HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Home / Weekly Message / HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 1
HIKMAT DALAM CARA KITA HIDUP

PENDAHULUAN

Untuk hidup dalam tujuan dan rencana Tuhan, kita bukan hanya membutuhkan iman, tetapi juga hikmat. Iman adalah dasar hubungan dan kepercayaan kita kepada Allah.
Hikmat adalah kemampuan untuk menerapkan kebenaran dan pengetahuan rohani dalam kehidupan nyata—sehingga kita mampu membuat pilihan yang benar, menyelesaikan masalah, membangun hubungan yang sehat, dan bertindak dengan tepat.

Dengan kata lain: Iman membuat kita percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat memiliki iman yang kuat, tetapi tetap membutuhkan hikmat dalam menentukan:
kapan harus berbicara,
kapan harus diam,
apa yang harus dilakukan,
siapa yang harus kita percayai,
bagaimana menggunakan waktu,
dan apa yang harus menjadi prioritas.

Hikmat membuat iman kita terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

ISI
I. HIKMAT UNTUK MENGGUNAKAN WAKTU DENGAN BIJAKSANA (baca Efesus 5:15-17)
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…”

Paulus mengingatkan kita untuk memperhatikan dengan saksama bagaimana kita hidup.
Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang saya lakukan?”
Tetapi:“Untuk apa saya menggunakan hidup dan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?”

Kita dapat begitu sibuk memenuhi tuntutan kehidupan—bekerja, mengurus keluarga, mengejar kebutuhan, menikmati keinginan, bahkan melakukan banyak aktivitas—tetapi belum tentu semuanya membawa kita kepada Tuhan. Orang bijaksana melihat waktu bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dilalui atau diisi, tetapi sebagai kesempatan yang Tuhan percayakan.

Jangan hidup seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.
Ciri orang bebal:
Degil dan keras kepala;
Merasa dirinya selalu benar dan sulit bertobat atau berubah.
Tidak mau belajar dan menerima teguran.
Suka menyalahkan orang lain dan sulit mengambil tanggung jawab.
Hidup sesuka hati dan mengikuti hawa nafsu.
Lamban mendengar dan tidak konsisten.
Mendengar firman tetapi tetap hidup dengan mindset yang tidak sesuai firman.
Tidak peka terhadap suara dan teguran Roh Kudus.
Sulit membedakan mana yang benar dan salah, mana yang penting dan mana yang sia-sia.

Ciri orang arif atau bijaksana:
Mau mendengar, belajar, dan menerima teguran.
Belajar dari firman Tuhan, pengalaman, orang lain, bahkan dari masalah yang dihadapi.
Sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan.
Mau menaati Tuhan dan hidup dalam pertobatan.
Melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.
Membuat keputusan berdasarkan prinsip firman Tuhan.
Berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya membuang waktu.

Mazmur 90:12 berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Orang bijaksana tahu menghargai waktunya. Karena itu kita perlu bertanya:
“Apakah ini perlu mendapatkan waktu saya?” Waktu adalah bagian dari hidup yang tidak dapat kita beli kembali. Kita dapat menghasilkan kembali uang yang hilang. Kita dapat mengganti barang yang rusak, tetapi kita tidak dapat mengembalikan waktu yang sudah berlalu.
Waktu kita di dunia terbatas. Karena itu, gunakanlah waktu dengan saksama.

II. HIKMAT UNTUK BERKATA-KATA (baca Kolose 4:5–6)

Perkataan adalah sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi mempunyai kuasa yang besar.
Perkataan dapat menjadi benih. Benih yang baik dapat menghasilkan:
kebenaran,
kasih,
iman,
pengharapan,
penghiburan,
dan pemulihan.

Sebaliknya, perkataan yang tidak dijaga dapat menghasilkan:
kebingungan,
kekhawatiran,
ketakutan,
kesalahpahaman,
kemarahan,
perpecahan,
kepahitan,
bahkan penyesatan.

Karena itu, orang yang berhikmat belajar bukan hanya: “Apa yang harus saya katakan?”
Tetapi juga:
“Kapan saya harus mengatakannya?”
“Bagaimana saya harus mengatakannya?”
“Apakah memang perlu saya katakan?”

Kita perlu meminta Roh Kudus memimpin perkataan kita supaya perkataan kita:

Menghormati dan meninggikan Tuhan.
Lemah lembut dan meredakan kegeraman, bukan memperbesar konflik.
Mengandung hikmat dan didikan.
Membawa penghiburan dan nasihat.
Memberikan jawaban yang tepat pada waktunya.
Membangkitkan iman, pengharapan, dan kekuatan berdasarkan firman Tuhan.

Kebenaran membutuhkan hikmat dalam penyampaiannya. Orang bijaksana tidak menggunakan perkataan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi untuk membawa orang kepada kebenaran dan kasih.

REFLEKSI DAN DISKUSI

Bagaimana selama ini saya menggunakan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?
Apa yang paling banyak menyita waktu saya?
Apakah semuanya membawa saya semakin dekat kepada Tuhan?
Apakah ada perkataan yang perlu saya jaga atau ubah dalam hubungan saya dengan seseorang?

Ketika berbicara dalam situasi konflik, apakah tujuan saya membuktikan bahwa saya benar atau
membawa hubungan kepada kebenaran dan kasih?

Kalimat kunci sesi minggu ini : Orang yang berhikmat tahu bagaimana menggunakan waktunya dan menjaga perkataannya.

Bersambung Sesi 2 minggu depan…