Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10)
PENDAHULUAN
Kasih karunia Allah tidak hanya menyelamatkan kita oleh iman, tetapi juga berkuasa mentransformasi hidup kita. Cara pandang, nilai, sikap, dan karakter kita diubah. Hati serta jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar, yaitu hidup berporos pada kehendak Allah.
ISI
1. Kita adalah mahakarya (=masterpiece) Allah yang diciptakan dalam Kristus untuk hidup dalam tujuan ilahi yang bernilai dan berdampak kekal.
* Kita lahir ke dunia bukan karena kebetulan, kesalahan, atau diciptakan secara massal. Setiap kita didesain secara unik untuk hidup dengan tujuan khusus yang sudah Tuhan persiapkan sebelum kita lahir ke dunia.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku . Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya (Mazmur 139:13-16).
* Contoh tokoh dalam Alkitab: Ester.
Awalnya Ester tidak menyadari tujuan Tuhan dalam hidupnya. Ester, seorang perempuan Yahudi, berada di negeri asing (Persia) bersama Mordekhai, pamannya, kemudian dinikahi oleh Raja Ahasyweros dan diangkat menjadi Ratu. Ini bukanlah sekadar rangkaian kejadian yang kebetulan, tetapi sudah ada dalam penetapan Tuhan sebelum ia dilahirkan.
Tuhan menempatkan Ester sebagai Ratu negeri Persia untuk sebuah momen penting: menyelamatkan orang Yahudi dari rencana jahat Haman yang mau membinasakan.
Esther 4:14b “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”
PERTANYAAN:
* Di mana Tuhan menempatkan saudara saat ini? Di keluarga inti, keluarga besar, keluarga rohani (gereja lokal dan Cool), sekolah/kampus, lingkungan tempat tinggal, kota, bangsa. Di bidang pelayanan, pekerjaan, profesi, posisi/jabatan, atau usaha apa saudara berada?
Apa peran dan kontribusi kita di situ? Mendoakan, mengabarkan Injil, membawa nilai-nilai Kerajaan Allah, memuridkan orang lain, menolong/berbuat kebaikan, menjadi contoh/teladan, membuka lapangan pekerjaan, atau menjadi saluran berkat? Jangan kita menjadi murid Kristus yang pasif, masa bodoh, egois, dan tidak peka akan kebutuhan komunitas di sekitar kita.
* Apa potensi yang Tuhan titipkan dalam hidup kita? Sudahkah kita mengenali kelebihan, kekuatan, kemampuan, minat, bakat, keahlian, hobi, dan karunia kita? Apa yang sudah kita lakukan dengan potensi yang kita miliki?
Kita bertanggung jawab untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta menggunakan setiap kesempatan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya.
Jangan kerjakan tugas dan tanggung jawab kita dengan asal-asalan, melainkan belajarlah melakukan yang terbaik, dengan ketulusan, seperti untuk Tuhan.
* Siapa orang-orang yang Tuhan tempatkan di kehidupan kita? Apakah kita melihat mereka hanya sebagai orang-orang yang bermasalah, menjengkelkan, sulit ditangani, sulit untuk dikasihi, berkekurangan, dan patut diabaikan/dihindari? Atau bisakah kita melihat mereka sebagai tugas khusus dari Tuhan untuk kita topang, doakan, tolong, nasihati, mentoring, dan bawa kepada terang Kristus?
* Tuhan bisa memakai orang lain, lingkungan, situasi, masalah, kesulitan, penderitaan, atau gesekan untuk mendewasakan, membentuk karakter, merendahkan hati, menghasilkan buah Roh, mengeluarkan potensi, memperlebar kapasitas, mempertajam karunia, dan mempersiapkan kita untuk melakukan panggilan-Nya.
PENUTUP
Allah menjadikan kita ciptaan baru dalam Kristus bukan untuk kehidupan yang tanpa rencana, tanpa tujuan atau lihat bagaimana nanti. Setiap kejadian dan musim di hidup kita mengandung rancangan dan tujuan Tuhan, tidak ada yang kebetulan.
Mari kita berlajar memaknai dan mencermati bahwa di mana pun kita ditempatkan, orang-orang di sekitar kita, apa pun yang terjadi dalam hidup kita: suka, duka, kemenangan, kegagalan, kekuatan, kelemahan atau kesalahan yang kita lakukan – bisa dipakai Allah sebagai ‘bahan baku’ untuk membawa kita masuk dalam rencana dan tujuan-Nya. Hal ini menumbuhkan kesadaran kita untuk selalu bersyukur, belajar taat dan bergantung penuh kepada kasih karunia Allah.