“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6)
PENDAHULUAN
Iman adalah karunia Allah yang menjadi dasar hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual bahwa Allah itu ada, melainkan kepercayaan penuh kepada pribadi Allah yang dinyatakan melalui ketaatan kepada firman-Nya.
Ibrani 11:1 menjelaskan bahwa:
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Selanjutnya, Ibrani 11:3 menyatakan bahwa:
“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”
Segala sesuatu yang kelihatan berasal dari Allah yang tidak kelihatan melalui firman-Nya yang kekal. Karena itu, orang yang hidup oleh iman tidak hanya berfokus pada keadaan yang terlihat, tetapi kepada Allah yang memegang kendali atas segala sesuatu.
Rasul Paulus menegaskan:
“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7)
Inilah inti kehidupan Kristen. Hidup oleh iman berarti hidup dalam kebenaran, kekudusan, dan ketaatan kepada Tuhan. Kehidupan seperti inilah yang menyenangkan hati Allah.
⸻
I. IMAN MENYENANGKAN TUHAN
“Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:6)
Allah tidak terutama mencari orang yang berbakat, berhasil, kaya, atau terkenal. Allah mencari orang yang percaya kepada-Nya dan taat kepada kehendak-Nya.
Setelah menerima kasih karunia keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12). Dalam perjalanan tersebut, Tuhan Yesus sendiri menjadi Pemimpin dan Penyempurna iman kita (Ibrani 12:2).
Tanpa iman kepada Kristus, segala jerih lelah kita hanya menjadi usaha manusia yang tidak memiliki nilai kekal. Karena itu, iman bukan sekadar sarana untuk menerima mukjizat atau jawaban doa. Iman adalah cara hidup yang menyenangkan hati Allah setiap hari.
⸻
II. IMAN ADALAH PERCAYA KEPADA PRIBADI ALLAH
“Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada.”
Percaya bahwa Allah ada belum tentu berarti hidup oleh iman. Banyak orang mencari Tuhan hanya ketika menghadapi masalah, membutuhkan pertolongan, kesembuhan, atau jalan keluar. Namun ketika keadaan membaik, mereka kembali hidup menurut keinginan sendiri.
Hidup mereka dipimpin oleh:
- logika manusia,
- hikmat dunia,
- kecerdasan,
- emosi,
- dan kepentingan pribadi, bukan oleh Roh Kudus dan firman Tuhan.
Hidup oleh iman berarti mempercayai karakter Allah, hikmat-Nya, kasih-Nya, dan kedaulatan-Nya, bahkan ketika kita belum mengerti apa yang sedang Dia kerjakan.
⸻
III. IMAN DINYATAKAN MELALUI KETAATAN
Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Iman bukan hanya apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita hidup. Iman kita dibangun di atas Kristus dan firman-Nya, bukan atas pengalaman, perasaan, ataupun keadaan.
Ketaatan diwujudkan melalui:
- menaati prinsip-prinsip Firman Allah (Logos),
- melakukan tuntunan Roh Kudus (Rhema),
- serta tetap setia meskipun belum melihat hasilnya.
Nuh membangun bahtera sebelum hujan turun. Abraham meninggalkan negerinya tanpa mengetahui tujuan. Musa memilih menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa sesaat. Semua tokoh iman bertindak terlebih dahulu karena percaya kepada Tuhan.
Demikian pula kita dipanggil untuk taat terlebih dahulu, lalu melihat pekerjaan Allah.
⸻
Bersambung minggu depan…