Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog" (Page 15)
SERI UTUSAN TUHAN: Seorang yang Berdoa (1)

SERI UTUSAN TUHAN: Seorang yang Berdoa (1)

“Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang.” Mazmur 141:2

Alkitab menyatakan: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”(Lukas16:10).

Ketaatan pun harus dimulai dari perkara-perkara kecil dan sederhana. Ketaatan dasar yang harus kita bangun agar kita dapat hidup dalam ketaatan di segala aspek adalah hal berdoa. Ada banyak orang Kristen, bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah berstatus pelayan Tuhan, masih saja menganggap remeh dan mengabaikan jam-jam doa. Mereka berpikir bahwa menghadiri ibadah dan terlibat dalam pelayanan itu sudah lebih dari cukup, berdoa seperlunya saja. Benarkah demikian? Nasihat Paulus, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,” (Efesus 6:18).

Rasul Paulus perlu sekali mengingatkan ini, karena ia paham betul bahwa manusia umumnya memiliki sifat malas, terutama sekali malas untuk berdoa. “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41). Karena itu kita perlu diperingatkan dengan keras agar kita selalu berjaga-jaga dan berdoa setiap waktu. Artinya kita harus selalu berdoa dengan tiada putus-putusnya, dengan tidak jemu-jemu di segala situasi. Ketahuilah, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang.” (Roma 13:12a) dan di depan kita ada banyak sekali tantangan karena kita hidup menjelang akhir zaman. Adalah berbahaya sekali jika kita sampai tertidur secara rohani, sementara Iblis sedang giat-giatnya melancarkan serangannya (1 Petrus 5:8). Maka saat berdoa diibaratkan kita sedang membangun menara dan kubu pertahanan yang kokoh, sehingga musuh yaitu si Iblis tidak dapat menembusnya; saat kita tekun berdoa Tuhan “…menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh.” (Mazmur 61:4).

Berdoa adalah kunci keberhasilan utusan Tuhan, yaitu doa yang bukan sebatas rutinitas dan kewajiban semata, tapi didasari oleh kerinduan mendalam untuk berjumpa dengan Tuhan dan melibatkan Dia di segala aspek kehidupan kita.

Kelalaian berdoa menjadi faktor utama kegagalan pelayanan kita.

Baca: Mazmur 141:1-10

Latest posts:

SERI UTUSAN TUHAN: Hidup Dalam Ketaatan (2)

SERI UTUSAN TUHAN: Hidup Dalam Ketaatan (2)

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Sebagai seorang utusan kita harus tunduk dan taat kepada orang yang mengutus kita, seperti hamba yang tunduk sepenuhnya kepada tuannya. Ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan yang benar-benar murni, tanpa disertai motivasi atau tendensi tertentu; dan apabila kita sudah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan Tuhan jangan pernah merasa bahwa kita ini sudah berjasa kepada Tuhan, sebaliknya kita harus bisa berkata, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (ayat nas). Sebagai hamba, sesungguhnya kita tidak punya hak lagi atas diri kita sendiri.

Setelah ‘ditangkap’ oleh Kristus dan dipilih menjadi utusan-Nya, rasul Paulus pun menjadi orang yang memiliki ketaatan secara mutlak, hidupnya sepenuhnya diperhambakan untuk Kristus. “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20). Memiliki hati hamba adalah modal dasar yang harus dimiliki oleh seorang utusan Tuhan. Jika seseorang sudah berhati hamba ia pasti akan melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi di segala situasi. Adakah seorang tuan akan “…berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?” (Lukas 17:9). Tuhan tidak melihat seberapa hebat, pintar, tampan, cantik, gagah dan kuatnya seseorang, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b). Yang Tuhan ingini dari kita adalah hati yang mau dan rela untuk dibentuk dan dipakai-Nya.

Saat kita hidup dalam ketaatan kita menjadikan Kristus sebagai raja atas kita, mempersilahkan Dia berdaulat dan memerintah penuh di dalam segala aspek kehidupan kita. Tuhan Yesus sendiri tidak hanya mengutus kita, Ia juga telah memberikan teladan hidup dalam hal ketaatan. Melakukan kehendak Bapa adalah makanan-Nya (baca Yohanes 4:34). “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8).

Jika kita tidak taat, bagaimana kita bisa membawa kabar baik kepada orang lain?

Baca: Lukas 17:7-10

SERI UTUSAN TUHAN: Hidup Dalam Ketaatan (1)

SERI UTUSAN TUHAN: Hidup Dalam Ketaatan (1)

“Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Yohanes 20:21b

Sebagaimana Yesus berpesan kepada murid-murid-Nya ketika Ia menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya (ayat nas), pesan itu juga berlaku untuk semua orang percaya. Setiap kita yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang telah diselamatkan dan mengalami lahir baru, “…ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17), memiliki sebuah tanggung jawab besar, karena kita menyandang predikat sebagai utusan-utusan Kristus di tengah dunia ini, sama seperti tugas yang diemban oleh malaikat Gabriel, “…melayani Allah dan … diutus untuk berbicara … untuk menyampaikan kabar baik …” (Lukas 1:19).

Menjadi utusan Kristus bukanlah hal yang sembarangan, apalagi di zaman akhir seperti sekarang ini, karena di mana pun berada dan kemana pun pergi kita mempertaruhkan nama Kristus. Oleh karena itu untuk menjadi utusan-utusan Tuhan kita harus benar-benar memenuhi kriteria seperti yang Tuhan inginkan. Kita layak disebut sebagai utusan-Nya jika kita memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan seperti penilaian Tuhan terhadap Daud. “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah 13:22).

Seseorang dikatakan memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan apabila ia hidup dalam ketaatan. Ketaatan adalah syarat utama! Banyak orang berusaha untuk hidup taat dalam seluruh aspek kehidupannya, namun mereka seringkali menuai kegagalan. Mengapa? Karena ketaatan itu bisa diibaratkan seperti sebuah pohon: ada ranting, daun, batang dan juga buah, yang kesemuanya itu bersumber pada akar. Akar memiliki peranan yang sangat vital karena sebagai sumber yang membawa makanan ke seluruh bagian pohon. Begitu pula dengan ketaatan, harus dimulai dari akarnya. Akhirnya kita harus memulai ketaatan itu dari hal-hal yang paling mendasar, di mana hal ini akan menjadi ‘akar’ bagi ketaatan-ketaatan lainnya.

Jika kita taat dalam perkara yang paling mendasar ini kita pasti akan memiliki ketaatan pada seluruh aspek kehidupan kita.

Baca: Yohanes 20:19-23

Latest posts:

MEMBAWA ORANG KEPADA YESUS

MEMBAWA ORANG KEPADA YESUS

“Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus,” 2 Korintus 5:20

Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa kepada dunia dengan memberikan Putera-Nya yaitu Yesus Kristus, “…supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib inilah kita diperdamaikan dengan Allah. Karena Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan dosa dan pelanggaran kita, maka Ia pun memberikan tugas dan tanggung jawab kepada setiap kita untuk memberitakan kabar damai ini kepada dunia. Ini sebuah kepercayaan yang tak ternilai harganya; jadi kita ini adalah dutaduta Tuhan di tengah dunia.

Banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa dirinya menyandang predikat sebagai utusan Kristus. Sebagai utusan Kristus kita memiliki tugas untuk bersaksi tentang Kristus dan karya keselamatan-Nya kepada dunia. Inilah pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita yaitu pelayanan pendamaian. Pelayanan pendamaian adalah mengenai bagaimana kita membawa orang lain kepada Tuhan Yesus dan membawa Tuhan Yesus kepada orang lain. Setia hadir di gereja setiap Minggu dan aktif terlibat dalam pelayanan tidak secara otomatis membuat Tuhan Yesus berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Namun, melakukan pelayanan pendamaian dengan membawa orang lain mengenal Tuhan Yesus dan menghadirkan Tuhan Yesus dalam kehidupan orang lainlah yang menyenangkan hati Tuhan.

Jadi, kita tidak akan mampu menjalankan tugas pelayanan pendamaian ini bila kita sendiri tidak memiliki kehidupan seperti Kristus. “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Inilah sebabnya Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9).

Keberadaan orang percaya seharusnya demikian, selalu membawa damai bagi orang lain. Membawa damai berarti mengekspresikan karakter kasih
Allah. Bukan sebaliknya, menjadi batu sandungan atau membuat orang lain kecewa dan terluka.

Bukti bahwa kita sudah menjalankan tugas pelayanan pendamaian adalah ketika hidup kita menjadi kesaksian bagi banyak orang!

Baca: 2 Korintus 5:11-21

Image Source: https://www.bible.com/bible/116/MAT.5.9.NLT

KIKIR

KIKIR

“Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.” Amsal 28:22

Tuhan menghendaki anak-anakNya mengikuti teladan-Nya, salah satunya adalah dalam hal kemurahan hati. Rugikah kita jika kita senantiasa bermurah hati kepada orang lain? Sama sekali tidak. Sesungguhnya, “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,…” (Amsal 11:7a).

Banyak orang Kristen yang secara materi berkelimpahan justru sulit sekali menyatakan kemurahan hatinya terhadap orang lain. Sebaliknya mereka justru semakin pelit dan kikir. Tidak mau peduli, bersikap masa bodoh atau sengaja menutup mata serta telinga terhadap rintihan
saudara-saudara seiman lain yang hidup miskin dan berkekurangan. Orang yang kikir disebut pula sebagai orang yang tamak yang terikat pada uangnya dan diperhamba oleh uang. Ia tidak berkuasa atas uangnya, tetapi uangnya berkuasa atas dirinya sehingga mengumpulkan uanglah yang menjadi tujuan dan kesenangan hidupnya. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan selalu merasa kurang untuk mengumpulkan harta dunia.

Tertulis: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” (Pengkotbah 5:9). Karena itu orang yang kikir tidak pernah merasa bahagia, sebab apa yang memenuhi hati dan pikirannya hanyalah uang, uang dan uang. Ia berusaha begitu rupa untuk selalu mendapatkan uang, tetapi sulit dan susah hati kalau harus mengeluarkan uang.

Untuk diri sendiri dan keluarga saja rasanya sayang mengeluarkan uang, apalagi untuk menabur atau mendukung pekerjaan Tuhan, yang baginya
adalah sebuah kerugian besar. Inilah prinsip hidupnya: ‘Lebih baik menerima daripada memberi’, padahal firman Tuhan menegaskan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah 20:35b). Apakah kita termasuk orang kikir? Jika jawabannya ‘ya’, maka tidak ada
pilihan lain selain harus segera bertobat, sebab kikir adalah dosa di hadapan Tuhan. Ingat, walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu (baca Lukas 12:15).

Orang kikir tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (baca 1 Korintus 6:9-10).

Baca: Amsal 28:1-28

Image Source: https://biblehub.com/proverbs/28-22.htm

Latest posts:

KAYA DALAM KEBAJIKAN

KAYA DALAM KEBAJIKAN

“…janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,” Yeremia 9:23

Tidak ada ayat dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya dan hidup dalam kelimpahan. Justru sebaliknya, Tuhan rindu anak-anakNya memiliki kehidupan yang berhasil dan diberkati, karena untuk itulah Dia datang (baca Yohanes 10:10b). Tuhan rindu memberkati anak-anak-Nya supaya kita menjadi berkat bagi orang lain. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19). Rasul Paulus sangat percaya hal ini.

Rasul Paulus tidak pernah memerintahkan Timotius untuk berbicara kepada orang kaya supaya mereka meninggalkan kekayaannya dan menjadi orang miskin atau hidup dalam kekurangan atau pas-pasan. Yang dimaksudkan oleh Paulus adalah agar orang-orang kaya, yang secara materi berlebihan, memiliki sikap hati yang benar terhadap kekayaan yang dimilikinya.

Paulus berkata kepada Timotius, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap
pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:17-19). Jadi, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk takut memiliki kekayaan yang berlimpah dan uang yang banyak. Yang patut diwaspadai adalah jangan sampai kita terjerat cinta uang dan kemudian hati kita melekat kepada kekayaan tersebut. “Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh;” (Amsal 11:28).

Dengan kekayaan yang ada kita memiliki kesempatan yang luas untuk berbuat kebajikan, suka memberi dan membagi, serta memuliakan Tuhan dengan harta yang kita miliki ini. Jangan sampai kita seperti orang muda yang kaya, yang lebih mencintai kekayaan daripada mengasihi Tuhan, sehingga keberatan ketika diperintahkan Tuhan untuk berbagi dengan orang-orang yang berkekurangan (baca Matius 19:21-22).

Baca: Yeremia 9:23-24

Image source: https://biblehub.com/jeremiah/9-23.htm

Latest posts:

MILIKILAH RASA CUKUP

MILIKILAH RASA CUKUP

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Ibrani 13:5

Uang tidaklah jahat, tapi cinta terhadap uanglah yang jahat. Karena cinta uang banyak orang menjadi ‘gelap mata’ dan menyimpang dari kebenaran. Mereka rela melakukan apa saja demi uang, bahkan berani menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, tidak peduli apakah itu mengorbankan orang lain atau melanggar hukum.

Memang harus diakui bahwa uang itu penting bagi kehidupan kita, tapi uang bukanlah segala-galanya karena banyak hal di dalam kehidupan ini yang tidak dapat diukur, dibeli dan digantikan oleh uang. Apakah uang bisa membeli sukacita, bahagia, ketenangan, apalagi keselamatan jiwa? Tentu tidak! Salomo, yang meskipun memiliki kekayaan yang melimpah, bahkan dikatakan bahwa “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23), mengakui bahwa berlimpahnya materi ternyata tidak menjamin kebahagiaan seseorang.

Salomo berkata, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 5:9). Ketidakpuasan ini bersumber dari cinta uang dan hati yang terfokus pada kekayaan semata. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Karena cinta uang dan hati yang melekat kepada kekayaan, seseorang tidak pernah merasa cukup, sebaliknya selalu merasa kurang dan kurang. Sebanyak apa pun uang dan kekayaan yang dimiliki tidak serta merta membuat orang merasa puas dan cukup.

Rasa puas dan rasa cukup berbicara soal hati. Bila hati kita dipenuhi ucapan syukur maka di segala keadaan kita pasti bisa berkata cukup. Cukup tidak berarti kita berhenti bekerja dan berusaha, malah berpuas diri. Kita bisa berkata cukup bila kita melihat dan menikmati apa yang telah kita terima dan dapatkan, bukan pada apa yang belum kita peroleh. Rasul Paulus menasihati kita, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18).

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12:15

Baca: Ibrani 13:5-8

Image source: https://biblehub.com/hebrews/13-5.htm

Latest posts:

UANG: Penting Namun Berbahaya

UANG: Penting Namun Berbahaya

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.” 2 Timotius 3:2a

Rasul Paulus mengingatkan Timotius sebuah fenomena yang terjadi di akhir zaman ini yaitu manusia akan mencintai dirinya sendiri, berfokus
pada diri sendiri, tidak peduli terhadap orang lain dan menjadi hamba uang. Artinya kini banyak orang diperbudak oleh uang. Mereka menempatkan uang sebagai segala-galanya dalam hidup ini. Bangun tidur yang dipikirkan uang, sepanjang hari yang diburu uang, rencana bagaimana untuk mendapatkan uang di esok hari. Ada pepatah Tiongkok kuno yang mengatakan: ‘Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang manusia tidak dapat berbuat apa-apa.’

Harus kita akui bahwa uang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab tidak ada satu pun kegiatan hidup manusia di
bawah kolong langit dan di atas bumi ini, baik itu dalam kehidupan sehari-hari sampai kepada kegiatan yang bersifat kerohanian (pelayanan atau gereja), yang tidak memerlukan uang. Semisal untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar sehari-hari saja kita membutuhkan uang yang tidak sedikit. Belum lagi jika kita menginginkan suatu kehidupan yang lebih layak lagi: sekolah yang berkualitas, les/kursus, transportasi, sarana untuk berolahraga, tidak sedikit biaya yang harus kita keluarkan. Tak terkecuali untuk melaksanakan tugas panggilan dalam pelayanan: para hamba Tuhan yang bekerja di ladang-Nya, gereja, misi penginjilan melalui media cetak ataupun elektronik, semuanya juga membutuhkan dana yang banyak.

Sejauh uang menjadi alat atau sarana menopang kegiatan hidup tidak akan menimbulkan masalah. Namun menjadi masalah jika uang sudah
mempengaruhi prinsip dan gaya hidup tiap-tiap pribadi dan juga gereja. Uang akan menimbulkan polemik bila kita cinta uang dan diperhamba
olehnya. Alkitab memperingatkan: “Janganlah kamu menjadi hamba uang…” (Ibrani 13:5), karena “…akar segala kejahatan ialah cinta uang.
Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10).
Uang memang penting, tapi akan sangat berbahaya jika kita menjadi hamba uang dan cinta uang!

Baca: 2 Timotius 3:1-9

MENCAPAI GARIS AKHIR (2)

MENCAPAI GARIS AKHIR (2)

“Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang
semula.” Ibrani 3:14

Masih terlihat banyak orang Kristen yang bersikap santai dan tidak menunjukkan kesungguhannya dalam mengiring Tuhan, padahal tahu
bahwa hari-hari ini adalah jahat, kita diingatkan: “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal,
tetapi seperti orang arif,” (Efesus 5:15).

Mengapa kita harus memperhatikan hidup dengan saksama? Karena “…Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang
mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Iblis tidak pernah senang melihat orang percaya bekerja untuk
Tuhan dan menyelesaikan tugas itu dengan baik. Ketika kita sedang menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan ini Iblis selalu berusaha
menghalangi dan menginterupsi kita dengan berbagai hambatan supaya kita tidak dapat bertahan dan akhirnya menyerah. Sikap yang harus kita
kembangkan menghadapi situasi yang demikian adalah selalu berjaga-jaga dan berdoa, “…supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh
memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok dan nanti, bahkan menit demi menit di depan tak seorang pun tahu. Oleh karena itu jangan pernah
merasa kuat! “… siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Jadi kita harus
tetap fokus dan mengarahkan pandangan kepada Tuhan supaya segala perkara yang ada di dunia ini tidak membelokkan arah langkah kita.
Ada banyak hal yang membuat orang tidak dapat memelihara iman dan mencapai garis akhir dengan baik: cinta uang, lebih mengasihi harta
kekayaan, tergiur jabatan dan popularitas, serta disibukkan oleh perkara-perkara duniawi lainnya sehingga mereka rela meninggalkan Tuhan dan mengorbankan keselamatan yang telah diterimanya.

Mari kita semakin giat bekerja untuk Tuhan selagi hari masih siang, karena jika malam sudah datang, kita tidak lagi dapat bekerja!
“Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang
yang terakhir.” Lukas 13:30

Baca: Ibrani 3:7-19

Image source: https://biblehub.com/hebrews/3-14.htm

Latest posts:

MENCAPAI GARIS AKHIR (1)

MENCAPAI GARIS AKHIR (1)

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” 2 Timotius 4:7

Saat ini kita hidup di penghujung zaman, di mana tanda-tanda kedatangan Tuhan kali kedua sudah tampak nyata dan akan segera di genapi. Langit dan bumi akan segera berlalu dan Tuhan akan datang menjemput umatNya. “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.” (1 Yohanes 2:18). Mampukah kita bertahan sampai garis akhir? Ataukah kita akan berhenti di tengah jalan dan kemudian menyerah? “Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.” (Ibrani 10:39). Setiap orang percaya pasti mencapai garis akhir asalkan dapat menyelesaikan setiap tugas yang Tuhan percayakan dengan baik.

Alkitab menyatakan waktunya sudah teramat singkat. Di waktu yang singkat ini apakah kita lebih baik tidak usah bekerja sampai menunggu Tuhan datang menjemput kita? Atau sebaliknya, lebih giat lagi bekerja karena waktu yang tersedia tinggal sedikit saja? Justru di waktu yang sangat singkat ini kita harus mempergunakan kesempatan secara maksimal dan mempersiapkan diri: memperbaiki yang tidak benar dengan meninggalkan segala kefasikan, dan semakin berapi-api melayani Tuhan hingga mencapai “…kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13-15).

Waktu yang sisa ini hendaknya kita gunakan sebaik mungkin, dengan demikian kapan pun Tuhan datang kita sudah dalam keadaan siap sedia. Rasul Paulus penuh keyakinan menantikan mahkota yang telah disediakan baginya karena ia telah menyelesaikan pertandingannya dengan baik.

Mahkota disediakan Tuhan bagi setiap orang percaya yang dapat menyelesaikan tugas sampai garis akhir.

Baca: 2 Timotius 4:1-8

Latest posts: