Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 2)
BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

BEKERJA UNTUK MAKANAN YANG BERTAHAN SAMPAI KEPADA HIDUP KEKAL

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal,  yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya. (Yohanes 6:27)

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus tidak bermaksud melarang kita bekerja untuk mendapatkan upah demi memenuhi kebutuhan hidup. Yang Ia katakan dalam Yohanes 6:27 adalah jangan bekerja hanya untuk makanan, upah, keuntungan serta hasil yang bersifat fisik dan sementara saja; tapi bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan oleh Tuhan Yesus.

ISI

Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, tapi untuk yang kekal. Bagaimana cara bekerja untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal? Jawabannya adalah: percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan firman-Nya (Yohanes 6:29). Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman Tuhan kekal selamanya (Matius 24:35). Percaya kepada Kristus merupakan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yang didemonstrasikan dengan ketaatan kepada firman-Nya; sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Job menghasilkan upah yang sementara berupa gaji, tapi mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah memberi upah bukan hanya dapat dinikmati di dunia, tapi juga di kekekalan. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Orang percaya bukan hidup dari gaji saja, tapi dari janji, yaitu firman Tuhan. Seseorang bisa punya uang banyak, tapi dengan uang yang dimilikinya ia tidak akan bisa membeli hal-hal yang bersifat kekal dan supernatural, misalnya keselamatan, pengampunan dari Tuhan, damai sejahtera, sukacita, hikmat, kelepasan dari keterikatan, kesembuhan sempurna, pemulihan, mukjizat, dlsb. Hal-hal ini hanya dapat diperoleh jika kita melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu percaya kepada Kristus.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33).

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17).

Jika Kristus yang menjadi pusat hidup kita, maka apa yang kita kerjakan merupakan buah dari hubungan kita dengan Tuhan. Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3). Dengan demikian, pekerjaan/job/aktivitas yang kita lakukan bukan sekedar sibuk atau hanya berorientasi kepada hal-hal fisik yang sementara, tapi kepada kekekalan. Dalam persekutuan dengan Tuhan, apa saja yang kita kerjakan, dibuat-Nya berhasil.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,  yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,  dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon,  yang ditanam di tepi aliran air,  yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1: 1-3).

Dengan terhubung kepada Tuhan, kita sedang bekerja (baik itu job maupun work) untuk makanan/upah yang bertahan sampai kepada hidup kekal, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia (1 Korintus 15:58b). Persekutuan kita dengan Tuhan menghasilkan buah Pelayanan. Pelayanan bukan hanya dilakukan di dalam Gereja, tetapi di mana saja Tuhan menempatkan kita: di rumah tangga, keluarga besar, pekerjaan sekuler, tempat usaha, sekolah, masyarakat, dlsb.

Perlu diingat, bahwa kita bekerja dalam enam hari, hari ke-tujuh adalah hari perhentian supaya kita dapat beribadah kepada Tuhan. Jangan buat pekerjaan (job) menjadi berhala, jangan pula jadikan pekerjaan/pelayanan sebagai identitas diri. Ada orang yang merasa diri lebih dari yang lain karena memiliki pekerjaan/karir yang hebat, terkenal, pegang peranan penting atau bergaji besar. Sementara ada pula yang merasa dirinya kurang berharga/penting karena hanya seorang pekerja kasar, bergaji kecil, pelayanannya tampak kurang berarti, kecil atau tidak dipandang. Identitas diri kita bukan ditentukan dari apa yang kita kerjakan, miliki atau capai; identitas kita adalah anak-anak Allah, ciptaan baru dalam Kristus Yesus, yang kepadanya diberi talenta sesuai kapasitas/kesanggupan masing-masing. Jangan merasa lebih unggul ataupun lebih rendah dari orang lain. Kerjakan bagian  masing-masing seperti untuk Tuhan, sebab kita semua adalah hamba Kristus. Karena setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut; dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

PENUTUP

Bekerjalah untuk hasil dan upah yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan (termasuk job), kerjakan dengan iman – bukan hanya dengan pengetahuan, karunia, bakat, serta ketrampilan saja. Semua pekerjaan halal, yang menjadi berkat bagi orang lain serta memuliakan Tuhan adalah kudus. Meskipun bekerja di dunia sekuler/marketplace, kita wajib menerapkan etos kerja Kristen yang berdasarkan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan.

Undang Roh Kudus untuk terlibat dalam setiap aktivitas dan pekerjaan kita. Minta Ia memberi hikmat untuk mengerti apa kehendak Allah dari pekerjaan tersebut, memberi hikmat untuk mengambil langkah/keputusan, mengatasi masalah, berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang yang tepat, dan memampukan kita untuk menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan.

TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (1)

TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (1)

Senin. TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (1)

“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?” Ayub 7:1

Pernyataan bahwa hidup adalah perjuangan memang benar adanya. Alkitab pun menyatakan bahwa manusia harus bergumul di bumi dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan. Dalam Alkitab versi bahasa Indonesia sehari-hari demikian: “Manusia itu seperti dipaksa berjuang; hidupnya berat seperti hidup seorang upahan;” Artinya setiap hari kita dihadapkan pada pergumulan demi pergumulan yang tidak ringan. Untuk itu dibutuhkan kerja keras dan perjuangan karena tidak ada keberhasilan atau kesuksesan yang datang secara tiba-tiba turun dari langit, semuanya melalui proses yang panjang. Bagi mereka yang memiliki cita-cita atau impian besar mustahil dapat meraihnya jika hanya bermalas-malasan atau berpangku tangan saja.

Thomas Alfa Edison adalah salah seorang tokoh penemu terbesar di dunia. Bola lampu adalah salah satu hasil temuannya sehingga semua manusia di muka bumi ini dapat menikmatinya. Ia adalah seorang yang pantang menyerah, tidak pernah berhenti berjuang meski harus mengalami kegagalan ribuan kali saat melakukan eksperimen; dan karena kegigihannya ini Edison pun disebut sebagai penemu yang paling produktif dalam sejarah kehidupan manusia. Ia menyatakan bahwa kunci keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau kejeniusan seseorang, tapi faktor terbesar yang menunjang keberhasilan seseorang adalah kerja keras. “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” (1 Timotius 4:10).

Lalu, kita harus berjuang dalam hal apa? Berjuang menghadapi masalah atau penderitaan. Selama kaki kita masih berpijak di atas muka bumi ini, sampai kapan pun kita tidak dapat menghindarkan diri dari masalah, kesukaran atau penderitaan hidup. Meski demikian kita tidak perlu berkecil hati dan berputus asa, karena kita punya Tuhan yang sangat peduli dan mengerti, yang berjanji tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita sendiri. Bahkan “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.” (Yesaya 46:4a).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena itu jalanilah hidup dengan iman! Baca: Ayub 7:1-21


Selasa. TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG (2)

“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,” 2 Korintus 10:3

Kesukaran dan penderitaan adalah bagian hidup manusia, Musa pun mengakuinya. Namun ia justru menyebutnya sebagai suatu kebanggaan (baca Mazmur 90:10), karena pengalaman hidup yang penuh proses seperti itu dapat menjadikannya kuat. Adalah suatu kebanggaan ketika orang dapat bertahan atau mampu melewati setiap kesukaran dan penderitaan yang dialami. Musa telah membuktikan betapa berat proses yang dijalaninya ketika harus memimpin umat Israel yang tegar tengkuk itu selama 40 tahun. Seberat apa pun keadaannya, life must go on, harus tetap semangat menjalani hidup, sebab “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Amsal 18:14).

Lalu kita harus berjuang dalam hal apa lagi? Berjuang melawan keinginan daging. Setiap detik, menit, jam kita selalu menghadapi pilihan hidup yang tidak mudah: menuruti keinginan daging atau Roh Kudus. Ini membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, sebab “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41). Kelemahan utama daging adalah cenderung melakukan perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5:19-21). Mengikuti keinginan daging mengakibatkan kebinasaan daging (baca Galatia 6:8), tidak mendapat tempat di Kerajaan Sorga.

Hanya dengan pertolongan Roh Kudus saja kita dapat mematikan segala keinginan daging. “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” (Roma 8:13). Sehebat apa pun seseorang, kalau ‘daging’ nya lemah atau semata-mata hidup menuruti keinginan dagingnya, ia pasti akan menuai kegagalan!
Perjuangan orang percaya adalah perjuangan menyalibkan keinginan daging!

Baca: 2 Korintus 10:1-11


Rabu. WASPADA TERHADAP NABI PALSU

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7:15

Semua orang percaya tahu dan sadar bahwa hari-hari ini adalah hari yang sangat jahat, seperti peringatan rasul Paulus, “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” (Efesus 5:15). Tanda-tanda zaman sangat jelas menunjukkan kedatangan Tuhan sangat dekat, salah satunya banyak bermunculan nabi-nabi palsu yang seringkali menyatakan aneka macam nubuatan yang bertujuan mengacaukan dan meresahkan jemaat. “Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.” (1 Korintus 14:3). Kalau nubuatan menyimpang dari kebenaran, nubuatan tersebut patut diwaspadai.

Hananya adalah seorang nabi, tetapi ia adalah nabi palsu. Umat Israel tidak mengetahuinya karena nubuatan yang disampaikan Hananya itu tampak baik dan benar. “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel…demikianlah firman TUHAN! Sungguh, Aku akan mematahkan kuk raja Babel itu!” (Yeremia 28:2-4). Hananya berani berkata, “Beginilah firman TUHAN” Tetapi nabi Yeremia yang mempunyai karunia membedakan roh mengetahui bahwa nubuatan yang disampaikan oleh Hananya itu palsu.

Karunia membedakan roh adalah kesanggupan Ilahi yang Roh Tuhan berikan kepada seseorang untuk dapat membedakan dan mengenal suatu gejala atau kenyataan rohani, apakah itu berasal dari Tuhan, dari Iblis atau dari manusia. “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.” (Yeremia 28:15), maka “…matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga,” (Yeremia 28:17). Setiap nubuatan harus diuji dengan kebenaran Injil, karena itu kita harus tekun membaca dan merenungkan firman Tuhan; jika tidak, bagaimana kita tahu bahwa nubutan itu palsu atau tidak?

“…janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah;” 1 Yohanes 4:1
Baca: Matius 7:15-23


Kamis. MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN: Berhak Masuk Sorga (1)

“Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mere-ka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:23

Menjadi Kristen bukan jaminan masuk Sorga, apalagi syarat-syarat yang diminta Tuhan tak dipenuhi. Untuk dapat masuk ke dalam kerajaan-Nya kita harus melakukan kehendak bapa, tidak cukup hanya rajin ke gereja atau sibuk pelayanan, atau dengan seruan kepada Tuhan saja. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (ayat 21). Melakukan kehendak Tuhan kunci utama masuk Kerjaan Sorga.

Mengapa kita harus melakukan kehendak Tuhan? Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup bagaimana Ia menempatkan kehendak Bapa sebagai yang utama dalam hidup-Nya. Alkitab menyatakan bahwa bagi Tuhan Yesus makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus Dia (baca Yohanes 4:34). Ini menunjukkan bahwa kehendak Bapa bagi Yesus adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan terasa nikmat, sama seperti orang yang suka dan menikmati menu makanannya. Namun banyak orang menganggap bahwa melakukan kehendak Tuhan adalah sesuatu yang berat dan sangat menyiksa; ini benar bila kita melakukannya dalam keadaan terpaksa atau menjadikan itu sebagai suatu beban. Berbeda bila kita memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan dan mengasihi-Nya dengan sungguh, kita pasti dapat berkata seperti pemazmur katakan, “…perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku.” (Mazmur 119:143), karena itu “…aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” (Mazmur 40:9).

Tanda orang mengasihi Tuhan adalah menuruti perintah-Nya. “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,” (1 Yohanes 5:3). Orang yang tahu bahwa ada berkat-berkat luar biasa yang Tuhan sediakan bagi orang-orang yang taat pasti akan melakukan ke-hendak Tuhan dengan sukacita.

Berkat terbesar bagi orang yang taat melakukan kehendak Tuhan adalah masuk ke dalam Kerjaan Sorga.

Baca: Matius 7:15-23


Jumat. MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN: Menikmati Janji Tuhan

“Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Matius 12:50

Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa pun yang sering melakukan kehendak Bapa akan menjadi bagian keluarga Kerajaan Sorga. Bukan hanya itu… apa saja yang diminta akan diperolehnya. “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (1 Yohanes 3:22). Kunci mengalami penggenapan janji Tuhan adalah tekun melakukan kehendak Tuhan, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36).

Ketekunan berbicara tentang proses waktu yang tidak singkat: secara konsisten melakukan apa yang Tuhan kehendaki yang di dalamnya terkandung unsur sabar, setia, berjaga-jaga dan tetap menanti-nantikan Tuhan. “…Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” (Ibrani 9:28). Oleh karena itu kita harus berani mengadakan pemisahan hidup dengan dunia, bersikap tegas untuk tidak berkompromi dengan segala hal yang sifatnya duniawi. “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” (2 Korintus 6:17).

Memisahkan diri dari dunia bukan berarti menjauhi atau mengadakan permusuhan dengan orang-orang yang bukan pengikut Kristus, tetapi kita memisahkan diri dari cara hidup dunia yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Masih banyak orang percaya yang enggan memisahkan diri dari dunia, hatinya mendua, yaitu mengikut Tuhan dan tetap menjalin ‘persahabatan’ dengan dunia. Padahal Alkitab dengan tegas menyatakan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yakobus 4:4).

“Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” 1 Yohanes 2:17

Baca: Matius 12:46-50


Sabtu. MUJIZAT MELALUI PERANTARAAN HAMBA TUHAN

“Lalu berkatalah Elisa: ‘Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.'” 2 Raja-Raja 4:3

Dikisahkan ada seorang janda nabi yang sedang dalam kesukaran besar. Suaminya meninggal dunia meninggalkan utang begitu banyak sehingga wanita ini tidak sanggup melunasinya. Tidak ada warisan harta selain dua anak laki-laki yang masih belia.
Syukurlah di tengah impitan ekonomi ini perempuan tersebut tidak putus asa atau frustasi, ia masih memiliki iman. Ter-bukti ia datang kepada nabi Elisa untuk mencari pertolongan Tuhan. Dengan kata lain ia datang ke alamat yang tepat, bukan mencari pertolongan kepada dukun, orang pintar atau mencari jalan pintas. Tanya Elisa, “‘Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kau-punya di rumah.’ Berkatalah perempuan itu: ‘Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.'” (ayat 2). Kemudian Elisa memberikan perintah kepada perempuan itu untuk meminjam bejana-bejana kosong dari semua tetangganya, sebanyak mungkin, lalu membawanya masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan menuangkan minyak itu ke dalam bejana-bejana itu sampai penuh. Perkataan Elisa itu kedengarannya sangat aneh dan tidak masuk akal sama sekali.

Bagaimana mungkin minyak yang sedikit itu bisa memenuhi bejana-bejana kosong itu? Tetapi perempuan itu percaya firman Tuhan yang telah disampaikan melalui nabi Elisa dan melakukan apa yang diperintahkan! Mujizat pun terjadi: minyak yang dituangkan itu tidak habis, mengalir terus hingga semua bejana itu menjadi penuh.

Mujizat adalah perbuatan atau kenyataan ajaib yang Tuhan kerjakan untuk membuktikan bahwa Ia hidup dan berkuasa, suatu manifestasi kehendak Tuhan dalam keadaan tertentu untuk menggenapi firman-Nya. Dalam kisah ini Tuhan menyatakan mujizat yang dikehendaki-Nya dengan perantaraan hamba-Nya. Mujizat ini terjadi oleh karena doa dan tindakan iman yaitu menaati atau melakukan apa yang Tuhan firmankan. Tidak ada mujizat yang terjadi atas kehendak manusia sendiri, semua itu adalah pekerjaan Tuhan semata-mata untuk membuktikan kebenaran firman-Nya.

Iman dan ketaatan melakukan firman Tuhan adalah kunci mengalami mujizat Tuhan!

Baca: 2 Raja-Raja 4:1-7


Minggu. ANGGUR YANG BERBUAH MANIS ATAU MASAM

“Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.” Yesaya 5:1

Melalui perumpamaan ini Tuhan menggambarkan kebun anggur yang tampak subur dan indah dipandang mata. Kebun itu dirawat-Nya sedemikian rupa: dipupuk, dicangkul, dibuang batu-batunya. Di tengah kebun itu dibangun menara jaga, dan anggur yang ditanam adalah anggur pilihan. Pemiliknya berharap kebun anggur itu menghasilkan buah yang rasanya masam.

Kebun anggur yang dimaksud adalah gambaran tentang umat Israel, bangsa pilihan Tuhan yang mendapatkan perlakuan secara khusus dan istimewa dari Tuhan. Namun demikian mereka tidak menunjukkan kualitas hidup yang sesuai dengan harapan. “…dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.” (ayat 7). Mereka gagal menjadi apa yang Tuhan inginkan!
Walaupun telah mengecap kebaikan Tuhan dan mengalami berbagai mujizat yang luar biasa mereka tetap saja menjadi bangsa yang tegar tengkuk, bahkan tega menyakiti hati Tuhan dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari firman-Nya sehingga hal itu menimbulkan murka Tuhan. “Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.” (ayat 5-6). Karena telah mengecewakan, Tuhan pun menghukum mereka, bukan karena Ia benci terhadap umat-Nya tetapi sebagai wujud kasih dan perhatian-Nya, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6).

Supaya kebenaran orang percaya seperti kebun anggur yang subur dan produktif (menghasilkan buah) kita harus mau ‘dibersihkan’ dan ‘ditata’ oleh Tuhan. Jangan mengeraskan hati dan hidup menyimpang dari kehendak Tuhan karena kita ini telah dipilih dan dikuduskan-Nya, bahkan telah ditebus dengan darah-Nya yang mahal.

“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Matius 3:8

Baca: Yesaya 5:1-7

KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

Senin. KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Banyak orang Kristen tidak lagi bisa bersukacita, ketika sedang terhimpit beban atau masalah yang berat. Mereka dikalahkan oleh keadaan atau situasi. Sebagai orang percaya seharusnya hal ini tidak boleh terjadi!

Mahatma Gandhi, tokoh kenamaan dari India pernah berkata, “Tak ada yang menguras tubuh seperti kekuatiran, dan orang yang mempunyai iman pada Tuhan harus malu untuk kuatir tentang apa pun.” Pemazmur menasihati, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23). Seburuk apa pun keadaan, asal kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita akan mampu tetap bersukacita. Ketika kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita berpotensi beroleh kekuatan adikodrati sehingga kita dapat berkata seperti rasul Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Berserah kepada Tuhan bukan berarti bersikap pasif dan menjadi malas. Berserah kepada Tuhan artinya membawa segala pergumulan yang kita kuatirkan kepada Tuhan dengan penuh penyerahan, dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kalau kita sudah menyerahkan segala pergumulan kepada Tuhan dalam doa kita pun harus meyakini bahwa Tuhan akan menjawab doa. Ada unsur iman yang bekerja, sebab iman tanpa disertai perbuatan pada hakekatnya adalah mati (baca Yakobus 2:17).

Permohonan artinya memohon belas kasihan Tuhan yang biasanya disertai dengan sikap merendahkan diri, meratap, mengerang dan berpuasa untuk menarik simpati Tuhan. “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan…” (2 Tawarikh 7:14). Ucapan syukur adalah perwujudan dari sikap hati yang benar atau pikiran yang positif.

Berserah kepada Tuhan berarti kita mempercayai Dia sebagai Pribadi yang Mahasanggup, yang kuasa-Nya jauh lebih besar dari masalah kita!

Baca: Filipi 4:4-9


Selasa. KERENDAHAN HATI DAN IMAN: Menggerakkan Hati Tuhan

“Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Lukas 7:9

Seorang hamba yang setia melakukan tugas dan dapat dipercaya pasti sangat dikasihi, sebab “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;” (Amsal 19:22).

Dalam bacaan di atas, begitu tahu hambanya sedang sakit tuannya pun menunjukkan perhatiannya dan berusaha mencari jalan untuk kesembuhannya. Ketika mendengar bahwa Tuhan Yesus berada di Kapernaum perwira itu menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi untuk memberitahukan hal itu kepada Tuhan dan meminta-Nya datang menyembuhkan hambanya itu. Yesus pun menyatakan kesediaan-Nya. Tetapi perwira itu menganggap diri tidak layak dikunjungi oleh-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu.” (Lukas 7:6-7). Pernyataan ini menunjukkan bahwa perwira itu memiliki kerendahan hati. Meskipun sebenarnya ia adalah orang yang berpangkat atau terpandang tapi ia tidak memegahkan diri. Kerendahan hati adalah modal penting untuk menghadap Tuhan, sebab Tuhan mengasihi orang-orang yang punya kerendahan hati. “…orang yang rendah hati dikasihani-Nya.” (Amsal 3:34), dan menentang orang-orang yang congkak. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6). Ada kalimat bijak mengatakan, “Kerendahan hati dapat membuat seseorang terlihat istimewa di mata orang lain.” Perwira itu juga memiliki iman yang luar biasa. “Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Lukas 7:7b).

Sikap perwira ini sungguh jauh berbeda bila dibandingkan dengan Naaman yang merasa diri sebagai orang ‘penting’ yang berharap supaya abdi Tuhan datang kepadanya dan melakukan seperti yang diharapkan (baca 2 Raja-Raja 5:11). Tanpa harus menumpangkan tangan kepada hambanya, perwira dari Kapernaum itu sangat percaya Yesus sanggup menyembuhkan sakit yang diderita hambanya itu. Iman perwira Romawi itu melampaui iman yang Tuhan Yesus lihat di kalangan orang-orang Yahudi sendiri.

Ingin mengalami pemulihan dan kesembuhan? Milikilah kerendahan hati dan iman yang hidup seperti yang dimiliki oleh perwira Romawi itu.

Baca: Lukas 7:1-10


Rabu. EDOM: Bersukacita Di Atas Penderitaan

“Oleh karena dalam hatimu terpendam rasa permusuhan yang turun-temurun dan engkau membiarkan orang Israel menjadi makanan pedang pada hari sial mereka, waktu saatnya tiba untuk penghakiman terakhir,” Yehezkiel 35:5

Dalam praktek hidup sehari-hari kita sering mendengar istilah ‘menari di atas penderitaan orang lain’, yaitu seseorang yang tampak senang atau bersukacita ketika melihat orang lain hidup menderita, tertawa lebar karena kemalangan yang dialami orang lain. Benarkah sikap yang demikian? Tuhan tidak menghendaki kita bersukacita karena kesusahan, penderitaan atau kemalangan yang dialami oleh orang lain, termasuk yang dialami oleh musuh sekalipun. Inilah nasihat rasul Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Inilah yang disebut tepa selira (bahasa Jawa), berbela rasa. Ketika melihat orang lain sedang tertimpa kesusahan atau kemalangan, Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu untuk menolong, bukan malah ketawa-ketiwi, dan berkata dalam hati: “Rasain lho…!”

Edom memusuhi bangsa Israel, yang adalah umat pilihan Tuhan, dan menutup mata ketika melihat penderitaan umat Israel yang diakibatkan serangan musuh, bahkan mereka tampak bersukacita melihat umat Israel begitu menderita. Edom merupakan nama tempat yang sebelumnya dikenal dengan nama pegunungan Seir. Tanah dan penghuni Edom ini dapat ditemukan di dataran selatan dan tenggara Laut Mati. Nama Edom memiliki tiga makna: *nama lain dari Esau sebagai peringatan bahwa ia telah menukarkan hak kesulungannya dengan sup merah; *Edom sebagai satu kelompok bangsa; *tanah yang diduduki oleh keturunan Esau, yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir.

Kata Edom sendiri memiliki arti merah. Dan akhirnya warna ‘merah’ itupun menjadi sebuah kenyataan, karena tempat itu dipenuhi oleh warna merah oleh tumpahan darah para penduduknya yang mendapatkan penghukuman atau pembalasan dari Tuhan. “Aku akan menjadikan engkau darah dan darah akan mengejar engkau; oleh sebab engkau bersalah karena mencurahkan darah, maka darah akan mengejar engkau. Aku akan menjadikan pegunungan Seir musnah dan sunyi sepi dan melenyapkan dari padanya orang-orang yang lalu lalang.” (Yehezkiel 35:6-7).

Karena memusuhi umat pilihan Tuhan, Edom harus menanggung akibatnya!

Baca: Yehezkiel 35:1-15


Kamis. MENJADI BERKAT DI TENGAH KESESAKAN

“Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku.” Mazmur 142:7

Adalah mudah untuk mengatakan hal-hal yang positif: membangun, menguatkan, menghibur orang lain ketika orang sedang dalam keadaan baik dan tanpa masalah; namun jika diri sendiri sedang mengalami situasi sulit atau dalam kondisi yang buruk, mampukah mempertahankan konsistensi untuk berkata positif? Jangankan menguatkan orang lain, menghibur diri sendiri saja mungkin sulit. Yang terjadi adalah kita mengasihani diri sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain.

Mari belajar dari pengalaman hidup Daud! Ketika itu Daud sedang dalam tekanan yang hebat karena dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhnya. Daud pun melarikan diri dan bersembunyi di gua Adulam dengan maksud menenangkan diri dan berlindung. Daud mengungkapkan jerit hatinya kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya, “Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya.” (ayat 3). Apa yang selanjutnya dialami Daud di gua itu? “Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati,” (1 Samuel 22:2). Datanglah kepadanya orang-orang yang sedang bermasalah, yang jumlahnya kira-kira empat ratus orang. Tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi Daud saat itu, ia yang sebenarnya membutuhkan kekuatan, penghiburan dan dorongan semangat, justru mendapat kiriman Tuhan orang-orang yang bernasib sama ke tempat persembunyiannya, untuk dihibur dan dikuatkan olehnya. Ada rencana Tuhan di balik masalah yang dialami Daud! Tuhan menempatkan Daud sebagai penolong bagi orang lain: menghibur, menguatkan, membangkitkan semangat seperti tertulis: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

Melalui kehadiran orang-orang yang bermasalah, Daud diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai seorang konselor, bahkan menjadi pemimpin atas mereka. Berbicara tentang kepemimpinan berarti pula berbicara tentang keteladanan. Meski Alkitab tidak mencatat secara detil kejadian di gua Adulam itu, kita percaya bahwa Daud menunjukkan kualitas hidup yang berbeda.

Tuhan punya cara yang ajaib untuk menolong dan membangkitkan semangat Daud!

Baca: Mazmur 142:1-8


Jumat. HAK DAN KEWAJIBAN HARUS SEIMBANG

“Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” Efesus 6:8

Secara umum hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunaannya tergantung kepada kita sendiri. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan. Hak dan kewajiban adalah dua aspek yang tidak terpisahkan dan saling berkaitan. Bila seseorang sudah melaksanakan kewajibannya dengan baik maka secara otomatis hak akan menjadi bagiannya. Namun banyak orang lebih mengedepankan hak, alias menuntut haknya dipenuhi terlebih dahulu, tetapi urusan kewajiban diabaikan. Jadi menuntut hak secara penuh tetapi tidak menjalankan kewajiban sesuai harapan.

Untuk mewujudkan sebuah kemitraan yang baik hak dan kewajiban haruslah berjalan secara seimbang. Seorang hamba, dalam situasi dan kondisi apa pun, berkewajiban untuk taat pada tuannya yaitu mengerjakan dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi tugasnya. “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” (Efesus 6:5-7). Taat artinya memberi diri dengan menundukkan keberadaan diri sebagai sikap hormat yang keluar dari dasar hati yang terdalam, bukan kepura-puraan atau sebatas menyenangkan sang tuan. Ini berbicara tentang dedikasi dan loyalitas.

Ketaatan kepada tuan harus disamakan dengan taat kepada Kristus, yaitu melakukan tugas dengan segenap hati sebagai kehendak Tuhan atas dirinya. Sebagai tuan kita pun harus tahu apa yang menjadi bagian kita yaitu memenuhi kewajiban dengan baik. Firman Tuhan memperingatkan, “Janganlah engkau memeras sesamamu manusia…janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.” (Imamat 19:13). Secara tegas rasul Paulus menya-takan entang kemahatahuan dan keadilan Tuhan atas para tuan yang tidak memenuhi tanggung jawabnya (Efesus 6:9).

Berkat tersedia bagi hamba-hamba dan tuan-tuan yang mampu menjalankan perannya sesuai kehendak Tuhan!

Baca: Efesus 6:1-9


Sabtu. LEBAH YANG MENGHASILKAN MADU

“Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.” Mazmur 81:17

Membahas tentang madu tak lepas dari si penghasil madu itu sendiri yaitu lebah. Ada hal-hal menarik yang dapat kita pelajari dari kehidupan seekor lebah, yang termasuk dalam golongan serangga. Lebah suka sekali berada di suasana yang indah, selalu mencari, menemukan dan hinggap pada setiap bunga untuk menghisap sari madu bunga-bunga tersebut. Lebah hinggap dari satu bunga ke bunga lain untuk menjemput sari madu dan mengumpulkannya di sarang. Dengan kata lain lebah tertarik pada aroma yang harum dan sama sekali tidak tertarik pada sesuatu yang kotor. Selain itu lebah hidup rukun dalam satu koloni dan patuh pada seekor ratu lebah selaku pemimpin koloni itu. Lebah taat kepada pembagian kerja: ada yang bertugas membuat sarang, ada yang khusus bertugas mencari madu, ada yang menjaga sarang, dan ada juga yang menjaga ratu lebah. Lebah madu adalah serangga sosial. Madu yang dihasilkannya kaya manfaat dan dikenal sangat berkhasiat untuk kesehatan: meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menambah stamina dan lain-lain.

Begitu pula dengan orang percaya yang hidup bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Ia memiliki gaya hidup seperti lebah yang tidak lagi tertarik dengan hal-hal yang kotor dan jorok, melainkan lebih tertarik kepada hal-hal yang baik dan indah, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kecemaran (dosa), sebab “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7). Selain itu ia akan suka ‘tinggal’ di dalam firman: dengan merenungkannya siang dan malam, sebab Taurat Tuhan itu “…lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.” (Mazmur 19:11).

Tinggal di dalam firman-Nya ini juga berbicara tentang ketaatan! Karena senantiasa melekat kepada Tuhan dan mau taat dipimpin oleh Roh Kudus, orang percaya pun dibekali ‘sengat’ yang mematikan untuk melawan tipu muslihat si Iblis yang berusaha untuk menghancurkan kehidupan rohaninya.

Tuhan akan mengenyangkan kita dengan hal-hal yang manis seperti madu ketika kita hidup seturut dengan kehendak-Nya dan menjauhkan diri dari kecemaran.

Baca: Mazmur 81:1-17


Minggu. DIPENUHI KEINGINAN-KEINGINAN

“Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas.” Amsal 21:26

Semua manusia yang ada di dunia ini pada dasarnya memiliki keinginan-keinginan dalam hidupnya, bahkan keinginan-keinginan baru selalu timbul setiap hari.

Salahkah punya keinginan? Tidak. Namun yang harus kita ingat adalah keinginan-keinginan tersebut dapat membawa kita ke dua arah yang positif atau negatif. Keinginan-keinginan yang positif pasti dapat membawa hidup kita pada segala kebaikan, sebaliknya keinginan-keinginan yang negatif akan mengantarkan hidup kita pada hal-hal buruk. Sadar atau tidak keinginan kita hari ini akan sangat mempengaruhi keadaan kita di masa depan. Artinya apa yang kita inginkan hari ini, jika itu hal-hal positif dan sesuai kehendak Tuhan, akan menjadikan hari esok kita baik. Sebaliknya jika hari ini keinginan kita dipenuhi hal-hal negatif atau bertentangan dengan kehendak Tuhan, cepat atau lambat kita pun akan menuai dampaknya.

Rasul Paulus menasihati agar kita tidak menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang dilakukan oleh umat Israel (baca 1 Korintus 10:6) sehingga Tuhan tidak berkenan kepada sebagian besar mereka. Kegagalan sebagian besar umat Israel memasuki tanah perjanjian menjadi suatu peringatan keras bagi kita. Mereka tidak mengalami penggenapan janji Tuhan karena hati mereka dipenuhi oleh keinginan-keinginan jahat. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam menjalani hidup ini setiap saat kita pasti dihadapkan pada banyak sekali ujian dan tantangan, karena bagaimana pun juga dunia ini bukanlah firdaus. Artinya selama kaki kita masih menginjak bumi kita pun tak luput dari hal-hal yang bersifat jahat: fitnahan, cemoohan, iri hati, kebencian, perlakuan tidak adil dari orang lain atau hal-hal menyakitkan lainnya.

Apabila hati dan pikiran kita dipenuhi oleh keinginan-keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan sama artinya kita sedang merintis jalan untuk menghancurkan hidup kita sendiri, sebab firman Tuhan sudah memeringatkan: “…jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik,” (1 Tesalonika 5:15).

Milikilah keinginan-keinginan yang selaras dengan kehendak Tuhan supaya masa depan kita menjadi baik, sebab keinginan orang benar pasti diluluskan-Nya!

Baca: Amsal 21:25-31

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

MELAKUKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

PENDAHULUAN

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus, Allah mau agar kita kembali kepada blue print tujuan penciptaan, yaitu melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Menjadi kawan sekerja Allah melalui apa yang kita kerjakan, dengan  dunia sebagai ladang-nya.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10)

ISI

Pekerjaan di sini bukanlah sekedar ‘job’, tapi ‘work’. Work lebih luas dari sekedar job; work/pekerjaan adalah mandat yang Tuhan berikan kepada manusia di awal penciptaan (Kejadian 1:28); sementara job adalah posisi tertentu dalam pekerjaan yang mendapatkan upah bayaran. Seseorang bisa saja diberhentikan atau resign dari suatu job, tapi tidak dari work, karena work karena work harus di kerjakan semua orang terima gaji atau tidak (contoh di rumah house work, di sekolah school work,sosial-volunteer work; di gereja Work of the ministry).

Work yang dikehendaki Allah adalah panggilan Allah bagi setiap kita untuk menggenapi tujuanNya seperti tertulis dalam Yohanes 6:29 Yesus berkata; “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”.

Setiap kita membutuhkan pemahaman firman yang benar, pewahyuan serta hikmat untuk melakukan tujuan Allah. Roh Kudus memberi kita kemampuan dan hikmat untuk  dapat menjadi garam dan terang di dalam segala aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan; memberi pengaruh kepada lingkungan serta orang-orang  sekitar dengan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan dan prinsip Kerajaan Allah.

Berikut beberapa point serta ayat-ayat firman Tuhan yang memberi arahan dalam melakukan pekerjaan dan aktivitas yang dikehendaki Allah:

  1. Jangan menyia-nyiakan hidup dengan mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Setiap orang diberi talenta sesuai kesanggupannya, dan bertanggung jawab untuk menggunakan serta mengembangkannya. Sebab itu jangan malas, jadilah hamba yang baik dan setia, yang menggunakan seluruh sumber daya untuk tujuan/rencana Allah, sehingga akhirnya Ia berkenan atas hidup kita.

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2Tes. 3:10-11)

Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:15-16).

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21).

  1. Melalui pekerjaan kita mendapatkan berkat. Berkat di sini bukan hanya finansial, tapi juga skill/ketrampilan, pengetahuan, networking, pengaruh, jabatan/kuasa, kesempatan untuk menggali potensi, dlsb. Semua ini bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tapi ada yang harus ditabur sebagai benih, misalnya dalam bentuk finansial untuk mendukung pekerjaan Tuhan; pengetahuan dan ketrampilan yang bisa diajarkan ke orang lain; pengaruh/jabatan/kuasa yang dipakai untuk melayani kebutuhan orang lain, dsb. Menjadi berkat bagi orang lain membawa sukacita sejati dan menyenangkan hati Tuhan.

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,  Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;  kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati,  yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:10-11).

  1. Pekerjaan/aktivitas yang dilakukan dengan sikap hati yang tulus dan motivasi yang benar diperhitungkan Tuhan, jadi bukan soal besar atau hebatnya. Tuhan berkenan atas pelayanan kita kepada mereka yang lemah, tidak bisa membalas jasa, tidak dipandang, diperhitungkan, dan yang miskin/paling hina.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:23-24)

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25:40).

  1. Milikilah sikap hati hamba, yang merendahkan hati dan menyadari bahwa semua yang dikerjakannya adalah kasih karunia dari Tuhan, bukan karena kemampuan kita.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. (Lukas 17:10).

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. (2 Korintus 3:5).

PENUTUP

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan bagi manusia untuk mengabdi, melayani, menjadi saksi, memuliakan Tuhan serta membangun Kerajaan Allah di muka bumi. Allah telah melengkapi kita dengan dorongan ilahi yang kuat untuk melakukan sesuatu, talenta, karunia, kuasa, potensi serta semua yang diperlukan untuk hidup dalam panggilan-Nya. Bagian kita adalah mengikuti proses Tuhan dengan setia dan bergantung penuh kepada Roh Kudus dalam tiap langkah.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

Senin. DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

“Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya, sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya, …namun berubah juga makanannya di dalam perutnya, menjadi bisa ular tedung di dalamnya.” Ayub 20:12, 14

Ada istilah-istilah dalam Alkitab yang mendefinisikan kata dosa: hatta (bahasa Ibrani) artinya: jatuh dan mengurangi standar dari Tuhan yang suci; hamartia (bahasa Yunani) berarti: kehilangan, meleset dari target atau sasaran yang ditetapkan. Dosa pada hakekatnya hanya akan menda-tangkan malapetaka dan menuntun seseorang kepada ke-binasaan kekal, “Sebab upah dosa ialah maut;” (Roma 6:23).

Meski tahu akibat dosa adalah maut tapi masih banyak orang yang demikian terikat dengan dosa, bahkan enggan melepaskan dan meninggalkannya. Mengapa? Karena mereka telah merasakan manis dan nikmatnya dosa, sebab dosa seringkali hadir dalam bentuk yang indah dan menyenangkan, memberi kepuasan dan kenikmatan walaupun itu adalah sebuah jebakan yang mematikan. Mereka tidak menyadari bahwa dosa itu seperti racun jahat yang menyebar ke seluruh aspek kehidupan orang yang melakukannya. Racun biasanya tidak seketika itu mematikan, tapi membutuhkan waktu untuk menyebar terlebih dahulu hingga akhirnya membunuh. Begitu pula dosa, membutuhkan waktu hingga orang merasakan dampaknya. Dampak mendasar dari ikatan dosa adalah ketidaktenangan dalam menjalani hidup, karena sukacita dan damai sejahtera telah lenyap dari hati, yang ada hanyalah kegelisahan setiap saat. “Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah, kalau pagi sekarang! karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu.” (Ulangan 28:67).

Jangan pernah kompromi dengan dosa sebab hal itu adalah kejijikan di mata Tuhan: “Janganlah hendaknya kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini!” (Yeremia 44:4). Dosa inilah yang akhirnya menjadi jurang pemisah hubungan kita dengan Allah, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2).

Berhentilah berbuat dosa jika tidak ingin menanggung aki-bat yang mengerikan!

Baca: Ayub 20:1-29


Selasa. KRISTUS ADALAH RAJA YANG ADIL

“Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan,” Yesaya 32:1

Semua manusia di dunia ini pasti mendambakan kehidupan yang aman, tenteram, damai dan adil di segala sisi, namun sayang dunia yang sempurna adalah utopia (hanya ada dalam bayangan dan sulit atau tidak mungkin untuk di-wujudkan), sebab fakta yang ada justru menunjukkan suatu keadaan yang bertolak belakang, di mana dunia dipenuhi dengan kekerasan, pertikaian penindasan, ketidakadilan. Saat ini uanglah yang berbicara. Dengan uang orang bisa membeli jabatan, kekuasaan dan keadilan. Dengan uang orang bisa memerlakukan orang lain dengan semena-mena, menindas yang lemah dan miskin. Sungguh…tidak ada keadilan yang hakiki di belahan bumi mana pun!

Ayat nas adalah nubuatan nabi Yesaya mengenai Raja adil yang adalah Yesus, yang kedatangan-Nya ke dunia juga sudah diberitahukan sebelumnya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:14). Karena Tuhan Yesus adalah Raja yang adil maka Dia tidak seperti raja-raja atau pemimpin-pemimpin dunia yang seringkali berpihak kepada orang kaya, sedangkan orang miskin ditindasnya habis-habisan, karena “Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulut-nya ia akan membunuh orang fasik.” (Yesaya 11:2-4).

Sebaliknya Yesus adalah naungan dan tempat perteduhan orang-orang miskin, lemah, tak berdaya, rendah, yang diperlakukan semena-mena dan tidak adil. “Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!” (Mazmur 72:4).

“TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.” Mazmur 103:6

Baca: Yesaya 32:1-8


Rabu. KEADILAN TUHAN ITU SEMPURNA

“…karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” Ulangan 32:4

Salah satu sifat Tuhan adalah adil. Yang dimaksud adil adalah bertindak benar sesuai standar kebenaran dan ketetapan hukum yang berlaku. Tuhan itu adil, artinya Ia akan selalu berlaku benar sesuai prinsip kebenaran-Nya. Keadilan Tuhan adalah sempurna, utuh, tidak bercacat cela, artinya semua yang Tuhan rencanakan, putuskan dan kerjakan selalu berada pada koridor keadilan. “Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.” (Mazmur 111:7-8).

Wujud nyata keadilan Tuhan adalah Ia mencintai kebenaran dan membenci kefasikan. Oleh karena itu “TUHAN menguji orang benar dan orang fasik,” (Mazmur 11:5). 1. Mencintai kebenaran. “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” (Mazmur 34:16). Artinya Tuhan sangat memperhatikan dan mengasihi orang-orang yang hidup dalam kebenaran, dan Ia akan memberikan upah atau reward kepada mereka. “Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci,” (Mazmur 18:25-27). Tidak ada yang sia-sia untuk tetap berlaku benar di tengah dunia yang dipenuhi kejahatan ini. Meski manusia tidak melihat dan tidak menganggapnya tapi di atas takhta-Nya yang kudus Tuhan selalu memperhitungkannya. 2. Membenci kefasikan. Tuhan sangat menentang segala bentuk kefasikan, karena itu Ia tidak akan membiarkan setiap pelanggaran dan dosa berlalu begitu saja dari hadapan-Nya, tetapi Ia akan mengganjarnya dengan hukuman…ini bukti bahwa Ia adalah Tuhan yang adil dan tidak bisa dipermainkan! “…semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.” (Mazmur 145:20)

Jelas sekali bahwa Tuhan akan mengganjar setiap dosa dan kejahatan yang diperbuat manusia dengan hukuman yang setimpal, sebaliknya Ia akan mengapresiasi dengan memberikan upah untuk setiap kebenaran dan perbuatan baik yang dilakukan.

“…Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Mazmur 51:6

Baca: Ulangan 32:1-14


Kamis. TERTINDAS TETAP PUNYA INTEGRITAS

“Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku,…” Daniel 6:23

Ketika berada dalam kesulitan, tekanan atau masalah berat biasanya orang mudah sekali melupakan Tuhan, karena mata jasmaninya hanya tertuju kepada besarnya masalah. Daniel adalah salah satu tokoh besar di Alkitab yang pernah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Kala itu para pejabat tinggi pemerintahan Darius berusaha mencari alasan untuk menuduh dan menyalahkan Daniel dengan meminta raja mengeluarkan surat ketetapan: melarang semua orang menyembah Tuhan, dewa atau manusia lain kecuali kepada raja, dan bagi yang melanggar akan dilem-parkan ke gua singa.

Siapa Daniel? Adalah tawanan perang yang ditangkap Nebukadnezar yang bersama dengan orang-orang Yahudi dari golongan atas lainnya diangkut ke Babel untuk dididik dan diperkerjakan di pemerintahan; Daniel bekerja di bawah pemerintahan raja Nebukadnezar, Belsyazar dan Darius dari tahun 605-536 SM. Dalam bahasa Ibrani nama Daniel berarti Tuhanlah hakimku. Mendengar surat perintah raja, Daniel tidak takut atau gentar sedikit pun melainkan tetap menjaga integritas rohaninya. “Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11). Apa yang diyakini dan dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Ia percaya tidak ada yang layak disembah dan ditinggikan selain Tuhan yang hidup, yang duduk di atas takhta-Nya yang kudus di dalam Kerajaan Sorga. Sesuai arti namanya Daniel berkeyakinan bahwa Tuhanlah hakim yang adil, pasti sanggup menegakkan keadilan di tengah ketidakadilan.

Begitu melihat Daniel sedang berdoa kepada Tuhannya segeralah orang-orang melaporkan kepada raja, sehingga raja pun terpaksa melaksanakan ketetapannya: melemparkan Daniel ke gua singa. Selama Daniel berada di gua singa “…pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.” (Daniel 6:19), karena membayangkan hal-hal buruk menimpa Daniel. Apa yang dikuatirkan raja tak terjadi! Karena Tuhan benar-benar telah menjadi hakim yang membela perkara Daniel.

Pembelaan Tuhan benar-benar nyata bagi orang yang berintegritas!

Baca: Daniel 6:1-29

 


Jumat. BERHARAP HANYA KEPADA TUHAN

“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:” Ratapan 3:21

Keterbatasan adalah milik manusia, “…sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22), sedangkan ketidakterbatasan adalah milik Tuhan, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9). Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di depannya, berbeda dengan Tuhan yang Mahatahu, mengetahui apa yang bakal terjadi dalam hidup ini. “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita…” (Ulangan 29:29).

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak berharap kepada manusia atau sesama, tetapi menaruh pengharapan sepenuhnya hanya kepada Tuhan sebab Dia adalah penguasa tunggal alam semesta ini dan semua perkara berada dalam kendali tangan-Nya yang kuat dan perkasa. Bapa kita yang di sorga, Ialah “…yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45). Dengan kata lain kalau Tuhan juga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan tidak benar, bukankah Tuhan akan lebih memperhatikan anak-anak-Nya yang senantiasa berharap kepada-Nya? “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8).

Semakin banyak orang tergoncang karena mendengar dan melihat keadaan ekonomi dunia yang memburuk. Dunia boleh mengalami krisis, tetapi orang percaya tidak perlu takut, sebab “…kita menerima kerajaan yang tidak tergon-cangkan,” (Ibrani 12:28).

Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan Tuhan adalah ja-minan kita, asal kita percaya dan mempercayakan hidup hanya kepada-Nya. “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;” (Mazmur 37:5).

Bagi orang percaya “…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:18
Baca: Ratapan 3:21-26


Sabtu. MASIH TERTUTUPI SELUBUNG

“…jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2:7-8

Menjadi terang dunia adalah kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya! Menjadi terang berarti mampu memancarkan sinar terang bagi orang lain. Namun banyak orang Kristen belum menjalankan fungsi seperti yang Tuhan kehendaki, tidak dapat menyinarkan terang kepada orang lain, padahal firman-Nya jelas mengatakan: “Demikianlah hendaknya terang-mu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Mengapa kita tidak bisa memancarkan terang? Karena di dalam diri kita masih ada selubung-selubung yang menghalangi sehingga terang Ilahi tak bisa memancar keluar. Selubung-selubung itu adalah perbuatan-perbuatan dosa yang masih dilakukan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Selama kita masih hidup dalam dosa, tidak menunjukkan keteladanan hidup, kita tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain. Percuma fasih berbicara tentang firman Tuhan jika perbuatan kita tidak berpadanan dengan firman itu sendiri, justru hanya akan menjadi batu sandungan atau cemoohan orang lain, karena menjadi terang berbicara tentang keteladanan hidup (ayat nas). Kalau kita sudah menunjukkan teladan hidup maka orang lain tidak akan punya alasan untuk mempermalukan kita, “…karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (ayat nas).

Terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, maka “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.” (Efesus 5:12). Dengan demikian kehidupan kita benar-benar menjadi teladan yang bisa diartikan sebagai contoh, patokan, atau pola, sehingga nama Tuhan pun dipermuliakan.

Pelita yang padam pasti tidak akan berguna, demikian pula kehidupan orang Kristen yang tak memancarkan sinar Kristus!

Baca: Titus 2:1-10


Minggu. KUNCI BERSUKACITA: Buang Rasa Kuatir

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4:4

Tak terbantahkan bahwa hari-hari ini banyak orang mengalami kekuatiran dalam hidup disebabkan keadaan dunia yang serba tidak menentu dan penuh goncangan-goncangan di segala aspek. Karena dikuasai oleh kekuatiran hilanglah sukacita dalam diri seseorang, mungkin mulut masih bisa tertawa atau tersenyum, tetapi sesungguhnya hati bisa saja merana. Kekuatiran adalah pencuri sukacita terbesar!

Rasul Paulus menasihati, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (ayat 6). Sesungguhnya Paulus memiliki 1001 alasan untuk kuatir dan tidak bersukacita, karena pada saat itu ia sedang berada di dalam penjara dan juga menunggu eksekusi hukuman mati yang akan dilaksanakan terhadapnya. Belum lagi ia mendengar kabar bahwa di gereja Efesus terjadi perpecahan di antara para pemimpin rohaninya. Kesemuanya itu berpotensi membuatnya tidak bersukacita, tetapi ia justru dapat berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (ayat nas). Apa rahasia hidup Paulus yang dalam kondisi sangat memprihatinkan tetap mampu bersukacita? Bersukacita atau tetap kuatir adalah sebuah keputusan, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7). Paulus membuat keputusan untuk tidak mau dikuasai oleh kekuatiran karena ia tahu bahwa kekuatiran bukan hanya akan mematahkan semangat di dalam diri, tetapi juga akan menguras energi/staminanya.

Bukankah hati yang tidak bersukacita memicu terciptanya berbagai penyakit alias mengganggu kesehatan kita? Kekuatiran benar-benar hanya akan menarik kita ke arah berlawanan, menjauh dari sasaran yang hendak kita tuju sehingga fokus kita pun terpecah-belah. Itulah sebabnya Paulus tidak mau dikuasai oleh kekuatiran. Hal ini bukan menunjuk pada sikap menolak atau melarikan diri dari perasaan yang sedang dialaminya, tetapi suatu sikap yang tidak ingin dikuasai atau digerogoti oleh kekuatan yang sedang terjadi.

Berdasarkan pengalaman dan survei: apa yang kita kuatirkan itu kebanyakan tidak pernah terjadi, rugi sekali bila kita terus diliputi rasa kuatir!

Baca: Filipi 4:4-9

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Orang yang memahami bekerja dari sudut pandang Tuhan akan memiliki etos kerja yang berbeda dengan mereka yang bekerja hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun karier, sekedar menyalurkan hobi, mengumpulkan kekayaan, ataupun alasan lainnya.  Pandangan yang keliru dalam memaknai arti bekerja akan berpengaruh kepada produktivitas seseorang. Pada bahan kali ini, kita mau melakukan kehendak Tuhan melalui pekerjaan/produktivitas sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

PERMASALAHAN

Tuhan menghendaki perspektif kita tentang bekerja tidak sama dengan dunia. Ia mau supaya dunia bisa melihat kasih dan kebaikan-Nya melalui aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan. Kita dipanggil sebagai utusan Kristus yang menerapkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah di dunia. Jika kita  tidak melakukannya, maka dunia tidak bisa melihat Kristus melalui kita. Hal-hal yang membuat kita jadi batu sandungan bagi dunia misalnya: kualitas kerja yang buruk, tidak produktif, sering telat/bolos,  malas, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan pribadi, serakah, suka berbantah dengan boss dan rekan sekerja, tidak jujur, perkataan dolak-dalik, suka menunda pekerjaan, dlsb.

SOLUSI

  • Bekerja/memberikan pelayanan tidak hanya dilakukan dalam gereja lokal/komunitas orang percaya, tetapi di manapun kita berada: di rumah/keluarga, tempat kerja, keluarga besar, lingkungan pertemanan, sekolah, dan masyarakat. Anggaplah tempat-tempat itu sebagai ‘ladang’ untuk kita menerapkan prinsip Kerajaan Allah, dan kesempatan untuk menabur benih kasih Tuhan serta nilai-nilai kebenaran.
  • Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa sikap/perilaku dalam bekerja yang wajib kita bangun:

a. Memiliki Integritas.

Entah sebagai karyawan ataupun atasan, belajarlah untuk memiliki integritas walau tidak ada yang mengawasi, melihat atau memberi pujian. Sikap yang berintegritas yaitu berkomitmen dan konsisten untuk menjaga nilai, prinsip serta tindakan profesional. Jujur, bertanggung jawab, menjaga etika, disiplin, tidak menjalankan agenda pribadi, tidak menyalahgunakan jabatan/posisi/kekuasaan, serta menghormati/menghargai orang lain. Ingatlah, baik hamba maupun tuan, kedua-duanya adalah hamba Kristus.

b. Dapat dipercaya.

Menjadi orang yang dapat diandalkan untuk melakukan tugas/tanggung jawab secara profesional, dapat menjaga informasi penting/bersifat rahasia, tepat waktu, menepati janji, dsb.

c. Bekerja keras.

Memiliki semangat dan kemauan tinggi untuk mencapai target, tekun, tidak mudah putus asa/menyerah saat menghadapi masalah, terus menggali potensinya, memperbesar kapasitas dengan menambah pengetahuan/wawasan, meningkatkan ketrampilan, bersedia mengambil risiko, memiliki inisiatif/proaktif, melakukan tugas/pekerjaan dengan excellent, do extra mile, dan terus berusaha untuk memberi yang terbaik dari kemampuan yang dimilikinya.

  • Menemukan panggilan hidup melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan. Salah satu tujuan kita diselamatkan adalah untuk melakukan panggilan Tuhan (Efesus 2:10). Menemukan panggilan bukanlah suatu yang instan, melainkan proses yang dirintis oleh Tuhan sejak kita lahir (sekalipun saat itu kita belum mengalami kelahiran baru), dan terus berkembang seiring dengan proses pertumbuhan iman dan pengalaman kita bersama Tuhan.
  • Dalam mengenali panggilan kita, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
    1. Hati yang terbeban, yaitu dorongan yang kuat terhadap suatu hal atau bidang, di mana Tuhan menaruh kerinduan/visi-Nya yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu.
    2. Kemampuan, mencakup: karunia rohani, karunia natural/bakat alami, pengalaman dan ketrampilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
    3. Kepribadian, menolong kita untuk mengembangkan diri, meningkatkan kinerja dan membangun hubungan interpersonal serta kolaborasi dengan tim/rekan sekerja.

REFLEKSI

  • Apakah pekerjaan kita mencerminkan penyembahan kepada Tuhan?
  • Apa kegiatan/aktivitas pribadi kita suatu produktivitas yang memuliakan Allah?

PENUTUP

Jadikan Tuhan Yesus menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan kita, maka semua buah pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan pasti memancarkan pikiran dan isi hati Allah. Selama pelayanan di muka bumi, Yesus  memberikan teladan bagi kita untuk memberi yang terbaik, melakukan segala sesuatu dengan segenap hati dan ketulusan semata-mata karena kasih. Tidak mengejar reputasi, mencari keuntungan/kepentingan sendiri, ketenaran, atau puji-pujian yang sia-sia. Belajarlah untuk mencari perkenanan Allah dan bukan manusia, maka kita akan rela melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.

JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

Senin. JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

2 Timotius 1:7

Memperhatikan situasi seperti sekarang ini, dengan berbagai perubahan dan kondisi yang terjadi, hampir semua orang mengalami ketakutan: takut tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya, takut tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, takut mengalami kegagalan, takut menghadapi hari esok dan sebagainya.

Ketakutan adalah tanggapan emosi terhadap ancaman, suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Dari sudut psikologi ketakutan adalah wajar, salah satu emosi dasar manusia selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan. Namun ketakutan akan menjadi masalah besar bila dibiarkan berlarut-larut atau berkepanjangan, karena ketika kita terus dikuasai olehnya, sukacita dan damai sejahtera kita akan terampas. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (ayat nas).
Artinya rasa takut bukanlah berasal dari Tuhan, karena itu sebagai orang percaya tidak seharusnya kita hidup dalam ketakutan. Sekalipun berada di tengah dunia yang penuh tantangan ini tidak ada alasan kita takut, “…sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4); janji penyertaan Tuhan adalah jaminannya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Oleh karenanya “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10).
Di segala keadaan, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, yakinlah kita tidak bergumul sendirian, ada Tuhan beserta kita dan penyertaan-Nya itu sungguh sempurna. Agar kita tidak takut, senantiasalah dekat dengan Tuhan, sebab “Hanya dekat Allah saja aku tenang,” (Mazmur 62:2), hanya Tuhanlah yang dapat memberikan ketenteraman dan rasa aman bagi kita.
Penyertaan Tuhan adalah jaminan kita untuk tidak takut di segala situasi!

Baca: 2 Timotius 1:3-18


Selasa. WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN (1)

“Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Matius 24:44

Hal kedatangan Kristus untuk yang keduakalinya telah sering dibahas di kalangan umat Tuhan, namun penting sekali untuk terus disampaikan agar kita tidak menganggap remeh, sebab ketika mendengar tentang ‘hari’ Tuhan ini banyak orang yang bersikap skeptis (kurang percaya, ragu-ragu), tetapi ada pula orang yang berani meramalkan kapan kedatangan-Nya itu tiba. Sesungguhnya berita ini bukanlah hal yang baru, sebab sejak Kristus masih berada di bumi Ia sendiri telah memperingatkan orang-orang di zaman itu. Yang Ia tekankan bukan kapan waktu itu tiba, tapi Tuhan menghendaki agar kita dalam keadaan siap sedia.

Bila mendengar ada orang yang menyebarkan berita bahwa Tuhan akan datang pada hari, tanggal, bulan dan tahun sekian janganlah kita menjadi panik dan risau hati. Ada tertulis: “Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.” (ayat 43). Alkitab dengan jelas menyatakan dan bahkan Tuhan Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa diri-Nya tidak tahu tentang saat kedatangan-Nya (baca Matius 24:36), apalagi kita sebagai manusia. Tuhan Yesus berkata, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.” (Matius 24:27).

Jangan kita mudah disesatkan oleh berita-berita yang tidak jelas dari mana datangnya, “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya.” (Matius 24:24-26). Berpeganglah pada kebenaran Injil Kristus, jangan percaya kepada desas-desus yang bertujuan untuk melemahkan iman kita.
Jangan mudah disesatkan oleh berita apa pun, sebab segala pengajaran harus dicocokkan dengan isi Alkitab; jika tidak sesuai, maka perlu diwaspadai!

Baca: Matius 24:37-44


Rabu. WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN (2)

“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” Matius 24:4

Tuhan Yesus telah memperingatkan bahwa di hari-hari akhir menjelang kedatangan-Nya, ada banyak sekali penyesat-penyesat yang bermunculan dimana-mana, “…banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (ayat 5). Begitu pula dengan ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Injil Kristus pun kian marak dan terjadi di mana-mana.

Kata penyesat bisa diartikan orang yang penuh kebohongan atau tipu muslihat, yang melakukan segala cara dan berbagai aksi untuk mengerutkan iman, sehingga ketebalan iman orang percaya kian menipis. Yang dimaksud penyesat di sini bukan hanya sebatas oknum, namun bisa juga dipahami sebagai sistem dunia yang ditunggangi Iblis untuk menjerat orang percaya. Sedangkan kata waspada memiliki arti harafiah berhati-hati dan berjaga-jaga, atau bersiap siaga.

Kita patut mewaspadai atau menjaga diri dari jerat Iblis dalam bentuk apa pun. Ada pun rupa-rupa jerat Iblis: 1. Kemabukan, alkohol, atau narkoba. Rasul Paulus menasihati, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,” (Efesus 5:18). Ela (raja Israel), mengalami kejatuhan akibat mabuk minuman keras (baca 1 Raja-Raja 16:9). Di zaman sekarang jerat alkohol atau minum minuman keras dan juga narkoba makin hari makin marak dan banyak menelan korban, bukan hanya kalangan anak muda saja yang menjadi korbannya, tapi juga anak-anak di bawah umur dan orang-orang tua. 2. Pesta pora dan pergaulan bebas. Banyak anak muda jatuh dalam dosa perzinahan atau seks bebas karena mereka suka sekali keluyuran, dugem dan salah dalam bergaul. Alkitab mengingatkan: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). 3. Kecanggihan teknologi. Media-media teknologi sekarang ini (televisi, gadget, internet dan sebagainya) banyak sekali ditunggangi oleh Iblis dengan menyajikan hal-hal yang berbau pornografi, kekerasan dan lain-lain. Jika kita tidak kuat kita pasti akan terjerumus di dalamnya.

“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.” 2 Yohanes 1:8

Baca: Matius 24:3-14


Kamis. TEMPUHLAH JALAN TUHAN!

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:6

Untuk mencapai suatu tujuan hal yang paling kita butuhkan adalah jalan, sebab tanpa adanya jalan sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tempat yang hendak kita tuju. Begitu pula bila kita salah dalam memilih jalan akan berakibat sangat fatal dan tidak akan pernah membawa kita ke tempat tujuan, sebab “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Pemazmur menyatakan, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” (Mazmur 25:10). Sayang, tidak semua orang mau menempuh jalan Tuhan, mereka lebih memilih berjalan menurut pengertian dan kehendaknya sendiri. Pikir mereka jalan Tuhan itu penuh aturan atau rambu-rambu, “…lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13-14). Memang, jalan menuju kepada kesejahteraan dipenuhi kesulitan, dan itulah yang membuat banyak orang tidak mau menempuh jalan itu (T. Harv Eker). Ada kata bijak yang mengatakan, “You are what you believe.” Artinya apa yang kita percayai akan menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita. Jika kita percaya kepada uang maka perjalanan hidup kita akan sama seperti uang yang mengalami fluktuasi, yaitu keadaan turun naik harga; ketidaktepatan atau guncangan. Namun bila kita percaya kepada Tuhan Yesus dan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya keberadaan hidup kita akan seteguh batu karang yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai apa pun.

Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati berarti tidak lagi mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri, karena sebagai manusia kita ini penuh kelemahan, kekurangan dan keterbatasan. Mengakui Dia dalam segala laku berarti tunduk dalam pimpinan Tuhan dan berusaha untuk hidup selaras dengan kehendak-Nya.

“…sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh,…” Mazmur 143:8

Baca: Amsal 3:1-8


Jumat. BEBAN DOA RASUL PAULUS (1)

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,” Filipi 1:9
Setiap pemimpin rohani atau hamba Tuhan pasti memiliki beban doa bagi jemaat yang dilayaninya. Mereka berdoa syafaat untuk jemaat agar diberi kesehatan, disembuhkan dari sakit, diberkati dalam segala hal. Tak terkecuali rasul Paulus yang berdoa untuk jemaat di Filipi ini. Gereja Filipi adalah gereja yang dirintis oleh Paulus setelah mendapatkan penglihatan tentang orang Makedonia yang berseru memanggilnya untuk datang dan minta diselamatkan (baca Kisah 16:9). Petobat pertama di kota itu adalah Lidia, lalu diikuti seluruh anggota keluarganya. Lidia pun mengijinkan rumahnya dijadikan tempat persekutuan doa bagi orang-orang Kristen di kota tersebut (baca Kisah 16:13-15).

Rasul Paulus mengerti benar apa yang sedang dibutuhkan dan digumulkan oleh umat Tuhan, namun ia tidak semata-mata berdoa untuk hal-hal yang berkenaan dengan kebutuhan lahiriah mereka karena ada pokok doa lain yang dianggapnya lebih mulia dan lebih penting dari semuanya itu, antara lain: supaya mereka hidup dalam kasih. Menjalani hidup tanpa kasih adalah sia-sia, tak berguna, “…sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1). Ia berdoa kepada Tuhan agar jemaat di Filipi makin melimpah dalam kasih. Dengan kasih orang akan berupaya untuk lebih mengenal Kristus secara pribadi. Alkitab menyatakan bahwa “…kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5).

Saat kita percaya dan beriman kepada Kristus, Roh Kudus mencurahkan kasih Allah itu di dalam hati kita. Bagian kita, menghadirkan kasih itu dalam kelangsungan hidup sehari-hari. Jadi kasih Allah itu perlu dijaga dan diperhatikan secara seksama. Gereja Efesus dicela oleh Tuhan karena mereka telah kehilangan kasih mula-mula (Baca Wahyu 2:2-4). Meski mereka tampak tahan di tengah masalah dan penderitaan, berpegang teguh kepada ajaran yang benar dan giat melayani Tuhan, tapi mereka melakukannya tanpa didasari oleh kasih. Apa yang mereka kerjakan tak lebih dari sekedar legalitas dan rutinitas agamawi semata.

Kasih adalah aspek dasar yang harus dimiliki dan dipraktek-kan orang percaya!

Baca: Filipi 1:3-11


Sabtu. BEBAN DOA RASUL PAULUS (2)

“…sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,” Filipi 1:10

Kota Filipi adalah kota yang sangat maju dalam perdagangan dan menjadi kota terpenting di Makedonia (baca Kisah 16:12) karena letaknya yang sangat strategis kala itu. Reruntuhan kota ini masih ada sampai sekarang yaitu terletak di daerah timur laut negara Yunani. Selain sebagai kota perdagangan kota Filipi juga dikenal sebagai kota penyembahan berhala. Hal itu bisa terlihat dari kepercayaan orang-orang Filipi yang mencari kekayaan melalui tenung (baca Kisah 16:16-19), dan mereka sangat anti terhadap Yudaisme, sehingga mereka pun menangkap Paulus dan Silas lalu menjebloskan keduanya ke penjara (baca Kisah 16:20-21). Di kota itu tidak ada rumah ibadah bagi orang Yahudi (sinagoga), melainkan hanya ada satu tempat sembahyang kecil, itu pun berada di luar pintu gerbang kota (baca Kisah 16:13).

Mengingat betapa besarnya pengaruh kekafiran atau penyembahan berhala di Filipi yang dapat mengguncang iman jemaat, maka rasul Paulus menjadikan itu sebagai pokok doa. Tak henti-hentinya ia berdoa agar mereka tetap kuat di dalam Tuhan. “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus,” (Filipi 1:27). Berpadanan dengan Injil artinya selaras atau sesuai dengan Injil, tidak menyimpang dari kebenaran. Pokok doa yang dimaksud adalah: supaya mere-ka hidup dalam kekudusan. Ada tertulis: “…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Kata kudus diterjemahkan dari kata sifat dalam bahasa Yunani yaitu hagios yang menunjuk pada pengertian pemisahan atau pemotongan. Orang percaya adalah orang-orang yang telah dipisahkan keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (baca 1 Petrus 2:9). Kita harus memiliki kemauan diri untuk secara terus-menerus dipisahkan dari kehidupan dosa, dan memberi diri hidup dalam kebenaran setiap hari; itulah sesungguhnya arti kekudusan.

Orang percaya dimampukan hidup dalam kekudusan karena Kristus telah menebus dosa-dosa kita, menempatkan kita dalam kekudusan melalui korban-Nya di kayu salib.

Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (baca Ibrani 12:14).

Baca: Filipi 1:3-11


Minggu. MENYEMBAH BERHALA: Menentang Tuhan

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya…” Roma 1:25

Tuhan tegas melarang umat ciptaan-Nya menyembah berhala atau membuat patung untuk disembah. “Janganlah kamu berpaling kepada berhala-berhala dan janganlah kamu membuat bagimu dewa tuangan; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 19:4).

Secara logika saja jelaslah bahwa berhala atau patung adalah buatan tangan manusia sendiri, mungkinkah ia dapat menolong dan menyelamatkan para pemujanya? Sungguh aneh bila orang menyembah berhala atau patung dan meminta pertolongan kepadanya. Lebih mengherankan lagi ada orang yang mengaku percaya dan mengenal Tuhan Yesus namun masih juga mencari pertolongan lain kepada berhala! Ini bukan isapan jempol belaka, tapi fakta: “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” (Roma 1:21-23).

Waspadalah terhadap segala berhala! Sebab Alkitab mencatat bahwa penyembah berhala tidak akan mendapat-kan tempat di dalam kerajaan Allah: “Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9b-10). Di dalam Wahyu 21:8 juga tertulis: “…orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” (Wahyu 21:8).

Di mata Tuhan menyembah berhala adalah dosa yang sangat mematikan, sebab Ia telah berfirman, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3).
Baca: Roma 1:18-32

BEKERJA  DARI SUDUT PANDANG TUHAN

BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN

(Monthly theme: Cara Tuhan bekerja sebagai fondasi dari tujuan dan produktivitas)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Bekerja bukanlah suatu beban atau kutuk, tapi merupakan mandat Allah kepada manusia sejak awal penciptaan. Tugas pertama yang Allah berikan kepada manusia sebelum jatuh ke dalam dosa adalah bekerja mengusahakan dan memelihara bumi (Kejadian 2:15). Atas dasar kebenaran ini, setiap pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan sesungguhnya merupakan ibadah kepada Allah. Melalui pekerjaan, manusia dapat mengembangkan semua potensinya untuk dapat melayani Allah dan sesama. Melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan, kebaikan Allah ditampilkan kepada dunia dan nama Allah dimuliakan.

PERMASALAHAN

  • Kebanyakan orang memaknai bekerja dengan sekedar mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Ukuran keberhasilan dalam bekerja hanya dinilai secara materi. Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran nilai dalam bekerja. Bekerja bukan lagi bertujuan untuk melayani sesama atau untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi ajang kesempatan untuk mengejar popularitas, jabatan, kekuasaan, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya meskipun dilakukan dengan cara yang tidak jujur, misalnya korupsi. Akibatnya kualitas dalam bekerja serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri jadi terabaikan.

SOLUSI

  • Totalitas dalam bekerja bukan dinilai dari performance, tetapi dari sikap hati. Kalau dunia melihat kita dari performance, Tuhan melihat kita dari motivasi hati (1 Samuel 16:7b). Orang yang hatinya melekat kepada Allah, motivasinya akan diluruskan oleh Roh Kudus. Motivasi yang benar dalam bekerja/beraktivitas adalah karena iman yang tulus dan kasih kepada Allah. Motivasi yang benar akan membuahkan hasil yang memuliakan nama Tuhan. Motivasi yang benar mendatangkan berkat dan upah yang bersifat kekal, suatu harta yang tersimpan bagi kita di sorga di mana ngengat dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21).
  • Apakah kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, pengakuan, penghargaan, pujian, atau sebagai safety net di hari tua? atau karena kita ingin jadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Kolose 3:23 mengatakan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Bekerjalah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Ukuran keberhasilan kita bukan sekedar kepuasan orang atas pelayanan yang kita berikan, tetapi lebih dari itu, perkenanan Tuhan.

  • Melalui pekerjaan, manusia memiliki kesempatan untuk menggali potensi, mengembangkan kapasitas dan karakter untuk memberikan hasil berkualitas tinggi yang dibutuhkan oleh orang lain. Oleh sebab itu dalam bekerja, kita harus produktif. Produktivitas adalah bagian dari hidup yang menghasilkan sesuatu/berdampak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar atau maksimal. Dalam konteks pekerjaan, produktivitas biasanya mengacu pada kemampuan seseorang, tim, atau organisasi untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai hasil yang maksimal. Efektif adalah kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, sedangkan efisien adalah kemampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia demi mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

Produktif berbeda dengan hanya sibuk. Produktivitas berfokus pada pencapaian tujuan yang bernilai, bermanfaat dan menguntungkan/menjadi berkat; bukan sekadar melakukan banyak aktivitas tanpa tujuan yang jelas. Alokasikan sumber daya yang ada (mis. waktu, pikiran, tenaga, biaya) untuk menyelesaikan tugas-tugas penting dengan hasil yang optimal. Dalam pekerjaan, teruslah belajar, gali potensi, tambahkan pengetahuan, tingkatkan ketrampilan, dsb. Jangan jadikan bekerja  hanya sekedar untuk bertahan hidup.

PENUTUP

Setelah belajar materi kali ini, milikilah cara pandang dan motivasi yang benar dalam melakukan segala sesuatu. Bekerja merupakan mandat Allah bagi kita untuk melayani Tuhan dan sesama. Bekerja juga merupakan ibadah serta pengabdian kita kepada Tuhan Yesus. Besar atau kecil, terlihat atau tak terlihat, dihargai atau tidak dihargai, sebetulnya tidak perlu menjadi masalah jika kita mengerti bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan segenap hati, iman, kasih dan ketulusan, akan diperhitungkan Tuhan dan tidak ada yang sia-sia.

Bersambung ke bagian 2

MENJADI CIPTAAN BARU ADALAH PROSES

MENJADI CIPTAAN BARU ADALAH PROSES

Senin. MENJADI CIPTAAN BARU ADALAH PROSES

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Galatia 6:15

Kupu-kupu memang indah dan sangat menarik untuk dilihat mata, namun kita harus ingat bahwa untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik dan dapat terbang dengan penampilan begitu anggun dan disukai semua orang hewan itu sebelumnya harus melewati proses metamorfosa. Metamorfosa adalah proses perubahan dari ulat menjadi kupu-kupu yang membutuhkan waktu yang bisa dikatakan cukup lama dan panjang, namun sebenarnya sangat sederhana. Terdapat 4 tahapan proses dalam metamorfosa kupu-kupu ini, yaitu dimulai dari telur, kemudian menjadi ulat (larva), selanjutnya menjadi kepompong (pupa) dan terakhir barulah menjadi kupu-kupu.

Kehidupan Kristen yang sejati adalah kehidupan yang berproses: dari manusia ‘lama’ menjadi ciptaan ‘baru’ di dalam Kristus; yang dulunya hamba dosa, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:18), yang dulunya terpisah dari Allah, kini telah diperdamaikan dengan Allah, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.” (Efesus 2:13). Proses penciptaan kembali menjadi manusia baru adalah melalui karya penebusan darah Kristus. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).

Status kita adalah ciptaan baru, maka: 1. Jangan menyerahkan tubuh bagi dosa. “…hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa un-tuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Roma 6:12-13). 2. Tetaplah di dalam Tuhan. “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kolose 2:6). Kita harus melekat kepada Tuhan supaya semakin bertumbuh di dalam-Nya, sampai kita mencapai kedewasaan penuh di dalam Tuhan yaitu menjadi serupa dengan Kristus.

Menjadi ciptaan baru: tidak berkompromi dengan dosa dan tetap dalam Kristus.

Baca: Galatia 6:11-18


Selasa. BERKHIANAT TERHADAP TUHAN

“Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya;” Mazmur 78:56-57
Banyak orang beranggapan bahwa yang termasuk dalam kategori perbuatan jahat adalah mencuri, membunuh, merampok, memperkosa, menipu, menganiaya, korupsi dan seputarnya, sehingga jika orang tidak melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang disebutkan tadi, berarti mereka bukanlah golongan orang yang jahat.

Yang dimaksud perbuatan jahat adalah segala berbuatan yang tidak sejalan dan bertentangan dengan firman Tuhan, termasuk di dalamnya pengkhianatan yaitu berlaku tidak setia, memberontak dan tidak mengakui kebesaran kuasa Tuhan, lalu berpaling kepada ilah lain. Arti kata berkhianat adalah perbuatan tidak setia, tipu daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji. Berlaku khianat kepada sesama manusia saja sudah merupakan kejahatan, terlebih lagi kepada Tuhan. Bangsa Israel adalah contohnya. Umat Israel telah mengecap kebaikan Tuhan dan pertolongan-Nya tapi mereka selau memberontak kepada Tuhan, bahkan berpaling dari hadapan-Nya dan menyembah ilah lain (berhala-berhala), “Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian, mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar. Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka.” (Ulangan 32:16, 17, 21a).

Sudah diselamatkan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, dipulihkan ekonomi keluarganya, disembuhkan dari sakit-penyakitnya, namun ada banyak orang Kristen melupakan Tuhan begitu saja dan bahkan meninggalkan-Nya karena tergiur oleh harta, jabatan, popularitas, kemewahan dunia atau pasangan hidup… bukankah itu adalah sebuah pengkhianatan? Sadar atau tidak tindakan tersebut sangat menyakiti hati Tuhan dan jahat di hadapan-Nya.

“…semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat…” Mazmur 25:3

Baca: Mazmur 78:56-64


Rabu. BATIN YANG SELALU DIPERBAHARUI

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Menjadi tua, yang secara otomatis disertai dengan kemerosotan secara fisik (lahiriah), tak bisa dihindari oleh siapa pun, namun yang terpenting adalah bagaimana menjadi tua yang sehat, mandiri dan berkualitas, yaitu mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa. Demikian dikemukakan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui Wagub Paku Alam IX, pada puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional ke-16 Provinsi DIY, pada 29 Mei 2016 lalu.

Tak bisa disangkal oleh siapa pun bahwa tubuh jas-maniah manusia semakin hari semakin berkurang kekuatannya; semakin bertambah usia, manusia lahiriah semakin merosot. Ada orang-orang tertentu yang stres berat dan menjadi tawar hati karena takut menjadi tua se-hingga berbagai usaha dilakukan untuk memperlambat penuaan: melakukan operasi plastik atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Sebagai orang percaya tidak perlu kita takut menjadi tua, tetapi milikilah prinsip seperti rasul Paulus: meski manusia lahiriahnya merosot namun batin manusia batiniahnya dibaharui dari sehari ke sehari. Siapa yang memperbaharui manusia batiniah kita? Pembaharuan manusia batiniah adalah pekerjaan Roh Kudus karena Ia tinggal dan memenuhi hati setiap orang percaya. Alkitab menyatakan bahwa pembaharuan manusia batiniah terjadi “…karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,” (Titus 3:5b). Jelas dikatakan bahwa proses ‘kelahiran baru’ dan proses ‘pembaharuan batiniah’ dalam diri orang percaya dikerjakan oleh Oknum yang sama yaitu Roh Kudus. Rasul Paulus berdoa untuk jemaat di Efesus, “…supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,” (Efesus 3:16).

Dalam kekristenan tidak ada istilah berhenti berproses, “…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan ke-penuhan Kristus,” (Efesus 4:13). Persekutuan yang karib dengan Roh Kudus setiap hari akan membuat manusia batiniah kita semakin hari semakin diperbaharui.
“…perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” Mazmur 51:12

Baca: 2 Korintus 4:16-18


Kamis. PENYERTAAN TUHAN: Kunci Keberhasilan (1)

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” Kejadian 39:2

Penyertaan-Mu Tuhan segalanya bagiku… Hadir-Mu di hidupku terutama bagiku… Ini adalah penggalan lagu “Penyertaan-Mu” yang dinyanyikan Kamasean, yang mengingatkan kita betapa pentingnya penyertaan dan kehadiran Tuhan dalam hidup orang percaya! Tak bisa dibayangkan apa jadinya hidup kita ini tanpa Tuhan yang menyertai dan menuntun langkah-langkah kita.

Yusuf adalah contoh orang yang mengalami penyertaan Tuhan di sepanjang hidupnya. Zaman dahulu bila orang dijual kepada pihak lain untuk dijadikan budak, bisa dipastikan nasib buruklah yang akan menimpa hidupnya, karena si tuan yang membeli budak itu akan berlaku semena-mena. Yusuf pun demikian, harus melewati masa-masa sulit karena statusnya sebagai budak. Tetapi semua yang baliknya ia dibuat selalu berhasil dalam apa yang dikerjakannya karena Tuhan menyertainya. “Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.” (ayat 3-4). Penyertaan Tuhan atas diri Yusuf benar-benar nyata, sama seperti janji Tuhan terhadap Yakub, ayahnya: “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” (Kejadian 28:15).

Namun sebelum semua ini dapat dinikmati, Yusuf harus terlebih dahulu mengalami proses ‘peremukan’ dari Tuhan melalui tekanan demi tekanan, masalah demi masalah yang serasa tiada berujung, juga melalui orang-orang di seki-tarnya; saat itulah karakter Yusuf dibentuk. Sakit secara daging, tapi merupakan bagian dari rencana Tuhan.

“Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.” Ayub 5:18

Baca: Kejadian 39:1-23


Jumat. PENYERTAAN TUHAN: Kunci Keberhasilan (2)

“Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Kejadian 39:9b

Saat berada di rumah Potifar kualitas iman Yusuf benar-benar diuji melalui isteri Potifar yang dipakai Iblis untuk mengincar dan merayunya untuk melakukan perbuatan cemar. Saat itu Yusuf benar-benar seperti makan buah simalakama. Di satu pihak isteri potifar adalah majikannya, dan tugas budak adalah melayani tuannya… kalau membantah pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung; di sisi lain Yusuf takut akan Tuhan, dan seandainya ia lebih menuruti nafsu bejat isteri Potifar, tamatlah riwayat hidup-nya. Ternyata keteguhan iman Yusuf membawanya keluar dari ujian berat ini. Ia sama sekali tidak mau berkompromi dengan dosa sedikit pun, tidak mau mencemarkan tubuhnya dengan hal-hal najis, padahal saat itu usia Yusuf masih sangat muda, usia yang penuh gejolak dan sangat rentan dengan berbagai macam godaan.

Ketegasan Yusuf untuk tidak berlaku cela di hadapan Tuhan didemonstrasikan ketika menolak tawaran isteri Potifar yang mencoba menjeratnya: “‘Marilah tidur dengan aku.’ Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.” (ayat 12). Ini menunjukkan bahwa Yusuf lebih memilih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Ada tertulis: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Matius 10:28). Namun karena mempertahankan kesucian hidupnya Yusuf harus mengalami fitnahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Dalam kondisi seprti ini sesungguhnya ia punya alasan memberontak kepada Tuhan dengan berkata, “Sia-sia sama sekali aku memper-tahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (Mazmur 73:13-14). Tetapi tidak ada keluhan sepatah kata pun keluar dari pemuda ini karena ia sangat percaya bahwa “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” (Mazmur 34:16).

Saudara mengalami hal-hal serupa? Percayalah kita tak pernah ditinggalkan-Nya!  Ada harga yang harus dibayar untuk memiliki hati yang takut akan Tuhan!

Baca: Kejadian 39:1-23


Sabtu. PENYERTAAN TUHAN: Kunci Keberhasilan (3)

“…karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.” Kejadian 39:23

Mempertahankan hidup benar di hadapan Tuhan malah mengantarkan Yusuf ke penjara! Mungkin secara manusia itu tidak adil! Tetapi jika hal itu Tuhan ijinkan pasti ada rencana-Nya yang indah, karena kokohnya jeruji besi takkan sanggup memisahkan dan membatasi kasih dan kuasa Tuhan bekerja. “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.” (ayat 21). Penyertaan Tuhan inilah yang menjadikan segala sesuatunya mungkin, karena tidak ada perkara mustahil bagi-Nya. “Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengu-rusnya.” (ayat 22).

Yang terutama harus kita lakukan ketika mengalami pros-es adalah berserah penuh kepada Tuhan. Seberat apa pun keadaannya tetaplah mengerjakan bagian kita yaitu hidup benar di hadapan Tuhan, seperti yang dilakukan Yusuf. Tetapi bila kita tak mengerti maksud Ilahi ini tentu kita akan keliru menilai bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil. Di tengah ma-salah yang mendera kita pun berpikir Tuhan telah melupakan dan meninggalkan kita begitu saja sehingga seolah-olah masalah datang secara bertubi-tubi. Marilah kita juga belajar mengerti apa kehendak Tuhan. Biarlah Tuhan sendiri yang menilai apakah kita sudah cukup waktu dan siap dibawa ke dalam rencana-Nya yang indah.

Ketika proses itu dirasa Tuhan sudah cukup maka pening-gian pun datang dari-Nya. “Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kejadian 41:45b). Yusuf sadar bahwa untuk mengalami penggenapan janji-janji Tuhan ada proses yang harus dilewati yang tidak singkat dan sakit secara daging. Tak disangkanya bahwa kelaparan yang terjadi menyebabkan saudara-saudaranya dan ayahnya hidup di bawah kuasanya, persis seperti yang telah diimpikannya. Apa yang terjadi dalam kehidupan Yusuf sama sekali di luar pikiran manusia!
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3:11

Baca: Kejadian 39:1-23


Minggu. MELIHAT DENGAN MATA ROHANI

“Mata adalah pelita tubuh.” Matius 6:22a

Mata adalah indera untuk melihat. Mata dapat melihat jika ada cahaya, tanpa itu mata tidak bisa melihat. Mata jasma-ni hanya dapat melihat hal-hal yang sifatnya duniawi, yang hanya tertuju kepada urusan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan, “…demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20). Bila mata kita hanya tertuju kepada hal-hal yang demikian dan sepenuhnya dikuasai oleh keadaan atau situasi yang ada cepat atau lambat kita akan mengalami kebutaan rohani, sehingga kita tidak mau melihat apa yang menjadi kehendak Tuhan. “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:16). Dengan mata jasmani pula kita mudah sekali melihat kelemahan dan kekurangan orang lain, mengkritik atau menghakimi orang lain, karena kita merasa diri kitalah yang paling benar, paling hebat, paling pintar, yang harus dihormati dan dihargai orang lain. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluar-kan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.” (Matius 7:3-4).

Alkitab mengingatkan: “Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Matius 6:22-23). Dalam menjalani hidup ini orang percaya harus senantiasa mem-fungsikan mata rohaninya, yaitu hidup dengan tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi, artinya hidup karena percaya, bukan melihat. Dengan mata rohani inilah kita dapat melihat dengan penglihatan Ilahi: selalu ada ke-baikan di balik masalah atau penderitaan yang ada.
Mungkin saat ini kita masih dihadapkan pada situasi-situasi sulit, namun dengan mata rohani kita akan selalu dimampukan untuk selalu bersikap optimis, sebab kita percaya bahwa dalam segala perkara Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (baca Roma 8:28); dengan mata rohani, kita dimampukan untuk melihat kesempatan di setiap kesempitan.

Dengan mata rohani kita akan melihat perkara-perkara besar dari Tuhan!

Baca: Matius 6:22-23

SANCTIFICATION OF THE SOUL  (bagian 2)

SANCTIFICATION OF THE SOUL (bagian 2)

PENDAHULUAN

Minggu lalu kita telah belajar tentang proses pengudusan jiwa yang merupakan tanggung jawab yang harus kita lakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Ia menguduskan kita supaya menghormati Tuhan Yesus dan taat kepada perintah-Nya. Roh Kudus memimpin kepada seluruh kebenaran serta memberikan hikmat sehingga terang Kristus yang ada pada kita dapat mendampaki dunia.  Mereka dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

ISI

* Pengudusan jiwa merupakan a lifetime process.

Pengudusan jiwa merupakan proses pertumbuhan dan pemurnian seumur hidup, yang mengubah kita jadi semakin menyerupai Kristus. Pembaruan akal budi oleh firman Tuhan merupakan langkah awal transformasi yang diikuti dengan pemulihan, proses pendewasaan iman, karakter dan perilaku, melalui ketaatan kita kepada pimpinan Roh Kudus. Oleh Roh, kita dimampukan untuk tunduk kepada perintah Tuhan, mematikan perbuatan-perbuatan daging, dan hidup dalam pertobatan. Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).

* Buah yang dihasilkan dari proses pengudusan jiwa adalah:

  1. Memiliki hati Tuhan (baca Matius 9:9-13).

Tuhan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Tuhan menghendaki kita juga memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap orang lain. Orang yang memahami kemurahan Allah atas hidupnya akan mampu menyalurkan kasih dan belas kasihan kepada orang lain. Ia tidak mudah menghakimi orang lain, mendendam dan menuntut; sebaliknya mau melepaskan pengampunan, murah hati, tidak egois, sabar terhadap kelemahan orang lain dan rela berkorban untuk kepentingan mereka (baca Kolose 3:12-14). Milikilah belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang terhilang. Ingatlah bahwa Tuhan juga sangat mengasihi mereka sama seperti kita, sebab Allah tidak menghendaki seorangpun binasa. Tabur doa, tabur kebenaran dan perbuatan kasih, supaya mereka bisa merasakan kasih Allah dan bertobat. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita;  jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yoh. 3:16).

  1. Memiliki hati untuk dimuridkan, memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (baca Matius 28:19-20).

Kita dipanggil, dipilih dan ditetapkan untuk menghasilkan buah yang tetap (Yohanes 15:16). Untuk itu kita harus bertumbuh melalui proses pemuridan. Pemuridan bukanlah ide/program dari gereja lokal, tapi perintah Tuhan Yesus buat setiap orang percaya. Bukan sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Saat ini bukan lagi waktunya untuk sekedar jadi pengunjung gereja, tapi miliki kesadaran bahwa kita ditetapkan untuk menghasilkan hidup yang berbuah melalui pemuridan. Selanjutnya, murid sejati akan memiliki kerinduan untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memuridkan orang lain (mis. anak, anggota keluarga, rekan sekerja, rekan sepelayanan, petobat baru, dsb). Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi,  percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

  1. Memiliki hati yang taat dan setia kepada panggilan Tuhan (baca 1 Petrus 4:10).

Kita sudah diberikan potensi, karunia dan talenta sesuai dengan kapasitas/kemampuan masing-masing. Jangan iri dengan panggilan, talenta dan karunia orang lain sebab kita tidak pernah dimaksudkan untuk bersaing atau mengungguli orang lain. Tidak perlu menyombongkan diri dengan semua itu; tidak perlu juga merasa diri begitu penting karena pemakaian Tuhan atas hidup kita (1 Kor. 4:7). Semua itu adalah milik Tuhan yang sudah seharusnya kita jalankan untuk melakukan panggilan-Nya. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48b).

Untuk mengetahui serta menggali karunia dan potensi kita, tertanamlah di Cool dan belajarlah melayani. Lewat persekutuan pribadi dengan Tuhan, kita digerakkan untuk melayani di bidang tertentu, melakukan sesuatu untuk memberkati orang lain, serta diarahkan oleh Roh Kudus masuk dalam panggilan-Nya.   Karunia rohani diberikan bukan untuk menjalankan kepentingan/agenda pribadi, melainkan supaya kita dapat melayani dengan efektif. Allah ingin kita menjadi pengelola yang baik atas karunia tersebut dan melipatgandakannya.

Tuhan yang menetapkan penugasan, menentukan persyaratan, dan memberikan panggilan. Bagian kita adalah menaati persyaratan dan mengikuti proses-Nya untuk memperlengkapi kita. Dengan demikian, kita siap menerima panggilan Tuhan, berjalan di dalamnya, dan menuai hasil bagi Kerajaan Allah. Perlu diingat bahwa kita dapat menjadi saksi dan melakukan panggilan itu hanya dengan kuasa Roh Kudus (KPR 1:8), bukan dengan ide dan kemampuan diri sendiri.

PENUTUP

Allah telah memilih dan menentukan kita dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya kita hidup dan berbuah bagi DIA. Kita diselamatkan, dikuduskan, dipulihkan, dan didewasakan supaya dapat memancarkan terang kasih Tuhan, agar dunia dapat melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,  janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan (Efesus 5:15-17).