HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

Home / Weekly Message / HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU
HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2)

PENDAHULUAN

Pikiran sangat berperan dalam menentukan arah hidup seseorang. Pikiran/akal budi yang diperbarui dengan benih firman Tuhan secara kontinu akan membuahkan cara pandang, nilai, perkataan, perilaku, gaya hidup, karakter, etos kerja, keputusan, dan tujuan yang sesuai dengan kehendak Allah.

ISI

  • Allah adalah Roh, barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Menyembah Allah harus dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran-Nya. Untuk dapat menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, hati dan pikiran kita harus lebih dulu diperbarui.
  • Orang percaya telah menerima hati dan roh yang baru oleh Roh Kudus yang berdiam dalam batin. Allah telah menjauhkan kita dari hati yang keras/degil dan memberikan hati yang taat kepada hukum-Nya (Yehezkiel 35:26-27). Hati yang baru ini harus disertai dengan pikiran yang baru. Kita tidak bisa menyembah Allah dengan pikiran yang lama, yaitu pikiran karnal (pola pikir/akal budi yang dikuasai oleh keinginan daging, bersifat duniawi, berasal dari benih dosa dalam diri manusia). Pikiran karnal tidak takluk kepada hukum Allah sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.
  • Hati yang baru + transformasi pikiran secara kontinu + hidup dalam pertobatan = transformasi hidup/berbuah banyak dan matang. Perlu dipahami bahwa firman Tuhan yang berupa informasi atau pengetahuan memang penting, tapi itu belum cukup untuk mengubah hidup kita. Firman Tuhan yang berubah menjadi pewahyuan itulah yang berpotensi membawa kita bertumbuh secara rohani, mengubahkan hidup serta menghasilkan buah.

Catatan: pewahyuan adalah karya Allah melalui Roh Kudus yang membuka, menyingkapkan, atau menyatakan diri, kehendak, jalan dan kebenaran-Nya kepada kita secara pribadi. Hati dan pikiran kita menjadi terang karena Roh Kudus memberikan hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar (Efesus 1:17).

  • Pewahyuan bisa didapat melalui:
  • Firman Tuhan yang kita renungkan dan dihidupkan oleh Roh Kudus (firman Rhema),
  • Peristiwa/kesaksian hidup yang kita atau orang lain alami (mis. dalam kehidupan sehari-hari: di keluarga, pelayanan, pekerjaan, usaha, dlsb),
  • Firman Tuhan yang menjadi nyata/digenapi dalam hidup kita,
  • pergumulan hidup (masalah, godaan, kesulitan, penderitaan),
  • perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus (mis. lewat mimpi dan penglihatan).

 

Hal-hal yang terjadi akibat pikiran yang belum diperbarui oleh Firman Tuhan:

  • Hidup jadi serupa dengan dunia : pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap (tidak ada terang kebenaran Allah), hidup dalam dusta iblis yang membangkitkan rupa-rupa hawa nafsu kedagingan, kompromi dengan hikmat dunia, mengandalkan diri sendiri, hidup dalam dosa/ketidaktaatan, ketidakpercayaan (hidup karena melihat, bukan karena percaya), kekuatiran, ketakutan, kecewa, kehilangan damai sejahtera, dan kehilangan pengharapan.
  • Tidak dapat mengerti dan membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Ketidakmengertian akan kehendak Allah membuat kita : tidak hidup dalam kebenaran dan kekudusan (Efesus 4:23-24), salah berdoa (Yakobus 4:2-3), dan salah bertindak/mengambil keputusan. Si pendusta memanfaatkan ketidaktahuan, kebodohan/kedegilan, kemalasan, kenyamanan, kesombongan dan kedagingan untuk menghancurkan hidup kita sendiri.
  • Menghalangi kita untuk menikmati hidup yang Tuhan Yesus berikan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yaitu hidup yang berkelimpahan seperti dalam Yohanes 10:10. Pikiran yang belum diperbarui menjadi pintu bagi Iblis untuk menipu orang Kristen guna melaksanakan agenda jahatnya.
  • Seseorang yang suka mengasihani diri sendiri dan memiliki victim mentality memberi akses bagi iblis untuk memperdaya hidupnya melalui pikiran negatif yang toxic’ meracuni diri sendiri dan orang lain (melalui hubungan yang tidak sehat). Kesombongan seperti ini membutakan mata hati yang membuatnya berjalan dalam kegelapan (Matius 6:22-23).
  • Kebohongan iblis membuat orang percaya tidak memahami identitasnya dalam Kristus, tidak memahami segala berkat rohani yang telah Allah karuniakan (Efesus 1:3), tidak menggunakan kuasa otoritasnya sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12), serta tidak mengerti haknya sebagai ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:17). Akibatnya, orang tersebut tetap tinggal dalam ikatan, dalam kekurangan/ kemiskinan (secara rohani, jiwani dan jasmani), tidak mengalami pemulihan, terobosan, dan kemenangan.
  • Menghalangi kita untuk hidup dalam tujuan Allah: menjadi garam serta terang di kegelapan dunia, dan melakukan Amanat Agung (dimuridkan untuk memuridkan orang lain).

 

Solusi untuk mengalami pembaruan hidup yang diawali melalui pembaruan pikiran:

  • Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Roh-lah yang memberi hidup yang sebenarnya, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan yang Tuhan Yesus katakan adalah roh dan hidup (Yohanes 6:63). Satu-satunya yang bisa mengubah seluruh hidup kita hanyalah firman Tuhan. Pikiran yang secara kontinu diperbarui oleh pewahyuan firman membuat kita ‘hidup’ (bukan sekadar eksis/bertahan hidup) serta menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Minta Roh Kudus memberikan pewahyuan/rhema dari firman yang kita baca, yang didengar di Cool/Ibadah Raya, dari kelas pengajaran yang kita ikuti, dari kesaksian orang lain, yang kita dapat saat memuji dan menyembah, dsb.
  • Kalau Roh Kudus menyingkapkan sesuatu kepada roh kita, jangan anggap angin lalu. Bawa dalam doa ke hadapan Tuhan, minta Roh Kudus menuntun: bagaimana respons/sikap hati yang benar, bagaimana melihat sesuatu dari cara pandang Allah, area mana yang perlu kita perbaiki/bertobat,  apa yang harus kita lakukan dan doakan, hal apa yang harus kita buang/jauhi, dlsb. Kalau perlu, catat dalam jurnal supaya bisa kita renungkan, pelajari dan perbaiki.
  • Amsal 4:23 menyatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau ada benih asing yang bukan kebenaran firman Tuhan dalam hati dan pikiran, segera tolak dalam Nama Yesus, jangan direnungkan. Itu bukan sekadar pemikiran acak/menyeleneh, melainkan panah api si jahat yang berpotensi mencuri, membunuh, dan membinasakan hidup kita jika tidak lekas dibuang selagi masih dalam keadaan benih.

 

PENUTUP

Pikiran kita adalah sebuah senjata, dan kehidupan kita menyingkapkan siapa yang memegang senjata itu: apakah Tuhan, ataukah si jahat. Saring apa yang kita lihat, dengar, baca, dan renungkan, pilihlah dengan bijak. Ganti kegelapan/dusta iblis dalam pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Hendaklah kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Filipi 2:5), supaya orang lain dapat melihat buah kehidupan kita dan memuliakan Bapa di sorga.