SENIN. KESEMPATAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH
Baca: Matius 3:1-12
“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Matius 3:10
Rancangan Tuhan bagi kehidupan anak-anak-Nya adalah rancangan yang baik dan bermasa depan cerah (baca Yeremia 29:11). Karena itu Tuhan memberikan segala sesuatu untuk kita, bahkan Ia rela mengorbankan nyawa-Nya supaya kita beroleh penebusan dosa, dibebaskan dari kutuk, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.'” (Matius 8:17). Bukan hanya itu, Tuhan juga memberikan Roh Kudus-Nya sebagai Penolong supaya kita memiliki kesempatan untuk berbuah. Ini adalah target Tuhan dalam hidup setiap orang percaya! “Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya.” (Lukas 6:44a).
Buah pertama yang harus dihasilkan orang percaya adalah buah pertobatan. “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8). Buah pertobatan dalam diri seseorang akan terlihat jelas melalui perubahan hidup yang semakin baik, yaitu meninggalkan kehidupan lama dan menjalani hidup sebagai manusia baru (baca 2 Korintus 5:17). Manusia baru adalah proyek besar Bapa sendiri yang dikerjakan-Nya secara sempurna melalui Kristus. “…yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24).
Selanjutnya buah yang harus dihasilkan adalah buah Roh. Orang yang sudah mengalami pertobatan sejati pasti ada buah Roh di dalam kehidupannya, yaitu “…kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22-23). Ketika buah pertobatan dan buah Roh berjalan secara seimbang, saat itulah kehidupan seseorang melangkah ke taraf yang lebih lagi, yaitu hidup yang menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain. Inilah yang disebut buah jiwa. Melalui kesaksian hidup secara nyata kita dapat membawa orang lain datang kepada Kristus.
Kunci agar kehidupan kita berbuah adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya!
SELASA. SUPAYA TAK ADA YANG BINASA
Baca: Yehezkiel 33:1-20
“Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” Yehezkiel 33:11
Banyak orang bertanya, “Kapan Tuhan datang kali yang kedua? Dari dulu digembar-gemborkan bahwa kedatangan Tuhan sudah sangat dekat, tapi mana buktinya? Bohong!” Rasul Petrus menyatakan, “…pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.'” (2 Petrus 3:3-4). Apakah firman Tuhan itu bohong? Firman Tuhan adalah ya dan amin, dan semua yang difirmankan Tuhan pasti akan digenapi-Nya.
Ketahuilah bahwa Tuhan memberi kita banyak kesempatan dengan tujuan supaya tidak ada orang yang mengalami kebinasaan kekal. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Itulah maksud dari kesabaran Tuhan! Sesungguhnya Tuhan tidak ingin menghukum manusia, tapi Tuhan menghukum karena menegakkan keadilan-Nya. Neraka diciptakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya, bukan untuk manusia, tetapi manusia tetap ditipu oleh Iblis sehingga manusia masuk dalam jerat dan perangkap Iblis. Sayangnya kesempatan yang Tuhan beri justru disalahgunakan oleh manusia untuk memuaskan keinginan dagingnya. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:7-8).
Tuhan yang memberi kesempatan kepada kita adalah Tuhan yang menginginkan kita menghargai kesempatan itu dan merespons setiap kesempatan itu dengan meninggalkan dosa dan hidup dalam pertobatan yang sungguh!
Bertobatlah dan jangan mengeraskan hati sebelum hari Tuhan itu tiba!
RABU. TUHAN TIDAK PERNAH MEMBATASI IMAN
Baca: Lukas 17:1-6
“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Lukas 17:6
Alkitab menyatakan: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,” (Efesus 3:20). Artinya bersama Tuhan, asal ada iman walaupun hanya sekecil biji sesawi, kita pasti dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Tuhan Yesus tidak berkata bahwa kita harus mempunyai iman sebesar pohon sesawi. Tumbuhan sesawi (mustard – English, Red) adalah suatu pohon yang dapat tumbuh setinggi 3 meter (9 kaki), tetapi tumbuh dari biji yang sangat kecil. Iman yang hanya sebesar biji sesawi jika ditanam akan tumbuh pohon yang jauh lebih besar daripada bijinya.
Mungkin kita merasa tak memiliki iman sebesar nabi Elia, yang doanya seperti ini: “…supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:17-18). Lalu kita berkata, “Mustahil sakitku bisa sembuh, mustahil ekonomi keluarga dipulihkan… mustahil!” Kita selalu melihat pada ketidakmampuan kita dan juga pada keterbatasan iman kita sehingga kita menjadi bimbang, benarkah Tuhan itu sanggup melakukan mujizat? Selama kita masih bimbang dan tak percaya, maka kuasa Tuhan tidak akan bekerja di dalam kita. Tuhan berkata, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yeremia 32:27). Bukankah Tuhan menegaskan, “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23b). Tuhan Yesus tidak berkata bahwa ada perbedaan antara iman untuk hal kecil dan hal yang besar. Yang menjadi masalah ialah iman yang kita miliki itu harus ditanam dan dipraktekkan agar dapat menghasilkan.
Bagaimana kita menanam benih iman itu? Yaitu dengan melakukan apa yang firman Tuhan katakan. Kita tak memerlukan iman lebih besar untuk hal-hal yang besar. Yang perlu kita lakukan ialah mempraktekkan iman yang kita miliki dengan berpegang pada firman Tuhan sepenuhnya!
Jika iman itu tidak disertai perbuatan maka pada hakekatnya adalah mati!
KAMIS. MEMBAWA ORANG KEPADA SEBUAH KEPUTUSAN
Baca: Wahyu 3:14-22
“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3:20
Dalam menjalani kehidupan ini seringkali kita dihadapkan pada keputusan-keputusan. Pengambilan keputusan amat penting, sebab itulah yang akan menentukan langkah berikutnya. Keputusan bukanlah sebuah pertobatan, melainkan suatu tindakan kemauan manusia. Tuhan tidak dapat mengubah kerohanian seseorang sebelum ia mengambil keputusan ini. Tuhan menginginkan manusia mengambil keputusan untuk menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun tanpa suatu paksaan atau tekanan dari pihak mana pun. Tuhan hanya mengetuk pintu hati orang. Jika ada yang mendengarkan suara-Nya dan membuka pintu hatinya, Tuhan akan masuk dan tinggal bersama dengan dia.
Tuhan sangat menghargai kebebasan manusia dalam membuat keputusan atau pilihan hidup. Keputusan atau pilihan yang salah akan membawa seseorang kepada jalan yang salah pula. Bila saat ini kita mempunyai kesempatan yang luas untuk memberitakan siapa Yesus Kristus itu, mari kita pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, sebab kesempatan itu hanya sekali saja datangnya. Kesempatan tak akan datang kembali apabila ia telah berlalu. Jangan sampai orang berkata terhadap kita pada hari penghakiman nanti: “Ia tak pernah memperkenalkan aku kepada Yesus Kristus!”
“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14-15).
Adalah kewajiban bagi orang percaya untuk memperkenalkan dan memberitakan Kristus kepada orang lain. Inilah kebenaran yang harus diberitakan: “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24).
Keputusan tetap ada pada mereka, yang terpenting kita sudah mengerjakan apa yang menjadi bagian kita.
JUMAT. JIKA TUHAN MAU…
Baca: Lukas 5:12-16
“Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.'” Lukas 5:12b
Ketika masih berada di bumi Tuhan Yesus membuat banyak mujizat dan perkara-perkara besar, dan banyak orang menjadi percaya ketika melihat mujizat-mujizat yang Dia kerjakan. Tak banyak pertanyaan apakah Tuhan Yesus diurapi oleh Bapa sehingga Ia mempunyai kuasa yang luar biasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Tetapi ketika Tuhan Yesus tak lagi berada di bumi banyak orang menjadi ragu apakah Dia masih memiliki kuasa dan mampu melakukan mujizat seperti dahulu kala. Perlu ditegaskan kembali bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang tidak pernah berubah, Ia tetap sama baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (baca Ibrani 13:8); kuasa-Nya, kasih-Nya, kebaikan-Nya, takkan berubah.
Apabila dahulu Tuhan Yesus selalu berbelas kasih dan menginginkan kesembuhan pada orang yang sakit dan menolong mereka yang menderita, maka sekarang Dia juga masih tetap sama dan Dia tetap mau menyembuhkan dengan belas kasih-Nya seperti yang dilakukan terhadap orang yang sakit kusta itu: “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” (Lukas 5:13). Orang kusta ini sangat percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh kuasa. Yang menjadi masalah baginya adalah apakah Tuhan Yesus mau menyembuhkan dia atau tidak. Oleh sebab itu ia berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (ayat nas).
Walaupun sudah mendengar firman Tuhan ribuan kali banyaknya, tapi jika kita tak mengerti kehendak Tuhan, maka firman itu tidak menimbulkan iman. Kehendak Tuhan bagi kita ialah agar kita semua berada dalam keadaan sehat jasmani dan juga sehat secara rohani. Kita harus mengerti kehendak Tuhan yang dituliskan dalam Alkitab: “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan…” (Mazmur 103:3-5a).
Kalau orang lain ditolong, kita juga pasti akan ditolong-Nya! Jangan pernah meragukan kuasa dan kasih Tuhan, karena Dia tidak berubah! Tuhan mau kita sembuh.
SABTU. HIDUP BERKECUKUPAN DALAM KRISTUS
Baca: 2 Korintus 9:6-15
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9:8
Banyak janji Tuhan tertulis dalam Alkitab, terutama tentang keselamatan kekal, kemenangan, pertolongan dan juga kelimpahan hidup. Sebelum memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan terlebih dahulu kita harus memiliki ‘sumber’ yang mempunyai segalanya itu. Sumber itu adalah Yesus dan melalui Dia kita dapat memperoleh segalanya.
Ada tertulis: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah 4:12). Tuhan Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput… Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:9, 10b); “…Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).
Untuk mengalami penggenapan janji Tuhan ini selain percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita harus mendahulukan Tuhan dalam segala hal. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Apa yang kita peroleh dari Bapa itu pun tergantung dari ketaatan kita juga seperti tertulis: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Memberi atau mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan dan juga bagi sesama jangan menunggu sampai kita berkelebihan atau kelimpahan terlebih dahulu; itu bukan iman namanya. Berilah atau persembahkanlah serela dan semampu apa yang dapat kita berikan.
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15:7
MINGGU. JANGAN MENCURI KEMULIAAN TUHAN
Baca: Kisah Para Rasul 14:1-20
“Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” Kisah 14:15b
Ketika rasul Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di beberapa kota, “Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.” (ayat 8-9). Segeralah Paulus menyuruh orang yang lumpuh itu berdiri, maka ia pun melonjak berdiri, lalu berjalan ke sana ke mari (ayat 10). Mujizat terjadi!
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun dari langit dalam wujud manusia, sehingga mereka pun menyanjung dan menghormati keduanya sebagaimana yang mereka perbuat terhadap dewa-dewa mereka. Bagaimana reaksi Paulus dan Barnabas? Apakah keduanya merasa bangga dan semakin besar kepala? Justru keduanya mengoyakkan pakaian sambil berseru: “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.” (ayat 15a). Karakter seperti yang dimiliki Paulus dan Barnabas pada zaman seperti sekarang ini sangatlah langka ditemukan. Orang-orang di zaman sekarang haus akan sanjungan dan pujian dari sesama. Bukan hanya orang di luar Tuhan, tidak sedikit orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan yang memiliki motivasi salah dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Mereka suka sekali namanya dikenal, dipuji atau dielu-elukkan oleh banyak orang. Kita lupa bahwa orang dapat disembuhkan atau bertobat bukan karena kehebatan kita, tapi karena kuasa Tuhan yang turut bekerja di dalamnya dan juga oleh karena iman dari orang yang didoakan itu sendiri.
Tanpa Roh Tuhan bekerja kita ini bukan siapa-siapa! Kita ini hanyalah alatnya Tuhan, tidak lebih. Tidak sepatutnya kita mencuri kemuliaan Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Pujian, hormat dan kemuliaan itu hanya patut diberikan hanya kepada Kristus saja, karena “…punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi!” (1 Tawarikh 29:11).
Mencari pujian dari manusia adalah sia-sia belaka! Ini adalah kebencian Tuhan.