Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog" (Page 11)
DIRANCANG UNTUK MENYEMBAH

DIRANCANG UNTUK MENYEMBAH

“Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.” Mazmur 148:5

Sejak dari semula manusia dicipta dan dirancang Tuhan untuk menyembah Dia, karena itu secara naluriah manusia memiliki kecenderungan untuk menyembah sesuatu. Sayang, tidak semua manusia menyembah Tuhan, malah menyembah obyek yang salah: menyembah dewa-dewa, patung, binatang, pohon, gunung, batu, kuburan, matahari dan sebagainya. Padahal tiada lain yang layak disembah selain daripada Tuhan. Adapun arti dari penyembahan (proskuneo) adalah sikap tubuh yang menyembah sampai ke tanah yang menunjukkan suatu penghormatan, pengaguman dan kasih kepada Tuhan.

Penyembahan itu tidak berbicara tentang bakat atau talenta seseorang dalam hal bernyanyi. Mungkin ada orang Kristen yang berkata, “Suaraku tidak bagus, karena itu aku tidak bisa menyembah Tuhan; karena aku seorang penyanyi yang sudah menghasilkan album rohani maka aku harus banyak menyembah Tuhan; karena dipercaya melayani sebagai worship leader dan singer digereja, maka aku harus meluangkan banyak waktu untuk menyembah Tuhan.” Jika kita memandang penyembahan itu hanyalah sebuah bakat atau talenta semata maka penyembahan kita tidak akan bertahan lama. Perlu digarisbawahi di sini bahwa penyembahan itu adalah sepenuhnya tentang Tuhan. Jika kita menyadari akan hal ini maka kita akan menjadikan penyembahan itu sebagai gaya hidup, di mana kita akan menyembah Tuhan di segala keadaan: baik itu susah dan senang, saat baik atau buruk, kondisi sehat maupun sakit, berhasil atau gagal, keberkatan atau krisis, atau saat ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi sekalipun.

Penyembahan yang benar kepada Tuhan tidak terbatas pada ruang dan waktu, atau saat menghadiri ibadah di gereja atau persekutuan saja, tapi di mana pun kita berada dan kapan pun itu, karena kita tahu bahwa penyembahan adalah sepenuhnya untuk Tuhan, bukan untuk manusia; Dialah yang menjadi alasan utama kita untuk tetap menyembah.

Inilah yang sedang Tuhan cari: hati manusia yang dengan kerinduan dan kesadaran penuh datang menyembah Dia, bukan karena tradisi atau liturgi belaka.

Baca: Mazmur 148:1-14

Latest posts:

HIDUP TANPA KEPAHITAN (2)

HIDUP TANPA KEPAHITAN (2)

“…hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,” Mazmur 73:21

Jika kita menyadari bahwa dalam menjalani hidup ini kita tidak sendiri, maka seberat apa pun masalah, kesesakan, atau penderitaan tidak akan memahitkan hati kita. Kita harus selalu ingat bahwa ada pribadi yang tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita yaitu Tuhan Yesus. Janji-janji-Nya kepada kita, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b).

Inilah yang seharusnya menguatkan dan menghibur kita! Kita tidak perlu takut dan kuatir bahwa Tuhan akan meninggalkan atau membiarkan kita, “Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ‘Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?'” (Ibrani 13:6). Karena itu bangunlah persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap hari. Saat kita tinggal di dalam hadirat-Nya kita akan selalu diingatkan bahwa Tuhan selalu ada di pihak kita dan menyertai kita, bahkan penyertaan-Nya atas kita sampai kesudahan zaman (baca Matius 28:20). “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2). Percayalah bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan kita, dan pada saat yang tepat Tuhan pasti memberikan jalan keluar yang terbaik (baca 1 Korintus 10:13). Seringkali ketika situasi-situasi di sekitar kita tampak begitu buruk dan tidak sesuai harapan, arah mata kita semata-mata tertuju kepada masalah, bukan kepada Tuhan dan janji firman-Nya, sehingga hari-hari kita pun dipenuhi kepahitan.

Kepahitan sama sekali tidak membawa dampak positif dalam hidup kita, sebaliknya, ia hanya akan merusak dan menghancurkan. Selama kita hidup dalam kepahitan berarti kita belum sepenuhnya hidup sebagai ‘manusia baru’ melainkan masih mengenakan ‘manusia lama’. Bukankah setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru? (baca 2 Korintus 5:17). Oleh karena itu mari kita buang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah dan juga segala kejahatan (baca Efesus 4:31). Saat kita membuang segala kepahitan, kita akan mendapatkan sukacita, damai dan hal-hal baik lainnya.

Hidup kita terlalu berharga bila diisi dengan kepahitan hati!

Baca: Mazmur 73:1-24

Latest posts:

HIDUP TANPA KEPAHITAN (1)

HIDUP TANPA KEPAHITAN (1)

“Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.” Keluaran 1:13-14

Dari pembacaan firman hari ini dinyatakan bahwa Iblis memakai Firaun untuk ‘memahitkan’ hati bangsa Israel dengan pekerjaan yang berat dan kejam. Kekejaman orang-orang Mesir membuat bangsa Israel mengalami kepahitan yang luar biasa. Bangsa Israel adalah contoh nyata dampak buruk yang ditimbulkan oleh rasa pahit yang terpendam bertahun-tahun di dalam hati. Perlakuan kejam bangsa Mesir benar-benar menorehkan luka mendalam di hati mereka

Kepahitan itu bisa digambarkan seperti sebuah akar. Akar tidak bisa dilihat karena berada jauh di dalam tanah, tapi kita dapat merasakan dan melihatnya dari buah yang dihasilkannya. Akar yang pahit menghasilkan buah yang pahit juga. “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:34b-35). Karena itu kita harus bisa menjaga kondisi hati kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Karena hatinya teramat pahit, bangsa Israel pun menunjukkan sikap yang memberontak kepada Tuhan.

Bagaimana supaya terbebas dari kepahitan hati? Semua tergantung bagaimana kita menyikapi setiap permasalahan yang terjadi. “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7a). Kita harus membuat suatu tindakan nyata untuk melepaskan diri dari belenggu kepahitan itu. “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit…” (Ibrani 12:15). Akar pahit akan semakin tumbuh subur apabila kita hidup jauh dari kasih karunia Tuhan. Hanya oleh kasih karunia Tuhanlah kita dituntun kepada kehidupan yang terbebas dari kepahitan. Maka dari itu bukalah hati dan ijinkan Roh Kudus memimpin langkah hidup kita.

Jika senantiasa dipimpin Roh Kudus, hati kita akan terbebas dari kepahitan!

Baca: Keluaran 1:1-22

Latest posts:

KEPAHITAN HATI

KEPAHITAN HATI

“Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.” Ayub 10:1

Beberapa waktu yang lalu salah satu surat kabar harian nasional mengupas tentang kepahitan hati yang dirasakan oleh kurang lebih 61 juta anak di negeri Cina. Mereka disebutnya sebagai generasi yang patah hati. Kepahitan hati anak-anak negeri Tirai Bambu ini timbul karena merasa diabaikan dan tidak lagi diperhatikan oleh orangtua atau keluarga mereka sendiri. Karena desakan ekonomi, para orangtua memilih untuk meninggalkan anak-anaknya di kampung halaman mereka, pergi ke kota demi memburu Yuan sehingga menimbulkan kepahitan mendalam dalam diri anak-anak. Mereka merasa tertolak dan disia-siakan oleh orangtuanya. Hati mereka menjadi sangat pahit dan merana, bahkan tidak sedikit yang menjadi korban pelecehan orang lain karena kurangnya perlindungan dan pengawasan dari orang tua.

Ayub adalah orang yang “…saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:1), namun bukan berarti ia terbebas dari masalah dan penderitaan, justru harus mengalami ujian yang sangat berat. Beratnya penderitaan yang dialami sampai-sampai membuatnya putus asa dan menyerah pada keadaan. Ia merasa telah diperlakukan Tuhan secara tidak adil. Ia pun mencurahkan dan melampiaskan keluh kesah dan kepahitan hatinya kepada Tuhan, “Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!” (Ayub 10:18). Menurut penelitian, 70% orang yang mengalami kepahitan hati memiliki kecenderungan untuk melampiaskannya dengan kemarahan.
Sungguh, kepahitan adalah salah satu penyakit rohani yang sangat berbahaya! Apabila kepahitan hati ini terus dibiarkan ia akan seperti kanker yang dapat menggerogoti tubuh manusia: merusak kehidupan rumah tangga, memporakporandakan karir, membuat orang mudah
jatuh sakit, putus asa dan bahkan bisa mendorong orang untuk melakukan perbuatan nekat yaitu bunuh diri.

Kepahitan adalah salah satu senjata yang dipakai Iblis untuk menghancurkan kehidupan manusia, karena Iblis datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan (baca Yohanes 10:10a).

Baca: Ayub 10:1-22

Latest posts:

PEMBEBASAN TUHAN: Jalan Keluar Atas Masalah

PEMBEBASAN TUHAN: Jalan Keluar Atas Masalah

“Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” Mazmur 34:20

Pembebasan lain yang dikerjakan Tuhan bagi umat-Nya adalah membebaskan dari segala kesesakan dan penderitaan, artinya selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah dan kesesakan yang kita alami. Maka dari itu saat dalam masalah jangan sekali-kali menjauhkan diri dari Tuhan, apalagi sampai meninggalkan Dia. Kita harus lebih lagi mencari wajah Tuhan, karena semakin kita melangkah jauh dari Tuhan semakin jauhlah kita dari tangan-Nya yang kuat, sehingga kita semakin tidak punya kekuatan menghadapi masalah. Sebaliknya jika kita tinggal dekat Tuhan ada jaminan perlindungan. “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24). Sehelai rambut pun tidak akan jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan (baca Matius 10:30).

Ketika para rasul (utusan Tuhan) ditangkap oleh Imam Besar dan orang-orang Saduki yang membencinya dan dimasukkan ke dalam penjara kota, tiba-tiba “…waktu malam seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya: Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.” Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk membebaskan rasul-rasul itu dengan cara-Nya yang ajaib, “…sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.” (Mazmur 91:11). Sangat jelas bahwa Tuhan memiliki banyak cara untuk membebaskan, melepaskan dan meluputkan umat-Nya dari segala bentuk kesukaran, ujian dan pergumulan yang ada. Salah satu caranya adalah mengirimkan para malaikat-Nya untuk menjaga di segala jalan kita. Malaikat-malaikat diutus Tuhan untuk melayani umat yang memerlukan pertolongan-Nya. Janji perlindungan Tuhan pun benar-benar terbukti.
Andalkan Tuhan dan libatkan Dia di segala aspek hidup ini, “…janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5), maka pada saat yang tepat Tuhan akan bertindak menolong kita dan meluputkan kita dari kesukaran.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:13

Baca: Mazmur 34:16-23

Latest posts:

YESUS DATANG: Pekerjaan Iblis Dihancurkan

YESUS DATANG: Pekerjaan Iblis Dihancurkan

“Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” 1 Yohanes 3:8b

Alkitab menyatakan: “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.” (1 Yohanes 3:8a). Dari pernyataan ini bisa disimpulkan bahwa asal usul dosa adalah Iblis. Untuk itulah Yesus Kristus, Anak Allah, diutus datang ke dunia dengan tujuan menghancurkan segala perbuatan yang dikerjakan Iblis.

Kita tahu pekerjaan Iblis adalah “…untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;” (Yohanes 10:10a). Iblis berusaha memisahkan manusia dari kasih Tuhan. Itulah sebabnya langkah awal yang dikerjakan Tuhan dalam rangka penyelamatan manusia adalah terlebih dahulu menghancurkan segala perbuatan Iblis ini. Iblis lah yang menghalangi manusia memperoleh keselamatan dengan jalan membutakan pikiran manusia. “Jika
Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” (2 Korintus 4:3-4). Orang yang dibutakan pikirannya oleh Iblis sulit sekali menerima Injil, bahkan pemberitaan tentang salib dianggapnya sebagai sebuah kebodohan. Akibatnya mereka tetap hidup dalam kegelapan dengan perbuatan-perbuatannya yang jauh dari kebenaran oleh karena mereka tidak melihat dan tidak diterangi oleh cahaya Injil.

Hanya terang Tuhan yang dapat membuka pikiran yang gelap dan terang itu ada di dalam Kristus. “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Bila pikiran manusia sudah diterangi Injil akan dapat melihat perkara-perkara dahsyat yang dikerjakan Tuhan, mengerti kehendak-Nya, rencana-Nya, serta memahami “…betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus” (Efesus 1:19-20). Akhirnya manusia dapat merespons karya keselamatan yang dikerjakan Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
Kuasa-Nya hebat atas kita dan karena-Nya setiap kita yang percaya “…lebih dari pada orang-orang yang menang,” Roma 8:37

Baca: 1 Yohanes 3:1-10

Latest posts:

PEMBEBASAN TUHAN: Terbebas Dari Dosa

PEMBEBASAN TUHAN: Terbebas Dari Dosa

“Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,” Yesaya 61:1

Pembebasan yang dilakukan Tuhan bagi orang-orang percaya adalah membebaskan dari belenggu dosa. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma rasul Paulus menegaskan bahwa semua manusia adalah orang yang berdosa. “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” (Roma 3:10). Karena semua orang telah berbuat dosa, mereka pun kehilangan kemuliaan Allah.

Namun ada kabar sukacita: setiap orang yang mau datang kepada Tuhan dengan pertobatan yang sungguh akan diampuni dan dipulihkan-Nya mereka. Artinya Tuhan selalu memberi kesempatan kepada setiap orang mengalami pembebasan dari belenggu dosa ini. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9). Tangan Tuhan selalu terbuka untuk menyambut kita karena Dia rindu kita memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa, karena sekian lama terpisah jauh karena dosa dan pelanggaran kita, sama seperti yang dilakukan oleh bapa kepada anak yang terhilang. Ketika anak itu kembali kepada bapanya, bapa memberikan 3 hal kepada anaknya itu: jubah, cincin dan kasut.

Jubah adalah lambang kebenaran. “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24). Cincin adalah lambang otoritas. Karena Kristus, kita memiliki otoritas untuk menjadi orang-orang yang berhasil, berkemenangan dan berkelimpahan. Kasut adalah gambaran bahwa setiap kita yang ada di dalam Kristus tidak lagi menjadi budak atau hamba dosa, melainkan “…telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Roma 6:18). Status kita bukan lagi orang-orang yang terjajah oleh Iblis, tapi orang-orang yang merdeka. “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36).

Pengampunan tersedia bagi setiap orang yang mau mengakui dosanya dan bertobat, mereka akan menerima pembebasan melalui darah Kristus!

Baca: Yesaya 6:1-11

Latest posts:

JANJI PEMBEBASAN TUHAN

JANJI PEMBEBASAN TUHAN

“Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku.” Mazmur 49:16

Dalam Lukas 24:51 dikatakan bahwa ketika Yesus naik ke sorga Dia tidak pergi meninggalkan murid-murid-Nya begitu saja, tapi Ia dalam posisi memberkati umat-Nya sebagai bukti kepedulian dan kasih-Nya yang besar kepada umat. “Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kisah 1:11), artinya Tuhan Yesus yang naik ke sorga suatu saat kelak pasti akan datang kembali kedua kalinya untuk menjemput umat-Nya dan sebagai umat Tuhan kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut kedatangan-Nya itu, karena siap atau tidak siap Dia pasti akan datang kembali.

Alkitab menyatakan bahwa ketika Yesus naik ke sorga Ia tidak hanya memberkati, tapi juga “…membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” (Efesus 4:8). Makna rohaninya adalah Tuhan akan melepaskan dan membebaskan umat-Nya dari segala belenggu yang selama ini mengikat dan menindas kehidupan mereka dan membawa mereka kepada kehidupan yang dipulihkan dan berkemenangan, sehingga semua tawanan mendapatkan kebebasan/kelepasan dari ketertawanannya, “sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh,” (Mazmur 102:21). Dari situ dapat disimpulkan bahwa yang menjadi dasar pelayanan Tuhan Yesus adalah kasih, karena Dia “…datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45).

Melalui pelayanan Yesus orang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan, yang kusta menjadi tahir, yang tuli dapat mendengar, bahkan yang mati dibangkitkan-Nya. Kedatangan-Nya benar-benar untuk menyelamatkan dan membebaskan. Inilah yang seharusnya juga menjadi dasar pelayanan kita yaitu kasih kepada jiwa-jiwa yang tersesat dan membebaskan mereka dari segala keterikatan.

Bagi setiap orang yang percaya: ada pertolongan, kelepasan dan juga pembebasan!

Baca: Mazmur 49:1-21

Latest posts:

KASIH TUHAN TAK TERBILANG

KASIH TUHAN TAK TERBILANG

“Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.” Mazmur 63:4

Dapatkah kita menghitung kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup ini? Tak satu pun yang sanggup menghitungnya. “…betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, …Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,” (Efesus 3:18, 20). Jika hal itu senantiasa kita sadari maka hati kita akan senantiasa berlimpah dengan ucapan syukur.

Namun fakta yang terjadi justru sebaliknya, ada banyak orang Kristen yang sulit sekali bersyukur kepada Tuhan, enggan memuliakan nama Tuhan, padahal kalau kita renungkan hidup ini, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari tak sedikit pun terlewatkan campur tangan Tuhan. Contoh nyata: tahukah Saudara berapa harga oksigen di rumah sakit? Harganya adalah Rp 25.000/liter. Sedangkan nitrogen adalah seharga Rp 10.000/liter. Kita tahu bahwa oksigen dan nitrogen adalah unsur yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia.
Tahukah pula Saudara bahwa dalam sehari umumnya manusia menghirup 2.880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen? Jika semua itu dihargai dengan uang, maka oksigen dan nitrogen yang kita hirup akan mencapai Rp 185 juta setiap harinya. Coba Saudara kalikan kebutuhan manusia akan oksigen dan nitrogen dalam satu bulan saja, yaitu Rp 185 juta x 30 hari = Rp 5,5 miliar/orang! Bahkan seorang konglomerat atau orang yang paling kaya sedunia sekali pun tidak akan pernah sanggup melunasi seluruh biaya nafas untuk hidupnya, apabila Tuhan mau hitung-hitungan dengan kita secara matematika atau menggunakan rumus dagang seperti yang dilakukan oleh manusia.

Seringkali kita hitung-hitungan dengan Tuhan dan merasa sayang berkorban bagiNya: waktu, tenaga, pikiran, apalagi korban materi untuk pekerjaan-Nya. Itu baru sebatas kebutuhan nafas saja seharusnya kita membayar Rp 5,5 M/bulan kepada Tuhan, namun selama ini kita menerimanya secara cuma-cuma, belum kebutuhan hidup lainnya.

“Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” Mazmur 117:2

Baca: Mazmur 63:1-12

Latest posts:

MEREMEHKAN HAK KESULUNGAN (2)

MEREMEHKAN HAK KESULUNGAN (2)

“Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.” Ibrani 12:16

Menyandang status sebagai anak-anak Tuhan berarti memiliki ‘hak kesulungan’ yaitu hak untuk menjadi ahli waris Kerajaan Sorga dan juga memerintah bersama dengan Kristus; artinya hak kesulungan yang kita terima memiliki nilai yang jauh lebih besar dan mulia daripada sekedar harta warisan yang ada di dunia ini. Karena itu berhati-hatilah! Jangan sampai kita menjual hak kesulungan kita hanya demi pasangan hidup, harta kekayaan, jabatan/pangkat atau popularitas yang sifatnya hanya sementara.

Kalau kita tahu dan menyadari bagaiman proses seseorang memperoleh hak kesulungan, kita sekali-kali tidak akan pernah menyepelekan, memandang rendah dan menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan ini. Alkitab menyatakan: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” (Yohanes 6:44). Tuhan Yesus juga menegaskan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Artinya tidak ada sedikit pun campur tangan manusia sehingga manusia dapat menerima kasih karunia Allah dan dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Tertulis: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Jadi jikalau ada seseorang yang meremehkan kasih karunia Allah ini, maka orang tersebut akan bernasib seperti Esau, “…ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” (Ibrani 12:17).

Ingatlah Saudaraku, keberadaan kita ini berbeda dengan orang-orang dunia, karena kita adalah orang-orang pilihan Tuhan yang telah dipanggil dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (baca 1 Petrus 2:9). Jadi kita harus menghormati dan menghargai kasih karunia Tuhan ini dengan hati yang takut dan gentar.

Akankah kita mengikuti jejak Esau, yang harus kehilangan berkat-berkat Tuhan yang luar biasa karena tergiur dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia?

Baca: Ibrani 12:15-17

Image source: https://www.simplyimplemented.com/jacobs-red-lentil-soup/

Latest posts: