Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog"
KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

Senin. KUNCI BERSUKACITA: Berserah Kepada Tuhan

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Banyak orang Kristen tidak lagi bisa bersukacita, ketika sedang terhimpit beban atau masalah yang berat. Mereka dikalahkan oleh keadaan atau situasi. Sebagai orang percaya seharusnya hal ini tidak boleh terjadi!

Mahatma Gandhi, tokoh kenamaan dari India pernah berkata, “Tak ada yang menguras tubuh seperti kekuatiran, dan orang yang mempunyai iman pada Tuhan harus malu untuk kuatir tentang apa pun.” Pemazmur menasihati, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23). Seburuk apa pun keadaan, asal kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita akan mampu tetap bersukacita. Ketika kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita berpotensi beroleh kekuatan adikodrati sehingga kita dapat berkata seperti rasul Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Berserah kepada Tuhan bukan berarti bersikap pasif dan menjadi malas. Berserah kepada Tuhan artinya membawa segala pergumulan yang kita kuatirkan kepada Tuhan dengan penuh penyerahan, dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kalau kita sudah menyerahkan segala pergumulan kepada Tuhan dalam doa kita pun harus meyakini bahwa Tuhan akan menjawab doa. Ada unsur iman yang bekerja, sebab iman tanpa disertai perbuatan pada hakekatnya adalah mati (baca Yakobus 2:17).

Permohonan artinya memohon belas kasihan Tuhan yang biasanya disertai dengan sikap merendahkan diri, meratap, mengerang dan berpuasa untuk menarik simpati Tuhan. “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan…” (2 Tawarikh 7:14). Ucapan syukur adalah perwujudan dari sikap hati yang benar atau pikiran yang positif.

Berserah kepada Tuhan berarti kita mempercayai Dia sebagai Pribadi yang Mahasanggup, yang kuasa-Nya jauh lebih besar dari masalah kita!

Baca: Filipi 4:4-9


Selasa. KERENDAHAN HATI DAN IMAN: Menggerakkan Hati Tuhan

“Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Lukas 7:9

Seorang hamba yang setia melakukan tugas dan dapat dipercaya pasti sangat dikasihi, sebab “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;” (Amsal 19:22).

Dalam bacaan di atas, begitu tahu hambanya sedang sakit tuannya pun menunjukkan perhatiannya dan berusaha mencari jalan untuk kesembuhannya. Ketika mendengar bahwa Tuhan Yesus berada di Kapernaum perwira itu menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi untuk memberitahukan hal itu kepada Tuhan dan meminta-Nya datang menyembuhkan hambanya itu. Yesus pun menyatakan kesediaan-Nya. Tetapi perwira itu menganggap diri tidak layak dikunjungi oleh-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu.” (Lukas 7:6-7). Pernyataan ini menunjukkan bahwa perwira itu memiliki kerendahan hati. Meskipun sebenarnya ia adalah orang yang berpangkat atau terpandang tapi ia tidak memegahkan diri. Kerendahan hati adalah modal penting untuk menghadap Tuhan, sebab Tuhan mengasihi orang-orang yang punya kerendahan hati. “…orang yang rendah hati dikasihani-Nya.” (Amsal 3:34), dan menentang orang-orang yang congkak. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6). Ada kalimat bijak mengatakan, “Kerendahan hati dapat membuat seseorang terlihat istimewa di mata orang lain.” Perwira itu juga memiliki iman yang luar biasa. “Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Lukas 7:7b).

Sikap perwira ini sungguh jauh berbeda bila dibandingkan dengan Naaman yang merasa diri sebagai orang ‘penting’ yang berharap supaya abdi Tuhan datang kepadanya dan melakukan seperti yang diharapkan (baca 2 Raja-Raja 5:11). Tanpa harus menumpangkan tangan kepada hambanya, perwira dari Kapernaum itu sangat percaya Yesus sanggup menyembuhkan sakit yang diderita hambanya itu. Iman perwira Romawi itu melampaui iman yang Tuhan Yesus lihat di kalangan orang-orang Yahudi sendiri.

Ingin mengalami pemulihan dan kesembuhan? Milikilah kerendahan hati dan iman yang hidup seperti yang dimiliki oleh perwira Romawi itu.

Baca: Lukas 7:1-10


Rabu. EDOM: Bersukacita Di Atas Penderitaan

“Oleh karena dalam hatimu terpendam rasa permusuhan yang turun-temurun dan engkau membiarkan orang Israel menjadi makanan pedang pada hari sial mereka, waktu saatnya tiba untuk penghakiman terakhir,” Yehezkiel 35:5

Dalam praktek hidup sehari-hari kita sering mendengar istilah ‘menari di atas penderitaan orang lain’, yaitu seseorang yang tampak senang atau bersukacita ketika melihat orang lain hidup menderita, tertawa lebar karena kemalangan yang dialami orang lain. Benarkah sikap yang demikian? Tuhan tidak menghendaki kita bersukacita karena kesusahan, penderitaan atau kemalangan yang dialami oleh orang lain, termasuk yang dialami oleh musuh sekalipun. Inilah nasihat rasul Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Inilah yang disebut tepa selira (bahasa Jawa), berbela rasa. Ketika melihat orang lain sedang tertimpa kesusahan atau kemalangan, Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu untuk menolong, bukan malah ketawa-ketiwi, dan berkata dalam hati: “Rasain lho…!”

Edom memusuhi bangsa Israel, yang adalah umat pilihan Tuhan, dan menutup mata ketika melihat penderitaan umat Israel yang diakibatkan serangan musuh, bahkan mereka tampak bersukacita melihat umat Israel begitu menderita. Edom merupakan nama tempat yang sebelumnya dikenal dengan nama pegunungan Seir. Tanah dan penghuni Edom ini dapat ditemukan di dataran selatan dan tenggara Laut Mati. Nama Edom memiliki tiga makna: *nama lain dari Esau sebagai peringatan bahwa ia telah menukarkan hak kesulungannya dengan sup merah; *Edom sebagai satu kelompok bangsa; *tanah yang diduduki oleh keturunan Esau, yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir.

Kata Edom sendiri memiliki arti merah. Dan akhirnya warna ‘merah’ itupun menjadi sebuah kenyataan, karena tempat itu dipenuhi oleh warna merah oleh tumpahan darah para penduduknya yang mendapatkan penghukuman atau pembalasan dari Tuhan. “Aku akan menjadikan engkau darah dan darah akan mengejar engkau; oleh sebab engkau bersalah karena mencurahkan darah, maka darah akan mengejar engkau. Aku akan menjadikan pegunungan Seir musnah dan sunyi sepi dan melenyapkan dari padanya orang-orang yang lalu lalang.” (Yehezkiel 35:6-7).

Karena memusuhi umat pilihan Tuhan, Edom harus menanggung akibatnya!

Baca: Yehezkiel 35:1-15


Kamis. MENJADI BERKAT DI TENGAH KESESAKAN

“Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku.” Mazmur 142:7

Adalah mudah untuk mengatakan hal-hal yang positif: membangun, menguatkan, menghibur orang lain ketika orang sedang dalam keadaan baik dan tanpa masalah; namun jika diri sendiri sedang mengalami situasi sulit atau dalam kondisi yang buruk, mampukah mempertahankan konsistensi untuk berkata positif? Jangankan menguatkan orang lain, menghibur diri sendiri saja mungkin sulit. Yang terjadi adalah kita mengasihani diri sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain.

Mari belajar dari pengalaman hidup Daud! Ketika itu Daud sedang dalam tekanan yang hebat karena dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhnya. Daud pun melarikan diri dan bersembunyi di gua Adulam dengan maksud menenangkan diri dan berlindung. Daud mengungkapkan jerit hatinya kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya, “Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya.” (ayat 3). Apa yang selanjutnya dialami Daud di gua itu? “Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati,” (1 Samuel 22:2). Datanglah kepadanya orang-orang yang sedang bermasalah, yang jumlahnya kira-kira empat ratus orang. Tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi Daud saat itu, ia yang sebenarnya membutuhkan kekuatan, penghiburan dan dorongan semangat, justru mendapat kiriman Tuhan orang-orang yang bernasib sama ke tempat persembunyiannya, untuk dihibur dan dikuatkan olehnya. Ada rencana Tuhan di balik masalah yang dialami Daud! Tuhan menempatkan Daud sebagai penolong bagi orang lain: menghibur, menguatkan, membangkitkan semangat seperti tertulis: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

Melalui kehadiran orang-orang yang bermasalah, Daud diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai seorang konselor, bahkan menjadi pemimpin atas mereka. Berbicara tentang kepemimpinan berarti pula berbicara tentang keteladanan. Meski Alkitab tidak mencatat secara detil kejadian di gua Adulam itu, kita percaya bahwa Daud menunjukkan kualitas hidup yang berbeda.

Tuhan punya cara yang ajaib untuk menolong dan membangkitkan semangat Daud!

Baca: Mazmur 142:1-8


Jumat. HAK DAN KEWAJIBAN HARUS SEIMBANG

“Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” Efesus 6:8

Secara umum hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunaannya tergantung kepada kita sendiri. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan. Hak dan kewajiban adalah dua aspek yang tidak terpisahkan dan saling berkaitan. Bila seseorang sudah melaksanakan kewajibannya dengan baik maka secara otomatis hak akan menjadi bagiannya. Namun banyak orang lebih mengedepankan hak, alias menuntut haknya dipenuhi terlebih dahulu, tetapi urusan kewajiban diabaikan. Jadi menuntut hak secara penuh tetapi tidak menjalankan kewajiban sesuai harapan.

Untuk mewujudkan sebuah kemitraan yang baik hak dan kewajiban haruslah berjalan secara seimbang. Seorang hamba, dalam situasi dan kondisi apa pun, berkewajiban untuk taat pada tuannya yaitu mengerjakan dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi tugasnya. “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” (Efesus 6:5-7). Taat artinya memberi diri dengan menundukkan keberadaan diri sebagai sikap hormat yang keluar dari dasar hati yang terdalam, bukan kepura-puraan atau sebatas menyenangkan sang tuan. Ini berbicara tentang dedikasi dan loyalitas.

Ketaatan kepada tuan harus disamakan dengan taat kepada Kristus, yaitu melakukan tugas dengan segenap hati sebagai kehendak Tuhan atas dirinya. Sebagai tuan kita pun harus tahu apa yang menjadi bagian kita yaitu memenuhi kewajiban dengan baik. Firman Tuhan memperingatkan, “Janganlah engkau memeras sesamamu manusia…janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.” (Imamat 19:13). Secara tegas rasul Paulus menya-takan entang kemahatahuan dan keadilan Tuhan atas para tuan yang tidak memenuhi tanggung jawabnya (Efesus 6:9).

Berkat tersedia bagi hamba-hamba dan tuan-tuan yang mampu menjalankan perannya sesuai kehendak Tuhan!

Baca: Efesus 6:1-9


Sabtu. LEBAH YANG MENGHASILKAN MADU

“Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.” Mazmur 81:17

Membahas tentang madu tak lepas dari si penghasil madu itu sendiri yaitu lebah. Ada hal-hal menarik yang dapat kita pelajari dari kehidupan seekor lebah, yang termasuk dalam golongan serangga. Lebah suka sekali berada di suasana yang indah, selalu mencari, menemukan dan hinggap pada setiap bunga untuk menghisap sari madu bunga-bunga tersebut. Lebah hinggap dari satu bunga ke bunga lain untuk menjemput sari madu dan mengumpulkannya di sarang. Dengan kata lain lebah tertarik pada aroma yang harum dan sama sekali tidak tertarik pada sesuatu yang kotor. Selain itu lebah hidup rukun dalam satu koloni dan patuh pada seekor ratu lebah selaku pemimpin koloni itu. Lebah taat kepada pembagian kerja: ada yang bertugas membuat sarang, ada yang khusus bertugas mencari madu, ada yang menjaga sarang, dan ada juga yang menjaga ratu lebah. Lebah madu adalah serangga sosial. Madu yang dihasilkannya kaya manfaat dan dikenal sangat berkhasiat untuk kesehatan: meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menambah stamina dan lain-lain.

Begitu pula dengan orang percaya yang hidup bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Ia memiliki gaya hidup seperti lebah yang tidak lagi tertarik dengan hal-hal yang kotor dan jorok, melainkan lebih tertarik kepada hal-hal yang baik dan indah, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kecemaran (dosa), sebab “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7). Selain itu ia akan suka ‘tinggal’ di dalam firman: dengan merenungkannya siang dan malam, sebab Taurat Tuhan itu “…lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.” (Mazmur 19:11).

Tinggal di dalam firman-Nya ini juga berbicara tentang ketaatan! Karena senantiasa melekat kepada Tuhan dan mau taat dipimpin oleh Roh Kudus, orang percaya pun dibekali ‘sengat’ yang mematikan untuk melawan tipu muslihat si Iblis yang berusaha untuk menghancurkan kehidupan rohaninya.

Tuhan akan mengenyangkan kita dengan hal-hal yang manis seperti madu ketika kita hidup seturut dengan kehendak-Nya dan menjauhkan diri dari kecemaran.

Baca: Mazmur 81:1-17


Minggu. DIPENUHI KEINGINAN-KEINGINAN

“Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas.” Amsal 21:26

Semua manusia yang ada di dunia ini pada dasarnya memiliki keinginan-keinginan dalam hidupnya, bahkan keinginan-keinginan baru selalu timbul setiap hari.

Salahkah punya keinginan? Tidak. Namun yang harus kita ingat adalah keinginan-keinginan tersebut dapat membawa kita ke dua arah yang positif atau negatif. Keinginan-keinginan yang positif pasti dapat membawa hidup kita pada segala kebaikan, sebaliknya keinginan-keinginan yang negatif akan mengantarkan hidup kita pada hal-hal buruk. Sadar atau tidak keinginan kita hari ini akan sangat mempengaruhi keadaan kita di masa depan. Artinya apa yang kita inginkan hari ini, jika itu hal-hal positif dan sesuai kehendak Tuhan, akan menjadikan hari esok kita baik. Sebaliknya jika hari ini keinginan kita dipenuhi hal-hal negatif atau bertentangan dengan kehendak Tuhan, cepat atau lambat kita pun akan menuai dampaknya.

Rasul Paulus menasihati agar kita tidak menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang dilakukan oleh umat Israel (baca 1 Korintus 10:6) sehingga Tuhan tidak berkenan kepada sebagian besar mereka. Kegagalan sebagian besar umat Israel memasuki tanah perjanjian menjadi suatu peringatan keras bagi kita. Mereka tidak mengalami penggenapan janji Tuhan karena hati mereka dipenuhi oleh keinginan-keinginan jahat. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam menjalani hidup ini setiap saat kita pasti dihadapkan pada banyak sekali ujian dan tantangan, karena bagaimana pun juga dunia ini bukanlah firdaus. Artinya selama kaki kita masih menginjak bumi kita pun tak luput dari hal-hal yang bersifat jahat: fitnahan, cemoohan, iri hati, kebencian, perlakuan tidak adil dari orang lain atau hal-hal menyakitkan lainnya.

Apabila hati dan pikiran kita dipenuhi oleh keinginan-keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan sama artinya kita sedang merintis jalan untuk menghancurkan hidup kita sendiri, sebab firman Tuhan sudah memeringatkan: “…jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik,” (1 Tesalonika 5:15).

Milikilah keinginan-keinginan yang selaras dengan kehendak Tuhan supaya masa depan kita menjadi baik, sebab keinginan orang benar pasti diluluskan-Nya!

Baca: Amsal 21:25-31

DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

Senin. DOSA MEMIKAT, TAPI MEMATIKAN

“Sungguhpun kejahatan manis rasanya di dalam mulutnya, sekalipun ia menyembunyikannya di bawah lidahnya, …namun berubah juga makanannya di dalam perutnya, menjadi bisa ular tedung di dalamnya.” Ayub 20:12, 14

Ada istilah-istilah dalam Alkitab yang mendefinisikan kata dosa: hatta (bahasa Ibrani) artinya: jatuh dan mengurangi standar dari Tuhan yang suci; hamartia (bahasa Yunani) berarti: kehilangan, meleset dari target atau sasaran yang ditetapkan. Dosa pada hakekatnya hanya akan menda-tangkan malapetaka dan menuntun seseorang kepada ke-binasaan kekal, “Sebab upah dosa ialah maut;” (Roma 6:23).

Meski tahu akibat dosa adalah maut tapi masih banyak orang yang demikian terikat dengan dosa, bahkan enggan melepaskan dan meninggalkannya. Mengapa? Karena mereka telah merasakan manis dan nikmatnya dosa, sebab dosa seringkali hadir dalam bentuk yang indah dan menyenangkan, memberi kepuasan dan kenikmatan walaupun itu adalah sebuah jebakan yang mematikan. Mereka tidak menyadari bahwa dosa itu seperti racun jahat yang menyebar ke seluruh aspek kehidupan orang yang melakukannya. Racun biasanya tidak seketika itu mematikan, tapi membutuhkan waktu untuk menyebar terlebih dahulu hingga akhirnya membunuh. Begitu pula dosa, membutuhkan waktu hingga orang merasakan dampaknya. Dampak mendasar dari ikatan dosa adalah ketidaktenangan dalam menjalani hidup, karena sukacita dan damai sejahtera telah lenyap dari hati, yang ada hanyalah kegelisahan setiap saat. “Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah, kalau pagi sekarang! karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu.” (Ulangan 28:67).

Jangan pernah kompromi dengan dosa sebab hal itu adalah kejijikan di mata Tuhan: “Janganlah hendaknya kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini!” (Yeremia 44:4). Dosa inilah yang akhirnya menjadi jurang pemisah hubungan kita dengan Allah, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2).

Berhentilah berbuat dosa jika tidak ingin menanggung aki-bat yang mengerikan!

Baca: Ayub 20:1-29


Selasa. KRISTUS ADALAH RAJA YANG ADIL

“Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan,” Yesaya 32:1

Semua manusia di dunia ini pasti mendambakan kehidupan yang aman, tenteram, damai dan adil di segala sisi, namun sayang dunia yang sempurna adalah utopia (hanya ada dalam bayangan dan sulit atau tidak mungkin untuk di-wujudkan), sebab fakta yang ada justru menunjukkan suatu keadaan yang bertolak belakang, di mana dunia dipenuhi dengan kekerasan, pertikaian penindasan, ketidakadilan. Saat ini uanglah yang berbicara. Dengan uang orang bisa membeli jabatan, kekuasaan dan keadilan. Dengan uang orang bisa memerlakukan orang lain dengan semena-mena, menindas yang lemah dan miskin. Sungguh…tidak ada keadilan yang hakiki di belahan bumi mana pun!

Ayat nas adalah nubuatan nabi Yesaya mengenai Raja adil yang adalah Yesus, yang kedatangan-Nya ke dunia juga sudah diberitahukan sebelumnya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:14). Karena Tuhan Yesus adalah Raja yang adil maka Dia tidak seperti raja-raja atau pemimpin-pemimpin dunia yang seringkali berpihak kepada orang kaya, sedangkan orang miskin ditindasnya habis-habisan, karena “Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulut-nya ia akan membunuh orang fasik.” (Yesaya 11:2-4).

Sebaliknya Yesus adalah naungan dan tempat perteduhan orang-orang miskin, lemah, tak berdaya, rendah, yang diperlakukan semena-mena dan tidak adil. “Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!” (Mazmur 72:4).

“TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.” Mazmur 103:6

Baca: Yesaya 32:1-8


Rabu. KEADILAN TUHAN ITU SEMPURNA

“…karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” Ulangan 32:4

Salah satu sifat Tuhan adalah adil. Yang dimaksud adil adalah bertindak benar sesuai standar kebenaran dan ketetapan hukum yang berlaku. Tuhan itu adil, artinya Ia akan selalu berlaku benar sesuai prinsip kebenaran-Nya. Keadilan Tuhan adalah sempurna, utuh, tidak bercacat cela, artinya semua yang Tuhan rencanakan, putuskan dan kerjakan selalu berada pada koridor keadilan. “Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.” (Mazmur 111:7-8).

Wujud nyata keadilan Tuhan adalah Ia mencintai kebenaran dan membenci kefasikan. Oleh karena itu “TUHAN menguji orang benar dan orang fasik,” (Mazmur 11:5). 1. Mencintai kebenaran. “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” (Mazmur 34:16). Artinya Tuhan sangat memperhatikan dan mengasihi orang-orang yang hidup dalam kebenaran, dan Ia akan memberikan upah atau reward kepada mereka. “Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci,” (Mazmur 18:25-27). Tidak ada yang sia-sia untuk tetap berlaku benar di tengah dunia yang dipenuhi kejahatan ini. Meski manusia tidak melihat dan tidak menganggapnya tapi di atas takhta-Nya yang kudus Tuhan selalu memperhitungkannya. 2. Membenci kefasikan. Tuhan sangat menentang segala bentuk kefasikan, karena itu Ia tidak akan membiarkan setiap pelanggaran dan dosa berlalu begitu saja dari hadapan-Nya, tetapi Ia akan mengganjarnya dengan hukuman…ini bukti bahwa Ia adalah Tuhan yang adil dan tidak bisa dipermainkan! “…semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.” (Mazmur 145:20)

Jelas sekali bahwa Tuhan akan mengganjar setiap dosa dan kejahatan yang diperbuat manusia dengan hukuman yang setimpal, sebaliknya Ia akan mengapresiasi dengan memberikan upah untuk setiap kebenaran dan perbuatan baik yang dilakukan.

“…Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Mazmur 51:6

Baca: Ulangan 32:1-14


Kamis. TERTINDAS TETAP PUNYA INTEGRITAS

“Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku,…” Daniel 6:23

Ketika berada dalam kesulitan, tekanan atau masalah berat biasanya orang mudah sekali melupakan Tuhan, karena mata jasmaninya hanya tertuju kepada besarnya masalah. Daniel adalah salah satu tokoh besar di Alkitab yang pernah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Kala itu para pejabat tinggi pemerintahan Darius berusaha mencari alasan untuk menuduh dan menyalahkan Daniel dengan meminta raja mengeluarkan surat ketetapan: melarang semua orang menyembah Tuhan, dewa atau manusia lain kecuali kepada raja, dan bagi yang melanggar akan dilem-parkan ke gua singa.

Siapa Daniel? Adalah tawanan perang yang ditangkap Nebukadnezar yang bersama dengan orang-orang Yahudi dari golongan atas lainnya diangkut ke Babel untuk dididik dan diperkerjakan di pemerintahan; Daniel bekerja di bawah pemerintahan raja Nebukadnezar, Belsyazar dan Darius dari tahun 605-536 SM. Dalam bahasa Ibrani nama Daniel berarti Tuhanlah hakimku. Mendengar surat perintah raja, Daniel tidak takut atau gentar sedikit pun melainkan tetap menjaga integritas rohaninya. “Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11). Apa yang diyakini dan dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Ia percaya tidak ada yang layak disembah dan ditinggikan selain Tuhan yang hidup, yang duduk di atas takhta-Nya yang kudus di dalam Kerajaan Sorga. Sesuai arti namanya Daniel berkeyakinan bahwa Tuhanlah hakim yang adil, pasti sanggup menegakkan keadilan di tengah ketidakadilan.

Begitu melihat Daniel sedang berdoa kepada Tuhannya segeralah orang-orang melaporkan kepada raja, sehingga raja pun terpaksa melaksanakan ketetapannya: melemparkan Daniel ke gua singa. Selama Daniel berada di gua singa “…pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.” (Daniel 6:19), karena membayangkan hal-hal buruk menimpa Daniel. Apa yang dikuatirkan raja tak terjadi! Karena Tuhan benar-benar telah menjadi hakim yang membela perkara Daniel.

Pembelaan Tuhan benar-benar nyata bagi orang yang berintegritas!

Baca: Daniel 6:1-29

 


Jumat. BERHARAP HANYA KEPADA TUHAN

“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:” Ratapan 3:21

Keterbatasan adalah milik manusia, “…sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22), sedangkan ketidakterbatasan adalah milik Tuhan, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9). Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di depannya, berbeda dengan Tuhan yang Mahatahu, mengetahui apa yang bakal terjadi dalam hidup ini. “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita…” (Ulangan 29:29).

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak berharap kepada manusia atau sesama, tetapi menaruh pengharapan sepenuhnya hanya kepada Tuhan sebab Dia adalah penguasa tunggal alam semesta ini dan semua perkara berada dalam kendali tangan-Nya yang kuat dan perkasa. Bapa kita yang di sorga, Ialah “…yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45). Dengan kata lain kalau Tuhan juga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan tidak benar, bukankah Tuhan akan lebih memperhatikan anak-anak-Nya yang senantiasa berharap kepada-Nya? “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8).

Semakin banyak orang tergoncang karena mendengar dan melihat keadaan ekonomi dunia yang memburuk. Dunia boleh mengalami krisis, tetapi orang percaya tidak perlu takut, sebab “…kita menerima kerajaan yang tidak tergon-cangkan,” (Ibrani 12:28).

Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan Tuhan adalah ja-minan kita, asal kita percaya dan mempercayakan hidup hanya kepada-Nya. “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;” (Mazmur 37:5).

Bagi orang percaya “…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:18
Baca: Ratapan 3:21-26


Sabtu. MASIH TERTUTUPI SELUBUNG

“…jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2:7-8

Menjadi terang dunia adalah kehendak Tuhan bagi setiap orang percaya! Menjadi terang berarti mampu memancarkan sinar terang bagi orang lain. Namun banyak orang Kristen belum menjalankan fungsi seperti yang Tuhan kehendaki, tidak dapat menyinarkan terang kepada orang lain, padahal firman-Nya jelas mengatakan: “Demikianlah hendaknya terang-mu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Mengapa kita tidak bisa memancarkan terang? Karena di dalam diri kita masih ada selubung-selubung yang menghalangi sehingga terang Ilahi tak bisa memancar keluar. Selubung-selubung itu adalah perbuatan-perbuatan dosa yang masih dilakukan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Selama kita masih hidup dalam dosa, tidak menunjukkan keteladanan hidup, kita tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain. Percuma fasih berbicara tentang firman Tuhan jika perbuatan kita tidak berpadanan dengan firman itu sendiri, justru hanya akan menjadi batu sandungan atau cemoohan orang lain, karena menjadi terang berbicara tentang keteladanan hidup (ayat nas). Kalau kita sudah menunjukkan teladan hidup maka orang lain tidak akan punya alasan untuk mempermalukan kita, “…karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (ayat nas).

Terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, maka “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.” (Efesus 5:12). Dengan demikian kehidupan kita benar-benar menjadi teladan yang bisa diartikan sebagai contoh, patokan, atau pola, sehingga nama Tuhan pun dipermuliakan.

Pelita yang padam pasti tidak akan berguna, demikian pula kehidupan orang Kristen yang tak memancarkan sinar Kristus!

Baca: Titus 2:1-10


Minggu. KUNCI BERSUKACITA: Buang Rasa Kuatir

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4:4

Tak terbantahkan bahwa hari-hari ini banyak orang mengalami kekuatiran dalam hidup disebabkan keadaan dunia yang serba tidak menentu dan penuh goncangan-goncangan di segala aspek. Karena dikuasai oleh kekuatiran hilanglah sukacita dalam diri seseorang, mungkin mulut masih bisa tertawa atau tersenyum, tetapi sesungguhnya hati bisa saja merana. Kekuatiran adalah pencuri sukacita terbesar!

Rasul Paulus menasihati, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (ayat 6). Sesungguhnya Paulus memiliki 1001 alasan untuk kuatir dan tidak bersukacita, karena pada saat itu ia sedang berada di dalam penjara dan juga menunggu eksekusi hukuman mati yang akan dilaksanakan terhadapnya. Belum lagi ia mendengar kabar bahwa di gereja Efesus terjadi perpecahan di antara para pemimpin rohaninya. Kesemuanya itu berpotensi membuatnya tidak bersukacita, tetapi ia justru dapat berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (ayat nas). Apa rahasia hidup Paulus yang dalam kondisi sangat memprihatinkan tetap mampu bersukacita? Bersukacita atau tetap kuatir adalah sebuah keputusan, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7). Paulus membuat keputusan untuk tidak mau dikuasai oleh kekuatiran karena ia tahu bahwa kekuatiran bukan hanya akan mematahkan semangat di dalam diri, tetapi juga akan menguras energi/staminanya.

Bukankah hati yang tidak bersukacita memicu terciptanya berbagai penyakit alias mengganggu kesehatan kita? Kekuatiran benar-benar hanya akan menarik kita ke arah berlawanan, menjauh dari sasaran yang hendak kita tuju sehingga fokus kita pun terpecah-belah. Itulah sebabnya Paulus tidak mau dikuasai oleh kekuatiran. Hal ini bukan menunjuk pada sikap menolak atau melarikan diri dari perasaan yang sedang dialaminya, tetapi suatu sikap yang tidak ingin dikuasai atau digerogoti oleh kekuatan yang sedang terjadi.

Berdasarkan pengalaman dan survei: apa yang kita kuatirkan itu kebanyakan tidak pernah terjadi, rugi sekali bila kita terus diliputi rasa kuatir!

Baca: Filipi 4:4-9

JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

Senin. JANGAN TAKUT, TUHAN SERTAI!

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

2 Timotius 1:7

Memperhatikan situasi seperti sekarang ini, dengan berbagai perubahan dan kondisi yang terjadi, hampir semua orang mengalami ketakutan: takut tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya, takut tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, takut mengalami kegagalan, takut menghadapi hari esok dan sebagainya.

Ketakutan adalah tanggapan emosi terhadap ancaman, suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Dari sudut psikologi ketakutan adalah wajar, salah satu emosi dasar manusia selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan. Namun ketakutan akan menjadi masalah besar bila dibiarkan berlarut-larut atau berkepanjangan, karena ketika kita terus dikuasai olehnya, sukacita dan damai sejahtera kita akan terampas. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (ayat nas).
Artinya rasa takut bukanlah berasal dari Tuhan, karena itu sebagai orang percaya tidak seharusnya kita hidup dalam ketakutan. Sekalipun berada di tengah dunia yang penuh tantangan ini tidak ada alasan kita takut, “…sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4); janji penyertaan Tuhan adalah jaminannya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Oleh karenanya “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10).
Di segala keadaan, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, yakinlah kita tidak bergumul sendirian, ada Tuhan beserta kita dan penyertaan-Nya itu sungguh sempurna. Agar kita tidak takut, senantiasalah dekat dengan Tuhan, sebab “Hanya dekat Allah saja aku tenang,” (Mazmur 62:2), hanya Tuhanlah yang dapat memberikan ketenteraman dan rasa aman bagi kita.
Penyertaan Tuhan adalah jaminan kita untuk tidak takut di segala situasi!

Baca: 2 Timotius 1:3-18


Selasa. WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN (1)

“Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Matius 24:44

Hal kedatangan Kristus untuk yang keduakalinya telah sering dibahas di kalangan umat Tuhan, namun penting sekali untuk terus disampaikan agar kita tidak menganggap remeh, sebab ketika mendengar tentang ‘hari’ Tuhan ini banyak orang yang bersikap skeptis (kurang percaya, ragu-ragu), tetapi ada pula orang yang berani meramalkan kapan kedatangan-Nya itu tiba. Sesungguhnya berita ini bukanlah hal yang baru, sebab sejak Kristus masih berada di bumi Ia sendiri telah memperingatkan orang-orang di zaman itu. Yang Ia tekankan bukan kapan waktu itu tiba, tapi Tuhan menghendaki agar kita dalam keadaan siap sedia.

Bila mendengar ada orang yang menyebarkan berita bahwa Tuhan akan datang pada hari, tanggal, bulan dan tahun sekian janganlah kita menjadi panik dan risau hati. Ada tertulis: “Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.” (ayat 43). Alkitab dengan jelas menyatakan dan bahkan Tuhan Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa diri-Nya tidak tahu tentang saat kedatangan-Nya (baca Matius 24:36), apalagi kita sebagai manusia. Tuhan Yesus berkata, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.” (Matius 24:27).

Jangan kita mudah disesatkan oleh berita-berita yang tidak jelas dari mana datangnya, “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya.” (Matius 24:24-26). Berpeganglah pada kebenaran Injil Kristus, jangan percaya kepada desas-desus yang bertujuan untuk melemahkan iman kita.
Jangan mudah disesatkan oleh berita apa pun, sebab segala pengajaran harus dicocokkan dengan isi Alkitab; jika tidak sesuai, maka perlu diwaspadai!

Baca: Matius 24:37-44


Rabu. WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN (2)

“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” Matius 24:4

Tuhan Yesus telah memperingatkan bahwa di hari-hari akhir menjelang kedatangan-Nya, ada banyak sekali penyesat-penyesat yang bermunculan dimana-mana, “…banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (ayat 5). Begitu pula dengan ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Injil Kristus pun kian marak dan terjadi di mana-mana.

Kata penyesat bisa diartikan orang yang penuh kebohongan atau tipu muslihat, yang melakukan segala cara dan berbagai aksi untuk mengerutkan iman, sehingga ketebalan iman orang percaya kian menipis. Yang dimaksud penyesat di sini bukan hanya sebatas oknum, namun bisa juga dipahami sebagai sistem dunia yang ditunggangi Iblis untuk menjerat orang percaya. Sedangkan kata waspada memiliki arti harafiah berhati-hati dan berjaga-jaga, atau bersiap siaga.

Kita patut mewaspadai atau menjaga diri dari jerat Iblis dalam bentuk apa pun. Ada pun rupa-rupa jerat Iblis: 1. Kemabukan, alkohol, atau narkoba. Rasul Paulus menasihati, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,” (Efesus 5:18). Ela (raja Israel), mengalami kejatuhan akibat mabuk minuman keras (baca 1 Raja-Raja 16:9). Di zaman sekarang jerat alkohol atau minum minuman keras dan juga narkoba makin hari makin marak dan banyak menelan korban, bukan hanya kalangan anak muda saja yang menjadi korbannya, tapi juga anak-anak di bawah umur dan orang-orang tua. 2. Pesta pora dan pergaulan bebas. Banyak anak muda jatuh dalam dosa perzinahan atau seks bebas karena mereka suka sekali keluyuran, dugem dan salah dalam bergaul. Alkitab mengingatkan: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). 3. Kecanggihan teknologi. Media-media teknologi sekarang ini (televisi, gadget, internet dan sebagainya) banyak sekali ditunggangi oleh Iblis dengan menyajikan hal-hal yang berbau pornografi, kekerasan dan lain-lain. Jika kita tidak kuat kita pasti akan terjerumus di dalamnya.

“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.” 2 Yohanes 1:8

Baca: Matius 24:3-14


Kamis. TEMPUHLAH JALAN TUHAN!

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:6

Untuk mencapai suatu tujuan hal yang paling kita butuhkan adalah jalan, sebab tanpa adanya jalan sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tempat yang hendak kita tuju. Begitu pula bila kita salah dalam memilih jalan akan berakibat sangat fatal dan tidak akan pernah membawa kita ke tempat tujuan, sebab “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Pemazmur menyatakan, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” (Mazmur 25:10). Sayang, tidak semua orang mau menempuh jalan Tuhan, mereka lebih memilih berjalan menurut pengertian dan kehendaknya sendiri. Pikir mereka jalan Tuhan itu penuh aturan atau rambu-rambu, “…lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13-14). Memang, jalan menuju kepada kesejahteraan dipenuhi kesulitan, dan itulah yang membuat banyak orang tidak mau menempuh jalan itu (T. Harv Eker). Ada kata bijak yang mengatakan, “You are what you believe.” Artinya apa yang kita percayai akan menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita. Jika kita percaya kepada uang maka perjalanan hidup kita akan sama seperti uang yang mengalami fluktuasi, yaitu keadaan turun naik harga; ketidaktepatan atau guncangan. Namun bila kita percaya kepada Tuhan Yesus dan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya keberadaan hidup kita akan seteguh batu karang yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai apa pun.

Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati berarti tidak lagi mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri, karena sebagai manusia kita ini penuh kelemahan, kekurangan dan keterbatasan. Mengakui Dia dalam segala laku berarti tunduk dalam pimpinan Tuhan dan berusaha untuk hidup selaras dengan kehendak-Nya.

“…sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh,…” Mazmur 143:8

Baca: Amsal 3:1-8


Jumat. BEBAN DOA RASUL PAULUS (1)

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,” Filipi 1:9
Setiap pemimpin rohani atau hamba Tuhan pasti memiliki beban doa bagi jemaat yang dilayaninya. Mereka berdoa syafaat untuk jemaat agar diberi kesehatan, disembuhkan dari sakit, diberkati dalam segala hal. Tak terkecuali rasul Paulus yang berdoa untuk jemaat di Filipi ini. Gereja Filipi adalah gereja yang dirintis oleh Paulus setelah mendapatkan penglihatan tentang orang Makedonia yang berseru memanggilnya untuk datang dan minta diselamatkan (baca Kisah 16:9). Petobat pertama di kota itu adalah Lidia, lalu diikuti seluruh anggota keluarganya. Lidia pun mengijinkan rumahnya dijadikan tempat persekutuan doa bagi orang-orang Kristen di kota tersebut (baca Kisah 16:13-15).

Rasul Paulus mengerti benar apa yang sedang dibutuhkan dan digumulkan oleh umat Tuhan, namun ia tidak semata-mata berdoa untuk hal-hal yang berkenaan dengan kebutuhan lahiriah mereka karena ada pokok doa lain yang dianggapnya lebih mulia dan lebih penting dari semuanya itu, antara lain: supaya mereka hidup dalam kasih. Menjalani hidup tanpa kasih adalah sia-sia, tak berguna, “…sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1). Ia berdoa kepada Tuhan agar jemaat di Filipi makin melimpah dalam kasih. Dengan kasih orang akan berupaya untuk lebih mengenal Kristus secara pribadi. Alkitab menyatakan bahwa “…kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5).

Saat kita percaya dan beriman kepada Kristus, Roh Kudus mencurahkan kasih Allah itu di dalam hati kita. Bagian kita, menghadirkan kasih itu dalam kelangsungan hidup sehari-hari. Jadi kasih Allah itu perlu dijaga dan diperhatikan secara seksama. Gereja Efesus dicela oleh Tuhan karena mereka telah kehilangan kasih mula-mula (Baca Wahyu 2:2-4). Meski mereka tampak tahan di tengah masalah dan penderitaan, berpegang teguh kepada ajaran yang benar dan giat melayani Tuhan, tapi mereka melakukannya tanpa didasari oleh kasih. Apa yang mereka kerjakan tak lebih dari sekedar legalitas dan rutinitas agamawi semata.

Kasih adalah aspek dasar yang harus dimiliki dan dipraktek-kan orang percaya!

Baca: Filipi 1:3-11


Sabtu. BEBAN DOA RASUL PAULUS (2)

“…sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,” Filipi 1:10

Kota Filipi adalah kota yang sangat maju dalam perdagangan dan menjadi kota terpenting di Makedonia (baca Kisah 16:12) karena letaknya yang sangat strategis kala itu. Reruntuhan kota ini masih ada sampai sekarang yaitu terletak di daerah timur laut negara Yunani. Selain sebagai kota perdagangan kota Filipi juga dikenal sebagai kota penyembahan berhala. Hal itu bisa terlihat dari kepercayaan orang-orang Filipi yang mencari kekayaan melalui tenung (baca Kisah 16:16-19), dan mereka sangat anti terhadap Yudaisme, sehingga mereka pun menangkap Paulus dan Silas lalu menjebloskan keduanya ke penjara (baca Kisah 16:20-21). Di kota itu tidak ada rumah ibadah bagi orang Yahudi (sinagoga), melainkan hanya ada satu tempat sembahyang kecil, itu pun berada di luar pintu gerbang kota (baca Kisah 16:13).

Mengingat betapa besarnya pengaruh kekafiran atau penyembahan berhala di Filipi yang dapat mengguncang iman jemaat, maka rasul Paulus menjadikan itu sebagai pokok doa. Tak henti-hentinya ia berdoa agar mereka tetap kuat di dalam Tuhan. “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus,” (Filipi 1:27). Berpadanan dengan Injil artinya selaras atau sesuai dengan Injil, tidak menyimpang dari kebenaran. Pokok doa yang dimaksud adalah: supaya mere-ka hidup dalam kekudusan. Ada tertulis: “…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Kata kudus diterjemahkan dari kata sifat dalam bahasa Yunani yaitu hagios yang menunjuk pada pengertian pemisahan atau pemotongan. Orang percaya adalah orang-orang yang telah dipisahkan keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (baca 1 Petrus 2:9). Kita harus memiliki kemauan diri untuk secara terus-menerus dipisahkan dari kehidupan dosa, dan memberi diri hidup dalam kebenaran setiap hari; itulah sesungguhnya arti kekudusan.

Orang percaya dimampukan hidup dalam kekudusan karena Kristus telah menebus dosa-dosa kita, menempatkan kita dalam kekudusan melalui korban-Nya di kayu salib.

Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (baca Ibrani 12:14).

Baca: Filipi 1:3-11


Minggu. MENYEMBAH BERHALA: Menentang Tuhan

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya…” Roma 1:25

Tuhan tegas melarang umat ciptaan-Nya menyembah berhala atau membuat patung untuk disembah. “Janganlah kamu berpaling kepada berhala-berhala dan janganlah kamu membuat bagimu dewa tuangan; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 19:4).

Secara logika saja jelaslah bahwa berhala atau patung adalah buatan tangan manusia sendiri, mungkinkah ia dapat menolong dan menyelamatkan para pemujanya? Sungguh aneh bila orang menyembah berhala atau patung dan meminta pertolongan kepadanya. Lebih mengherankan lagi ada orang yang mengaku percaya dan mengenal Tuhan Yesus namun masih juga mencari pertolongan lain kepada berhala! Ini bukan isapan jempol belaka, tapi fakta: “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” (Roma 1:21-23).

Waspadalah terhadap segala berhala! Sebab Alkitab mencatat bahwa penyembah berhala tidak akan mendapat-kan tempat di dalam kerajaan Allah: “Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9b-10). Di dalam Wahyu 21:8 juga tertulis: “…orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” (Wahyu 21:8).

Di mata Tuhan menyembah berhala adalah dosa yang sangat mematikan, sebab Ia telah berfirman, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3).
Baca: Roma 1:18-32

MENJADI CIPTAAN BARU ADALAH PROSES

MENJADI CIPTAAN BARU ADALAH PROSES

Senin. MENJADI CIPTAAN BARU ADALAH PROSES

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Galatia 6:15

Kupu-kupu memang indah dan sangat menarik untuk dilihat mata, namun kita harus ingat bahwa untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik dan dapat terbang dengan penampilan begitu anggun dan disukai semua orang hewan itu sebelumnya harus melewati proses metamorfosa. Metamorfosa adalah proses perubahan dari ulat menjadi kupu-kupu yang membutuhkan waktu yang bisa dikatakan cukup lama dan panjang, namun sebenarnya sangat sederhana. Terdapat 4 tahapan proses dalam metamorfosa kupu-kupu ini, yaitu dimulai dari telur, kemudian menjadi ulat (larva), selanjutnya menjadi kepompong (pupa) dan terakhir barulah menjadi kupu-kupu.

Kehidupan Kristen yang sejati adalah kehidupan yang berproses: dari manusia ‘lama’ menjadi ciptaan ‘baru’ di dalam Kristus; yang dulunya hamba dosa, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:18), yang dulunya terpisah dari Allah, kini telah diperdamaikan dengan Allah, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.” (Efesus 2:13). Proses penciptaan kembali menjadi manusia baru adalah melalui karya penebusan darah Kristus. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).

Status kita adalah ciptaan baru, maka: 1. Jangan menyerahkan tubuh bagi dosa. “…hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa un-tuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Roma 6:12-13). 2. Tetaplah di dalam Tuhan. “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kolose 2:6). Kita harus melekat kepada Tuhan supaya semakin bertumbuh di dalam-Nya, sampai kita mencapai kedewasaan penuh di dalam Tuhan yaitu menjadi serupa dengan Kristus.

Menjadi ciptaan baru: tidak berkompromi dengan dosa dan tetap dalam Kristus.

Baca: Galatia 6:11-18


Selasa. BERKHIANAT TERHADAP TUHAN

“Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya;” Mazmur 78:56-57
Banyak orang beranggapan bahwa yang termasuk dalam kategori perbuatan jahat adalah mencuri, membunuh, merampok, memperkosa, menipu, menganiaya, korupsi dan seputarnya, sehingga jika orang tidak melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang disebutkan tadi, berarti mereka bukanlah golongan orang yang jahat.

Yang dimaksud perbuatan jahat adalah segala berbuatan yang tidak sejalan dan bertentangan dengan firman Tuhan, termasuk di dalamnya pengkhianatan yaitu berlaku tidak setia, memberontak dan tidak mengakui kebesaran kuasa Tuhan, lalu berpaling kepada ilah lain. Arti kata berkhianat adalah perbuatan tidak setia, tipu daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji. Berlaku khianat kepada sesama manusia saja sudah merupakan kejahatan, terlebih lagi kepada Tuhan. Bangsa Israel adalah contohnya. Umat Israel telah mengecap kebaikan Tuhan dan pertolongan-Nya tapi mereka selau memberontak kepada Tuhan, bahkan berpaling dari hadapan-Nya dan menyembah ilah lain (berhala-berhala), “Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian, mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar. Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka.” (Ulangan 32:16, 17, 21a).

Sudah diselamatkan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, dipulihkan ekonomi keluarganya, disembuhkan dari sakit-penyakitnya, namun ada banyak orang Kristen melupakan Tuhan begitu saja dan bahkan meninggalkan-Nya karena tergiur oleh harta, jabatan, popularitas, kemewahan dunia atau pasangan hidup… bukankah itu adalah sebuah pengkhianatan? Sadar atau tidak tindakan tersebut sangat menyakiti hati Tuhan dan jahat di hadapan-Nya.

“…semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat…” Mazmur 25:3

Baca: Mazmur 78:56-64


Rabu. BATIN YANG SELALU DIPERBAHARUI

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Menjadi tua, yang secara otomatis disertai dengan kemerosotan secara fisik (lahiriah), tak bisa dihindari oleh siapa pun, namun yang terpenting adalah bagaimana menjadi tua yang sehat, mandiri dan berkualitas, yaitu mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa. Demikian dikemukakan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui Wagub Paku Alam IX, pada puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional ke-16 Provinsi DIY, pada 29 Mei 2016 lalu.

Tak bisa disangkal oleh siapa pun bahwa tubuh jas-maniah manusia semakin hari semakin berkurang kekuatannya; semakin bertambah usia, manusia lahiriah semakin merosot. Ada orang-orang tertentu yang stres berat dan menjadi tawar hati karena takut menjadi tua se-hingga berbagai usaha dilakukan untuk memperlambat penuaan: melakukan operasi plastik atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Sebagai orang percaya tidak perlu kita takut menjadi tua, tetapi milikilah prinsip seperti rasul Paulus: meski manusia lahiriahnya merosot namun batin manusia batiniahnya dibaharui dari sehari ke sehari. Siapa yang memperbaharui manusia batiniah kita? Pembaharuan manusia batiniah adalah pekerjaan Roh Kudus karena Ia tinggal dan memenuhi hati setiap orang percaya. Alkitab menyatakan bahwa pembaharuan manusia batiniah terjadi “…karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,” (Titus 3:5b). Jelas dikatakan bahwa proses ‘kelahiran baru’ dan proses ‘pembaharuan batiniah’ dalam diri orang percaya dikerjakan oleh Oknum yang sama yaitu Roh Kudus. Rasul Paulus berdoa untuk jemaat di Efesus, “…supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,” (Efesus 3:16).

Dalam kekristenan tidak ada istilah berhenti berproses, “…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan ke-penuhan Kristus,” (Efesus 4:13). Persekutuan yang karib dengan Roh Kudus setiap hari akan membuat manusia batiniah kita semakin hari semakin diperbaharui.
“…perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” Mazmur 51:12

Baca: 2 Korintus 4:16-18


Kamis. PENYERTAAN TUHAN: Kunci Keberhasilan (1)

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” Kejadian 39:2

Penyertaan-Mu Tuhan segalanya bagiku… Hadir-Mu di hidupku terutama bagiku… Ini adalah penggalan lagu “Penyertaan-Mu” yang dinyanyikan Kamasean, yang mengingatkan kita betapa pentingnya penyertaan dan kehadiran Tuhan dalam hidup orang percaya! Tak bisa dibayangkan apa jadinya hidup kita ini tanpa Tuhan yang menyertai dan menuntun langkah-langkah kita.

Yusuf adalah contoh orang yang mengalami penyertaan Tuhan di sepanjang hidupnya. Zaman dahulu bila orang dijual kepada pihak lain untuk dijadikan budak, bisa dipastikan nasib buruklah yang akan menimpa hidupnya, karena si tuan yang membeli budak itu akan berlaku semena-mena. Yusuf pun demikian, harus melewati masa-masa sulit karena statusnya sebagai budak. Tetapi semua yang baliknya ia dibuat selalu berhasil dalam apa yang dikerjakannya karena Tuhan menyertainya. “Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.” (ayat 3-4). Penyertaan Tuhan atas diri Yusuf benar-benar nyata, sama seperti janji Tuhan terhadap Yakub, ayahnya: “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” (Kejadian 28:15).

Namun sebelum semua ini dapat dinikmati, Yusuf harus terlebih dahulu mengalami proses ‘peremukan’ dari Tuhan melalui tekanan demi tekanan, masalah demi masalah yang serasa tiada berujung, juga melalui orang-orang di seki-tarnya; saat itulah karakter Yusuf dibentuk. Sakit secara daging, tapi merupakan bagian dari rencana Tuhan.

“Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.” Ayub 5:18

Baca: Kejadian 39:1-23


Jumat. PENYERTAAN TUHAN: Kunci Keberhasilan (2)

“Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Kejadian 39:9b

Saat berada di rumah Potifar kualitas iman Yusuf benar-benar diuji melalui isteri Potifar yang dipakai Iblis untuk mengincar dan merayunya untuk melakukan perbuatan cemar. Saat itu Yusuf benar-benar seperti makan buah simalakama. Di satu pihak isteri potifar adalah majikannya, dan tugas budak adalah melayani tuannya… kalau membantah pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung; di sisi lain Yusuf takut akan Tuhan, dan seandainya ia lebih menuruti nafsu bejat isteri Potifar, tamatlah riwayat hidup-nya. Ternyata keteguhan iman Yusuf membawanya keluar dari ujian berat ini. Ia sama sekali tidak mau berkompromi dengan dosa sedikit pun, tidak mau mencemarkan tubuhnya dengan hal-hal najis, padahal saat itu usia Yusuf masih sangat muda, usia yang penuh gejolak dan sangat rentan dengan berbagai macam godaan.

Ketegasan Yusuf untuk tidak berlaku cela di hadapan Tuhan didemonstrasikan ketika menolak tawaran isteri Potifar yang mencoba menjeratnya: “‘Marilah tidur dengan aku.’ Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.” (ayat 12). Ini menunjukkan bahwa Yusuf lebih memilih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Ada tertulis: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Matius 10:28). Namun karena mempertahankan kesucian hidupnya Yusuf harus mengalami fitnahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Dalam kondisi seprti ini sesungguhnya ia punya alasan memberontak kepada Tuhan dengan berkata, “Sia-sia sama sekali aku memper-tahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (Mazmur 73:13-14). Tetapi tidak ada keluhan sepatah kata pun keluar dari pemuda ini karena ia sangat percaya bahwa “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” (Mazmur 34:16).

Saudara mengalami hal-hal serupa? Percayalah kita tak pernah ditinggalkan-Nya!  Ada harga yang harus dibayar untuk memiliki hati yang takut akan Tuhan!

Baca: Kejadian 39:1-23


Sabtu. PENYERTAAN TUHAN: Kunci Keberhasilan (3)

“…karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.” Kejadian 39:23

Mempertahankan hidup benar di hadapan Tuhan malah mengantarkan Yusuf ke penjara! Mungkin secara manusia itu tidak adil! Tetapi jika hal itu Tuhan ijinkan pasti ada rencana-Nya yang indah, karena kokohnya jeruji besi takkan sanggup memisahkan dan membatasi kasih dan kuasa Tuhan bekerja. “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.” (ayat 21). Penyertaan Tuhan inilah yang menjadikan segala sesuatunya mungkin, karena tidak ada perkara mustahil bagi-Nya. “Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengu-rusnya.” (ayat 22).

Yang terutama harus kita lakukan ketika mengalami pros-es adalah berserah penuh kepada Tuhan. Seberat apa pun keadaannya tetaplah mengerjakan bagian kita yaitu hidup benar di hadapan Tuhan, seperti yang dilakukan Yusuf. Tetapi bila kita tak mengerti maksud Ilahi ini tentu kita akan keliru menilai bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil. Di tengah ma-salah yang mendera kita pun berpikir Tuhan telah melupakan dan meninggalkan kita begitu saja sehingga seolah-olah masalah datang secara bertubi-tubi. Marilah kita juga belajar mengerti apa kehendak Tuhan. Biarlah Tuhan sendiri yang menilai apakah kita sudah cukup waktu dan siap dibawa ke dalam rencana-Nya yang indah.

Ketika proses itu dirasa Tuhan sudah cukup maka pening-gian pun datang dari-Nya. “Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kejadian 41:45b). Yusuf sadar bahwa untuk mengalami penggenapan janji-janji Tuhan ada proses yang harus dilewati yang tidak singkat dan sakit secara daging. Tak disangkanya bahwa kelaparan yang terjadi menyebabkan saudara-saudaranya dan ayahnya hidup di bawah kuasanya, persis seperti yang telah diimpikannya. Apa yang terjadi dalam kehidupan Yusuf sama sekali di luar pikiran manusia!
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3:11

Baca: Kejadian 39:1-23


Minggu. MELIHAT DENGAN MATA ROHANI

“Mata adalah pelita tubuh.” Matius 6:22a

Mata adalah indera untuk melihat. Mata dapat melihat jika ada cahaya, tanpa itu mata tidak bisa melihat. Mata jasma-ni hanya dapat melihat hal-hal yang sifatnya duniawi, yang hanya tertuju kepada urusan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan, “…demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20). Bila mata kita hanya tertuju kepada hal-hal yang demikian dan sepenuhnya dikuasai oleh keadaan atau situasi yang ada cepat atau lambat kita akan mengalami kebutaan rohani, sehingga kita tidak mau melihat apa yang menjadi kehendak Tuhan. “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:16). Dengan mata jasmani pula kita mudah sekali melihat kelemahan dan kekurangan orang lain, mengkritik atau menghakimi orang lain, karena kita merasa diri kitalah yang paling benar, paling hebat, paling pintar, yang harus dihormati dan dihargai orang lain. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluar-kan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.” (Matius 7:3-4).

Alkitab mengingatkan: “Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Matius 6:22-23). Dalam menjalani hidup ini orang percaya harus senantiasa mem-fungsikan mata rohaninya, yaitu hidup dengan tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi, artinya hidup karena percaya, bukan melihat. Dengan mata rohani inilah kita dapat melihat dengan penglihatan Ilahi: selalu ada ke-baikan di balik masalah atau penderitaan yang ada.
Mungkin saat ini kita masih dihadapkan pada situasi-situasi sulit, namun dengan mata rohani kita akan selalu dimampukan untuk selalu bersikap optimis, sebab kita percaya bahwa dalam segala perkara Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (baca Roma 8:28); dengan mata rohani, kita dimampukan untuk melihat kesempatan di setiap kesempitan.

Dengan mata rohani kita akan melihat perkara-perkara besar dari Tuhan!

Baca: Matius 6:22-23

KEMATIAN ROHANI ANAK MUDA (1)

KEMATIAN ROHANI ANAK MUDA (1)

Senin. KEMATIAN ROHANI ANAK MUDA (1)

“… ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.” Lukas 7:12

Perikop dari pembacaan firman Tuhan hari ini adalah Tuhan Yesus yang membangkitkan anak muda di Nain’. Alkisah ada seorang janda yang mempunyai seorang anak tunggal (laki-laki) meninggal dunia. Ketika anak muda yang mati itu diusung untuk dikuburkan banyak orang turut menyertai janda tersebut sebagai rasa simpati mendalam. Namun rasa simpati tersebut tidak cukup untuk menolong supaya anak muda yang mati itu hidup kembali. Di tengah perjalanan rombongan pengantar jenazah ini bertemu Tuhan Yesus. Melihat hal itu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, dan mujizat pun dinyatakan: anak muda yang mati itu dibangkitkan-Nya!]

Di zaman sekarang ini ada banyak keluarga yang mengalami persoalan sama, di mana anak-anak mereka mengalami kematian, tetapi bukan kematian secara fisik, melainkan kematian secara rohani. Apa buktinya? Banyak anak muda tidak lagi takut akan Tuhan, memberontak terhadap orangtua, dan terlibat dalam pergaulan yang sangat buruk. Ada tertulis: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). Iblis mengingini anak-anak muda mengalami kematian rohani, itulah sebabnya mereka selalu menjadi sasaran, incaran dan bidikan utama, sebab anak-anak muda adalah tiang dan juga tulang punggung suatu bangsa dan gereja. Jika tiang itu rapuh dan rusak bisa dibayangkan seperti apa keadaan bangsa atau gereja di masa depan.

Banyak kisah di Alkitab sebagai referensi: di zaman Musa, pemimpin Mesir (Firaun) memberikan perintah kepada seluruh rakyatnya: “Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup.” (Keluaran 1:22); di zaman Daniel, saat itu raja Nebukadnezar membantai semua orang muda, kecuali yang berkualitas dibawanya untuk menjadi tawanan di Babel; begitu pula pada zaman kelahiran Yesus, raja Herodes menyuruh membunuh semua anak (laki-laki) di Betlehem dan sekitarnya yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah (baca Matius 2:16-18). Roh Iblis menunggangi Firaun, Nebukadnezar dan juga Herodes untuk membunuh anak-anak di zaman itu!

Masa muda adalah masa yang paling rawan karena selalu menjadi incaran Iblis!
Baca: Lukas 7:11-17


Selasa. KEMATIAN ROHANI ANAK MUDA (2)

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12:1

Masalah anak muda adalah masalah yang sangat serius dan tidak bisa diabaikan begitu saja! Ini menjadi tanggung jawab para orangtua. Banyak orang tua sibuk dengan pekerjaan atau bisnis sehingga melalaikan tugas utamanya memerhatikan dan mendidik anak-anak. Kelalaian orangtua inilah yang menyebabkan anak-anak mati rohani, karakter dan perilaku mereka tak terkontrol, akhirnya menyimpang dari kebenaran firman Tuhan.

Apa yang harus dilakukan orangtua agar anak-anak tetap terjaga hidupnya dan tidak mengalami kematian rohani? “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9). Hal utama adalah mendidik dan mengajar anak-anaknya tentang firman Tuhan, menanamkan nilai-nilai kebenaran Injil sedari dini. Jika orangtua tidak segera mengambil tanggung jawab ini dan terus saja menunda-nunda waktu, akan sangat berbahaya, cepat atau lambat anak-anak akan menjadi sasaran empuk Iblis. Maka dari itu “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Dengan kata lain orangtua harus mendidik dan mengajar anak-anaknya menurut kehendak Tuhan! Contohnya melatih anak beribadah, sebab “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8). Orangtua juga tidak boleh mengekang dan membatasi kebebasan anak bertumbuh dan berkembang, dengan tujuan mereka menjadi dewasa dalam berpikir maupun bertindak, asal kebebasan tersebut diberi batasan.

Orangtua juga perlu menegur dan mendisiplin anak dengan keras, kalau perlu dengan tongkat, namun harus teguran yang bermuatan kasih, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24).
“Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,” Amsal 6:23

Baca: Pengkhotbah 12:1-8


Rabu. MILIKILAH CARA PIKIR YANG DEWASA

“Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, –karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa–,” 1 Petrus 4:1

Kedewasaan rohani seseorang tidak ditentukan dari faktor usia. Ada banyak yang masih muda tapi sudah dewasa rohaninya. Tetapi tidak sedikit orang yang sudah tua tapi tidak dewasa rohani alias masih kekanak-kanakan.

Kedewasaan berbicara tentang cara kita berpikir, mengambil keputusan, menyikapi masalah atau peristiwa yang terjadi, dan memperlakukan diri sendiri dan juga orang lain. Alkitab menyatakan bahwa pada saat Kristus datang kembali untuk yang ke-2 kalinya Ia akan datang sebagai pengantin laki-laki sorgawi yang akan menjemput mempelai wanita-Nya. Mempelai wanita ini berbicara mengenai gereja-Nya yang sudah dewasa, bukan kanak-kanak. Karena itu biarlah kita memiliki sikap seperti rasul Paulus ini: “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata sep-erti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku ber-pikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11). Contoh ketidakdewasaan adalah ketika sedang menghadapi penderitaan atau masalah seringkali kita mengeluh, bersungut-sungut, mengomel dan menya-lahkan Tuhan. Firman Tuhan hari ini memeringatkan, bah-wa ketika menghadapi penderitaan janganlah berpikir negatif dulu, tetapi kita harus mengubah cara berpikir kita bahwa penderitaan adalah cara Tuhan mendewasakan kita, sebagai batu loncatan untuk kita lebih dekat kepada Tuhan dan menjauh dari dosa. Penderitaan mengajar kita untuk lebih mengandalkan Tuhan dan tidak berpaut pada kekuatan diri sendiri,

Kedewasaan rohani seseorang bukan dilihat dari seberapa rajin ia berdoa, seberapa rajin beribadah atau ikut pelayanan, tetapi juga kesanggupannya menghadapi penderitaan sebagai proses dari Tuhan. Buang semua pikiran negatif yang ada, berhentilah mengeluh dan bersungut-sungut, tetaplah bertekun, sabar dan selalu tabah menjalani proses Tuhan.

“Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” 1 Korintus 14:20

Baca: 1 Petrus 4:1-6


Kamis. BERKAT BAGI YANG TAAT
“Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Amsal 10:22

Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya hidup kekurangan, Ia mau kita hidup kelimpahan (keberkatan), karena “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10b). Kelimpahan bukan semata-mata berorientasi uang (materi), namun mencakup segala aspek kehidupan ini.

Tak bisa dipungkiri banyak orang Kristen suka sekali dengan ayat nas di atas karena berbicara tentang berkat! Akan tetapi mereka seringkali mengartikan ayat ini sebagai alasan untuk tidak bekerja keras. Ayat ini dipakai sebagai pembenaran bahwa seseorang tidak perlu bekerja keras karena tidak akan ada pengaruhnya dengan kelimpahan, karena Tuhanlah yang memberikan kelimpahan tersebut sehingga tidak perlu bekerja keras, bahkan pemazmur mengatakan: “…

Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” (Mazmur 127:2). Padahal tidak seperti itu! Tejemahan bahasa Inggrisnya demikian: “The blessing of the LORD makes one rich, And He adds no sorrow with it.” Artinya berkat Tuhan membuat seseorang menjadi kaya, dan Dia tidak menambahinya dengan kesusahan. Kita benar-benar beroleh kesempatan menikmati kekayaan dari Tuhan tersebut. Banyak orang kaya tidak dapat menikmati kekayaannya: banyak masalah menimpa, sakit-penyakit, keluarga berantakan dan sebagainya.

Yang harus diperhatikan adalah ada bagian yang Tuhan kerjakan, tetapi ada pula yang menjadi bagian kita. Bagian Tuhan adalah memberkati kita, bagian kita adalah bekerja, menabur dan hidup seturut kehendak-Nya. Mungkinkah kita menuai berkat jika kita sendiri tidak mau bekerja atau bermalas-malasan? Kelimpahan (berkat) itu merupakan akibat dari suatu sebab. Berkat disediakan Tuhan bagi orang-orang yang mau taat kepada-Nya! “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi ba-gianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:” (Ulangan 28:1-2).

Kerjakan bagianmu, maka Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya!

Baca: Amsal 10:21-26


Jumat. DUNIA TAK MEMBERIKAN KETENTERAMAN

“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Mazmur 4:9

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya seputar bulan Juni 2016, ada berita yang sangat menggemparkan di negeri ini yaitu perihal vaksin palsu. Menurut kabar sedikitnya ada 197 bayi teridentifikasi mendapatkan suntikan vaksin palsu, dan akhirnya terungkap ada 14 rumah sakit yang tersebar di kawasan jabodetabek yang menggunakan vaksin palsu ini. Miris sekali mendengarnya! Hal ini menimbulkan ketidaktenteraman dalam diri semua orang, terlebih para orangtua yang anaknya telah menerima vaksin palsu tersebut. Padahal semua orang yang ada di dunia ini membutuhkan rasa tenteram dalam hidupnya.

Secara umum kata tenteram memiliki arti: aman, damai, tidak ada kekacauan, atau tenang. Ketenteraman sesungguhnya bukanlah suatu keadaan, melainkan suasana hati yang timbul sebagai dampak dari reaksi seseorang dalam menyikapi setiap keadaan atau situasi yang sedang terjadi. Karena itu rasul Paulus menasihati kita untuk selalu mengisi perbendaharaan hati dan pikiran dengan “…semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,” (Filipi 4:8). Selama kita mampu bersikap dan berpikir secara positif, sedahsyat apa pun badai dan gelombang menerjang hidup ini takkan mampu merampas rasa tenteram di dalam hati kita.

Di tengah dunia yang penuh goncangan dan tak menenteramkan ini biarlah mata kita tetap terarah kepada Tuhan! Ingatlah bahwa jika kita berseru kepada Tuhan Ia bukan hanya mendengar, tetapi juga akan menolong dan memberikan kelegaan. Sebagai orang percaya kita ini adalah umat pilihan Tuhan dan dikasihi-Nya (Mazmur 4:4), dan karena kasih-Nya Tuhan rela memberikan nyawa-Nya bagi kita. Adakah yang sanggup memisahkan orang-orang pilihan-Nya dari kasih Kristus? Oleh karena itu di segala situasi kita harus senantiasa mempersembahkan persembahan yang benar di hadapan Tuhan. Persembahan yang dimaksud bukan hanya berbicara tentang uang atau materi, tetapi juga mempersembahkan seluruh keberadaan hidup kita (baca Roma 12:1).

“Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.” Amsal 14:26

Baca: Mazmur 4:1-9


Sabtu. TUHAN BERTINDAK PADA WAKTU YANG TEPAT

“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,” Mazmur 18:26

Pemazmur menyatakan, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20). Masalah, penderitaan, tantangan dan pencobaan bisa datang sewaktu-waktu dan dapat menimpa semua orang: orang fasik maupun orang benar. Perbedaannya: orang benar dalam kemalangan tidak ditinggalkan Tuhan.

Ketika pencobaan terasa berat terkadang kita merasa tidak sanggup lagi menanggungnya dan ingin menyerah saja. “Pertarungan adalah milik orang-orang yang gigih, karena itu jangan biarkan keadaan mengalahkanmu.” (William V. Crouch). Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita menyerah dan putus asa, berpeganglah pada janji Tuhan bahwa dalam segala keadaan, asal kita hidup berkenan kepaada-Nya, pasti ada pembelaan dan penyertaan dari Tuhan. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah contohnya! Ketiga pemuda itu memilih tetap setia kepada Tuhan dan menolak menyembah berhala yang disembah raja Nebukadnezar sehingga menimbulkan amarah raja. Sebagai konsekuensinya mereka dimasukkan ke perapian yang dipanaskan tujuh kali lebih panas dari biasanya. “Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.” (Daniel 3:21). Apa yang terjadi? Binasakah mereka? Raja sangat terkejut ketika dilihatnya mereka bertiga berjalan-jalan dengan bebas dan ada hal yang lebih mengejutkan lagi: “‘Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?’ Jawab mereka kepada raja: ‘Benar, ya raja!’ Katanya: ‘Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!'” (Daniel 3:24-25).

Janji firman-Nya adalah ya dan amin! Tuhan tak pernah meninggalkan orang-orang yang setia kepada-Nya, dan pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya. Untuk dapat keluar dari api pencobaan dengan kemenangan kita harus mempu-nyai kesetiaan yang teguh kepada Tuhan di segala situasi seperti mereka.

Sanggupkah kita tetap menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan meski belum mengalami pertolongan yang kita harapkan?

Baca: Mazmur 18:21-30


Minggu. KETAKUTAN YANG SUCI

“Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya;” Mazmur 19:10

Banyak orang Kristen mengaku memiliki hati yang takut akan Tuhan, tetapi fakta seringkali menunjukkan mereka tidak takut akan Tuhan.
Apa contohnya?

1. Ibadah. Mereka suka sekali datang terlambat di setiap ibadah. Keterlambatan mungkin masih bisa dimaklumi bila ada masalah di perjalanan, namun kalau setiap kali datang selalu terlambat dan sudah menjadi kebiasaan, itu patut dipertanyakan! Ada pula jemaat yang datang selalu terlambat tapi pulangnya selalu lebih cepat dari yang lain. “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.” (Pengkhotbah 4:17). Takut akan Tuhan harus benar-benar diwujudkan dalam tindakan konkret. “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28). Ibadah tanpa disertai rasa takut akan Tuhan adalah sia-sia, tak lebih dari sekedar kegiatan agamawi atau rutinitas.

2. Pujian. Pemazmur berkata, “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!” (Mazmur 150:6). Bukan pujian sebatas bibir saja, atau karena sudah hafal lirik dan suka iramanya, melainkan pujian yang lahir dari hati yang men-gasihi Tuhan. Sering terlihat di gereja ada orang-orang yang tidak sungguh-sungguh memuji Tuhan.

3. Firman. Alkitab adalah firman Tuhan, dan apa yang telah difirmankan-Nya tidak pernah kembali dengan sia-sia. Karena itu kita harus memertajam pendengaran kita untuk mendengar suara Tuhan melalui firman-Nya, sebab “…iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Ketika membaca atau mendengarkan firman mungkin seketika itu tidak ada dampak secara langsung yang kita rasakan, namun ibarat benih, suatu saat firman itu pasti akan bertumbuh dan membuat kita berakar semakin kuat di dalam Tuhan. Jangan seperti Eutikhus yang mengantuk saat mendengarkan firman (kisah 20:7-12).

Takut akan Tuhan berarti respek dan menghormati Tuhan, inilah yang mendatangkan hidup (baca Amsal 19:23).

Baca: Mazmur 19:1-15

MENGAKUI DOSA: Ada Kelepasan dan Kebahagiaan

MENGAKUI DOSA: Ada Kelepasan dan Kebahagiaan

Senin. MENGAKUI DOSA: Ada Kelepasan dan Kebahagiaan

“Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari;” Mazmur 32:3

Tidak ada penderitaan batin terberat dalam diri manusia selain ketika ia menyembunyikan kesalahan atau pelanggarannya dari hadapan Tuhan; tiada depresi yang lebih menekan daripada sakitnya rasa menyembunyikan dosa. Makan apa pun terasa tak enak, tidur pun tiada nyenyak, tiada ketenangan di dalamnya karena terus dikejar rasa bersalah atau bayangan dosanya. Tak ada obat yang dapat menyembuhkannya selain dirinya sendiri yang membereskannya, yaitu mau mengakuinya di hadapan Tuhan. “…tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Adalah sia-sia menyembunyikan dosa karena Tuhan Mahatahu!

Daud begitu tertekan siang dan malam karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, tulang-tulangnya menjadi lesu karena dihantui rasa bersalah, “sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas.” (Mazmur 32:4). Dosa yang disembunyikan dan tak diakui menyebabkan penderitaan tubuh dan batin. Karena derita batin yang tak tertahankan ini akhirnya Daud pun mengambil keputusan untuk berkata jujur di hadapan Tuhan: “Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: ‘Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.” (Mazmur 32:5) (Baca juga 1 Yohanes 1:9). Setelah itu legalah hati Daud dan hilanglah beban yang selama ini menindih hidupnya, karena setelah mengakui dosanya Tuhan pun mengampuni. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” (Mazmur 32:1).

Bersyukur kita punya Tuhan yang setia dan penuh kasih, yang rela mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Karena itu jangan pernah sia-siakan keselamatan yang telah kita terima!

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1:18
Baca: Mazmur 32:1-11


Selasa. AKIBAT MEREMEHKAN HAK KESULUNGAN (1)

“Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.” Kejadian 25:34b

Esau adalah saudara kembar Yakub, tetapi ia lahir terlebih da-hulu, karena itu Esau beroleh hak kesulungan. Karena tubuhnya berbulu ia dinamai Esau (ayat 25). Kemudian me-nyusullah Yakub yang ketika lahir memegang tumit Esau. Karena itu ia dinamai Yakub, yang berarti si penipu. Esau tumbuh menjadi orang yang pandai berburu dan menjadi kesayangan ayahnya yang suka makan daging buruan, sedangkan Yakub yang berkepribadian tenang lebih memilih tinggal di kemah dan menjadi kesayangan ibunya.

Sepulang berburu dengan rasa lelah dan lapar Esau melihat Yakub sedang memasak sup kacang merah. Berkatalah ia kepada Yakub, “Berikanlah kiranya aku menghirup sedi-kit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” (ayat 30). Dasar Yakub si penipu, ia menggunakan kesempatan emas ini untuk membujuk saudaranya itu: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu. Sahut Esau: ‘Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?'” (ayat 31-32). Tanpa memertimbangkan konsekuensi tindakannya, dengan mudahnya Esau menukarkan hak kesulungannya hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya (perutnya): masakan kacang merah. “Kata Yakub: ‘Bersumpahlah dahulu kepadaku.’ Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.” (ayat 33). Esau telah memandang rendah hak kesulungan yang dimilikinya dan begitu saja melepaskan hak tersebut, padahal hak kesulungan adalah hak khusus yang diberikan kepada anak laki-laki pertama, yang di dalamnya termasuk warisan yang bernilai dua kali lipat, menjadi ahli waris dan pemimpin keluarga. Sebagai anak sulung sebenarnya Esau berhak menjadi penerus Ishak (ayahnya) sebagai kepala keluarga dan mewarisi dua bagian tanah milik mereka, serta berkat dari Tuhan (ayat 31), namun ia telah kehilangan hak kesulungannya.

Dari kisah ini kita mendapat pengertian bahwa Yakub sangatlah menghargai hak kesulungan sampai-sampai ia menempuh segala cara, sekalipun harus menipu saudara kembarnya itu. Karena kesalahannya dalam membuat pilihan dan keputusan yang tanpa pertimbangan secara masak Esau harus mengalami kenyataan pahit di sepanjang perjalanan hidupnya karena ia telah kehilangan berkat yang seharusnya menjadi haknya. (Bersambung)

Baca: Kejadian 25:19-34


Rabu. AKIBAT MEREMEHKAN HAK KESULUNGAN (2)

“Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!’ Dan dengan suara keras menangislah Esau.” Kejadian 27:38

Esau tidak mengerti bahwa hak kesulungan merupakan janji Tuhan kepada seseorang. Orang yang meremehkan hak kesulungan telah meremehkan janji Tuhan. Akhirnya Yakublah yang berhak menerima berkat-berkat dari Tuhan, bukan karena ia lebih baik atau lebih istimewa dari Esau, tetapi karena Tuhan berkenan kepada orang yang sangat menghargai janji-janji-Nya.

Setelah Yakub menerima hak kesulungan itu terbukti hidupnya benar-benar mengalami berkat Tuhan. “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN. Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.” (Kejadian 27:27-29). Sesungguhnya semua peristiwa yang terjadi antara Esau dan Yakub bukanlah sebuah kebetulan, karena sebelum kedua anak itu lahir Tuhan sudah berfirman kepada Ribka (ibunya): “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” (Kejadian 25:23).

Ketidaksabaran menanti janji Tuhan seringkali menjadi penyebab kegagalan mengalami penggenapan janji Tuhan. Ketidaksabaran membuat orang berusaha mencari jalan keluar secara pintas seperti yang dilakukan Esau, hanya melihat dan mementingkan kenikmatan sesaat tanpa ber-pikir panjang. Banyak orang Kristen rela menukarkan keselamatan demi mengejar kenikmatan duniawi yang fana, seperti yang Esau lakukan. Penyesalan selalu datang ter-lambat, sayang sekali tak mampu mengubah keadaan! “‘Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.’ Lalu katanya: ‘Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?'” (Kejadian 27:36).
“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Ibrani 10:35

Baca: Kejadian 27:18-40


Kamis. TIADA KASIH SEPERTI KASIH TUHAN

“Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Yesaya 49:16

Kita sering mendengar dan melihat berita yang sangat memrihatinkan, semisal ibu kandung yang melupakan dan membuang bayi yang baru dilahirkannya, atau tega men-ganiaya anaknya sendiri, dan bahkan lebih keji lagi ada yang tega membunuh anaknya sendiri. Itulah dunia! Sampai kapan pun kita takkan menemukan kasih sejati di dunia ini, karena kasih manusia itu sangat terbatas dan seringkali disertai dengan tendensi, lebih-lebih di masa sekarang ini, jelas terlihat bahwa kasih kebanyakan orang sudah menjadi dingin. Tak terelakkan jika saat ini banyak orang yang mengalami luka batin karena mengalami krisis kasih: ditolak, disakiti, ditelantarkan, dikhianati dan sebagainya sehingga mereka pun berkata, “Tak ada gunanya aku hidup karena tidak ada orang yang mengasihiku!”

Sekalipun manusia dan orang-orang yang kita kasihi meninggalkan kita dan tidak lagi mengasihi kita namun ada satu pribadi yang mengasihi kita begitu rupa, yang kasihnya tak pernah berubah, tak lekang oleh waktu, yaitu Tuhan Yesus. Alkitab menyatakan, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yesaya 49:15); “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b). Bahkan, karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita, dilukiskannya kita di telapak tangan-Nya, sehingga Dia selalu ingat kepada kita. Besarlah manfaatnya untuk kita selalu mengingat kasih setia Tuhan sehingga kita dapat menjalani hidup kita setiap hari dengan tenang dan penuh keyakinan.

Berada di tengah-tengah dunia penuh gejolak, kejahatan, ketidakadilan dan penghianatan ini jangan membuat kita lemah, tapi biarlah kasih Tuhan terus memenuhi hati kita. Sadarilah kekristenan bukanlah bebas masalah; biarlah masalah ada, tetapi kita percaya Tuhan tidak akan membiarkan kita dan meninggalkan kita bergumul sendirian, Ia pasti menyediakan jalan keluar terbaik dan selalu tepat pada waktunya, “Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya.” (Mazmur 117:2).

Ingat kasih-Nya, ingat kebaikan-Nya, dan anugerah-Nya yang selamatkan kita!

Baca: Yesaya 49:8-26


Jumat. UCAPAN KITA MASA DEPAN

“Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” Amsal 13:3

Banyak orang tanpa sadar atau mungkin secara sengaja, suka sekali mengucapkan dan menggemakan kata-kata negatif, seperti: “Aduh sial…usahaku kok gagal terus!; anakku kok nakal sekali dan susah diatur; wah celaka…nasibku kok seperti ini terus…!” Orang tak menyadari bahwa apa yang diucapkan akan menjadi suatu kenyataan di kemudian hari.

Alkitab mengatakan: “‘Firman itu dekat kepadamu, yak-ni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.’ Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:8-9). Kalau kita senantiasa mengucapkan firman iman maka kita akan menuai hal-hal yang indah dan positif; kalau pengakuan kita positif tentang Kristus maka kita akan diselamatkan. Sebaliknya kalau kita tak bisa menahan mulut kita untuk memperkatakan hal-hal yang negatif kita akan mengalami kerugian besar. “…siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (ayat nas).

Dalam menangani umat Israel yang tegar tengkuk, selalu mengeluh, mengomel, bersungut-sungut dan tidak mau taat kepada Tuhan Musa pun bersikap tegas: “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan. Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,” (Ulangan 30:14-15). Kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecel-akaan dapat kita pilih dan kita tentukan sesuai dengan keinginan hati kita. Akan tetapi “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunan-mu,” (Ulangan 30:19b).

Adalah wajib bagi kita untuk menjaga ucapan atau perkataan kita setiap hari! Belajarlah dari Daud yang sangat berhati-hati dengan ucapannya sehingga ia berdoa “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibir-ku!” (Mazmur 141:3).
“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” 1 Petrus 3:10

Baca: Amsal 13:1-25


Sabtu. ESTER: Bersinar Laksana Bintang (1)

“…gadis itu elok perawakannya dan cantik parasnya. Ketika ibu bapanya mati, ia diangkat sebagai anak oleh Mordekhai.” Es-ter 2:7
Ester lahir dengan nama Ibrani Hadassah; nama Ester sendiri berasal dari bahasa Persia yang berarti star atau bintang.

Ester adalah yatim piatu keturunan Benyamin yang dirawat dan diangkat anak oleh Mordekhai: “Mordekhai itu pengasuh Hadasa, yakni Ester, anak saudara ayahnya, sebab anak itu tidak beribu bapa lagi;” (ayat 7a). Dari latar belakang keluar-ganya sesungguhnya Ester punya alasan kuat memiliki self pity (mengasihani diri sendiri) yang tinggi karena ia sebatang kara. Namun itu tidak dilakukannya. Ia pun tumbuh menjadi seorang gadis yang bukan hanya cantik secara fisik tetapi juga cantik hatinya. Semua tidak terlepas dari bimbingan dan didi-kan abang sepupunya yang tak pernah berhenti men-support-nya. Apa pun yang disuruhkan Mordekhai, tanpa keluh kesah, Ester taat melakukannya.

Ketika raja hendak mencari permaisuri sebagai ganti Wasti, Ester pun turut mengambil bagian, atas dukungan abang sepupunya itu. Singkat cerita, ketika mengikuti seleksi calon permaisuri Ester lolos, bahkan terpilih menjadi permaisuri raja. “…sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.” (ayat 17). Kunci keberhasilan Ester adalah, selain memiliki perawakan yang memang elok dan cantik, terutama sekali karena ia berkepribadian baik atau memiliki inner beauty. Itulah yang membedakan dan menjadi nilai ‘lebih’ dibandingkan wanita-wanita lain peserta kompetisi, sehingga hal itu menimbulkan rasa kagum dan sayang di mata Hegai, seorang sida-sida kepercayaan raja Ahasyweros yang ditugasi menjaga para wanita yang akan menjadi permaisuri raja (ayat 3). Sebelum diangkat menjadi permaisuri Ester pun harus melewati masa karantina layaknya pemilihan putri-putrian ma-sa kini, bahkan prosesnya tidak singkat, yaitu 12 bulan (ayat 12).

Seringkali ketika dihadapkan pada suatu proses banyak dari kita cenderung berontak, tidak tahan dan lari, padahal melalui proses ini kita sedang dibentuk dan dipersiapkan Tu-han menuju kepada rencana-Nya yang indah. Proses itu me-mang sakit, tapi mendatangkan kebaikan bagi kita!

Karena memiliki kualitas hidup yang baik Ester terpilih menjadi permaisuri raja!

Baca: Ester 2:1-18


Minggu. ESTER: Bersinar Laksana Bintang (2)

“Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.” Ester 4:17

Ada banyak orang ketika sudah menjadi orang yang ber-hasil dan ‘besar’ berubah menjadi orang yang sombong dan lupa dengan asal-usulnya, seperti pepatah Jawa yang mengatakan ‘kacang ninggal lanjarane’. Tetapi hal itu tidak terjadi pada Ester!

Meski sudah menjadi permaisuri raja dan tinggal di istana dengan fasilitas mewah bukan berarti berubah pula sifat dan karakternya, ia tetaplah orang yang rendah hati dan memiliki kepedulian terhadap orang lain. Terbukti ketika Mordekhai menghadapi masalah berat yang disebabkan ketidaksenangan Haman (karena Mordekhai adalah orang Yahudi), tidak mau memberi hormat kepada dirinya, bahkan Haman berusaha menghabisi seluruh orang Yahudi, Ester tidak tinggal diam. Ia mengajak orang-orang Yahudi ber-puasa dan merendahkan diri di hadapan Tuhan selama tiga hari tiga malam, tidak makan tidak minum. Apa yang diperbuat Ester adalah wujud kepedulian terhadap nasib bang-sanya. Tindakan Ester memohon belas kasihan Tuhan dengan mengajak orang-orang sebangsanya ini adalah sebuah tindakan iman. Pada hari ke-3 ia memberanikan diri menghadap sang raja, padahal tidak sembarang orang diperbolehkan menghadap, kecuali raja berkenan memanggilnya.

Ester rela mempertaruhkan nyawanya untuk menghadap raja Ahasyweros, dan upaya ini akhirnya membuahkan hasil! Melalui kehidupan Ester ini Tuhan hendak mendemonstrasi-kan kedaulatan dan kasih-Nya yang besar kepada umat-Nya. Untuk menggenapi rencana-Nya ini Tuhan dapat bekerja dengan berbagai cara, bahkan ia sanggup memakai siapa pun; dalam hal ini Tuhan memilih Ester yang dipandang sebelah mata oleh sesamanya dan dianggap tidak punya masa depan karena ia adalah yatim piatu, tetapi beroleh peninggian dari Tuhan dan justru dipakai-Nya untuk men-jadi penyelamat bagi bangsanya.

Kita juga bisa belajar dari sikap Ester yang senantiasa melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya sebelum melakukan segala sesuatu!
“Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.” Mazmur 75:7-8

Baca: Ester 4:1-17

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Tertib

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Tertib

SENIN

ORANG PERCAYA: Harus Hidup Tertib

“Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.” 2 Tesalonika 3:11

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai tulisan ‘tata tertib’, entah itu di kantor, sekolah, kampus, pabrik atau di tempat-tempat umum. Tata Tertib bukanlah untuk dilanggar namun untuk ditaati supaya tercipta sebuah ketertiban.

Begitu pula dalam kehidupan rohani. Tuhan telah mengatur kehidupan manusia di Alkitab. Dengan kata lain ketertiban dalam hidup adalah syarat mutlak untuk kita menjalankan firman Tuhan. Sekalipun orang mengetahui seluruh isi Alkitab, hafal ayat-ayat di Alkitab, tapi bila dalam kehidupan nyata mereka menjalankan hidup secara tidak tertib semuanya akan sia-sia. Tanpa ketertiban kita tidak akan pernah mencapai goal!

Dikatakan bahwa “…Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.” (ayat 3). Sekalipun Tuhan adalah setia tapi bila dari pihak kita sendiri tidak mengerjakan bagian kita yaitu hidup secara tertib, maka cepat atau lambat rumah rohani kita pasti akan rubuh. Bukan tugas Tuhan untuk memelihara rumah rohani kita, namun kita sendiri yang harus mengusahakan begitu rupa: “Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak.” (1 Korintus 3:12-13).

Ada banyak orang Kristen yang tidak tertib hidupnya! Contoh: seringkali meninggalkan jam-jam peribadatan, padahal Alkitab menyatakan: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25); Menyediakan waktu selama berjam-jam untuk menonton televisi kita bisa, tetapi berdoa untuk beberapa menit saja kita malas melakukannya, kita juga malas baca Alkitab, dan selalu punya alasan atau dalih untuk menghindarkan diri dari pelayanan. Ada tertulis: “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” (Pengkhotbah 10:18).

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

2 Timotius 1:7

Baca: 2 Tesalonika 3:1-15


SELASA

PEMERINTAH SEBAGAI WAKIL TUHAN

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13:1

Orang Kristen sejati adalah orang yang benar-benar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, menjadi pelaku firman. Salah satu wujud nyata kita terhadap kehendak Tuhan adalah taat kepada pemerintah.

Mengapa kita harus taat kepada pemerintah? Sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Tuhan (ayat nas). Tuhan menetapkan pemerintah-pemerintah di atas muka bumi ini dengan maksud agar manusia hidup secara tertib dan teratur. Dengan kata lain pemerintah adalah wakil Tuhan di bumi. Jadi tujuan utama Tuhan mendirikan pemerintah-pemerintah sesungguhnya adalah demi kepentingan manusia itu sendiri. Maka dari itu Tuhan tidak menghendaki umat-Nya menentang, memusuhi atau melawan pemerintah yang sedang berotoritas, sebab “…barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.” (ayat 2).

Kita tidak perlu takut kepada pemerintah asal kita hidup sesuai aturan-aturan yang ada, melakukan hal-hal yang baik, “Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat.” (ayat 3a). Perhatikan firman Tuhan ini! “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” (ayat 5). Apa maksudnya?

Seringkali suara hati kita sudah memeringatkan bahwa apa yang kita perbuat adalah sebuah pelanggaran terhadap Tuhan atau pemerintah, namun kita tetap saja melakukannya. Ini pertanda kita tidak takluk kepada suara hati kita. Jika suara hati mengatakan sesuatu dan kita melakukannya, artinya kita takluk kepada suara hati kita. Suara hati yang dipimpin oleh Roh Kudus pasti akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya jika orang cenderung melakukan hal-hal yang jahat seperti korupsi, tidak taat membayar pajak, menyuap atau menerima suap, mencuri aliran listrik/air dan sebagainya, bisa ditebak sendiri bahwa hati orang itu tidak dipimpin oleh Roh Kudus, melainkan dipimpin oleh roh jahat.

Taat kepada pemerintahan berarti kita menghormati ketetapan Tuhan!

Baca: Roma 13:1-7


RABU

BUKAN UNTUK PERSAINGAN DAN PERSETERUAN

“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” 1 Korintus 12:7
Seperti telah diketahui kita ini hidup dalam zaman Roh Kudus, di mana Roh Kudus bekerja dengan ajaib untuk menggenapi rencana Bapa.
Rasul Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kisah 2:38). Alkitab menyatakan: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.

Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” (1 Korintus 12:4-7). Inilah yang kurang dimengerti orang Kristen mengapa dan untuk tujuan apa Tuhan memberikan karunia yang berlainan kepada tiap-tiap orang percaya. Yang pasti “…tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (ayat nas). Roh Kudus dicurahkan dan karunia-karunia-Nya diberikan supaya semua anggota dari segala suku bangsa dan denominasi diikat dalam kasih Kristus dan menyatakan kesatuan Tuhan Kristus. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (1 Korintus 12:27).

Setiap individu bertanggung jawab atas karunia Roh yang Tuhan berikan. Setiap pribadi penting dalam tubuh Kristus, oleh karenanya kita saling membutuhkan dan bersatu padu mengerjakan kehendak Tuhan. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10). Kita diciptakan Allah di dalam Yesus Kristus untuk satu tujuan: melakukan perbuatan baik, bukan bersaing secara tidak sehat, berseteru, saling menjatuhkan. Dalam tubuh Kristus terdapat berbagai suku bangsa tapi oleh darah Kristus kita sudah dipersatukan dalam satu keluarga Kerajaan Sorga. Tuhan memberikan tiap-tiap pribadi karunia yang tidak sama, tapi semuanya bagian tubuh Kristus yang harus saling menghormati dan melengkapi. Janganlah saling memegahkan diri, sebab semuanya adalah anugerah Tuhan.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 1 Petrus 4:10

Baca: 1 Korintus 12:1-11


RABU

BUKAN UNTUK PERSAINGAN DAN PERSETERUAN

“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” 1 Korintus 12:7

Seperti telah diketahui kita ini hidup dalam zaman Roh Kudus, di mana Roh Kudus bekerja dengan ajaib untuk menggenapi rencana Bapa.
Rasul Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kisah 2:38). Alkitab menyatakan: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” (1 Korintus 12:4-7).

Inilah yang kurang dimengerti orang Kristen mengapa dan untuk tujuan apa Tuhan memberikan karunia yang berlainan kepada tiap-tiap orang percaya. Yang pasti “…tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (ayat nas). Roh Kudus dicurahkan dan karunia-karunia-Nya diberikan supaya semua anggota dari segala suku bangsa dan denominasi diikat dalam kasih Kristus dan menyatakan kesatuan Tuhan Kristus. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (1 Korintus 12:27).

Setiap individu bertanggung jawab atas karunia Roh yang Tuhan berikan. Setiap pribadi penting dalam tubuh Kristus, oleh karenanya kita saling membutuhkan dan bersatu padu mengerjakan kehendak Tuhan. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10). Kita diciptakan Allah di dalam Yesus Kristus untuk satu tujuan: melakukan perbuatan baik, bukan bersaing secara tidak sehat, berseteru, saling menjatuhkan. Dalam tubuh Kristus terdapat berbagai suku bangsa tapi oleh darah Kristus kita sudah dipersatukan dalam satu keluarga Kerajaan Sorga. Tuhan memberikan tiap-tiap pribadi karunia yang tidak sama, tapi semuanya bagian tubuh Kristus yang harus saling menghormati dan melengkapi. Janganlah saling memegahkan diri, sebab semuanya adalah anugerah Tuhan.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 1 Petrus 4:10

Baca: 1 Korintus 12:1-11


KAMIS

MENGIMANI DAN MEMERKATAKAN FIRMAN

“Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12:3

Banyak orang Kristen ingin memiliki iman seperti tokoh-tokoh besar dalam Alkitab seperti Abraham, Elia dan sebagainya supaya ia dapat menerima janji berkat yang Tuhan sampaikan di dalam firman-Nya, atau agar dapat melakukan perkara-perkara yang besar.

Kita tak perlu meminta iman dengan berdoa sebab Tu-han telah mengaruniakan iman kepada setiap orang percaya dengan ukuran yang dikaruniakan kepada kita masing-masing. Tuhan telah mengaruniakan iman yang dapat menciptakan apa yang kita minta dengan iman, tapi tentunya permintaan kita harus sejalan dengan firman Tuhan dan sesuai kehendak-Nya, dan yang sangat penting untuk diperhatikan adalah perkataan Tuhan Yesus ini: “Percayalah kepada Allah!” (Markus 11:22). Kunci mendapatkan apa yang kita harapkan adalah percaya kepada Tuhan. Intinya memiliki iman yang aktif, bukan iman mati, sehingga iman itu dapat bekerja secara luar biasa menyampakkan gunung-gunung persoalan, gunung-gunung penyakit, gunung-gunung krisis dan sebagainya seperti yang Tuhan Yesus katakan, “Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” (Markus 11:23). Selain percaya, memerkatakan hal-hal yang kita yakini juga memegang peranan sangat penting untuk menerima berkat yang kita harapkan dari Tuhan, sebab memerkatakan adalah bagian dari pengakuan iman kita. Di dalam Ibrani 4:14 tertulis, “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.”

Untuk mendapatkan apa yang kita harapkan kita harus percaya kepada Tuhan sepenuhnya dan memerkatakannya sebagai wujud pengakuan iman, sehingga perkara-perkara yang heran dan ajaib pasti Tuhan nyatakan dalam hidup kita.

“Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”
2 Korintus 4:13

Baca: Roma 12:1-8


JUMAT

TIDAK MAU MENJADI KAWAN SEKERJA

“Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” 1 Korintus 3:9

Walaupun Tuhan dapat melakukan segala perkara namun ada hal-hal tertentu yang harus Ia kerjakan dengan melibatkan kita sebagai kawan sekerja-Nya untuk menggenapi rencana-Nya di atas bumi ini.

Untuk itulah Tuhan memercayakan tanggung jawab sep-erti dalam perumpamaan tentang talenta. “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mem-percayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.” (Matius 25:14-15).

1 talenta adalah ukuran timbangan sebesar 3000 syikal atau seberat 34 kg (1 talenta emas = 34 kg emas). 1 talenta = 6000 dinar. Meski demikian Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk taat, Ia memberikan kehendak bebas (free will) di mana keputusan ada pada kita masing-masing, apakah mau menjadi kawan sekerja-Nya atau tidak; dan banyak orang Kristen memilih mangkir dari tanggung jawab yang Tuhan percayakan, menolak menjadi rekan kerja-Nya karena malas dan tidak taat. Tidak heran jika rohani mereka tidak tumbuh dengan benar, tetapi kerdil rohani alias Kristen kanak-kanak. Mereka sudah lahir baru tapi kekristenannya macet di tengah jalan karena tidak mau membayar harga dan bersikap pasif, doing nothing. Biasanya orang semacam ini hanya akan menyalahkan Tuhan seperti yang diperbuat oleh hamba penerima 1 talenta: “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!” (Matius 25:24-25). Hamba yang tidak setia itu pun harus menuai aki-bat kemalasannya.

Jangan pernah sia-siakan apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita dan jadilah kawan sekerja-Nya yang setia!

“Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.”
Matius 25:28

Baca: 1 Korintus 3:1-9


SABTU

SEMAKIN DIHITUNG SEMAKIN KUATIR

“Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Yohanes 6:7
Masalah pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seringkali menjadi faktor penyebab banyak orang mengalami kekuatiran. Mereka berkata, “Uang segini mana cukup untuk makan sebulan? Bagaimana bisa membayar uang sekolah anak dan kontrakan jika penghasilan tetap pas-pasan?”

Dalam kesesakan yang kita hadapi ini sesungguhnya Tuhan Yesus tidak pernah menutup mata, Ia tahu apa yang dibutuhkan dalam hidup ini. Ia tahu apa yang harus diperbuat-Nya untuk menolong kita. Adakalanya kita dibiarkan dalam keadaan terdesak karena Tuhan ingin tahu reaksi kita, seperti pertanyaan yang Ia ajukan kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan? Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.” (ayat 5-6). Filipus adalah murid Tuhan yang setiap harinya ada bersama-sama dengan Sang Guru, dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Ia melakukan banyak mujizat, tetapi begitu dihadapkan pada fakta yang mengimpit ia lupa begitu saja dengan mujizat yang Guru kerjakan: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (ayat nas). Lalu muncul informasi dari murid-Nya yang lain: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (ayat 9).

Seringkali pandangan kita terpaku kepada lima roti dan dua ikan yang jumlahnya sangat sedikit, dan lupa memandang Tuhan Yesus, sumber mujizat. Semakin kita hitung-hitung apa yang ada pada kita semakin kita kuatir dan kita semakin menggunakan akal pikiran kita untuk menutupi kebutuhan. Kalau saja kita ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahadahsyat dengan segala perbuatan-Nya tentulah kita tidak akan pernah merasa kuatir. Jika Tuhan ingin membuat mujizat kecil Ia akan menempatkan kita pada situasi sulit, dan apabila Tuhan hendak mengerjakan mujizat yang besar Ia akan menghadapkan kita pada situasi yang secara manusia itu mustahil.
Tidak ada perkara yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena itu percayakan hidup ini secara penuh kepada-Nya!

Baca: Yohanes 6:1-15


MINGGU

TAK BERAKAL BUDI

“kulihat di antara yang tak berpengalaman, kudapati di antara anak-anak muda seorang teruna yang tidak berakal budi,” Amsal 7:7

Dalam tulisannya ini Salomo sedang membahas tentang masalah yang dihadapi oleh anak-anak muda yang rentan dengan pengaruh negatif.
Ada seorang anak muda yang masih ‘hijau’ pengalaman terseret bujuk rayu perempuan tak bermoral. “Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan, dengan kelicinan bibir ia menggodanya. Maka tiba-tiba orang muda itu mengikuti dia seperti lembu yang dibawa ke pejagalan, dan seperti orang bodoh yang terbelenggu untuk dihukum, sampai anak panah menembus hatinya; seperti burung dengan cepat menuju perangkap, dengan tidak sadar, bahwa hidupnya terancam.” (ayat 21-23). Ayat ini menggambarkan betapa kuatnya pengaruh dosa menyeret kehidupan seseorang seperti yang dikatakan juga oleh Yakobus: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:14-15).

Anak-anak muda selalu menjadi sasaran utama Iblis, yang selalu mencari cara dan waktu yang tepat untuk memikat dan menyeret mereka dengan menawarkan segala bentuk kesenangan dan kenikmatan daging: free sex, narkoba, dugem dan sebagainya. Adapun waktu yang tepat adalah ketika orang sedang lengah karena tidak berakal budi. Firman Tuhan memeringatkan: “…jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,” (1 Petrus 1:14), karena itu “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).

Ada harga yang harus dibayar untuk kelengahan karena tidak berakal budi. Orang tidak menyadari bahwa di balik kemasan dosa yang begitu menarik dan menawan hati ada sebuah jebakan yang membinasakan. Tetapi kebinasaan itu hampir tak terlihat pada awalnya, karena itu orang tidak jera untuk terus berbuat dosa.

Berhati-hatilah! Selain membawa maut, dosa juga mengakibatkan hidup seseorang terpisah jauh dari Tuhan.
Hidup dalam persekutuan yang karib dengan Tuhan adalah kunci untuk meraih kemenangan melawan tipu muslihat Iblis!

Baca: Amsal 7:1-27

TUJUAN TUHAN DATANG KEMBALI KE DUNIA

TUJUAN TUHAN DATANG KEMBALI KE DUNIA

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” Markus 13:26

Kedatangan Kristus yang pertama ke dunia dalam wujud Anak Manusia, yang dikandung melalui Maria dan lahir di kandang Betlehem, adalah mengemban rencana Allah Bapa dalam rangka penyelamatan umat manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh
hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di sini.

ANAK ALLAH: Wajib Meniru Allah (2)

ANAK ALLAH: Wajib Meniru Allah (2)

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5:11

Dunia penuh perbuatan-perbuatan kegelapan. Karena status kita anak-anak Allah, bukan dari dunia ini, maka ada tanggung jawab yang kita emban yaitu menjadi terang bagi dunia yang gelap ini. 2. Hidup dalam terang. Menjadi terang berarti menunjukkan kualitas hidup yang benar-benar berbeda, “karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (ayat 9). Terang artinya dapat terlihat dan bukan tersembunyi, suatu kehidupan yang mampu menjadi berkat atau kesaksian, bukan menjadi batu sandungan. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Baca renungan harian minggu ini selengkapnya di link ini.

 

ENGGAN MELEPASKAN IKATAN!

ENGGAN MELEPASKAN IKATAN!

“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;” Kolose 1:13

Rasul Paulus memberikan penegasan bahwa Tuhan Yesus telah melepaskan kita dari segala ikatan dan belenggu melalui karya-Nya di kayu salib. Dengan demikian setiap orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya sudah tidak terbelenggu lagi, sebab “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Oleh kuasa firman Tuhan hidup kita telah diperbaharui dan dimerdekakan dari segala ikatan, seperti tertulis: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32). Merdeka berarti bebas dari perhambaan atau tidak terikat. Tuhan telah memerdekakan kita, berarti hidup kita tak lagi dibelenggu oleh apa pun juga. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:18).

Baca renungan harian selengkapnya di sini.