PENDAHULUAN
Setiap orang memiliki sifat, karakter, kebiasaan, kesukaan, tingkat kedewasaan, latar belakang, dan karunia yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat menjadi tantangan dalam membangun hubungan karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, perselisihan, iri hati, kesombongan, mementingkan diri sendiri, luka hati, dan perpecahan.
Itu sebabnya diperlukan hikmat agar perbedaan tersebut diarahkan menjadi kesempatan untuk belajar saling mengasihi, menghormati, memahami, melengkapi, menajamkan, dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Hikmat dari Allah menghasilkan hubungan yang sehat, damai, dan penuh kasih.
ISI
Baca Yakobus 3:13–18.
Dalam membangun hubungan, yang kita perlukan adalah hikmat Allah, bukan hikmat dunia. Hikmat Allah berorientasi kepada kebenaran dan kekekalan, hikmat dunia berorientasi kepada ‘diri sendiri’, kedagingan dan perkara-perkara duniawi.
PERBANDINGAN
Hikmat dunia:
– Mementingkan diri sendiri.
– Sombong.
– Iri hati.
– Menimbulkan perpecahan.
Hikmat dari Allah:
– Murni.
– Membawa damai.
– Lemah lembut.
– Penuh belas kasihan.
– Tulus dan tidak munafik.
Orang yang memiliki hikmat dari Allah menyatakan perilakunya dengan:
1. KERENDAHAN HATI
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12).
Kerendahan hati dalam hubungan adalah sikap yang menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.
Contoh sikap kerendahan hati:
– Tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, menganggap orang lain lebih utama dan melayani kepentingan mereka (Filipi 2:3-4).
– Bisa mengakui kekurangan, kesalahan, dan minta maaf,
– Bisa menerima teguran, koreksi dan diajar,
– Bisa menghargai, mengakui kelebihan, dan keberhasilan orang lain,
– Tidak perlu membuktikan diri dan menganggap diri benar,
– Ada penundukkan diri, bisa bekerja sama dengan orang lain,
– Menyikapi perbedaan dan menyelesaikan konflik dengan prinsip kebenaran dan kasih.
Kerendahan hati menghindarkan kita dari sikap egois, sombong (merasa diri hebat dan menunjukkannya), dan angkuh (merasa diri lebih tinggi dan memandang rendah orang lain). Kerendahan hati melindungi kita dari tipu daya si jahat yang membawa kepada kejatuhan. Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati akan ditinggikan atau dipromosikan oleh Tuhan pada waktunya, sementara orang yang tinggi hati akan direndahkan. Sikap saling merendahkan hati menciptakan keharmonisan, damai sejahtera, dan kesatuan.
2. KELEMAHLEMBUTAN
Kelemahlembutan (meekness) adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri. Kelemahlembutan bukan kelemahan, sikap pengecut atau pasif, melainkan pilihan yang disengaja untuk menahan kekuatan, hak, dan reaksi diri yang didasari oleh kerendahan hati dan kelembutan. Kelemahlembutan membuat seseorang tidak mudah terpancing oleh tindakan, ucapan, atau situasi yang dapat menimbulkan amarah atau emosi negatif lainnya. Sebaliknya, ia mampu menguasai diri dan menyerahkan kendali kepada pimpinan Roh Kudus.
Kelemahlembutan:
– mampu meredakan kegeraman dalam sebuah konflik atau perselisihan (Amsal 15:1).
– mencairkan ketegangan dan membuka ruang untuk berdialog.
– mampu bertutur kata dengan santun dan tenang, bahkan berempati terhadap orang yang memiliki pandangan berbeda.
– menghormati perbedaan tanpa harus memaksakan kesamaan pandangan.
– fokusnya menyelesaikan masalah dan mencari solusi, bukan berdebat atau memaksakan kehendak.
3. MENGAMPUNI
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)
Firman Tuhan mengajarkan bahwa respons terbaik dan paling bijak ketika kita disakiti adalah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mengampuni orang lain merupakan kewajiban setiap orang percaya. Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita, kita pun wajib mengampuni orang lain. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Matius 6:14–15).
Untuk bisa mengampuni orang lain, kita perlu membereskan hati dengan Tuhan terlebih dahulu. Saat hati kita telah dipulihkan, Roh Kudus memberikan kemampuan untuk mengampuni orang lain. Melepaskan pengampunan mendatangkan berkat dan kebaikan bagi diri kita. Hati dan jiwa kita dilepaskan dari ikatan dan beban emosi negatif sehingga kita mengalami ketenangan, damai sejahtera, sukacita, pemulihan, dan pertumbuhan karakter.
Belajarlah untuk melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Tuhan: bahwa perlakuan buruk yang kita alami dapat dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan, membentuk karakter, serta membawa kita masuk ke dalam panggilan-Nya. Seperti Yusuf memaknai perlakuan buruk saudara-saudaranya di masa lalu dengan cara pandang Tuhan: Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20).
4. MENJADI PEMBAWA DAMAI
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh… (Kolose 3:14-15).
Menjadi pembawa damai bukan berarti kita berkompromi dengan dosa dan dunia atau memihak kepada manusia. Menjadi pembawa damai juga tidak berarti menyenangkan semua orang. Menjadi pembawa damai berarti kita berpihak pada kebenaran yang berdasarkan firman Tuhan. Damai yang sejati hanya timbul dari kebenaran, bukan dari perasaan atau keadaan (Yesaya 32:17).
Sebagai pembawa damai, hati kita harus dipenuhi oleh kasih dan damai sejahtera yang diperoleh melalui persekutuan dengan Kristus, Sang Raja Damai.
Dalam mengusahakan perdamaian:
– minta hikmat dari Roh Kudus untuk menyelesaikan konflik dengan bijak;
– kenakan kasih Allah sebagai pengikat yang mempersatukan;
– gunakan perkataan yang santun, membangun, dan mengarahkan kepada kebenaran,
– jangan memperkeruh keadaan dengan menghakimi, menghasut, memecah-belah, atau menyebarkan gosip;
– tanggalkan keakuan, rendahkan hati, dan utamakan kepentingan bersama serta kesatuan.
Belajarlah menjadi pihak yang proaktif dalam mengusahakan perdamaian di tengah sebuah konflik. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Roma 12:18).
APLIKASI
Mintalah Tuhan menunjukkan satu hubungan yang perlu dipulihkan, lalu ambillah langkah pertama untuk berdamai.
PERTANYAAN DAN DISKUSI SINGKAT
Hubungan apa yang perlu dipulihkan?
Bagaimana hikmat Allah dapat mengubah cara Anda merespons orang lain?
PENUTUP
Hubungan pribadi kita dengan Tuhan akan memancarkan kasih, kelemahlembutan, kemurahan, kerendahan hati, dan kedamaian yang dapat kita bagikan kepada orang lain. Jadilah pelaku firman agar hikmat yang kita peroleh menolong kita menata relasi dengan orang lain menjadi sehat, harmonis, damai, dan penuh kasih.
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5).
Hikmat membuat kita mampu melihat dan menyikapi perbedaan dengan cara pandang Tuhan, sehingga kita dapat menjalankan visi-Nya secara sinergis dan dalam kesatuan.