Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 3)
Berpuasa, Merendahkan Diri dan Bertobat

Berpuasa, Merendahkan Diri dan Bertobat

Senin. Berpuasa, Merendahkan Diri dan Bertobat

Baca:  Ezra 8:21-30

“Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.”  Ezra 8:23

Ketika hendak memimpin rombongan orang-orang Israel kembali ke Yerusalem setelah menjadi tawanan di Babel, Ezra dihadapkan pada dua pilihan:  langsung meminta pertolongan kepada raja  (apalagi ia memiliki hubungan yang dekat dan dipercaya raja), atau datang kepada Tuhan meminta campur tangan-Nya.

Tercatat bahwa Ezra membuat keputusan yang benar yaitu mencari Tuhan dengan sungguh.  Hal itu menunjukkan bahwa ia tidak bertindak menurut akalnya sendiri atau menggunakan jurus  ‘aji mumpungnya’  dengan berharap kepada raja.  Kesungguhannya mencari Tuhan ditunjukkan dengan memaklumkan puasa kepada seluruh rakyat:  “Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami. Karena aku malu meminta tentara dan orang-orang berkuda kepada raja untuk mengawal kami terhadap musuh di jalan; sebab kami telah berkata kepada raja, demikian: ‘Tangan Allah kami melindungi semua orang yang mencari Dia demi keselamatan mereka, tetapi kuasa murka-Nya menimpa semua orang yang meninggalkan Dia.’ Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.”  (ayat 21-23).

Berpuasa dengan disertai berbagai permintaan kepada Tuhan, tanpa terlebih dahulu merendahkan diri dan bertobat, tidak akan mendatangkan faedah apa-apa.  Puasa yang sesuai dengan kehendak Tuhanlah yang dapat mendatangkan kuasa, menggerakkan tangan Tuhan untuk berbuat sesuatu.  Sekalipun keadaan sepertinya tidak ada harapan, asal kita mau datang kepada Tuhan dengan merendahkan diri dan berpuasa, jalan pemulihan pasti terbuka.  Puasa kudus adalah obat mujarab untuk segala macam kesulitan dan kesesakan.  Namun tidak sedikit orang melakukan puasa dengan tujuan bukan rohaniah, misalnya ingin menguruskan badan  (diet), atau melakukan puasa hanya karena kebiasaan  (rutinitas)  dengan bergantung pada hari-hari tertentu.

Berpuasa harus punya tujuan yang khusus ke hadirat Tuhan, dan tujuan utama berpuasa adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bertobat!


Selasa. Berpuasa: Melepaskan Belengu Dosa

Baca:  Yesaya 58:1-12

“Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.”  Yesaya 58:4

Tuhan tidak pernah melihat cara berpuasa secara lahiriah, yang Ia perhatikan adalah hati.  Puasa seseorang akan menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan sikap hati yang benar, atau tetap melakukan perbuatan dosa  (terbelenggu dosa).  Adalah penting sekali kita menyediakan waktu secara khusus untuk berdoa dan berpuasa supaya dengan pertolongan Roh Kudus kita dilepaskan dari roh-roh jahat yang selama ini membelenggu hidup kita:  roh percabulan, roh kesombongan, roh iri dengki, roh amarah, roh sulit mengampuni dan sebagainya.  Puasa jenis ini adalah bentuk pertobatan secara pribadi!

Secara terperinci, jujur dan terbuka kita mengakui segala dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan.  Jangan pernah menyembunyikan dosa sekecil apa pun, sebab  “…tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”  (Ibrani 4:13).  Dosa harus benar-benar dibereskan di hadapan Tuhan secara tuntas, jika tidak, pertumbuhan rohani kita tidak akan pernah maksimal dan berkat-berkat Tuhan pun akan menjadi terhalang.  Karena itu kita harus menjadi orang Kristen yang benar-benar merdeka, terbebas dari segala belenggu dosa dan kuk.  Tuhan berkata,  “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,”  (Yesaya 58:6).

Kesalahan yang sering dilakukan ketika sedang berpuasa yaitu berpuasa tanpa disertai pertobatan.  Puasa model demikian tak lebih dari sekedar rutinitas dan hanya akan menyiksa badan tanpa membawa hasil, karena  “…suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.”  (ayat nas), doa kita tidak akan didengar Tuhan.  Berpuasa yang benar adalah belajar menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.  Menyalibkan kedagingan itu memang sakit, tetapi buahnya kelak pasti manis.

Puasa yang benar adalah puasa yang disertai dengan pertobatan, olehnya kita dibebaskan dari belenggu dosa dan menjadi seorang yang lebih dari pemenang!


Rabu. BUKAN SIAPA-SIAPA DI MATA MANUSIA
Baca: Hakim-Hakim 3:31

“Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya.”  Hakim-Hakim 3:31

Kebanyakan orang berpikir bahwa Tuhan hanya akan memakai orang-orang yang di pandangan manusia memiliki banyak kelebihan:  cerdas, pintar, kaya, cantik, tampan atau punya sesuatu yang dibanggakan di hadapan sesamanya.  Tuhan tidak pernah memperhatikan apa pun yang tampak hebat secara kasat mata!  Yang Tuhan perhatikan dan perhitungkan adalah respons hati seseorang ketika menerima panggilan Tuhan.  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;”  (Amsal 19:22).  Apalah artinya seseorang tampak hebat di mata manusia, atau punya multi talenta, jika ia sendiri tidak mau mengembangkan potensi yang ada dengan penuh kesetiaan.

Samgar adalah orang sederhana yang hanya berprofesi sebagai peternak atau petani, suatu profesi yang dipandang remeh, sepele dan sangat tidak diperhitungkan oleh manusia, namun justru dipilih Tuhan untuk melakukan perkara yang luar biasa.  Karena namanya hanya disebut sebanyak 2X di Alkitab, tidaklah mengherankan jika nama Samgar masih terdengar asing di telinga, padahal ia adalah salah satu tokoh hebat di Israel.  Ia hidup pada masa setelah Ehud sukses menundukkan bangsa Moab  (sehingga bangsa Israel menjadi aman selama 80 tahun).  Kalahnya bangsa Moab tidak membuat bangsa Israel terbebas dari musuh sepenuhnya, karena ada banyak musuh yang sewaktu-waktu bisa datang, salah satunya adalah bangsa Filistin.  Di tengah ancaman bangsa Filistin ini tampillah Samgar sebagai pahlawan bagi bangsanya.

Meski hanya berbekal tongkat penghalau lembu  (tongkat yang terbuat dari kayu panjangnya kira-kira 8 feet  (2,4m), dilengkapi paku-paku besi runcing di ujungnya, biasanya berfungsi menggiring lembu pada waktu membajak tanah)  Samgar mampu menewaskan 600 tentara Filistin.  Tongkat penghalau lembu adalah tongkat biasa, tapi jika Tuhan turut campur tangan,  “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?”  (Kejadian 18:14a).  Mungkin di mata manusia kita ini bukanlah siapa-siapa, tapi jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah lawan kita?

“Tetapi…apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,”  1 Korintus 1:27


Kamis. HAJARAN TUHAN UNTUK MENYELAMATKAN
Baca: Mazmur 94:1-23

“Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,”  Mazmur 94:12

Mendengar kata hajaran pasti timbul kengerian di benak kita, karena terbayang keadaan seseorang yang sedang merintih kesakitan dalam kondisi babak belur, terluka dan berdarah-darah akibat menerima pukulan.  Dalam kehidupan Kristiani, menerima hajaran dari Tuhan adalah perkara yang tak bisa dihindari, terlebih-lebih jika kita berlaku menyimpang dari firman Tuhan, siap-siaplah menerima  ‘hajaran’  Tuhan.

Tuhan menghajar umat-Nya bukan berarti membenci atau tidak mengasihi kita, justru hajaran-Nya adalah wujud kasih-Nya kepada kita.  Hajaran Tuhan adalah bentuk proses pendisiplinan supaya hidup kita semakin sempurna dan lebih baik dari sebelumnya.  Tidak sedikit orang Kristen yang mulai meninggalkan Tuhan, tidak lagi bersungguh-sungguh dalam hal-hal rohani setelah hidupnya diberkati atau mengalami kelimpahan.  Karena itu perlu sekali Tuhan mengijinkan masalah atau memberikan jalan yang tidak rata, hidup yang ada tantangannya.  Itu pertanda bahwa Tuhan sedang menegur;  tetapi jika tetap saja mengeraskan hati, mulailah Tuhan harus menghajar.  Setiap hajaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Dia menghajar dengan target dan tujuan secara khusus.  Karena itu milikilah respons yang benar ketika sedang dihajar dan diproses Tuhan seperti Ayub yang bisa berkata,  “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).

Sampai berapa lama Tuhan menghajar kita?  Itu sangat tergantung pada respons kita, apakah kita segera sadar dan mau menyerah penuh kepada Tuhan.  Kalau kita terus memberontak dan mengeraskan hati maka hajaran Tuhan akan berlangsung lama seperti yang dialami oleh bangsa Israel yang harus  ‘diproses dan dihajar’  Tuhan selama 40 tahun di padang gurun.  Karena itu pemazmur berkata,  “Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka,”  (Mazmur 94:12-13).  Orang yang memiliki kepekaan rohani tidak akan pernah memberontak atau pun lari ketika sedang  ‘dihajar’  Tuhan.

“Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.”  1 Korintus 11:32


Jumat. SUDAHKAH BENAR-BENAR PERCAYA?
Baca: Yohanes 3:31-36

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”  Yohanes 3:36

Percaya kepada Yesus sebagai  Tuhan adalah sesuatu yang luar biasa, sangat berharga, mulia, tak ternilai dan tak bisa digantikan dengan uang, emas, perak, harta, atau apa pun yang ada di dunia.  Mengapa?  Sebab percaya kepada-Nya adalah syarat untuk memperoleh hidup yang kekal.  Namun tidak sedikit orang datang kepada Yesus bukan karena percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat,  “…melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”  (Yohanes 6:26).  Mereka mencari Tuhan Yesus didorong oleh motif yang tidak murni:  ingin berkat, mujizat, kesembuhan dan sebagainya.

Ketika percaya kepada Tuhan Yesus tidak secara otomatis kita menjadi kaya materi, bebas dari masalah atau krisis, semua berjalan mulus atau apa yang kita inginkan terpenuhi!  Itu yang kurang dipahami oleh semua orang;  begitu fakta berkata lain, kita pun terus membanding-bandingkan keadaan semasa berada di Mesir, dan timbul niat untuk kembali ke sana.  Percaya kepada Tuhan Yesus berarti mengenal Dia secara pribadi, percaya perkataan-Nya, mengimani setiap janji-janji-Nya, dan percaya segala sesuatu yang telah Kristus perbuat.  Inilah pengakuan Petrus,  Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”  (Yohanes 6:68-69).

Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus akan menempatkan Dia sebagai Raja dan Pemimpin bagi kehidupannya sehingga ia akan taat melakukan apa yang diperintahkan-Nya.  Selain itu orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan pasti tidak akan pernah mendua atau bercabang hati, melainkan berkomitmen untuk mengabdikan diri kepada Tuhan di segala keadaan, bahkan sampai akhir hidupnya, sebab ada tertulis:  Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  (Matius 6:24).

Sebagai orang percaya jangan sekali-kali kita melepaskan kepercayaan kepada Tuhan Yesus, apa pun alasannya, karena upah besar menanti kita!


Sabtu. KEBERHASILAN KARENA TINGGAL DALAM FIRMAN (1)
Baca: Mazmur 1:1-6

“tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”  Mazmur 1:2

Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan hidup seseorang sangat ditentukan oleh kecerdasan intelektual atau kecerdasan dalam bidang akademik  (IQ)  sepenuhnya.  Benarkah?  Riset justru menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual  (IQ)  ternyata hanya menyumbang 20% dari keberhasilan seseorang, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor lain yaitu kecerdasan emosional  (EQ).  Kecerdasan emosional  (EQ)  adalah kemampuan untuk mengenali, memahami dan mengelola emosi kita sendiri dan emosi orang lain secara positif.  Karena itu orang yang memiliki kecerdasan emosional  (EQ)  tinggi akan mampu berkomunikasi lebih baik, membentuk hubungan yang lebih kuat dan mencapai sukses yang lebih besar di tempat kerja ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan emosional  (EQ)  berbicara tentang karakter atau perilaku hidup seseorang.  Bagi orang percaya pedoman utama untuk meningkatkan kecerdasan emosional  (EQ)  adalah Alkitab, sebab  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”  (2 Timotius 3:16).  Penting sekali memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan.  Ada tertulis:  “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.”  (Hosea 4:6).  Untuk memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan kita harus menyediakan waktu untuk membaca, mempelajari dan merenungkan firman Tuhan itu siang malam, dan menjadikan hal itu sebagai gaya hidup, bukan untuk keterpaksaan, seperti Daud yang berkata,  “…Taurat-Mu adalah kegemaranku.”  (Mazmur 119:77).

Pemazmur menyatakan keberadaan orang yang tinggal dalam firman  “…seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”  (Mazmur 1:3).

Semakin kita merenungkan firman Tuhan siang malam semakin kita tahu tentang kunci untuk mengalami penggenapan janji Tuhan dan meraih keberhasilan hidup!


Minggu.KEBERHASILAN KARENA TINGGAL DALAM FIRMAN (2)
Baca: Yesaya 55:6-13

“demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”  Yesaya 55:11

Ayat nas menegaskan bahwa setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia, melainkan akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya.  Luar biasa!  Karena itu jangan pernah menganggap remeh atau sepele ayat-ayat firman Tuhan!

Pemazmur memiliki pengalaman hidup yang luar biasa ketika ia senantiasa  ‘tinggal’  di dalam firman Tuhan,  Dikatakan,  “Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana…lebih berakal budi…lebih mengerti…”  (Mazmur 119:98-100);  bijaksana  (Ibrani:  chakam)  berarti kemampuan dalam teknik bekerja, kecerdasan, kelihaian atau kecerdikan.  Ini sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup karena ada banyak tantangan yang menghadang langkah kita, dan firman Tuhan memberikan pedoman bagaimana kita tetap kuat berdiri dan tidak mudah terjatuh;  berakal budi  (Ibrani:  sakal)  artinya sangat berhati-hati, cerdas, punya kapasitas untuk sebuah pengertian.  Sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat, jika kita tidak berakal budi kita akan mudah sekali terbawa arus dunia ini, dan gampang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan;  mengerti  (Ibrani:  biyn)  artinya melihat, kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan yang salah.  Firman Tuhan membuat kita memiliki kepekaan rohani sehingga mampu membaca situasi dan peristiwa apa pun.

Alkitab menyatakan bahwa  “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”  (Matius 24:35).  Karena tahu persis dan memiliki pengalaman hidup betapa firman Tuhan itu berkuasa dan memberi keuntungan besar dalam hidupnya, maka di hari-hari akhir hidupnya Daud pun berpesan kepada Salomo,  “Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,”  (1 Raja-Raja 2:3).

“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.”  Mazmur 33:9

 

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

Monthly Theme: Menyelesaikan Amanat Agung Diperlengkapi Kuasa Roh Kudus

PENDAHULUAN

Allah memberikan kehendak bebas ketika menciptakan manusia. Bukti bahwa manusia diciptakan “segambar” dan “serupa” dengan Allah adalah manusia diberi akal budi untuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusan. Manusia tidak diciptakan bagai sebuah robot/mesin yang hanya beroperasi sesuai dengan tombol perintah dari “sang operator”. Waktu menghadapi banyak pilihan, sebagai makhluk berakal budi, manusia dilatih untuk dapat menimbang-nimbang segala pilihan-pilihan itu, inilah yang disebut dengan kehendak bebas.

ISI

Di Taman Eden, pohon pengetahuan yang baik dan jahat tidak dilenyapkan oleh Tuhan sebagai bukti bahwa Ia menghargai kehendak bebas manusia. Manusia diajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuatnya, karena ada konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Tuhan memberikan kehendak bebas (kemerdekaan) dalam memilih sebagai cerminan pemberian kedaulatan Tuhan bagi manusia dalam porsi yang terbatas. Kehendak bebas manusia sama sekali tidak dapat melunturkan Kemahakuasaan dan Kedaulatan Tuhan.

Mengenai kemerdekaan/kebebasan manusia, ada peringatan keras dalam Galatia 5:13. Walaupun manusia dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan, jangan sampai kehendak bebas itu digunakan untuk hidup dalam dosa yang dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri. Sebaliknya, kemerdekaan itu hendaknya dipakai untuk dapat melayani/membangun satu dengan lainnya atas dasar kasih sesuai dengan kehendak Tuhan.

Barry Schwartz, lewat Paradox of Choice menyatakan bahwa ada dua jenis kebebasan atau kemerdekaan:
• Kebebasan Negatif (Negative Freedom): adalah bebas dari perintah dan aturan. Dengan bebas dari perintah dan aturan, manusia menjadi makhluk liar.
• Kebebasan Positif (Positive Freedom): adalah suatu keadaan dimana dengan kebebasan yang dimiliki, manusia memilih untuk melakukan isi perintah dan aturan yang dapat memaksimalkan potensinya.

Bila kebebasannya digunakan secara negatif, manusia menjadi bebas sebebas bebasnya, tanpa aturan, tanpa hukum, tanpa etika, tanpa moral, tanpa mempertimbangkan hak dan kewajiban sesamanya; dan manusia akan menjadi makhluk yang liar. Tapi bila kebebasannya digunakan untuk memilih yang baik dan benar, maka lewat pilihannya itu, ia dapat memaksimalkan potensi dirinya sendiri dan juga potensi orang lain, sehingga apa yang sudah dirancangkan oleh Allah Sang Pencipta dapat dicapai secara penuh.

Tuhan menghendaki manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk menaati kehendak-Nya. Allah ingin manusia mengikuti kehendak-Nya bukan karena terpaksa, melainkan dengan sadar memilih untuk taat akan perintah Tuhan. Inilah tujuan Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia; di tengah-tengah segala pilihan yang ada, manusia tetap dapat menaati kehendak Tuhan. Sayangnya manusia gagal, keliru menggunakan kehendak bebasnya, sehingga jatuh ke dalam dosa. Padahal, jika manusia memilih untuk taat kepada Tuhan, rencana Tuhan akan digenapi dengan sempurna (Kejadian 1:28).

Tuhan tetap bekerja diatas kehendak bebas manusia. Roma 8:28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam “segala sesuatu”, termasuk di dalamnya adalah kehendak bebas manusia. Allah dapat menunjukkan kedaulatan-Nya dalam kehendak bebas manusia.  Ketika saudara-saudara Yusuf merancangkan yang jahat kepadanya, Tuhan tidak melakukan intervensi atas tindakan jahat mereka tapi Allah menggunakan perbuatan-perbuatan jahat saudara-saudara Yusuf tersebut untuk menjadi jalan bagaimana Allah memelihara sebuah bangsa yang besar. Ia dipakai Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan (Kejadian 50:20).

Bagaimana cara menggunakan kehendak bebas dengan benar? Dalam Yohanes 15:7 Tuhan mengatakan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
“Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, terlihat betapa Tuhan juga tetap menghargai kehendak bebas manusia. Bagaimana supaya kehendak bebas manusia tidak dipakai sembarangan sehingga jatuh dalam dosa? Jawabannya adalah, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Supaya tidak salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, manusia harus betul-betul hidup melekat dengan Tuhan dan selaras dengan Firman Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia untuk memiliki pengetahuan (cognitive) yang benar tentang Tuhan dan memiliki pengalaman hidup (affective) bersama dengan Tuhan sehingga manusia dapat menggunakan kehendak bebas yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Cognitive adalah aktivitas mental/proses berpikir yang melibatkan kemampuan otak dalam menerima, memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi. Ini mencakup fungsi seperti belajar, mengingat, memecahkan masalah, penalaran, perhatian, dan pengambilan keputusan. Affective adalah kata sifat yang berkaitan dengan emosi, perasaan, suasana hati (mood), dan sikap seseorang. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana perasaan memengaruhi perilaku, pemikiran, atau reaksi seseorang terhadap stimulus.

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran (cognitive) dan perasaan (affective) yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Untuk menjadi seperti Yesus, seorang pribadi yang kuat membutuhkan keseimbangan antara cognitive (pikiran) dan affective (perasaan) seperti Filipi 2:5 dan Galatia 5. Supaya manusia tidak tersesat dalam kehendak bebasnya, ia harus hidup sesuai dengan pimpinan Roh Kudus, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16).

PENUTUP

Diskusi:
Mengasihi Tuhan bukan sekedar perasaan sayang/kasih, tetapi harus didemonstrasikan dengan ketaatan (Yohanes 14:15). Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan memakai kemerdekaan/kehendak bebas kita untuk taat melakukan perintah Tuhan; hidup di pimpin Roh Kudus dan Firman Tuhan. Baca Galatia 5:13.

HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (2)

HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (2)

Senin. HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (2)

Baca: 1 Korintus 6:12-20

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan?” 1 Korintus 6:15

Alkitab menyatakan bahwa situasi akhir zaman akan sama seperti zaman Sodom, Gomora dan zaman Nuh, di mana dosa seks (percabulan) dan kejahatan begitu merajalela. “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.” (Lukas 17:26-29).

Sekarang ini kejahatan seksual semakin hari semakin meningkat: pencabulan terhadap anak di bawah umur, pemerkosaan, prostitusi, penyimpangan seks yang akhirnya memunculkan istilah ‘LGBT’. Tertulis: “…isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.” (Roma 1:26-27). Situasi serupa juga terjadi di Korintus di masa pelayanan rasul Paulus. Kemerosotan moral mengakibatkan orang kehilangan perasaan berdosa dan menganggap dosa seksual sebagai hal yang biasa dan lagi ngetren.

Rasul Paulus memperingatkan bahwa “…tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.” (1 Korintus 6:13). Karena itu “…matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).” (Kolose 3:5-6). Bila ingin hidup tidak bercacat dan tidak bernoda di hadapan Tuhan, tidak ada jalan lain, selain harus menjaga kekudusan hidup dan menjauhkan diri dari segala kecemaran.

Orang percaya dipanggil untuk melakukan apa yang kudus, bukan yang cemar!


Selasa. MENANTIKAN TUHAN: Ibadah Dengan Sungguh

Baca: Mazmur 2:1-12

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar,” Mazmur 2:11

Kita semua tidak tahu secara pasti kapan Kristus datang, namun melihat fakta-fakta yang ada (kekristenan mengalami tekanan yang semakin berat, munculnya organisasi tertentu yang ditunggangi roh antikristus untuk melakukan penganiayaan terhadap orang percaya, bencana alam yang datang silih berganti dan sebagainya) semakin memperjelas bahwa Tuhan datang tidak akan lama lagi. Siapakah kita menyambut kedatangan Tuhan?

Hal mendasar yang harus kita perhatikan adalah perihal ibadah! Apakah selama ini kita sudah beribadah kepada Tuhan dengan sungguh? Orang yang sungguh-sungguh beribadah pasti mengalami kuasa ibadah itu sendiri. Kenyataannya, meski banyak orang tampak aktif ke gereja setiap Minggu, tidak semua mengalami kuasa ibadah, karena mereka beribadah kepada Tuhan dengan sikap hati yang benar. Ada tertulis: “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.” (Pengkhotbah 4:17). Ibadah dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai service, artinya pelayanan, sedang dalam bahasa aslinya adalah abodau yang artinya bekerja, melayani Tuhan, dan menjadikan diri sebagai seorang hamba. Ada pun kata hamba selalu identik dengan labour yang artinya bekerja keras. Jadi ibadah yang benar itu bukan sekedar duduk, memuji Tuhan ala kadarnya dan mendengarkan firman Tuhan sambil lalu, tetapi kita bekerja keras untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan.

Di Perjanjian Lama untuk beribadah kepada Tuhan setiap orang harus membawa korban binatang seperti domba, kambing, burung merpati dan sebagainya. Kini kita tidak perlu lagi membawa korban binatang ketika datang beribadah, karena Kristus sudah mati menjadi korban tebusan bagi kita melalui kematian-Nya di kayu salib, namun hal ini tidak boleh mengubah arti ibadah yang sesungguhnya yaitu kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan (baca Roma 12:1).

“…ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” 1 Timotius 4:8


Rabu. KEGAGALAN BUKANLAH AKHIR SEGALANYA

Baca: Amsal 24:15-20

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” Amsal 24:16

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan di sepanjang hidupnya, bukan sekali atau dua kali, tapi mungkin berkali-kali. Ketika gagal kebanyakan orang merespons dengan sikap negatif: menyerah dan berputus asa. Namun sebagai orang percaya kita diajar untuk tidak gampang menyerah dalam situasi apa pun, melainkan terus berusaha dan berjuang. Ketika gagal adakalanya kita merasa lelah untuk berdoa dan berharap, lalu kita mulai membuat banyak banyak alasan untuk berhenti berdoa dan berusaha. Ada tertulis: “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” (Pengkhotbah 11:4). Tuhan tidak menghendaki kita terpaku kepada kegagalan-kegagalan masa lalu, melainkan terus maju menatap ke depan.

Justru kita harus menjadikan kegagalan sebagai cambuk untuk kita keluar dari zona nyaman dan mengijinkan Tuhan untuk bekerja lebih lagi di dalam kita. “…aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6). Tetaplah percaya kepada Tuhan bahkan saat kita berada di titik terendah sekali pun dan tak berdaya, sebab “Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.” (Mazmur 121:3-5). Janji Tuhan adalah ya dan amin, tiada janji yang tak ditepatiNya!

Yusuf adalah salah satu contoh orang yang mengalami berbagai masalah berat dan berada di situasi yang seolah-olah mengantarkannya kepada kehancuran; namun ketika ia terus menjaga konsistensi iman dan tetap mempertahankan hidup benar di hadapan Tuhan, proses demi proses yang dijalaninya semakin mengantarkannya kepada penggenapan janji Tuhan, karena dalam segala perkara Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Oleh karena itu jangan sekali-kali bersandar pada apa yang kita lihat secara jasmani, melainkan percayalah pada kuasa adikodrati-Nya! (Baca Mazmur 37:5).

“Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.” Mazmur 126:1


Kamis. MEMBANGUN YANG TELAH MUSNAH

Baca: Yehezkiel 36:1-38

“Dan bangsa-bangsa yang tertinggal, yang ada di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang membangun kembali yang sudah musnah dan menanami kembali yang sudah tandus. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.” Yehezkiel 36:36

Keadaan dunia sekarang ini semakin tidak menentu, tak seorang pun termasuk para ahli dapat menebak segala sesuatunya karena banyak hal yang tak terduga terjadi. Jika demikian, apa yang bisa dibanggakan dalam hidup seseorang selain harus bergantung penuh kepada Tuhan? Tidak sedikit orang frustasi karena apa yang semula diyakini akan berhasil justru menuai kegagalan dan kehancuran.

Secara akal apa yang sudah hancur tak mungkin bisa dipulihkan kembali. Benar, orang-orang di luar sana boleh saja berkata seperti itu, tapi orang percaya tidak seharusnya bersikap demikian, sebab kita selalu memiliki harapan di dalam Tuhan. “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Asalkan kita sungguh-sungguh mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan mengandalkan Dia, masalah separah apa pun pasti ada pertolongan dan jalan keluarnya karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sanggup membangun kembali apa yang telah musnah. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” (Matius 12:20).

Jangan terprovokasi oleh bisikan Iblis yang selalu berusaha melemahkan dan menghancurkan hidup kita! Sekalipun keadaan sudah teramat parah dan secara manusia tak mungkin untuk dipulihkan dan diperbaiki, tetaplah arahkan pandangan kepada Tuhan Yesus, Dia Tuhan yang Mahabesar, jauh lebih besar dari masalah apa pun di dunia ini, yang kasih dan kuasa-Nya tak pernah berubah dari dahulu, sekarang dan selamanya, “…yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2). Tuhan Yesus menegaskan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6). Karena itu jangan sekali-kali mencari jalan atau pertolongan di luar Dia! Tuhan Yesus lebih dari cukup bagi kita, sebab sekalipun kita jatuh, “…tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:24).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan untuk mengubah keadaan orang benar!


Jumat. MENCARI TUHAN: Rahasia Keberhasilan Hidup

Baca: 2 Tawarikh 14:2-15

“Ia memerintahkan orang Yehuda supaya mereka mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dan mematuhi hukum dan perintah.” 2 Tawarikh 14:4

Rancangan Tuhan bagi orang percaya adalah rancangan hidup yang penuh dengan kemenangan, keberhasilan, kelimpahan dan hari depan yang berpengharapan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Supaya rancangan Tuhan tergenapi dalam hidup ini kita harus terlebih dahulu mengerjakan apa yang menjadi bagian kita: “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,” (Yeremia 29:13). Orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh pasti akan menemukan Dia, “…sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.” (Mazmur 9:11).

Sepanjang masa pemerintahan Rehabeam dan Abia terjadi kemerosotan rohani di Israel karena penyembahan berhala begitu meningkat dan berbagai tempat penyembahan berhala didirikan. Namun ketika Asa menjadi raja, ia mulai membersihkan Yehuda dari penyembahan berhala dan mendorong umat mencari Tuhan yang benar dan menaati perintah-perintah-Nya. Raja Asa “…melakukan apa yang baik dan yang benar di mata TUHAN, Allahnya. Ia menjauhkan mezbah-mezbah asing dan bukit-bukit pengorbanan, memecahkan tugu-tugu berhala, dan menghancurkan tiang-tiang berhala.” (2 Tawarikh 14:2-3), lalu mencari Tuhan dengan sungguh. Kata mencari Tuhan ditulis sebanyak 29X dalam seluruh kitab Tawarikh ini, menunjukkan bahwa mencari Tuhan adalah faktor penting dalam kehidupan ini. Mencari Tuhan dengan sungguh berarti berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, punya rasa haus dan lapar akan kebenaran dan kehadiran Tuhan, taat mengikuti kehendak Tuhan, dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Sebagai raja, sesungguhnya Asa punya otoritas dan kuasa, namun ia tidak mengandalkan apa yang dimiliki, melainkan mencari Tuhan dan mengandalkan-Nya. Karena kesungguhannya mencari Tuhan, apa yang dilakukan Asa berhasil: Zerah beserta tentaranya yang berjumlah sejuta orang dan tiga ratus keretanya dikalahkan.

Tuhan memberi upah kepada orang yang sungguh mencari Dia (baca Ibrani 11:6).


Sabtu. JANGAN TUNDA WAKTU UNTUK BERTOBAT (1)

Baca: Yoel 2:12-17

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” Yoel 2:13

Nama Yoel memiliki arti Yehovah adalah Allah. Ada pun kata kunci dari kitab Yoel ini adalah tentang hari Tuhan. Pada zaman Yoel ini bermacam-macam belalang menyerbu dan tidak menyisakan satu pun tanaman di dataran Palestina. Hama belalang menimpa seluruh negeri sehingga tumbuh-tumbuhan rusak karena serangan ini. Ini menjadi bencana nasional! Yoel memperingatkan bahwa serangan belalang ini merupakan hukuman Tuhan sebagai dampak dari dosa-dosa yang diperbuat manusia. Yoel pun mengingatkan umat Israel akan kedatangan hari Tuhan, itulah sebabnya Yoel terkenal dan dikenal sebagi nabi hari Tuhan.

Ditimpa bencana hama belalang saja sudah mendatangkan penderitaan dan kengerian yang teramat dahsyat, apalagi jika hari Tuhan yang sesungguhnya itu datang, pasti akan jauh lebih dahsyat lagi. Bagi orang percaya yang setia dan taat melakukan kehendak Tuhan, hari Tuhan itu akan menjadi hari kelepasan dan penuh sukacita, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:4).

Sebaliknya bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan tetap hidup dalam dosa, hari Tuhan akan menjadi malapetaka, karena penghukuman kekal sudah ada di depan mata. Maka sebelum terjadi, harapan satu-satunya untuk mengubah malapetaka menjadi sesuatu yang mendatangkan kelepasan dan sukacita adalah melalui pertobatan. Karena itu Yoel menyerukan umat Israel untuk segera bertobat dari kehidupan mereka yang jahat. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” (Ibrani 3:15).

Dalam bahasa aslinya kata bertobat itu berarti: berubah arah tujuan, yaitu dari jalan orang berdosa yang selama ini dijalaninya ke arah jalan kehendak Tuhan. Atau secara umum pertobatan selalu mempunyai arti berbalik dari jalan semula, lalu berubah (berbalik dari dosa dan jalan kita) kepada Tuhan. Intinya, pertobatan itu selalu menuju kepada perubahan, yang tentunya ke arah yang baik dan benar. (Bersambung)


Minggu. JANGAN TUNDA WAKTU UNTUK BERTOBAT (2)

Baca: Yoel 2:12-17

“Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.” Yoel 2:14

Tuhan memakai hama belalang sebagai teguran dan bentuk pendisiplinan terhadap umat Israel yang telah menyimpang dari jalan-jalan-Nya. Ini adalah momentum tepat bagi mereka untuk menginstropeksi diri dan bertobat. Selagi waktu masih bergulir, selagi pintu kesempatan masih terbuka, jangan tunda-tunda waktu lagi untuk bertobat, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, “‘Tetapi sekarang juga,’ demikianlah firman TUHAN, ‘berbaliklahh kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.'” (ayat 12). Jika tidak, maka ‘hari Tuhan’ akan datang sebagai bencana yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan daripada hama belalang.
Tuhan mengutus Yoel untuk menyerukan pertobatan secara massal disertai dengan puasa. “Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah,” (ayat 15-17). Tujuan diadakannya puasa raya ini adalah untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan dan bertobat. Mereka juga diperintahkan untuk ‘mengoyakkan hati’, artinya datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan patah, sebab tertulis: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19); dan inilah janji Tuhan, “…umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14).

Sekarang ini bencana terjadi di mana-mana: banjir bandang, gempa bumi, tindak kejahatan, konflik, perpecahan dan sebagainya -yang tidak kalah hebat dari bencana belalang- sedang terjadi.

Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya untuk memulihkan keadaan yang ada apabila kita hidup dalam pertobatan, baik itu secara pribadi maupun bangsa.

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

MISI UMAT PILIHAN (1 Petrus 2:9)

PENDAHULUAN

Pemahaman yang benar akan identitas orang percaya dalam 1 Petrus 2:9 membawa kepada kesadaran akan tugas panggilannya. Di dalam identitas itu terkandung misi yang harus dijalani. Gereja/orang percaya hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjalankan misi Allah, yaitu untuk menyatakan keagungan-Nya yang telah memanggil kita dari kuasa dosa dan keputusasaan (kegelapan) menuju kebenaran dan kebebasan (terang Tuhan yang ajaib).

ISI

Identitas orang percaya

Kita disebut sebagai bangsa yang terpilih karena meresponi berita Injil Kristus dengan iman dan ketaatan. Sebagai imam Allah yang rajani, diberikan kuasa otoritas menjadi kepala untuk tujuan melayani dan membawa orang dunia mengenal kebenaran (bukan untuk dilayani dan menyalahgunakan kuasa). Menjadi pendoa syafaat, membawa orang lain menyembah Tuhan, menjadi berkat, dan menjadi agen transformasi yang membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan bangsa-bangsa. Kita dipanggil untuk memiliki cara hidup yang berbeda dari dunia supaya dapat hidup bagi Allah di dalam kekudusan sejati.

Misi orang percaya

Memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah, artinya menjadi saksi Kristus yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemuliaan Allah kepada orang lain. Misi dilakukan bukan dengan perkataan saja, tapi dibuktikan dengan gaya hidup dan buahnya yang mencerminkan Pribadi Kristus. Perkataan tanpa bukti perubahan hidup (transformasi nilai dan karakter) adalah misi yang tidak valid (artinya sama saja tidak menjalankan misi).

Menjalankan misi Tuhan di dunia bukanlah perkara mudah; diperlukan iman yang teguh, sikap yang konsisten  dan manusia roh yang dewasa untuk bisa bergerak maju di tengah kesulitan, aniaya  serta perlawanan dari penguasa dunia yang membutakan banyak orang (Iblis dan ilah-ilah jaman). Mereka yang hidup oleh iman kepada Kristus memang akan alami ujian berupa masalah, tantangan, dan penderitaan. Meskipun begitu, misi Allah tidak dapat dibatasi/digagalkan oleh hal-hal tersebut, sebab semua yang lahir dari Allah dapat mengalahkan dunia. Justru melalui masalah dan penderitaan, iman orang percaya semakin dikuatkan dan dimurnikan sehingga memancarkan terang kemuliaan Tuhan di tengah dunia yang gelap.

1 Petrus 2:11-16 memberikan panduan praktis untuk menjalankan misi Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Latih diri untuk menjauhi keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11).

Keinginan-keinginan daging membuat kita tidak bisa hidup oleh iman dan taat kepada pimpinan Roh Kudus, sebab keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Perbuatan daging yang harus dimatikan: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala (pemberontakan/ketidaktaatan/kedegilan hati dapat disamakan dengan penyembahan berhala), sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan (saling melukai, menyakiti, pertengkaran yang merusak hubungan dan perasaan orang lain), roh pemecah (gossip, fitnah), kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya.

Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:27).

  1. Miliki cara hidup yang terpuji di tengah komunitas sekitar kita (1 Petrus 2:12).

Menjalankan gaya hidup Kerajaan Allah yang  konsisten membuat orang dunia dapat melihat kebaikan, kasih karunia dan kekudusan Allah melalui perilaku kita. Kelola hubungan dengan orang lain dalam kasih dan takut akan Tuhan; bangun karakter yang berintegritas (mis. jujur, melakukan apa yang kita katakan, bertanggung jawab, disiplin, tepat waktu, berani mengakui kesalahan, berkomitmen, setia, rajin, berdiri di atas kebenaran); jaga sikap dan perkataan, peduli kepentingan orang lain; cekatan/tidak segan menolong, melakukan kebaikan, dlsb. Memiliki cara hidup yang terpuji membuat orang dunia dapat melihat perilaku kita yang baik dan memuliakan Allah pada hari mereka dilawat-Nya.

  1. Berespon benar dalam menghadapi masalah, kesesakan, saat diperlakukan dengan tidak adil atau penderitaan lainnya (1 Petrus 2:21-23).

Jangan bersandar pada pikiran dan cara sendiri, tapi belajar mengikuti teladan Kristus sewaktu Ia dalam menghadapi kesesakan. Tidak hidup dipimpin perasaan tapi memilih berjalan dengan iman, ketaatan serta hanya mengandalkan Tuhan, maka pertolongan dan mukjizat pasti dianugerahkan kepada mereka yang percaya dan mengandalkan-Nya. Kesaksian hidup kita dapat dipakai Tuhan untuk menjangkau orang lain untuk datang kepada-Nya.

  1. Tunduk kepada lembaga pemerintahan (1 Petrus 2:13-14) dan kepada otoritas di atas kita (1 Petrus 2:18-19). Bayar pajak, ikuti aturan-aturan yang berlaku, doakan supaya para pemimpin negara/kota diberi roh takut akan Tuhan dan hikmat ilahi dalam menjalankan tugasnya.

PENUTUP

Panggilan Tuhan bagi kita adalah panggilan yang menuntut rasa hormat dan takut akan Dia. Hal ini mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan anugerah tersebut. Hiduplah sebagai orang merdeka dalam Kristus; jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa gaya hidup kita harus memancarkan misi Kerajaan Allah. Terang di tengah kegelapan dunia. Jangan malah menjadi batu sandungan yang menghalangi orang datang kepada Tuhan Yesus. Bertekunlah dalam doa agar Allah melawat mereka yang belum percaya lewat kehidupan saudara.

SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

Senin. SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

Baca:  2 Samuel 6:1-23

“Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.”  2 Samuel 6:6

Dari pembacaan firman ini kita melihat betapa bersemangatnya bangsa Israel saat membawa tabut Tuhan kembali ke Yerusalem.  “Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.”  (ayat 3, 5).  Tabut adalah tanda kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya dan menjadi pusat dari kehidupan bangsa Israel.

Karena terlalu bersemangat sampai-sampai mereka mengabaikan aturan-aturan yang telah ditetapkan.  Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa tak seorang pun diperbolehkan menyentuh tabut perjanjian, lambang kehadiran Tuhan itu.  “…janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati.”  (Bilangan 4:15).  Namun Uza telah melanggar ketetapan Tuhan itu, yaitu  “…mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu,”  (ayat nas).  Karena keteledorannya ini Uza harus menuai akibatnya,  “…ia mati di sana dekat tabut Allah itu.”  (2 Samuel 6:7).  Ternyata, bermodalkan semangat saja dalam melayani Tuhan tidaklah cukup tanpa disertai pengenalan yang benar akan Tuhan dan taat melakukan kehendak-Nya.  “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  (Hosea 6:6).  Dalam penilaian Tuhan ketaatan itu jauh lebih berharga daripada sekedar semangat dalam melayani, bahkan jauh bernilai dibandingkan dengan korban persembahan kita.

Mungkin kita cakap berkhotbah, menjadi worship leader hebat, atau memiliki jam terbang pelayanan mumpuni, tapi jika kita tidak menjadi pelaku firman, maka apa yang kita lakukan tak lebih seremonial belaka.  Memang kita hidup di bawah kasih karunia, namun setiap pelanggaran atau ketidaktaatan tetaplah memiliki konsekuensi.

Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan  (taat)  adalah tanda kita menghargai hadirat Tuhan!


Selasa. BERSEDIA MEMIKUL SALIB

Baca: Lukas 14:25-35

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Lukas 14:27

Dunia ini dipenuhi dengan ketidakadilan, penyimpangan, kekerasan dan hidup yang mementingkan diri sendiri.  Manusia lebih memilih berjalan menurut kehendaknya sendiri, tidak lagi peduli apakah itu sesat dan merugikan orang lain.  Ketika dihadapkan pada fenomena ini, haruskah orang percaya mengikuti jejak orang dunia dengan pola hidupnya yang bertentangan dengan kebenaran, ataukah tetap teguh meneladani Kristus hidup?

Tuhan Yesus berkata,  “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.”  (Matius 16:19a), namun  ‘kunci’  itu tidak Ia berikan kepada semua orang, hanya kepada mereka yang bersedia untuk membayar harga yaitu memikul salib dan mengikut Dia.  Memikul salib berarti bersedia untuk menyangkal diri sendiri.  Itu tidak mudah, karena kehendak dan kemauan kita cenderung berlawanan dengan kehendak Tuhan.  Kehendak dan kemauan kita adalah melakukan apa yang menyenangkan daging,  “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging;”  (Roma 8:5).  Untuk layak disebut murid Tuhan tidak ada jalan lain selain harus melawan keinginan daging.  Sakit memang!  Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan penderitaan Tuhan Yesus yang sudah memikul salib-Nya, dan salib yang dipikul-Nya adalah masalah terberat yang dihadapi oleh seluruh umat manusia yaitu dosa, dan  “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”  (Matius 8:17), bahkan Ia rela mencucurkan darah-Nya dan mati bagi kita di kayu salib.  Jadi salib yang harus kita pikul setiap hari sesungguhnya tidak sebanding dengan kemenangan yang Tuhan berikan.

Memikul salib juga berarti rela menderita karena kebenaran.  Tuhan Yesus berkata,  “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”  (Matius 5:10-12).

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”  Galatia 5:24


Rabu. SIAPKAH MENGHADAPI PENGADILAN

Baca: 2 Korintus 5:1-10

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”  2 Korintus 5:10

Banyak orang berpikir bahwa hidup di dunia ini hanya satu kali saja, lalu mati dan tamat.  Karena itu ada orang berprinsip:  “Selagi masih hidup mari kita bersenang-senang dan melakukan apa saja yang kita mau.”  Ingatlah bahwa kematian itu bukan akhir dari segalanya, justru menjadi awal dari kehidupan yang sesungguhnya.  “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,”  (Ibrani 9:27).  Manusia lupa bahwa ada penghakiman setelah kematian!

Rasul Yohanes mendapat penglihatan,  “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.”  (Wahyu 20:12).  Apa pun yang diperbuat manusia selama hidup di dunia pada saatnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.  Sesungguhnya Tuhan tidak senang menghukum manusia karena itu Ia mengutus hamba-hamba-Nya untuk memberitakan Injil ke penjuru bumi bahwa  “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  (Yohanes 14:6), dan  “…keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  (Kisah 4:12).  Sungguh teramat disayangkan banyak orang menolak mentah-mentah berita tentang salib,  “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,”  (1 Korintus 1:18).

Hidup ini sungguh teramat singkat, tak lebih dari sebuah persinggahan sementara.  “…jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”  (2 Korintus 5:1).  Karena itu waktu yang terbatas ini mari kita pergunakan sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri sebelum kematian menjemput!

Buat keputusan mulai sekarang, sebab penyesalan di kemudian hari tiada guna.


Kamis PILIHAN ADA PADA MANUSIA SENDIRI

Baca: Wahyu 3:14-22

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”  Wahyu 3:20

Orang bertanya-tanya, jika Tuhan itu berkuasa mengapa Dia seolah-olah membiarkan sakit-penyakit dan kesusahan menimpa semua orang?  Mengapa Ia tidak langsung menyembuhkan atau memberkati?  Tentu saja Tuhan itu Mahakuasa, tetapi Dia hanya akan mengerjakan sesuatu dalam diri seseorang ketika orang itu mengijinkan Dia bekerja.  Ada orang yang berbantah lagi,  “Kalau Tuhan berkuasa, tentunya Ia dapat melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya sendiri!”  Dalam sekejap mata Tuhan pasti sanggup untuk menyembuhkan, memberkati, menolong dan menyelamatkan setiap orang yang berdosa tanpa melalui proses pertobatan.

Tuhan tak ingin manusia ciptaan-Nya itu seperti robot yang dapat dijadikan apa saja.  Sesungguhnya Tuhan dapat saja memaksa setiap orang untuk bertobat dan menerima-Nya sebagai Juruselamat dalam hidupnya.  Tetapi Tuhan memberikan kepada setiap manusia free will  (kehendak bebas), sehingga manusia mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri.  Manusia dapat memilih untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya, atau sebaliknya mereka melakukan seperti orang dunia lakukan saat ini yaitu membenci, menghujat dan menolak Yesus Kristus.  Tuhan Yesus hanya berdiri di depan pintu hati setiap orang dan mengetuk.  Jika kita mendengar suara-Nya dan membukakan pintu hati bagi-Nya, Dia kan masuk ke dalam kehidupan kita.  Jadi Tuhan tak pernah memaksa kita, walaupun sesungguhnya Ia begitu ingin semua orang mendapatkan keselamatan kekal melalui iman percaya kepada-Nya,  “…tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”  (2 Petrus 3:9).

Bahkan setelah seseorang bertobat dan lahir baru ia juga tak kehilangan kehendak bebasnya untuk memilih taat kepada firman atau tidak taat.  Yang harus disadari adalah, bahwa  “…ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,”  (Ibrani 2:2), sebaliknya kalau kita mau taat maka berkatlah yang menjadi bagian hidup kita.

“…barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran;”  Wahyu 22:11


Jumat BERBAHAGIALAH ORANG YANG DIINGAT TUHAN

Baca: Mazmur 25:1-22

“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.”  Mazmur 25:7

Semua orang pasti berharap dirinya selalu diingat dan tidak dilupakan oleh sesamanya, seperti teman, kerabat atau saudara.  Betapa sedih dan kecewanya bila pada suatu kesempatan kita bertemu dengan teman lama, ternyata teman kita itu sudah tidak lagi mengingat kita alias lupa.  Kita patut bersyukur, sekalipun manusia bisa saja melupakan dan tidak lagi mengingat kita tapi Tuhan tak pernah melupakan kita.  “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”  (Mazmur 8:4-5).

Alkitab menegaskan orang benarlah yang selalu diingat oleh Tuhan,  “…orang benar itu akan diingat selama-lamanya.”  (Mazmur 112:6).  Namun ada seorang penjahat yang diingat Tuhan, karena pada saat akhir perjalanan hidupnya ia merendahkan diri dan berpengharapan penuh kepada Tuhan.  Oleh karena imannya itu Ia tidak lagi memperhitungkan dosa-dosanya, sebaliknya Ia mengingat dan menyelamatkannya.  Orang itu adalah salah seorang penjahat yang disalibkan bersama Tuhan Yesus.  Ketika penjahat lain menghujat-Nya,  “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”  (Lukas 23:39), tetapi penjahat yang satunya justru berkata,  “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”  (Lukas 23:42).  Ketika Tuhan Yesus dalam keadaan tak berdaya, masih tergantung di atas kayu salib, penjahat ini percaya bahwa Dia adalah Raja.  Karena imannya berkatalah Tuhan Yesus kepadanya,  “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”  (Lukas 23:43).

Walaupun tadinya penjahat itu sama seperti penjahat lain di sebelah Tuhan Yesus, namun ia telah membuat keputusan penting dalam hidupnya yaitu bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pada saat ia masih berada di atas kayu salib.  Ia menerima Tuhan Yesus sebagai Raja sebelum ia mati.

Kehidupan di masa lalu tak menentukan keselamatan:  asal kita mau bertobat, langkah terakhir dari hidup ini yang menentukan!


Sabtu SANJUNGAN YANG MELENAKAN

“Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.”  Kisah 14:13

Mengerjakan Amanat Agung Tuhan Yesus adalah tanggung jawab semua orang percaya, karena itulah  “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”  (Markus 16:20).  Ke mana pun hamba-hamba Tuhan pergi memberitakan Injil Roh Kudus menyertai dan turut bekerja.  Di mana ada Roh Kudus sesuatu yang dahsyat pasti terjadi, perkara-perkara adikodrati dinyatakan:  yang sakit disembuhkan, yang terbelenggu dibebaskan, yang buta pun dicelikkan, yang lumpuh berjalanlah!

Di Listra ada orang yang lumpuh kakinya sejak lahir.  “Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: ‘Berdirilah tegak di atas kakimu!’ Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.”  (Kisah 14:9-10).  Orang-orang pun kagum dan mengelu-elukan Paulus dan Barnabas, bahkan mereka menganggap keduanya dewa yang turun dari langit.  Paulus disebutnya Hermes, dan Barnabas disebut Zeus!  Mereka mengira bahwa yang melakukan mujizat adalah hamba Tuhan tersebut, tak mengerti bahwa yang mengerjakan semua mujizat itu sesungguhnya adalah Tuhan sendiri melalui kuasa Roh-Nya, sedangkan hamba Tuhan adalah alat-Nya.

Sanjungan manusia acapkali melenakan dan membuat orang lupa daratan.  Ini berbahaya!  Ada banyak pelayan Tuhan jatuh ketika mereka sedang  ‘di atas’  karena tidak tahan dengan pujian, hormat dan sanjungan manusia.  Memang sulit untuk tetap rendah hati dalam situasi seperti itu.  Ketika dielu-elukan segeralah Paulus dan Barnabas lari ke tengah-tengah mereka dan berkata,  “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.”  (Kisah 14:15a).  Di zaman sekarang tidak sedikit pelayan Tuhan yang justru membusungkan dada ketika namanya semakin dikenal oleh khalayak ramai.

Sanjungan adalah untuk Tuhan, jangan sekali-kali kita mencuri kemuliaan-Nya!


Minggu HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (1)

Baca: 2 Petrus 3:10-16

“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”  2 Petrus 3:14

Menjadi mempelai Kristus yang tak bercacat dan tak bernoda adalah tujuan hidup orang percaya.  Mengapa kita harus dalam keadaan tak bercacat dan tak bernoda?  Karena Tuhan Yesus telah mencurahkan darah-Nya untuk menyucikan dan menyempurnakan mempelai-Nya, sehingga kalau kita tetap dalam keadaan cacat dan bercela ketika Tuhan menjemput kita, berarti kita telah menyia-nyiakan pengorbanan Kristus di kayu salib.  Hari-hari yang sedang kita hadapi ini adalah hari-hari akhir menjelang kedatangan Kristus.  Jadi bukan waktunya kita main-main dalam menjalani hidup.  “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”  (Wahyu 22:11).

Alkitab menyatakan bahwa di akhir zaman yang jahat akan semakin jahat dan yang suci akan semakin suci.  Karena itu kita harus semakin terpacu untuk hidup benar dan tidak lagi berkompromi dengan dosa.  Waspadalah dan berjaga-jagalah, karena Iblis selalu mencari celah sekecil apa pun untuk menipu semua orang.  Salah satu tipuan Iblis adalah berkenaan dengan  ‘waktu’.  Iblis berusaha mengalihkan fokus hidup semua orang agar menyibukkan diri untuk hal-hal duniawi.  Waktu mereka tersita oleh berbagai aktivitas sampai-sampai mereka tidak lagi punya waktu untuk memikirkan perkara-perkara rohani  (bersaat teduh atau melayani Tuhan).  Mereka berkata  “Waktu kok terasa begitu cepat… pekerjaan ini dan itu belum selesai.”  Sungguh, waktu akan berlalu begitu cepatnya seperti sekam yang ditiup oleh angin  (baca  Zafanya 2:2).

Bila kita tidak bisa menggunakan waktu dengan bijaksana, waktu itu akan habis untuk perkara yang sia-sia.  Itulah yang menjadi tujuan Iblis!  Bukan berarti kita tidak boleh melakukan pekerjaan atau aktivitas apa pun, namun hendaknya jangan semua perkara yang ada di dunia ini semakin menjauhkan kita dari Tuhan.  Hendaklah segala sesuatu yang kita kerjakan berorientasi kepada perkara-perkara yang menuju kepada kekekalan!

Evaluasilah waktu-waktu yang Saudara pakai dan prioritaskan Tuhan.

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 2)

Sekilas review:

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui:

a. Pembacaan dan perenungan firman.

b. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Sambungan minggu ini:

c. Belajar dari pengalaman, dan dari kesalahan diri sendiri maupun orang lain.

Awal dari transformasi rohani adalah kesadaran diri (self-awareness). Self-awareness memungkinkan individu memahami watak, mengenali pikiran dan perasaan sendiri, kecenderungan sikap/perilaku yang bisa membuat kita jatuh, kelemahan/kekurangan, kelebihan, kesalahan/dosa, kondisi/motivasi hati serta kebutuhan akan perubahan. Tanpa kesadaran diri, seseorang tidak akan menyadari kalau dirinya perlu berubah, bertobat, mencari Tuhan, menerima pemulihan dan mengalami transformasi. Self-awarness memerlukan kejujuran, kerendahan hati, pengetahuan akan firman kebenaran serta kebergantungan kepada kuasa Roh Kudus.

Penting untuk diperhatikan bahwa self-awareness yang benar harus berpusat pada Kristus dan kasih karunia Allah. Memahami identitas kita dalam DIA yang telah mengasihi kita (yaitu sebagai ciptaan baru, bangsa pilihan, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, sebagai anak-anak Allah yang telah diberi kuasa), dan apa tujuan Allah memanggil kita keluar dari kegelapan (yaitu untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia).

Hal ini penting supaya tidak terjebak dalam gambar diri yang keliru (yang menimbulkan perasaan tidak aman/feeling insecure), mengasihani diri sendiri (self-pity); atau sebaliknya menjadi sombong rohani karena memiliki kelebihan, karunia, menerima mukjizat, mengalami kemenangan atau berhasil dalam pelayanan.

Mengetahui bahwa Roh Kudus berdiam di hati kita adalah satu hal, akan tetapi menyadari kehadiran-Nya setiap saat dalam seluruh hidup kita adalah hal lain yang harus dilatih. Bahwa Roh Kudus mengerti isi pikiran, perasaan, serta mengetahui kedalaman/rahasia hati kita. Kesadaran ini mendorong kita untuk menghormati Kristus dalam hati dan jiwa (pikiran, perasaan, tindakan yang berupa perkataan dan keputusan). Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan (1 Petrus 3:15a). Kesadaran akan kehadiran Roh Kudus membawa kita senantiasa hidup dalam pertobatan, rindu untuk hidup dalam kebenaran/kekudusan dan berkenan di hadapan Tuhan.

Satu-satunya yang layak menjadi teladan bagi kita hanyalah Tuhan Yesus, sebab hanya Dia yang sempurna dan tidak pernah berbuat dosa. Namun sebagai  anggota tubuh Kristus yang saling mengasihi, kita bisa menjadi contoh bagi sesama anggota Cool dalam arti membagikan sesuatu yang bisa dipelajari: baik dari kesalahan, kejatuhan, kebodohan, kesombongan, kelemahan/kekurangan, kelebihan; dan bagaimana kasih karunia Allah menolong, memerdekakan, memulihkan dan membawa kita kepada kemenangan. Hal-hal apa yang harus ditanggalkan, dihindari, dilakukan, ditingkatkan, dlsb. Buah kehidupan kita bisa menjadi ‘benih’ dan berkat bagi orang lain; menolong mereka untuk bertumbuh dalam iman, kasih, ketaatan dan karakter.

d. Ujian iman: masalah, tantangan, penderitaan, krisis, gesekan, sakit-penyakit, dlsb.

Masalah, kesesakan/penderitaan menyadarkan kita akan keterbatasan dan kelemahan  diri. Saat mengandalkan diri sendiri atau orang lain, kita malah jauh dari berkat dan solusi. Masalah dan penderitaan mengajarkan kita hanya Tuhan satu-satunya yang bisa diandalkan sebab Dialah sumber segala sesuatu.

Allah dapat memakai masalah dan penderitaan untuk mengubah cara pandang; memurnikan, mendewasakan, dan mengokohkan iman; serta membentuk karakter kita. Kita jadi semakin bergantung kepada Roh Kudus. IA menolong kita untuk bisa meresponi masalah/penderitaan dengan benar, belajar rendah hati, belajar mengasihi dan mengampuni orang lain, bertekun dalam iman, menantikan pertolongan-Nya, serta bertindak dengan kuasa-Nya. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (dalam hal ini transformasi), bagi kita yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

e. Melalui pelayanan.

Pelayanan (dalam atau luar gereja) menolong kita untuk:

  • bertumbuh dalam mengasihi Tuhan dan sesama (saling merendahkan hati, saling melayani), belajar menundukkan diri,
  • melayani dengan motivasi hati yang benar, kudus dan tulus,
  • mempertahankan kedisiplinan rohani (membaca firman secara teratur, mezbah pribadi/ pujian penyembahan, bersyafaat untuk orang lain, menjaga kekudusan),
  • mengembangkan karunia dan talenta, melatih kepekaan rohani (melayani dalam pimpinan Roh Kudus),
  • meningkatkan skill/ketrampilan, baik dalam hal teknis maupun interpersonal (komunikasi, kerja sama/unity dalam tim, manajemen waktu, adaptasi, mengatasi masalah, dsb).

PENUTUP

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih ..Jangan berpuas diri hanya sebagai orang Kristen yang ‘dipanggil’ (sekedar pengunjung atau anggota jemaat), tetapi jadilah orang yang ‘dipilih’. Responi panggilan Tuhan dengan cara bertekun dalam proses pemuridan agar kita sampai kepada tujuan pemanggilan itu sendiri, yaitu hidup dalam kebenaran & kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia.

KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT

KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT

Senin. KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT
Baca: 1 Samuel 18:1-5

“Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.” 1 Samuel 18:3

Tak seorang pun dapat menjalani hidup di dunia ini sendirian, melainkan selalu membutuhkan orang lain, terlebih yang bisa menjadi tempat berbagi rasa di segala situasi (suka dan duka); dan orang yang bisa berbagi rasa di segala situasi bukanlah teman biasa, tapi adalah sahabat. Semua orang mengakui bahwa untuk memiliki banyak teman itu bukanlah perkara sulit, tapi untuk memiliki seorang sahabat saja tak semudah membalikkan telapak tangan. “Menjadi seorang teman adalah mudah, tapi persahabatan adalah buah yang lama berbuah.” (Aristoteles).

Kehadiran seorang sahabat dalam hidup laksana lilin kecil di tengah kegelapan, ibarat mercusuar di tengah lautan lepas. Bersyukurlah jika di zaman yang ‘gersang’ kasih seperti ini kita masih memiliki seorang sahabat! Hubungan antara Yonatan dan Daud adalah contoh ideal persahabatan sejati antara dua orang yang saling mengasihi satu sama lain. “…berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.” (ayat 1), bahkan kasih mereka melebihi kasih dari saudara kandung. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Bukti kasih dan kesetiaan Yonatan terhadap Daud adalah ketika raja Saul (ayahnya) mencoba untuk membunuh Daud, ia tetap berpihak kepada yang benar dan tetap mengasihi Daud, walaupun tindakannya ini mengandung resiko harus kehilangan hak atas tahtanya yang semestinya menjadi haknya kelak. Inilah ciri utama seorang sahabat sejati yaitu rela berkorban. Persahabatan dan kesetiaan Yonatan kepada Daud justru semakin menunjang dan memberi peluang bagi Daud untuk memperoleh tahata kerajaan yang seharusnya akan jatuh pada Yonatan.

Sulit menemukan seorang sahabat sejati seperti Yonatan di zaman sekarang! Yang ada sekarang adalah ‘kasih’ yang disertai dengan tendensi dan juga pengkhianatan demi kepentingan diri sendiri: teman tega ‘menusuk’ dari belakang, ada pula saudara kandung yang saling berkhianat oleh karena memperebutkan harta atau warisan.

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Amsal 18:24


Selasa. ORANG PERCAYA: Mewarisi Sifat Bapa

Baca: 1 Petrus 1:13-25

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih per-saudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” 1 Petrus 1:22

Dunia ini sedang menuju kepada kehancuran, dan salah satu tandanya adalah semakin merosotnya moral manusia. Alkitab sudah menyatakannya: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4).

Namun ini justru jadi kesempatan indah bagi orang percaya untuk mendemonstrasikan kasih kepada semua orang, tanpa terkecuali. Mengapa? Karena kita adalah anak-anak Allah, yang sudah seharusnya mewarisi sifat Allah yaitu kasih, sebab “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16b). Tetapi kenyataannya, terhadap saudara seiman, rekan satu gereja, sesama hamba Tuhan, masih saja kita berselisih, saling iri hati, saling benci, saling menjatuhkan, karena persaingan dalam pelayanan…

Kerinduannya yang besar terhadap hal-hal rohani mengantarkan Andreas bertemu dengan sang Mesias, Yesus Kristus, sementara saudaranya (Petrus) lebih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai nelayan. Lalu Andreas berkesempatan membawa saudaranya ini kepada Yesus, dan ketika bertemu Petrus berbicaralah Ia: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

(Yohanes 1:42), dan “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.” (Matius 16:18-19). Yesus justru berbicara banyak dan punya rencana besar bagi kehidupan Petrus, bukan Andreas. Meski demikian Andreas tidak iri hati atau cemburu.

Selama masih ada perselisihan atau iri hati berarti kita belum mengasihi dengan sungguh!


Rabu. ORANG PERCAYA: Menjadi Saksi Kristus

Baca: 1 Yohanes 1:1-4

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” 1 Yohanes 1:3

Dalam persidangan suatu perkara selalu ada yang namanya saksi. Tidak sembarang orang bisa diajukan sebagai saksi. Menjadi saksi dalam suatu persidangan haruslah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Contoh: saksi mata adalah orang yang mengetahui atau melihat dengan mata kepala sendiri suatu peristiwa atau kejadian perkara yang sedang disidangkan atau berada di TKP (tempat kejadian perkara), dan dapat menceritakan apa yang dialami, dilihat dan didengar. Ia bukan menceritakan pengalaman orang lain, atau menceritakan apa yang ia dengar dari orang lain (jadi bukan menurut kata orang).

Demikian juga ketika menjadi saksi Kristus, kita harus memenuhi kriteria atau syarat yang disebutkan di atas, seperti halnya yang dilakukan oleh rasul Yohanes yang menyaksikan apa yang dirinya sendiri alami, yang ia pegang dan ia lihat tentang Kristus. Dengan kata lain rasul Yohanes tidak memberi kesaksian akan apa yang orang lain katakan tentang Kristus sebagai suatu kebenaran, melainkan kehadiran Kristus yang ia alami sendiri di dalam kehidupannya itulah yang ia berikan sebagai kesaksian. Contoh: rasul Yohanes menjadi saksi mata ketika Kristus dimuliakan di atas gunung (baca Matius 17:1-13), juga pada saat Kristus bangkit dari kematian dan naik ke sorga ia menyaksikan semua kejadian itu, sehingga dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang saksi hidup.

Melalui kesaksiannya ini rasul Yohanes rindu orang lain dapat merasakan dan mengalami apa yang ia alami yaitu memiliki pengenalan yang benar tentang Kristus dan hidup dalam persekutuan yang karib dengan Bapa. Ada tertulis: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6). Sebagai orang percaya kita adalah saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini! Menjadi saksi kristus itu tidak diukur dari seberapa mahirnya orang berkhotbah atau seerapa sibuk ia terlibat dalam pelayanan, melainkan melalui pengalaman pribadi berjalan dengan Tuhan yang terefleksi melalui perubahan hidup yaitu memancarkan karakter Kristus secara nyata.

Sudahkah kita menjadi saksi Kristus melalui ucapan, pernyataan dan perbuatan?


Kamis. KESAKSIAN YANG BUKAN BASA-BASI

Baca: Yohanes 3:22-36

“Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Yohanaes 3:26

Yohanes Pembaptis, orang yang diutus Allah untuk mendahului Yesus Kristus, membuka jalan bagi pelayanan Kristus seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “Ada suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!'” (Yesaya 40:3; Matius 3:3). Ia adalah termasuk keturunan suku Lewi, putra dari Elisabet, dan saudara sepupu Maria, ibu Yesus (baca Lukas 1:36). Ayahnya (Zakharia) adalah seorang imam dari rombongan Abia yang bertugas di Bait Allah. Perihal masa kecil Yohanes tidak banyak dikupas di Alkitab, kecuali ketika masih dalam kandungan Elisabet, di mana ia melonjak kegirangan sewaktu Maria berkunjung ke rumah ibunya.

Secara manusia sesungguhnya Yohanes punya alasan untuk iri hati dan cemburu kepada Tuhan Yesus, karena ia yang lebih dahulu memulai pelayanan, tetapi Tuhan Yesus yang lebih sukses dan lebih populer dibanding dirinya. Inilah yang Yohanes beritakan kepada orang banyak: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Markus 1:7-8). Yohanes Pem-baptis justru menunjukkan kasih persaudaraan yang tulus dengan menghargai dan menghormati pelayanan Tuhan Yesus yang jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sebelum Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya banyak sekali pengikut Yohanes Pembaptis, tetapi setelah Tuhan Yesus melayani, banyak orang yang beralih untuk mengikuti Tuhan Yesus (ayat nas). Merasa tersaigikah Yohanes? Justru ia menegaskan: “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.” (Yohanes 3:28). Yohanes Pembaptis dengan sportif dan rendah hati menyadari siapa dirinya dan siapa sesungguhnya Yesus.

Jika setiap orang mengerti akan tugas dan panggilannya masing-masing, maka tak akan terjadi persaingan dan saling mendiskreditkan di antara saudara seiman

“Ia harus makin besar, tetapi aku (Yohanes) harus makin kecil.” Yohanes 3:30


Jumat. ORANG PERCAYA: Bukanlah Produk Massal

Baca: 1 Petrus 2:1-10

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,” 1 Petrus 2:9
Sudah menjadi rahasia umum jika manusia menilai sesamanya berdasarkan pada atribut yang melekat kepadanya: harta kekayaan, profesi, status, pangkat/kedudukan, kepopuleran dan pencapaiannya di segala bidang kehidupan. Karena itulah semua orang akan mencari cara dan bahkan rela menghalalkan segalanya untuk meraih semuanya itu dengan harapan keberadaannya di tengah lingkungan atau masyarakat diakui, dikenal, dihormati dan dihargai. Sebaliknya ketika seseorang tidak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan mereka pun menjadi sangat rendah diri (minder), karena merasa tidak berharga di mata orang lain. Ini sangat berbahaya!

Bagaimana penilaian Tuhan? Tuhan menilai manusia tidak tergantung pada apa yang terlihat secara kasat mata. Tuhan tidak melihat harta, pangkat atau embel-embel lain yang melekat pada diri manusia. “Bukan yang dilihat manu-sia yang dilihat Allah;… tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samu-el 16:7b). Mungkin Saudara sedang mengalami krisis percaya diri: “Hidupku tidak ada harganya di mata manusia, apalagi di hadapan Tuhan. Aku sangat tidak layak. Dosa dan pelanggaranku tak terhitung banyaknya seperti bintang-bintang di langit.” Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita merasa rendah diri atau minder, karena “…engkau ber-harga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4). Saat kita jatuh ke dalam dosa, Iblis memang tidak pernah berhenti untuk menuduh dan men-dakwa kita siang dan malam sehingga kita menjadi orang yang tertuduh dan tertolak. Namun tidak dengan Tuhan, Dia selalu membuka tangan-Nya dan menyambut kita setiap saat seperti Bapa yang merindukan si bungsu, karena Dia Maha pengampun dan penuh belas kasihan.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13-14). Mazmur 139:13-14). Manusia boleh saja merendahkan dan tidak menganggap keberadaan kita, namun kita tetaplah pribadi yang istimewa dan berharga di mata Tuhan.

Orang percaya adalah limited edition di mata Tuhan, bukan produk massal!


Sabtu. LAYAK DISEBUT ANAK TUHAN ATAU BELUM?

Baca: Roma 8:1-17

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Roma 8:14

Alkitab menegaskan bahwa orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Tuhan akan disebut anak Tuhan. Kebalikannya, orang yang hidupnya tidak dipimpin oleh Roh Tuhan tidak layak atau bukan disebut anak Tuhan. Yang dapat menilai dan membuat kesimpulan apakah kita ini layak disebut anak Tuhan adau bukan adalah diri kita sendiri, yaitu dengan jalan mengoreksi diri apakah selama menjalani hidup ini kita mau dan taat sepenuhnya dalam pimpinan Roh Kudus atau tidak.

Ada tertulis: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!'” (Roma 8:15a). Orang percaya yang hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus tidak lagi dipimpin oleh roh perbudakan. Namun fakta berkata lain, ada banyak orang Kristen yang mengaku diri sebagai anak Tuhan tapi mereka masih berada dalam belenggu atau diperbudak oleh dosa. Terbukti mereka masih enggan meninggalkan dosa, suka melakukan hal-hal cemar secara sembunyi-sembunyi, ada pula yang masih terbelenggu oleh adat istiadat, tradisi, jampi-jampi, feng shui, tahayul, ramalan, primbon dan sebagainya. Menjadi anak Tuhan berarti sudah terlepas secara tuntas dari kuasa kegelapan, alias tidak lagi berkompromi dengan segala hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, sebab “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;” (Kolose 1:13). Maka dari itu “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kolose 2:7).

Di zaman sekarang ini kita perlu ekstra waspada, “…supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kolose 2:8). Bagaimana caranya? Kita harus membangun fondasi hidup kita dengan firman Tuhan, dan mengijinkan Roh Kudus menjadi pemimpin dan berhak memerintah hidup kita. Jika Roh Kudus yang memimpin, “Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:3b).

Hidup anak Tuhan sejati adalah hidup menurut Roh, bukan menuruti daging!


Minggu. PENGAKUAN TUHAN ADALAH YANG UTAMA

Baca: Matius 7:15-23

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Matius 7:22

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat itu sudah cukup untuk memperoleh keselamatan, apalagi ditambah dengan keterlibatannya dalam pelayanan, lengkaplah sudah dan itu sudah pasti menyenangkan hati Tuhan. Benarkah? Tidak demikian. Keselamatan tidak berhenti sampai kita percaya kepada Tuhan Yesus saja, tetapi kita harus terus bertumbuh sampai dapat berstatus sebagai pelaku firman, sebab “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (ayat 21). Tidak ada yang lebih utama dalam hidup orang percaya selain melakukan kehendak Bapa.

Melakukan kehendak Bapa atau tidak melakukan kehendak Bapa adalah ukuran Tuhan dalam menilai hidup seseorang. “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat keja-hatan!” (ayat 23). Kata berterus terang ini dalam Alkitab King James diterjemahkan confess, atau dalam versi English Amplified diterjemahkan declare, artinya mengakui di depan umum. Pada saatnya nanti Tuhan akan mengakui di depan umum atau berterus terang di hadapan khalayak. Betapa malang dan suatu bencana yang mengerikan, jika pada hari penghakiman kelak Tuhan tidak mengakui kita, alias menolak kita. Ditolak Tuhan berarti penghukuman kekal ada di depan mata!

Orang yang tidak diakui dan ditolak Tuhan dalam ayat 21-23 ini bukanlah mereka yang tidak mengenal Tuhan Yesus, namun adalah orang-orang yang secara kasat mata tampak melayani pekerjaan Tuhan, bahkan bukan sembarangan melayani: sudah bernubuat, sudah mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat. Dengan kata lain mereka memiliki jam terbang yang tak diragukan lagi dalam pelayanan, punya reputasi (hebat, beken, terkenal) di mata manusia. Ternyata prestasi seseorang dalam pelayanan bukan jaminan beroleh pengakuan dari Tuhan atau dikenal Tuhan.

Melakukan kehendak Tuhan adalah modal dasar beroleh pengakuan dari Tuhan!

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH (bagian 1)

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22:14)

PENDAHULUAN

Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.  Undangan ini bukan bicara tentang Allah pilih kasih atau membatasi keselamatan hanya untuk orang/golongan/bangsa tertentu saja. Panggilan keselamatan ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali, namun hanya sedikit yang meresponi panggilan tersebut dengan sungguh-sungguh. Banyak yang dipanggil, tapi yang dipilih hanyalah mereka yang sungguh-sungguh. Panggilan bersifat umum, namun pemilihan didasarkan pada hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kesetiaan.

ISI

Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan keselamatan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.

Cara pandang kita diubah sesuai dengan perspektif Allah; nilai/prinsip, sikap dan perilaku disesuaikan dengan nilai-nilai  kebenaran; hati dan jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar yaitu berporos pada kehendak Allah. Pemuridan menjadikan kita dewasa dalam iman dan karakter; tajam dalam skill/kecakapan untuk melakukan tugas pelayanan sesuai karunia masing-masing; dewasa dalam pemikiran, menghadapi masalah dan mengambil keputusan; dalam mengelola berkat/finansial; dalam hubungan dengan orang lain, menyikapi perbedaan, gesekan serta menghadapi orang-orang yang sulit, dlsb.

Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui hal-hal berikut:

1. Pembacaan dan perenungan firman.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,  sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2).

Akal budi adalah hal pertama yang harus mengalami pembaruan. Dalam membaca dan merenungkan firman,  minta Roh Kudus menerangi hati dan jiwa kita agar  mengerti kebenaran firman dan mengerti kehendak Allah secara khusus bagi kita. Dengan perenungan, firman Tuhan bukan hanya jadi pengetahuan, tapi menjadi pewahyuan/rhema yang memperbarui akal budi kita.

Pikiran/pemahaman/ cara pandang  yang keliru diluruskan, perasaan/emosi negatif disingkapkan, motivasi hati yang salah dikoreksi, hati yang keras dilembutkan, kesombongan diruntuhkan. Kita jadi mengenal cara kerja Allah dan kehendak-Nya, apa yang Dia suka dan tidak, dlsb. Firman Tuhan menjadi pelita yang menerangi kegelapan dalam hati dan jiwa, menjadi cermin rohani yang menyatakan dosa/kesalahan, menyingkapkan kelemahan/kekurangan diri yang tidak kita sadari, mengoreksi hati, dengan demikian kita diajar dan dididik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

2. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.

Kita tidak mampu mengerti firman dan melakukannya jika tidak ditolong oleh Roh Kudus. Meski sudah memiliki banyak pengetahuan firman, tapi kita belum tentu mampu melakukan firman menurut kehendak Allah. Pengetahuan firman tanpa hikmat pewahyuan membuat kita tidak mengerti dan tidak bisa menjadi pelaku firman; pengertian tanpa ketaatan pun sia-sia.

Permulaan hikmat ialah perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian (Amsal 4:7).

Dari segala pengetahuan firman yang kita peroleh, perolehlah hikmat/pengertian/pewahyuan/rhema. Pengetahuan firman adalah apa yang kita dapat dari sharing bahan Cool, mendengarkan khotbah di ibadah raya, dari membaca renungan,dan kelas-kelas pengajaran;  hikmat adalah penerapan dari pengetahuan firman dengan tepat, benar dan bijak. Pengetahuan (knowledge) menjelaskan ‘what’, pengertian (understanding) menjelaskan ‘how’, hikmat (wisdom) menjelaskan ‘why’.

Pengetahuan membuat kita mengerti bahwa hari ini akan hujan, hikmat membuat kita menyediakan payung. Pengetahuan membuat kita memahami bahwa lampu hijau telah berubah menjadi merah, hikmat membuat kita menginjak rem. Pengetahuan menghapal ayat-ayat firman, pengertian menolong kita mengerti makna firman, hikmat membuat kita menghidupi/melakukan firman tersebut.

Hanya Roh Kudus yang mampu menerangi hati dan jiwa kita untuk mengerti kehendak Allah melalui firman tersebut. Hanya Roh Kudus yang bisa memberi hikmat, pewahyuan dan rhema firman serta mendorong kita untuk melakukan firman.

Bersambung minggu depan …

 

 

 

UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Senin. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Baca: Amos 3:1-8

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi,” Amos 3:2

Adalah tidak mudah bagi seseorang untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak dan pimpinan Tuhan, yang terjadi justru sebaliknya yaitu maunya Tuhan yang harus mengikuti kehendak dan keinginan kita dengan cara kita, alias mendikte Tuhan. Ada tertulis: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” (Roma 9:20-21).

Bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan! Mereka dipilih di antara berjuta-juta umat manusia di muka bumi ini. Ditegaskan bahwa Tuhan hanya mengenal satu bangsa yaitu umat kesayangan-Nya, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4), bahkan disebut-Nya mereka sebagai biji mata-Nya. “Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” (Ulangan 32:10b), dan “sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya–:” (Zakharia 2:8). Bukan hanya itu… “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:16). Siapakah kita ini sehingga Tuhan memilih, memanggil dan mengangkat kita? Apakah karena kita hebat, pintar, kaya, terkenal? Tidak sama sekali, karena di luar sana masih banyak orang yang lebih dari kita. Semua itu karena anugerah Tuhan semata! Anugerah atau kasih karunia berasal dari bahasa asli khen (Ibrani) atau kharis (Yunani). Pemberian anugerah ini semata-mata adalah hak prerogatif Tuhan, sedangkan sesungguhnya manusia tidak layak untuk menerimanya. “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19b).

Meski diperlakukan istimewa oleh Tuhan mereka tidak merespons kasih Tuhan itu dengan sikap hati yang benar: memilih hidup menurut kehendak sendiri, memberontak kepada Tuhan, dan bahkan jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Karena kekerasan hati dan kedegilan mereka Tuhan pun menyebutnya sebagai bangsa yang tegar tengkuk!

Meski dikasihi Tuhan sedemikian rupa bangsa Israel tetap saja memberontak


Selasa. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (3)

Baca: Amos 3:1-8

“…sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” Amos 3:2

Sepintas kalau kita membaca Amos 3:2 ini (“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.”) Kita pasti akan bertanya-tanya: setelah Tuhan menyatakan bahwa kita ini adalah umat pilihan-Nya, kalimat selanjutnya, “…Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (ayat nas). Apa maksudnya? Seringkali kita berpikir bahwa jika Tuhan mengasihi kita dan memilih kita, Ia akan menuruti semua keinginan kita, melancarkan usaha dan bisnis kita, dan membebaskan kita dari situasi sulit dan masalah.

Tidak berarti bapa yang baik dan mengasihi anaknya menuruti semua keinginan anak, atau memanjakannya. Jika si anak melakukan kesalahan yang sangat fatal bapa pasti akan menegur, jika perlu memukulnya. “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.” (Amsal 23:13-14), dan “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anak-nya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24). Begitu pula dengan Tuhan, jika Dia menegur kita dengan keras bukan berarti Ia tidak mengasihi kita, justru bukti bahwa Tuhan sangat mengasihi umat-Nya, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:6, 8).

Melalui nabi-nabi-Nya Tuhan berkali-kali memperingatkan bangsa Israel agar mereka bertobat dan kembali ke jalan-Nya, tetapi mereka tetap saja mengeraskan hati. Di tengah kemerosotan moral bangsa Israel ini Tuhan tetap menunjukkan kasih dan kesabaran-Nya dengan mengutus Amos, seorang yang takut akan Tuhan, untuk menegur dan memperingatkan mereka. Bagaimana responsnya? Mereka malah berlaku jahat ter-hadap Amos dan mengusirnya secara terang-terangan. “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makanan-mu di sana dan bernubuatlah di sana!” (Amos 7:12).

Karena mengacuhkan teguran, Tuhan menghukum bangsa Israel dengan menyerahkan mereka ke tangan bangsa Asyur!


Rabu. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (1)

Baca: 1 Samuel 3:1-21

“Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3:10b

Nama Samuel adalah ekspresi dari bahasa Ibrani yang berarti ‘Tuhan mendengar’. Ini ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mendengar pergumulan doanya. “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.'” (1 Samuel 1:20). Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kesusahan hati yang mendalam. Ia dahulu tertutup kandungannya, mustahil punya keturunan, namun tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).

Samuel memulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli. “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” (1 Samuel 1:28). Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah pengawasan imam Eli. Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan. Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya. Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan. Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan. “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat 9). Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat nas).

Seiring berjalannya waktu “…Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.” (1 Samuel 3:19). Akhirnya Tuhan mempercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia memiliki kepekaan akan suara Tuhan.

Peka suara Tuhan tidak terjadi secara instan, tapi melalui proses bergaul karib dengan-Nya setiap waktu.


Kamis. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (2)

Baca: Yesaya 50:4-11

“Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Yesaya 50:4b

Melalui perjalanan hidup Samuel ini, kita bisa belajar bahwa langkah kesetiaan kepada Tuhan itu selalu diawali dari hal-hal yang kecil. Kalau kita setia dalam perkara yang kecil Tuhan akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang jauh lebih besar, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Pertumbuhan rohani Samuel ini akhirnya menjadi suatu kesaksian yang baik bagi seluruh umat Israel, “Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.” (1 Samuel 3:20). Samuel pun dipercaya Tuhan untuk melakukan berbagai tugas pelayanan: hakim, nabi, penasihat dan orang yang mempersiapkan raja untuk Israel.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rohani menggantikan imam Eli dengan otoritas dari Tuhan, Samuel berhasil mempersatukan bangsa Israel yang tercerai-berai karena terpukul oleh bangsa Filistin (1 Samuel 7:3). Keberhasilan pelayanan Samuel adalah dampak dari kepekaannya dalam mendengar suara Tuhan. Saudara rindu dipercaya Tuhan untuk perkara-perkara besar? Pertajam pendengaran Saudara untuk mendengar suara Tuhan seperti seorang murid yang dengar-dengaran akan suara gurunya, dan seperti domba yang peka akan suara gembalanya. Tuhan Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,” (Yohanes 10:27). Domba-domba Kristus sejati pasti mengenal dengan baik suara gembalanya karena memiliki persekutuan yang karib. Kristus adalah Gembala Agung kita, karena itu harus senantiasa mendengar suara-Nya dan taat kepada-Nya.

Tanpa memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan (seperti Daniel: “Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11)), membaca dan merenungkan firman Tuhan, mustahil kita dapat mendengar suara Tuhan.

“setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,” Yakobus 1:19

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

KITA DIPILIH DARI SEGALA BANGSA

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,  imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

 

PENDAHULUAN

Orang yang percaya kepada Kristus telah diberikan identitas yang baru, yaitu sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Identitas istimewa ini diberikan bukan untuk kesombongan ataupun bersifat ekslusif, tetapi untuk dihidupi supaya dapat memancarkan kemuliaan Allah dan membagikan karya kasih-Nya kepada dunia melalui kehidupan serta perbuatan nyata (menghasilkan hidup yang berbuah), bukan hanya dengan kata-kata.

 

ISI

Identitas orang percaya sesuai 1 Petrus 2:9 adalah sebagai berikut:

1. Bangsa yang terpilih.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yohanes 15:16a).

Orang-orang percaya dipilih secara khusus oleh Tuhan bukan berdasarkan kebaikan, kesalehan, kepandaian, jasa, usaha/pencapaian, atau karena kita layak, melainkan karena anugerah kasih karunia Allah semata.

Dalam pandangan dunia, pemberitaan tentang Injil merupakan suatu kebodohan. Orang-orang yang percaya kepada pemberitaan Injil dipandang oleh dunia sebagai orang-orang yang lemah, tidak memiliki kemampuan, tidak berhikmat, bodoh, tidak terpandang, dsb. Mengapa? Karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Allah memilih mereka yang mau meresponi berita Injil Kristus dengan kerendahan hati dan iman percaya.

Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil:  menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak,  tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.  Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,  dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti,  dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,  supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:26-29).

2. Imamat yang Rajani.

Imam: bertugas memimpin umat untuk memuji menyembah Tuhan, mempersembahkan korban, mengajarkan firman, serta membawa orang lain kepada Tuhan. Iman harus selalu menjaga kekudusan agar seluruh hidup dan pelayanannya berkenan di hadapan Allah. Orang percaya memiliki tugas/tanggungjawab untuk hidup dalam kekudusan agar dapat melayani kehendak Allah, membawa orang lain menyembah DIA, menjadi pendoa syafaat/perantara/pendamai antara Allah dan orang-orang yang belum mengenal-Nya.

Raja: Orang yang diberikan kuasa dan otoritas untuk memimpin umat Allah. Orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Orang percaya memiliki otoritas rohani sebagai anak-anak Allah untuk berfungsi sebagai garam dan terang (saksi Kristus) di tengah kegelapan dunia.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Imamat yang rajani artinya imam yang mempunyai karakteristik raja. Kita dikuduskan, diberi kuasa otoritas, diangkat menjadi kepala dan bukan menjadi ekor dengan tujuan untuk melayani (bukan dilayani), menjadi pendoa, menjadi berkat; mempengaruhi dan membawa orang lain menjadi warga Kerajaan Allah (bukan dipengaruhi dan menjadi sama dengan dunia).

3. Bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.

Bangsa yang kudus artinya orang yang dipisahkan dari yang lain untuk digunakan secara khusus. Kita dipisahkan dari dunia untuk hidup bagi Allah. Bukan berarti kita semua harus melayani di gereja dan tidak boleh bekerja di dunia sekuler, tapi kita adalah hamba Allah di manapun Tuhan menempatkan kita. Meskipun berada di dunia yang gelap, cemar dan dikuasai hawa nafsu, tapi kita tidak hidup seperti dunia hidup. Kita menjadi umat kepunyaan Allah sendiri karena telah ditebus dengan harga yang sangat mahal yaitu Darah Anak Domba Allah, dan Roh-Nya berdiam di dalam kita (1 Korintus 6:19-20).

 

PENUTUP

Kita dipilih dari segala bangsa untuk menghasilkan hidup yang berbuah. Pemilihan hanya terjadi dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dalam kasih, Allah telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya  (Efesus 1:5). Fungsi anak adalah melakukan kehendak Bapa-nya dengan pertolongan Roh Kudus.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,  supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,  diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)

Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur yang benar dan menghidupi identitas sebagai bangsa pilihan, maka hidup kita pasti berbuah, lalu dibersihkan agar semakin banyak berbuah. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5b)