Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 2)
BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

Sekilas review:

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui:

a. Pembacaan dan perenungan firman.

b. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Sambungan minggu ini:

c. Belajar dari pengalaman, dan dari kesalahan diri sendiri maupun orang lain.

Awal dari transformasi rohani adalah kesadaran diri (self-awareness). Self-awareness memungkinkan individu memahami watak, mengenali pikiran dan perasaan sendiri, kecenderungan sikap/perilaku yang bisa membuat kita jatuh, kelemahan/kekurangan, kelebihan, kesalahan/dosa, kondisi/motivasi hati serta kebutuhan akan perubahan. Tanpa kesadaran diri, seseorang tidak akan menyadari kalau dirinya perlu berubah, bertobat, mencari Tuhan, menerima pemulihan dan mengalami transformasi. Self-awarness memerlukan kejujuran, kerendahan hati, pengetahuan akan firman kebenaran serta kebergantungan kepada kuasa Roh Kudus.

Penting untuk diperhatikan bahwa self-awareness yang benar harus berpusat pada Kristus dan kasih karunia Allah. Memahami identitas kita dalam DIA yang telah mengasihi kita (yaitu sebagai ciptaan baru, bangsa pilihan, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, sebagai anak-anak Allah yang telah diberi kuasa), dan apa tujuan Allah memanggil kita keluar dari kegelapan (yaitu untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia).

Hal ini penting supaya tidak terjebak dalam gambar diri yang keliru (yang menimbulkan perasaan tidak aman/feeling insecure), mengasihani diri sendiri (self-pity); atau sebaliknya menjadi sombong rohani karena memiliki kelebihan, karunia, menerima mukjizat, mengalami kemenangan atau berhasil dalam pelayanan.

Mengetahui bahwa Roh Kudus berdiam di hati kita adalah satu hal, akan tetapi menyadari kehadiran-Nya setiap saat dalam seluruh hidup kita adalah hal lain yang harus dilatih. Bahwa Roh Kudus mengerti isi pikiran, perasaan, serta mengetahui kedalaman/rahasia hati kita. Kesadaran ini mendorong kita untuk menghormati Kristus dalam hati dan jiwa (pikiran, perasaan, tindakan yang berupa perkataan dan keputusan). Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan (1 Petrus 3:15a). Kesadaran akan kehadiran Roh Kudus membawa kita senantiasa hidup dalam pertobatan, rindu untuk hidup dalam kebenaran/kekudusan dan berkenan di hadapan Tuhan.

Satu-satunya yang layak menjadi teladan bagi kita hanyalah Tuhan Yesus, sebab hanya Dia yang sempurna dan tidak pernah berbuat dosa. Namun sebagai  anggota tubuh Kristus yang saling mengasihi, kita bisa menjadi contoh bagi sesama anggota Cool dalam arti membagikan sesuatu yang bisa dipelajari: baik dari kesalahan, kejatuhan, kebodohan, kesombongan, kelemahan/kekurangan, kelebihan; dan bagaimana kasih karunia Allah menolong, memerdekakan, memulihkan dan membawa kita kepada kemenangan. Hal-hal apa yang harus ditanggalkan, dihindari, dilakukan, ditingkatkan, dlsb. Buah kehidupan kita bisa menjadi ‘benih’ dan berkat bagi orang lain; menolong mereka untuk bertumbuh dalam iman, kasih, ketaatan dan karakter.

d. Ujian iman: masalah, tantangan, penderitaan, krisis, gesekan, sakit-penyakit, dlsb.

Masalah, kesesakan/penderitaan menyadarkan kita akan keterbatasan dan kelemahan  diri. Saat mengandalkan diri sendiri atau orang lain, kita malah jauh dari berkat dan solusi. Masalah dan penderitaan mengajarkan kita hanya Tuhan satu-satunya yang bisa diandalkan sebab Dialah sumber segala sesuatu.

Allah dapat memakai masalah dan penderitaan untuk mengubah cara pandang; memurnikan, mendewasakan, dan mengokohkan iman; serta membentuk karakter kita. Kita jadi semakin bergantung kepada Roh Kudus. IA menolong kita untuk bisa meresponi masalah/penderitaan dengan benar, belajar rendah hati, belajar mengasihi dan mengampuni orang lain, bertekun dalam iman, menantikan pertolongan-Nya, serta bertindak dengan kuasa-Nya. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (dalam hal ini transformasi), bagi kita yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

e. Melalui pelayanan.

Pelayanan (dalam atau luar gereja) menolong kita untuk:

  • bertumbuh dalam mengasihi Tuhan dan sesama (saling merendahkan hati, saling melayani), belajar menundukkan diri,
  • melayani dengan motivasi hati yang benar, kudus dan tulus,
  • mempertahankan kedisiplinan rohani (membaca firman secara teratur, mezbah pribadi/ pujian penyembahan, bersyafaat untuk orang lain, menjaga kekudusan),
  • mengembangkan karunia dan talenta, melatih kepekaan rohani (melayani dalam pimpinan Roh Kudus),
  • meningkatkan skill/ketrampilan, baik dalam hal teknis maupun interpersonal (komunikasi, kerja sama/unity dalam tim, manajemen waktu, adaptasi, mengatasi masalah, dsb).

PENUTUP

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih ..Jangan berpuas diri hanya sebagai orang Kristen yang ‘dipanggil’ (sekedar pengunjung atau anggota jemaat), tetapi jadilah orang yang ‘dipilih’. Responi panggilan Tuhan dengan cara bertekun dalam proses pemuridan agar kita sampai kepada tujuan pemanggilan itu sendiri, yaitu hidup dalam kebenaran & kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia.

KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT

KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT

Senin. KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT
Baca: 1 Samuel 18:1-5

“Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.” 1 Samuel 18:3

Tak seorang pun dapat menjalani hidup di dunia ini sendirian, melainkan selalu membutuhkan orang lain, terlebih yang bisa menjadi tempat berbagi rasa di segala situasi (suka dan duka); dan orang yang bisa berbagi rasa di segala situasi bukanlah teman biasa, tapi adalah sahabat. Semua orang mengakui bahwa untuk memiliki banyak teman itu bukanlah perkara sulit, tapi untuk memiliki seorang sahabat saja tak semudah membalikkan telapak tangan. “Menjadi seorang teman adalah mudah, tapi persahabatan adalah buah yang lama berbuah.” (Aristoteles).

Kehadiran seorang sahabat dalam hidup laksana lilin kecil di tengah kegelapan, ibarat mercusuar di tengah lautan lepas. Bersyukurlah jika di zaman yang ‘gersang’ kasih seperti ini kita masih memiliki seorang sahabat! Hubungan antara Yonatan dan Daud adalah contoh ideal persahabatan sejati antara dua orang yang saling mengasihi satu sama lain. “…berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.” (ayat 1), bahkan kasih mereka melebihi kasih dari saudara kandung. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Bukti kasih dan kesetiaan Yonatan terhadap Daud adalah ketika raja Saul (ayahnya) mencoba untuk membunuh Daud, ia tetap berpihak kepada yang benar dan tetap mengasihi Daud, walaupun tindakannya ini mengandung resiko harus kehilangan hak atas tahtanya yang semestinya menjadi haknya kelak. Inilah ciri utama seorang sahabat sejati yaitu rela berkorban. Persahabatan dan kesetiaan Yonatan kepada Daud justru semakin menunjang dan memberi peluang bagi Daud untuk memperoleh tahata kerajaan yang seharusnya akan jatuh pada Yonatan.

Sulit menemukan seorang sahabat sejati seperti Yonatan di zaman sekarang! Yang ada sekarang adalah ‘kasih’ yang disertai dengan tendensi dan juga pengkhianatan demi kepentingan diri sendiri: teman tega ‘menusuk’ dari belakang, ada pula saudara kandung yang saling berkhianat oleh karena memperebutkan harta atau warisan.

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Amsal 18:24


Selasa. ORANG PERCAYA: Mewarisi Sifat Bapa

Baca: 1 Petrus 1:13-25

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih per-saudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” 1 Petrus 1:22

Dunia ini sedang menuju kepada kehancuran, dan salah satu tandanya adalah semakin merosotnya moral manusia. Alkitab sudah menyatakannya: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4).

Namun ini justru jadi kesempatan indah bagi orang percaya untuk mendemonstrasikan kasih kepada semua orang, tanpa terkecuali. Mengapa? Karena kita adalah anak-anak Allah, yang sudah seharusnya mewarisi sifat Allah yaitu kasih, sebab “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16b). Tetapi kenyataannya, terhadap saudara seiman, rekan satu gereja, sesama hamba Tuhan, masih saja kita berselisih, saling iri hati, saling benci, saling menjatuhkan, karena persaingan dalam pelayanan…

Kerinduannya yang besar terhadap hal-hal rohani mengantarkan Andreas bertemu dengan sang Mesias, Yesus Kristus, sementara saudaranya (Petrus) lebih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai nelayan. Lalu Andreas berkesempatan membawa saudaranya ini kepada Yesus, dan ketika bertemu Petrus berbicaralah Ia: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

(Yohanes 1:42), dan “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.” (Matius 16:18-19). Yesus justru berbicara banyak dan punya rencana besar bagi kehidupan Petrus, bukan Andreas. Meski demikian Andreas tidak iri hati atau cemburu.

Selama masih ada perselisihan atau iri hati berarti kita belum mengasihi dengan sungguh!


Rabu. ORANG PERCAYA: Menjadi Saksi Kristus

Baca: 1 Yohanes 1:1-4

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” 1 Yohanes 1:3

Dalam persidangan suatu perkara selalu ada yang namanya saksi. Tidak sembarang orang bisa diajukan sebagai saksi. Menjadi saksi dalam suatu persidangan haruslah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Contoh: saksi mata adalah orang yang mengetahui atau melihat dengan mata kepala sendiri suatu peristiwa atau kejadian perkara yang sedang disidangkan atau berada di TKP (tempat kejadian perkara), dan dapat menceritakan apa yang dialami, dilihat dan didengar. Ia bukan menceritakan pengalaman orang lain, atau menceritakan apa yang ia dengar dari orang lain (jadi bukan menurut kata orang).

Demikian juga ketika menjadi saksi Kristus, kita harus memenuhi kriteria atau syarat yang disebutkan di atas, seperti halnya yang dilakukan oleh rasul Yohanes yang menyaksikan apa yang dirinya sendiri alami, yang ia pegang dan ia lihat tentang Kristus. Dengan kata lain rasul Yohanes tidak memberi kesaksian akan apa yang orang lain katakan tentang Kristus sebagai suatu kebenaran, melainkan kehadiran Kristus yang ia alami sendiri di dalam kehidupannya itulah yang ia berikan sebagai kesaksian. Contoh: rasul Yohanes menjadi saksi mata ketika Kristus dimuliakan di atas gunung (baca Matius 17:1-13), juga pada saat Kristus bangkit dari kematian dan naik ke sorga ia menyaksikan semua kejadian itu, sehingga dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang saksi hidup.

Melalui kesaksiannya ini rasul Yohanes rindu orang lain dapat merasakan dan mengalami apa yang ia alami yaitu memiliki pengenalan yang benar tentang Kristus dan hidup dalam persekutuan yang karib dengan Bapa. Ada tertulis: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6). Sebagai orang percaya kita adalah saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini! Menjadi saksi kristus itu tidak diukur dari seberapa mahirnya orang berkhotbah atau seerapa sibuk ia terlibat dalam pelayanan, melainkan melalui pengalaman pribadi berjalan dengan Tuhan yang terefleksi melalui perubahan hidup yaitu memancarkan karakter Kristus secara nyata.

Sudahkah kita menjadi saksi Kristus melalui ucapan, pernyataan dan perbuatan?


Kamis. KESAKSIAN YANG BUKAN BASA-BASI

Baca: Yohanes 3:22-36

“Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Yohanaes 3:26

Yohanes Pembaptis, orang yang diutus Allah untuk mendahului Yesus Kristus, membuka jalan bagi pelayanan Kristus seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “Ada suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!'” (Yesaya 40:3; Matius 3:3). Ia adalah termasuk keturunan suku Lewi, putra dari Elisabet, dan saudara sepupu Maria, ibu Yesus (baca Lukas 1:36). Ayahnya (Zakharia) adalah seorang imam dari rombongan Abia yang bertugas di Bait Allah. Perihal masa kecil Yohanes tidak banyak dikupas di Alkitab, kecuali ketika masih dalam kandungan Elisabet, di mana ia melonjak kegirangan sewaktu Maria berkunjung ke rumah ibunya.

Secara manusia sesungguhnya Yohanes punya alasan untuk iri hati dan cemburu kepada Tuhan Yesus, karena ia yang lebih dahulu memulai pelayanan, tetapi Tuhan Yesus yang lebih sukses dan lebih populer dibanding dirinya. Inilah yang Yohanes beritakan kepada orang banyak: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Markus 1:7-8). Yohanes Pem-baptis justru menunjukkan kasih persaudaraan yang tulus dengan menghargai dan menghormati pelayanan Tuhan Yesus yang jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sebelum Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya banyak sekali pengikut Yohanes Pembaptis, tetapi setelah Tuhan Yesus melayani, banyak orang yang beralih untuk mengikuti Tuhan Yesus (ayat nas). Merasa tersaigikah Yohanes? Justru ia menegaskan: “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.” (Yohanes 3:28). Yohanes Pembaptis dengan sportif dan rendah hati menyadari siapa dirinya dan siapa sesungguhnya Yesus.

Jika setiap orang mengerti akan tugas dan panggilannya masing-masing, maka tak akan terjadi persaingan dan saling mendiskreditkan di antara saudara seiman

“Ia harus makin besar, tetapi aku (Yohanes) harus makin kecil.” Yohanes 3:30


Jumat. ORANG PERCAYA: Bukanlah Produk Massal

Baca: 1 Petrus 2:1-10

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,” 1 Petrus 2:9
Sudah menjadi rahasia umum jika manusia menilai sesamanya berdasarkan pada atribut yang melekat kepadanya: harta kekayaan, profesi, status, pangkat/kedudukan, kepopuleran dan pencapaiannya di segala bidang kehidupan. Karena itulah semua orang akan mencari cara dan bahkan rela menghalalkan segalanya untuk meraih semuanya itu dengan harapan keberadaannya di tengah lingkungan atau masyarakat diakui, dikenal, dihormati dan dihargai. Sebaliknya ketika seseorang tidak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan mereka pun menjadi sangat rendah diri (minder), karena merasa tidak berharga di mata orang lain. Ini sangat berbahaya!

Bagaimana penilaian Tuhan? Tuhan menilai manusia tidak tergantung pada apa yang terlihat secara kasat mata. Tuhan tidak melihat harta, pangkat atau embel-embel lain yang melekat pada diri manusia. “Bukan yang dilihat manu-sia yang dilihat Allah;… tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samu-el 16:7b). Mungkin Saudara sedang mengalami krisis percaya diri: “Hidupku tidak ada harganya di mata manusia, apalagi di hadapan Tuhan. Aku sangat tidak layak. Dosa dan pelanggaranku tak terhitung banyaknya seperti bintang-bintang di langit.” Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita merasa rendah diri atau minder, karena “…engkau ber-harga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4). Saat kita jatuh ke dalam dosa, Iblis memang tidak pernah berhenti untuk menuduh dan men-dakwa kita siang dan malam sehingga kita menjadi orang yang tertuduh dan tertolak. Namun tidak dengan Tuhan, Dia selalu membuka tangan-Nya dan menyambut kita setiap saat seperti Bapa yang merindukan si bungsu, karena Dia Maha pengampun dan penuh belas kasihan.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13-14). Mazmur 139:13-14). Manusia boleh saja merendahkan dan tidak menganggap keberadaan kita, namun kita tetaplah pribadi yang istimewa dan berharga di mata Tuhan.

Orang percaya adalah limited edition di mata Tuhan, bukan produk massal!


Sabtu. LAYAK DISEBUT ANAK TUHAN ATAU BELUM?

Baca: Roma 8:1-17

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Roma 8:14

Alkitab menegaskan bahwa orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Tuhan akan disebut anak Tuhan. Kebalikannya, orang yang hidupnya tidak dipimpin oleh Roh Tuhan tidak layak atau bukan disebut anak Tuhan. Yang dapat menilai dan membuat kesimpulan apakah kita ini layak disebut anak Tuhan adau bukan adalah diri kita sendiri, yaitu dengan jalan mengoreksi diri apakah selama menjalani hidup ini kita mau dan taat sepenuhnya dalam pimpinan Roh Kudus atau tidak.

Ada tertulis: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!'” (Roma 8:15a). Orang percaya yang hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus tidak lagi dipimpin oleh roh perbudakan. Namun fakta berkata lain, ada banyak orang Kristen yang mengaku diri sebagai anak Tuhan tapi mereka masih berada dalam belenggu atau diperbudak oleh dosa. Terbukti mereka masih enggan meninggalkan dosa, suka melakukan hal-hal cemar secara sembunyi-sembunyi, ada pula yang masih terbelenggu oleh adat istiadat, tradisi, jampi-jampi, feng shui, tahayul, ramalan, primbon dan sebagainya. Menjadi anak Tuhan berarti sudah terlepas secara tuntas dari kuasa kegelapan, alias tidak lagi berkompromi dengan segala hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, sebab “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;” (Kolose 1:13). Maka dari itu “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kolose 2:7).

Di zaman sekarang ini kita perlu ekstra waspada, “…supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kolose 2:8). Bagaimana caranya? Kita harus membangun fondasi hidup kita dengan firman Tuhan, dan mengijinkan Roh Kudus menjadi pemimpin dan berhak memerintah hidup kita. Jika Roh Kudus yang memimpin, “Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:3b).

Hidup anak Tuhan sejati adalah hidup menurut Roh, bukan menuruti daging!


Minggu. PENGAKUAN TUHAN ADALAH YANG UTAMA

Baca: Matius 7:15-23

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Matius 7:22

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat itu sudah cukup untuk memperoleh keselamatan, apalagi ditambah dengan keterlibatannya dalam pelayanan, lengkaplah sudah dan itu sudah pasti menyenangkan hati Tuhan. Benarkah? Tidak demikian. Keselamatan tidak berhenti sampai kita percaya kepada Tuhan Yesus saja, tetapi kita harus terus bertumbuh sampai dapat berstatus sebagai pelaku firman, sebab “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (ayat 21). Tidak ada yang lebih utama dalam hidup orang percaya selain melakukan kehendak Bapa.

Melakukan kehendak Bapa atau tidak melakukan kehendak Bapa adalah ukuran Tuhan dalam menilai hidup seseorang. “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat keja-hatan!” (ayat 23). Kata berterus terang ini dalam Alkitab King James diterjemahkan confess, atau dalam versi English Amplified diterjemahkan declare, artinya mengakui di depan umum. Pada saatnya nanti Tuhan akan mengakui di depan umum atau berterus terang di hadapan khalayak. Betapa malang dan suatu bencana yang mengerikan, jika pada hari penghakiman kelak Tuhan tidak mengakui kita, alias menolak kita. Ditolak Tuhan berarti penghukuman kekal ada di depan mata!

Orang yang tidak diakui dan ditolak Tuhan dalam ayat 21-23 ini bukanlah mereka yang tidak mengenal Tuhan Yesus, namun adalah orang-orang yang secara kasat mata tampak melayani pekerjaan Tuhan, bahkan bukan sembarangan melayani: sudah bernubuat, sudah mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat. Dengan kata lain mereka memiliki jam terbang yang tak diragukan lagi dalam pelayanan, punya reputasi (hebat, beken, terkenal) di mata manusia. Ternyata prestasi seseorang dalam pelayanan bukan jaminan beroleh pengakuan dari Tuhan atau dikenal Tuhan.

Melakukan kehendak Tuhan adalah modal dasar beroleh pengakuan dari Tuhan!

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22:14)

PENDAHULUAN

Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.  Undangan ini bukan bicara tentang Allah pilih kasih atau membatasi keselamatan hanya untuk orang/golongan/bangsa tertentu saja. Panggilan keselamatan ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali, namun hanya sedikit yang meresponi panggilan tersebut dengan sungguh-sungguh. Banyak yang dipanggil, tapi yang dipilih hanyalah mereka yang sungguh-sungguh. Panggilan bersifat umum, namun pemilihan didasarkan pada hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kesetiaan.

ISI

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan keselamatan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Cara pandang kita diubah sesuai dengan perspektif Allah; nilai/prinsip, sikap dan perilaku disesuaikan dengan nilai-nilai  kebenaran; hati dan jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar yaitu berporos pada kehendak Allah. Pemuridan menjadikan kita dewasa dalam iman dan karakter; tajam dalam skill/kecakapan untuk melakukan tugas pelayanan sesuai karunia masing-masing; dewasa dalam pemikiran, menghadapi masalah dan mengambil keputusan; dalam mengelola berkat/finansial; dalam hubungan dengan orang lain, menyikapi perbedaan, gesekan serta menghadapi orang-orang yang sulit, dlsb.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui hal-hal berikut:

1. Pembacaan dan perenungan firman.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,  sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2).

Akal budi adalah hal pertama yang harus mengalami pembaruan. Dalam membaca dan merenungkan firman,  minta Roh Kudus menerangi hati dan jiwa kita agar  mengerti kebenaran firman dan mengerti kehendak Allah secara khusus bagi kita. Dengan perenungan, firman Tuhan bukan hanya jadi pengetahuan, tapi menjadi pewahyuan/rhema yang memperbarui akal budi kita.

Pikiran/pemahaman/ cara pandang  yang keliru diluruskan, perasaan/emosi negatif disingkapkan, motivasi hati yang salah dikoreksi, hati yang keras dilembutkan, kesombongan diruntuhkan. Kita jadi mengenal cara kerja Allah dan kehendak-Nya, apa yang Dia suka dan tidak, dlsb. Firman Tuhan menjadi pelita yang menerangi kegelapan dalam hati dan jiwa, menjadi cermin rohani yang menyatakan dosa/kesalahan, menyingkapkan kelemahan/kekurangan diri yang tidak kita sadari, mengoreksi hati, dengan demikian kita diajar dan dididik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

2. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Kita tidak mampu mengerti firman dan melakukannya jika tidak ditolong oleh Roh Kudus. Meski sudah memiliki banyak pengetahuan firman, tapi kita belum tentu mampu melakukan firman menurut kehendak Allah. Pengetahuan firman tanpa hikmat pewahyuan membuat kita tidak mengerti dan tidak bisa menjadi pelaku firman; pengertian tanpa ketaatan pun sia-sia.

Permulaan hikmat ialah perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian (Amsal 4:7).

Dari segala pengetahuan firman yang kita peroleh, perolehlah hikmat/pengertian/pewahyuan/rhema. Pengetahuan firman adalah apa yang kita dapat dari sharing bahan Cool, mendengarkan khotbah di ibadah raya, dari membaca renungan,dan kelas-kelas pengajaran;  hikmat adalah penerapan dari pengetahuan firman dengan tepat, benar dan bijak. Pengetahuan (knowledge) menjelaskan ‘what’, pengertian (understanding) menjelaskan ‘how’, hikmat (wisdom) menjelaskan ‘why’.

Pengetahuan membuat kita mengerti bahwa hari ini akan hujan, hikmat membuat kita menyediakan payung. Pengetahuan membuat kita memahami bahwa lampu hijau telah berubah menjadi merah, hikmat membuat kita menginjak rem. Pengetahuan menghapal ayat-ayat firman, pengertian menolong kita mengerti makna firman, hikmat membuat kita menghidupi/melakukan firman tersebut.

Hanya Roh Kudus yang mampu menerangi hati dan jiwa kita untuk mengerti kehendak Allah melalui firman tersebut. Hanya Roh Kudus yang bisa memberi hikmat, pewahyuan dan rhema firman serta mendorong kita untuk melakukan firman.

Bersambung minggu depan …

 

 

 

UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Senin. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Baca: Amos 3:1-8

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi,” Amos 3:2

Adalah tidak mudah bagi seseorang untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak dan pimpinan Tuhan, yang terjadi justru sebaliknya yaitu maunya Tuhan yang harus mengikuti kehendak dan keinginan kita dengan cara kita, alias mendikte Tuhan. Ada tertulis: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” (Roma 9:20-21).

Bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan! Mereka dipilih di antara berjuta-juta umat manusia di muka bumi ini. Ditegaskan bahwa Tuhan hanya mengenal satu bangsa yaitu umat kesayangan-Nya, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4), bahkan disebut-Nya mereka sebagai biji mata-Nya. “Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” (Ulangan 32:10b), dan “sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya–:” (Zakharia 2:8). Bukan hanya itu… “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:16). Siapakah kita ini sehingga Tuhan memilih, memanggil dan mengangkat kita? Apakah karena kita hebat, pintar, kaya, terkenal? Tidak sama sekali, karena di luar sana masih banyak orang yang lebih dari kita. Semua itu karena anugerah Tuhan semata! Anugerah atau kasih karunia berasal dari bahasa asli khen (Ibrani) atau kharis (Yunani). Pemberian anugerah ini semata-mata adalah hak prerogatif Tuhan, sedangkan sesungguhnya manusia tidak layak untuk menerimanya. “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19b).

Meski diperlakukan istimewa oleh Tuhan mereka tidak merespons kasih Tuhan itu dengan sikap hati yang benar: memilih hidup menurut kehendak sendiri, memberontak kepada Tuhan, dan bahkan jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Karena kekerasan hati dan kedegilan mereka Tuhan pun menyebutnya sebagai bangsa yang tegar tengkuk!

Meski dikasihi Tuhan sedemikian rupa bangsa Israel tetap saja memberontak


Selasa. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (3)

Baca: Amos 3:1-8

“…sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” Amos 3:2

Sepintas kalau kita membaca Amos 3:2 ini (“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.”) Kita pasti akan bertanya-tanya: setelah Tuhan menyatakan bahwa kita ini adalah umat pilihan-Nya, kalimat selanjutnya, “…Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (ayat nas). Apa maksudnya? Seringkali kita berpikir bahwa jika Tuhan mengasihi kita dan memilih kita, Ia akan menuruti semua keinginan kita, melancarkan usaha dan bisnis kita, dan membebaskan kita dari situasi sulit dan masalah.

Tidak berarti bapa yang baik dan mengasihi anaknya menuruti semua keinginan anak, atau memanjakannya. Jika si anak melakukan kesalahan yang sangat fatal bapa pasti akan menegur, jika perlu memukulnya. “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.” (Amsal 23:13-14), dan “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anak-nya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24). Begitu pula dengan Tuhan, jika Dia menegur kita dengan keras bukan berarti Ia tidak mengasihi kita, justru bukti bahwa Tuhan sangat mengasihi umat-Nya, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:6, 8).

Melalui nabi-nabi-Nya Tuhan berkali-kali memperingatkan bangsa Israel agar mereka bertobat dan kembali ke jalan-Nya, tetapi mereka tetap saja mengeraskan hati. Di tengah kemerosotan moral bangsa Israel ini Tuhan tetap menunjukkan kasih dan kesabaran-Nya dengan mengutus Amos, seorang yang takut akan Tuhan, untuk menegur dan memperingatkan mereka. Bagaimana responsnya? Mereka malah berlaku jahat ter-hadap Amos dan mengusirnya secara terang-terangan. “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makanan-mu di sana dan bernubuatlah di sana!” (Amos 7:12).

Karena mengacuhkan teguran, Tuhan menghukum bangsa Israel dengan menyerahkan mereka ke tangan bangsa Asyur!


Rabu. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (1)

Baca: 1 Samuel 3:1-21

“Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3:10b

Nama Samuel adalah ekspresi dari bahasa Ibrani yang berarti ‘Tuhan mendengar’. Ini ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mendengar pergumulan doanya. “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.'” (1 Samuel 1:20). Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kesusahan hati yang mendalam. Ia dahulu tertutup kandungannya, mustahil punya keturunan, namun tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).

Samuel memulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli. “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” (1 Samuel 1:28). Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah pengawasan imam Eli. Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan. Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya. Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan. Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan. “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat 9). Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat nas).

Seiring berjalannya waktu “…Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.” (1 Samuel 3:19). Akhirnya Tuhan mempercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia memiliki kepekaan akan suara Tuhan.

Peka suara Tuhan tidak terjadi secara instan, tapi melalui proses bergaul karib dengan-Nya setiap waktu.


Kamis. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (2)

Baca: Yesaya 50:4-11

“Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Yesaya 50:4b

Melalui perjalanan hidup Samuel ini, kita bisa belajar bahwa langkah kesetiaan kepada Tuhan itu selalu diawali dari hal-hal yang kecil. Kalau kita setia dalam perkara yang kecil Tuhan akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang jauh lebih besar, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Pertumbuhan rohani Samuel ini akhirnya menjadi suatu kesaksian yang baik bagi seluruh umat Israel, “Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.” (1 Samuel 3:20). Samuel pun dipercaya Tuhan untuk melakukan berbagai tugas pelayanan: hakim, nabi, penasihat dan orang yang mempersiapkan raja untuk Israel.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rohani menggantikan imam Eli dengan otoritas dari Tuhan, Samuel berhasil mempersatukan bangsa Israel yang tercerai-berai karena terpukul oleh bangsa Filistin (1 Samuel 7:3). Keberhasilan pelayanan Samuel adalah dampak dari kepekaannya dalam mendengar suara Tuhan. Saudara rindu dipercaya Tuhan untuk perkara-perkara besar? Pertajam pendengaran Saudara untuk mendengar suara Tuhan seperti seorang murid yang dengar-dengaran akan suara gurunya, dan seperti domba yang peka akan suara gembalanya. Tuhan Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,” (Yohanes 10:27). Domba-domba Kristus sejati pasti mengenal dengan baik suara gembalanya karena memiliki persekutuan yang karib. Kristus adalah Gembala Agung kita, karena itu harus senantiasa mendengar suara-Nya dan taat kepada-Nya.

Tanpa memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan (seperti Daniel: “Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11)), membaca dan merenungkan firman Tuhan, mustahil kita dapat mendengar suara Tuhan.

“setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,” Yakobus 1:19

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,  imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

 

PENDAHULUAN

Orang yang percaya kepada Kristus telah diberikan identitas yang baru, yaitu sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Identitas istimewa ini diberikan bukan untuk kesombongan ataupun bersifat ekslusif, tetapi untuk dihidupi supaya dapat memancarkan kemuliaan Allah dan membagikan karya kasih-Nya kepada dunia melalui kehidupan serta perbuatan nyata (menghasilkan hidup yang berbuah), bukan hanya dengan kata-kata.

 

ISI

Identitas orang percaya sesuai 1 Petrus 2:9 adalah sebagai berikut:

1. Bangsa yang terpilih.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yohanes 15:16a).

Orang-orang percaya dipilih secara khusus oleh Tuhan bukan berdasarkan kebaikan, kesalehan, kepandaian, jasa, usaha/pencapaian, atau karena kita layak, melainkan karena anugerah kasih karunia Allah semata.

Dalam pandangan dunia, pemberitaan tentang Injil merupakan suatu kebodohan. Orang-orang yang percaya kepada pemberitaan Injil dipandang oleh dunia sebagai orang-orang yang lemah, tidak memiliki kemampuan, tidak berhikmat, bodoh, tidak terpandang, dsb. Mengapa? Karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Allah memilih mereka yang mau meresponi berita Injil Kristus dengan kerendahan hati dan iman percaya.

Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil:  menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak,  tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,  dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti,  dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,  supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:26-29).

2. Imamat yang Rajani.

Imam: bertugas memimpin umat untuk memuji menyembah Tuhan, mempersembahkan korban, mengajarkan firman, serta membawa orang lain kepada Tuhan. Iman harus selalu menjaga kekudusan agar seluruh hidup dan pelayanannya berkenan di hadapan Allah. Orang percaya memiliki tugas/tanggungjawab untuk hidup dalam kekudusan agar dapat melayani kehendak Allah, membawa orang lain menyembah DIA, menjadi pendoa syafaat/perantara/pendamai antara Allah dan orang-orang yang belum mengenal-Nya.

Raja: Orang yang diberikan kuasa dan otoritas untuk memimpin umat Allah. Orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Orang percaya memiliki otoritas rohani sebagai anak-anak Allah untuk berfungsi sebagai garam dan terang (saksi Kristus) di tengah kegelapan dunia.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Imamat yang rajani artinya imam yang mempunyai karakteristik raja. Kita dikuduskan, diberi kuasa otoritas, diangkat menjadi kepala dan bukan menjadi ekor dengan tujuan untuk melayani (bukan dilayani), menjadi pendoa, menjadi berkat; mempengaruhi dan membawa orang lain menjadi warga Kerajaan Allah (bukan dipengaruhi dan menjadi sama dengan dunia).

3. Bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.

Bangsa yang kudus artinya orang yang dipisahkan dari yang lain untuk digunakan secara khusus. Kita dipisahkan dari dunia untuk hidup bagi Allah. Bukan berarti kita semua harus melayani di gereja dan tidak boleh bekerja di dunia sekuler, tapi kita adalah hamba Allah di manapun Tuhan menempatkan kita. Meskipun berada di dunia yang gelap, cemar dan dikuasai hawa nafsu, tapi kita tidak hidup seperti dunia hidup. Kita menjadi umat kepunyaan Allah sendiri karena telah ditebus dengan harga yang sangat mahal yaitu Darah Anak Domba Allah, dan Roh-Nya berdiam di dalam kita (1 Korintus 6:19-20).

 

PENUTUP

Kita dipilih dari segala bangsa untuk menghasilkan hidup yang berbuah. Pemilihan hanya terjadi dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dalam kasih, Allah telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya  (Efesus 1:5). Fungsi anak adalah melakukan kehendak Bapa-nya dengan pertolongan Roh Kudus.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,  supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,  diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)

Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur yang benar dan menghidupi identitas sebagai bangsa pilihan, maka hidup kita pasti berbuah, lalu dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5b)

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

PENDAHULUAN

Injil bukan sekadar kabar baik yang menyelamatkan, tetapi kuasa Allah yang hidup dan aktif, yang terus bekerja mentransformasi setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Yesus tidak hanya memanggil kita untuk menerima keselamatan, tetapi untuk mengalami perubahan hidup yang nyata melalui hubungan yang taat kepada-Nya. Karena itu, Amanat Agung bukan hanya perintah untuk memberitakan Injil, melainkan panggilan untuk memuridkan —membawa orang kepada Kristus dan menuntun mereka hidup dalam ketaatan penuh kepada semua yang Dia ajarkan (Mat. 28:18–20). Melalui proses pemuridan, Injil membebaskan kita dari dosa dan ikatan, memperbarui seluruh aspek kehidupan, dan membentuk kita menjadi murid-murid Kristus yang hidup sebagai terang Allah di tengah dunia yang gelap.

ISI

Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan menyerupai dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—dan kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan semakin serupa dengan dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—kita kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup berporos pada kehendak Allah.

Untuk mengalami transformasi melalui pemuridan bukanlah perkara mudah, instan dan dangkal, namun mungkin untuk dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Diperlukan keteguhan hati untuk mengikuti proses pemuridan yang berlangsung seumur hidup. Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Menyangkal diri artinya menundukkan keinginan sendiri kepada kehendak Kristus.

Pelaksanaan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung. Perintah Agung (Great Commandment, Matius 22:37-40) berfokus pada kualitas hubungan dengan Allah dan sesama, sementara Amanat Agung (Great Commission, Matius 28:19-20) adalah perintah untuk memuridkan, membaptis, dan mengajar semua bangsa. Kasih (Perintah Agung) adalah motivasi, sementara misi (Amanat Agung) adalah demonstrasi kasih untuk membawa orang lain menjadi murid Kristus.  Keduanya tidak terpisahkan dalam kehidupan Kristen.

Tanda bahwa seseorang adalah murid Kristus:

1. Tetap di dalam firman-Nya (baca Yohanes 8:31-32).

 Kata ‘tetap’ (abide/stay) berarti memegang teguh, mendalami, menaati/menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan menerangi hati dan jiwa sehingga akal budi kita diperbarui oleh terang firman Tuhan. Selanjutnya Roh Kudus mendorong dan melatih kita untuk menjadi pelaku firman sekalipun menghadapi tantangan/aniaya, sampai  jiwa kita dimerdekakan dari hal-hal yang menghalangi untuk taat kepada Kristus. Firman Tuhan bukan lagi dipandang sebagai aturan/hukum yang membatasi kebebasan, tapi sebagai terang hidup yang menuntun kita di jalan keselamatan (Mazmur 119:105).

 2. Berbuah banyak (baca Yohanes 15:8). 

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan Bapa adalah Pengusahanya. Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur, maka kita akan menghasilkan banyak buah dengan kualitas yang baik. Kehidupan yang berbuah menandakan bahwa kita adalah murid Kristus.

3. Saling mengasihi (baca Yohanes 13:35; 1 Yohanes 3:14-16).

Saling mengasihi di sini bukanlah himbauan, tapi suatu perintah yang harus ditaati seorang murid Kristus. Kasih yang dimaksud bukanlah perasaan tapi tindakan sesuai dengan kebenaran: rela berkorban, mendahulukan kepentingan orang lain, mengampuni, murah hati, melayani tanpa bersungut-sungut, memahami dan menerima kelemahan orang lain, mengasihi orang-orang yang ‘sulit’, dsb.

4. Mengasihi Tuhan lebih dari orang tua, pasangan, anak, saudara, bahkan nyawanya sendiri (Baca Lukas 14:26).

 Tuhan Yesus tidak mengajar kita untuk ‘membenci’ orang lain, melainkan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri. Akan tetapi Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi DIA lebih dari siapapun, bahkan diri kita sendiri. Jika dihadapkan kepada dua pilihan: melakukan kehendak Tuhan atau orang tua/pasangan/anak/kerabat/orang lain, maka kita mau belajar memilih melakukan kehendak Tuhan, walau itu bertentangan dengan keinginan orang-orang tersebut.

5.  Melepaskan diri dari segala miliknya (baca Lukas 14:33).

Untuk menjadi murid Yesus dibutuhkan suatu sikap penyerahan diri (ketaatan) yang total. Belajar melepaskan diri dari segala miliknya: ego, pikiran yang mengikat, kenyamanan, harta benda, kebiasaan/kepentingan/keinginan diri sendiri, persahabatan dengan dunia, dsb – dan menempatkan Dia sebagai yang utama. Kasih karunia Allah memampukan kita untuk melepaskan diri dari hal-hal tersebut.

 

KESIMPULAN

 

Orang yang menjadi pelaku firman bisa mengajar orang lain melakukan firman Tuhan. Pemuridan yang paling efektif adalah jika orang lain bisa melihat Pribadi Kristus dan firman-Nya mewarnai hidup kita. Dengan begitu, Tuhan turut bekerja dalam segala yang kita perbuat; Ia meneguhkan firman serta kesaksian kita dengan tanda-tanda dan mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

 

Andaikata seluruh anggota Cool dan tubuh Kristus di seluruh dunia benar-benar mengalami transformasi melalui proses pemuridan, maka Amanat Agung bukan lagi dipandang sebagai beban yang berat dan mustahil dicapai, tapi sebagai buah kehidupan yang benar-benar mendampaki dunia. Di tengah krisis dan guncangan, terang kita semakin menyala dan menuntun banyak orang datang kepada Kristus.

EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

Senin. EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

Baca: 1 Samuel 7:2-14

“Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.” 1 Samuel 7:3

Latar belakang kisah ini adalah ketika bangsa Israel meninggalkan tabut Tuhan. Mereka meninggalkan tabut itu di Kiryat-Yearim dalam waktu yang cukup lama yaitu dua puluh tahun. Tabut adalah tanda yang tampak mata tentang kehadiran Tuhan di tengah umat, terbuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas murni. Kayu penaga melambangkan kemanusiaan atau kedagingan, sedangkan emas berbicara tentang Roh Kudus dan kemuliaan. Pengertian lainnya: emas juga melambangkan keilahian Kristus dan kayu melambangkan kemanusiaan-Nya. Tabut ini bentuknya kotak persegi dengan panjang 2,5 hasta, lebarnya 1,5 hasta, dan tingginya 1,5 hasta (baca Keluaran 25:10-11). Isi dari tabut Tuhan adalah buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang bertunas, dan dua loh batu yang berisi 10 hukum Tuhan.

Keberadaan tabut Tuhan itu sangat dihormati dan disakralkan oleh bangsa Israel. Sejak masa perjalanan di padang gurun tabut Tuhan itu selalu dibawa sebagai tanda penyertaan Tuhan atas mereka. Mereka pun meyakini bila tabut itu ada beserta mereka maka pasti ada jaminan kemenangan. Itulah sebabnya Salomo menulis: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1). Artinya bahwa tanpa penyertaan Tuhan dan kehadiran-Nya dalam hidup ini apa pun yang kita kerjakan hasilnya pasti tidak akan maksimal dan bahkan bisa gagal. Namun jika kita melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya ada jaminan keberhasilan untuk segala hal yang kita kerjakan.

Karena bangsa Israel telah meninggalkan tabut Tuhan itu hari-hari mereka pun dipenuhi oleh keluh kesah, bahkan mereka mulai mendua hati dengan beribadah kepada allah asing dan Asytoret. Asytoret adalah dewi cinta, kesuburan, asmara atau perang yang disembah oleh orang-orang Kanaan. Hidup menyimpang dari kehendak Tuhan, bangsa Israel semakin menderita karena ditindas oleh bangsa Filistin. (Bersambung)


Selasa. EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (2)

Baca: 1 Samuel 7:1-14

“Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ‘Sampai di sini TUHAN menolong kita.'” 1 Samuel 7:12

Karena tidak taat, bangsa Israel dipermalukan oleh bangsa lain. Karena itu Samuel menyerukan kepada mereka agar bertobat. Secara harafiah kata bertobat berarti berbalik arah dari kehidupan yang jahat kepada kehidupan yang baik, dari kehidupan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan kepada kehidupan yang seturut kehendak Tuhan, dari kehidupan yang duniawi kepada kehidupan yang rohani. “Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN.” (ayat 4).

Pertobatan adalah kunci mengalami pemulihan hidup sep-erti tertulis: “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, me-rendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14). Setelah umat Israel berbalik kepada Tuhan (bertobat) perjalanan hidup mereka tidak langsung mulus, mereka kembali dihadapkan pada ujian dan pencobaan yaitu bangsa Filistin datang menyerang, sehingga mereka pun mengalami ketakutan. Dalam keadaan tertekan umat Israel berseru-seru kepada Tuhan dan meminta pertolongan; dan Samuel pun mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan, “…maka TUHAN menjawab dia.” (1 Samuel 7:9b), dan memberikan pertolongan tepat pada waktunya. “…pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.” (1 Samuel 7:10). Setiap ujian pasti mendatangkan kebaikan, karena di balik ujian yang ada sesungguhnya Tuhan sedang mengerjakan perkara-perkara besar untuk kita, karena “Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23).

Setelah meraih kemenangan itu Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya, dan ia menamainya sebagai Eben Haezer. Kata Eben Haezer diterjemahkan dari kata Ibrani eben ‘ekhwad yang artinya batu pertolongan.

Seberat apa pun perjalanan hidup ini Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian; Dia Imanuel… Jika Dia beserta kita, pasti ada pertolongan!


Rabu. TETAPLAH TINGGAL DI DALAM KRISTUS

Baca: Yohanes 15:1-8

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Yohanes 15:4a

Melalui perumpamaan tentang pokok anggur yang benar ini kita diingatkan bahwa kunci untuk berbuah adalah ranting harus terus melekat pada pokok anggur, sebab “…ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (ayat 4b). Kristus adalah pokok anggur itu, oleh karenanya orang percaya harus tetap tinggal di dalam Kristus jika ingin mengalami hidup yang berkemenangan setiap hari. Nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, “…hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kolose 2:6b). Tetap tinggal di dalam Kristus berarti terus-menerus hidup di dalam Dia di segala keadaan dan sampai akhir hidup kita.

Alkitab menyatakan bahwa ada berkat-berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang tetap tinggal di dalam Dia: 1. Kita dibebaskan dari hukuman. Ada tertulis: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:1-2). Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus (baca Roma 6:23). Melalui karya penebusan Kristus di kayu salib, kita yang ada di dalam Dia, mengalami pemulihan kemuliaan, sebab setiap orang telah kehilangan kemuliaan Allah. Karena iman kepada Kristus kita telah dibebaskan dari hukuman maut dan dibenarkan-Nya. 2. Kita diperkenankan untuk meminta apa saja. Tuhan Yesus berkata: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7). Apa pun yang kita minta dan doakan, asal sesuai kehendak Tuhan dan di dalam nama-Nya, akan diberikan Bapa kepada kita. “…apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16b).

Jadi doa-doa orang yang tetap tinggal di dalam Kristus memiliki peluang sangat besar mendapatkan jawaban, sebab “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Asal kita tetap tinggal di dalam Tuhan tidak ada yang perlu dikuatirkan, karena berkat-berkat rohani dan jasmani pasti dilimpahkan-Nya bagi kita.


Kamis. TIDAK SIAP MENDERITA

Baca: Filipi 1:27-30

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,” Filipi 1:29
Banyak orang Kristen berpikir bahwa mengikut Tuhan pasti akan terbebas dari masalah atau penderitaan, sehingga yang ada di pikiran mereka hanya soal berkat, berkat dan berkat. Ketika fakta berbicara lain yaitu mereka dihadapkan pada kesulitan, tekanan, masalah, sakit-penyakit, keku-rangan atau krisis, mereka pun tidak bisa menerima ken-yataan. Mereka pun langsung klaim janji firman Tuhan ini: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10). Mereka kecewa dan marah kepada Tuhan, “Mana janji Tuhan?”, dan tidak sedikit yang akhirnya memilih meninggalkan Tuhan dan kembali kepada dunia karena tid-ak siap jika harus mengalami penderitaan.

Rasul Paulus menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita ini dikaruniai bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (ayat nas). Pen-deritaan adalah harga yang harus dibayar oleh pengikut Kristus sejati. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:24-25). Penderitaan yang dimaksud adalah penyangka-lan diri terhadap segala keinginan daging; memikul salib artinya setiap hari kita harus memikul ‘kematian kita’ se-bagaimana yang Paulus katakan, “…aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20).

Tuhan Yesus juga memperingatkan, “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 10:22). Penderitaan ini disebabkan kare-na dunia membenci dan menolak Kristus, maka dunia juga menolak dan membenci kita. Namun kita tidak perlu takut akan penderitaan yang akan kita alami karena Tuhan juga akan memampukan kita untuk melewati semuanya itu dan Dia akan memberikan jalan keluar (baca 1 Korintus 10:13).

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:38


Jumat. ALKITAB: Firman Tuhan Yang Hidup

Baca: Mazmur 33:1-22

“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” Mazmur 33:9

Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Ba-ru adalah buku di atas segala buku, firman Tuhan yang hidup untuk manusia, yang berlaku untuk segala zaman. Jadi isi Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri yang penuh kuasa, “…bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk men-didik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap per-buatan baik.” (2 Timotius 3:16-17).

Mengapa Alkitab disebut firman Tuhan yang hidup? Karena daripadanya kita mendapatkan makanan dan minu-man rohani. Banyak orang berpikir bahwa roti adalah satu-satunya yang dibutuhkan untuk bisa hidup. Memang benar, makanan jasmani diperlukan agar kita dapat bertahan hidup, namun ada hal lain yang diperlukan untuk membuat hidup kita lebih dari sekedar bertahan hidup. Ada tertulis: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap fir-man yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Untuk memiliki kebahagiaan, kemenangan dan kelimpahan yang sejati tidak bisa sekedar bertahan hidup, yang kita butuh-kan adalah firman Tuhan. Karena itu “…jadilah sama seper-ti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,” (1 Petrus 2:2).
Bayi yang baru lahir tidak dapat hidup tanpa susu, be-gitu pula hidup kita tidak akan dapat bertahan tanpa ‘air susu murni’ dari firman Tuhan. Seperti kita butuh makan agar tubuh jasmani dapat bertahan hidup, maka adalah se-buah realitas tak terelakkan bahwa untuk dapat benar-benar hidup kita membutuhkan firman Tuhan. Kunci men-galami kebahagiaan, sukacita, damai sejahtera yang sejati

hanya kita dapatkan di dalam Alkitab. Dengan kata lain hati manusia hanya dapat dipuaskan dengan firman Tuhan saja. Juga kedewasaan rohani setiap orang percaya hanya dapat bertambah-tambah dan menjadi kuat hanya dengan membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan firman Tuhan saja. Sungguh bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang hidup dan berkuasa.

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Matius 24:35


Sabtu. MANUSIA MEMBUTUHKAN JURUSELAMAT
Baca: Roma 3:21-31

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” Roma 3:23

Sejak manusia pertama (Adam) jatuh ke dalam dosa, dosa telah masuk ke dalam hati semua manusia, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12). Akibat dosa, segala sakit-penyakit, kesusahan, penderitaan dan maut telah menimpa hidup manu-sia dari mula pertama hingga sampai pada akhir zaman. Manusia sudah dirusak oleh dosa, dan sejak lahirnya ia telah dicemarkan oleh dosa seperti Daud katakan, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7). Dosa yang dibawa dalam kelahirannya itulah yang disebut dosa pusaka atau dosa asal.

Karena dosa, manusia kehilangan kemuliaan Tuhan, sehingga dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya manusia cenderung berbuat dosa atau melakukan hal yang jahat. Pau-lus menyadari ini: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” (Roma 7:15). Dalam perkembangannya dosa semakin bertambah-tambah dan merajalela dalam kehidupan manusia. Zaman sekarang ini sudah tampak nyata: kriminalitas dan segala sesuatu yang amoral semakin hari semakin meningkat drastis. Dengan kekuatan sendiri manusia tidak mungkin bisa melepaskan diri dari kuasa dosa walaupun ia seorang nabi, guru besar, kanjeng, raja atau ahli filsafat sekalipun. Dalam keadaan seperti itu sesungguhnya manusia memerlukan Juruselamat yang bisa membebaskan mereka dari segala dosanya.

Juruselamat haruslah orang yang suci dan bebas dari dosa, orang yang harus lebih berkuasa dari manusia dan Iblis. Dia-lah Yesus Kristus, Anak Manusia, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21). Namun sampai hari ini tidak semua orang mau percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebaliknya mereka menolak dan membenci Dia secara terang-terangan, bahkan berita Injil pun tak dianggap.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Yohanes 14:6


Minggu. TUHAN PASTI PELIHARA

Baca: Matius 6:9-13

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukup-nya” Matius 6:11

Karena anugerah Tuhan semata, perjalanan hidup yang ‘beraneka warna’ di sepanjang bulan Januari telah mampu kita lewati dan hari baru di bulan Februari siap menjelang. Penyertaan Tuhan di hari-hari lalu kiranya semakin meneguhkan iman kita bahwa janji firman-Nya adalah ya dan amin, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Tuhan tidak hanya menyertai kita, tapi Ia juga memelihara hidup kita, karena Dia adalah Jehovah Jireh yaitu Tuhan yang menyediakan kebutuhan kita dan memelihara kehidupan kita seutuhnya; tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani tetapi juga kebutuhan jasmani, karena Dia tahu bahwa kita memerlukan keduanya. Hanya kita harus ingat firman-Nya yang berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan dit-ambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Contoh: ketika Elia berada di sungai Kerit dalam masa kekeringan dan kelaparan, dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan memelihara hidup nabi-Nya itu. “Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.” (1 Raja-Raja 17:6). Pada ayat nas yang merupakan bagian dari Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus hendak mengajarkan supaya kita tidak kuatir akan kebutuhan kita hari ini, apalagi mencemaskan apa yang akan kita butuhkan pada hari esok. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34). Ingatlah selalu kisah perjalanan hidup bangsa Israel ketika berada di padang gurun, bukankah mereka dipelihara Tuhan setiap hari dengan manna, roti dari surga yang disediakan bagi umat-Nya.

Oleh karena itu “Janganlah hendaknya kamu kuatir ten-tang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Tuhan adalah sumber berkat, sumber segala-galanya bagi kita, maka dari itu marilah kita bergantung penuh kepada Tuhan hari demi hari. Jika Tuhan sudah membuka pintu berkat bagi kita tak seorang pun dapat menutupnya.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22-23

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

Sekilas review:

Amanat Agung merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Untuk itu kita perlu dimuridkan (diproses) oleh Tuhan untuk dapat menjadikan orang lain murid Kristus dan warga Kerajaan Allah. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana kita belajar taat melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Sambungan minggu ini:

Tuhan Yesus memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana hukum kasih adalah penerapan dari semua pekerjaan misi: mengasihi Allah dan sesama. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Konsep pemberitaan Injil Kerajaan Allah merupakan tema sentral dari pengajaran Tuhan Yesus. Injil artinya kabar baik; memberitakan Injil Kerajaan Allah artinya menyampaikan kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi melalui Yesus Kristus, dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Kerajaan Allah itu bukan soal lokasi, melainkan keadaan di mana kekuasaan/otoritas dan kehendak Allah dinyatakan secara penuh dalam kehidupan seseorang. Bukti bahwa Kerajaan Allah datang atas hidup seseorang adalah ketika kehendak Allah terjadi atas dirinya (Matius 6:10).

Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memuridkan orang lain/segala bangsa supaya mereka juga dapat menjadi warga Kerajaan Allah yang tunduk kepada nilai/prinsip Kerajaan surgawi dan kehendak Allah. Allah menghendaki para murid  menghadirkan Kerajaan-Nya di muka bumi di mana Kristus adalah Rajanya. Kerajaan Allah ada di antara manusia dalam bentuk iman percaya kepada Tuhan Yesus.

 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:-20-21).

Kultur Kerajaan Allah sangat berbeda dengan kultur masyarakat dunia. Menurut KBBI, kultur adalah padanan kata budaya atau kebudayaan, yang merujuk pada keseluruhan cara hidup, pikiran, perilaku, nilai, dan hasil cipta manusia yang diwariskan antargenerasi dalam suatu kelompok masyarakat, meliputi kepercayaan, seni, adat istiadat, dan kebiasaan lainnya. Untuk hidup dalam prinsip Kerajaan Allah, akal budi kita harus diperbarui oleh firman Tuhan (Roma 12:2) supaya kita memahami perkara-perkara yang di atas. Segala pemerintahan/kerajaan di dunia ini akan berlalu, tapi orang yang hidup dalam prinsip Kerajaan Allah (melakukan perintah Tuhan), tinggal tetap dan tidak akan tergoncangkan.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).

Mengapa pemberitaan tentang Kerajaan Allah menjadi fokus pengajaran Tuhan Yesus? Karena nilai/prinsip Kerajaan Allah membawa kebaikan berupa berkat-berkat kehidupan bagi umat manusia yang hidup dalam kegelapan. Allah datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan kedaulatan-Nya melawan pekerjaan Iblis. Injil Kerajaan Allah yang dibawa oleh Tuhan Yesus membawa pemulihan total (roh, jiwa, dan tubuh) di seluruh aspek kehidupan manusia:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19).

Ciri-ciri yang menandakan bahwa Kerajaan Allah hadir di dunia:

  • setan diusir (Matius 12:28).
  • Segala penyakit dan kelemahan dilenyapkan (Matius 4:23)
  • perbuatan-perbuatan Iblis (yaitu dosa dan segala ikatannya) dihancurkan (1 Yohanes 3:8).
  • Manusia dikuasai oleh kebenaran, damai, dan sukacita (Roma 14:17).
  • Orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah akan menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

 Inilah yang Allah kehendaki, yaitu Kerajaan-Nya datang di bumi melalui kehadiran Gereja/orang percaya. Amanat Agung tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan manusia, tetapi harus dengan kuasa Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8). Gereja/orang percaya perlu belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dalam kehidupan pribadi maupun secara bersama-sama.

PENUTUP

Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung di akhir jaman ini. … Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Roh Kudus memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir jaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman dan kehilangan fokus, tapi persiapkan diri untuk menyelesaikan Amanat Agung bersama-sama.

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Senin. TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Baca: Mazmur 131:1-3

“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” Mazmur 131:2

Semua orang membutuhkan ketenangan dalam menjalani hidup, namun di hari-hari ini ketenangan seolah-olah se-makin menjauh dari kehidupan manusia. Bagaimana bisa hidup tenang jika setiap hari kita mendengar dan melihat berita-berita yang mengejutkan dan aneh-aneh di surat ka-bar atau televisi. Contoh: berbagai virus penyakit kini ban-yak bermunculan, bahkan virus mematikan pun menjadi teror tak kasat mata bagi semua orang: Zika, Ebola, SARS, MERS, H7N9, HIV dan sebagainya; bencana alam terjadi di mana-mana tanpa dapat diduga datangnya, seperti banjir bandang di Garut (Jawa Barat), badai Matthew yang memporak-porandakan kota Haiti dan juga beberapa wilayah di Ameri-ka. Juga ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran bermunculan di mana-mana dan menyesatkan banyak orang. Semua situasi ini menyebabkan orang kehilangan rasa tenang, yang ada rasa gelisah dan was-was.

Menjadi orang percaya tidak berarti membebaskan kita dari semua situasi yang ada. Kita masih dihadapkan pada kesukaran, masalah dan tekanan dengan segala bentuknya, namun tidak seharusnya kita kehilangan rasa tenang. “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20). Kita tetap tenang di segala situasi apabila kita senantiasa bergaul karib atau tinggal dekat dengan Tuhan, sebab Dialah sumber ketenangan yang sejati. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batu-ku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” (Mazmur 62:2-3). Di dalam Tuhan ada harapan, ada perlindungan dan ada keselamatan yang pasti.

Jika kita berpegang teguh kepada janji firman Tuhan kita akan mampu menguasai diri dalam menghadapi apa pun, bertindak dan berpikir selaras dengan firman-Nya… saat itulah kita akan merasakan ketenangan. “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4:7b). Meningkatkan jam doa itu kuncinya!

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116:7


Selasa. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (1)

Baca: Mazmur 50:1-23
“Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!” Mazmur 50:14

Kapan Saudara mempersembahkan syukur kepada Tuhan? Banyak orang Kristen bersyukur kepada Tuhan hanya pada saat-saat tertentu yaitu ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, menerima berkat, kesembuhan, atau mengalami mujizat dari Tuhan. Sikap mereka langsung berubah begitu menghadapi masalah, kesesakan, sakit-penyakit… jangankan mengucap syukur, berdoa saja sudah malas melakukannya.

Ucapan syukur adalah sebuah kata benda abstrak, yang secara garis besar memiliki makna: grateful (berterima kasih kepada Tuhan), pleasing (menyenangkan Tuhan), atau mindful of benefits (sadar akan kebaikan, hadiah atau pertolongan). Inilah sikap hati yang harus dikembangkan dalam hidup orang percaya. Alkitab memperingatkan: “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). ‘Korban’ adalah sesuatu yang dipersembahkan, ke-hilangan, merugi dan sakit secara daging. “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18).

Sesungguhnya situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali untuk mengucap syukur, tetapi Habakuk tidak dikala-hkan oleh keadaan yang ada, ia tetap bisa mengucap syukur. Inilah yang disebut korban syukur!

Umumnya saat dalam masalah atau kesesakan tidak ada korban syukur yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang ada hanyalah sungut-sungut dan omelan seperti yang biasa dilakukan oleh umat Israel di padang gurun. Karena itulah se-bagian besar umat Israel mengalami kebinasaan di padang gurun sebelum mencapai Kanaan. Ketahuilah bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan dalam hidup kita, bahkan sehelai rambut pun jatuh adalah seijin Tuhan (baca Lukas 12:7).

Bila memahami “…betapa lebarnya dan panjangnya dan ting-ginya dan dalamnya kasih Kristus,” (Efesus 3:18), seharusnya bibir kita tak pernah berhenti bersyukur!


Rabu. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (2)

Baca: Mazmur 71:1-24

“Akupun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel.” Mazmur 71:22

Mengucap syukur adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Orang yang mampu mengucap syukur di segala keadaan me-nandakan ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan menyetu-jui apa pun yang Tuhan rancangkan. “Kita tahu sekarang, bah-wa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk menda-tangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Sebaliknya orang yang selalu bersungut dan mengomel berarti sedang memprotes kedaulatan Tuhan atas setiap ke-
jadian atau peristiwa yang dialaminya, dan tidak mem-percayai-Nya.

Ketika menghadapi cawan penderitaan, Tuhan Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehenda-ki.” (Matius 26:39). Di segala keadaan, biarlah kita belajar untuk menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang teruta-ma dalam hidup ini, karena kehendak-Nya pasti yang terbaik bagi kita. Karena itu ijinkanlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri dan ikutilah alur-Nya, jangan sekali-kali keluar dan memberontak. Percayalah bahwa masalah adalah cara Tuhan untuk mengerjakan perkara besar; tak ada mujizat tanpa masalah, tidak ada kemuliaan tanpa salib.

Sungut-sungut dan omelan tidak akan mengubah keadaan, malah membuatnya semakin buruk dan semakin memperpanjang waktu Tuhan memproses kita sebagaimana umat Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di pa-dang gurun, karena Tuhan hendak mendisiplinkan dan membangun karakter mereka. Tuhan memberikan materi berupa ‘masalah atau penderitaan’ dalam sekolah ke-hidupan ini agar kita belajar untuk bergantung kepada-Nya, sebab tanpa masalah seringkali kita melupakan Tuhan dan lebih bersandar kepada kekuatan sendiri. Justru ketika da-lam masalah atau pergumulan yang berat manusia terdorong untuk mendekat kepada Tuhan… saat itulah penyembahan dan doa yang begitu mendalam dan kuat dil-akukan.

Mudah bagi Tuhan memberkati kita, tetapi lebih penting bagi Tuhan memurnikan kualitas hidup kita, termasuk dalam hal mengucap syukur!


Kamis. ADA BERKAT DI BALIK UCAPAN SYUKUR

Baca: Mazmur 111:1-10

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111:1

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup ini seharusnya bibir kita takkan pernah berhenti berkata: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5), dan “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Tiada kata selain bibir yang senantiasa memuliakan nama Tuhan (ucapan syukur). Tapi banyak orang Kristen yang lupa mengucap syukur, kecuali dalam keadaan baik (terberkati); padahal di balik ucapan syukur terkandung berkat yang luar biasa pula.

Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk wanita dan anak-anaknya, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, semuanya kenyang, dan bahkan masih ter-sisa 12 bakul. Berawal dari ucapan syukur, mujizat pun ter-jadi! “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yohanes 6:11). Secara naluriah kita terdorong untuk mengucap syukur bila memiliki sesua-tu yang berlebih, menerima dalam jumlah besar atau se-dang surplus. Ditinjau dari sudut mana pun 5 roti dan 2 ikan tidak akan pernah cukup untuk memberi makan 5000 orang! Sangat tidak masuk akal! Kita pasti akan berkata seperti Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yohanes 6:7). Bukankah kita cenderung merasa kuatir, lalu bersungut-sungut, men-gomel ketika memiliki atau menerima sedikit?

Dari sepuluh orang yang menderita kusta hanya satu orang Samaria saja yang tidak lupa mengucap syukur kepa-da Tuhan atas kesembuhan yang dialaminya, sedangkan sembilan orang lainnya pergi begitu saja setelah sembuh. Karena ucapan syukur inilah ia tidak saja disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga beroleh berkat rohani yaitu anuge-rah keselamatan oleh karena imannya (baca Lukas 17:19).

Di segala keadaan jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena ucapan syukur adalah pintu gerbang menuju berkat!


Jumat. JANGAN PERNAH KEMBALI KE MESIRBaca: Keluaran 14:1-14

“…sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.” Keluaran 14:13

Ketika umat Israel dilepaskan dari belenggu perbudakan Mesir dan dituntun Tuhan berjalan menuju ke Tanah Perjan-jian, Firaun yang adalah gambaran tentang Iblis, tidak pernah rela melepaskan mereka. Karena itu Firaun menggunakan segala cara untuk menahan agar mereka tetap berada di Mesir; dan ketika mendengar bahwa umat Israel telah pergi meninggalkan Mesir ia pun mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar mereka. Adapun kata Mesir adalah lambang ‘dinia’, suatu kehidupan yang duniawi, dibelenggu oleh dosa, atau hamba dosa. Pada saat itu umat Israel benar-benar berada pada posisi sulit. “Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka.” (ayat 9-10). Keadaan itu men-imbulkan ketakutan yang luar biasa!

Setelah kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tu-han dan Juruselamat, lalu bertobat, yaitu keluar dari ‘Mesir’, Iblis dan bala tentaranya bergerak cepat dan mengacaukan seluruh aspek kehidupan kita dengan berbagai-bagai masa-lah. Di saat-saat itu kita pun mulai mengeluh, “Ikut Tuhan Yesus keadaan kok tidak bertambah baik, masalah dan co-baan datang bertubi-tubi.” Umat Israel mulai menyalahkan pemimpin rohani (Musa) dan berani menyalahkan Tuhan, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (ayat 11).

Pada masa-masa kesesakan seperti ini banyak orang Kris-ten mengalami degradasi iman, mata rohani kabur sehingga keselamatan yang ada di depan mata tak dilihatnya. Yang tampak hanyalah masalah atau pergumulan hidup yang berat, dan mulai membanding-bandingkan dengan kehidupan di Me-sir dan ingin kembali ke sana. Milikilah mata iman seperti Mu-sa yang tetap percaya walau belum melihat.

“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu;” Keluaran 14:13


Sabtu. SEMAKIN MENDEKAT KEPADA TUHAN

Baca: Roma 13:8-14

“Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” Roma 13:11b

Hari berganti hari, musim berganti musim, semakin dekat pula kesudahan zaman: anomali iklim telah terjadi, perubahan-perubahan dalam elemen kehidupan manusia sedang bergeser; ada yang perlahan namun ada pula yang radikal, perang antar ras etnis dan bangsa terjadi, bencana alam (gunung meletus, banjir, badai taufan) terjadi di mana-mana, kasih manusia se-makin dingin, immoralitas muncul dan begitu pula guru-guru palsu dan penyesat, menunjukkan bahwa tanda kedatangan Tuhan sudah semakin tampak di depan mata kita. “…sekarang keselamatan sudah lebih dekat…” (ayat nas).

Apa yang sedang terjadi sekarang ini seharusnya menya-darkan kita dan menjadikan kita ekstra waspada dan selalu berjaga-jaga karena waktunya sudah teramat sangat singkat. Jangan lagi kita menjalani hdiup ini dengan sembrono ditandai dengan pesta pora, hawa nafsu, keserakahan dan kepentingan pribadi, melainkan “…kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih me-nutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:7-8). Sekalipun ke-hidupan di dunia sedang terjadi perubahan-perubahan secara besar-besaran, goncangan-goncangan, namun kasih setia Tu-han tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan kuasa-Nya tid-ak pernah berubah sampai kapan pun.

Jika Tuhan ijinkan kita harus mengalami berbagai macam per-soalan dan pergumulan hidup yang teramat berat tentunya Tuhan punya maksud yang baik, yaitu ingin membawa kita se-makin mendekat kepada-Nya dengan kerendahan hati. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepa-damu.” (Yakobus 4:8a).

Mendekat kepada Tuhan dengan kerendahan hati berarti tetap beribadah kepada Tuhan dengan kesungguhan, menun-jukkan kerajinan yang penuh dalam mengerjakan segala hal yang dipercayakan kepada kita sesuai dengan kasih karunia-Nya, dan juga dalam kesungguhan hati untuk mengasihi sesa-ma kita.

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,” Ibrani 6:11


Minggu. JADILAH ORANG RENDAH HATI

Baca: Lukas 14:7-11

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 14:11

Secara naluriah manusia ingin dipuji, diperhatikan, dipriori-taskan, dihargai dan tidak mau direndahkan atau disepele-kan. Karena itu manusia cenderung meninggikan diri dan sulit merendahkan hati. Di zaman ‘keras’ seperti ini sulit menemukan orang yang rendah hati, karena kebanyakan orang berpikir bahwa kerendahan hati itu identik dengan kelemahan, di mana pamor atau gengsi akan turun.

Kerendahan hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. Inilah sifat yang harus kita miliki sebagai pengikut Kristus, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup, “…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus diper-tahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” (Filipi 2:6-9).

Tanda orang punya kerendahan hati:

1. Berani mengakui kesalahan. Karena gengsi, sedikit orang berani mengakui kesalahan sendiri di depan sesamanya, bahkan di hadapan Tuhan; mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” (Amsal 28:13).

2. Mau belajar dan diajar. Proses ‘belajar dan di-ajar’ itu tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah atau kampus, tetapi juga melalui ‘sekolah’ kehidupan ketika kita berinteraksi dengan sesama di mana pun berada. Pros-es ini tidak mengenal batasan usia dan waktu… “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

“Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” Amsal 18:12

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

PENDAHULUAN

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Ini bukanlah sesuatu yang mudah serta dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Diperlukan ketetapan hati, ketekunan, unity, ketaatan serta kebergantungan penuh kepada kuasa Roh Kudus untuk dapat mengemban dan menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral,  sosial,  iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kuasa kasih dan kemuliaan Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

ISI

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah dan guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa kehebatan, harta kekayaan, kekuasaan, dan kepintaran tidak dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ternyata  manusia adalah mahluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk  merendahkan diri, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi garam dan terang, siap  menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus.  Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para missionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang self-centered, hidup dalam zona nyaman serta tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di jaman ini. Kekristenan bukan soal Tuhan yang kita ‘manfaatkan’ untuk memenuhi permintaan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan, artinya Ia menjadi ‘tuan’ dan pusat seluruh aspek hidup kita. Tanda bahwa seseorang benar-benar mengasihi Tuhan adalah punya kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (Yohanes 14:15).

Tuhan Yesus memerintahkan Amanat Agung kepada para murid (Matius 28:16), bukan kepada mereka yang sekedar jadi jemaat atau pengunjung gereja. Dengan kata lain, setiap jemaat yang tertanam di BIC harus mengalami transformasi oleh kuasa firman dan Roh Kudus supaya menjadi murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan berjalan dipimpin oleh Roh Kudus.

Ada perbedaan yang mencolok antara rumah yang dibangun di atas batu dengan rumah yang dibangun di atas pasir. Rumah yang dibangun di atas batu adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar ketaatan akan firman Tuhan (mendengar perintah Tuhan dan melakukannya, Matius 7:24). Rumah yang dibangun di atas pasir adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar pengetahuan firman saja (mendengar perintah Tuhan dan tidak melakukannya, Matius 7:26). Berdasarkan ayat ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata orang yang memiliki pengetahuan firman (diajarkan melalui Ibadah Raya, Cool dan kelas pengajaran) BELUM TENTU menjadi pelaku firman. Bukan berarti kita tidak perlu belajar firman, tapi itu belum cukup. Jangan jadikan firman hanya sebatas informasi rohani, tapi ijinkan firman Tuhan mengubah seluruh hidup kita dari dalam keluar sesuai Alkitab.

Murid Kristus bukan berarti orang yang sudah sempurna, tetapi yang hidup tidak seperti dunia melainkan hidup dalam kekudusan, mau belajar menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab untuk mengemban Amanat Agung.

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

Sifat seorang murid Kristus yang dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:

  1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.
  2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.
  3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olah raga  (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan  dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak  (1 Korintus 9:25-27).
  4. Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Bersambung minggu depan..