Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog" (Page 12)
MEREMEHKAN HAK KESULUNGAN (1)

MEREMEHKAN HAK KESULUNGAN (1)

“Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” Kejadian 25:32

Pada zaman Israel kuno setiap anak laki-laki sulung memiliki hak kesulungan, yaitu hak yang dimiliki oleh anak sulung yang terdiri atas: hak kepemimpinan dalam ibadah dan keluarga, bagian ganda dalam harta warisan, hak memperoleh berkat perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham.

Dalam pembacaan Alkitab hari ini dikisahkan bahwa Esau, yang adalah anak sulung Ishak, memilih untuk menjual hak kesulungannya demi semangkuk sup kacang merah. Menjual hak kesulungan menunjukkan bahwa Esau memandang rendah berkat-berkat Allah dan janji-janji perjanjian-Nya. Bahkan Alkitab menyatakan bahwa Esau mempunyai nafsu yang sangat rendah karena menjual hak kesulungannya dengan makanan. Tindakan Esau ini merupakan sebuah tindakan yang sangat bodoh. Berbeda dengan sikap Yakub yang justru sangat menghargai dan menghormati hak kesulungan, karena ia tahu bahwa ada berkat-berkat yang luar biasa di balik hak kesulungan tersebut; karena itu Yakub mengejarnya begitu rupa supaya ia memperoleh berkat dari ayahnya, Ishak, sehingga Esau pun benar-benar kehilangan hak kesulungannya itu.

Alkitab pun menyatakan bahwa karena sikapnya inilah maka Tuhan lebih mengasihi Yakub dan membenci Esau (baca Maleakhi 1:2-3). Mengapa? Karena Esau tidak menghargai berkat yang datang dari Tuhan. Akhirnya dari Yakublah lahir kedua belas suku Israel.

Tindakan Esau meremehkan hak kesulungan adalah gambaran kehidupan banyak orang Kristen di akhir zaman ini, yang meremehkan anugerah keselamatan demi kenikmatan duniawi atau hal-hal yang fana. Mereka meninggalkan Yesus dan memilih mencintai dunia ini, padahal Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan lahir baru berhak menerima hak kesulungan, yaitu sebagai ahli waris Kerajaan Sorga, karena telah diangkat sebagai anak-anak Allah.

Tertulis: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah,” (Roma 8:17). Jadi, “…jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” (Galatia 4:7).

Meremehkan hak kesulungan berarti meremehkan kasih karunia Tuhan!

Baca: Kejadian 25:1-19-34

Latest posts:

KEDATANGAN TUHAN: Siapakah Kita?

KEDATANGAN TUHAN: Siapakah Kita?

“Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Matius 24:44

Hari demi hari berlalu begitu cepatnya, semakin bertambahnya bulan dan tahun yang kita jalani sesungguhnya semakin mendekatkan kita kepada waktu kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Seharusnya ini memacu kita lebih bersungguh-sungguh mengerjakan keselamatan kita, dan semakin mengejar perkara-perkara rohani lebih dari apa pun.

Dalam kenyataannya masih banyak orang Kristen yang kurang peka akan hari kedatangan Tuhan, mereka menanggapinya dengan biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan cenderung apatis. Berhati-hatilah! “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.” (Matius 24:37-39).

Pada waktu itu orang-orang di zaman Nuh sudah diperingatkan agar mereka segera bertobat dan siap sedia karena akan terjadi air bah, namun mereka menanggapinya dengan dingin, mengabaikan dan tidak percaya.

Malahan perbuatan jahat mereka semakin menjadi-jadi. Akhirnya ketika air bah itu benar-benar datang dan pintu bahtera itu ditutup semua orang baru menunjukkan penyesalan, tapi semua sudah terlambat, dan akhirnya mereka harus mengalami kebinasaan, kecuali Nuh dan keluarganya yang selamat karena mereka merespons panggilan Tuhan dan memiliki ke-hidupan yang berbeda dari orang-orang sezamannya. “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (Kejadian 6:9).

Akankah kita tetap mengeraskan hati seperti orang-orang yang hidup di zaman Nuh, meski kita tahu bahwa tanda-tanda kedatangan Tuhan sudah di ambang pintu? Hari ini kita diperingatkan: “…berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Matius 24:42).
Maukah kita bernasib sama seperti orang-orang di zaman Nuh yang binasa karena air bah?

Baca: Matius 24:37-44

Latest posts:

ROH KUDUS: Awan Kemuliaan

ROH KUDUS: Awan Kemuliaan

“Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” Keluaran 13:22

Selain air dan angin, unsur alam lain yang juga digunakan sebagai lambang Roh Kudus adalah awan. Kalau kita perhatikan awan memiliki sifat-sifat sebagai berikut: bergerak di langit, peneduh terhadap terik panas matahari, menunjukkan arah angin dan juga membawa air hujan ke bumi. Pada zaman Perjanjian Lama kehadiran dan lawatan Roh Kudus di tengah-tengah umat-Nya seringkali dinyatakan dalam wujud awan. Inilah yang disebut dengan awan kemuliaan Tuhan!

Setiap kali awan kemuliaan Tuhan memenuhi bait-Nya yang kudus tak seorang pun dapat tahan berdiri di hadapan-Nya, termasuk juga para imam yang melayani. Hal itu membuktikan kedahsyatan kuasa Tuhan!

Kehadiran dan lawatan Roh Kudus benar-benar dialami dan dirasakan oleh umat Israel tatkala mereka ke luar dari negeri perbudakan (Mesir), di mana Tuhan menuntun mereka pada siang hari dengan tiang awan dan pada malam hari dengan tiang api, “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.” (Keluaran 13:21). Tiang awan dan tiang api ini adalah lambang kehadiran dan penyertaan Roh Tuhan. Ketika Musa selesai membangun Tabernakel dan mentahbiskannya, awan kemuliaan Tuhan juga menutupi seluruh ruangan tersebut sehingga tempat itu dipenuhi oleh kemuliaan Tuhan. Begitu pula saat Yesus dipermuliakan di atas gunung Hermon, di mana waktu itu Ia mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes turut serta, Roh Kudus hadir dalam bentuk awan, “…turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.'” (Matius 17:5).

Jika sampai hari ini kita masih melihat awan di langit, itu juga pertanda Roh Kudus selalu ada bersama kita dan menyertai kita, bahkan penyertaan-Nya atas kita sampai kesudahan zaman. Karena itu jangan pernah takut menghadapi apa pun, karena Dia ada di pihak kita.
Di mana awan kemuliaan Tuhan memenuhi gereja-Nya, perkara-perkara besar pasti terjadi!

Baca: Keluaran 13:17-22

Latest posts:

ROH KUDUS: Minyak Urapan

ROH KUDUS: Minyak Urapan

“Haruslah kaubuat semuanya itu menjadi minyak urapan yang kudus, suatu campuran rempah-rempah yang dicampur dengan cermat seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah; itulah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus.” Keluaran 30:25

Di dalam Perjanjian Lama, minyak zaitun yang telah diramu dengan rempah-rempah dipergunakan untuk mengurapi benda-benda suci atau perabotan yang ada di Tabernakel atau rumah Tuhan, serta dipergunakan untuk mengurapi dan menahbiskan para imam yang melayani pekerjaan Tuhan, raja-raja dan termasuk pula nabi-nabi untuk setiap tugas yang dipercayakan kepadanya. dalam hal ini minyak adalah juga lambang daripada Roh Kudus, berfungsi untuk mengurapi, menguduskan dan menyucikan.

Benda atau perabot yang telah diurapi minyak keberadaannya menjadi suci dan kudus. Pula para imam, raja dan nabi yang menerima pengurapan minyak ini, selain dikuduskan dan disucikan, juga dilayakkan untuk menerima kuasa, beroleh jaminan penyertaan dan perlindungan dari Tuhan sehingga mereka beroleh kuasa untuk mengerjakan setiap tugas dan tanggung jawab-nya di bawah kendali Roh Tuhan. Ada pun pengurapan ini bukanlah inisiatif mereka sendiri melainkan dilakukan oleh seseorang yang telah dipilih dan ditunjuk Tuhan secara khusus. Kita tahu sifat minyak adalah melicinkan, menghaluskan, membersihkan, sanggup menjangkau bagian-bagian yang tersembunyi, memberikan terang, mempertahankan nyala api dan juga menyembuhkan. Itulah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup orang percaya! Roh Kudus adalah minyak rohani serbaguna.

Minyak urapan adalah gambaran dari kehadiran Roh Kudus, Roh yang kuasanya tak terbatas yang bekerja dan menyertai pelayanan hamba-hamba Tuhan, sehingga melalui urapan-Nya ini orang yang sakit disembuhkan, yang terbelenggu kuasa gelap dibebaskan dan beroleh pemulihan. Inilah nasihat Yakobus, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta men-golesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” (Yakobus 5:14-15).

Minyak Urapan adalah lambang kehadiran Roh Kudus, yang oleh-Nya kita mengalami mujizat!

Baca: Keluaran 30:22-33

ROH KUDUS: Burung Merpati

ROH KUDUS: Burung Merpati

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,” Matius 3:16

Tatkala Yesus keluar dari air setelah menerima baptisan air di sungai Yordan dari Yohanes Pembaptis, Roh kudus datang mengurapi-Nya dengan tampak seekor burung merpati yang hinggap di atas-Nya. Seketika itu terdengar suara dari sorga, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17).

Lambang Roh Kudus lain yang dinyatakan oleh Alkitab adalah burung merpati. Mengapa merpati dipilih menggambarkan Roh Kudus? Bukankah ada banyak sekali jenis burung lain yang mungkin lebih indah warnanya dan lebih merdu kicauannya? Ia dipilih karena memiliki sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki burung lainnya. Seringkali merpati dijadikan sebagai simbol perdamaian dan lambang cinta kasih oleh karena ia tidak suka bermusuhan, selalu berdampingan dan sangat setia terhadap pasangan.

Merpati juga lambang dari kesucian karena sifatnya yang penuh ketulusan, kelemahlembutan dan sangat tenang. Bila Roh Kudus memenuhi hati kita, kehidupan kita akan memancarkan sifat atau karakter yang tidak jauh berbeda dari burung merpati ini: kita akan mudah berdamai, tidak suka bertengkar (bermusuhan), sehingga kehadiran kita benar-benar membawa kedamaian bagi semua orang, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9).

Seseorang yang di dalam hidupnya ada Roh Kudus pasti mengasihi Tuhan dengan sungguh dan setia kepada-Nya, sebab “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” (Yakobus 4:5). Tuhan sangat mengasihi kita dengan cemburu Ilahi, karena itu kita pun harus setia kepada-Nya. Jika kita tidak setia kepada Tuhan, Roh Kudus pun tidak akan tinggal di dalam kita, akan meninggalkan kita, sebab “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;” (Amsal 19:22).

Apabila hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus setiap waktu kita akan beroleh kekuatan untuk bersikap tegas terhadap dosa dan tidak lagi berkompromi dengan segala jenis kejahatan, sehingga dunia dapat melihat Kristus melalui kehidupan kita.

Tanpa Roh Kudus mustahil kehidupan kita akan memancarkan sifat atau karakter seperti Kristus!

Baca: Matius 3:13-17

Latest posts:

ROH KUDUS: Air Kehidupan (2)

ROH KUDUS: Air Kehidupan (2)

“Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” Yohanes 4:26

Banyak orang beranggapan sumber kepuasan dan kebahagiaan ada dalam harta benda atau materi, sehingga mereka berupaya sedemikian rupa dan berlomba-lomba mendapatkan harta sebanyak mungkin. Dengan cara demikian mereka berharap kepuasan dan kebahagiaan pasti didapat. Faktanya? Tidak. Justru keresahan, kegelisahan, ketakutan, kegersangan dan kekeringan yang mereka rasakan.

Apa pun yang manusia lakukan adalah sia-sia, seperti yang dialami oleh perempuan Samaria pada kisah kemarin. Perempuan ini memiliki kehidupan yang ‘tidak biasa’; demi mengejar kepuasan dan kebahagiaan, perempuan ini selalu berganti-ganti suami. Bahkan saat bertemu dengan Tuhan Yesus perempuan ini sedang tidak bersuami, tetapi hidup dengan laki-laki yang bukan suaminya. Ini membuktikan betapa kering dan gersangnya kehidupan perempuan ini. Bersyukur sekali akhirnya ia bertemu Yesus yang membawa kabar sukacita dan menawarinya ‘Air Hidup’ yang bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan sejati. “…barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” (Yohanes 4:14). Perempuan itu pun meminta air itu kepada Yesus. Dan dengan cara-Nya yang luar bisa Tuhan Yesus menyatakan siapa diri-Nya yang sebenarnya dan menegor perempuan itu dari kehidupannya yang kelam. Tuhan Yesus pun menunjukkan jalan yang benar untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, bukan kepuasan dan kebahagiaan semu yang membuat orang semakin merasakan kegersangan dan kekeringan. Akhirnya perempuan Samaria itu membuka hatinya untuk menerima ‘Air Hidup’ yang mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan sejati itu.

Air kehidupan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus melambangkan Roh Kudus. Jika hidup kita dialiri dan dipenuhi oleh ‘Air Hidup’ yang diberikan Tuhan Yesus ini, kita tidak akan merasa haus lagi, dahaga kita akan dipuaskan, bahkan ‘Air Hidup’ ini akan menjadi mata air di dalam diri kita yang terus-menerus memancar. Inilah kabar baik bagi setiap orang yang mendambakan kepuasan, sukacita dan kebahagiaan sejati yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari dunia ini.

Bukalah hati dan milikilah rasa haus akan Roh Kudus-Nya, maka Dia akan menjadi air kehidupan bagi kita!

Baca: Yohanes 4:16-30

Latest posts:

ROH KUDUS: Air Kehidupan (1)

ROH KUDUS: Air Kehidupan (1)

“…barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Yohanes 4:14

Salah satu kebutuhan pokok semua makhluk hidup di dunia ini adalah air. Tidak hanya bagi manusia, air juga merupakan kebutuhan penting bagi ciptaan Tuhan lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Tanpa air semua makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup alias mati. Tak terkecuali manusia, yang sebagian besar tubuhnya terdiri dari air, sekitar tiga perempat atau 73%. Mungkinkah manusia bertahan hidup jika tanpa air? Tentu tidak! Jadi potensi air adalah pemberi kehidupan bagi semua makhluk. Air bukan sekedar pelepas dahaga, tapi juga untuk keperluan hidup sehari-hari: mandi, memasak, mencuci. Bidang kehidupan lainnya pun memerlukan air: pertanian, perindustrian, pembangkit tenaga listrik, alat transportasi dan sebagainya. Hal itu menunjukkan bahwa kebutuhan akan air adalah mutlak adanya.

Saat melintasi daerah Samaria Tuhan Yesus bertemu dengan seorang perempuan setempat yang hendak menimba air. Terjadilah percakapan antara Tuhan Yesus dengan perempuan itu di dekat sumur Yakub. Berbicara tentang sumur adalah sangat identik dengan mataair, karena dari sumur tersebut orang bisa mendapatkan air bersih untuk segala kebutuhannya. Namun untuk mendapatkan air dari sumur bukanlah pekerjaan yang mudah, diperlukan tali dan juga ember untuk menimba air dari dalam sumur itu. Adapun sumur tempat di mana Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan Samaria adalah sumur peninggalan Yakub, berarti sumur itu dibuat ribuan tahun silam sebelum momen pertemuan Yesus dengan perempuan itu, alias sudah tua; dan kalau setiap hari orang menimba air di situ bisa dipastikan semakin hari airnya akan semakin berkurang dan permukaan airnya makin dalam. Itu berarti kalau orang ingin mendapatkan air tersebut diperlukan usaha yang lebih keras lagi dan juga tali yang lebih panjang.

Itulah cara yang harus ditempuh untuk mendapatkan air, meski kita tahu bahwa air yang berasal dari sumur sampai kapan pun tidak akan pernah memberikan kepuasan. “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,” (Yohanes 4:13). (Bersambung)

Baca: Yohanes 4:1-15

ALASAN MENGUCAP SYUKUR (2)

ALASAN MENGUCAP SYUKUR (2)

“mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!” Mazmur 66:2

Ada banyak orang Kristen yang sulit sekali mengucap syukur kepada Tuhan, hanya karena kecewa doanya tidak dijawab atau belum beroleh jawaban dari Tuhan. Lalu kita melakukan aksi mogok dan marah kepada Tuhan. Maunya sekali berdoa, apa yang kita perlukan atau minta kepada Tuhan langsung dikabulkan. Kita memaksakan kehendak kita. Kita ingin Tuhan mengikuti agenda dan waktu kita dan tidak mau bersabar menunggu waktu-Nya, padahal “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” (Pengkotbah 3:11). Alkitab mengingatkan agar kita senantiasa berdoa dengan tidak jemu-jemu, berdoa dengan tiada berkeputusan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).

Ada alasan lain mengapa harus mengucap syukur: Tuhan telah memilih kita dan menjadikan kita berharga di mata-Nya. “Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu!” (Mazmur 65:5a). Kita dipilih Tuhan di antara sekian miliar manusia di muka bumi ini, artinya kita adalah orang-orang yang sangat spesial dan berharga di mata Tuhan. “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4). Jadi bukan kita yang memilih Tuhan, tapi Tuhan sendiri yang telah memilih kita. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yohanes 15:16). Haleluya!

Kita pun patut bersyukur kepada Tuhan karena kebaikan-Nya melimpah atas kita. “Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus.” (Mazmur 65:5b). Siapakah di antara kita yang tidak pernah merasakan kasih, kemurahan dan kebaikan Tuhan? Sungguh keterlaluan jika kita melupakan kebaikan Tuhan. Jika demikian kita benar-benar tidak tahu berterima kasih. Ucapan syukur inilah yang akan memberikan kita kekuatan untuk terus memandang Tuhan dan melihat kebaikan-Nya. “…janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2).

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Mazmur 136:1

Baca: Mazmur 66:1-20

Latest posts:

ALASAN MENGUCAP SYUKUR (1)

ALASAN MENGUCAP SYUKUR (1)

“Bagi-Mulah puji-pujian di Sion, ya Allah; dan kepada-Mulah orang membayar nazar.” Mazmur 65:2

Alasan pengucapan syukur bagi orang percaya bukan semata-mata berkenaan dengan perkara-perkara jasmani atau hal-hal lahiriah yang terlihat secara kasat mata semata, seperti: ketika sedang keberkatan, disembuhkan dari sakit, usaha lancar, keuangan tercukupi, studi berhasil atau karena doa-doa kita yang beroleh jawaban dari Tuhan.

Sesungguhnya ada beberapa alasan utama mengapa setiap orang percaya harus selalu mengucap syukur kepada Tuhan: 1. Karena Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita. Pemazmur berkata, “Bilamana pelanggaran-pelanggaran kami melebihi kekuatan kami, Engkaulah yang menghapuskannya.” (Mazmur 65:4). Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib kita percaya kepada-Nya beroleh pengampunan dosa dan diselamatkan. Firman Tuhan juga menyatakan, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18), bahkan “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Mazmur 103:12).

Ucapan syukur seharusnya merupakan respons kita terhadap keselamatan yang telah kita terima sebagai anugerah dari Tuhan ini, sebab kita seharusnya mengalami kebinasaan kekal dan dimurkai oleh Allah karena dosa dan pelanggaran, namun kini beroleh anugerah pengampunan oleh karena karya kudus Kristus di atas kayu salib. Inilah dasar utama orang percaya untuk mengucap syukur kepada Tuhan. 2. Karena Tuhan selalu memperhatikan dan mendengar setiap seruan umat-Nya. Dikatakan, “Engkau yang mendengarkan doa.” (ayat 3a). Kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang hidup, yang tidak pernah terlelap dan tertidur. Tuhan tahu persis sekecil apa pun pergumulan yang kita alami. Inilah janjiNya, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Bawa semua beban dan persoalan hidup ini kepada Tuhan melalui doa-doa kita, sebab Dia senantiasa menyendengan telinganya untuk setiap seruan doa umat-Nya. Tidak berarti Tuhan akan selalu menjawab semua doa kita, tapi ada bagian yang harus kita kerjakan yaitu tetap bertekun dan menanti-nantikan Dia. (Bersambung)

Baca: Mazmur 65:1-14

Latest posts:

MENGUCAP SYUKUR: Mudah Tapi Sulit Dilakukan

MENGUCAP SYUKUR: Mudah Tapi Sulit Dilakukan

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5:18

Mengucapkan syukur dalam segala hal adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya. Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa mengucap syukur adalah perkara yang mudah karena tanpa modal apa pun, hanya lewat ucapan bibir kita.

Namun kenyataannya mengucap syukur adalah perkara yang sulit kita lakukan. Jangankan dalam kondisi susah dan berbeban berat, saat segala sesuatu berjalan dengan baik dan normal pun ternyata kita sulit untuk mengucap syukur dan dengan sengaja kita melupakannya. Jika kita teliti, banyak sekali ayat dalam firman Tuhan yang membahas tentang pengucapan syukur. Artinya hal pengucapan syukur adalah bagian penting dalam kehidupan orang percaya yang tidak boleh diabaikan dan disepelekan. Hati yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan inilah yang mendorong terciptanya mazmur pujian yang ditulis oleh Daud. “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;” (Mazmur 9:2).

Bila kita merenungkan kasih dan kebaikan Tuhan, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengucap syukur kepadaNya, bahkan pengucapan syukur itu seharusnya seperti nafas hidup kita yang tak pernah berhenti untuk berhembus selama kita hidup. Namun seringkali ucapan syukur keluar dari mulut kita hanya saat kita menikmati dan mengalami hal-hal yang baik dari Tuhan. Ketika hal-hal yang tidak baik (menurut penilaian kita) terjadi dan menimpa hidup kita, sulit sekali kita mengucap syukur kepada Tuhan, sebaliknya yang keluar dari bibir kita hanya ungkapan kekecewaan, kekesalan, keputusasaan, sungut-sungut, omelan dan bahkan kita berani menuduh dan menyalahkan Tuhan, seperti yang diperbuat oleh bangsa Israel.

Hal-hal yang baik atau buruk, keberhasilan atau kegagalan, sakit atau sehat, dalam kelimpahan atau kekurangan, suka atau duka, adalah warna-warni dalam kehidupan manusia. Satu hal yang seharusnya menguatkan kita adalah “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan” (Roma 8:28), karena itu tetaplah men-gucap syukur apa pun keadaannya.

Mengucap syukur adalah perintah dan kehendak Tuhan yang harus kita taati.

Baca: 1 Tesalonika 5:12-22