Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 29)
JANGAN MEMBALAS DENDAM

JANGAN MEMBALAS DENDAM

“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” Roma 12:14

Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain di tengah-tengah hiruk pikuk dunia ini. Kita pasti membutuhkan orang lain untuk saling bekerjasama dalam segala hal. Namun dalam membangun hubungan dengan orang lain acapkali kita dihadapkan pada banyak kendala atau masalah. Mengapa demikian? Karena setiap orang memiliki latar belakang dan kepribadian yang berbeda-beda satu sama lain sehingga otomatis masing-masing punya kehendak, keinginan, ide dan pendapat yang berbeda pula. Akibatnya perselisihan, ketegangan, kebencian, marah, selisih paham, kesal, jengkel, sakit hati seringkali timbul dan hal itu berujung kepada permusuhan. Banyak sekali kasus kejahatan terjadi karena dipicu permusuhan antarindividu, dan biasanya orang yang bermusuhan akan mencari cara untuk membalaskan dendamnya.

Bagaimana sikap orang Kristen dalam menghadapi situasi yang demikian? Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang telah berbuat salah, menyakiti, melukai dan memusuhi kita? Haruskah kita menganggap mereka sebagai musuh bebuyutan yang sewaktu-waktu harus kita beri pelajaran dengan memperlakukannya dengan tidak baik?

Prinsip yang dilakukan oleh orang-orang dunia terhadap musuh adalah memperlakukan musuh sebagaimana ia sudah diperlakukan, artinya ia akan berusaha membalas setimpal dengan perbuatan mereka, bahkan akan berlaku pembalasan lebih kejam daripada perbuatan. Jadi cara yang salah dalam memperlakukan orang lain yang kita anggap sebagai musuh adalah membalas dendam. Sebagai orang percaya kita tidak diperbolehkan berlaku demikian. Sikap atau pikiran untuk membalas dendam kepada orang lain sedikit pun tidak boleh berada di benak dan di dalam praktek hidup kita.

Mengapa tidak boleh membalas dendam? Ada tertulis: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;” (Roma 12:17). Tuhan melarang kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini adalah perintah Tuhan yang harus kita taati. Jika ada orang lain yang berbuat jahat kepada kita, lalu kita pun secepat kilat merancang kejahatan dan berusaha balas dendam, kita telah melanggar firman Tuhan!

Tuhan melarang kita untuk melakukan balas dendam!

Baca: Roma 12:14-21

Image source: https://biblehub.com/visuals/20/45_Rom_12_14.jpg

Latest posts:

HATI YANG PATAH

HATI YANG PATAH

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Mazmur 34:19

Penulis seringkali mendapat ‘curhat’ dari anak-anak muda Kristen yang sedang mengalami masalah. Umumnya masalah yang mereka hadapi sama yaitu perihal putus cinta, diduakan cintanya atau diselingkuhi pacar, ditolak pacar, status hubungan yang tidak jelas dan sebagainya. Kebanyakan dari mereka patah hati, sakit hati, terluka, kecewa, sedih berlarut-larut, mengurung diri di kamar berhari-hari, sulit melupakan pacar karena sudah terlanjur sayang. Ini membawa dampak yang sangat buruk: tidak konsentrasi belajar, nilai-nilai di sekolah terjun bebas, kuliah berantakan dan aktivitas-aktivitas lain pun menjadi terganggu termasuk dalam hal kerohanian. Rata-rata dari mereka berkata, “Hidupku tidak ada artinya lagi. Tuhan tidak sayang padaku.” Galau meliputi hati mereka!

Banyak para pemuda yang menempuh berbagai cara untuk melupakan rasa sakit hatinya. Sayang, sedikit dari mereka yang menempuh jalan yang benar, kebanyakan justru melakukan tindakan-tindakan yang negatif. Ada yang menumpahkan segala kekesalan hati melalui twitter/facebook dengan kata-kata yang kasar dan kurang pantas. Bahkan banyak pula yang malah lari kepada rokok, mabuk-mabukan, ‘dugem’, bahkan ada yang sampai mengkonsumsi obat-obat terlarang.

Haruskah anak-anak muda Kristen mengikuti cara-cara yang salah seperti yang ditempuh oleh anak-anak dunia dalam mengatasi luka-luka hatinya? Masalah yang ada tidak seharusnya membuat kita give up dan kian terpuruk. Seburuk apa pun situasinya, kita harus tetap move on! Bagaimana caranya? Mendekatkanlah kepada Tuhan melalui doa dan sediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firmanNya. Ayat nas menyatakan bahwa Tuhan itu sangat dekat dengan orang-orang yang patah hati. Artinya Tuhan tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita sendirian melewati pergumulan yang berat itu; Dia mengerti dan mempedulikan kita. Oleh karena itu jangan terfokus pada masalah yang ada, tapi arahkan mata kepada Tuhan.

“TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.” Nahum 1:7

Baca: Mazmur 34:1-23

Image source: https://www.bible.com/bible/377/PSA.34.19.BMDC

Latest posts:

MASALAH BERAT: Pasti Ada Hikmahnya (2)

MASALAH BERAT: Pasti Ada Hikmahnya (2)

“…bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5:3-4

Setiap masalah yang terjadi pasti ada sisi positifnya. Tidak ada masalah yang terlalu besar yang tidak dapat terselesaikan karena kita tidak sendirian menghadapinya, ada Tuhan di pihak kita. “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b). Kita harus berkeyakinan bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Oleh karena itu hadapilah setiap masalah dengan iman.

Melalui masalah, kita diajar untuk memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Acapkali ketika segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar kita melupakan Tuhan, cenderung mengandalkan kekuatan sendiri, jam-jam doa kita abaikan, ibadah pun kita anggap sebagai kebiasaan dan rutinitas belaka. FirmanNya mengingatkan, “…janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak,” (Amsal 3:5, 7). Masalah adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk menarik kita semakin mendekat kepadaNya, belajar berjalan bersama Dia dan melibatkan Dia di segala aspek kehidupan sehingga kita dapat membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap saat. Akhirnya pemazmur pun mengakui, “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Mazmur 119:67, 71). Tuhan juga memakai masalah sebagai alat uji ketekunan dan kesabaran kita, karena biasanya saat masalah datang kita semakin ogah-ogahan mencari Tuhan dan berusaha mencari solusi sendiri di luar Tuhan, bukannya makin bertekun mencariNya. Kita pun tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Namun Yakobus menasihati, “…ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:3).

Bagi bangsa Israel, perjalanan mereka di padang gurun justru memberi mereka banyak kesempatan untuk melihat dan mengalami mujizat serta kuasa Tuhan.

“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Ibrani 10:36

Baca: Roma 5:1-11

Image Source: https://www.bible.com/bible/2863/ROM.5.3-4.PBTB2

Renungan sebelumnya:

MASALAH BERAT: Pasti Ada Hikmahnya (1)

MASALAH BERAT: Pasti Ada Hikmahnya (1)

“dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?” Ayub 7:18

Masalah adalah bagian dari kehidupan manusia di dunia ini. Musa pun mengakuinya, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;” (Mazmur 90:10). Sekuat apa pun manusia dan secemerlang apa pun otak manusia takkan mampu menghindarkannya dari masalah. Tak seorang pun manusia yang masih bernafas yang akan terluput dari masalah dan pergumulan hidup meski dalam bentuk dan porsi yang berbeda-beda. Inilah nanti yang membedakan respons dari tiap-tiap orang dalam menghadapi masalah tersebut.

Umumnya orang tidak suka dihadapkan pada masalah dan kesulitan. Kita maunya hanya menerima hal-hal yang baik saja dari Tuhan dan merasa keberatan bila harus mengalami hal-hal yang tidak baik menurut penilaian kita. Namun Ayub menegur keras isterinya, “‘Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (Ayub 2:10). Sikap Ayub dalam menghadapi masalah berat yang menimpa ini berbanding berbalik atau berbeda 180 derajat dari sikap isteri. Ayub tidak menunjukkan sikap putus asa dan menyerah pada keadaan. Inilah yang patut kita contoh supaya ketika dihadapkan pada masalah kita tetap kuat dan tidak lagi mengucapkan perkataan yang negatif, apalagi sampai menyalahkan Tuhan.

Apakah Saudara mengalami pergumulan seberat Ayub saat ini? Mari belajar menyerahkan seluruh pergumulan kita kepada Tuhan dan mohon kekuatan kepada Roh Kudus supaya kita diberi kesanggupan menanggung beban yang ada. Percayalah bahwa “…Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13b). Dalam menyikapi permasalahan hidup yang terjadi ingatlah janji firmanNya: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10).

Saat diterpa masalah jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan
Baca: Ayub 7:1-21

Image Source: https://www.bible.com/id/bible/306/ISA.41.10.TB

Renungan sebelumnya:

MASALAH BERAT: Seperti Terlilit Tali Maut

MASALAH BERAT: Seperti Terlilit Tali Maut

“Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan.” Mazmur 116:3

Topik hari ini adalah gambaran tentang seseorang yang sedang berada dalam pergumulan berat karena beban dan masalah yang menimpa. Seperti inilah kondisi yang dialami oleh Daud ketika hidupnya terus berada dalam ancaman dan marabahaya oleh karena Saul yang tak pernah berhenti mengejar dan hendak membunuhnya. “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.” (Mazmur 18:5-6). Dalam keadaan tertekan dan terhimpit tak ada yang bisa dilakukan Daud selain “…berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.” (Mazmur 18:7).

Dalam keadaan demikian banyak orang memiliki kecenderungan untuk berputus asa, frustasi, stres, bahkan tidak sedikit yang kehilangan akal sehatnya sehingga tanpa berpikir panjang mereka pun berbuat nekat dengan mengakhiri hidupnya. Ada pula yang berusaha lari dari masalah dengan menjerumuskan diri kepada hal-hal yang negarif: terlibat obat-obat terlarang, ‘dugem’, pergaulan bebas dan sebagainya. Tidak jarang juga mereka berani marah dan menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang menimpa hidupnya, sepeerti yang diperbuat oleh isteri Ayub. Ketika tidak tahan dengan penderitaan dan masalah yang datang secara bertubi-tubi menimpa keluarga dan suaminya, isteri Ayub berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9).

Inilah reaksi alamiah manusia pada umumnya! Secara manusia Ayub punya banyak alasan untuk mengeluh, kecewa, putus asa atau pun menyalahkan Tuhan walaupun Alkitab menyatakan bahwa Ayub adalah orang yang “…saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:1). Seluruh harta bendanya ludes, kesepuluh anaknya mati dan Ayub pun harus menderita sakit yang sangat parah. “…dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.” (Ayub 2:7). Saat tertimpa masalah berat manusia cenderung putus asa, menyalahkan Tuhan!

Tuhan mengijinkan penderitaan melanda hidup Ayub untuk memprosesnya.

Baca: Mazmur 116:1-19

Image source: https://biblehub.com/visuals/15/19_Psa_018_006.jpg

Renungan sebelumnya:

KEMATIAN ORANG PERCAYA: Hanya Berpindah Tempat

KEMATIAN ORANG PERCAYA: Hanya Berpindah Tempat

“Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.” 2 Korintus 5:5

Cepat atau lambat kehidupan manusia pasti akan berakhir dengan kematian. Bahkan dalam perjalanan hidup sekarang ini pun manusia selalu berada dalam bahaya maut yang berujung kepada kematian, dan hal itu sewaktu-waktu bisa terjadi. Sekuat, sehebat dan sepintar apa pun manusia, tak seorang pun yang mampu lari dari kenyataan ini, yaitu pada waktunya hidup manusia akan berakhir dengan kematian. Inilah bukti nyata tentang keterbatasan manusia. Adalah fakta bahwa hidup ini memiliki awal dan akhir. Artinya segala sesuatu yang kita kerjakan dan miliki di dunia ini hanyalah bersifat sementara alias tidak abadi. Karena itu rasul Paulus mengingatkan agar kita benar-benar menggunakan waktu dan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin.

Bagi orang percaya, sesungguhnya kematian hanyalah perpindahan tempat, dari dunia yang fana ke suatu tempat yang disediakan Tuhan. “…jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” (2 Korintus 5:1). Benarkah? Inilah perkataan Tuhan Yesus: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yohanes 14:2). Jadi, seharusnya kematian bukan lagi sebagai hal yang menakutkan bagi orang percaya, sebab Tuhan sudah menyediakan tempat bagi kita di sorga, karena itu kita harus bisa berkata seperti rasul Paulus, “…mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).

Dengan berpindahnya tempat ini maka status kewargaan kita pun turut berubah dari kewargaan bumi berpindah kepada kewargaan sorga, sehingga tubuh kita yang hina pun diubahkan menjadi serupa dengan tubuhNya yang mulia (baca Filipi 2:20-21). Dengan demikian bagi kita yang percaya kepada Tuhan Yesus, kematian bukan lagi perkara yang menakutkan, melainkan suatu kebahagiaan yang kita tunggu-tunggu, karena merupakan awal dari kehidupan yang kekal dan berakhirnya penderitaan kita di dunia ini. Di tempat baru itulah kita akan bertemu dengan Tuhan Yesus.

Baca: 2 Korintus 5:1-10

KEMATIAN ORANG PERCAYA:Bukan Akhir Segalanya

KEMATIAN ORANG PERCAYA:Bukan Akhir Segalanya

“Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” 1 Tesalonika 4:14

Kematian seringkali menjadi sebuah berita yang menakutkan dan juga momok yang sangat mengerikan bagi semua orang. Itulah sebabnya tak seorang pun yang antusias, bahkan sebaliknya, merasa enggan dan berusaha menghindarkan diri memperbincangkan hal ini. Andaikata disuruh memilih antara kematian dan kehidupan, semua orang pasti akan memilih kehidupan. Namun berita buruknya, tak seorang pun dari kita yang bisa menghindarkan diri dari kematian, artinya cepat atau lambat semua orang pasti akan mengalami kematian; dan kematian itu tidak mengenal status, usia dan juga pangkat. “…tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian.” (Pengkotbah 8:8).

Berdukacita atas meninggalnya seseorang adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi, haruskah kita terus-menerus larut dalam dukacita dan kesedihan yang berkepanjangan? Jika demikian, apa bedanya kita dengan orang-orang yang belum percaya? Sebab kehidupan orang percaya itu bukanlah kehidupan yang tak berpengharapan, seperti mereka yang belum percaya itu. Begitu juga dengan kematian orang percaya bukanlah akhir dari segala-galanya, justru itu merupakan awal dari kehidupan yang sesungguhnya, sebab ada jaminan yang pasti bagi orang yang mati di dalam Tuhan Yesus.

Jika kita percaya bahwa Yesus telah mati dan bangkit, maka kita juga harus percaya bahwa kita pun akan dibangkitkan dan akan tinggal bersamaNya!

Baca: 1 Tesalonika 4:13-18

Image source: https://biblehub.com/visuals/9/52_1Th_04_14.jpg

MENUNTASKAN AMANAT AGUNG  MELALUI GEREJA LOKAL  (bagian 2)

MENUNTASKAN AMANAT AGUNG MELALUI GEREJA LOKAL  (bagian 2)

Sekilas review bahan minggu lalu :

Gereja lokal (BIC)/anggota Cool memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menuntaskan Amanat Agung. 5 point yang harus kita perhatikan dan lakukan untuk menuntaskan Amanat Agung adalah Collaborate, Pray, Mobilize, Invest, Go.

Sambungan minggu ini :

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9).

Kita diselamatkan bukan untuk melakukan agenda pribadi, melainkan hidup dalam kehendak Tuhan yang telah membeli kita darahNya yang mahal.

1. COMMISSION

Amanat Agung mencakup beberapa hal yaitu :

  • memberitakan Injil (Markus 16:15)
  • membaptis orang yang percaya kepada Kristus (Mat. 28:19b)
  • menjadi saksi Kristus/terang dan garam dunia (KPR 1:8; Markus 16:17-18)
  • menjadikan segala bangsa murid Kristus (Matius 28:19-20a)

2. CHALLENGES

Populasi dunia saat ini berjumlah sekitar 8 miliar orang. Jumlah yang besar ini menjadi tantangan bagi Gereja global/lokal untuk memberitakan Injil keselamatan dan menjangkau jiwa-jiwa  yang terhilang. Gereja lokal harus berfungsi melakukan tugas dan tanggung jawabnya untuk memuridkan jemaat. Jemaat yang dimuridkan akan kembali diutus ke dunia untuk mengemban Amanat Agung.   Apa yang tertulis di Matius 24:7-14,

“bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. (9) Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku (10) dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. (11) Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. (12) Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. (13) Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (14) Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, barulah tiba kesudahannya.”

3. COMMITMENT

Sepuluh tahun ke depan adalah masa yang begitu penting untuk kemajuan pekabaran Injil di seluruh dunia. Gereja global/lokal/tiap orang percaya dipanggil untuk memiliki komitmen memberitakan Injil secara bersama-sama!

4. CLEANSING

Orang percaya mempunyai tanggung jawab untuk bertumbuh menjadi murid Kristus yang dewasa. Orang yang bertumbuh dalam kasih karunia akan selalu hidup dalam pertobatan. Tuhan  perlu menguduskan hidup kita melalui proses sanctification agar semakin serupa dengan gambarNya. Bukan hanya semakin serupa dalam hal karakter, tapi juga menerima hati Bapa yang berbelas kasihan terhadap jiwa-jiwa.

Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu. (Mazmur 51:12-15).

Minta Roh Kudus menyingkapkan hal-hal yang tidak berkenan agar kita hidup dalam pertobatan. Hal-hal yang menghalangi kita untuk menjadi saksi yang efektif bagi Kerajaan Allah seperti kepahitan, tidak mau bertumbuh/dimuridkan, kemalasan, comfort zone, kesombongan, membanding-bandingkan keadaan kita dengan orang lain, iri hati, perselisihan, egois, Mamon, dlsb harus ditanggalkan.

Jika kita menyucikan diri dari hal-hal yang jahat, maka kita akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia dan dipandang layak untuk dipakai dalam pekerjaan yang mulia (2 Tim. 2:21). Jika hati kita sudah menjauh dari Tuhan dan kasih menjadi dingin, minta Tuhan membangkitkan kembali sukacita dan kasih yang semula karena kita telah diselamatkan dari kebinasaan.

Jangan bersikap pasif, hanya mau dilayani/menerima tapi tidak mau melayani/memberi. Talenta harus dijalankan, karunia harus dikobarkan – jangan disimpan atau hanya dinikmati sendiri. Kalau selama ini kita begitu sibuk dengan pelayanan tapi tidak terbeban menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang, minta Tuhan membangkitkan sukacita kita melihat mereka diselamatkan.

5. COURAGE

Menuntaskan Amanat Agung merupakan tugas besar yang penuh dengan berbagai tantangan, akan tetapi Tuhan telah memberikan kita kuasa untuk melakukannya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Roh Kudus memampukan kita berjalan dalam kuasa otoritas ilahi dalam menghadapi tantangan/ masa sukar serta melakukan kehendak Allah di akhir jaman. Untuk dapat berfungsi secara efektif dalam mengemban Amanat Agung, orang percaya harus menjadi murid Kristus yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

PENUTUP

Dunia hari-hari ini semakin jahat, manusia berani secara terang-terangan menentang  hukum/ketetapan Allah dengan melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri serta banyak orang. Mereka hidup dikuasai oleh hawa nafsu; akibatnya perilaku kejahatan semakin mengerikan, moral semakin bobrok dan tidak ada kasih.  Banyak orang sedang berjalan menuju kebinasaan karena tidak mengenal Tuhan Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan dan memulihkan hidup mereka. Namun demikian Allah tidak menghendaki seorangpun binasa. Kasih karuniaNya memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berbalik kepadaNya dan diselamatkan (2 Petrus 3:9; 1 Tim. 2:3-4). Itulah tugas kita bersama, menuntaskan Amanat Agung  melalui gereja lokal.

REACH ONE TO REACH EVERYONE !

HIDUP KEKAL: Mengenal Tuhan Dengan Benar

HIDUP KEKAL: Mengenal Tuhan Dengan Benar

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Yohanes 17:3

Kata mengenal bukan sekedar kita tahu siapa Tuhan kita. Mengenal merupakan suatu hubungan yang intim dan benar dengan Tuhan, yang secara otomatis disertai dengan pengalaman pribadi yang menghasilkan buah.

Buah yang dimaksudkan adalah buah pertobatan. “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8). Jika seseorang berkata bahwa ia sudah mengenal Tuhan tetapi tidak ada buah pertobatan yang dihasilkan sebagai bukti pengenalannya, maka dapat dikatakan bahwa ia belum mengenal Tuhan; dan orang yang belum mengenal Tuhan berarti belum diselamatkan. Sampai berapa lama kita harus memiliki pengenalan akan Tuhan hingga kita beroleh hidup yang kekal? Sampai selama-lamanya. Artinya suatu tindakan yang harus kita lakukan secara terus-menerus, sebab hidup kekal itu bukan sekedar berbicara tentang Kerajaan Sorga, tetapi suatu hubungan yang karib dengan Tuhan sampai selama-lamanya. Sudahkah kita memiliki keintiman dengan Tuhan secara pribadi? Semua orang bisa saja berkata bahwa ia telah mengenal Tuhan, namun hal itu tidak menjamin bahwa mereka sudah dikenal oleh Tuhan. Dikatakan,: “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” (1 Korintus 8:3). Jangan sampai kita menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun tapi pada akhirnya Tuhan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23). Jadi Saudaraku, kita bisa mengasihi Tuhan jika kita memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan.

Mari kita ingat bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik yang kita perbuat, tetapi karena kasih karunia, melalui iman kita (baca Efesus 2:8-9), di mana iman itu datang dari pengenalan akan Tuhan secara benar, melalui firmanNya. Adapun iman yang benar mempunyai dua unsur: percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan percaya kepadaNya sebagai Juruselamat. “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9).

Percaya kepada Yesus sebagai Tuhan berarti harus percaya karya penebusanNya.

Baca: Yohanes 17:1-5

SERI BANGSA ISRAEL: Mencobai Tuhan Dengan Persungutan

SERI BANGSA ISRAEL: Mencobai Tuhan Dengan Persungutan

“Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku,” Bilangan 14:22

Tak terhitung banyaknya kebaikan yang dinyatakan Tuhan kepada bangsa Israel ini. Terlebih-lebih saat Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir menuju ke Tanah Perjanjian, yang terlebih dahulu harus melewati perjalanan panjang di padang gurun. Di padang gurun inilah mujizat demi mujizat dinyatakan Tuhan secara luar biasa.

Meski demikian respons mereka terhadap kasih dan kebaikan Tuhan sungguh sangat mengecewakan, mereka terus mencobai Tuhan dengan bersungut-sungut di segala situasi sehingga mereka mati dipagut ular (baca 1 Korintus 10:9). Tuhan pun menyebutnya sebagai “…suatu bangsa yang tegar tengkuk.” (Keluaran 32:9).

Bangsa Israel tidak pernah merasa puas dengan berkat-berkat yang Tuhan berikan, di antaranya dalam hal makanan dan minuman. Meski Tuhan telah menyediakan manna mereka tetap saja tidak bisa mengucap syukur, sebaliknya keluhan dan sungut-sungut terus keluar dari mulut mereka, “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” (Keluaran 16:3). Ketika tidak ada air di Masa dan di Meriba mereka pun langsung marah kepada Musa, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Terus mencobai Tuhan menimbulkan murka Tuhan, termasuk tentang daging burung puyuh (baca Bilangan 11:4-23).

Ujian yang dialami oleh bangsa Israel di padang gurun bukan karena Tuhan jahat, tetapi Tuhan hendak membawa mereka masuk ke dalam kehidupan yang jauh lebih baik yaitu Kanaan. Sayang, saat dalam proses ini bangsa Israel menunjukkan sikap yang tidak terpuji: terus mencobai Tuhan dengan bersungut-sungut di segala situasi. Bersungut-sungut adalah suatu reaksi ketidakpuasan terhadap kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Kegagalan sebagian besar umat Israel memasuki Kanaan menjadi peringatan bagi kita supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama!

Baca: Bilangan 14:1-38