Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 5)
PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN (bagian 2)

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Tuhan Yesus  mau mendewasakan kita di akhir jaman ini agar menjadi pribadi yang kuat dan tetap tenang di tengah berbagai krisis/guncangan yang melanda dunia, keluarga ataupun kita secara pribadi. Orang yang dewasa dalam Kristus dapat dipercaya untuk melakukan hal-hal besar/kegerakan Tuhan di dunia menjelang kedatangan-Nya yang ke dua kali.

Sambungan minggu ini:

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yakobus 1:2-4).

Kalimat  ‘menjadi sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun’  mengacu pada kematangan atau kedewasaan. Proses ini berlangsung terus-menerus, sehingga kita semakin menyerupai gambar Kristus; mencapai kedewasaan iman, dan tidak kekurangan suatu apapun yang baik. Tidak kekurangan suatu apapun artinya memiliki kekuatan batin untuk bertahan dalam keadaan yang sulit. Masalah dan tekanan tidak membuat jiwanya menjadi kering dan letih lesu.

Kedewasaan rohani mencakup aspek kedewasaan karakter, cara berpikir, berperilaku, berbicara, dan sikap hati dalam meresponi segala sesuatu. Firman Tuhan merupakan satu-satunya titik acuan untuk membuat kita bertumbuh dewasa di dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah Kepala.

Orang yang dewasa rohani akan memiliki iman yang teguh, tidak mudah goyah oleh keadaan serta rupa-rupa angin pengajaran yang menyesatkan. Pengenalan yang semakin dalam akan Tuhan membawa orang tersebut hidup dalam poros kehendak-Nya yang sempurna; proses pendewasaan akan memperbesar kapasitas hatinya untuk mengasihi Tuhan (berjalan dalam ketaatan) dan mengasihi orang lain (1 Korintus 13: 4-7).

Ciri orang yang dewasa dalam roh dan jiwa:

1) Mengendalikan diri: kemampuan mengenali, mengelola dan mengekspresikan emosi dengan cara yang benar dan sehat.

2) Tidak dipimpin oleh hal lahiriah yang terlihat, perasaan serta emosi-emosi negatif.

3) Mudah mengampuni; tidak menyimpan kepahitan atau kesalahan orang lain.

4) Mampu merespon dengan benar meski di bawah tekanan; tetap tenang dan bijaksana dalam situasi sulit, sehingga dapat berdoa minta tuntunan dan hikmat dari Roh Kudus.

5) Mampu mengekang lidahnya – tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan; tahu dengan siapa dan bagaimana harus berbicara; tahu apa yang perlu dibicarakan dan apa yang tidak. Perkataannya tidak sembrono, kotor, merendahkan, menghakimi, dolak dalik, fitnah atau sia-sia, melainkan perkataan yang memuliakan Tuhan, menguatkan, dan membangun diri sendiri serta orang lain.

Orang yang dewasa tidak lagi mengejar hal yang sia-sia/duniawi, tetapi mengejar kehendak Allah atas hidupnya; mampu mengelola waktu, hubungan, finansial, talenta dan karunianya dengan bijaksana dalam pimpinan Roh Kudus.  Kerinduannya adalah berkenan di hadapan Tuhan dan menyukai hidup dalam kekudusan. Memiliki kedisiplinan rohani yang tinggi seperti berdoa, memuji menyembah, baca Alkitab, berpuasa, beribadah secara teratur; memiliki komitmen untuk dimuridkan (menjadi anggota Cool), hidup dalam pertobatan, dan bersyukur senantiasa. Sekalipun sedang ada dalam masalah/ pergumulan, kedisiplinannya tidak menjadi kendur atau berhenti.

Orang yang dewasa selalu mencari solusi – bukan mencari-cari masalah, alasan, bersungut-sungut, bermental korban ataupun menyalahkan orang lain. Ia belajar untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan, menolak untuk kuatir dan hanya mengandalkan Tuhan.

sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.  Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan,  baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia  yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:11b-13)

Kedewasaan dalam mengasihi orang lain nampak saat lebih mengutamakan kepentingan bersama/orang lain lebih dari dirinya; mencari kesenangan orang lain demi kebaikannya untuk membangunnya (Roma 15:2); rindu menjadi berkat dan melayani; rindu membawa jiwa kepada Kristus dan memuridkan mereka; rela diberi tugas/ tanggung jawab; melakukan bagiannya tanpa perlu disuruh atau pun bersungut-sungut; dan tetap berbuat kebaikan sekalipun tidak ada yang melihat, tidak dihargai atau disalah mengerti orang lain.

PENUTUP

Orang yang dewasa, imannya tahan uji dan tangguh karena telah melewati berbagai-bagai ujian berupa masalah, tekanan atau penderitaan. Kunci untuk menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (kedewasaan rohani) adalah kesabaran/ ketekunan.

Jangan salah paham dengan Tuhan; ujian demi ujian yang harus kita alami dimaksudkan untuk memurnikan dan mendewasakan kita agar semakin serupa dengan Kristus. Manusia roh kita menjadi kuat, cakap menanggung segala perkara, memiliki iman yang teguh, berjalan dalam hikmat ilahi dan tetap tenang di tengah berbagai tantangan, krisis serta guncangan.

Di akhir jaman ini, Tuhan perlu mendewasakan Gereja-Nya (baik kita secara pribadi, secara korporasi/gereja lokal dan gereja secara universal) supaya IA dapat memakai orang percaya untuk mengerjakan rencana/kehendak-Nya dalam kehidupan banyak orang, terutama di akhir jaman ini.

BARTIMEUS: Mengenal Tuhan Dengan Benar (1)

BARTIMEUS: Mengenal Tuhan Dengan Benar (1)

“Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: ‘Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!'” Markus 10:47

Setiap manusia tidak pernah lepas dari masalah. Setiap hari kita harus diperhadapkan dan bergumul dengan masalah, dimana besar kecilnya masalah sangat tergantung dari cara pandang kita terhadap masalah itu sendiri. Seringkali kita menganggap bahwa masalah yang kita hadapi lebih besar daripada yang dihadapi orang lain, padahal hal itu belum tentu benar. Ada orang lain yang masalahnya jauh lebih
besar dari yang kita hadapi tetapi ia masih bisa bersikap tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa karena ia pintar menyembunyikan masalahnya. Sementara kita sendiri panik, stres, kuatir dan kalang kabut. Jadi yang penting di sini bukanlah besar kecilnya masalah, namun bagaimana respons atau sikap hati kita saat menghadapi setiap masalah.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus mau mendewasakan kita di akhir jaman ini agar menjadi pribadi yang kuat dan tetap tenang di tengah berbagai krisis/guncangan yang melanda dunia, keluarga ataupun kita secara pribadi. IA mau kita menjadi dewasa, memiliki hikmat ilahi agar siap dipercaya untuk menjadi bagian dalam kegerakan Tuhan di dunia menjelang kedatangan-Nya yang ke dua kali.

ISI

Alkitab mencatat bahwa kedewasaan rohani seseorang ternyata tidak dihasilkan dari berkat atau mukjizat yang diterimanya. Sebagai contoh bangsa Israel yang telah mengalami banyak mujizat di padang gurun selama 40 tahun, namun sebagian besar mereka tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam iman, melainkan berubah setia dan tegar tengkuk, bersungut-sungut serta tidak taat kepada perintah Allah karena ketakutan, kekuatiran dan kebosanan hidup yang menekan.Keadaan ini membuat mereka tidak sabar dan menentang Allah dan hambaNya.

Proses pendewasaan merupakan bagian dari perjalanan iman yang diwajibkan bagi setiap orang percaya. Sayangnya banyak orang percaya kurang memahami bahwa karya keselamatan Yesus mencakup kelahiran baru dan pembaruan akal budi melalui pemuridan dan pemurnian agar semakin serupa dengan gambar Kristus (dewasa, berbuah dan memancarkan kemuliaan-Nya).

Ada pula yang menyangka bahwa mengikut Kristus hanya tentang beribadah sekali seminggu secara rutin, memberi persembahan, menyanyikan lagu-lagu pujian, merayakan Paskah dan Natal; mengikut Yesus supaya diberkati, menerima mukjizat atau supaya keinginan/doanya dikabulkan.

Kalau demikian, maka tidak heran jika banyak orang yang meski sudah lama jadi Kristen, masih hidup seperti orang yang tidak mengenal Tuhan dan kembali ke dunia lamanya karena belum mengalami perubahan/transformasi. Suka atau tidak, ternyata masalah, kesulitan, tekanan dan penderitaan dapat menjadi sarana yang tepat untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang dewasa dan tangguh. Pergumulan hidup bersama Tuhan membuat seseorang semakin sempurna dalam iman dan dewasa dalam karakter.

Tuhan memakai guncangan khususnya yang terjadi akhir-akhir ini untuk mendewasakan kita. IA berdaulat dan berhak melakukannya dengan cara yang sering kali tidak terduga oleh pemikiran kita, supaya kita bergantung penuh kepada DIA (bukan kepada hal-hal yang dapat terguncang seperti hal-hal fisik/materi) dan kepada kekuatan kasih karunia-Nya yang memampukan kita keluar sebagai pemenang.

Bagaimana guncangan dapat menjadi sarana yang dapat mendewasakan iman dan karakter kita?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yakobus 1:2-4).

Kata yang diterjemahkan sebagai ketekunan di sini memiliki arti kekuatan untuk menahan kesulitan atau tekanan, terutama ketabahan batin yang diperlukan untuk bertahan. Terjemahan lain mengartikan kata ketekunan ini antara lain sebagai ketabahan/steadfastness (ESV), ketahanan/endurance (AMP), dan kesabaran/patience (KJV, NKJV).

Kesabaran di sini adalah sebuah pilihan yang merupakan hasil dari penyangkalan diri yang dikerjakan oleh Roh Kudus, dan bukan emosi manusia. Pilihan untuk mengasihi Tuhan, untuk menaati kehendak-Nya, untuk tetap tenang dalam masa penantian, untuk bertahan saat berada di bawah tekanan, serta memilih untuk belajar dan bertumbuh melalui masalah/penderitaan.

Ketekunan merupakan suatu kekuatan karakter yang diperlukan untuk dengan sabar menanggung kesulitan dan penderitaan. Ketekunan memampukan seseorang untuk terus berjuang mencapai tujuan meskipun menghadapi rintangan atau kemunduran. Jadi bukan hanya sekedar bertahan mengatasi tekanan, tetapi mampu mengembangkan kekuatan mental dan emosional menuju kedewasaan.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1:4).

Be assured that the testing of your faith [through experience] produces endurance [leading to spiritual maturity, and inner peace]. And let endurance have its perfect result and do a thorough work, so that you may be perfect and completely developed [in your faith], lacking in nothing. (James 1:4, AMP Bible).

Ketekunan memerlukan 3 unsur : pengenalan kita akan Kristus, keputusan kita, dan pertolongan Roh Kudus. Pengenalan akan Kristus akan memperdalam akar (yaitu kasih Tuhan) serta membangun iman kita kepada DIA. Dengan kata lain, iman kita bukan sekedar keyakinan (believe), tapi iman yang berakar dalam kasih Kristus (trust), di mana kita mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang kita percayai dan sangat bisa diandalkan. Iman yang berakar dalam kasih berpotensi menjadi iman yang dewasa/menuju kesempurnaan.

Inilah yang mendorong kita untuk memutuskan tetap bertekun, tidak akan menyerah meski di tengah tekanan yang sulit. Tentu saja kita tidak mampu melakukannya sendiri, Roh Kudus-lah yang menolong, memberi kekuatan serta meneguhkan batin kita untuk tetap bertekun, bersabar, bertahan bahkan mampu bersukacita di dalam menghadapi kesesakan. Pada waktunya, kesabaran/ketekunan akan menghasilkan buah yang matang sehingga kita menjadi sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun (kedewasaan karakter).

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN (bagian 2)

ALLAH PEMRAKARSA KESELAMATAN

ALLAH PEMRAKARSA KESELAMATAN

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3:17

Keselamatan merupakan tema utama dari Alkitab Perjanjian Lama maupun Baru. Pusat keselamatan adalah Yesus Kristus. Ada dua aspek mendasar dari keselamatan: a. Segenap karya Allah dalam membawa manusia keluar dari hukuman menuju pembenaran, dari kematian kekal kepada kehidupan kekal, dari seteru Allah menjadi sekutu Allah. b. Keselamatan mencakup segala anugerah yang ada dalam Yesus Kristus, pada kehidupan kini maupun kehidupan yang akan datang.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 2)

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 2)

Sambungan minggu lalu :

Keadilan Allah adalah sifat/karakter yang mendasari segala hukum/peraturan, hikmat, jalan/tindakan, keputusan serta penghakiman-Nya. Keadilan Allah dan kemurahan hati-Nya melampaui segala pengetahuan, pemahaman serta pertimbangan manusia. Kita harus belajar meneruskan kemurahan hati Allah yang telah kita terima kepada orang lain.  Miliki motivasi hati yang benar (yaitu mengasihi Tuhan), lakukan dengan ketulusan, ketaatan dan kesetiaan.

Sambungan minggu ini:

Allah menjalankan keadilan dan hukum bagi mereka yang lemah/tertindas (Mazmur 103:6).

Keadilan merupakan salah satu wujud kasih Allah yang dinyatakan bagi manusia. IA menghendaki supaya setiap orang percaya berjalan dalam prinsip keadilan-Nya, termasuk memperlakukan orang lain  dalam takut akan DIA. Jangan menghakimi supaya kitapun tidak dihakimi karena ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain akan diukurkan kepada kita (Matius 7:1-2).

Allah melarang kita menindas dan memperlakukan orang lain dengan buruk/tidak adil. IA adalah Pembela bagi orang-orang yang tertindas, memberi makan mereka yang lapar, membebaskan para tahanan, dan membuat orang buta dapat melihat. IA menegakkan orang yang jatuh, dan mengasihi orang yang jujur, melindungi orang-orang asing, menolong para janda dan yatim piatu, tetapi menggagalkan rencana orang jahat (Mazmur 146:7-9).

Sesungguhnya berjalan dalam prinsip keadilan adalah cara hidup yang memancarkan kasih Allah yang tidak mementingkan diri sendiri. Ini bicara tentang melakukan kebenaran, menegakkan keadilan, menentang ketidakadilan, membela dan memperjuangkan hak-hak mereka yang lemah serta tertindas.

Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka (Amsal 31:8-9).

Lalu bagaimana respon yang benar jika kita diperlakukan tidak adil ? Firman Tuhan memerintahkan kita untuk tidak menuntut pembalasan sendiri melainkan menyerahkan perkara-Nya kepada Allah sebagai Hakim yang akan menghakimi dengan adil:

 Ketika Ia dicaci maki,  Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,  tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil  (1 Petrus 2:23).

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamuhiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan tetapi berilah tempat kepada murka Allah sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:17-21).

Jika kita sedang mengalami konflik dengan saudara seiman, selesaikan secara dewasa, rendahkan hati satu dengan yang lain, belajar mengalah (bukan menuntut), tenang, dan sabar (baca 1 Korintus 6:1-7). Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dihilangkan; jangan ijinkan diri kita terseret dalam amarah yang berkepanjangan; hindari tindakan meracuni/mencemarkan banyak orang dengan cerita tentang kepahitan hati kita.

Allah akan menghakimi setiap orang secara adil menurut perbuatannya.

Allah memperhitungkan semua jerih payah kita. IA akan memberikan upah yang pantas untuk setiap motivasi hati serta perbuatan kita (baik atau buruk), yang terlihat maupun yang tersembunyi. Tidak perlu berkecil hati, marah dan mengasihani diri sendiri jika maksud/perbuatan baik kita tidak dihargai bahkan disalah mengerti oleh orang lain. Belajarlah melakukan segala sesuatu dengan tulus seperti untuk Tuhan, karena dari Tuhanlah kita menerima upah.

“Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” (Ibrani 6:10).

Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.  Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,  yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan,  tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.  Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat,  pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani,  tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani.  Sebab Allah tidak memandang bulu (Roma 2:5-11).

PENUTUP

Pemahaman yang benar tentang keadilan Allah mengajar kita untuk tidak menyia-nyiakan kemurahan hati-Nya dengan hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kesetiaan; mengajar kita untuk meneruskan kemurahan hati Allah dengan memperlakukan orang lain dalam takut akan Tuhan; memurnikan motivasi hati kita dalam melakukan segala sesuatu; menegakkan keadilan dengan cara hidup dalam kebenaran; membela hak orang lemah/tertindas; dan dapat berespon dengan benar saat diperlakukan tidak adil.

Kita tidak mampu hidup dalam prinsip keadilan Tuhan tanpa pertolongan Roh Kudus. Oleh sebab itu, minta Roh Kudus menuntun dan memberi hikmat ilahi dalam menilai dan meresponi segala sesuatu, agar kita mendapatkan perkenanan, pembelaan, berkat dan upah yang kekal dari Tuhan.

SENIN. KENIKMATAN DAN KEPUASAN HIDUP (1)

SENIN. KENIKMATAN DAN KEPUASAN HIDUP (1)

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Mazmur 27:4

Semua orang mendambakan kenikmatan dan kepuasan dalam menjalani hidup di dunia ini. Kebanyakan beranggapan bahwa hal itu dapat dirasakan ketika memiliki uang yang banyak atau kekayaan yang berlimpah. Ada yang berkata bahwa hal yang membuatnya nikmat dan puas adalah apabila bisa berkeliling dunia, atau ketika ia bisa makan makanan mewah dan tidur di hotel yang berbintang …

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 1)

MEMAHAMI KEADILAN ALLAH (bagian 1)

PENDAHULUAN

ALLAH itu Benar dan Adil. Keadilan Allah adalah sifat/karakter yang mendasari segala hukum/peraturan, hikmat, jalan/tindakan, keputusan serta penghakiman-Nya. Keadilan-Nya tidak memihak, tidak bercela, tidak ada kecurangan, dan akan menghakimi segala sesuatu berdasarkan kebenaran. Kita perlu belajar memahami keadilan Allah agar dapat meresponinya dengan benar dalam hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

ISI

Keadilan manusia vs keadilan Allah

Konsep keadilan Allah berbeda dengan keadilan manusia/dunia. Keadilan manusia berpusat pada diri sendiri (self-centered) dan mementingkan diri sendiri. Keadilan manusia  cenderung dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti apa yang terlihat, emosi/perasaan, prasangka, pengalaman, hikmat dunia dan keterbatasan pengetahuan.

Kata keadilan dalam Alkitab Bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata   justice  dan  righteousness. Keadilan Allah bersifat mutlak, sempurna, sesuai dengan standar kebenaran yang tidak pernah berubah-ubah. Keadilan Allah berpusat kepada Pribadi-Nya yang maha pengasih dan penyayang, adil dan benar, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.  Keadilan ini menekankan pada konsep anugerah, kemurahan hati/belas kasihan serta prinsip Kerajaan Allah yang benar, adil, lurus dan tidak ada kecurangan. Alkitab menuntun kita untuk mengejar/menegakkan keadilan, terutama dalam hubungan antar manusia khususnya kepada mereka yang lemah, miskin dan tertindas.

Dalam Matius 20:1-16, Tuhan Yesus mengajarkan tentang prinsip keadilan dalam Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan ini, seorang tuan tanah menyewa para pekerja untuk bekerja di ladang anggurnya sepanjang hari. Ada yang mulai bekerja pada waktu pagi-pagi benar, kemudian pukul 9 pagi, 12, 3 dan 5 petang. Sebelumnya tuan rumah mengadakan kesepakatan tentang upah yang akan mereka terima, yaitu satu dinar. Pada malam hari, tuan rumah membayar upah para pekerja dengan jumlah yang telah disepakati bersama, tanpa memperhitungkan berapa lama mereka telah bekerja.

Hal yang dapat kita pelajari tentang prinsip keadilan Allah melalui perumpamaan ini:

1. Kemurahan hati dan keadilan Allah melampaui pengetahuan serta pemahaman manusia.

Upah yang sama yang diterima oleh semua pekerja adalah gambaran anugerah keselamatan yang Allah beri kepada semua orang yang mau percaya kepada Yesus, tanpa memandang berapa lama seseorang telah menjadi Kristen dan melayani pekerjaan Tuhan. Keselamatan adalah kemurahan Allah semata, bukan hasil dari usaha,  prestasi atau perbuatan baik manusia (baca Roma 9:13-16 dan Efesus 2:8-9). Kalau kita dimampukan mengerjakan keselamatan kita, itu pun merupakan anugerah kasih karunia karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12-13).

Meski seperti terlihat tidak adil menurut perspektif manusia, tapi lewat perumpamaan ini Tuhan mengajarkan bahwa keadilan dan kemurahan hati Allah melampaui pengetahuan, pemahaman serta pertimbangan manusia. Allah adalah Hakim yang akan mengadili apa yang terlihat maupun yang tersembunyi dengan adil dan benar menurut hukum kasih. Kita yang telah menerima kemurahan Allah harus belajar meneruskan kemurahan hati itu kepada orang lain.  Kemurahan hati mencerminkan sifat Allah yang penuh kasih, suka memberi dan mengampuni. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan (Matius 5:7).

2. Miliki sikap/motivasi hati yang benar.

Sang tuan rumah menyoroti dengan tepat apa sebenarnya yang menjadi sikap hati mereka yang merasa diperlakukan tidak adil. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Matius 20:15).

Iri hati bersumber pada ketidakpercayaan kepada Allah dan akan kasih serta kebaikan hati-Nya.

Sikap hati membanding-bandingkan memicu iri hati yang akan diikuti emosi negatif lainnya seperti mengeluh, tidak pernah puas, menghakimi, self-pity, mental korban, menyalahkan, kebencian, perpecahan, dlsb. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Meski tidak terlihat, iri hati merupakan racun yang sangat mematikan. Kejatuhan dan kehancuran hidup Kain, raja Saul, Haman berawal dari benih iri hati. Iri hati menjauhkan kita dari berkat, upah dan perkenanan Tuhan.

Dalam memberi upah, Allah bukan melihat hasil pekerjaan atau prestasi kita, melainkan sikap/motivasi hati kita dalam melakukan segala sesuatu.

Betapa liciknya hati,  lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati,  yang menguji batin,  untuk memberi balasan  kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya (Yeremia 17: 9-10).

REFLEKSI DIRI: Apa yang akan saudara lakukan agar tidak terjebak dalam dosa iri hati?

Meskipun manusia mengukur keadilan berdasarkan upaya serta hasil yang terlihat, namun ukuran keadilan Allah dalam memberi balasan tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut. Bagi Allah yang terpenting adalah motivasi hati yang benar (yaitu mengasihi Tuhan), kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya.  Segera tolak benih iri hati, stop membanding-bandingkan, sebaliknya ucapkan syukur. Jangan sampai semua jerih payah kita menjadi sia-sia karena memiliki motivasi hati yang keliru. Waspadai sikap hati kita, minta pertolongan Roh Kudus untuk menyingkapkan keadaan yang sebenarnya, supaya kita mendapatkan perkenanan, pembelaan, berkat dan upah yang kekal dari Tuhan.

Bersambung minggu depan…

TUHAN SANGGUP MENGUBAH KEADAAN (1)

TUHAN SANGGUP MENGUBAH KEADAAN (1)

“Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air.” Mazmur 107:35

Ketika berada dalam situasi buruk dan seperti tidak ada jalan keluar, umumnya orang akan mudah sekali kecewa, putus asa, frustasi dan akhirnya menyerah kepada keadaan. Mereka berkata, “Tidak mungkin sakitku disembuhkan, tidak mungkin hidupku dipulihkan, tidak mungkin aku berhasil memang sudah nasib!” Ketahuilah, keberhasilan atau kegagalan bukanlah nasib, tapi merupakan dampak dari respons kita terhadap situasi atau masalah yang terjadi. Orang yang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah gagal atau tidak pernah mengalami masalah, melainkan orang yang mampu menangkap setiap kesulitan menjadi sebuah kesempatan untuk meraih keberhasilan.

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

 

TUHAN ITU ADIL – bagian 2

TUHAN ITU ADIL – bagian 2

(Monthly Theme : Sacred balance of GOD)

Sekilas review:

Allah tidak hanya bersifat adil tapi juga murah hati. Di satu sisi, keadilan Allah akan menghakimi dan menuntut penghukuman atas setiap pelanggaran, di sisi lain sifat-Nya yang murah hati menjadi solusi dan harapan bagi umat manusia untuk diselamatkan dari belenggu dosa, kutuk dan kebinasaan kekal.

Sambungan minggu ini:

Allah tidak kompromi dengan dosa, tapi IA memberi jalan keluar bagi manusia berdosa yang mau bertobat melalui iman kepada Yesus Kristus.

Contoh:

  • seorang wanita kedapatan berzinah yang dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus. Tuhan tidak menghukum wanita tersebut melainkan memberi anugerah pengampunan dan arah hidup yang baru kepadanya

”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang “ (Yohanes 8:11).

  • Zakheus pemungut cukai yang mau bertobat saat berjumpa dengan Yesus. Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini..” (Lukas 19:8-9a).

Perlu diperhatikan bahwa keadilan dan kasih karunia Allah harus didudukkan dalam perspektif yang benar. Bagaimana seharusnya kita meresponi Keadilan/Penghukuman vs Kemurahan/Kasih karunia Allah?

  1. Kita tidak lagi hidup di dalam penghukuman.

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1).

Kita yang sudah percaya kepada Kristus tidak perlu hidup dalam ketakutan, sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan  kita dari hukum dosa dan hukum maut. Jika kita menyerahkan diri untuk dipimpin Roh Kudus, maka kita tidak berjalan dalam penghukuman melainkan dalam hukum Kasih Karunia.

Kita masih saja bisa berbuat kesalahan/dosa, tapi bila kita mengaku dosa dan bertobat (segenap hati berbalik kepada Allah), maka Roh Kudus (disebut juga Roh Kasih Karunia) akan memampukan kita untuk taat melakukan kehendak Allah dan hidup dalam kebenaran-Nya.

Jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka Allah adalah adil dan setia, Ia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita (1 Yohanes 1:9-10).

Orang yang terus berjalan dalam ketaatan dengan pertolongan kasih karunia Allah, akan menuai buah-buah kebenaran, kekudusan, berkat dan hidup kekal.

  1. Jangan menyalahgunakan kasih karunia.

Kita tidak boleh pandang enteng, menyalahgunakan atau menyia-nyiakan kasih karunia-Nya yang mulia dengan terus hidup dalam dosa, ketidaktaatan, atau dengan cara hidup yang seenaknya (hyper-grace). Di mana dosa bertambah banyak di sana pula kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Roma 5:20). Artinya kekuatan kasih karunia menjadi nyata justru di saat kita melakukan kesalahan/berbuat dosa.  Saat kita lemah dan jatuh dalam dosa, kasih karunia menolong kita untuk menyadari kelemahan/kesalahan tersebut, untuk bertobat, dan tidak melakukannya lagi.

Kasih karunia memampukan kita untuk menolak dosa dan hidup dalam kebenaran serta kekudusan. Miliki roh yang takut akan Tuhan, hiduplah dalam pertobatan dan kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar/sungguh-sungguh.

  1. Hiduplah dengan rasa syukur dan hati yang mengasihi Tuhan.

Rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan anugerahkan seharusnya menjadi motivasi kita untuk mengasihi DIA. Barangsiapa mengasihi Allah, ia akan menuruti perintah-perintah-Nya. Hidup dalam kebenaran dan ketaatan bukan karena terpaksa atau karena ‘ketakutan’ kepada Allah, melainkan karena kita mengasihi Yesus Kristus yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

PENUTUP

Hendaklah di masa yang penuh goncangan ini kita makin sungguh-sungguh dengan Tuhan. Masa seperti ini menjadi kesempatan bagi setiap kita untuk bertumbuh dalam iman dan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Goncangan akan membawa pemisahan antara lalang dan gandum. Oleh sebab itu di tahun penuaian ini, perhatikan apa yang kita tabur.

Allah itu Hakim yang adil, Ia akan mengganjar setiap orang sesuai dengan perbuatannya  – apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Menabur dalam daging, akan menuai murka Allah dan kebinasaan. Menabur kebenaran/menabur dalam Roh, akan menuai berkat dan kehidupan. Yang akan tergoncangkan adalah mereka yang menabur dalam daging, yang tidak tergoncangkan adalah mereka yang menabur dalam Roh.

SEMAKIN MAJU DI DALAM TUHAN

SEMAKIN MAJU DI DALAM TUHAN

“Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.” 1 Timotius 4:15

Kalau pemahaman kita tentang kekristenan tak lebih dari sekedar agama yang dipenuhi daftar larangan dan perintah atau berisikan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh, sampai kapan pun kerohanian kita tidak akan mengalami kemajuan, sebaliknya cepat atau lambat kerohanian kita akan mati sebab pemahaman seperti itu ibadahnya hanya bersifat agamawi dan penuh dengan aturan dan aktivitas, bukan didasari oleh kasih kepada Tuhan. “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manu-sia.” (Matius 15:8-9).

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.