sambungan minggu lalu…
IV TUHAN MEMBENTUK KARAKTER MELALUI PROSES
Karakter biasanya tidak dibentuk di zona nyaman. Tuhan sering menggunakan keadaan yang tidak kita inginkan—masalah, tekanan, penderitaan, kegagalan, penolakan, kelemahan, bahkan pujian dan keberhasilan—untuk membentuk karakter kita.
“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin…”
Yeremia 17:10a
“Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”
Yohanes 15:2b
Melalui proses, Tuhan menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita, meluruskan motivasi, memperbaiki cara pandang, menanggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya, memperkuat iman, memperbesar kapasitas hati, dan mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar.
Karena itu, ketika menghadapi proses, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Belajarlah bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk di dalam saya melalui proses ini?”
V. KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI CARA KITA MERESPONI
Kita tidak selalu dapat mengontrol apa yang terjadi kepada kita, tetapi kita dapat belajar mengontrol bagaimana kita meresponsnya.
Ketika disakiti, kita belajar mengampuni. Ketika dikritik, kita belajar mendengar. Ketika kecewa, kita belajar tetap percaya. Ketika marah, kita belajar menguasai diri. Ketika berhasil, kita belajar tetap rendah hati. Ketika gagal, kita belajar bangkit dan bertumbuh.
Dewasa bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau terluka. Dewasa berarti kita tidak membiarkan emosi menentukan arah hidup kita. Kita membawa emosi, pikiran, dan keinginan kepada Tuhan dan belajar merespons sesuai dengan Firman-Nya.
VI. PENGUASAAN DIRI ADALAH TANDA KEKUATAN ROHANI
“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan; orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32
Dunia sering mengukur kekuatan dari kemampuan mengalahkan atau mengendalikan orang lain. Alkitab memberikan perspektif yang berbeda: kekuatan terbesar adalah kemampuan menguasai diri sendiri.
Medan perang terbesar sering kali bukan di luar diri kita, tetapi di dalam hati, pikiran, emosi, ego, dan keinginan daging.
Orang yang belum dewasa secara rohani mudah dikuasai emosi, tersinggung, menyalahkan orang lain, membalas ketika disakiti, ingin selalu membuktikan dirinya benar, sulit mendengarkan, mengikuti keinginan sesaat, atau mengambil keputusan secara impulsif.
Sebaliknya, orang yang dewasa secara rohani belajar tetap tenang di bawah tekanan, mendengarkan, menerima koreksi, mengakui kesalahan, mengampuni, menjaga perkataan, tidak gegabah mengambil keputusan, dan tetap setia sekalipun prosesnya sulit.
Pahlawan sejati bukan hanya orang yang mampu menaklukkan sesuatu di luar dirinya, tetapi orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.
VII. BAGAIMANA MEMBANGUN PENGUASAAN DIRI?
1. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus.
Serahkan pikiran, perasaan, keinginan, dan keputusan kepada tuntunan-Nya.
“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”
Galatia 5:16
2. Belajar berkata “tidak” kepada diri sendiri.
Tidak semua yang kita inginkan harus dilakukan. Tidak semua yang kita rasakan harus dikatakan. Tidak semua pikiran harus dipercayai, dan tidak semua kesempatan harus diambil.
3. Melatih diri melalui disiplin.
Puasa, menjaga perkataan, mengatur waktu, membatasi media sosial dan hiburan, mengendalikan pengeluaran, serta menyelesaikan tanggung jawab sebelum mencari kesenangan adalah latihan penguasaan diri.
4. Menaklukkan pikiran dengan Firman Tuhan.
Tidak semua pikiran yang muncul adalah kebenaran. Pikiran yang salah dan negatif harus ditolak dan digantikan dengan kebenaran Firman Tuhan.
Kedewasaan rohani berarti belajar membawa pikiran, perasaan, keinginan, perkataan, dan tindakan semakin tunduk kepada Kristus.
VIII. KASIH ADALAH BUKTI KARAKTER YANG DEWASA
Kita tidak dapat berbicara tentang karakter Kristus tanpa berbicara tentang kasih.
1 Korintus 13:4–7 menggambarkan kasih sebagai sesuatu yang sabar, murah hati, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak mudah marah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya mengasihi Tuhan?” tetapi juga, “Apakah orang-orang di sekitar saya dapat merasakan kasih Tuhan melalui karakter saya?”
Karakter Kristus bukan hanya sesuatu yang kita katakan. Karakter Kristus harus terlihat dan dirasakan melalui kehidupan kita. Ketika kita hidup dalam keintiman dengan Roh Kudus, Dia membentuk kita semakin serupa dengan Kristus.
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”
Galatia 5:22–23
Buah tidak muncul dalam satu malam. Demikian juga karakter Kristus dibentuk melalui proses, ketaatan, dan perjalanan kita bersama Tuhan.
PENUTUP
Dunia tidak kekurangan orang pintar, berbakat, berpengetahuan, atau memiliki kemampuan luar biasa. Namun, dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki karakter seperti Kristus: berintegritas, jujur, rendah hati, setia, dapat dipercaya, mampu menguasai diri, dan melayani dengan kasih.
Karunia diberikan untuk melayani, membangun tubuh Kristus, dan memuliakan Tuhan. Namun, karakter menentukan bagaimana kita menggunakan karunia tersebut. Karunia perlu disertai karakter yang dewasa agar pelayanan kita menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.
Karunia menunjukkan apa yang dapat kita lakukan.
Karakter menunjukkan siapa kita.
Kedewasaan rohani terlihat ketika karakter Kristus semakin nyata dalam kehidupan kita.
Karena itu, jangan hanya berdoa, “Tuhan, pakai saya.” Berdoalah juga, “Tuhan, bentuk saya.”
Jangan hanya meminta Tuhan memperbesar pelayanan kita. Mintalah Tuhan membentuk karakter kita. Sebab Tuhan bukan hanya mempersiapkan kita untuk melakukan sesuatu yang besar bagi-Nya; Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus.
“…sampai Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”
Galatia 4:19
Itulah kedewasaan rohani: bukan sekadar semakin banyak tahu, semakin banyak melayani, atau semakin banyak memiliki karunia, tetapi semakin banyak Kristus terlihat dalam diri kita.
KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER.