HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Home / Weekly Message / HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 2
HIKMAT DALAM HUBUNGAN DAN KEPUTUSAN

Review SESI 1
Di sesi 1 kita belajar bahwa hikmat memengaruhi cara kita hidup: bagaimana kita menggunakan waktu dan bagaimana kita berkata-kata.

Di sesi 2 kita akan melihat bagaimana hikmat memengaruhi: hubungan yang kita bangun dan keputusan yang kita ambil.

III. HIKMAT UNTUK MEMILIH DAN MEMBANGUN HUBUNGAN YANG SEHAT
Baca Yakobus 3:13

Yakobus mengajarkan bahwa hikmat sejati tidak terutama dibuktikan melalui kata-kata yang hebat, pengetahuan yang luas, atau kemampuan untuk mengalahkan lawan bicara. Hikmat dibuktikan melalui cara hidup yang baik dan perilaku yang lahir dari kelemahlembutan.

Ini sangat penting dalam hubungan. Kita dapat memiliki pengetahuan yang benar, tetapi memiliki sikap yang kasar. Kita dapat memiliki niat yang baik, tetapi kata-kata kita justru melukai.

Kita dapat merasa sedang menolong seseorang, tetapi cara kita memperlakukan orang tersebut justru membuat hubungan menjadi rusak.
Karena itu, hikmat Tuhan menghasilkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan bukan berarti lemah. Kelemahlembutan adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri.

Orang yang berhikmat belajar:
tidak cepat bereaksi,
tidak mudah tersinggung,
tidak selalu harus menang,
mau mendengar,
menghargai perbedaan,
mampu mengendalikan emosi,
berbicara dengan hormat,
memberikan ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.

Dalam memilih dan membangun hubungan, kita juga membutuhkan hikmat untuk mengenali:
Siapa yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita? Hubungan mana yang perlu kita bangun?
Hubungan mana yang perlu kita jaga batasnya? Bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang lain tanpa kehilangan prinsip kebenaran?

Setiap orang harus kita perlakukan dengan kasih dan hormat, terutama orang-orang terdekat kita.
Namun, kita juga perlu memahami: tidak semua orang harus menjadi orang terdekat kita.
Mengasihi seseorang tidak berarti kita harus memberikan akses yang sama kepada semua orang.
Ada hubungan yang perlu dibangun.
Ada hubungan yang perlu dipulihkan.
Ada hubungan yang perlu dijaga.
Dan ada hubungan yang membutuhkan batas yang sehat.

Hikmat menolong kita mengasihi tanpa kehilangan batas, dan menetapkan batas tanpa kehilangan kasih.

IV. HIKMAT UNTUK MENETAPKAN PRIORITAS YANG BENAR
Baca Amsal 3:5–6

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Salah satu bentuk hikmat terbesar adalah kemampuan untuk menentukan:
Apa yang harus didahulukan?
Tidak semua hal memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Tidak semua kesempatan harus kita ambil.
Tidak semua masalah harus kita selesaikan sendiri.
Tidak semua permintaan harus kita penuhi.

Belajar berkata “tidak” pada sesuatu yang bukan prioritas bukan berarti egois. Itu dapat menjadi bentuk hikmat. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk:
memahami,
menerima pewahyuan,
menilai,
membedakan,
menemukan,
memaknai,
dan mengambil kesimpulan dengan benar.

Hikmat membuat kita mampu melihat bukan hanya apa yang terlihat sekarang, tetapi juga apa akibatnya bagi masa depan.
Setiap keputusan yang kita ambil dapat memengaruhi: diri kita → keluarga kita → orang-orang di sekitar kita → bahkan generasi yang akan datang.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, tanyakan:
1. Apakah ini memuliakan Tuhan?
2. Apakah ini membawa manfaat?
3. Apakah ini menunjukkan kasih?
4. Apakah ini sesuai dengan prinsip firman Tuhan?
5. Apakah ini bernilai untuk kekekalan?

Kadang-kadang keputusan yang paling bijaksana bukanlah keputusan yang paling menguntungkan saat ini, tetapi keputusan yang paling benar di hadapan Tuhan.

REFLEKSI DAN DISKUSI SESI 2
Adakah hubungan dalam hidup saya yang membutuhkan kelemahlembutan, batas yang sehat, atau pemulihan?

Apakah saya memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menang dalam hubungan atau argumentasi?

Apa yang selama ini menjadi prioritas saya? Apakah prioritas tersebut benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan?
Keputusan apa yang sedang saya hadapi saat ini dan membutuhkan hikmat Tuhan?

Apakah ada sesuatu yang perlu saya katakan “tidak” supaya saya dapat mengatakan “ya” kepada
sesuatu yang lebih penting bagi Tuhan?

PENUTUP

Amsal 4:7 berkata: “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian.”

Hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan. Kita membaca dan merenungkan firman Tuhan sehingga memperoleh pengertian tentang kebenaran dan kehendak-Nya. Tetapi hikmat tidak berhenti pada pengetahuan. Hikmat adalah ketika kebenaran yang kita ketahui mulai mengubah cara kita hidup.

Kita dapat menyederhanakannya:
Pengetahuan rohani + Pengertian + Penerapan = Hikmat yang menghasilkan kehidupan yang benar.

Hikmat sejati bersumber dari Tuhan dan diberikan melalui Roh Kudus. Karena itu, bangunlah hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, kita belajar melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang kita rasakan atau pikirkan, tetapi dari perspektif Tuhan.

Hikmat akan menolong kita:
menggunakan waktu dengan bijaksana, berkata-kata dengan benar, membangun hubungan yang sehat, menetapkan batas yang benar, menentukan prioritas yang benar, dan mengambil keputusan yang membawa kita semakin dekat kepada tujuan Tuhan.

Pada akhirnya, hidup berhikmat bukan sekadar tentang membuat keputusan yang pintar.
Hidup berhikmat adalah:
belajar melihat seperti Tuhan melihat,
memilih seperti Tuhan menghendaki,
dan hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Iman membawa kita untuk percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan bersama Tuhan.
Dan ketika iman dan hikmat berjalan bersama, kita bukan hanya percaya kepada rencana Tuhan, tetapi juga belajar menjalani rencana Tuhan dengan benar.