Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral, sosial, iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kasih dan kuasa Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah/guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa betapapun hebat, kaya, pintar, ternyata manusia adalah makhluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk merendahkan hati, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi GARAM dan TERANG, siap menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus. Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk secara unity dan terpadu menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para misionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang egois/tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di zaman ini. Bukan Tuhan yang kita tuntut harus memenuhi keinginan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Melakukan kehendak Tuhan adalah kerinduan utama orang yang mengasihi Tuhan. Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Murid Kristus bukan berarti sudah sempurna, tetapi yang mau hidup dalam pertobatan (tidak hidup dalam dosa), hidup dalam kekudusan, mau menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab/melakukan bagiannya.

Sifat seorang murid Kristus yang siap serta dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:
1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.

2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.

3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:25-27).

Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana kasih adalah motivasi dan tujuan dari semua pekerjaan misi. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tapi kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman.

Kasih sejati ini memampukan kita berkorban agar orang lain menerima keselamatan, menjadi murid Kristus dan warga Kerajaan Allah.
Dalam praktiknya, sering terjadi salah kaprah dengan menganggap bahwa Amanat Agung hanya sebatas pemberitaan Injil Kristus/Injil Keselamatan saja; padahal Tuhan Yesus juga memerintahkan kita untuk membaptis orang yang percaya kepada-Nya dan memuridkan mereka; memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua makhluk.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Injil Kristus adalah kabar baik keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus; Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi meliputi hukum, tatanan, keadilan, pemulihan, dan kehidupan yang sesuai kehendak-Nya. Aplikasi Amanat Agung harusnya bukan cuma menyentuh aspek rohani saja, tapi juga jasmani (Misi yang Holistik). Misi yang holistik adalah misi yang dilaksanakan oleh para rasul dan selanjutnya oleh Gereja sebagai amanat dari Tuhan Yesus: misi yang menerapkan nilai/prinsip kebenaran dan membangun Kerajaan Allah di tengah masyarakat dunia.

Tuhan Yesus memberi teladan dalam memberitakan kabar baik dan membawa perubahan yang signifikan di seluruh aspek kehidupan komunitas/masyarakat yang dilayani-Nya.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Seperti Tuhan Yesus melakukan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus, demikian pula halnya dengan Gereja. Kita tidak akan mampu melakukan Amanat Agung jika tidak terhubung dengan sumber kuasa, yaitu Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Jangan bergerak mendahului Roh Kudus, melainkan belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dengan efektif. Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung. .…. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kita diberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir zaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman, tapi persiapkan diri untuk dengan unity menyelesaikan Amanat Agung.

Selamat Tahun Baru 2026!

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Secara biologi, buah adalah sesuatu yang dihasilkan oleh sebuah pohon sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Semua buah secara alamiah mengandung benih dari pohonnya dan beberapa jenis buah juga memiliki bagian yang dapat dimakan oleh manusia.

Dalam kondisi normal, buah dari sebuah pohon muncul secara alamiah pada waktunya. Buah sebuah pohon sebenarnya ditujukan sebagai cara untuk pohon tersebut menyebarkan benihnya. Buah akan dimakan oleh binatang atau manusia, kemudian benih yang jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon yang lain. Jadi, buah sebuah pohon adalah cara untuk pohon tersebut bermultiplikasi.

Di dalam Alkitab, hidup orang percaya beberapa kali digambarkan seperti sebuah pohon (Mazmur 1:1-3), artinya sesuatu yang ditanam kemudian bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah. Dalam hal ini, buah adalah sesuatu yang keluar dari hidup orang percaya setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus, yang kemudian dinikmati oleh orang lain sehingga orang tersebut pada akhirnya juga bisa mengalami kehidupan yang sama.

I. Apa itu Buah Roh?
Seseorang ketika lahir baru dan mempunyai iman percaya kepada Yesus sebagai sang juru selamat, maka orang itu akan mengalami transformasi dalam hidupnya. Perubahan dari arah suka akan dosa, tahap demi tahap, berubah menjadi cinta akan kebenaran. Transformasi tersebut dikerjakan oleh Roh Kudus yang ada di dalam setiap orang percaya. Roh Kudus merupakan pribadi Allah. Dalam Bahasa Yunani, Roh Kudus juga dikenal sebagai ‘Parakletos’ yang artinya “seorang yang dipanggil atau diutus untuk menolong orang lain,

“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14:26

Roh Kudus adalah pribadi Allah yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak.

Jika kita ijinkan Roh Kudus bekerja dengan leluasa, maka Dia akan bekerja keluar dengan memberikan karunia-karunia Roh untuk melayani, dan ke dalam dengan memanifestasikan sifat-sifat dari Allah melalui perilaku kehidupan orang percaya. Manifestasi Roh tersebut kita sebut dengan Buah Roh (Galatia 5:22-23). Buah Roh bukan sifat alamiah tetapi karakter orang percaya yang diperbaharui karena melekat pada Kristus (Yohanes 15:5) dan ini merupakan tanda kedewasaan rohani. Jadi buah roh itu adalah bukti dari hasil kerja Roh Kudus yang dapat kita lihat dari kehidupan seorang percaya.

Pada saat yang sama buah Roh juga merupakan standar karakter yang bisa dipakai oleh orang Kristen dalam mengukur perjalanan kedewasaan rohaninya. Dalam Roma 12:2 Paulus menasihatkan orang kristen untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, kita harus berubah. Pertanyaannya berubah ke arah mana? Rasul Paulus memberikan petunjuknya dalam Roma 8:29,

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.“

Kata Yunani untuk “gambar” dalam ayat tersebut adalah “eikon”, kata yang sama yang digunakan dalam terjemahan Yunani Septuaginta untuk ayat Kejadian 1:26 yaitu bahwa kita dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Pada awalnya manusia diciptakan segambar dengan Allah dan karena kejatuhan manusia dalam dosa maka sekarang manusia harus mengembalikan gambarnya kepada Allah yang dicerminkan dalam pribadi Yesus.

Menurut David Guzik, manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah memiliki pengertian bahwa mereka memiliki kepribadian, moralitas dan kemampuan rohani untuk bersekutu dengan Allah. Manifestasi dari buah roh mencerminkan karakteristik dari orang yang serupa dengan Kristus. Bahkan bukan suatu kebetulan jika kata “karakter” yang kita gunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang, berasal dari bahasa Yunani “charakter” yang juga diterjemahkan menjadi kata “gambar” dalam Ibrani 1:3a,

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”
Munculnya karakter ini tidak terjadi secara instan tetapi melalui sebuah proses. Sama seperti buah pada sebuah pohon, tidak akan langsung muncul dalam kondisi matang, tetapi bagi seseorang yang sudah menerima Roh Kudus yang tinggal di dalam hidupnya sejak ia lahir baru (Efesus 1:13-14), yang semakin lama semakin serupa dengan Kristus.

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. “ Korintus 3:18

II. Apakah seseorang bisa menunjukan nilai-nilai kebaikan tanpa pendiaman Roh Kudus?
Untuk bisa berbuat baik atau menunjukan nilai-nilai seperti yang nampak dari manifestasi Buah Roh, seseorang tidak harus mengenal Roh Kudus. Orang dunia banyak berbuat kebaikan bahkan terlihat seperti lebih baik daripada orang percaya. Semua orang, dimanapun dia dibesarkan, dalam budaya apapun atau keluarga apapun, bisa menerima dan menyetujui prinsip-prinsip Buah Roh. Tidak heran jika dikatakan bahwa “…Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Galatia 5:23). Namun demikian ada perbedaan yang mendasari prinsip-prinsip dari buah roh tersebut antara orang percaya dan orang dunia.

Bagi orang percaya, dimana hidupnya didiami (indwelled) dan dituntun oleh Roh Kudus, prinsip- prinsip buah roh dilakukannya untuk memuliakan Tuhan. Semua ditujukan untuk menyenangkan Dia. Firman Tuhan menjadi standar untuk prinsip tersebut. Tetapi buat orang dunia, yang hidupnya dikuasai oleh kedagingan, prinsip perbuatan baiknya didasari oleh pemahaman orang itu sendiri. Motivasi orang yang melakukan kebaikan umumnya didasarkan pada keuntungan pribadi.

1. Kasih (Agape)
Kasih Ilahi yang memberi tanpa pamrih. Selalu mengupayakan yang terbaik kepada orang lain (Rom 5:5; 1 Kor 13; Ef 5:2; Kol 3:14)
Kasih yang memperhatikan dan mencari yang terbaik sepanjang bisa memberikan keuntungan pribadi.

2. Sukacita (Chara)
Perasaan senang yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah yang dimiliki orang percaya pada Kristus (Mzm 119:16; 2 Kor 6:10; 2 Kor 12:9; 1 Pet 1:8)
Perasaan senang berlandaskan hasil prestasi, pencapaian, terpenuhinya suatu keinginan/harapan, dan sesuatu kesenangan yang orang lain lakukan kepadanya.

3. Damai sejahtera (Eirene)
Ketenangan hati dan pikiran yang berlandaskan pengetahuan bahwa semua beres diantara orang percaya dengan Bapanya di sorga (Rom 15:33; Fil 4:7; 1 Tes 5:23; Ibr 13:20)
Ketenangan hati dan pikiran berlandaskan tercapainya suatu kekuasaan, jaminan hidup, atau kekayaan.

4. Kesabaran (makrothumia)
Ketabahan, panjang sabar, tidak mudah marah, atau tidak putus asa (Ef 4:2; 2 Tim 3:10; Ibr 12:1)
Tabah, tenang tetapi ada batasnya.

5. Kemurahan (chrestotes)
Tidak mau menyakiti orang lain atau menyebabkan penderitaan (Ef 4:32; Kol 3:12; 1 Pet 2:3)
Bermurah hati dan tidak menyakiti orang lain karena ada hukum yang mencegahnya atau demi nama baik dan keuntungan pribadi.

6. Kebaikan (agathosune)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan serta membenci kejahatan; dapat terungkap dalam perbuatan baik (Luk 7:37- 50) atau dalam menegur dan memperbaiki kejahatan (Mar 21: 12-13)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan yang sifatnya sangat relatif/subyektif

7. Kesetiaan (pistis)
Kesetiaan yang teguh dan kokoh terhadap orang yang telah dipersatukan dengan kita oleh janji, komitmen, sifat layak dipercayai dan kejujuran (Mat 23:23; Rom 3:3; 1 Tim 6:12; 2 Tim 2:2; Tit 2:10)
Setia sepanjang bisa menguntungkan.

8. Kelemahlembutan (prautes)
Pengekangan yang berpadu dengan kekuatan dan keberanian. Ini menggambarkan seorang yang bisa marah pada saat diperlukan dan bisa tunduk dengan rendah hati apabila itu diperlukan (2 Tim 2:25; 1 Ptr 3:15; Mat 11:29; 2 Kor 10:1; Kel 32:19-20)
Seringkali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan.

9. Penguasaan diri (egkrateria)
Menguasai keinginan dan nafsu, diri sendiri antara lain dari: perselingkuhan, uang, rakus dan kesucian hidup (1 Kor 7:9; 1 Kor 9:25; Tit 1:8, 2:5; 1 Tim 6:10)
Menguasai keinginan, tidak tergesagesa demi suatu keuntungan pribadi dan mengambil kesempatan yang lebih besar jika ada peluang.

III. Apakah orang yang kelihatan berbahasa Roh (glossolalia) pasti menunjukan buah Roh dalam kehidupannya?
Seseorang bisa saja berdoa dengan sering berbahasa roh dalam pertemuan-pertemuan ibadah, tetapi hidupnya sama sekali masih sarat dengan kedagingan dan tidak menunjukan tanda- tanda buah roh. Dalam hal ini, bahasa Roh tidak disertai dengan kepenuhan Roh Kudus yang senantiasa. Jadi harus ada suatu upaya agar orang percaya senantiasa membiarkan Roh Kudus bekerja, memimpin dan membentuk karakter Kristus.

Sama seperti sebuah pohon agar dapat menghasilkan buah maka pohon tersebut harus dirawat dan diberikan nutrisi agar dapat bertumbuh dengan sehat, maka pada saatnya pohon tersebut akan menghasilkan buahnya. Daud menulis mengenai hal ini dalam Mazmur 1:1-3,

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Disiplin rohani seperti: bersaat teduh, berdoa di Menara doa, berbahasa roh, membaca Firman Tuhan, bersekutu dalam COOL, ikut serta aktif dalam pelayanan, bisa membantu orang percaya untuk dapat hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga menghasilkan buah Roh dalam kehidupan mereka.

Di lain pihak kita menemukan orang-orang yang berbahasa roh dan juga menghasilkan buah roh dalam karakternya. Kedewasaaan rohani dan kemampuan berbahasa roh bisa lebih tepat kita katakan merupakan co-relational, artinya dapat ditemukan bersama-sama tetapi tidak terkait dalam hubungan sebab-akibat. Seperti halnya kita sering temui di sebuah taman ada seekor burung hampir selalu diikuti ada tupai pada waktu yang bersamaan. Tetapi bukan berarti keberadaan mereka tergantung satu dengan yang lainnya. Terkait hubungan antara buah Roh dengan karunia Roh, David Lim menyatakan: “Buah Roh menjadi cara untuk memakai karunia Roh. Keseluruhan buah dibingkai dalam kasih, dan karunia apapun, bahkan dalam manifestasinya yang penuh, tidak berarti apapun tanpa kasih. Di lain pihak, kepenuhan Roh Kudus yang sejati pasti akan menghasilkan buah Roh; ini disebabkan oleh hidup yang bergairah dan diperkaya dalam persekutuan dengan Kristus.”

IV. Apakah dampak buah Roh dalam kehidupan orang percaya?
Buah sebuah pohon tidak dinikmati oleh pohonnya sendiri. Daging dari buah tersebut dinikmati oleh binatang atau manusia yang memakannya. Demikian juga dengan buah Roh.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. “
Efesus 5:8-9

Orang percaya yang menghasilkan Buah Roh pasti akan berdampak kepada orang lain disekitarnya. Rasul Paulus mengatakan orang yang menghasilkan buah adalah karena mereka hidup sebagai anak- anak terang. Nabi Yesaya menulis mengenai terang:
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.“
Yesaya 60:1

Orang percaya dipanggil untuk menjadi terang karena kemuliaan Tuhan sudah kita dapatkan ketika Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Kita bukanlah sumber terang, tetapi sumber terang itu sudah tinggal di dalam kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi saluran atau cerminan terang Tuhan dengan cara berbuah. Yesus berkata mengenai menjadi terang:

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.“
Matius 5:14-16

Ternyata kita memang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi terang yang dapat dilihat oleh orang lain seperti kota yang di atas gunung atau pelita di atas kaki dian. Artinya kita diselamatkan bahkan diberikan Roh Kudus untuk mendiami kita, supaya kita menjadi kesaksian bagi orang lain dengan tujuan mereka menjadi percaya dan memuliakan Tuhan. Menghasilkan buah Roh tujuan akhirnya adalah agar orang lain dapat menikmati buah dari kehidupan kita mengikut Yesus sehingga pada akhinya mereka pun akan mengikut Yesus akibat kesaksian hidup kita. (RL).

KUMPULKANLAH HARTA DI SURGA

KUMPULKANLAH HARTA DI SURGA

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (Matius 6:19-20)

Dunia ini memaknai harta kekayaan, pencapaian, kekuasaan dan kesuksesan sebagai sebuah identitas. Pandangan yang keliru ini memicu manusia untuk berlomba mengejar harta duniawi serta kesuksesan, lalu mengesampingkan Tuhan, nilai-nilai kebenaran dan perkara-perkara kekal. Mereka menyimpang dari iman dan jatuh ke dalam jerat hawa nafsu ketamakan yang mencelakakan serta membinasakan. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengingatkan kita agar jangan hidup seperti dunia yang berfokus mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di surga, yang nilainya jauh lebih mulia dan kekal.

Banyak orang berpandangan bahwa uang/kekayaan akan menjamin kebahagiaan, kemudahan, kepuasan, rasa aman dan harapan bagi masa depan. Kadang tanpa sadar orang bisa menjadikan Mamon sebagai ‘allah’. Contoh: jika kehilangan barang/uang lalu menjadi depresi; menjual kebenaran demi mendapatkan kekayaan; perasaan baru bisa happy jika melihat saldo rekeningnya berjumlah banyak, sebaliknya menjadi kuatir jika tidak memiliki uang yang berlebih; timbul iri hati dan merasa tidak puas jika melihat pendapatan/kekayaan orang lain lebih dari dirinya; menganggap bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya; kekayaan dapat meningkatkan status sosial, dlsb.

Sikap hati yang tidak benar terhadap uang bisa membuat kita menjadi hamba uang. Tanpa disadari kita sedang memupuk cinta akan uang dan terjerat dengan berbagai hawa nafsu. Keinginan untuk menjadi kaya dan cinta akan uang merupakan hal yang harus kita tanggalkan dalam mengikut Tuhan. Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pengkhotbah 5:9a). Alkitab menyebut keserakahan sebagai dosa yang sama dengan penyembahan berhala (Kolose 3:5). Keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia (1 Yohanes 2:16).

Memang Tuhan Yesus datang untuk memberi kita hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Namun firman ini tidak boleh ditafsirkan menurut keinginan daging kita. Tujuan Tuhan memberikan kelimpahan adalah supaya kita menjadi orang-orang yang memberi dampak bagi orang lain. Kalau dunia menggolongkan orang kaya adalah mereka yang memiliki, menyimpan dan menimbun harta – firman Tuhan mengajarkan bahwa orang yang kaya dalam pandangan Allah adalah mereka yang menyebar harta/membagi hidupnya untuk memberkati orang lain dan membangun Kerajaan Allah.

Bisa saja orang tersebut tidak memiliki banyak harta kekayaan secara jasmani, tapi dengan sukacita mampu memberikan apa yang dipunyainya untuk orang lain (2 Korintus 8:2). Sementara orang yang kaya secara materi belum tentu kaya dalam pandangan Allah, kalau ia hanya hidup untuk dirinya sendiri (Lukas 12:21).

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (1 Timotius 6:17-19).

Orang yang kaya dalam Kristus adalah mereka yang memiliki kelimpahan dari dalam (inner man) yaitu hati dan jiwa. Sesungguhnya jika kita memiliki terang Tuhan/kebenaran, maka kita adalah orang-orang yang kaya. Kekayaan sejati orang percaya adalah iman yang murni, hikmat (yang nilainya melebihi emas perak), pengetahuan/pewahyuan, buah-buah Roh Kudus (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri), buah-buah kebenaran (artinya mengalami kegenapan firman Tuhan), dan integritas ilahi yang semuanya merupakan karya Roh Kudus.

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:8-11).

Kekayaan seperti ini yang harus kita kumpulkan sebagai harta di surga – suatu yang bersifat kekal, ngengat dan karat tidak akan merusaknya dan pencuri tidak akan mencurinya.

JANGAN KUATIR

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:31-33).
Matius 6:33, yang bukan merupakan iman transaksional untuk memperoleh kekayaan materi atau apa yang kita inginkan. Ayat ini menggambarkan tentang kesetiaan dan pemeliharaan Allah terhadap mereka yang hidup dalam kebenaran. Pemeliharaan Tuhan tidak dimaksudkan untuk melayani keserakahan kita.

Tuhan memerintahkan kita untuk tidak kuatir akan hal kebutuhan hidup, karena Bapa tahu bahwa kita memerlukannya. Namun Ia mau supaya kita menjadikan firman-Nya sebagai prioritas utama yang menguasai hati dan pikiran kita. Dengan demikian, cara pandang dan nilai/prinsip kehidupan kita ditransformasi oleh firman kebenaran. Kebenaran ini akan memerdekakan kita dari kekuatiran, jerat hawa nafsu cinta akan uang, ketamakan, keserakahan, kesombongan, iri hati, dsb.

Roma 14:17 mengatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kerajaan Allah bukanlah bicara tentang kebutuhan jasmani, tetapi tentang kebenaran, damai sejahtera dan sukacita – yang semuanya merupakan kekuatan bagi jiwa kita. Artinya pada waktu kita dipenuhi dengan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita, maka kekuatiran, ketamakan, dan keserakahan tidak akan menguasai kita.

Di mata Allah, nilai/prinsip kekekalan jauh lebih penting dari sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Bukan berarti Allah menyepelekan hal-hal yang kita butuhkan, tapi Ia hendak mengukir firman kebenaran yang kekal dalam hidup kita. Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Kebutuhan jasmani bersifat sementara, hanya berlaku selama di bumi; tapi orang yang melakukan kehendak Tuhan, tetap hidup selamanya (1 Yohanes 2:17).

Ketika seseorang ditransformasi oleh nilai-nilai kebenaran firman, ia tidak lagi menargetkan perkara-perkara materi sebagai tujuan hidup, melainkan belajar mematikan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Ia belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada, dan mengucap syukur atas kesetiaan Allah dalam hidupnya. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar (1 Timotius 6:6). Rasa cukup di sini maksudnya ‘contentment’ (which comes from a sense of inner confidence based on the sufficiency of God). Kepuasan batiniah yang tidak ada hubungannya dengan kepemilikan sesuatu, rasa cukup yang berakar pada Tuhan.

Ibadah disertai rasa cukup memberi ‘keuntungan besar’. Keuntungan besar yang bersifat non materi. Kita bisa puas dengan Allah, hadirat dan firmanNya. Iman kepada Tuhan tidak bergantung kepada uang/barang yang kita miliki. Tidak terikat akan apapun, hati mudah mengucap syukur dalam segala keadaan. Jiwanya diisi dengan perkara-perkara yang kekal. Rasa cukup akan mudah dialami orang yang memiliki hubungan serta pengenalan yang benar akan Allah, memiliki pewahyuan firman dan cara pandang Kerajaan Allah.

Orang yang memiliki segalanya tapi tidak memiliki hubungan dengan Tuhan dan sesama akan merasa kosong dalam jiwanya. Rasa cukup itu tidak berhubungan dengan possession atau materi. Tempatkan Tuhan sebagai prioritas utama, maka segala berkat dan apa saja yang kita perlukan akan mengalir.

KESIMPULAN

Taruhlah iman kita kepada Tuhan, bukan pada harta. Jaga hati dengan segala kewaspadaan, supaya cinta akan uang semakin terkikis dalam hidup kita. Seberapa pun banyak harta/uang yang kita miliki, hidup kita tidak bergantung kepadanya. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada dan bersyukurlah atas pemeliharaan Tuhan. Kembalikan apa yang menjadi milik Tuhan yaitu persepuluhan. Belajar menabur dan mendampaki orang lain dengan harta yang Tuhan percayakan kepada kita.

Jangan sibuk mengumpulkan harta di dunia yang nantinya tidak akan berlaku di kekekalan. Jangan pula iri dengan harta orang lain. Tidak perlu pamer dan menyalahgunakan harta kekayaan untuk hal-hal yang memuaskan hawa nafsu. Tanggalkan kekuatiran sebab jika kita hidup dalam kebenaran, Allah pasti memenuhi semua keperluan kita.

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Tuhan adalah SUMBER segala sesuatu yang memberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan. Kekayaan memang bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan. Berkat bukanlah  tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian. Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya.

Sambungan minggu ini:

Tuhan bukan hanya memberi berkat, tapi juga penguji hati/karakter. Ia menghendaki kita menjadi hamba yang setia/dapat dipercaya untuk mengelola berkat dalam takut akan DIA.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Ayat ini berbicara tentang ujian kesetiaan dalam perkara kecil. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar…” (Lukas 16:10).

  1. Tuhan melihat yang kecil, manusia melihat yang besar.

Manusia memiliki kecenderungan melihat hal yang kecil itu tidak penting;  sementara bagi Tuhan, hal yang kecil dalam pandangan manusia merupakan cerminan hati. Oleh sebab itu, jangan pernah remehkan perkara-perkara kecil sebab sesungguhnya itu merupakan ujian dari Tuhan. Contoh: cara kita memperlakukan uang receh, cara kita mengelola waktu, cara kita menggunakan toilet umum, cara kita mengembalikan trolly belanja pada tempatnya, cara kita menjaga amanat yang sederhana, cara kita memperlakukan tugas pelayanan yang tidak terlihat, cara kita menepati janji/komitmen kecil, dlsb. Ternyata apa yang kita anggap sepele, bisa menjadi ujian besar dari Tuhan yang akan menentukan arah hidup kita.

  1. Uang adalah latihan rohani, bukan sekadar alat ekonomi.

Yesus dengan sangat tegas mengatakan: “Jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapa akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jika kita tidak bisa setia mengelola harta duniawi untuk mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, orang lain serta untuk kepentingan Kerajaan Allah, maka Tuhan tidak akan menitipkan harta rohani, hikmat, kapasitas pelayanan, atau memberikan pengaruh yang besar – yang jauh lebih berharga dari harta dunia. Sikap hati terhadap harta materi mencerminkan kesetiaan kita kepada Tuhan, menunjukkan apakah kita dapat dipercaya untuk hal yang lebih besar atau tidak. Demikian pula cara kita mengelola harta orang lain mencerminkan kualitas moral karakter kita.

  1. Dua Tuan: Tuhan atau Mamon.

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13c).

Masalahnya bukan pada uang yang kita miliki, tetapi pada siapa yang memegang hati kita.
Beberapa pertanyaan yang dapat mendeteksi siapa sebenarnya yang memegang hati kita, dan siapa ‘tuan’ di hidup kita:

Apakah uang mengendalikan perilaku dan keputusan kita? Apakah kita mengukur harga diri/status sosial dari materi? Apakah kita mengorbankan integritas demi keuntungan? Apakah kita lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan hadirat Tuhan? Apakah uang yang menjadi sumber kebahagiaan dan rasa aman kita?

Kita hanya bisa punya satu ‘tuan’. Entah Tuhan yang menguasai dompet kita,
atau Mamon yang menguasai hati kita. Kita harus bisa membedakan: Tuhan adalah SUMBER bahan mentah, tanah yang harus kita olah, pengetahuan yang harus kita gali, dan hubungan yang harus kita pelihara. Uang adalah alat (tools) untuk membantu kita mengolah bahan mentah tersebut dan menjalankan rencana Tuhan.

“…Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abagi.” (Lukas 16:9). Jadikan Mamon/harta duniawi sebagai ‘hamba’ yang dipakai untuk menolong orang lain dan membangun Kerajaan Allah, bukan sebagai ‘tuan’ yang mengendalikan hidup kita.

PENUTUP

Allah adalah Sang Pemberi/Sumber berkat, sekaligus penguji hati dan karakter. Kita perlu sering mengingatkan diri sendiri bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik. Belajarlah menjadi hamba yang baik dan setia, yang menjalankan talenta tuan-nya, yaitu Tuhan sendiri – SUMBER/PEMILIK segala sesuatu.

Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan,  kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.  Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. (1 Tawarikh 29:11-12).

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN

PEMBUKAAN

Anggota Cool yang dikasihi Tuhan, ada satu bahaya rohani yang sangat halus namun mematikan: ketika kita diberkati, kita lupa siapa Sumbernya. Dan ada satu ujian rohani yang sering kita lewatkan: ketika kita dipercaya hal kecil, kita menganggap remeh/ tidak penting.

Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ulangan 8:18).

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Dua ayat pokok di atas berbicara tentang dua hal: Blessings/berkat dan Trust/ kepercayaan.
Tuhan sang pemberi berkat, Ia juga penguji hati/karakter.

ISI

Ulangan 8:18  menjelaskan bahwa Tuhanlah SUMBER segala sesuatu.“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan…”

  1. Tuhan adalah pemberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan.

Tuhan tidak hanya memberikan kekayaan, tetapi kekuatan untuk memperoleh kekayaan.
Artinya:

  • Tuhan memberi kebijaksanaan.
  • Tuhan memberi kesempatan.
  • Tuhan membuka pintu hubungan.
  • Tuhan menaburkan ide, potensi, karunia, bakat serta kreativitas.

Apa pun yang kita capai — jabatan, bisnis, pelayanan, kesehatan, kesuksesan — bukan karena kekuatan kita, tetapi karena anugerah-Nya. Uang hanyalah kompensasi dari karya yang kita hasilkan dari kekuatan yang Tuhan berikan.

  1. Tantangan: kekayaan bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan.

Sewaktu berada di padang gurun, bangsa Israel bersandar penuh pada Tuhan.
Akan tetapi saat  sudah masuk Tanah Perjanjian, di suatu negeri yang berlimpah, mereka mulai bersandar pada hasil tangan mereka sendiri.

Godaan yang sama menghampiri kita: pada waktu miskin kita setia; pada waktu keadaan sulit kita berdoa lebih sungguh-sungguh; pada waktu tidak punya apa-apa, kita bergantung penuh pada Tuhan. Tapi ketika Tuhan memberkati, ketika keadaan ekonomi makin membaik, ketika usaha mulai berkembang…Kita mulai berkata dalam hati: “Ini hasil kekuatanku.” Itulah sebabnya Tuhan berkata: “INGATLAH!” Ini bukan perintah keras, tetapi perintah kasih: “Jangan sampai engkau lupa siapa yang memberi semua ini.”

Kekayaan bukanlah sesuatu yang tabu, dosa, ataupun yang harus dihindari. Kekayaan adalah anugerah Tuhan yang harus disikapi dengan benar serta dikelola dengan bijaksana dalam takut akan Dia, agar berkat tersebut mendatangkan kebaikan bagi kita, orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

  1. Berkat bukanlah tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian.

Bagi orang yang tidak memahami kebenaran, berkat/kekayaan dijadikan sebagai tujuan/cita-cita hidup; digunakan untuk memuaskan hawa nafsu, mewujudkan ambisi, simbol harga diri/identitas, sesuatu yang dapat diandalkan serta memberikan rasa aman. Pemahaman yang keliru seperti ini menyebabkan kekayaan yang seharusnya merupakan berkat dari Tuhan untuk dinikmati, malah berubah menjadi kutuk.

Tuhan memberi kemampuan untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya. Berkat kekayaan bukan sekedar hadiah; itu merupakan bagian dari hubungan perjanjian antara Tuhan dengan kita. Namun jika kita melupakan Perjanjiannya, kita kehilangan arah berkat itu.

Tidak ada yang salah dengan kekayaan, namun yang berbahaya adalah ketika keinginan untuk menjadi kaya membuat kita menyimpang dari iman, kehilangan kasih yang semula, tamak, serakah, tinggi hati, pelit, egois/tidak peduli orang lain, dlsb. Kekayaan yang tidak disikapi dengan benar dapat menjadikan seseorang terikat, bahkan membuatnya sukar masuk ke dalam Kerajaan Allah (Markus 10:23).

Allah tidak menentang kekayaan, tetapi membenci segala macam kejahatan yang ditimbulkan dari hati yang cinta akan uang. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang…”(1 Timotius 6:10). Uang dan kekayaan: berkat atau kutuk? Ini tergantung dari sikap/motivasi hati orang yang memilikinya. Apa yang kita lakukan dengan uang/kekayaan menyingkapkan di mana sesungguhnya hati kita melekat. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal,  yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya. (Yohanes 6:27)

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus tidak bermaksud melarang kita bekerja untuk mendapatkan upah demi memenuhi kebutuhan hidup. Yang Ia katakan dalam Yohanes 6:27 adalah jangan bekerja hanya untuk makanan, upah, keuntungan serta hasil yang bersifat fisik dan sementara saja; tapi bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan oleh Tuhan Yesus.

ISI

Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, tapi untuk yang kekal. Bagaimana cara bekerja untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal? Jawabannya adalah: percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan firman-Nya (Yohanes 6:29). Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman Tuhan kekal selamanya (Matius 24:35). Percaya kepada Kristus merupakan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yang didemonstrasikan dengan ketaatan kepada firman-Nya; sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Job menghasilkan upah yang sementara berupa gaji, tapi mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah memberi upah bukan hanya dapat dinikmati di dunia, tapi juga di kekekalan. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Orang percaya bukan hidup dari gaji saja, tapi dari janji, yaitu firman Tuhan. Seseorang bisa punya uang banyak, tapi dengan uang yang dimilikinya ia tidak akan bisa membeli hal-hal yang bersifat kekal dan supernatural, misalnya keselamatan, pengampunan dari Tuhan, damai sejahtera, sukacita, hikmat, kelepasan dari keterikatan, kesembuhan sempurna, pemulihan, mukjizat, dlsb. Hal-hal ini hanya dapat diperoleh jika kita melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu percaya kepada Kristus.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33).

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17).

Jika Kristus yang menjadi pusat hidup kita, maka apa yang kita kerjakan merupakan buah dari hubungan kita dengan Tuhan. Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3). Dengan demikian, pekerjaan/job/aktivitas yang kita lakukan bukan sekedar sibuk atau hanya berorientasi kepada hal-hal fisik yang sementara, tapi kepada kekekalan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, apa saja yang kita kerjakan, dibuat-Nya berhasil.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,  yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,  dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon,  yang ditanam di tepi aliran air,  yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1: 1-3).

Dengan terhubung kepada Tuhan, kita sedang bekerja (baik itu job maupun work) untuk makanan/upah yang bertahan sampai kepada hidup kekal, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia (1 Korintus 15:58b). Persekutuan kita dengan Tuhan menghasilkan buah Pelayanan. Pelayanan bukan hanya dilakukan di dalam Gereja, tetapi di mana saja Tuhan menempatkan kita: di rumah tangga, keluarga besar, pekerjaan sekuler, tempat usaha, sekolah, masyarakat, dlsb.

Perlu diingat, bahwa kita bekerja dalam enam hari, hari ke-tujuh adalah hari perhentian supaya kita dapat beribadah kepada Tuhan. Jangan buat pekerjaan (job) menjadi berhala, jangan pula jadikan pekerjaan/pelayanan sebagai identitas diri. Ada orang yang merasa diri lebih dari yang lain karena memiliki pekerjaan/karir yang hebat, terkenal, pegang peranan penting atau bergaji besar. Sementara ada pula yang merasa dirinya kurang berharga/penting karena hanya seorang pekerja kasar, bergaji kecil, pelayanannya tampak kurang berarti, kecil atau tidak dipandang. Identitas diri kita bukan ditentukan dari apa yang kita kerjakan, miliki atau capai; identitas kita adalah anak-anak Allah, ciptaan baru dalam Kristus Yesus, yang kepadanya diberi talenta sesuai kapasitas/kesanggupan masing-masing. Jangan merasa lebih unggul ataupun lebih rendah dari orang lain. Kerjakan bagian  masing-masing seperti untuk Tuhan, sebab kita semua adalah hamba Kristus. Karena setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

PENUTUP

Bekerjalah untuk hasil dan upah yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan (termasuk job), kerjakan dengan iman – bukan hanya dengan pengetahuan, karunia, bakat, serta ketrampilan saja. Semua pekerjaan halal, yang menjadi berkat bagi orang lain serta memuliakan Tuhan adalah kudus. Meskipun bekerja di dunia sekuler/marketplace, kita wajib menerapkan etos kerja Kristen yang berdasarkan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan.

Undang Roh Kudus untuk terlibat dalam setiap aktivitas dan pekerjaan kita. Minta Ia memberi hikmat untuk mengerti apa kehendak Allah dari pekerjaan tersebut, memberi hikmat untuk mengambil langkah/keputusan, mengatasi masalah, berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang yang tepat, dan memampukan kita untuk menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan.

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

PENDAHULUAN

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus, Allah mau agar kita kembali kepada blue print tujuan penciptaan, yaitu melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Menjadi kawan sekerja Allah melalui apa yang kita kerjakan, dengan  dunia sebagai ladang-nya.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10)

ISI

Pekerjaan di sini bukanlah sekedar ‘job’, tapi ‘work’. Work lebih luas dari sekedar job; work/pekerjaan adalah mandat yang Tuhan berikan kepada manusia di awal penciptaan (Kejadian 1:28); sementara job adalah posisi tertentu dalam pekerjaan yang mendapatkan upah bayaran. Seseorang bisa saja diberhentikan atau resign dari suatu job, tapi tidak dari work, karena work karena work harus di kerjakan semua orang terima gaji atau tidak (contoh di rumah house work, di sekolah school work,sosial-volunteer work; di gereja Work of the ministry).

Work yang dikehendaki Allah adalah panggilan Allah bagi setiap kita untuk menggenapi tujuanNya seperti tertulis dalam Yohanes 6:29 Yesus berkata; “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”.

Setiap kita membutuhkan pemahaman firman yang benar, pewahyuan serta hikmat untuk melakukan tujuan Allah. Roh Kudus memberi kita kemampuan dan hikmat untuk  dapat menjadi garam dan terang di dalam segala aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan; memberi pengaruh kepada lingkungan serta orang-orang  sekitar dengan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan dan prinsip Kerajaan Allah.

Berikut beberapa point serta ayat-ayat firman Tuhan yang memberi arahan dalam melakukan pekerjaan dan aktivitas yang dikehendaki Allah:

  1. Jangan menyia-nyiakan hidup dengan mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Setiap orang diberi talenta sesuai kesanggupannya, dan bertanggung jawab untuk menggunakan serta mengembangkannya. Sebab itu jangan malas, jadilah hamba yang baik dan setia, yang menggunakan seluruh sumber daya untuk tujuan/rencana Allah, sehingga akhirnya Ia berkenan atas hidup kita.

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2Tes. 3:10-11)

Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:15-16).

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21).

  1. Melalui pekerjaan kita mendapatkan berkat. Berkat di sini bukan hanya finansial, tapi juga skill/ketrampilan, pengetahuan, networking, pengaruh, jabatan/kuasa, kesempatan untuk menggali potensi, dlsb. Semua ini bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tapi ada yang harus ditabur sebagai benih, misalnya dalam bentuk finansial untuk mendukung pekerjaan Tuhan; pengetahuan dan ketrampilan yang bisa diajarkan ke orang lain; pengaruh/jabatan/kuasa yang dipakai untuk melayani kebutuhan orang lain, dsb. Menjadi berkat bagi orang lain membawa sukacita sejati dan menyenangkan hati Tuhan.

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,  Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;  kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati,  yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:10-11).

  1. Pekerjaan/aktivitas yang dilakukan dengan sikap hati yang tulus dan motivasi yang benar diperhitungkan Tuhan, jadi bukan soal besar atau hebatnya. Tuhan berkenan atas pelayanan kita kepada mereka yang lemah, tidak bisa membalas jasa, tidak dipandang, diperhitungkan, dan yang miskin/paling hina.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:23-24)

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25:40).

  1. Milikilah sikap hati hamba, yang merendahkan hati dan menyadari bahwa semua yang dikerjakannya adalah kasih karunia dari Tuhan, bukan karena kemampuan kita.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. (Lukas 17:10).

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Korintus 3:5).

PENUTUP

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan bagi manusia untuk mengabdi, melayani, menjadi saksi, memuliakan Tuhan serta membangun Kerajaan Allah di muka bumi. Allah telah melengkapi kita dengan dorongan ilahi yang kuat untuk melakukan sesuatu, talenta, karunia, kuasa, potensi serta semua yang diperlukan untuk hidup dalam panggilan-Nya. Bagian kita adalah mengikuti proses Tuhan dengan setia dan bergantung penuh kepada Roh Kudus dalam tiap langkah.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Orang yang memahami bekerja dari sudut pandang Tuhan akan memiliki etos kerja yang berbeda dengan mereka yang bekerja hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun karier, sekedar menyalurkan hobi, mengumpulkan kekayaan, ataupun alasan lainnya.  Pandangan yang keliru dalam memaknai arti bekerja akan berpengaruh kepada produktivitas seseorang. Pada bahan kali ini, kita mau melakukan kehendak Tuhan melalui pekerjaan/produktivitas sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

PERMASALAHAN

Tuhan menghendaki perspektif kita tentang bekerja tidak sama dengan dunia. Ia mau supaya dunia bisa melihat kasih dan kebaikan-Nya melalui aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan. Kita dipanggil sebagai utusan Kristus yang menerapkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah di dunia. Jika kita  tidak melakukannya, maka dunia tidak bisa melihat Kristus melalui kita. Hal-hal yang membuat kita jadi batu sandungan bagi dunia misalnya: kualitas kerja yang buruk, tidak produktif, sering telat/bolos,  malas, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan pribadi, serakah, suka berbantah dengan boss dan rekan sekerja, tidak jujur, perkataan dolak-dalik, suka menunda pekerjaan, dlsb.

SOLUSI

  • Bekerja/memberikan pelayanan tidak hanya dilakukan dalam gereja lokal/komunitas orang percaya, tetapi di manapun kita berada: di rumah/keluarga, tempat kerja, keluarga besar, lingkungan pertemanan, sekolah, dan masyarakat. Anggaplah tempat-tempat itu sebagai ‘ladang’ untuk kita menerapkan prinsip Kerajaan Allah, dan kesempatan untuk menabur benih kasih Tuhan serta nilai-nilai kebenaran.
  • Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa sikap/perilaku dalam bekerja yang wajib kita bangun:

a. Memiliki Integritas.

Entah sebagai karyawan ataupun atasan, belajarlah untuk memiliki integritas walau tidak ada yang mengawasi, melihat atau memberi pujian. Sikap yang berintegritas yaitu berkomitmen dan konsisten untuk menjaga nilai, prinsip serta tindakan profesional. Jujur, bertanggung jawab, menjaga etika, disiplin, tidak menjalankan agenda pribadi, tidak menyalahgunakan jabatan/posisi/kekuasaan, serta menghormati/menghargai orang lain. Ingatlah, baik hamba maupun tuan, kedua-duanya adalah hamba Kristus.

b. Dapat dipercaya.

Menjadi orang yang dapat diandalkan untuk melakukan tugas/tanggung jawab secara profesional, dapat menjaga informasi penting/bersifat rahasia, tepat waktu, menepati janji, dsb.

c. Bekerja keras.

Memiliki semangat dan kemauan tinggi untuk mencapai target, tekun, tidak mudah putus asa/menyerah saat menghadapi masalah, terus menggali potensinya, memperbesar kapasitas dengan menambah pengetahuan/wawasan, meningkatkan ketrampilan, bersedia mengambil risiko, memiliki inisiatif/proaktif, melakukan tugas/pekerjaan dengan excellent, do extra mile, dan terus berusaha untuk memberi yang terbaik dari kemampuan yang dimilikinya.

  • Menemukan panggilan hidup melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan. Salah satu tujuan kita diselamatkan adalah untuk melakukan panggilan Tuhan (Efesus 2:10). Menemukan panggilan bukanlah suatu yang instan, melainkan proses yang dirintis oleh Tuhan sejak kita lahir (sekalipun saat itu kita belum mengalami kelahiran baru), dan terus berkembang seiring dengan proses pertumbuhan iman dan pengalaman kita bersama Tuhan.
  • Dalam mengenali panggilan kita, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
    1. Hati yang terbeban, yaitu dorongan yang kuat terhadap suatu hal atau bidang, di mana Tuhan menaruh kerinduan/visi-Nya yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu.
    2. Kemampuan, mencakup: karunia rohani, karunia natural/bakat alami, pengalaman dan ketrampilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
    3. Kepribadian, menolong kita untuk mengembangkan diri, meningkatkan kinerja dan membangun hubungan interpersonal serta kolaborasi dengan tim/rekan sekerja.

REFLEKSI

  • Apakah pekerjaan kita mencerminkan penyembahan kepada Tuhan?
  • Apa kegiatan/aktivitas pribadi kita suatu produktivitas yang memuliakan Allah?

PENUTUP

Jadikan Tuhan Yesus menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan kita, maka semua buah pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan pasti memancarkan pikiran dan isi hati Allah. Selama pelayanan di muka bumi, Yesus  memberikan teladan bagi kita untuk memberi yang terbaik, melakukan segala sesuatu dengan segenap hati dan ketulusan semata-mata karena kasih. Tidak mengejar reputasi, mencari keuntungan/kepentingan sendiri, ketenaran, atau puji-pujian yang sia-sia. Belajarlah untuk mencari perkenanan Allah dan bukan manusia, maka kita akan rela melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.

BEKERJA  DARI SUDUT PANDANG TUHAN

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN

(Monthly theme: Cara Tuhan bekerja sebagai fondasi dari tujuan dan produktivitas)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Bekerja bukanlah suatu beban atau kutuk, tapi merupakan mandat Allah kepada manusia sejak awal penciptaan. Tugas pertama yang Allah berikan kepada manusia sebelum jatuh ke dalam dosa adalah bekerja mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15). Atas dasar kebenaran ini, setiap pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan sesungguhnya merupakan ibadah kepada Allah. Melalui pekerjaan, manusia dapat mengembangkan semua potensinya untuk dapat melayani Allah dan sesama. Melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan, kebaikan Allah ditampilkan kepada dunia dan nama Allah dimuliakan.

PERMASALAHAN

  • Kebanyakan orang memaknai bekerja dengan sekedar mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Ukuran keberhasilan dalam bekerja hanya dinilai secara materi. Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran nilai dalam bekerja. Bekerja bukan lagi bertujuan untuk melayani sesama atau untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi ajang kesempatan untuk mengejar popularitas, jabatan, kekuasaan, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya meskipun dilakukan dengan cara yang tidak jujur, misalnya korupsi. Akibatnya kualitas dalam bekerja serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri jadi terabaikan.

SOLUSI

  • Totalitas dalam bekerja bukan dinilai dari performance, tetapi dari sikap hati. Kalau dunia melihat kita dari performance, Tuhan melihat kita dari motivasi hati (1 Samuel 16:7b). Orang yang hatinya melekat kepada Allah, motivasinya akan diluruskan oleh Roh Kudus. Motivasi yang benar dalam bekerja/beraktivitas adalah karena iman yang tulus dan kasih kepada Allah. Motivasi yang benar akan membuahkan hasil yang memuliakan nama Tuhan. Motivasi yang benar mendatangkan berkat dan upah yang bersifat kekal, suatu harta yang tersimpan bagi kita di sorga di mana ngengat dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21).
  • Apakah kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, pengakuan, penghargaan, pujian, atau sebagai safety net di hari tua? atau karena kita ingin jadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Kolose 3:23 mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Bekerjalah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Ukuran keberhasilan kita bukan sekedar kepuasan orang atas pelayanan yang kita berikan, tetapi lebih dari itu, perkenanan Tuhan.

  • Melalui pekerjaan, manusia memiliki kesempatan untuk menggali potensi, mengembangkan kapasitas dan karakter untuk memberikan hasil berkualitas tinggi yang dibutuhkan oleh orang lain. Oleh sebab itu dalam bekerja, kita harus produktif. Produktivitas adalah bagian dari hidup yang menghasilkan sesuatu/berdampak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar atau maksimal. Dalam konteks pekerjaan, produktivitas biasanya mengacu pada kemampuan seseorang, tim, atau organisasi untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai hasil yang maksimal. Efektif adalah kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, sedangkan efisien adalah kemampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia demi mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Produktif berbeda dengan hanya sibuk. Produktivitas berfokus pada pencapaian tujuan yang bernilai, bermanfaat dan menguntungkan/menjadi berkat; bukan sekadar melakukan banyak aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Alokasikan sumber daya yang ada (mis. waktu, pikiran, tenaga, biaya) untuk menyelesaikan tugas-tugas penting dengan hasil yang optimal. Dalam pekerjaan, teruslah belajar, gali potensi, tambahkan pengetahuan, tingkatkan ketrampilan, dsb. Jangan jadikan bekerja  hanya sekedar untuk bertahan hidup.

PENUTUP

Setelah belajar materi kali ini, milikilah cara pandang dan motivasi yang benar dalam melakukan segala sesuatu. Bekerja merupakan mandat Allah bagi kita untuk melayani Tuhan dan sesama. Bekerja juga merupakan ibadah serta pengabdian kita kepada Tuhan Yesus. Besar atau kecil, terlihat atau tak terlihat, dihargai atau tidak dihargai, sebetulnya tidak perlu menjadi masalah jika kita mengerti bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan segenap hati, iman, kasih dan ketulusan, akan diperhitungkan Tuhan dan tidak ada yang sia-sia.

Bersambung ke bagian 2

SANCTIFICATION OF THE SOUL  (bagian 2)

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 2)

PENDAHULUAN

Minggu lalu kita telah belajar tentang proses pengudusan jiwa yang merupakan tanggung jawab yang harus kita lakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Ia menguduskan kita supaya menghormati Tuhan Yesus dan taat kepada perintah-Nya. Roh Kudus memimpin kepada seluruh kebenaran serta memberikan hikmat sehingga terang Kristus yang ada pada kita dapat mendampaki dunia.  Mereka dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

ISI

* Pengudusan jiwa merupakan a lifetime process.

Pengudusan jiwa merupakan proses pertumbuhan dan pemurnian seumur hidup, yang mengubah kita jadi semakin menyerupai Kristus. Pembaruan akal budi oleh firman Tuhan merupakan langkah awal transformasi yang diikuti dengan pemulihan, proses pendewasaan iman, karakter dan perilaku, melalui ketaatan kita kepada pimpinan Roh Kudus. Oleh Roh, kita dimampukan untuk tunduk kepada perintah Tuhan, mematikan perbuatan-perbuatan daging, dan hidup dalam pertobatan. Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).

* Buah yang dihasilkan dari proses pengudusan jiwa adalah:

  1. Memiliki hati Tuhan (baca Matius 9:9-13).

Tuhan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Tuhan menghendaki kita juga memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap orang lain. Orang yang memahami kemurahan Allah atas hidupnya akan mampu menyalurkan kasih dan belas kasihan kepada orang lain. Ia tidak mudah menghakimi orang lain, mendendam dan menuntut; sebaliknya mau melepaskan pengampunan, murah hati, tidak egois, sabar terhadap kelemahan orang lain dan rela berkorban untuk kepentingan mereka (baca Kolose 3:12-14). Milikilah belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang terhilang. Ingatlah bahwa Tuhan juga sangat mengasihi mereka sama seperti kita, sebab Allah tidak menghendaki seorangpun binasa. Tabur doa, tabur kebenaran dan perbuatan kasih, supaya mereka bisa merasakan kasih Allah dan bertobat. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita;  jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yoh. 3:16).

  1. Memiliki hati untuk dimuridkan, memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (baca Matius 28:19-20).

Kita dipanggil, dipilih dan ditetapkan untuk menghasilkan buah yang tetap (Yohanes 15:16). Untuk itu kita harus bertumbuh melalui proses pemuridan. Pemuridan bukanlah ide/program dari gereja lokal, tapi perintah Tuhan Yesus buat setiap orang percaya. Bukan sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Saat ini bukan lagi waktunya untuk sekedar jadi pengunjung gereja, tapi miliki kesadaran bahwa kita ditetapkan untuk menghasilkan hidup yang berbuah melalui pemuridan. Selanjutnya, murid sejati akan memiliki kerinduan untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (mis. anak, anggota keluarga, rekan sekerja, rekan sepelayanan, petobat baru, dsb). Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi,  percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

  1. Memiliki hati yang taat dan setia kepada panggilan Tuhan (baca 1 Petrus 4:10).

Kita sudah diberikan potensi, karunia dan talenta sesuai dengan kapasitas/kemampuan masing-masing. Jangan iri dengan panggilan, talenta dan karunia orang lain sebab kita tidak pernah dimaksudkan untuk bersaing atau mengungguli orang lain. Tidak perlu menyombongkan diri dengan semua itu; tidak perlu juga merasa diri begitu penting karena pemakaian Tuhan atas hidup kita (1 Kor. 4:7). Semua itu adalah milik Tuhan yang sudah seharusnya kita jalankan untuk melakukan panggilan-Nya. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

Untuk mengetahui serta menggali karunia dan potensi kita, tertanamlah di Cool dan belajarlah melayani. Lewat persekutuan pribadi dengan Tuhan, kita digerakkan untuk melayani di bidang tertentu, melakukan sesuatu untuk memberkati orang lain, serta diarahkan oleh Roh Kudus masuk dalam panggilan-Nya.   Karunia rohani diberikan bukan untuk menjalankan kepentingan/agenda pribadi, melainkan supaya kita dapat melayani dengan efektif. Allah ingin kita menjadi pengelola yang baik atas karunia tersebut dan melipatgandakannya.

Tuhan yang menetapkan penugasan, menentukan persyaratan, dan memberikan panggilan. Bagian kita adalah menaati persyaratan dan mengikuti proses-Nya untuk memperlengkapi kita. Dengan demikian, kita siap menerima panggilan Tuhan, berjalan di dalamnya, dan menuai hasil bagi Kerajaan Allah. Perlu diingat bahwa kita dapat menjadi saksi dan melakukan panggilan itu hanya dengan kuasa Roh Kudus (KPR 1:8), bukan dengan ide dan kemampuan diri sendiri.

PENUTUP

Allah telah memilih dan menentukan kita dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya kita hidup dan berbuah bagi DIA. Kita diselamatkan, dikuduskan, dipulihkan, dan didewasakan supaya dapat memancarkan terang kasih Tuhan, agar dunia dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,  janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan (Efesus 5:15-17).