Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog"
SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

Senin. SEMANGAT TANPA KETAATAN ADALAH PERCUMA

Baca:  2 Samuel 6:1-23

“Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.”  2 Samuel 6:6

Dari pembacaan firman ini kita melihat betapa bersemangatnya bangsa Israel saat membawa tabut Tuhan kembali ke Yerusalem.  “Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu. Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.”  (ayat 3, 5).  Tabut adalah tanda kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya dan menjadi pusat dari kehidupan bangsa Israel.

Karena terlalu bersemangat sampai-sampai mereka mengabaikan aturan-aturan yang telah ditetapkan.  Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa tak seorang pun diperbolehkan menyentuh tabut perjanjian, lambang kehadiran Tuhan itu.  “…janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati.”  (Bilangan 4:15).  Namun Uza telah melanggar ketetapan Tuhan itu, yaitu  “…mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu,”  (ayat nas).  Karena keteledorannya ini Uza harus menuai akibatnya,  “…ia mati di sana dekat tabut Allah itu.”  (2 Samuel 6:7).  Ternyata, bermodalkan semangat saja dalam melayani Tuhan tidaklah cukup tanpa disertai pengenalan yang benar akan Tuhan dan taat melakukan kehendak-Nya.  “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  (Hosea 6:6).  Dalam penilaian Tuhan ketaatan itu jauh lebih berharga daripada sekedar semangat dalam melayani, bahkan jauh bernilai dibandingkan dengan korban persembahan kita.

Mungkin kita cakap berkhotbah, menjadi worship leader hebat, atau memiliki jam terbang pelayanan mumpuni, tapi jika kita tidak menjadi pelaku firman, maka apa yang kita lakukan tak lebih seremonial belaka.  Memang kita hidup di bawah kasih karunia, namun setiap pelanggaran atau ketidaktaatan tetaplah memiliki konsekuensi.

Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan  (taat)  adalah tanda kita menghargai hadirat Tuhan!


Selasa. BERSEDIA MEMIKUL SALIB

Baca: Lukas 14:25-35

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Lukas 14:27

Dunia ini dipenuhi dengan ketidakadilan, penyimpangan, kekerasan dan hidup yang mementingkan diri sendiri.  Manusia lebih memilih berjalan menurut kehendaknya sendiri, tidak lagi peduli apakah itu sesat dan merugikan orang lain.  Ketika dihadapkan pada fenomena ini, haruskah orang percaya mengikuti jejak orang dunia dengan pola hidupnya yang bertentangan dengan kebenaran, ataukah tetap teguh meneladani Kristus hidup?

Tuhan Yesus berkata,  “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.”  (Matius 16:19a), namun  ‘kunci’  itu tidak Ia berikan kepada semua orang, hanya kepada mereka yang bersedia untuk membayar harga yaitu memikul salib dan mengikut Dia.  Memikul salib berarti bersedia untuk menyangkal diri sendiri.  Itu tidak mudah, karena kehendak dan kemauan kita cenderung berlawanan dengan kehendak Tuhan.  Kehendak dan kemauan kita adalah melakukan apa yang menyenangkan daging,  “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging;”  (Roma 8:5).  Untuk layak disebut murid Tuhan tidak ada jalan lain selain harus melawan keinginan daging.  Sakit memang!  Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan penderitaan Tuhan Yesus yang sudah memikul salib-Nya, dan salib yang dipikul-Nya adalah masalah terberat yang dihadapi oleh seluruh umat manusia yaitu dosa, dan  “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”  (Matius 8:17), bahkan Ia rela mencucurkan darah-Nya dan mati bagi kita di kayu salib.  Jadi salib yang harus kita pikul setiap hari sesungguhnya tidak sebanding dengan kemenangan yang Tuhan berikan.

Memikul salib juga berarti rela menderita karena kebenaran.  Tuhan Yesus berkata,  “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”  (Matius 5:10-12).

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”  Galatia 5:24


Rabu. SIAPKAH MENGHADAPI PENGADILAN

Baca: 2 Korintus 5:1-10

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”  2 Korintus 5:10

Banyak orang berpikir bahwa hidup di dunia ini hanya satu kali saja, lalu mati dan tamat.  Karena itu ada orang berprinsip:  “Selagi masih hidup mari kita bersenang-senang dan melakukan apa saja yang kita mau.”  Ingatlah bahwa kematian itu bukan akhir dari segalanya, justru menjadi awal dari kehidupan yang sesungguhnya.  “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,”  (Ibrani 9:27).  Manusia lupa bahwa ada penghakiman setelah kematian!

Rasul Yohanes mendapat penglihatan,  “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.”  (Wahyu 20:12).  Apa pun yang diperbuat manusia selama hidup di dunia pada saatnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.  Sesungguhnya Tuhan tidak senang menghukum manusia karena itu Ia mengutus hamba-hamba-Nya untuk memberitakan Injil ke penjuru bumi bahwa  “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”  (Yohanes 14:6), dan  “…keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  (Kisah 4:12).  Sungguh teramat disayangkan banyak orang menolak mentah-mentah berita tentang salib,  “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,”  (1 Korintus 1:18).

Hidup ini sungguh teramat singkat, tak lebih dari sebuah persinggahan sementara.  “…jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”  (2 Korintus 5:1).  Karena itu waktu yang terbatas ini mari kita pergunakan sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri sebelum kematian menjemput!

Buat keputusan mulai sekarang, sebab penyesalan di kemudian hari tiada guna.


Kamis PILIHAN ADA PADA MANUSIA SENDIRI

Baca: Wahyu 3:14-22

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”  Wahyu 3:20

Orang bertanya-tanya, jika Tuhan itu berkuasa mengapa Dia seolah-olah membiarkan sakit-penyakit dan kesusahan menimpa semua orang?  Mengapa Ia tidak langsung menyembuhkan atau memberkati?  Tentu saja Tuhan itu Mahakuasa, tetapi Dia hanya akan mengerjakan sesuatu dalam diri seseorang ketika orang itu mengijinkan Dia bekerja.  Ada orang yang berbantah lagi,  “Kalau Tuhan berkuasa, tentunya Ia dapat melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya sendiri!”  Dalam sekejap mata Tuhan pasti sanggup untuk menyembuhkan, memberkati, menolong dan menyelamatkan setiap orang yang berdosa tanpa melalui proses pertobatan.

Tuhan tak ingin manusia ciptaan-Nya itu seperti robot yang dapat dijadikan apa saja.  Sesungguhnya Tuhan dapat saja memaksa setiap orang untuk bertobat dan menerima-Nya sebagai Juruselamat dalam hidupnya.  Tetapi Tuhan memberikan kepada setiap manusia free will  (kehendak bebas), sehingga manusia mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri.  Manusia dapat memilih untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya, atau sebaliknya mereka melakukan seperti orang dunia lakukan saat ini yaitu membenci, menghujat dan menolak Yesus Kristus.  Tuhan Yesus hanya berdiri di depan pintu hati setiap orang dan mengetuk.  Jika kita mendengar suara-Nya dan membukakan pintu hati bagi-Nya, Dia kan masuk ke dalam kehidupan kita.  Jadi Tuhan tak pernah memaksa kita, walaupun sesungguhnya Ia begitu ingin semua orang mendapatkan keselamatan kekal melalui iman percaya kepada-Nya,  “…tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”  (2 Petrus 3:9).

Bahkan setelah seseorang bertobat dan lahir baru ia juga tak kehilangan kehendak bebasnya untuk memilih taat kepada firman atau tidak taat.  Yang harus disadari adalah, bahwa  “…ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,”  (Ibrani 2:2), sebaliknya kalau kita mau taat maka berkatlah yang menjadi bagian hidup kita.

“…barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran;”  Wahyu 22:11


Jumat BERBAHAGIALAH ORANG YANG DIINGAT TUHAN

Baca: Mazmur 25:1-22

“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.”  Mazmur 25:7

Semua orang pasti berharap dirinya selalu diingat dan tidak dilupakan oleh sesamanya, seperti teman, kerabat atau saudara.  Betapa sedih dan kecewanya bila pada suatu kesempatan kita bertemu dengan teman lama, ternyata teman kita itu sudah tidak lagi mengingat kita alias lupa.  Kita patut bersyukur, sekalipun manusia bisa saja melupakan dan tidak lagi mengingat kita tapi Tuhan tak pernah melupakan kita.  “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”  (Mazmur 8:4-5).

Alkitab menegaskan orang benarlah yang selalu diingat oleh Tuhan,  “…orang benar itu akan diingat selama-lamanya.”  (Mazmur 112:6).  Namun ada seorang penjahat yang diingat Tuhan, karena pada saat akhir perjalanan hidupnya ia merendahkan diri dan berpengharapan penuh kepada Tuhan.  Oleh karena imannya itu Ia tidak lagi memperhitungkan dosa-dosanya, sebaliknya Ia mengingat dan menyelamatkannya.  Orang itu adalah salah seorang penjahat yang disalibkan bersama Tuhan Yesus.  Ketika penjahat lain menghujat-Nya,  “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”  (Lukas 23:39), tetapi penjahat yang satunya justru berkata,  “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”  (Lukas 23:42).  Ketika Tuhan Yesus dalam keadaan tak berdaya, masih tergantung di atas kayu salib, penjahat ini percaya bahwa Dia adalah Raja.  Karena imannya berkatalah Tuhan Yesus kepadanya,  “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”  (Lukas 23:43).

Walaupun tadinya penjahat itu sama seperti penjahat lain di sebelah Tuhan Yesus, namun ia telah membuat keputusan penting dalam hidupnya yaitu bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pada saat ia masih berada di atas kayu salib.  Ia menerima Tuhan Yesus sebagai Raja sebelum ia mati.

Kehidupan di masa lalu tak menentukan keselamatan:  asal kita mau bertobat, langkah terakhir dari hidup ini yang menentukan!


Sabtu SANJUNGAN YANG MELENAKAN

“Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.”  Kisah 14:13

Mengerjakan Amanat Agung Tuhan Yesus adalah tanggung jawab semua orang percaya, karena itulah  “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”  (Markus 16:20).  Ke mana pun hamba-hamba Tuhan pergi memberitakan Injil Roh Kudus menyertai dan turut bekerja.  Di mana ada Roh Kudus sesuatu yang dahsyat pasti terjadi, perkara-perkara adikodrati dinyatakan:  yang sakit disembuhkan, yang terbelenggu dibebaskan, yang buta pun dicelikkan, yang lumpuh berjalanlah!

Di Listra ada orang yang lumpuh kakinya sejak lahir.  “Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: ‘Berdirilah tegak di atas kakimu!’ Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.”  (Kisah 14:9-10).  Orang-orang pun kagum dan mengelu-elukan Paulus dan Barnabas, bahkan mereka menganggap keduanya dewa yang turun dari langit.  Paulus disebutnya Hermes, dan Barnabas disebut Zeus!  Mereka mengira bahwa yang melakukan mujizat adalah hamba Tuhan tersebut, tak mengerti bahwa yang mengerjakan semua mujizat itu sesungguhnya adalah Tuhan sendiri melalui kuasa Roh-Nya, sedangkan hamba Tuhan adalah alat-Nya.

Sanjungan manusia acapkali melenakan dan membuat orang lupa daratan.  Ini berbahaya!  Ada banyak pelayan Tuhan jatuh ketika mereka sedang  ‘di atas’  karena tidak tahan dengan pujian, hormat dan sanjungan manusia.  Memang sulit untuk tetap rendah hati dalam situasi seperti itu.  Ketika dielu-elukan segeralah Paulus dan Barnabas lari ke tengah-tengah mereka dan berkata,  “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.”  (Kisah 14:15a).  Di zaman sekarang tidak sedikit pelayan Tuhan yang justru membusungkan dada ketika namanya semakin dikenal oleh khalayak ramai.

Sanjungan adalah untuk Tuhan, jangan sekali-kali kita mencuri kemuliaan-Nya!


Minggu HIDUP DI AKHIR ZAMAN: Penuh Tipuan Iblis (1)

Baca: 2 Petrus 3:10-16

“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”  2 Petrus 3:14

Menjadi mempelai Kristus yang tak bercacat dan tak bernoda adalah tujuan hidup orang percaya.  Mengapa kita harus dalam keadaan tak bercacat dan tak bernoda?  Karena Tuhan Yesus telah mencurahkan darah-Nya untuk menyucikan dan menyempurnakan mempelai-Nya, sehingga kalau kita tetap dalam keadaan cacat dan bercela ketika Tuhan menjemput kita, berarti kita telah menyia-nyiakan pengorbanan Kristus di kayu salib.  Hari-hari yang sedang kita hadapi ini adalah hari-hari akhir menjelang kedatangan Kristus.  Jadi bukan waktunya kita main-main dalam menjalani hidup.  “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”  (Wahyu 22:11).

Alkitab menyatakan bahwa di akhir zaman yang jahat akan semakin jahat dan yang suci akan semakin suci.  Karena itu kita harus semakin terpacu untuk hidup benar dan tidak lagi berkompromi dengan dosa.  Waspadalah dan berjaga-jagalah, karena Iblis selalu mencari celah sekecil apa pun untuk menipu semua orang.  Salah satu tipuan Iblis adalah berkenaan dengan  ‘waktu’.  Iblis berusaha mengalihkan fokus hidup semua orang agar menyibukkan diri untuk hal-hal duniawi.  Waktu mereka tersita oleh berbagai aktivitas sampai-sampai mereka tidak lagi punya waktu untuk memikirkan perkara-perkara rohani  (bersaat teduh atau melayani Tuhan).  Mereka berkata  “Waktu kok terasa begitu cepat… pekerjaan ini dan itu belum selesai.”  Sungguh, waktu akan berlalu begitu cepatnya seperti sekam yang ditiup oleh angin  (baca  Zafanya 2:2).

Bila kita tidak bisa menggunakan waktu dengan bijaksana, waktu itu akan habis untuk perkara yang sia-sia.  Itulah yang menjadi tujuan Iblis!  Bukan berarti kita tidak boleh melakukan pekerjaan atau aktivitas apa pun, namun hendaknya jangan semua perkara yang ada di dunia ini semakin menjauhkan kita dari Tuhan.  Hendaklah segala sesuatu yang kita kerjakan berorientasi kepada perkara-perkara yang menuju kepada kekekalan!

Evaluasilah waktu-waktu yang Saudara pakai dan prioritaskan Tuhan.

KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT

KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT

Senin. KASIH SEJATI SEORANG SAHABAT
Baca: 1 Samuel 18:1-5

“Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.” 1 Samuel 18:3

Tak seorang pun dapat menjalani hidup di dunia ini sendirian, melainkan selalu membutuhkan orang lain, terlebih yang bisa menjadi tempat berbagi rasa di segala situasi (suka dan duka); dan orang yang bisa berbagi rasa di segala situasi bukanlah teman biasa, tapi adalah sahabat. Semua orang mengakui bahwa untuk memiliki banyak teman itu bukanlah perkara sulit, tapi untuk memiliki seorang sahabat saja tak semudah membalikkan telapak tangan. “Menjadi seorang teman adalah mudah, tapi persahabatan adalah buah yang lama berbuah.” (Aristoteles).

Kehadiran seorang sahabat dalam hidup laksana lilin kecil di tengah kegelapan, ibarat mercusuar di tengah lautan lepas. Bersyukurlah jika di zaman yang ‘gersang’ kasih seperti ini kita masih memiliki seorang sahabat! Hubungan antara Yonatan dan Daud adalah contoh ideal persahabatan sejati antara dua orang yang saling mengasihi satu sama lain. “…berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.” (ayat 1), bahkan kasih mereka melebihi kasih dari saudara kandung. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Bukti kasih dan kesetiaan Yonatan terhadap Daud adalah ketika raja Saul (ayahnya) mencoba untuk membunuh Daud, ia tetap berpihak kepada yang benar dan tetap mengasihi Daud, walaupun tindakannya ini mengandung resiko harus kehilangan hak atas tahtanya yang semestinya menjadi haknya kelak. Inilah ciri utama seorang sahabat sejati yaitu rela berkorban. Persahabatan dan kesetiaan Yonatan kepada Daud justru semakin menunjang dan memberi peluang bagi Daud untuk memperoleh tahata kerajaan yang seharusnya akan jatuh pada Yonatan.

Sulit menemukan seorang sahabat sejati seperti Yonatan di zaman sekarang! Yang ada sekarang adalah ‘kasih’ yang disertai dengan tendensi dan juga pengkhianatan demi kepentingan diri sendiri: teman tega ‘menusuk’ dari belakang, ada pula saudara kandung yang saling berkhianat oleh karena memperebutkan harta atau warisan.

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Amsal 18:24


Selasa. ORANG PERCAYA: Mewarisi Sifat Bapa

Baca: 1 Petrus 1:13-25

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih per-saudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” 1 Petrus 1:22

Dunia ini sedang menuju kepada kehancuran, dan salah satu tandanya adalah semakin merosotnya moral manusia. Alkitab sudah menyatakannya: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4).

Namun ini justru jadi kesempatan indah bagi orang percaya untuk mendemonstrasikan kasih kepada semua orang, tanpa terkecuali. Mengapa? Karena kita adalah anak-anak Allah, yang sudah seharusnya mewarisi sifat Allah yaitu kasih, sebab “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16b). Tetapi kenyataannya, terhadap saudara seiman, rekan satu gereja, sesama hamba Tuhan, masih saja kita berselisih, saling iri hati, saling benci, saling menjatuhkan, karena persaingan dalam pelayanan…

Kerinduannya yang besar terhadap hal-hal rohani mengantarkan Andreas bertemu dengan sang Mesias, Yesus Kristus, sementara saudaranya (Petrus) lebih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai nelayan. Lalu Andreas berkesempatan membawa saudaranya ini kepada Yesus, dan ketika bertemu Petrus berbicaralah Ia: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

(Yohanes 1:42), dan “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.” (Matius 16:18-19). Yesus justru berbicara banyak dan punya rencana besar bagi kehidupan Petrus, bukan Andreas. Meski demikian Andreas tidak iri hati atau cemburu.

Selama masih ada perselisihan atau iri hati berarti kita belum mengasihi dengan sungguh!


Rabu. ORANG PERCAYA: Menjadi Saksi Kristus

Baca: 1 Yohanes 1:1-4

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” 1 Yohanes 1:3

Dalam persidangan suatu perkara selalu ada yang namanya saksi. Tidak sembarang orang bisa diajukan sebagai saksi. Menjadi saksi dalam suatu persidangan haruslah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Contoh: saksi mata adalah orang yang mengetahui atau melihat dengan mata kepala sendiri suatu peristiwa atau kejadian perkara yang sedang disidangkan atau berada di TKP (tempat kejadian perkara), dan dapat menceritakan apa yang dialami, dilihat dan didengar. Ia bukan menceritakan pengalaman orang lain, atau menceritakan apa yang ia dengar dari orang lain (jadi bukan menurut kata orang).

Demikian juga ketika menjadi saksi Kristus, kita harus memenuhi kriteria atau syarat yang disebutkan di atas, seperti halnya yang dilakukan oleh rasul Yohanes yang menyaksikan apa yang dirinya sendiri alami, yang ia pegang dan ia lihat tentang Kristus. Dengan kata lain rasul Yohanes tidak memberi kesaksian akan apa yang orang lain katakan tentang Kristus sebagai suatu kebenaran, melainkan kehadiran Kristus yang ia alami sendiri di dalam kehidupannya itulah yang ia berikan sebagai kesaksian. Contoh: rasul Yohanes menjadi saksi mata ketika Kristus dimuliakan di atas gunung (baca Matius 17:1-13), juga pada saat Kristus bangkit dari kematian dan naik ke sorga ia menyaksikan semua kejadian itu, sehingga dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang saksi hidup.

Melalui kesaksiannya ini rasul Yohanes rindu orang lain dapat merasakan dan mengalami apa yang ia alami yaitu memiliki pengenalan yang benar tentang Kristus dan hidup dalam persekutuan yang karib dengan Bapa. Ada tertulis: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6). Sebagai orang percaya kita adalah saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini! Menjadi saksi kristus itu tidak diukur dari seberapa mahirnya orang berkhotbah atau seerapa sibuk ia terlibat dalam pelayanan, melainkan melalui pengalaman pribadi berjalan dengan Tuhan yang terefleksi melalui perubahan hidup yaitu memancarkan karakter Kristus secara nyata.

Sudahkah kita menjadi saksi Kristus melalui ucapan, pernyataan dan perbuatan?


Kamis. KESAKSIAN YANG BUKAN BASA-BASI

Baca: Yohanes 3:22-36

“Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Yohanaes 3:26

Yohanes Pembaptis, orang yang diutus Allah untuk mendahului Yesus Kristus, membuka jalan bagi pelayanan Kristus seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “Ada suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!'” (Yesaya 40:3; Matius 3:3). Ia adalah termasuk keturunan suku Lewi, putra dari Elisabet, dan saudara sepupu Maria, ibu Yesus (baca Lukas 1:36). Ayahnya (Zakharia) adalah seorang imam dari rombongan Abia yang bertugas di Bait Allah. Perihal masa kecil Yohanes tidak banyak dikupas di Alkitab, kecuali ketika masih dalam kandungan Elisabet, di mana ia melonjak kegirangan sewaktu Maria berkunjung ke rumah ibunya.

Secara manusia sesungguhnya Yohanes punya alasan untuk iri hati dan cemburu kepada Tuhan Yesus, karena ia yang lebih dahulu memulai pelayanan, tetapi Tuhan Yesus yang lebih sukses dan lebih populer dibanding dirinya. Inilah yang Yohanes beritakan kepada orang banyak: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Markus 1:7-8). Yohanes Pem-baptis justru menunjukkan kasih persaudaraan yang tulus dengan menghargai dan menghormati pelayanan Tuhan Yesus yang jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sebelum Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya banyak sekali pengikut Yohanes Pembaptis, tetapi setelah Tuhan Yesus melayani, banyak orang yang beralih untuk mengikuti Tuhan Yesus (ayat nas). Merasa tersaigikah Yohanes? Justru ia menegaskan: “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.” (Yohanes 3:28). Yohanes Pembaptis dengan sportif dan rendah hati menyadari siapa dirinya dan siapa sesungguhnya Yesus.

Jika setiap orang mengerti akan tugas dan panggilannya masing-masing, maka tak akan terjadi persaingan dan saling mendiskreditkan di antara saudara seiman

“Ia harus makin besar, tetapi aku (Yohanes) harus makin kecil.” Yohanes 3:30


Jumat. ORANG PERCAYA: Bukanlah Produk Massal

Baca: 1 Petrus 2:1-10

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,” 1 Petrus 2:9
Sudah menjadi rahasia umum jika manusia menilai sesamanya berdasarkan pada atribut yang melekat kepadanya: harta kekayaan, profesi, status, pangkat/kedudukan, kepopuleran dan pencapaiannya di segala bidang kehidupan. Karena itulah semua orang akan mencari cara dan bahkan rela menghalalkan segalanya untuk meraih semuanya itu dengan harapan keberadaannya di tengah lingkungan atau masyarakat diakui, dikenal, dihormati dan dihargai. Sebaliknya ketika seseorang tidak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan mereka pun menjadi sangat rendah diri (minder), karena merasa tidak berharga di mata orang lain. Ini sangat berbahaya!

Bagaimana penilaian Tuhan? Tuhan menilai manusia tidak tergantung pada apa yang terlihat secara kasat mata. Tuhan tidak melihat harta, pangkat atau embel-embel lain yang melekat pada diri manusia. “Bukan yang dilihat manu-sia yang dilihat Allah;… tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samu-el 16:7b). Mungkin Saudara sedang mengalami krisis percaya diri: “Hidupku tidak ada harganya di mata manusia, apalagi di hadapan Tuhan. Aku sangat tidak layak. Dosa dan pelanggaranku tak terhitung banyaknya seperti bintang-bintang di langit.” Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita merasa rendah diri atau minder, karena “…engkau ber-harga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4). Saat kita jatuh ke dalam dosa, Iblis memang tidak pernah berhenti untuk menuduh dan men-dakwa kita siang dan malam sehingga kita menjadi orang yang tertuduh dan tertolak. Namun tidak dengan Tuhan, Dia selalu membuka tangan-Nya dan menyambut kita setiap saat seperti Bapa yang merindukan si bungsu, karena Dia Maha pengampun dan penuh belas kasihan.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13-14). Mazmur 139:13-14). Manusia boleh saja merendahkan dan tidak menganggap keberadaan kita, namun kita tetaplah pribadi yang istimewa dan berharga di mata Tuhan.

Orang percaya adalah limited edition di mata Tuhan, bukan produk massal!


Sabtu. LAYAK DISEBUT ANAK TUHAN ATAU BELUM?

Baca: Roma 8:1-17

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Roma 8:14

Alkitab menegaskan bahwa orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Tuhan akan disebut anak Tuhan. Kebalikannya, orang yang hidupnya tidak dipimpin oleh Roh Tuhan tidak layak atau bukan disebut anak Tuhan. Yang dapat menilai dan membuat kesimpulan apakah kita ini layak disebut anak Tuhan adau bukan adalah diri kita sendiri, yaitu dengan jalan mengoreksi diri apakah selama menjalani hidup ini kita mau dan taat sepenuhnya dalam pimpinan Roh Kudus atau tidak.

Ada tertulis: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!'” (Roma 8:15a). Orang percaya yang hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus tidak lagi dipimpin oleh roh perbudakan. Namun fakta berkata lain, ada banyak orang Kristen yang mengaku diri sebagai anak Tuhan tapi mereka masih berada dalam belenggu atau diperbudak oleh dosa. Terbukti mereka masih enggan meninggalkan dosa, suka melakukan hal-hal cemar secara sembunyi-sembunyi, ada pula yang masih terbelenggu oleh adat istiadat, tradisi, jampi-jampi, feng shui, tahayul, ramalan, primbon dan sebagainya. Menjadi anak Tuhan berarti sudah terlepas secara tuntas dari kuasa kegelapan, alias tidak lagi berkompromi dengan segala hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, sebab “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;” (Kolose 1:13). Maka dari itu “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kolose 2:7).

Di zaman sekarang ini kita perlu ekstra waspada, “…supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kolose 2:8). Bagaimana caranya? Kita harus membangun fondasi hidup kita dengan firman Tuhan, dan mengijinkan Roh Kudus menjadi pemimpin dan berhak memerintah hidup kita. Jika Roh Kudus yang memimpin, “Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:3b).

Hidup anak Tuhan sejati adalah hidup menurut Roh, bukan menuruti daging!


Minggu. PENGAKUAN TUHAN ADALAH YANG UTAMA

Baca: Matius 7:15-23

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Matius 7:22

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat itu sudah cukup untuk memperoleh keselamatan, apalagi ditambah dengan keterlibatannya dalam pelayanan, lengkaplah sudah dan itu sudah pasti menyenangkan hati Tuhan. Benarkah? Tidak demikian. Keselamatan tidak berhenti sampai kita percaya kepada Tuhan Yesus saja, tetapi kita harus terus bertumbuh sampai dapat berstatus sebagai pelaku firman, sebab “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (ayat 21). Tidak ada yang lebih utama dalam hidup orang percaya selain melakukan kehendak Bapa.

Melakukan kehendak Bapa atau tidak melakukan kehendak Bapa adalah ukuran Tuhan dalam menilai hidup seseorang. “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat keja-hatan!” (ayat 23). Kata berterus terang ini dalam Alkitab King James diterjemahkan confess, atau dalam versi English Amplified diterjemahkan declare, artinya mengakui di depan umum. Pada saatnya nanti Tuhan akan mengakui di depan umum atau berterus terang di hadapan khalayak. Betapa malang dan suatu bencana yang mengerikan, jika pada hari penghakiman kelak Tuhan tidak mengakui kita, alias menolak kita. Ditolak Tuhan berarti penghukuman kekal ada di depan mata!

Orang yang tidak diakui dan ditolak Tuhan dalam ayat 21-23 ini bukanlah mereka yang tidak mengenal Tuhan Yesus, namun adalah orang-orang yang secara kasat mata tampak melayani pekerjaan Tuhan, bahkan bukan sembarangan melayani: sudah bernubuat, sudah mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat. Dengan kata lain mereka memiliki jam terbang yang tak diragukan lagi dalam pelayanan, punya reputasi (hebat, beken, terkenal) di mata manusia. Ternyata prestasi seseorang dalam pelayanan bukan jaminan beroleh pengakuan dari Tuhan atau dikenal Tuhan.

Melakukan kehendak Tuhan adalah modal dasar beroleh pengakuan dari Tuhan!

UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Senin. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (2)

Baca: Amos 3:1-8

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi,” Amos 3:2

Adalah tidak mudah bagi seseorang untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak dan pimpinan Tuhan, yang terjadi justru sebaliknya yaitu maunya Tuhan yang harus mengikuti kehendak dan keinginan kita dengan cara kita, alias mendikte Tuhan. Ada tertulis: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” (Roma 9:20-21).

Bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan! Mereka dipilih di antara berjuta-juta umat manusia di muka bumi ini. Ditegaskan bahwa Tuhan hanya mengenal satu bangsa yaitu umat kesayangan-Nya, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4), bahkan disebut-Nya mereka sebagai biji mata-Nya. “Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” (Ulangan 32:10b), dan “sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya–:” (Zakharia 2:8). Bukan hanya itu… “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:16). Siapakah kita ini sehingga Tuhan memilih, memanggil dan mengangkat kita? Apakah karena kita hebat, pintar, kaya, terkenal? Tidak sama sekali, karena di luar sana masih banyak orang yang lebih dari kita. Semua itu karena anugerah Tuhan semata! Anugerah atau kasih karunia berasal dari bahasa asli khen (Ibrani) atau kharis (Yunani). Pemberian anugerah ini semata-mata adalah hak prerogatif Tuhan, sedangkan sesungguhnya manusia tidak layak untuk menerimanya. “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Keluaran 33:19b).

Meski diperlakukan istimewa oleh Tuhan mereka tidak merespons kasih Tuhan itu dengan sikap hati yang benar: memilih hidup menurut kehendak sendiri, memberontak kepada Tuhan, dan bahkan jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Karena kekerasan hati dan kedegilan mereka Tuhan pun menyebutnya sebagai bangsa yang tegar tengkuk!

Meski dikasihi Tuhan sedemikian rupa bangsa Israel tetap saja memberontak


Selasa. UMAT PILIHAN: Dikasihi dan Dihajar (3)

Baca: Amos 3:1-8

“…sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” Amos 3:2

Sepintas kalau kita membaca Amos 3:2 ini (“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.”) Kita pasti akan bertanya-tanya: setelah Tuhan menyatakan bahwa kita ini adalah umat pilihan-Nya, kalimat selanjutnya, “…Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (ayat nas). Apa maksudnya? Seringkali kita berpikir bahwa jika Tuhan mengasihi kita dan memilih kita, Ia akan menuruti semua keinginan kita, melancarkan usaha dan bisnis kita, dan membebaskan kita dari situasi sulit dan masalah.

Tidak berarti bapa yang baik dan mengasihi anaknya menuruti semua keinginan anak, atau memanjakannya. Jika si anak melakukan kesalahan yang sangat fatal bapa pasti akan menegur, jika perlu memukulnya. “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.” (Amsal 23:13-14), dan “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anak-nya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24). Begitu pula dengan Tuhan, jika Dia menegur kita dengan keras bukan berarti Ia tidak mengasihi kita, justru bukti bahwa Tuhan sangat mengasihi umat-Nya, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:6, 8).

Melalui nabi-nabi-Nya Tuhan berkali-kali memperingatkan bangsa Israel agar mereka bertobat dan kembali ke jalan-Nya, tetapi mereka tetap saja mengeraskan hati. Di tengah kemerosotan moral bangsa Israel ini Tuhan tetap menunjukkan kasih dan kesabaran-Nya dengan mengutus Amos, seorang yang takut akan Tuhan, untuk menegur dan memperingatkan mereka. Bagaimana responsnya? Mereka malah berlaku jahat ter-hadap Amos dan mengusirnya secara terang-terangan. “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makanan-mu di sana dan bernubuatlah di sana!” (Amos 7:12).

Karena mengacuhkan teguran, Tuhan menghukum bangsa Israel dengan menyerahkan mereka ke tangan bangsa Asyur!


Rabu. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (1)

Baca: 1 Samuel 3:1-21

“Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3:10b

Nama Samuel adalah ekspresi dari bahasa Ibrani yang berarti ‘Tuhan mendengar’. Ini ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mendengar pergumulan doanya. “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.'” (1 Samuel 1:20). Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kesusahan hati yang mendalam. Ia dahulu tertutup kandungannya, mustahil punya keturunan, namun tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).

Samuel memulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli. “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” (1 Samuel 1:28). Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah pengawasan imam Eli. Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan. Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya. Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan. Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan. “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat 9). Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (ayat nas).

Seiring berjalannya waktu “…Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.” (1 Samuel 3:19). Akhirnya Tuhan mempercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia memiliki kepekaan akan suara Tuhan.

Peka suara Tuhan tidak terjadi secara instan, tapi melalui proses bergaul karib dengan-Nya setiap waktu.


Kamis. SEMAKIN PEKA AKAN SUARA TUHAN (2)

Baca: Yesaya 50:4-11

“Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Yesaya 50:4b

Melalui perjalanan hidup Samuel ini, kita bisa belajar bahwa langkah kesetiaan kepada Tuhan itu selalu diawali dari hal-hal yang kecil. Kalau kita setia dalam perkara yang kecil Tuhan akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang jauh lebih besar, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Pertumbuhan rohani Samuel ini akhirnya menjadi suatu kesaksian yang baik bagi seluruh umat Israel, “Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.” (1 Samuel 3:20). Samuel pun dipercaya Tuhan untuk melakukan berbagai tugas pelayanan: hakim, nabi, penasihat dan orang yang mempersiapkan raja untuk Israel.

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rohani menggantikan imam Eli dengan otoritas dari Tuhan, Samuel berhasil mempersatukan bangsa Israel yang tercerai-berai karena terpukul oleh bangsa Filistin (1 Samuel 7:3). Keberhasilan pelayanan Samuel adalah dampak dari kepekaannya dalam mendengar suara Tuhan. Saudara rindu dipercaya Tuhan untuk perkara-perkara besar? Pertajam pendengaran Saudara untuk mendengar suara Tuhan seperti seorang murid yang dengar-dengaran akan suara gurunya, dan seperti domba yang peka akan suara gembalanya. Tuhan Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,” (Yohanes 10:27). Domba-domba Kristus sejati pasti mengenal dengan baik suara gembalanya karena memiliki persekutuan yang karib. Kristus adalah Gembala Agung kita, karena itu harus senantiasa mendengar suara-Nya dan taat kepada-Nya.

Tanpa memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan (seperti Daniel: “Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11)), membaca dan merenungkan firman Tuhan, mustahil kita dapat mendengar suara Tuhan.

“setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,” Yakobus 1:19

EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

Senin. EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (1)

Baca: 1 Samuel 7:2-14

“Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.” 1 Samuel 7:3

Latar belakang kisah ini adalah ketika bangsa Israel meninggalkan tabut Tuhan. Mereka meninggalkan tabut itu di Kiryat-Yearim dalam waktu yang cukup lama yaitu dua puluh tahun. Tabut adalah tanda yang tampak mata tentang kehadiran Tuhan di tengah umat, terbuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas murni. Kayu penaga melambangkan kemanusiaan atau kedagingan, sedangkan emas berbicara tentang Roh Kudus dan kemuliaan. Pengertian lainnya: emas juga melambangkan keilahian Kristus dan kayu melambangkan kemanusiaan-Nya. Tabut ini bentuknya kotak persegi dengan panjang 2,5 hasta, lebarnya 1,5 hasta, dan tingginya 1,5 hasta (baca Keluaran 25:10-11). Isi dari tabut Tuhan adalah buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang bertunas, dan dua loh batu yang berisi 10 hukum Tuhan.

Keberadaan tabut Tuhan itu sangat dihormati dan disakralkan oleh bangsa Israel. Sejak masa perjalanan di padang gurun tabut Tuhan itu selalu dibawa sebagai tanda penyertaan Tuhan atas mereka. Mereka pun meyakini bila tabut itu ada beserta mereka maka pasti ada jaminan kemenangan. Itulah sebabnya Salomo menulis: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1). Artinya bahwa tanpa penyertaan Tuhan dan kehadiran-Nya dalam hidup ini apa pun yang kita kerjakan hasilnya pasti tidak akan maksimal dan bahkan bisa gagal. Namun jika kita melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya ada jaminan keberhasilan untuk segala hal yang kita kerjakan.

Karena bangsa Israel telah meninggalkan tabut Tuhan itu hari-hari mereka pun dipenuhi oleh keluh kesah, bahkan mereka mulai mendua hati dengan beribadah kepada allah asing dan Asytoret. Asytoret adalah dewi cinta, kesuburan, asmara atau perang yang disembah oleh orang-orang Kanaan. Hidup menyimpang dari kehendak Tuhan, bangsa Israel semakin menderita karena ditindas oleh bangsa Filistin. (Bersambung)


Selasa. EBEN HAEZER: Ada Pertolongan Tuhan (2)

Baca: 1 Samuel 7:1-14

“Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ‘Sampai di sini TUHAN menolong kita.'” 1 Samuel 7:12

Karena tidak taat, bangsa Israel dipermalukan oleh bangsa lain. Karena itu Samuel menyerukan kepada mereka agar bertobat. Secara harafiah kata bertobat berarti berbalik arah dari kehidupan yang jahat kepada kehidupan yang baik, dari kehidupan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan kepada kehidupan yang seturut kehendak Tuhan, dari kehidupan yang duniawi kepada kehidupan yang rohani. “Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN.” (ayat 4).

Pertobatan adalah kunci mengalami pemulihan hidup sep-erti tertulis: “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, me-rendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14). Setelah umat Israel berbalik kepada Tuhan (bertobat) perjalanan hidup mereka tidak langsung mulus, mereka kembali dihadapkan pada ujian dan pencobaan yaitu bangsa Filistin datang menyerang, sehingga mereka pun mengalami ketakutan. Dalam keadaan tertekan umat Israel berseru-seru kepada Tuhan dan meminta pertolongan; dan Samuel pun mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan, “…maka TUHAN menjawab dia.” (1 Samuel 7:9b), dan memberikan pertolongan tepat pada waktunya. “…pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.” (1 Samuel 7:10). Setiap ujian pasti mendatangkan kebaikan, karena di balik ujian yang ada sesungguhnya Tuhan sedang mengerjakan perkara-perkara besar untuk kita, karena “Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23).

Setelah meraih kemenangan itu Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya, dan ia menamainya sebagai Eben Haezer. Kata Eben Haezer diterjemahkan dari kata Ibrani eben ‘ekhwad yang artinya batu pertolongan.

Seberat apa pun perjalanan hidup ini Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian; Dia Imanuel… Jika Dia beserta kita, pasti ada pertolongan!


Rabu. TETAPLAH TINGGAL DI DALAM KRISTUS

Baca: Yohanes 15:1-8

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Yohanes 15:4a

Melalui perumpamaan tentang pokok anggur yang benar ini kita diingatkan bahwa kunci untuk berbuah adalah ranting harus terus melekat pada pokok anggur, sebab “…ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (ayat 4b). Kristus adalah pokok anggur itu, oleh karenanya orang percaya harus tetap tinggal di dalam Kristus jika ingin mengalami hidup yang berkemenangan setiap hari. Nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, “…hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kolose 2:6b). Tetap tinggal di dalam Kristus berarti terus-menerus hidup di dalam Dia di segala keadaan dan sampai akhir hidup kita.

Alkitab menyatakan bahwa ada berkat-berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang tetap tinggal di dalam Dia: 1. Kita dibebaskan dari hukuman. Ada tertulis: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:1-2). Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus (baca Roma 6:23). Melalui karya penebusan Kristus di kayu salib, kita yang ada di dalam Dia, mengalami pemulihan kemuliaan, sebab setiap orang telah kehilangan kemuliaan Allah. Karena iman kepada Kristus kita telah dibebaskan dari hukuman maut dan dibenarkan-Nya. 2. Kita diperkenankan untuk meminta apa saja. Tuhan Yesus berkata: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7). Apa pun yang kita minta dan doakan, asal sesuai kehendak Tuhan dan di dalam nama-Nya, akan diberikan Bapa kepada kita. “…apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16b).

Jadi doa-doa orang yang tetap tinggal di dalam Kristus memiliki peluang sangat besar mendapatkan jawaban, sebab “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Asal kita tetap tinggal di dalam Tuhan tidak ada yang perlu dikuatirkan, karena berkat-berkat rohani dan jasmani pasti dilimpahkan-Nya bagi kita.


Kamis. TIDAK SIAP MENDERITA

Baca: Filipi 1:27-30

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,” Filipi 1:29
Banyak orang Kristen berpikir bahwa mengikut Tuhan pasti akan terbebas dari masalah atau penderitaan, sehingga yang ada di pikiran mereka hanya soal berkat, berkat dan berkat. Ketika fakta berbicara lain yaitu mereka dihadapkan pada kesulitan, tekanan, masalah, sakit-penyakit, keku-rangan atau krisis, mereka pun tidak bisa menerima ken-yataan. Mereka pun langsung klaim janji firman Tuhan ini: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10). Mereka kecewa dan marah kepada Tuhan, “Mana janji Tuhan?”, dan tidak sedikit yang akhirnya memilih meninggalkan Tuhan dan kembali kepada dunia karena tid-ak siap jika harus mengalami penderitaan.

Rasul Paulus menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita ini dikaruniai bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (ayat nas). Pen-deritaan adalah harga yang harus dibayar oleh pengikut Kristus sejati. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:24-25). Penderitaan yang dimaksud adalah penyangka-lan diri terhadap segala keinginan daging; memikul salib artinya setiap hari kita harus memikul ‘kematian kita’ se-bagaimana yang Paulus katakan, “…aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20).

Tuhan Yesus juga memperingatkan, “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 10:22). Penderitaan ini disebabkan kare-na dunia membenci dan menolak Kristus, maka dunia juga menolak dan membenci kita. Namun kita tidak perlu takut akan penderitaan yang akan kita alami karena Tuhan juga akan memampukan kita untuk melewati semuanya itu dan Dia akan memberikan jalan keluar (baca 1 Korintus 10:13).

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:38


Jumat. ALKITAB: Firman Tuhan Yang Hidup

Baca: Mazmur 33:1-22

“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” Mazmur 33:9

Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Ba-ru adalah buku di atas segala buku, firman Tuhan yang hidup untuk manusia, yang berlaku untuk segala zaman. Jadi isi Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri yang penuh kuasa, “…bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk men-didik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap per-buatan baik.” (2 Timotius 3:16-17).

Mengapa Alkitab disebut firman Tuhan yang hidup? Karena daripadanya kita mendapatkan makanan dan minu-man rohani. Banyak orang berpikir bahwa roti adalah satu-satunya yang dibutuhkan untuk bisa hidup. Memang benar, makanan jasmani diperlukan agar kita dapat bertahan hidup, namun ada hal lain yang diperlukan untuk membuat hidup kita lebih dari sekedar bertahan hidup. Ada tertulis: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap fir-man yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Untuk memiliki kebahagiaan, kemenangan dan kelimpahan yang sejati tidak bisa sekedar bertahan hidup, yang kita butuh-kan adalah firman Tuhan. Karena itu “…jadilah sama seper-ti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,” (1 Petrus 2:2).
Bayi yang baru lahir tidak dapat hidup tanpa susu, be-gitu pula hidup kita tidak akan dapat bertahan tanpa ‘air susu murni’ dari firman Tuhan. Seperti kita butuh makan agar tubuh jasmani dapat bertahan hidup, maka adalah se-buah realitas tak terelakkan bahwa untuk dapat benar-benar hidup kita membutuhkan firman Tuhan. Kunci men-galami kebahagiaan, sukacita, damai sejahtera yang sejati

hanya kita dapatkan di dalam Alkitab. Dengan kata lain hati manusia hanya dapat dipuaskan dengan firman Tuhan saja. Juga kedewasaan rohani setiap orang percaya hanya dapat bertambah-tambah dan menjadi kuat hanya dengan membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan firman Tuhan saja. Sungguh bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang hidup dan berkuasa.

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Matius 24:35


Sabtu. MANUSIA MEMBUTUHKAN JURUSELAMAT
Baca: Roma 3:21-31

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” Roma 3:23

Sejak manusia pertama (Adam) jatuh ke dalam dosa, dosa telah masuk ke dalam hati semua manusia, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12). Akibat dosa, segala sakit-penyakit, kesusahan, penderitaan dan maut telah menimpa hidup manu-sia dari mula pertama hingga sampai pada akhir zaman. Manusia sudah dirusak oleh dosa, dan sejak lahirnya ia telah dicemarkan oleh dosa seperti Daud katakan, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7). Dosa yang dibawa dalam kelahirannya itulah yang disebut dosa pusaka atau dosa asal.

Karena dosa, manusia kehilangan kemuliaan Tuhan, sehingga dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya manusia cenderung berbuat dosa atau melakukan hal yang jahat. Pau-lus menyadari ini: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” (Roma 7:15). Dalam perkembangannya dosa semakin bertambah-tambah dan merajalela dalam kehidupan manusia. Zaman sekarang ini sudah tampak nyata: kriminalitas dan segala sesuatu yang amoral semakin hari semakin meningkat drastis. Dengan kekuatan sendiri manusia tidak mungkin bisa melepaskan diri dari kuasa dosa walaupun ia seorang nabi, guru besar, kanjeng, raja atau ahli filsafat sekalipun. Dalam keadaan seperti itu sesungguhnya manusia memerlukan Juruselamat yang bisa membebaskan mereka dari segala dosanya.

Juruselamat haruslah orang yang suci dan bebas dari dosa, orang yang harus lebih berkuasa dari manusia dan Iblis. Dia-lah Yesus Kristus, Anak Manusia, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21). Namun sampai hari ini tidak semua orang mau percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebaliknya mereka menolak dan membenci Dia secara terang-terangan, bahkan berita Injil pun tak dianggap.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Yohanes 14:6


Minggu. TUHAN PASTI PELIHARA

Baca: Matius 6:9-13

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukup-nya” Matius 6:11

Karena anugerah Tuhan semata, perjalanan hidup yang ‘beraneka warna’ di sepanjang bulan Januari telah mampu kita lewati dan hari baru di bulan Februari siap menjelang. Penyertaan Tuhan di hari-hari lalu kiranya semakin meneguhkan iman kita bahwa janji firman-Nya adalah ya dan amin, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Tuhan tidak hanya menyertai kita, tapi Ia juga memelihara hidup kita, karena Dia adalah Jehovah Jireh yaitu Tuhan yang menyediakan kebutuhan kita dan memelihara kehidupan kita seutuhnya; tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani tetapi juga kebutuhan jasmani, karena Dia tahu bahwa kita memerlukan keduanya. Hanya kita harus ingat firman-Nya yang berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan dit-ambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Contoh: ketika Elia berada di sungai Kerit dalam masa kekeringan dan kelaparan, dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan memelihara hidup nabi-Nya itu. “Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.” (1 Raja-Raja 17:6). Pada ayat nas yang merupakan bagian dari Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus hendak mengajarkan supaya kita tidak kuatir akan kebutuhan kita hari ini, apalagi mencemaskan apa yang akan kita butuhkan pada hari esok. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34). Ingatlah selalu kisah perjalanan hidup bangsa Israel ketika berada di padang gurun, bukankah mereka dipelihara Tuhan setiap hari dengan manna, roti dari surga yang disediakan bagi umat-Nya.

Oleh karena itu “Janganlah hendaknya kamu kuatir ten-tang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Tuhan adalah sumber berkat, sumber segala-galanya bagi kita, maka dari itu marilah kita bergantung penuh kepada Tuhan hari demi hari. Jika Tuhan sudah membuka pintu berkat bagi kita tak seorang pun dapat menutupnya.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22-23

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Senin. TETAP TENANG DI SEGALA SITUASI

Baca: Mazmur 131:1-3

“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” Mazmur 131:2

Semua orang membutuhkan ketenangan dalam menjalani hidup, namun di hari-hari ini ketenangan seolah-olah se-makin menjauh dari kehidupan manusia. Bagaimana bisa hidup tenang jika setiap hari kita mendengar dan melihat berita-berita yang mengejutkan dan aneh-aneh di surat ka-bar atau televisi. Contoh: berbagai virus penyakit kini ban-yak bermunculan, bahkan virus mematikan pun menjadi teror tak kasat mata bagi semua orang: Zika, Ebola, SARS, MERS, H7N9, HIV dan sebagainya; bencana alam terjadi di mana-mana tanpa dapat diduga datangnya, seperti banjir bandang di Garut (Jawa Barat), badai Matthew yang memporak-porandakan kota Haiti dan juga beberapa wilayah di Ameri-ka. Juga ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran bermunculan di mana-mana dan menyesatkan banyak orang. Semua situasi ini menyebabkan orang kehilangan rasa tenang, yang ada rasa gelisah dan was-was.

Menjadi orang percaya tidak berarti membebaskan kita dari semua situasi yang ada. Kita masih dihadapkan pada kesukaran, masalah dan tekanan dengan segala bentuknya, namun tidak seharusnya kita kehilangan rasa tenang. “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20). Kita tetap tenang di segala situasi apabila kita senantiasa bergaul karib atau tinggal dekat dengan Tuhan, sebab Dialah sumber ketenangan yang sejati. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batu-ku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” (Mazmur 62:2-3). Di dalam Tuhan ada harapan, ada perlindungan dan ada keselamatan yang pasti.

Jika kita berpegang teguh kepada janji firman Tuhan kita akan mampu menguasai diri dalam menghadapi apa pun, bertindak dan berpikir selaras dengan firman-Nya… saat itulah kita akan merasakan ketenangan. “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4:7b). Meningkatkan jam doa itu kuncinya!

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116:7


Selasa. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (1)

Baca: Mazmur 50:1-23
“Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!” Mazmur 50:14

Kapan Saudara mempersembahkan syukur kepada Tuhan? Banyak orang Kristen bersyukur kepada Tuhan hanya pada saat-saat tertentu yaitu ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, menerima berkat, kesembuhan, atau mengalami mujizat dari Tuhan. Sikap mereka langsung berubah begitu menghadapi masalah, kesesakan, sakit-penyakit… jangankan mengucap syukur, berdoa saja sudah malas melakukannya.

Ucapan syukur adalah sebuah kata benda abstrak, yang secara garis besar memiliki makna: grateful (berterima kasih kepada Tuhan), pleasing (menyenangkan Tuhan), atau mindful of benefits (sadar akan kebaikan, hadiah atau pertolongan). Inilah sikap hati yang harus dikembangkan dalam hidup orang percaya. Alkitab memperingatkan: “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). ‘Korban’ adalah sesuatu yang dipersembahkan, ke-hilangan, merugi dan sakit secara daging. “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18).

Sesungguhnya situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali untuk mengucap syukur, tetapi Habakuk tidak dikala-hkan oleh keadaan yang ada, ia tetap bisa mengucap syukur. Inilah yang disebut korban syukur!

Umumnya saat dalam masalah atau kesesakan tidak ada korban syukur yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang ada hanyalah sungut-sungut dan omelan seperti yang biasa dilakukan oleh umat Israel di padang gurun. Karena itulah se-bagian besar umat Israel mengalami kebinasaan di padang gurun sebelum mencapai Kanaan. Ketahuilah bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan dalam hidup kita, bahkan sehelai rambut pun jatuh adalah seijin Tuhan (baca Lukas 12:7).

Bila memahami “…betapa lebarnya dan panjangnya dan ting-ginya dan dalamnya kasih Kristus,” (Efesus 3:18), seharusnya bibir kita tak pernah berhenti bersyukur!


Rabu. HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR (2)

Baca: Mazmur 71:1-24

“Akupun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel.” Mazmur 71:22

Mengucap syukur adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Orang yang mampu mengucap syukur di segala keadaan me-nandakan ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan menyetu-jui apa pun yang Tuhan rancangkan. “Kita tahu sekarang, bah-wa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk menda-tangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Sebaliknya orang yang selalu bersungut dan mengomel berarti sedang memprotes kedaulatan Tuhan atas setiap ke-
jadian atau peristiwa yang dialaminya, dan tidak mem-percayai-Nya.

Ketika menghadapi cawan penderitaan, Tuhan Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehenda-ki.” (Matius 26:39). Di segala keadaan, biarlah kita belajar untuk menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang teruta-ma dalam hidup ini, karena kehendak-Nya pasti yang terbaik bagi kita. Karena itu ijinkanlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri dan ikutilah alur-Nya, jangan sekali-kali keluar dan memberontak. Percayalah bahwa masalah adalah cara Tuhan untuk mengerjakan perkara besar; tak ada mujizat tanpa masalah, tidak ada kemuliaan tanpa salib.

Sungut-sungut dan omelan tidak akan mengubah keadaan, malah membuatnya semakin buruk dan semakin memperpanjang waktu Tuhan memproses kita sebagaimana umat Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di pa-dang gurun, karena Tuhan hendak mendisiplinkan dan membangun karakter mereka. Tuhan memberikan materi berupa ‘masalah atau penderitaan’ dalam sekolah ke-hidupan ini agar kita belajar untuk bergantung kepada-Nya, sebab tanpa masalah seringkali kita melupakan Tuhan dan lebih bersandar kepada kekuatan sendiri. Justru ketika da-lam masalah atau pergumulan yang berat manusia terdorong untuk mendekat kepada Tuhan… saat itulah penyembahan dan doa yang begitu mendalam dan kuat dil-akukan.

Mudah bagi Tuhan memberkati kita, tetapi lebih penting bagi Tuhan memurnikan kualitas hidup kita, termasuk dalam hal mengucap syukur!


Kamis. ADA BERKAT DI BALIK UCAPAN SYUKUR

Baca: Mazmur 111:1-10

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111:1

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup ini seharusnya bibir kita takkan pernah berhenti berkata: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5), dan “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Tiada kata selain bibir yang senantiasa memuliakan nama Tuhan (ucapan syukur). Tapi banyak orang Kristen yang lupa mengucap syukur, kecuali dalam keadaan baik (terberkati); padahal di balik ucapan syukur terkandung berkat yang luar biasa pula.

Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk wanita dan anak-anaknya, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, semuanya kenyang, dan bahkan masih ter-sisa 12 bakul. Berawal dari ucapan syukur, mujizat pun ter-jadi! “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yohanes 6:11). Secara naluriah kita terdorong untuk mengucap syukur bila memiliki sesua-tu yang berlebih, menerima dalam jumlah besar atau se-dang surplus. Ditinjau dari sudut mana pun 5 roti dan 2 ikan tidak akan pernah cukup untuk memberi makan 5000 orang! Sangat tidak masuk akal! Kita pasti akan berkata seperti Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yohanes 6:7). Bukankah kita cenderung merasa kuatir, lalu bersungut-sungut, men-gomel ketika memiliki atau menerima sedikit?

Dari sepuluh orang yang menderita kusta hanya satu orang Samaria saja yang tidak lupa mengucap syukur kepa-da Tuhan atas kesembuhan yang dialaminya, sedangkan sembilan orang lainnya pergi begitu saja setelah sembuh. Karena ucapan syukur inilah ia tidak saja disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga beroleh berkat rohani yaitu anuge-rah keselamatan oleh karena imannya (baca Lukas 17:19).

Di segala keadaan jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena ucapan syukur adalah pintu gerbang menuju berkat!


Jumat. JANGAN PERNAH KEMBALI KE MESIRBaca: Keluaran 14:1-14

“…sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.” Keluaran 14:13

Ketika umat Israel dilepaskan dari belenggu perbudakan Mesir dan dituntun Tuhan berjalan menuju ke Tanah Perjan-jian, Firaun yang adalah gambaran tentang Iblis, tidak pernah rela melepaskan mereka. Karena itu Firaun menggunakan segala cara untuk menahan agar mereka tetap berada di Mesir; dan ketika mendengar bahwa umat Israel telah pergi meninggalkan Mesir ia pun mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar mereka. Adapun kata Mesir adalah lambang ‘dinia’, suatu kehidupan yang duniawi, dibelenggu oleh dosa, atau hamba dosa. Pada saat itu umat Israel benar-benar berada pada posisi sulit. “Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka.” (ayat 9-10). Keadaan itu men-imbulkan ketakutan yang luar biasa!

Setelah kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tu-han dan Juruselamat, lalu bertobat, yaitu keluar dari ‘Mesir’, Iblis dan bala tentaranya bergerak cepat dan mengacaukan seluruh aspek kehidupan kita dengan berbagai-bagai masa-lah. Di saat-saat itu kita pun mulai mengeluh, “Ikut Tuhan Yesus keadaan kok tidak bertambah baik, masalah dan co-baan datang bertubi-tubi.” Umat Israel mulai menyalahkan pemimpin rohani (Musa) dan berani menyalahkan Tuhan, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (ayat 11).

Pada masa-masa kesesakan seperti ini banyak orang Kris-ten mengalami degradasi iman, mata rohani kabur sehingga keselamatan yang ada di depan mata tak dilihatnya. Yang tampak hanyalah masalah atau pergumulan hidup yang berat, dan mulai membanding-bandingkan dengan kehidupan di Me-sir dan ingin kembali ke sana. Milikilah mata iman seperti Mu-sa yang tetap percaya walau belum melihat.

“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu;” Keluaran 14:13


Sabtu. SEMAKIN MENDEKAT KEPADA TUHAN

Baca: Roma 13:8-14

“Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” Roma 13:11b

Hari berganti hari, musim berganti musim, semakin dekat pula kesudahan zaman: anomali iklim telah terjadi, perubahan-perubahan dalam elemen kehidupan manusia sedang bergeser; ada yang perlahan namun ada pula yang radikal, perang antar ras etnis dan bangsa terjadi, bencana alam (gunung meletus, banjir, badai taufan) terjadi di mana-mana, kasih manusia se-makin dingin, immoralitas muncul dan begitu pula guru-guru palsu dan penyesat, menunjukkan bahwa tanda kedatangan Tuhan sudah semakin tampak di depan mata kita. “…sekarang keselamatan sudah lebih dekat…” (ayat nas).

Apa yang sedang terjadi sekarang ini seharusnya menya-darkan kita dan menjadikan kita ekstra waspada dan selalu berjaga-jaga karena waktunya sudah teramat sangat singkat. Jangan lagi kita menjalani hdiup ini dengan sembrono ditandai dengan pesta pora, hawa nafsu, keserakahan dan kepentingan pribadi, melainkan “…kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih me-nutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:7-8). Sekalipun ke-hidupan di dunia sedang terjadi perubahan-perubahan secara besar-besaran, goncangan-goncangan, namun kasih setia Tu-han tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan kuasa-Nya tid-ak pernah berubah sampai kapan pun.

Jika Tuhan ijinkan kita harus mengalami berbagai macam per-soalan dan pergumulan hidup yang teramat berat tentunya Tuhan punya maksud yang baik, yaitu ingin membawa kita se-makin mendekat kepada-Nya dengan kerendahan hati. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepa-damu.” (Yakobus 4:8a).

Mendekat kepada Tuhan dengan kerendahan hati berarti tetap beribadah kepada Tuhan dengan kesungguhan, menun-jukkan kerajinan yang penuh dalam mengerjakan segala hal yang dipercayakan kepada kita sesuai dengan kasih karunia-Nya, dan juga dalam kesungguhan hati untuk mengasihi sesa-ma kita.

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,” Ibrani 6:11


Minggu. JADILAH ORANG RENDAH HATI

Baca: Lukas 14:7-11

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 14:11

Secara naluriah manusia ingin dipuji, diperhatikan, dipriori-taskan, dihargai dan tidak mau direndahkan atau disepele-kan. Karena itu manusia cenderung meninggikan diri dan sulit merendahkan hati. Di zaman ‘keras’ seperti ini sulit menemukan orang yang rendah hati, karena kebanyakan orang berpikir bahwa kerendahan hati itu identik dengan kelemahan, di mana pamor atau gengsi akan turun.

Kerendahan hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. Inilah sifat yang harus kita miliki sebagai pengikut Kristus, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup, “…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus diper-tahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” (Filipi 2:6-9).

Tanda orang punya kerendahan hati:

1. Berani mengakui kesalahan. Karena gengsi, sedikit orang berani mengakui kesalahan sendiri di depan sesamanya, bahkan di hadapan Tuhan; mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” (Amsal 28:13).

2. Mau belajar dan diajar. Proses ‘belajar dan di-ajar’ itu tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah atau kampus, tetapi juga melalui ‘sekolah’ kehidupan ketika kita berinteraksi dengan sesama di mana pun berada. Pros-es ini tidak mengenal batasan usia dan waktu… “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

“Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” Amsal 18:12

HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

Senin. HIDUP KUDUS MUTLAK BAGI ORANG PERCAYA

Baca: Mazmur 99:1-9

“Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!” Mazmur 99:9

Bapa yang kita sembah, yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus, adalah kudus adanya. Dialah Yehovah M’kaddeshem (Tuhan yang menyucikan). Sebagai orang percaya yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, kita, “…yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” (1 Petrus 2:10), adalah bagian dari keberadaan-Nya yang Ilahi, yaitu kehidupan kudus yang memisahkan kita dari dunia. “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Banyak orang mengaku diri sebagai pengikut Kristus tetapi tingkah mereka tidak beda dari dunia. Jelas ini bertentangan dengan kehendak Tuhan!

Di dalam Perjanjian Lama Tuhan telah menyatakan kekudusan-Nya kepada bangsa Israel dengan memberikan mereka segala hukum-hukum-Nya: “Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” (Imamat 11:45). Mengapa kita harus hidup kudus? “…sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Yesus Kristus telah datang untuk menggenapi rencana Bapa, yaitu menyucikan orang yang percaya kepada-Nya dan akan memberikan hati yang baru (Yehezkiel 36:26). Lebih dari itu Ia membebaskan kita dari segala ikatan dosa dan dari setiap tipu daya Iblis; dan karena kita sudah dibarui dan disucikan dalam nama-Nya dengan baptisan air, maka tubuh kita menjadi Bait Roh Kudus, di mana Ia berdiam dengan Roh-Nya.

Kini kita tidak lagi menjadi hamba dosa seperti dahulu, melainkan menjadi hamba kebenaran (baca Roma 6:18), sehingga tubuh kita adalah korban yang hidup bagi Tuhan. Karena itu kita harus memancarkan kekudusan Kristus kepada dunia ini melalui perkataan, sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Inilah yang disebut life style evangelism (evangelisasi dengan contoh gaya hidup).

“…kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” Imamat 20:7


Selasa. BERTAHAN DI TENGAH GONCANGAN DUNIA

Baca: Mazmur 46:1-12

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” Mazmur 46:1

Semua orang mengakui bahwa keadaan dunia bertambah hari tidak bertambah baik, goncangan demi goncangan terjadi di mana-mana, “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang,…” (ayat 7). Perilaku manusia pun semakin tak terkendali karena mereka tidak lagi memiliki hati yang takut akan Tuhan. Haruskah orang percaya terbawa arus dunia ini? “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ibrani 2:1). Jika kita berusaha untuk menjadi ‘serupa’ dengan dunia maka hidup kita tidak lagi memiliki pengaruh, alias gagal menjadi garam dan terang dunia. Justru di tengah goncangan dan degradasi moral seperti inilah dibutuhkan orang-orang yang berani membuat perbedaan.

Tugas itu ada di pundak kita sebagai orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (baca 1 Petrus 2:9). “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10). Memang untuk menjadi pribadi yang berbeda tidaklah mudah, ada banyak tekanan dan tantangan yang selalu mencoba untuk menghadang langkah kita. Bagaimana supaya kita dapat bertahan dan tetap aman?

Senantiasalah berpaut kepada Tuhan. “Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya,” (Ulangan 11:22), maka “Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu:” (Ulangan 11:25).

Berpaut kepada Tuhan berarti memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan terus melekat kepada-Nya. Inilah janji Tuhan terhadap orang-orang yang berpaut kepada-Nya, “…Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” (Mazmur 91:14-15).

“TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Mazmur 46:12


Rabu. BEKERJA GIAT DI LADANG TUHAN

Baca: Lukas 10:1-12

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Lukas 10:2

Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk bekerja di ladang-Nya, dan dunia ini adalah ladang yang Ia percayakan untuk digarap. Tidaklah cukup orang percaya hanya tampak rajin beribadah ke gereja saja; kita harus lebih dari itu, yaitu punya hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan terlibat di dalamnya. Kita harus memiliki roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan, bukan hanya puas menjadi jemaat yang pasif tanpa melakukan apa-apa. “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11).

Selagi ada waktu dan kesempatan kita harus melayani Tuhan dengan sekuat tenaga, bekerja bagi Dia tanpa kenal lelah. Mengapa? Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan sebuah teladan bagaimana Ia bekerja dan melayani. Seluruh keberadaan hidup-Nya dipersembahkan untuk mengerjakan tugas Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib. Tuhan Yesus memperingatkan, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yohanes 6:27). Mengingat sedikit waktu lagi kedatangan Tuhan yang kedua kali akan tiba, maka sisa waktu yang ada hendaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk bekerja bagi Tuhan. Renungkan: untuk membuat sepotong kue diperlukan banyak pekerja; kalau kue yang kelihatannya sepele, yang sekali makan langsung habis memerlukan begitu banyak orang yang terlibat untuk membuatnya, apalagi pekerjaan memberitakan Injil ke seluruh pelosok, suku, bangsa, kaum dan bahasa di seluruh dunia, bukankah diperlukan lebih banyak pekerja?

Tuaian di luar sana begitu banyak, tetapi sayang pekerja sangat sedikit alias tidak sebanding. Kita tidak mungkin hanya mengandalkan para pendeta atau fulltimer yang bekerja, karena sebesar apa pun energi yang mereka keluarkan tidak akan mencukupi.

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yohanes 9:4


Kamis. KEKUATAN DAHSYAT DI BALIK DOA

Baca: Yakobus 5:13-18

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” Yakobu 5:13

Sering timbul di benak kita pertanyaan: sanggupkah kita menghadapi hari depan? Jawabannya: tidak sanggup jika mengandalkan kekuatan sendiri, karena sehebat, sekuat, sepintar atau sekaya apa pun seseorang, kekuatannya san-gatlah terbatas. Tidak bisa tidak, kita membutuhkan kekuatan yang berasal dari luar diri kita agar kuat berdiri di tengah terpaan badai kehidupan yang kian mengganas ini. Kekuatan yang kita butuhkan adalah kekuatan adikodrati atau kekuatan yang melebihi atau di luar kodrat alam, supranatural, yang hanya kita peroleh melalui doa atau persekutuan karib dengan Tuhan.

Tidak sedikit orang percaya menganggap remeh dan sepele kekuatan doa. Alkitab menyatakan: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:16b, 17, 18). Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang tak terbatas atas diri manusia yang terbatas. Kekuatan doa sanggup menembus kemustahilan! Ketika Elia berdoa supaya tidak turun hujan, hujan pun tidak turun di bumi selama 3,5 tahun, dan ketika ia berdoa meminta hujan kepada Tuhan langit pun menurunkan hujan. Doa adalah senjata ampuh mengalahkan musuh dalam bentuk apa pun: masalah atau pencobaan; doa mampu menggetarkan hati Tuhan sehingga Ia bertindak memberikan pertolongan dan menyembuhkan segala macam sakit-penyakit.
Supaya doa kita berkuasa dan mendatangkan kekuatan, kuncinya adalah kita harus dalam posisi benar di hadapan Tuhan, dosa harus dibereskan, karena dosa adalah penghalang utama doa sampai ke hadirat Tuhan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2).

“TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” Amsal 15:29


 

Jumat. DOA DI KALA MALAM (1)

Baca: Mazmur 42:1-12

“TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.” Mazmur 42:9

Banyak orang percaya seringkali mengalami kesulitan jika harus bangun pagi-pagi sekali untuk berdoa karena berbagai alasan misal terburu-buru harus berangkat ke kantor atau sekolah karena jalanan macet. Sarapan saja tiada sempat apalagi menyediakan waktu khusus untuk berdoa. Terlebih bagi mereka yang tinggal di kota besar, di mana roda kehidupan serasa berputar sedemikian cepatnya. Mereka seolah-olah dikejar-kejar waktu, disibukkan dengan tugas dan pekerjaan sampai-sampai waktu, jam, hari, minggu dan bulan sudah tersetting dengan segudang jadwal atau agenda kerja. Dari pagi hingga larut malam rasa-rasanya tiada lagi waktu yang tersisa, 24 jam dalam sehari serasa tidak cukup.

Apakah hanya karena terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas lalu menjadi alasan untuk kita tidak berdoa? Sibuk boleh, tetapi jangan sampai perkara-perkara yang sifatnya duniawi semakin menjauhkan kita dari hadirat Tuhan. Itulah yang Iblis ingini dari kita: supaya kita memanjakan daging dengan menuruti segala keinginannya, di mana perlahan tapi pasti kita pun masuk dalam jeratnya sehingga hal itu memudahkan dia untuk menerkam kita, sebab “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Justru dalam kesibukan yang semakin padat seharusnya kita semakin mendekat kepada Tuhan atau mempunyai waktu lebih banyak untuk bersekutu dengan-Nya, supaya semua tugas dan pekerjaan dapat kita kerjakan dengan tuntunan hikmat Tuhan. Semakin sibuk atau semakin banyak pekerjaan justru kita makin membutuhkan penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup kita.

Kalau di pagi hari sampai sore ada banyak sekali kendala atau hambatan sehingga kita tidak bisa berdoa, kita bisa
mencari alternatif waktu yang lain yaitu berdoa di malam hari. Kalau Roh Kudus memimpin hidup kita dan kita mau dipimpin oleh Roh Kudus, sesibuk apa pun kita pasti menyediakan waktu untuk berdoa, di tengah malam sekalipun. Justru di saat-saat yang hening dan sunyi hati dan pikiran kita bisa lebih terfokus kepada Tuhan tanpa adanya gangguan.

Tuhan Yesus bertanya, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” Matius 26:40b


 

Sabtu. DOA DI KALA MALAM (2)

Baca: Mazmur 119:57-64

“Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.” Mazmur 119:62

Setelah bekerja atau beraktivitas seharian memang tubuh terasa capai dan penat; meski demikian kita harus tetap paksakan tubuh ini untuk berdoa. Jika hari ini kita beroleh kekuatan dan kesehatan sehingga semua tugas dan pekerjaan dapat kita selesaikan dengan baik, kita berangkat ke tempat kerja dan pulang bertemu keluarga kembali dalam keadaan selamat, tidakkah kita ingat semuanya itu karena siapa? Tuhan Yesus mengingatkan, “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5b). Selagi tidak ada kebisingan dan gangguan dari siapa pun, malam hari adalah saat yang tepat berlutut di hadapan Tuhan dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Pada waktu tidak terdengar suara dari yang lain kita dapat mempertajam pendengaran kita untuk mendengar suara Tuhan berbicara kepada kita. Selain itu kita mengucap syukur kepada Tuhan atas campur tangan-Nya di sepanjang hari yang telah kita jalani. Berkat, kesehatan, kekuatan, penyertaan, perlindungan yang kita nikmati di sepanjang hari adalah datangnya dari Tuhan, karena itu “…janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2).

Sebelum menentukan pilihan yang tepat untuk memilih dua belas orang yang dipanggil untuk menjadi murid-murid-Nya, yang juga disebut-Nya rasul, Tuhan Yesus pergi ke bukit untuk berdoa, bahkan “…semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Lukas 6:12). Artinya dalam segala hal Tuhan Yesus selalu melibatkan Bapa, menyerahkan semua pergumulan yang dihadapi-Nya kepada Bapa, karena kehendak Bapa adalah yang terutama dalam kehidupan Tuhan Yesus. Sepadat apa pun jadwal pelayanan-Nya di bumi Tuhan Yesus tidak pernah mengesampingkan doa, bahkan di tengah malam sekalipun Tuhan Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.

Segala pergumulan yang berat dapat terselesaikan dan berakhir dengan kemenangan yang gamblang apabila kita mau membayar harga, yaitu keluar dari zona nyaman daging kita untuk berdoa. Ingat kisah ini: saat berada di dalam penjara di Filipi, “…kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah…” (Kisah 16:25), perkara yang dahsyat pun terjadi!
Jangan pernah melewatkan hari tanpa membangun persekutuan dengan Tuhan!


 

Minggu. SEMUA YANG DI BAWAH MATAHARI ADALAH SIA-SIA

Baca: Pengkhotbah 1:1-11

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Pengkhotbah 1:2

Uang, kekayaan, jabatan, pangkat dan juga popularitas adalah perkara-perkara yang selalu dikejar oleh semua orang yang ada di muka bumi ini. Ketika seseorang memiliki semuanya itu ia berpikir hidupnya sudah lengkap dan tak ada yang patut dikuatirkan lagi, karena dunia selalu mengukur dan menilai keberhasilan hidup seseorang dari apa yang dimiliki atau yang tampak oleh mata jasmaniah, padahal semuanya itu hanya bersifat sementara dan sampai kapan pun takkan pernah memberikan kepuasan, sebab “…mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.” (ayat 8).

Bukan kebetulan jika kitab ini ditulis oleh Salomo, “…anak Daud, raja di Yerusalem.” (ayat 1). Alkitab menyatakan bahwa “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23). Salomo adalah raja yang memiliki segalanya: kekayaan, jabatan dan juga popularitas. Meski demikian hal itu tidak serta merta membuatnya bangga, justru ia berkata, “…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” (ayat nas). Pada hakekatnya segala sesuatu yang dimiliki dan dibangun oleh manusia akan berakhir dengan kesia-siaan. “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 1:14). Dalam hal hikmat, “…hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raja-Raja 4:30). Dengan harta dan kekayaan yang melimpah, secara teori Salomo dapat mengalami kebahagiaan hidup, karena apa yang diinginkan dan kehendaki bisa terpenuhi. Namun ternyata Salomo tidak menemukan kebahagiaan dan kepuasan yang sejati. “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkhotbah 5:9-10).

Banyak orang ingin mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dengan cara mengkonsumsi narkoba, pergi ke dunia malam dan sebagainya, namun ruang hati mereka tetap kosong dan gersang, bahkan hidup mereka semakin hancur.

Hidup tanpa takut akan Tuhan adalah sia-sia belaka; “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:26

MERDEKA DARI KETERIKATAN MASA LALU (2)

MERDEKA DARI KETERIKATAN MASA LALU (2)

Senin. MERDEKA DARI KETERIKATAN MASA LALU (2)

Baca: Ibrani 12:1-7

“…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibrani 12:1

Kunci menang terhadap masa lalu adalah mengarahkan pandangan ke depan, “…dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2a). Hanya Dia yang sanggup menyucikan dosa-dosa kita dan takkan pernah mengingat-ingat masa lalu kita, sekelam apa pun. “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” (Mikha 7:18-19). Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib Kristus telah mengampuni dosa kita dan mengha-puskan semua kesalahan kita, tapi mengapa kita tidak mau lepas dari belenggu masa lalu? Jangan biarkan Iblis menyeret kita kembali ke lembah kelam masa lalu.

Ketika Sodom dan Gomorah akan dibinasakan Tuhan karena dosa-dosa penduduknya yang memuncak, Tuhan teringat akan Abrahm sehingga Ia mengutus dua malaikat-Nya untuk menyelamatkan Lot dan keluarganya. Pesan malaikat, “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah me-noleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17).

Jangan menengok masa lalu, berlarilah dengan pandangan lurus ke depan dengan mata terarah kepada Tuhan, karena masa depan penuh harapan Tuhan sediakan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Isteri Lot “…menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.” (Kejadian 19:26), bukti tidak mau taat dan enggan meninggalkan masa lalu; baginya tidak ada pertolongan!

Jangan membiarkan diri dibelenggu masa lalu karena itu hanya akan menghalangi kita untuk menikmati berkat yang Tuhan sediakan!


Selasa. KESUDAHAN ZAMAN SUDAH DEKAT

Baca: Lukas 21:7-19

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Luks 21:19

Kita sering mendengar berbagai ramalan atau prediksi yang mengatakan bahwa keadaan dunia dari tahun ke tahun tidak akan bertambah baik, akan ada banyak peristiwa yang mengejutkan: bencana demi bencana, goncangan, pertikaian, bahkan perang. Mengenai hal itu kita tidak perlu terkejut sebab Alkitab sudah menyatakan: “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada ke-laparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” (Matius 24:6-7).

Keadaan semakin diperparah dengan perilaku manusia yang kian menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pem-fitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu menga-sihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4).

Kita juga sudah mendengar kabar tentang kode 666 (antikris) di dalam microchip dengan nama mondex yang sudah mulai dipakai di beberapa negara. Mondex adalah singkatan Monetary and Dexter. Money: segala sesuatu yang berhub-ungan dengan uang, sedangkan dexter menunjukkan lokasi yang ada di tangan kanan manusia. Ini pun sudah ditulis dalam Injil: “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghi-tung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Wahyu 13:16-18). Ini menunjukkan bahwa semua yang tertulis di dalam Injil tidak pernah bohong.

Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kita mampu bertahan menghadapinya!


Rabu. TIDAK PERLU TAKUT HADAPI ESOK

Baca: Mazmur 125:1-5

“Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya.” Mazmur 125:1
Berita-berita yang mengerikan hampir setiap hari kita dengar, tak bisa disalahkan jika semua orang merasa takut dan kuatir menghadapi hari esok. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak perlu bersikap sama seperti mereka, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18). Hari esok memiliki kesusahannya sendiri (baca Ma-tius 6:34), karena itu kita tidak perlu disibukkan memikirkan keadaan esok dengan dihantui oleh berbagai hal yang mem-buat takut dan kuatir, apalagi rasa takut dan kuatir itu sam-pai-sampai melampaui iman kita kepada Tuhan Yesus.

Sekalipun dunia dipenuhi dengan goncangan-goncangan di segala bidang kehidupan, tetapi “…kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28), karena penyertaan Tuhan atas kita sampai kepada kesudahan zaman (baca Matius 28:20b). Marilah kita menjalani hidup ini dengan sikap yang optimis: “…hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat…” (2 Korintus 5:7). Hidup karena percaya berarti melangkah dengan iman karena kita bukan lagi mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan Tuhan dan berserah kepada pimpinan-Nya. Jangan pernah melewatkan hari tanpa melibatkan Tuhan dan meminta penyertaan-Nya dalam segala hal. Mungkin hari-hari yang kita lalui seperti berada di lembah bayang-bayang maut. Kita tidak perlu takut karena Tuhan beserta kita. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4).

Tanpa terasa kita sudah melewati hari-hari berat di sepanjang tahun 2016. Tanpa penyertaan Tuhan kita tidak akan pernah sampai di hari ini. Karena itu tetaplah men-gucap syukur di segala keadaan! Mari kita songsong per-gantian tahun ini dengan memiliki tekad untuk hidup benar, dan jangan lagi bermain-main dengan dosa, sebab Tuhan pasti akan membuat ‘pembedaan’ antara orang benar dan orang fasik.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menar-uh harapannya pada TUHAN!” Yeremia 17:7


 

Kamis. TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM

Baca: Pengkhotbah 3:1-15

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3:14

Hari ini kita berada di awal tahun, artinya ‘musim’ kehidupan yang baru sedang dan akan kita jalani. Musim tahun 2016 telah kita lewati dengan aneka nuansa: keberhasilan, kegagalan, sukacita, dukacita, tawa dan tangis. Tanpa penyertaan Tuhan kita takkan mampu melewati hari-hari sepanjang tahun 2016. Karena itu bersyukurlah kepada Tu-han, karena Dialah kita dapat menanggung segala perkara.

Siapakah kita menghadapi ‘musim’ tahun 2017? Di segala musim kehidupan Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu ada untuk kita. Ingatlah selalu bahwa ada hukum yang berlaku di bawah kolong langit yaitu hukum tabur-tuai. Ada musim untuk menabur dan ada musim untuk menuai. “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai ke-binasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8). Sebelum menanam benih petani harus terlebih dahulu mencangkul tanahnya, mengairi, dan juga menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menghambat benih itu bertum-buh, seperti batu-batu atau gulma, barulah ia menabur benih. Saat menabur benih petani harus kehilangan sesuatu karena harus merelakan benih itu ditanam; jika benih tetap berada di tangan dan tidak ditabur, benih itu akan tetap sama jumlahnya. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:24).

Untuk menuai petani harus menunggu dalam waktu yang tidak singkat: butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan. Ada tertulis: “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang meni-pu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik,” (1 Petrus 3:10-11). Kalau kita mampu melewati pros-es ini kita pasti akan menuai, sebab “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” (Pengkhotbah 3:11).

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Mazmur 126:5


Jumat. MASA DEPAN BAGI ORANG PERCAYA
Baca: Amsal 23:1-35
“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:18
Melihat keadaan dunia saat ini yang unpredictable sangatlah wajar bila banyak orang mengalami ketakutan dan kekuatiran tentang hidup mereka di masa depan. Dengan nada pesimis mereka berkata, “Tidak ada masa depan, masa depan se-makin suram!”

Seburuk apa pun situasi yang sedang terjadi kita harus tetap optimis, sebab masa depan itu sungguh ada dan hara-pan itu tidak akan hilang (ayat nas). Janji firman Tuhan adalah jaminan kita. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikian-lah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Kita percaya bahwa “…tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (Ayub 42:2). Ketika umat Israel merasa tidak yakin akan masa de-pannya, merasa mustahil dapat menyeberangi sungai Yordan, Yosua menguatkan mereka bahwa Tuhan pasti melakukan perbuatan ajaib asal mereka mau menguduskan diri. “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (Yosua 3:5).

Mungkin kita mengalami jalan buntu, tapi percayalah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. “Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?” (Yesaya 51:10). Masa depan yang penuh harapan akan menjadi bagian kita asal kita mau men-guduskan diri, tidak menjamah apa yang najis.

Menguduskan diri bukan berarti harus mencapai tingkatan rohani tertentu atau mencapai kesempurnaan, namun yang teru-tama sekali kita harus punya rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani, mengingini Tuhan lebih dari apa pun. “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mazmur 73:25). Masa depan yang penuh harapan bukan sekedar ilusi atau angan-angan bagi orang-orang yang senantiasa merindukan Pribadi-Nya, yang mau membayar harga dengan menanggalkan semua beban dosa dan melepaskan ikatan persahabatan dengan dunia ini!

Hidup dalam kekudusan (kesucian) adalah langkah menuju ke-hidupan yang berkemenangan dan bermasa depan cerah!


 

Sabtu. JANJI PEMULIHAN DARI TUHAN
Baca: Yesaya 54:1-17

“Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tem-pat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” (Yesaya 54:2)

Di setiap memasuki awal tahun yang baru semua orang pasti memiliki rencana, harapan dan juga impian yang baru pula. Be-sar harapan bahwa kegagalan-kegagalan yang menimpa di ta-hun sebelumnya tidak akan terulang kembali. Kita rindu hari-hari yang kita jalani nanti dipenuhi oleh keberhasilan atau kesuksesan di segala bidang. Namun perlu disadari bahwa prin-sip keberhasilan atau kesuksesan bagi orang percaya itu tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Tuhan, karena itu andal-kan Tuhan dalam segala hal.

Yesaya pasal 54 ini merupakan suatu pembaharuan perjan-jian (recovenant) antara Tuhan dengan umat pilihan-Nya (bangsa Israel) pasca kepulangan mereka dari pembuangan di Babel selama 70 tahun. Waktu itu mereka menghadapi pergu-mulan yang berat: berkurangnya keturunan sebagai ahli waris di negeri perjanjian (ayat 1) dan mengenai pembagian atau tata letak tanah warisan yang menjadi hak mereka (ayat 3). Dalam pembaharuan perjanjian ini Tuhan memberi semangat kepada orang-orang buangan itu dengan menjanjikan pemuli-han, yaitu keadaan baru yang mendatangkan berkat dan sukacita. Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka yaitu keturunan yang berjumlah lebih banyak daripada sebelum pem-buangan, dan juga perluasan wilayah. “…engkau akan mengem-bang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tem-pat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.” (ayat 3).

Perihal janji pemulihan Tuhan ini bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel yang hidup di zaman itu, tapi juga berlaku bagi semua orang percaya yang adalah ‘Israel-Israel’ rohani. Bukankah setiap kita memiliki keinginan untuk mengalami kema-juan di segala segi kehidupan ini? Jika ingin mengalami pemuli-han, usaha makin luas, dan pelayanan kian bertumbuh serta berdampak, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah fokus kepada Pribadi Tuhan, bukan pada berkat atau perluasan itu, sehingga akan semakin mendorong kita untuk lebih men-dekat kepada Tuhan.

“Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.” Mazmur 119:38


Minggu. BERANILAH BERMIMPI BESAR

Baca: Yesaya 54:1-17

“Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.” Yesaya 54:10

Ada kalimat bijak mengatakan, “Seorang pemenang adalah pemimpi yang tak pernah menyerah.” Artinya jika ingin berhasil kita harus memiliki impian yaitu gambaran dari keberhasilan yang ingin diraih di masa depan. Impian akan mendorong orang untuk berusaha dan berjuang, sampai impian menjadi sebuah kenyataan, sebab impian tidak akan terwujud melalui magic, tapi perlu usaha yang keras dan determinasi.

Ada banyak orang berpikiran bahwa bermimpi besar adalah suatu kesombongan. Tidak! Justru Tuhan akan melakukan perkara-perkara besar bagi mereka yang memiliki impian besar, contohnya adalah Yusuf. Keberhasilan Yusuf menjadi penguasa di Mesir berasal dari sebuah impian meski ia harus melewati proses yang panjang. Tuhan Yesus berkata, “…sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.” (Matius 21:21). Impian yang besar akan memperbesar iman kita pula sehingga kita akan menerima hasil sebesar iman tersebut. Perhatian! Pohon akan tumbuh sesuai dengan ukuran tempatnya: jika pohon ditanam ditempat yang besar pohon itu akan
bertumbuh besar, sebaliknya jika pohon itu hanya ditanam di pot yang kecil, pertumbuhannya pun akan terbatas. Ingin usaha atau pelayanan kita makin diperluas, mau tidak mau, kapasitas diri kita pun harus diperbesar! Jadi, beranilah untuk membayar harga: berkorban waktu, tenaga, dan pikiran yang lebih besar lagi.

Dunia ini terus berubah dari waktu ke waktu, maka kita pun dituntut untuk mengikuti perubahan itu dengan terus meng-upgrade diri… jika tidak, kita akan semakin jauh tertinggal. Karena itu “…panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” (Yesaya 54:2): tali tanggung jawab, tali kejujuran, tali ketekunan, tali kesetiaan, tali kerja keras, harus makin diperpanjang, serta diikatkan pada patok yang kuat. Patok itu adalah Tuhan, Gunung Batu yang teguh.

Berani bermimpi berarti kita juga harus berani untuk membayar harga!

SOMBONG: Langkah Menuju Kehancuran

SOMBONG: Langkah Menuju Kehancuran

Senin. SOMBONG: Langkah Menuju Kehancuran

Baca: 2 Tawarikh 26:1-23

“Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak.” 2 Tawarikh 26:16a

Ketika segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar, ketika Tuhan membawa kehidupan semakin naik dan berada di puncak kesuksesan, memegang jabatan penting di perusahaan atau kantor, menjadi OKB (orang kaya baru), serta diberkati secara berkelimpahan, biasanya orang memiliki kecenderungan untuk meninggikan diri, menganggap diri lebih daripada yang lain dan akhirnya terperangkap dalam dosa kesombongan. Berhati-hatilah! Sebab ada banyak contoh di Alkitab tentang orang-orang yang mengalami kejatuhan dikarenakan berlaku sombong.

Salah satunya adalah raja Uzia yang menjabat sebagai raja atas Yehuda ketika masih berumur 16 tahun. Di awal pemerintahannya “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.” (ayat 4-5). Karena memiliki hati yang takut akan Tuhan, Tuhan pun membuat berhasil apa saja yang diperbuat Uzia. Di bawah kepemimpinan Uzia ini bangsa Yehuda mengalami kemajuan di berbagai sektor kehidupan, seperti pertanian dan juga peternakan yang berkembang begitu pesat. Bukan hanya itu, bangsa ini pun memiliki angkatan bersenjata yang mumpuni sehingga nama Uzia semakin termashyur sampai ke Mesir karena kekuatannya yang besar (ayat 8). Uzia benar-benar telah berada di puncak kesuksesan! Sayang, ia menjadi lupa diri: lupa akan kebaikan dan campur tangan Tuhan, bahkan “Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya (melanggar – Red.), dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (ayat 16b). Padahal membakar ukupan di atas mezbah adalah tugas para imam keturunan Harun. Ketika ditegur dan diperingatkan ia pun menjadi sangat marah. Ini menunjukkan bahwa Uzia tidak lagi menghormati Tuhan!

Karena kesombongannya Uzia harus menuai akibat: “…sakit kusta sampai kepada hari matinya, dan sebagai orang yang sakit kusta ia tinggal dalam sebuah rumah pengasingan, karena ia dikucilkan dari rumah TUHAN.” (ayat 21).

Saat seseorang berlaku sombong, saat itulah ia sedang berjalan menuju kehancuran!


Selasa. RENDAH HATI: Kualitas Hidup Pengikut Kristus

Baca: Amsal 29:1-27

“Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.” Amsal 29:23

Lawan kesombongan adalah kerendahan hati! Rendah hati adalah kualitas yang seharusnya ada dalam diri orang percaya, terlebih bagi pemimpin rohani. Sering dijumpai banyak pemimpin rohani tidak memberikan teladan kerendahan hati. Merasa sudah menjadi pelayan Tuhan atau pemimpin rohani mereka pun gila hormat, sehingga di mana pun berada selalu membusungkan dada dan harus dihormati!

Perhatikan nasihat Rasul Paulus ini! “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7). Kita seharusnya malu pada diri sendiri jika berani meninggikan diri dan tidak bisa rendah hati! Tuhan Yesus saja yang adalah Tuhan dan Raja telah memberikan teladan dan mempraktekkan apa artinya kerendahan hati. Kerendahan hati dalam diri seseorang akan tampak nyata ketika ia rela mengesampingkan kepentingan diri sendiri, dan menempatkan orang lain di tempat yang lebih utama. Orang yang rendah hati tidak akan berhenti mengasihi hanya karena kasihnya tak terbalaskan. Orang yang rendah hati selalu menyadari kelemahan, kekurangan dan keterbatasannya, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan lebih dari pada kekuatan sendiri.

Di zaman yang dipenuhi dengan persaingan yang tidak sehat ini kerendahan hati dianggap sebagai kelemahan mental dan ketidakmampuan untuk bersaing, akibatnya semua orang didorong untuk mempertahankan egonya, fokus pada diri sendiri tanpa memperdulikan keberadaan orang lain. Prinsip Alkitab mengajarkan: “…hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3b-4).

“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Amsal 22:4


Rabu. ORANG FASIK: Takkan Bertahan Lama

Baca: Mazmur 10:1-18

“Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: ‘Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!’, itulah seluruh pikirannya.” Mazmur 10:4

Dalam kehidupan sehari-hari kita jarang sekali mendengar kata ‘fasik’ atau orang ‘fasik’. Yang familiar di telinga kita adalah istilah orang ‘jahat’. Tetapi kata ‘fasik’ ini justru banyak sekali disebutkan di Alkitab, namun masih banyak orang Kristen yang kurang memahami arti dan maksudnya. Orang fasik adalah orang-orang yang seringkali mengalami penghukuman dari Tuhan. Mengapa? Karena mereka sesungguhnya telah mengenal Tuhan, tahu firman-Nya tetapi tidak mau melakukan firman tersebut; bukti bahwa mereka meremehkan keberadaan Tuhan, tidak menganggap bahwa Tuhan itu ada.

Menurut pemazmur ada beberapa ciri dari orang fasik: 1. Suka sekali memuji-muji diri sendiri (ayat 3). Orang fasik
adalah orang yang merasa dirinya paling benar, paling baik dan paling suci. Intinya semua hal berpusat pada dirinya sendiri! Meski tahu tentang Tuhan tetapi sebenarnya yang menjadi ‘tuhan’ dalam hidupnya dan yang dia sembah adalah dirinya sendiri. Hal ini jelas bertentangan dengan iman Kristiani yang mengajarkan bahwa yang terutama dalam hidup ini adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak sendiri. 2. Tidak takut akan Tuhan (ayat nas). Inilah ciri utama orang yang berlaku fasik yaitu tidak takut akan Tuhan, padahal dia tahu tentang Tuhan, tahu tentang kebenaran, namun sengaja tidak mau taat. Tuhan tidak pernah dianggap sehingga melakukan dosa adalah hal yang biasa, karena mereka merasa bisa hidup tanpa Tuhan; dan mereka juga berpikiran bahwa tidak ada dampak apa-apa untuk setiap pelanggaran. “Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun.” (ayat 6). Benarkah demikian? “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7).

Orang percaya diperingatkan untuk tidak iri hati terhadap orang fasik, yang sepertinya tampak mulus-mulus saja perjalanan hidupnya, padahal sesungguhnya tidak demikian… karena kebahagiaan orang fasik itu semu! Pada saatnya Tuhan akan bertindak untuk melakukan pembalasan! “…orang-orang fasik akan binasa;” (Mazmur 37:20).

“Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.” Mazmur 37:10


Kamis. BAGAIMANA TUHAN MEMPERLAKUKAN KITA?

Baca: Mazmur 18:21-30

“TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku,” Mazmur 18:21
Kalau kita menyadari betapa Tuhan begitu memperhatikan dan mengasihi kita sedemikian rupa, bahkan Ia sampai rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, seharusnya kita pun meresponsnya dengan sikap dan perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Dari pihak Tuhan, Tuhan selalu memperlakukan kita dengan sangat baik dan selalu memberikan yang terbaik; bagaimana dari pihak kita? Kita justru seringkali menyakiti hati Tuhan, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta memperlakukan Dia dengan tidak sepantasnya. Seharusnya kita berkata seperti yang pemazmur katakan: “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12).

Dengan apakah kita membalas apa yang sudah Tuhan perbuat bagi kita? Melalui ketaatan kita melakukan firman-Nya. Ada orang berkata, “Jangan sok suci, seperti mau jadi pendeta saja? Tidak perlu taat-taat mat, rugi lho…mumpung masih hidup di dunia ini, kapan lagi bisa memuaskan keinginan daging?” Jangan pernah termakan oleh hasutan Iblis yang berusaha menghalangi kita untuk hidup taat. Tidak ada kata rugi atau sia-sia untuk setiap ketaatan atau jerih payah kita kepada Tuhan (baca 1 Korintus 15:58), di mana “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23). Justru rugi besar kalau kita tidak mau taat kepada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikan upah-Nya untuk setiap harga yang telah kita bayar.

Janji-janji Tuhan pasti akan digenapi dalam hidup ini, sebab “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci,” (Mazmur 18:26-27). Semakin kita hidup menurut kehendak Tuhan semakin Dia menjaga kita dan melindungi kita dari segala yang jahat, serta mencurahkan berkat-Nya. Sebaliknya kalau kita sendiri tidak mau taat kepada Tuhan jangan pernah berharap mengalami penggenapan janji Tuhan.

“Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” Mazmur 34:16


Jumat. KEMENANGAN ORANG YANG DIURAPI

Baca: Mazmur 20:1-9

“Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Mazmur 20:7

Istilah urapan di Perjanjian Lama selalu berkaitan dengan fungsi dan jabatan yang dipercayakan Tuhan kepada orang-orang tertentu. Dalam budaya bangsa Israel yang biasanya diurapi adalah raja, imam dan nabi. Urapan adalah karya Roh Tuhan dalam hidup seseorang yang merupakan impartasi atau pemberian kuasa Ilahi pada orang-orang tertentu untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Diurapi artinya dipilih oleh Tuhan dan diperlengkapi dengan kuasa-Nya untuk melakukan kehendak dan rencana-Nya.

Berdasarkan fungsinya ada beberapa jenis urapan:

  • The Annointing Upon, yaitu pengurapan yang memam-pukan kita untuk melakukan tugas pelayanan sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan.
  • The Annointing Within, yaitu kuasa yang bekerja di dalam kita sehingga kita beroleh kemampuan untuk melakukan kehendak Tuhan sehingga kita memiliki karakter semakin serupa dengan Kristus. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,” (Roma 8:29). Kunci untuk mengalami urapan Tuhan: menjauhkan diri dari segala bentuk kecemaran (hidup benar), punya kerendahan hati dan rasa haus dan lapar akan perkara rohani (bergaul karib dengan Tuhan) seperti Elisa yang merindukan urapan double portion (baca 1 Raja-Raja 2:9-10), tanda bahwa ia sangat merindukan perkara-perkara rohani lebih dari apa pun.

Pemazmur menyatakan bahwa hidup diurapi Tuhan adalah hdiup yang berkemenangan (ayat nas). Bukan berarti kita bebas dari masalah atau tantangan, tetapi selalu ada pertolongan dari Tuhan karena Tuhan di pihak kita, sehingga kita dapat berkata: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Badai hidup bisa saja melanda dalam hidup, namun semua itu takkan mampu menggoyahkan karena tangan Tuhan selalu menopangnya. Hidup diurapi Tuhan adalah hidup yang melihat dan mengalami jawaban doa (ayat nas): “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Orang yang diurapi Tuhan hidup dalam kemenangan dan doanya dijawab!


Sabtu. KARENA IMAN, KUSTA PUN TAHIRLAH!

Baca: Matius 8:1-4

“‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Matius 8:3

Orang sakit adalah orang yang kemerdekaannya terbelenggu oleh sakit-penyakit yang dideritanya. Ini dialami oleh orang yang menderita sakit kusta. Pada zaman itu kusta adalah jenis penyakit yang sangat mengerikan karena tidak ada obat penangkalnya, dan tidak ada dokter atau tabib yang mampu menyembuhkannya sehingga banyak orang beranggapan bah-wa penderita kusta adalah orang yang menerima kutukan dari Tuhan.

Selain mengalami penderitaan fisik penderita kusta juga sangat menderita secara batiniah, karena mereka tidak diperkenankan berada dalam satu kemah dengan orang lain. Dengan kata lain mereka dikucilkan atau diasingkan oleh lingkungan atau orang-orang di sekitar. “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” (Imamat 13:45-46). Adalah hal yang lazim kala itu bila orang berpapasan dengan orang kusta akan berusaha melemparinya dengan batu sampai mati. Namun meski dihadapkan pada tekanan hidup yang berat orang kusta yang tidak disebutkan namanya pada kisah di atas memiliki semangat hidup yang luar biasa. Ia tidak berputus asa dalam menjalani hidupnya sampai akhirnya waktu itu tiba, yaitu bertemu dengan Tuhan Yesus. Kesempatan ini pun tak disia-siakannya karena ia tahu benar siapa Yesus itu. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Matius 8:2). Perkataan ini mengandung makna orang kusta ini memiliki iman yang besar bahwa Yesus sanggup mentahirkan sakitnya. Iman inilah yang menggerakkan hati Tuhan Yesus untuk bertindak dan menyatakan belas kasih-Nya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”, dan seketika itu tahirlah orang itu dari pada kustanya. Tahir artinya bersih, suci, murni.

Pergumulan apa yang Saudara alami saat ini? Masalah sakit-penyakit, krisis keuangan, gagal dalam rumah tangga, gagal dalam usaha atau studi? Jangan sekali-kali Saudara mencari pertolongan kepada yang lain selain hanya kepada Tuhan Yesus. Pertanyaannya: “…adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8).

Milikilah iman percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil!


Minggu. ORANG PERCAYA SEBAGAI UMAT PILIHAN

Baca: Mazmur 33:1-22

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!” Mazmur 33:12
Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan seperti tertulis: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? –tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.” (Ulangan 7:6-8). Karena itu mereka mendapatkan perlakuan secara istimewa dari Tuhan.

Ketika tulah menimpa negeri Mesir umat Israel luput dari tulah tersebut. Tuhan pun mengutus Musa untuk memimpin bangsa ini keluar dari perbudakan di Mesir dengan tanda-tanda mujizat menyertai di sepanjang perjalanan di padang gurun. Tujuan Tuhan memperlakukan mereka secara khusus adalah supaya mereka menjadi kesaksian hidup tentang kuasa dan kedahsyatan Tuhan, sehingga bangsa-bangsa lain datang menyembah kepada Tuhannya bangsa Israel. Fakta menunjukkan, walau secara kuantitatif bangsa ini relatif kecil, namun mereka memiliki pengaruh cukup besar bagi perkembangan dunia sampai jaman modern ini. Bukan kebetulan pula jika letak geografis bangsa Israel berada di pusat bumi (baca Yehezkiel 38:12). Kita ini adalah ‘Israel-Israel’ rohani yang telah dipanggil dari dunia supaya menjadi umat kepunyaan-Nya yang kudus. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:” (1 Petrus 2:9).

Supaya mendapatkan perlakuan istimewa dari Tuhan dan dipandang berharga di mata-Nya kita harus “…menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21-22).

Umat pilihan Tuhan harus memiliki kehidupan yang berbeda dari orang dunia!

HATI DAN TELINGA SUDAH MENEBAL

HATI DAN TELINGA SUDAH MENEBAL

Baca: Matius 13:10-23

“Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup;” Matius 13:15

Sejak zaman dahulu nabi Yesaya mengatakan banyak bangsa mengalami kebutaan dan tuli rohaninya. Keadaan ini setali tiga uang dengan orang-orang di zaman Tuhan Yesus, tetap saja mengeraskan hati dan telinga mereka, enggan mendengar berita kebenaran. Dengan menggunakan perumpamaan Tuhan Yesus menyinggung keadaan ini: “…sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” (ayat 13). Banyak bangsa yang secara terang-terangan menolak dan sangat antipati terhadap berita kebenaran (Injil), “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,” (1 Korintus 1:18).

Lebih menyedihkan lagi ada pula orang-orang yang mengaku diri sebagai Kristen, yang telah ditebus oleh darah Kristus dan di setiap ibadah mendengar berita tentang kebenaran, namun mereka tetap saja hidup dalam dosa, meski hal itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi; pikirnya orang lain tidak akan pernah tahu apa yang diperbuatnya, padahal “…tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Jika kita terus melakukan dosa meski sudah mengenal kebenaran, kekristenan kita sia-sia.

Rasul Petrus menulis: “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.'” (2 Petrus 2:10-22). Orang yang telah mengenal jalan kebenaran tetapi kembali kepada kehidupan dosa sama artinya telah meremehkan pengorbanan Kristus.

Jangan mengeraskan hati, berhentilah berbuat dosa!


Selasa. TELINGA YANG PEKA UNTUK MENDENGAR (1)

Baca: Yesaya 55:1-5

“Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup!…” Yesaya 55:3

Telinga adalah salah satu bagian dari pancaindera manusia, berfungsi untuk menerima suara dari luar tubuh. Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan sepasang telinga dan hanya satu mulut? Supaya manusia lebih banyak mendengar tetapi sedikit berbicara. Namun dalam kesehariannya orang lebih banyak berbicara tapi kurang memperhatikan dalam hal mendengar. Alkitab jelas menyatakan bahwa “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran,” (Amsal 10:19). Karena itu telinga memiliki peranan yang sungguh teramat penting dalam perjalanan hidup orang percaya.

Contoh di Perjanjian Lama adalah saat pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam. Untuk menjadi seorang imam telinga mereka harus ditahirkan terlebih dahulu. “Domba jantan itu disembelih, lalu Musa mengambil sedikit dari darahnya dan membubuhnya pada cuping telinga kanan Harun, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanannya. Musa menyuruh anak-anak Harun mendekat, lalu membubuh sedikit dari darah itu pada cuping telinga kanan mereka, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka, lalu Musa menyiramkan darah selebihnya pada mezbah sekelilingnya.” (Imamat 8:23-24). Ada pun makna rohaninya adalah supaya mereka memiliki kepekaan dalam hal mendengar suara Tuhan, sehingga mereka dapat memahami dan membedakan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan mana yang bukan.

Di Perjanjian baru kita dapat belajar dari perumpamaan tentang penabur (baca Matius 13:1-23). Dalam ke-4 kasus ini sesungguhnya benih yang ditaburkan adalah sama, tetapi yang membuat perbedaan bukan si penaburnya, tetapi pada tanahnya atau si pendengar. Banyak orang datang ke gereja dan mereka mendengar firman Tuhan yang sama yang disampaikan oleh hamba Tuhan dari atas mimbar, tetapi hasilnya berbeda pada tiap-tiap orang. Mengapa bisa demikian? Karena mereka memiliki respons yang berbeda-beda, memfungsikan telinganya secara berbeda: ada yang sungguh-sungguh mendengarkan firman tersebut, namun ada pula yang mendengarkan firman sambil lalu, masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.

(Bersambung)


Rabu. TELINGA YANG PEKA UNTUK MENDENGAR (2)

Baca: Mazmur 81:1-17

“Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” Mazmur 81:9
Sering kita jumpai saat ibadah berlangsung tidak sedikit orang Kristen yang kurang memberikan perhatian yang sungguh-sungguh ketika mendengarkan firman Tuhan: mendengarkan khotbah sambil bercanda, mengobrol, main gadget, ada pula yang justru tertidur. Itulah sebabnya banyak yang tidak mengalami pertumbuhan rohani secara normal meski sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan; level kerohanian mereka tetap saja ‘jalan di tempat’, tetap Kristen kanak-kanak atau kerdil rohani.

Di zaman sekarang ini kebanyakan orang hanya mau mendengarkan firman yang disukai saja, memilih-milih firman yang didengarnya. Mendengar firman Tuhan yang sedikit keras orang mulai tersinggung dan marah, lalu tidak mau ke gereja lagi. Kita tidak perlu heran akan hal ini karena Alkitab sudah menyatakan: “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Timotius 4:3-4).

Kemanakah telinga kita lebih terarah? Apakah kita cenderung mendengarkan suara-suara yang berasal dari dunia ini yang dipenuhi keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup? Ataukah kita suka sekali mendengarkan bisikan-bisikan Iblis yang dipenuhi dusta, tipu muslihat dan kejahatan, dan yang tak pernah berhenti melemahkan iman dan mendakwa kita siang dan malam? Mulai hari ini marilah kita membuat keputusan untuk mendengar suara Tuhan melalui firman-Nya, karena suara inilah yang mendatangkan iman dan kehidupan, yang di dalamnya terkandung kekuatan, kesembuhan dan keselamatan. Suara Tuhan inilah yang akan menuntun kita kepada suatu kehidupan yang penuh kuasa dan berkemenangan setiap hari; dan semakin kita menyendengkan telinga untuk mendengar suara Tuhan, perkataan dan perbuatan kita semakin dipengaruhi oleh firman-Nya sehingga kita pun akan mengalami terobosan demi terobosan.
“berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;” Ulangan 11:27


Kamis. SUKA MENGHAKIMI HAMBA TUHAN

Baca: Bilangan 16:1-35

“Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?” Bilangan 16:3

Korah, Datan dan Abiram adalah tiga orang terkemuka di antara umat Israel yang merasa iri hati dan cemburu terhadap Musa; mereka mengajak 250 orang terkemuka di Israel untuk melakukan pemberontakan terhadap Musa dan Harun. Mereka menuduh Musa serta Harun telah meninggikan diri sendiri di antara umat Israel (ayat nas). Korah dan para pengikutnya adalah orang-orang Lewi yang mengincar jabatan imam yang telah dianugerahkan kepada Harun. Sedangkan Datan dan Abiram adalah orang Ruben, yang menolak panggilan Musa untuk datang menghadap dengan melontarkan tuduhan dan mencela kepemimpinan Musa atas bangsa Israel.

Secara garis besar ada tiga alasan pemberontakan, menganggap Musa dan Harun melakukan ini: telah mengangkat diri sendiri menjadi pemimpin Israel, memonopoli jabatan imam, gagal membawa umat Israel ke tanah perjanjian. Namun meski dihadapkan pada tekanan dan situasi yang berat Musa tetap tenang dengan segala tuduhan kepadanya, karena ia tahu Tuhanlah yang telah memanggil dan menetapkannya sebagai pemimpin Israel, bukan kehendak dirinya. “…aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN.” (Ayat 28-30).
Apa terjadi? Tiba-tiba terbelahlah tanah dan bumi membuka mulutnya, serta menelan mereka semua, sehingga mereka sekalian terkubur hidup-hidup di dalam bumi. Bukti bahwa Tuhan membela orang-orang yang telah diurapi-Nya dan menghukum mereka yang mengusik hamba-Nya dan berlaku khianat.

Jangan menghakimi hamba Tuhan, karena Tuhan sendiri yang akan berperkara dengan mereka, sebab Tuhan adalah api yang menghanguskan (baca Ibrani 12:29).


Jumat. SIMSON: Kuat Karena Tuhan

Baca: Hakim-Hakim 13:1-24

“Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia.” Hakim-Hakim 13:24

Simson adalah salah satu dari 12 hakim yang diangkat resmi oleh Tuhan untuk memimpin bangsa Israel. Ada pun nama Simson dalam bahasa Ibrani berarti matahari atau bersinar. Ia lahir dari keluarga Manoah, suku Dan yang tinggal di Zora. Kehadiran Simson di tengah-tengah keluarga Manoah merupakan mujizat dari Tuhan karena dilahirkan dari kandungan seorang ibu yang sudah lama mandul.

Teristimewa lagi, saat masih dalam kandungan Simson telah ditentukan oleh Tuhan untuk menjadi seorang nazir: “…sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah.” (ayat 7), yang kelak akan menjadi penyelamat bangsa Israel dari tangan orang Filistin. Nazir (kata Ibrani) berarti orang yang dikhususkan, orang yang dibaktikan, orang yang dipisahkan bagi Tuhan.

Karena Tuhan sendiri yang memilih, Simson pun dilengkapi-Nya dengan kekuatan yang luar biasa. Ada beberapa peristiwa penting yang menunjukkan betapa besar kekuatan yang dimiliki nazir Tuhan ini: 1. Mampu mengalahkan singa muda dengan tangan kosong (Hakim-Hakim 14:5-6). Simson tidak hanya mengalahkan singa muda yang sedang kelaparan, ia bahkan mencabik-cabiknya tanpa senjata apa pun di tangan. Ini bukan karena kekuatan dan kemampuannya sendiri, tapi Roh Tuhan berkuasa atas dirinya. 2. Mampu mengalahkan seribu orang Filistin dengan rahang keledai (Hakim-Hakim 15:14-16). Ketika orang Filistin ingin membalas dendam atas perbuatan Simson yang membakar tumpukan gandum dan kebun-kebun zaitun milik mereka, maka Roh Kudus berkuasa atas diri Simson. Hanya dengan tulang rahang keledai ditewaskannya seribu orang Filistin. 3. Mampu mengangkat daun pintu gerbang kota (Hakim-Hakim 16:3).

Sebagai orang yang dipilih dan dikhususkan oleh Tuhan, setidaknya Simson memiliki tiga keistimewaan, yaitu kelahirannya sudah dinubuatkan terlebih dahulu oleh malaikat Tuhan, memiliki kekuatan yang extraordinary karena Roh Tuhan menyertainya, dan menjadi hakim atas umat Israel selama kurang lebih 20 tahun.

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” Zakharia 4:6


Sabtu. SIMSON: Jatuh Karena Tabiatnya
Baca: Hakim-Hakim 16:23-31

“Berkatalah Simson: ‘Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini.'” Hakim-Hakim 16:30a

Zaman hakim-hakim adalah zaman di mana tidak ada seorang pun yang memiliki wibawa sebesar Musa dan Yosua. Saat itu orang-orang Israel hidup terpencar di berbagai penjuru tanah Kanaan sehingga secara formal mereka tidak memiliki pemimpin, yang ada adalah pemimpin informal yang dikenal se-bagai hakim. Pada masa Simson menjadi hakim kehidupan bangsa Israel sedang dalam bahaya besar karena sedang ditindas oleh orang Amon dari sebelah timur dan ditekan oleh orang Filistin di bagian barat.

Yang disesalkan, sebagai nazir Tuhan kekuatan atau keperkasaan diri Simson ternyata tidak diimbangi dengan ta-biat yang baik. Bukankah ada banyak orang Kristen yang sudah terlibat dalam pelayanan atau menjadi seorang hamba Tuhan masih menjalani hidup sebagai ‘manusia lama’ dengan karakter duniawi? Sehingga hidupnya tidak bisa menjadi kesaksian, malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kelemahan yang paling menonjol dalam diri Simson adalah kurangnya penguasaan diri, terutama dalam hal keinginan daging atau hawa nafsu kedagingan. Keinginan mata dan seks adalah titik lemah Simson, sehingga setiap kali bertemu dengan wanita cantik hasrat untuk memilikinya begitu besar, bahkan ia pernah jatuh dalam pelukan seorang pelacur (baca Hakim-Hakim 16:1). Tidak lama berselang ia pun jatuh cinta pada perempuan dari lembah Sorek yang bernama Delila, dialah yang menyebabkan kehidupan Simson menjadi hancur dan berakhir dengan tragis.

Simson tidak belajar dari pengalaman, masih saja melakukan kesalahan-kesalahan yang sama yaitu jatuh dalam dosa dengan perempuan. Akhirnya dalam keadaan buta dan terbelenggu barulah Simson menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya, namun Tuhan telah meninggalkan dia. Berserulah Simson, “Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin.” (Hakim-Hakim 16:28).

Karena tidak mampu mempertahankan kesucian hidup sebagai nazir Tuhan Simson harus menanggung konsekuensinya, yaitu kehilangan kekuatan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya dan Roh Tuhan pun meninggalkannya!


Minggu. SOMBONG: Dosa Yang Mudah Dilakukan
Baca: Amsal 30:29-33

“Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan ber-pikir, tekapkanlah tangan pada mulut!” Amsal 30:32

Berlaku sombong adalah tindakan yang paling mudah dilakukan orang karena bisa dilakukan di mana pun dan ka-pan pun, dengan hanya bermodalkan ucapan. Itulah sebabnya orang menganggap kesombongan perkara sepele, tidak termasuk dosa. Benarkah demikian? “Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.” (Amsal 21:4). Kesombongan adalah salah satu perkara yang sangat dibenci Tuhan (baca Amsal 6:16-19). Tuhan sangat menentang orang-orang sombong!

Kesombongan adalah dosa yang kurang disadari oleh banyak orang, termasuk orang Kristen, padahal dosa ini mengantarkan si pelaku kepada kehancuran. Ada banyak kasus terjadi di mana hamba Tuhan terkenal akhirnya men-galami kegagalan dalam pelayanan oleh karena jatuh dalam dosa kesombongan, nama baik menjadi tercemar dan repu-tasinya pun menjadi hancur berkeping-keping. Ciri-ciri orang yang berlaku sombong adalah: merasa diri hebat, paling benar dan patut dihormati. Orang yang berlaku demikian memiliki kecenderungan untuk merendahkan orang lain.

Sadar atau tidak kesombongan akan terus membawa orang kepada dosa-dosa yang lain. Itulah sebabnya orang yang sombong akan mudah sekali marah atau tersinggung apa-bila keberadaannya kurang dianggap. Karena itulah orang yang sombong sangat suka dipuji dan dihormati (gila hor-mat). Karena merasa diri hebat dan benar orang yang som-bong juga cenderung tidak mau menerima teguran atau kritikan dari orang lain.

Sepatutnyakah kita berlaku sombong? Bukankah di dalam kita ada banyak kelemahan dan kekurangan, dan kita pun tak luput dari kesalahan? Kalau pun di satu sisi kita punya kelebihan, di sisi lain kita pasti punya kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Jika sampai hari ini kita ada sebagaimana kita ada sekarang semua itu han-ya karena anugerah-Nya semata, Tuhanlah yang bekerja dalam hidup kita, bukan karena kuat dan gagah kita!

“Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.” Yesaya 2:11