JADIKAN MURID – bagian 1

Home / Weekly Message / JADIKAN MURID – bagian 1
JADIKAN MURID – bagian 1

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

PENDAHULUAN

Orang percaya yang hidupnya benar di hadapan Tuhan pasti menghasilkan buah—dan buah itu berdampak bagi orang lain.

ISI

Mazmur 1:1-3 menggambarkan kehidupan orang percaya yang memilih untuk merenungkan firman Tuhan: ia seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan (Roh Kudus/Roh Kebenaran), kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah pada musimnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil/menghasilkan buah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil.

  • Hidup yang menghasilkan buah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang yang sudah lahir baru (Yohanes 15:16). SETIAP KITA WAJIB BERTUMBUH (ini merupakan proses seumur hidup).
  • Pohon yang berakar dan sehat akan menghasilkan buah. Orang percaya yang berakar dan memiliki iman yang sehat akan menghasilkan buah setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus.
  • Buah adalah hasil hidupmu yang bisa dinikmati orang lain. Kalau buahmu tidak bisa dinikmati orang lain, kemungkinan itu bukan buah Roh, tapi ilusi rohani.

Contoh: Kalau kamu mau mengasihi tapi sering melukai orang di sekitarmu.
Kamu mau jadi pembawa damai, tapi kamu mudah marah dan mengadu domba. Jadi, ukurannya bukan apa yang kamu kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami darimu.

Dinikmati di sini maksudnya:

  • Sebagai ‘buah’: dapat menolong/membantu mengatasi masalah orang lain,
  • Sebagai ‘benih’: sesuatu yang dapat diajarkan kepada orang lain (bukan cuma informasi/teori/pengetahuan saja, tapi pengajaran yang disertai buah sebagai bukti valid pengajarannya).
  • Banyak kegagalan rohani bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena tidak bisa taat untuk tetap tinggal dalam firman.
  • Buah Roh (Gal. 5:22-23) merupakan tanda pertobatan sejati yang dihasilkan dari keintiman dengan Roh Kudus.
  • Buah Roh adalah hasil transformasi supranatural yang progresif oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang berserah, jadi bukan hasil usaha manusia. Meski ada sembilan, namun buah Roh merupakan suatu kesatuan terpadu. Rasul Paulus menyebutnya dengan Buah Roh (tunggal), bukan buah-buah Roh (jamak). Penguasaan diri adalah penentu dari semua sifat buah Roh.
  • Buah Roh berbeda dengan karakter/watak natural yang merupakan bawaan lahir, didikan atau hasil pembentukan lingkungan. Buah Roh mencerminkan karakter Kristus, sementara watak/temperamen natural merupakan sifat bawaan lahir yang cenderung dipengaruhi oleh tabiat manusia berdosa.
  • Buah Roh menghasilkan karakter Kristus yang stabil dan melampaui kemampuan natural manusia; sementara watak/temperamen natural bisa tampak baik secara moral, namun tidak memiliki kuasa ilahi dan dapat gagal di bawah tekanan.
  1. Kasih: Kasih ilahi yang memberi tanpa pamrih, tidak bertujuan mencari kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan bagi orang lain. Kasih memiliki cakupan luas sekali; buah dari kasih mengacu pada 1 Korintus 13:4-8. Kasih bukan sekadar perasaan, tapi perilaku kita terhadap sesama yang dilakukan berdasarkan kebenaran.
  2. Sukacita: kegembiraan (joy) yang mendalam yang timbul dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Kegembiraan yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
  3. Damai sejahtera: ketenangan batin/kesejahteraan jiwa  yang didasarkan atas pengampunan Tuhan, dihasilkan dari kebenaran.
  4. Kesabaran: sikap pengendalian diri yang menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tekun; tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.
  5. Kemurahan: keramahtamahan, kebaikan hati, suka memberi, tidak mau menyakiti orang lain, mudah mengampuni.
  6. Kebaikan: ketulusan jiwa yang membenci kejahatan, motif dan perilaku yang baik. Sikap ini adalah kelanjutan dari sikap kemurahan.
  7. Kesetiaan: dapat dipercaya dan diandalkan untuk suatu tanggung jawab, tetap bertahan dalam iman dalam berbagai pencobaan.
  8. Kelemahlembutan: pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan kerendahan hati. Tunduk pada kehendak Allah, hati yang mau diajar/mudah dibentuk, sering kali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan, padahal merupakan kekuatan karakter.
  9. Penguasaan diri: menguasai keinginan dan hawa nafsu diri sendiri (makan, seks, uang, kecanduan, amarah/emosi).
  • Setelah mengetahui buah Roh di atas, periksa diri sendiri : Apakah ada buah Roh yang dihasilkan dari hidup kita?

Bersambung minggu depan…