Author: EM

Home / Articles posted by EM
TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA

TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA

PERTOLONGAN TERHADAP LAWAN
Baca: Mazmur 108:1-14

“Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia.”  Mazmur 108:13

Perjalanan hidup yang kita tempuh selama hidup di dunia ini tidaklah selalu berupa jalan yang mulus, ada kalanya kita menghadapi ujian dan rintangan.  Terkadang langkah kaki kita tersandung dan terkadang pula ada jegalan-jegalan dari lawan yang berusaha untuk menjatuhkan.  Kita tidak perlu terkejut akan hal ini, karena hampir semua orang pasti pernah mengalaminya.

Yang disebut lawan di dalam Alkitab ada dua macam, satu pihak adalah Iblis yang merupakan lawan utama, sedangkan yang lain adalah manusia, yang memusuhi dan berusaha untuk menjatuhkan serta menghancurkan.  Mereka memposisikan sebagai oposisi dan berusaha untuk merintangi lingkup gerak kita.  Tak terkecuali raja Daud yang juga harus menghadapi lawan-lawan di sepanjang hidupnya.  Manusia-manusia yang menjadi lawan Daud adalah manusia-manusia yang hatinya dipengaruhi oleh Iblis.  Bagaimana sikap orang percaya ketika berada di situasi sulit seperti ini?  Kita tak perlu panik dan berusaha menyingkirkan lawan dengan kekuatan sendiri.  Serahkanlah semua itu kepada Tuhan melalui doa, karena Dia adalah Hakim yang adil.  Kita dapat berdoa memohon kemenangan dan pembelaan dari Tuhan seperti Daud berdoa  (ayat nas).

Jangan sekali-kali kita menaruh harap atau mencari pertolongan kepada manusia!  “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Selama kita masih mencari pertolongan kepada manusia kita meremehkan kuasa Tuhan dan menempatkan Dia hanya sebagai alternatif.  Berbeda dengan Daud yang dengan sepenuh hati bersandar dan berharap hanya kepada Tuhan.  “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.”  (Mazmur 108:14).

Saat takut, percayalah hanya kepada Tuhan, karena pada saat yang tepat Tuhan pasti akan menegakkan keadilannya di bumi!


Selasa. TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA
Baca: Mazmur 62:1-13

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.”  Mazmur 62:7

Sebagai manusia kita tak terlepas dari peristiwa-peristiwa yang terkadang membuat hati letih lesu.  Dan apabila tak terkendalikan, perasaan itu akan berubah menjadi suatu tekanan yang menghimpit dan mengakibatkan orang menjadi depresi.  Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu.  Hal itu bisa mengakibatkan seseorang merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk melakukan sesuatu dan cenderung menyalahkan diri sendiri.

Ketika menghadapi situasi-situasi sulit, saat itulah kematangan iman orang percaya dapat diukur dan dinilai kadarnya.  Jadi yang menjadi ukuran bukan seberapa tinggi tingkat pendidikan atau harta kekayaan yang dimiliki.  Orang yang karib dengan Tuhan pasti tidak akan gelisah dan takkan goyah imannya, sebab ia tahu persis bahwa Tuhan adalah gunung batu, keselamatan dan kota benteng hidupnya.  Daud pun pernah mengalami hal yang sama, namun ia terus menguatkan diri:  “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!”  (Mazmur 42:6).  Dalam keletihan batinnya ia segera mendekat kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya, sebab  “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”  (Mazmur 62:2).  Tepatlah bila Daud segera mengambil langkah mencari Tuhan, sebab ketika dalam tekanan berat acapkali manusia kehilangan akal sehatnya.

Bukankah saat-saat ini goncangan terjadi di mana-mana dan sangat meresahkan hati?  Banyak dijumpai orang-orang Kristen mengalami degradasi iman sehingga mereka pun tidak segan-segan melepaskan kepercayaannya kepada Kristus demi mendapatkan jaminan keamanan dari manusia.  Mereka lebih rela menempuh jalan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan daripada harus menderita atau kehilangan kesempatan untuk meraih kedudukan dalam dunia ini.  Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi!  Karena bagi orang percaya telah tersedia tempat pengungsian yang aman, yaitu di bawah naungan sayap-Nya di mana kita pasti terjaga aman!

Tuhan itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, dan sebagai penolong dalam kesesakan, sungguh benar-benar terbukti!  (baca  Mazmur 46:2)


Rabu. IMAN PERCAYA: Kunci Kesembuhan Ilahi
Baca: Mazmur 103:1-22

“Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,”  Mazmur 103:3

Tujuan dokter atau tabib memberikan obat kepada pasiennya adalah supaya si pasien mengalami kesembuhan dari sakit-penyakit yang dideritanya, karena  “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”  (Matius 9:12).  Untuk membeli obat diperlukan uang atau biaya, namun untuk mendapatkan kesembuhan ilahi  (mujizat)  dari Tuhan kita tidak perlu mengeluarkan uang dari dompet, tidak diperlukan uang satu sen pun, yang diperlukan adalah iman atau percaya.

Tuhan sama sekali tidak membutuhkan uang kita karena Dia adalah si empunya segala-galanya.  Yang Ia cari dalam diri kita adalah iman kita.  “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”  (Lukas 18:8).  Jadi syarat mendasar untuk menerima kesembuhan Ilahi adalah beriman 100% kepada Tuhan Yesus, sebagaimana yang Ia katakan,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  (Matius 9:29).  Sakit-penyakit apa pun tidak menjadi persoalan bagi Tuhan karena Dia adalah Dokter di atas segala dokter, Tabib yang ajaib.  Tuhan bukan saja mampu menyembuhkan segala jenis penyakit yang diderita oleh manusia, bahkan orang yang sudah mati sekali pun sanggup dibangkitkan-Nya.  Contoh adalah ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus, orang yang sudah empat hari mati  (baca  Yohanes 11:43-44).  Kita harus percaya bahwa kuasa Tuhan Yesus tidak pernah berubah,  “…tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”  (Ibrani 13:8).  Mujizat Tuhan pasti dinyatakan asal kita percaya dengan tidak bimbang,  “…sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.”  (Yakobus 1:6-7).

Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan!  Tanpa iman percaya kesembuhan Ilahi tidak akan pernah kita alami.  Kesembuhan Ilahi itulah yang disebut mujizat!  Alkitab menyatakan,  “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”  (Matius 8:17).  Jangan pernah berhenti percaya dan tetap nanti-nantikan Tuhan sampai Ia bekerja di dalam kita!

“Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”  1 Petrus 2:24b


Kamis. JANGAN MALU BELAJAR KEPADA SEMUT (1)

Baca: Amsal 30:24-28

“semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,”  Amsal 30:25

Dalam amsalnya Agur bin Yake menasihati kita agar mau belajar dari kehidupan empat binatang yang paling kecil dan lemah di bumi yaitu semut, kancil, belalang dan cicak.  Umumnya orang akan diminta belajar atau menimba ilmu dari mereka-mereka yang besar, lebih hebat dan berpengalaman lebih, tetapi firman Tuhan hari ini justru mengajak kita untuk belajar bukan dari mereka yang tampak hebat dan besar, melainkan dari empat binatang yang paling kecil;  dan kita tak perlu merasa malu!

Mengapa kita juga harus belajar dari hal-hal yang kecil?  Sebab manusia seringkali hanya memikirkan perkara-perkara yang besar dan heboh, tetapi mereka melewatkan dan mengabaikan hal-hal kecil.  Padahal semua perkara besar selalu berawal atau dimulai dari perkara-perkara kecil terlebih dahulu.  Begitu pula untuk dapat dipercaya mengerjakan perkara-perkara besar kita harus terlebih dahulu menunjukkan kesetiaan dalam mengerjakan perkara kecil.  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10).  Pada kesempatan ini kita akan belajar dari semut, binatang kecil yang mempunyai sifat rajin.  Untuk mencari makan saja mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.  Ketika telah menemukan makanan ia tidak bersikap serakah, melainkan melapor kepada teman-temannya dan mengajak mereka untuk beramai-ramai mengangkat makanan itu.  Inilah sifat-sifat semut yang patut kita teladani.  Semut dikenal sebagai binatang yang rajin bekerja alias tidak malas!  Mereka keluar mencari makanan pada waktu musim panas, sehingga pada waktu musim hujan tiba mereka sudah mempunyai persediaan makanan.

Banyak orang memiliki keinginan yang tinggi tapi malas untuk bekerja dan berusaha!  Tak salah jika keinginan itu akhirnya hanya sekedar angan-angan.  Mereka gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka tidak mau berusaha alias malas!  Sedikit saja menemui kesulitan dan tantangan, pemalas pasti akan berhenti berusaha dan menyerah.  Padahal setiap kali kesulitan atau tantangan datang Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kita  (baca  1 Korintus 10:13b).


Jumat. JANGAN MALU BELAJAR KEPADA SEMUT (2)
Baca: Amsal 6:6-11

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:”  Amsal 6:6

Serangga sekecil semut yang lemah itu ternyata memiliki keuletan dan kemampuan untuk bertahan hidup.  Bangsa semut layak untuk dijadikan panutan, karena mereka secara naluriah bertindak mengabdi untuk kepentingan koloninya.  Seekor semut rela melepaskan hak pribadinya, dan seluruh karya hidupnya didedikasikan untuk kepentingan koloninya, sehingga di mana pun kita akan menyaksikan iring-iringan semut bekerja keras nyaris sepanjang waktu, siang hingga malam tanpa mengenal lelah.  Mereka tidak pernah menabur benih, namun lumbung-lumbung mereka senantiasa penuh makanan.  Dengan bekerja sama mereka memastikan cadangan makanan telah tersedia pada musim paceklik.

Semut tidak pernah terlihat bermalas-malasan atau tidak melakukan apa pun, kecuali jika ia benar-benar sakit, cedera berat atau sudah sekarat, sehingga di mana pun berada sering terlihat kawanan kecil itu begitu sibuk mencari makanan.  Yang lebih mengagumkan lagi, seekor semut mampu mengangkut beban yang berukuran hingga 10X berat tubuhnya sendiri.  Mereka akti hilir mudik, bergerak ke sana ke mari, fokus, perhatian utamanya adalah bekerja dan bekerja.  Mereka bekerja dengan sangat mementingkan prinsip bertolong-tolongan.  Solidaritas dan kerjasama tim adalah paket kunci keberhasilan hidup semut.  Selagi ada kesempatan mereka terus bekerja mengumpulkan makanan, sebab jika musim hujan tiba aktivitas dan ruang gerak mereka menjadi terbatas, tapi mereka tak perlu kuatir, sebab ada stok makanan.

Jika dalam prinsip kerja semut tidak ada istilah malas, bekerja ala kadarnya dan mementingkan diri sendiri, coba bandingkan dengan kehidupan manusia…  Gaya hidup bermalas-malasan, bekerja dengan kualitas rendah, hidup berpusat pada diri sendiri justru sudah membudaya di mana-mana.  Sebagai orang percaya tidak selayaknya kita berlaku demikian!  Rasul Paulus menasihati,  “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”  (Kolose 3:23), dan  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!”  (Galatia 6:2a).

Masakan kita tidak malu kepada semut yang mampu berlaku bijak dan memiliki etos kerja yang luar biasa!


Sabtu. MANUSIA DICIPTA BUKAN UNTUK BERMALASAN!

Baca: Pengkhotbah 10:1-20

“Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”  Pengkhotbah 10:18

Ada banyak ayat di Alkitab yang menggambarkan tentang perilaku dan karakteristik pemalas, di antaranya:  “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia,”  (Amsal 13:4),  “Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.”  (Amsal 26:14).  Karena mereka tidak melakukan apa pun maka hasilnya pun menjadi nihil atau nol.  Inilah suatu kehidupan yang tanpa produktivitas.  Sangat menyedihkan!

Tuhan menentang segala bentuk kemalasan, sebab Ia menciptakan manusia secara khusus dengan membekali kecerdasan, talenta dan pelbagai kemampuan yang melebihi ciptaan-Nya yang lain, dengan tujuan supaya manusia dapat mengembangkan kehidupannya secara optimal untuk kemuliaan nama-Nya.  Manusia dapat memuliakan nama Tuhan hanya jika mereka mau bertekun, setia dan bekerja keras.  Oleh karena itu  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkhotbah 9:10).  Jadi tidak ada alasan untuk kita bermalas-malasan!  Kemalasan harus dilawan dan diperangi, sebab ada tertulis:  “Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.”  (Amsal 18:9), perusak rencana Tuhan dan perusak masa depannya sendiri!  Masa depan suatu bangsa dipertaruhkan dan terancam akan hancur jika masyarakatnya malas.  Intinya, tidak ada sisi positif sedikit pun dari kemalasan, selalu mendatangkan kerugian dan bencana, serta  “…mengakibatkan kerja paksa.”  (Amsal 12:24).

Sekali lagi, marilah kita belajar dan mengambil sisi positif dari kehidupan semut yang memiliki mobilitas dan produktivitas tinggi sehingga kelangsungan hidup koloninya menjadi sangat terjamin.  Dengan memperhatikan kebiasaan hidup semut ini seharusnya kita semakin dirangsang untuk membuang rasa malas, mau bekerja dengan keras, bertanggung jawab dan memelihara integritas hidup kita.


Minggu. DUNIA: Bukanlah Tempat Berlindung’

Baca: Mazmur 16:1-11

“Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.”  Mazmur 16:1

Adakah tempat yang paling aman di dunia ini sehingga kita dapat berlindung dari segala bahaya?  Di belahan bumi mana pun tak ada tempat yang benar-benar aman, di mana-mana selalu ada bahaya yang mengincar.  Karena dunia ini bukanlah tempat yang aman, maka semua orang memerlukan perlindungan atau penjagaan selama 24 jam penuh.  Para pemimpin negara, raja-raja, selebritis terkenal atau para jutawan, di mana pun berada dan ke mana pun pergi selalu ditemani oleh pengawal atau bodyguard yang bertugas untuk menjaga dan melindungi, meski penjagaan dan perlindungan mereka sangat terbatas.

Sebagai raja atas Israel tentunya Daud memiliki banyak pengawal yang berjaga-jaga, namun ia tak menggantungkan keselamatan jiwanya pada penjagaan manusia.  Daud hanya ingin dijaga oleh Tuhan dan berlindung kepada-Nya, sebab kekayaan, pangkat atau kekuasaan, kehebatan dan kegagahan manusia tak dapat menyelamatkannya.  Daud berkata,  “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak.”  (Mazmur 20:8-9).  Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang aman,  “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.”  (Mazmur 121:4).  Daud sangat percaya bahwa tak sedetik pun Tuhan lengah menjaga dirinya, bahkan Tuhan menjaga dia bagaikan biji mata-Nya sendiri.  Inilah doa Daud,  “Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”  (Mazmur 17:7-8).

Melihat dan mendengar berita-berita yang mengejutkan setiap hari sangatlah wajar jika semua orang menjadi was-was dan takut!  Tapi sebagai orang percaya kita tak perlu gentar, sebab kita berada dalam perlindungan yang aman di dalam Tuhan Yesus.  Oleh sebab itu jangan ragu-ragu untuk menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya.  Jangan sekali-kali berharap kepada siapa pun dan kepada apa pun, karena hanya Tuhanlah tempat perlindungan yang aman dan terbaik, dan itu sudah cukup bagi kita.  “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”  (ayat 2).

Tuhan Yesus adalah perlindungan bagi orang percaya, tidak ada yang lain!

SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA

SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA

Senin. SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA
Baca: Yohanes 16:1-4a

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.” Yohanes 16:1

Kecewa terhadap sesama manusia adalah hal yang biasa terjadi karena manusia mudah sekali berubah. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, kita kecewa; ketika orang lain ingkar janji, kita kecewa. Banyak hal seringkali membuat kita kecewa. Itulah manusia, mudah sekali kecewa dan mengecewakan! Yang tidak sepatutnya adalah kecewa kepada Tuhan! Namun kecewa kepada Tuhan seringkali dilakukan oleh banyak orang percaya.

Pernahkah Tuhan mengecewakan kita? Tak sekalipun Tuhan mengecewakan kita: kasih-Nya, kuasa-Nya, cinta-Nya dan perkataan-Nya tak pernah berubah. Sebaliknya, coba hitung berapa kali kita mengecewakan Tuhan? Sungguh, tiada terhitung banyaknya kita mengecewakan Tuhan. Ketika doa-doa kita belum dijawab, ketika dihadapkan pada masalah atau situasi yang berat kita pun langsung kecewa kepada Tuhan. Ketika diperintahkan Tuhan Yesus untuk menjual seluruh hartanya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin, seorang muda yang kaya “…menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Markus 10:22). Begitu pula ketika Tuhan Yesus pulang ke kampung halaman-Nya di Nazaret bukannya disambut dengan antusias, tetapi “…mereka kecewa dan menolak Dia.” (Markus 6:3).

Ketika berada di penjara dan dalam tekanan berat rasa kecewa sempat timbul dalam hati Yohanes Pembaptis. Apa sebabnya? Mungkin karena Tuhan Yesus tidak secara terus terang menyatakan diri bahwa Ia adalah Mesias yang sedang dinanti-nantikan oleh umat, sehingga Yohanes pun menyuruh murid-muridnya untuk bertanya langsung: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Matius 11:3). Kata kecewa dalam bahasa Yunani skandalisthe (bentuk pasif dari skandalizo) yang artinya tersinggung, terlukai perasaannya, tersandung oleh seseorang atau sesuatu. Namun dalam perkembangannya Yohanes Pembaptis menyadari dan memahami siapa sesungguhnya Tuhan Yesus.

Dalam keadaan apa pun jangan pernah kecewa kepada Tuhan Yesus, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13:8


Selasa: TAHU PERBUATAN BAIK, TAPI TAK MELAKUKAN

Baca: Matius 23:1-36

“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”  Matius 23:3

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah contoh orang yang tahu banyak tentang firman Tuhan, bahkan bisa dibilang sangat expert dalam hal Taurat Musa.  Bahkan mereka juga mengajarkan apa yang diketahuinya kepada orang-orang Yahudi.  Hebat?  Ya, di hadapan manusia mungkin tampak hebat, tapi sesungguhnya mereka tidak melakukan apa yang dipelajari dan ajarkan.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengecam keras orang-orang yang demikian dan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI), kata munafik memiliki arti:  berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak;  suka  (selalu)  mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya;  atau bermuka dua.  Mereka mengenal kebenaran dengan baik tapi mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran.  Berkenaan dalam hal ini yakobus menulis:  “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”  (Yakobus 4:17).  Yang dimaksud tahu di sini  (Yunani:  eidon)  adalah melihat, merasa, mengunjungi.  Ini berkaitan dengan apa yang bisa ditangkap oleh pancaindera;  artinya orang telah melihat dan tahu bagaimana cara untuk berbuat baik  (melakukan kebenaran).  Jadi ia seharusnya dapat melakukan hal itu dengan mudah, namun dengan sengaja tidak mau melakukannya.  Jangan pernah membanggakan diri karena kita tahu banyak tentang Alkitab atau menjadi aktivis gereja jika hal itu hanya sekedar tahu secara teori atau mungkin sangat ahli, tetapi tidak melakukan firman Tuhan.

Alkitab menyatakan:  “Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.”  (Matius 12:33b).  Contoh sederhana melakukan perbuatan baik:  mengunjungi janda-janda dan yatim piatu dalam kesusahan mereka atau menolong orang yang lemah;  tapi yang dilakukan oleh ahli Taurat dan Farisi:  “…kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang.”  (Matius 23:14).

Jika kita tahu bahwa hal itu adalah kehendak Tuhan, tapi kita tidak mau melakukannya, betapa berdosanya kita.


Rabu: JANGAN BERLAKU SEPERTI ORANG BEBAL

Baca: Mazmur 53:1-7

“Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah!’ Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.”  Mazmur 53:2

Semua orang pasti akan merasa tersinggung dan marah besar jika mereka dikata-katai oleh orang lain dengan sebutan orang bodoh, apalagi disebut orang bebal.  Dalam teks aslinya kata bebal diartikan sebagai orang yang bodoh, jahat dan tidak menghormati Tuhan.  Orang bebal dapat diartikan pula orang yang sukar sekali untuk mengerti, tidak cepat tanggap, tidak mau berubah, karena ia menolak pengertian dan pengajaran.

Kita secara terang-terangan tidak mau disebut bebal, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak, kita seringkali berlaku seperti orang yang bebal.  Penulis Amsal secara gamblang menggambarkan keberadaan orang bebal sebagai orang yang emosinya sangat labil, emosinya tak bisa dikendalikan sehingga amarahnya mudah sekali meledak-ledak;  orang yang hanya ingin didengar oleh orang lain karena merasa diri paling benar;  orang yang suka sekali mencela, menghina, menghakimi, mencemooh orang lain;  orang yang selalu berbantah-bantahan, artinya suka sekali mencari keributan hanya karena ingin menunjukkan kehebatan atau kemampuannya;  orang yang suka sekali memfitnah atau mencari-cari kesalahan orang lain  (baca  Amsal 18:1-8).

Jelas sekali menunjukkan bahwa orang bebal adalah orang yang tidak takut akan Tuhan, tak menganggap Tuhan itu ada.  Beruntungkah orang yang berlaku demikian?  Firman Tuhan memastikan bahwa hidup mereka tak luput dari hukuman dan yang lebih mengerikan lagi adalah mereka mengalami penolakan dari Tuhan.  “Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.”  (Amsal 18:7).  Menjalani hidup di masa seperti ini tidaklah mudah, karena itu rasul Paulus menasihati:  “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”  (Efesus 5:15-16).  Mungkin kita sedang mengalami pergumulan hidup yang berat karena perlakuan yang tidak adil atau kejahatan yang diperbuat orang-orang di sekitar yang tidak mengenal Tuhan.  Jangan takut dan putus asa, karena ada waktunya di mana Tuhan akan menegakkan keadilan-Nya!

Jangan sekali-kali berlaku bebal, karena orang bebal tidak luput dari hukuman!


Kamis, PERBUATAN BAIK SEBAGAI BUAH KESELAMATAN

Baca: Titus 3:1-14

“…Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,”  Titus 3:5

Dunia mengajarkan sebuah prinsip bahwa kunci untuk mendapatkan keselamatan kekal adalah banyak melakukan amal kebaikan.  Karena itu kita harus sering-sering menolong orang lain, memberi sedekah kepada fakir miskin dan sebagainya, di mana semua itu adalah investasi yang sifatnya kekal.  Namun Alkitab menyatakan bahwa kebajikan atau perbuatan baik yang dilakukan oleh orang berdosa adalah seperti kain kotor.  “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.”  (Yesaya 64:6).

Sebanyak apa pun amal dan kebaikan yang dilakukan takkan pernah mengubah status berdosa di pemandangan Allah, kecuali jika orang berdosa mau datang kepada Kristus, mengakui segala dosa-dosanya,  “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”  (1 Yohanes 1:9), menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta percaya bahwa kematian Kristus di kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosanya, sehingga ia memiliki status baru yaitu bukan lagi sebagai seteru Allah, melainkan diangkat sebagai anak-anak Allah.  Inilah yang menjadi titik tolak seseorang untuk menerima keselamatan, sebab  “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  (2 Korintus 5:17).  Setelah diselamatkan dan hidup sebagai manusia baru, arah dan tujuan hidup manusia pun menjadi baru yaitu tertuju kepada Kristus dan tidak lagi berpusat pada diri sendiri.  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).

Bagaimana Kristus hidup?  Kehidupan Kristus senantiasa berlimpah dengan kasih dan kebajikan.  Orang yang telah diselamatkan wajib untuk berbuat baik.

Perbuatan baik bukanlah sarana utama untuk mendapatkan keselamatan kekal, tapi merupakan buah dari keselamatan.


Jumat, MENGIKUT TUHAN JANGAN SAMPAI KENDUR

Baca: Ibrani 10:19-39

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”  Ibrani 10:25

Hidup orang percaya adalah hidup yang berbahagia, karena melalui iman percaya kepada Kristus kita beroleh kepastian keselamatan;  dan karena telah beroleh anugerah keselamatan secara cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus, banyak dari kita yang akhirnya menganggap remeh keselamatan yang telah kita terima.  Kita bersikap pasif, tidak berbuat sesuatu apa pun untuk meningkatkan kualitas hidup rohani kita.

Rasul Paulus menasihati,  “…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,”  (Filipi 2:12-14).  Melalui darah Kristus orang percaya beroleh keberanian untuk masuk ke tempat kudus, bertemu dengan Bapa di sorga.  Hal itu bisa terjadi karena Kristus selaku Imam Besar telah membukakan jalan bagi kita.  Namun akhir-akhir ini ada orang-orang Kristen yang justru ketekunan dan kesetiaannya dalam mengikut Tuhan menjadi kendur tatkala dihadapan pada masalah, tekanan atau penderitaan.  Tapi jangan sampai hanya karena masalah atau kesesakan kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, apalagi sampai mundur dari iman.  “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.”  (Ibrani 10:35).  Seorang yang setia mengikuti Tuhan pasti akan ditandai dengan kesetiaannya dalam beribadah dan giat melayani pekerjaan Tuhan, apa pun kondisinya.

Nasihat rasul Paulus kepada Timotius:  “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu,”  (1 Timotius 4:7b, 8, 14).  Kita harus ingat bahwa  “…penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”  (Roma 8:18).

Jangan sampai kita melepaskan iman, karena upah besar telah menanti!

Sabtu. JANGAN BANYAK BICARA: Banyaklah Mendengar
Baca: Mazmur 34:12-15

“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;”  Mazmur 34:14

Salah satu permasalahan yang sedang terjadi di dunia akhir-akhir ini adalah banyak orang cenderung lebih suka berbicara daripada mendengar:  sedikit-sedikit melakukan protes, sedikit-sedikit berkomentar, sedikit-sedikit berdebat, sedikit-sedikit mengkritik, sedikit-sedikit mencela, memaki atau berkata kasar tanpa memperdulikan perasaan orang lain.  Intinya, orang lebih senang berbicara tanpa mau belajar untuk mendengar orang lain.  Ada tertulis:  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21).  Berhati-hatilah!  Lidah menentukan banyak dalam hidup manusia, dan sebagian besar persoalan dalam kehidupan rumah tangga/keluarga, masyarakat, gereja dan bahkan suatu bangsa seringkali dimulai dari lidah.

Dari awal Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar dari pada berbicara, bukan sebaliknya.  Maka penting sekali menjaga lidah atau perkataan kita.  Orang yang takut akan Tuhan bukan hanya akan mampu menjaga hati dan pikiran, tetapi juga lidahnya.  Kalau berbicara, perkataannya pasti mendatangkan berkat, damai sejahtera, menguatkan, memberi semangat dan memberkati orang yang mendengarnya.  Sebaliknya orang yang tidak bisa menjaga lidahnya dan suka menggemakannya, di mana pun pasti tidak disukai orang dan memiliki banyak musuh, karena lidahnya  “…seperti pisau cukur yang diasah,”  (Mazmur 52:4), sehingga banyak orang terluka karenanya, bahkan bisa menjadi senjata makan tuan.

Tuhan menghendaki kita untuk banyak mendengar!  “Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan.”  (Amsal 5:1-2).  Dengan mengarahkan telinga kepada nasihat, ajaran, saran atau hal-hal positif dan terutama sekali mendengar firman Tuhan, maka bukan hanya pengetahuan, kebijaksanaan dan kepandaian yang semakin ditambahkan, tapi juga berkat-berkat Tuhan semakin dinyatakan dalam hidup kita.

Mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik?  Jagalah lidahmu!  (baca  1 Petrus 3:10-11).


Minggu. MENGASIHI, MELAYANI DAN MENOPANG
Baca: Markus 2:1-12

“ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.”  Markus 2:3

Saling mengasihi, saling melayani, saling menopang adalah sikap yang diperlukan untuk memperkuat sebuah komunitas, persekutuan, pelayanan atau gereja.  Sebuah komunitas, persekutuan, pelayanan dan bahkan gereja, sekalipun memiliki program kerja yang bagus, tapi jika para anggotanya tidak punya kesatuan hati, tidak hidup rukun, berjalan sendiri-sendiri, tidak ada kerjasama, bersikap egois, tidak punya kepedulian satu sama lain, niscaya  goal-nya tidak akan pernah tercapai, sebab ada tertulis:  “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.”  (Matius 12:25).

Ketika mendengar Tuhan Yesus datang ke Kapernaum banyak orang berdatangan ingin bertemu Dia dengan berbagai tujuan:  ingin mendengarkan ajaran-Nya, ingin melihat dan mengalami mujizat dan sebagainya.  Tak terkecuali empat orang yang menggotong orang yang menderita lumpuh.  Karena tempat itu penuh sesak,  “…sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak.”  (Markus 2:2), mereka tidak bisa membawa si lumpuh itu secara langsung kepada Tuhan Yesus.  Namun mereka tidak kehilangan akal dan tidak menyerah begitu saja,  “…mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.”  (Markus 2:4).  Tuhan Yesus melihat kegigihan dan iman mereka, itulah yang menggerakkan hati-Nya untuk bertindak.  Dan akhirnya mujizat dinyatakan!  Orang lumpuh itu pun berjalanlah!

Dari kisah ini kita bisa belajar tentang apa arti sebuah pelayanan yang sesungguhnya.  Yang mendasari keempat orang rela melakukan sesuatu yang baik bagi si lumpuh adalah kasih.  Sesungguhnya tidaklah terlalu sulit bagi mereka untuk menggotong, namun dibutuhkan kerjasama dan kekompakkan untuk menurunkan si lumpuh dari atap ke ruangan di mana Tuhan Yesus berada.  Jika tidak kompak dan berhati-hati, resikonya sangatlah besar!  Lebih penting lagi mereka melakukannya dengan ikhlas, tanpa tendensi apa-apa, terlihat di sepanjang kisah ini nama keempat orang itu tidak sekali pun disebutkan.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”  Galatia 6:2

TANDA KEHIDUPAN YANG DIPIMPIN ROH KUDUS

TANDA KEHIDUPAN YANG DIPIMPIN ROH KUDUS

Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita telah dibebaskan dari hukum dosa dan maut. Melalui karya salib-Nya, Kristus telah menggenapi tuntutan Hukum Taurat yang tidak mampu dilakukan manusia, supaya kita dapat hidup dalam hidup yang baru: hidup menurut Roh, bukan menurut daging (Roma 8:1–4). Kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah. Karena itu, hidup dipimpin oleh Roh Kudus bukan sebuah pilihan, melainkan identitas dan panggilan kita. Pertanyaannya sekarang, apakah hidup kita benar-benar dipimpin oleh Roh Kudus, atau masih dikendalikan oleh daging?

Untuk mengevaluasi apakah kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus, perhatikan 5 area utama berikut:

1. PIKIRAN
“Mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” (Roma 8:5)

Pikiran adalah medan pertempuran utama. Mari jujur melihat diri sendiri: apa yang paling sering memenuhi pikiran kita? Apakah kita berpikir berdasarkan firman Tuhan? Atau berdasarkan perasaan, asumsi, dan keadaan?

Kitab Roma pasal 8 mengatakan ada dua arah pikiran: pikiran daging dan pikiran Roh. Pikiran daging memikirkan hal-hal yang berasal dari daging seperti pikiran negatif, kuatir, curiga; membandingkan diri; mengingat kesalahan orang lain; pikiran kotor/najis dan jahat, serta pikiran yang berfokus pada hal sementara. Pikiran yang berasal dari Roh memikirkan perkara-perkara yang terarah kepada Kristus; mencari kehendak-Nya; fokus pada hal yang kekal, serta membawa damai sejahtera dan kejelasan (tidak membingungkan).

Cara untuk hidup dipimpin Roh dalam area pikiran adalah dengan menolak pikiran yang salah (jangan “di-entertain”), menawan setiap pikiran kepada Kristus, dan mendisiplinkan pikiran dengan firman Tuhan.“Pikirkanlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, patut disebut kebajikan dan patut dipuji…”(Filipi4:8). Orang yang dipimpin Roh tidak membiarkan pikirannya liar; sebaliknya, dia melatihnya sedemikian rupa ke arah Kristus yang adalah Kepala.

2. KEINGINAN
“Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6)

Sebenarnya masalah terbesar bukanlah apa yang terjadi di luar kita, tetapi apa yang kita pikirkan dan inginkan di dalam hati. Cara sederhana untuk mengujinya adalah evaluasi keinginan kita: apa yang paling kita kejar di hidup ini? Apa yang paling kita pikirkan saat sendiri?
Keinginan daging mengandung ambisi egois, cinta uang/status, haus akan pengakuan, sarat dengan hawa nafsu (seks, makan, emosi), kesombongan, iri hati, dan mengejar hal yang sia-sia.

“Keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup…” (1 Yohanes 2:15–16) Ingat baik bahwa keinginan daging tidak bisa diperbaiki, tapi harus senantiasa disalibkan.

Keinginan Roh menimbulkan rasa haus akan Tuhan; kerinduan untuk hidup kudus; mengasihi Tuhan dan sesame; dorongan untuk menaati Tuhan, bukan sekadar ingin diberkati dan berhasil; serta keinginan untuk membangun, bukan merusak. Orang yang dipimpin Roh akan belajar berkata “tidak” pada diri sendiri, supaya bisa berkata “ya” kepada Tuhan.

3. PERBUATAN
“Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13)

Tiap orang dikenal dari buah/perbuatannya. Perbuatan adalah bukti valid yang menunjukkan siapa yang memimpin hidup kita. Contoh: Bagaimana respons kita saat menghadapi tekanan? Apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat? Bagaimana kebiasaan kita sehari-hari? Apakah hidup kita menghasilkan perbuatan daging (Galatia 5:19–21), atau buah-buah Roh?

Kebenaran penting yang harus diingat: Orang percaya bisa saja jatuh, tapi ia akan cepat bangkit/bertobat—tidak tinggal/tenggelam dalam dosa.

Orang yang dipimpin Roh akan cepat bertobat dan tidak merasa nyaman hidup dalam dosa. Orang yang dipimpin Roh bergantung pada Roh Kudus yang menolongnya untuk berubah. “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan jangan merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14). Hidup dipimpin Roh itu bukanlah teori, tapi terlihat jelas dari cara kita hidup sehari-hari.

4. PERASAAN
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa !” (Roma 8:15).

Tidak dapat disangkal, kadang kita dilanda perasaan-perasaan negatif seperti kuatir, cemas, putus asa, tidak berharga, marah, sedih, rasa bersalah, malu, iri, cemburu, kesepian, dlsb. Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan diarahkan untuk hidup oleh iman, bukan karena perasaan yang bisa berubah-ubah tiap saat. Ia tidak mengizinkan perasaan-perasaan negatif tersebut memimpin, mengendalikan, atau memperbudak hidupnya. Tidak terhanyut oleh perasaan negatif sebab Roh Kudus meluruskan pikiran dan perasannya dengan firman kebenaran.

5. KESAKSIAN BATIN
Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita , bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:16).

Jika ada ketidakbenaran dalam diri kita, maka Roh Kudus akan memperingatkan kita. Teguran kasih dari Roh Kudus itu jelas, tepat dan berdasarkan firman Tuhan, bukan sekadar perasaan bersalah yang semu. Iblis mengintimidasi, mendakwa dan membuat kita ingin menjauhi Tuhan, tapi teguran Roh Kudus mendorong kita untuk datang kepada-Nya dan bertobat.

Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah (1 Yohanes 3:19b-21).

 

ROH KUDUS MEMIMPIN DAN MENGARAHKAN

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14). Roh Kudus memimpin hidup kita ke arah:

Pengharapan di dalam Kristus

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Roma 8:18, 24-25).

Seperti apa pun keadaan, pergumulan, dan kesulitan yang kita alami, Roh Kudus akan selalu mengarahkan kita kepada pengharapan, bukan keputusasaan. Firman yang diingatkan oleh Roh Kudus membangkitkan iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Dan pengharapan dalam Kristus tidak akan mengecewakan, sebab kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5).

Kasih Karunia Allah

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:26-28).

Roh Kudus tidak membiarkan kita berfokus pada keadaan, kesulitan, masalah, kelemahan, atau kegagalan kita, tetapi mengarahkan kita untuk hidup dalam kasih karunia Allah. Kita dibawa untuk melihat besarnya kasih karunia Allah yang memampukan dan membawa kita kepada kemenangan. Bagi kita, sukar dan tidak mungkin; bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Roh Kudus membantu kita di dalam kelemahan serta keterbatasan kita. Ia mendorong kita untuk mengandalkan Allah sepenuhnya.

Karakter yang semakin menyerupai Kristus

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya

Melalui penderitaan, masalah, dan tantangan, Roh Kudus akan memroses kita untuk semakin menyerupai Kristus. ..Jika kita adalah anak, maka kita juga ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah, jika kita menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.. (Roma 8:17).

PENUTUP

Hidup dipimpin Roh Kudus bukan soal seberapa lama kita jadi Kristen atau seberapa banyak kita tahu firman, tetapi apa/siapa yang mengontrol pikiran, keinginan, dan tindakan kita setiap hari. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus bukan sekadar menjadi pelaku firman, tetapi hidup dalam persekutuan kasih dengan Allah. Bukan ‘doing’ (melakukan perintah Tuhan sebagai Taurat/aturan yang mengikat), tapi ‘being’ (sebagai anak-anak Allah yang sudah sewajarnya melakukan perintah Bapa). Hidupilah identitas dan panggilan kita dengan hidup dipimpin Roh Kudus.

KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)

KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)

Senin. KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)

Baca: Mazmur 89:21-38

“jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.” Mazmur 89:32-33

Jujur diakui bahwa banyak orang Kristen yang tidak suka dan ‘merasa alergi’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan, karena yang ada di pikiran adalah ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan: tidak boleh ini tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksi atau konsekuensinya seperti tertulis: “…setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,” (Ibrani 2:2). Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya. Yang harus disadari adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah dari ketaatan seseorang dalam melakukan firman Tuhan.

Ketaatan adalah harga yang mutlak jika seseorang ingin mengalami penggenapan janji Tuhan! Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah mendemonstrasikan ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34).

Tuhan memberikan perintah bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya demi kebaikan kita sendiri, karena Ia hendak menuntun ke jalan yang benar supaya rencana-Nya tergenapi yaitu kehidupan yang berlimpahan dan masa depan yang penuh harapan. Yang disesalkan, orang memilih tidak mau taat mengikuti jalan Tuhan, padahal “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” (Mazmur 25:10).

Akibat dari ketidaktaatan: kita gagal menikmati berkat-berkat yang sesungguhnya telah Tuhan sediakan!


Selasa. KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (2)

Baca: 1 Samuel 15:1-35

“Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” 1 Samuel 15:23b

Percaya dan taat adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan kekristenan. Artinya ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus kita juga harus taat kepada perintah-Nya, karena tanpa ketaatan tak seorang pun dapat menyenangkan hati Tuhan.

Saul adalah salah satu contoh tokoh di Alkitab yang harus menuai akibat dari ketidaktaatannya melakukan perintah Tuhan. Kita tahu bahwa Saul bukanlah sembarang orang, melainkan seorang raja atas Israel, namun pada akhirnya ia mengalami penolakan dari Tuhan, bahkan Tuhan merasa menyesal telah memilihnya sebagai raja karena ia telah menyepelekan perintah. Melalui nabi Samuel Tuhan berfirman, “…pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” (ayat 3). Saul diperintahkan untuk menumpas semua orang Amalek tanpa terkecuali, termasuk hewan ternaknya, namun yang dilakukan: “…Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu.” (ayat 9a). Itu artinya Saul tidak taat sepenuhnya kepada Tuhan, karena menyelamatkan raja Amalek dan membawa ternak-ternak mereka yang tambun, dan segala yang berharga, namun di hadapan Samuel ia berkata, “…aku telah melaksanakan firman TUHAN.” (ayat 13).

Saul berpikir ternak-ternak tambun tersebut hendak ia persembahkan kepada Tuhan sebagai korban syukur (karena sudah menjadi tradisi bagi bangsa Israel, setiap kali menang dalam peperangan melawan musuh, mereka mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan). Mempersembahkan korban kepada Tuhan memang baik, tetapi jika itu merupakan upaya untuk menutupi dosa atau pelanggaran, maka akan merupakan kejijikan bagi Tuhan karena Tuhan tidak bisa disuap atau disogok! “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (ayat 22a).

Apa pun alasannya, setiap ketidaktaatan terhadap firman Tuhan itu fatal akibatnya!


Rabu. KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (3)

Baca: Yosua 7:1-26

“Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu.” Yosua 7:1

Di bawah kepemimpinan Yosua bangsa Israel berhasil menaklukkan kota Yerikho yang sangat kuat karena mereka taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan. Namun saat melawan kota Ai yang jumlah penduduknya lebih sedikit (pasal 7) bukan kemenangan yang diraih, sebaliknya orang Israel malah menjadi pecundang. “…mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai. Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng.” (ayat 4-5).

Apa yang sebenarnya terjadi? Kekalahan yang sangat memalukan ini terjadi sebagai akibat dari ketidaktaatan orang-orang Israel terhadap perintah Tuhan. Jadi mereka kalah bukan karena tidak lihai dalam mengatur strategi perang, atau jumlah pasukan musuh yang lebih besar. Ketidaktaatanlah yang membuat Tuhan tidak lagi berpihak kepada mereka. Pelanggaran besar apa yang telah diperbuat orang-orang Israel? Ketika mereka menyerang Yerikho, seluruh kota dan isinya harus dikhususkan bagi Tuhan. “…jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusnahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya. Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN.” (Yosua 6:18-19). Namun Akhan telah melanggarnya yaitu mengambil barang-barang berharga yang telah dikhususkan bagi Tuhan.

Ketidaktaatan Akhan ini bukan hanya datangkan kekalahan Israel, tapi juga murka Tuhan atas dirinya dan keluarganya. “‘Seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini.’ Lalu seluruh Israel melontari dia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api dan dilempari dengan batu.” (Yosua 7:25).

“Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.” Amsal 13:13


Kamis. PERCAYA DAN PENGAKUAN: Berjalan Beriringan

Baca: Roma 10:8-15

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10:9

Tidak banyak orang Kristen mengetahui rahasia bahwa percaya dan pengakuan adalah dua hal yang tak terpisahkan dan berperan penting dalam kehidupan kekristenan. Ketika kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, percaya kepada firman-Nya, maka dibutuhkan pula sebuah pengakuan yang benar melalui mulut kita. Pengakuan yang benar itulah buah dari iman yang hidup. Hal itu menunjukkan bahwa hati dan mulut memiliki fungsi masing-masing dalam keselamatan kita. Dengan hati kita percaya, tetapi dengan mulut kita pun harus mengaku, dan keduanya harus berjalan secara beriringan, sebab percaya dalam hati saja tidaklah cukup, harus dibuktikan dengan pengakuan melalui mulut kita. Jadi, apa yang kita percayai harus sejalan dengan yang kita akui dengan mulut kita. Percaya kita dan pengakuan kita, itulah yang akan memerintah hidup kita dan menuntun kita kepada keselamatan, kesembuhan, kelepasan dan segala berkat Tuhan kepada kita.

Ketika kita berkata bahwa kita sedang kuatir, maka pada saat kita berkata demikian, seketika itu timbul kekuatiran di dalam hati kita. Ketika kita berkata bahwa kita takut terhadap suatu hal, maka pada saat kita mengatakan itu, kekuatiran sedang merayap di dalam hati kita. “…engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, tertangkap dalam perkataan mulutmu,” (Amsal 6:2). Ayub berkata, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” (Ayub 3:25-26). Penting sekali untuk menetapkan: apa yang kita percaya dan apa yang kita katakan. “‘Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.’ Itulah firman iman, yang kami beritakan.” (Roma 10:8).

Karena itu percayalah kepada Tuhan Yesus yang telah menyampaikan janji firman-Nya dan senantiasalah memperkatakan firman Tuhan sebagai wujud pengakuan kita, supaya kuasa firman-Nya bekerja dan berlaku dalam hidup kita!

“‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” 2 Korintus 4:13


Jumat. FIRMAN TUHAN: Perkataan Tuhan Berkuasa

Baca: Yesaya 45:20-25

“Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali:” Yesaya 45:23

Alkitab bukanlah buku biasa yang bisa disamakan dengan buku-buku ilmu pengetahuan karya ahli-ahli ternama di dunia, atau sekedar buku bacaan rohani yang bisa dibaca sewaktu-waktu kala seseorang sedang suntuk dan butuh hiburan. Alkitab adalah sabda atau firman Tuhan yang hidup dan berkuasa, Tuhan sendiri yang berfirman kepada manusia. Bahkan alam semesta dan seluruh isinya ini sudah diciptakan oleh firman Tuhan (baca Kejadian 1:1-15). Jadi, “…alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.” (Ibrani 11:3).

Kalau kita membaca Alkitab artinya kita sedang mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita. Perkataan Tuhan itu mempunyai kuasa untuk mencipta, melepaskan, menyembuhkan, menghiburkan dan menyelamatkan. Firman itu adalah Tuhan Yesus sendiri, Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya seperti tertulis: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:1-3, 14).

Banyak orang Kristen mengakui kebenaran Alkitab sebagai firman Tuhan yang hidup dan berkuasa, tetapi mereka seringkali memperlakukan Alkitab secara tidak wajar: membuka dan membaca Alkitab jika sedang luang saja, atau memperlakukan Alkitab secara istimewa hanya saat beribadah di gereja saja. Ketika sedang dihadapkan pada masalah atau kesulitan hidup mereka merasa sangsi terhadap kuasa firman Tuhan, dan lebih mempercayai omongan orang atau pendapat manusia, lebih menuruti nasihat orang fasik daripada mengikuti petunjuk firman Tuhan. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35).

Milikilah komitmen seperti pemazmur: “Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.” Mazmur 119:57


Sabtu. PEMIMPIN BERHATI GEMBALA

Baca: 1 Petrus 5:1-11

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” 1 Petrus 5:3

Jika mendengar kata pemimpin yang acapkali muncul di bayangan adalah orang yang punya kuasa untuk mengatur, memerintah dan memegang kendali. Karena punya otoritas atau kuasa, seorang pemimpin seringkali bertindak semena-mena, mau menang sendiri, tidak mau disalahkan, tidak mau menerima kritikan, apa yang diperintahkan harus dituruti seperti tertulis: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25).

Berbicara tentang kepemimpinan, entah itu kepemimpinan suatu bangsa, sebuah perusahaan atau instansi, gereja, sekolah dan juga keluarga, kita berbicara tentang sebuah keteladanan hidup. “Pemimpin itu memimpin dengan contoh, bukan dengan paksaan.” (Sun Tzu). Bagaimana kita bisa menjadi teladan bagi banyak orang, atau menjadi panutan dalam hal melakukan kehendak Tuhan, itulah inti sebuah kepemimpinan. Rasul Petrus memperingatkan bahwa seorang pemimpin sejati haruslah memiliki hati gembala seperti yang Tuhan Yesus teladankan. Ketika memimpin umat, Tuhan Yesus memposisikan diri-Nya bukan seperti orang yang memerintah atau memimpin dengan tangan besi, melainkan sebagai Gembala yang sedang menggembalakan kawanan domba-Nya. “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yohanes 10:14). Seorang pemimpin sejati mengenal kawanan dombanya dengan baik, alias memiliki kepekaan. “Telinga seorang pemimpin harus peka dengan suara orang lain.” (Woodrow Wilson).

Seorang pemimpin harus menyadari bahwa orang-orang yang dipimpinnya itu bukanlah orang yang bisa diperlakukan seenaknya, melainkan kawanan domba yang dipercayakan Tuhan untuk dibimbing, dituntun dan diarahkan ke jalan yang benar. Karena itu kita harus mampu menjadi teladan atau berkat bagi yang dipimpinnya, bukan hanya sekedar memerintah. Inilah yang akan menimbulkan respek dari pengikutnya!

Jadilah pemimpin yang mampu memberikan teladan hidup bagi orang lain!


Minggu. ADA BERKAT DI BALIK UCAPAN SYUKUR

Baca: Mazmur 111:1-10

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111:1

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup ini seharusnya bibir kita takkan pernah berhenti berkata: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5), dan “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Tiada kata selain bibir yang senantiasa memuliakan nama Tuhan (ucapan syukur). Tapi banyak orang Kristen yang lupa mengucap syukur, kecuali dalam keadaan baik (terberkati); padahal di balik ucapan syukur terkandung berkat yang luar biasa pula.

Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk wanita dan anak-anaknya, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, semuanya kenyang, dan bahkan masih tersisa 12 bakul. Berawal dari ucapan syukur, mujizat pun terjadi! “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yohanes 6:11). Secara naluriah kita terdorong untuk mengucap syukur bila memiliki sesuatu yang berlebih, menerima dalam jumlah besar atau sedang surplus. Ditinjau dari sudut mana pun 5 roti dan 2 ikan tidak akan pernah cukup untuk memberi makan 5000 orang! Sangat tidak masuk akal! Kita pasti akan berkata seperti Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yohanes 6:7). Bukankah kita cenderung merasa kuatir, lalu bersungut-sungut, mengomel ketika memiliki atau menerima sedikit?

Dari sepuluh orang yang menderita kusta hanya satu orang Samaria saja yang tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang dialaminya, sedangkan sembilan orang lainnya pergi begitu saja setelah sembuh. Karena ucapan syukur inilah ia tidak saja disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga beroleh berkat rohani yaitu anugerah keselamatan oleh karena imannya (baca Lukas 17:19).

Di segala keadaan jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena ucapan syukur adalah pintu gerbang menuju berkat!

HIDUPLAH OLEH ROH

HIDUPLAH OLEH ROH

PENDAHULUAN

Memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa murid Kristus bukan sekadar kegiatan pelayanan. Ini adalah sebuah peperangan rohani. Kuasa kegelapan berusaha menutupi hati manusia sehingga mereka menolak terang Injil, karena terang itu menyingkapkan perbuatan mereka yang jahat. Iblis selalu berusaha menghalangi orang untuk mendengar dan percaya kepada pemberitaan Injil.

Karena itu, tantangan dalam menyelesaikan Amanat Agung ke depan tidak akan semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Namun Tuhan tidak membiarkan kita berjuang sendirian. Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk menolong, memimpin, dan memampukan kita sampai kepada akhir zaman. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu belajar hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.

ISI

Meskipun kita sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kita masih dapat mengalami pergumulan dengan dosa dan kedagingan. Rasul Paulus sendiri mengakui pergumulan ini dalam hidupnya. Roma 7:19 berkata:“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Pergumulan ini menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada pertentangan antara keinginan Roh dan keinginan daging. Ketika seseorang hidup menurut kedagingan, manusia rohnya menjadi lemah. Kedagingan membuka celah bagi si jahat untuk menjerat dan mempengaruhi kehidupan kita. Akibatnya kita menjadi sulit mendengar suara Roh Kudus dan mudah jatuh ke dalam dosa. Jika kedagingan dibiarkan, maka kesatuan tubuh Kristus akan rusak, dan gereja tidak dapat menjalankan panggilannya dengan maksimal.

Karena itu firman Tuhan berkata dalam Galatia 5:16:

“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

Firman Tuhan menjelaskan bahwa perbuatan daging menghasilkan berbagai dosa seperti perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Tetapi kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Orang yang hidup oleh Roh tidak hanya memiliki pengetahuan tentang firman Tuhan. Roh Kudus menghidupkan firman itu di dalam hatinya sehingga ia dimampukan untuk menjadi pelaku firman.

Bagaimana Caranya Hidup Oleh Roh?

1. Menjaga hubungan dengan Tuhan melalui doa, pujian, dan penyembahan.

Sering kali kesibukan, kelelahan, masalah hidup, atau berbagai tuntutan membuat kita lalai membangun hubungan dengan Tuhan. Namun kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang membuat kita merasa punya alasan untuk tidak mencari Tuhan. Kita perlu dengan sengaja menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya. Belajar membayar harga untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, sebab Yesus berkata bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Melalui doa, pujian, dan penyembahan, kita masuk ke dalam hadirat Tuhan. Di dalam hadirat-Nya kita belajar mendengar suara-Nya dan memahami kehendak-Nya bagi hidup kita. Di sana manusia roh kita dikuatkan dan dipuaskan oleh Roh Kudus sebagai sumber air hidup.

Ketika kita terus bertekun dalam hadirat Tuhan, Roh Kudus semakin memenuhi hati dan hidup kita. Kita semakin peka terhadap pimpinan-Nya dan semakin rindu untuk menaati-Nya.

2. Menanggalkan manusia lama dan memperbarui pikiran dengan firman Tuhan

Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang pikirannya sia-sia dan hatinya menjadi keras. Efesus 4 mengingatkan kita untuk meninggalkan kehidupan lama: membuang dusta, mengendalikan amarah, hidup jujur, bekerja dengan benar, dan menjaga   supaya perkataan kita membangun orang lain.

Ketika kita terus memperbarui pikiran kita dengan firman Tuhan, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita untuk mengubah cara berpikir, sikap, dan tindakan kita. Kita belajar mengenakan manusia baru yang hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

3. Hidup dalam kasih dan saling melayani

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan nyata melalui hubungan kita dengan orang lain. Efesus 4:31-32 mengajar kita untuk membuang kepahitan, kemarahan, pertikaian, dan fitnah. Sebaliknya, kita dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati, saling mengasihi, dan saling mengampuni. Galatia 5:13 berkata: “Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Kasih adalah bukti nyata bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan kita.

PENUTUP

Firman Tuhan berkata: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25). Godaan dan tantangan dalam hidup pasti tetap ada, namun Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita untuk tidak tunduk kepada keinginan daging.

Kemerdekaan yang kita terima di dalam Kristus bukan digunakan untuk hidup sesuka hati, tetapi untuk mengikuti pimpinan Roh Kudus. Ketika kita hidup oleh Roh, kita dimampukan untuk hidup dalam kasih, menjaga kesatuan tubuh Kristus, dan bersama-sama menyelesaikan Amanat Agung yang Tuhan percayakan kepada gereja-Nya. Kiranya setiap kita belajar semakin hari semakin hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Berpuasa, Merendahkan Diri dan Bertobat

Berpuasa, Merendahkan Diri dan Bertobat

Senin. Berpuasa, Merendahkan Diri dan Bertobat

Baca:  Ezra 8:21-30

“Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.”  Ezra 8:23

Ketika hendak memimpin rombongan orang-orang Israel kembali ke Yerusalem setelah menjadi tawanan di Babel, Ezra dihadapkan pada dua pilihan:  langsung meminta pertolongan kepada raja  (apalagi ia memiliki hubungan yang dekat dan dipercaya raja), atau datang kepada Tuhan meminta campur tangan-Nya.

Tercatat bahwa Ezra membuat keputusan yang benar yaitu mencari Tuhan dengan sungguh.  Hal itu menunjukkan bahwa ia tidak bertindak menurut akalnya sendiri atau menggunakan jurus  ‘aji mumpungnya’  dengan berharap kepada raja.  Kesungguhannya mencari Tuhan ditunjukkan dengan memaklumkan puasa kepada seluruh rakyat:  “Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami. Karena aku malu meminta tentara dan orang-orang berkuda kepada raja untuk mengawal kami terhadap musuh di jalan; sebab kami telah berkata kepada raja, demikian: ‘Tangan Allah kami melindungi semua orang yang mencari Dia demi keselamatan mereka, tetapi kuasa murka-Nya menimpa semua orang yang meninggalkan Dia.’ Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.”  (ayat 21-23).

Berpuasa dengan disertai berbagai permintaan kepada Tuhan, tanpa terlebih dahulu merendahkan diri dan bertobat, tidak akan mendatangkan faedah apa-apa.  Puasa yang sesuai dengan kehendak Tuhanlah yang dapat mendatangkan kuasa, menggerakkan tangan Tuhan untuk berbuat sesuatu.  Sekalipun keadaan sepertinya tidak ada harapan, asal kita mau datang kepada Tuhan dengan merendahkan diri dan berpuasa, jalan pemulihan pasti terbuka.  Puasa kudus adalah obat mujarab untuk segala macam kesulitan dan kesesakan.  Namun tidak sedikit orang melakukan puasa dengan tujuan bukan rohaniah, misalnya ingin menguruskan badan  (diet), atau melakukan puasa hanya karena kebiasaan  (rutinitas)  dengan bergantung pada hari-hari tertentu.

Berpuasa harus punya tujuan yang khusus ke hadirat Tuhan, dan tujuan utama berpuasa adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bertobat!


Selasa. Berpuasa: Melepaskan Belengu Dosa

Baca:  Yesaya 58:1-12

“Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.”  Yesaya 58:4

Tuhan tidak pernah melihat cara berpuasa secara lahiriah, yang Ia perhatikan adalah hati.  Puasa seseorang akan menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan sikap hati yang benar, atau tetap melakukan perbuatan dosa  (terbelenggu dosa).  Adalah penting sekali kita menyediakan waktu secara khusus untuk berdoa dan berpuasa supaya dengan pertolongan Roh Kudus kita dilepaskan dari roh-roh jahat yang selama ini membelenggu hidup kita:  roh percabulan, roh kesombongan, roh iri dengki, roh amarah, roh sulit mengampuni dan sebagainya.  Puasa jenis ini adalah bentuk pertobatan secara pribadi!

Secara terperinci, jujur dan terbuka kita mengakui segala dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan.  Jangan pernah menyembunyikan dosa sekecil apa pun, sebab  “…tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”  (Ibrani 4:13).  Dosa harus benar-benar dibereskan di hadapan Tuhan secara tuntas, jika tidak, pertumbuhan rohani kita tidak akan pernah maksimal dan berkat-berkat Tuhan pun akan menjadi terhalang.  Karena itu kita harus menjadi orang Kristen yang benar-benar merdeka, terbebas dari segala belenggu dosa dan kuk.  Tuhan berkata,  “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,”  (Yesaya 58:6).

Kesalahan yang sering dilakukan ketika sedang berpuasa yaitu berpuasa tanpa disertai pertobatan.  Puasa model demikian tak lebih dari sekedar rutinitas dan hanya akan menyiksa badan tanpa membawa hasil, karena  “…suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.”  (ayat nas), doa kita tidak akan didengar Tuhan.  Berpuasa yang benar adalah belajar menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.  Menyalibkan kedagingan itu memang sakit, tetapi buahnya kelak pasti manis.

Puasa yang benar adalah puasa yang disertai dengan pertobatan, olehnya kita dibebaskan dari belenggu dosa dan menjadi seorang yang lebih dari pemenang!


Rabu. BUKAN SIAPA-SIAPA DI MATA MANUSIA
Baca: Hakim-Hakim 3:31

“Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya.”  Hakim-Hakim 3:31

Kebanyakan orang berpikir bahwa Tuhan hanya akan memakai orang-orang yang di pandangan manusia memiliki banyak kelebihan:  cerdas, pintar, kaya, cantik, tampan atau punya sesuatu yang dibanggakan di hadapan sesamanya.  Tuhan tidak pernah memperhatikan apa pun yang tampak hebat secara kasat mata!  Yang Tuhan perhatikan dan perhitungkan adalah respons hati seseorang ketika menerima panggilan Tuhan.  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;”  (Amsal 19:22).  Apalah artinya seseorang tampak hebat di mata manusia, atau punya multi talenta, jika ia sendiri tidak mau mengembangkan potensi yang ada dengan penuh kesetiaan.

Samgar adalah orang sederhana yang hanya berprofesi sebagai peternak atau petani, suatu profesi yang dipandang remeh, sepele dan sangat tidak diperhitungkan oleh manusia, namun justru dipilih Tuhan untuk melakukan perkara yang luar biasa.  Karena namanya hanya disebut sebanyak 2X di Alkitab, tidaklah mengherankan jika nama Samgar masih terdengar asing di telinga, padahal ia adalah salah satu tokoh hebat di Israel.  Ia hidup pada masa setelah Ehud sukses menundukkan bangsa Moab  (sehingga bangsa Israel menjadi aman selama 80 tahun).  Kalahnya bangsa Moab tidak membuat bangsa Israel terbebas dari musuh sepenuhnya, karena ada banyak musuh yang sewaktu-waktu bisa datang, salah satunya adalah bangsa Filistin.  Di tengah ancaman bangsa Filistin ini tampillah Samgar sebagai pahlawan bagi bangsanya.

Meski hanya berbekal tongkat penghalau lembu  (tongkat yang terbuat dari kayu panjangnya kira-kira 8 feet  (2,4m), dilengkapi paku-paku besi runcing di ujungnya, biasanya berfungsi menggiring lembu pada waktu membajak tanah)  Samgar mampu menewaskan 600 tentara Filistin.  Tongkat penghalau lembu adalah tongkat biasa, tapi jika Tuhan turut campur tangan,  “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?”  (Kejadian 18:14a).  Mungkin di mata manusia kita ini bukanlah siapa-siapa, tapi jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah lawan kita?

“Tetapi…apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,”  1 Korintus 1:27


Kamis. HAJARAN TUHAN UNTUK MENYELAMATKAN
Baca: Mazmur 94:1-23

“Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,”  Mazmur 94:12

Mendengar kata hajaran pasti timbul kengerian di benak kita, karena terbayang keadaan seseorang yang sedang merintih kesakitan dalam kondisi babak belur, terluka dan berdarah-darah akibat menerima pukulan.  Dalam kehidupan Kristiani, menerima hajaran dari Tuhan adalah perkara yang tak bisa dihindari, terlebih-lebih jika kita berlaku menyimpang dari firman Tuhan, siap-siaplah menerima  ‘hajaran’  Tuhan.

Tuhan menghajar umat-Nya bukan berarti membenci atau tidak mengasihi kita, justru hajaran-Nya adalah wujud kasih-Nya kepada kita.  Hajaran Tuhan adalah bentuk proses pendisiplinan supaya hidup kita semakin sempurna dan lebih baik dari sebelumnya.  Tidak sedikit orang Kristen yang mulai meninggalkan Tuhan, tidak lagi bersungguh-sungguh dalam hal-hal rohani setelah hidupnya diberkati atau mengalami kelimpahan.  Karena itu perlu sekali Tuhan mengijinkan masalah atau memberikan jalan yang tidak rata, hidup yang ada tantangannya.  Itu pertanda bahwa Tuhan sedang menegur;  tetapi jika tetap saja mengeraskan hati, mulailah Tuhan harus menghajar.  Setiap hajaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Dia menghajar dengan target dan tujuan secara khusus.  Karena itu milikilah respons yang benar ketika sedang dihajar dan diproses Tuhan seperti Ayub yang bisa berkata,  “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).

Sampai berapa lama Tuhan menghajar kita?  Itu sangat tergantung pada respons kita, apakah kita segera sadar dan mau menyerah penuh kepada Tuhan.  Kalau kita terus memberontak dan mengeraskan hati maka hajaran Tuhan akan berlangsung lama seperti yang dialami oleh bangsa Israel yang harus  ‘diproses dan dihajar’  Tuhan selama 40 tahun di padang gurun.  Karena itu pemazmur berkata,  “Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka,”  (Mazmur 94:12-13).  Orang yang memiliki kepekaan rohani tidak akan pernah memberontak atau pun lari ketika sedang  ‘dihajar’  Tuhan.

“Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.”  1 Korintus 11:32


Jumat. SUDAHKAH BENAR-BENAR PERCAYA?
Baca: Yohanes 3:31-36

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”  Yohanes 3:36

Percaya kepada Yesus sebagai  Tuhan adalah sesuatu yang luar biasa, sangat berharga, mulia, tak ternilai dan tak bisa digantikan dengan uang, emas, perak, harta, atau apa pun yang ada di dunia.  Mengapa?  Sebab percaya kepada-Nya adalah syarat untuk memperoleh hidup yang kekal.  Namun tidak sedikit orang datang kepada Yesus bukan karena percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat,  “…melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”  (Yohanes 6:26).  Mereka mencari Tuhan Yesus didorong oleh motif yang tidak murni:  ingin berkat, mujizat, kesembuhan dan sebagainya.

Ketika percaya kepada Tuhan Yesus tidak secara otomatis kita menjadi kaya materi, bebas dari masalah atau krisis, semua berjalan mulus atau apa yang kita inginkan terpenuhi!  Itu yang kurang dipahami oleh semua orang;  begitu fakta berkata lain, kita pun terus membanding-bandingkan keadaan semasa berada di Mesir, dan timbul niat untuk kembali ke sana.  Percaya kepada Tuhan Yesus berarti mengenal Dia secara pribadi, percaya perkataan-Nya, mengimani setiap janji-janji-Nya, dan percaya segala sesuatu yang telah Kristus perbuat.  Inilah pengakuan Petrus,  Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”  (Yohanes 6:68-69).

Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus akan menempatkan Dia sebagai Raja dan Pemimpin bagi kehidupannya sehingga ia akan taat melakukan apa yang diperintahkan-Nya.  Selain itu orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan pasti tidak akan pernah mendua atau bercabang hati, melainkan berkomitmen untuk mengabdikan diri kepada Tuhan di segala keadaan, bahkan sampai akhir hidupnya, sebab ada tertulis:  Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  (Matius 6:24).

Sebagai orang percaya jangan sekali-kali kita melepaskan kepercayaan kepada Tuhan Yesus, apa pun alasannya, karena upah besar menanti kita!


Sabtu. KEBERHASILAN KARENA TINGGAL DALAM FIRMAN (1)
Baca: Mazmur 1:1-6

“tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”  Mazmur 1:2

Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan hidup seseorang sangat ditentukan oleh kecerdasan intelektual atau kecerdasan dalam bidang akademik  (IQ)  sepenuhnya.  Benarkah?  Riset justru menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual  (IQ)  ternyata hanya menyumbang 20% dari keberhasilan seseorang, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor lain yaitu kecerdasan emosional  (EQ).  Kecerdasan emosional  (EQ)  adalah kemampuan untuk mengenali, memahami dan mengelola emosi kita sendiri dan emosi orang lain secara positif.  Karena itu orang yang memiliki kecerdasan emosional  (EQ)  tinggi akan mampu berkomunikasi lebih baik, membentuk hubungan yang lebih kuat dan mencapai sukses yang lebih besar di tempat kerja ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan emosional  (EQ)  berbicara tentang karakter atau perilaku hidup seseorang.  Bagi orang percaya pedoman utama untuk meningkatkan kecerdasan emosional  (EQ)  adalah Alkitab, sebab  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”  (2 Timotius 3:16).  Penting sekali memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan.  Ada tertulis:  “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.”  (Hosea 4:6).  Untuk memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan kita harus menyediakan waktu untuk membaca, mempelajari dan merenungkan firman Tuhan itu siang malam, dan menjadikan hal itu sebagai gaya hidup, bukan untuk keterpaksaan, seperti Daud yang berkata,  “…Taurat-Mu adalah kegemaranku.”  (Mazmur 119:77).

Pemazmur menyatakan keberadaan orang yang tinggal dalam firman  “…seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”  (Mazmur 1:3).

Semakin kita merenungkan firman Tuhan siang malam semakin kita tahu tentang kunci untuk mengalami penggenapan janji Tuhan dan meraih keberhasilan hidup!


Minggu.KEBERHASILAN KARENA TINGGAL DALAM FIRMAN (2)
Baca: Yesaya 55:6-13

“demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”  Yesaya 55:11

Ayat nas menegaskan bahwa setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia, melainkan akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya.  Luar biasa!  Karena itu jangan pernah menganggap remeh atau sepele ayat-ayat firman Tuhan!

Pemazmur memiliki pengalaman hidup yang luar biasa ketika ia senantiasa  ‘tinggal’  di dalam firman Tuhan,  Dikatakan,  “Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana…lebih berakal budi…lebih mengerti…”  (Mazmur 119:98-100);  bijaksana  (Ibrani:  chakam)  berarti kemampuan dalam teknik bekerja, kecerdasan, kelihaian atau kecerdikan.  Ini sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup karena ada banyak tantangan yang menghadang langkah kita, dan firman Tuhan memberikan pedoman bagaimana kita tetap kuat berdiri dan tidak mudah terjatuh;  berakal budi  (Ibrani:  sakal)  artinya sangat berhati-hati, cerdas, punya kapasitas untuk sebuah pengertian.  Sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat, jika kita tidak berakal budi kita akan mudah sekali terbawa arus dunia ini, dan gampang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan;  mengerti  (Ibrani:  biyn)  artinya melihat, kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan yang salah.  Firman Tuhan membuat kita memiliki kepekaan rohani sehingga mampu membaca situasi dan peristiwa apa pun.

Alkitab menyatakan bahwa  “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”  (Matius 24:35).  Karena tahu persis dan memiliki pengalaman hidup betapa firman Tuhan itu berkuasa dan memberi keuntungan besar dalam hidupnya, maka di hari-hari akhir hidupnya Daud pun berpesan kepada Salomo,  “Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,”  (1 Raja-Raja 2:3).

“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.”  Mazmur 33:9

 

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

Monthly Theme: Menyelesaikan Amanat Agung Diperlengkapi Kuasa Roh Kudus

PENDAHULUAN

Allah memberikan kehendak bebas ketika menciptakan manusia. Bukti bahwa manusia diciptakan “segambar” dan “serupa” dengan Allah adalah manusia diberi akal budi untuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusan. Manusia tidak diciptakan bagai sebuah robot/mesin yang hanya beroperasi sesuai dengan tombol perintah dari “sang operator”. Waktu menghadapi banyak pilihan, sebagai makhluk berakal budi, manusia dilatih untuk dapat menimbang-nimbang segala pilihan-pilihan itu, inilah yang disebut dengan kehendak bebas.

ISI

Di Taman Eden, pohon pengetahuan yang baik dan jahat tidak dilenyapkan oleh Tuhan sebagai bukti bahwa Ia menghargai kehendak bebas manusia. Manusia diajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuatnya, karena ada konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Tuhan memberikan kehendak bebas (kemerdekaan) dalam memilih sebagai cerminan pemberian kedaulatan Tuhan bagi manusia dalam porsi yang terbatas. Kehendak bebas manusia sama sekali tidak dapat melunturkan Kemahakuasaan dan Kedaulatan Tuhan.

Mengenai kemerdekaan/kebebasan manusia, ada peringatan keras dalam Galatia 5:13. Walaupun manusia dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan, jangan sampai kehendak bebas itu digunakan untuk hidup dalam dosa yang dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri. Sebaliknya, kemerdekaan itu hendaknya dipakai untuk dapat melayani/membangun satu dengan lainnya atas dasar kasih sesuai dengan kehendak Tuhan.

Barry Schwartz, lewat Paradox of Choice menyatakan bahwa ada dua jenis kebebasan atau kemerdekaan:
• Kebebasan Negatif (Negative Freedom): adalah bebas dari perintah dan aturan. Dengan bebas dari perintah dan aturan, manusia menjadi makhluk liar.
• Kebebasan Positif (Positive Freedom): adalah suatu keadaan dimana dengan kebebasan yang dimiliki, manusia memilih untuk melakukan isi perintah dan aturan yang dapat memaksimalkan potensinya.

Bila kebebasannya digunakan secara negatif, manusia menjadi bebas sebebas bebasnya, tanpa aturan, tanpa hukum, tanpa etika, tanpa moral, tanpa mempertimbangkan hak dan kewajiban sesamanya; dan manusia akan menjadi makhluk yang liar. Tapi bila kebebasannya digunakan untuk memilih yang baik dan benar, maka lewat pilihannya itu, ia dapat memaksimalkan potensi dirinya sendiri dan juga potensi orang lain, sehingga apa yang sudah dirancangkan oleh Allah Sang Pencipta dapat dicapai secara penuh.

Tuhan menghendaki manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk menaati kehendak-Nya. Allah ingin manusia mengikuti kehendak-Nya bukan karena terpaksa, melainkan dengan sadar memilih untuk taat akan perintah Tuhan. Inilah tujuan Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia; di tengah-tengah segala pilihan yang ada, manusia tetap dapat menaati kehendak Tuhan. Sayangnya manusia gagal, keliru menggunakan kehendak bebasnya, sehingga jatuh ke dalam dosa. Padahal, jika manusia memilih untuk taat kepada Tuhan, rencana Tuhan akan digenapi dengan sempurna (Kejadian 1:28).

Tuhan tetap bekerja diatas kehendak bebas manusia. Roma 8:28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam “segala sesuatu”, termasuk di dalamnya adalah kehendak bebas manusia. Allah dapat menunjukkan kedaulatan-Nya dalam kehendak bebas manusia.  Ketika saudara-saudara Yusuf merancangkan yang jahat kepadanya, Tuhan tidak melakukan intervensi atas tindakan jahat mereka tapi Allah menggunakan perbuatan-perbuatan jahat saudara-saudara Yusuf tersebut untuk menjadi jalan bagaimana Allah memelihara sebuah bangsa yang besar. Ia dipakai Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan (Kejadian 50:20).

Bagaimana cara menggunakan kehendak bebas dengan benar? Dalam Yohanes 15:7 Tuhan mengatakan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
“Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, terlihat betapa Tuhan juga tetap menghargai kehendak bebas manusia. Bagaimana supaya kehendak bebas manusia tidak dipakai sembarangan sehingga jatuh dalam dosa? Jawabannya adalah, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Supaya tidak salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, manusia harus betul-betul hidup melekat dengan Tuhan dan selaras dengan Firman Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia untuk memiliki pengetahuan (cognitive) yang benar tentang Tuhan dan memiliki pengalaman hidup (affective) bersama dengan Tuhan sehingga manusia dapat menggunakan kehendak bebas yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Cognitive adalah aktivitas mental/proses berpikir yang melibatkan kemampuan otak dalam menerima, memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi. Ini mencakup fungsi seperti belajar, mengingat, memecahkan masalah, penalaran, perhatian, dan pengambilan keputusan. Affective adalah kata sifat yang berkaitan dengan emosi, perasaan, suasana hati (mood), dan sikap seseorang. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana perasaan memengaruhi perilaku, pemikiran, atau reaksi seseorang terhadap stimulus.

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran (cognitive) dan perasaan (affective) yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Untuk menjadi seperti Yesus, seorang pribadi yang kuat membutuhkan keseimbangan antara cognitive (pikiran) dan affective (perasaan) seperti Filipi 2:5 dan Galatia 5. Supaya manusia tidak tersesat dalam kehendak bebasnya, ia harus hidup sesuai dengan pimpinan Roh Kudus, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16).

PENUTUP

Diskusi:
Mengasihi Tuhan bukan sekedar perasaan sayang/kasih, tetapi harus didemonstrasikan dengan ketaatan (Yohanes 14:15). Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan memakai kemerdekaan/kehendak bebas kita untuk taat melakukan perintah Tuhan; hidup di pimpin Roh Kudus dan Firman Tuhan. Baca Galatia 5:13.

HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (2)

HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (2)

Senin. HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (2)

Baca: 1 Korintus 6:12-20

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan?” 1 Korintus 6:15

Alkitab menyatakan bahwa situasi akhir zaman akan sama seperti zaman Sodom, Gomora dan zaman Nuh, di mana dosa seks (percabulan) dan kejahatan begitu merajalela. “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.” (Lukas 17:26-29).

Sekarang ini kejahatan seksual semakin hari semakin meningkat: pencabulan terhadap anak di bawah umur, pemerkosaan, prostitusi, penyimpangan seks yang akhirnya memunculkan istilah ‘LGBT’. Tertulis: “…isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.” (Roma 1:26-27). Situasi serupa juga terjadi di Korintus di masa pelayanan rasul Paulus. Kemerosotan moral mengakibatkan orang kehilangan perasaan berdosa dan menganggap dosa seksual sebagai hal yang biasa dan lagi ngetren.

Rasul Paulus memperingatkan bahwa “…tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.” (1 Korintus 6:13). Karena itu “…matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).” (Kolose 3:5-6). Bila ingin hidup tidak bercacat dan tidak bernoda di hadapan Tuhan, tidak ada jalan lain, selain harus menjaga kekudusan hidup dan menjauhkan diri dari segala kecemaran.

Orang percaya dipanggil untuk melakukan apa yang kudus, bukan yang cemar!


Selasa. MENANTIKAN TUHAN: Ibadah Dengan Sungguh

Baca: Mazmur 2:1-12

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar,” Mazmur 2:11

Kita semua tidak tahu secara pasti kapan Kristus datang, namun melihat fakta-fakta yang ada (kekristenan mengalami tekanan yang semakin berat, munculnya organisasi tertentu yang ditunggangi roh antikristus untuk melakukan penganiayaan terhadap orang percaya, bencana alam yang datang silih berganti dan sebagainya) semakin memperjelas bahwa Tuhan datang tidak akan lama lagi. Siapakah kita menyambut kedatangan Tuhan?

Hal mendasar yang harus kita perhatikan adalah perihal ibadah! Apakah selama ini kita sudah beribadah kepada Tuhan dengan sungguh? Orang yang sungguh-sungguh beribadah pasti mengalami kuasa ibadah itu sendiri. Kenyataannya, meski banyak orang tampak aktif ke gereja setiap Minggu, tidak semua mengalami kuasa ibadah, karena mereka beribadah kepada Tuhan dengan sikap hati yang benar. Ada tertulis: “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.” (Pengkhotbah 4:17). Ibadah dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai service, artinya pelayanan, sedang dalam bahasa aslinya adalah abodau yang artinya bekerja, melayani Tuhan, dan menjadikan diri sebagai seorang hamba. Ada pun kata hamba selalu identik dengan labour yang artinya bekerja keras. Jadi ibadah yang benar itu bukan sekedar duduk, memuji Tuhan ala kadarnya dan mendengarkan firman Tuhan sambil lalu, tetapi kita bekerja keras untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan.

Di Perjanjian Lama untuk beribadah kepada Tuhan setiap orang harus membawa korban binatang seperti domba, kambing, burung merpati dan sebagainya. Kini kita tidak perlu lagi membawa korban binatang ketika datang beribadah, karena Kristus sudah mati menjadi korban tebusan bagi kita melalui kematian-Nya di kayu salib, namun hal ini tidak boleh mengubah arti ibadah yang sesungguhnya yaitu kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan (baca Roma 12:1).

“…ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” 1 Timotius 4:8


Rabu. KEGAGALAN BUKANLAH AKHIR SEGALANYA

Baca: Amsal 24:15-20

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” Amsal 24:16

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan di sepanjang hidupnya, bukan sekali atau dua kali, tapi mungkin berkali-kali. Ketika gagal kebanyakan orang merespons dengan sikap negatif: menyerah dan berputus asa. Namun sebagai orang percaya kita diajar untuk tidak gampang menyerah dalam situasi apa pun, melainkan terus berusaha dan berjuang. Ketika gagal adakalanya kita merasa lelah untuk berdoa dan berharap, lalu kita mulai membuat banyak banyak alasan untuk berhenti berdoa dan berusaha. Ada tertulis: “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” (Pengkhotbah 11:4). Tuhan tidak menghendaki kita terpaku kepada kegagalan-kegagalan masa lalu, melainkan terus maju menatap ke depan.

Justru kita harus menjadikan kegagalan sebagai cambuk untuk kita keluar dari zona nyaman dan mengijinkan Tuhan untuk bekerja lebih lagi di dalam kita. “…aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6). Tetaplah percaya kepada Tuhan bahkan saat kita berada di titik terendah sekali pun dan tak berdaya, sebab “Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.” (Mazmur 121:3-5). Janji Tuhan adalah ya dan amin, tiada janji yang tak ditepatiNya!

Yusuf adalah salah satu contoh orang yang mengalami berbagai masalah berat dan berada di situasi yang seolah-olah mengantarkannya kepada kehancuran; namun ketika ia terus menjaga konsistensi iman dan tetap mempertahankan hidup benar di hadapan Tuhan, proses demi proses yang dijalaninya semakin mengantarkannya kepada penggenapan janji Tuhan, karena dalam segala perkara Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Oleh karena itu jangan sekali-kali bersandar pada apa yang kita lihat secara jasmani, melainkan percayalah pada kuasa adikodrati-Nya! (Baca Mazmur 37:5).

“Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.” Mazmur 126:1


Kamis. MEMBANGUN YANG TELAH MUSNAH

Baca: Yehezkiel 36:1-38

“Dan bangsa-bangsa yang tertinggal, yang ada di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang membangun kembali yang sudah musnah dan menanami kembali yang sudah tandus. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.” Yehezkiel 36:36

Keadaan dunia sekarang ini semakin tidak menentu, tak seorang pun termasuk para ahli dapat menebak segala sesuatunya karena banyak hal yang tak terduga terjadi. Jika demikian, apa yang bisa dibanggakan dalam hidup seseorang selain harus bergantung penuh kepada Tuhan? Tidak sedikit orang frustasi karena apa yang semula diyakini akan berhasil justru menuai kegagalan dan kehancuran.

Secara akal apa yang sudah hancur tak mungkin bisa dipulihkan kembali. Benar, orang-orang di luar sana boleh saja berkata seperti itu, tapi orang percaya tidak seharusnya bersikap demikian, sebab kita selalu memiliki harapan di dalam Tuhan. “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Asalkan kita sungguh-sungguh mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan mengandalkan Dia, masalah separah apa pun pasti ada pertolongan dan jalan keluarnya karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sanggup membangun kembali apa yang telah musnah. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” (Matius 12:20).

Jangan terprovokasi oleh bisikan Iblis yang selalu berusaha melemahkan dan menghancurkan hidup kita! Sekalipun keadaan sudah teramat parah dan secara manusia tak mungkin untuk dipulihkan dan diperbaiki, tetaplah arahkan pandangan kepada Tuhan Yesus, Dia Tuhan yang Mahabesar, jauh lebih besar dari masalah apa pun di dunia ini, yang kasih dan kuasa-Nya tak pernah berubah dari dahulu, sekarang dan selamanya, “…yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2). Tuhan Yesus menegaskan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6). Karena itu jangan sekali-kali mencari jalan atau pertolongan di luar Dia! Tuhan Yesus lebih dari cukup bagi kita, sebab sekalipun kita jatuh, “…tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:24).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan untuk mengubah keadaan orang benar!


Jumat. MENCARI TUHAN: Rahasia Keberhasilan Hidup

Baca: 2 Tawarikh 14:2-15

“Ia memerintahkan orang Yehuda supaya mereka mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dan mematuhi hukum dan perintah.” 2 Tawarikh 14:4

Rancangan Tuhan bagi orang percaya adalah rancangan hidup yang penuh dengan kemenangan, keberhasilan, kelimpahan dan hari depan yang berpengharapan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Supaya rancangan Tuhan tergenapi dalam hidup ini kita harus terlebih dahulu mengerjakan apa yang menjadi bagian kita: “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,” (Yeremia 29:13). Orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh pasti akan menemukan Dia, “…sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.” (Mazmur 9:11).

Sepanjang masa pemerintahan Rehabeam dan Abia terjadi kemerosotan rohani di Israel karena penyembahan berhala begitu meningkat dan berbagai tempat penyembahan berhala didirikan. Namun ketika Asa menjadi raja, ia mulai membersihkan Yehuda dari penyembahan berhala dan mendorong umat mencari Tuhan yang benar dan menaati perintah-perintah-Nya. Raja Asa “…melakukan apa yang baik dan yang benar di mata TUHAN, Allahnya. Ia menjauhkan mezbah-mezbah asing dan bukit-bukit pengorbanan, memecahkan tugu-tugu berhala, dan menghancurkan tiang-tiang berhala.” (2 Tawarikh 14:2-3), lalu mencari Tuhan dengan sungguh. Kata mencari Tuhan ditulis sebanyak 29X dalam seluruh kitab Tawarikh ini, menunjukkan bahwa mencari Tuhan adalah faktor penting dalam kehidupan ini. Mencari Tuhan dengan sungguh berarti berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, punya rasa haus dan lapar akan kebenaran dan kehadiran Tuhan, taat mengikuti kehendak Tuhan, dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Sebagai raja, sesungguhnya Asa punya otoritas dan kuasa, namun ia tidak mengandalkan apa yang dimiliki, melainkan mencari Tuhan dan mengandalkan-Nya. Karena kesungguhannya mencari Tuhan, apa yang dilakukan Asa berhasil: Zerah beserta tentaranya yang berjumlah sejuta orang dan tiga ratus keretanya dikalahkan.

Tuhan memberi upah kepada orang yang sungguh mencari Dia (baca Ibrani 11:6).


Sabtu. JANGAN TUNDA WAKTU UNTUK BERTOBAT (1)

Baca: Yoel 2:12-17

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” Yoel 2:13

Nama Yoel memiliki arti Yehovah adalah Allah. Ada pun kata kunci dari kitab Yoel ini adalah tentang hari Tuhan. Pada zaman Yoel ini bermacam-macam belalang menyerbu dan tidak menyisakan satu pun tanaman di dataran Palestina. Hama belalang menimpa seluruh negeri sehingga tumbuh-tumbuhan rusak karena serangan ini. Ini menjadi bencana nasional! Yoel memperingatkan bahwa serangan belalang ini merupakan hukuman Tuhan sebagai dampak dari dosa-dosa yang diperbuat manusia. Yoel pun mengingatkan umat Israel akan kedatangan hari Tuhan, itulah sebabnya Yoel terkenal dan dikenal sebagi nabi hari Tuhan.

Ditimpa bencana hama belalang saja sudah mendatangkan penderitaan dan kengerian yang teramat dahsyat, apalagi jika hari Tuhan yang sesungguhnya itu datang, pasti akan jauh lebih dahsyat lagi. Bagi orang percaya yang setia dan taat melakukan kehendak Tuhan, hari Tuhan itu akan menjadi hari kelepasan dan penuh sukacita, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:4).

Sebaliknya bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan tetap hidup dalam dosa, hari Tuhan akan menjadi malapetaka, karena penghukuman kekal sudah ada di depan mata. Maka sebelum terjadi, harapan satu-satunya untuk mengubah malapetaka menjadi sesuatu yang mendatangkan kelepasan dan sukacita adalah melalui pertobatan. Karena itu Yoel menyerukan umat Israel untuk segera bertobat dari kehidupan mereka yang jahat. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” (Ibrani 3:15).

Dalam bahasa aslinya kata bertobat itu berarti: berubah arah tujuan, yaitu dari jalan orang berdosa yang selama ini dijalaninya ke arah jalan kehendak Tuhan. Atau secara umum pertobatan selalu mempunyai arti berbalik dari jalan semula, lalu berubah (berbalik dari dosa dan jalan kita) kepada Tuhan. Intinya, pertobatan itu selalu menuju kepada perubahan, yang tentunya ke arah yang baik dan benar. (Bersambung)


Minggu. JANGAN TUNDA WAKTU UNTUK BERTOBAT (2)

Baca: Yoel 2:12-17

“Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.” Yoel 2:14

Tuhan memakai hama belalang sebagai teguran dan bentuk pendisiplinan terhadap umat Israel yang telah menyimpang dari jalan-jalan-Nya. Ini adalah momentum tepat bagi mereka untuk menginstropeksi diri dan bertobat. Selagi waktu masih bergulir, selagi pintu kesempatan masih terbuka, jangan tunda-tunda waktu lagi untuk bertobat, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, “‘Tetapi sekarang juga,’ demikianlah firman TUHAN, ‘berbaliklahh kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.'” (ayat 12). Jika tidak, maka ‘hari Tuhan’ akan datang sebagai bencana yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan daripada hama belalang.
Tuhan mengutus Yoel untuk menyerukan pertobatan secara massal disertai dengan puasa. “Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah,” (ayat 15-17). Tujuan diadakannya puasa raya ini adalah untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan dan bertobat. Mereka juga diperintahkan untuk ‘mengoyakkan hati’, artinya datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan patah, sebab tertulis: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19); dan inilah janji Tuhan, “…umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14).

Sekarang ini bencana terjadi di mana-mana: banjir bandang, gempa bumi, tindak kejahatan, konflik, perpecahan dan sebagainya -yang tidak kalah hebat dari bencana belalang- sedang terjadi.

Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya untuk memulihkan keadaan yang ada apabila kita hidup dalam pertobatan, baik itu secara pribadi maupun bangsa.

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

PENDAHULUAN

Pemahaman yang benar akan identitas orang percaya dalam 1 Petrus 2:9 membawa kepada kesadaran akan tugas panggilannya. Di dalam identitas itu terkandung misi yang harus dijalani. Gereja/orang percaya hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjalankan misi Allah, yaitu untuk menyatakan keagungan-Nya yang telah memanggil kita dari kuasa dosa dan keputusasaan (kegelapan) menuju kebenaran dan kebebasan (terang Tuhan yang ajaib).

ISI

Identitas orang percaya

Kita disebut sebagai bangsa yang terpilih karena meresponi berita Injil Kristus dengan iman dan ketaatan. Sebagai imam Allah yang rajani, diberikan kuasa otoritas menjadi kepala untuk tujuan melayani dan membawa orang dunia mengenal kebenaran (bukan untuk dilayani dan menyalahgunakan kuasa). Menjadi pendoa syafaat, membawa orang lain menyembah Tuhan, menjadi berkat, dan menjadi agen transformasi yang membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan bangsa-bangsa. Kita dipanggil untuk memiliki cara hidup yang berbeda dari dunia supaya dapat hidup bagi Allah di dalam kekudusan sejati.

Misi orang percaya

Memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah, artinya menjadi saksi Kristus yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemuliaan Allah kepada orang lain. Misi dilakukan bukan dengan perkataan saja, tapi dibuktikan dengan gaya hidup dan buahnya yang mencerminkan Pribadi Kristus. Perkataan tanpa bukti perubahan hidup (transformasi nilai dan karakter) adalah misi yang tidak valid (artinya sama saja tidak menjalankan misi).

Menjalankan misi Tuhan di dunia bukanlah perkara mudah; diperlukan iman yang teguh, sikap yang konsisten  dan manusia roh yang dewasa untuk bisa bergerak maju di tengah kesulitan, aniaya  serta perlawanan dari penguasa dunia yang membutakan banyak orang (Iblis dan ilah-ilah jaman). Mereka yang hidup oleh iman kepada Kristus memang akan alami ujian berupa masalah, tantangan, dan penderitaan. Meskipun begitu, misi Allah tidak dapat dibatasi/digagalkan oleh hal-hal tersebut, sebab semua yang lahir dari Allah dapat mengalahkan dunia. Justru melalui masalah dan penderitaan, iman orang percaya semakin dikuatkan dan dimurnikan sehingga memancarkan terang kemuliaan Tuhan di tengah dunia yang gelap.

1 Petrus 2:11-16 memberikan panduan praktis untuk menjalankan misi Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Latih diri untuk menjauhi keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11).

Keinginan-keinginan daging membuat kita tidak bisa hidup oleh iman dan taat kepada pimpinan Roh Kudus, sebab keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Perbuatan daging yang harus dimatikan: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala (pemberontakan/ketidaktaatan/kedegilan hati dapat disamakan dengan penyembahan berhala), sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan (saling melukai, menyakiti, pertengkaran yang merusak hubungan dan perasaan orang lain), roh pemecah (gossip, fitnah), kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.

Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:27).

  1. Miliki cara hidup yang terpuji di tengah komunitas sekitar kita (1 Petrus 2:12).

Menjalankan gaya hidup Kerajaan Allah yang  konsisten membuat orang dunia dapat melihat kebaikan, kasih karunia dan kekudusan Allah melalui perilaku kita. Kelola hubungan dengan orang lain dalam kasih dan takut akan Tuhan; bangun karakter yang berintegritas (mis. jujur, melakukan apa yang kita katakan, bertanggung jawab, disiplin, tepat waktu, berani mengakui kesalahan, berkomitmen, setia, rajin, berdiri di atas kebenaran); jaga sikap dan perkataan, peduli kepentingan orang lain; cekatan/tidak segan menolong, melakukan kebaikan, dlsb. Memiliki cara hidup yang terpuji membuat orang dunia dapat melihat perilaku kita yang baik dan memuliakan Allah pada hari mereka dilawat-Nya.

  1. Berespon benar dalam menghadapi masalah, kesesakan, saat diperlakukan dengan tidak adil atau penderitaan lainnya (1 Petrus 2:21-23).

Jangan bersandar pada pikiran dan cara sendiri, tapi belajar mengikuti teladan Kristus sewaktu Ia dalam menghadapi kesesakan. Tidak hidup dipimpin perasaan tapi memilih berjalan dengan iman, ketaatan serta hanya mengandalkan Tuhan, maka pertolongan dan mukjizat pasti dianugerahkan kepada mereka yang percaya dan mengandalkan-Nya. Kesaksian hidup kita dapat dipakai Tuhan untuk menjangkau orang lain untuk datang kepada-Nya.

  1. Tunduk kepada lembaga pemerintahan (1 Petrus 2:13-14) dan kepada otoritas di atas kita (1 Petrus 2:18-19). Bayar pajak, ikuti aturan-aturan yang berlaku, doakan supaya para pemimpin negara/kota diberi roh takut akan Tuhan dan hikmat ilahi dalam menjalankan tugasnya.

PENUTUP

Panggilan Tuhan bagi kita adalah panggilan yang menuntut rasa hormat dan takut akan Dia. Hal ini mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan anugerah tersebut. Hiduplah sebagai orang merdeka dalam Kristus; jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa gaya hidup kita harus memancarkan misi Kerajaan Allah. Terang di tengah kegelapan dunia. Jangan malah menjadi batu sandungan yang menghalangi orang datang kepada Tuhan Yesus. Bertekunlah dalam doa agar Allah melawat mereka yang belum percaya lewat kehidupan saudara.

SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

Senin. SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

Baca:  2 Samuel 6:1-23

“Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.”  2 Samuel 6:6

Dari pembacaan firman ini kita melihat betapa bersemangatnya bangsa Israel saat membawa tabut Tuhan kembali ke Yerusalem.  “Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.”  (ayat 3, 5).  Tabut adalah tanda kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya dan menjadi pusat dari kehidupan bangsa Israel.

Karena terlalu bersemangat sampai-sampai mereka mengabaikan aturan-aturan yang telah ditetapkan.  Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa tak seorang pun diperbolehkan menyentuh tabut perjanjian, lambang kehadiran Tuhan itu.  “…janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati.”  (Bilangan 4:15).  Namun Uza telah melanggar ketetapan Tuhan itu, yaitu  “…mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu,”  (ayat nas).  Karena keteledorannya ini Uza harus menuai akibatnya,  “…ia mati di sana dekat tabut Allah itu.”  (2 Samuel 6:7).  Ternyata, bermodalkan semangat saja dalam melayani Tuhan tidaklah cukup tanpa disertai pengenalan yang benar akan Tuhan dan taat melakukan kehendak-Nya.  “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  (Hosea 6:6).  Dalam penilaian Tuhan ketaatan itu jauh lebih berharga daripada sekedar semangat dalam melayani, bahkan jauh bernilai dibandingkan dengan korban persembahan kita.

Mungkin kita cakap berkhotbah, menjadi worship leader hebat, atau memiliki jam terbang pelayanan mumpuni, tapi jika kita tidak menjadi pelaku firman, maka apa yang kita lakukan tak lebih seremonial belaka.  Memang kita hidup di bawah kasih karunia, namun setiap pelanggaran atau ketidaktaatan tetaplah memiliki konsekuensi.

Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan  (taat)  adalah tanda kita menghargai hadirat Tuhan!


Selasa. BERSEDIA MEMIKUL SALIB

Baca: Lukas 14:25-35

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Lukas 14:27

Dunia ini dipenuhi dengan ketidakadilan, penyimpangan, kekerasan dan hidup yang mementingkan diri sendiri.  Manusia lebih memilih berjalan menurut kehendaknya sendiri, tidak lagi peduli apakah itu sesat dan merugikan orang lain.  Ketika dihadapkan pada fenomena ini, haruskah orang percaya mengikuti jejak orang dunia dengan pola hidupnya yang bertentangan dengan kebenaran, ataukah tetap teguh meneladani Kristus hidup?

Tuhan Yesus berkata,  “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.”  (Matius 16:19a), namun  ‘kunci’  itu tidak Ia berikan kepada semua orang, hanya kepada mereka yang bersedia untuk membayar harga yaitu memikul salib dan mengikut Dia.  Memikul salib berarti bersedia untuk menyangkal diri sendiri.  Itu tidak mudah, karena kehendak dan kemauan kita cenderung berlawanan dengan kehendak Tuhan.  Kehendak dan kemauan kita adalah melakukan apa yang menyenangkan daging,  “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging;”  (Roma 8:5).  Untuk layak disebut murid Tuhan tidak ada jalan lain selain harus melawan keinginan daging.  Sakit memang!  Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan penderitaan Tuhan Yesus yang sudah memikul salib-Nya, dan salib yang dipikul-Nya adalah masalah terberat yang dihadapi oleh seluruh umat manusia yaitu dosa, dan  “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”  (Matius 8:17), bahkan Ia rela mencucurkan darah-Nya dan mati bagi kita di kayu salib.  Jadi salib yang harus kita pikul setiap hari sesungguhnya tidak sebanding dengan kemenangan yang Tuhan berikan.

Memikul salib juga berarti rela menderita karena kebenaran.  Tuhan Yesus berkata,  “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”  (Matius 5:10-12).

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”  Galatia 5:24


Rabu. SIAPKAH MENGHADAPI PENGADILAN

Baca: 2 Korintus 5:1-10

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”  2 Korintus 5:10

Banyak orang berpikir bahwa hidup di dunia ini hanya satu kali saja, lalu mati dan tamat.  Karena itu ada orang berprinsip:  “Selagi masih hidup mari kita bersenang-senang dan melakukan apa saja yang kita mau.”  Ingatlah bahwa kematian itu bukan akhir dari segalanya, justru menjadi awal dari kehidupan yang sesungguhnya.  “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,”  (Ibrani 9:27).  Manusia lupa bahwa ada penghakiman setelah kematian!

Rasul Yohanes mendapat penglihatan,  “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.”  (Wahyu 20:12).  Apa pun yang diperbuat manusia selama hidup di dunia pada saatnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.  Sesungguhnya Tuhan tidak senang menghukum manusia karena itu Ia mengutus hamba-hamba-Nya untuk memberitakan Injil ke penjuru bumi bahwa  “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  (Yohanes 14:6), dan  “…keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  (Kisah 4:12).  Sungguh teramat disayangkan banyak orang menolak mentah-mentah berita tentang salib,  “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,”  (1 Korintus 1:18).

Hidup ini sungguh teramat singkat, tak lebih dari sebuah persinggahan sementara.  “…jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”  (2 Korintus 5:1).  Karena itu waktu yang terbatas ini mari kita pergunakan sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri sebelum kematian menjemput!

Buat keputusan mulai sekarang, sebab penyesalan di kemudian hari tiada guna.


Kamis PILIHAN ADA PADA MANUSIA SENDIRI

Baca: Wahyu 3:14-22

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”  Wahyu 3:20

Orang bertanya-tanya, jika Tuhan itu berkuasa mengapa Dia seolah-olah membiarkan sakit-penyakit dan kesusahan menimpa semua orang?  Mengapa Ia tidak langsung menyembuhkan atau memberkati?  Tentu saja Tuhan itu Mahakuasa, tetapi Dia hanya akan mengerjakan sesuatu dalam diri seseorang ketika orang itu mengijinkan Dia bekerja.  Ada orang yang berbantah lagi,  “Kalau Tuhan berkuasa, tentunya Ia dapat melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya sendiri!”  Dalam sekejap mata Tuhan pasti sanggup untuk menyembuhkan, memberkati, menolong dan menyelamatkan setiap orang yang berdosa tanpa melalui proses pertobatan.

Tuhan tak ingin manusia ciptaan-Nya itu seperti robot yang dapat dijadikan apa saja.  Sesungguhnya Tuhan dapat saja memaksa setiap orang untuk bertobat dan menerima-Nya sebagai Juruselamat dalam hidupnya.  Tetapi Tuhan memberikan kepada setiap manusia free will  (kehendak bebas), sehingga manusia mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri.  Manusia dapat memilih untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya, atau sebaliknya mereka melakukan seperti orang dunia lakukan saat ini yaitu membenci, menghujat dan menolak Yesus Kristus.  Tuhan Yesus hanya berdiri di depan pintu hati setiap orang dan mengetuk.  Jika kita mendengar suara-Nya dan membukakan pintu hati bagi-Nya, Dia kan masuk ke dalam kehidupan kita.  Jadi Tuhan tak pernah memaksa kita, walaupun sesungguhnya Ia begitu ingin semua orang mendapatkan keselamatan kekal melalui iman percaya kepada-Nya,  “…tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”  (2 Petrus 3:9).

Bahkan setelah seseorang bertobat dan lahir baru ia juga tak kehilangan kehendak bebasnya untuk memilih taat kepada firman atau tidak taat.  Yang harus disadari adalah, bahwa  “…ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,”  (Ibrani 2:2), sebaliknya kalau kita mau taat maka berkatlah yang menjadi bagian hidup kita.

“…barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran;”  Wahyu 22:11


Jumat BERBAHAGIALAH ORANG YANG DIINGAT TUHAN

Baca: Mazmur 25:1-22

“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.”  Mazmur 25:7

Semua orang pasti berharap dirinya selalu diingat dan tidak dilupakan oleh sesamanya, seperti teman, kerabat atau saudara.  Betapa sedih dan kecewanya bila pada suatu kesempatan kita bertemu dengan teman lama, ternyata teman kita itu sudah tidak lagi mengingat kita alias lupa.  Kita patut bersyukur, sekalipun manusia bisa saja melupakan dan tidak lagi mengingat kita tapi Tuhan tak pernah melupakan kita.  “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”  (Mazmur 8:4-5).

Alkitab menegaskan orang benarlah yang selalu diingat oleh Tuhan,  “…orang benar itu akan diingat selama-lamanya.”  (Mazmur 112:6).  Namun ada seorang penjahat yang diingat Tuhan, karena pada saat akhir perjalanan hidupnya ia merendahkan diri dan berpengharapan penuh kepada Tuhan.  Oleh karena imannya itu Ia tidak lagi memperhitungkan dosa-dosanya, sebaliknya Ia mengingat dan menyelamatkannya.  Orang itu adalah salah seorang penjahat yang disalibkan bersama Tuhan Yesus.  Ketika penjahat lain menghujat-Nya,  “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”  (Lukas 23:39), tetapi penjahat yang satunya justru berkata,  “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”  (Lukas 23:42).  Ketika Tuhan Yesus dalam keadaan tak berdaya, masih tergantung di atas kayu salib, penjahat ini percaya bahwa Dia adalah Raja.  Karena imannya berkatalah Tuhan Yesus kepadanya,  “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”  (Lukas 23:43).

Walaupun tadinya penjahat itu sama seperti penjahat lain di sebelah Tuhan Yesus, namun ia telah membuat keputusan penting dalam hidupnya yaitu bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pada saat ia masih berada di atas kayu salib.  Ia menerima Tuhan Yesus sebagai Raja sebelum ia mati.

Kehidupan di masa lalu tak menentukan keselamatan:  asal kita mau bertobat, langkah terakhir dari hidup ini yang menentukan!


Sabtu SANJUNGAN YANG MELENAKAN

“Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.”  Kisah 14:13

Mengerjakan Amanat Agung Tuhan Yesus adalah tanggung jawab semua orang percaya, karena itulah  “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”  (Markus 16:20).  Ke mana pun hamba-hamba Tuhan pergi memberitakan Injil Roh Kudus menyertai dan turut bekerja.  Di mana ada Roh Kudus sesuatu yang dahsyat pasti terjadi, perkara-perkara adikodrati dinyatakan:  yang sakit disembuhkan, yang terbelenggu dibebaskan, yang buta pun dicelikkan, yang lumpuh berjalanlah!

Di Listra ada orang yang lumpuh kakinya sejak lahir.  “Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: ‘Berdirilah tegak di atas kakimu!’ Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.”  (Kisah 14:9-10).  Orang-orang pun kagum dan mengelu-elukan Paulus dan Barnabas, bahkan mereka menganggap keduanya dewa yang turun dari langit.  Paulus disebutnya Hermes, dan Barnabas disebut Zeus!  Mereka mengira bahwa yang melakukan mujizat adalah hamba Tuhan tersebut, tak mengerti bahwa yang mengerjakan semua mujizat itu sesungguhnya adalah Tuhan sendiri melalui kuasa Roh-Nya, sedangkan hamba Tuhan adalah alat-Nya.

Sanjungan manusia acapkali melenakan dan membuat orang lupa daratan.  Ini berbahaya!  Ada banyak pelayan Tuhan jatuh ketika mereka sedang  ‘di atas’  karena tidak tahan dengan pujian, hormat dan sanjungan manusia.  Memang sulit untuk tetap rendah hati dalam situasi seperti itu.  Ketika dielu-elukan segeralah Paulus dan Barnabas lari ke tengah-tengah mereka dan berkata,  “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.”  (Kisah 14:15a).  Di zaman sekarang tidak sedikit pelayan Tuhan yang justru membusungkan dada ketika namanya semakin dikenal oleh khalayak ramai.

Sanjungan adalah untuk Tuhan, jangan sekali-kali kita mencuri kemuliaan-Nya!


Minggu HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (1)

Baca: 2 Petrus 3:10-16

“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”  2 Petrus 3:14

Menjadi mempelai Kristus yang tak bercacat dan tak bernoda adalah tujuan hidup orang percaya.  Mengapa kita harus dalam keadaan tak bercacat dan tak bernoda?  Karena Tuhan Yesus telah mencurahkan darah-Nya untuk menyucikan dan menyempurnakan mempelai-Nya, sehingga kalau kita tetap dalam keadaan cacat dan bercela ketika Tuhan menjemput kita, berarti kita telah menyia-nyiakan pengorbanan Kristus di kayu salib.  Hari-hari yang sedang kita hadapi ini adalah hari-hari akhir menjelang kedatangan Kristus.  Jadi bukan waktunya kita main-main dalam menjalani hidup.  “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”  (Wahyu 22:11).

Alkitab menyatakan bahwa di akhir zaman yang jahat akan semakin jahat dan yang suci akan semakin suci.  Karena itu kita harus semakin terpacu untuk hidup benar dan tidak lagi berkompromi dengan dosa.  Waspadalah dan berjaga-jagalah, karena Iblis selalu mencari celah sekecil apa pun untuk menipu semua orang.  Salah satu tipuan Iblis adalah berkenaan dengan  ‘waktu’.  Iblis berusaha mengalihkan fokus hidup semua orang agar menyibukkan diri untuk hal-hal duniawi.  Waktu mereka tersita oleh berbagai aktivitas sampai-sampai mereka tidak lagi punya waktu untuk memikirkan perkara-perkara rohani  (bersaat teduh atau melayani Tuhan).  Mereka berkata  “Waktu kok terasa begitu cepat… pekerjaan ini dan itu belum selesai.”  Sungguh, waktu akan berlalu begitu cepatnya seperti sekam yang ditiup oleh angin  (baca  Zafanya 2:2).

Bila kita tidak bisa menggunakan waktu dengan bijaksana, waktu itu akan habis untuk perkara yang sia-sia.  Itulah yang menjadi tujuan Iblis!  Bukan berarti kita tidak boleh melakukan pekerjaan atau aktivitas apa pun, namun hendaknya jangan semua perkara yang ada di dunia ini semakin menjauhkan kita dari Tuhan.  Hendaklah segala sesuatu yang kita kerjakan berorientasi kepada perkara-perkara yang menuju kepada kekekalan!

Evaluasilah waktu-waktu yang Saudara pakai dan prioritaskan Tuhan.