Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

PENDAHULUAN

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus, Allah mau agar kita kembali kepada blue print tujuan penciptaan, yaitu melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Menjadi kawan sekerja Allah melalui apa yang kita kerjakan, dengan  dunia sebagai ladang-nya.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10)

ISI

Pekerjaan di sini bukanlah sekedar ‘job’, tapi ‘work’. Work lebih luas dari sekedar job; work/pekerjaan adalah mandat yang Tuhan berikan kepada manusia di awal penciptaan (Kejadian 1:28); sementara job adalah posisi tertentu dalam pekerjaan yang mendapatkan upah bayaran. Seseorang bisa saja diberhentikan atau resign dari suatu job, tapi tidak dari work, karena work karena work harus di kerjakan semua orang terima gaji atau tidak (contoh di rumah house work, di sekolah school work,sosial-volunteer work; di gereja Work of the ministry).

Work yang dikehendaki Allah adalah panggilan Allah bagi setiap kita untuk menggenapi tujuanNya seperti tertulis dalam Yohanes 6:29 Yesus berkata; “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”.

Setiap kita membutuhkan pemahaman firman yang benar, pewahyuan serta hikmat untuk melakukan tujuan Allah. Roh Kudus memberi kita kemampuan dan hikmat untuk  dapat menjadi garam dan terang di dalam segala aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan; memberi pengaruh kepada lingkungan serta orang-orang  sekitar dengan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan dan prinsip Kerajaan Allah.

Berikut beberapa point serta ayat-ayat firman Tuhan yang memberi arahan dalam melakukan pekerjaan dan aktivitas yang dikehendaki Allah:

  1. Jangan menyia-nyiakan hidup dengan mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Setiap orang diberi talenta sesuai kesanggupannya, dan bertanggung jawab untuk menggunakan serta mengembangkannya. Sebab itu jangan malas, jadilah hamba yang baik dan setia, yang menggunakan seluruh sumber daya untuk tujuan/rencana Allah, sehingga akhirnya Ia berkenan atas hidup kita.

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2Tes. 3:10-11)

Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:15-16).

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21).

  1. Melalui pekerjaan kita mendapatkan berkat. Berkat di sini bukan hanya finansial, tapi juga skill/ketrampilan, pengetahuan, networking, pengaruh, jabatan/kuasa, kesempatan untuk menggali potensi, dlsb. Semua ini bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tapi ada yang harus ditabur sebagai benih, misalnya dalam bentuk finansial untuk mendukung pekerjaan Tuhan; pengetahuan dan ketrampilan yang bisa diajarkan ke orang lain; pengaruh/jabatan/kuasa yang dipakai untuk melayani kebutuhan orang lain, dsb. Menjadi berkat bagi orang lain membawa sukacita sejati dan menyenangkan hati Tuhan.

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,  Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;  kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati,  yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:10-11).

  1. Pekerjaan/aktivitas yang dilakukan dengan sikap hati yang tulus dan motivasi yang benar diperhitungkan Tuhan, jadi bukan soal besar atau hebatnya. Tuhan berkenan atas pelayanan kita kepada mereka yang lemah, tidak bisa membalas jasa, tidak dipandang, diperhitungkan, dan yang miskin/paling hina.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:23-24)

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25:40).

  1. Milikilah sikap hati hamba, yang merendahkan hati dan menyadari bahwa semua yang dikerjakannya adalah kasih karunia dari Tuhan, bukan karena kemampuan kita.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. (Lukas 17:10).

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Korintus 3:5).

PENUTUP

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan bagi manusia untuk mengabdi, melayani, menjadi saksi, memuliakan Tuhan serta membangun Kerajaan Allah di muka bumi. Allah telah melengkapi kita dengan dorongan ilahi yang kuat untuk melakukan sesuatu, talenta, karunia, kuasa, potensi serta semua yang diperlukan untuk hidup dalam panggilan-Nya. Bagian kita adalah mengikuti proses Tuhan dengan setia dan bergantung penuh kepada Roh Kudus dalam tiap langkah.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Orang yang memahami bekerja dari sudut pandang Tuhan akan memiliki etos kerja yang berbeda dengan mereka yang bekerja hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun karier, sekedar menyalurkan hobi, mengumpulkan kekayaan, ataupun alasan lainnya.  Pandangan yang keliru dalam memaknai arti bekerja akan berpengaruh kepada produktivitas seseorang. Pada bahan kali ini, kita mau melakukan kehendak Tuhan melalui pekerjaan/produktivitas sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

PERMASALAHAN

Tuhan menghendaki perspektif kita tentang bekerja tidak sama dengan dunia. Ia mau supaya dunia bisa melihat kasih dan kebaikan-Nya melalui aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan. Kita dipanggil sebagai utusan Kristus yang menerapkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah di dunia. Jika kita  tidak melakukannya, maka dunia tidak bisa melihat Kristus melalui kita. Hal-hal yang membuat kita jadi batu sandungan bagi dunia misalnya: kualitas kerja yang buruk, tidak produktif, sering telat/bolos,  malas, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan pribadi, serakah, suka berbantah dengan boss dan rekan sekerja, tidak jujur, perkataan dolak-dalik, suka menunda pekerjaan, dlsb.

SOLUSI

  • Bekerja/memberikan pelayanan tidak hanya dilakukan dalam gereja lokal/komunitas orang percaya, tetapi di manapun kita berada: di rumah/keluarga, tempat kerja, keluarga besar, lingkungan pertemanan, sekolah, dan masyarakat. Anggaplah tempat-tempat itu sebagai ‘ladang’ untuk kita menerapkan prinsip Kerajaan Allah, dan kesempatan untuk menabur benih kasih Tuhan serta nilai-nilai kebenaran.
  • Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa sikap/perilaku dalam bekerja yang wajib kita bangun:

a. Memiliki Integritas.

Entah sebagai karyawan ataupun atasan, belajarlah untuk memiliki integritas walau tidak ada yang mengawasi, melihat atau memberi pujian. Sikap yang berintegritas yaitu berkomitmen dan konsisten untuk menjaga nilai, prinsip serta tindakan profesional. Jujur, bertanggung jawab, menjaga etika, disiplin, tidak menjalankan agenda pribadi, tidak menyalahgunakan jabatan/posisi/kekuasaan, serta menghormati/menghargai orang lain. Ingatlah, baik hamba maupun tuan, kedua-duanya adalah hamba Kristus.

b. Dapat dipercaya.

Menjadi orang yang dapat diandalkan untuk melakukan tugas/tanggung jawab secara profesional, dapat menjaga informasi penting/bersifat rahasia, tepat waktu, menepati janji, dsb.

c. Bekerja keras.

Memiliki semangat dan kemauan tinggi untuk mencapai target, tekun, tidak mudah putus asa/menyerah saat menghadapi masalah, terus menggali potensinya, memperbesar kapasitas dengan menambah pengetahuan/wawasan, meningkatkan ketrampilan, bersedia mengambil risiko, memiliki inisiatif/proaktif, melakukan tugas/pekerjaan dengan excellent, do extra mile, dan terus berusaha untuk memberi yang terbaik dari kemampuan yang dimilikinya.

  • Menemukan panggilan hidup melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan. Salah satu tujuan kita diselamatkan adalah untuk melakukan panggilan Tuhan (Efesus 2:10). Menemukan panggilan bukanlah suatu yang instan, melainkan proses yang dirintis oleh Tuhan sejak kita lahir (sekalipun saat itu kita belum mengalami kelahiran baru), dan terus berkembang seiring dengan proses pertumbuhan iman dan pengalaman kita bersama Tuhan.
  • Dalam mengenali panggilan kita, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
    1. Hati yang terbeban, yaitu dorongan yang kuat terhadap suatu hal atau bidang, di mana Tuhan menaruh kerinduan/visi-Nya yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu.
    2. Kemampuan, mencakup: karunia rohani, karunia natural/bakat alami, pengalaman dan ketrampilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
    3. Kepribadian, menolong kita untuk mengembangkan diri, meningkatkan kinerja dan membangun hubungan interpersonal serta kolaborasi dengan tim/rekan sekerja.

REFLEKSI

  • Apakah pekerjaan kita mencerminkan penyembahan kepada Tuhan?
  • Apa kegiatan/aktivitas pribadi kita suatu produktivitas yang memuliakan Allah?

PENUTUP

Jadikan Tuhan Yesus menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan kita, maka semua buah pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan pasti memancarkan pikiran dan isi hati Allah. Selama pelayanan di muka bumi, Yesus  memberikan teladan bagi kita untuk memberi yang terbaik, melakukan segala sesuatu dengan segenap hati dan ketulusan semata-mata karena kasih. Tidak mengejar reputasi, mencari keuntungan/kepentingan sendiri, ketenaran, atau puji-pujian yang sia-sia. Belajarlah untuk mencari perkenanan Allah dan bukan manusia, maka kita akan rela melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.

BEKERJA  DARI SUDUT PANDANG TUHAN

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN

(Monthly theme: Cara Tuhan bekerja sebagai fondasi dari tujuan dan produktivitas)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Bekerja bukanlah suatu beban atau kutuk, tapi merupakan mandat Allah kepada manusia sejak awal penciptaan. Tugas pertama yang Allah berikan kepada manusia sebelum jatuh ke dalam dosa adalah bekerja mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15). Atas dasar kebenaran ini, setiap pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan sesungguhnya merupakan ibadah kepada Allah. Melalui pekerjaan, manusia dapat mengembangkan semua potensinya untuk dapat melayani Allah dan sesama. Melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan, kebaikan Allah ditampilkan kepada dunia dan nama Allah dimuliakan.

PERMASALAHAN

  • Kebanyakan orang memaknai bekerja dengan sekedar mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Ukuran keberhasilan dalam bekerja hanya dinilai secara materi. Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran nilai dalam bekerja. Bekerja bukan lagi bertujuan untuk melayani sesama atau untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi ajang kesempatan untuk mengejar popularitas, jabatan, kekuasaan, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya meskipun dilakukan dengan cara yang tidak jujur, misalnya korupsi. Akibatnya kualitas dalam bekerja serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri jadi terabaikan.

SOLUSI

  • Totalitas dalam bekerja bukan dinilai dari performance, tetapi dari sikap hati. Kalau dunia melihat kita dari performance, Tuhan melihat kita dari motivasi hati (1 Samuel 16:7b). Orang yang hatinya melekat kepada Allah, motivasinya akan diluruskan oleh Roh Kudus. Motivasi yang benar dalam bekerja/beraktivitas adalah karena iman yang tulus dan kasih kepada Allah. Motivasi yang benar akan membuahkan hasil yang memuliakan nama Tuhan. Motivasi yang benar mendatangkan berkat dan upah yang bersifat kekal, suatu harta yang tersimpan bagi kita di sorga di mana ngengat dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21).
  • Apakah kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, pengakuan, penghargaan, pujian, atau sebagai safety net di hari tua? atau karena kita ingin jadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Kolose 3:23 mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Bekerjalah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Ukuran keberhasilan kita bukan sekedar kepuasan orang atas pelayanan yang kita berikan, tetapi lebih dari itu, perkenanan Tuhan.

  • Melalui pekerjaan, manusia memiliki kesempatan untuk menggali potensi, mengembangkan kapasitas dan karakter untuk memberikan hasil berkualitas tinggi yang dibutuhkan oleh orang lain. Oleh sebab itu dalam bekerja, kita harus produktif. Produktivitas adalah bagian dari hidup yang menghasilkan sesuatu/berdampak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar atau maksimal. Dalam konteks pekerjaan, produktivitas biasanya mengacu pada kemampuan seseorang, tim, atau organisasi untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai hasil yang maksimal. Efektif adalah kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, sedangkan efisien adalah kemampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia demi mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Produktif berbeda dengan hanya sibuk. Produktivitas berfokus pada pencapaian tujuan yang bernilai, bermanfaat dan menguntungkan/menjadi berkat; bukan sekadar melakukan banyak aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Alokasikan sumber daya yang ada (mis. waktu, pikiran, tenaga, biaya) untuk menyelesaikan tugas-tugas penting dengan hasil yang optimal. Dalam pekerjaan, teruslah belajar, gali potensi, tambahkan pengetahuan, tingkatkan ketrampilan, dsb. Jangan jadikan bekerja  hanya sekedar untuk bertahan hidup.

PENUTUP

Setelah belajar materi kali ini, milikilah cara pandang dan motivasi yang benar dalam melakukan segala sesuatu. Bekerja merupakan mandat Allah bagi kita untuk melayani Tuhan dan sesama. Bekerja juga merupakan ibadah serta pengabdian kita kepada Tuhan Yesus. Besar atau kecil, terlihat atau tak terlihat, dihargai atau tidak dihargai, sebetulnya tidak perlu menjadi masalah jika kita mengerti bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan segenap hati, iman, kasih dan ketulusan, akan diperhitungkan Tuhan dan tidak ada yang sia-sia.

Bersambung ke bagian 2

SANCTIFICATION OF THE SOUL  (bagian 2)

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 2)

PENDAHULUAN

Minggu lalu kita telah belajar tentang proses pengudusan jiwa yang merupakan tanggung jawab yang harus kita lakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Ia menguduskan kita supaya menghormati Tuhan Yesus dan taat kepada perintah-Nya. Roh Kudus memimpin kepada seluruh kebenaran serta memberikan hikmat sehingga terang Kristus yang ada pada kita dapat mendampaki dunia.  Mereka dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

ISI

* Pengudusan jiwa merupakan a lifetime process.

Pengudusan jiwa merupakan proses pertumbuhan dan pemurnian seumur hidup, yang mengubah kita jadi semakin menyerupai Kristus. Pembaruan akal budi oleh firman Tuhan merupakan langkah awal transformasi yang diikuti dengan pemulihan, proses pendewasaan iman, karakter dan perilaku, melalui ketaatan kita kepada pimpinan Roh Kudus. Oleh Roh, kita dimampukan untuk tunduk kepada perintah Tuhan, mematikan perbuatan-perbuatan daging, dan hidup dalam pertobatan. Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).

* Buah yang dihasilkan dari proses pengudusan jiwa adalah:

  1. Memiliki hati Tuhan (baca Matius 9:9-13).

Tuhan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Tuhan menghendaki kita juga memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap orang lain. Orang yang memahami kemurahan Allah atas hidupnya akan mampu menyalurkan kasih dan belas kasihan kepada orang lain. Ia tidak mudah menghakimi orang lain, mendendam dan menuntut; sebaliknya mau melepaskan pengampunan, murah hati, tidak egois, sabar terhadap kelemahan orang lain dan rela berkorban untuk kepentingan mereka (baca Kolose 3:12-14). Milikilah belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang terhilang. Ingatlah bahwa Tuhan juga sangat mengasihi mereka sama seperti kita, sebab Allah tidak menghendaki seorangpun binasa. Tabur doa, tabur kebenaran dan perbuatan kasih, supaya mereka bisa merasakan kasih Allah dan bertobat. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita;  jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yoh. 3:16).

  1. Memiliki hati untuk dimuridkan, memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (baca Matius 28:19-20).

Kita dipanggil, dipilih dan ditetapkan untuk menghasilkan buah yang tetap (Yohanes 15:16). Untuk itu kita harus bertumbuh melalui proses pemuridan. Pemuridan bukanlah ide/program dari gereja lokal, tapi perintah Tuhan Yesus buat setiap orang percaya. Bukan sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Saat ini bukan lagi waktunya untuk sekedar jadi pengunjung gereja, tapi miliki kesadaran bahwa kita ditetapkan untuk menghasilkan hidup yang berbuah melalui pemuridan. Selanjutnya, murid sejati akan memiliki kerinduan untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (mis. anak, anggota keluarga, rekan sekerja, rekan sepelayanan, petobat baru, dsb). Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi,  percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

  1. Memiliki hati yang taat dan setia kepada panggilan Tuhan (baca 1 Petrus 4:10).

Kita sudah diberikan potensi, karunia dan talenta sesuai dengan kapasitas/kemampuan masing-masing. Jangan iri dengan panggilan, talenta dan karunia orang lain sebab kita tidak pernah dimaksudkan untuk bersaing atau mengungguli orang lain. Tidak perlu menyombongkan diri dengan semua itu; tidak perlu juga merasa diri begitu penting karena pemakaian Tuhan atas hidup kita (1 Kor. 4:7). Semua itu adalah milik Tuhan yang sudah seharusnya kita jalankan untuk melakukan panggilan-Nya. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

Untuk mengetahui serta menggali karunia dan potensi kita, tertanamlah di Cool dan belajarlah melayani. Lewat persekutuan pribadi dengan Tuhan, kita digerakkan untuk melayani di bidang tertentu, melakukan sesuatu untuk memberkati orang lain, serta diarahkan oleh Roh Kudus masuk dalam panggilan-Nya.   Karunia rohani diberikan bukan untuk menjalankan kepentingan/agenda pribadi, melainkan supaya kita dapat melayani dengan efektif. Allah ingin kita menjadi pengelola yang baik atas karunia tersebut dan melipatgandakannya.

Tuhan yang menetapkan penugasan, menentukan persyaratan, dan memberikan panggilan. Bagian kita adalah menaati persyaratan dan mengikuti proses-Nya untuk memperlengkapi kita. Dengan demikian, kita siap menerima panggilan Tuhan, berjalan di dalamnya, dan menuai hasil bagi Kerajaan Allah. Perlu diingat bahwa kita dapat menjadi saksi dan melakukan panggilan itu hanya dengan kuasa Roh Kudus (KPR 1:8), bukan dengan ide dan kemampuan diri sendiri.

PENUTUP

Allah telah memilih dan menentukan kita dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya kita hidup dan berbuah bagi DIA. Kita diselamatkan, dikuduskan, dipulihkan, dan didewasakan supaya dapat memancarkan terang kasih Tuhan, agar dunia dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,  janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan (Efesus 5:15-17).

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 1)

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 1)

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula,  mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,  supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)

PENDAHULUAN

Pengudusan artinya hidup kita dipisahkan dari dunia untuk hidup sesuai kehendak/rencana Allah. Ada dua jenis pengudusan yaitu pengudusan roh dan jiwa. Pengudusan roh hanya dapat dilakukan oleh kasih karunia Allah melalui darah Tuhan Yesus lewat karya-Nya di kayu salib (Ibrani 13:12). Pengudusan jiwa adalah tanggung jawab yang harus kita kerjakan dengan pertolongan Roh Kudus (2 Tesalonika 2:13).

Secara sederhana, jiwa terdiri dari 3 komponen: pikiran, perasaan dan kehendak. Pengudusan jiwa merupakan kelanjutan dari kelahiran baru, yaitu proses menanggalkan manusia lama dengan segala hawa nafsu dan keinginannya agar terjadi transformasi yang menghasilkan karakter menyerupai Kristus. Roh Allah menguduskan kita supaya taat kepada Kristus. ..yaitu orang-orang yang dipilih,  sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh,  supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya (1 Petrus 1:2a).

PERMASALAHAN

Ketika mengalami kelahiran baru oleh Roh, Allah memberi kita kerinduan untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Namun demikian karakter manusia lama serta keinginannya tidak serta merta hilang. Dosa dan hawa nafsu masih bisa menggoda kita. Rasul Paulus menulis apa yang dialaminya: Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,  tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. (Roma 7:22-23)

Ada orang yang sudah banyak dengar sharing firman, baca Alkitab, terjun dalam pelayanan, ikut Cool, dlsb tapi masih terikat dengan karakter manusia lama dan belum mengalami transformasi. Mengapa?

  • Membiarkan dirinya dipimpin oleh emosi/perasaan negatif yang membangkitkan keinginan daging. Seseorang bisa saja punya pengetahuan firman, tapi saat mengalami tantangan, ujian dan masalah, tidak hidup oleh iman karena ia mengijinkan emosinya yang pegang kendali. Contoh emosi negatif: perasaan bersalah, penyesalan/kesedihan mendalam, benci, iri, cemas, dendam, marah, takut, sakit/luka hati, kecewa, ketidakpuasan, putus asa, merasa tertolak, perasaan tidak aman/ insecure, dsb. Ini disebut orang Kristen yang ‘reaktif’. Orang yang hidupnya dipimpin perasaan sulit untuk bisa taat kepada firman/perintah Tuhan.
  • Tidak taat melakukan Firman (hanya pendengar saja). Bisa jadi seperti orang Farisi yang menjadi sombong dan cenderung menghakimi orang lain dengan pengetahuan firmannya.
  • Tidak tahu kuasa yang Tuhan berikan dalam Firman untuk hidup berkemenangan
  • Kurang berdoa, salah berdoa dan tidak berjaga-jaga.

SOLUSI

  • Salah satu tanda bahwa seseorang hidup dipimpin perasaan adalah hidupnya tidak mengalami perubahan karena berputar-putar di masalah/kejatuhan yang sama. Perasaan adalah bagian dari jiwa yang berperan penting dalam proses berinteraksi dan pengembangan diri.  Perasaan tidak dimaksudkan untuk memimpin hidup kita dan mengambil keputusan sebab perasaan bisa berubah-ubah, tidak stabil. Biasakan perasaan kita untuk tunduk kepada apa kata Firman dan cara pikir (mind set) terus menerus diperbarui firman. Pikiran yang diperbarui firman akan menimbulkan perasaan yang mendorong kita menaati perintah Kristus. Kita (bukan Tuhan, bukan orang lain) bertanggung jawab untuk menjaga pikiran dan hati kita dengan segala kewaspadaan.
  • Jika kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus, maka si jahat akan kehilangan akses untuk mengacaukan hidup kita. Iblis tidak dapat memanipulasi pikiran dan emosi kita jika kita memiliki iman yang teguh dan berakar dalam kasih Kristus. Akal budi yang diperbarui firman meresponi segala sesuatu dengan iman, bukan ketakutan; dengan hikmat ilahi, bukan dengan keputusan/tindakan bodoh. Don’t entertain our negative thought and emotions, but walk in revelation. Berhenti berputar-putar di masalah yang sama, hiduplah dalam pertobatan. Berhenti menyalahkan Tuhan, orang lain dan keadaan; bersyukurlah dalam segala hal.
  • Allah telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia. Kita telah diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Ia menyertai kita melalui Roh Kudus dan firman-Nya. Pakai kuasa tersebut untuk menolak dosa, pikiran dan emosi negatif, serta hawa nafsu kedagingan. Pakai kuasa itu untuk menolak panah api si jahat dan untuk berjalan dalam kasih karunia. Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).
  • Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41)

Berjaga-jaga dan berdoa memampukan kita untuk menguasai diri dan menolak yang jahat. Jangan salah berdoa dengan meminta hal-hal yang memuaskan hawa nafsu (Yakobus 4:3). Beri ruang dan waktu untuk  berdiam diri dan belajar mendengar suara/instruksi Tuhan, jangan hanya sibuk minta ini dan itu. Ceritakan semua yang kita pikir dan rasakan, minta Tuhan memulihkan jiwa kita.

PENUTUP

Pengudusan jiwa adalah hasil ketaatan kita kepada Kristus dan perintah-Nya. Ini adalah tanggung jawab yang harus sunguh-sungguh kita kerjakan. Allah yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia (1 Korintus 1:9). Yesus Kristus yang memimpin kita dalam iman, akan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.

Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula,  mereka itu juga dipanggil-Nya.  Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.  Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Roma 8:30).

MENYEMBAH ALLAH DALAM ROH DAN KEBENARAN

MENYEMBAH ALLAH DALAM ROH DAN KEBENARAN

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24)

PENDAHULUAN

Saat percaya kepada Kristus dan mengalami kelahiran kembali oleh Roh Kudus, kita telah diberikan hati yang baru dan menerima benih ilahi  yaitu firman Allah (1 Petrus 1:23) supaya dapat hidup dalam kebenaran yang murni serta kekudusan. Hidup dalam kemurnian dan kekudusan artinya kita dipisahkan dari cara hidup/sistem dunia yang  jahat, rusak, gelap dan menyesatkan.

Selanjutnya kita diperintahkan untuk menjaga kemurnian dan kekudusan dengan selalu terhubung pada Pokok Anggur Yang Benar.  Kita terhubung dengan Tuhan Yesus melalui firman dan penyembahan. Allah menghendaki kita menjadi penyembah yang benar, yang  menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24).   Untuk menjadi penyembah yang benar ada 2 unsur yang diperlukan: 1) menyembah dalam roh (menyembah dengan iman dan hati yang tulus dalam pimpinan Roh Kudus); 2) dalam kebenaran (sesuai dengan firman Tuhan).

PERMASALAHAN

Hal yang menyebabkan kita tidak mengerti bagaimana menyembah Allah dalam roh dan  kebenaran:

  • Menjadikan penyembahan hanya sekedar menyanyikan lagu/memainkan alat musik tanpa memiliki hubungan secara personal dan pengenalan akan Pribadi-Nya. Tanpa sadar fokusnya bergeser hanya kepada musik, arasemen lagu, vocal penyanyinya, dsb dan bukan kepada Pribadi Allah sendiri. Tidak mau dengan sengaja meluangkan waktu secara pribadi bersama Tuhan di pagi hari melalui pujian penyembahan. Berdoa seadanya dengan orientasi pada diri sendiri.
  • Tidak mendisiplinkan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan. Setiap manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memiliki benih yang menentang pengenalan akan Allah, yaitu pikiran yang bersifat karnal (a mind governed by the flesh, hanya memikirkan perkara-perkara daging). Akal budi yang tidak/belum diperbarui oleh firman Tuhan tidak mampu memahami ajaran tentang kebenaran. Kita tidak bisa menyembah Allah (yang adalah Roh) dengan pikiran karnal, sebab pikiran karnal tidak takluk kepada hukum/perintah Allah, sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.
  • Tidak belajar menyangkal diri (menundukkan pikiran dan kehendak bebas kepada Kristus; mematikan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup) dan memikul salib (menderita karena firman kebenaran, ketaatan melakukan perintahTuhan).

SOLUSI

Untuk menjadi penyembah yang benar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan:

  • Menghadap Allah melalui doa pujian penyembahan dengan sikap yang benar yaitu hati yang tulus iklas dan iman yang teguh (Ibrani 10:22). Hati yang mengasihi Tuhan sebagai Pribadi yang layak disembah, bukan supaya kita mendapatkan sesuatu, atau motivasi lain yang keliru. Allah berkenan akan kebenaran dalam batin (Mazmur 51:8). Yeremia 17:9 mengatakan bahwa hati manusia itu licik; kita tidak mampu mengenali keadaan hati kita jika tidak disingkapkan oleh Roh Kudus. Daud minta agar Tuhan menjadikan hatinya tahir, bersih, tidak menyimpan dosa, tunduk kepada Dia (Mazmur 139:23-24). Hampiri Allah dengan kerendahan hati, segala bentuk kesombongan harus ditanggalkan. Oleh sebab itu sebelum masuk hadirat Tuhan, minta Roh Kudus memeriksa kondisi batin kita supaya bisa mengakui dosa/kesalahan, bertobat dan menyembah Allah dalam ketulusan.

Hampiri  Allah dengan iman yang teguh. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada (Ibrani 11:6) Dengan iman, kita percaya kepada perkataan-Nya. Orang yang tidak percaya/menolak firman Tuhan akan hidup dalam kesesatan yang menyebabkan mereka percaya kepada dusta (2 Tesalonika 2:11).

  • Disiplinkan diri membaca dan merenungkan firman setiap hari supaya jiwa kita mengalami pembaruan. Buat catatan rhema firman yang Roh Kudus berikan, renungkan terus dan pelajari. Jika akal budi kita tidak diperbarui firman Tuhan, maka sesungguhnya kita berjalan dalam kegelapan. Dengan merenungkan dan mempelajari firman, maka segala pikiran, pendapat/cara pandang, asumsi, logika, kebenaran diri sendiri, serta emosi-emosi negatif dapat ditundukkan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Jadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan berharga yang sangat kita perlukan tiap hari; sebab manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4).
  • Fokus kepada Pribadi Allah. Penyembahan bukan bertujuan untuk memperoleh berkat dan mendapat apa yang kita inginkan. Kita menyembah Allah sebab IA memang layak untuk disembah. Rasul Paulus mendefinisikan penyembahan sebagai gaya hidup serta seluruh aspek kehidupan yang didedikasikan untuk memuliakan Tuhan. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

PENUTUP

Roh Kudus dan firman Tuhan adalah dua unsur penting yang tidak bisa dipisahkan untuk menjadi penyembah yang benar, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Roh tanpa firman Tuhan bisa mengarah pada pengalaman spiritual yang dangkal, tanpa arah, dan emosional. Firman tanpa Roh menghasilkan ibadah yang kering, tanpa gairah sukacita kasih Tuhan dan legalisme belaka. Dengan selalu terhubung kepada Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui doa pujian penyembahan serta perenungan firman, kita jadi mengerti isi hati Allah serta melakukannya, yaitu hidup dalam kemurnian dan kekudusan.

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

PENDAHULUAN

Kehendak Tuhan bagi orang yang percaya pada Yesus adalah hidup dalam kemurnian dan kekudusan di tengah generasi yang bengkok hati dan sesat. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus yang dipanggil dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib memiliki kerinduan untuk hidup berkenan pada Tuhan.

Walaupun masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak mengikuti cara hidup dunia yang jauh dari persekutuan dengan Allah seperti yang tertulis dalam Efesus 4:17-20,”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

PERMASALAHAN

Apa yang menyebabkan orang percaya tidak hidup dalam kemurnian dan kekudusan?

  • Tidak mengerti isi hati Tuhan. 

Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24).

  • Kurang menghormati hadiratNya. Beribadah karena hanya rutinitas atau motivasi lainnya, akibatnya tidak menerima manfaat dari ibadah karena dilakukan dengan hati tidak tulus (not sincere heart).
  • Tidak mengalami transformasi hidup. Orang bisa rajin datang beribadah secara teratur bahkan pelayanan, tapi hidupnya tidak mengalami perubahan atau hanya berputar-putar di masalah yang sama.

Beberapa alasan yang menyebabkan orang tidak mengalami perubahan hidup antara lain:

  • Kehilangan kasih mula-mula, tidak terhubung/ memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan; tidak mengampuni, mengeraskan hati/tidak mau menerima firman dengan hati terbuka, tidak  hidup dalam pertobatan.
  • Kehilangan arah dan prioritas – sibuk mengejar hal-hal yang materi sehingga tidak ada waktu buat Tuhan, dsb.
  • Mempertahankan doktrin dan kebenaran diri sendiri.

SOLUSI

  • Kembali pada kasih mula-mula.

Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat (Wahyu 2:5).

  • Tinggal di dalam kasih itu  dengan terus terhubung pada pokok Anggur yaitu Tuhan Yesus Kristus.
    Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku   Jikalau kamu menuruti perintah-Ku,  kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10).

PENUTUP

Refleksi: mari kita lihat diri masing-masing. Mungkin kita terlihat rajin beribadah, rajin baca Alkitab, setia melayani, setia ikut Cool, dsb. Pertanyaannya: Apakah itu dilakukan dengan dasar kasih yang semula? Atau hanya sekedar rutinitas/kebiasaan, kewajiban, ikut-ikutan, atau ada motivasi lain. Adakah kita benar-benar terhubung dengan Tuhan secara pribadi? Ataukah semua yang kita lakukan ternyata hanya berupa kegiatan keagamawian.

Tuhan mau supaya kita kembali kepada kasih yang semula; kasih kepada Tuhan yang kita miliki pada waktu baru bertobat dan mengalami kelahiran baru. Peliharalah kasih yang semula, karena kasih kepada Tuhan seharusnya menjadi motivasi satu-satunya, di atas pengetahuan firman yang kita miliki dan pelayanan.

PEROLEHLAH  HIKMAT  DAN PENGERTIAN (Theme: Understanding the Mind of God)

PEROLEHLAH  HIKMAT  DAN PENGERTIAN (Theme: Understanding the Mind of God)

Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian. (Amsal 4:7)

PENDAHULUAN

Di dunia yang gelap, penuh dengan kejahatan, penyesatan, krisis dan guncangan, orang percaya bukan saja harus hidup oleh iman tapi juga hikmat Allah. Hikmat sangat diperlukan untuk membawa kita hidup dalam poros kehendak Allah, yaitu hidup yang berbuah, berkemenangan serta menjadi garam dan terang dunia khususnya di akhir jaman menjelang kedatangan Kristus.

PERMASALAHAN

Berikut hal-hal yang menyebabkan seseorang tidak memiliki hikmat Allah:

  • Tidak menjadi pelaku firman. Pada kenyataannya, orang yang memiliki pengetahuan firman belum tentu melakukan perintah Tuhan. Orang yang tidak melakukan perintah Tuhan tidak akan memperoleh hikmat Allah (Mat. 24:24-27). Pengetahuan firman hanya sebatas informasi, bukan menjadi pewahyuan yang berkembang menjadi hikmat ilahi.
  • Terjebak dalam rutinitas agamawi. Banyak orang percaya yang ‘tertidur’; bahwa imannya kepada Tuhan hanya sebatas ‘kebiasaan’ rohani secara Kristen: kebiasaan ibadah, pelayanan, berdoa, baca Alkitab, dsb. Orang yang terjebak dalam kebiasaan dapat kehilangan kedalaman makna ibadah yang sesungguhnya, fokusnya bergeser kepada perkara rutin sehari-hari: makan dan minum, kawin dan mengawinkan seperti jaman Nuh, tapi tidak waspada/berjaga-jaga dan memahami urgensi dari kegerakan Allah di akhir jaman (Matius 24:37-42).
  • Orang Kristen yang hanya mau susu, tidak mau beralih kepada makanan keras yaitu firman Tuhan yang menegur, memberi peringatan, memberi perintah dan arahan. Akibatnya tetap jadi bayi rohani yang lamban untuk mendengarkan, serta tidak memahami ajaran tentang kebenaran. Mengapa menjadi lamban? karena panca indera rohaninya tidak terlatih untuk bisa membedakan yang baik dari pada yang jahat (Ibrani 5: 11-14).

SOLUSI

 Perolehlah hikmat Allah agar kita memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah (Amsal 2:4-5). Kata ‘peroleh’ di sini maksudnya ‘membeli’. Perolehlah hikmat maksudnya belilah hikmat, jangan menjualnya. Jangan tukar hikmat dengan kebodohan. Carilah hikmat seperti mencari perak dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam. Kata ’pengertian/understanding’ dalam konteks Alkitab mengacu pada kemampuan untuk membedakan, memahami, dan menerapkan pengetahuan serta hikmat sesuai dengan kehendak Allah. Hikmat dan pengertian diawali dengan takut akan Tuhan, dikembangkan melalui pemahaman mendalam akan firman Tuhan, doa, serta bimbingan Roh Kudus.

Hikmat dan pengertian tidak didapatkan dengan instan tapi lewat proses pembelajaran seumur hidup. Dengan melakukan firman/perintah Tuhan, kita akan jadi orang bijaksana yang memiliki hikmat ilahi (Matius 7:24-27). Hikmat tidak akan memberikan faedah/mengubah hidup kita jika kita tidak melakukannya. Carilah dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya (yaitu hikmat dan pengertian), maka semuanya akan ditambahkan kepada kita. Iman memberikan visi dan menjadi dasar yang teguh, hikmat membangun. Iman dan hikmat membuat kita hidup dalam kasih karunia secara efektif dan berhasil dalam Tuhan (Mazmur 1:3).

  • Supaya tidak terjebak dalam rutinitas belaka, belajarlah hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Disiplin rohani itu perlu, tapi waspadai jangan sampai terjebak dalam rutinitas rohani yang membuat kita bisa kehilangan esensi ibadah yang sesungguhnya. Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14). Kata ‘anak’ di sini dalam bahasa Yunani (huios) merujuk pada seorang anak yang sudah dewasa, bukan bayi. Roh Kudus memimpin kita untuk melakukan perintah Tuhan. Kadang Ia menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak terpikir/melampaui pemikiran; hal yang mematahkan kedagingan/hawa nafsu/kesombongan; hal yang menarik kita keluar dari kenyamanan;  hal yang menguji ketaatan kita; dsb. Dengan membiasakan diri dipimpin Roh Allah, kita akan terus dibawa pada level kedewasaan rohani yang memiliki hikmat serta pengertian untuk mengambil langkah/keputusan yang benar, untuk berdoa dalam ketepatan, untuk senantiasa berjaga-jaga,  dan terlibat dalam kegerakan Tuhan di akhir jaman ini.
  • Jangan hanya mau dengar firman yang enak didengar, tapi belajar menerima firman yang perlu kita dengar supaya kita bertumbuh secara rohani. Terima dengan lemah lembut firman yang menegur, mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Dengan demikian, panca indera kita jadi semakin terlatih untuk memahami hikmat Allah: membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak, mana baik dan yang jahat; mana yang perlu dan yang tidak perlu/berguna; mana yang harus dilakukan dan mana yang jangan, dsb.

FIRMAN TUHAN SEBAGAI DASAR

  • Baca Ibrani 5:11-14; Matius 7:24-27; Amsal 2: 4-11; Kolose 1: 9-10.

KESIMPULAN

Untuk memperoleh hikmat dan pengertian diperlukan bayar harga berupa komitmen untuk takut akan Tuhan, mencari kehendak-Nya, latihan serta kedisiplinan. Hikmat dan pengertian sangat diperlukan untuk membuat keputusan yang bijaksana sehingga hidup kita layak dan berkenan kepada-Nya; memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. Saat hikmat dan pengertian melimpah dalam hidup kita, kita menjadi bejana yang dipakai untuk membangun kerajaan Allah dan mengarahkan orang lain untuk bisa mengalami anugerah kasih karunia-Nya.

 

BERTUMBUH DALAM KASIH KARUNIA (Theme: The Mind of Christ)

BERTUMBUH DALAM KASIH KARUNIA (Theme: The Mind of Christ)

Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.  Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya (2 Petrus 3:18).

 

PENDAHULUAN

Firman Tuhan memerintahkan kita untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Kristus. Bertumbuh dalam kasih karunia berarti mengembangkan iman aktif yang semakin kuat dan semakin dalam, yang memengaruhi setiap aspek kehidupan. Pertumbuhan ini bukan hanya soal iman, tetapi juga melibatkan peningkatan kasih, kerendahan hati, dan pengenalan yang mendalam akan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan membawa pada hidup kekal sesuai kehendak Allah.

 

PERMASALAHAN

  • Tidak memiliki iman yang dewasa.

 Tuhan Yesus mengatakan bahwa di akhir jaman akan muncul nabi-nabi palsu dan pengajar-pengajar palsu yang akan menyesatkan banyak orang termasuk orang-orang Kristen. Orang yang mudah untuk disesatkan oleh rupa-rupa angin pengajaran adalah orang percaya yang tidak dewasa dalam iman. Iman yang tidak dewasa disebabkan: 1) petobat baru/ masih bayi rohani yang belum dimuridkan; 2) orang yang  tidak mau dimuridkan karena  menganggap pemuridan sebagai suatu yang tidak menyenangkan dan memberatkan. Bisa saja orang tersebut  memiliki pengetahuan firman tapi tidak menghidupi firman, percaya hanya sebatas pengetahuan di pikiran, bukan dengan segenap hati.

Pemahaman yang dangkal akan tujuan karya keselamatan Allah membuat seseorang terjebak dalam rutinitas (ibadah hanya sebagai kegiatan rutin), hanya tertarik kepada berkat, mukjizat, karunia dan bukan mengejar hidup yang berbuah.  Konsep tentang ketaatan, bayar harga, berkorban, menjadi berkat, sangkal diri, dan pikul salib adalah hal-hal yang tidak disukai, bahkan bila perlu dihindari.

Orang yang tidak dewasa dalam iman akan menjadi buta dan picik; artinya tidak mengerti tentang keselamatan dan tujuan kasih karunia Allah bagi dirinya. Pikirannya jadi picik (shortsighted), tidak bisa melihat jauh ke depan; pandangan, pengetahuan dan pemikirannya kerdil, sempit dan minim; Buta (blindness), tidak tahu/mengerti/mengenal kebenaran, perkara-perkara rohani dan kehendak Allah. Hidup hanya untuk diri sendiri, enggan untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain,  menjadi lamban secara rohani (menurunnya ketekunan, gairah dan semangat dalam mengikut Tuhan; tumpul dalam pendengaran akan firman Tuhan/kurangnya ketajaman dalam memahami hal-hal yang rohani), hanya suka yang instant dan gampang.

 

SOLUSI

  • Bertumbuhlah dalam kasih karunia.

Supaya tidak terseret dalam kesesatan dan kehilangan pegangan yang teguh yaitu iman kepada Allah, kita harus bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan yang benar akan Kristus. Bertumbuh dalam kasih karunia berarti mengembangkan iman aktif yang semakin kuat dan semakin dalam, yang memengaruhi setiap aspek kehidupan. Belajar mengenal apa yang Tuhan kehendaki, apa yang berkenan kepada-Nya, bangun disiplin rohani (waktu saat teduh dengan Tuhan; jaga pikiran, perasaan, hati, perkataan, dan kekudusan), dan belajar menundukkan diri kepada kehendak Allah. Relakan diri untuk Tuhan mendewasakan dan memurnikan iman kita. Hidup oleh iman yang murni = sangkal diri dan pikul salib. Iman yang murni = iman seperti seorang anak kecil. Iman yang murni = iman yang bekerja oleh kasih. Tanpa kasih, iman kita tidak ada gunanya. Berdoa minta supaya Roh Kudus menolong kita untuk semakin mengasihi (menaati) Tuhan.

  • Bertumbuh bersama dalam komunitas orang percaya (COOL).

Kita tidak dapat bertumbuh sendirian. Kita perlu bertumbuh bersama dalam komunitas yang tepat untuk mendukung, mengasah, dan menolong kita. Belajar mengasihi Tuhan dan orang lain, saling merendahkan hati, dan belajar saling melayani (Filipi 2:2-5). Sejalan dengan proses pertumbuhan rohani, Roh Kudus menolong kita untuk mengenali fungsi, menggali potensi, mengembangkan talenta/karunia dan melayani di bidang yang tepat. Orang yang mengenali fungsi dan panggilannya akan melayani dengan efektif; doing the right things; tidak malas tapi dengan sukacita serta penuh tanggung jawab mengobarkan karunia dan talentanya untuk mendampaki orang banyak dan memuliakan Allah.

 

FIRMAN TUHAN SEBAGAI DASAR

  • …sampai kita semua telah mencapai kesatuaniman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah,  kedewasaan penuh,  dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,  sehingga kita bukan lagi anak-anak,  yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. (Efesus 4:13-15).

 

KESIMPULAN

Kita harus sungguh-sungguh menyiapkan diri dalam menghadapi akhir jaman yang semakin gelap. Kita tidak akan mampu melewati masa-masa sukar jika tidak memiliki iman yang dewasa dan kasih akan Tuhan. Saat ini bukan lagi waktunya untuk berada di zona nyaman, menjadi suam dan setengah hati dalam mengikut Tuhan. Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Kristus. Dengan demikian, kita diarahkan untuk berjalan dalam jalur kehendak Allah yang sempurna, yang pada akhirnya mengarah pada kehidupan yang penuh integritas, menjadi saksi Tuhan dan berkemenangan di tengah masa yang sukar.

PIKIRKANLAH PERKARA YANG DI ATAS

PIKIRKANLAH PERKARA YANG DI ATAS

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kolose 3:2)

PENDAHULUAN

Sebagai ciptaan baru yang telah dibangkitkan dalam Kristus, kita diperintahkan untuk mencari dan memikirkan perkara-perkara di atas, bukan yang di bumi. Hidup kita tidak lagi berorientasi kepada perkara-perkara dunia, melainkan kekekalan. Memikirkan perkara di atas berarti mengarahkan pemikiran dan pemahaman kepada hal-hal yang berkaitan dengan Allah dan segala kebenaran-Nya, yang diaplikasikan dalam kehidupan kita. Untuk dapat memahami perkara yang di atas, kita harus hidup oleh iman.

PERMASALAHAN

Berikut adalah hal yang membuat seseorang tidak bisa memahami perkara-perkara yang di atas:

  • Tidak mau bertumbuh  secara rohani melalui pemuridan. Akibatnya manusia rohaninya menjadi kering, imannya kerdil dan lemah, tidak mengerti kehendak Tuhan dan berjalan dalam rencana-Nya, serta tidak menghasilkan hidup yang berbuah.
  • Pikiran yang tidak diperbarui oleh firman Tuhan – membuat orang tidak mampu memahami perkara-perkara di atas, di mana Kristus ada. Akibatnya iman tidak berkembang karena lebih memilih hidup karena melihat, bukan karena percaya. Cara berpikir seperti ini tidak ada bedanya dengan cara pikir dunia yaitu ‘carnal mind: pikiran yang masih dikuasai oleh ‘kedagingan’ (Roma 8:6); hidup hanya untuk memuaskan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16). Mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging sehingga tidak mungkin bisa berkenan kepada Allah karena keinginan daging adalah perseteruan dengan DIA.
  • Pikiran yang dibutakan oleh ilah-ilah jaman (2 Korintus 4:4). Jika ke-kristenan seseorang hanya  sebatas kebiasaan, ritual keagamawian dan tanpa pemuridan, maka sesungguhnya ia telah dibutakan oleh ilah jaman, di antaranya adalah penyesatan/ajaran palsu dan roh agamawi. Secara lahiriah menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya memungkiri kekuatannya (2 Timotus 3:1-5). Tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mencari pengajaran dari guru palsu untuk memuaskan keinginan telinganya. Memalingkan telinganya dari kebenaran Allah dan membukanya bagi dongeng (2 Timotius 4:3-4). Imannya tidak berpusat kepada Kristus tetapi kepada pikiran, perasaan dan seleranya sendiri. Hal ini membuat orang percaya jadi kompromi dengan dunia, terseret arus, akhirnya menjadi sama seperti dunia.
  • Pikiran dan perasaan yang menjadi tumpul sama seperti orang yang tidak mengenal Allah (2 Korintus 3:14-15; Efesus 4:17-19). Tidak bisa mengerti kebenaran firman dan kehilangan kepekaan untuk mendengar suara teguran Roh Kudus. Ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya: hidup dalam dosa, ikatan hawa nafsu, keserakahan/ketamakan, membiasakan diri mengabaikan firman dan teguran Roh Kudus, dosa yang belum dibereskan/menunda pertobatan, kedegilan hati, dlsb. Ketika pikiran dan perasaan menjadi tumpul, seseorang akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang keliru dan membahayakan hidupnya.
  • Menentang pengenalan akan Allah (2 Kor.10:5) yang disebabkan segala bentuk keangkuhan manusia berupa pemikiran, logika, argumen, pendapat, spekulasi, filosofi, filsafat, ideologi, hikmat dunia, pengetahuan,  dlsb.

SOLUSI

  • Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan secara terus-menerus.
  • Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru; hidup dalam pertobatan.
  • Memakai senjata ilahi yaitu firman Tuhan untuk menghancurkan/meruntuhkan segala spekulasi, argumen, alasan, dlsb yang menentang pengenalan akan Tuhan. Tawan segala pikiran kita dan taklukkan kepada Kristus.

FIRMAN TUHAN SEBAGAI DASAR

Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,  sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

2 Kor.10:3-5  “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.  Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.  Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.”

Efesus 4:20-24 “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.  Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,  yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama,  yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,  supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,  dan mengenakan manusia baru,  yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

KESIMPULAN

Orang Kristen sejati memikirkan hal-hal yang berasal dari Roh, bukan yang berasal dari hikmat dunia ataupun kedagingan. Pikiran kita harus  berorientasi pada hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Memikirkan perkara yang di  atas  bukan  hanya  dalam  waktu  sesaat,  tetapi  secara  terus  menerus  dan  selamanya.  Miliki hikmat  Allah yang dinyatakan melalui Pribadi Yesus Kristus,  bukan hikmat dunia yang menyesatkan. Perkara yang di bumi bersifat sementara, perkara yang di atas  bersifat kekal. Oleh sebab itu pikirkanlah  senantiasa perkara yang di atas supaya bila Kristus menyatakan diri kelak, kitapun akan menyatakan diri bersama dengan DIA dalam kemuliaan, Amen!