Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 4)
BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal,  yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya. (Yohanes 6:27)

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus tidak bermaksud melarang kita bekerja untuk mendapatkan upah demi memenuhi kebutuhan hidup. Yang Ia katakan dalam Yohanes 6:27 adalah jangan bekerja hanya untuk makanan, upah, keuntungan serta hasil yang bersifat fisik dan sementara saja; tapi bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan oleh Tuhan Yesus.

ISI

Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, tapi untuk yang kekal. Bagaimana cara bekerja untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal? Jawabannya adalah: percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan firman-Nya (Yohanes 6:29). Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman Tuhan kekal selamanya (Matius 24:35). Percaya kepada Kristus merupakan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yang didemonstrasikan dengan ketaatan kepada firman-Nya; sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Job menghasilkan upah yang sementara berupa gaji, tapi mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah memberi upah bukan hanya dapat dinikmati di dunia, tapi juga di kekekalan. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Orang percaya bukan hidup dari gaji saja, tapi dari janji, yaitu firman Tuhan. Seseorang bisa punya uang banyak, tapi dengan uang yang dimilikinya ia tidak akan bisa membeli hal-hal yang bersifat kekal dan supernatural, misalnya keselamatan, pengampunan dari Tuhan, damai sejahtera, sukacita, hikmat, kelepasan dari keterikatan, kesembuhan sempurna, pemulihan, mukjizat, dlsb. Hal-hal ini hanya dapat diperoleh jika kita melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu percaya kepada Kristus.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33).

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17).

Jika Kristus yang menjadi pusat hidup kita, maka apa yang kita kerjakan merupakan buah dari hubungan kita dengan Tuhan. Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3). Dengan demikian, pekerjaan/job/aktivitas yang kita lakukan bukan sekedar sibuk atau hanya berorientasi kepada hal-hal fisik yang sementara, tapi kepada kekekalan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, apa saja yang kita kerjakan, dibuat-Nya berhasil.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,  yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,  dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon,  yang ditanam di tepi aliran air,  yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1: 1-3).

Dengan terhubung kepada Tuhan, kita sedang bekerja (baik itu job maupun work) untuk makanan/upah yang bertahan sampai kepada hidup kekal, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia (1 Korintus 15:58b). Persekutuan kita dengan Tuhan menghasilkan buah Pelayanan. Pelayanan bukan hanya dilakukan di dalam Gereja, tetapi di mana saja Tuhan menempatkan kita: di rumah tangga, keluarga besar, pekerjaan sekuler, tempat usaha, sekolah, masyarakat, dlsb.

Perlu diingat, bahwa kita bekerja dalam enam hari, hari ke-tujuh adalah hari perhentian supaya kita dapat beribadah kepada Tuhan. Jangan buat pekerjaan (job) menjadi berhala, jangan pula jadikan pekerjaan/pelayanan sebagai identitas diri. Ada orang yang merasa diri lebih dari yang lain karena memiliki pekerjaan/karir yang hebat, terkenal, pegang peranan penting atau bergaji besar. Sementara ada pula yang merasa dirinya kurang berharga/penting karena hanya seorang pekerja kasar, bergaji kecil, pelayanannya tampak kurang berarti, kecil atau tidak dipandang. Identitas diri kita bukan ditentukan dari apa yang kita kerjakan, miliki atau capai; identitas kita adalah anak-anak Allah, ciptaan baru dalam Kristus Yesus, yang kepadanya diberi talenta sesuai kapasitas/kesanggupan masing-masing. Jangan merasa lebih unggul ataupun lebih rendah dari orang lain. Kerjakan bagian  masing-masing seperti untuk Tuhan, sebab kita semua adalah hamba Kristus. Karena setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

PENUTUP

Bekerjalah untuk hasil dan upah yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan (termasuk job), kerjakan dengan iman – bukan hanya dengan pengetahuan, karunia, bakat, serta ketrampilan saja. Semua pekerjaan halal, yang menjadi berkat bagi orang lain serta memuliakan Tuhan adalah kudus. Meskipun bekerja di dunia sekuler/marketplace, kita wajib menerapkan etos kerja Kristen yang berdasarkan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan.

Undang Roh Kudus untuk terlibat dalam setiap aktivitas dan pekerjaan kita. Minta Ia memberi hikmat untuk mengerti apa kehendak Allah dari pekerjaan tersebut, memberi hikmat untuk mengambil langkah/keputusan, mengatasi masalah, berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang yang tepat, dan memampukan kita untuk menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan.

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

PENDAHULUAN

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus, Allah mau agar kita kembali kepada blue print tujuan penciptaan, yaitu melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Menjadi kawan sekerja Allah melalui apa yang kita kerjakan, dengan  dunia sebagai ladang-nya.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10)

ISI

Pekerjaan di sini bukanlah sekedar ‘job’, tapi ‘work’. Work lebih luas dari sekedar job; work/pekerjaan adalah mandat yang Tuhan berikan kepada manusia di awal penciptaan (Kejadian 1:28); sementara job adalah posisi tertentu dalam pekerjaan yang mendapatkan upah bayaran. Seseorang bisa saja diberhentikan atau resign dari suatu job, tapi tidak dari work, karena work karena work harus di kerjakan semua orang terima gaji atau tidak (contoh di rumah house work, di sekolah school work,sosial-volunteer work; di gereja Work of the ministry).

Work yang dikehendaki Allah adalah panggilan Allah bagi setiap kita untuk menggenapi tujuanNya seperti tertulis dalam Yohanes 6:29 Yesus berkata; “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”.

Setiap kita membutuhkan pemahaman firman yang benar, pewahyuan serta hikmat untuk melakukan tujuan Allah. Roh Kudus memberi kita kemampuan dan hikmat untuk  dapat menjadi garam dan terang di dalam segala aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan; memberi pengaruh kepada lingkungan serta orang-orang  sekitar dengan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan dan prinsip Kerajaan Allah.

Berikut beberapa point serta ayat-ayat firman Tuhan yang memberi arahan dalam melakukan pekerjaan dan aktivitas yang dikehendaki Allah:

  1. Jangan menyia-nyiakan hidup dengan mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Setiap orang diberi talenta sesuai kesanggupannya, dan bertanggung jawab untuk menggunakan serta mengembangkannya. Sebab itu jangan malas, jadilah hamba yang baik dan setia, yang menggunakan seluruh sumber daya untuk tujuan/rencana Allah, sehingga akhirnya Ia berkenan atas hidup kita.

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2Tes. 3:10-11)

Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:15-16).

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21).

  1. Melalui pekerjaan kita mendapatkan berkat. Berkat di sini bukan hanya finansial, tapi juga skill/ketrampilan, pengetahuan, networking, pengaruh, jabatan/kuasa, kesempatan untuk menggali potensi, dlsb. Semua ini bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tapi ada yang harus ditabur sebagai benih, misalnya dalam bentuk finansial untuk mendukung pekerjaan Tuhan; pengetahuan dan ketrampilan yang bisa diajarkan ke orang lain; pengaruh/jabatan/kuasa yang dipakai untuk melayani kebutuhan orang lain, dsb. Menjadi berkat bagi orang lain membawa sukacita sejati dan menyenangkan hati Tuhan.

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,  Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;  kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati,  yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:10-11).

  1. Pekerjaan/aktivitas yang dilakukan dengan sikap hati yang tulus dan motivasi yang benar diperhitungkan Tuhan, jadi bukan soal besar atau hebatnya. Tuhan berkenan atas pelayanan kita kepada mereka yang lemah, tidak bisa membalas jasa, tidak dipandang, diperhitungkan, dan yang miskin/paling hina.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:23-24)

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25:40).

  1. Milikilah sikap hati hamba, yang merendahkan hati dan menyadari bahwa semua yang dikerjakannya adalah kasih karunia dari Tuhan, bukan karena kemampuan kita.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. (Lukas 17:10).

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Korintus 3:5).

PENUTUP

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan bagi manusia untuk mengabdi, melayani, menjadi saksi, memuliakan Tuhan serta membangun Kerajaan Allah di muka bumi. Allah telah melengkapi kita dengan dorongan ilahi yang kuat untuk melakukan sesuatu, talenta, karunia, kuasa, potensi serta semua yang diperlukan untuk hidup dalam panggilan-Nya. Bagian kita adalah mengikuti proses Tuhan dengan setia dan bergantung penuh kepada Roh Kudus dalam tiap langkah.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Orang yang memahami bekerja dari sudut pandang Tuhan akan memiliki etos kerja yang berbeda dengan mereka yang bekerja hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun karier, sekedar menyalurkan hobi, mengumpulkan kekayaan, ataupun alasan lainnya.  Pandangan yang keliru dalam memaknai arti bekerja akan berpengaruh kepada produktivitas seseorang. Pada bahan kali ini, kita mau melakukan kehendak Tuhan melalui pekerjaan/produktivitas sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

PERMASALAHAN

Tuhan menghendaki perspektif kita tentang bekerja tidak sama dengan dunia. Ia mau supaya dunia bisa melihat kasih dan kebaikan-Nya melalui aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan. Kita dipanggil sebagai utusan Kristus yang menerapkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah di dunia. Jika kita  tidak melakukannya, maka dunia tidak bisa melihat Kristus melalui kita. Hal-hal yang membuat kita jadi batu sandungan bagi dunia misalnya: kualitas kerja yang buruk, tidak produktif, sering telat/bolos,  malas, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan pribadi, serakah, suka berbantah dengan boss dan rekan sekerja, tidak jujur, perkataan dolak-dalik, suka menunda pekerjaan, dlsb.

SOLUSI

  • Bekerja/memberikan pelayanan tidak hanya dilakukan dalam gereja lokal/komunitas orang percaya, tetapi di manapun kita berada: di rumah/keluarga, tempat kerja, keluarga besar, lingkungan pertemanan, sekolah, dan masyarakat. Anggaplah tempat-tempat itu sebagai ‘ladang’ untuk kita menerapkan prinsip Kerajaan Allah, dan kesempatan untuk menabur benih kasih Tuhan serta nilai-nilai kebenaran.
  • Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa sikap/perilaku dalam bekerja yang wajib kita bangun:

a. Memiliki Integritas.

Entah sebagai karyawan ataupun atasan, belajarlah untuk memiliki integritas walau tidak ada yang mengawasi, melihat atau memberi pujian. Sikap yang berintegritas yaitu berkomitmen dan konsisten untuk menjaga nilai, prinsip serta tindakan profesional. Jujur, bertanggung jawab, menjaga etika, disiplin, tidak menjalankan agenda pribadi, tidak menyalahgunakan jabatan/posisi/kekuasaan, serta menghormati/menghargai orang lain. Ingatlah, baik hamba maupun tuan, kedua-duanya adalah hamba Kristus.

b. Dapat dipercaya.

Menjadi orang yang dapat diandalkan untuk melakukan tugas/tanggung jawab secara profesional, dapat menjaga informasi penting/bersifat rahasia, tepat waktu, menepati janji, dsb.

c. Bekerja keras.

Memiliki semangat dan kemauan tinggi untuk mencapai target, tekun, tidak mudah putus asa/menyerah saat menghadapi masalah, terus menggali potensinya, memperbesar kapasitas dengan menambah pengetahuan/wawasan, meningkatkan ketrampilan, bersedia mengambil risiko, memiliki inisiatif/proaktif, melakukan tugas/pekerjaan dengan excellent, do extra mile, dan terus berusaha untuk memberi yang terbaik dari kemampuan yang dimilikinya.

  • Menemukan panggilan hidup melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan. Salah satu tujuan kita diselamatkan adalah untuk melakukan panggilan Tuhan (Efesus 2:10). Menemukan panggilan bukanlah suatu yang instan, melainkan proses yang dirintis oleh Tuhan sejak kita lahir (sekalipun saat itu kita belum mengalami kelahiran baru), dan terus berkembang seiring dengan proses pertumbuhan iman dan pengalaman kita bersama Tuhan.
  • Dalam mengenali panggilan kita, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
    1. Hati yang terbeban, yaitu dorongan yang kuat terhadap suatu hal atau bidang, di mana Tuhan menaruh kerinduan/visi-Nya yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu.
    2. Kemampuan, mencakup: karunia rohani, karunia natural/bakat alami, pengalaman dan ketrampilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
    3. Kepribadian, menolong kita untuk mengembangkan diri, meningkatkan kinerja dan membangun hubungan interpersonal serta kolaborasi dengan tim/rekan sekerja.

REFLEKSI

  • Apakah pekerjaan kita mencerminkan penyembahan kepada Tuhan?
  • Apa kegiatan/aktivitas pribadi kita suatu produktivitas yang memuliakan Allah?

PENUTUP

Jadikan Tuhan Yesus menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan kita, maka semua buah pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan pasti memancarkan pikiran dan isi hati Allah. Selama pelayanan di muka bumi, Yesus  memberikan teladan bagi kita untuk memberi yang terbaik, melakukan segala sesuatu dengan segenap hati dan ketulusan semata-mata karena kasih. Tidak mengejar reputasi, mencari keuntungan/kepentingan sendiri, ketenaran, atau puji-pujian yang sia-sia. Belajarlah untuk mencari perkenanan Allah dan bukan manusia, maka kita akan rela melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.

BEKERJA  DARI SUDUT PANDANG TUHAN

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN

(Monthly theme: Cara Tuhan bekerja sebagai fondasi dari tujuan dan produktivitas)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Bekerja bukanlah suatu beban atau kutuk, tapi merupakan mandat Allah kepada manusia sejak awal penciptaan. Tugas pertama yang Allah berikan kepada manusia sebelum jatuh ke dalam dosa adalah bekerja mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15). Atas dasar kebenaran ini, setiap pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan sesungguhnya merupakan ibadah kepada Allah. Melalui pekerjaan, manusia dapat mengembangkan semua potensinya untuk dapat melayani Allah dan sesama. Melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan, kebaikan Allah ditampilkan kepada dunia dan nama Allah dimuliakan.

PERMASALAHAN

  • Kebanyakan orang memaknai bekerja dengan sekedar mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Ukuran keberhasilan dalam bekerja hanya dinilai secara materi. Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran nilai dalam bekerja. Bekerja bukan lagi bertujuan untuk melayani sesama atau untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi ajang kesempatan untuk mengejar popularitas, jabatan, kekuasaan, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya meskipun dilakukan dengan cara yang tidak jujur, misalnya korupsi. Akibatnya kualitas dalam bekerja serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri jadi terabaikan.

SOLUSI

  • Totalitas dalam bekerja bukan dinilai dari performance, tetapi dari sikap hati. Kalau dunia melihat kita dari performance, Tuhan melihat kita dari motivasi hati (1 Samuel 16:7b). Orang yang hatinya melekat kepada Allah, motivasinya akan diluruskan oleh Roh Kudus. Motivasi yang benar dalam bekerja/beraktivitas adalah karena iman yang tulus dan kasih kepada Allah. Motivasi yang benar akan membuahkan hasil yang memuliakan nama Tuhan. Motivasi yang benar mendatangkan berkat dan upah yang bersifat kekal, suatu harta yang tersimpan bagi kita di sorga di mana ngengat dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21).
  • Apakah kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, pengakuan, penghargaan, pujian, atau sebagai safety net di hari tua? atau karena kita ingin jadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Kolose 3:23 mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Bekerjalah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Ukuran keberhasilan kita bukan sekedar kepuasan orang atas pelayanan yang kita berikan, tetapi lebih dari itu, perkenanan Tuhan.

  • Melalui pekerjaan, manusia memiliki kesempatan untuk menggali potensi, mengembangkan kapasitas dan karakter untuk memberikan hasil berkualitas tinggi yang dibutuhkan oleh orang lain. Oleh sebab itu dalam bekerja, kita harus produktif. Produktivitas adalah bagian dari hidup yang menghasilkan sesuatu/berdampak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar atau maksimal. Dalam konteks pekerjaan, produktivitas biasanya mengacu pada kemampuan seseorang, tim, atau organisasi untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai hasil yang maksimal. Efektif adalah kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, sedangkan efisien adalah kemampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia demi mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Produktif berbeda dengan hanya sibuk. Produktivitas berfokus pada pencapaian tujuan yang bernilai, bermanfaat dan menguntungkan/menjadi berkat; bukan sekadar melakukan banyak aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Alokasikan sumber daya yang ada (mis. waktu, pikiran, tenaga, biaya) untuk menyelesaikan tugas-tugas penting dengan hasil yang optimal. Dalam pekerjaan, teruslah belajar, gali potensi, tambahkan pengetahuan, tingkatkan ketrampilan, dsb. Jangan jadikan bekerja  hanya sekedar untuk bertahan hidup.

PENUTUP

Setelah belajar materi kali ini, milikilah cara pandang dan motivasi yang benar dalam melakukan segala sesuatu. Bekerja merupakan mandat Allah bagi kita untuk melayani Tuhan dan sesama. Bekerja juga merupakan ibadah serta pengabdian kita kepada Tuhan Yesus. Besar atau kecil, terlihat atau tak terlihat, dihargai atau tidak dihargai, sebetulnya tidak perlu menjadi masalah jika kita mengerti bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan segenap hati, iman, kasih dan ketulusan, akan diperhitungkan Tuhan dan tidak ada yang sia-sia.

Bersambung ke bagian 2

SANCTIFICATION OF THE SOUL  (bagian 2)

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 2)

PENDAHULUAN

Minggu lalu kita telah belajar tentang proses pengudusan jiwa yang merupakan tanggung jawab yang harus kita lakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Ia menguduskan kita supaya menghormati Tuhan Yesus dan taat kepada perintah-Nya. Roh Kudus memimpin kepada seluruh kebenaran serta memberikan hikmat sehingga terang Kristus yang ada pada kita dapat mendampaki dunia.  Mereka dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

ISI

* Pengudusan jiwa merupakan a lifetime process.

Pengudusan jiwa merupakan proses pertumbuhan dan pemurnian seumur hidup, yang mengubah kita jadi semakin menyerupai Kristus. Pembaruan akal budi oleh firman Tuhan merupakan langkah awal transformasi yang diikuti dengan pemulihan, proses pendewasaan iman, karakter dan perilaku, melalui ketaatan kita kepada pimpinan Roh Kudus. Oleh Roh, kita dimampukan untuk tunduk kepada perintah Tuhan, mematikan perbuatan-perbuatan daging, dan hidup dalam pertobatan. Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).

* Buah yang dihasilkan dari proses pengudusan jiwa adalah:

  1. Memiliki hati Tuhan (baca Matius 9:9-13).

Tuhan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Tuhan menghendaki kita juga memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap orang lain. Orang yang memahami kemurahan Allah atas hidupnya akan mampu menyalurkan kasih dan belas kasihan kepada orang lain. Ia tidak mudah menghakimi orang lain, mendendam dan menuntut; sebaliknya mau melepaskan pengampunan, murah hati, tidak egois, sabar terhadap kelemahan orang lain dan rela berkorban untuk kepentingan mereka (baca Kolose 3:12-14). Milikilah belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang terhilang. Ingatlah bahwa Tuhan juga sangat mengasihi mereka sama seperti kita, sebab Allah tidak menghendaki seorangpun binasa. Tabur doa, tabur kebenaran dan perbuatan kasih, supaya mereka bisa merasakan kasih Allah dan bertobat. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita;  jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yoh. 3:16).

  1. Memiliki hati untuk dimuridkan, memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (baca Matius 28:19-20).

Kita dipanggil, dipilih dan ditetapkan untuk menghasilkan buah yang tetap (Yohanes 15:16). Untuk itu kita harus bertumbuh melalui proses pemuridan. Pemuridan bukanlah ide/program dari gereja lokal, tapi perintah Tuhan Yesus buat setiap orang percaya. Bukan sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Saat ini bukan lagi waktunya untuk sekedar jadi pengunjung gereja, tapi miliki kesadaran bahwa kita ditetapkan untuk menghasilkan hidup yang berbuah melalui pemuridan. Selanjutnya, murid sejati akan memiliki kerinduan untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (mis. anak, anggota keluarga, rekan sekerja, rekan sepelayanan, petobat baru, dsb). Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi,  percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

  1. Memiliki hati yang taat dan setia kepada panggilan Tuhan (baca 1 Petrus 4:10).

Kita sudah diberikan potensi, karunia dan talenta sesuai dengan kapasitas/kemampuan masing-masing. Jangan iri dengan panggilan, talenta dan karunia orang lain sebab kita tidak pernah dimaksudkan untuk bersaing atau mengungguli orang lain. Tidak perlu menyombongkan diri dengan semua itu; tidak perlu juga merasa diri begitu penting karena pemakaian Tuhan atas hidup kita (1 Kor. 4:7). Semua itu adalah milik Tuhan yang sudah seharusnya kita jalankan untuk melakukan panggilan-Nya. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

Untuk mengetahui serta menggali karunia dan potensi kita, tertanamlah di Cool dan belajarlah melayani. Lewat persekutuan pribadi dengan Tuhan, kita digerakkan untuk melayani di bidang tertentu, melakukan sesuatu untuk memberkati orang lain, serta diarahkan oleh Roh Kudus masuk dalam panggilan-Nya.   Karunia rohani diberikan bukan untuk menjalankan kepentingan/agenda pribadi, melainkan supaya kita dapat melayani dengan efektif. Allah ingin kita menjadi pengelola yang baik atas karunia tersebut dan melipatgandakannya.

Tuhan yang menetapkan penugasan, menentukan persyaratan, dan memberikan panggilan. Bagian kita adalah menaati persyaratan dan mengikuti proses-Nya untuk memperlengkapi kita. Dengan demikian, kita siap menerima panggilan Tuhan, berjalan di dalamnya, dan menuai hasil bagi Kerajaan Allah. Perlu diingat bahwa kita dapat menjadi saksi dan melakukan panggilan itu hanya dengan kuasa Roh Kudus (KPR 1:8), bukan dengan ide dan kemampuan diri sendiri.

PENUTUP

Allah telah memilih dan menentukan kita dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya kita hidup dan berbuah bagi DIA. Kita diselamatkan, dikuduskan, dipulihkan, dan didewasakan supaya dapat memancarkan terang kasih Tuhan, agar dunia dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,  janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan (Efesus 5:15-17).

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 1)

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 1)

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula,  mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,  supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)

PENDAHULUAN

Pengudusan artinya hidup kita dipisahkan dari dunia untuk hidup sesuai kehendak/rencana Allah. Ada dua jenis pengudusan yaitu pengudusan roh dan jiwa. Pengudusan roh hanya dapat dilakukan oleh kasih karunia Allah melalui darah Tuhan Yesus lewat karya-Nya di kayu salib (Ibrani 13:12). Pengudusan jiwa adalah tanggung jawab yang harus kita kerjakan dengan pertolongan Roh Kudus (2 Tesalonika 2:13).

Secara sederhana, jiwa terdiri dari 3 komponen: pikiran, perasaan dan kehendak. Pengudusan jiwa merupakan kelanjutan dari kelahiran baru, yaitu proses menanggalkan manusia lama dengan segala hawa nafsu dan keinginannya agar terjadi transformasi yang menghasilkan karakter menyerupai Kristus. Roh Allah menguduskan kita supaya taat kepada Kristus. ..yaitu orang-orang yang dipilih,  sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh,  supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya (1 Petrus 1:2a).

PERMASALAHAN

Ketika mengalami kelahiran baru oleh Roh, Allah memberi kita kerinduan untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Namun demikian karakter manusia lama serta keinginannya tidak serta merta hilang. Dosa dan hawa nafsu masih bisa menggoda kita. Rasul Paulus menulis apa yang dialaminya: Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,  tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. (Roma 7:22-23)

Ada orang yang sudah banyak dengar sharing firman, baca Alkitab, terjun dalam pelayanan, ikut Cool, dlsb tapi masih terikat dengan karakter manusia lama dan belum mengalami transformasi. Mengapa?

  • Membiarkan dirinya dipimpin oleh emosi/perasaan negatif yang membangkitkan keinginan daging. Seseorang bisa saja punya pengetahuan firman, tapi saat mengalami tantangan, ujian dan masalah, tidak hidup oleh iman karena ia mengijinkan emosinya yang pegang kendali. Contoh emosi negatif: perasaan bersalah, penyesalan/kesedihan mendalam, benci, iri, cemas, dendam, marah, takut, sakit/luka hati, kecewa, ketidakpuasan, putus asa, merasa tertolak, perasaan tidak aman/ insecure, dsb. Ini disebut orang Kristen yang ‘reaktif’. Orang yang hidupnya dipimpin perasaan sulit untuk bisa taat kepada firman/perintah Tuhan.
  • Tidak taat melakukan Firman (hanya pendengar saja). Bisa jadi seperti orang Farisi yang menjadi sombong dan cenderung menghakimi orang lain dengan pengetahuan firmannya.
  • Tidak tahu kuasa yang Tuhan berikan dalam Firman untuk hidup berkemenangan
  • Kurang berdoa, salah berdoa dan tidak berjaga-jaga.

SOLUSI

  • Salah satu tanda bahwa seseorang hidup dipimpin perasaan adalah hidupnya tidak mengalami perubahan karena berputar-putar di masalah/kejatuhan yang sama. Perasaan adalah bagian dari jiwa yang berperan penting dalam proses berinteraksi dan pengembangan diri.  Perasaan tidak dimaksudkan untuk memimpin hidup kita dan mengambil keputusan sebab perasaan bisa berubah-ubah, tidak stabil. Biasakan perasaan kita untuk tunduk kepada apa kata Firman dan cara pikir (mind set) terus menerus diperbarui firman. Pikiran yang diperbarui firman akan menimbulkan perasaan yang mendorong kita menaati perintah Kristus. Kita (bukan Tuhan, bukan orang lain) bertanggung jawab untuk menjaga pikiran dan hati kita dengan segala kewaspadaan.
  • Jika kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus, maka si jahat akan kehilangan akses untuk mengacaukan hidup kita. Iblis tidak dapat memanipulasi pikiran dan emosi kita jika kita memiliki iman yang teguh dan berakar dalam kasih Kristus. Akal budi yang diperbarui firman meresponi segala sesuatu dengan iman, bukan ketakutan; dengan hikmat ilahi, bukan dengan keputusan/tindakan bodoh. Don’t entertain our negative thought and emotions, but walk in revelation. Berhenti berputar-putar di masalah yang sama, hiduplah dalam pertobatan. Berhenti menyalahkan Tuhan, orang lain dan keadaan; bersyukurlah dalam segala hal.
  • Allah telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia. Kita telah diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Ia menyertai kita melalui Roh Kudus dan firman-Nya. Pakai kuasa tersebut untuk menolak dosa, pikiran dan emosi negatif, serta hawa nafsu kedagingan. Pakai kuasa itu untuk menolak panah api si jahat dan untuk berjalan dalam kasih karunia. Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).
  • Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41)

Berjaga-jaga dan berdoa memampukan kita untuk menguasai diri dan menolak yang jahat. Jangan salah berdoa dengan meminta hal-hal yang memuaskan hawa nafsu (Yakobus 4:3). Beri ruang dan waktu untuk  berdiam diri dan belajar mendengar suara/instruksi Tuhan, jangan hanya sibuk minta ini dan itu. Ceritakan semua yang kita pikir dan rasakan, minta Tuhan memulihkan jiwa kita.

PENUTUP

Pengudusan jiwa adalah hasil ketaatan kita kepada Kristus dan perintah-Nya. Ini adalah tanggung jawab yang harus sunguh-sungguh kita kerjakan. Allah yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia (1 Korintus 1:9). Yesus Kristus yang memimpin kita dalam iman, akan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.

Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula,  mereka itu juga dipanggil-Nya.  Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.  Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Roma 8:30).

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. (Filipi 2:15-16)

Kehendak Allah bagi orang percaya adalah hidup dalam kemurnian dan kekudusan di tengah generasi yang bengkok hati dan sesat. Hidup dalam kemurnian dan kekudusan artinya kita dipisahkan dari cara hidup/sistem dunia yang jahat, rusak, gelap dan menyesatkan. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita telah diberi hati yang rindu untuk hidup berkenan pada Allah.

Walaupun masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak mengikuti cara hidup dunia yang jauh dari persekutuan dengan Allah seperti yang tertulis dalam Efesus 4:17-20,”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

Pada kenyataannya, banyak orang Kristen yang hidupnya tidak beda dengan orang dunia, tidak memancarkan kemurnian dan kekudusan ilahi. Mengapa? Pertama, tidak mengerti isi hati Tuhan yang menghendaki kita menyembah-Nya dengan cara yang benar. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Ke dua, kurang menghormati hadiratNya. Beribadah karena hanya rutinitas atau motivasi lainnya, akibatnya tidak menerima manfaat dari ibadah karena dilakukan dengan hati tidak tulus (not sincere heart).

Ketiga, tidak mengalami transformasi hidup. Orang bisa rajin datang beribadah secara teratur bahkan pelayanan, tapi hidupnya tidak mengalami perubahan atau hanya berputar-putar di masalah yang sama. Hal ini disebabkan karena kehilangan kasih mula-mula, tidak terhubung secara pribadi dengan Tuhan, tidak mau mengampuni, mengeraskan hati, tidak mau menerima firman dengan hati terbuka, tidak hidup dalam pertobatan, kehilangan arah dan prioritas – sibuk mengejar hal-hal yang materi sehingga tidak ada waktu buat Tuhan, dan mempertahankan doktrin/kebenaran diri sendiri.

AJAKAN KEMBALI KEPADA KASIH YANG SEMULA
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat (Wahyu 2:5).

Tuhan mau supaya kita kembali kepada kasih yang semula, kasih kepada Tuhan yang kita miliki pada waktu baru bertobat dan mengalami kelahiran baru. Kasih yang timbul dari hati yang suci murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Peliharalah kasih yang semula, karena kasih kepada Allah seharusnya menjadi motivasi satu-satunya, di atas segala pengetahuan firman, karunia, berkat, pelayanan atau apapun yang kita lakukan.

Tinggallah di dalam kasih itu dengan terus terhubung pada pokok Anggur yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10).

MENYEMBAH ALLAH DENGAN CARA YANG BENAR
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran ; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24)

Selain diberikan hati yang baru, kita juga menerima benih ilahi yaitu firman Allah (1 Petrus 1:23) untuk dapat hidup dalam kebenaran yang murni serta kekudusan. Ini hanya bisa terjadi jika kita terhubung dengan Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui firman dan penyembahan. Allah menghendaki kita menjadi penyembah yang benar, yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Menyembah dalam roh, artinya menyembah dengan iman dan hati yang tulus dalam pimpinan Roh Kudus; dalam kebenaran artinya sesuai dengan firman Tuhan.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan:

A. Menghadap Allah melalui doa pujian penyembahan dengan sikap yang benar yaitu hati yang tulus iklas dan iman yang teguh (Ibrani 10:22).

Sesungguhnya Allah berkenan akan kebenaran dalam batin (Mazmur 51:8). Yeremia 17:9 mengatakan bahwa hati manusia itu licik; tidak seorangpun mampu mengenali keadaan hatinya sendiri jika tidak disingkapkan oleh Roh Kudus. Daud minta agar Tuhan menjadikan hatinya tahir, bersih, tidak menyimpan dosa, serta tunduk kepada Dia (Mazmur 139:23-24). Hampiri Allah dengan kerendahan hati, segala bentuk kesombongan harus ditanggalkan. Sebelum masuk hadirat Tuhan, minta Roh Kudus memeriksa kondisi batin kita supaya bisa mengakui dosa/kesalahan, bertobat dan menyembah Allah dalam ketulusan.

Menghadap Allah dengan iman yang teguh. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada (Ibrani 11:6) Dengan iman, kita percaya kepada perkataan-Nya. Orang yang tidak percaya/menolak firman Tuhan akan hidup dalam kesesatan yang menyebabkan mereka percaya kepada dusta (2 Tesalonika 2:11).

B. Disiplinkan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari supaya jiwa kita mengalami pembaruan.

Setiap manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memiliki benih yang menentang pengenalan akan Allah, yaitu pikiran yang bersifat karnal (a mind governed by the flesh, hanya memikirkan perkara-perkara daging). Akal budi yang tidak/belum diperbarui oleh firman Tuhan tidak mampu memahami ajaran tentang kebenaran. Kita tidak bisa menyembah Allah (yang adalah Roh) dengan pikiran karnal, sebab pikiran karnal tidak takluk kepada hukum/perintah Allah, sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.

Jadi jelas bahwa akal budi yang tidak diperbarui firman Tuhan membuat kita berjalan dalam kegelapan. Namun dengan merenungkan dan mempelajari firman, kita dimampukan menyangkal diri (menundukkan pikiran dan kehendak bebas kepada Kristus; mematikan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup) dan memikul salib (menderita karena firman kebenaran, ketaatan melakukan perintahTuhan). Segala pikiran, pendapat/cara pandang, asumsi, logika, kebenaran diri sendiri, serta emosi-emosi negatif dapat ditundukkan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Dengan demikian, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan melainkan terang Tuhan. Jadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan berharga yang sangat kita perlukan tiap hari; sebab manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4).

C. Fokus kepada Pribadi Allah. Jangan turunkan nilai penyembahan dengan sekedar menyanyikan lagu/memainkan alat musik tanpa hubungan secara personal dengan Allah dan pengenalan akan Pribadi-Nya. Penyembahan bukan bertujuan untuk memperoleh berkat dan mendapat apa yang kita inginkan. Kita menyembah Allah sebab IA memang layak untuk disembah dalam seluruh area di hidup kita. Luangkan waktu untuk sendiri bersama Tuhan di pagi hari melalui doa pujian penyembahan yang dilakukan dengan segenap hati, tidak asal dan terburu-buru.

Rasul Paulus mendefinisikan penyembahan sebagai gaya hidup serta seluruh aspek kehidupan yang didedikasikan untuk memuliakan Tuhan. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

KESIMPULAN

Roh Kudus dan firman Tuhan adalah dua unsur penting yang tidak bisa dipisahkan untuk menjadi penyembah yang benar, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Roh tanpa firman Tuhan bisa mengarah pada pengalaman spiritual yang dangkal, tanpa arah, dan emosional. Firman tanpa Roh menghasilkan ibadah yang kering, tanpa gairah sukacita kasih Tuhan dan legalisme belaka. Dengan selalu terhubung kepada Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui doa pujian penyembahan serta perenungan firman, kita jadi mengerti isi hati Allah serta melakukannya, yaitu hidup dalam kemurnian dan kekudusan.

MENYEMBAH ALLAH DALAM ROH DAN KEBENARAN

MENYEMBAH ALLAH DALAM ROH DAN KEBENARAN

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24)

PENDAHULUAN

Saat percaya kepada Kristus dan mengalami kelahiran kembali oleh Roh Kudus, kita telah diberikan hati yang baru dan menerima benih ilahi  yaitu firman Allah (1 Petrus 1:23) supaya dapat hidup dalam kebenaran yang murni serta kekudusan. Hidup dalam kemurnian dan kekudusan artinya kita dipisahkan dari cara hidup/sistem dunia yang  jahat, rusak, gelap dan menyesatkan.

Selanjutnya kita diperintahkan untuk menjaga kemurnian dan kekudusan dengan selalu terhubung pada Pokok Anggur Yang Benar.  Kita terhubung dengan Tuhan Yesus melalui firman dan penyembahan. Allah menghendaki kita menjadi penyembah yang benar, yang  menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24).   Untuk menjadi penyembah yang benar ada 2 unsur yang diperlukan: 1) menyembah dalam roh (menyembah dengan iman dan hati yang tulus dalam pimpinan Roh Kudus); 2) dalam kebenaran (sesuai dengan firman Tuhan).

PERMASALAHAN

Hal yang menyebabkan kita tidak mengerti bagaimana menyembah Allah dalam roh dan  kebenaran:

  • Menjadikan penyembahan hanya sekedar menyanyikan lagu/memainkan alat musik tanpa memiliki hubungan secara personal dan pengenalan akan Pribadi-Nya. Tanpa sadar fokusnya bergeser hanya kepada musik, arasemen lagu, vocal penyanyinya, dsb dan bukan kepada Pribadi Allah sendiri. Tidak mau dengan sengaja meluangkan waktu secara pribadi bersama Tuhan di pagi hari melalui pujian penyembahan. Berdoa seadanya dengan orientasi pada diri sendiri.
  • Tidak mendisiplinkan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan. Setiap manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memiliki benih yang menentang pengenalan akan Allah, yaitu pikiran yang bersifat karnal (a mind governed by the flesh, hanya memikirkan perkara-perkara daging). Akal budi yang tidak/belum diperbarui oleh firman Tuhan tidak mampu memahami ajaran tentang kebenaran. Kita tidak bisa menyembah Allah (yang adalah Roh) dengan pikiran karnal, sebab pikiran karnal tidak takluk kepada hukum/perintah Allah, sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.
  • Tidak belajar menyangkal diri (menundukkan pikiran dan kehendak bebas kepada Kristus; mematikan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup) dan memikul salib (menderita karena firman kebenaran, ketaatan melakukan perintahTuhan).

SOLUSI

Untuk menjadi penyembah yang benar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan:

  • Menghadap Allah melalui doa pujian penyembahan dengan sikap yang benar yaitu hati yang tulus iklas dan iman yang teguh (Ibrani 10:22). Hati yang mengasihi Tuhan sebagai Pribadi yang layak disembah, bukan supaya kita mendapatkan sesuatu, atau motivasi lain yang keliru. Allah berkenan akan kebenaran dalam batin (Mazmur 51:8). Yeremia 17:9 mengatakan bahwa hati manusia itu licik; kita tidak mampu mengenali keadaan hati kita jika tidak disingkapkan oleh Roh Kudus. Daud minta agar Tuhan menjadikan hatinya tahir, bersih, tidak menyimpan dosa, tunduk kepada Dia (Mazmur 139:23-24). Hampiri Allah dengan kerendahan hati, segala bentuk kesombongan harus ditanggalkan. Oleh sebab itu sebelum masuk hadirat Tuhan, minta Roh Kudus memeriksa kondisi batin kita supaya bisa mengakui dosa/kesalahan, bertobat dan menyembah Allah dalam ketulusan.

Hampiri  Allah dengan iman yang teguh. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada (Ibrani 11:6) Dengan iman, kita percaya kepada perkataan-Nya. Orang yang tidak percaya/menolak firman Tuhan akan hidup dalam kesesatan yang menyebabkan mereka percaya kepada dusta (2 Tesalonika 2:11).

  • Disiplinkan diri membaca dan merenungkan firman setiap hari supaya jiwa kita mengalami pembaruan. Buat catatan rhema firman yang Roh Kudus berikan, renungkan terus dan pelajari. Jika akal budi kita tidak diperbarui firman Tuhan, maka sesungguhnya kita berjalan dalam kegelapan. Dengan merenungkan dan mempelajari firman, maka segala pikiran, pendapat/cara pandang, asumsi, logika, kebenaran diri sendiri, serta emosi-emosi negatif dapat ditundukkan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Jadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan berharga yang sangat kita perlukan tiap hari; sebab manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4).
  • Fokus kepada Pribadi Allah. Penyembahan bukan bertujuan untuk memperoleh berkat dan mendapat apa yang kita inginkan. Kita menyembah Allah sebab IA memang layak untuk disembah. Rasul Paulus mendefinisikan penyembahan sebagai gaya hidup serta seluruh aspek kehidupan yang didedikasikan untuk memuliakan Tuhan. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

PENUTUP

Roh Kudus dan firman Tuhan adalah dua unsur penting yang tidak bisa dipisahkan untuk menjadi penyembah yang benar, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Roh tanpa firman Tuhan bisa mengarah pada pengalaman spiritual yang dangkal, tanpa arah, dan emosional. Firman tanpa Roh menghasilkan ibadah yang kering, tanpa gairah sukacita kasih Tuhan dan legalisme belaka. Dengan selalu terhubung kepada Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui doa pujian penyembahan serta perenungan firman, kita jadi mengerti isi hati Allah serta melakukannya, yaitu hidup dalam kemurnian dan kekudusan.

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

PENDAHULUAN

Kehendak Tuhan bagi orang yang percaya pada Yesus adalah hidup dalam kemurnian dan kekudusan di tengah generasi yang bengkok hati dan sesat. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus yang dipanggil dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib memiliki kerinduan untuk hidup berkenan pada Tuhan.

Walaupun masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak mengikuti cara hidup dunia yang jauh dari persekutuan dengan Allah seperti yang tertulis dalam Efesus 4:17-20,”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

PERMASALAHAN

Apa yang menyebabkan orang percaya tidak hidup dalam kemurnian dan kekudusan?

  • Tidak mengerti isi hati Tuhan. 

Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24).

  • Kurang menghormati hadiratNya. Beribadah karena hanya rutinitas atau motivasi lainnya, akibatnya tidak menerima manfaat dari ibadah karena dilakukan dengan hati tidak tulus (not sincere heart).
  • Tidak mengalami transformasi hidup. Orang bisa rajin datang beribadah secara teratur bahkan pelayanan, tapi hidupnya tidak mengalami perubahan atau hanya berputar-putar di masalah yang sama.

Beberapa alasan yang menyebabkan orang tidak mengalami perubahan hidup antara lain:

  • Kehilangan kasih mula-mula, tidak terhubung/ memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan; tidak mengampuni, mengeraskan hati/tidak mau menerima firman dengan hati terbuka, tidak  hidup dalam pertobatan.
  • Kehilangan arah dan prioritas – sibuk mengejar hal-hal yang materi sehingga tidak ada waktu buat Tuhan, dsb.
  • Mempertahankan doktrin dan kebenaran diri sendiri.

SOLUSI

  • Kembali pada kasih mula-mula.

Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat (Wahyu 2:5).

  • Tinggal di dalam kasih itu  dengan terus terhubung pada pokok Anggur yaitu Tuhan Yesus Kristus.
    Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku   Jikalau kamu menuruti perintah-Ku,  kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10).

PENUTUP

Refleksi: mari kita lihat diri masing-masing. Mungkin kita terlihat rajin beribadah, rajin baca Alkitab, setia melayani, setia ikut Cool, dsb. Pertanyaannya: Apakah itu dilakukan dengan dasar kasih yang semula? Atau hanya sekedar rutinitas/kebiasaan, kewajiban, ikut-ikutan, atau ada motivasi lain. Adakah kita benar-benar terhubung dengan Tuhan secara pribadi? Ataukah semua yang kita lakukan ternyata hanya berupa kegiatan keagamawian.

Tuhan mau supaya kita kembali kepada kasih yang semula; kasih kepada Tuhan yang kita miliki pada waktu baru bertobat dan mengalami kelahiran baru. Peliharalah kasih yang semula, karena kasih kepada Tuhan seharusnya menjadi motivasi satu-satunya, di atas pengetahuan firman yang kita miliki dan pelayanan.

TUJUAN TUHAN DATANG KEMBALI KE DUNIA

TUJUAN TUHAN DATANG KEMBALI KE DUNIA

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” Markus 13:26

Kedatangan Kristus yang pertama ke dunia dalam wujud Anak Manusia, yang dikandung melalui Maria dan lahir di kandang Betlehem, adalah mengemban rencana Allah Bapa dalam rangka penyelamatan umat manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh
hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.