Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 3)
SOMBONG: Langkah Menuju Kehancuran

SOMBONG: Langkah Menuju Kehancuran

Senin. SOMBONG: Langkah Menuju Kehancuran

Baca: 2 Tawarikh 26:1-23

“Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak.” 2 Tawarikh 26:16a

Ketika segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar, ketika Tuhan membawa kehidupan semakin naik dan berada di puncak kesuksesan, memegang jabatan penting di perusahaan atau kantor, menjadi OKB (orang kaya baru), serta diberkati secara berkelimpahan, biasanya orang memiliki kecenderungan untuk meninggikan diri, menganggap diri lebih daripada yang lain dan akhirnya terperangkap dalam dosa kesombongan. Berhati-hatilah! Sebab ada banyak contoh di Alkitab tentang orang-orang yang mengalami kejatuhan dikarenakan berlaku sombong.

Salah satunya adalah raja Uzia yang menjabat sebagai raja atas Yehuda ketika masih berumur 16 tahun. Di awal pemerintahannya “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.” (ayat 4-5). Karena memiliki hati yang takut akan Tuhan, Tuhan pun membuat berhasil apa saja yang diperbuat Uzia. Di bawah kepemimpinan Uzia ini bangsa Yehuda mengalami kemajuan di berbagai sektor kehidupan, seperti pertanian dan juga peternakan yang berkembang begitu pesat. Bukan hanya itu, bangsa ini pun memiliki angkatan bersenjata yang mumpuni sehingga nama Uzia semakin termashyur sampai ke Mesir karena kekuatannya yang besar (ayat 8). Uzia benar-benar telah berada di puncak kesuksesan! Sayang, ia menjadi lupa diri: lupa akan kebaikan dan campur tangan Tuhan, bahkan “Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya (melanggar – Red.), dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (ayat 16b). Padahal membakar ukupan di atas mezbah adalah tugas para imam keturunan Harun. Ketika ditegur dan diperingatkan ia pun menjadi sangat marah. Ini menunjukkan bahwa Uzia tidak lagi menghormati Tuhan!

Karena kesombongannya Uzia harus menuai akibat: “…sakit kusta sampai kepada hari matinya, dan sebagai orang yang sakit kusta ia tinggal dalam sebuah rumah pengasingan, karena ia dikucilkan dari rumah TUHAN.” (ayat 21).

Saat seseorang berlaku sombong, saat itulah ia sedang berjalan menuju kehancuran!


Selasa. RENDAH HATI: Kualitas Hidup Pengikut Kristus

Baca: Amsal 29:1-27

“Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.” Amsal 29:23

Lawan kesombongan adalah kerendahan hati! Rendah hati adalah kualitas yang seharusnya ada dalam diri orang percaya, terlebih bagi pemimpin rohani. Sering dijumpai banyak pemimpin rohani tidak memberikan teladan kerendahan hati. Merasa sudah menjadi pelayan Tuhan atau pemimpin rohani mereka pun gila hormat, sehingga di mana pun berada selalu membusungkan dada dan harus dihormati!

Perhatikan nasihat Rasul Paulus ini! “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7). Kita seharusnya malu pada diri sendiri jika berani meninggikan diri dan tidak bisa rendah hati! Tuhan Yesus saja yang adalah Tuhan dan Raja telah memberikan teladan dan mempraktekkan apa artinya kerendahan hati. Kerendahan hati dalam diri seseorang akan tampak nyata ketika ia rela mengesampingkan kepentingan diri sendiri, dan menempatkan orang lain di tempat yang lebih utama. Orang yang rendah hati tidak akan berhenti mengasihi hanya karena kasihnya tak terbalaskan. Orang yang rendah hati selalu menyadari kelemahan, kekurangan dan keterbatasannya, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan lebih dari pada kekuatan sendiri.

Di zaman yang dipenuhi dengan persaingan yang tidak sehat ini kerendahan hati dianggap sebagai kelemahan mental dan ketidakmampuan untuk bersaing, akibatnya semua orang didorong untuk mempertahankan egonya, fokus pada diri sendiri tanpa memperdulikan keberadaan orang lain. Prinsip Alkitab mengajarkan: “…hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3b-4).

“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Amsal 22:4


Rabu. ORANG FASIK: Takkan Bertahan Lama

Baca: Mazmur 10:1-18

“Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: ‘Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!’, itulah seluruh pikirannya.” Mazmur 10:4

Dalam kehidupan sehari-hari kita jarang sekali mendengar kata ‘fasik’ atau orang ‘fasik’. Yang familiar di telinga kita adalah istilah orang ‘jahat’. Tetapi kata ‘fasik’ ini justru banyak sekali disebutkan di Alkitab, namun masih banyak orang Kristen yang kurang memahami arti dan maksudnya. Orang fasik adalah orang-orang yang seringkali mengalami penghukuman dari Tuhan. Mengapa? Karena mereka sesungguhnya telah mengenal Tuhan, tahu firman-Nya tetapi tidak mau melakukan firman tersebut; bukti bahwa mereka meremehkan keberadaan Tuhan, tidak menganggap bahwa Tuhan itu ada.

Menurut pemazmur ada beberapa ciri dari orang fasik: 1. Suka sekali memuji-muji diri sendiri (ayat 3). Orang fasik
adalah orang yang merasa dirinya paling benar, paling baik dan paling suci. Intinya semua hal berpusat pada dirinya sendiri! Meski tahu tentang Tuhan tetapi sebenarnya yang menjadi ‘tuhan’ dalam hidupnya dan yang dia sembah adalah dirinya sendiri. Hal ini jelas bertentangan dengan iman Kristiani yang mengajarkan bahwa yang terutama dalam hidup ini adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak sendiri. 2. Tidak takut akan Tuhan (ayat nas). Inilah ciri utama orang yang berlaku fasik yaitu tidak takut akan Tuhan, padahal dia tahu tentang Tuhan, tahu tentang kebenaran, namun sengaja tidak mau taat. Tuhan tidak pernah dianggap sehingga melakukan dosa adalah hal yang biasa, karena mereka merasa bisa hidup tanpa Tuhan; dan mereka juga berpikiran bahwa tidak ada dampak apa-apa untuk setiap pelanggaran. “Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun.” (ayat 6). Benarkah demikian? “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7).

Orang percaya diperingatkan untuk tidak iri hati terhadap orang fasik, yang sepertinya tampak mulus-mulus saja perjalanan hidupnya, padahal sesungguhnya tidak demikian… karena kebahagiaan orang fasik itu semu! Pada saatnya Tuhan akan bertindak untuk melakukan pembalasan! “…orang-orang fasik akan binasa;” (Mazmur 37:20).

“Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.” Mazmur 37:10


Kamis. BAGAIMANA TUHAN MEMPERLAKUKAN KITA?

Baca: Mazmur 18:21-30

“TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku,” Mazmur 18:21
Kalau kita menyadari betapa Tuhan begitu memperhatikan dan mengasihi kita sedemikian rupa, bahkan Ia sampai rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, seharusnya kita pun meresponsnya dengan sikap dan perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Dari pihak Tuhan, Tuhan selalu memperlakukan kita dengan sangat baik dan selalu memberikan yang terbaik; bagaimana dari pihak kita? Kita justru seringkali menyakiti hati Tuhan, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta memperlakukan Dia dengan tidak sepantasnya. Seharusnya kita berkata seperti yang pemazmur katakan: “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12).

Dengan apakah kita membalas apa yang sudah Tuhan perbuat bagi kita? Melalui ketaatan kita melakukan firman-Nya. Ada orang berkata, “Jangan sok suci, seperti mau jadi pendeta saja? Tidak perlu taat-taat mat, rugi lho…mumpung masih hidup di dunia ini, kapan lagi bisa memuaskan keinginan daging?” Jangan pernah termakan oleh hasutan Iblis yang berusaha menghalangi kita untuk hidup taat. Tidak ada kata rugi atau sia-sia untuk setiap ketaatan atau jerih payah kita kepada Tuhan (baca 1 Korintus 15:58), di mana “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23). Justru rugi besar kalau kita tidak mau taat kepada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikan upah-Nya untuk setiap harga yang telah kita bayar.

Janji-janji Tuhan pasti akan digenapi dalam hidup ini, sebab “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci,” (Mazmur 18:26-27). Semakin kita hidup menurut kehendak Tuhan semakin Dia menjaga kita dan melindungi kita dari segala yang jahat, serta mencurahkan berkat-Nya. Sebaliknya kalau kita sendiri tidak mau taat kepada Tuhan jangan pernah berharap mengalami penggenapan janji Tuhan.

“Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” Mazmur 34:16


Jumat. KEMENANGAN ORANG YANG DIURAPI

Baca: Mazmur 20:1-9

“Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Mazmur 20:7

Istilah urapan di Perjanjian Lama selalu berkaitan dengan fungsi dan jabatan yang dipercayakan Tuhan kepada orang-orang tertentu. Dalam budaya bangsa Israel yang biasanya diurapi adalah raja, imam dan nabi. Urapan adalah karya Roh Tuhan dalam hidup seseorang yang merupakan impartasi atau pemberian kuasa Ilahi pada orang-orang tertentu untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Diurapi artinya dipilih oleh Tuhan dan diperlengkapi dengan kuasa-Nya untuk melakukan kehendak dan rencana-Nya.

Berdasarkan fungsinya ada beberapa jenis urapan:

  • The Annointing Upon, yaitu pengurapan yang memam-pukan kita untuk melakukan tugas pelayanan sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan.
  • The Annointing Within, yaitu kuasa yang bekerja di dalam kita sehingga kita beroleh kemampuan untuk melakukan kehendak Tuhan sehingga kita memiliki karakter semakin serupa dengan Kristus. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,” (Roma 8:29). Kunci untuk mengalami urapan Tuhan: menjauhkan diri dari segala bentuk kecemaran (hidup benar), punya kerendahan hati dan rasa haus dan lapar akan perkara rohani (bergaul karib dengan Tuhan) seperti Elisa yang merindukan urapan double portion (baca 1 Raja-Raja 2:9-10), tanda bahwa ia sangat merindukan perkara-perkara rohani lebih dari apa pun.

Pemazmur menyatakan bahwa hidup diurapi Tuhan adalah hdiup yang berkemenangan (ayat nas). Bukan berarti kita bebas dari masalah atau tantangan, tetapi selalu ada pertolongan dari Tuhan karena Tuhan di pihak kita, sehingga kita dapat berkata: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Badai hidup bisa saja melanda dalam hidup, namun semua itu takkan mampu menggoyahkan karena tangan Tuhan selalu menopangnya. Hidup diurapi Tuhan adalah hidup yang melihat dan mengalami jawaban doa (ayat nas): “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Orang yang diurapi Tuhan hidup dalam kemenangan dan doanya dijawab!


Sabtu. KARENA IMAN, KUSTA PUN TAHIRLAH!

Baca: Matius 8:1-4

“‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Matius 8:3

Orang sakit adalah orang yang kemerdekaannya terbelenggu oleh sakit-penyakit yang dideritanya. Ini dialami oleh orang yang menderita sakit kusta. Pada zaman itu kusta adalah jenis penyakit yang sangat mengerikan karena tidak ada obat penangkalnya, dan tidak ada dokter atau tabib yang mampu menyembuhkannya sehingga banyak orang beranggapan bah-wa penderita kusta adalah orang yang menerima kutukan dari Tuhan.

Selain mengalami penderitaan fisik penderita kusta juga sangat menderita secara batiniah, karena mereka tidak diperkenankan berada dalam satu kemah dengan orang lain. Dengan kata lain mereka dikucilkan atau diasingkan oleh lingkungan atau orang-orang di sekitar. “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” (Imamat 13:45-46). Adalah hal yang lazim kala itu bila orang berpapasan dengan orang kusta akan berusaha melemparinya dengan batu sampai mati. Namun meski dihadapkan pada tekanan hidup yang berat orang kusta yang tidak disebutkan namanya pada kisah di atas memiliki semangat hidup yang luar biasa. Ia tidak berputus asa dalam menjalani hidupnya sampai akhirnya waktu itu tiba, yaitu bertemu dengan Tuhan Yesus. Kesempatan ini pun tak disia-siakannya karena ia tahu benar siapa Yesus itu. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Matius 8:2). Perkataan ini mengandung makna orang kusta ini memiliki iman yang besar bahwa Yesus sanggup mentahirkan sakitnya. Iman inilah yang menggerakkan hati Tuhan Yesus untuk bertindak dan menyatakan belas kasih-Nya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”, dan seketika itu tahirlah orang itu dari pada kustanya. Tahir artinya bersih, suci, murni.

Pergumulan apa yang Saudara alami saat ini? Masalah sakit-penyakit, krisis keuangan, gagal dalam rumah tangga, gagal dalam usaha atau studi? Jangan sekali-kali Saudara mencari pertolongan kepada yang lain selain hanya kepada Tuhan Yesus. Pertanyaannya: “…adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8).

Milikilah iman percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil!


Minggu. ORANG PERCAYA SEBAGAI UMAT PILIHAN

Baca: Mazmur 33:1-22

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!” Mazmur 33:12
Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan seperti tertulis: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? –tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.” (Ulangan 7:6-8). Karena itu mereka mendapatkan perlakuan secara istimewa dari Tuhan.

Ketika tulah menimpa negeri Mesir umat Israel luput dari tulah tersebut. Tuhan pun mengutus Musa untuk memimpin bangsa ini keluar dari perbudakan di Mesir dengan tanda-tanda mujizat menyertai di sepanjang perjalanan di padang gurun. Tujuan Tuhan memperlakukan mereka secara khusus adalah supaya mereka menjadi kesaksian hidup tentang kuasa dan kedahsyatan Tuhan, sehingga bangsa-bangsa lain datang menyembah kepada Tuhannya bangsa Israel. Fakta menunjukkan, walau secara kuantitatif bangsa ini relatif kecil, namun mereka memiliki pengaruh cukup besar bagi perkembangan dunia sampai jaman modern ini. Bukan kebetulan pula jika letak geografis bangsa Israel berada di pusat bumi (baca Yehezkiel 38:12). Kita ini adalah ‘Israel-Israel’ rohani yang telah dipanggil dari dunia supaya menjadi umat kepunyaan-Nya yang kudus. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:” (1 Petrus 2:9).

Supaya mendapatkan perlakuan istimewa dari Tuhan dan dipandang berharga di mata-Nya kita harus “…menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21-22).

Umat pilihan Tuhan harus memiliki kehidupan yang berbeda dari orang dunia!

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

PEMBUKAAN

Anggota Cool yang dikasihi Tuhan, ada satu bahaya rohani yang sangat halus namun mematikan: ketika kita diberkati, kita lupa siapa Sumbernya. Dan ada satu ujian rohani yang sering kita lewatkan: ketika kita dipercaya hal kecil, kita menganggap remeh/ tidak penting.

Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ulangan 8:18).

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Dua ayat pokok di atas berbicara tentang dua hal: Blessings/berkat dan Trust/ kepercayaan.
Tuhan sang pemberi berkat, Ia juga penguji hati/karakter.

ISI

Ulangan 8:18  menjelaskan bahwa Tuhanlah SUMBER segala sesuatu.“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan…”

  1. Tuhan adalah pemberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan.

Tuhan tidak hanya memberikan kekayaan, tetapi kekuatan untuk memperoleh kekayaan.
Artinya:

  • Tuhan memberi kebijaksanaan.
  • Tuhan memberi kesempatan.
  • Tuhan membuka pintu hubungan.
  • Tuhan menaburkan ide, potensi, karunia, bakat serta kreativitas.

Apa pun yang kita capai — jabatan, bisnis, pelayanan, kesehatan, kesuksesan — bukan karena kekuatan kita, tetapi karena anugerah-Nya. Uang hanyalah kompensasi dari karya yang kita hasilkan dari kekuatan yang Tuhan berikan.

  1. Tantangan: kekayaan bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan.

Sewaktu berada di padang gurun, bangsa Israel bersandar penuh pada Tuhan.
Akan tetapi saat  sudah masuk Tanah Perjanjian, di suatu negeri yang berlimpah, mereka mulai bersandar pada hasil tangan mereka sendiri.

Godaan yang sama menghampiri kita: pada waktu miskin kita setia; pada waktu keadaan sulit kita berdoa lebih sungguh-sungguh; pada waktu tidak punya apa-apa, kita bergantung penuh pada Tuhan. Tapi ketika Tuhan memberkati, ketika keadaan ekonomi makin membaik, ketika usaha mulai berkembang…Kita mulai berkata dalam hati: “Ini hasil kekuatanku.” Itulah sebabnya Tuhan berkata: “INGATLAH!” Ini bukan perintah keras, tetapi perintah kasih: “Jangan sampai engkau lupa siapa yang memberi semua ini.”

Kekayaan bukanlah sesuatu yang tabu, dosa, ataupun yang harus dihindari. Kekayaan adalah anugerah Tuhan yang harus disikapi dengan benar serta dikelola dengan bijaksana dalam takut akan Dia, agar berkat tersebut mendatangkan kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

  1. Berkat bukanlah tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian.

Bagi orang yang tidak memahami kebenaran, berkat/kekayaan dijadikan sebagai tujuan/cita-cita hidup; digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, mewujudkan ambisi, simbol harga diri/identitas, sesuatu yang dapat diandalkan serta memberikan rasa aman. Pemahaman yang keliru seperti ini menyebabkan kekayaan yang seharusnya merupakan berkat dari Tuhan untuk dinikmati, malah berubah menjadi kutuk.

Tuhan memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya. Berkat kekayaan bukan sekedar hadiah; itu merupakan bagian dari hubungan perjanjian antara Tuhan dengan kita. Namun jika kita melupakan Perjanjiannya, kita kehilangan arah berkat itu.

Tidak ada yang salah dengan kekayaan, namun yang berbahaya adalah ketika keinginan untuk menjadi kaya membuat kita menyimpang dari iman, kehilangan kasih yang semula, tamak, serakah, tinggi hati, pelit, egois/tidak peduli orang lain, dlsb. Kekayaan yang tidak disikapi dengan benar dapat menjadikan seseorang terikat, bahkan membuatnya sukar masuk ke dalam Kerajaan Allah (Markus 10:23).

Allah tidak menentang kekayaan, tetapi membenci segala macam kejahatan yang ditimbulkan dari hati yang cinta akan uang. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang…”(1 Timotius 6:10). Uang dan kekayaan: berkat atau kutuk? Ini tergantung dari sikap/motivasi hati orang yang memilikinya. Apa yang kita lakukan dengan uang/kekayaan menyingkapkan di mana sesungguhnya hati kita melekat. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

HATI DAN TELINGA SUDAH MENEBAL

HATI DAN TELINGA SUDAH MENEBAL

Baca: Matius 13:10-23

“Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup;” Matius 13:15

Sejak zaman dahulu nabi Yesaya mengatakan banyak bangsa mengalami kebutaan dan tuli rohaninya. Keadaan ini setali tiga uang dengan orang-orang di zaman Tuhan Yesus, tetap saja mengeraskan hati dan telinga mereka, enggan mendengar berita kebenaran. Dengan menggunakan perumpamaan Tuhan Yesus menyinggung keadaan ini: “…sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” (ayat 13). Banyak bangsa yang secara terang-terangan menolak dan sangat antipati terhadap berita kebenaran (Injil), “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,” (1 Korintus 1:18).

Lebih menyedihkan lagi ada pula orang-orang yang mengaku diri sebagai Kristen, yang telah ditebus oleh darah Kristus dan di setiap ibadah mendengar berita tentang kebenaran, namun mereka tetap saja hidup dalam dosa, meski hal itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi; pikirnya orang lain tidak akan pernah tahu apa yang diperbuatnya, padahal “…tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Jika kita terus melakukan dosa meski sudah mengenal kebenaran, kekristenan kita sia-sia.

Rasul Petrus menulis: “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.'” (2 Petrus 2:10-22). Orang yang telah mengenal jalan kebenaran tetapi kembali kepada kehidupan dosa sama artinya telah meremehkan pengorbanan Kristus.

Jangan mengeraskan hati, berhentilah berbuat dosa!


Selasa. TELINGA YANG PEKA UNTUK MENDENGAR (1)

Baca: Yesaya 55:1-5

“Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup!…” Yesaya 55:3

Telinga adalah salah satu bagian dari pancaindera manusia, berfungsi untuk menerima suara dari luar tubuh. Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan sepasang telinga dan hanya satu mulut? Supaya manusia lebih banyak mendengar tetapi sedikit berbicara. Namun dalam kesehariannya orang lebih banyak berbicara tapi kurang memperhatikan dalam hal mendengar. Alkitab jelas menyatakan bahwa “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran,” (Amsal 10:19). Karena itu telinga memiliki peranan yang sungguh teramat penting dalam perjalanan hidup orang percaya.

Contoh di Perjanjian Lama adalah saat pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam. Untuk menjadi seorang imam telinga mereka harus ditahirkan terlebih dahulu. “Domba jantan itu disembelih, lalu Musa mengambil sedikit dari darahnya dan membubuhnya pada cuping telinga kanan Harun, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanannya. Musa menyuruh anak-anak Harun mendekat, lalu membubuh sedikit dari darah itu pada cuping telinga kanan mereka, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka, lalu Musa menyiramkan darah selebihnya pada mezbah sekelilingnya.” (Imamat 8:23-24). Ada pun makna rohaninya adalah supaya mereka memiliki kepekaan dalam hal mendengar suara Tuhan, sehingga mereka dapat memahami dan membedakan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan mana yang bukan.

Di Perjanjian baru kita dapat belajar dari perumpamaan tentang penabur (baca Matius 13:1-23). Dalam ke-4 kasus ini sesungguhnya benih yang ditaburkan adalah sama, tetapi yang membuat perbedaan bukan si penaburnya, tetapi pada tanahnya atau si pendengar. Banyak orang datang ke gereja dan mereka mendengar firman Tuhan yang sama yang disampaikan oleh hamba Tuhan dari atas mimbar, tetapi hasilnya berbeda pada tiap-tiap orang. Mengapa bisa demikian? Karena mereka memiliki respons yang berbeda-beda, memfungsikan telinganya secara berbeda: ada yang sungguh-sungguh mendengarkan firman tersebut, namun ada pula yang mendengarkan firman sambil lalu, masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.

(Bersambung)


Rabu. TELINGA YANG PEKA UNTUK MENDENGAR (2)

Baca: Mazmur 81:1-17

“Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” Mazmur 81:9
Sering kita jumpai saat ibadah berlangsung tidak sedikit orang Kristen yang kurang memberikan perhatian yang sungguh-sungguh ketika mendengarkan firman Tuhan: mendengarkan khotbah sambil bercanda, mengobrol, main gadget, ada pula yang justru tertidur. Itulah sebabnya banyak yang tidak mengalami pertumbuhan rohani secara normal meski sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan; level kerohanian mereka tetap saja ‘jalan di tempat’, tetap Kristen kanak-kanak atau kerdil rohani.

Di zaman sekarang ini kebanyakan orang hanya mau mendengarkan firman yang disukai saja, memilih-milih firman yang didengarnya. Mendengar firman Tuhan yang sedikit keras orang mulai tersinggung dan marah, lalu tidak mau ke gereja lagi. Kita tidak perlu heran akan hal ini karena Alkitab sudah menyatakan: “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Timotius 4:3-4).

Kemanakah telinga kita lebih terarah? Apakah kita cenderung mendengarkan suara-suara yang berasal dari dunia ini yang dipenuhi keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup? Ataukah kita suka sekali mendengarkan bisikan-bisikan Iblis yang dipenuhi dusta, tipu muslihat dan kejahatan, dan yang tak pernah berhenti melemahkan iman dan mendakwa kita siang dan malam? Mulai hari ini marilah kita membuat keputusan untuk mendengar suara Tuhan melalui firman-Nya, karena suara inilah yang mendatangkan iman dan kehidupan, yang di dalamnya terkandung kekuatan, kesembuhan dan keselamatan. Suara Tuhan inilah yang akan menuntun kita kepada suatu kehidupan yang penuh kuasa dan berkemenangan setiap hari; dan semakin kita menyendengkan telinga untuk mendengar suara Tuhan, perkataan dan perbuatan kita semakin dipengaruhi oleh firman-Nya sehingga kita pun akan mengalami terobosan demi terobosan.
“berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;” Ulangan 11:27


Kamis. SUKA MENGHAKIMI HAMBA TUHAN

Baca: Bilangan 16:1-35

“Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?” Bilangan 16:3

Korah, Datan dan Abiram adalah tiga orang terkemuka di antara umat Israel yang merasa iri hati dan cemburu terhadap Musa; mereka mengajak 250 orang terkemuka di Israel untuk melakukan pemberontakan terhadap Musa dan Harun. Mereka menuduh Musa serta Harun telah meninggikan diri sendiri di antara umat Israel (ayat nas). Korah dan para pengikutnya adalah orang-orang Lewi yang mengincar jabatan imam yang telah dianugerahkan kepada Harun. Sedangkan Datan dan Abiram adalah orang Ruben, yang menolak panggilan Musa untuk datang menghadap dengan melontarkan tuduhan dan mencela kepemimpinan Musa atas bangsa Israel.

Secara garis besar ada tiga alasan pemberontakan, menganggap Musa dan Harun melakukan ini: telah mengangkat diri sendiri menjadi pemimpin Israel, memonopoli jabatan imam, gagal membawa umat Israel ke tanah perjanjian. Namun meski dihadapkan pada tekanan dan situasi yang berat Musa tetap tenang dengan segala tuduhan kepadanya, karena ia tahu Tuhanlah yang telah memanggil dan menetapkannya sebagai pemimpin Israel, bukan kehendak dirinya. “…aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN.” (Ayat 28-30).
Apa terjadi? Tiba-tiba terbelahlah tanah dan bumi membuka mulutnya, serta menelan mereka semua, sehingga mereka sekalian terkubur hidup-hidup di dalam bumi. Bukti bahwa Tuhan membela orang-orang yang telah diurapi-Nya dan menghukum mereka yang mengusik hamba-Nya dan berlaku khianat.

Jangan menghakimi hamba Tuhan, karena Tuhan sendiri yang akan berperkara dengan mereka, sebab Tuhan adalah api yang menghanguskan (baca Ibrani 12:29).


Jumat. SIMSON: Kuat Karena Tuhan

Baca: Hakim-Hakim 13:1-24

“Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia.” Hakim-Hakim 13:24

Simson adalah salah satu dari 12 hakim yang diangkat resmi oleh Tuhan untuk memimpin bangsa Israel. Ada pun nama Simson dalam bahasa Ibrani berarti matahari atau bersinar. Ia lahir dari keluarga Manoah, suku Dan yang tinggal di Zora. Kehadiran Simson di tengah-tengah keluarga Manoah merupakan mujizat dari Tuhan karena dilahirkan dari kandungan seorang ibu yang sudah lama mandul.

Teristimewa lagi, saat masih dalam kandungan Simson telah ditentukan oleh Tuhan untuk menjadi seorang nazir: “…sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah.” (ayat 7), yang kelak akan menjadi penyelamat bangsa Israel dari tangan orang Filistin. Nazir (kata Ibrani) berarti orang yang dikhususkan, orang yang dibaktikan, orang yang dipisahkan bagi Tuhan.

Karena Tuhan sendiri yang memilih, Simson pun dilengkapi-Nya dengan kekuatan yang luar biasa. Ada beberapa peristiwa penting yang menunjukkan betapa besar kekuatan yang dimiliki nazir Tuhan ini: 1. Mampu mengalahkan singa muda dengan tangan kosong (Hakim-Hakim 14:5-6). Simson tidak hanya mengalahkan singa muda yang sedang kelaparan, ia bahkan mencabik-cabiknya tanpa senjata apa pun di tangan. Ini bukan karena kekuatan dan kemampuannya sendiri, tapi Roh Tuhan berkuasa atas dirinya. 2. Mampu mengalahkan seribu orang Filistin dengan rahang keledai (Hakim-Hakim 15:14-16). Ketika orang Filistin ingin membalas dendam atas perbuatan Simson yang membakar tumpukan gandum dan kebun-kebun zaitun milik mereka, maka Roh Kudus berkuasa atas diri Simson. Hanya dengan tulang rahang keledai ditewaskannya seribu orang Filistin. 3. Mampu mengangkat daun pintu gerbang kota (Hakim-Hakim 16:3).

Sebagai orang yang dipilih dan dikhususkan oleh Tuhan, setidaknya Simson memiliki tiga keistimewaan, yaitu kelahirannya sudah dinubuatkan terlebih dahulu oleh malaikat Tuhan, memiliki kekuatan yang extraordinary karena Roh Tuhan menyertainya, dan menjadi hakim atas umat Israel selama kurang lebih 20 tahun.

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” Zakharia 4:6


Sabtu. SIMSON: Jatuh Karena Tabiatnya
Baca: Hakim-Hakim 16:23-31

“Berkatalah Simson: ‘Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini.'” Hakim-Hakim 16:30a

Zaman hakim-hakim adalah zaman di mana tidak ada seorang pun yang memiliki wibawa sebesar Musa dan Yosua. Saat itu orang-orang Israel hidup terpencar di berbagai penjuru tanah Kanaan sehingga secara formal mereka tidak memiliki pemimpin, yang ada adalah pemimpin informal yang dikenal se-bagai hakim. Pada masa Simson menjadi hakim kehidupan bangsa Israel sedang dalam bahaya besar karena sedang ditindas oleh orang Amon dari sebelah timur dan ditekan oleh orang Filistin di bagian barat.

Yang disesalkan, sebagai nazir Tuhan kekuatan atau keperkasaan diri Simson ternyata tidak diimbangi dengan ta-biat yang baik. Bukankah ada banyak orang Kristen yang sudah terlibat dalam pelayanan atau menjadi seorang hamba Tuhan masih menjalani hidup sebagai ‘manusia lama’ dengan karakter duniawi? Sehingga hidupnya tidak bisa menjadi kesaksian, malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kelemahan yang paling menonjol dalam diri Simson adalah kurangnya penguasaan diri, terutama dalam hal keinginan daging atau hawa nafsu kedagingan. Keinginan mata dan seks adalah titik lemah Simson, sehingga setiap kali bertemu dengan wanita cantik hasrat untuk memilikinya begitu besar, bahkan ia pernah jatuh dalam pelukan seorang pelacur (baca Hakim-Hakim 16:1). Tidak lama berselang ia pun jatuh cinta pada perempuan dari lembah Sorek yang bernama Delila, dialah yang menyebabkan kehidupan Simson menjadi hancur dan berakhir dengan tragis.

Simson tidak belajar dari pengalaman, masih saja melakukan kesalahan-kesalahan yang sama yaitu jatuh dalam dosa dengan perempuan. Akhirnya dalam keadaan buta dan terbelenggu barulah Simson menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya, namun Tuhan telah meninggalkan dia. Berserulah Simson, “Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin.” (Hakim-Hakim 16:28).

Karena tidak mampu mempertahankan kesucian hidup sebagai nazir Tuhan Simson harus menanggung konsekuensinya, yaitu kehilangan kekuatan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya dan Roh Tuhan pun meninggalkannya!


Minggu. SOMBONG: Dosa Yang Mudah Dilakukan
Baca: Amsal 30:29-33

“Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan ber-pikir, tekapkanlah tangan pada mulut!” Amsal 30:32

Berlaku sombong adalah tindakan yang paling mudah dilakukan orang karena bisa dilakukan di mana pun dan ka-pan pun, dengan hanya bermodalkan ucapan. Itulah sebabnya orang menganggap kesombongan perkara sepele, tidak termasuk dosa. Benarkah demikian? “Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.” (Amsal 21:4). Kesombongan adalah salah satu perkara yang sangat dibenci Tuhan (baca Amsal 6:16-19). Tuhan sangat menentang orang-orang sombong!

Kesombongan adalah dosa yang kurang disadari oleh banyak orang, termasuk orang Kristen, padahal dosa ini mengantarkan si pelaku kepada kehancuran. Ada banyak kasus terjadi di mana hamba Tuhan terkenal akhirnya men-galami kegagalan dalam pelayanan oleh karena jatuh dalam dosa kesombongan, nama baik menjadi tercemar dan repu-tasinya pun menjadi hancur berkeping-keping. Ciri-ciri orang yang berlaku sombong adalah: merasa diri hebat, paling benar dan patut dihormati. Orang yang berlaku demikian memiliki kecenderungan untuk merendahkan orang lain.

Sadar atau tidak kesombongan akan terus membawa orang kepada dosa-dosa yang lain. Itulah sebabnya orang yang sombong akan mudah sekali marah atau tersinggung apa-bila keberadaannya kurang dianggap. Karena itulah orang yang sombong sangat suka dipuji dan dihormati (gila hor-mat). Karena merasa diri hebat dan benar orang yang som-bong juga cenderung tidak mau menerima teguran atau kritikan dari orang lain.

Sepatutnyakah kita berlaku sombong? Bukankah di dalam kita ada banyak kelemahan dan kekurangan, dan kita pun tak luput dari kesalahan? Kalau pun di satu sisi kita punya kelebihan, di sisi lain kita pasti punya kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Jika sampai hari ini kita ada sebagaimana kita ada sekarang semua itu han-ya karena anugerah-Nya semata, Tuhanlah yang bekerja dalam hidup kita, bukan karena kuat dan gagah kita!

“Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.” Yesaya 2:11

BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal,  yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya. (Yohanes 6:27)

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus tidak bermaksud melarang kita bekerja untuk mendapatkan upah demi memenuhi kebutuhan hidup. Yang Ia katakan dalam Yohanes 6:27 adalah jangan bekerja hanya untuk makanan, upah, keuntungan serta hasil yang bersifat fisik dan sementara saja; tapi bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan oleh Tuhan Yesus.

ISI

Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, tapi untuk yang kekal. Bagaimana cara bekerja untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal? Jawabannya adalah: percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan firman-Nya (Yohanes 6:29). Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman Tuhan kekal selamanya (Matius 24:35). Percaya kepada Kristus merupakan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yang didemonstrasikan dengan ketaatan kepada firman-Nya; sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Job menghasilkan upah yang sementara berupa gaji, tapi mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah memberi upah bukan hanya dapat dinikmati di dunia, tapi juga di kekekalan. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Orang percaya bukan hidup dari gaji saja, tapi dari janji, yaitu firman Tuhan. Seseorang bisa punya uang banyak, tapi dengan uang yang dimilikinya ia tidak akan bisa membeli hal-hal yang bersifat kekal dan supernatural, misalnya keselamatan, pengampunan dari Tuhan, damai sejahtera, sukacita, hikmat, kelepasan dari keterikatan, kesembuhan sempurna, pemulihan, mukjizat, dlsb. Hal-hal ini hanya dapat diperoleh jika kita melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu percaya kepada Kristus.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33).

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17).

Jika Kristus yang menjadi pusat hidup kita, maka apa yang kita kerjakan merupakan buah dari hubungan kita dengan Tuhan. Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3). Dengan demikian, pekerjaan/job/aktivitas yang kita lakukan bukan sekedar sibuk atau hanya berorientasi kepada hal-hal fisik yang sementara, tapi kepada kekekalan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, apa saja yang kita kerjakan, dibuat-Nya berhasil.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,  yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,  dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon,  yang ditanam di tepi aliran air,  yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1: 1-3).

Dengan terhubung kepada Tuhan, kita sedang bekerja (baik itu job maupun work) untuk makanan/upah yang bertahan sampai kepada hidup kekal, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia (1 Korintus 15:58b). Persekutuan kita dengan Tuhan menghasilkan buah Pelayanan. Pelayanan bukan hanya dilakukan di dalam Gereja, tetapi di mana saja Tuhan menempatkan kita: di rumah tangga, keluarga besar, pekerjaan sekuler, tempat usaha, sekolah, masyarakat, dlsb.

Perlu diingat, bahwa kita bekerja dalam enam hari, hari ke-tujuh adalah hari perhentian supaya kita dapat beribadah kepada Tuhan. Jangan buat pekerjaan (job) menjadi berhala, jangan pula jadikan pekerjaan/pelayanan sebagai identitas diri. Ada orang yang merasa diri lebih dari yang lain karena memiliki pekerjaan/karir yang hebat, terkenal, pegang peranan penting atau bergaji besar. Sementara ada pula yang merasa dirinya kurang berharga/penting karena hanya seorang pekerja kasar, bergaji kecil, pelayanannya tampak kurang berarti, kecil atau tidak dipandang. Identitas diri kita bukan ditentukan dari apa yang kita kerjakan, miliki atau capai; identitas kita adalah anak-anak Allah, ciptaan baru dalam Kristus Yesus, yang kepadanya diberi talenta sesuai kapasitas/kesanggupan masing-masing. Jangan merasa lebih unggul ataupun lebih rendah dari orang lain. Kerjakan bagian  masing-masing seperti untuk Tuhan, sebab kita semua adalah hamba Kristus. Karena setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

PENUTUP

Bekerjalah untuk hasil dan upah yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan (termasuk job), kerjakan dengan iman – bukan hanya dengan pengetahuan, karunia, bakat, serta ketrampilan saja. Semua pekerjaan halal, yang menjadi berkat bagi orang lain serta memuliakan Tuhan adalah kudus. Meskipun bekerja di dunia sekuler/marketplace, kita wajib menerapkan etos kerja Kristen yang berdasarkan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan.

Undang Roh Kudus untuk terlibat dalam setiap aktivitas dan pekerjaan kita. Minta Ia memberi hikmat untuk mengerti apa kehendak Allah dari pekerjaan tersebut, memberi hikmat untuk mengambil langkah/keputusan, mengatasi masalah, berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang yang tepat, dan memampukan kita untuk menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan.

TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (1)

TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (1)

Senin. TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (1)

“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?” Ayub 7:1

Pernyataan bahwa hidup adalah perjuangan memang benar adanya. Alkitab pun menyatakan bahwa manusia harus bergumul di bumi dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan. Dalam Alkitab versi bahasa Indonesia sehari-hari demikian: “Manusia itu seperti dipaksa berjuang; hidupnya berat seperti hidup seorang upahan;” Artinya setiap hari kita dihadapkan pada pergumulan demi pergumulan yang tidak ringan. Untuk itu dibutuhkan kerja keras dan perjuangan karena tidak ada keberhasilan atau kesuksesan yang datang secara tiba-tiba turun dari langit, semuanya melalui proses yang panjang. Bagi mereka yang memiliki cita-cita atau impian besar mustahil dapat meraihnya jika hanya bermalas-malasan atau berpangku tangan saja.

Thomas Alfa Edison adalah salah seorang tokoh penemu terbesar di dunia. Bola lampu adalah salah satu hasil temuannya sehingga semua manusia di muka bumi ini dapat menikmatinya. Ia adalah seorang yang pantang menyerah, tidak pernah berhenti berjuang meski harus mengalami kegagalan ribuan kali saat melakukan eksperimen; dan karena kegigihannya ini Edison pun disebut sebagai penemu yang paling produktif dalam sejarah kehidupan manusia. Ia menyatakan bahwa kunci keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau kejeniusan seseorang, tapi faktor terbesar yang menunjang keberhasilan seseorang adalah kerja keras. “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” (1 Timotius 4:10).

Lalu, kita harus berjuang dalam hal apa? Berjuang menghadapi masalah atau penderitaan. Selama kaki kita masih berpijak di atas muka bumi ini, sampai kapan pun kita tidak dapat menghindarkan diri dari masalah, kesukaran atau penderitaan hidup. Meski demikian kita tidak perlu berkecil hati dan berputus asa, karena kita punya Tuhan yang sangat peduli dan mengerti, yang berjanji tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita sendiri. Bahkan “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.” (Yesaya 46:4a).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena itu jalanilah hidup dengan iman! Baca: Ayub 7:1-21


Selasa. TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (2)

“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,” 2 Korintus 10:3

Kesukaran dan penderitaan adalah bagian hidup manusia, Musa pun mengakuinya. Namun ia justru menyebutnya sebagai suatu kebanggaan (baca Mazmur 90:10), karena pengalaman hidup yang penuh proses seperti itu dapat menjadikannya kuat. Adalah suatu kebanggaan ketika orang dapat bertahan atau mampu melewati setiap kesukaran dan penderitaan yang dialami. Musa telah membuktikan betapa berat proses yang dijalaninya ketika harus memimpin umat Israel yang tegar tengkuk itu selama 40 tahun. Seberat apa pun keadaannya, life must go on, harus tetap semangat menjalani hidup, sebab “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Amsal 18:14).

Lalu kita harus berjuang dalam hal apa lagi? Berjuang melawan keinginan daging. Setiap detik, menit, jam kita selalu menghadapi pilihan hidup yang tidak mudah: menuruti keinginan daging atau Roh Kudus. Ini membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, sebab “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41). Kelemahan utama daging adalah cenderung melakukan perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5:19-21). Mengikuti keinginan daging mengakibatkan kebinasaan daging (baca Galatia 6:8), tidak mendapat tempat di Kerajaan Sorga.

Hanya dengan pertolongan Roh Kudus saja kita dapat mematikan segala keinginan daging. “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13). Sehebat apa pun seseorang, kalau ‘daging’ nya lemah atau semata-mata hidup menuruti keinginan dagingnya, ia pasti akan menuai kegagalan!
Perjuangan orang percaya adalah perjuangan menyalibkan keinginan daging!

Baca: 2 Korintus 10:1-11


Rabu. WASPADA TERHADAP NABI PALSU

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7:15

Semua orang percaya tahu dan sadar bahwa hari-hari ini adalah hari yang sangat jahat, seperti peringatan rasul Paulus, “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” (Efesus 5:15). Tanda-tanda zaman sangat jelas menunjukkan kedatangan Tuhan sangat dekat, salah satunya banyak bermunculan nabi-nabi palsu yang seringkali menyatakan aneka macam nubuatan yang bertujuan mengacaukan dan meresahkan jemaat. “Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.” (1 Korintus 14:3). Kalau nubuatan menyimpang dari kebenaran, nubuatan tersebut patut diwaspadai.

Hananya adalah seorang nabi, tetapi ia adalah nabi palsu. Umat Israel tidak mengetahuinya karena nubuatan yang disampaikan Hananya itu tampak baik dan benar. “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel…demikianlah firman TUHAN! Sungguh, Aku akan mematahkan kuk raja Babel itu!” (Yeremia 28:2-4). Hananya berani berkata, “Beginilah firman TUHAN” Tetapi nabi Yeremia yang mempunyai karunia membedakan roh mengetahui bahwa nubuatan yang disampaikan oleh Hananya itu palsu.

Karunia membedakan roh adalah kesanggupan Ilahi yang Roh Tuhan berikan kepada seseorang untuk dapat membedakan dan mengenal suatu gejala atau kenyataan rohani, apakah itu berasal dari Tuhan, dari Iblis atau dari manusia. “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.” (Yeremia 28:15), maka “…matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga,” (Yeremia 28:17). Setiap nubuatan harus diuji dengan kebenaran Injil, karena itu kita harus tekun membaca dan merenungkan firman Tuhan; jika tidak, bagaimana kita tahu bahwa nubutan itu palsu atau tidak?

“…janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah;” 1 Yohanes 4:1
Baca: Matius 7:15-23


Kamis. MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN: Berhak Masuk Sorga (1)

“Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mere-ka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:23

Menjadi Kristen bukan jaminan masuk Sorga, apalagi syarat-syarat yang diminta Tuhan tak dipenuhi. Untuk dapat masuk ke dalam kerajaan-Nya kita harus melakukan kehendak bapa, tidak cukup hanya rajin ke gereja atau sibuk pelayanan, atau dengan seruan kepada Tuhan saja. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (ayat 21). Melakukan kehendak Tuhan kunci utama masuk Kerjaan Sorga.

Mengapa kita harus melakukan kehendak Tuhan? Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup bagaimana Ia menempatkan kehendak Bapa sebagai yang utama dalam hidup-Nya. Alkitab menyatakan bahwa bagi Tuhan Yesus makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus Dia (baca Yohanes 4:34). Ini menunjukkan bahwa kehendak Bapa bagi Yesus adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan terasa nikmat, sama seperti orang yang suka dan menikmati menu makanannya. Namun banyak orang menganggap bahwa melakukan kehendak Tuhan adalah sesuatu yang berat dan sangat menyiksa; ini benar bila kita melakukannya dalam keadaan terpaksa atau menjadikan itu sebagai suatu beban. Berbeda bila kita memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan dan mengasihi-Nya dengan sungguh, kita pasti dapat berkata seperti pemazmur katakan, “…perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku.” (Mazmur 119:143), karena itu “…aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” (Mazmur 40:9).

Tanda orang mengasihi Tuhan adalah menuruti perintah-Nya. “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,” (1 Yohanes 5:3). Orang yang tahu bahwa ada berkat-berkat luar biasa yang Tuhan sediakan bagi orang-orang yang taat pasti akan melakukan ke-hendak Tuhan dengan sukacita.

Berkat terbesar bagi orang yang taat melakukan kehendak Tuhan adalah masuk ke dalam Kerjaan Sorga.

Baca: Matius 7:15-23


Jumat. MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN: Menikmati Janji Tuhan

“Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Matius 12:50

Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa pun yang sering melakukan kehendak Bapa akan menjadi bagian keluarga Kerajaan Sorga. Bukan hanya itu… apa saja yang diminta akan diperolehnya. “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (1 Yohanes 3:22). Kunci mengalami penggenapan janji Tuhan adalah tekun melakukan kehendak Tuhan, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36).

Ketekunan berbicara tentang proses waktu yang tidak singkat: secara konsisten melakukan apa yang Tuhan kehendaki yang di dalamnya terkandung unsur sabar, setia, berjaga-jaga dan tetap menanti-nantikan Tuhan. “…Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” (Ibrani 9:28). Oleh karena itu kita harus berani mengadakan pemisahan hidup dengan dunia, bersikap tegas untuk tidak berkompromi dengan segala hal yang sifatnya duniawi. “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” (2 Korintus 6:17).

Memisahkan diri dari dunia bukan berarti menjauhi atau mengadakan permusuhan dengan orang-orang yang bukan pengikut Kristus, tetapi kita memisahkan diri dari cara hidup dunia yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Masih banyak orang percaya yang enggan memisahkan diri dari dunia, hatinya mendua, yaitu mengikut Tuhan dan tetap menjalin ‘persahabatan’ dengan dunia. Padahal Alkitab dengan tegas menyatakan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yakobus 4:4).

“Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” 1 Yohanes 2:17

Baca: Matius 12:46-50


Sabtu. MUJIZAT MELALUI PERANTARAAN HAMBA TUHAN

“Lalu berkatalah Elisa: ‘Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.'” 2 Raja-Raja 4:3

Dikisahkan ada seorang janda nabi yang sedang dalam kesukaran besar. Suaminya meninggal dunia meninggalkan utang begitu banyak sehingga wanita ini tidak sanggup melunasinya. Tidak ada warisan harta selain dua anak laki-laki yang masih belia.
Syukurlah di tengah impitan ekonomi ini perempuan tersebut tidak putus asa atau frustasi, ia masih memiliki iman. Ter-bukti ia datang kepada nabi Elisa untuk mencari pertolongan Tuhan. Dengan kata lain ia datang ke alamat yang tepat, bukan mencari pertolongan kepada dukun, orang pintar atau mencari jalan pintas. Tanya Elisa, “‘Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kau-punya di rumah.’ Berkatalah perempuan itu: ‘Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.'” (ayat 2). Kemudian Elisa memberikan perintah kepada perempuan itu untuk meminjam bejana-bejana kosong dari semua tetangganya, sebanyak mungkin, lalu membawanya masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan menuangkan minyak itu ke dalam bejana-bejana itu sampai penuh. Perkataan Elisa itu kedengarannya sangat aneh dan tidak masuk akal sama sekali.

Bagaimana mungkin minyak yang sedikit itu bisa memenuhi bejana-bejana kosong itu? Tetapi perempuan itu percaya firman Tuhan yang telah disampaikan melalui nabi Elisa dan melakukan apa yang diperintahkan! Mujizat pun terjadi: minyak yang dituangkan itu tidak habis, mengalir terus hingga semua bejana itu menjadi penuh.

Mujizat adalah perbuatan atau kenyataan ajaib yang Tuhan kerjakan untuk membuktikan bahwa Ia hidup dan berkuasa, suatu manifestasi kehendak Tuhan dalam keadaan tertentu untuk menggenapi firman-Nya. Dalam kisah ini Tuhan menyatakan mujizat yang dikehendaki-Nya dengan perantaraan hamba-Nya. Mujizat ini terjadi oleh karena doa dan tindakan iman yaitu menaati atau melakukan apa yang Tuhan firmankan. Tidak ada mujizat yang terjadi atas kehendak manusia sendiri, semua itu adalah pekerjaan Tuhan semata-mata untuk membuktikan kebenaran firman-Nya.

Iman dan ketaatan melakukan firman Tuhan adalah kunci mengalami mujizat Tuhan!

Baca: 2 Raja-Raja 4:1-7


Minggu. ANGGUR YANG BERBUAH MANIS ATAU MASAM

“Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.” Yesaya 5:1

Melalui perumpamaan ini Tuhan menggambarkan kebun anggur yang tampak subur dan indah dipandang mata. Kebun itu dirawat-Nya sedemikian rupa: dipupuk, dicangkul, dibuang batu-batunya. Di tengah kebun itu dibangun menara jaga, dan anggur yang ditanam adalah anggur pilihan. Pemiliknya berharap kebun anggur itu menghasilkan buah yang rasanya masam.

Kebun anggur yang dimaksud adalah gambaran tentang umat Israel, bangsa pilihan Tuhan yang mendapatkan perlakuan secara khusus dan istimewa dari Tuhan. Namun demikian mereka tidak menunjukkan kualitas hidup yang sesuai dengan harapan. “…dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.” (ayat 7). Mereka gagal menjadi apa yang Tuhan inginkan!
Walaupun telah mengecap kebaikan Tuhan dan mengalami berbagai mujizat yang luar biasa mereka tetap saja menjadi bangsa yang tegar tengkuk, bahkan tega menyakiti hati Tuhan dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari firman-Nya sehingga hal itu menimbulkan murka Tuhan. “Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.” (ayat 5-6). Karena telah mengecewakan, Tuhan pun menghukum mereka, bukan karena Ia benci terhadap umat-Nya tetapi sebagai wujud kasih dan perhatian-Nya, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6).

Supaya kebenaran orang percaya seperti kebun anggur yang subur dan produktif (menghasilkan buah) kita harus mau ‘dibersihkan’ dan ‘ditata’ oleh Tuhan. Jangan mengeraskan hati dan hidup menyimpang dari kehendak Tuhan karena kita ini telah dipilih dan dikuduskan-Nya, bahkan telah ditebus dengan darah-Nya yang mahal.

“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Matius 3:8

Baca: Yesaya 5:1-7

KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

Senin. KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Banyak orang Kristen tidak lagi bisa bersukacita, ketika sedang terhimpit beban atau masalah yang berat. Mereka dikalahkan oleh keadaan atau situasi. Sebagai orang percaya seharusnya hal ini tidak boleh terjadi!

Mahatma Gandhi, tokoh kenamaan dari India pernah berkata, “Tak ada yang menguras tubuh seperti kekuatiran, dan orang yang mempunyai iman pada Tuhan harus malu untuk kuatir tentang apa pun.” Pemazmur menasihati, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23). Seburuk apa pun keadaan, asal kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita akan mampu tetap bersukacita. Ketika kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita berpotensi beroleh kekuatan adikodrati sehingga kita dapat berkata seperti rasul Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Berserah kepada Tuhan bukan berarti bersikap pasif dan menjadi malas. Berserah kepada Tuhan artinya membawa segala pergumulan yang kita kuatirkan kepada Tuhan dengan penuh penyerahan, dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kalau kita sudah menyerahkan segala pergumulan kepada Tuhan dalam doa kita pun harus meyakini bahwa Tuhan akan menjawab doa. Ada unsur iman yang bekerja, sebab iman tanpa disertai perbuatan pada hakekatnya adalah mati (baca Yakobus 2:17).

Permohonan artinya memohon belas kasihan Tuhan yang biasanya disertai dengan sikap merendahkan diri, meratap, mengerang dan berpuasa untuk menarik simpati Tuhan. “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan…” (2 Tawarikh 7:14). Ucapan syukur adalah perwujudan dari sikap hati yang benar atau pikiran yang positif.

Berserah kepada Tuhan berarti kita mempercayai Dia sebagai Pribadi yang Mahasanggup, yang kuasa-Nya jauh lebih besar dari masalah kita!

Baca: Filipi 4:4-9


Selasa. KERENDAHAN HATI DAN IMAN: Menggerakkan Hati Tuhan

“Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Lukas 7:9

Seorang hamba yang setia melakukan tugas dan dapat dipercaya pasti sangat dikasihi, sebab “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;” (Amsal 19:22).

Dalam bacaan di atas, begitu tahu hambanya sedang sakit tuannya pun menunjukkan perhatiannya dan berusaha mencari jalan untuk kesembuhannya. Ketika mendengar bahwa Tuhan Yesus berada di Kapernaum perwira itu menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi untuk memberitahukan hal itu kepada Tuhan dan meminta-Nya datang menyembuhkan hambanya itu. Yesus pun menyatakan kesediaan-Nya. Tetapi perwira itu menganggap diri tidak layak dikunjungi oleh-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu.” (Lukas 7:6-7). Pernyataan ini menunjukkan bahwa perwira itu memiliki kerendahan hati. Meskipun sebenarnya ia adalah orang yang berpangkat atau terpandang tapi ia tidak memegahkan diri. Kerendahan hati adalah modal penting untuk menghadap Tuhan, sebab Tuhan mengasihi orang-orang yang punya kerendahan hati. “…orang yang rendah hati dikasihani-Nya.” (Amsal 3:34), dan menentang orang-orang yang congkak. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6). Ada kalimat bijak mengatakan, “Kerendahan hati dapat membuat seseorang terlihat istimewa di mata orang lain.” Perwira itu juga memiliki iman yang luar biasa. “Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Lukas 7:7b).

Sikap perwira ini sungguh jauh berbeda bila dibandingkan dengan Naaman yang merasa diri sebagai orang ‘penting’ yang berharap supaya abdi Tuhan datang kepadanya dan melakukan seperti yang diharapkan (baca 2 Raja-Raja 5:11). Tanpa harus menumpangkan tangan kepada hambanya, perwira dari Kapernaum itu sangat percaya Yesus sanggup menyembuhkan sakit yang diderita hambanya itu. Iman perwira Romawi itu melampaui iman yang Tuhan Yesus lihat di kalangan orang-orang Yahudi sendiri.

Ingin mengalami pemulihan dan kesembuhan? Milikilah kerendahan hati dan iman yang hidup seperti yang dimiliki oleh perwira Romawi itu.

Baca: Lukas 7:1-10


Rabu. EDOM: Bersukacita Di Atas Penderitaan

“Oleh karena dalam hatimu terpendam rasa permusuhan yang turun-temurun dan engkau membiarkan orang Israel menjadi makanan pedang pada hari sial mereka, waktu saatnya tiba untuk penghakiman terakhir,” Yehezkiel 35:5

Dalam praktek hidup sehari-hari kita sering mendengar istilah ‘menari di atas penderitaan orang lain’, yaitu seseorang yang tampak senang atau bersukacita ketika melihat orang lain hidup menderita, tertawa lebar karena kemalangan yang dialami orang lain. Benarkah sikap yang demikian? Tuhan tidak menghendaki kita bersukacita karena kesusahan, penderitaan atau kemalangan yang dialami oleh orang lain, termasuk yang dialami oleh musuh sekalipun. Inilah nasihat rasul Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Inilah yang disebut tepa selira (bahasa Jawa), berbela rasa. Ketika melihat orang lain sedang tertimpa kesusahan atau kemalangan, Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu untuk menolong, bukan malah ketawa-ketiwi, dan berkata dalam hati: “Rasain lho…!”

Edom memusuhi bangsa Israel, yang adalah umat pilihan Tuhan, dan menutup mata ketika melihat penderitaan umat Israel yang diakibatkan serangan musuh, bahkan mereka tampak bersukacita melihat umat Israel begitu menderita. Edom merupakan nama tempat yang sebelumnya dikenal dengan nama pegunungan Seir. Tanah dan penghuni Edom ini dapat ditemukan di dataran selatan dan tenggara Laut Mati. Nama Edom memiliki tiga makna: *nama lain dari Esau sebagai peringatan bahwa ia telah menukarkan hak kesulungannya dengan sup merah; *Edom sebagai satu kelompok bangsa; *tanah yang diduduki oleh keturunan Esau, yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir.

Kata Edom sendiri memiliki arti merah. Dan akhirnya warna ‘merah’ itupun menjadi sebuah kenyataan, karena tempat itu dipenuhi oleh warna merah oleh tumpahan darah para penduduknya yang mendapatkan penghukuman atau pembalasan dari Tuhan. “Aku akan menjadikan engkau darah dan darah akan mengejar engkau; oleh sebab engkau bersalah karena mencurahkan darah, maka darah akan mengejar engkau. Aku akan menjadikan pegunungan Seir musnah dan sunyi sepi dan melenyapkan dari padanya orang-orang yang lalu lalang.” (Yehezkiel 35:6-7).

Karena memusuhi umat pilihan Tuhan, Edom harus menanggung akibatnya!

Baca: Yehezkiel 35:1-15


Kamis. MENJADI BERKAT DI TENGAH KESESAKAN

“Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku.” Mazmur 142:7

Adalah mudah untuk mengatakan hal-hal yang positif: membangun, menguatkan, menghibur orang lain ketika orang sedang dalam keadaan baik dan tanpa masalah; namun jika diri sendiri sedang mengalami situasi sulit atau dalam kondisi yang buruk, mampukah mempertahankan konsistensi untuk berkata positif? Jangankan menguatkan orang lain, menghibur diri sendiri saja mungkin sulit. Yang terjadi adalah kita mengasihani diri sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain.

Mari belajar dari pengalaman hidup Daud! Ketika itu Daud sedang dalam tekanan yang hebat karena dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhnya. Daud pun melarikan diri dan bersembunyi di gua Adulam dengan maksud menenangkan diri dan berlindung. Daud mengungkapkan jerit hatinya kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya, “Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya.” (ayat 3). Apa yang selanjutnya dialami Daud di gua itu? “Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati,” (1 Samuel 22:2). Datanglah kepadanya orang-orang yang sedang bermasalah, yang jumlahnya kira-kira empat ratus orang. Tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi Daud saat itu, ia yang sebenarnya membutuhkan kekuatan, penghiburan dan dorongan semangat, justru mendapat kiriman Tuhan orang-orang yang bernasib sama ke tempat persembunyiannya, untuk dihibur dan dikuatkan olehnya. Ada rencana Tuhan di balik masalah yang dialami Daud! Tuhan menempatkan Daud sebagai penolong bagi orang lain: menghibur, menguatkan, membangkitkan semangat seperti tertulis: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

Melalui kehadiran orang-orang yang bermasalah, Daud diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai seorang konselor, bahkan menjadi pemimpin atas mereka. Berbicara tentang kepemimpinan berarti pula berbicara tentang keteladanan. Meski Alkitab tidak mencatat secara detil kejadian di gua Adulam itu, kita percaya bahwa Daud menunjukkan kualitas hidup yang berbeda.

Tuhan punya cara yang ajaib untuk menolong dan membangkitkan semangat Daud!

Baca: Mazmur 142:1-8


Jumat. HAK DAN KEWAJIBAN HARUS SEIMBANG

“Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” Efesus 6:8

Secara umum hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunaannya tergantung kepada kita sendiri. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan. Hak dan kewajiban adalah dua aspek yang tidak terpisahkan dan saling berkaitan. Bila seseorang sudah melaksanakan kewajibannya dengan baik maka secara otomatis hak akan menjadi bagiannya. Namun banyak orang lebih mengedepankan hak, alias menuntut haknya dipenuhi terlebih dahulu, tetapi urusan kewajiban diabaikan. Jadi menuntut hak secara penuh tetapi tidak menjalankan kewajiban sesuai harapan.

Untuk mewujudkan sebuah kemitraan yang baik hak dan kewajiban haruslah berjalan secara seimbang. Seorang hamba, dalam situasi dan kondisi apa pun, berkewajiban untuk taat pada tuannya yaitu mengerjakan dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi tugasnya. “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” (Efesus 6:5-7). Taat artinya memberi diri dengan menundukkan keberadaan diri sebagai sikap hormat yang keluar dari dasar hati yang terdalam, bukan kepura-puraan atau sebatas menyenangkan sang tuan. Ini berbicara tentang dedikasi dan loyalitas.

Ketaatan kepada tuan harus disamakan dengan taat kepada Kristus, yaitu melakukan tugas dengan segenap hati sebagai kehendak Tuhan atas dirinya. Sebagai tuan kita pun harus tahu apa yang menjadi bagian kita yaitu memenuhi kewajiban dengan baik. Firman Tuhan memperingatkan, “Janganlah engkau memeras sesamamu manusia…janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.” (Imamat 19:13). Secara tegas rasul Paulus menya-takan entang kemahatahuan dan keadilan Tuhan atas para tuan yang tidak memenuhi tanggung jawabnya (Efesus 6:9).

Berkat tersedia bagi hamba-hamba dan tuan-tuan yang mampu menjalankan perannya sesuai kehendak Tuhan!

Baca: Efesus 6:1-9


Sabtu. LEBAH YANG MENGHASILKAN MADU

“Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.” Mazmur 81:17

Membahas tentang madu tak lepas dari si penghasil madu itu sendiri yaitu lebah. Ada hal-hal menarik yang dapat kita pelajari dari kehidupan seekor lebah, yang termasuk dalam golongan serangga. Lebah suka sekali berada di suasana yang indah, selalu mencari, menemukan dan hinggap pada setiap bunga untuk menghisap sari madu bunga-bunga tersebut. Lebah hinggap dari satu bunga ke bunga lain untuk menjemput sari madu dan mengumpulkannya di sarang. Dengan kata lain lebah tertarik pada aroma yang harum dan sama sekali tidak tertarik pada sesuatu yang kotor. Selain itu lebah hidup rukun dalam satu koloni dan patuh pada seekor ratu lebah selaku pemimpin koloni itu. Lebah taat kepada pembagian kerja: ada yang bertugas membuat sarang, ada yang khusus bertugas mencari madu, ada yang menjaga sarang, dan ada juga yang menjaga ratu lebah. Lebah madu adalah serangga sosial. Madu yang dihasilkannya kaya manfaat dan dikenal sangat berkhasiat untuk kesehatan: meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menambah stamina dan lain-lain.

Begitu pula dengan orang percaya yang hidup bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Ia memiliki gaya hidup seperti lebah yang tidak lagi tertarik dengan hal-hal yang kotor dan jorok, melainkan lebih tertarik kepada hal-hal yang baik dan indah, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kecemaran (dosa), sebab “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7). Selain itu ia akan suka ‘tinggal’ di dalam firman: dengan merenungkannya siang dan malam, sebab Taurat Tuhan itu “…lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.” (Mazmur 19:11).

Tinggal di dalam firman-Nya ini juga berbicara tentang ketaatan! Karena senantiasa melekat kepada Tuhan dan mau taat dipimpin oleh Roh Kudus, orang percaya pun dibekali ‘sengat’ yang mematikan untuk melawan tipu muslihat si Iblis yang berusaha untuk menghancurkan kehidupan rohaninya.

Tuhan akan mengenyangkan kita dengan hal-hal yang manis seperti madu ketika kita hidup seturut dengan kehendak-Nya dan menjauhkan diri dari kecemaran.

Baca: Mazmur 81:1-17


Minggu. DIPENUHI KEINGINAN-KEINGINAN

“Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas.” Amsal 21:26

Semua manusia yang ada di dunia ini pada dasarnya memiliki keinginan-keinginan dalam hidupnya, bahkan keinginan-keinginan baru selalu timbul setiap hari.

Salahkah punya keinginan? Tidak. Namun yang harus kita ingat adalah keinginan-keinginan tersebut dapat membawa kita ke dua arah yang positif atau negatif. Keinginan-keinginan yang positif pasti dapat membawa hidup kita pada segala kebaikan, sebaliknya keinginan-keinginan yang negatif akan mengantarkan hidup kita pada hal-hal buruk. Sadar atau tidak keinginan kita hari ini akan sangat mempengaruhi keadaan kita di masa depan. Artinya apa yang kita inginkan hari ini, jika itu hal-hal positif dan sesuai kehendak Tuhan, akan menjadikan hari esok kita baik. Sebaliknya jika hari ini keinginan kita dipenuhi hal-hal negatif atau bertentangan dengan kehendak Tuhan, cepat atau lambat kita pun akan menuai dampaknya.

Rasul Paulus menasihati agar kita tidak menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang dilakukan oleh umat Israel (baca 1 Korintus 10:6) sehingga Tuhan tidak berkenan kepada sebagian besar mereka. Kegagalan sebagian besar umat Israel memasuki tanah perjanjian menjadi suatu peringatan keras bagi kita. Mereka tidak mengalami penggenapan janji Tuhan karena hati mereka dipenuhi oleh keinginan-keinginan jahat. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam menjalani hidup ini setiap saat kita pasti dihadapkan pada banyak sekali ujian dan tantangan, karena bagaimana pun juga dunia ini bukanlah firdaus. Artinya selama kaki kita masih menginjak bumi kita pun tak luput dari hal-hal yang bersifat jahat: fitnahan, cemoohan, iri hati, kebencian, perlakuan tidak adil dari orang lain atau hal-hal menyakitkan lainnya.

Apabila hati dan pikiran kita dipenuhi oleh keinginan-keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan sama artinya kita sedang merintis jalan untuk menghancurkan hidup kita sendiri, sebab firman Tuhan sudah memeringatkan: “…jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik,” (1 Tesalonika 5:15).

Milikilah keinginan-keinginan yang selaras dengan kehendak Tuhan supaya masa depan kita menjadi baik, sebab keinginan orang benar pasti diluluskan-Nya!

Baca: Amsal 21:25-31

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

PENDAHULUAN

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus, Allah mau agar kita kembali kepada blue print tujuan penciptaan, yaitu melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Menjadi kawan sekerja Allah melalui apa yang kita kerjakan, dengan  dunia sebagai ladang-nya.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10)

ISI

Pekerjaan di sini bukanlah sekedar ‘job’, tapi ‘work’. Work lebih luas dari sekedar job; work/pekerjaan adalah mandat yang Tuhan berikan kepada manusia di awal penciptaan (Kejadian 1:28); sementara job adalah posisi tertentu dalam pekerjaan yang mendapatkan upah bayaran. Seseorang bisa saja diberhentikan atau resign dari suatu job, tapi tidak dari work, karena work karena work harus di kerjakan semua orang terima gaji atau tidak (contoh di rumah house work, di sekolah school work,sosial-volunteer work; di gereja Work of the ministry).

Work yang dikehendaki Allah adalah panggilan Allah bagi setiap kita untuk menggenapi tujuanNya seperti tertulis dalam Yohanes 6:29 Yesus berkata; “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”.

Setiap kita membutuhkan pemahaman firman yang benar, pewahyuan serta hikmat untuk melakukan tujuan Allah. Roh Kudus memberi kita kemampuan dan hikmat untuk  dapat menjadi garam dan terang di dalam segala aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan; memberi pengaruh kepada lingkungan serta orang-orang  sekitar dengan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan dan prinsip Kerajaan Allah.

Berikut beberapa point serta ayat-ayat firman Tuhan yang memberi arahan dalam melakukan pekerjaan dan aktivitas yang dikehendaki Allah:

  1. Jangan menyia-nyiakan hidup dengan mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Setiap orang diberi talenta sesuai kesanggupannya, dan bertanggung jawab untuk menggunakan serta mengembangkannya. Sebab itu jangan malas, jadilah hamba yang baik dan setia, yang menggunakan seluruh sumber daya untuk tujuan/rencana Allah, sehingga akhirnya Ia berkenan atas hidup kita.

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2Tes. 3:10-11)

Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:15-16).

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21).

  1. Melalui pekerjaan kita mendapatkan berkat. Berkat di sini bukan hanya finansial, tapi juga skill/ketrampilan, pengetahuan, networking, pengaruh, jabatan/kuasa, kesempatan untuk menggali potensi, dlsb. Semua ini bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tapi ada yang harus ditabur sebagai benih, misalnya dalam bentuk finansial untuk mendukung pekerjaan Tuhan; pengetahuan dan ketrampilan yang bisa diajarkan ke orang lain; pengaruh/jabatan/kuasa yang dipakai untuk melayani kebutuhan orang lain, dsb. Menjadi berkat bagi orang lain membawa sukacita sejati dan menyenangkan hati Tuhan.

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,  Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;  kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati,  yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:10-11).

  1. Pekerjaan/aktivitas yang dilakukan dengan sikap hati yang tulus dan motivasi yang benar diperhitungkan Tuhan, jadi bukan soal besar atau hebatnya. Tuhan berkenan atas pelayanan kita kepada mereka yang lemah, tidak bisa membalas jasa, tidak dipandang, diperhitungkan, dan yang miskin/paling hina.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:23-24)

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25:40).

  1. Milikilah sikap hati hamba, yang merendahkan hati dan menyadari bahwa semua yang dikerjakannya adalah kasih karunia dari Tuhan, bukan karena kemampuan kita.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. (Lukas 17:10).

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Korintus 3:5).

PENUTUP

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan bagi manusia untuk mengabdi, melayani, menjadi saksi, memuliakan Tuhan serta membangun Kerajaan Allah di muka bumi. Allah telah melengkapi kita dengan dorongan ilahi yang kuat untuk melakukan sesuatu, talenta, karunia, kuasa, potensi serta semua yang diperlukan untuk hidup dalam panggilan-Nya. Bagian kita adalah mengikuti proses Tuhan dengan setia dan bergantung penuh kepada Roh Kudus dalam tiap langkah.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

Senin. DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

“Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya, sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya, …namun berubah juga makanannya di dalam perutnya, menjadi bisa ular tedung di dalamnya.” Ayub 20:12, 14

Ada istilah-istilah dalam Alkitab yang mendefinisikan kata dosa: hatta (bahasa Ibrani) artinya: jatuh dan mengurangi standar dari Tuhan yang suci; hamartia (bahasa Yunani) berarti: kehilangan, meleset dari target atau sasaran yang ditetapkan. Dosa pada hakekatnya hanya akan menda-tangkan malapetaka dan menuntun seseorang kepada ke-binasaan kekal, “Sebab upah dosa ialah maut;” (Roma 6:23).

Meski tahu akibat dosa adalah maut tapi masih banyak orang yang demikian terikat dengan dosa, bahkan enggan melepaskan dan meninggalkannya. Mengapa? Karena mereka telah merasakan manis dan nikmatnya dosa, sebab dosa seringkali hadir dalam bentuk yang indah dan menyenangkan, memberi kepuasan dan kenikmatan walaupun itu adalah sebuah jebakan yang mematikan. Mereka tidak menyadari bahwa dosa itu seperti racun jahat yang menyebar ke seluruh aspek kehidupan orang yang melakukannya. Racun biasanya tidak seketika itu mematikan, tapi membutuhkan waktu untuk menyebar terlebih dahulu hingga akhirnya membunuh. Begitu pula dosa, membutuhkan waktu hingga orang merasakan dampaknya. Dampak mendasar dari ikatan dosa adalah ketidaktenangan dalam menjalani hidup, karena sukacita dan damai sejahtera telah lenyap dari hati, yang ada hanyalah kegelisahan setiap saat. “Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah, kalau pagi sekarang! karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu.” (Ulangan 28:67).

Jangan pernah kompromi dengan dosa sebab hal itu adalah kejijikan di mata Tuhan: “Janganlah hendaknya kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini!” (Yeremia 44:4). Dosa inilah yang akhirnya menjadi jurang pemisah hubungan kita dengan Allah, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2).

Berhentilah berbuat dosa jika tidak ingin menanggung aki-bat yang mengerikan!

Baca: Ayub 20:1-29


Selasa. KRISTUS ADALAH RAJA YANG ADIL

“Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan,” Yesaya 32:1

Semua manusia di dunia ini pasti mendambakan kehidupan yang aman, tenteram, damai dan adil di segala sisi, namun sayang dunia yang sempurna adalah utopia (hanya ada dalam bayangan dan sulit atau tidak mungkin untuk di-wujudkan), sebab fakta yang ada justru menunjukkan suatu keadaan yang bertolak belakang, di mana dunia dipenuhi dengan kekerasan, pertikaian penindasan, ketidakadilan. Saat ini uanglah yang berbicara. Dengan uang orang bisa membeli jabatan, kekuasaan dan keadilan. Dengan uang orang bisa memerlakukan orang lain dengan semena-mena, menindas yang lemah dan miskin. Sungguh…tidak ada keadilan yang hakiki di belahan bumi mana pun!

Ayat nas adalah nubuatan nabi Yesaya mengenai Raja adil yang adalah Yesus, yang kedatangan-Nya ke dunia juga sudah diberitahukan sebelumnya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:14). Karena Tuhan Yesus adalah Raja yang adil maka Dia tidak seperti raja-raja atau pemimpin-pemimpin dunia yang seringkali berpihak kepada orang kaya, sedangkan orang miskin ditindasnya habis-habisan, karena “Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulut-nya ia akan membunuh orang fasik.” (Yesaya 11:2-4).

Sebaliknya Yesus adalah naungan dan tempat perteduhan orang-orang miskin, lemah, tak berdaya, rendah, yang diperlakukan semena-mena dan tidak adil. “Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!” (Mazmur 72:4).

“TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.” Mazmur 103:6

Baca: Yesaya 32:1-8


Rabu. KEADILAN TUHAN ITU SEMPURNA

“…karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” Ulangan 32:4

Salah satu sifat Tuhan adalah adil. Yang dimaksud adil adalah bertindak benar sesuai standar kebenaran dan ketetapan hukum yang berlaku. Tuhan itu adil, artinya Ia akan selalu berlaku benar sesuai prinsip kebenaran-Nya. Keadilan Tuhan adalah sempurna, utuh, tidak bercacat cela, artinya semua yang Tuhan rencanakan, putuskan dan kerjakan selalu berada pada koridor keadilan. “Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.” (Mazmur 111:7-8).

Wujud nyata keadilan Tuhan adalah Ia mencintai kebenaran dan membenci kefasikan. Oleh karena itu “TUHAN menguji orang benar dan orang fasik,” (Mazmur 11:5). 1. Mencintai kebenaran. “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” (Mazmur 34:16). Artinya Tuhan sangat memperhatikan dan mengasihi orang-orang yang hidup dalam kebenaran, dan Ia akan memberikan upah atau reward kepada mereka. “Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci,” (Mazmur 18:25-27). Tidak ada yang sia-sia untuk tetap berlaku benar di tengah dunia yang dipenuhi kejahatan ini. Meski manusia tidak melihat dan tidak menganggapnya tapi di atas takhta-Nya yang kudus Tuhan selalu memperhitungkannya. 2. Membenci kefasikan. Tuhan sangat menentang segala bentuk kefasikan, karena itu Ia tidak akan membiarkan setiap pelanggaran dan dosa berlalu begitu saja dari hadapan-Nya, tetapi Ia akan mengganjarnya dengan hukuman…ini bukti bahwa Ia adalah Tuhan yang adil dan tidak bisa dipermainkan! “…semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.” (Mazmur 145:20)

Jelas sekali bahwa Tuhan akan mengganjar setiap dosa dan kejahatan yang diperbuat manusia dengan hukuman yang setimpal, sebaliknya Ia akan mengapresiasi dengan memberikan upah untuk setiap kebenaran dan perbuatan baik yang dilakukan.

“…Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Mazmur 51:6

Baca: Ulangan 32:1-14


Kamis. TERTINDAS TETAP PUNYA INTEGRITAS

“Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku,…” Daniel 6:23

Ketika berada dalam kesulitan, tekanan atau masalah berat biasanya orang mudah sekali melupakan Tuhan, karena mata jasmaninya hanya tertuju kepada besarnya masalah. Daniel adalah salah satu tokoh besar di Alkitab yang pernah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Kala itu para pejabat tinggi pemerintahan Darius berusaha mencari alasan untuk menuduh dan menyalahkan Daniel dengan meminta raja mengeluarkan surat ketetapan: melarang semua orang menyembah Tuhan, dewa atau manusia lain kecuali kepada raja, dan bagi yang melanggar akan dilem-parkan ke gua singa.

Siapa Daniel? Adalah tawanan perang yang ditangkap Nebukadnezar yang bersama dengan orang-orang Yahudi dari golongan atas lainnya diangkut ke Babel untuk dididik dan diperkerjakan di pemerintahan; Daniel bekerja di bawah pemerintahan raja Nebukadnezar, Belsyazar dan Darius dari tahun 605-536 SM. Dalam bahasa Ibrani nama Daniel berarti Tuhanlah hakimku. Mendengar surat perintah raja, Daniel tidak takut atau gentar sedikit pun melainkan tetap menjaga integritas rohaninya. “Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11). Apa yang diyakini dan dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Ia percaya tidak ada yang layak disembah dan ditinggikan selain Tuhan yang hidup, yang duduk di atas takhta-Nya yang kudus di dalam Kerajaan Sorga. Sesuai arti namanya Daniel berkeyakinan bahwa Tuhanlah hakim yang adil, pasti sanggup menegakkan keadilan di tengah ketidakadilan.

Begitu melihat Daniel sedang berdoa kepada Tuhannya segeralah orang-orang melaporkan kepada raja, sehingga raja pun terpaksa melaksanakan ketetapannya: melemparkan Daniel ke gua singa. Selama Daniel berada di gua singa “…pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.” (Daniel 6:19), karena membayangkan hal-hal buruk menimpa Daniel. Apa yang dikuatirkan raja tak terjadi! Karena Tuhan benar-benar telah menjadi hakim yang membela perkara Daniel.

Pembelaan Tuhan benar-benar nyata bagi orang yang berintegritas!

Baca: Daniel 6:1-29

 


Jumat. BERHARAP HANYA KEPADA TUHAN

“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:” Ratapan 3:21

Keterbatasan adalah milik manusia, “…sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22), sedangkan ketidakterbatasan adalah milik Tuhan, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9). Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di depannya, berbeda dengan Tuhan yang Mahatahu, mengetahui apa yang bakal terjadi dalam hidup ini. “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita…” (Ulangan 29:29).

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak berharap kepada manusia atau sesama, tetapi menaruh pengharapan sepenuhnya hanya kepada Tuhan sebab Dia adalah penguasa tunggal alam semesta ini dan semua perkara berada dalam kendali tangan-Nya yang kuat dan perkasa. Bapa kita yang di sorga, Ialah “…yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45). Dengan kata lain kalau Tuhan juga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan tidak benar, bukankah Tuhan akan lebih memperhatikan anak-anak-Nya yang senantiasa berharap kepada-Nya? “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8).

Semakin banyak orang tergoncang karena mendengar dan melihat keadaan ekonomi dunia yang memburuk. Dunia boleh mengalami krisis, tetapi orang percaya tidak perlu takut, sebab “…kita menerima kerajaan yang tidak tergon-cangkan,” (Ibrani 12:28).

Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan Tuhan adalah ja-minan kita, asal kita percaya dan mempercayakan hidup hanya kepada-Nya. “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;” (Mazmur 37:5).

Bagi orang percaya “…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:18
Baca: Ratapan 3:21-26


Sabtu. MASIH TERTUTUPI SELUBUNG

“…jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2:7-8

Menjadi terang dunia adalah kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya! Menjadi terang berarti mampu memancarkan sinar terang bagi orang lain. Namun banyak orang Kristen belum menjalankan fungsi seperti yang Tuhan kehendaki, tidak dapat menyinarkan terang kepada orang lain, padahal firman-Nya jelas mengatakan: “Demikianlah hendaknya terang-mu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Mengapa kita tidak bisa memancarkan terang? Karena di dalam diri kita masih ada selubung-selubung yang menghalangi sehingga terang Ilahi tak bisa memancar keluar. Selubung-selubung itu adalah perbuatan-perbuatan dosa yang masih dilakukan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Selama kita masih hidup dalam dosa, tidak menunjukkan keteladanan hidup, kita tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain. Percuma fasih berbicara tentang firman Tuhan jika perbuatan kita tidak berpadanan dengan firman itu sendiri, justru hanya akan menjadi batu sandungan atau cemoohan orang lain, karena menjadi terang berbicara tentang keteladanan hidup (ayat nas). Kalau kita sudah menunjukkan teladan hidup maka orang lain tidak akan punya alasan untuk mempermalukan kita, “…karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (ayat nas).

Terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, maka “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.” (Efesus 5:12). Dengan demikian kehidupan kita benar-benar menjadi teladan yang bisa diartikan sebagai contoh, patokan, atau pola, sehingga nama Tuhan pun dipermuliakan.

Pelita yang padam pasti tidak akan berguna, demikian pula kehidupan orang Kristen yang tak memancarkan sinar Kristus!

Baca: Titus 2:1-10


Minggu. KUNCI BERSUKACITA: Buang Rasa Kuatir

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4:4

Tak terbantahkan bahwa hari-hari ini banyak orang mengalami kekuatiran dalam hidup disebabkan keadaan dunia yang serba tidak menentu dan penuh goncangan-goncangan di segala aspek. Karena dikuasai oleh kekuatiran hilanglah sukacita dalam diri seseorang, mungkin mulut masih bisa tertawa atau tersenyum, tetapi sesungguhnya hati bisa saja merana. Kekuatiran adalah pencuri sukacita terbesar!

Rasul Paulus menasihati, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (ayat 6). Sesungguhnya Paulus memiliki 1001 alasan untuk kuatir dan tidak bersukacita, karena pada saat itu ia sedang berada di dalam penjara dan juga menunggu eksekusi hukuman mati yang akan dilaksanakan terhadapnya. Belum lagi ia mendengar kabar bahwa di gereja Efesus terjadi perpecahan di antara para pemimpin rohaninya. Kesemuanya itu berpotensi membuatnya tidak bersukacita, tetapi ia justru dapat berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (ayat nas). Apa rahasia hidup Paulus yang dalam kondisi sangat memprihatinkan tetap mampu bersukacita? Bersukacita atau tetap kuatir adalah sebuah keputusan, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7). Paulus membuat keputusan untuk tidak mau dikuasai oleh kekuatiran karena ia tahu bahwa kekuatiran bukan hanya akan mematahkan semangat di dalam diri, tetapi juga akan menguras energi/staminanya.

Bukankah hati yang tidak bersukacita memicu terciptanya berbagai penyakit alias mengganggu kesehatan kita? Kekuatiran benar-benar hanya akan menarik kita ke arah berlawanan, menjauh dari sasaran yang hendak kita tuju sehingga fokus kita pun terpecah-belah. Itulah sebabnya Paulus tidak mau dikuasai oleh kekuatiran. Hal ini bukan menunjuk pada sikap menolak atau melarikan diri dari perasaan yang sedang dialaminya, tetapi suatu sikap yang tidak ingin dikuasai atau digerogoti oleh kekuatan yang sedang terjadi.

Berdasarkan pengalaman dan survei: apa yang kita kuatirkan itu kebanyakan tidak pernah terjadi, rugi sekali bila kita terus diliputi rasa kuatir!

Baca: Filipi 4:4-9

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Orang yang memahami bekerja dari sudut pandang Tuhan akan memiliki etos kerja yang berbeda dengan mereka yang bekerja hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun karier, sekedar menyalurkan hobi, mengumpulkan kekayaan, ataupun alasan lainnya.  Pandangan yang keliru dalam memaknai arti bekerja akan berpengaruh kepada produktivitas seseorang. Pada bahan kali ini, kita mau melakukan kehendak Tuhan melalui pekerjaan/produktivitas sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

PERMASALAHAN

Tuhan menghendaki perspektif kita tentang bekerja tidak sama dengan dunia. Ia mau supaya dunia bisa melihat kasih dan kebaikan-Nya melalui aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan. Kita dipanggil sebagai utusan Kristus yang menerapkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah di dunia. Jika kita  tidak melakukannya, maka dunia tidak bisa melihat Kristus melalui kita. Hal-hal yang membuat kita jadi batu sandungan bagi dunia misalnya: kualitas kerja yang buruk, tidak produktif, sering telat/bolos,  malas, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan pribadi, serakah, suka berbantah dengan boss dan rekan sekerja, tidak jujur, perkataan dolak-dalik, suka menunda pekerjaan, dlsb.

SOLUSI

  • Bekerja/memberikan pelayanan tidak hanya dilakukan dalam gereja lokal/komunitas orang percaya, tetapi di manapun kita berada: di rumah/keluarga, tempat kerja, keluarga besar, lingkungan pertemanan, sekolah, dan masyarakat. Anggaplah tempat-tempat itu sebagai ‘ladang’ untuk kita menerapkan prinsip Kerajaan Allah, dan kesempatan untuk menabur benih kasih Tuhan serta nilai-nilai kebenaran.
  • Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa sikap/perilaku dalam bekerja yang wajib kita bangun:

a. Memiliki Integritas.

Entah sebagai karyawan ataupun atasan, belajarlah untuk memiliki integritas walau tidak ada yang mengawasi, melihat atau memberi pujian. Sikap yang berintegritas yaitu berkomitmen dan konsisten untuk menjaga nilai, prinsip serta tindakan profesional. Jujur, bertanggung jawab, menjaga etika, disiplin, tidak menjalankan agenda pribadi, tidak menyalahgunakan jabatan/posisi/kekuasaan, serta menghormati/menghargai orang lain. Ingatlah, baik hamba maupun tuan, kedua-duanya adalah hamba Kristus.

b. Dapat dipercaya.

Menjadi orang yang dapat diandalkan untuk melakukan tugas/tanggung jawab secara profesional, dapat menjaga informasi penting/bersifat rahasia, tepat waktu, menepati janji, dsb.

c. Bekerja keras.

Memiliki semangat dan kemauan tinggi untuk mencapai target, tekun, tidak mudah putus asa/menyerah saat menghadapi masalah, terus menggali potensinya, memperbesar kapasitas dengan menambah pengetahuan/wawasan, meningkatkan ketrampilan, bersedia mengambil risiko, memiliki inisiatif/proaktif, melakukan tugas/pekerjaan dengan excellent, do extra mile, dan terus berusaha untuk memberi yang terbaik dari kemampuan yang dimilikinya.

  • Menemukan panggilan hidup melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan. Salah satu tujuan kita diselamatkan adalah untuk melakukan panggilan Tuhan (Efesus 2:10). Menemukan panggilan bukanlah suatu yang instan, melainkan proses yang dirintis oleh Tuhan sejak kita lahir (sekalipun saat itu kita belum mengalami kelahiran baru), dan terus berkembang seiring dengan proses pertumbuhan iman dan pengalaman kita bersama Tuhan.
  • Dalam mengenali panggilan kita, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
    1. Hati yang terbeban, yaitu dorongan yang kuat terhadap suatu hal atau bidang, di mana Tuhan menaruh kerinduan/visi-Nya yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu.
    2. Kemampuan, mencakup: karunia rohani, karunia natural/bakat alami, pengalaman dan ketrampilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
    3. Kepribadian, menolong kita untuk mengembangkan diri, meningkatkan kinerja dan membangun hubungan interpersonal serta kolaborasi dengan tim/rekan sekerja.

REFLEKSI

  • Apakah pekerjaan kita mencerminkan penyembahan kepada Tuhan?
  • Apa kegiatan/aktivitas pribadi kita suatu produktivitas yang memuliakan Allah?

PENUTUP

Jadikan Tuhan Yesus menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan kita, maka semua buah pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan pasti memancarkan pikiran dan isi hati Allah. Selama pelayanan di muka bumi, Yesus  memberikan teladan bagi kita untuk memberi yang terbaik, melakukan segala sesuatu dengan segenap hati dan ketulusan semata-mata karena kasih. Tidak mengejar reputasi, mencari keuntungan/kepentingan sendiri, ketenaran, atau puji-pujian yang sia-sia. Belajarlah untuk mencari perkenanan Allah dan bukan manusia, maka kita akan rela melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.

JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

Senin. JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

2 Timotius 1:7

Memperhatikan situasi seperti sekarang ini, dengan berbagai perubahan dan kondisi yang terjadi, hampir semua orang mengalami ketakutan: takut tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya, takut tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, takut mengalami kegagalan, takut menghadapi hari esok dan sebagainya.

Ketakutan adalah tanggapan emosi terhadap ancaman, suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Dari sudut psikologi ketakutan adalah wajar, salah satu emosi dasar manusia selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan. Namun ketakutan akan menjadi masalah besar bila dibiarkan berlarut-larut atau berkepanjangan, karena ketika kita terus dikuasai olehnya, sukacita dan damai sejahtera kita akan terampas. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (ayat nas).
Artinya rasa takut bukanlah berasal dari Tuhan, karena itu sebagai orang percaya tidak seharusnya kita hidup dalam ketakutan. Sekalipun berada di tengah dunia yang penuh tantangan ini tidak ada alasan kita takut, “…sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4); janji penyertaan Tuhan adalah jaminannya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Oleh karenanya “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10).
Di segala keadaan, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, yakinlah kita tidak bergumul sendirian, ada Tuhan beserta kita dan penyertaan-Nya itu sungguh sempurna. Agar kita tidak takut, senantiasalah dekat dengan Tuhan, sebab “Hanya dekat Allah saja aku tenang,” (Mazmur 62:2), hanya Tuhanlah yang dapat memberikan ketenteraman dan rasa aman bagi kita.
Penyertaan Tuhan adalah jaminan kita untuk tidak takut di segala situasi!

Baca: 2 Timotius 1:3-18


Selasa. WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN (1)

“Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Matius 24:44

Hal kedatangan Kristus untuk yang keduakalinya telah sering dibahas di kalangan umat Tuhan, namun penting sekali untuk terus disampaikan agar kita tidak menganggap remeh, sebab ketika mendengar tentang ‘hari’ Tuhan ini banyak orang yang bersikap skeptis (kurang percaya, ragu-ragu), tetapi ada pula orang yang berani meramalkan kapan kedatangan-Nya itu tiba. Sesungguhnya berita ini bukanlah hal yang baru, sebab sejak Kristus masih berada di bumi Ia sendiri telah memperingatkan orang-orang di zaman itu. Yang Ia tekankan bukan kapan waktu itu tiba, tapi Tuhan menghendaki agar kita dalam keadaan siap sedia.

Bila mendengar ada orang yang menyebarkan berita bahwa Tuhan akan datang pada hari, tanggal, bulan dan tahun sekian janganlah kita menjadi panik dan risau hati. Ada tertulis: “Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.” (ayat 43). Alkitab dengan jelas menyatakan dan bahkan Tuhan Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa diri-Nya tidak tahu tentang saat kedatangan-Nya (baca Matius 24:36), apalagi kita sebagai manusia. Tuhan Yesus berkata, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.” (Matius 24:27).

Jangan kita mudah disesatkan oleh berita-berita yang tidak jelas dari mana datangnya, “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya.” (Matius 24:24-26). Berpeganglah pada kebenaran Injil Kristus, jangan percaya kepada desas-desus yang bertujuan untuk melemahkan iman kita.
Jangan mudah disesatkan oleh berita apa pun, sebab segala pengajaran harus dicocokkan dengan isi Alkitab; jika tidak sesuai, maka perlu diwaspadai!

Baca: Matius 24:37-44


Rabu. WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN (2)

“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” Matius 24:4

Tuhan Yesus telah memperingatkan bahwa di hari-hari akhir menjelang kedatangan-Nya, ada banyak sekali penyesat-penyesat yang bermunculan dimana-mana, “…banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (ayat 5). Begitu pula dengan ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Injil Kristus pun kian marak dan terjadi di mana-mana.

Kata penyesat bisa diartikan orang yang penuh kebohongan atau tipu muslihat, yang melakukan segala cara dan berbagai aksi untuk mengerutkan iman, sehingga ketebalan iman orang percaya kian menipis. Yang dimaksud penyesat di sini bukan hanya sebatas oknum, namun bisa juga dipahami sebagai sistem dunia yang ditunggangi Iblis untuk menjerat orang percaya. Sedangkan kata waspada memiliki arti harafiah berhati-hati dan berjaga-jaga, atau bersiap siaga.

Kita patut mewaspadai atau menjaga diri dari jerat Iblis dalam bentuk apa pun. Ada pun rupa-rupa jerat Iblis: 1. Kemabukan, alkohol, atau narkoba. Rasul Paulus menasihati, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,” (Efesus 5:18). Ela (raja Israel), mengalami kejatuhan akibat mabuk minuman keras (baca 1 Raja-Raja 16:9). Di zaman sekarang jerat alkohol atau minum minuman keras dan juga narkoba makin hari makin marak dan banyak menelan korban, bukan hanya kalangan anak muda saja yang menjadi korbannya, tapi juga anak-anak di bawah umur dan orang-orang tua. 2. Pesta pora dan pergaulan bebas. Banyak anak muda jatuh dalam dosa perzinahan atau seks bebas karena mereka suka sekali keluyuran, dugem dan salah dalam bergaul. Alkitab mengingatkan: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). 3. Kecanggihan teknologi. Media-media teknologi sekarang ini (televisi, gadget, internet dan sebagainya) banyak sekali ditunggangi oleh Iblis dengan menyajikan hal-hal yang berbau pornografi, kekerasan dan lain-lain. Jika kita tidak kuat kita pasti akan terjerumus di dalamnya.

“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.” 2 Yohanes 1:8

Baca: Matius 24:3-14


Kamis. TEMPUHLAH JALAN TUHAN!

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:6

Untuk mencapai suatu tujuan hal yang paling kita butuhkan adalah jalan, sebab tanpa adanya jalan sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tempat yang hendak kita tuju. Begitu pula bila kita salah dalam memilih jalan akan berakibat sangat fatal dan tidak akan pernah membawa kita ke tempat tujuan, sebab “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Pemazmur menyatakan, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” (Mazmur 25:10). Sayang, tidak semua orang mau menempuh jalan Tuhan, mereka lebih memilih berjalan menurut pengertian dan kehendaknya sendiri. Pikir mereka jalan Tuhan itu penuh aturan atau rambu-rambu, “…lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13-14). Memang, jalan menuju kepada kesejahteraan dipenuhi kesulitan, dan itulah yang membuat banyak orang tidak mau menempuh jalan itu (T. Harv Eker). Ada kata bijak yang mengatakan, “You are what you believe.” Artinya apa yang kita percayai akan menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita. Jika kita percaya kepada uang maka perjalanan hidup kita akan sama seperti uang yang mengalami fluktuasi, yaitu keadaan turun naik harga; ketidaktepatan atau guncangan. Namun bila kita percaya kepada Tuhan Yesus dan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya keberadaan hidup kita akan seteguh batu karang yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai apa pun.

Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati berarti tidak lagi mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri, karena sebagai manusia kita ini penuh kelemahan, kekurangan dan keterbatasan. Mengakui Dia dalam segala laku berarti tunduk dalam pimpinan Tuhan dan berusaha untuk hidup selaras dengan kehendak-Nya.

“…sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh,…” Mazmur 143:8

Baca: Amsal 3:1-8


Jumat. BEBAN DOA RASUL PAULUS (1)

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,” Filipi 1:9
Setiap pemimpin rohani atau hamba Tuhan pasti memiliki beban doa bagi jemaat yang dilayaninya. Mereka berdoa syafaat untuk jemaat agar diberi kesehatan, disembuhkan dari sakit, diberkati dalam segala hal. Tak terkecuali rasul Paulus yang berdoa untuk jemaat di Filipi ini. Gereja Filipi adalah gereja yang dirintis oleh Paulus setelah mendapatkan penglihatan tentang orang Makedonia yang berseru memanggilnya untuk datang dan minta diselamatkan (baca Kisah 16:9). Petobat pertama di kota itu adalah Lidia, lalu diikuti seluruh anggota keluarganya. Lidia pun mengijinkan rumahnya dijadikan tempat persekutuan doa bagi orang-orang Kristen di kota tersebut (baca Kisah 16:13-15).

Rasul Paulus mengerti benar apa yang sedang dibutuhkan dan digumulkan oleh umat Tuhan, namun ia tidak semata-mata berdoa untuk hal-hal yang berkenaan dengan kebutuhan lahiriah mereka karena ada pokok doa lain yang dianggapnya lebih mulia dan lebih penting dari semuanya itu, antara lain: supaya mereka hidup dalam kasih. Menjalani hidup tanpa kasih adalah sia-sia, tak berguna, “…sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1). Ia berdoa kepada Tuhan agar jemaat di Filipi makin melimpah dalam kasih. Dengan kasih orang akan berupaya untuk lebih mengenal Kristus secara pribadi. Alkitab menyatakan bahwa “…kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5).

Saat kita percaya dan beriman kepada Kristus, Roh Kudus mencurahkan kasih Allah itu di dalam hati kita. Bagian kita, menghadirkan kasih itu dalam kelangsungan hidup sehari-hari. Jadi kasih Allah itu perlu dijaga dan diperhatikan secara seksama. Gereja Efesus dicela oleh Tuhan karena mereka telah kehilangan kasih mula-mula (Baca Wahyu 2:2-4). Meski mereka tampak tahan di tengah masalah dan penderitaan, berpegang teguh kepada ajaran yang benar dan giat melayani Tuhan, tapi mereka melakukannya tanpa didasari oleh kasih. Apa yang mereka kerjakan tak lebih dari sekedar legalitas dan rutinitas agamawi semata.

Kasih adalah aspek dasar yang harus dimiliki dan dipraktek-kan orang percaya!

Baca: Filipi 1:3-11


Sabtu. BEBAN DOA RASUL PAULUS (2)

“…sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,” Filipi 1:10

Kota Filipi adalah kota yang sangat maju dalam perdagangan dan menjadi kota terpenting di Makedonia (baca Kisah 16:12) karena letaknya yang sangat strategis kala itu. Reruntuhan kota ini masih ada sampai sekarang yaitu terletak di daerah timur laut negara Yunani. Selain sebagai kota perdagangan kota Filipi juga dikenal sebagai kota penyembahan berhala. Hal itu bisa terlihat dari kepercayaan orang-orang Filipi yang mencari kekayaan melalui tenung (baca Kisah 16:16-19), dan mereka sangat anti terhadap Yudaisme, sehingga mereka pun menangkap Paulus dan Silas lalu menjebloskan keduanya ke penjara (baca Kisah 16:20-21). Di kota itu tidak ada rumah ibadah bagi orang Yahudi (sinagoga), melainkan hanya ada satu tempat sembahyang kecil, itu pun berada di luar pintu gerbang kota (baca Kisah 16:13).

Mengingat betapa besarnya pengaruh kekafiran atau penyembahan berhala di Filipi yang dapat mengguncang iman jemaat, maka rasul Paulus menjadikan itu sebagai pokok doa. Tak henti-hentinya ia berdoa agar mereka tetap kuat di dalam Tuhan. “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus,” (Filipi 1:27). Berpadanan dengan Injil artinya selaras atau sesuai dengan Injil, tidak menyimpang dari kebenaran. Pokok doa yang dimaksud adalah: supaya mere-ka hidup dalam kekudusan. Ada tertulis: “…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Kata kudus diterjemahkan dari kata sifat dalam bahasa Yunani yaitu hagios yang menunjuk pada pengertian pemisahan atau pemotongan. Orang percaya adalah orang-orang yang telah dipisahkan keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (baca 1 Petrus 2:9). Kita harus memiliki kemauan diri untuk secara terus-menerus dipisahkan dari kehidupan dosa, dan memberi diri hidup dalam kebenaran setiap hari; itulah sesungguhnya arti kekudusan.

Orang percaya dimampukan hidup dalam kekudusan karena Kristus telah menebus dosa-dosa kita, menempatkan kita dalam kekudusan melalui korban-Nya di kayu salib.

Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (baca Ibrani 12:14).

Baca: Filipi 1:3-11


Minggu. MENYEMBAH BERHALA: Menentang Tuhan

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya…” Roma 1:25

Tuhan tegas melarang umat ciptaan-Nya menyembah berhala atau membuat patung untuk disembah. “Janganlah kamu berpaling kepada berhala-berhala dan janganlah kamu membuat bagimu dewa tuangan; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 19:4).

Secara logika saja jelaslah bahwa berhala atau patung adalah buatan tangan manusia sendiri, mungkinkah ia dapat menolong dan menyelamatkan para pemujanya? Sungguh aneh bila orang menyembah berhala atau patung dan meminta pertolongan kepadanya. Lebih mengherankan lagi ada orang yang mengaku percaya dan mengenal Tuhan Yesus namun masih juga mencari pertolongan lain kepada berhala! Ini bukan isapan jempol belaka, tapi fakta: “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” (Roma 1:21-23).

Waspadalah terhadap segala berhala! Sebab Alkitab mencatat bahwa penyembah berhala tidak akan mendapat-kan tempat di dalam kerajaan Allah: “Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9b-10). Di dalam Wahyu 21:8 juga tertulis: “…orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” (Wahyu 21:8).

Di mata Tuhan menyembah berhala adalah dosa yang sangat mematikan, sebab Ia telah berfirman, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3).
Baca: Roma 1:18-32