“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7)
PENDAHULUAN
Setelah pada bulan Juni kita belajar Living with Purpose (Hidup dengan Tujuan Ilahi), kita menyadari bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan misi Allah. Namun, mengetahui tujuan hidup saja tidak cukup. Untuk menggenapi panggilan Tuhan, kita harus belajar berjalan dengan iman.
Firman Tuhan berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) Iman bukan sekadar semangat, optimisme, atau berpikir positif. Iman adalah keyakinan yang teguh kepada Allah dan kepada janji-janji-Nya yang tidak pernah gagal.
Perjalanan bersama Tuhan jarang memperlihatkan seluruh peta kehidupan sekaligus. Tuhan biasanya hanya menerangi langkah berikutnya, bukan seluruh perjalanan. Di sinilah iman bertumbuh. Iman bukanlah menunggu semua jawaban tersedia, tetapi tetap melangkah karena mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan. Orang percaya dipanggil bukan untuk hidup berdasarkan apa yang terlihat, melainkan berdasarkan Firman Allah yang tidak pernah gagal.
I. IMAN BERAKAR KEPADA PENGENALAN YANG BENAR AKAN TUHAN
- Pengenalan yang benar akan Tuhan dimulai dari pembaruan akal budi melalui perenungan firman Tuhan, doa, pujian, dan penyembahan setiap hari. Pengenalan ini juga dibentuk melalui proses pemuridan dan pengalaman pribadi bersama Tuhan. Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Roh Kudus menolong kita sehingga iman kepada Kristus semakin berakar dan bertumbuh di dalam kasih (Efesus 3:16–17).
- Iman yang berakar di dalam kasih menumbuhkan trust, yaitu keyakinan, pengharapan, dan penyerahan kendali hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Iman kita bergantung kepada karakter Allah dan kepada firman-Nya yang tidak pernah berubah. Kepercayaan seperti ini tidak terbentuk dalam sekejap, melainkan bertumbuh melalui hubungan kasih yang konsisten dengan Tuhan.
II. IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN AKAN FIRMAN TUHAN (Roma 10:17).
- Iman timbul bukan hanya karena kita mendengar firman Tuhan dengan telinga jasmani, tetapi karena hati kita terbuka menerima suara Tuhan melalui firman yang didengar maupun dibaca. Roh Kudus menerangi firman Tuhan yang telah tertulis sehingga firman itu menjadi hidup dan berbicara secara pribadi kepada kita. Ketika firman itu dipercayai dan ditaati, iman semakin bertumbuh.
- Firman yang diterangi oleh Roh Kudus membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, memercayai Dia sepenuhnya, dan mendorong kita menaati perintah-Nya. Firman itu menjadi dasar yang meneguhkan kita untuk hidup oleh iman, bukan karena melihat.
Contoh: Abraham.
Abraham percaya kepada Allah yang telah menjanjikan keturunan kepadanya. Janji Allah menjadi dasar imannya untuk tetap percaya sekalipun ia menghadapi berbagai tantangan. Abraham dan Sara telah lanjut usia dan harus menantikan kelahiran Ishak selama dua puluh lima tahun. Pengenalannya akan Allah membuat Abraham memilih untuk hidup oleh iman, yaitu percaya kepada Tuhan, bukan berfokus pada keadaan yang terlihat. Ketekunan imannya berujung pada penggenapan janji Allah.
III. AKIBAT HIDUP OLEH IMAN VS HIDUP KARENA MELIHAT
Akibat hidup oleh iman:
- Memiliki cara pandang yang selaras dengan Firman Tuhan.
- Tetap hidup dalam kebenaran sekalipun perasaan sedang lemah.
- Tidak mundur atau tawar hati ketika menghadapi tekanan, tantangan, maupun penderitaan.
- Bersedia menyangkal diri dan memikul salib demi menaati kehendak Tuhan.
- Memiliki ketenangan batin yang mengalahkan ketakutan.
- Mampu memadamkan semua panah api si jahat.
- Memiliki arah dan tujuan hidup sesuai kehendak Allah.
- Iman yang bertekun menghasilkan buah berupa kebenaran, pemulihan, berkat, kelimpahan, penggenapan janji Allah, damai sejahtera, sukacita, kemenangan, bahkan hidup yang kekal.
Akibat hidup karena melihat:
- Menghasilkan cara pandang yang keliru menurut diri sendiri dan dunia.
- Hidup dipimpin oleh logika dan pengertian sendiri sehingga membatasi pekerjaan Tuhan.
- Hidup dikendalikan oleh perasaan yang berubah-ubah: takut, cemas, ragu-ragu, kecewa, marah, maupun mengasihani diri sendiri.
- Sulit mempercayai Tuhan sehingga tidak taat dan akhirnya mengambil keputusan yang keliru.
Membangkitkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Manusia roh menjadi lemah, mudah menyerah, dan tidak mengalami kemenangan.
BAGAIMANA MELATIH HIDUP OLEH IMAN SETIAP HARI?
- Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari.
- Berdoa sebelum mengambil setiap keputusan.
- Tetap taat kepada Firman meskipun belum melihat hasilnya.
- Mengingat kembali kesetiaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita.
- Tetap mengucap syukur dalam setiap keadaan.
REFLEKSI
Apa yang saat ini lebih mengendalikan hidup saya?
Firman Tuhan atau keadaan?
Firman Tuhan atau perasaan?
Firman Tuhan atau ketakutan?
Firman Tuhan atau pikiran, logika, dan asumsi saya sendiri?
PENUTUP
Hidup oleh iman bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, tetapi melihat kenyataan melalui sudut pandang Allah. Iman bukan menyangkal adanya masalah, melainkan mempercayai bahwa Tuhan tetap berdaulat di tengah masalah.
Ketika kita hidup oleh iman, kita tidak lagi dikendalikan oleh apa yang kita lihat, rasakan, atau pikirkan, melainkan oleh Firman Tuhan yang tidak pernah berubah. Sebab langit dan bumi akan berlalu, tetapi Firman Tuhan tetap selama-lamanya.
Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, tetapi percaya bahwa Tuhan akan menggenapi setiap janji-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Karena itu, marilah kita terus berjalan bersama Tuhan, selangkah demi selangkah, sampai setiap janji-Nya digenapi menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Sebab hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.