Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

PENDAHULUAN

Pemahaman yang benar akan identitas orang percaya dalam 1 Petrus 2:9 membawa kepada kesadaran akan tugas panggilannya. Di dalam identitas itu terkandung misi yang harus dijalani. Gereja/orang percaya hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjalankan misi Allah, yaitu untuk menyatakan keagungan-Nya yang telah memanggil kita dari kuasa dosa dan keputusasaan (kegelapan) menuju kebenaran dan kebebasan (terang Tuhan yang ajaib).

ISI

Identitas orang percaya

Kita disebut sebagai bangsa yang terpilih karena meresponi berita Injil Kristus dengan iman dan ketaatan. Sebagai imam Allah yang rajani, diberikan kuasa otoritas menjadi kepala untuk tujuan melayani dan membawa orang dunia mengenal kebenaran (bukan untuk dilayani dan menyalahgunakan kuasa). Menjadi pendoa syafaat, membawa orang lain menyembah Tuhan, menjadi berkat, dan menjadi agen transformasi yang membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan bangsa-bangsa. Kita dipanggil untuk memiliki cara hidup yang berbeda dari dunia supaya dapat hidup bagi Allah di dalam kekudusan sejati.

Misi orang percaya

Memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah, artinya menjadi saksi Kristus yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemuliaan Allah kepada orang lain. Misi dilakukan bukan dengan perkataan saja, tapi dibuktikan dengan gaya hidup dan buahnya yang mencerminkan Pribadi Kristus. Perkataan tanpa bukti perubahan hidup (transformasi nilai dan karakter) adalah misi yang tidak valid (artinya sama saja tidak menjalankan misi).

Menjalankan misi Tuhan di dunia bukanlah perkara mudah; diperlukan iman yang teguh, sikap yang konsisten  dan manusia roh yang dewasa untuk bisa bergerak maju di tengah kesulitan, aniaya  serta perlawanan dari penguasa dunia yang membutakan banyak orang (Iblis dan ilah-ilah jaman). Mereka yang hidup oleh iman kepada Kristus memang akan alami ujian berupa masalah, tantangan, dan penderitaan. Meskipun begitu, misi Allah tidak dapat dibatasi/digagalkan oleh hal-hal tersebut, sebab semua yang lahir dari Allah dapat mengalahkan dunia. Justru melalui masalah dan penderitaan, iman orang percaya semakin dikuatkan dan dimurnikan sehingga memancarkan terang kemuliaan Tuhan di tengah dunia yang gelap.

1 Petrus 2:11-16 memberikan panduan praktis untuk menjalankan misi Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Latih diri untuk menjauhi keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11).

Keinginan-keinginan daging membuat kita tidak bisa hidup oleh iman dan taat kepada pimpinan Roh Kudus, sebab keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Perbuatan daging yang harus dimatikan: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala (pemberontakan/ketidaktaatan/kedegilan hati dapat disamakan dengan penyembahan berhala), sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan (saling melukai, menyakiti, pertengkaran yang merusak hubungan dan perasaan orang lain), roh pemecah (gossip, fitnah), kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.

Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:27).

  1. Miliki cara hidup yang terpuji di tengah komunitas sekitar kita (1 Petrus 2:12).

Menjalankan gaya hidup Kerajaan Allah yang  konsisten membuat orang dunia dapat melihat kebaikan, kasih karunia dan kekudusan Allah melalui perilaku kita. Kelola hubungan dengan orang lain dalam kasih dan takut akan Tuhan; bangun karakter yang berintegritas (mis. jujur, melakukan apa yang kita katakan, bertanggung jawab, disiplin, tepat waktu, berani mengakui kesalahan, berkomitmen, setia, rajin, berdiri di atas kebenaran); jaga sikap dan perkataan, peduli kepentingan orang lain; cekatan/tidak segan menolong, melakukan kebaikan, dlsb. Memiliki cara hidup yang terpuji membuat orang dunia dapat melihat perilaku kita yang baik dan memuliakan Allah pada hari mereka dilawat-Nya.

  1. Berespon benar dalam menghadapi masalah, kesesakan, saat diperlakukan dengan tidak adil atau penderitaan lainnya (1 Petrus 2:21-23).

Jangan bersandar pada pikiran dan cara sendiri, tapi belajar mengikuti teladan Kristus sewaktu Ia dalam menghadapi kesesakan. Tidak hidup dipimpin perasaan tapi memilih berjalan dengan iman, ketaatan serta hanya mengandalkan Tuhan, maka pertolongan dan mukjizat pasti dianugerahkan kepada mereka yang percaya dan mengandalkan-Nya. Kesaksian hidup kita dapat dipakai Tuhan untuk menjangkau orang lain untuk datang kepada-Nya.

  1. Tunduk kepada lembaga pemerintahan (1 Petrus 2:13-14) dan kepada otoritas di atas kita (1 Petrus 2:18-19). Bayar pajak, ikuti aturan-aturan yang berlaku, doakan supaya para pemimpin negara/kota diberi roh takut akan Tuhan dan hikmat ilahi dalam menjalankan tugasnya.

PENUTUP

Panggilan Tuhan bagi kita adalah panggilan yang menuntut rasa hormat dan takut akan Dia. Hal ini mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan anugerah tersebut. Hiduplah sebagai orang merdeka dalam Kristus; jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa gaya hidup kita harus memancarkan misi Kerajaan Allah. Terang di tengah kegelapan dunia. Jangan malah menjadi batu sandungan yang menghalangi orang datang kepada Tuhan Yesus. Bertekunlah dalam doa agar Allah melawat mereka yang belum percaya lewat kehidupan saudara.

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

Sekilas review:

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui:

a. Pembacaan dan perenungan firman.

b. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Sambungan minggu ini:

c. Belajar dari pengalaman, dan dari kesalahan diri sendiri maupun orang lain.

Awal dari transformasi rohani adalah kesadaran diri (self-awareness). Self-awareness memungkinkan individu memahami watak, mengenali pikiran dan perasaan sendiri, kecenderungan sikap/perilaku yang bisa membuat kita jatuh, kelemahan/kekurangan, kelebihan, kesalahan/dosa, kondisi/motivasi hati serta kebutuhan akan perubahan. Tanpa kesadaran diri, seseorang tidak akan menyadari kalau dirinya perlu berubah, bertobat, mencari Tuhan, menerima pemulihan dan mengalami transformasi. Self-awarness memerlukan kejujuran, kerendahan hati, pengetahuan akan firman kebenaran serta kebergantungan kepada kuasa Roh Kudus.

Penting untuk diperhatikan bahwa self-awareness yang benar harus berpusat pada Kristus dan kasih karunia Allah. Memahami identitas kita dalam DIA yang telah mengasihi kita (yaitu sebagai ciptaan baru, bangsa pilihan, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, sebagai anak-anak Allah yang telah diberi kuasa), dan apa tujuan Allah memanggil kita keluar dari kegelapan (yaitu untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia).

Hal ini penting supaya tidak terjebak dalam gambar diri yang keliru (yang menimbulkan perasaan tidak aman/feeling insecure), mengasihani diri sendiri (self-pity); atau sebaliknya menjadi sombong rohani karena memiliki kelebihan, karunia, menerima mukjizat, mengalami kemenangan atau berhasil dalam pelayanan.

Mengetahui bahwa Roh Kudus berdiam di hati kita adalah satu hal, akan tetapi menyadari kehadiran-Nya setiap saat dalam seluruh hidup kita adalah hal lain yang harus dilatih. Bahwa Roh Kudus mengerti isi pikiran, perasaan, serta mengetahui kedalaman/rahasia hati kita. Kesadaran ini mendorong kita untuk menghormati Kristus dalam hati dan jiwa (pikiran, perasaan, tindakan yang berupa perkataan dan keputusan). Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan (1 Petrus 3:15a). Kesadaran akan kehadiran Roh Kudus membawa kita senantiasa hidup dalam pertobatan, rindu untuk hidup dalam kebenaran/kekudusan dan berkenan di hadapan Tuhan.

Satu-satunya yang layak menjadi teladan bagi kita hanyalah Tuhan Yesus, sebab hanya Dia yang sempurna dan tidak pernah berbuat dosa. Namun sebagai  anggota tubuh Kristus yang saling mengasihi, kita bisa menjadi contoh bagi sesama anggota Cool dalam arti membagikan sesuatu yang bisa dipelajari: baik dari kesalahan, kejatuhan, kebodohan, kesombongan, kelemahan/kekurangan, kelebihan; dan bagaimana kasih karunia Allah menolong, memerdekakan, memulihkan dan membawa kita kepada kemenangan. Hal-hal apa yang harus ditanggalkan, dihindari, dilakukan, ditingkatkan, dlsb. Buah kehidupan kita bisa menjadi ‘benih’ dan berkat bagi orang lain; menolong mereka untuk bertumbuh dalam iman, kasih, ketaatan dan karakter.

d. Ujian iman: masalah, tantangan, penderitaan, krisis, gesekan, sakit-penyakit, dlsb.

Masalah, kesesakan/penderitaan menyadarkan kita akan keterbatasan dan kelemahan  diri. Saat mengandalkan diri sendiri atau orang lain, kita malah jauh dari berkat dan solusi. Masalah dan penderitaan mengajarkan kita hanya Tuhan satu-satunya yang bisa diandalkan sebab Dialah sumber segala sesuatu.

Allah dapat memakai masalah dan penderitaan untuk mengubah cara pandang; memurnikan, mendewasakan, dan mengokohkan iman; serta membentuk karakter kita. Kita jadi semakin bergantung kepada Roh Kudus. IA menolong kita untuk bisa meresponi masalah/penderitaan dengan benar, belajar rendah hati, belajar mengasihi dan mengampuni orang lain, bertekun dalam iman, menantikan pertolongan-Nya, serta bertindak dengan kuasa-Nya. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (dalam hal ini transformasi), bagi kita yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

e. Melalui pelayanan.

Pelayanan (dalam atau luar gereja) menolong kita untuk:

  • bertumbuh dalam mengasihi Tuhan dan sesama (saling merendahkan hati, saling melayani), belajar menundukkan diri,
  • melayani dengan motivasi hati yang benar, kudus dan tulus,
  • mempertahankan kedisiplinan rohani (membaca firman secara teratur, mezbah pribadi/ pujian penyembahan, bersyafaat untuk orang lain, menjaga kekudusan),
  • mengembangkan karunia dan talenta, melatih kepekaan rohani (melayani dalam pimpinan Roh Kudus),
  • meningkatkan skill/ketrampilan, baik dalam hal teknis maupun interpersonal (komunikasi, kerja sama/unity dalam tim, manajemen waktu, adaptasi, mengatasi masalah, dsb).

PENUTUP

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih ..Jangan berpuas diri hanya sebagai orang Kristen yang ‘dipanggil’ (sekedar pengunjung atau anggota jemaat), tetapi jadilah orang yang ‘dipilih’. Responi panggilan Tuhan dengan cara bertekun dalam proses pemuridan agar kita sampai kepada tujuan pemanggilan itu sendiri, yaitu hidup dalam kebenaran & kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia.

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22:14)

PENDAHULUAN

Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.  Undangan ini bukan bicara tentang Allah pilih kasih atau membatasi keselamatan hanya untuk orang/golongan/bangsa tertentu saja. Panggilan keselamatan ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali, namun hanya sedikit yang meresponi panggilan tersebut dengan sungguh-sungguh. Banyak yang dipanggil, tapi yang dipilih hanyalah mereka yang sungguh-sungguh. Panggilan bersifat umum, namun pemilihan didasarkan pada hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kesetiaan.

ISI

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan keselamatan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Cara pandang kita diubah sesuai dengan perspektif Allah; nilai/prinsip, sikap dan perilaku disesuaikan dengan nilai-nilai  kebenaran; hati dan jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar yaitu berporos pada kehendak Allah. Pemuridan menjadikan kita dewasa dalam iman dan karakter; tajam dalam skill/kecakapan untuk melakukan tugas pelayanan sesuai karunia masing-masing; dewasa dalam pemikiran, menghadapi masalah dan mengambil keputusan; dalam mengelola berkat/finansial; dalam hubungan dengan orang lain, menyikapi perbedaan, gesekan serta menghadapi orang-orang yang sulit, dlsb.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui hal-hal berikut:

1. Pembacaan dan perenungan firman.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,  sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2).

Akal budi adalah hal pertama yang harus mengalami pembaruan. Dalam membaca dan merenungkan firman,  minta Roh Kudus menerangi hati dan jiwa kita agar  mengerti kebenaran firman dan mengerti kehendak Allah secara khusus bagi kita. Dengan perenungan, firman Tuhan bukan hanya jadi pengetahuan, tapi menjadi pewahyuan/rhema yang memperbarui akal budi kita.

Pikiran/pemahaman/ cara pandang  yang keliru diluruskan, perasaan/emosi negatif disingkapkan, motivasi hati yang salah dikoreksi, hati yang keras dilembutkan, kesombongan diruntuhkan. Kita jadi mengenal cara kerja Allah dan kehendak-Nya, apa yang Dia suka dan tidak, dlsb. Firman Tuhan menjadi pelita yang menerangi kegelapan dalam hati dan jiwa, menjadi cermin rohani yang menyatakan dosa/kesalahan, menyingkapkan kelemahan/kekurangan diri yang tidak kita sadari, mengoreksi hati, dengan demikian kita diajar dan dididik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

2. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Kita tidak mampu mengerti firman dan melakukannya jika tidak ditolong oleh Roh Kudus. Meski sudah memiliki banyak pengetahuan firman, tapi kita belum tentu mampu melakukan firman menurut kehendak Allah. Pengetahuan firman tanpa hikmat pewahyuan membuat kita tidak mengerti dan tidak bisa menjadi pelaku firman; pengertian tanpa ketaatan pun sia-sia.

Permulaan hikmat ialah perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian (Amsal 4:7).

Dari segala pengetahuan firman yang kita peroleh, perolehlah hikmat/pengertian/pewahyuan/rhema. Pengetahuan firman adalah apa yang kita dapat dari sharing bahan Cool, mendengarkan khotbah di ibadah raya, dari membaca renungan,dan kelas-kelas pengajaran;  hikmat adalah penerapan dari pengetahuan firman dengan tepat, benar dan bijak. Pengetahuan (knowledge) menjelaskan ‘what’, pengertian (understanding) menjelaskan ‘how’, hikmat (wisdom) menjelaskan ‘why’.

Pengetahuan membuat kita mengerti bahwa hari ini akan hujan, hikmat membuat kita menyediakan payung. Pengetahuan membuat kita memahami bahwa lampu hijau telah berubah menjadi merah, hikmat membuat kita menginjak rem. Pengetahuan menghapal ayat-ayat firman, pengertian menolong kita mengerti makna firman, hikmat membuat kita menghidupi/melakukan firman tersebut.

Hanya Roh Kudus yang mampu menerangi hati dan jiwa kita untuk mengerti kehendak Allah melalui firman tersebut. Hanya Roh Kudus yang bisa memberi hikmat, pewahyuan dan rhema firman serta mendorong kita untuk melakukan firman.

Bersambung minggu depan …

 

 

 

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

KUASA TRANSFORMATIF INJIL MELALUI PEMURIDAN

PENDAHULUAN

Injil bukan sekadar kabar baik yang menyelamatkan, tetapi kuasa Allah yang hidup dan aktif, yang terus bekerja mentransformasi setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Yesus tidak hanya memanggil kita untuk menerima keselamatan, tetapi untuk mengalami perubahan hidup yang nyata melalui hubungan yang taat kepada-Nya. Karena itu, Amanat Agung bukan hanya perintah untuk memberitakan Injil, melainkan panggilan untuk memuridkan —membawa orang kepada Kristus dan menuntun mereka hidup dalam ketaatan penuh kepada semua yang Dia ajarkan (Mat. 28:18–20). Melalui proses pemuridan, Injil membebaskan kita dari dosa dan ikatan, memperbarui seluruh aspek kehidupan, dan membentuk kita menjadi murid-murid Kristus yang hidup sebagai terang Allah di tengah dunia yang gelap.

ISI

Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan menyerupai dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—dan kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan semakin serupa dengan dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—kita kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup berporos pada kehendak Allah.

Untuk mengalami transformasi melalui pemuridan bukanlah perkara mudah, instan dan dangkal, namun mungkin untuk dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Diperlukan keteguhan hati untuk mengikuti proses pemuridan yang berlangsung seumur hidup. Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Menyangkal diri artinya menundukkan keinginan sendiri kepada kehendak Kristus.

Pelaksanaan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung. Perintah Agung (Great Commandment, Matius 22:37-40) berfokus pada kualitas hubungan dengan Allah dan sesama, sementara Amanat Agung (Great Commission, Matius 28:19-20) adalah perintah untuk memuridkan, membaptis, dan mengajar semua bangsa. Kasih (Perintah Agung) adalah motivasi, sementara misi (Amanat Agung) adalah demonstrasi kasih untuk membawa orang lain menjadi murid Kristus.  Keduanya tidak terpisahkan dalam kehidupan Kristen.

Tanda bahwa seseorang adalah murid Kristus:

1. Tetap di dalam firman-Nya (baca Yohanes 8:31-32).

 Kata ‘tetap’ (abide/stay) berarti memegang teguh, mendalami, menaati/menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan menerangi hati dan jiwa sehingga akal budi kita diperbarui oleh terang firman Tuhan. Selanjutnya Roh Kudus mendorong dan melatih kita untuk menjadi pelaku firman sekalipun menghadapi tantangan/aniaya, sampai  jiwa kita dimerdekakan dari hal-hal yang menghalangi untuk taat kepada Kristus. Firman Tuhan bukan lagi dipandang sebagai aturan/hukum yang membatasi kebebasan, tapi sebagai terang hidup yang menuntun kita di jalan keselamatan (Mazmur 119:105).

 2. Berbuah banyak (baca Yohanes 15:8). 

Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan Bapa adalah Pengusahanya. Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur, maka kita akan menghasilkan banyak buah dengan kualitas yang baik. Kehidupan yang berbuah menandakan bahwa kita adalah murid Kristus.

3. Saling mengasihi (baca Yohanes 13:35; 1 Yohanes 3:14-16).

Saling mengasihi di sini bukanlah himbauan, tapi suatu perintah yang harus ditaati seorang murid Kristus. Kasih yang dimaksud bukanlah perasaan tapi tindakan sesuai dengan kebenaran: rela berkorban, mendahulukan kepentingan orang lain, mengampuni, murah hati, melayani tanpa bersungut-sungut, memahami dan menerima kelemahan orang lain, mengasihi orang-orang yang ‘sulit’, dsb.

4. Mengasihi Tuhan lebih dari orang tua, pasangan, anak, saudara, bahkan nyawanya sendiri (Baca Lukas 14:26).

 Tuhan Yesus tidak mengajar kita untuk ‘membenci’ orang lain, melainkan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri. Akan tetapi Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi DIA lebih dari siapapun, bahkan diri kita sendiri. Jika dihadapkan kepada dua pilihan: melakukan kehendak Tuhan atau orang tua/pasangan/anak/kerabat/orang lain, maka kita mau belajar memilih melakukan kehendak Tuhan, walau itu bertentangan dengan keinginan orang-orang tersebut.

5.  Melepaskan diri dari segala miliknya (baca Lukas 14:33).

Untuk menjadi murid Yesus dibutuhkan suatu sikap penyerahan diri (ketaatan) yang total. Belajar melepaskan diri dari segala miliknya: ego, pikiran yang mengikat, kenyamanan, harta benda, kebiasaan/kepentingan/keinginan diri sendiri, persahabatan dengan dunia, dsb – dan menempatkan Dia sebagai yang utama. Kasih karunia Allah memampukan kita untuk melepaskan diri dari hal-hal tersebut.

 

KESIMPULAN

 

Orang yang menjadi pelaku firman bisa mengajar orang lain melakukan firman Tuhan. Pemuridan yang paling efektif adalah jika orang lain bisa melihat Pribadi Kristus dan firman-Nya mewarnai hidup kita. Dengan begitu, Tuhan turut bekerja dalam segala yang kita perbuat; Ia meneguhkan firman serta kesaksian kita dengan tanda-tanda dan mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

 

Andaikata seluruh anggota Cool dan tubuh Kristus di seluruh dunia benar-benar mengalami transformasi melalui proses pemuridan, maka Amanat Agung bukan lagi dipandang sebagai beban yang berat dan mustahil dicapai, tapi sebagai buah kehidupan yang benar-benar mendampaki dunia. Di tengah krisis dan guncangan, terang kita semakin menyala dan menuntun banyak orang datang kepada Kristus.

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

Sekilas review:

Amanat Agung merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Untuk itu kita perlu dimuridkan (diproses) oleh Tuhan untuk dapat menjadikan orang lain murid Kristus dan warga Kerajaan Allah. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana kita belajar taat melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Sambungan minggu ini:

Tuhan Yesus memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana hukum kasih adalah penerapan dari semua pekerjaan misi: mengasihi Allah dan sesama. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Konsep pemberitaan Injil Kerajaan Allah merupakan tema sentral dari pengajaran Tuhan Yesus. Injil artinya kabar baik; memberitakan Injil Kerajaan Allah artinya menyampaikan kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi melalui Yesus Kristus, dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Kerajaan Allah itu bukan soal lokasi, melainkan keadaan di mana kekuasaan/otoritas dan kehendak Allah dinyatakan secara penuh dalam kehidupan seseorang. Bukti bahwa Kerajaan Allah datang atas hidup seseorang adalah ketika kehendak Allah terjadi atas dirinya (Matius 6:10).

Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memuridkan orang lain/segala bangsa supaya mereka juga dapat menjadi warga Kerajaan Allah yang tunduk kepada nilai/prinsip Kerajaan surgawi dan kehendak Allah. Allah menghendaki para murid  menghadirkan Kerajaan-Nya di muka bumi di mana Kristus adalah Rajanya. Kerajaan Allah ada di antara manusia dalam bentuk iman percaya kepada Tuhan Yesus.

 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:-20-21).

Kultur Kerajaan Allah sangat berbeda dengan kultur masyarakat dunia. Menurut KBBI, kultur adalah padanan kata budaya atau kebudayaan, yang merujuk pada keseluruhan cara hidup, pikiran, perilaku, nilai, dan hasil cipta manusia yang diwariskan antargenerasi dalam suatu kelompok masyarakat, meliputi kepercayaan, seni, adat istiadat, dan kebiasaan lainnya. Untuk hidup dalam prinsip Kerajaan Allah, akal budi kita harus diperbarui oleh firman Tuhan (Roma 12:2) supaya kita memahami perkara-perkara yang di atas. Segala pemerintahan/kerajaan di dunia ini akan berlalu, tapi orang yang hidup dalam prinsip Kerajaan Allah (melakukan perintah Tuhan), tinggal tetap dan tidak akan tergoncangkan.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).

Mengapa pemberitaan tentang Kerajaan Allah menjadi fokus pengajaran Tuhan Yesus? Karena nilai/prinsip Kerajaan Allah membawa kebaikan berupa berkat-berkat kehidupan bagi umat manusia yang hidup dalam kegelapan. Allah datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan kedaulatan-Nya melawan pekerjaan Iblis. Injil Kerajaan Allah yang dibawa oleh Tuhan Yesus membawa pemulihan total (roh, jiwa, dan tubuh) di seluruh aspek kehidupan manusia:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19).

Ciri-ciri yang menandakan bahwa Kerajaan Allah hadir di dunia:

  • setan diusir (Matius 12:28).
  • Segala penyakit dan kelemahan dilenyapkan (Matius 4:23)
  • perbuatan-perbuatan Iblis (yaitu dosa dan segala ikatannya) dihancurkan (1 Yohanes 3:8).
  • Manusia dikuasai oleh kebenaran, damai, dan sukacita (Roma 14:17).
  • Orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah akan menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

 Inilah yang Allah kehendaki, yaitu Kerajaan-Nya datang di bumi melalui kehadiran Gereja/orang percaya. Amanat Agung tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan manusia, tetapi harus dengan kuasa Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8). Gereja/orang percaya perlu belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dalam kehidupan pribadi maupun secara bersama-sama.

PENUTUP

Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung di akhir jaman ini. … Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Roh Kudus memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir jaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman dan kehilangan fokus, tapi persiapkan diri untuk menyelesaikan Amanat Agung bersama-sama.

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

PENDAHULUAN

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Ini bukanlah sesuatu yang mudah serta dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Diperlukan ketetapan hati, ketekunan, unity, ketaatan serta kebergantungan penuh kepada kuasa Roh Kudus untuk dapat mengemban dan menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral,  sosial,  iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kuasa kasih dan kemuliaan Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

ISI

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah dan guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa kehebatan, harta kekayaan, kekuasaan, dan kepintaran tidak dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ternyata  manusia adalah mahluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk  merendahkan diri, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi garam dan terang, siap  menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus.  Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para missionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang self-centered, hidup dalam zona nyaman serta tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di jaman ini. Kekristenan bukan soal Tuhan yang kita ‘manfaatkan’ untuk memenuhi permintaan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan, artinya Ia menjadi ‘tuan’ dan pusat seluruh aspek hidup kita. Tanda bahwa seseorang benar-benar mengasihi Tuhan adalah punya kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (Yohanes 14:15).

Tuhan Yesus memerintahkan Amanat Agung kepada para murid (Matius 28:16), bukan kepada mereka yang sekedar jadi jemaat atau pengunjung gereja. Dengan kata lain, setiap jemaat yang tertanam di BIC harus mengalami transformasi oleh kuasa firman dan Roh Kudus supaya menjadi murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan berjalan dipimpin oleh Roh Kudus.

Ada perbedaan yang mencolok antara rumah yang dibangun di atas batu dengan rumah yang dibangun di atas pasir. Rumah yang dibangun di atas batu adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar ketaatan akan firman Tuhan (mendengar perintah Tuhan dan melakukannya, Matius 7:24). Rumah yang dibangun di atas pasir adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar pengetahuan firman saja (mendengar perintah Tuhan dan tidak melakukannya, Matius 7:26). Berdasarkan ayat ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata orang yang memiliki pengetahuan firman (diajarkan melalui Ibadah Raya, Cool dan kelas pengajaran) BELUM TENTU menjadi pelaku firman. Bukan berarti kita tidak perlu belajar firman, tapi itu belum cukup. Jangan jadikan firman hanya sebatas informasi rohani, tapi ijinkan firman Tuhan mengubah seluruh hidup kita dari dalam keluar sesuai Alkitab.

Murid Kristus bukan berarti orang yang sudah sempurna, tetapi yang hidup tidak seperti dunia melainkan hidup dalam kekudusan, mau belajar menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab untuk mengemban Amanat Agung.

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

Sifat seorang murid Kristus yang dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:

  1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.
  2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.
  3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olah raga  (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan  dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak  (1 Korintus 9:25-27).
  4. Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Bersambung minggu depan..

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Secara biologi, buah adalah sesuatu yang dihasilkan oleh sebuah pohon sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Semua buah secara alamiah mengandung benih dari pohonnya dan beberapa jenis buah juga memiliki bagian yang dapat dimakan oleh manusia.

Dalam kondisi normal, buah dari sebuah pohon muncul secara alamiah pada waktunya. Buah sebuah pohon sebenarnya ditujukan sebagai cara untuk pohon tersebut menyebarkan benihnya. Buah akan dimakan oleh binatang atau manusia, kemudian benih yang jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon yang lain. Jadi, buah sebuah pohon adalah cara untuk pohon tersebut bermultiplikasi.

Di dalam Alkitab, hidup orang percaya beberapa kali digambarkan seperti sebuah pohon (Mazmur 1:1-3), artinya sesuatu yang ditanam kemudian bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah. Dalam hal ini, buah adalah sesuatu yang keluar dari hidup orang percaya setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus, yang kemudian dinikmati oleh orang lain sehingga orang tersebut pada akhirnya juga bisa mengalami kehidupan yang sama.

I. Apa itu Buah Roh?
Seseorang ketika lahir baru dan mempunyai iman percaya kepada Yesus sebagai sang juru selamat, maka orang itu akan mengalami transformasi dalam hidupnya. Perubahan dari arah suka akan dosa, tahap demi tahap, berubah menjadi cinta akan kebenaran. Transformasi tersebut dikerjakan oleh Roh Kudus yang ada di dalam setiap orang percaya. Roh Kudus merupakan pribadi Allah. Dalam Bahasa Yunani, Roh Kudus juga dikenal sebagai ‘Parakletos’ yang artinya “seorang yang dipanggil atau diutus untuk menolong orang lain,

“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14:26

Roh Kudus adalah pribadi Allah yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak.

Jika kita ijinkan Roh Kudus bekerja dengan leluasa, maka Dia akan bekerja keluar dengan memberikan karunia-karunia Roh untuk melayani, dan ke dalam dengan memanifestasikan sifat-sifat dari Allah melalui perilaku kehidupan orang percaya. Manifestasi Roh tersebut kita sebut dengan Buah Roh (Galatia 5:22-23). Buah Roh bukan sifat alamiah tetapi karakter orang percaya yang diperbaharui karena melekat pada Kristus (Yohanes 15:5) dan ini merupakan tanda kedewasaan rohani. Jadi buah roh itu adalah bukti dari hasil kerja Roh Kudus yang dapat kita lihat dari kehidupan seorang percaya.

Pada saat yang sama buah Roh juga merupakan standar karakter yang bisa dipakai oleh orang Kristen dalam mengukur perjalanan kedewasaan rohaninya. Dalam Roma 12:2 Paulus menasihatkan orang kristen untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, kita harus berubah. Pertanyaannya berubah ke arah mana? Rasul Paulus memberikan petunjuknya dalam Roma 8:29,

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.“

Kata Yunani untuk “gambar” dalam ayat tersebut adalah “eikon”, kata yang sama yang digunakan dalam terjemahan Yunani Septuaginta untuk ayat Kejadian 1:26 yaitu bahwa kita dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Pada awalnya manusia diciptakan segambar dengan Allah dan karena kejatuhan manusia dalam dosa maka sekarang manusia harus mengembalikan gambarnya kepada Allah yang dicerminkan dalam pribadi Yesus.

Menurut David Guzik, manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah memiliki pengertian bahwa mereka memiliki kepribadian, moralitas dan kemampuan rohani untuk bersekutu dengan Allah. Manifestasi dari buah roh mencerminkan karakteristik dari orang yang serupa dengan Kristus. Bahkan bukan suatu kebetulan jika kata “karakter” yang kita gunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang, berasal dari bahasa Yunani “charakter” yang juga diterjemahkan menjadi kata “gambar” dalam Ibrani 1:3a,

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”
Munculnya karakter ini tidak terjadi secara instan tetapi melalui sebuah proses. Sama seperti buah pada sebuah pohon, tidak akan langsung muncul dalam kondisi matang, tetapi bagi seseorang yang sudah menerima Roh Kudus yang tinggal di dalam hidupnya sejak ia lahir baru (Efesus 1:13-14), yang semakin lama semakin serupa dengan Kristus.

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. “ Korintus 3:18

II. Apakah seseorang bisa menunjukan nilai-nilai kebaikan tanpa pendiaman Roh Kudus?
Untuk bisa berbuat baik atau menunjukan nilai-nilai seperti yang nampak dari manifestasi Buah Roh, seseorang tidak harus mengenal Roh Kudus. Orang dunia banyak berbuat kebaikan bahkan terlihat seperti lebih baik daripada orang percaya. Semua orang, dimanapun dia dibesarkan, dalam budaya apapun atau keluarga apapun, bisa menerima dan menyetujui prinsip-prinsip Buah Roh. Tidak heran jika dikatakan bahwa “…Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Galatia 5:23). Namun demikian ada perbedaan yang mendasari prinsip-prinsip dari buah roh tersebut antara orang percaya dan orang dunia.

Bagi orang percaya, dimana hidupnya didiami (indwelled) dan dituntun oleh Roh Kudus, prinsip- prinsip buah roh dilakukannya untuk memuliakan Tuhan. Semua ditujukan untuk menyenangkan Dia. Firman Tuhan menjadi standar untuk prinsip tersebut. Tetapi buat orang dunia, yang hidupnya dikuasai oleh kedagingan, prinsip perbuatan baiknya didasari oleh pemahaman orang itu sendiri. Motivasi orang yang melakukan kebaikan umumnya didasarkan pada keuntungan pribadi.

1. Kasih (Agape)
Kasih Ilahi yang memberi tanpa pamrih. Selalu mengupayakan yang terbaik kepada orang lain (Rom 5:5; 1 Kor 13; Ef 5:2; Kol 3:14)
Kasih yang memperhatikan dan mencari yang terbaik sepanjang bisa memberikan keuntungan pribadi.

2. Sukacita (Chara)
Perasaan senang yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah yang dimiliki orang percaya pada Kristus (Mzm 119:16; 2 Kor 6:10; 2 Kor 12:9; 1 Pet 1:8)
Perasaan senang berlandaskan hasil prestasi, pencapaian, terpenuhinya suatu keinginan/harapan, dan sesuatu kesenangan yang orang lain lakukan kepadanya.

3. Damai sejahtera (Eirene)
Ketenangan hati dan pikiran yang berlandaskan pengetahuan bahwa semua beres diantara orang percaya dengan Bapanya di sorga (Rom 15:33; Fil 4:7; 1 Tes 5:23; Ibr 13:20)
Ketenangan hati dan pikiran berlandaskan tercapainya suatu kekuasaan, jaminan hidup, atau kekayaan.

4. Kesabaran (makrothumia)
Ketabahan, panjang sabar, tidak mudah marah, atau tidak putus asa (Ef 4:2; 2 Tim 3:10; Ibr 12:1)
Tabah, tenang tetapi ada batasnya.

5. Kemurahan (chrestotes)
Tidak mau menyakiti orang lain atau menyebabkan penderitaan (Ef 4:32; Kol 3:12; 1 Pet 2:3)
Bermurah hati dan tidak menyakiti orang lain karena ada hukum yang mencegahnya atau demi nama baik dan keuntungan pribadi.

6. Kebaikan (agathosune)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan serta membenci kejahatan; dapat terungkap dalam perbuatan baik (Luk 7:37- 50) atau dalam menegur dan memperbaiki kejahatan (Mar 21: 12-13)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan yang sifatnya sangat relatif/subyektif

7. Kesetiaan (pistis)
Kesetiaan yang teguh dan kokoh terhadap orang yang telah dipersatukan dengan kita oleh janji, komitmen, sifat layak dipercayai dan kejujuran (Mat 23:23; Rom 3:3; 1 Tim 6:12; 2 Tim 2:2; Tit 2:10)
Setia sepanjang bisa menguntungkan.

8. Kelemahlembutan (prautes)
Pengekangan yang berpadu dengan kekuatan dan keberanian. Ini menggambarkan seorang yang bisa marah pada saat diperlukan dan bisa tunduk dengan rendah hati apabila itu diperlukan (2 Tim 2:25; 1 Ptr 3:15; Mat 11:29; 2 Kor 10:1; Kel 32:19-20)
Seringkali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan.

9. Penguasaan diri (egkrateria)
Menguasai keinginan dan nafsu, diri sendiri antara lain dari: perselingkuhan, uang, rakus dan kesucian hidup (1 Kor 7:9; 1 Kor 9:25; Tit 1:8, 2:5; 1 Tim 6:10)
Menguasai keinginan, tidak tergesagesa demi suatu keuntungan pribadi dan mengambil kesempatan yang lebih besar jika ada peluang.

III. Apakah orang yang kelihatan berbahasa Roh (glossolalia) pasti menunjukan buah Roh dalam kehidupannya?
Seseorang bisa saja berdoa dengan sering berbahasa roh dalam pertemuan-pertemuan ibadah, tetapi hidupnya sama sekali masih sarat dengan kedagingan dan tidak menunjukan tanda- tanda buah roh. Dalam hal ini, bahasa Roh tidak disertai dengan kepenuhan Roh Kudus yang senantiasa. Jadi harus ada suatu upaya agar orang percaya senantiasa membiarkan Roh Kudus bekerja, memimpin dan membentuk karakter Kristus.

Sama seperti sebuah pohon agar dapat menghasilkan buah maka pohon tersebut harus dirawat dan diberikan nutrisi agar dapat bertumbuh dengan sehat, maka pada saatnya pohon tersebut akan menghasilkan buahnya. Daud menulis mengenai hal ini dalam Mazmur 1:1-3,

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Disiplin rohani seperti: bersaat teduh, berdoa di Menara doa, berbahasa roh, membaca Firman Tuhan, bersekutu dalam COOL, ikut serta aktif dalam pelayanan, bisa membantu orang percaya untuk dapat hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga menghasilkan buah Roh dalam kehidupan mereka.

Di lain pihak kita menemukan orang-orang yang berbahasa roh dan juga menghasilkan buah roh dalam karakternya. Kedewasaaan rohani dan kemampuan berbahasa roh bisa lebih tepat kita katakan merupakan co-relational, artinya dapat ditemukan bersama-sama tetapi tidak terkait dalam hubungan sebab-akibat. Seperti halnya kita sering temui di sebuah taman ada seekor burung hampir selalu diikuti ada tupai pada waktu yang bersamaan. Tetapi bukan berarti keberadaan mereka tergantung satu dengan yang lainnya. Terkait hubungan antara buah Roh dengan karunia Roh, David Lim menyatakan: “Buah Roh menjadi cara untuk memakai karunia Roh. Keseluruhan buah dibingkai dalam kasih, dan karunia apapun, bahkan dalam manifestasinya yang penuh, tidak berarti apapun tanpa kasih. Di lain pihak, kepenuhan Roh Kudus yang sejati pasti akan menghasilkan buah Roh; ini disebabkan oleh hidup yang bergairah dan diperkaya dalam persekutuan dengan Kristus.”

IV. Apakah dampak buah Roh dalam kehidupan orang percaya?
Buah sebuah pohon tidak dinikmati oleh pohonnya sendiri. Daging dari buah tersebut dinikmati oleh binatang atau manusia yang memakannya. Demikian juga dengan buah Roh.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. “
Efesus 5:8-9

Orang percaya yang menghasilkan Buah Roh pasti akan berdampak kepada orang lain disekitarnya. Rasul Paulus mengatakan orang yang menghasilkan buah adalah karena mereka hidup sebagai anak- anak terang. Nabi Yesaya menulis mengenai terang:
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.“
Yesaya 60:1

Orang percaya dipanggil untuk menjadi terang karena kemuliaan Tuhan sudah kita dapatkan ketika Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Kita bukanlah sumber terang, tetapi sumber terang itu sudah tinggal di dalam kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi saluran atau cerminan terang Tuhan dengan cara berbuah. Yesus berkata mengenai menjadi terang:

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.“
Matius 5:14-16

Ternyata kita memang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi terang yang dapat dilihat oleh orang lain seperti kota yang di atas gunung atau pelita di atas kaki dian. Artinya kita diselamatkan bahkan diberikan Roh Kudus untuk mendiami kita, supaya kita menjadi kesaksian bagi orang lain dengan tujuan mereka menjadi percaya dan memuliakan Tuhan. Menghasilkan buah Roh tujuan akhirnya adalah agar orang lain dapat menikmati buah dari kehidupan kita mengikut Yesus sehingga pada akhinya mereka pun akan mengikut Yesus akibat kesaksian hidup kita. (RL).

KUMPULKANLAH HARTA DI SURGA

KUMPULKANLAH HARTA DI SURGA

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (Matius 6:19-20)

Dunia ini memaknai harta kekayaan, pencapaian, kekuasaan dan kesuksesan sebagai sebuah identitas. Pandangan yang keliru ini memicu manusia untuk berlomba mengejar harta duniawi serta kesuksesan, lalu mengesampingkan Tuhan, nilai-nilai kebenaran dan perkara-perkara kekal. Mereka menyimpang dari iman dan jatuh ke dalam jerat hawa nafsu ketamakan yang mencelakakan serta membinasakan. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengingatkan kita agar jangan hidup seperti dunia yang berfokus mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di surga, yang nilainya jauh lebih mulia dan kekal.

Banyak orang berpandangan bahwa uang/kekayaan akan menjamin kebahagiaan, kemudahan, kepuasan, rasa aman dan harapan bagi masa depan. Kadang tanpa sadar orang bisa menjadikan Mamon sebagai ‘allah’. Contoh: jika kehilangan barang/uang lalu menjadi depresi; menjual kebenaran demi mendapatkan kekayaan; perasaan baru bisa happy jika melihat saldo rekeningnya berjumlah banyak, sebaliknya menjadi kuatir jika tidak memiliki uang yang berlebih; timbul iri hati dan merasa tidak puas jika melihat pendapatan/kekayaan orang lain lebih dari dirinya; menganggap bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya; kekayaan dapat meningkatkan status sosial, dlsb.

Sikap hati yang tidak benar terhadap uang bisa membuat kita menjadi hamba uang. Tanpa disadari kita sedang memupuk cinta akan uang dan terjerat dengan berbagai hawa nafsu. Keinginan untuk menjadi kaya dan cinta akan uang merupakan hal yang harus kita tanggalkan dalam mengikut Tuhan. Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pengkhotbah 5:9a). Alkitab menyebut keserakahan sebagai dosa yang sama dengan penyembahan berhala (Kolose 3:5). Keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia (1 Yohanes 2:16).

Memang Tuhan Yesus datang untuk memberi kita hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Namun firman ini tidak boleh ditafsirkan menurut keinginan daging kita. Tujuan Tuhan memberikan kelimpahan adalah supaya kita menjadi orang-orang yang memberi dampak bagi orang lain. Kalau dunia menggolongkan orang kaya adalah mereka yang memiliki, menyimpan dan menimbun harta – firman Tuhan mengajarkan bahwa orang yang kaya dalam pandangan Allah adalah mereka yang menyebar harta/membagi hidupnya untuk memberkati orang lain dan membangun Kerajaan Allah.

Bisa saja orang tersebut tidak memiliki banyak harta kekayaan secara jasmani, tapi dengan sukacita mampu memberikan apa yang dipunyainya untuk orang lain (2 Korintus 8:2). Sementara orang yang kaya secara materi belum tentu kaya dalam pandangan Allah, kalau ia hanya hidup untuk dirinya sendiri (Lukas 12:21).

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (1 Timotius 6:17-19).

Orang yang kaya dalam Kristus adalah mereka yang memiliki kelimpahan dari dalam (inner man) yaitu hati dan jiwa. Sesungguhnya jika kita memiliki terang Tuhan/kebenaran, maka kita adalah orang-orang yang kaya. Kekayaan sejati orang percaya adalah iman yang murni, hikmat (yang nilainya melebihi emas perak), pengetahuan/pewahyuan, buah-buah Roh Kudus (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri), buah-buah kebenaran (artinya mengalami kegenapan firman Tuhan), dan integritas ilahi yang semuanya merupakan karya Roh Kudus.

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:8-11).

Kekayaan seperti ini yang harus kita kumpulkan sebagai harta di surga – suatu yang bersifat kekal, ngengat dan karat tidak akan merusaknya dan pencuri tidak akan mencurinya.

JANGAN KUATIR

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:31-33).
Matius 6:33, yang bukan merupakan iman transaksional untuk memperoleh kekayaan materi atau apa yang kita inginkan. Ayat ini menggambarkan tentang kesetiaan dan pemeliharaan Allah terhadap mereka yang hidup dalam kebenaran. Pemeliharaan Tuhan tidak dimaksudkan untuk melayani keserakahan kita.

Tuhan memerintahkan kita untuk tidak kuatir akan hal kebutuhan hidup, karena Bapa tahu bahwa kita memerlukannya. Namun Ia mau supaya kita menjadikan firman-Nya sebagai prioritas utama yang menguasai hati dan pikiran kita. Dengan demikian, cara pandang dan nilai/prinsip kehidupan kita ditransformasi oleh firman kebenaran. Kebenaran ini akan memerdekakan kita dari kekuatiran, jerat hawa nafsu cinta akan uang, ketamakan, keserakahan, kesombongan, iri hati, dsb.

Roma 14:17 mengatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kerajaan Allah bukanlah bicara tentang kebutuhan jasmani, tetapi tentang kebenaran, damai sejahtera dan sukacita – yang semuanya merupakan kekuatan bagi jiwa kita. Artinya pada waktu kita dipenuhi dengan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita, maka kekuatiran, ketamakan, dan keserakahan tidak akan menguasai kita.

Di mata Allah, nilai/prinsip kekekalan jauh lebih penting dari sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Bukan berarti Allah menyepelekan hal-hal yang kita butuhkan, tapi Ia hendak mengukir firman kebenaran yang kekal dalam hidup kita. Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Kebutuhan jasmani bersifat sementara, hanya berlaku selama di bumi; tapi orang yang melakukan kehendak Tuhan, tetap hidup selamanya (1 Yohanes 2:17).

Ketika seseorang ditransformasi oleh nilai-nilai kebenaran firman, ia tidak lagi menargetkan perkara-perkara materi sebagai tujuan hidup, melainkan belajar mematikan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Ia belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada, dan mengucap syukur atas kesetiaan Allah dalam hidupnya. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar (1 Timotius 6:6). Rasa cukup di sini maksudnya ‘contentment’ (which comes from a sense of inner confidence based on the sufficiency of God). Kepuasan batiniah yang tidak ada hubungannya dengan kepemilikan sesuatu, rasa cukup yang berakar pada Tuhan.

Ibadah disertai rasa cukup memberi ‘keuntungan besar’. Keuntungan besar yang bersifat non materi. Kita bisa puas dengan Allah, hadirat dan firmanNya. Iman kepada Tuhan tidak bergantung kepada uang/barang yang kita miliki. Tidak terikat akan apapun, hati mudah mengucap syukur dalam segala keadaan. Jiwanya diisi dengan perkara-perkara yang kekal. Rasa cukup akan mudah dialami orang yang memiliki hubungan serta pengenalan yang benar akan Allah, memiliki pewahyuan firman dan cara pandang Kerajaan Allah.

Orang yang memiliki segalanya tapi tidak memiliki hubungan dengan Tuhan dan sesama akan merasa kosong dalam jiwanya. Rasa cukup itu tidak berhubungan dengan possession atau materi. Tempatkan Tuhan sebagai prioritas utama, maka segala berkat dan apa saja yang kita perlukan akan mengalir.

KESIMPULAN

Taruhlah iman kita kepada Tuhan, bukan pada harta. Jaga hati dengan segala kewaspadaan, supaya cinta akan uang semakin terkikis dalam hidup kita. Seberapa pun banyak harta/uang yang kita miliki, hidup kita tidak bergantung kepadanya. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada dan bersyukurlah atas pemeliharaan Tuhan. Kembalikan apa yang menjadi milik Tuhan yaitu persepuluhan. Belajar menabur dan mendampaki orang lain dengan harta yang Tuhan percayakan kepada kita.

Jangan sibuk mengumpulkan harta di dunia yang nantinya tidak akan berlaku di kekekalan. Jangan pula iri dengan harta orang lain. Tidak perlu pamer dan menyalahgunakan harta kekayaan untuk hal-hal yang memuaskan hawa nafsu. Tanggalkan kekuatiran sebab jika kita hidup dalam kebenaran, Allah pasti memenuhi semua keperluan kita.

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Tuhan adalah SUMBER segala sesuatu yang memberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan. Kekayaan memang bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan. Berkat bukanlah  tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian. Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya.

Sambungan minggu ini:

Tuhan bukan hanya memberi berkat, tapi juga penguji hati/karakter. Ia menghendaki kita menjadi hamba yang setia/dapat dipercaya untuk mengelola berkat dalam takut akan DIA.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Ayat ini berbicara tentang ujian kesetiaan dalam perkara kecil. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar…” (Lukas 16:10).

  1. Tuhan melihat yang kecil, manusia melihat yang besar.

Manusia memiliki kecenderungan melihat hal yang kecil itu tidak penting;  sementara bagi Tuhan, hal yang kecil dalam pandangan manusia merupakan cerminan hati. Oleh sebab itu, jangan pernah remehkan perkara-perkara kecil sebab sesungguhnya itu merupakan ujian dari Tuhan. Contoh: cara kita memperlakukan uang receh, cara kita mengelola waktu, cara kita menggunakan toilet umum, cara kita mengembalikan trolly belanja pada tempatnya, cara kita menjaga amanat yang sederhana, cara kita memperlakukan tugas pelayanan yang tidak terlihat, cara kita menepati janji/komitmen kecil, dlsb. Ternyata apa yang kita anggap sepele, bisa menjadi ujian besar dari Tuhan yang akan menentukan arah hidup kita.

  1. Uang adalah latihan rohani, bukan sekadar alat ekonomi.

Yesus dengan sangat tegas mengatakan: “Jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapa akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jika kita tidak bisa setia mengelola harta duniawi untuk mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, orang lain serta untuk kepentingan Kerajaan Allah, maka Tuhan tidak akan menitipkan harta rohani, hikmat, kapasitas pelayanan, atau memberikan pengaruh yang besar – yang jauh lebih berharga dari harta dunia. Sikap hati terhadap harta materi mencerminkan kesetiaan kita kepada Tuhan, menunjukkan apakah kita dapat dipercaya untuk hal yang lebih besar atau tidak. Demikian pula cara kita mengelola harta orang lain mencerminkan kualitas moral karakter kita.

  1. Dua Tuan: Tuhan atau Mamon.

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13c).

Masalahnya bukan pada uang yang kita miliki, tetapi pada siapa yang memegang hati kita.
Beberapa pertanyaan yang dapat mendeteksi siapa sebenarnya yang memegang hati kita, dan siapa ‘tuan’ di hidup kita:

Apakah uang mengendalikan perilaku dan keputusan kita? Apakah kita mengukur harga diri/status sosial dari materi? Apakah kita mengorbankan integritas demi keuntungan? Apakah kita lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan hadirat Tuhan? Apakah uang yang menjadi sumber kebahagiaan dan rasa aman kita?

Kita hanya bisa punya satu ‘tuan’. Entah Tuhan yang menguasai dompet kita,
atau Mamon yang menguasai hati kita. Kita harus bisa membedakan: Tuhan adalah SUMBER bahan mentah, tanah yang harus kita olah, pengetahuan yang harus kita gali, dan hubungan yang harus kita pelihara. Uang adalah alat (tools) untuk membantu kita mengolah bahan mentah tersebut dan menjalankan rencana Tuhan.

“…Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abagi.” (Lukas 16:9). Jadikan Mamon/harta duniawi sebagai ‘hamba’ yang dipakai untuk menolong orang lain dan membangun Kerajaan Allah, bukan sebagai ‘tuan’ yang mengendalikan hidup kita.

PENUTUP

Allah adalah Sang Pemberi/Sumber berkat, sekaligus penguji hati dan karakter. Kita perlu sering mengingatkan diri sendiri bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik. Belajarlah menjadi hamba yang baik dan setia, yang menjalankan talenta tuan-nya, yaitu Tuhan sendiri – SUMBER/PEMILIK segala sesuatu.

Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan,  kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.  Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. (1 Tawarikh 29:11-12).

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

PEMBUKAAN

Anggota Cool yang dikasihi Tuhan, ada satu bahaya rohani yang sangat halus namun mematikan: ketika kita diberkati, kita lupa siapa Sumbernya. Dan ada satu ujian rohani yang sering kita lewatkan: ketika kita dipercaya hal kecil, kita menganggap remeh/ tidak penting.

Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ulangan 8:18).

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Dua ayat pokok di atas berbicara tentang dua hal: Blessings/berkat dan Trust/ kepercayaan.
Tuhan sang pemberi berkat, Ia juga penguji hati/karakter.

ISI

Ulangan 8:18  menjelaskan bahwa Tuhanlah SUMBER segala sesuatu.“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan…”

  1. Tuhan adalah pemberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan.

Tuhan tidak hanya memberikan kekayaan, tetapi kekuatan untuk memperoleh kekayaan.
Artinya:

  • Tuhan memberi kebijaksanaan.
  • Tuhan memberi kesempatan.
  • Tuhan membuka pintu hubungan.
  • Tuhan menaburkan ide, potensi, karunia, bakat serta kreativitas.

Apa pun yang kita capai — jabatan, bisnis, pelayanan, kesehatan, kesuksesan — bukan karena kekuatan kita, tetapi karena anugerah-Nya. Uang hanyalah kompensasi dari karya yang kita hasilkan dari kekuatan yang Tuhan berikan.

  1. Tantangan: kekayaan bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan.

Sewaktu berada di padang gurun, bangsa Israel bersandar penuh pada Tuhan.
Akan tetapi saat  sudah masuk Tanah Perjanjian, di suatu negeri yang berlimpah, mereka mulai bersandar pada hasil tangan mereka sendiri.

Godaan yang sama menghampiri kita: pada waktu miskin kita setia; pada waktu keadaan sulit kita berdoa lebih sungguh-sungguh; pada waktu tidak punya apa-apa, kita bergantung penuh pada Tuhan. Tapi ketika Tuhan memberkati, ketika keadaan ekonomi makin membaik, ketika usaha mulai berkembang…Kita mulai berkata dalam hati: “Ini hasil kekuatanku.” Itulah sebabnya Tuhan berkata: “INGATLAH!” Ini bukan perintah keras, tetapi perintah kasih: “Jangan sampai engkau lupa siapa yang memberi semua ini.”

Kekayaan bukanlah sesuatu yang tabu, dosa, ataupun yang harus dihindari. Kekayaan adalah anugerah Tuhan yang harus disikapi dengan benar serta dikelola dengan bijaksana dalam takut akan Dia, agar berkat tersebut mendatangkan kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

  1. Berkat bukanlah tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian.

Bagi orang yang tidak memahami kebenaran, berkat/kekayaan dijadikan sebagai tujuan/cita-cita hidup; digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, mewujudkan ambisi, simbol harga diri/identitas, sesuatu yang dapat diandalkan serta memberikan rasa aman. Pemahaman yang keliru seperti ini menyebabkan kekayaan yang seharusnya merupakan berkat dari Tuhan untuk dinikmati, malah berubah menjadi kutuk.

Tuhan memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya. Berkat kekayaan bukan sekedar hadiah; itu merupakan bagian dari hubungan perjanjian antara Tuhan dengan kita. Namun jika kita melupakan Perjanjiannya, kita kehilangan arah berkat itu.

Tidak ada yang salah dengan kekayaan, namun yang berbahaya adalah ketika keinginan untuk menjadi kaya membuat kita menyimpang dari iman, kehilangan kasih yang semula, tamak, serakah, tinggi hati, pelit, egois/tidak peduli orang lain, dlsb. Kekayaan yang tidak disikapi dengan benar dapat menjadikan seseorang terikat, bahkan membuatnya sukar masuk ke dalam Kerajaan Allah (Markus 10:23).

Allah tidak menentang kekayaan, tetapi membenci segala macam kejahatan yang ditimbulkan dari hati yang cinta akan uang. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang…”(1 Timotius 6:10). Uang dan kekayaan: berkat atau kutuk? Ini tergantung dari sikap/motivasi hati orang yang memilikinya. Apa yang kita lakukan dengan uang/kekayaan menyingkapkan di mana sesungguhnya hati kita melekat. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)