Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog" (Page 17)
SERI BANGSA ISRAEL: Mencobai Tuhan Dengan Persungutan

SERI BANGSA ISRAEL: Mencobai Tuhan Dengan Persungutan

“Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku,” Bilangan 14:22

Tak terhitung banyaknya kebaikan yang dinyatakan Tuhan kepada bangsa Israel ini. Terlebih-lebih saat Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir menuju ke Tanah Perjanjian, yang terlebih dahulu harus melewati perjalanan panjang di padang gurun. Di padang gurun inilah mujizat demi mujizat dinyatakan Tuhan secara luar biasa.

Meski demikian respons mereka terhadap kasih dan kebaikan Tuhan sungguh sangat mengecewakan, mereka terus mencobai Tuhan dengan bersungut-sungut di segala situasi sehingga mereka mati dipagut ular (baca 1 Korintus 10:9). Tuhan pun menyebutnya sebagai “…suatu bangsa yang tegar tengkuk.” (Keluaran 32:9).

Bangsa Israel tidak pernah merasa puas dengan berkat-berkat yang Tuhan berikan, di antaranya dalam hal makanan dan minuman. Meski Tuhan telah menyediakan manna mereka tetap saja tidak bisa mengucap syukur, sebaliknya keluhan dan sungut-sungut terus keluar dari mulut mereka, “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” (Keluaran 16:3). Ketika tidak ada air di Masa dan di Meriba mereka pun langsung marah kepada Musa, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Terus mencobai Tuhan menimbulkan murka Tuhan, termasuk tentang daging burung puyuh (baca Bilangan 11:4-23).

Ujian yang dialami oleh bangsa Israel di padang gurun bukan karena Tuhan jahat, tetapi Tuhan hendak membawa mereka masuk ke dalam kehidupan yang jauh lebih baik yaitu Kanaan. Sayang, saat dalam proses ini bangsa Israel menunjukkan sikap yang tidak terpuji: terus mencobai Tuhan dengan bersungut-sungut di segala situasi. Bersungut-sungut adalah suatu reaksi ketidakpuasan terhadap kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Kegagalan sebagian besar umat Israel memasuki Kanaan menjadi peringatan bagi kita supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama!

Baca: Bilangan 14:1-38

SERI BANGSA ISRAEL: Dosa Percabulan (2)

SERI BANGSA ISRAEL: Dosa Percabulan (2)

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!” 1 Korintus 6:15

Rasul Paulus memperingatkan dengan keras jemaat di Korintus perihal dosa percabulan ini. Ditambahkan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: ‘Keduanya akan menjadi satu daging.'” (1 Korintus 6:16). Dari ayat ini rasul Paulus hendak meng-ingatkan bahwa dosa percabulan itu bukanlah dosa yang sifatnya pasif, yang dapat dilakukan dengan alasan tidak sengaja atau karena khilaf, tetapi merupakan dosa yang aktif, yang terjadi oleh karena seseorang telah mengikatkan diri dan menyerahkan diri terhadapnya. Berhati-hatilah! Jika kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu kita maka hawa nafsu itu akan mengendalikan kita. Karena itu kita harus bersikap tegas untuk menolak segala godaan yang ada.

Yusuf adalah contoh orang muda yang tidak membiarkan dirinya jatuh dalam dosa percabulan. Ketika isteri Potifar menggoda dan merayunya, “Marilah tidur dengan aku.”, Yusuf dengan tegas menolak ajakan wanita itu dan memilih untuk lari: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan keja-hatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (baca Kejadian 39:7-12). Perhatikan pula nasib Simson! Seorang yang diurapi Tuhan dan dipakai Tuhan secara luar biasa harus mengalami akhir hidup yang begitu tragis, karena ketidakmampuannya untuk menahan hawa nafsu dan segala godaan yang ditujukan kepadanya, sehingga ia pun jatuh dalam dosa percabulan.

Bersikap tegas dan tidak berkompromi adalah kunci untuk menolak segala hal yang membangkitkan hawa nafsu. Jangan sedikit pun memberi celah kepada Iblis melalui situasi dan kondisi yang kita ciptakan sendiri, karena “…tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” (Yakobus 1:14). Tanpa pertolongan Roh Kudus kita tidak mampu menang terhadap daging kita, karena itu bangun persekutuan yang karib dengan Tuhan senantiasa.

Untuk melepaskan diri dari dosa percabulan harus punya tekad kuat menjauhkan diri dari hal-hal berbau cabul, dan mengikatkan diri kepada Tuhan.

Baca: 1 Korintus 6:12-20

Image source: https://www.scripture-images.com/bible-verse/kjv/1-corinthians-6-15-kjv.php

SERI BANGSA ISRAEL: Dosa Percabulan (1)

SERI BANGSA ISRAEL: Dosa Percabulan (1)

“Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.” 1 Korintus 10:8

Perbuatan lain yang diperbuat oleh umat Israel yang membuat Tuhan marah adalah karena mereka melakukan percabulan. Jika memperhatikan situasi-situasi yang ada dewasa ini, percabulan atau dosa seksual banyak sekali terjadi dan kian mengalami peningkatan, baik ditinjau dari si pelaku maupun korbannya. Meski di tiap-tiap negara ada undang-undang yang mengatur tentang pornografi, godaan untuk melakukan percabulan atau tindakan pornoaksi tidak lantas hilang begitu saja dalam masyarakat. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini, di mana teknologi semakin canggih dan mutakhir, orang dengan mudahnya mendapatkan informasi tentang hal-hal negatif yang berbau pornografi, entah itu lewat film atau internet. Akibatnya banyak orang terjerat di dalamnya dan timbul dorongan untuk melakukan seperti yang telah mereka lihat. Dosa jenis ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dunia tapi harus diakui ada banyak anak Tuhan yang terjerat dan jatuh di dalam tipu muslihat Iblis ini.

Kita masih ingat kasus yang terjadi dan mencuat menjadi headline di media-media beberapa waktu lalu dan menjadi perbincangan nasional yaitu kasus pelecehan seksual dan percabulan yang dialami oleh anak-anak di bawah umur, siswa-siswa playgroup/TK di salah satu lembaga pendidikan ternama dan bertaraf internasional di Jakarta. Anak-anak yang masih polos dan memiliki masa depan sangat panjang, yang seha-rusnya mendapat perhatian, kasih sayang, dan perlindungan, justru harus mengalami peristiwa yang menyisakan trauma dalam hidupnya karena menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Tragis sekali!

Dosa percabulan dapat terjadi di mana saja, kapan saja dan menimpa siapa saja tanpa mengenal usia. Bahkan tanpa disadari mungkin kita sendiri telah melakukan percabulan meskipun tidak terjadi secara vulgar karena dosa dosa percabulan bisa saja timbul melalui ucapan kita, pikiran, hati dan juga perbuatan kita. Jadi dalam hati saja bisa timbul dosa percabulan, perzinahan dan jenis-jenis kejahatan lainnya (baca Matius 15:19).

Tidak ada tempat di dunia ini yang sanggup melindungi dan mem-berikan jaminan keamanan kepada kita, Dialah tempat perlindungan sejati!

(Bersambung) baca: 1 Korintus 10:1-13

MINGGU SERI BANGSA ISRAEL: Penyembahan Berhala

MINGGU SERI BANGSA ISRAEL: Penyembahan Berhala

“dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala,” 1 Korintus 10:7

Faktor lain yang membuat sebagian besar umat Israel tidak dapat menikmati Kanaan adalah ada allah lain dalam hidup mereka. Mereka mendesak Harun untuk membuatkan patung anak lembu emas untuk mereka sembah. Semua berawal dari ketidaksabaran mereka menantikan Musa turun dari gunung Sinai. “…maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir-kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.'” (Keluaran 32:1). FirmanNya dengan tegas menyatakan, “Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 26:1). Karena tindakan bodoh tersebut Tuhan menjadi sangat murka. Kata Tuhan kepada Musa, “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya….dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.” (Keluaran 32:7, 9)

Tanpa kita sadari ada berhala-berhala dalam kehidupan kita yang menjadi penghalang kita mengalami berkat Tuhan. Berhala atau allah lain tidak harus dalam bentuk patung pahatan, kayu ukiran atau batu yang menjadi sesembahan, tapi segala sesuatu yang menjadi lekatan hati kita, yang mampu menggeser posisi Tuhan dalam hidup kita, contoh kita lebih mencintai uang, harta kekayaan, bisnis, pekerjaan, hobi atau perkara-perkara duniawi lainnya daripada cinta kita kepada Tuhan. Bukankah ada banyak orang Kristen rela mengorbankan ibadahnya dan jam-jam doanya karena seluruh waktu dan tenaganya tersita untuk bisnis atau pekerjaannya? Inilah ilah-ilah di akhir zaman ini! Jadi jangan kita terjebak pada kegiatan rutinitas pekerjaan maupun pelayanan kita, sehingga kita melupakan hubungan intim dengan Tuhan secara pribadi.

Tuhan Yesus adalah Pribadi yang harus menjadi lekatan hati, fokus ibadah, prioritas dan yang terutama dalam hidup kita, bukan yang lain.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34:14

Baca: 1 Korintus 10:1-13

Image source: https://www.scripture-images.com/phone-backgrounds/web/exodus-20-3-web-mobile-wallpaper.php

SERI BANGSA ISRAEL: Mengingini Hal Jahat

SERI BANGSA ISRAEL: Mengingini Hal Jahat

“Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.” 1 Korintus 10:5

Sebelum mencapai Tanah Perjanjian bangsa Israel harus mampu menaklukkan musuh. Dengan kekuatan sendiri pastilah mereka tidak akan mampu mengalahkan musuh yang kuat itu. Keadaan akan berbeda jika mereka mau mengandalkan Tuhan, artinya tunduk dan taat kepada tuntunan Tuhan. Saat mereka mengandalkan Tuhan, Dia akan turut campur tangan. “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” ( Keluaran 14:14). Itulah yang mejadi dasar iman Kaleb dan Yosua, keduanya “…hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7). Sesungguhnya yang menjadi musuh utama bangsa Israel adalah kedagingan mereka sendiri. Karena itu dibutuhkan iman dan ketaatan mutlak kepada Tuhan.

Hidup di Tanah Perjanjian inilah yang memungkinkan setiap orang percaya untuk hidup secara optimal. Namun jika diperhatikan, ternyata tidak semua umat Israel dapat mencapai dan menikmati Kanaan, “…karena mereka ditewaskan di padang gurun.” (ayat nas). Banyak hal yang menyebabkan mereka tidak menikmati Kanaan atau janji Tuhan ini, di antaranya adalah menginginkan hal-hal yang jahat (1 Korintus 10:6). Salah satunya adalah perbuatan yang dilakukan Akhan (baca Yosua 7). Oleh karena mengingini jubah, emas dan perak, Akhan terperangkap dalam dosa. “…aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali.” (Yosua 7:21). Apa yang diperbuat Akhan ini telah mencelakai umat Israel sehingga Israel terpukul kalah musuh. Sebagai akibatnya Yosua menjatuhkan hukuman mati kepada Akhan dan keluarga berserta dengan seluruh isi rumah dan segala miliknya

Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar mereka tidak berlaku sama seperti bangsa Israel sewaktu di padang gurun. Peringatan ini juga berlaku atas kita! Janganlah kita melakukan hal-hal yang jahat seperti yang diperbuat bangsa Israel. Perbuatan jahat yang mereka lakukan akhirnya menjadi penghalang bagi mereka untuk menikmati berkat Tuhan, bahkan hal itu menyebabkan Tuhan murka atas mereka.

Untuk dapat menikmati Kanaan kita harus bertekad untuk menjauhi kejahatan!
Baca: 1 Korintus 10:1-13

image source: https://www.bible.com/id/bible/306/PRO.3.7-8.TB

SERI BANGSA ISRAEL: Dalam Rancangan Tuhan

SERI BANGSA ISRAEL: Dalam Rancangan Tuhan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepa-damu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29:11

Tuhan memiliki rancangan yang indah atas kehidupan umatNya yaitu rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan. Rancangan itu bukan sekedar janji atau basa-basi, tapi rancanganNya adalah ya dan amin.

Contoh nyata adalah rancangan Tuhan atas kehidupan bangsa Israel. Pada waktu itu bangsa Israel mengalami penderitaan oleh karena penin-dasan bangsa Mesir. Tuhan tahu persis apa yang dialami oleh umat Israel ini karena Dia adalah Tuhan yang “…tidak terlelap dan tidak ter-tidur…” (Mazmur 121:4). Tuhan berkata, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,” (Keluaran 3:7-8).

Rencana Tuhan atas bangsa Israel adalah hidup menempati Tanah Ka-naan. Kanaan adalah Tanah Perjanjian yang di dalamnya tersimpan kelimpahan dan perlindungan, serta berlimpah susu dan manu. Namun untuk dapat memasuki Tanah Perjanjian tersebut umat Israel harus ber-juang dan berperang mengalahkan musuh-musuh mereka. Secara manusia hal itu bukanlah perkara yang mudah, karena menurut laporan dari sepuluh orang pengintai yang diutus oleh Musa, Kanaan “…adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” (Bilangan 13:32-33), sehingga mereka merasa takut dan pesimis.

Berbeda respons Kaleb dan Yosua yang punya iman, “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkann-ya!” (Bilangan 13:30).

Rancangan Tuhan selalu yang terbaik untuk umatNya!
Baca: Yeremia 29:11-14

MENGAPA TIDAK OPTIMAL?

MENGAPA TIDAK OPTIMAL?

“Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” 1 Timotius 4:10

Bukan karena kasih Tuhan yang kurang atau janji Tuhan yang tidak tersedia secara maksimal jika banyak orang Kristen yang tidak pernah menjalani kehidupan rohaninya secara optimal. Apa masalahnya?

Pertama, kita tidak tahu secara detil tentang janji Tuhan itu karena kita sendiri tidak mau tinggal di dalam firmanNya. Bagaimana mau ‘tinggal di dalam firman’ jika kita tidak menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firmanNya? Padahal Kitab Suci berisikan janji-janji ber-kat Tuhan yang luar biasa, “…baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8). Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7).

Kedua, tidak mau melakukan segala sesuatunya secara optimal meski tahu persis Tuhan telah melakukan yang terbaik bagi kita dalam segala hal. Nasihat rasul Paulus, “…giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58).

Jadi, semua sangat tergantung pada respons kita terhadap apa yang sudah Tuhan perbuat bagi kita. Petani tidak akan pernah menuai hasil panen secara maksimal bila tidak terlebih dahulu bekerja keras mengolah tanah pertaniannya dan juga menabur benih. “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahan-ya.” (2 Timotius 2:6). Pula atlet, tanpa mau berlatih keras mustahil meraih kemenangan di setiap laga yang diikutinya.

Ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan kehidupan yang optimal kita harus mau membayar harga. Seberapa besar kita membayar harga, sebesar itulah akan kita peroleh!

Ketidakmauan kita membayar harga menjadi penyebab kegagalan kita menghasilkan kehidupan yang optimal. Karena itu jangan pernah menyalahkan Tuhan jika selama ini kita tidak mengalami penggenapan janji Tuhan secara maksimal pula.

Segala hal yang dipercayakan Tuhan kepada kita kerjakan itu secara optimal, sebab “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” Amsal 14:23

Baca: 1 Timotius 4:10-16

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (2)

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (2)

“Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” Mazmur 117:2

Segala hal yang kita butuhkan dalam hidup ini telah disediakan Tuhan dari semula, di antaranya adalah rasa aman dan penerimaan diri. Tuhan berkata, “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” (Mazmur 91:14-16). Selain jaminan perlindungan dan penyertaanNya sebagai bukti kasihNya, keberadaan kita di mata Tuhan juga sangat berharga. “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4).

Itu adalah jaminan yang sudah lebih dari cukup bagi kita. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan yang terbaik bagi Tuhan.

Melalui pengorbanNya di kayu salib segala perkara yang dijanjikan Tuhan sudah digenapi. Ada janji keselamatan: “…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24), sehingga kita dibebaskan dari kutuk dan tidak lagi di bawah kuasa dosa. Janji kemenangan: “…Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15:57), sehingga kita lebih dari pada pemenang (baca Roma 8:37). Janji kelimpahan: “…Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kem-iskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9). Rasul Paulus pun menyatakan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19). Ada pula janji kesembuhan: “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1 Petrus 2:24b).

Dengan berkatNya Tuhan ingin kita menjadi berkat bagi orang lain. Masih banyak janji Tuhan yang luar biasa disediakanNya bagi kita. Adalah rugi besar bila kita menjadi orang-orang Kristen yang biasa-biasa saja, karena kasih Tuhan sungguh hebat atas kita!

Tuhan sudah menyediakan berkatNya secara maksimal bagi kita, tapi mengapa kita merespons kehebatan kasihNya itu dengan biasa-biasa saja

Baca: Mazmur 117:1-2

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (1)

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (1)

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23

Setiap orang percaya seharusnya memiliki suatu kehidupan yang optimal di segala bidang yang dikerjakannya, baik itu dalam pekerjaan konvensional, studi, dan terlebih lagi seharusnya dalam hal ibadah, pelayanan atau pengiringan kita kepada Tuhan. Jika setiap orang percaya mau menerapkan apa yang Alkitab sampaikan seperti di ayat nas kita benar-benar akan men-jadi orang Kristen yang berbeda, sehingga kita mampu menjadi berkat dan kesaksian yang baik bagi dunia ini. Namun ada banyak orang Kristen yang tidak mengerjakan apa pun yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya itu secara maksimal oleh karena orientasi dan motivasi mereka dalam melakukan pekerjaan tersebut salah, tidak sesuai dengan firman yang Tuhan maksudkan.

Seringkali yang menjadi motivasi kita dalam melakukan pekerjaan atau pelayanan adalah semata-mata untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Akhirn-ya ketika kita mengalami sedikit saja benturan, gesekan atau hal-hal yang tidak mengenakkan kita mudah sekali kecewa dan akhirnya mundur, pa-dahal memiliki kehidupan yang optimal adalah harga mutlak bagi orang percaya! Tidak ada istilah suam-suam kuku alias nanggung. Tuhan me-negur jemaat di Laodikia, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:15-16). Firman Tuhan dalam Wahyu 22:11 pun lebih keras lagi! “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus ce-mar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; ba-rangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”

Melakukan sesuatu setengah-setengah dan berkompromi adalah tindakan yang sangat dibenci Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan menyediakan segala hal bagi kita tidak setengah-setengah, tapi total, bahkan sampai rela men-gorbankan nyawaNya di Kalvari. Dia juga memberikan kepada kita karunia-karunia dan talenta untuk memperlengkapi kita.

Suam-suam kuku dan kompromi adalah tanda kita belum menjadi orang Kristen yang optimal!

Baca: Kolose 3:23-24

MENDUKAKAN ROH KUDUS

MENDUKAKAN ROH KUDUS

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah me-meteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus rasul Paulus mengingatkan agar kita tidak lagi mendukakan Roh Kudus. Mendukakan dapat berarti membuat sedih, mempermalukan dan juga menghina. Namun Alkitab menyatakan: “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Maka “…kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” (Efesus 4:17). Jadi kita harus benar-benar mengenakan ‘manusia baru’ dengan menanggal-kan segala perbuatan dan karakter lama kita yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, selain me-madamkan Roh, juga merupakan tindakan mendukakan Roh Kudus. Itu sama artinya kita sedang menghalangi dan menghentikan pekerjaan Roh Kudus sehingga Ia tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam Efesus 1:13 dikatakan: “…ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Meterai dari Roh Kudus menem-patkan kita pada posisi yang aman karena kita berada di pihak Tuhan dan Tuhan ada di pihak kita. “TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 118:6). Tuhan menjadi perlindungan, naungan dan pembela kita. Namun apabila Roh Kudus kita dukakan kita akan kehilangan meterai dari Roh Kudus. Akibatnya kita tidak lagi mengalami penyertaan dan perlindunganNya secara sempurna.

Alkitab memperingatkan: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31). Perkara-perkara inilah yang membuat Roh Kudus berduka dan akhirnya meninggalkan kita. Karena itu mulai detik ini mari kita tinggalkan segala kejahatan dan hiduplah sebagai manusia baru di dalam Tuhan.

Tanpa Roh Kudus kita tidak punya kekuatan apa-apa, karena itu jangan sekali-kali mendukakan Dia dengan pelanggaran-pelanggaran kita.

Baca: Efesus 4:17-32