Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 2)
MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 2)

Sekilas review:

Amanat Agung merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Untuk itu kita perlu dimuridkan (diproses) oleh Tuhan untuk dapat menjadikan orang lain murid Kristus dan warga Kerajaan Allah. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana kita belajar taat melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Sambungan minggu ini:

Tuhan Yesus memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana hukum kasih adalah penerapan dari semua pekerjaan misi: mengasihi Allah dan sesama. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Konsep pemberitaan Injil Kerajaan Allah merupakan tema sentral dari pengajaran Tuhan Yesus. Injil artinya kabar baik; memberitakan Injil Kerajaan Allah artinya menyampaikan kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi melalui Yesus Kristus, dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Kerajaan Allah itu bukan soal lokasi, melainkan keadaan di mana kekuasaan/otoritas dan kehendak Allah dinyatakan secara penuh dalam kehidupan seseorang. Bukti bahwa Kerajaan Allah datang atas hidup seseorang adalah ketika kehendak Allah terjadi atas dirinya (Matius 6:10).

Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memuridkan orang lain/segala bangsa supaya mereka juga dapat menjadi warga Kerajaan Allah yang tunduk kepada nilai/prinsip Kerajaan surgawi dan kehendak Allah. Allah menghendaki para murid  menghadirkan Kerajaan-Nya di muka bumi di mana Kristus adalah Rajanya. Kerajaan Allah ada di antara manusia dalam bentuk iman percaya kepada Tuhan Yesus.

 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:-20-21).

Kultur Kerajaan Allah sangat berbeda dengan kultur masyarakat dunia. Menurut KBBI, kultur adalah padanan kata budaya atau kebudayaan, yang merujuk pada keseluruhan cara hidup, pikiran, perilaku, nilai, dan hasil cipta manusia yang diwariskan antargenerasi dalam suatu kelompok masyarakat, meliputi kepercayaan, seni, adat istiadat, dan kebiasaan lainnya. Untuk hidup dalam prinsip Kerajaan Allah, akal budi kita harus diperbarui oleh firman Tuhan (Roma 12:2) supaya kita memahami perkara-perkara yang di atas. Segala pemerintahan/kerajaan di dunia ini akan berlalu, tapi orang yang hidup dalam prinsip Kerajaan Allah (melakukan perintah Tuhan), tinggal tetap dan tidak akan tergoncangkan.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).

Mengapa pemberitaan tentang Kerajaan Allah menjadi fokus pengajaran Tuhan Yesus? Karena nilai/prinsip Kerajaan Allah membawa kebaikan berupa berkat-berkat kehidupan bagi umat manusia yang hidup dalam kegelapan. Allah datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan kedaulatan-Nya melawan pekerjaan Iblis. Injil Kerajaan Allah yang dibawa oleh Tuhan Yesus membawa pemulihan total (roh, jiwa, dan tubuh) di seluruh aspek kehidupan manusia:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19).

Ciri-ciri yang menandakan bahwa Kerajaan Allah hadir di dunia:

  • setan diusir (Matius 12:28).
  • Segala penyakit dan kelemahan dilenyapkan (Matius 4:23)
  • perbuatan-perbuatan Iblis (yaitu dosa dan segala ikatannya) dihancurkan (1 Yohanes 3:8).
  • Manusia dikuasai oleh kebenaran, damai, dan sukacita (Roma 14:17).
  • Orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah akan menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

 Inilah yang Allah kehendaki, yaitu Kerajaan-Nya datang di bumi melalui kehadiran Gereja/orang percaya. Amanat Agung tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan manusia, tetapi harus dengan kuasa Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,  dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8). Gereja/orang percaya perlu belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dalam kehidupan pribadi maupun secara bersama-sama.

PENUTUP

Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung di akhir jaman ini. … Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Roh Kudus memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir jaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman dan kehilangan fokus, tapi persiapkan diri untuk menyelesaikan Amanat Agung bersama-sama.

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Senin. TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Baca: Mazmur 131:1-3

“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” Mazmur 131:2

Semua orang membutuhkan ketenangan dalam menjalani hidup, namun di hari-hari ini ketenangan seolah-olah se-makin menjauh dari kehidupan manusia. Bagaimana bisa hidup tenang jika setiap hari kita mendengar dan melihat berita-berita yang mengejutkan dan aneh-aneh di surat ka-bar atau televisi. Contoh: berbagai virus penyakit kini ban-yak bermunculan, bahkan virus mematikan pun menjadi teror tak kasat mata bagi semua orang: Zika, Ebola, SARS, MERS, H7N9, HIV dan sebagainya; bencana alam terjadi di mana-mana tanpa dapat diduga datangnya, seperti banjir bandang di Garut (Jawa Barat), badai Matthew yang memporak-porandakan kota Haiti dan juga beberapa wilayah di Ameri-ka. Juga ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran bermunculan di mana-mana dan menyesatkan banyak orang. Semua situasi ini menyebabkan orang kehilangan rasa tenang, yang ada rasa gelisah dan was-was.

Menjadi orang percaya tidak berarti membebaskan kita dari semua situasi yang ada. Kita masih dihadapkan pada kesukaran, masalah dan tekanan dengan segala bentuknya, namun tidak seharusnya kita kehilangan rasa tenang. “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20). Kita tetap tenang di segala situasi apabila kita senantiasa bergaul karib atau tinggal dekat dengan Tuhan, sebab Dialah sumber ketenangan yang sejati. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batu-ku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” (Mazmur 62:2-3). Di dalam Tuhan ada harapan, ada perlindungan dan ada keselamatan yang pasti.

Jika kita berpegang teguh kepada janji firman Tuhan kita akan mampu menguasai diri dalam menghadapi apa pun, bertindak dan berpikir selaras dengan firman-Nya… saat itulah kita akan merasakan ketenangan. “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4:7b). Meningkatkan jam doa itu kuncinya!

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116:7


Selasa. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (1)

Baca: Mazmur 50:1-23
“Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!” Mazmur 50:14

Kapan Saudara mempersembahkan syukur kepada Tuhan? Banyak orang Kristen bersyukur kepada Tuhan hanya pada saat-saat tertentu yaitu ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, menerima berkat, kesembuhan, atau mengalami mujizat dari Tuhan. Sikap mereka langsung berubah begitu menghadapi masalah, kesesakan, sakit-penyakit… jangankan mengucap syukur, berdoa saja sudah malas melakukannya.

Ucapan syukur adalah sebuah kata benda abstrak, yang secara garis besar memiliki makna: grateful (berterima kasih kepada Tuhan), pleasing (menyenangkan Tuhan), atau mindful of benefits (sadar akan kebaikan, hadiah atau pertolongan). Inilah sikap hati yang harus dikembangkan dalam hidup orang percaya. Alkitab memperingatkan: “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). ‘Korban’ adalah sesuatu yang dipersembahkan, ke-hilangan, merugi dan sakit secara daging. “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18).

Sesungguhnya situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali untuk mengucap syukur, tetapi Habakuk tidak dikala-hkan oleh keadaan yang ada, ia tetap bisa mengucap syukur. Inilah yang disebut korban syukur!

Umumnya saat dalam masalah atau kesesakan tidak ada korban syukur yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang ada hanyalah sungut-sungut dan omelan seperti yang biasa dilakukan oleh umat Israel di padang gurun. Karena itulah se-bagian besar umat Israel mengalami kebinasaan di padang gurun sebelum mencapai Kanaan. Ketahuilah bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan dalam hidup kita, bahkan sehelai rambut pun jatuh adalah seijin Tuhan (baca Lukas 12:7).

Bila memahami “…betapa lebarnya dan panjangnya dan ting-ginya dan dalamnya kasih Kristus,” (Efesus 3:18), seharusnya bibir kita tak pernah berhenti bersyukur!


Rabu. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (2)

Baca: Mazmur 71:1-24

“Akupun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel.” Mazmur 71:22

Mengucap syukur adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Orang yang mampu mengucap syukur di segala keadaan me-nandakan ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan menyetu-jui apa pun yang Tuhan rancangkan. “Kita tahu sekarang, bah-wa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk menda-tangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Sebaliknya orang yang selalu bersungut dan mengomel berarti sedang memprotes kedaulatan Tuhan atas setiap ke-
jadian atau peristiwa yang dialaminya, dan tidak mem-percayai-Nya.

Ketika menghadapi cawan penderitaan, Tuhan Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehenda-ki.” (Matius 26:39). Di segala keadaan, biarlah kita belajar untuk menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang teruta-ma dalam hidup ini, karena kehendak-Nya pasti yang terbaik bagi kita. Karena itu ijinkanlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri dan ikutilah alur-Nya, jangan sekali-kali keluar dan memberontak. Percayalah bahwa masalah adalah cara Tuhan untuk mengerjakan perkara besar; tak ada mujizat tanpa masalah, tidak ada kemuliaan tanpa salib.

Sungut-sungut dan omelan tidak akan mengubah keadaan, malah membuatnya semakin buruk dan semakin memperpanjang waktu Tuhan memproses kita sebagaimana umat Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di pa-dang gurun, karena Tuhan hendak mendisiplinkan dan membangun karakter mereka. Tuhan memberikan materi berupa ‘masalah atau penderitaan’ dalam sekolah ke-hidupan ini agar kita belajar untuk bergantung kepada-Nya, sebab tanpa masalah seringkali kita melupakan Tuhan dan lebih bersandar kepada kekuatan sendiri. Justru ketika da-lam masalah atau pergumulan yang berat manusia terdorong untuk mendekat kepada Tuhan… saat itulah penyembahan dan doa yang begitu mendalam dan kuat dil-akukan.

Mudah bagi Tuhan memberkati kita, tetapi lebih penting bagi Tuhan memurnikan kualitas hidup kita, termasuk dalam hal mengucap syukur!


Kamis. ADA BERKAT DI BALIK UCAPAN SYUKUR

Baca: Mazmur 111:1-10

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111:1

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup ini seharusnya bibir kita takkan pernah berhenti berkata: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5), dan “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Tiada kata selain bibir yang senantiasa memuliakan nama Tuhan (ucapan syukur). Tapi banyak orang Kristen yang lupa mengucap syukur, kecuali dalam keadaan baik (terberkati); padahal di balik ucapan syukur terkandung berkat yang luar biasa pula.

Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk wanita dan anak-anaknya, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, semuanya kenyang, dan bahkan masih ter-sisa 12 bakul. Berawal dari ucapan syukur, mujizat pun ter-jadi! “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yohanes 6:11). Secara naluriah kita terdorong untuk mengucap syukur bila memiliki sesua-tu yang berlebih, menerima dalam jumlah besar atau se-dang surplus. Ditinjau dari sudut mana pun 5 roti dan 2 ikan tidak akan pernah cukup untuk memberi makan 5000 orang! Sangat tidak masuk akal! Kita pasti akan berkata seperti Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yohanes 6:7). Bukankah kita cenderung merasa kuatir, lalu bersungut-sungut, men-gomel ketika memiliki atau menerima sedikit?

Dari sepuluh orang yang menderita kusta hanya satu orang Samaria saja yang tidak lupa mengucap syukur kepa-da Tuhan atas kesembuhan yang dialaminya, sedangkan sembilan orang lainnya pergi begitu saja setelah sembuh. Karena ucapan syukur inilah ia tidak saja disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga beroleh berkat rohani yaitu anuge-rah keselamatan oleh karena imannya (baca Lukas 17:19).

Di segala keadaan jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena ucapan syukur adalah pintu gerbang menuju berkat!


Jumat. JANGAN PERNAH KEMBALI KE MESIRBaca: Keluaran 14:1-14

“…sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.” Keluaran 14:13

Ketika umat Israel dilepaskan dari belenggu perbudakan Mesir dan dituntun Tuhan berjalan menuju ke Tanah Perjan-jian, Firaun yang adalah gambaran tentang Iblis, tidak pernah rela melepaskan mereka. Karena itu Firaun menggunakan segala cara untuk menahan agar mereka tetap berada di Mesir; dan ketika mendengar bahwa umat Israel telah pergi meninggalkan Mesir ia pun mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar mereka. Adapun kata Mesir adalah lambang ‘dinia’, suatu kehidupan yang duniawi, dibelenggu oleh dosa, atau hamba dosa. Pada saat itu umat Israel benar-benar berada pada posisi sulit. “Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka.” (ayat 9-10). Keadaan itu men-imbulkan ketakutan yang luar biasa!

Setelah kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tu-han dan Juruselamat, lalu bertobat, yaitu keluar dari ‘Mesir’, Iblis dan bala tentaranya bergerak cepat dan mengacaukan seluruh aspek kehidupan kita dengan berbagai-bagai masa-lah. Di saat-saat itu kita pun mulai mengeluh, “Ikut Tuhan Yesus keadaan kok tidak bertambah baik, masalah dan co-baan datang bertubi-tubi.” Umat Israel mulai menyalahkan pemimpin rohani (Musa) dan berani menyalahkan Tuhan, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (ayat 11).

Pada masa-masa kesesakan seperti ini banyak orang Kris-ten mengalami degradasi iman, mata rohani kabur sehingga keselamatan yang ada di depan mata tak dilihatnya. Yang tampak hanyalah masalah atau pergumulan hidup yang berat, dan mulai membanding-bandingkan dengan kehidupan di Me-sir dan ingin kembali ke sana. Milikilah mata iman seperti Mu-sa yang tetap percaya walau belum melihat.

“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu;” Keluaran 14:13


Sabtu. SEMAKIN MENDEKAT KEPADA TUHAN

Baca: Roma 13:8-14

“Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” Roma 13:11b

Hari berganti hari, musim berganti musim, semakin dekat pula kesudahan zaman: anomali iklim telah terjadi, perubahan-perubahan dalam elemen kehidupan manusia sedang bergeser; ada yang perlahan namun ada pula yang radikal, perang antar ras etnis dan bangsa terjadi, bencana alam (gunung meletus, banjir, badai taufan) terjadi di mana-mana, kasih manusia se-makin dingin, immoralitas muncul dan begitu pula guru-guru palsu dan penyesat, menunjukkan bahwa tanda kedatangan Tuhan sudah semakin tampak di depan mata kita. “…sekarang keselamatan sudah lebih dekat…” (ayat nas).

Apa yang sedang terjadi sekarang ini seharusnya menya-darkan kita dan menjadikan kita ekstra waspada dan selalu berjaga-jaga karena waktunya sudah teramat sangat singkat. Jangan lagi kita menjalani hdiup ini dengan sembrono ditandai dengan pesta pora, hawa nafsu, keserakahan dan kepentingan pribadi, melainkan “…kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih me-nutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:7-8). Sekalipun ke-hidupan di dunia sedang terjadi perubahan-perubahan secara besar-besaran, goncangan-goncangan, namun kasih setia Tu-han tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan kuasa-Nya tid-ak pernah berubah sampai kapan pun.

Jika Tuhan ijinkan kita harus mengalami berbagai macam per-soalan dan pergumulan hidup yang teramat berat tentunya Tuhan punya maksud yang baik, yaitu ingin membawa kita se-makin mendekat kepada-Nya dengan kerendahan hati. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepa-damu.” (Yakobus 4:8a).

Mendekat kepada Tuhan dengan kerendahan hati berarti tetap beribadah kepada Tuhan dengan kesungguhan, menun-jukkan kerajinan yang penuh dalam mengerjakan segala hal yang dipercayakan kepada kita sesuai dengan kasih karunia-Nya, dan juga dalam kesungguhan hati untuk mengasihi sesa-ma kita.

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,” Ibrani 6:11


Minggu. JADILAH ORANG RENDAH HATI

Baca: Lukas 14:7-11

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 14:11

Secara naluriah manusia ingin dipuji, diperhatikan, dipriori-taskan, dihargai dan tidak mau direndahkan atau disepele-kan. Karena itu manusia cenderung meninggikan diri dan sulit merendahkan hati. Di zaman ‘keras’ seperti ini sulit menemukan orang yang rendah hati, karena kebanyakan orang berpikir bahwa kerendahan hati itu identik dengan kelemahan, di mana pamor atau gengsi akan turun.

Kerendahan hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. Inilah sifat yang harus kita miliki sebagai pengikut Kristus, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup, “…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus diper-tahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” (Filipi 2:6-9).

Tanda orang punya kerendahan hati:

1. Berani mengakui kesalahan. Karena gengsi, sedikit orang berani mengakui kesalahan sendiri di depan sesamanya, bahkan di hadapan Tuhan; mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” (Amsal 28:13).

2. Mau belajar dan diajar. Proses ‘belajar dan di-ajar’ itu tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah atau kampus, tetapi juga melalui ‘sekolah’ kehidupan ketika kita berinteraksi dengan sesama di mana pun berada. Pros-es ini tidak mengenal batasan usia dan waktu… “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

“Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” Amsal 18:12

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

PENDAHULUAN

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Ini bukanlah sesuatu yang mudah serta dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Diperlukan ketetapan hati, ketekunan, unity, ketaatan serta kebergantungan penuh kepada kuasa Roh Kudus untuk dapat mengemban dan menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral,  sosial,  iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kuasa kasih dan kemuliaan Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

ISI

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah dan guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa kehebatan, harta kekayaan, kekuasaan, dan kepintaran tidak dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ternyata  manusia adalah mahluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk  merendahkan diri, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi garam dan terang, siap  menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus.  Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para missionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang self-centered, hidup dalam zona nyaman serta tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di jaman ini. Kekristenan bukan soal Tuhan yang kita ‘manfaatkan’ untuk memenuhi permintaan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan, artinya Ia menjadi ‘tuan’ dan pusat seluruh aspek hidup kita. Tanda bahwa seseorang benar-benar mengasihi Tuhan adalah punya kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (Yohanes 14:15).

Tuhan Yesus memerintahkan Amanat Agung kepada para murid (Matius 28:16), bukan kepada mereka yang sekedar jadi jemaat atau pengunjung gereja. Dengan kata lain, setiap jemaat yang tertanam di BIC harus mengalami transformasi oleh kuasa firman dan Roh Kudus supaya menjadi murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan berjalan dipimpin oleh Roh Kudus.

Ada perbedaan yang mencolok antara rumah yang dibangun di atas batu dengan rumah yang dibangun di atas pasir. Rumah yang dibangun di atas batu adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar ketaatan akan firman Tuhan (mendengar perintah Tuhan dan melakukannya, Matius 7:24). Rumah yang dibangun di atas pasir adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar pengetahuan firman saja (mendengar perintah Tuhan dan tidak melakukannya, Matius 7:26). Berdasarkan ayat ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata orang yang memiliki pengetahuan firman (diajarkan melalui Ibadah Raya, Cool dan kelas pengajaran) BELUM TENTU menjadi pelaku firman. Bukan berarti kita tidak perlu belajar firman, tapi itu belum cukup. Jangan jadikan firman hanya sebatas informasi rohani, tapi ijinkan firman Tuhan mengubah seluruh hidup kita dari dalam keluar sesuai Alkitab.

Murid Kristus bukan berarti orang yang sudah sempurna, tetapi yang hidup tidak seperti dunia melainkan hidup dalam kekudusan, mau belajar menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab untuk mengemban Amanat Agung.

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

Sifat seorang murid Kristus yang dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:

  1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.
  2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.
  3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olah raga  (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan  dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak  (1 Korintus 9:25-27).
  4. Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Bersambung minggu depan..

HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

Senin. HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

Baca: Mazmur 99:1-9

“Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!” Mazmur 99:9

Bapa yang kita sembah, yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus, adalah kudus adanya. Dialah Yehovah M’kaddeshem (Tuhan yang menyucikan). Sebagai orang percaya yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, kita, “…yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” (1 Petrus 2:10), adalah bagian dari keberadaan-Nya yang Ilahi, yaitu kehidupan kudus yang memisahkan kita dari dunia. “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Banyak orang mengaku diri sebagai pengikut Kristus tetapi tingkah mereka tidak beda dari dunia. Jelas ini bertentangan dengan kehendak Tuhan!

Di dalam Perjanjian Lama Tuhan telah menyatakan kekudusan-Nya kepada bangsa Israel dengan memberikan mereka segala hukum-hukum-Nya: “Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” (Imamat 11:45). Mengapa kita harus hidup kudus? “…sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Yesus Kristus telah datang untuk menggenapi rencana Bapa, yaitu menyucikan orang yang percaya kepada-Nya dan akan memberikan hati yang baru (Yehezkiel 36:26). Lebih dari itu Ia membebaskan kita dari segala ikatan dosa dan dari setiap tipu daya Iblis; dan karena kita sudah dibarui dan disucikan dalam nama-Nya dengan baptisan air, maka tubuh kita menjadi Bait Roh Kudus, di mana Ia berdiam dengan Roh-Nya.

Kini kita tidak lagi menjadi hamba dosa seperti dahulu, melainkan menjadi hamba kebenaran (baca Roma 6:18), sehingga tubuh kita adalah korban yang hidup bagi Tuhan. Karena itu kita harus memancarkan kekudusan Kristus kepada dunia ini melalui perkataan, sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Inilah yang disebut life style evangelism (evangelisasi dengan contoh gaya hidup).

“…kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” Imamat 20:7


Selasa. BERTAHAN DI TENGAH GONCANGAN DUNIA

Baca: Mazmur 46:1-12

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” Mazmur 46:1

Semua orang mengakui bahwa keadaan dunia bertambah hari tidak bertambah baik, goncangan demi goncangan terjadi di mana-mana, “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang,…” (ayat 7). Perilaku manusia pun semakin tak terkendali karena mereka tidak lagi memiliki hati yang takut akan Tuhan. Haruskah orang percaya terbawa arus dunia ini? “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ibrani 2:1). Jika kita berusaha untuk menjadi ‘serupa’ dengan dunia maka hidup kita tidak lagi memiliki pengaruh, alias gagal menjadi garam dan terang dunia. Justru di tengah goncangan dan degradasi moral seperti inilah dibutuhkan orang-orang yang berani membuat perbedaan.

Tugas itu ada di pundak kita sebagai orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (baca 1 Petrus 2:9). “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10). Memang untuk menjadi pribadi yang berbeda tidaklah mudah, ada banyak tekanan dan tantangan yang selalu mencoba untuk menghadang langkah kita. Bagaimana supaya kita dapat bertahan dan tetap aman?

Senantiasalah berpaut kepada Tuhan. “Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya,” (Ulangan 11:22), maka “Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu:” (Ulangan 11:25).

Berpaut kepada Tuhan berarti memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan terus melekat kepada-Nya. Inilah janji Tuhan terhadap orang-orang yang berpaut kepada-Nya, “…Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” (Mazmur 91:14-15).

“TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Mazmur 46:12


Rabu. BEKERJA GIAT DI LADANG TUHAN

Baca: Lukas 10:1-12

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Lukas 10:2

Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk bekerja di ladang-Nya, dan dunia ini adalah ladang yang Ia percayakan untuk digarap. Tidaklah cukup orang percaya hanya tampak rajin beribadah ke gereja saja; kita harus lebih dari itu, yaitu punya hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan terlibat di dalamnya. Kita harus memiliki roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan, bukan hanya puas menjadi jemaat yang pasif tanpa melakukan apa-apa. “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11).

Selagi ada waktu dan kesempatan kita harus melayani Tuhan dengan sekuat tenaga, bekerja bagi Dia tanpa kenal lelah. Mengapa? Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan sebuah teladan bagaimana Ia bekerja dan melayani. Seluruh keberadaan hidup-Nya dipersembahkan untuk mengerjakan tugas Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib. Tuhan Yesus memperingatkan, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yohanes 6:27). Mengingat sedikit waktu lagi kedatangan Tuhan yang kedua kali akan tiba, maka sisa waktu yang ada hendaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk bekerja bagi Tuhan. Renungkan: untuk membuat sepotong kue diperlukan banyak pekerja; kalau kue yang kelihatannya sepele, yang sekali makan langsung habis memerlukan begitu banyak orang yang terlibat untuk membuatnya, apalagi pekerjaan memberitakan Injil ke seluruh pelosok, suku, bangsa, kaum dan bahasa di seluruh dunia, bukankah diperlukan lebih banyak pekerja?

Tuaian di luar sana begitu banyak, tetapi sayang pekerja sangat sedikit alias tidak sebanding. Kita tidak mungkin hanya mengandalkan para pendeta atau fulltimer yang bekerja, karena sebesar apa pun energi yang mereka keluarkan tidak akan mencukupi.

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yohanes 9:4


Kamis. KEKUATAN DAHSYAT DI BALIK DOA

Baca: Yakobus 5:13-18

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” Yakobu 5:13

Sering timbul di benak kita pertanyaan: sanggupkah kita menghadapi hari depan? Jawabannya: tidak sanggup jika mengandalkan kekuatan sendiri, karena sehebat, sekuat, sepintar atau sekaya apa pun seseorang, kekuatannya san-gatlah terbatas. Tidak bisa tidak, kita membutuhkan kekuatan yang berasal dari luar diri kita agar kuat berdiri di tengah terpaan badai kehidupan yang kian mengganas ini. Kekuatan yang kita butuhkan adalah kekuatan adikodrati atau kekuatan yang melebihi atau di luar kodrat alam, supranatural, yang hanya kita peroleh melalui doa atau persekutuan karib dengan Tuhan.

Tidak sedikit orang percaya menganggap remeh dan sepele kekuatan doa. Alkitab menyatakan: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:16b, 17, 18). Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang tak terbatas atas diri manusia yang terbatas. Kekuatan doa sanggup menembus kemustahilan! Ketika Elia berdoa supaya tidak turun hujan, hujan pun tidak turun di bumi selama 3,5 tahun, dan ketika ia berdoa meminta hujan kepada Tuhan langit pun menurunkan hujan. Doa adalah senjata ampuh mengalahkan musuh dalam bentuk apa pun: masalah atau pencobaan; doa mampu menggetarkan hati Tuhan sehingga Ia bertindak memberikan pertolongan dan menyembuhkan segala macam sakit-penyakit.
Supaya doa kita berkuasa dan mendatangkan kekuatan, kuncinya adalah kita harus dalam posisi benar di hadapan Tuhan, dosa harus dibereskan, karena dosa adalah penghalang utama doa sampai ke hadirat Tuhan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2).

“TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” Amsal 15:29


 

Jumat. DOA DI KALA MALAM (1)

Baca: Mazmur 42:1-12

“TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.” Mazmur 42:9

Banyak orang percaya seringkali mengalami kesulitan jika harus bangun pagi-pagi sekali untuk berdoa karena berbagai alasan misal terburu-buru harus berangkat ke kantor atau sekolah karena jalanan macet. Sarapan saja tiada sempat apalagi menyediakan waktu khusus untuk berdoa. Terlebih bagi mereka yang tinggal di kota besar, di mana roda kehidupan serasa berputar sedemikian cepatnya. Mereka seolah-olah dikejar-kejar waktu, disibukkan dengan tugas dan pekerjaan sampai-sampai waktu, jam, hari, minggu dan bulan sudah tersetting dengan segudang jadwal atau agenda kerja. Dari pagi hingga larut malam rasa-rasanya tiada lagi waktu yang tersisa, 24 jam dalam sehari serasa tidak cukup.

Apakah hanya karena terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas lalu menjadi alasan untuk kita tidak berdoa? Sibuk boleh, tetapi jangan sampai perkara-perkara yang sifatnya duniawi semakin menjauhkan kita dari hadirat Tuhan. Itulah yang Iblis ingini dari kita: supaya kita memanjakan daging dengan menuruti segala keinginannya, di mana perlahan tapi pasti kita pun masuk dalam jeratnya sehingga hal itu memudahkan dia untuk menerkam kita, sebab “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Justru dalam kesibukan yang semakin padat seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan atau mempunyai waktu lebih banyak untuk bersekutu dengan-Nya, supaya semua tugas dan pekerjaan dapat kita kerjakan dengan tuntunan hikmat Tuhan. Semakin sibuk atau semakin banyak pekerjaan justru kita makin membutuhkan penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup kita.

Kalau di pagi hari sampai sore ada banyak sekali kendala atau hambatan sehingga kita tidak bisa berdoa, kita bisa
mencari alternatif waktu yang lain yaitu berdoa di malam hari. Kalau Roh Kudus memimpin hidup kita dan kita mau dipimpin oleh Roh Kudus, sesibuk apa pun kita pasti menyediakan waktu untuk berdoa, di tengah malam sekalipun. Justru di saat-saat yang hening dan sunyi hati dan pikiran kita bisa lebih terfokus kepada Tuhan tanpa adanya gangguan.

Tuhan Yesus bertanya, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” Matius 26:40b


 

Sabtu. DOA DI KALA MALAM (2)

Baca: Mazmur 119:57-64

“Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.” Mazmur 119:62

Setelah bekerja atau beraktivitas seharian memang tubuh terasa capai dan penat; meski demikian kita harus tetap paksakan tubuh ini untuk berdoa. Jika hari ini kita beroleh kekuatan dan kesehatan sehingga semua tugas dan pekerjaan dapat kita selesaikan dengan baik, kita berangkat ke tempat kerja dan pulang bertemu keluarga kembali dalam keadaan selamat, tidakkah kita ingat semuanya itu karena siapa? Tuhan Yesus mengingatkan, “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5b). Selagi tidak ada kebisingan dan gangguan dari siapa pun, malam hari adalah saat yang tepat berlutut di hadapan Tuhan dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Pada waktu tidak terdengar suara dari yang lain kita dapat mempertajam pendengaran kita untuk mendengar suara Tuhan berbicara kepada kita. Selain itu kita mengucap syukur kepada Tuhan atas campur tangan-Nya di sepanjang hari yang telah kita jalani. Berkat, kesehatan, kekuatan, penyertaan, perlindungan yang kita nikmati di sepanjang hari adalah datangnya dari Tuhan, karena itu “…janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2).

Sebelum menentukan pilihan yang tepat untuk memilih dua belas orang yang dipanggil untuk menjadi murid-murid-Nya, yang juga disebut-Nya rasul, Tuhan Yesus pergi ke bukit untuk berdoa, bahkan “…semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Lukas 6:12). Artinya dalam segala hal Tuhan Yesus selalu melibatkan Bapa, menyerahkan semua pergumulan yang dihadapi-Nya kepada Bapa, karena kehendak Bapa adalah yang terutama dalam kehidupan Tuhan Yesus. Sepadat apa pun jadwal pelayanan-Nya di bumi Tuhan Yesus tidak pernah mengesampingkan doa, bahkan di tengah malam sekalipun Tuhan Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.

Segala pergumulan yang berat dapat terselesaikan dan berakhir dengan kemenangan yang gamblang apabila kita mau membayar harga, yaitu keluar dari zona nyaman daging kita untuk berdoa. Ingat kisah ini: saat berada di dalam penjara di Filipi, “…kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah…” (Kisah 16:25), perkara yang dahsyat pun terjadi!
Jangan pernah melewatkan hari tanpa membangun persekutuan dengan Tuhan!


 

Minggu. SEMUA YANG DI BAWAH MATAHARI ADALAH SIA-SIA

Baca: Pengkhotbah 1:1-11

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Pengkhotbah 1:2

Uang, kekayaan, jabatan, pangkat dan juga popularitas adalah perkara-perkara yang selalu dikejar oleh semua orang yang ada di muka bumi ini. Ketika seseorang memiliki semuanya itu ia berpikir hidupnya sudah lengkap dan tak ada yang patut dikuatirkan lagi, karena dunia selalu mengukur dan menilai keberhasilan hidup seseorang dari apa yang dimiliki atau yang tampak oleh mata jasmaniah, padahal semuanya itu hanya bersifat sementara dan sampai kapan pun takkan pernah memberikan kepuasan, sebab “…mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.” (ayat 8).

Bukan kebetulan jika kitab ini ditulis oleh Salomo, “…anak Daud, raja di Yerusalem.” (ayat 1). Alkitab menyatakan bahwa “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23). Salomo adalah raja yang memiliki segalanya: kekayaan, jabatan dan juga popularitas. Meski demikian hal itu tidak serta merta membuatnya bangga, justru ia berkata, “…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” (ayat nas). Pada hakekatnya segala sesuatu yang dimiliki dan dibangun oleh manusia akan berakhir dengan kesia-siaan. “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 1:14). Dalam hal hikmat, “…hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raja-Raja 4:30). Dengan harta dan kekayaan yang melimpah, secara teori Salomo dapat mengalami kebahagiaan hidup, karena apa yang diinginkan dan kehendaki bisa terpenuhi. Namun ternyata Salomo tidak menemukan kebahagiaan dan kepuasan yang sejati. “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkhotbah 5:9-10).

Banyak orang ingin mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dengan cara mengkonsumsi narkoba, pergi ke dunia malam dan sebagainya, namun ruang hati mereka tetap kosong dan gersang, bahkan hidup mereka semakin hancur.

Hidup tanpa takut akan Tuhan adalah sia-sia belaka; “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:26

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral, sosial, iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kasih dan kuasa Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah/guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa betapapun hebat, kaya, pintar, ternyata manusia adalah makhluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk merendahkan hati, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi GARAM dan TERANG, siap menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus. Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk secara unity dan terpadu menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para misionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang egois/tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di zaman ini. Bukan Tuhan yang kita tuntut harus memenuhi keinginan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Melakukan kehendak Tuhan adalah kerinduan utama orang yang mengasihi Tuhan. Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Murid Kristus bukan berarti sudah sempurna, tetapi yang mau hidup dalam pertobatan (tidak hidup dalam dosa), hidup dalam kekudusan, mau menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab/melakukan bagiannya.

Sifat seorang murid Kristus yang siap serta dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:
1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.

2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.

3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:25-27).

Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”

Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana kasih adalah motivasi dan tujuan dari semua pekerjaan misi. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tapi kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman.

Kasih sejati ini memampukan kita berkorban agar orang lain menerima keselamatan, menjadi murid Kristus dan warga Kerajaan Allah.
Dalam praktiknya, sering terjadi salah kaprah dengan menganggap bahwa Amanat Agung hanya sebatas pemberitaan Injil Kristus/Injil Keselamatan saja; padahal Tuhan Yesus juga memerintahkan kita untuk membaptis orang yang percaya kepada-Nya dan memuridkan mereka; memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua makhluk.

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).

Injil Kristus adalah kabar baik keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus; Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi meliputi hukum, tatanan, keadilan, pemulihan, dan kehidupan yang sesuai kehendak-Nya. Aplikasi Amanat Agung harusnya bukan cuma menyentuh aspek rohani saja, tapi juga jasmani (Misi yang Holistik). Misi yang holistik adalah misi yang dilaksanakan oleh para rasul dan selanjutnya oleh Gereja sebagai amanat dari Tuhan Yesus: misi yang menerapkan nilai/prinsip kebenaran dan membangun Kerajaan Allah di tengah masyarakat dunia.

Tuhan Yesus memberi teladan dalam memberitakan kabar baik dan membawa perubahan yang signifikan di seluruh aspek kehidupan komunitas/masyarakat yang dilayani-Nya.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Seperti Tuhan Yesus melakukan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus, demikian pula halnya dengan Gereja. Kita tidak akan mampu melakukan Amanat Agung jika tidak terhubung dengan sumber kuasa, yaitu Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).

Jangan bergerak mendahului Roh Kudus, melainkan belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dengan efektif. Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung. .…. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kita diberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir zaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman, tapi persiapkan diri untuk dengan unity menyelesaikan Amanat Agung.

Selamat Tahun Baru 2026!

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

APAKAH ORANG KRISTEN PASTI BERBUAH ?

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Secara biologi, buah adalah sesuatu yang dihasilkan oleh sebuah pohon sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Semua buah secara alamiah mengandung benih dari pohonnya dan beberapa jenis buah juga memiliki bagian yang dapat dimakan oleh manusia.

Dalam kondisi normal, buah dari sebuah pohon muncul secara alamiah pada waktunya. Buah sebuah pohon sebenarnya ditujukan sebagai cara untuk pohon tersebut menyebarkan benihnya. Buah akan dimakan oleh binatang atau manusia, kemudian benih yang jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon yang lain. Jadi, buah sebuah pohon adalah cara untuk pohon tersebut bermultiplikasi.

Di dalam Alkitab, hidup orang percaya beberapa kali digambarkan seperti sebuah pohon (Mazmur 1:1-3), artinya sesuatu yang ditanam kemudian bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah. Dalam hal ini, buah adalah sesuatu yang keluar dari hidup orang percaya setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus, yang kemudian dinikmati oleh orang lain sehingga orang tersebut pada akhirnya juga bisa mengalami kehidupan yang sama.

I. Apa itu Buah Roh?
Seseorang ketika lahir baru dan mempunyai iman percaya kepada Yesus sebagai sang juru selamat, maka orang itu akan mengalami transformasi dalam hidupnya. Perubahan dari arah suka akan dosa, tahap demi tahap, berubah menjadi cinta akan kebenaran. Transformasi tersebut dikerjakan oleh Roh Kudus yang ada di dalam setiap orang percaya. Roh Kudus merupakan pribadi Allah. Dalam Bahasa Yunani, Roh Kudus juga dikenal sebagai ‘Parakletos’ yang artinya “seorang yang dipanggil atau diutus untuk menolong orang lain,

“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14:26

Roh Kudus adalah pribadi Allah yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak.

Jika kita ijinkan Roh Kudus bekerja dengan leluasa, maka Dia akan bekerja keluar dengan memberikan karunia-karunia Roh untuk melayani, dan ke dalam dengan memanifestasikan sifat-sifat dari Allah melalui perilaku kehidupan orang percaya. Manifestasi Roh tersebut kita sebut dengan Buah Roh (Galatia 5:22-23). Buah Roh bukan sifat alamiah tetapi karakter orang percaya yang diperbaharui karena melekat pada Kristus (Yohanes 15:5) dan ini merupakan tanda kedewasaan rohani. Jadi buah roh itu adalah bukti dari hasil kerja Roh Kudus yang dapat kita lihat dari kehidupan seorang percaya.

Pada saat yang sama buah Roh juga merupakan standar karakter yang bisa dipakai oleh orang Kristen dalam mengukur perjalanan kedewasaan rohaninya. Dalam Roma 12:2 Paulus menasihatkan orang kristen untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, kita harus berubah. Pertanyaannya berubah ke arah mana? Rasul Paulus memberikan petunjuknya dalam Roma 8:29,

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.“

Kata Yunani untuk “gambar” dalam ayat tersebut adalah “eikon”, kata yang sama yang digunakan dalam terjemahan Yunani Septuaginta untuk ayat Kejadian 1:26 yaitu bahwa kita dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Pada awalnya manusia diciptakan segambar dengan Allah dan karena kejatuhan manusia dalam dosa maka sekarang manusia harus mengembalikan gambarnya kepada Allah yang dicerminkan dalam pribadi Yesus.

Menurut David Guzik, manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah memiliki pengertian bahwa mereka memiliki kepribadian, moralitas dan kemampuan rohani untuk bersekutu dengan Allah. Manifestasi dari buah roh mencerminkan karakteristik dari orang yang serupa dengan Kristus. Bahkan bukan suatu kebetulan jika kata “karakter” yang kita gunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang, berasal dari bahasa Yunani “charakter” yang juga diterjemahkan menjadi kata “gambar” dalam Ibrani 1:3a,

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”
Munculnya karakter ini tidak terjadi secara instan tetapi melalui sebuah proses. Sama seperti buah pada sebuah pohon, tidak akan langsung muncul dalam kondisi matang, tetapi bagi seseorang yang sudah menerima Roh Kudus yang tinggal di dalam hidupnya sejak ia lahir baru (Efesus 1:13-14), yang semakin lama semakin serupa dengan Kristus.

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. “ Korintus 3:18

II. Apakah seseorang bisa menunjukan nilai-nilai kebaikan tanpa pendiaman Roh Kudus?
Untuk bisa berbuat baik atau menunjukan nilai-nilai seperti yang nampak dari manifestasi Buah Roh, seseorang tidak harus mengenal Roh Kudus. Orang dunia banyak berbuat kebaikan bahkan terlihat seperti lebih baik daripada orang percaya. Semua orang, dimanapun dia dibesarkan, dalam budaya apapun atau keluarga apapun, bisa menerima dan menyetujui prinsip-prinsip Buah Roh. Tidak heran jika dikatakan bahwa “…Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Galatia 5:23). Namun demikian ada perbedaan yang mendasari prinsip-prinsip dari buah roh tersebut antara orang percaya dan orang dunia.

Bagi orang percaya, dimana hidupnya didiami (indwelled) dan dituntun oleh Roh Kudus, prinsip- prinsip buah roh dilakukannya untuk memuliakan Tuhan. Semua ditujukan untuk menyenangkan Dia. Firman Tuhan menjadi standar untuk prinsip tersebut. Tetapi buat orang dunia, yang hidupnya dikuasai oleh kedagingan, prinsip perbuatan baiknya didasari oleh pemahaman orang itu sendiri. Motivasi orang yang melakukan kebaikan umumnya didasarkan pada keuntungan pribadi.

1. Kasih (Agape)
Kasih Ilahi yang memberi tanpa pamrih. Selalu mengupayakan yang terbaik kepada orang lain (Rom 5:5; 1 Kor 13; Ef 5:2; Kol 3:14)
Kasih yang memperhatikan dan mencari yang terbaik sepanjang bisa memberikan keuntungan pribadi.

2. Sukacita (Chara)
Perasaan senang yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah yang dimiliki orang percaya pada Kristus (Mzm 119:16; 2 Kor 6:10; 2 Kor 12:9; 1 Pet 1:8)
Perasaan senang berlandaskan hasil prestasi, pencapaian, terpenuhinya suatu keinginan/harapan, dan sesuatu kesenangan yang orang lain lakukan kepadanya.

3. Damai sejahtera (Eirene)
Ketenangan hati dan pikiran yang berlandaskan pengetahuan bahwa semua beres diantara orang percaya dengan Bapanya di sorga (Rom 15:33; Fil 4:7; 1 Tes 5:23; Ibr 13:20)
Ketenangan hati dan pikiran berlandaskan tercapainya suatu kekuasaan, jaminan hidup, atau kekayaan.

4. Kesabaran (makrothumia)
Ketabahan, panjang sabar, tidak mudah marah, atau tidak putus asa (Ef 4:2; 2 Tim 3:10; Ibr 12:1)
Tabah, tenang tetapi ada batasnya.

5. Kemurahan (chrestotes)
Tidak mau menyakiti orang lain atau menyebabkan penderitaan (Ef 4:32; Kol 3:12; 1 Pet 2:3)
Bermurah hati dan tidak menyakiti orang lain karena ada hukum yang mencegahnya atau demi nama baik dan keuntungan pribadi.

6. Kebaikan (agathosune)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan serta membenci kejahatan; dapat terungkap dalam perbuatan baik (Luk 7:37- 50) atau dalam menegur dan memperbaiki kejahatan (Mar 21: 12-13)
Bergairah akan kebenaran dan keadilan yang sifatnya sangat relatif/subyektif

7. Kesetiaan (pistis)
Kesetiaan yang teguh dan kokoh terhadap orang yang telah dipersatukan dengan kita oleh janji, komitmen, sifat layak dipercayai dan kejujuran (Mat 23:23; Rom 3:3; 1 Tim 6:12; 2 Tim 2:2; Tit 2:10)
Setia sepanjang bisa menguntungkan.

8. Kelemahlembutan (prautes)
Pengekangan yang berpadu dengan kekuatan dan keberanian. Ini menggambarkan seorang yang bisa marah pada saat diperlukan dan bisa tunduk dengan rendah hati apabila itu diperlukan (2 Tim 2:25; 1 Ptr 3:15; Mat 11:29; 2 Kor 10:1; Kel 32:19-20)
Seringkali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan.

9. Penguasaan diri (egkrateria)
Menguasai keinginan dan nafsu, diri sendiri antara lain dari: perselingkuhan, uang, rakus dan kesucian hidup (1 Kor 7:9; 1 Kor 9:25; Tit 1:8, 2:5; 1 Tim 6:10)
Menguasai keinginan, tidak tergesagesa demi suatu keuntungan pribadi dan mengambil kesempatan yang lebih besar jika ada peluang.

III. Apakah orang yang kelihatan berbahasa Roh (glossolalia) pasti menunjukan buah Roh dalam kehidupannya?
Seseorang bisa saja berdoa dengan sering berbahasa roh dalam pertemuan-pertemuan ibadah, tetapi hidupnya sama sekali masih sarat dengan kedagingan dan tidak menunjukan tanda- tanda buah roh. Dalam hal ini, bahasa Roh tidak disertai dengan kepenuhan Roh Kudus yang senantiasa. Jadi harus ada suatu upaya agar orang percaya senantiasa membiarkan Roh Kudus bekerja, memimpin dan membentuk karakter Kristus.

Sama seperti sebuah pohon agar dapat menghasilkan buah maka pohon tersebut harus dirawat dan diberikan nutrisi agar dapat bertumbuh dengan sehat, maka pada saatnya pohon tersebut akan menghasilkan buahnya. Daud menulis mengenai hal ini dalam Mazmur 1:1-3,

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Disiplin rohani seperti: bersaat teduh, berdoa di Menara doa, berbahasa roh, membaca Firman Tuhan, bersekutu dalam COOL, ikut serta aktif dalam pelayanan, bisa membantu orang percaya untuk dapat hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga menghasilkan buah Roh dalam kehidupan mereka.

Di lain pihak kita menemukan orang-orang yang berbahasa roh dan juga menghasilkan buah roh dalam karakternya. Kedewasaaan rohani dan kemampuan berbahasa roh bisa lebih tepat kita katakan merupakan co-relational, artinya dapat ditemukan bersama-sama tetapi tidak terkait dalam hubungan sebab-akibat. Seperti halnya kita sering temui di sebuah taman ada seekor burung hampir selalu diikuti ada tupai pada waktu yang bersamaan. Tetapi bukan berarti keberadaan mereka tergantung satu dengan yang lainnya. Terkait hubungan antara buah Roh dengan karunia Roh, David Lim menyatakan: “Buah Roh menjadi cara untuk memakai karunia Roh. Keseluruhan buah dibingkai dalam kasih, dan karunia apapun, bahkan dalam manifestasinya yang penuh, tidak berarti apapun tanpa kasih. Di lain pihak, kepenuhan Roh Kudus yang sejati pasti akan menghasilkan buah Roh; ini disebabkan oleh hidup yang bergairah dan diperkaya dalam persekutuan dengan Kristus.”

IV. Apakah dampak buah Roh dalam kehidupan orang percaya?
Buah sebuah pohon tidak dinikmati oleh pohonnya sendiri. Daging dari buah tersebut dinikmati oleh binatang atau manusia yang memakannya. Demikian juga dengan buah Roh.

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. “
Efesus 5:8-9

Orang percaya yang menghasilkan Buah Roh pasti akan berdampak kepada orang lain disekitarnya. Rasul Paulus mengatakan orang yang menghasilkan buah adalah karena mereka hidup sebagai anak- anak terang. Nabi Yesaya menulis mengenai terang:
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.“
Yesaya 60:1

Orang percaya dipanggil untuk menjadi terang karena kemuliaan Tuhan sudah kita dapatkan ketika Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Kita bukanlah sumber terang, tetapi sumber terang itu sudah tinggal di dalam kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi saluran atau cerminan terang Tuhan dengan cara berbuah. Yesus berkata mengenai menjadi terang:

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.“
Matius 5:14-16

Ternyata kita memang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi terang yang dapat dilihat oleh orang lain seperti kota yang di atas gunung atau pelita di atas kaki dian. Artinya kita diselamatkan bahkan diberikan Roh Kudus untuk mendiami kita, supaya kita menjadi kesaksian bagi orang lain dengan tujuan mereka menjadi percaya dan memuliakan Tuhan. Menghasilkan buah Roh tujuan akhirnya adalah agar orang lain dapat menikmati buah dari kehidupan kita mengikut Yesus sehingga pada akhinya mereka pun akan mengikut Yesus akibat kesaksian hidup kita. (RL).

MERDEKA DARI KETERIKATAN MASA LALU (2)

MERDEKA DARI KETERIKATAN MASA LALU (2)

Senin. MERDEKA DARI KETERIKATAN MASA LALU (2)

Baca: Ibrani 12:1-7

“…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibrani 12:1

Kunci menang terhadap masa lalu adalah mengarahkan pandangan ke depan, “…dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2a). Hanya Dia yang sanggup menyucikan dosa-dosa kita dan takkan pernah mengingat-ingat masa lalu kita, sekelam apa pun. “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” (Mikha 7:18-19). Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib Kristus telah mengampuni dosa kita dan mengha-puskan semua kesalahan kita, tapi mengapa kita tidak mau lepas dari belenggu masa lalu? Jangan biarkan Iblis menyeret kita kembali ke lembah kelam masa lalu.

Ketika Sodom dan Gomorah akan dibinasakan Tuhan karena dosa-dosa penduduknya yang memuncak, Tuhan teringat akan Abrahm sehingga Ia mengutus dua malaikat-Nya untuk menyelamatkan Lot dan keluarganya. Pesan malaikat, “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah me-noleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17).

Jangan menengok masa lalu, berlarilah dengan pandangan lurus ke depan dengan mata terarah kepada Tuhan, karena masa depan penuh harapan Tuhan sediakan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Isteri Lot “…menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.” (Kejadian 19:26), bukti tidak mau taat dan enggan meninggalkan masa lalu; baginya tidak ada pertolongan!

Jangan membiarkan diri dibelenggu masa lalu karena itu hanya akan menghalangi kita untuk menikmati berkat yang Tuhan sediakan!


Selasa. KESUDAHAN ZAMAN SUDAH DEKAT

Baca: Lukas 21:7-19

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Luks 21:19

Kita sering mendengar berbagai ramalan atau prediksi yang mengatakan bahwa keadaan dunia dari tahun ke tahun tidak akan bertambah baik, akan ada banyak peristiwa yang mengejutkan: bencana demi bencana, goncangan, pertikaian, bahkan perang. Mengenai hal itu kita tidak perlu terkejut sebab Alkitab sudah menyatakan: “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada ke-laparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” (Matius 24:6-7).

Keadaan semakin diperparah dengan perilaku manusia yang kian menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pem-fitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu menga-sihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4).

Kita juga sudah mendengar kabar tentang kode 666 (antikris) di dalam microchip dengan nama mondex yang sudah mulai dipakai di beberapa negara. Mondex adalah singkatan Monetary and Dexter. Money: segala sesuatu yang berhub-ungan dengan uang, sedangkan dexter menunjukkan lokasi yang ada di tangan kanan manusia. Ini pun sudah ditulis dalam Injil: “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghi-tung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Wahyu 13:16-18). Ini menunjukkan bahwa semua yang tertulis di dalam Injil tidak pernah bohong.

Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kita mampu bertahan menghadapinya!


Rabu. TIDAK PERLU TAKUT HADAPI ESOK

Baca: Mazmur 125:1-5

“Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya.” Mazmur 125:1
Berita-berita yang mengerikan hampir setiap hari kita dengar, tak bisa disalahkan jika semua orang merasa takut dan kuatir menghadapi hari esok. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak perlu bersikap sama seperti mereka, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18). Hari esok memiliki kesusahannya sendiri (baca Ma-tius 6:34), karena itu kita tidak perlu disibukkan memikirkan keadaan esok dengan dihantui oleh berbagai hal yang mem-buat takut dan kuatir, apalagi rasa takut dan kuatir itu sam-pai-sampai melampaui iman kita kepada Tuhan Yesus.

Sekalipun dunia dipenuhi dengan goncangan-goncangan di segala bidang kehidupan, tetapi “…kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28), karena penyertaan Tuhan atas kita sampai kepada kesudahan zaman (baca Matius 28:20b). Marilah kita menjalani hidup ini dengan sikap yang optimis: “…hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat…” (2 Korintus 5:7). Hidup karena percaya berarti melangkah dengan iman karena kita bukan lagi mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan Tuhan dan berserah kepada pimpinan-Nya. Jangan pernah melewatkan hari tanpa melibatkan Tuhan dan meminta penyertaan-Nya dalam segala hal. Mungkin hari-hari yang kita lalui seperti berada di lembah bayang-bayang maut. Kita tidak perlu takut karena Tuhan beserta kita. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4).

Tanpa terasa kita sudah melewati hari-hari berat di sepanjang tahun 2016. Tanpa penyertaan Tuhan kita tidak akan pernah sampai di hari ini. Karena itu tetaplah men-gucap syukur di segala keadaan! Mari kita songsong per-gantian tahun ini dengan memiliki tekad untuk hidup benar, dan jangan lagi bermain-main dengan dosa, sebab Tuhan pasti akan membuat ‘pembedaan’ antara orang benar dan orang fasik.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menar-uh harapannya pada TUHAN!” Yeremia 17:7


 

Kamis. TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM

Baca: Pengkhotbah 3:1-15

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3:14

Hari ini kita berada di awal tahun, artinya ‘musim’ kehidupan yang baru sedang dan akan kita jalani. Musim tahun 2016 telah kita lewati dengan aneka nuansa: keberhasilan, kegagalan, sukacita, dukacita, tawa dan tangis. Tanpa penyertaan Tuhan kita takkan mampu melewati hari-hari sepanjang tahun 2016. Karena itu bersyukurlah kepada Tu-han, karena Dialah kita dapat menanggung segala perkara.

Siapakah kita menghadapi ‘musim’ tahun 2017? Di segala musim kehidupan Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu ada untuk kita. Ingatlah selalu bahwa ada hukum yang berlaku di bawah kolong langit yaitu hukum tabur-tuai. Ada musim untuk menabur dan ada musim untuk menuai. “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai ke-binasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8). Sebelum menanam benih petani harus terlebih dahulu mencangkul tanahnya, mengairi, dan juga menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menghambat benih itu bertum-buh, seperti batu-batu atau gulma, barulah ia menabur benih. Saat menabur benih petani harus kehilangan sesuatu karena harus merelakan benih itu ditanam; jika benih tetap berada di tangan dan tidak ditabur, benih itu akan tetap sama jumlahnya. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:24).

Untuk menuai petani harus menunggu dalam waktu yang tidak singkat: butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan. Ada tertulis: “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang meni-pu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik,” (1 Petrus 3:10-11). Kalau kita mampu melewati pros-es ini kita pasti akan menuai, sebab “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” (Pengkhotbah 3:11).

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Mazmur 126:5


Jumat. MASA DEPAN BAGI ORANG PERCAYA
Baca: Amsal 23:1-35
“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:18
Melihat keadaan dunia saat ini yang unpredictable sangatlah wajar bila banyak orang mengalami ketakutan dan kekuatiran tentang hidup mereka di masa depan. Dengan nada pesimis mereka berkata, “Tidak ada masa depan, masa depan se-makin suram!”

Seburuk apa pun situasi yang sedang terjadi kita harus tetap optimis, sebab masa depan itu sungguh ada dan hara-pan itu tidak akan hilang (ayat nas). Janji firman Tuhan adalah jaminan kita. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikian-lah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Kita percaya bahwa “…tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (Ayub 42:2). Ketika umat Israel merasa tidak yakin akan masa de-pannya, merasa mustahil dapat menyeberangi sungai Yordan, Yosua menguatkan mereka bahwa Tuhan pasti melakukan perbuatan ajaib asal mereka mau menguduskan diri. “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (Yosua 3:5).

Mungkin kita mengalami jalan buntu, tapi percayalah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. “Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?” (Yesaya 51:10). Masa depan yang penuh harapan akan menjadi bagian kita asal kita mau men-guduskan diri, tidak menjamah apa yang najis.

Menguduskan diri bukan berarti harus mencapai tingkatan rohani tertentu atau mencapai kesempurnaan, namun yang teru-tama sekali kita harus punya rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani, mengingini Tuhan lebih dari apa pun. “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mazmur 73:25). Masa depan yang penuh harapan bukan sekedar ilusi atau angan-angan bagi orang-orang yang senantiasa merindukan Pribadi-Nya, yang mau membayar harga dengan menanggalkan semua beban dosa dan melepaskan ikatan persahabatan dengan dunia ini!

Hidup dalam kekudusan (kesucian) adalah langkah menuju ke-hidupan yang berkemenangan dan bermasa depan cerah!


 

Sabtu. JANJI PEMULIHAN DARI TUHAN
Baca: Yesaya 54:1-17

“Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tem-pat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” (Yesaya 54:2)

Di setiap memasuki awal tahun yang baru semua orang pasti memiliki rencana, harapan dan juga impian yang baru pula. Be-sar harapan bahwa kegagalan-kegagalan yang menimpa di ta-hun sebelumnya tidak akan terulang kembali. Kita rindu hari-hari yang kita jalani nanti dipenuhi oleh keberhasilan atau kesuksesan di segala bidang. Namun perlu disadari bahwa prin-sip keberhasilan atau kesuksesan bagi orang percaya itu tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Tuhan, karena itu andal-kan Tuhan dalam segala hal.

Yesaya pasal 54 ini merupakan suatu pembaharuan perjan-jian (recovenant) antara Tuhan dengan umat pilihan-Nya (bangsa Israel) pasca kepulangan mereka dari pembuangan di Babel selama 70 tahun. Waktu itu mereka menghadapi pergu-mulan yang berat: berkurangnya keturunan sebagai ahli waris di negeri perjanjian (ayat 1) dan mengenai pembagian atau tata letak tanah warisan yang menjadi hak mereka (ayat 3). Dalam pembaharuan perjanjian ini Tuhan memberi semangat kepada orang-orang buangan itu dengan menjanjikan pemuli-han, yaitu keadaan baru yang mendatangkan berkat dan sukacita. Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka yaitu keturunan yang berjumlah lebih banyak daripada sebelum pem-buangan, dan juga perluasan wilayah. “…engkau akan mengem-bang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tem-pat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.” (ayat 3).

Perihal janji pemulihan Tuhan ini bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel yang hidup di zaman itu, tapi juga berlaku bagi semua orang percaya yang adalah ‘Israel-Israel’ rohani. Bukankah setiap kita memiliki keinginan untuk mengalami kema-juan di segala segi kehidupan ini? Jika ingin mengalami pemuli-han, usaha makin luas, dan pelayanan kian bertumbuh serta berdampak, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah fokus kepada Pribadi Tuhan, bukan pada berkat atau perluasan itu, sehingga akan semakin mendorong kita untuk lebih men-dekat kepada Tuhan.

“Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.” Mazmur 119:38


Minggu. BERANILAH BERMIMPI BESAR

Baca: Yesaya 54:1-17

“Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.” Yesaya 54:10

Ada kalimat bijak mengatakan, “Seorang pemenang adalah pemimpi yang tak pernah menyerah.” Artinya jika ingin berhasil kita harus memiliki impian yaitu gambaran dari keberhasilan yang ingin diraih di masa depan. Impian akan mendorong orang untuk berusaha dan berjuang, sampai impian menjadi sebuah kenyataan, sebab impian tidak akan terwujud melalui magic, tapi perlu usaha yang keras dan determinasi.

Ada banyak orang berpikiran bahwa bermimpi besar adalah suatu kesombongan. Tidak! Justru Tuhan akan melakukan perkara-perkara besar bagi mereka yang memiliki impian besar, contohnya adalah Yusuf. Keberhasilan Yusuf menjadi penguasa di Mesir berasal dari sebuah impian meski ia harus melewati proses yang panjang. Tuhan Yesus berkata, “…sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.” (Matius 21:21). Impian yang besar akan memperbesar iman kita pula sehingga kita akan menerima hasil sebesar iman tersebut. Perhatian! Pohon akan tumbuh sesuai dengan ukuran tempatnya: jika pohon ditanam ditempat yang besar pohon itu akan
bertumbuh besar, sebaliknya jika pohon itu hanya ditanam di pot yang kecil, pertumbuhannya pun akan terbatas. Ingin usaha atau pelayanan kita makin diperluas, mau tidak mau, kapasitas diri kita pun harus diperbesar! Jadi, beranilah untuk membayar harga: berkorban waktu, tenaga, dan pikiran yang lebih besar lagi.

Dunia ini terus berubah dari waktu ke waktu, maka kita pun dituntut untuk mengikuti perubahan itu dengan terus meng-upgrade diri… jika tidak, kita akan semakin jauh tertinggal. Karena itu “…panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” (Yesaya 54:2): tali tanggung jawab, tali kejujuran, tali ketekunan, tali kesetiaan, tali kerja keras, harus makin diperpanjang, serta diikatkan pada patok yang kuat. Patok itu adalah Tuhan, Gunung Batu yang teguh.

Berani bermimpi berarti kita juga harus berani untuk membayar harga!

KUMPULKANLAH HARTA DI SURGA

KUMPULKANLAH HARTA DI SURGA

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (Matius 6:19-20)

Dunia ini memaknai harta kekayaan, pencapaian, kekuasaan dan kesuksesan sebagai sebuah identitas. Pandangan yang keliru ini memicu manusia untuk berlomba mengejar harta duniawi serta kesuksesan, lalu mengesampingkan Tuhan, nilai-nilai kebenaran dan perkara-perkara kekal. Mereka menyimpang dari iman dan jatuh ke dalam jerat hawa nafsu ketamakan yang mencelakakan serta membinasakan. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengingatkan kita agar jangan hidup seperti dunia yang berfokus mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di surga, yang nilainya jauh lebih mulia dan kekal.

Banyak orang berpandangan bahwa uang/kekayaan akan menjamin kebahagiaan, kemudahan, kepuasan, rasa aman dan harapan bagi masa depan. Kadang tanpa sadar orang bisa menjadikan Mamon sebagai ‘allah’. Contoh: jika kehilangan barang/uang lalu menjadi depresi; menjual kebenaran demi mendapatkan kekayaan; perasaan baru bisa happy jika melihat saldo rekeningnya berjumlah banyak, sebaliknya menjadi kuatir jika tidak memiliki uang yang berlebih; timbul iri hati dan merasa tidak puas jika melihat pendapatan/kekayaan orang lain lebih dari dirinya; menganggap bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya; kekayaan dapat meningkatkan status sosial, dlsb.

Sikap hati yang tidak benar terhadap uang bisa membuat kita menjadi hamba uang. Tanpa disadari kita sedang memupuk cinta akan uang dan terjerat dengan berbagai hawa nafsu. Keinginan untuk menjadi kaya dan cinta akan uang merupakan hal yang harus kita tanggalkan dalam mengikut Tuhan. Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pengkhotbah 5:9a). Alkitab menyebut keserakahan sebagai dosa yang sama dengan penyembahan berhala (Kolose 3:5). Keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia (1 Yohanes 2:16).

Memang Tuhan Yesus datang untuk memberi kita hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Namun firman ini tidak boleh ditafsirkan menurut keinginan daging kita. Tujuan Tuhan memberikan kelimpahan adalah supaya kita menjadi orang-orang yang memberi dampak bagi orang lain. Kalau dunia menggolongkan orang kaya adalah mereka yang memiliki, menyimpan dan menimbun harta – firman Tuhan mengajarkan bahwa orang yang kaya dalam pandangan Allah adalah mereka yang menyebar harta/membagi hidupnya untuk memberkati orang lain dan membangun Kerajaan Allah.

Bisa saja orang tersebut tidak memiliki banyak harta kekayaan secara jasmani, tapi dengan sukacita mampu memberikan apa yang dipunyainya untuk orang lain (2 Korintus 8:2). Sementara orang yang kaya secara materi belum tentu kaya dalam pandangan Allah, kalau ia hanya hidup untuk dirinya sendiri (Lukas 12:21).

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (1 Timotius 6:17-19).

Orang yang kaya dalam Kristus adalah mereka yang memiliki kelimpahan dari dalam (inner man) yaitu hati dan jiwa. Sesungguhnya jika kita memiliki terang Tuhan/kebenaran, maka kita adalah orang-orang yang kaya. Kekayaan sejati orang percaya adalah iman yang murni, hikmat (yang nilainya melebihi emas perak), pengetahuan/pewahyuan, buah-buah Roh Kudus (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri), buah-buah kebenaran (artinya mengalami kegenapan firman Tuhan), dan integritas ilahi yang semuanya merupakan karya Roh Kudus.

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:8-11).

Kekayaan seperti ini yang harus kita kumpulkan sebagai harta di surga – suatu yang bersifat kekal, ngengat dan karat tidak akan merusaknya dan pencuri tidak akan mencurinya.

JANGAN KUATIR

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:31-33).
Matius 6:33, yang bukan merupakan iman transaksional untuk memperoleh kekayaan materi atau apa yang kita inginkan. Ayat ini menggambarkan tentang kesetiaan dan pemeliharaan Allah terhadap mereka yang hidup dalam kebenaran. Pemeliharaan Tuhan tidak dimaksudkan untuk melayani keserakahan kita.

Tuhan memerintahkan kita untuk tidak kuatir akan hal kebutuhan hidup, karena Bapa tahu bahwa kita memerlukannya. Namun Ia mau supaya kita menjadikan firman-Nya sebagai prioritas utama yang menguasai hati dan pikiran kita. Dengan demikian, cara pandang dan nilai/prinsip kehidupan kita ditransformasi oleh firman kebenaran. Kebenaran ini akan memerdekakan kita dari kekuatiran, jerat hawa nafsu cinta akan uang, ketamakan, keserakahan, kesombongan, iri hati, dsb.

Roma 14:17 mengatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kerajaan Allah bukanlah bicara tentang kebutuhan jasmani, tetapi tentang kebenaran, damai sejahtera dan sukacita – yang semuanya merupakan kekuatan bagi jiwa kita. Artinya pada waktu kita dipenuhi dengan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita, maka kekuatiran, ketamakan, dan keserakahan tidak akan menguasai kita.

Di mata Allah, nilai/prinsip kekekalan jauh lebih penting dari sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Bukan berarti Allah menyepelekan hal-hal yang kita butuhkan, tapi Ia hendak mengukir firman kebenaran yang kekal dalam hidup kita. Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Kebutuhan jasmani bersifat sementara, hanya berlaku selama di bumi; tapi orang yang melakukan kehendak Tuhan, tetap hidup selamanya (1 Yohanes 2:17).

Ketika seseorang ditransformasi oleh nilai-nilai kebenaran firman, ia tidak lagi menargetkan perkara-perkara materi sebagai tujuan hidup, melainkan belajar mematikan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Ia belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada, dan mengucap syukur atas kesetiaan Allah dalam hidupnya. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar (1 Timotius 6:6). Rasa cukup di sini maksudnya ‘contentment’ (which comes from a sense of inner confidence based on the sufficiency of God). Kepuasan batiniah yang tidak ada hubungannya dengan kepemilikan sesuatu, rasa cukup yang berakar pada Tuhan.

Ibadah disertai rasa cukup memberi ‘keuntungan besar’. Keuntungan besar yang bersifat non materi. Kita bisa puas dengan Allah, hadirat dan firmanNya. Iman kepada Tuhan tidak bergantung kepada uang/barang yang kita miliki. Tidak terikat akan apapun, hati mudah mengucap syukur dalam segala keadaan. Jiwanya diisi dengan perkara-perkara yang kekal. Rasa cukup akan mudah dialami orang yang memiliki hubungan serta pengenalan yang benar akan Allah, memiliki pewahyuan firman dan cara pandang Kerajaan Allah.

Orang yang memiliki segalanya tapi tidak memiliki hubungan dengan Tuhan dan sesama akan merasa kosong dalam jiwanya. Rasa cukup itu tidak berhubungan dengan possession atau materi. Tempatkan Tuhan sebagai prioritas utama, maka segala berkat dan apa saja yang kita perlukan akan mengalir.

KESIMPULAN

Taruhlah iman kita kepada Tuhan, bukan pada harta. Jaga hati dengan segala kewaspadaan, supaya cinta akan uang semakin terkikis dalam hidup kita. Seberapa pun banyak harta/uang yang kita miliki, hidup kita tidak bergantung kepadanya. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada dan bersyukurlah atas pemeliharaan Tuhan. Kembalikan apa yang menjadi milik Tuhan yaitu persepuluhan. Belajar menabur dan mendampaki orang lain dengan harta yang Tuhan percayakan kepada kita.

Jangan sibuk mengumpulkan harta di dunia yang nantinya tidak akan berlaku di kekekalan. Jangan pula iri dengan harta orang lain. Tidak perlu pamer dan menyalahgunakan harta kekayaan untuk hal-hal yang memuaskan hawa nafsu. Tanggalkan kekuatiran sebab jika kita hidup dalam kebenaran, Allah pasti memenuhi semua keperluan kita.

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

KEKAYAAN – SUMBER DAYA TUHAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Tuhan adalah SUMBER segala sesuatu yang memberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan. Kekayaan memang bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan. Berkat bukanlah  tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian. Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya.

Sambungan minggu ini:

Tuhan bukan hanya memberi berkat, tapi juga penguji hati/karakter. Ia menghendaki kita menjadi hamba yang setia/dapat dipercaya untuk mengelola berkat dalam takut akan DIA.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”  (Lukas 16:10-13).

Ayat ini berbicara tentang ujian kesetiaan dalam perkara kecil. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar…” (Lukas 16:10).

  1. Tuhan melihat yang kecil, manusia melihat yang besar.

Manusia memiliki kecenderungan melihat hal yang kecil itu tidak penting;  sementara bagi Tuhan, hal yang kecil dalam pandangan manusia merupakan cerminan hati. Oleh sebab itu, jangan pernah remehkan perkara-perkara kecil sebab sesungguhnya itu merupakan ujian dari Tuhan. Contoh: cara kita memperlakukan uang receh, cara kita mengelola waktu, cara kita menggunakan toilet umum, cara kita mengembalikan trolly belanja pada tempatnya, cara kita menjaga amanat yang sederhana, cara kita memperlakukan tugas pelayanan yang tidak terlihat, cara kita menepati janji/komitmen kecil, dlsb. Ternyata apa yang kita anggap sepele, bisa menjadi ujian besar dari Tuhan yang akan menentukan arah hidup kita.

  1. Uang adalah latihan rohani, bukan sekadar alat ekonomi.

Yesus dengan sangat tegas mengatakan: “Jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapa akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jika kita tidak bisa setia mengelola harta duniawi untuk mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, orang lain serta untuk kepentingan Kerajaan Allah, maka Tuhan tidak akan menitipkan harta rohani, hikmat, kapasitas pelayanan, atau memberikan pengaruh yang besar – yang jauh lebih berharga dari harta dunia. Sikap hati terhadap harta materi mencerminkan kesetiaan kita kepada Tuhan, menunjukkan apakah kita dapat dipercaya untuk hal yang lebih besar atau tidak. Demikian pula cara kita mengelola harta orang lain mencerminkan kualitas moral karakter kita.

  1. Dua Tuan: Tuhan atau Mamon.

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13c).

Masalahnya bukan pada uang yang kita miliki, tetapi pada siapa yang memegang hati kita.
Beberapa pertanyaan yang dapat mendeteksi siapa sebenarnya yang memegang hati kita, dan siapa ‘tuan’ di hidup kita:

Apakah uang mengendalikan perilaku dan keputusan kita? Apakah kita mengukur harga diri/status sosial dari materi? Apakah kita mengorbankan integritas demi keuntungan? Apakah kita lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan hadirat Tuhan? Apakah uang yang menjadi sumber kebahagiaan dan rasa aman kita?

Kita hanya bisa punya satu ‘tuan’. Entah Tuhan yang menguasai dompet kita,
atau Mamon yang menguasai hati kita. Kita harus bisa membedakan: Tuhan adalah SUMBER bahan mentah, tanah yang harus kita olah, pengetahuan yang harus kita gali, dan hubungan yang harus kita pelihara. Uang adalah alat (tools) untuk membantu kita mengolah bahan mentah tersebut dan menjalankan rencana Tuhan.

“…Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abagi.” (Lukas 16:9). Jadikan Mamon/harta duniawi sebagai ‘hamba’ yang dipakai untuk menolong orang lain dan membangun Kerajaan Allah, bukan sebagai ‘tuan’ yang mengendalikan hidup kita.

PENUTUP

Allah adalah Sang Pemberi/Sumber berkat, sekaligus penguji hati dan karakter. Kita perlu sering mengingatkan diri sendiri bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik. Belajarlah menjadi hamba yang baik dan setia, yang menjalankan talenta tuan-nya, yaitu Tuhan sendiri – SUMBER/PEMILIK segala sesuatu.

Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan,  kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.  Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. (1 Tawarikh 29:11-12).