan hati, dlsb. Ketika pikiran dan perasaan menjadi tumpul, seseorang akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang keliru dan membahayakan hidupnya.
  • Menentang pengenalan akan Allah (2 Kor.10:5) yang disebabkan segala bentuk keangkuhan manusia berupa pemikiran, logika, argumen, pendapat, spekulasi, filosofi, filsafat, ideologi, hikmat dunia, pengetahuan,  dlsb.

SOLUSI

  • Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan secara terus-menerus.
  • Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru; hidup dalam pertobatan.
  • Memakai senjata ilahi yaitu firman Tuhan untuk menghancurkan/meruntuhkan segala spekulasi, argumen, alasan, dlsb yang menentang pengenalan akan Tuhan. Tawan segala pikiran kita dan taklukkan kepada Kristus.

FIRMAN TUHAN SEBAGAI DASAR

Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,  sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

2 Kor.10:3-5  “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.  Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.  Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.”

Efesus 4:20-24 “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.  Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,  yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama,  yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,  supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,  dan mengenakan manusia baru,  yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

KESIMPULAN

Orang Kristen sejati memikirkan hal-hal yang berasal dari Roh, bukan yang berasal dari hikmat dunia ataupun kedagingan. Pikiran kita harus  berorientasi pada hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Memikirkan perkara yang di  atas  bukan  hanya  dalam  waktu  sesaat,  tetapi  secara  terus  menerus  dan  selamanya.  Miliki hikmat  Allah yang dinyatakan melalui Pribadi Yesus Kristus,  bukan hikmat dunia yang menyesatkan. Perkara yang di bumi bersifat sementara, perkara yang di atas  bersifat kekal. Oleh sebab itu pikirkanlah  senantiasa perkara yang di atas supaya bila Kristus menyatakan diri kelak, kitapun akan menyatakan diri bersama dengan DIA dalam kemuliaan, Amen!

BERDOA TIDAK LAGI DIANGGAP PENTING

BERDOA TIDAK LAGI DIANGGAP PENTING

“Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya.” Amsal 4:6

Ketika orang berada dalam pergumulan berat, kesesakan hebat, mempunyai keperluan mendesak, lemah, tertekan, terjepit, belum punya apa-apa, belum menjadi siapa-siapa, kebanyakan ia akan sungguh-sungguh berdoa, giat beribadah dan melayani Tuhan. Namun begitu sudah ditolong Tuhan, pekerjaan mapan, ekonomi dipulihkan, sakit-penyakit disembuhkan, studi berhasil dan sebagainya, berdoa tidak lagi dianggap penting…kerajinan beribadah mengendur dan pelayanan pun ditinggalkan. Pemikirannya berubah: semua bukan lagi karena anugerah dan campur tangan Tuhan, tetapi hasil kerja keras diri sendiri, kemampuan, kekuatan dan kepintaran sendiri!

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

KEMBALI KEPADA INJIL YANG MURNI

KEMBALI KEPADA INJIL YANG MURNI

(September Theme: Understanding The Mind of GOD)

 

PENDAHULUAN

Di akhir zaman ini, banyak orang Kristen mengalami kemerosotan iman , kasih dan pengharapan karena Injil yang diberitakan sudah melenceng dari kemurnian Injil Kristus. Fokusnya bergeser pada consumerism, pencarian berkat/mukjizat, seolah-olah Tuhan hanya ada untuk memenuhi daftar permintaan dan ambisi pribadi.

Pengajaran yang sering kali hanya menyenangkan telinga jemaat, memberi entertainment , dan membuat jemaat terhibur, nyaman dalam zona suam-suam kuku. Akibatnya, jemaat tidak mengalami transformasi hidup seperti yang Tuhan kehendaki.

 

PERMASALAHAN

  • Firman dikompromikan dan dicampur dengan nilai duniawi yang bertentangan dengan kemurnian Injil.
  • Ajaran penting seperti ketaatan kepada Allah, menyangkal diri, memikul salib, hidup dalam pertobatan, serta komitmen pada Tuhan, jarang lagi diajarkan.
  • Banyak gereja beralih fungsi dari wadah pemuridan menjadi sekadar social club yang menjalani MLM (multi level marketing) supaya gerejanya menjadi paling hebat, paling besar dan paling banyak cabangnya, dlsb.
  • Gereja tanpa pemuridan sejati adalah gereja tanpa Kristus. Padahal, gereja seharusnya menjadi agen transformasi yang menjadikan jemaat murid Kristus yang dewasa.

 

SOLUSI

Pemuridan 

Di gereja lokal BIC, pemuridan adalah identitas utama. Setiap jemaat dimuridkan agar:

  • Bertumbuh dalam iman.
  • Menjadi pribadi yang kuat dan dewasa melalui pengajaran Firman Tuhan yang benar (tanpa kompromi).
  • Hidup dalam pengurapan Roh Kudus sehingga dapat diutus menjadi terang di keluarga, marketplace, dan bangsa.

Pengajaran Firman memperbarui pikiran kita sehingga kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus, berjalan sesuai poros kehendak-Nya.

Pentingnya Memiliki Pikiran Kristus

Pikiran Kristus berarti:

  • Memahami kehendak, rencana, tujuan, cara pandang, dan jalan Allah atas hidup kita.
  • Hal ini hanya dapat dinyatakan melalui Roh Kudus, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan yang tersembunyi dalam diri Allah (1 Kor. 2:10).

Namun, pikiran Kristus tidak didapat secara instan. Itu adalah hasil proses pendewasaan rohani.
•   Bayi rohani = manusia duniawi, belum dewasa dalam Kristus.
•   Hanya mereka yang dewasa dapat mengerti perkara-perkara rohani, memiliki hikmat Allah, dan pikiran Kristus.

Karena itu, penting sekali untuk menerima ajaran yang sehat dan hidup dalam pemuridan sejati.

Firman Tuhan sebagai Dasar

Rasul Paulus menulis:

“Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. … Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” (BACA 1 Korintus 2:6–16)

Ayat ini menegaskan bahwa hikmat sejati bukanlah milik dunia, melainkan milik Allah yang hanya dapat dimengerti oleh orang yang hidup dalam Roh.

Prinsip Dasar Pikiran Kristus

Yesus menegaskan dua hukum utama (Baca Mat. 22:37–39):
1.Kasih kepada Allah → ditunjukkan melalui ketaatan kepada firman-Nya.
2.Kasih kepada sesama manusia → diwujudkan dengan menjaga kesatuan tubuh Kristus, rendah hati, dan mendahulukan kepentingan orang lain.

Paulus mengingatkan jemaat di Filipi:

“Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan … janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:2–5)

 

KESIMPULAN

Untuk memahami pikiran Allah, kita perlu hidup dalam pemuridan sejati, membangun kasih yang tulus kepada Allah dan sesama, serta terus diperbarui oleh Firman dan Roh Kudus. Dengan demikian, kita dimampukan untuk berjalan bukan dalam logika dunia, melainkan dalam hikmat Allah yang menuntun pada hidup yang berbuah dan memuliakan Kristus.

 

MEMPEROLEH HIKMAT TUHAN  DI TENGAH UJIAN IMAN

MEMPEROLEH HIKMAT TUHAN DI TENGAH UJIAN IMAN

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya (Yakobus 1:5)

ISI

  • Shaking + stillness = wisdom. Tetap tenang di tengah guncangan membuat kita dapat berdoa memuji dan menyembah. Melalui doa, kita meminta hikmat dari Tuhan untuk mengerti apa yang sedang IA mau sampaikan, bagaimana memaknai/meresponinya, dan keputusan apa yang harus kita ambil. Tuhan akan memberikan hikmat dengan murah hati kepada mereka yang memintanya dengan iman. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang,  sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.  Sebab orang yang mendua hati  tidak akan tenang dalam hidupnya (Yakobus 1:6-8).
  • Hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia. Hikmat Allah berorientasi kepada kebenaran dan bersifat kekal, sementara hikmat manusia berorientasi kepada kepentingan diri sendiri yang dapat mengakibatkan kekacauan serta perbuatan jahat (Yakobus 3:14-16). Hikmat Allah berpusat kepada Yesus Kristus (1 Korintus 1:24b). Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN,  dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian (Amsal 9:10).
  • Hikmat berawal dari rasa takut dan hormat akan Tuhan, yang dibangun lewat pengenalan kita akan Dia. Pengenalan akan Tuhan membawa kita memahami karakter, cara pandang dan kehendak Allah atas segala ciptaan-Nya. Rasa hormat dan takut akan Tuhan serta kerendahan hati adalah sikap hati yang tepat untuk mendapatkan hikmat ilahi dan menemukan jalan keluar atas masalah. Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian (Amsal 4:7).
  • Hikmat bukanlah soal karunia, kepintaran, pengalaman atau tahu akan segala sesuatu, tapi soal kebergantungan kita kepada Roh Kudus untuk mengerti, menerima pewahyuan, menilai, membedakan, menemukan, memaknai atau menyimpulkan sesuatu secara mendalam. Hikmat Allah hanya dapat dipahami melalui penyataan Roh Kudus, bukan melalui kemampuan nalar berpikir manusia yang terbatas.
  • Hikmat menolong kita untuk tidak berjalan menurut pikiran/pengertian sendiri. Dengan hikmat Allah kita mampu membuat keputusan yang benar dan bertindak dalam ketepatan.
  • Orang yang memiliki hikmat akan taat melakukan perintah/arahan dari Tuhan (Matius 7:24). Ia bukan sekedar memiliki pengetahuan firman, tapi juga mengerti dan menerapkan firman dipimpin oleh Roh Kudus. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17). Iman + hikmat menggerakkan kita untuk melakukan instruksi dari Roh Kudus.
  • Hikmat Allah mengubah orang yang memperolehnya:
    • Dapat meresponi masalah dengan sikap hati yang benar : mampu melihat masalah/ujian iman sebagai kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang berkarakter seperti Kristus.
    • Mengerti kehendak serta tujuan Tuhan di balik masalah, dan mengerti apa bagian yang harus kita lakukan.
    • Memampukan kita untuk bersabar/bertekun sampai menghasilkan buah yang matang.
    • Menolong kita untuk bertindak dalam ketepatan (mencegah dari keputusan yang keliru dan mencelakakan).
    • Menolong kita untuk menguasai diri serta menjauhi hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
    • Membawa kita menjadi jawaban/berkat di tengah masalah dan guncangan.

PENUTUP

Tetap tenang di tengah guncangan/masalah membuat kita dapat berdoa dan memperoleh hikmat serta jalan keluar. Mintalah dalam iman dan jangan bimbang sama sekali. Jangan berfokus kepada keterbatasan kita serta apa yang terlihat, tapi mintalah hikmat dari Tuhan supaya bisa melihat dari perspektif-Nya. Hikmat Tuhan membuat kita bisa melihat peluang untuk menjawab kebutuhan, pintu yang terbuka ataupun rencana mulia yang IA sedang lakukan di tengah guncangan.

BERDOA: Terpenting Dalam Hidup

BERDOA: Terpenting Dalam Hidup

“Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya…” Efesus 6:18

Kata doa adalah kata yang selalu menarik perhatian semua orang percaya, karena di mana pun berada dalam keadaan tertekan, terjepit atau mengalami jalan buntu dalam permasa-lahan, hal pertama yang kita butuhkan adalah doa. Entah kita sendiri yang berdoa, atau kita meminta orang lain untuk mendoakan kita.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.