Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog" (Page 17)
MENGAPA TIDAK OPTIMAL?

MENGAPA TIDAK OPTIMAL?

“Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” 1 Timotius 4:10

Bukan karena kasih Tuhan yang kurang atau janji Tuhan yang tidak tersedia secara maksimal jika banyak orang Kristen yang tidak pernah menjalani kehidupan rohaninya secara optimal. Apa masalahnya?

Pertama, kita tidak tahu secara detil tentang janji Tuhan itu karena kita sendiri tidak mau tinggal di dalam firmanNya. Bagaimana mau ‘tinggal di dalam firman’ jika kita tidak menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firmanNya? Padahal Kitab Suci berisikan janji-janji ber-kat Tuhan yang luar biasa, “…baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8). Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7).

Kedua, tidak mau melakukan segala sesuatunya secara optimal meski tahu persis Tuhan telah melakukan yang terbaik bagi kita dalam segala hal. Nasihat rasul Paulus, “…giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58).

Jadi, semua sangat tergantung pada respons kita terhadap apa yang sudah Tuhan perbuat bagi kita. Petani tidak akan pernah menuai hasil panen secara maksimal bila tidak terlebih dahulu bekerja keras mengolah tanah pertaniannya dan juga menabur benih. “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahan-ya.” (2 Timotius 2:6). Pula atlet, tanpa mau berlatih keras mustahil meraih kemenangan di setiap laga yang diikutinya.

Ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan kehidupan yang optimal kita harus mau membayar harga. Seberapa besar kita membayar harga, sebesar itulah akan kita peroleh!

Ketidakmauan kita membayar harga menjadi penyebab kegagalan kita menghasilkan kehidupan yang optimal. Karena itu jangan pernah menyalahkan Tuhan jika selama ini kita tidak mengalami penggenapan janji Tuhan secara maksimal pula.

Segala hal yang dipercayakan Tuhan kepada kita kerjakan itu secara optimal, sebab “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” Amsal 14:23

Baca: 1 Timotius 4:10-16

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (2)

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (2)

“Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” Mazmur 117:2

Segala hal yang kita butuhkan dalam hidup ini telah disediakan Tuhan dari semula, di antaranya adalah rasa aman dan penerimaan diri. Tuhan berkata, “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” (Mazmur 91:14-16). Selain jaminan perlindungan dan penyertaanNya sebagai bukti kasihNya, keberadaan kita di mata Tuhan juga sangat berharga. “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4).

Itu adalah jaminan yang sudah lebih dari cukup bagi kita. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan yang terbaik bagi Tuhan.

Melalui pengorbanNya di kayu salib segala perkara yang dijanjikan Tuhan sudah digenapi. Ada janji keselamatan: “…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24), sehingga kita dibebaskan dari kutuk dan tidak lagi di bawah kuasa dosa. Janji kemenangan: “…Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15:57), sehingga kita lebih dari pada pemenang (baca Roma 8:37). Janji kelimpahan: “…Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kem-iskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9). Rasul Paulus pun menyatakan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19). Ada pula janji kesembuhan: “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1 Petrus 2:24b).

Dengan berkatNya Tuhan ingin kita menjadi berkat bagi orang lain. Masih banyak janji Tuhan yang luar biasa disediakanNya bagi kita. Adalah rugi besar bila kita menjadi orang-orang Kristen yang biasa-biasa saja, karena kasih Tuhan sungguh hebat atas kita!

Tuhan sudah menyediakan berkatNya secara maksimal bagi kita, tapi mengapa kita merespons kehebatan kasihNya itu dengan biasa-biasa saja

Baca: Mazmur 117:1-2

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (1)

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Optimal (1)

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23

Setiap orang percaya seharusnya memiliki suatu kehidupan yang optimal di segala bidang yang dikerjakannya, baik itu dalam pekerjaan konvensional, studi, dan terlebih lagi seharusnya dalam hal ibadah, pelayanan atau pengiringan kita kepada Tuhan. Jika setiap orang percaya mau menerapkan apa yang Alkitab sampaikan seperti di ayat nas kita benar-benar akan men-jadi orang Kristen yang berbeda, sehingga kita mampu menjadi berkat dan kesaksian yang baik bagi dunia ini. Namun ada banyak orang Kristen yang tidak mengerjakan apa pun yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya itu secara maksimal oleh karena orientasi dan motivasi mereka dalam melakukan pekerjaan tersebut salah, tidak sesuai dengan firman yang Tuhan maksudkan.

Seringkali yang menjadi motivasi kita dalam melakukan pekerjaan atau pelayanan adalah semata-mata untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Akhirn-ya ketika kita mengalami sedikit saja benturan, gesekan atau hal-hal yang tidak mengenakkan kita mudah sekali kecewa dan akhirnya mundur, pa-dahal memiliki kehidupan yang optimal adalah harga mutlak bagi orang percaya! Tidak ada istilah suam-suam kuku alias nanggung. Tuhan me-negur jemaat di Laodikia, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:15-16). Firman Tuhan dalam Wahyu 22:11 pun lebih keras lagi! “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus ce-mar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; ba-rangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”

Melakukan sesuatu setengah-setengah dan berkompromi adalah tindakan yang sangat dibenci Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan menyediakan segala hal bagi kita tidak setengah-setengah, tapi total, bahkan sampai rela men-gorbankan nyawaNya di Kalvari. Dia juga memberikan kepada kita karunia-karunia dan talenta untuk memperlengkapi kita.

Suam-suam kuku dan kompromi adalah tanda kita belum menjadi orang Kristen yang optimal!

Baca: Kolose 3:23-24

MENDUKAKAN ROH KUDUS

MENDUKAKAN ROH KUDUS

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah me-meteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus rasul Paulus mengingatkan agar kita tidak lagi mendukakan Roh Kudus. Mendukakan dapat berarti membuat sedih, mempermalukan dan juga menghina. Namun Alkitab menyatakan: “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Maka “…kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” (Efesus 4:17). Jadi kita harus benar-benar mengenakan ‘manusia baru’ dengan menanggal-kan segala perbuatan dan karakter lama kita yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, selain me-madamkan Roh, juga merupakan tindakan mendukakan Roh Kudus. Itu sama artinya kita sedang menghalangi dan menghentikan pekerjaan Roh Kudus sehingga Ia tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam Efesus 1:13 dikatakan: “…ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Meterai dari Roh Kudus menem-patkan kita pada posisi yang aman karena kita berada di pihak Tuhan dan Tuhan ada di pihak kita. “TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 118:6). Tuhan menjadi perlindungan, naungan dan pembela kita. Namun apabila Roh Kudus kita dukakan kita akan kehilangan meterai dari Roh Kudus. Akibatnya kita tidak lagi mengalami penyertaan dan perlindunganNya secara sempurna.

Alkitab memperingatkan: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31). Perkara-perkara inilah yang membuat Roh Kudus berduka dan akhirnya meninggalkan kita. Karena itu mulai detik ini mari kita tinggalkan segala kejahatan dan hiduplah sebagai manusia baru di dalam Tuhan.

Tanpa Roh Kudus kita tidak punya kekuatan apa-apa, karena itu jangan sekali-kali mendukakan Dia dengan pelanggaran-pelanggaran kita.

Baca: Efesus 4:17-32

MEMADAMKAN ROH: Hidup Dalam Kejahatan

MEMADAMKAN ROH: Hidup Dalam Kejahatan

“Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” 1 Tesalonika 5:22

Sebagai umat tebusan Tuhan kita dituntut untuk tetap mengerjakan keselamatan yang telah kita terima itu dengan hati yang takut dan gentar (baca Filipi 2:12), artinya kita harus hidup dalam ketaatan dan memiliki hati yang takut akan Tuhan sebagai respons atas keselamatan yang telah kita terima. Jadi ketaatan adalah suatu perintah yang tidak bisa ditawar lagi. Jika kita taat kepada Tuhan maka roh kita akan tetap terpelihara sempurna. Jangan sampai api itu redup dan menjadi padam, “Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.” (Imamat 6:13).

Supaya api roh itu terus menyala kita harus berupaya supaya Roh Kudus merasa comfortable tinggal di dalam kita. Roh Kudus akan betah ting-gal dan berdiam di dalam kita apabila kita hidup dalam kebenaran dan kekudusan karena Dia adalah Roh yang kudus. Maka dari itu “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:14-16). Hidup dalam kebenaran dan kekudusan berarti menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan dan tidak lagi berkompromi dengan dosa; dan jika Roh Kudus berdiam di dalam kita secara permanen, secara otomatis segala tindakan kita akan di-tuntun kepada kebenaran. “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26), sehingga kehidupan kita selaras dengan apa yang Tuhan mau.

Tetapi ketika roh yang ada pada kita itu padam karena ketidaktaatan dan segala kejahatan yang telah kita perbuat, kita tidak lagi punya kekuatan untuk mengalahkan segala tipu muslihat Iblis karena kedagingan kita menjadi sangat dominan. Ibadah yang kita lakukan akhirnya hanya sebatas rutinitas belaka dan kita pun semakin kehilangan kepekaan ro-hani. Akhirnya, melakukan kejahatan kita anggap sebagai hal yang biasa.

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai ke-binasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8).

Baca: 1 Tesalonika 5:19-22

Image source: https://biblehub.com/1_thessalonians/5-22.htm

MEMADAMKAN ROH: Tidak Berdoa dan Bersungut-sungut

MEMADAMKAN ROH: Tidak Berdoa dan Bersungut-sungut

“Tetaplah berdoa.” 1 Tesalonika 5:17

Hal lain yang memadamkan Roh Tuhan di dalam diri orang percaya adalah jika kita malas berdoa atau tidak berdoa. Firman Tuhan dengan jelas me-merintahkan kita untuk berdoa, tapi banyak sekali orang Kristen yang ogah-ogahan untuk berdoa, padahal ada dampak yang luar biasa jika kita tekun berdoa, sebab “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Dengan berdoa iman kita akan bekerja. Sebaliknya ketika kita tidak berdoa, secara otomatis iman kita tidak akan bekerja secara efektif dan lambat laun iman itu akan mati, sebab “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17). Orang yang jarang atau tidak berdoa pasti akan mudah kuatir, cemas dan takut menghadapi masalah atau kesulitan karena imannya tidak bekerja secara aktif. Sementara orang yang menjadikan doa sebagai gaya hidup sehari-hari akan berkata, “…hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7), sehingga saat masalah datang ia tetap mampu berpikiran positif dan optimis meski doanya belum beroleh jawaban dari Tuhan, karena ia sangat percaya bahwa Tuhan sanggup mengatasi persoalannya, sebesar apa pun itu.

Tidak bisa mengucap syukur alias suka mengeluh, bersungut-sungut dan mengomel seperti yang diperbuat oleh bangsa Israel saat berada di padang gurun adalah sikap yang dapat memadamkan Roh di dalam diri kita. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

Mengucap syukur adalah sebuah tindakan yang tidak memadamkan Roh Tuhan. Mengucap syukur dalam segala hal berarti mampu bersikap dan berpikiran positif di segala situasi. Itulah sebabnya “…semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Saat kita bertekun dalam doa dan hati kita dipenuhi oleh ucapan syukur berarti kita sedang membuka pintu seluas-luasnya kepada Roh Kudus untuk berkarya di dalam kita.

Saat Roh Kudus bekerja dalam kita, kita beroleh kekuatan dan kesanggupan, karena itu jangan padamkan Dia.

Baca: 1 Tesalonika 5:19-22

MEMADAMKAN ROH: Tidak Bersukacita

MEMADAMKAN ROH: Tidak Bersukacita

“Janganlah padamkan Roh,” 1 Tesalonika 5:19

Tekun berdoa, tetap bersukacita dan mengucap syukur dalam segala hal adalah cara untuk mengatasi agar Roh yang ada di dalam kita tidak redup dan padam. Firman Tuhan mengingatkan, “Janganlah hendaknya ke-rajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tu-han.” (Roma 12:11). Namun akhir-akhir ini ada banyak orang Kristen yang rohnya makin hari makin padam, tidak lagi menyala-nyala bagi Tuhan.

Ketika kita memadamkan Roh Tuhan yang ada di dalam kita, kita sedang membatasi Dia untuk bekerja di dalam kita. Kita tahu bahwa Roh Tuhan itu kuasaNya tak terbatas dan Ia “…lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4). Tak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya jika Roh Tuhan bekerja di dalam diri orang percaya. Sa-yangnya kita justru seringkali memadamkannya, artinya kita sendiri yang membatasi Roh Tuhan bekerja sehingga Ia tidak dapat berkarya secara leluasa dan bebas. Sadar atau tidak sadar itu seringkali kita lakukan. Kapan? Ialah saat kita bermuram durja atau bersedih hati. Saat itu pula sesungguhnya kita sedang memadamkan Roh Kudus yang ada di dalam kita. Firman Tuhan jelas menasihati kita, “Bersukacitalah senanti-asa.” (1 Tesalonika 5:16). Daud berkata, “Orang benar akan ber-sukacita karena TUHAN” (Mazmur 64:11).

Masalah atau penderitaan yang terjadi dalam kehidupan ini seharusnya tidak dengan serta-merta membuat kita kehilangan sukacita dan seman-gat dan “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Amsal 18:14).

Dengan keyakinan bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13), hari-hari Daud senantiasa dipenuhi puji-pujian: “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” (Mazmur 34:2).

Segala waktu artinya di segala keadaan, baik itu susah maupun senang, suka dan duka. Bahkan Alkitab mencatat tujuh kali dalam sehari Daud memuji-muji Tuhan (baca Mazmur 119:164)!

Bersukacitalah senantiasa supaya Roh Tuhan tidak padam!

Baca: 1 Tesalonika 5:16-22

 

DOA: Kunci Dipimpin Roh Kudus (2)

DOA: Kunci Dipimpin Roh Kudus (2)

“Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.” Efesus 6:20b

Ketika kita bertekun dalam doa kita sedang masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan, yaitu “…menjadi satu roh dengan Dia.” (1 Korintus
6:17); artinya semakin kita intim dengan Tuhan melalui doa, kita akan mengalami dan menikmati hadiratNya. Ini seperti ranting yang melekat pada pokok anggur, sebab kita tahu bahwa “…ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4). Alkitab menambahkan: “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” (Yohanes 15:2). Karena itu kita harus menjadikan doa sebagai gaya hidup kita setiap hari sebagai tanda bahwa kita melekat kepada Tuhan dan punya sikap berjaga-jaga.

Dengan melekat kepada Tuhan berarti kita memiliki penyerahan penuh kepada Tuhan, “…sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5b). Saat itulah Tuhan memberikan kepada kita Penolong yaitu Roh Kudus yang akan menyertai dan memimpin kita kepada kebenaran, karena Ia tahu bahwa kita memiliki banyak kelemahan dan punya kecenderungan untuk mengikuti keinginan dan kehendak sendiri.

Tanpa Roh Kudus sulit bagi kita untuk hidup dalam kebenaran karena setiap hari kita dihadapkan pada perkara-perkara dunia yang membawa kita kepada segala kecemaran dan jauh dari kata kudus.

Ada pun kehendak Tuhan adalah “…bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7).

Melalui karya pengorbanan Kristus di Kalvari setiap orang percaya telah diselamatkan, diampuni dosanya dan dikuduskanNya, karena itu kita harus berjuang untuk mempertahankan ‘status’ kita ini, yang dulunya sebagai hamba dosa dan yang kini menjadi hamba kebenaran (baca Roma 6:17-18) tersebut dengan hidup seturut kehendak Tuhan. Untuk itulah kita sangat membutuhkan Roh Kudus, olehNya kita dituntun kepada kebenaran dan memampukan kita berjalan dalam kekudusan. Roh Kudus akan mengerjakan hal-hal yang kudus sesuai dengan firman Tuhan dalam hidup kita asal kita selalu melekat kepada Tuhan.

Baca: Efesus 6:10-20

Doa: Kunci Dipimpin Roh Kudus (1)

Doa: Kunci Dipimpin Roh Kudus (1)

“Tetaplah berdoa.” 1 Tesalonika 5:17

Sikap yang harus kita kembangkan untuk hidup mengalir bersama Roh Kudus dan berada dalam pimpinanNya adalah senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. Tuhan Yesus berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).

Rasul Paulus juga menasihati jemaat di Efesus, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,” (Efesus 6:18).

Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah unsur terpenting dalam kehidupan orang percaya. Doa, yang dalam bahasa Yunani ‘prosyookhai’ memiliki arti mendekat dengan suatu tekad bulat untuk menerima sesuatu dari Tuhan; suatu hubungan pribadi antara orang percaya dengan Tuhan sebagai wujud keintiman. Yesus sendiri juga telah meninggalkan teladan bagaimana Ia membangun keintiman dengan Bapa di sorga. “…Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Matius 14:23), bahkan “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35). Itulah sebabnya saat berada di taman Getsemani Yesus menegur keras murid-muridNya yang kedapatan tertidur sementara Ia sedang berdoa, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Matius 26:40).

Semakin kita bergaul karib dengan Tuhan semakin kita merasakan penyertaan Tuhan lebih nyata lagi. Langkah kaki kita pun secara otomatis akan diarahkan oleh Roh Kudus kepada ketaatan dan penundukan diri sehingga kita dapat berkata, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku
sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20). Sungguh, di dalam doa terkandung kuasa
adikodrati yang memampukan kita untuk melawan pergumulan daging.

Sudahkah kita bertekun dalam doa? Kata bertekun berarti melakukannya terus-menerus dan penuh kesungguhan. Inilah cara menaruh pikiran kita kepada perkara-perkara yang di atas. “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:2).

Jangan berkata bahwa kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus jika kita sendiri tidak pernah berdoa!

Baca: 1 Tesalonika 5:12-22

Image source: https://www.bible.com/verse-of-the-day/1TH.5.17-18.KJV/13767?version=1

 

MENGALIR BERSAMA ROH KUDUS (2)

MENGALIR BERSAMA ROH KUDUS (2)

“Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.” Yehezkiel 47:12

Seberapa besar kerinduan kita terhadap Roh Kudus? Adakah kerinduan itu seperti yang dirasakan oleh Daud, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.” (Mazmur 42:2-3a). 

Saat kita merindukan kehadiran-Nya Ia akan datang melawat dan memenuhi hati kita. Saat itu pula Roh Kudus akan memuaskan rasa tenggelam di da-lam aliranNya. Inilah permulaan kita bertumbuh secara rohani! Ketika kita semakin masuk di kedalaman sungai Tuhan, mulai dari pergelangan kaki, lutut, pinggang, hingga kita hanyut dan berenang di dalamnya, maka sesuatu yang tidak pernah kita alami sebelumnya akan Tuhan kerjakan dalam hidup kita, yaitu “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9). 

Saat itulah kita akan dibawa kepada tingkat kehidupan yang berkualitas dan berdampak sehingga kita mampu menjadi berkat bagi orang lain. Kehidupan seseorang yang mengalir bersama Roh Kudus diibaratkan seperti pohon yang “…daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.” (ayat nas). Inilah dampak yang dihasilkan ketika kita mengalir dan tenggelam bersama Roh Kudus. 

Ketika kita hidup mengalir bersama Roh Kudus, “…apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3). Berkat, kemurahan dan kebaikan Tuhan akan mengalir senantiasa di dalam kita sehingga kita tidak lagi merasa ker-ing dan gersang, tapi kita akan merasakan kesegaran dan kesejukan. 

Ada dampak yang luar biasa ketika seseorang mengalir bersama Roh Kudus, hidupnya diberkati Tuhan secara luar biasa dan menjadi berkat bagi orang lain.

Baca: Yehezkiel 47:1-12