Senin. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (1)
Baca: Mazmur 46:1-12
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan,” Mazmur 46:12
Di zaman dahulu setiap kota selalu memiliki benteng, pintu gerbang kota dan juga tembok yang mengelilingi kota itu, dengan tujuan supaya kota itu terjaga aman dan terlindungi dari serangan musuh. Namun bagaimanapun juga perlindungan dan penjagaan yang dibangun oleh manusia adalah terbatas adanya, tidak seratus persen dapat memberikan jaminan keamanan dan keselamatan yang sempurna. “…jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1b).
Bani Korah dalam nyanyiannya menyatakan bahwa kota benteng orang percaya adalah Tuhan, Dialah bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan. Artinya ketika kita masuk ke kota benteng perlindungan itu kita akan beroleh jaminan keamanan, ketenangan dan perlindungan, karena “Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang;” (Mazmur 46:6). Adakah tempat di dunia ini yang dapat menjamin keamanan dan perlindungan bagi manusia? Tidak ada. Di masa sekarang ini banyak orang mengalami ketakutan yang luar biasa karena goncangan terjadi di mana-mana, “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang…” (Mazmur 46:7), namun sebagai orang percaya kita tidak perlu kuatir dan takut, “…karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,” (Ibrani 12:28). Sekalipun musuh menyerang, sekalipun setiap hari kita disuguhi berita-berita menggemparkan, perlindungan yang Tuhan sediakan sudah lebih dari cukup untuk membuat kita aman, tenteram dan merasakan damai sejahtera yang luar biasa.
Tuhan sebagai kota benteng berarti Ia adalah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan bagi kita. Ada banyak orang mengeluh, berputus asa atau frustasi karena merasa sudah tidak kuat, tidak sanggup dan tidak mampu menanggung beban hidup yang teramat berat. Dalam kondisi seperti itu mereka bukannya mencari Tuhan, tetapi menempuh cara-cara instan dengan melakukan tindakan kompromi dengan dosa alias berbuat nekat. Solusi atau jalan keluar tidak mereka dapatkan, mereka justru semakin terjerumus ke lubang yang semakin dalam. “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).
Adalah sia-sia belaka jika kita mencari pertolongan di luar Tuhan!
Selasa. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (2)
Baca: Mazmur 27:1-14
“TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Mazmur 27:1b
Pertolongan, perlindungan dan kekuatan yang sejati hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia adalah benteng hidup kita. Ada tertulis: “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.” (Yesaya 31:1). Seberat apa pun masalah dan tantangan yang kita hadapi, jika kita mau bersandar dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita pasti beroleh kekuatan untuk menanggungnya, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Saat itulah kita pun dapat berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).
Setiap kita pasti punya pengalaman dalam hidup ini. Ada saat-saat di mana kita berada dalam posisi terjepit, mengalami jalan buntu, tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tak seorang pun dapat menolong kita. Kita seakan-akan berada di dalam jurang yang teramat dalam. Namun, ketika “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!” (Mazmur 130:1), berserah berseru-seru memohon pertolongan-Nya, pada saat yang tepat Ia akan bertindak dan memberi pertolongan kepada kita. Saat itulah kita baru menyadari bahwa Tuhan benar-benar menjadi kota benteng kita, “…sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2).
Hidup adalah sebuah peperangan! Setiap hari kita dihadapkan pada peperangan: menghadapi masalah dan keinginan daging, terlebih lagi berperang melawan penghulu-penghulu di udara (roh-roh jahat) atau Iblis dengan bala tentaranya. Asal kita tetap tinggal dekat Tuhan, berada di kota benteng-Nya, kita pasti akan menang, sebab Tuhan ada di pihak kita, “…pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!” (Mazmur 46:9-10).
Di dalam Tuhan ada jaminan keamanan dan perlindungan yang sempurna!
Rabu. APA YANG MENJADI FONDASI HIDUPMU?
Baca: 1 Korintus 3:10-23
“Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” 1 Korintus 2:10b
Semakin tinggi suatu bangunan atau gedung, semakin dalam dan semakin kokoh fondasi yang harus ditanam. Jika tidak, saat badai atau goncangan datang menyerang, bangunan tersebut pasti tidak akan mampu berdiri tegak alias bakalan roboh. Begitu pula tak seorang pun dapat menduga dan mengira kapan datangnya angin, badai atau goncangan dalam kehidupan ini. Oleh karena itu penting sekali memiliki fondasi hidup yang kuat dan kokoh, supaya ketika angin, badai, gelombang atau goncangan melanda kehidupan ini kita tetap mampu berdiri tegak dan tak tergoyahkan!
Dengan apakah kita membangun fondasi hidup ini? “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak.” (1 Korintus 3:10b-13a). Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Jika kita membangun fondasi hidup kita di atas Batu Karang yang teguh yaitu Tuhan Yesus dan firman-Nya, kita akan menjadi kuat, sekalipun harus melewati angin, badai, goncangan dan gelombang kehidupan. Rasul Paulus menasihati, “…hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.” (Efesus 6:10).
Saat ini banyak orang tak berdaya dan akhirnya tenggelam dalam badai dan gelombang kehidupan karena mereka membangun fondasi hidupnya di atas perkara-perkara yang ada di dunia ini atau hal-hal yang sifatnya jasmaniah, sedangkan hatinya menjauh dari Tuhan. Sayangnya apa yang selama ini mereka andalkan, harapkan dan bangga-banggakan, tak mampu menolongnya…
Tuhan Yesus sudah mengingatkan: “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:5b
Kamis. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (1)
Baca: Kisah Para Rasul 27:14-44
“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.” Kisah 27:14-15a
“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.” Kisah 27:14-15a
Dikisahkan terdapat 276 jiwa berada dalam satu kapal yang sedang mengalami pencobaan yang sangat berat saat menempuh perjalanan menuju Roma. Kapal tersebut terkena angin sakal sehingga terombang-ambing di tengah lautan. Lebih mengerikan lagi, saat kejadian berlangsung langit dalam keadaan gelap gulita sampai-sampai mereka tidak melihat matahari selama hampir 14 hari. Begitu dahsyatnya angin sakal dan gelombang laut yang menghantam kapal, orang-orang menjadi tawar hati dan hilang pengharapan. “Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.” (ayat 20). Alkitab menyatakan, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10).
Ketika orang-orang sudah sangat pesimistis dan merasa sudah tidak memiliki harapan untuk selamat, rasul Paulus -yang kebetulan menjadi salah satu penumpang di kapal itu-, memiliki sikap hati yang berbeda. Di tengah kepanikan yang hebat rasul Paulus mampu menguatkan orang banyak itu: “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.” (Kisah 27:22). Dengan penuh iman ia berkata, “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.” (Kisah 27:34b). Kemudian untuk mengantisipasi supaya kapal tidak kandas di salah satu batu karang mereka pun sepakat membuang sauh, bahkan empat sauh sekaligus (Kisah 27:29). Sauh/jangkar adalah alat berkait dan berat, dibuat dari besi, yang dilabuhkan dari kapal ke dasar laut supaya kapal dapat berhenti dan tidak terbawa oleh arus. Dengan sauh sebuah kapal akan tetap kokoh menghadapi hantaman ombak!
Hati kita ibarat kapal yang sedang mengarungi lautan kehidupan sedangkan ‘sauh’ berbicara tentang pengharapan. Hati kita akan tetap kuat di tengah badai atau hantaman ombak sebesar apa pun, apabila kita memiliki pengharapan. Pertanyaannya: ke arah manakah sauh atau pengharapan itu akan kita labuhkan? (Berlanjut)
Jumat. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (2)
Baca: Kisah Rasul Paulus 27:14-44
“Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat.” Kisah 27:44b
Kemana kita mengarahkan pengharapan hidup ini? Ada tertulis: “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.” (Ibrani 6:19-20). Badai sebesar apa pun boleh saja menyerang dalam kehidupan ini, baik itu dalam pekerjaan, keluarga, kesehatan, keuangan dan sebagainya. Namun saat kita mmeiliki pengharapan di dalam Tuhan, kita tidak akan binasa. Pengharapan berbicara tentang iman….
Selama empat belas hari, 276 orang lebih tidak melihat terang maupun bintang, mereka juga tidak makan, kelaparan, kacau balau, terkatung-katung di tengah laut. Tetapi pada akhirnya mereka bisa selamat… Karena ada 1 orang yang memiliki iman yaitu rasul Paulus. “Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku.” (Kisah 27:25). Rasul Paulus sangat percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Ia bisa berkata demikian karena pandangannya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada situasi atau keadaan yang ada. “-sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-“ (2 Korintus 5:7). Iman adalah output ketika seseorang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan. “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).
“Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku,” (Kisah 27:23). Di tengah kesesakan hebat rasul Paulus masih dapat bersekutu dengan Tuhan melalui doa dan penyembahan. Saat berada di tengah badai, masihkah kita memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan? ataukah kita justru larut lari meninggalkan Tuhan dan mencari pertolongan kepada sumber yang lain? Walaupun berada di tengah badai jangan pernah tawar hati, sebab Tuhan telah berjanji, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5).
Kunci agar kuat di tengah hantaman badai adalah tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan dan memelihara persekutuan yang karib dengan-Nya!
Sabtu. ORANG PERCAYA HARUS PUNYA VISI (1)
Baca: 2 Raja-Raja 6:8-23
Dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu punya visi. Jika tidak, perjalanan hidup kekristenannya akan tersendat-sendat, sulit alami pertumbuhan rohani yang maksimal.
Visi merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, perbuatan atau tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan. Di dalam Alkitab istilah visi bersifat nabiah atau pewahyuan, di mana Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, baik itu kepada individu atau pun kelompok, khususnya kepada bangsa Israel. Dan Tuhan menyatakan visi-Nya bisa melalui mimpi, penglihatan atau juga melalui perantaraan nabi-nabi-Nya. Visi juga bisa diartikan pandangan rohani. Apa yang tidak dilihat orang lain itulah yang diwahyukan Tuhan kepada kita. Dengan kata lain kita melihat apa yang orang lain tidak lihat.
Begitu pula Musa, karena memiliki visi dari Tuhan, “…Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.” (Ibrani 11:24-26). Musa mampu melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat, ia tahu bahwa “…yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:18).
Milikilah kepekaan rohani supaya kita mampu menangkap visi yang Tuhan beri!
Baca: Amsal 29:18-27
Dalam hidup Kristen, antara visi dan keinginan/cita-cita itu jelas sangat berbeda. Visi itu berbicara tentang sesuatu yang Tuhan taruh dalam hidup kita, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita. Kalau keinginan dan cita-cita itu datang dan timbul dari diri sendri, sedangkan visi diperoleh dari doa kita kepada Tuhan dan jawaban Tuhan atas ketaatan kita melakukan kehendak-Nya. Maka kita harus lebih bersungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, melatih kepekaan untuk mendengar suara Tuhan melalui persekutuan yang karib dengan-Nya, sebab “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14).
Visi mendorong kita untuk memiliki prioritas-prioritas dan membuat pilihan-pilihan hidup yang benar; visi mendorong kita untuk memiliki semangat dan motivasi yang lebih lagi dalam melakukan segala sesuatu. Bisa dikatakan bahwa visi sangat menentukan arah hidup seseorang. Karena mengerti dan memahami visi yang Tuhan taruh dalam hidupnya, rasul Paulus berkomitmen: “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14).
Ada banyak orang Kristen tak mampu melihat visi Tuhan dalam hidupnya. Terlihat dari cara hidup mereka dalam mengerjakan perkara-perkara yang tidak ada greget sama sekali! Tidaklah mengherankan jika kehidupan rohaninya tidak mengalami kemajuan yang berarti, “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” (Ibrani 5:12). Tuhan Yesus telah berfirman, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.” (Yohanes 14:12). Kuasa Tuhan akan dinyatakan dengan luar biasa kepada setiap orang percaya yang mau melangkah untuk mengerjakan panggilan Tuhan.
Jangan sia-siakan visi yang Tuhan taruh dalam hidup ini, melainkan kerjakan itu dengan roh yang menyala-nyala!