Senin. ROH KUDUS MEMBERI KEKUATAN DAN KARUNIA
Baca: 1 Korintus 12:4-11
“Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” 1 Korintus 12:11
Ketika kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus maka Ia akan melimpahkan kekuatan kepada kita sehingga kita dimampukan untuk menghadapi segala sesuatunya. Walau harus dihadapkan pada tantangan, ujian, masalah dan penderitaan, rasul Paulus mampu melewatinya, bukan karena ia kuat, tapi “…kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:7-9). Inilah peranan Roh Kudus sebagai penolong dalam kehidupan orang percaya sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus sebelum ia naik ke sorga. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yohanes 14:16). Selama kita hidup dalam pimpinan Roh kudus berarti ada satu kuasa yang menyertai, menjaga dan melindungi kita.
Bukan hanya itu, semakin kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus semakin Ia akan memberikan kepada kita karunia-karunia rohani sebagai bekal untuk kita melayani pekerjaan Tuhan. Dengan demikian pekerjaan Tuhan itu berada di atas bahu semua orang percaya yang telah menerima karunia Roh Kudus: satu, dua atau lima talenta (baca: Matius 25:15). Artinya ada ‘kadar’ atau ‘ukuran’ anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita menurut ketentuan Tuhan sendiri. “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.” (Roma 12:6). Dan karunia apa yang diberikan kepada kita, itu juga tergantung dari kehendak Tuhan (ayat nas).
Rasul Paulus menasihati agar kita senantiasa mengobarkan karunia yang Tuhan beri (2 Timotius 1:6) dan memiliki roh yang menyala dalam melayani Tuhan (Roma 12:11). Alkitab menyatakan barangsiapa setia melayani Tuhan dengan kasih, mahkota kemuliaan telah disediakan Tuhan baginya (baca 1 Petrus 5:4).
Tanpa kekuatan dan kemampuan yang Roh Kudus beri, kita ini nothing!
Selasa. JIWA-JIWA: Berharga Di Mata Tuhan (1)
Baca: Lukas 15:1-7
“Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” Lukas 15:4
Perumpamaan tentang domba yang hilang yang kita baca ini juga memiliki kesamaan makna dengan perumpamaan-perumpamaan lain di pasal ini: tentang dirham yang hilang (Lukas 15:8-10), dan juga anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Kesemuanya ini menunjukkan betapa pentingnya ‘jiwa-jiwa’ bagi Tuhan!
Tuhan sangat mengasihi jiwa-jiwa, dan di pemandangan mata-Nya jiwa-jiwa itu sangat berharga: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (Yesaya 43:4). Tuhan tidak menghendaki satu jiwa pun terhilang dan mengalami kebinasaan kekal. “…Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Karena kasih-Nya Bapa mengutus Putera-Nya datang ke dunia dengan sebuah misi: “…Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10). Jika ada satu jiwa saja yang bertobat, “…ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7).
Dunia saat ini adalah dunia yang sangat ‘duniawi’, artinya dunia sedang dipenuhi segala hal yang bersifat kedagingan. Uang, harta, kekayaan, kemewahan, pangkat/kedudukan, popularitas, kepuasan seks dan sebagainya sedang dicari dan dikejar oleh banyak orang, karena semua itu dianggapnya sebagai sesuatu yang paling penting dan terutama dalam hidup ini. Perselingkuhan, seks bebas, narkoba, melakukan berbagai tindak kejahatan kini tidak lagi menjadi hal yang ditakutkan. Bahkan banyak orang sudah tidak lagi merasa sungkan atau malu untuk melakukannya. Bagi mereka yang penting adalah keinginan dagingnya terpuaskan! Mereka tidak lagi memikirkan keselamatan jiwanya. Apa gunanya orang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya atau jiwanya terhilang? (Bersambung)
Rabu. JIWA-JIWA: Berharga Di Mata Tuhan (2)
Baca: 1 Korintus 9:15-23
“Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.” 1 Korintus 9:23
Dengan segala tipu dayanya Iblis terus berjalan keliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (baca 1 Petrus 5:8), dengan menawarkan segala kenikmatan dan kemewahan dunia ini supaya manusia kian ter-lena dengan hal-hal yang duniawi, sehingga tujuannya untuk me-nyesatkan jiwa-jiwa tercapai. Melihat jiwa-jiwa yang terhilang dan sedang berjalan menuju kepada kebinasaan, akankah kita bersikap masa bodoh? Jika Tuhan begitu mengasihi dan mem-perdulikan jiwa-jiwa yang terhilang (orang berdosa), masakan kita tidak punya hati yang terbeban bagi mereka?
Kebanyakan orang tidak mengerti betapa pentingnya jiwa-jiwa bagi Tuhan, sehingga mereka bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika melihat Tuhan Ye-sus makan bersama-sama dengan orang berdosa (baca Lukas 15:2). Ketika ada jemaat Tuhan yang mulai undur dari persekutu-an, ketika melihat orang-orang di sekitar hidup dalam dosa, ban-yak dari kita termasuk para pelayan Tuhan justru bersikap acuh, dan tidak sedikit yang menghakimi. Kita tidak berbuat sesuatu agar mereka dapat kembali kepada Tuhan dan diselamatkan. Se-bagai orang-orang yang telah diselamatkan kita dipanggil untuk melakukan sebuah tugas yang mulia yaitu menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang.
Untuk bisa mengerjakan panggilan Tuhan ini kuncinya adalah ‘hati hamba’. Tanpa memiliki hati hamba tak mudah bagi orang untuk mengasihi jiwa-jiwa! Rasul Paulus merespons panggilan Tuhan untuk melayani jiwa-jiwa! Rasul Paulus merespons panggian Tuhan untuk melayani jiwa-jiwa dan menjadi hamba dari semua orang. “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” (1 Korintus 9:19), dan bertekad “…jika aku harus hidup di dunia ini, itu be-rarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22a). Salah satu buah yang dihasilkan adalah buah jiwa-jiwa! “…sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk me-layani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28), kita pun dipanggil untuk melaya-ni jiwa-jiwa!
Gembalakanlah kawanan domba, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela!
Kamis. DENDAM MEMBARA DI HATI (1)
Baca: Kejadian 27:41-46
“Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: ‘Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.'” Kejadian 27:41
Esau adalah anak sulung dari Ishak dan Ribka, yang ketika lahir seluruh tubuhnya berbulu seperti jubah dan berwarna merah (baca Kejadian 25:25). Ia pandai berburu dan kesenangannya tinggal di padang. Ishak sangat mengasihi Esau karena Ishak su-ka makan daging buruannya.
Keputusan Esau untuk menjual hak kesulungannya kepada Yakub (adiknya) adalah awal petaka baginya sebab ia harus ke-hilangan berkat sebagai anak sulung; peristiwa ini sekaligus menguatkan legitimasi Yakub sebagai tuan atas Esau. Karena telah menganggap remeh hal berharga yang seharusnya menjadi bagiannya, Esau harus menanggung akibatnya. Penyesalan pun tiada guna! Sejak saat itu “Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadan-ya,” (ayat nas). Kata dendam memiliki arti: berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Benih dendam Esau ini akhirnya mengakar sampai kepada keturunannya yang lebih dikenal sebagai orang-orang Edom. Begitu hebatnya dampak negatif dari sebuah akar pahit yang bahkan menurun sampai pada keturunan-keturunan berikutnya. Akhirnya Tu-han pun menjatuhkan hukuman atas mereka karena den-damnya yang kesumat dan perlakuan jahat mereka terhadap umat Israel. “Oleh karena Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka, oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH, Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan Edom dan melenyapkan dari padanya manusia dan binatang dan Aku membuatnya menjadi reruntuhan; dari Teman sampai Dedan mereka akan mati rebah oleh pedang.” (Yehezkiel 25:12-13).
Melalui kisah Esau dan keturunannya ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa dendam itu sangat berbahaya dan berdampak sangat buruk! Dendam hanya menimbulkan akar pahit dan dapat menghasilkan tindakan-tindakan jahat. Tuhan sangat membenci orang-orang yang memiliki dendam kesumat terhadap sesamanya! (Bersambung)
Jumat. DENDAM MEMBARA DI HATI (2)
Baca: Imamat 19:17-18
“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasi-hilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TU-HAN.” Imamat 19:18
Ketika disakiti, dijahati atau diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain naluriah kita cenderung untuk melakukan pembalasan atau menyimpan dendam di hati, yang sewaktu-waktu -ketika timing sudah tepat- akan dilampiaskan.
Sebagai orang percaya layakkah kita ‘memelihara’ den-dam? Mendendam adalah pelanggaran terhadap firman Tu-han. Dendam berarti menyimpan akar pahit, sakit hati dan juga kebencian terhadap orang lain! “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.” (Imamat 19:17). Orang yang mendendam pasti mem-iliki hati yang tidak bersih, biasanya pikirannya akan dipenuhi dengan rencana-rencana jahat. Semakin kita mendendam semakin kita dibawa kepada tindakan jahat lainnya. Ini sep-erti mata rantai yang saling terhubung antara perilaku buruk yang satu kepada perilaku buruk lainnya.
Memiliki dendam terhadap orang lain sama artinya belum bisa mengampuni kesalahan orang lain. Alkitab menegaskan bahwa jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka Bapa di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita (baca Matius 6:14-15); artinya dendam hanya akan menghalangi hubungan kita dengan Tuhan, termasuk menghalangi doa-doa kita. Daud berkata, “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” (Mazmur 66:18). Dendam tidak pernah mem-bawa kepada kebaikan, sebaliknya hanya akan membuat hidup menderita. Rasul Paulus menasihati, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13).
“…janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, fir-man Tuhan.” Roma 12:19
Sabtu. DUNIA PENUH DENGAN KEKERASAN (1)
Baca: Matius 26:47-56
“Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab ba-rangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Matius 26:52
Kalau kita perhatikan hari-hari ini dunia semakin hari semakin dipenuhi dengan kekerasan. Moral manusia semakin mengala-mi kemerosotan! Surat kabar dan juga televisi selalu memunculkan berita baru tentang tindak kejahatan atau berita-berita tentang kriminalitas setiap hari, mulai dari pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, pelecehan dan se-bagainya. Ada ibu tega menganiaya dan bahkan membunuh bayinya sendiri; karena rebutan warisan saudara kandung bisa saling membunuh; ayah tega memperkosa anak kandungnya; ada pula anak tega menjebloskan orangtuanya sendiri ke da-lam penjara karena silau dengan harta. Kekerasan telah men-jadi warna kelam kehidupan ini, dan tanpa terasa dunia telah berubah menjadi hutan rimba yang sangat menakutkan!
Di tengah dunia yang keras ini, di mana krisis kasih melan-da semua orang dan terjadi di mana-mana, orang percaya justru dituntut untuk memiliki kehidupan yang berbeda yaitu menyatakan kasih kepada sesama. Mengapa? Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10). “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yo-hanes 4:8). Jika dunia berprinsip bahwa kekerasan adalah so-lusi terbaik untuk setiap permasalahan, Alkitab justru mengajarkan prinsip yang berbeda. (Bersambung)
Minggu. DUNIA PENUH DENGAN KEKERASAN (2)
Baca: Yohanes 18:1-11
“Kata Yesus kepada Petrus: ‘Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?'” Yohanes 18:11
Untuk menang orang-orang dunia akan menggunakan segala cara, jika perlu dengan kekerasan disertai ancaman, men-jegal, menindas, bahkan ‘memangsa’ sesamanya, seperti istilah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) yang telah ada sejak tahun 195 SM, dice-tuskan oleh Plautus dalam karyanya berjudul “Asanaria”. Mereka juga berprinsip setiap kejahatan harus di balas dengan kejahatan yang setimpal, atau malah lebih kejam.
Tetapi firman Tuhan mengajarkan: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!… Janganlah kamu kalah terhadap keja-hatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan ke-baikan!” (Roma 12:17, 18, 20, 21). Karena itulah Yesus dengan tegas berkata kepada Petrus, “Sarungkan pedangmu itu;” (ayat nas). Teguran ini mungkin membuat Petrus kecewa. Ingin membela Tuhan Yesus tetapi justru ia dimarahi-Nya dan diperintahkan menyarungkan pedangnya; bermaksud membela Guru namun ia justru disalahkan, dan serasa dipermalukan di depan orang banyak. Pernyataan Tuhan Yesus ini menunjukkan bahwa Dia sangat anti kekera-san. Sampai kapan pun kekerasan tidak pernah me-nyelesaikan masalah, sebaliknya justru semakin memper-buruk masalah, berakibat hal-hal negatif, menciptakan pem-berontakan yang berujung malapetaka. “Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan mem-bawa dia di jalan yang tidak baik.” (Amsal 16:29). Tuhan Yesus sangat anti kekerasan, tetapi Dia adalah Tuhan yang sangat tegas tanpa kompromi.
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kasih. Meski dunia dipenuhi kejahatan dan kekerasan, orang percaya dituntut tetap mempraktekkan kasih, karena Tuhan tidak pernah mengajarkan kita melakukan pembalasan. Pembalasan adalah hak Tuhan (Roma 12:19).
“TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia mem-benci orang yang mencintai kekerasan.” Mazmur 11:5