Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 28)
KIKIR

KIKIR

“Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.” Amsal 28:22

Tuhan menghendaki anak-anakNya mengikuti teladan-Nya, salah satunya adalah dalam hal kemurahan hati. Rugikah kita jika kita senantiasa bermurah hati kepada orang lain? Sama sekali tidak. Sesungguhnya, “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,…” (Amsal 11:7a).

Banyak orang Kristen yang secara materi berkelimpahan justru sulit sekali menyatakan kemurahan hatinya terhadap orang lain. Sebaliknya mereka justru semakin pelit dan kikir. Tidak mau peduli, bersikap masa bodoh atau sengaja menutup mata serta telinga terhadap rintihan
saudara-saudara seiman lain yang hidup miskin dan berkekurangan. Orang yang kikir disebut pula sebagai orang yang tamak yang terikat pada uangnya dan diperhamba oleh uang. Ia tidak berkuasa atas uangnya, tetapi uangnya berkuasa atas dirinya sehingga mengumpulkan uanglah yang menjadi tujuan dan kesenangan hidupnya. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan selalu merasa kurang untuk mengumpulkan harta dunia.

Tertulis: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” (Pengkotbah 5:9). Karena itu orang yang kikir tidak pernah merasa bahagia, sebab apa yang memenuhi hati dan pikirannya hanyalah uang, uang dan uang. Ia berusaha begitu rupa untuk selalu mendapatkan uang, tetapi sulit dan susah hati kalau harus mengeluarkan uang.

Untuk diri sendiri dan keluarga saja rasanya sayang mengeluarkan uang, apalagi untuk menabur atau mendukung pekerjaan Tuhan, yang baginya
adalah sebuah kerugian besar. Inilah prinsip hidupnya: ‘Lebih baik menerima daripada memberi’, padahal firman Tuhan menegaskan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah 20:35b). Apakah kita termasuk orang kikir? Jika jawabannya ‘ya’, maka tidak ada
pilihan lain selain harus segera bertobat, sebab kikir adalah dosa di hadapan Tuhan. Ingat, walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu (baca Lukas 12:15).

Orang kikir tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (baca 1 Korintus 6:9-10).

Baca: Amsal 28:1-28

Image Source: https://biblehub.com/proverbs/28-22.htm

Latest posts:

MELAKUKAN AMANAT AGUNG SECARA TERPADU (bagian 2)

MELAKUKAN AMANAT AGUNG SECARA TERPADU (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu :
Amanat Agung adalah pesan terakhir dan terpenting yang Tuhan Yesus perintahkan sebelum Ia naik ke surga. Tuhan ingin agar Gereja kembali pada kasih mula-mula dan mengasihi jiwa-jiwa dengan unity dan komitmen mengerahkan seluruh potensi untuk menuntaskan Amanat Agung Matius 28:19-20.

Amanat Agung mencakup beberapa hal yang harus dilakukan secara terpadu, yaitu :
1. Memberitakan Injil.
2. Membaptis orang yang percaya kepada Kristus melalui pemberitaan Injil.

Sambungan minggu ini :

3. Menjadi murid Kristus, terang dan garam dunia.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Matius 5:13-16)

Setiap kita yang tertanam di gereja lokal BIC tidak cukup hanya menjadi jemaat saja, tapi harus menjadi murid Kristus. Gereja yang dipimpin Roh Kudus akan berani mengajarkan kebenaran sejati dan tidak mengkompromikan kebenaran firman dengan mengajarkan standard budaya kepada jemaatnya.

Sebelum menyerahkan diri menjadi murid, terlebih dulu serahkan hati kita secara bulat kepada Kristus agar hidup kita dimiliki olehNya. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. (Lukas 14:33).

Murid Kristus yang dipenuhi oleh Roh Kudus mampu melawan arus dunia sehingga dapat bersaksi dengan leluasa.

Jangan menjadi garam yang tawar/tidak berguna tapi berfungsilah sebagai garam yang menebarkan kasih Tuhan serta berdampak bagi orang lain. Hendaklah terang kita bercahaya di tengah kegelapan dunia. Jangan menyembunyikan terang itu dengan menjadi serupa dengan dunia dan kompromi dengan dosa. Kalaupun mengalami tantangan, belajarlah melakukan yang benar. Memang setiap orang yang mau hidup beribadah dalam Kristus akan menderita aniaya, tapi hendaklah kita setia berpegang kepada kebenaran sampai garis akhir karena besar upah yang menanti.

Hiduplah sebagai anak-anak terang yang konsisten dan berintegritas. Jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan seperti yang dilakukan mayoritas orang dunia. Jangkau saudara seiman yang hatinya sudah jauh dari Tuhan dan yang menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah karena berbagai alasan kesibukan, perselisihan, kepahitan, dlsb. Mereka juga perlu kita layani dan muridkan.

4. Pergi dan menjadikan segala bangsa murid Kristus.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:19-20).

Pergi maksudnya ambil langkah, berbuatlah sesuatu. Mulailah memuridkan orang-orang yang Tuhan tempatkan di hidup kita. Bagaimana cara memuridkan orang lain? Tabur kasih, doakan mereka untuk mengalami Tuhan secara pribadi, bagikan nilai-nilai kebenaran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (pastikan kita juga hidup di dalam kebenaran agar tidak jadi batu sandungan), ajak mereka ikut beribadah atau bergabung dalam Cool, dlsb.

Melalui Cool kita belajar dan bertumbuh menjadi murid yang dewasa dalam iman. Berdoa minta Tuhan gerakkan hati saudara seiman dan jiwa-jiwa yang baru bertobat untuk mau dimuridkan dalam Cool. Cool merupakan wadah dimana anggota jemaat dimuridkan, dibentuk, diproses agar bertumbuh secara rohani menjadi murid yang semakin serupa dengan Kristus.

Dalam proses ini dibutuhkan komitmen dan kerendahan hati agar menghasilkan hidup yang berbuah. Adalah biasa dalam sebuah proses pemuridan kalau kita ditegur, dikoreksi, diajar serta dibimbing. Jangan menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh melalui Cool. Suatu hari nanti kita akan bersyukur dan berusukacita melihat hidup kita diubahkan dan menjadi dampak bagi banyak orang. Dimuridkan untuk memuridkan orang lain, reach one to reach everyone.

PENUTUP

Amanat Agung merupakan suatu kesatuan yang dilakukan secara terpadu. Melakukan Amanat Agung berarti melayani kehendak Allah, melayani jemaat dan orang yang belum percaya kepada Kristus. Gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Beritakan Injil kepada jiwa-jiwa yang terhilang, ajak, dorong dan doakan mereka yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus untuk dibaptis, muridkan jemaat dan orang-orang yang baru bertobat agar bisa memuridkan orang lain. Ini adalah siklus pemuridan sesuai dengan 2 Timotius 2:2

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”

 

Latest posts:

KAYA DALAM KEBAJIKAN

KAYA DALAM KEBAJIKAN

“…janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,” Yeremia 9:23

Tidak ada ayat dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya dan hidup dalam kelimpahan. Justru sebaliknya, Tuhan rindu anak-anakNya memiliki kehidupan yang berhasil dan diberkati, karena untuk itulah Dia datang (baca Yohanes 10:10b). Tuhan rindu memberkati anak-anak-Nya supaya kita menjadi berkat bagi orang lain. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19). Rasul Paulus sangat percaya hal ini.

Rasul Paulus tidak pernah memerintahkan Timotius untuk berbicara kepada orang kaya supaya mereka meninggalkan kekayaannya dan menjadi orang miskin atau hidup dalam kekurangan atau pas-pasan. Yang dimaksudkan oleh Paulus adalah agar orang-orang kaya, yang secara materi berlebihan, memiliki sikap hati yang benar terhadap kekayaan yang dimilikinya.

Paulus berkata kepada Timotius, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap
pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:17-19). Jadi, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk takut memiliki kekayaan yang berlimpah dan uang yang banyak. Yang patut diwaspadai adalah jangan sampai kita terjerat cinta uang dan kemudian hati kita melekat kepada kekayaan tersebut. “Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh;” (Amsal 11:28).

Dengan kekayaan yang ada kita memiliki kesempatan yang luas untuk berbuat kebajikan, suka memberi dan membagi, serta memuliakan Tuhan dengan harta yang kita miliki ini. Jangan sampai kita seperti orang muda yang kaya, yang lebih mencintai kekayaan daripada mengasihi Tuhan, sehingga keberatan ketika diperintahkan Tuhan untuk berbagi dengan orang-orang yang berkekurangan (baca Matius 19:21-22).

Baca: Yeremia 9:23-24

Image source: https://biblehub.com/jeremiah/9-23.htm

Latest posts:

MILIKILAH RASA CUKUP

MILIKILAH RASA CUKUP

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Ibrani 13:5

Uang tidaklah jahat, tapi cinta terhadap uanglah yang jahat. Karena cinta uang banyak orang menjadi ‘gelap mata’ dan menyimpang dari kebenaran. Mereka rela melakukan apa saja demi uang, bahkan berani menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, tidak peduli apakah itu mengorbankan orang lain atau melanggar hukum.

Memang harus diakui bahwa uang itu penting bagi kehidupan kita, tapi uang bukanlah segala-galanya karena banyak hal di dalam kehidupan ini yang tidak dapat diukur, dibeli dan digantikan oleh uang. Apakah uang bisa membeli sukacita, bahagia, ketenangan, apalagi keselamatan jiwa? Tentu tidak! Salomo, yang meskipun memiliki kekayaan yang melimpah, bahkan dikatakan bahwa “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23), mengakui bahwa berlimpahnya materi ternyata tidak menjamin kebahagiaan seseorang.

Salomo berkata, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 5:9). Ketidakpuasan ini bersumber dari cinta uang dan hati yang terfokus pada kekayaan semata. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Karena cinta uang dan hati yang melekat kepada kekayaan, seseorang tidak pernah merasa cukup, sebaliknya selalu merasa kurang dan kurang. Sebanyak apa pun uang dan kekayaan yang dimiliki tidak serta merta membuat orang merasa puas dan cukup.

Rasa puas dan rasa cukup berbicara soal hati. Bila hati kita dipenuhi ucapan syukur maka di segala keadaan kita pasti bisa berkata cukup. Cukup tidak berarti kita berhenti bekerja dan berusaha, malah berpuas diri. Kita bisa berkata cukup bila kita melihat dan menikmati apa yang telah kita terima dan dapatkan, bukan pada apa yang belum kita peroleh. Rasul Paulus menasihati kita, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12:15

Baca: Ibrani 13:5-8

Image source: https://biblehub.com/hebrews/13-5.htm

Latest posts:

UANG: Penting Namun Berbahaya

UANG: Penting Namun Berbahaya

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.” 2 Timotius 3:2a

Rasul Paulus mengingatkan Timotius sebuah fenomena yang terjadi di akhir zaman ini yaitu manusia akan mencintai dirinya sendiri, berfokus
pada diri sendiri, tidak peduli terhadap orang lain dan menjadi hamba uang. Artinya kini banyak orang diperbudak oleh uang. Mereka menempatkan uang sebagai segala-galanya dalam hidup ini. Bangun tidur yang dipikirkan uang, sepanjang hari yang diburu uang, rencana bagaimana untuk mendapatkan uang di esok hari. Ada pepatah Tiongkok kuno yang mengatakan: ‘Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang manusia tidak dapat berbuat apa-apa.’

Harus kita akui bahwa uang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab tidak ada satu pun kegiatan hidup manusia di
bawah kolong langit dan di atas bumi ini, baik itu dalam kehidupan sehari-hari sampai kepada kegiatan yang bersifat kerohanian (pelayanan atau gereja), yang tidak memerlukan uang. Semisal untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar sehari-hari saja kita membutuhkan uang yang tidak sedikit. Belum lagi jika kita menginginkan suatu kehidupan yang lebih layak lagi: sekolah yang berkualitas, les/kursus, transportasi, sarana untuk berolahraga, tidak sedikit biaya yang harus kita keluarkan. Tak terkecuali untuk melaksanakan tugas panggilan dalam pelayanan: para hamba Tuhan yang bekerja di ladang-Nya, gereja, misi penginjilan melalui media cetak ataupun elektronik, semuanya juga membutuhkan dana yang banyak.

Sejauh uang menjadi alat atau sarana menopang kegiatan hidup tidak akan menimbulkan masalah. Namun menjadi masalah jika uang sudah
mempengaruhi prinsip dan gaya hidup tiap-tiap pribadi dan juga gereja. Uang akan menimbulkan polemik bila kita cinta uang dan diperhamba
olehnya. Alkitab memperingatkan: “Janganlah kamu menjadi hamba uang…” (Ibrani 13:5), karena “…akar segala kejahatan ialah cinta uang.
Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10).
Uang memang penting, tapi akan sangat berbahaya jika kita menjadi hamba uang dan cinta uang!

Baca: 2 Timotius 3:1-9

MENCAPAI GARIS AKHIR (2)

MENCAPAI GARIS AKHIR (2)

“Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang
semula.” Ibrani 3:14

Masih terlihat banyak orang Kristen yang bersikap santai dan tidak menunjukkan kesungguhannya dalam mengiring Tuhan, padahal tahu
bahwa hari-hari ini adalah jahat, kita diingatkan: “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal,
tetapi seperti orang arif,” (Efesus 5:15).

Mengapa kita harus memperhatikan hidup dengan saksama? Karena “…Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang
mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Iblis tidak pernah senang melihat orang percaya bekerja untuk
Tuhan dan menyelesaikan tugas itu dengan baik. Ketika kita sedang menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan ini Iblis selalu berusaha
menghalangi dan menginterupsi kita dengan berbagai hambatan supaya kita tidak dapat bertahan dan akhirnya menyerah. Sikap yang harus kita
kembangkan menghadapi situasi yang demikian adalah selalu berjaga-jaga dan berdoa, “…supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh
memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok dan nanti, bahkan menit demi menit di depan tak seorang pun tahu. Oleh karena itu jangan pernah
merasa kuat! “… siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Jadi kita harus
tetap fokus dan mengarahkan pandangan kepada Tuhan supaya segala perkara yang ada di dunia ini tidak membelokkan arah langkah kita.
Ada banyak hal yang membuat orang tidak dapat memelihara iman dan mencapai garis akhir dengan baik: cinta uang, lebih mengasihi harta
kekayaan, tergiur jabatan dan popularitas, serta disibukkan oleh perkara-perkara duniawi lainnya sehingga mereka rela meninggalkan Tuhan dan mengorbankan keselamatan yang telah diterimanya.

Mari kita semakin giat bekerja untuk Tuhan selagi hari masih siang, karena jika malam sudah datang, kita tidak lagi dapat bekerja!
“Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang
yang terakhir.” Lukas 13:30

Baca: Ibrani 3:7-19

Image source: https://biblehub.com/hebrews/3-14.htm

Latest posts:

MENCAPAI GARIS AKHIR (1)

MENCAPAI GARIS AKHIR (1)

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” 2 Timotius 4:7

Saat ini kita hidup di penghujung zaman, di mana tanda-tanda kedatangan Tuhan kali kedua sudah tampak nyata dan akan segera di genapi. Langit dan bumi akan segera berlalu dan Tuhan akan datang menjemput umatNya. “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.” (1 Yohanes 2:18). Mampukah kita bertahan sampai garis akhir? Ataukah kita akan berhenti di tengah jalan dan kemudian menyerah? “Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.” (Ibrani 10:39). Setiap orang percaya pasti mencapai garis akhir asalkan dapat menyelesaikan setiap tugas yang Tuhan percayakan dengan baik.

Alkitab menyatakan waktunya sudah teramat singkat. Di waktu yang singkat ini apakah kita lebih baik tidak usah bekerja sampai menunggu Tuhan datang menjemput kita? Atau sebaliknya, lebih giat lagi bekerja karena waktu yang tersedia tinggal sedikit saja? Justru di waktu yang sangat singkat ini kita harus mempergunakan kesempatan secara maksimal dan mempersiapkan diri: memperbaiki yang tidak benar dengan meninggalkan segala kefasikan, dan semakin berapi-api melayani Tuhan hingga mencapai “…kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13-15).

Waktu yang sisa ini hendaknya kita gunakan sebaik mungkin, dengan demikian kapan pun Tuhan datang kita sudah dalam keadaan siap sedia. Rasul Paulus penuh keyakinan menantikan mahkota yang telah disediakan baginya karena ia telah menyelesaikan pertandingannya dengan baik.

Mahkota disediakan Tuhan bagi setiap orang percaya yang dapat menyelesaikan tugas sampai garis akhir.

Baca: 2 Timotius 4:1-8

Latest posts:

MEMBAYAR HUTANG KASIH

MEMBAYAR HUTANG KASIH

“Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.” Roma 8:12

Sebagai orang percaya kita adalah orang-orang yang berhutang kepada Tuhan. Hutang yang dimaksud bukan dalam pengertian daging, tetapi kita berhutang kepada Roh yaitu supaya kita hidup oleh Roh. “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13). Apabila kita tidak mengasihi sesama, kita dikatakan telah berhutang kepada sesama. Begitu pula bila kita tidak mengasihi Tuhan dengan sungguh, maka sesungguhnya kita adalah orang yang berhutang kepada Tuhan.

Dahulu kita adalah orang berdosa, berarti kita berhutang kepada dosa, sehingga kita harus menjadi hamba dosa. Namun sekarang, kita “…telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:18), oleh sebab Kristus telah lunas membayar surat hutang dosa kita di kayu salib, bukan dengan emas atau perak, tetapi dengan darahNya sendiri (baca 1 Petrus 1:18-19). Rasul Paulus menulis: “dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” (Kolose 2:14, 15).

Jadi sekarang, bagaimana caranya kita membayar hutang itu? Yaitu dengan cara mengasihi sesama kita sama seperti kita mengasihi Tuhan. Mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan secara mata jasmani tidak mungkin dapat kita lakukan, namun dapat kita lakukan dengan cara beribadah kepadaNya dengan sungguh dan mengasihi sesama kita. “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20). Jadi mengasihi sesama adalah bukti bahwa kita ini berasal dari Allah dan mengenal Allah.

“… semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Yohanes 13:35
Baca: Roma 8:12-17

Image Source: https://www.bible.com/id/bible/306/JHN.13.35.TB

Latest posts:

MELAKUKAN AMANAT AGUNG SECARA TERPADU (bagian 1)

MELAKUKAN AMANAT AGUNG SECARA TERPADU (bagian 1)

PENDAHULUAN

Amanat Agung adalah pesan terakhir dan terpenting yang Tuhan Yesus perintahkan sebelum Ia naik ke surga. Gereja perlu mengingat kembali dan melakukan dengan sungguh menuntaskan amanat Agung menjelang kedatangan Tuhan yang ke dua kali. Tuhan ingin agar Gereja kembali pada kasih mula-mula dan mengasihi jiwa-jiwa dengan unity dan komitmen mengerahkan seluruh potensi untuk menuntaskan Amanat Agung Matius 28:19-20.

ISI

Amanat Agung mencakup beberapa hal yang harus dilakukan secara terpadu, yaitu :

1. Memberitakan Injil.

Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Markus 16:15).

Ada beberapa cara untuk memberitakan Injil kepada orang lain :

a. Pendekatan personal.

Pendekatan personal berarti disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari orang yang kita layani. Saat kita digerakkan untuk melayani seseorang, minta Roh Kudus bekerja melalui kita agar orang tersebut mengalami Kristus secara pribadi. Jangan bersikap menghakimi, melainkan kenakan kasih untuk memberitakan kebenaran. Berdoa supaya Roh Kudus memberikan roh hikmat marifat untuk berkata-kata dan bertindak. Jangan sok tahu dan berjalan dengan pengertian sendiri, andalkan Roh Kudus karena Ia yang paling tahu bagaimana kondisi orang tersebut dan apa yang paling dibutuhkannya.

Belajar dari Tuhan Yesus yang tidak menghakimi perempuan Samaria ketika Ia bercakap-cakap dengannya. Tuhan melakukan pendekatan personal dan menuntun perempuan tersebut mendapatkan apa yang dia butuhkan yaitu Air Hidup. Kasih dan kebenaran mengubah hidup perempuan itu secara radikal – dari yang suka kawin cerai dan berzinah, menjadi seorang yang memberitakan Injil kepada orang-orang Samaria di kotanya. Jika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus, maka segala sesuatu akan berjalan dalam ketepatan dan memberi dampak.

b. Kesaksian hidup kita.

Kita membagikan pengalaman atau perbuatan ajaib yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Miliki motivasi hati yang benar dalam menyampaikan kesaksian agar tidak mencuri kemuliaan Tuhan. KitKesaksian yang kita bagikan tidak hanya tentang pertolongan Tuhan yang hebat dan dahsyat saja, tapi bisa juga menyaksikan kasih/kesabaran Tuhan yang menuntun kita kepada pertobatan. Jangan malu/gengsi untuk membagikan kesaksian semacam ini agar orang lain juga dapat belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan dan bertobat.
Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu (Maz. 51:14-15).

c. Pengutusan Misi.

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:37-38).

Kita pasti sudah sering berdoa untuk jiwa-jiwa yang terhilang, tapi itu saja tidak cukup. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Gereja lokal harus terlibat secara aktif dalam pengutusan misi. Minta Tuhan bangkitkan orang-orang yang mau diutus untuk memberitakan Injil, baik itu ke lingkungan gereja lokal (misalnya outreach ministry, City Ministry), ke kota-kota di USA maupun bangsa-bangsa.

d. Mendukung pemberitaan Injil melalui gereja lokal dengan doa, doa keliling (doling), waktu, talenta, tenaga dan dana.

2. Membaptis orang yang percaya kepada Kristus melalui pemberitaan Injil.

dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19b).

Kita dapat mendoakan dan memberitahu teman, saudara, anak, orang yang menjadi percaya karena pemberitaan Injil atau siapa saja yang belum dibaptis, agar mereka memberi diri dibaptis sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Tuhan Yesus.
Sampaikan dan arahkan bahwa setelah dibaptis, mereka perlu beribadah secara teratur dan tertanam di sebuah gereja lokal agar mengalami pertumbuhan rohani, menjadi dewasa dalam iman dan menghasilkan hidup yang berbuah.

Bersambung minggu depan…

PEMBALASAN: Hak Mutlak Tuhan

PEMBALASAN: Hak Mutlak Tuhan

“…janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Roma 12:19

Bagi orang yang menaruh dendam atau niat pembalasan terhadap orang lain, di dalam hatinya tidak ada hal-hal yang positif, melainkan hanya rancangan-rancangan jahat. Saul menyimpan kebencian dan dendam kepada Daud oleh karena banyak orang mengelu-elukan Daud: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (1 Samuel 18:17). Karena hati Saul dipenuhi oleh rasa dendam, maka ekspresi yang keluar pun hal-hal negatif semata, baik itu melalui perkataan dan juga perbuatan. Pembalasan dendam hanya akan menciptakan penderitaan batin si pelaku.

Yusuf adalah contoh orang yang sanggup mengasihi dan mengampuni musuhnya. Meski dianiaya dan dibuat menderita oleh saudara-saudaranya Yusuf tidak menyimpan dendam sedikit pun, tapi ia malah menunjukkan kasih dan kemurahannya. “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” (Kejadian 50:20-21).

Kita tidak diperkenan membalas dendam kepada musuh karena pembalasan adalah hak mutlak Tuhan. Barangsiapa berusaha membalas dendam kepada orang lain berarti ia telah mencuri hak mutlak milik Tuhan. Pembalasan itu bukan hak kita, melainkan milik Tuhan sendiri. Yang menjadi bagian kita adalah mengijinkan Tuhan untuk menangani orang lain. Biarlah Tuhan sendiri yang bertindak karena Ia punya cara dan waktu sendiri untuk menangani masalah yang terjadi. Yang harus dilakukan adalah ini: “…jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12:20). Jadi cara tepat dalam memperlakukan musuh adalah menunjukkan kasih dan kemurahan kepadanya. “…kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:21).

Mengasihi, bermurah hati dan mengampuni musuh adalah bagian kita; bagian Tuhan adalah menyelesaikan dengan cara dan waktuNya sendiri.
Baca: Roma 12:14-21

Image source: https://www.bible.com/bible/111/ROM.12.21.NIV

Latest posts: